Kronologis Penelitian Tesis ku : Menghadap Prof Soemarno pada hari Senin, 27 Desember 2010, ditemani bu Hany yang sudah

minta tandatangan siap ujian proposal tesis. Saya diminta langsung ujian proposal tesis hari Kamis/ Jum’at 30/ 31 desember 2010. Tidak mungkin. Ngebut belajar, cari masalah, tujuan dan metoda. Sesuai dengan arahan Prof Soemarno, hanya buat 2 masalah, 2 tujuan dan 2 metoda. Karakteristik fisik/ vegetasi hutan mangrove dan Strategi arahan terbaik [pengeloaan hutan mangrove. Analisis Vegetasi berdasar buku praktikum bu Endang + analisis SWOT dengan Evaluasi Faktor Internal Eksternal + matrix EFAS IFAS. Hari Senin tgl 10 Januari 1011 dengan membawa draft proposal tesis, satu untak Prof Soemarno dan satu untuk Dr Nuddin. Dr Nuddin minta dimasukkan sosek karena suatu model pengelolaan akan gagal tanpa melibatkan social ekonomi masyarakat. Saran Prof Soemarno : segera hub dosen + penguji ( Amien Laksono + Imam Hambali ). Berupa USULAN PROPOSAL TESIS 1 Hari Jum’at, 14 Januari 2011 ke perpus S2 + perpus biologi + ambil format penundaan pembayaran. Ketemu m. Santi. Ternyata harus dengan melampirkan Hasil Ujian TOEFL, KACAU APALAGI DITAMBAH PENYAKIT MALAS Tanggal 10 Februari Bintek di Grand Palace malang, kusempatkan ke kampus ngurus persetujuan pencicilan SPP. Ternyata belum jadi, untungnya tetap bias regestrasi Tanggal 16 Fabruari 2011 ke malang dengan suami ngurus SPP q. Hari ini ke Pasca, truz ke Rektorat lantai 5, truz bayar di Mandiri dan terus ngurus Permohonan Keringanan SPP. Hari ini adik Yanuar masih dir s, tabrakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011 Maulid Nabi. Kujalani hidup ini…lagi2 tertunda!!! HARUSNYA BUKAN ALASAN, TAPI KEMBALI2NYA AKU SING NGURUS KABEH YA ALLAH MAHA TAHU…. HARI SABTU, 19 FEB MAUNYA TOEFL IDP JUGA GAGAL….GITU AKU YO DIMARAH2I DI RS…..YOK OPO SE KAREPE Tanggal 23 Feb aku konsultasi ke p Nuddin, banyak perbaikan truz ke perpus pusing berat, truz k Pas Maunya Sabtu 26 Feb Toefl--> TERHAMBAT LAGI M.ABADI PRESENTASI KE SURABAYA !!!

-

-

-

-

-

=============================================================== Buka : http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/analisis-vegetasi-hutan-alam.pdf =============================================================== Dari PENGHITUNGAN BIOMASSA- Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon - Dandun Sutaryo - Wetlands International Indonesia Programme – 2009 - Dipublikasikan pada Mei 2009 oleh : Wetlands International Indonesia Programme Jl. A. Yani 53. BOGOR :
DBH : Diameter Breast Height, diameter setinggi dada atau kurang lebih 1.3 m dari permukaan tanah. Metode mengukur pohon dalam penelitian ekologi hutan, penelitian biomassa atau pendataan potensi hutan. GBH : Girth Breast Height. Keliling pohon setinggi dada. Variasi lain dalam pengukuran pohon selain DBH. Dalam prakteknya pengkuran GBH lebih sering dilakukan dan hasil nya dikonversikan menjadi DBH. Basal area : Luas batang pohon yang dihitung dari DBH. Luas keseluruhan basal area per satuan luas menunjukan nilai dominansi dari tumbuhan tersebut. Dekomposisi : Penguraian. Dalam hal ini penguraian bahan organic menjadi bahan anorganik melalui proses fisika, kimia atau biologi. Pembusukan bahan organic diamati. Densitas : Kerapatan. Nilai yang menunjukkan jumlah individu per satuan luas . Densitas biomassa : Biomass density, jumlah biomassa per satuan luas. Expansion factor : suatu factor atau nilai yang menggandakan suatu jumlah nominal tertentu (volume atau biomass), yang mencakup 1 atau beberapa bagian pohon ke jumlah nominal lainnya yang mencakup keseluruhan pohon BEF : (Biomass expansion Factor) Faktor yang menggandakan biomassa batang ke biomassa keseluruhan pohon. VEF : Volume expansion factor GPG LULU CF : Good Practice Guidance for Land Use, Land-Use Change and Forestry Herba : Tumbuhan dengan batang basah atau tidak berkayu. Umumnya berupa tumbuhan semusim. Pancang : Tingkatan pohon setelah tingkatan semai (seedling). Pada komunitas hutan tropic basah berupa pohon muda dengan diameter 2 cm hingga sekitar 8 atau 10 cm. Pada iklim yang lebih kering diameter 10 cm mungkin tidak lagi tergolong sapling karena rata-rata diameter pohon di komunitas tersebut lebih kecil. Tegakan : komunitas tumbuhan (pohon) pada area tertentu.

Biomassa adalah total berat atau volume organisme dalam suatu area atau volume Ter tentu (a glossary by the IPCC,1995). Biomassa juga didefinisikan sebagai total jumlah materi hidup di atas permukaan pada suatu pohon dan dinyatakan dengan satuan ton berat kering per satuan luas (Brown, 1997).
=================================================================================

Dari : METODE ANALISIS AKAR MASALAH DAN SOLUSI - Ari Harsono P. Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indosesia, Depok 16424, Indonesia - E-mail: ariharsono@yahoo.com - MAKARA, SOSIAL
HUMANIORA, VOL. 12, NO. 2, DESEMBER 2008: 72-81 - : .Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (MAAMS) ini menyajikan suatu cara berpikir yang diperagakan dengan tata-alir (flow chart), disertai dengan beberapa contoh. Penerapan MAAMS membantu penggunanya untuk berpikir induktif maupun deduktif, kualitatif maupun kuantitatif, lebih mendalam dan menyeluruh, serta mempermudah kerjasama inter, multi, atau transdisiplin. Berikut ini adalah langkah-langkah menjalankan MAAMS: a. Rumuskan suatu masalah (sosial dan kemanusiaan) dalam bentuk yang dapat diaju kan pertanyaan “apa sebab-sebabnya.” Misalnya, apa penyebab timbulnya perkelahian pelajar; mengapa kualitas SDM kita rendah, mengapa Malaysia berani mengincar Amba lat, apa sebab penularan HIV/AIDS, juga pemakaian narkoba yang semakin meluas? Jenis pertanyaan yang mengarah pada solusi ini harus didukung fakta. Jika dari judul (artikel, makalah, skripsi, tesis, disertasi) tidak dapat diajukan pertanyaan (“Apa Sebab nya” atau “Mengapa”), identifikasi lebih dulu alasan-alasan atau fakta-fakta yang biasa nya ditulis sebagai latar belakang masalah. Terhadap alasan-alasan atau fakta-fakta inilah diajukan pertanyaan mengapa atau apa sebab-sebabnya. b. Identifikasi sebab-sebab negatif yang paling lang-sung dari X. Misalnya ada 4 faktor, ditandai dengan Sa1, Sb1, Sc1, Sd1. (S=sebab; abcd=masing-masing faktor; angka 1=tahap pertama penelusuran sebab). Sebab negatif yaitu suatu keadaan salah-buruk yang perlu diatasi atau diperbaiki; sedangkan paling langsung yaitu sebab yang tidak diantarai oleh sebab lain. Dalam fenomena sosial hampir tidak ditemukan adanya satu faktor yang menyebabkan satu fakta lain, melainkan beberapa faktor sekaligus, baik secara kausal maupun korelasional. Di sinilah muncul kebutuhan untuk berpikir dan berkerjasama secara interdisiplin, multidisiplin, atau transdisiplin. c. Terhadap masing-masing sebab (faktor) diajukan pertanyaan “benarkah?” dalam arti apakah ia memang menjadi sebab dari masalah X. Untuk itu lebih dulu dilakukan pengkajian atau penelitian, baik secara logis (formal) ataupun empiris (material), kualitatif maupun kuantitatif, induktif maupun deduktif (Hayon, 2005). Jika hasilnya benar, tahap kedua dari penelusuran sebab dapat dilakukan, yang berarti mencari sebab-sebab dari setiap sebab pada tahap pertama (Sa1, Sb1 dan seterusnya). Jika hasilnya salah, sebab tersebut diabaikan dan kembali ke awal dengan mengidentifikasi kemungkinan sebab lainnya. Pada langkah ketiga inilah keseluruhan pengetahuan tentang kebenaran dan pendekatan terhadap masalah diterapkan secara kritis.

yang dalam penerapan rincinya (tahap pembuktian/penelitian) sangat mungkin membutuhkan analisis data kuantitatif serta penerapan logika formal dan logika material. dan angka kredit kenaikan pangkat. Penelusuran dapat dihentikan dengan memperhatikan dua syarat.b. deduktif maupun induktif.c. tanggung/jangka menengah. Bedanya adalah bahwa kemungkinan sebab (faktor) yang diidentifikasi menjadi semakin sedikit karena adanya kesamaan sehingga bukan a. apa yang dipandang sebagai akar masalah tersebut dapat secara sekaligus dicarikan solusi individual/ personal/mentalistik –berupa imbauan pada nurani atau niat seseorang– maupun solusi sistemik/ struktural/institusional/legalistik –berupa UU atau peraturan dengan sanksi hukum. dan tema jurnal yang mungkin “sekadar” menambah penghasilan. terdapat persetujuan dari peserta yang terlibat perbincangan. Jika syarat ini tidak terpenuhi.d lagi tapi a. dimanfaatkan oleh media massa secara komersial –komodifikasi masalah– berupa talk show dan rubrik opini. solusi dasar ditindaklanjuti lagi dengan evaluasi. Meski demikian keseluruhan contoh diharapkan sudah dapat menjelaskan penerapan MAAMS TATA ALIR METODE AAMS MASALAH SOSIAL (“X”) APA SEBABNYA ? . demikian pula bila tanggung (Dua tahap inilah yang sering terjadi sehingga menimbulkan perbincangan yang berkepanjangan. secara sadar atau tidak. dan lalu dipotong-potong menjadi kemasan topik-topik kecil yang sangat banyak jumlahnya. e. Analisis yang tidak tuntas ini. kemalasan. maka solusinya pun bersifat permukaan. atau kurang jujur. tetapi tidak mengatasi masalah secara “tuntas”. dan pada akhirnya a dan b sebagai sebab terdalam atau akar masalah (a dan b menunjukkan bahwa sebab dasar terdiri lebih dari satu sebab). tidak sepenuhnya menerapkan langkah ke-3. Catatan: Cukup sering terjadi. Hanya bila akar masalah teridentifikasi maka solusi yang mendasar dapat dirumuskan. rumusan sebab atau akar masalah hendaknya memperlihatkan perilaku nyata yang cukup mudah diamati. publikasi. termasuk dengan penelusuran ulang sebab-sebab. Pertama. Mengenai solusi. Oleh karena itu untuk memenuhi syarat solusi sistemik ini. Kedua. dan dasar/jangka panjang. Berikut ini adalah contoh-contoh penerapan metode MAAMS yang. Mungkin ini terjadi karena keengganan.d. kurang mampu. penelusuran sebab berhenti sebelum sampai pada akar masalah/akar penyebab. f. sedangkan solusi sistemik lebih sulit dilaksanakan. mengingat keterbatasan penulisan. Kerjasama media massa dan ilmuwan bisa tergelincir melakukan “play acting at science” yang memunculkan ilmuwan selebritis).b. Kalangan akademis pun bisa tanpa sadar melakukan hal yang sama dengan mengemasnya sebagai topik-topik penelitian dan diskusi. Uraian di atas memperlihatkan bahwa MAAMS merupakan metode yang memiliki sifat kualitatif. Solusi individual relatif mudah dilaksanakan. Selanjutnya. dan tentu saja layak untuk dijatuhi sanksi hukum. proses diulang dari tahap sebelumnya atau dari awal lagi. di dalam flow chart dibedakan menjadi tiga: darurat/permukaan/jangka pendek. Jika identifikasi sebab-sebab dilakukan hanya sampai permukaan saja. Tahap kedua dan seterusnya (tahap ke n) caranya sama seperti tahap pertama. khususnya penelitian empiris.c.

.ANALISIS STRATEGI DALAM MENGHADAPI ABAD 21 A... Sc1..II BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : ...... Sb2.... Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan...... menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi..... yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus... dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah.......... Untuk jelasnya dapat dilihat pada : Gambar 1. Sb(n) HINGGA SEBAB TERDALAM/ ..... Sc2 DAN SETERUSNYA Sa(n)....SEBAB (SEBAB)NYA : Sa1 Sb1 Sc1 Sd1 BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : ... YA / TIDAK SOLUSI DARURAT APA SEBAB DARI : Sa1. YA / TIDAK SOLUSI TANGGUNG APA SEBAB DARI : Sa2..... Proses Analisis Kasus Mengetahui Strategi Perusahaan Jelaskan Situasi . Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi... Sd1 SEBAB (SEBAB)NYA : Sa2 Sb2 Sc2 ..... proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus.... dan bisa langsung dicari solusi individual & sistemiknya sekaligus ** Sebab yang ditelusuri adalah sebab yang negatif Dari : JURNAL REVIEW “Chatlyn” .... Menurut Boulton.. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada.. Sb1.n SEBAB DASAR/AKAR MASALAH*) YA SOLUSI DASAR * Akar Masalah (San. Sbn) harus bisa disepakati..

Diterima 17 April 2004. handrefractometer. Ketam Putih. Pekanbaru 28293 . TAHAP ANALISIS MATRIK MATRIK TOWS INTERNAL EKSTERNAL 3.Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau . TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Matrik Evaluasi Faktor Eksternal Faktor Internal (EFE) (IFE) 2. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. Tanjung Sekodi.ISSN : 1829-5460 Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon. pancang. meteran.Evaluasi Situasi Tentukan dan Evaluasi lingkungan PELUANG dan ANCAMAN perusahaan Tentukan dan evaluasi lingkungan KEKUATAN danKELEMAHAN perusahaan Analisis masalah yang perlu mendapat perhatian Tentukan alternatif dan pilihan strategi Cari pemecahan masalah Untuk jelasnya. parang. Kerangka Formulasi Strategis =============================================================== Dari : STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*). Disetujui 20 Juni 2004 Jurnal Biogenesis Vol. Bahan yang diperlukan adalah : aquades. Selat Baru dan Jangkang. soiltester dan botol semprot. sedangkan alat yang dipakai ompas. kertas koran. 2004 .Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau. Bantan Air. Pangkalan Batang. alkohol 70 %. gunting. . Nursal Dan Supriyanti . thermohigrometer. 1(1):26-30. tali plastik. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning (QSPM) Matrix Gambar 2.

2Alumni Jurusan. (2).mindtools. pH.reg.marketingteacher. Pada tiap lokasi diukur parameter rlingkungan yang meliputi salinitas. Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------luas plot Kerapatan suatu jenis Kerapatan Relatif = --------------------------------------.justassociates.org/ActionGuide. suhu udara. Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek. PWK.Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg.htm www. Fak. Fak. Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada. .com/swot. suhu air.html Dari : Arahan Pemanfaatan Lahan Kawasan Rawan Bencana Longsor SSWP Ngantang Kabupaten Malang.rer. MSP (1) dan Ir.x 100% Dominansi seluruh jenis Nilai Penting = FR + KR + DR =============================================================== www. secara purposive sampling. (1) Debby Dayusita. PWK.x 100% Kerapatan seluruh jenis Jumlah plot yang ditempati suatu jenis Frekwensi =----------------------------------------------jumlah seluruh plot Frekwensi suatu jenis Frekwensi Relatif = -------------------------------------. Ir.. Teknik UB. kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling ba tang setiap individu tersebut. lic.htm www. 1 Staf Dosen Jurusan. 1974). Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herba rium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986). Agus Dwi W. Teknik UB.com/Lessons/lessom_swot. kadar organik dan tekstur tanah. Dibuat 2 buah transekpada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telahditetapkan) .x 100% Frekwensi seluruh jenis Jumlah Basal Area suatu jenis Dominansi = ------------------------------------------Luas area contoh Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi suatu jenis Dominansi Relatif = ----------------------------------. Budi Sugiarto.

Bobot masing-masing faktor diolah dengan menggunakan software Expert Choice. Hasil analisis SWOT dan IFAS EFAS. Pembobotan didasarkan jawaban para responden dan diolah menggunakan prinsip metode AHP. Langkah-langkah penelitian yaitu : (i) Mengidentifikasi tingkat kerawanan longsor dengan teknik ranking overlay secara aritmatik dengan GIS. yaitu : 1. analisis kesesuaian penggunaan lahan dan analisis SWOT dengan IFAS EFAS. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Longsor dan Pedoman Kehutanan Indonesia. kondisi kinerja kawasan rawan bencana longsor berada pada kuadran IV yang berarti perlu penerapan strategi diversifikasi untuk mengatasi ancaman dan mencapai peluang. Dinas ESDM serta Kabid Linmas Dinas Kesbang Linmas.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pemanfaatan lahan sebagai upaya pengurangan resiko bencana longsor. Penelitian ini dilakukan tahun 2007-2008 di wilayah SSWP Ngantang. (iii) Menentukan strategi pemanfaatan lahan berdasarkan aspek penggunaan lahan. (ii) Mengevaluasi kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor dengan teknik intersect overlay dengan GIS. asisten Perhutani. Bagaimana kondisi kerawanan longsor pada wilayah penelitian? 2. ahli ekologi. Analisis tingkat kerawanan bencana longsor dan analisis kesesuaian penggunaan lahan menggunakan alat bantu sistem informasi geografis dengan perangkat lunak AutocadMap versi 2004 dan ArcView versi 3. sosial. Kasembon. maka dapat dihasilkan tiga rumusan masalah. diperlukan strategi yang dihasilkan melalui analisis IFAS EFAS. sedangkan dalam analisis SWOT menggunakan metode AHP dengan alat bantu software Expert Choice untuk menentukan bobot berdasarkan pendapat para ahli. Penentuan strategi pemanfaatan lahan Masing-masing bobot aspek kinerja kawasan ditentukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process berdasarkan pendapat ahli yang terdiri dari ahli tata ruang. Strategi pemanfaatan lahan diarahkan berupa diversifikasi tanaman dan diversifikasi usahatani. Kepala Kecamatan Pujon. ekonomi dan kelembagaan dengan analisis SWOT dan IFAS EFAS. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut. ahli sosial ekonomi. Guna lahan yang tidak sesuai akan diberikan arahan pengaturan penggunaan lahan dilengkapi dengan pengendalian longsor secara mekanis. Matriks IFAS FAKTOR STRATEGIS KEKUATAN Keberadaan kawasan vegetasi permanen sebagai penutup lahan BOBOT 0. Arahan pemanfaatan lahan menggunakan literatur Permentan No 47/2006. Bagaimana strategi pemanfaatan lahannya? Untuk menentukan arahan pemanfaatan lahan.714 .238 RATING 3 BXR 0. Masing-masing faktor strategis yang diperoleh dari analisis potensi dan masalah dilakukan perhitungan terhadap bobot dan ratingnya dalam matrik IFAS EFAS. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Bagaimana kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor? 3. Ngantang. Metode analisis kuantitatif diterapkan pada analisis tingkat kerawanan longsor.2. Kabupaten Malang. Tabel 10.

207 0.054 0.022 0.043 0.064 0.079 0.104 3 0.063 0.58% Adanya kepedulian dalam kehidupan masyarakat Perkembangan sektor peternakan berpotensi meningkatkan pendapatan Produktivitas pertanian dari tahun ke tahun meningkat Sudah adanya badan penanganan bencana untuk tiap-tiap kecamatan di bawah koordinasi pemerintah daerah Masyarakat cukup sigap dalam penanganan bencana yang bersifat lokal Adanya pemberdayaan kelompok tani dan berdirinya koperasi di masingmasing kecamatan TOTAL KELEMAHAN Ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan tingkat kerawanan longsor mencapai 51% Tekanan penduduk terhadap lahan tinggi Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan Ketergantungan penduduk terhadap lahan tinggi Tingkat pendapatan perkapita masyarakat di SSWP Ngantang rendah Inovasi petani rendah Lemahnya penegakan hukum dan peraturan TOTAL Sumber: Hasil analisis (2008) BOBOT 0.039 1.117 0.021 0.039 0.132 1.066 0.086 0.162 0.054 0.238 0.FAKTOR STRATEGIS mencapai luas 43.044 RATING 3 3 3 3 3 3 BXR 0.039 1 2 3 2 2 3 1 1 0.021 0.162 0.128 0.476 0.312 .021 0.383 0.237 0. Matriks EFAS FAKTOR STRATEGIS PELUANG Adanya sosialisasi yang diberikan LSM terkait kondisi kebencanaan di SSWP Ngantang SSWP Ngantang merupakan salah satu sentra pengembangan kawasan hortikultura di Kabupaten Malang dan melayani perdagangan hasil pertanian skala regionalnasional BOBOT RATING BXR 0.069 3 0.043 0.149 Tabel 11.129 0.

126 0.126 0. Sedangkan koordinat Y yang terdiri dari peluang dan ancaman memiliki besaran -0.069 0.126 0.0.071 0.FAKTOR STRATEGIS Adanya landasan hukum untuk penetapan dan perlindungan kawasan rawan bencana dan program reboisasi Peluang kerja sama dengan pihak PT Nestle sebagai pasar tetap di sektor peternakan Peluang kerja sama dengan Perhutani dalam kegiatan pemanfaatan lahan TOTAL ANCAMAN Bencana longsor Degradasi lingkungan akibat lahan kritis Keterbatasan informasi mengenai kawasan rawan bencana Masih terbengkalainya penanganan bencana longsor Intervensi pemerintah untuk menangani bencana skala luas masih dibutuhkan TOTAL X = Kekuatan .071 0.161 0.694 = .063 0.234.694 Koordinat X yang berisi kekuatan dan kelemahan objek penelitian memiliki nilai sebesar 0.Ancaman = 1.383 – 1. Gambar 6.074 1.071 – 1. Koordinat yang menunjukkan posisi wilayah penelitian dalam kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar 6.037 1 3 3 2 2 2 1.149 = 0.Kelemahan = 1.063 0.063 0.071 RATING 2 3 3 BXR 0.213 0.207 0.213 1. Diagram kuadran SWOT PEL UANG (+) KUADRAN II Stability KUADRAN I Growth KEL EMAHAN (-) K EKU ATAN (+) Conse ntric Strate gy KUADRAN III Survival KUADRAN IV Diversification ANCAMAN (-) .234 Y = Peluang .387 0.623.623 BOBOT 0.

Menurut BouLton. Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus. yaitu tahap masukan.Fakultas Pertanian . proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus. yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada.Universitas Sumatera Utara © 2004 Digitized by USU digital library A. menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah. tahap analisis. Tahapan Perencanaan Strategis Proses penyusunan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis.Dari : ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN ISKANDARINI . . Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: B. dan tahap keputusan.

analisis komunitas. struktur pendanaan). Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua. analisis kelompok kepentingan tertentu. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Misalnya. Sedangkan data internal dapat diperoleh di dalam perusahaan itu sendiri. tetapi jika peluangnya kecil. sehingga dapat diambil keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada. laporan kegiatan operasional. jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. . gaji. analisis kompetitor. cash-flow. analisis pemasok. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. pendidikan. yaitu data eksternal dan data internal. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) 2.0 (sangat penting) sampai dengan 0. turn-over). Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis. Dalam evaluasi faktor strategis yang digunakan pada tahap ini adalah model Matrik Faktor Strategis Eksternal dan Matrik Faktor Strategi Internal. diberi rating +1). pengalaman. laporan kegiatan sumber daya manusia jumlah karyawan. Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. keahlian. Laba-rugi. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Evaluasi Faktor Internal (IFE) Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitave Strategic Planning (QSPM) Matrix 1. • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman). Data eksternal dapat diperoleh dari lingkungan di luar perusahaan. Keputusannya didasarkan alas justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. seperti laporan keuangan (neraca. a. terstruktur maupun tidak terstruktur. mulai adri 1. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). TAHAP ANALISIS MATRIK TOWS MATRIK INTERNAL EKSTERNAL 4. tetapi juga merupakan suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra-analisis.Tahap akhir analisis kasus adalah memformulasikan keputusan yang akan diambil. seperti analisis pasar. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS). Untuk jelasnya. analisis pemerintah. TAHAP MASUKAN Tahap ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data.0 (tidak penting). laporan kegiatan pemasaran.

Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang b. berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan. Dalam hal ini digunakan model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi.0 (paling penting) sampai 0. berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan.• Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. strategi. nilainya adalah 4. Skor total ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats).0 (outstanding) sampai dengan 1.0. peluang. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Sedangkan variabel yang bersifat negatif. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya. Contohnya. Analisis didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) den peluang (Opportunities). • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor). a. kelemahan. Matrik Faktor Strategi Internal Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi. Hal ini disebut . • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. • Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1. Matrik TOWS atau SWOT Analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematika untuk merumuskan strategi perusahaan. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). Untuk membuat matrik faktor strategi internal tersebut. sedangkan jika kelemahan perusahaan di bawah rata-rata industri. terlebih dahulu harus melalui beberapa tahapan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama.0 (outstanding) sampai dengan 1.0 (poor). dan kebijakan perusahaan. kebalikannya. Adapun tahapan pembuatan matrik faktor strategis internal adalah sebagai berikut : • Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan perusahaan dalam kolom 1. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Tahap Analisis kelangsungan perusahaan.0 (poor). suatu label IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka Strength and Weakness perusahaan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4.0 (tidak penting). tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategi. Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1 . jika kelemahan perusahaan besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. tujuan. nilainya adalah 1. 2. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Dengan demikian perencana strategi (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan.

yaitu: • Growth Strategy yang merupakan pertumbuhan perusahaan itu sendiri (sel 1. dan 5) atau upaya diversifikasi (sel 7 dan 8). • Strategi WO Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. dan 9) adalah usaha memperkecil atau mengurangi usaha yang dilakukan perusahaan .dengan Analisis Situasi. • Stability Startegy adalah strategi yang diterapkan tanpa mengubah arah strategi yang telah ditetapkan. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. Menurut Rangkuti. tetapi pada prinsipnya kesembilan sel itu dapat dikelompokkan menjadi tiga strategi utama. • Strategi WT Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. • Retrenchment Strategy (sel 3. 6. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altematif strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 berikut ini. yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan. (1997). F. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisa SWOT. • Strategi ST Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman. Tujuan penggunaan model ini adalah untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detail. b. diagram tersebut dapat mengidentifikasi 9 sel strategi perusahaan. Matrik Internal-Eksternal (lE) Parameter yang digunakan dalam matrik intemal-ekstemal ini meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi. 2.

GROWTH RENTRENCHMENT Konsentrasi melalui Turnaround Integrasi horizontal 4. Langkah-langkah dalam menyusun QSPM adalah sebagai berikut : a. Penutup Untuk memperoleh keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada merupakan rangkaian proses dari analisis kasus yang memformulasikan semua keputusan yang akan diambil berdasarkan justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. c. terstruktur maupun tidak terstruktur. Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan. Kalikan bobot dengan SA pada masing-masing faktor eksternal / internal pada setiap strategi. Jumlahkan seluruh skor SA C. QSPM memerlukan good intuitive judgement. b.3. 5. maka tahap selanjutnya disusunlah daftar prioritas yang harus diimplementasikan. Berikan skor altematif (SA) dengan rentang skor sebagai berikut : 1 = tidak memiliki daya tarik 2 = daya tariknya rendah 3 = daya tariknya sedang 4 = daya tariknya tinggi 5 = tidak memiliki dampak terhadap strategi alternatif e. Analisis matrik yang sesuai dari langkah kedua dengan mengidentifikasikan strategi alternatif yang harus diimplementasikan. Matrik Intemal. Buatlah daftar faktor eksternal (kesempatan/ancaman) dan faktor internal (kekuatan/kelemahan) di sebelah kiri dari kolom matrik QSPM. STABILITY GROWTH RETRENCHMENT Hati . Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM ) merupakan teknik yang secara obyektif dapat menetapkan strategi altematif rang diprioritaskan. f. Salah satu model pemecahan masalah . Tahap Pengambilan Keputusan Setelah tahapan-tahapan terdahulu dibuat dan dianalisa. d. 6. Berilah bobot untuk setiap faktor eksternal dan internal. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategis. 8.hati Konsentrasi melalui Captive Company Integrasi horizontal Atau STABILITY Divestment Tak ada perubahan Profit strategi 7. 3.Sebagai suatu teknik.Ekstemal (lE) GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi vertikal 2. 9 GROWTH GROWTH RETRENCHMENT Difersifikasi Konsentrik Difersifikasi Konsentrik Gambar 4.

dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. dan kebijakan perusahaan. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. Sebagai suatu teknik. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. tujuan.yang dapat digunakan adalah model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. kelemahan. QSPM memerlukan good intuitive judgement. peluang. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. strategi. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). ================================================================== . Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan.

4. 5.P O E M N JE R S S A A  1. A 8 (D da elapan) langk strategis : Identifikasi M dan S isi a A nalisa Lingkungan Lu Identifikasi P eluang da A nalisa Lingkungan In O rganisasi Identifikasi K ekuatan d Atrategi M erum uskan S n a lis a M elaksanakan S un g trateg L in gk G am ba . 3. 2. 7. 6.

A a a pulan data n . e sa a n ruish o a r i  A a a W d mnrk n n i s a  A alis S Oidea d d n lis is in T a ja i a mp ra spolk n a k p e a e c r m k imfiled Kn u o o te r a aim a a d la ou tub sisa m n ap s a is). a uin (O mrtu itien nta u p n C M buat A ara em n m m im lk nK le a e in a a e m  P c m n(T re ts engum h a ).A A IS S O NL A WT  D la Id n a i K k a a m e tifik s e u ta d nA c mnd elu a a a n a a ip r k n A a aS O n lis W T  A a aS O mmn k n lis W T e u g i P mg a b nu g u nk e e grtia e:n g la e nn mil k e e g a a Oa en  mn h d W c sa a a A a inSi a Tmb g n lis r n  A alis S W .Tg ae n lis aW T a la A a a SO ju amm n O d h mc k nis k ktis u d e a asa mu tana n ra k n e a n tu e s e te a mn e in s k le a a e g lim a i e mh n pg n as a .

na a T Matrik IFAS dan 1 .Dg mnls S O i r A ii W aa a s T O I S O S I V W O M tr IF Sd nE A a ik A a F S I I T F kS a to r -F k r a to Sa g tr te is II I W T B 1 P lu n . e ag 2 A c mn .

suatu institusi membutuhkan penilaian mengenai kondisi saat ini dan gambaran ke depan yang mempengaruhi proses pencapaian tujuan institusi. metode SWOT banyak dipakai di dunia bisnis dalam menetapkan suatu perencanaan strategi perusahaan (strategic planning) sehingga literatur mengenai metode ini banyak berkaitan dengan aspek penerapan di dunia bisnis meskipun pada beberapa analisa ditemukan pula penggunaan SWOT untuk kepentingan public policy. Hal utama yang ditekankan adalah bahwa dalam proses perencanaan tersebut. APORTUNITIES S ltern atif trateg O P (O O : m anfaatka )  S em Analisis SWOT merupakan bagian dari proses perencanaan.M trik In ra S a te ksi W IF S A EA F S =============================================================== Dilihat dari sejarahnya dan penggunaannya saat ini. Dengan analisa SWOT akan m erebut dan m an em pertum buhan agresi TR S S : m ) AT (T  E TH eskipun m m asih m iliki keku em .

Dari analisa tersebut potensi dari suatu institusi untuk bisa maju dan berkembang dipengaruhi oleh : bagaimana institusi memanfaatkan pengaruh dari luar sebagai kekuatan tambahan serta pengaruh lokal dari dalam yangbisa lebih dimaksimalkan. secara umum terdapat keseragaman bahwa penentuan tersebut akan tergantung dari faktor lingkungan yang berada di luar institusi. Bagaimana pengaruh lingkungan melahirkan analisa SWOT dapat dilihat Lingkungan di Luar Institusi yang Mempengaruhi Strategi dan Kebijakan Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahanpeluang dan ancaman. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. 2. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. 4 Terdapat beberapa metodologi dalam penyusunan SWOT. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low. Faktor lingkungan eksternal mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendali institusi (exogen) sementara faktor internal merupakan faktor-faktor yang lebih bisa dikendalikan.didapatkan karakteristik dari kekuatan utama. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Menentukan katagorisasi kekuatan dan kelemahan berdasarkan penilaian apakah strategi yang saat ini ada masih sesuai dengan perubahan lingkungan di masa mendatang : Jika masih sesuai strategi tersebut menjadi kekuatan/peluang. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang . Sebagaimana kekuatan peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. 4. Johnson dan Scholes menjelaskan bahwa dalam penyusunan SWOT terdapat empat langkah utama yang harus dilakukan. faktor netral. Sehingga sama dengan kekuatan. yaitu 5 : 1. • Peluang dan Ancaman. Faktor Lingkungan dalam Analisis SWOT Walaupun terdapat beberapa metode penentuan faktor SWOT. • Kekuatan dan Kelemahan. Membuat cross tabulation antara strategi yang ada saat ini dengan perubahan lingkungan yang ada. sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. 2. Strategi ini bisa jadi bukan merupakan strategi yang disusun berdasarkan kebutuhan institusi menghadapi gejala perubahan lingkungan eskternal yang ada melainkan merupakan strategi turunan yang telah ada sejak lama dipegang institusi. kekuatan tambahan. kelemahan utama dan kelemahan tambahan berdasarkan analisa lingkungan internal dan eksternal yang dilakukan. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. 3. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. Mengidentifikasi existing strategy yang telah ada dalam institusi sebelumnya. Mengidentifikasi perubahan-perubahan lingkungan yang dihadapi institusi dan masih mungkin terjadi di masa mendatang. tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. dan sudah tidak sesuai merupakan kelemahan.

Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar. • Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats.com/2010/03/metode-qspm-quantitive- strategic. berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats). diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapaianya besar. Tahap terakhir adalah tahapan dalam pengambilan keputusan (decision making). QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) merupakan teknik yang secara objektif dapat menetapkan strategi alternatif yang diprioritaskan. o Best. analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut Dari :http://boed-health. pada tahap ini fokus pada strategi alternatif yang dihasilkan. adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil Ancaman moderate. Tahap masukan atau input dilakukan dengan menggunakan metode matrik EFE dan matrik IFE. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). o Ancaman tidak utama (minor threats). Metode ini adalah alat yang dirokemandasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternatif secara objektif. Secara konseptual. yaitu tahap masukan atau input. Selanjutnya adalah tahap pencocokan atau analisis. dan tahap keputusan (decision making). untuk menentukan strategi mana yang paling baik untuk diimplementasikan. 13 Maret 2010 METODE QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) Proses penyusunan perencanaan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. dalam tahap ini metode yang digunakan adalah QSP matriks. tahap pencocokan atau analisis. hasilnya disajikan dalam bentuk informasi untuk masukan tahapan berikutnya. adalah ancaman yang kemungkinan terjadinya tinggi dan dampaknya besar.blogspot.html-Sabtu. . tujuan metode ini adalah untuk menetapkan kemenarikan relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih. berdasarkan faktor kunci kesuksesan internal-eksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya. Untuk ancaman utama ini.pencapaiannya juga kecil o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. Sebagai suatu teknik. Dalam tahap ini metode yang digunakan adalah SWOT. QSPM memerlukan intuisi yang baik dalam penilaian. • Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan(persaingan) dan tidak bisa dihindari.

QSPM sangat berhubungan dengan metode-metode lain yang digunakan dalam tahap input dan analisis sebagai bentuk informasi untuk tahap QSPM sendiri. QSPM sangat diperlukan sebagai metode pengambilan keputusan setelah tahap input dan tahap analisis dilakukan. yaitu dari sangat baik sampai kurang baik. maka nilai skala ditentukan berdasarkan prioritas dari masing2 situasi ( misalnya skala 4 untuk Peluang yang Utama ) . 1998).Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran SP 3 K 4 SP X K 12 BOBOT 12/40=0. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Dari : KAJIAN POTENSI SUMBERDAYA HUTAN MANGROVE DI DESA TALISE . sedangkan skala 4 ( rendah ) – 1 ( tinggi ) untuk Kelemahan dan Ancaman. KABUPATEN MINAHASA. Nilai Tertinggi untuk Bobot x Peringkat ialah 1. urutan ke 2 nilainya 3x4=12 dan terendah nilai 4 dari 1x4. Peringkat tetap menggunakan skala 1 (rendah ). diperthitungkan rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala dari 4 hingga 1. yang kemudian di kalikan.com : …. 2006. namun karena tidak ada pembanding. Analisi SWOT : Teknik Membedah Kasus Bisnis. Dalam menentukan strategi yang terbaik. SULAWESI UTARA Oleh: Adnan WantasenC261020021 E-mail: ananw2000@yahoo. Disamping itu.4 ( tinggi ) untuk Kekuatan dan Peluang.meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).3 ..2 Kuat dan terendah adalah 0 0– 1 Lemah Berdasarkan nilai Peringkat dan Pembobotan. Kondisi eksternal-internal organisasi sangat diperlukan dalam penggunaan metode ini. sehingga dapat diputuskan pemilihan prioritas strategi mana yang akan digunakan sesuai dengan keadaan organisasi tersebut DAFTAR PUSTAKA > Modul Mata Kuliah Analisa Keputusan Jurusan Teknik Industri UMB > Rangkuti.0 – 1. .0 berarti sangat penting. Freddy.3. Urutkan factor situasi berdasar skala prioritas ( SP ) ( tertinggi nilainya 16 dari 4x4.1. dilakukan pemberian bobot yang berkisar antara 0.2. Masing2 nilai situasi tersebut dibagi dengan Total Nilai SP x K .Dalam mengadakan perencanaan strategi dalam suatu organisasi. Pembobotan tetap menggunakan skala 1 ( sangat penting ) hingga o ( tidak penting )akan tetapi penentuan nilai skala untuk masing2 situasi total berjumlah 1 dengan cara : a.0 berarti tidak penting dan nilai 1. Selanjutnya antara bobot dan rating dikalikan menghasilkan skor (Rangkuti. akan diperoleh hasil kombinasi dari beberapa Situasi : SO = memanfaat kan kekuatan untuk menggunakan peluang WO = minimalkan kelemahan untuk manfaatkan peluang ST = memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi Ancaman WT = minimalkan kelemahan hindari ancaman F. lau dikalikan dengan konstanta ( K ) nilai tertinggi yaitu 4 b.0 dimana nilai 0.

jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama.2 USU : a. Sedangkan sampel tanah diambil dalam tiga lokasi yang berbeda. • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3.2 16/40=0. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masingmasing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4.0 (outstanding) sampai dengan 1.0 Peringkat 4 3 4 2 Bobotx Peringkat 1. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS).3 8/40=0.2 16/40=0. Misalnya. • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman).0 Berdasar table sintesa .0 (poor).6 1. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya.4 4/40=0. Analisis vegetasinya dilakukan dengan menetapkan nilai penting jenis dan indeks diversitas seluruh jenis yang diketemukan. diberi rating +1).0 (tidak penting). Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4).0 (sangat penting) sampai dengan 0. • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. KOTA DENPASAR . tetapi jika peluangnya kecil.-Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS 2 4 1 4 4 4 8 16 4 40 8/40=0.1 1. dengan sampel yang diambil sebanyak 10 plot dengan metode Plot Sistematik. mulai adri 1. Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis.2 0.I Ketut Sundra Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Udayana Abstrak Penelitian ini dilakukan di Pulau Serangan pada bulan Agustus 2004.4 4/40=0. © 2004 Digitized by USU digital library 2 Dari : ANALISIS STRUKTUR VEGETASI HUTAN MANGROVE DI KAWASAN REKLAMASI PULAU SERANGAN. Analisis .1 1.6 0. dibuat table faktor2 strategik Internal F Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran -Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS Bobot 12/40=0.

Dari : Metodologi Penelitian : Analisa SWOT-Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat . Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low.057004020. Metoda penelitian Metoda Garis Berpetak ( Jalur Berpetak ) dengan satu buah jalur u tiap desa penelitian berukuran 10 m x 60 m dengan arah tegak lurus tepi laut. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Sebagai bahan penelitian 9 desa h. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. U semai ukuran Sub Petak 2m x 2m.USU erepository Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan membandingkan kondisi hutan mangrove serta cara penegelolaan h. Sehingga sama dengan kekuatan. Pancang ukuran Sub Petak 5m x 5m dan ukuran Pohon Sub Petak 10 m x 10 m. tidak semua kelemahandari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang pencapai annya juga kecil . Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. K dan bahan organic). mangrove di pesisir Deli Serdang.Inventarisasi Hutan Mangrove sebagai Bagian dari Upaya Pengelolaan Wilayah pesisir Kabupaten deli Serdang. Index keanekaragaman.Mangrove di Deli Serdang. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya.pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan – USU . bhw kond h. mangrove di pesisir Deli Serdang umumnya rusak. Peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. Dari : Lengkap ! Tesis Sri Susanti Ningsih.Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahan peluang dan ancaman. P. ……Berdasarkan hsl analisis Kerapatan dan Luas Penutupan Tajuk. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. Parameter yang dianalisis :Index Nilai penting. sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Ketebalan Mangrove dan Salinitas. Diagram Profil.tanah dilakukan untuk menetapkan kandungan unsur hara makro (N.

o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. o Best, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapai anya besar. Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan (persaingan) dan tidak bisa dihindari. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats), adalah ancaman yang kemungkinanterjadinya tinggi dan dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini, diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. o Ancaman tidak utama (minor threats), adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil o Ancaman moderate, berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar, analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut: Matrix SWOT……… 3. Metode Survey Untuk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber melalui analisis SWOT di atas digunakan metode survey dengan frame sample pihak-pihak (stakeholders) yang bisa memberikan penilaian aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja suatu institusi atau lembaga. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan gambaran awal dari peta permasalahan yang ada di institusi. FGD harus dilakukan dengan komprehensif artinya melibatkan seluruh stakeholders sehingga peta yang terbentuk telah mewakili seluruh kepentingan stakeholders. Karena sifatnya yang bersumber dari informasi kual itatif pemilihan responden yang credible sangat mempengaruhi hasil akhir dari analisa SWOT sehingga hendaknya harus dilakukan dengan beberapa kualifikasi. 2. Pembuatan kuesioner SWOT berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dalam FGD. Secara umum kuesioner ini memiliki katagorisasi penilaian sebagai berikut: ·* Penilaian faktor internal dan eksternal. Di sini responden membrikan preferensi opini terhadap faktor-faktor internal dan eksternal dari institusi pada saat ini dan perkiraan di masa mendatang. ·*Penilaian urgensi. Di sini responden diminta untuk menilai tingkat urgensi faktor terse but untuk ditangani. Penilaian ini berhubungan dengan skala prioritas dalam menyelesai kan persoalan-persoalan pembangunan yang tercermin melalui faktor-faktor yang dinilai. Contoh dari penilaian internal dan eskternal dan contoh penilaian urgensi dapat dilihat sebagai berikut

Contoh Kuesioner SWOT
No Bidang Pembangunan 1 -Penilaian Kondisi Saat Ini – 2 3 4 5 6 1 Urgensi Penanganan 2 3 4

I. Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan : 1. Pendapatan Masyarakat …………………………………………………………………………………………………….. 2. Tingkat kesehatan masy………………………………………………………………………….. 3. ............................................................................................................................................. \ Penilaian Responden: Urgensi Penanganan: Angka 1 = Sangat Kurang Angka 1 = Tidak Urgen Angka 2 = Kurang 2 = Agak Urgen Angka 3 = Cukup 3 = Urgen Angka 4 = Agak Baik 4 = Sangat Urgen Angka 5 = Baik Angka 6 = Sangat Baik

Dari tabel di atas dapat dijelaskan beberapa layer analisa sebagai berikut. ⇒ Bidang merupakan katagori yang memiliki beberapa faktor. Dari contoh di atas Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan merupakan ”bidang” penilaian yang memiliki dimensi internal dan eksternal. ⇒ Faktor, merupakan bagian dari bidang yang merupakan penjabaran spesifik dari masing-masing bidang. Dari contoh di atas (1) pendapatan masyarakat dan (2) tingkat kesehatan masyarakat merupakan ”faktor”. Faktor inilah yang kemudian terkatagori sebagai kekuatan atau kelemahan (dari analisa internal) dan peluang atau ancaman (dari analisa eksternal). Setelah kuesioner terisi dan terkumpul semua, penilaian faktor dilakukan dengan meranking bobot penilaian pada ”penilaian responden” yang memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 1. Faktor-faktor yang memiliki nilai di atas median (atau rata-rata dilihat dari persebaran distribusi probabilitasnya) disebut dengan ”kekuatan” pada analisa internal dan”peluang” pada analisa eskternal. Sebaliknya faktor-faktor yang memiliki nilai penilaian di bawah median disebut dengan ”kelemahan” pada analisa internal dan ”ancaman” pada analisa eksternal. Membentuk suatu kuadran faktor pembangunan, yaitu suatu blok yang menjelaskan posisi dari kombinasi faktor internal dan eksternal pembangunan, dengan kombinasi : kekuatan-peluang (S-O), kekuatan-ancaman (S-T), kelemahan-peluang (WO) dan kelemahan-ancaman (W-T). Sebelum menentukan kuadran pembangunan, harus dilihat terlebih dahulu uji konsistensi dari pengolahan kuesioner SWOT. Uji konsistensi pengisian kuesioner mensyaratkan dua asumsi utama, yaitu : o Untuk Prioritas, rata-rata nilai (average) prioritas seluruh faktor dominan (S/O) > faktor non dominan (W/T) o Untuk Urgensi, rata2 nilai(average) urgensi f. non dominan (W/T) > f dominan (S/O)

Tabel 3 Contoh Perhitungan Consistency Index Pengolahan Kuesioner PRIORITY S W O T 3.90 S 3.01 W 3.72 O 2.98 T Consistency index Priority Dominan 1.05 Non-Dominan 1.01 Consistency index Urgency Dominan 1.03 Non-Dominan 1.07 URGENCY 3.07 3.16 2.97 2.96

Menjumlahkan (sum product) dari seluruh bobot prioritas dan urgensi sehingga di da patkan kombinasi nilai dari faktor internal dan eksternal. Tabel 4 Contoh Indeks Penilaian Kuadran Kebijakan KUADRAN S W O 835.45 820.53 T 775.05 760.13

embuat pola strategi pembangunan berdasarkan Indeks Penilaian Kuadran.Prioritas M strategi pembangunan berdasarkan skenario ini ditetapkan dengan menjalankan kombinasi kebijakan dengan indeks nilai paling kecil berurutan ke yang paling besar. Dengan kata lain, daerah akan berusaha untuk mengatasi seluruh faktor yang paling lemah yang dimiliki untuk kemudian beralih pada kombinasi strategi yang telah memiliki indeks baik/tinggi. Dari contoh di atas strategi pembangunan yang dilakukan institusi akan bergerak dari WT-ST-WO-SO. 4. Persebaran dan Profil Responden Responden yang terlibat dalam studi ini terdiri dari beberapa stakeholders baik pemerintah maupun perwakilan masyarakat, LSM serta tokoh agama. Daftar responden yang diwawancara adalah sebagai berikut: Pemerintah aerah Badan-badan: Bappeda, Badan Kesbang dan Politik, BPKD, Badan Diklat Dinas-dinas: Dinas Pendidikan, Kesehatan, PU,Perhubungan dan Pariwisata, Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup, Pemadam Kebakaran, Tenaga kerja dan Catatan Sipil, Koperindag, Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Kelautan dan Perikanan, Syariat Islam. Sekdakab: Bagian tata Pemerintahan, Hukum, Ekonomi, Pembangunan, Kesra, Organisasi. Kantor-kantor: RSUD, Kantor Sosial, Pemuda dan olah raga, perpustakaan dan Arsip, Satpol PP, Peternakan, Pertambanagn dan energi Kecamatan: Karang Baru, Banda Mulia, Kejuruan Muda =================================================================== Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem, dan bukan hanya melihat gejalagejala dari suatu masalah. Chandler (1962): strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumberdaya. Porter (1985): strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing.

