Kronologis Penelitian Tesis ku : Menghadap Prof Soemarno pada hari Senin, 27 Desember 2010, ditemani bu Hany yang sudah

minta tandatangan siap ujian proposal tesis. Saya diminta langsung ujian proposal tesis hari Kamis/ Jum’at 30/ 31 desember 2010. Tidak mungkin. Ngebut belajar, cari masalah, tujuan dan metoda. Sesuai dengan arahan Prof Soemarno, hanya buat 2 masalah, 2 tujuan dan 2 metoda. Karakteristik fisik/ vegetasi hutan mangrove dan Strategi arahan terbaik [pengeloaan hutan mangrove. Analisis Vegetasi berdasar buku praktikum bu Endang + analisis SWOT dengan Evaluasi Faktor Internal Eksternal + matrix EFAS IFAS. Hari Senin tgl 10 Januari 1011 dengan membawa draft proposal tesis, satu untak Prof Soemarno dan satu untuk Dr Nuddin. Dr Nuddin minta dimasukkan sosek karena suatu model pengelolaan akan gagal tanpa melibatkan social ekonomi masyarakat. Saran Prof Soemarno : segera hub dosen + penguji ( Amien Laksono + Imam Hambali ). Berupa USULAN PROPOSAL TESIS 1 Hari Jum’at, 14 Januari 2011 ke perpus S2 + perpus biologi + ambil format penundaan pembayaran. Ketemu m. Santi. Ternyata harus dengan melampirkan Hasil Ujian TOEFL, KACAU APALAGI DITAMBAH PENYAKIT MALAS Tanggal 10 Februari Bintek di Grand Palace malang, kusempatkan ke kampus ngurus persetujuan pencicilan SPP. Ternyata belum jadi, untungnya tetap bias regestrasi Tanggal 16 Fabruari 2011 ke malang dengan suami ngurus SPP q. Hari ini ke Pasca, truz ke Rektorat lantai 5, truz bayar di Mandiri dan terus ngurus Permohonan Keringanan SPP. Hari ini adik Yanuar masih dir s, tabrakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011 Maulid Nabi. Kujalani hidup ini…lagi2 tertunda!!! HARUSNYA BUKAN ALASAN, TAPI KEMBALI2NYA AKU SING NGURUS KABEH YA ALLAH MAHA TAHU…. HARI SABTU, 19 FEB MAUNYA TOEFL IDP JUGA GAGAL….GITU AKU YO DIMARAH2I DI RS…..YOK OPO SE KAREPE Tanggal 23 Feb aku konsultasi ke p Nuddin, banyak perbaikan truz ke perpus pusing berat, truz k Pas Maunya Sabtu 26 Feb Toefl--> TERHAMBAT LAGI M.ABADI PRESENTASI KE SURABAYA !!!

-

-

-

-

-

=============================================================== Buka : http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/analisis-vegetasi-hutan-alam.pdf =============================================================== Dari PENGHITUNGAN BIOMASSA- Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon - Dandun Sutaryo - Wetlands International Indonesia Programme – 2009 - Dipublikasikan pada Mei 2009 oleh : Wetlands International Indonesia Programme Jl. A. Yani 53. BOGOR :
DBH : Diameter Breast Height, diameter setinggi dada atau kurang lebih 1.3 m dari permukaan tanah. Metode mengukur pohon dalam penelitian ekologi hutan, penelitian biomassa atau pendataan potensi hutan. GBH : Girth Breast Height. Keliling pohon setinggi dada. Variasi lain dalam pengukuran pohon selain DBH. Dalam prakteknya pengkuran GBH lebih sering dilakukan dan hasil nya dikonversikan menjadi DBH. Basal area : Luas batang pohon yang dihitung dari DBH. Luas keseluruhan basal area per satuan luas menunjukan nilai dominansi dari tumbuhan tersebut. Dekomposisi : Penguraian. Dalam hal ini penguraian bahan organic menjadi bahan anorganik melalui proses fisika, kimia atau biologi. Pembusukan bahan organic diamati. Densitas : Kerapatan. Nilai yang menunjukkan jumlah individu per satuan luas . Densitas biomassa : Biomass density, jumlah biomassa per satuan luas. Expansion factor : suatu factor atau nilai yang menggandakan suatu jumlah nominal tertentu (volume atau biomass), yang mencakup 1 atau beberapa bagian pohon ke jumlah nominal lainnya yang mencakup keseluruhan pohon BEF : (Biomass expansion Factor) Faktor yang menggandakan biomassa batang ke biomassa keseluruhan pohon. VEF : Volume expansion factor GPG LULU CF : Good Practice Guidance for Land Use, Land-Use Change and Forestry Herba : Tumbuhan dengan batang basah atau tidak berkayu. Umumnya berupa tumbuhan semusim. Pancang : Tingkatan pohon setelah tingkatan semai (seedling). Pada komunitas hutan tropic basah berupa pohon muda dengan diameter 2 cm hingga sekitar 8 atau 10 cm. Pada iklim yang lebih kering diameter 10 cm mungkin tidak lagi tergolong sapling karena rata-rata diameter pohon di komunitas tersebut lebih kecil. Tegakan : komunitas tumbuhan (pohon) pada area tertentu.

Biomassa adalah total berat atau volume organisme dalam suatu area atau volume Ter tentu (a glossary by the IPCC,1995). Biomassa juga didefinisikan sebagai total jumlah materi hidup di atas permukaan pada suatu pohon dan dinyatakan dengan satuan ton berat kering per satuan luas (Brown, 1997).
=================================================================================

Dari : METODE ANALISIS AKAR MASALAH DAN SOLUSI - Ari Harsono P. Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indosesia, Depok 16424, Indonesia - E-mail: ariharsono@yahoo.com - MAKARA, SOSIAL
HUMANIORA, VOL. 12, NO. 2, DESEMBER 2008: 72-81 - : .Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (MAAMS) ini menyajikan suatu cara berpikir yang diperagakan dengan tata-alir (flow chart), disertai dengan beberapa contoh. Penerapan MAAMS membantu penggunanya untuk berpikir induktif maupun deduktif, kualitatif maupun kuantitatif, lebih mendalam dan menyeluruh, serta mempermudah kerjasama inter, multi, atau transdisiplin. Berikut ini adalah langkah-langkah menjalankan MAAMS: a. Rumuskan suatu masalah (sosial dan kemanusiaan) dalam bentuk yang dapat diaju kan pertanyaan “apa sebab-sebabnya.” Misalnya, apa penyebab timbulnya perkelahian pelajar; mengapa kualitas SDM kita rendah, mengapa Malaysia berani mengincar Amba lat, apa sebab penularan HIV/AIDS, juga pemakaian narkoba yang semakin meluas? Jenis pertanyaan yang mengarah pada solusi ini harus didukung fakta. Jika dari judul (artikel, makalah, skripsi, tesis, disertasi) tidak dapat diajukan pertanyaan (“Apa Sebab nya” atau “Mengapa”), identifikasi lebih dulu alasan-alasan atau fakta-fakta yang biasa nya ditulis sebagai latar belakang masalah. Terhadap alasan-alasan atau fakta-fakta inilah diajukan pertanyaan mengapa atau apa sebab-sebabnya. b. Identifikasi sebab-sebab negatif yang paling lang-sung dari X. Misalnya ada 4 faktor, ditandai dengan Sa1, Sb1, Sc1, Sd1. (S=sebab; abcd=masing-masing faktor; angka 1=tahap pertama penelusuran sebab). Sebab negatif yaitu suatu keadaan salah-buruk yang perlu diatasi atau diperbaiki; sedangkan paling langsung yaitu sebab yang tidak diantarai oleh sebab lain. Dalam fenomena sosial hampir tidak ditemukan adanya satu faktor yang menyebabkan satu fakta lain, melainkan beberapa faktor sekaligus, baik secara kausal maupun korelasional. Di sinilah muncul kebutuhan untuk berpikir dan berkerjasama secara interdisiplin, multidisiplin, atau transdisiplin. c. Terhadap masing-masing sebab (faktor) diajukan pertanyaan “benarkah?” dalam arti apakah ia memang menjadi sebab dari masalah X. Untuk itu lebih dulu dilakukan pengkajian atau penelitian, baik secara logis (formal) ataupun empiris (material), kualitatif maupun kuantitatif, induktif maupun deduktif (Hayon, 2005). Jika hasilnya benar, tahap kedua dari penelusuran sebab dapat dilakukan, yang berarti mencari sebab-sebab dari setiap sebab pada tahap pertama (Sa1, Sb1 dan seterusnya). Jika hasilnya salah, sebab tersebut diabaikan dan kembali ke awal dengan mengidentifikasi kemungkinan sebab lainnya. Pada langkah ketiga inilah keseluruhan pengetahuan tentang kebenaran dan pendekatan terhadap masalah diterapkan secara kritis.

secara sadar atau tidak. Kedua. f. publikasi. solusi dasar ditindaklanjuti lagi dengan evaluasi. Mungkin ini terjadi karena keengganan. e. penelusuran sebab berhenti sebelum sampai pada akar masalah/akar penyebab.d lagi tapi a. dan tentu saja layak untuk dijatuhi sanksi hukum. Kalangan akademis pun bisa tanpa sadar melakukan hal yang sama dengan mengemasnya sebagai topik-topik penelitian dan diskusi. demikian pula bila tanggung (Dua tahap inilah yang sering terjadi sehingga menimbulkan perbincangan yang berkepanjangan. dan angka kredit kenaikan pangkat.c. Pertama. Kerjasama media massa dan ilmuwan bisa tergelincir melakukan “play acting at science” yang memunculkan ilmuwan selebritis). dan dasar/jangka panjang. Mengenai solusi. kurang mampu. di dalam flow chart dibedakan menjadi tiga: darurat/permukaan/jangka pendek. Selanjutnya. Jika identifikasi sebab-sebab dilakukan hanya sampai permukaan saja. dan lalu dipotong-potong menjadi kemasan topik-topik kecil yang sangat banyak jumlahnya. Uraian di atas memperlihatkan bahwa MAAMS merupakan metode yang memiliki sifat kualitatif. dan tema jurnal yang mungkin “sekadar” menambah penghasilan. Meski demikian keseluruhan contoh diharapkan sudah dapat menjelaskan penerapan MAAMS TATA ALIR METODE AAMS MASALAH SOSIAL (“X”) APA SEBABNYA ? .c. dan pada akhirnya a dan b sebagai sebab terdalam atau akar masalah (a dan b menunjukkan bahwa sebab dasar terdiri lebih dari satu sebab). Analisis yang tidak tuntas ini. tanggung/jangka menengah. dimanfaatkan oleh media massa secara komersial –komodifikasi masalah– berupa talk show dan rubrik opini. proses diulang dari tahap sebelumnya atau dari awal lagi. Berikut ini adalah contoh-contoh penerapan metode MAAMS yang. Bedanya adalah bahwa kemungkinan sebab (faktor) yang diidentifikasi menjadi semakin sedikit karena adanya kesamaan sehingga bukan a. termasuk dengan penelusuran ulang sebab-sebab. Solusi individual relatif mudah dilaksanakan. kemalasan. atau kurang jujur. Jika syarat ini tidak terpenuhi. mengingat keterbatasan penulisan. Oleh karena itu untuk memenuhi syarat solusi sistemik ini. yang dalam penerapan rincinya (tahap pembuktian/penelitian) sangat mungkin membutuhkan analisis data kuantitatif serta penerapan logika formal dan logika material. khususnya penelitian empiris. tidak sepenuhnya menerapkan langkah ke-3. maka solusinya pun bersifat permukaan.b. apa yang dipandang sebagai akar masalah tersebut dapat secara sekaligus dicarikan solusi individual/ personal/mentalistik –berupa imbauan pada nurani atau niat seseorang– maupun solusi sistemik/ struktural/institusional/legalistik –berupa UU atau peraturan dengan sanksi hukum. terdapat persetujuan dari peserta yang terlibat perbincangan. Tahap kedua dan seterusnya (tahap ke n) caranya sama seperti tahap pertama. Catatan: Cukup sering terjadi. rumusan sebab atau akar masalah hendaknya memperlihatkan perilaku nyata yang cukup mudah diamati.d. Penelusuran dapat dihentikan dengan memperhatikan dua syarat. deduktif maupun induktif.b. sedangkan solusi sistemik lebih sulit dilaksanakan. Hanya bila akar masalah teridentifikasi maka solusi yang mendasar dapat dirumuskan. tetapi tidak mengatasi masalah secara “tuntas”.

proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus... Untuk jelasnya dapat dilihat pada : Gambar 1.. Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi........ Sc2 DAN SETERUSNYA Sa(n)..... Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan........... dan bisa langsung dicari solusi individual & sistemiknya sekaligus ** Sebab yang ditelusuri adalah sebab yang negatif Dari : JURNAL REVIEW “Chatlyn” ..... yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik.. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus.. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada. Sbn) harus bisa disepakati.. Menurut Boulton.. Sc1........n SEBAB DASAR/AKAR MASALAH*) YA SOLUSI DASAR * Akar Masalah (San.SEBAB (SEBAB)NYA : Sa1 Sb1 Sc1 Sd1 BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : . Sb2..... Proses Analisis Kasus Mengetahui Strategi Perusahaan Jelaskan Situasi ....... Sb(n) HINGGA SEBAB TERDALAM/ ..ANALISIS STRATEGI DALAM MENGHADAPI ABAD 21 A.II BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : .. YA / TIDAK SOLUSI TANGGUNG APA SEBAB DARI : Sa2... YA / TIDAK SOLUSI DARURAT APA SEBAB DARI : Sa1. Sd1 SEBAB (SEBAB)NYA : Sa2 Sb2 Sc2 ...... dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah.. menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi. Sb1..

Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau. .ISSN : 1829-5460 Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon.Evaluasi Situasi Tentukan dan Evaluasi lingkungan PELUANG dan ANCAMAN perusahaan Tentukan dan evaluasi lingkungan KEKUATAN danKELEMAHAN perusahaan Analisis masalah yang perlu mendapat perhatian Tentukan alternatif dan pilihan strategi Cari pemecahan masalah Untuk jelasnya. Kerangka Formulasi Strategis =============================================================== Dari : STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*). Tanjung Sekodi. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning (QSPM) Matrix Gambar 2. Bahan yang diperlukan adalah : aquades. Nursal Dan Supriyanti . pancang. alkohol 70 %. soiltester dan botol semprot. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Matrik Evaluasi Faktor Eksternal Faktor Internal (EFE) (IFE) 2.Diterima 17 April 2004. TAHAP ANALISIS MATRIK MATRIK TOWS INTERNAL EKSTERNAL 3. gunting. Pangkalan Batang. meteran. parang. Disetujui 20 Juni 2004 Jurnal Biogenesis Vol. Selat Baru dan Jangkang. 1(1):26-30. 2004 . tali plastik. Ketam Putih. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. Pekanbaru 28293 . sedangkan alat yang dipakai ompas. thermohigrometer.Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau . kertas koran. handrefractometer. Bantan Air.

Pada tiap lokasi diukur parameter rlingkungan yang meliputi salinitas.htm www. . Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek. PWK. 1974). suhu air.marketingteacher.com/swot. kadar organik dan tekstur tanah. Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada. MSP (1) dan Ir. suhu udara.x 100% Kerapatan seluruh jenis Jumlah plot yang ditempati suatu jenis Frekwensi =----------------------------------------------jumlah seluruh plot Frekwensi suatu jenis Frekwensi Relatif = -------------------------------------. 2Alumni Jurusan. (1) Debby Dayusita.x 100% Frekwensi seluruh jenis Jumlah Basal Area suatu jenis Dominansi = ------------------------------------------Luas area contoh Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi suatu jenis Dominansi Relatif = ----------------------------------.org/ActionGuide. pH. Fak.html Dari : Arahan Pemanfaatan Lahan Kawasan Rawan Bencana Longsor SSWP Ngantang Kabupaten Malang. secara purposive sampling. Agus Dwi W.mindtools. Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herba rium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986).Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg. Dibuat 2 buah transekpada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telahditetapkan) . lic. Ir. Teknik UB.htm www.reg. (2).rer.com/Lessons/lessom_swot.justassociates.. kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling ba tang setiap individu tersebut. Teknik UB. Fak. Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------luas plot Kerapatan suatu jenis Kerapatan Relatif = --------------------------------------. Budi Sugiarto. PWK. 1 Staf Dosen Jurusan.x 100% Dominansi seluruh jenis Nilai Penting = FR + KR + DR =============================================================== www.

Dinas ESDM serta Kabid Linmas Dinas Kesbang Linmas. Metode analisis kuantitatif diterapkan pada analisis tingkat kerawanan longsor.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pemanfaatan lahan sebagai upaya pengurangan resiko bencana longsor. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. Kabupaten Malang. Masing-masing faktor strategis yang diperoleh dari analisis potensi dan masalah dilakukan perhitungan terhadap bobot dan ratingnya dalam matrik IFAS EFAS.714 . Penelitian ini dilakukan tahun 2007-2008 di wilayah SSWP Ngantang. Matriks IFAS FAKTOR STRATEGIS KEKUATAN Keberadaan kawasan vegetasi permanen sebagai penutup lahan BOBOT 0. ahli ekologi. Bagaimana strategi pemanfaatan lahannya? Untuk menentukan arahan pemanfaatan lahan. Arahan pemanfaatan lahan menggunakan literatur Permentan No 47/2006. Kepala Kecamatan Pujon. Penentuan strategi pemanfaatan lahan Masing-masing bobot aspek kinerja kawasan ditentukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process berdasarkan pendapat ahli yang terdiri dari ahli tata ruang. (iii) Menentukan strategi pemanfaatan lahan berdasarkan aspek penggunaan lahan. Guna lahan yang tidak sesuai akan diberikan arahan pengaturan penggunaan lahan dilengkapi dengan pengendalian longsor secara mekanis. Hasil analisis SWOT dan IFAS EFAS. (ii) Mengevaluasi kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor dengan teknik intersect overlay dengan GIS. Pembobotan didasarkan jawaban para responden dan diolah menggunakan prinsip metode AHP.2. Analisis tingkat kerawanan bencana longsor dan analisis kesesuaian penggunaan lahan menggunakan alat bantu sistem informasi geografis dengan perangkat lunak AutocadMap versi 2004 dan ArcView versi 3. kondisi kinerja kawasan rawan bencana longsor berada pada kuadran IV yang berarti perlu penerapan strategi diversifikasi untuk mengatasi ancaman dan mencapai peluang.238 RATING 3 BXR 0. Bobot masing-masing faktor diolah dengan menggunakan software Expert Choice. Bagaimana kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor? 3. yaitu : 1. sosial. Langkah-langkah penelitian yaitu : (i) Mengidentifikasi tingkat kerawanan longsor dengan teknik ranking overlay secara aritmatik dengan GIS. diperlukan strategi yang dihasilkan melalui analisis IFAS EFAS. maka dapat dihasilkan tiga rumusan masalah. asisten Perhutani. Kasembon. Bagaimana kondisi kerawanan longsor pada wilayah penelitian? 2. sedangkan dalam analisis SWOT menggunakan metode AHP dengan alat bantu software Expert Choice untuk menentukan bobot berdasarkan pendapat para ahli. Ngantang. Strategi pemanfaatan lahan diarahkan berupa diversifikasi tanaman dan diversifikasi usahatani. ahli sosial ekonomi. ekonomi dan kelembagaan dengan analisis SWOT dan IFAS EFAS. Tabel 10. analisis kesesuaian penggunaan lahan dan analisis SWOT dengan IFAS EFAS. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Longsor dan Pedoman Kehutanan Indonesia. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut.

043 0.476 0.207 0.128 0.FAKTOR STRATEGIS mencapai luas 43.039 0.162 0.043 0.039 1.054 0.022 0.079 0.58% Adanya kepedulian dalam kehidupan masyarakat Perkembangan sektor peternakan berpotensi meningkatkan pendapatan Produktivitas pertanian dari tahun ke tahun meningkat Sudah adanya badan penanganan bencana untuk tiap-tiap kecamatan di bawah koordinasi pemerintah daerah Masyarakat cukup sigap dalam penanganan bencana yang bersifat lokal Adanya pemberdayaan kelompok tani dan berdirinya koperasi di masingmasing kecamatan TOTAL KELEMAHAN Ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan tingkat kerawanan longsor mencapai 51% Tekanan penduduk terhadap lahan tinggi Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan Ketergantungan penduduk terhadap lahan tinggi Tingkat pendapatan perkapita masyarakat di SSWP Ngantang rendah Inovasi petani rendah Lemahnya penegakan hukum dan peraturan TOTAL Sumber: Hasil analisis (2008) BOBOT 0.162 0. Matriks EFAS FAKTOR STRATEGIS PELUANG Adanya sosialisasi yang diberikan LSM terkait kondisi kebencanaan di SSWP Ngantang SSWP Ngantang merupakan salah satu sentra pengembangan kawasan hortikultura di Kabupaten Malang dan melayani perdagangan hasil pertanian skala regionalnasional BOBOT RATING BXR 0.238 0.383 0.021 0.021 0.237 0.086 0.069 3 0.021 0.054 0.104 3 0.117 0.129 0.066 0.044 RATING 3 3 3 3 3 3 BXR 0.312 .063 0.039 1 2 3 2 2 3 1 1 0.149 Tabel 11.064 0.132 1.

063 0.063 0.383 – 1.623 BOBOT 0.071 RATING 2 3 3 BXR 0.694 = .234.694 Koordinat X yang berisi kekuatan dan kelemahan objek penelitian memiliki nilai sebesar 0.126 0.Ancaman = 1.161 0.149 = 0.126 0.071 – 1.074 1.213 1.FAKTOR STRATEGIS Adanya landasan hukum untuk penetapan dan perlindungan kawasan rawan bencana dan program reboisasi Peluang kerja sama dengan pihak PT Nestle sebagai pasar tetap di sektor peternakan Peluang kerja sama dengan Perhutani dalam kegiatan pemanfaatan lahan TOTAL ANCAMAN Bencana longsor Degradasi lingkungan akibat lahan kritis Keterbatasan informasi mengenai kawasan rawan bencana Masih terbengkalainya penanganan bencana longsor Intervensi pemerintah untuk menangani bencana skala luas masih dibutuhkan TOTAL X = Kekuatan .071 0.126 0.207 0.387 0. Diagram kuadran SWOT PEL UANG (+) KUADRAN II Stability KUADRAN I Growth KEL EMAHAN (-) K EKU ATAN (+) Conse ntric Strate gy KUADRAN III Survival KUADRAN IV Diversification ANCAMAN (-) .Kelemahan = 1.234 Y = Peluang .069 0.037 1 3 3 2 2 2 1.063 0.213 0.0. Sedangkan koordinat Y yang terdiri dari peluang dan ancaman memiliki besaran -0.071 0.623. Koordinat yang menunjukkan posisi wilayah penelitian dalam kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar 6. Gambar 6.

menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: B. proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus. Tahapan Perencanaan Strategis Proses penyusunan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada. Menurut BouLton.Dari : ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN ISKANDARINI . . Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi. tahap analisis. yaitu tahap masukan.Universitas Sumatera Utara © 2004 Digitized by USU digital library A.Fakultas Pertanian . dan tahap keputusan. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus. yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik.

a. mulai adri 1. analisis pemasok. TAHAP ANALISIS MATRIK TOWS MATRIK INTERNAL EKSTERNAL 4. keahlian. analisis komunitas. pengalaman. analisis pemerintah. analisis kelompok kepentingan tertentu. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. laporan kegiatan operasional.0 (tidak penting). Laba-rugi. terstruktur maupun tidak terstruktur.Tahap akhir analisis kasus adalah memformulasikan keputusan yang akan diambil. seperti analisis pasar. gaji. Sedangkan data internal dapat diperoleh di dalam perusahaan itu sendiri. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Evaluasi Faktor Internal (IFE) Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitave Strategic Planning (QSPM) Matrix 1. Untuk jelasnya. laporan kegiatan pemasaran. yaitu data eksternal dan data internal. sehingga dapat diambil keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) 2. cash-flow. struktur pendanaan). Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. laporan kegiatan sumber daya manusia jumlah karyawan. pendidikan. Keputusannya didasarkan alas justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif.0 (sangat penting) sampai dengan 0. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. seperti laporan keuangan (neraca. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS). tetapi jika peluangnya kecil. diberi rating +1). kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). TAHAP MASUKAN Tahap ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data. jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. analisis kompetitor. Dalam evaluasi faktor strategis yang digunakan pada tahap ini adalah model Matrik Faktor Strategis Eksternal dan Matrik Faktor Strategi Internal. tetapi juga merupakan suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra-analisis. Data eksternal dapat diperoleh dari lingkungan di luar perusahaan. turn-over). Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua. . • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman). • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. Misalnya. Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal.

jika kelemahan perusahaan besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). Contohnya. kelemahan. • Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor). berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama. tujuan. Skor total ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama. peluang. Matrik Faktor Strategi Internal Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi. kebalikannya.0.0 (paling penting) sampai 0. • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Adapun tahapan pembuatan matrik faktor strategis internal adalah sebagai berikut : • Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan perusahaan dalam kolom 1. Matrik TOWS atau SWOT Analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematika untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) den peluang (Opportunities). a. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya.• Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. Untuk membuat matrik faktor strategi internal tersebut.0 (poor). Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4.0 (outstanding) sampai dengan 1. suatu label IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka Strength and Weakness perusahaan. Dengan demikian perencana strategi (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. Dalam hal ini digunakan model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. terlebih dahulu harus melalui beberapa tahapan. Hal ini disebut . untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1 .0 (tidak penting). dan kebijakan perusahaan. nilainya adalah 4. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). strategi. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang b. berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan.0 (outstanding) sampai dengan 1. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. sedangkan jika kelemahan perusahaan di bawah rata-rata industri. Tahap Analisis kelangsungan perusahaan. Sedangkan variabel yang bersifat negatif.0 (poor). Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategi. nilainya adalah 1. 2. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan.

yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. dan 9) adalah usaha memperkecil atau mengurangi usaha yang dilakukan perusahaan . tetapi pada prinsipnya kesembilan sel itu dapat dikelompokkan menjadi tiga strategi utama. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. diagram tersebut dapat mengidentifikasi 9 sel strategi perusahaan. • Strategi WO Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. dan 5) atau upaya diversifikasi (sel 7 dan 8). yaitu: • Growth Strategy yang merupakan pertumbuhan perusahaan itu sendiri (sel 1.dengan Analisis Situasi. • Stability Startegy adalah strategi yang diterapkan tanpa mengubah arah strategi yang telah ditetapkan. b. Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan. F. 2. • Strategi ST Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman. Menurut Rangkuti. • Retrenchment Strategy (sel 3. 6. • Strategi WT Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. Matrik Internal-Eksternal (lE) Parameter yang digunakan dalam matrik intemal-ekstemal ini meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altematif strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 berikut ini. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisa SWOT. (1997). Tujuan penggunaan model ini adalah untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detail.

QSPM memerlukan good intuitive judgement.Ekstemal (lE) GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi vertikal 2. d. GROWTH RENTRENCHMENT Konsentrasi melalui Turnaround Integrasi horizontal 4. Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan.hati Konsentrasi melalui Captive Company Integrasi horizontal Atau STABILITY Divestment Tak ada perubahan Profit strategi 7. Jumlahkan seluruh skor SA C. c. Buatlah daftar faktor eksternal (kesempatan/ancaman) dan faktor internal (kekuatan/kelemahan) di sebelah kiri dari kolom matrik QSPM. Penutup Untuk memperoleh keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada merupakan rangkaian proses dari analisis kasus yang memformulasikan semua keputusan yang akan diambil berdasarkan justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. Matrik Intemal. 3.3.Sebagai suatu teknik. b. 5. terstruktur maupun tidak terstruktur. Langkah-langkah dalam menyusun QSPM adalah sebagai berikut : a. 8. Berikan skor altematif (SA) dengan rentang skor sebagai berikut : 1 = tidak memiliki daya tarik 2 = daya tariknya rendah 3 = daya tariknya sedang 4 = daya tariknya tinggi 5 = tidak memiliki dampak terhadap strategi alternatif e. STABILITY GROWTH RETRENCHMENT Hati . Tahap Pengambilan Keputusan Setelah tahapan-tahapan terdahulu dibuat dan dianalisa. Kalikan bobot dengan SA pada masing-masing faktor eksternal / internal pada setiap strategi. Berilah bobot untuk setiap faktor eksternal dan internal. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM ) merupakan teknik yang secara obyektif dapat menetapkan strategi altematif rang diprioritaskan. maka tahap selanjutnya disusunlah daftar prioritas yang harus diimplementasikan. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategis. f. 6. Analisis matrik yang sesuai dari langkah kedua dengan mengidentifikasikan strategi alternatif yang harus diimplementasikan. 9 GROWTH GROWTH RETRENCHMENT Difersifikasi Konsentrik Difersifikasi Konsentrik Gambar 4. Salah satu model pemecahan masalah .

dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). QSPM memerlukan good intuitive judgement. strategi. tujuan. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). dan kebijakan perusahaan. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Sebagai suatu teknik. Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan. Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan.yang dapat digunakan adalah model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. ================================================================== . peluang. kelemahan.

4.P O E M N JE R S S A A  1. 3. A 8 (D da elapan) langk strategis : Identifikasi M dan S isi a A nalisa Lingkungan Lu Identifikasi P eluang da A nalisa Lingkungan In O rganisasi Identifikasi K ekuatan d Atrategi M erum uskan S n a lis a M elaksanakan S un g trateg L in gk G am ba . 5. 2. 7. 6.

A a a pulan data n . e sa a n ruish o a r i  A a a W d mnrk n n i s a  A alis S Oidea d d n lis is in T a ja i a mp ra spolk n a k p e a e c r m k imfiled Kn u o o te r a aim a a d la ou tub sisa m n ap s a is).A A IS S O NL A WT  D la Id n a i K k a a m e tifik s e u ta d nA c mnd elu a a a n a a ip r k n A a aS O n lis W T  A a aS O mmn k n lis W T e u g i P mg a b nu g u nk e e grtia e:n g la e nn mil k e e g a a Oa en  mn h d W c sa a a A a inSi a Tmb g n lis r n  A alis S W .Tg ae n lis aW T a la A a a SO ju amm n O d h mc k nis k ktis u d e a asa mu tana n ra k n e a n tu e s e te a mn e in s k le a a e g lim a i e mh n pg n as a . a uin (O mrtu itien nta u p n C M buat A ara em n m m im lk nK le a e in a a e m  P c m n(T re ts engum h a ).

Dg mnls S O i r A ii W aa a s T O I S O S I V W O M tr IF Sd nE A a ik A a F S I I T F kS a to r -F k r a to Sa g tr te is II I W T B 1 P lu n . e ag 2 A c mn . na a T Matrik IFAS dan 1 .

Hal utama yang ditekankan adalah bahwa dalam proses perencanaan tersebut. suatu institusi membutuhkan penilaian mengenai kondisi saat ini dan gambaran ke depan yang mempengaruhi proses pencapaian tujuan institusi. APORTUNITIES S ltern atif trateg O P (O O : m anfaatka )  S em Analisis SWOT merupakan bagian dari proses perencanaan.M trik In ra S a te ksi W IF S A EA F S =============================================================== Dilihat dari sejarahnya dan penggunaannya saat ini. Dengan analisa SWOT akan m erebut dan m an em pertum buhan agresi TR S S : m ) AT (T  E TH eskipun m m asih m iliki keku em . metode SWOT banyak dipakai di dunia bisnis dalam menetapkan suatu perencanaan strategi perusahaan (strategic planning) sehingga literatur mengenai metode ini banyak berkaitan dengan aspek penerapan di dunia bisnis meskipun pada beberapa analisa ditemukan pula penggunaan SWOT untuk kepentingan public policy.

Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Johnson dan Scholes menjelaskan bahwa dalam penyusunan SWOT terdapat empat langkah utama yang harus dilakukan. yaitu 5 : 1. 3. secara umum terdapat keseragaman bahwa penentuan tersebut akan tergantung dari faktor lingkungan yang berada di luar institusi.didapatkan karakteristik dari kekuatan utama. • Kekuatan dan Kelemahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang . faktor netral. Dari analisa tersebut potensi dari suatu institusi untuk bisa maju dan berkembang dipengaruhi oleh : bagaimana institusi memanfaatkan pengaruh dari luar sebagai kekuatan tambahan serta pengaruh lokal dari dalam yangbisa lebih dimaksimalkan. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Faktor Lingkungan dalam Analisis SWOT Walaupun terdapat beberapa metode penentuan faktor SWOT. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. 4 Terdapat beberapa metodologi dalam penyusunan SWOT. kelemahan utama dan kelemahan tambahan berdasarkan analisa lingkungan internal dan eksternal yang dilakukan. sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Faktor lingkungan eksternal mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendali institusi (exogen) sementara faktor internal merupakan faktor-faktor yang lebih bisa dikendalikan. Sebagaimana kekuatan peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. Sehingga sama dengan kekuatan. kekuatan tambahan. 2. 4. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. 2. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low. Strategi ini bisa jadi bukan merupakan strategi yang disusun berdasarkan kebutuhan institusi menghadapi gejala perubahan lingkungan eskternal yang ada melainkan merupakan strategi turunan yang telah ada sejak lama dipegang institusi. Bagaimana pengaruh lingkungan melahirkan analisa SWOT dapat dilihat Lingkungan di Luar Institusi yang Mempengaruhi Strategi dan Kebijakan Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahanpeluang dan ancaman. Mengidentifikasi perubahan-perubahan lingkungan yang dihadapi institusi dan masih mungkin terjadi di masa mendatang. Menentukan katagorisasi kekuatan dan kelemahan berdasarkan penilaian apakah strategi yang saat ini ada masih sesuai dengan perubahan lingkungan di masa mendatang : Jika masih sesuai strategi tersebut menjadi kekuatan/peluang. dan sudah tidak sesuai merupakan kelemahan. Mengidentifikasi existing strategy yang telah ada dalam institusi sebelumnya. • Peluang dan Ancaman. Membuat cross tabulation antara strategi yang ada saat ini dengan perubahan lingkungan yang ada. tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama.

Sebagai suatu teknik. untuk menentukan strategi mana yang paling baik untuk diimplementasikan. pada tahap ini fokus pada strategi alternatif yang dihasilkan. adalah ancaman yang kemungkinan terjadinya tinggi dan dampaknya besar. • Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. Tahap terakhir adalah tahapan dalam pengambilan keputusan (decision making). Tahap masukan atau input dilakukan dengan menggunakan metode matrik EFE dan matrik IFE. 13 Maret 2010 METODE QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) Proses penyusunan perencanaan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. • Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan(persaingan) dan tidak bisa dihindari. adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil Ancaman moderate. Metode ini adalah alat yang dirokemandasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternatif secara objektif. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. Selanjutnya adalah tahap pencocokan atau analisis. diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. o Best. o Ancaman tidak utama (minor threats). QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) merupakan teknik yang secara objektif dapat menetapkan strategi alternatif yang diprioritaskan.blogspot. dalam tahap ini metode yang digunakan adalah QSP matriks. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar. . QSPM memerlukan intuisi yang baik dalam penilaian.pencapaiannya juga kecil o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. tahap pencocokan atau analisis. tujuan metode ini adalah untuk menetapkan kemenarikan relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih. yaitu tahap masukan atau input. dan tahap keputusan (decision making). Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats). Untuk ancaman utama ini. hasilnya disajikan dalam bentuk informasi untuk masukan tahapan berikutnya. berdasarkan faktor kunci kesuksesan internal-eksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya.html-Sabtu. Secara konseptual. analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut Dari :http://boed-health. Dalam tahap ini metode yang digunakan adalah SWOT.com/2010/03/metode-qspm-quantitive- strategic. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapaianya besar.

. Pembobotan tetap menggunakan skala 1 ( sangat penting ) hingga o ( tidak penting )akan tetapi penentuan nilai skala untuk masing2 situasi total berjumlah 1 dengan cara : a. Masing2 nilai situasi tersebut dibagi dengan Total Nilai SP x K . Analisi SWOT : Teknik Membedah Kasus Bisnis.com : …. KABUPATEN MINAHASA.3 . diperthitungkan rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala dari 4 hingga 1. akan diperoleh hasil kombinasi dari beberapa Situasi : SO = memanfaat kan kekuatan untuk menggunakan peluang WO = minimalkan kelemahan untuk manfaatkan peluang ST = memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi Ancaman WT = minimalkan kelemahan hindari ancaman F.0 berarti tidak penting dan nilai 1.Dalam mengadakan perencanaan strategi dalam suatu organisasi. urutan ke 2 nilainya 3x4=12 dan terendah nilai 4 dari 1x4.meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats). yang kemudian di kalikan. .2. sedangkan skala 4 ( rendah ) – 1 ( tinggi ) untuk Kelemahan dan Ancaman. Nilai Tertinggi untuk Bobot x Peringkat ialah 1.2 Kuat dan terendah adalah 0 0– 1 Lemah Berdasarkan nilai Peringkat dan Pembobotan. sehingga dapat diputuskan pemilihan prioritas strategi mana yang akan digunakan sesuai dengan keadaan organisasi tersebut DAFTAR PUSTAKA > Modul Mata Kuliah Analisa Keputusan Jurusan Teknik Industri UMB > Rangkuti. QSPM sangat diperlukan sebagai metode pengambilan keputusan setelah tahap input dan tahap analisis dilakukan. Kondisi eksternal-internal organisasi sangat diperlukan dalam penggunaan metode ini. Disamping itu. yaitu dari sangat baik sampai kurang baik. Dalam menentukan strategi yang terbaik.0 – 1. 1998).0 dimana nilai 0. namun karena tidak ada pembanding. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Dari : KAJIAN POTENSI SUMBERDAYA HUTAN MANGROVE DI DESA TALISE . Freddy.3.Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran SP 3 K 4 SP X K 12 BOBOT 12/40=0. dilakukan pemberian bobot yang berkisar antara 0.1. maka nilai skala ditentukan berdasarkan prioritas dari masing2 situasi ( misalnya skala 4 untuk Peluang yang Utama ) .4 ( tinggi ) untuk Kekuatan dan Peluang. 2006. lau dikalikan dengan konstanta ( K ) nilai tertinggi yaitu 4 b. Selanjutnya antara bobot dan rating dikalikan menghasilkan skor (Rangkuti.0 berarti sangat penting. SULAWESI UTARA Oleh: Adnan WantasenC261020021 E-mail: ananw2000@yahoo. QSPM sangat berhubungan dengan metode-metode lain yang digunakan dalam tahap input dan analisis sebagai bentuk informasi untuk tahap QSPM sendiri. Urutkan factor situasi berdasar skala prioritas ( SP ) ( tertinggi nilainya 16 dari 4x4. Peringkat tetap menggunakan skala 1 (rendah ).

1 1.3 8/40=0.6 0. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4.0 (tidak penting). Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama.4 4/40=0. diberi rating +1). • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4).0 (poor). jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4.0 (outstanding) sampai dengan 1. © 2004 Digitized by USU digital library 2 Dari : ANALISIS STRUKTUR VEGETASI HUTAN MANGROVE DI KAWASAN REKLAMASI PULAU SERANGAN. Analisis . • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS).0 (sangat penting) sampai dengan 0. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4.I Ketut Sundra Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Udayana Abstrak Penelitian ini dilakukan di Pulau Serangan pada bulan Agustus 2004.0 Berdasar table sintesa . Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. Analisis vegetasinya dilakukan dengan menetapkan nilai penting jenis dan indeks diversitas seluruh jenis yang diketemukan.1 1. KOTA DENPASAR . dengan sampel yang diambil sebanyak 10 plot dengan metode Plot Sistematik. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya.6 1. • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. Misalnya.0 Peringkat 4 3 4 2 Bobotx Peringkat 1. tetapi jika peluangnya kecil. Sedangkan sampel tanah diambil dalam tiga lokasi yang berbeda. Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis.2 0.2 16/40=0.2 16/40=0.-Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS 2 4 1 4 4 4 8 16 4 40 8/40=0. dibuat table faktor2 strategik Internal F Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran -Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS Bobot 12/40=0.4 4/40=0.2 USU : a. mulai adri 1. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman). Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masingmasing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4.

Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga sama dengan kekuatan. Peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. Dari : Metodologi Penelitian : Analisa SWOT-Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat . Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan.057004020. P. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. Metoda penelitian Metoda Garis Berpetak ( Jalur Berpetak ) dengan satu buah jalur u tiap desa penelitian berukuran 10 m x 60 m dengan arah tegak lurus tepi laut. tidak semua kelemahandari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar.Mangrove di Deli Serdang. mangrove di pesisir Deli Serdang.pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan – USU . Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. Index keanekaragaman. U semai ukuran Sub Petak 2m x 2m. Ketebalan Mangrove dan Salinitas. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Diagram Profil.Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahan peluang dan ancaman. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang pencapai annya juga kecil .Inventarisasi Hutan Mangrove sebagai Bagian dari Upaya Pengelolaan Wilayah pesisir Kabupaten deli Serdang. Sebagai bahan penelitian 9 desa h. Pancang ukuran Sub Petak 5m x 5m dan ukuran Pohon Sub Petak 10 m x 10 m. Parameter yang dianalisis :Index Nilai penting. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. mangrove di pesisir Deli Serdang umumnya rusak. sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. K dan bahan organic). ……Berdasarkan hsl analisis Kerapatan dan Luas Penutupan Tajuk.USU erepository Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan membandingkan kondisi hutan mangrove serta cara penegelolaan h.tanah dilakukan untuk menetapkan kandungan unsur hara makro (N. Dari : Lengkap ! Tesis Sri Susanti Ningsih. bhw kond h.

o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. o Best, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapai anya besar. Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan (persaingan) dan tidak bisa dihindari. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats), adalah ancaman yang kemungkinanterjadinya tinggi dan dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini, diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. o Ancaman tidak utama (minor threats), adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil o Ancaman moderate, berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar, analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut: Matrix SWOT……… 3. Metode Survey Untuk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber melalui analisis SWOT di atas digunakan metode survey dengan frame sample pihak-pihak (stakeholders) yang bisa memberikan penilaian aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja suatu institusi atau lembaga. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan gambaran awal dari peta permasalahan yang ada di institusi. FGD harus dilakukan dengan komprehensif artinya melibatkan seluruh stakeholders sehingga peta yang terbentuk telah mewakili seluruh kepentingan stakeholders. Karena sifatnya yang bersumber dari informasi kual itatif pemilihan responden yang credible sangat mempengaruhi hasil akhir dari analisa SWOT sehingga hendaknya harus dilakukan dengan beberapa kualifikasi. 2. Pembuatan kuesioner SWOT berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dalam FGD. Secara umum kuesioner ini memiliki katagorisasi penilaian sebagai berikut: ·* Penilaian faktor internal dan eksternal. Di sini responden membrikan preferensi opini terhadap faktor-faktor internal dan eksternal dari institusi pada saat ini dan perkiraan di masa mendatang. ·*Penilaian urgensi. Di sini responden diminta untuk menilai tingkat urgensi faktor terse but untuk ditangani. Penilaian ini berhubungan dengan skala prioritas dalam menyelesai kan persoalan-persoalan pembangunan yang tercermin melalui faktor-faktor yang dinilai. Contoh dari penilaian internal dan eskternal dan contoh penilaian urgensi dapat dilihat sebagai berikut

Contoh Kuesioner SWOT
No Bidang Pembangunan 1 -Penilaian Kondisi Saat Ini – 2 3 4 5 6 1 Urgensi Penanganan 2 3 4

I. Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan : 1. Pendapatan Masyarakat …………………………………………………………………………………………………….. 2. Tingkat kesehatan masy………………………………………………………………………….. 3. ............................................................................................................................................. \ Penilaian Responden: Urgensi Penanganan: Angka 1 = Sangat Kurang Angka 1 = Tidak Urgen Angka 2 = Kurang 2 = Agak Urgen Angka 3 = Cukup 3 = Urgen Angka 4 = Agak Baik 4 = Sangat Urgen Angka 5 = Baik Angka 6 = Sangat Baik

Dari tabel di atas dapat dijelaskan beberapa layer analisa sebagai berikut. ⇒ Bidang merupakan katagori yang memiliki beberapa faktor. Dari contoh di atas Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan merupakan ”bidang” penilaian yang memiliki dimensi internal dan eksternal. ⇒ Faktor, merupakan bagian dari bidang yang merupakan penjabaran spesifik dari masing-masing bidang. Dari contoh di atas (1) pendapatan masyarakat dan (2) tingkat kesehatan masyarakat merupakan ”faktor”. Faktor inilah yang kemudian terkatagori sebagai kekuatan atau kelemahan (dari analisa internal) dan peluang atau ancaman (dari analisa eksternal). Setelah kuesioner terisi dan terkumpul semua, penilaian faktor dilakukan dengan meranking bobot penilaian pada ”penilaian responden” yang memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 1. Faktor-faktor yang memiliki nilai di atas median (atau rata-rata dilihat dari persebaran distribusi probabilitasnya) disebut dengan ”kekuatan” pada analisa internal dan”peluang” pada analisa eskternal. Sebaliknya faktor-faktor yang memiliki nilai penilaian di bawah median disebut dengan ”kelemahan” pada analisa internal dan ”ancaman” pada analisa eksternal. Membentuk suatu kuadran faktor pembangunan, yaitu suatu blok yang menjelaskan posisi dari kombinasi faktor internal dan eksternal pembangunan, dengan kombinasi : kekuatan-peluang (S-O), kekuatan-ancaman (S-T), kelemahan-peluang (WO) dan kelemahan-ancaman (W-T). Sebelum menentukan kuadran pembangunan, harus dilihat terlebih dahulu uji konsistensi dari pengolahan kuesioner SWOT. Uji konsistensi pengisian kuesioner mensyaratkan dua asumsi utama, yaitu : o Untuk Prioritas, rata-rata nilai (average) prioritas seluruh faktor dominan (S/O) > faktor non dominan (W/T) o Untuk Urgensi, rata2 nilai(average) urgensi f. non dominan (W/T) > f dominan (S/O)

Tabel 3 Contoh Perhitungan Consistency Index Pengolahan Kuesioner PRIORITY S W O T 3.90 S 3.01 W 3.72 O 2.98 T Consistency index Priority Dominan 1.05 Non-Dominan 1.01 Consistency index Urgency Dominan 1.03 Non-Dominan 1.07 URGENCY 3.07 3.16 2.97 2.96

Menjumlahkan (sum product) dari seluruh bobot prioritas dan urgensi sehingga di da patkan kombinasi nilai dari faktor internal dan eksternal. Tabel 4 Contoh Indeks Penilaian Kuadran Kebijakan KUADRAN S W O 835.45 820.53 T 775.05 760.13

embuat pola strategi pembangunan berdasarkan Indeks Penilaian Kuadran.Prioritas M strategi pembangunan berdasarkan skenario ini ditetapkan dengan menjalankan kombinasi kebijakan dengan indeks nilai paling kecil berurutan ke yang paling besar. Dengan kata lain, daerah akan berusaha untuk mengatasi seluruh faktor yang paling lemah yang dimiliki untuk kemudian beralih pada kombinasi strategi yang telah memiliki indeks baik/tinggi. Dari contoh di atas strategi pembangunan yang dilakukan institusi akan bergerak dari WT-ST-WO-SO. 4. Persebaran dan Profil Responden Responden yang terlibat dalam studi ini terdiri dari beberapa stakeholders baik pemerintah maupun perwakilan masyarakat, LSM serta tokoh agama. Daftar responden yang diwawancara adalah sebagai berikut: Pemerintah aerah Badan-badan: Bappeda, Badan Kesbang dan Politik, BPKD, Badan Diklat Dinas-dinas: Dinas Pendidikan, Kesehatan, PU,Perhubungan dan Pariwisata, Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup, Pemadam Kebakaran, Tenaga kerja dan Catatan Sipil, Koperindag, Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Kelautan dan Perikanan, Syariat Islam. Sekdakab: Bagian tata Pemerintahan, Hukum, Ekonomi, Pembangunan, Kesra, Organisasi. Kantor-kantor: RSUD, Kantor Sosial, Pemuda dan olah raga, perpustakaan dan Arsip, Satpol PP, Peternakan, Pertambanagn dan energi Kecamatan: Karang Baru, Banda Mulia, Kejuruan Muda =================================================================== Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem, dan bukan hanya melihat gejalagejala dari suatu masalah. Chandler (1962): strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumberdaya. Porter (1985): strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing.

3. 6. Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada hutan mangrove. alat untuk dokumentasi. digunakan untuk mengetahui wilayah tempat pengambilan sampel.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul.5 Prosedur Pengumpulan Data: 1. digunakan untuk membuat plot (kuadrant) 2.2. 3. digunakan untuk mengukur salinitas/kadar garam air laut. Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon. 5 x 5 meter untuk golongan anak . 2007). digunakan untuk menetukan titik koordinat wilayah pengambilan sampel di peta. 4.4 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan menggunakan kunci determinasi/kunci identifikasi. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter. Soil tester. 7.2. digunakan untuk mengidentifikasi tanaman mangrove. Role Meter. . Salino meter.Hamel dan Prahalad (1995): strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) yang dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh pelanggan di masa datang.gejala dari suatu masalah. 4. Apa yang sebenarnya telah terjadi ? Mengapa masalah tersebut bisa terjadi ? Mengapa dan Megapa ? Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari masalah tersebut untuk tidak terjadi lagi di masa depan? =============================================================== Dari :Mangrove Desa Bulalo Kec Kwandang Gorontalo Utara 3. 3. dan bukan hanya melihat gejala.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masing-masing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan. GPS (Global Position System).2 Sampel adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. Kamera. Peta Wilayah. digunakan untuk menetukan pH tanah dari wilayah pengambilan sampel 5. Kunci Determinasi/identifikasi. 3. Menentukan titik wilayah sampel titik koordinatnya dengan menggunakan GPS ( 2. 3.

2. akar dan daun) dari masing-masing tumbuhan yang menjadi sampel. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian batang tumbuhan mangrove. 5. densitas relatif. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). sebagai berikut: a.5. 4. 3. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot BBerikut ini adalah Lay Out yang digunakan dalam pengambilan sampel dilapangan. frekuensi relatif dan besarnya Indeks Nilai Penting. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. 6. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa langkah yaitu antara lain sebagai berikut: 1. Membuat herbarium dari masing-masing jenis-jenis tumbuhan yang diperoleh untuk diidentifikasi di Laboratorium Biologi UNG. Mencocokkan (ciri-ciri morfologi dari batang. frekuensi. Penentuan Basal Area BA = d = diameter batang setinggi dada b.6 Prosedur Analisis Data Data mengrove dianalisis dengan cara menghitung besarnya Indeks Similaritas (IS) dan Indeks Disimilaritas. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel dengan Soil Tester. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = Dominasi Relatif = Densitas = Densitas Relatif = Frekuensi = Frek relalif c. 1994 yaitu dengan menghitung dominansi. . menghitung dalam parameter vegetasi dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Cox. Mengambil bagian-bagian morfologi (batang. dominansi relatif. 1976 dalam Hardjosuwarno. akar. 6. menghitung basal area. dan daun dari tumbuhan mangrove) mangrove yang terdapat pada buku determinasi/identifikasi (buku panduan ). Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. densitas (kerapatan). Indeks Nilai Penting ini interpretasi komposisi vegetasi dan pola zonasi hutan mangrove. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian daun tumbuhan mangrove. Mengukur salinitas air pada dengan menggunakan Salinometer. 3. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian akar tumbuhan mangrove. 8. 7.

3. strategi. Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan.Sebagai suatu teknik. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di kawasan pesisir pantai Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. kelemahan. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masingmasing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan. QSPM memerlukan good intuitive judgement =================================================================== Dari : KOMPOSISI DAN POLA ZONASI VEGETASI HUTAN MANGROVE 3.2 Populasi dan Sampel 3.2 Sampel dalam penelitian ini adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.2. Gorontalo Utara. peluang.Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan. tujuan. dan kebijakan perusahaan. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Lokasi penelitian terdiri atas 2 stasiun pengamatan.2. Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot . dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). 3. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. Waktu Penelitian selama 3 bulan yaitu pada Bulan Agustus sampai Bulan Oktober 2008. 3.

Menentukan titik masing-masing wilayah yang menjadi wilayah sampel penelitian dan menentukan titik koordinatnya pada peta dengan GPS (Global Position System). 5. Abdoel Djamali Posted: December. 7. Mengukur salinitas air pada setiap zonasi hutan mangrove dengan Salinometer. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = = Dominasi Relatif Densitas = = Densitas Relatif Frekuensi = = Frekuensi relalif c. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). 2007). 8. Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada h mangrove.jatifar@yahoo.5 Prosedur Pengumpulan Data Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data sebagai berikut: 1.2 Permasalahan . 6. Abdoel Djamali NRP 0261040161/SPL . d = diameter batang setinggi dada b. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot B =============================================================== Dari : R. . Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan kunci determinasi/ identifikasi. M. M.com 1.masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter.S PERSEPSI MASYARAKAT DESA PANTAI TERHADAP KELESTARIAN HUTAN MANG ROVE (Studi Kasus Di Kabupaten Probolinggo) Oleh : R. M F (Penanggung Jawab) . 4. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. Hardjanto. Ir.Sc Dr. Dr. 2. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. 3. 5 x 5 meter untuk golongan anak pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. sebagai berikut: a Penentuan Basal Area BA = Dimana. Zahrial Coto. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel yang menjadi lokasi penelitian dengan menggunakan Soil Tester. 2004 .Prof. Ir. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). 3.Institut Pertanian Bogor Desember 2004 Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng.

Mengidentifikasi perilaku masyarakat setempat dalam pemanfaatan h mangrove.1 Penentuan Wilayah Contoh Wilayah penelitian ditentukan secara sengaja (Purposive) di Kabupaten Probolinggo khususnya di Kecamatan Tongas dan Kecamatan Paiton 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan H Mangrove Tabel 4.4. IV.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Tabel 4. Data primer Diperoleh melalui wawancara langsung pada responden dengan bantuan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan.3 Tujuan dan Kegunaan Tujuan: 1. Kepala Kecamatan 2 2.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Dari Tabel 4. Masyarakat Pesisir 4 4 Nelayan 6 5. Data sekunder diperoleh dari dinas-dinas terkait diantaranya adalah: pemerintah daerah setempat.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove . nelayan. upaya-upaya intensifikasi.2 Persepsi Mas Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4. partisipassi masyarakat dan saran-saran untuk pengembangan hutan mangrove. dinas perikanan. METODOLOGI 3.1 Sebaran Responden No.2 Penentuan Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari kepala kecamatan. 2.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir Tabel 4.3 Jenis dan Sumber Data Data dalam studi ini adalah data primer dan data sekunder. Bagaimana persepsi masyarakat desa pantai dalam pelestarian hutan mangrove? 1. Memperluas khasanah pengetahuan bagi pengembangan ilmu lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat hutan pesisir. Kepala Desa 4 3.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove 4.1. Petambak 3 Total 19 3. Kegunaan 1.tokoh masyarakat. manfaat yang diperoleh. Mendeskripsikan persepsi masyarakat desa pantai terhadap pelestarian h mangrove. III.2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4. Bagaimana perilaku masyarakat pesisir setempat dalam pemanfaatan h mangrove? 2. dinas kehutanan.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove Tabel 4. 2. Jenis data primer yang sudah diperlukan adalah: persepsi masyarakat. Responden Jumlah (orang) 1. Menjadi pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam rangka pemberdayaan hutan mangrove dan pelestarian hutan. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini Tabel 3. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial Tabel 4. kepala desa.

Alih fungsi hutan mangrove sudah terjadi sejak lama. Perlunya penyadaran dan dibangun suatu sistem masyarakat yang ikut merencanaan. batas-batas kawasan hutan lindung dan produksi. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pendaran seluruh masyarakat mulai dari hulu (up land) sampai hilir sungai (down land). Sedimentasi tersebut yang berasal dari pengikisan/erosi di daerah atas (hulu) yang tersuspensi dalam aliran sungai kemudian mengendap di daerah estuaries dan sepanjang pantai. c. dan memanfaatkan potensi hutan mangrove itu sendiri d. Yang berasal dari limbah rumah tangga dari daerah hulu sungan dan sepanjang tepian sungai yang dibawa kemudian oleh aliran air kearah muara sungai. pemukiman. Sedimentasi akibat pengelolaan kegiatan lahan atas yang kurang baik. Wilayah- . Penebangan mangrove untuk arang. Abrasi pantai dapat diakibatkan oleh proses alami. Mengingat apabila salah satu ekosisitem pantai rusak maka akan berefek langsung pada kedua ekosisitem lainnya. maka suatu saat kerusakan fisik yang cukup parah atas hutan mangrove yang sangat besar manfaatnya. b. e. pada bagian wilayah tersebut juga mempunyai tingkat genangan yang tinggi. industri. sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan. kayu bakar. pembangunan dermaga yang kurang memperhatikan sifat arus dan gelombang dapat menyebabkan abrasi. Terjadi konversi lahan hutan mangrove menjadi berbagai peruntukan lain seperti tambak. sedangkan aktifitas manusia misalnya pengambilan pasir laut yang tidak terkendali. pemukiman dan kawasan industri secara tidak terkendali. Sedmientasi yang terlalu tinggi.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan H Mangrove 4. namun perlu pengaruran dan perencanaan yang berbasis pelestarian sumberdaya hutan mangrove itu sendiri. maka akan terjadi penutupan daerah mangrove sehingga suplai air tawar berkurang atau sebeliknya air laut terlalu tinggi sehingga salinitas di daerah hutan mangrove naik yang akan menggaggu keseimbangan habitat hutan mangrove. aktifitas manusia aatu kombinasi keduanya.Tabel 4. Pada musim penghujan akan terjadi banjir/genangan di wilayah pesisir terlebih lagi bila bersamaan dengan terjadinya air pasang. sedimentasi dan pendangkalan pada sungai. Sepanjang hutan mangrove banyak berserakan lembah padat terutama yang berasal dari limbah domestic. Pada tanah kritis di musim penghujan akan terjadi pelumpuran atas air permukaan yang mengakibatkan meningkatnya proses erosi. bahan bangunan dan kegunaan tanpa kendali. Abrasi karena proses alami disebabkan karena gerakan gelombang dan arus laut. dan dasar hutan. penebangan hutan mangrove. Hal ini disebabkan oleh karena jenis tanah clay (tidak menyerap air) dan kondisi lahan yang landai serta cenderung semakin landai ke arah Utara (mendekati garis pantai). sehingga nampak kotoran berserakan di bergelantungan akarakar Rhizopra sp. Sehingga seringkali terjadi tumpang indih pemanfaatan kawasan hutan mangrove untuk berbagai kegiatan pembanguna seperti perluasan areal pertambakan. Rencana tata ruang dan rencana wilayah (RTRW) belum memasukkan parameter kelestarian hutan mangrove. industri dan sampah domestic rumah tangga.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan didentifikasi tentang permasalahan yang dihadapi dalam upaya pelestarian hutan mangrove sebagai berikut a. pariwisata. manakala tidak ada pihak yang mengatur. mengembangkan. kemudian terakumulasi dengan lumpur. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove Tabel 4. Bukan berarti alih fungsi hutan mangrove tidak boleh dilakukan. Kondisi ini juga sangat memprihatikan. Kabupaten Probolinggo memiliki beberpa wilayah yang terletak di daerah dengan kondisi tanah yang landai.

Konflik kepentingan antar kemanfaatan jangka panjang (long-term benefit) dan kepentingan jangka pendek (short-term benefit). pembinaan dan pemanfaatan hutan secara optimal dan berkelanjutan.2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Pengrusakan hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo sebagian besar disebabkan terjadi konversi hutan mangrove menjadi areal pertambakan (36. Dari hutan mangrove pula sangat diharapkan berfungsi sebagai paru-paru kehidupan atau untuk upaya pelestraian sumberdaya alam termasuk air. 4. g. Ditebangnya mangrove dimaksudkan agar terhadap intensitas sinar matahari yang cukup baik bagi tambak sehingga tidak ada tempat untuk tanaman mangrove tumbuh dan kurang dikehendaki keberadaannya di daerah tambak. laut dan pantai. Ini menyebabkan tidak terjadinya sistem koordinasi dalam pengelolaan hutan mangrove. lestarinya plasma nutfah dan manfaat lain dari hutan mangrove. dan sosialisasi yang terbatas sehingga belum dapat mendukung kebijakan atau program penataan ruang. j. Data.84%). i. informasi serta IPTEK yang berkaitan dengan hutan mangrove masih terbatas. Biasanya konversi lahan dilakukan oleh sebagian oleh pengusaha tambak udang dan hatchery. bangunan industri. Sebagai akibat terjadilah pemanfaatan areal hutan mangrove menjadi pertambakan. Konflik kepentingan antar lembaga yaitu terjadinya perbedaan kepentingan antara pengelola hutan mangrove dengan pemerintahan desa/kecamatan. k. masyarakat desa pantai juga memanfaatkan untuk pertambakan tradisional. Kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dari pengelolaan hutan mangrove sebenarnya lebih berjangka panjang tetapi karena sifatnya yang tidak nampak seperti terpeliharanya ekosistem laut dan pantai. Konflik kepentingan antar kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dan kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit). dan industri sudah mulai merambah hutan mangrove terutama untuk menunjang pengembangan .wilayah yang terjadi abrasi pantai yang cukup parah adalah desa Pondokkelor di Kecamatan Paiton f. pemukiman. Konversi tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan fungsi hutan mangrove. Proyek pembangunan yang dapat menghalangi atau mengurangi sirkulasi arus pasang surut. perhotelan dan lain-lain yang semuanya untuk kepentingan jangka pendek. Dalam hal tersebut pengelola menganggap bahwa hutan mangrove merupakan hak otonom dari pengelola hutan mangrove. kepentingan jangka panjang akan selalu bertolah belakang dengan kepentingan jangka pendek. Disamping itu pemanfaatan untuk pemukiman. sumber air. Kepentingan jangka pendek (short-term benefit) cenderung lebih diutamakan dibandingkan dengan kepentingan jangka panjang (long-term benefit). sedangkan pemerintahan desa/kecamatan menilai bahwa areal hutan mangrove tersebut merupakan bagian wilayah pemerintahannya. Dalam rangka otonomi daerah ada kecenderungan pemberdayaan sumberdaya alam untuk kepentingan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). pariwisata. hotel. Konflik kepentingan antar manfaat hutan mangrove: antara kepentingan ekonomi (economies) dan kepentingan pelestarian (enviromentalis). Disamping itu. h. Ini menjadi salah satu faktor penghambat bahkan gagalnya upaya pelestarian. kualitas udara. Kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit) sering lebih diutamakan karena lebih menampakkan wujud fisik yang nyata dibandingkan dengan jangka waktu jabatan seorang pejabat.

26 . Parameter Prosentase(%) 1.84 Masyarakat desa pantai menganggap bahwa hutan mangrove tidak mempunyai nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan yaitu sebesar 36. Penebangan untuk pemanfaatan hasil hutan mangrove : arang dan kayu Konrversi lahan menjadi tambak Penebangan untuk tempat bersandar perahu Penebangan untuk bangunan pemukiman / industri hotel dan lain-lain Rusak akibat limbah pabrik dan alam 15.Tempat untuk mencari ikan.05 2.79 36. Tidak bermanfaat Alasan : .79 .3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Teknis . Parameter Prosentase (%) 1. Terbatasnya personil yang terlatih dalam pengelolaan sumberdaya ini menyebabkan pengelolaan sumberdaya tidak dapat terencana dengan baik dan belum optimal. kepiting. 4.21% dan tidak sekolah sebesar 18. 2.84 10. Bermanfaat Alasan : .91%. Tabel 4.26 .05 15.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 36.Konsekuensinya memang harus menggunaakan hutan mangrove. Kurangnya informasi pengembangan sumberdaya alam Kurangnya pemahaman dan pengertian masyarakat tentang fungsi sumberdaya hutan mangrove sehingga upaya pelestarian masih sangat rendah. Tingkat pendidikan masyarakat pesisir rata-rata tamat Sekolah Dasar sebesar 36.32%. 3.53 3. serta menarik masyarakat untuk bermukin di sentra sector wisata. 5. dan nelayan dari peningkatan hasil tangkapannya.Tempat mencari kayu bakar 15. sehingga tidak mampu meningkatkan taraf hidupnya.00 Potensi sumberdaya yang cukup berlimpah dengan kondisi penduduk dan pesatnya pertumbuhan pembangunan di wilayah pesisir dan laut. tidak tamat Sekolah Dasar 19.84%.53 21. kepiting 21. Sangat bermanfaat Alasan : . Rendahnya kualitas sumberdaya manusia Rendahnya tingkat pendidikan akan berpengaruh pada rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan.kayu hutan mangrove untuk dijual 10.2 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Ekonomi No. 2.79 100. secara umum terjadi permasa lahan sebagai berikut: 1.kayu hutan mangrove untuk dijual 5. Kenyataannya dengan terpeliharanya kelestarian hutan mangrove maka akan merangsang berkembangnya biota laut yang berarti akan mendukung peningkatan produksi dan pendapatan para pencari ikan.Tempat mencari kayu bakar 5. Tabel 4.pariwisita.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove No. Tabel 4. Keadaan ini menyebabkan kurang berkembangnya diversifikasi usaha dan kurang berkembangnya teknologi pasca panen.

05 .26 Keberadaan hutan mangrove akan terasa bermanfaat jika dampaknya terlihat nyata.26 2.4.26 36.No. Bermanfaat Alasan : . 1.79 .Tidak ada dampak 5.Pemanfaatan tanah oloran untuk tambak Bermanfaat Persentase (%) 10.Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 21.Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 15.37% Tabel 4.53 5.32% dalam table di bawah ini : Tabel 4. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial No. Tidak bermanfaat Alasan : . Sangat bermanfaat Alasan : .Mengurangi ombak dan valume air di pantai . kondisi ini sejalan dengan pendangkalan daerah pantai yang berakibat sebaliknya akan merusak daerah padang lamun dan terumbu karang yang ada di depannya. Alasan : . Tidak bermanfaat 21.Mengurangi pengangguran/ menyerap tenaga kerja 5. Parameter Sangat bermanfaat Alasan : .53 2. Tidak bermanfaat .84%). Sangat bermanfaat .79 .Tidak ada manfaatnya 47. Bermanfaat . Parameter Persentase (%) 1.Menambah keindahan pemandangan 10.79 3.Sebagai paru-paru bagi masyarakat pantai 21.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove DariAspek Ekologis No.05 .32 2.Mencegah terjadinya abrasi pantai 15.37 Begitu pula tentang pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek ekologis menyatakan keberadaan hutan mangrove akan menjaga biota pantai yaitu 26.05 (fungsi penghijauan) 3.Menambah keindahan pemandangan 15.84 2.Mencegah terjadinya abrasi pantai . Bahwa manfaat hutan mangrove dari aspek teknis dapat memberikan peluang bagi petambak untuk membuka atau memperluas areal pertambakannya akibat tanah oloran (36.Menjaga keberadaan biota pantai 26.Mengurangi ombak dan valume air di pantai 5.26 . Maksudnya tanah tambak yang makin meluas kea rah laut. Parameter Persentase (%) 1. Sedangkan pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek sosial banyak yang tidak mengetahui dan menyatakan tidak ada manfaatnnya yaitu 47.Dapat mengurangi pengangguran/menyerap tenaga kerja 21.Menjaga keberadaan biota pantai 3.05 .

Parameter Persentase (%) 1. Sangat sering 5. Sering 10. Hal ini karena masyarakat berpersepsi bahwa pengusaha tidak akan bisa berdiri sendiri akan tetapi bekerjasama dengan oknum peme rintah terutama dalam peralihan lahan hutan mangrove yang diperuntukkan pada pem buatan tambak intensif .79 4.7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove No. Parameter Persentase (%) 1 Sangat baik 15.53 3.26 2.84%) dari persepsi responden terhadap kondisi hutan mangrove yang lebih mengetahui tingkat perkembangan dari tahun ke tahun. Sedang 15.84 Sedangkan persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Probolinggo seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4. Sangat tidak baik 31.8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove No. Sangat baik 15.58% menyatakan sangat tidak baik dan 26. Tidak pernah 68.42 Pelaku pengrusakan hutan mangrove terbesar disebabkan oleh oknum pengusaha yaitu sebesar 52.53 2.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove No.53 3.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir No.79 4. Tabel 4. Parameter Persentase (%) 1. Baik 10.63% dan pemerintah 21.53 3. Jarang 15.32 5. Masyarakat pesisir 10. Aparat pemerintah 21.05 5.79 Sedangkan upaya penyuluhan dari dinas terkait kepada masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan fungsinya bagi kehiduoan manusia masih kurang yaitu para responden menyatakan tidak pernah menerima penyuluhan sebesar 78. Tabel 4. Parameter Persentase (%) 1.05 4 Pengusaha 52.63 Dengan melihat kondisi hutan mangrove yang berada di pesisir Kabupaten Probolinggo harusnya pemerintah cepat melakukan tindakan penyelamatan pelestarian karena kon disi hutan sudah sangat tidak baik (36.. Olehkarena itu upaya pelestarian dan pengamanan hutan mangrove akan mengalami kendala yang cukup berarti sehingga diperlukan strategi pelestarian hutan mangrove yang baru . Kurang baik 26.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 15.33% .05%. Baik 10.79 2. Sedang 15.79 3.Kurang baik 21. Masyarakat luar 15. Tabel 4.79 4 .79 2.58 Selain kondisi hutan mangrove yang sangat tidak baik diperparah lagi oleh sistem pengelolaan hutan mangrove yang juga sangat tidak baik (persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di pesisir Kabupaten Probolinggo sebesar 31.32% menyatakan kurang baik). Sangat tidak baik 36.

pada prinsipnya ada 3 kebijakan pokok yang harus ditempuh pemerintah kabupaten Probolinggo agar sumberdaya kea nekaragaman hayati hutan mangrove berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat yakni : a. (3) tidak punya bibit mangrove.3 Arahan Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Dalam menghadapi situasi sekarang dan masa depan. Sementara itu. (2) lokasi hutan mangrove yang jauh. yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat komponen utama penggerak pelestarian hutan mangrove. dan (4) masyarakat lebih senang menanam padi dibanding menanam mangrove. Oleh karena itu. Kebijakan ini meliputi penetapan kawasan konservasi . Peningkatan aksesibilitas masyarakat pantai terhadap kegiatan ekonomi yang dapat mendorong kemampuan masyarakat pesisir untuk membudidayakan sumberdaya laut secara optimal. Dengan demikian. sebagaimana tabel Tabel 4.05 2 Diam saja (tidak mau terlibat) 52. pengelolaan dampak.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan Hutan Mangrove No. Dengan demikian. Parameter Persentase (%) 1 Menegur 21. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan masyarakat untuk dapat memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut. sebagian besar masyarakat tidak melakukan penanaman hutan mangrove dengan alasan (1) tidak tahu cara mena nam mangrove. maka perlu adanya pember dayaan masyarakat. strategi yang diterapkan harus mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat selain tujuan konservasi hutan mangrove tercapai.63 3 Melapor kedesa/kecamatan dan keamanan 26. Keterlibatanmasyarakat ini sangat penting karena rendahnya keperdulian masyarakat terhadap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove. Ketidakacuhan dari masyarakat dise babkan rendahnya perhatian instansi terkait untuk melibatkan masyarakat dalam setaip program yang dilakukan oleh pemerintah. kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan penelitian c. Pengelolaan hutan mangrove harus secara terpadu baik lintas sektoral. kebijakan yang berkaitan upaya penyelamatan keanekaragaman hayati. berikut keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peran serta masyarakat sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peranserta masyarakat dalam pelestarian fungsi sumberdaya laut sebagai penyangga kehidupan di wilayah tersebut 2. yaitu 1. kebijakan yang berkaitan cara-cara memanfaatkan hutan mangrove. paling tidak sudah dapat ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa masalah pengelolaan hutan mangrove secara lestari adalah bagaimana menggabungkan antara kepentingan ekologis (konservasi hutan mangrove) dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mangrove. Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumbedaya alam. Mengelola .63% responden menyatakan tidak mau terlibat atau diam saja melihat setiap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove. Saran dari responden terhadap pengelolan: 4. dalam konteks pelestarian hutan mangrove.31 Kepedulian masyarakat terhada pelestarian hutan mangrove relative kurang sekali yaitu 52. pendidikan dan parti s I pasi masyarakat b. Pemberdayaan masyarakat pantai mencakup dua hal pokok. Ber dasarkan kenyataan empiris tersebut. lintas pemerintahan Agar masyarakat mau ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan. persepsi masyarakat tehadap keberadaan hutan mangrove perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masayarakat akan pentingnya sumberdaya hutan mnagrove.terutama yang melibatkan unsur masyarakat dalam pengelolaannya. termasuk ekosistem hutan mangrove adalah pengelolaan berbasis masyarakat (Community Based Management) yang mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan.

sebagai kebalikannya pendekatan dari atas (top-down approach). 82. Metilistina Sasinggala. aparat pemerintah daerah dan suasta. Sementara itu sebanyak 61. V. baik ditinjau dari aspek sosial-ekonomi maupun aspek lingkungan hidup. dan bersifat merakyat (bottomup). sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Sifat merakyat ini merupakan bentuk implementasi dari kebutuhan. yang terdiri atas masyarakat. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. mengevaluasi maupun memonitorinya. merencanakan. pemukiman. Eksistensi ekosistem ini sekarang mulai terancam oleh berbagai faktor lingkungan dan aktivitas manusia yang mempengaruhi kelestarian ekosistem. masyarakat ikut memikirkan. =================================================================== Dari : AGRITEC VOL. dan 75. Dasar pemikiran atau landasan berpijak pemberdayaan mangrove bagi kesejahteraan masyarakat pesisir berbasis masyarakat adalah keberlanjutan (sustainability) usaha pemanfaatan dan pelestarian hutan mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan persepsi masyarakat pesisir terhadap keberadaan ekosistem mangrove dan mempelajari degradasi ekosistem hutan mangrove yang terjadi pada saat ini.di sisi mengandung arti. mengimplemetasikan.3% responden aparat pemerintah tidak setuju. Program ini bertujuan untuk: 1.Ferny Margo Tumbel. tidak memliki RTRW pemanfaatan hutan mangrove.8% responden suasta setuju terhadap pernyataan negatif atas keberadaan ekosistem hutan mangrove. memformulasikan. KESIMPULAN a. Herry Sumampouw Dosen Jurusan Biologi.17 NO 6 NOPEMBER 2009 – ISSN 0852-5426 ANALISIS SIKAP DAN PERSEPSI MASYARAKAT PESISIR TERHADAP DINAMIKA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BUNAKEN Attitude Analysis and Perception of Coastal Community to Dynamics of Mangrove Forest Ecosystem in Bunaken National Park .2% responden anggota masyarakat menyatakan setuju terhadap pelestarian ekosistem mangrove. 2. UNIMA Ekosistem hutan mangrove di Taman Nasional Bunaken Selatan merupakan salah satu sumberdaya alam yang tipikal dan unik di Propinsi Sulawesi Utara.9% responden aparat pemerintah juga setuju atas pelestarian ekosistem. kemampuan dan kesepakatan masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan yang ada. . Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan daftar isian yang melibatkan 130 responden dan wawancara dengan sejumlah narasumber. Mengembangkan suatu bentuk pengelolaan pesisir terpadu dimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemanfaatan lahan mangrove sebagai areal pertambakan secara berkelanjutan. Sekitar 82.8% respondents warga masyarakat setuju. Sikap dan perilaku masyarakat terhadap dinamika degradasi ekosistem hutan mangrove menunjukkan kecenderungan yang positif. 61. dalam hal ini pendekatan dari bawah (bottom-up approach). dan hotel. kayu bakar dan bahan bangunan. penebangan menjadi arang.6% responden suasta sangat mendukung terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove. Dengan istilah community-based management itu juga mengandung arti suatu pendekatan (approach). Menumbuhkan tanggung jawab masyarakat dengan cara meningkatkan kepedulian dan partisipasi mereka dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam di lingkungan mereka. dan 76. Penelitian ini menggunakan metode survei. Kondisi di desa pantai terhadap pemanfaatan hutan mangrove yakni : konversi lahan menjadi tambak. FMIPA.

pemerintah dan pengusaha) terhadap ekosistem hutan mangrove menunjukkan tanggapan yang berbeda. Keterangan penilaiannya adalah : 5 = sangat setuju (SS). pemanfaatan dan pelestarian ekosistem hutan mangrove menggunakan sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada responden. Parameter Tingkat Kerawanan Degradasi R0 R1 R2 Sikap dan persepsi stake holder terhadap : . Pada pernyataan bagian pertama (1-5) tentang kerawanan degradasi ekosistem hutan . rendah) eksistensi ekosistem hutan mangrove dengan parameter biogeofisik dan parameter sosial (sikap dan persepsi) seperti yang tercantum dalam Tabel 1. Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi ekosistem hutan mangrove No 1. Adapun responden yang dipilih menggunakan metode Stratified Random Sampling. Adapun dasar untuk mengkaji kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove dinilai berdasarkan skoring (tinggi.Pemanfaatan hutan Tidak setujuRagu-ragu Setuju-sangat mangrove secara sangat tidak setuju maksimal setuju Keterangan : R0 = rawan 0 (rendah).Kerawanan degradasi Setuju-sangat Ragu-ragu Tidak setujumengancam ekosistem setuju sangat tidak di TN Bunaken setuju . pemerintah serta investor (pengusaha) sebanyak 135 responden. 4 = setuju (S). R1 = rawan 1 (sedang). R2 = rawan 2 (tinggi) Hasil dan Pembahasan Sikap dan Persepsi Stake holder Sikap dan persepsi stake holder (masyarakat. masyarakat dan pengusaha) terhadap kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove di kawasan TN Bunaken bagian selatan. 2 = tidak setuju (TS). 30 responden untuk pemerintah (instansi terkait).Penelitian ini meliputi kajian parameter ekosistem mangrove dengan variabelvariabel yang diamati sebagai berikut : Parameter sosial penduduk. 3 = ragu-ragu (RG). karena responden yang dipilih melibatkan beberapa strata responden yaitu pemerintah. 15 responden untuk investor (pengusaha). masyarakat dan pengusaha dengan jumlah 90 responden untuk masyarakat setempat. sedang. Data variabel-variabel ini dapat berupa data primer hasil pengamatan dan wawancara langsung (indepth interview) atau angket (kuesioner) yang diedarkan pada anggota masyarakat setempat. Tabel 1. Analisis Sikap dan Persepsi Pengukuran tingkat sikap dan persepsi masyarakat dalam perlindungan. Data lain berupa data sekunder yaitu laporan-laporan statistik desa/kelurahan. 1 = sangat tidak setuju (STS) Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi Dalam menentukan potensi kerawanan degradasi mangrove di Kawasan Taman Nasional Bunaken dilakukan dengan membandingkan hasil deskripsi di lapangan yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif dan hasil uji laboratorium yang bersifat kuantitatif. yaitu jumlah penduduk serta sikap dan persepsi stake holder (pemerintah. Informasi yang di peroleh kemudian dilakukan pengukuran menggunakan skala Likert yaitu untuk mengukur persepsi dan sikap berbagai agen (sekelompok orang) dengan memberikan skor yang mempunyai gradasi atau kontinum penilaian dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju.

2004). 61. dengan luas sekitar 2000 km2. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal sehingga berada pada tingkat rawan R2 (tinggi). Lokasi penelitian terletak pada 2045’ – 3021’ LU dan 115048’ – 116034’ BT. Tujuh desa dipilih sebagai lokasi penelitian dari 19 desa yang tersebar dari hilir hingga hulu di sepanjang sungai Malinau. Tingkat Kerawanan Degradasi Ekosistem Hutan Mangrove Sikap dan persepsi masyarakat dan pengusaha sekitar kawasan menggambarkan kenyataan yang ada di lapangan. KABUPATEN MALINAU. namun lebih menekankan pada konsep ‘nilai umum’.3 % responden pemerintah tidak setuju dan 76. Sebaliknya dengan pernyataan kedua.8 % setuju. ANDRY INDAWAN2. ongkos.. sekitar 61. hanya kelompok pemerintah tetap menolak dan berada pada tingkat rawan R0 (rendah). kami menghindari penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan harga (harga. Malinau. 82. =================================================================== Dari : Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. masyarakat dan pengusaha menganggap bahwa keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umum. artinya tergantung pada pengetahuan dan pengalaman pribadi seseorang. murah). sekitar 82. J. X No. sehingga pernyataan pertama berada pada tingkat kerawanan R0 (rendah). Kedua suku tersebut dipilih karena memiliki budaya yang berbeda dan menonjol di DAS Malinau. East Kalimantan) NINING LISWANTI1.8 % responden masyarakat setuju.7 % responden pengusaha setuju. ‘Nilai’ maksudnya adalah pandangan-pandangan masyarakat lokal bukan ‘nilai’ yang berkaitan dengan konteks ekonomi. 2002. X (2) : 1-13 (2004) PERSEPSI MASYARAKAT DAYAK MERAP DAN PUNAN TENTANG PENTINGNYA HUTAN DI LANSEKAP HUTAN TROPIS. KALIMANTAN TIMUR Dayak Merap and Punan People’s Perception of the Importance of Forest in a Tropical Landscape. SUMARDJO3 dan DOUGLAS SHEIL4 Penelitian ini menggunakan konsep ‘nilai’ dan ‘kepentingan’ (Sheil et al. dengan perbedaan utama adalah bahwa Merap lebih menekankan pada pertanian padi/sawah sementara Punan lebih . uang. Sedangkan untuk pernyataan bagian kedua (6-10) tentang keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejah-teraan umum. 2 : 1-13 (2004) Artikel (Article) Trop.2 % responden masyarakat setuju. 2002) melalui pendekatan partisipasi dengan tujuan agar obyek yang diteliti yaitu masyarakat lokal dapat berpartisipasi selama penelitian berlangsung. Manage. ‘kegunaan’ (manfaat) dan ‘kepentingan’ (penting. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal.mangrove dapat terjadi dan merusak keseimbangan ekologis. Pada pernyataan pertama mengindikasikan ekosistem hutan mangrove tidak terancam karena semua stake holder memahami dan mengerti kerusakan yang dapat terjadi jika hutan mangrove mengalami degradasi. For.9 % pemerintah sangat setuju dan 75. Jadi dalam melakukan kegiatan skoring. Pemilihan desa dilakukan dengan menggunakan teknik stratified random sampling dengan strata utama yaitu suku Dayak Merap dan Punan. sangat penting). sedangkan ‘kepentingan’ berhubungan dengan apa yang sedang di nilai dan lebih menekankan pada penilaian relatif dan bersifat subyektif. Metode yang digunakan adalah metode pemberian skor atau distribusi kerikil (Pebble Distribution Method /PDM) (Sheil dalam CIFOR. mahal.

dan Uluk et al. pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values). 2002 dan 2004). Akan tetapi. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung. 2001). dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan.. dan di taruh di lantai sehingga dapat dilihat dan dijangkau oleh semua informan. jika 10 biji diletakkan di kartu ‘hutan’ dan 5 biji di kartu ‘jekau muda’. Desa Laban Nyarit mewakili suku Punan dan Merap. Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia.. fasilitator memperkenalkan setiap kartu berlabel dan bergambar yang mewakili tipe-tipe lahan. 2002 dan 2004. faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal(Socially Rooted Values). maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik. Liu Mutai. sedangkan desa Punan diwakili oleh Punan Rian.menekankan pada aktivitas berbasis hutan (Sheil et al. dan Long Jalan. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan. Desa Merap diwakili oleh Gong Solok. Setiap kegiatan skoring selalu mengikuti prosedur yang pasti. Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Setelah diberikan penjelasan dan contoh. (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kegiatan skoring dengan teknik diskusi kelompok terfokus (lihat Sheil et al. maksudnya sebelum kegiatan dimulai. =================================================================== Dari : Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik Dalam Program Studi Magister Teknik Arsitektur Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Oleh Mohamad Hendra Irawan 087020016/AR FAK TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2 0 1 0 Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi.. (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat. maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia. data-data tersebut ditabulasi dan di analisis berdasarkan nilai ‘kepentingan’yang diperoleh dari hasil setiap diskusi kelompok terfokus. (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan guna lahan. (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini. (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota. (9) tingkat . Polonia. Kegiatan penelitian dilakukan dari bulan Juni 2003 hingga Mei 2004. Madras Hulu dan Sukadamai. Selanjutnya. ini artinya lahan hutan adalah dua kali lebih penting dibandingkan lahan jekau muda. Langap dan Paya Seturan. (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan. para informan kemudian di minta untuk menyebarkan seratus alat penghitung (dapat berupa biji/kancing/korek api) di atas kartu-kartu tersebut menurut ‘kepentingan’ masyarakat lokal. Sebagai ilustrasi. Sarirejo.

sosial. (b) ditetapkannya unit manajemen (pengelolaan) hutan mulai dari unit pengelolaan terkecil tingkat lapangan dan unit kelestarian hasil sumberdaya hutan. pembukaan wilayah hutan. Proses penataan kawasan hutan (hutan primer.kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. Pada kedua bentuk organisasi tersebut (kawasan dan sumberdaya manusia). Dalam pengelolaan hutan lestari ada enabling factor yang harus dipenuhi yang disebut dengan prinsip 3A + P yaitu (Awang. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. Berdasarkan hasil penelitian. semak belukar dan tanah kosong) mencakup kegiatan-kegiatan penataan batas. (d) memanfaatkan hasil dari sumberdaya hutan tidak hanya kayu. dan tidak memanen hasil lebih dari kemampuan yang disediakan oleh hutan tersebut. sekunder. Selain organisasi kawasan. tersedianya ATLAS. (c) penatagunaan kawasan hutan untuk menjamin terbentuk kawasan yang berfungsi ekonomi. perlu adanya kerjasama antara dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. dan (c) jenjang pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan pengusahaan hutan. Kata Kunci: Persepsi.pengukuran. pembagian kawasan hutan ke dlm fungsi-fungsi dan kemanfaatan. San Afri. termasuk dalam prinsip ini adalah tersedianya secara pasti petapeta detail lokasi hutan yang kemudian dimantapkan dan dikukuhkan sebagai kawasan hutan yang akan dikelola dan diusahakan dalam jangka panjang. Kedua. pemerintah harus mempertahankan dan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangat beragam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. 2008) : Pertama. pemetaan. tersedianya ATURAN yang sesuai untuk keperluan menuju hutan lestari(aturan kelembagaan). (b) penataan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untukmembangun unit manajemen dan pengusahaan hutannya. inventarisasi hutan. merealisasikannya harus dengan cara uji-uji lapangan sebagai tempat . Perubahan Tata Guna Lahan. juga diperlukan aturan yang berkaitan dengan aturan penataan organisasi sumberdaya manusia seperti : (a) penataan organisasi kerja tingkat lapangan dan menetapkanpenanggung jawabnya. dan lingkungan (penataan ruang tumbuh tingkat lapangan). Sosio-Ekonomi =================================================================== PERSEPSI DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN FUNGSI HUTAN SEBAGAI DAERAH RESAPAN AIR ( Studi Kasus Hutan Penggaron Kabupaten Semarang ) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Umar L4K 006027 Pengelolaan hutan dan pengelolaan sumberdaya hutan (Forest resource management) memerlukan suatu faktor yang disebut dengan enabling factors (factor faktoryang memungkinkan) pengelolaan dan pengusahaan suatu kawasan hutan menjadi kawasan yang lestari dicapai. Termasuk di sini adalah semua aturan yang berkaitan dengan aturan pembentukan organisasi kawasan seperti: (a) batas-batas wilayah pengelolaan yang jelas.

pembelajaran menyusun aturan-aturan yang dibutuhkan, sehingga aturan yang diperoleh tidak top-down, tetapi bottom-up. Sejak dulu kala pengelolaan hutan diawali oleh pendekatan bottom-up dalam membentuk organisasi lapangannya. Konstruksi penataan organisasi dari bawah dijamin akan menghasilkan tingkatan pengenalan dan rasa memiliki (rekognisi) dan legitimasi yang tinggi dari para pihak terkait. Dengan prinsip bottom-up ini pula dapat dimengerti bahwa sesungguhnya penataan kawasan hutan sejak lama sudah sangat akrab dengan muatan lokal, spesifik wilayah, dan memberikan peluang bagi terlaksananya distribusi otoritas kewenangan pengelolaan ditingkat wilayah (otonom dalam penataan kawasan , pengembangan Ketiga, semua hal yang berkaitan dengan ATLAS dan ATURAN harus dijalankan secara AMANAH. Semua kesepakatan para pihak untuk membangun unit pengelolaan dan pengusahaan sumberdaya hutan harus dijalankan secara amanah, teguh pada pendirian yang memiliki komitmen tinggi terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban para pelaksana / pengelola hutan. Tidak ada penyimpangan aturan dan kesepakatan dan juga tidak ada korupsi dalam menjalankan tugas-tugas pembangunan hutan dan kehutanan. Keempat, memastikan faktor penting lainnya adalah PENGAWASAN. Kelemahan paling mendasar dalam pembangunan sumberdaya hutan di Indonesia selama ini adalah tindakan pengawasan. Semua yang berkaitan dengan atlas, aturan, dan pelaksanaan yang amanah, tidak mungkin dapat dicapai dengan baik jika tidak ada tindakan pengawasan yang sistematis, terukur, dan terus menerus. Tindakan pengawasan mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi. Hasil dari monitoring dan evaluasi dijadikan rujukan utama un tuk melakukan penyempurnaan aturan-aturan / kebijakan dan perbaikan hal-hal yang berkaitan dengan teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan. Konsep Environmental Adjusment (EA) adalah suatu proses dan pengukuran ===================================================================

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI KECAMATAN MEDAN POLONIA MOHAMAD HENDRA IRAWAN 087020016/AR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N2 0 1 0

Abstrak
Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnyapertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Akan tetapi, dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan, pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values), faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal (Socially Rooted Values). Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan perubahan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia, maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung, Polonia, Sarirejo, Madras Hulu dan

Sukadamai. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik, maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia, (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini, (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan, (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan tata guna lahan, (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan, (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota, (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat, (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat, (9) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangatberagam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah harus mempertahankandan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten, perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. Kata Kunci: Persepsi, Perubahan Tata Guna Lahan, Sosio-Ekonomi

DAFTAR ISI
ABSTRAK……………………………………………….……………… i ABSTRACT……………………………………………….…………… ii KATA PENGANTAR……………………………………………….… iii RIWAYAT HIDUP PENULIS…………………………………….….. v DAFTAR ISI……………………………………………………………. vi DAFTAR GAMBAR……………………………………………………. ix DAFTAR TABEL………………………………………………………. x BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………….... 1 1.1. Latar Belakang……………………………………………………..... 1 1.2. Perumusan Masalah………………………………………………..... 3 1.3. Landasan Teori…………………………………………………….... 3 1.4. Tujuan Penelitian……………………………………………………. 6 1.5. Batasan Penelitian…………………………………………………… 6 1.6. Kerangka Berpikir…………………………………………………… 7 1.7. Struktur Penulisan…………………………………………………… 9 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………… 12 2.1. Persepsi Masyarakat…………………………………………………. 12 2.1.1. Definisi……………………………………………………….. 12 2.1.2. Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi…………….. 13 2.2. Perubahan Tata Guna Lahan……………………………………........ 15

2.2.1. Definisi………………………………………………………... 15 2.2.2. Model Perubahan Tata Guna Lahan………………………….. 17 2.3. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan………. 22 2.4. Kaitan Kajian Teori Terhadap Kegiatan Penelitian ………………… 36
Universitas Sumatera Utara

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……………………..……… 39 3.1. Metode Penelitian………………………………………………….... 39 3.2. Populasi Dan Sampel………………………………………………... 40 3.2.1. Populasi………………………………………………….......... 40 3.2.2. Sampel ……………………………………………………….. 41 3.3. Identifikasi Variabel………………………………………………… 42 3.4. Teknik Pengumpulan Data………………………………………...... 44 3.4.1. Pengumpulan Data Primer……………………………….......... 44 3.4.2. Pengumpulan Data Sekunder…………………………………. 45 3.5. Teknik Pengolahan Data…………………………………………….. 46 3.6. Teknik Analisis Data………………………………………………… 47 3.7. Tahapan Penelitian……..…………………………………………….. 48 BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI………………… 50 4.1. Kondisi Umum Kecamatan Medan Polonia………………………..... 50 4.1.1. Letak Geografis Dan Administrasi Wilayah…………….......... 50 4.1.2. Demografi Kependudukan…………………………………… 52 4.1.3. Ekonomi………………………………………………………. 54 4.1.4. Sosial Budaya Dan Kesehatan Masyarakat…………………… 54 4.2. Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia……………………. 56 4.2.1. Kedudukan Bandar Udara Polonia Dalam Konteks Perkotaan ……………………………………………. 56 4.2.2. Kondisi Eksisting Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………..................... 60 4.2.3.Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia………………………………………….............. 70 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………... 76 5.1. Karakteristik Responden………...…………………………………… 76 5.1.1. Karakteristik Sosial Responden…………………….…….......... 76 5.1.2. Karakteristik Ekonomi Responden……………….…….....,,…., 79 Universitas Sumatera Utara 5.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………. 82 5.2.1. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Ekonomi Yang Berorientasikan Pada Pengembangan Modal Finansial (Profit Making Values)……............................. 82 5.2.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Pemenuhan Kebutuhan Dasar Dan Menjaga Keberlangsungan Hidup Masyarakat Umum (Public

Proses Terjadinya Persepsi……………………………………… 14 DAFTAR TABEL No.... 99 5.. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Agama……..........1...5.. ……… 77 5.........2....... Kesimpulan………………………..5.... Data Jumlah Penduduk Usia 7-12 Tahun Dan Status Pendidikan Di Kecamatan Medan Polonia………………..3.. Data Administratif Wilayah……….............. 73 4.. Judul Hal 3...2.......... Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Di Kecamatan Medan Polonia…………………………………………….........1.. 75 5.18....2..... 77 5... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Penghasilan RataKeluarga/ Bulan79 .............. 76 5...............2.....……..... Saran / Rekomendasi ………………………………………………… 135 6.. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Usia………………....1.. 50 4... 9 2..... ……… 53 4. ……… 54 4... Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Nilai-Nilai Sosial Yang Bertumbuh Kembang Di Daerah Dimana Lahan Itu Berada (Social Rooted Values) …………… 113 BAB VI.....6.......... PENUTUP……………………………………………………...1.. Kelemahan Penelitian Dan Saran Dilakukannya Penelitian Lebih Lanjut…………………………………………………………......2.. Perwujudan Sistem Prasarana Dalam Arahan Penggunaan Lahan Tahun 2008-2028…………………..3. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Status Pernikahan…………....... 52 4. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar BelakangPendidikan…78 5........19.... 43 4.... 42 3........ Penentuan Jenis Variabel Terikat (Descrete) ......…………….. Judul Hal 1...........4.Interest Values………………......... 133 6.3. Penentuan Jumlah Sampel Proporsional……….. 137 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 138 LAMPIRAN-LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No.... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar Belakang Etnis / Suku. Rencana Penggunaan Lahan Di Kecamatan Medan Polonia .. Kerangka Berpikir………………………………………………. Data Jumlah Penduduk Berdasarkan Usi Jenis Kelamin……53 4..... 78 5.............. Data Kependudukan………............3.1.1..4.. 125 6.....………………………………….

...26... 115 5.. Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………… 100 5.........9.... Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………… 102 5.......22.. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Status Rumah Tinggal.............24.......11...... 92 5. 106 5......29.14......13.. 104 5......20. 82 5. Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan…… 88 5......12.........................23.......... Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan … 83 5. 89 5... Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan……. Tingkat Keyakinan Masyarakat Terhadap Tersedianya Fasilitas Dan Infrastruktur Berdasarkan Jenis Pekerjaan………………….....16.21.. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal…81 5.. 114 5..18..................... Tingkat Persetujuan Terhadap Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………. 119 ...........28..17. 110 5..... 81 5...... 97 5.. 80 5..10. 85 5... 109 5............27... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Pengeluaran R2 Keluarga/ Bulan 80 5..... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenjang Pendidikan 93 5.........15... Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan…………. Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan…. Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Status Rumah Tinggal ……. Karakteristik Mata Pencaharian Responden BerdasarkanTingkat Pendidikan…......... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenis Pekerjaan…....25..8.... Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan……………........7.5.. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Mata Pencaharian. Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Penghasilan Rata-rata per Bulan ..19..... Tingkat yakinMasY TDp Tersedianya Fasilitas Infrastruktur Berdasarkan Lo................................ Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal …….. Tingkat Persetujuan THD Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………... 96 5..... 118 5...... Tingkat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan......

Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg. at mangrove forest of Bengkalis Islands.. Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------Kerapatan Relatif = --------------------------.... tali plastik. That dominanced species is Rhyzophora apiculata (132. The results of data analysys showed that generally was founded 21 species frok....5... strata... gunting........ suhu air..31. kadar organik dan tekstur tanah... 1(1):26-30. kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling batang setiap individu tersebut. sapling stratum........ kertas koran.... sapling. Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek. Ten quadrate (10x5 m) was maked on the trannsects with systematically systems.30... Bahan yang diperlukan adalah : aquades. 1974)....... that what founded 2 sapling starata vegetation (Rhizophora apiculata dan Thizophora mucronata) has been distributed all of area study (100%)..... This study used quadrate methods with quadrate was placed along of trannsect. parang... Key words : Mangrove. secara purposive sampling. Relative Dominance (DR) and Informace Value.............. Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan…………. Bantan Air... Selat Baru dan Jangkang.. 121 5. handrefractometer. Pada tiap lokasi diukur parameter lingkungan yang meliputi salinitas.......79%) at location VII (Desa Selat Baru). Pekanbaru 28293 Diterima 17 April 2004.... Dibuat 2 buah transek pada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telah ditetapkan)..... Ketam Putih. 122 Jurnal Biogenesis Vol. Tanjung Sekodi.. sedangkan alat yang dipakai : Kompas.... Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada. alkohol 70 %.......... 2004 © Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau ISSN : 1829-5460 26 STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*). Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan……………. vegetation PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon.... Nursal Dan Supriyanti Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau.. meteran.. suhu udara. pancang........ Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herbarium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986). Relative frekwency (FR).... Observation variable are Relative Density (KR).... soiltester dan botol semprot.... thermohigrometer.x 100% .... pH.... structure.... Pangkalan Batang.. Disetujui 20 Juni 2004 Abstract The research about structure and distribution of sapling strata vegetation has been done at mangrove forest ecosystems in Bengkalis Islands Riau Province from March until November 2002.

Komposisi dan penyebaran sapling mangrove di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis No Nama local Nama ilmiah Family 1 1 Bakau putih Rhizophora apiculata Rhizophoraceae + Jumlah 9 10 10 5 10 5 12 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 100 Relatif (FR = 34.52 32.28 15.46 89.41 2 Excoecaria sp 21. FR : Frekwensi Relatif.x 100% Nilai Penting = FR + KR + DR HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur vegetasi strata sapling Tabel 1.x 100% Dominansi = ------------------------------------------Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi Relatif = -------------------------. penyebaran yang luas dari jenis-jenis Rhizophora juga ditunjang oleh sifat dan cara perkembangbiakan dari biji yang bersifat vivivar. Tiga jenis utama vegetasi sapling mangrove yang memiliki nilai penting tertinggi pada masingmasing lokasi penelitian Lokasi Spesies FR KR DR NP 1 Excoecaria sp 26. Desa Pangkalan Batang. 2.79 27.32 35. Desa Meskom. Bengen (2002) menyatakan bahwa daur hidup yang khusus dari jenis bakau (Rhizophora sp) dengan benih yang dapat berkecambah pada waktu masih berada pada tumbuhan induk sangat menunjang pada proses distribusi yang luas dari jenis ini pada ekosistem mangrove. 3. Faktor Fisika-Kimia Ekosistem Mangrove . Penyebaran vegetasi Strata Sapling Tabel 2.30 12. DR : Dominansi Relatif. Selain faktor habitat yang sesuai.48%) dari jenis ini dibandingkan dengan jenis lainnya. NP : Nilai Penting dominan pada kawasan ini. Biji yang telah berkecambah selagi masih di dalam buah yang masih melekat pada tumbuhan induknya memberikan kesempatan untuk dapat tumbuh dengan baik dalam hutan yang selalu digenangi oleh air pasang. KR : Kerapatan Relatif.75 Rhizophora mucronata 1899 1724 Keterangan: 1.07 Rhizophora mucronata 12.Frekwensi =----------------------------------------------Frekwensi Relatif = --------------------------.69 Xylocarpus granatum 19. Tabel 3. Hasil pengukuran faktor fisika-kimia di .

7 29. Dengan demikian sapling tumbuhan Rhizophora sp merupakan vegetasi mangrove yang berperan penting khususnya dalam membentuk regenerasi di masa yang akan datang pada kawasan hutanmangrove Pulau Bengkalis.9 30 7 5. partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).Responden Perempuan ataupun Laki-laki . Diantara 21 jenis sapling yang ditemukan jenis vegetasi sapling tersebut memiliki nilai penting tertinggi dan tersebar dengan baik pada ke tujuh lokasi pengamatan dengan penyebaran 100%. Tujuan Penelitian Mengkaji hubungan persepsi.7 27 5 5.8 21. Oleh karena itu. perancangan dan pelaksanaan berbagai kemungkinan manfaat yang dapat diperoleh dari usaha perlindungan kawasan konservasi.75 Suhu udara (0C) 28 28 30 Suhu air (0C) 30 28 30 28 30 28 20 Kelembaban udara (%) 60 44 31. perlu dilakukan penelitian tentang persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah. DAFTAR PUSTAKA ======================================================================== Kriteria inklusi dalam penelitian : .0 Tekstur tanah Liat Liat Liat Liat Liat Liat Liat 4 5. tetapi sejauh mana masyarakat sekitar terlibat dalam kegiatan tersebut. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa keberhasilan upaya pengelolaan kawasan konservasi laut tidak hanya tergantung pada pemerintah saja.5 29 KESIMPULAN Struktur vegetasi strata sapling di kawasan hutan mangrove pulau Bengkalis didominasi oleh jenis Rhizophora apicukata dan Rhizophora mucronata yang termasuk famili Rhizophoraceae.kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis Parameter 1 2 3 PH tanah 5. Karenanya peran serta masyarakat harus dilibatkan pada identifikasi.3 29 16.9 6 30 6 5.9 67 54 54 69 Salinitas (o/oo) 20 24 28 23 25 30 30 Kadar organik tanah (%) 23.5 28.4 4.Tingggal di sedan n bersedia jadi resp PERSEPSI DAN PARTISIPASI NELAYAN TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT KOTA BATAM TESIS PROGRAM PASCA SARJANAMANAJEMEN SUMBERDAYA PANTAI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 Oleh : Mardijono K4A 006 014 Abstrak Peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kota Batam ditujukan untuk meyakinkan masyarakat akan manfaat perlindungan kawasan tersebut. .8 5 5.Responden yang dapat berkomunikasi dengan baik .14-45 th .

...................... METODE PENELITIAN 3........................... dengan nilai r2 0...................3.................. 27 3...1 Definisi Persepsi ........... 29 3............... par tisipasi masyarakat dan peran Pemerintah....5..............99......................... Skala Pengukuran ...1............ 1...................... karena mampu mengubah persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan bersama KKLD di Kota Batam..........2..... pengaruh ini juga secara langsung berhubungan dengan partisipasi masyarakat dengan nilai r2 0........ Hasil penelitian.... Mengkaji persepsi masyarakat setempat mengenai (KKLD) dan manfaatnya..... Pengelolaan DAFTAR ISI BAB III.......2 Partisipasi Masyarakat ..1.... 28 3................................. Variabel Penelitian ................ Metode Penelitian . maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1............. Mengkaji peranan pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD)...... Tujuan Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut diatas...3.. 4........Metode penelitian adalah survei dengan penekanan pada variabel persepsi........... 28 3...6....................... Mengkaji partisipasi masyarakat setempat dalam mengelola (KKLD) tersebut 3. Kata-kata kunci : Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Pesisir...................3 Peranan Pemerintah ..................................... Rumusan Masalah Persepsi dan partisipasi masyarakat merupakan hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah selain peranan pemerintah....... Untuk itu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan seperti tersebut diatas sangat diperlukan dalam pengelolaan kawasan konservasi laut daerah................3................... 2......... 30 3...................... Mengkaji hubungan (korelasi) antara persepsi dan partisipasi mesyarakat dengan program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah dalam mengelola ............. Analisis Data .......3........................ Manfaat Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.......2........ disamping itu peran Pemerintah dalam kegiatannya yang melibatkan masyarakat mampu memberikan motivasi sehingga mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD........ 28 3.............. 31 BAB I PENDAHULUAN 1...........................................8...........3.. 27 3...........7...............4. 29 3.............................. Jenis dan Sumber Data ......1 Persepsi Masyarakat ................ hubungan antara ketiga variable dilakukan uji regresi.... peran Pemerintah mempunyai andil yang besar dalam penge lolaan KKLD.......... 1...3......................98... Teknik Pangumpulan Data ... 30 3........................ Populasi dan Sampel .................. Latar Belakang 1....... Lokasi ..4.................. 28 3.

Kepada syarakat yang berhubungan erat dengan . target yang akan diamati. 3. suasana hati. Metode Penelitian metode survei. karakteristiknya dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan. yakni memiliki (sense of belonging) Menurut Tjokroamidjoyo (1990). pelaku persepsi. c. 1996) 2. bila seorang individu memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya..1. ada tiga faktor yang mempengaruhi peran serta atau partisipasi yaitu : a.3. perumusan masalah. Ini meliputi aktivitas penentuan masalah. Kehadiran Kehadiran merupakan varian partisipasi tinggkat pertama yang lebih mudah mnjadi tolok ukurnya sebab jika seseorang hadir dalam suatu kegiatan maka ia dapat dikatakan telah berperan serta. Komunikasi Gagasan . fisiologis (pengiriman hasil penginderaan ke otak melalui saraf sensoris) dan psikologis (ingatan.Menurut Saptorini (1989). BAB III METODE PENELITIAN 3. kebijaksanaan dan rencana .rencana akan memperoleh dukungan bila hal tersebut diketahui dan dimengerti oleh masyarakat. Kepemimpinan Faktor pertama proses pengendalian usaha dalam pembangunan ditentukan sekali oleh kepemimpinan. perhatian. motif/kebutuhan individu.gagasan. persepsi dapat terbentuk setelah melalui berbagai kegiatan. pengalaman masa lalu. yakni proses fisik (penginderaan). perumusan metode dan pendekatannya serta pembuatan keputusan.2 Definisi Partisipasi Tjokroamidjoyo (1990). penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristikkarakteristik pribadi dari pelaku persepsi. 3. pemrosesan informasi di otak). 3.2. Tolok ukur varian pertama peran serta adalah kehadiran yang bersifat kuantitatif. prestasi belajar sebelumnya dan pengharapan. b. Beberapa hal yang mempengaruhi persepsi : 1. antara lain sikap.. Lokasi Penelitian. Individu dikatakan berperan serta dalam varian ini apabila terlibat dalam penentuan masalah. 2. yaitu unsurunsur dalam ingkungan sekitar dapat mempengaruhi persepsi (Robins. Individu yang berperan serta pada varian ini tidak hanya hadir dan berpresentasi tetapi lebih dari itu. Representasi Representasi merupakan varian kedua dari peran serta yang secara kualitatif lebih tinggi dan mendalam jika dibandingkan dengan varian pertama. persepsi adalah suatu proses mental yang rumit dan melibatkan berbagai kegiatan untuk menggolongkan stimulus yang masuk sehingga menghasilkan tanggapan untuk memahami stimulus tersebut. Pemilikan dan pengendalian Pemilikan dan pengendalian merupakan varian tertinggi dari peran serta secara kualitatif. Situasi. 2. menyatakan varian peran serta atau partisipasi adalah : 1. Pendidikan Tingkat pendidikan yang memadai akan memberikan kesadaran yang lebih tinggi dalam berwarga negara dan memudahkan bagi pengembangan identifikasi terhadap tujuan-tujuan pembangunan yang bersifat nasioanal.

Persepsi Masyarakat 3.…. Sedangkan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang berarti antara ke tiga variabel tersebut dilakukan uji regresi antara varibel. Variabel Penelitian 3. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan yang saling mempengaruhi antara peran Pemerintah dalam mempengaruhi persepsi masyarakat dan seberapa besar peran pemerintah mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD di lokasi Penelitian. partisipasi dan peran pemerintah. 3.3. partisipasi dan peran pemerintah mengenai pelaksanaan KKLD. Populasi dan Sampel masyarakat nelayan yang ertempat tinggal di lokasi penelitian yaitu diwilayah Kawasan Konservasi aut Daerah (KKLD) Kota Batam yaitu warga Kelurahan Pulau Abang Responden yang diambil berjumlah 113 orang.3.3. b. c. Demikian juga uji regresi dilakukan pada variabel persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat. Kelurahan Karas Responden yang diambil berjumlah 31 orang dan Kelurahan Galang Baru Responden yang diambil berjumlah 100 orang.ncara langsung dengan daftar pertanyaan yang telah disediakan sebelumnya. Metode ini bersifat deskriptif korelasi. Kelurahan Pulau Abang. kepala kampung.5.8. yakni. tokoh adat. 3.7. tokoh agama. Respondennya adalah nelayan. dan pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan serta instansi terkait. persepsi.1.Data sekunder 3. tokoh masyarakat. pejabat Dinas Perikanan dan elautan serta instansi terkait. dari seluruh responden pada masing lokasi penelitian setara 15 % dari jumlah penduduk berprofesi sebagai nelayan. Kelurahan Karas dan Kelurahan Galang Baru. Teknik interview (wawancara) : untuk mendapatkan data primer maka menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur (semi structured interview) yaitu nelayan. Skala pengukuran . variabel partisipasi dan variabel peran pemerintah.3.. Sampel diambil dengan memberikan peluang yang sama bagi setiap masyarakat untuk dipilih sebagai responden. Peranan Pemerintah .6.3. Teknik observasi (pengamatan) : teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai potensi sumberdaya pesisir dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan setempat. tokoh asyarakat. kepala kampung. hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antar kedua varibel tersebut dalam pengelolaan KKLD. Jenis dan Sumber Data data primer wawancara langsung dengan responden.4.konservasi laut yaitu nelayan juga masyarakat lain seperti tokoh masyarakat yang berdomosili di lokasi penelitian. Variabel yang diteliti adalah variabel persepsi.2.3. Partisipasi Masyarakat 3. Analisis Data Data yang dianalisa adalah persepsi . 3. tokoh adat. tokoh agama. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut : a. 3. Kuesioner : data primer.

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.90 2 Petani 50 5.2.1. Sekitar 86. Setuju/tahu/positif diberi skor 3 3. Sangat tidak setuju/tidak tahu/tidak pernah diberi skor 1 32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. Segayang.75 3 Buruh 35 4.46 7 Babinsa 1 0. Secara administrasi batas wilayah Kelurahan Pulau Abang. Pasir Buluh. 1. Untuk keperluan analisis kuantitatif. sebelah Timur dengan Kelurahan Galang Baru dan Kecamatan Senayang dan sebelah Barat dengan perairan Kecamatan Moro Kabupaten Tanjung Balai Karimun. Pulau Abang Kecil. Gambaran Umum Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) 4. Jenis Mata Pencaharian di Kelurahan Pulau Abang No Pekerjaan JumlaH pERSENTASE 1 nEayan 756 86.11 Jumlah 870 100.1. Berdasarkan data monografi kelurahan Pulau Abang. Sangat setuju/sangat tahu/sangat positif diberi skor 4 2. Kelurahan Pulau Abang Kelurahan Pulau Abang terletak dibagian selatan Kota Batam.1. 39 Tabel 1. dan sekitar 5.1. pendapat dan persepsi seseorang atau ekolompok orang tentang fenomena sosial yaitu skala likert (Sugiyono.61 5 Pegawai negeri sipil 10 1.1. maka jawaban dapat diberi skor.02 4 Pengusaha 14 1. Tidak setuju/cukup tahu/ tidak pernah/negatif diberi skor 2 4. diantara pulau yang berpenghuni antara lain Pulau Abang Besar.1.02 % buruh. sebelah utara dengan kelurahan Si Jantung.00 Sumber : Monografi Kelurahan Pulau Abang.2.61% pengusaha/Tauke dan 1. Kondisi Wilayah Pesisir dan Kelautan Kota Batam 4.75 % petani. Kondisi Geologi dan Geomorfologi Pantai 4. Batimetri 4.90 % mata pencaharian tetap masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan di laut (nelayan). misalnya : 1. Skala yang igunakan untuk mengukur sikap.4. ternyata bahwa sebahagian besar mata pencaharian masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan. Letak Geografis 4.3.1.dari kuesioner adalah data ordinal yang mengukur ingkatan atau gradasi dari sangat positip sampai sangat negatif. sebelah Selatan dengan perairan Kecamatan Senayang. mempunyai 42 buah pulau besar dan kecil. 2007 .2. 2006). dan Dapur Enam.15% pegawai negeri. Pulau Petong. 4. sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat ketergantungan masyarakat terhadap perairan laut sangat tinggi.15 6 Angkatan laut 4 0. Bentuk dan Tipe Pantai 4.

Buruh indusri 47 6.2. Pemasaran dan Pasca Panen 4.12 6.11 %). Transportasi Laut 5.2.11 2.3. 3. Penerangan Rumah 4. 17 – 25 505 19. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 1. Pelabuhan dan Jalan 6. komunitas yang ada dikawasan ini merupakan komunitas masyarakat melayu yang berasal dari kerajaan Daik Lingga. Jumlah penduduk Kelurahan Galang Baru menurut usia No Usia (tahun)Jumlah(jiwa) Prsentase 1.2. M atPencaharian jmlah(jiwa)Persentase 1. Hasil Tangkapan 5.2. PNS 12 1. Sarana Perdagangan 4.2. Nelayan 669 87.2. 26 – 55 1066 40.83 5. Jenis Alat Tangkap 3.56 4. Fasilitas Umum 1. Perumahan 8. Sarana Kesehatan 2.2.1.52 3.1.1. Musim Penangkapan.2. Bahasa yang mereka .49 2. Melihat kondisi yang seperti ini dapat dikatakan bahwa basis perekonomian Kelurahan Galang Baru adalah perikanan tangkap. sebagian besar penduduk Kelurahan Galang Baru merupakan nelayan (87.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru.1. Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Galang Baru No. 2007 Tabel 3. 6 – 16 596 22. Daerah Penangkapan 4. Petani 4 0.82 3. Dengan demikian ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya perikanan sangat besar. Pedagang 35 4. Sarana Air Bersih 7. 0 – 5 300 11.2. 2007 4. Sarana Pendidikan.34 4. Kegiatan Budidaya Perikanan 4.4. 56 tahun ke atas 144 5. Kapal Motor Perahu 2. Keberadaan mata pencaharian lain pada prinsipnya mendukung kegiatan ini perikanan khususnya perikanan tangkap. Secara kultural. Pengusaha sedang 1 0.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru.4.1. 4.52 Jumlah 2611 100.56 5. Kelurahan Galang Baru Tabel 2. Struktur Ekonomi dan Kultur Sosial Masyarakat Jika dilihat dari prosentase jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian sebagaiman tersebut diatas.3.13 Jumlah 768 100.

Bakau Merah (Rhizophora aplicuta).62 Tinggi 191 Sedang P.pergunakan adalah Bahasa Melayu. Tabel 9. Namun kehidupan social masyarakat dikawasan ini sudah tidak lagi memiliki kultur yang khas. Dudukan Putih (Lumnitzera racemosa). Gadelam (Derris trifolata). Waru (Hibiscus tiliacus).2. Persentase Tutupan dan Keragaman Jenis Mangrove KKLD Kelurahan Keaneka ragaman (H’ Pohon) Kategori Kerapatan /Ha Kategori Pulau Abang 0. Seperti halnya. Nyirih (Xylocarpus granatum).01 Tinggi . bom ikan diperkenalkan oleh pendatang dari Suku Buton. Pedada (Sonneratia alba). Buta-buta (Exacaecaria agallacha). pandangan dan persepsi masyarakat terhadap keberadaan sumberdaya alam tidak lagi mengikuti petuah dan petata-petiti budaya seperti yang terkandung dalam petuah adat serta pantun-pantun melayu. Hilangnya kekhasan kultur ini. Masyarakat telah terkontaminasi oleh pendatang untuk menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. Pada sisi lain.70 Sedang 179 Sedang P. Karas 1.88 Rendah 3. Nguan (galang baru) 1.20 Tinggi 164 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam.76 Sedang 213 Tinggi P.4. 4. Bakau Putih (Rhizophora mucronata). Dudukan Merah (Lumnitzera littorea). 1. Kearifan dalam memanfaatkan dan menjaga sumberdaya alam hanya ditunjukkan oleh segilintir orang sehingga kearifan tersebut seolah hilang. Kegiatan Perikanan Kelurahan Galang Baru. lebih jauh disampaikan bahwa yang membentuk hutan mangrove dikawasan studi dikenali terdapat 12 (dua belas) jenis vegetasi. Lenggadai (Bruguiera parvifora). Sumbur (Galang Baru) 0. Seperti diketahui kawasan ini sangat dekat dengan Negara Singapura dan kontak secara langsung maupun tak langsung dengan luar sudah berlangsung cukup lama. Daerah Penangkapan 3. yaitu : Api-Api (Avicennia marina). boleh dikatakan (patut diduga) sangat dipengaruhi oleh derasnya arus globalisasi (pengaruh asing) yang datang dari Negara Singapura tersebut. Alat dan Musim Tangkap 2.2. 2007 Jenis Mangrove yang dominan adalah jenis Rhizophora. Tingi (Ceriops tagal). Pendatang dari suku Buton disinyalir pertama kali menggunakan bom dalam aktivitas nelayan di kawasan perairan Kepulauan Riau. Kegiatan Budidaya Perikanan Tabel 6. Kelimpahan dan Keragaman Ikan Karang di Masingmasing Kawasan Kawasan Jumlah Transek Kelimpahan (Individu) Kategori Keragaman Kategori I 8 121.

7% 12.0% Sumber : Data primer diolah.. Persepsi Masyarakat Mengenai Kondisi Terumbu Karang Tabel 15.2 % responden mengetahui bahwa mangrove yang berada di 3 Karas 8 16 3 4 25.+ + + 15 Kima Tridagna + . 2008 Keterangan : Nilai 4.7% 29. Tidak Mengetahui Rata .4% 3. Kondisi Mangrove Sangat rusak Rata – rata 73. Mengetahui Nilai 2. Sangat Mengetahui Nilai 3.1% 4. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Karas Tabel 14.0% 3. Kondisi Mangrove Rusak Nilai 1.2. Buaya Crocodylus porosus .2 % responden mengetahui aturan Daerah Perlindungan Laut yang berada di kawasan Pulau Abang. 2008 Keterangan : Nilai 4.0% 14. dan Pulau karas.3.37 Rendah 2.9% Sumber : Data primer diolah.3. Tabel 10.9% 22.51 Rendah IV 4 162.2.11 Sedang 1. Persepsi Masyarakat Tentang Kondisi Mangrove NoLokasiPenelitianSkore Persentase 43214321 1 Pulau Abang 79 25 5 4 69.145 4.5.14 Gonggong Littorina sp .5. Galang Baru. 2007 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sumbur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) yang terdapat di KKLD pada tiga Kelurahan disajikan pada tabel 10 berikut. Kondisi Mangrove Sangat Baik Nilai 3.0% 3 Karas 21 9 1 0 67.II 13 109.8% 51.6% 9.+ Sumber: Studi Penyusunan Kawasan Marine Managemen Area. Kondisi Mangrove Baik Nilai 2. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Galang Baru 4.rata 58..0% 3. Jenis Satwa yang Dilindungi di Kawasan Penelitian No Nama Lokal Jenis I II III IV 1.85 Rendah 2. Lumba-lumba Dolphinia sp + .2.5% 2 Galang Baru 82 14 3 1 82. Hal ini dikarenakan mereka telah mengetahui dari sosialisasi dari pemerintah baik lewat .02 Sedang III 9 198. Duyung Dugong dugon + .2% 0.74 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam. Cukup Mengetahui Nilai 1.0% 1.+ + + 2. 2006 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sembur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) Jumlah 103.

penyuluhan. pada sub pertanyaan mengenai sanksi di Daerah Perlindungan Laut tersaji pada Tabel 19.98 pada tarap signifikansi 0. partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah terhadap Kawasan Konservasi Laut Daerah dikelompokan dalam 3 (tiga) kategori berdasarkan interval kelas dari hasil skoring total nilai yang tersaji dalam Tabel 36. Partisipasi dan Peran Pemerintah dalam KKLD No. maupun beberpa papan pengumuman yang dipasang di kawasan tersebut. Hubungan Persepsi. dengan nilai R2 = 0. Partisipasi dan Peran Pemerintah terhadap KKLD Berdasarkan pengelompokan data dari persepsi masyarakat. Interval Kelas Tingkatan Persepsi.6. 2008 Hasil uji regresi terjadi hubungan yang sangat erat antara persepsi masyarakat terhadap KKLD dengan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan KKLD. Partisipasi Dan Peran Pemerintah Dalam KKLD No. 2008 105 Total skor persepsi. Total Skore Persepsi. Wilayah Tingkat Interval 1 Kelurahan Pulau Abang 3 (Tinggi) > 2373 2 (Sedang) 1582 – 2373 1 (rendah) < 1582 2 Kelurahan Galang Baru 3 (Tinggi) > 2100 2 (Sedang) 1400 – 2100 1 (rendah) < 1400 3 Kelurahan Karas 3 (Tinggi) > 651 2 (Sedang) 434 – 651 1 (rendah) < 434 Sumber : Data primer diolah. demikian juga terjadi hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD pada .068. Wilayah Kelompok Tingkat Total Skor 1 Kelurahan PulauAbangPersepsi 3 (Tinggi) 2373Partisipasi 2 (Sedang) 2124Peran Pemerintah 2 (Sedang) 2131 2 Kelurahan GalangBaruPersepsi 2 (Sedang) 1952Partisipasi 2 (Sedang) 1917Peran Pemerintah 2 (Sedang) 1859 3 Kelurahan Karas Persepsi 2 (Sedang) 629Partisipasi 2 (Sedang) 581Peran Pemerintah 2 (Sedang) 573 Sumber : Data primer diolah. Tabel 37. Hasil jawaban yang dihimpun dari pertanyaan seputar persepsi masyarakat tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah. Tabel 36. s pada tahun 4. partisipasi dan peran pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dan Daerah tersaji dalam Tabel 37 berikut.

Saran DAFTAR PUSTAKA Anggoro. 2002. S. Penerbit LISPI.. Universitas Diponegoro. Anggoro.J. R.025. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Keanekaragaman Hayati Laut. Peran pemerintah dalam pengelolaan KKLD pada tiap-tiap kelurahan mempunyai tingkat peran “sedang” (66 % . Bengen. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34 tahun 2002. 2002. PT Pradnya Paramitha.67 %) karena responden menilai peran pemerintah khususnya dalam penghijauan mangrove. Pedoman Tata Ruang Pesisir dan Laut. Seminar Nasional Fakultas Teknik dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro ke 43.. R. Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan untuk Kesejahteraan Rakyat. Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya. epartemen Kelautan dan Perikanan. Kesimpulan: 1.99 pada tarap signifikansi 0. Nelayan mempunyai tingkat persepsi sedang hingga tinggi (70% . Rais. Sitepu. Nelayan mempunyai tingkat partisipasi sedang (67% . Dengan melakukan kegiatan peningkatan SDM. 5. S.P. dan Kelompok MPA) yang dilakukan oleh Pemerintah yang dapat meningkatkan persepsi dan partisipasi masyarakat tentang arti pentingnya mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah secara bersama (Masyarakat dengan Pemerintah). dan M. Semarang. Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan Berwawasan Lingkungan. S.75%) terhadap arti pentingnya pengelolaan Kawasan Konservasi Laut hal ini karena nelayan menyadari bahwa hasil tangkapan sangat tergantung kepada kondisi ekosistem yang baik 2. 4. Jakarta. partisipasi masyarakat dan peran pemerintah terhadap KKLD.ketiga wilayah tersebut dengan nilai R2 = 0. hasil uji regresi peran pemerintah terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD juga terjadi hubungan yang sangat erat dengan nilai R2 = 0.044. Jakarta Dahuri. POKWASMAS. Bogor. Modul Matrikulasi Pengelolaan Pesisir dan Laut. 2000. Jakarta. Terdapat hubungan yang erat antara persepsi masyarakat. D. PKSPL. 2006. tanggal 4 . Semarang. dengan melihat nilai regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelelolaan KKLD sangat ditentukan oleh persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan KKLD sebagai sumber kehidupan masyarakat yang berkelanjutan. . 2000. IPB.1. sedangkan dalam pengawasan partisipasinya rendah hal ini dikarenakan anggapan masyarakat bahwa sudah ada petugas yang ditunjuk (POKMASWAS). pembentukan dan peningkatan Lembaga Kemasyarakatan (POKJA. Universitas Diponegoro. 1996.2. Ginting.J.68%) dimana masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian terumbu karang dan mangrove.. Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. Dahuri. pengawasan daerah konservasi dan pemberian tanda di daerah perlindungan laut sangat kurang. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. 3.99 pada tarap signifikansi 0. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir & Lautan secara Terpadu.G.

Konflik Sosial Nelayan. 2003. Supriyanto. Jakarta. 1989. 2003. Salatiga.gov/srtm. Raja Grafindo Persada.September 2002. 1986. Semarang Tjokroamindjoyo. Penerbit. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis.H. . Semarang Stanis. J. CV. 1993. Sukmara. Strategi Hidup Masyarakat Nelayan. Persepsi Siswa SMA se-Kotamadya Semarang Mengenai Narkotika.. Prenhalindi. Hubungan Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan Mangrove di Desa Jetis Kecamatan Nusa Wungu. J.jpl. Departemen Kelautan dan Perikanan. Yogyakarta. 1990. Tesis MSDP. Kasmidi. B. Yogyakarta. Bayer. Yogyakarta. Supriharyono. Jakarta. Kualitatif dan R & D. M. Aspek Hukum Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup.A. Bandung. Yayasan Obor Indonesia. UKSW. Robins.P. Komunikasi. Penerbit P3R dan PT Pustaka Cidesindo. Jakarta. Terjemahan. Penerbit PT. 2003. 2004. Pengelolaan Kawasan yang dilindungi di Daerah Tropika. Yogyakarta:Gajahmada University Press. . 2006. 1990. Rotinsulu. Jakarta. Jakarta Gultom. Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Alam. Jakarta. Pengantar Sosiologi Nelayan. Ekonomi Kelautan. dan Effendi. 2002. S. Penerbit LKIS. PT.nasa. Mas Agung. Jakarta. Hardjasoemantri. Politik Ekonomi Perikanan. Dimpudus. Kabupaten Cilacap. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Melalui Pemberdayaan Kearifan Lokal di Kabupaten Lembata Prop. Saptorini. Tulungen. Jakarta. LP3ES. Gramedia Pustaka Utama. Alumni. Alfabeta. Perilaku Organisasi. Perencanaan Pembangunan. Semarang. Partisipasi. Kusnadi. Singarimbun. . NTT. Mengembangkan dan Memanfaatkan Perangsang Ekonomi Untuk Melestarikan Sumberdaya Hayati. 2007. Mackinnon. . Sastropoetro. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan. T. V. Direktorat Konservasi dan Taman laut Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Penerbit PT.2005. Penerbit PT. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan (Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapangan). Yogyakarta. S. M. McNeely. Pustaka Pelajar. Universitas Diponegoro. 2006. FERACO. 2002. dan Mackinnon. C. 2000. A. Http://www2. 2005. Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. Jakarta. 2005. Penerbit LKIS. Bagaimana dan Kemana Bisnis Perikanan.V. Laporan Penelitian IKIP.2007. Tesis MSDP. A. Ekonomi dan Keanekaragaman Hayati.1989. Sugiyono. Nikijuluw. PT. Jakarta. Pustaka Cidesindo. Gajah Mada University Press. B. 1985. C. Jakarta. S. Pedoman Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah. Bandung. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Jakarta Mikkelsen. Metode Penelitian Kuantitatf. 1996. M. S. J. Metode Penelitian Survei. Mulyadi. K. 1992. Satria. Yayasan Obor Indonesia.

651 199009911446600 Rendah . Jumlah Tanggungan keluarga a. Lampiran 1. Pekerjaan Utama : 5. Skoring Persepsi Lokasi Score Tabel Pertanyaan Persepsi 1234567 Pulau Abang 4 11 44 79 316 35 140 62 248 23 92 14 56 34 136 Interval P.71% Karas 4 2 8 21 84 7 28 20 80 8 32 4 16 12 48 Interval Karas 3 7 21 9 27 7 21 9 27 16 48 12 36 16 48 Maks = 868 Tinggi = > 651 2 13 26 1 2 8 16 1 2 3 6 9 18 3 6 Min = 217 Sedang = 434 . < 6 orang b. <5 Tahun b. > 10 Tahun 6. Panduan penilaian kuesioner Lampiran 6.Tangkilisan. Umur : 4. > 9 orang Lampiran 5. 6-9 orang c. Nama kampung : 2. Abang 3 37 111 25 75 34 102 41 123 69 207 62 186 68 204 Maks = 3164 Tinggi = > 2373 2 50 100 5 10 21 42 6 12 11 22 32 64 11 22 Min = 791 Sedang = 1582 2373 1 15 15 4 4 23 23 4 4 10 10 5 5 0 0 Rendah = > 1582 113 270 405 307 387 331 311 362 2373 75. tentang Perikanan. 5 Tahun 1990. Lama Tinggal di Kampung : a. “Tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan Ekosistemnya”. Nama responden : 3. Departemen Kelautan dan Perikanan. Undang-Undang RI No. Jakarta. Identitas Responden 1. N. 2002. Panduan Pembentukan dan Pengelolaan Daerah Perlindungan laut Berbasis Masyarakat. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004. tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau – Pulau Kecil. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007. 5-10 Tahun c.00% Galang Baru 4 4 16 82 328 16 64 61 244 13 52 9 36 36 144 Interval Galang Baru 3 8 24 14 42 26 78 32 96 62 186 23 69 62 186 Maks = 2800 Tinggi = >2100 2 41 82 3 6 28 56 4 8 9 18 48 96 2 4 Min = 700 Sedang = 1400 2100 1 47 47 1 1 30 30 3 3 16 16 20 20 0 0 Rendah = > 1400 100 169 377 228 351 272 221 334 1952 69.

6761 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1636579 1636579 82.06421 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance .98 125 SUMMARY OUTPUT Lampiran 10 Hubungan antara peran pemerintah dengan persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.959582 -2556.995211 Adjusted R Square 0.76 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.69826 0.06357 0.069725 Residual 1 19789.53 2531.994008 R Square 0.988052 Adjusted R Square 0.118772 9.093858 0.073 -2556.7278 200.53 2531.76 19789.47% 4954 122 1 4 4 2 2 4 4 0 0 7 7 10 10 9 9 Rendah = < 434 31 92 97 84 98 55 60 56 573 66.42904 2.073 X Variable 1 1.589221 Keterangan : Persepsi masyarakat sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.2023 -0.= > 434 31 64 113 74 110 90 76 102 629 72.080092 0.42904 2.01% 4563 124 SUMMARY OUTPUT Lampiran 9 Hubungan antara persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.0% Intercept -12.976105 Standard Error 140.990422 Standard Error 89.069725 -0.589221 -0.997603 R Square 0.0% Upper 95.

6898 -846.052526 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.378 868.378 868.520362 0.8097 0.999189 R Square 0.48967 0.67915 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1400591 1400591 616.99 127 Lampiran 12.129368 2.302 Total 2 1402865 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.040513 24.490829 1.0% Upper 95.895711 -846.0% Intercept 11.86 1593.025634 0.6898 X Variable 1 1.4156 0.1045 0.165299 0.490829 1.520362 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.82145 0.86 1593.15595 67.06343 0.0% Intercept -7.044091 Residual 1 7932.433 7932.302 2273.052526 0.0701 -0.99 126 SUMMARY OUTPUT Lampiran 11 Hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.005595 0.99838 Adjusted R Square 0.996759 Standard Error 47.868 X Variable 1 1.9971 126.959671 -1609.129368 2.075678 14.090947 0.F Regression 1 1648436 1648436 207.433 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95. Dokumentasi Penelitian Dokumentasi Penelitian Mata Pencaharian Alternatif (MPA) Keramba Jaring Tancap Penanaman Mangrove oleh masyarakat di kelurahan Karas .044091 0.0% Upper 95.025634 Residual 1 2273.868 -1609.

wetlands. which are also dynamic and very productive. In marine. Mittermeier et al. with 89 plant species (Nontji in Dahuri et al. sea grass. kelahiran Madiun. coastal forest. Yet. including sea grass and coral reefs to deep sea ecosystems. For instance. rocky and sandy beaches. these services are. while the plant species found in them can be seen in Table 3. sub-alpine. montane to lowland rainforests. Mangroves cover an area of about 2.6Mangroves have diverse functions andbenefits. coastal and small island areas. coral reef or islands. A well functioning ecosystem can supply and produce environmental services beneficial for the species living in it. forests maintain the hydrological balance thus preventing floods and droughts. river estuary/lagoon and island types (MacKinnon et al. Forests also maintain soil fertility by supplying nutrients through the leaf litter. Indonesia harbors a very high fauna species diversity. coral reef. For example.129 Lampiran 13 WALIKOTA BATAM Riwayat Hidup Mardijono. as outlined below (Dephut1994. hal12 Figure 2. 30 September 1969. consisting of estuaries. savannah. The ecological value can be harnessed if biodiversity is considered as one entity. there are several unique but interrelated ecosystems. 2000). Bengen (2001) listed several marine and coastal ecosystems from the ecological perspective. prevent erosion and regulate the micro climate.9. mangrove and marine and coastal ecosystems. grasslands. from snow peaks at Jayawijaya. as presentedin Box 2. ============================================================= National Document hal 29 Indonesia is estimated to have 90 ecosystem types. The litter and other parts of mangroves which are carried by water provides . Mangrove forests occur only in coastal areas where the waves are broken by barriers such as sand. regulation of local climate. where the components are inter-dependent. 1997): Ecological value Biodiversity provides ecological or environmental services for humans. Although it covers only 1.sekarang bekerja pada Dinas Kelautan.5 presents the distribution of mangroves in Indonesia. this value is substantially high. Table 3. from the highest water level to the lowest tidal level. Given the limited availability of knowledge. 2001). the ecological perspective is most often used to study coastal and marine areas. among others. They can be classified into three main types: coastal/ delta. coastal and small island zones. mangrove. Mangroves Mangrove is the collective term for tree vegetation that grow in muddy coasts in tidal areas.5 million hectares in Indonesia. and small islands. Mangroves have high economic value for people and also as feeding and nursing ground for many species of fish and bird. Perikanan dan Pertanian Kota Batam.2. Environmental services are undervalued because it is difficult to quantify. There are many studies from the geological and geomorphologic perspective but their results have not contributed significantly to the knowledge(hal 24) of ecosystem classification in marine. protection of water and soil quality.3% of the total landmass in the world. the diverse ecosystems provide a placefor the food chain to function and a space for species to survive and breed. alpine. estuaries. during the early 1990s.

reptiles: monitor lizard (Varanus salvator).025 19. insects (Anopheles sundaicus and Aedes mosquitoes) (Whitten et al. coastal and marine ecosystems also provide economic.450 84. python (Pythonreticulatus) and estuarine crocodile (Crocodylus porosus) are found in some mangrove areas. proboscis monkey (Nasalis larvatus). But such timber has not been harvested in a sustainable manner.important nutrition for coastal ecosystem and other ecosystem in the surrounding estuaries. In addition.500 38. and now not many places are left where Rhizophora timber can be harvested sustainably. long-tailed macaque (Macaca fascicularis). Mangrove distribution in Indonesia (hectares). for example.900 2. Mangroves also serve as nursery grounds for young fishes. Table 3. of which Rhizophora is most preferred for building materials and rayon production. . mangrove blue flycatcher (Cyornis rufigastra).300 680. mangroves also protect certain coastal areas from abrasion.900 Benefits and value of marine and coastal ecosystem Like forests. mangrove timber is a source of material for charcoal and chipwood industry. This ecosystem serves as habitat of various animals.8.092. Payne et al. fungi.500 78.300 353. fishing cat (Felis viverrinus). without always being connected directly with the mangrove area and its productivity. and nypah (Nypa fruticans).577 25. rare lesser adjutants (Leptoptilos javanicus). Mangroves also yield microorganisms that have various uses such as bacteria.600 2.000 171. A list of benefits provided by mangroves is given in Table 3. amphibians: mangrove frog (Rana cancrivora). Mangrove vegetation is relatively well researched in Indonesia (Kartawinata 1990).450. protozoa.000 6. chemicals for tanning and dyes. common cat snake (Boiga dendrophila). mangrove whistler (Pachycephala cinerea). food. (Doc.500 4.129. Other mangrove products include fuelwood.8. social and environmental benefits. small-clawed otter (Aonyx cinerea).000 485.5.185 61.600 1. Plants in mangrove forests. and other microorganisms. Island rotected area Mangroves Current area Original area Sumatra Java & Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua 857.000 272. shrimps and other organisms such as crabs. green manure. mammals: javan lutung (Semnopithecus auratus). building and industrial materials. Thus it is clear that mangroves have an important function in supporting coastal fishery. clams and snails. with potentials to produce alcohol (Mercer and Hamilton 1984 in Whitten et al. 1999).833 2. oils. are used for medicine. Among others. milky stork (Mycteria cinerea). common skink (Mabuya multifasciata). In addition. 1999). 2000) Figure 3. timber for other uses. Mangroves also produce timber.

dan sebagainya yang ditujukan kepada objekojek tertentu. kedengkian. antipati. watak. 3.Pd. Tiap-tiap sikap mempunyai 3 aspek 1.ac. S. misalnya kecenderungan memberi pertolongan. Aspek Afekit berwujud proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti ketakutan. Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Fitrah *) (Penulis Buku Pembelajaran Berbasis Fitrah. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial. Tidak ada satu sikap pun yang tanpa objek. simpati. akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. dan keyakinan serta harapan-harapan individu tentang objek atau kelompok objek tertentu. Hal ini terjadi bukan saja pada orang-orang lain dalam satu masyarakat. 13 February 2009 (23:35) Unduh 28 Feb 2011 karakter ialah tabiat. Dalam hal ini Thomas menyatakan bahwa sikap seseorang selalu diarahkan terhadap sesuatu hal atau suatu objek tertentu. Aspek Kognitif yaitu yang berhubungan dengan gejala mengenal pikiran.========================================================= ======================== Dari : http://staff. menjauhkan diri dan sebagainya . Aspek Konatif: berwujud proses tendensi/kecenderungan untuk berbuatu sesuatu objek. pengalaman. Maka sikap sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata. ikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam kegiatankegiatan sosial.undip.net/2009/02/13/pembentukan-karakter-peserta-didik-melaluipendekatan-pembelajara Oleh : Achjar Chalil. sifat-sifat kejiwaan. 2.id/sastra/mudjahirin/2010/07/30/masyarakat-pesisir/ SOSIOLOGI PEDESAAN MASYARAKAT JAWA PESISIRAN Oleh Mudjahirin Thohir =================================================================== http://agupenajateng. Balai Pustaka – 2008 dan Guru Mekatronika. Ini berarti berwujud pengolahan. SMKN 56 Jakarta) *) Makalah disampaikan pada tanggal 14 Desember 2008. Karakter satu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dasar bangsa tersebut =============================================================== Oleh karena itu ahli psikologi W.J. pada seminar PBF dalam rangka HUT PGRI Kota Solok-Sumb Friday. yang berulang-ulang terhadap objek sosial.

misalnya: objek itu dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan. 2. tetap. 4. Adapun ciriciri sikap adalah sebagai berikut: 1. Memihki kestabilan (Stability) Sikap bermula dan dipelajari.wikipedia. kemudian menjadi lebih kuat. terbuka serta hangat. membantu tujuan kelompok. Barangkali yang terjadi adalah mempelajari sikap dengan sengaja bila individu mengerti bahwa hal itu akan membawa lebih baik (untuk dirinya sendiri). Berisi cognisi dan affeksi Komponen cognisi daripada sikap adalah berisi informasi yang faktual. Beberapa sikap dipelajari tidak sengaja dan tanpa kesadaran kepada sebagian individu. dan perilaku. orang atau peristiwa[1].org/wiki/Sikap Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek. Personal (societal significance) Sikap melibatkan hubungan antara seseorang dan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi.motif psikologi lainnya. Sikap itu dipelajari (learnablity) Sikap merupakan hasil belajar ini perlu dibedakan dari motif. orang-orang atau kejadian-kejadian. Cth: sikap dalam kehidupan sehari-hari pada iklan  parpol . 2) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku 3) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman 4) Sikap berfungsi sebagai pernyataan kepribadian ==\============================================================= Dari : http://id. perasaan. ia merasa bebas. dan stabil. atau memperoleh sesuatu nilai yang sifatnya perseorangan. Ciri-Ciri Dan Fungsi Sikap Sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan. Dapatlah dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal. dan favorable.D. melalui pengalaman.[ Sri Utami Rahayuningsih – 2008 Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) ================================================================= Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) Sikap/ Attitude Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude Secara sederhana sikap didefinisikan : Unduh 28 Feb 2011 Ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa hal. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu[1] Sikap mempunyai tiga komponen utama: kesadaran. Jika seseorang merasa bahwa orang lain menyenangkan. maka ini akan sangat berarti bagi dirinya. tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap. Sedangkan fungsi dari sikap (tugas) sikap dapat dibagi menjadi empat golongan. yaitu: 1) Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikandiri. 3.

html Unduh 28 Feb 2011 Sikap ( Attitude ) Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai “organisasi pendapat. keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu . sikap adalah penilaian positif atau negatif terhadap isu. exhibited in one’s belief.opini b. kelompok sosial. orang. =============================================================== Jadi. people or issues about which an individual has some knowledge” (Wrightsman. Skala Sikap o Yaitu: kumpulan pertanyaan mengenai objek sikap o Mencoba memperoleh pengukuran yang tepat tentang sikap seseorang o Akurasi pengukuran dilakukan dengan penggunaan beberapa item yang berkaitan dengan isyu yang sama o Skala sikap melibatkan: belief dan opini terhadap suatu objek o Pertanyaan-pertanyaan atau item yang membentuk skala sikap dikenal dengan statement (pernyataan yang menyangkut objek psikologis). 1996 Komponen sikap: • • • kognitif afektif konatif =============================================================== Dari : http://nadhirin.com/2010/05/sikap-attitude.blogspot. ide. benda dsbnya Bagaimana kita mengukur sikap? Melalui observasi & wawancara Dengan menggunakan skala misalnya: • Summated Ratings • Equal Appearing Interval • Cummulative Scale • Semantic Differential Sikap adalah: “ …. An evaluation of objects. 1993) “….a favorable or unfavorable evaluative reaction toward something or someone. feelings or intended behavior” (Myers.

Ketiga komponen itu adalah komponen kognitif. 3) komponen konatif (komponen perilaku. Skala sikap bertujuan untuk menentukan kepercayaan.58 Sedangkan Azwar berpendapat bahwa: Metode pengukuran sikap yang diangggap dapat diandalkan dan dapat memberikan penafsiran terhadap sikap manusia adalah pengukuran melalui skala sikap (attitude scale). =================================================================== Dari BAB II DESKRIPSI TEORI. 2) Metode tak langsung. sedangkan rasa tidak senang adalah hal negatif. keyakinan. Lima alternatifjawaban yang dike mukakan oleh Likert adalah sangat setuju.59 Dari hasil uji coba dipilih pernyataan-pernyataan yang cukup baik. atau action component). yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan. terhadap suatu obyek. Corak khas dari skala Likert ialah bahwa makin tinggi . Walgito mengemukakan bahwa: Sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap. yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap obyek sikap. baik yang bersifat fa vorable atau positif maupun unfavorable atau negatif. persepsi. biasanya disampaikan secara lisan pada waktu wawancara. atau perasaan seseorang. Suatu skala sikap merupakan kumpulan pernyataan sikap yang berkenaan dengan obyek sikap. tidak setuju. Rasa senang merupakan hal yang positif. Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai objek sikap yang diukur.dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya”. setuju. yaitu dengan wawancara. misalnya menggunakan tes psikologi. 4) Metode tes tak tersusun. tidak mempunyai pendapat. afektif dan konatif dengan uraian sebagai berikut: 1) komponen kognitif (komponen perseptual). yaitu metode pengukuran yang menggunakan skala sikap yang dikonstruksikan terlebih dahulu menurut prinsip-prinsip tertentu. tetapi secara tidak langsung. 3) Metode tes tersususn. orang dimintai supaya menyatakan dirinya mengenai obyek sikap yang diselidiki. yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap obyek sikap. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah kesediaan beraksi terhadap suatu hal. 2) komponen afektif (komponen emosional). seperti metode Likert. pandangan. Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan.54 Pengukuran Sikap Gerungan menyatakan bahwa: Cara-cara yang dapat dipakai untuk mengukur sikap antara lain: 1) Metode langsung ialah metode dimana orang secara langsung diminta pendapat atau tanggapannya mengenai obyek tertentu. KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN Berkaitan dengan komponen sikap. daftar pertanyaan biasanya untuk penelitian bibliografi atau karangan. yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak atau berperilaku terhadap obyek sikap. Thurstone atau Guttman. dan sangat tidak setuju.

suara. Alat ukur dalam skala Likert menggunakan pernyataan-pernyataan dengan menggunakan lima alternatif jawaban. radio. ========================================== ===================== Dari : http://id. Sedangkan informasi sendiri mencakup data. menganalisa. makin rendah skor yang diperoleh seseorang. Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible). databases . kode. yang diperoleh dari data dan pengamatan terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi • • ---------------------------------------------------------------------------------------------------------- .skor yang diperoleh seseorang. news”. menyimpan. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. adalah “that of which one is apprised or told: intelligence. mengumumkan. sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. memanipulasi. maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia. teks. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi. demikian pula sebaliknya. Makin tinggi skor yang diperoleh seorang guru mengindikasikan guru memiliki sikap yang makin positif terhadap pekerjaan. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan. dan majalah. demikian pula sebaliknya. Media : Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. program komputer. menyiapkan. merupakan indikasi bahwa orang tersebut sikapnya makin positif terhadap objek sikap.org/wiki/Pengetahuan Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor.wikipedia. dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. diantaranya: • Pendidikan : Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. image. koran. merupakan indikasi bahwaorang tersebut sikapnya makin negatif terhadap objek sikap Pengukuran sikap guru terhadap pekerjaan dapat dilakukan dengan pengukuran sikap model Likert. Keterpaparan informsi : pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. Pengukuran sikap model Likert (Skala Likert) merupakan salah satu cara pengukuran sikap secara langsung.

2.html Unduh 28 Feb 2011 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan 1. Masa menopause merupakan masa peralihan dari masa haid sampai masa berhentinya haid. penciuman. Umur adalah lamanya waktu hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai berulang tahun yang terakhir. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang. makin tinggi pula tingkat kepuasan yang diperoleh (Hurlock.Dari : Asrofudin http://www. Karena dapat membuat seseorang untuk lebih mudah mengambil keputusan dan bertindak.co. 2003). 3. 1997). . Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo.cc/2010/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi. Pendidikan Tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi baru (SDKI. Umur Menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan.canboyz. 2007). yaitu indera penglihatan. =============================================================== Dari : Pengetahuan atau kognitif merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. berlangsung antara usia 30-46 tahun (Depkes. rasa dan raba. 1998). pendengaran. Pekerjaan Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari artinya makin cocok jenis pekerjaan yang diemban.

jumlah jenis kapal. Green Coast for nature and people after the tsunami Secara teoritis. juga diatur kapan dan dengan alat apa kegiatan perikanan dilakukan. 32 Tahun 2004 yang membuat pengaturan tentang yurisdiksi laut provinsi (12 mil) . Secara empiris. Regulasi ini mirip ”hukum rimba” dan ”pasar bebas”. ada dua bentuk regulasi dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Open access adalah regulasi yang membiarkan nelayan menangkap ikan dan mengeksploitasi sumber daya hayati lainnya kapan saja. yakni open access dan controlled access regulation. (2) pembatasan output (output restriction). antara lain apa yang dikenal dengan tragedy of common baik berupa kerusakan sumber daya kelautan dan perikanan maupun konflik antar nelayan. regulasi ini menimbulkan dampak negatif. Selain diatur siapa yang berhak melakukan kegiatan perikanan. sementara yang tidak memiliki fishing right tidak diizinkan beroperasi di wilayah itu. yakni membatasi berupa jumlah tangkapan bagi setiap pelaku berdasarkan kuota. dan jenis alat tangkap. Sistem yang menjurus pada bentuk pengkavlingan laut ini menempatkan perlindungan kepentingan nelayan kecil yang beroperasi di wilayah pantai-pesisir serta kepentingan kelestarian fungsi sumber daya sebagai fokus perhatian.Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indra yang dilakukan untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat. Wetlands Internasional. Program yang merupakan kerja sama WWF. 2005). dan dengan alat apa saja. Salah satu formulasi dari pembatas input itu adalah territorial use right yang menekankan penggunaan fishing right (hak memanfaatkan sumberdaya perikanan) dalam suatu wilayah tertentu dalam yurisdiksi yang jelas. berapapun jumlahnya. Sebaliknya. UU No. dimana saja. Pola fishing right system ini menempatkan pemegang fishing right yang berhak melakukan kegiatan perikanan di suatu wilayah. Desember 2007 Tim Penyusun Salah satu program yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi kelautan dan perikanan adalah program Green Coast. ================================================================== DOKUMEN ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Banda Aceh. contolled access regulation adalah regulasi terkontrol yang dapat berupa (1) pembatasan input (input restriction). Both ENDs dan IUCN dengan dukungan dana dari OXFAM Belanda bertujuan melindungi keunikan ekosistem pesisir dan memperbaiki mata pencaharian penduduk pesisir. yakni membatasi jumlah pelaku.

Soerianegara (1996) menyebutkan ruang lingkup pengelolaan hutan lindung adalah: 1. dan pemungutan hasil hutan bukan kayu.dan kabupaten/kota (4 mil) mengindikasikan bahwa produk hukum itu menganut konsep pengkavlingan laut. Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan. dan pemanfaatan jasa lingkungan. sebagai amanah untuk mewujudkan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. Menentukan letak dan luas hutan lindung 2.5 meter. 32 Tahun 2004 sebenarnya entry point penerapan territorial use right. pemeliharaan batas. mengendalikan erosi. Konsep pengkavlingan laut merupakan instrumen dari konsep regulasi akses terkontrol (contolled access regulation) dalam pola pembatasan input (territorial use right). pengendalian kebakaran. UU No. Selanjutnya dikatakan bahwa pengelolaan hutan lindung adalah bagian integral dari pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara keseluruhan. Melakukan penatabatasan dan pengukuhan kawasan hutan lindung 3.5 meter dengan diameter batang kurang dari . dimana hutan lindung memegang peranan yang amat penting dari segi hidroorologi Daerah Aliran Sungai. Pengelolaan hutan lindung diserahkan kepada Kepala Daerah Tingkat II yang mencakup kegiatan pemancangan batas. mencegah banjir. =================================================== ===================== Undang-Undang No 41 tahun 1999 Pasal 1 ayat 8 mendefinisikan Hutan lindung sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. Merehabilitasi hutan lindung yang mengalami degradasi dan deforestasi 4. mempertahankan luas dan fungsi. pemanfaatan jasa lingkungan. mencegah intrusi air laut. Melakukan perlindungan atas kawasan hutan lindung. Usaha pemanfaatan dan pemungutan di hutan lindung dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan fungsi lindung. Hutan lindung dapat dimanfaatkan berupa pemanfaatan kawasan. 2) Tingkat sapihan (sapling) yaitu tingkat pertumbuhan permudaan yang mencapai tinggi antara 1. dan memelihara kesuburan tanah. reboisasi dalam rangka rehabilitasi lahan kritis pada kawasan hutan lindung. Pengamatan dilakukan pada setiap tingkat pertumbuhan suatu vegetasi yang dikelompokkan ke dalam : 1) Tingkat semai (seedling). yaitu sejak perkecambahan sampai tinggi 1.

4) Pohon yaitu tingkat pohon-pohon yang berdiameter batang diatas 20 cm dbh. ============================================ ====================== Dari delapan variabel yang rencananya dianalisis hanya enam yang dapat dianalisis secara statistik (status . Parameter yang diamati meliputi jenis.19 cm (dbh). Sampel tanah diambil rata dari permukaan atas sampai kedalaman 30 cm. Data primer yang diambil berupa keberhasilan penanaman bibit GN-RHL di lapangan setelah waktu 3 bulan. 3) Tingkat tiang (poles) atau pohon kecil yaitu tingkat pertumbuhan pohon muda yang berukuran dengan diameter batang antara 10 . jumlah individu yang ada dan diameter untuk tingkat tiang dan pohon. sapihan dan semai. Selain itu juga dilakukan pendataan terhadap herba sebagai tumbuhan bawah. Kawasan Hutan Lindung Pulau Marsegu dibagi dalam 14 Blok penelitian Semai (seedlings) dengan ukuran petak 2 x 2 m .Tiang (poles) atau pohon kecil dengan ukuran petak 10 x 10 m . bagian tumbuhan diambil untuk diidentifikasi lebih lanjut. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.Pohon (trees) dengan ukuran petak 20 x 20 m Dalam setiap petak ukur dilakukan pengamatan terhadap tingkat pohon. juga pencatatan data-data primer dan sekunder mengenai program dan realisasinya. P tersedia. Untuk jenis jenis vegetasi yang belum dapat dikenali. dari hasil pencampuran tersebut diambil 1 kg untuk dianalisis.Sapihan (saplings) dengan ukuran petak 5 x 5 m . Sampel tanah yang dianalisis adalah 1 (satu) sampel komposit untuk masing-masing releve.10 cm. Untuk pengambilan data wawancara dilakukan dengan instansi terkait yang bertanggungjawab dalam pengelolaan kawasan hutan lindung. tiang (pohon kecil). K tersedia. Pengukuran data faktor lingkungan pada setiap releve pada blok pengamatan meliputi DHL (Daya Hantar Listrik). dicampur dengan sampel dari jalur lain. pH tanah dan kandungan unsur hara tanah yang meliputi N total. C dan BO.

pendidikan. yaitu variabel status.1%. Dalam hal ini persepsi dan pengetahuan sebagai variabel terikat (dependent variable).05). dan kemampuan membaca lontar tidak berpengaruh terhadapnya. pendidikan.responden. Bangunan berlanggam Bali. pengalaman kerja. Dari keempat variabel tersebut ternyata pengalaman kerja di bidang bangunan mempunyai kontribusi paling besar. Kata kunci: Persepsi masyarakat. tetapi proses ini masih bersifat terselubung. Ini mungkin menunjukkan bahwa persepsi virual telah menjadi bagian hidup masyarakat sehingga pendidikan formal. dan intensitas membaca lontar. Hal ini desebabkan karena aspek kognitif ini merupakan sumber informasi utama yang dievaluasi secara positif dan negatif oleh komponen efektif. pengalaman kerja di bidang bangunan. Yang menjadi tujuan pembentukan sikap adalah tercapainya konsistensi antara persepsi. artinya bahwa 34. Dua variabel lainnya tidak berhubungan secara bermakna (P>0. pengalaman kerja dibidang bangunan. dan intensitas membaca lontar). pekerjaan. sedangkan dua yang lainnya (umur dan pekerjaan) tidak dapat dianalisis karena distribusinya tidak memenuhi syarat untuk dianalisis (banyak sel yang kosong). jenis kelamin. dan kemampuan membaca huruf Bali. Oleh karena itu perlu diupayakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor determinan terhadap pengetahuan dan persepsi ini dengan mencoba mengeksplorasi variabel lainnya dan menguji instrumennya terlebih dahulu. Dari enam variabel tersebut hanya 4 yang berkaitan secara bermakna dengan tingkat pengetahuan (P<0. kemampuan membaca huruf Bali. umur. Kemungkinan lain bahwa instrumen yang dipakai.1% tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh keempat variabel tersebut. 4. jenis kelamin. kemampuan membaca hurup Bali. Kontribusi keempat variabel tersebut terhadap pengetahuan adalah 34. serta kemampuan interpretasi pencacah belum teruji validitas dan reliabilitasnya.01/0. dan variabel bebasnya adalah status responden. Sedangkan analisis statistik terhadap persepsi menunjukkan bahwa tidak satu pun variabel menunjukkan hubungan yang bermakna (P>0. Sedangkan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan teknik analisis multi varian (ANOVA). Persepsi merupakan dimensi kognitif dari sikap dan memegang peranan penting dalam menentukan totalitas pembentukan sikap. jenis kelamin. Analisis Data Untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan pendekatan kualitatif (dianalisis secara deskriptif) menggunakan tabeltabel distribusi frekwensi dan grafik sesuai dengan kebutuhan.05). kemudian berturut-turut adalah kemampuan membaca huruf Bali. kemampuan membaca huruf Bali. jenis kelamin. . umur. pengalaman kerja di bidang bangunan. dan status responden.05). sikap. jenis kelamin. status.

Pengetahuan.dan perilaku. membahasnya dengan orang lain dan bahkan Universitas Sumatera Utara . 3. sebagai berikut :8 1. Menanggapi (responding) Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi. dalam arti. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek). keyakinan dan emosi memegang peranan penting dalam pembentukan sikap. pikiran. 2. Menghargai (valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai positif terhadap objek atau stimulus. sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya. Seperti telah diungkapkan di depan bahwa persepsi yang positif akan cenderung membentuk sikap yang positif dan demikian pula terhadap kecenderungan perilaku.

Stylosa pada salinitas 55 o/oo(. 1993 dan Othman.8 =============================================================================================== DARI : PANDUAN PENGENALAN MANGROVE DI INDONESIA YUS RUSILA NOOR. dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain. Bertanggung jawab (responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. 1984). marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas. Memahami (comprehension) 3. . Analisis (analysis) 5. BOGOR 2006. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera. Tahu (know) 2. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang. Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan.1968). Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. 1966. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya. Sebaliknya. A. Dalam kata lain. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung 6 tingkat pengetahuan 1. M KHAZALI. Rhizopora mucronata dan R. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. Aplikasi (application) 4. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry.INN SURYADIPUTRA. akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau tindakan (reaksi tertutup). 1976a). 1984). salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. 4. pantai selatan dan timur Kalimantan. Evaluasi (evaluation) Newcomb. Chapman. Sintesis (synthesis) 6. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya.mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon. Pada salinitas ekstrim. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. 1994). GREEN COAST FOR NATURE AND PEO[PLE AFTER THE TSUNAMI Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge.

misalnya untuk jalur hijau. Misalnya. 1980). perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul). Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah. 1991 a. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. Sebaliknya. dkk. 390. Jawa. dkk. baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar.Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan. seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. Pada tahun 1982. terutama di Sumatera. Akibat perubahan ini. Di Indonesia. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahanmangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. kemudian berkembang ke Aceh. seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan. Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun . Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. Memasuki abad ke-20. 2005). 1991). kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. tidak bercampurnya tanah (Giesen. Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove.b. 1987). 1997) dan menjadi 750. Akan tetapi. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif. kemudian bertambah menjadi 269. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. 1974). Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia. Kalimantan dan Sulawesi. Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. Ironisnya. konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. 1988).c).700 hektar (Bailey. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. terutama dari ombak dan arus laut. 1986). Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). pada pulau yang hilang mangrovenya. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat. 1985). akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak.

sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. Benang sari: 4. Dari India sampai Indo Cina. Kelopak Bunga: 5. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. . Ukuran: 16 x 5 cm. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. Ujung: meruncing. serta di sepanjang garis pantai. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. Akar nafas biasanya tipis. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. Ukuran: 4 x 2 cm. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. kuning cerah. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. koak. bawahnya pucat. Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. 3-4 mm. Ekologi : Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. Daun Mahkota: 4. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. Kelimpahan : Melimpah. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. mangi-mangi putih. Buah : Seperti kerucut/cabe/mente. Perbungaan terjadi sepanjang tahun. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. PNG dan Australia tropis. boak. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. Buah dapat dimakan. Bunga : Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. bagian atas hijau mengkilat. Hijau muda kekuningan. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. Daun : Permukaan halus. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. Pada bagian batang yang tua.Avicennia alba Bl.

5 cm. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. parai. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. donggo akit. melengkung. Bentuk: elips menyempit. Ukuran: 7-19 x 3. tidak ada rambut. mangi-mangi. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. warna coklat. Daun : Berkulit. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. bakau akik. abat. berbintil. Letak: Di ketiak daun. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok). dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kelopak bunga: 4. Ukuran: . RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak.Rhizophora apiculata Bl. jankar. bakau kacang. bakau tandok. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. tinjang. Benang sari: 11-12. panjangnya 9-11 mm. kuning kecoklatan. slengkreng. wako. berwarna hijau jingga. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. Ujung: meruncing. bakau leutik. akik.5-8 cm. Hipokotil silindris. bakau puteh. kuning-putih. berisi satu biji fertil. bangka minyak. Daun mahkota: 4. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. tak bertangkai. panjang 2-3. Bunga : Biseksual. Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir.

kayu bakar dan arang. . tersebar jarang di Australia. Penyebaran : Sri Lanka. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar. Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun.Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. halus. Tumbuh lambat. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang.

.. Unduh 28 Feb 2011. ........ serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut.......... terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika.....ac......... Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia........................... 2003)............... Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari..Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi.pdf Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu............... Dari Wikipedia Unduh 28 Feb 2011 Hutan bakau Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.... tradisi.... Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku .......... dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya.. USU............................. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang..... yaitu: indra penglihatan.......... sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo................ ...... Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak.. media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo............ persentuhan...... maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.............. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik... http://repository.... rasa dan raba. penciuman...... baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah. 2003).................... Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan......... Pengetahuan ini meliputi emosi....... pendengaran...... ........... dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.... Luas dan Penyebaran Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia..... akidah.....id/bitstream/123456789/19202/4/Chapter%20II..... salinitas tanahnya yang tinggi... Ekosistem hutan bakau bersifat khas...... keterampilan....... informasi.......... Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini...........usu..... dan pikiran-pikiran. Dari Anonymous... .... pengalaman orang lain..

Terpaan ombak Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya. Melebihi Brazil (1. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik.1 juta ha) dan Australia (0. dan pantai barat serta selatan Kalimantan. hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. di tepi Dangkalan Sahul. hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua. Yakni di pantai timur Sumatra.3 juta ha). terutama di sekitar Teluk Bintuni. Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai. merupakan mangrove yang terluas di dunia. Lingkungan fisik dan zonasi enis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas. bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar.3 juta ha. 1999). sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah: Jenis tanah Sebagai wilayah pengendapan. Di pantai utara Jawa. .97 ha) (Spalding dkk. di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang. substrat di pesisir bisa sangat berbeda.5 juta hektar. 1997 dalam Noor dkk. terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Di bagian timur Indonesia. Pada pihak lain. Perbedaannya. Mangrove di Papua mencapai luas 1. Nigeria (1. sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.5 hingga 4. bagianbagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan. Penggenangan oleh air pasang Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya.Luas hutan bakau Indonesia antara 2. Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi. salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi. hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang. Di Indonesia. atau bahkan dominan pecahan karang. yakni yang terletak di tepi sungai. Akan tetapi di beberapa tempat.

Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis. Bakau Rhizophora apiculata dan R. Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp. Di bagian lebih ke dalam. secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun. Sedangkan di dekat tepi sungai.Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini. yang lebih tawar airnya. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Jenisjenis api-api (Avicennia spp. Sedangkan bakau R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp. biasa ditemui campuran bakau R. dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha). yang masih tergenang pasang tinggi. pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp. biasa ditemui nipah (Nypa fruticans). hingga ke pedalaman yang relatif kering. Secara fisik.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak.). kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. teruntum (Lumnitzera racemosa). Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur.). yang biasanya tumbuh di zona terluar. Perhatikan akar napas yang muncul ke atas lumpur pantai. Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp.) dan pidada (Sonneratia spp. Tegakan api-api Avicennia di tepi laut.). [sunting] Bentuk-bentuk adaptasi Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau. yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari .). mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang.

Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem. mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Selain itu. . Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora). tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung. Untuk mengatasi salinitas yang tinggi. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik. Ketika rontok dan jatuh. Pohon kendeka (Bruguiera spp. Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul. kaboa (Aegiceras). Sementara buah api-api. Perkembangbiakan Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon. sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. Sementara jenis yang lain. seperti Rhizophora mangle. sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok. vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. Pada pihak yang lain. atau terbawa air pasang. banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon. sehingga mengurangi evaporasi dari daun. sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya. api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. meski tak nampak dari sebelah luarnya. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar. mengingat sukarnya memperoleh air tawar. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu.) mempunyai akar lutut (knee root). diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan. sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp. Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. Kemungkinan lain. keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur. lubang pori pada pepagan untuk bernapas. buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya.udara. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel.

. hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih. perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal. Dengan adanya proses suksesi ini. selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. pasir yang terbawa arus laut. Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau. Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Suksesi hutan bakau Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai. Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur. Hutan bakau pun semakin meluas. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Di wilayah-wilayah yang sesuai. segala macam sampah dan hancuran vegetasi. Uraian di atas adalah penyederhanaan. Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau. Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan. Demikian perubahan terus terjadi. melainkan secara perlahan-lahan bergeser. yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya. Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan. dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya.Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya. akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang. Jika akan tumbuh menetap. meskipun pada umumnya kurang dari itu.

..... Propinsi Lampung berdasarkan indikator kualitas lingkungan mangrove dan menentukan kondisi kesehatan mangrove berdasarkan sebaran ~norfometrikd aun pada tingkat vegetasi pohon dan belta... menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik.... yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati... 1999)..... serta analisis .. Data parameter fisika-kimia perairan yang diukur meliputi: suhu... persentase pasang tiap tahun dan jumlah jenis semak dengan masing-masing faktor pembobotnya secara berturut-turut sebesar 22.. tipe substrat... Total jenis keseluruhan yang telah diketahui.... Dari : http://repository. 1981).id/handle/123456789/15464 2004 Kondisi Ekosistem Mangrove Berdasarkan Indiltator Kualitas Lingkungan dan Pengukuran Morfometrik Daun di Way Penet..... beserta jumlah jenisnya (dimodifikasi dari Tom . Propinsi Lampung Author: Sadat..... 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m2 (semai)....... Lokasi penelitian terdiri dari 3 stasiun pengainatan.. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya...... salinitas dan pH.....ac. Kabupaten Lampung Timur...... Karena abrasi dan sedimentasi merupakan salah satu masalah dala~n pengembangan dan peinanfaatan wilayah pesisir bagi perikanan dan kelautan... adalah 202 spesies (Noor dkk....... Anwar Abstract: Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang unik dail produktif........ Jumlah pengukuran untuk setiap tingkat vegetasi yang ditemukan adalah sebanyak 37 helai daun......... Kabupaten Lampung Timur.... Pengambilan data panjang dan lebar daun dilakukan sebanyak dua kali dengan waktu yang berbeda pada daun setiap tingkat vegetasi (pohon dan belta) yang dijumpai pada tiap plot pengamatadtransek kuadrat...... setiap stasiun dibagi menjadi 3 sub stasiun dan setiap sub stasiun terdiri dari 3 plot pengamatan yang berukuran 10 x 10 m2 (pohon)......... Lampung Timur. persentase penutupan pohon. Dari jenis-jenis itu. 18 dan 12 (Canter dan Hill. Pengambilan data primer dilaksanakan pada bulan September dan November 2003 di Wilayah Konservasi Way Penet... anggota dari sekitar 16 suku..........ipb.. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kualitas lingkungan mangrove di Way Penet.... termasuk jenis-jenis mangrove ikutan.. Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera.. Berikut ini adalah daftar suku dan genus mangrove sejati. 17. 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m (semai)..........Kekayaan flora Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau.. Lampung... Selain itu ekosistem mailgrove juga berperan sebagai penyangga pantai dari abrasi dan perangkap sedimen........... sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia...... Analisis data meliputi: analisis kualitas lingkungan mangrove (Qe) yang diperoleh dari indikator kualitas lingkungan (Qi) yang terdiri dari: asosiasi spesies. Data yang diambil meliputi jumlah vegetasi den 5 an menggunakan transek kuadrat ukuran 10 x 10 m2 (pohon)......

.... debu (berukuran 50?m--2?m). kecuali tanah-tanah mangrove di pulau-pulau karang yang banyak mengandung pasir atau pecahan batu karang.. mangrove merupakan pemasok bahan-bahan organik s ehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yanghidup pada perairansekitarnya.. mempunyai tingkat kematangan yang rendah.... Dirnana kondisi kesehatan mangrove untuk tingltat vegetasi pohon pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua.. sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 23-31 %o.. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesetabilan Ekosistem Mangrove adalah a. al.morfometrik daun... liat berlempung.. Posted December 8th. URI: http://repository.......ipb..... Produksiserasah mangrove berperan penting dalamkesuburan perairan pesisir danhutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum... Di daerah-daerah dengantanah berlumpur dalam. Kerapatan semai di lokasi penelitian lebih tinggi dibandingkan kerapatan pohon dan belta... Teksturtanah juga dapat didefinisikansebagaisusunan relatif dari tiga kelasukuran partikela norg anik tanah..... Kedua.......ac. 2009 by ogoy Unduh 28 feb 2011 jam 13.....15 ANALISIS SISTEM PENDUGAAN TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE (STUDI KASUS DI PANTAI TIMUR SURABAYA) Pertama....... Tekstur Tanah Terkstur tanah merupakan salah s usifat t anah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman... al........ menyimpan dan menyediakanhara tanaman... . danliat (berukurankurang dari 2?m) (Soil SurveyStaff. 1 993 dalam Noor et.. sedangkan kondisi kesehatan mangrove di Way Penet berdasarka~l pengukuran morfometrik daun untuk tingkat vegetasi pohon dan belta.O.. Kandungan liat dan debu umunya tinggi..... dan kondisi kesehatan mangrove untuk tingkat vegetasi belta pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua........ Kondisi ini menunjukkan adanya proses regenerasi alam yang baik. Tanah mangrove umumnyakaya akan bahan organik..ya itu pasir (berukuran 2 mm²50?m).... Jenis vegetasi yang ditemukan di lokasi penelitian lebih didominasi oleh mangrove jenis Avicennia nzarina... Secara keseluruhan nilai parameter fisika-kimia perairan pada komunitas mangrove Way Penet masih dalam kisaran yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan mangrove jenis Avicennia marina... 2003).. Pengaruh sifat tanah terhadap mangrove antara lain ditujukan oleh sebagian genus Rhizophora. Jenis substrat yang ditemukan pada komunitas mangrove Way Penet berupa liat dan liat berdebu... l iat berdebu danlempung yang berupa lumpur yang tebal dan yang terdapat di bagian tepi-tepi sungai........... sedangkan pada pengamatan kedua derajat keasaman (pH) masih tetap 8. 1 998)..Secara umumtanah h utan mangrove merupakantanah aluvial h idromorf.. mangrove berperan penting dalamsiklus h idup berbagai jenis ikan. Tanah mangrove di Indonesia umumnyaterdiri atas t anah-tanah yang berteksturhalus.......... moluska dan udang (Davies and Claridge..... Teksturtanah h utan mangrove umumnyaliat.... baik pada pengalnatan pertama maupun kedua adalah rendah.. s edangkan daerah-daerah yang berlumpur dangkal didominasi oleh .... Parameter fisika-kimia perairan..id/handle/123456789/15464 Date: 2004 Unduh 28 Feb 2011 ..... Tekstur tanah adalah s ifat fisis t anah yang berkaitan dengan ukuran partikel pembentuk t anah. Salinitas pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 14-19 960..............p a ritd an hamparan lumpur. suhu yang terukur pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 28-3 1 "C......... 2003)....O.... Nilai kualitas lingkungan mangrove (Qe) di Way Penet memiliki kisaran kualitas lingkungan yang sedang.. yang disebut jugatanah l iat l aut (Sukardjo1984).. Teksturtanah akan mempengaruhikemampuan menyimpan dan menghantarkan air..m em iliki kadar garam dan alkalinitas tinggi dan sering mengandung lapisan sulfatmasam atau bahan sulfidik(cat clay)..m u a ra... Rhizophora mucronata merupakan vegetasi yang dominan... sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 26-28 "C..... Besarnya nilai derajat keasaman (pH) yang terukur pada pengamatan pertama adalah 8........... 1 974 dalam Noor et. k arenalingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk k e dalam rantai makanan....

5 m tetapi dilaut yang dangkal pada umumnya mencapai lebih dari3 meter. 1 993). h al ini disebabkankarena adanya pengaruh dayatarik bulanlebih k ecil dari matahari (Istomo. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaruhi besarankisaran pasut. Pada pantai yang terjal komposisi. Fisiografi pantai dapat mempengaruhikomposisi. 2005).distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena kontur yang terjal menyulitkan pohon mangrove untuk tumbuh. Hal ini disebabkankarena pantailandai menyediakan ruang yanglebih l uas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi spesiesme nja d i semakin luasd an lebar. Mangrove dapat hidup dan tumbuh subur di pesisir dengan kadar salinitas a ntara 10 ± 30 ppt. 2005). Fisiografi Pantai Kondisi fisiografis pantai di Indonesia yang berbeda-beda menyebabkan perbeda anhutan mangrove dari satu tempat k etampat l ainnya. yang akhirnya memberikan pengaruh t erhadap perubahan dan penyebaran organisme mangrove secara vertikal (Hilmi. Keberadaan dan fluktuasi pasangsurut akan mempengaruhitingkat s alinitas airlaut. misalnya Avicennia marina dan Excoecaria agallocha dapat t um buh pada kondisi salinitas tinggi yaitu sekitar 85 ppt (Hilmi. c. Pasangsurut juga memberikankontribusi bagi perubahan masa antara airtawar dan air asin. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaru Pasangsurut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang datar dansejajar dengan arah angin (Sukardjo1984). Perubahan salinitas akibat p asang surutm e rupakan suatu faktor yang membatasi pe nyebran jenis-jenis mangroveterutama penyebaransecarahorisontal. dimana jumlah Cl yang terlarut d alam air laut ini rata-rata 55%. pasangsurut dapat digunakan untuk membedakan zonasi pantai dankomunitas h ewan yang ditemukan di wilayah h utan mangrove (Pariwono. Jenis garam yang paling banyak l arut adalah NaCl. 1999). Dilaut t erbukaketinggian air pasang tidak l ebih dari 0. namun ada jenis mangrove yang dapat tumbuhp ad a kondisi kadar garam yanglebih t inggi. Di areal pesisir pantai. 2005) Salinitas mempunyai fungsi penting untuk menghilangkantumbuhanlain yang menempel pada mangrove yangtidak mampu beradaptasi padakondisi air yang mempunyaikandungan NaCl (Hilmi. bilatanah banyak mengandung pasir ataukarang didominasi oleh Rhizophora stylosa (Hilmi. Lebih l anjut Richards (1946) dalam Sukardjo (1984) menyatakan bahwakandungan garam atau salinitas s angat menentukankemampuantumbuh dan reproduksi mangrove. Salinitas Salinitas merupakansuatu indikator yang menunjukkan banyaknya kadar garam yang terlarut dalam air atau kadar garam terlarut dalam air maupun dalam larutan tanah dan merupakan istilah yang menyatakankadar garam yangterkandung dan dinyatakan dalam part perthousend (ppt) (Aksornkoae. Hampirsemua jenis mangrove merupakan jenis yang toleran terhadap garam.Rhizophora apiculata. Pantai yang landai memilikikomposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika dibandingkan de ngan pantai yang terjal. distribusi spesies dan lebar hutan mangrove. Pasang yangterjadi di kawasan mangrove sangatme ne ntukan . Pasang Surut Pasang surut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Pasangsurut berhubungan denganlamanya penggenangan yang berpengaruh pada jenis vegetasi mangrove. Air pasangterjadi duakali dalamsatuhari. d. 2005) b. 1 992).

Secara umumcurah h ujan yang normal bagikehidupan jenis mangrove sekitar 1500 ± 3000 mm/tahun (Aksornkoae. Nutrien-nutrien yang berasal darihasil dekom posisiserasah maupun yang berasal dari runoff daratan danterjebak dihutan mangrovekemudian akanterbawa oleh arus dan gelombang ke laut pada saat surut (http//wap. hewan dan faktor fisik lain seperti tanah dan air (Aksornkoae.800kkal/m2/hari. yang terbawa gelombang dan arus sampai menemukansubstrat yangsesuai untuk menancap dan akhirnyatumbuh (http//wap. untuk Avicennia marina akan memproduksi daun-daunsegar padasuhu18 ± 200C dan jika suhu dinaikkan lagi maka produktifitas daun-daun baru akan rendah.Excoecaria agallocha dan Lumnitzera sp. Cahaya merupakansalah s atukomponen yang vital bagi proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman hijau. c urah h ujan dan angin mempunyai pengaruh yangsangat k uat terhadap kehidupan ekosistem mangrove. Oleh karena itu tidakm em un gkinkan pembentukan hutan mangrove yang sangat luas (Sukardjo. Angin ribut akan mengakibatkan impending pertumbuhantanaman dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal (Aksornkoae. begitupun Xylocarpus s p. Suhu juga merupakan faktor penting bagi proses fisiologiseperti proses fotosintesis dan respirasi.fisiologi dan struktur fisikd a ri tanaman mangrove. 1984).ya itu antara 26 ± 280C. t etapi iklim yang bersifat mikrosepertikondisicahaya.. 1993).id). Angin berpengaruh t erhadap mangrove untuk proses penyerbukan danseed dissemination. Gelombang dan arus juga berpengaruh l angsungterhadap distribusi spesies misalnya buahatau semai Rhizo phora sp. Hal initidak berarti bahwa mangrovetidak dapat berkembang dikawasan beriklimkering. Pa dalokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang besar biasanyahutan mang rove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan hutan.id). 1 993). transformasi. s alinitas.ac. s uhu. 1993). Kondisitersebut bukan disebabkan oleh iklim. Menurut Kennish (1990) mangrovetumbuh s ubur padakonsisi daerah t ropik yang bersuhu di atas 200C. Mangroveterdapat pula dikawasan beriklimkering. Curah h ujan juga mempengaruhi faktorlingkunganlainnyasepertisuhu air. Iklim Mangrove merupakantumbuhan yang dalamhidupnyatidak t erpengaruh t erhadap iklim artinya bahwa mangroveterdapat di areal beriklim basah.ipb.zonasitumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi denganekosistemmangrove . Keberadaan iklim akan berperan terhadap perkembangan tanaman. 1993). 1 993). s eperi diSulawesiSelatan dan Tenggara. pada suhu 270C. Di Indonesiasebagian besar mangroveterdapat dikawasan dengancurah h ujantahunan dan bulanan yangtinggi. Pengaruh t idak l angsung dari gelombang dan arus adalah t erhadapsedimentasi pantai dan Pem bentukan padatan-padatan pasir di muarasungai. e.000 ±3. Dengankeadaan iklim demikian ini mangrovetumbuh s ubur dan berkembang dengan baik.ipb. . Mangrove umumnya merupakan tumbuhan berhari panjang yang memerlukan intensitas c ahaya yangtinggi. s erta Xylocarpus granatum pada suhu 280C (Aksornkoae.ac. bermusim dankering. Cahaya juga berpengaruh terhadap prosesrespirasi. Terjadinyasedimentasi dan padatanpadatan pasir ini merupakansubstrat yang baik untuk menunjang pertumbuhan mangrove. Bruguiera sp. mempunyai kisaran suhu yang lebih tinggi dalam prosesp rod uktifitasd a un-da un segar.Kalimantan dan Irian Jawa. Gelombang dan Arus Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove. Gelombang dan arus mempengaruhi dayatahan organisme akuatik melaluitransportasi nu trien-nutrien penting dari mangrovekelaut. f. Hal ini menyebabkan zona pantaitropis merupakansuatuhabitat yang ideal bagi ekosistem mangrove (Aksornkoae. Intensitas c ahaya optimal yang penting bagi pertumbuhantanaman mangrove adalah 1 . Curah h ujan me rupakan faktor penting bagi perkembangan dan penyebaran daritanaman danhewan.Ce riops sp. melainkan oleh k enyataan bahwakondisi pantai dantidak adanyasungai besar seperti diSumatera. Angin juga apat meningkatkan evapotranspirasi bagitanaman. Pada mangrove jenisRhizophora stylosa. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur walaupun dalam areal yanglebih k ecil. pertumbuhannya baik padasuhu 21 ± 260C. dan aliran permukaan dan aliran bawah t anah.

..... Kegiatanterakhir ini memberikankontribusi besar dalam pengrusakan eksositem ini (Dahuri. estimasi yang paling dapat diandalkan berasal daritahun1993.. O ksigen terlarutjug a merupakansuatu bagian essensial yang mempe ngaruhitejadinya proses dekomposisi.. Kerusakan mangrove bisasebababkan oleh beberapa faktorseperti aktivitas manusia...50 jutahektar padatahun 1993.... Tingkat oksigenterlarut di dalam dan diluar mangrove sekitar 4. Pada arealya ng tertutup sekitar 2....25 jutaha (Spalding et....p emb uanga n limbahme mbe rikan pengaruhatau tekanan terhadap habitat mangrove..... Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah-ubah s elama 24 jam.Selain itu meningkatnya permintaan terhadap produksi kayu menyebabkan meningkatnya pula e ksploitasi berlebihan terhadap mangrove (Dahuri. Kecenderungan penurunantersebut mengindikasikan bahwaterjadi degradasihutan mangrove yangcukup nyata.. Kalimantan dan Papua. a .25 jutahektar padatahun1982 menjad isekitar3. 1 989). Mangrove menggunakan oksigenterlarut s ebagai faktor pengontrol bagikomposisi jenis dan distribusinyaserta pertumbuhannya..9 sampai dengan 2.... hidroksida dan bikarbonat akan menaikankebasaan air....hidup padatanah dengan nilai pH berturut-turut adalah 6.. k egiatan-kegiatankomersial...4 mg/L)lebih t inggi dibandingkan dengan di dalam mangrove (1..4 mg/L. Oksigen Terlaru Oksigenterlarut adalah s esuatuhal yangsangat penting bagi keberlangsungan hidup tanaman dan hewan di hutan mangrove khususnya dalam prosesrespirasi dan fotosistesis... Luas penyebar an mangroveterus mengalami penurunan dari 4.. A ktivitasma n usia yang berupa kegiatan penebangan liar...p asang surut dan arus. pencemaran........... Nilai pH baku mutu untuk perairanlaut berkisar antara6-9...8 mg/L... sedimentasi... Nilai pH Nilai pH suatu perairan mencirikankeseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ionhidrogen dalamlarutan..Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayahpesisir Sumatera.4 mg/L).. yang teren dah pada malam hari dan tertinggi pada siang hari................g... Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalahme m iliki keragaman jenisya ng tertinggi di dunia. Karena fungsi dan manfaatnya yang begitu besarsehingga mendorong masyarakat untuk memanfaatkanhutan mang rovesecara membabi buta yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan hutan mangrove tersebut (Nuhman...... Bersumber darikeinginan manusia untuk mengkonversihutan mangrove menjadilahan perumahan.... industri dan pertanian. al. Komunitas Rhizophorasp. dantersisaseluas 2.2.24 jutahektar padatahun1987..... Penyebab dan TingkatKerusakan Mangrove Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai75% daritotal mangrove di Asia Teng gara....... s ementara adanya asam-asam mineral bebas dan asamkarbonat akan menaikankemasaman (Saeni. Estimasiterhadaphutan mangrove di Indonesia dipenuhiketidakpastian dansudah k adaluwarsa. h. yaitusekitar 200 ribuhektar/tahun.6 dan 6. Aksornkoae et.....pe mb ukaan lahan..g elombang. 2002).. ....... atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia... 2004)............... penebanganliar dansebagainya (Dahuri.... Adanyakarbonat...... (1978) dalam Hilmi (2005) melakukan pene litiantentanghal t ersebut dan menujukan bahwa oksigenterlarut diluarhutan mang rove (4. Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah membentuk s uatu area dan zonasi bagitanaman......1± 3.... Hal t ersebutDisebab kan oleh k egiatankonversi menjadilahantambak. Kegiatanlain yang menyebabkankerusakanhutan mangrove adalah pembuka anlahan-lahantambak untuk budidaya ikan. 2002).7 ±3... dan Avicenniasp. Menurut World Mangrove Atlas dalam Irwanto (2006). ketika ituluas h utan mangrove di negara ini mencapai 4. 2002)....

Etty Riani. Perhutani. Cecep Kusmana. Metode penelitian yang dilakukan secara umum adalah metode studi kasus. ekonomi dan sosial.unpad. melakukan identifikasi.id/archives/515 Unduh 7 Maret 2011 STRATEGI PENGELOLAAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN (Studi Kasus di Kabupaten Indramayu) Oleh: admin February 25. inventarisasi dan analisis kondisi ekologi. Juntinyuat.ac. Hutan mangrove binaan merupakan hutan mangrove yang kondisinya perlu mendapat perhatian serius mengingat tingkat kerusakannya sudah sangat mengkhawatirkan. Sindang. sosial dan ekonomi. perguruan tinggi. Teknik pengambilan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling terpilih (purposive sampling). dan sosial ekonomi budaya masyarakat di sekitar hutan mangrove sebagai komponen keberlanjutan dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove serta merumuskan strategi kebijakan pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu. Pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu secara umum terdiri dari hutan mangrove binaan dan hutan mangrove alami. Balongan. Pertamina. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahapan pokok.Dari : http://fpik. LSM. Dinas Lingkungan Hidup. QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) dan AHP (Analitical Hierarcy Process). Karangampel dan Krangkeng dengan total desa sebanyak 21 desa. tahap kedua. tahap ketiga penentuan prioritas kebijakan pengelolaan. ada beberapa kecamatan dan desa yang tidak memiliki jalur hijau seperti Kecamatan Sukra. Penelitian ini dilakukan di kecamatan kecamatan pesisir yang ada di Kabupaten Indramayu. Responden terpilih meliputi stakeholder terkait seperti masyarakat. Sumardjo Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Aspek yang dikaji meliputi aspek ekologi. untuk formulasi strategi pengelolaan dan penentuan prioritas kebijakan pengelolaan masing-masing menggunakan analisis SWOT (Strengts Weaknesses Opportunities Threats). yaitu tahap pertama. Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskripsi. 2010 Iwang Gumilar. Selanjutnya. formulasi strategi dan. Sejak tahun 1999 kondisi luas hutan mangrove di Indramayu terus mengalami penurunan yang cukup signifikan (45. dan PT.34 %). Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji kondisi ekologis hutan mangrove. Potensi yang dapat dimanfaatkan di . Dalam faktanya tidak seluruh wilayah pesisir Kabupaten Indramayu ada jalur hijaunya. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil identifikasi dan inventarisasi aspek fisik kimia lingkungan di lokasi sekitar hutan mangrove di Indramayu menunjukkan bahwa secara umum tanaman mangrove layak untuk ditanam dan dikembangkan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu karena dari sejumlah parameter fisik kimia lingkungan yang ada hampir seluruh parameter memenuhi kriteria kesesuaian.

129.yang terdiri dari manfaat untuk bahan bangunan. sebesar Rp 769. mangrove.000. berkelanjutan. Sementara itu.. sosial. Melakukan pemberdayaan / pembinaan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove dalam kegiatan ekonomis dan pelestarian lingkungan Berdasarkan perhitungan nilai Eigen (Eigen Vector) diperoleh kriteria yang paling penting secara berurut adalah sosekbud. Sementara pembudidaya tambak dan nelayan juragan umumnya pendapatannya di atas garis kemiskinan. Ini artinya keragaman jenis tanaman mangrove di Indramayu daratan sangat rendah. perikanan tangkap. satwa dan tambak. yaitu Avicennia alba dan Bruguiera gymnorrhiza. Jenis lainnya tidak ditemukan di Indramayu daratan. Dengan menggunakan matriks posisi SWOT strategi yang harus dijalankan adalah strategi S-O pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu diarahkan kepada: 1. Untuk alternatif yang paling penting secara berurut adalah silvofishery. Memanfaatkan potensi lahan wilayah pesisir untuk dijadikan hutan mangrove 2. Kata Kunci: strategi.Indramayu daratan hanya sekitar 10. kemudian diikuti fisik kimia dan terakhir biologi. 880. kemudian diikuti wanawisata. keberhasilan pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu sangat dipengaruhi oleh kriteria sosekbud dan alternatif usaha silvofishery. Dengan kata lain. kayu baker. Hasil valuasi ekonomi menurut pendekatan manfaat langsung dan opsi menunjukkan bahwa nilai ekonomi lingkungan dari ekosistem hutan mangrove di Indramayu daratan sekitar Rp. ekonomi dan budaya . Memanfaatkan dukungan peraturan dan partisipasi stakeholder lokal dan pusat dalam berbagai bentuk untuk melestarikan hutan mangrove di wilayah pesisir 3. konservasi dan terakhir hutan produksi.71 persen.500 sebagai indikator pembanding untuk menentukan kemiskinan penduduk. Umumnya pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan tangkap ABK merupakan masyarakat yang termasuk kategori miskin. ekologis. 561/kep 684Bangsos/2008. Memanfaatkan hutan mangrove pada zonasi tertentu untuk dijadikan wilayah wanawisata (ecoturism) 4. spesies mangrove yang dominan ada di Indramayu daratan hanya ada dua jenis.833. Berdasarkan Upah minimum propinsi dan kebutuhan hidup minimum penduduk di Propinsi Jawa Barat khususnya untuk Kabupaten Indramayu tahun 2008 menurut SK Gubernur Jawa Barat No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful