Anda di halaman 1dari 47

PENGENDALIAN PERSEDIAAN

(Inventory Control)

PENDAHULUAN
Salah satu fungsi manajerial yang sangat penting dalam operasional suatu
perusahaan adalah pengendalian persediaan (inventory control), karena kebijakan
persediaan secara fisik akan berkaitan dengan investasi dalam aktiva lancar di satu
sisi dan pelayanan kepada pelanggan di sisi lain. Pengaturan persediaan ini
berpengaruh terhadap semua fungsi bisnis ( operation, marketing, dan finance).
Sebuah perusahaan manufaktur tidaklah terlepas dari persoalan inventori yang
seringkali terjadi kesulitan. Kesulitan tidak hanya terjadi karena banyaknya kesalahan
manusia dalam mencatat tetapi juga kesulitan yang ditimbulkan karena tata letak yang
tidak diatur dengan baik. Pengaturan tata letak barang dalam gudang tidaklah mudah
jika dilakukan secara manual. Selain banyaknya proses keluar masuk barang,
kesulitan juga ditimbulkan oleh proses pencarian barang yang harus dikeluarkan dari
gudang.
Kesulitan – kesulitan tersebut di atas bisa diatasi dengan adanya sistem
inventori yang baik serta pengaturan letak barang dalam gudang yang dilakukan
secara terkomputerisasi.
Penelitian mengenai sistem pengendalian persediaan telah menjadi satu fokus
penelitian yang menarik. Kondisi ini disebabkan karena faktor biaya persediaan
merupakan salah satu komponen biaya modal yang terbesar.
Beberapa penelitian mengenai persediaan ini antara lain yang dilakukan oleh
Tarim & Kingsman (2005) yang membahas mengenai sistem pengendalian
persediaan (R,s) pada lingkungan permintaan yang bersifat non stationary stochastic.
Tang & Grubbstrom (2005) membahas penentuan titik pemesanan kembali pada
beberapa pola distribusi, sedangkan Sven Axsater (2005) membahas mengenai
kebijakan continuos review (R,Q) dengan lead time permintaan yang berdistribusi
normal.
Berkaitan dengan kondisi di atas, maka perlu ada pengaturan terhadap jumlah
persediaan, baik bahan-bahan maupun produk jadi, sehingga kebutuhan proses
produksi maupun kebutuhan pelanggan dapat dipenuhi. Tujuan utama dari
pengendalian persediaan adalah agar perusahaan selalu mempunyai persediaan dalam
jumlah yang tepat, pada waktu yang tepat, dan dalam spesifikasi atau mutu yang telah
ditentukan sehingga kontinuitas usaha dapat terjamin (tidak terganggu).

1
Usaha untuk mencapai tujuan tersebut tidak terlepas dari prinsip-prinsip
ekonomi, yaitu jangan sampai biaya-biaya yang dikeluarkan terlalu tinggi. Baik
persediaan yang terlalu banyak, maupun terlalu sedikit akan minimbulkan
membengkaknya biaya persediaan. Jika persediaan terlalu banyak, maka akan timbul
biaya-biaya yang disebut carrying cost, yaitu biaya-biaya yang terjadi karena
perusahaan memiliki persediaan yang banyak, seperti : biaya yang tertanam dalam
persediaan, biaya modal (termasuk biaya kesempatan pendapatan atas dana yang
tertanam dalam persediaan), sewa gudang, biaya administrasi pergudangan, gaji
pegawai pergudangan, biaya asuransi, biaya pemeliharaan persediaan, dan biaya
kerusakan/kehilangan.
Begitu juga apabila persediaan terlalu sedikit akan menimbulkan biaya akibat
kekurangan persediaan yang biasa disebut stock out cost seperti : mahalnya harga
karena membeli dalam partai kecil, terganggunya proses produksi, dan tidak
tersedianya produk jadi untuk pelanggan. Jika tidak memiliki persediaan produk jadi
terdapat 3 kemungkinan, yaitu :
1. Konsumen menangguhkan pembelian (jika kebutuhannya tidak mendesak).
Hal ini akan mengakibatkan tertundanya kesempatan memperoleh
keuntungan.
2. Konsumen membeli dari pesaing, dan kembali ke perusahaan (jika kebutuhan
mendesak dan masih setia). Hal ini akan menimbulkan kehilangan
kesempatan memperoleh keuntungan selama persediaan tidak ada.
3. Yang terparah jika pelanggan membeli dari pesaing dan terus pindah menjadi
pelanggan pesaing, artinya kita kehilangan konsumen.

Selain biaya di atas dikenal juga biaya pemesanan (ordering cost) yaitu biaya-
biaya yang dikeluarkan sehubungan dengan kegiatan pemesanan sejak penempatan
pesanan sampai tersedianya bahan/barang di gudang. Biaya-biaya tersebut antara
lain : biaya telepon, biaya surat menyurat, biaya adminisrasi dan penempatan
pesanan, biaya pemilihan pemasok, biaya pengangkutan dan bongkar muat, biaya
penerimaan dan pemeriksaan bahan/barang.

Pengertian dan Jenis-jenis Persediaan


Persediaan (inventory) adalah bahan-bahan atau barang (sumberdaya-
sumberdaya organisasi) yang disimpan yang akan dipergunakan untuk memenuhi
tujuan tertentu, misalnya : untuk proses produksi atau perakitan, untuk suku cadang
dari peralatan, maupun untuk dijual. Walaupun persediaan hanya merupakan suatu

2
sumber dana yang menganggur, akan tetapi dapat dikatakan tidak ada perusahaan
yang beroperasi tanpa persediaan.
Berdasarkan kepada fungsinya persediaan dikelompokkan menjadi:
1. Lot-size-inventory, yaitu persediaan yang diadakan dalam jumlah yang lebih
besar dari jumlah yang dibutuhkan pada saat itu. Cara ini dilakukan dengan tujuan
: memperoleh potongan harga (quantity discout) karena pembelian dalam jumlah
yang besar, dan memperoleh biaya pengangkutan per unit yang rendah.
2. Fluctuation stock, merupakan persediaan yang diadakan untuk menghadapi
permintaan yang tidak bisa diramalkan sebelumnya, serta untuk mengatasi
berbagai kondisi tidak terduga seperti : terjadi kesalahan dalam peramalan
penjualan, kesalahan waktu produksi, kesalahan pengiriman.
3. Anticipation Stock, yaitu persediaan yang diadakan untuk menghadapi
fluktuasi permintaan yang dapat diramalkan seperti mengantisipasi pengaruh
musim, dimana pada saat permintaan tinggi perrusahaan tidak mampu
menghasilkan sebanyak jumlah yang dibutuhkan. Disamping itu juga persediaan
ini ditujukan untuk mengantisipasi kemungkinan sulitnya memperoleh bahan
sehingga tidak menggangu operasi perusahaan.
4.
Berdasarkan bentuk fisiknya, Persediaan dapat dibedakan menjadi 5 jenis persediaan,
yaitu:
1. Bahan baku adalah barang-barang berwujud (seperti : kayu, tanah liat, besi)
yang akan digunakan dalam proses produksi. Barang tersebut bisa diperoleh
dari sumber alam, dibeli dari para pemasok, atau dibuat sendiri untuk
dipergunakan dalam proses selanjutnya.
2. Komponen adalah bagian produk yang diperoleh dari perusahaan lain yang
secara langsung akan dirakit.
3. Bahan pembantu adalah barang atau bahan yang dipergunakan di dalam
proses produksi, akan tetaapi tidak merupakan bagian daari produk akhir.
4. Barang dalam proses atau barang setengah jadi, adalah seluruh barang /
bahan yang telah mengalami pengolahan (merupakan hasil dari suatu proses)
akan tetapi masih harus mengalami pengolahan lebih lanjut untuk siap
menjadi produk jadi.
5. Barang jadi adalah seluruh barang yang telah mengalami pengolahan dan
telah siap di jual kepada konsumen.

Selain itu, persediaan juga dapat dibedakan menjadi:

3
1. Persediaan Surplus (surplus inventory/surplus stock), adalah suatu kondisi
persediaan yang diadakan dalam jumlah yang lebih besar dari jumlah yang
dibutuhkan pada saat itu dan nyaris tidak terpakai. Hal ini disebabkan adanya
kesalahan perkiraan inventory yang dibutuhkan pada saat itu. Akan tetapi dengan
manajemen inventory yang tepat surplus inventori dapat diberdayakan kembali
sebagai anticipation stock maupun fluctuation stock. Surplus persediaan yang
dianggap berlebih dan dalam keadaan slow moving kearah idle dapat terjebak ke
dalam daerah dead stock.
Penyebab terjadinya surplus:
a. Kesalahan perhitungan peramalan (forecast) yang akan datang. Sehingga
mengakibatkan pembelian yang terlalu banyak.
b. Perubahan program kerja.
c. Perubahan proses produksi.
d. Pencatatan data persediaan yang kurang akurat.
e. Terlalu banyak menetapkan persediaan pengaman (buffer stock).
f. Pembelian barang yang tidak standar.

Pemberdayaan surplus inventori dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut:


a. Transfer material, merupakan tindakan pengalihan material dari satu
unit produksi ke unit produksi yang lain atau antar perusahaan yang
menggunakan material yang sama.
b. Tukar tambah (trade in), merupakan tindakan tukar menukar
material dengan pihak lain agar memperoleh barang sesuai dengan fungsi dan
tujuan.
c. Buy back, tindakan untuk pembelian oleh agen atau distrinutor
kembali sesuai dengan harga yang disepakati.
d. Substitusi, tindakan untuk menukar material yang ada dengan
material lain yang dianggap masih diperlukan senilai dengan material yang
berlebih.

