Kronologis Penelitian Tesis ku : Menghadap Prof Soemarno pada hari Senin, 27 Desember 2010, ditemani bu Hany yang sudah

minta tandatangan siap ujian proposal tesis. Saya diminta langsung ujian proposal tesis hari Kamis/ Jum’at 30/ 31 desember 2010. Tidak mungkin. Ngebut belajar, cari masalah, tujuan dan metoda. Sesuai dengan arahan Prof Soemarno, hanya buat 2 masalah, 2 tujuan dan 2 metoda. Karakteristik fisik/ vegetasi hutan mangrove dan Strategi arahan terbaik [pengeloaan hutan mangrove. Analisis Vegetasi berdasar buku praktikum bu Endang + analisis SWOT dengan Evaluasi Faktor Internal Eksternal + matrix EFAS IFAS. Hari Senin tgl 10 Januari 1011 dengan membawa draft proposal tesis, satu untak Prof Soemarno dan satu untuk Dr Nuddin. Dr Nuddin minta dimasukkan sosek karena suatu model pengelolaan akan gagal tanpa melibatkan social ekonomi masyarakat. Saran Prof Soemarno : segera hub dosen + penguji ( Amien Laksono + Imam Hambali ). Berupa USULAN PROPOSAL TESIS 1 Hari Jum’at, 14 Januari 2011 ke perpus S2 + perpus biologi + ambil format penundaan pembayaran. Ketemu m. Santi. Ternyata harus dengan melampirkan Hasil Ujian TOEFL, KACAU APALAGI DITAMBAH PENYAKIT MALAS Tanggal 10 Februari Bintek di Grand Palace malang, kusempatkan ke kampus ngurus persetujuan pencicilan SPP. Ternyata belum jadi, untungnya tetap bias regestrasi Tanggal 16 Fabruari 2011 ke malang dengan suami ngurus SPP q. Hari ini ke Pasca, truz ke Rektorat lantai 5, truz bayar di Mandiri dan terus ngurus Permohonan Keringanan SPP. Hari ini adik Yanuar masih dir s, tabrakan pada hari Selasa, 15 Februari 2011 Maulid Nabi. Kujalani hidup ini…lagi2 tertunda!!! HARUSNYA BUKAN ALASAN, TAPI KEMBALI2NYA AKU SING NGURUS KABEH YA ALLAH MAHA TAHU…. HARI SABTU, 19 FEB MAUNYA TOEFL IDP JUGA GAGAL….GITU AKU YO DIMARAH2I DI RS…..YOK OPO SE KAREPE Tanggal 23 Feb aku konsultasi ke p Nuddin, banyak perbaikan truz ke perpus pusing berat, truz k Pas Maunya Sabtu 26 Feb Toefl--> TERHAMBAT LAGI M.ABADI PRESENTASI KE SURABAYA !!!

-

-

-

-

-

=============================================================== Buka : http://forestcreator.files.wordpress.com/2009/11/analisis-vegetasi-hutan-alam.pdf =============================================================== Dari PENGHITUNGAN BIOMASSA- Sebuah pengantar untuk studi karbon dan perdagangan karbon - Dandun Sutaryo - Wetlands International Indonesia Programme – 2009 - Dipublikasikan pada Mei 2009 oleh : Wetlands International Indonesia Programme Jl. A. Yani 53. BOGOR :
DBH : Diameter Breast Height, diameter setinggi dada atau kurang lebih 1.3 m dari permukaan tanah. Metode mengukur pohon dalam penelitian ekologi hutan, penelitian biomassa atau pendataan potensi hutan. GBH : Girth Breast Height. Keliling pohon setinggi dada. Variasi lain dalam pengukuran pohon selain DBH. Dalam prakteknya pengkuran GBH lebih sering dilakukan dan hasil nya dikonversikan menjadi DBH. Basal area : Luas batang pohon yang dihitung dari DBH. Luas keseluruhan basal area per satuan luas menunjukan nilai dominansi dari tumbuhan tersebut. Dekomposisi : Penguraian. Dalam hal ini penguraian bahan organic menjadi bahan anorganik melalui proses fisika, kimia atau biologi. Pembusukan bahan organic diamati. Densitas : Kerapatan. Nilai yang menunjukkan jumlah individu per satuan luas . Densitas biomassa : Biomass density, jumlah biomassa per satuan luas. Expansion factor : suatu factor atau nilai yang menggandakan suatu jumlah nominal tertentu (volume atau biomass), yang mencakup 1 atau beberapa bagian pohon ke jumlah nominal lainnya yang mencakup keseluruhan pohon BEF : (Biomass expansion Factor) Faktor yang menggandakan biomassa batang ke biomassa keseluruhan pohon. VEF : Volume expansion factor GPG LULU CF : Good Practice Guidance for Land Use, Land-Use Change and Forestry Herba : Tumbuhan dengan batang basah atau tidak berkayu. Umumnya berupa tumbuhan semusim. Pancang : Tingkatan pohon setelah tingkatan semai (seedling). Pada komunitas hutan tropic basah berupa pohon muda dengan diameter 2 cm hingga sekitar 8 atau 10 cm. Pada iklim yang lebih kering diameter 10 cm mungkin tidak lagi tergolong sapling karena rata-rata diameter pohon di komunitas tersebut lebih kecil. Tegakan : komunitas tumbuhan (pohon) pada area tertentu.

Biomassa adalah total berat atau volume organisme dalam suatu area atau volume Ter tentu (a glossary by the IPCC,1995). Biomassa juga didefinisikan sebagai total jumlah materi hidup di atas permukaan pada suatu pohon dan dinyatakan dengan satuan ton berat kering per satuan luas (Brown, 1997).
=================================================================================

Dari : METODE ANALISIS AKAR MASALAH DAN SOLUSI - Ari Harsono P. Departemen Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Indosesia, Depok 16424, Indonesia - E-mail: ariharsono@yahoo.com - MAKARA, SOSIAL
HUMANIORA, VOL. 12, NO. 2, DESEMBER 2008: 72-81 - : .Metode Analisis Akar Masalah dan Solusi (MAAMS) ini menyajikan suatu cara berpikir yang diperagakan dengan tata-alir (flow chart), disertai dengan beberapa contoh. Penerapan MAAMS membantu penggunanya untuk berpikir induktif maupun deduktif, kualitatif maupun kuantitatif, lebih mendalam dan menyeluruh, serta mempermudah kerjasama inter, multi, atau transdisiplin. Berikut ini adalah langkah-langkah menjalankan MAAMS: a. Rumuskan suatu masalah (sosial dan kemanusiaan) dalam bentuk yang dapat diaju kan pertanyaan “apa sebab-sebabnya.” Misalnya, apa penyebab timbulnya perkelahian pelajar; mengapa kualitas SDM kita rendah, mengapa Malaysia berani mengincar Amba lat, apa sebab penularan HIV/AIDS, juga pemakaian narkoba yang semakin meluas? Jenis pertanyaan yang mengarah pada solusi ini harus didukung fakta. Jika dari judul (artikel, makalah, skripsi, tesis, disertasi) tidak dapat diajukan pertanyaan (“Apa Sebab nya” atau “Mengapa”), identifikasi lebih dulu alasan-alasan atau fakta-fakta yang biasa nya ditulis sebagai latar belakang masalah. Terhadap alasan-alasan atau fakta-fakta inilah diajukan pertanyaan mengapa atau apa sebab-sebabnya. b. Identifikasi sebab-sebab negatif yang paling lang-sung dari X. Misalnya ada 4 faktor, ditandai dengan Sa1, Sb1, Sc1, Sd1. (S=sebab; abcd=masing-masing faktor; angka 1=tahap pertama penelusuran sebab). Sebab negatif yaitu suatu keadaan salah-buruk yang perlu diatasi atau diperbaiki; sedangkan paling langsung yaitu sebab yang tidak diantarai oleh sebab lain. Dalam fenomena sosial hampir tidak ditemukan adanya satu faktor yang menyebabkan satu fakta lain, melainkan beberapa faktor sekaligus, baik secara kausal maupun korelasional. Di sinilah muncul kebutuhan untuk berpikir dan berkerjasama secara interdisiplin, multidisiplin, atau transdisiplin. c. Terhadap masing-masing sebab (faktor) diajukan pertanyaan “benarkah?” dalam arti apakah ia memang menjadi sebab dari masalah X. Untuk itu lebih dulu dilakukan pengkajian atau penelitian, baik secara logis (formal) ataupun empiris (material), kualitatif maupun kuantitatif, induktif maupun deduktif (Hayon, 2005). Jika hasilnya benar, tahap kedua dari penelusuran sebab dapat dilakukan, yang berarti mencari sebab-sebab dari setiap sebab pada tahap pertama (Sa1, Sb1 dan seterusnya). Jika hasilnya salah, sebab tersebut diabaikan dan kembali ke awal dengan mengidentifikasi kemungkinan sebab lainnya. Pada langkah ketiga inilah keseluruhan pengetahuan tentang kebenaran dan pendekatan terhadap masalah diterapkan secara kritis.

Jika identifikasi sebab-sebab dilakukan hanya sampai permukaan saja. atau kurang jujur. di dalam flow chart dibedakan menjadi tiga: darurat/permukaan/jangka pendek. Mungkin ini terjadi karena keengganan. khususnya penelitian empiris. apa yang dipandang sebagai akar masalah tersebut dapat secara sekaligus dicarikan solusi individual/ personal/mentalistik –berupa imbauan pada nurani atau niat seseorang– maupun solusi sistemik/ struktural/institusional/legalistik –berupa UU atau peraturan dengan sanksi hukum.b. secara sadar atau tidak. dan angka kredit kenaikan pangkat. demikian pula bila tanggung (Dua tahap inilah yang sering terjadi sehingga menimbulkan perbincangan yang berkepanjangan. Mengenai solusi. Berikut ini adalah contoh-contoh penerapan metode MAAMS yang. Pertama. penelusuran sebab berhenti sebelum sampai pada akar masalah/akar penyebab. Bedanya adalah bahwa kemungkinan sebab (faktor) yang diidentifikasi menjadi semakin sedikit karena adanya kesamaan sehingga bukan a. mengingat keterbatasan penulisan. tetapi tidak mengatasi masalah secara “tuntas”.b. Oleh karena itu untuk memenuhi syarat solusi sistemik ini. proses diulang dari tahap sebelumnya atau dari awal lagi. dan pada akhirnya a dan b sebagai sebab terdalam atau akar masalah (a dan b menunjukkan bahwa sebab dasar terdiri lebih dari satu sebab). Tahap kedua dan seterusnya (tahap ke n) caranya sama seperti tahap pertama. maka solusinya pun bersifat permukaan. sedangkan solusi sistemik lebih sulit dilaksanakan. e. Kalangan akademis pun bisa tanpa sadar melakukan hal yang sama dengan mengemasnya sebagai topik-topik penelitian dan diskusi. deduktif maupun induktif.d lagi tapi a. Penelusuran dapat dihentikan dengan memperhatikan dua syarat. terdapat persetujuan dari peserta yang terlibat perbincangan. dimanfaatkan oleh media massa secara komersial –komodifikasi masalah– berupa talk show dan rubrik opini. Solusi individual relatif mudah dilaksanakan. rumusan sebab atau akar masalah hendaknya memperlihatkan perilaku nyata yang cukup mudah diamati. Kerjasama media massa dan ilmuwan bisa tergelincir melakukan “play acting at science” yang memunculkan ilmuwan selebritis). kurang mampu. publikasi. dan dasar/jangka panjang. tanggung/jangka menengah. yang dalam penerapan rincinya (tahap pembuktian/penelitian) sangat mungkin membutuhkan analisis data kuantitatif serta penerapan logika formal dan logika material. Selanjutnya. kemalasan. tidak sepenuhnya menerapkan langkah ke-3. Hanya bila akar masalah teridentifikasi maka solusi yang mendasar dapat dirumuskan. dan tentu saja layak untuk dijatuhi sanksi hukum.d.c. Kedua. dan tema jurnal yang mungkin “sekadar” menambah penghasilan. termasuk dengan penelusuran ulang sebab-sebab. Analisis yang tidak tuntas ini.c. solusi dasar ditindaklanjuti lagi dengan evaluasi. dan lalu dipotong-potong menjadi kemasan topik-topik kecil yang sangat banyak jumlahnya. Jika syarat ini tidak terpenuhi. Meski demikian keseluruhan contoh diharapkan sudah dapat menjelaskan penerapan MAAMS TATA ALIR METODE AAMS MASALAH SOSIAL (“X”) APA SEBABNYA ? . Catatan: Cukup sering terjadi. f. Uraian di atas memperlihatkan bahwa MAAMS merupakan metode yang memiliki sifat kualitatif.

. proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus... Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus.. Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan....... Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi..ANALISIS STRATEGI DALAM MENGHADAPI ABAD 21 A... Proses Analisis Kasus Mengetahui Strategi Perusahaan Jelaskan Situasi .. Sbn) harus bisa disepakati. YA / TIDAK SOLUSI DARURAT APA SEBAB DARI : Sa1....... YA / TIDAK SOLUSI TANGGUNG APA SEBAB DARI : Sa2.. dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah.. Sc1. Sd1 SEBAB (SEBAB)NYA : Sa2 Sb2 Sc2 . Sc2 DAN SETERUSNYA Sa(n).... Sb1..... Menurut Boulton.II BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : .. Sb(n) HINGGA SEBAB TERDALAM/ ........... dan bisa langsung dicari solusi individual & sistemiknya sekaligus ** Sebab yang ditelusuri adalah sebab yang negatif Dari : JURNAL REVIEW “Chatlyn” ..........n SEBAB DASAR/AKAR MASALAH*) YA SOLUSI DASAR * Akar Masalah (San... Untuk jelasnya dapat dilihat pada : Gambar 1. Sb2.. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada. yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik..SEBAB (SEBAB)NYA : Sa1 Sb1 Sc1 Sd1 BENARKAH ? (KAJIAN LOGIS-EMPIRIS) : ....... menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi..

handrefractometer. gunting. . Pangkalan Batang. TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Matrik Evaluasi Faktor Eksternal Faktor Internal (EFE) (IFE) 2. Kerangka Formulasi Strategis =============================================================== Dari : STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*).Diterima 17 April 2004. meteran. TAHAP ANALISIS MATRIK MATRIK TOWS INTERNAL EKSTERNAL 3.Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau. thermohigrometer. 2004 . Ketam Putih. Nursal Dan Supriyanti . soiltester dan botol semprot.Evaluasi Situasi Tentukan dan Evaluasi lingkungan PELUANG dan ANCAMAN perusahaan Tentukan dan evaluasi lingkungan KEKUATAN danKELEMAHAN perusahaan Analisis masalah yang perlu mendapat perhatian Tentukan alternatif dan pilihan strategi Cari pemecahan masalah Untuk jelasnya. TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitative Strategic Planning (QSPM) Matrix Gambar 2. Selat Baru dan Jangkang. 1(1):26-30. Bahan yang diperlukan adalah : aquades. alkohol 70 %. sedangkan alat yang dipakai ompas. tali plastik. kertas koran. Disetujui 20 Juni 2004 Jurnal Biogenesis Vol. parang.ISSN : 1829-5460 Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon. Bantan Air. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1.Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau . Pekanbaru 28293 . Tanjung Sekodi. pancang.

secara purposive sampling. 2Alumni Jurusan. Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------luas plot Kerapatan suatu jenis Kerapatan Relatif = --------------------------------------. PWK. suhu air.Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg.mindtools. Dibuat 2 buah transekpada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telahditetapkan) . Teknik UB.htm www.x 100% Dominansi seluruh jenis Nilai Penting = FR + KR + DR =============================================================== www.marketingteacher.rer. Agus Dwi W. (2). Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herba rium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986). pH.reg.. (1) Debby Dayusita.html Dari : Arahan Pemanfaatan Lahan Kawasan Rawan Bencana Longsor SSWP Ngantang Kabupaten Malang. suhu udara. Budi Sugiarto. Ir. PWK. lic. Fak. Fak. Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada.x 100% Frekwensi seluruh jenis Jumlah Basal Area suatu jenis Dominansi = ------------------------------------------Luas area contoh Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi suatu jenis Dominansi Relatif = ----------------------------------.x 100% Kerapatan seluruh jenis Jumlah plot yang ditempati suatu jenis Frekwensi =----------------------------------------------jumlah seluruh plot Frekwensi suatu jenis Frekwensi Relatif = -------------------------------------. Teknik UB. MSP (1) dan Ir.com/swot.org/ActionGuide. Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek.justassociates. .htm www. Pada tiap lokasi diukur parameter rlingkungan yang meliputi salinitas. 1974). 1 Staf Dosen Jurusan. kadar organik dan tekstur tanah. kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling ba tang setiap individu tersebut.com/Lessons/lessom_swot.

(ii) Mengevaluasi kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor dengan teknik intersect overlay dengan GIS. Arahan pemanfaatan lahan menggunakan literatur Permentan No 47/2006. Bagaimana strategi pemanfaatan lahannya? Untuk menentukan arahan pemanfaatan lahan. sedangkan dalam analisis SWOT menggunakan metode AHP dengan alat bantu software Expert Choice untuk menentukan bobot berdasarkan pendapat para ahli. Masing-masing faktor strategis yang diperoleh dari analisis potensi dan masalah dilakukan perhitungan terhadap bobot dan ratingnya dalam matrik IFAS EFAS. ahli sosial ekonomi. Metode analisis kuantitatif diterapkan pada analisis tingkat kerawanan longsor. Penelitian ini dilakukan tahun 2007-2008 di wilayah SSWP Ngantang. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei. ahli ekologi. sosial. Bagaimana kondisi kerawanan longsor pada wilayah penelitian? 2. Pembobotan didasarkan jawaban para responden dan diolah menggunakan prinsip metode AHP. Langkah-langkah penelitian yaitu : (i) Mengidentifikasi tingkat kerawanan longsor dengan teknik ranking overlay secara aritmatik dengan GIS. kondisi kinerja kawasan rawan bencana longsor berada pada kuadran IV yang berarti perlu penerapan strategi diversifikasi untuk mengatasi ancaman dan mencapai peluang. analisis kesesuaian penggunaan lahan dan analisis SWOT dengan IFAS EFAS. Hasil analisis SWOT dan IFAS EFAS.714 . Tabel 10. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut. Kabupaten Malang. Strategi pemanfaatan lahan diarahkan berupa diversifikasi tanaman dan diversifikasi usahatani. Bagaimana kesesuaian penggunaan lahan di kawasan rawan longsor? 3. Bobot masing-masing faktor diolah dengan menggunakan software Expert Choice. ekonomi dan kelembagaan dengan analisis SWOT dan IFAS EFAS. asisten Perhutani. yaitu : 1. Penentuan strategi pemanfaatan lahan Masing-masing bobot aspek kinerja kawasan ditentukan menggunakan metode Analytical Hierarchy Process berdasarkan pendapat ahli yang terdiri dari ahli tata ruang. Kepala Kecamatan Pujon. Guna lahan yang tidak sesuai akan diberikan arahan pengaturan penggunaan lahan dilengkapi dengan pengendalian longsor secara mekanis. Pedoman Pengendalian Pemanfaatan Ruang di Kawasan Rawan Bencana Longsor dan Pedoman Kehutanan Indonesia. (iii) Menentukan strategi pemanfaatan lahan berdasarkan aspek penggunaan lahan. Dinas ESDM serta Kabid Linmas Dinas Kesbang Linmas. maka dapat dihasilkan tiga rumusan masalah.2. Matriks IFAS FAKTOR STRATEGIS KEKUATAN Keberadaan kawasan vegetasi permanen sebagai penutup lahan BOBOT 0. Kasembon. Analisis tingkat kerawanan bencana longsor dan analisis kesesuaian penggunaan lahan menggunakan alat bantu sistem informasi geografis dengan perangkat lunak AutocadMap versi 2004 dan ArcView versi 3.238 RATING 3 BXR 0.Penelitian ini bertujuan untuk memberikan arahan pemanfaatan lahan sebagai upaya pengurangan resiko bencana longsor. diperlukan strategi yang dihasilkan melalui analisis IFAS EFAS. Ngantang.

476 0.066 0.128 0.054 0.238 0.063 0.022 0.312 .207 0.043 0.069 3 0.162 0.043 0.149 Tabel 11.054 0.044 RATING 3 3 3 3 3 3 BXR 0.039 0.129 0.237 0.086 0.039 1.021 0.021 0.132 1.FAKTOR STRATEGIS mencapai luas 43.104 3 0.079 0.162 0.039 1 2 3 2 2 3 1 1 0.021 0.117 0.383 0.064 0.58% Adanya kepedulian dalam kehidupan masyarakat Perkembangan sektor peternakan berpotensi meningkatkan pendapatan Produktivitas pertanian dari tahun ke tahun meningkat Sudah adanya badan penanganan bencana untuk tiap-tiap kecamatan di bawah koordinasi pemerintah daerah Masyarakat cukup sigap dalam penanganan bencana yang bersifat lokal Adanya pemberdayaan kelompok tani dan berdirinya koperasi di masingmasing kecamatan TOTAL KELEMAHAN Ketidaksesuaian penggunaan lahan dengan tingkat kerawanan longsor mencapai 51% Tekanan penduduk terhadap lahan tinggi Kurangnya kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan Ketergantungan penduduk terhadap lahan tinggi Tingkat pendapatan perkapita masyarakat di SSWP Ngantang rendah Inovasi petani rendah Lemahnya penegakan hukum dan peraturan TOTAL Sumber: Hasil analisis (2008) BOBOT 0. Matriks EFAS FAKTOR STRATEGIS PELUANG Adanya sosialisasi yang diberikan LSM terkait kondisi kebencanaan di SSWP Ngantang SSWP Ngantang merupakan salah satu sentra pengembangan kawasan hortikultura di Kabupaten Malang dan melayani perdagangan hasil pertanian skala regionalnasional BOBOT RATING BXR 0.

207 0.623 BOBOT 0.234. Koordinat yang menunjukkan posisi wilayah penelitian dalam kuadran SWOT dapat dilihat pada gambar 6.126 0. Gambar 6.Kelemahan = 1.071 – 1.037 1 3 3 2 2 2 1.063 0.694 Koordinat X yang berisi kekuatan dan kelemahan objek penelitian memiliki nilai sebesar 0.126 0.071 0.694 = .071 0.0.074 1.149 = 0.FAKTOR STRATEGIS Adanya landasan hukum untuk penetapan dan perlindungan kawasan rawan bencana dan program reboisasi Peluang kerja sama dengan pihak PT Nestle sebagai pasar tetap di sektor peternakan Peluang kerja sama dengan Perhutani dalam kegiatan pemanfaatan lahan TOTAL ANCAMAN Bencana longsor Degradasi lingkungan akibat lahan kritis Keterbatasan informasi mengenai kawasan rawan bencana Masih terbengkalainya penanganan bencana longsor Intervensi pemerintah untuk menangani bencana skala luas masih dibutuhkan TOTAL X = Kekuatan .623.234 Y = Peluang . Diagram kuadran SWOT PEL UANG (+) KUADRAN II Stability KUADRAN I Growth KEL EMAHAN (-) K EKU ATAN (+) Conse ntric Strate gy KUADRAN III Survival KUADRAN IV Diversification ANCAMAN (-) .213 1.126 0.383 – 1.Ancaman = 1.213 0. Sedangkan koordinat Y yang terdiri dari peluang dan ancaman memiliki besaran -0.069 0.387 0.161 0.071 RATING 2 3 3 BXR 0.063 0.063 0.

tahap analisis. Tahapan Perencanaan Strategis Proses penyusunan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis. menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan untuk memecahkan masalah. Caranya adalah dengan memahami secara keseluruhan informasi yang ada. Kasus harus dijelaskan sehingga pembaca dapat mengetahui permasalahan yang sedang terjadi. .Dari : ANALISIS PEMECAHAN MASALAH DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN ISKANDARINI . yaitu memahami secara detail semua informasi dan melakukan analisis secara numerik. proses untuk melaksanakan analisis suatu kasus dapat dilihat pada diagram Proses Analisis Kasus. yaitu tahap masukan. Kerangka Analisis Strategis Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis adalah memahami seluruh informasi yang terdapat pada suatu kasus. Setelah itu metode yang sesuai dan dapat menjawab semua permasalahan secara tepat dan efektif dipergunakan. dan tahap keputusan. Menurut BouLton.Fakultas Pertanian .Universitas Sumatera Utara © 2004 Digitized by USU digital library A. Untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1 berikut: B.

cash-flow. • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). a. gaji. • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman). analisis komunitas. Laba-rugi. TAHAP ANALISIS MATRIK TOWS MATRIK INTERNAL EKSTERNAL 4. Untuk jelasnya. seperti analisis pasar. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan.0 (sangat penting) sampai dengan 0. Dalam evaluasi faktor strategis yang digunakan pada tahap ini adalah model Matrik Faktor Strategis Eksternal dan Matrik Faktor Strategi Internal. Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua. mulai adri 1. pengalaman. Keputusannya didasarkan alas justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis. tetapi juga merupakan suatu kegiatan pengklasifikasian dan pra-analisis. . TAHAP MASUKAN Matrik Evaluasi Faktor Eksternal (EFE) 2. Data eksternal dapat diperoleh dari lingkungan di luar perusahaan. tetapi jika peluangnya kecil. Misalnya. diberi rating +1).0 (tidak penting). analisis kompetitor. sehingga dapat diambil keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada. laporan kegiatan sumber daya manusia jumlah karyawan. analisis kelompok kepentingan tertentu. yaitu data eksternal dan data internal. jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4. TAHAP MASUKAN Tahap ini pada dasarnya tidak hanya sekedar kegiatan pengumpulan data. proses penyusunan perencanaan strategis dapat dilihat pada kerangka formulasi strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2 berikut ini : 1. laporan kegiatan operasional. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. laporan kegiatan pemasaran. Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. Sedangkan data internal dapat diperoleh di dalam perusahaan itu sendiri. keahlian. pendidikan. terstruktur maupun tidak terstruktur. turn-over). TAHAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN Matrik Evaluasi Faktor Internal (IFE) Matrik Perencanaan Strategis Kuantitatif (Quantitave Strategic Planning (QSPM) Matrix 1. struktur pendanaan). seperti laporan keuangan (neraca.Tahap akhir analisis kasus adalah memformulasikan keputusan yang akan diambil. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS). analisis pemasok. analisis pemerintah.

sedangkan jika kelemahan perusahaan di bawah rata-rata industri. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Analisis didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) den peluang (Opportunities). dan kebijakan perusahaan. Dengan demikian perencana strategi (strategic planner) harus menganalisis faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor). Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. Contohnya. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4).0 (paling penting) sampai 0. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan.0 (outstanding) sampai dengan 1.0 (poor).0. Hal ini disebut . Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis internalnya. suatu label IFAS (Internal Strategic Factors Analysis Summary) disusun untuk merumuskan faktor-faktor strategis internal tersebut dalam kerangka Strength and Weakness perusahaan. nilainya adalah 1. nilainya adalah 4. • Beri bobot masing-masing faktor tersebut dengan skala mulai dari 1. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan rata-rata industri atau dengan pesaing utama. terlebih dahulu harus melalui beberapa tahapan. Semua bobot tersebut jumlahnya tidak boleh melebihi skor total 1 . Adapun tahapan pembuatan matrik faktor strategis internal adalah sebagai berikut : • Tentukan faktor-faktor yang menjadi kekuatan serta kelemahan perusahaan dalam kolom 1. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan ancaman (Threats). Tahap Analisis kelangsungan perusahaan.0 (poor). berdasarkan pengaruh faktor-faktor tersebut terhadap posisi strategis perusahaan. • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4). tujuan. • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. Untuk membuat matrik faktor strategi internal tersebut. a.• Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3. berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. 2. kelemahan. kebalikannya. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategi. Matrik TOWS atau SWOT Analisis SWOT adalah indentifikasi berbagai faktor secara sistematika untuk merumuskan strategi perusahaan. Dalam hal ini digunakan model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. peluang. Sedangkan variabel yang bersifat negatif. jika kelemahan perusahaan besar sekali dibandingkan dengan rata-rata industri. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang b. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Matrik Faktor Strategi Internal Setelah faktor-faktor strategis internal suatu perusahaan diidentifikasi. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masing-masing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi.0 (tidak penting). Skor total ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama.0 (outstanding) sampai dengan 1. strategi.

yaitu: • Growth Strategy yang merupakan pertumbuhan perusahaan itu sendiri (sel 1. diagram tersebut dapat mengidentifikasi 9 sel strategi perusahaan.dengan Analisis Situasi. dan 9) adalah usaha memperkecil atau mengurangi usaha yang dilakukan perusahaan . Menurut Rangkuti. Tujuan penggunaan model ini adalah untuk memperoleh strategi bisnis di tingkat korporat yang lebih detail. 2. • Stability Startegy adalah strategi yang diterapkan tanpa mengubah arah strategi yang telah ditetapkan. yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. b. dan 5) atau upaya diversifikasi (sel 7 dan 8). Strategi SO Strategi ini dibuat berdasarkan jalan pikiran perusahaan. Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan yang dimilikinya. (1997). • Retrenchment Strategy (sel 3. • Strategi ST Ini adalah strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk mengatasi ancaman. F. • Strategi WT Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. tetapi pada prinsipnya kesembilan sel itu dapat dikelompokkan menjadi tiga strategi utama. • Strategi WO Strategi ini diterapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada. Model yang paling populer untuk analisis situasi adalah Analisa SWOT. Matrik ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan altematif strategis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 3 berikut ini. 6. Matrik Internal-Eksternal (lE) Parameter yang digunakan dalam matrik intemal-ekstemal ini meliputi parameter kekuatan internal perusahaan dan pengaruh eksternal yang dihadapi.

f. Berikan skor altematif (SA) dengan rentang skor sebagai berikut : 1 = tidak memiliki daya tarik 2 = daya tariknya rendah 3 = daya tariknya sedang 4 = daya tariknya tinggi 5 = tidak memiliki dampak terhadap strategi alternatif e. STABILITY GROWTH RETRENCHMENT Hati . 5. maka tahap selanjutnya disusunlah daftar prioritas yang harus diimplementasikan. 3. terstruktur maupun tidak terstruktur. 6. Tahap Pengambilan Keputusan Setelah tahapan-tahapan terdahulu dibuat dan dianalisa.Sebagai suatu teknik.hati Konsentrasi melalui Captive Company Integrasi horizontal Atau STABILITY Divestment Tak ada perubahan Profit strategi 7. Berilah bobot untuk setiap faktor eksternal dan internal. Analisis matrik yang sesuai dari langkah kedua dengan mengidentifikasikan strategi alternatif yang harus diimplementasikan.Ekstemal (lE) GROWTH Konsentrasi melalui Integrasi vertikal 2. d. c. 8. Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM ) merupakan teknik yang secara obyektif dapat menetapkan strategi altematif rang diprioritaskan. Matrik Intemal. Kalikan bobot dengan SA pada masing-masing faktor eksternal / internal pada setiap strategi. 9 GROWTH GROWTH RETRENCHMENT Difersifikasi Konsentrik Difersifikasi Konsentrik Gambar 4. QSPM memerlukan good intuitive judgement. Jumlahkan seluruh skor SA C. Langkah-langkah dalam menyusun QSPM adalah sebagai berikut : a. Setelah mengumpulkan semua informasi yang berpengaruh terhadap kelangsungan perusahaan. GROWTH RENTRENCHMENT Konsentrasi melalui Turnaround Integrasi horizontal 4. Buatlah daftar faktor eksternal (kesempatan/ancaman) dan faktor internal (kekuatan/kelemahan) di sebelah kiri dari kolom matrik QSPM. b.3. Salah satu model pemecahan masalah . Penutup Untuk memperoleh keputusan yang signifikan dengan kondisi yang ada merupakan rangkaian proses dari analisis kasus yang memformulasikan semua keputusan yang akan diambil berdasarkan justifikasi yang dibuat secara kualitatif maupun kuantitatif. tahap selanjutnya adalah memanfaatkan semua informasi tersebut dalam model-model kuantitatif perumusan strategis.

dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini. strategi. peluang. QSPM memerlukan good intuitive judgement. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). kelemahan. Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). ================================================================== . Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan. Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan. tujuan. Sebagai suatu teknik. Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan.yang dapat digunakan adalah model matrik TOWS atau matrik SWOT dan matrik internal-eksternal. dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities). dan kebijakan perusahaan.

3. 6. A 8 (D da elapan) langk strategis : Identifikasi M dan S isi a A nalisa Lingkungan Lu Identifikasi P eluang da A nalisa Lingkungan In O rganisasi Identifikasi K ekuatan d Atrategi M erum uskan S n a lis a M elaksanakan S un g trateg L in gk G am ba . 7.P O E M N JE R S S A A  1. 4. 2. 5.

e sa a n ruish o a r i  A a a W d mnrk n n i s a  A alis S Oidea d d n lis is in T a ja i a mp ra spolk n a k p e a e c r m k imfiled Kn u o o te r a aim a a d la ou tub sisa m n ap s a is). A a a pulan data n . a uin (O mrtu itien nta u p n C M buat A ara em n m m im lk nK le a e in a a e m  P c m n(T re ts engum h a ).Tg ae n lis aW T a la A a a SO ju amm n O d h mc k nis k ktis u d e a asa mu tana n ra k n e a n tu e s e te a mn e in s k le a a e g lim a i e mh n pg n as a .A A IS S O NL A WT  D la Id n a i K k a a m e tifik s e u ta d nA c mnd elu a a a n a a ip r k n A a aS O n lis W T  A a aS O mmn k n lis W T e u g i P mg a b nu g u nk e e grtia e:n g la e nn mil k e e g a a Oa en  mn h d W c sa a a A a inSi a Tmb g n lis r n  A alis S W .

na a T Matrik IFAS dan 1 .Dg mnls S O i r A ii W aa a s T O I S O S I V W O M tr IF Sd nE A a ik A a F S I I T F kS a to r -F k r a to Sa g tr te is II I W T B 1 P lu n . e ag 2 A c mn .

M trik In ra S a te ksi W IF S A EA F S =============================================================== Dilihat dari sejarahnya dan penggunaannya saat ini. APORTUNITIES S ltern atif trateg O P (O O : m anfaatka )  S em Analisis SWOT merupakan bagian dari proses perencanaan. Dengan analisa SWOT akan m erebut dan m an em pertum buhan agresi TR S S : m ) AT (T  E TH eskipun m m asih m iliki keku em . suatu institusi membutuhkan penilaian mengenai kondisi saat ini dan gambaran ke depan yang mempengaruhi proses pencapaian tujuan institusi. Hal utama yang ditekankan adalah bahwa dalam proses perencanaan tersebut. metode SWOT banyak dipakai di dunia bisnis dalam menetapkan suatu perencanaan strategi perusahaan (strategic planning) sehingga literatur mengenai metode ini banyak berkaitan dengan aspek penerapan di dunia bisnis meskipun pada beberapa analisa ditemukan pula penggunaan SWOT untuk kepentingan public policy.

dan sudah tidak sesuai merupakan kelemahan. kelemahan utama dan kelemahan tambahan berdasarkan analisa lingkungan internal dan eksternal yang dilakukan. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang . faktor netral. Dari analisa tersebut potensi dari suatu institusi untuk bisa maju dan berkembang dipengaruhi oleh : bagaimana institusi memanfaatkan pengaruh dari luar sebagai kekuatan tambahan serta pengaruh lokal dari dalam yangbisa lebih dimaksimalkan. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya. sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi. Mengidentifikasi existing strategy yang telah ada dalam institusi sebelumnya. 3. kekuatan tambahan. 4. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. secara umum terdapat keseragaman bahwa penentuan tersebut akan tergantung dari faktor lingkungan yang berada di luar institusi. • Kekuatan dan Kelemahan. Faktor Lingkungan dalam Analisis SWOT Walaupun terdapat beberapa metode penentuan faktor SWOT. 2. Mengidentifikasi perubahan-perubahan lingkungan yang dihadapi institusi dan masih mungkin terjadi di masa mendatang. 4 Terdapat beberapa metodologi dalam penyusunan SWOT. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. Menentukan katagorisasi kekuatan dan kelemahan berdasarkan penilaian apakah strategi yang saat ini ada masih sesuai dengan perubahan lingkungan di masa mendatang : Jika masih sesuai strategi tersebut menjadi kekuatan/peluang. yaitu 5 : 1. Membuat cross tabulation antara strategi yang ada saat ini dengan perubahan lingkungan yang ada. Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. tidak semua kelemahan dari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. • Peluang dan Ancaman.didapatkan karakteristik dari kekuatan utama. Bagaimana pengaruh lingkungan melahirkan analisa SWOT dapat dilihat Lingkungan di Luar Institusi yang Mempengaruhi Strategi dan Kebijakan Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahanpeluang dan ancaman. 2. Strategi ini bisa jadi bukan merupakan strategi yang disusun berdasarkan kebutuhan institusi menghadapi gejala perubahan lingkungan eskternal yang ada melainkan merupakan strategi turunan yang telah ada sejak lama dipegang institusi. Sehingga sama dengan kekuatan. Johnson dan Scholes menjelaskan bahwa dalam penyusunan SWOT terdapat empat langkah utama yang harus dilakukan. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas. Sebagaimana kekuatan peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. Faktor lingkungan eksternal mendapatkan prioritas lebih dalam penentuan strategi karena pada umumnya faktor-faktor ini berada di luar kendali institusi (exogen) sementara faktor internal merupakan faktor-faktor yang lebih bisa dikendalikan.

dalam tahap ini metode yang digunakan adalah QSP matriks. Untuk ancaman utama ini. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapaianya besar. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). tujuan metode ini adalah untuk menetapkan kemenarikan relatif dari strategi-strategi yang bervariasi yang telah dipilih. analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut Dari :http://boed-health. untuk menentukan strategi mana yang paling baik untuk diimplementasikan. Dalam tahap ini metode yang digunakan adalah SWOT. berdasarkan faktor kunci kesuksesan internal-eksternal yang telah diidentifikasikan sebelumnya. Secara konseptual. Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats).html-Sabtu. o Best. hasilnya disajikan dalam bentuk informasi untuk masukan tahapan berikutnya. yaitu tahap masukan atau input. Tahap terakhir adalah tahapan dalam pengambilan keputusan (decision making). QSPM memerlukan intuisi yang baik dalam penilaian.blogspot. berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. pada tahap ini fokus pada strategi alternatif yang dihasilkan. adalah ancaman yang kemungkinan terjadinya tinggi dan dampaknya besar.pencapaiannya juga kecil o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. • Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan(persaingan) dan tidak bisa dihindari. Selanjutnya adalah tahap pencocokan atau analisis. tahap pencocokan atau analisis. . QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) merupakan teknik yang secara objektif dapat menetapkan strategi alternatif yang diprioritaskan. o Ancaman tidak utama (minor threats). diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil Ancaman moderate. • Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar. Sebagai suatu teknik. Metode ini adalah alat yang dirokemandasikan bagi para ahli strategi untuk melakukan evaluasi pilihan strategi alternatif secara objektif. 13 Maret 2010 METODE QSPM (Quantitive Strategic Planning Matrix) Proses penyusunan perencanaan strategis dilakukan dengan melalui tiga tahap analisis.com/2010/03/metode-qspm-quantitive- strategic. dan tahap keputusan (decision making). Tahap masukan atau input dilakukan dengan menggunakan metode matrik EFE dan matrik IFE.

maka nilai skala ditentukan berdasarkan prioritas dari masing2 situasi ( misalnya skala 4 untuk Peluang yang Utama ) .4 ( tinggi ) untuk Kekuatan dan Peluang. dilakukan pemberian bobot yang berkisar antara 0. Disamping itu. yang kemudian di kalikan.0 dimana nilai 0. lau dikalikan dengan konstanta ( K ) nilai tertinggi yaitu 4 b.1. diperthitungkan rating untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala dari 4 hingga 1.Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran SP 3 K 4 SP X K 12 BOBOT 12/40=0. yaitu dari sangat baik sampai kurang baik. sedangkan skala 4 ( rendah ) – 1 ( tinggi ) untuk Kelemahan dan Ancaman. Dalam menentukan strategi yang terbaik. QSPM sangat diperlukan sebagai metode pengambilan keputusan setelah tahap input dan tahap analisis dilakukan. . Analisi SWOT : Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama Dari : KAJIAN POTENSI SUMBERDAYA HUTAN MANGROVE DI DESA TALISE . sehingga dapat diputuskan pemilihan prioritas strategi mana yang akan digunakan sesuai dengan keadaan organisasi tersebut DAFTAR PUSTAKA > Modul Mata Kuliah Analisa Keputusan Jurusan Teknik Industri UMB > Rangkuti.3 . namun karena tidak ada pembanding.0 – 1. Freddy. 2006.0 berarti sangat penting.Dalam mengadakan perencanaan strategi dalam suatu organisasi. KABUPATEN MINAHASA.2 Kuat dan terendah adalah 0 0– 1 Lemah Berdasarkan nilai Peringkat dan Pembobotan.com : ….0 berarti tidak penting dan nilai 1. Kondisi eksternal-internal organisasi sangat diperlukan dalam penggunaan metode ini.. 1998).meminimalkan kelemahan (weakness) dan ancaman (threats).2. SULAWESI UTARA Oleh: Adnan WantasenC261020021 E-mail: ananw2000@yahoo.3. Masing2 nilai situasi tersebut dibagi dengan Total Nilai SP x K . Selanjutnya antara bobot dan rating dikalikan menghasilkan skor (Rangkuti. QSPM sangat berhubungan dengan metode-metode lain yang digunakan dalam tahap input dan analisis sebagai bentuk informasi untuk tahap QSPM sendiri. Peringkat tetap menggunakan skala 1 (rendah ). Urutkan factor situasi berdasar skala prioritas ( SP ) ( tertinggi nilainya 16 dari 4x4. urutan ke 2 nilainya 3x4=12 dan terendah nilai 4 dari 1x4. Pembobotan tetap menggunakan skala 1 ( sangat penting ) hingga o ( tidak penting )akan tetapi penentuan nilai skala untuk masing2 situasi total berjumlah 1 dengan cara : a. akan diperoleh hasil kombinasi dari beberapa Situasi : SO = memanfaat kan kekuatan untuk menggunakan peluang WO = minimalkan kelemahan untuk manfaatkan peluang ST = memanfaatkan kekuatan untuk mengatasi Ancaman WT = minimalkan kelemahan hindari ancaman F. Nilai Tertinggi untuk Bobot x Peringkat ialah 1.

-Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS 2 4 1 4 4 4 8 16 4 40 8/40=0.1 1. dengan sampel yang diambil sebanyak 10 plot dengan metode Plot Sistematik. Sedangkan sampel tanah diambil dalam tiga lokasi yang berbeda. Analisis vegetasinya dilakukan dengan menetapkan nilai penting jenis dan indeks diversitas seluruh jenis yang diketemukan. mulai adri 1. • Hitung rating (dalam kolom 3) untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh faktor tersebut terhadap kondisi perusahaan yang bersangkutan. Analisis . Matrik Faktor Strategi Eksternal Sebelum membuat matrik faktor strategi eksternal. Pemberian nilai rating untuk faktor peluang bersifat positif (peluang yang semakin besar diberi rating +4. Berikut ini adalah cara-cara penentuan Faktor Strategis Eksternal (EFAS).0 (poor). Faktor-faktor tersebut kemungkinan dapat memberikan dampak terhadap faktor strategis.6 0. dibuat table faktor2 strategik Internal F Strategi Internal Kekuatan : -Pemasaran -Pengalaman -Pangsa Pasar -Produk terbaik TOTAL SP x FS Bobot 12/40=0.1 1. untuk memperoleh faktor pembobotan dalam kolom 4. jika nilai ancamannya sedikit ratingnya 4.0 (outstanding) sampai dengan 1. © 2004 Digitized by USU digital library 2 Dari : ANALISIS STRUKTUR VEGETASI HUTAN MANGROVE DI KAWASAN REKLAMASI PULAU SERANGAN. untuk memperoleh total skor pembobotan bagi perusahaan yang bersangkutan. • Kalikan bobot pada kolom 2 dengan rating pada kolom 3.I Ketut Sundra Fakultas MIPA Jurusan Biologi Universitas Udayana Abstrak Penelitian ini dilakukan di Pulau Serangan pada bulan Agustus 2004.2 0.0 Peringkat 4 3 4 2 Bobotx Peringkat 1. Hasilnya berupa skor pembobotan untuk masingmasing faktor yang nilainya bervariasi mulai dari 4. Misalnya. • Beri bobot masing-masing faktor dalam kolom 2.2 16/40=0.2 USU : a.2 16/40=0. tetapi jika peluangnya kecil.6 1. • Susunlah dalam kolom 1 (5 sampai dengan 10 peluang dan ancaman).4 4/40=0. Nilai total ini menunjukkan bagaimana perusahaan tertentu bereaksi terhadap faktor-faktor strategis eksternalnya. Total skor ini dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan ini dengan perusahaan lainnya dalam kelompok industri yang sama.4 4/40=0.0 Berdasar table sintesa . KOTA DENPASAR .0 (sangat penting) sampai dengan 0.3 8/40=0. kita perlu mengetahui terlebih dahulu faktor strategi eksternal (EFAS). • Jumlahkan skor pembobotan (pada kolom 4).0 (tidak penting). diberi rating +1).

Diagram Profil. tidak semua kelemahandari institusi harus dipaksa untuk diperbaiki terutama untuk hal-hal yang tidak berpengaruh pada lingkungan sekitar. Peluang juga harus diranking berdasarkan success probbility. maka kekuatan harus diukur dari bagaimana kekuatan relatif suatu institusi dibandingkan dengan institusi yang lain. Dari : Lengkap ! Tesis Sri Susanti Ningsih. Dari : Metodologi Penelitian : Analisa SWOT-Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat . Hal-hal yang menjadi opposite dari kekuatan adalah kelemahan. Peluang dapat dikatagorikan dalam tiga tingkatan : o Low. Jika pada instutusi lain juga terdapat kekuatan yang dan institusi tersebut memiliki core competence yang sama. misalnya apakah kekuatan itu dibutuhkan atau bisa mempengaruhi lingkungan di sekitarnya. mangrove di pesisir Deli Serdang umumnya rusak. Pancang ukuran Sub Petak 5m x 5m dan ukuran Pohon Sub Petak 10 m x 10 m. U semai ukuran Sub Petak 2m x 2m. Metoda penelitian Metoda Garis Berpetak ( Jalur Berpetak ) dengan satu buah jalur u tiap desa penelitian berukuran 10 m x 60 m dengan arah tegak lurus tepi laut. Peluang adalah faktor yang di dapatkan dengan membandingkan analisa internal yang dilakukan di suatu institusi (strenghth dan weakness) dengan analisa internal dari kompetitor lain. Suatu kekuatan / strenghth (distinctive competence) hanya akan menjadi competitive advantage bagi suatu institusi apabila kekuatan tersebut terkait dengan lingkungan sekitarnya.Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Dari Gambar 1 dan 2 dapat disimpulkan bahwa dari perubahan lingkungan yang ada di luar institusi maka akan terbetuk faktor-faktor yang menjadi kekuatan-kelemahan peluang dan ancaman. Parameter yang dianalisis :Index Nilai penting. Sebagai bahan penelitian 9 desa h. P. Sehingga sama dengan kekuatan.pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan – USU . sehingga tidak semua peluang harus dicapai dalam target dan strategi institusi.057004020. Index keanekaragaman. Sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak semua kekuatan yang dimiliki institusi harus dipaksa untuk dikembangkan karena adakalanya kekuatan itu tidak terlalu penting jika dilihat dari lingkungan yang lebih luas.USU erepository Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan membandingkan kondisi hutan mangrove serta cara penegelolaan h.Inventarisasi Hutan Mangrove sebagai Bagian dari Upaya Pengelolaan Wilayah pesisir Kabupaten deli Serdang.Mangrove di Deli Serdang.tanah dilakukan untuk menetapkan kandungan unsur hara makro (N. K dan bahan organic). Ketebalan Mangrove dan Salinitas. ……Berdasarkan hsl analisis Kerapatan dan Luas Penutupan Tajuk. mangrove di pesisir Deli Serdang. Kekuatan adalah faktor internal yang ada di dalam institusi yang bisa digunakan untuk menggerakkan institusi ke depan. bhw kond h. jika memiliki daya tarik dan manfaat yang kecil dan peluang pencapai annya juga kecil .

o Moderate : jika memiliki daya tarik dan manfaat yang besar namun peluang pencapaian kecil atau sebaliknya. o Best, jika memiliki daya tarik dan manfaat yang tinggi serta peluang tercapai anya besar. Ancaman adalah segala sesuatu yang terjadi akibat trend perkembangan (persaingan) dan tidak bisa dihindari. Ancaman juga bisa dilihat dari tingkat keparahan pengaruhnya (serousness) dan kemungkinan terjadinya (probability of occurance). Sehingga dapat dikatagorikan : o Ancaman utama (major threats), adalah ancaman yang kemungkinanterjadinya tinggi dan dampaknya besar. Untuk ancaman utama ini, diperlukan beberapa contingency planning yang harus dilakukan institusi untuk mengantisipasi. o Ancaman tidak utama (minor threats), adalah ancaman yang dampaknya kecil dan kemungkinan terjadinya kecil o Ancaman moderate, berupa kombinasi tingkat keparahan yang tinggi namun kemungkinan terjadinya rendah dan sebaliknya. Sehingga dari kacamata analisa lingkungan eksternal dapat dijelaskan bahwa : o Suatu institusi dikatakan memiliki keunggulan jika memiliki major opportunity yang besar dan major threats yang kecil o Suatu institusi dikatakan spekulatif jika memiliki high opportunity dan threats pada saat yang sama o Suatu institusi dikatakan mature jika memiliki low opportunity dan threat o Suatu institusi dikatakan in trouble jika memiliki low opportinity dan high threats. Setelah mendapatkan identifikasi dari informasi yang ada di lingkungan sekitar, analisa SWOT tersebut dapat digambarkan dalam matrik sebagai berikut: Matrix SWOT……… 3. Metode Survey Untuk mendapatkan informasi dari berbagai narasumber melalui analisis SWOT di atas digunakan metode survey dengan frame sample pihak-pihak (stakeholders) yang bisa memberikan penilaian aspek internal dan eksternal yang mempengaruhi kinerja suatu institusi atau lembaga. Untuk itu, dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Melakukan Focus Group Discussion (FGD) untuk mendapatkan gambaran awal dari peta permasalahan yang ada di institusi. FGD harus dilakukan dengan komprehensif artinya melibatkan seluruh stakeholders sehingga peta yang terbentuk telah mewakili seluruh kepentingan stakeholders. Karena sifatnya yang bersumber dari informasi kual itatif pemilihan responden yang credible sangat mempengaruhi hasil akhir dari analisa SWOT sehingga hendaknya harus dilakukan dengan beberapa kualifikasi. 2. Pembuatan kuesioner SWOT berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan dalam FGD. Secara umum kuesioner ini memiliki katagorisasi penilaian sebagai berikut: ·* Penilaian faktor internal dan eksternal. Di sini responden membrikan preferensi opini terhadap faktor-faktor internal dan eksternal dari institusi pada saat ini dan perkiraan di masa mendatang. ·*Penilaian urgensi. Di sini responden diminta untuk menilai tingkat urgensi faktor terse but untuk ditangani. Penilaian ini berhubungan dengan skala prioritas dalam menyelesai kan persoalan-persoalan pembangunan yang tercermin melalui faktor-faktor yang dinilai. Contoh dari penilaian internal dan eskternal dan contoh penilaian urgensi dapat dilihat sebagai berikut

Contoh Kuesioner SWOT
No Bidang Pembangunan 1 -Penilaian Kondisi Saat Ini – 2 3 4 5 6 1 Urgensi Penanganan 2 3 4

I. Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan : 1. Pendapatan Masyarakat …………………………………………………………………………………………………….. 2. Tingkat kesehatan masy………………………………………………………………………….. 3. ............................................................................................................................................. \ Penilaian Responden: Urgensi Penanganan: Angka 1 = Sangat Kurang Angka 1 = Tidak Urgen Angka 2 = Kurang 2 = Agak Urgen Angka 3 = Cukup 3 = Urgen Angka 4 = Agak Baik 4 = Sangat Urgen Angka 5 = Baik Angka 6 = Sangat Baik

Dari tabel di atas dapat dijelaskan beberapa layer analisa sebagai berikut. ⇒ Bidang merupakan katagori yang memiliki beberapa faktor. Dari contoh di atas Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Hutan merupakan ”bidang” penilaian yang memiliki dimensi internal dan eksternal. ⇒ Faktor, merupakan bagian dari bidang yang merupakan penjabaran spesifik dari masing-masing bidang. Dari contoh di atas (1) pendapatan masyarakat dan (2) tingkat kesehatan masyarakat merupakan ”faktor”. Faktor inilah yang kemudian terkatagori sebagai kekuatan atau kelemahan (dari analisa internal) dan peluang atau ancaman (dari analisa eksternal). Setelah kuesioner terisi dan terkumpul semua, penilaian faktor dilakukan dengan meranking bobot penilaian pada ”penilaian responden” yang memiliki nilai maksimal 6 dan minimal 1. Faktor-faktor yang memiliki nilai di atas median (atau rata-rata dilihat dari persebaran distribusi probabilitasnya) disebut dengan ”kekuatan” pada analisa internal dan”peluang” pada analisa eskternal. Sebaliknya faktor-faktor yang memiliki nilai penilaian di bawah median disebut dengan ”kelemahan” pada analisa internal dan ”ancaman” pada analisa eksternal. Membentuk suatu kuadran faktor pembangunan, yaitu suatu blok yang menjelaskan posisi dari kombinasi faktor internal dan eksternal pembangunan, dengan kombinasi : kekuatan-peluang (S-O), kekuatan-ancaman (S-T), kelemahan-peluang (WO) dan kelemahan-ancaman (W-T). Sebelum menentukan kuadran pembangunan, harus dilihat terlebih dahulu uji konsistensi dari pengolahan kuesioner SWOT. Uji konsistensi pengisian kuesioner mensyaratkan dua asumsi utama, yaitu : o Untuk Prioritas, rata-rata nilai (average) prioritas seluruh faktor dominan (S/O) > faktor non dominan (W/T) o Untuk Urgensi, rata2 nilai(average) urgensi f. non dominan (W/T) > f dominan (S/O)

Tabel 3 Contoh Perhitungan Consistency Index Pengolahan Kuesioner PRIORITY S W O T 3.90 S 3.01 W 3.72 O 2.98 T Consistency index Priority Dominan 1.05 Non-Dominan 1.01 Consistency index Urgency Dominan 1.03 Non-Dominan 1.07 URGENCY 3.07 3.16 2.97 2.96

Menjumlahkan (sum product) dari seluruh bobot prioritas dan urgensi sehingga di da patkan kombinasi nilai dari faktor internal dan eksternal. Tabel 4 Contoh Indeks Penilaian Kuadran Kebijakan KUADRAN S W O 835.45 820.53 T 775.05 760.13

embuat pola strategi pembangunan berdasarkan Indeks Penilaian Kuadran.Prioritas M strategi pembangunan berdasarkan skenario ini ditetapkan dengan menjalankan kombinasi kebijakan dengan indeks nilai paling kecil berurutan ke yang paling besar. Dengan kata lain, daerah akan berusaha untuk mengatasi seluruh faktor yang paling lemah yang dimiliki untuk kemudian beralih pada kombinasi strategi yang telah memiliki indeks baik/tinggi. Dari contoh di atas strategi pembangunan yang dilakukan institusi akan bergerak dari WT-ST-WO-SO. 4. Persebaran dan Profil Responden Responden yang terlibat dalam studi ini terdiri dari beberapa stakeholders baik pemerintah maupun perwakilan masyarakat, LSM serta tokoh agama. Daftar responden yang diwawancara adalah sebagai berikut: Pemerintah aerah Badan-badan: Bappeda, Badan Kesbang dan Politik, BPKD, Badan Diklat Dinas-dinas: Dinas Pendidikan, Kesehatan, PU,Perhubungan dan Pariwisata, Kebersihan, Pertamanan dan Lingkungan Hidup, Pemadam Kebakaran, Tenaga kerja dan Catatan Sipil, Koperindag, Pertanian, Kehutanan dan Perkebunan, Kelautan dan Perikanan, Syariat Islam. Sekdakab: Bagian tata Pemerintahan, Hukum, Ekonomi, Pembangunan, Kesra, Organisasi. Kantor-kantor: RSUD, Kantor Sosial, Pemuda dan olah raga, perpustakaan dan Arsip, Satpol PP, Peternakan, Pertambanagn dan energi Kecamatan: Karang Baru, Banda Mulia, Kejuruan Muda =================================================================== Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem, dan bukan hanya melihat gejalagejala dari suatu masalah. Chandler (1962): strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan perusahaan dalam kaitannya dengan tujuan jangka panjang, program tindak lanjut, serta prioritas alokasi sumberdaya. Porter (1985): strategi adalah alat yang sangat penting untuk mencapai keunggulan bersaing.

digunakan untuk mengetahui wilayah tempat pengambilan sampel. pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter. digunakan untuk mengidentifikasi tanaman mangrove. . Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada hutan mangrove.2 Sampel adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan. 3. alat untuk dokumentasi.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara. 3. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masing-masing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan. 4. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. digunakan untuk mengukur salinitas/kadar garam air laut. 3. 3. dan bukan hanya melihat gejala. digunakan untuk menetukan pH tanah dari wilayah pengambilan sampel 5. 4.Hamel dan Prahalad (1995): strategi merupakan tindakan yang bersifat incremental (senantiasa meningkat) yang dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh pelanggan di masa datang.4 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Soil tester. 2007). Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon. Peta Wilayah. Kamera.2. Apa yang sebenarnya telah terjadi ? Mengapa masalah tersebut bisa terjadi ? Mengapa dan Megapa ? Apa yang bisa dilakukan untuk menghindari masalah tersebut untuk tidak terjadi lagi di masa depan? =============================================================== Dari :Mangrove Desa Bulalo Kec Kwandang Gorontalo Utara 3. GPS (Global Position System). Root Cause Analysis (RCA) teknik analisis yang bertahap dan terfokus untuk menemukan akar masalah suatu problem. Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan menggunakan kunci determinasi/kunci identifikasi. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. 6. Kunci Determinasi/identifikasi. digunakan untuk membuat plot (kuadrant) 2.2. Role Meter. Salino meter. 7. 5 x 5 meter untuk golongan anak .5 Prosedur Pengumpulan Data: 1.gejala dari suatu masalah. Menentukan titik wilayah sampel titik koordinatnya dengan menggunakan GPS ( 2.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. digunakan untuk menetukan titik koordinat wilayah pengambilan sampel di peta. 3.

3. frekuensi. . 2. Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). 1976 dalam Hardjosuwarno. densitas relatif. 5. Proses analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan beberapa langkah yaitu antara lain sebagai berikut: 1. dominansi relatif. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian daun tumbuhan mangrove. frekuensi relatif dan besarnya Indeks Nilai Penting. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian akar tumbuhan mangrove. Membuat herbarium dari masing-masing jenis-jenis tumbuhan yang diperoleh untuk diidentifikasi di Laboratorium Biologi UNG. Mengambil bagian-bagian morfologi (batang. Indeks Nilai Penting ini interpretasi komposisi vegetasi dan pola zonasi hutan mangrove.5. 6. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). 1994 yaitu dengan menghitung dominansi. dan daun dari tumbuhan mangrove) mangrove yang terdapat pada buku determinasi/identifikasi (buku panduan ). Mencocokkan (ciri-ciri morfologi dari batang. Penentuan Basal Area BA = d = diameter batang setinggi dada b. akar. densitas (kerapatan). akar dan daun) dari masing-masing tumbuhan yang menjadi sampel. 6. 8. 4. 3. menghitung basal area. menghitung dalam parameter vegetasi dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Cox. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove. 7. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = Dominasi Relatif = Densitas = Densitas Relatif = Frekuensi = Frek relalif c. sebagai berikut: a. Mengamati ciri-ciri morfologi dari bagian batang tumbuhan mangrove. Mengukur pH tanah dari wilayah sampel dengan Soil Tester. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot BBerikut ini adalah Lay Out yang digunakan dalam pengambilan sampel dilapangan.6 Prosedur Analisis Data Data mengrove dianalisis dengan cara menghitung besarnya Indeks Similaritas (IS) dan Indeks Disimilaritas. Mengukur salinitas air pada dengan menggunakan Salinometer.

Dengan demikian perencana strategi (strategi planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan (kekuatan. dan ancaman) dalam kondisi yang ada saat ini.2. kelemahan. peluang. 3.Kawasan Hutan Mangrove Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Tahapan selanjutnya adalah menyusun daftar prioritas yang harus diimplementasikan.1 Populasi dalam penelitian ini adalah keseluruhan tumbuhan Mangrove yang terdapat di Analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis guna merumuskan strategi perusahaan.3 Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah natural ekperiment (eksperimen alami) dengan menggunakan metode Line Transek dengan pendekatan deskriptif. dan kebijakan perusahaan. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (weaknesses) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan pengembangan misi. Karena wilayah penelitian (Kawasan hutan Mangrove yang terdapat di Desa Bulalo Kecamatan Kwandang) ini memiliki luas 200 Ha. 3. Waktu Penelitian selama 3 bulan yaitu pada Bulan Agustus sampai Bulan Oktober 2008. strategi. Lokasi penelitian terdiri atas 2 stasiun pengamatan. Salah satu teknik untuk memperoleh strategis alternatif yang diprioritaskan adalah dengan cara QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix). QSPM memerlukan good intuitive judgement =================================================================== Dari : KOMPOSISI DAN POLA ZONASI VEGETASI HUTAN MANGROVE 3. tujuan. 3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan di kawasan pesisir pantai Desa Bulalo Kecamatan Kwandang Kabupaten Gorontalo Utara Provinsi Gorontalo. maka untuk pengambilan sampel dibuat 2 stasiun pengamatan dengan masingmasing stasiun terdiri dari 2 transek dan masing-masing transek terdiri atas 3 plot pengamatan.2. Gorontalo Utara. Line transect tersebut dibuat tegak lurus memotong garis pantai sedangkan panjang garis/line transek 100 m yang terbagi dalam 3 plot/kuadrant dengan ukuran plot .2 Sampel dalam penelitian ini adalah semua jenis mangrove yang terdapat pada 2 stasiun pengamatan.Sebagai suatu teknik.2 Populasi dan Sampel 3. dimana analisis SWOT ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang (opportunities).

4. Adapun rumus yang digunakan adalah sebagai berikut: ID = 100 – IS Dimana: W = Jumlah nilai penting (NP) dari jenis umum yang terdapat pada dua plot yang diperbandingkan A = Total Nilai Penting pada plot A B = Total Nilai Penting pada plot B =============================================================== Dari : R. 5 x 5 meter dan 2 x 2 meter. Memberikan nama (penamaan) jenis dari masing-masing tumbuhan mangrove berdasarkan kunci determinasi/identifikasi (buku panduan lapangan). Menentukan titik masing-masing wilayah yang menjadi wilayah sampel penelitian dan menentukan titik koordinatnya pada peta dengan GPS (Global Position System). Mengukur pH tanah dari wilayah sampel yang menjadi lokasi penelitian dengan menggunakan Soil Tester. 3. . M. d = diameter batang setinggi dada b. Dr. 8. M F (Penanggung Jawab) . 5. 7. 2007). Data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Hardjosuwarno (1994). Zahrial Coto. Hardjanto. sebagai berikut: a Penentuan Basal Area BA = Dimana. Menentukan jenis-jenis tumbuhan mangrove dengan kunci determinasi/ identifikasi.com 1.masing-masing 10 x 10 meter untuk golongan pohon.jatifar@yahoo.Sc Dr. Ir.2 Permasalahan . M. Mengambil data jenis-jenis mangrove dari masing-masing stasiun pada h mangrove. Indeks Nilai Penting = Dominasi relatif + Densitas relatif + Frekuensi relatif d. 2004 . Abdoel Djamali Posted: December.5 Prosedur Pengumpulan Data Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengambilan data sebagai berikut: 1. Membuat jalur transek sepanjang 100 m dengan menggunakan role meter dengan ukuran masing-maisng Plot/kuadrant 10 x 10 meter. 5 x 5 meter untuk golongan anak pohon dan 2 x 2 meter untuk golongan semai (Fachrul. Ir. Mengukur salinitas air pada setiap zonasi hutan mangrove dengan Salinometer. Penentuan Indeks Similaritas dan Indeks Disimilaritas digunanakan dalam menentukan penyebaran dan pola zonasi hutan mangrove.Institut Pertanian Bogor Desember 2004 Dosen: Prof Dr Ir Rudy C Tarumingkeng. Abdoel Djamali NRP 0261040161/SPL . 6. 2.S PERSEPSI MASYARAKAT DESA PANTAI TERHADAP KELESTARIAN HUTAN MANG ROVE (Studi Kasus Di Kabupaten Probolinggo) Oleh : R. Analisis Vegetasi dengan menggunakan rumus: Dominasi = = Dominasi Relatif Densitas = = Densitas Relatif Frekuensi = = Frekuensi relalif c. 3.Prof.

8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove . Data sekunder diperoleh dari dinas-dinas terkait diantaranya adalah: pemerintah daerah setempat.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Tabel 4. Menjadi pertimbangan bagi pengambil kebijakan dalam rangka pemberdayaan hutan mangrove dan pelestarian hutan.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove 4. III.2 Persepsi Mas Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4.7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan H Mangrove Tabel 4. Jenis data primer yang sudah diperlukan adalah: persepsi masyarakat.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove Tabel 4. manfaat yang diperoleh. nelayan.1 Penentuan Wilayah Contoh Wilayah penelitian ditentukan secara sengaja (Purposive) di Kabupaten Probolinggo khususnya di Kecamatan Tongas dan Kecamatan Paiton 3.tokoh masyarakat. 2. Responden Jumlah (orang) 1. Bagaimana persepsi masyarakat desa pantai dalam pelestarian hutan mangrove? 1.3 Tujuan dan Kegunaan Tujuan: 1.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Dari Tabel 4. Masyarakat Pesisir 4 4 Nelayan 6 5.3 Jenis dan Sumber Data Data dalam studi ini adalah data primer dan data sekunder. Petambak 3 Total 19 3. 2.1 Sebaran Responden No. Data primer Diperoleh melalui wawancara langsung pada responden dengan bantuan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan. dinas kehutanan. Kepala Desa 4 3.1. IV. Bagaimana perilaku masyarakat pesisir setempat dalam pemanfaatan h mangrove? 2. Mendeskripsikan persepsi masyarakat desa pantai terhadap pelestarian h mangrove. Kegunaan 1. upaya-upaya intensifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. partisipassi masyarakat dan saran-saran untuk pengembangan hutan mangrove. Kepala Kecamatan 2 2. Memperluas khasanah pengetahuan bagi pengembangan ilmu lingkungan hidup dan pemberdayaan masyarakat hutan pesisir. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial Tabel 4. METODOLOGI 3.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir Tabel 4.4.2 Penentuan Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari kepala kecamatan.2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Tabel 4. Jumlah responden yang diambil dalam penelitian ini Tabel 3. dinas perikanan. Mengidentifikasi perilaku masyarakat setempat dalam pemanfaatan h mangrove. kepala desa.

kemudian terakumulasi dengan lumpur. sedangkan aktifitas manusia misalnya pengambilan pasir laut yang tidak terkendali. penebangan hutan mangrove. batas-batas kawasan hutan lindung dan produksi. Mengingat apabila salah satu ekosisitem pantai rusak maka akan berefek langsung pada kedua ekosisitem lainnya. Sehingga seringkali terjadi tumpang indih pemanfaatan kawasan hutan mangrove untuk berbagai kegiatan pembanguna seperti perluasan areal pertambakan. Sepanjang hutan mangrove banyak berserakan lembah padat terutama yang berasal dari limbah domestic. Kabupaten Probolinggo memiliki beberpa wilayah yang terletak di daerah dengan kondisi tanah yang landai. maka akan terjadi penutupan daerah mangrove sehingga suplai air tawar berkurang atau sebeliknya air laut terlalu tinggi sehingga salinitas di daerah hutan mangrove naik yang akan menggaggu keseimbangan habitat hutan mangrove. Sedimentasi tersebut yang berasal dari pengikisan/erosi di daerah atas (hulu) yang tersuspensi dalam aliran sungai kemudian mengendap di daerah estuaries dan sepanjang pantai. bahan bangunan dan kegunaan tanpa kendali. aktifitas manusia aatu kombinasi keduanya. Abrasi pantai dapat diakibatkan oleh proses alami. Pada musim penghujan akan terjadi banjir/genangan di wilayah pesisir terlebih lagi bila bersamaan dengan terjadinya air pasang. sehingga nampak kotoran berserakan di bergelantungan akarakar Rhizopra sp. sedimentasi dan pendangkalan pada sungai. c.1 Perilaku Masyarakar terhadap Pemanfaatan Hutan Mangrove Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan didentifikasi tentang permasalahan yang dihadapi dalam upaya pelestarian hutan mangrove sebagai berikut a. industri. b. pariwisata. pemukiman. Untuk mengatasi hal tersebut perlu pendaran seluruh masyarakat mulai dari hulu (up land) sampai hilir sungai (down land). namun perlu pengaruran dan perencanaan yang berbasis pelestarian sumberdaya hutan mangrove itu sendiri. Penebangan mangrove untuk arang. Yang berasal dari limbah rumah tangga dari daerah hulu sungan dan sepanjang tepian sungai yang dibawa kemudian oleh aliran air kearah muara sungai. maka suatu saat kerusakan fisik yang cukup parah atas hutan mangrove yang sangat besar manfaatnya.Tabel 4. Terjadi konversi lahan hutan mangrove menjadi berbagai peruntukan lain seperti tambak. Sedmientasi yang terlalu tinggi. pada bagian wilayah tersebut juga mempunyai tingkat genangan yang tinggi. e. manakala tidak ada pihak yang mengatur. Sedimentasi akibat pengelolaan kegiatan lahan atas yang kurang baik. Abrasi karena proses alami disebabkan karena gerakan gelombang dan arus laut. industri dan sampah domestic rumah tangga. pembangunan dermaga yang kurang memperhatikan sifat arus dan gelombang dapat menyebabkan abrasi. pemukiman dan kawasan industri secara tidak terkendali. Alih fungsi hutan mangrove sudah terjadi sejak lama. dan dasar hutan. mengembangkan. Kondisi ini juga sangat memprihatikan. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. kayu bakar. Pada tanah kritis di musim penghujan akan terjadi pelumpuran atas air permukaan yang mengakibatkan meningkatnya proses erosi.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove Tabel 4. dan memanfaatkan potensi hutan mangrove itu sendiri d. Bukan berarti alih fungsi hutan mangrove tidak boleh dilakukan. Perlunya penyadaran dan dibangun suatu sistem masyarakat yang ikut merencanaan.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan H Mangrove 4. Rencana tata ruang dan rencana wilayah (RTRW) belum memasukkan parameter kelestarian hutan mangrove. Hal ini disebabkan oleh karena jenis tanah clay (tidak menyerap air) dan kondisi lahan yang landai serta cenderung semakin landai ke arah Utara (mendekati garis pantai). sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan. Wilayah- .

Konflik kepentingan antar kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dan kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit). hotel. Ini menjadi salah satu faktor penghambat bahkan gagalnya upaya pelestarian. Disamping itu. Konflik kepentingan antar lembaga yaitu terjadinya perbedaan kepentingan antara pengelola hutan mangrove dengan pemerintahan desa/kecamatan. i. Konflik kepentingan antar kemanfaatan jangka panjang (long-term benefit) dan kepentingan jangka pendek (short-term benefit). Disamping itu pemanfaatan untuk pemukiman.84%). sumber air. pemukiman. kepentingan jangka panjang akan selalu bertolah belakang dengan kepentingan jangka pendek. Konversi tersebut mengakibatkan terjadinya perubahan keseimbangan fungsi hutan mangrove. Biasanya konversi lahan dilakukan oleh sebagian oleh pengusaha tambak udang dan hatchery. informasi serta IPTEK yang berkaitan dengan hutan mangrove masih terbatas. Dalam rangka otonomi daerah ada kecenderungan pemberdayaan sumberdaya alam untuk kepentingan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ditebangnya mangrove dimaksudkan agar terhadap intensitas sinar matahari yang cukup baik bagi tambak sehingga tidak ada tempat untuk tanaman mangrove tumbuh dan kurang dikehendaki keberadaannya di daerah tambak. Sebagai akibat terjadilah pemanfaatan areal hutan mangrove menjadi pertambakan. dan industri sudah mulai merambah hutan mangrove terutama untuk menunjang pengembangan . Kepentingan jangka pendek (short-term benefit) cenderung lebih diutamakan dibandingkan dengan kepentingan jangka panjang (long-term benefit). Ini menyebabkan tidak terjadinya sistem koordinasi dalam pengelolaan hutan mangrove. sedangkan pemerintahan desa/kecamatan menilai bahwa areal hutan mangrove tersebut merupakan bagian wilayah pemerintahannya. kualitas udara. Dalam hal tersebut pengelola menganggap bahwa hutan mangrove merupakan hak otonom dari pengelola hutan mangrove. k. pariwisata. pembinaan dan pemanfaatan hutan secara optimal dan berkelanjutan. g. Konflik kepentingan antar manfaat hutan mangrove: antara kepentingan ekonomi (economies) dan kepentingan pelestarian (enviromentalis). j. h. Dari hutan mangrove pula sangat diharapkan berfungsi sebagai paru-paru kehidupan atau untuk upaya pelestraian sumberdaya alam termasuk air.wilayah yang terjadi abrasi pantai yang cukup parah adalah desa Pondokkelor di Kecamatan Paiton f.2 Persepsi Masyarakat Desa Pantai tentang Kondisi Hutan Mangrove Saat ini Pengrusakan hutan mangrove di wilayah pesisir Kabupaten Probolinggo sebagian besar disebabkan terjadi konversi hutan mangrove menjadi areal pertambakan (36. dan sosialisasi yang terbatas sehingga belum dapat mendukung kebijakan atau program penataan ruang. bangunan industri. Kemanfaatan langsung (direct benefit) maupun kemanfaatan tidak langsung (indirect benefit) sering lebih diutamakan karena lebih menampakkan wujud fisik yang nyata dibandingkan dengan jangka waktu jabatan seorang pejabat. perhotelan dan lain-lain yang semuanya untuk kepentingan jangka pendek. Kemanfaatan tidak nampak (intangible benefit) dari pengelolaan hutan mangrove sebenarnya lebih berjangka panjang tetapi karena sifatnya yang tidak nampak seperti terpeliharanya ekosistem laut dan pantai. Proyek pembangunan yang dapat menghalangi atau mengurangi sirkulasi arus pasang surut. laut dan pantai. lestarinya plasma nutfah dan manfaat lain dari hutan mangrove. masyarakat desa pantai juga memanfaatkan untuk pertambakan tradisional. Data. 4.

Terbatasnya personil yang terlatih dalam pengelolaan sumberdaya ini menyebabkan pengelolaan sumberdaya tidak dapat terencana dengan baik dan belum optimal. kepiting 21.26 .53 21.pariwisita.79 36. Kenyataannya dengan terpeliharanya kelestarian hutan mangrove maka akan merangsang berkembangnya biota laut yang berarti akan mendukung peningkatan produksi dan pendapatan para pencari ikan. Bermanfaat Alasan : . Rendahnya kualitas sumberdaya manusia Rendahnya tingkat pendidikan akan berpengaruh pada rendahnya tingkat pengetahuan dan keterampilan. Tabel 4. Tidak bermanfaat Alasan : . Tabel 4.91%. Penebangan untuk pemanfaatan hasil hutan mangrove : arang dan kayu Konrversi lahan menjadi tambak Penebangan untuk tempat bersandar perahu Penebangan untuk bangunan pemukiman / industri hotel dan lain-lain Rusak akibat limbah pabrik dan alam 15.3 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Teknis .Tempat mencari kayu bakar 5.Konsekuensinya memang harus menggunaakan hutan mangrove.Tempat untuk mencari ikan.32%. tidak tamat Sekolah Dasar 19.26 .05 2.1 Persepsi Responden terhadap Kerusakan Hutan Mangrove No. Tabel 4.kayu hutan mangrove untuk dijual 10. Parameter Prosentase(%) 1. 3. secara umum terjadi permasa lahan sebagai berikut: 1.79 . Tingkat pendidikan masyarakat pesisir rata-rata tamat Sekolah Dasar sebesar 36.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 36. Kurangnya informasi pengembangan sumberdaya alam Kurangnya pemahaman dan pengertian masyarakat tentang fungsi sumberdaya hutan mangrove sehingga upaya pelestarian masih sangat rendah.84 10. Parameter Prosentase (%) 1.84%.79 100. 2.53 3.84 Masyarakat desa pantai menganggap bahwa hutan mangrove tidak mempunyai nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan yaitu sebesar 36. Sangat bermanfaat Alasan : .2 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Ekonomi No. serta menarik masyarakat untuk bermukin di sentra sector wisata. 4.kayu hutan mangrove untuk dijual 5.00 Potensi sumberdaya yang cukup berlimpah dengan kondisi penduduk dan pesatnya pertumbuhan pembangunan di wilayah pesisir dan laut. 5.21% dan tidak sekolah sebesar 18. 2. dan nelayan dari peningkatan hasil tangkapannya.Tempat mencari kayu bakar 15.05 15. sehingga tidak mampu meningkatkan taraf hidupnya. kepiting. Keadaan ini menyebabkan kurang berkembangnya diversifikasi usaha dan kurang berkembangnya teknologi pasca panen.

Pemanfaatan tanah oloran untuk tambak Bermanfaat Persentase (%) 10.5 Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove DariAspek Ekologis No.Dapat mengurangi pengangguran/menyerap tenaga kerja 21.Tidak ada dampak 5.Mencegah terjadinya abrasi pantai .37% Tabel 4. kondisi ini sejalan dengan pendangkalan daerah pantai yang berakibat sebaliknya akan merusak daerah padang lamun dan terumbu karang yang ada di depannya.32 2.26 2.32% dalam table di bawah ini : Tabel 4.84%).84 2.Menjaga keberadaan biota pantai 3.05 . 1.53 2.Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 21.37 Begitu pula tentang pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek ekologis menyatakan keberadaan hutan mangrove akan menjaga biota pantai yaitu 26. Tidak bermanfaat 21. Tidak bermanfaat Alasan : . Alasan : . Bermanfaat . Sangat bermanfaat . Sedangkan pengetahuan masyarakat pesisir mengenai manfaat hutan mangrove dari aspek sosial banyak yang tidak mengetahui dan menyatakan tidak ada manfaatnnya yaitu 47.05 . Tidak bermanfaat .26 36.Tidak ada manfaatnya 47. Parameter Sangat bermanfaat Alasan : .Menambah keindahan pemandangan 10.79 3. Persepsi Responden Mengenai Manfaat Hutan Mangrove Segi Sosial No.Sebagai paru-paru bagi masyarakat pantai 21.Mengurangi ombak dan valume air di pantai 5.26 Keberadaan hutan mangrove akan terasa bermanfaat jika dampaknya terlihat nyata.Mengurangi ombak dan valume air di pantai .Mencegah terjadinya abrasi pantai 15. Bermanfaat Alasan : .No. Parameter Persentase (%) 1.Sebagai media untuk pemijahan benih ikan 15. Parameter Persentase (%) 1.Menambah keindahan pemandangan 15. Sangat bermanfaat Alasan : .05 (fungsi penghijauan) 3.05 .Menjaga keberadaan biota pantai 26.Mengurangi pengangguran/ menyerap tenaga kerja 5.79 .79 . Bahwa manfaat hutan mangrove dari aspek teknis dapat memberikan peluang bagi petambak untuk membuka atau memperluas areal pertambakannya akibat tanah oloran (36.26 .4.53 5. Maksudnya tanah tambak yang makin meluas kea rah laut.

7 Persepsi Responden terhadap Penyebab Kerusakan Hutan Mangrove No.53 3.58 Selain kondisi hutan mangrove yang sangat tidak baik diperparah lagi oleh sistem pengelolaan hutan mangrove yang juga sangat tidak baik (persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di pesisir Kabupaten Probolinggo sebesar 31. Tabel 4.79 4.79 3. Aparat pemerintah 21.32% menyatakan kurang baik).05 5.84%) dari persepsi responden terhadap kondisi hutan mangrove yang lebih mengetahui tingkat perkembangan dari tahun ke tahun.79 4.33% . Hal ini karena masyarakat berpersepsi bahwa pengusaha tidak akan bisa berdiri sendiri akan tetapi bekerjasama dengan oknum peme rintah terutama dalam peralihan lahan hutan mangrove yang diperuntukkan pada pem buatan tambak intensif .79 2. Sangat tidak baik 36.53 2.Kurang baik 21. Olehkarena itu upaya pelestarian dan pengamanan hutan mangrove akan mengalami kendala yang cukup berarti sehingga diperlukan strategi pelestarian hutan mangrove yang baru .84 Sedangkan persepsi responden terhadap sistem pengelolaan hutan mangrove di kawasan pesisir Kabupaten Probolinggo seperti pada tabel berikut ini : Tabel 4.79 4 .8 Persepsi Responden terhadap Kondisi Hutan Mangrove No.63% dan pemerintah 21. Sering 10. Sangat sering 5.79 Sedangkan upaya penyuluhan dari dinas terkait kepada masyarakat pesisir tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir dan fungsinya bagi kehiduoan manusia masih kurang yaitu para responden menyatakan tidak pernah menerima penyuluhan sebesar 78. Sedang 15. Parameter Persentase (%) 1.58% menyatakan sangat tidak baik dan 26. Masyarakat pesisir 10.42 Pelaku pengrusakan hutan mangrove terbesar disebabkan oleh oknum pengusaha yaitu sebesar 52. Sangat tidak baik 31..53 3. Parameter Persentase (%) 1.53 3.63 Dengan melihat kondisi hutan mangrove yang berada di pesisir Kabupaten Probolinggo harusnya pemerintah cepat melakukan tindakan penyelamatan pelestarian karena kon disi hutan sudah sangat tidak baik (36.32 5. Tabel 4. Masyarakat luar 15.05 4 Pengusaha 52.9 Persepsi Responden terhadap Sistem Pengelolaan Hutan Mangrove No. Baik 10. Parameter Persentase (%) 1 Sangat baik 15. Sangat baik 15.6 Frekwensi Penyuluhan Tentang Pengembangan dan Pelestarian Potensi Hutan Mangrove Bagi Masyarakat pesisir No. Kurang baik 26. Sedang 15. Tidak pernah 68.26 2. Tabel 4.05%.79 2. Jarang 15. Parameter Persentase (%) 1. Baik 10.Tidak ada yang bisa dimanfaatkan 15.

persepsi masyarakat tehadap keberadaan hutan mangrove perlu untuk diarahkan kepada cara pandang masayarakat akan pentingnya sumberdaya hutan mnagrove. Peningkatan aksesibilitas masyarakat pantai terhadap kegiatan ekonomi yang dapat mendorong kemampuan masyarakat pesisir untuk membudidayakan sumberdaya laut secara optimal. Ber dasarkan kenyataan empiris tersebut. kebijakan yang berkaitan cara-cara memanfaatkan hutan mangrove. pengelolaan dampak. kebijakan yang berhubungan dengan kegiatan penelitian c. maka perlu adanya pember dayaan masyarakat.31 Kepedulian masyarakat terhada pelestarian hutan mangrove relative kurang sekali yaitu 52. kebijakan yang berkaitan upaya penyelamatan keanekaragaman hayati. dalam konteks pelestarian hutan mangrove. strategi yang diterapkan harus mengatasi masalah sosial ekonomi masyarakat selain tujuan konservasi hutan mangrove tercapai. yang perlu diperhatikan adalah menjadikan masyarakat komponen utama penggerak pelestarian hutan mangrove. Ketidakacuhan dari masyarakat dise babkan rendahnya perhatian instansi terkait untuk melibatkan masyarakat dalam setaip program yang dilakukan oleh pemerintah. paling tidak sudah dapat ditarik suatu kesimpulan sementara bahwa masalah pengelolaan hutan mangrove secara lestari adalah bagaimana menggabungkan antara kepentingan ekologis (konservasi hutan mangrove) dengan kepentingan sosial ekonomi masyarakat di sekitar hutan mangrove. yaitu 1. Parameter Persentase (%) 1 Menegur 21. Saran dari responden terhadap pengelolan: 4. (3) tidak punya bibit mangrove. dan (4) masyarakat lebih senang menanam padi dibanding menanam mangrove. Oleh karena itu.10 Tindakan Responden Melihat Terjadinya Pengrusakan Hutan Mangrove No.63% responden menyatakan tidak mau terlibat atau diam saja melihat setiap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove. Salah satu strategi penting yang saat ini sedang banyak dibicarakan orang dalam konteks pengelolaan sumbedaya alam. Keterlibatanmasyarakat ini sangat penting karena rendahnya keperdulian masyarakat terhadap aktivitas yang mengganggu keberadaan hutan mangrove. pendidikan dan parti s I pasi masyarakat b. Sementara itu.63 3 Melapor kedesa/kecamatan dan keamanan 26. berikut keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peran serta masyarakat sumberdaya pesisir dan laut dan upaya peningkatan peranserta masyarakat dalam pelestarian fungsi sumberdaya laut sebagai penyangga kehidupan di wilayah tersebut 2.3 Arahan Kebijakan dan Strategi Pengelolaan Hutan Mangrove Dalam menghadapi situasi sekarang dan masa depan.05 2 Diam saja (tidak mau terlibat) 52. (2) lokasi hutan mangrove yang jauh. Pemberdayaan masyarakat pantai mencakup dua hal pokok. termasuk ekosistem hutan mangrove adalah pengelolaan berbasis masyarakat (Community Based Management) yang mengandung arti keterlibatan langsung masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam di suatu kawasan. pada prinsipnya ada 3 kebijakan pokok yang harus ditempuh pemerintah kabupaten Probolinggo agar sumberdaya kea nekaragaman hayati hutan mangrove berkelanjutan untuk kesejahteraan rakyat yakni : a. sebagian besar masyarakat tidak melakukan penanaman hutan mangrove dengan alasan (1) tidak tahu cara mena nam mangrove. sebagaimana tabel Tabel 4. Dengan demikian. Pengelolaan hutan mangrove harus secara terpadu baik lintas sektoral. Peningkatan kemampuan dan ketrampilan masyarakat untuk dapat memanfaatkan sumberdaya pesisir dan laut.terutama yang melibatkan unsur masyarakat dalam pengelolaannya. Dengan demikian. lintas pemerintahan Agar masyarakat mau ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan. Kebijakan ini meliputi penetapan kawasan konservasi . Mengelola .

17 NO 6 NOPEMBER 2009 – ISSN 0852-5426 ANALISIS SIKAP DAN PERSEPSI MASYARAKAT PESISIR TERHADAP DINAMIKA EKOSISTEM HUTAN MANGROVE DI KAWASAN TAMAN NASIONAL BUNAKEN Attitude Analysis and Perception of Coastal Community to Dynamics of Mangrove Forest Ecosystem in Bunaken National Park . masyarakat ikut memikirkan. yang terdiri atas masyarakat. dan hotel. KESIMPULAN a.8% responden suasta setuju terhadap pernyataan negatif atas keberadaan ekosistem hutan mangrove.di sisi mengandung arti. 61. Kondisi di desa pantai terhadap pemanfaatan hutan mangrove yakni : konversi lahan menjadi tambak. dan bersifat merakyat (bottomup). aparat pemerintah daerah dan suasta. . Dengan istilah community-based management itu juga mengandung arti suatu pendekatan (approach). Mengembangkan suatu bentuk pengelolaan pesisir terpadu dimana masyarakat menjadi pelaku utama dalam pemanfaatan lahan mangrove sebagai areal pertambakan secara berkelanjutan. mengimplemetasikan.Ferny Margo Tumbel. merencanakan. sesuatu yang menjadi kebutuhannya. Eksistensi ekosistem ini sekarang mulai terancam oleh berbagai faktor lingkungan dan aktivitas manusia yang mempengaruhi kelestarian ekosistem. Sikap dan perilaku masyarakat terhadap dinamika degradasi ekosistem hutan mangrove menunjukkan kecenderungan yang positif. pemukiman. mengevaluasi maupun memonitorinya. Dasar pemikiran atau landasan berpijak pemberdayaan mangrove bagi kesejahteraan masyarakat pesisir berbasis masyarakat adalah keberlanjutan (sustainability) usaha pemanfaatan dan pelestarian hutan mangrove. Menumbuhkan tanggung jawab masyarakat dengan cara meningkatkan kepedulian dan partisipasi mereka dalam menjaga dan melestarikan sumberdaya alam di lingkungan mereka.9% responden aparat pemerintah juga setuju atas pelestarian ekosistem. 2. tidak memliki RTRW pemanfaatan hutan mangrove. Program ini bertujuan untuk: 1.6% responden suasta sangat mendukung terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove. Sekitar 82. UNIMA Ekosistem hutan mangrove di Taman Nasional Bunaken Selatan merupakan salah satu sumberdaya alam yang tipikal dan unik di Propinsi Sulawesi Utara. dan 76. FMIPA. Penelitian ini menggunakan metode survei. V.3% responden aparat pemerintah tidak setuju. Sementara itu sebanyak 61. dan 75. kayu bakar dan bahan bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap dan persepsi masyarakat pesisir terhadap keberadaan ekosistem mangrove dan mempelajari degradasi ekosistem hutan mangrove yang terjadi pada saat ini. Sifat merakyat ini merupakan bentuk implementasi dari kebutuhan. dalam hal ini pendekatan dari bawah (bottom-up approach).8% respondents warga masyarakat setuju. sebagai kebalikannya pendekatan dari atas (top-down approach).2% responden anggota masyarakat menyatakan setuju terhadap pelestarian ekosistem mangrove. kemampuan dan kesepakatan masyarakat sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan yang ada. Pencemaran akibat buangan limbah minyak dari buangan kapal. 82. Herry Sumampouw Dosen Jurusan Biologi. baik ditinjau dari aspek sosial-ekonomi maupun aspek lingkungan hidup. penebangan menjadi arang. memformulasikan. Metilistina Sasinggala. =================================================================== Dari : AGRITEC VOL. Pengumpulan data primer dilakukan dengan menggunakan daftar isian yang melibatkan 130 responden dan wawancara dengan sejumlah narasumber.

Analisis Sikap dan Persepsi Pengukuran tingkat sikap dan persepsi masyarakat dalam perlindungan. pemerintah serta investor (pengusaha) sebanyak 135 responden.Pemanfaatan hutan Tidak setujuRagu-ragu Setuju-sangat mangrove secara sangat tidak setuju maksimal setuju Keterangan : R0 = rawan 0 (rendah). Data lain berupa data sekunder yaitu laporan-laporan statistik desa/kelurahan.Kerawanan degradasi Setuju-sangat Ragu-ragu Tidak setujumengancam ekosistem setuju sangat tidak di TN Bunaken setuju . Adapun responden yang dipilih menggunakan metode Stratified Random Sampling. Adapun dasar untuk mengkaji kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove dinilai berdasarkan skoring (tinggi. R2 = rawan 2 (tinggi) Hasil dan Pembahasan Sikap dan Persepsi Stake holder Sikap dan persepsi stake holder (masyarakat. Tabel 1. pemerintah dan pengusaha) terhadap ekosistem hutan mangrove menunjukkan tanggapan yang berbeda. 2 = tidak setuju (TS). masyarakat dan pengusaha) terhadap kerawanan degradasi ekosistem hutan mangrove di kawasan TN Bunaken bagian selatan. Informasi yang di peroleh kemudian dilakukan pengukuran menggunakan skala Likert yaitu untuk mengukur persepsi dan sikap berbagai agen (sekelompok orang) dengan memberikan skor yang mempunyai gradasi atau kontinum penilaian dari sangat setuju sampai sangat tidak setuju. Pada pernyataan bagian pertama (1-5) tentang kerawanan degradasi ekosistem hutan . Data variabel-variabel ini dapat berupa data primer hasil pengamatan dan wawancara langsung (indepth interview) atau angket (kuesioner) yang diedarkan pada anggota masyarakat setempat. masyarakat dan pengusaha dengan jumlah 90 responden untuk masyarakat setempat. karena responden yang dipilih melibatkan beberapa strata responden yaitu pemerintah. Parameter Tingkat Kerawanan Degradasi R0 R1 R2 Sikap dan persepsi stake holder terhadap : . 1 = sangat tidak setuju (STS) Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi Dalam menentukan potensi kerawanan degradasi mangrove di Kawasan Taman Nasional Bunaken dilakukan dengan membandingkan hasil deskripsi di lapangan yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif dan hasil uji laboratorium yang bersifat kuantitatif. 15 responden untuk investor (pengusaha). 3 = ragu-ragu (RG). rendah) eksistensi ekosistem hutan mangrove dengan parameter biogeofisik dan parameter sosial (sikap dan persepsi) seperti yang tercantum dalam Tabel 1. 30 responden untuk pemerintah (instansi terkait). R1 = rawan 1 (sedang). sedang. pemanfaatan dan pelestarian ekosistem hutan mangrove menggunakan sejumlah pertanyaan yang ditujukan kepada responden.Penelitian ini meliputi kajian parameter ekosistem mangrove dengan variabelvariabel yang diamati sebagai berikut : Parameter sosial penduduk. Penentuan Tingkat Kerawanan Degradasi ekosistem hutan mangrove No 1. 4 = setuju (S). Keterangan penilaiannya adalah : 5 = sangat setuju (SS). yaitu jumlah penduduk serta sikap dan persepsi stake holder (pemerintah.

namun lebih menekankan pada konsep ‘nilai umum’. sekitar 82. Pemilihan desa dilakukan dengan menggunakan teknik stratified random sampling dengan strata utama yaitu suku Dayak Merap dan Punan. KALIMANTAN TIMUR Dayak Merap and Punan People’s Perception of the Importance of Forest in a Tropical Landscape. sangat penting). 61. Jadi dalam melakukan kegiatan skoring. Metode yang digunakan adalah metode pemberian skor atau distribusi kerikil (Pebble Distribution Method /PDM) (Sheil dalam CIFOR. 2 : 1-13 (2004) Artikel (Article) Trop. Tingkat Kerawanan Degradasi Ekosistem Hutan Mangrove Sikap dan persepsi masyarakat dan pengusaha sekitar kawasan menggambarkan kenyataan yang ada di lapangan. Sedangkan untuk pernyataan bagian kedua (6-10) tentang keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejah-teraan umum.2 % responden masyarakat setuju.mangrove dapat terjadi dan merusak keseimbangan ekologis. J. dengan luas sekitar 2000 km2.3 % responden pemerintah tidak setuju dan 76. murah). ‘Nilai’ maksudnya adalah pandangan-pandangan masyarakat lokal bukan ‘nilai’ yang berkaitan dengan konteks ekonomi. kami menghindari penggunaan kata-kata yang berkaitan dengan harga (harga. 82..9 % pemerintah sangat setuju dan 75. ‘kegunaan’ (manfaat) dan ‘kepentingan’ (penting. Manage. =================================================================== Dari : Jurnal Manajemen Hutan Tropika Vol. uang. 2004). Sebaliknya dengan pernyataan kedua. Malinau. dengan perbedaan utama adalah bahwa Merap lebih menekankan pada pertanian padi/sawah sementara Punan lebih . Lokasi penelitian terletak pada 2045’ – 3021’ LU dan 115048’ – 116034’ BT.8 % responden masyarakat setuju. sedangkan ‘kepentingan’ berhubungan dengan apa yang sedang di nilai dan lebih menekankan pada penilaian relatif dan bersifat subyektif. For. 2002) melalui pendekatan partisipasi dengan tujuan agar obyek yang diteliti yaitu masyarakat lokal dapat berpartisipasi selama penelitian berlangsung. X (2) : 1-13 (2004) PERSEPSI MASYARAKAT DAYAK MERAP DAN PUNAN TENTANG PENTINGNYA HUTAN DI LANSEKAP HUTAN TROPIS. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal. SUMARDJO3 dan DOUGLAS SHEIL4 Penelitian ini menggunakan konsep ‘nilai’ dan ‘kepentingan’ (Sheil et al. sehingga pernyataan pertama berada pada tingkat kerawanan R0 (rendah). sekitar 61. Pada pernyataan pertama mengindikasikan ekosistem hutan mangrove tidak terancam karena semua stake holder memahami dan mengerti kerusakan yang dapat terjadi jika hutan mangrove mengalami degradasi. 2002. masyarakat dan pengusaha menganggap bahwa keberadaan kawasan hutan mangrove adalah milik umum (open access resources) sehingga perlu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umum. Kedua suku tersebut dipilih karena memiliki budaya yang berbeda dan menonjol di DAS Malinau. KABUPATEN MALINAU. ongkos.7 % responden pengusaha setuju. artinya tergantung pada pengetahuan dan pengalaman pribadi seseorang.8 % setuju. mahal. hanya kelompok pemerintah tetap menolak dan berada pada tingkat rawan R0 (rendah). ANDRY INDAWAN2. East Kalimantan) NINING LISWANTI1. X No. Tujuh desa dipilih sebagai lokasi penelitian dari 19 desa yang tersebar dari hilir hingga hulu di sepanjang sungai Malinau. karena sumberdaya alam hutan mangrove tidak akan habis walaupun dieksploitasi secara maksimal sehingga berada pada tingkat rawan R2 (tinggi).

menekankan pada aktivitas berbasis hutan (Sheil et al. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung. (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini. Akan tetapi. (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat. 2002 dan 2004). Selanjutnya. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik. (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat. Pengumpulan data primer dilakukan melalui kegiatan skoring dengan teknik diskusi kelompok terfokus (lihat Sheil et al. Desa Laban Nyarit mewakili suku Punan dan Merap.. Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia. dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan. Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Setelah diberikan penjelasan dan contoh. Kegiatan penelitian dilakukan dari bulan Juni 2003 hingga Mei 2004. Sarirejo. faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal(Socially Rooted Values). Langap dan Paya Seturan. Polonia. Setiap kegiatan skoring selalu mengikuti prosedur yang pasti. 2001).. maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Liu Mutai. Desa Merap diwakili oleh Gong Solok. =================================================================== Dari : Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik Dalam Program Studi Magister Teknik Arsitektur Pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara Oleh Mohamad Hendra Irawan 087020016/AR FAK TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N 2 0 1 0 Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi. (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota. dan Long Jalan. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia. dan Uluk et al. (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan guna lahan. sedangkan desa Punan diwakili oleh Punan Rian.. pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values). data-data tersebut ditabulasi dan di analisis berdasarkan nilai ‘kepentingan’yang diperoleh dari hasil setiap diskusi kelompok terfokus. maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. dan di taruh di lantai sehingga dapat dilihat dan dijangkau oleh semua informan. ini artinya lahan hutan adalah dua kali lebih penting dibandingkan lahan jekau muda. (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan. jika 10 biji diletakkan di kartu ‘hutan’ dan 5 biji di kartu ‘jekau muda’. fasilitator memperkenalkan setiap kartu berlabel dan bergambar yang mewakili tipe-tipe lahan. (9) tingkat . maksudnya sebelum kegiatan dimulai. 2002 dan 2004. Madras Hulu dan Sukadamai. para informan kemudian di minta untuk menyebarkan seratus alat penghitung (dapat berupa biji/kancing/korek api) di atas kartu-kartu tersebut menurut ‘kepentingan’ masyarakat lokal. (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan. Sebagai ilustrasi.

Sosio-Ekonomi =================================================================== PERSEPSI DAN PERILAKU MASYARAKAT DALAM PELESTARIAN FUNGSI HUTAN SEBAGAI DAERAH RESAPAN AIR ( Studi Kasus Hutan Penggaron Kabupaten Semarang ) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Ilmu Lingkungan Umar L4K 006027 Pengelolaan hutan dan pengelolaan sumberdaya hutan (Forest resource management) memerlukan suatu faktor yang disebut dengan enabling factors (factor faktoryang memungkinkan) pengelolaan dan pengusahaan suatu kawasan hutan menjadi kawasan yang lestari dicapai.pengukuran. Pada kedua bentuk organisasi tersebut (kawasan dan sumberdaya manusia). Kedua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangat beragam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. dan tidak memanen hasil lebih dari kemampuan yang disediakan oleh hutan tersebut.kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. San Afri. (b) penataan jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan untukmembangun unit manajemen dan pengusahaan hutannya. juga diperlukan aturan yang berkaitan dengan aturan penataan organisasi sumberdaya manusia seperti : (a) penataan organisasi kerja tingkat lapangan dan menetapkanpenanggung jawabnya. tersedianya ATURAN yang sesuai untuk keperluan menuju hutan lestari(aturan kelembagaan). pemerintah harus mempertahankan dan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten. Berdasarkan hasil penelitian. dan (c) jenjang pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan pengusahaan hutan. dan lingkungan (penataan ruang tumbuh tingkat lapangan). pembagian kawasan hutan ke dlm fungsi-fungsi dan kemanfaatan. (c) penatagunaan kawasan hutan untuk menjamin terbentuk kawasan yang berfungsi ekonomi. semak belukar dan tanah kosong) mencakup kegiatan-kegiatan penataan batas. (d) memanfaatkan hasil dari sumberdaya hutan tidak hanya kayu. merealisasikannya harus dengan cara uji-uji lapangan sebagai tempat . sekunder. pemetaan. pembukaan wilayah hutan. (b) ditetapkannya unit manajemen (pengelolaan) hutan mulai dari unit pengelolaan terkecil tingkat lapangan dan unit kelestarian hasil sumberdaya hutan. sosial. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. tersedianya ATLAS. inventarisasi hutan. Kata Kunci: Persepsi. Selain organisasi kawasan. Dalam pengelolaan hutan lestari ada enabling factor yang harus dipenuhi yang disebut dengan prinsip 3A + P yaitu (Awang. termasuk dalam prinsip ini adalah tersedianya secara pasti petapeta detail lokasi hutan yang kemudian dimantapkan dan dikukuhkan sebagai kawasan hutan yang akan dikelola dan diusahakan dalam jangka panjang. Termasuk di sini adalah semua aturan yang berkaitan dengan aturan pembentukan organisasi kawasan seperti: (a) batas-batas wilayah pengelolaan yang jelas. Proses penataan kawasan hutan (hutan primer. Perubahan Tata Guna Lahan. 2008) : Pertama. perlu adanya kerjasama antara dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat.

pembelajaran menyusun aturan-aturan yang dibutuhkan, sehingga aturan yang diperoleh tidak top-down, tetapi bottom-up. Sejak dulu kala pengelolaan hutan diawali oleh pendekatan bottom-up dalam membentuk organisasi lapangannya. Konstruksi penataan organisasi dari bawah dijamin akan menghasilkan tingkatan pengenalan dan rasa memiliki (rekognisi) dan legitimasi yang tinggi dari para pihak terkait. Dengan prinsip bottom-up ini pula dapat dimengerti bahwa sesungguhnya penataan kawasan hutan sejak lama sudah sangat akrab dengan muatan lokal, spesifik wilayah, dan memberikan peluang bagi terlaksananya distribusi otoritas kewenangan pengelolaan ditingkat wilayah (otonom dalam penataan kawasan , pengembangan Ketiga, semua hal yang berkaitan dengan ATLAS dan ATURAN harus dijalankan secara AMANAH. Semua kesepakatan para pihak untuk membangun unit pengelolaan dan pengusahaan sumberdaya hutan harus dijalankan secara amanah, teguh pada pendirian yang memiliki komitmen tinggi terhadap tugas dan tanggung jawab yang diemban para pelaksana / pengelola hutan. Tidak ada penyimpangan aturan dan kesepakatan dan juga tidak ada korupsi dalam menjalankan tugas-tugas pembangunan hutan dan kehutanan. Keempat, memastikan faktor penting lainnya adalah PENGAWASAN. Kelemahan paling mendasar dalam pembangunan sumberdaya hutan di Indonesia selama ini adalah tindakan pengawasan. Semua yang berkaitan dengan atlas, aturan, dan pelaksanaan yang amanah, tidak mungkin dapat dicapai dengan baik jika tidak ada tindakan pengawasan yang sistematis, terukur, dan terus menerus. Tindakan pengawasan mencakup kegiatan monitoring dan evaluasi. Hasil dari monitoring dan evaluasi dijadikan rujukan utama un tuk melakukan penyempurnaan aturan-aturan / kebijakan dan perbaikan hal-hal yang berkaitan dengan teknis, sosial, ekonomi dan lingkungan. Konsep Environmental Adjusment (EA) adalah suatu proses dan pengukuran ===================================================================

PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP PERUBAHAN TATA GUNA LAHAN DI KECAMATAN MEDAN POLONIA MOHAMAD HENDRA IRAWAN 087020016/AR FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA M E D A N2 0 1 0

Abstrak
Dalam rangka mencapai kestabilan konteks keruangan seiring meningkatnyapertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi, Pemerintah kota Medan telah membuat kebijakan perubahan tata guna lahan perkotaan berupa Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) kota Medan Tahun 2008-2028. Akan tetapi, dalam menentukan arahan pemanfaatan lahan, pemerintah seharusnya telah melakukan identifikasi terhadap tiga faktor utama yang berperan secara substansial yaitu faktor ekonomi yang berorientasikan pada pengembangan modal finansial (Profit Making Values), faktor pemenuhan kebutuhan dasar dan keberlangsungan hidup masyarakat umum (Public Interest Values) serta faktor nilai-nilai sosial yang bertumbuh kembang di lokasi masyarakat tinggal (Socially Rooted Values). Untuk mengetahui seberapa besar peran ketiga faktor tersebut di dalam kebijakan perubahan tata guna lahan khususnya di wilayah kecamatan Medan Polonia, maka dilakukan suatu penelitian sosial melalui proses identifikasi terhadap persepsi yang muncul dari masyarakat setempat. Untuk mencapai tujuan diatas dilakukan kegiatan penjaringan persepsi masyarakat di 5 kelurahan yang berada di lokasi kecamatan tersebut meliputi kelurahan Anggrung, Polonia, Sarirejo, Madras Hulu dan

Sukadamai. Populasi penelitian ditentukan berdasarkan jumlah rumah tinggal yang ada di wilayah penelitian. Sedangkan karena pada penelitian ini dilakukan uji statistik, maka jumlah sampel dibatasi sebanyak 200 buah yang disebar secara proporsional di setiap kelurahan. Adapun persepsi masyarakat yang diteliti dalam penelitian tersebut antara lain (1) tingkat ketergantungan terhadap aktifitas bandara Polonia, (2) rasa keamanan dan kenyamanan di lokasi tempat tinggal saat ini, (3) tingkat pemahaman masyarakat terhadap rencana perubahan tata guna lahan, (4) tingkat persetujuan masyarakat terhadap detail perubahan tata guna lahan, (5) tingkat kepatuhan masyarakat terhadap kebijakan perubahan tata guna lahan, (6) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian kota, (7) tingkat keyakinan terjadinya peningkatan perekonomian masyarakat, (8) tingkat keyakinan tersedianya kebutuhan infrastruktur maupun fasilitas penunjang keberlangsungan hidup dan aktifitas masyarakat, (9) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap hilangnya identitas sosial mereka akibat adanya pendatang dan (10) tingkat kekhawatiran masyarakat terhadap terjadinya degradasi sosial. Uji Khi Kuadrat (X 2) untuk kebebasan digunakan untuk mengetahui ketergantungan antara 10 variabel yang diteliti dengan variabel terikat jenis pekerjaan dan lokasi kelurahan dimana responden tinggal yang mengacu kepada berbagai variabel yang bersifat kuantitatif terkait aspek ekonomi dan aspek sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang muncul di masyarakat sangatberagam dan akan terus menerus mengalami perubahan seiring masuknya arus informasibaru di lingkungannya. Berdasarkan hasil penelitian, pemerintah harus mempertahankandan menjalankan kebijakan tersebut secara konsisten, perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan swasta dalam mengembangkan program penunjang lainnya dan lebih proaktifnya masyarakat di dalam kegiatan penataan ruang lain sehingga kebijakan yang akan diberlakukan tersebut akan populer di masyarakat. Kata Kunci: Persepsi, Perubahan Tata Guna Lahan, Sosio-Ekonomi

DAFTAR ISI
ABSTRAK……………………………………………….……………… i ABSTRACT……………………………………………….…………… ii KATA PENGANTAR……………………………………………….… iii RIWAYAT HIDUP PENULIS…………………………………….….. v DAFTAR ISI……………………………………………………………. vi DAFTAR GAMBAR……………………………………………………. ix DAFTAR TABEL………………………………………………………. x BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………….... 1 1.1. Latar Belakang……………………………………………………..... 1 1.2. Perumusan Masalah………………………………………………..... 3 1.3. Landasan Teori…………………………………………………….... 3 1.4. Tujuan Penelitian……………………………………………………. 6 1.5. Batasan Penelitian…………………………………………………… 6 1.6. Kerangka Berpikir…………………………………………………… 7 1.7. Struktur Penulisan…………………………………………………… 9 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA……………………………………… 12 2.1. Persepsi Masyarakat…………………………………………………. 12 2.1.1. Definisi……………………………………………………….. 12 2.1.2. Proses dan Faktor Yang Mempengaruhi Persepsi…………….. 13 2.2. Perubahan Tata Guna Lahan……………………………………........ 15

2.2.1. Definisi………………………………………………………... 15 2.2.2. Model Perubahan Tata Guna Lahan………………………….. 17 2.3. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan………. 22 2.4. Kaitan Kajian Teori Terhadap Kegiatan Penelitian ………………… 36
Universitas Sumatera Utara

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN……………………..……… 39 3.1. Metode Penelitian………………………………………………….... 39 3.2. Populasi Dan Sampel………………………………………………... 40 3.2.1. Populasi………………………………………………….......... 40 3.2.2. Sampel ……………………………………………………….. 41 3.3. Identifikasi Variabel………………………………………………… 42 3.4. Teknik Pengumpulan Data………………………………………...... 44 3.4.1. Pengumpulan Data Primer……………………………….......... 44 3.4.2. Pengumpulan Data Sekunder…………………………………. 45 3.5. Teknik Pengolahan Data…………………………………………….. 46 3.6. Teknik Analisis Data………………………………………………… 47 3.7. Tahapan Penelitian……..…………………………………………….. 48 BAB IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH STUDI………………… 50 4.1. Kondisi Umum Kecamatan Medan Polonia………………………..... 50 4.1.1. Letak Geografis Dan Administrasi Wilayah…………….......... 50 4.1.2. Demografi Kependudukan…………………………………… 52 4.1.3. Ekonomi………………………………………………………. 54 4.1.4. Sosial Budaya Dan Kesehatan Masyarakat…………………… 54 4.2. Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia……………………. 56 4.2.1. Kedudukan Bandar Udara Polonia Dalam Konteks Perkotaan ……………………………………………. 56 4.2.2. Kondisi Eksisting Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………..................... 60 4.2.3.Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia………………………………………….............. 70 BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………... 76 5.1. Karakteristik Responden………...…………………………………… 76 5.1.1. Karakteristik Sosial Responden…………………….…….......... 76 5.1.2. Karakteristik Ekonomi Responden……………….…….....,,…., 79 Universitas Sumatera Utara 5.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Kecamatan Medan Polonia……………………………………. 82 5.2.1. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Ekonomi Yang Berorientasikan Pada Pengembangan Modal Finansial (Profit Making Values)……............................. 82 5.2.2. Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Pemenuhan Kebutuhan Dasar Dan Menjaga Keberlangsungan Hidup Masyarakat Umum (Public

.1.…………….1... ……… 77 5..3.....3........ Rencana Penggunaan Lahan Di Kecamatan Medan Polonia .....……....4......... Judul Hal 3.... Perwujudan Sistem Prasarana Dalam Arahan Penggunaan Lahan Tahun 2008-2028………………….... Penentuan Jumlah Sampel Proporsional………..Interest Values………………... 9 2..... Saran / Rekomendasi ………………………………………………… 135 6...........5............1..... 76 5.. 99 5....2. 77 5............. Data Jumlah Penduduk Berdasarkan Usi Jenis Kelamin……53 4...... Judul Hal 1.. 43 4...2.. Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Penghasilan RataKeluarga/ Bulan79 ...19... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar Belakang Etnis / Suku... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Latar BelakangPendidikan…78 5.......3. Proses Terjadinya Persepsi……………………………………… 14 DAFTAR TABEL No.. Data Administratif Wilayah………......2.....2... Penentuan Jenis Variabel Terikat (Descrete) ... Kelemahan Penelitian Dan Saran Dilakukannya Penelitian Lebih Lanjut…………………………………………………………. Kesimpulan………………………............6.. PENUTUP…………………………………………………….. Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Agama……... 125 6.. 52 4....…………………………………....18.......... 50 4..................... Persepsi Masyarakat Terhadap Perubahan Tata Guna Lahan Di Kecamatan Medan Polonia Terkait Dengan Faktor Nilai-Nilai Sosial Yang Bertumbuh Kembang Di Daerah Dimana Lahan Itu Berada (Social Rooted Values) …………… 113 BAB VI.......2.1..... 73 4... 42 3..... Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Status Pernikahan…………..4....... Komposisi Mata Pencaharian Penduduk Di Kecamatan Medan Polonia……………………………………………. 75 5... Data Kependudukan……….1.......3. 133 6............ ……… 53 4..... 78 5. Kerangka Berpikir………………………………………………... 137 DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………… 138 LAMPIRAN-LAMPIRAN Universitas Sumatera Utara DAFTAR GAMBAR No....1..... Data Jumlah Penduduk Usia 7-12 Tahun Dan Status Pendidikan Di Kecamatan Medan Polonia………………........ Karakteristik Sosial Responden Berdasarkan Usia………………. ……… 54 4......5...

Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………… 100 5..26.. 92 5.....20......21......16.. Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan……………...... Tingkat Kekhawatiran Hilangnya Identitas Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan………….. Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan…… 88 5...28........25. Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Penghasilan Rata-rata per Bulan .. Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Status Rumah Tinggal …….. Tingkat yakinMasY TDp Tersedianya Fasilitas Infrastruktur Berdasarkan Lo.....23.. Tingkat Keamanan dan Kenyamanan Tinggal Saat Ini Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal …….. 82 5. 110 5...11.9............... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Pengeluaran R2 Keluarga/ Bulan 80 5...17. 89 5.15......... Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenjang Pendidikan 93 5. 119 .....12... 81 5....10. Tingkat Persetujuan THD Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………................27................ Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Status Rumah Tinggal... Tingkat Keyakinan Masyarakat Terhadap Tersedianya Fasilitas Dan Infrastruktur Berdasarkan Jenis Pekerjaan…………………... Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan……...... 109 5.22.. Tingkat Kepatuhan Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan….... Tingkat Persetujuan Terhadap Detail Rencana Perubahan Tata Guna Lahan Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………..................... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Jangka Waktu Tinggal…81 5.........24...... 96 5.. Tingkat Keyakinan Peningkatan Ekonomi Kota Berdasarkan Jenis Pekerjaan…..29...............13...... 115 5...18..... 80 5.....8.... Tingkat Pemahaman Masyarakat Berdasarkan Jenis Pekerjaan … 83 5.. 97 5............... Karakteristik Ekonomi Responden Berdasarkan Mata Pencaharian..7... Tingkat Ketergantungan Masyarakat Terhadap Aktifitas Bandara Polonia Berdasarkan Lokasi Kelurahan………………… 102 5..... 106 5.14...... 104 5..... 114 5.....19.. 118 5. 85 5............. Tingkat Peningkatan Ekonomi Masyarakat Berdasarkan Lokasi Kelurahan.. Karakteristik Mata Pencaharian Responden BerdasarkanTingkat Pendidikan…....................5.....

at mangrove forest of Bengkalis Islands........ that what founded 2 sapling starata vegetation (Rhizophora apiculata dan Thizophora mucronata) has been distributed all of area study (100%). suhu air.. sapling. The results of data analysys showed that generally was founded 21 species frok. Key words : Mangrove... vegetation PENDAHULUAN BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai November 2002 di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis bertempat di beberapa desa yaitu : desa Meskon. kertas koran... suhu udara..... 1974). This study used quadrate methods with quadrate was placed along of trannsect... pancang.... Pada tiap lokasi diukur parameter lingkungan yang meliputi salinitas... Bahan yang diperlukan adalah : aquades..... strata....... kadar organik dan tekstur tanah.. kemudian dihitung jumlah individu tiap jenisnya kemudian diukur keliling batang setiap individu tersebut.. Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Jenis Pekerjaan……………. Ten quadrate (10x5 m) was maked on the trannsects with systematically systems....... secara purposive sampling. Dibuat 2 buah transek pada setiap desa (sebanyak 7 desa sebagai lokasi pengamatan sampel yang telah ditetapkan). Parameter yang dianalisis adalah : Jumlah indivisu suatu jenis Kerapatan = ---------------------------------Kerapatan Relatif = --------------------------.. Disetujui 20 Juni 2004 Abstract The research about structure and distribution of sapling strata vegetation has been done at mangrove forest ecosystems in Bengkalis Islands Riau Province from March until November 2002. Untuk jenis uyang belum diketahui jenisnya dibuat herbarium untuk diidentifikasi di laboratorium Biologi FKIP UNRI dengan merujuk pada Tomlinson (1986) dan Pinto (1986).......... Ketam Putih. Observation variable are Relative Density (KR).... Metode yang dipakai adalah metode kuadrat atau plot berukuran 10 x 5 yang disebarkan pada jalur (transek) sebanyak 2 buah transek (Muller Dombois and Ellenburg... sedangkan alat yang dipakai : Kompas. 121 5..... alkohol 70 %... meteran...x 100% .. Tingkat Kekhawatiran Terjadinya Degradasi Sosial Berdasarkan Lokasi Kelurahan…………. Relative frekwency (FR).... Jumlah plot pengamatan adalah 10 plot pada setiap transek...... 1(1):26-30.......... sapling stratum.. handrefractometer. 122 Jurnal Biogenesis Vol... Nursal Dan Supriyanti Laboratorium Botani Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau.31... pH..... Selat Baru dan Jangkang... soiltester dan botol semprot. Bantan Air..79%) at location VII (Desa Selat Baru)... Relative Dominance (DR) and Informace Value.. Pangkalan Batang..30.. Pekanbaru 28293 Diterima 17 April 2004... Pada setiap plot pengamatan dicatat semua jenis sapling yang ada.5... gunting.. parang... Tanjung Sekodi... That dominanced species is Rhyzophora apiculata (132. tali plastik.... thermohigrometer... structure... 2004 © Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Riau ISSN : 1829-5460 26 STRUKTUR DAN PENYEBARAN VEGETASI STRATA SAPLING DI KAWASAN HUTAN MANGROVE PULAU BENGKALIS PROVINSI RIAU Yuslim Fauziah*)....

Penyebaran vegetasi Strata Sapling Tabel 2. 2. 3. Tabel 3.Frekwensi =----------------------------------------------Frekwensi Relatif = --------------------------. Faktor Fisika-Kimia Ekosistem Mangrove .30 12. Biji yang telah berkecambah selagi masih di dalam buah yang masih melekat pada tumbuhan induknya memberikan kesempatan untuk dapat tumbuh dengan baik dalam hutan yang selalu digenangi oleh air pasang. Desa Meskom. FR : Frekwensi Relatif. Hasil pengukuran faktor fisika-kimia di .79 27. Bengen (2002) menyatakan bahwa daur hidup yang khusus dari jenis bakau (Rhizophora sp) dengan benih yang dapat berkecambah pada waktu masih berada pada tumbuhan induk sangat menunjang pada proses distribusi yang luas dari jenis ini pada ekosistem mangrove. penyebaran yang luas dari jenis-jenis Rhizophora juga ditunjang oleh sifat dan cara perkembangbiakan dari biji yang bersifat vivivar.69 Xylocarpus granatum 19.75 Rhizophora mucronata 1899 1724 Keterangan: 1.32 35. DR : Dominansi Relatif. Komposisi dan penyebaran sapling mangrove di kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis No Nama local Nama ilmiah Family 1 1 Bakau putih Rhizophora apiculata Rhizophoraceae + Jumlah 9 10 10 5 10 5 12 2 + 3 + 4 + 5 + 6 + 7 100 Relatif (FR = 34. NP : Nilai Penting dominan pada kawasan ini. Desa Pangkalan Batang.x 100% Nilai Penting = FR + KR + DR HASIL DAN PEMBAHASAN Struktur vegetasi strata sapling Tabel 1.07 Rhizophora mucronata 12. KR : Kerapatan Relatif.52 32.41 2 Excoecaria sp 21.28 15.46 89. Selain faktor habitat yang sesuai. Tiga jenis utama vegetasi sapling mangrove yang memiliki nilai penting tertinggi pada masingmasing lokasi penelitian Lokasi Spesies FR KR DR NP 1 Excoecaria sp 26.x 100% Dominansi = ------------------------------------------Basal Atrea = ¼ Kll/Phi Dominansi Relatif = -------------------------.48%) dari jenis ini dibandingkan dengan jenis lainnya.

Oleh karena itu. Tujuan Penelitian Mengkaji hubungan persepsi.75 Suhu udara (0C) 28 28 30 Suhu air (0C) 30 28 30 28 30 28 20 Kelembaban udara (%) 60 44 31. Hal ini dilandasi oleh pemikiran bahwa keberhasilan upaya pengelolaan kawasan konservasi laut tidak hanya tergantung pada pemerintah saja.9 30 7 5.7 29. tetapi sejauh mana masyarakat sekitar terlibat dalam kegiatan tersebut. .kawasan hutan mangrove Pulau Bengkalis Parameter 1 2 3 PH tanah 5.8 5 5.Tingggal di sedan n bersedia jadi resp PERSEPSI DAN PARTISIPASI NELAYAN TERHADAP PENGELOLAAN KAWASAN KONSERVASI LAUT KOTA BATAM TESIS PROGRAM PASCA SARJANAMANAJEMEN SUMBERDAYA PANTAI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 Oleh : Mardijono K4A 006 014 Abstrak Peningkatan kesadaran dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah Kota Batam ditujukan untuk meyakinkan masyarakat akan manfaat perlindungan kawasan tersebut.14-45 th . DAFTAR PUSTAKA ======================================================================== Kriteria inklusi dalam penelitian : .Responden Perempuan ataupun Laki-laki .7 27 5 5. partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD).9 6 30 6 5.5 28. Diantara 21 jenis sapling yang ditemukan jenis vegetasi sapling tersebut memiliki nilai penting tertinggi dan tersebar dengan baik pada ke tujuh lokasi pengamatan dengan penyebaran 100%.3 29 16.0 Tekstur tanah Liat Liat Liat Liat Liat Liat Liat 4 5.4 4. perlu dilakukan penelitian tentang persepsi dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah. Karenanya peran serta masyarakat harus dilibatkan pada identifikasi. perancangan dan pelaksanaan berbagai kemungkinan manfaat yang dapat diperoleh dari usaha perlindungan kawasan konservasi. Dengan demikian sapling tumbuhan Rhizophora sp merupakan vegetasi mangrove yang berperan penting khususnya dalam membentuk regenerasi di masa yang akan datang pada kawasan hutanmangrove Pulau Bengkalis.9 67 54 54 69 Salinitas (o/oo) 20 24 28 23 25 30 30 Kadar organik tanah (%) 23.5 29 KESIMPULAN Struktur vegetasi strata sapling di kawasan hutan mangrove pulau Bengkalis didominasi oleh jenis Rhizophora apicukata dan Rhizophora mucronata yang termasuk famili Rhizophoraceae.Responden yang dapat berkomunikasi dengan baik .8 21.

Metode penelitian adalah survei dengan penekanan pada variabel persepsi....... Latar Belakang 1....... 29 3......................1 Definisi Persepsi ................ Analisis Data . 1. Metode Penelitian .................... disamping itu peran Pemerintah dalam kegiatannya yang melibatkan masyarakat mampu memberikan motivasi sehingga mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD.1.5......................... 28 3............. dengan nilai r2 0....3........................ 30 3....... 1...................... peran Pemerintah mempunyai andil yang besar dalam penge lolaan KKLD............2.......4.........2 Partisipasi Masyarakat .............. par tisipasi masyarakat dan peran Pemerintah.... 2. maka tujuan dari penelitian ini adalah : 1................3..............99.............................. Pengelolaan DAFTAR ISI BAB III.... 31 BAB I PENDAHULUAN 1..3 Peranan Pemerintah .... Mengkaji persepsi masyarakat setempat mengenai (KKLD) dan manfaatnya..............98....................4...... Kata-kata kunci : Persepsi dan Partisipasi Masyarakat Pesisir........ 4... Manfaat Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2............................. 28 3..................... Hasil penelitian.............3..1.......... 27 3.. hubungan antara ketiga variable dilakukan uji regresi. Tujuan Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah tersebut diatas.................. karena mampu mengubah persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan bersama KKLD di Kota Batam. 28 3................... pengaruh ini juga secara langsung berhubungan dengan partisipasi masyarakat dengan nilai r2 0...............6............3.. Mengkaji partisipasi masyarakat setempat dalam mengelola (KKLD) tersebut 3. Mengkaji peranan pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD)........3.... METODE PENELITIAN 3............. 29 3. Variabel Penelitian ..........................................2............ Skala Pengukuran ...................... Rumusan Masalah Persepsi dan partisipasi masyarakat merupakan hal yang harus diperhatikan dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi laut daerah selain peranan pemerintah................................... Untuk itu pengetahuan tentang permasalahan-permasalahan seperti tersebut diatas sangat diperlukan dalam pengelolaan kawasan konservasi laut daerah. 27 3.............................................................................................................1 Persepsi Masyarakat ..... 30 3................. Jenis dan Sumber Data ....3...8.........7............ Populasi dan Sampel ......... Mengkaji hubungan (korelasi) antara persepsi dan partisipasi mesyarakat dengan program pemberdayaan yang dilakukan pemerintah dalam mengelola ...... Teknik Pangumpulan Data .. Lokasi .. 28 3...................

target yang akan diamati. yaitu unsurunsur dalam ingkungan sekitar dapat mempengaruhi persepsi (Robins. perumusan metode dan pendekatannya serta pembuatan keputusan. ada tiga faktor yang mempengaruhi peran serta atau partisipasi yaitu : a. 1996) 2. Individu yang berperan serta pada varian ini tidak hanya hadir dan berpresentasi tetapi lebih dari itu. Lokasi Penelitian. yakni memiliki (sense of belonging) Menurut Tjokroamidjoyo (1990).1. suasana hati. Beberapa hal yang mempengaruhi persepsi : 1. pemrosesan informasi di otak). b. prestasi belajar sebelumnya dan pengharapan. Metode Penelitian metode survei. perumusan masalah. Pendidikan Tingkat pendidikan yang memadai akan memberikan kesadaran yang lebih tinggi dalam berwarga negara dan memudahkan bagi pengembangan identifikasi terhadap tujuan-tujuan pembangunan yang bersifat nasioanal. fisiologis (pengiriman hasil penginderaan ke otak melalui saraf sensoris) dan psikologis (ingatan. 3. Representasi Representasi merupakan varian kedua dari peran serta yang secara kualitatif lebih tinggi dan mendalam jika dibandingkan dengan varian pertama. BAB III METODE PENELITIAN 3. persepsi dapat terbentuk setelah melalui berbagai kegiatan.2 Definisi Partisipasi Tjokroamidjoyo (1990). karakteristiknya dapat mempengaruhi apa yang dipersepsikan.. yakni proses fisik (penginderaan). bila seorang individu memandang pada suatu target dan mencoba menafsirkan apa yang dilihatnya.. motif/kebutuhan individu. Situasi. Tolok ukur varian pertama peran serta adalah kehadiran yang bersifat kuantitatif. Komunikasi Gagasan . c.2.3. kebijaksanaan dan rencana . persepsi adalah suatu proses mental yang rumit dan melibatkan berbagai kegiatan untuk menggolongkan stimulus yang masuk sehingga menghasilkan tanggapan untuk memahami stimulus tersebut. 2.Menurut Saptorini (1989). pelaku persepsi.rencana akan memperoleh dukungan bila hal tersebut diketahui dan dimengerti oleh masyarakat. pengalaman masa lalu. perhatian. 2. 3.gagasan. Pemilikan dan pengendalian Pemilikan dan pengendalian merupakan varian tertinggi dari peran serta secara kualitatif. Kepada syarakat yang berhubungan erat dengan . Individu dikatakan berperan serta dalam varian ini apabila terlibat dalam penentuan masalah. antara lain sikap. 3. Kepemimpinan Faktor pertama proses pengendalian usaha dalam pembangunan ditentukan sekali oleh kepemimpinan. Kehadiran Kehadiran merupakan varian partisipasi tinggkat pertama yang lebih mudah mnjadi tolok ukurnya sebab jika seseorang hadir dalam suatu kegiatan maka ia dapat dikatakan telah berperan serta. menyatakan varian peran serta atau partisipasi adalah : 1. Ini meliputi aktivitas penentuan masalah. penafsiran itu sangat dipengaruhi oleh karakteristikkarakteristik pribadi dari pelaku persepsi.

Respondennya adalah nelayan.3. dari seluruh responden pada masing lokasi penelitian setara 15 % dari jumlah penduduk berprofesi sebagai nelayan. tokoh agama. c.3.7. persepsi. Analisis Data Data yang dianalisa adalah persepsi . Kelurahan Karas Responden yang diambil berjumlah 31 orang dan Kelurahan Galang Baru Responden yang diambil berjumlah 100 orang. kepala kampung.6.1. partisipasi dan peran pemerintah. Kuesioner : data primer. Variabel yang diteliti adalah variabel persepsi. dan pejabat Dinas Perikanan dan Kelautan serta instansi terkait.Data sekunder 3. Persepsi Masyarakat 3. Demikian juga uji regresi dilakukan pada variabel persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat. 3. tokoh adat. variabel partisipasi dan variabel peran pemerintah. Kelurahan Pulau Abang. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut : a.4. Skala pengukuran .konservasi laut yaitu nelayan juga masyarakat lain seperti tokoh masyarakat yang berdomosili di lokasi penelitian.3.3. pejabat Dinas Perikanan dan elautan serta instansi terkait. Metode ini bersifat deskriptif korelasi.8.2.ncara langsung dengan daftar pertanyaan yang telah disediakan sebelumnya. hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan antar kedua varibel tersebut dalam pengelolaan KKLD. Teknik interview (wawancara) : untuk mendapatkan data primer maka menggunakan teknik wawancara semi-terstruktur (semi structured interview) yaitu nelayan. 3.5. 3. Sedangkan untuk mengetahui apakah ada hubungan yang berarti antara ke tiga variabel tersebut dilakukan uji regresi antara varibel. Populasi dan Sampel masyarakat nelayan yang ertempat tinggal di lokasi penelitian yaitu diwilayah Kawasan Konservasi aut Daerah (KKLD) Kota Batam yaitu warga Kelurahan Pulau Abang Responden yang diambil berjumlah 113 orang.3. Partisipasi Masyarakat 3. Variabel Penelitian 3. Sampel diambil dengan memberikan peluang yang sama bagi setiap masyarakat untuk dipilih sebagai responden. Kelurahan Karas dan Kelurahan Galang Baru. tokoh masyarakat. Jenis dan Sumber Data data primer wawancara langsung dengan responden. b. partisipasi dan peran pemerintah mengenai pelaksanaan KKLD.. tokoh asyarakat.…. tokoh agama. yakni. kepala kampung. Teknik observasi (pengamatan) : teknik ini dilakukan untuk mendapatkan data mengenai potensi sumberdaya pesisir dan kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan setempat.3. Peranan Pemerintah . tokoh adat. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar hubungan yang saling mempengaruhi antara peran Pemerintah dalam mempengaruhi persepsi masyarakat dan seberapa besar peran pemerintah mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD di lokasi Penelitian. 3.

Kondisi Wilayah Pesisir dan Kelautan Kota Batam 4.15% pegawai negeri.2.11 Jumlah 870 100.1. Kondisi Geologi dan Geomorfologi Pantai 4.1.15 6 Angkatan laut 4 0. Sangat tidak setuju/tidak tahu/tidak pernah diberi skor 1 32 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.4.61% pengusaha/Tauke dan 1.02 % buruh. Segayang. mempunyai 42 buah pulau besar dan kecil. Batimetri 4. sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat ketergantungan masyarakat terhadap perairan laut sangat tinggi. pendapat dan persepsi seseorang atau ekolompok orang tentang fenomena sosial yaitu skala likert (Sugiyono.3. misalnya : 1. Untuk keperluan analisis kuantitatif. Berdasarkan data monografi kelurahan Pulau Abang. Pulau Abang Kecil.02 4 Pengusaha 14 1.dari kuesioner adalah data ordinal yang mengukur ingkatan atau gradasi dari sangat positip sampai sangat negatif.2. 4. 1. Letak Geografis 4.1. Sangat setuju/sangat tahu/sangat positif diberi skor 4 2.90 2 Petani 50 5. Tidak setuju/cukup tahu/ tidak pernah/negatif diberi skor 2 4. Sekitar 86.90 % mata pencaharian tetap masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan di laut (nelayan). Kelurahan Pulau Abang Kelurahan Pulau Abang terletak dibagian selatan Kota Batam. Pasir Buluh. Bentuk dan Tipe Pantai 4. sebelah utara dengan kelurahan Si Jantung. ternyata bahwa sebahagian besar mata pencaharian masyarakat Kelurahan Pulau Abang adalah usaha menangkap ikan.1. Secara administrasi batas wilayah Kelurahan Pulau Abang. sebelah Selatan dengan perairan Kecamatan Senayang.1. Setuju/tahu/positif diberi skor 3 3.46 7 Babinsa 1 0.61 5 Pegawai negeri sipil 10 1. maka jawaban dapat diberi skor. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 1.1. 2006). 39 Tabel 1.75 3 Buruh 35 4.1. Skala yang igunakan untuk mengukur sikap. diantara pulau yang berpenghuni antara lain Pulau Abang Besar. Jenis Mata Pencaharian di Kelurahan Pulau Abang No Pekerjaan JumlaH pERSENTASE 1 nEayan 756 86. Pulau Petong. Gambaran Umum Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) 4.00 Sumber : Monografi Kelurahan Pulau Abang. sebelah Timur dengan Kelurahan Galang Baru dan Kecamatan Senayang dan sebelah Barat dengan perairan Kecamatan Moro Kabupaten Tanjung Balai Karimun.75 % petani. 2007 .2. dan sekitar 5. dan Dapur Enam.

2007 Tabel 3.2.1. Penerangan Rumah 4.49 2. Sarana Perdagangan 4. Kegiatan Budidaya Perikanan 4. Buruh indusri 47 6.82 3. Sarana Kesehatan 2. Jenis Alat Tangkap 3.4. Dengan demikian ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya perikanan sangat besar. 6 – 16 596 22.2.2.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru.4. Jumlah penduduk Kelurahan Galang Baru menurut usia No Usia (tahun)Jumlah(jiwa) Prsentase 1. Secara kultural.83 5.56 4. Pelabuhan dan Jalan 6. 4.2. Pedagang 35 4. Pengusaha sedang 1 0.1. M atPencaharian jmlah(jiwa)Persentase 1.1. Melihat kondisi yang seperti ini dapat dikatakan bahwa basis perekonomian Kelurahan Galang Baru adalah perikanan tangkap.1. Pemasaran dan Pasca Panen 4.52 Jumlah 2611 100. 26 – 55 1066 40.13 Jumlah 768 100.2. Sarana Pendidikan. Keberadaan mata pencaharian lain pada prinsipnya mendukung kegiatan ini perikanan khususnya perikanan tangkap. 2007 4. Struktur Ekonomi dan Kultur Sosial Masyarakat Jika dilihat dari prosentase jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian sebagaiman tersebut diatas. Daerah Penangkapan 4. Musim Penangkapan. Fasilitas Umum 1.11 %).12 6.56 5. Perumahan 8. sebagian besar penduduk Kelurahan Galang Baru merupakan nelayan (87. 17 – 25 505 19. 0 – 5 300 11.2. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan 1. Hasil Tangkapan 5.2. Sarana Air Bersih 7. Transportasi Laut 5.3. Kapal Motor Perahu 2.2. Bahasa yang mereka . Mata Pencaharian Penduduk Kelurahan Galang Baru No. Kelurahan Galang Baru Tabel 2. Petani 4 0. komunitas yang ada dikawasan ini merupakan komunitas masyarakat melayu yang berasal dari kerajaan Daik Lingga.11 2.52 3.00 Sumber: Monografi Kelurahan Galang Baru. PNS 12 1.3. Nelayan 669 87. 56 tahun ke atas 144 5.1.34 4.2. 3.

Bakau Merah (Rhizophora aplicuta). Tabel 9. Kearifan dalam memanfaatkan dan menjaga sumberdaya alam hanya ditunjukkan oleh segilintir orang sehingga kearifan tersebut seolah hilang. Seperti diketahui kawasan ini sangat dekat dengan Negara Singapura dan kontak secara langsung maupun tak langsung dengan luar sudah berlangsung cukup lama. Tingi (Ceriops tagal). Lenggadai (Bruguiera parvifora).4. pandangan dan persepsi masyarakat terhadap keberadaan sumberdaya alam tidak lagi mengikuti petuah dan petata-petiti budaya seperti yang terkandung dalam petuah adat serta pantun-pantun melayu. Nguan (galang baru) 1. Dudukan Putih (Lumnitzera racemosa). Alat dan Musim Tangkap 2. Daerah Penangkapan 3. bom ikan diperkenalkan oleh pendatang dari Suku Buton. Pedada (Sonneratia alba). Kelimpahan dan Keragaman Ikan Karang di Masingmasing Kawasan Kawasan Jumlah Transek Kelimpahan (Individu) Kategori Keragaman Kategori I 8 121. Bakau Putih (Rhizophora mucronata).20 Tinggi 164 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam. Seperti halnya. Namun kehidupan social masyarakat dikawasan ini sudah tidak lagi memiliki kultur yang khas. 1. Masyarakat telah terkontaminasi oleh pendatang untuk menggunakan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan. 4. Waru (Hibiscus tiliacus).01 Tinggi .88 Rendah 3. Hilangnya kekhasan kultur ini. Karas 1. Gadelam (Derris trifolata). Buta-buta (Exacaecaria agallacha). Kegiatan Budidaya Perikanan Tabel 6. Kegiatan Perikanan Kelurahan Galang Baru. Pendatang dari suku Buton disinyalir pertama kali menggunakan bom dalam aktivitas nelayan di kawasan perairan Kepulauan Riau. Nyirih (Xylocarpus granatum).62 Tinggi 191 Sedang P. yaitu : Api-Api (Avicennia marina).2.pergunakan adalah Bahasa Melayu. Pada sisi lain. Persentase Tutupan dan Keragaman Jenis Mangrove KKLD Kelurahan Keaneka ragaman (H’ Pohon) Kategori Kerapatan /Ha Kategori Pulau Abang 0.2.70 Sedang 179 Sedang P. lebih jauh disampaikan bahwa yang membentuk hutan mangrove dikawasan studi dikenali terdapat 12 (dua belas) jenis vegetasi. 2007 Jenis Mangrove yang dominan adalah jenis Rhizophora. boleh dikatakan (patut diduga) sangat dipengaruhi oleh derasnya arus globalisasi (pengaruh asing) yang datang dari Negara Singapura tersebut. Dudukan Merah (Lumnitzera littorea). Sumbur (Galang Baru) 0.76 Sedang 213 Tinggi P.

0% 3 Karas 21 9 1 0 67.+ + + 15 Kima Tridagna + . Galang Baru.rata 58.14 Gonggong Littorina sp . Tabel 10.4% 3. Persepsi Masyarakat Tentang Kondisi Mangrove NoLokasiPenelitianSkore Persentase 43214321 1 Pulau Abang 79 25 5 4 69.5.0% 1. Persepsi Masyarakat Mengenai Kondisi Terumbu Karang Tabel 15. 2008 Keterangan : Nilai 4.74 Sedang Sumber: Coremap Kota Batam.0% 14. Buaya Crocodylus porosus .85 Rendah 2. Mengetahui Nilai 2.. Tidak Mengetahui Rata .2% 0.7% 12. Kondisi Mangrove Sangat Baik Nilai 3.0% 3. 2007 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sumbur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) yang terdapat di KKLD pada tiga Kelurahan disajikan pada tabel 10 berikut.9% Sumber : Data primer diolah.+ Sumber: Studi Penyusunan Kawasan Marine Managemen Area. 2008 Keterangan : Nilai 4.II 13 109.11 Sedang 1. Jenis Satwa yang Dilindungi di Kawasan Penelitian No Nama Lokal Jenis I II III IV 1.5. Kondisi Mangrove Baik Nilai 2.02 Sedang III 9 198.1% 4.0% Sumber : Data primer diolah. Hal ini dikarenakan mereka telah mengetahui dari sosialisasi dari pemerintah baik lewat . Lumba-lumba Dolphinia sp + .6% 9.7% 29. Cukup Mengetahui Nilai 1.51 Rendah IV 4 162.37 Rendah 2.2.3. dan Pulau karas.9% 22.2.8% 51.145 4. Duyung Dugong dugon + .2. 2006 Keterangan : I (Kawasan Kelurahan Pulau Abang) II (Kawasan Pulau Nguan Kelurahan Galang Baru) III (Kawasan Pulau Sembur Kelurahan Galang Baru) IV (Kawasan Kelurahan Karas) Jumlah 103.2 % responden mengetahui aturan Daerah Perlindungan Laut yang berada di kawasan Pulau Abang.+ + + 2. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Karas Tabel 14..3.5% 2 Galang Baru 82 14 3 1 82.2 % responden mengetahui bahwa mangrove yang berada di 3 Karas 8 16 3 4 25.0% 3. Kondisi Mangrove Rusak Nilai 1. Kondisi Mangrove Sangat rusak Rata – rata 73. Daerah Perlindungan Laut Kelurahan Galang Baru 4. Sangat Mengetahui Nilai 3.

Tabel 36. s pada tahun 4.068. Partisipasi dan Peran Pemerintah terhadap KKLD Berdasarkan pengelompokan data dari persepsi masyarakat. partisipasi dan peran pemerintah dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut dan Daerah tersaji dalam Tabel 37 berikut. dengan nilai R2 = 0. Wilayah Kelompok Tingkat Total Skor 1 Kelurahan PulauAbangPersepsi 3 (Tinggi) 2373Partisipasi 2 (Sedang) 2124Peran Pemerintah 2 (Sedang) 2131 2 Kelurahan GalangBaruPersepsi 2 (Sedang) 1952Partisipasi 2 (Sedang) 1917Peran Pemerintah 2 (Sedang) 1859 3 Kelurahan Karas Persepsi 2 (Sedang) 629Partisipasi 2 (Sedang) 581Peran Pemerintah 2 (Sedang) 573 Sumber : Data primer diolah. Tabel 37.98 pada tarap signifikansi 0. demikian juga terjadi hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD pada . partisipasi masyarakat dan peran Pemerintah terhadap Kawasan Konservasi Laut Daerah dikelompokan dalam 3 (tiga) kategori berdasarkan interval kelas dari hasil skoring total nilai yang tersaji dalam Tabel 36. pada sub pertanyaan mengenai sanksi di Daerah Perlindungan Laut tersaji pada Tabel 19. 2008 105 Total skor persepsi. 2008 Hasil uji regresi terjadi hubungan yang sangat erat antara persepsi masyarakat terhadap KKLD dengan partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan KKLD.6. Partisipasi dan Peran Pemerintah dalam KKLD No. Interval Kelas Tingkatan Persepsi. Total Skore Persepsi. Hubungan Persepsi. Partisipasi Dan Peran Pemerintah Dalam KKLD No. maupun beberpa papan pengumuman yang dipasang di kawasan tersebut. Wilayah Tingkat Interval 1 Kelurahan Pulau Abang 3 (Tinggi) > 2373 2 (Sedang) 1582 – 2373 1 (rendah) < 1582 2 Kelurahan Galang Baru 3 (Tinggi) > 2100 2 (Sedang) 1400 – 2100 1 (rendah) < 1400 3 Kelurahan Karas 3 (Tinggi) > 651 2 (Sedang) 434 – 651 1 (rendah) < 434 Sumber : Data primer diolah. Hasil jawaban yang dihimpun dari pertanyaan seputar persepsi masyarakat tentang Kawasan Konservasi Laut Daerah.penyuluhan.

. Modul Matrikulasi Pengelolaan Pesisir dan Laut. Nelayan mempunyai tingkat partisipasi sedang (67% . Seminar Nasional Fakultas Teknik dalam rangka Dies Natalis Universitas Diponegoro ke 43. Bengen. Dahuri.99 pada tarap signifikansi 0. Keanekaragaman Hayati Laut.75%) terhadap arti pentingnya pengelolaan Kawasan Konservasi Laut hal ini karena nelayan menyadari bahwa hasil tangkapan sangat tergantung kepada kondisi ekosistem yang baik 2. 2000. Jakarta. Kesimpulan: 1. 2000. sedangkan dalam pengawasan partisipasinya rendah hal ini dikarenakan anggapan masyarakat bahwa sudah ada petugas yang ditunjuk (POKMASWAS). R. 3. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 34 tahun 2002. hasil uji regresi peran pemerintah terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD juga terjadi hubungan yang sangat erat dengan nilai R2 = 0. Semarang. S. R. Ginting. POKWASMAS. dan Kelompok MPA) yang dilakukan oleh Pemerintah yang dapat meningkatkan persepsi dan partisipasi masyarakat tentang arti pentingnya mengelola Kawasan Konservasi Laut Daerah secara bersama (Masyarakat dengan Pemerintah).1. dan M. tanggal 4 . Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut Serta Prinsip Pengelolaannya. Dengan melakukan kegiatan peningkatan SDM. Terdapat hubungan yang erat antara persepsi masyarakat. Penerbit LISPI.J.ketiga wilayah tersebut dengan nilai R2 = 0. 4. Pedoman Tata Ruang Pesisir dan Laut. Peran pemerintah dalam pengelolaan KKLD pada tiap-tiap kelurahan mempunyai tingkat peran “sedang” (66 % . PT Pradnya Paramitha. 2002.. PKSPL. pembentukan dan peningkatan Lembaga Kemasyarakatan (POKJA. 2006. IPB.67 %) karena responden menilai peran pemerintah khususnya dalam penghijauan mangrove. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.025. Saran DAFTAR PUSTAKA Anggoro.99 pada tarap signifikansi 0.P. Universitas Diponegoro. Semarang. Anggoro. epartemen Kelautan dan Perikanan. 5. S.. pengawasan daerah konservasi dan pemberian tanda di daerah perlindungan laut sangat kurang.68%) dimana masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan pelestarian terumbu karang dan mangrove. partisipasi masyarakat dan peran pemerintah terhadap KKLD. Penerbit Gramedia Pustaka Utama. D. Pemanfaatan Sumber Daya Pesisir dan Lautan Berwawasan Lingkungan. Jakarta. Universitas Diponegoro. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir & Lautan secara Terpadu. dengan melihat nilai regresi tersebut dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelelolaan KKLD sangat ditentukan oleh persepsi masyarakat tentang arti pentingnya pengelolaan KKLD sebagai sumber kehidupan masyarakat yang berkelanjutan. Sitepu.044.2. . Pendayagunaan Sumberdaya Kelautan untuk Kesejahteraan Rakyat. Nelayan mempunyai tingkat persepsi sedang hingga tinggi (70% . Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia.J.G. 1996. Rais. Bogor. S. 2002. Jakarta Dahuri.

Saptorini. M.V.2005. Yogyakarta:Gajahmada University Press. S. J. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. 2006. Pustaka Cidesindo. Departemen Kelautan dan Perikanan. Kemiskinan dan Perebutan Sumberdaya Alam. 2000. Mackinnon. Jakarta. Satria. . Hardjasoemantri. Metode Penelitian Partisipatoris dan Upaya-Upaya Pemberdayaan (Sebuah Buku Pegangan Bagi Para Praktisi Lapangan). Yogyakarta. Pengelolaan Kawasan yang dilindungi di Daerah Tropika. Penerbit LKIS. Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut Melalui Pemberdayaan Kearifan Lokal di Kabupaten Lembata Prop. Komunikasi. UKSW. CV. Jakarta. Robins. Strategi Hidup Masyarakat Nelayan. Jakarta Gultom. C. Bandung. Jakarta. Yayasan Obor Indonesia.P. Partisipasi Rakyat dalam Pembangunan. Tesis MSDP. Raja Grafindo Persada. Yayasan Obor Indonesia. Persepsi Siswa SMA se-Kotamadya Semarang Mengenai Narkotika. Jakarta. Http://www2. 1986. Sukmara. Mengembangkan dan Memanfaatkan Perangsang Ekonomi Untuk Melestarikan Sumberdaya Hayati. Semarang Tjokroamindjoyo. Kasmidi. Penerbit PT. Penerbit PT. Partisipasi.jpl. Penerbit LKIS. 2007. Politik Ekonomi Perikanan. Alumni. Ekonomi dan Keanekaragaman Hayati. J. Salatiga. Sastropoetro. Hubungan Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat dalam Rehabilitasi Hutan Mangrove di Desa Jetis Kecamatan Nusa Wungu. PT. Yogyakarta. Kusnadi. Universitas Diponegoro. S. Yogyakarta. Jakarta. Konservasi Ekosistem Sumberdaya Hayati Di Wilayah Pesisir Dan Laut Tropis.1989.September 2002. Supriharyono. 1990. Tesis MSDP. Bagaimana dan Kemana Bisnis Perikanan. Jakarta Mikkelsen. 2002. Sugiyono. . Tulungen.2007. A.A. Ekonomi Kelautan. Perilaku Organisasi. dan Effendi. 2003. LP3ES. Aspek Hukum Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Hidup. Konflik Sosial Nelayan.. M. Laporan Penelitian IKIP. Terjemahan. Supriyanto. 1996. NTT. B. Penerbit P3R dan PT Pustaka Cidesindo. A. Gajah Mada University Press. M. Jakarta. B. 1992. 2006. Semarang Stanis. Metode Penelitian Kuantitatf. Gramedia Pustaka Utama. Persuasi dan Disiplin dalam Pembangunan. Rotinsulu. V. K. Jakarta. Mas Agung. PT. C. Jakarta. Jakarta. 1990. Alfabeta. Direktorat Konservasi dan Taman laut Direktorat Jenderal Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Perencanaan Pembangunan. . 2003. McNeely. S. Jakarta. J. T. Metode Penelitian Survei. Prenhalindi. Yogyakarta. Singarimbun. Kabupaten Cilacap. Penerbit PT. Bayer. Kualitatif dan R & D. 1993. Nikijuluw. Bandung. 2002. 1985. 1989.H. 2005. dan Mackinnon. Semarang. Pustaka Pelajar. . S. Pengantar Sosiologi Nelayan.nasa. Penerbit. 2003.gov/srtm. Pedoman Penetapan Kawasan Konservasi Laut Daerah. Rezim Pengelolaan Sumberdaya Perikanan. Mulyadi. Dimpudus. FERACO. 2004. 2005.

71% Karas 4 2 8 21 84 7 28 20 80 8 32 4 16 12 48 Interval Karas 3 7 21 9 27 7 21 9 27 16 48 12 36 16 48 Maks = 868 Tinggi = > 651 2 13 26 1 2 8 16 1 2 3 6 9 18 3 6 Min = 217 Sedang = 434 . Nama responden : 3. Nama kampung : 2. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004. “Tentang Konservasi Sumberdaya Alam hayati dan Ekosistemnya”. tentang Perikanan. tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau – Pulau Kecil. Lampiran 1. Skoring Persepsi Lokasi Score Tabel Pertanyaan Persepsi 1234567 Pulau Abang 4 11 44 79 316 35 140 62 248 23 92 14 56 34 136 Interval P. 5-10 Tahun c. > 10 Tahun 6. <5 Tahun b. Undang-Undang RI No. Panduan Pembentukan dan Pengelolaan Daerah Perlindungan laut Berbasis Masyarakat. Jumlah Tanggungan keluarga a. Panduan penilaian kuesioner Lampiran 6. Umur : 4. > 9 orang Lampiran 5. Pekerjaan Utama : 5. 5 Tahun 1990.651 199009911446600 Rendah . Identitas Responden 1.00% Galang Baru 4 4 16 82 328 16 64 61 244 13 52 9 36 36 144 Interval Galang Baru 3 8 24 14 42 26 78 32 96 62 186 23 69 62 186 Maks = 2800 Tinggi = >2100 2 41 82 3 6 28 56 4 8 9 18 48 96 2 4 Min = 700 Sedang = 1400 2100 1 47 47 1 1 30 30 3 3 16 16 20 20 0 0 Rendah = > 1400 100 169 377 228 351 272 221 334 1952 69. Jakarta. N. < 6 orang b.Tangkilisan. Abang 3 37 111 25 75 34 102 41 123 69 207 62 186 68 204 Maks = 3164 Tinggi = > 2373 2 50 100 5 10 21 42 6 12 11 22 32 64 11 22 Min = 791 Sedang = 1582 2373 1 15 15 4 4 23 23 4 4 10 10 5 5 0 0 Rendah = > 1582 113 270 405 307 387 331 311 362 2373 75. Lama Tinggal di Kampung : a. 6-9 orang c. 2002. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007. Departemen Kelautan dan Perikanan.

= > 434 31 64 113 74 110 90 76 102 629 72.069725 Residual 1 19789.7278 200.073 -2556.080092 0.959582 -2556.06421 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance .093858 0.42904 2.53 2531.069725 -0.995211 Adjusted R Square 0.988052 Adjusted R Square 0.98 125 SUMMARY OUTPUT Lampiran 10 Hubungan antara peran pemerintah dengan persepsi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.69826 0.994008 R Square 0.76 19789.06357 0.47% 4954 122 1 4 4 2 2 4 4 0 0 7 7 10 10 9 9 Rendah = < 434 31 92 97 84 98 55 60 56 573 66.01% 4563 124 SUMMARY OUTPUT Lampiran 9 Hubungan antara persepsi masyarakat dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.2023 -0.0% Upper 95.6761 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1636579 1636579 82.990422 Standard Error 89.53 2531.589221 Keterangan : Persepsi masyarakat sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.118772 9.976105 Standard Error 140.0% Intercept -12.76 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.073 X Variable 1 1.589221 -0.42904 2.997603 R Square 0.

99 127 Lampiran 12.4156 0.0% Upper 95.490829 1.9971 126.433 Total 2 1656369 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.99 126 SUMMARY OUTPUT Lampiran 11 Hubungan antara peran pemerintah dengan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan KKLD Regression Statistics Multiple R 0.999189 R Square 0.044091 Residual 1 7932.99838 Adjusted R Square 0.868 -1609. Dokumentasi Penelitian Dokumentasi Penelitian Mata Pencaharian Alternatif (MPA) Keramba Jaring Tancap Penanaman Mangrove oleh masyarakat di kelurahan Karas .86 1593.378 868.005595 0.165299 0.052526 0.040513 24.06343 0.6898 -846.302 Total 2 1402865 Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.520362 0.0% Upper 95.090947 0.48967 0.67915 Observations 3 ANOVA df SS MS F Significance F Regression 1 1400591 1400591 616.378 868.1045 0.129368 2.0% Intercept 11.075678 14.490829 1.025634 Residual 1 2273.86 1593.82145 0.8097 0.895711 -846.044091 0.F Regression 1 1648436 1648436 207.6898 X Variable 1 1.868 X Variable 1 1.520362 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap partisipasi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.0% Intercept -7.996759 Standard Error 47.052526 Keterangan : Peran Pemerintah sangat berpengaruh terhadap persepsi masyarakat dalam pengelolaan Kawasan Konservasi Laut Daerah dengan nilai R square 0.0701 -0.959671 -1609.025634 0.15595 67.433 7932.302 2273.129368 2.

The ecological value can be harnessed if biodiversity is considered as one entity. from the highest water level to the lowest tidal level.6Mangroves have diverse functions andbenefits. Mangroves have high economic value for people and also as feeding and nursing ground for many species of fish and bird. mangrove. prevent erosion and regulate the micro climate. Given the limited availability of knowledge. during the early 1990s.129 Lampiran 13 WALIKOTA BATAM Riwayat Hidup Mardijono. alpine. which are also dynamic and very productive. In marine. while the plant species found in them can be seen in Table 3. and small islands. Although it covers only 1. Mangrove forests occur only in coastal areas where the waves are broken by barriers such as sand. ============================================================= National Document hal 29 Indonesia is estimated to have 90 ecosystem types. where the components are inter-dependent. wetlands. regulation of local climate. estuaries. among others. rocky and sandy beaches. as presentedin Box 2.3% of the total landmass in the world. the diverse ecosystems provide a placefor the food chain to function and a space for species to survive and breed. these services are.5 presents the distribution of mangroves in Indonesia. protection of water and soil quality. They can be classified into three main types: coastal/ delta. Environmental services are undervalued because it is difficult to quantify. A well functioning ecosystem can supply and produce environmental services beneficial for the species living in it.5 million hectares in Indonesia. kelahiran Madiun. consisting of estuaries. there are several unique but interrelated ecosystems. 1997): Ecological value Biodiversity provides ecological or environmental services for humans. For example. the ecological perspective is most often used to study coastal and marine areas. including sea grass and coral reefs to deep sea ecosystems. as outlined below (Dephut1994. with 89 plant species (Nontji in Dahuri et al. coral reef. The litter and other parts of mangroves which are carried by water provides .2. sub-alpine. Perikanan dan Pertanian Kota Batam. Forests also maintain soil fertility by supplying nutrients through the leaf litter. Mangroves cover an area of about 2.9. coastal forest. montane to lowland rainforests. savannah. coastal and small island areas.sekarang bekerja pada Dinas Kelautan. Bengen (2001) listed several marine and coastal ecosystems from the ecological perspective. grasslands. Mangroves Mangrove is the collective term for tree vegetation that grow in muddy coasts in tidal areas. river estuary/lagoon and island types (MacKinnon et al. forests maintain the hydrological balance thus preventing floods and droughts. 30 September 1969. Table 3. 2000). 2001). this value is substantially high. Indonesia harbors a very high fauna species diversity. coastal and small island zones. Mittermeier et al. Yet. For instance. mangrove and marine and coastal ecosystems. from snow peaks at Jayawijaya. hal12 Figure 2. sea grass. coral reef or islands. There are many studies from the geological and geomorphologic perspective but their results have not contributed significantly to the knowledge(hal 24) of ecosystem classification in marine.

500 4. Among others.025 19. for example. Mangrove distribution in Indonesia (hectares). rare lesser adjutants (Leptoptilos javanicus).900 2. oils. amphibians: mangrove frog (Rana cancrivora).577 25. Table 3. fishing cat (Felis viverrinus). fungi.000 272.833 2. insects (Anopheles sundaicus and Aedes mosquitoes) (Whitten et al. food. (Doc.450. protozoa. small-clawed otter (Aonyx cinerea). . with potentials to produce alcohol (Mercer and Hamilton 1984 in Whitten et al.8. python (Pythonreticulatus) and estuarine crocodile (Crocodylus porosus) are found in some mangrove areas. mangroves also protect certain coastal areas from abrasion. In addition. green manure. chemicals for tanning and dyes. and now not many places are left where Rhizophora timber can be harvested sustainably.5.129. A list of benefits provided by mangroves is given in Table 3. and nypah (Nypa fruticans).000 485.8. of which Rhizophora is most preferred for building materials and rayon production. In addition. Plants in mangrove forests. Thus it is clear that mangroves have an important function in supporting coastal fishery.important nutrition for coastal ecosystem and other ecosystem in the surrounding estuaries. mammals: javan lutung (Semnopithecus auratus). Payne et al. mangrove whistler (Pachycephala cinerea). Mangroves also yield microorganisms that have various uses such as bacteria. Other mangrove products include fuelwood.300 680. reptiles: monitor lizard (Varanus salvator). This ecosystem serves as habitat of various animals.500 38. 2000) Figure 3. clams and snails. Island rotected area Mangroves Current area Original area Sumatra Java & Bali Nusa Tenggara Kalimantan Sulawesi Maluku & Papua 857.600 2. But such timber has not been harvested in a sustainable manner. 1999). 1999). common skink (Mabuya multifasciata).450 84. social and environmental benefits. mangrove timber is a source of material for charcoal and chipwood industry. long-tailed macaque (Macaca fascicularis). without always being connected directly with the mangrove area and its productivity. common cat snake (Boiga dendrophila).500 78. are used for medicine.092.900 Benefits and value of marine and coastal ecosystem Like forests. Mangroves also serve as nursery grounds for young fishes. milky stork (Mycteria cinerea).185 61. Mangrove vegetation is relatively well researched in Indonesia (Kartawinata 1990). timber for other uses. proboscis monkey (Nasalis larvatus). shrimps and other organisms such as crabs. coastal and marine ecosystems also provide economic. building and industrial materials.300 353. mangrove blue flycatcher (Cyornis rufigastra).000 6.000 171. and other microorganisms. Mangroves also produce timber.600 1.

ikap adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata dalam kegiatankegiatan sosial. Ini berarti berwujud pengolahan. pada seminar PBF dalam rangka HUT PGRI Kota Solok-Sumb Friday.========================================================= ======================== Dari : http://staff. simpati.id/sastra/mudjahirin/2010/07/30/masyarakat-pesisir/ SOSIOLOGI PEDESAAN MASYARAKAT JAWA PESISIRAN Oleh Mudjahirin Thohir =================================================================== http://agupenajateng. Pembentukan Karakter Peserta Didik melalui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Fitrah *) (Penulis Buku Pembelajaran Berbasis Fitrah. 3. Thomas memberi batasan sikap sebagai suatu kesadaran individu yang menentukan perbuatan-perbuatan yang nyata ataupun yang mungkin akan terjadi di dalam kegiatan-kegiatan sosial. watak. sifat-sifat kejiwaan. yang berulang-ulang terhadap objek sosial. Hal ini terjadi bukan saja pada orang-orang lain dalam satu masyarakat. Balai Pustaka – 2008 dan Guru Mekatronika. S. Karakter satu bangsa sangat dipengaruhi oleh kultur dasar bangsa tersebut =============================================================== Oleh karena itu ahli psikologi W. akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. 2. dan sebagainya yang ditujukan kepada objekojek tertentu. menjauhkan diri dan sebagainya . Dalam hal ini Thomas menyatakan bahwa sikap seseorang selalu diarahkan terhadap sesuatu hal atau suatu objek tertentu. 13 February 2009 (23:35) Unduh 28 Feb 2011 karakter ialah tabiat.net/2009/02/13/pembentukan-karakter-peserta-didik-melaluipendekatan-pembelajara Oleh : Achjar Chalil. Tidak ada satu sikap pun yang tanpa objek. pengalaman. Aspek Kognitif yaitu yang berhubungan dengan gejala mengenal pikiran.J. antipati.undip. SMKN 56 Jakarta) *) Makalah disampaikan pada tanggal 14 Desember 2008. Maka sikap sosial adalah kesadaran individu yang menentukan perbuatan yang nyata. Tiap-tiap sikap mempunyai 3 aspek 1. kedengkian. Aspek Konatif: berwujud proses tendensi/kecenderungan untuk berbuatu sesuatu objek. Aspek Afekit berwujud proses yang menyangkut perasaan-perasaan tertentu seperti ketakutan.ac. dan keyakinan serta harapan-harapan individu tentang objek atau kelompok objek tertentu.Pd. misalnya kecenderungan memberi pertolongan.

D. Dapatlah dikatakan bahwa sikap merupakan faktor internal. 2. 2) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur tingkah laku 3) Sikap berfungsi sebagai alat pengatur pengalaman-pengalaman 4) Sikap berfungsi sebagai pernyataan kepribadian ==\============================================================= Dari : http://id. 4. Hal ini mencerminkan perasaan seseorang terhadap sesuatu[1] Sikap mempunyai tiga komponen utama: kesadaran. orang atau peristiwa[1]. dan favorable. perasaan. melalui pengalaman. Sikap itu dipelajari (learnablity) Sikap merupakan hasil belajar ini perlu dibedakan dari motif. misalnya: objek itu dirasakan menyenangkan atau tidak menyenangkan. Jika seseorang merasa bahwa orang lain menyenangkan. yaitu: 1) Sikap berfungsi sebagai alat untuk menyesuaikandiri. ia merasa bebas. kemudian menjadi lebih kuat. membantu tujuan kelompok. Personal (societal significance) Sikap melibatkan hubungan antara seseorang dan orang lain dan juga antara orang dan barang atau situasi.motif psikologi lainnya. Cth: sikap dalam kehidupan sehari-hari pada iklan  parpol .[ Sri Utami Rahayuningsih – 2008 Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) ================================================================= Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude) Sikap/ Attitude Psikologi Umum 2 – Bab 1: Sikap (Attitude Secara sederhana sikap didefinisikan : Unduh 28 Feb 2011 Ekspresi sederhana dari bagaimana kita suka atau tidak suka terhadap beberapa hal. Barangkali yang terjadi adalah mempelajari sikap dengan sengaja bila individu mengerti bahwa hal itu akan membawa lebih baik (untuk dirinya sendiri). tetap. Beberapa sikap dipelajari tidak sengaja dan tanpa kesadaran kepada sebagian individu. dan perilaku. Sedangkan fungsi dari sikap (tugas) sikap dapat dibagi menjadi empat golongan. dan stabil. Adapun ciriciri sikap adalah sebagai berikut: 1. Memihki kestabilan (Stability) Sikap bermula dan dipelajari.org/wiki/Sikap Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek. 3. maka ini akan sangat berarti bagi dirinya. atau memperoleh sesuatu nilai yang sifatnya perseorangan. Berisi cognisi dan affeksi Komponen cognisi daripada sikap adalah berisi informasi yang faktual. terbuka serta hangat. orang-orang atau kejadian-kejadian. Ciri-Ciri Dan Fungsi Sikap Sikap menentukan jenis atau tabiat tingkah laku dalam hubungannya dengan perangsang yang relevan. tetapi tidak semua faktor internal adalah sikap.wikipedia.

feelings or intended behavior” (Myers. 1993) “…. kelompok sosial. 1996 Komponen sikap: • • • kognitif afektif konatif =============================================================== Dari : http://nadhirin.opini b. orang. An evaluation of objects.blogspot. exhibited in one’s belief.a favorable or unfavorable evaluative reaction toward something or someone.html Unduh 28 Feb 2011 Sikap ( Attitude ) Sikap sendiri memeiliki pengertian sebagai “organisasi pendapat. people or issues about which an individual has some knowledge” (Wrightsman. =============================================================== Jadi. Skala Sikap o Yaitu: kumpulan pertanyaan mengenai objek sikap o Mencoba memperoleh pengukuran yang tepat tentang sikap seseorang o Akurasi pengukuran dilakukan dengan penggunaan beberapa item yang berkaitan dengan isyu yang sama o Skala sikap melibatkan: belief dan opini terhadap suatu objek o Pertanyaan-pertanyaan atau item yang membentuk skala sikap dikenal dengan statement (pernyataan yang menyangkut objek psikologis). keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi relatif yang relatif ajeg yang disertai adanya perasaan tertentu . sikap adalah penilaian positif atau negatif terhadap isu.com/2010/05/sikap-attitude. ide. benda dsbnya Bagaimana kita mengukur sikap? Melalui observasi & wawancara Dengan menggunakan skala misalnya: • Summated Ratings • Equal Appearing Interval • Cummulative Scale • Semantic Differential Sikap adalah: “ ….

Walgito mengemukakan bahwa: Sikap mengandung tiga komponen yang membentuk struktur sikap. daftar pertanyaan biasanya untuk penelitian bibliografi atau karangan. atau action component). 2) komponen afektif (komponen emosional). 3) komponen konatif (komponen perilaku. baik yang bersifat fa vorable atau positif maupun unfavorable atau negatif. yaitu dengan wawancara. orang dimintai supaya menyatakan dirinya mengenai obyek sikap yang diselidiki.58 Sedangkan Azwar berpendapat bahwa: Metode pengukuran sikap yang diangggap dapat diandalkan dan dapat memberikan penafsiran terhadap sikap manusia adalah pengukuran melalui skala sikap (attitude scale).59 Dari hasil uji coba dipilih pernyataan-pernyataan yang cukup baik. misalnya menggunakan tes psikologi. sedangkan rasa tidak senang adalah hal negatif. yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan. afektif dan konatif dengan uraian sebagai berikut: 1) komponen kognitif (komponen perseptual). Skala sikap bertujuan untuk menentukan kepercayaan. yaitu hal-hal yang berhubungan dengan bagaimana orang mempersepsi terhadap obyek sikap.dan memberikan dasar kepada organisme untuk membuat respon atau perilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya”. KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS PENELITIAN Berkaitan dengan komponen sikap. pandangan. Ketiga komponen itu adalah komponen kognitif. yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderungan bertindak atau berperilaku terhadap obyek sikap. =================================================================== Dari BAB II DESKRIPSI TEORI. yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidak senang terhadap obyek sikap. persepsi.54 Pengukuran Sikap Gerungan menyatakan bahwa: Cara-cara yang dapat dipakai untuk mengukur sikap antara lain: 1) Metode langsung ialah metode dimana orang secara langsung diminta pendapat atau tanggapannya mengenai obyek tertentu. tidak setuju. Corak khas dari skala Likert ialah bahwa makin tinggi . setuju. Suatu skala sikap merupakan kumpulan pernyataan sikap yang berkenaan dengan obyek sikap. Pernyataan sikap adalah rangkaian kalimat yang mengatakan sesuatu mengenai objek sikap yang diukur. 3) Metode tes tersususn. atau perasaan seseorang. tetapi secara tidak langsung. 4) Metode tes tak tersusun. tidak mempunyai pendapat. Kesimpulannya pengertain sikap adalah kecenderungan untuk bertindak dan bereaksi terhadap stimulus atau rangsangan. seperti metode Likert. biasanya disampaikan secara lisan pada waktu wawancara. terhadap suatu obyek. keyakinan. Lima alternatifjawaban yang dike mukakan oleh Likert adalah sangat setuju. Rasa senang merupakan hal yang positif. Atau dalam bahasa sederhana sikap adalah kesediaan beraksi terhadap suatu hal. Thurstone atau Guttman. yaitu metode pengukuran yang menggunakan skala sikap yang dikonstruksikan terlebih dahulu menurut prinsip-prinsip tertentu. dan sangat tidak setuju. 2) Metode tak langsung.

demikian pula sebaliknya. adalah “that of which one is apprised or told: intelligence. teks. demikian pula sebaliknya. Selain itu istilah informasi juga memiliki arti yang lain sebagaimana diartikan oleh RUU teknologi informasi yang mengartikannya sebagai suatu teknik untuk mengumpulkan. Keterpaparan informsi : pengertian informasi menurut Oxfoord English Dictionary.skor yang diperoleh seseorang. koran. dan majalah. suara. menganalisa.org/wiki/Pengetahuan Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor. memanipulasi. ========================================== ===================== Dari : http://id. merupakan indikasi bahwaorang tersebut sikapnya makin negatif terhadap objek sikap Pengukuran sikap guru terhadap pekerjaan dapat dilakukan dengan pengukuran sikap model Likert. Makin tinggi skor yang diperoleh seorang guru mengindikasikan guru memiliki sikap yang makin positif terhadap pekerjaan. makin rendah skor yang diperoleh seseorang. Kamus lain menyatakan bahwa informasi adalah sesuatu yang dapat diketahui. news”. Namun ada pula yang menekankan informasi sebagai transfer pengetahuan. mengumumkan. radio. maka jelas dapat kita kerucutkan sebuah visi pendidikan yaitu mencerdaskan manusia. Alat ukur dalam skala Likert menggunakan pernyataan-pernyataan dengan menggunakan lima alternatif jawaban.wikipedia. Pengukuran sikap model Likert (Skala Likert) merupakan salah satu cara pengukuran sikap secara langsung. Sedangkan informasi sendiri mencakup data. Media : Media yang secara khusus didesain untuk mencapai masyarakat yang sangat luas. databases . Adanya perbedaan definisi informasi dikarenakan pada hakekatnya informasi tidak dapat diuraikan (intangible). dan menyebarkan informasi dengan tujuan tertentu. sedangkan informasi itu dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. yang diperoleh dari data dan pengamatan terhadap dunia sekitar kita serta diteruskan melalui komunikasi • • ---------------------------------------------------------------------------------------------------------- . kode. menyimpan. image. merupakan indikasi bahwa orang tersebut sikapnya makin positif terhadap objek sikap. program komputer. diantaranya: • Pendidikan : Pendidikan” adalah sebuah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok dan juga usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Jadi contoh dari media massa ini adalah televisi. menyiapkan.

Masa menopause merupakan masa peralihan dari masa haid sampai masa berhentinya haid. berlangsung antara usia 30-46 tahun (Depkes. 1998). rasa dan raba. Penginderaan ini terjadi melalui panca indera manusia.html Unduh 28 Feb 2011 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pengetahuan 1.Dari : Asrofudin http://www. yaitu indera penglihatan. pendengaran. 3. =============================================================== Dari : Pengetahuan atau kognitif merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.co. 1997). 2. makin tinggi pula tingkat kepuasan yang diperoleh (Hurlock. Karena dapat membuat seseorang untuk lebih mudah mengambil keputusan dan bertindak. Umur Menurut Notoatmodjo (2003) mengatakan bahwa umur merupakan variabel yang selalu diperhatikan dalam penelitian-penelitian epidemiologi yang merupakan salah satu hal yang mempengaruhi pengetahuan. Pendidikan juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang.cc/2010/06/faktor-faktor-yang-mempengaruhi.canboyz. Pendidikan Tingkat pendidikan juga mempengaruhi persepsi seseorang untuk lebih menerima ide-ide dan teknologi baru (SDKI. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo. Umur adalah lamanya waktu hidup seseorang dalam tahun yang dihitung sejak dilahirkan sampai berulang tahun yang terakhir. 2007). penciuman. 2003). . Pekerjaan Pekerjaan merupakan kegiatan yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari artinya makin cocok jenis pekerjaan yang diemban.

sementara yang tidak memiliki fishing right tidak diizinkan beroperasi di wilayah itu. Selain diatur siapa yang berhak melakukan kegiatan perikanan. Desember 2007 Tim Penyusun Salah satu program yang terlibat dalam kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi kelautan dan perikanan adalah program Green Coast. dimana saja. Program yang merupakan kerja sama WWF. Salah satu formulasi dari pembatas input itu adalah territorial use right yang menekankan penggunaan fishing right (hak memanfaatkan sumberdaya perikanan) dalam suatu wilayah tertentu dalam yurisdiksi yang jelas. yakni membatasi berupa jumlah tangkapan bagi setiap pelaku berdasarkan kuota. contolled access regulation adalah regulasi terkontrol yang dapat berupa (1) pembatasan input (input restriction). yakni membatasi jumlah pelaku. juga diatur kapan dan dengan alat apa kegiatan perikanan dilakukan. ada dua bentuk regulasi dalam pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Wetlands Internasional. dan dengan alat apa saja. 32 Tahun 2004 yang membuat pengaturan tentang yurisdiksi laut provinsi (12 mil) . UU No. Open access adalah regulasi yang membiarkan nelayan menangkap ikan dan mengeksploitasi sumber daya hayati lainnya kapan saja. (2) pembatasan output (output restriction). berapapun jumlahnya. Sebaliknya. dan jenis alat tangkap. Both ENDs dan IUCN dengan dukungan dana dari OXFAM Belanda bertujuan melindungi keunikan ekosistem pesisir dan memperbaiki mata pencaharian penduduk pesisir. Sistem yang menjurus pada bentuk pengkavlingan laut ini menempatkan perlindungan kepentingan nelayan kecil yang beroperasi di wilayah pantai-pesisir serta kepentingan kelestarian fungsi sumber daya sebagai fokus perhatian. Secara empiris. antara lain apa yang dikenal dengan tragedy of common baik berupa kerusakan sumber daya kelautan dan perikanan maupun konflik antar nelayan. regulasi ini menimbulkan dampak negatif. 2005). yakni open access dan controlled access regulation.Pengetahuan merupakan proses belajar dengan menggunakan panca indra yang dilakukan untuk dapat menghasilkan pengetahuan dan keterampilan (Hidayat. Regulasi ini mirip ”hukum rimba” dan ”pasar bebas”. ================================================================== DOKUMEN ANALISIS KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA KELAUTAN DAN PERIKANAN PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Banda Aceh. Pola fishing right system ini menempatkan pemegang fishing right yang berhak melakukan kegiatan perikanan di suatu wilayah. Green Coast for nature and people after the tsunami Secara teoritis. jumlah jenis kapal.

Melakukan penatabatasan dan pengukuhan kawasan hutan lindung 3. Melakukan perlindungan atas kawasan hutan lindung. dan pemanfaatan jasa lingkungan. pengendalian kebakaran. Selanjutnya dikatakan bahwa pengelolaan hutan lindung adalah bagian integral dari pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara keseluruhan.5 meter. dimana hutan lindung memegang peranan yang amat penting dari segi hidroorologi Daerah Aliran Sungai. Pengamatan dilakukan pada setiap tingkat pertumbuhan suatu vegetasi yang dikelompokkan ke dalam : 1) Tingkat semai (seedling). 2) Tingkat sapihan (sapling) yaitu tingkat pertumbuhan permudaan yang mencapai tinggi antara 1. Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sesuai Undang-Undang Nomor 62 Tahun 1998 Tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan. reboisasi dalam rangka rehabilitasi lahan kritis pada kawasan hutan lindung. sebagai amanah untuk mewujudkan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan bagi generasi sekarang dan generasi yang akan datang. mempertahankan luas dan fungsi.5 meter dengan diameter batang kurang dari . 32 Tahun 2004 sebenarnya entry point penerapan territorial use right. Menentukan letak dan luas hutan lindung 2.dan kabupaten/kota (4 mil) mengindikasikan bahwa produk hukum itu menganut konsep pengkavlingan laut. pemanfaatan jasa lingkungan. Merehabilitasi hutan lindung yang mengalami degradasi dan deforestasi 4. Konsep pengkavlingan laut merupakan instrumen dari konsep regulasi akses terkontrol (contolled access regulation) dalam pola pembatasan input (territorial use right). dan memelihara kesuburan tanah. pemeliharaan batas. UU No. dan pemungutan hasil hutan bukan kayu. yaitu sejak perkecambahan sampai tinggi 1. Usaha pemanfaatan dan pemungutan di hutan lindung dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan fungsi lindung. Pengelolaan hutan lindung diserahkan kepada Kepala Daerah Tingkat II yang mencakup kegiatan pemancangan batas. mengendalikan erosi. Soerianegara (1996) menyebutkan ruang lingkup pengelolaan hutan lindung adalah: 1. =================================================== ===================== Undang-Undang No 41 tahun 1999 Pasal 1 ayat 8 mendefinisikan Hutan lindung sebagai kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air. Hutan lindung dapat dimanfaatkan berupa pemanfaatan kawasan. mencegah intrusi air laut. mencegah banjir.

Data primer yang diambil berupa keberhasilan penanaman bibit GN-RHL di lapangan setelah waktu 3 bulan.Pohon (trees) dengan ukuran petak 20 x 20 m Dalam setiap petak ukur dilakukan pengamatan terhadap tingkat pohon.19 cm (dbh). bagian tumbuhan diambil untuk diidentifikasi lebih lanjut. Selain itu juga dilakukan pendataan terhadap herba sebagai tumbuhan bawah. C dan BO. Parameter yang diamati meliputi jenis. 4) Pohon yaitu tingkat pohon-pohon yang berdiameter batang diatas 20 cm dbh.Sapihan (saplings) dengan ukuran petak 5 x 5 m . juga pencatatan data-data primer dan sekunder mengenai program dan realisasinya.Tiang (poles) atau pohon kecil dengan ukuran petak 10 x 10 m . Untuk jenis jenis vegetasi yang belum dapat dikenali. ============================================ ====================== Dari delapan variabel yang rencananya dianalisis hanya enam yang dapat dianalisis secara statistik (status . 3) Tingkat tiang (poles) atau pohon kecil yaitu tingkat pertumbuhan pohon muda yang berukuran dengan diameter batang antara 10 . Untuk pengambilan data wawancara dilakukan dengan instansi terkait yang bertanggungjawab dalam pengelolaan kawasan hutan lindung. tiang (pohon kecil). sapihan dan semai. Kawasan Hutan Lindung Pulau Marsegu dibagi dalam 14 Blok penelitian Semai (seedlings) dengan ukuran petak 2 x 2 m . Sampel tanah yang dianalisis adalah 1 (satu) sampel komposit untuk masing-masing releve. Pengukuran data faktor lingkungan pada setiap releve pada blok pengamatan meliputi DHL (Daya Hantar Listrik). dicampur dengan sampel dari jalur lain. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. P tersedia. K tersedia. pH tanah dan kandungan unsur hara tanah yang meliputi N total. jumlah individu yang ada dan diameter untuk tingkat tiang dan pohon.10 cm. Sampel tanah diambil rata dari permukaan atas sampai kedalaman 30 cm. dari hasil pencampuran tersebut diambil 1 kg untuk dianalisis.

05). pengalaman kerja dibidang bangunan. Persepsi merupakan dimensi kognitif dari sikap dan memegang peranan penting dalam menentukan totalitas pembentukan sikap. Dalam hal ini persepsi dan pengetahuan sebagai variabel terikat (dependent variable). sedangkan dua yang lainnya (umur dan pekerjaan) tidak dapat dianalisis karena distribusinya tidak memenuhi syarat untuk dianalisis (banyak sel yang kosong). serta kemampuan interpretasi pencacah belum teruji validitas dan reliabilitasnya. dan kemampuan membaca lontar tidak berpengaruh terhadapnya.05). dan intensitas membaca lontar). sikap. pendidikan. kemampuan membaca huruf Bali.05). Sedangkan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan teknik analisis multi varian (ANOVA). pengalaman kerja.01/0. Oleh karena itu perlu diupayakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui faktor-faktor determinan terhadap pengetahuan dan persepsi ini dengan mencoba mengeksplorasi variabel lainnya dan menguji instrumennya terlebih dahulu. yaitu variabel status. status. Kemungkinan lain bahwa instrumen yang dipakai. pengalaman kerja di bidang bangunan. Yang menjadi tujuan pembentukan sikap adalah tercapainya konsistensi antara persepsi. Hal ini desebabkan karena aspek kognitif ini merupakan sumber informasi utama yang dievaluasi secara positif dan negatif oleh komponen efektif. jenis kelamin. tetapi proses ini masih bersifat terselubung. Bangunan berlanggam Bali. 4. dan status responden. pengalaman kerja di bidang bangunan.1%. kemampuan membaca huruf Bali. kemampuan membaca hurup Bali. kemudian berturut-turut adalah kemampuan membaca huruf Bali. pendidikan. artinya bahwa 34. Sedangkan analisis statistik terhadap persepsi menunjukkan bahwa tidak satu pun variabel menunjukkan hubungan yang bermakna (P>0. Kata kunci: Persepsi masyarakat.1% tingkat pengetahuan dipengaruhi oleh keempat variabel tersebut. dan variabel bebasnya adalah status responden. jenis kelamin. Kontribusi keempat variabel tersebut terhadap pengetahuan adalah 34. Dari enam variabel tersebut hanya 4 yang berkaitan secara bermakna dengan tingkat pengetahuan (P<0. jenis kelamin. umur. jenis kelamin.responden. jenis kelamin. Ini mungkin menunjukkan bahwa persepsi virual telah menjadi bagian hidup masyarakat sehingga pendidikan formal. Dari keempat variabel tersebut ternyata pengalaman kerja di bidang bangunan mempunyai kontribusi paling besar. umur. . pekerjaan. Analisis Data Untuk mengetahui pengetahuan dan persepsi masyarakat digunakan pendekatan kualitatif (dianalisis secara deskriptif) menggunakan tabeltabel distribusi frekwensi dan grafik sesuai dengan kebutuhan. Dua variabel lainnya tidak berhubungan secara bermakna (P>0. dan kemampuan membaca huruf Bali. dan intensitas membaca lontar.

membahasnya dengan orang lain dan bahkan Universitas Sumatera Utara . sikap juga mempunyai tingkat-tingkat berdasarkan intensitasnya.dan perilaku. keyakinan dan emosi memegang peranan penting dalam pembentukan sikap. Menghargai (valuing) Menghargai diartikan subjek atau seseorang memberikan nilai positif terhadap objek atau stimulus. 3. pikiran. Menerima (receiving) Menerima diartikan bahwa seseorang atau subjek mau menerima stimulus yang diberikan (objek). Pengetahuan. dalam arti. sebagai berikut :8 1. 2. Seperti telah diungkapkan di depan bahwa persepsi yang positif akan cenderung membentuk sikap yang positif dan demikian pula terhadap kecenderungan perilaku. Menanggapi (responding) Menanggapi diartikan memberikan jawaban atau tanggapan terhadap pertanyaan atau objek yang dihadapi.

Rhizopora mucronata dan R. salah seorang ahli psikologi sosial menyatakan bahwa sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. sementara vegetasi secara keseluruhan dapat memerangkap sedimen (Davies and Claridge. Keberadaan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. 1966. Kemampuan mangrove untuk mengembangkan wilayahnya ke arah laut merupakan salah satu peran penting mangrove dalam pembentukan lahan baru. 1984). pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya yang kesemuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan (Soewito. Akar mangrove mampu mengikat dan menstabilkan substrat lumpur. 4. sementara beberapa jenis yang lainnya mampu mengeluarkan garam dari kelenjar khusus pada daunnya. Sintesis (synthesis) 6. . Beberapa diantaranya secara selektif mampu menghindari penyerapan garam dari media tumbuhnya. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung ataupun tidak langsung 6 tingkat pengetahuan 1. pohonnya mengurangi energi gelombang dan memperlambat arus. Bertanggung jawab (responsible) Sikap yang paling tinggi tingkatannya adalah bertanggung jawab terhadap apa yang telah diyakininya. Aplikasi (application) 4. menurunnya produksi perikanan di Bagansiapiapi.INN SURYADIPUTRA. 1994).mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain dan bahkan mengajak atau mempengaruhi atau menganjurkan orang lain merespon. Memahami (comprehension) 3. Di Indonesia hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial seperti di perairan sebelah timur Sumatera. 1993 dan Othman. dia harus berani mengambil risiko bila ada orang lain yang mencemoohkan atau adanya risiko lain. GREEN COAST FOR NATURE AND PEO[PLE AFTER THE TSUNAMI Kondisi salinitas sangat mempengaruhi komposisi mangrove. Evaluasi (evaluation) Newcomb. Analisis (analysis) 5. BOGOR 2006. 1976a). Pada salinitas ekstrim. akan tetapi merupakan predisposisi perilaku atau tindakan (reaksi tertutup). Berbagai jenis mangrove mengatasi kadar salinitas dengan cara yang berbeda-beda. Dalam kata lain. Avicennia merupakan marga yang memiliki kemampuan toleransi terhadap kisaran salinitas yang luas dibandingkan dengan marga lainnya.8 =============================================================================================== DARI : PANDUAN PENGENALAN MANGROVE DI INDONESIA YUS RUSILA NOOR. Tahu (know) 2. M KHAZALI. Seseorang yang telah mengambil sikap tertentu berdasarkan keyakinannya. fungsi sikap belum merupakan tindakan (reaksi terbuka) atau aktivitas. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Kasry. marina mampu tumbuh dengan baik pada salinitas yang mendekati tawar sampai dengan 90 o/oo (MacNae. Chapman. A. Stylosa pada salinitas 55 o/oo(. 1984). pantai selatan dan timur Kalimantan.1968). Sebaliknya. dimana sebelum perang dunia II merupakan penghasil ikan utama di Indonesia bahkan sebagai salah satu penghasil ikan utama di dunia. pohon tumbuh kerdil dan kemampuan menghasilkan buah hilang.

1988). 2005). Sumatera Utara dan Lampung (Giesen. termasuk penebangan mangrove untuk keperluan pembangunan tambak. seringkali lahan tersebut berubah menjadi milik pribadi. akan tetapi apabila telah dikonversi menjadi tambak. Berbagai upaya kemudian dilakukan untuk mengembalikan mangrove sebagai hutan produksi dari penduduk setempat.000 hektar pada tahun 1990 (Ditjen Peri kanan. Pada pulau-pulau di daerah delta yang berlumpur halus ditumbuhi mangrove. Berarti terjadi penambahan areal tambak lebih dari 350% dalam kurun waktu 20 tahun. Misalnya. 1974). seperti pengasaman tanah (Hassan & Ti. 1991). 390. baik karena pertambahan alami maupun perpindahan dari luar. Populasi penduduk yang semakin bertambah menyebabkan meningkatnya konversi lahanmangrove untuk pembangunan tambak serta meningkatkan permintaan terhadap kayu bakar. Masalah yang dihadapi kebanyakan disebabkan oleh kurang tersedianya peta-peta yang akurat dan statusnya yang tidak jelas Dari uraian diatas nampak jelas bahwa secara umum mangrove belum terwakili dalam sistem areal lindung di Indonesia.700 hektar (Bailey. Sejumlah 38 jenis tumbuhan mangrove sejati maupun . Sebaliknya. Pada tahun 1982. Dalam beberapa tahun kemudian hutan-hutan tersebut telah berubah menjadi tambak. 1980). dkk. 1997) dan menjadi 750. Produksi serasah mangrove berperan penting dalam kesuburan perairan pesisir dan hutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum. Hal ini menyebabkan hampir 90 % hutan mangrove hilang. peranan mangrove sangat besar untuk mempertahankan pulau tersebut. Ada beberapa permasalahan yang dihadapi para pembuka lahan. Kegiatan masyarakat yang menyebabkan hilangnya mangrove ini terutama adalah pemanfaatan areal mangrove untuk pembangunan tambak. kenyataannya masih muncul berbagai konflik menyangkut kepemilikan atau hak pengusahaan lahan. tidak bercampurnya tanah (Giesen. Akibat perubahan ini. 1987). terutama di Sumatera. Ironisnya. Sejarah pembangunan tambak diawali di Jawa dan Sulawesi selatan. tapi sayangnya sebagian besar usaha-usaha penghutanan kembali ini tidak berhasil. pulau tersebut mudah disapu ombak dan arus musiman (Chambers.b. Di Indonesia. 1991) serta berkurangnya anakan untuk keperluan perkembangan ikan (Wardoyo & Rasyid. kemudian berkembang ke Aceh. terutama dari ombak dan arus laut.Satu hal yang penting adalah vegetasi mangrove mempunyai peranan yang besar dalam mempertahankan lahan yang telah dikolonisasinya. perkiraan luas tambak di Indonesia seluas 193. Meskipun telah terdapat pembagian status lahan. hal tersebut telah berubah dalam dekade terakhir ini seiring dengan adanya pertambahan populasi penduduk. 1985). meskipun suatu areal mangrove telah dikelola oleh hukum adat atau merupakan tanah negara (tanah timbul). Akan tetapi.c). Memasuki abad ke-20. produksi serasah mangrove berkisar antara 7 – 8 ton/ha/ tahun (Nontji. pada pulau yang hilang mangrovenya. 1986). Rusaknya mangrove di Indonesia Barat dan Sulawesi akan mengakibatkan hilangnya jenis-jenis tumbuhan mangrove. konflik lain seringkali muncul apabila pemerintah kemudian ingin mengambil kembali lahan tersebut untuk kepentingan yang lain. kemudian bertambah menjadi 269. pola ini beralih ke sistem produksi yang intensif. Kalimantan dan Sulawesi. Jawa. Pembangunan tambak di areal mangrove sebenarnya bukan tanpa masalah.000 hektar pada tahun 2002/2003 (Baplan.182 ha pada tahun 1997 (Ditjen Perikanan. dkk. hutanhutan tersebut merupakan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani untuk hutan produksi. Kegiatan pembangunan utama yang memberikan sumbangan terbesar terhadap menurunnya luas areal mangrove di Indonesia adalah pengambilan kayu untuk keperluan komersial serta peralihan peruntukan untuk tambak dan areal pertanian (khususnya padi dan kelapa). misalnya untuk jalur hijau. 1991 a.

Perbungaan terjadi sepanjang tahun. serta di sepanjang garis pantai. Penyebaran : Ditemukan di seluruh Indonesia. Kumpulan pohon membentuk sistem perakaran horizontal dan akar nafas yang rumit. kuning cerah. Daun : Permukaan halus. AVICENNIACEAE Nama setempat : Api-api. Ukuran: 16 x 5 cm. PNG dan Australia tropis. kadangkadang ditemukan serbuk tipis. Ukuran: 4 x 2 cm. Buah dapat dimakan. 3-4 mm. Formasi: bulir (ada 10-30 bunga per tandan). koak. Benang sari: 4. Kelopak Bunga: 5. Akarnya dilaporkan dapat membantu pengikatan sedimen dan mempercepat proses pembentukan daratan. Genus ini kadang-kadang bersifat vivipar. Dari India sampai Indo Cina. sia-sia Deskripsi umum : Belukar atau pohon yang tumbuh menyebar dengan ketinggian mencapai 25 m. melalui Malaysia dan Indonesia hingga ke Filipina. Letak: di ujung/pada tangkai bunga. Mereka umumnya menyukai bagian muka teluk. dimana sebagian buah berbiak ketika masih menempel di pohon. berbentuk jari (atau seperti asparagus) yang ditutupi oleh lentisel. Kelimpahan : Melimpah. Bentuk: lanset (seperti daun akasia) kadang elips. . Ujung: meruncing. Akar nafas biasanya tipis. Daun Mahkota: 4. Bunga : Seperti trisula dengan gerombolan bunga (kuning) hampir di sepanjang ruas tandan. bawahnya pucat. sementara yang lain kadangkadang memiliki permukaan yang halus. beberapa ditumbuhi tonjolan kecil. Kulit kayu luar berwarna keabu-abuan atau gelap kecoklatan. bagian atas hijau mengkilat. Manfaat : Kayu bakar dan bahan bangunan bermutu rendah. Pada bagian batang yang tua. Hijau muda kekuningan. boak.Avicennia alba Bl. Ekologi : Merupakan jenis pionir pada habitat rawa mangrove di lokasi pantai yang terlindung. Buah : Seperti kerucut/cabe/mente. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. juga di bagian yang lebih asin di sepanjang pinggiran sungai yang dipengaruhi pasang surut. Getah dapat digunakan untuk mencegah kehamilan. mangi-mangi putih.

Kelopak bunga: 4. bakau leutik. berwarna hijau jingga. Daun : Berkulit. Hipokotil silindris. Bunga : Biseksual. warna hijau tua dengan hijau muda pada bagian tengah dan kemerahan di bagian bawah. Gagang daun panjangnya 17-35 mm dan warnanya kemerahan. akik. Leher kotilodon berwarna merah jika sudah matang. Ukuran: . mangi-mangi. wako. abat. RHIZOPHORACEAE Nama setempat : Bakau minyak. bakau akik. bangka minyak. Buah : Buah kasar berbentuk bulat memanjang hingga seperti buah pir. Unit & Letak: sederhana & berlawanan. berisi satu biji fertil. bakau puteh. Ukuran: 7-19 x 3. Benang sari: 11-12. Daun mahkota: 4. Bentuk: elips menyempit. kuning-putih. Memiliki perakaran yang khas hingga mencapai ketinggian 5 meter. panjangnya 9-11 mm. bakau tandok. dan kadang-kadang memiliki akar udara yang keluar dari cabang. Kulit kayu berwarna abu-abu tua dan berubah-ubah. kepala bunga kekuningan yang terletak pada gagang berukuran <14 mm. jankar. kuning kecoklatan. donggo akit. panjang 2-3. tidak ada rambut.5 cm. Letak: Di ketiak daun. melengkung. slengkreng. bakau kacang. Ujung: meruncing. warna coklat. tinjang. tak bertangkai. Formasi: kelompok (2 bunga per kelompok).5-8 cm.Rhizophora apiculata Bl. Deskripsi umum : Pohon dengan ketinggian mencapai 30 m dengan diameter batang mencapai 50 cm. berbintil. parai.

Ekologi : Tumbuh pada tanah berlumpur. dalam dan tergenang pada saat pasang normal. Tumbuh lambat. halus. Kelimpahan : Melimpah di Indonesia. . Manfaat : Kayu dimanfaatkan untuk bahan bangunan. seluruh Malaysia dan Indonesia hingga Australia Tropis dan Kepulauan Pasifik. Kulit kayu berisi hingga 30% tanin (per sen berat kering). Tingkat dominasi dapat mencapai 90% dari vegetasi yang tumbuh di suatu lokasi. kayu bakar dan arang. Tidak menyukai substrat yang lebih keras yang bercampur dengan pasir.Hipokotil panjang 18-38 cm dan diameter 1-2 cm. Cabang akar dapat digunakan sebagai jangkar dengan diberati batu. Di Jawa acapkali ditanam di pinggiran tambak untuk melindungi pematang. Sering digunakan sebagai tanaman penghijauan. tersebar jarang di Australia. tetapi perbungaan terdapat sepanjang tahun. Penyebaran : Sri Lanka. Kepiting dapat juga menghambat pertumbuhan mereka karena mengganggu kulit akar anakan. Menyukai perairan pasang surut yang memiliki pengaruh masukan air tawar yang kuat secara permanen. Percabangan akarnya dapat tumbuh secara abnormal karena gangguan kumbang yang menyerang ujung akar.

.. 2003)................................... media massa maupun lingkungan (Notoatmodjo... dan pikiran-pikiran.. sehingga dapat dikatakan bahwa pengetahuan merupakan fakta yang mendukung tindakan seseorang (Notoatmodjo.. serta mengalami daur penggenangan oleh pasang-surut air laut... Dari Anonymous................... .. terutama di sekeliling khatulistiwa di wilayah tropika dan sedikit di subtropika........ USU...........ac..usu... Unduh 28 Feb 2011.... pendengaran.. penciuman....... dan jenis-jenis ini kebanyakan bersifat khas hutan bakau karena telah melewati proses adaptasi dan evolusi.... akidah.. tradisi... yaitu: indra penglihatan............... dan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya.......... persentuhan. informasi........ Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku ..... salinitas tanahnya yang tinggi...... Ekosistem hutan bakau bersifat khas................................... Hanya sedikit jenis tumbuhan yang bertahan hidup di tempat semacam ini.............................. 2003).. Dari Wikipedia Unduh 28 Feb 2011 Hutan bakau Hutan bakau atau disebut juga hutan mangrove adalah hutan yang tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut....... Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.... baik karena adanya pelumpuran yang mengakibatkan kurangnya aerasi tanah.......... ............Maksud dari pengetahuan (knowledge) adalah sesuatu yang hadir dan terwujud dalam jiwa dan pikiran seseorang dikarenakan adanya reaksi.. http://repository.....id/bitstream/123456789/19202/4/Chapter%20II... pengalaman orang lain........................ Pengetahuan ini meliputi emosi.. rasa dan raba.. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui pendidikan............ keterampilan....... Penginderaan terjadi melalui panca indra manusia..... Luas dan Penyebaran Hutan-hutan bakau menyebar luas di bagian yang cukup panas di dunia..... Pengetahuan diperlukan sebagai dukungan dalam menumbuhkan rasa percaya diri maupun sikap dan perilaku setiap hari.. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik.. maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.... Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak........... ..pdf Pengetahuan adalah merupakan hasil dari “Tahu” dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.. .....

substrat di pesisir bisa sangat berbeda. Yang agak serupa adalah bagian-bagian hutan yang berhadapan langsung dengan aliran air sungai. .3 juta ha). Perbedaannya. di tepi Dangkalan Sahul. bahkan ada pula hutan bakau yang tumbuh di atas tanah bergambut. di pantai-pantai yang berdekatan dengan terumbu karang. sekitar sepertiga dari luas hutan bakau Indonesia.3 juta ha. Yang paling umum adalah hutan bakau tumbuh di atas lumpur tanah liat bercampur dengan bahan organik. terutama di bagian-bagian yang agak jauh dari muara. Penggenangan oleh air pasang Bagian luar juga mengalami genangan air pasang yang paling lama dibandingkan bagian yang lainnya. Di bagian timur Indonesia. hutan-hutan mangrove yang masih baik terdapat di pantai barat daya Papua. bahkan kadang-kadang terus menerus terendam. Lingkungan fisik dan zonasi enis-jenis tumbuhan hutan bakau ini bereaksi berbeda terhadap variasi-variasi lingkungan fisik di atas. Di pantai utara Jawa. Nigeria (1. Akan tetapi di beberapa tempat. Beberapa faktor lingkungan fisik tersebut adalah: Jenis tanah Sebagai wilayah pengendapan. 1997 dalam Noor dkk. hutan-hutan ini telah lama terkikis oleh kebutuhan penduduknya terhadap lahan. terutama di sekitar Teluk Bintuni. bagianbagian di pedalaman hutan mungkin hanya terendam air laut manakala terjadi pasang tertinggi sekali dua kali dalam sebulan. yakni yang terletak di tepi sungai. Hutan bakau juga merupakan salah satu perisai alam yang menahan laju ombak besar. Pada pihak lain. Yakni di pantai timur Sumatra.5 hingga 4. atau bahkan dominan pecahan karang. salinitas di bagian ini tidak begitu tinggi.Luas hutan bakau Indonesia antara 2. merupakan mangrove yang terluas di dunia. Mangrove di Papua mencapai luas 1.97 ha) (Spalding dkk. bahan organik ini sedemikian banyak proporsinya. 1999). dan pantai barat serta selatan Kalimantan. hutan-hutan mangrove yang luas terdapat di seputar Dangkalan Sunda yang relatif tenang dan merupakan tempat bermuara sungai-sungai besar. Terpaan ombak Bagian luar atau bagian depan hutan bakau yang berhadapan dengan laut terbuka sering harus mengalami terpaan ombak yang keras dan aliran air yang kuat. Substrat yang lain adalah lumpur dengan kandungan pasir yang tinggi. Melebihi Brazil (1. Di Indonesia.1 juta ha) dan Australia (0. Tidak seperti bagian dalamnya yang lebih tenang.5 juta hektar. sehingga memunculkan zona-zona vegetasi tertentu.

dungun (Heritiera littoralis) dan kayu buta-buta (Excoecaria agallocha). hingga ke pedalaman yang relatif kering.). secara alami terbentuk zonasi vegetasi mangrove.).). biasa ditemui campuran bakau R. Perhatikan akar napas yang muncul ke atas lumpur pantai. stylosa dan perepat (Sonneratia alba) tumbuh di atas pasir berlumpur. Jenisjenis api-api (Avicennia spp.) biasanya tumbuh di bagian terluar yang kerap digempur ombak. Tegakan api-api Avicennia di tepi laut. yang biasanya berlapis-lapis mulai dari bagian terluar yang terpapar gelombang laut. Bakau Rhizophora apiculata dan R. mucronata dengan jenis-jenis kendeka (Bruguiera spp. yang biasanya tumbuh di zona terluar. Pohon-pohon bakau (Rhizophora spp. yang masih tergenang pasang tinggi. teruntum (Lumnitzera racemosa).). pidada (Sonneratia caseolaris) dan bintaro (Cerbera spp. biasa ditemui nipah (Nypa fruticans).Menghadapi variasi-variasi kondisi lingkungan seperti ini. yang lebih tawar airnya. kaboa (Aegiceras corniculata) dan lain-lain. Seperti aneka bentuk akar dan kelenjar garam di daun.) menumbuhkan akar napas (pneumatophore) yang muncul dari pekatnya lumpur untuk mengambil oksigen dari . Di bagian lebih ke dalam. [sunting] Bentuk-bentuk adaptasi Menghadapi lingkungan yang ekstrim di hutan bakau. Jenis-jenis bakau (Rhizophora spp. Pada bagian yang lebih kering di pedalaman hutan didapatkan nirih (Xylocarpus spp.) dan pidada (Sonneratia spp. Namun ada pula bentuk-bentuk adaptasi fisiologis. Secara fisik. Pada bagian laut yang lebih tenang hidup api-api hitam (Avicennia alba) di zona terluar atau zona pionir ini. mengembangkan akar tunjang (stilt root) untuk bertahan dari ganasnya gelombang. Sedangkan di dekat tepi sungai. mucronata tumbuh di atas tanah lumpur. kebanyakan vegetasi mangrove menumbuhkan organ khas untuk bertahan hidup. tetumbuhan beradaptasi dengan berbagai cara. Sedangkan bakau R.

Selain kondisi kimiawinya yang ekstrem.udara. Air yang terserap telah hampir-hampir tawar. buah-buah ini dapat langsung menancap di lumpur di tempat jatuhnya. seperti Rhizophora mangle. Keistimewaan-keistimewaan ini tak pelak lagi meningkatkan keberhasilan hidup dari anak-anak semai pohon-pohon itu. mengingat sukarnya memperoleh air tawar. atau terbawa air pasang. tengar (Ceriops) atau kendeka (Bruguiera). Kemungkinan lain. Lingkungan yang keras di hutan bakau hampir tidak memungkinkan jenis biji-bijian berkecambah dengan normal di atas lumpurnya. Padahal lingkungan lautan tropika yang panas mendorong tingginya penguapan. Garam yang sempat terkandung di tubuh tumbuhan. jeruju (Acanthus) dan beberapa lainnya telah pula berkecambah di pohon. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah yang dapat mengapung. Buah nipah (Nypa fruticans) telah muncul pucuknya sementara masih melekat di tandannya. sambil pula mendapatkan udara bagi pernapasannya. Contoh yang paling dikenal barangkali adalah perkecambahan buah-buah bakau (Rhizophora). Anak semai semacam ini disebut dengan istilah propagul. api-api mengeluarkan kelebihan garam melalui kelenjar di bawah daunnya. . Pada pihak yang lain. sehingga mengurangi evaporasi dari daun. sementara pohon-pohon nirih (Xylocarpus spp. terbawa arus laut dan melancong ke tempat-tempat jauh. lubang pori pada pepagan untuk bernapas. Ditambah pula kebanyakan jenis-jenis vegetasi mangrove memiliki lentisel. keduanya untuk menunjang tegaknya pohon di atas lumpur. meski tak nampak dari sebelah luarnya. banyak dari jenis-jenis mangrove yang bersifat vivipar: yakni biji atau benihnya telah berkecambah sebelum buahnya gugur dari pohon.) berakar papan yang memanjang berkelok-kelok. sehingga dapat tersebar dengan mengikuti arus air. sekitar 90-97% dari kandungan garam di air laut tak mampu melewati saringan akar ini.) mempunyai akar lutut (knee root). Pohon kendeka (Bruguiera spp. tersangkut dan tumbuh pada bagian lain dari hutan. Sementara buah api-api. Perkembangbiakan Adaptasi lain yang penting diperlihatkan dalam hal perkembang biakan jenis. Sementara jenis yang lain. kondisi fisik berupa lumpur dan pasang-surut air laut membuat biji sukar mempertahankan daya hidupnya. Buah pohon-pohon ini telah berkecambah dan mengeluarkan akar panjang serupa tombak manakala masih bergantung pada tangkainya. kaboa (Aegiceras). vegetasi mangrove harus berupaya mempertahankan kandungan air di dalam tubuhnya. mengembangkan sistem perakaran yang hampir tak tertembus air garam. Ketika rontok dan jatuh. Selain itu. Untuk mengatasi salinitas yang tinggi. Beberapa jenis tumbuhan hutan bakau mampu mengatur bukaan mulut daun (stomata) dan arah hadap permukaan daun di siang hari terik. diakumulasikan di daun tua dan akan terbuang bersama gugurnya daun.

Ini memudahkannya untuk tersangkut dan menancap di dasar air dangkal yang berlumpur. akan diendapkan di antara perakaran vegetasi mangrove. sehingga bagian akar mulai tenggelam dan propagul mengambang vertikal di air. Jika akan tumbuh menetap. Suksesi dimulai dengan terbentuknya suatu paparan lumpur (mudflat) yang dapat berfungsi sebagai substrat hutan bakau. . Sementara zona pionir terus maju dan meluaskan hutan bakau. bahkan mungkin dapat habis karena faktor-faktor alam seperti abrasi. Tanah halus yang dihanyutkan aliran sungai. melainkan secara perlahan-lahan bergeser. meskipun pada umumnya kurang dari itu. beberapa jenis propagul dapat mengubah perbandingan bobot bagian-bagian tubuhnya. dan mulailah terbentuk vegetasi pionir hutan bakau. selama perjalanan sampai tiba di lokasi yang cocok. yang memakan waktu berpuluh hingga beratus tahun. hutan mangrove ini dapat tumbuh meluas mencapai ketebalan 4 km atau lebih. Uraian di atas adalah penyederhanaan. Hutan bakau pun semakin meluas. bahkan mungkin menyeberangi laut atau selat bersama kumpulan sampah-sampah laut lainnya. zona-zona berikutnya pun bermunculan di bagian pedalaman yang mengering. Tumbuhnya hutan bakau di suatu tempat bersifat menangkap lumpur. Di wilayah-wilayah yang sesuai.Propagul-propagul seperti ini dapat terbawa oleh arus dan ombak laut hingga berkilometer-kilometer jauhnya. Maka terbentuklah zona yang baru di bagian belakang. Pada saatnya bagian dalam hutan bakau akan mulai mengering dan menjadi tidak cocok lagi bagi pertumbuhan jenis-jenis pionir seperti Avicennia alba dan Rhizophora mucronata. Suksesi hutan bakau Tumbuh dan berkembangnya suatu hutan dikenal dengan istilah suksesi hutan (forest succession atau sere). Propagul dapat ‘tidur’ (dormant) berhari-hari bahkan berbulan. perlu diketahui bahwa zonasi hutan bakau pada uraian di atas tidaklah kekal. Ke bagian ini masuk jenis-jenis baru seperti Bruguiera spp. Dengan adanya proses suksesi ini. Demikian pula munculnya zona-zona tak selalu dapat diperkirakan. Hutan bakau merupakan suatu contoh suksesi hutan di lahan basah (disebut hydrosere). Demikian perubahan terus terjadi. Dengan demikian lumpur lambat laun akan terakumulasi semakin banyak dan semakin cepat. Karena tidak selalu hutan bakau terus bertambah luas. dari keadaan alam yang sesungguhnya jauh lebih rumit. Hingga pada suatu saat substrat baru ini diinvasi oleh propagul-propagul vegetasi mangrove. pasir yang terbawa arus laut. segala macam sampah dan hancuran vegetasi.

. serta analisis ..... Jumlah pengukuran untuk setiap tingkat vegetasi yang ditemukan adalah sebanyak 37 helai daun. Yakni jenis-jenis yang ditemukan hidup terbatas di lingkungan hutan mangrove dan jarang tumbuh di luarnya......... Kabupaten Lampung Timur.... Selain itu ekosistem mailgrove juga berperan sebagai penyangga pantai dari abrasi dan perangkap sedimen.. menjadikan hutan bakau Indonesia sebagai yang paling kaya jenis di lingkungan Samudera Hindia dan Pasifik... persentase penutupan pohon.. Total jenis keseluruhan yang telah diketahui........ Akan tetapi hanya sekitar 54 spesies dari 20 genera........ Karena abrasi dan sedimentasi merupakan salah satu masalah dala~n pengembangan dan peinanfaatan wilayah pesisir bagi perikanan dan kelautan. tipe substrat... salinitas dan pH... sekitar 39 jenisnya ditemukan tumbuh di Indonesia....... Berikut ini adalah daftar suku dan genus mangrove sejati.....ac.................... 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m2 (semai).. Dari jenis-jenis itu.... Lokasi penelitian terdiri dari 3 stasiun pengainatan........... Kabupaten Lampung Timur.. 1999)....... Analisis data meliputi: analisis kualitas lingkungan mangrove (Qe) yang diperoleh dari indikator kualitas lingkungan (Qi) yang terdiri dari: asosiasi spesies. termasuk jenis-jenis mangrove ikutan... 5 x 5 m2 (belta) dan 1 x 1 m (semai). Penelitian ini bertujuan untuk menghitung kualitas lingkungan mangrove di Way Penet.....id/handle/123456789/15464 2004 Kondisi Ekosistem Mangrove Berdasarkan Indiltator Kualitas Lingkungan dan Pengukuran Morfometrik Daun di Way Penet... beserta jumlah jenisnya (dimodifikasi dari Tom . 17.....Kekayaan flora Beraneka jenis tumbuhan dijumpai di hutan bakau.... Pengambilan data panjang dan lebar daun dilakukan sebanyak dua kali dengan waktu yang berbeda pada daun setiap tingkat vegetasi (pohon dan belta) yang dijumpai pada tiap plot pengamatadtransek kuadrat.......... setiap stasiun dibagi menjadi 3 sub stasiun dan setiap sub stasiun terdiri dari 3 plot pengamatan yang berukuran 10 x 10 m2 (pohon).. Dari : http://repository. Propinsi Lampung berdasarkan indikator kualitas lingkungan mangrove dan menentukan kondisi kesehatan mangrove berdasarkan sebaran ~norfometrikd aun pada tingkat vegetasi pohon dan belta.. persentase pasang tiap tahun dan jumlah jenis semak dengan masing-masing faktor pembobotnya secara berturut-turut sebesar 22.. 18 dan 12 (Canter dan Hill. 1981)...... Anwar Abstract: Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang unik dail produktif.... yang dianggap sebagai jenis-jenis mangrove sejati. adalah 202 spesies (Noor dkk..ipb. Lampung Timur.... Propinsi Lampung Author: Sadat. Lampung....... Data yang diambil meliputi jumlah vegetasi den 5 an menggunakan transek kuadrat ukuran 10 x 10 m2 (pohon).. Pengambilan data primer dilaksanakan pada bulan September dan November 2003 di Wilayah Konservasi Way Penet. Data parameter fisika-kimia perairan yang diukur meliputi: suhu. anggota dari sekitar 16 suku.........

mempunyai tingkat kematangan yang rendah..... Secara keseluruhan nilai parameter fisika-kimia perairan pada komunitas mangrove Way Penet masih dalam kisaran yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan mangrove jenis Avicennia marina.. Teksturtanah juga dapat didefinisikansebagaisusunan relatif dari tiga kelasukuran partikela norg anik tanah.....p a ritd an hamparan lumpur. Teksturtanah akan mempengaruhikemampuan menyimpan dan menghantarkan air.. 2003)..... 1 974 dalam Noor et..... Besarnya nilai derajat keasaman (pH) yang terukur pada pengamatan pertama adalah 8... Posted December 8th.......... 2003)... Tanah mangrove umumnyakaya akan bahan organik. Kondisi ini menunjukkan adanya proses regenerasi alam yang baik.. k arenalingkungan mangrove menyediakan perlindungan dan makanan berupa bahan-bahan organik yang masuk k e dalam rantai makanan. 1 993 dalam Noor et. baik pada pengalnatan pertama maupun kedua adalah rendah. Dirnana kondisi kesehatan mangrove untuk tingltat vegetasi pohon pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua..... Nilai kualitas lingkungan mangrove (Qe) di Way Penet memiliki kisaran kualitas lingkungan yang sedang.... al... Tanah mangrove di Indonesia umumnyaterdiri atas t anah-tanah yang berteksturhalus....... sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 23-31 %o..ac.... .m u a ra.. Rhizophora mucronata merupakan vegetasi yang dominan. Tekstur Tanah Terkstur tanah merupakan salah s usifat t anah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman. URI: http://repository.. yang disebut jugatanah l iat l aut (Sukardjo1984)...............Secara umumtanah h utan mangrove merupakantanah aluvial h idromorf... sedangkan pada pengamatan kedua memiliki kisaran antara 26-28 "C...O..... mangrove berperan penting dalamsiklus h idup berbagai jenis ikan.... moluska dan udang (Davies and Claridge..... Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesetabilan Ekosistem Mangrove adalah a..... l iat berdebu danlempung yang berupa lumpur yang tebal dan yang terdapat di bagian tepi-tepi sungai.. Jenis substrat yang ditemukan pada komunitas mangrove Way Penet berupa liat dan liat berdebu... 2009 by ogoy Unduh 28 feb 2011 jam 13.. sedangkan kondisi kesehatan mangrove di Way Penet berdasarka~l pengukuran morfometrik daun untuk tingkat vegetasi pohon dan belta.......... Teksturtanah h utan mangrove umumnyaliat.ipb.... Kedua. Pengaruh sifat tanah terhadap mangrove antara lain ditujukan oleh sebagian genus Rhizophora.. danliat (berukurankurang dari 2?m) (Soil SurveyStaff. Jenis vegetasi yang ditemukan di lokasi penelitian lebih didominasi oleh mangrove jenis Avicennia nzarina...m em iliki kadar garam dan alkalinitas tinggi dan sering mengandung lapisan sulfatmasam atau bahan sulfidik(cat clay). Kerapatan semai di lokasi penelitian lebih tinggi dibandingkan kerapatan pohon dan belta........15 ANALISIS SISTEM PENDUGAAN TINGKAT KERUSAKAN EKOSISTEM MANGROVE (STUDI KASUS DI PANTAI TIMUR SURABAYA) Pertama. kecuali tanah-tanah mangrove di pulau-pulau karang yang banyak mengandung pasir atau pecahan batu karang.morfometrik daun. al...id/handle/123456789/15464 Date: 2004 Unduh 28 Feb 2011 .... s edangkan daerah-daerah yang berlumpur dangkal didominasi oleh ..... suhu yang terukur pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 28-3 1 "C..............ya itu pasir (berukuran 2 mm²50?m)... Salinitas pada komunitas mangrove Way Penet pada pengamatan pertama berkisar antara 14-19 960.. dan kondisi kesehatan mangrove untuk tingkat vegetasi belta pada pengamatan pertama lebih baik daripada pengamatan kedua...... liat berlempung... menyimpan dan menyediakanhara tanaman...... sedangkan pada pengamatan kedua derajat keasaman (pH) masih tetap 8....... 1 998)..... mangrove merupakan pemasok bahan-bahan organik s ehingga dapat menyediakan makanan untuk organisme yanghidup pada perairansekitarnya...O... Produksiserasah mangrove berperan penting dalamkesuburan perairan pesisir danhutan mangrove dianggap yang paling produktif diantara ekosistem pesisir (Odum.... Di daerah-daerah dengantanah berlumpur dalam. Kandungan liat dan debu umunya tinggi. Parameter fisika-kimia perairan.... debu (berukuran 50?m--2?m)... Tekstur tanah adalah s ifat fisis t anah yang berkaitan dengan ukuran partikel pembentuk t anah..

Pasangsurut juga memberikankontribusi bagi perubahan masa antara airtawar dan air asin. Salinitas Salinitas merupakansuatu indikator yang menunjukkan banyaknya kadar garam yang terlarut dalam air atau kadar garam terlarut dalam air maupun dalam larutan tanah dan merupakan istilah yang menyatakankadar garam yangterkandung dan dinyatakan dalam part perthousend (ppt) (Aksornkoae. 1999). Perubahan salinitas akibat p asang surutm e rupakan suatu faktor yang membatasi pe nyebran jenis-jenis mangroveterutama penyebaransecarahorisontal. Fisiografi pantai dapat mempengaruhikomposisi.5 m tetapi dilaut yang dangkal pada umumnya mencapai lebih dari3 meter. bilatanah banyak mengandung pasir ataukarang didominasi oleh Rhizophora stylosa (Hilmi. pasangsurut dapat digunakan untuk membedakan zonasi pantai dankomunitas h ewan yang ditemukan di wilayah h utan mangrove (Pariwono. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaruhi besarankisaran pasut. 2005). c. Pada pantai yang terjal komposisi. 2005) b. 2005) Salinitas mempunyai fungsi penting untuk menghilangkantumbuhanlain yang menempel pada mangrove yangtidak mampu beradaptasi padakondisi air yang mempunyaikandungan NaCl (Hilmi. Pantai yang landai memilikikomposisi ekosistem mangrove lebih beragam jika dibandingkan de ngan pantai yang terjal. misalnya Avicennia marina dan Excoecaria agallocha dapat t um buh pada kondisi salinitas tinggi yaitu sekitar 85 ppt (Hilmi. Keberadaan dan fluktuasi pasangsurut akan mempengaruhitingkat s alinitas airlaut. yang akhirnya memberikan pengaruh t erhadap perubahan dan penyebaran organisme mangrove secara vertikal (Hilmi. Pasang yangterjadi di kawasan mangrove sangatme ne ntukan . 1 993). Pasangsurut berhubungan denganlamanya penggenangan yang berpengaruh pada jenis vegetasi mangrove. Mangrove tumbuh pada pantai-pantai yang datar dansejajar dengan arah angin (Sukardjo1984). Hal ini disebabkankarena pantailandai menyediakan ruang yanglebih l uas untuk tumbuhnya mangrove sehingga distribusi spesiesme nja d i semakin luasd an lebar. dimana jumlah Cl yang terlarut d alam air laut ini rata-rata 55%. Mangrove dapat hidup dan tumbuh subur di pesisir dengan kadar salinitas a ntara 10 ± 30 ppt. Fisiografi Pantai Kondisi fisiografis pantai di Indonesia yang berbeda-beda menyebabkan perbeda anhutan mangrove dari satu tempat k etampat l ainnya. Dilaut t erbukaketinggian air pasang tidak l ebih dari 0. 1 992).Rhizophora apiculata. Lebih l anjut Richards (1946) dalam Sukardjo (1984) menyatakan bahwakandungan garam atau salinitas s angat menentukankemampuantumbuh dan reproduksi mangrove. d. distribusi spesies dan lebar hutan mangrove. namun ada jenis mangrove yang dapat tumbuhp ad a kondisi kadar garam yanglebih t inggi. Di areal pesisir pantai. Pasang Surut Pasang surut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. Air pasangterjadi duakali dalamsatuhari. h al ini disebabkankarena adanya pengaruh dayatarik bulanlebih k ecil dari matahari (Istomo. Tenaga pembangkit pasangsurut adalah adanya gayatarik bulan dan matahari yang akan mempengaru Pasangsurut (pasut) merupakan proses naik t urunnya permukaanlaut yanghampirteratur. 2005).distribusi dan lebar hutan mangrove lebih kecil karena kontur yang terjal menyulitkan pohon mangrove untuk tumbuh. Jenis garam yang paling banyak l arut adalah NaCl. Hampirsemua jenis mangrove merupakan jenis yang toleran terhadap garam.

dan aliran permukaan dan aliran bawah t anah. s eperi diSulawesiSelatan dan Tenggara. c urah h ujan dan angin mempunyai pengaruh yangsangat k uat terhadap kehidupan ekosistem mangrove. Pada mangrove jenisRhizophora stylosa.ipb. e. Angin berpengaruh t erhadap mangrove untuk proses penyerbukan danseed dissemination.000 ±3.zonasitumbuhan dan komunitas hewan yang berasosiasi denganekosistemmangrove . Pengaruh t idak l angsung dari gelombang dan arus adalah t erhadapsedimentasi pantai dan Pem bentukan padatan-padatan pasir di muarasungai.fisiologi dan struktur fisikd a ri tanaman mangrove. Curah h ujan me rupakan faktor penting bagi perkembangan dan penyebaran daritanaman danhewan. 1 993). Gelombang dan Arus Gelombang dan arus dapat merubah struktur dan fungsi ekosistem mangrove. Terjadinyasedimentasi dan padatanpadatan pasir ini merupakansubstrat yang baik untuk menunjang pertumbuhan mangrove. 1 993). 1984). Gelombang dan arus mempengaruhi dayatahan organisme akuatik melaluitransportasi nu trien-nutrien penting dari mangrovekelaut. t etapi iklim yang bersifat mikrosepertikondisicahaya. Intensitas c ahaya optimal yang penting bagi pertumbuhantanaman mangrove adalah 1 . Menurut Kennish (1990) mangrovetumbuh s ubur padakonsisi daerah t ropik yang bersuhu di atas 200C.Excoecaria agallocha dan Lumnitzera sp. Mangroveterdapat pula dikawasan beriklimkering. s uhu. s erta Xylocarpus granatum pada suhu 280C (Aksornkoae.Ce riops sp. transformasi. Keberadaan iklim akan berperan terhadap perkembangan tanaman. Oleh karena itu tidakm em un gkinkan pembentukan hutan mangrove yang sangat luas (Sukardjo.id). Curah h ujan juga mempengaruhi faktorlingkunganlainnyasepertisuhu air.id). 1993). Kondisitersebut bukan disebabkan oleh iklim.Kalimantan dan Irian Jawa. s alinitas. f.800kkal/m2/hari.ac. bermusim dankering. 1993). untuk Avicennia marina akan memproduksi daun-daunsegar padasuhu18 ± 200C dan jika suhu dinaikkan lagi maka produktifitas daun-daun baru akan rendah. Mangrove umumnya merupakan tumbuhan berhari panjang yang memerlukan intensitas c ahaya yangtinggi. mempunyai kisaran suhu yang lebih tinggi dalam prosesp rod uktifitasd a un-da un segar. begitupun Xylocarpus s p. Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur walaupun dalam areal yanglebih k ecil.. Cahaya merupakansalah s atukomponen yang vital bagi proses fotosintesis dan pertumbuhan tanaman hijau.Secara umumcurah h ujan yang normal bagikehidupan jenis mangrove sekitar 1500 ± 3000 mm/tahun (Aksornkoae. .ipb. pertumbuhannya baik padasuhu 21 ± 260C. Bruguiera sp. Iklim Mangrove merupakantumbuhan yang dalamhidupnyatidak t erpengaruh t erhadap iklim artinya bahwa mangroveterdapat di areal beriklim basah.ac. pada suhu 270C. yang terbawa gelombang dan arus sampai menemukansubstrat yangsesuai untuk menancap dan akhirnyatumbuh (http//wap. Gelombang dan arus juga berpengaruh l angsungterhadap distribusi spesies misalnya buahatau semai Rhizo phora sp. Cahaya juga berpengaruh terhadap prosesrespirasi. Pa dalokasi-lokasi yang memiliki gelombang dan arus yang besar biasanyahutan mang rove mengalami abrasi sehingga terjadi pengurangan luasan hutan. Nutrien-nutrien yang berasal darihasil dekom posisiserasah maupun yang berasal dari runoff daratan danterjebak dihutan mangrovekemudian akanterbawa oleh arus dan gelombang ke laut pada saat surut (http//wap. 1993). Angin ribut akan mengakibatkan impending pertumbuhantanaman dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal (Aksornkoae. Di Indonesiasebagian besar mangroveterdapat dikawasan dengancurah h ujantahunan dan bulanan yangtinggi. Hal ini menyebabkan zona pantaitropis merupakansuatuhabitat yang ideal bagi ekosistem mangrove (Aksornkoae. Suhu juga merupakan faktor penting bagi proses fisiologiseperti proses fotosintesis dan respirasi. Angin juga apat meningkatkan evapotranspirasi bagitanaman. hewan dan faktor fisik lain seperti tanah dan air (Aksornkoae. Hal initidak berarti bahwa mangrovetidak dapat berkembang dikawasan beriklimkering. melainkan oleh k enyataan bahwakondisi pantai dantidak adanyasungai besar seperti diSumatera.ya itu antara 26 ± 280C. Dengankeadaan iklim demikian ini mangrovetumbuh s ubur dan berkembang dengan baik.

.g..... dan Avicenniasp...6 dan 6.. Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah-ubah s elama 24 jam....pe mb ukaan lahan... Kecenderungan penurunantersebut mengindikasikan bahwaterjadi degradasihutan mangrove yangcukup nyata....Sebaran mangrove di Indonesia terutama di wilayahpesisir Sumatera....8 mg/L. Kegiatanterakhir ini memberikankontribusi besar dalam pengrusakan eksositem ini (Dahuri... Kekhasan ekosistem mangrove Indonesia adalahme m iliki keragaman jenisya ng tertinggi di dunia.g elombang.. Mangrove menggunakan oksigenterlarut s ebagai faktor pengontrol bagikomposisi jenis dan distribusinyaserta pertumbuhannya. Karena fungsi dan manfaatnya yang begitu besarsehingga mendorong masyarakat untuk memanfaatkanhutan mang rovesecara membabi buta yang pada akhirnya akan menyebabkan kerusakan hutan mangrove tersebut (Nuhman. 2002)...9 sampai dengan 2.hidup padatanah dengan nilai pH berturut-turut adalah 6..... Oksigen Terlaru Oksigenterlarut adalah s esuatuhal yangsangat penting bagi keberlangsungan hidup tanaman dan hewan di hutan mangrove khususnya dalam prosesrespirasi dan fotosistesis..4 mg/L)lebih t inggi dibandingkan dengan di dalam mangrove (1... Adanyakarbonat. 2002). al. Nilai pH baku mutu untuk perairanlaut berkisar antara6-9. ... 2004).... Tingkat oksigenterlarut di dalam dan diluar mangrove sekitar 4.......... A ktivitasma n usia yang berupa kegiatan penebangan liar... O ksigen terlarutjug a merupakansuatu bagian essensial yang mempe ngaruhitejadinya proses dekomposisi... (1978) dalam Hilmi (2005) melakukan pene litiantentanghal t ersebut dan menujukan bahwa oksigenterlarut diluarhutan mang rove (4..... dantersisaseluas 2.. Menurut World Mangrove Atlas dalam Irwanto (2006).. estimasi yang paling dapat diandalkan berasal daritahun1993... Bersumber darikeinginan manusia untuk mengkonversihutan mangrove menjadilahan perumahan...24 jutahektar padatahun1987.. sedimentasi.. Kalimantan dan Papua... Kerusakan mangrove bisasebababkan oleh beberapa faktorseperti aktivitas manusia...Selain itu meningkatnya permintaan terhadap produksi kayu menyebabkan meningkatnya pula e ksploitasi berlebihan terhadap mangrove (Dahuri.25 jutahektar padatahun1982 menjad isekitar3..2...50 jutahektar padatahun 1993..1± 3.....25 jutaha (Spalding et.. yang teren dah pada malam hari dan tertinggi pada siang hari....p asang surut dan arus. ketika ituluas h utan mangrove di negara ini mencapai 4......7 ±3. atau sekitar 27% dari luas mangrove di dunia... Hal t ersebutDisebab kan oleh k egiatankonversi menjadilahantambak. Konsentrasi oksigen dihutan mangrove berubah membentuk s uatu area dan zonasi bagitanaman.... Pada arealya ng tertutup sekitar 2...... h. penebanganliar dansebagainya (Dahuri......... k egiatan-kegiatankomersial...... s ementara adanya asam-asam mineral bebas dan asamkarbonat akan menaikankemasaman (Saeni........4 mg/L)..... a . Komunitas Rhizophorasp. yaitusekitar 200 ribuhektar/tahun...........p emb uanga n limbahme mbe rikan pengaruhatau tekanan terhadap habitat mangrove. 2002)... Aksornkoae et.. Estimasiterhadaphutan mangrove di Indonesia dipenuhiketidakpastian dansudah k adaluwarsa.. Kegiatanlain yang menyebabkankerusakanhutan mangrove adalah pembuka anlahan-lahantambak untuk budidaya ikan.... Luas penyebar an mangroveterus mengalami penurunan dari 4... hidroksida dan bikarbonat akan menaikankebasaan air.. 1 989). Nilai pH Nilai pH suatu perairan mencirikankeseimbangan antara asam dan basa dalam air dan merupakan pengukuran konsentrasi ionhidrogen dalamlarutan..4 mg/L... pencemaran. Penyebab dan TingkatKerusakan Mangrove Luas ekosistem mangrove di Indonesia mencapai75% daritotal mangrove di Asia Teng gara.. industri dan pertanian..

Sumardjo Program Studi Ilmu Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan. Balongan.Dari : http://fpik. untuk formulasi strategi pengelolaan dan penentuan prioritas kebijakan pengelolaan masing-masing menggunakan analisis SWOT (Strengts Weaknesses Opportunities Threats). Karangampel dan Krangkeng dengan total desa sebanyak 21 desa. Sejak tahun 1999 kondisi luas hutan mangrove di Indramayu terus mengalami penurunan yang cukup signifikan (45. Pertamina. Penelitian ini dilaksanakan dalam tiga tahapan pokok.unpad. melakukan identifikasi. yaitu tahap pertama. Hasil penelitian menunjukan bahwa hasil identifikasi dan inventarisasi aspek fisik kimia lingkungan di lokasi sekitar hutan mangrove di Indramayu menunjukkan bahwa secara umum tanaman mangrove layak untuk ditanam dan dikembangkan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu karena dari sejumlah parameter fisik kimia lingkungan yang ada hampir seluruh parameter memenuhi kriteria kesesuaian. Jenis data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Institut Pertanian Bogor ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengkaji kondisi ekologis hutan mangrove. tahap kedua. QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) dan AHP (Analitical Hierarcy Process). Perhutani. 2010 Iwang Gumilar. Juntinyuat. Dinas Lingkungan Hidup. sosial dan ekonomi. LSM. Cecep Kusmana.ac. formulasi strategi dan. Penelitian ini dilakukan di kecamatan kecamatan pesisir yang ada di Kabupaten Indramayu.34 %). Potensi yang dapat dimanfaatkan di . Etty Riani. dan PT. Metode penelitian yang dilakukan secara umum adalah metode studi kasus. Hutan mangrove binaan merupakan hutan mangrove yang kondisinya perlu mendapat perhatian serius mengingat tingkat kerusakannya sudah sangat mengkhawatirkan. ekonomi dan sosial. perguruan tinggi.id/archives/515 Unduh 7 Maret 2011 STRATEGI PENGELOLAAN EKOSISTEM HUTAN MANGROVE BERKELANJUTAN (Studi Kasus di Kabupaten Indramayu) Oleh: admin February 25. dan sosial ekonomi budaya masyarakat di sekitar hutan mangrove sebagai komponen keberlanjutan dalam pengelolaan ekosistem hutan mangrove serta merumuskan strategi kebijakan pengelolaan ekosistem hutan mangrove berkelanjutan di wilayah pesisir Kabupaten Indramayu. Selanjutnya. Aspek yang dikaji meliputi aspek ekologi. Sindang. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskripsi. ada beberapa kecamatan dan desa yang tidak memiliki jalur hijau seperti Kecamatan Sukra. Responden terpilih meliputi stakeholder terkait seperti masyarakat. tahap ketiga penentuan prioritas kebijakan pengelolaan. Teknik pengambilan contoh yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik sampling terpilih (purposive sampling). inventarisasi dan analisis kondisi ekologi. Dalam faktanya tidak seluruh wilayah pesisir Kabupaten Indramayu ada jalur hijaunya. Pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu secara umum terdiri dari hutan mangrove binaan dan hutan mangrove alami.

kayu baker.. keberhasilan pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu sangat dipengaruhi oleh kriteria sosekbud dan alternatif usaha silvofishery.833. Sementara itu. 561/kep 684Bangsos/2008.Indramayu daratan hanya sekitar 10. Melakukan pemberdayaan / pembinaan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan mangrove dalam kegiatan ekonomis dan pelestarian lingkungan Berdasarkan perhitungan nilai Eigen (Eigen Vector) diperoleh kriteria yang paling penting secara berurut adalah sosekbud. Memanfaatkan dukungan peraturan dan partisipasi stakeholder lokal dan pusat dalam berbagai bentuk untuk melestarikan hutan mangrove di wilayah pesisir 3. mangrove.yang terdiri dari manfaat untuk bahan bangunan.71 persen. Ini artinya keragaman jenis tanaman mangrove di Indramayu daratan sangat rendah. Umumnya pendapatan masyarakat yang berprofesi sebagai petani dan nelayan tangkap ABK merupakan masyarakat yang termasuk kategori miskin. kemudian diikuti wanawisata. 880. perikanan tangkap. konservasi dan terakhir hutan produksi. ekologis. satwa dan tambak. Hasil valuasi ekonomi menurut pendekatan manfaat langsung dan opsi menunjukkan bahwa nilai ekonomi lingkungan dari ekosistem hutan mangrove di Indramayu daratan sekitar Rp. Memanfaatkan potensi lahan wilayah pesisir untuk dijadikan hutan mangrove 2. Sementara pembudidaya tambak dan nelayan juragan umumnya pendapatannya di atas garis kemiskinan. sebesar Rp 769. spesies mangrove yang dominan ada di Indramayu daratan hanya ada dua jenis. Untuk alternatif yang paling penting secara berurut adalah silvofishery. kemudian diikuti fisik kimia dan terakhir biologi. yaitu Avicennia alba dan Bruguiera gymnorrhiza. berkelanjutan. Kata Kunci: strategi. sosial.500 sebagai indikator pembanding untuk menentukan kemiskinan penduduk. Berdasarkan Upah minimum propinsi dan kebutuhan hidup minimum penduduk di Propinsi Jawa Barat khususnya untuk Kabupaten Indramayu tahun 2008 menurut SK Gubernur Jawa Barat No. Jenis lainnya tidak ditemukan di Indramayu daratan. Memanfaatkan hutan mangrove pada zonasi tertentu untuk dijadikan wilayah wanawisata (ecoturism) 4.129. Dengan menggunakan matriks posisi SWOT strategi yang harus dijalankan adalah strategi S-O pengelolaan hutan mangrove di Kabupaten Indramayu diarahkan kepada: 1. Dengan kata lain. ekonomi dan budaya .000.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful