Anda di halaman 1dari 9

STRATEGI MANAJEMEN PERSEDIAAN

I. PENDAHULUAAN
Persediaan merupakan salah satu daerah keputusan yang paling riskan dalam
manajemen logistik. Komitmen terhadap segolongan persediaan tertentu dan
selanjutnya alokasinya ke pasar untuk menghadapi penjualan dimasa depan,
merupakan pusat dari operasi logistik. Tanpa penggolongan yang tepat dari
persediaan, maka masalah-masalah pemasaran yang serius dapat timbul dalam usaha
meningkatkan penghasilan dan memelihara hubungan dengan nasabah.
Perencanaan persediaan juga sangat menentukan bagi operasi pembuatan
(manufacturing operation). Kekurangan bahan mentah dapat menghentikan produksi
atau merubah jadwal produksi, yang pada gilirannya akan meningkatkan ongkos dan
kemungkinan akan menyebabkan kekurangan produk jadi. Seperti halnya
kekurangan itu dapat mengganggu rencana pemasaran dan operasi-pembuatan
(manufacturing), kelebihan persediaanpun juga dapat pula menuimbulkan masalah.
Kelebihan persediaan akan meningkatkan biaya dan menurunkan laba (profitability)
melalui meningkatnya biaya pergudangan, keterikatan modal, kerusakan
(deterioration), premiasuransi yang berlebihan, meningkatnya pajak, dan bahkan
kekunoan (obsolescence).
Manajemen persediaan berusaha mencapai keseimbangan diantara
kekurangan dan kelebihan persediaan dalam suatu periode perencanaan yang
mengandung resiko dan ketidakpastian. Perencanaan strategis membutuhkan banyak
komitmen modal dan sumber-daya manajerial. Rencana strategis itu menentukan
struktur dimana rencana operasional dan rencana taktis dituangkan. Jadi, rencana
strategis itu merupakan seperangkat tonggak penunjuk jalan (guideposts) untuk type-
type perencanaan lainnya. Jadi dapat kita simpulkan bahwa dari Strategi Manajemen
Persediaan adalah :”Proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan
penyimpanan barang, suku cadang dan barang-jadi dari para suplaier, di antara
fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para pelanggan.”

1
II. PRINSIP - PRINSIP MANAJEMEN PERSEDIAAN
Prinsip-prinsip manajemen persediaan terdiri dari beberapa bagian yang
terdiri dari :
1. Fungsi Persediaan
Fungsi dasar dari persediaan secara sederhana dapat dinyatakan dengan:
• Meningkatkan laba (profitability), melalui bantuan pembuatan dan
pemasaran.
• Konsep yang ideal dari persediaan, konsep ini terdiri dari pembuatan suatu
produk yang sesuai dengan sfesifikasi nasabah.

Persediaan merupakan bidang sangat penting dari penyebaran aktiva yang


dibutuhkan untuk memberikan pengembaliaan yang minimum atas investasi modal.
Pada umumnya, kebanyakan perusahaan mengadakan persediaan yang lebih besar
dari kebutuhan pokoknya. Generelasi ini akan lebih dapat di pahami melalui
pemeriksaan yang seksama terhadap 4 fungsi pokok yang mendasari manajemen
persediaan diantaranya:
 Spesialisasi Wilayah, Salah satu fungsi persediaan adalah memungkinkan
spesialisasi wilayah dari unit-unit operasi individual. Oleh karena factor-
faktor seperti tenaga listrik, bahan mentah, air, dan buruh maka lokasi yang
ekonomis untuk pembuatan (manufacturing) sering kali sangat jauh dari
wilayah permintaan (areas of demand). Dengan pemisahan wilayah, masing-
masing komponen ini dapat diprodusir secara ekonomis dan efisisen. Fungsi
pemisahan wilayah juga berkaitan dengan penghimpunan golongan dalam
distribusi fisik barang-barang jadi. Barang-barang pabrik dari berbagai lokasi
dihimpun di suatu gudang tunggal, dengan maksud dapat menawarkan
kepada nasabah suatu pengiriman tunggal dari gabungan produk-produk itu.
Inilah contoh terpenting pemisahan wilayah dan distribusi terpadu yang
dimungkinkan oleh persediaan.
 Decoupling, Fungsi kedua dari persediaan adalah memberikan efisiensi
maksimum pada operasi dalam suatu fasilitas (decoupling).
Penumpukan persediaan barang-sedang-dikerjakan (work in proces) dalam
kompleks pembuatan akan memungkinkan penghematan maksimum dalam
produksi tanpa terhentinya pekerjaan. Fungsi decoupling ini memungkinkan
masing-masing produk dibuat dan didistibusikan dalam ukuran yang
ekonomis (economical lot sozes). Dilihat dari segi pemasaran, decoupling
memungkinkan produk dapat dibuat pada waktu akan dijual sebagai suatu
golongan (assortment). Jadi, decoupling itu cendrung menunjang operasi
perusahaan. Perbadaan decoupling dengan spesialisasi wilayah adalah dalam
hal decoupling ini meningkatkan efisiensi operasi pada satu lokasi tunggal,
sedangkan spesialisasi wilayah meliputi banyak lokasi.
 Penyeimbangan Penawaran dengan Permintaan, Fungsi ketiga dari
persediaan adalah penyeimbangan, yang memperhatikan jarak waktu antara
konsumsi dengan pembuatan (manufacturing). Persediaan penyeimbang ini
adalah untuk menyesuaikan penyediaan suplai dengan permintaan.
 Persediaan Pengaman, Fungsi persediaan pengaman atau persediaan
penyangga (buffer stock) adalah menyangkut perubahan jangka pendek, baik
dalam permintaan maupun dalam pengisian kembali (replenishment).
Kebutuhan akan persedian akan pengaman adalah disebabkan oleh ketidak
pastian mengenai penjualan dimasa depan dan pengisian kembali persediaan.
Jika ketidak pastian itu mengenai berapa banyak suatu produk akan terjual,
maka perlulah untuk memilihara posisi persediaan.
 Ikhtisar – fungsi –fungsi persedian. Empat fungsi persedian adalah
spesialisasi wilayah, decoupling, penyeimbangan penyediaan dengan
penawaran, dan persedian pengaman. Fungsi – fungsi ini menentukan
besarnya investasi persedian yang perlu untuk suatu system tertentu untuk
tercapainya suatu tujuan manjemen. Pada tingkat minimum, persediaan yang
diinvestasikan untuk mencapai spesialisasi wilayah dan decoupling, hanya
dapat berubah dengan merubah pola lokasi fasilitas dan proses operasional
dari perusahaan itu. Level minimum dari persedaian yang dibutuhkan untuk
menyeimbangkan penawaran dengan permintaan, menunjukan sulitnya tugas
menaksir kebutuhan – kebutuhan musiman.
Dengan pengalaman beberapa kali periode musiman, maka persedian yang

3
dibutuhkan untuk mencapai penjualam yang marjinal selama periode tinggi
permintaan, dapat diproyeksikan dengan cukup baik. Suatu rencana
persediaan musiman dapat dirumuskan berdasarkan pengalaman ini.

2. RESIKO PERSEDIAAN
Pengadaan persedian untuk mencapai salah satu dari fungsi tersebut di atas
adalah riskan. Adalah penting untuk dipahami bahwa sifat dan besarya resiko ini
berbeda – beda menurut posisi perusahaan dalam saluran distribusi.

2.1 Resiko persediaan toko eceran


Bagi pengecer, manajemen persediaan itu pada dasarnya adalah proses
membeli dan menjual. Pengecer itu membeli berbagai produk dan menanggung
resiko besar dalam proses pemasarannya. Resiko pengecer dalam persediaan itu
dapat dianggap luas tetapi tidak dalam. Karena tingginya biaya lokasi tokonya, maka
pengecer itu akan mengutamakan perputaran atau kecepatan penjualan.

2.2 Resiko persediaan grosir


Risiko grosir itu lebih sempit, tetapi lebih dalam dan lebih daripada risiko
para pengecer. Pedagang grosir membeli dalam jumlah besar dari para pengusaha
dan menjualnya dalam jumlah – jumlah kecil kepada para pengecer. Alas an
ekonomis dari grosir ini adalah kemampuannya untuk menyediakan segolongan
barang yang dihasilkan oleh berbagai pengusaha. Sering kali apabila produknya
adalah musiman, grosir ini terpaksa mengadakan posisi persediaan jauh – jauh hari
sebelum musim penjualan, sehingga meningkatkan kedalaman dan lamanya
risikonya. Salah satu risiko terbesar grosir adalah perluasan garis produk sampai
mencapai titik dimana keluasan risiko persediaannya mendekati risiko pengecer,
sedangkan kedalaman dan lamanya risikonya tetap khas grosir.

2.3 Risiko persediaan pengusaha


Bagi pengusaha pembuat ( manufacturer ) risiko persediaan itu mempunyai
demensi lamanya jangka waktunya. Komitmen persediaan pengusaha berawal pada
bahan mentah dan suku cadang komponen, termasuk barang yang sedang dikerjakan,
dan berkhir pada barang jadi. Walaupun pengusaha itu mungkin lebih sempit garis
produknya dibandingkan dengan pengecer atau grosir, namun komitmen persedian
pengusaha itu relative lebih dalam dan lebih lama waktunya.

III. UNSUR – UNSUR KEBIJAKSANAAN PERSEDIAAN


Pengembangan kebijaksanaan yang sehat merupakan bidang tersulit dalam
seluruh manajemen persediaan. Titik pusat dari perumusan kebijaksanaan adalah
penentuan rata – rata komitmen persediaan. Rata – rata persediaan itu terdiri dari
produk jadi, bahan mentah, komponen – komponen, dan barang – barang yang
sedang dikerjakan yang tahan beberapa waktu dalam fasilitas logistic. Dilihat dari
sudut kebijaksanaan, tingkat persediaan yang tepat itu haruslah ditentukan untuk
masing – masing fasilitas. Rata – rata persediaan itu terdiri dari persediaan dasar dan
persediaan pengaman.
Persediaan dasar adalah bagian dari rata – rata persediaan yang diperoleh dari
proses pengisian kembali. Rata – rata persediaan yang ditahan sebagai hasil dari
proses pesanan itu dinamakan persediaan dasar. Istilah lain yang lazim digunakan
untuk ini adalah lot size stock. Berdasarkan perumusan pesanan kembali ini, rata –
rata persediaan dasar itu adalah sama dengan setengah kwantitas pesanan.
Pengawasan persediaan adalah suatu prosedur mekanis untuk melaksanakan
suatu kebijaksanaan persediaan. Aspek accountability dari pengawasan ini akan
mengukur berapa unit yang ada ditangan pada suatu lokasi tertentu dan terus
mengikuti penambahan dan pengurangan terhadap kwantitas dasar itu.
Walaupun pengawasan persediaan yang efektif itu adalah esensial bagi kelancaran
operasi, namun masalah – masalah pengawasan biasanya menimbulkan gangguan
atau kegagalan untuk mencapai sasaran – sasaran karena masalah – masalah
kebijaksanaan yang tidak sesuai.
IV. IDENTIFIKASI BIAYA PERSEDIAAN

5
Oleh karena persediaaan itu menyangkut segala aspek dari operasi logistic,
maka sulitlah untuk memisahkan biaya pemesanan persediaan dari biaya
pemeliharaannya.

1. Biaya Pemeliharaan
Secara tradisional rekening – rekening yang termasuk kedalam biaya
pemiliharaan persediaan adalah rekening pajak, penyimpanan, modal, asuransi, dan
kekunoan. Biaya yang berkenaan dengan pajak dan asuransi itu relatif mudah
menentukan. Biaya asuransi adalah pembayaran langsung yang didasarkan atas
taksiran resiko atau exposure selama suatu jangka waktu. Biaya pajak adalah
pengenaan langsung yang biasanya didasarkan atas persediaan yang ditahan pada
hari tertentu dari tahun itu, atau rata –rata persedian selama suatu jangka waktu,
bergantung pada peraturan yang berlaku setempat. Biaya penyimpanan haruslah
dialokasikan pada produk – produk tertentu, karena ia tidak langsung pada nilai
persediaan. Bergantung pada type fasilitas gudang yang dipakai, negeri atau swasta.,
maka total biaya penyimpanan itu mungkin langsung atau mungkin harus dihitung
biayanya.
Biaya kekunoan (obsolescence cost) dihitung berdasarkan pengalaman yang
telah lampau. Type kekunoan yang penting dalam perencanaan persediaan adalah
rusaknya produk selama dalampenyimpanan yang tidak ditutup oleh asuransi.
Kekunoan juga dapat diperluas sehingga meliputi pula kerugian pemasaran apabila
suatu produk menjadi kuno dalam hal modelnya. Harus diperhatikan, untuk tidak
memasukkan biaya yang tidak langsung berkaitan dengan keputusan biaya kekunoan
ini hendaklah berhati-hati dan hendaklah terbatas pada kerugian langsung yang
berkaitan dengan penyimpanan.
Aspek paling kontroversial dari biaya pemeliharaan adalah berapa biaya yang
tepat untuk modal yang ditanamkan. Biaya pemeliharaan persediaan itu menyangkut
pertimbangan manajemen, penaksiran, penugasan, dan tingkat tertentu pengukuran
langsung.

2. Biaya Pemesanan
Biaya penempatan suatu peanan itu terdiri dari seluruh biaya pengawasan
persediaan, persiapan pemesanan, komunikasi pesanan, pembaharuan aktivitas, dan
pengawasan manajerial. Sama dengan biaya pemeliharaan, biaya pemesanan ini
dihitung untuk masing-masing unsur biaya sampai diperoleh suatu total biaya
penempatan pesanan (order) tersebut.
Banyak sekali perbedaan terdapat diantara berbagai organisasi mengenai
biaya-biaya apa yang termasuk ke dalam biaya penempatan suatu pesanan. Unsur
yang penting adalah meliputi semua biaya yang dimasukkan dari biaya tetap dan
biaya variable. Sekali total biaya penempatan pesanan ini telah ditaksir, maka asumsi
yang lazim adalah mempertahankannya berapapun banyaknya pesanan yang
ditempatkan selama suatu periode perencanaan.

KESIMPULAN

7
Dari pembahasan mengenai strategi manajemen persedian di lembaran-
lembaran sebelumnya, kita dapat mengetahui dan mengatur serta melakukan
pengawasan persediaan sebelum kita mengalami kekurangan bahan mentah ataupun
kelebihan bahan mentah, yang mana masing-masingnya dapat memberikan kita
dampak yang dapat meningkatkan biaya dan mengurangi laba. Oleh sebab itu,
strategi persediaan ini sangat penting dan jangan sampai ada yang terlupakan.

DAFTAR PUSTAKA
- Manajemen Logistik 1, Donald J. Bowersox - Tahun 1978
- Manajemen Logistik 2, Donald J. Bowersox - Tahun 1978
- Manajemen Logistik, sumber Internet