2. Dead stock, merupakan suatu kondisi persediaan yang diadakan dalam jumlah
yang lebih besar dari jumlah yang dibutuhkan pada saat itu dan sama sekali tidak
terpakai. Dead stock juga dapat dikatakan sebagai persediaan yang terbuang.

Penyebab terjadinya dead stock :

4
a. Persediaan surplus yang terlalu lama tidak digunakan sehingga
mengurangi kualitas material.
b. Material yang sudah kadaluarsa
c. Material yang dibeli tidak sesuai dengan standar
d. Kerusakan selama penyimpanan.
e. Dan lain-lain
Fungsi persediaan.
a. Menghilangkan / mengurangi risiko keterlambatan pengiriman bahan
b. Menyesuaikan dengan jadwal produksi
c. Menghilangkan / mengurangi resiko kenaikan harga
d. Menjaga persediaan bahan yang dihasilkan secara musiman
e. Mengantisipasi permintaan yang dapat diramalkan
f. Mendapatkan keuntungan dari quantity discount
g. Komitmen terhadap pelanggan.

5
MODEL-MODEL PERSEDIAAN
Model Persediaan Deterministik (Deterministic Inventory)
Definisi Inventori
 Stok barang dalam suatu waktu yang merupakan aset nyata (tangible asset)
yang dapat dilihat dan diukur.
 Sumber daya menganggur yang menunggu proses lebih lanjut.
Tipe Inventori
 Bahan Mentah (Raw material)
 Work-in-progress
 Komponen atau part
 Barang jadi
 Fixed Order Size Models
 Economic order quantity
 Production order quantity
 Quantity discount
 Incremental discount
 Batch Type Production System
 Fixed Order Interval System
Tujuan:
Minimasi Total Inventori Cost yaitu Menentukan Economic Order Quantity.

Informasi Yang Dibutuhkan


 Peramalan Permintaan
 Biaya Inventori
 Lead Time

Fixed Order Size Models


kapan dan berapa banyak untuk pesan.
Demand Sudah Pasti diketahui.
 EOUkuran lot yang harus dipesan/dibuat sehingga meminumkan total
biaya inventori.

6
MODEL EOQ (Economic Order Quantity)
Economic Order Quantity (EOQ) atau Economic Lot Size (ELS) merupakan
suatu metode manajemen persediaan paling terkenal dan paling tua. Diperkenalkan
oleh FW. Harris sejak tahun 1914. Model ini dapat dipergunakan baik untuk
persediaan yang dibeli maupun yang dibuat sendiri, dan banyak digunakan sampai
saat ini karena penggunaannya relatif mudah. Model ini mampu untuk menjawab
pertanyaan tentang kapan pemesanan/pembelian harus dilakukan dan berapa banyak
jumlah yang harus dipesan agar biaya total (penjumlahan antara biaya pemesanan
dengan biaya penyimpanan) menjadi minimum.
Economic Order Quantity adalah jumlah pembelian yang paling ekonomis untuk
dilaksanakan pada setiap kali pembelian.
Persoalan sebenarnya dalam EOQ, yaitu:
1. Berapa jumlah yang harus dipesan.
2. Berapa lama waktu interval antara pesanan pertama dengan pesanan
berikutnya yang akan mendatangkan biaya minimal.
Model EOQ dapat diterapkan , apabila:
1. Permintaan produk konstan, seragam, independen dan dikatehui.
2. Tingkat persediaan diketahui dan bersifat konstan.
3. Harga perunit produk adalah konstan.
4. Biaya pemesanan per-unit pertahun (H) adalah konstan.
5. Biaya pemesanan per-pesanan (S) adalah konstan.
6. Waktu antara pesanan dilakukan dengan barang-barang diterima (Lead
Time, L) adalah konstan.
7. Tidak terjadi kekurangan bahan.
Dalam gambar berikut ini dapat dilihat tingkat pemesanan optimal terjadi pada
saat biaya penyimpanan sama dengan biaya pemesanan.

Biaya

Biaya Total

Biaya penyimpanan Biaya

Min.
Biaya pemesanan

7
Kuantitas
0 Jumlah pemesanan optimal (EoQ)
Gambar 1.1 Titik EOQ

Gambar 1.2 Model EOQ

Formulasi dalam Economic Order Quantity

EOQ (Q ) =
2SD
=
2SD Ket: D = jumlah demand / permintaan
H h ×c
S = biaya pemesanan
H = biaya simpan perunit/tahun
h = % biaya simpan
c = harga barang / unit

F =
D F = frekwensi pemesanan
EOQ

T=
hari kerja tiap tahun T = jarak tiap pesanan
F
d = permintaan perhari
D
d =
jumlah hari kerja
EOQ (Q) = kuantitas
ekonomis

TC =
H.Q
+
S.D
+c.D TC = total biaya persediaan
2 Q

RoP =d ×L RoP = Reorder point


Contoh:
Diketahui

8
Demand (D) = 250.000 unit, hari kerja = 250 hari
Biaya penyimpanan (H) = Rp. 50,-/komp/th
Biaya pemesanan (S) = Rp. 25.000,-/ pesan
L = 10 hari
Tentukan EOQ, Reorder point, dan total biaya persediaannya!
Jawab
2SD
EOQ =
H
(2 ×35.000 ×250.000
=
50
17.500.000 .000
=
50
= 350.000.00 0
= 18.708 unit

D
d= RoP = d ×L
hari kerja
= 1000 × 10
250.000
= = 10.000 unit
250
= 1000 unit/hari H.Q S.D
TC = +
2 Q
50 ×18.708 35.000 ×250.000
= +
2 18.708
= Rp. 935.414

EOQ dengan Back order


Merupakan suatu keadaan dimana suatu perusahaan distributor terlambat untuk
mengirim pesanan yang lalu maka perusahaan harus memberikan potongan kepada
klien atas keterlambatan pengiriman. Dalam kondisi tertentu mungkin permintaan
pelanggan tidak dipenuhi sekaligus, atau ada pesanan yang pemenuhannya ditunda
yang disebabkan tidak tersedianya persediaan (stock out).
Hal ini sudah barang tentu akan berakibat terhadap besarnya biaya, yaitu akan
menyebabkan timbulnya biaya kekurangan persediaan. Dengan demikian maka biaya
total persediaan merupakan penjumlahan dari biaya pemesanan + biaya penyimpanan
+ biaya kekurangan persediaan. Kondisi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut :

9
Q

k K

t
k-K
Gambar 1.3 EOQ dengan back order

Keterangan : Q = tingkat persediaan


K = jumlah setiap pesanan
k = on hand inventory
K-k = back order, yaitu jumlah pesanan yang belum bisa dipenuhi.

Syarat EOQ dengan back order:


1. Ada waktu (T1) dimana ada surplus persediaan (I)
2. Waktu (T2) dimana ada kekurangan persediaan (Q-1)
3. Setiap siklus memerlukan waktu sama
4. Biaya back order per-unit pertahun adalah konstan (B)
5. Back order dan persediaan dipenuhi secara bersamaan

Biaya persediaan total per tahun (TC), kuantitas paling ekonomis (EOQ), dan surplus
persediaan (I) dihitung dengan formulasi :
2
2.S.D H +B H.I 2 S.D Q - C 
EOQ (Q) = × TC = + +B. 
 2Q  
H B 2Q Q  

2.S.D B Ket: EOQ (Q) = kuantitas ekonomis D


I = × F =C = Q - I
H B +H EOQ (Q)
I = surplus persediaan

C = jumlah yang dipesan kembali

F = frek. Pembelian

B = biaya back order

10
H = biaya simpan

S = biaya pesan

11
Model Quantity Discount

Dalam rangka meningkatkan volume penjualan seringkali perusahaan (supplier)

memberikan harga yang lebih rendah kepada pelanggan yang membeli dalam jumlah

yang lebih besar. Jadi harga per unit ditentukan semakin murah dengan semakin

banyaknya jumlah yang dibeli.

Dalam model potongan harga ini kita harus mempertimbangkan trade off

antara biaya pembelian dengan biaya penyimpanan, dimana semakin banyak jumlah

yang dibeli maka biaya pembelian per unit akan semakin menurun, tapi di lain pihak

biaya penyimpanan akan semakin meningkat.

Asumsi dalam Quantity Discount Model

1. Permintaan Bebas (Independent Demand)

2. Tingkat permintaan konstan (Demand rate is constant).

3. Lead time tetap dan diketahui (Lead time is constant and

know)

4. Harga per unit tergantung kepada kuantitas (Unit cost

depent on quantity)

5. Biaya penyimpanan proporgsional dengan rata-rata tingkat

persediaan (Carrying cost depends linearly on the average level of inventory)

6. Biaya pemesana per pesanan tetap (Ordering/setup cost per

order is fixed)

7. Hanya satu item yang dikendalikan (The item is a single

product)

Dalam rangka mencari biaya terendah dengan menggunakan model ini

dimasukan biaya pembelian untuk mencari biaya total, secara matematis ditulis :

D QH

12
TC = --- S + ----- + c.D
Q 2

Ket : c = harga barang

TC = total biaya persediaan, dst

Kalau terdapat beberapa potongan harga, maka untuk menentukan jumlah

pemesanan yang akan meminimaliasi biaya persediaan total tahunan, perlu dilakukan

langkah-langkah sebagai berikut :

1. Hitung nilai EOQ untuk potongan harga tertinggi (harga terendah). Apabila

jumlah ini fisibel, artinya jumlah yang akan dibeli mencapau jumlah yang

dipersyaratkan dalam potongan harga, maka jumlah tersebut merupakan jumlah

pembelian/pesanan yang optimal. Jika tidak lanjutkan ke tahap 2.

