Anda di halaman 1dari 95

STATISTIK DAERAH

PROVINSI PAPUA BARAT


2010
STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT 2010

ISSN : -
No. Publikasi : 91300.10.13
Katalog BPS : 1101001.9100
Ukuran Buku : 17.6 cm x 25 cm
Jumlah Halaman : vi + 78 halaman

Naskah :
Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Gambar Kulit :
Bidang Integrasi Pengolahan dan Diseminasi Statistik
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Diterbitkan Oleh :
Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat

Boleh dikutip dengan menyebutkan Sumbernya


Kata Sambutan

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, saya
menyambut baik penerbitan publikasi Statistik Daerah yang dilakukan oleh Badan
Pusat Statistik (BPS) provinsi dan kabupaten/kota. Penyusunan publikasi Statistik
Daerah ini merupakan inovasi dan pengembangan kegiatan perstatistikan serta
penyebarluasan informasi sebagai salah satu upaya untuk mewujudkan visi BPS
sebagai “ pelopor data statistik terpercaya untuk semua “.

Penerbitan publikasi Statistik Daerah Provinsi Papua Barat 2010 dimaksudkan untuk melengkapi ragam publikasi
statistik yang telah tersedia di daerah seperti Daerah Dalam Angka (DDA) yang telah terbit secara rutin dalam memotret
kondisi daerah. Buku ini menyajikan indikator-indikator terpilih yang menggambarkan tentang kondisi daerah dalam
bentuk tampilan uraian deskriptif sederhana.

Saya berharap, publikasi Statistik Daerah Provinsi Papua Barat 2010 ini mampu memberikan informasi secara cepat
dan tepat kepada pemerintah daerah dan masyarakat yang dapat digunakan sebagai dasar perencanaan, monitor dan
evaluasi mengenai perkembangan pembangunan di berbagai sektor serta membantu para pengguna data lainnya
dalam memahami kondisi umum daerahnya.

Akhirnya, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah
berpartisipasi hingga terbitnya publikasi ini, dan semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa meridhoi usaha kita.

Jakarta, September 2010


Kepala Badan Pusat Statistik,

DR. Rusman Heriawan

STATISTIK i
Kata Pengantar

Publikasi Statistik Daerah Provinsi Papua Barat 2010 diterbitkan oleh Badan Pusat
Statistik Provinsi Papua Barat berisi berbagai data dan informasi terpilih seputar
Provinsi Papua Barat yang dianalisis secara sederhana untuk membantu pengguna
data memahami perkembangan pembangunan serta potensi yang ada di Provinsi
Papua Barat. Publikasi yang terbit perdana ini diharapkan menjadi ikon baru Badan
Pusat Statistik dalam mengemas isu-isu terkini perkembangan pembangunan yang
ditampilkan dalam bentuk lebih informatif.

Publikasi Statistik Daerah Provinsi Papua Barat 2010 diterbitkan untuk melengkapi publikasi-publikasi statistik yang
sudah terbit secara rutin setiap tahun. Berbeda dengan publikasi-publikasi yang sudah ada, publikasi ini lebih
menekankan pada analisis.

Materi yang disajikan dalam Statistik Daerah Provinsi Papua Barat 2010 memuat berbagai informasi/indikator terpilih
yang terkait dengan pembangunan di berbagai sektor di Provinsi Papua Barat dan diharapkan dapat menjadi bahan
rujukan/kajian dalam perencanaan dan evaluasi kegiatan pembangunan.

Kritik dan saran konstruktif berbagai pihak kami harapkan untuk penyempurnaan penerbitan mendatang. Semoga
publikasi ini mampu memenuhi tuntutan kebutuhan data statistik, baik oleh instansi/dinas pemerintah, swasta, kalangan
akademisi maupun masyarakat luas.

Manokwari, November 2010


Kepala Badan Pusat Statistik
Provinsi Papua Barat,

Ir. Tanda Sirait, MM.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 ii


Statistik Kunci

No. Uraian Satuan 2007 2008 2009

1 Jumlah penduduk1 orang 715999 729962 743860


2
2 Jumlah penduduk 15 thn keatas yang bekerja orang 268117 316193 325759
2
3 Jumlah penganggur orang 28029 26189 26626
2
4 Jumlah Angkatan kerja orang 296146 342382 352385
2
5 TPAK persen 66.52 68.15 68.52
2
6 TPT persen 9.46 7.65 7.56
2
7 Persentase pekerja di sektor formal persen 36.52 33.77 32.82
8 Laju inflasi3 persen - 20.06 5.22
9 Ekspor (juta)5 rupiah 6416179.41 6787164.93 5170937.93
5
10 Impor (juta) rupiah 8529463.74 9977495.21 8513500.95
11 Pertumbuhan Ekonomi persen 6.95 7.33 6.26
12 PDRB ADHB (juta) rupiah 10367278.69 12469031.50 14547727.50
13 PDRB ADHK (juta) rupiah 5934315.82 6369374.22 6768199.45
14 PDRB per Kapita rupiah 14479459.73 17081754.25 19557077.28
4
15 Nilai Tukar Petani (NTP) persen - 106.24 104.98
16 Jumlah Penduduk miskin (ribu) orang 266.80 246.50 256.84
17 Persentase penduduk miskin persen 39.31 35.12 35.71
18 Angka partisipasi sekolah 7-12 tahun persen 92.64 93.18 93.35
19 Angka partisipasi sekolah 13-15 tahun persen 87.58 88.75 88.59
20 Angka partisipasi sekolah 16-18 tahun persen 57.84 57.53 57.95
21 Angka Harapan Hidup tahun 67.60 67.90 68.20
22 Rata-rata lama sekolah tahun 7.65 7.67 8.01
23 Angka melek huruf persen 90.32 92.15 92.34
24 Paritas Daya Beli (PPP) (ribu) rupiah 592.07 593.13 595.28

25 IPM persen 67.28 67.95 68.58

26 Rata-rata pengeluaran per kapita rupiah 293122 346929 444426


Catatan:
1. Berdasarkan Proyeksi SUPAS 2005-2015
2. Kondisi bulan Agustus (Sakernas)
3. Angka inflasi Papua Barat dihitung mulai 2008
4. Data tahun 2007 belum tersedia
5. Termasuk ekspor dan impor antar provinsi

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 iii


Penjelasan Teknis
 Daerah administrasi adalah wilayah administrasi  Angka Kematian Bayi adalah probabilita bayi
yang sudah memiliki dasar hukum yang sah menurut meninggal sebelum mencapai usia satu tahun,
Departemen Dalam Negeri. dinyatakan dalam per seribu kelahiran.

 Desa pesisir/tepi laut adalah desa/kelurahan  Angka Kematian Balita adalah probabilita bayi
termasuk nagari atau lainnya yang memiliki wilayah meninggal sebelum mencapai usia lima tahun,
yang berbatasan langsung dengan garis pantai/laut dinyatakan dalam per seribu kelahiran.
(atau merupakan desa pulau).
 Angka Harapan Hidup pada waktu lahir adalah
 Desa bukan pesisir adalah desa/kelurahan termasuk perkiraan lama hidup rata-rata penduduk dengan
nagari atau lainnya yang tidak berbatasan langsung asumsi tidak ada perubahan pola mortalitas menurut
dengan laut atau tidak mempunyai pesisir. umur.

 Kepadatan Penduduk adalah jumlah penduduk di  Angka Reproduksi Neto adalah rasio bayi wanita
suatu daerah dibagi dengan luas daratan daerah yang hidup sampai usia ibunya dikalikan dengan
tersebut, biasanya dinyatakan sebagai penduduk per angka reproduksi bruto.
Km2.
 Angka Kelahiran Total adalah setiap wanita di
 Laju pertumbuhan penduduk adalah rata-rata Indonesia secara hipotesis akan melahirkan anak
tahunan laju perubahan jumlah penduduk di suatu hingga masa berakhir reproduksinya (15 – 49)
daerah selama periode waktu tertentu. tahun.

 Angkatan Kerja adalah penduduk usia 15 tahun ke  Angka Melek Huruf Dewasa adalah perbandingan
atas yang bekerja atau sementara tidak bekerja, dan antara jumlah penduduk usia 15 tahun ke atas yang
yang sedang mencari pekerjaan. dapat membaca dan menulis, dengan jumlah
penduduk usia 15 tahun ke atas.
 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah
perbandingan antara jumlah angkatan kerja dengan  Angka Partisipasi Sekolah (APS) adalah
jumlah penduduk usia kerja. perbandingan antara jumlah penduduk kelompok
usia sekolah (7-12 th; 13-15 th; 16-18 th) yang
 Tingkat Pengangguran Terbuka adalah bersekolah terhadap seluruh penduduk kelompok
perbandingan antara jumlah pencari kerja dengan usia sekolah (7-12 th; 13-15 th; 16-18 th).
jumlah angkatan kerja. Bersekolah adalah mereka yang perlu mengikuti
pendidikan di jalur formal (SD/MI, SMP/MTs, SMA/
SMK/MA atau PT) maupun non formal (paket A,
paket B atau paket C).

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 iv


 IPM adalah indeks komposit dari gabungan 4 (empat) tinggi ketimpangan pengeluaran diantara penduduk
indikator yaitu angka harapan hidup, angka melek miskin.
huruf, rata-rata lama sekolah dan pengeluaran per
kapita.  Indeks Harga Konsumen adalah angka/indeks
yang menunjukkan perbandingan relatif antara
 Industri Pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi tingkat harga (konsumen/eceran) pada saat bulan
yang melakukan kegiatan mengubah suatu barang survei dan harga tersebut pada bulan sebelumnya.
dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan
sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi atau  Inflasi adalah indikator yang dapat memberikan
barang yang kurang nilainya menjadi barang yang informasi tentang dinamika perkembangan harga
lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih kepada pemakai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
akhir.
 Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan
 Angka Koefisien Gini adalah ukuran kemerataan antara indeks harga yang diterima petani
pendapatan yang dihitung berdasarkan kelas dengan indeks harga yang dibayar petani yang
pendapatan. Angka koefisien Gini terletak antara 0 dinyatakan dalam persentase.
(nol) dan 1 (satu). Nol mencerminkan kemerataan
sempurna dan satu menggambarkan ketidakmerataan  Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) adalah
sempurna.
satu indikator penting untuk mengetahui
kondisi ekonomi di suatu wilayah dalam suatu
 Garis kemiskinan adalah besarnya nilai rupiah
periode tertentu.
pengeluaran per kapita setiap bulan untuk memenuhi
kebutuhan dasar minimum makanan dan nonmakanan
 Produk Domestik Regional Bruto Per Kapita
yang dibutuhkan oleh seorang individu untuk tetap
adalah Produk Domestik Regional Bruto dibagi
berada pada kehidupan yang layak.
dengan penduduk pertengahan tahun.

 Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) merupakan


 PDRB Harga Berlaku adalah nilai tambah
ukuran rata-rata kesenjangan pengeluaran masing-
barang dan jasa yang dihitung menggunakan
masing penduduk miskin terhadap garis kemiskinan.
Semakin tinggi nilai indeks, semakin jauh rata-rata harga yang berlaku pada setiap tahun.
pengeluaran penduduk dari garis kemiskinan.
 PDRB Harga Konstan adalah nilai tambah
 Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) memberikan barang dan jasa yang dihitung menggunakan
gambaran mengenai penyebaran pengeluaran diantara harga yang berlaku pada satu tahun tertentu
penduduk miskin. Semakin tinggi nilai indeks, semakin sebagai tahun dasar.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 v


Daftar Isi

Kata Sambutan i
Kata Pengantar ii
Statistik Kunci iii
Penjelasan Teknis v
Daftar Isi vi

1 Geografi dan Iklim 1 11 Industri Pengolahan 44


2 Pemerintahan 4 12 Konstruksi 46
3 Penduduk 7 13 Hotel dan Pariwisata 47
4 Ketenagakerjaan 13 14 Transportasi dan Komunikasi 51
5 Pendidikan 21 15 Perbankan dan Investasi 54
6 Kesehatan 25 16 Harga-harga 55
7 Perumahan dan Lingkungan 29 17 Pengeluaran Penduduk 61
8 Pembangunan Manusia 32 18 Perdagangan 64
9 Pertanian 38 19 Pendapatan Regional 65
10 Pertambangan dan Energi 41 20 Perbandingan Regional 69
Lampiran Tabel 74

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 vi


GEOGRAFI DAN IKLIM
Papua Barat dimekarkan dari Papua
Papua Barat resmi menjadi provinsi yang memiliki pemerintahan sendiri berdasarkan UU No. 45
tahun 1999 setelah dimekarkan dari provinsi induknya, Provinsi Papua. 1
Provinsi Papua Barat terletak pada bagian Gambar 1.1 Peta Provinsi Papua Barat

kepala burung Pulau Papua. Secara geografis letak


Provinsi Papua Barat berada di daerah sekitar ekuator,
yaitu tepatnya pada koordinat 0º,0” hingga 4º,0” Lin-
tang Selatan dan 124º,00” hingga 132º‟0” Bujur Timur.
Batas-batas wilayah Provinsi Papua Barat adalah:
Utara: Samudera Pasifik
Selatan: Laut Banda dan Provinsi Maluku
Barat: Laut Seram dan Provinsi Maluku
Timur: Provinsi Papua

Provinsi Papua Barat adalah provinsi pemekaran


Gambar 1.2 Persentase Luas Wilayah Provinsi Papua Barat
dari Provinsi Papua. Provinsi Papua Barat dimekarkan menurut Kabupaten/Kota 2009
dari Provinsi Papua berdasarkan UU No. 45 Tahun
1999. Dan berdasarkan Inpres No. 1 tahun 2003
provinsi ini bernama Irian Jaya Barat. Kemudian sejak
6 Februari 2007 resmi bernama Provinsi Papua Barat.
Pada awal pemekarannya, Provinsi Papua Barat
hanya terdiri dari Kabupaten Fakfak, Kabupaten So-
rong, Kabupaten Manokwari, dan Kota Sorong.

Wilayah tersebut sekarang terbagi kedalam


wilayah administrasi yang terdiri dari 10 (sepuluh) ka-
bupaten dan 1 (satu) kota, atau terjadi penambahan
tujuh kabupaten sejak pemekaran wilayah. Sumber: Permendagri No. 6 Tahun 2008

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri


Nomor 6 tahun 2008 luas wilayah Provinsi Papua
Tahukah Anda?
Barat adalah 97.024,37 Km2. Wilayah terluas adalah Pulau Papua (Indonesia dan Papua
New Guinea) adalah pulau terbesar
Kabupaten Teluk Bintuni (21,48%) dan wilayah terkecil kedua di dunia setelah Green Land
adalah Kota Sorong (0,68 %). (Denmark).

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 1


GEOGRAFI DAN IKLIM

1 Selama Dua per Tiga Tahun 2009 Diguyur Hujan


Sebagian wilayah di Papua Barat memiliki curah hujan yang tinggi, jumlah hari hujan dapat
mencapai 246 hari atau lebih dari dua per tiga tahun selama tahun 2009

Gambar 1.3 Persentase Desa/Kelurahan Berdasarkan Berdasarkan topografi wilayah, Provinsi Papua
Topografi Wilayah 2008
Barat terbagi menjadi 34,52 persen merupakan desa
pesisir dan 65,48 persen adalah desa bukan pesisir.
15.60 Dari 65,48 persen desa yang terletak di bukan pesisir,
sebesar 15,60 persen berada pada daerah lembah/
20.66
34.52 65.48
daerah aliran sungai; 20,66 persen terletak pada
29.21 lereng atau punggung gunung; dan 29,21 persen
lainnya berada pada daerah dataran.
Pesisir
Bukan Pesisir Lembah/Daerah Aliran Sungai
Bukan Pesisir Lereng/Punggung Bukit
Bukan Pesisir Dataran
Suhu udara rata-rata di Provinsi Papua Barat
Sumber: Sensus Potensi Desa (PODES), 2008 berada pada kisaran 22,00º–33,20º Celcius dengan
suhu udara minimum berada di Kabupaten Fakfak dan
suhu udara maksimum berada di Kota Sorong.
Tabel 1.1 Keadaan Iklim Kabupaten/Kota
di Provinsi Papua Barat 2009
Sementara rata-rata kelembaban udara bervariasi
antara 81,25 persen sampai dengan 85,33 persen.
Uraian Minimum Maksimum

Suhu Udara Rata-rata 22,00 33,20


Curah hujan di Provinsi Papua Barat bervariasi.
Rata-rata Kelembaban Udara 81,25 85,33
Curah hujan terendah tercatat 1680,00 mm per tahun
Rata-rata Tekanan Udara 993,61 1010,50
berada di Kabupaten Kaimana dan yang tertinggi
Curah Hujan 1680,00 3265,00
3265,00 mm per tahun di Kabupaten Fakfak.
Hari Hujan 152,00 246,00
Sementara hari hujan terendah berada di Kabupaten
Rata-rata Penyinaran
37,00 131,40
Matahari Manokwari yaitu 152 hari. Sedangkan Kabupaten
Sumber: Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kab/Kota, 2009
Kaimana yang memiliki curah hujan terendah justru
mempunyai hari hujan yang tertinggi di Provinsi Papua
Barat, yaitu sebanyak 246 hari atau sekitar dua per
tiga tahun selama tahun 2009 Kabupaten Kaimana
Tahukah Anda? diguyur hujan. Fenomena rendahnya curah hujan
Provinsi Papua Barat memiliki jumlah
pulau sebanyak 1.945 buah, dan dengan hari hujan yang tinggi mengandung arti di
merupakan provinsi dengan jumlah
pulau terbanyak kedua di Indonesia Kabupaten Kaimana sering terjadi hujan ringan atau
setelah Provinsi Kepulauan Riau
(2.408 pulau). frekuensi hujan yang tingggi namun dengan intensitas
ringan.

2 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


GEOGRAFI DAN IKLIM
Terjadi Gempa dengan Skala 7,6 SR pada 4 Januari 2009
Terjadi dua getaran gempa dengan magnitude besar pada 4 Januari 2009 di Manokwari dengan
intensitas mencapai daerah Sorong dan sekitarnya. 1
Papua Barat dan Papua merupakan daerah Gambar 1.4 Peta Distribusi Gempa Tektonik Papua Barat
dan Papua Tahun 2009
gempa bumi yang sangat aktif terutama pada bagian
utara sepanjang Jayapura-Manokwari-Sorong. Papua
Barat dan Papua memiliki beberapa zonasi
kegempaan seperti zona Sorong, Ransiki, Terera
Aiduna di Kaimana dan Nabire, Yapen di Biak dan
Serui, Jayapura, Membramo dan Pegunungan Tengah.
Paling rentan ialah zona di Jayapura dan Sorong
dengan sejarah magnitude mendekati dan/atau lebih
dari 8,0 Skala Ricther (SR).
Sejak tahun 1900-Februari 2010 di Papua Barat
dan Papua telah mengalami sebanyak 6.725 kali
Sumber: Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Papua, 2009
gempa signifikan, atau rata-rata mengalami sekitar 5
kali gempa setiap bulan dengan magnitude yang Tabel 1.2 Kerugian Akibat Gempa Bumi Manokwari
(4 Januari 2009)
bervariasi. Diantara getaran gempa tersebut 93 kali
Kerugian Akibat Gempa Jumlah Satuan
diantaranya memiliki magnitude lebih dari 7,00 SR.
Meninggal 4 jiwa
Selama tahun 2009, terekam sebanyak 10.520 Rawat Inap 37 jiwa
kali sinyal seismik gempa bumi di Papua Barat dan Rawat Jalan 581 jiwa
Papua, atau mengalami peningkatan sebesar 94,38 Mengungsi ± 5000 jiwa

persen dari keadaan 2008 yang hanya tercatat 5.412 Rumah Rusak Berat 1936 unit
Rumah Rusak Ringan 3730 unit
kali gempa bumi.
Tempat Ibadah rusak 152 unit
Gempa bumi signifikan dan merusak terjadi di
Kantor Pemerintahan rusak 51 unit
Manokwari, Papua Barat, tanggal 4 Januari 2009, yaitu
Sarana Pendidikan rusak 69 unit
terjadi pada pukul 04:43:51 WIT dengan magnitude Jembatan rusak 8 unit
sebesar 7,6 SR di kedalaman 48 km dpl. Gempa ini Sumber: Departemen Kesehatan, 2009

memiliki intensitas V-VI MMI di Manokwari dan Sorong.


Efek merugikan dari gempa Manokwari
menyebabkan 4 korban jiwa, rawat inap 37 orang dan Tahukah Anda?
Terjadi 6725 gempa bumi signifikan
rawat jalan 581 orang serta 5.000-an pengungsi. Hal di Papua Barat dan Papua sejak
tahun 1900-Februari 2010, dan 92
tersebut belum termasuk korban yang terluka secara diantaranya mempunyai magnitude
lebih dari 7,0 SR.
traumatik.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 3


PEMERINTAHAN

2 Terjadi Penambahan 7 Kabupaten Sejak Pemekaran Papua Barat


Sejak pemekaran jumlah kabupaten/kota di Provinsi Papua Barat bertambah menjadi 10 kabupaten
dan 1 kota yang semula hanya 3 kabupaten dan 1 kota.

Tabel 2.1 Sejarah Pemekaran Kabupaten/Kota dan Dasar Provinsi Papua Barat adalah provinsi hasil
Hukum di Provinsi Papua Barat
pemekaran dari Provinsi Papua. Provinsi ini beribukota
Kabupaten
Kabupaten Induk
Pemekaran
Dasar Hukum di Kabupaten Manokwari. Meskipun dari sisi
Fakfak infrastruktur dan fasilitas masih tertinggal dari Kota
Fakfak UU No. 26 Tahun 2002
Kaimana Sorong, namun Kabupaten Manokwari tetap menjadi
Manokwari
pilihan sebagai pusat pemerintahan Provinsi Papua
Manokwari Teluk Wondama UU No. 26 Tahun 2002
Barat.
Teluk Bintuni
Struktur hierarki dalam pembagian administrasi
Sorong
Sorong Sorong Selatan UU No. 26 Tahun 2002
pemerintahan digolongkan menjadi kabupaten, kota,
Raja Ampat kecamatan (distrik), kelurahan, dan desa (kampung).
Sorong Sejak terjadi pemekaran dan memiliki kedaulatan
Sorong UU No. 56 Tahun 2008
Tambrauw sendiri sebagai provinsi, wilayah kerja administrasi
Sorong Selatan
Sorong Selatan UU No. 13 Tahun 2009 terus mengalami perkembangan. Pemekaran wilayah
Maybrat
kabupaten/kota sejak terpisah dari Provinsi Papua

Gambar 2.1 Jumlah Kecamatan, Kelurahan, dan Desa di


sampai dengan tahun 2009 mengalami peningkatan
Provinsi Papua Barat 2009 menjadi 10 (sepuluh) kabupaten dan 1 (satu) kota dari
kondisi semula 3 (tiga) kabupaten dan 1 (satu) kota.
1293
1224
1400 1203
Sejarah pembentukan kabupaten/kota
1200
1000 pemekaran diawali dengan berkembangnya
800
Kabupaten Fakfak yang mekar menjadi Kabupaten
600
400 130 134 154 Fakfak dan Kabupaten Kaimana (UU No. 26 Tahun
49 51 68
200
0
2002); Kabupaten Manokwari berkembang menjadi
2007 2008 2009 Kabupaten Manokwari, Kabupaten Teluk Wondama

Kecamatan Desa Kelurahan


dan Kabupaten Teluk Bintuni (UU No. 26 Tahun 2002);
dan Kabupaten Sorong berkembang menjadi
Sumber: Pemda Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Barat, 2009 Kabupaten Sorong, kabupaten Sorong Selatan, dan
Kabupaten Raja Ampat (UU No. 26 Tahun 2002).
Selanjutnya pada perkembangannya Kabupaten
Tahukah Anda?
Manokwari (ibukota Provinsi Papua Sorong mekar kembali menjadi Kabupaten Sorong dan
Barat) dan Mamuju (ibukota Provinsi
Sulawesi Barat) adalah ibukota Kabupaten Tambrauw (UU No. 56 Tahun 2008).
provinsi yang wilayah administrasinya
masih bersatus kabupaten. Terakhir di tahun 2009 terjadi pemekaran Kabupaten

4 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PEMERINTAHAN
Pemekaran Wilayah Kecamatan dan Desa/Kelurahan Sangat Pesat
Selama dua tahun terakhir terjadi Penambahan 24 kecamatan, 90 desa, dan 19 kelurahan.
2
Sorong Selatan yang mekar menjadi Kabupaten Tabel 2.2 Pembagian Daerah Administrasi menurut
Kabupaten/Kota 2009
Sorong Selatan dan Maybrat (UU No. 13 Tahun 2009).
Kabupaten/Kota Ibukota Kecamatan Desa Kelurahan
Perkembangan wilayah administrasi dibawah
Fakfak Fakfak 9 122 7
level kabupaten/kota terjadi pemekaran wilayah Kaimana Kaimana 7 84 2

kecamatan, kelurahan, dan desa. Semula di tahun Teluk Wondama Rasiei 13 75 1


Teluk Bintuni Bintuni 24 114 2
2007 jumlah kecamatan adalah 130 kecamatan,
Manokwari Manokwari 29 412 9
kemudian terjadi pemekaran wilayah sehingga menjadi Sorong Selatan Teminabuan 13 110 2
134 kecamatan di tahun 2008, dan di tahun 2009 Sorong Aimas 18 118 13

jumlahnya meningkat menjadi 154 kecamatan. Selama Raja Ampat Waisai 17 97 1


Tambrauw Sausapor 7 53 0
2007-2009 jumlah kecamatan meningkat sebanyak 24
Maybrat Kumurkek 11 108 1
kecamatan. Kota Sorong Sorong 6 - 30

Pemekaran wilayah kelurahan juga terjadi cukup Papua Barat Manokwari 154 1293 68
PB 2008 134 1224 51
cepat, selama tahun 2007-2009 jumlah kelurahan
PB 2007 130 1203 49
meningkat sebanyak 19 kelurahan. Pemekaran Sumber: Pemda Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Barat, 2009

wilayah desa lebih dahsyat dibandingkan dengan


pemekaran wilayah kecamatan maupun kelurahan. Gambar 2.2 Persentase PNS Pemda Kabupaten/Kota/Provinsi
Papua Barat dan Jumlah PNS menurut Jenis Kelamin 2009
Perkembangan pemekaran wilayah desa meningkat
dari 1203 desa di tahun 2007 menjadi 1293 desa di
Manokwari 23.69
tahun 2009, atau terjadi peningkatan sebanyak 90 sorong 21.10
Fakfak 15.71
desa dalam kurun waktu dua tahun. 14.58
Kota Sorong
Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Provinsi Papua Sorong Selatan 5.98
Raja Ampat 4.63
Barat berjumlah 20.544 orang dengan rincian 13.236 Prov Papua Barat 4.14
Teluk Bintuni 4.09
orang (64,43%) berjenis kelamin laki-laki dan 7.308 3.19
Teluk Wondama
orang (35,57%) berjenis kelamin perempuan. Dilihat Kaimana 2.90

dari komposisinya terlihat bahwa jumlah PNS laki-laki 0 5 10 15 20 25

jauh lebih banyak dibandingkan dengan PNS


Sumber: Pemda Kabupaten/Kota se-Provinsi Papua Barat, 2009
perempuan. Hal ini memberikan informasi bahwa
kesetaraan gender dalam pemerintahan di Provinsi
Papua Barat belum menunjukkan kemerataan. Kondisi Tahukah Anda?
Abraham O. Atururi dan Rahimin
ini terjadi di seluruh instansi Pemda kabupaten di Katjong adalah Gubernur dan Wakil
Provinsi Papua Barat kecuali Kota Sorong. Gubernur Pertama di Provinsi Papua
Barat.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 5


PEMERINTAHAN

2 Persentase Perempuan di DPRD Hanya 15,91 Persen.


Dari 44 kursi yang diperebutkan di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Papua Barat tahun
2009, hanya 15,91 persen kursi yang diduduki oleh perempuan.

Gambar 2.3 Persentase PNS Pemda Provinsi Papua Barat Distribusi persentase PNS menurut kabupaten/
menurut Tingkat Pendidikan 2009
kota/provinsi tercatat Kabupaten Manokwari memiliki
7.66 PNS yang terbanyak yaitu sebesar 23,69 persen dari
total PNS Pemda di Papua Barat. Kabupaten
Manokwari sebagai ibukota provinsi dan pusat
29.42 61.79
pemerintahan membutuhkan sumber daya manusia
yang lebih banyak dibandingkan dengan kabupaten/
kota lainnya. Disamping itu, Kabupaten Manokwari
juga memiliki jumlah kecamatan dan kelurahan/desa
0.70 0.44 terbesar (29 kecamatan dan 421 kelurahan/desa).
SD SLTP SLTA Diploma Sarjana Sedangkan Kabupaten Kaimana memiliki distribusi
persentase terkecil dalam ketersediaan PNS yaitu
Sumber: Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Papua Barat, 2009
sebesar 2,90 persen.
Kualitas PNS sangat dipengaruhi oleh tingkat
Gambar 2.4 Jumlah Anggota DPRD menurut Jenis Kelamin pendidikan yang ditamatkan. Pemda Provinsi Papua
Barat termasuk memiliki kualitas SDM yang baik.
3
Kedaulatan… 6 Berdasarkan tingkat pendidikan yang ditamatkan,
1
Bintang KPK 5 sebesar 61,79 persen PNS berlatar belakang
0
PAN 6 pendidikan sarjana. Sedangkan untuk PNS yang
0
PDIP 8
berpendidikan rendah (SD dan SLTP) hanya memiliki

Demokrasi…
2
4
persentase sebesar 0,44 persen dan 0,70 persen.

Golkar
1
Peta perpolitikan di Provinsi Papua Barat
8
menunjukkan tidak ada dominasi partai tertentu yang
0 2 4 6 8
Perempuan Laki-laki duduk dalam kursi anggota DPRD. Tiga fraksi terbesar

Sumber: Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Papua Barat, 2009 yang menduduki kursi DPRD yaitu Fraksi Kedaulatan
Rakyat dan Fraksi Golkar masing-masing
mendapatkan jatah 9 kursi, sedangkan Fraksi PDIP
menduduki 8 kursi. Bila dilihat dari sisi gender, jumlah

Tahukah Anda? perempuan yang duduk di kursi DPRD relatif rendah,


Persentase perempuan yang duduk yaitu 15,91 persen dari 44 kursi. Hal ini mengandung
dalam kursi DPRD Provinsi Papua
Barat hanya 15,91 persen. arti ketimpangan gender masih terjadi dalam berpolitik.

6 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PENDUDUK
Jumlah Penduduk Provinsi Papua Barat sebesar 743.860 Jiwa
Jumlah penduduk Provinsi Papua Barat tahun 2009 sebesar 743.860 jiwa meningkat dari jumlah
tahun 2008 sebesar 729.962 jiwa. Jumlah penduduk ini adalah yang terkecil di Indonesia dan
kontribusinya terhadap penduduk Indonesia hanya 0,32 persen.
3
Dalam proses pembangunan, penduduk
merupakan faktor penting yang harus diperhatikan
karena sumber daya alam yang tersedia tidak akan
mungkin dapat dimanfaatkan tanpa adanya peranan
manusia. Dengan adanya manusia, sumber daya alam
tersebut dapat dikelola untuk memenuhi kebutuhan
hidup bagi diri dan keluarga secara berkelanjutan.
Besarnya peran penduduk tersebut maka pemerintah
dalam menangani masalah kependudukan tidak hanya
memperhatikan pada upaya pengendalian jumlah dan
pertumbuhan penduduk saja tetapi lebih menekankan
kearah perbaikan kualitas sumber daya manusia. Gambar 3.1 Jumlah Penduduk Papua Barat 1971-2009
Jumlah penduduk yang besar dapat menjadi
800
potensi dan mendatangkan manfaat yang besar bila
700
memiliki kualitas yang baik, namun besarnya jumlah
600
Penduduk (ribu)

penduduk tersebut dapat menjadi beban yang akan 500


sulit untuk diselesaikan bila kualitasnya rendah. 400

Informasi kependudukan yang baik sangat diperlukan 300


200
untuk menunjang kearah pembangunan berkualitas.
100
Jumlah penduduk Provinsi Papua Barat terus
0
mengalami perkembangan setiap tahun, namun laju 1971 1980 1990 2000 2005 2009
Series1 221.46 283.49 358.51 529.69 688.2 743.9
pertumbuhan penduduknya cenderung mengalami
perlambatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada Sumber: SP1971, SP 1980, SP 1990, SP 2000, Hasil Proyeksi Supas 2005, BPS

Sensus Penduduk yang pertama di tahun 1971,


penduduk Provinsi Papua Barat hanya mencapai
221,46 ribu jiwa. Pada Sensus Penduduk terakhir
tahun 2000 (angka sementara SP 2010 adalah Tahukah Anda?
760.855 jiwa) jumlah penduduk Papua Barat Jumlah penduduk Provinsi Papua
Barat tahun 2009 adalah yang terkecil
meningkat menjadi 529,69 ribu jiwa. Kemudian di di Indonesia (743.860 jiwa), dengan
kontri busi terha dap penduduk
tahun 2009 penduduk Provinsi Papua Barat meningkat nasional hanya 0,32 Persen.
menjadi 743,86 ribu jiwa.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 7


PENDUDUK

3 Laju Pertumbuhan Penduduk Provinsi Papua Barat Terbesar Ketiga.


Laju pertumbuhan penduduk Papua Barat tahun 2000-2009 menempati urutan ketiga di Indonesia,
yaitu sebesar 3,43 persen. Urutan tersebut dibawah Provinsi Kepulauan Riau (4,27%) dan Provinsi
Riau (3,46%).

Tabel 3.1 Indikator Kependudukan Jumlah penduduk di suatu wilayah sangat


Uraian 2007 2008 2009 dipengaruhi oleh fertilitas, mortalitas dan migrasi/
Jumlah Penduduk (jiwa) 715999 729962 743860 perpindahan penduduk. Ketiga faktor tersebutlah yang
Pertumbuhan Penduduk (%) 1.98 1.95 1.90 menentukan tinggi rendahnya pertumbuhan penduduk.
Sex Ratio (%) 109.03 110.44 110.20
Pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh fertilitas
Jumlah Rumah Tangga (ruta) 168552 169439 169945
Rata-rata ART (jiwa/ruta) 4.25 4.31 4.38
terutama terkait dengan kemampuan dalam
Penduduk menurut Kelompok mengontrol jumlah kelahiran. Bagaimana peranan
Umur (%)
0-14 36.94 32.16 32.29
program keluarga berencana yang dicanangkan
15-64 61.92 68.33 70.01 pemerintah apakah telah berjalan dengan baik
65+ 1.13 1.47 1.59 sehingga telah mampu mengontrol angka kelahiran.
Sumber: Hasil Proyeksi Supas 2005, Susenas 2007-2009
Mortalitas terutama terkait dengan angka kematian
bayi (infant mortality rate) dan angka kematian ibu
Gambar 3.2 Laju Pertumbuhan Penduduk menurut Kabupaten/ (maternal mortality rate) yang tinggi. Disamping itu
Kota Tahun 2000-2009
peran migrasi juga sangat berpengaruh terhadap
pertumbuhan penduduk yang tinggi. Provinsi Papua
Raja Ampat
Teluk Wondama Barat sebagai provinsi yang relatif baru menjadi
Fakfak
magnet penarik bagi para pencari kerja karena
Papua Barat
Manokwari
kesempatan kerja yang masih terbuka lebar. Daya tarik
Kaimana lainnya adalah sumber daya alam berlimpah yang
Kota Sorong
dimiliki oleh provinsi ini belum tereksplorasi dengan
Sorong
Sorong Selatan baik untuk dapat dimanfaatkan untuk kepentingan
Teluk Bintuni
kemajuan daerah.
0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00
Pertumbuhan penduduk Provinsi Papua Barat

Sumber: SP2000 dan Hasil Proyeksi Supas 2005


termasuk yang tertinggi di Indonesia. Dengan
pertumbuhan penduduk 3,43 persen antara tahun
2000-2009, menjadikan Provinsi Papua Barat berada
Tahukah Anda? pada peringkat ketiga di Indonesia setelah Provinsi
Provinsi Papua Barat memiliki rata-
rata pertumbuhan penduduk terbesar
Kepulauan Riau (4,27%) dan Provinsi Riau (3,46%).
ketiga (3,43%) di Indonesia selama Angka pertumbuhan penduduk yang tinggi ini akan
tahun 2000-2009 setelah Provinsi
Kepulauan Riau (4,27%) dan Provinsi menimbulkan masalah jika tidak dikendalikan. Masalah
Riau (3,46%) (Statistik Indonesia,
2009). yang akan timbul tidak hanya masalah kependudukan

8 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PENDUDUK
Penduduk Terpadat Papua Barat di Kabupaten Manokwari
Kabupaten Manokwari menjadi wilayah terpadat di Provinsi Papua Barat dengan distribusi sebesar
23,77 persen, hanya beda tipis dengan Kota Sorong yang berada pada urutan kedua dengan
distribusi sebesar 23,20 persen.
3
saja, tetapi dapat pula menimbulkan masalah sosial Gambar 3.3 Persentase Distribusi Sebaran Penduduk 2009

dan kriminalitas. Perencanaan pembangunan yang


berbasis kependudukan sangat diperlukan untuk Fakfak
23% 9%
mencegah atau mengatasi permasalahan yang akan Kaimana
6% 3%
Teluk Wondama
ditimbulkan oleh pertumbuhan penduduk yang sangat 6%
Teluk Bintuni 8%
pesat di masa mendatang.
Manokwari 13%
Sebaran penduduk Provinsi Papua Barat menurut Sorong Selatan
kabupaten/kota dominan di dua daerah yaitu di Sorong 8% 24%

Kabupaten Manokwari (24%) dan Kota Sorong (23%). Raja Ampat


Kota Sorong
Kota Sorong yang dahulu masih tergabung dengan
Kabupaten Sorong terkenal sebagai daerah yang kaya
Sumber: Hasil Proyeksi Supas 2005
dengan tambang minyak. Oleh sebab itu, daerah ini
menjadi daerah tujuan pencari kerja di Provinsi Papua
Barat. Selain itu, Kota Sorong menjadi pintu gerbang Gambar 3.4 Kepadatan Penduduk Provinsi Papua Barat 2009

bagi Provinsi Papua Barat karena terdapat bandar


udara dan pelabuhan kapal besar sebagai pintu masuk
penumpang dan barang dari dan ke Provinsi Papua
Barat. Di lain sisi, Kabupaten Manokwari semakin
padat ketika Papua Barat dimekarkan dari Provinsi
Papua dan Kabupaten Manokwari ditetapkan sebagai
ibukota dan pusat pemerintahan Provinsi Papua Barat.
Sebagai pusat pemerintahan Kabupaten Manokwari
mulai membangun, mulai dari fasilitas pemerintahan,
pendidikan, kesehatan dan infrastruktur lainnya.
Sumber: Luas: Permendagri No 6 Thn 2008
Kepadatan penduduk terbesar di Provinsi Papua Penduduk: Hasil Proyeksi Supas 2005

Barat berada di Kota Sorong yaitu sekitar 263 jiwa per


Km2 karena Kota Sorong memiliki wilayah terkecil
namun jumlah penduduk terbesar kedua di Provinsi
Tahukah Anda?
Papua Barat. Sementara kepadatan penduduk terkecil Provinsi Papua Barat memiliki rata-
adalah di Kabupaten Kaimana dan Kabupaten Teluk rata kepadatan penduduk per Kilo
meter persegi terkecil di Indonesia.
Wondama yaitu 3 jiwa per Km2.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 9


PENDUDUK

3 Penduduk Laki-laki 10 Persen Lebih Banyak daripada Perempuan.


Berdasarkan Sex Ratio yang mencapai 110,20 persen, terlihat bahwa penduduk laki-laki 10 persen
lebih banyak daripada penduduk perempuan. Salah satu penyumbangnya diduga akibat migrasi
masuk lebih banyak berasal dari penduduk laki-laki.

Gambar 3.5 Sex Ratio Provinsi Papua Barat 2009 Berdasarkan rasio jenis kelamin (sex ratio),
jumlah penduduk Provinsi Papua Barat berjenis
kelamin laki-laki lebih banyak dibandingkan dengan
jumlah penduduk berjenis kelamin perempuan. Hal ini
terbukti dengan besarnya sex ratio penduduk pada
tahun 2007-2009 yang selalu berada diatas 100
persen. Sex ratio penduduk tahun 2007 sebesar
109,03 persen; tahun 2008 sebesar 110,44 persen;
dan pada tahun 2009 sebesar 110,20 persen.
Penduduk laki-laki di Provinsi Papua Barat yang
lebih banyak dari jumlah penduduk perempuan salah
satunya diduga disebabkan migrasi masuk di Papua
Gambar 3.6 Piramida Penduduk Provinsi Papua Barat 2009 Barat. Umumnya migrasi jarak jauh terjadi pada
penduduk berjenis kelamin laki-laki, dan penduduk
70-74 perempuan lazimnya bermigrasi pada jarak dekat
60-64 (Teori Migrasi Ravenstein). Disamping itu, faktor angka
50-54 kematian ibu (Mathernal Mortality Rate) disaat
40-44
malahirkan masih relatif tinggi terjadi di Provinsi Papua
30-34
Barat selaras dengan relatif tingginya penolong
20-24
kelahiran menggunakan jasa dukun/family/lainnya
10-14

0-4
yaitu mencapai 39,57 persen (Susenas, 2009).

(60000) (40000) (20000) 0 20000 40000 60000


Struktur dan komposisi penduduk dapat dilihat
dari piramida penduduk menurut kelompok umur di
Laki-laki Perempuan
wilayah tersebut. Dari komposisi sebaran penduduk
Sumber: Hasil Proyeksi Supas 2005-2015
menurut kelompok umur tersebut Provinsi Papua Barat
termasuk sebagai struktur penduduk muda. Hal ini
tampak dari bentuk piramida penduduk dimana
Tahukah Anda? penduduk lebih terdistribusi ke dalam kelompok umur
Rasio Jenis Kelamin ( sex ratio )
penduduk Provinsi Papua Barat tahun muda atau terjadi pelebaran pada alas piramida
2009 adalah yang tertinggi ketiga di penduduk. Selain itu dilihat dari besarnya median
Indonesia (110,2%), setelah Provinsi
Riau (111,3%) dan Provinsi Bangka umur, Provinsi Papua Barat tergolong pada penduduk
Belitung (110,7%).

10 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PENDUDUK
Perkembangan Fertilitas Perlu Mendapatkan Perhatian
Pada kelompok umur 0-4 tahun dan 5-9 tahun dalam piramida penduduk terlihat semakin melebar.
Hal ini menunjukkan bahwa tingkat fertilitas belum mampu dipertahankan dengan baik. Tergambar
dalam piramida penduduk bahwa jumlah penduduk pada kelompok umur tersebut semakin tinggi.
3
usia muda karena memiliki median umur 19,03 tahun.
Sedangkan kriteria penduduk usia muda adalah bila
median umur di suatu daerah ≤ 20 tahun. Tahukah Anda?
Setiap hari terjadi penambahan sekitar
Hal menarik lainnya yang dapat diamati dari 38 orang di Provinsi Papua Barat
selama tahun 2008-2009.
piramida penduduk Provinsi Papua Barat adalah
perkembangan arah pertumbuhan penduduk pada
kelompok umur 0-4 dan 5-9 tahun. Pada penduduk
kelompok umur 0-4 tahun jumlahnya lebih banyak dari
pada penduduk usia yang lebih tua yaitu pada
kelompok umur 5-9 tahun. Implikasi dari fenomena ini
adalah jika pemerintah daerah berhasil dalam
mempertahankan tingkat pertumbuhan yang rendah
atau lebih rendah dibandingkan dengan sebelumnya,
maka seharusnya penduduk pada kelompok umur 5-9
tahun jumlahnya lebih banyak dari pada penduduk
pada penduduk di kelompok umur 0-4 tahun. Saat ini
yang terjadi adalah sebaliknya, ukuran grafik bar pada
piramida penduduk kelompok umur 0-4 lebih panjang
dari kelompok umur 5-9 tahun. Hal ini membuktikan
bahwa pertumbuhan penduduk yang tinggi terutama
dari faktor fertilitas belum mampu terkontrol dengan
baik. Oleh karena itu, laju pertumbuhan penduduk
yang cenderung cepat, salah satunya dipicu oleh Sumber: Image Google

tingkat fertilitas yang tinggi masih terjadi di Provinsi


Papua Barat.
Salah satu implikasi lain dari struktur umur muda Tahukah Anda?
 Total Fertility Rate (TFR) Provinsi
adalah tingkat beban ketergantungan yang tinggi. Papua Barat (2,72) adalah tertinggi
Rasio ketergantungan (dependency ratio) digunakan kedua di Indonesia setelah Provinsi
NTT (2,87).
sebagai indikator yang secara kasar dapat  Angka Kematian Bayi/IMR (31,76)
Provinsi Papua Barat berada pada
mengindikasikan keadaan ekonomi suatu daerah peringkat keenam di Indonesia.
tergolong sebagai daerah maju atau daerah sedang

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 11


PENDUDUK

3 Sekitar 48 Orang Masih Ditanggung Penduduk Produktif.


Dependency ratio Papua Barat sebesar 48,39 persen, srtinya sekitar 48 orang non produktif (usia 0-
15 tahun dan 65 tahun keatas) beban hidupnya harus ditanggung oleh penduduk produktif (usia 15-
64 tahun).

Gambar 3.8 Persentase Penduduk menurut Kelompok Umur berkembang. Dependency ratio merupakan salah satu
Produktif dan Non Produktif 2009
indikator demografi yang penting. Semakin tingginya
1.82 1.22 1.53 persentase dependency ratio menunjukkan semakin
tingginya beban yang harus ditanggung penduduk
67.72 67.02 67.39
yang produktif untuk menanggung hidup penduduk
yang belum produktif dan tidak lagi produktif.
30.46 31.76 31.08
Sedangkan persentase dependency ratio yang
Laki-laki Perempuan L+P semakin rendah menunjukkan semakin rendahnya
beban yang ditanggung penduduk yang produktif untuk
0 - 14 15 - 64 65+
membiayai penduduk yang belum produktif dan tidak
Sumber: Hasil Proyeksi Supas 2005
lagi produktif.
Gambar 3.8 memberikan informasi bahwa
persentase penduduk produktif dan non produktif baik
►► Formulasi Dependency Ratio: itu secara agregat maupun gender menunjukkan
kecenderungan yang sama. Baik itu penduduk laki-laki
maupun perempuan serta total penduduk
menunjukkan distribusi yang hampir sama.
Besarnya rasio ketergantungan Provinsi Papua
Barat mencapai 48,39 persen. Artinya dari 100 orang
yang masih produktif (15-64 tahun) harus menanggung
Gambar 3.9 Dependency Ratio menurut Jenis Kelamin beban hidup sekitar 48 orang yang belum produktif (0-
Provinsi Papua Barat 2009
14 tahun) dan tidak produktif (65 tahun keatas).
49.20

48.39

47.67

Tahukah Anda?
Jumlah Penduduk Jawa Barat
(provinsi terpadat di Indonesia) 56
kali lipat jumlah penduduk Papua
Laki-laki Perempuan L+P Barat (provinsi terjarang
penduduknya di Indonesia).
Sumber: Hasil Proyeksi Supas 2005

12 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


KETENAGAKERJAAN
Peningkatan Angkatan Kerja Perlu Diwaspadai
Peningkatan angkatan kerja seiring dengan pertumbuhan penduduk terutama usia muda perlu
diwaspadai karena lapangan kerja yang tercipta harus seimbang dengan kecepatan pertumbuhan
angkatan kerja supaya angka pengangguran dapat ditekan.
4
Situasi ketenagakerjaan Provinsi Papua Barat Gambar 4.1 Skema Ketenagakerjaan

2009 ditandai dengan peningkatan penduduk usia PENDUDUK

kerja. Sesuai dengan struktur penduduk Provinsi


Papua Barat yang tergolong dalam struktur penduduk Usia Kerja (≥15 tahun) Bukan Usia Kerja

usia muda, maka perkembangan penduduk usia kerja


(15 tahun keatas) akan tumbuh relatif cepat. Penduduk
Angkatan Kerja Bukan Angkatan Kerja
usia kerja meningkat dari 445.226 orang di tahun 2007
menjadi 514.293 orang di tahun 2009. Diantara
Bekerja Pengangguran Sekolah Mengurus rumah Tangga Lainnya
penduduk usia kerja tersebut 42,18 persen berada
pada usia muda 15-29 tahun.
Angkatan kerja tahun 2009 meningkat menjadi Mencari Mempersiapkan Putus asa: Merasa Tidak Sudah Mempunyai
Pekerjaan Usaha Mungkin Mendapatkan Pekerjaan Tetapi
352.385 orang dari 342.382 orang di tahun 2008 dan Pekerjaan Belum Mulai Bekerja

296.146 orang di tahun 2007. Pada periode 2008-


2009, peningkatan angkatan kerja diikuti oleh Sedang Bekerja Sementara Tidak Bekerja
peningkatan penduduk yang bekerja namun jumlah
penduduk yang menganggur justru mengalami
Pengangguran Setengah Pengangguran
Setengah Pengangguran Jam Kerja Normal
peningkatan. Jumlah penduduk bekerja meningkat dari Kritis (< 15 Jam) (15-34 Jam)
(< 15 Jam) (≥ 35 Jam)
316.117 orang di tahun 2008 menjadi 325.759 orang di
tahun 2009. Sementara jumlah penganggur meningkat
Bekerja adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh
dari 26.189 orang di tahun 2008 menjadi 26.626 orang
seseorang dengan maksud memperoleh atau membantu
di tahun 2009.
memperoleh pendapatan atau keuntungan, paling sedikit 1
Konsep bekerja menggunakan ketentuan The one jam (tidak terputus) dalam seminggu yang lalu. Kegiatan
hour criterion dari International Labour Organization tersebut termasuk pula kegiatan tidak dibayar yang
(ILO), dimana konsep ini digunakan secara membantu dalam suatu usaha/kegiatan ekonomi.
internasional supaya dapat diperbandingkan antar
wilayah dan antar periode.
Berdasarkan kelompok umur, penduduk yang
bekerja pada usia muda 15-29 tahun sebesar 32,20 Tahukah Anda?
Jumlah penduduk yang bekerja di
persen. Sedangkan menurut jam kerja, sebanyak Provinsi Papua Barat adalah yang
terkecil di Indonesia, kontribusinya
68,50 persen memiliki jam kerja normal (35 jam keatas terhadap jumlah penduduk yang
dalam seminggu). bekerja nasional hanya 0,31 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 13


KETENAGAKERJAAN

4 Pekerja dengan Pendidikan Rendah Cukup Tinggi.


Persentase Penduduk yang bekerja dengan latar belakang pendidikan rendah (belum pernah
sekolah/tidak tamat SD dan tamat SD) mencapai 61,12 persen. Sedangkan pekerja yang berijazah
Diploma/Sarjana hanya 8,61 persen.

Tabel 4.1 Indikator Ketenagakerjaan 2007-2009 Penduduk yang bekerja dengan jam kerja
dibawah 35 jam seminggu biasanya disebut dengan
Uraian Satuan 2007 2008 2009
pengangguran terselubung atau setengah
Bekerja orang 268117 316193 325759
pengangguran. Di Provinsi Papua Barat sebanyak
Pengangguran orang 28029 26189 26626
29,18 persen penduduk yang bekerja termasuk
Angkatan kerja orang 296146 342382 352385
kedalam setengah pengangguran. Tingkat setengah
Penduduk Usia Kerja orang 445226 502400 514293

Tingkat Pengangguran pengangguran mencapai 26,98 persen. Artinya dalam


persen 9.46 7.65 7.56
Terbuka (TPT)
setiap 100 orang angkatan kerja terdapat sekitar 27
Tingkat Partisipasi
persen 66.52 68.15 68.52
Angkatan Kerja (TPAK) orang yang berstatus setengah pengangguran.
Setengah pengangguran orang 82508 105244 95055 Umumnya setengah pengagguran mempunyai
Tingkat Setengah produktivitas yang rendah, sehingga perlu diwaspadai
persen 27.86 30.74 26.98
Pengangguran (TSP)
dalam melihat jumlah penduduk yang bekerja sebab
Persentase Pekerja
Informal
persen 63.48 66.23 67.18 dapat terjadi absolut penduduk yang bekerja tinggi
Sumber: Sakernas Agustus, 2007-2009 namun ternyata tercakup didalamnya setengah
pengangguran dalam jumlah yang tinggi pula.
Bila dilihat dari latar belakang pendidikan,
Gambar 4.2 Penduduk Bekerja menurut Pendidikan 2009 persentase penduduk yang bekerja ternyata sebagian
besar berpendidikan rendah. Sebesar 61,12 persen
Diploma
/Sarjana, 8.61
Dibawah
SD, 30.76
penduduk yang bekerja berlatar belakang pendidikan
SLTA, 23.66
rendah (30,76 persen belum bersekolah/tidak tamat
SD dan 20,36 persen tamat SD). Diantara penduduk
yang bekerja hanya 8,61 persen yang berijazah
diploma dan sarjana.
Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) meng-
gambarkan persentase penduduk 15 tahun ke atas
SLTP, 16.62 SD, 20.36
yang termasuk dalam angkatan kerja. TPAK Provinsi
Papua Barat terus mengalami peningkatan dari tahun

Sumber: Sakernas Agustus, 2009 2007-2009. TPAK tahun 2009 meningkat menjadi
68,52 persen dari kondisi tahun 2008 dan 2007 (68,15
persen dan 66,52 persen).

14 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


KETENAGAKERJAAN
Tingkat Pengangguran Terbuka Mengalami Penurunan
Meskipun jumlah penganggur mengalami peningkatan namun Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
mengalami penurunan dari 7,65 persen di tahun 2008 menjadi 7,56 persen di tahun 2009.
4
TPAK tertinggi 2009 dicapai oleh Kabupaten Gambar 4.3 TPAK menurut Kabupaten/Kota 2009

Manokwari yaitu sebesar 79,26 persen. Artinya adalah


dari 100 orang penduduk usia kerja sekitar 79 orang Fakfak 55.78
62.44
diantaranya termasuk dalam angkatan kerja. Kota Sorong
62.86
Teluk Wondama
Sementara TPAK terendah berada di Kabupaten Kaimana 64.44

Raja Ampat 64.77


Fakfak yaitu hanya mencapai 55,78 persen. Sorong 66.84

Isu ketenagakerjaan yang paling disoroti adalah Papua Barat 68.52

Teluk Bintuni 68.67


masalah pengangguran. Secara ekonomi Sorong Selatan 77.54

Manokwari 79.26
pengangguran adalah produk dari ketidakmampuan
40.00 50.00 60.00 70.00 80.00
pasar kerja dalam menyerap angkatan kerja yang
tersedia. Ketersediaan lapangan kerja yang relatif
Sumber: Sakernas Agustus, 2009
terbatas tidak sanggup menyerap ‟para pencari kerja‟
yang senantiasa bertambah setiap tahun seiring
dengan laju pertumbuhan penduduk.
Indikator ini adalah ukuran pasar tenaga kerja
yang paling banyak digunakan di seluruh dunia dalam
mengukur keberhasilan ketenagakerjaan. Sesuai
dengan kesepakatan internasional, pengangguran
didefinisikan sebagai semua penduduk usia kerja yang
pada suatu referensi waktu tidak punya pekerjaan
(without work), sudah mempunyai pekerjaan tetapi
belum mulai bekerja (currently available for work), dan
sedang mencari pekerjaan (seeking for work).
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Provinsi
Papua Barat terus mengalami penurunan sejak tahun
2007. TPT menurun dari 9,46 persen di tahun 2007
menjadi 7,65 persen di tahun 2008, kemudian kembali
Tahukah Anda?
mengalami penurunan di tahun 2009 menjadi 7,56 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Provinsi Papua Barat Agustus 2009
persen. Artinya dalam setiap 100 orang angkatan kerja (7,56 %) masih lebih rendah dari TPT
nasional (7,87%) pada periode yang
terdapat 7-8 orang berstatus pengangguran.
sama.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 15


KETENAGAKERJAAN

4 TPT Kabupaten Manokwari Terendah


TPT Kabupaten Manokwari sebesar 2,08 persen adalah yang terendah di Papua Barat. Sedangkan
TPT tertinggi di Kabupaten Fakfak sebesar 16,08 persen.

Gambar 4.4 TPT menurut Kabupaten/Kota 2009 TPT menurut gender di tahun 2009 tercatat TPT
laki-laki lebih baik dari pada TPT perempuan. TPT laki-
Manokwari 2.08 laki sebesar 6,95 persen, sedangkan TPT perempuan
3.45
Sorong Selatan
mencapai 8,69 persen. Lebih rendahnya TPT laki-laki
Sorong 4.97

Teluk Wondama 5.22 salah satunya diduga karena laki-laki terutama yang
Raja Ampat 5.38
berstatus sebagai kepala rumah tangga memiliki
Papua Barat 7.56

Teluk Bintuni 8.91 tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan anggota


Kaimana 9.91
rumah tangganya. Masih lebih tingginya TPT
Kota Sorong 15.45

16.08
perempuan menunjukkan masih belum tercapai
Fakfak
kesetaraan gender. Penurunan angka TPT
0.00 3.00 6.00 9.00 12.00 15.00 18.00
menunjukkan peningkatan kinerja di bidang
Sumber: Sakernas Agustus, 2009
ketenagakerjaan. Semakin rendah angka TPT berarti
daya serap lapangan pekerjaan terhadap pencari kerja
Gambar 4.5 TKK menurut Kabupaten/Kota 2009
semkain baik.
Capaian TPT Kabupaten Manokwari adalah yang
Manokwari 97.92
terendah di Provinsi Papua Barat, yaitu hanya 2,08
Sorong Selatan 96.55

Sorong 95.03 persen. Sedangkan TPT yang masih berada diatas 10


Teluk Wondama 94.78
persen adalah Kabupaten Fakfak (16,08 persen) dan
Raja Ampat 94.62

Papua Barat 92.44 Kota Sorong (15,45 persen). Dengan demikian maka
Teluk Bintuni 91.09
Tingkat Kesempatan Kerja (TKK) di Kabupaten
Kaimana 90.09

Kota Sorong 84.55 Manokwari adalah yang tertinggi di Provinsi Papua


Fakfak 83.92
Barat, yaitu mencapai 97,92 persen. Artinya dari setiap
75 80 85 90 95 100
100 orang angkatan kerja maka terdapat sekitar 98
penduduk yang bekerja. Sementara TKK Kabupaten
Sumber: Sakernas Agustus, 2009
Fakfak memiliki capaian terendah, yaitu hanya sebesar
83,92 persen.
Isu menarik lain terkait dengan pengangguran
Tahukah Anda?
Ada 20 indikator aspek
adalah tentang pengangguran terdidik dan
ketenagakerjaan yang diterbitkan pengangguran usia muda. Hal ini tidak saja terjadi di
oleh International Labour
Organization (ILO) yang bernama Key tingkat nasional saja, namun juga terjadi di beberapa
Indicators of The Labour Market
(KILM). provinsi di Indonesia termasuk Provinsi Papua Barat.

16 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


KETENAGAKERJAAN
Fenomena Pengangguran Terdidik Terjadi di Papua Barat
Persentase pengangguran terdidik mencapai 68,49 persen (54,12 persen SLTA dan 14,37 persen
diploma/sarjana) dengan TPT terdidik sebesar 14,78 persen (15,75 persen SLTA dan 12,01
Diploma/Sarjana)
4
Latar belakang tingkat pendidikan para Gambar 4.6 Persentase Pengangguran menurut Tingkat
Pendidikan 2009
penganggur di Provinsi Papua Barat ternyata adalah
berasal dari penduduk yang berpendidikan tinggi.
Persentase terbesar pengangguran justru pada
SLTA, 54.12
pendidikan SLTA keatas (SLTA dan sarjana). Sebesar
68,49 persen pengangguran berasal dari latar SLTP, 16.21
Diploma
belakang pendidikan tersebut, yaitu 54,12 persen /Sarjana, 14.37
SD, 8.45 Dibawah
berpendidikan SLTA dan 14,37 persen berpendidikan SD, 6.85

sarjana. Bila ditinjau dari TPT menurut pendidikan,


TPT terdidik (SLTA dan sarjana) mencapai 14,78
persen atau bila dipisahkan maka TPT pendidikan
SLTA mencapai 15,75 persen dan TPT untuk sarjana Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2009

mencapai 12,01 persen. Bahkan semakin rendah level


pendidikan angka TPT-nya juga semakin rendah. Gambar 4.7 TPT menurut Tingkat Pendidikan 2009
Rendahnya TPT pada level pendidikan rendah,
diduga karena penduduk yang berpendidikan ini 15.75

terserap pada lapangan pekerjaan di sektor pertanian


12.01
di perdesaan. Sementara untuk penduduk yang
berpendidikan tinggi merasa bahwa ekspektasi dengan 7.38

pendidikan tinggi lebih memilih-milih pekerjaan


(preferensi pekerjaan) sesuai dengan bidang yang 3.28
1.79
dipelajari. Tingginya angka pengangguran terdidik
dapat juga disebabkan oleh kurang berkualitasnya
< SD SD SLTP SLTA Dipl/Sarjana
lulusan yang dihasilkan dari lembaga pendidikan yang
ada. Sehingga pasar kerja tidak dapat menyerap para Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2009
pencari kerja karena tidak memenuhi kualifikasi
standar yang ditetapkan oleh perusahaan atau pasar
TPT SLTA 15,75 persen artinya adalah dari setiap 100 orang
kerja. Kemungkinan lain adalah lulusan yang
angkatan kerja yang berlatar belakang pendidikan SLTA
dihasilkan sudah jenuh atau melimpah pada jurusan
sebanyak 15-16 orang diantaranya berstatus pengangguran.
pendidikan tertentu. Kemungkinan lain yang paling
berbahaya terhadap sustainable development adalah

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 17


KETENAGAKERJAAN

4 Pengangguran Usia Muda Relatif Tinggi


Pengangguran usia menjadi permasalahan yang harus diwaspadai mengingat peningkatan angkatan
kerja semakin cepat seiring dengan pertumbuhan penduduk usia muda. Pengangguran usia 15-29
tahun sebesar 75,43 persen, dengan TPT usia 15-29 tahun sebesar 16,07 persen.

Gambar 4.8 Pengangguran dan Angkatan Kerja kurang sinkronnya kebijakan pemerintah pusat dan
menurut Kelompok Umur 2009
pemerintah daerah dalam mengatasi masalah
ketenagakerjaan, terutama penurunan jumlah
pengangguran pada batas yang wajar.
Pengangguran usia muda menjadi fenomena
yang harus dipecahkan oleh pemerintah daerah.
Persentase pengangguran berdasarkan kelompok
umur tercatat dari 26.626 pengangguran sebesar
75,43 persen berada pada usia muda 15-29 tahun
(batas usia kerja di Indonesia 15 tahun keatas) dan
37,21 persen diantaranya berada pada kelompok umur
Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2009
20-24 tahun.

Gambar 4.9 TPT menurut Kelompok Umur 2009


TPT usia muda sangat tinggi ditunjukkan pada
kelompok umur 15-29 tahun yang mencapai 16,07
19.13 persen, yaitu: TPT umur 15-19 tahun sebesar 19,89
15 - 19

20 - 24
19.89 11.20 persen; TPT umur 20-24 tahun sebesar 19,13 persen;
25 - 29 dan TPT umur 25-29 tahun sebesar 11,20 persen.
30 - 34 Pada kelompok usia tersebut memang terdapat
35 - 39
kemungkinan sedang menjalani masa tunggu (job
40 - 44
search period) sembari mencari pekerjaan setelah
45 - 49

50 - 54 lulus dari pendidikan. Jadi lulusan baru (fresh


6.57
55 + 1.76
1.39 1.29 2.76 2.32 graduate) tersebut kemungkinan sedang memulai
mencari pekerjaan bukan karena tidak ada lapangan
Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2009 pekerjaan, namun dapat pula terjadi karena lapangan
kerja yang terbatas.
Dalam hal ini yang perlu diwaspadai adalah semakin
bertambahnya jumlah pengangguran karena semakin
Tahukah Anda?
Upah Minimum Provinsi (UMP) bertambahnya penduduk yang memasuki usia kerja
Provinsi Papua Barat adalah yang yang akan menjadi angkatan kerja baru seiring dengan
terbesar ketiga (Rp. 1.421.814,-)
setelah Provinsi Papua dan NTB pertumbuhan penduduk mengingat piramida penduduk
(Kemenakertrans, 2010).
Papua Barat memiliki struktur penduduk muda.

18 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


KETENAGAKERJAAN
Pekerja di Sektor Pertanian Masih Dominan
Persentase penduduk yang bekerja di sektor pertanian dalam tiga tahun terakhir selalu menjadi
yang terbesar di Papua Barat. Persentasenya di tahun 2009 sebesar 56,60 persen.
4
Jumlah penduduk bekerja berdasarkan lapangan Tabel 4.2 Persentase Penduduk Bekerja menurut Lapangan
Pekerjaan Utama 2007-2009
pekerjaan utama tahun 2007-2009 selalu didominasi
oleh sektor pertanian. Konttribusi sektor ini selalu Lapangan Pekerjaan Utama 2007 2008 2009

berada diatas 50 persen. Persentase pekerja di sektor Pertanian 55.69 58.79 56.60

pertanian meningkat dari 55,69 persen di tahun 2007 Pertambangan dan


2.94 3.08 3.02
Penggalian
menjadi 58,79 persen di tahun 2008. Namun di tahun Industri Pengolahan 3.69 3.59 3.74

2009 pekerja di sektor ini menurun menjadi 56,60 Listrik, Gas & Air Bersih 0.48 0.10 0.25
4.35 4.22 4.77
persen. Tingginya kontribusi tenaga kerja di sektor Bangunan
Perdagangan, Hotel dan
11.94 9.70 10.39
pertanian ternyata tidak memberikan share yang tinggi Restoran
Pengangkutan dan
terhadap pertumbuhan ekonomi Papua Barat. Dengan Komunikasi
6.97 5.74 4.82

kontribusi 56,60 persen dari total tenaga kerja ternyata Keuangan, Persewaan &
Jasa Perusahaan
0.53 0.84 0.53

sektor pertanian hanya mampu menyumbangkan 3,36 Jasa-jasa 13.41 13.94 15.89

persen pada pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua Papua Barat 100.00 100.00 100.00

Barat. Bandingkan dengan sektor industri dan sektor Sumber: Sakernas Agustus, 2007-2009

konstruksi, dua sektor ini mampu memberikan


kontribusi 11,31 persen dan 13,16 persen terhadap
pertumbuhan ekonomi, meskipun share tenaga kerja Tabel 4.3 Persentase Penduduk Bekerja menurut Status
Pekerjaan Utama 2007-2009
kedua sektor ini hanya 3,74 persen dan 4,77 persen
terhadap total penduduk bekerja. Hal ini membuktikan Status Pekerjaan Utama 2007 2008 2009

bahwa sektor pertanian produktivitasnya masih sangat Berusaha sendiri 13.83 19.25 18.72

rendah dalam perekonomian Papua Barat. Berusaha dibantu buruh tetap/


dibayar
26.64 26.46 26.31

Penduduk bekerja berdasarkan status pekerjaan Berusaha dibantu buruh tidak


1.85 2.39 1.74
tetap/tidak dibayar
utama menunjukkan bahwa status sebagai buruh/
Buruh/Karyawan/Pegawai 30.29 25.99 27.03
karyawan/pegawai dan berusaha dibantu buruh tetap/
Pekerja Bebas di Pertanian 0.52 0.95 0.15
buruh dibayar adalah status pekerjaan yang paling Pekerja Bebas di
1.00 1.63 1.71
nonpertanian
dominan di tahun 2007-2009. Di tahun 2009, status
Pekerja tidak dibayar/keluarga 25.87 23.33 23.00
pekerjaan sebagai buruh/karyawan/pegawai adalah
yang paling tinggi persentasenya yaitu mencapai 27,03 Papua Barat 100.00 100.00 100.00

persen. Sementara pekerja bebas di sektor pertanian Sumber: Sakernas Agustus, 2007-2009

merupakan status pekerjaan dengan persentase


terendah yaitu hanya 0,15 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 19


KETENAGAKERJAAN

4 KETENAGAKERJAAAN
Pekerja di Sektor Informal Dua Kali Lipat di Sektor Formal
Pekerja di sektor informal meningkat dari 63,48 persen di tahun 2008 menjadi 67,18 persen di tahun
2009. Persentasenya lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan pekerja di sektor formal.

Tabel 4.4 Elastisitas Kesempatan Kerja menurut Lapangan Gambaran tentang tidak optimalnya kinerja sektor
Pekerjaan Utama
pertanian tampak pada pengukuran Elastistas

Pertumbuhan Elastisitas
Kesempatan Kerja (EKK). Pada sektor pertanian
Lapangan Pertumbuhan
Pekerjaan Utama Ekonomi (%)
Kesempatan Kesempatan (agriculture) justru mencatat nilai elastisitas yang
Kerja (%) Kerja (%)
negatif, yaitu sebesar -1,08 persen. Hal tersebut
Agriculture 3.36 -3.64 -1.08
menunjukkan bahwa sektor pertanian inelastis, karena
Manufacture 6.68 7.29 1.09
setiap satu persen pertumbuhan ekonomi disektor
Services 8.39 4.76 0.57
Papua Barat 6.26 0.10 0.02 pertanian justru akan mengurangi tingkat kesempatan
Sumber: Olahan Sakernas Agustus, 2009 kerja sebesar -1,08 persen. Hal tersebut juga dapat
diartikan bahwa sektor pertanian mulai kurang diminati.
Dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,26
Tabel 4.10 Persentase Pekerja Formal dan Informal 2009 persen dan laju pertumbuhan kesempatan kerja
sebesar 0,10 persen, elastisitas kesempatan kerja
Provinsi Papua Barat hanya mencapai 0,02 persen.
Artinya bahwa setiap kenaikan pertumbuhan ekonomi
63.48 66.23 67.18
satu persen hanya akan menciptakan kesempatan
kerja sebesar 0,02 persen.
36.52 33.77 32.82
Elastisitas kesempatan kerja nasional tahun 2009

2007 2008 2009


mencapai 0,13 persen. Meskipun sama-sama rendah
namun angka EKK nasional masih lebih baik
Formal Informal
dibandingkan dengan EKK Papua Barat. Dengan EKK
sebesar 0,13 persen artinya setiap kenaikan satu
Sumber: Sakernas Agustus, 2007-2009
persen pertumbuhan ekonomi mampu menciptakan
kesempatan kerja sebesar 0,13 persen.
Persentase pekerja informal di Provinsi Papua
Barat tahun 2007-2009 rata-rata sekitar dua kali lipat
Tahukah Anda? pekerja formal. Pada tahun 2007 pekerja informal
Di beberapa negara berkembang
Sektor Informal mampu menyerap sebesar 63,48 persen. Di tahun 2008 pekerja informal
lebih banyak tenaga kerja dan mampu
menjadi pendorong penurunan meningkat menjadi 66,23 persen, selanjutnya di tahun
kemiskinan.
2009 kembali meningkat menjadi 67,18 persen.

20 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PENDIDIKAN
Belum Seluruh Desa/Kelurahan Memiliki Fasilitas Sekolah Dasar
Dari sekitar 1.361 desa/kelurahan di Papua Barat, jumlah sekolah SD yang telah berdiri hanya
sebanyak 853 unit sekolah. Artinya belum seluruh desa/kelurahan memiliki Sekolah Dasar.
5
Situasi capaian pendidikan di Provinsi Papua Tabel 5.1 Indikator Pendidikan 2009

Barat dapat diketahui salah satunya dari ketersediaan


Uraian SD/MI SLTP/MTs SMU/MA/SMK
fasilitas pendidikan, terutama gedung sekolah dan
Jumlah Sekolah 853 197 118
ketercukupan jumlah guru.
Jumlah sekolah SD/MI/Sederajat di Provinsi Jumlah Guru 4668 2496 2199

Papua Barat sebanyak 853 unit, dengan jumlah murid


Jumlah Murid 122502 37616 29154
sebanyak 122.502 siswa dan 4.668 guru. Jumlah
Rasio Murid Sekolah 143.61 190.94 247.07
bangunan gedung sekolah SD yang hanya berjumlah
853 unit artinya belum semua desa/kelurahan di Papua Rasio Murid Guru 26.24 15.07 13.26

Barat terdapat fasilitas SD karena jumlah desa/ Sumber: Dinas Pendidikan Kab/Kota Provinsi Papua Barat, 2009

kelurahan seluruhnya mencapai 1.361 buah (1.293


desa/68 kelurahan). Sementara pada level pendidikan
SLTP terdapat 197 sekolah, 2.496 guru, dan 37.616
murid. Secara rata-rata tiap kecamatan di Papua Barat
sudah terbangun sekolah sebab jumlah kecamatan di
Papua Barat sebanyak 154 kecamatan. Namun
kenyataannya tidak semua kecamatan tersebut telah
berdiri sekolah SLTP seperti contohnya di Kabupaten
Teluk Wondama yang tercatat memiliki 13 kecamatan
tetapi hanya memiliki 7 unit SLTP. Sementara itu, pada
jenjang pendidikan SLTA/Sederajat, jumlah sekolah
yang telah berdiri sebanyak 118 unit dengan jumlah
guru sebanyak 2.199 orang dan jumlah murid
sebanyak 29.154 siswa.
Semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin Tahukah Anda?
Amanat konstitusi amandemen UUD
ringan beban guru, hal ini terlihat dari kondisi rasio 1945 yang kemudian ditegaskan dalam
UU No. 20 Tahun 2003 pasal 49 ayat
jumlah murid terhadap jumlah guru. Seorang guru di (1) menyatakan bahwa dana
tingkat pendidikan SD memiliki beban mengajar 26-27 pendidikan selain gaji pendidik dan
biaya pendidikan kedinasan,
siswa, sedangkan seorang guru SLTP/Sederajat hanya dialokasikan minimal 20 persen dari
APBN pada sektor pendidikan dan
memiliki beban mengajar sebanyak 15-16 siswa, dan minimal 20 persen dari APBD.
untuk jenjang SMA/Sederajat seorang guru rata-rata

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 21


PENDIDIKAN

5 Rata-rata Murid Putus Sekolah di Kelas 3 SLTP


Rata-rata lama sekolah di Papua Barat tahun 2009 adalah 8,01 tahun, artinya rata-rata penduduk
yang bersekolah hanya mampu menyelesaikan sekolah samapi dengan kelas 2 SLTP atau putus
ketika sampai di kelas 3 SLTP.

Gambar 5.1 Angka Melek Huruf 2007-2009 hanya memiliki beban mengajar 13-14 siswa.
Sebaliknya, pada rasio murid terhadap sekolah,
95.57
semakin tinggi jenjang pendidikan maka semakin
92.69 93.01
92.15 92.34 besar murid yang harus ditampung. Pada jenjang
90.32
pendidikan SD rasio jumlah murid terhadap jumlah
90.13
sekolah mencapai 143,61, artinya rata-rata setiap
87.86 88.35
sekolah SD di Papua Barat memiliki jumlah murid
sebanyak 143-144 siswa atau bila setiap sekolah
2007 2008 2009 memiliki 6 kelas maka setiap kelas rata-rata
Laki-laki Perempuan Laki-laki+Perempuan
menampung sebanyak 23-24 siswa. Untuk jenjang
pendidikan SLTP/Sederajat, setiap sekolah memiliki
Sumber: Olahan Susenas, 2007-2009
rata-rata sebanyak 190-191 siswa. Pada jenjang
pendidikan SLTA/Sederajat rasionya mencapai 247,07
artinya rata-rata setiap sekolah SLTA/Sederajat di

Gambar 5.2 Rata-rata Lama Sekolah 2006-2009


Papua Barat harus menampung sekitar 247-248 siswa.
Angka melek huruf di Papua Barat meningkat dari
8.01 90,32 persen di tahun 2007 menjadi 92,15 persen di
tahun 2008. Peningkatan kembali terjadi di tahun 2009
7.65 7.67 menjadi 92,34 persen. Bila dibandingkan secara
gender, dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009
angka melek huruf laki-laki selalu lebih tinggi dari pada
7.20
perempuan. Meskipun keduanya selalu meningkat
namun perbedaannya cukup signifikan. Sebagai
contoh angka melek huruf laki-laki tahun 2009 telah
mencapai 95,57 persen, sedangkan angka melek huruf

2006 2007 2008 2009 perempuan hanya 90,13 persen.


Rata-rata lama sekolah di Provinsi Papua Barat
Sumber: Olahan Susenas, 2006-2009
tahun 2009 baru mencapai 8,01 tahun, lebih baik dari
kondisi tahun sebelumnya yaitu 7,20 tahun (2006);
7,65 tahun (2007); dan 7,67 tahun (2008). Rata-rata
lama sekolah 8,01 tahun artinya rata-rata penduduk

22 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PENDIDIKAN
APS Semakin Menurun Searah dengan Tingkat Umur Sekolah
Angka Partisipasi Sekolah (APS) berangsur menurun searah dengan tingkat umur sekolah. Di
tahun 2009, APS 7-12 tahun (93,35 %). APS 13-15 tahun (88,59 %), APS 16-18 tahun (57,95 %)
dan APS 19-24 tahun (12,72 %).
5
Papua Barat hanya bersekolah sampai dengan kelas Gambar 5.3 Angka Partisipasi Sekolah (APS) menurut
Kelompok Umur 2007-2009
dua SLTP atau putus sekolah setelah di kelas tiga
7-12
SLTP. Padahal menurut sistem pendidikan nasional 13-15

09 93.35 88.59
09
mengisyaratkan pendidikan dasar 9 tahun. Jadi rata-
08 93.18 88.75
rata lama sekolah tersebut harus segera diperbaiki, 08

87.58
salah satu caranya adalah memberikan pendidikan 07 92.64 07

gratis bagi siswa yang tidak mampu agar tidak putus 92 93 94 86 87 88 89

sekolah ditengah jalan.


Angka Partisipasi Sekolah (APS) digunakan untuk 16-18

mengetahui seberapa besar penduduk pada usia 09 57.95

tertentu telah berpartisipasi untuk menempuh 08 57.53

pendidikan melalui sekolah-sekolah yang telah 07 57.84

disediakan oleh pemerintah maupun swasta.


57 57.5 58
Angka partisipasi sekolah 7-12 tahun 2009 hanya
Sumber: Susenas, 2007-2009
mencapai 93,35 persen, artinya hanya sebesar 93,35
persen penduduk berusia 7-12 yang bersekolah.
Maknanya masih terdapat sebesar 6,65 persen
penduduk pada usia tersebut yang tidak bersekolah. Gambar 5.4 Angka Partisipasi Sekolah (APK) dan Angka
Partisipasi Murni (APM) menurut Tingkat Pendidikan 2009
Angka partisipasi sekolah semakin menurun searah
dengan semakin tinggi kelompok usia sekolah. Angka
PT SLTA SLTP SD
partisipasi sekolah 13-15 tahun menurun menjadi 6.25
43.55
88,59 persen. Pada kelompok usia sekolah 16-18 APM 49.03
91.25
tahun angka partisipasi sekolah hanya tinggal 57,96
persen. Sedangkan pada kelompok usia sekolah 19-24 8.41
62.04
tahun angka partisipasinya semakin rendah, yaitu APK 66.29
117.5
hanya mencapai 12,72 persen. Semakin rendahnya
angka partisipasi sekolah tersebut memberikan fakta 0 30 60 90 120

bahwa semakin tinggi kelompok usia sekolah maka


semakin tinggi angka putus sekolahnya. Sumber: Olahan Susenas, 2009

Angka partisipasi Kasar SD tahun 2009 mencapai


117,50 persen, berarti masih banyak murid SD yang

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 23


PENDIDIKAN

5 APK Sekolah Dasar Lebih dari 100 Persen.


APK SD Papua Barat taun 2009 mencapai 117,50 persen, artinya sebesar 17,50 persen penduduk
berusia diluar 7-12 tahun bersekolah SD. Diduga banyak anak sekolah SD memiliki umur diatas usia
7-12 tahun.

►►DEFINISI: berada diluar batas


kelompok umur 7-12 tahun,
 Angka Melek Huruf (AMH) adalah Perbandingan
baik itu kurang dari 7 tahun
antara jumlah penduduk usia 15 tahun keatas yang
atau diatas 12 tahun. Diduga
dapat membaca dan menulis dengan jumlah
penduduk usia 15 tahun keatas. untuk kasus di tanah Papua
 Angka Partisipasi Sekolah (APS) 7-12 tahun lebih banyak penduduk yang
adalah perbandingan antara penduduk usia 7-12 berada diata s bata s
tahun yang masih sekolah terhadap jumlah kelompok umur ini
penduduk usia 7-12 tahun.
bersekolah pada kelompok umur yang lebih rendah.
 APS 13-15 tahun adalah perbandingan antara
penduduk usia 13-15 tahun yang masih sekolah Angka Partisipasi Murni adalah indikator
terhadap jumlah penduduk usia 13-15 tahun. menunjukkan persentase penduduk yang tepat
 APS 16-18 tahun adalah perbandingan antara bersekolah pada kelompok umur yang sesuai.
penduduk usia 16-18 tahun yang masih sekolah Diketahui bahwa pada tingkat pendidikan SD
terhadap jumlah penduduk usia 16-18 tahun.
persentase penduduk yang bersekolah SD tepat pada
 Angka Partisipasi Kasar (APK) SD adalah
usia sekolah SD sebesar 91,25 persen. Artinya masih
perbandingan antara jumlah penduduk yang sedang
bersekolah SD terhadap jumlah penduduk usia 7-12 ada 8,75 persen penduduk yang tepat berusia sekolah
tahun SD 7-12 tahun sedang tidak bersekolah.
 APK SLTP adalah perbandingan antara jumlah Pada APM dan APK terlihat bahwa pada jenjang
penduduk yang sedang bersekolah SLTP terhadap pendidikan SD memiliki persentase yang tinggi, namun
jumlah penduduk usia 13-15 tahun
begitu memasuki jenjang pendidikan SLTP nilai
 APK SLTA adalah perbandingan antara jumlah
tersebut anjlok sangat tajam. Hal ini sejalan dengan
penduduk yang sedang bersekolah SLTA terhadap
jumlah penduduk usia 16-18 tahun rata-rata lama sekolah yang hanya berada pada nilai
 Angka Partisipasi Murni (APM) SD adalah 8,01 tahun atau rata-rata penduduk putus sekolah
perbandingan antara jumlah penduduk yang sedang pada jenjang pendidikan SLTP. Nilai APM dan APK
bersekolah SD usia 7-12 tahun terhadap jumlah
yang menurun sangat tajam juga terjadi pada jenjang
penduduk usia 7-12 tahun
pendidikan perguruan tinggi. APK dan APM perguruan
 APM SLTP adalah perbandingan antara jumlah
penduduk yang sedang bersekolah SLTP usia 13-15 tinggi hanya sebesar 8,41 persen dan 6,25 persen.
tahun terhadap jumlah penduduk usia 13-15 tahun Bandingkan dengan angka APK dan APM SLTA
 APM SLTA adalah perbandingan antara jumlah sebesar 62,04 persen dan 43,55 persen. Hal ini
penduduk yang sedang bersekolah SLTA usia 16-18 menunjukkan partisipasi sekolah untuk perguruan
tahun terhadap jumlah penduduk usia 16-18 tahun
tinggi masih sangat rendah.

24 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


KESEHATAN
Belum Seluruh Kabupaten di Papua Barat Memiliki Rumah Sakit
Dari 11 kabupaten/kota di Papua Barat telah berdiri 13 unit rumah sakit dimana 9 unit diantaranya
hanya berada di Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong. Beberapa kabupaten bahkan belum
memiliki fasilitas rumah sakit.
6
Angka harapan hidup (AHH) umumnya digunakan Tabel 6.1 Indikator Kesehatan 2007-2009

untuk mengukur derajat kesehatan suatu wilayah. AHH Uraian 2007 2008 2009
dihitung berdasarkan harapan hidup waktu lahir. AHH
Angka Harapan Hidup 67.60 67.90 68.20
Provinsi Papua Barat terus mengalami peningkatan
Jumlah Rumah Sakit 10 10 13
dari tahun ke tahun. AHH Provinsi Papua Barat tahun
2008 sebesar 67,90 tahun meningkat 0,3 tahun dari Jumlah Puskesmas 76 94 105

kondisi tahun sebelumnya sebesar 67,60 tahun. Di Jumlah Pustu 334 339 339

tahun 2009, AHH Papua Barat kembali meningkat 0,3 Jumlah Polindes 217 185 218
tahun menjadi 68,20 tahun.
Jumlah Puskesmas Keliling 69 93 141
Angka harapan hidup per tahun di Provinsi Papua Persentase Penolong
55.99 57.83 60.43
Barat tercatat tidak melebihi dari satu tahun dalam satu Kelahiran dengan Medis (%)

Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat dan Susenas, 2007-2009


periode jangka waktu satu tahun. Hal ini berarti bahwa
kondisi angka kematian bayi (infant mortality rate) di
Provinsi Papua Barat termasuk dalam kategori
Gambar 6.1 Jumlah Rumah Sakit 2006-2009
Hardrock, artinya dalam waktu satu tahun penurunan
angka kematian bayi yang tajam sulit terjadi. Sehingga 6

4 4
4
implikasinya adalah angka harapan hidup yang
4
4
dihitung berdasarkan harapan hidup waktu lahir 4
4

2
menjadi lambat untuk mengalami kemajuan. 3 2
2
Jumlah rumah sakit di Papua Barat selama 2007- 2006
2007
2008 hanya sebanyak 10 unit, sedangkan di tahun 2008

2009 jumlahnya bertambah menjadi 13 unit. 2009

Berdasarkan kepemilikannya, 6 rumah sakit adalah Pemerintah Swasta TNI

milik pemerintah, 4 rumah sakit milik swasta, dan 3 Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, 2009
rumah sakit milik TNI. Belum semua kabupaten di
Papua Barat memiliki rumah sakit sendiri. Dari 13
rumah sakit tersebut, enam diantaranya berada di Kota
Sorong dan tiga unit berada di Manokwari. Kabupaten Tahukah Anda?
NCDR / Newly Case Detecting Rate
Raja Ampat, Kabupaten Teluk Bintuni, Kabupaten (sebagai indikator eliminasi) tertinggi
di Indonesia untuk penyakit Kusta
Teluk Wondama, Kabupaten Maybrat, dan Kabupaten
adalah di Provinsi Papua Barat.
Tambrauw justru belum memiliki rumah sakit. Dilihat

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 25


KESEHATAN

6 Rata-rata Seorang Dokter Melayani 5.026 Orang.


Seorang dokter di Papua Barat rata-rata harus melayani sekitar 5.026 orang karena jumlah
penduduk mencapai 743.860 orang sedangkan jumlah dokter hanya 148 orang.

Gambar 6.2 Jumlah Rumah Sakit dan Rasio Penduduk terhadap dari rasio penduduk terhadap rumah sakit tercatat
Rumah Sakit per 10.000 penduduk Tahun 2009
Kabupaten Sorong memiliki rasio yang paling besar,
yaitu 1 : 90.970, artinya satu rumah sakit di Kabupaten
Sorong harus melayani sebanyak 90.970 penduduk.
Atau dengan kata lain karena jumlah rumah sakit di
kabupaten tersebut hanya satu, maka satu unit rumah
sakit tersebut harus melayani semua penduduk yang
berada di Kabupaten Sorong.
Fasilitas kesehatan lain seperti puskesmas,
puskesmas pembantu dan polindes sangat diperlukan
untuk menunjang kualitas kesehatan masyarakat
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat (jumlah rumah sakit), 2009
sampai pada level wilayah administrasi desa/
Tabel 6.2 Jumlah Dokter menurut Jenisnya dan Rasio kelurahan. Dari total 154 kecamatan di Papua Barat
Penduduk terhadap Dokter 2009
ternyata jumlah puskesmas hanya mencapai 105 unit.
Dokter Rasio
Kabupaten/Kota Jumlah Penduduk
Idealnya jumlah puskesmas dalam satu kecamatan
Spesialis Umum Gigi per Dokter minimal harus ada satu unit puskesmas, namun
Fakfak 3 27 3 33 2064
kondisi ini belum terpenuhi sehingga belum semua
Kaimana - 4 2 6 7135
kecamatan di Papua Barat memiliki fasilitas kesehatan
Teluk Wondama - 4 - 4 5892
Teluk Bintuni - 5 2 7 7972 ini. Begitupun dengan fasilitas puskesmas pembantu
Manokwari 7 32 7 46 3845 dan polindes, jumlahnya belum setara dengan jumlah
Sorong Selatan - 9 1 10 6258 kelurahan/desa di Papua Barat yang mencapai 1.361
Sorong 4 5 - 9 11079
desa/kelurahan (1293 desa dan 68 kelurahan),
Raja Ampat - 12 1 13 3220
padahal jumlah puskesmas pembantu hanya 339 unit
Kota Sorong 7 10 3 20 8628
dan polindes 218 unit.
Papua Barat 21 108 19 148 5026
Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat, 2009 Ketersediaan tenaga kesehatan juga merupakan
kebutuhan yang bersifat urgen selain fasilitas sarana
kesehatan. Jumlah tenaga kesehatan, khususnya
tenaga dokter sangat minim jumlahnya. Untuk
Tahukah Anda?
Hampir sepertiga kecamatan di
melayani seluruh penduduk Papua Barat, jumlah
Provinsi Papua Barat tidak memiliki dokter yang tersedia hanya 148 orang, yang terdiri dari
fasilitas Pusat Kesehatan Masyarakat
(Puskesmas) 21 dokter ahli atau spesialis, 108 dokter umum, dan 19

26 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


KESEHATAN
Penolong Kelahiran Dibantu Bukan Tenaga Medis Relatif Tinggi
Persentase penolong kelahiran terakhir dibantu selain tenaga medis (dokter, bidan, dan tenaga
medis lainnya) mencapai 39,57 persen. Diantara penolong kelahiran tersebut peran dukun
mencapai 27,26 persen.
6
dokter gigi. Artinya, rasio beban kerja seorang dokter Gambar 6.3 Persentase Penolong Kelahiran Akhir Balita
Provinsi Papua Barat 2008-2009
di Papua Barat harus melayani sekitar 5.026 orang.
Rasio penduduk terhadap dokter yang paling kritis
1.07 2008 2009
Lainnya 1.11
terjadi di Kabupaten Sorong. Di daerah ini satu orang
17.25
Famili Lain 11.2
dokter harus melayani sampai 11.079 orang. Namun
25.39
Dukun 27.26
masyarakat Kabupaten Sorong yang berdekatan 2.6
Tenaga Medis Lain 5.65
wilayahnya dengan Kota Sorong sebagian juga 45.95
Bidan 42.53
memanfaatkan jasa kesehatan dari rumah sakit yang 7.74
Dokter 12.25
berada di Kota Sorong. Sementara itu Kabupaten
0 10 20 30 40 50
Fakfak memiliki rasio penduduk terhadap dokter
terkecil dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya,
Sumber: Susenas, 2009
yaitu seorang dokter melayani sekitar 2.064 orang.
Diantara kabupaten di Papua Barat bahkan ada yang
tidak memiliki dokter spesialis dan dokter gigi, seperti Gambar 6.4 Persentase Status Gizi Balita Provinsi Papua Barat
dan Nasional 2007
di Kabupaten Teluk Wondama.
Persentase penolong kelahiran akhir balita di Papua Barat Nasional 74.2
77.2

Papua Barat yang ditolong oleh bukan tenaga medis


(dukun, family, dan lainnya) di tahun 2009 mencapai
39,57 persen. Kondisi ini masih lebih baik
dibandingkan dengan tahun 2008 yang mencapai 16.4
13.0
6.8 5.4 4.3
43,71 persen. Tingginya persentase penolong 2.7

kelahiran selain tenaga medis (dokter, bidan, dan


Gizi Buruk Gizi Kurang Gizi Normal Gizi Lebih
tenaga medis lainnya) diduga menjadi salah satu
penyebab tingginya IMR di Provinsi Papua Barat. Sumber: Riset Kesehatan Dasar 2007, Departemen Kesehatan RI, 2007

Status gizi buruk pada balita di Papua Barat tahun


2007 tercatat mencapai 6,8 persen, sedangkan gizi
kurang mencapai 16,4 persen. Angka ini masih diatas
angka nasional yang hanya mencapai 5,4 persen dan
Tahukah Anda?
13,0 persen. Sementara status gizi normal dan lebih Salah satu tujuan dari MDGs adalah
menurunkan angka kematian anak.
sebesar 76,9 persen atau masih berada dibawah
angka nasional yang mencapai 81,5 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 27


KESEHATAN

6 Provinsi Papua Barat Daerah Endemik Malaria


Provinsi Papua Barat menjadi salah satu daerah endemik Malaria. AMI (Annual Malaria Incidence)
Papua Barat adalah yang tertinggi di Indonesia dimana mencapai 167,46 per 1000 orang.

TUJUAN MDGs: HIV/AIDS dan Malaria

Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium


1. Menanggulangi Kemiskinan dan kelaparan.
2. Mencapai pendidikan dasar untuk semua. Development Goals/MDGs) dalam tujuan nomor enam
3. Mendorong kesetaraan gender dan Pemberdayaan disebutkan memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit
perempuan. menular lainnya sampai dengan target yang ditetapkan
4. Menurunkan Kematian Anak.
pada tahun 2015. HIV/AIDS dan Malaria merupakan
5. Meningkatkan Kesehatan ibu.
ancaman serius di tanah Papua. Provinsi Papua
6. Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit
menular lainnya. memiliki angka prevalensi HIV/AIDS tertinggi di
7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup. Indonesia, sedangkan insiden malaria (AMI) tertinggi di
8. Membangun kemitraan global untuk pembangunan. Indonesia adalah di Provinsi Papua Barat (2008).
Jumlah kumulatif penderita AIDS di Papua Barat
tidak sebanyak di Papua, jumlahnya pada kondisi
Gambar 6.5 Peringkat Empat Besar AMI Tertinggi di Indonesia
Tahun 2008 Desember 2009 tercatat hanya 58 orang dengan
jumlah meninggal sebanyak 19 orang, dengan angka

180
167.47 prevalensi 10,24 orang per 100.000 penduduk.
150 Jumlah penderita Malaria di Provinsi Papua Barat
104.1
120
84.74
tahun 2006 sebesar 138.901 orang, selanjutnya pada
90
51.42
tahun 2007 mengalami peningkatan menjadi 242.722
60
orang. Namun pada tahun 2009 jumlah penderita
30
malaria kembali menurun menjadi 117.466 orang.
0
Papua Barat NTT Papua Maluku Bila dilihat dari sisi Angka Kejadian Malaria
Utara
(Annual Malaria Incident / AMI), Papua Barat selalu
Sumber: Kementrian Kesehatan RI, 2008 menempati peringkat pertama di Indonesia. AMI di
Papua Barat tahun 2006-2008 adalah sebesar 198,02;
346,04; dan 167,46 orang per 1.000 penduduk.
Pada tahun 2009, ada enam provinsi yang
Tahukah Anda?
 Malaria adalah penyakit menular termasuk daerah endemi tinggi malaria, yaitu Maluku,
nomor enam terbanyak yang
Maluku Utara, Papua, Sumatera Utara (Kabupaten
menyebabkan kematian.
 Provinsi Papua Barat memiliki AMI Nias dan Nias Selatan), Nusa Tenggara Timur
(Annual Malaria Incidence) tertinggi
di Indonesia (167,47 per 1000 termasuk Papua Barat. Daerah endemis tinggi terjadi
orang (Kemenkes, 2008) apabila nilai AMI mencapai 50 per 1000 penduduk.

28 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN
Secara Umum Kualitas Perumahan Mengalami Perbaikan
Beberapa indikator perumahan mengalami perbaikan kondisi diantaranya luas lantai ≥ 10 m2
menjadi 99,64 persen, jenis lantai terluas bukan tanah bertambah menjadi 91,60 persen, 7
Perumahan atau tempat tinggal yang layak Tabel 7.1 Indikator Perumahan dan Lingkungan 2008-2009

merupakan salah satu kebutuhan dasar hidup Uraian 2008 2009

manusia. Rumah dikategorikan sebagai kebutuhan Kepemilikan Rumah (%)


Milik Sendiri 59.01 67.71
dasar karena pengaruhnya sangat krusial bagi
Kontrak 3.18 1.55
kelangsungan hidup seseorang. Salah satu indikator
Sewa 13.77 7.28
untuk penghitungan garis kemiskinan adalah Lainnya 24.04 23.46
kebutuhan dasar akan tempat tinggal. Luas Lantai (%)
< 10 2.96 0.36
Rumah dikatakan tidak layak huni jika memenuhi
≥ 10 97.04 99.64
kriteria: (1) Luas lantai per kapita < 4 m2 untuk
Jenis Lantai Terluas (%)
perkotaan dan < 10 m2 untuk perdesaan; (2) Jenis atap Bukan Tanah 91.08 91.60
rumah terbuat dari daun atau lainnya; (3) Jenis dinding Tanah 8.92 8.40
Jenis Dinding Terluas (%)
rumah terbuat dari bambu atau lainnya; (4) Jenis lantai
Tembok 51.34 52.27
tanah; (5) Tidak memiliki fasilitas buang air besar (WC)
Kayu 43.51 43.34
sendiri; (6) Sumber penerangan bukan listrik; dan (7) Bambu 1.02 1.32
Jarak sumber air minum utama ke tempat Lainnya 4.14 3.07
Jenis Atap Terluas (%)
pembuangan tinja kurang dari 10 meter.
Beton 2.02 1.24
Secara umum kondisi perumahan tahun 2009 di Genteng 1.31 1.96
Provinsi Papua Barat mengalami perbaikan kualitas Kayu Sirap 0.44 0.39

dibandingkan tahun 2008. Pada tahun 2009, rumah Seng 87.03 85.29
Ijuk/Rumbia 6.82 6.4
tangga yang telah memiliki rumah dengan status milik
Lainnya 2.38 4.72
sendiri baru mencapai 67,71 persen, atau membaik Sumber: Susenas, 2008-2009

dari kondisi tahun 2008 yang hanya sebesar 59,01


persen. Sedangkan untuk status sewa 7,28 persen,
kontrak 1,55 persen, dan lainnya (dinas, bebas sewa,
milik family, lainnya) 23,46 persen.
Kondisi perumahan juga mengalami perbaikan
kualitas dilihat dari sisi luas lantai. Di tahun 2008
rumah tangga yang memiliki luas lantai kurang dari 10
m2 sebesar 2,96 persen, di tahun 2009 hanya tinggal
0,36 persen saja. Dilihat dari sisi jenis lantai terluas,
Rumah Kaki Seribu (salah satu rumah adat di tanah Papua)
rumah tangga yang berlantai jenis tanah berkurang Sumber: Image Google

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 29


PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN

7 Sepuluh Persen Rumah Tangga Tidak memiliki Fasilitas Air Bersih


Belum semua rumah tangga di Papua Barat memiliki fasilitas air bersih sendiri, masih ada sekitar
10,79 persen yang tidak memiliki fasilitas air bersih, 18,61 persen menggunakan failitas umum dan
23,90 persen menggunakan fasilitas air bersih bersama.

Gambar 7.1 Persentase Rumah Tangga menurut menjadi 8,40 persen dibandingkan dengan kondisi
Penggunaan Air Bersih 2009
tahun 2008 yaitu sebesar 8,92 persen. Jumlah rumah
tangga dengan dinding terluas dari tembok mengalami
46.65
50
peningkatan dari 51,34 persen di tahun 2008 menjadi
40 52,27 persen di tahun 2009. Meskipun dinding terluas

30 23.95 dari jenis bambu mengalami peningkatan tipis dari 1,02


18.61 persen menjadi 1,32 persen, namun setidaknya
20
10.79 dinding dengan jenis lainnya mengalami penurunan
10
persentase dari 4,14 persen menjadi 3,07 persen.
0 Penggunaan atap seng paling banyak digunakan
Sendiri Bersama Umum Tidak Ada
di Papua Barat, yaitu mencapai 87,03 persen di tahun
Sumber: Susenas, 2009 2008 dan 85,29 persen di tahun 2009. Penggunaan
bahan jenis ijuk/rumbia mengalami penurunan
persentase dari 6,82 persen menjadi 6,40 persen. Atap
jenis ini sudah mulai ditinggalkan karena bahan seng
semakin mudah diperoleh. Disamping itu, pemerintah
daerah memberikan rumah bantuan sosial yang lebih
Gambar 7.2 Persentase Rumah Tangga menurut layak huni bagi penduduk miskin terutama yang tinggal
di pedalaman.
Persentase terbesar rumah tangga pengguna air
bersih memiliki sendiri fasilitas ini, yaitu sebesar 46,65
12.37
59.49
persen dari total rumah tangga. Sementara 23,95
10.98 persen menggunakan air bersih secara bersama dan
17.16 18,61 persen masih menggunakan fasilitas umum
untuk memperoleh air bersih. Sedangkan 10,79 persen
rumah tangga bahkan tidak terdapat akses terhadap
air bersih.
Sendiri Bersama Umum Tidak ada
Salah satu indikator rumah layak huni adalah
Sumber: Susenas, 2009 memiliki fasilitas tempat buang air besar (WC) sendiri.
Kondisi ini terkait dengan kebersihan lingkungan
perumahan. Sebanyak 59,49 persen rumah tangga di

30 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PERUMAHAN DAN LINGKUNGAN
Kayu Bakar Masih Menjadi Bahan Bakar Utama Rumah Tangga
Bahan bakar utama 55,25 persen rumah tangga menggunakan kayu bakar untuk memasak.
Sedangkan 41,25 persen rumah tangga menggunakan bahan bakar minyak tanah. Penggunaan
gas/LPG masih menjadi hal langka di Papua Barat, pemakainnya hanya 3,04 persen.
7
Papua Barat telah memiliki tempat pembuangan air Gambar 7.3 Persentase Rumah Tangga menurut
Bahan Bakar Memasak 2009
besar sendiri; 12,37 persen menggunakan fasilitas
buang air besar bersama; 10,98 persen masih
menggunakan tempat buang air besar umum; dan 41.25
17,16 persen bahkan tidak memiliki fasilitas
pembuangan air besar. 55.25

Penggunaan bahan bakar untuk memasak


sebagian besar rumah tangga di Papua Barat
menggunakan kayu bakar, yaitu sebesar 55,25 persen. 3.04
0.24
0.23
Penggunaan kayu bakar terutama pada rumah tangga Gas/LPG Minyak Tanah Kayu Bakar Arang/Briket Lainnya
di pedesaan. Sedangkan pengguna minyak tanah
Sumber: Susenas, 2009
sebesar 41,25 persen terutama untuk masyarakat di
perkotaan. Penggunaan bahan bakar gas masih
sangat jarang digunakan. Selain harganya mahal, jenis
bahan bakar ini tersedia dalam jumlah yang terbatas,
hanya dijual di kota-kota besar seperti Kota Sorong,
Gambar 7.4 Persentase Rumah Tangga menurut
Kabupaten Fakfak, dan Kabupaten Manokwari. Sumber Penerangan 2009
Penggunaan sumber penerangan rumah tangga
di Provinsi Papua Barat hanya 57,67 persen yang 11.31

57.67
menggunakan listrik PLN. Belum seluruh desa di 3.06

Papua Barat teraliri listrik dan belum seluruh


kabupaten mendapatkan pasokan listrik 24 jam dalam 27.21

sehari. Masyarakat yang tidak teraliri listrik penuh 24


jam biasanya menggunakan listrik non PLN seperti
genset untuk memenuhi kebutuhan akan energi listrik.
0.74
Untuk desa-desa yang tidak teraliri listrik terutama di PLN Non PLN Petromak/ aladin Pelita/sentir/ obor Lainnya

daerah yang jauh dari ibukota kabupaten umumnya


Sumber: Susenas, 2009
menggunakan pelita/sentir/obor. Persentase rumah
tangga yang menggunakan jenis penerangan tersebut
mencapai 27,21 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 31


PEMBANGUNAN MANUSIA

8 Capaian IPM Provinsi Papua Barat Termasuk Kelompok Menengah


IPM Provinsi Papua Barat sebesar 68,58 persen berada pada kelompok menengah (50,00-79,99
persen) pada klasifikasi yang ditetapkan oleh UNDP.

Tabel 8.1 Indikator Pembangunan Manusia 2007-2009 Pengukuran kinerja pembangunan seringkali

Uraian 2007 2008 2009 identik dengan nominal PDRB dan pertumbuhan

IPM 67.28 67.95 68.58


ekonomi yang tinggi. Padahal asumsi tersebut tidak

Angka Harapan Hidup (th) 67.60 67.90 68.20


selamanya efektif. Pertumbuhan ekonomi tinggi namun

Angka Melek Huruf (%) 90.32 92.15 92.34


tidak berkualitas kadang gagal dalam mengentaskan
Rata-rata Lama Sekolah kemiskinan dan menekan angka pengangguran.
7.65 7.67 8.01
(th)
Apalagi tanpa disertai dengan pemerataan distribusi
Pengeluaran per Kapita Riil
592.07 593.13 595.28
Disesuaikan (PPP) (ribu Rp) pendapatan masyarakat. Diperlukan sebuah parameter
Indeks Kesehatan (%) 71.00 71.50 72.00 lainnya yang bersama-sama dapat digunakan sebagai
Indeks Pendidikan (%) 90.32 92.15 92.34 alat ukur keberhasilan pembangunan. Paradigma baru
Indeks PPP (%) 51.00 51.13 53.40 muncul untuk mengukur pembangunan dari sisi
Indeks Pengeluaran (%) 53.63 53.88 54.37 manusia atau dikenal dengan indeks pembangunan
Peringkat IPM 30 30 30 manusia (IPM).
Sumber: Olahan Susenas, 2007-2009 IPM adalah indeks komposit yang terbentuk atas
empat komponen indikator, yaitu angka harapan hidup,
angka melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan
FORMULASI PENGHITUNGAN IPM kemampuan daya beli/purchasing power parity (PPP).
Indikator angka harapan hidup merefleksikan dimensi
hidup sehat dan umur panjang. Indikator angka melek
huruf dan rata-rata lama sekolah merepresentasikan
output dari dimensi pendidikan. Indikator kemampuan
Komponen IPM Maksimum Minimum Keterangan daya beli untuk menjelaskan dimensi hidup layak.
(1) (2) (3) (4) IPM Provinsi Papua Barat selalu meningkat setiap
Angka Harapan Hidup 85 25 Standar UNDP
tahun. Di tahun 2009 IPM meningkat menjadi 68,58
Angka Melek Huruf 100 0 Standar UNDP
persen dibandingkan tahun 2007 dan 2008 sebesar
Rata-rata Lama UNDP menggunakan Combined
15 0 67,28 persen dan 67,95 persen. Dalam klasifikasi
Sekolah Gross Enrollment Ratio
300.000 UNDP menggunakan PDB riil per UNDP capaian IPM Papua Barat termasuk ke dalam
Daya Beli 732.720a kapita yang telah disesuaikan
360.000b golongan menengah (50,00-79,99 persen).
a) Perkiraan maksimum pada akhir PJP II tahun 2018
b) Penyesuaian garis kemiskinan lama dengan garis kemiskinan yang baru
Komponen-komponen penyusun IPM juga terus
mengalami peningkatan. Angka harapan hidup
meningkat lambat 0,3 tahun per tahun dari 2007-2009.

32 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PEMBANGUNAN MANUSIA
Peringkat IPM Papua Barat Masih di Papan Bawah
Capaian IPM Papua Barat yang hanya 68,58 persen menempatkan provinsi ini berada pada
peringkat 30 nasional. Peringkat tersebut berada di atasProvinsi NTT (31), Provinsi NTB (32), dan
Provinsi Papua (33).
8
Pada tahun 2009 angka harapan hidup meningkat Gambar 8.1 IPM menurut Kabupaten/Kota dan Provinsi
Papua Barat Tahun 2009 (%)
menjadi 68,20 tahun dibandingkan tahun sebelumnya
sebesar 67,90 tahun. Indikator penndidikan yang
Tambrauw 49.12
diwakili oleh angka melek huruf dan rata-rata lama Raja Ampat 64.08
Maybrat 64.89
sekolah juga mengalami peningkatan. Angka melek Teluk Wondama 65.27
Teluk Bintuni 65.65
huruf di tahun 2008 sebesar 92,15 persen meningkat Sorong Selatan 66.09
66.20
menjadi 92,34 persen di tahun 2009. Sedangkan rata- Manokwari
68.16
Sorong
rata lama sekolah meningkat menjadi 8,01 tahun Papua Barat 68.58
Kaimana 69.80
dimana sebelumnya hanya sebesar 7,67 tahun. PPP Fakfak 70.80
Kota Sorong 76.84
Papua Barat 2008-2009 hanya mengalami kenaikan
40 50 60 70 80
2,15 ribu rupiah menjadi 595,28 ribu rupiah dengan
indeks sebesar 53,40 persen.
Sumber: BPS RI, 2009
Secara nasional peringkat IPM Papua Barat
berada pada ranking 30 dari 33 provinsi selama tiga Gambar 8.2 Reduksi Shortfall IPM menurut Kabupaten/Kota
dan Provinsi Papua Barat 2009(%)
tahun terakhir. Peringkat tersebut masih berada di atas
Provinsi NTT (31), Provinsi NTB (32), dan Provinsi
Sorong Selatan 0.94
Papua (33). 1.04
Sorong
IPM tertinggi di Papua Barat selama tiga tahun Teluk Bintuni 1.05

Kota Sorong 1.34


terakhir selalu berada di Kota Sorong. Capaiannya di Teluk Wondama 1.36

tahun 2009 sebesar 76,84 persen dan peringkat Raja Ampat 1.40

Kaimana 1.72
secara nasional berada pada ranking ke 30 dari 497 Fakfak 1.89

kabupaten/kota yang telah dihitung capaian IPM-nya. Papua Barat 1.95

Manokwari 2.15
Sementara IPM terendah berada di Kabupaten
0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50
Tambrauw dengan capaian hanya sebesar 49,12
persen dan berada pada peringkat 489 secara Sumber: BPS RI, 2009

nasional.
Reduksi shortfall menunjukkan kecepatan
perkembangan IPM dalam suatu kurun waktu tertentu.
Tahukah Anda?
Reduksi shortfall Papua Barat tahun 2008-2009 Peringkat IPM Provinsi Papua Barat
mencapai 1,95 persen atau melambat dibandingkan tahun 2009 berada pada posisi ke
30 dari 33 provinsi di Indonesia.
dengan tahun 2007-2008 yang mencapai 2,54 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 33


PEMBANGUNAN MANUSIA

8 Garis Kemiskinan Papua Barat Meningkat


Garis Kemiskinan meningkat menjadi Rp. 294.727,- di tahun 2010 yang terdiri dari Rp. 237.147,-
garis kemiskinan makanan dan Rp. 57.580,- garis kemiskinan nonmakanan.

Gambar 8.3 Ilustrasi Kemiskinan Reduksi shortfall tertinggi tahun 2009 dicapai oleh
Kabupaten Manokwari dengan capaian 2,15 persen.
Sejak menjadi ibukota provinsi, Kabupaten Manokwari
menunjukkan performa yang baik dalam
pembangunan.
Metode penghitungan jumlah penduduk miskin
dilakukan dengan pendekatan benchmark garis
kemiskinan. Garis kemiskinan terdiri dari dua
komponen, yaitu garis kemiskinan makanan dan garis
kemiskinan non makanan. Garis kemiskinan adalah
nilai rupiah yang harus dikeluarkan untuk dapat
memenuhi kebutuhan hidup minimumnya, baik itu
Tabel 8.2 Indikator Kemiskinan Papua Barat 2007-2010
kebutuhan dasar makanan maupun non makanan.
Uraian 2007 2008 2009 2010 Seseorang dikatakan miskin bila berada dibawah garis
Garis Kemiskinan (GK)
kemiskinan. Pendekatan garis kemiskinan makananan
GK Makanan 172145 193930 223538 237147
digunakan standar kebutuhan hidup minimum 2100
GK Non Makanan 33853 39641 53878 57580
kilo kalori didasarkan pada konsumsi makanan,
GK Total 205998 233570 277416 294727
Penduduk Miskin sedangkan garis kemiskinan non makanan untuk
Jumlah (ribu) 266.80 246.50 256.84 256.25 memenuhi kebutuhan dasar bukan makanan seperti
Persentase (%) 39.31 35.12 35.71 34.88 perumahan, pendidikan, kesehatan, pakaian, serta
Indeks Kedalaman aneka barang dan jasa.
12.97 9.18 9.75 10.47
Kemiskinan (P1) (%)
Indeks Keparahan Berdasarkan metode tersebut diperoleh garis
5.66 3.50 3.57 4.30
Kemiskinan (P2) (%)
kemiskinan Provinsi Papua Barat 2010 sebesar Rp
Sumber: Olahan Susenas Maret, 2007-2010
294.727,-. Garis kemiskinan tersebut meningkat dari
Rp 277.416,- pada tahun 2009 atau bertambah Rp
17.311,-. Garis kemiskinan makanan tercatat Rp
237.147,- sedangkan garis kemiskinan nonmakanan
Tahukah Anda? sebesar Rp 57.580,-. Peningkatan garis kemiskinan ini
Garis Kemiskinan Provinsi Papua
Barat tahun 2009 adalah yang memberikan peluang untuk terjadinya penambahan
tertinggi kedua (Rp 304.730) di
Indonesia setelah DKI Jakarta (Rp penduduk miskin jika peningkatan tingkat pendapatan
316.936).
masyarakat tidak mampu mengimbanginya.

34 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PEMBANGUNAN MANUSIA
Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin Turun
Jumlah penduduk miskin Papua Barat berkurang dari 256,84 ribu orang di tahun 2009 menjadi
256,25 ribu orang di tahun 2010. Persentase penduduk miskin juga mengalami penurunan dari
35,71 persen di tahun 2009 menjadi 24,88 persen di tahun 2010.
8
Jumlah penduduk miskin Provinsi Papua Barat
2010 mencapai 256,25 ribu jiwa atau mengalami
penurunan dibandingkan dengan kondisi tahun 2009
yang mencapai 256,84 ribu jiwa atau terjadi
pengurangan penduduk miskin sekitar 590 jiwa.
Persentase penduduk miskin juga mengalami
penurunan dari 35,71 persen di tahun 2009 menjadi
34,88 persen di tahun 2010. Meskipun demikian,
persentase penduduk miskin Papua Barat adalah yang
tertinggi kedua di Indonesia setelah Provinsi Papua. Image: Rumah tangga miskin

Jumlah dan persentase kemiskinan di Provinsi


►► Formulasi Ukuran Kemiskinan:
Papua Barat mangalami penurunan, namun Indeks
Kedalaman Kemiskinan (P1) dan Indeks Keparahan
Kemiskinan (P2) justru meningkat. Indeks Kedalaman
Kemiskinan meningkat dari 9,75 persen di tahun 2009
Dimana:
menjadi 10,47 persen di tahun 2010. Sedangkan
Indeks Keparahan Kemiskinan juga meningkat dari α = 0,1,2
z = garis kemiskinan
3,57 persen menjadi 4,30 persen. Peningkatan kedua yi = rata-rata pengeluaran per kapita sebulan penduduk yang
berada di bawah garis kemiskinan
nilai indeks ini dapat dimaknai bahwa kondisi q = banyaknya penduduk yang berada dibawah garis
kemiskinan di Papua Barat menjadi semakin dalam kemiskinan
n = jumlah penduduk
dan parah. Artinya rata-rata pendapatan penduduk
α = 0 → Head Count Index (P0) = Persentase Penduduk Miskin
miskin dengan garis kemiskinan dan ketimpangan α = 1 → Poverty Gap Index (P1) = Indeks Kedalaman
pengeluaran antar penduduk miskin semakin jauh. Kemiskinan
α = 2 → Poverty Saverity Indeks (P2) = Indeks Keparahan
Upaya pengentasan kemiskinan perlu Kemiskinan
memprioritaskan program-program pembangunan
yang pro penduduk miskin (pro poor policy).
penanggulangan kemiskinan ditujukan untuk
meningkatkan pendapatan penduduk miskin dan Tahukah Anda?
Persentase penduduk miskin
mengurangi pengeluaran kebutuhan dasar penduduk Provinsi Papua Barat tahun 2009
miskin, misalnya pelayanan pendidikan dan kesehatan adalah yang teritnggi kedua
(35,71%) di Indonesia setelah
gratis bagi rakyat miskin. Provinsi Papua (37,53%).

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 35


PEMBANGUNAN MANUSIA

8 Ketimpangan Pendapatan Masih Terjadi


Distribusi pendapatan Papua Barat belum mencapai pemerataan yang ideal. Menurut Kemerataan
Bank Dunia, ketimpangan Papua Barat terutama terjadi pada 40 persen pendapatan terbawah dan
20 persen pendapatan teratas.

Tabel 8.3 Indikator Kemerataan Pendapatan Pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak

Uraian 2007 2008 2009


selamanya dapat secara langsung mengentaskan
kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi tinggi bila tidak
Gini Ratio (%) 0.33 0.36 0.35
Kemerataan Bank Dunia (%): diikuti oleh pemerataan distribusi pendapatan tidak
40 persen pendapatan
28.29 29.61 18.08
akan berdampak pada masyarakat bawah karena
terbawah
sebagian besar pendapatan dikuasai oleh sekelompok
40 persen pendapatan
44.59 43.09 40.23
menengah kecil masyarakat „elit‟ sedangkan sebagian masyarakat
20 persen pendapatan
teratas
27.13 27.30 41.69 lain yang berpendapatan rendah tetap berada dalam
keadaan miskin.
Sumber: Olahan Susenas, 2007-2009
Kemerataan menurut Bank Dunia dikelompokan
kedalam 40 persen pendapatan terbawah, 40 persen
Gambar 8.4 Kemerataan menurut Bank Dunia pendapatan menengah, dan 20 persen pendapatan
Provinsi Papua Barat 2009
teratas. Idealnya, setiap kelompok pendapatan
terdistribusi kedalam kumulatif jumlah penduduk pada
kelompok yang sama agar tercapai kemerataan
sempurna. Namun pada kenyataanya kondisi ideal
tersebut sangat sulit terbentuk.
Kondisi kemerataan pendapatan di Provinsi
Papua Barat menunjukkan masih terjadi
ketidakmerataan pendapatan. Secara umum kondisi
yang paling tidak merata adalah pada 40%
pendapatan terbawah dan 20% pendapatan teratas. Di
Sumber: Olahan Susenas, 2009
tahun 2009, pada 40 persen pendapatan terbawah
yang mustinya dinikmati oleh 40 persen penduduk

►►CATATAN: ternyata 40 persen penduduk hanya menikmati 18,08

Ukuran Kemerataan Bank Dunia: Proporsi jumlah persen pendapatan. Keadaan justru terbalik di 20%
pendapatan dari 40 persen terbawah: pendapatan teratas yang seharusnya dinikmati oleh
< 12 persen : ketimpangan tinggi 20% penduduk. Ternyata 20% penduduk menikmati
12-17 persen : ketimpangan sedang 41,69 persen pendapatan. Berarti bahwa sekelompok
> 17 persen : ketimpangan rendah
kecil orang memiliki pendapatan yang tinggi sementara
sebagian besar lain memiliki pendapatan yang rendah.

36 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PEMBANGUNAN MANUSIA
Gini Ratio Papua Barat 0,35 Persen
Gini ratio Papua Barat tahun 2009 sebesar 0,35 persen atau mengalami penurunan dibandingkan
tahun 2008 sebesar 0,36 persen. Angka tersebut termasuk dalam kategori rendah, namun hampir
masuk ke dalam zona ketimpangan sedang (0,36 persen).
8
Pola kemerataan menurut Bank Dunia di Papua Gambar 8.5 Gini Ratio Provinsi Papua Barat 2009

Barat tahun 2007-2008 menunjukkan pola yang hampir


1
sama. Proporsi pendapatan 40% terbawah, 40% GR = 0.35
menengah dan 20% teratas memiliki besaran yang 0.8

Kumulatif Pendapatan
hampir sama. Kemudian di tahun 2009 terjadi
0.6
perubahan yang cukup signifikan pada proporsi jumlah
pendapatan 40% terendah dan 20% teratas. Semula di 0.4

tahun 2007 proporsi jumlah pendapatan 40% terendah


0.2
sebesar 28,29 persen bergerak kearah yang lebih baik
menuju ke 40% menjadi 29,61 persen. Tetapi di tahun 0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1
2009 justru proporsi tersebut mengalami penurunan
Kumulatif Penduduk
hingga menjadi 18,08 persen atau mengalami
Pemerataan Ideal Kurva Lorens
ketimpangan distribusi pendapatan yang lebih buruk.
Sumber: Olahan Susenas, 2009
Hal yang sama terjadi pada proporsi jumlah
pendapatan 20% teratas. Semula di tahun 2007 dan
►►DEFINISI
2008 proporsi pendapatan telah mendekati angka 20
Angka Koefisien Gini adalah ukuran kemerataan
persen yaitu sebesar 27,13 persen dan 27,30 persen.
pendapatan yang dihitung berdasarkan kelas
Namun di tahun 2009 proporsinya meningkat signifikan
pendapatan. Angka koefisien Gini terletak antara 0
menjadi 41,69 persen. Situasi ini mengandung makna (nol) dan 1 (satu). Nol mencerminkan kemerataan
sekelompok masyarakat yang jumlahnya relatif kecil sempurna dan satu menggambarkan ketidakmerataan
menguasai pendapatan yang besar, sebaliknya sempurna. Nilai 0,5-0,7 menggambarkan
ketidakmerataan tinggi; 0,36-0,49 ketidakmerataan
masyarakat miskin yang berpendapatan rendah tetap
sedang; dan 0,20-0,35 mengalami ketidakmerataan
berada dalam jurang kemiskinan.
rendah.
Ukuran ketimpangan pendapatan lainnya adalah
menggunakan koefisien gini (gini ratio). Gini ratio
Provinsi Papua Barat mengalami perbaikan
dibandingkan dengan tahun 2008 yang mencapai 0,36. Tahukah Anda?
Persentase Penduduk miskin Provinsi
Di tahun 2009 nilai gini ratio Papua Barat sebesar Papua Barat (Maret 2010) adalah
0,35. Berdasarkan pengelompokkannya berarti tingkat yang tertinggi kedua (34,88%) di
Indonesia, meskipun demikian
ketimpangan/ketiidakmerataan distribusi pendapatan di kontribusi jumlah penduduk miskin
terhadap penduduk miskin nasional
Papua Barat termasuk ke dalam kategori rendah. hanya 0,83 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 37


PERTANIAN

9 Luas Panen dan Produksi Padi, Jagung, Kedelai, dan Ubi Menurun
Di tahun 2009 luas panen dan poduksi padi, jagung, kedelai, Ubi Kayu dan Ubi Jalar mengalami
penurunan. Meskipun demikian produktivitasnya justru mengalami peningkatan, kecuali pada
komoditas kedelai dan ubi kayu.

Gambar 9.1 Share PDRB Sektor Pertanian dan Persentase Sektor pertanian merupakan sektor primer yang
Pekerja di Sektor Pertanian 2009
berbasis pada sumber daya alam dimana sebagian
share PDRB % Tenaga Kerja besar produknya digunakan untuk bahan baku sektor

55.69
58.79
56.60
lainnya dan konsumsi rumah tangga. sektor ini
memberikan share utama pada PDRB di Provinsi
Papua Barat, demikian pula dengan jumlah tenaga
26.65 24.92 24.52
kerjanya. Di tahun 2009 kontribusi sektor pertanian
mencapai 24,52 persen dari total PDRB dan
sumbangan tenaga kerjanya mencapai 56,60 persen
2007 2008 2009
dari total penduduk yang bekerja.
Dalam beberapa tahun kontribusi sektor ini

Tabel 9.1 Indikator Pertanian cenderung terus mengalami penurunan, sama halnya
dengan jumlah tenaga kerja. Sektor pertanian dinilai
Uraian 2007 2008 2009
Padi Sawah+Ladang memiliki produktivitas yang rendah, dengan 56,60
Luas Panen (Ha) 8357 11467 10486 tenaga kerja hanya mampu memberikan sumbangan
Produksi (Ton) 28204 39537 36985
sebesar 24,52 persen. Tingkat pendidikan tenaga kerja
Produktivitas (Kw/Ha) 33.75 34.48 35.27
sektor ini juga lebih banyak didominasi oleh pekerja
Jagung
Luas Panen (Ha) 1518 1070 965
dengan pendidikan rendah. Pertumbuhan ekonomi
Produksi (Ton) 2429 1711 1584 yang mampu diberikan oleh sektor pertanian juga
Produktivitas (Kw/Ha) 16.00 15.99 16.41 relatif rendah (3,36%) dibandingkan dengan sektor lain
Kedelai yang digerakkan oleh sumber daya manusia yang lebih
Luas Panen (Ha) 1282 1624 1150
Produksi (Ton) 1360 1740 1208
kecil. Sebagai contoh sektor industri pengolahan,

Produktivitas (Kw/Ha) 10.61 10.72 10.5 dengan persentase tenaga kerja hanya 3,74 persen
Ubi Jalar mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi 11,31
Luas Panen (Ha) 1874 1524 1044 persen dan sektor konstruksi dengan 4,77 persen
Produksi (Ton) 18702 15341 10597
tenaga kerja mampu menciptakan pertumbuhan
Produktivitas (Kw/Ha) 99.8 100.66 101.52
ekonomi sebesar 13,16 persen.
Ubi Kayu
Luas Panen (Ha) 1615 2052 1105 Produksi padi (sawah dan ladang) di Papua Barat
Produksi (Ton) 17833 23071 12228 tahun 2009 mengalami penurunan dari 39.537 ton
Produktivitas (Kw/Ha) 110.42 112.43 110.66 menjadi 36.985 ton. Penurunan ini diduga terjadi
Sumber: Diolah dari Survei Pertanian Tanaman Pangan karena terjadi penurunan luas panen dari 11.467 Ha di
BPS Prov Papua Barat, 2007-2009

38 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PERTANIAN
Produksi Kelapa Sawit Tertinggi untuk Tanaman Perkebunan
Dengan luas lahan 25.467 Hektar, produksi kelapa sawit Papua Barat mencapai 8.480,65 ton.
Produksi ini adalah yang tertinggi dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya. 9
tahun 2008 menjadi 10.486 Ha di tahun 2009.
Sedangkan produktivitasnya justru mengalami
peningkatan dari 34,48 Kw/Ha di tahun 2008 menjadi
35,27 Kw/Ha di tahun 2009. Jika dibandingkan dengan
produktivitas nasional yang mencapai 49,99 Kw/Ha,
produktivitas padi di Provinsi Papua Barat dinilai relatif
rendah. Demikian pula bila dibandingkan dengan rata-
rata produktivitas diluar Pulau Jawa (43,47 Kw/Ha)
bedanya masih cukup jauh.
Produksi dan luas panen tanaman jagung tahun
2007-2009 terus mengalami penurunan. Luas panen
Gambar 9.2 Luas Area (Ha) dan Produksi (Ton) Tanaman Pala,
menurun dari 1.518 Ha di tahun 2007 menjadi 965 Ha Kelapa Sawit, dan Kakao Provinsi Papua Barat 2009
di tahun 2009. Sedangkan produksinya mengalami
penurunan dari 2.429 Ton di tahun 2007 menjadi 1.584 Areal Produksi
30000
25467
Ton di tahun 2009. Penurunan luas panen dan
25000
produksi jagung ternyata tidak serta merta turut
20000
mempengaruhi produktivitas jagung. Di tahun 2008
15000
produktivitasnya memang menurun tipis 0,01 Kw/Ha, 8480.65
10000 5953
namun di tahun 2009 produktivitasnya justru 5555
3325
5000 1938
bertambah menjadi 16,41 Kw/Ha meskipun terjadi
0
penurunan luas panen. Produktivitas jagung di Papua
Pala Kelapa sawit Kakao
Barat sangat rendah bila dibandingkan dengan
Sumber: Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi Papua Barat, 2009
produktivitas nasional (42,37 Kw/Ha), rata-rata
produktivitas di Pulau Jawa (43,44 Kw/Ha), maupun
rata-rata produktivitas di luar Pulau Jawa (41,20 Kw/
Ha). Gap produktivitas padi masih lebih baik
dibandingkan dengan gap produktivitas jagung Tahukah Anda?
Sentra tanaman padi di Provinsi
terhadap angka nasional maupun di Pulau Jawa Papua Barat adalah Kabupaten
maupun di luar Pulau Jawa. Manokwari. Produksi Padinya
mencapai 68,01 persen dari total
Komoditas unggulan di subsektor perkebunan produksi padi Provinsi Papua Barat.

Papua Barat diantaranya adalah Pala, Kelapa sawit,

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 39


PERTANIAN

9 Populasi Ternak Babi Meningkat Tajam


Populasi ternak babi mengalami peningkatan tajam selama dua tahun terakhir. Semula populasinya
sebesar 33.427 ekor di tahun 2007 menjadi 53.706 ekor di tahun 2009 atau terjadi peningkatan
sebesar 60,67 persen.

Gambar 9.3 Populasi Ternak Besar dan Kecil dan Kakao. Perkebunan kepala sawit berada di
Provinsi Papua Barat 2009 (Ekor)
Kabupaten Manokwari, perkebunan kakao terutama di
wilayah Sorong dan Manokwari, sedangkan
perkebunan pala terutama di Kabupaten Fakfak dan
Kabupaten Kaimana.
Produksi pala tahun 2009 mencapai 1.938 ton
dengan luas areal perkebunan seluas 5.555 Ha.
Produksi kelapa sawit mencapai 8.480,65 ton dengan
2007 2008 2009 luar areal perkebunan seluas 25.467 Ha. Sedangkan
sapi 34429 35297 36081
Kambing 13223 12259 13786
perkebunan kakao memiliki areal seluas 5.953 Ha
Babi 33427 43678 53706 menghasilkan 3.325 ton kakao.
Sumber: Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Prov. Papua Brt, 2009 Dari sisi peternakan, peningkatan yang paling
signifikan adalah pada peternakan babi. Ternak babi
meningkat dari 33.427 ekor di tahun 2007 menjadi
43.678 ekor di tahun 2008. Jumlah tersebut kembali
meningkat di tahun 2009 menjadi 53.706 ekor.
Gambar 9.4 Produksi Perikanan Laut 2009 (Ton)
Tingginya peningkatan jumlah ternak babi diduga
terjadi karena tingginya permintaan konsumsi daging
12000 Fakfak Kaimana
Teluk Wondama Teluk Bintuni babi. Sedangkan pada ternak sapi dan kambing
10000 Manokwari Sorong Selatan
Sorong Raja Ampat meskipun mengalami peningkatan, namun
8000
peningkatannya tidak secepat pada ternak babi.
6000
Nilai produksi perikanan Provinsi Papua Barat
4000
tahun 2009 mencapai 99.952,10 ton. Tiga kabupaten/
2000 kota dengan produksi tertinggi adalah Kota Sorong,
0 Kabupaten Manokwari, dan Kabupaten Fakfak. Nilai
Perikanan Laut produksi ketiga kabupaten/kota tersebut masing-
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua Barat, 2009 masing 36.786,2 ton; 23.163,8 ton; dan 11.125,0 ton.
Besarnya potensi perikanan dan kelautan yang dimiliki
oleh Papua Barat memungkinkan produksi perikanan
laut tersebut akan semakin bertambah pada tahun-
tahun mendatang.

40 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Kontribusi Sektor Pertambangan dan Penggalian Terbesar Ketiga
Meskipun kontribusinya cenderung mengalami penurunan, namun sektor pertambangan dan
penggalian menempati peringkat ketiga dalam PDRB menurut lapangan usaha Provinsi Papua
Barat tahun 2009. Kontribusinya sebesar 13,24 persen terhadap total PDRB.
10
Besarnya nilai tambah bruto atau PDRB atas Gambar 10.1 Share terhadap PDRB dan Persentase Pekerja di
Sektor Pertambangan dan Penggalian 2006-2009
dasar harga berlaku sektor pertambangan dan
penggalian Papua Barat tahun 2009 mencapai 17.36
15.96
1.926,82 miliar rupiah. Nilai tersebut setara dengan 14.79
13.24
13,24 persen dari total PDRB Papua Barat yang
mencapai 14.547,73 miliar rupiah.
Kontribusi sektor pertambangan dan penggalian
2.94 3.08 3.02
berangsur mengalami penurunan beberapa tahun 0.83

terakhir. Di tahun 2006, kontribusi sektor ini mencapai


2006 2007 2008 2009
17,36 persen. Angka tersebut terus mengalami
share PDRB % Pekerja
penurunan hingga mencapai 13,24 persen di tahun
2009. Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2006-2009

Persentase penduduk yang bekerja di sektor


pertambangan dan penggalian di tahun 2006 hanya Gambar 10.2 Produtiviatas Pekerja menurut Sektor 2009
sebesar 0,83 persen dari total penduduk bekerja.
Selanjutnya di tahun 2007 dan 2008 berturut-turut
Sektor 1
mengalami peningkatan menjadi 2,94 persen dan 3,08 Sektor 9
Sektor 6
persen. Di tahun 2009 persentase penduduk yang
PB
bekerja di sektor ini mengalami penurunan menjadi Sektor 7
Sektor 5
3,02 persen.
Sektor 4
Dilihat dari sumbangannya terhadap total PDRB Sektor 2
Sektor 8
tahun 2009, produktivitas sektor pertambangan dan Sektor 3
penggalian menempati posisi ketiga setelah sektor 0 50 100 150 200 250 300

pertanian dan industri pengolahan yang memberikan


Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2009
share sebesar 24,52 persen dan 24,39 persen.
Produktivitas pekerja di sektor ini dinilai tinggi karena
dengan persentase penduduk yang bekerja hanya 3,02
persen mampu memberikan kontribusi terhadap PDRB Tahukah Anda?
LNG Tangguh beserta LNG Arun
sebesar 13,24 persen. Bandingkan dengan sektor
(Aceh) dan LNG Bontang (Kaltim)
pertanian yang hanya memberikan share 24,52 persen adalah tiga LNG yang menghasikan
gas alam cair terbesar di Indonesia.
tetapi persentase pekerja mencapai 56,60 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 41


PERTAMBANGAN DAN ENERGI

10 Kandungan LNG Tangguh 14,4 Trilyun Kaki Kubik


LNG Tangguh adalah salah satu perusahaan tambang LNG terbesar di Indonesia. Kandungan LNG
didalamnya diperkirakan mencapai 14,4 trilyun kaki kubik.

Tanah Papua adalah daerah yang kaya akan


sumber daya alam dan bahan tambang. Freeport
adalah salah satu tambang emas terbesar di
Indonesia. Disamping itu, di Kabupaten Teluk Bintuni,
Papua Barat, terdapat sebuah tambang gas alam cair
(Liquid Natural Gas) yang diperkirakan merupakan
tambang LNG terbesar di Indonesia, dikenal dengan
nama LNG Tangguh. LNG Tangguh, LNG Arun (Aceh),
dan LNG Bontang (Kaltim) adalah 3 perusahaan
Kawasan LNG Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat
Sumber: Image Google tambang LNG terbesar yang dimiliki Indonesia. LNG
Tangguh diperkirakan memiliki kandungan gas
sebesar 14,4 Trilyun kaki kubik. LNG Tangguh terbagi

Tahukah Anda? dalam 3 blok eksploitasi gas alam cair, yaitu Blok
Kandungan gas alam cair yang Berau, Blok Weriagar, dan Blok Muturi.
dihasilkan oleh LNG Tangguh
diperkirakan mencapai 14,4 Trilyun Seperti diketahui, Proyek Tangguh memiliki
kaki kubik. Atau 326 kali lipat
volume material letusan Gunung kontrak jangka panjang untuk memasok 2,6 juta ton
Krakatau (18 miliar m3) tahun
LNG per tahun selama 25 tahun ke terminal
1883.
regasifikasi Fujian di China, 1,15 juta ton per tahun
selama 25 tahun kepada K-Power dan Posco di Korea
Selatan, dan kontrak fleksibel untuk memasok hingga
3,7 juta ton per tahun selama 20 tahun ke terminal
regasifikasi LNG Sempra di California, Amerika
Serikat.
Melalui saham kepemilikan dalam kontrak kerja
sama (KKS), BP menjadi pemilik saham terbesar yaitu
37,16% dari LNG Tangguh. Pemegang saham lainnya,
yaitu: MI Berau B.V. (dimiliki Mitsubishi Corporation
Sumber: Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Papua Barat, 2009 dan INPEX Corporation) sebesar 16,30%; CNOOC
Muturi Limited dan CNOOC Wiriagar Overseas Limited
dengan bagian 13,90%; Nippon Oil Exploration
LNG Tangguh, Teluk Bintuni, Papua Barat
Sumber: Image Google (Berau), Ltd (dimiliki oleh Nippon Oil Exploration Ltd

42 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PERTAMBANGAN DAN ENERGI
Belum Seluruh Kabupaten Teraliri Listrik PLN 24 Jam
Aliran listrik PLN yang disalurkan ke rumah tangga pelanggan belum seluruhnya dapat
dipergunakan secara penuh 24 jam sehari di seluruh kabupaten. 10
dan Japan Oil, Gas and Metals National Corporation) Gambar 10.3 Persentase Pelanggan PLN 2009

dengan bagian 12,23%; KG Berau/KG Wiriagar


(dimiliki oleh Kanematsu Corporation, Overseas
Petroleum Corporation, anak perusahaan dari Mitsui &
82.12
Co., Ltd., dan Japan Oil, Gas and Metals National
12.92
Corporation) dengan bagian 10,0%; dan LNG Japan
3.24
Corporation (dimiliki oleh Sumitomo Corporation dan
Sojitz Corporation) sebesar 7,35% (Wikipedia.com).
1.72 0.02
Kondisi penggunaan energi listrik terutama yang
Sosial Rumah Tangga Bisnis Industri Publik
memanfaatkan listrik negara (PLN) masih belum
maksimal. Belum semua kabupaten di Papua Barat Sumber: PT PLN (persero) Wilayah Papua, 2009

mendapatkan pasokan listrik 24 jam. Seperti


contohnya di Kabupaten Teluk Wondama, Kabupaten
Sorong Selatan dan Kabupaten Teluk Bintuni.
Disamping itu juga tidak semua desa teraliri listrik PLN. Tahukah Anda?
Sulitnya kondisi geografis dan terbatasnya Hari Energi sedunia diperingati setiap
tanggal 28 Maret setiap tahunnya.
ketersediaan energi listrik menjadi penyebab belum
meratanya pasokan listrik sampai menjangkau seluruh
kecamatan maupun desa di Papua Barat.
Persentase tertinggi pelanggan PLN adalah untuk Gambar 10.4 Persentase Penggunaan Listrik PLN 2009 (KWh)
golongan rumah tangga, yaitu mencapai 82,12 persen.
Sebesar 17,88 persen sisanya terbagi untuk golongan Kaimana

bisnis (12,92%); sosial (3,24%); publik (1,72%); dan Raja Ampat


Teluk Wondama
untuk golongan industri (0,02%). Sorong

Konsumsi atau penggunaan energi listrik PLN Sorong Selatan


Fakfak
tertinggi adalah di Kota Sorong, yaitu mencapai Teluk Bintuni

31.804.104 KWh. Sedangkan konsumsi tertinggi kedua Manokwari


Kota Sorong
adalah Kabupaten Manokwari yang mencapai Ribu
0 100000 200000 300000 400000
14.480.832 Kwh. Dua daerah ini adalah kabupaten/
kota yang paling padat penduduknya dan paling Sumber: PLN Papua, 2009

banyak pelanggannya.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 43


INDUSTRI PENGOLAHAN

11 Produktivitas Sektor Industri Pengolahan Tertinggi


Industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar kedua dalam PDRB Papua Barat (24,39%)
setelah sektor pertanian. Namun produktivitasnya merupakan yang tertinggi jauh diatas sektor
pertanian.

Gambar 11.1 Share terhadap PDRB dan Persentase Pekerja di Kontribusi sektor industri pengolahan dalam
Sektor Industri Pengolahan 2009
perekonomian Papua Barat memilki prospek yang
30 sangat baik di masa mendatang. Sektor ini terus
24.39
22.74
25
20.11 mengalami peningkatan share terhadap total PDRB. Di
19.47
20
tahun 2006 share sektor ini hanya 19,47 persen.
15
Namun di tahun 2009 kontribusinya semakin
10
3.69 3.59 3.74 meningkat menjadi 24,39 persen. Kontribusi sektor
5 1.35
industri pengolahan menempati posisi kedua dalam
0
2006 2007 2008 2009 PDRB Papua Barat dibawah sektor pertanian
(24,52%). Nilai agregat PBRD-nya mencapai 3.548,36
share PDRB % Pekerja
miliar rupiah hanya beda tipis dibandingkan dengan
Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2006-2009 nilai agregat sektor pertanian.
Perbedaan yang tidak terlalu jauh antara sektor
industri pengolahan dan sektor pertanian
memungkinkan untuk terjadi pergeseran posisi. Hal ini

Tahukah Anda? disebabkan oleh semakin menurunnya kinerja sektor


Share sektor industri pengolahan pertanian ditandai dengan semakin menurunnya
terhadap PDRB Papua Barat adalah
yang terbesar kedua setelah sektor kontribusi terhadap total PDRB. Sementara di lain sisi,
pertanian dan kontribusinya terus
mengalami peningkatan. sektor industri pengolahan terus mengalami
peningkatan kontribusi terhadap total PDRB.
Bila dilihat dari sisi produktivitasnya, sangat jelas
bahwa sektor pertanian masih tertinggal jauh dengan
sektor industri pengolahan. Bila pada sektor pertanian
dengan 56,60 persen dari total tenaga kerja hanya
mampu memberikan kontribusi 24,52 persen, pada
sektor industri pengolahan hanya dengan 3,74 persen
tenaga kerja mampu memberikan kontribusi sebesar
24,39 persen dari total PDRB Papua Barat. Sektor ini
merupakan sektor yang memiliki produktivitas tertinggi
Sumber: Image Google
diantara sektor-sektor lainnya di Provinsi Papua Barat
(lihat gambar 10.2).

44 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


INDUSTRI PENGOLAHAN
Industri Makanan dan Minuman Hampir Setengah dari Total Industri
Jumlah industri makanan dan minuman hampir setengah dari seluruh industri pengolahan besar
sedang. Persentasenya mencapai 47,62 persen. 11
Menurut Survei Industri Besar Sedang BPS, di Gambar 11.2 Persentase Perusahaan Industri Besar Sedang
menurut Lapangan Usaha 2008
tahun 2008 ada 21 perusahaan industri besar sedang.
industri tersebut hanya terbagi menjadi enam kategori
19.05 14.29 4.76
lapangan usaha menurut KBLI dua digit (lihat box).
Jenis industri terbanyak yaitu industri makanan dan
4.76
9.52
minuman sebesar 47,62 persen. Industri terbanyak 47.62

kedua adalah industri kayu (selain mebeller) yaitu


sebesar 19,05 persen.
Menurut sebarannya, industri besar sedang hanya 15 20 22 23 26 35

terdapat di empat kabupaten/kota, yaitu Kabupaten


Sumber: Survei Industri Besar Sedang, 2008
Teluk Biintuni (5,92%), Kabupaten Manokwari
(19,05%), Kabupaten Sorong (14,29%), dan Kota ►►KODE PERUSAHAAN INDUSTRI MENURUT
LAPANGAN USAHA (KBLI, 2005):
Sorong (5 7 , 1 4 %) . Sedangkan m en u ru t
15 : Industri makanan dan minuman
kepemilikannya, sebesar 9,52 persen adalah milik
20 : Industri kayu (tidak termasuk mebeller)
pemerintah pusat; 4,76 persen milik pemerintah 22 : Industri penerbitan percetakan, dan reproduksi media
daerah; 61,90 persen milik swasta nasional; 19,05 rekam
23 : Industri barang-barang dari batubara, pengilangan
persen milik swasta nasional dan asing; serta 4,76
minyak bumi dan pengolahan minyak bumi, barang-
persen adalah milik pemerintah pusat dan asing. barang dari hasil pengilangan minyak bumi, dan bahan
Secara umum, tenaga kerja pada sektor industri bakar nuklir
26 : Industri barang galian bukan logam
besar sedang didominasi oleh pekerja berjenis kelamin
35 : Industri alat angkutan, selain kendaraan bermotor roda
laki-laki, yaitu sebesar 80,65 persen. Pekerja 4 atau lebih
perempuan hanya sebesar 19,35 persen. Seluruh
kelompok pada perusahaan industri besar sedang Tabel 10.1 Persentase Tenaga Kerja Perusahaan
Industri Besar Sedang 2008
memiliki kondisi serupa, yakni pekerja laki-laki yang
Jumlah Tenaga Kerja
paling dominan. Perusahaan
Laki-laki Perempuan Total
►►Catatan: 15 70.69 29.31 100.00
20 85.81 14.19 100.00
Industri Pengolahan dibagi kedalam 4 golongan:
22 71.43 28.57 100.00
1. Industri Besar (tenaga kerja ≥100 orang) 35 96.60 3.40 100.00
2. Industri Sedang (tenaga kerja 20-99 orang)
Lainnya 93.10 6.90 100.00
3. Industri Kecil (tenaga kerja 5-19 orang)
JUMLAH 80.65 19.35 100.00
4. Industri Rumah Tangga (tenaga kerja 1-4 orang)
Sumber: Survei IBS, 2008

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 45


KONSTRUKSI

12 Pertumbuhan Sektor Konstruksi Terbesar Kedua


Meskipun mengalami perlambatan dibandingkan dengan tahun 2008, namun pertumbuhan sektor
konstruksi merupakan yang terbesar kedua dalam pertumbuhan ekonomi Papua Barat tahun 2009,
yaitu sebesar 13,16 persen.

Gambar 12.1 Share terhadap PDRB, Pertumbuhan Ekonomi, Sektor konstruksi menjadi pemeran penting pada
dan Persentase Pekerja Sektor Kostruksi 2009
suatu daerah yang terus melakukan proses
pembangunan terutama pembangunan infrastruktur
15.02
13.16
seperti di Provinsi Papua Barat. Sebagai provinsi yang
13.06 12.97
relatif baru di Indonesia Papua Barat sedang giat
9.23 9.81
8.00
8.62 membuka akses transportasi untuk membuka
hubungan antar wilayah dan membuka keterisoliran
4.46 4.35 4.22
4.77
wilayah-wilayahnya. Disamping itu juga dilakukan
pembangunan sarana-sarana pendidikan, kesehatan,
2006 2007 2008 2009
Share PDRB % Pekerja Pertumbuhan dan gedung-gedung pemerintahan untuk menunjang

Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2009


jalannya roda pemerintahan dan pereokonomian
Papua Barat.
Nilai tambah bruto sektor konstruksi Papua Barat
tahun 2009 mencapai 648,21 miliar rupiah. Share
sektor ini terus mengalami peningkatan beberapa
tahun ini. Kontribusinya sebesar 8,00 persen di tahun
2006 meningkat 1,81 persen menjadi 9,81 persen di
tahun 2009. Walaupun bukan sebagai kontributor
utama dalam PDRB Papua Barat namun
pertumbuhannya berada pada peringkat kedua setelah
sektor pengangkutan dan komunikasi. Pertumbuhan
sektor ini cenderung tinggi dari tahun ke tahun.
Meskipun pada tahun 2009 mengalami koreksi menjadi
Sumber: Image Google
13,16 persen setelah sebelumnya pertumbuhan di
tahun 2008 sebesar 15,02 persen.
Bila dilihat dari produktivitasnya, sektor ini
termasuk kelompok menengah. Dengan persentase
Tahukah Anda?
Sektor Konstruksi adalah satu- pekerja sebesar 4,77 persen namun mampu
satunya Lapangan Usaha yang memberikan kontribusi mencapai 9,81 persen.
kontribusinya pada PDRB Papua
Barat selalu mengalami peningkatan Produktivitas sektor ini hampir sama dengan sektor
dalam waktu 5 tahun terakhir.
Listrik, Gas, dan Air bersih (lihat Gambar 10.2).

46 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


HOTEL DAN PARIWISATA
Rata-rata lama Menginap Tamu Asing Lebih Tinggi daripada Domestik
Rata-rata lama menginap tamu asing lebih tinggi daripada tamu domestic, baik itu di hotel berbintang
maupun hotel melati. Rata-rata lama menginap tamu asing di hotel berbintang 9,69 hari/orang
sedangkan di hotel melati 2,32 hari/orang..
13
Peranan subsektor perhotelan memang tidak Tabel 13.1 Statistik Perhotelan 2007-2009

besar dalam perekonomian Provinsi Papua Barat. Uraian 2007 2008 2009
Agregat PDRB sektor ini tahun 2009 hanya sebesar Jumlah Hotel (unit)
32,161 miliar rupiah atau hanya sekitar 0,22 persen Bintang 7 8 8

dari total PDRB Papua Barat. Meskipun demikian, Melati 68 63 65


Jumlah Kamar (unit)
subsektor ini cukup menjanjikan. Pertumbuhan
Bintang 403 451 451
subsektor perhotelan melonjak cukup pesat. Di tahun
Melati 1162 1181 1132
2007 pertumbuhan subsektor ini hanya 8,87 persen, Jumlah Tempat Tidur (unit)
kemudian di tahun 2008 meningkat menjadi 11,61 Bintang 665 725 725
persen. Di tahun 2009 pertumbuhannya kembali Melati 1803 1710 1643
Rata-rata Lama Tamu Menginap
melonjak menjadi 17,65 persen.
(domestik+asing) (Hari/orang)
Jumlah hotel di Papua Barat tahun 2009 adalah Bintang 3.39 2.34 5.34
73 unit, yang terdiri dari 8 hotel bintang dan 65 hotel Melati 3.85 2.79 2.14
Rata-rata Lama Tamu Menginap
melati. Jumlah ini meningkat dibandingkan dengan (asing) (Hari/orang)
tahun 2008 yang berjumlah 71 unit (8 unit hotel bintang Bintang 6.67 6.56 9.69

dan 63 unit hotel melati). Hotel berbintang hanya Melati 2.34 5.9 2.32
Rata-rata Lama Tamu Menginap
tersebar di tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Fakfak, (domestik) (Hari/orang)
Kabupaten Manokwari dan Kota Sorong. Bahkan di Bintang 3.24 2.08 2.56

Kabupaten Sorong tidak berdiri satu unit hotel pun. Melati 3.85 2.78 2.14
Jumlah Tamu Asing
Jumlah kamar dan tempat tidur hotel berbintang di
Bintang 1291 978 1602
tahun 2008 dan 2009 tidak mengalami perubahan,
Melati 206 155 94
tetap dengan jumlah 451 unit dan 725 unit. Sementara Jumlah Tamu Domestik
untuk hotel melati justru mengalami pengurangan. Di Bintang 20129 20612 34124

tahun 2008 jumlah kamar dan tempat tidur sebesar Melati 41560 25045 18118

1.181 unit dan 1.710 unit menurun menjadi 1.132 unit


Sumber: Statistik Perhotelan Provinsi Papua Barat, 2009
dan 1.643 unit di tahun 2009.
Rata-rata lama tamu menginap untuk tamu asing
dan domestik hotel berbintang memiliki pola yang
sama di tahun 2007-2009. Rata-rata lama tamu Tahukah Anda?
Gempa bumi dengan skala 7,6 SR di
menginap mengalami penurunan pada tahun 2008 dan Kabupaten Manokwari 4 Januari
di tahun 2009 mengalami peningkatan. Rata-rata lama 2009 lalu merobohkan 3 buah
hotel.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 47


HOTEL DAN PARIWISATA

13 Objek Wisata Terbanyak adalah Wisata Budaya


Dari 208 objek wisata di Papua Barat, sebanyak 98 objek wisata adalah objek wisata budaya. Objek
wisata alam berada diurutan kedua sebesar 96 objek wisata.

menginap tamu asing dan domestik tahun 2007


sebesar 3,39 hari/orang. Di tahun 2008 angka tersebut
mengalami penurunan menjadi 2,34 hari/orang,
kemudian di tahun 2009 meningkat menjadi 5,34 hari/
orang. Sementara rata-rata lama menginap tamu asing
dan domestik pada hotel melati tahun 2007-2009 justru
terus mengalami penurunan. Berturut-turut nilainya
sebesar 3,85 hari/orang; 2,79 hari/orang; dan 2,14
hari/orang.
Selama tiga tahun terakhir, rata-rata lama
menginap tamu asing hotel berbintang memiliki nilai
Hotel di Manokwari
yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata lama
menginap tamu domestik. Bahkan di tahun 2009
Gambar 13.1 Jumlah Objek Wisata di Papua Barat 2009
perbedaannya terlihat lebih signifikan. Rata-rata lama
96 98 menginap tamu asing tahun 2008 sebesar 6,56 hari/
orang atau mengalami penurunan dibandingkan tahun
2007 yang mencapai 6,67 hari/orang. Rata-rata lama
menginap tamu asing selanjutnya mengalami
peningkatan signifikan menjadi 9,69 hari/orang pada
11 tahun 2009.
3
Rata-rata lama menginap tamu domestik
Alam Tirta/Bahari Budaya Argo umumnya lebih singkat dari pada tamu asing. Rata-
rata lama menginap tamu domestik tahun 2009 yang
Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Papua Barat, 2009
menginap di hotel berbintang hanya 2,56 hari/orang,
sementara untuk hotel melati hanya 2,14 hari/orang.
Jumlah objek wisata di Papua Barat tahun 2009
sebanyak 208 objek. Objek wisata tersebut terdiri dari
96 objek wisata alam, 11 objek wisata tirta/bahari, 98
Tahukah Anda?
Papua Barat memiliki 27 kawasan objek wisata budaya, dan 3 objek wisata argo. Objek
konservasi (cagar alam, taman
wisata alam dan suaka marga
wisata yang telah mendunia saat ini adalah objek
satwa) seluas 3,75 juta Hektar. wisata bawah laut di Kepulauan Raja Ampat.

48 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


HOTEL DAN PARIWISATA
Kepulauan Raja Ampat Memiliki Keanekaragaman Flora dan Fauna
Bawah Laut Terlengkap di dunia
Selain keindahan panorama, Kepulauan Raja Ampat memiliki keanekaragaman flora dan fauna bawah
laut terlengkap di dunia. Sekitar 75 persen jenis karang dunia ada disini..
13
Wisata Bawah Laut Raja Ampat

Kepulauan Raja Ampat merupakan wilayah


Kabupaten Raja Ampat. Kurang lebih ada 610 pulau,
yang berpenghuni hanya sekitar 35 pulau. Ada 4
gugusan pulau terbesar di pulau ini, yaitu Pulau
Misool, Pulau Salawati, Pulau Batanta, dan Pulau
Waigeo. Kawasan ini sangat berpotensi menjadi
daerah wisata, terutama wisata bawah laut. Perairan
Raja Ampat merupakan salah satu dari 10 perairan
terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan
diperkirakan menjadi nomor satu untuk kelengkapan
dan keanekaragaman hayati flora dan fauna bawah
laut saat ini.
Wisata bawah laut Raja Ampat diperkirakan
terdapat lebih dari 540 jenis karang keras (75% dari
total jenis di dunia), lebih dari 1.000 jenis ikan karang,
700 jenis moluska, dan catatan tertinggi bagi
gonodactyloid stomatopod crustaceans. Ini menjadikan
75% spesies karang dunia berada di Raja Ampat. Tak
satupun tempat dengan luas area yang sama memiliki
jumlah spesies karang sebanyak ini.
Terdapat beberapa kawasan terumbu karang
yang masih sangat baik kondisinya dengan persentase
penutupan karang hidup hingga 90%, yaitu di selat
Dampier (selat antara P. Waigeo dan P. Batanta),
Kepulauan Kofiau, Kepualauan Misool Timur Selatan
dan Kepulauan Wayag. Tipe dari terumbu karang di
Raja Ampat umumnya adalah terumbu karang tepi
dengan kontur landai hingga curam. Tetapi ditemukan Kawasan Kepulauan Raja Ampat
Sumber: Image Google
juga tipe atol dan tipe gosong atau taka. Di beberapa

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 49


HOTEL DAN PARIWISATA

13 Fenomena Halmahera Edy


Fenomena Halmahera Edy menjadikan perairan Raja Ampat menjadi hangat sehingga menjadi
tempat yang subur untuk tempat berkembang biak berbagai flora dan fauna bawah laut yang Indah di
Kepulauan Raja Ampat.

tempat seperti di kampung Saondarek, ketika pasang


surut terendah, bisa disaksikan hamparan terumbu
karang tanpa menyelam dan dengan adaptasinya
sendiri, karang tersebut tetap bisa hidup walaupun
berada di udara terbuka dan terkena sinar matahari
langsung.
Spesies unik yang dapat
dinikmati saat menyelam adalah
berbagai jenis kuda laut Katai,
Wisata Bawah Laut Kepulauan Raja Ampat
Sumber: Image Google
Wobbegong, dan ikan pari.
Uniknya diperairan Raja Ampat
terdapat ikan endemik Raja
Ampat, yaitu Eviota Raja, sejenis ikan gobbie. Selain
itu ada juga jenis ikan Manta Ray yang jinak.
Ada fenomena menarik yang terjadi di perairan
Raja Ampat, namanya Halmahera Edy. Kondisi
perairan di Kepulauan Raja Ampat dipengaruhi oleh
massa air dari Samudra Pasifik Barat dengan adanya
arus yang bergerak dari arah timur menuju timur laut
dan sejajar dengan daratan besar Papua bagian utara.
Ketika sampai di Laut Halmahera yang berada di utara
Wisata Bawah Laut Kepulauan Raja Ampat
Sumber: Image Google Raja Ampat, sebagian arus itu bergerak ke selatan dan
menuju Alur Pelayaran Jailolo. Ada juga sebagian kecil
arus yang membelok ke arah Selat Dampier. Sebagian
besar dari arus itu kemudian berbalik arah ke Samudra
Pasifik. Arus inilah yang dinamakan Halmahera Edy
Tahukah Anda? oleh para peneliti. Adanya arus ini membuat perairan
Kepulauan Raja Ampat memiliki
keanekaragaman flora dan fauna di Raja Ampat menjadi sangat subur. Ditambah lagi,
bawah laut terlengkap di dunia. suhu permukaan air lautnya sekitar 28oC hingga 27oC
Bahkan 75% spesies karang dunia
berada di perairan ini. di kedalaman tertentu. Cahaya bisa menembus hingga
30-37 meter dengan salinitas yang sangat tinggi.

50 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI
Pertumbuhan Sektor Transportasi dan Komunikasi Tertinggi
Sektor transportasi dan komunikasi memiliki pertumbuhan tertinggi di tahun 2009. pertumbuhannya
mencapai 15,98 persen terhadap tahun 2008. Diantara sektor tersier pertumbuhan sektor ini berbeda
signifikan diatas sektor lainnya.
14
Sektor transportasi/angkutan dan komunikasi Gambar 14.1 Share terhadap PDRB dan Pertumbuhan Sektor
Angkutan dan Komunikasi 2009
termasuk ke dalam sektor tersier bersama sektor
perdagangan, hotel, dan restoran; keuangan,
15.98
persewaan, dan jasa perusahaan; serta sektor jasa- 14.84

jasa. Peran sektor ini dalam perekonomian belum 10.89

memberikan kontribusi yang besar, nilai agregat PDRB 7.55

atas dasar harga berlakunya sebesar 1.059,22 miliar 7.22 7.44 6.95 7.28

rupiah. Kontribusinya pada PDRB Papua Barat selama


empat tahun terakhir hanya pada kisaran 6-7 persen 2006 2007 2008 2009
saja. Share sektor ini di tahun 2009 hanya 7,28
Pertumbuhan Share PDRB
persen. Masih lebih rendah di bandingkan sektor
perdagangan, hotel, dan restoran (9,99%); dan sektor Sumber: BPS Provinsi Papua Barat, 2009

jasa-jasa (7,86%) yang sama-sama berada di sektor


tersier.
Bila dilihat dari sisi pertumbuhan ekonominya, di
tahun 2009, sektor transportasi dan komunikasi
memiliki angka pertumbuhan yang paling tinggi
terhadap tahun 2008 dibandingkan dengan sektor-
sektor lainnya. Sektor ini tumbuh 15,98 persen
terhadap tahun 2008, setelah sebelumnya di tahun
2007 dan 2008 mengalami perlambatan. Sementara
dibandingkan sesama sektor tersier, pertumbuhan
sektor ini berbeda signifikan. Ketiga sektor lain yang
tergolong dalam sektor tersier paling tinggi tumbuh
tidak lebih dari 7 persen di tahun 2008-2009.
Dilihat dari produktivitasnya, sektor transportasi
dan komunikasi memiliki persentase pekerja terhadap
Tahukah Anda?
total penduduk yang bekerja sebesar 4,82 persen, Salah satu moda transportasi
massal yang sangat berpengaruh
sedangkan share-nya terhadap PDRB sebesar 7,28 terhadap perpindahan orang dan
barang antar kabupaten di Papua
persen. Produktivitasnya berada di urutan ke-6 dari 9 Barat adalah dengan kapal laut.
sektor dan masih berada diatas produktivitas provinsi.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 51


TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI

14 Proporsi Panjang Jalan dengan Permukaan Terluas Berjenis Tanah


Panjang jalan dengan permukaan berjenis tanah memiliki persentase sebesar 37,60 persen,
sedangakan permukaan kerikil sebesar 31,96 persen jauh lebih panjang dibandingkan jalan dengan
permukaan terluas berjenis aspal (24,52%).

Gambar 14.2 Persentase Panjang Jalan menurut Tingkat Akses transportasi yang memadai menjadi
Pemerintahan yang Berwenang 2009
kebutuhan yang sangat mendesak bagi wilayah Papua
Barat yang kondisi geografisnya relatif sulit.
Pembangunan akses transportasi terutama jalan darat
kabupaten,
63.74
akan memberikan multiplier effect dari banyak sisi.
negara, 19.78 Akses transportasi yang baik akan memudahkan
provinsi, pemerataan pendidikan, kesehatan, distribusi barang
16.48
dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Kesulitan dalam perhubungan mengakibatkan ekonomi
biaya tinggi yang akan berpengaruh pada tingkat
harga. Tingkat harga yang tinggi inilah menjadi
Sumber: Dinas Perhubungan dan Informatika Provinsi Papua Barat, 2009
penyebab daya beli masyarakat rendah sehingga roda
perekonimian berputar kurang optimal dan kemiskinan
cenderung tinggi.
Tahukah Anda?
Salah satu penyebab tidak
Selama ini tidak semua kabupaten dapat
langsung pemicu inflasi di Papua terhubung dengan jalan darat. Untuk melakukan
Barat adalah kelancaran arus
perpindahan barang dan jasa hubungan antar kabupaten harus dilakukan melalui
melalui kapal laut.
akses laut dan udara. Konsekuesi menggunakan jalur
laut adalah lama perjalanan yang ditempuh menjadi
Gambar 14.3 Persentase Panjang Jalan menurut
Jenis Permukaan 2009 lebih lama, sedangkan lewat jalur udara membutuhkan
biaya yang lebih mahal. Arus orang dan barang
menjadi terkendala karena keterbatasan akses
lainnnya,
5.93 perhubungan ini.
aspal, 24.52
tanah, 37.60 Panjang jalan di Papua Barat tahun 2009 hanya

kerikil, 31.96 5.906,28 Km, kondisi ini mengalami perbaikan


dibandingkan pada tahun 2008 yaitu sepanjang
5.400,71 Km. Kondisi panjang jalan tersebut terbagi
menjadi 1.168,16 Km (19,78%) jalan negara; 973,28
Km (16,48%) jalan provinsi; dan 3.764,84 Km (63,74%)
adalah jalan kabupaten. Sedangkan menurut jenis
Sumber: Dinas Perhubungan dan Informatika Provinsi Papua Barat, 2009
permukaanya terbagi menjadi 1.448,24 Km (24,52%)

52 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


TRANSPORTASI DAN KOMUNIKASI
Jalan Trans Papua Barat Menghubungkan Tujuh Kabupaten
Jalan Trans Papua Barat yang diperkirakan memiliki panjang 1.625 Km akan membuka isolasi dengan
menghubungkan tujuh kabupaten yang selama ini tidak dapat ditempuh melalui jalur darat. 14
jalan aspal; 1.887,37 Km (31,96%) jalan dengan Gambar 14.4 Jumlah Penumpang Datang dan Berangkat
Kapal Laut di Pelabuhan yang Diusahakan 2007-2009 (ribu
permukaan kerikil; 2.220,56 Km (37,60%) jalan dengan
permukaan tanah; dan 350,11 Km (5,93%) adalah
jalan dengan permukaan lainnya. 309.2
277.7 281.2 269.1 269.1
249.7
Kebijakan pemerintah daerah Provinsi Papua
Barat untuk membuka isolasi terutama untuk daerah
pedalaman dan mendorong percepatan pembangunan
salah satunya dengan pembangunan jalan trans
Papua Barat. Jalan yang masih dalam tahap
2007 2008 2009
pembangunan ini rencananya memiliki panjang 1.625 debarkasi embarkasi

Km. Jalan trans Papua Barat akan membuka isolasi


Sumber: Dikutip dari Publikasi Statistik Perhubungan BPS Prov Papua Barat, 2009
karena akan menghubungkan 7 kabupaten sekaligus.
Dengan masih terbatasnya akses perhubungan Gambar 14.5 Jumlah Penumpang Datang dan Berangkat
Pesawat Udara 2007-2009 (ribu orang)
lewat darat, sebagian besar orang memanfaatkan
fasilitas perhubungan via laut dan udara. Jumlah 240.7 234.5
229.9
penumpang datang (debarkasi) dan berangkat 192.7 197.3

(embarkasi) cenderung mengalami penurunan. Pada 150.9

tahun 2007 jumlah penumpang datang 309,2 ribu


orang dan berangkat 277,7 ribu orang dengan jumlah
armada 839 kapal. Di tahun 2009 jumlahnya
mengalami penurunan menjadi 249,7 ribu orang
2007 2008 2009
(debarkasi) dan 269,1 ribu orang (embarkasi) debarkasi embarkasi

meskipun jumlah armada bertambah menjadi 891 unit.


Sumber: Dikutip dari Publikasi Statistik Perhubungan BPS Prov Papua Barat, 2009
Jumlah penumpang pesawat udara cenderung
memiliki tren meningkat signifikan selama 2007-2009.
Jumlah penumpang datang mencapai 240,7 ribu orang
dengan jumlah penerbangan 9.588 kali dan berangkat Tahukah Anda?
Jalan Trans Papua Barat memiliki
234,5 ribu orang dengan jumlah penerbangan 9.742
panjang lintasan 1.625 Km dan akan
kali di tahun 2009. Rata-rata penumpang pesawat menghubungkan tujuh kabupaten.

untuk debarkasi sebesar 25 orang untuk debarkasi dan


*) rata-rata jumlah penumpang diperoleh dari pembagian jumlah
24 penumpang untuk embarkasi.*) penumpang dengan jumlah penerbangan termasuk pesawat ringan
dengan kapasitas kecil.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 53


PERBANKAN DAN INVESTASI

15 Penggunaan Kredit Masyarakat Lebih Besar untuk Konsumsi


Kredit pinjaman bank menurut penggunaan dalam tiga tahun terakhir menunjukkan bahwa sebagian
besar masyarakat meminjam dana di bank bukan untuk kebutuhan modal kerja/usaha maupun
investasi, namun digunakan untuk konsumsi rumah tangga.

Gambar 15.1 Jumlah Kantor Bank menurut Jenisnya Seiring perkembangan pembangunan, peran
di Provinsi Papua Barat 2007-2009
perbankan menjadi sesuatu yang sangat penting.
Perbankan selain memberikan kemudahan fasilitas
49 53 61 bertransaksi dan sebagai tempat penyedia dana bagi
44 yang membutuhkan dana kredit juga menjadi sarana
46 52
yang aman untuk berinvestasi.
5
7 Jumlah kantor bank di Provinsi Papua Barat terus
9
2007
2008
meningkat dari tahun ke tahun. Di tahun 2007 jumlah
2009 kantor bank hanya 49 unit yang terdiri dari 5 unit bank
Swasta Nasional Persero dan Pemda Jumlah swasta nasional serta 44 unit bank persero dan
pemerintah daerah. Di tahun 2009 jumlahnya
Sumber: Bank Indonesia, 2009
meningkat menjadi 61 unit kantor bank, yang terbagi
menjadi 9 unit bank swasta nasional serta 52 unit bank

Gambar 15.2 Posisi Kredit Perbankan Rupiah dan Valas menurut


persero dan pemerintah daerah.
Jenis Penggunaan2007-2009 (%) Dalam tiga tahun fasilitas kredit perbankan yang
disalurkan ke masyarakat baik rupiah maupun valuta
asing (valas) ternyata lebih banyak digunakan untuk
38.59 34.87 35.45
konsumsi rumah tangga. Penggunaan kredit untuk
20.83 22.55 22.09 keperluan investasi justru paling kecil digunakan
setelah penggunaan kredit untuk keperluan modal
40.58 42.59 42.46
kerja/usaha.
Penggunaan kredit perbankan untuk konsumsi
2007 2008 2009
meningkat dari 40,58 persen di tahun 2007 menjadi
Modal Kerja Investasi Konsumsi
42,46 persen di tahun 2009, setelah sebelumnya
Sumber: Bank Indonesia, 2009
sempat mengalami penurunan dari tahun 2008 yang
mencapai 42,59 persen. Lebih tingginya penggunaan
kredit perbankan untuk kepentingan konsumsi
menunjukkan perilaku masyarakat yang konsumtif.
Tahukah Anda?
Sektor Keuangan dan Jasa lebih Pola konsumtif masyarakat ini searah dengan
banyak memanfaatkan fasilitas kredit tingginya persentase konsumsi rumah tangga dalam
bank dibandingkan dengan sektor
lainnya. PDRB menurut penggunaan (69,02%).

54 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


HARGA-HARGA
Terjadi Kenaikan Harga 39,71 Persen
IHK tahun 2010 (kondisi bulan Oktober) sebesar 139,71 persen artinya terjadi kenaikan harga secara
umum sebesar 39,71 persen dibandingkan dengan harga pada tahun dasar 2007. 16
Inflasi adalah persentase tingkat perubahan harga Tabel 16.1 Indeks Harga Konsumen (2007=100) Provinsi
Papua Barat Januari 2008-Oktober 2010
sejumlah barang dan jasa yang secara umum
Bulan 2008 2009 2010*
dikonsumsi rumah tangga. Perubahan yang dimaksud
Januari 106.07 128.70 132.99
adalah terjadi kenaikan atau mungkin penurunan harga
Febuari 106.03 128.76 133.10
barang dan jasa. Ada kalanya harga barang tidak
Maret 106.91 129.03 133.30
berubah dibandingkan dengan kondisi sebelumnya April 107.51 128.62 135.37
pada referensi survei. Rata-rata tertimbang dari Mei 111.30 128.80 134.62
perubahan harga barang dan jasa tersebut pada Juni 117.70 129.59 135.56
periode waktu tertentu (bulanan) disebut inflasi (harga Juli 122.64 131.02 138.75

naik) dan deflasi (harga turun). Agtustus 124.96 131.96 140.12


September 126.91 131.51 140.38
Penghitungan inflasi tersebut tercakup dalam
Oktober 126.20 131.41 139.71
Indeks Harga Konsumen (IHK). Persentase kenaikan
November 124.87 131.50
harga disebut inflasi (nilainya >0) dan sebaliknya
Desember 126.21 132.80
disebut dengan deflasi (nilainya <0). Sumber: BPS Prov Papua Barat, 2008-2010
*) Data sampai dengan bulan Oktober 2010
Inflasi merupakan indikator yang menggambarkan
kecenderungan umum tentang perkembangan harga.
►► Formulasi Penghitungan Inflasi:
indikator ini dapat dipakai sebagai informasi dasar
dalam pengambilan keputusan kebijakan ekonomi
makro dan mikro, baik fiskal maupun moneter.
Kenaikan harga memang tidak dapat dihindari, ►► Keterangan:
namun dapat dikendalikan. Hal ini perlu dilakukan
IHKn : Indeks Harga Konsumen bulan ke-n
karena kenaikan harga yang tidak terkendali dapat
IHKn-1 : Indeks Harga Konsumen bulan ke-(n-1)
mengakibatkan efek domino di berbagai sisi kegiatan
Inflasi jika nilainya > 0
ekonomi. Inflasi yang tinggi akibat dari kenaikan harga
Deflasi jika nilainya < 0
mengakibatkan daya beli masyarakat menurun,
dampaknya kinerja perekonomian manjadi menurun
dan kemiskinan cenderung tinggi.
Tahukah Anda?
IHK Papua Barat tahun 2010 (kondisi bulan Inflasi tahunan Papua Barat tahun
Oktober) sebesar 139,71 persen artinya terjadi 2008 adalah yang tertinggi di
Indonesia, nilainya mencapai 20,06
kenaikan harga secara umum sebesar 39,71 persen persen. Pemicunya diduga karena
kenaikan harga BBM pada tahun
dibandingkan dengan harga tahun dasar 2007. Selama tersebut.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 55


HARGA-HARGA

16 Inflasi Tahun Kalender Papua Barat 2008 Tertinggi


Inflasi tahun kalender 2008 mencapai 20,06 persen. Inflasi ini merupakan yang tertinggi di Indonesia.
Inflasi tersebut diduga akibat dua kali kenaikan harga BBM di tahun tersebut.

Gambar 16.1 Laju Inflasi Gabungan Papua Barat tahun 2008-2010*, inflasi lebih banyak terjadi dari pada
Januari 2009-Oktober 2010 (%)
deflasi. Sepanjang 34 bulan tersebut, hanya 8 kali
7
5.75
terjadi penurunan IHK (deflasi), 26 bulan lainnnya
6
5 terjadi kenaikan IHK (inflasi). Di tahun 2008 bahkan
4
terjadi inflasi selama 7 bulan berturut-turut dari bulan
3 2.35
2
1.98
1.56
Maret-September. Di akhir tahun 2009 hingga awal
1.11 0.99
1 tahun 2010 terjadi pula inflasi beruntun selama 6 bulan
0
-0.03 -0.32 -0.34
(November 2009-April 2010). Bila mencermati kondisi
-1 -0.55 -0.47
-1.06
-2 yang demikian, tampaknya perkembangan (kenaikan)
01/08
03/08
05/08
07/08
09/08
11/08
01/09
03/09
05/09
07/09
09/09
11/09
01/10
03/10
05/10
07/10
09/10

harga belum terkontrol dengan baik. Diperlukan usaha


dari pemerintah daerah untuk memonitoring harga
Sumber: Survei Harga Konsumen, 2009-2010
agar setidaknya kondisinya lebih stabil.
Laju inflasi Papua Barat diwakili oleh dua kota,
Tabel 16.2 Laju Inflasi Tahun Kalender (2007=100)
Januari 2008-Oktober 2010 (%) yaitu Manokwari dan Kota Sorong. Gabungan
Bulan 2008 2009 2010* keduanya memberikan gambaran umum kondisi
Januari 0.90 1.98 0.15 perkembangan harga di Papua Barat. Selama Januari
Febuari 0.87 2.02 0.22
2008-Oktober 2010 inflasi tertinggi sebesar 5,75
Maret 1.70 2.24 0.37
persen yang terjadi di bulan Juni 2008. Sedangkan
april 2.27 1.91 1.94
Mei 5.88 2.06 1.37 deflasi terendah terjadi di bulan November 2008
Juni 11.97 2.68 2.08 sebesar –1,06 persen.
Juli 16.66 3.82 4.48
Laju inflasi tahun kalender tertinggi terjadi di tahun
Agtustus 18.87 4.56 5.52
September 20.73 4.20 5.71 2008, yaitu sebesar 20,06 persen. Inflasi ini diduga
Oktober 20.05 4.12 5.21 terjadi karena pada tahun 2008 terjadi dua kali
November 18.79 4.20 kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan
Desember 20.06 5.22
Sumber: Survei Harga Konsumen, 2008-2010
harga BBM berdampak multiplier effect terhadap harga
*) Data sampai dengan bulan Oktober 2010
-harga berbagai barang dan jasa. Inflasi sebesar 20,06
persen termasuk dalam kategori sedang. Inflasi mulai
►► CATATAN:
terkendali di tahun 2009, terbukti dengan turunnya
Inflasi ringan : kurang dari 10 % per tahun
Inflasi sedang : 10-30 % per tahun inflasi tahun kalender menjadi 5,22 persen. Di tahun ini
Inflasi tinggi : 30-100 % per tahun tingkat inflasi bulanannya rata-rata tidak melampaui
Hyperinflation : lebih dari % per tahun satu persen, bahkan terjadi tiga kali deflasi dalam satu

56 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


HARGA-HARGA
Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau Picu Inflasi Tertinggi
Berdasarkan IHK tahun 2010*, kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau menjadi
pemicu utama inflasi. Hal ini ditunjukkan dengan menempatkan kelompok tersebut menjadi IHK
tertinggi yaitu 158,59 perrsen, artinya terjadi kenaikan harga sebesar 58,59 persen terhadap tahun
dasar 2007 pada kelompok pengeluaran tersebut.
16
tahun. Sementara itu, pada tahun 2010, inflasinya Tabel 16.3 IHK Gabungan Papua Barat menurut
Kelompok Pengeluaran2008-2010 (%)
sudah hampir menyamai tahun 2009 meskipun baru
pada kondisi bulan Oktober. Bila pada dua bulan Kelompok Pengeluaran 2008 2009 2010*

kedepan terjadi inflasi lagi maka dapat dipastikan Bahan Makanan 137.79 144.82 155.87

inflasi tahun kalender tahun 2009 akan terlampaui. Makanan Jadi,


Minuman, Rokok dan 139.96 147.45 158.59
Namun bila pada dua bulan selanjutnya terjadi deflasi Tembakau
Perumahan, Air, Listrik,
maka inflasi tahunan Papua Barat pada tahun 2010 Gas dan Bahan Bakar
121.72 131.81 136.71

akan lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2009. Sandang 106.55 117.35 118.21
Untuk itu, pemerintah daerah harus melakukan Kesehatan 118.67 125.78 130.16

monitoring harga mengingat sebagian besar Pendidikan, Rekreasi,


107.77 113.72 120.31
dan Olah Raga
masyarakat Papua Barat beragama Kristen akan
Transpor, Komunikasi,
112.92 111.96 112.65
mengahadapi perayaan natal, disamping adanya dan Jasa Keuangan

momen tahun baru. Umum/Total 126.21 132.8 139.71

Penghitungan angka inflasi dikelompokkan ke Sumber: Survei Harga Konsumen, 2008-2010


*) Data sampai dengan bulan Oktober 2010
dalam 7 kelompok pengeluaran. IHK tertinggi selalu
berada pada kelompok pengeluaran makanan jadi,
minuman, rokok dan tembakau selama tiga tahun Tabel 16.4 Laju Inflasi Tahun Kalender (2007=100) menurut
terakhir. IHK pada kelompok pengeluaran tersebut Kelompok Pengeluaran 2009-2010 (%)

tahun 2010 mencapai 158,59 persen, artinya terjadi Kelompok Pengeluaran 2009 2010*
kenaikan harga sebesar 58,59 persen pada kelompok
Bahan Makanan 5.10 7.63
pengeluaran ini dibandingkan dengan kondisi tahun Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan
5.35 7.55
dasar 2007. Dengan kata lain, harga-harga pada Tembakau
Perumahan, Air, Listrik, Gas dan
8.29 3.72
kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan Bahan Bakar

tembakau mengalami kenaikan lebih dari 1,5 kali lipat Sandang 10.13 0.73

terhadap tahun 2007. Kesehatan 5.99 3.49

Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga 5.52 5.80


Inflasi tahun kalender tahun 2009 tercatat 5,22
Transpor, Komunikasi, dan Jasa
persen. penyumbang inflasi terbesar dari kelompok Keuangan
-0.85 0.61

pengeluaran sandang, yaitu sebesar 10,13 persen. Umum/Total 5.22 5.21

Inflasi kelompok pengeluaran lainnya berada pada Sumber: Survei Harga Konsumen, 2008-2010
*) Data sampai dengan bulan Oktober 2010
kisaran lima persen. Sedangkan kelompok
pengeluaran transport, komuniksi, dan jasa keuangan

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 57


HARGA-HARGA

16 Petani Tanaman Pangan Selalu Merugi


NTP menurut subsektor pertanian menunjukkan bahwa nilai tukar petani pada subsektor tanaman
pangan tidak pernah lebih dari 100 persen. Artinya adalah biaya yang dibayarkan petani selalu lebih
tinggi daripada biaya yang diterima petani dalam usaha pertaniannya.

Gambar 16.2 Nilai Tukar Petani (NTP) Papua Barat 2008-2009 justru mengalami deflasi sebesar –0,85 persen.
(%)(2007=100)
Inflasi tahun kalender tahun 2010 sebesar 5,21
140 persen dengan penyumbang terbesar inflasi pada
129.29
126.98 kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 7,63
124.17
120 125.85 persen dan kelompok makanan jadi, minuman, rokok
116.87 120.96
dan tembakau sebesar 7,55 persen.
104.98
106.24 102.73 Nilai Tukar Petani (NTP) merupakan salah satu
100
indikator yang berguna untuk mengukur tingkat
2008 2009 2010*
kesejahteraan petani, karena mengukur kemampuan
It Ib NTP tukar produk (komoditas) yang dihasilkan/dijual petani
dibandingkan dengan produk yang dibutuhkan petani
Sumber: Survei Harga Perdesaan, 2008-2010
*) Data sampai dengan bulan Oktober 2010 baik untuk proses produksi (usaha) maupun untuk
konsumsi rumah tangga petani.
►► CATATAN: NTP Papua Barat tahun 2009 sebesar 104,98

Nilai Tukar Petani (NTP) adalah adalah perbandingan persen lebih rendah dibandingkan dengan NTP tahun
antara indeks harga yang diterima (It) dan dibayar (Ib) petani. 2008 sebesar 106,24 persen. NTP tahun 2010 kembali
Jika NTP lebih besar dari 100 maka dapat diartikan mengalami penurunan menjadi 102,73 persen. Nilai
kemampuan daya beli petani periode tersebut relatif lebih NTP 102,73 persen artinya petani mengalami surplus
baik dibandingkan dengan periode tahun dasar, sebaliknya usaha sebesar 2,73 persen.
jika NTP lebih kecil atau di bawah 100 berarti terjadi NTP Papua Barat 2008-2010 nilainya selalu diatas 100
penurunan daya beli petani.
persen, artinya kesejahteraan petani menjadi lebih baik
dibandingkan dengan tahun dasar 2007. Namun nilai
Tabel 16.5 NTP menurut Subsektor 2009-2010* (%) NTP cenderung mengalami penurunan, meskipun
(2007=100)
indeks yang diterima petani (It) terus mengalami
Tahun NTP_N NTP_H NTP_PR NTP_PT NTP_P
peningkatan. Peningkatan indeks yang diterima petani
2009 113.75 111.45 121.84 112.33 90.66 ternyata pertumbuhannya tidak dapat mengimbangi

2010* 110.72 106.07 117.62 112.79 88.34 pertumbuhan indeks yang dibayarkan petani (Ib) yang

Sumber: Survei Harga Perdesaan, 2009-2010


bergerak lebih cepat. Pertumbuhan yang cepat dari
*) Data sampai dengan bulan Oktober 2010
NTP_N : Nilai Tukar Petani perikanan indeks yang dibayarkan petani diduga karena
NTP_H : Nilai Tukar Petani Hortikultura
NTP_PR : Nilai Tukar Petani Perkebunan Rakyat pertumbuhan indeks konsumsi rumahtangga petani
NTP_PT : Nilai Tukar Petani Peternakan
NTP_P : Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan meningkat relatif cepat.

58 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


HARGA-HARGA
Bahan Makanan Picu Inflasi Pedesaan Tertinggi 2008-2010*
IHK tertinggi tahun 2010* sebesar 149,73 persen terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan.
Artinya terjadi kenaikan harga tertinggi 49,73 persen pada kelompok pengeluaran bahan makanan
terhadap tahun dasar 2007.
16
Nilai NTP berdasarkan subsektor tahun 2010 Gambar 16.3 Laju Inflasi Pedesaan Bulanan (2007=100)
Papua Barat Februari 2008-Oktober 2010 (%)
tercatat bahwa seluruh subsektor mengalami
penurunan nilai indeks dibandingkan dengan kondisi 4
3.54
tahun 2009. NTP tertinggi berada pada subsektor 3

pertanian perkebunan rakyat, nilai indeksnya sebesar 2


1.78
117,62 persen. Hal ini dapat diartikan bahwa petani
1 1.11 0.99
0.82
pertanian perkebunan rakyat pendapatannya dari
0.24 0.13
0 0.01
usaha pertanian lebih baik dari pada petani pada
-0.63 -0.78
-0.58
subsektor lain. Diantara subsektor-subsektor tersebut -1

02/08

06/08
08/08

12/08
02/09

06/09
08/09

12/09
02/10

06/10
08/10
10/10
04/08

10/08

04/09

10/09

04/10
hanya subsektor tanaman pangan yang nilai indeksnya
dibawah 100 persen, yaitu sebesar 88,34 persen.
Sumber: Survei Harga Perdesaan, 2009-2010
Artinya indeks yang harus dibayarkan petani lebih *) Data sampai dengan bulan Oktober 2010

tinggi dari indeks yang diterima petani atau dapat


dikatakan petani tanaman pangan cenderung merugi.
Tabel 16.6 Indeks Harga Pedesaan menurut
Selain inflasi perkotaan yang dihitung pada 66
Kelompok Pengeluaran (2007=100)(%)
kota di Indonesia, dihiutng pula inflasi pedesaan.
Kelompok Pengeluaran 2008 2009 2010*
Selama tahun 2008-2010 inflasi tertinggi adalah
sebesar 3,54 persen yang terjadi pada bulan Juni Bahan Makanan 128.99 139.08 149.73
2008. hal yang sama juga terjadi pada inflasi Makanan Jadi, Minuman,
108.59 114.34 119.36
perkotaan. Sementara deflasi terendah terjadi pada Rokok dan Tembakau
Perumahan, Air, Listrik, Gas
bulan Oktober 2010 sebesar –0,78 persen. Selama 126.84 121.52 122.75
dan Bahan Bakar
periode tersebut hanya terjadi 4 kali deflasi, yaitu di Sandang 118.21 126.26 127.60
bulan Januari dan Februari 2009 (-0,58% dan –0,64%);
Kesehatan 115.84 120.87 122.56
bulan Desember 2009 (-0,63%); dan bulan Oktober
Pendidikan, Rekreasi, dan
104.92 107.12 109.70
2010 (-0,78%). Selebihnya Papua Barat mengalami Olah Raga
Transpor, Komunikasi, dan
inflasi, bahkan selama setahun penuh di tahun 2008 Jasa Keuangan
107.80 102.16 103.54

selalu mengalami inflasi. Setelah deflasi bulan Oktober Umum/Total 120.21 125.65 131.92
2009 pun terjadi inflasi secara beruntun selama 11 Sumber: Survei Harga Perdesaan, 2008-2010
*) Data sampai dengan bulan Oktober 2010
bulan.
Bila dilihat dari indeks penyusun inflasi, nilai
indeks di tahun 2010 sebesar 131,92 persen. Artinya

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 59


HARGA-HARGA

16 Bahan Makanan Sumbang Inflasi Tahun Kalender Tertinggi


Selama dua tahun terakhir, kelompok pengeluaran bahan makanan menyumbang sebagai inflasi
tahun kalender tertinggi, yaitu 7,82 persen (2009) dan 7,66 persen (2010*).

Tabel 16.7 Laju Inflasi Pedesaan Tahun Kalender (2007=100) terjadi kenaikan harga secara umum sebesar 31,92
menurut Kelompok Pengeluaran(%)
persen terhadap tahun dasar 2007. Kenaikan harga
Kelompok Pengeluaran 2009 2010*
tertinggi berdasarkan kelompok pengeluaran berada
Bahan Makanan 7.82 7.66
pada bahan makanan, yaitu 49,73 persen terhadap
Makanan Jadi, Minuman, Rokok dan
5.30 4.39
Tembakau tahun dasar 2007. Kelompok pengeluaran transport,
Perumahan, Air, Listrik, Gas dan
-4.19 1.01 komunikasi dan jasa keuangan adalah yang
Bahan Bakar
Sandang 6.81 1.05 mengalami kenaikan harga terendah diantara
Kesehatan 4.34 1.40 kelompok pengeluaran lainnya, yaitu hanya mengalami
Pendidikan, Rekreasi, dan Olah Raga 2.10 2.40
kenaikan sebesar 3,54 persen terhadap tahun 2007.
Transpor, Komunikasi, dan Jasa
-5.23 1.35
Keuangan Laju inflasi pedesaan tahun kalender tahun 2009
Umum/Total 4.53 4.99 sebesar 4,53 persen, artinya dibandingkan dengan
Sumber: Survei Harga Perdesaan, 2009-2010
*) Data sampai dengan bulan Oktober 2010
kondisi Desember 2008 terjadi kenaikan harga barang
dan jasa sebesar 4,53 persen. Sedangkan pada tahun
2010 (sampai dengan bulan Oktober) laju inflasi
Gambar 16.4 Perkembangan Harga Sembako Terpilih
Papua Barat 2008-2009 (Rp/Kg) pedesaan tahun kalender telah mencapai 4,99 persen.
Tahun 2010 yang masih menyisakan dua bulan
2008 2009
15450
tersebut ada kemungkinan dapat melampaui angka
14453
inflasi ahun 2009 bila terjadi inflasi. Selama dua tahun
11242
10510 terakhir inflasi tertinggi disumbang oleh kelompok
6267 6843 bahan makanan yaitu 7,82 persen dan 7,66 persen.
Perkembangan harga sembako perlu
mendapatkan perhatian pemerintah daerah karena
barang-barang tersebut menjadi konsumsi pokok
Beras Minyak goreng Gula
rumah tangga yang mempengaruhi stabilitas harga.
Sumber: SHPB 2008-2009 Harga beras tahun 2008 rata-rata sebesar Rp 6.267/
Kg dan mengalami kenaikan menjadi Rp 6.843/Kg di
tahun 2009. Demikian pula dengan harga gula pasir
yang mengalami kenaikan dari Rp 10.510/Kg menjadi

Tahukah Anda? Rp 11.242/Kg di tahun 2010. Harga minyak goreng


Inflasi tahun kalender pedesaan justru mengalami penurunan dari Rp 15.450/Kg di
selalu lebih rendah dari inflasi
perkotaan selama 2008-2010*. tahun 2008 menjadi Rp 14.453/Kg di tahun 2009.

60 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PENGELUARAN PENDUDUK
Konsumsi Rumah Tangga Papua Barat 69,02 Persen
Pengeluaran konsumsi rumah tangga berdasarkan PDRB penggunaan sebesar 69,02 persen.
Komponen ini menjadi penyumbang terbesar diantara 7 komponen pembentuk PDRB penggunaan . 17
Pengeluaran konsumsi rumah tangga dalam Tabel 17.1 Statistik Pengeluaran Penduduk

PDRB Papua Barat tahun 2009 mencapai 10.041,36 Uraian 2007 2008 2009

miliar rupiah. Kondisi ini meningkat dari tahun 2008 PDRB pengeluaran

yaitu sebesar 8.614,25 miliar rupiah, atau mengalami Konsumsi rumah


6 556 761.43 8 614 250.23 10 041 359.40
tangga (Juta Rp)
pertumbuhan 6,18 persen. Di tahun sebelumnya
konsumsi rumah tangga sebesar 6.556,76 miliar rupiah Distribusi (%) 63.24 69.09 69.02

dengan pertumbuhan sebesar 10,57 persen. Kenaikan Pertumbuhan(%) 6.15 10.57 6.18

pertumbuhan ini salah satunya didorong oleh Rata-rata


pengeluaran per 293122 346929 444426
pembangunan sentra perbelanjaan di Kabupaten kapita per bulan (Rp)

Manokwari dan Kota Sorong serta adanya acara Makanan (Rp) 169304 205333 268046
keagamaan berskala nasional di Kabupaten Fakfak. Non Makanan (Rp) 123818 141595 176380
Peran konsumsi rumah tangga dalam
perekonomian yang tercermin dalam PDRB Sumber: PDRB menurut Penggunaan, BPS Provinsi Papua Barat 2009

penggunaan sangat tinggi, kontribusinya mencapai


69,02 persen di tahun 2009. Kontribusi komponen ini
paling tinggi diantara 7 komponen pembentuk PDRB
menurut penggunaan (pengeluaran). Konsumsi rumah
tangga ini meliputi konsumsi makanan dan konsumsi
non makanan. Peranan konsumsi makanan pada
konsumsi rumah tangga pada PDRB penggunaan
tahun 2009 memberikan kontribusi sebesar 69,17
persen dan pertumbuhannya mencapai 6,85 persen.
Rata-rata pengeluaran per kapita per bulan Papua
Barat terus mengalami peningkatan. Di tahun 2007 Sumber: Image Google

sebesar Rp 293.122 per kapita per bulan, kemudian


mengalami peningkatan menjadi Rp 346.929 per
kapita per bulan di tahun 2008. Di tahun 2009 nilainya
Tahukah Anda?
mengalami peningkatan yang cukup signifikan, yaitu Pertumbuhan rata-rata pengeluaran
sebesar 28,10 persen menjadi Rp 444.426 per kapita per kapita per bulan tahun 2008-
2009 Prov i nsi Pa pua Barat
per bulan. Pertumbuhan tersebut merupakan yang (28,10%) adalah yang tertinggi di
Indonesia.
tertinggi di Indonesia.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 61


PENGELUARAN PENDUDUK

17 Persentase Pengeluaran Makanan Terus Meningkat


Persentase pengeluaran makanan tahun 2009 sebesar 60,31 persen, mengalami peningkatan
dibandingkan dengan tahun 2007 dan 2008 sebesar 57,76 persen dan 59,19 persen.

Gambar 17.2 Persentase Pengeluaran Makanan dan Perbandingan antara pengeluaran makanan dan
Non Makanan Papua Barat 2007-2009
non makanan dapat digunakan sebagai indikator
tingkat kesejahteraan masyarakat. Semakin tinggi
57.76 59.19 60.31
persentase pengeluaran non makanan maka dapat
42.24 40.81 39.69 dikatakan bahwa tingkat kesejahteraannya semakin
membaik. Namun pola pengeluran makanan di Papua
Barat memiliki kecenderungan terus meningkat.
Persentase pengeluaran makanan tahun 2009
2007 2008 2009 mencapai 60,31 persen, lebih tinggi dari pengeluaran
Makanan Non Makanan makanan di tahun 2007 dan 2008 yang masing-masing

Sumber: Susenas, 2007-2009


bernilai 57,76 persen dan 59,19 persen.
Tingkat kecukupan gizi adalah salah satu
indikator untuk menggambarkan tingkat kesejahteraan
penduduk. Tingkat kecukupan gizi ini dihitung
Gambar 17.3 Konsumsi Kalori (KKal) dan Konsumsi Protein
(gram) per Kapita per Hari 2007-2009 berdasarkan besarnya kalori dan protein yang

konsumsi kalori konsumsi protein


dikonsumsi, yaitu dengan menjumlahkan hasil kali

2009
1,822.13
2009 49.35 antara kuantitas setiap makanan yang dikonsumsi
1,873.31 dengan besarnya kandungan kalori dan protein setiap
2008 48.49
2008
1,898.15
jenis makanan.
2007
2007 47.95 Berdasarkan Widyakarya Nasional Pangan dan
1,750 1,800 1,850 1,900 Gizi VIII 2004 ditetapkan standar angka kecukupan
47 48 48 49 49 50
konsumsi kalori dan protein penduduk Indonesia.
Sumber: Konsusmsi Kalori dan Protein Penduduk Indonesia dan Provinsi
(Susenas, 2007-2009) Angka kecukupan konsumsi kalori yaitu sebesar 2000
Kilokalori per kapita per hari dan 52 gram per kapita
per hari untuk konsumsi protein.
Konsumsi kalori per kapita per hari masyarakat
Papua Barat tahun 2007 sebesar 1.898,15 KKal.
Tahukah Anda?
Persentase pengeluaran per kapita Kemudian di tahun 2008, konsumsi kalori mengalami
per bulan untuk makanan di Papua
Barat tahun 2009 (60,31%) adalah penurunan menjadi 1.873,31 Kkal per kapita per hari.
tertinggi ketiga di Indonesia.
Pada tahun 2009 konsumsi kalori kembali mengalami
penurunan menjadi 1.822,13 Kkal per kapita per hari.

62 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PENGELUARAN PENDUDUK
Angka Kecukupan Konsumsi Kalori dan Protein Dibawah Standar
Konsumsi kalori masyarakat Papua Barat tahun 2009 sebesar 1822,13 Kkal/kapita/hari sedangkan
konsumsi protein sebesar 49,35 gram/kapita/hari. Angka tersebut berada dibawah standar kecukupan
konsumsi kalori 2000Kkal/kapita/hari dan protein 50 gram/kapita/hari .
17
Jika berpedoman pada batas standar kecukupan ►► CATATAN:
konsumsi kalori sebesar 2000 Kkal maka rata-rata
Cara-cara menentukan kebutuhan energi (kalori)
konsumsi kalori penduduk Papua Barat berada • Teori RBW (teori berat badan relatif)
dibawah batas standar tersebut, bahkan terjadi RBW = [BB (Kg)/ TB(cm)-100] X100 %
kecenderungan penurunan pola konsumsi kalori BB = Berat badan
masyarakat. TB = Tinggi badan
Rata-rata konsumsi protein penduduk Papua
Barat juga masih berada dibawah batas standar Dimana dengan ketentuan:
1. Kurus jika RBW < 90 %
kecukupan konsumsi protein 52 gram per kapita per
2. Normal jika RBW = 90-100 %
hari selama tiga tahun terakhir. Meskipun demikian,
3. Gemuk jika RBW >110 % atau -<120 %
rata-rata konsumsi protein cenderung mengalami
4. Obesitas ringan RBW 120-130 %
peningkatan dengan semakin mendekati angka 5. Oesitas sedang RBW > 130-140 %
standar kecukupan konsumsi protein yang disyaratkan. 6. Obesitas berat RBW > 140 %
Konsumsi protein tahun 2009 meningkat menjadi 49,35
gram per kapita per hari dibandingkan dengan tahun Kebutuhan kalori (energi) per hari
2007 dan 2008 sebesar masing-masing 47,95 gram 1.Orang kurus BB x 40 s.d 60 kalori

per kapita per hari dan 48,49 gram per kapita per hari. 2.Orang normal BB x 30 kalori
3.Orang gemuk BB x 20 kalori
Rendahnya konsumsi kalori dan protein yang
4.Orang obesitas BB x (10 s.d 15) kalori
terlihat dari nilainya yang berada di bawah batas angka
kecukupan konsumsi kalori dan protein sebenarnya
Kalori di atas harus ditambah dengan kalori untuk kegiatan
dipengaruhi oleh pola konsumsi masyarakat di pregnansi dan laktasi.
pedesaan. Konsumsi kalori masyarakat perkotaan Kalori untuk orang hamil ditambah 100 kalori (trimester
hampir mencapai standar kecukupan kalori, yaitu I),ditambah 200 kalori (trimester II), ditambah 300 kalori
mencapai 1.995,91 Kkal per kapita per hari, (trimester III).
sedangkan di dearah pedesaan hanya sebesar Bagi yang menyusui/laktasi ditambah 400 kalori per hari,

1.777,24 Kkal per kapita per hari. Konsumsi protein kelemahanya bila menggunakan teori RBW adalah jenis
kelamin dan umur tidak diakomodasikan .
masyarakat perkotaan bahkan telah berada diatas
Energi BMR (Basal Metabolisme Rate)
standar yang disyaratkan yaitu 62,86 gram per kapita
Energi BMR adalah energi minimal untuk menjalankan
per hari, sedangkan konsumsi protein di daerah
proses kerja atau proses faal dalam tubuh dalam kondisi
pedesaan sangat rendah, yaitu hanya 45,35 gram per Resting Bed (berbaring istirahat di atas tempat tidur).
kapita per hari.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 63


PERDAGANGAN

18 Subsektor Perdagangan Dominan di Sektor Enam


Subsektor perdagangan sangat dominan dalam sektor enam (perdagangan, hotel, dan restoran).
Subsektor ini memberikan share sebesar 90,97 persen, sedangkan sisanya dibagi antara subsektor
hotel dan subsektor restoran.

Gambar 18.1 PDRB menurut Subsektor Perdagangan Subsektor perdagangan dalam PDRB termasuk
Papua Barat 2006-2009
kedalam sektor enam (perdagangan, hotel, dan

1321.50
restoran). Agregat PDRB subsektor perdagangan
1187.60
tahun 2009 sebesar 1.321,50 miliar rupiah, kondisi ini
1008.27
853.50 meningkat dari 1.187,60 miliar rupiah tahun 2008.
Peran subsektor perdagangan dalam sektor
enam sangat dominan. Kontribusinya pada sekor
enam mencapai 90,97 persen dari agregat PDRB
sektor tersebut tahun 2009, sedangkan 9,03 persen
2006 2007 2008 2009 lainnya dibagi antara subsektor hotel dan subsektor
restoran. Sedangkan kontribusi terhadap PDRB total
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2009
tahun 2009 adalah 9,08 persen. Kontribusi subsektor
perdagangan bergerak naik dibandingkan dengan
Gambar 18.2 Share terhadap PDRB dan Pertumbuhan
Subsektor Perdagangan Papua Barat 2006-2009 tahun 2006 sebesar 5,87 persen. Share subsektor ini
tahun 2009 juga lebih dari tahun 2007 dan 2008 yang
11
masing-masing sebesar 6,93 persen dan 8,16 persen.
10 10.41 9.39
9.08
9
8.90
Bertolak belakang dengan share terhadap PDRB,
8 pertumbuhan subsektor perdagangan justru terus
8.16
7 mengalami penurunan sejak tahun 2006. Pertumbuhan
6.93
6 subsektor ini di tahun 2006 sebesar 10,41 persen.
5.87 5.15
5
Pertumbuhannya mengalami perlambatan di tahun
4
2006 2007 2008 2009
2007 dan 2008, yaitu sebesar 9,39 persen dan 8,90
Share PDRB Pertumbuhan persen. Di tahun 2009, perlambatan pertumbuhan
semakin signifikan, yaitu menjadi sebesar 5,15 persen.
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2009
Di satu sisi share terhadap PDRB semakin
meningkat, namun disisi yang lain pertumbuhannya
mengalami perlambatan. Hal ini terjadi karena share
Tahukah Anda?
Subsektor perdagangan sangat subsektor ini cukup besar dalam PDRB namun
dominan di sektor 6 (perdagangan,
kecepatan pertumbuhannya kalah cepat dari subsektor
hotel, dan restoran), kontribusinya
mencapai 90,97 persen di tahun lain yang nilainya lebih kecil.
2009.

64 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PENDAPATAN REGIONAL
PDRB Kabupaten Sorong Sepertiga PDRB Papua Barat
Dengan agregat 4.997,30 miliar rupiah menjadikan Kabupaten Sorong sebagai kabupaten dengan
PDRB ADHB terbesar di Provinsi Papua Barat. Lebih dari sepertiga dari total PDRB disumbangkan
oleh kabupaten tersebut
19
Total PDRB Provinsi Papua Barat tahun 2009 Tabel 19.1 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
menurut Lapangan Usaha Papua Barat 2008-2009 (Rp Juta)
sebesar Rp. 14,55 triliun atas dasar harga berlaku dan
ADHB ADHK
Lapangan Usaha
Rp. 6,77 triliun atas dasar harga konstan. PDRB tahun 2008 2009 2008 2009

2009 tersebut mengalami peningkatan dari tahun 2008 Pertanian 3,107,119.13 3,567,520.90 1,817,444.10 1,878,562.44

yaitu Rp. 12,47 triliun atas dasar harga berlaku dan Pertambangan dan
1,844,019.44 1,926,816.67 1,098,592.02 1,093,722.58
Penggalian
Rp. 6,37 triliun atas dasar harga konstan 2000. Industri Pengolahan 2,835,994.38 3,548,361.11 872,426.05 971,081.99

Bila tanpa memperhitungkan subsektor migas, Listrik, Gas & Air


66,030.34 73,874.44 29,098.48 31,691.89
Bersih
besarnya PDRB Provinsi Papua Barat tahun 2009
Bangunan 1,150,834.65 1,426,539.42 572,822.13 648,208.20
mencapai Rp. 10,21 triliun atas dasar harga berlaku Perdagangan, Hotel
1,290,421.32 1,452,692.47 670,818.70 712,637.01
dan Restoran
dan Rp. 5,33 triliun atas dasar harga konstan 2000.
Pengangkutan dan
866,875.56 1,059,222.47 473,536.46 549,199.59
PDRB tanpa migas juga mengalami peningkatan Komunikasi
Keuangan,
dibandingkan dengan tahun 2008 yaitu Rp. 8,73 triliun Persewaan & Jasa
Perusahaan
302,327.09 348,902.66 150,145.26 151,927.63

atas dasar harga berlaku dan Rp. 4,96 triliun atas Jasa-jasa 1,005,409.58 1,143,797.37 684,491.02 731,168.14

dasar harga konstan. PDRB 12,469,031.50 14,547,727.50 6,369,374.22 6,768,199.45

Perbedaan nilai PDRB atas dasar harga berlaku PDRB tanpa Migas 8,733,336.79 10,210,882.61 4,962,288.45 5,327,747.48

dengan migas dan tanpa migas sebesar Rp. 4,37 Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2009

triliun atau sekitar 29,81 persen terhadap total PDRB.


Tabel 19.2 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Hal ini membuktikan bahwa kontribusi subsektor migas menurut Kabupaten/Kota di Papua Barat 2008-2009 (Rp Juta)

dalam PDRB Papua Barat cukup signifikan. Lapangan Usaha


ADHB ADHK

2008 2009 2008 2009


PDRB ADHB dan ADHK tertinggi menurut
Fakfak 1,041,070.69 1,179,002.44 551,407.09 585,263.80
lapangan usaha tercatat pada sektor pertanian yaitu Kaimana 601,591.25 699,556.49 329,353.59 361,372.45

sebesar Rp. 3,57 triliun dan Rp. 1,88 triliun. Teluk Wondama 270,482.75 330,229.73 161,993.11 184,132.75

Sedangkan PDRB ADHB dan ADHK terendah menurut Teluk Bintuni 863,763.80 1,041,428.59 527,958.30 584,555.37

lapangan usaha yaitu sektor liastrik, gas, dan air bersih Manokwari 2,015,535.30 2,441,458.38 989,627.25 1,083,643.56

Sorong Selatan 238,938.31 280,922.29 151,352.12 167,854.82


sebesar Rp. 73,87 miliar dan Rp. 31,69 miliar.
Sorong 4,331,639.39 4,997,505.57 1,766,896.14 1,847,252.00
PDRB menurut kabupaten/kota dengan migas Raja Ampat 855,866.36 896,710.49 541,171.86 556,068.82

tercatat atas dasar harga berlaku tahun 2009 tertinggi Tambrauw 24,132.25 26,583.14 14,228.94 14,769.83

berada di Kabupaten Sorong sebesar Rp. 5,02 triliun. Maybrat 151,285.40 165,573.65 75,660.39 78,048.24

Kota Sorong 2,148,580.20 2,480,744.05 1,303,022.33 1,410,208.12


Sedangkan atas dasar harga konstan dengan migas
PDRB PB 12,469,031.50 14,547,727.50 6,369,374.22 6,768,199.45
PDRB tertinggi juga berada di Kabupaten Sorong PDRB PB Tanpa
8,733,336.79 10,210,882.61 4,962,288.45 5,327,747.48
Migas
sebesar Rp. 1,86 triliun.
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2009

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 65


PENDAPATAN REGIONAL

19 Kontribusi Pertanian Masih Dominan Tetapi Semakin Menurun


Sektor Pertanian sampai saat ini masih konsisten sebagai kontributor utama dalam PDRB Papua
Barat. Kontribusi sektor pertanian tahun 2009 sebesar 24,52 persen. Kondisi ini telah mengalami
penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Gambar 19.1 Distribusi Produk Domestik Regional Bruto Bila unsur migas tidak diperhitungkan dalam
(PDRB) menurut Lapangan Usaha Papua Barat 2009 (%)
penghitungan PDRB, maka di tahun 2009, Kota
Pertambang
an &
Industri Sorong memiliki nilai PDRB atas dasar harga berlaku
Pertanian, Galian,13.24
Pengolahan,
24.52
24.39 dan atas dasar harga konstan 2000 tertinggi diantara
kabupaten lainnya. Besarnya PDRB Kota Sorong
masing-masing Rp. 2,48 triliun dan Rp. 1,41 triliun.
PDRB tahun 2009 terendah atas dasar harga berlaku
dan atas dasar harga konstan 2000 ditempati oleh
Jasa- Listrik, Gas Kabupaten Teluk Wondama dengan besaran PDRB
jasa, 7.86 & Air
Bersih, 0.51 Rp. 0,33 triliun dan Rp. 0,18 triliun.
Keu, Persew Transpor & Perdag, Hot
Konstruksi,
aan & Jasa Komunikasi, el &
9.81
Struktur perekonomian Papua Barat ditunjukkan
Perush, 2.40 7.28 Resto, 9.99
melalui distribusi persentase nilai tambah atas dasar
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2009
harga berlaku per sektor. Struktur ini dapat
memperlihatkan sektor-sektor utama yang
Tabel 19.3 Share terhadap PDRB menurut Sektor Primer, berkontribusi besar dalam perekonomian.
Sekunder, dan Tersier Papua Barat 2007-2009 (%)
Terdapat tiga sektor unggulan penggerak
Sektor 2007 2008 2009 perekonomian Papua Barat sebagai kontributor utama
Primer 42.61 39.71 37.77 dalam PDRB. Ketiga sektor itu adalah sektor pertanian
Sekunder 29.28 32.50 34.70 memberikan kontribusi terbesar terhadap PDRB Papua
Tersier 28.11 27.79 27.53 Barat sebesar 24,52 persen, sektor industri
Total 100.00 100.00 100.00 pengolahan memberikan kontribusi 24,39 persen,
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat (diolah), 2007-2009
sektor pertambangan dan penggalian
menyumbangkan 13,24 persen. Sementara sektor

►► CATATAN: lainnya memberikan sumbangan terhadap PDRB


masing-masing kurang dari 10 persen.
 Sektor Primer terdiri dari pertanian dan Pertambangan &
Struktur perekonomian Provinsi Papua Barat
Penggalian
 Sektor Sekunder terdiri dari Industri Pengolahan; Listrik, menunjukkan kecenderungan terjadinya pergeseran
Gas, dan Air Bersih; dan Konstruksi dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier. Hal
 Sektor Tersier terdiri dari Perdagangan, Hotel dan ini terlihat dari semakin menurunnya kontribusi sektor
Restoran; Pengangkutan dan Komunikasi; Keuangan,
primer dan semakin meningkatnya share sektor
Persewaan, dan Jasa perusahaan; serta Jasa-Jasa
sekunder dan tersier dalam tiga tahun terakhir. Sektor

66 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PENDAPATAN REGIONAL
Pertumbuhan Ekonomi Mengalami Perlambatan
Kinerja ekonomi yang diukur melalui pertumbuhan ekonomi menunjukkan gejala perlambatan di tahun
2009 akibat sedikit imbas dari krisis global. Pertumbuhan ekonomi melambat menjadi 6,26 persen
dibandingkan tahun 2008 sebesar 7,33 persen. Pertumbuhan ekonomi tanpa migas juga mengalami
perlambatan dari 8,86 persen tahun 2008 menjadi 7,36 persen tahun 2009.
19
primer pada tahun 2007 memberikan kontribusi Gambar 19.2 Pertumbuhan Ekonomi Papua Barat 2003-2009

sebesar 42,61 persen mengalami penurunan menjadi 10.00

37,77 persen di tahun 2009. Sebaliknya terjadi pada

Pertumbuhan Ekonomi (%)


8.00
sektor sekunder, kontribusinya di tahun 2007 sebesar
29,28 persen meningkat menjadi 34,70 persen di tahun 6.00

2009. Sedangkan sektor tersier yang sempat 4.00

mengalami penurunan kontribusi di tahun 2008


2.00
terhadap tahun 2007 kembali meningkat di tahun 2009
0.00
menjadi 27,53 persen. 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009
Dengan Migas 7.68 7.39 6.80 4.55 6.95 7.33 6.26
Pendekatan yang digunakan untuk menghitung Tanpa Migas 7.06 6.29 6.83 7.36 8.61 8.68 7.36
pertumbuhan ekonomi disuatu daerah biasanya
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2009
dengan membandingkan besarnya nilai tambah antar
waktu menurut harga konstan. Dengan menggunakan
dasar harga konstan dapat diketahui sejauh mana
pertumbuhan riil dari suatu daerah yang
menggambarkan kondisi perekonomian sehingga
dapat diperbandingkan antar waktu dan antar daerah.
Pertumbuhan ekonomi Papua Barat tahun 2009
sebesar 6,26 persen. Kondisi ini mengalami
perlambatan dibandingkan dengan tahun 2007 dan
2008 sebesar 6,95 persen dan 7,33 persen.
Sedangkan pertumbuhan ekonomi rata-rata tahun
2003-2009 sebesar 6,71 persen. Sumber: Image Google

Dengan tanpa memperhitungkan subsektor migas


(tanpa migas), pertumbuhan ekonomi Papua Barat
tahun 2009 sebesar 7,36 persen. Kondisi ini juga
mengalami perlambatan dibandingkan dengan tahun Tahukah Anda?
Kontribusi PDRB dengan migas
2008 yaitu sebesar 8,68 persen maupun tahun 2007 Provinsi Papua Barat terhadap PDB
sebesar 8,61 persen. Pertumbuhan ekonomi rata-rata Indonesia hanya sebesar 0,32
persen. Sedangkan kontribusi tanpa
tanpa migas tahun 2003-2009 mencapai 7,36 persen. migas hanya sebesar 0,25 persen.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 67


PENDAPATAN REGIONAL

19 PDRB per Kapita Terdongkrak Produksi Minyak dan Gas


PDRB per kapita tahun 2009 sebesar 19,56 juta rupiah lebih tinggi dibandingkan dengan PDRB per
Kapita tanpa migas sebesar 13,73 juta rupiah. Perbedaan cukup signifikan tersebut didongkrak oleh
daerah penghasil minyak dan gas seperti Kabupaten Sorong dan Raja Ampat.

Tabel 19.4 PDRB per Kapita menurut Kabupaten/Kota Sebuah nilai yang cukup relevan dalam
di Provinsi Papua Barat 2008-2009 (Juta Rupiah)
menggambarkan tingkat kemakmuran penduduk
Kabupaten/ Dengan Migas Tanpa Migas
Kota 2008 2009 2008 2009 secara makro ekonomi adalah dengan menggunakan
Fak-Fak 15.56 17.31 15.57 17.31 pendekatan PDRB per kapita. Dengan PDRB per
Kaimana 14.27 16.34 14.31 16.34
kapita, besaran nilai PDRB telah dibagi dengan jumlah
Teluk Wondama 11.67 14.01 11.69 14.01
Teluk Bintuni 16.05 18.66 16.00 17.46 penduduk dari wilayah tersebut. Jadi besarnya PDRB
Manokwari 11.66 13.81 11.72 13.81 telah tertimbang dengan jumlah penduduk pada
Sorong Selatan 6.34 8.53 5.88 8.53
masing-masing wilayah, sehingga tingginya PDRB
Sorong 44.08 55.38 10.55 12.30
Raja Ampat 20.65 21.42 9.30 9.82 tidak lagi dipengaruhi jumlah penduduk yang besar.
Tambrauw - 0.09 - 0.09
PDRB per kapita dengan migas Papua Barat
Maybrat - 20.01 - 20.01
Kota Sorong 12.70 14.38 12.69 14.38
meningkat dari Rp. 17,08 juta di tahun 2008 menjadi
Papua Barat 17.08 19.56 11.97 13.73 Rp. 19,56 juta di tahun 2009. Sedangkan bila tanpa
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Prov. Papua Barat, 2009 migas PDRB per Kapita tahun 2009 sebesar Rp. 13,73
juta. Jumlah ini meningkat dibandingkan tahun 2008
Tabel 19.5 PDRB menurut Penggunaan dan Distribusinya sebesar Rp. 11,97 juta.
di Provinsi Papua Barat 2008-2009 (Miliar Rupiah)
Kabupaten Sorong dan Kabupaten Raja Ampat
PDRB Distribusi
Penggunaan
2008 2009 2008 2009 memiliki PDRB per kapita dengan migas tertinggi
Konsumsi
Rumah 8 614 250.23 10 041 359.40 69.09 69.02
pertama dan kedua sebesar Rp. 55,38 juta dan Rp.
Tangga
Lembaga
21,42 juta, namun ketika unsur migas tidak disertakan
Swasta 83 157.66 106 567.80 0.67 0.73
Nirlaba
dalam penghitungan, peringkatnya langsung anjlok di
Konsumsi
Pemerintah
2 506 043.16 2 852 993.92 20.10 19.61 posisi ke-7 dan ke-8. PDRB per kapita kabupaten
PMTB 4 080 076.40 4 498 236.48 32.72 30.92 tersebut menjadi Rp. 12,30 juta di Kabupaten Sorong
Perubahan
Stok
375 834.33 391 132.92 3.01 2.69 dan Rp. 9,82 juta di Kabupaten Raja Ampat.
Ekspor 6 787 164.93 5 170 937.93 54.43 35.54
PDRB menurut pengunaan pada dasarnya sama
Dikurangi
9 977 495.21 8 513 500.94 80.02 58.52
Impor (-) besarnya dengan PDRB menurut Lapangan Usaha
PDRB 12 469 031.50 14 547 727.50 100.00 100.00
(produksi). PDRB menurut penggunaan dihitung
Sumber: PDRB menurut Penggunaan Prov. Papua Barat, 2009
berdasarkan pengeluaran sedangkan menurut
lapangan usaha dilihat dari sisi produksi. Sebagian

Tahukah Anda? besar penggunaan terserap oleh konsumsi rumah


Kabupaten Tambrauw memiliki PDRB tangga, yaitu sebesar Rp. 10.041,36 miliar (69,02%)
per kapita terendah di Indonesia (0,9
juta rupiah). atau meningkat dari Rp. 8.614,25 miliar di tahun 2008.

68 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PERBANDINGAN REGIONAL
Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Maluku dan Papua Lebih Tinggi dari
Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 4,21 persen lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi wilayah
Maluku dan Papua. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua bahkan mencapai 20,34 persen.
20
Provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Tabel 20.1 Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk
Wilayah Maluku dan Papua 2007-2009
Papua adalah provinsi di kawasan timur Indonesia. Laju
Penduduk
Pertumbuhan
Provinsi Maluku Utara adalah pemekaran dari Provinsi Provinsi
Penduduk
2007 2008 2009
2007-2009 (%)
Maluku dan Provinsi Papua Barat adalah pemekaran
Maluku 1420433 1440014 1457070 1.28
dari Provinsi Papua. Diantara empat provinsi tersebut Maluku Utara 944276 959598 974990 1.61
Provinsi Papua memiliki jumlah penduduk terbesar, Papua Barat 715999 729962 743860 1.93

yaitu 2.097.482 jiwa dengan laju pertumbuhan Papua 2015616 2056517 2097482 2.01

penduduk 2,01 persen per tahun. Sedangkan Sumber: Statsitik Indonesia, 2009 dan Perkembangan Beberapa Indikator Utama
sosial Ekonomi Indonesia, 2009
penduduk terkecil adalah Provinsi Papua Barat, yaitu
743.860 jiwa. Penduduk Papua Barat juga merupakan
penduduk terkecil di Indonesia.
Tabel 20.2 PDRB per Kapita Wilayah Maluku dan Papua
PDRB per kapita yang lazim digunakan untuk 2007-2009 (Juta rupiah)

mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat tercatat Provinsi 2007 2008 2009

sebesar 24,26 juta rupiah tahun 2009 di Indonesia. Maluku 4.08 4.43 4.87

Maluku Utara 3.35 4.02 4.58


PDRB per kapita di Provinsi Papua bahkan lebih besar
Papua Barat 14.48 17.08 19.56
dari itu, yakni mencapai 31,78 juta rupiah. Di Provinsi
Papua 27.48 26.37 31.78
Papua Barat PDRB per kapitanya juga relatif tinggi,
Indonesia 17.5 21.68 24.26
yaitu mencapai 19,56 juta rupiah. Tingginya PDRB per Sumber: Statsitik Indonesia, 2009 dan Perkembangan Beberapa Indikator Utama
sosial Ekonomi Indonesia, 2009
kapita tidak lepas dari tingginya kontribusi sektor
pertambangan dan penggalian, sebagai contoh di
Papua ada pertambangan emas (PT. Freeport), di
Tabel 20.3 Laju Pertumbuhan Ekonomi Wilayah Maluku
Kalimantan Timur ada LNG Bontang dan beberapa dan Papua 2007-2009 (%)

pertambangan lainnya, sedangkan di Papua Barat ada Provinsi 2007 2008 2009

pertambangan minyak dan gas disamping pembagi Maluku 5.62 4.23 5.43

penduduk yang jumlahnya kecil. Maluku Utara 6.01 5.98 6.02

Di tahun 2009 rata-rata laju pertumbuhan Papua Barat 6.95 7.33 6.26

ekonomi di kawasan Maluku dan Papua diatas Papua 4.34 (0.78) 20.34

pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan Indonesia 6.28 6.06 4.21

ekonomi nasional tahun 2009 sebesar 4,21 persen, Sumber: PDRB menurut Penggunaan Prov.insi Papua Barat, 2009 dan
Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, 2009
turun dari kondisi tahun 2008 sebesar 6,06 persen. Hal
ini dipengaruhi krisis ekonomi global yang berdampak

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 69


PERBANDINGAN REGIONAL

20 TPT wilayah Maluku dan Papua Lebih Rendah dari TPT Nasional
kecuali Provinsi Maluku
Provinsi Maluku menjadi satu-satunya provinsi di wilayah Maluku dan Papua yang TPT-nya lebih
tinggi dari TPT nasional. Provinsi Papua bahkan memperoleh capaian yang baik dengan menempati
peringkat ketiga nasional, dimana TPT-nya sebesar 4,08 persen.

Tabel 20.4 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada negara-negara di dunia. Laju pertumbuhan
Wilayah Maluku dan Papua 2007-2009
Peringkat
ekonomi Provinsi Papua mencapai 20,34 persen,
Provinsi 2007 2008 2009
2009 setelah sebelumnya di tahun 2008 sempat menembus
Maluku 12.2 10.67 10.57 29
minus 0,78 persen.
Maluku Utara 6.05 6.48 6.76 18
Situasi kinerja ketenagakerjaan umumnya
Papua Barat 9.46 7.65 7.56 20
direpresentasikan oleh angka pengangguran atau
Papua 5.01 4.39 4.08 3 Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Tercatat untuk
Indonesia 9.11 8.39 7.87 wilayah Maluku dan Papua, TPT terendah dicapai oleh
Sumber: Statsitik Indonesia, 2009 dan Perkembangan Beberapa Indikator Utama
sosial Ekonomi Indonesia, 2009 Provinsi Papua yaitu sebesar 4,08 persen sehingga
menempatkannya pada peringkat ke-3 dari 33 provinsi
di Indonesia. Sementara TPT tertinggi di Provinsi
Maluku yaitu sebesar 10,57 persen atau berada di
peringkat ke-5 terbawah secara nasional. Empat
provinsi di wilayah tersebut TPT-nya lebih baik
Tahukah Anda?
Jumlah penduduk miskin di Provinsi dibandingkan dengan TPT nasional (7,87%) kecuali
Jawa Timur (5,37 juta jiwa) hampir
empat kali lipat jumlah penduduk Provinsi Maluku. Kecenderungan perkembangan TPT
miskin di Provinsi Maluku, Maluku
Utara, Papua Barat, dan Papua. nasional bergerak menurun sejalan dengan provinsi
Papua, Papua Barat, dan Maluku, namun untuk
Provinsi Maluku Utara memiliki pola yang berbeda,
provinsi tersebut TPT-nya justru cenderung meningkat

Tabel 20.5 Jumlah Penduduk Miskin Wilayah Maluku


selama tiga tahun terakhir.
dan Papua 2007-2010 (ribu orang) Secara agregat, jumlah penduduk miskin terbesar
Provinsi 2007 2008 2009 2010 di wilayah Maluku dan Papua selama empat tahun
Maluku 404.70 391.30 380.01 378.63 terakhir selalu ditempati oleh Provinsi Papua. Dalam
Maluku Utara 109.90 105.00 98.00 91.07 dua tahun ini jumlahnya justru mengalami peningkatan
Papua Barat 266.80 246.50 256.84 256.25 yaitu menjadi 760,35 ribu orang dan 761,62 ribu orang.
Papua 793.40 733.10 760.35 761.62 Jumlah penduduk miskin terendah berada di Provinsi
Indonesia (Jt) 37.20 35.00 32.50 31.02 Maluku Utara yaitu sebesar 91,07 ribu orang di tahun
Sumber: Statsitik Indonesia, 2009 dan Perkembangan Beberapa Indikator Utama 2010. Pola perkembangan jumlah penduduk miskin
sosial Ekonomi Indonesia, 2009
Maluku dan Maluku Utara memiliki persamaan karakter
yaitu cenderung terus mengalami penurunan selama

70 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PERBANDINGAN REGIONAL
Lebih dari Seperempat Penduduk Maluku, Papua Barat, dan Papua
Berstatus Miskin
Persentase penduduk miskin Provinsi Maluku, Papua Barat, dan Papua berada pada peringkat
terendah se-Indonesia. Walaupun secara agregat jumlahnya kecil namun persentasenya cukup
20
fantastis. Lebih dari seperempat penduduk provinsi tersebut termasuk penduduk miskin.

tahun terakhir. Sedangkan Provinsi Papua dan Tabel 20.6 Persentase Penduduk Miskin Wilayah Maluku
dan Papua 2007-2010 (%)
Provinsi Papua Barat memiliki pola tersendiri, yaitu
Peringkat
sama-sama mengalami peningkatan di tahun 2009 dan Provinsi 2007 2008 2009 2010
2010
kembali mengalami penurunan pada tahun 2010. Maluku 31.14 29.66 28.23 27.74 31

Kemiskinan ditinjau dari persentase penduduk Maluku


11.97 11.28 10.36 9.42 13
Utara
miskin terdapat fakta bahwa pada tahun 2010, tiga Papua Barat 39.31 35.12 35.71 34.88 32

provinsi di wilayah Maluku dan Papua merupakan tiga Papua 37.53 37.08 37.53 36.80 33

provinsi dengan persentase penduduk miskin terbesar Indonesia 16.58 15.42 14.15 13.33
Sumber: Statsitik Indonesia, 2009 dan Perkembangan Beberapa Indikator Utama
di Indonesia, yaitu Provinsi Maluku sebesar 27,74 sosial Ekonomi Indonesia, 2009

persen (peringkat 31); Provinsi Papua Barat sebesar


34,88 persen (peringkat 32); dan Provinsi Papua
sebesar 36,80 persen (peringkat 33).
►► CATATAN:
Perkembangan pembangunan manusia diukur
dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM Empat Kategori Pengelompokan IPM:

Indonesia mencapai 71,76 persen. Dalam  IPM sangat tinggi : 90,00-100 persen

pengkategorian IPM oleh UNDP capaian ini termasuk  IPM tinggi : 80,00-89,99 persen
 IPM menengah : 50,00-79,99 persen
kedalam kelompok menengah. Capaian IPM wilayah
 IPM rendah : kurang dari 50,00 persen
Maluku dan Papua tahun 2009 termasuk rendah,
mengingat peringkat terbaiknya hanya mencapai
urutan ke-19 dari 33 provinsi. Capaian IPM tertinggi
diraih oleh Provinsi Maluku, yaitu sebesar 70,96 Tabel 20.7 Indeks Pembangunan Manusia (IPM)
Wilayah Maluku dan Papua 2007-2009 (%)
persen dan capaian terendah berada di Provinsi Papua
Peringkat
Provinsi 2007 2008 2009
sebesar 64,53 persen sekaligus merupakan peringkat 2009
Maluku 69.96 70.38 70.96 19
terendah capaian IPM secara nasional.
Maluku Utara 67.82 68.18 68.63 29
Papua Barat 67.28 67.95 68.58 30
Papua 63.41 64.00 64.53 33
Indonesia 70.59 71.17 71.76
Tahukah Anda?
Sumber: Statsitik Indonesia, 2009 dan Perkembangan Beberapa Indikator Utama
Provinsi Maluku (27,74%), Provinsi sosial Ekonomi Indonesia, 2009
Papua Barat (34,88%) dan Provinsi
Papua (36,80%) adalah tiga
p r o v i n s i d en g a n p er s e n t a s e
penduduk miskin terbesar di
Indonesia.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 71


PERBANDINGAN REGIONAL

20 Pertumbuhan Ekonomi Tinggi namun Persentase Penduduk Miskin


Juga Tinggi
Provinsi Maluku, Papua Barat, dan Papua memiliki laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun
ternyata persentase penduduk miskinnya juga tinggi. Hal ini diduga disebabkan oleh pertumbuhan
ekonomi yang kurang berkualitas dan ketimpangan distribusi pendapatan.

Gambar 20.1 Hubungan TPT dan Persentase Penduduk Miskin Hubungan TPT dan Kemiskinan terlihat dari
Wilayah Maluku dan Papua 2009
Diagram kuadran pada gambar 20.1. Provinsi Papua
40
dan papua Barat memiliki karakteristik TPT rendah
Papua
35
Papua Barat namun persentase penduduk miskin tinggi (terhadap
30

25
benchmark). Kondisi yang lebih buruk terjadi pada
Maluku

20 Provinsi Maluku, dengan karakteristik TPT tinggi dan


TPT ↓ TPT ↑
15 % Penduduk Miskin ↑ % Penduduk Miskin ↑ persentase penduduk miskin tinggi. Sedangkan
10 Maluku Utara Provinsi Maluku Utara memiliki kondisi terbaik dengan
5 TPT ↓ TPT ↑ TPT rendah dan Persentase penduduk miskin rendah.
% Penduduk Miskin ↓ % Penduduk Miskin
0 ↓
Menurut beberapa literatur, idealnya jika tingkat
0 2 4 6 8 10 12
pengangguran (TPT) rendah maka kemiskinan akan
Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, 2009
Catatan:
memiliki hubungan yang searah. Namun tidak
1. Benchmark: TPT Indonesia 7,87% dan Persentase penduduk miskin Indonesia
13,33%. selamanya kondisi tersebut dapat tercapai. Perlu
2. Tanda panah berwarna hijau menunjukkan keadaan yang lebih baik daripada
benchmark, dan tanda panah berwarna merah menunjukkan keadaan yang tidak dicermati dari berbagai aspek mengapa bisa terjadi
lebih baik daripada benchmark.
TPT rendah tetapi kemiskinan tetap tinggi. Aspek yang
perlu diamati adalah apakah penduduk yang bekerja

Gambar 20.2 Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan


memiliki produktivitas yang tinggi sehingga setidaknya
Persentase Penduduk Miskin Wilayah Maluku dan Papua 2009 mampu memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.
40 Pengangguran rendah berarti lebih banyak orang yang
Papua
35 Papua Barat bekerja, namun perlu dilihat kemungkinan apakah
Prtmbhn Ekonomi ↓
% Penduduk Miskin

30
Maluku bekerja dibawah jam kerja normal, pekerja informal
25
tinggi, bekerja disektor pertanian ekstrkatif (mengambil
20
Prtmbhn Ekonomi ↑
hasil dari alam untuk dikonsumsi sendiri) tinggi, tingkat

15 % Penduduk Miskin ↑

pendidikan rendah, dan upah yang rendah. Hal


% P Miskin ↓

10
Pert Eko ↓

Maluku Utara

5 tersebut merupakan beberapa penyebab TPT rendah


Prtmbhn Ekonomi ↑
% Penduduk Miskin ↓
0 tetapi kemiskinan tetap tinggi.
0 5 10 15 20 25
Hubungan pertumbuhan ekonomi dan persentase
Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, 2009 penduduk miskin hanya terbagi ke dalam dua kuadran
Catatan:
1. Benchmark: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 4,21% dan Persentase penduduk yang berbeda. Pertumbuhan ekonomi di empat
miskin Indonesia 13,33%.
2. Tanda panah berwarna hijau menunjukkan keadaan yang lebih baik daripada provinsi ini lebih tinggi dari angka nasional, sehingga
benchmark, dan tanda panah berwarna merah menunjukkan keadaan yang tidak
lebih baik daripada benchmark. seluruh provinsi berada disisi kanan kuadran (1 dan 4).

72 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


PERBANDINGAN REGIONAL
Gini Ratio Tinggi, Persentase Penduduk Miskin Tinggi
Salah satu contoh fenomena yang melatarbelakangi tingginya persentase penduduk miskin di
Provinsi Papua meskipun memiliki pertumbuhan ekonomi yang tinggi adalah ketimpangan
distribusi pendapatan (gini ratio tinggi)
20
Kondisi terbaik ditunjukkan oleh Provinsi Maluku Gambar 20.3 Hubungan Gini Ratio dan Persentase Penduduk
Miskin Wilayah Maluku dan Papua 2009
Utara, dengan karakteristik pertumbuhan ekonomi
40
tinggi dan persentase penduduk miskin rendah.
35 Papua
Sementara untuk tiga provinsi lainnya memiliki Papua Barat
30
pertumbuhan ekonomi tinggi namun persentase 25
Maluku

penduduk miskin juga tinggi. Hal ini dapat terjadi 20


Gini Ratio ↓ Gini Ratio ↑
kemungkinan disebabkan oleh belum berkualitasnya 15 % Penduduk Miskin ↑ % Penduduk Miskin ↑

pertumbuhan ekonomi di ketiga provinsi tersebut. 10


Maluku Utara
5
Pertumbuhan ekonomi belum mampu menurunkan Gini Ratio ↓
Gini Ratio ↑
% Penduduk Miskin ↓
% Penduduk Miskin ↓
0
kemiskinan dan elastisitas kesempatan kerja yang
0.3 0.32 0.34 0.36 0.38 0.4
masih rendah. Jadi pertumbuhan ekonomi belum
Sumber: Perkembangan Beberapa Indikator Utama sosial Ekonomi Indonesia, 2009
mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Catatan:
1. Benchmark: Gini Ratio Indonesia 0,37% dan Persentase penduduk miskin Indone-
Sebagai contoh elastisitas kesempatan kerja di Papua sia 13,33%.
2. Tanda panah berwarna hijau menunjukkan keadaan yang lebih baik daripada
Barat hanya sebesar 0,02 persen, atau setiap satu benchmark, dan tanda panah berwarna merah menunjukkan keadaan yang tidak
lebih baik daripada benchmark.
persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu
menciptakan kesempatan kerja sebesar 0,02 persen ►► CATATAN:
Beberapa Kajian Hubungan Antara Pertumbuhan Ekonomi,
(lihat hal 20). Disamping itu, ketimpangan distribusi kemiskinan, Ketenagakerjaan, dan Distribusi Pendapatan:
pendapatan dapat menjadi sebab tingginya kemiskinan
 Ravallion dan Datt (1996), studi kasus di India →
meskipun pertumbuhan ekonomi relatif tinggi.
Menemukan bahwa pertumbuhan di sektor primer lebih
Gambaran ketimpangan distribusi pendapatan efektif dalam menurunkan kemiskinan dibanding sektor
tinggi yang berpengaruh pada persentase penduduk sekunder.
 Saunders (2002) → Tingkat kemiskinan dan
miskin tinggi tampak pada kondisi Provinsi Papua di
pengangguran kadang kala tidak searah bahkan
gambar 20.3. Provinsi Papua memiliki koefisien gini berlawanan arah karena alasan ekonomi, serta konsep
ratio sebesar 0,38 persen dan persentase penduduk dan metodologi yang digunakan.

miskin sebesar 36,80 persen. Meskipun laju  Semoa dan Tesfa (2004), studi di Virginia Barat → Ada
hubungan timbal balik antara perubahan insiden
pertumbuhan ekonomi Provinsi Papua mencapai 20,34
kemiskinan dan perubahan ketimpangan pendapatan.
persen tetapi karena tidak didukung oleh pemerataan Hubungan yang terjadi adalah searah, yaitu jika
pendapatan yang baik maka persentase penduduk kemiskinan meningkat maka perubahan ketimpanganpun
akan meningkat, demikian juga sebaliknya.
miskinnya tinggi. Hal yang berbeda terjadi di Provinsi
 Munandar, Kurniawan dan Santoso (2007), berdasarkan
Maluku Utara, terjadi hubungan searah yang positif, analisis siklikal → Tingkat kemiskinan akan turun jika
dimana gini ratio rendah dan kemiskinan juga rendah. pengangguran turun.

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 73


Lampiran Tabel

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 74


Tabel 1.1 Luas Wilayah Provinsi Papua Barat
menurut Kabupaten/Kota 2009

Kabupaten/Kota Luas Wilayah

Fakfak 11036.48
Kaimana 16241.84
Teluk Wondama 3959.53
Teluk Bintuni 20840.83
Manokwari 14250.94
Sorong Selatan 9408.63
Sorong 12594.94
Raja Ampat 8034.44
Kota Sorong 656.64

Papua Barat 97024.27

Sumber: Peraturan Menteri Dalam Negeri No 6 Tahun 2008

Tabel 1.2 Jumlah Penduduk menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin
Provinsi Papua Barat 2009
Jumlah Penduduk
Kabupaten/Kota
Laki-laki Perempuan Jumlah
0-4 41397 43498 84895
5-9 37398 39698 77096
10-14 33597 35599 69196
15-19 38498 40498 78996
20-24 32197 38299 70496
25-29 29598 32299 61897
30-34 30801 31097 61898
35-39 30698 31699 62397
40-44 26598 29500 56098
45-49 21198 23199 44397
50-54 13799 17798 31597
55-59 8600 12499 21099
60-64 5201 7198 12399
65-69 2101 3999 6100
70-74 1099 2000 3099
75+ 1100 1100 2200
Total 353880 389980 743860
Sumber: Proyeksi Supas 2000-2015

75 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


Tabel 1.3 Indeks Pembangunan Manusia menurut Komponen dan
Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat 2009
Komponen IPM
Kabupaten/Kota IPM
AHH AMH MYS PPP
Fakfak 70.16 97.18 9.09 585.63 70.80
Kaimana 69.48 95.49 7.32 599.40 69.80
Teluk Wondama 67.25 83.13 6.44 600.79 65.27
Teluk Bintuni 67.88 82.98 6.88 597.49 65.65
Manokwari 67.67 85.67 7.95 588.11 66.20
Sorong Selatan 66.49 88.20 7.94 587.90 66.09
Sorong 67.49 91.40 8.04 597.45 68.16
Raja Ampat 65.75 92.77 7.26 560.49 64.08
Tambrauw 66.09 76.38 4.21 440.53 49.12
Maybrat 66.03 89.80 6.92 580.93 64.89
Kota Sorong 71.53 99.12 10.54 634.63 76.84
Papua Barat 68.20 92.34 8.01 595.28 68.58

Sumber: Olahan Susenas 2009

Tabel 1.4 Garis Kemiskinan, Jumlah Penduduk Miskin, Persentase Penduduk Miskin, Indeks Kedalaman Kemiskinan,
dan Indeks Keparahan Kemiskinan Provinsi Papua Barat 2007-2010
Garis Kemiskinan Penduduk Miskin Kedalaman Keparahan
Daerah/Tahun Kemiskinan Kemiskinan
Makanan Non Makanan Total Jumlah Persentase (P1) (P2)
Perkotaan
Maret 2007 154,698 54,820 209,518 11.00 7.14 0.73 0.12
Maret 2008 180,866 63,941 244,807 9.48 5.93 0.73 0.24
Maret 2009 223,357 81,373 304,730 8.55 5.22 0.43 0.04
Maret 2010 233,764 85,406 319,170 9.59 5.73 1.14 0.36
Perdesaan
Maret 2007 176,025 28,933 204,958 255.80 48.82 16.58 7.29
Maret 2008 197,785 32,469 230,254 237.02 43.74 11.67 4.46
Maret 2009 223,592 45,762 269,354 248.29 44.71 12.51 4.61
Maret 2010 238,145 49,367 287,512 246.66 43.48 13.22 5.47
Kota+Desa
Maret 2007 172,145 33,853 205,998 266.80 39.31 12.97 5.66
Maret 2008 193,930 39,641 233,570 246.50 35.12 9.18 3.50
Maret 2009 223,538 53,878 277,416 256.84 35.71 9.75 3.57
Maret 2010 237,147 57,580 294,727 256.25 34.88 10.47 4.30
Sumber: Olahan Susenas 2007-2010

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 76


Tabel 1.5 PDRB ADHB dan ADHK menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat 2006-2009

Atas Dasar Harga Berlaku Atas Dasar Harga Konstan


Lapangan Usaha
2006 2007 2008 2009 2006 2007 2008 2009
1. Pertanian 2,428,810.57 2,762,424.54 3,107,119.13 3,567,520.90 1,624,269.11 1,709,046.87 1,817,444.10 1,878,562.44

2. Pertambangan dan Penggalian 1,552,891.49 1,655,107.42 1,844,019.44 1,926,816.67 1,081,658.46 1,087,167.36 1,098,592.02 1,093,722.58

3. Industri Pengolahan 1,741,954.15 2,084,467.80 2,835,994.38 3,548,361.11 751,875.24 813,660.34 872,426.05 971,081.99

4. Listrik, Gas & Air Bersih 48,038.78 57,745.90 66,030.34 73,874.44 24,616.86 26,903.48 29,098.48 31,691.89

5. Bangunan 715,644.60 893,250.07 1,150,834.65 1,426,539.42 440,813.49 498,004.63 572,822.13 648,208.20

6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 925,804.53 1,096,203.97 1,290,421.32 1,452,692.47 561,814.69 616,261.41 670,818.70 712,637.01

7. Pengangkutan dan Komunikasi 646,121.42 771,098.42 866,875.56 1,059,222.47 397,041.92 440,299.46 473,536.46 549,199.59

8. Keuangan, Persewaan & Jasa


151,430.25 214,745.78 302,327.09 348,902.66 94,706.46 118,299.10 150,145.26 151,927.63
Perusahaan

9. Jasa-jasa 734,843.72 832,234.79 1,005,409.58 1,143,797.37 572,104.26 624,673.17 684,491.02 731,168.14

PDRB Papua Barat 8,945,539.50 10,367,278.69 12,469,031.50 14,547,727.50 5,548,900.50 5,934,315.82 6,369,374.22 6,768,199.45

Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2009

Tabel 1.6 Distribusi PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat 2006-2009

Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009

1. Pertanian 27.15 26.65 24.92 24.52


2. Pertambangan dan Penggalian 17.36 15.96 14.79 13.24
3. Industri Pengolahan 19.47 20.11 22.74 24.39
4. Listrik, Gas & Air Bersih 0.54 0.56 0.53 0.51
5. Bangunan 8.00 8.62 9.23 9.81
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 10.35 10.57 10.35 9.99
7. Pengangkutan dan Komunikasi 7.22 7.44 6.95 7.28
8. Keuangan, Persewaan & Jasa
1.69 2.07 2.42 2.40
Perusahaan
9. Jasa-jasa 8.21 8.03 8.06 7.86
TOTAL 100.00 100.00 100.00 100.00
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2009

77 STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010


Tabel 1.7 Pertumbuhan Ekonomi menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat 2006-2009

Lapangan Usaha 2006 2007 2008 2009

1. Pertanian 3.29 5.22 6.34 3.36


2. Pertambangan dan Penggalian -1.77 0.51 1.05 -0.44
3. Industri Pengolahan 0.52 8.22 7.22 11.31
4. Listrik, Gas & Air Bersih 11.25 9.29 8.16 8.91
5. Bangunan 13.06 12.97 15.02 13.16
6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 10.49 9.69 8.85 6.23
7. Pengangkutan dan Komunikasi 14.84 10.89 7.55 15.98

8. Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan -1.80 24.91 26.92 1.19

9. Jasa-jasa 9.40 9.19 9.58 6.82

Papua Barat 4.55 6.95 7.33 6.26


Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2009

Tabel 1.8 Pertumbuhan Ekonomi menurut Kabupaten/Kota Provinsi Papua Barat 2006-2009

Kabupaten/Kota 2006 2007 2008 2009

Fak-Fak 6.81 6.42 6.29 6.14


Kaimana 7.69 8.38 6.16 9.72
Teluk Wondama 18.97 19.75 16.90 13.67
Teluk Bintuni 11.10 12.87 12.52 10.72
Manokwari 7.60 8.84 9.40 9.50
Sorong Selatan 8.71 8.67 -28.14 10.90
Sorong 0.39 3.13 7.98 4.55
Raja Ampat 0.22 2.74 2.23 2.75
Tambrauw - - - 3.80
Maybrat - - - 3.16
Kota Sorong 8.53 6.57 7.44 8.23
Papua Barat 4.55 6.95 7.33 6.26
Sumber: PDRB menurut Lapangan Usaha Provinsi Papua Barat, 2009

STATISTIK DAERAH PROVINSI PAPUA BARAT TAHUN 2010 78