Anda di halaman 1dari 9

Globalisasi usaha Pertanian Berkembang di

Indonesia
Ilmu Ekonomi Pertanian Berkembang di Indonesia
Perkembangan ilmu ekonomi pertanian di Indonesia nyaris paralel dengan era perubahan
teknologi pertanian dan Revolusi Hijau, yang membawa peningkatan produksi pangan
secara gemilang.

Berikut ini bagian kedua dari petikan lengkap orasi ilmiah Bustanul Arifin, yang diberi
judul “Peran Ilmu Ekonomi Pertanian Dalam Pembangunan Peradaban: Sebuah Refleksi
Untuk Reposisi”, disampaikan dalam rangka Orasi Ilmiah sebagai Guru Besar Ilmu
Ekonomi Pertanian di Gedung Serbaguna Universitas Lampung, 20 Februari 2006. (e-
ti/ht/am)

Ilmu Ekonomi Pertanian Berkembang di Indonesia


Perkembangan ilmu ekonomi pertanian di Indonesia nyaris paralel dengan era perubahan
teknologi pertanian dan Revolusi Hijau, yang membawa peningkatan produksi pangan
secara gemilang.

Tidak secara kebetulan pula ketika profesi ilmu ekonomi pertanian ikut berkembang
seiring dengan munculnya berbagai strategi peningkatan produksi pangan melalui
Bimbingan Massal (BlMAS), Intensifikasi Massal (INMAS), Intensifikasi Khusus
(INSUS) dan sebagainya yang melibatkan putra-putra terbaik Indonesia pada waktu itu
dan kampus-kampus besar seperti Institut Pertanian Bogor (dan Universitas Indonesia
sebagai induk lama IPB), dan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta.

Sebagaimana diduga, fokus utama kajian ekonomi pertanian pada waktu itu adalah upaya
peningkatan produksi pangan karena Indonesia yang baru lepas dari penjajahan, masih
menghadapi persoalan kelaparan yang sangat mengkhawatirkan.

Pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat yang berkaitan dengan


ekonomi pertanian berkembang di kampus-kampus atau universitas yang memiliki
fakultas ekonomi dan fakultas pertanian. Tanpa bermaksud mengecilkan peran ekonom
pertanian yang lain, kontribusi Mubyarto dari Universitas Gadjah Mada dalam ilmu
ekonomi pertanian di Indonesia sangat besar. Semasa hidup, almarhum Prof. Mubyarto
juga dikenal sebagai pembela kaum miskin dan advokat yang sangat gigih untuk
tegaknya ekonomi kerakyatan atau sistem demokrasi ekonomi di Indonesia.

Berpuluh-puluh buku, beratus-ratus artikel dan tak terhitung lagi makalah tentang
ekonomi pertanian, ekonomi pembangunan, pengembangan pedesaan, pemberdayaan
masyarakat, otonomi daerah, dan pandangan yang agak kontroversial pada waktu itu
tentang sistem ekonomi Pancasila dan lain-lain telah ditulisnya. Semua tidak sekadar
memberi penceraban kepada kalangan akademik dan lingkungan kampus, tetapi kepada
sebagian besar perumus kebijakan dan pelaksana pembangunan ekonomi dan
pemberdayaan masyarakat
Salah satu ciri khas perkembangan ilmu ekonomi pertanian di Indonesia adalab
“kedekatannya” dengan teori-teori pembangunan pertanian, yang kebetulan dibawa oleb
para ilmuwan Amerika Serikat, seperti David H. Penny, Arthur T. Mosber dan lain-lain.
Mosber bahkan dianggap sebagai salah satu ikon pembangunan pertanian di Indonesia
ketika karyanya tentang Getting Agriculture Moving atau lebih dikenal dalam Bahasa
Indonesia dengan judul “Menggerakkan Sektor Pertanian.”

Kontribusi yang tidak terlupakan dari Mosber adalah kemampuannya menjelaskan secara
sederhana dan gamblang tentang syarat pokok dan syarat pelancar dalam pembangunan
pertanian. Ketersediaan pasar hasil, perubaban teknologi, faktor produksi, sistem insentif,
dan transportasi dianggap sebagai syarat pokok; sedangkan faktor pendidikan, kredit
produksi, kelembagaan petani, rehabilitasi lahan dan perencanaan pembangunan
dikelompokkan sebagai syarat pelancar pembangunan pertanian. Beberapa negara
berkembang, tidak terkecuali Indonesia, bahkan dengan sabar mengikuti saran dan
langkah kebijakan yang disarankan oleh Mosber.

Siapa pun nampaknya sulit membantah bahwa pembangunan pertanian di Indonesia


sebenarnya telah menunjukkan hasil yang cukup gemilang. Peningkatan produktivitas
tanaman pangan melalui verietas unggul, lonjakan produksi peternakan dan perikanan
telah terbukti mampu mengatasi persoalan kelaparan dalam tiga dasa warsa terakhir.
Pembangunan perkebunan dan agroindustri juga telah mampu mengantarkan pada
kemajuan ekonomi bangsa, perbaikan kinerja ekspor dan penyerapan tenaga kerja dan
dampak multiplikasi lain yang mampu menurunkan jumlah kemiskinan secara signifikan.
Peningkatan produktivitas dan perbaikan pendapatan petani telah berkontribusi pada
perbaikan ekonomi pedesaan, sehingga akses dan daya beli terhadap bahan pangan juga
meningkat.

Pengaruh kedua yang cukup dominan dalam perkembangan perkembangan ilmu ekonomi
pertanian Indonesia adalah pendekatan sistem dan usaha agribisnis. Pendekatan agribisnis
yang sebenarnya telah dikembangkan di Amerika Serikat pada akhir 1950-an itu mulai
menjadi salah satu andalan bagi para ekonom pertanian dalam memahami dan
memperbaiki tingkat pendapatan petani, perusahaan pertanian, bahkan sampai pada
pengembangan wilayah. Indonesia telah mengenal agribisnis sebagai sebuah sistem dan
budaya baru mengelola basis sumberdaya alam sejak akhir 1970-an. Namun karena
esensi utama suatu sistem agribisnis sebagai keterkaitan seluruh komponen dan sub-
sistem agribisnis, maka tidaklah mudah untuk merumuskan suatu strategi pengembangan
yang terintegrasi, apalagi dengan faktor eksternal yang sukar sekali dikendalikan.
Karakter utama komoditas agribisnis memang mengandung risiko dan ketidakpastian,
sehingga di sana terdapat sekaligus peluang berharga untuk mengelola risiko dan tingkat
ketidakpastian tersebut.

Agribisnis mencakup sub-sistem sarana produksi atau bahan baku di hulu, proses
produksi biologis di tingkat bisnis atau usahatani, aktivitas transformasi berbagai fungsi
bentuk (pengolahan), waktu (penyimpanan atau pengawetan), dan tempat (pergudangan)
di tengah, serta pemasaran dan perdagangan di hilir, dan subsistem pendukung lain
seperti jasa, permodalan, perbankan, dan sebagainya.
Memilah-milah suatu sistem agribisnis dalam satuan yang terpisah hanya akan
menimbulkan gangguan serius dalam seluruh rangkaian yang ada, dan tidak mustahil
dapat menciptakan permasalahan tingkat berikutnya yang lebih dahsyat. Sistem agribisnis
mengedepankan suatu sistem budaya, organisasi dan manajemen yang amat rasional,
dirancang untuk memperoleh nilai tambah (komersial) yang dapat disebar dan dinikmati
oleh seluruh pelaku ekonomi secara fair, dari petani produsen, pedagang dan konsumen
dari segenap lapisan masyarakat.

Membangun agribisnis di tingkat mikro tentu saja amat berhubungan dengan peningkatan
kapasitas petani dan pelaku usahatani sebagai aktor terpenting agribisnis. Namun,
membiarkan petani dan pelaku agribisnis terjerumus dalam kancah perdagangan
intemasional yang makin tidak simetris ini tentu saja dapat melenyapkan seluruh upaya
yang dilakukan secara susah payah di tingkat mikro tersebut. Beberapa contoh dan kasus
nyata sepanjang dekade 1990-an telah cukup banyak dijumpai di Indonesia betapa
langkah mikro tingkat manajemen usahatani amat memerlukan dukungan kebijakan di
tingkat makro yang lebih rasional dan serius.

Ciri khas ketiga yang mewamai perkembangan ilmu ekonomi pertanian di Indonesia
adalah kepeduliannya pada pengentasan masyarakat dari kemiskinan dan pemerataan
pendapatan. Indonesia bahkan pernah menjadi tuan rumah Konferensi tiga tahunan
Asosiasi Intemasional Ekonomi Pertanian (IAAE) pada tahun 1982 yang mengambil
tema pemerataan karena di hampir seluruh belahan bumi terjadi fenomena kemiskinan
dan ketidakmerataan, sekalipun perkembangan teknologi pertanian berkembang pesat dan
membawa kesejahteraan bagi sebagian orang.

Langkah ini pun sebenarnya sebagai kritik atau koreksi terhadap proses pelaksanaan
Revolusi Hijau yang telah membuat ketergantungan petani kecil dan buruh tani kepada
para tuan tanah atau pada skala yang lebih luas. Berbagai norma dan kelembagaan di
pedesaan juga mengalami perubahan, misalnya pada sistem penyakapan dan bagi hasil,
cara panen dan pembagian upah buruh sektor pertanian, yang seringkali tidak mampu
diikuti secara baik oleh petani kecil dan buruh tani. Beberapa inovasi di bidang pertanian
tidak mampu digapai oleh mereka yang kurang memiliki akses informasi, penguasaan
teknologi dan akses pasar yang juga berubah begitu cepat.

Secara makro, terdapat beberapa kerisauan mengenai ketergantungan negara berkembang


terhadap negara maju karena benih bersertifikat kualitas tinggi berasal dari perusahaan
multinasional yang nota bene berasal dari negara maju. Indonesia juga sangat
berkepentingan memperoleh pemahaman tentang metodologi dan strategi kebijakan
untuk meningkatkan pertumbuhan pertanian dan mengurangi ketimpangan pendapatan
secara bersamaan.

Paradigma pemerataan pembangunan yang juga digunakan dalam ekonomi pertanian


adalah kombinasi strategi menciptakan pertumbuhan yang seimbang dan berspektrum
luas (balanced and broadbased). Argumennya pun cukup sederhana, karena sistem
produksi pertanian umumnya memiliki skala ekonomi yang kecil, dibandingkan sistem
pengolahan dan pemasaran. Oleh karena itu, pembangunan pertanian yang menempatkan
rumah tangga petani sebagai kelompok sasaran jelas mampu membawa misi pemerataan
dan efisiensi sekaligus. Disamping itu, usahatani berskala kecil dan menengah harus
memperoleh prioritas perhatian utama dalam penelitian, pengembangan dan penyuluhan
pertanian, dan dalam kredit, pemasaran dan penyediaan sarana produksi.

Strategi dan pelaksanaan kebijakan land-reform dapat ditempuh dengan program


redistribusi yang seimbang dan bervisi membangun kondisi sosial-ekonomi masyarakat.
Apabila produktivitas lahan lebih banyak terkonsentrasi pada usahatani berskala besar,
strategi land-reform akan sangat relevan, tentunya dengan prinsip-prinsip ketelitian dan
kehati-hatian. Demikian pula, dukungan investasi sumberdaya manusia di pedesaan
menjadi hampir mutlak perlu dilakukan. Tingkat pendidikan pedesaan, air bersih,
kesehatan, keluarga berencana, dan perbaikan nutrisi merupakan sasaran nyata investasi
sumberdaya manusia, terutama untuk meltingkatkan produktivitas masyarakat miskin,
meningkatkan peluang dan kesempatan mereka memperoleh pekerjaan dan pendapatan
yang lebih layak.

Dalam menjalankan strategi pembangunan, para ekonom pertanian ditantang untuk


mampu mengakomodasi pengembangan pendidikan dan penyuluhan pertanian, kredit dan
bantuan usaha kecil dan menengah sebaiknya juga menjangkau wanita tani dan pedesaan,
karena demikian pentingnya peranan dan posisi mereka dalam pembangunan pertanian
secara keseluruhan.

Di sinilah, partisipasi masyarakat pedesaan dalam pengambilan keputusan menjadi


sesuatu yang hampir mudak diperlukan dalam perbaikan pemerataan. Seluruh lapisan
masyarakat pedesaan, bukan hanya kelas menengah dan elit pedesaan, harus
berpartisipasi dalam penentuan prioritas program-program investasi pemerintah, terutama
yang berhubungan langsung dengan kehidupan masyarakat desa. Visi pemerataan
pembangunan di sini juga melibatkan pengembangan secara aktif perekonomian
pedesaan non-usahatani, yang merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja bagi
masyarakat desa. Sektor non-usahatani juga diharapkan menjadi tumpuan lonjakan
pendapatan dan kesempatan kerja apabila sektor pertanian mampu tumbuh cukup tinggi.

Perspektif Keberlanjutan dalam Ilmu Ekonomi Pertanian


Setelah mengalami perkembangan cukup mengesankan dan memberikan kontribusi
cukup besar bagi khazanah perkembangan ilmu ekonomi dan paradigma pembangunan,
ekonomi pertanian tidak terlalu gemilang dalam menggapai perspektif strategi
keberlanjutan pembangunan.

Demikian pula, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa serangkaian kemajuan dalam
pembangunan pertanian sebenarnya dicapai pada kondisi yang agak tertutup dari
pengaruh dinamika global. Atau, pada kemampuan proteksi dan komitmen perlindungan
kepada petani yang agak besar, serta pada ancaman degradasi kualitas sumberdaya alam
dan lingkungan hidup yang tidak terlalu tinggi.
Kini, kondisi eksternal yang diuraikan di atas nyaris semuanya berubah. Fenomena
globalisasi sulit untuk dielakkan, desakan liberalisasi perdagangan telah semakin besar,
fakta tentang kerusakan lingkungan sudah semakin nyata, dan ancaman pemiskinan
warga telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.

Perkspektif keberlanjutan pembangunan dalam i1mu ekonomi pertanian sebenamya telah


berkembang pada dekade 1990-an tepatnya ketika fenomena intensifikasi penggunaan
lahan, khususnya pada lahan marjinal dengan tingkat kemiringan curam, telah membawa
konsekuensi degradasi lahan atau kerusakan sumberdaya alam lainnya. Dalam ekonomi
pertanian, derajat intensifikasi penggunaan lahan itu sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor ekonomi seperti tingkat pertumbuhan atau tekanan penduduk, performa areal garap
dan keuntungan usahatani, tingkat pendapatan, tingkat pendidikan dan sebagainya.

Karena luas lahan relatif tetap, masyarakat cenderung mengeksploitasi lahan pertanian
yang ada dan mengakibatkan “penambangan lahan” yang dianggap sebagai penyebab
utama degradasi sumberdaya alam seperti banjir, erosi lahan, kehancuran hutan dan
sebagamya.

Di satu sisi, intensifikasi penggunaan lahan yang sering dianggap sebagai solusi
kebijakan untuk menjaga tingkat ketahanan pangan, masih mengandung dimensi yang
cukup kompleks. Aktivitas usahatani yang seringkali dianggap paralel dengan perubahan
teknologi pertanian itu, belum cukup ampuh untuk dapat menggantikan kehilangan unsur
hara tanah yang tererosi, sehingga degradasi lahan di daerah-daerah tropis, nyaris tidak
dapat tergantikan kembali secara cepat. Di lain pihak, adopsi penggunaan teknologi
pertanian modern dalam konteks sistem pertanian berkelanjutan sangat erat kaitannya
dengan tingkat pendidikan masyarakat petani, yang selanjutnya mempengaruhi nilai
ekonomis ekspektasi usahatani.

Di tingkat mikro, persuasi terhadap petani untuk mengadopsi sistem teras (bangku), pola
pertanian bergilir, pertanian-kehutanan, serta teknik konservasi lahan lainnya dengan cara
subsidi kapital dan input dianggap sebagai cara ampuh untuk memperkecil degradasi
sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Ketergantungan terhadap subsidi input --
terutama pupuk dan benih/bibit unggul-- menjadi penyebab utama ketidakberhasilan
strategi konservasi sumberdaya alam, terutama di negara-negara berkembang termasuk
Indonesia.

Jika para petani mengalami kekurangan finansial dan modal yang diperlukan, maka
motivasi untuk menerapkan teknik pertanian berteras pada lereng curam itu juga akan
menurun. Kebijakan teknis agronomis seperti itu tidak mampu mengendalikan proses
degradasi lahan serta tidak dapat bertahan lama jika tidak disertai kebijakan ekonomi
secara makro. Intinya, penanggulangan kasus per kasus terhadap masalah lingkungan
hidup seperti proyek konservasi lahan tetapi tidak didukung oleh perubahan kebijakan
ekonomi secara luas juga tidak berhasil. Penanggulangan masalah degradasi lahan dan
kerusakan lingkungan tidak akan dapat berjalan mulus jika hanya mengikuti kaidah-
kaidah pendekatan parsial dan kasus per kasus.
Dalam ekonomi pertanian, pemahaman tentang degradasi lahan dapat dirunut balik jauh
pada perdebatan klasik antara kaum pesimistis seperti penganut Thomas Malthus (Neo-
Malthusian) dan kaum optimistis yang diwakili oleh Julian Simon atau yang menentang
faham Malthus gaya baru seperti Ester Boserup dan para pengikutnya (Neo-Boserupian).

Walau terbatas, para ekonom pertanian juga telah berkontribusi pada khazanah teori
ekonomi pembangunan pertanian, khususnya yang menyangkut pemahaman pemanfaatan
lahan pertanian, penggunaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. Paham Malthus
gaya baru menganggap bahwa lahan pertanian adalah suatu komoditas yang tetap dan
degradasi lahan itu adalah akibat tekanan penduduk terutama pada tingkat ekstrim. Faktor
pembatas pertumbuhan penduduk menurut Malthus adalah bahan makanan serta tingkat
upah minimum. Jadi perhatian utama paham Malthus gaya baru “persaingan” antara
pertumbuhan penduduk dan perubahan teknologi di bidang pertanian.
Degdaradasi lahan dan gejala kerusakan lingkungan lain dapat terjadi karena faktor
tekanan penduduk dapat mengakibatkan perluasan lahan-lahan pertanian, bahkan sampai
pada lahan-lahan marjinal yang berada di bagian curam suatu lereng bukit serta lahan
berkesuburan rendah lainnya.

Sedangkan faham Boserup gaya baru lebih menekankan pada pengaruh tekanan
penduduk ini terhadap masyarakat. Menurutnya, tekanan penduduk justru dapat
mempercepat inovasi teknologi, dan masyarakat cenderung berusaha mencari teknologi
baru atau mengadaptasi teknologi yang ada pada lingkungan baru. Degradasi lahan dapat
terjadi karena masyarakat cenderung mengeksploitasi lahan-lahan pertanian yang ada dan
mengakibatkan penambangan lahan seperti diuraikan di atas. Perubahan teknologi atau
intensifikasi penggunaan lahan bahkan dapat menggantikan pepohonan dan vegetasi yang
berakar dalam dengan tanaman bahan makanan yang berakal dangkal, yang gampang
sekali tererosi. Sementara itu, laju pembentukan kembali tanah dan lapisan permukaan
yang telah tererosi sangat lambat sehingga degradasi lahan, terutama di daerah- daerah
tropis, nyaris tidak dapat tergantikan kembali secara cepat.

Berdasarkan uraian di atas, maka perspektif keberlanjutan dalam ilmu ekonomi pertanian
masih dapat dikembangkan apabila prioritas penelitian bernuansa keberlanjutan,
konservasi lingkungan hidup dan pengembangan teknologi pertanian terus
dikembangkan. Hal ini dapat memperluas spektrum pengelolaan sumberdaya alam,
khususnya pada daerah aliran sungai, areal hutan dan pada daerah dengan kandungan dan
berkah sumberdaya yang terbatas. Disamping itu, perbaikan hak dan kepemilikan petani
terhadap sumberdaya alamnya.

Sistem lahan dengan hak adat dan ulayat dan dengan pola kepemilikan bersama, mungkin
jauh lebih efektif dalam menggapai misi dan tujuan keberlanjutan tersebut. Promosi dan
perbaikan pengelolaan sumberdaya milik bersama (common property resources) akan
menjadi salah satu fokus mendatang dalam pengembangan ilmu ekonomi pertanian.
Privatisasi boleh saja ditempuh asalkan tidak menimbulkan dan meninggalkan dampak
eksternalitas yang sangat mengganggu. Eksternalitas tidak dapat hanya diinternalisasi
dengan penetapan harga pasar semata, karena persoalan eksternalitas memerlukan
intervensi perpajakan dan subsidi yang lebih hati-hati.
Intinya, dalam hal keberlanjutan pembangunan ini, penelitian terapan ekonomi pertanian
yang membedah hal-hal di atas pasti akan menjadi prioritas penting di masa mendatang.

Reposisi dalam Arena Globalisasi dan Arus Informasi


Rangkaian refleksi perjalanan ilmu ekonomi pertanian mulai dari kelahiran, modifikasi,
integrasi dengan ekonomi pembangunan, masa keemasan dalam era perubahan teknologi,
sampai pada ketidakmampuannya dalam mempertimbangkan perspektif keberlanjutan
pembangunan seharusnya menjadi suatu pelajaran berharga untuk melakukan reposisi dan
rekonstruksi ke depan.

Dalam hal pendekatan khazanah ilmu ekonomi pertanian yang hanya mengandalkan
mazhab mekanisme pasar semata, tentu agak sulit untuk mampu menembus arena
globalisasi dan arus informasi yang semakin cepat. Pendekatan ilmu ekonomi
kelembagaan, ilmu ekonomi politik dan kombinasi dengan ilmu-ilmu sosial lain perlu
dijadikan landasan berpikir dan berpijak, karena manusia hanya mampu melakukan
aproksimasi terhadap kebenaran yang abadi.

Bahkan, krisis ekonomi di Indonesia juga telah memberikan pelajaran berharga bahwa
pembangunan pertanian dan proses transformasi ekonomi tidak dapat hanya disandarkan
pada kenaikan harga-harga (inflasi) semata. Pergerakan tenaga kerja dari pedesaan ke
perkotaan --dan sebaliknya-- yang berlangsung cukup mulus sebelum krisis ekonomi,
tidak dapat lagi terjadi tanpa biaya transaksi sosial yang cukup tinggi.

Sektor pendukung industri dan jasa yang selama itu mampu mengimbangi naiknya
permintaan agregat karena pertumbuhan penduduk, sejak krisis ekonomi belum
mengalami pemulihan yang berarti karena rendahnya investasi, kapasitas dan aktivitas
produksi yang memperluas kesempatan kerja.

Pembangunan ekonomi berbasis sumber daya yang tidak mematuhi kaidah-kaidah


keberlanjutan juga telah memperbesar penderitaan masyarakat dari ancaman kerusakan
alam, menurunkan penerimaan ekonomi petani, dan bahkan meningkatkan potensi
pemiskinan warga secara keseluruhan.

Di tingkat praksis, pengembangan industrialisasi di pedesaan harus didukung dan


difasilitasi, mulai dari industri kerajinan rakyat, pengolahan produk dengan teknologi
sederhana, sampai pada aktivitas jasa dan perdagangan di pedesaan, semua akan mampu
meningkatkan daya permintaan atau pasar domestik dan membantu meningkatkan
pendapatan petani dari luar sektor pertaian. Dinamika ekonomi pedesaan yang seperti
inilah yang secara gradual akan meningkatkan investasi masyarakat, di bidang produksi
pangan, peternakan, perkebunan, perikanan dan sebagainya.

Tidak perlu diragukan lagi bahwa peningkatan investasi masyarakat inilah yang akan
mampu memberikan dampak ganda bagi peningkatan kapasitas produksi domestik,
bahkan mampu menciptakan nilai tambah dan pendapatan secara agregat.
Sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam melakukan reposisi ilmu ekonomi pertanian
adalah penempatan petani sebagai subyek atau aktor sentral dalam pembangunan
pertanian. Industrialisasi atau diversifikasi usaha pertanian tidak akan dapat berjalan
mulus apabila pendapatan overall petani produsen masih rendah. Artinya, agenda yang
harus diselesaikan adalah bagaimana memberikan tambahan modal kerja dan investasi
bagi petani dan kelompok marjinal lainnya untuk adopsi teknologi baru, akses informasi,
intensitas tenaga kerja proses produksi, manajemen pengolahan, pemasaran, dan pasca
panen lain, baik secara individual maupun secara kelompok. Apabila pilihan dan
kesempatan tersedia, petani produsen pasti akan lebih leluasa melakukan diversifikasi
usaha.

Singkatnya, pembangunan pertanian tidak dapat dilakukan secara sambilan dan ad-hoc,
tapi perlu serentak dan komprehensif, karena melibatkan elemen pendukung penting
seperti sektor infrastruktur, pembiayaan, perdagangan, pemasaran, penyuluhan,
pengembangan sumber daya manusia, riset dan pengembangan (R&D) dan sebagainya.

Tidak kalah pentingnya, penguatan modal sosial seluruh aktor, petani, pemerintah, swasta
dan masyarakat madani akan menjadi faktor vital karena pembangunan pertanian
memerlukan jembatan penghubung yang kuat, yang mampu menerjemahkan ide-ide
progresif strategis menjadi langkah aksi di lapangan, yang bersentuhan langsung dengan
masyarakat.

Ilmu ekonomi pertanian juga perlu mengkaji dan memahami lebih banyak tentang
perkembangan teknologi yang demikian cepat seperti: bio-processing, bio-prospecting,
bio-informatics, bio-safety dalam konteks keamanan pangan, dan kultur jaringan.

Teknologi bio-processing amatlah prospektif untuk dikembangkan di Indonesia


mengingat posisi geografis Indonesia dengan keanekaragaman hayati amat besar atau
mega-diversity yang akan membawa manfaat besar dalam menghasilkan terobosan
penyediaan bahan pangan, obat-obatan, pupuk, pestisida, benih, embrio, ensim, mikroba
dan lain sebagainya. Untuk itulah diperlukan peran swasta yang lebih besar untuk
melakukan investasi dalam hal identifikasi, isolasi, eksplorasi, utilisasi sumberdaya alam
untuk peningkatan kapasitas ekonomi pembangunan dan pengembangan sumberdaya
manusia di Indonesia.

Teknologi bio-prospecting atau yang menghendaki presisi atau ketepatan tingkat efisiensi
produksi, produktivitas optimal melalui kombinasi faktor produksi dan teknologi modern
seperti pupuk dan pestisida. Teknologi bio-informatics diperluklan untuk pengembangan
database genetika, biologi molekuler, analisis sekeunsi dan analisis statistik atau
kuantitatif lainnya.

Teknologi bio-safety sangat perlu untuk mendukung keamanan pangan, mengingat faktor
kehati-hatian terhadap teknologi transgenik dan rekayasa genetika lainnya masih menjadi
kontroversi publik. Teknologi kultur jaringan juga begitu vital terhadap pengembangan
benih, plasma nutfah, jaringan tanaman, bahan dan media tanaman dalam pembangunan
pertanian.
Akhirnya, arena globalisasi dan percepatan arus dan teknologi informasi perlu
diperlakukan sebagai ajang perpacuan peningkatan potensi dan pemanfaatan peluang
yang ada. Fenomena globalisasi perlu dipandang sebagai arena kompetisi tingkat ilmu
pengetahuan, riset dan teknologi dan kemampuan diplomasi tingkat internasional.

Ilmu ekonomi pertanian akan senantiasa maju dan berkembang jika para aktornya mampu
tegar, terus berkarya mengembangkan dirinya dan lingkungan tempat berpijak,
berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan, bermanfaat pada kemaslahatan umat
manusia dan perkembangan peradaban dunia yang lebih positif. ►ti/ht-am