P. 1
TARGET

TARGET

|Views: 852|Likes:
Dipublikasikan oleh Saraswati Abadi

More info:

Published by: Saraswati Abadi on Mar 07, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/14/2013

pdf

text

original

Kronologis Penelitian Tesis ku : Menghadap Prof Soemarno pada hari Senin, 27 Desember 2010, ditemani bu Hany yang sudah

minta tandatangan siap ujian proposal tesis. Saya diminta langsung ujian proposal tesis hari Kamis/ Jum’at 30/ 31 desember 2010. Tidak mungkin. Ngebut belajar, cari masalah, tujuan dan metoda. Sesuai dengan arahan Prof Soemarno, hanya buat 2 masalah, 2 tujuan dan 2 metoda. Karakteristik fisik/ vegetasi hutan mangrove dan Strategi arahan terbaik [pengeloaan hutan mangrove. Analisis Vegetasi berdasar buku praktikum bu Endang + analisis SWOT dengan Evaluasi Faktor Internal Eksternal + matrix EFAS IFAS. Hari Senin tgl 10 Januari 1011 dengan membawa draft proposal tesis, satu untak Prof Soemarno dan satu untuk Dr Nuddin. Dr Nuddin minta dimasukkan sosek karena suatu model pengelolaan akan gagal tanpa melibatkan social ekonomi masyarakat. Saran Prof Soemarno : segera hub dosen + penguji ( Amien Laksono + Imam Hambali ). Berupa USULAN PROPOSAL TESIS 1 Hari Jum’at, 14 Januari 2011 ke perpus S2 + perpus biologi + ambil format penundaan pembayaran. Ketemu m. Santi. Ternyata harus dengan melampirkan Hasil Ujian TOEFL, KACAU APALAGI DITAMBAH PENYAKIT MALAS Tanggal 10 Februari Bintek di Grand Palace malang, kusempatkan ke kampus ngurus persetujuan pencicilan SPP. Ternyata belum jadi, untungnya tetap bias regestrasi Tanggal 16 Fabruari 2011 ke malang dengan suami ngurus SPP q. Hari ini ke Pasca, truz ke Rektorat lantai 5, truz bayar di Mandiri dan terus ngurus Permohonan Keringanan SPP. Hari ini adik Yanuar masih dir s, tabrakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011 Maulid Nabi. Kujalani hidup ini…lagi2 tertunda!!! HARUSNYA BUKAN ALASAN, TAPI KEMBALI2NYA AKU SING NGURUS KABEH YA ALLAH MAHA TAHU…. HARI SABTU, 19 FEB MAUNYA TOEFL IDP JUGA GAGAL….GITU AKU YO DIMARAH2I DI RS…..YOK OPO SE KAREPE Tanggal 23 Feb aku konsultasi ke p Nuddin, banyak perbaikan truz ke perpus pusing berat, truz k Pas Maunya Sabtu 26 Feb Toefl--> TERHAMBAT LAGI M.ABADI PRESENTASI KE SURABAYA !!!

-

-

-

-

-

=============================================================== Buka : http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/analisis-vegetasi-hutan-alam.pdf =============================================================== Dari PENGHITUNGAN BIOMASSA- Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon - Dandun Sutaryo - Wetlands International Indonesia Programme – 2009 - Dipublikasikan pada Mei 2009 oleh : Wetlands International Indonesia Programme Jl. A. Yani 53. BOGOR :
DBH : Diameter Breast Height, diameter setinggi dada atau kurang lebih 1.3 m dari permukaan tanah. Metode mengukur pohon dalam penelitian ekologi hutan, penelitian biomassa atau pendataan potensi hutan. GBH : Girth Breast Height. Keliling pohon setinggi dada. Variasi lain dalam pengukuran pohon selain DBH. Dalam prakteknya pengkuran GBH lebih sering dilakukan dan hasil nya dikonversikan menjadi DBH. Basal area : Luas batang pohon yang dihitung dari DBH. Luas keseluruhan basal area per satuan luas menunjukan nilai dominansi dari tumbuhan tersebut. Dekomposisi : Penguraian. Dalam hal ini penguraian bahan organic menjadi bahan anorganik melalui proses fisika, kimia atau biologi. Pembusukan bahan organic diamati. Densitas : Kerapatan. Nilai yang menunjukkan jumlah individu per satuan luas . Densitas biomassa : Biomass density, jumlah biomassa per satuan luas. Expansion factor : suatu factor atau nilai yang menggandakan suatu jumlah nominal tertentu (volume atau biomass), yang mencakup 1 atau beberapa bagian pohon ke jumlah nominal lainnya yang mencakup keseluruhan pohon BEF : (Biomass expansion Factor) Faktor yang menggandakan biomassa batang ke biomassa keseluruhan pohon. VEF : Volume expansion factor GPG LULU CF : Good Practice Guidance for Land Use, Land-Use Change and Forestry Herba : Tumbuhan dengan batang basah atau tidak berkayu. Umumnya berupa tumbuhan semusim. Pancang : Tingkatan pohon setelah tingkatan semai (seedling). Pada komunitas hutan tropic basah berupa pohon muda dengan diameter 2 cm hingga sekitar 8 atau 10 cm. Pada iklim yang lebih kering diameter 10 cm mungkin tidak lagi tergolong sapling karena rata-rata diameter pohon di komunitas tersebut lebih kecil. Tegakan : komunitas tumbuhan (pohon) pada area tertentu.

Biomassa adalah total berat atau volume organisme dalam suatu area atau volume Ter tentu (a glossary by the IPCC,1995). Biomassa juga didefinisikan sebagai total jumlah materi hidup di atas permukaan pada suatu pohon dan dinyatakan dengan satuan ton berat kering per satuan luas (Brown, 1997).
=================================================================================

Dari : METODE ANALISIS AKAR MASALAH DAN SOLUSI - Ari Harsono P. Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indosesia, Depok 16424, Indonesia - E-mail: ariharsono@yahoo.com - MAKARA, SOSIAL
HUMANIORA, VOL. 12, NO. 2, DESEMBER 2008: 72-81 - : .Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (MAAMS) ini menyajikan suatu cara berpikir yang diperagakan dengan tata-alir (flow chart), disertai dengan beberapa contoh. Penerapan MAAMS membantu penggunanya untuk berpikir induktif maupun deduktif, kualitatif maupun kuantitatif, lebih mendalam dan menyeluruh, serta mempermudah kerjasama inter, multi, atau transdisiplin. Berikut ini adalah langkah-langkah menjalankan MAAMS: a. Rumuskan suatu masalah (sosial dan kemanusiaan) dalam bentuk yang dapat diaju kan pertanyaan “apa sebab-sebabnya.” Misalnya, apa penyebab timbulnya perkelahian pelajar; mengapa kualitas SDM kita rendah, mengapa Malaysia berani mengincar Amba lat, apa sebab penularan HIV/AIDS, juga pemakaian narkoba yang semakin meluas? Jenis pertanyaan yang mengarah pada solusi ini harus didukung fakta. Jika dari judul (artikel, makalah, skripsi, tesis, disertasi) tidak dapat diajukan pertanyaan (“Apa Sebab nya” atau “Mengapa”), identifikasi lebih dulu alasan-alasan atau fakta-fakta yang biasa nya ditulis sebagai latar belakang masalah. Terhadap alasan-alasan atau fakta-fakta inilah diajukan pertanyaan mengapa atau apa sebab-sebabnya. b. Identifikasi sebab-sebab negatif yang paling lang-sung dari X. Misalnya ada 4 faktor, ditandai dengan Sa1, Sb1, Sc1, Sd1. (S=sebab; abcd=masing-masing faktor; angka 1=tahap pertama penelusuran sebab). Sebab negatif yaitu suatu keadaan salah-buruk yang perlu diatasi atau diperbaiki; sedangkan paling langsung yaitu sebab yang tidak diantarai oleh sebab lain. Dalam fenomena sosial hampir tidak ditemukan adanya satu faktor yang menyebabkan satu fakta lain, melainkan beberapa faktor sekaligus, baik secara kausal maupun korelasional. Di sinilah muncul kebutuhan untuk berpikir dan berkerjasama secara interdisiplin, multidisiplin, atau transdisiplin. c. Terhadap masing-masing sebab (faktor) diajukan pertanyaan “benarkah?” dalam arti apakah ia memang menjadi sebab dari masalah X. Untuk itu lebih dulu dilakukan pengkajian atau penelitian, baik secara logis (formal) ataupun empiris (material), kualitatif maupun kuantitatif, induktif maupun deduktif (Hayon, 2005). Jika hasilnya benar, tahap kedua dari penelusuran sebab dapat dilakukan, yang berarti mencari sebab-sebab dari setiap sebab pada tahap pertama (Sa1, Sb1 dan seterusnya). Jika hasilnya salah, sebab tersebut diabaikan dan kembali ke awal dengan mengidentifikasi kemungkinan sebab lainnya. Pada langkah ketiga inilah keseluruhan pengetahuan tentang kebenaran dan pendekatan terhadap masalah diterapkan secara kritis.

kurang mampu. Jika identifikasi sebab-sebab dilakukan hanya sampai permukaan saja. maka solusinya pun bersifat permukaan. Catatan: Cukup sering terjadi. dan tentu saja layak untuk dijatuhi sanksi hukum. Kerjasama media massa dan ilmuwan bisa tergelincir melakukan “play acting at science” yang memunculkan ilmuwan selebritis). dan pada akhirnya a dan b sebagai sebab terdalam atau akar masalah (a dan b menunjukkan bahwa sebab dasar terdiri lebih dari satu sebab). rumusan sebab atau akar masalah hendaknya memperlihatkan perilaku nyata yang cukup mudah diamati. Kalangan akademis pun bisa tanpa sadar melakukan hal yang sama dengan mengemasnya sebagai topik-topik penelitian dan diskusi.c. kemalasan. dimanfaatkan oleh media massa secara komersial –komodifikasi masalah– berupa talk show dan rubrik opini. di dalam flow chart dibedakan menjadi tiga: darurat/permukaan/jangka pendek. apa yang dipandang sebagai akar masalah tersebut dapat secara sekaligus dicarikan solusi individual/ personal/mentalistik –berupa imbauan pada nurani atau niat seseorang– maupun solusi sistemik/ struktural/institusional/legalistik –berupa UU atau peraturan dengan sanksi hukum. Mungkin ini terjadi karena keengganan. dan lalu dipotong-potong menjadi kemasan topik-topik kecil yang sangat banyak jumlahnya. Oleh karena itu untuk memenuhi syarat solusi sistemik ini. dan angka kredit kenaikan pangkat. f. Solusi individual relatif mudah dilaksanakan.b. sedangkan solusi sistemik lebih sulit dilaksanakan.d lagi tapi a. deduktif maupun induktif. terdapat persetujuan dari peserta yang terlibat perbincangan. Analisis yang tidak tuntas ini. tanggung/jangka menengah. Bedanya adalah bahwa kemungkinan sebab (faktor) yang diidentifikasi menjadi semakin sedikit karena adanya kesamaan sehingga bukan a.c. tidak sepenuhnya menerapkan langkah ke-3. Penelusuran dapat dihentikan dengan memperhatikan dua syarat. Uraian di atas memperlihatkan bahwa MAAMS merupakan metode yang memiliki sifat kualitatif. solusi dasar ditindaklanjuti lagi dengan evaluasi. Hanya bila akar masalah teridentifikasi maka solusi yang mendasar dapat dirumuskan. dan dasar/jangka panjang. khususnya penelitian empiris. mengingat keterbatasan penulisan. e. Meski demikian keseluruhan contoh diharapkan sudah dapat menjelaskan penerapan MAAMS TATA ALIR METODE AAMS MASALAH SOSIAL (“X”) APA SEBABNYA ? . Jika syarat ini tidak terpenuhi. Berikut ini adalah contoh-contoh penerapan metode MAAMS yang. Kedua. demikian pula bila tanggung (Dua tahap inilah yang sering terjadi sehingga menimbulkan perbincangan yang berkepanjangan. Mengenai solusi.d. proses diulang dari tahap sebelumnya atau dari awal lagi. termasuk dengan penelusuran ulang sebab-sebab. Pertama. tetapi tidak mengatasi masalah secara “tuntas”. atau kurang jujur. penelusuran sebab berhenti sebelum sampai pada akar masalah/akar penyebab. Tahap kedua dan seterusnya (tahap ke n) caranya sama seperti tahap pertama. secara sadar atau tidak. Selanjutnya. yang dalam penerapan rincinya (tahap pembuktian/penelitian) sangat mungkin membutuhkan analisis data kuantitatif serta penerapan logika formal dan logika material. publikasi.b. dan tema jurnal yang mungkin “sekadar” menambah penghasilan.

dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah... yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik.. proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus... Sc2 DAN SETERUSNYA Sa(n).. Untuk jelasnya dapat dilihat pada : Gambar 1.. dan bisa langsung dicari solusi individual & sistemiknya sekaligus ** Sebab yang ditelusuri adalah sebab yang negatif Dari : JURNAL REVIEW “Chatlyn” .... Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan.... YA / TIDAK SOLUSI TANGGUNG APA SEBAB DARI : Sa2..... YA / TIDAK SOLUSI DARURAT APA SEBAB DARI : Sa1... Sbn) harus bisa disepakati........ Sc1............. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada........II BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : ..... Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus. Sd1 SEBAB (SEBAB)NYA : Sa2 Sb2 Sc2 .ANALISIS STRATEGI DALAM MENGHADAPI ABAD 21 A....... Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi.SEBAB (SEBAB)NYA : Sa1 Sb1 Sc1 Sd1 BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : . Sb1.... Sb2. Sb(n) HINGGA SEBAB TERDALAM/ . Menurut Boulton. menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi... Proses Analisis Kasus Mengetahui Strategi Perusahaan Jelaskan Situasi .n SEBAB DASAR/AKAR MASALAH*) YA SOLUSI DASAR * Akar Masalah (San.

. Pekanbaru 28293 .Diterima 17 April 2004. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Matrik Evaluasi Faktor Eksternal Faktor Internal (EFE) (IFE) 2. alkohol 70 %. sedangkan alat yang dipakai ompas. Bahan yang diperlukan adalah : aquades. TAHAP ANALISIS MATRIK MATRIK TOWS INTERNAL EKSTERNAL 3. Ketam Putih. Disetujui 20 Juni 2004 Jurnal Biogenesis Vol. Bantan Air. Pangkalan Batang.Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau. Tanjung Sekodi. tali plastik. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning (QSPM) Matrix Gambar 2. thermohigrometer. meteran. Selat Baru dan Jangkang. kertas koran. pancang. handrefractometer. Kerangka Formulasi Strategis =============================================================== Dari : STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*). 1(1):26-30. Nursal Dan Supriyanti . gunting. soiltester dan botol semprot.Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau .ISSN : 1829-5460 Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon. parang. 2004 .Evaluasi Situasi Tentukan dan Evaluasi lingkungan PELUANG dan ANCAMAN perusahaan Tentukan dan evaluasi lingkungan KEKUATAN danKELEMAHAN perusahaan Analisis masalah yang perlu mendapat perhatian Tentukan alternatif dan pilihan strategi Cari pemecahan masalah Untuk jelasnya.

pH. Teknik UB. Ir. (2).x 100% Kerapatan seluruh jenis Jumlah plot yang ditempati suatu jenis Frekwensi =----------------------------------------------jumlah seluruh plot Frekwensi suatu jenis Frekwensi Relatif = -------------------------------------.html Dari : Arahan Pemanfaatan Lahan Kawasan Rawan Bencana Longsor SSWP Ngantang Kabupaten Malang. 1974). Fak. kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling ba tang setiap individu tersebut. Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada. Teknik UB. Fak. kadar organik dan tekstur tanah.reg. lic.org/ActionGuide.justassociates.com/Lessons/lessom_swot.Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg.x 100% Dominansi seluruh jenis Nilai Penting = FR + KR + DR =============================================================== www. Agus Dwi W. suhu air. . secara purposive sampling. PWK.com/swot. (1) Debby Dayusita.htm www. Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek.rer. 1 Staf Dosen Jurusan. 2Alumni Jurusan. Budi Sugiarto. Dibuat 2 buah transekpada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telahditetapkan) .htm www. Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------luas plot Kerapatan suatu jenis Kerapatan Relatif = --------------------------------------.marketingteacher. PWK. Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herba rium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986). Pada tiap lokasi diukur parameter rlingkungan yang meliputi salinitas.mindtools. MSP (1) dan Ir. suhu udara..x 100% Frekwensi seluruh jenis Jumlah Basal Area suatu jenis Dominansi = ------------------------------------------Luas area contoh Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi suatu jenis Dominansi Relatif = ----------------------------------.

Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. yaitu : 1. Bobot masing-masing faktor diolah dengan menggunakan software Expert Choice.2. Strategi pemanfaatan lahan diarahkan berupa diversifikasi tanaman dan diversifikasi usahatani. ahli sosial ekonomi. sosial. Kasembon. Analisis tingkat kerawanan bencana longsor dan analisis kesesuaian penggunaan lahan menggunakan alat bantu sistem informasi geografis dengan perangkat lunak AutocadMap versi 2004 dan ArcView versi 3.238 RATING 3 BXR 0. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Longsor dan Pedoman Kehutanan Indonesia. Bagaimana strategi pemanfaatan lahannya? Untuk menentukan arahan pemanfaatan lahan. Penelitian ini dilakukan tahun 2007-2008 di wilayah SSWP Ngantang. Matriks IFAS FAKTOR STRATEGIS KEKUATAN Keberadaan kawasan vegetasi permanen sebagai penutup lahan BOBOT 0. Penentuan strategi pemanfaatan lahan Masing-masing bobot aspek kinerja kawasan ditentukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process berdasarkan pendapat ahli yang terdiri dari ahli tata ruang. Kabupaten Malang. Hasil analisis SWOT dan IFAS EFAS. Guna lahan yang tidak sesuai akan diberikan arahan pengaturan penggunaan lahan dilengkapi dengan pengendalian longsor secara mekanis. Bagaimana kondisi kerawanan longsor pada wilayah penelitian? 2. Dinas ESDM serta Kabid Linmas Dinas Kesbang Linmas. kondisi kinerja kawasan rawan bencana longsor berada pada kuadran IV yang berarti perlu penerapan strategi diversifikasi untuk mengatasi ancaman dan mencapai peluang. (ii) Mengevaluasi kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor dengan teknik intersect overlay dengan GIS. ahli ekologi. sedangkan dalam analisis SWOT menggunakan metode AHP dengan alat bantu software Expert Choice untuk menentukan bobot berdasarkan pendapat para ahli. maka dapat dihasilkan tiga rumusan masalah. Langkah-langkah penelitian yaitu : (i) Mengidentifikasi tingkat kerawanan longsor dengan teknik ranking overlay secara aritmatik dengan GIS. analisis kesesuaian penggunaan lahan dan analisis SWOT dengan IFAS EFAS. diperlukan strategi yang dihasilkan melalui analisis IFAS EFAS.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pemanfaatan lahan sebagai upaya pengurangan resiko bencana longsor. Kepala Kecamatan Pujon. (iii) Menentukan strategi pemanfaatan lahan berdasarkan aspek penggunaan lahan. Ngantang. Tabel 10. Arahan pemanfaatan lahan menggunakan literatur Permentan No 47/2006. Pembobotan didasarkan jawaban para responden dan diolah menggunakan prinsip metode AHP. Metode analisis kuantitatif diterapkan pada analisis tingkat kerawanan longsor. ekonomi dan kelembagaan dengan analisis SWOT dan IFAS EFAS. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut. Masing-masing faktor strategis yang diperoleh dari analisis potensi dan masalah dilakukan perhitungan terhadap bobot dan ratingnya dalam matrik IFAS EFAS. Bagaimana kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor? 3. asisten Perhutani.714 .

238 0.162 0.104 3 0.054 0.039 1.129 0.312 .476 0.021 0.066 0. Matriks EFAS FAKTOR STRATEGIS PELUANG Adanya sosialisasi yang diberikan LSM terkait kondisi kebencanaan di SSWP Ngantang SSWP Ngantang merupakan salah satu sentra pengembangan kawasan hortikultura di Kabupaten Malang dan melayani perdagangan hasil pertanian skala regionalnasional BOBOT RATING BXR 0.043 0.021 0.054 0.043 0.069 3 0.117 0.064 0.086 0.162 0.128 0.039 1 2 3 2 2 3 1 1 0.044 RATING 3 3 3 3 3 3 BXR 0.207 0.FAKTOR STRATEGIS mencapai luas 43.383 0.132 1.149 Tabel 11.063 0.022 0.079 0.021 0.58% Adanya kepedulian dalam kehidupan masyarakat Perkembangan sektor peternakan berpotensi meningkatkan pendapatan Produktivitas pertanian dari tahun ke tahun meningkat Sudah adanya badan penanganan bencana untuk tiap-tiap kecamatan di bawah koordinasi pemerintah daerah Masyarakat cukup sigap dalam penanganan bencana yang bersifat lokal Adanya pemberdayaan kelompok tani dan berdirinya koperasi di masingmasing kecamatan TOTAL KELEMAHAN Ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan tingkat kerawanan longsor mencapai 51% Tekanan penduduk terhadap lahan tinggi Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan Ketergantungan penduduk terhadap lahan tinggi Tingkat pendapatan perkapita masyarakat di SSWP Ngantang rendah Inovasi petani rendah Lemahnya penegakan hukum dan peraturan TOTAL Sumber: Hasil analisis (2008) BOBOT 0.237 0.039 0.

071 0.234 Y = Peluang .213 0.149 = 0.126 0.383 – 1.126 0.Kelemahan = 1.126 0. Koordinat yang menunjukkan posisi wilayah penelitian dalam kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar 6.694 Koordinat X yang berisi kekuatan dan kelemahan objek penelitian memiliki nilai sebesar 0.234.623 BOBOT 0.387 0.694 = .0.069 0.037 1 3 3 2 2 2 1. Diagram kuadran SWOT PEL UANG (+) KUADRAN II Stability KUADRAN I Growth KEL EMAHAN (-) K EKU ATAN (+) Conse ntric Strate gy KUADRAN III Survival KUADRAN IV Diversification ANCAMAN (-) .FAKTOR STRATEGIS Adanya landasan hukum untuk penetapan dan perlindungan kawasan rawan bencana dan program reboisasi Peluang kerja sama dengan pihak PT Nestle sebagai pasar tetap di sektor peternakan Peluang kerja sama dengan Perhutani dalam kegiatan pemanfaatan lahan TOTAL ANCAMAN Bencana longsor Degradasi lingkungan akibat lahan kritis Keterbatasan informasi mengenai kawasan rawan bencana Masih terbengkalainya penanganan bencana longsor Intervensi pemerintah untuk menangani bencana skala luas masih dibutuhkan TOTAL X = Kekuatan .161 0. Gambar 6.071 RATING 2 3 3 BXR 0.207 0.063 0.074 1.623.071 0.071 – 1.063 0.Ancaman = 1.213 1.063 0. Sedangkan koordinat Y yang terdiri dari peluang dan ancaman memiliki besaran -0.

. yaitu tahap masukan. dan tahap keputusan. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus. Menurut BouLton. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: B. Tahapan Perencanaan Strategis Proses penyusunan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. tahap analisis. menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah. Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi.Dari : ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN ISKANDARINI . Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan. proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus.Fakultas Pertanian . yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada.Universitas Sumatera Utara © 2004 Digitized by USU digital library A.

jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. Keputusannya didasarkan alas justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) 2. seperti analisis pasar. • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman).0 (sangat penting) sampai dengan 0. pendidikan. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. pengalaman. Sedangkan data internal dapat diperoleh di dalam perusahaan itu sendiri. turn-over). TAHAP MASUKAN Tahap ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS). Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis. gaji. analisis komunitas. a. Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua. diberi rating +1). • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. tetapi jika peluangnya kecil. struktur pendanaan). Dalam evaluasi faktor strategis yang digunakan pada tahap ini adalah model Matrik Faktor Strategis Eksternal dan Matrik Faktor Strategi Internal. seperti laporan keuangan (neraca. sehingga dapat diambil keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada.Tahap akhir analisis kasus adalah memformulasikan keputusan yang akan diambil. . Data eksternal dapat diperoleh dari lingkungan di luar perusahaan. laporan kegiatan sumber daya manusia jumlah karyawan. keahlian. terstruktur maupun tidak terstruktur. Untuk jelasnya. mulai adri 1. analisis kelompok kepentingan tertentu. analisis pemasok. laporan kegiatan operasional. tetapi juga merupakan suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra-analisis. analisis pemerintah.0 (tidak penting). TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Evaluasi Faktor Internal (IFE) Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitave Strategic Planning (QSPM) Matrix 1. laporan kegiatan pemasaran. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. yaitu data eksternal dan data internal. TAHAP ANALISIS MATRIK TOWS MATRIK INTERNAL EKSTERNAL 4. analisis kompetitor. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). Misalnya. cash-flow. Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. Laba-rugi.

untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. nilainya adalah 4. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Matrik Faktor Strategi Internal Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi. Hal ini disebut . Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. Analisis didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) den peluang (Opportunities). Sedangkan variabel yang bersifat negatif. • Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1. tujuan. nilainya adalah 1. Dalam hal ini digunakan model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Untuk membuat matrik faktor strategi internal tersebut. kelemahan. 2. terlebih dahulu harus melalui beberapa tahapan. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Tahap Analisis kelangsungan perusahaan. Contohnya. dan kebijakan perusahaan. Adapun tahapan pembuatan matrik faktor strategis internal adalah sebagai berikut : • Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan perusahaan dalam kolom 1.0 (outstanding) sampai dengan 1. Skor total ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama.0 (tidak penting). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi.0 (poor). peluang. suatu label IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka Strength and Weakness perusahaan. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Dengan demikian perencana strategi (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan.• Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1 .0 (paling penting) sampai 0. berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan.0 (outstanding) sampai dengan 1. sedangkan jika kelemahan perusahaan di bawah rata-rata industri. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama.0. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang b. Matrik TOWS atau SWOT Analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematika untuk merumuskan strategi perusahaan. strategi. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya. jika kelemahan perusahaan besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri. • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan.0 (poor). kebalikannya. a. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategi. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor). • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4).

yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisa SWOT. dan 9) adalah usaha memperkecil atau mengurangi usaha yang dilakukan perusahaan . • Strategi ST Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman. tetapi pada prinsipnya kesembilan sel itu dapat dikelompokkan menjadi tiga strategi utama. Matrik Internal-Eksternal (lE) Parameter yang digunakan dalam matrik intemal-ekstemal ini meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi.dengan Analisis Situasi. • Stability Startegy adalah strategi yang diterapkan tanpa mengubah arah strategi yang telah ditetapkan. 2. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altematif strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 berikut ini. Tujuan penggunaan model ini adalah untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detail. diagram tersebut dapat mengidentifikasi 9 sel strategi perusahaan. Menurut Rangkuti. F. • Strategi WT Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. (1997). Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan. • Strategi WO Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. b. 6. • Retrenchment Strategy (sel 3. dan 5) atau upaya diversifikasi (sel 7 dan 8). yaitu: • Growth Strategy yang merupakan pertumbuhan perusahaan itu sendiri (sel 1.

Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan.Sebagai suatu teknik. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM ) merupakan teknik yang secara obyektif dapat menetapkan strategi altematif rang diprioritaskan. Penutup Untuk memperoleh keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada merupakan rangkaian proses dari analisis kasus yang memformulasikan semua keputusan yang akan diambil berdasarkan justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. terstruktur maupun tidak terstruktur. Matrik Intemal. 3. Berikan skor altematif (SA) dengan rentang skor sebagai berikut : 1 = tidak memiliki daya tarik 2 = daya tariknya rendah 3 = daya tariknya sedang 4 = daya tariknya tinggi 5 = tidak memiliki dampak terhadap strategi alternatif e. STABILITY GROWTH RETRENCHMENT Hati . Buatlah daftar faktor eksternal (kesempatan/ancaman) dan faktor internal (kekuatan/kelemahan) di sebelah kiri dari kolom matrik QSPM. f. 5. Tahap Pengambilan Keputusan Setelah tahapan-tahapan terdahulu dibuat dan dianalisa. Berilah bobot untuk setiap faktor eksternal dan internal. b.3. GROWTH RENTRENCHMENT Konsentrasi melalui Turnaround Integrasi horizontal 4. c. 9 GROWTH GROWTH RETRENCHMENT Difersifikasi Konsentrik Difersifikasi Konsentrik Gambar 4. Jumlahkan seluruh skor SA C. maka tahap selanjutnya disusunlah daftar prioritas yang harus diimplementasikan.Ekstemal (lE) GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi vertikal 2. Kalikan bobot dengan SA pada masing-masing faktor eksternal / internal pada setiap strategi. Analisis matrik yang sesuai dari langkah kedua dengan mengidentifikasikan strategi alternatif yang harus diimplementasikan. d. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategis. 8. QSPM memerlukan good intuitive judgement. Salah satu model pemecahan masalah . Langkah-langkah dalam menyusun QSPM adalah sebagai berikut : a.hati Konsentrasi melalui Captive Company Integrasi horizontal Atau STABILITY Divestment Tak ada perubahan Profit strategi 7. 6.

namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). peluang. tujuan. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). kelemahan. Sebagai suatu teknik. ================================================================== . QSPM memerlukan good intuitive judgement.yang dapat digunakan adalah model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. dan kebijakan perusahaan. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan. strategi. Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.

7. 2.P O E M N JE R S S A A  1. 5. 6. A 8 (D da elapan) langk strategis : Identifikasi M dan S isi a A nalisa Lingkungan Lu Identifikasi P eluang da A nalisa Lingkungan In O rganisasi Identifikasi K ekuatan d Atrategi M erum uskan S n a lis a M elaksanakan S un g trateg L in gk G am ba . 4. 3.

e sa a n ruish o a r i  A a a W d mnrk n n i s a  A alis S Oidea d d n lis is in T a ja i a mp ra spolk n a k p e a e c r m k imfiled Kn u o o te r a aim a a d la ou tub sisa m n ap s a is). a uin (O mrtu itien nta u p n C M buat A ara em n m m im lk nK le a e in a a e m  P c m n(T re ts engum h a ).Tg ae n lis aW T a la A a a SO ju amm n O d h mc k nis k ktis u d e a asa mu tana n ra k n e a n tu e s e te a mn e in s k le a a e g lim a i e mh n pg n as a .A A IS S O NL A WT  D la Id n a i K k a a m e tifik s e u ta d nA c mnd elu a a a n a a ip r k n A a aS O n lis W T  A a aS O mmn k n lis W T e u g i P mg a b nu g u nk e e grtia e:n g la e nn mil k e e g a a Oa en  mn h d W c sa a a A a inSi a Tmb g n lis r n  A alis S W . A a a pulan data n .

Dg mnls S O i r A ii W aa a s T O I S O S I V W O M tr IF Sd nE A a ik A a F S I I T F kS a to r -F k r a to Sa g tr te is II I W T B 1 P lu n . na a T Matrik IFAS dan 1 . e ag 2 A c mn .

Dengan analisa SWOT akan m erebut dan m an em pertum buhan agresi TR S S : m ) AT (T  E TH eskipun m m asih m iliki keku em . suatu institusi membutuhkan penilaian mengenai kondisi saat ini dan gambaran ke depan yang mempengaruhi proses pencapaian tujuan institusi. APORTUNITIES S ltern atif trateg O P (O O : m anfaatka )  S em Analisis SWOT merupakan bagian dari proses perencanaan.M trik In ra S a te ksi W IF S A EA F S =============================================================== Dilihat dari sejarahnya dan penggunaannya saat ini. Hal utama yang ditekankan adalah bahwa dalam proses perencanaan tersebut. metode SWOT banyak dipakai di dunia bisnis dalam menetapkan suatu perencanaan strategi perusahaan (strategic planning) sehingga literatur mengenai metode ini banyak berkaitan dengan aspek penerapan di dunia bisnis meskipun pada beberapa analisa ditemukan pula penggunaan SWOT untuk kepentingan public policy.

Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. dan sudah tidak sesuai merupakan kelemahan. sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. • Kekuatan dan Kelemahan. kelemahan utama dan kelemahan tambahan berdasarkan analisa lingkungan internal dan eksternal yang dilakukan. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. 2. 2. secara umum terdapat keseragaman bahwa penentuan tersebut akan tergantung dari faktor lingkungan yang berada di luar institusi. Sebagaimana kekuatan peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. Menentukan katagorisasi kekuatan dan kelemahan berdasarkan penilaian apakah strategi yang saat ini ada masih sesuai dengan perubahan lingkungan di masa mendatang : Jika masih sesuai strategi tersebut menjadi kekuatan/peluang. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low. Johnson dan Scholes menjelaskan bahwa dalam penyusunan SWOT terdapat empat langkah utama yang harus dilakukan. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. 3. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. 4 Terdapat beberapa metodologi dalam penyusunan SWOT. Sehingga sama dengan kekuatan. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Strategi ini bisa jadi bukan merupakan strategi yang disusun berdasarkan kebutuhan institusi menghadapi gejala perubahan lingkungan eskternal yang ada melainkan merupakan strategi turunan yang telah ada sejak lama dipegang institusi. faktor netral. Faktor lingkungan eksternal mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendali institusi (exogen) sementara faktor internal merupakan faktor-faktor yang lebih bisa dikendalikan. Mengidentifikasi perubahan-perubahan lingkungan yang dihadapi institusi dan masih mungkin terjadi di masa mendatang. Bagaimana pengaruh lingkungan melahirkan analisa SWOT dapat dilihat Lingkungan di Luar Institusi yang Mempengaruhi Strategi dan Kebijakan Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahanpeluang dan ancaman. 4. Dari analisa tersebut potensi dari suatu institusi untuk bisa maju dan berkembang dipengaruhi oleh : bagaimana institusi memanfaatkan pengaruh dari luar sebagai kekuatan tambahan serta pengaruh lokal dari dalam yangbisa lebih dimaksimalkan. yaitu 5 : 1. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. Membuat cross tabulation antara strategi yang ada saat ini dengan perubahan lingkungan yang ada. tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. • Peluang dan Ancaman.didapatkan karakteristik dari kekuatan utama. Mengidentifikasi existing strategy yang telah ada dalam institusi sebelumnya. kekuatan tambahan. Faktor Lingkungan dalam Analisis SWOT Walaupun terdapat beberapa metode penentuan faktor SWOT. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang .

yaitu tahap masukan atau input. Metode ini adalah alat yang dirokemandasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternatif secara objektif. analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut Dari :http://boed-health. • Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan(persaingan) dan tidak bisa dihindari. o Ancaman tidak utama (minor threats). Sebagai suatu teknik. Untuk ancaman utama ini. . Tahap terakhir adalah tahapan dalam pengambilan keputusan (decision making). pada tahap ini fokus pada strategi alternatif yang dihasilkan. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapaianya besar. • Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. dalam tahap ini metode yang digunakan adalah QSP matriks. adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil Ancaman moderate. berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. o Best. untuk menentukan strategi mana yang paling baik untuk diimplementasikan. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar. Dalam tahap ini metode yang digunakan adalah SWOT.html-Sabtu. diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi.com/2010/03/metode-qspm-quantitive- strategic. Selanjutnya adalah tahap pencocokan atau analisis.blogspot. 13 Maret 2010 METODE QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) Proses penyusunan perencanaan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. dan tahap keputusan (decision making).pencapaiannya juga kecil o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats). Tahap masukan atau input dilakukan dengan menggunakan metode matrik EFE dan matrik IFE. adalah ancaman yang kemungkinan terjadinya tinggi dan dampaknya besar. QSPM memerlukan intuisi yang baik dalam penilaian. tahap pencocokan atau analisis. Secara konseptual. berdasarkan faktor kunci kesuksesan internal-eksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya. tujuan metode ini adalah untuk menetapkan kemenarikan relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih. QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) merupakan teknik yang secara objektif dapat menetapkan strategi alternatif yang diprioritaskan. hasilnya disajikan dalam bentuk informasi untuk masukan tahapan berikutnya.

Freddy. QSPM sangat berhubungan dengan metode-metode lain yang digunakan dalam tahap input dan analisis sebagai bentuk informasi untuk tahap QSPM sendiri.0 – 1. urutan ke 2 nilainya 3x4=12 dan terendah nilai 4 dari 1x4.meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).3. maka nilai skala ditentukan berdasarkan prioritas dari masing2 situasi ( misalnya skala 4 untuk Peluang yang Utama ) . akan diperoleh hasil kombinasi dari beberapa Situasi : SO = memanfaat kan kekuatan untuk menggunakan peluang WO = minimalkan kelemahan untuk manfaatkan peluang ST = memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi Ancaman WT = minimalkan kelemahan hindari ancaman F.1. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Dari : KAJIAN POTENSI SUMBERDAYA HUTAN MANGROVE DI DESA TALISE . Urutkan factor situasi berdasar skala prioritas ( SP ) ( tertinggi nilainya 16 dari 4x4.com : …. 1998).2.Dalam mengadakan perencanaan strategi dalam suatu organisasi.3 . QSPM sangat diperlukan sebagai metode pengambilan keputusan setelah tahap input dan tahap analisis dilakukan. Nilai Tertinggi untuk Bobot x Peringkat ialah 1. Masing2 nilai situasi tersebut dibagi dengan Total Nilai SP x K . diperthitungkan rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala dari 4 hingga 1. 2006. Peringkat tetap menggunakan skala 1 (rendah ). sehingga dapat diputuskan pemilihan prioritas strategi mana yang akan digunakan sesuai dengan keadaan organisasi tersebut DAFTAR PUSTAKA > Modul Mata Kuliah Analisa Keputusan Jurusan Teknik Industri UMB > Rangkuti. KABUPATEN MINAHASA. yaitu dari sangat baik sampai kurang baik.0 dimana nilai 0. Disamping itu. sedangkan skala 4 ( rendah ) – 1 ( tinggi ) untuk Kelemahan dan Ancaman. lau dikalikan dengan konstanta ( K ) nilai tertinggi yaitu 4 b. dilakukan pemberian bobot yang berkisar antara 0..Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran SP 3 K 4 SP X K 12 BOBOT 12/40=0. yang kemudian di kalikan. . SULAWESI UTARA Oleh: Adnan WantasenC261020021 E-mail: ananw2000@yahoo.0 berarti tidak penting dan nilai 1. Pembobotan tetap menggunakan skala 1 ( sangat penting ) hingga o ( tidak penting )akan tetapi penentuan nilai skala untuk masing2 situasi total berjumlah 1 dengan cara : a. Analisi SWOT : Teknik Membedah Kasus Bisnis. Selanjutnya antara bobot dan rating dikalikan menghasilkan skor (Rangkuti.4 ( tinggi ) untuk Kekuatan dan Peluang. Kondisi eksternal-internal organisasi sangat diperlukan dalam penggunaan metode ini. namun karena tidak ada pembanding. Dalam menentukan strategi yang terbaik.0 berarti sangat penting.2 Kuat dan terendah adalah 0 0– 1 Lemah Berdasarkan nilai Peringkat dan Pembobotan.

0 Berdasar table sintesa . Analisis . Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis.0 (sangat penting) sampai dengan 0. • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman).2 USU : a.6 1.0 (poor). dibuat table faktor2 strategik Internal F Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran -Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS Bobot 12/40=0. • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan.1 1. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya.-Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS 2 4 1 4 4 4 8 16 4 40 8/40=0.6 0. Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal.2 0. Misalnya. KOTA DENPASAR .1 1.2 16/40=0. dengan sampel yang diambil sebanyak 10 plot dengan metode Plot Sistematik. © 2004 Digitized by USU digital library 2 Dari : ANALISIS STRUKTUR VEGETASI HUTAN MANGROVE DI KAWASAN REKLAMASI PULAU SERANGAN. • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS). Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4).0 (outstanding) sampai dengan 1. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masingmasing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. Analisis vegetasinya dilakukan dengan menetapkan nilai penting jenis dan indeks diversitas seluruh jenis yang diketemukan.3 8/40=0.4 4/40=0. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS).I Ketut Sundra Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Udayana Abstrak Penelitian ini dilakukan di Pulau Serangan pada bulan Agustus 2004. mulai adri 1. tetapi jika peluangnya kecil. jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. diberi rating +1).0 (tidak penting).2 16/40=0.0 Peringkat 4 3 4 2 Bobotx Peringkat 1.4 4/40=0. Sedangkan sampel tanah diambil dalam tiga lokasi yang berbeda.

Peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. ……Berdasarkan hsl analisis Kerapatan dan Luas Penutupan Tajuk.USU erepository Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan membandingkan kondisi hutan mangrove serta cara penegelolaan h. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan.tanah dilakukan untuk menetapkan kandungan unsur hara makro (N. Metoda penelitian Metoda Garis Berpetak ( Jalur Berpetak ) dengan satu buah jalur u tiap desa penelitian berukuran 10 m x 60 m dengan arah tegak lurus tepi laut. Dari : Lengkap ! Tesis Sri Susanti Ningsih.057004020. Pancang ukuran Sub Petak 5m x 5m dan ukuran Pohon Sub Petak 10 m x 10 m. Diagram Profil. bhw kond h.Inventarisasi Hutan Mangrove sebagai Bagian dari Upaya Pengelolaan Wilayah pesisir Kabupaten deli Serdang. U semai ukuran Sub Petak 2m x 2m. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Ketebalan Mangrove dan Salinitas. Sebagai bahan penelitian 9 desa h. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. P. mangrove di pesisir Deli Serdang. Parameter yang dianalisis :Index Nilai penting. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan.pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan – USU . sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang pencapai annya juga kecil .Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahan peluang dan ancaman. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Dari : Metodologi Penelitian : Analisa SWOT-Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat .Mangrove di Deli Serdang. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low. Index keanekaragaman. K dan bahan organic). Sehingga sama dengan kekuatan. mangrove di pesisir Deli Serdang umumnya rusak. tidak semua kelemahandari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar.

o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. o Best, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapai anya besar. Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan (persaingan) dan tidak bisa dihindari. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats), adalah ancaman yang kemungkinanterjadinya tinggi dan dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini, diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. o Ancaman tidak utama (minor threats), adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil o Ancaman moderate, berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar, analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut: Matrix SWOT……… 3. Metode Survey Untuk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber melalui analisis SWOT di atas digunakan metode survey dengan frame sample pihak-pihak (stakeholders) yang bisa memberikan penilaian aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja suatu institusi atau lembaga. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan gambaran awal dari peta permasalahan yang ada di institusi. FGD harus dilakukan dengan komprehensif artinya melibatkan seluruh stakeholders sehingga peta yang terbentuk telah mewakili seluruh kepentingan stakeholders. Karena sifatnya yang bersumber dari informasi kual itatif pemilihan responden yang credible sangat mempengaruhi hasil akhir dari analisa SWOT sehingga hendaknya harus dilakukan dengan beberapa kualifikasi. 2. Pembuatan kuesioner SWOT berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dalam FGD. Secara umum kuesioner ini memiliki katagorisasi penilaian sebagai berikut: ·* Penilaian faktor internal dan eksternal. Di sini responden membrikan preferensi opini terhadap faktor-faktor internal dan eksternal dari institusi pada saat ini dan perkiraan di masa mendatang. ·*Penilaian urgensi. Di sini responden diminta untuk menilai tingkat urgensi faktor terse but untuk ditangani. Penilaian ini berhubungan dengan skala prioritas dalam menyelesai kan persoalan-persoalan pembangunan yang tercermin melalui faktor-faktor yang dinilai. Contoh dari penilaian internal dan eskternal dan contoh penilaian urgensi dapat dilihat sebagai berikut

Contoh Kuesioner SWOT
No Bidang Pembangunan 1 -Penilaian Kondisi Saat Ini – 2 3 4 5 6 1 Urgensi Penanganan 2 3 4

I. Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan : 1. Pendapatan Masyarakat …………………………………………………………………………………………………….. 2. Tingkat kesehatan masy………………………………………………………………………….. 3. ............................................................................................................................................. \ Penilaian Responden: Urgensi Penanganan: Angka 1 = Sangat Kurang Angka 1 = Tidak Urgen Angka 2 = Kurang 2 = Agak Urgen Angka 3 = Cukup 3 = Urgen Angka 4 = Agak Baik 4 = Sangat Urgen Angka 5 = Baik Angka 6 = Sangat Baik

Dari tabel di atas dapat dijelaskan beberapa layer analisa sebagai berikut. ⇒ Bidang merupakan katagori yang memiliki beberapa faktor. Dari contoh di atas Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan merupakan ”bidang” penilaian yang memiliki dimensi internal dan eksternal. ⇒ Faktor, merupakan bagian dari bidang yang merupakan penjabaran spesifik dari masing-masing bidang. Dari contoh di atas (1) pendapatan masyarakat dan (2) tingkat kesehatan masyarakat merupakan ”faktor”. Faktor inilah yang kemudian terkatagori sebagai kekuatan atau kelemahan (dari analisa internal) dan peluang atau ancaman (dari analisa eksternal). Setelah kuesioner terisi dan terkumpul semua, penilaian faktor dilakukan dengan meranking bobot penilaian pada ”penilaian responden” yang memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 1. Faktor-faktor yang memiliki nilai di atas median (atau rata-rata dilihat dari persebaran distribusi probabilitasnya) disebut dengan ”kekuatan” pada analisa internal dan”peluang” pada analisa eskternal. Sebaliknya faktor-faktor yang memiliki nilai penilaian di bawah median disebut dengan ”kelemahan” pada analisa internal dan ”ancaman” pada analisa eksternal. Membentuk suatu kuadran faktor pembangunan, yaitu suatu blok yang menjelaskan posisi dari kombinasi faktor internal dan eksternal pembangunan, dengan kombinasi : kekuatan-peluang (S-O), kekuatan-ancaman (S-T), kelemahan-peluang (WO) dan kelemahan-ancaman (W-T). Sebelum menentukan kuadran pembangunan, harus dilihat terlebih dahulu uji konsistensi dari pengolahan kuesioner SWOT. Uji konsistensi pengisian kuesioner mensyaratkan dua asumsi utama, yaitu : o Untuk Prioritas, rata-rata nilai (average) prioritas seluruh faktor dominan (S/O) > faktor non dominan (W/T) o Untuk Urgensi, rata2 nilai(average) urgensi f. non dominan (W/T) > f dominan (S/O)

Tabel 3 Contoh Perhitungan Consistency Index Pengolahan Kuesioner PRIORITY S W O T 3.90 S 3.01 W 3.72 O 2.98 T Consistency index Priority Dominan 1.05 Non-Dominan 1.01 Consistency index Urgency Dominan 1.03 Non-Dominan 1.07 URGENCY 3.07 3.16 2.97 2.96

Menjumlahkan (sum product) dari seluruh bobot prioritas dan urgensi sehingga di da patkan kombinasi nilai dari faktor internal dan eksternal. Tabel 4 Contoh Indeks Penilaian Kuadran Kebijakan KUADRAN S W O 835.45 820.53 T 775.05 760.13

embuat pola strategi pembangunan berdasarkan Indeks Penilaian Kuadran.Prioritas M strategi pembangunan berdasarkan skenario ini ditetapkan dengan menjalankan kombinasi kebijakan dengan indeks nilai paling kecil berurutan ke yang paling besar. Dengan kata lain, daerah akan berusaha untuk mengatasi seluruh faktor yang paling lemah yang dimiliki untuk kemudian beralih pada kombinasi strategi yang telah memiliki indeks baik/tinggi. Dari contoh di atas strategi pembangunan yang dilakukan institusi akan bergerak dari WT-ST-WO-SO. 4. Persebaran dan Profil Responden Responden yang terlibat dalam studi ini terdiri dari beberapa stakeholders baik pemerintah maupun perwakilan masyarakat, LSM serta tokoh agama. Daftar responden yang diwawancara adalah sebagai berikut: Pemerintah aerah Badan-badan: Bappeda, Badan Kesbang dan Politik, BPKD, Badan Diklat Dinas-dinas: Dinas Pendidikan, Kesehatan, PU,Perhubungan dan Pariwisata, Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup, Pemadam Kebakaran, Tenaga kerja dan Catatan Sipil, Koperindag, Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Kelautan dan Perikanan, Syariat Islam. Sekdakab: Bagian tata Pemerintahan, Hukum, Ekonomi, Pembangunan, Kesra, Organisasi. Kantor-kantor: RSUD, Kantor Sosial, Pemuda dan olah raga, perpustakaan dan Arsip, Satpol PP, Peternakan, Pertambanagn dan energi Kecamatan: Karang Baru, Banda Mulia, Kejuruan Muda =================================================================== Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem, dan bukan hanya melihat gejalagejala dari suatu masalah. Chandler (1962): strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumberdaya. Porter (1985): strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing.

4. 2007). 3. 5 x 5 meter untuk golongan anak . Kunci Determinasi/identifikasi. digunakan untuk mengukur salinitas/kadar garam air laut. Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan menggunakan kunci determinasi/kunci identifikasi. 3.2. 3. 6.2 Sampel adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada hutan mangrove. 3.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masing-masing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan. Menentukan titik wilayah sampel titik koordinatnya dengan menggunakan GPS ( 2. 7. alat untuk dokumentasi.5 Prosedur Pengumpulan Data: 1. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. digunakan untuk menetukan pH tanah dari wilayah pengambilan sampel 5.gejala dari suatu masalah. digunakan untuk mengetahui wilayah tempat pengambilan sampel. digunakan untuk membuat plot (kuadrant) 2.Hamel dan Prahalad (1995): strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) yang dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh pelanggan di masa datang. Apa yang sebenarnya telah terjadi ? Mengapa masalah tersebut bisa terjadi ? Mengapa dan Megapa ? Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari masalah tersebut untuk tidak terjadi lagi di masa depan? =============================================================== Dari :Mangrove Desa Bulalo Kec Kwandang Gorontalo Utara 3. pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. digunakan untuk menetukan titik koordinat wilayah pengambilan sampel di peta. Role Meter.4 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1.2. Salino meter.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara. Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon. dan bukan hanya melihat gejala. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. Kamera. digunakan untuk mengidentifikasi tanaman mangrove. 3. Soil tester. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter. Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem. 4. GPS (Global Position System). Peta Wilayah. .

Mencocokkan (ciri-ciri morfologi dari batang. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). sebagai berikut: a. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. Mengambil bagian-bagian morfologi (batang. 7. densitas (kerapatan). Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot BBerikut ini adalah Lay Out yang digunakan dalam pengambilan sampel dilapangan. Indeks Nilai Penting ini interpretasi komposisi vegetasi dan pola zonasi hutan mangrove.6 Prosedur Analisis Data Data mengrove dianalisis dengan cara menghitung besarnya Indeks Similaritas (IS) dan Indeks Disimilaritas. 4. 5. Penentuan Basal Area BA = d = diameter batang setinggi dada b. . Mengukur salinitas air pada dengan menggunakan Salinometer. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. 1994 yaitu dengan menghitung dominansi. frekuensi relatif dan besarnya Indeks Nilai Penting. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian daun tumbuhan mangrove. menghitung dalam parameter vegetasi dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Cox. menghitung basal area. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian batang tumbuhan mangrove. 3.5. frekuensi. 6. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa langkah yaitu antara lain sebagai berikut: 1. Membuat herbarium dari masing-masing jenis-jenis tumbuhan yang diperoleh untuk diidentifikasi di Laboratorium Biologi UNG. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). 1976 dalam Hardjosuwarno. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = Dominasi Relatif = Densitas = Densitas Relatif = Frekuensi = Frek relalif c. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel dengan Soil Tester. 8. densitas relatif. 3. dominansi relatif. 6. 2. akar. akar dan daun) dari masing-masing tumbuhan yang menjadi sampel. dan daun dari tumbuhan mangrove) mangrove yang terdapat pada buku determinasi/identifikasi (buku panduan ). Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian akar tumbuhan mangrove.

Waktu Penelitian selama 3 bulan yaitu pada Bulan Agustus sampai Bulan Oktober 2008. Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan.Sebagai suatu teknik.Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan. peluang.2 Populasi dan Sampel 3. dan kebijakan perusahaan. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. 3. tujuan. Lokasi penelitian terdiri atas 2 stasiun pengamatan. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan.2. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. kelemahan.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di kawasan pesisir pantai Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot . QSPM memerlukan good intuitive judgement =================================================================== Dari : KOMPOSISI DAN POLA ZONASI VEGETASI HUTAN MANGROVE 3. 3. Gorontalo Utara. 3. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masingmasing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan.2. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats).2 Sampel dalam penelitian ini adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. strategi. dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities).

Hardjanto. .S PERSEPSI MASYARAKAT DESA PANTAI TERHADAP KELESTARIAN HUTAN MANG ROVE (Studi Kasus Di Kabupaten Probolinggo) Oleh : R. Dr. 2004 . Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada h mangrove. Ir.Institut Pertanian Bogor Desember 2004 Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng. Menentukan titik masing-masing wilayah yang menjadi wilayah sampel penelitian dan menentukan titik koordinatnya pada peta dengan GPS (Global Position System). 7. sebagai berikut: a Penentuan Basal Area BA = Dimana. 3. 5. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. d = diameter batang setinggi dada b. 4. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot B =============================================================== Dari : R. Ir. 8. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. Abdoel Djamali Posted: December.Sc Dr. Mengukur salinitas air pada setiap zonasi hutan mangrove dengan Salinometer. 6. 2.jatifar@yahoo. M. 2007). 5 x 5 meter untuk golongan anak pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = = Dominasi Relatif Densitas = = Densitas Relatif Frekuensi = = Frekuensi relalif c. Abdoel Djamali NRP 0261040161/SPL . Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994).Prof.masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon.5 Prosedur Pengumpulan Data Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data sebagai berikut: 1. Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan kunci determinasi/ identifikasi. M F (Penanggung Jawab) . Zahrial Coto.com 1. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel yang menjadi lokasi penelitian dengan menggunakan Soil Tester.2 Permasalahan . M. 3. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter.

1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove 4.2 Persepsi Mas Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4. Masyarakat Pesisir 4 4 Nelayan 6 5.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Dari Tabel 4.4. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Penentuan Wilayah Contoh Wilayah penelitian ditentukan secara sengaja (Purposive) di Kabupaten Probolinggo khususnya di Kecamatan Tongas dan Kecamatan Paiton 3. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini Tabel 3. dinas kehutanan.tokoh masyarakat. Responden Jumlah (orang) 1. Menjadi pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam rangka pemberdayaan hutan mangrove dan pelestarian hutan.2 Penentuan Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari kepala kecamatan. dinas perikanan. partisipassi masyarakat dan saran-saran untuk pengembangan hutan mangrove.1. Memperluas khasanah pengetahuan bagi pengembangan ilmu lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat hutan pesisir. IV. Kepala Kecamatan 2 2. III.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir Tabel 4. upaya-upaya intensifikasi.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Tabel 4. Bagaimana perilaku masyarakat pesisir setempat dalam pemanfaatan h mangrove? 2. Jenis data primer yang sudah diperlukan adalah: persepsi masyarakat. kepala desa.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove . Mendeskripsikan persepsi masyarakat desa pantai terhadap pelestarian h mangrove.3 Tujuan dan Kegunaan Tujuan: 1. Data sekunder diperoleh dari dinas-dinas terkait diantaranya adalah: pemerintah daerah setempat. Mengidentifikasi perilaku masyarakat setempat dalam pemanfaatan h mangrove. nelayan. manfaat yang diperoleh. 2.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove Tabel 4. Data primer Diperoleh melalui wawancara langsung pada responden dengan bantuan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan. METODOLOGI 3. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial Tabel 4. Bagaimana persepsi masyarakat desa pantai dalam pelestarian hutan mangrove? 1. 2. Kegunaan 1.2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4.1 Sebaran Responden No.7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan H Mangrove Tabel 4.3 Jenis dan Sumber Data Data dalam studi ini adalah data primer dan data sekunder. Petambak 3 Total 19 3. Kepala Desa 4 3.

maka akan terjadi penutupan daerah mangrove sehingga suplai air tawar berkurang atau sebeliknya air laut terlalu tinggi sehingga salinitas di daerah hutan mangrove naik yang akan menggaggu keseimbangan habitat hutan mangrove. sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan didentifikasi tentang permasalahan yang dihadapi dalam upaya pelestarian hutan mangrove sebagai berikut a. Sehingga seringkali terjadi tumpang indih pemanfaatan kawasan hutan mangrove untuk berbagai kegiatan pembanguna seperti perluasan areal pertambakan. sehingga nampak kotoran berserakan di bergelantungan akarakar Rhizopra sp. sedimentasi dan pendangkalan pada sungai. Alih fungsi hutan mangrove sudah terjadi sejak lama. pada bagian wilayah tersebut juga mempunyai tingkat genangan yang tinggi. Rencana tata ruang dan rencana wilayah (RTRW) belum memasukkan parameter kelestarian hutan mangrove. batas-batas kawasan hutan lindung dan produksi. namun perlu pengaruran dan perencanaan yang berbasis pelestarian sumberdaya hutan mangrove itu sendiri. penebangan hutan mangrove. Mengingat apabila salah satu ekosisitem pantai rusak maka akan berefek langsung pada kedua ekosisitem lainnya. b. maka suatu saat kerusakan fisik yang cukup parah atas hutan mangrove yang sangat besar manfaatnya. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. pemukiman. Terjadi konversi lahan hutan mangrove menjadi berbagai peruntukan lain seperti tambak. mengembangkan. Perlunya penyadaran dan dibangun suatu sistem masyarakat yang ikut merencanaan. e. Bukan berarti alih fungsi hutan mangrove tidak boleh dilakukan. bahan bangunan dan kegunaan tanpa kendali. dan dasar hutan. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pendaran seluruh masyarakat mulai dari hulu (up land) sampai hilir sungai (down land). Yang berasal dari limbah rumah tangga dari daerah hulu sungan dan sepanjang tepian sungai yang dibawa kemudian oleh aliran air kearah muara sungai. pemukiman dan kawasan industri secara tidak terkendali. Sedimentasi tersebut yang berasal dari pengikisan/erosi di daerah atas (hulu) yang tersuspensi dalam aliran sungai kemudian mengendap di daerah estuaries dan sepanjang pantai. industri dan sampah domestic rumah tangga. Sedmientasi yang terlalu tinggi. Penebangan mangrove untuk arang. kemudian terakumulasi dengan lumpur.Tabel 4. kayu bakar. Kondisi ini juga sangat memprihatikan. Pada tanah kritis di musim penghujan akan terjadi pelumpuran atas air permukaan yang mengakibatkan meningkatnya proses erosi. Wilayah- . aktifitas manusia aatu kombinasi keduanya. Hal ini disebabkan oleh karena jenis tanah clay (tidak menyerap air) dan kondisi lahan yang landai serta cenderung semakin landai ke arah Utara (mendekati garis pantai). pembangunan dermaga yang kurang memperhatikan sifat arus dan gelombang dapat menyebabkan abrasi. pariwisata. dan memanfaatkan potensi hutan mangrove itu sendiri d. Sepanjang hutan mangrove banyak berserakan lembah padat terutama yang berasal dari limbah domestic. industri. Abrasi karena proses alami disebabkan karena gerakan gelombang dan arus laut.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan H Mangrove 4. Pada musim penghujan akan terjadi banjir/genangan di wilayah pesisir terlebih lagi bila bersamaan dengan terjadinya air pasang. manakala tidak ada pihak yang mengatur. Abrasi pantai dapat diakibatkan oleh proses alami. c. Kabupaten Probolinggo memiliki beberpa wilayah yang terletak di daerah dengan kondisi tanah yang landai.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove Tabel 4. sedangkan aktifitas manusia misalnya pengambilan pasir laut yang tidak terkendali. Sedimentasi akibat pengelolaan kegiatan lahan atas yang kurang baik.

sumber air. Konflik kepentingan antar manfaat hutan mangrove: antara kepentingan ekonomi (economies) dan kepentingan pelestarian (enviromentalis). Ini menjadi salah satu faktor penghambat bahkan gagalnya upaya pelestarian. Kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dari pengelolaan hutan mangrove sebenarnya lebih berjangka panjang tetapi karena sifatnya yang tidak nampak seperti terpeliharanya ekosistem laut dan pantai. j. g. kepentingan jangka panjang akan selalu bertolah belakang dengan kepentingan jangka pendek. Konflik kepentingan antar kemanfaatan jangka panjang (long-term benefit) dan kepentingan jangka pendek (short-term benefit). Dalam hal tersebut pengelola menganggap bahwa hutan mangrove merupakan hak otonom dari pengelola hutan mangrove. Konflik kepentingan antar kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dan kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit). Dalam rangka otonomi daerah ada kecenderungan pemberdayaan sumberdaya alam untuk kepentingan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). bangunan industri. lestarinya plasma nutfah dan manfaat lain dari hutan mangrove. Data. Dari hutan mangrove pula sangat diharapkan berfungsi sebagai paru-paru kehidupan atau untuk upaya pelestraian sumberdaya alam termasuk air. Ditebangnya mangrove dimaksudkan agar terhadap intensitas sinar matahari yang cukup baik bagi tambak sehingga tidak ada tempat untuk tanaman mangrove tumbuh dan kurang dikehendaki keberadaannya di daerah tambak. Kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit) sering lebih diutamakan karena lebih menampakkan wujud fisik yang nyata dibandingkan dengan jangka waktu jabatan seorang pejabat. Disamping itu. masyarakat desa pantai juga memanfaatkan untuk pertambakan tradisional. Disamping itu pemanfaatan untuk pemukiman. Proyek pembangunan yang dapat menghalangi atau mengurangi sirkulasi arus pasang surut. sedangkan pemerintahan desa/kecamatan menilai bahwa areal hutan mangrove tersebut merupakan bagian wilayah pemerintahannya. pemukiman. Kepentingan jangka pendek (short-term benefit) cenderung lebih diutamakan dibandingkan dengan kepentingan jangka panjang (long-term benefit). pembinaan dan pemanfaatan hutan secara optimal dan berkelanjutan. kualitas udara. dan industri sudah mulai merambah hutan mangrove terutama untuk menunjang pengembangan . perhotelan dan lain-lain yang semuanya untuk kepentingan jangka pendek. Sebagai akibat terjadilah pemanfaatan areal hutan mangrove menjadi pertambakan. pariwisata.wilayah yang terjadi abrasi pantai yang cukup parah adalah desa Pondokkelor di Kecamatan Paiton f. hotel. Konversi tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan fungsi hutan mangrove. Konflik kepentingan antar lembaga yaitu terjadinya perbedaan kepentingan antara pengelola hutan mangrove dengan pemerintahan desa/kecamatan.84%). informasi serta IPTEK yang berkaitan dengan hutan mangrove masih terbatas. dan sosialisasi yang terbatas sehingga belum dapat mendukung kebijakan atau program penataan ruang. Biasanya konversi lahan dilakukan oleh sebagian oleh pengusaha tambak udang dan hatchery. Ini menyebabkan tidak terjadinya sistem koordinasi dalam pengelolaan hutan mangrove.2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Pengrusakan hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo sebagian besar disebabkan terjadi konversi hutan mangrove menjadi areal pertambakan (36. i. laut dan pantai. k. 4. h.

Tingkat pendidikan masyarakat pesisir rata-rata tamat Sekolah Dasar sebesar 36. Tidak bermanfaat Alasan : . Penebangan untuk pemanfaatan hasil hutan mangrove : arang dan kayu Konrversi lahan menjadi tambak Penebangan untuk tempat bersandar perahu Penebangan untuk bangunan pemukiman / industri hotel dan lain-lain Rusak akibat limbah pabrik dan alam 15. secara umum terjadi permasa lahan sebagai berikut: 1.26 . 2.91%.79 100.21% dan tidak sekolah sebesar 18. 4.kayu hutan mangrove untuk dijual 5. Tabel 4.84 10. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia Rendahnya tingkat pendidikan akan berpengaruh pada rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan.2 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Ekonomi No. Terbatasnya personil yang terlatih dalam pengelolaan sumberdaya ini menyebabkan pengelolaan sumberdaya tidak dapat terencana dengan baik dan belum optimal. kepiting.kayu hutan mangrove untuk dijual 10.Konsekuensinya memang harus menggunaakan hutan mangrove.05 15.Tempat mencari kayu bakar 15. dan nelayan dari peningkatan hasil tangkapannya. 5.84 Masyarakat desa pantai menganggap bahwa hutan mangrove tidak mempunyai nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan yaitu sebesar 36. Kenyataannya dengan terpeliharanya kelestarian hutan mangrove maka akan merangsang berkembangnya biota laut yang berarti akan mendukung peningkatan produksi dan pendapatan para pencari ikan.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Teknis .79 .53 3. tidak tamat Sekolah Dasar 19. Kurangnya informasi pengembangan sumberdaya alam Kurangnya pemahaman dan pengertian masyarakat tentang fungsi sumberdaya hutan mangrove sehingga upaya pelestarian masih sangat rendah. Tabel 4. Keadaan ini menyebabkan kurang berkembangnya diversifikasi usaha dan kurang berkembangnya teknologi pasca panen. serta menarik masyarakat untuk bermukin di sentra sector wisata.79 36.32%. kepiting 21. Tabel 4.Tempat untuk mencari ikan.pariwisita.53 21. sehingga tidak mampu meningkatkan taraf hidupnya. Parameter Prosentase (%) 1.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove No. Parameter Prosentase(%) 1.84%.05 2. Bermanfaat Alasan : .26 . Sangat bermanfaat Alasan : .Tempat mencari kayu bakar 5. 3.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 36.00 Potensi sumberdaya yang cukup berlimpah dengan kondisi penduduk dan pesatnya pertumbuhan pembangunan di wilayah pesisir dan laut. 2.

37 Begitu pula tentang pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek ekologis menyatakan keberadaan hutan mangrove akan menjaga biota pantai yaitu 26. Parameter Sangat bermanfaat Alasan : .05 . Parameter Persentase (%) 1.32 2.Menambah keindahan pemandangan 10.Menjaga keberadaan biota pantai 3. Sedangkan pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek sosial banyak yang tidak mengetahui dan menyatakan tidak ada manfaatnnya yaitu 47.Sebagai paru-paru bagi masyarakat pantai 21. Sangat bermanfaat Alasan : .Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 21. Parameter Persentase (%) 1.26 2.Mengurangi ombak dan valume air di pantai 5.53 2.Mengurangi ombak dan valume air di pantai .84%).Mencegah terjadinya abrasi pantai 15. Bermanfaat Alasan : .5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove DariAspek Ekologis No. Maksudnya tanah tambak yang makin meluas kea rah laut.Mencegah terjadinya abrasi pantai .05 .26 Keberadaan hutan mangrove akan terasa bermanfaat jika dampaknya terlihat nyata. Bahwa manfaat hutan mangrove dari aspek teknis dapat memberikan peluang bagi petambak untuk membuka atau memperluas areal pertambakannya akibat tanah oloran (36.53 5. 1. kondisi ini sejalan dengan pendangkalan daerah pantai yang berakibat sebaliknya akan merusak daerah padang lamun dan terumbu karang yang ada di depannya. Sangat bermanfaat .84 2.Dapat mengurangi pengangguran/menyerap tenaga kerja 21. Bermanfaat .26 .Menambah keindahan pemandangan 15.Tidak ada manfaatnya 47.05 (fungsi penghijauan) 3.37% Tabel 4. Tidak bermanfaat 21.Pemanfaatan tanah oloran untuk tambak Bermanfaat Persentase (%) 10. Tidak bermanfaat .Menjaga keberadaan biota pantai 26.79 3.4. Tidak bermanfaat Alasan : . Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial No.Tidak ada dampak 5.26 36.No. Alasan : .05 .Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 15.79 .Mengurangi pengangguran/ menyerap tenaga kerja 5.79 .32% dalam table di bawah ini : Tabel 4.

Sangat baik 15. Sangat tidak baik 36. Kurang baik 26.32 5.63 Dengan melihat kondisi hutan mangrove yang berada di pesisir Kabupaten Probolinggo harusnya pemerintah cepat melakukan tindakan penyelamatan pelestarian karena kon disi hutan sudah sangat tidak baik (36.33% . Parameter Persentase (%) 1 Sangat baik 15.. Tabel 4.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove No.84%) dari persepsi responden terhadap kondisi hutan mangrove yang lebih mengetahui tingkat perkembangan dari tahun ke tahun. Baik 10. Sedang 15. Baik 10. Parameter Persentase (%) 1.26 2.79 4.84 Sedangkan persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Probolinggo seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4.58% menyatakan sangat tidak baik dan 26.32% menyatakan kurang baik).53 2.63% dan pemerintah 21. Tabel 4. Masyarakat luar 15.79 2. Parameter Persentase (%) 1.Kurang baik 21.05 4 Pengusaha 52. Hal ini karena masyarakat berpersepsi bahwa pengusaha tidak akan bisa berdiri sendiri akan tetapi bekerjasama dengan oknum peme rintah terutama dalam peralihan lahan hutan mangrove yang diperuntukkan pada pem buatan tambak intensif . Parameter Persentase (%) 1. Jarang 15.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 15.05%. Tabel 4. Sangat tidak baik 31.79 4.53 3.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove No. Sangat sering 5.42 Pelaku pengrusakan hutan mangrove terbesar disebabkan oleh oknum pengusaha yaitu sebesar 52.58 Selain kondisi hutan mangrove yang sangat tidak baik diperparah lagi oleh sistem pengelolaan hutan mangrove yang juga sangat tidak baik (persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di pesisir Kabupaten Probolinggo sebesar 31.79 3. Masyarakat pesisir 10.05 5.79 2.79 Sedangkan upaya penyuluhan dari dinas terkait kepada masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan fungsinya bagi kehiduoan manusia masih kurang yaitu para responden menyatakan tidak pernah menerima penyuluhan sebesar 78.79 4 . Olehkarena itu upaya pelestarian dan pengamanan hutan mangrove akan mengalami kendala yang cukup berarti sehingga diperlukan strategi pelestarian hutan mangrove yang baru .6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir No. Sedang 15. Aparat pemerintah 21.53 3. Sering 10.7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove No.53 3. Tidak pernah 68.

Pengelolaan hutan mangrove harus secara terpadu baik lintas sektoral. Mengelola . Saran dari responden terhadap pengelolan: 4. (3) tidak punya bibit mangrove. persepsi masyarakat tehadap keberadaan hutan mangrove perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masayarakat akan pentingnya sumberdaya hutan mnagrove. Kebijakan ini meliputi penetapan kawasan konservasi . maka perlu adanya pember dayaan masyarakat. sebagian besar masyarakat tidak melakukan penanaman hutan mangrove dengan alasan (1) tidak tahu cara mena nam mangrove. Keterlibatanmasyarakat ini sangat penting karena rendahnya keperdulian masyarakat terhadap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove. yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat komponen utama penggerak pelestarian hutan mangrove. Sementara itu. Parameter Persentase (%) 1 Menegur 21. pada prinsipnya ada 3 kebijakan pokok yang harus ditempuh pemerintah kabupaten Probolinggo agar sumberdaya kea nekaragaman hayati hutan mangrove berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat yakni : a. Pemberdayaan masyarakat pantai mencakup dua hal pokok.3 Arahan Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Dalam menghadapi situasi sekarang dan masa depan. (2) lokasi hutan mangrove yang jauh. Oleh karena itu. kebijakan yang berkaitan cara-cara memanfaatkan hutan mangrove.63% responden menyatakan tidak mau terlibat atau diam saja melihat setiap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove. pendidikan dan parti s I pasi masyarakat b.63 3 Melapor kedesa/kecamatan dan keamanan 26. strategi yang diterapkan harus mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat selain tujuan konservasi hutan mangrove tercapai. kebijakan yang berkaitan upaya penyelamatan keanekaragaman hayati. Dengan demikian. sebagaimana tabel Tabel 4. lintas pemerintahan Agar masyarakat mau ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan. termasuk ekosistem hutan mangrove adalah pengelolaan berbasis masyarakat (Community Based Management) yang mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan. Peningkatan aksesibilitas masyarakat pantai terhadap kegiatan ekonomi yang dapat mendorong kemampuan masyarakat pesisir untuk membudidayakan sumberdaya laut secara optimal. berikut keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peran serta masyarakat sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peranserta masyarakat dalam pelestarian fungsi sumberdaya laut sebagai penyangga kehidupan di wilayah tersebut 2. Ketidakacuhan dari masyarakat dise babkan rendahnya perhatian instansi terkait untuk melibatkan masyarakat dalam setaip program yang dilakukan oleh pemerintah.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan Hutan Mangrove No.31 Kepedulian masyarakat terhada pelestarian hutan mangrove relative kurang sekali yaitu 52. kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan penelitian c. Ber dasarkan kenyataan empiris tersebut. pengelolaan dampak. yaitu 1. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan masyarakat untuk dapat memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut. Dengan demikian. Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumbedaya alam. dalam konteks pelestarian hutan mangrove. paling tidak sudah dapat ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa masalah pengelolaan hutan mangrove secara lestari adalah bagaimana menggabungkan antara kepentingan ekologis (konservasi hutan mangrove) dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mangrove.terutama yang melibatkan unsur masyarakat dalam pengelolaannya.05 2 Diam saja (tidak mau terlibat) 52. dan (4) masyarakat lebih senang menanam padi dibanding menanam mangrove.

8% respondents warga masyarakat setuju. kayu bakar dan bahan bangunan. Dengan istilah community-based management itu juga mengandung arti suatu pendekatan (approach). Sementara itu sebanyak 61. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan persepsi masyarakat pesisir terhadap keberadaan ekosistem mangrove dan mempelajari degradasi ekosistem hutan mangrove yang terjadi pada saat ini. Menumbuhkan tanggung jawab masyarakat dengan cara meningkatkan kepedulian dan partisipasi mereka dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam di lingkungan mereka. tidak memliki RTRW pemanfaatan hutan mangrove. Penelitian ini menggunakan metode survei. 2. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan daftar isian yang melibatkan 130 responden dan wawancara dengan sejumlah narasumber. KESIMPULAN a. 61. Sikap dan perilaku masyarakat terhadap dinamika degradasi ekosistem hutan mangrove menunjukkan kecenderungan yang positif. mengevaluasi maupun memonitorinya. UNIMA Ekosistem hutan mangrove di Taman Nasional Bunaken Selatan merupakan salah satu sumberdaya alam yang tipikal dan unik di Propinsi Sulawesi Utara. mengimplemetasikan. kemampuan dan kesepakatan masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan yang ada. memformulasikan. merencanakan. Sekitar 82. dan hotel. 82. dan 75. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. Dasar pemikiran atau landasan berpijak pemberdayaan mangrove bagi kesejahteraan masyarakat pesisir berbasis masyarakat adalah keberlanjutan (sustainability) usaha pemanfaatan dan pelestarian hutan mangrove.17 NO 6 NOPEMBER 2009 – ISSN 0852-5426 ANALISIS SIKAP DAN PERSEPSI MASYARAKAT PESISIR TERHADAP DINAMIKA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BUNAKEN Attitude Analysis and Perception of Coastal Community to Dynamics of Mangrove Forest Ecosystem in Bunaken National Park . .2% responden anggota masyarakat menyatakan setuju terhadap pelestarian ekosistem mangrove. sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Herry Sumampouw Dosen Jurusan Biologi. Kondisi di desa pantai terhadap pemanfaatan hutan mangrove yakni : konversi lahan menjadi tambak.8% responden suasta setuju terhadap pernyataan negatif atas keberadaan ekosistem hutan mangrove. baik ditinjau dari aspek sosial-ekonomi maupun aspek lingkungan hidup. Metilistina Sasinggala. dalam hal ini pendekatan dari bawah (bottom-up approach). =================================================================== Dari : AGRITEC VOL. Program ini bertujuan untuk: 1. dan 76. sebagai kebalikannya pendekatan dari atas (top-down approach).9% responden aparat pemerintah juga setuju atas pelestarian ekosistem.di sisi mengandung arti. Sifat merakyat ini merupakan bentuk implementasi dari kebutuhan. penebangan menjadi arang. FMIPA. pemukiman. Eksistensi ekosistem ini sekarang mulai terancam oleh berbagai faktor lingkungan dan aktivitas manusia yang mempengaruhi kelestarian ekosistem.3% responden aparat pemerintah tidak setuju. masyarakat ikut memikirkan. yang terdiri atas masyarakat. Mengembangkan suatu bentuk pengelolaan pesisir terpadu dimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemanfaatan lahan mangrove sebagai areal pertambakan secara berkelanjutan.6% responden suasta sangat mendukung terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove.Ferny Margo Tumbel. dan bersifat merakyat (bottomup). V. aparat pemerintah daerah dan suasta.

15 responden untuk investor (pengusaha). Adapun responden yang dipilih menggunakan metode Stratified Random Sampling. Parameter Tingkat Kerawanan Degradasi R0 R1 R2 Sikap dan persepsi stake holder terhadap : . karena responden yang dipilih melibatkan beberapa strata responden yaitu pemerintah. Adapun dasar untuk mengkaji kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove dinilai berdasarkan skoring (tinggi. masyarakat dan pengusaha dengan jumlah 90 responden untuk masyarakat setempat. 2 = tidak setuju (TS). pemanfaatan dan pelestarian ekosistem hutan mangrove menggunakan sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada responden. 1 = sangat tidak setuju (STS) Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi Dalam menentukan potensi kerawanan degradasi mangrove di Kawasan Taman Nasional Bunaken dilakukan dengan membandingkan hasil deskripsi di lapangan yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif dan hasil uji laboratorium yang bersifat kuantitatif. 30 responden untuk pemerintah (instansi terkait). pemerintah dan pengusaha) terhadap ekosistem hutan mangrove menunjukkan tanggapan yang berbeda. rendah) eksistensi ekosistem hutan mangrove dengan parameter biogeofisik dan parameter sosial (sikap dan persepsi) seperti yang tercantum dalam Tabel 1. Data lain berupa data sekunder yaitu laporan-laporan statistik desa/kelurahan. sedang. Informasi yang di peroleh kemudian dilakukan pengukuran menggunakan skala Likert yaitu untuk mengukur persepsi dan sikap berbagai agen (sekelompok orang) dengan memberikan skor yang mempunyai gradasi atau kontinum penilaian dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju. Data variabel-variabel ini dapat berupa data primer hasil pengamatan dan wawancara langsung (indepth interview) atau angket (kuesioner) yang diedarkan pada anggota masyarakat setempat. R2 = rawan 2 (tinggi) Hasil dan Pembahasan Sikap dan Persepsi Stake holder Sikap dan persepsi stake holder (masyarakat. 4 = setuju (S). Keterangan penilaiannya adalah : 5 = sangat setuju (SS). 3 = ragu-ragu (RG). Pada pernyataan bagian pertama (1-5) tentang kerawanan degradasi ekosistem hutan . Tabel 1. Analisis Sikap dan Persepsi Pengukuran tingkat sikap dan persepsi masyarakat dalam perlindungan. masyarakat dan pengusaha) terhadap kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove di kawasan TN Bunaken bagian selatan.Kerawanan degradasi Setuju-sangat Ragu-ragu Tidak setujumengancam ekosistem setuju sangat tidak di TN Bunaken setuju . yaitu jumlah penduduk serta sikap dan persepsi stake holder (pemerintah.Pemanfaatan hutan Tidak setujuRagu-ragu Setuju-sangat mangrove secara sangat tidak setuju maksimal setuju Keterangan : R0 = rawan 0 (rendah). pemerintah serta investor (pengusaha) sebanyak 135 responden.Penelitian ini meliputi kajian parameter ekosistem mangrove dengan variabelvariabel yang diamati sebagai berikut : Parameter sosial penduduk. R1 = rawan 1 (sedang). Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi ekosistem hutan mangrove No 1.

dengan perbedaan utama adalah bahwa Merap lebih menekankan pada pertanian padi/sawah sementara Punan lebih . Pada pernyataan pertama mengindikasikan ekosistem hutan mangrove tidak terancam karena semua stake holder memahami dan mengerti kerusakan yang dapat terjadi jika hutan mangrove mengalami degradasi. namun lebih menekankan pada konsep ‘nilai umum’. sangat penting). murah). sedangkan ‘kepentingan’ berhubungan dengan apa yang sedang di nilai dan lebih menekankan pada penilaian relatif dan bersifat subyektif. Malinau.8 % setuju. artinya tergantung pada pengetahuan dan pengalaman pribadi seseorang. SUMARDJO3 dan DOUGLAS SHEIL4 Penelitian ini menggunakan konsep ‘nilai’ dan ‘kepentingan’ (Sheil et al. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal sehingga berada pada tingkat rawan R2 (tinggi).3 % responden pemerintah tidak setuju dan 76..9 % pemerintah sangat setuju dan 75. ongkos. Lokasi penelitian terletak pada 2045’ – 3021’ LU dan 115048’ – 116034’ BT. dengan luas sekitar 2000 km2. ANDRY INDAWAN2. J. For. Tujuh desa dipilih sebagai lokasi penelitian dari 19 desa yang tersebar dari hilir hingga hulu di sepanjang sungai Malinau. Kedua suku tersebut dipilih karena memiliki budaya yang berbeda dan menonjol di DAS Malinau. 2004). sekitar 82. masyarakat dan pengusaha menganggap bahwa keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umum.2 % responden masyarakat setuju. KALIMANTAN TIMUR Dayak Merap and Punan People’s Perception of the Importance of Forest in a Tropical Landscape. Manage.7 % responden pengusaha setuju. Pemilihan desa dilakukan dengan menggunakan teknik stratified random sampling dengan strata utama yaitu suku Dayak Merap dan Punan. X (2) : 1-13 (2004) PERSEPSI MASYARAKAT DAYAK MERAP DAN PUNAN TENTANG PENTINGNYA HUTAN DI LANSEKAP HUTAN TROPIS. X No. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal. 82. mahal. sekitar 61. sehingga pernyataan pertama berada pada tingkat kerawanan R0 (rendah). 61. ‘kegunaan’ (manfaat) dan ‘kepentingan’ (penting.mangrove dapat terjadi dan merusak keseimbangan ekologis. kami menghindari penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan harga (harga. =================================================================== Dari : Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 2002) melalui pendekatan partisipasi dengan tujuan agar obyek yang diteliti yaitu masyarakat lokal dapat berpartisipasi selama penelitian berlangsung. Metode yang digunakan adalah metode pemberian skor atau distribusi kerikil (Pebble Distribution Method /PDM) (Sheil dalam CIFOR. uang. East Kalimantan) NINING LISWANTI1. ‘Nilai’ maksudnya adalah pandangan-pandangan masyarakat lokal bukan ‘nilai’ yang berkaitan dengan konteks ekonomi.8 % responden masyarakat setuju. 2 : 1-13 (2004) Artikel (Article) Trop. Sebaliknya dengan pernyataan kedua. 2002. hanya kelompok pemerintah tetap menolak dan berada pada tingkat rawan R0 (rendah). KABUPATEN MALINAU. Sedangkan untuk pernyataan bagian kedua (6-10) tentang keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejah-teraan umum. Tingkat Kerawanan Degradasi Ekosistem Hutan Mangrove Sikap dan persepsi masyarakat dan pengusaha sekitar kawasan menggambarkan kenyataan yang ada di lapangan. Jadi dalam melakukan kegiatan skoring.

maksudnya sebelum kegiatan dimulai. dan Uluk et al. =================================================================== Dari : Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik Dalam Program Studi Magister Teknik Arsitektur Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Oleh Mohamad Hendra Irawan 087020016/AR FAK TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2 0 1 0 Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. dan di taruh di lantai sehingga dapat dilihat dan dijangkau oleh semua informan. 2002 dan 2004). Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. 2002 dan 2004. Madras Hulu dan Sukadamai. jika 10 biji diletakkan di kartu ‘hutan’ dan 5 biji di kartu ‘jekau muda’. Setelah diberikan penjelasan dan contoh. dan Long Jalan. Setiap kegiatan skoring selalu mengikuti prosedur yang pasti. Sebagai ilustrasi. (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat. Selanjutnya. para informan kemudian di minta untuk menyebarkan seratus alat penghitung (dapat berupa biji/kancing/korek api) di atas kartu-kartu tersebut menurut ‘kepentingan’ masyarakat lokal. Akan tetapi. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia. (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini. Liu Mutai. maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. Kegiatan penelitian dilakukan dari bulan Juni 2003 hingga Mei 2004. Desa Laban Nyarit mewakili suku Punan dan Merap. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kegiatan skoring dengan teknik diskusi kelompok terfokus (lihat Sheil et al.. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik. (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat.menekankan pada aktivitas berbasis hutan (Sheil et al. 2001). Desa Merap diwakili oleh Gong Solok. (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan guna lahan. Langap dan Paya Seturan. (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan. Polonia. maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. fasilitator memperkenalkan setiap kartu berlabel dan bergambar yang mewakili tipe-tipe lahan. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung.. Sarirejo. Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia. faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal(Socially Rooted Values). sedangkan desa Punan diwakili oleh Punan Rian. dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan. (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota. (9) tingkat . ini artinya lahan hutan adalah dua kali lebih penting dibandingkan lahan jekau muda. data-data tersebut ditabulasi dan di analisis berdasarkan nilai ‘kepentingan’yang diperoleh dari hasil setiap diskusi kelompok terfokus.. (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan. pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values).

dan lingkungan (penataan ruang tumbuh tingkat lapangan). Perubahan Tata Guna Lahan. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. sosial. (d) memanfaatkan hasil dari sumberdaya hutan tidak hanya kayu. Pada kedua bentuk organisasi tersebut (kawasan dan sumberdaya manusia). Selain organisasi kawasan. Kedua. tersedianya ATLAS. semak belukar dan tanah kosong) mencakup kegiatan-kegiatan penataan batas. San Afri. merealisasikannya harus dengan cara uji-uji lapangan sebagai tempat . (b) ditetapkannya unit manajemen (pengelolaan) hutan mulai dari unit pengelolaan terkecil tingkat lapangan dan unit kelestarian hasil sumberdaya hutan.pengukuran. dan (c) jenjang pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan pengusahaan hutan.kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. perlu adanya kerjasama antara dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. tersedianya ATURAN yang sesuai untuk keperluan menuju hutan lestari(aturan kelembagaan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangat beragam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. juga diperlukan aturan yang berkaitan dengan aturan penataan organisasi sumberdaya manusia seperti : (a) penataan organisasi kerja tingkat lapangan dan menetapkanpenanggung jawabnya. pemerintah harus mempertahankan dan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten. termasuk dalam prinsip ini adalah tersedianya secara pasti petapeta detail lokasi hutan yang kemudian dimantapkan dan dikukuhkan sebagai kawasan hutan yang akan dikelola dan diusahakan dalam jangka panjang. Proses penataan kawasan hutan (hutan primer. (b) penataan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untukmembangun unit manajemen dan pengusahaan hutannya. pemetaan. Sosio-Ekonomi =================================================================== PERSEPSI DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN FUNGSI HUTAN SEBAGAI DAERAH RESAPAN AIR ( Studi Kasus Hutan Penggaron Kabupaten Semarang ) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Umar L4K 006027 Pengelolaan hutan dan pengelolaan sumberdaya hutan (Forest resource management) memerlukan suatu faktor yang disebut dengan enabling factors (factor faktoryang memungkinkan) pengelolaan dan pengusahaan suatu kawasan hutan menjadi kawasan yang lestari dicapai. Berdasarkan hasil penelitian. Dalam pengelolaan hutan lestari ada enabling factor yang harus dipenuhi yang disebut dengan prinsip 3A + P yaitu (Awang. 2008) : Pertama. (c) penatagunaan kawasan hutan untuk menjamin terbentuk kawasan yang berfungsi ekonomi. inventarisasi hutan. pembukaan wilayah hutan. pembagian kawasan hutan ke dlm fungsi-fungsi dan kemanfaatan. Kata Kunci: Persepsi. Termasuk di sini adalah semua aturan yang berkaitan dengan aturan pembentukan organisasi kawasan seperti: (a) batas-batas wilayah pengelolaan yang jelas. dan tidak memanen hasil lebih dari kemampuan yang disediakan oleh hutan tersebut. sekunder.

pembelajaran menyusun aturan-aturan yang dibutuhkan, sehingga aturan yang diperoleh tidak top-down, tetapi bottom-up. Sejak dulu kala pengelolaan hutan diawali oleh pendekatan bottom-up dalam membentuk organisasi lapangannya. Konstruksi penataan organisasi dari bawah dijamin akan menghasilkan tingkatan pengenalan dan rasa memiliki (rekognisi) dan legitimasi yang tinggi dari para pihak terkait. Dengan prinsip bottom-up ini pula dapat dimengerti bahwa sesungguhnya penataan kawasan hutan sejak lama sudah sangat akrab dengan muatan lokal, spesifik wilayah, dan memberikan peluang bagi terlaksananya distribusi otoritas kewenangan pengelolaan ditingkat wilayah (otonom dalam penataan kawasan , pengembangan Ketiga, semua hal yang berkaitan dengan ATLAS dan ATURAN harus dijalankan secara AMANAH. Semua kesepakatan para pihak untuk membangun unit pengelolaan dan pengusahaan sumberdaya hutan harus dijalankan secara amanah, teguh pada pendirian yang memiliki komitmen tinggi terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban para pelaksana / pengelola hutan. Tidak ada penyimpangan aturan dan kesepakatan dan juga tidak ada korupsi dalam menjalankan tugas-tugas pembangunan hutan dan kehutanan. Keempat, memastikan faktor penting lainnya adalah PENGAWASAN. Kelemahan paling mendasar dalam pembangunan sumberdaya hutan di Indonesia selama ini adalah tindakan pengawasan. Semua yang berkaitan dengan atlas, aturan, dan pelaksanaan yang amanah, tidak mungkin dapat dicapai dengan baik jika tidak ada tindakan pengawasan yang sistematis, terukur, dan terus menerus. Tindakan pengawasan mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi. Hasil dari monitoring dan evaluasi dijadikan rujukan utama un tuk melakukan penyempurnaan aturan-aturan / kebijakan dan perbaikan hal-hal yang berkaitan dengan teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan. Konsep Environmental Adjusment (EA) adalah suatu proses dan pengukuran ===================================================================

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI KECAMATAN MEDAN POLONIA MOHAMAD HENDRA IRAWAN 087020016/AR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N2 0 1 0

Abstrak
Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnyapertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Akan tetapi, dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan, pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values), faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal (Socially Rooted Values). Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan perubahan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia, maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung, Polonia, Sarirejo, Madras Hulu dan

Sukadamai. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik, maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia, (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini, (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan, (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan tata guna lahan, (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan, (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota, (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat, (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat, (9) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangatberagam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah harus mempertahankandan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten, perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. Kata Kunci: Persepsi, Perubahan Tata Guna Lahan, Sosio-Ekonomi

DAFTAR ISI
ABSTRAK……………………………………………….……………… i ABSTRACT……………………………………………….…………… ii KATA PENGANTAR……………………………………………….… iii RIWAYAT HIDUP PENULIS…………………………………….….. v DAFTAR ISI……………………………………………………………. vi DAFTAR GAMBAR……………………………………………………. ix DAFTAR TABEL………………………………………………………. x BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………….... 1 1.1. Latar Belakang……………………………………………………..... 1 1.2. Perumusan Masalah………………………………………………..... 3 1.3. Landasan Teori…………………………………………………….... 3 1.4. Tujuan Penelitian……………………………………………………. 6 1.5. Batasan Penelitian…………………………………………………… 6 1.6. Kerangka Berpikir…………………………………………………… 7 1.7. Struktur Penulisan…………………………………………………… 9 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………… 12 2.1. Persepsi Masyarakat…………………………………………………. 12 2.1.1. Definisi……………………………………………………….. 12 2.1.2. Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi…………….. 13 2.2. Perubahan Tata Guna Lahan……………………………………........ 15

2.2.1. Definisi………………………………………………………... 15 2.2.2. Model Perubahan Tata Guna Lahan………………………….. 17 2.3. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan………. 22 2.4. Kaitan Kajian Teori Terhadap Kegiatan Penelitian ………………… 36
Universitas Sumatera Utara

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……………………..……… 39 3.1. Metode Penelitian………………………………………………….... 39 3.2. Populasi Dan Sampel………………………………………………... 40 3.2.1. Populasi………………………………………………….......... 40 3.2.2. Sampel ……………………………………………………….. 41 3.3. Identifikasi Variabel………………………………………………… 42 3.4. Teknik Pengumpulan Data………………………………………...... 44 3.4.1. Pengumpulan Data Primer……………………………….......... 44 3.4.2. Pengumpulan Data Sekunder…………………………………. 45 3.5. Teknik Pengolahan Data…………………………………………….. 46 3.6. Teknik Analisis Data………………………………………………… 47 3.7. Tahapan Penelitian……..…………………………………………….. 48 BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI………………… 50 4.1. Kondisi Umum Kecamatan Medan Polonia………………………..... 50 4.1.1. Letak Geografis Dan Administrasi Wilayah…………….......... 50 4.1.2. Demografi Kependudukan…………………………………… 52 4.1.3. Ekonomi………………………………………………………. 54 4.1.4. Sosial Budaya Dan Kesehatan Masyarakat…………………… 54 4.2. Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia……………………. 56 4.2.1. Kedudukan Bandar Udara Polonia Dalam Konteks Perkotaan ……………………………………………. 56 4.2.2. Kondisi Eksisting Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………..................... 60 4.2.3.Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia………………………………………….............. 70 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………... 76 5.1. Karakteristik Responden………...…………………………………… 76 5.1.1. Karakteristik Sosial Responden…………………….…….......... 76 5.1.2. Karakteristik Ekonomi Responden……………….…….....,,…., 79 Universitas Sumatera Utara 5.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………. 82 5.2.1. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Ekonomi Yang Berorientasikan Pada Pengembangan Modal Finansial (Profit Making Values)……............................. 82 5.2.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Pemenuhan Kebutuhan Dasar Dan Menjaga Keberlangsungan Hidup Masyarakat Umum (Public

...3.... Data Jumlah Penduduk Berdasarkan Usi Jenis Kelamin……53 4....1.... PENUTUP……………………………………………………........... Perwujudan Sistem Prasarana Dalam Arahan Penggunaan Lahan Tahun 2008-2028………………….. 133 6......... 76 5.…………………………………....... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Penghasilan RataKeluarga/ Bulan79 ... 42 3. Kelemahan Penelitian Dan Saran Dilakukannya Penelitian Lebih Lanjut…………………………………………………………........... 73 4. Data Administratif Wilayah……….. Rencana Penggunaan Lahan Di Kecamatan Medan Polonia ....2........ 137 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 138 LAMPIRAN-LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No.. Saran / Rekomendasi ………………………………………………… 135 6..... 77 5..... ……… 54 4. Penentuan Jenis Variabel Terikat (Descrete) ...6......1.1.....4....5........4..... Judul Hal 3.2.... Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Di Kecamatan Medan Polonia……………………………………………..1.... Kesimpulan………………………......19...................... 125 6. 99 5.. 78 5............ Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar BelakangPendidikan…78 5.. 43 4........ Data Jumlah Penduduk Usia 7-12 Tahun Dan Status Pendidikan Di Kecamatan Medan Polonia……………….3..3............……………..... Data Kependudukan………....2.. 50 4..1..... Judul Hal 1..5... Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Nilai-Nilai Sosial Yang Bertumbuh Kembang Di Daerah Dimana Lahan Itu Berada (Social Rooted Values) …………… 113 BAB VI. Kerangka Berpikir………………………………………………............... 52 4..................... Penentuan Jumlah Sampel Proporsional………. 9 2...... ……… 77 5. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar Belakang Etnis / Suku....18........ ……… 53 4....2.... Proses Terjadinya Persepsi……………………………………… 14 DAFTAR TABEL No.2..3.. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Agama……... 75 5.Interest Values………………. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Usia……………….... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Status Pernikahan…………...…….1.

... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Penghasilan Rata-rata per Bulan ......21. Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan….....7..................8.... 109 5........... 110 5... Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan…… 88 5... 89 5. 115 5..................17.... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenis Pekerjaan…..............27... 114 5.......18...... 104 5....26................. Tingkat Persetujuan THD Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………......5..23.. Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan…………...........11........ Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal…81 5. 82 5......15. Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan……............. 118 5... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Pengeluaran R2 Keluarga/ Bulan 80 5. Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Status Rumah Tinggal ……. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Status Rumah Tinggal............. 85 5.14. 97 5....10........ Tingkat Persetujuan Terhadap Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………................13.9....25........ Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………… 100 5.... Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal …….. 119 . 106 5........ Karakteristik Mata Pencaharian Responden BerdasarkanTingkat Pendidikan…. Tingkat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan. 96 5........12....24..16. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Mata Pencaharian.. 80 5. 92 5...28.. 81 5..... Tingkat Keyakinan Masyarakat Terhadap Tersedianya Fasilitas Dan Infrastruktur Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………....... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenjang Pendidikan 93 5...19..22..... Tingkat yakinMasY TDp Tersedianya Fasilitas Infrastruktur Berdasarkan Lo.. Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………… 102 5...... Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan … 83 5.... Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………….29....20..

Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg........ suhu udara. Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herbarium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986). handrefractometer.. Relative Dominance (DR) and Informace Value. Relative frekwency (FR)... 121 5... sapling. suhu air. gunting. Pangkalan Batang.. Tanjung Sekodi... 2004 © Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau ISSN : 1829-5460 26 STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*)... This study used quadrate methods with quadrate was placed along of trannsect.. The results of data analysys showed that generally was founded 21 species frok.79%) at location VII (Desa Selat Baru).. That dominanced species is Rhyzophora apiculata (132.. Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------Kerapatan Relatif = --------------------------.. structure.. Dibuat 2 buah transek pada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telah ditetapkan). Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan……………...x 100% . pH. that what founded 2 sapling starata vegetation (Rhizophora apiculata dan Thizophora mucronata) has been distributed all of area study (100%)... Observation variable are Relative Density (KR)... pancang.. thermohigrometer. kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling batang setiap individu tersebut.. Nursal Dan Supriyanti Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau.. at mangrove forest of Bengkalis Islands... kadar organik dan tekstur tanah. 1974)... kertas koran.......5..... parang. Selat Baru dan Jangkang......... Key words : Mangrove. strata.... alkohol 70 %. tali plastik. Bahan yang diperlukan adalah : aquades................. secara purposive sampling.. Pada tiap lokasi diukur parameter lingkungan yang meliputi salinitas.31. Pekanbaru 28293 Diterima 17 April 2004. meteran..... sapling stratum....... Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan…………... Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada.. Ketam Putih..... Disetujui 20 Juni 2004 Abstract The research about structure and distribution of sapling strata vegetation has been done at mangrove forest ecosystems in Bengkalis Islands Riau Province from March until November 2002........... vegetation PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon.. 1(1):26-30... 122 Jurnal Biogenesis Vol... sedangkan alat yang dipakai : Kompas... Bantan Air.30.... Ten quadrate (10x5 m) was maked on the trannsects with systematically systems.... soiltester dan botol semprot..... Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek..

x 100% Dominansi = ------------------------------------------Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi Relatif = -------------------------.x 100% Nilai Penting = FR + KR + DR HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur vegetasi strata sapling Tabel 1.75 Rhizophora mucronata 1899 1724 Keterangan: 1.07 Rhizophora mucronata 12. penyebaran yang luas dari jenis-jenis Rhizophora juga ditunjang oleh sifat dan cara perkembangbiakan dari biji yang bersifat vivivar. KR : Kerapatan Relatif. Tabel 3. 3.52 32. Komposisi dan penyebaran sapling mangrove di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis No Nama local Nama ilmiah Family 1 1 Bakau putih Rhizophora apiculata Rhizophoraceae + Jumlah 9 10 10 5 10 5 12 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 100 Relatif (FR = 34.69 Xylocarpus granatum 19.32 35.48%) dari jenis ini dibandingkan dengan jenis lainnya.41 2 Excoecaria sp 21. FR : Frekwensi Relatif. Faktor Fisika-Kimia Ekosistem Mangrove . Selain faktor habitat yang sesuai. Penyebaran vegetasi Strata Sapling Tabel 2. NP : Nilai Penting dominan pada kawasan ini. 2.79 27. Desa Pangkalan Batang.46 89. DR : Dominansi Relatif.30 12. Biji yang telah berkecambah selagi masih di dalam buah yang masih melekat pada tumbuhan induknya memberikan kesempatan untuk dapat tumbuh dengan baik dalam hutan yang selalu digenangi oleh air pasang. Bengen (2002) menyatakan bahwa daur hidup yang khusus dari jenis bakau (Rhizophora sp) dengan benih yang dapat berkecambah pada waktu masih berada pada tumbuhan induk sangat menunjang pada proses distribusi yang luas dari jenis ini pada ekosistem mangrove. Hasil pengukuran faktor fisika-kimia di .28 15. Desa Meskom.Frekwensi =----------------------------------------------Frekwensi Relatif = --------------------------. Tiga jenis utama vegetasi sapling mangrove yang memiliki nilai penting tertinggi pada masingmasing lokasi penelitian Lokasi Spesies FR KR DR NP 1 Excoecaria sp 26.

DAFTAR PUSTAKA ======================================================================== Kriteria inklusi dalam penelitian : .5 28.8 5 5. tetapi sejauh mana masyarakat sekitar terlibat dalam kegiatan tersebut. Diantara 21 jenis sapling yang ditemukan jenis vegetasi sapling tersebut memiliki nilai penting tertinggi dan tersebar dengan baik pada ke tujuh lokasi pengamatan dengan penyebaran 100%. perlu dilakukan penelitian tentang persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah.7 27 5 5.Responden Perempuan ataupun Laki-laki .8 21.Responden yang dapat berkomunikasi dengan baik .5 29 KESIMPULAN Struktur vegetasi strata sapling di kawasan hutan mangrove pulau Bengkalis didominasi oleh jenis Rhizophora apicukata dan Rhizophora mucronata yang termasuk famili Rhizophoraceae.7 29.kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis Parameter 1 2 3 PH tanah 5.9 6 30 6 5.9 67 54 54 69 Salinitas (o/oo) 20 24 28 23 25 30 30 Kadar organik tanah (%) 23. perancangan dan pelaksanaan berbagai kemungkinan manfaat yang dapat diperoleh dari usaha perlindungan kawasan konservasi. partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).75 Suhu udara (0C) 28 28 30 Suhu air (0C) 30 28 30 28 30 28 20 Kelembaban udara (%) 60 44 31.3 29 16.0 Tekstur tanah Liat Liat Liat Liat Liat Liat Liat 4 5.9 30 7 5. Dengan demikian sapling tumbuhan Rhizophora sp merupakan vegetasi mangrove yang berperan penting khususnya dalam membentuk regenerasi di masa yang akan datang pada kawasan hutanmangrove Pulau Bengkalis. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa keberhasilan upaya pengelolaan kawasan konservasi laut tidak hanya tergantung pada pemerintah saja.14-45 th . Karenanya peran serta masyarakat harus dilibatkan pada identifikasi.4 4.Tingggal di sedan n bersedia jadi resp PERSEPSI DAN PARTISIPASI NELAYAN TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT KOTA BATAM TESIS PROGRAM PASCA SARJANAMANAJEMEN SUMBERDAYA PANTAI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 Oleh : Mardijono K4A 006 014 Abstrak Peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kota Batam ditujukan untuk meyakinkan masyarakat akan manfaat perlindungan kawasan tersebut. . Oleh karena itu. Tujuan Penelitian Mengkaji hubungan persepsi.

Mengkaji partisipasi masyarakat setempat dalam mengelola (KKLD) tersebut 3................. 29 3...... Jenis dan Sumber Data .... 29 3.. Analisis Data .......................98............................................1 Persepsi Masyarakat ...... 1........... Rumusan Masalah Persepsi dan partisipasi masyarakat merupakan hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah selain peranan pemerintah....................................3........................... Mengkaji peranan pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD)... 28 3.....3..................Metode penelitian adalah survei dengan penekanan pada variabel persepsi..... par tisipasi masyarakat dan peran Pemerintah.. Metode Penelitian .................................... Lokasi ...................3........ Mengkaji hubungan (korelasi) antara persepsi dan partisipasi mesyarakat dengan program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah dalam mengelola ........ 2..... 30 3..... Variabel Penelitian ........... 28 3...................... 27 3................................... 27 3................... 28 3.... Pengelolaan DAFTAR ISI BAB III........................3..........4........ Latar Belakang 1..... Manfaat Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2... Tujuan Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut diatas. karena mampu mengubah persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan bersama KKLD di Kota Batam.............. 30 3..................6... dengan nilai r2 0..8.....2.1. disamping itu peran Pemerintah dalam kegiatannya yang melibatkan masyarakat mampu memberikan motivasi sehingga mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD..............................2 Partisipasi Masyarakat ........ Teknik Pangumpulan Data ................. hubungan antara ketiga variable dilakukan uji regresi.............1................. peran Pemerintah mempunyai andil yang besar dalam penge lolaan KKLD............................. Populasi dan Sampel ... Untuk itu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan seperti tersebut diatas sangat diperlukan dalam pengelolaan kawasan konservasi laut daerah............. Skala Pengukuran ......1 Definisi Persepsi ...... maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1.. pengaruh ini juga secara langsung berhubungan dengan partisipasi masyarakat dengan nilai r2 0..................................2....................3..3 Peranan Pemerintah ....... 4......99. Kata-kata kunci : Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Pesisir.........3........... 1........ Hasil penelitian........................... Mengkaji persepsi masyarakat setempat mengenai (KKLD) dan manfaatnya..5........7.......... 31 BAB I PENDAHULUAN 1..............................4............... METODE PENELITIAN 3... 28 3.......

. Kehadiran Kehadiran merupakan varian partisipasi tinggkat pertama yang lebih mudah mnjadi tolok ukurnya sebab jika seseorang hadir dalam suatu kegiatan maka ia dapat dikatakan telah berperan serta. Pemilikan dan pengendalian Pemilikan dan pengendalian merupakan varian tertinggi dari peran serta secara kualitatif. suasana hati.. Kepemimpinan Faktor pertama proses pengendalian usaha dalam pembangunan ditentukan sekali oleh kepemimpinan. yaitu unsurunsur dalam ingkungan sekitar dapat mempengaruhi persepsi (Robins. b. Beberapa hal yang mempengaruhi persepsi : 1. Individu dikatakan berperan serta dalam varian ini apabila terlibat dalam penentuan masalah. kebijaksanaan dan rencana . karakteristiknya dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. antara lain sikap.rencana akan memperoleh dukungan bila hal tersebut diketahui dan dimengerti oleh masyarakat. menyatakan varian peran serta atau partisipasi adalah : 1. ada tiga faktor yang mempengaruhi peran serta atau partisipasi yaitu : a. bila seorang individu memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya. Individu yang berperan serta pada varian ini tidak hanya hadir dan berpresentasi tetapi lebih dari itu. c. prestasi belajar sebelumnya dan pengharapan. Tolok ukur varian pertama peran serta adalah kehadiran yang bersifat kuantitatif. motif/kebutuhan individu.1. Kepada syarakat yang berhubungan erat dengan . perumusan metode dan pendekatannya serta pembuatan keputusan. yakni memiliki (sense of belonging) Menurut Tjokroamidjoyo (1990). Komunikasi Gagasan . Metode Penelitian metode survei. Ini meliputi aktivitas penentuan masalah. Situasi. fisiologis (pengiriman hasil penginderaan ke otak melalui saraf sensoris) dan psikologis (ingatan. 3. persepsi adalah suatu proses mental yang rumit dan melibatkan berbagai kegiatan untuk menggolongkan stimulus yang masuk sehingga menghasilkan tanggapan untuk memahami stimulus tersebut. target yang akan diamati. Pendidikan Tingkat pendidikan yang memadai akan memberikan kesadaran yang lebih tinggi dalam berwarga negara dan memudahkan bagi pengembangan identifikasi terhadap tujuan-tujuan pembangunan yang bersifat nasioanal. yakni proses fisik (penginderaan). Representasi Representasi merupakan varian kedua dari peran serta yang secara kualitatif lebih tinggi dan mendalam jika dibandingkan dengan varian pertama. BAB III METODE PENELITIAN 3. 2. penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristikkarakteristik pribadi dari pelaku persepsi. 3. 3.3. perumusan masalah.2 Definisi Partisipasi Tjokroamidjoyo (1990).Menurut Saptorini (1989). 1996) 2.2. pemrosesan informasi di otak). persepsi dapat terbentuk setelah melalui berbagai kegiatan. pengalaman masa lalu. Lokasi Penelitian. perhatian.gagasan. pelaku persepsi. 2.

konservasi laut yaitu nelayan juga masyarakat lain seperti tokoh masyarakat yang berdomosili di lokasi penelitian. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut : a.8. Respondennya adalah nelayan. 3. tokoh agama. Kelurahan Pulau Abang.5.3. Jenis dan Sumber Data data primer wawancara langsung dengan responden.2. pejabat Dinas Perikanan dan elautan serta instansi terkait. Kuesioner : data primer. Skala pengukuran .ncara langsung dengan daftar pertanyaan yang telah disediakan sebelumnya. Peranan Pemerintah . Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan yang saling mempengaruhi antara peran Pemerintah dalam mempengaruhi persepsi masyarakat dan seberapa besar peran pemerintah mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD di lokasi Penelitian. tokoh adat. dan pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan serta instansi terkait. partisipasi dan peran pemerintah.3. partisipasi dan peran pemerintah mengenai pelaksanaan KKLD. dari seluruh responden pada masing lokasi penelitian setara 15 % dari jumlah penduduk berprofesi sebagai nelayan.6. 3.7. kepala kampung..1. c. b. Persepsi Masyarakat 3. hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antar kedua varibel tersebut dalam pengelolaan KKLD. 3.3. Kelurahan Karas Responden yang diambil berjumlah 31 orang dan Kelurahan Galang Baru Responden yang diambil berjumlah 100 orang. yakni. Partisipasi Masyarakat 3.…. Kelurahan Karas dan Kelurahan Galang Baru. Sedangkan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang berarti antara ke tiga variabel tersebut dilakukan uji regresi antara varibel.3. Populasi dan Sampel masyarakat nelayan yang ertempat tinggal di lokasi penelitian yaitu diwilayah Kawasan Konservasi aut Daerah (KKLD) Kota Batam yaitu warga Kelurahan Pulau Abang Responden yang diambil berjumlah 113 orang. tokoh masyarakat.4. Metode ini bersifat deskriptif korelasi.Data sekunder 3.3. Analisis Data Data yang dianalisa adalah persepsi .3. tokoh agama. Variabel Penelitian 3. variabel partisipasi dan variabel peran pemerintah. Variabel yang diteliti adalah variabel persepsi. Sampel diambil dengan memberikan peluang yang sama bagi setiap masyarakat untuk dipilih sebagai responden. tokoh adat. Teknik observasi (pengamatan) : teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai potensi sumberdaya pesisir dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan setempat. persepsi. tokoh asyarakat. kepala kampung. Teknik interview (wawancara) : untuk mendapatkan data primer maka menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur (semi structured interview) yaitu nelayan. 3. Demikian juga uji regresi dilakukan pada variabel persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat.

mempunyai 42 buah pulau besar dan kecil. Kondisi Wilayah Pesisir dan Kelautan Kota Batam 4. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1. Setuju/tahu/positif diberi skor 3 3. 39 Tabel 1.dari kuesioner adalah data ordinal yang mengukur ingkatan atau gradasi dari sangat positip sampai sangat negatif.1. Sangat setuju/sangat tahu/sangat positif diberi skor 4 2. sebelah Selatan dengan perairan Kecamatan Senayang. Skala yang igunakan untuk mengukur sikap.61% pengusaha/Tauke dan 1.2. Sangat tidak setuju/tidak tahu/tidak pernah diberi skor 1 32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.3.1.75 % petani.90 2 Petani 50 5. 1. sebelah utara dengan kelurahan Si Jantung.1. Berdasarkan data monografi kelurahan Pulau Abang.15 6 Angkatan laut 4 0. misalnya : 1. diantara pulau yang berpenghuni antara lain Pulau Abang Besar. Kondisi Geologi dan Geomorfologi Pantai 4.1. Segayang. Secara administrasi batas wilayah Kelurahan Pulau Abang.4. 2006). Letak Geografis 4.1.46 7 Babinsa 1 0.2.1.02 % buruh.75 3 Buruh 35 4. dan Dapur Enam.11 Jumlah 870 100. Pulau Petong. Gambaran Umum Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) 4.15% pegawai negeri. maka jawaban dapat diberi skor.90 % mata pencaharian tetap masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan di laut (nelayan). Batimetri 4. Tidak setuju/cukup tahu/ tidak pernah/negatif diberi skor 2 4.1. 2007 . sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat ketergantungan masyarakat terhadap perairan laut sangat tinggi. pendapat dan persepsi seseorang atau ekolompok orang tentang fenomena sosial yaitu skala likert (Sugiyono. Pulau Abang Kecil. Untuk keperluan analisis kuantitatif. sebelah Timur dengan Kelurahan Galang Baru dan Kecamatan Senayang dan sebelah Barat dengan perairan Kecamatan Moro Kabupaten Tanjung Balai Karimun.02 4 Pengusaha 14 1. Bentuk dan Tipe Pantai 4.2. Pasir Buluh. dan sekitar 5. Kelurahan Pulau Abang Kelurahan Pulau Abang terletak dibagian selatan Kota Batam. Jenis Mata Pencaharian di Kelurahan Pulau Abang No Pekerjaan JumlaH pERSENTASE 1 nEayan 756 86. ternyata bahwa sebahagian besar mata pencaharian masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan. 4.00 Sumber : Monografi Kelurahan Pulau Abang. Sekitar 86.61 5 Pegawai negeri sipil 10 1.

56 4.1.1.52 3. 0 – 5 300 11. 6 – 16 596 22. M atPencaharian jmlah(jiwa)Persentase 1.11 2. PNS 12 1. Secara kultural. Pemasaran dan Pasca Panen 4. 2007 4. Jenis Alat Tangkap 3. Sarana Pendidikan.11 %). 17 – 25 505 19.2.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru. Keberadaan mata pencaharian lain pada prinsipnya mendukung kegiatan ini perikanan khususnya perikanan tangkap. Hasil Tangkapan 5. sebagian besar penduduk Kelurahan Galang Baru merupakan nelayan (87. 2007 Tabel 3.1. Perumahan 8. Pelabuhan dan Jalan 6. Pengusaha sedang 1 0. Sarana Air Bersih 7.83 5. Dengan demikian ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya perikanan sangat besar. Transportasi Laut 5.3. Nelayan 669 87.2.82 3. komunitas yang ada dikawasan ini merupakan komunitas masyarakat melayu yang berasal dari kerajaan Daik Lingga.52 Jumlah 2611 100.13 Jumlah 768 100. Struktur Ekonomi dan Kultur Sosial Masyarakat Jika dilihat dari prosentase jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian sebagaiman tersebut diatas.56 5. Pedagang 35 4. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 1. Bahasa yang mereka .1. Petani 4 0.2. 56 tahun ke atas 144 5. Fasilitas Umum 1.3. Kegiatan Budidaya Perikanan 4. Melihat kondisi yang seperti ini dapat dikatakan bahwa basis perekonomian Kelurahan Galang Baru adalah perikanan tangkap. 4. Sarana Perdagangan 4. Sarana Kesehatan 2. Jumlah penduduk Kelurahan Galang Baru menurut usia No Usia (tahun)Jumlah(jiwa) Prsentase 1. Musim Penangkapan.4.2. Kelurahan Galang Baru Tabel 2.2. Kapal Motor Perahu 2.34 4.4.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru. Daerah Penangkapan 4. Buruh indusri 47 6. Penerangan Rumah 4.2.2. 26 – 55 1066 40. 3.1.2. Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Galang Baru No.49 2.12 6.2.

Pada sisi lain. Dudukan Putih (Lumnitzera racemosa). Seperti diketahui kawasan ini sangat dekat dengan Negara Singapura dan kontak secara langsung maupun tak langsung dengan luar sudah berlangsung cukup lama. Bakau Putih (Rhizophora mucronata). yaitu : Api-Api (Avicennia marina). Gadelam (Derris trifolata). 2007 Jenis Mangrove yang dominan adalah jenis Rhizophora. Waru (Hibiscus tiliacus). Seperti halnya. Masyarakat telah terkontaminasi oleh pendatang untuk menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. bom ikan diperkenalkan oleh pendatang dari Suku Buton. Karas 1. 4. Kelimpahan dan Keragaman Ikan Karang di Masingmasing Kawasan Kawasan Jumlah Transek Kelimpahan (Individu) Kategori Keragaman Kategori I 8 121.2. Namun kehidupan social masyarakat dikawasan ini sudah tidak lagi memiliki kultur yang khas. Lenggadai (Bruguiera parvifora). Kearifan dalam memanfaatkan dan menjaga sumberdaya alam hanya ditunjukkan oleh segilintir orang sehingga kearifan tersebut seolah hilang. Sumbur (Galang Baru) 0. Kegiatan Perikanan Kelurahan Galang Baru. Nyirih (Xylocarpus granatum). Pedada (Sonneratia alba).01 Tinggi . Tingi (Ceriops tagal). Nguan (galang baru) 1. Hilangnya kekhasan kultur ini. Alat dan Musim Tangkap 2. Dudukan Merah (Lumnitzera littorea).88 Rendah 3.pergunakan adalah Bahasa Melayu. Persentase Tutupan dan Keragaman Jenis Mangrove KKLD Kelurahan Keaneka ragaman (H’ Pohon) Kategori Kerapatan /Ha Kategori Pulau Abang 0. Bakau Merah (Rhizophora aplicuta). Tabel 9. pandangan dan persepsi masyarakat terhadap keberadaan sumberdaya alam tidak lagi mengikuti petuah dan petata-petiti budaya seperti yang terkandung dalam petuah adat serta pantun-pantun melayu. Pendatang dari suku Buton disinyalir pertama kali menggunakan bom dalam aktivitas nelayan di kawasan perairan Kepulauan Riau. 1.4. boleh dikatakan (patut diduga) sangat dipengaruhi oleh derasnya arus globalisasi (pengaruh asing) yang datang dari Negara Singapura tersebut.20 Tinggi 164 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam. Kegiatan Budidaya Perikanan Tabel 6.76 Sedang 213 Tinggi P. Buta-buta (Exacaecaria agallacha). lebih jauh disampaikan bahwa yang membentuk hutan mangrove dikawasan studi dikenali terdapat 12 (dua belas) jenis vegetasi.2. Daerah Penangkapan 3.62 Tinggi 191 Sedang P.70 Sedang 179 Sedang P.

145 4.. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Galang Baru 4. Sangat Mengetahui Nilai 3. Jenis Satwa yang Dilindungi di Kawasan Penelitian No Nama Lokal Jenis I II III IV 1.+ + + 2.4% 3. 2007 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sumbur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) yang terdapat di KKLD pada tiga Kelurahan disajikan pada tabel 10 berikut.9% 22.8% 51.51 Rendah IV 4 162.0% 1.. Kondisi Mangrove Sangat Baik Nilai 3.9% Sumber : Data primer diolah. 2008 Keterangan : Nilai 4. Hal ini dikarenakan mereka telah mengetahui dari sosialisasi dari pemerintah baik lewat .11 Sedang 1. Lumba-lumba Dolphinia sp + .74 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam.3.0% 3. Kondisi Mangrove Sangat rusak Rata – rata 73.0% 14.37 Rendah 2.6% 9.0% Sumber : Data primer diolah. Buaya Crocodylus porosus . Kondisi Mangrove Baik Nilai 2. dan Pulau karas. Tabel 10. Galang Baru.14 Gonggong Littorina sp .2 % responden mengetahui bahwa mangrove yang berada di 3 Karas 8 16 3 4 25.5.5.2% 0. Kondisi Mangrove Rusak Nilai 1.+ + + 15 Kima Tridagna + .2 % responden mengetahui aturan Daerah Perlindungan Laut yang berada di kawasan Pulau Abang.02 Sedang III 9 198. 2006 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sembur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) Jumlah 103.0% 3.2.85 Rendah 2. Cukup Mengetahui Nilai 1.7% 29.rata 58.1% 4. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Karas Tabel 14.7% 12.II 13 109.3. Persepsi Masyarakat Mengenai Kondisi Terumbu Karang Tabel 15.+ Sumber: Studi Penyusunan Kawasan Marine Managemen Area.0% 3 Karas 21 9 1 0 67. Duyung Dugong dugon + .2. Mengetahui Nilai 2. 2008 Keterangan : Nilai 4.2.5% 2 Galang Baru 82 14 3 1 82. Persepsi Masyarakat Tentang Kondisi Mangrove NoLokasiPenelitianSkore Persentase 43214321 1 Pulau Abang 79 25 5 4 69. Tidak Mengetahui Rata .

s pada tahun 4. Partisipasi dan Peran Pemerintah terhadap KKLD Berdasarkan pengelompokan data dari persepsi masyarakat. Wilayah Kelompok Tingkat Total Skor 1 Kelurahan PulauAbangPersepsi 3 (Tinggi) 2373Partisipasi 2 (Sedang) 2124Peran Pemerintah 2 (Sedang) 2131 2 Kelurahan GalangBaruPersepsi 2 (Sedang) 1952Partisipasi 2 (Sedang) 1917Peran Pemerintah 2 (Sedang) 1859 3 Kelurahan Karas Persepsi 2 (Sedang) 629Partisipasi 2 (Sedang) 581Peran Pemerintah 2 (Sedang) 573 Sumber : Data primer diolah.penyuluhan. Total Skore Persepsi. Tabel 37.068.6. Wilayah Tingkat Interval 1 Kelurahan Pulau Abang 3 (Tinggi) > 2373 2 (Sedang) 1582 – 2373 1 (rendah) < 1582 2 Kelurahan Galang Baru 3 (Tinggi) > 2100 2 (Sedang) 1400 – 2100 1 (rendah) < 1400 3 Kelurahan Karas 3 (Tinggi) > 651 2 (Sedang) 434 – 651 1 (rendah) < 434 Sumber : Data primer diolah. pada sub pertanyaan mengenai sanksi di Daerah Perlindungan Laut tersaji pada Tabel 19. dengan nilai R2 = 0. partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah terhadap Kawasan Konservasi Laut Daerah dikelompokan dalam 3 (tiga) kategori berdasarkan interval kelas dari hasil skoring total nilai yang tersaji dalam Tabel 36. partisipasi dan peran pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dan Daerah tersaji dalam Tabel 37 berikut. maupun beberpa papan pengumuman yang dipasang di kawasan tersebut. 2008 105 Total skor persepsi. Interval Kelas Tingkatan Persepsi. Tabel 36. Partisipasi dan Peran Pemerintah dalam KKLD No.98 pada tarap signifikansi 0. Hasil jawaban yang dihimpun dari pertanyaan seputar persepsi masyarakat tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah. demikian juga terjadi hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD pada . Partisipasi Dan Peran Pemerintah Dalam KKLD No. 2008 Hasil uji regresi terjadi hubungan yang sangat erat antara persepsi masyarakat terhadap KKLD dengan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan KKLD. Hubungan Persepsi.

Semarang. Pedoman Tata Ruang Pesisir dan Laut. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir & Lautan secara Terpadu. Bogor. Nelayan mempunyai tingkat persepsi sedang hingga tinggi (70% . epartemen Kelautan dan Perikanan.68%) dimana masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian terumbu karang dan mangrove..ketiga wilayah tersebut dengan nilai R2 = 0. Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan untuk Kesejahteraan Rakyat. PKSPL. 2000. tanggal 4 . 3. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya. Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan Berwawasan Lingkungan. hasil uji regresi peran pemerintah terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD juga terjadi hubungan yang sangat erat dengan nilai R2 = 0. Penerbit LISPI. POKWASMAS.99 pada tarap signifikansi 0. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. D. Jakarta. IPB.67 %) karena responden menilai peran pemerintah khususnya dalam penghijauan mangrove. 2002.P. Sitepu. R.J.99 pada tarap signifikansi 0. Seminar Nasional Fakultas Teknik dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro ke 43. pengawasan daerah konservasi dan pemberian tanda di daerah perlindungan laut sangat kurang. dan M. dan Kelompok MPA) yang dilakukan oleh Pemerintah yang dapat meningkatkan persepsi dan partisipasi masyarakat tentang arti pentingnya mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah secara bersama (Masyarakat dengan Pemerintah). 1996.G. S. PT Pradnya Paramitha.044. Modul Matrikulasi Pengelolaan Pesisir dan Laut. Rais. sedangkan dalam pengawasan partisipasinya rendah hal ini dikarenakan anggapan masyarakat bahwa sudah ada petugas yang ditunjuk (POKMASWAS). Dengan melakukan kegiatan peningkatan SDM.. Peran pemerintah dalam pengelolaan KKLD pada tiap-tiap kelurahan mempunyai tingkat peran “sedang” (66 % .. pembentukan dan peningkatan Lembaga Kemasyarakatan (POKJA. Jakarta. Universitas Diponegoro. dengan melihat nilai regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelelolaan KKLD sangat ditentukan oleh persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan KKLD sebagai sumber kehidupan masyarakat yang berkelanjutan. S. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.025. R.75%) terhadap arti pentingnya pengelolaan Kawasan Konservasi Laut hal ini karena nelayan menyadari bahwa hasil tangkapan sangat tergantung kepada kondisi ekosistem yang baik 2. Anggoro. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34 tahun 2002. Terdapat hubungan yang erat antara persepsi masyarakat. Dahuri. Ginting. Keanekaragaman Hayati Laut.J. 5. 2002. 2000. . Semarang. Bengen. S.1. Universitas Diponegoro. Jakarta Dahuri. 4. partisipasi masyarakat dan peran pemerintah terhadap KKLD. Saran DAFTAR PUSTAKA Anggoro. Kesimpulan: 1.2. Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Nelayan mempunyai tingkat partisipasi sedang (67% . 2006.

jpl. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Melalui Pemberdayaan Kearifan Lokal di Kabupaten Lembata Prop. Jakarta Gultom.V. 2003. Prenhalindi. . Bandung. Penerbit LKIS. Pustaka Pelajar. Terjemahan. Robins. Penerbit P3R dan PT Pustaka Cidesindo.P. 2000. Bayer. Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. McNeely. Tesis MSDP. . Mackinnon. Kusnadi. Departemen Kelautan dan Perikanan. . Jakarta. Yayasan Obor Indonesia. Aspek Hukum Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. B. Persepsi Siswa SMA se-Kotamadya Semarang Mengenai Narkotika. Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. 1985. Penerbit PT. Metode Penelitian Survei. T. Jakarta. J. Mengembangkan dan Memanfaatkan Perangsang Ekonomi Untuk Melestarikan Sumberdaya Hayati. Pedoman Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah. UKSW.A. 1990. B. Jakarta Mikkelsen. CV. Gajah Mada University Press.1989. Jakarta. Jakarta. Mulyadi. M. Jakarta. Kasmidi. Yogyakarta. V. J. Ekonomi Kelautan. 2003. Yogyakarta.gov/srtm. M. Pengantar Sosiologi Nelayan. Satria. 2003. C. Bandung. 2004. Semarang Tjokroamindjoyo. Jakarta. 2006. 2005. Yogyakarta. Saptorini. 2006. dan Effendi. Jakarta. Semarang. Mas Agung. PT.September 2002. Partisipasi. 2002. Yayasan Obor Indonesia.. 1996. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Konflik Sosial Nelayan. Hardjasoemantri. S. S. . Kualitatif dan R & D. Jakarta. 1992. Salatiga. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Tesis MSDP. S. Yogyakarta. 1986. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan (Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapangan). Laporan Penelitian IKIP. 1993. Ekonomi dan Keanekaragaman Hayati. Gramedia Pustaka Utama. Alfabeta. Komunikasi. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis. 2002.nasa. Direktorat Konservasi dan Taman laut Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Sukmara. Penerbit LKIS. Tulungen.2005. Politik Ekonomi Perikanan. dan Mackinnon. Universitas Diponegoro. Pengelolaan Kawasan yang dilindungi di Daerah Tropika. Supriharyono. 2005. Sastropoetro. K. Jakarta. A. Hubungan Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan Mangrove di Desa Jetis Kecamatan Nusa Wungu. Perilaku Organisasi. Dimpudus. LP3ES. Semarang Stanis. C. Strategi Hidup Masyarakat Nelayan. Alumni. J. Metode Penelitian Kuantitatf. Rotinsulu. Kabupaten Cilacap. FERACO. Jakarta. Sugiyono. Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Alam. Pustaka Cidesindo. Yogyakarta:Gajahmada University Press. M. 1989. Supriyanto. Nikijuluw. NTT. PT. Bagaimana dan Kemana Bisnis Perikanan.2007. Penerbit PT. Penerbit. Perencanaan Pembangunan. Singarimbun. Http://www2. S. A.H. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan. 2007. 1990.

N. Nama responden : 3. > 10 Tahun 6. Jakarta. Jumlah Tanggungan keluarga a. “Tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan Ekosistemnya”. Skoring Persepsi Lokasi Score Tabel Pertanyaan Persepsi 1234567 Pulau Abang 4 11 44 79 316 35 140 62 248 23 92 14 56 34 136 Interval P. 5 Tahun 1990. Nama kampung : 2. Panduan penilaian kuesioner Lampiran 6. tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau – Pulau Kecil.71% Karas 4 2 8 21 84 7 28 20 80 8 32 4 16 12 48 Interval Karas 3 7 21 9 27 7 21 9 27 16 48 12 36 16 48 Maks = 868 Tinggi = > 651 2 13 26 1 2 8 16 1 2 3 6 9 18 3 6 Min = 217 Sedang = 434 . 6-9 orang c. Identitas Responden 1. Umur : 4. 5-10 Tahun c. Pekerjaan Utama : 5. 2002. Undang-Undang RI No. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004.Tangkilisan. Lampiran 1. Lama Tinggal di Kampung : a. <5 Tahun b. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007. Abang 3 37 111 25 75 34 102 41 123 69 207 62 186 68 204 Maks = 3164 Tinggi = > 2373 2 50 100 5 10 21 42 6 12 11 22 32 64 11 22 Min = 791 Sedang = 1582 2373 1 15 15 4 4 23 23 4 4 10 10 5 5 0 0 Rendah = > 1582 113 270 405 307 387 331 311 362 2373 75.00% Galang Baru 4 4 16 82 328 16 64 61 244 13 52 9 36 36 144 Interval Galang Baru 3 8 24 14 42 26 78 32 96 62 186 23 69 62 186 Maks = 2800 Tinggi = >2100 2 41 82 3 6 28 56 4 8 9 18 48 96 2 4 Min = 700 Sedang = 1400 2100 1 47 47 1 1 30 30 3 3 16 16 20 20 0 0 Rendah = > 1400 100 169 377 228 351 272 221 334 1952 69. > 9 orang Lampiran 5. Departemen Kelautan dan Perikanan.651 199009911446600 Rendah . < 6 orang b. tentang Perikanan. Panduan Pembentukan dan Pengelolaan Daerah Perlindungan laut Berbasis Masyarakat.

0% Intercept -12.= > 434 31 64 113 74 110 90 76 102 629 72.069725 Residual 1 19789.118772 9.988052 Adjusted R Square 0.994008 R Square 0.69826 0.47% 4954 122 1 4 4 2 2 4 4 0 0 7 7 10 10 9 9 Rendah = < 434 31 92 97 84 98 55 60 56 573 66.069725 -0.98 125 SUMMARY OUTPUT Lampiran 10 Hubungan antara peran pemerintah dengan persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.589221 Keterangan : Persepsi masyarakat sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.2023 -0.073 -2556.997603 R Square 0.976105 Standard Error 140.76 19789.995211 Adjusted R Square 0.0% Upper 95.53 2531.06421 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance .990422 Standard Error 89.42904 2.53 2531.42904 2.589221 -0.093858 0.080092 0.6761 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1636579 1636579 82.959582 -2556.073 X Variable 1 1.76 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.7278 200.01% 4563 124 SUMMARY OUTPUT Lampiran 9 Hubungan antara persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.06357 0.

868 X Variable 1 1.129368 2.044091 0.895711 -846.868 -1609.9971 126. Dokumentasi Penelitian Dokumentasi Penelitian Mata Pencaharian Alternatif (MPA) Keramba Jaring Tancap Penanaman Mangrove oleh masyarakat di kelurahan Karas .025634 0.302 2273.433 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.6898 -846.15595 67.6898 X Variable 1 1.F Regression 1 1648436 1648436 207.490829 1.520362 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.1045 0.129368 2.99838 Adjusted R Square 0.005595 0.165299 0.052526 0.0% Upper 95.378 868.86 1593.0701 -0.025634 Residual 1 2273.052526 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.520362 0.4156 0.959671 -1609.996759 Standard Error 47.82145 0.67915 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1400591 1400591 616.433 7932.06343 0.302 Total 2 1402865 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.075678 14.99 127 Lampiran 12.090947 0.040513 24.044091 Residual 1 7932.86 1593.0% Intercept -7.8097 0.0% Upper 95.48967 0.999189 R Square 0.378 868.99 126 SUMMARY OUTPUT Lampiran 11 Hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.0% Intercept 11.490829 1.

savannah. where the components are inter-dependent. Environmental services are undervalued because it is difficult to quantify.sekarang bekerja pada Dinas Kelautan. Forests also maintain soil fertility by supplying nutrients through the leaf litter.129 Lampiran 13 WALIKOTA BATAM Riwayat Hidup Mardijono. The litter and other parts of mangroves which are carried by water provides . while the plant species found in them can be seen in Table 3.2. from the highest water level to the lowest tidal level. with 89 plant species (Nontji in Dahuri et al.9. Mangrove forests occur only in coastal areas where the waves are broken by barriers such as sand. there are several unique but interrelated ecosystems. including sea grass and coral reefs to deep sea ecosystems. and small islands. In marine. montane to lowland rainforests. Mangroves Mangrove is the collective term for tree vegetation that grow in muddy coasts in tidal areas. sea grass. Perikanan dan Pertanian Kota Batam. this value is substantially high. 30 September 1969. mangrove. coastal and small island zones. Mangroves cover an area of about 2. hal12 Figure 2.6Mangroves have diverse functions andbenefits. Table 3. Mittermeier et al. coral reef or islands. ============================================================= National Document hal 29 Indonesia is estimated to have 90 ecosystem types. which are also dynamic and very productive. consisting of estuaries. kelahiran Madiun. the diverse ecosystems provide a placefor the food chain to function and a space for species to survive and breed. A well functioning ecosystem can supply and produce environmental services beneficial for the species living in it. as outlined below (Dephut1994. rocky and sandy beaches. grasslands. estuaries. coastal and small island areas. these services are. forests maintain the hydrological balance thus preventing floods and droughts. 2000). regulation of local climate.5 million hectares in Indonesia. prevent erosion and regulate the micro climate. The ecological value can be harnessed if biodiversity is considered as one entity. protection of water and soil quality. during the early 1990s. among others. coastal forest. 2001).3% of the total landmass in the world. For example. Bengen (2001) listed several marine and coastal ecosystems from the ecological perspective. There are many studies from the geological and geomorphologic perspective but their results have not contributed significantly to the knowledge(hal 24) of ecosystem classification in marine. Yet. coral reef. as presentedin Box 2.5 presents the distribution of mangroves in Indonesia. from snow peaks at Jayawijaya. mangrove and marine and coastal ecosystems. Indonesia harbors a very high fauna species diversity. Mangroves have high economic value for people and also as feeding and nursing ground for many species of fish and bird. For instance. Given the limited availability of knowledge. the ecological perspective is most often used to study coastal and marine areas. wetlands. river estuary/lagoon and island types (MacKinnon et al. They can be classified into three main types: coastal/ delta. 1997): Ecological value Biodiversity provides ecological or environmental services for humans. Although it covers only 1. sub-alpine. alpine.

.185 61.000 485.600 1.300 353. Payne et al. social and environmental benefits.000 272. mangrove whistler (Pachycephala cinerea). insects (Anopheles sundaicus and Aedes mosquitoes) (Whitten et al.600 2. Mangroves also serve as nursery grounds for young fishes. Mangrove vegetation is relatively well researched in Indonesia (Kartawinata 1990).833 2.important nutrition for coastal ecosystem and other ecosystem in the surrounding estuaries. milky stork (Mycteria cinerea).000 171. (Doc. Mangroves also produce timber.450 84. of which Rhizophora is most preferred for building materials and rayon production. and nypah (Nypa fruticans). Plants in mangrove forests. Mangroves also yield microorganisms that have various uses such as bacteria. chemicals for tanning and dyes. common cat snake (Boiga dendrophila). for example. amphibians: mangrove frog (Rana cancrivora).092. and now not many places are left where Rhizophora timber can be harvested sustainably.129. without always being connected directly with the mangrove area and its productivity. Island rotected area Mangroves Current area Original area Sumatra Java & Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua 857. are used for medicine.300 680. 2000) Figure 3. rare lesser adjutants (Leptoptilos javanicus). In addition. This ecosystem serves as habitat of various animals. mammals: javan lutung (Semnopithecus auratus).577 25. and other microorganisms. Other mangrove products include fuelwood. protozoa.000 6. Thus it is clear that mangroves have an important function in supporting coastal fishery. oils. timber for other uses. But such timber has not been harvested in a sustainable manner. proboscis monkey (Nasalis larvatus). python (Pythonreticulatus) and estuarine crocodile (Crocodylus porosus) are found in some mangrove areas. reptiles: monitor lizard (Varanus salvator). 1999). mangrove blue flycatcher (Cyornis rufigastra). 1999). In addition.8. fungi. coastal and marine ecosystems also provide economic.500 78. common skink (Mabuya multifasciata).900 2. with potentials to produce alcohol (Mercer and Hamilton 1984 in Whitten et al. building and industrial materials. green manure. mangrove timber is a source of material for charcoal and chipwood industry. mangroves also protect certain coastal areas from abrasion. shrimps and other organisms such as crabs. food. Among others. Mangrove distribution in Indonesia (hectares).900 Benefits and value of marine and coastal ecosystem Like forests. clams and snails. long-tailed macaque (Macaca fascicularis).500 4.8.450. fishing cat (Felis viverrinus). Table 3. A list of benefits provided by mangroves is given in Table 3.500 38.025 19. small-clawed otter (Aonyx cinerea).5.

undip. Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Fitrah *) (Penulis Buku Pembelajaran Berbasis Fitrah. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial. Maka sikap sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata. menjauhkan diri dan sebagainya . 13 February 2009 (23:35) Unduh 28 Feb 2011 karakter ialah tabiat.id/sastra/mudjahirin/2010/07/30/masyarakat-pesisir/ SOSIOLOGI PEDESAAN MASYARAKAT JAWA PESISIRAN Oleh Mudjahirin Thohir =================================================================== http://agupenajateng. misalnya kecenderungan memberi pertolongan.ac. S. ikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam kegiatankegiatan sosial. SMKN 56 Jakarta) *) Makalah disampaikan pada tanggal 14 Desember 2008. Tiap-tiap sikap mempunyai 3 aspek 1. Dalam hal ini Thomas menyatakan bahwa sikap seseorang selalu diarahkan terhadap sesuatu hal atau suatu objek tertentu.========================================================= ======================== Dari : http://staff. Balai Pustaka – 2008 dan Guru Mekatronika. pada seminar PBF dalam rangka HUT PGRI Kota Solok-Sumb Friday.J. Aspek Kognitif yaitu yang berhubungan dengan gejala mengenal pikiran. Tidak ada satu sikap pun yang tanpa objek. yang berulang-ulang terhadap objek sosial. Ini berarti berwujud pengolahan. kedengkian. pengalaman. sifat-sifat kejiwaan. watak. dan keyakinan serta harapan-harapan individu tentang objek atau kelompok objek tertentu.net/2009/02/13/pembentukan-karakter-peserta-didik-melaluipendekatan-pembelajara Oleh : Achjar Chalil. akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. antipati. 3. Hal ini terjadi bukan saja pada orang-orang lain dalam satu masyarakat. 2. Aspek Afekit berwujud proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti ketakutan. simpati. Karakter satu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dasar bangsa tersebut =============================================================== Oleh karena itu ahli psikologi W. dan sebagainya yang ditujukan kepada objekojek tertentu.Pd. Aspek Konatif: berwujud proses tendensi/kecenderungan untuk berbuatu sesuatu objek.

orang-orang atau kejadian-kejadian. terbuka serta hangat. Beberapa sikap dipelajari tidak sengaja dan tanpa kesadaran kepada sebagian individu. Sedangkan fungsi dari sikap (tugas) sikap dapat dibagi menjadi empat golongan. melalui pengalaman. 2) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku 3) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman 4) Sikap berfungsi sebagai pernyataan kepribadian ==\============================================================= Dari : http://id. Dapatlah dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal. Berisi cognisi dan affeksi Komponen cognisi daripada sikap adalah berisi informasi yang faktual. tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap. Ciri-Ciri Dan Fungsi Sikap Sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan.org/wiki/Sikap Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek. dan stabil. dan perilaku. perasaan. kemudian menjadi lebih kuat. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu[1] Sikap mempunyai tiga komponen utama: kesadaran. Personal (societal significance) Sikap melibatkan hubungan antara seseorang dan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi. atau memperoleh sesuatu nilai yang sifatnya perseorangan. tetap. 3. 2.wikipedia. Barangkali yang terjadi adalah mempelajari sikap dengan sengaja bila individu mengerti bahwa hal itu akan membawa lebih baik (untuk dirinya sendiri). ia merasa bebas. Sikap itu dipelajari (learnablity) Sikap merupakan hasil belajar ini perlu dibedakan dari motif. dan favorable. Cth: sikap dalam kehidupan sehari-hari pada iklan  parpol . Jika seseorang merasa bahwa orang lain menyenangkan. Adapun ciriciri sikap adalah sebagai berikut: 1. maka ini akan sangat berarti bagi dirinya. 4. membantu tujuan kelompok. orang atau peristiwa[1].D.motif psikologi lainnya. yaitu: 1) Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikandiri.[ Sri Utami Rahayuningsih – 2008 Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) ================================================================= Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) Sikap/ Attitude Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude Secara sederhana sikap didefinisikan : Unduh 28 Feb 2011 Ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa hal. misalnya: objek itu dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan. Memihki kestabilan (Stability) Sikap bermula dan dipelajari.

exhibited in one’s belief. orang. people or issues about which an individual has some knowledge” (Wrightsman. keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu . benda dsbnya Bagaimana kita mengukur sikap? Melalui observasi & wawancara Dengan menggunakan skala misalnya: • Summated Ratings • Equal Appearing Interval • Cummulative Scale • Semantic Differential Sikap adalah: “ …. 1996 Komponen sikap: • • • kognitif afektif konatif =============================================================== Dari : http://nadhirin.com/2010/05/sikap-attitude. kelompok sosial. ide. sikap adalah penilaian positif atau negatif terhadap isu. =============================================================== Jadi.a favorable or unfavorable evaluative reaction toward something or someone.opini b.blogspot. An evaluation of objects. Skala Sikap o Yaitu: kumpulan pertanyaan mengenai objek sikap o Mencoba memperoleh pengukuran yang tepat tentang sikap seseorang o Akurasi pengukuran dilakukan dengan penggunaan beberapa item yang berkaitan dengan isyu yang sama o Skala sikap melibatkan: belief dan opini terhadap suatu objek o Pertanyaan-pertanyaan atau item yang membentuk skala sikap dikenal dengan statement (pernyataan yang menyangkut objek psikologis). 1993) “….html Unduh 28 Feb 2011 Sikap ( Attitude ) Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai “organisasi pendapat. feelings or intended behavior” (Myers.

orang dimintai supaya menyatakan dirinya mengenai obyek sikap yang diselidiki.58 Sedangkan Azwar berpendapat bahwa: Metode pengukuran sikap yang diangggap dapat diandalkan dan dapat memberikan penafsiran terhadap sikap manusia adalah pengukuran melalui skala sikap (attitude scale). Suatu skala sikap merupakan kumpulan pernyataan sikap yang berkenaan dengan obyek sikap. tidak mempunyai pendapat.dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya”. pandangan. Ketiga komponen itu adalah komponen kognitif. atau action component). Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai objek sikap yang diukur. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah kesediaan beraksi terhadap suatu hal. tetapi secara tidak langsung. biasanya disampaikan secara lisan pada waktu wawancara. seperti metode Likert. yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap obyek sikap. Skala sikap bertujuan untuk menentukan kepercayaan. Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan. Corak khas dari skala Likert ialah bahwa makin tinggi . Walgito mengemukakan bahwa: Sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap. terhadap suatu obyek. yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap obyek sikap. Rasa senang merupakan hal yang positif. yaitu dengan wawancara. setuju. keyakinan. daftar pertanyaan biasanya untuk penelitian bibliografi atau karangan. 4) Metode tes tak tersusun. sedangkan rasa tidak senang adalah hal negatif. =================================================================== Dari BAB II DESKRIPSI TEORI. misalnya menggunakan tes psikologi. dan sangat tidak setuju. yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak atau berperilaku terhadap obyek sikap. yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan. Thurstone atau Guttman.59 Dari hasil uji coba dipilih pernyataan-pernyataan yang cukup baik. Lima alternatifjawaban yang dike mukakan oleh Likert adalah sangat setuju. baik yang bersifat fa vorable atau positif maupun unfavorable atau negatif. KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN Berkaitan dengan komponen sikap. tidak setuju. atau perasaan seseorang. 3) Metode tes tersususn.54 Pengukuran Sikap Gerungan menyatakan bahwa: Cara-cara yang dapat dipakai untuk mengukur sikap antara lain: 1) Metode langsung ialah metode dimana orang secara langsung diminta pendapat atau tanggapannya mengenai obyek tertentu. 2) komponen afektif (komponen emosional). 2) Metode tak langsung. yaitu metode pengukuran yang menggunakan skala sikap yang dikonstruksikan terlebih dahulu menurut prinsip-prinsip tertentu. persepsi. 3) komponen konatif (komponen perilaku. afektif dan konatif dengan uraian sebagai berikut: 1) komponen kognitif (komponen perseptual).

yang diperoleh dari data dan pengamatan terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi • • ---------------------------------------------------------------------------------------------------------- . Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible).skor yang diperoleh seseorang. Pengukuran sikap model Likert (Skala Likert) merupakan salah satu cara pengukuran sikap secara langsung. Alat ukur dalam skala Likert menggunakan pernyataan-pernyataan dengan menggunakan lima alternatif jawaban. demikian pula sebaliknya. diantaranya: • Pendidikan : Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Sedangkan informasi sendiri mencakup data. menyimpan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan. suara. merupakan indikasi bahwa orang tersebut sikapnya makin positif terhadap objek sikap. demikian pula sebaliknya. Keterpaparan informsi : pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary. adalah “that of which one is apprised or told: intelligence. koran.org/wiki/Pengetahuan Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. databases . kode. teks. menyiapkan. maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia. sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.wikipedia. news”. dan majalah. radio. merupakan indikasi bahwaorang tersebut sikapnya makin negatif terhadap objek sikap Pengukuran sikap guru terhadap pekerjaan dapat dilakukan dengan pengukuran sikap model Likert. program komputer. menganalisa. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. memanipulasi. mengumumkan. Media : Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. ========================================== ===================== Dari : http://id. image. dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi. Makin tinggi skor yang diperoleh seorang guru mengindikasikan guru memiliki sikap yang makin positif terhadap pekerjaan. makin rendah skor yang diperoleh seseorang.

2. . makin tinggi pula tingkat kepuasan yang diperoleh (Hurlock.co. yaitu indera penglihatan. Masa menopause merupakan masa peralihan dari masa haid sampai masa berhentinya haid. pendengaran. Karena dapat membuat seseorang untuk lebih mudah mengambil keputusan dan bertindak. Umur adalah lamanya waktu hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai berulang tahun yang terakhir. 3.canboyz. =============================================================== Dari : Pengetahuan atau kognitif merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pendidikan Tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi baru (SDKI. 1997). 2003). Umur Menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. rasa dan raba. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia. Pekerjaan Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari artinya makin cocok jenis pekerjaan yang diemban. berlangsung antara usia 30-46 tahun (Depkes. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo.Dari : Asrofudin http://www. penciuman. 1998).html Unduh 28 Feb 2011 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan 1.cc/2010/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi. 2007).

jumlah jenis kapal. sementara yang tidak memiliki fishing right tidak diizinkan beroperasi di wilayah itu. contolled access regulation adalah regulasi terkontrol yang dapat berupa (1) pembatasan input (input restriction). yakni open access dan controlled access regulation. Desember 2007 Tim Penyusun Salah satu program yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi kelautan dan perikanan adalah program Green Coast. Regulasi ini mirip ”hukum rimba” dan ”pasar bebas”. Salah satu formulasi dari pembatas input itu adalah territorial use right yang menekankan penggunaan fishing right (hak memanfaatkan sumberdaya perikanan) dalam suatu wilayah tertentu dalam yurisdiksi yang jelas. Wetlands Internasional. Both ENDs dan IUCN dengan dukungan dana dari OXFAM Belanda bertujuan melindungi keunikan ekosistem pesisir dan memperbaiki mata pencaharian penduduk pesisir. Secara empiris. dimana saja. antara lain apa yang dikenal dengan tragedy of common baik berupa kerusakan sumber daya kelautan dan perikanan maupun konflik antar nelayan. ================================================================== DOKUMEN ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Banda Aceh. Sebaliknya. berapapun jumlahnya. Green Coast for nature and people after the tsunami Secara teoritis. juga diatur kapan dan dengan alat apa kegiatan perikanan dilakukan. Open access adalah regulasi yang membiarkan nelayan menangkap ikan dan mengeksploitasi sumber daya hayati lainnya kapan saja. Pola fishing right system ini menempatkan pemegang fishing right yang berhak melakukan kegiatan perikanan di suatu wilayah. regulasi ini menimbulkan dampak negatif. dan dengan alat apa saja. ada dua bentuk regulasi dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. dan jenis alat tangkap. Program yang merupakan kerja sama WWF.Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indra yang dilakukan untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat. Sistem yang menjurus pada bentuk pengkavlingan laut ini menempatkan perlindungan kepentingan nelayan kecil yang beroperasi di wilayah pantai-pesisir serta kepentingan kelestarian fungsi sumber daya sebagai fokus perhatian. (2) pembatasan output (output restriction). yakni membatasi jumlah pelaku. Selain diatur siapa yang berhak melakukan kegiatan perikanan. yakni membatasi berupa jumlah tangkapan bagi setiap pelaku berdasarkan kuota. 32 Tahun 2004 yang membuat pengaturan tentang yurisdiksi laut provinsi (12 mil) . UU No. 2005).

Usaha pemanfaatan dan pemungutan di hutan lindung dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan fungsi lindung. Konsep pengkavlingan laut merupakan instrumen dari konsep regulasi akses terkontrol (contolled access regulation) dalam pola pembatasan input (territorial use right). Pengamatan dilakukan pada setiap tingkat pertumbuhan suatu vegetasi yang dikelompokkan ke dalam : 1) Tingkat semai (seedling). dan pemungutan hasil hutan bukan kayu. reboisasi dalam rangka rehabilitasi lahan kritis pada kawasan hutan lindung.5 meter dengan diameter batang kurang dari . Soerianegara (1996) menyebutkan ruang lingkup pengelolaan hutan lindung adalah: 1. Pengelolaan hutan lindung diserahkan kepada Kepala Daerah Tingkat II yang mencakup kegiatan pemancangan batas. 2) Tingkat sapihan (sapling) yaitu tingkat pertumbuhan permudaan yang mencapai tinggi antara 1. dimana hutan lindung memegang peranan yang amat penting dari segi hidroorologi Daerah Aliran Sungai. 32 Tahun 2004 sebenarnya entry point penerapan territorial use right. mempertahankan luas dan fungsi. dan pemanfaatan jasa lingkungan. pemeliharaan batas. mengendalikan erosi. pemanfaatan jasa lingkungan. Selanjutnya dikatakan bahwa pengelolaan hutan lindung adalah bagian integral dari pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara keseluruhan. mencegah intrusi air laut. Melakukan penatabatasan dan pengukuhan kawasan hutan lindung 3. Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan. pengendalian kebakaran. Menentukan letak dan luas hutan lindung 2. Hutan lindung dapat dimanfaatkan berupa pemanfaatan kawasan. dan memelihara kesuburan tanah. Merehabilitasi hutan lindung yang mengalami degradasi dan deforestasi 4.5 meter. Melakukan perlindungan atas kawasan hutan lindung. sebagai amanah untuk mewujudkan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. UU No. mencegah banjir. yaitu sejak perkecambahan sampai tinggi 1. =================================================== ===================== Undang-Undang No 41 tahun 1999 Pasal 1 ayat 8 mendefinisikan Hutan lindung sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air.dan kabupaten/kota (4 mil) mengindikasikan bahwa produk hukum itu menganut konsep pengkavlingan laut.

Sapihan (saplings) dengan ukuran petak 5 x 5 m . dari hasil pencampuran tersebut diambil 1 kg untuk dianalisis. dicampur dengan sampel dari jalur lain.Tiang (poles) atau pohon kecil dengan ukuran petak 10 x 10 m . Sampel tanah diambil rata dari permukaan atas sampai kedalaman 30 cm. K tersedia. Untuk pengambilan data wawancara dilakukan dengan instansi terkait yang bertanggungjawab dalam pengelolaan kawasan hutan lindung. sapihan dan semai. Kawasan Hutan Lindung Pulau Marsegu dibagi dalam 14 Blok penelitian Semai (seedlings) dengan ukuran petak 2 x 2 m . Untuk jenis jenis vegetasi yang belum dapat dikenali. C dan BO. P tersedia. ============================================ ====================== Dari delapan variabel yang rencananya dianalisis hanya enam yang dapat dianalisis secara statistik (status . pH tanah dan kandungan unsur hara tanah yang meliputi N total. Pengukuran data faktor lingkungan pada setiap releve pada blok pengamatan meliputi DHL (Daya Hantar Listrik).10 cm. Parameter yang diamati meliputi jenis. Selain itu juga dilakukan pendataan terhadap herba sebagai tumbuhan bawah. Sampel tanah yang dianalisis adalah 1 (satu) sampel komposit untuk masing-masing releve. Data primer yang diambil berupa keberhasilan penanaman bibit GN-RHL di lapangan setelah waktu 3 bulan. jumlah individu yang ada dan diameter untuk tingkat tiang dan pohon. tiang (pohon kecil). juga pencatatan data-data primer dan sekunder mengenai program dan realisasinya. 3) Tingkat tiang (poles) atau pohon kecil yaitu tingkat pertumbuhan pohon muda yang berukuran dengan diameter batang antara 10 . 4) Pohon yaitu tingkat pohon-pohon yang berdiameter batang diatas 20 cm dbh. bagian tumbuhan diambil untuk diidentifikasi lebih lanjut.19 cm (dbh).Pohon (trees) dengan ukuran petak 20 x 20 m Dalam setiap petak ukur dilakukan pengamatan terhadap tingkat pohon. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

status. kemampuan membaca huruf Bali. pekerjaan. Analisis Data Untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan pendekatan kualitatif (dianalisis secara deskriptif) menggunakan tabeltabel distribusi frekwensi dan grafik sesuai dengan kebutuhan. Persepsi merupakan dimensi kognitif dari sikap dan memegang peranan penting dalam menentukan totalitas pembentukan sikap. . Sedangkan analisis statistik terhadap persepsi menunjukkan bahwa tidak satu pun variabel menunjukkan hubungan yang bermakna (P>0. jenis kelamin. Ini mungkin menunjukkan bahwa persepsi virual telah menjadi bagian hidup masyarakat sehingga pendidikan formal. sedangkan dua yang lainnya (umur dan pekerjaan) tidak dapat dianalisis karena distribusinya tidak memenuhi syarat untuk dianalisis (banyak sel yang kosong). Kemungkinan lain bahwa instrumen yang dipakai. jenis kelamin. pengalaman kerja.1% tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh keempat variabel tersebut. umur. dan kemampuan membaca huruf Bali. pengalaman kerja dibidang bangunan. umur. artinya bahwa 34. pendidikan. pengalaman kerja di bidang bangunan. Dari enam variabel tersebut hanya 4 yang berkaitan secara bermakna dengan tingkat pengetahuan (P<0. pengalaman kerja di bidang bangunan.05).05). Hal ini desebabkan karena aspek kognitif ini merupakan sumber informasi utama yang dievaluasi secara positif dan negatif oleh komponen efektif. dan variabel bebasnya adalah status responden. dan kemampuan membaca lontar tidak berpengaruh terhadapnya. kemudian berturut-turut adalah kemampuan membaca huruf Bali. 4. serta kemampuan interpretasi pencacah belum teruji validitas dan reliabilitasnya. tetapi proses ini masih bersifat terselubung.1%. yaitu variabel status. dan intensitas membaca lontar. Oleh karena itu perlu diupayakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor determinan terhadap pengetahuan dan persepsi ini dengan mencoba mengeksplorasi variabel lainnya dan menguji instrumennya terlebih dahulu. Dalam hal ini persepsi dan pengetahuan sebagai variabel terikat (dependent variable). sikap. jenis kelamin. Dari keempat variabel tersebut ternyata pengalaman kerja di bidang bangunan mempunyai kontribusi paling besar. kemampuan membaca huruf Bali. kemampuan membaca hurup Bali. Bangunan berlanggam Bali. Yang menjadi tujuan pembentukan sikap adalah tercapainya konsistensi antara persepsi. dan status responden. dan intensitas membaca lontar). Sedangkan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan teknik analisis multi varian (ANOVA). pendidikan.responden. Dua variabel lainnya tidak berhubungan secara bermakna (P>0. jenis kelamin. jenis kelamin. Kata kunci: Persepsi masyarakat.05).01/0. Kontribusi keempat variabel tersebut terhadap pengetahuan adalah 34.

Menghargai (valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai positif terhadap objek atau stimulus. Menanggapi (responding) Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek). pikiran. sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya. Pengetahuan. membahasnya dengan orang lain dan bahkan Universitas Sumatera Utara . keyakinan dan emosi memegang peranan penting dalam pembentukan sikap. sebagai berikut :8 1.dan perilaku. 2. dalam arti. Seperti telah diungkapkan di depan bahwa persepsi yang positif akan cenderung membentuk sikap yang positif dan demikian pula terhadap kecenderungan perilaku. 3.

Stylosa pada salinitas 55 o/oo(. 1984). Sebaliknya. 4. fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas. 1976a). Evaluasi (evaluation) Newcomb. GREEN COAST FOR NATURE AND PEO[PLE AFTER THE TSUNAMI Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Aplikasi (application) 4. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung 6 tingkat pengetahuan 1. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. 1966. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya. Rhizopora mucronata dan R. BOGOR 2006. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. Memahami (comprehension) 3.8 =============================================================================================== DARI : PANDUAN PENGENALAN MANGROVE DI INDONESIA YUS RUSILA NOOR. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. Pada salinitas ekstrim. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. Bertanggung jawab (responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain. Dalam kata lain. Analisis (analysis) 5. akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau tindakan (reaksi tertutup). Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda.mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon. Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan.INN SURYADIPUTRA. 1993 dan Othman. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. Tahu (know) 2. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi. Sintesis (synthesis) 6. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge.1968). Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera. marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. . Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Chapman. 1994). pantai selatan dan timur Kalimantan. salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. A. M KHAZALI. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry. 1984).

1997) dan menjadi 750. kemudian berkembang ke Aceh. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi.c). 1980). 2005). meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul).b.700 hektar (Bailey. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. Akan tetapi. dkk.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. Akibat perubahan ini. 1985). Kalimantan dan Sulawesi. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. kemudian bertambah menjadi 269. misalnya untuk jalur hijau. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. tidak bercampurnya tanah (Giesen. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. Jawa. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers. 1974). 1988). Memasuki abad ke-20. akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak. 390. hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi.Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. Misalnya. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. 1991). Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. Sebaliknya. 1986). Di Indonesia. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. terutama di Sumatera. 1991 a. pada pulau yang hilang mangrovenya. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove. terutama dari ombak dan arus laut. konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahanmangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. 1987). Pada tahun 1982. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. Ironisnya. baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. dkk. Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun . pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif.

bagian atas hijau mengkilat. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). serta di sepanjang garis pantai. bawahnya pucat. Ukuran: 16 x 5 cm. Kelimpahan : Melimpah. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. Hijau muda kekuningan. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. boak. Pada bagian batang yang tua. Akar nafas biasanya tipis. Buah dapat dimakan. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. Kelopak Bunga: 5. Ekologi : Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. Benang sari: 4. Ukuran: 4 x 2 cm. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. Bunga : Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. PNG dan Australia tropis. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. . Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. 3-4 mm. kuning cerah. Daun Mahkota: 4. Daun : Permukaan halus. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. Ujung: meruncing. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. Buah : Seperti kerucut/cabe/mente. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. koak. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. mangi-mangi putih.Avicennia alba Bl. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. Dari India sampai Indo Cina. Unit & Letak: sederhana & berlawanan.

bakau puteh. kuning kecoklatan. berisi satu biji fertil. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). donggo akit.5-8 cm. jankar. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. mangi-mangi. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. bakau leutik. Hipokotil silindris. berwarna hijau jingga. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. Letak: Di ketiak daun. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. tak bertangkai.5 cm. Ukuran: . bangka minyak. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. tinjang. Daun : Berkulit. berbintil. warna coklat. Ukuran: 7-19 x 3. panjangnya 9-11 mm. akik. Bunga : Biseksual. Ujung: meruncing. melengkung. abat. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. wako. Benang sari: 11-12. Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. bakau tandok.Rhizophora apiculata Bl. tidak ada rambut. Bentuk: elips menyempit. Kelopak bunga: 4. kuning-putih. slengkreng. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. panjang 2-3. bakau kacang. bakau akik. parai. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. Daun mahkota: 4.

Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. . Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. kayu bakar dan arang. tersebar jarang di Australia. Penyebaran : Sri Lanka. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. dalam dan tergenang pada saat pasang normal.Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). Tumbuh lambat. halus. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan.

....... dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi...... akidah........ terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika................ informasi....... dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya. rasa dan raba..... ... ....... dan pikiran-pikiran. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang................. Ekosistem hutan bakau bersifat khas............................... Unduh 28 Feb 2011.......... Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan.... persentuhan..... Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari.... media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo...................id/bitstream/123456789/19202/4/Chapter%20II....... maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu........ Luas dan Penyebaran Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia........... Pengetahuan ini meliputi emosi... Dari Wikipedia Unduh 28 Feb 2011 Hutan bakau Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.ac.Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi... pengalaman orang lain................... salinitas tanahnya yang tinggi................. 2003). Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku ........ serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut..............pdf Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. yaitu: indra penglihatan.............. sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo........ USU.. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak........usu............. .. penciuman............... pendengaran... Dari Anonymous.... 2003).. baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah........... keterampilan...... Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia.... Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini.. tradisi.. .... Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik...... http://repository...

Perbedaannya. bagianbagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan. di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang. Di pantai utara Jawa. di tepi Dangkalan Sahul.Luas hutan bakau Indonesia antara 2. Yakni di pantai timur Sumatra. Melebihi Brazil (1.3 juta ha.1 juta ha) dan Australia (0. bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya.5 hingga 4. Mangrove di Papua mencapai luas 1. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Nigeria (1. sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia. . Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai. Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi. salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi. Penggenangan oleh air pasang Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya. Akan tetapi di beberapa tempat. bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar. bahkan kadang-kadang terus menerus terendam.3 juta ha). hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua.5 juta hektar. atau bahkan dominan pecahan karang.97 ha) (Spalding dkk. Terpaan ombak Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. yakni yang terletak di tepi sungai. hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. terutama di sekitar Teluk Bintuni. Di Indonesia. Pada pihak lain. hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang. merupakan mangrove yang terluas di dunia. 1997 dalam Noor dkk. Di bagian timur Indonesia. Lingkungan fisik dan zonasi enis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas. terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah: Jenis tanah Sebagai wilayah pengendapan. dan pantai barat serta selatan Kalimantan. 1999). sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu.

Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini. yang biasanya tumbuh di zona terluar. hingga ke pedalaman yang relatif kering. biasa ditemui nipah (Nypa fruticans). teruntum (Lumnitzera racemosa). dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha). kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup.). tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. Tegakan api-api Avicennia di tepi laut. Di bagian lebih ke dalam.) dan pidada (Sonneratia spp. Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp. [sunting] Bentuk-bentuk adaptasi Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau. Sedangkan di dekat tepi sungai. Secara fisik. yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut.). stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur.). secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Sedangkan bakau R. biasa ditemui campuran bakau R.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari . Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp. yang masih tergenang pasang tinggi.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp. Jenisjenis api-api (Avicennia spp. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis. Perhatikan akar napas yang muncul ke atas lumpur pantai. Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp. Bakau Rhizophora apiculata dan R.). yang lebih tawar airnya.

Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem. tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik. terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. Ketika rontok dan jatuh. . vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar. banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon. meski tak nampak dari sebelah luarnya. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan. Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora). Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. atau terbawa air pasang. Perkembangbiakan Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun. Kemungkinan lain. mengingat sukarnya memperoleh air tawar. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel. Untuk mengatasi salinitas yang tinggi. lubang pori pada pepagan untuk bernapas. kaboa (Aegiceras). Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. seperti Rhizophora mangle. keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur. Sementara jenis yang lain.udara. jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Sementara buah api-api. kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya. Selain itu. tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Pohon kendeka (Bruguiera spp. mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam.) mempunyai akar lutut (knee root). sehingga mengurangi evaporasi dari daun. sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Pada pihak yang lain. buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya. sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung.

Suksesi hutan bakau Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. melainkan secara perlahan-lahan bergeser. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang. meskipun pada umumnya kurang dari itu. hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur. Uraian di atas adalah penyederhanaan. bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Jika akan tumbuh menetap. bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. Di wilayah-wilayah yang sesuai. yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai. dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove. . Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur.Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya. dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering. pasir yang terbawa arus laut. Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. Dengan adanya proses suksesi ini. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas. beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya. perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal. sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Hutan bakau pun semakin meluas. Demikian perubahan terus terjadi. segala macam sampah dan hancuran vegetasi.

5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m (semai).id/handle/123456789/15464 2004 Kondisi Ekosistem Mangrove Berdasarkan Indiltator Kualitas Lingkungan dan Pengukuran Morfometrik Daun di Way Penet.. Selain itu ekosistem mailgrove juga berperan sebagai penyangga pantai dari abrasi dan perangkap sedimen. Berikut ini adalah daftar suku dan genus mangrove sejati.... 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m2 (semai)........ipb. persentase pasang tiap tahun dan jumlah jenis semak dengan masing-masing faktor pembobotnya secara berturut-turut sebesar 22......... tipe substrat...... setiap stasiun dibagi menjadi 3 sub stasiun dan setiap sub stasiun terdiri dari 3 plot pengamatan yang berukuran 10 x 10 m2 (pohon). Data parameter fisika-kimia perairan yang diukur meliputi: suhu....... Total jenis keseluruhan yang telah diketahui.. persentase penutupan pohon...... Analisis data meliputi: analisis kualitas lingkungan mangrove (Qe) yang diperoleh dari indikator kualitas lingkungan (Qi) yang terdiri dari: asosiasi spesies...... Jumlah pengukuran untuk setiap tingkat vegetasi yang ditemukan adalah sebanyak 37 helai daun......... Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kualitas lingkungan mangrove di Way Penet. Lampung Timur.... 17. Lampung. anggota dari sekitar 16 suku... adalah 202 spesies (Noor dkk.. Dari : http://repository. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya..... Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera. Lokasi penelitian terdiri dari 3 stasiun pengainatan..... Pengambilan data primer dilaksanakan pada bulan September dan November 2003 di Wilayah Konservasi Way Penet....ac. Dari jenis-jenis itu.. 1981).. Data yang diambil meliputi jumlah vegetasi den 5 an menggunakan transek kuadrat ukuran 10 x 10 m2 (pohon)....... salinitas dan pH.. Kabupaten Lampung Timur. 1999)...Kekayaan flora Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau.. beserta jumlah jenisnya (dimodifikasi dari Tom ..... Propinsi Lampung Author: Sadat.. sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia. Pengambilan data panjang dan lebar daun dilakukan sebanyak dua kali dengan waktu yang berbeda pada daun setiap tingkat vegetasi (pohon dan belta) yang dijumpai pada tiap plot pengamatadtransek kuadrat.. yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati........... Karena abrasi dan sedimentasi merupakan salah satu masalah dala~n pengembangan dan peinanfaatan wilayah pesisir bagi perikanan dan kelautan..... Anwar Abstract: Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang unik dail produktif....................... 18 dan 12 (Canter dan Hill. termasuk jenis-jenis mangrove ikutan.. Kabupaten Lampung Timur...... serta analisis ..... Propinsi Lampung berdasarkan indikator kualitas lingkungan mangrove dan menentukan kondisi kesehatan mangrove berdasarkan sebaran ~norfometrikd aun pada tingkat vegetasi pohon dan belta......... menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik.....

... Kondisi ini menunjukkan adanya proses regenerasi alam yang baik.. al. dan kondisi kesehatan mangrove untuk tingkat vegetasi belta pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua.. l iat berdebu danlempung yang berupa lumpur yang tebal dan yang terdapat di bagian tepi-tepi sungai......... 1 974 dalam Noor et.. ..ipb.. Produksiserasah mangrove berperan penting dalamkesuburan perairan pesisir danhutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum.id/handle/123456789/15464 Date: 2004 Unduh 28 Feb 2011 ...... sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 26-28 "C............. Teksturtanah juga dapat didefinisikansebagaisusunan relatif dari tiga kelasukuran partikela norg anik tanah....... Rhizophora mucronata merupakan vegetasi yang dominan...... 2009 by ogoy Unduh 28 feb 2011 jam 13.. URI: http://repository. sedangkan pada pengamatan kedua derajat keasaman (pH) masih tetap 8. Tanah mangrove di Indonesia umumnyaterdiri atas t anah-tanah yang berteksturhalus....m u a ra. danliat (berukurankurang dari 2?m) (Soil SurveyStaff. liat berlempung. Nilai kualitas lingkungan mangrove (Qe) di Way Penet memiliki kisaran kualitas lingkungan yang sedang.... yang disebut jugatanah l iat l aut (Sukardjo1984).... Tanah mangrove umumnyakaya akan bahan organik....p a ritd an hamparan lumpur..morfometrik daun...... Posted December 8th... Parameter fisika-kimia perairan... Jenis vegetasi yang ditemukan di lokasi penelitian lebih didominasi oleh mangrove jenis Avicennia nzarina. baik pada pengalnatan pertama maupun kedua adalah rendah.. Kandungan liat dan debu umunya tinggi..m em iliki kadar garam dan alkalinitas tinggi dan sering mengandung lapisan sulfatmasam atau bahan sulfidik(cat clay)... Tekstur tanah adalah s ifat fisis t anah yang berkaitan dengan ukuran partikel pembentuk t anah.. 2003)...... mangrove merupakan pemasok bahan-bahan organik s ehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yanghidup pada perairansekitarnya..... s edangkan daerah-daerah yang berlumpur dangkal didominasi oleh . Dirnana kondisi kesehatan mangrove untuk tingltat vegetasi pohon pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua.... Jenis substrat yang ditemukan pada komunitas mangrove Way Penet berupa liat dan liat berdebu...... menyimpan dan menyediakanhara tanaman.........ya itu pasir (berukuran 2 mm²50?m).......... sedangkan kondisi kesehatan mangrove di Way Penet berdasarka~l pengukuran morfometrik daun untuk tingkat vegetasi pohon dan belta.. Tekstur Tanah Terkstur tanah merupakan salah s usifat t anah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman.. Teksturtanah akan mempengaruhikemampuan menyimpan dan menghantarkan air...Secara umumtanah h utan mangrove merupakantanah aluvial h idromorf. sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 23-31 %o.......15 ANALISIS SISTEM PENDUGAAN TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE (STUDI KASUS DI PANTAI TIMUR SURABAYA) Pertama.... 2003).... Kedua. Kerapatan semai di lokasi penelitian lebih tinggi dibandingkan kerapatan pohon dan belta..ac. k arenalingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk k e dalam rantai makanan.. Besarnya nilai derajat keasaman (pH) yang terukur pada pengamatan pertama adalah 8. al.... Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesetabilan Ekosistem Mangrove adalah a.....O... suhu yang terukur pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 28-3 1 "C........... moluska dan udang (Davies and Claridge...... Salinitas pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 14-19 960...... Di daerah-daerah dengantanah berlumpur dalam. mangrove berperan penting dalamsiklus h idup berbagai jenis ikan. 1 998). debu (berukuran 50?m--2?m)....... Teksturtanah h utan mangrove umumnyaliat.. 1 993 dalam Noor et............ kecuali tanah-tanah mangrove di pulau-pulau karang yang banyak mengandung pasir atau pecahan batu karang..O. Pengaruh sifat tanah terhadap mangrove antara lain ditujukan oleh sebagian genus Rhizophora. Secara keseluruhan nilai parameter fisika-kimia perairan pada komunitas mangrove Way Penet masih dalam kisaran yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan mangrove jenis Avicennia marina. mempunyai tingkat kematangan yang rendah.

bilatanah banyak mengandung pasir ataukarang didominasi oleh Rhizophora stylosa (Hilmi. 1 993). Pada pantai yang terjal komposisi. 1 992). namun ada jenis mangrove yang dapat tumbuhp ad a kondisi kadar garam yanglebih t inggi. Pasang Surut Pasang surut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaru Pasangsurut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Mangrove dapat hidup dan tumbuh subur di pesisir dengan kadar salinitas a ntara 10 ± 30 ppt. Hal ini disebabkankarena pantailandai menyediakan ruang yanglebih l uas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi spesiesme nja d i semakin luasd an lebar. Hampirsemua jenis mangrove merupakan jenis yang toleran terhadap garam. pasangsurut dapat digunakan untuk membedakan zonasi pantai dankomunitas h ewan yang ditemukan di wilayah h utan mangrove (Pariwono. Keberadaan dan fluktuasi pasangsurut akan mempengaruhitingkat s alinitas airlaut.5 m tetapi dilaut yang dangkal pada umumnya mencapai lebih dari3 meter. Pantai yang landai memilikikomposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika dibandingkan de ngan pantai yang terjal. Fisiografi Pantai Kondisi fisiografis pantai di Indonesia yang berbeda-beda menyebabkan perbeda anhutan mangrove dari satu tempat k etampat l ainnya. Jenis garam yang paling banyak l arut adalah NaCl.Rhizophora apiculata. 2005). yang akhirnya memberikan pengaruh t erhadap perubahan dan penyebaran organisme mangrove secara vertikal (Hilmi. Perubahan salinitas akibat p asang surutm e rupakan suatu faktor yang membatasi pe nyebran jenis-jenis mangroveterutama penyebaransecarahorisontal. dimana jumlah Cl yang terlarut d alam air laut ini rata-rata 55%. d. Di areal pesisir pantai. distribusi spesies dan lebar hutan mangrove. Pasangsurut berhubungan denganlamanya penggenangan yang berpengaruh pada jenis vegetasi mangrove. c. Air pasangterjadi duakali dalamsatuhari. 2005) b. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaruhi besarankisaran pasut. Pasangsurut juga memberikankontribusi bagi perubahan masa antara airtawar dan air asin. misalnya Avicennia marina dan Excoecaria agallocha dapat t um buh pada kondisi salinitas tinggi yaitu sekitar 85 ppt (Hilmi. Lebih l anjut Richards (1946) dalam Sukardjo (1984) menyatakan bahwakandungan garam atau salinitas s angat menentukankemampuantumbuh dan reproduksi mangrove. 2005) Salinitas mempunyai fungsi penting untuk menghilangkantumbuhanlain yang menempel pada mangrove yangtidak mampu beradaptasi padakondisi air yang mempunyaikandungan NaCl (Hilmi. 2005). Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang datar dansejajar dengan arah angin (Sukardjo1984). Fisiografi pantai dapat mempengaruhikomposisi. 1999). h al ini disebabkankarena adanya pengaruh dayatarik bulanlebih k ecil dari matahari (Istomo. Salinitas Salinitas merupakansuatu indikator yang menunjukkan banyaknya kadar garam yang terlarut dalam air atau kadar garam terlarut dalam air maupun dalam larutan tanah dan merupakan istilah yang menyatakankadar garam yangterkandung dan dinyatakan dalam part perthousend (ppt) (Aksornkoae.distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena kontur yang terjal menyulitkan pohon mangrove untuk tumbuh. Dilaut t erbukaketinggian air pasang tidak l ebih dari 0. Pasang yangterjadi di kawasan mangrove sangatme ne ntukan .

ac. Bruguiera sp. Pengaruh t idak l angsung dari gelombang dan arus adalah t erhadapsedimentasi pantai dan Pem bentukan padatan-padatan pasir di muarasungai. Intensitas c ahaya optimal yang penting bagi pertumbuhantanaman mangrove adalah 1 . dan aliran permukaan dan aliran bawah t anah. Gelombang dan arus mempengaruhi dayatahan organisme akuatik melaluitransportasi nu trien-nutrien penting dari mangrovekelaut. 1 993). Pada mangrove jenisRhizophora stylosa.Kalimantan dan Irian Jawa. 1 993). Menurut Kennish (1990) mangrovetumbuh s ubur padakonsisi daerah t ropik yang bersuhu di atas 200C.800kkal/m2/hari.000 ±3. Hal initidak berarti bahwa mangrovetidak dapat berkembang dikawasan beriklimkering. Gelombang dan arus juga berpengaruh l angsungterhadap distribusi spesies misalnya buahatau semai Rhizo phora sp.ya itu antara 26 ± 280C. melainkan oleh k enyataan bahwakondisi pantai dantidak adanyasungai besar seperti diSumatera. 1984).ipb.ipb. Gelombang dan Arus Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove. Hal ini menyebabkan zona pantaitropis merupakansuatuhabitat yang ideal bagi ekosistem mangrove (Aksornkoae. Cahaya merupakansalah s atukomponen yang vital bagi proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman hijau.id).ac. Di Indonesiasebagian besar mangroveterdapat dikawasan dengancurah h ujantahunan dan bulanan yangtinggi.Secara umumcurah h ujan yang normal bagikehidupan jenis mangrove sekitar 1500 ± 3000 mm/tahun (Aksornkoae. begitupun Xylocarpus s p. Suhu juga merupakan faktor penting bagi proses fisiologiseperti proses fotosintesis dan respirasi. Mangrove umumnya merupakan tumbuhan berhari panjang yang memerlukan intensitas c ahaya yangtinggi.zonasitumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi denganekosistemmangrove . Iklim Mangrove merupakantumbuhan yang dalamhidupnyatidak t erpengaruh t erhadap iklim artinya bahwa mangroveterdapat di areal beriklim basah. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur walaupun dalam areal yanglebih k ecil. Mangroveterdapat pula dikawasan beriklimkering. s eperi diSulawesiSelatan dan Tenggara. Angin ribut akan mengakibatkan impending pertumbuhantanaman dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal (Aksornkoae. pada suhu 270C. Terjadinyasedimentasi dan padatanpadatan pasir ini merupakansubstrat yang baik untuk menunjang pertumbuhan mangrove. . 1993). s uhu.id). Angin berpengaruh t erhadap mangrove untuk proses penyerbukan danseed dissemination. mempunyai kisaran suhu yang lebih tinggi dalam prosesp rod uktifitasd a un-da un segar. 1993). Keberadaan iklim akan berperan terhadap perkembangan tanaman. hewan dan faktor fisik lain seperti tanah dan air (Aksornkoae. e. s alinitas. 1993). Cahaya juga berpengaruh terhadap prosesrespirasi. bermusim dankering. t etapi iklim yang bersifat mikrosepertikondisicahaya. Nutrien-nutrien yang berasal darihasil dekom posisiserasah maupun yang berasal dari runoff daratan danterjebak dihutan mangrovekemudian akanterbawa oleh arus dan gelombang ke laut pada saat surut (http//wap.fisiologi dan struktur fisikd a ri tanaman mangrove. yang terbawa gelombang dan arus sampai menemukansubstrat yangsesuai untuk menancap dan akhirnyatumbuh (http//wap. f. Oleh karena itu tidakm em un gkinkan pembentukan hutan mangrove yang sangat luas (Sukardjo. transformasi.Excoecaria agallocha dan Lumnitzera sp. Curah h ujan juga mempengaruhi faktorlingkunganlainnyasepertisuhu air.Ce riops sp. untuk Avicennia marina akan memproduksi daun-daunsegar padasuhu18 ± 200C dan jika suhu dinaikkan lagi maka produktifitas daun-daun baru akan rendah. Dengankeadaan iklim demikian ini mangrovetumbuh s ubur dan berkembang dengan baik. c urah h ujan dan angin mempunyai pengaruh yangsangat k uat terhadap kehidupan ekosistem mangrove. pertumbuhannya baik padasuhu 21 ± 260C. Angin juga apat meningkatkan evapotranspirasi bagitanaman. Kondisitersebut bukan disebabkan oleh iklim. Curah h ujan me rupakan faktor penting bagi perkembangan dan penyebaran daritanaman danhewan.. s erta Xylocarpus granatum pada suhu 280C (Aksornkoae. Pa dalokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang besar biasanyahutan mang rove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan hutan.

hidup padatanah dengan nilai pH berturut-turut adalah 6........p asang surut dan arus....25 jutahektar padatahun1982 menjad isekitar3. O ksigen terlarutjug a merupakansuatu bagian essensial yang mempe ngaruhitejadinya proses dekomposisi..6 dan 6..... Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalahme m iliki keragaman jenisya ng tertinggi di dunia. estimasi yang paling dapat diandalkan berasal daritahun1993..... ... industri dan pertanian....Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayahpesisir Sumatera. a .. Estimasiterhadaphutan mangrove di Indonesia dipenuhiketidakpastian dansudah k adaluwarsa. (1978) dalam Hilmi (2005) melakukan pene litiantentanghal t ersebut dan menujukan bahwa oksigenterlarut diluarhutan mang rove (4.... Nilai pH Nilai pH suatu perairan mencirikankeseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ionhidrogen dalamlarutan..... k egiatan-kegiatankomersial....... Menurut World Mangrove Atlas dalam Irwanto (2006)..g.........p emb uanga n limbahme mbe rikan pengaruhatau tekanan terhadap habitat mangrove.....25 jutaha (Spalding et... yaitusekitar 200 ribuhektar/tahun.... Luas penyebar an mangroveterus mengalami penurunan dari 4.Selain itu meningkatnya permintaan terhadap produksi kayu menyebabkan meningkatnya pula e ksploitasi berlebihan terhadap mangrove (Dahuri...9 sampai dengan 2..pe mb ukaan lahan.. penebanganliar dansebagainya (Dahuri......8 mg/L. dantersisaseluas 2... Bersumber darikeinginan manusia untuk mengkonversihutan mangrove menjadilahan perumahan....2. Oksigen Terlaru Oksigenterlarut adalah s esuatuhal yangsangat penting bagi keberlangsungan hidup tanaman dan hewan di hutan mangrove khususnya dalam prosesrespirasi dan fotosistesis.... Penyebab dan TingkatKerusakan Mangrove Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai75% daritotal mangrove di Asia Teng gara... Hal t ersebutDisebab kan oleh k egiatankonversi menjadilahantambak.1± 3. 2002)...24 jutahektar padatahun1987....7 ±3. Mangrove menggunakan oksigenterlarut s ebagai faktor pengontrol bagikomposisi jenis dan distribusinyaserta pertumbuhannya... atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. dan Avicenniasp.. Tingkat oksigenterlarut di dalam dan diluar mangrove sekitar 4. Aksornkoae et. 2004). Kegiatanlain yang menyebabkankerusakanhutan mangrove adalah pembuka anlahan-lahantambak untuk budidaya ikan........ Kalimantan dan Papua. yang teren dah pada malam hari dan tertinggi pada siang hari.4 mg/L)lebih t inggi dibandingkan dengan di dalam mangrove (1.. al.. 1 989). A ktivitasma n usia yang berupa kegiatan penebangan liar.. h. Komunitas Rhizophorasp.50 jutahektar padatahun 1993.. Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah-ubah s elama 24 jam..... 2002).......4 mg/L). 2002). Nilai pH baku mutu untuk perairanlaut berkisar antara6-9..g elombang. Adanyakarbonat........ ketika ituluas h utan mangrove di negara ini mencapai 4.. Kegiatanterakhir ini memberikankontribusi besar dalam pengrusakan eksositem ini (Dahuri... Karena fungsi dan manfaatnya yang begitu besarsehingga mendorong masyarakat untuk memanfaatkanhutan mang rovesecara membabi buta yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan hutan mangrove tersebut (Nuhman. s ementara adanya asam-asam mineral bebas dan asamkarbonat akan menaikankemasaman (Saeni.. Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah membentuk s uatu area dan zonasi bagitanaman. Kerusakan mangrove bisasebababkan oleh beberapa faktorseperti aktivitas manusia........... hidroksida dan bikarbonat akan menaikankebasaan air. Kecenderungan penurunantersebut mengindikasikan bahwaterjadi degradasihutan mangrove yangcukup nyata.... Pada arealya ng tertutup sekitar 2.4 mg/L. pencemaran.. sedimentasi............

Selanjutnya. Metode penelitian yang dilakukan secara umum adalah metode studi kasus. Sejak tahun 1999 kondisi luas hutan mangrove di Indramayu terus mengalami penurunan yang cukup signifikan (45. Potensi yang dapat dimanfaatkan di . formulasi strategi dan.ac. ekonomi dan sosial. Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji kondisi ekologis hutan mangrove. untuk formulasi strategi pengelolaan dan penentuan prioritas kebijakan pengelolaan masing-masing menggunakan analisis SWOT (Strengts Weaknesses Opportunities Threats).unpad. Karangampel dan Krangkeng dengan total desa sebanyak 21 desa. Dinas Lingkungan Hidup. Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. ada beberapa kecamatan dan desa yang tidak memiliki jalur hijau seperti Kecamatan Sukra. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskripsi.Dari : http://fpik. dan sosial ekonomi budaya masyarakat di sekitar hutan mangrove sebagai komponen keberlanjutan dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove serta merumuskan strategi kebijakan pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahapan pokok. Penelitian ini dilakukan di kecamatan kecamatan pesisir yang ada di Kabupaten Indramayu. sosial dan ekonomi. Balongan. perguruan tinggi. Aspek yang dikaji meliputi aspek ekologi. Pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu secara umum terdiri dari hutan mangrove binaan dan hutan mangrove alami. Responden terpilih meliputi stakeholder terkait seperti masyarakat. 2010 Iwang Gumilar.34 %). Dalam faktanya tidak seluruh wilayah pesisir Kabupaten Indramayu ada jalur hijaunya. Etty Riani. dan PT. tahap kedua. Pertamina. inventarisasi dan analisis kondisi ekologi.id/archives/515 Unduh 7 Maret 2011 STRATEGI PENGELOLAAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN (Studi Kasus di Kabupaten Indramayu) Oleh: admin February 25. Sumardjo Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) dan AHP (Analitical Hierarcy Process). LSM. melakukan identifikasi. Perhutani. tahap ketiga penentuan prioritas kebijakan pengelolaan. Hutan mangrove binaan merupakan hutan mangrove yang kondisinya perlu mendapat perhatian serius mengingat tingkat kerusakannya sudah sangat mengkhawatirkan. Juntinyuat. Sindang. Teknik pengambilan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling terpilih (purposive sampling). yaitu tahap pertama. Cecep Kusmana. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil identifikasi dan inventarisasi aspek fisik kimia lingkungan di lokasi sekitar hutan mangrove di Indramayu menunjukkan bahwa secara umum tanaman mangrove layak untuk ditanam dan dikembangkan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu karena dari sejumlah parameter fisik kimia lingkungan yang ada hampir seluruh parameter memenuhi kriteria kesesuaian.

konservasi dan terakhir hutan produksi. Sementara pembudidaya tambak dan nelayan juragan umumnya pendapatannya di atas garis kemiskinan. kayu baker. Memanfaatkan hutan mangrove pada zonasi tertentu untuk dijadikan wilayah wanawisata (ecoturism) 4. kemudian diikuti fisik kimia dan terakhir biologi. 880. Dengan menggunakan matriks posisi SWOT strategi yang harus dijalankan adalah strategi S-O pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu diarahkan kepada: 1. Memanfaatkan potensi lahan wilayah pesisir untuk dijadikan hutan mangrove 2.yang terdiri dari manfaat untuk bahan bangunan.Indramayu daratan hanya sekitar 10.000.833. kemudian diikuti wanawisata. sebesar Rp 769. 561/kep 684Bangsos/2008. Ini artinya keragaman jenis tanaman mangrove di Indramayu daratan sangat rendah. keberhasilan pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu sangat dipengaruhi oleh kriteria sosekbud dan alternatif usaha silvofishery. perikanan tangkap. Untuk alternatif yang paling penting secara berurut adalah silvofishery.500 sebagai indikator pembanding untuk menentukan kemiskinan penduduk. yaitu Avicennia alba dan Bruguiera gymnorrhiza. berkelanjutan. Kata Kunci: strategi. satwa dan tambak. Melakukan pemberdayaan / pembinaan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove dalam kegiatan ekonomis dan pelestarian lingkungan Berdasarkan perhitungan nilai Eigen (Eigen Vector) diperoleh kriteria yang paling penting secara berurut adalah sosekbud. mangrove. sosial.71 persen.129. Hasil valuasi ekonomi menurut pendekatan manfaat langsung dan opsi menunjukkan bahwa nilai ekonomi lingkungan dari ekosistem hutan mangrove di Indramayu daratan sekitar Rp. spesies mangrove yang dominan ada di Indramayu daratan hanya ada dua jenis.. Memanfaatkan dukungan peraturan dan partisipasi stakeholder lokal dan pusat dalam berbagai bentuk untuk melestarikan hutan mangrove di wilayah pesisir 3. Sementara itu. Dengan kata lain. ekologis. Jenis lainnya tidak ditemukan di Indramayu daratan. Umumnya pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan tangkap ABK merupakan masyarakat yang termasuk kategori miskin. Berdasarkan Upah minimum propinsi dan kebutuhan hidup minimum penduduk di Propinsi Jawa Barat khususnya untuk Kabupaten Indramayu tahun 2008 menurut SK Gubernur Jawa Barat No. ekonomi dan budaya .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->