Anda di halaman 1dari 52

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kelapa sawit bukanlah tanaman asli Indonesia namun dapat hadir, tumbuh,
dan berkembang dengan baik di wilayah Indonesia. Kelapa sawit mempunyai
produk olahan (out put) berupa minyak sawit yang menjadi salah satu komoditas
perkebunan yang handal. Minyak sawit mempunyai pangsa pasar yang besar baik
di dalam maupun luar negeri.
Di samping itu, melihat perkembangan harga minyak sawit di pasaran
internasional yang cenderung membaik, industri minyak sawit akan menjadi
andalan devisa pada masa yang akan datang. Untuk bisa bersaing di pasar global,
perkembangan dan persyaratan perdagangan internasional perlu diantisipasi.
Industri minyak kelapa sawit nasional juga mengalami perkembangan yang
menggembirakan. Telah terbukti dalam 24 tahun terakhir (1985-2009),
pertambahan kebun kelapa sawit mencapai 5 juta hektar atau meningkat 837
persen, dan hal itu juga dibuktikan oleh kontribusi minyak kelapa sawit terhadap
ekspor nasional yang mencapai enam persen.
Selama tahun 2005 hingga sekarang, minyak sawit telah menjadi produk
minyak makan terbesar di dunia. Konsumsi minyak sawit dunia mencapai 26
persen dari total konsumsi minyak makan dunia.
Minyak sawit atau yang dikenal dengan Crude Palm Oil (CPO) merupakan
minyak nabati berwarna jingga kemerah-merahan yang diperoleh dari proses
ekstraksi daging buah tanaman Elaeis guinneensis (kelapa sawit). Pada umumnya,
varietas yang digunakan adalah varietas tenera yang mempunyai cangkang yang
tipis dan daging buah yang tebal. Proses tahapan ekstraksi minyak sawit ini
meliputi tahapan perebusan, perontokan buah dari tandan, pengolahan minyak
dari daging buah, dan pemurnian.
Dalam perkembangannya, persaingan perusahaan-perusahaan produsen
minyak kelapa sawit mendorong pada pengendalian mutu minyak sawit. Analisa

1
mutu minyak kelapa sawit mentah (CPO) diperlukan untuk menyamakan standar
mutu minyak sawit yang diproduksi di Indonesia dengan standar mutu minyak
sawit yang diproduksi dunia internsional. Oleh karena itu, minyak sawit harus
diproduksi dengan standar mutu yang tepat sehingga mampu bersaing di pasaran
dunia.

1.2 Rumusan Praktikum


Pada dasarnya, yang menjadi pokok permasalahan adalah
1. Bagaimanakah sifat fisik dari minyak sawit (CPO) yang dijadikan
sampel uji ?
2. Bagaimanakah warna, kadar air, dan kadar asam lemak bebas pada
sampel yang di uji?
3. Pada penentuan bilangan penyabunan, bagaimanakah hasil yang
diperoleh dari percobaan tersebut?

1.3 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan praktikum yang dilakukan, antara lain:
1. Melakukan pengujian fisik dan kimia minyak kelapa sawit.
2. Menentukan sifat-sifat fisik dan kimia minyak kelapa sawit dalam
berbagai kondisi.
3. Menentukan persentase asam lemak bebas (FFA) dalam sampel.
4. Menentukan angka atau bilangan penyabunan pada sampel.

1.4 Manfaat Praktikum


Adapun manfaat praktikum yang dilakukan, antara lain:
1. Dengan adanya praktikum ini mahasiswa mampu melakukan
pengujian terhadap sifat fisik minyak kelapa sawit (CPO).
2. Mahasiswa mampu melakukan pengujian terhadap sifat kimia pada
minyak kelapa sawit (CPO).
3. Mahasiswa mampu mengukur kadar asam lemak pada sampel.
4. Mahasiswa mampu menentukan angka penyabunan pada sampel.

2
BAB II
LANDASAN TEORI

2.1 Minyak
Lemak dan minyak merupakan senyawa organik yang penting bagi
kehidupan makhluk hidup.
Lemak dan minyak merupakan salah satu kelompok yang termasuk
golongan lipida. Salah satu sifat yang khas dan mencirikan golongan lipida adalah
daya larutnya dalam pelarut organik (misalnya ether, benzene, chloroform) atau
sebaliknya ketidak-larutannya dalam pelarut air.
Kelompok lipida dapat dibedakan berdasarkan polaritasnya atau berdasarkan
struktur kimia tertentu.
a. Kelompok Trigliserida ( lemak,minyak,asam lemak dan lain-lain ).
b. Kelomok turunan asam lemak ( lilin,aldehid asam lemak dan lain-lain ).
c. Fosfolipida dan serebrosida ( termasuk glikolipida ).
d. Sterol-sterol dan steroida.
e. Karotenoida.
f. Kelompok lipida lain.
Trigliserida merupakan kelompok lipida yang paling banyak dalam jaringan
hewan dan tumbuhan. Trigliserida dalam tubuh manusia bervariasi jumlahnya
tergantung dari tingkat kegemukan seseorang dan dapat mencapai beberapa
kilogram.
Fosfolipida, glikolipida, sterol dan steroida terdapat dalam jaringan hewan
dan tumbuhan dalam jumlah yang lebih sedikit dari pada trigliserida. Dalam tubuh
manusia, kelompok ini hanya merupakan beberapa persen saja dari bahan lipida
seluruhnya.
Karotenoida dalam tubuh manusia lebih sedikit lagi jumlahnya, biasanya
dalam seluruh tubuh manusia hanya terdapat kurang dari 1 gram. Dalam jaringan
tanaman, karotenoida terdapat dalam jumlah lebih banyak.

3
Secara Dentitif, lipida diartikan sebagai semua bahan organik yang dapat
larut dalam pelarut organik yang mempunyai kecenderungan nonpolar.
Lemak dan minyak atau secara kimiawi adalah trigliserida merupakan
bagian terbesar dari kelompok lipida. Trigliserida ini merupakan senyawa hasil
kondensasi satu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak.

CH2 – O – C – R1
O CH2 – OH O

3 R– O – C – H CH – OH CH – O – C – R2 + 3H20
+
O
CH2 – OH
CH2 – O – C – R3

TRIGLISERIDA AIR
ASAM LEMAK GLISEROL (cpo)

Gambar 2.1 Reaksi kimia asam lemak dengan gliserol

Secara umum lemak diartikan sebagai trigliserida yang dalam kondisi suhu
ruang berada dalam keadaan padat. Sedangkan minyak adalah trigliserida yang
dalam suhu ruang berbentuk cair. Secara lebih pasti tidak ada batasan yang jelas
untuk membedakan minyak dan lemak.
Reaksi dan sifat kimia pada minyak atau lemak:
1. Esterifikasi
Proses Esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari
trigliserida, menjadi bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan
melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi atau penukaran estar yang
didasarkan pada prinsip trans-esterifikasi Fiedel-Craft.
2. Hidrolisa
Dalam reaksi hidrolisa, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-
asam lemak bebas dan gliserol, proses ini dibantu adanya asam, alkali, uap
air, panas, dan eznim lipolitik seperti lipase. Reaksi hidrolisis
mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak yaitu “hydrolytic rancidity”
yaitu terjadi flavor dan rasa tengik pada lemak atau minyak. Hal ini terjadi
karena terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut.

4
O

CH2 – O – C – R1
CH2 – OH
O O

CH – O – C – R2 + 3H20 CH – OH 3 R– O – C– H
O
CH2 – OH
CH2 – O – C – R3

T RIGLISER IDA AIR ASAM LEMAK


GLISER OL
(cpo)

Gambar 2.2 Reaksi Hidrolisa pada trigliserida

3. Penyabunan
Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada
trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap, lapisan air yang mengandung
gliserol dipisahkan dan kemudian gliserol dipulihkan dengan penyulingan.
4. Enzimatis
Enzim yang dapat menguraikan lemak atau minyak dan akan
menyebabkan minyak tersebut menjadi tengik, ketengikan itu disebut
“Enzimatic rancidity” Lipase yang bekerja memecah lemak menjadi
gliserol dan asam lemak serta menyebabkan minyak berwarna gelap.
Enzim peroksida membantu proses oksidasi minyak sehingga
menghasilkan keton.

Gambar 2.3 Reaksi Enzimatis

5. Oksidasi
Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen
dengan lemak atau minyak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan

5
mengakibatkan bau tengik kepada minyak atau lemak “Oxidative
rancidity”.
6. Hidrogenasi
Proses Hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai dari
karbon asam lemak pada lemak atau minyak. Setelah proses Hidrogenasi
selesai, minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan
penyaringan. Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras,
tergantung pada derajat kejenuhan.

Sifat fisika lemak dan minyak :


1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil- amin
dari lecitin
2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatur
kamar
3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia
dan untuk pengujian kemurnian minyak.
4. Minyak atau lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (Coaster oil),
sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter, karbon
disulfide dan pelarut halogen.
5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang
rantai karbon.
6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami juga terjadi
karena asam-asam yang berantai sangat pendek sebagai hasil penguraian
pada kerusakan minyak atau lemak
7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak
atau minyak dengan pelarut lemak
8. Titik lunak dari lemak atau minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan
minyak atau lemak
9. Shot Melting point adalah temperatur pertama saat terjadi tetesan pertama
dari minyak/lemak.

6
10. Slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta
pengaruh kehadiran komponen-komponennya.
Senyawa lemak dan minyak merupakan senyawa alam penting yang dapat
dipelajari secara lebih dalam dan relatif lebih mudah bila dibandingkan dengan
senyawa makro nutrien lain. Kemudahan tersebut diakibatkan oleh:
1. molekul lemak relatif lebih kecil dan kurang kompleks dibandingkan
karbohidrat atau protein.
2. molekul lemak dapat disintesis di laboratorium menurut kebutuhan.
Analisis lemak dan minyak yang umum dilakukan ,dapat digolongkan dalam
tiga kelompok tujuan berikut:
1. Penentuan kuantitatif atau penentuan kadar lemak yang terdapat dalam
bahan makanan atau pertanian.
2. Penentuan kualitas minyak (murni) sebagai bahan makanan yang berkaitan
dengan proses ekstraksinya, atau ada tidaknya perlakuan pemurnian
lanjutan misalnya penjernihan, penghilangan bau, penghilangan warna dan
sebagainya.
3. Penentuan sifat fisis maupun kimiawi yang khas atau mencirikan sifat
minyak tertentu.
Ekstraksi merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar lemak dalam
suatu bahan. Sebagai senyawa hidrokarbon, lemak dan minyak pada umumya
tidak larut air tatapi dalam pelarut organik.
Penentuan kadar lemak dengan pelarut, selain lemak juga terikut fosfolipida,
sterol, asam lemak bebas, karotenoid, dan pigmen lain. Karena itu hasil analisanya
disebut lemak kasar (crude fat).
Ada dua cara penentuan kadar lemak berdasarkan jenis bahan
1. Bahan Kering
Ekstraksi lemak dari bahan kering dapat dilakukan terputus-putus atau
berkesinambungan. Ekstraksi secara terputus dilakukan dengan soklet.
Sedangkan secara berkesinambungan dengan alat goldfish.

7
2. Bahan Cair
Penentuan kadar lemak dari bahan cair dapat menggunakan botol Babcock
atau dengan Mojoinner.

Jenis Minyak dan lemak dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan sifat-
sifatnya. Pengujian sifat-sifat minyak tersebut salah satunya adalah penentuan
angka penyabunan dan penentuan angka asam.
Angka penyabunan dapat diartikan sebagai banyaknya (mg) KOH yang
dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram asam lemak atau minyak. Angka
penyabunan sendiri dapat dipergunakan untuk menentukan berat molekul minyak
secara kasar. Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai C pendek berarti
mempunyai berat molekul relatif kecil akan mempunyai angka penyabunan yang
besar dan sebaliknya minyak dengan berat molekul besar mempunyai angka
penyabunan relatif kecil.
Angka asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH atau NaOH yang
diperlukan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam satu gram
minyak atau lemak.
Angka asam besar menunjukan asam lemak bebas yang besar yang berasal
dari hidrolisis minyak atupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Makin
tinggi angka asam makin rendah kualitasnya.

2.2 Kelapa Sawit


Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak
masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunannya
menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama
dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak
kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia. Di Indonesia penyebarannya di daerah
Aceh, pantai timur Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.

Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Akar


serabut tanaman kelapa sawit mengarah ke bawah dan samping. Selain itu juga

8
terdapat beberapa akar napas yang tumbuh mengarah ke samping atas untuk
mendapatkan tambahan aerasi.

Seperti jenis palma lainnya, daunnya tersusun majemuk menyirip. Daun


berwarna hijau tua dan pelepah berwarna sedikit lebih muda. Penampilannya agak
mirip dengan tanaman salak, hanya saja dengan duri yang tidak terlalu keras dan
tajam. Batang tanaman diselimuti bekas pelepah hingga umur 12 tahun. Setelah
umur 12 tahun pelapah yang mengering akan terlepas sehingga penampilan
menjadi mirip dengan kelapa.

Bunga jantan dan betina terpisah namun berada pada satu pohon
(monoecious diclin) dan memiliki waktu pematangan berbeda sehingga sangat
jarang terjadi penyerbukan sendiri. Bunga jantan memiliki bentuk lancip dan
panjang sementara bunga betina terlihat lebih besar dan mekar.

Tanaman sawit dengan tipe cangkang pisifera bersifat female steril sehingga
sangat jarang menghasilkan tandan buah dan dalam produksi benih unggul
digunakan sebagai tetua jantan. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari
hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol
dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah.
Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase
matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan
buah akan rontok dengan sendirinya.

Buah terdiri dari tiga lapisan:

• Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.


• Mesoskarp, serabut buah
• Endoskarp, cangkang pelindung inti

Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan
embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.

9
Kelapa sawit berkembang biak dengan cara generatif. Buah sawit matang
pada kondisi tertentu embrionya akan berkecambah menghasilkan tunas (plumula)
dan bakal akar (radikula). Gambar kelapa sawit dapat dilihat dibawah ini.

Gambar 2.4 Kelapa sawit

2.2.1 Syarat Hidup

Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan
baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di
ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit
membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu
daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau.
Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi
buah sawit.

2.2.2 Tipe Kelapa Sawit

Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E.
oleifera. Jenis pertama adalah yang pertama kali dan terluas dibudidayakan orang.

10
E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman
sumber daya genetik.

Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan


cangkang, yang terdiri dari

• Dura,
• Pisifera, dan
• Tenera.

Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga


dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya
besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya
tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang
menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan
Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-
masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap
fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai
90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%. Untuk
pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.

2.3 Minyak Kelapa Sawit

Minyak kelapa sawit diperoleh dari pengolahan buah kelapa sawit (Elaeis
guinensis JACQ}. Secara garis besar buah kelapa sawit terdiri dari serabut buah
(pericarp) dan inti (kernel). Serabut buah kelapa sawit terdiri dari tiga lapis yaitu
lapisan luar atau kulit buah yang diseb but pericarp, lapisan sebelah dalam disebut
mesocarp atau pulp dan lapisan paling dalam disebut endocarp. Inti kelapa sawit
terdiri dari lapisan kulit biji (testa), endosperm dan embrio. Mesocarp
mengandung kadar minyak rata-rata sebanyak 56%, inti (kernel) mengandung
minyak sebesar 44%, dan endocarp tidak mengandung minyak (6).

11
Minyak kelapa sawit seperti umumnya minyak nabati lainnya adalah
merupakan senyawa yang tidak larut dalam air, sedangkan komponen
penyusunnya yang utama adalah trigliserida dan nontrigliserida (7). Minyak
kelapa sawit sebagian besarnya tumbuh berasal alamiah untuk tocotrienol, bagian
dari vitamin E. Minyak kelapa sawit didalamnya banyak mengandung vitamin K
dan magnesium. Napalm namanya berasal dari naphthenic acid, palmitic acid dan
pyrotechnics atau hanya dari cara pemakaian nafta dan minyak kelapa sawit.

2.3.1 Trigliserida dalam Minyak Sawit

Seperti halnya lemak dan minyak lainnya, minyak kelapa sawit terdiri atas
trigliserida yang merupakan ester dari gliserol dengan tiga molekul asam lemak
menurut reaksi sebagai berikut ( Gambar 2.1 ). Bila R, = RZ = R3 atau ketiga
asam lemak penyusunnya Sama maka trigliserida ini disebut trigliserida
sederhana, dan apabila salah satu atau lebih asam lemak penyusunnya tidak sama
maka disebut trigliserida campuran.

Asam lemak merupakan rantai hidrokarbon; yang setiap atom karbonnya


mengikat satu atau dua atom hidrogen ; kecuali atom karbon terminal mengikat
tiga atom hidrogen, sedangkan atom karbon terminal lainnya mengikat gugus
karboksil. Asam lemak yang pada rantai hidrokarbonnya terdapat ikatan rangkap
disebut asam lemak tidak jenuh, dan apabila tidak terdapat ikatan rangkap pada
rantai hidrokarbonnya karbonnya disebut dengan asam lemak jenuh. Secara umum
struktur asam lemak dapat digambarkan sebagai berikut.

H3C – CH2 – CH2 – CH2 …. – CH2 - COOH H3C – …. – CH2 – CH = CH – COOH


ASAM LEMAK JENUH ASAM LEMAK TAK JENUH

Gambar 2.5 Struktur kimia 2 jenis asam lemak

12
Makin jenuh molekul asam lemak dalam molekul trigliserida, makin tinggi titik
beku atau titik cair minyak tersebut .Sehingga pada suhu kamar biasanya berada
pada fase padat. Sebaliknya semakin tidak jenuh asam lemak dalam molekul
trigliserida maka makin rendah titik helm atau titik.cair minyak tersebut sehingga
pada suhu kamar berada pada fase cair. Minyak kelapa Sawit adalah lemak semi
padat yang mempunyai komposisi yang tetap.

Berikut ini adalah tabel dari komposisi trigliserida dan tabel komposisi asam
lemak dari minyak kelapa sawit.

tabel. 2.1 Komposisi Trigliserida dalam minyak kelapa sawit

Tabel 2.2 komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit.

Tabel 2.3 komposisi asam lemak dan rumus kimia-nya

13
2.3.2 Senyawa Non Trigliserida Pada Minyak Kelapa Sawit.
Selain trigliserida masih terdapat senyawa non trigliserida dalam jumlah
kecil (7). Yang termasuk senyawa non trigliserida ini antara lain : motibgliserida,
diglisrida, fosfatida, karbohidrat, turunan karbonidrat., protein, beberapa mesin
dan bahan-bahan berlendir atau getah (gum) serta zat-zat berwarna yang
memberikan warna serta rasa dan bau yang tidak diinginkan (5,6,9,10).
Dalam proses pemurnian dengan penambahan alkali (biasanya disebut
dengan proses penyabunan) beberapa senyawa non trigliserida ini dapat
dihilangkan, kecuali beberapa senyawa yang disebut dengan senyawa yang tak
tersabunkan seperti tercantum dalam tabel di bawah ini.

Tabel 2.4 Komposisi senyawa yang tak tersabunkan dalam minyak sawit

2.3.3 Warna dalam Minyak


Warna pada minyak kelapa sawit merupakan salah satu faktor yang
mendapat perhatian khusus, karena minyak kelapa sawit mengandung warna-

14
warna yang tidak disukai oleh konsumen. Menurut Ketaren. S, zat warna dalam
minyak kelapa sawit terdiri dari dua golongan yaitu :
1. Zat warna alamiah.
2. Zat warna dari hasil degradasi zat warna almiah.

2.3.3.1 Zat Warna Alamiah


Yang termasuk golongan zat warna alamiah, ini adalah zat warna yang
terdapat secara alamiah didalam kelapa Sawit, dan ikut terekstraksi bersama
minyak pada proses ekstraksi. Zat warna tersebut antara lain terdiri dari α-ka-
roten, β-karoten, xanthopil, kloropil dan antosianin. Zat- zat warna tersebut
menyebabkan minyak berwarna kuning, kuning kecoklatan, kehijau-hijauan dan
kemerah - merahan. Pigmen berwarna kuning disebabkan oleh karoten yang larut
didalam minyak. Karoten merupakan persenyawaan hidrokarbon tidak jenuh, dan
jika minyak dihidrogenasi, maka karoten tersebut juga berikut terhidrogenasi
sehingga intensitas warna kuning berkurang (6).
Karetonoid bersifat tidak stabil pada asam (5,9), dan suhu tinggi dan jika
minyak dialiri uap panas, maka Warna kuning akan hilang, dan karetonoid juga
bersifat asseptor proton (5).

2.3.3.2 Zat Warna Dari Hasil Degradasi Zat Warna Alamiah


Zat warna dari hasil degradasi ini berupa:
2.3.3.2.1 Warna Gelap
Warna gelap ini disebabkan oleh proses oksidasi terhadap tokoferol (vitamin
E). Jika minyak bersumber dari tanaman hijau, maka zat kloroifil yang berwarna
hijau turut terekstraksi bersama minyak, dan klorofil tersebut sulit dipisahkan dari
minyak.
Warna gelap ini dapat terjadi selama proses pengolahan dan penyimpanan,
yang disebabkan beberapa faktor yaitu :
1. Suhu pemanasan Yang terlalu tinggi pada waktu pengesan dengan cara
hidrolik atau ekspeller, sehingga sebahagian minyak teroksidasi. Disamping

15
itu minyak yang terdapat dalam suatu bahan dalam keadaan panas akan
mengekstraksi zat warna yang terdapat dalam bahan tersebut..
2. Pengapresan bahan yang mengandung minyak dengan tenan dan suhu yang
tinggi akan menghasilkan minyak dengan warna yang lebih gelap.
3. Ekstraksi minyak dengan menggunakan pelarut organik tertentu , misalnya
campuran pelarut petroleum - ben, zen akan menghasilkan minyak dengan.
warna lebih merah dibandingkan dengan minyak yang diekstraksi dengan
pelarut triklor etilen , benzol dan heksan.
4. Logam seperti Fe , Cu dan Mn akan menimbulkan warna- yang tidak
diingini dalam minyak.
5. Oksidasi terhadap fraksi tidak tersabunkan dalam minyak, terutama oksidasi
tokoperol dan ,chroman 5,6 qoinon menghasilkan warna kecoklat - coklatan.
2.3.3.2.2 Warna Coklat
Pigmen coklat biasanya hanya terdapat pada minyak yang berasal dari bahan
yang telah busuk atau memar. Hal ini dapat terjadi karena reaksi molekul karbohidrat
dengan gugus pereduksi seperti aldehid serta gugus amin dari molekul protein dan
yang disebabkan oleh karena aktivitas enzim-enzim seperti phenol oxidase,
poliphenol oxidase dan sebagainya (6).
2.3.3.2.3 Warna Kuning
Warna kuning selain disebabkan oleh adanya karoten yaitu zat warna
alamiah juga dapat terjadi akibat proes absorbsi dalam minyak tidak jenuh. Warna
ini timbul selama penyimpanan dan intensitas warna bervariasi dari kuning
sampai ungu kemerah merahan.
Umumnya warna yang timbul akibat degradasi zat warna alamiah amat sulit
dihilangkan, timbulnya warna ini dapat diindentifikasikan bahwa telah terjadi
kerusakan pada minyak (6,9). Maka untuk mencegah hal ini, pada proses
umumnya ditambahkan zat anti oksidan sedangkan minyak kelapa sawit itu
sendiri telah mengandung zat anti oksidan walaupun dalam jumlah sedikit.
Berikut ini adalah gambar minyak kelapa sawit (CPO) yang telah mengalami
proses pemurnian.

16
Gambar 2.6 Minyak Kelapa Sawit (CPO) yang telah dimurnikan menjadi RBDPO

2.3.4 Standart Mutu Minyak Kelapa Sawit Yang Siap


Dipasarkan
Analisa mutu minyak kelapa sawit mentah (CPO) diperlukan untuk
menyamakan standar mutu minyak kelapa sawit yang diproduksi di Indonesia
dengan standar mutu CPO internasional. Crude Palm Oil yang tidak memenuhi
standar mutu internasional akan sulit bersaing di pasaran dunia.
Tabel 2.5 Standar Mutu yang harus dipenuhi
No Kriteria uji Satuan Persyaratan Mutu
1 Warna - Jingga kemerah-merahan
2 Kadar air dan kotoran % fraksi massa 0,5 maks
3 Asam lemak bebas % fraksi massa 0,5 maks
(sebagai asam palmitat)
4 Bilangan yodium g Iod/100 g 50 – 55
Untuk menentukan apakah mutu minyak itu termasuk baik atau tidak
diperlukan standar mutu. Ada beberapa faktor yang menentukan standard mutu
yaitu: kandungan air dan kotoran dalam minyak kandungan Asam lemak bebas
(ALB), warna dan bilangan peroksida. Faktor lain yang mempengaruhi standar
mutu adalah titik cair kandungan gliserida, refining loss, plastisitas dan
supreadability, kejernihan kandungan logam berat dan bilangan penyabunan.
Standar mutu Special Prime Bleach (SPB ) dibandingkan dengan mutu ordinari
dapat dilihat dalam table di bawah ini.

17
Tabel 2.6 Standar Mutu SPB dan Ordinary

Akan tetapi secara umum, mutu minyak kelapa sawit dapat dibedakan
menjadi dua arti, pertama, benar‐benar murni dan tidak bercampur dengan minyak
nabati lain. Mutu minyak kelapa sawit tersebut dapat ditentukan dengan menilai
sifat‐sifat fisiknya, yaitu dengan mengukur titik lebur angka penyabunan dan
bilangan yodium. Kedua, pengertian mutu sawit berdasarkan ukuran. Dalam hal
ini syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar mutu internasional yang
meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga, peroksida, dan
ukuran pemucatan. Kebutuhan mutu minyak kelapa sawit yang digunakan sebagai
bahan baku industri pangan dan non pangan masing‐masing berbeda. Oleh karena
itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya harus lebih
diperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa sawit sangat ditentukan oleh
banyak faktor. Faktor‐faktor tersebut dapat langsung dari sifat induk pohonnya,
penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan.
Dari beberapa faktor yang berkaitan dengan standar mutu minyak sawit
tersebut, didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti di bawah ini :
a) Crude Palm Oil
b) Crude Palm Stearin
c) RBD Palm Oil
d) RBD Olein
e) RBD Stearin
f) Palm Kernel Oil
g) Palm Kernel Fatty Acid
h) Palm Kernel

18
i) Palm Kernel Expeller (PKE)
j) Palm Cooking Oil
k) Refined Palm Oil (RPO)
l) Refined Bleached Deodorised Olein (ROL)
m) Refined Bleached Deodorised Stearin (RPS)
n) Palm Kernel Pellet
o) Palm Kernel Shell Charcoal

Syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:


a) Kadar minyak minimum (%): 48; cara pengujian SP‐SMP‐13‐1975
b) Kadar air maksimum (%):8,5 ; cara pengujian SP‐SMP‐7‐1975
c) Kontaminasi maksimum (%):4,0; cara pengujian SP‐SMP‐31‐19975
d) Kadar inti pecah maksimum (%):15; cara pengujian SP‐SMP‐31‐1975
Dengan adanya standar mutu yang telah ditetapkan, maka diperlukan
pengujian sifat fisik maupun sifat kimia sampel di laboratorium. Oleh karena itu,
diperlukan pengujian-penguian berikut.
Pengujian yang diperlukan dalam menentukan sifat fisik CPO yaitu:
a) Penentuan warna
b) Penentuan kadar air
Pengujian yang diperlukan dalam menentukan sifat kimia CPO yaitu:
a) Penentuan kadar asam lemak bebas
b) Penentuan angka penyabunan

2.3.5 Pengujian Minyak Kelapa Sawit


Pengujian minyak kelapa sawit dilakukan dengan tujuan mengetahui apakah
starndar mutu pada sampel CPO telah sesuai dengan standar mutu yang telah
ditetapkan internasional. Pengujian ini dapat berupa pengujian bersifat fisik
maupun kimia. Pengujian yang dapat dilakukan yaitu penentuan warna, penentuan
kadar air, kadar asam lemak bebas, dan angka penyabunan.
2.3.5.1 Penentuan Warna

19
Penentuan warna merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui
sifat fisik sampel secara visualisasi maupun pengukuran menggunakan alat.
Penentuan warna dengan teknik visualisasi kasat mata dapat ditentukan dengan
cara memastikan apakah CPO tersebut berwarna jingga kemerah-merahan sesuai
dengan standarnya.
Untuk keperluan industri dan pemakaian secara umum, pengukuran warna
dilakukan dengan alat Lovibond–Tinto meter. Warna merah dan kuning dari
minyak kelapa sawit disesuaikan dengan gelas-gelas berwarna merah dan kuning
dari alat Lovibond, dengan sel 5,25 inci. Gelas-gelas berwarna merah dan kuning
distandarisasi dengan “The National Bureau of Standards dalam istilah skala
warna Priest Gibson "N”.
Kemajuan dalam industri minyak kelapa sawit mendorong industri
pembuatan alat Lovibond-Tintometer, sehingga lama-kelamaan timbul pembuatan
gelas-galas merah dan kuning dari alat Lovibond yang menyimpang sedikit demi
sedikit dari warna semula.Untuk menertibkan hal ini maka The Americans Oil
Chemist's Society (A.O.C.S), menyesuaikan warna gelas dari Lovibond-
Tintometer dengan warna yang di ukur oleh alat spektrofotometer.
Akan tetapi pada praktikum ini hanya menggunakan teknik visualisasi
dengan kasat mata terhadap sampel CPO.

2.3.5.2 Penentuan Kadar Air


Penentuan kadar air merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui
kadar air yang terkandung di dalam sampel CPO. Kadar air dihitung sebagai berat
yang hilang setelah contoh uji dipanaskan pada suhu 103 oC ± 2 oC selama 3 jam
atau 130 oC ± 2 oC selama 30 menit.
Kadar air dihitung berdasarkan rumus dibawah ini dan dinyatakan dalam 3
desimal.

% Kadar air =
( W1 - W2 )
..........................................................................
( W1 - W )
2.1

20
Keterangan:
W = berat wadah (g)
W1 = berat wadah dengan contoh / sampel (g)
W2 = berat wadah dengan sampel uji setelah dikeringkan (g)

2.3.5.3 Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas (FFA)


Bilangan asam / kadar asam adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas,
serta dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau dengan kata lain
kadar asam lemak bebas dihitung sebagai persentase berat (b/b) daro asam lemak
bebas yang terkandung dalam minyak sawit mentah (CPO) dimana berat molekul
asam lemak bebas tersebut dianggap sebesar 256 (sebagai asam palmitat).
Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH 0,1 M maupun
NaOH 0,1 M yang digunakan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat
dalam 1 gram minyak atau lemak.
Kadar asam lemak bebas pada minyak atau lemak hasil ekstraksi dapat
ditentukan dengan cara titrasi. Angka asam lemak bebas dinyatakan dalam %
asam lemak yang dianggap dominan pada sampel produk yang sedang dianalisis.
w ×1000
Normalitas KOH / NaOH = .......................................................
V1 × 204,2

2.2

Dimana :
w = berat kalium flatat (g)
V1 = volume larutan titar (pentiter) yang digunakan untuk normalitas (ml)
204,2 = berat equivalen kalium hifrogen flatat.

25,6 × N × V2
% FFA = ........................................................................... 2.3
W

Dimana :
V2 = volume larutan titar yang digunakan agar menjadi merah muda (ml)
N = normalitas larutan KOH / NaOH

21
W = berat contoh uji (g)
25,6 = konstanta untuk menghitung kadar asam lemak bebas sebagai asam
palmitat.

2.3.5.4 Penentuan Bilangan Penyabunan


Bilangan penyabunan adalah jumlah alkali yang dibutuhkan untuk
menyabunkan sejumlah contoh minyak. Bilangan penyabunan dinyatakan dalam
jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 gram minyak.
Biasanya bilangan penyabunan tergantung dari berat molekul. Minyak yang
memiliki berat molekul rendah akan mempunyai bilangan penyabunan lebih
tinggi dari minyak yang berat molekulnya tinggi.

Bilangan Penyabunan =
( A - B) × 28,05
......................................................
G
2.4

Dimana :
A = jumlah ml HCl 0,5 M untuk titrasi blanko
B = jumlah ml HCl 0,5 M untuk titrasi sampel
G = berat sampel (gr)
28,05 = ½ dari berat molekul KOH

2.4 Titrasi
Titrasi merupakan suatu metoda untuk menentukan kadar suatu zat dengan
menggunakan zat lain yang sudah dikethaui konsentrasinya. Titrasi biasanya
dibedakan berdasarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, sebagai
contoh bila melibatan reaksi asam basa maka disebut sebagai titrasi asam basa,
titrasi redoks untuk titrasi yang melibatkan reaksi reduksi oksidasi, titrasi

22
kompleksometri untuk titrasi yang melibatan pembentukan reaksi kompleks dan
lain sebagainya. (disini hanya dibahas tentang titrasi asam basa)
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya
diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui konsentrasinya
disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam “buret”. Baik titer
maupun titrant biasanya berupa larutan.

2.4.1 Prinsip Titrasi Asam Basa

Titrasi asam basa melibatkan asam maupun basa sebagai titer ataupun
titrant. Titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan. Kadar larutan asam
ditentukan dengan menggunakan larutan basa dan sebaliknya. Titrant
ditambahkan titer sedikit demi sedikit sampai mencapai keadaan ekuivalen
( artinya secara stoikiometri titrant dan titer tepat habis bereaksi). Keadaan ini
disebut sebagai “titik ekuivalen”. Pada saat titik ekuivalen ini maka proses titrasi
dihentikan, kemudian kita mencatat volume titer yang diperlukan untuk mencapai
keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titrant, volume dan
konsentrasi titer maka kita bisa menghitung kadar titrant.

2.4.2 Cara Mengetahui Titik Ekuivalen

Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam-basa.

1. Memakai pH meter untuk memonitor perubahan pH selama titrasi


dilakukan, kemudian membuat plot antara pH dengan volume titrant untuk
memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva titrasi tersebut adalah
“titik ekuivalent”.
2. Memakai indikator asam basa. Indikator ditambahkan pada titrant
sebelum proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah warna ketika
titik ekuivalen terjadi, pada saat inilah titrasi kita hentikan.

23
Pada umumnya cara kedua dipilih disebabkan kemudahan pengamatan, tidak
diperlukan alat tambahan, dan sangat praktis. Indikator yang dipakai dalam
titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan warnanya dipengaruhi oleh
pH. Penambahan indikator diusahakan sesedikit mungkin dan umumnya adalah
dua hingga tiga tetes. Untuk memperoleh ketepatan hasil titrasi maka titik akhir
titrasi dipilih sedekat mungkin dengan titik ekuivalen, hal ini dapat dilakukan
dengan memilih indikator yang tepat dan sesuai dengan titrasi yang akan
dilakukan. Keadaan dimana titrasi dihentikan dengan cara melihat perubahan
warna indikator disebut sebagai “titik akhir titrasi”.

2.4.3 Jenis-jenis Titrasi

Ada beberapa jenis titrasi yang dilakukan yaitu:


1. Asam kuat - Basa kuat
2. Asam kuat - Basa lemah
3. Asam lemah - Basa kuat
4. Asam kuat - Garam dari asam lemah
5. Basa kuat - Garam dari basa lemah

2.4.3.1 Titrasi Asam Kuat – Basa Kuat

Contoh :
Asam kuat = HCl
Basa kuat = NaOH

Persamaan Reaksi : HCl + NaOH → NaCl + H2O


Reaksi ionnya : H+ + OH- → H2O

24
Gambar 2.7 Kurva titrasi Asam kuat-basa kuat
2.4.3.2 Titrasi Asam Kuat – Basa Lemah

contoh :

- Asam kuat : HCl


- Basa lemah : NH4OH

Persamaan Reaksi :
HCl + NH4OH → NH4Cl + H2O
Reaksi ionnya :
H+ + NH4OH → H2O + NH4+

Gambar 2.8 Kurva Titrasi Asam Kuat-basa lemah

2.4.3.3 Titrasi Asam Lemah – Basa Kuat

contoh :

- Asam lemah : CH3COOH


- Basa kuat : NaOH

25
Persamaan Reaksi :
CH3COOH + NaOH → NaCH3COO + H2O
Reaksi ionnya :
H+ + OH- → H2O

Gambar 2.9 Kurva titrasi Asam lemah-Basa kuat

2.4.3.4 Titrasi Asam Kuat – Garam dari Asam Lemah

contoh :

- Asam kuat : HCl


- Garam dari asam lemah : NH4BO2

Persamaan Reaksi :
HCl + NH4BO2 → HBO2 + NH4Cl
Reaksi ionnya :
H+ + BO2- → HBO2

2.4.3.5 Titrasi Basa Kuat – Garam dari Basa Lemah

contoh :

- Basa kuat : NaOH


- Garam dari basa lemah : CH3COONH4

Persamaan Reaksi :
NaOH + CH3COONH4 → CH3COONa + NH4OH
Reaksi ionnya :
OH- + NH4- → NH4OH

26
2.4.4 Larutan Titar
Larutan titar merupakan larutan yang diketahui konsentrasinya dan digunakan
sebagai pentiter atau menetralkan larutan titran ke bentuk semula setelah
penambahan indikator. Larutan titar dapat berupa :
1. Larutan Natrium hidroksida / sodium hidroksida (NaOH) 0,1 M.
Untuk menghasilkan larutan ini dapat dilakukan dengan cara melarutkan
40 gram NaOH dalam 1 liter air suling atau menggunakan rumus dibawah
ini.

n = V ×M ........................................................................................
2.5

Dimana:
n = jumlah mol larutan (mol)
V = Volume larutan (L)
M = Konsentrasi larutan (mol/L)

G = n × Mr ....................................................................................
2.6

Dimana:
G = Massa senyawa (gr)
n = jumlah mol larutan (mol)
Mr = massa molekul relatif (gram/mol)

2. Larutan Kalium hidroksida / potasium hidroksida (KOH) 0,1 M

27
Untuk menghasilkan larutan ini dapat dilakukan dengan cara melarutkan
56 gram KOH dalam 1 liter air suling atau menggunakan rumus 2.5 dan
2.6.
3. Larutan Natrium hidroksida / sodium hidroksida (NaOH) 0,25 M
Untuk menghasilkan larutan ini dapat dilakukan dengan cara melarutkan
100 gram NaOH dalam 1 liter air suling atau menggunakan rumus 2.5 dan
2.6.
2.4.5 Indikator
Indikator asam basa adalah asam lemah atau basa lemah (senyawa organik)
yang dalam larutannya warna molekul-molekulnya berbeda dengan warna ion-
ionnya. Zat indikator dapat berupa asam atau basa yang larut, stabil, dan
menunjukkan perubahan warna yang kuat. Indikator asam-basa terletak pada titik
ekivalen dan ukuran dari pH. Indikator asam basa akan memiliki warna yang
berbeda dalam keadaan tak terionisasi dengan keadaan terionisasi. Sebagai contoh
untuk indikator phenolphthalein (pp) seperti diatas dalam keadaan tidak
terionisasi (dalam larutan asam) tidak akan berwarna (colorless) dan akan
berwarna merah keunguan dalam keadaan terionisasi (dalam larutan basa).
Indikator juga digunakan dalam menetukan titik akhir titrasi.
Titik akhir titrasi adalah keadaan dimana reaksi telah berjalan dengan
sempurna yang biasanya ditandai dengan pengamatan visual melalui perubahan
warna indikator. Indikator yang digunakan pada titrasi asam basa adalah asam
lemah atau basa lemah. Asam lemah dan basa lemah ini umumnya senyawa
organik yang memiliki ikatan rangkap terkonjugasi yang mengkontribusi
perubahan warna pada indikator tersebut. Jumlah indikator yang ditambahkan
kedalam larutan yang akan dititrasi harus sesedikit mungkin, sehingga indikator
tidak mempengaruhi pH larutan dengan demikian jumlah titran yang diperlukan
untuk terjadi perubahan warna juga seminimal mungkin. Umumnya dua atau tiga
tetes larutan indikator 0.1%(b/v) diperlukan untuk keperluan titrasi. Dua tetes (0.1
mL) indikator (0.1% dengan berat formula 100) adalah sama dengan 0.01 ml.
Larutan titran dengan konsentrasi 0.1M

28
Jika perubahan warna pada TAT tidak tajam, dapat digunakan campuran dua
indikator atau gunakan campuran indikator + zat warna background, sehingga
menghasilkan perubahan warna yang tajam pada pH tertentu.
Berikut tabel indikator asam basa dengan rentang pH dan perubahan warna yang
terjadi.

Tabel 2.7 Indikator Asam Basa

Tabel 2.8 Indikator Campuran

2.4.6 Cara Melakukan Titrasi


Dalam melakukan titrasi, hal-hal yang harus dilakukan yaitu:

29
1. Zat penitrasi (titran) yang merupakan larutan baku dimasukkan ke
dalam buret yang telah dipasang.
2. Zat yang dititrasi (titrat) ditempatkan pada wadah (gelas kimia atau
erlenmeyer).Ditempatkan tepat dibawah buret berisi titran.
3. Tambahkan indikator yang sesuai pada titrat, misalnya, indikator
fenoftalien.
4. Rangkai alat titrasi dengan baik. Buret harus berdiri tegak, wadah titrat
tepat dibawah ujung buret, dan tempatkan sehelai kertas putih atau tissu
putih di bawah wadah titrat.
5. Atur titran yang keluar dari buret (titran dikeluarkan sedikit demi
sedikit) sampai larutan di dalam gelas kimia menunjukkan perubahan warna
dan diperoleh titik akhir titrasi. Hentikan titrasi !

Gambar 2.10 Susunan Pemasangan Buret untuk titrasi

30
BAB III
ALAT DAN BAHAN

3.1 Alat dan Fungsi


3.1.1 Penentuan Warna
Alat-alat yang digunakan dalam pengujian penentuan kadar warna, yaitu:
1. Wadah kaca, merupakan wadah yang terbuat dari dengan diameter
3 – 5 cm dan ketinggian 5 – 10 cm. Wadah ini berfungsi dalam pengamatan
sampel secara visual sehingga kita dapat mengetahui kadar warna sampel.
2. Beaker Glass, berfungsi dalam menampung sampel dan melakukan
penelitian sampel secara visual.
3.1.2 Penentuan Kadar Air
Alat-alat yang digunakan dalam pengujian penentuan kadar air metode hot plate,
yaitu:
1. Wadah, merupakan cawan aluminium atau gelas bertutup dengan
diameter 8-9 cm, tinggi 4 – 5 cm atau cawan petri dengan diameter 9 cm
atau cawan keramik (porselen) yang berdiameter 4 – 5 cm. Wadah ini
berfungsi sebagai tempat untuk memanaskan sampel CPO sehingga kadar
air dapat hilang.
2. Gelas piala (beaker glass) 100 ml, merupakan wadah dengan diameter
5,5 – 7 cm yang terbuat dari kaca disertai dengan tampilan ukuran volume.

31
Beaker glass berfungsi sebagai wadah dan sekaligus tempat mengukur
volume larutan.
3. Desikator, merupakan oven pengering dengan pemanas listrik
dilengkapi termometer. Desikator berfungsi sebagai alat pengering sampel
maupun pengering wadah pada suhu tertentu.
4. Neraca Analitik dengan ketelitian 0,1 mg. Merupakan timbangan
ukuran kecil yang berfungsi untuk mengukur massa sampel maupun bahan
percobaan yang akan digunakan.
5. Bunsen, merupakan Alat pemanas dengan bahan bakar spiritus yang
berfungsi untuk membakar atau mamanaskan wadah yang telah berisi
dengan sampel.
6. Kaki tiga (tripod), merupakan penyangga yang memiliki tiga kaki dan
berfungsi untuk menyangga wadah di atasnya serta sebagai tempat
meletakkan bunsen dalam proses pemanasan.
7. Termometer, merupakan alat yang digunakan sebagai pengukur suhu
pada saat pemanasan maupun pendinginan sampel.
3.1.3 Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas
Alat-alat yang digunakan dalam pengujian penentuan kadar asam lemak bebas
pada sampel CPO, yaitu:
1. Labu Erlenmeyer 250 ml, merupakan wadah labu yang terbuat dari
kaca dan dilengkapi dengan indikator ukuran pada dindingnya. Labu ini
berfungsi sebagai wadah untuk pencampuran larutan maupun zat sekaligus
digunakan pada proses titrasi.
2. Gelas ukur 50 ml, merupakan tabung panjang yang terbuat dari kaca
maupun plastik (polimer) dan dilengkapi dengan indikator ukuran volume
pada dindingnya. Gelas ukur berfungsi sebagai wadah untuk mengukur
volume larutan dengan akurat.
3. Buret dengan skala pembacaan 0,05 – 0,1 ml, merupakan pipa
berdiameter 1 – 2 cm yang terbuat dari kaca dengan ujung yang mengecil
yang dilengkapi dengan indikator pengukur volume larutan pada
dindingnya. Buret berfungsi sebagai alat titrasi atau tempat larutan pentiter.

32
4. Bunsen, merupakan Alat pemanas dengan bahan bakar spiritus yang
berfungsi untuk membakar atau mamanaskan wadah yang telah berisi
dengan sampel.
5. Desikator, merupakan oven pengering dengan pemanas listrik
dilengkapi termometer. Desikator berfungsi sebagai alat pengering sampel
maupun pengering wadah pada suhu tertentu.
6. Neraca Analitik dengan ketelitian 0,1 mg. Merupakan timbangan
ukuran kecil yang berfungsi untuk mengukur massa sampel maupun bahan
percobaan yang akan digunakan.
7. Statif dan Klem, merupakan penjepit yang terbuat dari logam dan
beralaskan polimer pada penjepitnya. Berfungsi sebagai alat untuk menjepit
buret agar dapat tegak vertikal dalam proses titrasi.
8. Pipet tetes, merupakan pipet yang terbuat dari kaca dan berfungsi
untuk meneteskan larutan maupun zat indikator pada sampel.
9. Kaki tiga (tripod), merupakan penyangga yang memiliki tiga kaki dan
berfungsi untuk menyangga wadah di atasnya serta sebagai tempat
meletakkan bunsen dalam proses pemanasan.
10. Termometer, merupakan alat yang digunakan sebagai pengukur suhu
pada saat pemanasan maupun pendinginan sampel.

3.1.4 Penentuan Bilangan Penyabunan


Alat-alat yang digunakan dalam pengujian penentuan bilangan penyabunan pada
sampel CPO, yaitu:
1. Wadah, merupakan cawan aluminium atau gelas bertutup dengan
diameter 8-9 cm, tinggi 4 – 5 cm atau cawan petri dengan diameter 9 cm
atau cawan keramik (porselen) yang berdiameter 4 – 5 cm. Wadah ini
berfungsi sebagai tempat untuk memanaskan sampel CPO sehingga kadar
air dapat hilang serta digunakan untuk wadah penumbukan zat kimia.
2. Labu Erlenmeyer 250 ml, merupakan wadah labu yang terbuat dari
kaca dan dilengkapi dengan indikator ukuran pada dindingnya. Labu ini

33
berfungsi sebagai wadah untuk pencampuran larutan maupun zat sekaligus
digunakan pada proses titrasi.
3. Gelas ukur 50 ml, merupakan tabung panjang yang terbuat dari kaca
maupun plastik (polimer) dan dilengkapi dengan indikator ukuran volume
pada dindingnya. Gelas ukur berfungsi sebagai wadah untuk mengukur
volume larutan dengan akurat.
4. Buret dengan skala pembacaan 0,05 – 0,1 ml, merupakan pipa
berdiameter 1 – 2 cm yang terbuat dari kaca dengan ujung yang mengecil
yang dilengkapi dengan indikator pengukur volume larutan pada
dindingnya. Buret berfungsi sebagai alat titrasi atau tempat larutan pentiter.
5. Bunsen, merupakan Alat pemanas dengan bahan bakar spiritus yang
berfungsi untuk membakar atau mamanaskan wadah yang telah berisi
dengan sampel.
6. Kaki tiga (tripod), merupakan penyangga yang memiliki tiga kaki dan
berfungsi untuk menyangga wadah di atasnya serta sebagai tempat
meletakkan bunsen dalam proses pemanasan.
7. Statif dan Klem, merupakan penjepit yang terbuat dari logam dan
beralaskan polimer pada penjepitnya. Berfungsi sebagai alat untuk menjepit
buret agar dapat tegak vertikal dalam proses titrasi.
8. Kertas saring, merupakan filter yang memiliki lubang-lubang mikro
dan digunakan untuk menyaring serta membuang bahan-bahan asing yang
terdapat pada sampel.
9. Neraca Analitik dengan ketelitian 0,1 mg. Merupakan timbangan
ukuran kecil yang berfungsi untuk mengukur massa sampel maupun bahan
percobaan yang akan digunakan.
10. Batang pengaduk, merupakan batang kaca dengan panjang 10 – 15 cm
dan digunakan untuk mengaduk zat maupun larutan.
11. Termometer, merupakan alat yang digunakan sebagai pengukur suhu
pada saat pemanasan maupun pendinginan sampel.

3.2 Bahan dan Fungsi

34
3.2.1 Penentuan Warna dan Kadar Air
Bahan yang digunakan dalam pengujian penentuan kadar air metode hot plate
adalah sampel CPO seberat 10 gram dan merupakan bahan utama dalam
praktikum ini guna mengetahui sifat fisik maupun sifat kimianya. Sampel yang
digunakan dapat diambil dari In Bulk atau road tanker.
In Bulk : contoh diambil dari tangki timbun (storage tank) atau palka kapal
Sebelum diambil contohnya, minyak sawit mentah terlebih dahulu
dipanaskan pada suhu 45 – 55 oC dengan menggunakan steam pemanas sehingga
minyaknya mencair. Contoh diambil dari tangki timbun atau palka kapal dengan
menggunakan tabung silinder dilengkapi dengan penutup yang dihubungkan
dengan tali yang dimasukkan dalam tangki timbun atau palka kapal. Pada bagian
atau level minyak yang akan diambil contohnya, tali penghubung penutup ditarik
sehingga minyak masuk ke dalam tabung. Sesudah penuh, tali penghubung
dikendorkan dan kemudian diangkat.
Contoh dari mobil tangki (road tanker)
Semua inlet maupun outlet dari mobil tangki harus diperiksa terlebih dahulu
dan harus dalam keadaan tersegel. Sampel harus dalam keadaan cair atau semi-
padat dan diambil secara acak dari minimal 10 % total mobil tangki yang ada.

Gambar 2.11 CPO yang berasal dari tangki timbun atau palka kapal

3.2.2 Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas


Bahan yang digunakan dalam pengujian penentuan kadar asam lemak bebas pada
CPO yaitu:

35
1. Sampel CPO 7 gram (sisa percobaan penentuan kadar air)
2. Bahan kimia, berupa:
a.Larutan titar yang berfungsi sebagai pentiter dan terdiri dari:
1) Larutan Natrium hidroksida / sodium hidroksida (NaOH) 0,1
M.
Untuk menghasilkan larutan ini dapat dilakukan dengan cara
melarutkan 4 gram NaOH dalam 1 liter air suling.
2) Larutan Kalium hidroksida / potasium hidroksida (KOH) 0,1
M
Untuk menghasilkan larutan ini dapat dilakukan dengan cara
melarutkan 5,6 gram KOH dalam 1 liter air suling atau menggunakan
rumus 2.5 dan 2.6.
3) Larutan Natrium hidroksida / sodium hidroksida (NaOH)
0,25 M
Untuk menghasilkan larutan ini dapat dilakukan dengan cara
melarutkan 10 gram NaOH dalam 1 liter air suling atau
menggunakan rumus 2.5 dan 2.6.
b. Pelarut berupa isopropanol, metanol atau etanol 95 %.
Berfungsi untuk melarutkan indikator PP atau larutan NaOH di dalam
sampel CPO.
c.Indikator fenolftalein (PP) 1 %.

3.2.3 Penentuan Bilangan Penyabunan


Bahan yang digunakan dalam pengujian penentuan kadar bilangan penyabunan
pada CPO yaitu:
1. Sampel CPO yang telah dimurnikan atau RBDPO 10 gram atau 10 ml
2. Larutan NaOH 1 M, Berfungsi sebagai katalis alkalin.
3. Larutan HCl 0,5 M yang berfungsi sebagai penetralisir sekaligus
sebagai penentu bilangan penyabunan dalam sampel.
4. Indikator fenolftalein (PP) 1 %.

36
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Penentuan Warna
Penentuan warna merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui
sifat fisik sampel secara visualisasi maupun pengukuran menggunakan alat.
Penentuan warna dengan teknik visualisasi kasat mata dapat ditentukan dengan
cara memastikan apakah CPO tersebut berwarna jingga kemerah-merahan sesuai
dengan standarnya.
4.1.1.1 Prosedur Kerja
Tata cara atau prosedur kerja dalam penentuan kadar warna pada CPO, yaitu:
1. Tempatkan sampel CPO pada wadah yang terbuat dari bahan kaca.
Usahakan agar wadah dalam keadaan bersih. Hal ini bertujuan agar warna
dapat terlihat dengan jelas.
2. Amati keadaan warna sampel CPO, apakah sesuai dengan standar pada
gambar di bawah ini.
3. Kemudian tentukanlah warna apa saja yang terdapat pada sampel CPO

37
Gambar 2.12 CPO standar berwarna jingga kemerah-merahan

4.1.1.2 Hasil Pengamatan


Setelah dilakukan pengamatan secara visual, maka hasil pengamatan dapat
dinyatakan bahwa warna sampel CPO berwarna “jingga kemerah-merahan”.
Berdasarkan pada pengamatan warna yang muncul yaitu:

Tabel 4.1 hasil pengamatan warna pada sampel CPO


Apakah warna tersebut timbul
Warna pada CPO
Ya Tidak
Kuning
Kuning kecoklatan
Jingga
Coklat
Kehijau-hijauan
Kemerah-merahan
Kehitam-hitaman

4.1.2 Penentuan Kadar Air


Penentuan kadar air merupakan pengujian yang dilakukan untuk mengetahui
kadar air yang terkandung di dalam sampel CPO. Kadar air dihitung sebagai berat
yang hilang setelah contoh uji dipanaskan pada suhu 103 oC ± 2 oC selama 3 jam
atau 130 oC ± 2 oC selama 30 menit.

4.1.2.1 Prosedur Kerja

38
Tata cara atau prosedur kerja dalam penentuan kadar air pada CPO, yaitu:
1. Keringkan wadah yang akan dipakai, lalu timbang. Hal ini bertujuan
agar didapatkan data berat wadah yang sebenarnya dan berat tambahan.
2. Lelehkan contoh minyak dengan pemanasan pada suhu 50 – 70 oC, dan
aduk rata. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar minyak yang membeku
dapat cair dan mempermudah dalam menguapkan kadar air yang terkandung
di dalamnya.
3. Timbang 10 gram sampel uji CPO yang sudah dilelehkan tersebut ke
dalam wadah yang sudah dikeringkan kemudian timbang bersama dengan
wadah tersebut.
4. Panaskan wadah pada suhu 100 – 130 oC selama 30 menit sambil
diaduk-aduk hingga tidak ada percikan air lagi kemudian dinginkan selama
15 menit lalu timbang. Pada tahap ini air yang terkandung dalam minyak
akan mengalami penguapan sehingga pada suhu dan waktu tertentu hanya
akan tersisa rendemen minyak murni.

4.1.2.2 Hasil Pengamatan


Setelah dilakukan percobaan terhadap kadar air pada sampel CPO, maka di
dapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 4.2 hasil pengamatan kadar air pada CPO


W (berat wadah) W1 W2
% kadar air
gram gram gram
109 119 116 0,3

4.1.3 Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas


Bilangan asam / kadar asam adalah ukuran dari jumlah asam lemak bebas,
serta dihitung berdasarkan berat molekul dari asam lemak atau dengan kata lain
kadar asam lemak bebas dihitung sebagai persentase berat (b/b) daro asam lemak
bebas yang terkandung dalam minyak sawit mentah (CPO) dimana berat molekul
asam lemak bebas tersebut dianggap sebesar 256 (sebagai asam palmitat).

39
Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH 0,1 M maupun
NaOH 0,1 M yang digunakan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat
dalam 1 gram minyak atau lemak.
Kadar asam lemak bebas pada minyak atau lemak hasil ekstraksi dapat
ditentukan dengan cara titrasi. Angka asam lemak bebas dinyatakan dalam %
asam lemak yang dianggap dominan pada sampel produk yang sedang dianalisis.

4.1.3.1 Prosedur Kerja


Tata cara atau prosedur kerja dalam penentuan kadar asam lemak bebas pada
CPO, yaitu:
1. Standarisasi larutan titar dengan menggunakan kalium hidrogen pfalate
sebagai berikut:
Keringkan kalium hidrogen pfalate dalam oven pada suhu sekitar 120 oC
selama 2 jam, kemudian masukkan dalam desikator, diamkan sampai dingin.
Timbang 0,4 gr ± 0,02 gr untuk 0,1 M NaOH dan 0,1 M KOH atau 1,0 gr
untuk 0,25 M NaOH ke dalam erlenmeyer 250 ml, tambah 50 ml air suling.
2. Panaskan 7 gr minyak CPO di dalam erlenmeyer hingga mendidih
kemudian ditambah 31 ml metanol dan dipanaskan kembali pada suhu 40 –
70 oC. Kemudian berikan 2 tetes indikator PP
3. Kemudian titrasi dengan larutan titar NaOH 0,1 M sambil digoyang-
goyang hingga mencapai titik akhir yang ditandai dengan perubahan warna
menjadi merah muda (merah jambu) yang stabil untuk minimal selama 30
detik. Hal ini bertujuan agar terjadi pemerataan larutan titer pada proses
titrasi.
4. Catat penggunaan ml larutan titar. Lalu normalkan larutan hingga pH
netral.
5. Lakukan analisa sekurang-kurangnya duplo, perbedaan antara kedua
hasil uji tidak boleh melebihi 0,05 %.
4.1.3.2 Hasil Pengamatan
Setelah dilakukan percobaan terhadap kadar ALB pada sampel CPO, maka di
dapatkan hasil sebagai berikut:

40
Tabel 4.3 hasil pengamatan Kadar ALB
V1 untuk V2 untuk
W w
N normalitas titk akhir % FFA
(gr) (gr)
(ml) (ml)
7 2 0,05662 173 2.5 0,52
4.1.4 Penentuan Bilangan Penyabunan
Bilangan penyabunan adalah jumlah alkali yang dibutuhkan untuk
menyabunkan sejumlah contoh minyak. Bilangan penyabunan dinyatakan dalam
jumlah miligram KOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan 1 gram minyak.
Biasanya bilangan penyabunan tergantung dari berat molekul. Minyak yang
memiliki berat molekul rendah akan mempunyai bilangan penyabunan lebih
tinggi dari minyak yang berat molekulnya tinggi.

4.1.4.1 Prosedur Kerja


Tata cara atau prosedur kerja dalam penentuan bilangan penyabunan pada CPO,
yaitu:
1. Sampel disaring dengan kertas saring untuk membuang kandungan
bahan asing.
2. Masukkan 10 gram minyak ke dalam erlenmeyer 250 ml dan panaskan
pada suhu 70 oC selama 5 – 10 menit. Tambahkan 50 ml NaOH 1 M,
teruskan pengadukan hingga terbentuk campuran kental dan tersabunkan
sempurna.
3. Larutan didinginkan kemudian ditambahkan sedikit indikator PP
kemudian dititer dengan HCl 0,5 M sampai warna merah jambu menghilang.
4. Pada tiap-tiap penentuan secara titrasi blanko sebagai pembanding.
Dasar perhitungan adalah selisih antara ml titrasi sampel dengan titrasi
blanko.

4.1.4.2 Hasil Pengamatan


Setelah dilakukan percobaan terhadap penyabunan pada sampel CPO, maka di
dapatkan hasil bilangan penyabunan sebagai berikut:

41
Tabel 4.4 Hasil pengamatan Bilangan Penyabunan pada CPO
Berat sampel (G) Jumlah ml HCL Jumlah ml HCL Bilangan
(gr) Blanko (A) sampel (B) Penyabunan
10 82,4 50,08 90,6576

4.2 Pembahasan

4.2.1 Penentuan Kadar Warna


Berdasarkan pada hasil pengamatan pada pengujian kadar warna pada
sampel CPO, dapat kita ketahui bahwa warna pada sampel CPO yang diuji telah
sesuai dengan standar CPO internasional dengan kelonggaran pada warna kuning
yang muncul pada sampel uji tersebut.
Penentuan kadar warna pada sampel CPO sangat diperlukan karena dengan
adanya standar pada warna CPO dapat memberikan suatu kemudahan dalam
menilai kualitas CPO secara visualisasi. Pada umumnya ada dua standar warna
CPO yaitu CPO sebelum pemurnian dan CPO setelah pemurnian (RBDPO).
Pada CPO sebelum pemurnian, warna yang menjadi standar adalah jingga
kemerah-merahan. Berarti jika ada CPO yang memiliki warna selain itu, maka
CPO tersebut masih belum memenuhi standar kecuali ada suatu kelonggaran yang
diberikan pada warna CPO yang diuji. Pada sampel yang diuji, kita menemukan
warna kuning yang berarti ada kerusakan terhadap zat karoten yang terkandung di
dalam sampel. Hal ini disebabkan pecahnya fraksi karoten pada sampel CPO
karena proses absrobsi pada minyak sawit tersebut. Jika ada warna coklat dan
kehitaman yang muncul pada sampel CPO, maka telah terjadi oksidasi yang
berlebihan pada sampel CPO sehingga mempengaruhi aktivitas enzim-enzim
seperti phenol oxidase, poliphenol oxidase dan sebagainya.
Pada CPO setelah pemurnian, warna yang menjadi standar adalah kuning
kecoklatan, jernih dan keemasan. Jika sampel CPO yang diuji tidak memenuhi
ketentuan tersebut maka dapat dikatakan sampel uji tidak memenuhi standar. Hal
yang paling utama pada CPO setelah pemurnian adalah tingkat kejernihan yang

42
dihasilkan pada sampel uji tersebut karena CPO yang jernih tidak akan menyebabkan
pengulangan proses pada pengolahan lebih lanjut.

4.2.2 Penentuan Kadar Air


Penentuan kadar air bertujuan untuk mengetahui jumlah air yang terkandung
dalam sampel. Pada saat melakukan pengujian terhadap sampel, sampel terlebih
dahulu harus dicairkan jika sampel membeku. Hal ini dilakukan agar air yang
terdapat di dalam sampel dapat diekstraksi dengan mudah. Pada saat pemanasan
untuk mengeluarkan air dari dalam sampel, sampel harus terus diaduk agar panas
merata dan air mudah dikeluarkan. Setelah pemanasan, sampel tersebut harus
didinginkan terlebih dahulu agar pada saat penimbangan data berat yang diperoleh
konstan.
Berdasarkan hasil pengamatan terhadap penentuan kadar air pada CPO yang
telah diperoleh, maka dilakukan perhitungan sebagai berikut.
Diketahui
Berat wadah kosong (W) = 109 gram
Berat wadah dengan sampel (W1) = 119 gram
Berat wadah + sampel yang dikeringkan (W2)= 116 gram
Dijawab
W1 - W2
% Kadar Air =
W1 - W
119 - 116
=
119 - 109
3
=
10
= 0,3 %

Jadi, kadar air yang terkandung dalam sampel CPO yang diuji adalah 0,3 %.
Kadar air merupakan jumlah air yang terkandung di dalam minyak sawit
atau crude palm oil. Kadar air ini menentukan kualitas CPO karena pada saat
pengolahan CPO menjadi produk turunan, kadar air dapat menghambat proses
pengolahan CPO menjadi produk turunan karena perbedaan massa jenis dari air
tersebut. Jadi dapat disimpulkan bahwa semakin sedikit kadar air yang terkandung
dalam CPO semakin tinggi kualitas CPO yang dihasilkan dan sebaliknya.

43
Kadar air berperan dalam proses oksidasi maupun hidrolisis minyak yang
akhirnya dapat menyebabkan ketengikan. Semakin tinggi kadar air, minyak
semakin cepat tengik (Sardi Duryatmo, 2005). Kadar air pada minyak menurut
hasil praktikum diperoleh dari metode hot plate yaitu 0,3 %. Hal ini dapat terjadi
mungkin karena minyak belum terpisah secara sempurna dan cara pemisahan
minyak dari blondo dan air yang kurang baik.
Tingginya kadar air akan menurunkan kualitas minyak yang dihasilkan yaitu
minyak akan menjadi cepat tengik selama penyimpanan. Kadar air dalam CPO
dapat diketahui dengan cara yang mudah yaitu dengan mendiamkannya pada suhu
rendah. Jika CPO mudah membeku maka kemurniannya lebih bagus sebab
dibawah suhu 25 0C CPO mulai membeku. Namun, bila kadar air tinggi proses
pembekuan lebih lama. Air membeku pada suhu 0 oC. CPO membeku seperti
mentega dan jika dikembalikan ke suhu panas, mencair seperti semula (Sardi
Duryatmo, 2005).

4.2.3 Penentuan Kadar Asam Lemak Bebas


Berdasarkan hasil pengamatan terhadap penentuan kadar asam lemak bebas
pada CPO yang telah diperoleh, maka dilakukan perhitungan sebagai berikut.
Sebelum menentukan kadar asam lemak bebas, standariasi terhadap larutan
pentiter harus dilakukan terlebih dahulu. Larutan pentiter yang dibutuhkan pada
titrasi adalah larutan NaOH 0,1 M. Sebelumnya kita harus melarutkan 40 gram
NaOH 1 M ke dalam 1 liter air suling sehingga menghasilkan larutan NaOH 0,1
M. Kemudian kita menggunakan kalium hidrogen pfalate dalam menentukan
Normalitas NaOH yang digunakan sebagai pentiter. Dengan mengeringkan KOH
pfalate dalam oven pada suhu sekitar 120 oC selama 2 jam, kemudian masukkan
dalam desikator dan diamkan samapai dingin.
Keringkan kalium hidrogen pfalate dalam oven pada suhu sekitar 120 oC
selama 2 jam, kemudian masukkan dalam desikator, diamkan sampai dingin.
Timbang 0,4 gr ± 0,02 gr untuk 0,1 M NaOH dan 0,1 M KOH atau 1,0 gr untuk
0,25 M NaOH ke dalam erlenmeyer 250 ml, tambah 50 ml air suling dan beberapa
tetes indikator PP. Panaskan di atas bunsen sambil digoyang-goyang. Selanjutnya

44
titrasi denga pentiter sehingga timbul warna merah jambu yang stabil. Setelah itu
dapat kita hitung normalitasnya.

Diketahui
Berat KOH pfalate (w) = 2 gram
Volume larutan titar untuk normalitas (V1)= 173 ml
204,2 adalah berat ekuivalen KOH pfalate
Dijawab
w ×1000
Normalitas larutan NaOH =
V × 204,2
2 ×1000
=
173 × 204,2
2000
=
35326.6
= 0,05662

Setelah diketahui normalitas larutan NaOH yang digunakan sebagai larutan


pentiter, kita dapat menghitung kadar ALB dari sampel CPO.
Diketahui
Normalitas larutan NaOH (N) = 0,05662
Volume larutan titer untuk titik akhir (V2) = 2.5 ml
Berat sampel (W) = 7 gram
25,6 adalah konstanta untuk menghitung ALB sebagai asam palmitat.
Dijawab
25,6 × N × V2
% FFA =
W
25,6 × 0,05662 × 2,5
=
7
3,62368
=
7
= 0,52 %

Jadi, kadar Asam lemak bebas pada sampel CPO yang diuji adalah 0,52 %.

45
Kadar asam lemak bebas merupakan banyaknya asam lemak bebas yang
dihasilkan dari proses hidrolisis minyak. Banyaknya asam lemak bebas dalam
minyak menunjukkan penurunan kualitas minyak.
Penentuan asam lemak bebas atau biasa disebut dengan FFA yang
merupakan singkatan dari Free Fatty Acid sangat penting kaitannya dengan
kualitas lemak. Karena bilangan asam dipergunakan untuk mengukur jumlah asam
lemak bebas yang terdapat dalam lemak. Semakin besar angka ini berarti
kandungan asam lemak bebas semakin tinggi, sementara asam lemak bebas yang
terkandung dalam sampel dapat berasal dari proses hidrolisis ataupun karena
proses pengolahan yang kurang baik. Karena proses hidrolisis dapat berlangsung
dengan penambahan asam dan dibantu oleh panas. Menurut Sudarmadji (1989)
angka asam dapat menunjukan asam lemak bebas yang berasal dari hidrolisa
minyak ataupun karena proses pengolahan yang kurang baik. Makin tinggi angka
asam maka makin rendah kualitasnya.
Hasil praktikum menunjukkan % FFA yang diperoleh pada pembuatan CPO
adalah sebesar 0,52 % dan berarti telah sesuai dengan standar.
Sampel yang digunakan pada pengujian kali ini adalah CPO yang telah
mengalami pemurnian. Sampel kemudian ditimbang dengan berat 7 gram.
Kemudian ditambahkan pelarut alkohol yang kondisi alkoholnya harus panas dan
netral. Alkohol yang panas akan lebih baik dan cepat melarutkan sampel yang
juga nonpolar sementara kondisi netral ditempuh agar data akhir yang diperoleh
benar-benar tepat. Karena bila kondisi tidak netral, titrasi asam-basa akan berakhir
dengan diperoleh data yang salah. Sesuai dengan definisi bilangan FFA itu sendiri
yaitu jumlah miligram KOH atau basa-basa lainnya yang dibutuhkan untuk
menetralkan asam-asam lemak. Untuk memanaskan alkohol dapat
mempergunakan penangas air karena titik didih alkohol kurang dari air.
Sementara untuk menetralkannya dipergunakan asam-asam lemah dan basa
lemah.
Kemudian pada kedua sampel ditambahkan indikator fenolftalein (PP).
Indikator ini merupakan Indikator yang sering dipergunakan untuk titrasi asam-
basa. Indikator ini akan berubah menjadi merah muda bila suasana basa dan tetap

46
bening jika dalam suasana asam. Karena pada sampel pertama alkohol yang
dipergunakan tidaklah netral, maka ketika ditetesi fenolftalein, berubah warna
menjadi merah muda. Hal ini berakibat pada penentuan titik akhir yang keliru
pula. Setelah itu dititrasi menggunakan 0,1 N NaOH yang telah distandarisasi
menggunakan asam oksalat sampai timbul warna pink yang tidak hilang setelah
30 detik. Saat itulah titik akhir tercapai. Titik akhir adalah waktu ketika proses
titrasi dihentikan karena suasana telah menjadi netral yang ditunjukkan oleh
perubahan warna oleh indikator. Penentuan titik akhir dengan tepatpun tidak
menunjukkan suasana yang netral karena warna indikator berubah. Oleh karena
itu ada yang disebut titik ekuivalen yaitu waktu ketika jumlah titrant dengan titrat
ekuivalen sehingga suasana benar-benar netral. Akan tetapi untuk mengetahui titik
ekuivalen sangatlah sulit maka cukup dengan titik akhir. Idealnya titik ekuivalen
sama dengan titik akhir. Jumlah NaOH yang terpakai untuk normalitas adalah 173
ml dan untuk penentuan titik akhir adalah 2,5 ml.

4.2.4 Penentuan Bilangan Penyabunan


Angka penyabunan menunjukan berat molekul lemak dan minyak secara
kasar. Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai karbon yang pendek.
Mempunyai berat molekul yang relative kecil, akan mempunyai angka
penyabunan yang besar dan sebaliknya bila mempunyai berat molekul yang besar,
maka angka penyabunan relative kecil, angka penyabunan ini dinyatakan sebagai
banyaknya (mg) NaOH yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak
atau minyak. Penentuan bilangan penyabunan dilakukan untuk mengetahui sifat
minyak dan lemak. Pengujian sifat ini dapat digunakan untuk membedakan lemak
yang satu dengan yang lainnya.
Pada penentuan bilangan penyabunan pada sampel CPO, jumlah sampel
yang digunakan adalah 10 gram dengan HCL 0,5 M yang terpakai adalah 50,08
ml sedangakan pada blangko yaitu 82,4 ml. Dari data yang diperoleh dapat kita
lakukan perhitungan sebagai berikut.
Diketahui
Jumlah HCl untuk titrasi blanko (A) adalah 82,4 ml

47
Jumlah HCl untuk titrasi sampel (B) adalah 50,08 ml
Jumlah sampel yang digunakan (G) adalah 10 gram

Dijawab
(A - B) × 28,05
Bilangan Penyabunan =
G
(82,4 - 50,08) × 28,05
=
10
= 90,6576

Jadi, bilangan penyabunan yang ada pada sampel adalah 90,6576


Menurut Sudarmadji (1989) angka penyabunan dipergunakan untuk
menentukan berat molekul minyak secara kasar. Minyak yang tersusun oleh asam
lemak rantai C pendek berarti mempunyai berat molekul relatif kecil yang akan
mempunyai angka penyabunan yang besar. angka penyabunan yang tinggi
membutuhkan banyak KOH karena banyak asam lemak berantai pendek. Angka
penyabunan merupakan bilangan penyabunan yang dinyatakan sebagai banyaknya
milligram KOH yang dibutuhkan untuik menyabunkan 1 gram lemak atau
minyak. Sedangkan menurut Ketaren (1985) bahwa angka penyabunan dari
kacang tanah berkisar antara 186-192,0.
Angka penyabunan minyak kelapa sawit tergolong tinggi disebabkan oleh
karena tersusun dari asam laurat yang merupakan asam lemak jenuh dengan berat
molekul rendah. Tetapi pada minyak kelapa pemanasan angka penyabunannya
turun disebabkan oleh perlakuan pemanasan yang telah merusak asam-asam
lemak yang terdapat di dalamnya. Sedangkan pada minyak kluwak/minyak sawit
terbuka tersusun oleh asam palmitat sekitar 40- 46 dan memiliki bilangan
penyabunan 224-249 (Ketaren, 1985). Pada hasil praktikum ini angka penyabuan
minyak sawit menunjukkan 90,6576. Penyimpangan ini terjadi karena perlakuan
pengekstrakkannya yang kurang optimal sehingga angka penyabunannya kurang
tinggi.

48
BAB V
PENUTUP

5.1 KESIMPULAN
Dari pengolahan data diatas, kita dapat menyimpulkan:
1. Bahwa kadar warna pada sampel CPO yang diuji telah sesuai dengan
standar warna internasional yaitu jingga kemerah-merahan dengan
pengecualian pada warna kuning yang timbul pada sampel CPO tersebut.
Warna kuning yang timbul disebabkan oleh rusaknya zat karoten pada
minyak karena perlakuan yang tidak benar terhadap minyak atau pada
proses absorbsi.
2. Bahwa kadar air yang terkandung pada sampel CPO yang diuji adalah
0,3 % dari tiap gram fraksi minyak. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa kadar air dalam minyak telah sesuai standar. Kadar air sangat
menentukan kualitas dari CPO. Jika semakin tinggi kadar air yaitu melebihi
0,5 % fraksi massa maka akan menyebabkan ketengikan pada CPO selama
penyimpanan dan menghambat reaksi kimia pada proses pembuatan produk
turunan.
3. Bahwa kadar asam lemak bebas yang terkandung pada sampel CPO
yang diuji adalah 0,52 % dari tiap gram fraksi minyak. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa kadar asam lemak bebas telah sesuai dengan satndar
dengan kelonggaran 0,02 %. Jika kadar asam lemak bebas melebihi batas
standar maka dapat menurunkan kualitas minyak. Meningkatnya asam
lemak bebas terjadi karena adanya kegiatan enzim lipase yang terkandung di

49
dalam buah yang berfungsi memecah minyak menjadi asam lemak dan
gliserol sehingga kadar rendemen minyak yang dihasilkan akan menurun.
4. Bahwa bilangan penyabunan pada CPO setelah percobaan adalah
90,6576. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa bilangan penyabunan
tidak sesuai dengan standar karena lebih rendah dari 224 – 249. Hal ini
terjadi karena perlakuan pengekstrakkannya yang kurang optimal sehingga
angka penyabunannya kurang tinggi. angka penyabunan dipergunakan untuk
menentukan berat molekul minyak secara kasar. Minyak yang tersusun oleh
asam lemak rantai C pendek berarti mempunyai berat molekul relatif kecil
yang akan mempunyai angka penyabunan yang besar. angka penyabunan
yang tinggi membutuhkan banyak KOH karena banyak asam lemak berantai
pendek. Angka penyabunan merupakan bilangan penyabunan yang
dinyatakan sebagai banyaknya milligram KOH yang dibutuhkan untuik
menyabunkan 1 gram lemak atau minyak.

5.2 SARAN
1. Pada pengukuran warna, kadar air, dan kadar asam lemak bebas sebaiknya
menggunakan sampel CPO yang belum mengalami proses pemurnian dan
berasal dari palka kapal atau mobil tangki karena sampel belum teroksidasi
oleh udara dan kadar airnya masih rendah.
2. Pada pengukuran bilangan penyabunan sebaiknya menggunakan sampel
CPO yang telah mengalami pemurnian karena kadar pengotor dalam CPO
sudah dikurangi bahkan dihilangkan.
3. Sebelum melakukan pengujian sebaiknya menggunakan peralatan
keamanan seperti masker, sarung tangan karet dan kaca mata jika
diperlukan. Para praktikan harus disiplin pada peraturan dan petunjuk yang
ada untuk bekerja di laboratorium.
4. Pada pengukuran warna sebaiknya menggunakan wadah yang telah
dibersihkan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan guna memberikan
keakuratan pada pengukuran warna yang dilakukan dengan teknik
visualisasi.

50
5. Pada pengukuran air sebaiknya panaskan atau keringkan wadah terlebih
dahulu sebelum ditimbang karena jika tidak dikeringkan maka hasil
pengamatan tidak akan akurat.
6. Pada pengukuran kadar asam lemak bebas sebaiknya tentukan dahulu
normalitas NaOH sebelum mengukur kadar asam lemak bebas sampel.
7. Pada pengukuran bilangan penyabunan sebaiknya dilakukan dengan
sampel dengan volume HCl yang bervariasi sebagai duplo agar bisa
dibandingkan hasil yang satu dengan hasil yang lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Satyawibawa, Iman dan Yustina Erna Widyastuti. 1992. Kelapa Sawit Dan
Pengolahannya. Jakarta: Ganesha Exacta.
Irawan, wira. 2006. Laporan Praktikum : Proses Reaksi Saponifikasi. Medan:
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknologi Industri. Institut Teknologi
Medan.
Anonim. 2008. Minyak dan Kolesterol. http://www.halalguide.info. Diakses pada
tanggal 28 Oktober 2009.
Andry. 2008. Teknologi Lemak Dan Minyak. http://www.pdf-search-engine.com.
Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009.
Julianty, riza. 2008. Analisis Kadar Lemak. http://www.pdf-search-engine.com.
Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009.
Ika. 2008. Penentuan Sifat Fisika Dan Sifat Kimia Minyak Kelapa Sawit.
http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009.
Pasaribu, nurhida. Minyak Buah Kelapa Sawit. Medan: Jurusan Kimia, Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Sumatra Utara.
http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009.
Gusnidar, Tutus. Aplikasi Titrasi Asam Basa. Bandung: Institut Teknologi
Bandung. http://www.scribd.com. Diakses pada tanggal 28 Oktober 2009.

51
Titrasi Asam Basa. http://belajarkimia.com. Diakses pada tanggal 28 oktober
2009.
Alex, wiro. 2009. Kuliah: Titrasi Asam Basa. http://wiro-pharmacy.blogspot.com.
Diakses pada tanggal 29 Oktober 2009.
Kelapa Sawit. http://www.wikipedia.com. Diakses pada tanggal 29 Oktober 2009.

52