Kronologis Penelitian Tesis ku : Menghadap Prof Soemarno pada hari Senin, 27 Desember 2010, ditemani bu Hany yang sudah

minta tandatangan siap ujian proposal tesis. Saya diminta langsung ujian proposal tesis hari Kamis/ Jum’at 30/ 31 desember 2010. Tidak mungkin. Ngebut belajar, cari masalah, tujuan dan metoda. Sesuai dengan arahan Prof Soemarno, hanya buat 2 masalah, 2 tujuan dan 2 metoda. Karakteristik fisik/ vegetasi hutan mangrove dan Strategi arahan terbaik [pengeloaan hutan mangrove. Analisis Vegetasi berdasar buku praktikum bu Endang + analisis SWOT dengan Evaluasi Faktor Internal Eksternal + matrix EFAS IFAS. Hari Senin tgl 10 Januari 1011 dengan membawa draft proposal tesis, satu untak Prof Soemarno dan satu untuk Dr Nuddin. Dr Nuddin minta dimasukkan sosek karena suatu model pengelolaan akan gagal tanpa melibatkan social ekonomi masyarakat. Saran Prof Soemarno : segera hub dosen + penguji ( Amien Laksono + Imam Hambali ). Berupa USULAN PROPOSAL TESIS 1 Hari Jum’at, 14 Januari 2011 ke perpus S2 + perpus biologi + ambil format penundaan pembayaran. Ketemu m. Santi. Ternyata harus dengan melampirkan Hasil Ujian TOEFL, KACAU APALAGI DITAMBAH PENYAKIT MALAS Tanggal 10 Februari Bintek di Grand Palace malang, kusempatkan ke kampus ngurus persetujuan pencicilan SPP. Ternyata belum jadi, untungnya tetap bias regestrasi Tanggal 16 Fabruari 2011 ke malang dengan suami ngurus SPP q. Hari ini ke Pasca, truz ke Rektorat lantai 5, truz bayar di Mandiri dan terus ngurus Permohonan Keringanan SPP. Hari ini adik Yanuar masih dir s, tabrakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011 Maulid Nabi. Kujalani hidup ini…lagi2 tertunda!!! HARUSNYA BUKAN ALASAN, TAPI KEMBALI2NYA AKU SING NGURUS KABEH YA ALLAH MAHA TAHU…. HARI SABTU, 19 FEB MAUNYA TOEFL IDP JUGA GAGAL….GITU AKU YO DIMARAH2I DI RS…..YOK OPO SE KAREPE Tanggal 23 Feb aku konsultasi ke p Nuddin, banyak perbaikan truz ke perpus pusing berat, truz k Pas Maunya Sabtu 26 Feb Toefl--> TERHAMBAT LAGI M.ABADI PRESENTASI KE SURABAYA !!!

-

-

-

-

-

=============================================================== Buka : http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/analisis-vegetasi-hutan-alam.pdf =============================================================== Dari PENGHITUNGAN BIOMASSA- Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon - Dandun Sutaryo - Wetlands International Indonesia Programme – 2009 - Dipublikasikan pada Mei 2009 oleh : Wetlands International Indonesia Programme Jl. A. Yani 53. BOGOR :
DBH : Diameter Breast Height, diameter setinggi dada atau kurang lebih 1.3 m dari permukaan tanah. Metode mengukur pohon dalam penelitian ekologi hutan, penelitian biomassa atau pendataan potensi hutan. GBH : Girth Breast Height. Keliling pohon setinggi dada. Variasi lain dalam pengukuran pohon selain DBH. Dalam prakteknya pengkuran GBH lebih sering dilakukan dan hasil nya dikonversikan menjadi DBH. Basal area : Luas batang pohon yang dihitung dari DBH. Luas keseluruhan basal area per satuan luas menunjukan nilai dominansi dari tumbuhan tersebut. Dekomposisi : Penguraian. Dalam hal ini penguraian bahan organic menjadi bahan anorganik melalui proses fisika, kimia atau biologi. Pembusukan bahan organic diamati. Densitas : Kerapatan. Nilai yang menunjukkan jumlah individu per satuan luas . Densitas biomassa : Biomass density, jumlah biomassa per satuan luas. Expansion factor : suatu factor atau nilai yang menggandakan suatu jumlah nominal tertentu (volume atau biomass), yang mencakup 1 atau beberapa bagian pohon ke jumlah nominal lainnya yang mencakup keseluruhan pohon BEF : (Biomass expansion Factor) Faktor yang menggandakan biomassa batang ke biomassa keseluruhan pohon. VEF : Volume expansion factor GPG LULU CF : Good Practice Guidance for Land Use, Land-Use Change and Forestry Herba : Tumbuhan dengan batang basah atau tidak berkayu. Umumnya berupa tumbuhan semusim. Pancang : Tingkatan pohon setelah tingkatan semai (seedling). Pada komunitas hutan tropic basah berupa pohon muda dengan diameter 2 cm hingga sekitar 8 atau 10 cm. Pada iklim yang lebih kering diameter 10 cm mungkin tidak lagi tergolong sapling karena rata-rata diameter pohon di komunitas tersebut lebih kecil. Tegakan : komunitas tumbuhan (pohon) pada area tertentu.

Biomassa adalah total berat atau volume organisme dalam suatu area atau volume Ter tentu (a glossary by the IPCC,1995). Biomassa juga didefinisikan sebagai total jumlah materi hidup di atas permukaan pada suatu pohon dan dinyatakan dengan satuan ton berat kering per satuan luas (Brown, 1997).
=================================================================================

Dari : METODE ANALISIS AKAR MASALAH DAN SOLUSI - Ari Harsono P. Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indosesia, Depok 16424, Indonesia - E-mail: ariharsono@yahoo.com - MAKARA, SOSIAL
HUMANIORA, VOL. 12, NO. 2, DESEMBER 2008: 72-81 - : .Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (MAAMS) ini menyajikan suatu cara berpikir yang diperagakan dengan tata-alir (flow chart), disertai dengan beberapa contoh. Penerapan MAAMS membantu penggunanya untuk berpikir induktif maupun deduktif, kualitatif maupun kuantitatif, lebih mendalam dan menyeluruh, serta mempermudah kerjasama inter, multi, atau transdisiplin. Berikut ini adalah langkah-langkah menjalankan MAAMS: a. Rumuskan suatu masalah (sosial dan kemanusiaan) dalam bentuk yang dapat diaju kan pertanyaan “apa sebab-sebabnya.” Misalnya, apa penyebab timbulnya perkelahian pelajar; mengapa kualitas SDM kita rendah, mengapa Malaysia berani mengincar Amba lat, apa sebab penularan HIV/AIDS, juga pemakaian narkoba yang semakin meluas? Jenis pertanyaan yang mengarah pada solusi ini harus didukung fakta. Jika dari judul (artikel, makalah, skripsi, tesis, disertasi) tidak dapat diajukan pertanyaan (“Apa Sebab nya” atau “Mengapa”), identifikasi lebih dulu alasan-alasan atau fakta-fakta yang biasa nya ditulis sebagai latar belakang masalah. Terhadap alasan-alasan atau fakta-fakta inilah diajukan pertanyaan mengapa atau apa sebab-sebabnya. b. Identifikasi sebab-sebab negatif yang paling lang-sung dari X. Misalnya ada 4 faktor, ditandai dengan Sa1, Sb1, Sc1, Sd1. (S=sebab; abcd=masing-masing faktor; angka 1=tahap pertama penelusuran sebab). Sebab negatif yaitu suatu keadaan salah-buruk yang perlu diatasi atau diperbaiki; sedangkan paling langsung yaitu sebab yang tidak diantarai oleh sebab lain. Dalam fenomena sosial hampir tidak ditemukan adanya satu faktor yang menyebabkan satu fakta lain, melainkan beberapa faktor sekaligus, baik secara kausal maupun korelasional. Di sinilah muncul kebutuhan untuk berpikir dan berkerjasama secara interdisiplin, multidisiplin, atau transdisiplin. c. Terhadap masing-masing sebab (faktor) diajukan pertanyaan “benarkah?” dalam arti apakah ia memang menjadi sebab dari masalah X. Untuk itu lebih dulu dilakukan pengkajian atau penelitian, baik secara logis (formal) ataupun empiris (material), kualitatif maupun kuantitatif, induktif maupun deduktif (Hayon, 2005). Jika hasilnya benar, tahap kedua dari penelusuran sebab dapat dilakukan, yang berarti mencari sebab-sebab dari setiap sebab pada tahap pertama (Sa1, Sb1 dan seterusnya). Jika hasilnya salah, sebab tersebut diabaikan dan kembali ke awal dengan mengidentifikasi kemungkinan sebab lainnya. Pada langkah ketiga inilah keseluruhan pengetahuan tentang kebenaran dan pendekatan terhadap masalah diterapkan secara kritis.

Jika syarat ini tidak terpenuhi. e. maka solusinya pun bersifat permukaan. Kerjasama media massa dan ilmuwan bisa tergelincir melakukan “play acting at science” yang memunculkan ilmuwan selebritis). dan pada akhirnya a dan b sebagai sebab terdalam atau akar masalah (a dan b menunjukkan bahwa sebab dasar terdiri lebih dari satu sebab). demikian pula bila tanggung (Dua tahap inilah yang sering terjadi sehingga menimbulkan perbincangan yang berkepanjangan. Selanjutnya.c. dimanfaatkan oleh media massa secara komersial –komodifikasi masalah– berupa talk show dan rubrik opini. Jika identifikasi sebab-sebab dilakukan hanya sampai permukaan saja. Tahap kedua dan seterusnya (tahap ke n) caranya sama seperti tahap pertama. Catatan: Cukup sering terjadi. dan tema jurnal yang mungkin “sekadar” menambah penghasilan. Pertama. atau kurang jujur. publikasi. kemalasan. Meski demikian keseluruhan contoh diharapkan sudah dapat menjelaskan penerapan MAAMS TATA ALIR METODE AAMS MASALAH SOSIAL (“X”) APA SEBABNYA ? .d lagi tapi a. yang dalam penerapan rincinya (tahap pembuktian/penelitian) sangat mungkin membutuhkan analisis data kuantitatif serta penerapan logika formal dan logika material. apa yang dipandang sebagai akar masalah tersebut dapat secara sekaligus dicarikan solusi individual/ personal/mentalistik –berupa imbauan pada nurani atau niat seseorang– maupun solusi sistemik/ struktural/institusional/legalistik –berupa UU atau peraturan dengan sanksi hukum. f. sedangkan solusi sistemik lebih sulit dilaksanakan. solusi dasar ditindaklanjuti lagi dengan evaluasi. deduktif maupun induktif.d. proses diulang dari tahap sebelumnya atau dari awal lagi. tidak sepenuhnya menerapkan langkah ke-3. terdapat persetujuan dari peserta yang terlibat perbincangan. secara sadar atau tidak. Mungkin ini terjadi karena keengganan. Berikut ini adalah contoh-contoh penerapan metode MAAMS yang. penelusuran sebab berhenti sebelum sampai pada akar masalah/akar penyebab. dan angka kredit kenaikan pangkat. dan tentu saja layak untuk dijatuhi sanksi hukum. kurang mampu. Oleh karena itu untuk memenuhi syarat solusi sistemik ini. khususnya penelitian empiris. dan dasar/jangka panjang. Penelusuran dapat dihentikan dengan memperhatikan dua syarat. tanggung/jangka menengah. termasuk dengan penelusuran ulang sebab-sebab. Solusi individual relatif mudah dilaksanakan. Kalangan akademis pun bisa tanpa sadar melakukan hal yang sama dengan mengemasnya sebagai topik-topik penelitian dan diskusi.b. Bedanya adalah bahwa kemungkinan sebab (faktor) yang diidentifikasi menjadi semakin sedikit karena adanya kesamaan sehingga bukan a.b. Mengenai solusi. Uraian di atas memperlihatkan bahwa MAAMS merupakan metode yang memiliki sifat kualitatif. Analisis yang tidak tuntas ini. dan lalu dipotong-potong menjadi kemasan topik-topik kecil yang sangat banyak jumlahnya. mengingat keterbatasan penulisan. Kedua. di dalam flow chart dibedakan menjadi tiga: darurat/permukaan/jangka pendek. tetapi tidak mengatasi masalah secara “tuntas”. Hanya bila akar masalah teridentifikasi maka solusi yang mendasar dapat dirumuskan.c. rumusan sebab atau akar masalah hendaknya memperlihatkan perilaku nyata yang cukup mudah diamati.

......ANALISIS STRATEGI DALAM MENGHADAPI ABAD 21 A.... Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi.... Untuk jelasnya dapat dilihat pada : Gambar 1.... Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus........ Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada.n SEBAB DASAR/AKAR MASALAH*) YA SOLUSI DASAR * Akar Masalah (San. Sbn) harus bisa disepakati.. yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik. YA / TIDAK SOLUSI DARURAT APA SEBAB DARI : Sa1.....II BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : ..... Proses Analisis Kasus Mengetahui Strategi Perusahaan Jelaskan Situasi . dan bisa langsung dicari solusi individual & sistemiknya sekaligus ** Sebab yang ditelusuri adalah sebab yang negatif Dari : JURNAL REVIEW “Chatlyn” . Sd1 SEBAB (SEBAB)NYA : Sa2 Sb2 Sc2 .. proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus........... Sb2... Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan... Sc1. dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah. Menurut Boulton........ Sb(n) HINGGA SEBAB TERDALAM/ . YA / TIDAK SOLUSI TANGGUNG APA SEBAB DARI : Sa2.. Sc2 DAN SETERUSNYA Sa(n)... menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi. Sb1.SEBAB (SEBAB)NYA : Sa1 Sb1 Sc1 Sd1 BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : .....

Tanjung Sekodi. gunting. soiltester dan botol semprot. parang.Evaluasi Situasi Tentukan dan Evaluasi lingkungan PELUANG dan ANCAMAN perusahaan Tentukan dan evaluasi lingkungan KEKUATAN danKELEMAHAN perusahaan Analisis masalah yang perlu mendapat perhatian Tentukan alternatif dan pilihan strategi Cari pemecahan masalah Untuk jelasnya. pancang. Disetujui 20 Juni 2004 Jurnal Biogenesis Vol. Ketam Putih. handrefractometer. TAHAP ANALISIS MATRIK MATRIK TOWS INTERNAL EKSTERNAL 3. Bahan yang diperlukan adalah : aquades. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Matrik Evaluasi Faktor Eksternal Faktor Internal (EFE) (IFE) 2.Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau. Pangkalan Batang. Selat Baru dan Jangkang. thermohigrometer. Pekanbaru 28293 . 1(1):26-30.Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau . kertas koran. alkohol 70 %. meteran. Nursal Dan Supriyanti . TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning (QSPM) Matrix Gambar 2. . proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. Bantan Air.ISSN : 1829-5460 Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon. 2004 . Kerangka Formulasi Strategis =============================================================== Dari : STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*).Diterima 17 April 2004. tali plastik. sedangkan alat yang dipakai ompas.

x 100% Kerapatan seluruh jenis Jumlah plot yang ditempati suatu jenis Frekwensi =----------------------------------------------jumlah seluruh plot Frekwensi suatu jenis Frekwensi Relatif = -------------------------------------. pH. Fak. suhu air.org/ActionGuide. Teknik UB.Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg. Ir. PWK. Pada tiap lokasi diukur parameter rlingkungan yang meliputi salinitas.com/Lessons/lessom_swot.html Dari : Arahan Pemanfaatan Lahan Kawasan Rawan Bencana Longsor SSWP Ngantang Kabupaten Malang. Fak.rer. Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek. Agus Dwi W. lic. MSP (1) dan Ir. Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herba rium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986). kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling ba tang setiap individu tersebut. . Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------luas plot Kerapatan suatu jenis Kerapatan Relatif = --------------------------------------.justassociates. kadar organik dan tekstur tanah.x 100% Dominansi seluruh jenis Nilai Penting = FR + KR + DR =============================================================== www.marketingteacher.reg.htm www. 1974).mindtools. (1) Debby Dayusita. PWK.. Dibuat 2 buah transekpada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telahditetapkan) .htm www.com/swot. (2). Teknik UB. suhu udara. Budi Sugiarto.x 100% Frekwensi seluruh jenis Jumlah Basal Area suatu jenis Dominansi = ------------------------------------------Luas area contoh Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi suatu jenis Dominansi Relatif = ----------------------------------. secara purposive sampling. 1 Staf Dosen Jurusan. 2Alumni Jurusan. Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada.

Matriks IFAS FAKTOR STRATEGIS KEKUATAN Keberadaan kawasan vegetasi permanen sebagai penutup lahan BOBOT 0. sedangkan dalam analisis SWOT menggunakan metode AHP dengan alat bantu software Expert Choice untuk menentukan bobot berdasarkan pendapat para ahli. Kabupaten Malang. asisten Perhutani. ahli ekologi. (iii) Menentukan strategi pemanfaatan lahan berdasarkan aspek penggunaan lahan. Kasembon. Arahan pemanfaatan lahan menggunakan literatur Permentan No 47/2006. Analisis tingkat kerawanan bencana longsor dan analisis kesesuaian penggunaan lahan menggunakan alat bantu sistem informasi geografis dengan perangkat lunak AutocadMap versi 2004 dan ArcView versi 3.714 .Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pemanfaatan lahan sebagai upaya pengurangan resiko bencana longsor. ekonomi dan kelembagaan dengan analisis SWOT dan IFAS EFAS. Tabel 10. Dinas ESDM serta Kabid Linmas Dinas Kesbang Linmas. Bagaimana kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor? 3. Pembobotan didasarkan jawaban para responden dan diolah menggunakan prinsip metode AHP. ahli sosial ekonomi. sosial. Kepala Kecamatan Pujon.238 RATING 3 BXR 0. analisis kesesuaian penggunaan lahan dan analisis SWOT dengan IFAS EFAS. diperlukan strategi yang dihasilkan melalui analisis IFAS EFAS. Bagaimana kondisi kerawanan longsor pada wilayah penelitian? 2.2. Guna lahan yang tidak sesuai akan diberikan arahan pengaturan penggunaan lahan dilengkapi dengan pengendalian longsor secara mekanis. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut. kondisi kinerja kawasan rawan bencana longsor berada pada kuadran IV yang berarti perlu penerapan strategi diversifikasi untuk mengatasi ancaman dan mencapai peluang. Langkah-langkah penelitian yaitu : (i) Mengidentifikasi tingkat kerawanan longsor dengan teknik ranking overlay secara aritmatik dengan GIS. Penelitian ini dilakukan tahun 2007-2008 di wilayah SSWP Ngantang. Masing-masing faktor strategis yang diperoleh dari analisis potensi dan masalah dilakukan perhitungan terhadap bobot dan ratingnya dalam matrik IFAS EFAS. Penentuan strategi pemanfaatan lahan Masing-masing bobot aspek kinerja kawasan ditentukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process berdasarkan pendapat ahli yang terdiri dari ahli tata ruang. maka dapat dihasilkan tiga rumusan masalah. Ngantang. Hasil analisis SWOT dan IFAS EFAS. (ii) Mengevaluasi kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor dengan teknik intersect overlay dengan GIS. Strategi pemanfaatan lahan diarahkan berupa diversifikasi tanaman dan diversifikasi usahatani. Bobot masing-masing faktor diolah dengan menggunakan software Expert Choice. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Longsor dan Pedoman Kehutanan Indonesia. Metode analisis kuantitatif diterapkan pada analisis tingkat kerawanan longsor. Bagaimana strategi pemanfaatan lahannya? Untuk menentukan arahan pemanfaatan lahan. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. yaitu : 1.

064 0.079 0.021 0.022 0.117 0.132 1.162 0.086 0.021 0.237 0.383 0.162 0.207 0.128 0.063 0.039 1 2 3 2 2 3 1 1 0.129 0.044 RATING 3 3 3 3 3 3 BXR 0.054 0.FAKTOR STRATEGIS mencapai luas 43.58% Adanya kepedulian dalam kehidupan masyarakat Perkembangan sektor peternakan berpotensi meningkatkan pendapatan Produktivitas pertanian dari tahun ke tahun meningkat Sudah adanya badan penanganan bencana untuk tiap-tiap kecamatan di bawah koordinasi pemerintah daerah Masyarakat cukup sigap dalam penanganan bencana yang bersifat lokal Adanya pemberdayaan kelompok tani dan berdirinya koperasi di masingmasing kecamatan TOTAL KELEMAHAN Ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan tingkat kerawanan longsor mencapai 51% Tekanan penduduk terhadap lahan tinggi Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan Ketergantungan penduduk terhadap lahan tinggi Tingkat pendapatan perkapita masyarakat di SSWP Ngantang rendah Inovasi petani rendah Lemahnya penegakan hukum dan peraturan TOTAL Sumber: Hasil analisis (2008) BOBOT 0.039 0.039 1.069 3 0.312 .066 0.043 0.149 Tabel 11.238 0.104 3 0.021 0.043 0. Matriks EFAS FAKTOR STRATEGIS PELUANG Adanya sosialisasi yang diberikan LSM terkait kondisi kebencanaan di SSWP Ngantang SSWP Ngantang merupakan salah satu sentra pengembangan kawasan hortikultura di Kabupaten Malang dan melayani perdagangan hasil pertanian skala regionalnasional BOBOT RATING BXR 0.476 0.054 0.

063 0.Kelemahan = 1.Ancaman = 1.071 0. Diagram kuadran SWOT PEL UANG (+) KUADRAN II Stability KUADRAN I Growth KEL EMAHAN (-) K EKU ATAN (+) Conse ntric Strate gy KUADRAN III Survival KUADRAN IV Diversification ANCAMAN (-) .387 0.234 Y = Peluang .161 0.037 1 3 3 2 2 2 1.126 0.074 1.071 RATING 2 3 3 BXR 0.149 = 0.0.383 – 1.069 0.694 Koordinat X yang berisi kekuatan dan kelemahan objek penelitian memiliki nilai sebesar 0.071 – 1.063 0. Koordinat yang menunjukkan posisi wilayah penelitian dalam kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar 6.623. Sedangkan koordinat Y yang terdiri dari peluang dan ancaman memiliki besaran -0.623 BOBOT 0. Gambar 6.126 0.207 0.071 0.234.126 0.213 0.694 = .063 0.213 1.FAKTOR STRATEGIS Adanya landasan hukum untuk penetapan dan perlindungan kawasan rawan bencana dan program reboisasi Peluang kerja sama dengan pihak PT Nestle sebagai pasar tetap di sektor peternakan Peluang kerja sama dengan Perhutani dalam kegiatan pemanfaatan lahan TOTAL ANCAMAN Bencana longsor Degradasi lingkungan akibat lahan kritis Keterbatasan informasi mengenai kawasan rawan bencana Masih terbengkalainya penanganan bencana longsor Intervensi pemerintah untuk menangani bencana skala luas masih dibutuhkan TOTAL X = Kekuatan .

yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik. tahap analisis. Tahapan Perencanaan Strategis Proses penyusunan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: B.Universitas Sumatera Utara © 2004 Digitized by USU digital library A. dan tahap keputusan. proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus. yaitu tahap masukan. Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan.Dari : ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN ISKANDARINI . Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi. . Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada. menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah.Fakultas Pertanian . Menurut BouLton.

Sedangkan data internal dapat diperoleh di dalam perusahaan itu sendiri. yaitu data eksternal dan data internal. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan.0 (sangat penting) sampai dengan 0. gaji. jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. Untuk jelasnya. . Misalnya. analisis komunitas. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Evaluasi Faktor Internal (IFE) Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitave Strategic Planning (QSPM) Matrix 1. a. Dalam evaluasi faktor strategis yang digunakan pada tahap ini adalah model Matrik Faktor Strategis Eksternal dan Matrik Faktor Strategi Internal. tetapi jika peluangnya kecil. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. Laba-rugi. laporan kegiatan operasional. Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis. mulai adri 1. pengalaman. Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua. TAHAP MASUKAN Tahap ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data. • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. terstruktur maupun tidak terstruktur. TAHAP ANALISIS MATRIK TOWS MATRIK INTERNAL EKSTERNAL 4. laporan kegiatan pemasaran. Keputusannya didasarkan alas justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. pendidikan. seperti laporan keuangan (neraca. tetapi juga merupakan suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra-analisis. keahlian. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman).0 (tidak penting). turn-over). cash-flow. analisis kelompok kepentingan tertentu. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) 2. analisis pemasok.Tahap akhir analisis kasus adalah memformulasikan keputusan yang akan diambil. analisis pemerintah. seperti analisis pasar. struktur pendanaan). Data eksternal dapat diperoleh dari lingkungan di luar perusahaan. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. diberi rating +1). analisis kompetitor. laporan kegiatan sumber daya manusia jumlah karyawan. sehingga dapat diambil keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada. Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS).

tujuan. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Sedangkan variabel yang bersifat negatif. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang b. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4.0 (poor). Hal ini disebut . kelemahan. peluang.• Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan.0 (paling penting) sampai 0.0 (outstanding) sampai dengan 1. Tahap Analisis kelangsungan perusahaan. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats).0 (poor).0 (tidak penting). Analisis didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) den peluang (Opportunities). Matrik Faktor Strategi Internal Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi. Untuk membuat matrik faktor strategi internal tersebut. Matrik TOWS atau SWOT Analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematika untuk merumuskan strategi perusahaan. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). kebalikannya. Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1 . • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. • Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1. Skor total ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama. a. Contohnya. Adapun tahapan pembuatan matrik faktor strategis internal adalah sebagai berikut : • Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan perusahaan dalam kolom 1. Dalam hal ini digunakan model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. jika kelemahan perusahaan besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor). nilainya adalah 1. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategi. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. suatu label IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka Strength and Weakness perusahaan. strategi.0 (outstanding) sampai dengan 1. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama. Dengan demikian perencana strategi (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. terlebih dahulu harus melalui beberapa tahapan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya.0. sedangkan jika kelemahan perusahaan di bawah rata-rata industri. 2. nilainya adalah 4. berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan. dan kebijakan perusahaan.

• Stability Startegy adalah strategi yang diterapkan tanpa mengubah arah strategi yang telah ditetapkan. tetapi pada prinsipnya kesembilan sel itu dapat dikelompokkan menjadi tiga strategi utama. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altematif strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 berikut ini. 2. Menurut Rangkuti. (1997). dan 9) adalah usaha memperkecil atau mengurangi usaha yang dilakukan perusahaan . Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisa SWOT. • Strategi WO Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. dan 5) atau upaya diversifikasi (sel 7 dan 8). Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan.dengan Analisis Situasi. 6. • Strategi WT Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. • Retrenchment Strategy (sel 3. diagram tersebut dapat mengidentifikasi 9 sel strategi perusahaan. Tujuan penggunaan model ini adalah untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detail. F. yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. • Strategi ST Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman. yaitu: • Growth Strategy yang merupakan pertumbuhan perusahaan itu sendiri (sel 1. b. Matrik Internal-Eksternal (lE) Parameter yang digunakan dalam matrik intemal-ekstemal ini meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya.

Salah satu model pemecahan masalah . Tahap Pengambilan Keputusan Setelah tahapan-tahapan terdahulu dibuat dan dianalisa. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategis.hati Konsentrasi melalui Captive Company Integrasi horizontal Atau STABILITY Divestment Tak ada perubahan Profit strategi 7. 6. Buatlah daftar faktor eksternal (kesempatan/ancaman) dan faktor internal (kekuatan/kelemahan) di sebelah kiri dari kolom matrik QSPM. b. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM ) merupakan teknik yang secara obyektif dapat menetapkan strategi altematif rang diprioritaskan. terstruktur maupun tidak terstruktur. GROWTH RENTRENCHMENT Konsentrasi melalui Turnaround Integrasi horizontal 4. 3. Berilah bobot untuk setiap faktor eksternal dan internal. Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan. Analisis matrik yang sesuai dari langkah kedua dengan mengidentifikasikan strategi alternatif yang harus diimplementasikan. STABILITY GROWTH RETRENCHMENT Hati .3. 5. maka tahap selanjutnya disusunlah daftar prioritas yang harus diimplementasikan. Matrik Intemal. Berikan skor altematif (SA) dengan rentang skor sebagai berikut : 1 = tidak memiliki daya tarik 2 = daya tariknya rendah 3 = daya tariknya sedang 4 = daya tariknya tinggi 5 = tidak memiliki dampak terhadap strategi alternatif e. QSPM memerlukan good intuitive judgement. Jumlahkan seluruh skor SA C. Penutup Untuk memperoleh keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada merupakan rangkaian proses dari analisis kasus yang memformulasikan semua keputusan yang akan diambil berdasarkan justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. 8.Ekstemal (lE) GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi vertikal 2.Sebagai suatu teknik. c. Langkah-langkah dalam menyusun QSPM adalah sebagai berikut : a. 9 GROWTH GROWTH RETRENCHMENT Difersifikasi Konsentrik Difersifikasi Konsentrik Gambar 4. f. d. Kalikan bobot dengan SA pada masing-masing faktor eksternal / internal pada setiap strategi.

Sebagai suatu teknik. dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). strategi. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan. ================================================================== . Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi.yang dapat digunakan adalah model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. peluang. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. dan kebijakan perusahaan. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. kelemahan. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). tujuan. QSPM memerlukan good intuitive judgement.

5. 2. 6. A 8 (D da elapan) langk strategis : Identifikasi M dan S isi a A nalisa Lingkungan Lu Identifikasi P eluang da A nalisa Lingkungan In O rganisasi Identifikasi K ekuatan d Atrategi M erum uskan S n a lis a M elaksanakan S un g trateg L in gk G am ba . 3.P O E M N JE R S S A A  1. 7. 4.

a uin (O mrtu itien nta u p n C M buat A ara em n m m im lk nK le a e in a a e m  P c m n(T re ts engum h a ). e sa a n ruish o a r i  A a a W d mnrk n n i s a  A alis S Oidea d d n lis is in T a ja i a mp ra spolk n a k p e a e c r m k imfiled Kn u o o te r a aim a a d la ou tub sisa m n ap s a is). A a a pulan data n .A A IS S O NL A WT  D la Id n a i K k a a m e tifik s e u ta d nA c mnd elu a a a n a a ip r k n A a aS O n lis W T  A a aS O mmn k n lis W T e u g i P mg a b nu g u nk e e grtia e:n g la e nn mil k e e g a a Oa en  mn h d W c sa a a A a inSi a Tmb g n lis r n  A alis S W .Tg ae n lis aW T a la A a a SO ju amm n O d h mc k nis k ktis u d e a asa mu tana n ra k n e a n tu e s e te a mn e in s k le a a e g lim a i e mh n pg n as a .

na a T Matrik IFAS dan 1 . e ag 2 A c mn .Dg mnls S O i r A ii W aa a s T O I S O S I V W O M tr IF Sd nE A a ik A a F S I I T F kS a to r -F k r a to Sa g tr te is II I W T B 1 P lu n .

APORTUNITIES S ltern atif trateg O P (O O : m anfaatka )  S em Analisis SWOT merupakan bagian dari proses perencanaan. suatu institusi membutuhkan penilaian mengenai kondisi saat ini dan gambaran ke depan yang mempengaruhi proses pencapaian tujuan institusi. Hal utama yang ditekankan adalah bahwa dalam proses perencanaan tersebut. Dengan analisa SWOT akan m erebut dan m an em pertum buhan agresi TR S S : m ) AT (T  E TH eskipun m m asih m iliki keku em . metode SWOT banyak dipakai di dunia bisnis dalam menetapkan suatu perencanaan strategi perusahaan (strategic planning) sehingga literatur mengenai metode ini banyak berkaitan dengan aspek penerapan di dunia bisnis meskipun pada beberapa analisa ditemukan pula penggunaan SWOT untuk kepentingan public policy.M trik In ra S a te ksi W IF S A EA F S =============================================================== Dilihat dari sejarahnya dan penggunaannya saat ini.

secara umum terdapat keseragaman bahwa penentuan tersebut akan tergantung dari faktor lingkungan yang berada di luar institusi. Membuat cross tabulation antara strategi yang ada saat ini dengan perubahan lingkungan yang ada. faktor netral. 2. Sebagaimana kekuatan peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. yaitu 5 : 1. 4. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. 4 Terdapat beberapa metodologi dalam penyusunan SWOT. 2. Mengidentifikasi perubahan-perubahan lingkungan yang dihadapi institusi dan masih mungkin terjadi di masa mendatang. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Mengidentifikasi existing strategy yang telah ada dalam institusi sebelumnya. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Bagaimana pengaruh lingkungan melahirkan analisa SWOT dapat dilihat Lingkungan di Luar Institusi yang Mempengaruhi Strategi dan Kebijakan Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahanpeluang dan ancaman. Faktor Lingkungan dalam Analisis SWOT Walaupun terdapat beberapa metode penentuan faktor SWOT. Sehingga sama dengan kekuatan. 3. • Peluang dan Ancaman. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan.didapatkan karakteristik dari kekuatan utama. Faktor lingkungan eksternal mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendali institusi (exogen) sementara faktor internal merupakan faktor-faktor yang lebih bisa dikendalikan. sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Menentukan katagorisasi kekuatan dan kelemahan berdasarkan penilaian apakah strategi yang saat ini ada masih sesuai dengan perubahan lingkungan di masa mendatang : Jika masih sesuai strategi tersebut menjadi kekuatan/peluang. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low. kelemahan utama dan kelemahan tambahan berdasarkan analisa lingkungan internal dan eksternal yang dilakukan. Strategi ini bisa jadi bukan merupakan strategi yang disusun berdasarkan kebutuhan institusi menghadapi gejala perubahan lingkungan eskternal yang ada melainkan merupakan strategi turunan yang telah ada sejak lama dipegang institusi. kekuatan tambahan. tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. • Kekuatan dan Kelemahan. dan sudah tidak sesuai merupakan kelemahan. Johnson dan Scholes menjelaskan bahwa dalam penyusunan SWOT terdapat empat langkah utama yang harus dilakukan. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. Dari analisa tersebut potensi dari suatu institusi untuk bisa maju dan berkembang dipengaruhi oleh : bagaimana institusi memanfaatkan pengaruh dari luar sebagai kekuatan tambahan serta pengaruh lokal dari dalam yangbisa lebih dimaksimalkan. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang . Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain.

Tahap terakhir adalah tahapan dalam pengambilan keputusan (decision making).pencapaiannya juga kecil o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. adalah ancaman yang kemungkinan terjadinya tinggi dan dampaknya besar. Metode ini adalah alat yang dirokemandasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternatif secara objektif. Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats). Dalam tahap ini metode yang digunakan adalah SWOT. hasilnya disajikan dalam bentuk informasi untuk masukan tahapan berikutnya. adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil Ancaman moderate. 13 Maret 2010 METODE QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) Proses penyusunan perencanaan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya.blogspot. diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi.html-Sabtu. tujuan metode ini adalah untuk menetapkan kemenarikan relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih. QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) merupakan teknik yang secara objektif dapat menetapkan strategi alternatif yang diprioritaskan. Selanjutnya adalah tahap pencocokan atau analisis.com/2010/03/metode-qspm-quantitive- strategic. Sebagai suatu teknik. berdasarkan faktor kunci kesuksesan internal-eksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya. pada tahap ini fokus pada strategi alternatif yang dihasilkan. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar. o Best. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). . tahap pencocokan atau analisis. analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut Dari :http://boed-health. Tahap masukan atau input dilakukan dengan menggunakan metode matrik EFE dan matrik IFE. Untuk ancaman utama ini. • Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. untuk menentukan strategi mana yang paling baik untuk diimplementasikan. dan tahap keputusan (decision making). jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapaianya besar. yaitu tahap masukan atau input. QSPM memerlukan intuisi yang baik dalam penilaian. o Ancaman tidak utama (minor threats). Secara konseptual. • Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan(persaingan) dan tidak bisa dihindari. dalam tahap ini metode yang digunakan adalah QSP matriks.

Dalam menentukan strategi yang terbaik.3.Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran SP 3 K 4 SP X K 12 BOBOT 12/40=0.0 – 1. dilakukan pemberian bobot yang berkisar antara 0. maka nilai skala ditentukan berdasarkan prioritas dari masing2 situasi ( misalnya skala 4 untuk Peluang yang Utama ) .0 berarti sangat penting. Pembobotan tetap menggunakan skala 1 ( sangat penting ) hingga o ( tidak penting )akan tetapi penentuan nilai skala untuk masing2 situasi total berjumlah 1 dengan cara : a. urutan ke 2 nilainya 3x4=12 dan terendah nilai 4 dari 1x4. sedangkan skala 4 ( rendah ) – 1 ( tinggi ) untuk Kelemahan dan Ancaman.2. akan diperoleh hasil kombinasi dari beberapa Situasi : SO = memanfaat kan kekuatan untuk menggunakan peluang WO = minimalkan kelemahan untuk manfaatkan peluang ST = memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi Ancaman WT = minimalkan kelemahan hindari ancaman F. Selanjutnya antara bobot dan rating dikalikan menghasilkan skor (Rangkuti. QSPM sangat berhubungan dengan metode-metode lain yang digunakan dalam tahap input dan analisis sebagai bentuk informasi untuk tahap QSPM sendiri.2 Kuat dan terendah adalah 0 0– 1 Lemah Berdasarkan nilai Peringkat dan Pembobotan. Disamping itu. Nilai Tertinggi untuk Bobot x Peringkat ialah 1.0 dimana nilai 0. Analisi SWOT : Teknik Membedah Kasus Bisnis. namun karena tidak ada pembanding. sehingga dapat diputuskan pemilihan prioritas strategi mana yang akan digunakan sesuai dengan keadaan organisasi tersebut DAFTAR PUSTAKA > Modul Mata Kuliah Analisa Keputusan Jurusan Teknik Industri UMB > Rangkuti. Masing2 nilai situasi tersebut dibagi dengan Total Nilai SP x K . Kondisi eksternal-internal organisasi sangat diperlukan dalam penggunaan metode ini. yaitu dari sangat baik sampai kurang baik. 1998). yang kemudian di kalikan.1.3 . Freddy.Dalam mengadakan perencanaan strategi dalam suatu organisasi. lau dikalikan dengan konstanta ( K ) nilai tertinggi yaitu 4 b. . diperthitungkan rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala dari 4 hingga 1.com : …. Peringkat tetap menggunakan skala 1 (rendah ).4 ( tinggi ) untuk Kekuatan dan Peluang. KABUPATEN MINAHASA. QSPM sangat diperlukan sebagai metode pengambilan keputusan setelah tahap input dan tahap analisis dilakukan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Dari : KAJIAN POTENSI SUMBERDAYA HUTAN MANGROVE DI DESA TALISE . SULAWESI UTARA Oleh: Adnan WantasenC261020021 E-mail: ananw2000@yahoo. Urutkan factor situasi berdasar skala prioritas ( SP ) ( tertinggi nilainya 16 dari 4x4.0 berarti tidak penting dan nilai 1. 2006.meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats)..

kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS).4 4/40=0.3 8/40=0. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. dibuat table faktor2 strategik Internal F Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran -Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS Bobot 12/40=0.6 1.2 16/40=0. Misalnya.2 0. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4.0 (outstanding) sampai dengan 1. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS).0 (poor).1 1. tetapi jika peluangnya kecil. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan.4 4/40=0. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama.I Ketut Sundra Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Udayana Abstrak Penelitian ini dilakukan di Pulau Serangan pada bulan Agustus 2004. Sedangkan sampel tanah diambil dalam tiga lokasi yang berbeda.0 (tidak penting).0 (sangat penting) sampai dengan 0.0 Berdasar table sintesa . • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. Analisis vegetasinya dilakukan dengan menetapkan nilai penting jenis dan indeks diversitas seluruh jenis yang diketemukan. Analisis . jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis. • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman). Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. mulai adri 1. dengan sampel yang diambil sebanyak 10 plot dengan metode Plot Sistematik.6 0.1 1. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). KOTA DENPASAR . Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masingmasing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4.2 USU : a. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. © 2004 Digitized by USU digital library 2 Dari : ANALISIS STRUKTUR VEGETASI HUTAN MANGROVE DI KAWASAN REKLAMASI PULAU SERANGAN.0 Peringkat 4 3 4 2 Bobotx Peringkat 1. diberi rating +1).2 16/40=0.-Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS 2 4 1 4 4 4 8 16 4 40 8/40=0.

Inventarisasi Hutan Mangrove sebagai Bagian dari Upaya Pengelolaan Wilayah pesisir Kabupaten deli Serdang. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low.USU erepository Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan membandingkan kondisi hutan mangrove serta cara penegelolaan h. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama.Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahan peluang dan ancaman. Sebagai bahan penelitian 9 desa h. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Ketebalan Mangrove dan Salinitas. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. K dan bahan organic). Parameter yang dianalisis :Index Nilai penting.pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan – USU . mangrove di pesisir Deli Serdang. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang pencapai annya juga kecil . Sehingga sama dengan kekuatan. U semai ukuran Sub Petak 2m x 2m. Diagram Profil.057004020. Metoda penelitian Metoda Garis Berpetak ( Jalur Berpetak ) dengan satu buah jalur u tiap desa penelitian berukuran 10 m x 60 m dengan arah tegak lurus tepi laut. bhw kond h.tanah dilakukan untuk menetapkan kandungan unsur hara makro (N. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. Dari : Metodologi Penelitian : Analisa SWOT-Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat . P. tidak semua kelemahandari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. Peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. mangrove di pesisir Deli Serdang umumnya rusak. ……Berdasarkan hsl analisis Kerapatan dan Luas Penutupan Tajuk. Dari : Lengkap ! Tesis Sri Susanti Ningsih. Pancang ukuran Sub Petak 5m x 5m dan ukuran Pohon Sub Petak 10 m x 10 m.Mangrove di Deli Serdang. sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Index keanekaragaman.

o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. o Best, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapai anya besar. Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan (persaingan) dan tidak bisa dihindari. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats), adalah ancaman yang kemungkinanterjadinya tinggi dan dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini, diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. o Ancaman tidak utama (minor threats), adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil o Ancaman moderate, berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar, analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut: Matrix SWOT……… 3. Metode Survey Untuk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber melalui analisis SWOT di atas digunakan metode survey dengan frame sample pihak-pihak (stakeholders) yang bisa memberikan penilaian aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja suatu institusi atau lembaga. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan gambaran awal dari peta permasalahan yang ada di institusi. FGD harus dilakukan dengan komprehensif artinya melibatkan seluruh stakeholders sehingga peta yang terbentuk telah mewakili seluruh kepentingan stakeholders. Karena sifatnya yang bersumber dari informasi kual itatif pemilihan responden yang credible sangat mempengaruhi hasil akhir dari analisa SWOT sehingga hendaknya harus dilakukan dengan beberapa kualifikasi. 2. Pembuatan kuesioner SWOT berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dalam FGD. Secara umum kuesioner ini memiliki katagorisasi penilaian sebagai berikut: ·* Penilaian faktor internal dan eksternal. Di sini responden membrikan preferensi opini terhadap faktor-faktor internal dan eksternal dari institusi pada saat ini dan perkiraan di masa mendatang. ·*Penilaian urgensi. Di sini responden diminta untuk menilai tingkat urgensi faktor terse but untuk ditangani. Penilaian ini berhubungan dengan skala prioritas dalam menyelesai kan persoalan-persoalan pembangunan yang tercermin melalui faktor-faktor yang dinilai. Contoh dari penilaian internal dan eskternal dan contoh penilaian urgensi dapat dilihat sebagai berikut

Contoh Kuesioner SWOT
No Bidang Pembangunan 1 -Penilaian Kondisi Saat Ini – 2 3 4 5 6 1 Urgensi Penanganan 2 3 4

I. Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan : 1. Pendapatan Masyarakat …………………………………………………………………………………………………….. 2. Tingkat kesehatan masy………………………………………………………………………….. 3. ............................................................................................................................................. \ Penilaian Responden: Urgensi Penanganan: Angka 1 = Sangat Kurang Angka 1 = Tidak Urgen Angka 2 = Kurang 2 = Agak Urgen Angka 3 = Cukup 3 = Urgen Angka 4 = Agak Baik 4 = Sangat Urgen Angka 5 = Baik Angka 6 = Sangat Baik

Dari tabel di atas dapat dijelaskan beberapa layer analisa sebagai berikut. ⇒ Bidang merupakan katagori yang memiliki beberapa faktor. Dari contoh di atas Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan merupakan ”bidang” penilaian yang memiliki dimensi internal dan eksternal. ⇒ Faktor, merupakan bagian dari bidang yang merupakan penjabaran spesifik dari masing-masing bidang. Dari contoh di atas (1) pendapatan masyarakat dan (2) tingkat kesehatan masyarakat merupakan ”faktor”. Faktor inilah yang kemudian terkatagori sebagai kekuatan atau kelemahan (dari analisa internal) dan peluang atau ancaman (dari analisa eksternal). Setelah kuesioner terisi dan terkumpul semua, penilaian faktor dilakukan dengan meranking bobot penilaian pada ”penilaian responden” yang memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 1. Faktor-faktor yang memiliki nilai di atas median (atau rata-rata dilihat dari persebaran distribusi probabilitasnya) disebut dengan ”kekuatan” pada analisa internal dan”peluang” pada analisa eskternal. Sebaliknya faktor-faktor yang memiliki nilai penilaian di bawah median disebut dengan ”kelemahan” pada analisa internal dan ”ancaman” pada analisa eksternal. Membentuk suatu kuadran faktor pembangunan, yaitu suatu blok yang menjelaskan posisi dari kombinasi faktor internal dan eksternal pembangunan, dengan kombinasi : kekuatan-peluang (S-O), kekuatan-ancaman (S-T), kelemahan-peluang (WO) dan kelemahan-ancaman (W-T). Sebelum menentukan kuadran pembangunan, harus dilihat terlebih dahulu uji konsistensi dari pengolahan kuesioner SWOT. Uji konsistensi pengisian kuesioner mensyaratkan dua asumsi utama, yaitu : o Untuk Prioritas, rata-rata nilai (average) prioritas seluruh faktor dominan (S/O) > faktor non dominan (W/T) o Untuk Urgensi, rata2 nilai(average) urgensi f. non dominan (W/T) > f dominan (S/O)

Tabel 3 Contoh Perhitungan Consistency Index Pengolahan Kuesioner PRIORITY S W O T 3.90 S 3.01 W 3.72 O 2.98 T Consistency index Priority Dominan 1.05 Non-Dominan 1.01 Consistency index Urgency Dominan 1.03 Non-Dominan 1.07 URGENCY 3.07 3.16 2.97 2.96

Menjumlahkan (sum product) dari seluruh bobot prioritas dan urgensi sehingga di da patkan kombinasi nilai dari faktor internal dan eksternal. Tabel 4 Contoh Indeks Penilaian Kuadran Kebijakan KUADRAN S W O 835.45 820.53 T 775.05 760.13

embuat pola strategi pembangunan berdasarkan Indeks Penilaian Kuadran.Prioritas M strategi pembangunan berdasarkan skenario ini ditetapkan dengan menjalankan kombinasi kebijakan dengan indeks nilai paling kecil berurutan ke yang paling besar. Dengan kata lain, daerah akan berusaha untuk mengatasi seluruh faktor yang paling lemah yang dimiliki untuk kemudian beralih pada kombinasi strategi yang telah memiliki indeks baik/tinggi. Dari contoh di atas strategi pembangunan yang dilakukan institusi akan bergerak dari WT-ST-WO-SO. 4. Persebaran dan Profil Responden Responden yang terlibat dalam studi ini terdiri dari beberapa stakeholders baik pemerintah maupun perwakilan masyarakat, LSM serta tokoh agama. Daftar responden yang diwawancara adalah sebagai berikut: Pemerintah aerah Badan-badan: Bappeda, Badan Kesbang dan Politik, BPKD, Badan Diklat Dinas-dinas: Dinas Pendidikan, Kesehatan, PU,Perhubungan dan Pariwisata, Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup, Pemadam Kebakaran, Tenaga kerja dan Catatan Sipil, Koperindag, Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Kelautan dan Perikanan, Syariat Islam. Sekdakab: Bagian tata Pemerintahan, Hukum, Ekonomi, Pembangunan, Kesra, Organisasi. Kantor-kantor: RSUD, Kantor Sosial, Pemuda dan olah raga, perpustakaan dan Arsip, Satpol PP, Peternakan, Pertambanagn dan energi Kecamatan: Karang Baru, Banda Mulia, Kejuruan Muda =================================================================== Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem, dan bukan hanya melihat gejalagejala dari suatu masalah. Chandler (1962): strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumberdaya. Porter (1985): strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing.

