Kronologis Penelitian Tesis ku : Menghadap Prof Soemarno pada hari Senin, 27 Desember 2010, ditemani bu Hany yang sudah

minta tandatangan siap ujian proposal tesis. Saya diminta langsung ujian proposal tesis hari Kamis/ Jum’at 30/ 31 desember 2010. Tidak mungkin. Ngebut belajar, cari masalah, tujuan dan metoda. Sesuai dengan arahan Prof Soemarno, hanya buat 2 masalah, 2 tujuan dan 2 metoda. Karakteristik fisik/ vegetasi hutan mangrove dan Strategi arahan terbaik [pengeloaan hutan mangrove. Analisis Vegetasi berdasar buku praktikum bu Endang + analisis SWOT dengan Evaluasi Faktor Internal Eksternal + matrix EFAS IFAS. Hari Senin tgl 10 Januari 1011 dengan membawa draft proposal tesis, satu untak Prof Soemarno dan satu untuk Dr Nuddin. Dr Nuddin minta dimasukkan sosek karena suatu model pengelolaan akan gagal tanpa melibatkan social ekonomi masyarakat. Saran Prof Soemarno : segera hub dosen + penguji ( Amien Laksono + Imam Hambali ). Berupa USULAN PROPOSAL TESIS 1 Hari Jum’at, 14 Januari 2011 ke perpus S2 + perpus biologi + ambil format penundaan pembayaran. Ketemu m. Santi. Ternyata harus dengan melampirkan Hasil Ujian TOEFL, KACAU APALAGI DITAMBAH PENYAKIT MALAS Tanggal 10 Februari Bintek di Grand Palace malang, kusempatkan ke kampus ngurus persetujuan pencicilan SPP. Ternyata belum jadi, untungnya tetap bias regestrasi Tanggal 16 Fabruari 2011 ke malang dengan suami ngurus SPP q. Hari ini ke Pasca, truz ke Rektorat lantai 5, truz bayar di Mandiri dan terus ngurus Permohonan Keringanan SPP. Hari ini adik Yanuar masih dir s, tabrakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011 Maulid Nabi. Kujalani hidup ini…lagi2 tertunda!!! HARUSNYA BUKAN ALASAN, TAPI KEMBALI2NYA AKU SING NGURUS KABEH YA ALLAH MAHA TAHU…. HARI SABTU, 19 FEB MAUNYA TOEFL IDP JUGA GAGAL….GITU AKU YO DIMARAH2I DI RS…..YOK OPO SE KAREPE Tanggal 23 Feb aku konsultasi ke p Nuddin, banyak perbaikan truz ke perpus pusing berat, truz k Pas Maunya Sabtu 26 Feb Toefl--> TERHAMBAT LAGI M.ABADI PRESENTASI KE SURABAYA !!!

-

-

-

-

-

=============================================================== Buka : http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/analisis-vegetasi-hutan-alam.pdf =============================================================== Dari PENGHITUNGAN BIOMASSA- Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon - Dandun Sutaryo - Wetlands International Indonesia Programme – 2009 - Dipublikasikan pada Mei 2009 oleh : Wetlands International Indonesia Programme Jl. A. Yani 53. BOGOR :
DBH : Diameter Breast Height, diameter setinggi dada atau kurang lebih 1.3 m dari permukaan tanah. Metode mengukur pohon dalam penelitian ekologi hutan, penelitian biomassa atau pendataan potensi hutan. GBH : Girth Breast Height. Keliling pohon setinggi dada. Variasi lain dalam pengukuran pohon selain DBH. Dalam prakteknya pengkuran GBH lebih sering dilakukan dan hasil nya dikonversikan menjadi DBH. Basal area : Luas batang pohon yang dihitung dari DBH. Luas keseluruhan basal area per satuan luas menunjukan nilai dominansi dari tumbuhan tersebut. Dekomposisi : Penguraian. Dalam hal ini penguraian bahan organic menjadi bahan anorganik melalui proses fisika, kimia atau biologi. Pembusukan bahan organic diamati. Densitas : Kerapatan. Nilai yang menunjukkan jumlah individu per satuan luas . Densitas biomassa : Biomass density, jumlah biomassa per satuan luas. Expansion factor : suatu factor atau nilai yang menggandakan suatu jumlah nominal tertentu (volume atau biomass), yang mencakup 1 atau beberapa bagian pohon ke jumlah nominal lainnya yang mencakup keseluruhan pohon BEF : (Biomass expansion Factor) Faktor yang menggandakan biomassa batang ke biomassa keseluruhan pohon. VEF : Volume expansion factor GPG LULU CF : Good Practice Guidance for Land Use, Land-Use Change and Forestry Herba : Tumbuhan dengan batang basah atau tidak berkayu. Umumnya berupa tumbuhan semusim. Pancang : Tingkatan pohon setelah tingkatan semai (seedling). Pada komunitas hutan tropic basah berupa pohon muda dengan diameter 2 cm hingga sekitar 8 atau 10 cm. Pada iklim yang lebih kering diameter 10 cm mungkin tidak lagi tergolong sapling karena rata-rata diameter pohon di komunitas tersebut lebih kecil. Tegakan : komunitas tumbuhan (pohon) pada area tertentu.

Biomassa adalah total berat atau volume organisme dalam suatu area atau volume Ter tentu (a glossary by the IPCC,1995). Biomassa juga didefinisikan sebagai total jumlah materi hidup di atas permukaan pada suatu pohon dan dinyatakan dengan satuan ton berat kering per satuan luas (Brown, 1997).
=================================================================================

Dari : METODE ANALISIS AKAR MASALAH DAN SOLUSI - Ari Harsono P. Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indosesia, Depok 16424, Indonesia - E-mail: ariharsono@yahoo.com - MAKARA, SOSIAL
HUMANIORA, VOL. 12, NO. 2, DESEMBER 2008: 72-81 - : .Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (MAAMS) ini menyajikan suatu cara berpikir yang diperagakan dengan tata-alir (flow chart), disertai dengan beberapa contoh. Penerapan MAAMS membantu penggunanya untuk berpikir induktif maupun deduktif, kualitatif maupun kuantitatif, lebih mendalam dan menyeluruh, serta mempermudah kerjasama inter, multi, atau transdisiplin. Berikut ini adalah langkah-langkah menjalankan MAAMS: a. Rumuskan suatu masalah (sosial dan kemanusiaan) dalam bentuk yang dapat diaju kan pertanyaan “apa sebab-sebabnya.” Misalnya, apa penyebab timbulnya perkelahian pelajar; mengapa kualitas SDM kita rendah, mengapa Malaysia berani mengincar Amba lat, apa sebab penularan HIV/AIDS, juga pemakaian narkoba yang semakin meluas? Jenis pertanyaan yang mengarah pada solusi ini harus didukung fakta. Jika dari judul (artikel, makalah, skripsi, tesis, disertasi) tidak dapat diajukan pertanyaan (“Apa Sebab nya” atau “Mengapa”), identifikasi lebih dulu alasan-alasan atau fakta-fakta yang biasa nya ditulis sebagai latar belakang masalah. Terhadap alasan-alasan atau fakta-fakta inilah diajukan pertanyaan mengapa atau apa sebab-sebabnya. b. Identifikasi sebab-sebab negatif yang paling lang-sung dari X. Misalnya ada 4 faktor, ditandai dengan Sa1, Sb1, Sc1, Sd1. (S=sebab; abcd=masing-masing faktor; angka 1=tahap pertama penelusuran sebab). Sebab negatif yaitu suatu keadaan salah-buruk yang perlu diatasi atau diperbaiki; sedangkan paling langsung yaitu sebab yang tidak diantarai oleh sebab lain. Dalam fenomena sosial hampir tidak ditemukan adanya satu faktor yang menyebabkan satu fakta lain, melainkan beberapa faktor sekaligus, baik secara kausal maupun korelasional. Di sinilah muncul kebutuhan untuk berpikir dan berkerjasama secara interdisiplin, multidisiplin, atau transdisiplin. c. Terhadap masing-masing sebab (faktor) diajukan pertanyaan “benarkah?” dalam arti apakah ia memang menjadi sebab dari masalah X. Untuk itu lebih dulu dilakukan pengkajian atau penelitian, baik secara logis (formal) ataupun empiris (material), kualitatif maupun kuantitatif, induktif maupun deduktif (Hayon, 2005). Jika hasilnya benar, tahap kedua dari penelusuran sebab dapat dilakukan, yang berarti mencari sebab-sebab dari setiap sebab pada tahap pertama (Sa1, Sb1 dan seterusnya). Jika hasilnya salah, sebab tersebut diabaikan dan kembali ke awal dengan mengidentifikasi kemungkinan sebab lainnya. Pada langkah ketiga inilah keseluruhan pengetahuan tentang kebenaran dan pendekatan terhadap masalah diterapkan secara kritis.

Oleh karena itu untuk memenuhi syarat solusi sistemik ini. Kerjasama media massa dan ilmuwan bisa tergelincir melakukan “play acting at science” yang memunculkan ilmuwan selebritis). tetapi tidak mengatasi masalah secara “tuntas”. yang dalam penerapan rincinya (tahap pembuktian/penelitian) sangat mungkin membutuhkan analisis data kuantitatif serta penerapan logika formal dan logika material. Jika identifikasi sebab-sebab dilakukan hanya sampai permukaan saja. dan pada akhirnya a dan b sebagai sebab terdalam atau akar masalah (a dan b menunjukkan bahwa sebab dasar terdiri lebih dari satu sebab).d.b. Kalangan akademis pun bisa tanpa sadar melakukan hal yang sama dengan mengemasnya sebagai topik-topik penelitian dan diskusi. mengingat keterbatasan penulisan. Bedanya adalah bahwa kemungkinan sebab (faktor) yang diidentifikasi menjadi semakin sedikit karena adanya kesamaan sehingga bukan a. maka solusinya pun bersifat permukaan. tanggung/jangka menengah. f. Uraian di atas memperlihatkan bahwa MAAMS merupakan metode yang memiliki sifat kualitatif. Mungkin ini terjadi karena keengganan. dan dasar/jangka panjang. Catatan: Cukup sering terjadi. khususnya penelitian empiris.b. kurang mampu. di dalam flow chart dibedakan menjadi tiga: darurat/permukaan/jangka pendek. proses diulang dari tahap sebelumnya atau dari awal lagi. dan angka kredit kenaikan pangkat. Tahap kedua dan seterusnya (tahap ke n) caranya sama seperti tahap pertama. Berikut ini adalah contoh-contoh penerapan metode MAAMS yang. solusi dasar ditindaklanjuti lagi dengan evaluasi. apa yang dipandang sebagai akar masalah tersebut dapat secara sekaligus dicarikan solusi individual/ personal/mentalistik –berupa imbauan pada nurani atau niat seseorang– maupun solusi sistemik/ struktural/institusional/legalistik –berupa UU atau peraturan dengan sanksi hukum.c. terdapat persetujuan dari peserta yang terlibat perbincangan. Analisis yang tidak tuntas ini. Pertama. penelusuran sebab berhenti sebelum sampai pada akar masalah/akar penyebab.d lagi tapi a. kemalasan. Solusi individual relatif mudah dilaksanakan.c. secara sadar atau tidak. publikasi. termasuk dengan penelusuran ulang sebab-sebab. atau kurang jujur. demikian pula bila tanggung (Dua tahap inilah yang sering terjadi sehingga menimbulkan perbincangan yang berkepanjangan. sedangkan solusi sistemik lebih sulit dilaksanakan. Meski demikian keseluruhan contoh diharapkan sudah dapat menjelaskan penerapan MAAMS TATA ALIR METODE AAMS MASALAH SOSIAL (“X”) APA SEBABNYA ? . Mengenai solusi. dan tema jurnal yang mungkin “sekadar” menambah penghasilan. e. Selanjutnya. rumusan sebab atau akar masalah hendaknya memperlihatkan perilaku nyata yang cukup mudah diamati. dan tentu saja layak untuk dijatuhi sanksi hukum. dan lalu dipotong-potong menjadi kemasan topik-topik kecil yang sangat banyak jumlahnya. Kedua. Penelusuran dapat dihentikan dengan memperhatikan dua syarat. tidak sepenuhnya menerapkan langkah ke-3. Hanya bila akar masalah teridentifikasi maka solusi yang mendasar dapat dirumuskan. Jika syarat ini tidak terpenuhi. dimanfaatkan oleh media massa secara komersial –komodifikasi masalah– berupa talk show dan rubrik opini. deduktif maupun induktif.

. Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan..... menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi..ANALISIS STRATEGI DALAM MENGHADAPI ABAD 21 A.... YA / TIDAK SOLUSI DARURAT APA SEBAB DARI : Sa1.n SEBAB DASAR/AKAR MASALAH*) YA SOLUSI DASAR * Akar Masalah (San.... Sb(n) HINGGA SEBAB TERDALAM/ . Untuk jelasnya dapat dilihat pada : Gambar 1... proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus....... Sc1.....II BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : . Menurut Boulton...... Sbn) harus bisa disepakati.. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada...... dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah... Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi... Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus........SEBAB (SEBAB)NYA : Sa1 Sb1 Sc1 Sd1 BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : .. Sb2.. YA / TIDAK SOLUSI TANGGUNG APA SEBAB DARI : Sa2..... dan bisa langsung dicari solusi individual & sistemiknya sekaligus ** Sebab yang ditelusuri adalah sebab yang negatif Dari : JURNAL REVIEW “Chatlyn” ... Proses Analisis Kasus Mengetahui Strategi Perusahaan Jelaskan Situasi .. Sb1.. Sd1 SEBAB (SEBAB)NYA : Sa2 Sb2 Sc2 ... yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik. Sc2 DAN SETERUSNYA Sa(n)...

ISSN : 1829-5460 Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon. meteran. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. Bantan Air. parang. gunting. Pangkalan Batang. Tanjung Sekodi. Selat Baru dan Jangkang. Disetujui 20 Juni 2004 Jurnal Biogenesis Vol. thermohigrometer. TAHAP ANALISIS MATRIK MATRIK TOWS INTERNAL EKSTERNAL 3.Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau . tali plastik.Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau. soiltester dan botol semprot. Ketam Putih. kertas koran. Pekanbaru 28293 .Diterima 17 April 2004. sedangkan alat yang dipakai ompas.Evaluasi Situasi Tentukan dan Evaluasi lingkungan PELUANG dan ANCAMAN perusahaan Tentukan dan evaluasi lingkungan KEKUATAN danKELEMAHAN perusahaan Analisis masalah yang perlu mendapat perhatian Tentukan alternatif dan pilihan strategi Cari pemecahan masalah Untuk jelasnya. alkohol 70 %. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Matrik Evaluasi Faktor Eksternal Faktor Internal (EFE) (IFE) 2. Nursal Dan Supriyanti . . Kerangka Formulasi Strategis =============================================================== Dari : STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*). handrefractometer. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning (QSPM) Matrix Gambar 2. pancang. 1(1):26-30. Bahan yang diperlukan adalah : aquades. 2004 .

pH. Fak.marketingteacher. Agus Dwi W. Teknik UB. 1974). Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------luas plot Kerapatan suatu jenis Kerapatan Relatif = --------------------------------------.x 100% Kerapatan seluruh jenis Jumlah plot yang ditempati suatu jenis Frekwensi =----------------------------------------------jumlah seluruh plot Frekwensi suatu jenis Frekwensi Relatif = -------------------------------------. Ir. PWK.com/Lessons/lessom_swot. 2Alumni Jurusan. Dibuat 2 buah transekpada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telahditetapkan) .org/ActionGuide.x 100% Dominansi seluruh jenis Nilai Penting = FR + KR + DR =============================================================== www. lic. Fak. suhu udara.rer. PWK.. (1) Debby Dayusita. Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herba rium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986). (2).html Dari : Arahan Pemanfaatan Lahan Kawasan Rawan Bencana Longsor SSWP Ngantang Kabupaten Malang. secara purposive sampling.htm www. Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek. Teknik UB. kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling ba tang setiap individu tersebut.reg.justassociates. 1 Staf Dosen Jurusan. Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada. Pada tiap lokasi diukur parameter rlingkungan yang meliputi salinitas. suhu air.com/swot.x 100% Frekwensi seluruh jenis Jumlah Basal Area suatu jenis Dominansi = ------------------------------------------Luas area contoh Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi suatu jenis Dominansi Relatif = ----------------------------------.mindtools. Budi Sugiarto. . MSP (1) dan Ir. kadar organik dan tekstur tanah.htm www.Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg.

ahli ekologi. (iii) Menentukan strategi pemanfaatan lahan berdasarkan aspek penggunaan lahan. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. ahli sosial ekonomi. Bagaimana kondisi kerawanan longsor pada wilayah penelitian? 2. kondisi kinerja kawasan rawan bencana longsor berada pada kuadran IV yang berarti perlu penerapan strategi diversifikasi untuk mengatasi ancaman dan mencapai peluang. Kabupaten Malang. yaitu : 1. Dinas ESDM serta Kabid Linmas Dinas Kesbang Linmas. Strategi pemanfaatan lahan diarahkan berupa diversifikasi tanaman dan diversifikasi usahatani. Bobot masing-masing faktor diolah dengan menggunakan software Expert Choice. (ii) Mengevaluasi kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor dengan teknik intersect overlay dengan GIS. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Longsor dan Pedoman Kehutanan Indonesia. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut. sosial. Guna lahan yang tidak sesuai akan diberikan arahan pengaturan penggunaan lahan dilengkapi dengan pengendalian longsor secara mekanis. Analisis tingkat kerawanan bencana longsor dan analisis kesesuaian penggunaan lahan menggunakan alat bantu sistem informasi geografis dengan perangkat lunak AutocadMap versi 2004 dan ArcView versi 3. Tabel 10.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pemanfaatan lahan sebagai upaya pengurangan resiko bencana longsor. Arahan pemanfaatan lahan menggunakan literatur Permentan No 47/2006. Langkah-langkah penelitian yaitu : (i) Mengidentifikasi tingkat kerawanan longsor dengan teknik ranking overlay secara aritmatik dengan GIS. Kasembon. Penelitian ini dilakukan tahun 2007-2008 di wilayah SSWP Ngantang. diperlukan strategi yang dihasilkan melalui analisis IFAS EFAS. maka dapat dihasilkan tiga rumusan masalah. analisis kesesuaian penggunaan lahan dan analisis SWOT dengan IFAS EFAS. Hasil analisis SWOT dan IFAS EFAS. sedangkan dalam analisis SWOT menggunakan metode AHP dengan alat bantu software Expert Choice untuk menentukan bobot berdasarkan pendapat para ahli. Bagaimana strategi pemanfaatan lahannya? Untuk menentukan arahan pemanfaatan lahan. Penentuan strategi pemanfaatan lahan Masing-masing bobot aspek kinerja kawasan ditentukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process berdasarkan pendapat ahli yang terdiri dari ahli tata ruang. ekonomi dan kelembagaan dengan analisis SWOT dan IFAS EFAS. asisten Perhutani. Masing-masing faktor strategis yang diperoleh dari analisis potensi dan masalah dilakukan perhitungan terhadap bobot dan ratingnya dalam matrik IFAS EFAS.238 RATING 3 BXR 0. Matriks IFAS FAKTOR STRATEGIS KEKUATAN Keberadaan kawasan vegetasi permanen sebagai penutup lahan BOBOT 0.2. Ngantang.714 . Bagaimana kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor? 3. Metode analisis kuantitatif diterapkan pada analisis tingkat kerawanan longsor. Kepala Kecamatan Pujon. Pembobotan didasarkan jawaban para responden dan diolah menggunakan prinsip metode AHP.

207 0.021 0.044 RATING 3 3 3 3 3 3 BXR 0.FAKTOR STRATEGIS mencapai luas 43.312 .086 0.128 0.039 0.58% Adanya kepedulian dalam kehidupan masyarakat Perkembangan sektor peternakan berpotensi meningkatkan pendapatan Produktivitas pertanian dari tahun ke tahun meningkat Sudah adanya badan penanganan bencana untuk tiap-tiap kecamatan di bawah koordinasi pemerintah daerah Masyarakat cukup sigap dalam penanganan bencana yang bersifat lokal Adanya pemberdayaan kelompok tani dan berdirinya koperasi di masingmasing kecamatan TOTAL KELEMAHAN Ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan tingkat kerawanan longsor mencapai 51% Tekanan penduduk terhadap lahan tinggi Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan Ketergantungan penduduk terhadap lahan tinggi Tingkat pendapatan perkapita masyarakat di SSWP Ngantang rendah Inovasi petani rendah Lemahnya penegakan hukum dan peraturan TOTAL Sumber: Hasil analisis (2008) BOBOT 0.054 0.104 3 0.383 0.054 0.162 0.149 Tabel 11.039 1 2 3 2 2 3 1 1 0.117 0.043 0.066 0.039 1.162 0.237 0.069 3 0.063 0. Matriks EFAS FAKTOR STRATEGIS PELUANG Adanya sosialisasi yang diberikan LSM terkait kondisi kebencanaan di SSWP Ngantang SSWP Ngantang merupakan salah satu sentra pengembangan kawasan hortikultura di Kabupaten Malang dan melayani perdagangan hasil pertanian skala regionalnasional BOBOT RATING BXR 0.238 0.079 0.129 0.022 0.476 0.021 0.043 0.132 1.021 0.064 0.

694 Koordinat X yang berisi kekuatan dan kelemahan objek penelitian memiliki nilai sebesar 0.0.063 0.071 – 1.069 0.623 BOBOT 0.694 = .126 0. Gambar 6.161 0.037 1 3 3 2 2 2 1.149 = 0.074 1.213 0.213 1.071 0. Koordinat yang menunjukkan posisi wilayah penelitian dalam kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar 6.063 0.126 0.071 0.623. Diagram kuadran SWOT PEL UANG (+) KUADRAN II Stability KUADRAN I Growth KEL EMAHAN (-) K EKU ATAN (+) Conse ntric Strate gy KUADRAN III Survival KUADRAN IV Diversification ANCAMAN (-) .126 0.234 Y = Peluang .207 0.063 0.387 0.FAKTOR STRATEGIS Adanya landasan hukum untuk penetapan dan perlindungan kawasan rawan bencana dan program reboisasi Peluang kerja sama dengan pihak PT Nestle sebagai pasar tetap di sektor peternakan Peluang kerja sama dengan Perhutani dalam kegiatan pemanfaatan lahan TOTAL ANCAMAN Bencana longsor Degradasi lingkungan akibat lahan kritis Keterbatasan informasi mengenai kawasan rawan bencana Masih terbengkalainya penanganan bencana longsor Intervensi pemerintah untuk menangani bencana skala luas masih dibutuhkan TOTAL X = Kekuatan .234.Ancaman = 1.383 – 1.071 RATING 2 3 3 BXR 0. Sedangkan koordinat Y yang terdiri dari peluang dan ancaman memiliki besaran -0.Kelemahan = 1.

Fakultas Pertanian . menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah. Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi. yaitu tahap masukan. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus. Menurut BouLton. Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: B. proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus.Universitas Sumatera Utara © 2004 Digitized by USU digital library A. Tahapan Perencanaan Strategis Proses penyusunan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik. dan tahap keputusan. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada.Dari : ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN ISKANDARINI . tahap analisis. .

laporan kegiatan operasional. Dalam evaluasi faktor strategis yang digunakan pada tahap ini adalah model Matrik Faktor Strategis Eksternal dan Matrik Faktor Strategi Internal. tetapi juga merupakan suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra-analisis. terstruktur maupun tidak terstruktur. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. Keputusannya didasarkan alas justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. analisis komunitas.0 (tidak penting). sehingga dapat diambil keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) 2. struktur pendanaan). keahlian. TAHAP MASUKAN Tahap ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data. yaitu data eksternal dan data internal. Misalnya. pendidikan. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Evaluasi Faktor Internal (IFE) Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitave Strategic Planning (QSPM) Matrix 1. Sedangkan data internal dapat diperoleh di dalam perusahaan itu sendiri. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman). Laba-rugi. turn-over).Tahap akhir analisis kasus adalah memformulasikan keputusan yang akan diambil.0 (sangat penting) sampai dengan 0. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). analisis kelompok kepentingan tertentu. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. diberi rating +1). analisis kompetitor. TAHAP ANALISIS MATRIK TOWS MATRIK INTERNAL EKSTERNAL 4. analisis pemerintah. Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis. pengalaman. mulai adri 1. Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua. • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. . tetapi jika peluangnya kecil. Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. laporan kegiatan sumber daya manusia jumlah karyawan. a. cash-flow. jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. laporan kegiatan pemasaran. seperti laporan keuangan (neraca. Data eksternal dapat diperoleh dari lingkungan di luar perusahaan. Untuk jelasnya. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS). analisis pemasok. seperti analisis pasar. gaji.

Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1 . berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan. a. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor). nilainya adalah 1. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. • Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. sedangkan jika kelemahan perusahaan di bawah rata-rata industri. Skor total ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama.0 (tidak penting). dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. kelemahan. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). tujuan.• Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3.0 (poor). untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. nilainya adalah 4. suatu label IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka Strength and Weakness perusahaan. Dalam hal ini digunakan model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. Untuk membuat matrik faktor strategi internal tersebut. Matrik TOWS atau SWOT Analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematika untuk merumuskan strategi perusahaan. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3.0 (outstanding) sampai dengan 1. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang b. Dengan demikian perencana strategi (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan.0 (paling penting) sampai 0. jika kelemahan perusahaan besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri. kebalikannya. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4.0. Tahap Analisis kelangsungan perusahaan. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategi. Adapun tahapan pembuatan matrik faktor strategis internal adalah sebagai berikut : • Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan perusahaan dalam kolom 1. peluang. terlebih dahulu harus melalui beberapa tahapan. strategi. Sedangkan variabel yang bersifat negatif. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya. Matrik Faktor Strategi Internal Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi. dan kebijakan perusahaan.0 (poor).0 (outstanding) sampai dengan 1. 2. Analisis didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) den peluang (Opportunities). Contohnya. Hal ini disebut . untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4.

Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisa SWOT. (1997). Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altematif strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 berikut ini.dengan Analisis Situasi. 2. dan 5) atau upaya diversifikasi (sel 7 dan 8). • Strategi ST Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. • Strategi WT Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. yaitu: • Growth Strategy yang merupakan pertumbuhan perusahaan itu sendiri (sel 1. • Stability Startegy adalah strategi yang diterapkan tanpa mengubah arah strategi yang telah ditetapkan. dan 9) adalah usaha memperkecil atau mengurangi usaha yang dilakukan perusahaan . Menurut Rangkuti. • Strategi WO Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. tetapi pada prinsipnya kesembilan sel itu dapat dikelompokkan menjadi tiga strategi utama. yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. • Retrenchment Strategy (sel 3. F. Matrik Internal-Eksternal (lE) Parameter yang digunakan dalam matrik intemal-ekstemal ini meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi. b. diagram tersebut dapat mengidentifikasi 9 sel strategi perusahaan. Tujuan penggunaan model ini adalah untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detail. 6.

Kalikan bobot dengan SA pada masing-masing faktor eksternal / internal pada setiap strategi. Berilah bobot untuk setiap faktor eksternal dan internal. f. 8. b. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategis. Jumlahkan seluruh skor SA C. c. STABILITY GROWTH RETRENCHMENT Hati . Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM ) merupakan teknik yang secara obyektif dapat menetapkan strategi altematif rang diprioritaskan.3. 6.hati Konsentrasi melalui Captive Company Integrasi horizontal Atau STABILITY Divestment Tak ada perubahan Profit strategi 7. QSPM memerlukan good intuitive judgement. Penutup Untuk memperoleh keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada merupakan rangkaian proses dari analisis kasus yang memformulasikan semua keputusan yang akan diambil berdasarkan justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. Buatlah daftar faktor eksternal (kesempatan/ancaman) dan faktor internal (kekuatan/kelemahan) di sebelah kiri dari kolom matrik QSPM. 5. terstruktur maupun tidak terstruktur. Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan.Ekstemal (lE) GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi vertikal 2. Langkah-langkah dalam menyusun QSPM adalah sebagai berikut : a.Sebagai suatu teknik. 9 GROWTH GROWTH RETRENCHMENT Difersifikasi Konsentrik Difersifikasi Konsentrik Gambar 4. maka tahap selanjutnya disusunlah daftar prioritas yang harus diimplementasikan. d. Analisis matrik yang sesuai dari langkah kedua dengan mengidentifikasikan strategi alternatif yang harus diimplementasikan. Matrik Intemal. Berikan skor altematif (SA) dengan rentang skor sebagai berikut : 1 = tidak memiliki daya tarik 2 = daya tariknya rendah 3 = daya tariknya sedang 4 = daya tariknya tinggi 5 = tidak memiliki dampak terhadap strategi alternatif e. Tahap Pengambilan Keputusan Setelah tahapan-tahapan terdahulu dibuat dan dianalisa. Salah satu model pemecahan masalah . 3. GROWTH RENTRENCHMENT Konsentrasi melalui Turnaround Integrasi horizontal 4.

Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan.yang dapat digunakan adalah model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. tujuan. kelemahan. QSPM memerlukan good intuitive judgement. dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). strategi. dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. peluang. Sebagai suatu teknik. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). ================================================================== . dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.

6. 3. A 8 (D da elapan) langk strategis : Identifikasi M dan S isi a A nalisa Lingkungan Lu Identifikasi P eluang da A nalisa Lingkungan In O rganisasi Identifikasi K ekuatan d Atrategi M erum uskan S n a lis a M elaksanakan S un g trateg L in gk G am ba . 7. 4. 2.P O E M N JE R S S A A  1. 5.

A A IS S O NL A WT  D la Id n a i K k a a m e tifik s e u ta d nA c mnd elu a a a n a a ip r k n A a aS O n lis W T  A a aS O mmn k n lis W T e u g i P mg a b nu g u nk e e grtia e:n g la e nn mil k e e g a a Oa en  mn h d W c sa a a A a inSi a Tmb g n lis r n  A alis S W . A a a pulan data n . a uin (O mrtu itien nta u p n C M buat A ara em n m m im lk nK le a e in a a e m  P c m n(T re ts engum h a ).Tg ae n lis aW T a la A a a SO ju amm n O d h mc k nis k ktis u d e a asa mu tana n ra k n e a n tu e s e te a mn e in s k le a a e g lim a i e mh n pg n as a . e sa a n ruish o a r i  A a a W d mnrk n n i s a  A alis S Oidea d d n lis is in T a ja i a mp ra spolk n a k p e a e c r m k imfiled Kn u o o te r a aim a a d la ou tub sisa m n ap s a is).

Dg mnls S O i r A ii W aa a s T O I S O S I V W O M tr IF Sd nE A a ik A a F S I I T F kS a to r -F k r a to Sa g tr te is II I W T B 1 P lu n . na a T Matrik IFAS dan 1 . e ag 2 A c mn .

APORTUNITIES S ltern atif trateg O P (O O : m anfaatka )  S em Analisis SWOT merupakan bagian dari proses perencanaan.M trik In ra S a te ksi W IF S A EA F S =============================================================== Dilihat dari sejarahnya dan penggunaannya saat ini. Hal utama yang ditekankan adalah bahwa dalam proses perencanaan tersebut. metode SWOT banyak dipakai di dunia bisnis dalam menetapkan suatu perencanaan strategi perusahaan (strategic planning) sehingga literatur mengenai metode ini banyak berkaitan dengan aspek penerapan di dunia bisnis meskipun pada beberapa analisa ditemukan pula penggunaan SWOT untuk kepentingan public policy. Dengan analisa SWOT akan m erebut dan m an em pertum buhan agresi TR S S : m ) AT (T  E TH eskipun m m asih m iliki keku em . suatu institusi membutuhkan penilaian mengenai kondisi saat ini dan gambaran ke depan yang mempengaruhi proses pencapaian tujuan institusi.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Strategi ini bisa jadi bukan merupakan strategi yang disusun berdasarkan kebutuhan institusi menghadapi gejala perubahan lingkungan eskternal yang ada melainkan merupakan strategi turunan yang telah ada sejak lama dipegang institusi. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. faktor netral. yaitu 5 : 1. kekuatan tambahan. Sebagaimana kekuatan peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. Bagaimana pengaruh lingkungan melahirkan analisa SWOT dapat dilihat Lingkungan di Luar Institusi yang Mempengaruhi Strategi dan Kebijakan Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahanpeluang dan ancaman. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. 4 Terdapat beberapa metodologi dalam penyusunan SWOT. 3. Mengidentifikasi existing strategy yang telah ada dalam institusi sebelumnya. sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi.didapatkan karakteristik dari kekuatan utama. Membuat cross tabulation antara strategi yang ada saat ini dengan perubahan lingkungan yang ada. Mengidentifikasi perubahan-perubahan lingkungan yang dihadapi institusi dan masih mungkin terjadi di masa mendatang. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. 2. secara umum terdapat keseragaman bahwa penentuan tersebut akan tergantung dari faktor lingkungan yang berada di luar institusi. Johnson dan Scholes menjelaskan bahwa dalam penyusunan SWOT terdapat empat langkah utama yang harus dilakukan. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low. Dari analisa tersebut potensi dari suatu institusi untuk bisa maju dan berkembang dipengaruhi oleh : bagaimana institusi memanfaatkan pengaruh dari luar sebagai kekuatan tambahan serta pengaruh lokal dari dalam yangbisa lebih dimaksimalkan. Faktor Lingkungan dalam Analisis SWOT Walaupun terdapat beberapa metode penentuan faktor SWOT. • Peluang dan Ancaman. Faktor lingkungan eksternal mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendali institusi (exogen) sementara faktor internal merupakan faktor-faktor yang lebih bisa dikendalikan. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. 4. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang . Menentukan katagorisasi kekuatan dan kelemahan berdasarkan penilaian apakah strategi yang saat ini ada masih sesuai dengan perubahan lingkungan di masa mendatang : Jika masih sesuai strategi tersebut menjadi kekuatan/peluang. • Kekuatan dan Kelemahan. Sehingga sama dengan kekuatan. dan sudah tidak sesuai merupakan kelemahan. kelemahan utama dan kelemahan tambahan berdasarkan analisa lingkungan internal dan eksternal yang dilakukan. 2. tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar.

Tahap terakhir adalah tahapan dalam pengambilan keputusan (decision making). analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut Dari :http://boed-health. o Ancaman tidak utama (minor threats). tahap pencocokan atau analisis. adalah ancaman yang kemungkinan terjadinya tinggi dan dampaknya besar. . untuk menentukan strategi mana yang paling baik untuk diimplementasikan. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar. QSPM memerlukan intuisi yang baik dalam penilaian. QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) merupakan teknik yang secara objektif dapat menetapkan strategi alternatif yang diprioritaskan. o Best. dan tahap keputusan (decision making). Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats).blogspot. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapaianya besar. Dalam tahap ini metode yang digunakan adalah SWOT. adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil Ancaman moderate. yaitu tahap masukan atau input. berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. dalam tahap ini metode yang digunakan adalah QSP matriks.com/2010/03/metode-qspm-quantitive- strategic. Untuk ancaman utama ini. • Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. Tahap masukan atau input dilakukan dengan menggunakan metode matrik EFE dan matrik IFE. 13 Maret 2010 METODE QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) Proses penyusunan perencanaan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. berdasarkan faktor kunci kesuksesan internal-eksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya. tujuan metode ini adalah untuk menetapkan kemenarikan relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih. diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. pada tahap ini fokus pada strategi alternatif yang dihasilkan. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). Selanjutnya adalah tahap pencocokan atau analisis.pencapaiannya juga kecil o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. hasilnya disajikan dalam bentuk informasi untuk masukan tahapan berikutnya. • Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan(persaingan) dan tidak bisa dihindari. Metode ini adalah alat yang dirokemandasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternatif secara objektif.html-Sabtu. Secara konseptual. Sebagai suatu teknik.

1998). Pembobotan tetap menggunakan skala 1 ( sangat penting ) hingga o ( tidak penting )akan tetapi penentuan nilai skala untuk masing2 situasi total berjumlah 1 dengan cara : a. Dalam menentukan strategi yang terbaik.0 – 1. yang kemudian di kalikan.. lau dikalikan dengan konstanta ( K ) nilai tertinggi yaitu 4 b. dilakukan pemberian bobot yang berkisar antara 0. Peringkat tetap menggunakan skala 1 (rendah ). QSPM sangat diperlukan sebagai metode pengambilan keputusan setelah tahap input dan tahap analisis dilakukan. Selanjutnya antara bobot dan rating dikalikan menghasilkan skor (Rangkuti.2.meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). 2006. urutan ke 2 nilainya 3x4=12 dan terendah nilai 4 dari 1x4. KABUPATEN MINAHASA. diperthitungkan rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala dari 4 hingga 1.0 dimana nilai 0. maka nilai skala ditentukan berdasarkan prioritas dari masing2 situasi ( misalnya skala 4 untuk Peluang yang Utama ) . .com : ….1.4 ( tinggi ) untuk Kekuatan dan Peluang.0 berarti sangat penting. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Dari : KAJIAN POTENSI SUMBERDAYA HUTAN MANGROVE DI DESA TALISE .Dalam mengadakan perencanaan strategi dalam suatu organisasi. namun karena tidak ada pembanding. Disamping itu. akan diperoleh hasil kombinasi dari beberapa Situasi : SO = memanfaat kan kekuatan untuk menggunakan peluang WO = minimalkan kelemahan untuk manfaatkan peluang ST = memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi Ancaman WT = minimalkan kelemahan hindari ancaman F. Kondisi eksternal-internal organisasi sangat diperlukan dalam penggunaan metode ini. QSPM sangat berhubungan dengan metode-metode lain yang digunakan dalam tahap input dan analisis sebagai bentuk informasi untuk tahap QSPM sendiri. SULAWESI UTARA Oleh: Adnan WantasenC261020021 E-mail: ananw2000@yahoo. Masing2 nilai situasi tersebut dibagi dengan Total Nilai SP x K . Analisi SWOT : Teknik Membedah Kasus Bisnis. Urutkan factor situasi berdasar skala prioritas ( SP ) ( tertinggi nilainya 16 dari 4x4. Nilai Tertinggi untuk Bobot x Peringkat ialah 1.3.2 Kuat dan terendah adalah 0 0– 1 Lemah Berdasarkan nilai Peringkat dan Pembobotan.3 . sehingga dapat diputuskan pemilihan prioritas strategi mana yang akan digunakan sesuai dengan keadaan organisasi tersebut DAFTAR PUSTAKA > Modul Mata Kuliah Analisa Keputusan Jurusan Teknik Industri UMB > Rangkuti. Freddy.0 berarti tidak penting dan nilai 1.Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran SP 3 K 4 SP X K 12 BOBOT 12/40=0. yaitu dari sangat baik sampai kurang baik. sedangkan skala 4 ( rendah ) – 1 ( tinggi ) untuk Kelemahan dan Ancaman.

Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. mulai adri 1.0 (poor).-Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS 2 4 1 4 4 4 8 16 4 40 8/40=0. dengan sampel yang diambil sebanyak 10 plot dengan metode Plot Sistematik. • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman).4 4/40=0.2 16/40=0. Analisis .0 Berdasar table sintesa .1 1. • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. tetapi jika peluangnya kecil.2 USU : a. diberi rating +1).0 (outstanding) sampai dengan 1. jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). Sedangkan sampel tanah diambil dalam tiga lokasi yang berbeda.2 16/40=0. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masingmasing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4.1 1.0 Peringkat 4 3 4 2 Bobotx Peringkat 1. dibuat table faktor2 strategik Internal F Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran -Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS Bobot 12/40=0.2 0. KOTA DENPASAR . untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4.6 1.3 8/40=0. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama.0 (sangat penting) sampai dengan 0.I Ketut Sundra Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Udayana Abstrak Penelitian ini dilakukan di Pulau Serangan pada bulan Agustus 2004.6 0. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis.0 (tidak penting).4 4/40=0. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS). © 2004 Digitized by USU digital library 2 Dari : ANALISIS STRUKTUR VEGETASI HUTAN MANGROVE DI KAWASAN REKLAMASI PULAU SERANGAN. Misalnya. Analisis vegetasinya dilakukan dengan menetapkan nilai penting jenis dan indeks diversitas seluruh jenis yang diketemukan. Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya.

Pancang ukuran Sub Petak 5m x 5m dan ukuran Pohon Sub Petak 10 m x 10 m. Index keanekaragaman. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. ……Berdasarkan hsl analisis Kerapatan dan Luas Penutupan Tajuk. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility.057004020. Dari : Lengkap ! Tesis Sri Susanti Ningsih. Metoda penelitian Metoda Garis Berpetak ( Jalur Berpetak ) dengan satu buah jalur u tiap desa penelitian berukuran 10 m x 60 m dengan arah tegak lurus tepi laut. tidak semua kelemahandari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang pencapai annya juga kecil . mangrove di pesisir Deli Serdang umumnya rusak.USU erepository Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan membandingkan kondisi hutan mangrove serta cara penegelolaan h. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. mangrove di pesisir Deli Serdang. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. Diagram Profil. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. Parameter yang dianalisis :Index Nilai penting. P. U semai ukuran Sub Petak 2m x 2m.Inventarisasi Hutan Mangrove sebagai Bagian dari Upaya Pengelolaan Wilayah pesisir Kabupaten deli Serdang. Sehingga sama dengan kekuatan.tanah dilakukan untuk menetapkan kandungan unsur hara makro (N. Dari : Metodologi Penelitian : Analisa SWOT-Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat . Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas.pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan – USU . bhw kond h. K dan bahan organic). sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Ketebalan Mangrove dan Salinitas.Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahan peluang dan ancaman. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Sebagai bahan penelitian 9 desa h. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low.Mangrove di Deli Serdang.

o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. o Best, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapai anya besar. Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan (persaingan) dan tidak bisa dihindari. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats), adalah ancaman yang kemungkinanterjadinya tinggi dan dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini, diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. o Ancaman tidak utama (minor threats), adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil o Ancaman moderate, berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar, analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut: Matrix SWOT……… 3. Metode Survey Untuk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber melalui analisis SWOT di atas digunakan metode survey dengan frame sample pihak-pihak (stakeholders) yang bisa memberikan penilaian aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja suatu institusi atau lembaga. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan gambaran awal dari peta permasalahan yang ada di institusi. FGD harus dilakukan dengan komprehensif artinya melibatkan seluruh stakeholders sehingga peta yang terbentuk telah mewakili seluruh kepentingan stakeholders. Karena sifatnya yang bersumber dari informasi kual itatif pemilihan responden yang credible sangat mempengaruhi hasil akhir dari analisa SWOT sehingga hendaknya harus dilakukan dengan beberapa kualifikasi. 2. Pembuatan kuesioner SWOT berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dalam FGD. Secara umum kuesioner ini memiliki katagorisasi penilaian sebagai berikut: ·* Penilaian faktor internal dan eksternal. Di sini responden membrikan preferensi opini terhadap faktor-faktor internal dan eksternal dari institusi pada saat ini dan perkiraan di masa mendatang. ·*Penilaian urgensi. Di sini responden diminta untuk menilai tingkat urgensi faktor terse but untuk ditangani. Penilaian ini berhubungan dengan skala prioritas dalam menyelesai kan persoalan-persoalan pembangunan yang tercermin melalui faktor-faktor yang dinilai. Contoh dari penilaian internal dan eskternal dan contoh penilaian urgensi dapat dilihat sebagai berikut

Contoh Kuesioner SWOT
No Bidang Pembangunan 1 -Penilaian Kondisi Saat Ini – 2 3 4 5 6 1 Urgensi Penanganan 2 3 4

I. Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan : 1. Pendapatan Masyarakat …………………………………………………………………………………………………….. 2. Tingkat kesehatan masy………………………………………………………………………….. 3. ............................................................................................................................................. \ Penilaian Responden: Urgensi Penanganan: Angka 1 = Sangat Kurang Angka 1 = Tidak Urgen Angka 2 = Kurang 2 = Agak Urgen Angka 3 = Cukup 3 = Urgen Angka 4 = Agak Baik 4 = Sangat Urgen Angka 5 = Baik Angka 6 = Sangat Baik

Dari tabel di atas dapat dijelaskan beberapa layer analisa sebagai berikut. ⇒ Bidang merupakan katagori yang memiliki beberapa faktor. Dari contoh di atas Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan merupakan ”bidang” penilaian yang memiliki dimensi internal dan eksternal. ⇒ Faktor, merupakan bagian dari bidang yang merupakan penjabaran spesifik dari masing-masing bidang. Dari contoh di atas (1) pendapatan masyarakat dan (2) tingkat kesehatan masyarakat merupakan ”faktor”. Faktor inilah yang kemudian terkatagori sebagai kekuatan atau kelemahan (dari analisa internal) dan peluang atau ancaman (dari analisa eksternal). Setelah kuesioner terisi dan terkumpul semua, penilaian faktor dilakukan dengan meranking bobot penilaian pada ”penilaian responden” yang memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 1. Faktor-faktor yang memiliki nilai di atas median (atau rata-rata dilihat dari persebaran distribusi probabilitasnya) disebut dengan ”kekuatan” pada analisa internal dan”peluang” pada analisa eskternal. Sebaliknya faktor-faktor yang memiliki nilai penilaian di bawah median disebut dengan ”kelemahan” pada analisa internal dan ”ancaman” pada analisa eksternal. Membentuk suatu kuadran faktor pembangunan, yaitu suatu blok yang menjelaskan posisi dari kombinasi faktor internal dan eksternal pembangunan, dengan kombinasi : kekuatan-peluang (S-O), kekuatan-ancaman (S-T), kelemahan-peluang (WO) dan kelemahan-ancaman (W-T). Sebelum menentukan kuadran pembangunan, harus dilihat terlebih dahulu uji konsistensi dari pengolahan kuesioner SWOT. Uji konsistensi pengisian kuesioner mensyaratkan dua asumsi utama, yaitu : o Untuk Prioritas, rata-rata nilai (average) prioritas seluruh faktor dominan (S/O) > faktor non dominan (W/T) o Untuk Urgensi, rata2 nilai(average) urgensi f. non dominan (W/T) > f dominan (S/O)

Tabel 3 Contoh Perhitungan Consistency Index Pengolahan Kuesioner PRIORITY S W O T 3.90 S 3.01 W 3.72 O 2.98 T Consistency index Priority Dominan 1.05 Non-Dominan 1.01 Consistency index Urgency Dominan 1.03 Non-Dominan 1.07 URGENCY 3.07 3.16 2.97 2.96

Menjumlahkan (sum product) dari seluruh bobot prioritas dan urgensi sehingga di da patkan kombinasi nilai dari faktor internal dan eksternal. Tabel 4 Contoh Indeks Penilaian Kuadran Kebijakan KUADRAN S W O 835.45 820.53 T 775.05 760.13

embuat pola strategi pembangunan berdasarkan Indeks Penilaian Kuadran.Prioritas M strategi pembangunan berdasarkan skenario ini ditetapkan dengan menjalankan kombinasi kebijakan dengan indeks nilai paling kecil berurutan ke yang paling besar. Dengan kata lain, daerah akan berusaha untuk mengatasi seluruh faktor yang paling lemah yang dimiliki untuk kemudian beralih pada kombinasi strategi yang telah memiliki indeks baik/tinggi. Dari contoh di atas strategi pembangunan yang dilakukan institusi akan bergerak dari WT-ST-WO-SO. 4. Persebaran dan Profil Responden Responden yang terlibat dalam studi ini terdiri dari beberapa stakeholders baik pemerintah maupun perwakilan masyarakat, LSM serta tokoh agama. Daftar responden yang diwawancara adalah sebagai berikut: Pemerintah aerah Badan-badan: Bappeda, Badan Kesbang dan Politik, BPKD, Badan Diklat Dinas-dinas: Dinas Pendidikan, Kesehatan, PU,Perhubungan dan Pariwisata, Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup, Pemadam Kebakaran, Tenaga kerja dan Catatan Sipil, Koperindag, Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Kelautan dan Perikanan, Syariat Islam. Sekdakab: Bagian tata Pemerintahan, Hukum, Ekonomi, Pembangunan, Kesra, Organisasi. Kantor-kantor: RSUD, Kantor Sosial, Pemuda dan olah raga, perpustakaan dan Arsip, Satpol PP, Peternakan, Pertambanagn dan energi Kecamatan: Karang Baru, Banda Mulia, Kejuruan Muda =================================================================== Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem, dan bukan hanya melihat gejalagejala dari suatu masalah. Chandler (1962): strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumberdaya. Porter (1985): strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing.

Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada hutan mangrove. 4. digunakan untuk menetukan pH tanah dari wilayah pengambilan sampel 5. digunakan untuk menetukan titik koordinat wilayah pengambilan sampel di peta.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara. Kunci Determinasi/identifikasi.gejala dari suatu masalah. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter. GPS (Global Position System). 7. Role Meter. 4. Soil tester.2. 3. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. digunakan untuk mengetahui wilayah tempat pengambilan sampel.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. digunakan untuk mengukur salinitas/kadar garam air laut. 2007). Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. Apa yang sebenarnya telah terjadi ? Mengapa masalah tersebut bisa terjadi ? Mengapa dan Megapa ? Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari masalah tersebut untuk tidak terjadi lagi di masa depan? =============================================================== Dari :Mangrove Desa Bulalo Kec Kwandang Gorontalo Utara 3. . Menentukan titik wilayah sampel titik koordinatnya dengan menggunakan GPS ( 2. Salino meter.Hamel dan Prahalad (1995): strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) yang dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh pelanggan di masa datang. digunakan untuk mengidentifikasi tanaman mangrove. 3. Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan menggunakan kunci determinasi/kunci identifikasi. dan bukan hanya melihat gejala.2. Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon. 3. pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. 6. 5 x 5 meter untuk golongan anak .4 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1.2 Sampel adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. 3.5 Prosedur Pengumpulan Data: 1. 3. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masing-masing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan. Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem. Kamera. alat untuk dokumentasi. Peta Wilayah. digunakan untuk membuat plot (kuadrant) 2.

Indeks Nilai Penting ini interpretasi komposisi vegetasi dan pola zonasi hutan mangrove. 3. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = Dominasi Relatif = Densitas = Densitas Relatif = Frekuensi = Frek relalif c. frekuensi relatif dan besarnya Indeks Nilai Penting. sebagai berikut: a. Penentuan Basal Area BA = d = diameter batang setinggi dada b. 1976 dalam Hardjosuwarno. 6. Mengukur salinitas air pada dengan menggunakan Salinometer. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa langkah yaitu antara lain sebagai berikut: 1. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian akar tumbuhan mangrove. akar dan daun) dari masing-masing tumbuhan yang menjadi sampel. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel dengan Soil Tester. akar. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. dominansi relatif. menghitung dalam parameter vegetasi dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Cox. Mencocokkan (ciri-ciri morfologi dari batang. densitas (kerapatan). menghitung basal area. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot BBerikut ini adalah Lay Out yang digunakan dalam pengambilan sampel dilapangan. Mengambil bagian-bagian morfologi (batang. 2. 1994 yaitu dengan menghitung dominansi. densitas relatif. 3.6 Prosedur Analisis Data Data mengrove dianalisis dengan cara menghitung besarnya Indeks Similaritas (IS) dan Indeks Disimilaritas.5. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian daun tumbuhan mangrove. 8. frekuensi. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. dan daun dari tumbuhan mangrove) mangrove yang terdapat pada buku determinasi/identifikasi (buku panduan ). . 5. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). 6. 7. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian batang tumbuhan mangrove. Membuat herbarium dari masing-masing jenis-jenis tumbuhan yang diperoleh untuk diidentifikasi di Laboratorium Biologi UNG. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). 4.

3. Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. dan kebijakan perusahaan. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. QSPM memerlukan good intuitive judgement =================================================================== Dari : KOMPOSISI DAN POLA ZONASI VEGETASI HUTAN MANGROVE 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di kawasan pesisir pantai Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. 3.2.2 Populasi dan Sampel 3.Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix).Sebagai suatu teknik.2 Sampel dalam penelitian ini adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. strategi. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).2. kelemahan. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. peluang.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. Lokasi penelitian terdiri atas 2 stasiun pengamatan. 3. dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masingmasing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan. Waktu Penelitian selama 3 bulan yaitu pada Bulan Agustus sampai Bulan Oktober 2008. Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot . Gorontalo Utara. tujuan.

Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = = Dominasi Relatif Densitas = = Densitas Relatif Frekuensi = = Frekuensi relalif c. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. Zahrial Coto. d = diameter batang setinggi dada b. 2. 3.Institut Pertanian Bogor Desember 2004 Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng. Dr. Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada h mangrove. Ir. Menentukan titik masing-masing wilayah yang menjadi wilayah sampel penelitian dan menentukan titik koordinatnya pada peta dengan GPS (Global Position System). Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. Abdoel Djamali NRP 0261040161/SPL . 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter. M. Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan kunci determinasi/ identifikasi. 4. Mengukur salinitas air pada setiap zonasi hutan mangrove dengan Salinometer. 6.com 1. Abdoel Djamali Posted: December.masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon.Sc Dr. 2007). 7.S PERSEPSI MASYARAKAT DESA PANTAI TERHADAP KELESTARIAN HUTAN MANG ROVE (Studi Kasus Di Kabupaten Probolinggo) Oleh : R. . Mengukur pH tanah dari wilayah sampel yang menjadi lokasi penelitian dengan menggunakan Soil Tester. 8. M. 5. M F (Penanggung Jawab) . Ir. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). 2004 . 3.5 Prosedur Pengumpulan Data Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data sebagai berikut: 1. 5 x 5 meter untuk golongan anak pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot B =============================================================== Dari : R.Prof.2 Permasalahan . Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. sebagai berikut: a Penentuan Basal Area BA = Dimana.jatifar@yahoo. Hardjanto.

Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini Tabel 3.2 Penentuan Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari kepala kecamatan. Data primer Diperoleh melalui wawancara langsung pada responden dengan bantuan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove 4.7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan H Mangrove Tabel 4. Mengidentifikasi perilaku masyarakat setempat dalam pemanfaatan h mangrove.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir Tabel 4. Data sekunder diperoleh dari dinas-dinas terkait diantaranya adalah: pemerintah daerah setempat. partisipassi masyarakat dan saran-saran untuk pengembangan hutan mangrove. III.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Tabel 4. Kegunaan 1.3 Jenis dan Sumber Data Data dalam studi ini adalah data primer dan data sekunder. 2.4. upaya-upaya intensifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.2 Persepsi Mas Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4. kepala desa. Petambak 3 Total 19 3.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove Tabel 4. nelayan.1. 2. Bagaimana perilaku masyarakat pesisir setempat dalam pemanfaatan h mangrove? 2. dinas perikanan.tokoh masyarakat. Menjadi pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam rangka pemberdayaan hutan mangrove dan pelestarian hutan. Responden Jumlah (orang) 1. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial Tabel 4.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove .2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4. Kepala Kecamatan 2 2. Kepala Desa 4 3.1 Penentuan Wilayah Contoh Wilayah penelitian ditentukan secara sengaja (Purposive) di Kabupaten Probolinggo khususnya di Kecamatan Tongas dan Kecamatan Paiton 3.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Dari Tabel 4. IV. Jenis data primer yang sudah diperlukan adalah: persepsi masyarakat. Memperluas khasanah pengetahuan bagi pengembangan ilmu lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat hutan pesisir.1 Sebaran Responden No. METODOLOGI 3. dinas kehutanan. Mendeskripsikan persepsi masyarakat desa pantai terhadap pelestarian h mangrove.3 Tujuan dan Kegunaan Tujuan: 1. Masyarakat Pesisir 4 4 Nelayan 6 5. Bagaimana persepsi masyarakat desa pantai dalam pelestarian hutan mangrove? 1. manfaat yang diperoleh.

Penebangan mangrove untuk arang. industri. b. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pendaran seluruh masyarakat mulai dari hulu (up land) sampai hilir sungai (down land). Terjadi konversi lahan hutan mangrove menjadi berbagai peruntukan lain seperti tambak. Yang berasal dari limbah rumah tangga dari daerah hulu sungan dan sepanjang tepian sungai yang dibawa kemudian oleh aliran air kearah muara sungai. Wilayah- . pembangunan dermaga yang kurang memperhatikan sifat arus dan gelombang dapat menyebabkan abrasi. pariwisata. batas-batas kawasan hutan lindung dan produksi. e. kayu bakar. c. pemukiman. pemukiman dan kawasan industri secara tidak terkendali. Sedimentasi akibat pengelolaan kegiatan lahan atas yang kurang baik. maka suatu saat kerusakan fisik yang cukup parah atas hutan mangrove yang sangat besar manfaatnya. mengembangkan. Bukan berarti alih fungsi hutan mangrove tidak boleh dilakukan. Sedimentasi tersebut yang berasal dari pengikisan/erosi di daerah atas (hulu) yang tersuspensi dalam aliran sungai kemudian mengendap di daerah estuaries dan sepanjang pantai. sehingga nampak kotoran berserakan di bergelantungan akarakar Rhizopra sp. penebangan hutan mangrove. Abrasi pantai dapat diakibatkan oleh proses alami.Tabel 4. Perlunya penyadaran dan dibangun suatu sistem masyarakat yang ikut merencanaan. bahan bangunan dan kegunaan tanpa kendali. sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan. Pada musim penghujan akan terjadi banjir/genangan di wilayah pesisir terlebih lagi bila bersamaan dengan terjadinya air pasang. Hal ini disebabkan oleh karena jenis tanah clay (tidak menyerap air) dan kondisi lahan yang landai serta cenderung semakin landai ke arah Utara (mendekati garis pantai). Rencana tata ruang dan rencana wilayah (RTRW) belum memasukkan parameter kelestarian hutan mangrove. Sehingga seringkali terjadi tumpang indih pemanfaatan kawasan hutan mangrove untuk berbagai kegiatan pembanguna seperti perluasan areal pertambakan. sedimentasi dan pendangkalan pada sungai. Kondisi ini juga sangat memprihatikan. namun perlu pengaruran dan perencanaan yang berbasis pelestarian sumberdaya hutan mangrove itu sendiri. Mengingat apabila salah satu ekosisitem pantai rusak maka akan berefek langsung pada kedua ekosisitem lainnya. sedangkan aktifitas manusia misalnya pengambilan pasir laut yang tidak terkendali.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan didentifikasi tentang permasalahan yang dihadapi dalam upaya pelestarian hutan mangrove sebagai berikut a.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan H Mangrove 4. Pada tanah kritis di musim penghujan akan terjadi pelumpuran atas air permukaan yang mengakibatkan meningkatnya proses erosi. Abrasi karena proses alami disebabkan karena gerakan gelombang dan arus laut. dan dasar hutan. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. maka akan terjadi penutupan daerah mangrove sehingga suplai air tawar berkurang atau sebeliknya air laut terlalu tinggi sehingga salinitas di daerah hutan mangrove naik yang akan menggaggu keseimbangan habitat hutan mangrove. Kabupaten Probolinggo memiliki beberpa wilayah yang terletak di daerah dengan kondisi tanah yang landai. Sepanjang hutan mangrove banyak berserakan lembah padat terutama yang berasal dari limbah domestic. Alih fungsi hutan mangrove sudah terjadi sejak lama. manakala tidak ada pihak yang mengatur. industri dan sampah domestic rumah tangga. aktifitas manusia aatu kombinasi keduanya. pada bagian wilayah tersebut juga mempunyai tingkat genangan yang tinggi.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove Tabel 4. Sedmientasi yang terlalu tinggi. kemudian terakumulasi dengan lumpur. dan memanfaatkan potensi hutan mangrove itu sendiri d.

wilayah yang terjadi abrasi pantai yang cukup parah adalah desa Pondokkelor di Kecamatan Paiton f. sumber air.84%). Ini menyebabkan tidak terjadinya sistem koordinasi dalam pengelolaan hutan mangrove. Konversi tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan fungsi hutan mangrove. 4. Disamping itu pemanfaatan untuk pemukiman. h. pariwisata. masyarakat desa pantai juga memanfaatkan untuk pertambakan tradisional. perhotelan dan lain-lain yang semuanya untuk kepentingan jangka pendek. Dalam rangka otonomi daerah ada kecenderungan pemberdayaan sumberdaya alam untuk kepentingan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). informasi serta IPTEK yang berkaitan dengan hutan mangrove masih terbatas. dan sosialisasi yang terbatas sehingga belum dapat mendukung kebijakan atau program penataan ruang. Disamping itu. Data. i. kualitas udara. Konflik kepentingan antar lembaga yaitu terjadinya perbedaan kepentingan antara pengelola hutan mangrove dengan pemerintahan desa/kecamatan. sedangkan pemerintahan desa/kecamatan menilai bahwa areal hutan mangrove tersebut merupakan bagian wilayah pemerintahannya. k. hotel.2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Pengrusakan hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo sebagian besar disebabkan terjadi konversi hutan mangrove menjadi areal pertambakan (36. pembinaan dan pemanfaatan hutan secara optimal dan berkelanjutan. lestarinya plasma nutfah dan manfaat lain dari hutan mangrove. j. Konflik kepentingan antar kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dan kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit). Dalam hal tersebut pengelola menganggap bahwa hutan mangrove merupakan hak otonom dari pengelola hutan mangrove. Kepentingan jangka pendek (short-term benefit) cenderung lebih diutamakan dibandingkan dengan kepentingan jangka panjang (long-term benefit). dan industri sudah mulai merambah hutan mangrove terutama untuk menunjang pengembangan . Ini menjadi salah satu faktor penghambat bahkan gagalnya upaya pelestarian. g. Konflik kepentingan antar kemanfaatan jangka panjang (long-term benefit) dan kepentingan jangka pendek (short-term benefit). kepentingan jangka panjang akan selalu bertolah belakang dengan kepentingan jangka pendek. Proyek pembangunan yang dapat menghalangi atau mengurangi sirkulasi arus pasang surut. Dari hutan mangrove pula sangat diharapkan berfungsi sebagai paru-paru kehidupan atau untuk upaya pelestraian sumberdaya alam termasuk air. Kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit) sering lebih diutamakan karena lebih menampakkan wujud fisik yang nyata dibandingkan dengan jangka waktu jabatan seorang pejabat. laut dan pantai. Sebagai akibat terjadilah pemanfaatan areal hutan mangrove menjadi pertambakan. Ditebangnya mangrove dimaksudkan agar terhadap intensitas sinar matahari yang cukup baik bagi tambak sehingga tidak ada tempat untuk tanaman mangrove tumbuh dan kurang dikehendaki keberadaannya di daerah tambak. pemukiman. Konflik kepentingan antar manfaat hutan mangrove: antara kepentingan ekonomi (economies) dan kepentingan pelestarian (enviromentalis). bangunan industri. Biasanya konversi lahan dilakukan oleh sebagian oleh pengusaha tambak udang dan hatchery. Kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dari pengelolaan hutan mangrove sebenarnya lebih berjangka panjang tetapi karena sifatnya yang tidak nampak seperti terpeliharanya ekosistem laut dan pantai.

2. Keadaan ini menyebabkan kurang berkembangnya diversifikasi usaha dan kurang berkembangnya teknologi pasca panen. serta menarik masyarakat untuk bermukin di sentra sector wisata. secara umum terjadi permasa lahan sebagai berikut: 1.26 .Tempat untuk mencari ikan. Sangat bermanfaat Alasan : .Tempat mencari kayu bakar 5. 5.32%. Parameter Prosentase(%) 1.79 36.Tempat mencari kayu bakar 15. Kurangnya informasi pengembangan sumberdaya alam Kurangnya pemahaman dan pengertian masyarakat tentang fungsi sumberdaya hutan mangrove sehingga upaya pelestarian masih sangat rendah. Tingkat pendidikan masyarakat pesisir rata-rata tamat Sekolah Dasar sebesar 36. Terbatasnya personil yang terlatih dalam pengelolaan sumberdaya ini menyebabkan pengelolaan sumberdaya tidak dapat terencana dengan baik dan belum optimal.05 15.84%. kepiting.53 3.21% dan tidak sekolah sebesar 18.26 .91%.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove No.84 Masyarakat desa pantai menganggap bahwa hutan mangrove tidak mempunyai nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan yaitu sebesar 36.kayu hutan mangrove untuk dijual 10. Tabel 4. Parameter Prosentase (%) 1.pariwisita.84 10.00 Potensi sumberdaya yang cukup berlimpah dengan kondisi penduduk dan pesatnya pertumbuhan pembangunan di wilayah pesisir dan laut.2 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Ekonomi No.05 2. sehingga tidak mampu meningkatkan taraf hidupnya.Konsekuensinya memang harus menggunaakan hutan mangrove. Tabel 4. Tidak bermanfaat Alasan : . Bermanfaat Alasan : . Rendahnya kualitas sumberdaya manusia Rendahnya tingkat pendidikan akan berpengaruh pada rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan. dan nelayan dari peningkatan hasil tangkapannya. Tabel 4. 2. 4. Kenyataannya dengan terpeliharanya kelestarian hutan mangrove maka akan merangsang berkembangnya biota laut yang berarti akan mendukung peningkatan produksi dan pendapatan para pencari ikan.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 36.79 . 3. Penebangan untuk pemanfaatan hasil hutan mangrove : arang dan kayu Konrversi lahan menjadi tambak Penebangan untuk tempat bersandar perahu Penebangan untuk bangunan pemukiman / industri hotel dan lain-lain Rusak akibat limbah pabrik dan alam 15.79 100. kepiting 21. tidak tamat Sekolah Dasar 19.53 21.kayu hutan mangrove untuk dijual 5.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Teknis .

79 3.26 .Dapat mengurangi pengangguran/menyerap tenaga kerja 21.53 2. Parameter Persentase (%) 1.4.Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 15.Sebagai paru-paru bagi masyarakat pantai 21.Mengurangi pengangguran/ menyerap tenaga kerja 5. Tidak bermanfaat 21.37% Tabel 4.Mencegah terjadinya abrasi pantai 15.37 Begitu pula tentang pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek ekologis menyatakan keberadaan hutan mangrove akan menjaga biota pantai yaitu 26.Mengurangi ombak dan valume air di pantai . Tidak bermanfaat Alasan : .84%).26 2.79 . kondisi ini sejalan dengan pendangkalan daerah pantai yang berakibat sebaliknya akan merusak daerah padang lamun dan terumbu karang yang ada di depannya.53 5.Menjaga keberadaan biota pantai 3.Menambah keindahan pemandangan 15.Menjaga keberadaan biota pantai 26.32% dalam table di bawah ini : Tabel 4. 1.79 . Tidak bermanfaat . Bermanfaat .Pemanfaatan tanah oloran untuk tambak Bermanfaat Persentase (%) 10. Bermanfaat Alasan : .Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 21.32 2.Menambah keindahan pemandangan 10. Maksudnya tanah tambak yang makin meluas kea rah laut.05 (fungsi penghijauan) 3. Sangat bermanfaat .84 2.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove DariAspek Ekologis No. Parameter Persentase (%) 1. Sangat bermanfaat Alasan : . Bahwa manfaat hutan mangrove dari aspek teknis dapat memberikan peluang bagi petambak untuk membuka atau memperluas areal pertambakannya akibat tanah oloran (36.Mencegah terjadinya abrasi pantai .05 .Mengurangi ombak dan valume air di pantai 5.05 . Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial No.Tidak ada manfaatnya 47.26 Keberadaan hutan mangrove akan terasa bermanfaat jika dampaknya terlihat nyata. Alasan : .26 36.Tidak ada dampak 5.No.05 . Parameter Sangat bermanfaat Alasan : . Sedangkan pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek sosial banyak yang tidak mengetahui dan menyatakan tidak ada manfaatnnya yaitu 47.

79 3. Parameter Persentase (%) 1.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir No.05%. Baik 10.79 2.7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove No. Parameter Persentase (%) 1.53 3. Baik 10. Tabel 4. Tidak pernah 68.79 4. Masyarakat pesisir 10.84 Sedangkan persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Probolinggo seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4. Sering 10.79 2.05 5.63 Dengan melihat kondisi hutan mangrove yang berada di pesisir Kabupaten Probolinggo harusnya pemerintah cepat melakukan tindakan penyelamatan pelestarian karena kon disi hutan sudah sangat tidak baik (36. Sedang 15.58% menyatakan sangat tidak baik dan 26. Aparat pemerintah 21. Tabel 4.58 Selain kondisi hutan mangrove yang sangat tidak baik diperparah lagi oleh sistem pengelolaan hutan mangrove yang juga sangat tidak baik (persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di pesisir Kabupaten Probolinggo sebesar 31. Kurang baik 26.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 15.. Tabel 4. Olehkarena itu upaya pelestarian dan pengamanan hutan mangrove akan mengalami kendala yang cukup berarti sehingga diperlukan strategi pelestarian hutan mangrove yang baru .63% dan pemerintah 21.26 2.79 4. Sangat sering 5.33% .53 3.79 4 . Sangat baik 15.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove No.05 4 Pengusaha 52.53 3.32% menyatakan kurang baik).84%) dari persepsi responden terhadap kondisi hutan mangrove yang lebih mengetahui tingkat perkembangan dari tahun ke tahun.53 2.Kurang baik 21. Hal ini karena masyarakat berpersepsi bahwa pengusaha tidak akan bisa berdiri sendiri akan tetapi bekerjasama dengan oknum peme rintah terutama dalam peralihan lahan hutan mangrove yang diperuntukkan pada pem buatan tambak intensif .32 5. Sangat tidak baik 31.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove No.42 Pelaku pengrusakan hutan mangrove terbesar disebabkan oleh oknum pengusaha yaitu sebesar 52. Sangat tidak baik 36. Sedang 15. Parameter Persentase (%) 1 Sangat baik 15. Jarang 15. Parameter Persentase (%) 1. Masyarakat luar 15.79 Sedangkan upaya penyuluhan dari dinas terkait kepada masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan fungsinya bagi kehiduoan manusia masih kurang yaitu para responden menyatakan tidak pernah menerima penyuluhan sebesar 78.

yaitu 1. Ketidakacuhan dari masyarakat dise babkan rendahnya perhatian instansi terkait untuk melibatkan masyarakat dalam setaip program yang dilakukan oleh pemerintah. pengelolaan dampak. sebagaimana tabel Tabel 4. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan masyarakat untuk dapat memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut. kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan penelitian c. Dengan demikian. paling tidak sudah dapat ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa masalah pengelolaan hutan mangrove secara lestari adalah bagaimana menggabungkan antara kepentingan ekologis (konservasi hutan mangrove) dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mangrove. (2) lokasi hutan mangrove yang jauh. Kebijakan ini meliputi penetapan kawasan konservasi . (3) tidak punya bibit mangrove. Oleh karena itu. dan (4) masyarakat lebih senang menanam padi dibanding menanam mangrove.05 2 Diam saja (tidak mau terlibat) 52. strategi yang diterapkan harus mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat selain tujuan konservasi hutan mangrove tercapai. maka perlu adanya pember dayaan masyarakat. persepsi masyarakat tehadap keberadaan hutan mangrove perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masayarakat akan pentingnya sumberdaya hutan mnagrove. Pemberdayaan masyarakat pantai mencakup dua hal pokok.63 3 Melapor kedesa/kecamatan dan keamanan 26. sebagian besar masyarakat tidak melakukan penanaman hutan mangrove dengan alasan (1) tidak tahu cara mena nam mangrove. Peningkatan aksesibilitas masyarakat pantai terhadap kegiatan ekonomi yang dapat mendorong kemampuan masyarakat pesisir untuk membudidayakan sumberdaya laut secara optimal. termasuk ekosistem hutan mangrove adalah pengelolaan berbasis masyarakat (Community Based Management) yang mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan. Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumbedaya alam. Ber dasarkan kenyataan empiris tersebut. Dengan demikian. yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat komponen utama penggerak pelestarian hutan mangrove. pada prinsipnya ada 3 kebijakan pokok yang harus ditempuh pemerintah kabupaten Probolinggo agar sumberdaya kea nekaragaman hayati hutan mangrove berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat yakni : a. pendidikan dan parti s I pasi masyarakat b. Keterlibatanmasyarakat ini sangat penting karena rendahnya keperdulian masyarakat terhadap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove.63% responden menyatakan tidak mau terlibat atau diam saja melihat setiap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove.3 Arahan Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Dalam menghadapi situasi sekarang dan masa depan. kebijakan yang berkaitan upaya penyelamatan keanekaragaman hayati. kebijakan yang berkaitan cara-cara memanfaatkan hutan mangrove.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan Hutan Mangrove No. Mengelola . Parameter Persentase (%) 1 Menegur 21. Pengelolaan hutan mangrove harus secara terpadu baik lintas sektoral. lintas pemerintahan Agar masyarakat mau ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan. Sementara itu. Saran dari responden terhadap pengelolan: 4. berikut keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peran serta masyarakat sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peranserta masyarakat dalam pelestarian fungsi sumberdaya laut sebagai penyangga kehidupan di wilayah tersebut 2.terutama yang melibatkan unsur masyarakat dalam pengelolaannya.31 Kepedulian masyarakat terhada pelestarian hutan mangrove relative kurang sekali yaitu 52. dalam konteks pelestarian hutan mangrove.

Dengan istilah community-based management itu juga mengandung arti suatu pendekatan (approach). V. pemukiman. Sikap dan perilaku masyarakat terhadap dinamika degradasi ekosistem hutan mangrove menunjukkan kecenderungan yang positif. Menumbuhkan tanggung jawab masyarakat dengan cara meningkatkan kepedulian dan partisipasi mereka dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam di lingkungan mereka. 61. yang terdiri atas masyarakat. FMIPA.Ferny Margo Tumbel. Sifat merakyat ini merupakan bentuk implementasi dari kebutuhan. dan 76. dan 75. mengevaluasi maupun memonitorinya.8% responden suasta setuju terhadap pernyataan negatif atas keberadaan ekosistem hutan mangrove. dan bersifat merakyat (bottomup). Herry Sumampouw Dosen Jurusan Biologi.8% respondents warga masyarakat setuju. =================================================================== Dari : AGRITEC VOL. KESIMPULAN a. masyarakat ikut memikirkan. memformulasikan. Sekitar 82. Dasar pemikiran atau landasan berpijak pemberdayaan mangrove bagi kesejahteraan masyarakat pesisir berbasis masyarakat adalah keberlanjutan (sustainability) usaha pemanfaatan dan pelestarian hutan mangrove. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. Kondisi di desa pantai terhadap pemanfaatan hutan mangrove yakni : konversi lahan menjadi tambak. kemampuan dan kesepakatan masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan yang ada. dalam hal ini pendekatan dari bawah (bottom-up approach). 82. Eksistensi ekosistem ini sekarang mulai terancam oleh berbagai faktor lingkungan dan aktivitas manusia yang mempengaruhi kelestarian ekosistem. sesuatu yang menjadi kebutuhannya.9% responden aparat pemerintah juga setuju atas pelestarian ekosistem. baik ditinjau dari aspek sosial-ekonomi maupun aspek lingkungan hidup. Program ini bertujuan untuk: 1. aparat pemerintah daerah dan suasta.17 NO 6 NOPEMBER 2009 – ISSN 0852-5426 ANALISIS SIKAP DAN PERSEPSI MASYARAKAT PESISIR TERHADAP DINAMIKA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BUNAKEN Attitude Analysis and Perception of Coastal Community to Dynamics of Mangrove Forest Ecosystem in Bunaken National Park . tidak memliki RTRW pemanfaatan hutan mangrove. UNIMA Ekosistem hutan mangrove di Taman Nasional Bunaken Selatan merupakan salah satu sumberdaya alam yang tipikal dan unik di Propinsi Sulawesi Utara. . dan hotel. Penelitian ini menggunakan metode survei.di sisi mengandung arti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan persepsi masyarakat pesisir terhadap keberadaan ekosistem mangrove dan mempelajari degradasi ekosistem hutan mangrove yang terjadi pada saat ini. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan daftar isian yang melibatkan 130 responden dan wawancara dengan sejumlah narasumber. sebagai kebalikannya pendekatan dari atas (top-down approach). 2. merencanakan. Sementara itu sebanyak 61. Metilistina Sasinggala. kayu bakar dan bahan bangunan.6% responden suasta sangat mendukung terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove. penebangan menjadi arang.2% responden anggota masyarakat menyatakan setuju terhadap pelestarian ekosistem mangrove. Mengembangkan suatu bentuk pengelolaan pesisir terpadu dimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemanfaatan lahan mangrove sebagai areal pertambakan secara berkelanjutan.3% responden aparat pemerintah tidak setuju. mengimplemetasikan.

sedang. karena responden yang dipilih melibatkan beberapa strata responden yaitu pemerintah. Analisis Sikap dan Persepsi Pengukuran tingkat sikap dan persepsi masyarakat dalam perlindungan. Pada pernyataan bagian pertama (1-5) tentang kerawanan degradasi ekosistem hutan . 2 = tidak setuju (TS). Tabel 1. pemerintah serta investor (pengusaha) sebanyak 135 responden. rendah) eksistensi ekosistem hutan mangrove dengan parameter biogeofisik dan parameter sosial (sikap dan persepsi) seperti yang tercantum dalam Tabel 1. 30 responden untuk pemerintah (instansi terkait). R1 = rawan 1 (sedang). Adapun responden yang dipilih menggunakan metode Stratified Random Sampling. Data lain berupa data sekunder yaitu laporan-laporan statistik desa/kelurahan.Kerawanan degradasi Setuju-sangat Ragu-ragu Tidak setujumengancam ekosistem setuju sangat tidak di TN Bunaken setuju . Informasi yang di peroleh kemudian dilakukan pengukuran menggunakan skala Likert yaitu untuk mengukur persepsi dan sikap berbagai agen (sekelompok orang) dengan memberikan skor yang mempunyai gradasi atau kontinum penilaian dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju. masyarakat dan pengusaha dengan jumlah 90 responden untuk masyarakat setempat. R2 = rawan 2 (tinggi) Hasil dan Pembahasan Sikap dan Persepsi Stake holder Sikap dan persepsi stake holder (masyarakat.Pemanfaatan hutan Tidak setujuRagu-ragu Setuju-sangat mangrove secara sangat tidak setuju maksimal setuju Keterangan : R0 = rawan 0 (rendah). Adapun dasar untuk mengkaji kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove dinilai berdasarkan skoring (tinggi. Keterangan penilaiannya adalah : 5 = sangat setuju (SS). yaitu jumlah penduduk serta sikap dan persepsi stake holder (pemerintah. pemerintah dan pengusaha) terhadap ekosistem hutan mangrove menunjukkan tanggapan yang berbeda. masyarakat dan pengusaha) terhadap kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove di kawasan TN Bunaken bagian selatan. 3 = ragu-ragu (RG).Penelitian ini meliputi kajian parameter ekosistem mangrove dengan variabelvariabel yang diamati sebagai berikut : Parameter sosial penduduk. 4 = setuju (S). 15 responden untuk investor (pengusaha). Data variabel-variabel ini dapat berupa data primer hasil pengamatan dan wawancara langsung (indepth interview) atau angket (kuesioner) yang diedarkan pada anggota masyarakat setempat. Parameter Tingkat Kerawanan Degradasi R0 R1 R2 Sikap dan persepsi stake holder terhadap : . 1 = sangat tidak setuju (STS) Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi Dalam menentukan potensi kerawanan degradasi mangrove di Kawasan Taman Nasional Bunaken dilakukan dengan membandingkan hasil deskripsi di lapangan yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif dan hasil uji laboratorium yang bersifat kuantitatif. pemanfaatan dan pelestarian ekosistem hutan mangrove menggunakan sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada responden. Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi ekosistem hutan mangrove No 1.

‘Nilai’ maksudnya adalah pandangan-pandangan masyarakat lokal bukan ‘nilai’ yang berkaitan dengan konteks ekonomi. East Kalimantan) NINING LISWANTI1.8 % responden masyarakat setuju. sangat penting). X No.9 % pemerintah sangat setuju dan 75. 61. ongkos. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal. ‘kegunaan’ (manfaat) dan ‘kepentingan’ (penting. Sedangkan untuk pernyataan bagian kedua (6-10) tentang keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejah-teraan umum.8 % setuju. KALIMANTAN TIMUR Dayak Merap and Punan People’s Perception of the Importance of Forest in a Tropical Landscape. dengan perbedaan utama adalah bahwa Merap lebih menekankan pada pertanian padi/sawah sementara Punan lebih . artinya tergantung pada pengetahuan dan pengalaman pribadi seseorang. 2 : 1-13 (2004) Artikel (Article) Trop. 2004). namun lebih menekankan pada konsep ‘nilai umum’. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal sehingga berada pada tingkat rawan R2 (tinggi). Malinau. Tujuh desa dipilih sebagai lokasi penelitian dari 19 desa yang tersebar dari hilir hingga hulu di sepanjang sungai Malinau. 2002. Sebaliknya dengan pernyataan kedua. Lokasi penelitian terletak pada 2045’ – 3021’ LU dan 115048’ – 116034’ BT. sekitar 82. SUMARDJO3 dan DOUGLAS SHEIL4 Penelitian ini menggunakan konsep ‘nilai’ dan ‘kepentingan’ (Sheil et al. Metode yang digunakan adalah metode pemberian skor atau distribusi kerikil (Pebble Distribution Method /PDM) (Sheil dalam CIFOR..2 % responden masyarakat setuju. dengan luas sekitar 2000 km2. kami menghindari penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan harga (harga. =================================================================== Dari : Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 82. mahal. masyarakat dan pengusaha menganggap bahwa keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umum. 2002) melalui pendekatan partisipasi dengan tujuan agar obyek yang diteliti yaitu masyarakat lokal dapat berpartisipasi selama penelitian berlangsung. For. Jadi dalam melakukan kegiatan skoring. murah).7 % responden pengusaha setuju. Manage. Pemilihan desa dilakukan dengan menggunakan teknik stratified random sampling dengan strata utama yaitu suku Dayak Merap dan Punan. sedangkan ‘kepentingan’ berhubungan dengan apa yang sedang di nilai dan lebih menekankan pada penilaian relatif dan bersifat subyektif. uang.3 % responden pemerintah tidak setuju dan 76. Pada pernyataan pertama mengindikasikan ekosistem hutan mangrove tidak terancam karena semua stake holder memahami dan mengerti kerusakan yang dapat terjadi jika hutan mangrove mengalami degradasi. KABUPATEN MALINAU. ANDRY INDAWAN2. Kedua suku tersebut dipilih karena memiliki budaya yang berbeda dan menonjol di DAS Malinau.mangrove dapat terjadi dan merusak keseimbangan ekologis. Tingkat Kerawanan Degradasi Ekosistem Hutan Mangrove Sikap dan persepsi masyarakat dan pengusaha sekitar kawasan menggambarkan kenyataan yang ada di lapangan. sehingga pernyataan pertama berada pada tingkat kerawanan R0 (rendah). J. X (2) : 1-13 (2004) PERSEPSI MASYARAKAT DAYAK MERAP DAN PUNAN TENTANG PENTINGNYA HUTAN DI LANSEKAP HUTAN TROPIS. hanya kelompok pemerintah tetap menolak dan berada pada tingkat rawan R0 (rendah). sekitar 61.

Desa Laban Nyarit mewakili suku Punan dan Merap. (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat. (9) tingkat . sedangkan desa Punan diwakili oleh Punan Rian. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kegiatan skoring dengan teknik diskusi kelompok terfokus (lihat Sheil et al. maksudnya sebelum kegiatan dimulai. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung.menekankan pada aktivitas berbasis hutan (Sheil et al. data-data tersebut ditabulasi dan di analisis berdasarkan nilai ‘kepentingan’yang diperoleh dari hasil setiap diskusi kelompok terfokus. maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan.. Akan tetapi. fasilitator memperkenalkan setiap kartu berlabel dan bergambar yang mewakili tipe-tipe lahan. jika 10 biji diletakkan di kartu ‘hutan’ dan 5 biji di kartu ‘jekau muda’. 2001). Liu Mutai. (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini. (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan guna lahan. (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan. Desa Merap diwakili oleh Gong Solok. =================================================================== Dari : Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik Dalam Program Studi Magister Teknik Arsitektur Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Oleh Mohamad Hendra Irawan 087020016/AR FAK TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2 0 1 0 Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. Kegiatan penelitian dilakukan dari bulan Juni 2003 hingga Mei 2004. Sebagai ilustrasi. maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota. Langap dan Paya Seturan. pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values). Selanjutnya. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia. Setiap kegiatan skoring selalu mengikuti prosedur yang pasti. Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia. dan Long Jalan. 2002 dan 2004. Sarirejo. faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal(Socially Rooted Values). (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat. dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan.. ini artinya lahan hutan adalah dua kali lebih penting dibandingkan lahan jekau muda. Polonia. para informan kemudian di minta untuk menyebarkan seratus alat penghitung (dapat berupa biji/kancing/korek api) di atas kartu-kartu tersebut menurut ‘kepentingan’ masyarakat lokal. dan di taruh di lantai sehingga dapat dilihat dan dijangkau oleh semua informan. 2002 dan 2004). Madras Hulu dan Sukadamai. dan Uluk et al. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik. Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan.. Setelah diberikan penjelasan dan contoh. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian.

tersedianya ATURAN yang sesuai untuk keperluan menuju hutan lestari(aturan kelembagaan). pembagian kawasan hutan ke dlm fungsi-fungsi dan kemanfaatan. Berdasarkan hasil penelitian. (d) memanfaatkan hasil dari sumberdaya hutan tidak hanya kayu. sekunder. San Afri. pembukaan wilayah hutan. (c) penatagunaan kawasan hutan untuk menjamin terbentuk kawasan yang berfungsi ekonomi. Proses penataan kawasan hutan (hutan primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangat beragam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. (b) penataan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untukmembangun unit manajemen dan pengusahaan hutannya. dan (c) jenjang pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan pengusahaan hutan. Perubahan Tata Guna Lahan. Pada kedua bentuk organisasi tersebut (kawasan dan sumberdaya manusia). pemerintah harus mempertahankan dan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten. 2008) : Pertama. Termasuk di sini adalah semua aturan yang berkaitan dengan aturan pembentukan organisasi kawasan seperti: (a) batas-batas wilayah pengelolaan yang jelas. Dalam pengelolaan hutan lestari ada enabling factor yang harus dipenuhi yang disebut dengan prinsip 3A + P yaitu (Awang. perlu adanya kerjasama antara dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat.pengukuran. merealisasikannya harus dengan cara uji-uji lapangan sebagai tempat . dan tidak memanen hasil lebih dari kemampuan yang disediakan oleh hutan tersebut. termasuk dalam prinsip ini adalah tersedianya secara pasti petapeta detail lokasi hutan yang kemudian dimantapkan dan dikukuhkan sebagai kawasan hutan yang akan dikelola dan diusahakan dalam jangka panjang. semak belukar dan tanah kosong) mencakup kegiatan-kegiatan penataan batas. sosial. Selain organisasi kawasan. inventarisasi hutan. dan lingkungan (penataan ruang tumbuh tingkat lapangan). Sosio-Ekonomi =================================================================== PERSEPSI DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN FUNGSI HUTAN SEBAGAI DAERAH RESAPAN AIR ( Studi Kasus Hutan Penggaron Kabupaten Semarang ) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Umar L4K 006027 Pengelolaan hutan dan pengelolaan sumberdaya hutan (Forest resource management) memerlukan suatu faktor yang disebut dengan enabling factors (factor faktoryang memungkinkan) pengelolaan dan pengusahaan suatu kawasan hutan menjadi kawasan yang lestari dicapai. Kata Kunci: Persepsi. Kedua. juga diperlukan aturan yang berkaitan dengan aturan penataan organisasi sumberdaya manusia seperti : (a) penataan organisasi kerja tingkat lapangan dan menetapkanpenanggung jawabnya. pemetaan. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial.kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. (b) ditetapkannya unit manajemen (pengelolaan) hutan mulai dari unit pengelolaan terkecil tingkat lapangan dan unit kelestarian hasil sumberdaya hutan. tersedianya ATLAS.

pembelajaran menyusun aturan-aturan yang dibutuhkan, sehingga aturan yang diperoleh tidak top-down, tetapi bottom-up. Sejak dulu kala pengelolaan hutan diawali oleh pendekatan bottom-up dalam membentuk organisasi lapangannya. Konstruksi penataan organisasi dari bawah dijamin akan menghasilkan tingkatan pengenalan dan rasa memiliki (rekognisi) dan legitimasi yang tinggi dari para pihak terkait. Dengan prinsip bottom-up ini pula dapat dimengerti bahwa sesungguhnya penataan kawasan hutan sejak lama sudah sangat akrab dengan muatan lokal, spesifik wilayah, dan memberikan peluang bagi terlaksananya distribusi otoritas kewenangan pengelolaan ditingkat wilayah (otonom dalam penataan kawasan , pengembangan Ketiga, semua hal yang berkaitan dengan ATLAS dan ATURAN harus dijalankan secara AMANAH. Semua kesepakatan para pihak untuk membangun unit pengelolaan dan pengusahaan sumberdaya hutan harus dijalankan secara amanah, teguh pada pendirian yang memiliki komitmen tinggi terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban para pelaksana / pengelola hutan. Tidak ada penyimpangan aturan dan kesepakatan dan juga tidak ada korupsi dalam menjalankan tugas-tugas pembangunan hutan dan kehutanan. Keempat, memastikan faktor penting lainnya adalah PENGAWASAN. Kelemahan paling mendasar dalam pembangunan sumberdaya hutan di Indonesia selama ini adalah tindakan pengawasan. Semua yang berkaitan dengan atlas, aturan, dan pelaksanaan yang amanah, tidak mungkin dapat dicapai dengan baik jika tidak ada tindakan pengawasan yang sistematis, terukur, dan terus menerus. Tindakan pengawasan mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi. Hasil dari monitoring dan evaluasi dijadikan rujukan utama un tuk melakukan penyempurnaan aturan-aturan / kebijakan dan perbaikan hal-hal yang berkaitan dengan teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan. Konsep Environmental Adjusment (EA) adalah suatu proses dan pengukuran ===================================================================

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI KECAMATAN MEDAN POLONIA MOHAMAD HENDRA IRAWAN 087020016/AR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N2 0 1 0

Abstrak
Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnyapertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Akan tetapi, dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan, pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values), faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal (Socially Rooted Values). Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan perubahan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia, maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung, Polonia, Sarirejo, Madras Hulu dan

Sukadamai. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik, maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia, (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini, (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan, (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan tata guna lahan, (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan, (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota, (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat, (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat, (9) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangatberagam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah harus mempertahankandan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten, perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. Kata Kunci: Persepsi, Perubahan Tata Guna Lahan, Sosio-Ekonomi

DAFTAR ISI
ABSTRAK……………………………………………….……………… i ABSTRACT……………………………………………….…………… ii KATA PENGANTAR……………………………………………….… iii RIWAYAT HIDUP PENULIS…………………………………….….. v DAFTAR ISI……………………………………………………………. vi DAFTAR GAMBAR……………………………………………………. ix DAFTAR TABEL………………………………………………………. x BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………….... 1 1.1. Latar Belakang……………………………………………………..... 1 1.2. Perumusan Masalah………………………………………………..... 3 1.3. Landasan Teori…………………………………………………….... 3 1.4. Tujuan Penelitian……………………………………………………. 6 1.5. Batasan Penelitian…………………………………………………… 6 1.6. Kerangka Berpikir…………………………………………………… 7 1.7. Struktur Penulisan…………………………………………………… 9 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………… 12 2.1. Persepsi Masyarakat…………………………………………………. 12 2.1.1. Definisi……………………………………………………….. 12 2.1.2. Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi…………….. 13 2.2. Perubahan Tata Guna Lahan……………………………………........ 15

2.2.1. Definisi………………………………………………………... 15 2.2.2. Model Perubahan Tata Guna Lahan………………………….. 17 2.3. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan………. 22 2.4. Kaitan Kajian Teori Terhadap Kegiatan Penelitian ………………… 36
Universitas Sumatera Utara

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……………………..……… 39 3.1. Metode Penelitian………………………………………………….... 39 3.2. Populasi Dan Sampel………………………………………………... 40 3.2.1. Populasi………………………………………………….......... 40 3.2.2. Sampel ……………………………………………………….. 41 3.3. Identifikasi Variabel………………………………………………… 42 3.4. Teknik Pengumpulan Data………………………………………...... 44 3.4.1. Pengumpulan Data Primer……………………………….......... 44 3.4.2. Pengumpulan Data Sekunder…………………………………. 45 3.5. Teknik Pengolahan Data…………………………………………….. 46 3.6. Teknik Analisis Data………………………………………………… 47 3.7. Tahapan Penelitian……..…………………………………………….. 48 BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI………………… 50 4.1. Kondisi Umum Kecamatan Medan Polonia………………………..... 50 4.1.1. Letak Geografis Dan Administrasi Wilayah…………….......... 50 4.1.2. Demografi Kependudukan…………………………………… 52 4.1.3. Ekonomi………………………………………………………. 54 4.1.4. Sosial Budaya Dan Kesehatan Masyarakat…………………… 54 4.2. Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia……………………. 56 4.2.1. Kedudukan Bandar Udara Polonia Dalam Konteks Perkotaan ……………………………………………. 56 4.2.2. Kondisi Eksisting Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………..................... 60 4.2.3.Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia………………………………………….............. 70 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………... 76 5.1. Karakteristik Responden………...…………………………………… 76 5.1.1. Karakteristik Sosial Responden…………………….…….......... 76 5.1.2. Karakteristik Ekonomi Responden……………….…….....,,…., 79 Universitas Sumatera Utara 5.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………. 82 5.2.1. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Ekonomi Yang Berorientasikan Pada Pengembangan Modal Finansial (Profit Making Values)……............................. 82 5.2.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Pemenuhan Kebutuhan Dasar Dan Menjaga Keberlangsungan Hidup Masyarakat Umum (Public

5.......4........... Perwujudan Sistem Prasarana Dalam Arahan Penggunaan Lahan Tahun 2008-2028…………………. 77 5........ Data Jumlah Penduduk Usia 7-12 Tahun Dan Status Pendidikan Di Kecamatan Medan Polonia………………. ……… 54 4.. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Agama……......... Penentuan Jenis Variabel Terikat (Descrete) .18...... Kesimpulan……………………….............. Rencana Penggunaan Lahan Di Kecamatan Medan Polonia .............6.4.1... 50 4...... Kelemahan Penelitian Dan Saran Dilakukannya Penelitian Lebih Lanjut………………………………………………………….. ……… 53 4. ……… 77 5.....3.19........1. Data Kependudukan………. Judul Hal 3...3. 9 2. 73 4...... 78 5........ Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Status Pernikahan………….... 137 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 138 LAMPIRAN-LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No..2..... Proses Terjadinya Persepsi……………………………………… 14 DAFTAR TABEL No............. PENUTUP……………………………………………………..1.2. Saran / Rekomendasi ………………………………………………… 135 6.. Penentuan Jumlah Sampel Proporsional……….. 125 6... 133 6....………………………………….......…………….. Data Administratif Wilayah……….....2. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Penghasilan RataKeluarga/ Bulan79 ....... Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Di Kecamatan Medan Polonia…………………………………………….Interest Values………………. 43 4............ Data Jumlah Penduduk Berdasarkan Usi Jenis Kelamin……53 4... Judul Hal 1.... 99 5......... 52 4........3.....2...1.... 75 5.....5.2........... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Usia……………….3...1. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar BelakangPendidikan…78 5............ 42 3...... 76 5........ Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar Belakang Etnis / Suku..... Kerangka Berpikir……………………………………………….... Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Nilai-Nilai Sosial Yang Bertumbuh Kembang Di Daerah Dimana Lahan Itu Berada (Social Rooted Values) …………… 113 BAB VI...1..……...........

...... 119 ...... 81 5.. Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan…........... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Pengeluaran R2 Keluarga/ Bulan 80 5... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenjang Pendidikan 93 5. 114 5.. Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan … 83 5....10..29..............21........ 106 5......19. Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………….8...27....5.. Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………… 100 5..18.....23........ 96 5.. 82 5............... 104 5... Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Status Rumah Tinggal …….. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Mata Pencaharian.20... Karakteristik Mata Pencaharian Responden BerdasarkanTingkat Pendidikan….. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal…81 5..... 110 5........... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenis Pekerjaan….. 97 5............ 109 5.... Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan…… 88 5......... Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan…………..11...12..17............. Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal …….13.. Tingkat Persetujuan THD Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Jenis Pekerjaan………………….. Tingkat Persetujuan Terhadap Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………....14.... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Status Rumah Tinggal....28... 89 5...25......... Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan……............ 85 5........ 115 5.. 118 5...24. Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………… 102 5.............16............9......22..... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Penghasilan Rata-rata per Bulan ............26..15. 80 5........7. Tingkat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan...... Tingkat Keyakinan Masyarakat Terhadap Tersedianya Fasilitas Dan Infrastruktur Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………. Tingkat yakinMasY TDp Tersedianya Fasilitas Infrastruktur Berdasarkan Lo........... 92 5..

...... This study used quadrate methods with quadrate was placed along of trannsect.... Nursal Dan Supriyanti Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau. Relative Dominance (DR) and Informace Value.. kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling batang setiap individu tersebut.. Tanjung Sekodi... thermohigrometer.. Disetujui 20 Juni 2004 Abstract The research about structure and distribution of sapling strata vegetation has been done at mangrove forest ecosystems in Bengkalis Islands Riau Province from March until November 2002.. 2004 © Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau ISSN : 1829-5460 26 STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*).. kertas koran. Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg. parang. structure.... Key words : Mangrove....79%) at location VII (Desa Selat Baru). The results of data analysys showed that generally was founded 21 species frok.. Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………….. 121 5.. tali plastik.. Ten quadrate (10x5 m) was maked on the trannsects with systematically systems.. suhu air.. strata... meteran... Observation variable are Relative Density (KR). kadar organik dan tekstur tanah... handrefractometer..... gunting.. Dibuat 2 buah transek pada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telah ditetapkan)..31........ Selat Baru dan Jangkang.. at mangrove forest of Bengkalis Islands. Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herbarium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986).30.. Pangkalan Batang. Bahan yang diperlukan adalah : aquades.. pancang....x 100% . suhu udara...5. alkohol 70 %. vegetation PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon... 122 Jurnal Biogenesis Vol............... sapling stratum........ Pekanbaru 28293 Diterima 17 April 2004.. Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada.......... Relative frekwency (FR)..... secara purposive sampling.. Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan…………... Bantan Air.... 1(1):26-30. That dominanced species is Rhyzophora apiculata (132.. sapling. sedangkan alat yang dipakai : Kompas.. 1974)...... Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek. soiltester dan botol semprot.. pH.. Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------Kerapatan Relatif = --------------------------......... Pada tiap lokasi diukur parameter lingkungan yang meliputi salinitas. Ketam Putih.... that what founded 2 sapling starata vegetation (Rhizophora apiculata dan Thizophora mucronata) has been distributed all of area study (100%).

69 Xylocarpus granatum 19.x 100% Nilai Penting = FR + KR + DR HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur vegetasi strata sapling Tabel 1. penyebaran yang luas dari jenis-jenis Rhizophora juga ditunjang oleh sifat dan cara perkembangbiakan dari biji yang bersifat vivivar.48%) dari jenis ini dibandingkan dengan jenis lainnya.52 32.28 15. Penyebaran vegetasi Strata Sapling Tabel 2. Desa Pangkalan Batang. Hasil pengukuran faktor fisika-kimia di .41 2 Excoecaria sp 21.07 Rhizophora mucronata 12.75 Rhizophora mucronata 1899 1724 Keterangan: 1. Faktor Fisika-Kimia Ekosistem Mangrove .46 89. Komposisi dan penyebaran sapling mangrove di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis No Nama local Nama ilmiah Family 1 1 Bakau putih Rhizophora apiculata Rhizophoraceae + Jumlah 9 10 10 5 10 5 12 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 100 Relatif (FR = 34. Desa Meskom.30 12.Frekwensi =----------------------------------------------Frekwensi Relatif = --------------------------. DR : Dominansi Relatif. Bengen (2002) menyatakan bahwa daur hidup yang khusus dari jenis bakau (Rhizophora sp) dengan benih yang dapat berkecambah pada waktu masih berada pada tumbuhan induk sangat menunjang pada proses distribusi yang luas dari jenis ini pada ekosistem mangrove. NP : Nilai Penting dominan pada kawasan ini.x 100% Dominansi = ------------------------------------------Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi Relatif = -------------------------. 2.32 35. Selain faktor habitat yang sesuai.79 27. 3. Tiga jenis utama vegetasi sapling mangrove yang memiliki nilai penting tertinggi pada masingmasing lokasi penelitian Lokasi Spesies FR KR DR NP 1 Excoecaria sp 26. KR : Kerapatan Relatif. FR : Frekwensi Relatif. Biji yang telah berkecambah selagi masih di dalam buah yang masih melekat pada tumbuhan induknya memberikan kesempatan untuk dapat tumbuh dengan baik dalam hutan yang selalu digenangi oleh air pasang. Tabel 3.

DAFTAR PUSTAKA ======================================================================== Kriteria inklusi dalam penelitian : .4 4.3 29 16. .14-45 th .75 Suhu udara (0C) 28 28 30 Suhu air (0C) 30 28 30 28 30 28 20 Kelembaban udara (%) 60 44 31.5 28. perancangan dan pelaksanaan berbagai kemungkinan manfaat yang dapat diperoleh dari usaha perlindungan kawasan konservasi. perlu dilakukan penelitian tentang persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah.kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis Parameter 1 2 3 PH tanah 5.7 29. Karenanya peran serta masyarakat harus dilibatkan pada identifikasi. Oleh karena itu.8 5 5.5 29 KESIMPULAN Struktur vegetasi strata sapling di kawasan hutan mangrove pulau Bengkalis didominasi oleh jenis Rhizophora apicukata dan Rhizophora mucronata yang termasuk famili Rhizophoraceae.9 67 54 54 69 Salinitas (o/oo) 20 24 28 23 25 30 30 Kadar organik tanah (%) 23.0 Tekstur tanah Liat Liat Liat Liat Liat Liat Liat 4 5. Diantara 21 jenis sapling yang ditemukan jenis vegetasi sapling tersebut memiliki nilai penting tertinggi dan tersebar dengan baik pada ke tujuh lokasi pengamatan dengan penyebaran 100%.9 6 30 6 5.9 30 7 5. tetapi sejauh mana masyarakat sekitar terlibat dalam kegiatan tersebut.Responden Perempuan ataupun Laki-laki .Responden yang dapat berkomunikasi dengan baik . partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).7 27 5 5. Tujuan Penelitian Mengkaji hubungan persepsi. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa keberhasilan upaya pengelolaan kawasan konservasi laut tidak hanya tergantung pada pemerintah saja. Dengan demikian sapling tumbuhan Rhizophora sp merupakan vegetasi mangrove yang berperan penting khususnya dalam membentuk regenerasi di masa yang akan datang pada kawasan hutanmangrove Pulau Bengkalis.Tingggal di sedan n bersedia jadi resp PERSEPSI DAN PARTISIPASI NELAYAN TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT KOTA BATAM TESIS PROGRAM PASCA SARJANAMANAJEMEN SUMBERDAYA PANTAI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 Oleh : Mardijono K4A 006 014 Abstrak Peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kota Batam ditujukan untuk meyakinkan masyarakat akan manfaat perlindungan kawasan tersebut.8 21.

.....1 Persepsi Masyarakat ....................... 28 3.. Tujuan Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut diatas.......Metode penelitian adalah survei dengan penekanan pada variabel persepsi....... Lokasi ................. Pengelolaan DAFTAR ISI BAB III.............. 1.................3.. 28 3................................ Untuk itu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan seperti tersebut diatas sangat diperlukan dalam pengelolaan kawasan konservasi laut daerah......... Teknik Pangumpulan Data . 31 BAB I PENDAHULUAN 1...... 1.........................1 Definisi Persepsi ........... 2...............4........6................. 30 3.2..... disamping itu peran Pemerintah dalam kegiatannya yang melibatkan masyarakat mampu memberikan motivasi sehingga mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD.......................8..... karena mampu mengubah persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan bersama KKLD di Kota Batam...................3 Peranan Pemerintah ......................................98...... pengaruh ini juga secara langsung berhubungan dengan partisipasi masyarakat dengan nilai r2 0..................3............3......1............................................. Jenis dan Sumber Data ............... Variabel Penelitian . Mengkaji partisipasi masyarakat setempat dalam mengelola (KKLD) tersebut 3... hubungan antara ketiga variable dilakukan uji regresi... dengan nilai r2 0........ 29 3................ Metode Penelitian ........ Mengkaji peranan pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD)... Rumusan Masalah Persepsi dan partisipasi masyarakat merupakan hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah selain peranan pemerintah........ Populasi dan Sampel .3........................... Mengkaji persepsi masyarakat setempat mengenai (KKLD) dan manfaatnya.. 29 3............................... Mengkaji hubungan (korelasi) antara persepsi dan partisipasi mesyarakat dengan program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah dalam mengelola .....1.................. par tisipasi masyarakat dan peran Pemerintah.3..................... 4.........5................ peran Pemerintah mempunyai andil yang besar dalam penge lolaan KKLD......3......... maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1........... Latar Belakang 1.............. 28 3.2 Partisipasi Masyarakat ............ Skala Pengukuran ... METODE PENELITIAN 3........... Hasil penelitian......... Kata-kata kunci : Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Pesisir....................... 27 3................... 28 3....... 30 3.................. 27 3..4........ Analisis Data .......................2................99.... Manfaat Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2..........7......................

yakni memiliki (sense of belonging) Menurut Tjokroamidjoyo (1990). pengalaman masa lalu. 2. Kepada syarakat yang berhubungan erat dengan . Metode Penelitian metode survei. Lokasi Penelitian. Representasi Representasi merupakan varian kedua dari peran serta yang secara kualitatif lebih tinggi dan mendalam jika dibandingkan dengan varian pertama. Individu dikatakan berperan serta dalam varian ini apabila terlibat dalam penentuan masalah.rencana akan memperoleh dukungan bila hal tersebut diketahui dan dimengerti oleh masyarakat. c. Pemilikan dan pengendalian Pemilikan dan pengendalian merupakan varian tertinggi dari peran serta secara kualitatif. Pendidikan Tingkat pendidikan yang memadai akan memberikan kesadaran yang lebih tinggi dalam berwarga negara dan memudahkan bagi pengembangan identifikasi terhadap tujuan-tujuan pembangunan yang bersifat nasioanal. antara lain sikap. 2. Kepemimpinan Faktor pertama proses pengendalian usaha dalam pembangunan ditentukan sekali oleh kepemimpinan.2. perumusan masalah. 3. pelaku persepsi. yaitu unsurunsur dalam ingkungan sekitar dapat mempengaruhi persepsi (Robins.. perhatian. suasana hati. kebijaksanaan dan rencana . perumusan metode dan pendekatannya serta pembuatan keputusan.3. Beberapa hal yang mempengaruhi persepsi : 1. persepsi adalah suatu proses mental yang rumit dan melibatkan berbagai kegiatan untuk menggolongkan stimulus yang masuk sehingga menghasilkan tanggapan untuk memahami stimulus tersebut. prestasi belajar sebelumnya dan pengharapan. Tolok ukur varian pertama peran serta adalah kehadiran yang bersifat kuantitatif. target yang akan diamati. BAB III METODE PENELITIAN 3. Situasi.2 Definisi Partisipasi Tjokroamidjoyo (1990). penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristikkarakteristik pribadi dari pelaku persepsi. b. fisiologis (pengiriman hasil penginderaan ke otak melalui saraf sensoris) dan psikologis (ingatan. 1996) 2.gagasan. Komunikasi Gagasan . karakteristiknya dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan.1. menyatakan varian peran serta atau partisipasi adalah : 1. bila seorang individu memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya. persepsi dapat terbentuk setelah melalui berbagai kegiatan. ada tiga faktor yang mempengaruhi peran serta atau partisipasi yaitu : a. Ini meliputi aktivitas penentuan masalah. motif/kebutuhan individu. 3. 3. yakni proses fisik (penginderaan).Menurut Saptorini (1989). pemrosesan informasi di otak). Individu yang berperan serta pada varian ini tidak hanya hadir dan berpresentasi tetapi lebih dari itu.. Kehadiran Kehadiran merupakan varian partisipasi tinggkat pertama yang lebih mudah mnjadi tolok ukurnya sebab jika seseorang hadir dalam suatu kegiatan maka ia dapat dikatakan telah berperan serta.

yakni. Kelurahan Pulau Abang. 3.Data sekunder 3.2. Variabel yang diteliti adalah variabel persepsi.3. Teknik observasi (pengamatan) : teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai potensi sumberdaya pesisir dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan setempat. persepsi. tokoh adat.3. dan pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan serta instansi terkait. Skala pengukuran . Demikian juga uji regresi dilakukan pada variabel persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat. hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antar kedua varibel tersebut dalam pengelolaan KKLD. Kuesioner : data primer. kepala kampung. Peranan Pemerintah . Jenis dan Sumber Data data primer wawancara langsung dengan responden. Populasi dan Sampel masyarakat nelayan yang ertempat tinggal di lokasi penelitian yaitu diwilayah Kawasan Konservasi aut Daerah (KKLD) Kota Batam yaitu warga Kelurahan Pulau Abang Responden yang diambil berjumlah 113 orang.ncara langsung dengan daftar pertanyaan yang telah disediakan sebelumnya.6. 3. Kelurahan Karas Responden yang diambil berjumlah 31 orang dan Kelurahan Galang Baru Responden yang diambil berjumlah 100 orang. c. Respondennya adalah nelayan. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan yang saling mempengaruhi antara peran Pemerintah dalam mempengaruhi persepsi masyarakat dan seberapa besar peran pemerintah mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD di lokasi Penelitian.….4.3.. variabel partisipasi dan variabel peran pemerintah. tokoh masyarakat. Sedangkan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang berarti antara ke tiga variabel tersebut dilakukan uji regresi antara varibel. tokoh adat. kepala kampung. 3. Teknik interview (wawancara) : untuk mendapatkan data primer maka menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur (semi structured interview) yaitu nelayan. Persepsi Masyarakat 3. Sampel diambil dengan memberikan peluang yang sama bagi setiap masyarakat untuk dipilih sebagai responden. tokoh agama.7.1.konservasi laut yaitu nelayan juga masyarakat lain seperti tokoh masyarakat yang berdomosili di lokasi penelitian. partisipasi dan peran pemerintah mengenai pelaksanaan KKLD.3. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut : a. partisipasi dan peran pemerintah. b. pejabat Dinas Perikanan dan elautan serta instansi terkait. Partisipasi Masyarakat 3. 3.3. Analisis Data Data yang dianalisa adalah persepsi .5. tokoh agama. Variabel Penelitian 3. tokoh asyarakat. dari seluruh responden pada masing lokasi penelitian setara 15 % dari jumlah penduduk berprofesi sebagai nelayan. Kelurahan Karas dan Kelurahan Galang Baru.8. Metode ini bersifat deskriptif korelasi.3.

75 % petani. Bentuk dan Tipe Pantai 4. Gambaran Umum Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) 4. Segayang. dan Dapur Enam.02 % buruh. ternyata bahwa sebahagian besar mata pencaharian masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan. Berdasarkan data monografi kelurahan Pulau Abang. Pulau Abang Kecil. Letak Geografis 4. Pulau Petong. diantara pulau yang berpenghuni antara lain Pulau Abang Besar.90 2 Petani 50 5. dan sekitar 5.2. sebelah utara dengan kelurahan Si Jantung. Tidak setuju/cukup tahu/ tidak pernah/negatif diberi skor 2 4.1. maka jawaban dapat diberi skor. pendapat dan persepsi seseorang atau ekolompok orang tentang fenomena sosial yaitu skala likert (Sugiyono.1.4. Sangat setuju/sangat tahu/sangat positif diberi skor 4 2. 39 Tabel 1.1. sebelah Timur dengan Kelurahan Galang Baru dan Kecamatan Senayang dan sebelah Barat dengan perairan Kecamatan Moro Kabupaten Tanjung Balai Karimun.75 3 Buruh 35 4.61 5 Pegawai negeri sipil 10 1.2.02 4 Pengusaha 14 1.1.1. 2006). Jenis Mata Pencaharian di Kelurahan Pulau Abang No Pekerjaan JumlaH pERSENTASE 1 nEayan 756 86.dari kuesioner adalah data ordinal yang mengukur ingkatan atau gradasi dari sangat positip sampai sangat negatif. Kondisi Geologi dan Geomorfologi Pantai 4.61% pengusaha/Tauke dan 1. 1.11 Jumlah 870 100. 2007 . misalnya : 1.90 % mata pencaharian tetap masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan di laut (nelayan). Untuk keperluan analisis kuantitatif.46 7 Babinsa 1 0. Batimetri 4.1. sebelah Selatan dengan perairan Kecamatan Senayang. Secara administrasi batas wilayah Kelurahan Pulau Abang. Pasir Buluh. mempunyai 42 buah pulau besar dan kecil. 4.15 6 Angkatan laut 4 0. Kondisi Wilayah Pesisir dan Kelautan Kota Batam 4.00 Sumber : Monografi Kelurahan Pulau Abang.15% pegawai negeri.3. Setuju/tahu/positif diberi skor 3 3. Sangat tidak setuju/tidak tahu/tidak pernah diberi skor 1 32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat ketergantungan masyarakat terhadap perairan laut sangat tinggi.2. Kelurahan Pulau Abang Kelurahan Pulau Abang terletak dibagian selatan Kota Batam. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. Sekitar 86. Skala yang igunakan untuk mengukur sikap.1.

4. Pedagang 35 4.83 5.1.2.2. Fasilitas Umum 1. 26 – 55 1066 40.82 3. Bahasa yang mereka . 2007 Tabel 3.13 Jumlah 768 100. Musim Penangkapan. sebagian besar penduduk Kelurahan Galang Baru merupakan nelayan (87.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru. Struktur Ekonomi dan Kultur Sosial Masyarakat Jika dilihat dari prosentase jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian sebagaiman tersebut diatas. Pengusaha sedang 1 0.4.52 Jumlah 2611 100. Daerah Penangkapan 4.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru.11 %).1. Pelabuhan dan Jalan 6. Dengan demikian ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya perikanan sangat besar.34 4. Sarana Kesehatan 2. Jumlah penduduk Kelurahan Galang Baru menurut usia No Usia (tahun)Jumlah(jiwa) Prsentase 1. Perumahan 8. Keberadaan mata pencaharian lain pada prinsipnya mendukung kegiatan ini perikanan khususnya perikanan tangkap.2. Melihat kondisi yang seperti ini dapat dikatakan bahwa basis perekonomian Kelurahan Galang Baru adalah perikanan tangkap. Kelurahan Galang Baru Tabel 2.3.2. 17 – 25 505 19. 0 – 5 300 11.12 6. 6 – 16 596 22.1.2. PNS 12 1.4. komunitas yang ada dikawasan ini merupakan komunitas masyarakat melayu yang berasal dari kerajaan Daik Lingga.49 2. Jenis Alat Tangkap 3. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 1. Sarana Air Bersih 7. Kapal Motor Perahu 2. Transportasi Laut 5. 3. Buruh indusri 47 6.2. Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Galang Baru No. Nelayan 669 87. Pemasaran dan Pasca Panen 4.1.1. 2007 4.2.3.52 3. Kegiatan Budidaya Perikanan 4. 56 tahun ke atas 144 5.2.11 2. Secara kultural. Sarana Pendidikan. Penerangan Rumah 4. Petani 4 0. M atPencaharian jmlah(jiwa)Persentase 1. Hasil Tangkapan 5.56 4.2. Sarana Perdagangan 4.56 5.

Seperti halnya. Hilangnya kekhasan kultur ini. Gadelam (Derris trifolata). Namun kehidupan social masyarakat dikawasan ini sudah tidak lagi memiliki kultur yang khas. Waru (Hibiscus tiliacus). yaitu : Api-Api (Avicennia marina).01 Tinggi . 4. Tingi (Ceriops tagal). 2007 Jenis Mangrove yang dominan adalah jenis Rhizophora. Seperti diketahui kawasan ini sangat dekat dengan Negara Singapura dan kontak secara langsung maupun tak langsung dengan luar sudah berlangsung cukup lama.20 Tinggi 164 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam.88 Rendah 3.4. boleh dikatakan (patut diduga) sangat dipengaruhi oleh derasnya arus globalisasi (pengaruh asing) yang datang dari Negara Singapura tersebut. Bakau Putih (Rhizophora mucronata).2. pandangan dan persepsi masyarakat terhadap keberadaan sumberdaya alam tidak lagi mengikuti petuah dan petata-petiti budaya seperti yang terkandung dalam petuah adat serta pantun-pantun melayu. Dudukan Putih (Lumnitzera racemosa). Tabel 9.pergunakan adalah Bahasa Melayu.70 Sedang 179 Sedang P.62 Tinggi 191 Sedang P. Buta-buta (Exacaecaria agallacha). Nyirih (Xylocarpus granatum). Kegiatan Budidaya Perikanan Tabel 6. Daerah Penangkapan 3.2. Nguan (galang baru) 1. Alat dan Musim Tangkap 2. 1. Dudukan Merah (Lumnitzera littorea).76 Sedang 213 Tinggi P. Pada sisi lain. lebih jauh disampaikan bahwa yang membentuk hutan mangrove dikawasan studi dikenali terdapat 12 (dua belas) jenis vegetasi. Pendatang dari suku Buton disinyalir pertama kali menggunakan bom dalam aktivitas nelayan di kawasan perairan Kepulauan Riau. Sumbur (Galang Baru) 0. Lenggadai (Bruguiera parvifora). Kelimpahan dan Keragaman Ikan Karang di Masingmasing Kawasan Kawasan Jumlah Transek Kelimpahan (Individu) Kategori Keragaman Kategori I 8 121. bom ikan diperkenalkan oleh pendatang dari Suku Buton. Masyarakat telah terkontaminasi oleh pendatang untuk menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Pedada (Sonneratia alba). Bakau Merah (Rhizophora aplicuta). Kearifan dalam memanfaatkan dan menjaga sumberdaya alam hanya ditunjukkan oleh segilintir orang sehingga kearifan tersebut seolah hilang. Persentase Tutupan dan Keragaman Jenis Mangrove KKLD Kelurahan Keaneka ragaman (H’ Pohon) Kategori Kerapatan /Ha Kategori Pulau Abang 0. Kegiatan Perikanan Kelurahan Galang Baru. Karas 1.

Mengetahui Nilai 2. 2008 Keterangan : Nilai 4.5% 2 Galang Baru 82 14 3 1 82. Hal ini dikarenakan mereka telah mengetahui dari sosialisasi dari pemerintah baik lewat ..3.. 2008 Keterangan : Nilai 4.9% Sumber : Data primer diolah. 2006 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sembur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) Jumlah 103.0% 3. Galang Baru.0% 1.+ + + 15 Kima Tridagna + .9% 22.1% 4.rata 58. dan Pulau karas.2. Tidak Mengetahui Rata . 2007 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sumbur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) yang terdapat di KKLD pada tiga Kelurahan disajikan pada tabel 10 berikut. Sangat Mengetahui Nilai 3. Jenis Satwa yang Dilindungi di Kawasan Penelitian No Nama Lokal Jenis I II III IV 1.74 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam.8% 51.7% 29.5. Duyung Dugong dugon + .2 % responden mengetahui aturan Daerah Perlindungan Laut yang berada di kawasan Pulau Abang.5.+ Sumber: Studi Penyusunan Kawasan Marine Managemen Area. Persepsi Masyarakat Tentang Kondisi Mangrove NoLokasiPenelitianSkore Persentase 43214321 1 Pulau Abang 79 25 5 4 69. Tabel 10.2% 0.4% 3. Kondisi Mangrove Baik Nilai 2. Kondisi Mangrove Rusak Nilai 1.3.02 Sedang III 9 198.II 13 109. Kondisi Mangrove Sangat Baik Nilai 3.51 Rendah IV 4 162.85 Rendah 2.0% 3 Karas 21 9 1 0 67. Persepsi Masyarakat Mengenai Kondisi Terumbu Karang Tabel 15.7% 12. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Galang Baru 4.11 Sedang 1.14 Gonggong Littorina sp . Lumba-lumba Dolphinia sp + . Buaya Crocodylus porosus . Cukup Mengetahui Nilai 1. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Karas Tabel 14.2 % responden mengetahui bahwa mangrove yang berada di 3 Karas 8 16 3 4 25.+ + + 2.0% Sumber : Data primer diolah.0% 3.0% 14. Kondisi Mangrove Sangat rusak Rata – rata 73.2.6% 9.37 Rendah 2.145 4.2.

2008 Hasil uji regresi terjadi hubungan yang sangat erat antara persepsi masyarakat terhadap KKLD dengan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan KKLD. s pada tahun 4. Hasil jawaban yang dihimpun dari pertanyaan seputar persepsi masyarakat tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah.penyuluhan. Tabel 37. 2008 105 Total skor persepsi. Wilayah Kelompok Tingkat Total Skor 1 Kelurahan PulauAbangPersepsi 3 (Tinggi) 2373Partisipasi 2 (Sedang) 2124Peran Pemerintah 2 (Sedang) 2131 2 Kelurahan GalangBaruPersepsi 2 (Sedang) 1952Partisipasi 2 (Sedang) 1917Peran Pemerintah 2 (Sedang) 1859 3 Kelurahan Karas Persepsi 2 (Sedang) 629Partisipasi 2 (Sedang) 581Peran Pemerintah 2 (Sedang) 573 Sumber : Data primer diolah. Tabel 36.6. Wilayah Tingkat Interval 1 Kelurahan Pulau Abang 3 (Tinggi) > 2373 2 (Sedang) 1582 – 2373 1 (rendah) < 1582 2 Kelurahan Galang Baru 3 (Tinggi) > 2100 2 (Sedang) 1400 – 2100 1 (rendah) < 1400 3 Kelurahan Karas 3 (Tinggi) > 651 2 (Sedang) 434 – 651 1 (rendah) < 434 Sumber : Data primer diolah. Partisipasi dan Peran Pemerintah dalam KKLD No. Partisipasi Dan Peran Pemerintah Dalam KKLD No. Partisipasi dan Peran Pemerintah terhadap KKLD Berdasarkan pengelompokan data dari persepsi masyarakat.98 pada tarap signifikansi 0. demikian juga terjadi hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD pada . Interval Kelas Tingkatan Persepsi. maupun beberpa papan pengumuman yang dipasang di kawasan tersebut.068. pada sub pertanyaan mengenai sanksi di Daerah Perlindungan Laut tersaji pada Tabel 19. dengan nilai R2 = 0. Hubungan Persepsi. Total Skore Persepsi. partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah terhadap Kawasan Konservasi Laut Daerah dikelompokan dalam 3 (tiga) kategori berdasarkan interval kelas dari hasil skoring total nilai yang tersaji dalam Tabel 36. partisipasi dan peran pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dan Daerah tersaji dalam Tabel 37 berikut.

044.025.. 5. partisipasi masyarakat dan peran pemerintah terhadap KKLD. Kesimpulan: 1. pengawasan daerah konservasi dan pemberian tanda di daerah perlindungan laut sangat kurang. Sitepu. dan M. Peran pemerintah dalam pengelolaan KKLD pada tiap-tiap kelurahan mempunyai tingkat peran “sedang” (66 % . epartemen Kelautan dan Perikanan. Anggoro. Semarang. Penerbit LISPI. Saran DAFTAR PUSTAKA Anggoro. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. IPB. pembentukan dan peningkatan Lembaga Kemasyarakatan (POKJA. PKSPL. dengan melihat nilai regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelelolaan KKLD sangat ditentukan oleh persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan KKLD sebagai sumber kehidupan masyarakat yang berkelanjutan. D. Rais.2.75%) terhadap arti pentingnya pengelolaan Kawasan Konservasi Laut hal ini karena nelayan menyadari bahwa hasil tangkapan sangat tergantung kepada kondisi ekosistem yang baik 2. Terdapat hubungan yang erat antara persepsi masyarakat.P.ketiga wilayah tersebut dengan nilai R2 = 0. 2000. Ginting. Dahuri. S. dan Kelompok MPA) yang dilakukan oleh Pemerintah yang dapat meningkatkan persepsi dan partisipasi masyarakat tentang arti pentingnya mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah secara bersama (Masyarakat dengan Pemerintah). Dengan melakukan kegiatan peningkatan SDM. R. Jakarta. R.. S.68%) dimana masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian terumbu karang dan mangrove. Pedoman Tata Ruang Pesisir dan Laut.99 pada tarap signifikansi 0. PT Pradnya Paramitha. S.J. Nelayan mempunyai tingkat persepsi sedang hingga tinggi (70% . Universitas Diponegoro. . POKWASMAS. Bogor. hasil uji regresi peran pemerintah terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD juga terjadi hubungan yang sangat erat dengan nilai R2 = 0. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir & Lautan secara Terpadu. Jakarta. 3. 2000.99 pada tarap signifikansi 0. Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Jakarta Dahuri. sedangkan dalam pengawasan partisipasinya rendah hal ini dikarenakan anggapan masyarakat bahwa sudah ada petugas yang ditunjuk (POKMASWAS). Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya.J. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34 tahun 2002.. Universitas Diponegoro. Keanekaragaman Hayati Laut. 2002. 1996. Bengen. 2006. 4. Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan untuk Kesejahteraan Rakyat. tanggal 4 . 2002. Modul Matrikulasi Pengelolaan Pesisir dan Laut.1. Nelayan mempunyai tingkat partisipasi sedang (67% . Semarang. Seminar Nasional Fakultas Teknik dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro ke 43.67 %) karena responden menilai peran pemerintah khususnya dalam penghijauan mangrove. Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan Berwawasan Lingkungan.G.

Sastropoetro. Kasmidi. 1989. Pedoman Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah.nasa. Penerbit. Departemen Kelautan dan Perikanan. Pustaka Pelajar.jpl. Kualitatif dan R & D. Sugiyono. Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Alam. K. Mackinnon. Pengelolaan Kawasan yang dilindungi di Daerah Tropika. dan Effendi. Saptorini. Jakarta. Alfabeta. Prenhalindi. Jakarta. 2002. UKSW. Http://www2. Universitas Diponegoro. J. CV. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan. 2005. . Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan (Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapangan). Tesis MSDP. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. Bandung. Bagaimana dan Kemana Bisnis Perikanan. PT. S. NTT. Partisipasi. C. Aspek Hukum Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. . Direktorat Konservasi dan Taman laut Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Persepsi Siswa SMA se-Kotamadya Semarang Mengenai Narkotika. . dan Mackinnon. 2003.V. 2000. Komunikasi. Bayer. Penerbit PT. Jakarta. Hubungan Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan Mangrove di Desa Jetis Kecamatan Nusa Wungu. 2003. Dimpudus..1989.H. C.September 2002. Bandung. 1986. Supriyanto. Jakarta. Politik Ekonomi Perikanan. T. 2004. . Jakarta Mikkelsen. 2007. B. Kusnadi. Pustaka Cidesindo. Yogyakarta. 2006. Gajah Mada University Press. Semarang Stanis. Mas Agung. B. Jakarta. Perilaku Organisasi. Nikijuluw. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. 1992. Yogyakarta. Mulyadi.2005. 2005. Satria. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Melalui Pemberdayaan Kearifan Lokal di Kabupaten Lembata Prop. J. Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. Yogyakarta. Metode Penelitian Survei. M.2007. S. Jakarta. S. Jakarta. Perencanaan Pembangunan. FERACO. 1985. Rotinsulu. Hardjasoemantri. Salatiga. 2002. Singarimbun. 2006. PT. Ekonomi Kelautan. 1993. Ekonomi dan Keanekaragaman Hayati. Kabupaten Cilacap. Metode Penelitian Kuantitatf. LP3ES. Semarang. Raja Grafindo Persada. S.gov/srtm.P. M. Jakarta. Strategi Hidup Masyarakat Nelayan. Robins. Yogyakarta.A. 1990. Jakarta Gultom. Tulungen. A. Semarang Tjokroamindjoyo. Penerbit LKIS. Mengembangkan dan Memanfaatkan Perangsang Ekonomi Untuk Melestarikan Sumberdaya Hayati. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Alumni. A. V. Jakarta. Pengantar Sosiologi Nelayan. Tesis MSDP. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis. Penerbit PT. Penerbit PT. Supriharyono. Gramedia Pustaka Utama. Penerbit P3R dan PT Pustaka Cidesindo. Yayasan Obor Indonesia. M. Sukmara. McNeely. 1990. J. Laporan Penelitian IKIP. Yogyakarta:Gajahmada University Press. Terjemahan. Konflik Sosial Nelayan. 1996. Penerbit LKIS. 2003.

tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau – Pulau Kecil. 2002.00% Galang Baru 4 4 16 82 328 16 64 61 244 13 52 9 36 36 144 Interval Galang Baru 3 8 24 14 42 26 78 32 96 62 186 23 69 62 186 Maks = 2800 Tinggi = >2100 2 41 82 3 6 28 56 4 8 9 18 48 96 2 4 Min = 700 Sedang = 1400 2100 1 47 47 1 1 30 30 3 3 16 16 20 20 0 0 Rendah = > 1400 100 169 377 228 351 272 221 334 1952 69. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007. > 9 orang Lampiran 5. Panduan penilaian kuesioner Lampiran 6. Skoring Persepsi Lokasi Score Tabel Pertanyaan Persepsi 1234567 Pulau Abang 4 11 44 79 316 35 140 62 248 23 92 14 56 34 136 Interval P. Pekerjaan Utama : 5. Umur : 4. Undang-Undang RI No. 5-10 Tahun c. > 10 Tahun 6. 5 Tahun 1990. Departemen Kelautan dan Perikanan. “Tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan Ekosistemnya”. N. Identitas Responden 1. Jumlah Tanggungan keluarga a. Lampiran 1. Panduan Pembentukan dan Pengelolaan Daerah Perlindungan laut Berbasis Masyarakat. < 6 orang b. Nama kampung : 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004. Jakarta. Abang 3 37 111 25 75 34 102 41 123 69 207 62 186 68 204 Maks = 3164 Tinggi = > 2373 2 50 100 5 10 21 42 6 12 11 22 32 64 11 22 Min = 791 Sedang = 1582 2373 1 15 15 4 4 23 23 4 4 10 10 5 5 0 0 Rendah = > 1582 113 270 405 307 387 331 311 362 2373 75. Lama Tinggal di Kampung : a.71% Karas 4 2 8 21 84 7 28 20 80 8 32 4 16 12 48 Interval Karas 3 7 21 9 27 7 21 9 27 16 48 12 36 16 48 Maks = 868 Tinggi = > 651 2 13 26 1 2 8 16 1 2 3 6 9 18 3 6 Min = 217 Sedang = 434 . Nama responden : 3. <5 Tahun b.Tangkilisan.651 199009911446600 Rendah . 6-9 orang c. tentang Perikanan.

7278 200.959582 -2556.42904 2.76 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.53 2531.6761 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1636579 1636579 82.01% 4563 124 SUMMARY OUTPUT Lampiran 9 Hubungan antara persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.53 2531.976105 Standard Error 140.06357 0.995211 Adjusted R Square 0.2023 -0.069725 Residual 1 19789.073 -2556.073 X Variable 1 1.47% 4954 122 1 4 4 2 2 4 4 0 0 7 7 10 10 9 9 Rendah = < 434 31 92 97 84 98 55 60 56 573 66.997603 R Square 0.990422 Standard Error 89.98 125 SUMMARY OUTPUT Lampiran 10 Hubungan antara peran pemerintah dengan persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.080092 0.42904 2.589221 -0.06421 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance .118772 9.69826 0.0% Upper 95.589221 Keterangan : Persepsi masyarakat sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.093858 0.76 19789.= > 434 31 64 113 74 110 90 76 102 629 72.0% Intercept -12.069725 -0.994008 R Square 0.988052 Adjusted R Square 0.

025634 0.090947 0.005595 0.0% Intercept 11.378 868.378 868.0701 -0.040513 24.86 1593.996759 Standard Error 47.67915 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1400591 1400591 616.490829 1.999189 R Square 0.868 -1609.433 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.490829 1.0% Upper 95.F Regression 1 1648436 1648436 207.044091 Residual 1 7932.0% Upper 95.520362 0.520362 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.868 X Variable 1 1.129368 2.6898 X Variable 1 1.302 2273.15595 67.433 7932.895711 -846.025634 Residual 1 2273.99 126 SUMMARY OUTPUT Lampiran 11 Hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0. Dokumentasi Penelitian Dokumentasi Penelitian Mata Pencaharian Alternatif (MPA) Keramba Jaring Tancap Penanaman Mangrove oleh masyarakat di kelurahan Karas .959671 -1609.1045 0.075678 14.052526 0.6898 -846.0% Intercept -7.044091 0.9971 126.8097 0.06343 0.48967 0.129368 2.99838 Adjusted R Square 0.99 127 Lampiran 12.86 1593.302 Total 2 1402865 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.4156 0.165299 0.82145 0.052526 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.

estuaries.2. this value is substantially high. Mangroves have high economic value for people and also as feeding and nursing ground for many species of fish and bird. including sea grass and coral reefs to deep sea ecosystems. prevent erosion and regulate the micro climate. coastal forest. kelahiran Madiun. For instance. sub-alpine.129 Lampiran 13 WALIKOTA BATAM Riwayat Hidup Mardijono. regulation of local climate. as presentedin Box 2. Table 3. Perikanan dan Pertanian Kota Batam. 2000). Although it covers only 1. ============================================================= National Document hal 29 Indonesia is estimated to have 90 ecosystem types. with 89 plant species (Nontji in Dahuri et al.9. and small islands. Environmental services are undervalued because it is difficult to quantify. wetlands. the diverse ecosystems provide a placefor the food chain to function and a space for species to survive and breed. mangrove and marine and coastal ecosystems. which are also dynamic and very productive. The litter and other parts of mangroves which are carried by water provides . 2001). The ecological value can be harnessed if biodiversity is considered as one entity. alpine. coral reef or islands. Indonesia harbors a very high fauna species diversity. montane to lowland rainforests. these services are. Mittermeier et al. coral reef. forests maintain the hydrological balance thus preventing floods and droughts. Mangrove forests occur only in coastal areas where the waves are broken by barriers such as sand. protection of water and soil quality. while the plant species found in them can be seen in Table 3. Forests also maintain soil fertility by supplying nutrients through the leaf litter. In marine.6Mangroves have diverse functions andbenefits. Given the limited availability of knowledge. consisting of estuaries. from snow peaks at Jayawijaya. For example. Yet. the ecological perspective is most often used to study coastal and marine areas.sekarang bekerja pada Dinas Kelautan. A well functioning ecosystem can supply and produce environmental services beneficial for the species living in it. 30 September 1969. Bengen (2001) listed several marine and coastal ecosystems from the ecological perspective. there are several unique but interrelated ecosystems. sea grass. mangrove. savannah. They can be classified into three main types: coastal/ delta. river estuary/lagoon and island types (MacKinnon et al. where the components are inter-dependent. among others. rocky and sandy beaches.5 presents the distribution of mangroves in Indonesia. from the highest water level to the lowest tidal level. coastal and small island zones. Mangroves Mangrove is the collective term for tree vegetation that grow in muddy coasts in tidal areas.3% of the total landmass in the world. Mangroves cover an area of about 2. coastal and small island areas.5 million hectares in Indonesia. during the early 1990s. There are many studies from the geological and geomorphologic perspective but their results have not contributed significantly to the knowledge(hal 24) of ecosystem classification in marine. as outlined below (Dephut1994. grasslands. 1997): Ecological value Biodiversity provides ecological or environmental services for humans. hal12 Figure 2.

A list of benefits provided by mangroves is given in Table 3. This ecosystem serves as habitat of various animals. 1999). green manure. Table 3. timber for other uses. mangrove blue flycatcher (Cyornis rufigastra).8.900 Benefits and value of marine and coastal ecosystem Like forests. Mangrove distribution in Indonesia (hectares). proboscis monkey (Nasalis larvatus).092.300 353.450 84.600 2.025 19. social and environmental benefits.500 78. Payne et al.500 38. Mangrove vegetation is relatively well researched in Indonesia (Kartawinata 1990). Mangroves also serve as nursery grounds for young fishes. 2000) Figure 3.important nutrition for coastal ecosystem and other ecosystem in the surrounding estuaries. mangroves also protect certain coastal areas from abrasion. Mangroves also produce timber. common cat snake (Boiga dendrophila). fungi. milky stork (Mycteria cinerea). of which Rhizophora is most preferred for building materials and rayon production. food. Thus it is clear that mangroves have an important function in supporting coastal fishery. building and industrial materials. amphibians: mangrove frog (Rana cancrivora). Mangroves also yield microorganisms that have various uses such as bacteria. In addition.300 680.000 171. protozoa.000 6.129. oils. mammals: javan lutung (Semnopithecus auratus). are used for medicine. with potentials to produce alcohol (Mercer and Hamilton 1984 in Whitten et al.185 61. clams and snails. python (Pythonreticulatus) and estuarine crocodile (Crocodylus porosus) are found in some mangrove areas. But such timber has not been harvested in a sustainable manner. rare lesser adjutants (Leptoptilos javanicus). Island rotected area Mangroves Current area Original area Sumatra Java & Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua 857.577 25.600 1. for example. In addition.450. common skink (Mabuya multifasciata). 1999). and other microorganisms. Among others. insects (Anopheles sundaicus and Aedes mosquitoes) (Whitten et al. Other mangrove products include fuelwood. and now not many places are left where Rhizophora timber can be harvested sustainably.900 2. without always being connected directly with the mangrove area and its productivity. mangrove whistler (Pachycephala cinerea). chemicals for tanning and dyes.8.000 485. . shrimps and other organisms such as crabs. mangrove timber is a source of material for charcoal and chipwood industry. coastal and marine ecosystems also provide economic. Plants in mangrove forests.000 272.833 2. long-tailed macaque (Macaca fascicularis). fishing cat (Felis viverrinus).500 4. small-clawed otter (Aonyx cinerea). (Doc. reptiles: monitor lizard (Varanus salvator).5. and nypah (Nypa fruticans).

Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Fitrah *) (Penulis Buku Pembelajaran Berbasis Fitrah. antipati. Aspek Afekit berwujud proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti ketakutan.J.ac. Karakter satu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dasar bangsa tersebut =============================================================== Oleh karena itu ahli psikologi W.Pd. simpati. sifat-sifat kejiwaan. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial.net/2009/02/13/pembentukan-karakter-peserta-didik-melaluipendekatan-pembelajara Oleh : Achjar Chalil. Tidak ada satu sikap pun yang tanpa objek. pada seminar PBF dalam rangka HUT PGRI Kota Solok-Sumb Friday. Ini berarti berwujud pengolahan. pengalaman.id/sastra/mudjahirin/2010/07/30/masyarakat-pesisir/ SOSIOLOGI PEDESAAN MASYARAKAT JAWA PESISIRAN Oleh Mudjahirin Thohir =================================================================== http://agupenajateng. akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. 3. SMKN 56 Jakarta) *) Makalah disampaikan pada tanggal 14 Desember 2008. Aspek Konatif: berwujud proses tendensi/kecenderungan untuk berbuatu sesuatu objek. S. menjauhkan diri dan sebagainya . misalnya kecenderungan memberi pertolongan.========================================================= ======================== Dari : http://staff. ikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam kegiatankegiatan sosial.undip. Balai Pustaka – 2008 dan Guru Mekatronika. kedengkian. Maka sikap sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata. Dalam hal ini Thomas menyatakan bahwa sikap seseorang selalu diarahkan terhadap sesuatu hal atau suatu objek tertentu. watak. Hal ini terjadi bukan saja pada orang-orang lain dalam satu masyarakat. yang berulang-ulang terhadap objek sosial. Aspek Kognitif yaitu yang berhubungan dengan gejala mengenal pikiran. 13 February 2009 (23:35) Unduh 28 Feb 2011 karakter ialah tabiat. Tiap-tiap sikap mempunyai 3 aspek 1. 2. dan keyakinan serta harapan-harapan individu tentang objek atau kelompok objek tertentu. dan sebagainya yang ditujukan kepada objekojek tertentu.

Ciri-Ciri Dan Fungsi Sikap Sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan. 3. terbuka serta hangat.[ Sri Utami Rahayuningsih – 2008 Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) ================================================================= Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) Sikap/ Attitude Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude Secara sederhana sikap didefinisikan : Unduh 28 Feb 2011 Ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa hal. dan stabil. Personal (societal significance) Sikap melibatkan hubungan antara seseorang dan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi. Jika seseorang merasa bahwa orang lain menyenangkan. dan favorable.org/wiki/Sikap Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek.D. Sedangkan fungsi dari sikap (tugas) sikap dapat dibagi menjadi empat golongan. dan perilaku. kemudian menjadi lebih kuat. yaitu: 1) Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikandiri. ia merasa bebas. tetap. maka ini akan sangat berarti bagi dirinya. Sikap itu dipelajari (learnablity) Sikap merupakan hasil belajar ini perlu dibedakan dari motif. 4. atau memperoleh sesuatu nilai yang sifatnya perseorangan. Beberapa sikap dipelajari tidak sengaja dan tanpa kesadaran kepada sebagian individu. Barangkali yang terjadi adalah mempelajari sikap dengan sengaja bila individu mengerti bahwa hal itu akan membawa lebih baik (untuk dirinya sendiri). Berisi cognisi dan affeksi Komponen cognisi daripada sikap adalah berisi informasi yang faktual. Adapun ciriciri sikap adalah sebagai berikut: 1. Cth: sikap dalam kehidupan sehari-hari pada iklan  parpol . orang-orang atau kejadian-kejadian. melalui pengalaman. membantu tujuan kelompok. misalnya: objek itu dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan. Dapatlah dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal.wikipedia. orang atau peristiwa[1]. Memihki kestabilan (Stability) Sikap bermula dan dipelajari.motif psikologi lainnya. 2. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu[1] Sikap mempunyai tiga komponen utama: kesadaran. perasaan. 2) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku 3) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman 4) Sikap berfungsi sebagai pernyataan kepribadian ==\============================================================= Dari : http://id. tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap.

An evaluation of objects. Skala Sikap o Yaitu: kumpulan pertanyaan mengenai objek sikap o Mencoba memperoleh pengukuran yang tepat tentang sikap seseorang o Akurasi pengukuran dilakukan dengan penggunaan beberapa item yang berkaitan dengan isyu yang sama o Skala sikap melibatkan: belief dan opini terhadap suatu objek o Pertanyaan-pertanyaan atau item yang membentuk skala sikap dikenal dengan statement (pernyataan yang menyangkut objek psikologis). sikap adalah penilaian positif atau negatif terhadap isu.a favorable or unfavorable evaluative reaction toward something or someone.html Unduh 28 Feb 2011 Sikap ( Attitude ) Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai “organisasi pendapat. =============================================================== Jadi. ide. exhibited in one’s belief. orang. people or issues about which an individual has some knowledge” (Wrightsman.blogspot. 1993) “….opini b. benda dsbnya Bagaimana kita mengukur sikap? Melalui observasi & wawancara Dengan menggunakan skala misalnya: • Summated Ratings • Equal Appearing Interval • Cummulative Scale • Semantic Differential Sikap adalah: “ …. keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu . kelompok sosial.com/2010/05/sikap-attitude. feelings or intended behavior” (Myers. 1996 Komponen sikap: • • • kognitif afektif konatif =============================================================== Dari : http://nadhirin.

daftar pertanyaan biasanya untuk penelitian bibliografi atau karangan. yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak atau berperilaku terhadap obyek sikap. yaitu metode pengukuran yang menggunakan skala sikap yang dikonstruksikan terlebih dahulu menurut prinsip-prinsip tertentu. 3) Metode tes tersususn. atau action component). terhadap suatu obyek. dan sangat tidak setuju. Lima alternatifjawaban yang dike mukakan oleh Likert adalah sangat setuju. Ketiga komponen itu adalah komponen kognitif. 2) Metode tak langsung. sedangkan rasa tidak senang adalah hal negatif.58 Sedangkan Azwar berpendapat bahwa: Metode pengukuran sikap yang diangggap dapat diandalkan dan dapat memberikan penafsiran terhadap sikap manusia adalah pengukuran melalui skala sikap (attitude scale). Rasa senang merupakan hal yang positif. orang dimintai supaya menyatakan dirinya mengenai obyek sikap yang diselidiki. pandangan. tidak mempunyai pendapat.dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya”. KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN Berkaitan dengan komponen sikap. Thurstone atau Guttman. yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan. yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap obyek sikap. yaitu dengan wawancara. 3) komponen konatif (komponen perilaku. 4) Metode tes tak tersusun. seperti metode Likert. baik yang bersifat fa vorable atau positif maupun unfavorable atau negatif. afektif dan konatif dengan uraian sebagai berikut: 1) komponen kognitif (komponen perseptual).54 Pengukuran Sikap Gerungan menyatakan bahwa: Cara-cara yang dapat dipakai untuk mengukur sikap antara lain: 1) Metode langsung ialah metode dimana orang secara langsung diminta pendapat atau tanggapannya mengenai obyek tertentu. Suatu skala sikap merupakan kumpulan pernyataan sikap yang berkenaan dengan obyek sikap. 2) komponen afektif (komponen emosional). misalnya menggunakan tes psikologi. keyakinan. atau perasaan seseorang.59 Dari hasil uji coba dipilih pernyataan-pernyataan yang cukup baik. yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap obyek sikap. Skala sikap bertujuan untuk menentukan kepercayaan. Walgito mengemukakan bahwa: Sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap. Corak khas dari skala Likert ialah bahwa makin tinggi . Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai objek sikap yang diukur. Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah kesediaan beraksi terhadap suatu hal. =================================================================== Dari BAB II DESKRIPSI TEORI. persepsi. tetapi secara tidak langsung. setuju. tidak setuju. biasanya disampaikan secara lisan pada waktu wawancara.

image. dan majalah. Pengukuran sikap model Likert (Skala Likert) merupakan salah satu cara pengukuran sikap secara langsung. koran. mengumumkan.org/wiki/Pengetahuan Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor. sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. news”. merupakan indikasi bahwa orang tersebut sikapnya makin positif terhadap objek sikap.skor yang diperoleh seseorang. demikian pula sebaliknya. menganalisa. radio. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. suara. maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia. menyimpan. diantaranya: • Pendidikan : Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. demikian pula sebaliknya. dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. databases . merupakan indikasi bahwaorang tersebut sikapnya makin negatif terhadap objek sikap Pengukuran sikap guru terhadap pekerjaan dapat dilakukan dengan pengukuran sikap model Likert. memanipulasi. Media : Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. makin rendah skor yang diperoleh seseorang. Keterpaparan informsi : pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi. Alat ukur dalam skala Likert menggunakan pernyataan-pernyataan dengan menggunakan lima alternatif jawaban. kode.wikipedia. teks. Sedangkan informasi sendiri mencakup data. program komputer. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible). Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan. adalah “that of which one is apprised or told: intelligence. Makin tinggi skor yang diperoleh seorang guru mengindikasikan guru memiliki sikap yang makin positif terhadap pekerjaan. menyiapkan. yang diperoleh dari data dan pengamatan terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi • • ---------------------------------------------------------------------------------------------------------- . ========================================== ===================== Dari : http://id.

canboyz. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia.co. yaitu indera penglihatan. Umur adalah lamanya waktu hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai berulang tahun yang terakhir. 1997).Dari : Asrofudin http://www. berlangsung antara usia 30-46 tahun (Depkes. 2003). Pekerjaan Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari artinya makin cocok jenis pekerjaan yang diemban. Pendidikan Tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi baru (SDKI. pendengaran. makin tinggi pula tingkat kepuasan yang diperoleh (Hurlock. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. Umur Menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan. penciuman. rasa dan raba. Masa menopause merupakan masa peralihan dari masa haid sampai masa berhentinya haid. .cc/2010/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi. 2. 3. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. =============================================================== Dari : Pengetahuan atau kognitif merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. 1998). Karena dapat membuat seseorang untuk lebih mudah mengambil keputusan dan bertindak. 2007).html Unduh 28 Feb 2011 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan 1.

juga diatur kapan dan dengan alat apa kegiatan perikanan dilakukan. (2) pembatasan output (output restriction). yakni membatasi jumlah pelaku.Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indra yang dilakukan untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat. regulasi ini menimbulkan dampak negatif. jumlah jenis kapal. yakni open access dan controlled access regulation. Both ENDs dan IUCN dengan dukungan dana dari OXFAM Belanda bertujuan melindungi keunikan ekosistem pesisir dan memperbaiki mata pencaharian penduduk pesisir. UU No. ================================================================== DOKUMEN ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Banda Aceh. Wetlands Internasional. dan dengan alat apa saja. dimana saja. Open access adalah regulasi yang membiarkan nelayan menangkap ikan dan mengeksploitasi sumber daya hayati lainnya kapan saja. Regulasi ini mirip ”hukum rimba” dan ”pasar bebas”. ada dua bentuk regulasi dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Program yang merupakan kerja sama WWF. dan jenis alat tangkap. Sistem yang menjurus pada bentuk pengkavlingan laut ini menempatkan perlindungan kepentingan nelayan kecil yang beroperasi di wilayah pantai-pesisir serta kepentingan kelestarian fungsi sumber daya sebagai fokus perhatian. Selain diatur siapa yang berhak melakukan kegiatan perikanan. yakni membatasi berupa jumlah tangkapan bagi setiap pelaku berdasarkan kuota. Secara empiris. berapapun jumlahnya. 2005). Pola fishing right system ini menempatkan pemegang fishing right yang berhak melakukan kegiatan perikanan di suatu wilayah. 32 Tahun 2004 yang membuat pengaturan tentang yurisdiksi laut provinsi (12 mil) . contolled access regulation adalah regulasi terkontrol yang dapat berupa (1) pembatasan input (input restriction). Green Coast for nature and people after the tsunami Secara teoritis. Sebaliknya. Salah satu formulasi dari pembatas input itu adalah territorial use right yang menekankan penggunaan fishing right (hak memanfaatkan sumberdaya perikanan) dalam suatu wilayah tertentu dalam yurisdiksi yang jelas. antara lain apa yang dikenal dengan tragedy of common baik berupa kerusakan sumber daya kelautan dan perikanan maupun konflik antar nelayan. Desember 2007 Tim Penyusun Salah satu program yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi kelautan dan perikanan adalah program Green Coast. sementara yang tidak memiliki fishing right tidak diizinkan beroperasi di wilayah itu.

reboisasi dalam rangka rehabilitasi lahan kritis pada kawasan hutan lindung. =================================================== ===================== Undang-Undang No 41 tahun 1999 Pasal 1 ayat 8 mendefinisikan Hutan lindung sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan. sebagai amanah untuk mewujudkan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang.5 meter. Konsep pengkavlingan laut merupakan instrumen dari konsep regulasi akses terkontrol (contolled access regulation) dalam pola pembatasan input (territorial use right). Menentukan letak dan luas hutan lindung 2. Pengelolaan hutan lindung diserahkan kepada Kepala Daerah Tingkat II yang mencakup kegiatan pemancangan batas. 2) Tingkat sapihan (sapling) yaitu tingkat pertumbuhan permudaan yang mencapai tinggi antara 1. Melakukan penatabatasan dan pengukuhan kawasan hutan lindung 3. mencegah banjir. Hutan lindung dapat dimanfaatkan berupa pemanfaatan kawasan. Selanjutnya dikatakan bahwa pengelolaan hutan lindung adalah bagian integral dari pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara keseluruhan. Merehabilitasi hutan lindung yang mengalami degradasi dan deforestasi 4. dan pemungutan hasil hutan bukan kayu. dan memelihara kesuburan tanah. mengendalikan erosi.5 meter dengan diameter batang kurang dari .dan kabupaten/kota (4 mil) mengindikasikan bahwa produk hukum itu menganut konsep pengkavlingan laut. Usaha pemanfaatan dan pemungutan di hutan lindung dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan fungsi lindung. dimana hutan lindung memegang peranan yang amat penting dari segi hidroorologi Daerah Aliran Sungai. dan pemanfaatan jasa lingkungan. UU No. mencegah intrusi air laut. pemanfaatan jasa lingkungan. pemeliharaan batas. 32 Tahun 2004 sebenarnya entry point penerapan territorial use right. Melakukan perlindungan atas kawasan hutan lindung. Soerianegara (1996) menyebutkan ruang lingkup pengelolaan hutan lindung adalah: 1. pengendalian kebakaran. yaitu sejak perkecambahan sampai tinggi 1. Pengamatan dilakukan pada setiap tingkat pertumbuhan suatu vegetasi yang dikelompokkan ke dalam : 1) Tingkat semai (seedling). mempertahankan luas dan fungsi.

10 cm. Data primer yang diambil berupa keberhasilan penanaman bibit GN-RHL di lapangan setelah waktu 3 bulan. tiang (pohon kecil). Sampel tanah diambil rata dari permukaan atas sampai kedalaman 30 cm. ============================================ ====================== Dari delapan variabel yang rencananya dianalisis hanya enam yang dapat dianalisis secara statistik (status . Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kawasan Hutan Lindung Pulau Marsegu dibagi dalam 14 Blok penelitian Semai (seedlings) dengan ukuran petak 2 x 2 m . C dan BO. Untuk pengambilan data wawancara dilakukan dengan instansi terkait yang bertanggungjawab dalam pengelolaan kawasan hutan lindung. dari hasil pencampuran tersebut diambil 1 kg untuk dianalisis.19 cm (dbh). Untuk jenis jenis vegetasi yang belum dapat dikenali. bagian tumbuhan diambil untuk diidentifikasi lebih lanjut. P tersedia. K tersedia. sapihan dan semai.Tiang (poles) atau pohon kecil dengan ukuran petak 10 x 10 m . Pengukuran data faktor lingkungan pada setiap releve pada blok pengamatan meliputi DHL (Daya Hantar Listrik). juga pencatatan data-data primer dan sekunder mengenai program dan realisasinya.Sapihan (saplings) dengan ukuran petak 5 x 5 m .Pohon (trees) dengan ukuran petak 20 x 20 m Dalam setiap petak ukur dilakukan pengamatan terhadap tingkat pohon. Selain itu juga dilakukan pendataan terhadap herba sebagai tumbuhan bawah. 4) Pohon yaitu tingkat pohon-pohon yang berdiameter batang diatas 20 cm dbh. pH tanah dan kandungan unsur hara tanah yang meliputi N total. 3) Tingkat tiang (poles) atau pohon kecil yaitu tingkat pertumbuhan pohon muda yang berukuran dengan diameter batang antara 10 . Sampel tanah yang dianalisis adalah 1 (satu) sampel komposit untuk masing-masing releve. Parameter yang diamati meliputi jenis. jumlah individu yang ada dan diameter untuk tingkat tiang dan pohon. dicampur dengan sampel dari jalur lain.

1%.05). dan status responden. serta kemampuan interpretasi pencacah belum teruji validitas dan reliabilitasnya. dan intensitas membaca lontar. kemampuan membaca huruf Bali. kemampuan membaca hurup Bali. jenis kelamin. status. sedangkan dua yang lainnya (umur dan pekerjaan) tidak dapat dianalisis karena distribusinya tidak memenuhi syarat untuk dianalisis (banyak sel yang kosong).responden. dan kemampuan membaca huruf Bali. . Sedangkan analisis statistik terhadap persepsi menunjukkan bahwa tidak satu pun variabel menunjukkan hubungan yang bermakna (P>0. Yang menjadi tujuan pembentukan sikap adalah tercapainya konsistensi antara persepsi. kemampuan membaca huruf Bali. pendidikan. tetapi proses ini masih bersifat terselubung. sikap. Dalam hal ini persepsi dan pengetahuan sebagai variabel terikat (dependent variable). Kata kunci: Persepsi masyarakat.01/0. pendidikan. yaitu variabel status. Hal ini desebabkan karena aspek kognitif ini merupakan sumber informasi utama yang dievaluasi secara positif dan negatif oleh komponen efektif. Bangunan berlanggam Bali. pengalaman kerja di bidang bangunan.05). Ini mungkin menunjukkan bahwa persepsi virual telah menjadi bagian hidup masyarakat sehingga pendidikan formal. Dua variabel lainnya tidak berhubungan secara bermakna (P>0. Kemungkinan lain bahwa instrumen yang dipakai. Persepsi merupakan dimensi kognitif dari sikap dan memegang peranan penting dalam menentukan totalitas pembentukan sikap. umur. Dari keempat variabel tersebut ternyata pengalaman kerja di bidang bangunan mempunyai kontribusi paling besar.05). jenis kelamin. pengalaman kerja dibidang bangunan. Analisis Data Untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan pendekatan kualitatif (dianalisis secara deskriptif) menggunakan tabeltabel distribusi frekwensi dan grafik sesuai dengan kebutuhan. pekerjaan. Sedangkan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan teknik analisis multi varian (ANOVA). pengalaman kerja di bidang bangunan.1% tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh keempat variabel tersebut. Dari enam variabel tersebut hanya 4 yang berkaitan secara bermakna dengan tingkat pengetahuan (P<0. jenis kelamin. pengalaman kerja. 4. dan variabel bebasnya adalah status responden. jenis kelamin. dan kemampuan membaca lontar tidak berpengaruh terhadapnya. artinya bahwa 34. jenis kelamin. umur. Kontribusi keempat variabel tersebut terhadap pengetahuan adalah 34. dan intensitas membaca lontar). kemudian berturut-turut adalah kemampuan membaca huruf Bali. Oleh karena itu perlu diupayakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor determinan terhadap pengetahuan dan persepsi ini dengan mencoba mengeksplorasi variabel lainnya dan menguji instrumennya terlebih dahulu.

pikiran. Pengetahuan. Menanggapi (responding) Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek).dan perilaku. sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya. membahasnya dengan orang lain dan bahkan Universitas Sumatera Utara . 2. Menghargai (valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai positif terhadap objek atau stimulus. sebagai berikut :8 1. Seperti telah diungkapkan di depan bahwa persepsi yang positif akan cenderung membentuk sikap yang positif dan demikian pula terhadap kecenderungan perilaku. 3. keyakinan dan emosi memegang peranan penting dalam pembentukan sikap. dalam arti.

Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. BOGOR 2006. 4. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung 6 tingkat pengetahuan 1. 1984). A. Rhizopora mucronata dan R. Memahami (comprehension) 3. Sintesis (synthesis) 6. Chapman. Evaluasi (evaluation) Newcomb. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry. Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. 1984). sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge. 1993 dan Othman. marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. GREEN COAST FOR NATURE AND PEO[PLE AFTER THE TSUNAMI Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi. Analisis (analysis) 5.INN SURYADIPUTRA. pantai selatan dan timur Kalimantan. Aplikasi (application) 4. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya. Pada salinitas ekstrim. fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. Sebaliknya. akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau tindakan (reaksi tertutup). dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain.1968). M KHAZALI. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya.8 =============================================================================================== DARI : PANDUAN PENGENALAN MANGROVE DI INDONESIA YUS RUSILA NOOR. salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. Bertanggung jawab (responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. Tahu (know) 2. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. Dalam kata lain. 1994). 1966. . 1976a). Stylosa pada salinitas 55 o/oo(. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia.

182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. Memasuki abad ke-20. dkk. pada pulau yang hilang mangrovenya. Ironisnya. pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif. 1991 a. 390. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. kemudian bertambah menjadi 269. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. 1987). Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Sebaliknya. Jawa. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove. dkk. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi.c). 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. 1997) dan menjadi 750. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. tidak bercampurnya tanah (Giesen. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. 1986). Pada tahun 1982. terutama di Sumatera. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). 1980). Kalimantan dan Sulawesi. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahanmangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. 1988). 2005).b. Akibat perubahan ini. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. Akan tetapi. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan. hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak.700 hektar (Bailey. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun . 1974). Di Indonesia. konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. kemudian berkembang ke Aceh.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. misalnya untuk jalur hijau. 1985). Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. Misalnya. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul).Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. terutama dari ombak dan arus laut. 1991). pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan.

3-4 mm. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. Kelopak Bunga: 5. Buah dapat dimakan. Ekologi : Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. PNG dan Australia tropis. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut.Avicennia alba Bl. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Ujung: meruncing. koak. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. Hijau muda kekuningan. Pada bagian batang yang tua. Akar nafas biasanya tipis. boak. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. Daun Mahkota: 4. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. Kelimpahan : Melimpah. Ukuran: 4 x 2 cm. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. bawahnya pucat. Ukuran: 16 x 5 cm. Buah : Seperti kerucut/cabe/mente. Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. . serta di sepanjang garis pantai. Dari India sampai Indo Cina. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. Daun : Permukaan halus. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. bagian atas hijau mengkilat. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. Bunga : Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. kuning cerah. Benang sari: 4. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). mangi-mangi putih. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar.

kuning-putih. warna coklat. tidak ada rambut. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. Daun : Berkulit. panjang 2-3. Ukuran: . bakau kacang. akik. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. bangka minyak. Letak: Di ketiak daun. bakau puteh. mangi-mangi. slengkreng. Benang sari: 11-12. bakau leutik. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. abat. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah.5-8 cm. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan.Rhizophora apiculata Bl. berisi satu biji fertil. Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. jankar. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Ukuran: 7-19 x 3. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Kelopak bunga: 4. Bentuk: elips menyempit. berbintil. Ujung: meruncing. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). melengkung. parai. Hipokotil silindris. kuning kecoklatan. tak bertangkai.5 cm. Bunga : Biseksual. bakau tandok. panjangnya 9-11 mm. wako. bakau akik. berwarna hijau jingga. tinjang. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Daun mahkota: 4. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. donggo akit.

. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir.Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. tersebar jarang di Australia. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Tumbuh lambat. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Penyebaran : Sri Lanka. kayu bakar dan arang. halus. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering).

. ............. http://repository... dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi....... Luas dan Penyebaran Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia........ Dari Anonymous............................... maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.. yaitu: indra penglihatan.... Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia............ sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo.pdf Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.. . terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika....... pendengaran.. Unduh 28 Feb 2011.......Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi. Ekosistem hutan bakau bersifat khas...........ac.... penciuman....................id/bitstream/123456789/19202/4/Chapter%20II......usu.... 2003)................. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari................................ dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. pengalaman orang lain. .. salinitas tanahnya yang tinggi....... keterampilan........... 2003)........ rasa dan raba. . Pengetahuan ini meliputi emosi... Dari Wikipedia Unduh 28 Feb 2011 Hutan bakau Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan................ tradisi.......................... Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik......... Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak............. serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut............ baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah.... Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini......... media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo.. informasi. USU... dan pikiran-pikiran......... persentuhan.......... Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku .... akidah..

Nigeria (1. terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. 1999). Di bagian timur Indonesia. salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi. Mangrove di Papua mencapai luas 1.5 hingga 4. Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai. sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia. 1997 dalam Noor dkk. bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya. terutama di sekitar Teluk Bintuni. bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Lingkungan fisik dan zonasi enis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas. hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Penggenangan oleh air pasang Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya. bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut. Di Indonesia. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang.3 juta ha). merupakan mangrove yang terluas di dunia. Di pantai utara Jawa.3 juta ha. sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. . substrat di pesisir bisa sangat berbeda.1 juta ha) dan Australia (0. bagianbagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan.97 ha) (Spalding dkk. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah: Jenis tanah Sebagai wilayah pengendapan.Luas hutan bakau Indonesia antara 2. Yakni di pantai timur Sumatra. di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang. atau bahkan dominan pecahan karang. dan pantai barat serta selatan Kalimantan. yakni yang terletak di tepi sungai. hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi. Terpaan ombak Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat.5 juta hektar. Akan tetapi di beberapa tempat. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar. Pada pihak lain. Perbedaannya. Melebihi Brazil (1. di tepi Dangkalan Sahul.

tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. biasa ditemui nipah (Nypa fruticans). pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. biasa ditemui campuran bakau R. Bakau Rhizophora apiculata dan R. yang biasanya tumbuh di zona terluar. yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut.).) dan pidada (Sonneratia spp. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp. yang lebih tawar airnya.). stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Di bagian lebih ke dalam.). kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Jenisjenis api-api (Avicennia spp. [sunting] Bentuk-bentuk adaptasi Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau. Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp. hingga ke pedalaman yang relatif kering. mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang.). Secara fisik.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak.Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini. secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove. Tegakan api-api Avicennia di tepi laut. teruntum (Lumnitzera racemosa).) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari . Sedangkan di dekat tepi sungai. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. yang masih tergenang pasang tinggi. Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp. kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Sedangkan bakau R. Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp. Perhatikan akar napas yang muncul ke atas lumpur pantai. dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).

mengingat sukarnya memperoleh air tawar. Pada pihak yang lain. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel. Ketika rontok dan jatuh. Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Perkembangbiakan Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung. sehingga mengurangi evaporasi dari daun. kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya. Sementara jenis yang lain. banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon. Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora). mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok. Pohon kendeka (Bruguiera spp. kaboa (Aegiceras). Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. meski tak nampak dari sebelah luarnya. lubang pori pada pepagan untuk bernapas. tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar. jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon. Selain itu. Kemungkinan lain. sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya. Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp. api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. atau terbawa air pasang. vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. seperti Rhizophora mangle. Untuk mengatasi salinitas yang tinggi. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul. Sementara buah api-api.) mempunyai akar lutut (knee root). Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan.udara. keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur. . Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik.

Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur. bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan. Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. Dengan adanya proses suksesi ini. beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas. melainkan secara perlahan-lahan bergeser. dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. pasir yang terbawa arus laut. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau. dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove. Jika akan tumbuh menetap. meskipun pada umumnya kurang dari itu. Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Suksesi hutan bakau Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). . Uraian di atas adalah penyederhanaan. Demikian perubahan terus terjadi. Di wilayah-wilayah yang sesuai. segala macam sampah dan hancuran vegetasi. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai. hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih. zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering.Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya. Hutan bakau pun semakin meluas. yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan. perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal. akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove.

.....ac.... Dari : http://repository..... 1999).. Kabupaten Lampung Timur...... Lampung............... Pengambilan data primer dilaksanakan pada bulan September dan November 2003 di Wilayah Konservasi Way Penet........ persentase penutupan pohon.... salinitas dan pH...id/handle/123456789/15464 2004 Kondisi Ekosistem Mangrove Berdasarkan Indiltator Kualitas Lingkungan dan Pengukuran Morfometrik Daun di Way Penet. Pengambilan data panjang dan lebar daun dilakukan sebanyak dua kali dengan waktu yang berbeda pada daun setiap tingkat vegetasi (pohon dan belta) yang dijumpai pada tiap plot pengamatadtransek kuadrat..... Selain itu ekosistem mailgrove juga berperan sebagai penyangga pantai dari abrasi dan perangkap sedimen... Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kualitas lingkungan mangrove di Way Penet... Dari jenis-jenis itu.... Data yang diambil meliputi jumlah vegetasi den 5 an menggunakan transek kuadrat ukuran 10 x 10 m2 (pohon)... yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati.... anggota dari sekitar 16 suku. sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia. Jumlah pengukuran untuk setiap tingkat vegetasi yang ditemukan adalah sebanyak 37 helai daun.. Lampung Timur.. beserta jumlah jenisnya (dimodifikasi dari Tom ....Kekayaan flora Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau......... menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik....... Lokasi penelitian terdiri dari 3 stasiun pengainatan.... Kabupaten Lampung Timur..........ipb.. 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m (semai)...... Propinsi Lampung berdasarkan indikator kualitas lingkungan mangrove dan menentukan kondisi kesehatan mangrove berdasarkan sebaran ~norfometrikd aun pada tingkat vegetasi pohon dan belta. setiap stasiun dibagi menjadi 3 sub stasiun dan setiap sub stasiun terdiri dari 3 plot pengamatan yang berukuran 10 x 10 m2 (pohon)...... Propinsi Lampung Author: Sadat.. Berikut ini adalah daftar suku dan genus mangrove sejati. persentase pasang tiap tahun dan jumlah jenis semak dengan masing-masing faktor pembobotnya secara berturut-turut sebesar 22... Analisis data meliputi: analisis kualitas lingkungan mangrove (Qe) yang diperoleh dari indikator kualitas lingkungan (Qi) yang terdiri dari: asosiasi spesies. adalah 202 spesies (Noor dkk. Karena abrasi dan sedimentasi merupakan salah satu masalah dala~n pengembangan dan peinanfaatan wilayah pesisir bagi perikanan dan kelautan...... 17. Data parameter fisika-kimia perairan yang diukur meliputi: suhu.... Anwar Abstract: Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang unik dail produktif.......... termasuk jenis-jenis mangrove ikutan. 18 dan 12 (Canter dan Hill.. Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera.... 1981)......... Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya... serta analisis ..... 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m2 (semai).. tipe substrat.. Total jenis keseluruhan yang telah diketahui.

...... l iat berdebu danlempung yang berupa lumpur yang tebal dan yang terdapat di bagian tepi-tepi sungai. s edangkan daerah-daerah yang berlumpur dangkal didominasi oleh ..... mangrove berperan penting dalamsiklus h idup berbagai jenis ikan... Kondisi ini menunjukkan adanya proses regenerasi alam yang baik. baik pada pengalnatan pertama maupun kedua adalah rendah.. sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 23-31 %o...... Tekstur Tanah Terkstur tanah merupakan salah s usifat t anah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman.. Kandungan liat dan debu umunya tinggi. Teksturtanah juga dapat didefinisikansebagaisusunan relatif dari tiga kelasukuran partikela norg anik tanah. 2009 by ogoy Unduh 28 feb 2011 jam 13.. menyimpan dan menyediakanhara tanaman. Dirnana kondisi kesehatan mangrove untuk tingltat vegetasi pohon pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua.... Tanah mangrove umumnyakaya akan bahan organik.15 ANALISIS SISTEM PENDUGAAN TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE (STUDI KASUS DI PANTAI TIMUR SURABAYA) Pertama.O... 1 998)......p a ritd an hamparan lumpur.. mangrove merupakan pemasok bahan-bahan organik s ehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yanghidup pada perairansekitarnya. al.... Teksturtanah akan mempengaruhikemampuan menyimpan dan menghantarkan air. yang disebut jugatanah l iat l aut (Sukardjo1984).... Kerapatan semai di lokasi penelitian lebih tinggi dibandingkan kerapatan pohon dan belta..... Salinitas pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 14-19 960.O...m em iliki kadar garam dan alkalinitas tinggi dan sering mengandung lapisan sulfatmasam atau bahan sulfidik(cat clay).. sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 26-28 "C. suhu yang terukur pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 28-3 1 "C.....m u a ra..... URI: http://repository... Jenis vegetasi yang ditemukan di lokasi penelitian lebih didominasi oleh mangrove jenis Avicennia nzarina.. liat berlempung.. 1 974 dalam Noor et........... danliat (berukurankurang dari 2?m) (Soil SurveyStaff. Secara keseluruhan nilai parameter fisika-kimia perairan pada komunitas mangrove Way Penet masih dalam kisaran yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan mangrove jenis Avicennia marina..ya itu pasir (berukuran 2 mm²50?m)...... dan kondisi kesehatan mangrove untuk tingkat vegetasi belta pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua................. Teksturtanah h utan mangrove umumnyaliat... Tekstur tanah adalah s ifat fisis t anah yang berkaitan dengan ukuran partikel pembentuk t anah. Tanah mangrove di Indonesia umumnyaterdiri atas t anah-tanah yang berteksturhalus......... 2003).. mempunyai tingkat kematangan yang rendah...... sedangkan pada pengamatan kedua derajat keasaman (pH) masih tetap 8......id/handle/123456789/15464 Date: 2004 Unduh 28 Feb 2011 .... kecuali tanah-tanah mangrove di pulau-pulau karang yang banyak mengandung pasir atau pecahan batu karang.....ipb..... debu (berukuran 50?m--2?m). Produksiserasah mangrove berperan penting dalamkesuburan perairan pesisir danhutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum...Secara umumtanah h utan mangrove merupakantanah aluvial h idromorf... Pengaruh sifat tanah terhadap mangrove antara lain ditujukan oleh sebagian genus Rhizophora. Di daerah-daerah dengantanah berlumpur dalam...ac. Rhizophora mucronata merupakan vegetasi yang dominan... Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesetabilan Ekosistem Mangrove adalah a.... Jenis substrat yang ditemukan pada komunitas mangrove Way Penet berupa liat dan liat berdebu. Nilai kualitas lingkungan mangrove (Qe) di Way Penet memiliki kisaran kualitas lingkungan yang sedang.. 2003). 1 993 dalam Noor et.. Posted December 8th....morfometrik daun... k arenalingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk k e dalam rantai makanan...... Parameter fisika-kimia perairan. al.......... Besarnya nilai derajat keasaman (pH) yang terukur pada pengamatan pertama adalah 8. sedangkan kondisi kesehatan mangrove di Way Penet berdasarka~l pengukuran morfometrik daun untuk tingkat vegetasi pohon dan belta. moluska dan udang (Davies and Claridge.. ................. Kedua....

pasangsurut dapat digunakan untuk membedakan zonasi pantai dankomunitas h ewan yang ditemukan di wilayah h utan mangrove (Pariwono. Dilaut t erbukaketinggian air pasang tidak l ebih dari 0. 2005). namun ada jenis mangrove yang dapat tumbuhp ad a kondisi kadar garam yanglebih t inggi. Perubahan salinitas akibat p asang surutm e rupakan suatu faktor yang membatasi pe nyebran jenis-jenis mangroveterutama penyebaransecarahorisontal. Pasang yangterjadi di kawasan mangrove sangatme ne ntukan . Hal ini disebabkankarena pantailandai menyediakan ruang yanglebih l uas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi spesiesme nja d i semakin luasd an lebar. yang akhirnya memberikan pengaruh t erhadap perubahan dan penyebaran organisme mangrove secara vertikal (Hilmi. 1 992). Fisiografi Pantai Kondisi fisiografis pantai di Indonesia yang berbeda-beda menyebabkan perbeda anhutan mangrove dari satu tempat k etampat l ainnya. Mangrove dapat hidup dan tumbuh subur di pesisir dengan kadar salinitas a ntara 10 ± 30 ppt. d. Di areal pesisir pantai. c. 1 993). Air pasangterjadi duakali dalamsatuhari. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaruhi besarankisaran pasut.5 m tetapi dilaut yang dangkal pada umumnya mencapai lebih dari3 meter. Keberadaan dan fluktuasi pasangsurut akan mempengaruhitingkat s alinitas airlaut. 2005). Lebih l anjut Richards (1946) dalam Sukardjo (1984) menyatakan bahwakandungan garam atau salinitas s angat menentukankemampuantumbuh dan reproduksi mangrove. dimana jumlah Cl yang terlarut d alam air laut ini rata-rata 55%. Fisiografi pantai dapat mempengaruhikomposisi. 1999). bilatanah banyak mengandung pasir ataukarang didominasi oleh Rhizophora stylosa (Hilmi. 2005) Salinitas mempunyai fungsi penting untuk menghilangkantumbuhanlain yang menempel pada mangrove yangtidak mampu beradaptasi padakondisi air yang mempunyaikandungan NaCl (Hilmi. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang datar dansejajar dengan arah angin (Sukardjo1984). Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaru Pasangsurut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Pasangsurut berhubungan denganlamanya penggenangan yang berpengaruh pada jenis vegetasi mangrove. 2005) b. distribusi spesies dan lebar hutan mangrove. misalnya Avicennia marina dan Excoecaria agallocha dapat t um buh pada kondisi salinitas tinggi yaitu sekitar 85 ppt (Hilmi.distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena kontur yang terjal menyulitkan pohon mangrove untuk tumbuh. Pasang Surut Pasang surut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Pantai yang landai memilikikomposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika dibandingkan de ngan pantai yang terjal.Rhizophora apiculata. Jenis garam yang paling banyak l arut adalah NaCl. Pasangsurut juga memberikankontribusi bagi perubahan masa antara airtawar dan air asin. h al ini disebabkankarena adanya pengaruh dayatarik bulanlebih k ecil dari matahari (Istomo. Pada pantai yang terjal komposisi. Hampirsemua jenis mangrove merupakan jenis yang toleran terhadap garam. Salinitas Salinitas merupakansuatu indikator yang menunjukkan banyaknya kadar garam yang terlarut dalam air atau kadar garam terlarut dalam air maupun dalam larutan tanah dan merupakan istilah yang menyatakankadar garam yangterkandung dan dinyatakan dalam part perthousend (ppt) (Aksornkoae.

transformasi. Curah h ujan juga mempengaruhi faktorlingkunganlainnyasepertisuhu air. dan aliran permukaan dan aliran bawah t anah..ya itu antara 26 ± 280C. Gelombang dan arus juga berpengaruh l angsungterhadap distribusi spesies misalnya buahatau semai Rhizo phora sp.ac. Di Indonesiasebagian besar mangroveterdapat dikawasan dengancurah h ujantahunan dan bulanan yangtinggi. s alinitas. untuk Avicennia marina akan memproduksi daun-daunsegar padasuhu18 ± 200C dan jika suhu dinaikkan lagi maka produktifitas daun-daun baru akan rendah. Angin berpengaruh t erhadap mangrove untuk proses penyerbukan danseed dissemination. Menurut Kennish (1990) mangrovetumbuh s ubur padakonsisi daerah t ropik yang bersuhu di atas 200C. begitupun Xylocarpus s p. Hal initidak berarti bahwa mangrovetidak dapat berkembang dikawasan beriklimkering. Cahaya juga berpengaruh terhadap prosesrespirasi. c urah h ujan dan angin mempunyai pengaruh yangsangat k uat terhadap kehidupan ekosistem mangrove.ac. Dengankeadaan iklim demikian ini mangrovetumbuh s ubur dan berkembang dengan baik.Kalimantan dan Irian Jawa. t etapi iklim yang bersifat mikrosepertikondisicahaya. Bruguiera sp. Mangrove umumnya merupakan tumbuhan berhari panjang yang memerlukan intensitas c ahaya yangtinggi. Curah h ujan me rupakan faktor penting bagi perkembangan dan penyebaran daritanaman danhewan. e. mempunyai kisaran suhu yang lebih tinggi dalam prosesp rod uktifitasd a un-da un segar. Cahaya merupakansalah s atukomponen yang vital bagi proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman hijau. f. 1984). melainkan oleh k enyataan bahwakondisi pantai dantidak adanyasungai besar seperti diSumatera. Gelombang dan arus mempengaruhi dayatahan organisme akuatik melaluitransportasi nu trien-nutrien penting dari mangrovekelaut. Pengaruh t idak l angsung dari gelombang dan arus adalah t erhadapsedimentasi pantai dan Pem bentukan padatan-padatan pasir di muarasungai. 1 993). Kondisitersebut bukan disebabkan oleh iklim.800kkal/m2/hari. pertumbuhannya baik padasuhu 21 ± 260C. Mangroveterdapat pula dikawasan beriklimkering. Oleh karena itu tidakm em un gkinkan pembentukan hutan mangrove yang sangat luas (Sukardjo.id). pada suhu 270C. s uhu. 1 993). Nutrien-nutrien yang berasal darihasil dekom posisiserasah maupun yang berasal dari runoff daratan danterjebak dihutan mangrovekemudian akanterbawa oleh arus dan gelombang ke laut pada saat surut (http//wap. Terjadinyasedimentasi dan padatanpadatan pasir ini merupakansubstrat yang baik untuk menunjang pertumbuhan mangrove.Excoecaria agallocha dan Lumnitzera sp. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur walaupun dalam areal yanglebih k ecil. 1993).id).ipb. Keberadaan iklim akan berperan terhadap perkembangan tanaman. s eperi diSulawesiSelatan dan Tenggara. Hal ini menyebabkan zona pantaitropis merupakansuatuhabitat yang ideal bagi ekosistem mangrove (Aksornkoae.Secara umumcurah h ujan yang normal bagikehidupan jenis mangrove sekitar 1500 ± 3000 mm/tahun (Aksornkoae. s erta Xylocarpus granatum pada suhu 280C (Aksornkoae. hewan dan faktor fisik lain seperti tanah dan air (Aksornkoae. 1993). yang terbawa gelombang dan arus sampai menemukansubstrat yangsesuai untuk menancap dan akhirnyatumbuh (http//wap.zonasitumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi denganekosistemmangrove . Intensitas c ahaya optimal yang penting bagi pertumbuhantanaman mangrove adalah 1 . 1993). Suhu juga merupakan faktor penting bagi proses fisiologiseperti proses fotosintesis dan respirasi.Ce riops sp.fisiologi dan struktur fisikd a ri tanaman mangrove. Iklim Mangrove merupakantumbuhan yang dalamhidupnyatidak t erpengaruh t erhadap iklim artinya bahwa mangroveterdapat di areal beriklim basah. . Gelombang dan Arus Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove.000 ±3. Pa dalokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang besar biasanyahutan mang rove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan hutan. Angin ribut akan mengakibatkan impending pertumbuhantanaman dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal (Aksornkoae. Pada mangrove jenisRhizophora stylosa. bermusim dankering. Angin juga apat meningkatkan evapotranspirasi bagitanaman.ipb.

...... s ementara adanya asam-asam mineral bebas dan asamkarbonat akan menaikankemasaman (Saeni..... ketika ituluas h utan mangrove di negara ini mencapai 4.. atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia.Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayahpesisir Sumatera. Penyebab dan TingkatKerusakan Mangrove Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai75% daritotal mangrove di Asia Teng gara..... Kerusakan mangrove bisasebababkan oleh beberapa faktorseperti aktivitas manusia. O ksigen terlarutjug a merupakansuatu bagian essensial yang mempe ngaruhitejadinya proses dekomposisi.25 jutaha (Spalding et... dan Avicenniasp.. Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalahme m iliki keragaman jenisya ng tertinggi di dunia..... (1978) dalam Hilmi (2005) melakukan pene litiantentanghal t ersebut dan menujukan bahwa oksigenterlarut diluarhutan mang rove (4..4 mg/L)lebih t inggi dibandingkan dengan di dalam mangrove (1... al. Tingkat oksigenterlarut di dalam dan diluar mangrove sekitar 4.pe mb ukaan lahan....... Pada arealya ng tertutup sekitar 2.8 mg/L..g. k egiatan-kegiatankomersial...6 dan 6... Kegiatanterakhir ini memberikankontribusi besar dalam pengrusakan eksositem ini (Dahuri.hidup padatanah dengan nilai pH berturut-turut adalah 6........ yaitusekitar 200 ribuhektar/tahun..... Karena fungsi dan manfaatnya yang begitu besarsehingga mendorong masyarakat untuk memanfaatkanhutan mang rovesecara membabi buta yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan hutan mangrove tersebut (Nuhman. Hal t ersebutDisebab kan oleh k egiatankonversi menjadilahantambak... 1 989)......p emb uanga n limbahme mbe rikan pengaruhatau tekanan terhadap habitat mangrove... pencemaran.2. Nilai pH baku mutu untuk perairanlaut berkisar antara6-9..... yang teren dah pada malam hari dan tertinggi pada siang hari. estimasi yang paling dapat diandalkan berasal daritahun1993... 2002)..25 jutahektar padatahun1982 menjad isekitar3.... Luas penyebar an mangroveterus mengalami penurunan dari 4...24 jutahektar padatahun1987. 2002). industri dan pertanian.... 2002)....... Komunitas Rhizophorasp..50 jutahektar padatahun 1993.. Nilai pH Nilai pH suatu perairan mencirikankeseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ionhidrogen dalamlarutan.......7 ±3... h....... Estimasiterhadaphutan mangrove di Indonesia dipenuhiketidakpastian dansudah k adaluwarsa.9 sampai dengan 2. sedimentasi....... Aksornkoae et...... ...... Bersumber darikeinginan manusia untuk mengkonversihutan mangrove menjadilahan perumahan.4 mg/L.... Kegiatanlain yang menyebabkankerusakanhutan mangrove adalah pembuka anlahan-lahantambak untuk budidaya ikan. Mangrove menggunakan oksigenterlarut s ebagai faktor pengontrol bagikomposisi jenis dan distribusinyaserta pertumbuhannya.Selain itu meningkatnya permintaan terhadap produksi kayu menyebabkan meningkatnya pula e ksploitasi berlebihan terhadap mangrove (Dahuri....... Adanyakarbonat...... Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah-ubah s elama 24 jam.. 2004). Kalimantan dan Papua..g elombang. Kecenderungan penurunantersebut mengindikasikan bahwaterjadi degradasihutan mangrove yangcukup nyata.1± 3.. hidroksida dan bikarbonat akan menaikankebasaan air.... a ... penebanganliar dansebagainya (Dahuri.. dantersisaseluas 2......4 mg/L). Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah membentuk s uatu area dan zonasi bagitanaman.. A ktivitasma n usia yang berupa kegiatan penebangan liar. Menurut World Mangrove Atlas dalam Irwanto (2006)..p asang surut dan arus... Oksigen Terlaru Oksigenterlarut adalah s esuatuhal yangsangat penting bagi keberlangsungan hidup tanaman dan hewan di hutan mangrove khususnya dalam prosesrespirasi dan fotosistesis.

Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahapan pokok. Balongan. tahap ketiga penentuan prioritas kebijakan pengelolaan.id/archives/515 Unduh 7 Maret 2011 STRATEGI PENGELOLAAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN (Studi Kasus di Kabupaten Indramayu) Oleh: admin February 25. Sejak tahun 1999 kondisi luas hutan mangrove di Indramayu terus mengalami penurunan yang cukup signifikan (45. Aspek yang dikaji meliputi aspek ekologi. Sindang. yaitu tahap pertama.ac. sosial dan ekonomi. Etty Riani. Metode penelitian yang dilakukan secara umum adalah metode studi kasus.34 %). perguruan tinggi. Hutan mangrove binaan merupakan hutan mangrove yang kondisinya perlu mendapat perhatian serius mengingat tingkat kerusakannya sudah sangat mengkhawatirkan. Juntinyuat. untuk formulasi strategi pengelolaan dan penentuan prioritas kebijakan pengelolaan masing-masing menggunakan analisis SWOT (Strengts Weaknesses Opportunities Threats). 2010 Iwang Gumilar.unpad. Dalam faktanya tidak seluruh wilayah pesisir Kabupaten Indramayu ada jalur hijaunya. Dinas Lingkungan Hidup. inventarisasi dan analisis kondisi ekologi. dan sosial ekonomi budaya masyarakat di sekitar hutan mangrove sebagai komponen keberlanjutan dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove serta merumuskan strategi kebijakan pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu. LSM. Karangampel dan Krangkeng dengan total desa sebanyak 21 desa. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskripsi. ada beberapa kecamatan dan desa yang tidak memiliki jalur hijau seperti Kecamatan Sukra. Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji kondisi ekologis hutan mangrove. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil identifikasi dan inventarisasi aspek fisik kimia lingkungan di lokasi sekitar hutan mangrove di Indramayu menunjukkan bahwa secara umum tanaman mangrove layak untuk ditanam dan dikembangkan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu karena dari sejumlah parameter fisik kimia lingkungan yang ada hampir seluruh parameter memenuhi kriteria kesesuaian. tahap kedua. Perhutani. Teknik pengambilan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling terpilih (purposive sampling). Potensi yang dapat dimanfaatkan di . Pertamina. melakukan identifikasi. Pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu secara umum terdiri dari hutan mangrove binaan dan hutan mangrove alami. Responden terpilih meliputi stakeholder terkait seperti masyarakat. Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Sumardjo Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Selanjutnya. ekonomi dan sosial. Penelitian ini dilakukan di kecamatan kecamatan pesisir yang ada di Kabupaten Indramayu. Cecep Kusmana.Dari : http://fpik. QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) dan AHP (Analitical Hierarcy Process). formulasi strategi dan. dan PT.

berkelanjutan. ekologis. keberhasilan pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu sangat dipengaruhi oleh kriteria sosekbud dan alternatif usaha silvofishery. ekonomi dan budaya . spesies mangrove yang dominan ada di Indramayu daratan hanya ada dua jenis. Memanfaatkan hutan mangrove pada zonasi tertentu untuk dijadikan wilayah wanawisata (ecoturism) 4.71 persen. 561/kep 684Bangsos/2008. Ini artinya keragaman jenis tanaman mangrove di Indramayu daratan sangat rendah. perikanan tangkap. kemudian diikuti wanawisata. konservasi dan terakhir hutan produksi.500 sebagai indikator pembanding untuk menentukan kemiskinan penduduk. yaitu Avicennia alba dan Bruguiera gymnorrhiza. Dengan menggunakan matriks posisi SWOT strategi yang harus dijalankan adalah strategi S-O pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu diarahkan kepada: 1. Sementara pembudidaya tambak dan nelayan juragan umumnya pendapatannya di atas garis kemiskinan.833. sosial. Sementara itu. Memanfaatkan potensi lahan wilayah pesisir untuk dijadikan hutan mangrove 2. Berdasarkan Upah minimum propinsi dan kebutuhan hidup minimum penduduk di Propinsi Jawa Barat khususnya untuk Kabupaten Indramayu tahun 2008 menurut SK Gubernur Jawa Barat No.000. mangrove. kemudian diikuti fisik kimia dan terakhir biologi. Melakukan pemberdayaan / pembinaan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove dalam kegiatan ekonomis dan pelestarian lingkungan Berdasarkan perhitungan nilai Eigen (Eigen Vector) diperoleh kriteria yang paling penting secara berurut adalah sosekbud. sebesar Rp 769. Hasil valuasi ekonomi menurut pendekatan manfaat langsung dan opsi menunjukkan bahwa nilai ekonomi lingkungan dari ekosistem hutan mangrove di Indramayu daratan sekitar Rp. Jenis lainnya tidak ditemukan di Indramayu daratan. Kata Kunci: strategi. Dengan kata lain. Untuk alternatif yang paling penting secara berurut adalah silvofishery.Indramayu daratan hanya sekitar 10. satwa dan tambak.129. Memanfaatkan dukungan peraturan dan partisipasi stakeholder lokal dan pusat dalam berbagai bentuk untuk melestarikan hutan mangrove di wilayah pesisir 3. kayu baker. Umumnya pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan tangkap ABK merupakan masyarakat yang termasuk kategori miskin..yang terdiri dari manfaat untuk bahan bangunan. 880.