2. Hitung biaya total untuk kuantitas pada harga terendah tersebut.

3. Hitung EOQ pada harga terendah kedua. Jika jumlah ini fisibel hitung biaya

totalnya, dan bandingkan dengan biaya total pada kuantitas sebelumnya (langkah

2). Kuantitas optimal adalah kuantitas yang memiliki biaya terendah.

Jika langkah ketiga masih tidak fisibel, ulangi langkah-langkah di atas sampai
diperoleh EOQ fisibel atau perhitungan tidak bisa dilanjutkan.

13
EOQ dengan tingkat produksi terbatas (P > d)

Jika pesanan tidak diterima dalam jumlah besar, tapi diterima dalam jumlah
yang lebih kecil sesuai dengan kemajuan produksi. Produk-produk yang dibeli /
diproduksi sendiri mempunyai tingkat produksi (P) yang relatif lebih besar dari
tingkat permintaan (d).

2.D.S P H.Q P - d S.D


EOQ (Q) = × TC = . +
H P-D 2 P Q

14
Ket: P = tingkat produksi perhari

d = tingkat permintaan perhari

15
STRATEGI MANAJEMEN PERSEDIAAN

PENDAHULUAN
Persediaan merupakan salah satu daerah keputusan yang paling riskan dalam
manajemen logistik. Komitmen terhadap segolongan persediaan tertentu dan
selanjutnya alokasinya ke pasar untuk menghadapi penjualan dimasa depan,
merupakan pusat dari operasi logistik. Tanpa penggolongan yang tepat dari
persediaan, maka masalah-masalah pemasaran yang serius dapat timbul dalam usaha
meningkatkan penghasilan dan memelihara hubungan dengan nasabah.
Perencanaan persediaan juga sangat menentukan bagi operasi pembuatan
(manufacturing operation). Kekurangan bahan mentah dapat menghentikan produksi
atau merubah jadwal produksi, yang pada gilirannya akan meningkatkan ongkos dan
kemungkinan akan menyebabkan kekurangan produk jadi. Seperti halnya kekurangan
itu dapat mengganggu rencana pemasaran dan operasi-pembuatan (manufacturing),
kelebihan persediaanpun juga dapat pula menuimbulkan masalah. Kelebihan
persediaan akan meningkatkan biaya dan menurunkan laba (profitability) melalui
meningkatnya biaya pergudangan, keterikatan modal, kerusakan (deterioration),
premiasuransi yang berlebihan, meningkatnya pajak, dan bahkan kekunoan
(obsolescence).
Manajemen persediaan berusaha mencapai keseimbangan diantara
kekurangan dan kelebihan persediaan dalam suatu periode perencanaan yang
mengandung resiko dan ketidakpastian. Perencanaan strategis membutuhkan banyak
komitmen modal dan sumber-daya manajerial. Rencana strategis itu menentukan
struktur dimana rencana operasional dan rencana taktis dituangkan. Jadi, rencana
strategis itu merupakan seperangkat tonggak penunjuk jalan (guideposts) untuk type-
type perencanaan lainnya. Jadi dapat kita simpulkan bahwa dari Strategi Manajemen
Persediaan adalah :”Proses pengelolaan yang strategis terhadap pemindahan dan
penyimpanan barang, suku cadang dan barang-jadi dari para suplaier, di antara
fasilitas-fasilitas perusahaan dan kepada para pelanggan.”

II. PRINSIP - PRINSIP MANAJEMEN PERSEDIAAN


Persediaan merupakan bidang sangat penting dari penyebaran aktiva yang
dibutuhkan untuk memberikan pengembaliaan yang minimum atas investasi modal.
Pada umumnya, kebanyakan perusahaan mengadakan persediaan yang lebih besar

16
dari kebutuhan pokoknya. Generelasi ini akan lebih dapat di pahami melalui
pemeriksaan yang seksama terhadap 4 fungsi pokok yang mendasari manajemen
persediaan diantaranya:
 Spesialisasi Wilayah, Salah satu fungsi persediaan adalah memungkinkan
spesialisasi wilayah dari unit-unit operasi individual. Oleh karena factor-
faktor seperti tenaga listrik, bahan mentah, air, dan buruh maka lokasi yang
ekonomis untuk pembuatan (manufacturing) sering kali sangat jauh dari
wilayah permintaan (areas of demand). Dengan pemisahan wilayah, masing-
masing komponen ini dapat diprodusir secara ekonomis dan efisisen. Fungsi
pemisahan wilayah juga berkaitan dengan penghimpunan golongan dalam
distribusi fisik barang-barang jadi. Barang-barang pabrik dari berbagai lokasi
dihimpun di suatu gudang tunggal, dengan maksud dapat menawarkan kepada
nasabah suatu pengiriman tunggal dari gabungan produk-produk itu. Inilah
contoh terpenting pemisahan wilayah dan distribusi terpadu yang
dimungkinkan oleh persediaan.
 Decoupling, Fungsi kedua dari persediaan adalah memberikan efisiensi
maksimum pada operasi dalam suatu fasilitas (decoupling).
Penumpukan persediaan barang-sedang-dikerjakan (work in proces) dalam
kompleks pembuatan akan memungkinkan penghematan maksimum dalam
produksi tanpa terhentinya pekerjaan. Fungsi decoupling ini memungkinkan
masing-masing produk dibuat dan didistibusikan dalam ukuran yang
ekonomis (economical lot sozes). Dilihat dari segi pemasaran, decoupling
memungkinkan produk dapat dibuat pada waktu akan dijual sebagai suatu
golongan (assortment). Jadi, decoupling itu cendrung menunjang operasi
perusahaan. Perbadaan decoupling dengan spesialisasi wilayah adalah dalam
hal decoupling ini meningkatkan efisiensi operasi pada satu lokasi tunggal,
sedangkan spesialisasi wilayah meliputi banyak lokasi.
 Penyeimbangan Penawaran dengan Permintaan, Fungsi ketiga dari
persediaan adalah penyeimbangan, yang memperhatikan jarak waktu antara
konsumsi dengan pembuatan (manufacturing). Persediaan penyeimbang ini
adalah untuk menyesuaikan penyediaan suplai dengan permintaan.
 Persediaan Pengaman, Fungsi persediaan pengaman atau persediaan
penyangga (buffer stock) adalah menyangkut perubahan jangka pendek, baik
dalam permintaan maupun dalam pengisian kembali (replenishment).
Kebutuhan akan persedian akan pengaman adalah disebabkan oleh ketidak
pastian mengenai penjualan dimasa depan dan pengisian kembali persediaan.

17
Jika ketidak pastian itu mengenai berapa banyak suatu produk akan terjual,
maka perlulah untuk memilihara posisi persediaan.
 Ikhtisar – fungsi –fungsi persedian. Empat fungsi persedian adalah
spesialisasi wilayah, decoupling, penyeimbangan penyediaan dengan
penawaran, dan persedian pengaman. Fungsi – fungsi ini menentukan
besarnya investasi persedian yang perlu untuk suatu system tertentu untuk
tercapainya suatu tujuan manjemen. Pada tingkat minimum, persediaan yang
diinvestasikan untuk mencapai spesialisasi wilayah dan decoupling, hanya
dapat berubah dengan merubah pola lokasi fasilitas dan proses operasional
dari perusahaan itu. Level minimum dari persedaian yang dibutuhkan untuk
menyeimbangkan penawaran dengan permintaan, menunjukan sulitnya tugas
menaksir kebutuhan – kebutuhan musiman.
Dengan pengalaman beberapa kali periode musiman, maka persedian yang
dibutuhkan untuk mencapai penjualam yang marjinal selama periode tinggi
permintaan, dapat diproyeksikan dengan cukup baik. Suatu rencana
persediaan musiman dapat dirumuskan berdasarkan pengalaman ini.

RESIKO PERSEDIAAN
Pengadaan persedian untuk mencapai salah satu dari fungsi tersebut di atas
adalah riskan. Adalah penting untuk dipahami bahwa sifat dan besarya resiko ini
berbeda – beda menurut posisi perusahaan dalam saluran distribusi.

1. Resiko persediaan toko eceran


Bagi pengecer, manajemen persediaan itu pada dasarnya adalah proses
membeli dan menjual. Pengecer itu membeli berbagai produk dan menanggung resiko
besar dalam proses pemasarannya. Resiko pengecer dalam persediaan itu dapat
dianggap luas tetapi tidak dalam. Karena tingginya biaya lokasi tokonya, maka
pengecer itu akan mengutamakan perputaran atau kecepatan penjualan.

2. Resiko persediaan grosir


Risiko grosir itu lebih sempit, tetapi lebih dalam dan lebih daripada risiko
para pengecer. Pedagang grosir membeli dalam jumlah besar dari para pengusaha
dan menjualnya dalam jumlah – jumlah kecil kepada para pengecer. Alas an
ekonomis dari grosir ini adalah kemampuannya untuk menyediakan segolongan
barang yang dihasilkan oleh berbagai pengusaha. Sering kali apabila produknya
adalah musiman, grosir ini terpaksa mengadakan posisi persediaan jauh – jauh hari

18
sebelum musim penjualan, sehingga meningkatkan kedalaman dan lamanya
risikonya. Salah satu risiko terbesar grosir adalah perluasan garis produk sampai
mencapai titik dimana keluasan risiko persediaannya mendekati risiko pengecer,
sedangkan kedalaman dan lamanya risikonya tetap khas grosir.

3. Risiko persediaan pengusaha


Bagi pengusaha pembuat ( manufacturer ) risiko persediaan itu mempunyai
demensi lamanya jangka waktunya. Komitmen persediaan pengusaha berawal pada
bahan mentah dan suku cadang komponen, termasuk barang yang sedang dikerjakan,
dan berkhir pada barang jadi. Walaupun pengusaha itu mungkin lebih sempit garis
produknya dibandingkan dengan pengecer atau grosir, namun komitmen persedian
pengusaha itu relative lebih dalam dan lebih lama waktunya.

UNSUR – UNSUR KEBIJAKSANAAN PERSEDIAAN


Pengembangan kebijaksanaan yang sehat merupakan bidang tersulit dalam
seluruh manajemen persediaan. Titik pusat dari perumusan kebijaksanaan adalah
penentuan rata – rata komitmen persediaan. Rata – rata persediaan itu terdiri dari
produk jadi, bahan mentah, komponen – komponen, dan barang – barang yang sedang
dikerjakan yang tahan beberapa waktu dalam fasilitas logistic. Dilihat dari sudut
kebijaksanaan, tingkat persediaan yang tepat itu haruslah ditentukan untuk masing –
masing fasilitas. Rata – rata persediaan itu terdiri dari persediaan dasar dan
persediaan pengaman.
Persediaan dasar adalah bagian dari rata – rata persediaan yang diperoleh dari
proses pengisian kembali. Rata – rata persediaan yang ditahan sebagai hasil dari
proses pesanan itu dinamakan persediaan dasar. Istilah lain yang lazim digunakan
untuk ini adalah lot size stock. Berdasarkan perumusan pesanan kembali ini, rata –
rata persediaan dasar itu adalah sama dengan setengah kwantitas pesanan.
Pengawasan persediaan adalah suatu prosedur mekanis untuk melaksanakan
suatu kebijaksanaan persediaan. Aspek accountability dari pengawasan ini akan
mengukur berapa unit yang ada ditangan pada suatu lokasi tertentu dan terus
mengikuti penambahan dan pengurangan terhadap kwantitas dasar itu.
Walaupun pengawasan persediaan yang efektif itu adalah esensial bagi kelancaran
operasi, namun masalah – masalah pengawasan biasanya menimbulkan gangguan
atau kegagalan untuk mencapai sasaran – sasaran karena masalah – masalah
kebijaksanaan yang tidak sesuai.

19
IDENTIFIKASI BIAYA PERSEDIAAN
Oleh karena persediaaan itu menyangkut segala aspek dari operasi logistic,
maka sulitlah untuk memisahkan biaya pemesanan persediaan dari biaya
pemeliharaannya.

1. Biaya Pemeliharaan
Secara tradisional rekening – rekening yang termasuk kedalam biaya
pemiliharaan persediaan adalah rekening pajak, penyimpanan, modal, asuransi, dan
kekunoan. Biaya yang berkenaan dengan pajak dan asuransi itu relatif mudah
menentukan. Biaya asuransi adalah pembayaran langsung yang didasarkan atas
taksiran resiko atau exposure selama suatu jangka waktu. Biaya pajak adalah
pengenaan langsung yang biasanya didasarkan atas persediaan yang ditahan pada hari
tertentu dari tahun itu, atau rata –rata persedian selama suatu jangka waktu,
bergantung pada peraturan yang berlaku setempat. Biaya penyimpanan haruslah
dialokasikan pada produk – produk tertentu, karena ia tidak langsung pada nilai
persediaan. Bergantung pada type fasilitas gudang yang dipakai, negeri atau swasta.,
maka total biaya penyimpanan itu mungkin langsung atau mungkin harus dihitung
biayanya.
Biaya kekunoan (obsolescence cost) dihitung berdasarkan pengalaman yang
telah lampau. Type kekunoan yang penting dalam perencanaan persediaan adalah
rusaknya produk selama dalampenyimpanan yang tidak ditutup oleh asuransi.
Kekunoan juga dapat diperluas sehingga meliputi pula kerugian pemasaran apabila
suatu produk menjadi kuno dalam hal modelnya. Harus diperhatikan, untuk tidak
memasukkan biaya yang tidak langsung berkaitan dengan keputusan biaya kekunoan
ini hendaklah berhati-hati dan hendaklah terbatas pada kerugian langsung yang
berkaitan dengan penyimpanan.
Aspek paling kontroversial dari biaya pemeliharaan adalah berapa biaya yang
tepat untuk modal yang ditanamkan. Biaya pemeliharaan persediaan itu menyangkut
pertimbangan manajemen, penaksiran, penugasan, dan tingkat tertentu pengukuran
langsung.

2. Biaya Pemesanan
Biaya penempatan suatu peanan itu terdiri dari seluruh biaya pengawasan
persediaan, persiapan pemesanan, komunikasi pesanan, pembaharuan aktivitas, dan
pengawasan manajerial. Sama dengan biaya pemeliharaan, biaya pemesanan ini

20
dihitung untuk masing-masing unsur biaya sampai diperoleh suatu total biaya
penempatan pesanan (order) tersebut.
Banyak sekali perbedaan terdapat diantara berbagai organisasi mengenai
biaya-biaya apa yang termasuk ke dalam biaya penempatan suatu pesanan. Unsur
yang penting adalah meliputi semua biaya yang dimasukkan dari biaya tetap dan
biaya variable. Sekali total biaya penempatan pesanan ini telah ditaksir, maka asumsi
yang lazim adalah mempertahankannya berapapun banyaknya pesanan yang
ditempatkan selama suatu periode perencanaan.

KESIMPULAN

Dari pembahasan mengenai strategi manajemen persedian di lembaran-


lembaran sebelumnya, kita dapat mengetahui dan mengatur serta melakukan
pengawasan persediaan sebelum kita mengalami kekurangan bahan mentah ataupun
kelebihan bahan mentah, yang mana masing-masingnya dapat memberikan kita
dampak yang dapat meningkatkan biaya dan mengurangi laba. Oleh sebab itu, strategi
persediaan ini sangat penting dan jangan sampai ada yang terlupakan.

21
AKTIVITAS DALAM MANAJEMEN
LOGISTIK

1.Pelayanan Pelanggan (Customer Service)

Suatu proses yg berlangsung di antara pembeli,penjual,dan pihak ketiga yg


menghasilkan nilai tambah untuk pertukaran produk atau jasa dlm jangka waktu pendek
seperti transaksi tunggal ataupun jangka panjang seperti hubungan berdasarkan
kontrak.dengan demikian customer service merupakan proses penyedia’an keuntungan
nilai tambah yang penting pada supply chain
Dgn cara efektif.

Elemen Customer Service terbagi atas 3 yaitu:


Elemen pratransaksi(Pretransaction Elemen)
Elemen pratransaksi cendrung bersifat non rutin dan berhubungan dengan
kebijakan
Perusahaan ,elemen ini membutuhkan manajemen masukan .

Elemen Transaksi(Transaction Elemen)


Elemen Prost-transaction(post-transaction Elemen)
Elemen post-transaction mendukung setelah penjualan .

2.Ramalan Permintaan(Demand Forecasting)

Ramalan permintaan manajemen logistic menentukan berapa banyak dari tiap barang
yang
Di produksi perusahaan yang harus di angkut ke berbagai pasar .selain itu manajemen
logistic
harus mengetahui dimana asalnya pemintaaan sehingga dapat menempatkan dan
menyimpan
produk dgn jumlah yang tepat di setiap area pasar.pengambilan keputusan tanpa
keyakinan
akan kurang optimal karma sangatlah sulit untuk menyediakan sumber-sumber diantara
aktivitas
logistic tanpa mengetahui jenis produk dan jasa yg akan di perlukan

22
3.manajemen persediaan(Inventori Managemen)

Aktivitas pengendalian persediaan bersifat kritis karena membutuhkan finansial atas


pemeliharaaan persediaan produk yang cukupuntuk mempertemukan kebutuhan
pelenggan
dengan kebutuhan produksi.manajemen persediaaan melibatkan penjualan persediaan
yang dilakukan untuk mencapai tingkat pelayanan yang tinggi,dgn biaya persediaan ,
termasuk modal yang terikat dlm persediaan ,biaya pergudangan dan keusangan barang.

Alasan pengadaan persediaan dalam perusahaan :


*memungkinkan perusahaan mencapai skala ekonomis.

*Menyeimbangkan persediaan dan permintaan

*memungkinkaan spesialisasi produksi

*melindungi ketidakpastian permintaan dan siklus pemesanan

*bertindak sebagai penyangga /Buffer diantara interfase yg


bersifat kritis dlm rantai supply.
4.komunikasi logistic(logistic communication)
Sukses dlm lingkungan bisnis membutuhkan manajemen system komunikasi yang
kompleks
Komunikasi yang kompleks harus berlangsung dalam :
*organisasi,supplier dan pelanggan
*fungsi utama dalam organisasi ,seperti logisik,
Perekayasaan keuangan,pemasaran,dan produksi
*ketiga belas aktivitas logistic lainnya
*berbagai jenis aspek dari tiap aktivitas logistic,
Seperti koordinasi gudang material ,WIP,dan barang akhir.
*Berbagai anggota suplay chain,seperti pelanggan /penyedia sekunder yg secara tidak
Langsung berhubungan dengan perusahaan.
Komunikasi merupakan jaringan vital di antara seluruh proses logistic dan pelanggan
perusahaan.komunikasi yg akurat dan pada saat yg tepat merupakan dasar dari keber
hasilan manajemen logistic.

23
5. Penanganan material (Material
Handling)

Penanganan material berhubungan dengan setiap aspek gerakan atau aliran bahan
baku, barang setengah jadi, dan barang jadi dalam pabrik atau gudang.

Tujuan penangan material adalah:


- Menyederhanakan dan menghapus sistem penanganan apapun yang
memungkinkan.
- Meminimalkan jarak tempuh.
- Meminimalkan barang setengah jadi.
- Menyediakan aliran bebas yang serentak dari bottleneck.
- Meminimalkan kerugian akibat pembuangan,kerusakan dan pencurian.

6. Proses pemesanan (Order Procecing)

Komponen-komponen order procecing terbagi dalam tiga kelompok:

A. Elemen operasional ( Operational Elements)


Meliputi pemasukan pesanan (Order Entry), penjadwalan (scheduling),
pengiriman pesanandan pemfakturan (Invoicing).

B. Elemen komunikasi (Communication Elements).


Meliputi modifikasi pesanan, status penyelidikan pesanan, peniruan dan
percepatan pesanan, koreksi pesanan dan permintaan informasi produk.

C. Kredit dan element pengumpulan (Credit and Collection Elements).


Meliputi pemeriksaan kredit dan proses penerimaan atau pengumpulan
rekening.

7. Pengemasan (Packaging).
Fungsi pengemasan.
Pengemasan melakukan peran ganda yakni:
- Melindungi produk dari kerusakan ketika akan disimpan atau diangkut.
- Pengemasan yang pantas dapat memudahkan penyimpanan dan
pemindahan produk, sehingga mengurangi biaya penanganan material.

24
Fungsi Pengemasan adalah : untuk mengatur, melindungi dan mengidentifikasi
produk material.
Fungsi spesifik pengemasan ada 6 yaitu:
A. Penahanan (Containment)
Produk harus ditahan sebelum dipindahkan dari satu tempat ke tempat
lainnya.
B. Proteksi (Protection).
Isi dari bungkusan harus dilindungi dari kerusakan atau kerugian akibat
pengaruh lingkungan luar seperti kelembaban, debu, serangga, dan lain-
lain
C. Pembagian (Apportionment).
Keluaran harus dikurangi dari produksi industri untuk dapat dikendalikan,
disesuaikan dengan ke inginan konsumen, itulah perwujudan keluaran luas
dari produksi ke dalam kuantitas yang lebih kecil dari kegunaan yang
lebih baik untuk para pelanggan.
D. Pengunitan (Unitization).
Pengemasan primer dapat diunitkan menjadi pengemasan sekunder, yang
kemudian dapat diunitkan menjadi bagian pallet yang terbungkus dan pada
akhirnya ke dalam sebuah wadah yang di isi dengan beberapa pallet.
E. Kesempatan waktu (Convenience).
Pengemasan membuat produk agar dapat digunakan dengan sebaik-
baiknya.
F. Komunikasi (Communication).
Pengemasan bisa mengatasi ke ambiguan, agar mudah dimengerti diberi
symbol seperti Kode Produk Universal (Universal Product Code/UPC).

8. Komponen-komponen dan Pelayanan Pendukung (Parts and Service


Support).

Salah satu aktivitas pemasaran adalah memberikan pelayanan pasca penjualan


kepada pelanggan, seperti penyediaan bagian-bagian pengganti ketika produk rusak
atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Pada industri dimana produk mungkun termasuk komponen bagian dari


perlengkapan produk lainnya, downtime akan merugikan pelanggan jika terjadi

25
kegagalan produk bisa mengakibatkan kemunduran atau hentinya jalur
produksi.Perusahaan yang menyediakan cadangan atau bagian-bagian pengganti
harus dapat menaggapi dengan segera dan menyakinkan.

9.Seleksi lokasi pabrik dan Tempat penyimpanan /Gudang

Pergudangan merupakan bagian integral dari semua system logistic yg berperan penting
Dlm melayani pelanggan dgn total biaya seminimal mungkin ,juga merupakan jaringan
Primer di antara pelanggan dan produsen yg digunakan untuk menyimpan persediaan
Selama seluruh bagian produsen logistic berjalan.

Terdapat 2 tipe dasar persediaan,yaitu:


1.Bahan mentah,komponen-komponen dan bagian-bagian nya(persediaan fisik)
2.Barang jadi akhir (distribusi fisik).
Pada umum nya,tempat penyimpanan persediaan diperlukan unuk :
• Mencapai transportasi yang ekonomis.
• Mencapai produksi yang ekonomis.
• Mendapat keuntungan dari diskon pembelian dengan kuantitas banyak dan
pembelian duluan.
• Memelihara sumberpersediaan.
• Mendukung kebijakan pelayanan pelanggan perusahaan.
• Mengantisipasi kondisi perubahaan pasar (seperti musiman,fluktuasi
permintaan, kompetisi).
• Mengatasi perbedaan ruang ran waktu yang berada diantara produsen dan
konsumen.
• Menetapkan setidak-tidaknya biaya total logistik seimbang dengan tingkat
pelayanan pelanggan yang diinginkan.
• Mendukung program just-in-time dari supplier dan pelanggan.

Gudang Breakbulk (Breakbulk Warehouse).
• Gudang Breakbulk adalah fasilitas yang menerima pengiriman produk dalam
jumlah banyak dari pabrik.

Gudang Konsolidasi (Consolidation Warehouse)


• Pesanan skala kecil dari sejumlah supplier dikirimkan ke gudang konsolidasi yang
dekat dengan supplier sehingga LTL (Least-than-truckload) dapat digunakan bila
perlu dalam jumlah sedikit dan sisanya digunakan untuk waktu jangka panjang dari
gudang ke Perusahaan.

26
Faktor utama yang mempengaruhi sifat dasar dan pentingnya pergudang, yaitu:
• Waktu
Waktu merupakan salah satu unsure terpenting dalam keefektifan pergudangan.
• Kualitas
Kualitas sama pentingnya dengan ketetapan waktu, dan pemakai pelayanan gudang
sekarang mengharapkan hasil yang mendekati kesempurnaan
• Perhatiaan
Perhatiaan pada gudang merupakan perbaikan produktivitas asset.

10. Purchasing(procurement)

Purchasing berhubungan dgn pembelian actual material dan segala aktivitas


Yg berhubungan dgn proses pembelian.
Tujuan Purchasing
• Memberikan aliran material,persediaan dan pelayanan
Yg berkesinambungan yg di butuhkan untuk menjalankan
Operasi.
• Meminimalkan investasi persediaan dan kerugian
• Menjaga dan memperbaiki kwalitas
• Menemukan dan mengembankan kemampuan supplier
• Menstandarisasi,dimana kemungkinan barang di beli

11. Reverse Logistics

Penanganan barang-barang retur baik berupa salvage dan scrab disposal,


merupakan bagian dari proses yang berkaitan erat dgn reverse logistic
dan juga merupakan komponen logistic yg memerlukan perhatian lebih
apalagi pelanggan menunut retur yg lebih fleksible yg berhubungan
dgn proses daur ulang dan linkugan hidup.barang-barang retur bisa di
karenakan kerusakan produk,kadaluarsa,kesalahan pengiriman,dll

Reverse logistic juga melibatkan pemindahan dan pembuangan sisa


material dari bagian produksi,distribusi atau pengemasan.jika sisa
mmaterial tidak dapat di gunakan untuk menghasilkan produk lain,
material harus di buang.apapun produk tambahannya proses logistic

27
harus menanganinnya secara efektif dan efisien,mengangkut dan
menyimpannya,bila produk tsb ddapat di gunakan lagi atau di daur
ulang,logistic mengatur teansportasinya ke lokasi produksi atau lokasi
daur ulang.biasanya permasalahan ini di serahkan ke pihak ke tiga.

12.Transportasi

Fungsi transporasi berhubungan dgn bagian dalam dan luar deparemen


Logistic,dgn bagian finansial(biaya pengirimn/freight bills),enggenering
(pengemasan,transportasiperalatan),manajemenpersediaan(bahan baku&
gudang jadi), hokum(kontrak gudang dan alat angkut),produksi(pengiriman
tepat waktu), purchasing(pemilihan supplier), marketing/sales(standar
pelayanan pelanggan), receiving(klaim,dokumentasi), dan pergudangan
(supply peralatan,penjadwalan)

13.pergudangan dan penyimpanan(warehousing and storage)

Produk harus disimpan dlm suatu pabrik atau pada suatu tempat sebelum di jual
semakin besar waktu antara produksi dan konsimsi,semakin besar pula tingkatatau jumlah
persediaan yg di butuhkan aktivitas pergudangan dan penyimpanaan meliputi keputusan
mengenai apakah fasilitas penyimppanan seharus nya milik sendiri ,di kontrkkan atau di
serwakan ,perencanaan dan perancangaan fasilitas penyimpanan,pertimbangan produk
gabungan (seperti apakah produk seharus nya di simpan),dan prosedur pengamanan dan
pemeliharaan,pelaihan personalia dan pengukuran produktivitas.

28
PENGENDALIAN FINANSIAL ATAS
PRFORMANSI LOGISTIK

Data-data yang akurat sangat diperlikan baik untuk


membuat laporan perkembangan produk dan profitibilitas
pelanggan juga untuk keberhasilan pelaksanaan konsep
manajemen logistik terintegrasi dengan menggunakan analisa
biaya total, selain itu juga diperlukan untuk manajemen dan
pengendalian operasi-operasi logistic.

1. Analisa Biaya Total

Kunci untuk mengatur fungsi logistik adalah analisis biaya


total. Lebih baik meminimisasi biaya total logistic daripada
berusaha meminimisasi biaya aktivitas_aktivitas logistic secara
terpisah-pisah. Contoh, menggabungkan semua persediaan pada
beberapa pusat distribusi akan mengurangi biaya pergudangan
dan meningkatkan pertukaran persediaan tetapi akan
meningkatkan biaya transportasi. Sama halnya dengan membeli
barang dengan jumlah yang besar akan mengurangi harga per
unit tetapi akan menaikkan biaya simpan. Jadi, untuk
meminimisasi biaya total ini , pihak manajemen harus
memahami efek trade-off dalam fungsi distribusi.
Kualitas data finansial mempengaruhi kemampuan
manajemen mengeksploitasi pasar baru, merepakkan system

29
transportasi yang inovativ, pemilihan alat angkut, meningkatkan
pengiriman atau meningkatkan persediaan, mengubah
konfigurasi pusat distribusi, mendata kendali tingkatan
persediaan, mengubah pengemasan dan menentukan perluasan
system proses pesanan mana yang seharusnya diotomatisasikan.
setidaknya system data finansial ini memberikan informasi
untuk menjawab pertanyaan berikut ini:
1. Bagaimana biaya logistik mempengaruhi kontribusi dari
segi produk, wilayah pelanggan dan penjual?
2. Biaya-biaya apa saja yang berhubungan dengan
penambahan tingkat pelayanan pelanggan? Trade-off apa
yang diperlukan dan apa keuntungan dan kerugiaanya?
3. Berapa jumlah persediaan yang optimal? Bagaimana
pengaruh persediaan pada perusahaan pola pergudangan atau
pada tingkatan pelayanan pelanggan? Berapa biaya
penanganan persediaan?
4. Jenis transportasi apa yang diinginkan?
5. Berapa banyak gudang yang diperlukan dan sebaiknya
terletak dimana?

6. Berapa banyak setup produksi yang diperlukan? Dibagian


apa seharusnya barang diproduksi? Kapasitas produksi
optimal apa yang didasarkan atas alternative penggabungan
produk dan volume?
7. Alternatif pengemasan produk apa yang seharusnya
digunakan?

30
8. Sistem proses pemesanan apa yang seharusnya
diotomatisasikan?
9. Jaringan distribusi apa yang seharusnya digunakan?

Penetuan kontribusi produk didasarkan pada bagaimana


pengaruh pendapatan, biaya, dan laba bila produk diberikan
untuk dijual. Biaya-biaya yang tidak mempengaruhi dianggap
tidak mempengaruhi dianggap tidak berhubungan dengan
permasalahan diatas.
Contoh: Biaya yang relevan dengan biaya pergudangan dan
penjualan produk.
Biaya yang tidak relevan adalah biaya overhead dengan
armada truk pribadi.

Memecahkan Masalah Ketidak Cukupan Data Biaya


Salah satu kesulitan memperoleh biaya-biaya logistic
adalah penggabungannya pada satu seri account natural
daripada fungsinya. Account natural digunakan untuk
mengumpulkan biaya0biaya pada pembuatan lapran keuangan
berupa laporan laba rugi ( income statement ) dan neraca
(balance sheet) perusahaan. Contohnya, semua pembayaran gaji
digabungkan pada account gaji, yang lain termasuk biaya sewa,
depresi, penjualan, biaya umum, administrasi, dan biaya bunga.

31
Gambar: pengendalian aktivitas-aktivitas logistic

Standard

Budgets
Control over
Logistic cost can be
Accounplished by
Productivity
standard

Statistical process control

Dari gambar diatas terlihat bahwa kinerja logistic dapat


dikendalikan dengan:
1. Biaya-biaya standar.
2. Anggaran
3. Standar produktivitas
4. SPC

32
Metode lain untuk mengatasi masalah ketidakcukupan
data adalah system informasi manajemen terkomputerisasi,
activity based costing, dan system proses pesanan otomatisasi.

A. Biaya-biaya Standar dan Anggaran-anggaran Fleksibel


Standar dapat didefenisikan sebagai benchmark atau
norma untuk mengukur kinerja. Biaya-biaya adalah biaya-biaya
apa saja yang muncul bila perusahaan dioperasikan secara
efesien. Anggaran fleksibel sebagai alat pelengkap serangkaian
aktivitas.
Penggunaan biaya-biaya standar memerlukan peninjauan
ulang secara sistematis dari operasi logistic untuk menentukan
alat-alat yang paling efektif untuk mencapai output yang
diinginkan. Dalam hal ini, bagian accounting, logistic dan
eenginering harus bekerja sama menggunakan analisis regresi,
time and motion studies dan studi-studi yang efisien sehingga
serangkaian anggaran yang fleksibel dapat digunakan pada
tingkatan operasional yang beagam pada pusat biaya logistic
yang berbeda.
Keuntungan menggunakan biya-biaya standar adalah
manajemen dapat mengetahui biaya yang diperlukan untuk
pelaksanaan aktivitas-aktivitas tertentu dan dapat melakukan
perbandingan untuk menentukan apakah pelaksanaan efisien
atau tidak.

33
Prosedur
Investigation penggunaan standarPhilosophy
sebagai system kendali
intuition
manajemen.

Standar

Compare
Performance
Standar
=actual acceptable

End
Varience
analysis

Varienc
e Performance
significa Not acceptable
nt

End
Infestigate

Action
Performance
require
Not controllable
d

End
Take
proper action

34

Chnge process Revise standar


B. Praktik-praktik Anggaran
Penggunaan biaya-biaya standar kadang-kadang tidak
tepat karena hanya cocok untuk mengendalikan. Praktiknya ada
situasi dimana tugas-tugas sifatnya tidak berulang atau
pengukuran unit pekerjaan sulit dibuat. Untuk masalah ini,
praktik-praktik anggaran bisa diterapkan. Keberhasilan
pelaksanaannya tergantung pada apakah pola perilaku biaya
individu dapat diramalkan dan apakah anggaran dapat
disesuaikan untuk mencerminkan perubahan-perubahan dalam
situasi operasional.
Kebanyakan anggaran logistic sifatnya statis, oleh sebab
itu anggara-anggaran ini merupakan rencana yang digunakan
untuk keluaran. Bila aktivitas actual sama dengan aktivitas yang
dianggaran, manajemen dapat membuat perbandingan biaya
yang realistic dan membuat pengendalian efektif. Tapi hal ini
jarang dilakukan. Factor-faktor musiman atau internal
menuntun ketingkat aktivitas yang berbeda, efisiensi yang dapat
ditentukan hanya jika system yang tercatat dapat
membandingkan biaya actual dengan apa yang seharusnya
tercapai pada tingkat operasional.

35
Kunci keberhasilan pelaksanaan anggaran fleksibel
terletak pada analisis pola perilaku biaya. Pihak manajemen
akutansi dan teknik industri dapat menerapkan peralatan berupa
scatter diagram dan analisis regresi untuk menentukan
komponen fixed cost. Teknik ini menggunakan data biaya
terdahulu untuk menentukan nilai variable per unit aktivitas dan
komponen total fixed cost. Pengukuran biaya prediksi ini
bukanlah pengukuran atas biaya berapa seharusnya aktivitas
tersebut dihabiskan tetapi perkiraan berapa biaya yang
diperlukan berdasarkan hasil periode terdahulu

C. Standar-standar Produktivitas
Biaya-biaya logistic dapat dikendalikan dengan
menggunakan rasio-rasio produktivitas.
Pengukuran output
Produktivitas =───────────────
Pengukuran input

Contoh : operasional pergudangan menggunakan rasio


produktivitas sebagai berikut :
Jumlah pesanan yang dikirim periode ini
* ───────────────────────────
Jumlah pesanan yang diterima pada periode ini

Jumlah pesanan yang dikirim periode ini


* ─────────────────────────────
Rata-rata jumlah pesanan yang dikirim periode ini

Jumlah pesanan yang dikirim periode ini


* ──────────────────────────
Jumlah jan tenaga kerja langsung periode ini

36
Untuk rasio produktivitas transportasi termasuk:
Ton-miles yang dikirim
* ──────────────────
Total biaya transportasi actual
Stop served
* ──────────────────
Total biaya transportasi actual
Pengiriman ketujuan
* ───────────────────
Total biaya transportasi actual

Keuntungan pengukuran produktivitas:


1. Pengukuran produktivitas dinyatakan dengan unit fisik
dan actual mata uang yang hilang karena ketidak tepatan
dan prediksi biaya-biaya logistic mendatang tidak dapat
dibuat. Hal ini menyulitkan penyeimbangan harga
beberapa perubahan system yang akan mengakibatkan
produktivitas terkoreksi.
2. Perhitungan pengukuran produktivitas actual jarang
dilakukan dibandingkan standar produktivitas. Contoh,
pengukuran produktivitas mungkin membandingkan
jumlah pesanan yang dikirim periode ini dengan jumlah
tenaga kerja langsung yang dipakai saat ini, tetapi tidak
menunjukkan hubungan apa seharusnya. Tanpa
pengukuran tenaga kerja atau pembuatan beberapa format
estimasi biaya, tidak mungkin diketahui bahwa standar
produktivitas sudah efisien.

37
3. Perubahan keluaran pada kasus-kasus tertentu mungkin
mengubah pengukuran prduktivitas. Perubahan ini terjadi
karena elemen fixed dan variabel jarang dilukiskan.

D. SPC ( Statistical Process Control)


Keberhasilan logistic adalah pelayanan pelanggan
terlaksana dengan baik. Walaupun perusahaan banyak membuat
proporsi ukuran pengiriman tepat waktu atau rata-rata lamanya
siklus pesanan dari vendor tertentu, tetapi jarang menggunakan
teknik SPC.
SPC dapat dijadikan sebagai altaernatif bagi pihak
manajemen untuk mengendalikan proses. Melalui SPC,
cenderung ditekankan pada pemahaman variabilitas proses dari
pada membuat keputusan. Contoh, untuk menganalisa waktu
pengiriman dari beberapa vendor , harus diketahui waktu rata-
rata mulai dari diterima pesanan sampai penerimaan kiriman
dan kemungkinan variasi waktu pengiriman.

38
PURCHASING (PROCUREMENT)

PENDAHULUAN
Purchasing pada umumnya berhubungan pada pembelian aktual material dan
segala aktivitas yang berhubungan dengan proses pembelian baik secara hand to hand
maupun secara elektronik (e- procurement). Menurut Wikipedia e- procurement
adalah pembelian business to business (B2B) dan penjualan barang dan jasa melalui
internet maupun sistem –sistem imformasi dan jaringan lain, seperti Elektronik Data
Interchange (EDI) dan Enterfrise Resource Planing (ERP).

TUJUAN PURCHASING

1. Memberikan aliran material persedian dan pelayanan yang berkesinambungan


yang dibutuhkan untuk menjalankan organisasi.
2. Meminimalkan investasi persediaan dan kerugian.
3. menjaga dan memperbaiki kualitas.
4. Menemukan atau mengembangkan kemampuan supplie.
5. Menstandarisasi , dimana kemungkinan barang dibeli.
6. Pembelian barang yang diperlukan dan pelayanan pada tingkat biaya total
terendah.
7. Mengembangkan posisi organisasi yang kompetitif.

39
8. Mencapai keharmonisan hubungan kerja yang produktif dengan area
fungsional lainnya dalam organisasi.
9. Menyempurnakan sasaran pembelian pada kemungkinan tingkat biaya
terendah.

Peranan Strategi Purchasing ( The Strategic Role of Purchasing )


Purchasing dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan strategik organisasi
melalui salah satu perannya sebagai fungsi boundry spanning organisasi.

• Akses menuju pasar Ekternal (access to external Market )


Melalui kontak ekternal dengan pasar supply, purchasing dapat memperoleh
informasi mengenai teknologi baru, material baru dan pelayanan yang
berpotensial, sumber persediaan baru, dan perubahan kondisi dalam pasar
sehingga dapat merancang strategi organisasi untuk bersaing di pasaran
.
• Perkembangan supplier dan Manajemen Hubungan ( supplier develoment and
Relation ship Management)
Purchasing dapat membantu mendukung keberhasilan strategik organisasi
dengan pengidentifikasian dan pengembangan supplier yang baru maupun
yang telah ada. Melibatkan supplier sejak awal pengembangan produk dan
jasa baru atau modifikasi yang telah ada dapat mengurangi masa
pengembangan produk. Ide untuk menekan waktu ( yaitu mencapai pasar
secepatnya dengan ide-ide baru) sangat penting bagi kesuksesan ide-ide
tersebut dan mungkin juga bagi posisi-posisi di dalam organisasi, seperti
sebagai market leader atau innovator.

• Hubungan dengan fungsi lainnya ( Relationship to Other Functions).


Purchasing memberi kontribusi pada fungsi lainnya berupa keputusan penting
yang pada dasarnya juga mempengaruhi keputusan yang di buat di bagian
purchasing.misalnya dengan bagian logistik bekerja sama mengatur logistik
inbound dan aliran material.

Evaluasi dan Seleksi Supplier


proses buying sangat kompleks karena banyak aktor yang di pertimbangkan
untuk di putuskan kepada siapa kita membeli, prosesnya terdiri dari pembuata
keputusan dan pengaruh keputusan yang di satukan.

40
Proses evaluasi dan seleksi supplier ini meliputi 12 langkah yaitu :
1. Identifikasi kebutuhan
2. Membuat spesifikasi
3. Mencari alternatif
4. Membangun koneksi
5. Mengatur kriteria pembelian dan penggunaan.
6. Mengevaluasi alternatif aksi pembelian.
7. Anggaran yang tersedia
8. alternatif pembelian yang spesifik Mengevaluasi.
9. Bernegosiasi dengan supplier
10. Membeli evaluasi pasca pembelian ( postpurchase)
11. Menggunakan evaluasi pasca pembelian
12. Menyalurkan evaluasi pasca pembelian

Faktor –Faktor yang dipertimbangkan dalam memutuskan pembelian.


 Manajer purchasing dapat mempertimbangkan beberapa atau pun semua
faktor ini ketika memutuskan pembelian.
 Lead time ( tenggang waktu)
 Variabilitas lead time
 Persentase pengiriman tepat waktu
 Persentase persediaan stock.
 Penyesuaian dalam ordering/komunikasi
 Kemampuan untuk menjelajah
 Downtime yang disebabkan kesalahan vendor pengiriman sebagian atau
keterlambatan pengiriman.
 Daya tahan produk
 Mudah di pelihara dan mudah dioperasikan.
 Kegagalan produk yang disebabkan oleh kesalahan tempat atau meterial.
 Penolakan kualitas
 Spesifikasi teknik
 Penawaran jasa training/teknik
 Persaingan harga.
 Keyajinan dalam penjualan yang tepat
 Pengalaman masa lampau bersama vendor

41
 Keseluruhan reputasi vendor
 Syarat-syarat finansial
 Pelayanan penjualan pasca pembelian
 Fleksibelitas vendor dalam mengurus keperluan pembelian perusahaan
 Kemampuan desain/keahlian teknik.

Kategori produk yang bisa dibeli oleh perusahaan ada 6 yaitu :


1. Kemampuan produk
2. Bahan baku
3. Peralatan pendukung
4. Peralatan proses
5. Bahan untuk mendukung operasi
6. Jasa / Pelayanan

Situsi Pembelian
1. Situasi pesanan rutin ( Routine Order Situations ).
Meliputi situasi di mana produk telah dibeli beberapa kali sebelumnya dan
dimana pesanan rutin atau prosedur sudah umum.
2. Situasi masalah prosedural ( Procedural Problem Situations )
Meliputi pembelian yang tidak rutin dan karyawan perlu mempelajari
bagaimana cara menggunakan produk tersebut.
3. Situasi masalah kinerjanya ( Performance Problem Situations )
Meliputi pembelian produk nonrutin yang dirancang untuk menggantikan
produk sekarang tetapi harus diuji kinerjanya terlebih dahulu.
4. Situasi masalah politik (Political Problem Situations )
Meliputi pembelian produk nonrutin yang memiliki kegunaan untuk
mempengaruhi banyak departemen pada perusahaan. Derngan demikian,
sejumlah individu di perusahaan akan terlihat dalam proses pengambilan
keputusan.

Untuk menentukan pengaruh kinerja suplier pada produktifitas kerja, kinerja


seharusnya diukur dan dievaluasi. Kemudian data tersebut dapat digunakan untuk
menentukan dengan suplier mana perusahaan akan membangun hubungan jangka

42
panjang, mengidentifikasi masalah yang memrlukan tindakan korektif dan menyadari
perbaikan produktivitas.
Aktivitas purchasing dapat berpengaruh positif pada keuntungan perusahaan.
Tidak hanya pengurangan biaya material yang meningkatkan margin keuntungan
setiap unit yang dihasilkan dan dijual, tetapi biaya rendah yang berhubungan dengan
material yang dibeli juga akan mengurangi investasi pada persediaan. Pelayanan
logistik yang lebih baik oleh suplier juga akan menghasilkan persediaan yang lebih
rendah dalam unit yang dibutuhkan dengan demikian dolar terinvestasi. Sebagai
tambahan perkembangan jasa pelanggan dimumgkinkan karena proses produksi dapat
beroperasi dengan lancar, tanpa slowdown maupun shutdown. Perkembangan jasa
tersebut dapat menghasilkan unit penjualan yang lebih tinggi dan dalam beberapa
kasus harga juga lebih tinggi. Dan bila manajemen penjualan terus-menerus
memaksakan penambahan material berkualitas tinggi kemungkinan akan terjadi retur
terhadap barang jadi karena kegagalan produk.

KESIMPULAN
mengenai purchasing(procurement) pada lembaran lembaran sebelumnya,
kita dapat mengetahui bagai mana cara kita atau perusahaan untuk melakukan suatu
pembelian yang mana sebelum dilakukan pembelian tersebut kita harus mengetahui
faktor dan situasi pembelian. Oleh karena itu purchasing ini sangat berperan di suatu
perusahaan dan perperan dalam management logistik ini.

ACTIVITY BASED COSTING


PADA PELAYANAN KESEHATAN

• Activity Based Costing System (Sistem ABC) merupakan suatu sistem analisis
biaya yang berbasiskan pada aktivitas. Sistem ini dapat digunakan pada proses
pengambilan keputusan baik yang sifatnya stratejik maupun yang sifatnya
operasional. Pada sistem ABC, analisis biaya dilakukan pada seluruh biaya
yang terjadi pada organisasi. Sistem ABC juga berfungsi sebagai sistem
informasi biaya yang dapat diperuntukkan bagi segala jenis organisasi baik
manufaktur, jasa, perdagangan, organisasi publik maupun organisasi laba.
• Pada sistem ABC, aktivitas merupakan titik pusat dari kegiatan. Informasi
mengenai aktivitas, dicatat, diukur dan disediakan di dalam data dasar.

43
Aktivitas dapat terjadi pada berbagai organisasi, termasuk organisasi publik.
Oleh karena itu sistem ABC dapat diterapkan pada berbagai organisasi
termasuk organisasi publik. Sistem ABC tidak hanya terfokus pada
perhitungan satuan biaya jasa ataupun produk tetapi memiliki cakupan yang
lebih luas yaitu pengurangan biaya yang diperoleh dari pengelolaan aktivitas.
Pengelolaan aktivitas akan sejalan dengan pengendalian biaya. Pengurangan
biaya pada sistem ABC dapat dilakukan terhadap seluruh biaya yang terjadi,
baik pada bagian awal aktivitas, proses produksi maupun pada tahap akhir
dari suatu rangkaian aktivitas.

A. FALSAFAH SISTEM ABC


• Fokus utama pada sistem ABC adalah pada aktivitas yang terjadi. Setiap
aktivitas akan menimbulkan biaya dan biaya yang terjadi dapat dikelola
melalui pengelolaan aktivitas. Pada sistem ini selalu terdapat hubungan kausal
antara pemicu biaya dengan aktivitas. Sistem ABC merupakan sistem
informasi biaya berdasarkan padaaktivitas yang terjadi dan mmemasukan
komponen konsumen kedalam model sistem imformasi biaya.
• setiap anggota Sistem ABC merupakan sistem informasi biaya yang
menyediakan informasi lengkap tentang aktivitas yang terjadi pada seluruh
pelayanan yang diselenggarakan sehingga memungkinkan organisasi
melakukan pengelolaan aktivitas. Dengan dilakukan pengelolaan aktivitas
maka perbaikan (improvement) terhadap aktivitas yang dirasakan kurang baik
dapat segera dilakukan. Hal tersebut mengakibatkan mutu layanan terhadap
konsumen akan semakin meningkat dan terjadi efisiensi biaya untuk
menghasilkan layanan kesehatan tersebut.
• Jadi hal penting yang perlu diingat pada sistem ABC adalah kemampuan
sistem ini untuk menyediakan informasi yang berkaitan dengan aktivitas.
• Berkaitan dengan informasi yang diberikan pada sistem ABC, maka
pengolahan data pada sistem ABC terdiri dari dua tahapan. Berdasarkan
gambar 1.1. maka tahap pertama adalah pembebanan sumber daya kepada
aktivitas (activity based process costing) dan pembebanan biaya aktivitas
terhadap obyek biaya (activity based object costing). Sumber daya
diklasifikasikan berdasarkan sifat pengeluarannya seperti biaya personel,
biaya listrik, biaya bahan habis pakai, dan bukan diklasifikasikan sebagai
biaya pemasaran, biaya produksi yang umumnya digunakan. Hal yang sama
juga diterapkan pada aktivitas. Aktivitas diklasifikasikan berdasarkan:

44
• Aktivitas yang berkaitan langsung dengan penyediaan layanan kesehatan bagi
konsumen yang membutuhkan (result producing activities). Sebagai contoh:
aktivitas pelayanan rawat jalan, pelayanan keluhan pasien
• Aktivitas yang mendukung secara langsung pada result producing activities.
Sebagai inap contoh: aktivitas pelayanan gizi bagi pasien rawat
• Aktivitas jasa yang terdapat pada organisasi yang memberikan layanan bagi
unit-unit result producing activities. Sebagai contoh: aktivitas pemeliharaan
sarana listrik, aktivitas pengelolaan keuangan, aktivitas pengelolaan sumber
daya manusia.

B. TAHAPAN PERHITUNGAN UNIT COST PAKETPELAYANAN


• institusi pelayanan kesehatan tidak mendukung tetapi dengan melakukan
modifikasi dan asumsi-asumsi maka perhitungan unit cost dengan
menggunakan sistem ABC dapat dilakukan. Beberapa kesulitan dalam
menerapka sistem ABC pada manajemen pelayanan kesehatan adalah begitu
banyaknya jenis pelayanan kesehatan yang diselenggarakan oleh satu institusi
pelayanan kesehatan dan setiap jenis pelayanan kesehatan tersebut memiliki
berbagai aktivitas. Untuk mengatasi kesulitan tersebut peranan Standar
Operasional Prosedur untuk setiap jenis pelayanan yang diselenggarakan
sangatlah penting. Peranan Komite Medik sangat penting dalam
mengembangkan Standar Operasional Prosedur ini.

Unit cost pelayanan kesehatan yang dihasilkan merupakan salah satu aspek yang
menjadi pertimbangan dalam menentukan tarif paket pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan oleh Balai Kesehatan.

C. Adapun tahapan perhitungan unit cost paket pelayanan tersebut adalah:


1. identifikasi aktivitas
2. organisasikan aktivitas ke dalam pusat biaya
3. identifikasi biaya elemen utama
4. analisis hubungan antara aktivitas dengan biaya
5. identifikasi pemicu biaya
D. Identifikasi aktivitas
• Yang dimaksud dengan identifikasi aktivitas pada tahap ini adalah melakukan
pemetaan terhadap berbagai aktivitas yang dilaksanakan oleh Balai Kesehatan
untuk menghasilkan layanan kesehatan bagi konsumen / pasien. Tahapan ini

45
penting dilakukan karena tahapan ini akan menghasilkan informasi secara
rinci mengenai berbagai proses yang terjadi di dalam Balai Kesehatan untuk
menghasilkan layanan kesehatan.
• Berbagai proses yang teridentifikasi selanjutnya dirinci menjadi beberapa sub
proses dan setiap sub proses dirinci kembali menjadi berbagai aktivitas.
Identifikasi proses dilakukan mulai dari proses yang terjadi pada tingkat
pimpinan sampai dengan identifikasi proses di tingkat pelayanan langsung
kepada pasien,
• termasuk juga identifikasi pelayanan luar gedung bila memang layanan ini
dilaksanakan oleh Balai Kesehatan

E. Analisis Hubungan antara Aktivitas dengan Biaya


• Tahap ini merupakan salah satu tahapan yang penting karena penilaian
hubungan aktivitas dengan biaya menjadi salah satu dasar pertimbangan untuk
melakukan pembebanan biaya kepada aktivitas. Untuk dapat mengetahui
biaya satuan satu jenis pelayanan kesehatan sesuai dengan falsafah utama
pada sistem ABC maka terdapat dua tahapan pembebanan yaitu:
- Pembebanan biaya sumber daya kepada aktivitas
- Pembebanan biaya pada aktivitas kepada jenis pelayanan kesehatan yang
diselenggarakan oleh balai kesehatan yang diterima oleh konsumen/pasien.
• Pembebanan biaya merupakan tahap akhir dari perhitungan satuan biaya
pelayanan setelah diketahui pemicu biaya untuk setiap aktivitas yang
menyebabkan terjadinya biaya.
• Pada tahap analisis ini dilakukan pemilahan biaya untuk setiap sumber daya
dan setiap biaya yang dipilah, ditelusuri pusat biayanya. Untuk dapat
melakukan tahap ini terlebih dahulu digambarkan hubungan antara aktivitas
dengan biaya sumber daya dan antara aktivitas dengan jenis pelayanan
kesehatan yang diterima oleh pasien, seperti terlihat pada gambar di bawah
ini:
• Contoh Skema Pengolahan Data Untuk Pembebanan Sumber Daya kepada
Aktivitas dan Pembebanan Aktivitas Kepada Layanan Kesehatan yang
diselenggarakan oleh Institusi Kesehatan.
• Berikut contoh hubungan antara pusat biaya dengan biaya yang terjadi untuk
menyelenggarakan pelayanan medis di Balai Kesehatan:
• Setelah dilakukan pembebanan setiap kelompok biaya pada jenis pelayanan
kesehatan yang akan dihitung satuan biayanya maka penjumlahan dari setiap

46
aktivitas berdasarkan kelompok biayanya akan menghasilkan satuan biaya
untuk satu jenis pelayanan kesehatan. Pada tahap akhir dari perhitungan
satuan biaya ini jangan lupa menambahkan biaya langsung yang dikonsumsi
oleh pasien berupa alat dan bahan habis pakai yang digunakan secara individu
dan dapat diukur penggunaannya secara langsung, seperti obat-obatan.

DAFTAR PUSTAKA

Chase, Richard B., Thomas J Aquilano, Production and Operations Management, A


Life Cycle Approach, Homewood, Illionis

Murdick, G Robert, Barry Render, Roberta S Russell, Service Operation


Management, Allyn and Bacon, Massachusetts

Krajewski, Lee J., Operation Management, Srtategy and Analysis,


sixth edition, Prentice-Hall International, Inc., New Jersey.

Render, Barrry , Jay Heizer, Operation Management, Pearson Education Inc.,


New Jersey.

Manajemen Logistik 1, Donald J. Bowersox - Tahun 1978


Manajemen Logistik 2, Donald J. Bowersox - Tahun 1978
Manajemen Logistik, sumber Internet

47