3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. 7. pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. 6. Soil tester. alat untuk dokumentasi. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. 2007). GPS (Global Position System). Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon. 4. digunakan untuk menetukan pH tanah dari wilayah pengambilan sampel 5.5 Prosedur Pengumpulan Data: 1. Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan menggunakan kunci determinasi/kunci identifikasi. Menentukan titik wilayah sampel titik koordinatnya dengan menggunakan GPS ( 2. Kamera. 5 x 5 meter untuk golongan anak . Peta Wilayah. 3.4 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. digunakan untuk menetukan titik koordinat wilayah pengambilan sampel di peta. digunakan untuk mengetahui wilayah tempat pengambilan sampel. Kunci Determinasi/identifikasi. 3.2. dan bukan hanya melihat gejala. Role Meter. digunakan untuk membuat plot (kuadrant) 2. . 3. digunakan untuk mengidentifikasi tanaman mangrove. 3. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter.Hamel dan Prahalad (1995): strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) yang dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh pelanggan di masa datang. Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada hutan mangrove.gejala dari suatu masalah.2 Sampel adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. Salino meter. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masing-masing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan. digunakan untuk mengukur salinitas/kadar garam air laut. 4. Apa yang sebenarnya telah terjadi ? Mengapa masalah tersebut bisa terjadi ? Mengapa dan Megapa ? Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari masalah tersebut untuk tidak terjadi lagi di masa depan? =============================================================== Dari :Mangrove Desa Bulalo Kec Kwandang Gorontalo Utara 3. 3. Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem.2.

5. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian batang tumbuhan mangrove. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian akar tumbuhan mangrove. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). 5. Indeks Nilai Penting ini interpretasi komposisi vegetasi dan pola zonasi hutan mangrove. 3. Mengambil bagian-bagian morfologi (batang. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = Dominasi Relatif = Densitas = Densitas Relatif = Frekuensi = Frek relalif c. frekuensi. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian daun tumbuhan mangrove. frekuensi relatif dan besarnya Indeks Nilai Penting. akar dan daun) dari masing-masing tumbuhan yang menjadi sampel. 2. Mencocokkan (ciri-ciri morfologi dari batang. . Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. 1994 yaitu dengan menghitung dominansi. 4. menghitung dalam parameter vegetasi dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Cox. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot BBerikut ini adalah Lay Out yang digunakan dalam pengambilan sampel dilapangan. 3. densitas (kerapatan). 7. dominansi relatif. 6. Membuat herbarium dari masing-masing jenis-jenis tumbuhan yang diperoleh untuk diidentifikasi di Laboratorium Biologi UNG. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. 6. Penentuan Basal Area BA = d = diameter batang setinggi dada b. densitas relatif. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). akar. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel dengan Soil Tester. Mengukur salinitas air pada dengan menggunakan Salinometer. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa langkah yaitu antara lain sebagai berikut: 1.6 Prosedur Analisis Data Data mengrove dianalisis dengan cara menghitung besarnya Indeks Similaritas (IS) dan Indeks Disimilaritas. menghitung basal area. sebagai berikut: a. dan daun dari tumbuhan mangrove) mangrove yang terdapat pada buku determinasi/identifikasi (buku panduan ). 8. 1976 dalam Hardjosuwarno.

dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). peluang.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. strategi. dan kebijakan perusahaan. dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities).2 Sampel dalam penelitian ini adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Waktu Penelitian selama 3 bulan yaitu pada Bulan Agustus sampai Bulan Oktober 2008.Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan. Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. QSPM memerlukan good intuitive judgement =================================================================== Dari : KOMPOSISI DAN POLA ZONASI VEGETASI HUTAN MANGROVE 3. Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot .1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di kawasan pesisir pantai Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. 3.2. 3. tujuan. kelemahan.2 Populasi dan Sampel 3.2. 3. Lokasi penelitian terdiri atas 2 stasiun pengamatan. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masingmasing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. Gorontalo Utara.Sebagai suatu teknik.

Hardjanto. d = diameter batang setinggi dada b. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. Ir. Abdoel Djamali NRP 0261040161/SPL . . 2. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel yang menjadi lokasi penelitian dengan menggunakan Soil Tester. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. Ir. Dr. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). 5. 6. 4. Menentukan titik masing-masing wilayah yang menjadi wilayah sampel penelitian dan menentukan titik koordinatnya pada peta dengan GPS (Global Position System). M.5 Prosedur Pengumpulan Data Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data sebagai berikut: 1. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter. 3. Zahrial Coto. M. sebagai berikut: a Penentuan Basal Area BA = Dimana. Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada h mangrove.Institut Pertanian Bogor Desember 2004 Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d.com 1.2 Permasalahan . 8.masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon.Prof. Abdoel Djamali Posted: December. Mengukur salinitas air pada setiap zonasi hutan mangrove dengan Salinometer. 3. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot B =============================================================== Dari : R. M F (Penanggung Jawab) . Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan kunci determinasi/ identifikasi.Sc Dr. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = = Dominasi Relatif Densitas = = Densitas Relatif Frekuensi = = Frekuensi relalif c.S PERSEPSI MASYARAKAT DESA PANTAI TERHADAP KELESTARIAN HUTAN MANG ROVE (Studi Kasus Di Kabupaten Probolinggo) Oleh : R.jatifar@yahoo. 5 x 5 meter untuk golongan anak pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). 2007). 7. 2004 .

4. III. Petambak 3 Total 19 3. dinas kehutanan. Bagaimana perilaku masyarakat pesisir setempat dalam pemanfaatan h mangrove? 2. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial Tabel 4.1 Penentuan Wilayah Contoh Wilayah penelitian ditentukan secara sengaja (Purposive) di Kabupaten Probolinggo khususnya di Kecamatan Tongas dan Kecamatan Paiton 3.tokoh masyarakat. Kegunaan 1.7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan H Mangrove Tabel 4.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove 4.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Dari Tabel 4. manfaat yang diperoleh. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini Tabel 3. partisipassi masyarakat dan saran-saran untuk pengembangan hutan mangrove. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir Tabel 4.3 Jenis dan Sumber Data Data dalam studi ini adalah data primer dan data sekunder.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove Tabel 4. Jenis data primer yang sudah diperlukan adalah: persepsi masyarakat. Mengidentifikasi perilaku masyarakat setempat dalam pemanfaatan h mangrove. Kepala Kecamatan 2 2. dinas perikanan.1. Menjadi pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam rangka pemberdayaan hutan mangrove dan pelestarian hutan. 2. Bagaimana persepsi masyarakat desa pantai dalam pelestarian hutan mangrove? 1.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove .2 Penentuan Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari kepala kecamatan.2 Persepsi Mas Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4. Kepala Desa 4 3. Data sekunder diperoleh dari dinas-dinas terkait diantaranya adalah: pemerintah daerah setempat. 2. upaya-upaya intensifikasi.3 Tujuan dan Kegunaan Tujuan: 1. Data primer Diperoleh melalui wawancara langsung pada responden dengan bantuan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Tabel 4. nelayan. Memperluas khasanah pengetahuan bagi pengembangan ilmu lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat hutan pesisir. kepala desa. Responden Jumlah (orang) 1. METODOLOGI 3. Masyarakat Pesisir 4 4 Nelayan 6 5.2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4. Mendeskripsikan persepsi masyarakat desa pantai terhadap pelestarian h mangrove. IV.1 Sebaran Responden No.

sehingga nampak kotoran berserakan di bergelantungan akarakar Rhizopra sp. Sedimentasi tersebut yang berasal dari pengikisan/erosi di daerah atas (hulu) yang tersuspensi dalam aliran sungai kemudian mengendap di daerah estuaries dan sepanjang pantai. pembangunan dermaga yang kurang memperhatikan sifat arus dan gelombang dapat menyebabkan abrasi. Pada musim penghujan akan terjadi banjir/genangan di wilayah pesisir terlebih lagi bila bersamaan dengan terjadinya air pasang. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. Alih fungsi hutan mangrove sudah terjadi sejak lama. Bukan berarti alih fungsi hutan mangrove tidak boleh dilakukan. industri. mengembangkan. pariwisata. sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan. maka akan terjadi penutupan daerah mangrove sehingga suplai air tawar berkurang atau sebeliknya air laut terlalu tinggi sehingga salinitas di daerah hutan mangrove naik yang akan menggaggu keseimbangan habitat hutan mangrove. Terjadi konversi lahan hutan mangrove menjadi berbagai peruntukan lain seperti tambak. sedimentasi dan pendangkalan pada sungai. e. b. Kabupaten Probolinggo memiliki beberpa wilayah yang terletak di daerah dengan kondisi tanah yang landai. Abrasi pantai dapat diakibatkan oleh proses alami. Hal ini disebabkan oleh karena jenis tanah clay (tidak menyerap air) dan kondisi lahan yang landai serta cenderung semakin landai ke arah Utara (mendekati garis pantai). Rencana tata ruang dan rencana wilayah (RTRW) belum memasukkan parameter kelestarian hutan mangrove. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pendaran seluruh masyarakat mulai dari hulu (up land) sampai hilir sungai (down land). namun perlu pengaruran dan perencanaan yang berbasis pelestarian sumberdaya hutan mangrove itu sendiri. batas-batas kawasan hutan lindung dan produksi. sedangkan aktifitas manusia misalnya pengambilan pasir laut yang tidak terkendali. c. Sehingga seringkali terjadi tumpang indih pemanfaatan kawasan hutan mangrove untuk berbagai kegiatan pembanguna seperti perluasan areal pertambakan. pada bagian wilayah tersebut juga mempunyai tingkat genangan yang tinggi. Abrasi karena proses alami disebabkan karena gerakan gelombang dan arus laut. Wilayah- . Kondisi ini juga sangat memprihatikan. pemukiman dan kawasan industri secara tidak terkendali. pemukiman. Sedmientasi yang terlalu tinggi. Pada tanah kritis di musim penghujan akan terjadi pelumpuran atas air permukaan yang mengakibatkan meningkatnya proses erosi.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan didentifikasi tentang permasalahan yang dihadapi dalam upaya pelestarian hutan mangrove sebagai berikut a. aktifitas manusia aatu kombinasi keduanya. dan dasar hutan. industri dan sampah domestic rumah tangga.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan H Mangrove 4. Mengingat apabila salah satu ekosisitem pantai rusak maka akan berefek langsung pada kedua ekosisitem lainnya. Yang berasal dari limbah rumah tangga dari daerah hulu sungan dan sepanjang tepian sungai yang dibawa kemudian oleh aliran air kearah muara sungai. Sepanjang hutan mangrove banyak berserakan lembah padat terutama yang berasal dari limbah domestic. maka suatu saat kerusakan fisik yang cukup parah atas hutan mangrove yang sangat besar manfaatnya. bahan bangunan dan kegunaan tanpa kendali.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove Tabel 4. dan memanfaatkan potensi hutan mangrove itu sendiri d. kemudian terakumulasi dengan lumpur. kayu bakar.Tabel 4. Perlunya penyadaran dan dibangun suatu sistem masyarakat yang ikut merencanaan. manakala tidak ada pihak yang mengatur. Penebangan mangrove untuk arang. Sedimentasi akibat pengelolaan kegiatan lahan atas yang kurang baik. penebangan hutan mangrove.

Dalam hal tersebut pengelola menganggap bahwa hutan mangrove merupakan hak otonom dari pengelola hutan mangrove. sumber air. kualitas udara.84%). k.wilayah yang terjadi abrasi pantai yang cukup parah adalah desa Pondokkelor di Kecamatan Paiton f. pemukiman. pariwisata. Sebagai akibat terjadilah pemanfaatan areal hutan mangrove menjadi pertambakan. Data. Kepentingan jangka pendek (short-term benefit) cenderung lebih diutamakan dibandingkan dengan kepentingan jangka panjang (long-term benefit).2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Pengrusakan hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo sebagian besar disebabkan terjadi konversi hutan mangrove menjadi areal pertambakan (36. 4. Kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dari pengelolaan hutan mangrove sebenarnya lebih berjangka panjang tetapi karena sifatnya yang tidak nampak seperti terpeliharanya ekosistem laut dan pantai. Ini menjadi salah satu faktor penghambat bahkan gagalnya upaya pelestarian. masyarakat desa pantai juga memanfaatkan untuk pertambakan tradisional. h. sedangkan pemerintahan desa/kecamatan menilai bahwa areal hutan mangrove tersebut merupakan bagian wilayah pemerintahannya. Dalam rangka otonomi daerah ada kecenderungan pemberdayaan sumberdaya alam untuk kepentingan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). perhotelan dan lain-lain yang semuanya untuk kepentingan jangka pendek. g. Biasanya konversi lahan dilakukan oleh sebagian oleh pengusaha tambak udang dan hatchery. Konversi tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan fungsi hutan mangrove. kepentingan jangka panjang akan selalu bertolah belakang dengan kepentingan jangka pendek. Konflik kepentingan antar manfaat hutan mangrove: antara kepentingan ekonomi (economies) dan kepentingan pelestarian (enviromentalis). Konflik kepentingan antar lembaga yaitu terjadinya perbedaan kepentingan antara pengelola hutan mangrove dengan pemerintahan desa/kecamatan. j. Konflik kepentingan antar kemanfaatan jangka panjang (long-term benefit) dan kepentingan jangka pendek (short-term benefit). Ditebangnya mangrove dimaksudkan agar terhadap intensitas sinar matahari yang cukup baik bagi tambak sehingga tidak ada tempat untuk tanaman mangrove tumbuh dan kurang dikehendaki keberadaannya di daerah tambak. laut dan pantai. Proyek pembangunan yang dapat menghalangi atau mengurangi sirkulasi arus pasang surut. i. Disamping itu. Konflik kepentingan antar kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dan kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit). Dari hutan mangrove pula sangat diharapkan berfungsi sebagai paru-paru kehidupan atau untuk upaya pelestraian sumberdaya alam termasuk air. lestarinya plasma nutfah dan manfaat lain dari hutan mangrove. Disamping itu pemanfaatan untuk pemukiman. informasi serta IPTEK yang berkaitan dengan hutan mangrove masih terbatas. dan industri sudah mulai merambah hutan mangrove terutama untuk menunjang pengembangan . bangunan industri. pembinaan dan pemanfaatan hutan secara optimal dan berkelanjutan. hotel. Ini menyebabkan tidak terjadinya sistem koordinasi dalam pengelolaan hutan mangrove. dan sosialisasi yang terbatas sehingga belum dapat mendukung kebijakan atau program penataan ruang. Kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit) sering lebih diutamakan karena lebih menampakkan wujud fisik yang nyata dibandingkan dengan jangka waktu jabatan seorang pejabat.

5.2 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Ekonomi No. Tingkat pendidikan masyarakat pesisir rata-rata tamat Sekolah Dasar sebesar 36. Terbatasnya personil yang terlatih dalam pengelolaan sumberdaya ini menyebabkan pengelolaan sumberdaya tidak dapat terencana dengan baik dan belum optimal.00 Potensi sumberdaya yang cukup berlimpah dengan kondisi penduduk dan pesatnya pertumbuhan pembangunan di wilayah pesisir dan laut. Kurangnya informasi pengembangan sumberdaya alam Kurangnya pemahaman dan pengertian masyarakat tentang fungsi sumberdaya hutan mangrove sehingga upaya pelestarian masih sangat rendah.32%. kepiting 21.kayu hutan mangrove untuk dijual 10. Kenyataannya dengan terpeliharanya kelestarian hutan mangrove maka akan merangsang berkembangnya biota laut yang berarti akan mendukung peningkatan produksi dan pendapatan para pencari ikan. Parameter Prosentase(%) 1.Tempat untuk mencari ikan.kayu hutan mangrove untuk dijual 5. Tabel 4.05 2.pariwisita.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 36. secara umum terjadi permasa lahan sebagai berikut: 1. serta menarik masyarakat untuk bermukin di sentra sector wisata. Tabel 4.Konsekuensinya memang harus menggunaakan hutan mangrove.84 Masyarakat desa pantai menganggap bahwa hutan mangrove tidak mempunyai nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan yaitu sebesar 36. Parameter Prosentase (%) 1.Tempat mencari kayu bakar 15.79 36.84%. sehingga tidak mampu meningkatkan taraf hidupnya.79 . Tabel 4. 3.53 3. Bermanfaat Alasan : . Sangat bermanfaat Alasan : . Rendahnya kualitas sumberdaya manusia Rendahnya tingkat pendidikan akan berpengaruh pada rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan. kepiting. 2.26 .53 21.79 100. Keadaan ini menyebabkan kurang berkembangnya diversifikasi usaha dan kurang berkembangnya teknologi pasca panen. 2.Tempat mencari kayu bakar 5. dan nelayan dari peningkatan hasil tangkapannya. 4.91%. Tidak bermanfaat Alasan : .1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove No. tidak tamat Sekolah Dasar 19.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Teknis .05 15.21% dan tidak sekolah sebesar 18.26 .84 10. Penebangan untuk pemanfaatan hasil hutan mangrove : arang dan kayu Konrversi lahan menjadi tambak Penebangan untuk tempat bersandar perahu Penebangan untuk bangunan pemukiman / industri hotel dan lain-lain Rusak akibat limbah pabrik dan alam 15.

Tidak bermanfaat Alasan : .05 . Tidak bermanfaat 21. Parameter Sangat bermanfaat Alasan : .53 5. Parameter Persentase (%) 1.Pemanfaatan tanah oloran untuk tambak Bermanfaat Persentase (%) 10.26 .Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 15. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial No.26 36.Dapat mengurangi pengangguran/menyerap tenaga kerja 21. Sangat bermanfaat . Sangat bermanfaat Alasan : .Mencegah terjadinya abrasi pantai 15.Mengurangi pengangguran/ menyerap tenaga kerja 5. Bermanfaat . kondisi ini sejalan dengan pendangkalan daerah pantai yang berakibat sebaliknya akan merusak daerah padang lamun dan terumbu karang yang ada di depannya.Tidak ada dampak 5. Maksudnya tanah tambak yang makin meluas kea rah laut.Menjaga keberadaan biota pantai 3.Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 21.84 2.4.Menjaga keberadaan biota pantai 26.26 Keberadaan hutan mangrove akan terasa bermanfaat jika dampaknya terlihat nyata.Mencegah terjadinya abrasi pantai . Bermanfaat Alasan : .Menambah keindahan pemandangan 15.Mengurangi ombak dan valume air di pantai 5.37% Tabel 4.79 . Parameter Persentase (%) 1. Sedangkan pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek sosial banyak yang tidak mengetahui dan menyatakan tidak ada manfaatnnya yaitu 47.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove DariAspek Ekologis No.05 .32% dalam table di bawah ini : Tabel 4.Sebagai paru-paru bagi masyarakat pantai 21.05 .37 Begitu pula tentang pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek ekologis menyatakan keberadaan hutan mangrove akan menjaga biota pantai yaitu 26.Menambah keindahan pemandangan 10.No. 1.79 .26 2. Bahwa manfaat hutan mangrove dari aspek teknis dapat memberikan peluang bagi petambak untuk membuka atau memperluas areal pertambakannya akibat tanah oloran (36.84%).Tidak ada manfaatnya 47.32 2.05 (fungsi penghijauan) 3. Tidak bermanfaat .79 3. Alasan : .53 2.Mengurangi ombak dan valume air di pantai .

84 Sedangkan persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Probolinggo seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4. Sangat tidak baik 31.05 4 Pengusaha 52.Kurang baik 21..53 2. Kurang baik 26.79 2.53 3. Parameter Persentase (%) 1 Sangat baik 15.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 15. Tabel 4. Hal ini karena masyarakat berpersepsi bahwa pengusaha tidak akan bisa berdiri sendiri akan tetapi bekerjasama dengan oknum peme rintah terutama dalam peralihan lahan hutan mangrove yang diperuntukkan pada pem buatan tambak intensif .79 2. Masyarakat luar 15. Sedang 15. Tidak pernah 68. Sangat sering 5. Olehkarena itu upaya pelestarian dan pengamanan hutan mangrove akan mengalami kendala yang cukup berarti sehingga diperlukan strategi pelestarian hutan mangrove yang baru .7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove No. Sedang 15. Jarang 15.26 2. Parameter Persentase (%) 1.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir No. Masyarakat pesisir 10.53 3. Tabel 4.79 Sedangkan upaya penyuluhan dari dinas terkait kepada masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan fungsinya bagi kehiduoan manusia masih kurang yaitu para responden menyatakan tidak pernah menerima penyuluhan sebesar 78.63% dan pemerintah 21.79 4.32% menyatakan kurang baik).58 Selain kondisi hutan mangrove yang sangat tidak baik diperparah lagi oleh sistem pengelolaan hutan mangrove yang juga sangat tidak baik (persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di pesisir Kabupaten Probolinggo sebesar 31.58% menyatakan sangat tidak baik dan 26. Baik 10.79 4 . Sangat baik 15.79 4. Parameter Persentase (%) 1.84%) dari persepsi responden terhadap kondisi hutan mangrove yang lebih mengetahui tingkat perkembangan dari tahun ke tahun. Aparat pemerintah 21.79 3.32 5. Tabel 4.05%.42 Pelaku pengrusakan hutan mangrove terbesar disebabkan oleh oknum pengusaha yaitu sebesar 52.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove No. Sering 10.05 5.53 3. Baik 10. Sangat tidak baik 36.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove No. Parameter Persentase (%) 1.33% .63 Dengan melihat kondisi hutan mangrove yang berada di pesisir Kabupaten Probolinggo harusnya pemerintah cepat melakukan tindakan penyelamatan pelestarian karena kon disi hutan sudah sangat tidak baik (36.

sebagaimana tabel Tabel 4. dan (4) masyarakat lebih senang menanam padi dibanding menanam mangrove. Parameter Persentase (%) 1 Menegur 21. berikut keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peran serta masyarakat sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peranserta masyarakat dalam pelestarian fungsi sumberdaya laut sebagai penyangga kehidupan di wilayah tersebut 2. (2) lokasi hutan mangrove yang jauh. Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumbedaya alam. persepsi masyarakat tehadap keberadaan hutan mangrove perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masayarakat akan pentingnya sumberdaya hutan mnagrove. dalam konteks pelestarian hutan mangrove. Oleh karena itu. lintas pemerintahan Agar masyarakat mau ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan. yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat komponen utama penggerak pelestarian hutan mangrove. pendidikan dan parti s I pasi masyarakat b. Mengelola . kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan penelitian c. termasuk ekosistem hutan mangrove adalah pengelolaan berbasis masyarakat (Community Based Management) yang mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan. Peningkatan aksesibilitas masyarakat pantai terhadap kegiatan ekonomi yang dapat mendorong kemampuan masyarakat pesisir untuk membudidayakan sumberdaya laut secara optimal. Ketidakacuhan dari masyarakat dise babkan rendahnya perhatian instansi terkait untuk melibatkan masyarakat dalam setaip program yang dilakukan oleh pemerintah. sebagian besar masyarakat tidak melakukan penanaman hutan mangrove dengan alasan (1) tidak tahu cara mena nam mangrove. Pemberdayaan masyarakat pantai mencakup dua hal pokok.3 Arahan Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Dalam menghadapi situasi sekarang dan masa depan. Dengan demikian.31 Kepedulian masyarakat terhada pelestarian hutan mangrove relative kurang sekali yaitu 52. maka perlu adanya pember dayaan masyarakat.terutama yang melibatkan unsur masyarakat dalam pengelolaannya. pada prinsipnya ada 3 kebijakan pokok yang harus ditempuh pemerintah kabupaten Probolinggo agar sumberdaya kea nekaragaman hayati hutan mangrove berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat yakni : a. Keterlibatanmasyarakat ini sangat penting karena rendahnya keperdulian masyarakat terhadap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove. Kebijakan ini meliputi penetapan kawasan konservasi .10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan Hutan Mangrove No. yaitu 1. strategi yang diterapkan harus mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat selain tujuan konservasi hutan mangrove tercapai. Saran dari responden terhadap pengelolan: 4. (3) tidak punya bibit mangrove. kebijakan yang berkaitan upaya penyelamatan keanekaragaman hayati. Ber dasarkan kenyataan empiris tersebut.05 2 Diam saja (tidak mau terlibat) 52. paling tidak sudah dapat ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa masalah pengelolaan hutan mangrove secara lestari adalah bagaimana menggabungkan antara kepentingan ekologis (konservasi hutan mangrove) dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mangrove. pengelolaan dampak. Pengelolaan hutan mangrove harus secara terpadu baik lintas sektoral. Dengan demikian.63 3 Melapor kedesa/kecamatan dan keamanan 26. Sementara itu. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan masyarakat untuk dapat memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut. kebijakan yang berkaitan cara-cara memanfaatkan hutan mangrove.63% responden menyatakan tidak mau terlibat atau diam saja melihat setiap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan persepsi masyarakat pesisir terhadap keberadaan ekosistem mangrove dan mempelajari degradasi ekosistem hutan mangrove yang terjadi pada saat ini. aparat pemerintah daerah dan suasta. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal.Ferny Margo Tumbel. merencanakan. Program ini bertujuan untuk: 1. penebangan menjadi arang. sebagai kebalikannya pendekatan dari atas (top-down approach). Mengembangkan suatu bentuk pengelolaan pesisir terpadu dimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemanfaatan lahan mangrove sebagai areal pertambakan secara berkelanjutan. Kondisi di desa pantai terhadap pemanfaatan hutan mangrove yakni : konversi lahan menjadi tambak. pemukiman. Sikap dan perilaku masyarakat terhadap dinamika degradasi ekosistem hutan mangrove menunjukkan kecenderungan yang positif. FMIPA. masyarakat ikut memikirkan. 61.6% responden suasta sangat mendukung terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove. . yang terdiri atas masyarakat. dan hotel. Sifat merakyat ini merupakan bentuk implementasi dari kebutuhan. kemampuan dan kesepakatan masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan yang ada. Eksistensi ekosistem ini sekarang mulai terancam oleh berbagai faktor lingkungan dan aktivitas manusia yang mempengaruhi kelestarian ekosistem. 2. Herry Sumampouw Dosen Jurusan Biologi.3% responden aparat pemerintah tidak setuju.di sisi mengandung arti. UNIMA Ekosistem hutan mangrove di Taman Nasional Bunaken Selatan merupakan salah satu sumberdaya alam yang tipikal dan unik di Propinsi Sulawesi Utara. =================================================================== Dari : AGRITEC VOL. sesuatu yang menjadi kebutuhannya. memformulasikan. dan bersifat merakyat (bottomup). Dasar pemikiran atau landasan berpijak pemberdayaan mangrove bagi kesejahteraan masyarakat pesisir berbasis masyarakat adalah keberlanjutan (sustainability) usaha pemanfaatan dan pelestarian hutan mangrove. dan 76. Penelitian ini menggunakan metode survei.8% respondents warga masyarakat setuju.8% responden suasta setuju terhadap pernyataan negatif atas keberadaan ekosistem hutan mangrove. kayu bakar dan bahan bangunan.9% responden aparat pemerintah juga setuju atas pelestarian ekosistem. mengimplemetasikan. mengevaluasi maupun memonitorinya. Menumbuhkan tanggung jawab masyarakat dengan cara meningkatkan kepedulian dan partisipasi mereka dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam di lingkungan mereka. Sementara itu sebanyak 61. KESIMPULAN a. tidak memliki RTRW pemanfaatan hutan mangrove.17 NO 6 NOPEMBER 2009 – ISSN 0852-5426 ANALISIS SIKAP DAN PERSEPSI MASYARAKAT PESISIR TERHADAP DINAMIKA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BUNAKEN Attitude Analysis and Perception of Coastal Community to Dynamics of Mangrove Forest Ecosystem in Bunaken National Park . 82. V. baik ditinjau dari aspek sosial-ekonomi maupun aspek lingkungan hidup. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan daftar isian yang melibatkan 130 responden dan wawancara dengan sejumlah narasumber.2% responden anggota masyarakat menyatakan setuju terhadap pelestarian ekosistem mangrove. Sekitar 82. Dengan istilah community-based management itu juga mengandung arti suatu pendekatan (approach). dalam hal ini pendekatan dari bawah (bottom-up approach). Metilistina Sasinggala. dan 75.

Pemanfaatan hutan Tidak setujuRagu-ragu Setuju-sangat mangrove secara sangat tidak setuju maksimal setuju Keterangan : R0 = rawan 0 (rendah). 2 = tidak setuju (TS). R1 = rawan 1 (sedang). 4 = setuju (S). R2 = rawan 2 (tinggi) Hasil dan Pembahasan Sikap dan Persepsi Stake holder Sikap dan persepsi stake holder (masyarakat. Tabel 1. Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi ekosistem hutan mangrove No 1. sedang.Penelitian ini meliputi kajian parameter ekosistem mangrove dengan variabelvariabel yang diamati sebagai berikut : Parameter sosial penduduk. Data lain berupa data sekunder yaitu laporan-laporan statistik desa/kelurahan. pemerintah serta investor (pengusaha) sebanyak 135 responden. pemerintah dan pengusaha) terhadap ekosistem hutan mangrove menunjukkan tanggapan yang berbeda. Parameter Tingkat Kerawanan Degradasi R0 R1 R2 Sikap dan persepsi stake holder terhadap : . Adapun responden yang dipilih menggunakan metode Stratified Random Sampling. 1 = sangat tidak setuju (STS) Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi Dalam menentukan potensi kerawanan degradasi mangrove di Kawasan Taman Nasional Bunaken dilakukan dengan membandingkan hasil deskripsi di lapangan yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif dan hasil uji laboratorium yang bersifat kuantitatif. 15 responden untuk investor (pengusaha). Informasi yang di peroleh kemudian dilakukan pengukuran menggunakan skala Likert yaitu untuk mengukur persepsi dan sikap berbagai agen (sekelompok orang) dengan memberikan skor yang mempunyai gradasi atau kontinum penilaian dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju. masyarakat dan pengusaha dengan jumlah 90 responden untuk masyarakat setempat. rendah) eksistensi ekosistem hutan mangrove dengan parameter biogeofisik dan parameter sosial (sikap dan persepsi) seperti yang tercantum dalam Tabel 1. Analisis Sikap dan Persepsi Pengukuran tingkat sikap dan persepsi masyarakat dalam perlindungan.Kerawanan degradasi Setuju-sangat Ragu-ragu Tidak setujumengancam ekosistem setuju sangat tidak di TN Bunaken setuju . 30 responden untuk pemerintah (instansi terkait). 3 = ragu-ragu (RG). Data variabel-variabel ini dapat berupa data primer hasil pengamatan dan wawancara langsung (indepth interview) atau angket (kuesioner) yang diedarkan pada anggota masyarakat setempat. karena responden yang dipilih melibatkan beberapa strata responden yaitu pemerintah. pemanfaatan dan pelestarian ekosistem hutan mangrove menggunakan sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada responden. masyarakat dan pengusaha) terhadap kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove di kawasan TN Bunaken bagian selatan. Adapun dasar untuk mengkaji kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove dinilai berdasarkan skoring (tinggi. yaitu jumlah penduduk serta sikap dan persepsi stake holder (pemerintah. Keterangan penilaiannya adalah : 5 = sangat setuju (SS). Pada pernyataan bagian pertama (1-5) tentang kerawanan degradasi ekosistem hutan .

KALIMANTAN TIMUR Dayak Merap and Punan People’s Perception of the Importance of Forest in a Tropical Landscape. sangat penting).8 % responden masyarakat setuju. 2 : 1-13 (2004) Artikel (Article) Trop. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal sehingga berada pada tingkat rawan R2 (tinggi). Tingkat Kerawanan Degradasi Ekosistem Hutan Mangrove Sikap dan persepsi masyarakat dan pengusaha sekitar kawasan menggambarkan kenyataan yang ada di lapangan. For. Tujuh desa dipilih sebagai lokasi penelitian dari 19 desa yang tersebar dari hilir hingga hulu di sepanjang sungai Malinau. Sebaliknya dengan pernyataan kedua. namun lebih menekankan pada konsep ‘nilai umum’. East Kalimantan) NINING LISWANTI1. 61. KABUPATEN MALINAU. ANDRY INDAWAN2. kami menghindari penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan harga (harga. SUMARDJO3 dan DOUGLAS SHEIL4 Penelitian ini menggunakan konsep ‘nilai’ dan ‘kepentingan’ (Sheil et al. Manage. Metode yang digunakan adalah metode pemberian skor atau distribusi kerikil (Pebble Distribution Method /PDM) (Sheil dalam CIFOR. mahal. 2004). masyarakat dan pengusaha menganggap bahwa keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umum. sehingga pernyataan pertama berada pada tingkat kerawanan R0 (rendah). hanya kelompok pemerintah tetap menolak dan berada pada tingkat rawan R0 (rendah). =================================================================== Dari : Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. 2002) melalui pendekatan partisipasi dengan tujuan agar obyek yang diteliti yaitu masyarakat lokal dapat berpartisipasi selama penelitian berlangsung. ‘kegunaan’ (manfaat) dan ‘kepentingan’ (penting. 2002. J. artinya tergantung pada pengetahuan dan pengalaman pribadi seseorang. Pada pernyataan pertama mengindikasikan ekosistem hutan mangrove tidak terancam karena semua stake holder memahami dan mengerti kerusakan yang dapat terjadi jika hutan mangrove mengalami degradasi.mangrove dapat terjadi dan merusak keseimbangan ekologis. murah). sekitar 61. Pemilihan desa dilakukan dengan menggunakan teknik stratified random sampling dengan strata utama yaitu suku Dayak Merap dan Punan. ‘Nilai’ maksudnya adalah pandangan-pandangan masyarakat lokal bukan ‘nilai’ yang berkaitan dengan konteks ekonomi. dengan perbedaan utama adalah bahwa Merap lebih menekankan pada pertanian padi/sawah sementara Punan lebih . Jadi dalam melakukan kegiatan skoring. ongkos. 82.. uang.2 % responden masyarakat setuju. Kedua suku tersebut dipilih karena memiliki budaya yang berbeda dan menonjol di DAS Malinau.9 % pemerintah sangat setuju dan 75. Sedangkan untuk pernyataan bagian kedua (6-10) tentang keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejah-teraan umum. dengan luas sekitar 2000 km2. X No.3 % responden pemerintah tidak setuju dan 76. X (2) : 1-13 (2004) PERSEPSI MASYARAKAT DAYAK MERAP DAN PUNAN TENTANG PENTINGNYA HUTAN DI LANSEKAP HUTAN TROPIS. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal. Lokasi penelitian terletak pada 2045’ – 3021’ LU dan 115048’ – 116034’ BT. sedangkan ‘kepentingan’ berhubungan dengan apa yang sedang di nilai dan lebih menekankan pada penilaian relatif dan bersifat subyektif.7 % responden pengusaha setuju. Malinau. sekitar 82.8 % setuju.

Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia. ini artinya lahan hutan adalah dua kali lebih penting dibandingkan lahan jekau muda. Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. 2001). Desa Merap diwakili oleh Gong Solok. dan di taruh di lantai sehingga dapat dilihat dan dijangkau oleh semua informan. Kegiatan penelitian dilakukan dari bulan Juni 2003 hingga Mei 2004. sedangkan desa Punan diwakili oleh Punan Rian.. faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal(Socially Rooted Values). =================================================================== Dari : Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik Dalam Program Studi Magister Teknik Arsitektur Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Oleh Mohamad Hendra Irawan 087020016/AR FAK TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2 0 1 0 Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.menekankan pada aktivitas berbasis hutan (Sheil et al. (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan guna lahan. Akan tetapi. (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat. jika 10 biji diletakkan di kartu ‘hutan’ dan 5 biji di kartu ‘jekau muda’.. 2002 dan 2004. pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values). (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini. (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan. Sebagai ilustrasi. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik. Setiap kegiatan skoring selalu mengikuti prosedur yang pasti. maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat. maksudnya sebelum kegiatan dimulai. Selanjutnya. (9) tingkat . Polonia. 2002 dan 2004). dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung. maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Langap dan Paya Seturan. fasilitator memperkenalkan setiap kartu berlabel dan bergambar yang mewakili tipe-tipe lahan. (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota.. dan Uluk et al. data-data tersebut ditabulasi dan di analisis berdasarkan nilai ‘kepentingan’yang diperoleh dari hasil setiap diskusi kelompok terfokus. Sarirejo. para informan kemudian di minta untuk menyebarkan seratus alat penghitung (dapat berupa biji/kancing/korek api) di atas kartu-kartu tersebut menurut ‘kepentingan’ masyarakat lokal. dan Long Jalan. Liu Mutai. (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan. Madras Hulu dan Sukadamai. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. Setelah diberikan penjelasan dan contoh. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kegiatan skoring dengan teknik diskusi kelompok terfokus (lihat Sheil et al. Desa Laban Nyarit mewakili suku Punan dan Merap.

pemerintah harus mempertahankan dan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten. Perubahan Tata Guna Lahan. pembagian kawasan hutan ke dlm fungsi-fungsi dan kemanfaatan. inventarisasi hutan. termasuk dalam prinsip ini adalah tersedianya secara pasti petapeta detail lokasi hutan yang kemudian dimantapkan dan dikukuhkan sebagai kawasan hutan yang akan dikelola dan diusahakan dalam jangka panjang. Berdasarkan hasil penelitian. sekunder. Kata Kunci: Persepsi. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. dan tidak memanen hasil lebih dari kemampuan yang disediakan oleh hutan tersebut. (d) memanfaatkan hasil dari sumberdaya hutan tidak hanya kayu. dan lingkungan (penataan ruang tumbuh tingkat lapangan). Proses penataan kawasan hutan (hutan primer. (c) penatagunaan kawasan hutan untuk menjamin terbentuk kawasan yang berfungsi ekonomi. Sosio-Ekonomi =================================================================== PERSEPSI DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN FUNGSI HUTAN SEBAGAI DAERAH RESAPAN AIR ( Studi Kasus Hutan Penggaron Kabupaten Semarang ) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Umar L4K 006027 Pengelolaan hutan dan pengelolaan sumberdaya hutan (Forest resource management) memerlukan suatu faktor yang disebut dengan enabling factors (factor faktoryang memungkinkan) pengelolaan dan pengusahaan suatu kawasan hutan menjadi kawasan yang lestari dicapai. semak belukar dan tanah kosong) mencakup kegiatan-kegiatan penataan batas. merealisasikannya harus dengan cara uji-uji lapangan sebagai tempat . (b) ditetapkannya unit manajemen (pengelolaan) hutan mulai dari unit pengelolaan terkecil tingkat lapangan dan unit kelestarian hasil sumberdaya hutan. perlu adanya kerjasama antara dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. Dalam pengelolaan hutan lestari ada enabling factor yang harus dipenuhi yang disebut dengan prinsip 3A + P yaitu (Awang. 2008) : Pertama.kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial.pengukuran. tersedianya ATURAN yang sesuai untuk keperluan menuju hutan lestari(aturan kelembagaan). pembukaan wilayah hutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangat beragam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. Selain organisasi kawasan. (b) penataan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untukmembangun unit manajemen dan pengusahaan hutannya. pemetaan. Pada kedua bentuk organisasi tersebut (kawasan dan sumberdaya manusia). dan (c) jenjang pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan pengusahaan hutan. Kedua. Termasuk di sini adalah semua aturan yang berkaitan dengan aturan pembentukan organisasi kawasan seperti: (a) batas-batas wilayah pengelolaan yang jelas. tersedianya ATLAS. sosial. San Afri. juga diperlukan aturan yang berkaitan dengan aturan penataan organisasi sumberdaya manusia seperti : (a) penataan organisasi kerja tingkat lapangan dan menetapkanpenanggung jawabnya.

pembelajaran menyusun aturan-aturan yang dibutuhkan, sehingga aturan yang diperoleh tidak top-down, tetapi bottom-up. Sejak dulu kala pengelolaan hutan diawali oleh pendekatan bottom-up dalam membentuk organisasi lapangannya. Konstruksi penataan organisasi dari bawah dijamin akan menghasilkan tingkatan pengenalan dan rasa memiliki (rekognisi) dan legitimasi yang tinggi dari para pihak terkait. Dengan prinsip bottom-up ini pula dapat dimengerti bahwa sesungguhnya penataan kawasan hutan sejak lama sudah sangat akrab dengan muatan lokal, spesifik wilayah, dan memberikan peluang bagi terlaksananya distribusi otoritas kewenangan pengelolaan ditingkat wilayah (otonom dalam penataan kawasan , pengembangan Ketiga, semua hal yang berkaitan dengan ATLAS dan ATURAN harus dijalankan secara AMANAH. Semua kesepakatan para pihak untuk membangun unit pengelolaan dan pengusahaan sumberdaya hutan harus dijalankan secara amanah, teguh pada pendirian yang memiliki komitmen tinggi terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban para pelaksana / pengelola hutan. Tidak ada penyimpangan aturan dan kesepakatan dan juga tidak ada korupsi dalam menjalankan tugas-tugas pembangunan hutan dan kehutanan. Keempat, memastikan faktor penting lainnya adalah PENGAWASAN. Kelemahan paling mendasar dalam pembangunan sumberdaya hutan di Indonesia selama ini adalah tindakan pengawasan. Semua yang berkaitan dengan atlas, aturan, dan pelaksanaan yang amanah, tidak mungkin dapat dicapai dengan baik jika tidak ada tindakan pengawasan yang sistematis, terukur, dan terus menerus. Tindakan pengawasan mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi. Hasil dari monitoring dan evaluasi dijadikan rujukan utama un tuk melakukan penyempurnaan aturan-aturan / kebijakan dan perbaikan hal-hal yang berkaitan dengan teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan. Konsep Environmental Adjusment (EA) adalah suatu proses dan pengukuran ===================================================================

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI KECAMATAN MEDAN POLONIA MOHAMAD HENDRA IRAWAN 087020016/AR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N2 0 1 0

Abstrak
Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnyapertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Akan tetapi, dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan, pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values), faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal (Socially Rooted Values). Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan perubahan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia, maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung, Polonia, Sarirejo, Madras Hulu dan

Sukadamai. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik, maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia, (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini, (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan, (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan tata guna lahan, (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan, (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota, (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat, (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat, (9) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangatberagam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah harus mempertahankandan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten, perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. Kata Kunci: Persepsi, Perubahan Tata Guna Lahan, Sosio-Ekonomi

DAFTAR ISI
ABSTRAK……………………………………………….……………… i ABSTRACT……………………………………………….…………… ii KATA PENGANTAR……………………………………………….… iii RIWAYAT HIDUP PENULIS…………………………………….….. v DAFTAR ISI……………………………………………………………. vi DAFTAR GAMBAR……………………………………………………. ix DAFTAR TABEL………………………………………………………. x BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………….... 1 1.1. Latar Belakang……………………………………………………..... 1 1.2. Perumusan Masalah………………………………………………..... 3 1.3. Landasan Teori…………………………………………………….... 3 1.4. Tujuan Penelitian……………………………………………………. 6 1.5. Batasan Penelitian…………………………………………………… 6 1.6. Kerangka Berpikir…………………………………………………… 7 1.7. Struktur Penulisan…………………………………………………… 9 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………… 12 2.1. Persepsi Masyarakat…………………………………………………. 12 2.1.1. Definisi……………………………………………………….. 12 2.1.2. Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi…………….. 13 2.2. Perubahan Tata Guna Lahan……………………………………........ 15

2.2.1. Definisi………………………………………………………... 15 2.2.2. Model Perubahan Tata Guna Lahan………………………….. 17 2.3. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan………. 22 2.4. Kaitan Kajian Teori Terhadap Kegiatan Penelitian ………………… 36
Universitas Sumatera Utara

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……………………..……… 39 3.1. Metode Penelitian………………………………………………….... 39 3.2. Populasi Dan Sampel………………………………………………... 40 3.2.1. Populasi………………………………………………….......... 40 3.2.2. Sampel ……………………………………………………….. 41 3.3. Identifikasi Variabel………………………………………………… 42 3.4. Teknik Pengumpulan Data………………………………………...... 44 3.4.1. Pengumpulan Data Primer……………………………….......... 44 3.4.2. Pengumpulan Data Sekunder…………………………………. 45 3.5. Teknik Pengolahan Data…………………………………………….. 46 3.6. Teknik Analisis Data………………………………………………… 47 3.7. Tahapan Penelitian……..…………………………………………….. 48 BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI………………… 50 4.1. Kondisi Umum Kecamatan Medan Polonia………………………..... 50 4.1.1. Letak Geografis Dan Administrasi Wilayah…………….......... 50 4.1.2. Demografi Kependudukan…………………………………… 52 4.1.3. Ekonomi………………………………………………………. 54 4.1.4. Sosial Budaya Dan Kesehatan Masyarakat…………………… 54 4.2. Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia……………………. 56 4.2.1. Kedudukan Bandar Udara Polonia Dalam Konteks Perkotaan ……………………………………………. 56 4.2.2. Kondisi Eksisting Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………..................... 60 4.2.3.Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia………………………………………….............. 70 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………... 76 5.1. Karakteristik Responden………...…………………………………… 76 5.1.1. Karakteristik Sosial Responden…………………….…….......... 76 5.1.2. Karakteristik Ekonomi Responden……………….…….....,,…., 79 Universitas Sumatera Utara 5.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………. 82 5.2.1. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Ekonomi Yang Berorientasikan Pada Pengembangan Modal Finansial (Profit Making Values)……............................. 82 5.2.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Pemenuhan Kebutuhan Dasar Dan Menjaga Keberlangsungan Hidup Masyarakat Umum (Public

. Data Jumlah Penduduk Usia 7-12 Tahun Dan Status Pendidikan Di Kecamatan Medan Polonia………………..2... 73 4.3. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Status Pernikahan…………... Proses Terjadinya Persepsi……………………………………… 14 DAFTAR TABEL No.... Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Nilai-Nilai Sosial Yang Bertumbuh Kembang Di Daerah Dimana Lahan Itu Berada (Social Rooted Values) …………… 113 BAB VI..... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar BelakangPendidikan…78 5...... 137 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 138 LAMPIRAN-LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No.... 78 5. Kerangka Berpikir………………………………………………..2.. Penentuan Jumlah Sampel Proporsional………. Judul Hal 1...... Data Jumlah Penduduk Berdasarkan Usi Jenis Kelamin……53 4.....4... ……… 77 5.......5......3.…………….....1..2...... 99 5..3.. Rencana Penggunaan Lahan Di Kecamatan Medan Polonia ... Judul Hal 3.......19...... Data Kependudukan……….........3......1...Interest Values………………...1.... Kesimpulan………………………....... 133 6.... 50 4. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Agama……... 43 4...........…….. 42 3.4.... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Usia………………...2.............1.......1..... 125 6.. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Penghasilan RataKeluarga/ Bulan79 ......... Saran / Rekomendasi ………………………………………………… 135 6.... ……… 53 4. Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Di Kecamatan Medan Polonia……………………………………………........... 52 4..... Penentuan Jenis Variabel Terikat (Descrete) ...18............... Data Administratif Wilayah………. Kelemahan Penelitian Dan Saran Dilakukannya Penelitian Lebih Lanjut…………………………………………………………....………………………………….......... 75 5.1.....6............................ PENUTUP……………………………………………………. ……… 54 4.. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar Belakang Etnis / Suku.. 77 5.2...... 76 5.... 9 2....5.. Perwujudan Sistem Prasarana Dalam Arahan Penggunaan Lahan Tahun 2008-2028…………………..

.15.. Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Penghasilan Rata-rata per Bulan .... Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan … 83 5.10... Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan……………..................................13........18. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Mata Pencaharian..19.5... 96 5...... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal…81 5. 85 5...... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Pengeluaran R2 Keluarga/ Bulan 80 5.. 110 5... 82 5........29...27.7....26............11....16. Tingkat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan......17..... 92 5............ 97 5...........25...... 104 5.... 106 5..28. 81 5...14......... Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan…….. Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan…… 88 5. 89 5... Tingkat Keyakinan Masyarakat Terhadap Tersedianya Fasilitas Dan Infrastruktur Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………...... 109 5..........23. 115 5.......8.... Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan…………. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Status Rumah Tinggal.. 114 5... 118 5.. 119 ...20.22...12......24............. 80 5....9. Tingkat yakinMasY TDp Tersedianya Fasilitas Infrastruktur Berdasarkan Lo................. Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal ……... Karakteristik Mata Pencaharian Responden BerdasarkanTingkat Pendidikan….. Tingkat Persetujuan Terhadap Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………..... Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Status Rumah Tinggal …….... Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………… 100 5. Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan….21....... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenjang Pendidikan 93 5.. Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenis Pekerjaan…................... Tingkat Persetujuan THD Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………............. Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………… 102 5...

. thermohigrometer.... handrefractometer... Relative frekwency (FR).... Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan………….. Key words : Mangrove...... 1(1):26-30........ Pangkalan Batang... suhu udara. alkohol 70 %.. 121 5. kertas koran.... pH....5.......79%) at location VII (Desa Selat Baru)...31........ Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herbarium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986).... soiltester dan botol semprot. The results of data analysys showed that generally was founded 21 species frok.. parang. Ten quadrate (10x5 m) was maked on the trannsects with systematically systems.. Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg.......... pancang.. Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek.. Disetujui 20 Juni 2004 Abstract The research about structure and distribution of sapling strata vegetation has been done at mangrove forest ecosystems in Bengkalis Islands Riau Province from March until November 2002. sapling.. gunting.. tali plastik.. kadar organik dan tekstur tanah... structure. This study used quadrate methods with quadrate was placed along of trannsect.... 122 Jurnal Biogenesis Vol. sapling stratum... Selat Baru dan Jangkang.. strata.. Dibuat 2 buah transek pada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telah ditetapkan). Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------Kerapatan Relatif = --------------------------. 2004 © Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau ISSN : 1829-5460 26 STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*).... Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada.... that what founded 2 sapling starata vegetation (Rhizophora apiculata dan Thizophora mucronata) has been distributed all of area study (100%). Pekanbaru 28293 Diterima 17 April 2004. That dominanced species is Rhyzophora apiculata (132..... Nursal Dan Supriyanti Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau.. Pada tiap lokasi diukur parameter lingkungan yang meliputi salinitas....... secara purposive sampling...... sedangkan alat yang dipakai : Kompas... Bahan yang diperlukan adalah : aquades. Bantan Air.. Relative Dominance (DR) and Informace Value.30.. at mangrove forest of Bengkalis Islands.. suhu air..x 100% ...... 1974)... kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling batang setiap individu tersebut.. Tanjung Sekodi..... Ketam Putih. Observation variable are Relative Density (KR).. vegetation PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon. Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………….. meteran...

KR : Kerapatan Relatif.Frekwensi =----------------------------------------------Frekwensi Relatif = --------------------------.07 Rhizophora mucronata 12.46 89.30 12.28 15. 2.52 32.32 35.48%) dari jenis ini dibandingkan dengan jenis lainnya. Penyebaran vegetasi Strata Sapling Tabel 2.x 100% Dominansi = ------------------------------------------Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi Relatif = -------------------------. Desa Meskom.69 Xylocarpus granatum 19. Biji yang telah berkecambah selagi masih di dalam buah yang masih melekat pada tumbuhan induknya memberikan kesempatan untuk dapat tumbuh dengan baik dalam hutan yang selalu digenangi oleh air pasang. Faktor Fisika-Kimia Ekosistem Mangrove . Selain faktor habitat yang sesuai. penyebaran yang luas dari jenis-jenis Rhizophora juga ditunjang oleh sifat dan cara perkembangbiakan dari biji yang bersifat vivivar. DR : Dominansi Relatif. FR : Frekwensi Relatif. Desa Pangkalan Batang. Komposisi dan penyebaran sapling mangrove di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis No Nama local Nama ilmiah Family 1 1 Bakau putih Rhizophora apiculata Rhizophoraceae + Jumlah 9 10 10 5 10 5 12 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 100 Relatif (FR = 34.x 100% Nilai Penting = FR + KR + DR HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur vegetasi strata sapling Tabel 1.79 27. Tiga jenis utama vegetasi sapling mangrove yang memiliki nilai penting tertinggi pada masingmasing lokasi penelitian Lokasi Spesies FR KR DR NP 1 Excoecaria sp 26.75 Rhizophora mucronata 1899 1724 Keterangan: 1.41 2 Excoecaria sp 21. Hasil pengukuran faktor fisika-kimia di . Bengen (2002) menyatakan bahwa daur hidup yang khusus dari jenis bakau (Rhizophora sp) dengan benih yang dapat berkecambah pada waktu masih berada pada tumbuhan induk sangat menunjang pada proses distribusi yang luas dari jenis ini pada ekosistem mangrove. NP : Nilai Penting dominan pada kawasan ini. 3. Tabel 3.

Responden Perempuan ataupun Laki-laki .3 29 16.9 30 7 5. Oleh karena itu. Tujuan Penelitian Mengkaji hubungan persepsi.4 4. perancangan dan pelaksanaan berbagai kemungkinan manfaat yang dapat diperoleh dari usaha perlindungan kawasan konservasi. .9 6 30 6 5. partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD). DAFTAR PUSTAKA ======================================================================== Kriteria inklusi dalam penelitian : .5 29 KESIMPULAN Struktur vegetasi strata sapling di kawasan hutan mangrove pulau Bengkalis didominasi oleh jenis Rhizophora apicukata dan Rhizophora mucronata yang termasuk famili Rhizophoraceae. tetapi sejauh mana masyarakat sekitar terlibat dalam kegiatan tersebut. Diantara 21 jenis sapling yang ditemukan jenis vegetasi sapling tersebut memiliki nilai penting tertinggi dan tersebar dengan baik pada ke tujuh lokasi pengamatan dengan penyebaran 100%.kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis Parameter 1 2 3 PH tanah 5.Responden yang dapat berkomunikasi dengan baik .14-45 th .9 67 54 54 69 Salinitas (o/oo) 20 24 28 23 25 30 30 Kadar organik tanah (%) 23.0 Tekstur tanah Liat Liat Liat Liat Liat Liat Liat 4 5.8 21.75 Suhu udara (0C) 28 28 30 Suhu air (0C) 30 28 30 28 30 28 20 Kelembaban udara (%) 60 44 31.8 5 5. Dengan demikian sapling tumbuhan Rhizophora sp merupakan vegetasi mangrove yang berperan penting khususnya dalam membentuk regenerasi di masa yang akan datang pada kawasan hutanmangrove Pulau Bengkalis.7 29. perlu dilakukan penelitian tentang persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa keberhasilan upaya pengelolaan kawasan konservasi laut tidak hanya tergantung pada pemerintah saja.Tingggal di sedan n bersedia jadi resp PERSEPSI DAN PARTISIPASI NELAYAN TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT KOTA BATAM TESIS PROGRAM PASCA SARJANAMANAJEMEN SUMBERDAYA PANTAI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 Oleh : Mardijono K4A 006 014 Abstrak Peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kota Batam ditujukan untuk meyakinkan masyarakat akan manfaat perlindungan kawasan tersebut.5 28.7 27 5 5. Karenanya peran serta masyarakat harus dilibatkan pada identifikasi.

.......................... 4.. Jenis dan Sumber Data ..1 Persepsi Masyarakat ........................ 30 3............ Mengkaji peranan pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD)........ Metode Penelitian ... Analisis Data .................. disamping itu peran Pemerintah dalam kegiatannya yang melibatkan masyarakat mampu memberikan motivasi sehingga mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD. Mengkaji partisipasi masyarakat setempat dalam mengelola (KKLD) tersebut 3.. METODE PENELITIAN 3.................................................1.. maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1...... Variabel Penelitian .. 27 3..... Tujuan Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut diatas....................4.. 28 3.. karena mampu mengubah persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan bersama KKLD di Kota Batam.... hubungan antara ketiga variable dilakukan uji regresi........ Kata-kata kunci : Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Pesisir................................... 27 3. 28 3.. 31 BAB I PENDAHULUAN 1....... peran Pemerintah mempunyai andil yang besar dalam penge lolaan KKLD.. 28 3....... Teknik Pangumpulan Data .................. Lokasi ... Hasil penelitian.. Skala Pengukuran ..........2................7........ 2................ dengan nilai r2 0................... Mengkaji persepsi masyarakat setempat mengenai (KKLD) dan manfaatnya................. Mengkaji hubungan (korelasi) antara persepsi dan partisipasi mesyarakat dengan program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah dalam mengelola .....................................3...8..................Metode penelitian adalah survei dengan penekanan pada variabel persepsi...98.....................3......... 1..... 28 3........... Manfaat Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2....3..........................3................................... Pengelolaan DAFTAR ISI BAB III.......................4.........1 Definisi Persepsi ....... par tisipasi masyarakat dan peran Pemerintah. Rumusan Masalah Persepsi dan partisipasi masyarakat merupakan hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah selain peranan pemerintah.2........................................ 1...................3.... pengaruh ini juga secara langsung berhubungan dengan partisipasi masyarakat dengan nilai r2 0.... Untuk itu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan seperti tersebut diatas sangat diperlukan dalam pengelolaan kawasan konservasi laut daerah. 29 3...............................6..........3 Peranan Pemerintah ..................... Populasi dan Sampel ..5...............3..99........................ Latar Belakang 1..........................2 Partisipasi Masyarakat .. 29 3.......................1...... 30 3................

Beberapa hal yang mempengaruhi persepsi : 1. motif/kebutuhan individu. b. 1996) 2. Representasi Representasi merupakan varian kedua dari peran serta yang secara kualitatif lebih tinggi dan mendalam jika dibandingkan dengan varian pertama. Ini meliputi aktivitas penentuan masalah..rencana akan memperoleh dukungan bila hal tersebut diketahui dan dimengerti oleh masyarakat. Individu yang berperan serta pada varian ini tidak hanya hadir dan berpresentasi tetapi lebih dari itu. Tolok ukur varian pertama peran serta adalah kehadiran yang bersifat kuantitatif. menyatakan varian peran serta atau partisipasi adalah : 1. prestasi belajar sebelumnya dan pengharapan. Komunikasi Gagasan . pelaku persepsi.gagasan. 3. persepsi dapat terbentuk setelah melalui berbagai kegiatan. 3.. yaitu unsurunsur dalam ingkungan sekitar dapat mempengaruhi persepsi (Robins. karakteristiknya dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. suasana hati. yakni memiliki (sense of belonging) Menurut Tjokroamidjoyo (1990). perumusan metode dan pendekatannya serta pembuatan keputusan.2 Definisi Partisipasi Tjokroamidjoyo (1990). target yang akan diamati. Situasi. perumusan masalah. pengalaman masa lalu. Lokasi Penelitian. yakni proses fisik (penginderaan). c. Individu dikatakan berperan serta dalam varian ini apabila terlibat dalam penentuan masalah. Kehadiran Kehadiran merupakan varian partisipasi tinggkat pertama yang lebih mudah mnjadi tolok ukurnya sebab jika seseorang hadir dalam suatu kegiatan maka ia dapat dikatakan telah berperan serta. kebijaksanaan dan rencana . BAB III METODE PENELITIAN 3.Menurut Saptorini (1989).1. pemrosesan informasi di otak). antara lain sikap.3. perhatian. 2. Pemilikan dan pengendalian Pemilikan dan pengendalian merupakan varian tertinggi dari peran serta secara kualitatif. ada tiga faktor yang mempengaruhi peran serta atau partisipasi yaitu : a. Kepemimpinan Faktor pertama proses pengendalian usaha dalam pembangunan ditentukan sekali oleh kepemimpinan. bila seorang individu memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya. 3. Metode Penelitian metode survei. fisiologis (pengiriman hasil penginderaan ke otak melalui saraf sensoris) dan psikologis (ingatan.2. 2. Pendidikan Tingkat pendidikan yang memadai akan memberikan kesadaran yang lebih tinggi dalam berwarga negara dan memudahkan bagi pengembangan identifikasi terhadap tujuan-tujuan pembangunan yang bersifat nasioanal. Kepada syarakat yang berhubungan erat dengan . penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristikkarakteristik pribadi dari pelaku persepsi. persepsi adalah suatu proses mental yang rumit dan melibatkan berbagai kegiatan untuk menggolongkan stimulus yang masuk sehingga menghasilkan tanggapan untuk memahami stimulus tersebut.

Peranan Pemerintah . Jenis dan Sumber Data data primer wawancara langsung dengan responden.3. yakni. Skala pengukuran . partisipasi dan peran pemerintah. Respondennya adalah nelayan. Kelurahan Karas Responden yang diambil berjumlah 31 orang dan Kelurahan Galang Baru Responden yang diambil berjumlah 100 orang. tokoh asyarakat.6. Sampel diambil dengan memberikan peluang yang sama bagi setiap masyarakat untuk dipilih sebagai responden.3. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan yang saling mempengaruhi antara peran Pemerintah dalam mempengaruhi persepsi masyarakat dan seberapa besar peran pemerintah mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD di lokasi Penelitian. pejabat Dinas Perikanan dan elautan serta instansi terkait.. hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antar kedua varibel tersebut dalam pengelolaan KKLD. 3.ncara langsung dengan daftar pertanyaan yang telah disediakan sebelumnya.3. Metode ini bersifat deskriptif korelasi. Sedangkan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang berarti antara ke tiga variabel tersebut dilakukan uji regresi antara varibel.3.2. Demikian juga uji regresi dilakukan pada variabel persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat. variabel partisipasi dan variabel peran pemerintah. tokoh agama.Data sekunder 3. c. Persepsi Masyarakat 3. kepala kampung. dan pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan serta instansi terkait.8. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut : a.1. Analisis Data Data yang dianalisa adalah persepsi . dari seluruh responden pada masing lokasi penelitian setara 15 % dari jumlah penduduk berprofesi sebagai nelayan. tokoh adat. Teknik observasi (pengamatan) : teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai potensi sumberdaya pesisir dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan setempat. Variabel yang diteliti adalah variabel persepsi.konservasi laut yaitu nelayan juga masyarakat lain seperti tokoh masyarakat yang berdomosili di lokasi penelitian. Variabel Penelitian 3.3. Kuesioner : data primer. 3. kepala kampung.4.…. partisipasi dan peran pemerintah mengenai pelaksanaan KKLD. b. Partisipasi Masyarakat 3. tokoh masyarakat.3. Kelurahan Pulau Abang. persepsi. Populasi dan Sampel masyarakat nelayan yang ertempat tinggal di lokasi penelitian yaitu diwilayah Kawasan Konservasi aut Daerah (KKLD) Kota Batam yaitu warga Kelurahan Pulau Abang Responden yang diambil berjumlah 113 orang. tokoh agama.5. 3. Kelurahan Karas dan Kelurahan Galang Baru. tokoh adat.7. Teknik interview (wawancara) : untuk mendapatkan data primer maka menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur (semi structured interview) yaitu nelayan. 3.

dari kuesioner adalah data ordinal yang mengukur ingkatan atau gradasi dari sangat positip sampai sangat negatif. ternyata bahwa sebahagian besar mata pencaharian masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan. dan Dapur Enam. Secara administrasi batas wilayah Kelurahan Pulau Abang.90 2 Petani 50 5.02 4 Pengusaha 14 1.75 % petani. Letak Geografis 4.2.2. sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat ketergantungan masyarakat terhadap perairan laut sangat tinggi. Pulau Abang Kecil.00 Sumber : Monografi Kelurahan Pulau Abang.61 5 Pegawai negeri sipil 10 1.1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.1.11 Jumlah 870 100. sebelah Selatan dengan perairan Kecamatan Senayang. 1. Kondisi Wilayah Pesisir dan Kelautan Kota Batam 4. pendapat dan persepsi seseorang atau ekolompok orang tentang fenomena sosial yaitu skala likert (Sugiyono.1.3.15% pegawai negeri. Sangat tidak setuju/tidak tahu/tidak pernah diberi skor 1 32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Gambaran Umum Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) 4. 2007 . Tidak setuju/cukup tahu/ tidak pernah/negatif diberi skor 2 4. sebelah Timur dengan Kelurahan Galang Baru dan Kecamatan Senayang dan sebelah Barat dengan perairan Kecamatan Moro Kabupaten Tanjung Balai Karimun.1.02 % buruh.1.1.2. Kondisi Geologi dan Geomorfologi Pantai 4. Sekitar 86. misalnya : 1. Berdasarkan data monografi kelurahan Pulau Abang. Kelurahan Pulau Abang Kelurahan Pulau Abang terletak dibagian selatan Kota Batam. Setuju/tahu/positif diberi skor 3 3. dan sekitar 5.15 6 Angkatan laut 4 0. Untuk keperluan analisis kuantitatif. sebelah utara dengan kelurahan Si Jantung.61% pengusaha/Tauke dan 1. Skala yang igunakan untuk mengukur sikap. Sangat setuju/sangat tahu/sangat positif diberi skor 4 2.75 3 Buruh 35 4. 39 Tabel 1. Segayang.1. Pasir Buluh. Bentuk dan Tipe Pantai 4. maka jawaban dapat diberi skor.90 % mata pencaharian tetap masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan di laut (nelayan).4. Pulau Petong. mempunyai 42 buah pulau besar dan kecil. diantara pulau yang berpenghuni antara lain Pulau Abang Besar. Batimetri 4. Jenis Mata Pencaharian di Kelurahan Pulau Abang No Pekerjaan JumlaH pERSENTASE 1 nEayan 756 86. 2006). 4.46 7 Babinsa 1 0.

11 2.2.12 6.1. Kelurahan Galang Baru Tabel 2. 26 – 55 1066 40.1. Hasil Tangkapan 5. Bahasa yang mereka . komunitas yang ada dikawasan ini merupakan komunitas masyarakat melayu yang berasal dari kerajaan Daik Lingga. Dengan demikian ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya perikanan sangat besar.2.1. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 1. Secara kultural.2.13 Jumlah 768 100. Penerangan Rumah 4.83 5. Sarana Air Bersih 7.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru. Daerah Penangkapan 4.2. 4. Buruh indusri 47 6.49 2.82 3.1. Petani 4 0. Sarana Pendidikan. 56 tahun ke atas 144 5. 0 – 5 300 11. Struktur Ekonomi dan Kultur Sosial Masyarakat Jika dilihat dari prosentase jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian sebagaiman tersebut diatas. Jenis Alat Tangkap 3. Kapal Motor Perahu 2. Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Galang Baru No. Jumlah penduduk Kelurahan Galang Baru menurut usia No Usia (tahun)Jumlah(jiwa) Prsentase 1.56 4. PNS 12 1. Fasilitas Umum 1. Kegiatan Budidaya Perikanan 4. sebagian besar penduduk Kelurahan Galang Baru merupakan nelayan (87. Transportasi Laut 5. Keberadaan mata pencaharian lain pada prinsipnya mendukung kegiatan ini perikanan khususnya perikanan tangkap. 17 – 25 505 19.2. 2007 Tabel 3.4.1. Melihat kondisi yang seperti ini dapat dikatakan bahwa basis perekonomian Kelurahan Galang Baru adalah perikanan tangkap.3.2. Perumahan 8.4. 6 – 16 596 22.2.52 Jumlah 2611 100.2. Nelayan 669 87. Pelabuhan dan Jalan 6. Pemasaran dan Pasca Panen 4. Pedagang 35 4. Sarana Perdagangan 4. 2007 4.3. 3.11 %).56 5. Sarana Kesehatan 2. Pengusaha sedang 1 0. M atPencaharian jmlah(jiwa)Persentase 1.34 4.52 3. Musim Penangkapan.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru.2.

yaitu : Api-Api (Avicennia marina). 1.01 Tinggi . Kearifan dalam memanfaatkan dan menjaga sumberdaya alam hanya ditunjukkan oleh segilintir orang sehingga kearifan tersebut seolah hilang. Pedada (Sonneratia alba). Kegiatan Perikanan Kelurahan Galang Baru. Bakau Putih (Rhizophora mucronata). Hilangnya kekhasan kultur ini. Dudukan Putih (Lumnitzera racemosa). Seperti halnya. Gadelam (Derris trifolata). Buta-buta (Exacaecaria agallacha). Alat dan Musim Tangkap 2.62 Tinggi 191 Sedang P. pandangan dan persepsi masyarakat terhadap keberadaan sumberdaya alam tidak lagi mengikuti petuah dan petata-petiti budaya seperti yang terkandung dalam petuah adat serta pantun-pantun melayu. 4. Namun kehidupan social masyarakat dikawasan ini sudah tidak lagi memiliki kultur yang khas. Pendatang dari suku Buton disinyalir pertama kali menggunakan bom dalam aktivitas nelayan di kawasan perairan Kepulauan Riau.76 Sedang 213 Tinggi P. Masyarakat telah terkontaminasi oleh pendatang untuk menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan.pergunakan adalah Bahasa Melayu. Kelimpahan dan Keragaman Ikan Karang di Masingmasing Kawasan Kawasan Jumlah Transek Kelimpahan (Individu) Kategori Keragaman Kategori I 8 121.88 Rendah 3. bom ikan diperkenalkan oleh pendatang dari Suku Buton.70 Sedang 179 Sedang P. lebih jauh disampaikan bahwa yang membentuk hutan mangrove dikawasan studi dikenali terdapat 12 (dua belas) jenis vegetasi. Dudukan Merah (Lumnitzera littorea).20 Tinggi 164 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam. Karas 1. Lenggadai (Bruguiera parvifora). Tingi (Ceriops tagal). Daerah Penangkapan 3.2. Pada sisi lain. Persentase Tutupan dan Keragaman Jenis Mangrove KKLD Kelurahan Keaneka ragaman (H’ Pohon) Kategori Kerapatan /Ha Kategori Pulau Abang 0.2. Bakau Merah (Rhizophora aplicuta). Waru (Hibiscus tiliacus). Tabel 9. Sumbur (Galang Baru) 0. Seperti diketahui kawasan ini sangat dekat dengan Negara Singapura dan kontak secara langsung maupun tak langsung dengan luar sudah berlangsung cukup lama. Nguan (galang baru) 1. Nyirih (Xylocarpus granatum). 2007 Jenis Mangrove yang dominan adalah jenis Rhizophora. boleh dikatakan (patut diduga) sangat dipengaruhi oleh derasnya arus globalisasi (pengaruh asing) yang datang dari Negara Singapura tersebut. Kegiatan Budidaya Perikanan Tabel 6.4.

0% 3.11 Sedang 1. Tabel 10. dan Pulau karas. Persepsi Masyarakat Mengenai Kondisi Terumbu Karang Tabel 15. Jenis Satwa yang Dilindungi di Kawasan Penelitian No Nama Lokal Jenis I II III IV 1.+ Sumber: Studi Penyusunan Kawasan Marine Managemen Area.6% 9. Kondisi Mangrove Sangat Baik Nilai 3.51 Rendah IV 4 162.3.5.2.0% 3. Buaya Crocodylus porosus .5. Kondisi Mangrove Baik Nilai 2. Cukup Mengetahui Nilai 1.2.+ + + 15 Kima Tridagna + . 2008 Keterangan : Nilai 4.74 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam. Kondisi Mangrove Sangat rusak Rata – rata 73..2 % responden mengetahui aturan Daerah Perlindungan Laut yang berada di kawasan Pulau Abang. 2008 Keterangan : Nilai 4.02 Sedang III 9 198.2% 0.4% 3.85 Rendah 2.2.0% 1. Sangat Mengetahui Nilai 3.9% 22. Mengetahui Nilai 2.37 Rendah 2. Kondisi Mangrove Rusak Nilai 1.rata 58.0% 3 Karas 21 9 1 0 67.3.2 % responden mengetahui bahwa mangrove yang berada di 3 Karas 8 16 3 4 25.+ + + 2.1% 4.9% Sumber : Data primer diolah. Lumba-lumba Dolphinia sp + . 2006 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sembur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) Jumlah 103.8% 51.0% Sumber : Data primer diolah.145 4. Duyung Dugong dugon + .5% 2 Galang Baru 82 14 3 1 82. Hal ini dikarenakan mereka telah mengetahui dari sosialisasi dari pemerintah baik lewat .7% 29. Tidak Mengetahui Rata . 2007 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sumbur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) yang terdapat di KKLD pada tiga Kelurahan disajikan pada tabel 10 berikut.. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Galang Baru 4.II 13 109. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Karas Tabel 14.14 Gonggong Littorina sp . Persepsi Masyarakat Tentang Kondisi Mangrove NoLokasiPenelitianSkore Persentase 43214321 1 Pulau Abang 79 25 5 4 69. Galang Baru.0% 14.7% 12.

Interval Kelas Tingkatan Persepsi. demikian juga terjadi hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD pada . partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah terhadap Kawasan Konservasi Laut Daerah dikelompokan dalam 3 (tiga) kategori berdasarkan interval kelas dari hasil skoring total nilai yang tersaji dalam Tabel 36. Wilayah Kelompok Tingkat Total Skor 1 Kelurahan PulauAbangPersepsi 3 (Tinggi) 2373Partisipasi 2 (Sedang) 2124Peran Pemerintah 2 (Sedang) 2131 2 Kelurahan GalangBaruPersepsi 2 (Sedang) 1952Partisipasi 2 (Sedang) 1917Peran Pemerintah 2 (Sedang) 1859 3 Kelurahan Karas Persepsi 2 (Sedang) 629Partisipasi 2 (Sedang) 581Peran Pemerintah 2 (Sedang) 573 Sumber : Data primer diolah. s pada tahun 4. Tabel 36. maupun beberpa papan pengumuman yang dipasang di kawasan tersebut.98 pada tarap signifikansi 0.penyuluhan.068. 2008 Hasil uji regresi terjadi hubungan yang sangat erat antara persepsi masyarakat terhadap KKLD dengan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan KKLD. Hubungan Persepsi.6. Tabel 37. Total Skore Persepsi. 2008 105 Total skor persepsi. Partisipasi dan Peran Pemerintah dalam KKLD No. partisipasi dan peran pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dan Daerah tersaji dalam Tabel 37 berikut. dengan nilai R2 = 0. Partisipasi Dan Peran Pemerintah Dalam KKLD No. pada sub pertanyaan mengenai sanksi di Daerah Perlindungan Laut tersaji pada Tabel 19. Partisipasi dan Peran Pemerintah terhadap KKLD Berdasarkan pengelompokan data dari persepsi masyarakat. Hasil jawaban yang dihimpun dari pertanyaan seputar persepsi masyarakat tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah. Wilayah Tingkat Interval 1 Kelurahan Pulau Abang 3 (Tinggi) > 2373 2 (Sedang) 1582 – 2373 1 (rendah) < 1582 2 Kelurahan Galang Baru 3 (Tinggi) > 2100 2 (Sedang) 1400 – 2100 1 (rendah) < 1400 3 Kelurahan Karas 3 (Tinggi) > 651 2 (Sedang) 434 – 651 1 (rendah) < 434 Sumber : Data primer diolah.

1996. hasil uji regresi peran pemerintah terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD juga terjadi hubungan yang sangat erat dengan nilai R2 = 0. S. 2002.75%) terhadap arti pentingnya pengelolaan Kawasan Konservasi Laut hal ini karena nelayan menyadari bahwa hasil tangkapan sangat tergantung kepada kondisi ekosistem yang baik 2. Saran DAFTAR PUSTAKA Anggoro. Sitepu. 4. Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan Berwawasan Lingkungan. Bogor.68%) dimana masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian terumbu karang dan mangrove. Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Penerbit LISPI. dan Kelompok MPA) yang dilakukan oleh Pemerintah yang dapat meningkatkan persepsi dan partisipasi masyarakat tentang arti pentingnya mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah secara bersama (Masyarakat dengan Pemerintah). tanggal 4 . Dahuri. dan M. R. IPB. Dengan melakukan kegiatan peningkatan SDM..P. Rais. 2006. Terdapat hubungan yang erat antara persepsi masyarakat. S. Nelayan mempunyai tingkat partisipasi sedang (67% .99 pada tarap signifikansi 0. Modul Matrikulasi Pengelolaan Pesisir dan Laut. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.99 pada tarap signifikansi 0. . Jakarta Dahuri. D. PT Pradnya Paramitha. 2000. Ginting. Keanekaragaman Hayati Laut.J. dengan melihat nilai regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelelolaan KKLD sangat ditentukan oleh persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan KKLD sebagai sumber kehidupan masyarakat yang berkelanjutan. Pedoman Tata Ruang Pesisir dan Laut. R. Semarang.G.1. Universitas Diponegoro. Seminar Nasional Fakultas Teknik dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro ke 43. Universitas Diponegoro. pembentukan dan peningkatan Lembaga Kemasyarakatan (POKJA.J. 2002. partisipasi masyarakat dan peran pemerintah terhadap KKLD. S. epartemen Kelautan dan Perikanan. Peran pemerintah dalam pengelolaan KKLD pada tiap-tiap kelurahan mempunyai tingkat peran “sedang” (66 % .044. Jakarta. Anggoro. Bengen.ketiga wilayah tersebut dengan nilai R2 = 0.. 2000. Jakarta. Penerbit Gramedia Pustaka Utama.025. Nelayan mempunyai tingkat persepsi sedang hingga tinggi (70% .67 %) karena responden menilai peran pemerintah khususnya dalam penghijauan mangrove. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34 tahun 2002.2. 3. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir & Lautan secara Terpadu. POKWASMAS.. PKSPL. Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan untuk Kesejahteraan Rakyat. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya. Semarang. pengawasan daerah konservasi dan pemberian tanda di daerah perlindungan laut sangat kurang. 5. Kesimpulan: 1. sedangkan dalam pengawasan partisipasinya rendah hal ini dikarenakan anggapan masyarakat bahwa sudah ada petugas yang ditunjuk (POKMASWAS).

Bandung. S. PT. Jakarta. 1993. Yogyakarta. Semarang Stanis. Komunikasi. Jakarta. Tesis MSDP. Pedoman Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah.jpl. . Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Robins. Yogyakarta:Gajahmada University Press. dan Effendi. Gajah Mada University Press. Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. Penerbit LKIS. Yogyakarta. Gramedia Pustaka Utama. Partisipasi. M. 2006. Mackinnon. S.1989. B. Penerbit PT. Jakarta. Jakarta. Politik Ekonomi Perikanan. Mengembangkan dan Memanfaatkan Perangsang Ekonomi Untuk Melestarikan Sumberdaya Hayati. Yayasan Obor Indonesia. . Ekonomi Kelautan. Hubungan Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan Mangrove di Desa Jetis Kecamatan Nusa Wungu. Bayer. Hardjasoemantri. Strategi Hidup Masyarakat Nelayan.. 1986. Pustaka Cidesindo. PT. Supriharyono. Jakarta Mikkelsen. J.2007. A. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Melalui Pemberdayaan Kearifan Lokal di Kabupaten Lembata Prop.V. Penerbit. Terjemahan.A. Saptorini.H. Nikijuluw. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan. 1989. T. 2005. .P. Laporan Penelitian IKIP. Raja Grafindo Persada. K. Penerbit P3R dan PT Pustaka Cidesindo. 2003. Perencanaan Pembangunan. CV. UKSW. Jakarta. Semarang Tjokroamindjoyo. 1992. Supriyanto. Metode Penelitian Survei. Pustaka Pelajar. . 2003. Jakarta. Persepsi Siswa SMA se-Kotamadya Semarang Mengenai Narkotika. B. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan (Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapangan). LP3ES. Rotinsulu. C. 2005. Kasmidi. Direktorat Konservasi dan Taman laut Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. 1990. Kabupaten Cilacap. 1985. Satria. Http://www2. Departemen Kelautan dan Perikanan. Alfabeta. Kualitatif dan R & D. 2006. Yayasan Obor Indonesia. Prenhalindi. Jakarta. 2002. Singarimbun. NTT. A. Mulyadi. Sukmara. 2004. Alumni. 2003. Jakarta. Yogyakarta.gov/srtm. Bandung. 2002. Tulungen. Aspek Hukum Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta.September 2002. Penerbit LKIS. Penerbit PT. J.nasa. Bagaimana dan Kemana Bisnis Perikanan. Semarang. Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Alam. McNeely. Ekonomi dan Keanekaragaman Hayati. Penerbit PT. Sugiyono. FERACO. 1996. Kusnadi. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. V. Salatiga. S. Konflik Sosial Nelayan. 2007. S. C. J. Jakarta. Jakarta Gultom. M. Universitas Diponegoro. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis. Metode Penelitian Kuantitatf. Perilaku Organisasi. Mas Agung. dan Mackinnon. Sastropoetro.2005. Pengantar Sosiologi Nelayan. Dimpudus. Yogyakarta. M. 1990. Tesis MSDP. Pengelolaan Kawasan yang dilindungi di Daerah Tropika. 2000.

Abang 3 37 111 25 75 34 102 41 123 69 207 62 186 68 204 Maks = 3164 Tinggi = > 2373 2 50 100 5 10 21 42 6 12 11 22 32 64 11 22 Min = 791 Sedang = 1582 2373 1 15 15 4 4 23 23 4 4 10 10 5 5 0 0 Rendah = > 1582 113 270 405 307 387 331 311 362 2373 75.00% Galang Baru 4 4 16 82 328 16 64 61 244 13 52 9 36 36 144 Interval Galang Baru 3 8 24 14 42 26 78 32 96 62 186 23 69 62 186 Maks = 2800 Tinggi = >2100 2 41 82 3 6 28 56 4 8 9 18 48 96 2 4 Min = 700 Sedang = 1400 2100 1 47 47 1 1 30 30 3 3 16 16 20 20 0 0 Rendah = > 1400 100 169 377 228 351 272 221 334 1952 69. N. tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau – Pulau Kecil. “Tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan Ekosistemnya”. Undang-Undang RI No. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004. Panduan penilaian kuesioner Lampiran 6. Nama responden : 3. Jumlah Tanggungan keluarga a. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007. Departemen Kelautan dan Perikanan. 5-10 Tahun c. Identitas Responden 1.71% Karas 4 2 8 21 84 7 28 20 80 8 32 4 16 12 48 Interval Karas 3 7 21 9 27 7 21 9 27 16 48 12 36 16 48 Maks = 868 Tinggi = > 651 2 13 26 1 2 8 16 1 2 3 6 9 18 3 6 Min = 217 Sedang = 434 . > 10 Tahun 6. > 9 orang Lampiran 5. < 6 orang b.Tangkilisan. Panduan Pembentukan dan Pengelolaan Daerah Perlindungan laut Berbasis Masyarakat. Nama kampung : 2. Lampiran 1. Skoring Persepsi Lokasi Score Tabel Pertanyaan Persepsi 1234567 Pulau Abang 4 11 44 79 316 35 140 62 248 23 92 14 56 34 136 Interval P. Jakarta. <5 Tahun b. Umur : 4. tentang Perikanan. 2002. 5 Tahun 1990. Pekerjaan Utama : 5. Lama Tinggal di Kampung : a. 6-9 orang c.651 199009911446600 Rendah .

06357 0.976105 Standard Error 140.069725 -0.0% Upper 95.01% 4563 124 SUMMARY OUTPUT Lampiran 9 Hubungan antara persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.42904 2.994008 R Square 0.53 2531.080092 0.073 X Variable 1 1.069725 Residual 1 19789.47% 4954 122 1 4 4 2 2 4 4 0 0 7 7 10 10 9 9 Rendah = < 434 31 92 97 84 98 55 60 56 573 66.53 2531.= > 434 31 64 113 74 110 90 76 102 629 72.0% Intercept -12.6761 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1636579 1636579 82.995211 Adjusted R Square 0.69826 0.2023 -0.988052 Adjusted R Square 0.589221 -0.76 19789.093858 0.073 -2556.118772 9.7278 200.959582 -2556.98 125 SUMMARY OUTPUT Lampiran 10 Hubungan antara peran pemerintah dengan persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.997603 R Square 0.990422 Standard Error 89.589221 Keterangan : Persepsi masyarakat sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.42904 2.06421 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance .76 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.

99838 Adjusted R Square 0.302 Total 2 1402865 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.06343 0.044091 0.052526 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.0% Upper 95.996759 Standard Error 47.129368 2.86 1593.9971 126.040513 24.4156 0.378 868.302 2273.490829 1.044091 Residual 1 7932.433 7932.005595 0.67915 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1400591 1400591 616.959671 -1609.0701 -0.99 126 SUMMARY OUTPUT Lampiran 11 Hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.48967 0.6898 X Variable 1 1.0% Upper 95.378 868.868 X Variable 1 1.433 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.15595 67.99 127 Lampiran 12.999189 R Square 0.8097 0.82145 0.895711 -846. Dokumentasi Penelitian Dokumentasi Penelitian Mata Pencaharian Alternatif (MPA) Keramba Jaring Tancap Penanaman Mangrove oleh masyarakat di kelurahan Karas .165299 0.052526 0.86 1593.6898 -846.1045 0.520362 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.520362 0.025634 Residual 1 2273.490829 1.090947 0.075678 14.F Regression 1 1648436 1648436 207.025634 0.129368 2.0% Intercept 11.868 -1609.0% Intercept -7.

the diverse ecosystems provide a placefor the food chain to function and a space for species to survive and breed. savannah. Mangroves Mangrove is the collective term for tree vegetation that grow in muddy coasts in tidal areas. For instance.129 Lampiran 13 WALIKOTA BATAM Riwayat Hidup Mardijono. coastal and small island zones. Although it covers only 1. 2001). Forests also maintain soil fertility by supplying nutrients through the leaf litter. coral reef.5 million hectares in Indonesia. Mangroves cover an area of about 2. during the early 1990s. consisting of estuaries.5 presents the distribution of mangroves in Indonesia. For example. 30 September 1969. ============================================================= National Document hal 29 Indonesia is estimated to have 90 ecosystem types. coastal and small island areas. estuaries. mangrove. Given the limited availability of knowledge. 2000). Table 3. They can be classified into three main types: coastal/ delta. where the components are inter-dependent. The ecological value can be harnessed if biodiversity is considered as one entity. There are many studies from the geological and geomorphologic perspective but their results have not contributed significantly to the knowledge(hal 24) of ecosystem classification in marine. Bengen (2001) listed several marine and coastal ecosystems from the ecological perspective. wetlands. as outlined below (Dephut1994. montane to lowland rainforests. as presentedin Box 2.3% of the total landmass in the world. protection of water and soil quality. Indonesia harbors a very high fauna species diversity. Perikanan dan Pertanian Kota Batam.9. sub-alpine. coastal forest. alpine. this value is substantially high. among others. kelahiran Madiun. which are also dynamic and very productive. 1997): Ecological value Biodiversity provides ecological or environmental services for humans. prevent erosion and regulate the micro climate. including sea grass and coral reefs to deep sea ecosystems. from snow peaks at Jayawijaya. Mittermeier et al.6Mangroves have diverse functions andbenefits. In marine. rocky and sandy beaches. Mangrove forests occur only in coastal areas where the waves are broken by barriers such as sand. from the highest water level to the lowest tidal level. The litter and other parts of mangroves which are carried by water provides . A well functioning ecosystem can supply and produce environmental services beneficial for the species living in it. grasslands. hal12 Figure 2. there are several unique but interrelated ecosystems. while the plant species found in them can be seen in Table 3. Mangroves have high economic value for people and also as feeding and nursing ground for many species of fish and bird.sekarang bekerja pada Dinas Kelautan. coral reef or islands. Yet. the ecological perspective is most often used to study coastal and marine areas. with 89 plant species (Nontji in Dahuri et al. regulation of local climate. forests maintain the hydrological balance thus preventing floods and droughts. mangrove and marine and coastal ecosystems. and small islands. Environmental services are undervalued because it is difficult to quantify. these services are. sea grass.2. river estuary/lagoon and island types (MacKinnon et al.

In addition. reptiles: monitor lizard (Varanus salvator). milky stork (Mycteria cinerea).129. But such timber has not been harvested in a sustainable manner. Thus it is clear that mangroves have an important function in supporting coastal fishery.600 2. are used for medicine. of which Rhizophora is most preferred for building materials and rayon production. proboscis monkey (Nasalis larvatus). Payne et al. mangrove blue flycatcher (Cyornis rufigastra).important nutrition for coastal ecosystem and other ecosystem in the surrounding estuaries.600 1. for example. Plants in mangrove forests. and nypah (Nypa fruticans). food.500 78. 1999). with potentials to produce alcohol (Mercer and Hamilton 1984 in Whitten et al. Island rotected area Mangroves Current area Original area Sumatra Java & Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua 857. mangroves also protect certain coastal areas from abrasion. and now not many places are left where Rhizophora timber can be harvested sustainably.900 Benefits and value of marine and coastal ecosystem Like forests. insects (Anopheles sundaicus and Aedes mosquitoes) (Whitten et al.500 4. building and industrial materials. 1999). A list of benefits provided by mangroves is given in Table 3.000 485. Table 3. rare lesser adjutants (Leptoptilos javanicus).900 2. Among others.5.000 272. Mangroves also serve as nursery grounds for young fishes.500 38. Mangroves also yield microorganisms that have various uses such as bacteria.450 84. fungi.025 19. Other mangrove products include fuelwood.185 61.000 171. mangrove whistler (Pachycephala cinerea). Mangrove distribution in Indonesia (hectares). .000 6. Mangrove vegetation is relatively well researched in Indonesia (Kartawinata 1990).300 353. (Doc. long-tailed macaque (Macaca fascicularis). python (Pythonreticulatus) and estuarine crocodile (Crocodylus porosus) are found in some mangrove areas. and other microorganisms. common skink (Mabuya multifasciata).092. timber for other uses. protozoa.8. shrimps and other organisms such as crabs.450. clams and snails. 2000) Figure 3. without always being connected directly with the mangrove area and its productivity. In addition.577 25.833 2. social and environmental benefits. amphibians: mangrove frog (Rana cancrivora). mangrove timber is a source of material for charcoal and chipwood industry.8. green manure. common cat snake (Boiga dendrophila). coastal and marine ecosystems also provide economic. This ecosystem serves as habitat of various animals. Mangroves also produce timber. fishing cat (Felis viverrinus). small-clawed otter (Aonyx cinerea). chemicals for tanning and dyes. mammals: javan lutung (Semnopithecus auratus).300 680. oils.

Aspek Konatif: berwujud proses tendensi/kecenderungan untuk berbuatu sesuatu objek. dan sebagainya yang ditujukan kepada objekojek tertentu. antipati. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial. Ini berarti berwujud pengolahan. Balai Pustaka – 2008 dan Guru Mekatronika. simpati. Hal ini terjadi bukan saja pada orang-orang lain dalam satu masyarakat. Karakter satu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dasar bangsa tersebut =============================================================== Oleh karena itu ahli psikologi W.net/2009/02/13/pembentukan-karakter-peserta-didik-melaluipendekatan-pembelajara Oleh : Achjar Chalil. Aspek Afekit berwujud proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti ketakutan. Maka sikap sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata. Aspek Kognitif yaitu yang berhubungan dengan gejala mengenal pikiran. Dalam hal ini Thomas menyatakan bahwa sikap seseorang selalu diarahkan terhadap sesuatu hal atau suatu objek tertentu.id/sastra/mudjahirin/2010/07/30/masyarakat-pesisir/ SOSIOLOGI PEDESAAN MASYARAKAT JAWA PESISIRAN Oleh Mudjahirin Thohir =================================================================== http://agupenajateng.ac. kedengkian. yang berulang-ulang terhadap objek sosial. 3. Tidak ada satu sikap pun yang tanpa objek.J. pengalaman. pada seminar PBF dalam rangka HUT PGRI Kota Solok-Sumb Friday. dan keyakinan serta harapan-harapan individu tentang objek atau kelompok objek tertentu.========================================================= ======================== Dari : http://staff. Tiap-tiap sikap mempunyai 3 aspek 1. S. 13 February 2009 (23:35) Unduh 28 Feb 2011 karakter ialah tabiat. menjauhkan diri dan sebagainya . SMKN 56 Jakarta) *) Makalah disampaikan pada tanggal 14 Desember 2008. misalnya kecenderungan memberi pertolongan. ikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam kegiatankegiatan sosial. Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Fitrah *) (Penulis Buku Pembelajaran Berbasis Fitrah. sifat-sifat kejiwaan. watak.undip. 2.Pd. akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.

wikipedia. perasaan. tetap.motif psikologi lainnya. Ciri-Ciri Dan Fungsi Sikap Sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan. dan perilaku. Beberapa sikap dipelajari tidak sengaja dan tanpa kesadaran kepada sebagian individu. kemudian menjadi lebih kuat. yaitu: 1) Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikandiri. Sedangkan fungsi dari sikap (tugas) sikap dapat dibagi menjadi empat golongan. tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap. Barangkali yang terjadi adalah mempelajari sikap dengan sengaja bila individu mengerti bahwa hal itu akan membawa lebih baik (untuk dirinya sendiri). atau memperoleh sesuatu nilai yang sifatnya perseorangan. misalnya: objek itu dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan. orang atau peristiwa[1]. Dapatlah dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal. melalui pengalaman. Jika seseorang merasa bahwa orang lain menyenangkan. terbuka serta hangat. maka ini akan sangat berarti bagi dirinya.[ Sri Utami Rahayuningsih – 2008 Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) ================================================================= Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) Sikap/ Attitude Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude Secara sederhana sikap didefinisikan : Unduh 28 Feb 2011 Ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa hal. 4. Berisi cognisi dan affeksi Komponen cognisi daripada sikap adalah berisi informasi yang faktual. 3. 2. Sikap itu dipelajari (learnablity) Sikap merupakan hasil belajar ini perlu dibedakan dari motif. dan stabil. Adapun ciriciri sikap adalah sebagai berikut: 1. dan favorable. orang-orang atau kejadian-kejadian.D. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu[1] Sikap mempunyai tiga komponen utama: kesadaran. Cth: sikap dalam kehidupan sehari-hari pada iklan  parpol . Personal (societal significance) Sikap melibatkan hubungan antara seseorang dan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi. 2) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku 3) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman 4) Sikap berfungsi sebagai pernyataan kepribadian ==\============================================================= Dari : http://id.org/wiki/Sikap Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek. ia merasa bebas. Memihki kestabilan (Stability) Sikap bermula dan dipelajari. membantu tujuan kelompok.

exhibited in one’s belief.opini b.html Unduh 28 Feb 2011 Sikap ( Attitude ) Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai “organisasi pendapat. Skala Sikap o Yaitu: kumpulan pertanyaan mengenai objek sikap o Mencoba memperoleh pengukuran yang tepat tentang sikap seseorang o Akurasi pengukuran dilakukan dengan penggunaan beberapa item yang berkaitan dengan isyu yang sama o Skala sikap melibatkan: belief dan opini terhadap suatu objek o Pertanyaan-pertanyaan atau item yang membentuk skala sikap dikenal dengan statement (pernyataan yang menyangkut objek psikologis). ide. kelompok sosial. people or issues about which an individual has some knowledge” (Wrightsman.blogspot.com/2010/05/sikap-attitude. 1996 Komponen sikap: • • • kognitif afektif konatif =============================================================== Dari : http://nadhirin. 1993) “…. =============================================================== Jadi.a favorable or unfavorable evaluative reaction toward something or someone. keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu . orang. feelings or intended behavior” (Myers. benda dsbnya Bagaimana kita mengukur sikap? Melalui observasi & wawancara Dengan menggunakan skala misalnya: • Summated Ratings • Equal Appearing Interval • Cummulative Scale • Semantic Differential Sikap adalah: “ …. An evaluation of objects. sikap adalah penilaian positif atau negatif terhadap isu.

keyakinan. setuju.dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya”. Suatu skala sikap merupakan kumpulan pernyataan sikap yang berkenaan dengan obyek sikap. tidak setuju. Corak khas dari skala Likert ialah bahwa makin tinggi . dan sangat tidak setuju. daftar pertanyaan biasanya untuk penelitian bibliografi atau karangan. 3) Metode tes tersususn.54 Pengukuran Sikap Gerungan menyatakan bahwa: Cara-cara yang dapat dipakai untuk mengukur sikap antara lain: 1) Metode langsung ialah metode dimana orang secara langsung diminta pendapat atau tanggapannya mengenai obyek tertentu. yaitu metode pengukuran yang menggunakan skala sikap yang dikonstruksikan terlebih dahulu menurut prinsip-prinsip tertentu. Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan. pandangan. orang dimintai supaya menyatakan dirinya mengenai obyek sikap yang diselidiki.59 Dari hasil uji coba dipilih pernyataan-pernyataan yang cukup baik. 2) Metode tak langsung. 3) komponen konatif (komponen perilaku. afektif dan konatif dengan uraian sebagai berikut: 1) komponen kognitif (komponen perseptual). terhadap suatu obyek. Rasa senang merupakan hal yang positif. =================================================================== Dari BAB II DESKRIPSI TEORI. sedangkan rasa tidak senang adalah hal negatif. yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap obyek sikap. seperti metode Likert. KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN Berkaitan dengan komponen sikap. atau perasaan seseorang.58 Sedangkan Azwar berpendapat bahwa: Metode pengukuran sikap yang diangggap dapat diandalkan dan dapat memberikan penafsiran terhadap sikap manusia adalah pengukuran melalui skala sikap (attitude scale). Thurstone atau Guttman. tetapi secara tidak langsung. Lima alternatifjawaban yang dike mukakan oleh Likert adalah sangat setuju. yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak atau berperilaku terhadap obyek sikap. yaitu dengan wawancara. 2) komponen afektif (komponen emosional). baik yang bersifat fa vorable atau positif maupun unfavorable atau negatif. 4) Metode tes tak tersusun. atau action component). yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap obyek sikap. Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai objek sikap yang diukur. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah kesediaan beraksi terhadap suatu hal. yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan. Walgito mengemukakan bahwa: Sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap. tidak mempunyai pendapat. Skala sikap bertujuan untuk menentukan kepercayaan. Ketiga komponen itu adalah komponen kognitif. misalnya menggunakan tes psikologi. persepsi. biasanya disampaikan secara lisan pada waktu wawancara.

makin rendah skor yang diperoleh seseorang. maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia. Makin tinggi skor yang diperoleh seorang guru mengindikasikan guru memiliki sikap yang makin positif terhadap pekerjaan.org/wiki/Pengetahuan Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor. dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. radio. diantaranya: • Pendidikan : Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. image. kode. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi. Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible). merupakan indikasi bahwa orang tersebut sikapnya makin positif terhadap objek sikap. dan majalah. demikian pula sebaliknya. Keterpaparan informsi : pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui.wikipedia.skor yang diperoleh seseorang. databases . merupakan indikasi bahwaorang tersebut sikapnya makin negatif terhadap objek sikap Pengukuran sikap guru terhadap pekerjaan dapat dilakukan dengan pengukuran sikap model Likert. menyiapkan. program komputer. menganalisa. Alat ukur dalam skala Likert menggunakan pernyataan-pernyataan dengan menggunakan lima alternatif jawaban. koran. news”. mengumumkan. teks. memanipulasi. Sedangkan informasi sendiri mencakup data. suara. ========================================== ===================== Dari : http://id. sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pengukuran sikap model Likert (Skala Likert) merupakan salah satu cara pengukuran sikap secara langsung. menyimpan. Media : Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. adalah “that of which one is apprised or told: intelligence. yang diperoleh dari data dan pengamatan terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi • • ---------------------------------------------------------------------------------------------------------- . demikian pula sebaliknya.

rasa dan raba. 3. 1997). Pendidikan Tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi baru (SDKI. 2. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia.co. Karena dapat membuat seseorang untuk lebih mudah mengambil keputusan dan bertindak. penciuman. 2003). 2007). Umur adalah lamanya waktu hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai berulang tahun yang terakhir.canboyz. berlangsung antara usia 30-46 tahun (Depkes. Umur Menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan.cc/2010/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. pendengaran. yaitu indera penglihatan.html Unduh 28 Feb 2011 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan 1. makin tinggi pula tingkat kepuasan yang diperoleh (Hurlock. Masa menopause merupakan masa peralihan dari masa haid sampai masa berhentinya haid.Dari : Asrofudin http://www. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. 1998). Pekerjaan Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari artinya makin cocok jenis pekerjaan yang diemban. =============================================================== Dari : Pengetahuan atau kognitif merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. .

32 Tahun 2004 yang membuat pengaturan tentang yurisdiksi laut provinsi (12 mil) . berapapun jumlahnya. (2) pembatasan output (output restriction). 2005). Desember 2007 Tim Penyusun Salah satu program yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi kelautan dan perikanan adalah program Green Coast. ada dua bentuk regulasi dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan.Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indra yang dilakukan untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat. Green Coast for nature and people after the tsunami Secara teoritis. UU No. sementara yang tidak memiliki fishing right tidak diizinkan beroperasi di wilayah itu. Sistem yang menjurus pada bentuk pengkavlingan laut ini menempatkan perlindungan kepentingan nelayan kecil yang beroperasi di wilayah pantai-pesisir serta kepentingan kelestarian fungsi sumber daya sebagai fokus perhatian. dan dengan alat apa saja. antara lain apa yang dikenal dengan tragedy of common baik berupa kerusakan sumber daya kelautan dan perikanan maupun konflik antar nelayan. Both ENDs dan IUCN dengan dukungan dana dari OXFAM Belanda bertujuan melindungi keunikan ekosistem pesisir dan memperbaiki mata pencaharian penduduk pesisir. Salah satu formulasi dari pembatas input itu adalah territorial use right yang menekankan penggunaan fishing right (hak memanfaatkan sumberdaya perikanan) dalam suatu wilayah tertentu dalam yurisdiksi yang jelas. Program yang merupakan kerja sama WWF. Open access adalah regulasi yang membiarkan nelayan menangkap ikan dan mengeksploitasi sumber daya hayati lainnya kapan saja. yakni membatasi berupa jumlah tangkapan bagi setiap pelaku berdasarkan kuota. ================================================================== DOKUMEN ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Banda Aceh. Selain diatur siapa yang berhak melakukan kegiatan perikanan. dimana saja. Secara empiris. dan jenis alat tangkap. contolled access regulation adalah regulasi terkontrol yang dapat berupa (1) pembatasan input (input restriction). Wetlands Internasional. regulasi ini menimbulkan dampak negatif. yakni membatasi jumlah pelaku. Sebaliknya. jumlah jenis kapal. Regulasi ini mirip ”hukum rimba” dan ”pasar bebas”. juga diatur kapan dan dengan alat apa kegiatan perikanan dilakukan. yakni open access dan controlled access regulation. Pola fishing right system ini menempatkan pemegang fishing right yang berhak melakukan kegiatan perikanan di suatu wilayah.

Soerianegara (1996) menyebutkan ruang lingkup pengelolaan hutan lindung adalah: 1. pemanfaatan jasa lingkungan. dan memelihara kesuburan tanah. mengendalikan erosi. pemeliharaan batas. Pengamatan dilakukan pada setiap tingkat pertumbuhan suatu vegetasi yang dikelompokkan ke dalam : 1) Tingkat semai (seedling). Usaha pemanfaatan dan pemungutan di hutan lindung dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan fungsi lindung. Selanjutnya dikatakan bahwa pengelolaan hutan lindung adalah bagian integral dari pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara keseluruhan. Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan. UU No. Melakukan penatabatasan dan pengukuhan kawasan hutan lindung 3. mempertahankan luas dan fungsi. Hutan lindung dapat dimanfaatkan berupa pemanfaatan kawasan. 32 Tahun 2004 sebenarnya entry point penerapan territorial use right.5 meter. yaitu sejak perkecambahan sampai tinggi 1. sebagai amanah untuk mewujudkan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. mencegah intrusi air laut.dan kabupaten/kota (4 mil) mengindikasikan bahwa produk hukum itu menganut konsep pengkavlingan laut. dan pemungutan hasil hutan bukan kayu. Konsep pengkavlingan laut merupakan instrumen dari konsep regulasi akses terkontrol (contolled access regulation) dalam pola pembatasan input (territorial use right). Merehabilitasi hutan lindung yang mengalami degradasi dan deforestasi 4. Pengelolaan hutan lindung diserahkan kepada Kepala Daerah Tingkat II yang mencakup kegiatan pemancangan batas. dan pemanfaatan jasa lingkungan. dimana hutan lindung memegang peranan yang amat penting dari segi hidroorologi Daerah Aliran Sungai. mencegah banjir. Melakukan perlindungan atas kawasan hutan lindung. =================================================== ===================== Undang-Undang No 41 tahun 1999 Pasal 1 ayat 8 mendefinisikan Hutan lindung sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air.5 meter dengan diameter batang kurang dari . pengendalian kebakaran. reboisasi dalam rangka rehabilitasi lahan kritis pada kawasan hutan lindung. Menentukan letak dan luas hutan lindung 2. 2) Tingkat sapihan (sapling) yaitu tingkat pertumbuhan permudaan yang mencapai tinggi antara 1.

Parameter yang diamati meliputi jenis. jumlah individu yang ada dan diameter untuk tingkat tiang dan pohon. Selain itu juga dilakukan pendataan terhadap herba sebagai tumbuhan bawah. dicampur dengan sampel dari jalur lain.Tiang (poles) atau pohon kecil dengan ukuran petak 10 x 10 m . P tersedia.Sapihan (saplings) dengan ukuran petak 5 x 5 m . Data primer yang diambil berupa keberhasilan penanaman bibit GN-RHL di lapangan setelah waktu 3 bulan. dari hasil pencampuran tersebut diambil 1 kg untuk dianalisis. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Untuk pengambilan data wawancara dilakukan dengan instansi terkait yang bertanggungjawab dalam pengelolaan kawasan hutan lindung.19 cm (dbh). 3) Tingkat tiang (poles) atau pohon kecil yaitu tingkat pertumbuhan pohon muda yang berukuran dengan diameter batang antara 10 . pH tanah dan kandungan unsur hara tanah yang meliputi N total. Untuk jenis jenis vegetasi yang belum dapat dikenali. Pengukuran data faktor lingkungan pada setiap releve pada blok pengamatan meliputi DHL (Daya Hantar Listrik). tiang (pohon kecil). 4) Pohon yaitu tingkat pohon-pohon yang berdiameter batang diatas 20 cm dbh. Kawasan Hutan Lindung Pulau Marsegu dibagi dalam 14 Blok penelitian Semai (seedlings) dengan ukuran petak 2 x 2 m .Pohon (trees) dengan ukuran petak 20 x 20 m Dalam setiap petak ukur dilakukan pengamatan terhadap tingkat pohon. bagian tumbuhan diambil untuk diidentifikasi lebih lanjut. juga pencatatan data-data primer dan sekunder mengenai program dan realisasinya. Sampel tanah diambil rata dari permukaan atas sampai kedalaman 30 cm. sapihan dan semai.10 cm. ============================================ ====================== Dari delapan variabel yang rencananya dianalisis hanya enam yang dapat dianalisis secara statistik (status . C dan BO. Sampel tanah yang dianalisis adalah 1 (satu) sampel komposit untuk masing-masing releve. K tersedia.

jenis kelamin. pengalaman kerja di bidang bangunan. pendidikan. Yang menjadi tujuan pembentukan sikap adalah tercapainya konsistensi antara persepsi. pekerjaan. yaitu variabel status. kemampuan membaca huruf Bali.01/0. dan kemampuan membaca lontar tidak berpengaruh terhadapnya. Ini mungkin menunjukkan bahwa persepsi virual telah menjadi bagian hidup masyarakat sehingga pendidikan formal. 4. dan kemampuan membaca huruf Bali. serta kemampuan interpretasi pencacah belum teruji validitas dan reliabilitasnya.responden. pengalaman kerja di bidang bangunan. Kemungkinan lain bahwa instrumen yang dipakai. Dari keempat variabel tersebut ternyata pengalaman kerja di bidang bangunan mempunyai kontribusi paling besar. tetapi proses ini masih bersifat terselubung. Bangunan berlanggam Bali. pengalaman kerja dibidang bangunan. status. Oleh karena itu perlu diupayakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor determinan terhadap pengetahuan dan persepsi ini dengan mencoba mengeksplorasi variabel lainnya dan menguji instrumennya terlebih dahulu. jenis kelamin. Persepsi merupakan dimensi kognitif dari sikap dan memegang peranan penting dalam menentukan totalitas pembentukan sikap. Dalam hal ini persepsi dan pengetahuan sebagai variabel terikat (dependent variable). kemudian berturut-turut adalah kemampuan membaca huruf Bali.05).05). artinya bahwa 34.1% tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh keempat variabel tersebut. sedangkan dua yang lainnya (umur dan pekerjaan) tidak dapat dianalisis karena distribusinya tidak memenuhi syarat untuk dianalisis (banyak sel yang kosong). Kontribusi keempat variabel tersebut terhadap pengetahuan adalah 34. umur. kemampuan membaca huruf Bali. dan intensitas membaca lontar. Hal ini desebabkan karena aspek kognitif ini merupakan sumber informasi utama yang dievaluasi secara positif dan negatif oleh komponen efektif. dan intensitas membaca lontar). Kata kunci: Persepsi masyarakat. dan status responden. jenis kelamin.1%. umur. sikap. kemampuan membaca hurup Bali.05). jenis kelamin. dan variabel bebasnya adalah status responden. Sedangkan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan teknik analisis multi varian (ANOVA). Sedangkan analisis statistik terhadap persepsi menunjukkan bahwa tidak satu pun variabel menunjukkan hubungan yang bermakna (P>0. Dua variabel lainnya tidak berhubungan secara bermakna (P>0. Analisis Data Untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan pendekatan kualitatif (dianalisis secara deskriptif) menggunakan tabeltabel distribusi frekwensi dan grafik sesuai dengan kebutuhan. pendidikan. pengalaman kerja. . jenis kelamin. Dari enam variabel tersebut hanya 4 yang berkaitan secara bermakna dengan tingkat pengetahuan (P<0.

2. 3. Menghargai (valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai positif terhadap objek atau stimulus. Pengetahuan. sebagai berikut :8 1. keyakinan dan emosi memegang peranan penting dalam pembentukan sikap. pikiran. dalam arti.dan perilaku. sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya. Seperti telah diungkapkan di depan bahwa persepsi yang positif akan cenderung membentuk sikap yang positif dan demikian pula terhadap kecenderungan perilaku. Menanggapi (responding) Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek). membahasnya dengan orang lain dan bahkan Universitas Sumatera Utara .

menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi. akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau tindakan (reaksi tertutup). sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. 1976a).mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon. Chapman. Dalam kata lain. 1984). pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. 1984). 1966. 1994). Rhizopora mucronata dan R. 4. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung 6 tingkat pengetahuan 1. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. 1993 dan Othman.INN SURYADIPUTRA. Tahu (know) 2. A. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge. GREEN COAST FOR NATURE AND PEO[PLE AFTER THE TSUNAMI Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Memahami (comprehension) 3. dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain. fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas. Sebaliknya. Stylosa pada salinitas 55 o/oo(. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya. Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. Bertanggung jawab (responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya.8 =============================================================================================== DARI : PANDUAN PENGENALAN MANGROVE DI INDONESIA YUS RUSILA NOOR. Analisis (analysis) 5. . Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. BOGOR 2006. M KHAZALI.1968). marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. Pada salinitas ekstrim. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. pantai selatan dan timur Kalimantan. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry. Evaluasi (evaluation) Newcomb. Aplikasi (application) 4. Sintesis (synthesis) 6. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang.

1980). Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahanmangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. Di Indonesia. 1985). Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak. 1997) dan menjadi 750. tidak bercampurnya tanah (Giesen. pada pulau yang hilang mangrovenya. 1987). Ironisnya. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain. terutama di Sumatera. meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul). Misalnya. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. 2005). peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. terutama dari ombak dan arus laut. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. 1991). kemudian bertambah menjadi 269. seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers.700 hektar (Bailey. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. 1986). Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. 1988). Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove. 1974). produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. Jawa. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. Memasuki abad ke-20.b. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. Pada tahun 1982. kemudian berkembang ke Aceh. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). 390.Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. Sebaliknya. dkk. Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun . Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. dkk. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk. misalnya untuk jalur hijau. Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. 1991 a.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. Akibat perubahan ini. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. Kalimantan dan Sulawesi. Akan tetapi. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum.c). pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif.

Ukuran: 4 x 2 cm. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. boak. Benang sari: 4. Dari India sampai Indo Cina. Ukuran: 16 x 5 cm. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah.Avicennia alba Bl. bawahnya pucat. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. Pada bagian batang yang tua. Hijau muda kekuningan. Kelimpahan : Melimpah. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. koak. mangi-mangi putih. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. Daun Mahkota: 4. serta di sepanjang garis pantai. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. 3-4 mm. Ekologi : Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. Daun : Permukaan halus. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. Buah dapat dimakan. . Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. Akar nafas biasanya tipis. Kelopak Bunga: 5. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). kuning cerah. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Ujung: meruncing. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. Bunga : Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. PNG dan Australia tropis. bagian atas hijau mengkilat. Buah : Seperti kerucut/cabe/mente.

abat. slengkreng. Ukuran: . Bunga : Biseksual. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. bakau puteh. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. jankar. tinjang. Bentuk: elips menyempit. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. akik. Daun mahkota: 4. kuning-putih. panjang 2-3. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. bakau leutik. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. Daun : Berkulit. Kelopak bunga: 4. tak bertangkai. bakau tandok. Letak: Di ketiak daun. panjangnya 9-11 mm. bakau kacang. berbintil. bangka minyak. Benang sari: 11-12.5 cm. parai. berwarna hijau jingga. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang.5-8 cm. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. wako. berisi satu biji fertil. melengkung. warna coklat. Hipokotil silindris. kuning kecoklatan. Ujung: meruncing. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak.Rhizophora apiculata Bl. donggo akit. tidak ada rambut. Ukuran: 7-19 x 3. mangi-mangi. bakau akik.

dalam dan tergenang pada saat pasang normal. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). halus. tersebar jarang di Australia. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. kayu bakar dan arang. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. Tumbuh lambat. Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia.Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. Penyebaran : Sri Lanka. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. . Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang.

........ maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.............. ............. Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari.......id/bitstream/123456789/19202/4/Chapter%20II. Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia...... dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya............ http://repository....Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi......... penciuman.... keterampilan... Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan.... Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini............. tradisi... pendengaran. yaitu: indra penglihatan. Unduh 28 Feb 2011....... persentuhan......... Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.... dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi... USU............ Ekosistem hutan bakau bersifat khas......... terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika..........pdf Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.... media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo. sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo.............. salinitas tanahnya yang tinggi.......... Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku .. ...ac......... Pengetahuan ini meliputi emosi....... rasa dan raba.... informasi.. serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut................................ Dari Wikipedia Unduh 28 Feb 2011 Hutan bakau Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut....... baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah.. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak......................................... 2003)...... .. Dari Anonymous.usu....... . 2003).......... dan pikiran-pikiran. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik... Luas dan Penyebaran Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia...... akidah.. pengalaman orang lain....................

hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. dan pantai barat serta selatan Kalimantan. . Melebihi Brazil (1. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang. Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar. Di bagian timur Indonesia. Yakni di pantai timur Sumatra.Luas hutan bakau Indonesia antara 2. 1999).97 ha) (Spalding dkk. bagianbagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan. Pada pihak lain.3 juta ha). Lingkungan fisik dan zonasi enis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas. salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi. terutama di sekitar Teluk Bintuni. atau bahkan dominan pecahan karang.3 juta ha. Nigeria (1. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. Di Indonesia. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah: Jenis tanah Sebagai wilayah pengendapan. yakni yang terletak di tepi sungai. Mangrove di Papua mencapai luas 1. hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua. merupakan mangrove yang terluas di dunia. Terpaan ombak Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan.5 juta hektar. bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya. sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia. Perbedaannya. sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang. Di pantai utara Jawa. 1997 dalam Noor dkk. bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut. terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai.1 juta ha) dan Australia (0. di tepi Dangkalan Sahul. substrat di pesisir bisa sangat berbeda. bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Penggenangan oleh air pasang Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya. Akan tetapi di beberapa tempat.5 hingga 4.

[sunting] Bentuk-bentuk adaptasi Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau. biasa ditemui campuran bakau R. Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.) dan pidada (Sonneratia spp. yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut. kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. Sedangkan bakau R. yang masih tergenang pasang tinggi. Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp. kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain.). Tegakan api-api Avicennia di tepi laut. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis. teruntum (Lumnitzera racemosa). Di bagian lebih ke dalam. Jenisjenis api-api (Avicennia spp. hingga ke pedalaman yang relatif kering. dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha).Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak.). secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove. yang biasanya tumbuh di zona terluar.). stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari . Secara fisik. Bakau Rhizophora apiculata dan R. Sedangkan di dekat tepi sungai. biasa ditemui nipah (Nypa fruticans). yang lebih tawar airnya. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun.). Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp. Perhatikan akar napas yang muncul ke atas lumpur pantai.

) mempunyai akar lutut (knee root). lubang pori pada pepagan untuk bernapas. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul. tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya. mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Kemungkinan lain. Selain itu. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik. Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem. sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon. sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp. kaboa (Aegiceras). Pada pihak yang lain. Perkembangbiakan Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Untuk mengatasi salinitas yang tinggi. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar. api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. seperti Rhizophora mangle. Sementara buah api-api. . Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora). mengingat sukarnya memperoleh air tawar. tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Ketika rontok dan jatuh. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung. diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun. sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. sehingga mengurangi evaporasi dari daun. atau terbawa air pasang. meski tak nampak dari sebelah luarnya. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel. keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok.udara. jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon. Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Pohon kendeka (Bruguiera spp. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. Sementara jenis yang lain. kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya.

Dengan adanya proses suksesi ini. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan. sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove. Hutan bakau pun semakin meluas. Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan. Jika akan tumbuh menetap. zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering. meskipun pada umumnya kurang dari itu. dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau. bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang. hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. Suksesi hutan bakau Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere).Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas. Uraian di atas adalah penyederhanaan. . pasir yang terbawa arus laut. Demikian perubahan terus terjadi. segala macam sampah dan hancuran vegetasi. melainkan secara perlahan-lahan bergeser. dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur. yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai. selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Di wilayah-wilayah yang sesuai. beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya.

......... Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera..... persentase penutupan pohon.. adalah 202 spesies (Noor dkk.... 1999)..... Pengambilan data panjang dan lebar daun dilakukan sebanyak dua kali dengan waktu yang berbeda pada daun setiap tingkat vegetasi (pohon dan belta) yang dijumpai pada tiap plot pengamatadtransek kuadrat..... 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m2 (semai)........Kekayaan flora Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau................ persentase pasang tiap tahun dan jumlah jenis semak dengan masing-masing faktor pembobotnya secara berturut-turut sebesar 22... Kabupaten Lampung Timur..... Data parameter fisika-kimia perairan yang diukur meliputi: suhu...ac. Pengambilan data primer dilaksanakan pada bulan September dan November 2003 di Wilayah Konservasi Way Penet......... Selain itu ekosistem mailgrove juga berperan sebagai penyangga pantai dari abrasi dan perangkap sedimen... Kabupaten Lampung Timur.. Anwar Abstract: Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang unik dail produktif.... Analisis data meliputi: analisis kualitas lingkungan mangrove (Qe) yang diperoleh dari indikator kualitas lingkungan (Qi) yang terdiri dari: asosiasi spesies. Lampung.. Data yang diambil meliputi jumlah vegetasi den 5 an menggunakan transek kuadrat ukuran 10 x 10 m2 (pohon)... anggota dari sekitar 16 suku.ipb...id/handle/123456789/15464 2004 Kondisi Ekosistem Mangrove Berdasarkan Indiltator Kualitas Lingkungan dan Pengukuran Morfometrik Daun di Way Penet. tipe substrat. 1981).. serta analisis . 18 dan 12 (Canter dan Hill. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kualitas lingkungan mangrove di Way Penet.. Propinsi Lampung Author: Sadat.. Berikut ini adalah daftar suku dan genus mangrove sejati... 17.. Dari : http://repository.. Lampung Timur... setiap stasiun dibagi menjadi 3 sub stasiun dan setiap sub stasiun terdiri dari 3 plot pengamatan yang berukuran 10 x 10 m2 (pohon).......... 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m (semai)......... termasuk jenis-jenis mangrove ikutan. Lokasi penelitian terdiri dari 3 stasiun pengainatan.. yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati........... sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia.... Jumlah pengukuran untuk setiap tingkat vegetasi yang ditemukan adalah sebanyak 37 helai daun. salinitas dan pH. Dari jenis-jenis itu... menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik.......... beserta jumlah jenisnya (dimodifikasi dari Tom . Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya..... Karena abrasi dan sedimentasi merupakan salah satu masalah dala~n pengembangan dan peinanfaatan wilayah pesisir bagi perikanan dan kelautan........... Propinsi Lampung berdasarkan indikator kualitas lingkungan mangrove dan menentukan kondisi kesehatan mangrove berdasarkan sebaran ~norfometrikd aun pada tingkat vegetasi pohon dan belta.. Total jenis keseluruhan yang telah diketahui...

Rhizophora mucronata merupakan vegetasi yang dominan... al... Tanah mangrove di Indonesia umumnyaterdiri atas t anah-tanah yang berteksturhalus.Secara umumtanah h utan mangrove merupakantanah aluvial h idromorf. Produksiserasah mangrove berperan penting dalamkesuburan perairan pesisir danhutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. s edangkan daerah-daerah yang berlumpur dangkal didominasi oleh .. Jenis substrat yang ditemukan pada komunitas mangrove Way Penet berupa liat dan liat berdebu.... yang disebut jugatanah l iat l aut (Sukardjo1984)...........m u a ra...... 1 993 dalam Noor et... Tanah mangrove umumnyakaya akan bahan organik...ac... 2003). sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 26-28 "C. liat berlempung... danliat (berukurankurang dari 2?m) (Soil SurveyStaff............ya itu pasir (berukuran 2 mm²50?m)..... mangrove merupakan pemasok bahan-bahan organik s ehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yanghidup pada perairansekitarnya... Teksturtanah akan mempengaruhikemampuan menyimpan dan menghantarkan air... Parameter fisika-kimia perairan...id/handle/123456789/15464 Date: 2004 Unduh 28 Feb 2011 .. Tekstur Tanah Terkstur tanah merupakan salah s usifat t anah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman.. 2009 by ogoy Unduh 28 feb 2011 jam 13...... Dirnana kondisi kesehatan mangrove untuk tingltat vegetasi pohon pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua...... Tekstur tanah adalah s ifat fisis t anah yang berkaitan dengan ukuran partikel pembentuk t anah...15 ANALISIS SISTEM PENDUGAAN TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE (STUDI KASUS DI PANTAI TIMUR SURABAYA) Pertama... sedangkan kondisi kesehatan mangrove di Way Penet berdasarka~l pengukuran morfometrik daun untuk tingkat vegetasi pohon dan belta........ 1 974 dalam Noor et...p a ritd an hamparan lumpur.......... menyimpan dan menyediakanhara tanaman.. Kandungan liat dan debu umunya tinggi. Teksturtanah h utan mangrove umumnyaliat............ipb. URI: http://repository.... Teksturtanah juga dapat didefinisikansebagaisusunan relatif dari tiga kelasukuran partikela norg anik tanah..........O. Besarnya nilai derajat keasaman (pH) yang terukur pada pengamatan pertama adalah 8.. kecuali tanah-tanah mangrove di pulau-pulau karang yang banyak mengandung pasir atau pecahan batu karang.m em iliki kadar garam dan alkalinitas tinggi dan sering mengandung lapisan sulfatmasam atau bahan sulfidik(cat clay).... dan kondisi kesehatan mangrove untuk tingkat vegetasi belta pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua.... debu (berukuran 50?m--2?m)...O...... Pengaruh sifat tanah terhadap mangrove antara lain ditujukan oleh sebagian genus Rhizophora. Kondisi ini menunjukkan adanya proses regenerasi alam yang baik..... moluska dan udang (Davies and Claridge.morfometrik daun.. Kedua... 1 998).. ..... mangrove berperan penting dalamsiklus h idup berbagai jenis ikan... Nilai kualitas lingkungan mangrove (Qe) di Way Penet memiliki kisaran kualitas lingkungan yang sedang.. sedangkan pada pengamatan kedua derajat keasaman (pH) masih tetap 8... k arenalingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk k e dalam rantai makanan.. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesetabilan Ekosistem Mangrove adalah a. Salinitas pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 14-19 960............ Posted December 8th... Jenis vegetasi yang ditemukan di lokasi penelitian lebih didominasi oleh mangrove jenis Avicennia nzarina. suhu yang terukur pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 28-3 1 "C.. sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 23-31 %o.. baik pada pengalnatan pertama maupun kedua adalah rendah.... mempunyai tingkat kematangan yang rendah...... 2003). l iat berdebu danlempung yang berupa lumpur yang tebal dan yang terdapat di bagian tepi-tepi sungai.... Di daerah-daerah dengantanah berlumpur dalam. Secara keseluruhan nilai parameter fisika-kimia perairan pada komunitas mangrove Way Penet masih dalam kisaran yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan mangrove jenis Avicennia marina. Kerapatan semai di lokasi penelitian lebih tinggi dibandingkan kerapatan pohon dan belta. al.....

misalnya Avicennia marina dan Excoecaria agallocha dapat t um buh pada kondisi salinitas tinggi yaitu sekitar 85 ppt (Hilmi. c.Rhizophora apiculata. 2005). namun ada jenis mangrove yang dapat tumbuhp ad a kondisi kadar garam yanglebih t inggi. 1 993). 2005). d. Salinitas Salinitas merupakansuatu indikator yang menunjukkan banyaknya kadar garam yang terlarut dalam air atau kadar garam terlarut dalam air maupun dalam larutan tanah dan merupakan istilah yang menyatakankadar garam yangterkandung dan dinyatakan dalam part perthousend (ppt) (Aksornkoae.distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena kontur yang terjal menyulitkan pohon mangrove untuk tumbuh. 2005) b. Perubahan salinitas akibat p asang surutm e rupakan suatu faktor yang membatasi pe nyebran jenis-jenis mangroveterutama penyebaransecarahorisontal. Fisiografi pantai dapat mempengaruhikomposisi. Pasangsurut berhubungan denganlamanya penggenangan yang berpengaruh pada jenis vegetasi mangrove. h al ini disebabkankarena adanya pengaruh dayatarik bulanlebih k ecil dari matahari (Istomo. Dilaut t erbukaketinggian air pasang tidak l ebih dari 0. distribusi spesies dan lebar hutan mangrove. dimana jumlah Cl yang terlarut d alam air laut ini rata-rata 55%. Di areal pesisir pantai. Jenis garam yang paling banyak l arut adalah NaCl. Pasang yangterjadi di kawasan mangrove sangatme ne ntukan . Hal ini disebabkankarena pantailandai menyediakan ruang yanglebih l uas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi spesiesme nja d i semakin luasd an lebar. Keberadaan dan fluktuasi pasangsurut akan mempengaruhitingkat s alinitas airlaut. Air pasangterjadi duakali dalamsatuhari. yang akhirnya memberikan pengaruh t erhadap perubahan dan penyebaran organisme mangrove secara vertikal (Hilmi. pasangsurut dapat digunakan untuk membedakan zonasi pantai dankomunitas h ewan yang ditemukan di wilayah h utan mangrove (Pariwono. 2005) Salinitas mempunyai fungsi penting untuk menghilangkantumbuhanlain yang menempel pada mangrove yangtidak mampu beradaptasi padakondisi air yang mempunyaikandungan NaCl (Hilmi. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaru Pasangsurut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Pada pantai yang terjal komposisi. bilatanah banyak mengandung pasir ataukarang didominasi oleh Rhizophora stylosa (Hilmi.5 m tetapi dilaut yang dangkal pada umumnya mencapai lebih dari3 meter. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaruhi besarankisaran pasut. 1999). Pasang Surut Pasang surut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Fisiografi Pantai Kondisi fisiografis pantai di Indonesia yang berbeda-beda menyebabkan perbeda anhutan mangrove dari satu tempat k etampat l ainnya. Pantai yang landai memilikikomposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika dibandingkan de ngan pantai yang terjal. Pasangsurut juga memberikankontribusi bagi perubahan masa antara airtawar dan air asin. Mangrove dapat hidup dan tumbuh subur di pesisir dengan kadar salinitas a ntara 10 ± 30 ppt. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang datar dansejajar dengan arah angin (Sukardjo1984). Hampirsemua jenis mangrove merupakan jenis yang toleran terhadap garam. Lebih l anjut Richards (1946) dalam Sukardjo (1984) menyatakan bahwakandungan garam atau salinitas s angat menentukankemampuantumbuh dan reproduksi mangrove. 1 992).

Oleh karena itu tidakm em un gkinkan pembentukan hutan mangrove yang sangat luas (Sukardjo. pertumbuhannya baik padasuhu 21 ± 260C. s erta Xylocarpus granatum pada suhu 280C (Aksornkoae. Angin juga apat meningkatkan evapotranspirasi bagitanaman. Nutrien-nutrien yang berasal darihasil dekom posisiserasah maupun yang berasal dari runoff daratan danterjebak dihutan mangrovekemudian akanterbawa oleh arus dan gelombang ke laut pada saat surut (http//wap.id). Angin ribut akan mengakibatkan impending pertumbuhantanaman dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal (Aksornkoae. 1993). pada suhu 270C.000 ±3. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur walaupun dalam areal yanglebih k ecil.. Terjadinyasedimentasi dan padatanpadatan pasir ini merupakansubstrat yang baik untuk menunjang pertumbuhan mangrove.800kkal/m2/hari.Ce riops sp. Iklim Mangrove merupakantumbuhan yang dalamhidupnyatidak t erpengaruh t erhadap iklim artinya bahwa mangroveterdapat di areal beriklim basah. begitupun Xylocarpus s p. Menurut Kennish (1990) mangrovetumbuh s ubur padakonsisi daerah t ropik yang bersuhu di atas 200C. t etapi iklim yang bersifat mikrosepertikondisicahaya.ac. s eperi diSulawesiSelatan dan Tenggara. yang terbawa gelombang dan arus sampai menemukansubstrat yangsesuai untuk menancap dan akhirnyatumbuh (http//wap. Cahaya juga berpengaruh terhadap prosesrespirasi.ya itu antara 26 ± 280C. Keberadaan iklim akan berperan terhadap perkembangan tanaman. 1993).Kalimantan dan Irian Jawa. bermusim dankering. f. Kondisitersebut bukan disebabkan oleh iklim. untuk Avicennia marina akan memproduksi daun-daunsegar padasuhu18 ± 200C dan jika suhu dinaikkan lagi maka produktifitas daun-daun baru akan rendah. Dengankeadaan iklim demikian ini mangrovetumbuh s ubur dan berkembang dengan baik. c urah h ujan dan angin mempunyai pengaruh yangsangat k uat terhadap kehidupan ekosistem mangrove. Intensitas c ahaya optimal yang penting bagi pertumbuhantanaman mangrove adalah 1 .ipb. Angin berpengaruh t erhadap mangrove untuk proses penyerbukan danseed dissemination. . dan aliran permukaan dan aliran bawah t anah. s uhu. mempunyai kisaran suhu yang lebih tinggi dalam prosesp rod uktifitasd a un-da un segar. Suhu juga merupakan faktor penting bagi proses fisiologiseperti proses fotosintesis dan respirasi. Gelombang dan Arus Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove. 1 993). Gelombang dan arus mempengaruhi dayatahan organisme akuatik melaluitransportasi nu trien-nutrien penting dari mangrovekelaut.Secara umumcurah h ujan yang normal bagikehidupan jenis mangrove sekitar 1500 ± 3000 mm/tahun (Aksornkoae. Gelombang dan arus juga berpengaruh l angsungterhadap distribusi spesies misalnya buahatau semai Rhizo phora sp. 1993).Excoecaria agallocha dan Lumnitzera sp. Mangrove umumnya merupakan tumbuhan berhari panjang yang memerlukan intensitas c ahaya yangtinggi. Pengaruh t idak l angsung dari gelombang dan arus adalah t erhadapsedimentasi pantai dan Pem bentukan padatan-padatan pasir di muarasungai. Hal ini menyebabkan zona pantaitropis merupakansuatuhabitat yang ideal bagi ekosistem mangrove (Aksornkoae.id). e. Di Indonesiasebagian besar mangroveterdapat dikawasan dengancurah h ujantahunan dan bulanan yangtinggi.fisiologi dan struktur fisikd a ri tanaman mangrove. Curah h ujan me rupakan faktor penting bagi perkembangan dan penyebaran daritanaman danhewan. s alinitas.ac. Cahaya merupakansalah s atukomponen yang vital bagi proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman hijau.ipb.zonasitumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi denganekosistemmangrove . 1 993). Pada mangrove jenisRhizophora stylosa. Mangroveterdapat pula dikawasan beriklimkering. Curah h ujan juga mempengaruhi faktorlingkunganlainnyasepertisuhu air. melainkan oleh k enyataan bahwakondisi pantai dantidak adanyasungai besar seperti diSumatera. hewan dan faktor fisik lain seperti tanah dan air (Aksornkoae. 1984). Pa dalokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang besar biasanyahutan mang rove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan hutan. Bruguiera sp. Hal initidak berarti bahwa mangrovetidak dapat berkembang dikawasan beriklimkering. transformasi.

.....hidup padatanah dengan nilai pH berturut-turut adalah 6. (1978) dalam Hilmi (2005) melakukan pene litiantentanghal t ersebut dan menujukan bahwa oksigenterlarut diluarhutan mang rove (4... a . yaitusekitar 200 ribuhektar/tahun. industri dan pertanian......g..Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayahpesisir Sumatera.. Hal t ersebutDisebab kan oleh k egiatankonversi menjadilahantambak.4 mg/L)lebih t inggi dibandingkan dengan di dalam mangrove (1.. Luas penyebar an mangroveterus mengalami penurunan dari 4......6 dan 6... Pada arealya ng tertutup sekitar 2....... estimasi yang paling dapat diandalkan berasal daritahun1993... Kegiatanlain yang menyebabkankerusakanhutan mangrove adalah pembuka anlahan-lahantambak untuk budidaya ikan... ..... k egiatan-kegiatankomersial...p asang surut dan arus.9 sampai dengan 2. dan Avicenniasp.7 ±3... Aksornkoae et... pencemaran.g elombang.. penebanganliar dansebagainya (Dahuri........ Kecenderungan penurunantersebut mengindikasikan bahwaterjadi degradasihutan mangrove yangcukup nyata. 1 989).4 mg/L).... atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia. s ementara adanya asam-asam mineral bebas dan asamkarbonat akan menaikankemasaman (Saeni.2.... Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalahme m iliki keragaman jenisya ng tertinggi di dunia... O ksigen terlarutjug a merupakansuatu bagian essensial yang mempe ngaruhitejadinya proses dekomposisi.... Mangrove menggunakan oksigenterlarut s ebagai faktor pengontrol bagikomposisi jenis dan distribusinyaserta pertumbuhannya. Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah membentuk s uatu area dan zonasi bagitanaman.............. hidroksida dan bikarbonat akan menaikankebasaan air. al...Selain itu meningkatnya permintaan terhadap produksi kayu menyebabkan meningkatnya pula e ksploitasi berlebihan terhadap mangrove (Dahuri...........25 jutaha (Spalding et. Karena fungsi dan manfaatnya yang begitu besarsehingga mendorong masyarakat untuk memanfaatkanhutan mang rovesecara membabi buta yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan hutan mangrove tersebut (Nuhman..4 mg/L. 2004). 2002)... Kerusakan mangrove bisasebababkan oleh beberapa faktorseperti aktivitas manusia. Tingkat oksigenterlarut di dalam dan diluar mangrove sekitar 4..... Oksigen Terlaru Oksigenterlarut adalah s esuatuhal yangsangat penting bagi keberlangsungan hidup tanaman dan hewan di hutan mangrove khususnya dalam prosesrespirasi dan fotosistesis. 2002).. 2002)..... Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah-ubah s elama 24 jam. Estimasiterhadaphutan mangrove di Indonesia dipenuhiketidakpastian dansudah k adaluwarsa.8 mg/L.... Menurut World Mangrove Atlas dalam Irwanto (2006).24 jutahektar padatahun1987.. Komunitas Rhizophorasp.. ketika ituluas h utan mangrove di negara ini mencapai 4...1± 3. Bersumber darikeinginan manusia untuk mengkonversihutan mangrove menjadilahan perumahan.. Adanyakarbonat.pe mb ukaan lahan..25 jutahektar padatahun1982 menjad isekitar3.. dantersisaseluas 2... A ktivitasma n usia yang berupa kegiatan penebangan liar.. h..... Penyebab dan TingkatKerusakan Mangrove Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai75% daritotal mangrove di Asia Teng gara. yang teren dah pada malam hari dan tertinggi pada siang hari.......50 jutahektar padatahun 1993. Nilai pH baku mutu untuk perairanlaut berkisar antara6-9........ Nilai pH Nilai pH suatu perairan mencirikankeseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ionhidrogen dalamlarutan.. sedimentasi...... Kalimantan dan Papua....p emb uanga n limbahme mbe rikan pengaruhatau tekanan terhadap habitat mangrove.... Kegiatanterakhir ini memberikankontribusi besar dalam pengrusakan eksositem ini (Dahuri..

ada beberapa kecamatan dan desa yang tidak memiliki jalur hijau seperti Kecamatan Sukra. Sejak tahun 1999 kondisi luas hutan mangrove di Indramayu terus mengalami penurunan yang cukup signifikan (45. Metode penelitian yang dilakukan secara umum adalah metode studi kasus. 2010 Iwang Gumilar. ekonomi dan sosial.ac. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskripsi. formulasi strategi dan. Pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu secara umum terdiri dari hutan mangrove binaan dan hutan mangrove alami. Selanjutnya. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil identifikasi dan inventarisasi aspek fisik kimia lingkungan di lokasi sekitar hutan mangrove di Indramayu menunjukkan bahwa secara umum tanaman mangrove layak untuk ditanam dan dikembangkan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu karena dari sejumlah parameter fisik kimia lingkungan yang ada hampir seluruh parameter memenuhi kriteria kesesuaian. melakukan identifikasi. Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) dan AHP (Analitical Hierarcy Process). inventarisasi dan analisis kondisi ekologi. dan sosial ekonomi budaya masyarakat di sekitar hutan mangrove sebagai komponen keberlanjutan dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove serta merumuskan strategi kebijakan pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu. Balongan. Perhutani. Sindang. sosial dan ekonomi. Karangampel dan Krangkeng dengan total desa sebanyak 21 desa. yaitu tahap pertama. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahapan pokok. Dalam faktanya tidak seluruh wilayah pesisir Kabupaten Indramayu ada jalur hijaunya.Dari : http://fpik. Dinas Lingkungan Hidup. tahap kedua. Etty Riani. LSM. Aspek yang dikaji meliputi aspek ekologi. Teknik pengambilan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling terpilih (purposive sampling). Potensi yang dapat dimanfaatkan di . tahap ketiga penentuan prioritas kebijakan pengelolaan. Hutan mangrove binaan merupakan hutan mangrove yang kondisinya perlu mendapat perhatian serius mengingat tingkat kerusakannya sudah sangat mengkhawatirkan.unpad.id/archives/515 Unduh 7 Maret 2011 STRATEGI PENGELOLAAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN (Studi Kasus di Kabupaten Indramayu) Oleh: admin February 25. Juntinyuat. Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji kondisi ekologis hutan mangrove. Cecep Kusmana. perguruan tinggi. Penelitian ini dilakukan di kecamatan kecamatan pesisir yang ada di Kabupaten Indramayu. Pertamina. Responden terpilih meliputi stakeholder terkait seperti masyarakat. dan PT. untuk formulasi strategi pengelolaan dan penentuan prioritas kebijakan pengelolaan masing-masing menggunakan analisis SWOT (Strengts Weaknesses Opportunities Threats).34 %). Sumardjo Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan.

Memanfaatkan potensi lahan wilayah pesisir untuk dijadikan hutan mangrove 2. Umumnya pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan tangkap ABK merupakan masyarakat yang termasuk kategori miskin.000. Sementara pembudidaya tambak dan nelayan juragan umumnya pendapatannya di atas garis kemiskinan. Dengan kata lain. satwa dan tambak. spesies mangrove yang dominan ada di Indramayu daratan hanya ada dua jenis. kayu baker.500 sebagai indikator pembanding untuk menentukan kemiskinan penduduk. keberhasilan pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu sangat dipengaruhi oleh kriteria sosekbud dan alternatif usaha silvofishery.. Jenis lainnya tidak ditemukan di Indramayu daratan. sebesar Rp 769. konservasi dan terakhir hutan produksi. kemudian diikuti fisik kimia dan terakhir biologi. ekonomi dan budaya . berkelanjutan.Indramayu daratan hanya sekitar 10. kemudian diikuti wanawisata. Memanfaatkan dukungan peraturan dan partisipasi stakeholder lokal dan pusat dalam berbagai bentuk untuk melestarikan hutan mangrove di wilayah pesisir 3. ekologis. yaitu Avicennia alba dan Bruguiera gymnorrhiza. Untuk alternatif yang paling penting secara berurut adalah silvofishery. Hasil valuasi ekonomi menurut pendekatan manfaat langsung dan opsi menunjukkan bahwa nilai ekonomi lingkungan dari ekosistem hutan mangrove di Indramayu daratan sekitar Rp. Berdasarkan Upah minimum propinsi dan kebutuhan hidup minimum penduduk di Propinsi Jawa Barat khususnya untuk Kabupaten Indramayu tahun 2008 menurut SK Gubernur Jawa Barat No.71 persen. Kata Kunci: strategi. Ini artinya keragaman jenis tanaman mangrove di Indramayu daratan sangat rendah. 880. 561/kep 684Bangsos/2008. perikanan tangkap. sosial. Sementara itu. Melakukan pemberdayaan / pembinaan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove dalam kegiatan ekonomis dan pelestarian lingkungan Berdasarkan perhitungan nilai Eigen (Eigen Vector) diperoleh kriteria yang paling penting secara berurut adalah sosekbud.yang terdiri dari manfaat untuk bahan bangunan.129. Memanfaatkan hutan mangrove pada zonasi tertentu untuk dijadikan wilayah wanawisata (ecoturism) 4. Dengan menggunakan matriks posisi SWOT strategi yang harus dijalankan adalah strategi S-O pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu diarahkan kepada: 1. mangrove.833.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful