P. 1
Profil Tenaga Kerja Prov. Papua Barat 2009.pdf

Profil Tenaga Kerja Prov. Papua Barat 2009.pdf

|Views: 8,261|Likes:
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Published by: Badan Pusat Statistik Provinsi Papua Barat on Mar 07, 2011
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

08/10/2013

Untuk bisa dibandingkan antar wilayah atau negara maka
konsep ketenagakerjaan yang digunakan adalah konsep Labour Force
Framework
sesuai yang telah direkomendasikan International Labour
Organization
(ILO). Penduduk dikelompokkan menjadi beberapa
bagian. Kelompok-kelompok tersebut digambarkan dalam bagan
ketenagakerjaan (lihat bab II).
Penduduk dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu
penduduk usia kerja dan bukan usia kerja. Indonesia dalam
memberikan batasan umur pada penduduk usia kerja, menggunakan
batas bawah usia kerja (economically active population) 15 tahun
(meskipun dalam survei Sakernas dikumpulkan informasi mulai dari
penduduk usia 10 tahun) dan tanpa batas atas usia kerja.
Pemberian batas bawah dan batas atas bervariasi dari setiap
negara sesuai dengan kebutuhan dan situasi. Sebagai contoh
penggunaan batas bawah: Mesir (6 tahun), Brazil (10 tahun), Swedia,
USA (16 tahun), Canada (14 dan 15 tahun), India (5 dan 15 Tahun),
dan Venezuela (10 dan 15 tahun), sementara penggunaan batas atas
penduduk usia kerja contohnya: Denmark, Swedia, Norwegia,
Finlandia (74 tahun), Mesir, Malaysia, Mexico (65 tahun), banyak
negara termasuk Indonesia tidak menggunakan batas atas.

Page | 26

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Dalam Profil Ketenagakerjaan ini digunakan batasan
penduduk usia kerja dengan batas bawah 15 tahun dan tanpa batas
atas menganut pada konsep yang selama ini dipakai oleh BPS.
Distribusi dan komposisi penduduk usia kerja digolongkan
menurut kelompok umur dengan interval 5 tahun untuk
memudahkan dalam menginterpretasikan dan menganalisis data
ketenagakerjaan.

Gambar 3.1 Penduduk Usia Kerja menurut Kelompok Umur
Provinsi Papua Barat 2009

Pada gambar 3.2. menyajikan kondisi sebaran penduduk usia
kerja di Provinsi Papua Barat. Papua Barat yang tergolong dalam
piramida penduduk muda sangat mempunyai potensi yang besar
sebagai pemasok angkatan kerja dan juga bisa menjadi pemasok
bukan angkatan kerja. Porsi penduduk usia 15-19 tahun merupakan

Sumber: Sakernas 2009, Papua Barat

Page | 27

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

yang paling tinggi dan umumnya mereka berada pada usia sekolah.
Secara umum penduduk usia tersebut berpartisipasi dalam kegiatan
sekolah sehingga mereka akan menyumbang porsi besar pada
kelompok bukan angkatan kerja dan sebaliknya akan mengurangi
porsi kelompok angkatan kerja.
Dalam struktur penduduk muda, porsi penduduk usia 20-24
tahun juga menyumbang porsi yang besar pada penduduk usia kerja.
Ketika hanya sebagian kecil saja yang terlibat dalam kegiatan sekolah
maka penduduk usia ini akan menjadi penyumbang yang besar pada
kelompok angkatan kerja walaupun tidak semua terserap dalam
lapangan pekerjaan. Penduduk yang lebih banyak terdistribusi pada
umur-umur muda memaksa Provinsi Papua Barat harus bersiap
untuk menyediakan lapangan pekerjaan yang lebih banyak. Dalam
grafik terlihat bahwa jumlah penduduk usia kerja yang berada pada
interval umur 20-24 dan 25-29 tahun memiliki proporsi tinggi. Pada
interval umur tersebut biasanya banyak terdapat new entrance pada
dunia kerja. Setelah lulus dari SLTA atau pendidikan tinggi, lapangan
kerja siap diperebutkan oleh para pencari kerja. Dengan besarnya
komposisi penduduk pada usia tersebut tidak dapat dihindari bahwa
penyediaan lapangan pekerjaan harus sebanding dengan penduduk
usia kerja yang siap masuk angkatan kerja.
Para pendatang baru di pasar kerja yang jumlahnya tidak
sedikit ini akan mendatangkan masalah baru jika lapangan pekerjaan
yang tersedia tidak mampu menyerap mereka semua. Meskipun
mereka berperan sebagai penyebab meningkatnya partisipasi

Page | 28

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

angkatan kerja, namun bila mereka tidak bekerja maka mereka akan
masuk ke dalam kelompok para pencari kerja atau pengangguran.
Pada kenyataannya, pertambahan jumlah angkatan kerja tidak
secepat pertambahan persediaan lapangan pekerjaan. Akibatnya
jumlah lapangan pekerjaan yang ada tidak sebanding dengan jumlah
pencari kerja yang jumlahnya terus meningkat. Lapangan pekerjaan
semakin menjadi rebutan sekian banyak para pencari kerja yang
yang terdapat di pasar kerja. Mereka yang kalah bersaing harus
tersingkir dari lapangan pekerjaan dan menjadi pengangguran.
Semakin lebar gap antara jumlah lapangan pekerjaan yang
tersedia dengan jumlah para pencari kerja, maka semakin lama
jumlah pengangguran juga akan terakumulasi sehingga beban pasar
kerja untuk menyediakan lapangan pekerjaan akan semakin berat.
Sebuah indikator digunakan untuk melihat ketergantungan
suatu kelompok umur tertentu terhadap suatu kelompok yang secara
ekonomi dapat dikatakan produktif. Dependency Ratio (rasio
ketergantungan/beban tanggungan) dipakai untuk mengetahui
berapa besar beban tanggungan penduduk yang produktif (umur 15-
64 tahun) terhadap penduduk yang tidak produktif yaitu penduduk
muda (kurang dari 15 tahun) dan penduduk tua (65 tahun ke atas).
Dependency ratio merupakan salah satu indikator demografi
yang penting. Keuntungan-keuntungan ekonomi dari demografi
dapat diperoleh dengan memanfaatkan kondisi dependency ratio.
Semakin tinggi persentase dependency ratio menunjukkan semakin
tinggi beban yang harus ditanggung penduduk yang produktif untuk
membiayai hidup penduduk yang tidak produktif. Sedangkan

Page | 29

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

persentase dependency ratio yang semakin rendah menunjukkan
semakin rendahnya beban yang ditanggung penduduk yang produktif
untuk membiayai penduduk yang tidak produktif.

Tabel 3.1 Dependecy ratio, youth DR dan Old DR Papua Barat
2005-2009

Sumber: Proyeksi SP2000 dan SUPAS2005

Semakin lama dependency ratio Papua Barat semakin
menurun. Pada tahun 2005 tercatat sebesar 53,10 persen dan terus
menurun hingga mencapai 48,39 persen pada tahun 2009. Dari sudut
ekonomi kondisi ini sangat menguntungkan karena setiap 1 orang
penduduk tidak produktif ditanggung oleh 2 orang yang produktif.
Ditambah lagi ketergantungan penduduk muda (youth DR) lambat
laun menurun yang artinya pengeluaran tinggi untuk menghidupi
penduduk usia muda semakin berkurang. Konsumsi kelompok ini
merupakan yang paling tinggi.
Limpahan penduduk yang produktif ini akan memberikan
output maksimal apabila mereka semua dapat terserap dalam
lapangan pekerjaan yang akan berdampak positif pada
perkembangan ekonomi di Papua Barat.

Dependency Ratio

2005

2006

2007

2008

2009

Youth DR

51,03

49,77

48,12

47,05

46,12

Old DR

2,07

2,30

2,27

2,15

2,27

Dependency Ratio

53,10

52,07

50,39

49,19

48,39

Page | 30

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Didalam tabel 3.2, dapat diperoleh informasi persebaran
penduduk menurut kelompok umur dari masing-masing
kabupaten/kota. Betapa mantapnya kekuatan potensial yang
meskinya dapat dihasilkan dengan jumlah penduduk usia kerja yang
besar untuk menggerakkan roda perekonomian bila penduduk usia
kerja tersebut mampu bersaing dalam dunia kerja. Dengan catatan
man power sebanyak itu mendapatkan tempat untuk berusaha dan
bekerja. Namun bila tidak tertampung dalam pasar kerja justru
potensi negatiflah yang nantinya akan dihasilkan.

Page | 31

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

15-19

20-24

25-29

30-34

35-39

40-44

45-49

50-54

55-59

60-64

65+

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

(8)

(9)

(10)

(11)

(12)

(13)

711

3,127

2,863

3,321

3,892

3,228

2,323

2,153

1,318

253

114

23,303

2,271

2,760

2,449

2,571

2,502

2,102

1,676

849

802

487

198

18,667

666

1,886

1,388

1,336

1,694

1,509

1,208

747

289

104

256

11,083

924

4,010

5,103

3,262

3,660

3,166

2,168

1,556

787

359

316

25,311

8,264

17,664

12,911

15,836

10,587

10,137

7,014

8,125

3,652

1,861

1,542

97,593

1,356

4,519

4,860

5,257

6,123

3,924

2,206

3,167

1,136

200

516

33,264

2,620

5,045

5,127

4,659

7,669

6,912

5,291

5,733

3,030

1,154

866

48,106

1,900

3,074

1,946

1,857

2,776

1,452

3,141

1,888

912

873

612

20,431

4,055

9,703

13,783

9,543

11,087

9,910

8,481

2,840

3,600

1,065

560

74,627

22,767

51,788

50,430

47,642

49,990

42,340

33,508

27,058

15,526

6,356

4,980

352,385

Fakfak

Tabel 3.2 Penduduk Papua Barat Berusia 15 tahun ke atas yang Masuk Angkatan Kerja menurut Kabupaten/Kota, 2009

Kabupaten /Kota

(Regency/Municipality)

Golongan Umur / Age Group

Jumlah/ Total

(1)

Raja Ampat

Kota Sorong

Jumlah/Total

Kaimana

Teluk Wondama

Teluk Bintuni

Manokwari

Sorong Selatan

Sorong

Page | 32

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

Sekilas tampak komposisi jumlah penduduk usia kerja di
Provinsi Papua Barat terkonsentrasi di kelompok umur muda.
Kondisi ini memungkinkan banyak terdapat angkatan kerja baru
yang siap bersaing di pasar tenaga kerja. Persaingan dalam
mendapatkan pekerjaan terjadi bukan hanya terbatas pada para new
comers
yang baru lulus dari jenjang peendidikan, tetapi juga para
pencari kerja yang sebelumnya pernah bekerja maupun yang masih
bekerja tetapi kurang puas dengan pekerjaan yang dijalaninya
sekarang, sehingga masih berusaha untuk mendapatkan pekerjaan
yang lebih baik.

Kota Sorong dan Kabupaten Manokwari adalah dua kota yang
paling padat penduduknya di Provinsi Papua Barat. Kabupaten
Manokwari sebagai ibukota provinsi yang sedang membangun dan
Kota Sorong sebagai pusat industri dan perdagangan di Papua Barat,
menarik setiap orang untuk bekerja dan menetap, menjadikan kedua
wilayah tersebut mempunyai jumlah penduduk yang paling besar di
Papua Barat, demikian pula dengan jumlah penduduk usia kerja
tentu saja berkorelasi positif dengan jumlah penduduknya. Besarnya
jumlah penduduk usia kerja bagaikan pedang bermata dua, ada sisi
positif dan negatif, tergantung pada pemerintah daerah dalam
mengelola wilayahnya apakah dapat mengasah potensi sumber daya
manusianya untuk mendulang permata atau bisa jadi akan menuai
bencana yang ditimbulkan dari sampah masyarakat yang salah
kelola.

Page | 33

Profil Ketenagakerjaan Papua Barat 2009 | BPS Prov Papua Barat

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->