Salino meter.gejala dari suatu masalah. digunakan untuk menetukan titik koordinat wilayah pengambilan sampel di peta.4 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1.2 Sampel adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada hutan mangrove. digunakan untuk mengidentifikasi tanaman mangrove. Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masing-masing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan. pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. digunakan untuk mengukur salinitas/kadar garam air laut. Kunci Determinasi/identifikasi. 6. Peta Wilayah. dan bukan hanya melihat gejala. Soil tester.Hamel dan Prahalad (1995): strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) yang dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh pelanggan di masa datang. digunakan untuk menetukan pH tanah dari wilayah pengambilan sampel 5. digunakan untuk membuat plot (kuadrant) 2. 7. Kamera. 3. GPS (Global Position System).5 Prosedur Pengumpulan Data: 1. 3. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. alat untuk dokumentasi.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. . Role Meter.2. 4. 3. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara. Apa yang sebenarnya telah terjadi ? Mengapa masalah tersebut bisa terjadi ? Mengapa dan Megapa ? Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari masalah tersebut untuk tidak terjadi lagi di masa depan? =============================================================== Dari :Mangrove Desa Bulalo Kec Kwandang Gorontalo Utara 3. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter. 2007). Menentukan titik wilayah sampel titik koordinatnya dengan menggunakan GPS ( 2. 3. Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan menggunakan kunci determinasi/kunci identifikasi.2. 3. 5 x 5 meter untuk golongan anak . digunakan untuk mengetahui wilayah tempat pengambilan sampel. 4.

Mencocokkan (ciri-ciri morfologi dari batang. akar dan daun) dari masing-masing tumbuhan yang menjadi sampel. 6. Mengambil bagian-bagian morfologi (batang. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa langkah yaitu antara lain sebagai berikut: 1. 4. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot BBerikut ini adalah Lay Out yang digunakan dalam pengambilan sampel dilapangan. sebagai berikut: a. Membuat herbarium dari masing-masing jenis-jenis tumbuhan yang diperoleh untuk diidentifikasi di Laboratorium Biologi UNG. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = Dominasi Relatif = Densitas = Densitas Relatif = Frekuensi = Frek relalif c. 5. menghitung basal area. 3. 1994 yaitu dengan menghitung dominansi. dominansi relatif. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian akar tumbuhan mangrove. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian daun tumbuhan mangrove. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel dengan Soil Tester. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994).5. 8. frekuensi relatif dan besarnya Indeks Nilai Penting. 1976 dalam Hardjosuwarno. . frekuensi. densitas relatif. 6. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian batang tumbuhan mangrove. menghitung dalam parameter vegetasi dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Cox. 3. Penentuan Basal Area BA = d = diameter batang setinggi dada b. 7. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. densitas (kerapatan). Mengukur salinitas air pada dengan menggunakan Salinometer. 2.6 Prosedur Analisis Data Data mengrove dianalisis dengan cara menghitung besarnya Indeks Similaritas (IS) dan Indeks Disimilaritas. akar. dan daun dari tumbuhan mangrove) mangrove yang terdapat pada buku determinasi/identifikasi (buku panduan ). Indeks Nilai Penting ini interpretasi komposisi vegetasi dan pola zonasi hutan mangrove.

1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masingmasing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan.2. 3.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities).2.2 Populasi dan Sampel 3. Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot . Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan.2 Sampel dalam penelitian ini adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. kelemahan.Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan. Waktu Penelitian selama 3 bulan yaitu pada Bulan Agustus sampai Bulan Oktober 2008. Gorontalo Utara. peluang. 3. QSPM memerlukan good intuitive judgement =================================================================== Dari : KOMPOSISI DAN POLA ZONASI VEGETASI HUTAN MANGROVE 3.Sebagai suatu teknik. tujuan. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di kawasan pesisir pantai Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. Lokasi penelitian terdiri atas 2 stasiun pengamatan. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. 3. dan kebijakan perusahaan. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). strategi. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix).

3.Prof. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot B =============================================================== Dari : R. M. Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada h mangrove. 5 x 5 meter untuk golongan anak pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). Dr. 6. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. Mengukur salinitas air pada setiap zonasi hutan mangrove dengan Salinometer. Hardjanto. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel yang menjadi lokasi penelitian dengan menggunakan Soil Tester. Abdoel Djamali NRP 0261040161/SPL . d = diameter batang setinggi dada b. M. Abdoel Djamali Posted: December. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = = Dominasi Relatif Densitas = = Densitas Relatif Frekuensi = = Frekuensi relalif c. 3.Sc Dr. 2. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). Ir.2 Permasalahan .masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon.com 1. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter. Ir. sebagai berikut: a Penentuan Basal Area BA = Dimana. Zahrial Coto.5 Prosedur Pengumpulan Data Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data sebagai berikut: 1.jatifar@yahoo. . Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan kunci determinasi/ identifikasi. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. 7. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. 8. 5. 2007). Menentukan titik masing-masing wilayah yang menjadi wilayah sampel penelitian dan menentukan titik koordinatnya pada peta dengan GPS (Global Position System).S PERSEPSI MASYARAKAT DESA PANTAI TERHADAP KELESTARIAN HUTAN MANG ROVE (Studi Kasus Di Kabupaten Probolinggo) Oleh : R.Institut Pertanian Bogor Desember 2004 Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng. M F (Penanggung Jawab) . 2004 . 4.

2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4. III.4.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Dari Tabel 4. 2. Data sekunder diperoleh dari dinas-dinas terkait diantaranya adalah: pemerintah daerah setempat. dinas perikanan. Bagaimana perilaku masyarakat pesisir setempat dalam pemanfaatan h mangrove? 2.1 Sebaran Responden No. upaya-upaya intensifikasi. Kepala Kecamatan 2 2. Petambak 3 Total 19 3. dinas kehutanan. METODOLOGI 3. Mendeskripsikan persepsi masyarakat desa pantai terhadap pelestarian h mangrove. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini Tabel 3.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Tabel 4.7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan H Mangrove Tabel 4.tokoh masyarakat.1 Penentuan Wilayah Contoh Wilayah penelitian ditentukan secara sengaja (Purposive) di Kabupaten Probolinggo khususnya di Kecamatan Tongas dan Kecamatan Paiton 3.3 Tujuan dan Kegunaan Tujuan: 1. IV.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove Tabel 4. Kegunaan 1. Responden Jumlah (orang) 1. Bagaimana persepsi masyarakat desa pantai dalam pelestarian hutan mangrove? 1.2 Persepsi Mas Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir Tabel 4. Mengidentifikasi perilaku masyarakat setempat dalam pemanfaatan h mangrove.1.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove 4. Memperluas khasanah pengetahuan bagi pengembangan ilmu lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat hutan pesisir. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Masyarakat Pesisir 4 4 Nelayan 6 5. Kepala Desa 4 3. Jenis data primer yang sudah diperlukan adalah: persepsi masyarakat. kepala desa. manfaat yang diperoleh.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove . nelayan. Data primer Diperoleh melalui wawancara langsung pada responden dengan bantuan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial Tabel 4. partisipassi masyarakat dan saran-saran untuk pengembangan hutan mangrove. Menjadi pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam rangka pemberdayaan hutan mangrove dan pelestarian hutan.3 Jenis dan Sumber Data Data dalam studi ini adalah data primer dan data sekunder.2 Penentuan Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari kepala kecamatan. 2.

penebangan hutan mangrove. pariwisata. Penebangan mangrove untuk arang. dan memanfaatkan potensi hutan mangrove itu sendiri d. Pada musim penghujan akan terjadi banjir/genangan di wilayah pesisir terlebih lagi bila bersamaan dengan terjadinya air pasang. pemukiman dan kawasan industri secara tidak terkendali. industri dan sampah domestic rumah tangga.Tabel 4. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pendaran seluruh masyarakat mulai dari hulu (up land) sampai hilir sungai (down land). maka suatu saat kerusakan fisik yang cukup parah atas hutan mangrove yang sangat besar manfaatnya. Yang berasal dari limbah rumah tangga dari daerah hulu sungan dan sepanjang tepian sungai yang dibawa kemudian oleh aliran air kearah muara sungai. Sedmientasi yang terlalu tinggi. Kondisi ini juga sangat memprihatikan. kayu bakar.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan H Mangrove 4. kemudian terakumulasi dengan lumpur. Kabupaten Probolinggo memiliki beberpa wilayah yang terletak di daerah dengan kondisi tanah yang landai. sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan. maka akan terjadi penutupan daerah mangrove sehingga suplai air tawar berkurang atau sebeliknya air laut terlalu tinggi sehingga salinitas di daerah hutan mangrove naik yang akan menggaggu keseimbangan habitat hutan mangrove. dan dasar hutan. namun perlu pengaruran dan perencanaan yang berbasis pelestarian sumberdaya hutan mangrove itu sendiri. b. industri. manakala tidak ada pihak yang mengatur. sedangkan aktifitas manusia misalnya pengambilan pasir laut yang tidak terkendali. Pada tanah kritis di musim penghujan akan terjadi pelumpuran atas air permukaan yang mengakibatkan meningkatnya proses erosi. Sepanjang hutan mangrove banyak berserakan lembah padat terutama yang berasal dari limbah domestic. Wilayah- . bahan bangunan dan kegunaan tanpa kendali. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. aktifitas manusia aatu kombinasi keduanya. Alih fungsi hutan mangrove sudah terjadi sejak lama. Bukan berarti alih fungsi hutan mangrove tidak boleh dilakukan. Abrasi pantai dapat diakibatkan oleh proses alami. Terjadi konversi lahan hutan mangrove menjadi berbagai peruntukan lain seperti tambak. Abrasi karena proses alami disebabkan karena gerakan gelombang dan arus laut. e. sehingga nampak kotoran berserakan di bergelantungan akarakar Rhizopra sp. pemukiman. Rencana tata ruang dan rencana wilayah (RTRW) belum memasukkan parameter kelestarian hutan mangrove. mengembangkan. sedimentasi dan pendangkalan pada sungai. Perlunya penyadaran dan dibangun suatu sistem masyarakat yang ikut merencanaan. Hal ini disebabkan oleh karena jenis tanah clay (tidak menyerap air) dan kondisi lahan yang landai serta cenderung semakin landai ke arah Utara (mendekati garis pantai). c. Sehingga seringkali terjadi tumpang indih pemanfaatan kawasan hutan mangrove untuk berbagai kegiatan pembanguna seperti perluasan areal pertambakan. pada bagian wilayah tersebut juga mempunyai tingkat genangan yang tinggi. Sedimentasi tersebut yang berasal dari pengikisan/erosi di daerah atas (hulu) yang tersuspensi dalam aliran sungai kemudian mengendap di daerah estuaries dan sepanjang pantai. Mengingat apabila salah satu ekosisitem pantai rusak maka akan berefek langsung pada kedua ekosisitem lainnya.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan didentifikasi tentang permasalahan yang dihadapi dalam upaya pelestarian hutan mangrove sebagai berikut a. batas-batas kawasan hutan lindung dan produksi.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove Tabel 4. Sedimentasi akibat pengelolaan kegiatan lahan atas yang kurang baik. pembangunan dermaga yang kurang memperhatikan sifat arus dan gelombang dapat menyebabkan abrasi.

84%). g. Konflik kepentingan antar kemanfaatan jangka panjang (long-term benefit) dan kepentingan jangka pendek (short-term benefit). pemukiman.2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Pengrusakan hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo sebagian besar disebabkan terjadi konversi hutan mangrove menjadi areal pertambakan (36. Dari hutan mangrove pula sangat diharapkan berfungsi sebagai paru-paru kehidupan atau untuk upaya pelestraian sumberdaya alam termasuk air. kepentingan jangka panjang akan selalu bertolah belakang dengan kepentingan jangka pendek. kualitas udara. Proyek pembangunan yang dapat menghalangi atau mengurangi sirkulasi arus pasang surut. j. sedangkan pemerintahan desa/kecamatan menilai bahwa areal hutan mangrove tersebut merupakan bagian wilayah pemerintahannya. Ini menyebabkan tidak terjadinya sistem koordinasi dalam pengelolaan hutan mangrove. lestarinya plasma nutfah dan manfaat lain dari hutan mangrove. 4. pembinaan dan pemanfaatan hutan secara optimal dan berkelanjutan. dan sosialisasi yang terbatas sehingga belum dapat mendukung kebijakan atau program penataan ruang. Kepentingan jangka pendek (short-term benefit) cenderung lebih diutamakan dibandingkan dengan kepentingan jangka panjang (long-term benefit). pariwisata. Sebagai akibat terjadilah pemanfaatan areal hutan mangrove menjadi pertambakan. masyarakat desa pantai juga memanfaatkan untuk pertambakan tradisional. perhotelan dan lain-lain yang semuanya untuk kepentingan jangka pendek. Dalam rangka otonomi daerah ada kecenderungan pemberdayaan sumberdaya alam untuk kepentingan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ditebangnya mangrove dimaksudkan agar terhadap intensitas sinar matahari yang cukup baik bagi tambak sehingga tidak ada tempat untuk tanaman mangrove tumbuh dan kurang dikehendaki keberadaannya di daerah tambak. Konflik kepentingan antar kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dan kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit). hotel. h. Konversi tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan fungsi hutan mangrove. Disamping itu. i. Kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit) sering lebih diutamakan karena lebih menampakkan wujud fisik yang nyata dibandingkan dengan jangka waktu jabatan seorang pejabat. Disamping itu pemanfaatan untuk pemukiman. Konflik kepentingan antar manfaat hutan mangrove: antara kepentingan ekonomi (economies) dan kepentingan pelestarian (enviromentalis). laut dan pantai. dan industri sudah mulai merambah hutan mangrove terutama untuk menunjang pengembangan . Ini menjadi salah satu faktor penghambat bahkan gagalnya upaya pelestarian.wilayah yang terjadi abrasi pantai yang cukup parah adalah desa Pondokkelor di Kecamatan Paiton f. Dalam hal tersebut pengelola menganggap bahwa hutan mangrove merupakan hak otonom dari pengelola hutan mangrove. bangunan industri. Konflik kepentingan antar lembaga yaitu terjadinya perbedaan kepentingan antara pengelola hutan mangrove dengan pemerintahan desa/kecamatan. Kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dari pengelolaan hutan mangrove sebenarnya lebih berjangka panjang tetapi karena sifatnya yang tidak nampak seperti terpeliharanya ekosistem laut dan pantai. informasi serta IPTEK yang berkaitan dengan hutan mangrove masih terbatas. k. sumber air. Biasanya konversi lahan dilakukan oleh sebagian oleh pengusaha tambak udang dan hatchery. Data.

2.21% dan tidak sekolah sebesar 18. Parameter Prosentase (%) 1.Tempat mencari kayu bakar 5.79 . 5.05 2.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 36. 2. Tabel 4. Parameter Prosentase(%) 1. Penebangan untuk pemanfaatan hasil hutan mangrove : arang dan kayu Konrversi lahan menjadi tambak Penebangan untuk tempat bersandar perahu Penebangan untuk bangunan pemukiman / industri hotel dan lain-lain Rusak akibat limbah pabrik dan alam 15. tidak tamat Sekolah Dasar 19.pariwisita.kayu hutan mangrove untuk dijual 5.84 Masyarakat desa pantai menganggap bahwa hutan mangrove tidak mempunyai nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan yaitu sebesar 36.84%. kepiting. Tabel 4. Kurangnya informasi pengembangan sumberdaya alam Kurangnya pemahaman dan pengertian masyarakat tentang fungsi sumberdaya hutan mangrove sehingga upaya pelestarian masih sangat rendah.Tempat untuk mencari ikan. Bermanfaat Alasan : .Tempat mencari kayu bakar 15.79 36. Keadaan ini menyebabkan kurang berkembangnya diversifikasi usaha dan kurang berkembangnya teknologi pasca panen. dan nelayan dari peningkatan hasil tangkapannya. serta menarik masyarakat untuk bermukin di sentra sector wisata. kepiting 21.kayu hutan mangrove untuk dijual 10. 3. Tidak bermanfaat Alasan : .84 10.79 100. Tabel 4.91%.53 3.32%.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Teknis . sehingga tidak mampu meningkatkan taraf hidupnya. Sangat bermanfaat Alasan : . secara umum terjadi permasa lahan sebagai berikut: 1.53 21. 4.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove No.05 15.26 .2 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Ekonomi No. Terbatasnya personil yang terlatih dalam pengelolaan sumberdaya ini menyebabkan pengelolaan sumberdaya tidak dapat terencana dengan baik dan belum optimal. Kenyataannya dengan terpeliharanya kelestarian hutan mangrove maka akan merangsang berkembangnya biota laut yang berarti akan mendukung peningkatan produksi dan pendapatan para pencari ikan. Tingkat pendidikan masyarakat pesisir rata-rata tamat Sekolah Dasar sebesar 36. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia Rendahnya tingkat pendidikan akan berpengaruh pada rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan.00 Potensi sumberdaya yang cukup berlimpah dengan kondisi penduduk dan pesatnya pertumbuhan pembangunan di wilayah pesisir dan laut.Konsekuensinya memang harus menggunaakan hutan mangrove.26 .

79 3. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial No. 1. Maksudnya tanah tambak yang makin meluas kea rah laut.79 .84%).Tidak ada manfaatnya 47.Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 21.Menambah keindahan pemandangan 10. Bermanfaat Alasan : . Sedangkan pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek sosial banyak yang tidak mengetahui dan menyatakan tidak ada manfaatnnya yaitu 47.Pemanfaatan tanah oloran untuk tambak Bermanfaat Persentase (%) 10.32 2.05 .Mengurangi ombak dan valume air di pantai 5.05 (fungsi penghijauan) 3.No. Tidak bermanfaat . Parameter Persentase (%) 1.Dapat mengurangi pengangguran/menyerap tenaga kerja 21. Parameter Sangat bermanfaat Alasan : . Bermanfaat .26 .53 5. Sangat bermanfaat .Tidak ada dampak 5.84 2.26 2.53 2.Menambah keindahan pemandangan 15.32% dalam table di bawah ini : Tabel 4.26 Keberadaan hutan mangrove akan terasa bermanfaat jika dampaknya terlihat nyata.Menjaga keberadaan biota pantai 26.05 . Tidak bermanfaat 21. Tidak bermanfaat Alasan : .79 .5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove DariAspek Ekologis No.Sebagai paru-paru bagi masyarakat pantai 21. Alasan : .Menjaga keberadaan biota pantai 3.Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 15.26 36. Bahwa manfaat hutan mangrove dari aspek teknis dapat memberikan peluang bagi petambak untuk membuka atau memperluas areal pertambakannya akibat tanah oloran (36.37% Tabel 4.4.Mencegah terjadinya abrasi pantai 15. kondisi ini sejalan dengan pendangkalan daerah pantai yang berakibat sebaliknya akan merusak daerah padang lamun dan terumbu karang yang ada di depannya.Mencegah terjadinya abrasi pantai .05 .Mengurangi pengangguran/ menyerap tenaga kerja 5.37 Begitu pula tentang pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek ekologis menyatakan keberadaan hutan mangrove akan menjaga biota pantai yaitu 26. Parameter Persentase (%) 1. Sangat bermanfaat Alasan : .Mengurangi ombak dan valume air di pantai .

Parameter Persentase (%) 1.53 3. Parameter Persentase (%) 1 Sangat baik 15.58 Selain kondisi hutan mangrove yang sangat tidak baik diperparah lagi oleh sistem pengelolaan hutan mangrove yang juga sangat tidak baik (persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di pesisir Kabupaten Probolinggo sebesar 31.79 4. Aparat pemerintah 21.33% .58% menyatakan sangat tidak baik dan 26.79 4. Olehkarena itu upaya pelestarian dan pengamanan hutan mangrove akan mengalami kendala yang cukup berarti sehingga diperlukan strategi pelestarian hutan mangrove yang baru . Kurang baik 26. Hal ini karena masyarakat berpersepsi bahwa pengusaha tidak akan bisa berdiri sendiri akan tetapi bekerjasama dengan oknum peme rintah terutama dalam peralihan lahan hutan mangrove yang diperuntukkan pada pem buatan tambak intensif . Sangat tidak baik 31. Sering 10.79 3. Baik 10. Tabel 4. Sangat baik 15.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir No.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove No.53 3.63% dan pemerintah 21.79 2.26 2.79 4 . Tabel 4. Sangat sering 5.79 2.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 15. Tidak pernah 68.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove No.79 Sedangkan upaya penyuluhan dari dinas terkait kepada masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan fungsinya bagi kehiduoan manusia masih kurang yaitu para responden menyatakan tidak pernah menerima penyuluhan sebesar 78. Sedang 15. Baik 10. Sedang 15.84%) dari persepsi responden terhadap kondisi hutan mangrove yang lebih mengetahui tingkat perkembangan dari tahun ke tahun.53 2..7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove No.05%.42 Pelaku pengrusakan hutan mangrove terbesar disebabkan oleh oknum pengusaha yaitu sebesar 52.32% menyatakan kurang baik). Masyarakat luar 15. Parameter Persentase (%) 1.05 5. Jarang 15. Parameter Persentase (%) 1.63 Dengan melihat kondisi hutan mangrove yang berada di pesisir Kabupaten Probolinggo harusnya pemerintah cepat melakukan tindakan penyelamatan pelestarian karena kon disi hutan sudah sangat tidak baik (36. Masyarakat pesisir 10.53 3.84 Sedangkan persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Probolinggo seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4. Sangat tidak baik 36.Kurang baik 21.32 5. Tabel 4.05 4 Pengusaha 52.

Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumbedaya alam.63% responden menyatakan tidak mau terlibat atau diam saja melihat setiap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove. Peningkatan aksesibilitas masyarakat pantai terhadap kegiatan ekonomi yang dapat mendorong kemampuan masyarakat pesisir untuk membudidayakan sumberdaya laut secara optimal.05 2 Diam saja (tidak mau terlibat) 52. Mengelola . maka perlu adanya pember dayaan masyarakat. Oleh karena itu. Ber dasarkan kenyataan empiris tersebut. kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan penelitian c. persepsi masyarakat tehadap keberadaan hutan mangrove perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masayarakat akan pentingnya sumberdaya hutan mnagrove. yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat komponen utama penggerak pelestarian hutan mangrove. kebijakan yang berkaitan upaya penyelamatan keanekaragaman hayati. Dengan demikian. Ketidakacuhan dari masyarakat dise babkan rendahnya perhatian instansi terkait untuk melibatkan masyarakat dalam setaip program yang dilakukan oleh pemerintah. Sementara itu. Dengan demikian. strategi yang diterapkan harus mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat selain tujuan konservasi hutan mangrove tercapai. pengelolaan dampak.3 Arahan Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Dalam menghadapi situasi sekarang dan masa depan. dalam konteks pelestarian hutan mangrove.63 3 Melapor kedesa/kecamatan dan keamanan 26. paling tidak sudah dapat ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa masalah pengelolaan hutan mangrove secara lestari adalah bagaimana menggabungkan antara kepentingan ekologis (konservasi hutan mangrove) dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mangrove. Keterlibatanmasyarakat ini sangat penting karena rendahnya keperdulian masyarakat terhadap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove. pada prinsipnya ada 3 kebijakan pokok yang harus ditempuh pemerintah kabupaten Probolinggo agar sumberdaya kea nekaragaman hayati hutan mangrove berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat yakni : a. Saran dari responden terhadap pengelolan: 4.terutama yang melibatkan unsur masyarakat dalam pengelolaannya. sebagaimana tabel Tabel 4. (2) lokasi hutan mangrove yang jauh. Parameter Persentase (%) 1 Menegur 21. Pengelolaan hutan mangrove harus secara terpadu baik lintas sektoral. (3) tidak punya bibit mangrove. kebijakan yang berkaitan cara-cara memanfaatkan hutan mangrove. termasuk ekosistem hutan mangrove adalah pengelolaan berbasis masyarakat (Community Based Management) yang mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan. pendidikan dan parti s I pasi masyarakat b. sebagian besar masyarakat tidak melakukan penanaman hutan mangrove dengan alasan (1) tidak tahu cara mena nam mangrove.31 Kepedulian masyarakat terhada pelestarian hutan mangrove relative kurang sekali yaitu 52. Kebijakan ini meliputi penetapan kawasan konservasi .10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan Hutan Mangrove No. Pemberdayaan masyarakat pantai mencakup dua hal pokok. berikut keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peran serta masyarakat sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peranserta masyarakat dalam pelestarian fungsi sumberdaya laut sebagai penyangga kehidupan di wilayah tersebut 2. yaitu 1. dan (4) masyarakat lebih senang menanam padi dibanding menanam mangrove. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan masyarakat untuk dapat memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut. lintas pemerintahan Agar masyarakat mau ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan.

V. aparat pemerintah daerah dan suasta. Metilistina Sasinggala. dan 75.17 NO 6 NOPEMBER 2009 – ISSN 0852-5426 ANALISIS SIKAP DAN PERSEPSI MASYARAKAT PESISIR TERHADAP DINAMIKA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BUNAKEN Attitude Analysis and Perception of Coastal Community to Dynamics of Mangrove Forest Ecosystem in Bunaken National Park . yang terdiri atas masyarakat. =================================================================== Dari : AGRITEC VOL. kemampuan dan kesepakatan masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan yang ada. Sekitar 82. mengevaluasi maupun memonitorinya. dan bersifat merakyat (bottomup). Menumbuhkan tanggung jawab masyarakat dengan cara meningkatkan kepedulian dan partisipasi mereka dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam di lingkungan mereka. Eksistensi ekosistem ini sekarang mulai terancam oleh berbagai faktor lingkungan dan aktivitas manusia yang mempengaruhi kelestarian ekosistem. merencanakan.Ferny Margo Tumbel. dan 76. mengimplemetasikan. Sementara itu sebanyak 61. pemukiman. Dengan istilah community-based management itu juga mengandung arti suatu pendekatan (approach).8% respondents warga masyarakat setuju. . Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. memformulasikan.di sisi mengandung arti.8% responden suasta setuju terhadap pernyataan negatif atas keberadaan ekosistem hutan mangrove. KESIMPULAN a. sebagai kebalikannya pendekatan dari atas (top-down approach).3% responden aparat pemerintah tidak setuju. sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Sikap dan perilaku masyarakat terhadap dinamika degradasi ekosistem hutan mangrove menunjukkan kecenderungan yang positif. penebangan menjadi arang. baik ditinjau dari aspek sosial-ekonomi maupun aspek lingkungan hidup. kayu bakar dan bahan bangunan. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan daftar isian yang melibatkan 130 responden dan wawancara dengan sejumlah narasumber. Penelitian ini menggunakan metode survei. Dasar pemikiran atau landasan berpijak pemberdayaan mangrove bagi kesejahteraan masyarakat pesisir berbasis masyarakat adalah keberlanjutan (sustainability) usaha pemanfaatan dan pelestarian hutan mangrove. Herry Sumampouw Dosen Jurusan Biologi. FMIPA. dan hotel.9% responden aparat pemerintah juga setuju atas pelestarian ekosistem.6% responden suasta sangat mendukung terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove. 82.2% responden anggota masyarakat menyatakan setuju terhadap pelestarian ekosistem mangrove. 61. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan persepsi masyarakat pesisir terhadap keberadaan ekosistem mangrove dan mempelajari degradasi ekosistem hutan mangrove yang terjadi pada saat ini. 2. Kondisi di desa pantai terhadap pemanfaatan hutan mangrove yakni : konversi lahan menjadi tambak. Program ini bertujuan untuk: 1. UNIMA Ekosistem hutan mangrove di Taman Nasional Bunaken Selatan merupakan salah satu sumberdaya alam yang tipikal dan unik di Propinsi Sulawesi Utara. tidak memliki RTRW pemanfaatan hutan mangrove. dalam hal ini pendekatan dari bawah (bottom-up approach). Sifat merakyat ini merupakan bentuk implementasi dari kebutuhan. masyarakat ikut memikirkan. Mengembangkan suatu bentuk pengelolaan pesisir terpadu dimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemanfaatan lahan mangrove sebagai areal pertambakan secara berkelanjutan.

Data variabel-variabel ini dapat berupa data primer hasil pengamatan dan wawancara langsung (indepth interview) atau angket (kuesioner) yang diedarkan pada anggota masyarakat setempat. Data lain berupa data sekunder yaitu laporan-laporan statistik desa/kelurahan.Kerawanan degradasi Setuju-sangat Ragu-ragu Tidak setujumengancam ekosistem setuju sangat tidak di TN Bunaken setuju . masyarakat dan pengusaha dengan jumlah 90 responden untuk masyarakat setempat. 1 = sangat tidak setuju (STS) Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi Dalam menentukan potensi kerawanan degradasi mangrove di Kawasan Taman Nasional Bunaken dilakukan dengan membandingkan hasil deskripsi di lapangan yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif dan hasil uji laboratorium yang bersifat kuantitatif. Informasi yang di peroleh kemudian dilakukan pengukuran menggunakan skala Likert yaitu untuk mengukur persepsi dan sikap berbagai agen (sekelompok orang) dengan memberikan skor yang mempunyai gradasi atau kontinum penilaian dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju. yaitu jumlah penduduk serta sikap dan persepsi stake holder (pemerintah. 30 responden untuk pemerintah (instansi terkait). pemerintah dan pengusaha) terhadap ekosistem hutan mangrove menunjukkan tanggapan yang berbeda. Parameter Tingkat Kerawanan Degradasi R0 R1 R2 Sikap dan persepsi stake holder terhadap : . R2 = rawan 2 (tinggi) Hasil dan Pembahasan Sikap dan Persepsi Stake holder Sikap dan persepsi stake holder (masyarakat. karena responden yang dipilih melibatkan beberapa strata responden yaitu pemerintah. 3 = ragu-ragu (RG). 4 = setuju (S).Pemanfaatan hutan Tidak setujuRagu-ragu Setuju-sangat mangrove secara sangat tidak setuju maksimal setuju Keterangan : R0 = rawan 0 (rendah). sedang. 15 responden untuk investor (pengusaha). Tabel 1. pemanfaatan dan pelestarian ekosistem hutan mangrove menggunakan sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada responden. Adapun responden yang dipilih menggunakan metode Stratified Random Sampling. masyarakat dan pengusaha) terhadap kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove di kawasan TN Bunaken bagian selatan. pemerintah serta investor (pengusaha) sebanyak 135 responden. Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi ekosistem hutan mangrove No 1. Analisis Sikap dan Persepsi Pengukuran tingkat sikap dan persepsi masyarakat dalam perlindungan. R1 = rawan 1 (sedang).Penelitian ini meliputi kajian parameter ekosistem mangrove dengan variabelvariabel yang diamati sebagai berikut : Parameter sosial penduduk. 2 = tidak setuju (TS). Keterangan penilaiannya adalah : 5 = sangat setuju (SS). Adapun dasar untuk mengkaji kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove dinilai berdasarkan skoring (tinggi. Pada pernyataan bagian pertama (1-5) tentang kerawanan degradasi ekosistem hutan . rendah) eksistensi ekosistem hutan mangrove dengan parameter biogeofisik dan parameter sosial (sikap dan persepsi) seperti yang tercantum dalam Tabel 1.

Manage.mangrove dapat terjadi dan merusak keseimbangan ekologis. For. ‘Nilai’ maksudnya adalah pandangan-pandangan masyarakat lokal bukan ‘nilai’ yang berkaitan dengan konteks ekonomi.8 % responden masyarakat setuju. Sebaliknya dengan pernyataan kedua. Malinau. mahal. 2 : 1-13 (2004) Artikel (Article) Trop. uang.8 % setuju. murah). 82. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal sehingga berada pada tingkat rawan R2 (tinggi). SUMARDJO3 dan DOUGLAS SHEIL4 Penelitian ini menggunakan konsep ‘nilai’ dan ‘kepentingan’ (Sheil et al. KABUPATEN MALINAU. X No. sangat penting). sedangkan ‘kepentingan’ berhubungan dengan apa yang sedang di nilai dan lebih menekankan pada penilaian relatif dan bersifat subyektif. sehingga pernyataan pertama berada pada tingkat kerawanan R0 (rendah). Sedangkan untuk pernyataan bagian kedua (6-10) tentang keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejah-teraan umum. ongkos. artinya tergantung pada pengetahuan dan pengalaman pribadi seseorang. J. 2002) melalui pendekatan partisipasi dengan tujuan agar obyek yang diteliti yaitu masyarakat lokal dapat berpartisipasi selama penelitian berlangsung. ANDRY INDAWAN2. 2004). Kedua suku tersebut dipilih karena memiliki budaya yang berbeda dan menonjol di DAS Malinau.7 % responden pengusaha setuju. 61. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal. dengan perbedaan utama adalah bahwa Merap lebih menekankan pada pertanian padi/sawah sementara Punan lebih . KALIMANTAN TIMUR Dayak Merap and Punan People’s Perception of the Importance of Forest in a Tropical Landscape. namun lebih menekankan pada konsep ‘nilai umum’. Tujuh desa dipilih sebagai lokasi penelitian dari 19 desa yang tersebar dari hilir hingga hulu di sepanjang sungai Malinau. ‘kegunaan’ (manfaat) dan ‘kepentingan’ (penting. Tingkat Kerawanan Degradasi Ekosistem Hutan Mangrove Sikap dan persepsi masyarakat dan pengusaha sekitar kawasan menggambarkan kenyataan yang ada di lapangan. Lokasi penelitian terletak pada 2045’ – 3021’ LU dan 115048’ – 116034’ BT. =================================================================== Dari : Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. kami menghindari penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan harga (harga. East Kalimantan) NINING LISWANTI1. sekitar 61. Pada pernyataan pertama mengindikasikan ekosistem hutan mangrove tidak terancam karena semua stake holder memahami dan mengerti kerusakan yang dapat terjadi jika hutan mangrove mengalami degradasi.. masyarakat dan pengusaha menganggap bahwa keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umum. sekitar 82. X (2) : 1-13 (2004) PERSEPSI MASYARAKAT DAYAK MERAP DAN PUNAN TENTANG PENTINGNYA HUTAN DI LANSEKAP HUTAN TROPIS.3 % responden pemerintah tidak setuju dan 76. dengan luas sekitar 2000 km2. Metode yang digunakan adalah metode pemberian skor atau distribusi kerikil (Pebble Distribution Method /PDM) (Sheil dalam CIFOR. hanya kelompok pemerintah tetap menolak dan berada pada tingkat rawan R0 (rendah).9 % pemerintah sangat setuju dan 75. 2002. Pemilihan desa dilakukan dengan menggunakan teknik stratified random sampling dengan strata utama yaitu suku Dayak Merap dan Punan. Jadi dalam melakukan kegiatan skoring.2 % responden masyarakat setuju.

Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung. faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal(Socially Rooted Values). (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota. Kegiatan penelitian dilakukan dari bulan Juni 2003 hingga Mei 2004. fasilitator memperkenalkan setiap kartu berlabel dan bergambar yang mewakili tipe-tipe lahan. pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values). Madras Hulu dan Sukadamai.. para informan kemudian di minta untuk menyebarkan seratus alat penghitung (dapat berupa biji/kancing/korek api) di atas kartu-kartu tersebut menurut ‘kepentingan’ masyarakat lokal. maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. Langap dan Paya Seturan.menekankan pada aktivitas berbasis hutan (Sheil et al. (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini. maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Selanjutnya. (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat. Setiap kegiatan skoring selalu mengikuti prosedur yang pasti. Desa Merap diwakili oleh Gong Solok. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik. maksudnya sebelum kegiatan dimulai. jika 10 biji diletakkan di kartu ‘hutan’ dan 5 biji di kartu ‘jekau muda’. Liu Mutai.. dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan. Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia. (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan guna lahan. dan di taruh di lantai sehingga dapat dilihat dan dijangkau oleh semua informan. Polonia. Sebagai ilustrasi. sedangkan desa Punan diwakili oleh Punan Rian. Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Desa Laban Nyarit mewakili suku Punan dan Merap. data-data tersebut ditabulasi dan di analisis berdasarkan nilai ‘kepentingan’yang diperoleh dari hasil setiap diskusi kelompok terfokus. 2001). (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat. 2002 dan 2004. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kegiatan skoring dengan teknik diskusi kelompok terfokus (lihat Sheil et al. (9) tingkat . Setelah diberikan penjelasan dan contoh. Sarirejo. dan Long Jalan. Akan tetapi. 2002 dan 2004).. dan Uluk et al. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. ini artinya lahan hutan adalah dua kali lebih penting dibandingkan lahan jekau muda. (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia. =================================================================== Dari : Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik Dalam Program Studi Magister Teknik Arsitektur Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Oleh Mohamad Hendra Irawan 087020016/AR FAK TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2 0 1 0 Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan.

Sosio-Ekonomi =================================================================== PERSEPSI DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN FUNGSI HUTAN SEBAGAI DAERAH RESAPAN AIR ( Studi Kasus Hutan Penggaron Kabupaten Semarang ) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Umar L4K 006027 Pengelolaan hutan dan pengelolaan sumberdaya hutan (Forest resource management) memerlukan suatu faktor yang disebut dengan enabling factors (factor faktoryang memungkinkan) pengelolaan dan pengusahaan suatu kawasan hutan menjadi kawasan yang lestari dicapai. semak belukar dan tanah kosong) mencakup kegiatan-kegiatan penataan batas. termasuk dalam prinsip ini adalah tersedianya secara pasti petapeta detail lokasi hutan yang kemudian dimantapkan dan dikukuhkan sebagai kawasan hutan yang akan dikelola dan diusahakan dalam jangka panjang.kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. perlu adanya kerjasama antara dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. Selain organisasi kawasan. pembagian kawasan hutan ke dlm fungsi-fungsi dan kemanfaatan. pemetaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangat beragam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. pemerintah harus mempertahankan dan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten. Perubahan Tata Guna Lahan. juga diperlukan aturan yang berkaitan dengan aturan penataan organisasi sumberdaya manusia seperti : (a) penataan organisasi kerja tingkat lapangan dan menetapkanpenanggung jawabnya. Dalam pengelolaan hutan lestari ada enabling factor yang harus dipenuhi yang disebut dengan prinsip 3A + P yaitu (Awang. sosial. tersedianya ATLAS. sekunder. tersedianya ATURAN yang sesuai untuk keperluan menuju hutan lestari(aturan kelembagaan). Kedua. dan lingkungan (penataan ruang tumbuh tingkat lapangan). dan tidak memanen hasil lebih dari kemampuan yang disediakan oleh hutan tersebut. (b) ditetapkannya unit manajemen (pengelolaan) hutan mulai dari unit pengelolaan terkecil tingkat lapangan dan unit kelestarian hasil sumberdaya hutan. dan (c) jenjang pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan pengusahaan hutan.pengukuran. Kata Kunci: Persepsi. Termasuk di sini adalah semua aturan yang berkaitan dengan aturan pembentukan organisasi kawasan seperti: (a) batas-batas wilayah pengelolaan yang jelas. 2008) : Pertama. inventarisasi hutan. (c) penatagunaan kawasan hutan untuk menjamin terbentuk kawasan yang berfungsi ekonomi. merealisasikannya harus dengan cara uji-uji lapangan sebagai tempat . Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. Proses penataan kawasan hutan (hutan primer. San Afri. (d) memanfaatkan hasil dari sumberdaya hutan tidak hanya kayu. Berdasarkan hasil penelitian. Pada kedua bentuk organisasi tersebut (kawasan dan sumberdaya manusia). pembukaan wilayah hutan. (b) penataan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untukmembangun unit manajemen dan pengusahaan hutannya.

pembelajaran menyusun aturan-aturan yang dibutuhkan, sehingga aturan yang diperoleh tidak top-down, tetapi bottom-up. Sejak dulu kala pengelolaan hutan diawali oleh pendekatan bottom-up dalam membentuk organisasi lapangannya. Konstruksi penataan organisasi dari bawah dijamin akan menghasilkan tingkatan pengenalan dan rasa memiliki (rekognisi) dan legitimasi yang tinggi dari para pihak terkait. Dengan prinsip bottom-up ini pula dapat dimengerti bahwa sesungguhnya penataan kawasan hutan sejak lama sudah sangat akrab dengan muatan lokal, spesifik wilayah, dan memberikan peluang bagi terlaksananya distribusi otoritas kewenangan pengelolaan ditingkat wilayah (otonom dalam penataan kawasan , pengembangan Ketiga, semua hal yang berkaitan dengan ATLAS dan ATURAN harus dijalankan secara AMANAH. Semua kesepakatan para pihak untuk membangun unit pengelolaan dan pengusahaan sumberdaya hutan harus dijalankan secara amanah, teguh pada pendirian yang memiliki komitmen tinggi terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban para pelaksana / pengelola hutan. Tidak ada penyimpangan aturan dan kesepakatan dan juga tidak ada korupsi dalam menjalankan tugas-tugas pembangunan hutan dan kehutanan. Keempat, memastikan faktor penting lainnya adalah PENGAWASAN. Kelemahan paling mendasar dalam pembangunan sumberdaya hutan di Indonesia selama ini adalah tindakan pengawasan. Semua yang berkaitan dengan atlas, aturan, dan pelaksanaan yang amanah, tidak mungkin dapat dicapai dengan baik jika tidak ada tindakan pengawasan yang sistematis, terukur, dan terus menerus. Tindakan pengawasan mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi. Hasil dari monitoring dan evaluasi dijadikan rujukan utama un tuk melakukan penyempurnaan aturan-aturan / kebijakan dan perbaikan hal-hal yang berkaitan dengan teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan. Konsep Environmental Adjusment (EA) adalah suatu proses dan pengukuran ===================================================================

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI KECAMATAN MEDAN POLONIA MOHAMAD HENDRA IRAWAN 087020016/AR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N2 0 1 0

Abstrak
Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnyapertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Akan tetapi, dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan, pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values), faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal (Socially Rooted Values). Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan perubahan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia, maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung, Polonia, Sarirejo, Madras Hulu dan

Sukadamai. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik, maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia, (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini, (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan, (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan tata guna lahan, (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan, (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota, (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat, (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat, (9) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangatberagam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah harus mempertahankandan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten, perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. Kata Kunci: Persepsi, Perubahan Tata Guna Lahan, Sosio-Ekonomi

DAFTAR ISI
ABSTRAK……………………………………………….……………… i ABSTRACT……………………………………………….…………… ii KATA PENGANTAR……………………………………………….… iii RIWAYAT HIDUP PENULIS…………………………………….….. v DAFTAR ISI……………………………………………………………. vi DAFTAR GAMBAR……………………………………………………. ix DAFTAR TABEL………………………………………………………. x BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………….... 1 1.1. Latar Belakang……………………………………………………..... 1 1.2. Perumusan Masalah………………………………………………..... 3 1.3. Landasan Teori…………………………………………………….... 3 1.4. Tujuan Penelitian……………………………………………………. 6 1.5. Batasan Penelitian…………………………………………………… 6 1.6. Kerangka Berpikir…………………………………………………… 7 1.7. Struktur Penulisan…………………………………………………… 9 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………… 12 2.1. Persepsi Masyarakat…………………………………………………. 12 2.1.1. Definisi……………………………………………………….. 12 2.1.2. Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi…………….. 13 2.2. Perubahan Tata Guna Lahan……………………………………........ 15

2.2.1. Definisi………………………………………………………... 15 2.2.2. Model Perubahan Tata Guna Lahan………………………….. 17 2.3. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan………. 22 2.4. Kaitan Kajian Teori Terhadap Kegiatan Penelitian ………………… 36
Universitas Sumatera Utara

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……………………..……… 39 3.1. Metode Penelitian………………………………………………….... 39 3.2. Populasi Dan Sampel………………………………………………... 40 3.2.1. Populasi………………………………………………….......... 40 3.2.2. Sampel ……………………………………………………….. 41 3.3. Identifikasi Variabel………………………………………………… 42 3.4. Teknik Pengumpulan Data………………………………………...... 44 3.4.1. Pengumpulan Data Primer……………………………….......... 44 3.4.2. Pengumpulan Data Sekunder…………………………………. 45 3.5. Teknik Pengolahan Data…………………………………………….. 46 3.6. Teknik Analisis Data………………………………………………… 47 3.7. Tahapan Penelitian……..…………………………………………….. 48 BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI………………… 50 4.1. Kondisi Umum Kecamatan Medan Polonia………………………..... 50 4.1.1. Letak Geografis Dan Administrasi Wilayah…………….......... 50 4.1.2. Demografi Kependudukan…………………………………… 52 4.1.3. Ekonomi………………………………………………………. 54 4.1.4. Sosial Budaya Dan Kesehatan Masyarakat…………………… 54 4.2. Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia……………………. 56 4.2.1. Kedudukan Bandar Udara Polonia Dalam Konteks Perkotaan ……………………………………………. 56 4.2.2. Kondisi Eksisting Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………..................... 60 4.2.3.Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia………………………………………….............. 70 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………... 76 5.1. Karakteristik Responden………...…………………………………… 76 5.1.1. Karakteristik Sosial Responden…………………….…….......... 76 5.1.2. Karakteristik Ekonomi Responden……………….…….....,,…., 79 Universitas Sumatera Utara 5.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………. 82 5.2.1. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Ekonomi Yang Berorientasikan Pada Pengembangan Modal Finansial (Profit Making Values)……............................. 82 5.2.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Pemenuhan Kebutuhan Dasar Dan Menjaga Keberlangsungan Hidup Masyarakat Umum (Public

. ……… 54 4.......……………... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Penghasilan RataKeluarga/ Bulan79 ....3.. Proses Terjadinya Persepsi……………………………………… 14 DAFTAR TABEL No.. Kerangka Berpikir……………………………………………….....………………………………….. 9 2........... Penentuan Jenis Variabel Terikat (Descrete) . Judul Hal 1.1...... 50 4. 76 5... Rencana Penggunaan Lahan Di Kecamatan Medan Polonia .... 125 6. Data Administratif Wilayah………....... 99 5..3...... 52 4.. Judul Hal 3.18......…….......... 42 3.......... Data Jumlah Penduduk Berdasarkan Usi Jenis Kelamin……53 4..3. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Usia………………...2. ……… 53 4....4... Data Jumlah Penduduk Usia 7-12 Tahun Dan Status Pendidikan Di Kecamatan Medan Polonia………………...........5.......4........1...5..2.... Kelemahan Penelitian Dan Saran Dilakukannya Penelitian Lebih Lanjut…………………………………………………………. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Agama……......... Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Nilai-Nilai Sosial Yang Bertumbuh Kembang Di Daerah Dimana Lahan Itu Berada (Social Rooted Values) …………… 113 BAB VI.. ……… 77 5..2.. 43 4..... 78 5....................... 73 4.... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Status Pernikahan…………..3.1........ PENUTUP…………………………………………………….... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar BelakangPendidikan…78 5. 137 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 138 LAMPIRAN-LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No...... Kesimpulan………………………............. 75 5.... Data Kependudukan………........6..........1.. Penentuan Jumlah Sampel Proporsional……….. Perwujudan Sistem Prasarana Dalam Arahan Penggunaan Lahan Tahun 2008-2028…………………. 77 5.. Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Di Kecamatan Medan Polonia…………………………………………….... 133 6....1.......Interest Values………………......2.19....... Saran / Rekomendasi ………………………………………………… 135 6.....2.. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar Belakang Etnis / Suku.....1......

104 5......10. Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenjang Pendidikan 93 5....22.. 110 5..... Tingkat Persetujuan Terhadap Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………....8... 89 5.......29.. Tingkat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan........ Karakteristik Mata Pencaharian Responden BerdasarkanTingkat Pendidikan…....23....9... 119 .. 92 5.. Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal …….............. 115 5..........26...20.....5.........28.... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenis Pekerjaan….. 106 5...... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Mata Pencaharian............12... 80 5...........14..... Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan…....... Tingkat Persetujuan THD Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Jenis Pekerjaan………………….27............ Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Pengeluaran R2 Keluarga/ Bulan 80 5.............. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Status Rumah Tinggal... Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Status Rumah Tinggal ……........ Tingkat Keyakinan Masyarakat Terhadap Tersedianya Fasilitas Dan Infrastruktur Berdasarkan Jenis Pekerjaan………………….7...11....... 118 5.....24.... 82 5...... 81 5........ Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan……....... Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan……………....... Tingkat yakinMasY TDp Tersedianya Fasilitas Infrastruktur Berdasarkan Lo. Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan…………... 97 5.. 85 5....... 114 5.25....17..19. 109 5.......15. Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan…… 88 5............... Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan … 83 5. 96 5................... Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………… 100 5.16. Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Penghasilan Rata-rata per Bulan .13........ Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal…81 5.....21.18.. Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………… 102 5...

Bahan yang diperlukan adalah : aquades.. Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek. Ten quadrate (10x5 m) was maked on the trannsects with systematically systems... soiltester dan botol semprot... vegetation PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon. sapling.. Selat Baru dan Jangkang. thermohigrometer.... at mangrove forest of Bengkalis Islands............ Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan……………. sapling stratum. Relative frekwency (FR)..... Pada tiap lokasi diukur parameter lingkungan yang meliputi salinitas....... Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------Kerapatan Relatif = --------------------------.. pH...31.5... 1974).. Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada...... Observation variable are Relative Density (KR).... strata. Tanjung Sekodi.. The results of data analysys showed that generally was founded 21 species frok.. Key words : Mangrove... Nursal Dan Supriyanti Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau... secara purposive sampling. parang. Ketam Putih.....x 100% ..30..79%) at location VII (Desa Selat Baru)... 1(1):26-30..... that what founded 2 sapling starata vegetation (Rhizophora apiculata dan Thizophora mucronata) has been distributed all of area study (100%).. Pangkalan Batang. handrefractometer.. Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan………….. This study used quadrate methods with quadrate was placed along of trannsect. sedangkan alat yang dipakai : Kompas... 122 Jurnal Biogenesis Vol.. meteran........ gunting.. kertas koran.. structure.... tali plastik.. Disetujui 20 Juni 2004 Abstract The research about structure and distribution of sapling strata vegetation has been done at mangrove forest ecosystems in Bengkalis Islands Riau Province from March until November 2002.. Bantan Air... 2004 © Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau ISSN : 1829-5460 26 STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*)... suhu udara. pancang. alkohol 70 %.... That dominanced species is Rhyzophora apiculata (132..... kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling batang setiap individu tersebut... kadar organik dan tekstur tanah.... Dibuat 2 buah transek pada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telah ditetapkan)...... Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg. Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herbarium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986)... Relative Dominance (DR) and Informace Value...... suhu air... Pekanbaru 28293 Diterima 17 April 2004...... 121 5..

Komposisi dan penyebaran sapling mangrove di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis No Nama local Nama ilmiah Family 1 1 Bakau putih Rhizophora apiculata Rhizophoraceae + Jumlah 9 10 10 5 10 5 12 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 100 Relatif (FR = 34.Frekwensi =----------------------------------------------Frekwensi Relatif = --------------------------.28 15.x 100% Dominansi = ------------------------------------------Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi Relatif = -------------------------. Desa Meskom. Selain faktor habitat yang sesuai. Bengen (2002) menyatakan bahwa daur hidup yang khusus dari jenis bakau (Rhizophora sp) dengan benih yang dapat berkecambah pada waktu masih berada pada tumbuhan induk sangat menunjang pada proses distribusi yang luas dari jenis ini pada ekosistem mangrove.69 Xylocarpus granatum 19. penyebaran yang luas dari jenis-jenis Rhizophora juga ditunjang oleh sifat dan cara perkembangbiakan dari biji yang bersifat vivivar.41 2 Excoecaria sp 21. Tiga jenis utama vegetasi sapling mangrove yang memiliki nilai penting tertinggi pada masingmasing lokasi penelitian Lokasi Spesies FR KR DR NP 1 Excoecaria sp 26. Hasil pengukuran faktor fisika-kimia di . FR : Frekwensi Relatif. Tabel 3.52 32.30 12.07 Rhizophora mucronata 12. Desa Pangkalan Batang. KR : Kerapatan Relatif. 3.75 Rhizophora mucronata 1899 1724 Keterangan: 1.32 35. DR : Dominansi Relatif.79 27. Biji yang telah berkecambah selagi masih di dalam buah yang masih melekat pada tumbuhan induknya memberikan kesempatan untuk dapat tumbuh dengan baik dalam hutan yang selalu digenangi oleh air pasang. Faktor Fisika-Kimia Ekosistem Mangrove . 2.48%) dari jenis ini dibandingkan dengan jenis lainnya.x 100% Nilai Penting = FR + KR + DR HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur vegetasi strata sapling Tabel 1.46 89. NP : Nilai Penting dominan pada kawasan ini. Penyebaran vegetasi Strata Sapling Tabel 2.

DAFTAR PUSTAKA ======================================================================== Kriteria inklusi dalam penelitian : . tetapi sejauh mana masyarakat sekitar terlibat dalam kegiatan tersebut. Tujuan Penelitian Mengkaji hubungan persepsi. Karenanya peran serta masyarakat harus dilibatkan pada identifikasi.Tingggal di sedan n bersedia jadi resp PERSEPSI DAN PARTISIPASI NELAYAN TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT KOTA BATAM TESIS PROGRAM PASCA SARJANAMANAJEMEN SUMBERDAYA PANTAI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 Oleh : Mardijono K4A 006 014 Abstrak Peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kota Batam ditujukan untuk meyakinkan masyarakat akan manfaat perlindungan kawasan tersebut. perancangan dan pelaksanaan berbagai kemungkinan manfaat yang dapat diperoleh dari usaha perlindungan kawasan konservasi.9 6 30 6 5.Responden yang dapat berkomunikasi dengan baik . Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa keberhasilan upaya pengelolaan kawasan konservasi laut tidak hanya tergantung pada pemerintah saja.7 27 5 5. Oleh karena itu. Dengan demikian sapling tumbuhan Rhizophora sp merupakan vegetasi mangrove yang berperan penting khususnya dalam membentuk regenerasi di masa yang akan datang pada kawasan hutanmangrove Pulau Bengkalis.5 28.8 5 5.kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis Parameter 1 2 3 PH tanah 5.9 67 54 54 69 Salinitas (o/oo) 20 24 28 23 25 30 30 Kadar organik tanah (%) 23. .8 21.0 Tekstur tanah Liat Liat Liat Liat Liat Liat Liat 4 5.Responden Perempuan ataupun Laki-laki .9 30 7 5. partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).5 29 KESIMPULAN Struktur vegetasi strata sapling di kawasan hutan mangrove pulau Bengkalis didominasi oleh jenis Rhizophora apicukata dan Rhizophora mucronata yang termasuk famili Rhizophoraceae.4 4.14-45 th . Diantara 21 jenis sapling yang ditemukan jenis vegetasi sapling tersebut memiliki nilai penting tertinggi dan tersebar dengan baik pada ke tujuh lokasi pengamatan dengan penyebaran 100%.7 29.75 Suhu udara (0C) 28 28 30 Suhu air (0C) 30 28 30 28 30 28 20 Kelembaban udara (%) 60 44 31. perlu dilakukan penelitian tentang persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah.3 29 16.

.... pengaruh ini juga secara langsung berhubungan dengan partisipasi masyarakat dengan nilai r2 0................................. 4.... 1.... Mengkaji peranan pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD)........ Mengkaji persepsi masyarakat setempat mengenai (KKLD) dan manfaatnya........... Analisis Data .................3... 30 3......... Jenis dan Sumber Data ....................Metode penelitian adalah survei dengan penekanan pada variabel persepsi............1 Persepsi Masyarakat ..........................3.......... 29 3.. Lokasi ......... 28 3.............. Variabel Penelitian ...............................................3.......... maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1................ 27 3................. Rumusan Masalah Persepsi dan partisipasi masyarakat merupakan hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah selain peranan pemerintah...................... Mengkaji hubungan (korelasi) antara persepsi dan partisipasi mesyarakat dengan program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah dalam mengelola .8............ Skala Pengukuran ............. hubungan antara ketiga variable dilakukan uji regresi...... Hasil penelitian.......2 Partisipasi Masyarakat ............ Manfaat Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.... 29 3.....3 Peranan Pemerintah .............3..................... Mengkaji partisipasi masyarakat setempat dalam mengelola (KKLD) tersebut 3....... Populasi dan Sampel .......... disamping itu peran Pemerintah dalam kegiatannya yang melibatkan masyarakat mampu memberikan motivasi sehingga mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD..........................2................................... 27 3........ karena mampu mengubah persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan bersama KKLD di Kota Batam.............. 28 3........................... Untuk itu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan seperti tersebut diatas sangat diperlukan dalam pengelolaan kawasan konservasi laut daerah..........1...................................................5........................ par tisipasi masyarakat dan peran Pemerintah........ 30 3......................... Kata-kata kunci : Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Pesisir... 2........7.....4..... 1....3...98.. Metode Penelitian .............. Pengelolaan DAFTAR ISI BAB III.........1.... 31 BAB I PENDAHULUAN 1......4. METODE PENELITIAN 3.99......6................. 28 3..... dengan nilai r2 0............1 Definisi Persepsi ... 28 3.........3..........2....... Tujuan Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut diatas.. Latar Belakang 1........... peran Pemerintah mempunyai andil yang besar dalam penge lolaan KKLD........................ Teknik Pangumpulan Data ............

. pengalaman masa lalu. bila seorang individu memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya. Lokasi Penelitian. karakteristiknya dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. 3. Beberapa hal yang mempengaruhi persepsi : 1. Individu yang berperan serta pada varian ini tidak hanya hadir dan berpresentasi tetapi lebih dari itu. yaitu unsurunsur dalam ingkungan sekitar dapat mempengaruhi persepsi (Robins. Kehadiran Kehadiran merupakan varian partisipasi tinggkat pertama yang lebih mudah mnjadi tolok ukurnya sebab jika seseorang hadir dalam suatu kegiatan maka ia dapat dikatakan telah berperan serta.Menurut Saptorini (1989). fisiologis (pengiriman hasil penginderaan ke otak melalui saraf sensoris) dan psikologis (ingatan. suasana hati. 1996) 2. Individu dikatakan berperan serta dalam varian ini apabila terlibat dalam penentuan masalah. kebijaksanaan dan rencana . Pendidikan Tingkat pendidikan yang memadai akan memberikan kesadaran yang lebih tinggi dalam berwarga negara dan memudahkan bagi pengembangan identifikasi terhadap tujuan-tujuan pembangunan yang bersifat nasioanal. Pemilikan dan pengendalian Pemilikan dan pengendalian merupakan varian tertinggi dari peran serta secara kualitatif. Tolok ukur varian pertama peran serta adalah kehadiran yang bersifat kuantitatif. persepsi adalah suatu proses mental yang rumit dan melibatkan berbagai kegiatan untuk menggolongkan stimulus yang masuk sehingga menghasilkan tanggapan untuk memahami stimulus tersebut. b. ada tiga faktor yang mempengaruhi peran serta atau partisipasi yaitu : a.gagasan. persepsi dapat terbentuk setelah melalui berbagai kegiatan. antara lain sikap. 3.. target yang akan diamati. perumusan metode dan pendekatannya serta pembuatan keputusan. Metode Penelitian metode survei. 3. menyatakan varian peran serta atau partisipasi adalah : 1.1. perumusan masalah. 2. yakni memiliki (sense of belonging) Menurut Tjokroamidjoyo (1990).rencana akan memperoleh dukungan bila hal tersebut diketahui dan dimengerti oleh masyarakat. BAB III METODE PENELITIAN 3.3. Kepada syarakat yang berhubungan erat dengan . perhatian. c. pemrosesan informasi di otak). Situasi. Komunikasi Gagasan . penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristikkarakteristik pribadi dari pelaku persepsi.2. prestasi belajar sebelumnya dan pengharapan. Representasi Representasi merupakan varian kedua dari peran serta yang secara kualitatif lebih tinggi dan mendalam jika dibandingkan dengan varian pertama. Ini meliputi aktivitas penentuan masalah. 2. yakni proses fisik (penginderaan).2 Definisi Partisipasi Tjokroamidjoyo (1990). Kepemimpinan Faktor pertama proses pengendalian usaha dalam pembangunan ditentukan sekali oleh kepemimpinan. motif/kebutuhan individu. pelaku persepsi.

3.…. tokoh agama. b. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan yang saling mempengaruhi antara peran Pemerintah dalam mempengaruhi persepsi masyarakat dan seberapa besar peran pemerintah mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD di lokasi Penelitian. Respondennya adalah nelayan.3. yakni. pejabat Dinas Perikanan dan elautan serta instansi terkait. tokoh asyarakat. Kelurahan Karas dan Kelurahan Galang Baru. 3. Variabel Penelitian 3. dari seluruh responden pada masing lokasi penelitian setara 15 % dari jumlah penduduk berprofesi sebagai nelayan.7.5.3. Skala pengukuran .1. 3.3. hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antar kedua varibel tersebut dalam pengelolaan KKLD. 3. Persepsi Masyarakat 3. kepala kampung. Partisipasi Masyarakat 3. kepala kampung. partisipasi dan peran pemerintah mengenai pelaksanaan KKLD. tokoh adat. Sampel diambil dengan memberikan peluang yang sama bagi setiap masyarakat untuk dipilih sebagai responden. Demikian juga uji regresi dilakukan pada variabel persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat. Teknik observasi (pengamatan) : teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai potensi sumberdaya pesisir dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan setempat. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut : a. dan pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan serta instansi terkait. variabel partisipasi dan variabel peran pemerintah. Kuesioner : data primer. 3.4.. tokoh masyarakat. Sedangkan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang berarti antara ke tiga variabel tersebut dilakukan uji regresi antara varibel. Jenis dan Sumber Data data primer wawancara langsung dengan responden. Kelurahan Karas Responden yang diambil berjumlah 31 orang dan Kelurahan Galang Baru Responden yang diambil berjumlah 100 orang.ncara langsung dengan daftar pertanyaan yang telah disediakan sebelumnya.8. tokoh adat. Variabel yang diteliti adalah variabel persepsi.3.konservasi laut yaitu nelayan juga masyarakat lain seperti tokoh masyarakat yang berdomosili di lokasi penelitian. tokoh agama. Peranan Pemerintah .6.Data sekunder 3. persepsi. c. Teknik interview (wawancara) : untuk mendapatkan data primer maka menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur (semi structured interview) yaitu nelayan. Populasi dan Sampel masyarakat nelayan yang ertempat tinggal di lokasi penelitian yaitu diwilayah Kawasan Konservasi aut Daerah (KKLD) Kota Batam yaitu warga Kelurahan Pulau Abang Responden yang diambil berjumlah 113 orang.2.3. Metode ini bersifat deskriptif korelasi. partisipasi dan peran pemerintah. Kelurahan Pulau Abang. Analisis Data Data yang dianalisa adalah persepsi .

2. Skala yang igunakan untuk mengukur sikap. dan Dapur Enam. diantara pulau yang berpenghuni antara lain Pulau Abang Besar. dan sekitar 5.15% pegawai negeri.90 2 Petani 50 5.11 Jumlah 870 100. pendapat dan persepsi seseorang atau ekolompok orang tentang fenomena sosial yaitu skala likert (Sugiyono. 2007 . Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. Pulau Abang Kecil.61% pengusaha/Tauke dan 1. sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat ketergantungan masyarakat terhadap perairan laut sangat tinggi. Setuju/tahu/positif diberi skor 3 3. Segayang.02 4 Pengusaha 14 1. Sangat setuju/sangat tahu/sangat positif diberi skor 4 2. Bentuk dan Tipe Pantai 4. sebelah utara dengan kelurahan Si Jantung.dari kuesioner adalah data ordinal yang mengukur ingkatan atau gradasi dari sangat positip sampai sangat negatif. Pasir Buluh.46 7 Babinsa 1 0. mempunyai 42 buah pulau besar dan kecil.75 % petani.1. Kondisi Wilayah Pesisir dan Kelautan Kota Batam 4. 1. 39 Tabel 1. Secara administrasi batas wilayah Kelurahan Pulau Abang.61 5 Pegawai negeri sipil 10 1.1. Batimetri 4. Pulau Petong. Sekitar 86.2. Kondisi Geologi dan Geomorfologi Pantai 4. Gambaran Umum Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) 4.1.1.1. Untuk keperluan analisis kuantitatif. sebelah Selatan dengan perairan Kecamatan Senayang. Kelurahan Pulau Abang Kelurahan Pulau Abang terletak dibagian selatan Kota Batam.75 3 Buruh 35 4.3.2. 2006).02 % buruh. Letak Geografis 4. ternyata bahwa sebahagian besar mata pencaharian masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan. 4. Berdasarkan data monografi kelurahan Pulau Abang.4. maka jawaban dapat diberi skor. Jenis Mata Pencaharian di Kelurahan Pulau Abang No Pekerjaan JumlaH pERSENTASE 1 nEayan 756 86. Sangat tidak setuju/tidak tahu/tidak pernah diberi skor 1 32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. misalnya : 1.90 % mata pencaharian tetap masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan di laut (nelayan).00 Sumber : Monografi Kelurahan Pulau Abang.1.1. Tidak setuju/cukup tahu/ tidak pernah/negatif diberi skor 2 4.15 6 Angkatan laut 4 0. sebelah Timur dengan Kelurahan Galang Baru dan Kecamatan Senayang dan sebelah Barat dengan perairan Kecamatan Moro Kabupaten Tanjung Balai Karimun.

M atPencaharian jmlah(jiwa)Persentase 1.13 Jumlah 768 100.1.1. Kapal Motor Perahu 2.12 6. Pengusaha sedang 1 0. Sarana Air Bersih 7.2. Fasilitas Umum 1. Kelurahan Galang Baru Tabel 2. 6 – 16 596 22. Petani 4 0. 0 – 5 300 11.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru.11 %). Penerangan Rumah 4. Daerah Penangkapan 4.2. Jumlah penduduk Kelurahan Galang Baru menurut usia No Usia (tahun)Jumlah(jiwa) Prsentase 1. Hasil Tangkapan 5. 26 – 55 1066 40.2. PNS 12 1. Sarana Kesehatan 2.49 2. Kegiatan Budidaya Perikanan 4. Dengan demikian ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya perikanan sangat besar.3. Sarana Pendidikan. Nelayan 669 87.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru. Perumahan 8. Pemasaran dan Pasca Panen 4. Musim Penangkapan.11 2.56 4.2. Pedagang 35 4. Buruh indusri 47 6. 56 tahun ke atas 144 5.83 5. Secara kultural.2. Sarana Perdagangan 4. 3. Keberadaan mata pencaharian lain pada prinsipnya mendukung kegiatan ini perikanan khususnya perikanan tangkap.2. Bahasa yang mereka .4. 2007 4. 4.1. Jenis Alat Tangkap 3.1. Struktur Ekonomi dan Kultur Sosial Masyarakat Jika dilihat dari prosentase jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian sebagaiman tersebut diatas.52 3.82 3.2. 17 – 25 505 19. Transportasi Laut 5. komunitas yang ada dikawasan ini merupakan komunitas masyarakat melayu yang berasal dari kerajaan Daik Lingga.52 Jumlah 2611 100.3. sebagian besar penduduk Kelurahan Galang Baru merupakan nelayan (87. 2007 Tabel 3.2. Pelabuhan dan Jalan 6.1. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 1. Melihat kondisi yang seperti ini dapat dikatakan bahwa basis perekonomian Kelurahan Galang Baru adalah perikanan tangkap.34 4.56 5. Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Galang Baru No.4.2.

2. lebih jauh disampaikan bahwa yang membentuk hutan mangrove dikawasan studi dikenali terdapat 12 (dua belas) jenis vegetasi. Gadelam (Derris trifolata).20 Tinggi 164 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam. Tabel 9. Nguan (galang baru) 1.62 Tinggi 191 Sedang P. Daerah Penangkapan 3. Alat dan Musim Tangkap 2. Hilangnya kekhasan kultur ini. 1. Pedada (Sonneratia alba). Seperti diketahui kawasan ini sangat dekat dengan Negara Singapura dan kontak secara langsung maupun tak langsung dengan luar sudah berlangsung cukup lama. Masyarakat telah terkontaminasi oleh pendatang untuk menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Kearifan dalam memanfaatkan dan menjaga sumberdaya alam hanya ditunjukkan oleh segilintir orang sehingga kearifan tersebut seolah hilang. Kelimpahan dan Keragaman Ikan Karang di Masingmasing Kawasan Kawasan Jumlah Transek Kelimpahan (Individu) Kategori Keragaman Kategori I 8 121. Waru (Hibiscus tiliacus). Kegiatan Perikanan Kelurahan Galang Baru.4. Tingi (Ceriops tagal). Pada sisi lain. Seperti halnya. Lenggadai (Bruguiera parvifora). boleh dikatakan (patut diduga) sangat dipengaruhi oleh derasnya arus globalisasi (pengaruh asing) yang datang dari Negara Singapura tersebut.88 Rendah 3. pandangan dan persepsi masyarakat terhadap keberadaan sumberdaya alam tidak lagi mengikuti petuah dan petata-petiti budaya seperti yang terkandung dalam petuah adat serta pantun-pantun melayu.pergunakan adalah Bahasa Melayu. Persentase Tutupan dan Keragaman Jenis Mangrove KKLD Kelurahan Keaneka ragaman (H’ Pohon) Kategori Kerapatan /Ha Kategori Pulau Abang 0. Karas 1. Dudukan Merah (Lumnitzera littorea). Pendatang dari suku Buton disinyalir pertama kali menggunakan bom dalam aktivitas nelayan di kawasan perairan Kepulauan Riau.70 Sedang 179 Sedang P. yaitu : Api-Api (Avicennia marina). Bakau Merah (Rhizophora aplicuta).76 Sedang 213 Tinggi P. Sumbur (Galang Baru) 0. Buta-buta (Exacaecaria agallacha).2. 2007 Jenis Mangrove yang dominan adalah jenis Rhizophora.01 Tinggi . Nyirih (Xylocarpus granatum). Namun kehidupan social masyarakat dikawasan ini sudah tidak lagi memiliki kultur yang khas. Bakau Putih (Rhizophora mucronata). Dudukan Putih (Lumnitzera racemosa). bom ikan diperkenalkan oleh pendatang dari Suku Buton. 4. Kegiatan Budidaya Perikanan Tabel 6.

1% 4.0% Sumber : Data primer diolah.9% Sumber : Data primer diolah. 2006 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sembur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) Jumlah 103. Persepsi Masyarakat Mengenai Kondisi Terumbu Karang Tabel 15. Kondisi Mangrove Sangat rusak Rata – rata 73. 2007 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sumbur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) yang terdapat di KKLD pada tiga Kelurahan disajikan pada tabel 10 berikut.II 13 109. Duyung Dugong dugon + . Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Karas Tabel 14. 2008 Keterangan : Nilai 4.145 4.6% 9. Tidak Mengetahui Rata .. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Galang Baru 4.0% 1.2.+ Sumber: Studi Penyusunan Kawasan Marine Managemen Area. Jenis Satwa yang Dilindungi di Kawasan Penelitian No Nama Lokal Jenis I II III IV 1. Tabel 10. Kondisi Mangrove Baik Nilai 2. Hal ini dikarenakan mereka telah mengetahui dari sosialisasi dari pemerintah baik lewat .2.02 Sedang III 9 198. Galang Baru.7% 12.0% 3. Kondisi Mangrove Sangat Baik Nilai 3.rata 58. Buaya Crocodylus porosus . Mengetahui Nilai 2.0% 3.37 Rendah 2.85 Rendah 2.2 % responden mengetahui aturan Daerah Perlindungan Laut yang berada di kawasan Pulau Abang.7% 29.3.74 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam.4% 3.14 Gonggong Littorina sp . 2008 Keterangan : Nilai 4. dan Pulau karas.8% 51. Kondisi Mangrove Rusak Nilai 1.5.0% 14.+ + + 15 Kima Tridagna + . Lumba-lumba Dolphinia sp + .2. Cukup Mengetahui Nilai 1.51 Rendah IV 4 162. Sangat Mengetahui Nilai 3. Persepsi Masyarakat Tentang Kondisi Mangrove NoLokasiPenelitianSkore Persentase 43214321 1 Pulau Abang 79 25 5 4 69.+ + + 2.9% 22.5% 2 Galang Baru 82 14 3 1 82.11 Sedang 1..0% 3 Karas 21 9 1 0 67.2 % responden mengetahui bahwa mangrove yang berada di 3 Karas 8 16 3 4 25.3.5.2% 0.

2008 105 Total skor persepsi. partisipasi dan peran pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dan Daerah tersaji dalam Tabel 37 berikut. s pada tahun 4. Partisipasi Dan Peran Pemerintah Dalam KKLD No. Partisipasi dan Peran Pemerintah dalam KKLD No. dengan nilai R2 = 0. Partisipasi dan Peran Pemerintah terhadap KKLD Berdasarkan pengelompokan data dari persepsi masyarakat. partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah terhadap Kawasan Konservasi Laut Daerah dikelompokan dalam 3 (tiga) kategori berdasarkan interval kelas dari hasil skoring total nilai yang tersaji dalam Tabel 36. Wilayah Tingkat Interval 1 Kelurahan Pulau Abang 3 (Tinggi) > 2373 2 (Sedang) 1582 – 2373 1 (rendah) < 1582 2 Kelurahan Galang Baru 3 (Tinggi) > 2100 2 (Sedang) 1400 – 2100 1 (rendah) < 1400 3 Kelurahan Karas 3 (Tinggi) > 651 2 (Sedang) 434 – 651 1 (rendah) < 434 Sumber : Data primer diolah.068.penyuluhan. 2008 Hasil uji regresi terjadi hubungan yang sangat erat antara persepsi masyarakat terhadap KKLD dengan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan KKLD. Tabel 36.6. Wilayah Kelompok Tingkat Total Skor 1 Kelurahan PulauAbangPersepsi 3 (Tinggi) 2373Partisipasi 2 (Sedang) 2124Peran Pemerintah 2 (Sedang) 2131 2 Kelurahan GalangBaruPersepsi 2 (Sedang) 1952Partisipasi 2 (Sedang) 1917Peran Pemerintah 2 (Sedang) 1859 3 Kelurahan Karas Persepsi 2 (Sedang) 629Partisipasi 2 (Sedang) 581Peran Pemerintah 2 (Sedang) 573 Sumber : Data primer diolah. Hubungan Persepsi. Hasil jawaban yang dihimpun dari pertanyaan seputar persepsi masyarakat tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah. maupun beberpa papan pengumuman yang dipasang di kawasan tersebut. Total Skore Persepsi.98 pada tarap signifikansi 0. pada sub pertanyaan mengenai sanksi di Daerah Perlindungan Laut tersaji pada Tabel 19. demikian juga terjadi hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD pada . Tabel 37. Interval Kelas Tingkatan Persepsi.

Pedoman Tata Ruang Pesisir dan Laut. IPB. PT Pradnya Paramitha.2. tanggal 4 . Rais. Bengen. 2002. pembentukan dan peningkatan Lembaga Kemasyarakatan (POKJA. Keanekaragaman Hayati Laut.68%) dimana masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian terumbu karang dan mangrove. . Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Bogor. Sitepu. epartemen Kelautan dan Perikanan. 2006.G.025. Jakarta.J. Kesimpulan: 1. Dahuri. Anggoro.. dengan melihat nilai regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelelolaan KKLD sangat ditentukan oleh persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan KKLD sebagai sumber kehidupan masyarakat yang berkelanjutan. 2000.1. Terdapat hubungan yang erat antara persepsi masyarakat. 4. Semarang. Nelayan mempunyai tingkat partisipasi sedang (67% . S. 2002. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.044. PKSPL. 1996. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya. Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan untuk Kesejahteraan Rakyat. Ginting. Jakarta. Nelayan mempunyai tingkat persepsi sedang hingga tinggi (70% . pengawasan daerah konservasi dan pemberian tanda di daerah perlindungan laut sangat kurang. Universitas Diponegoro. Modul Matrikulasi Pengelolaan Pesisir dan Laut. Semarang. Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. 5. Dengan melakukan kegiatan peningkatan SDM. 3.. Universitas Diponegoro.99 pada tarap signifikansi 0. dan Kelompok MPA) yang dilakukan oleh Pemerintah yang dapat meningkatkan persepsi dan partisipasi masyarakat tentang arti pentingnya mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah secara bersama (Masyarakat dengan Pemerintah). Saran DAFTAR PUSTAKA Anggoro. Peran pemerintah dalam pengelolaan KKLD pada tiap-tiap kelurahan mempunyai tingkat peran “sedang” (66 % .J. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34 tahun 2002. R. Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan Berwawasan Lingkungan. S.75%) terhadap arti pentingnya pengelolaan Kawasan Konservasi Laut hal ini karena nelayan menyadari bahwa hasil tangkapan sangat tergantung kepada kondisi ekosistem yang baik 2. POKWASMAS. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir & Lautan secara Terpadu. S. dan M.ketiga wilayah tersebut dengan nilai R2 = 0.P. Penerbit LISPI.67 %) karena responden menilai peran pemerintah khususnya dalam penghijauan mangrove. partisipasi masyarakat dan peran pemerintah terhadap KKLD. hasil uji regresi peran pemerintah terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD juga terjadi hubungan yang sangat erat dengan nilai R2 = 0. sedangkan dalam pengawasan partisipasinya rendah hal ini dikarenakan anggapan masyarakat bahwa sudah ada petugas yang ditunjuk (POKMASWAS).99 pada tarap signifikansi 0. Seminar Nasional Fakultas Teknik dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro ke 43. Jakarta Dahuri. D.. 2000. R.

Laporan Penelitian IKIP. Sastropoetro. Salatiga.P.2007. 1990. Bagaimana dan Kemana Bisnis Perikanan. . Nikijuluw. Pengantar Sosiologi Nelayan. Jakarta. Kabupaten Cilacap. Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Alam. Sugiyono. Jakarta. Penerbit PT. Pustaka Cidesindo.1989. 1985. Satria. Kusnadi.2005. Bandung. Ekonomi dan Keanekaragaman Hayati.H. A. McNeely. UKSW. Jakarta. Konflik Sosial Nelayan. Robins. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Jakarta. PT. 1986. dan Effendi. 1989. 2000. Jakarta. Hardjasoemantri. 2007. Prenhalindi. A. B. Raja Grafindo Persada. Semarang Stanis.jpl. Perilaku Organisasi. 1992. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Dimpudus. Ekonomi Kelautan. 2002. 1990. S. Jakarta. Komunikasi. M. Penerbit PT. Tesis MSDP. Mas Agung. Yogyakarta. C. Hubungan Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan Mangrove di Desa Jetis Kecamatan Nusa Wungu.. B. Direktorat Konservasi dan Taman laut Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Jakarta. S. Metode Penelitian Kuantitatf. Alumni. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan (Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapangan). Yogyakarta. Penerbit LKIS. J. K. M. Yayasan Obor Indonesia. J. Sukmara. S. LP3ES. 2002. FERACO. Http://www2. Jakarta. Penerbit. 2005. Semarang. 2003. 2003. V. . 2006. Yogyakarta.V.nasa. Departemen Kelautan dan Perikanan. Terjemahan. Mulyadi. Mackinnon. 2004. Penerbit P3R dan PT Pustaka Cidesindo. Pedoman Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah. PT. 2003. J. Supriharyono. Universitas Diponegoro. Supriyanto.September 2002. Semarang Tjokroamindjoyo. Perencanaan Pembangunan. CV. T. Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. M. C. Strategi Hidup Masyarakat Nelayan. Yayasan Obor Indonesia. Mengembangkan dan Memanfaatkan Perangsang Ekonomi Untuk Melestarikan Sumberdaya Hayati. 1993. Tesis MSDP. .A. Persepsi Siswa SMA se-Kotamadya Semarang Mengenai Narkotika. 2006. . Penerbit LKIS. Gajah Mada University Press. Saptorini. Jakarta Mikkelsen. Jakarta Gultom. Penerbit PT. dan Mackinnon. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Melalui Pemberdayaan Kearifan Lokal di Kabupaten Lembata Prop. Yogyakarta:Gajahmada University Press. 2005. Partisipasi. Bandung. Politik Ekonomi Perikanan. Aspek Hukum Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Metode Penelitian Survei. Alfabeta. Gramedia Pustaka Utama. NTT. 1996.gov/srtm. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan. Rotinsulu. Yogyakarta. Kualitatif dan R & D. Jakarta. Singarimbun. Bayer. Pengelolaan Kawasan yang dilindungi di Daerah Tropika. S. Pustaka Pelajar. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis. Kasmidi. Tulungen. Jakarta.

Panduan penilaian kuesioner Lampiran 6. > 10 Tahun 6. tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau – Pulau Kecil. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007.71% Karas 4 2 8 21 84 7 28 20 80 8 32 4 16 12 48 Interval Karas 3 7 21 9 27 7 21 9 27 16 48 12 36 16 48 Maks = 868 Tinggi = > 651 2 13 26 1 2 8 16 1 2 3 6 9 18 3 6 Min = 217 Sedang = 434 . Departemen Kelautan dan Perikanan. 6-9 orang c. Skoring Persepsi Lokasi Score Tabel Pertanyaan Persepsi 1234567 Pulau Abang 4 11 44 79 316 35 140 62 248 23 92 14 56 34 136 Interval P. Lama Tinggal di Kampung : a. Jumlah Tanggungan keluarga a. Lampiran 1. < 6 orang b. Identitas Responden 1.651 199009911446600 Rendah . Panduan Pembentukan dan Pengelolaan Daerah Perlindungan laut Berbasis Masyarakat. Undang-Undang RI No.00% Galang Baru 4 4 16 82 328 16 64 61 244 13 52 9 36 36 144 Interval Galang Baru 3 8 24 14 42 26 78 32 96 62 186 23 69 62 186 Maks = 2800 Tinggi = >2100 2 41 82 3 6 28 56 4 8 9 18 48 96 2 4 Min = 700 Sedang = 1400 2100 1 47 47 1 1 30 30 3 3 16 16 20 20 0 0 Rendah = > 1400 100 169 377 228 351 272 221 334 1952 69. 5 Tahun 1990.Tangkilisan. Pekerjaan Utama : 5. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004. tentang Perikanan. Nama responden : 3. > 9 orang Lampiran 5. Nama kampung : 2. “Tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan Ekosistemnya”. 2002. 5-10 Tahun c. Abang 3 37 111 25 75 34 102 41 123 69 207 62 186 68 204 Maks = 3164 Tinggi = > 2373 2 50 100 5 10 21 42 6 12 11 22 32 64 11 22 Min = 791 Sedang = 1582 2373 1 15 15 4 4 23 23 4 4 10 10 5 5 0 0 Rendah = > 1582 113 270 405 307 387 331 311 362 2373 75. Jakarta. Umur : 4. N. <5 Tahun b.

994008 R Square 0.98 125 SUMMARY OUTPUT Lampiran 10 Hubungan antara peran pemerintah dengan persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.093858 0.53 2531.589221 Keterangan : Persepsi masyarakat sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.990422 Standard Error 89.073 X Variable 1 1.42904 2.997603 R Square 0.53 2531.959582 -2556.080092 0.7278 200.073 -2556.976105 Standard Error 140.069725 Residual 1 19789.69826 0.01% 4563 124 SUMMARY OUTPUT Lampiran 9 Hubungan antara persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.995211 Adjusted R Square 0.118772 9.47% 4954 122 1 4 4 2 2 4 4 0 0 7 7 10 10 9 9 Rendah = < 434 31 92 97 84 98 55 60 56 573 66.42904 2.6761 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1636579 1636579 82.0% Upper 95.= > 434 31 64 113 74 110 90 76 102 629 72.06421 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance .988052 Adjusted R Square 0.76 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.069725 -0.0% Intercept -12.589221 -0.76 19789.06357 0.2023 -0.

99 126 SUMMARY OUTPUT Lampiran 11 Hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.025634 0.044091 Residual 1 7932.868 -1609.F Regression 1 1648436 1648436 207.302 2273.490829 1.378 868.9971 126.090947 0.165299 0.86 1593.040513 24.82145 0.86 1593.0% Upper 95.15595 67.520362 0.378 868.6898 -846.0701 -0.996759 Standard Error 47.129368 2.0% Upper 95.0% Intercept 11.06343 0.129368 2.4156 0.999189 R Square 0. Dokumentasi Penelitian Dokumentasi Penelitian Mata Pencaharian Alternatif (MPA) Keramba Jaring Tancap Penanaman Mangrove oleh masyarakat di kelurahan Karas .99 127 Lampiran 12.052526 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.1045 0.6898 X Variable 1 1.67915 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1400591 1400591 616.005595 0.895711 -846.044091 0.520362 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.0% Intercept -7.99838 Adjusted R Square 0.433 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.025634 Residual 1 2273.959671 -1609.490829 1.075678 14.302 Total 2 1402865 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.868 X Variable 1 1.48967 0.433 7932.8097 0.052526 0.

3% of the total landmass in the world. coral reef. alpine. coastal forest.9. Environmental services are undervalued because it is difficult to quantify. grasslands. hal12 Figure 2. Yet. wetlands. as presentedin Box 2. while the plant species found in them can be seen in Table 3. Mangroves cover an area of about 2. during the early 1990s.6Mangroves have diverse functions andbenefits. Mangroves have high economic value for people and also as feeding and nursing ground for many species of fish and bird.5 million hectares in Indonesia. and small islands. regulation of local climate. this value is substantially high. Table 3. there are several unique but interrelated ecosystems. Mittermeier et al. For example. mangrove and marine and coastal ecosystems.2. montane to lowland rainforests. ============================================================= National Document hal 29 Indonesia is estimated to have 90 ecosystem types.5 presents the distribution of mangroves in Indonesia.sekarang bekerja pada Dinas Kelautan.129 Lampiran 13 WALIKOTA BATAM Riwayat Hidup Mardijono. The ecological value can be harnessed if biodiversity is considered as one entity. Bengen (2001) listed several marine and coastal ecosystems from the ecological perspective. from snow peaks at Jayawijaya. the diverse ecosystems provide a placefor the food chain to function and a space for species to survive and breed. which are also dynamic and very productive. Mangroves Mangrove is the collective term for tree vegetation that grow in muddy coasts in tidal areas. where the components are inter-dependent. coral reef or islands. as outlined below (Dephut1994. the ecological perspective is most often used to study coastal and marine areas. sea grass. 1997): Ecological value Biodiversity provides ecological or environmental services for humans. In marine. mangrove. forests maintain the hydrological balance thus preventing floods and droughts. 30 September 1969. coastal and small island areas. savannah. kelahiran Madiun. 2001). coastal and small island zones. among others. with 89 plant species (Nontji in Dahuri et al. 2000). these services are. including sea grass and coral reefs to deep sea ecosystems. Mangrove forests occur only in coastal areas where the waves are broken by barriers such as sand. The litter and other parts of mangroves which are carried by water provides . from the highest water level to the lowest tidal level. Although it covers only 1. rocky and sandy beaches. Forests also maintain soil fertility by supplying nutrients through the leaf litter. A well functioning ecosystem can supply and produce environmental services beneficial for the species living in it. river estuary/lagoon and island types (MacKinnon et al. Indonesia harbors a very high fauna species diversity. Given the limited availability of knowledge. There are many studies from the geological and geomorphologic perspective but their results have not contributed significantly to the knowledge(hal 24) of ecosystem classification in marine. estuaries. For instance. They can be classified into three main types: coastal/ delta. prevent erosion and regulate the micro climate. Perikanan dan Pertanian Kota Batam. consisting of estuaries. protection of water and soil quality. sub-alpine.

chemicals for tanning and dyes. 1999). A list of benefits provided by mangroves is given in Table 3.000 485. green manure. small-clawed otter (Aonyx cinerea).000 6.577 25. social and environmental benefits. Mangroves also produce timber. Mangrove vegetation is relatively well researched in Indonesia (Kartawinata 1990). python (Pythonreticulatus) and estuarine crocodile (Crocodylus porosus) are found in some mangrove areas.600 1. mammals: javan lutung (Semnopithecus auratus). without always being connected directly with the mangrove area and its productivity. and other microorganisms. Other mangrove products include fuelwood.500 78. proboscis monkey (Nasalis larvatus).450. shrimps and other organisms such as crabs.092.600 2.500 4. mangrove blue flycatcher (Cyornis rufigastra). Among others.833 2. rare lesser adjutants (Leptoptilos javanicus). Island rotected area Mangroves Current area Original area Sumatra Java & Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua 857. amphibians: mangrove frog (Rana cancrivora). common cat snake (Boiga dendrophila). are used for medicine. fungi. and nypah (Nypa fruticans).300 680. Plants in mangrove forests. In addition.important nutrition for coastal ecosystem and other ecosystem in the surrounding estuaries. of which Rhizophora is most preferred for building materials and rayon production. reptiles: monitor lizard (Varanus salvator).300 353. oils. 2000) Figure 3.025 19.129. long-tailed macaque (Macaca fascicularis).5. This ecosystem serves as habitat of various animals. common skink (Mabuya multifasciata). mangrove whistler (Pachycephala cinerea). timber for other uses. coastal and marine ecosystems also provide economic. .000 171. fishing cat (Felis viverrinus). Mangroves also serve as nursery grounds for young fishes. for example. and now not many places are left where Rhizophora timber can be harvested sustainably.450 84. But such timber has not been harvested in a sustainable manner. milky stork (Mycteria cinerea). mangrove timber is a source of material for charcoal and chipwood industry. clams and snails. with potentials to produce alcohol (Mercer and Hamilton 1984 in Whitten et al. 1999).8. Thus it is clear that mangroves have an important function in supporting coastal fishery. Mangroves also yield microorganisms that have various uses such as bacteria. In addition.900 Benefits and value of marine and coastal ecosystem Like forests.500 38. insects (Anopheles sundaicus and Aedes mosquitoes) (Whitten et al. Payne et al. protozoa.8. food. Table 3. Mangrove distribution in Indonesia (hectares). (Doc.900 2. mangroves also protect certain coastal areas from abrasion.000 272.185 61. building and industrial materials.

id/sastra/mudjahirin/2010/07/30/masyarakat-pesisir/ SOSIOLOGI PEDESAAN MASYARAKAT JAWA PESISIRAN Oleh Mudjahirin Thohir =================================================================== http://agupenajateng. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial. yang berulang-ulang terhadap objek sosial. simpati.========================================================= ======================== Dari : http://staff. Aspek Afekit berwujud proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti ketakutan. pada seminar PBF dalam rangka HUT PGRI Kota Solok-Sumb Friday.undip. Dalam hal ini Thomas menyatakan bahwa sikap seseorang selalu diarahkan terhadap sesuatu hal atau suatu objek tertentu. Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Fitrah *) (Penulis Buku Pembelajaran Berbasis Fitrah.ac. misalnya kecenderungan memberi pertolongan.Pd. antipati. Karakter satu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dasar bangsa tersebut =============================================================== Oleh karena itu ahli psikologi W. pengalaman. dan keyakinan serta harapan-harapan individu tentang objek atau kelompok objek tertentu. dan sebagainya yang ditujukan kepada objekojek tertentu. Balai Pustaka – 2008 dan Guru Mekatronika. kedengkian. ikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam kegiatankegiatan sosial. 3. sifat-sifat kejiwaan. menjauhkan diri dan sebagainya . Tidak ada satu sikap pun yang tanpa objek. Tiap-tiap sikap mempunyai 3 aspek 1.J. akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. watak. 13 February 2009 (23:35) Unduh 28 Feb 2011 karakter ialah tabiat. Aspek Kognitif yaitu yang berhubungan dengan gejala mengenal pikiran.net/2009/02/13/pembentukan-karakter-peserta-didik-melaluipendekatan-pembelajara Oleh : Achjar Chalil. Hal ini terjadi bukan saja pada orang-orang lain dalam satu masyarakat. SMKN 56 Jakarta) *) Makalah disampaikan pada tanggal 14 Desember 2008. Maka sikap sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata. S. 2. Aspek Konatif: berwujud proses tendensi/kecenderungan untuk berbuatu sesuatu objek. Ini berarti berwujud pengolahan.

Sikap itu dipelajari (learnablity) Sikap merupakan hasil belajar ini perlu dibedakan dari motif.D. Barangkali yang terjadi adalah mempelajari sikap dengan sengaja bila individu mengerti bahwa hal itu akan membawa lebih baik (untuk dirinya sendiri). dan stabil. dan perilaku. tetap. Beberapa sikap dipelajari tidak sengaja dan tanpa kesadaran kepada sebagian individu. perasaan. Sedangkan fungsi dari sikap (tugas) sikap dapat dibagi menjadi empat golongan. 2. 4. Cth: sikap dalam kehidupan sehari-hari pada iklan  parpol . yaitu: 1) Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikandiri. membantu tujuan kelompok.org/wiki/Sikap Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek.wikipedia. Jika seseorang merasa bahwa orang lain menyenangkan. terbuka serta hangat. Ciri-Ciri Dan Fungsi Sikap Sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan. melalui pengalaman. ia merasa bebas. 2) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku 3) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman 4) Sikap berfungsi sebagai pernyataan kepribadian ==\============================================================= Dari : http://id. Personal (societal significance) Sikap melibatkan hubungan antara seseorang dan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi. tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap. orang atau peristiwa[1]. 3. misalnya: objek itu dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan. Dapatlah dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal. atau memperoleh sesuatu nilai yang sifatnya perseorangan. Memihki kestabilan (Stability) Sikap bermula dan dipelajari.[ Sri Utami Rahayuningsih – 2008 Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) ================================================================= Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) Sikap/ Attitude Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude Secara sederhana sikap didefinisikan : Unduh 28 Feb 2011 Ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa hal. dan favorable.motif psikologi lainnya. kemudian menjadi lebih kuat. maka ini akan sangat berarti bagi dirinya. Adapun ciriciri sikap adalah sebagai berikut: 1. orang-orang atau kejadian-kejadian. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu[1] Sikap mempunyai tiga komponen utama: kesadaran. Berisi cognisi dan affeksi Komponen cognisi daripada sikap adalah berisi informasi yang faktual.

sikap adalah penilaian positif atau negatif terhadap isu. orang. 1993) “…. keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu .com/2010/05/sikap-attitude. 1996 Komponen sikap: • • • kognitif afektif konatif =============================================================== Dari : http://nadhirin. Skala Sikap o Yaitu: kumpulan pertanyaan mengenai objek sikap o Mencoba memperoleh pengukuran yang tepat tentang sikap seseorang o Akurasi pengukuran dilakukan dengan penggunaan beberapa item yang berkaitan dengan isyu yang sama o Skala sikap melibatkan: belief dan opini terhadap suatu objek o Pertanyaan-pertanyaan atau item yang membentuk skala sikap dikenal dengan statement (pernyataan yang menyangkut objek psikologis).html Unduh 28 Feb 2011 Sikap ( Attitude ) Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai “organisasi pendapat. feelings or intended behavior” (Myers. =============================================================== Jadi.a favorable or unfavorable evaluative reaction toward something or someone.opini b.blogspot. ide. people or issues about which an individual has some knowledge” (Wrightsman. exhibited in one’s belief. kelompok sosial. An evaluation of objects. benda dsbnya Bagaimana kita mengukur sikap? Melalui observasi & wawancara Dengan menggunakan skala misalnya: • Summated Ratings • Equal Appearing Interval • Cummulative Scale • Semantic Differential Sikap adalah: “ ….

Skala sikap bertujuan untuk menentukan kepercayaan. sedangkan rasa tidak senang adalah hal negatif. yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak atau berperilaku terhadap obyek sikap.58 Sedangkan Azwar berpendapat bahwa: Metode pengukuran sikap yang diangggap dapat diandalkan dan dapat memberikan penafsiran terhadap sikap manusia adalah pengukuran melalui skala sikap (attitude scale). biasanya disampaikan secara lisan pada waktu wawancara. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah kesediaan beraksi terhadap suatu hal. persepsi. Rasa senang merupakan hal yang positif. yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap obyek sikap. Lima alternatifjawaban yang dike mukakan oleh Likert adalah sangat setuju. 4) Metode tes tak tersusun. seperti metode Likert. atau action component). yaitu dengan wawancara. tidak mempunyai pendapat. afektif dan konatif dengan uraian sebagai berikut: 1) komponen kognitif (komponen perseptual). Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai objek sikap yang diukur. =================================================================== Dari BAB II DESKRIPSI TEORI. yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap obyek sikap. Walgito mengemukakan bahwa: Sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap. yaitu metode pengukuran yang menggunakan skala sikap yang dikonstruksikan terlebih dahulu menurut prinsip-prinsip tertentu. Suatu skala sikap merupakan kumpulan pernyataan sikap yang berkenaan dengan obyek sikap. KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN Berkaitan dengan komponen sikap. keyakinan. dan sangat tidak setuju. Ketiga komponen itu adalah komponen kognitif. terhadap suatu obyek. Thurstone atau Guttman.54 Pengukuran Sikap Gerungan menyatakan bahwa: Cara-cara yang dapat dipakai untuk mengukur sikap antara lain: 1) Metode langsung ialah metode dimana orang secara langsung diminta pendapat atau tanggapannya mengenai obyek tertentu. 2) komponen afektif (komponen emosional). Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan. misalnya menggunakan tes psikologi. tidak setuju. pandangan. baik yang bersifat fa vorable atau positif maupun unfavorable atau negatif.59 Dari hasil uji coba dipilih pernyataan-pernyataan yang cukup baik. Corak khas dari skala Likert ialah bahwa makin tinggi . yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan.dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya”. daftar pertanyaan biasanya untuk penelitian bibliografi atau karangan. 2) Metode tak langsung. orang dimintai supaya menyatakan dirinya mengenai obyek sikap yang diselidiki. 3) komponen konatif (komponen perilaku. atau perasaan seseorang. setuju. 3) Metode tes tersususn. tetapi secara tidak langsung.

skor yang diperoleh seseorang. dan majalah. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. teks. demikian pula sebaliknya. demikian pula sebaliknya. databases . mengumumkan. menyiapkan. Media : Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas.org/wiki/Pengetahuan Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor. sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible). suara. diantaranya: • Pendidikan : Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. news”. merupakan indikasi bahwaorang tersebut sikapnya makin negatif terhadap objek sikap Pengukuran sikap guru terhadap pekerjaan dapat dilakukan dengan pengukuran sikap model Likert. menganalisa. image. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan. kode. yang diperoleh dari data dan pengamatan terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi • • ---------------------------------------------------------------------------------------------------------- . dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. program komputer. Makin tinggi skor yang diperoleh seorang guru mengindikasikan guru memiliki sikap yang makin positif terhadap pekerjaan. memanipulasi. menyimpan. Alat ukur dalam skala Likert menggunakan pernyataan-pernyataan dengan menggunakan lima alternatif jawaban. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan.wikipedia. maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia. merupakan indikasi bahwa orang tersebut sikapnya makin positif terhadap objek sikap. ========================================== ===================== Dari : http://id. Pengukuran sikap model Likert (Skala Likert) merupakan salah satu cara pengukuran sikap secara langsung. Sedangkan informasi sendiri mencakup data. koran. makin rendah skor yang diperoleh seseorang. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi. adalah “that of which one is apprised or told: intelligence. radio. Keterpaparan informsi : pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary.

Pendidikan Tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi baru (SDKI. makin tinggi pula tingkat kepuasan yang diperoleh (Hurlock. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. Umur Menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan. Masa menopause merupakan masa peralihan dari masa haid sampai masa berhentinya haid.co. Pekerjaan Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari artinya makin cocok jenis pekerjaan yang diemban.cc/2010/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi. 1998). 2. =============================================================== Dari : Pengetahuan atau kognitif merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. penciuman. 2003). Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. 2007). berlangsung antara usia 30-46 tahun (Depkes.html Unduh 28 Feb 2011 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan 1. pendengaran.canboyz. . Karena dapat membuat seseorang untuk lebih mudah mengambil keputusan dan bertindak. yaitu indera penglihatan. 1997). 3. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia. Umur adalah lamanya waktu hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai berulang tahun yang terakhir.Dari : Asrofudin http://www. rasa dan raba.

Sistem yang menjurus pada bentuk pengkavlingan laut ini menempatkan perlindungan kepentingan nelayan kecil yang beroperasi di wilayah pantai-pesisir serta kepentingan kelestarian fungsi sumber daya sebagai fokus perhatian. Wetlands Internasional. antara lain apa yang dikenal dengan tragedy of common baik berupa kerusakan sumber daya kelautan dan perikanan maupun konflik antar nelayan. Program yang merupakan kerja sama WWF. dimana saja. contolled access regulation adalah regulasi terkontrol yang dapat berupa (1) pembatasan input (input restriction). Desember 2007 Tim Penyusun Salah satu program yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi kelautan dan perikanan adalah program Green Coast. Green Coast for nature and people after the tsunami Secara teoritis. sementara yang tidak memiliki fishing right tidak diizinkan beroperasi di wilayah itu. berapapun jumlahnya. yakni open access dan controlled access regulation. Secara empiris. juga diatur kapan dan dengan alat apa kegiatan perikanan dilakukan. Both ENDs dan IUCN dengan dukungan dana dari OXFAM Belanda bertujuan melindungi keunikan ekosistem pesisir dan memperbaiki mata pencaharian penduduk pesisir. Open access adalah regulasi yang membiarkan nelayan menangkap ikan dan mengeksploitasi sumber daya hayati lainnya kapan saja.Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indra yang dilakukan untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat. (2) pembatasan output (output restriction). yakni membatasi jumlah pelaku. dan jenis alat tangkap. ================================================================== DOKUMEN ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Banda Aceh. 2005). regulasi ini menimbulkan dampak negatif. jumlah jenis kapal. dan dengan alat apa saja. UU No. Salah satu formulasi dari pembatas input itu adalah territorial use right yang menekankan penggunaan fishing right (hak memanfaatkan sumberdaya perikanan) dalam suatu wilayah tertentu dalam yurisdiksi yang jelas. Regulasi ini mirip ”hukum rimba” dan ”pasar bebas”. yakni membatasi berupa jumlah tangkapan bagi setiap pelaku berdasarkan kuota. ada dua bentuk regulasi dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. 32 Tahun 2004 yang membuat pengaturan tentang yurisdiksi laut provinsi (12 mil) . Selain diatur siapa yang berhak melakukan kegiatan perikanan. Sebaliknya. Pola fishing right system ini menempatkan pemegang fishing right yang berhak melakukan kegiatan perikanan di suatu wilayah.

mempertahankan luas dan fungsi. mencegah intrusi air laut. pemanfaatan jasa lingkungan. yaitu sejak perkecambahan sampai tinggi 1. UU No. dan memelihara kesuburan tanah. Selanjutnya dikatakan bahwa pengelolaan hutan lindung adalah bagian integral dari pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara keseluruhan. pemeliharaan batas.dan kabupaten/kota (4 mil) mengindikasikan bahwa produk hukum itu menganut konsep pengkavlingan laut. mencegah banjir. =================================================== ===================== Undang-Undang No 41 tahun 1999 Pasal 1 ayat 8 mendefinisikan Hutan lindung sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. dimana hutan lindung memegang peranan yang amat penting dari segi hidroorologi Daerah Aliran Sungai. pengendalian kebakaran. Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan. Melakukan penatabatasan dan pengukuhan kawasan hutan lindung 3. reboisasi dalam rangka rehabilitasi lahan kritis pada kawasan hutan lindung. mengendalikan erosi. Merehabilitasi hutan lindung yang mengalami degradasi dan deforestasi 4. dan pemanfaatan jasa lingkungan.5 meter dengan diameter batang kurang dari . Menentukan letak dan luas hutan lindung 2. Hutan lindung dapat dimanfaatkan berupa pemanfaatan kawasan. Usaha pemanfaatan dan pemungutan di hutan lindung dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan fungsi lindung. Melakukan perlindungan atas kawasan hutan lindung. 32 Tahun 2004 sebenarnya entry point penerapan territorial use right. Konsep pengkavlingan laut merupakan instrumen dari konsep regulasi akses terkontrol (contolled access regulation) dalam pola pembatasan input (territorial use right). Pengamatan dilakukan pada setiap tingkat pertumbuhan suatu vegetasi yang dikelompokkan ke dalam : 1) Tingkat semai (seedling).5 meter. Pengelolaan hutan lindung diserahkan kepada Kepala Daerah Tingkat II yang mencakup kegiatan pemancangan batas. 2) Tingkat sapihan (sapling) yaitu tingkat pertumbuhan permudaan yang mencapai tinggi antara 1. dan pemungutan hasil hutan bukan kayu. sebagai amanah untuk mewujudkan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Soerianegara (1996) menyebutkan ruang lingkup pengelolaan hutan lindung adalah: 1.

Sampel tanah diambil rata dari permukaan atas sampai kedalaman 30 cm. Selain itu juga dilakukan pendataan terhadap herba sebagai tumbuhan bawah. Untuk jenis jenis vegetasi yang belum dapat dikenali. dicampur dengan sampel dari jalur lain.Pohon (trees) dengan ukuran petak 20 x 20 m Dalam setiap petak ukur dilakukan pengamatan terhadap tingkat pohon. Parameter yang diamati meliputi jenis. dari hasil pencampuran tersebut diambil 1 kg untuk dianalisis.10 cm. pH tanah dan kandungan unsur hara tanah yang meliputi N total. jumlah individu yang ada dan diameter untuk tingkat tiang dan pohon. Untuk pengambilan data wawancara dilakukan dengan instansi terkait yang bertanggungjawab dalam pengelolaan kawasan hutan lindung. tiang (pohon kecil). Kawasan Hutan Lindung Pulau Marsegu dibagi dalam 14 Blok penelitian Semai (seedlings) dengan ukuran petak 2 x 2 m . 4) Pohon yaitu tingkat pohon-pohon yang berdiameter batang diatas 20 cm dbh. Data primer yang diambil berupa keberhasilan penanaman bibit GN-RHL di lapangan setelah waktu 3 bulan. C dan BO.Tiang (poles) atau pohon kecil dengan ukuran petak 10 x 10 m . Sampel tanah yang dianalisis adalah 1 (satu) sampel komposit untuk masing-masing releve. sapihan dan semai. P tersedia. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. juga pencatatan data-data primer dan sekunder mengenai program dan realisasinya. Pengukuran data faktor lingkungan pada setiap releve pada blok pengamatan meliputi DHL (Daya Hantar Listrik).Sapihan (saplings) dengan ukuran petak 5 x 5 m .19 cm (dbh). 3) Tingkat tiang (poles) atau pohon kecil yaitu tingkat pertumbuhan pohon muda yang berukuran dengan diameter batang antara 10 . bagian tumbuhan diambil untuk diidentifikasi lebih lanjut. K tersedia. ============================================ ====================== Dari delapan variabel yang rencananya dianalisis hanya enam yang dapat dianalisis secara statistik (status .

pengalaman kerja. .05).05). yaitu variabel status.01/0. tetapi proses ini masih bersifat terselubung. Persepsi merupakan dimensi kognitif dari sikap dan memegang peranan penting dalam menentukan totalitas pembentukan sikap. kemampuan membaca huruf Bali. Oleh karena itu perlu diupayakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor determinan terhadap pengetahuan dan persepsi ini dengan mencoba mengeksplorasi variabel lainnya dan menguji instrumennya terlebih dahulu.1%. sedangkan dua yang lainnya (umur dan pekerjaan) tidak dapat dianalisis karena distribusinya tidak memenuhi syarat untuk dianalisis (banyak sel yang kosong). Yang menjadi tujuan pembentukan sikap adalah tercapainya konsistensi antara persepsi. pengalaman kerja di bidang bangunan. jenis kelamin. kemudian berturut-turut adalah kemampuan membaca huruf Bali. pekerjaan. Kontribusi keempat variabel tersebut terhadap pengetahuan adalah 34. kemampuan membaca huruf Bali. dan intensitas membaca lontar). Dalam hal ini persepsi dan pengetahuan sebagai variabel terikat (dependent variable). 4. Ini mungkin menunjukkan bahwa persepsi virual telah menjadi bagian hidup masyarakat sehingga pendidikan formal. Dua variabel lainnya tidak berhubungan secara bermakna (P>0. dan intensitas membaca lontar. dan variabel bebasnya adalah status responden. dan kemampuan membaca huruf Bali. Hal ini desebabkan karena aspek kognitif ini merupakan sumber informasi utama yang dievaluasi secara positif dan negatif oleh komponen efektif. jenis kelamin. Kata kunci: Persepsi masyarakat. umur. umur. pengalaman kerja di bidang bangunan. Bangunan berlanggam Bali. jenis kelamin. Sedangkan analisis statistik terhadap persepsi menunjukkan bahwa tidak satu pun variabel menunjukkan hubungan yang bermakna (P>0. sikap. dan status responden. Kemungkinan lain bahwa instrumen yang dipakai. pendidikan. Dari keempat variabel tersebut ternyata pengalaman kerja di bidang bangunan mempunyai kontribusi paling besar. kemampuan membaca hurup Bali. Dari enam variabel tersebut hanya 4 yang berkaitan secara bermakna dengan tingkat pengetahuan (P<0.1% tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh keempat variabel tersebut.responden. dan kemampuan membaca lontar tidak berpengaruh terhadapnya. pendidikan. status. Sedangkan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan teknik analisis multi varian (ANOVA). artinya bahwa 34. jenis kelamin. serta kemampuan interpretasi pencacah belum teruji validitas dan reliabilitasnya. jenis kelamin.05). Analisis Data Untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan pendekatan kualitatif (dianalisis secara deskriptif) menggunakan tabeltabel distribusi frekwensi dan grafik sesuai dengan kebutuhan. pengalaman kerja dibidang bangunan.

Seperti telah diungkapkan di depan bahwa persepsi yang positif akan cenderung membentuk sikap yang positif dan demikian pula terhadap kecenderungan perilaku. keyakinan dan emosi memegang peranan penting dalam pembentukan sikap. pikiran.dan perilaku. membahasnya dengan orang lain dan bahkan Universitas Sumatera Utara . Menanggapi (responding) Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. dalam arti. 2. sebagai berikut :8 1. 3. Menghargai (valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai positif terhadap objek atau stimulus. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek). Pengetahuan. sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya.

pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. Sebaliknya. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. Tahu (know) 2. Rhizopora mucronata dan R. 4. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Chapman. Dalam kata lain. marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. A. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi. Pada salinitas ekstrim.1968). Evaluasi (evaluation) Newcomb. Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.8 =============================================================================================== DARI : PANDUAN PENGENALAN MANGROVE DI INDONESIA YUS RUSILA NOOR. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung 6 tingkat pengetahuan 1. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. M KHAZALI. 1994). Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. .INN SURYADIPUTRA. Aplikasi (application) 4. dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain. 1976a). Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya. 1984). sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge. Memahami (comprehension) 3.mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon. Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. 1984). GREEN COAST FOR NATURE AND PEO[PLE AFTER THE TSUNAMI Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Analisis (analysis) 5. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera. 1993 dan Othman. Bertanggung jawab (responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. 1966. fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas. Sintesis (synthesis) 6. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry. BOGOR 2006. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. pantai selatan dan timur Kalimantan. akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau tindakan (reaksi tertutup). Stylosa pada salinitas 55 o/oo(.

Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. Jawa. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. kemudian berkembang ke Aceh. kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Di Indonesia. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. Kalimantan dan Sulawesi. dkk. konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. pada pulau yang hilang mangrovenya. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers. terutama dari ombak dan arus laut. 1988). Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahanmangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. 1985). Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun . Ironisnya. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Akan tetapi. 1991 a. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun.b. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul).700 hektar (Bailey. Misalnya. pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif. 2005). Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan.c). Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. dkk. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. terutama di Sumatera. akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak. tidak bercampurnya tanah (Giesen. 390. 1987). 1997) dan menjadi 750. kemudian bertambah menjadi 269.Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. misalnya untuk jalur hijau. 1980). tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. 1986). 1991). baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Akibat perubahan ini. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. Sebaliknya. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk. seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. 1974).000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. Memasuki abad ke-20. Pada tahun 1982.

boak. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. serta di sepanjang garis pantai. Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. Daun Mahkota: 4. bagian atas hijau mengkilat. 3-4 mm. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. Akar nafas biasanya tipis. kuning cerah. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Benang sari: 4. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). Bunga : Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. Ukuran: 4 x 2 cm. Hijau muda kekuningan. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. . Pada bagian batang yang tua. Dari India sampai Indo Cina. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. Buah dapat dimakan. Daun : Permukaan halus. koak. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. Kelimpahan : Melimpah. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Kelopak Bunga: 5. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. PNG dan Australia tropis. Ujung: meruncing. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. mangi-mangi putih. bawahnya pucat. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon.Avicennia alba Bl. Ukuran: 16 x 5 cm. Buah : Seperti kerucut/cabe/mente. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. Ekologi : Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung.

Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. panjangnya 9-11 mm. tak bertangkai. bangka minyak. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. akik. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. parai. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Letak: Di ketiak daun. berwarna hijau jingga. bakau kacang. berbintil. bakau leutik. panjang 2-3. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Bentuk: elips menyempit. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. donggo akit. melengkung. kuning kecoklatan. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah.5 cm. kuning-putih. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Ukuran: 7-19 x 3. bakau puteh.5-8 cm. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Daun : Berkulit. abat. wako.Rhizophora apiculata Bl. Hipokotil silindris. Ukuran: . slengkreng. Daun mahkota: 4. berisi satu biji fertil. Kelopak bunga: 4. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. tinjang. mangi-mangi. bakau tandok. tidak ada rambut. Ujung: meruncing. warna coklat. jankar. Bunga : Biseksual. Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. bakau akik. Benang sari: 11-12.

Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). Tumbuh lambat. . Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Penyebaran : Sri Lanka.Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. tersebar jarang di Australia. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. halus. Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur. kayu bakar dan arang. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia.

.. persentuhan....... Ekosistem hutan bakau bersifat khas...... serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut. tradisi........ yaitu: indra penglihatan. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari. 2003)........................pdf Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu... pendengaran. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia.. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak... pengalaman orang lain................Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi....... maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu. . keterampilan.... rasa dan raba....... dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya................... terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika...... informasi. sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo. http://repository.... dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi..................... Dari Anonymous.. penciuman...... Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku ........................ dan pikiran-pikiran........ Unduh 28 Feb 2011... Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan...................... Pengetahuan ini meliputi emosi. 2003)..... USU.......................... ........... ............ Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini........ media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo......ac. akidah..... baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah.............id/bitstream/123456789/19202/4/Chapter%20II.. ...............usu.. Luas dan Penyebaran Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia........ salinitas tanahnya yang tinggi............... Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Dari Wikipedia Unduh 28 Feb 2011 Hutan bakau Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.........

Melebihi Brazil (1. Di bagian timur Indonesia. di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang. Akan tetapi di beberapa tempat.5 juta hektar. bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. 1999). Penggenangan oleh air pasang Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya. atau bahkan dominan pecahan karang. Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi. Pada pihak lain. substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Nigeria (1. bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya. yakni yang terletak di tepi sungai. Terpaan ombak Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. . hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua. sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar. Lingkungan fisik dan zonasi enis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas. Di Indonesia.3 juta ha. terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara.3 juta ha). Mangrove di Papua mencapai luas 1. 1997 dalam Noor dkk. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang. terutama di sekitar Teluk Bintuni. dan pantai barat serta selatan Kalimantan. hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. di tepi Dangkalan Sahul. bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah: Jenis tanah Sebagai wilayah pengendapan. hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar.5 hingga 4. Perbedaannya.Luas hutan bakau Indonesia antara 2.1 juta ha) dan Australia (0. sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. bagianbagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan. salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi. merupakan mangrove yang terluas di dunia. Di pantai utara Jawa. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik.97 ha) (Spalding dkk. Yakni di pantai timur Sumatra. Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai.

Tegakan api-api Avicennia di tepi laut. secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove. Sedangkan di dekat tepi sungai. mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut. Perhatikan akar napas yang muncul ke atas lumpur pantai.). Secara fisik. kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha). teruntum (Lumnitzera racemosa). hingga ke pedalaman yang relatif kering. Bakau Rhizophora apiculata dan R. Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp. [sunting] Bentuk-bentuk adaptasi Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp. Jenisjenis api-api (Avicennia spp. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis. Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp. yang lebih tawar airnya. tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. yang biasanya tumbuh di zona terluar. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Sedangkan bakau R.).). mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini. yang masih tergenang pasang tinggi. kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. biasa ditemui nipah (Nypa fruticans).) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari . Di bagian lebih ke dalam.) dan pidada (Sonneratia spp. Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp. biasa ditemui campuran bakau R.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak.).

terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. atau terbawa air pasang. Pohon kendeka (Bruguiera spp. Pada pihak yang lain. diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul. Perkembangbiakan Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar.) mempunyai akar lutut (knee root). mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Ketika rontok dan jatuh. Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan. Sementara jenis yang lain.udara. Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. meski tak nampak dari sebelah luarnya. sehingga mengurangi evaporasi dari daun.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok. . seperti Rhizophora mangle. kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel. Kemungkinan lain. mengingat sukarnya memperoleh air tawar. keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur. jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon. sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp. Untuk mengatasi salinitas yang tinggi. Selain itu. sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora). banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon. tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. kaboa (Aegiceras). buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem. tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. lubang pori pada pepagan untuk bernapas. Sementara buah api-api.

Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove. yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering. selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Uraian di atas adalah penyederhanaan. pasir yang terbawa arus laut. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan. beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya. Jika akan tumbuh menetap. Dengan adanya proses suksesi ini. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur. Hutan bakau pun semakin meluas. Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan. akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal. Suksesi hutan bakau Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Demikian perubahan terus terjadi.Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya. meskipun pada umumnya kurang dari itu. segala macam sampah dan hancuran vegetasi. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. . Di wilayah-wilayah yang sesuai. dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau. melainkan secara perlahan-lahan bergeser. hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih. bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang.

sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia... Data yang diambil meliputi jumlah vegetasi den 5 an menggunakan transek kuadrat ukuran 10 x 10 m2 (pohon). Kabupaten Lampung Timur..... Pengambilan data primer dilaksanakan pada bulan September dan November 2003 di Wilayah Konservasi Way Penet.. Dari : http://repository... yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati.. anggota dari sekitar 16 suku. Selain itu ekosistem mailgrove juga berperan sebagai penyangga pantai dari abrasi dan perangkap sedimen... Karena abrasi dan sedimentasi merupakan salah satu masalah dala~n pengembangan dan peinanfaatan wilayah pesisir bagi perikanan dan kelautan. Lampung...... Total jenis keseluruhan yang telah diketahui..... salinitas dan pH.. Kabupaten Lampung Timur....... Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera.... Propinsi Lampung berdasarkan indikator kualitas lingkungan mangrove dan menentukan kondisi kesehatan mangrove berdasarkan sebaran ~norfometrikd aun pada tingkat vegetasi pohon dan belta......... Lampung Timur... tipe substrat.... adalah 202 spesies (Noor dkk. Dari jenis-jenis itu........ 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m2 (semai)............ipb... Berikut ini adalah daftar suku dan genus mangrove sejati.. 18 dan 12 (Canter dan Hill.... serta analisis . Analisis data meliputi: analisis kualitas lingkungan mangrove (Qe) yang diperoleh dari indikator kualitas lingkungan (Qi) yang terdiri dari: asosiasi spesies.... Pengambilan data panjang dan lebar daun dilakukan sebanyak dua kali dengan waktu yang berbeda pada daun setiap tingkat vegetasi (pohon dan belta) yang dijumpai pada tiap plot pengamatadtransek kuadrat.......id/handle/123456789/15464 2004 Kondisi Ekosistem Mangrove Berdasarkan Indiltator Kualitas Lingkungan dan Pengukuran Morfometrik Daun di Way Penet....... Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya.............. Propinsi Lampung Author: Sadat...........Kekayaan flora Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau....... setiap stasiun dibagi menjadi 3 sub stasiun dan setiap sub stasiun terdiri dari 3 plot pengamatan yang berukuran 10 x 10 m2 (pohon)......... Lokasi penelitian terdiri dari 3 stasiun pengainatan.. 1999). 17.. persentase penutupan pohon..... menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik..ac. Jumlah pengukuran untuk setiap tingkat vegetasi yang ditemukan adalah sebanyak 37 helai daun. 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m (semai)....... persentase pasang tiap tahun dan jumlah jenis semak dengan masing-masing faktor pembobotnya secara berturut-turut sebesar 22.. 1981). Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kualitas lingkungan mangrove di Way Penet.... Data parameter fisika-kimia perairan yang diukur meliputi: suhu... beserta jumlah jenisnya (dimodifikasi dari Tom . termasuk jenis-jenis mangrove ikutan... Anwar Abstract: Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang unik dail produktif..

.. kecuali tanah-tanah mangrove di pulau-pulau karang yang banyak mengandung pasir atau pecahan batu karang......... sedangkan kondisi kesehatan mangrove di Way Penet berdasarka~l pengukuran morfometrik daun untuk tingkat vegetasi pohon dan belta....... suhu yang terukur pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 28-3 1 "C... mangrove berperan penting dalamsiklus h idup berbagai jenis ikan... Posted December 8th. mempunyai tingkat kematangan yang rendah...... Produksiserasah mangrove berperan penting dalamkesuburan perairan pesisir danhutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. dan kondisi kesehatan mangrove untuk tingkat vegetasi belta pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua..... Dirnana kondisi kesehatan mangrove untuk tingltat vegetasi pohon pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua. s edangkan daerah-daerah yang berlumpur dangkal didominasi oleh .. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesetabilan Ekosistem Mangrove adalah a... 1 993 dalam Noor et...Secara umumtanah h utan mangrove merupakantanah aluvial h idromorf...... Teksturtanah juga dapat didefinisikansebagaisusunan relatif dari tiga kelasukuran partikela norg anik tanah. yang disebut jugatanah l iat l aut (Sukardjo1984)..O.ac... sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 26-28 "C..O....... 2009 by ogoy Unduh 28 feb 2011 jam 13... Teksturtanah akan mempengaruhikemampuan menyimpan dan menghantarkan air.... Jenis vegetasi yang ditemukan di lokasi penelitian lebih didominasi oleh mangrove jenis Avicennia nzarina.m em iliki kadar garam dan alkalinitas tinggi dan sering mengandung lapisan sulfatmasam atau bahan sulfidik(cat clay).... al. baik pada pengalnatan pertama maupun kedua adalah rendah..... Nilai kualitas lingkungan mangrove (Qe) di Way Penet memiliki kisaran kualitas lingkungan yang sedang.. Kerapatan semai di lokasi penelitian lebih tinggi dibandingkan kerapatan pohon dan belta. sedangkan pada pengamatan kedua derajat keasaman (pH) masih tetap 8. Jenis substrat yang ditemukan pada komunitas mangrove Way Penet berupa liat dan liat berdebu..ya itu pasir (berukuran 2 mm²50?m). Teksturtanah h utan mangrove umumnyaliat.. Rhizophora mucronata merupakan vegetasi yang dominan.. 1 974 dalam Noor et. Parameter fisika-kimia perairan. Kandungan liat dan debu umunya tinggi.. sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 23-31 %o..... Secara keseluruhan nilai parameter fisika-kimia perairan pada komunitas mangrove Way Penet masih dalam kisaran yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan mangrove jenis Avicennia marina.... URI: http://repository.. Tekstur Tanah Terkstur tanah merupakan salah s usifat t anah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman......... 1 998)..p a ritd an hamparan lumpur. k arenalingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk k e dalam rantai makanan....15 ANALISIS SISTEM PENDUGAAN TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE (STUDI KASUS DI PANTAI TIMUR SURABAYA) Pertama........ Kondisi ini menunjukkan adanya proses regenerasi alam yang baik..... Salinitas pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 14-19 960.id/handle/123456789/15464 Date: 2004 Unduh 28 Feb 2011 ... l iat berdebu danlempung yang berupa lumpur yang tebal dan yang terdapat di bagian tepi-tepi sungai....m u a ra.. debu (berukuran 50?m--2?m).. Tanah mangrove umumnyakaya akan bahan organik...... liat berlempung......... danliat (berukurankurang dari 2?m) (Soil SurveyStaff. al.... 2003). Tekstur tanah adalah s ifat fisis t anah yang berkaitan dengan ukuran partikel pembentuk t anah. .... Besarnya nilai derajat keasaman (pH) yang terukur pada pengamatan pertama adalah 8....... moluska dan udang (Davies and Claridge........ Di daerah-daerah dengantanah berlumpur dalam..morfometrik daun.. Tanah mangrove di Indonesia umumnyaterdiri atas t anah-tanah yang berteksturhalus............ Kedua. 2003).. menyimpan dan menyediakanhara tanaman........ Pengaruh sifat tanah terhadap mangrove antara lain ditujukan oleh sebagian genus Rhizophora..........ipb..... mangrove merupakan pemasok bahan-bahan organik s ehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yanghidup pada perairansekitarnya...

Rhizophora apiculata. Pantai yang landai memilikikomposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika dibandingkan de ngan pantai yang terjal. misalnya Avicennia marina dan Excoecaria agallocha dapat t um buh pada kondisi salinitas tinggi yaitu sekitar 85 ppt (Hilmi.5 m tetapi dilaut yang dangkal pada umumnya mencapai lebih dari3 meter. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaruhi besarankisaran pasut. Pasang yangterjadi di kawasan mangrove sangatme ne ntukan . dimana jumlah Cl yang terlarut d alam air laut ini rata-rata 55%. Hampirsemua jenis mangrove merupakan jenis yang toleran terhadap garam. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaru Pasangsurut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Pasangsurut juga memberikankontribusi bagi perubahan masa antara airtawar dan air asin. 2005). Mangrove dapat hidup dan tumbuh subur di pesisir dengan kadar salinitas a ntara 10 ± 30 ppt. h al ini disebabkankarena adanya pengaruh dayatarik bulanlebih k ecil dari matahari (Istomo. Lebih l anjut Richards (1946) dalam Sukardjo (1984) menyatakan bahwakandungan garam atau salinitas s angat menentukankemampuantumbuh dan reproduksi mangrove. Di areal pesisir pantai. namun ada jenis mangrove yang dapat tumbuhp ad a kondisi kadar garam yanglebih t inggi. Air pasangterjadi duakali dalamsatuhari. pasangsurut dapat digunakan untuk membedakan zonasi pantai dankomunitas h ewan yang ditemukan di wilayah h utan mangrove (Pariwono. Hal ini disebabkankarena pantailandai menyediakan ruang yanglebih l uas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi spesiesme nja d i semakin luasd an lebar. Salinitas Salinitas merupakansuatu indikator yang menunjukkan banyaknya kadar garam yang terlarut dalam air atau kadar garam terlarut dalam air maupun dalam larutan tanah dan merupakan istilah yang menyatakankadar garam yangterkandung dan dinyatakan dalam part perthousend (ppt) (Aksornkoae. 1 993).distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena kontur yang terjal menyulitkan pohon mangrove untuk tumbuh. d. distribusi spesies dan lebar hutan mangrove. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang datar dansejajar dengan arah angin (Sukardjo1984). yang akhirnya memberikan pengaruh t erhadap perubahan dan penyebaran organisme mangrove secara vertikal (Hilmi. 1 992). Pasangsurut berhubungan denganlamanya penggenangan yang berpengaruh pada jenis vegetasi mangrove. Perubahan salinitas akibat p asang surutm e rupakan suatu faktor yang membatasi pe nyebran jenis-jenis mangroveterutama penyebaransecarahorisontal. 2005). c. Dilaut t erbukaketinggian air pasang tidak l ebih dari 0. bilatanah banyak mengandung pasir ataukarang didominasi oleh Rhizophora stylosa (Hilmi. Fisiografi Pantai Kondisi fisiografis pantai di Indonesia yang berbeda-beda menyebabkan perbeda anhutan mangrove dari satu tempat k etampat l ainnya. Pasang Surut Pasang surut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Keberadaan dan fluktuasi pasangsurut akan mempengaruhitingkat s alinitas airlaut. Fisiografi pantai dapat mempengaruhikomposisi. 2005) b. 2005) Salinitas mempunyai fungsi penting untuk menghilangkantumbuhanlain yang menempel pada mangrove yangtidak mampu beradaptasi padakondisi air yang mempunyaikandungan NaCl (Hilmi. Jenis garam yang paling banyak l arut adalah NaCl. Pada pantai yang terjal komposisi. 1999).

Kalimantan dan Irian Jawa.fisiologi dan struktur fisikd a ri tanaman mangrove. Keberadaan iklim akan berperan terhadap perkembangan tanaman. 1993). untuk Avicennia marina akan memproduksi daun-daunsegar padasuhu18 ± 200C dan jika suhu dinaikkan lagi maka produktifitas daun-daun baru akan rendah. Pengaruh t idak l angsung dari gelombang dan arus adalah t erhadapsedimentasi pantai dan Pem bentukan padatan-padatan pasir di muarasungai.id). . Oleh karena itu tidakm em un gkinkan pembentukan hutan mangrove yang sangat luas (Sukardjo. 1993). 1 993).ya itu antara 26 ± 280C. Kondisitersebut bukan disebabkan oleh iklim. Cahaya merupakansalah s atukomponen yang vital bagi proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman hijau. Pa dalokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang besar biasanyahutan mang rove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan hutan. Curah h ujan me rupakan faktor penting bagi perkembangan dan penyebaran daritanaman danhewan. Intensitas c ahaya optimal yang penting bagi pertumbuhantanaman mangrove adalah 1 .ac.800kkal/m2/hari. melainkan oleh k enyataan bahwakondisi pantai dantidak adanyasungai besar seperti diSumatera.. Mangrove umumnya merupakan tumbuhan berhari panjang yang memerlukan intensitas c ahaya yangtinggi. Angin berpengaruh t erhadap mangrove untuk proses penyerbukan danseed dissemination. Curah h ujan juga mempengaruhi faktorlingkunganlainnyasepertisuhu air. s uhu. Gelombang dan arus mempengaruhi dayatahan organisme akuatik melaluitransportasi nu trien-nutrien penting dari mangrovekelaut. Bruguiera sp. pertumbuhannya baik padasuhu 21 ± 260C. pada suhu 270C. c urah h ujan dan angin mempunyai pengaruh yangsangat k uat terhadap kehidupan ekosistem mangrove. Pada mangrove jenisRhizophora stylosa. begitupun Xylocarpus s p.id). s eperi diSulawesiSelatan dan Tenggara.zonasitumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi denganekosistemmangrove .Ce riops sp. hewan dan faktor fisik lain seperti tanah dan air (Aksornkoae. Menurut Kennish (1990) mangrovetumbuh s ubur padakonsisi daerah t ropik yang bersuhu di atas 200C. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur walaupun dalam areal yanglebih k ecil. Di Indonesiasebagian besar mangroveterdapat dikawasan dengancurah h ujantahunan dan bulanan yangtinggi. 1993). Angin ribut akan mengakibatkan impending pertumbuhantanaman dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal (Aksornkoae. s alinitas. Suhu juga merupakan faktor penting bagi proses fisiologiseperti proses fotosintesis dan respirasi.Excoecaria agallocha dan Lumnitzera sp. f. Cahaya juga berpengaruh terhadap prosesrespirasi. Gelombang dan arus juga berpengaruh l angsungterhadap distribusi spesies misalnya buahatau semai Rhizo phora sp. Iklim Mangrove merupakantumbuhan yang dalamhidupnyatidak t erpengaruh t erhadap iklim artinya bahwa mangroveterdapat di areal beriklim basah. Angin juga apat meningkatkan evapotranspirasi bagitanaman. 1 993). s erta Xylocarpus granatum pada suhu 280C (Aksornkoae.ipb. Hal initidak berarti bahwa mangrovetidak dapat berkembang dikawasan beriklimkering. bermusim dankering. e. 1984).ac. Mangroveterdapat pula dikawasan beriklimkering. transformasi.ipb. Nutrien-nutrien yang berasal darihasil dekom posisiserasah maupun yang berasal dari runoff daratan danterjebak dihutan mangrovekemudian akanterbawa oleh arus dan gelombang ke laut pada saat surut (http//wap. mempunyai kisaran suhu yang lebih tinggi dalam prosesp rod uktifitasd a un-da un segar. Terjadinyasedimentasi dan padatanpadatan pasir ini merupakansubstrat yang baik untuk menunjang pertumbuhan mangrove. dan aliran permukaan dan aliran bawah t anah.Secara umumcurah h ujan yang normal bagikehidupan jenis mangrove sekitar 1500 ± 3000 mm/tahun (Aksornkoae. Dengankeadaan iklim demikian ini mangrovetumbuh s ubur dan berkembang dengan baik. Hal ini menyebabkan zona pantaitropis merupakansuatuhabitat yang ideal bagi ekosistem mangrove (Aksornkoae. t etapi iklim yang bersifat mikrosepertikondisicahaya. Gelombang dan Arus Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove.000 ±3. yang terbawa gelombang dan arus sampai menemukansubstrat yangsesuai untuk menancap dan akhirnyatumbuh (http//wap.

Adanyakarbonat. Karena fungsi dan manfaatnya yang begitu besarsehingga mendorong masyarakat untuk memanfaatkanhutan mang rovesecara membabi buta yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan hutan mangrove tersebut (Nuhman.. Oksigen Terlaru Oksigenterlarut adalah s esuatuhal yangsangat penting bagi keberlangsungan hidup tanaman dan hewan di hutan mangrove khususnya dalam prosesrespirasi dan fotosistesis.4 mg/L....g... 1 989)..... Kegiatanterakhir ini memberikankontribusi besar dalam pengrusakan eksositem ini (Dahuri. Kecenderungan penurunantersebut mengindikasikan bahwaterjadi degradasihutan mangrove yangcukup nyata. h......pe mb ukaan lahan...... Luas penyebar an mangroveterus mengalami penurunan dari 4.. Kegiatanlain yang menyebabkankerusakanhutan mangrove adalah pembuka anlahan-lahantambak untuk budidaya ikan..... estimasi yang paling dapat diandalkan berasal daritahun1993.4 mg/L)lebih t inggi dibandingkan dengan di dalam mangrove (1.8 mg/L. Mangrove menggunakan oksigenterlarut s ebagai faktor pengontrol bagikomposisi jenis dan distribusinyaserta pertumbuhannya........ (1978) dalam Hilmi (2005) melakukan pene litiantentanghal t ersebut dan menujukan bahwa oksigenterlarut diluarhutan mang rove (4... Pada arealya ng tertutup sekitar 2.1± 3..25 jutahektar padatahun1982 menjad isekitar3.Selain itu meningkatnya permintaan terhadap produksi kayu menyebabkan meningkatnya pula e ksploitasi berlebihan terhadap mangrove (Dahuri. s ementara adanya asam-asam mineral bebas dan asamkarbonat akan menaikankemasaman (Saeni... Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah-ubah s elama 24 jam..Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayahpesisir Sumatera. hidroksida dan bikarbonat akan menaikankebasaan air...p emb uanga n limbahme mbe rikan pengaruhatau tekanan terhadap habitat mangrove... dantersisaseluas 2...6 dan 6......g elombang. dan Avicenniasp...... Nilai pH baku mutu untuk perairanlaut berkisar antara6-9.... Kalimantan dan Papua..... penebanganliar dansebagainya (Dahuri.. Tingkat oksigenterlarut di dalam dan diluar mangrove sekitar 4... Nilai pH Nilai pH suatu perairan mencirikankeseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ionhidrogen dalamlarutan... 2004)... 2002).. sedimentasi.. k egiatan-kegiatankomersial.9 sampai dengan 2. a .... Kerusakan mangrove bisasebababkan oleh beberapa faktorseperti aktivitas manusia. Bersumber darikeinginan manusia untuk mengkonversihutan mangrove menjadilahan perumahan... Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalahme m iliki keragaman jenisya ng tertinggi di dunia.... Aksornkoae et... Menurut World Mangrove Atlas dalam Irwanto (2006)... atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. Penyebab dan TingkatKerusakan Mangrove Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai75% daritotal mangrove di Asia Teng gara....4 mg/L).24 jutahektar padatahun1987.. yang teren dah pada malam hari dan tertinggi pada siang hari.. pencemaran...... Hal t ersebutDisebab kan oleh k egiatankonversi menjadilahantambak....2.... industri dan pertanian.25 jutaha (Spalding et.. Komunitas Rhizophorasp.. Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah membentuk s uatu area dan zonasi bagitanaman... Estimasiterhadaphutan mangrove di Indonesia dipenuhiketidakpastian dansudah k adaluwarsa.......50 jutahektar padatahun 1993.. 2002)............ O ksigen terlarutjug a merupakansuatu bagian essensial yang mempe ngaruhitejadinya proses dekomposisi.... yaitusekitar 200 ribuhektar/tahun. ketika ituluas h utan mangrove di negara ini mencapai 4..... ..p asang surut dan arus...7 ±3... al.. A ktivitasma n usia yang berupa kegiatan penebangan liar.hidup padatanah dengan nilai pH berturut-turut adalah 6... 2002).......

Teknik pengambilan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling terpilih (purposive sampling). Etty Riani. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahapan pokok. ekonomi dan sosial. QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) dan AHP (Analitical Hierarcy Process). Sejak tahun 1999 kondisi luas hutan mangrove di Indramayu terus mengalami penurunan yang cukup signifikan (45. Metode penelitian yang dilakukan secara umum adalah metode studi kasus. Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Balongan. inventarisasi dan analisis kondisi ekologi. melakukan identifikasi. Sindang. yaitu tahap pertama. Dinas Lingkungan Hidup.ac. Juntinyuat. Hutan mangrove binaan merupakan hutan mangrove yang kondisinya perlu mendapat perhatian serius mengingat tingkat kerusakannya sudah sangat mengkhawatirkan. formulasi strategi dan.unpad. Dalam faktanya tidak seluruh wilayah pesisir Kabupaten Indramayu ada jalur hijaunya. dan sosial ekonomi budaya masyarakat di sekitar hutan mangrove sebagai komponen keberlanjutan dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove serta merumuskan strategi kebijakan pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu.34 %). Sumardjo Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil identifikasi dan inventarisasi aspek fisik kimia lingkungan di lokasi sekitar hutan mangrove di Indramayu menunjukkan bahwa secara umum tanaman mangrove layak untuk ditanam dan dikembangkan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu karena dari sejumlah parameter fisik kimia lingkungan yang ada hampir seluruh parameter memenuhi kriteria kesesuaian. Potensi yang dapat dimanfaatkan di . Selanjutnya. Responden terpilih meliputi stakeholder terkait seperti masyarakat. Aspek yang dikaji meliputi aspek ekologi.Dari : http://fpik. Pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu secara umum terdiri dari hutan mangrove binaan dan hutan mangrove alami. sosial dan ekonomi. Perhutani. tahap kedua.id/archives/515 Unduh 7 Maret 2011 STRATEGI PENGELOLAAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN (Studi Kasus di Kabupaten Indramayu) Oleh: admin February 25. 2010 Iwang Gumilar. perguruan tinggi. Pertamina. untuk formulasi strategi pengelolaan dan penentuan prioritas kebijakan pengelolaan masing-masing menggunakan analisis SWOT (Strengts Weaknesses Opportunities Threats). Karangampel dan Krangkeng dengan total desa sebanyak 21 desa. tahap ketiga penentuan prioritas kebijakan pengelolaan. Penelitian ini dilakukan di kecamatan kecamatan pesisir yang ada di Kabupaten Indramayu. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskripsi. LSM. Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji kondisi ekologis hutan mangrove. ada beberapa kecamatan dan desa yang tidak memiliki jalur hijau seperti Kecamatan Sukra. Cecep Kusmana. dan PT.

berkelanjutan. Sementara pembudidaya tambak dan nelayan juragan umumnya pendapatannya di atas garis kemiskinan. konservasi dan terakhir hutan produksi.833. Umumnya pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan tangkap ABK merupakan masyarakat yang termasuk kategori miskin. Kata Kunci: strategi. kayu baker. sebesar Rp 769. Ini artinya keragaman jenis tanaman mangrove di Indramayu daratan sangat rendah.500 sebagai indikator pembanding untuk menentukan kemiskinan penduduk.yang terdiri dari manfaat untuk bahan bangunan.. perikanan tangkap. Jenis lainnya tidak ditemukan di Indramayu daratan.71 persen.Indramayu daratan hanya sekitar 10. Dengan kata lain. Sementara itu. Dengan menggunakan matriks posisi SWOT strategi yang harus dijalankan adalah strategi S-O pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu diarahkan kepada: 1. Memanfaatkan hutan mangrove pada zonasi tertentu untuk dijadikan wilayah wanawisata (ecoturism) 4. 880. mangrove. ekonomi dan budaya . Untuk alternatif yang paling penting secara berurut adalah silvofishery. sosial. ekologis. yaitu Avicennia alba dan Bruguiera gymnorrhiza. keberhasilan pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu sangat dipengaruhi oleh kriteria sosekbud dan alternatif usaha silvofishery.000. Berdasarkan Upah minimum propinsi dan kebutuhan hidup minimum penduduk di Propinsi Jawa Barat khususnya untuk Kabupaten Indramayu tahun 2008 menurut SK Gubernur Jawa Barat No. Memanfaatkan potensi lahan wilayah pesisir untuk dijadikan hutan mangrove 2. spesies mangrove yang dominan ada di Indramayu daratan hanya ada dua jenis. kemudian diikuti fisik kimia dan terakhir biologi. Memanfaatkan dukungan peraturan dan partisipasi stakeholder lokal dan pusat dalam berbagai bentuk untuk melestarikan hutan mangrove di wilayah pesisir 3. Hasil valuasi ekonomi menurut pendekatan manfaat langsung dan opsi menunjukkan bahwa nilai ekonomi lingkungan dari ekosistem hutan mangrove di Indramayu daratan sekitar Rp. Melakukan pemberdayaan / pembinaan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove dalam kegiatan ekonomis dan pelestarian lingkungan Berdasarkan perhitungan nilai Eigen (Eigen Vector) diperoleh kriteria yang paling penting secara berurut adalah sosekbud. kemudian diikuti wanawisata. 561/kep 684Bangsos/2008. satwa dan tambak.129.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful