Anda di halaman 1dari 110

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Di dalam era modern ini, suatu negara tidak bisa lepas dari negara

lain. Suatu negara harus menjalin hubungan dengan negara lain baik itu di

bidang ekonomi, politik atau budaya agar tetap hidup dan tidak dikucilkan

oleh negara lain. Keadaan tersebut sering dikatakan sebagai era globalisasi.

Era globalisasi sendiri ditandai dengan adanya keterbukaan, keterkaitan atau

ketergantungan dan persaingan yang semakin ketat, khususnya bidang

ekonomi (Hamdy Hady, 2001 :11)

Global mempunyai makna universal. Globalisasi belum memiliki

definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition),

sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang

memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses

alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin

terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan

ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan

budaya masyarakat.

Sedangkan perekonomian global merupakan suatu proses kegiatan

ekonomi dan perdagangan, di mana negara- negara di seluruh dunia menjadi

satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi dengan tanpa rintangan batas

teritorial negara. Globalisasi perekonomian mengharuskan penghapusan

seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa.
Ketika globalisasi ekonomi terjadi, batas-batas suatu negara akan

menjadi kabur dan keterkaitan antara ekonomi nasional dengan perekonomian

internasional akan semakin erat. Globalisasi perekonomian di satu pihak akan

membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional

secara kompetitif, sebaliknya juga membuka peluang masuknya produk-

produk global ke dalam pasar domestik. Dengan kata lain, globalisasi bisa

dikatakan sebagai adanya suatu era baru di dalam perdagangan internasional.

Dengan adanya perdagangna internasional, maka akan berpengaruh terhadap

komponen- komponen dalam neraca pembayaran.

Neraca perbayaran merupakan suatu neraca yang menunjukkan

berbagai jenis transaksi (mutasi) keuangan yang dilakukan diantara satu

negera dengan negara lain dalam satu tahun tertentu (Sadono Sukirno, 2002 :

370). Dua neraca penting dalam neraca pembayaran adalah neraca

perdagangan dan neraca keseluruhan. Neraca perdagangan menunjukkan

perimbangan antara ekspor dan impor. Sedangkan neraca keseluruhan

menunjukkan perimbangan antara keseluruhan aliran pembayaran ke luar

negeri. Defisit dalam neraca pembayaran berarti antara pembayaran ke luar

negeri lebih besar dari pada penerimaan dalam negeri. Salah satu faktor

penentu ini adalah ekspor lebih besar dari impor. Pengaliran modal ke luar

negeri merupakan faktor lain yang menimbulkan defisit neraca tersebut.

Neraca Pembayaran Indonesia dapat dilihat seperti tabel 1.1 berikut :


Tabel 1.1
Neraca Pembayaran Ringkasan
(Balance of Payment : Summary)
(Juta USD/ million of USD)

2008 2009
Items
Q.2 Q.3 Q.4 Q.1 Q.2 Q.3 Q.4
Neraca Berjalan -1.013 -967 -637 2.508 -2480 2.157 3.502

Barang Bersih 5,443 5,771 4,166 8,884 8,365 8,488 11,395

Eksport fob 37,345 38,081 29,765 24,179 28,139 31,272 35,899

Importfob - - - - - - -
31,902 32,309 25,603 17,295 19,765 22,784 24,504
Jasa- jasa bersih -3,387 -3,312 -3,227 -2,743 -3,310 -3,309 -4,506

Pendapatan bersih -4,425 -4,756 -2,881 -2,742 -3,776 -4,072 -4,501

Transaksi berjalan 1,366 1,311 1,305 1,109 1,201 1,248 1,303


bersih
Sumber : Statistik Ekonomi dan K Indonesia, BI 2010

Penyusunan neraca pembayaran Indonesia didasarkan pada Balance of

Payments Manual yang diterbitan oleh IMF. Neraca pembayaran Indonesia

memuat statistik mengenai transaksi ekonomi yang dilakukan penduduk

Indonesia dengan bukan penduduk dalam suatu periode tertentu. Transaksi

ekonomi adalah pertukaran nilai ekonomi dari satu unit ekonomi kepada unit

ekonomi lainnya yang meliputi pertukaran barang dan jasa dengan financial

items, barter, pertukaran antar financial items dan pemberian atau penerimaan

barang dan jasa atau financial items tanpa imbalan. Sedangkan transaksi

ekspor dan impor barang dalam neraca perdagangan didasarkan atas dokumen

kepabeanan dari Ditjen Bea dan Cukai (BI : Statistik Keuangan dan Ekonomi

Indonesia, 2009: 87).

Defisit neraca pembayaran akan berakibat sistemik terhadap


perekonomian dalam suatu negara. Defisit sebagai akibat impor lebih kecil

dari ekspor maka bisa berakibat pada menurunnya kegiatan ekonomi dalam

negeri karena konsumen membeli barang bukan buatan dalam negeri,

melainkan barang impor. Harga valuta asing yang naik akan menyebabkan

harga barang impor mahal. Hal ini akan berdampak pada kegiatan ekonomi

dalam negeri akan terhambat karena kegairahan pengusaha untuk

menanamkan modal ke dalam negeri akan menurun.

Dengan demikian, sama halnya dengan masalah pengangguran dan

inflasi, masalah difisit dalam neraca pembayaran juga memiliki efek yang

buruk bagi perekonomian baik jangka pendek ataupun jangka panjang. Oleh

karena itu setiap negara harus menghindari adanya defisit dalam neraca

pembayaran. (Sadono Sukirno, 2002 : 17-18).

Salah satu faktor yang sudah dijelaskan di atas adalah defisit dalam

neraca pembayaran. Hal ini berarti antara impor lebih besar dari pada ekspor.

Komponen dari neraca pardagangan adalah ekspor dan impor. Pencatatan

dalam neraca ini bisa defisit atau surplus. Defisit berarti impor lebih besar dari

ekspor. Surplus berarti impor lebih kecil dari ekspor. Sedangkan jika antara

impor dan ekspor sama, keadaan ini dinamakan balance trade (Dumairy,

1996: 91)

Neraca perdagangan internasional akan terus mengalami perubahan

yang dikarenakan faktor- faktor :

- Selera konsumen terhadap produksi dlam negeri

- Harga barang Dalam negeri dan luar negeri


- Kurs menentukan dan mata uang domestic yang dibutuhkan untuk

membeli mata uang asing

- Pendapatan konsumen baik di dalam negeri ataupun di luar negeri

- Ongkos angkutan barang antar negara

- Kebijakan pemerintah mengenai perdagangan internasional.

Dengan variabel- variabel tersebut dari waktu ke waktu, maka akan berubah

pula jumlah perdagangan internasional. (Mankiw, 2003:210).

Tabel 1.2
Jenis Impor Menurut Penggunaannya di Indonesia Tahun 1994 – 2008
Juta US$

Tahun Barang Konsumsi Bahan Baku Bahan modal


1994 2806 30470 9653
1995 2166 30230 9284
1996 1918 19612 5807
1997 2469 18475 3060
1998 2685 26073 4777
1999 2251 23880 4831
2000 2651 24228 4411
2001 2792 25652 3946
2002 2980 26770 4509
2003 3299 26904 5906
2004 3659 28960 7118
2005 3405 27006 7854
2006 3711 27560 6004
2007 4097 28772 6533
2008 4340 29065 7008
Sumber : Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia beberapa edisi, data
diolah
Dari tabel di atas, Impor Indonesia didominasi oleh impor untuk

konsumsi, bahan baku dan bahan modal. Dengan jumlah penduduk yang

sangat besar, maka tingkat konsumsi Indonesia sangat besar pula sehingga

akan meningkatkan impor Indonesia karena sebagian besar industri dalam


negeri tidak mampu mencukupi daya tawar konsumsi. Di lain sisi, impor yang

besar juga terjadi dari bahan baku yang nantinya digunakan untuk

memproduksi barang untuk konsumsi dalam negeri dan sebagian lagi

diproduksi untuk diekspor.

Dari tabel di 2.3 di bawah ini dapat kita lihat bahwa permintaan impor

Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat hampir dari semua kawasan

perdagangan. Pada beberapa tahun terakhir, perkembangan impor Indonesia

menurut negara asal di kawasan ASEAN memiliki volume yang tertinggi

dibandingkan dengan negara- negara di kawasan lain. Hal ini disebabkan

karena pada beberapa tahun terakhir, negara- negara ASEAN mulai

menerapkan CAFTA (China Asia Free Trade Area) yang mengakibatkan

meningkatnya volume impor dari wilayah ASEAN. Benua Eropa

mendominasi di urutan kedua. Sedangkan kawasan Amerika memiliki volume

impor ke Indonesia terbesar ketiga. Meski demikian, salah satu negara di

benua Amerika khususnya Amerika Utara yang memiliki volume impor

menurut negara asal dengan perkembangan yang tinggi adalah Amerika

Serikat. Tabel di bawah ini menjelaskan perkembangan import Indonesia

menurut negara asal pada tahun 2004-2008.


Tabel 1.3
Volume Impor Menurut Negara Asal Utama Tahun2004- 2008
(Nilai CIF : juta US$)

Negara Asal 2004 2005 2006 2007 2008


A. ASEAN 11 494,4 17 039,9 18 970,6 23 792,2 40 967,8
Thailand 2 771,6 3 447,0 2 983,5 4 287,1 6 334,3
Singapura 6 082,8 9 470,7 10 034,5 9 839,8 21 789,5
Filipina 228,6 322,2 284,6 359,9 755,5
Malaysia 1 681,9 2 148,5 3 193,3 6 411,9 8 922,3
Myanmar 17,4 14,2 19,7 30,4 29,7
Kamboja 1,1 0,7 1,1 1,3 2,0
Brunai Darusalam 295,2 1 197,5 1 606,9 1 864,7 2 416,6
Laos 0,0 0,1 0.2 2,9 0,2
Vietnam 415,8 439,0 846,8 994,2 717,7
Asia Lainnya/
Rest of Asia
Jepang 6 081,6 6 906,3 5 515,8 6 526,7 15 128,0
Cina 4 101,3 5 842,9 6 636,9 8 557,9 15 247,2
Korea Selatan 1 942,6 2 869,1 2 875,9 3 196,7 6 920,1
Lainnya 6 688,8 7 777,5 9 283,1 9 898,0 17 734,1
B. AFRIKA 2 340,7 1 606,6 1 189,6 2 314,2 2 241,9
C. AUSTRALIA
Australia 2 214,9 2 567,1 2 986,3 3 004,0 3 997,5
Selandia Baru 223,6 263,0 333,8 503,5 706,7
Oseania lainnya 10,2 27,0 17,2 26,5 53,9
D. AMERIKA 3 806,7 4 623,1 4 782,9 5 910,6 9 901,0
Amerika 3 225,4 3 878,9 4 056,5 4 787,2 7 880,1
Kanada 551,7 698,0 666,5 1 056,6 1 871,5
Meksiko 29,6 1 111,1 1 194,2 1 484,0 2 494,6
Lainnya 992,8 1 111,1 1 194,2 1 484,0 2 494,6
E. EROPA 5 252,0 5 826,8 6 023,7 7 679,9 10 560,0
Inggris 703,2 645,3 553,0 654,0 1 0676
Belanda 474,6 369,1 515,4 504,0 602,7
Perancis 544,2 706,6 949,9 1 443,7 1 689,7
Jerman 1 743,0 1 780,8 1 456,6 1 982,0 3 068,8
Austria 73,8 74,3 80,9 101,3 1 031,0
Belgia 264,2 316,9 305,5 338,4 620,2
Denmark 73,8 74,3 80,9 101,3 102,6
Swedia 380,4 499,7 646,1 773,2 1 031,0
finlandia 210,9 329,0 372,9 326,9 359,7
Irlandia 107,0 81,1 148,1 170,9 126,4
Italia 473,3 568,9 551,4 667,5 999,8
Spanyol 182,9 214,1 206,6 286,4 251,8
Uni Eropa 25,6 134,4 148,2 303,9 281,7
Lainnya
Eropa Lainnya 1 374,8 1 40,5 1 255,5 1 579,2 3 244,5
Jumlah/ Total 46 524,5 57 700,9 61 065,5 74 473.4 1 29 197,3
Sumber : Indonesia Dalam Angka, BPS Surakarta 2009
Dari tabel di atas dapat kita lihat bahwa permintaan impor Indonesia

dari tahun ke tahun semakin meningkat hampir dari semua kawasan

perdagangan. Salah satu negara di benua Amerika yang memiliki daya tawar

untuk mengimpor barang dan jasa ke Indonesia adalah Amerika Serikat

(USA).

Amerika Serikat sendiri merupakan salah satu negara pengimpor

Indonesia. Dari tabel di atas, meskipun impor dari Amerika Serikat bukan

yang terbesar, akan tetapi perkembangan impor dari Ameika Serikat tergolong

tinnggi. Misalnya antara tahun 2007- 2008 yang meningkat 3093 juta US$.

Amerika Serikat adalah salah satu negara yang memiliki perekonomian

kuat di dunia. Tidak salah jika menamai Amerika Serikat dengan negara

adidaya. Hampir semua negara di dunia takut dengan Amerika Serikat, baik

dari segi perekonomian atau dari segi pertahanannya. Kuatnya perekonomian

Amerika Serikat dapat kita lihat dari adanya krisis financial global pada tahun

2008.

Krisis yang dialami Amerika Serikat bermula dari bangkrutnya

perusahaan keuangan di Amerika yang kemudian berimbas ke berbagai

belahan dunia. Krisis ini di mulai timbul sekitar tahun 2007 yaitu dengan

adanya peristiwa gagal bayar kredit perumahan di Amerika Serikat ( sub prime

mortgage ). Krisis keuangan ini menyebabkan beberapa perusahaan keuangan

multi nasional hancur yang kemudian berdampak ke pasar dunia. Dari adanya

krisis finansial global yang terjadi pada tahun 2008 yang lalu, menggambarkan

bahwa perekonomian Amerika Serikat sangat kuat.


Selain itu, mata uang tunggal Amerika Serikat, US$ merupakan salah

satu mata uang yang digunakan dalam ekonomi internasional. Hampir 50%

simpanan di bank dunia menggunakan dollar AS. Setengah dari perdagangan

internasional dilakukan dengan menggunkan dollar AS. 45,6 % obligasi

internasional didominasi oleh dollar AS. Lebih dari setengah valuta asing

melibatkan dollar AS serta 62,7% dari cadangan non emas dunia disimpan

menggunakan dollar AS. Dari beberapa aspek tersebut, maka secara tidak

langsung baik buruknya perekonomian Amerika Serikat akan berpengaruh

terhadap perekonomian dunia. Sedangkan Amerika Serikat sendiri

mendapatkan keuntungan yang berupa seignorage atau keuntungan yang

didapat karena menerbitkan uang dan dari seignorage tersebut PDB Amerika

Serikat bertambah sebesar 0,5%. (Jeffery Edmund Curry, 99:89)

Berdasarkan latar belakang dan kondisi di atas, maka ingin diteliti

mengenai keadaan tersebut dengan judul “Faktor- Faktor Yang

Mempengaruhi Permintaan Impor Indonesia Dari Amerika Serikat Tahun

1985- 2009”

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, dapat diambil beberapa rumusan masalah

yang bersangkutan dengan permintaan impor Indonesia dari Amerika Serikat:

1. Bagaimana pengaruh kurs rupiah terhadap dolar USD terhadap permintaan

impor Indonesia dari Amerika Serikat?


2. Bagaimana pengaruh PDB riil terhadap permintaan impor Indonesia dari

Amerika Serikat?

3. Bagaimana pengaruh tingkat inflasi terhadap permintaan impor Indonesia

dari Amerika Serikat?

4. Bagaimana pengaruh cadangan devisa terhadap permintaan impor

Indonesia dari Amerika Serikat?

C. Tujuan Penelitian

Dengan adanya rumusan masalah yang sudah dipaparkan di atas,

maka tujuan dari diadakannya penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh kurs rupiah terhadap US$

terhadap permintaan impor Indonesia dari Amerika Serikat.

2. Untuk mengetahui pengaruh PDB terhadap permintaan impor Indonesia

dari Amerika Serikat.

3. Untuk mengetahui pengaruh tingkat inflasi terhadap permintaan impor

Indonesia dari Amerika Serikat.

4. Untuk mengetahui pengaruh cadangan devisa terhadap permintaan impor

Indonesia dari Amerika Serikat.


D. Manfaat Penelitian

Dengan melaksanakan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan

manfaat bagi pihak- pihak terkait diantaranya :

1. Dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya

mengenai ekonomi internasional dan pengaruhnya terhadap perekonomian

secara makro dan mikro.

2. Bagi peneliti dapat berguna untuk menambah pengetahuan dalam bidang

perdagangan internasional.

3. Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya mengenai masalah

faktor- faktor yang mempengaruhi impor Indonesia khususnya dari

Amerika Serikat.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian dan Teori Internasional

1. Hubungan Ekonomi Internasional

Hubungan ekonomi internasional adalah hubungan ekonomi antara

satu negara dengan negara lain yang dapat mempengaruhi alokasi sumber

daya baik antara dua negara tersebut maupun antar beberapa negara.

Hubungan ekonomi internasional dapat berupa perdagangan, investasi,

pinjaman, bantuan serta kerjasama internasional. Para pelaku yang

mengadakan hubungan ekonomi internasional meliputi swasta, pemerintah

maupun organisasi internasional.

Hubungan ekonomi internasional berbeda dengan hubungan antar

regional (yaitu hubungan diantara berbagai wilayah negara yang sama),

sehingga memerlukan peralatan analisis yang sediit berbeda dan

menganggap ekonomi internasional sebagai bagian yang berbeda dari ilmu

ekonomi (Salvatore, 1992 :6)

Nopirin dalam Ekonomi Internasional, 1995, mengemukakan

bahwa hubungan ekonomi internasional itu mempunyai cirri- cirri yang

khusus dibanding dengan hubungan interregional. Hubungan khusus

tersebut yaitu :

a. Mobilitas faktor seperti tenaga kerja dan modal relative lebih sukar

b. Sistem keuangan, perbankan, bahasa, kebudayaan dan politik yang

berbeda.
c. Faktor produksi yang dimiliki berbeda sehingga menimbulkan

perbedaan harga barang yang diberikan.

Ukuran kasar terhadap hubungan ekonomi di antara berbagai

negara atau dikatakan sebagai tingkat saling ketergantungan diberikan oleh

resiko antara ekspor dan impor mereka akan barang atau jasa terhadap

produk domestic bruto atau Gross Domestic Product (GDP).

Sedangkan masalah pokok yang dihadapi dalam ekonomi

internasional juga sama dengan ilmu ekonomi, yaitu kelangkaan (scarcity)

dan produk dan masalah pilihan (choice) produk. Dalam hal ini yang

diartikan dengan produk adalah barang dan jasa serta ide yang dibutuhkan

dan dihasilkan atau diolah oleh manusia.

Masalah kelangkaan dan pilihan atas produk (barang, jasa dan ide)

tersebut muncul karena adanya permintaan atau demand akan kebutuhan

dan keinginan (needs and wants) manusia yang tidak terbatas (rising

demand) dan penawaran (supply) dari sumber daya (resource) yang

sifatnya terbatas (Hamdy Hady, 2001:1)

Sebagai konsekuensi dari ciri atau karakteristik globalisasi

ekonomi dunia maka ekonomi internasional tidak atau bukan lagi

merupakan bagian kecil dari ekonomi nasional suatu negara. Sebaliknya,

justru ekonomi nasional suatu negara merupakan bagian kecil dari

ekonomi internasional. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya krisis

moneter yang dialami oleh beberapa negara di Asia Tenggara, terutama


yang dialami Indonesia sejak Juli 1997 sebagai dampak dari globalisasi

ekonomi dunia.

2. Arti Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional dapat didefinisikan sebagai kegiatan-

kegiatan perniagaan dari suatu negara asal (country of origin) yang

melintasi perbatasan menuju suatu negara tujuan (country of destination)

yang dilakukan perusahaan multinasional untuk melakukan perpindahan

barang dan jasa, modal, tenaga kerja, teknologi dan perpindahan merek

dagang.

Perdagangan internasional timbul karena adanya beberapa faktor,

diantaranya adalah negara tersebut tidak bisa memproduksi semua barang

kebutuhanan yang dibutuhkan oleh negara tersebut sendiri, perdagangan

internasional juga timbul karena adanaya perbedaan jumlah biaya produksi

yang dikeluarkan oleh suatu negara untuk memproduksi barang kebutuhan

pokok, biaya produksi terdiri dari upah, modal, sewa tanah, biaya bahan

mentah, serta efisiensi dalam proses produksi. Untuk menghasilkan suatu

barang produksi negara satu belum tentu sama ongkos biayanya dengan

negara lain. Perbedaan inilah yang menjadi pangkal dari timbulnya

perdagangan internasional (Nopirin, 1995 :2).

3. Teori Perdagangan Internasional

Perdagangan internasional sangatlah penting bagi pertumbuhan

ekonomi mengingat kemampuannya memperluas kemungkinan konsumsi

suatu negara (Samuelsen, 1995:392). Perdagangan merupakan suatu usaha


jasa perantara, yang menghubungkan produsen komoditas tertentu kepada

konsumennya.

Dengan melakukan spesialisasi di bidang tertentu yang tingkat

produktivitasnya tinggi, setiap negara dapat mengkonsumsi lebih banyak

barang maupun jasa daripada memproduksi segala sesuatu sendiri.

Perdagangan luar negeri merupakan kegiatan pertukaran barang dan jasa

yang dulakukan antara penduduk suatu negara dengan negara lain.

Perdagangan internasional ekspor dan impor adalah kegiatan yang

dijalankan eksportir maupun produsen eksportir dalam transaksi jual beli

suatu komoditi dengan negara asing. Kemudian penjual dan pembeli yang

lazim disebut sebagai eksportir dan importer, melakukan pembayaran

dengan valuta asing. (Amir, MS. 200:1).

Karena setiap negara berbeda dengan negara lainnya ditinjau dari

sudut sumber alam, iklim, letak geografis, penduduk, keahlian, tenaga

kerja, tingkat harga, keadaan struktur ekonomi dan sosialnya. Oleh karena

hal tersebut, maka memungkinkan terjadinya perdagangan antar negara

yang satu dengan negara lain, hal tersebut dapat terjadi karena ada barang-

barang kebutuhan pokok untuk memenuhi kebutuhan hidup suatu negara

yang hanya dapat diproduksi di daerah dan iklim tertentu, atau karena

suatu negara mempunyai kombinasi faktor- faktor produksi lebih baik dari

negara lainnya, sehingga negara itu dapat menghasilkan barang yang lebih

dapat bersaing. Adakala produksi dari suatu negara belum dapat

dikonsumsi seluruhnya di dalam negeri, oleh karena hal itu semenjak


berabad- abad yang lalu telah mendorong orang untuk memperdagangkan

hasil produksi itu ke negara lainnya di luar batas negaranya (Amir, MS.

200:1)

Perdagangan luar negeri ini dilakukan karena dianggap sangat

menguntungkan dan dipandang dapat memberikan manfaat terntentu.

Dapat disimpulkan bahwa pentingnya perdagangan luar negeri kita bagi

perekonomian negara pada umumnya, baik dalam bidang ekspor maupun

impor.

Hamdy Hady dalam Ekonomi Internasional, menyebutkan bahwa

perdagangan internasional akan senantiasa menggunakan beberapa asumsi

dasar yaitu:

a. Neurtrality of Money, dalam arti uang tidak berpengaruh atas harga

relative.

b. Jumlah faktor produksi dari setiap negara.

c. Faktor produksi dari tiap negara tidak dapat berpindah (international

immobility of factors).

d. Teknologi yang tidak sama

e. Taste and income distribution dianggap sebagai sesuatu yang given

dan tidak berubah.

f. Tidak terdapat hambatan perdagangan (trade barrier) dalam bentuk

biaya transport, informasi dan komunikasi.

g. Adanya full employment faktor produksi dan tidak terjadi exess

supplies atau shortage of commodities.


Sedangkan teori internasional dapat dikelompokkan ke dalam tiga

kategori yaitu teori praklasik merkantilisme, teori klasik, dan teori modern.

Teori klasik yang dikenal dengan teori keunggulan absolute oleh Adam

Smith (1766) dan teori biaya relative oleh David Ricardo (1817).

Sedangkan teori faktor proporsi yang diperkenalkan oleh Hocker dan

Ohlin desebut sebagai teori modern yang didalamnya terdapat faktor-

faktor proporsi, permintaan dan penawaran/ teori parsial (Nopirin 1995:7).

Adapun penjelasan dari masing- masing teori tersebut adalah

sebagai berikut :

a. Teori Praklasik Merkantilisme

Merkantilisme adalah suatu aliran atau filsafat yang tumbuh

dan berkembang dengna pesat pada abad XVI sampai XVII di Eropa

Barat. Adapun ide- ide pokok dari ajaran ini adalah :

- Suatu negara atau raja akan kaya atau makmur dan kuat bila

ekspor lebih besar dari impor (X>M).

- Surplus yang diperoleh dari selisih ekspor dan impor atau ekspor

neto tersebut diselesaikan dengan pemasukkan logam mulia (LM),

terutama emas dan perak dari luar negeri. Dengan demikian,

semakin besar ekspor neto maka akin banyak logam mulia yang

dimiliki atau diperoleh dari luar negeri.

- Pada waktu itu logam mulia igunakan sebagai alat pembayaran

(uang) sehingga negara atau raja memiliki logam mulia yang

banyak akan kaya atau makmur.


- LM yang banyak tersebut digunakan untuk membiayai armada

perang guna memperluas perdagangan luar negeri dan penyeberan

agama.

- Penggunaan kekuatan armada perang untuk memperluas

perdagangan luar negeri ini diikuti dengan kolonialisasi di Amerika

Latin, Afrika dan Asia dari abad XVI sampai XVII.

Untuk melaksanakan kebijakan tersebut merkantilisme

melaksanan kebijakan perdagangan (trade policy) sebagai berikut :

1) Mendorong ekspor sebesar- besarnya, kecuali logam mulia.

2) Melarang atau membatasi impor dengan ketat kecuali logam mulia.

Kebijakan tersebut di atas pada saat ini masih dijalankan

oleh banyak negara dalam bentuk neo- merkantilisme yaitu kebijakan

proteksi untuk melindungi dan mendorong ekonomi industri nasional

dengan menggunakan tariff atai tariff Barrier (TB) dan kebijakan

nontariff Brairer (NTB). Biasanya Tariff Brairerr dilaksanakan

dengan menggunakan countervailing duty,bea anti dumping dan

shurcharge. (Hamdy Hady, 2001 : 25)

Dalam hal ini kebijakan yang lebih banyak digunakan adalah

dalam bentuk non tariff brairer (NTB) seperti larangan, system kuota,

ketentuan teknis, harga patokan custom value, perturan kesehatan atau

karantina dan lain- lain.

b. Teori Klasik

1) Teori Keunggulan Absolute Absolute Advantage


Adam Smith berpendapat bahwa setiap negara akan

memperoleh manfaat perdagangan internasional (gain from trade)

karena melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barang

jika negara tersebut memiliki keunggulan mutlak (absolute

advantage), serta mengimpor barang jika negara tersebut mmiliki

ketidak unggulan mutlak (Absolute disanvantage) (Hamdy Hady,

2001 : 31)

Adam Smith percaya bahwa seluruh negara dapat

memperoleh keuntungan dari perdagangan dan dengan tegas

menyarankan untuk menjalankan kebijakan yang dinamakan

laissez-faire, yaitu suatu kebijakan yang menyarankan untuk

meminimalkan campur tangan pemerintahan dalam perekonomian

suatu negara. Melalui perdagangan, sumber daya dunia dapat

didayagunakan secara efisien dan dapat memaksimalkan

kesejahteraan dunia.

Secara matematis, teori absolute advantage dari ini dapat

diilustrasikan dengan data hipotesis sebagai berikut :

Tabel 2.1
Data Hipotesis Teori Keunggulan Mutlak

Produk Per satuan Teh Sutra DTDN (Dasar Tukar


Tenga kerja/ hari Dalam Negeri)
Indonesia 12 kg 3m 4 kg = 1 m
1 kg = ¼ m
Cina 4 kg 8m ½ kg = 1 m
1 kg = 2 m
Sumber : Hamdy Hady, 2001 : 33
Teori keunggulan mutlak ini didasarkan kepada beberapa

asumsi pokok antara lain sebagai berikut :

a) Faktor yang digunakan hanya tenaga kerja

b) Kualitas barang yang diproduksi kedua negara sama

c) Pertukaran dilakukan secara barter tanpa uang.

d) Biaya transport diabaikan.

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa tenaga kerja

Indonesia memiliki keunggulan absolute dalam produksi teh (12

kg), sedangkan Cina memiliki keunggulan absolute dalam produksi

sutra (8m).

Jika Indonesia dan Cina melakukan perdagangan luar

negeri (ekspor dan impor) maka berdasarkan DTDN (Dasar Tukar

Dalam Negeri) antara produsen teh dan sutra kedua negara itu akan

menjadi seperti berikut.

Di Indonesia :

- 1 kg teh dinilai sama dengan ¼ m sutra

- 1m sutra dinilai sama dengan 4 kg teh

Di Cina

- 1 kg teh dinilai sama dengan 2m sutra

- 1m sutra dinilai sama dengan ½ kg teh

Dari DTDN di atas dapat dilihat sebagai berikut :

- Harga 1kg teh di Indonesia lebih murah (hanya ¼ sutra)

dibanding Zdengan di Cina yang lebih mahal (yaitu 2 m sutra).


- Sebaliknya harga 1m sutra di Cina lebih murah (hanya ½ kg

teh) dibandingkan dengan di Indonesia yang lebih mahal (yaitu

4 kg teh)

Berdasarkan perbandingan DTDN pada kedua negara di

atas, maka dapat disimpulkan sebagai berikut

a) Indonesia memilki keunggulan absolute pada produksi teh

sehingga akan melakukan spesialisasi produksi dan ekspor teh

ke Cina. Sebaliknya Indonesia akan mengimpor stra dari Cina.

b) Cina memiliki keunggulan mutlak pada produksi sutra,

sehingga akan melakukan spesialisasi dan ekspor sutra ke

Indonesia. Sebaliknua Cina akan melakukan impor teh dari

Indonesia.

Sedangkan manfaat dari adanya spesialisasi produk adalah

sebagai berikut :

a) Dengan spesialisasi dan mengekspor 1 kg teh ke Cina,

Indonesia akan mendapatkan 2 m sutra, sedangka di dalam

negeri hanya dinilai atau dapat ditukar dengan ¼ m sutra.

Dengan demikian melalui spesialisasi produksi dan

perdagangan internasional Indonesia akan mendapat

keuntungan (gain from trade) sebesar 2m- ¼ m = 1 1/3 meter

sutra.

b) Sebailknya dengan melakukan spesialisasi dan mengespor 1 m

sutra ke Indonesia Cina akan mendapat 4 kg teh, sedangkan di


dalam negeri hanya dinilai atau dapat ditukar dengan ½ kg teh.

Dengan demikian melalui spesialisasi produksi dan

perdagangan internasional, Cina akan mendapatkan

keuntungan (gain from trade) sebesar 4 kg – ½ kg = 3 ½ kg

teh.

Analisa manfaat perdagangan internasional (gain from

trade) ini juga dapat dilihat dari terjadinya peningkatan produksi

dunia untuk teh dan sutra setelah keua negara melakukan

spesialisasi (24 kg the dan 16 m sutra) dibandingkan dengan

sebelum melaukan spesialisasi (16 kg teh dan 11m sutra).

Akan tetapi teori absolute advantage dari Adam Smith ini

memiliki kelemahan. Perdagangan internasional terjadi dan

menguntungkan kedua negara bila masing- masing negara

memiliki keunggulan mutlak yang berbeda. Dengan demikian jika

hanya satu negara yang memiliki keunggulan mutlak, maka tidak

akan terjadi perdagangan internasional yang menguntungkan. Hal

inilah yang menjadi kelemahan dari teori ini.

2) Keunggulan Komparatif (Comparative Advantage) oleh David

Richardo

Teori keunggulan mutlak yang dikemukakan oleh Adam

Smith tenyata memiliki kelemahan karena negara yang melakukan

perdagangan internasional tersebut harus memiliki keunggulan

absolut. Maka dari itu, David Ricardo dengan teori keunggulan


komparatif menyempurnakan teori yang sebelumnya dikemukakan

oleh Adam Smith tersebut.

Teori David Ricardo didasarkan pada nilai tenaga kerja

atau theory of labor value yang menyatakan bahwa nilai atau harga

suatu produk ditentukan oleh jumlah waktu atau jam kerja yang

diperlukan untuk memproduksinya.

Menurut teori cost comparative advantage (labor

rfficiency), suatu negara akan memperoleh manfaat dari

perdagangan internasional jika melakukan spesialisasi produksi dan

mengekspor barang di mana negara tersebut berpdoruksi relativ

lebih efisien serta mengimpor barang di mana negara tersebut

berproduksi relative kurang atau tidak efisien.

Berdasarkan contoh hipotesa di bawah ini maka dapat

dijelaskan meskipun suatu negara tidak memiliki keunggulan

absolute dibanding dengan negara lain, perdagangan internasional

akan bisa dilakukan yang menguntungkan kedua negara melalui

spesialisasi jika negara- negara tersebut memiliki cost comparative

atau labour efficiency.

Tabel 2.2
Data perhitungan cost comparative (labour efficiency)

Perhitungan cost comparative advantage (labor efficiency)


Perbandingan cost 1 kg gula 1m kain
Indonesia/ Cina 3/6 HK 4/5 HK
Cina/ Indonesia 6/3 HK
Sumber : Hamdy Hady, 2001: 38
Berdasarkan perbandingan cost comparative advantage

atau labor efficiency di atas, dapat dilihat bahwa tenaga kerja

Indonesia lebih efisien di bandingkan tenaga kerja Cina dalam

produksi 1 kg gula (3/6 atau ½ hari kerja) daripada produksi 1

meter kain (4/5 hari kerja). Hal ini akan mendorong Indonesia

malakukan spesialisasi produksi dan ekspor gula.

Seballiknya tenaga kerja Cina ternyata lebih efisien di

bandingkan dengan tenaga kerja Indonesia dalam produksi 1 meter

kain (5/4 hari kerja) daripada produksi 1 kg gula (6/3 atau 2/1 hari

kerja). Hal ini mendorong Cina melakukan spesialisasi produksi

dan ekspor kain.

Sedangkan manfaat yang didapat dari adanya perdagangan

internasional (gain from trade) berdasarkan matrik di atas, dapat

disusun perbandingan kemampuan produksi setiap tenaga kerja per

hari kerja pada masing- masing negara sebagai berikut :

Tabel 2.3
Data hipotesis Gain from trade Teori Comparative Advantage
dari David Ricardo

Perbandingan Produksi / TK / HK Dasar Tukar Dalam


Negeri (DTDN)
negara Gula Kain
Indonesia 1/3 kg ¼m 1 kg = ¾ m
4 kg
4/3 kg = 1 m
Cina 1/6 kg 1/5 m 1 kg = 6/5 m
5 kg
5/6 kg = 1
Sumber : Hamdy Hady, 2001: 38
Berdasarkan tabel 2.3 tersebut dapat dilihat sebagai berikut :

a) Bila Indonesia melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor

1 kg gula ke Cina, maka akan memperoleh 6/5 m kain,

sedangkan berdasarkan DTDN hanya memperoleh ¾ m kain,

Jadi dengan spesialsisasi akan memperoleh kauntungan sebesar

(6/5 m- ¾ m ) = 9/20 m.

b) Sebaliknya bila Cina melakukan spesialisasi produksi dan

mengekspor 1 m kain ke Indonesia, maka aka diperoleh 4/3 kg

gula, sedangkan berdasarkan DTDN hanya memperoleh 5/6 kg

gula. Jika dengan spesialsisasi produksi dan ekspor kain, Cina

akan memperoleh keuntungan sebesar (4/3 kg -5/6 kg) = 9/18

kg.

c) Keuntungan dari kedua negara jika melakukan perdagangan

internasional ini merupakan gain from trade atau manfaat

perdagangan internasional karena adanya perbedaaan labor

efficiency

3) Teori Modern

Salah satu teori modern ini dekemukakan oleh H-O

(Heckscher- Ohlin) seringkali disebut pula sebagai teori

kepemilikan faktor (factor endowment theory) atau teoeri proporsi

faktor (factor proportion theory). Teori ini membedakan

opportunity cost suatu produk antara satu negara dengan negara

lain dapat terjadi karena adanya perbedaan jumlah atau proporsi


faktor produksi yang dimiliki (endowment factors) masing- masing

negara. Perbedaan opportunity cost tersebut dapat menyebabkan

adanya perdaganan internasional. negara- negara yang memiliki

faktor produksi lebih banyak atau murah dalam memproduksinya

akan melakukan spesialisasi produksi dan mengekspor barangnya.

Sebaliknya masing- masing negara akan mengimpor barang

tertentu jika negara tersebut memiliki faktor produksi yang relative

langka atau mahal dalam produksinya. (Hamdy Hady, 2001 : 39)

Dalam analsisisnya, teori H-O menggunakan dua kurva.

Pertama adalah kurva isocost yaitu kurva yang menggambarkan

total biaya produksi yang sama. Yang kedua adalah kurva isoquant

yaitu kurva yang menggambarkan total kuantitas produk yang

sama. Dalam teori ekonomi mikro kurva isocost akan menyinggung

kurva isoquant pada suatu titik optimal. Jadi dengan biaya (cost)

tertentu akan diperoleh sejumlah produk yang maksimal, atau

dengan kata lain biaya/cost minimal akan diperoleh sejumlah

produk tertentu.

Teori H-O didasarkan pada serangkaian asumsi sederhana

guna memudahkan dan melancarkan pembahasan. Hanya saja

sebagian dari asumsinya terlalu sederhana atau bahkan sama sekali

tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. (Salvatore, 1997 : 158).


Asumsi tersebut adalah :

a) Dunia ini hanya terdiri dari dua negara, dua komoditi dan dua

faktor produksi.

b) Kedua negara itu memiliki dan menggunakan tingkat teknonogi

produksi yang sama

c) Salah satu dari kedua komoditi tersebut bersifat padat modal,

sedangkan yang lain bersifat padat tenaga kerja, dan halini

berlaku di kedua negara.

d) Skala hasil yang konstan

e) Spesialisasi produksi yang terjadi di masing- masing negara

setelah perdagangan internasional berlangsung tidak lengkap

atau tuntas.

f) Persamaan selera di kedua negara

g) Adanya kompetitif sempurna di pasar komoditi maupun di pasar

faktor produksi.

h) Pentingnya mobilitas internal, namun menyisihkan

kemungkinan terjadinya mobilitas atau perpindahan faktor

produksi antar negara.

i) Tidak ada biaya transportasi, tarif maupun berbagai bentuk

hambatan lainnya yang mengganggu berlangsungnya

pardagangna internasional secara bebas.

j) Seluruh sumber daya produksi yang ada di masing- masing

negara terkerahkan secara penuh (full employment).


Teori H-O telah melangkah lebih jauh dengan menemukan

pernyataan secara tegas bahwa perbedaan dalam kelimpahan faktor

harga- harga komoditi (X dan Y) di antara kedua negara sebelum

berlangsungnya perdagangan. Perbedaan dalam harga-harga faktor

dan harga- harga komoditi secara relatif itu selanjutnya

diterjemahkan sebagai perbedaan dalam harga faktor produksi

secara absolute (bilangan nilainya) dan harga komoditi di antara

kedua negara tadi. Selisih harga absolute atas berbagai komoditi di

antara kedua negara itulah yang merupakan penyebab langsung

terjadinya perdagangnan.

Teori penyamaan harga faktor produksi (sebagai implikasi

yang wajar dari teori H-O) menganggap bahwa perdagangan

internasional akan menghapuskan atau mengurangi perbedaan

harga absolute maupun harga relative produksi sebelum

perdagangan setiap negara.

4. Teori Permintaan

Jumlah suatu komoditi yang bersedia dibeli individu selama

periode waktu tertentu merupakan fungsi dari atau tergantung pada herga

komoditi itu, pendapatan nominal individu, harga komoditi l ain, dan

citarasa individu. Atas dasar harga komoditi yang tertentu tadi, sementara

pendapatan nominal individu citarasa dan harga komoditi lain diangap

konstat (asumsi ceteris paribus) kita peroleh skedul permintaan individu

untuk komoditi itu. (Doominick Salvatore 1994 :17)


Sedangkan permintaan seseorang atau masyarakat akan suatu barang

ditentukan oleh banyak faktor. Diantara faktor- faktor tersebut yang

mempengaruhi permintaan seseorang akan barang atau jasa yang diminta

adalah (Sukirno, 1994:76) :

a. Harga barang itu sendiri

b. Harga barang lain yang mempunyai kaitan dengan barang tersebut

c. Perndapatan rumah tangga atau pendapatan rata- rata masyarakat

d. Corak disrtibusi pendapatan masyarakat

e. Cita rasa masyarakat

f. Jumlah penduduk

g. Ramalan mengenai keadaan di masa yang akan datang.

Dalam analisis ekonomi, secara teori maupun dalam praktek

sehari- hari adalah sangat berguna untuk mengetahui sampai sejauh mana

responsifnya permintaan terhadap perubahan harga. Oleh sebab itu perlu

dilakukan suatu pengukuran terhadap kuantitatif yang menunjukkan

sampai di mana besarnya pengaruh perubahan harga terhadap perubahan

permintaan. Yang dimaksud dengan elastisitas permintaan adalah besarnya

pengaruh perubahan harga terhadap perubahan permintaan. Sedangkan

yang dimaksud dengan elastisitas penawaran adalah uktudan kuantitas

sebagai akibat perubahan harga terhadap perubahan jumlah barang yang

ditawarkan (Sukirno, 2004 :10)


5. Teori Penawaran

Penawaran adalah jumlah komoditi yang bersedia ditawarkan oleh

produsen tunggal selama periode waktu tertentu adalah fungsi dari atau

tergantung pada harga komoditi itu dan biaya produksi untuk produsen

tersebut (Dominick Salvatore, 1994 :20). Penawaran adalah hubungan

antara harga dan jumlah barang yang ditawarkan. Secara lebih spesifik,

penawaran menunjukkan seberapa banyak produsen suatu barang mau dan

mampu menawarkan per periode pada berbagai kemungkinan tingkat

harga, hal lain diasumsikan konstan. Sampai di mana para penjual

menawarkan barangnya pada berbagai tingkat harga ditentukan oleh

beberapa faktor, diantaranya adalah:

a. Harga barang itu sendiri.

b. Harga barang-barang lain.

c. Ongkos produksi, yaitu biaya untuk memperoleh faktor-faktor

produksi dan bahan mentah.

d. Tingkat teknologi yang digunakan.

Penawaran pasar atau penawaran agregat suatu komoditi

memberikan jumlah alternative dari penawaran komoditi dalam periode

waktu tertentu pada berbagai altermatif oleh semua produsen dan pasar.

Penawaran pasar komoditi itu tergantung pada semua faktor yang

menentukan penawaran produsen secara individu dan seterusnya, pada

jumlah produsen dalam pasar (Dominick Slavatore, 1994: 22).


6. Kebijakan Perdagangan Internasional

Kebijakan perdagangan internasional adalah tindakan atau

kebijakan pemerintah yang secara langsung atau tidak langsung

mempengaruhi komposisi, arah serta bentuk dari perdagangan

internasional. Bentuk- bentuk hambatan atau retriksi dalam melakukan

perdagangan internasionla adalah sebagai berikut : (Nopirin. 1995:51)

a. Tarif

Tarif adalah pembebanan pajak atau custom duties terhadpa barang-

barang yang melewati batas suatu negara, jika ditinjau dari aspek asal

komoditi, tariff digolongkan menjadi :

1) Bea Ekspor (Eksport Duties)

Bea ekspor adalah pajak atau bea yang dikenakan terhadap barang

yang diangkut menuju ke negara lain. Jadi untuk barang- barang

yang ke luar dari costum area suatu negara dikenakan pajak.

Custom area adalah daerah di mana barang- barang bebas bergerak

dengan tidak dikenai biaya pabean. Batas Custom area biasanya

sama dengan batas wilayah suatu negeara.

2) Bea Transito (Transit Dutie)

Bea transito adalah pajak atau bea yang dikenakan terhadap

barang- barnag yagn melalui suatu wilayah suatu negara dengan

ketentuan bahwa barang tersebut sebagai tujuan akhirnya adalah

negara lain.
3) Bea Impor (Import Duties)

Bea impor adalah bea atau pajak yang dikenakan kepada suatu

barang- barang yang masuk ke dalam custom area dengan

ketentuan sebagai tujuan akhir.

b. Non tarif

Kuota adalah pembatasan secara langsung terhadap jumlah fisik

terhadap brang yang masuk (kuota impor) dan keluar (kuota ekspor).

Adapun penjelasan lebih lanjut tentang kuota ekspor adalah sebagai

berikut :

1) Kuota impor

Kuota (jumlah atau pembatasan kuantitas) adalah

merupakan bentuk hambatan pperdagangan internasional non tariff

yang paling penting. Kuota adalah pembatasan secara langsung

terhadap jumlah impor dan ekspor . Kuota bisa berupa pembatasan

kuantitas pasokan. Sedangkan kuota impor yang didefinisikan oleh

Npirin adalah pembatasan jumlah volume terhadap barang yang

masuk ke dalam negeri. Jenis kuota impor adalah (Nopirin ,

1995:65-66) :

a) Absolute atau unilateral kuota, adalah kuota yang besar kecilnya

ditentukan sendiri oleh suatu negara tanpa persetujuan dengan

negara lain. Kuota semacam ini sering menimbulkan balasan

dari negara lain.


b) Negotiated atau bilateral kuota, adalah kuota yang besar

kecilnya ditentukan berdasarkan perjanjian antara 2 negara atau

lebih.

c) Tariff kuota, adalah gabungan antara tariff dan kuota. Unutk

sejumlah tertentu barang yang diijinkan masuk (impor) dengan

tariff tertentu, tambahan impor asih diijinkan tetapi dikenakan

tariff yagn lebih tinggi.

d) Mixing kuota, yakni membatasi penggunaan bahan mentah yagn

diimpor dalam proporsi tertentu dalam produksi barang akhir.

Pembatasan ini untuk mendorong berkembangnnya industri di

dalam negeri.

Pembatasan barang yang diimpor menyebabkan berkurangnya

barang impor tersebut di pasar dalam negeri, sedangkan

permintaan relative tetap. Keadaan ini akan mengakibatkan

harga impor di pasar dalam negeri lebih tinggi daripada di pasar

dunia. Sehingga menimbulkan adanya monopoli profit

(keuntungan karena monopoli).

2) Kuota ekspor

Seperti halnya impor, maka ekspor dapat dibatasi

jumlahnya. Pembahasan jumlah ekspor ini bertujuan antara lain

(Nopirin, 1995:68) :

a) Untuk mencegah barang- barang yang penting jatuh atau berada

di tangan musuh
b) Untuk menjamin tersedianya barang dalam negeri dalam

proporsi yang cukup

c) Untuk mengadaan pengawasan produksi serta pengendalian

harga mencapai stabilitas harga.

Kuota ekspor biasanya dikenakan terhadap bahan mentah yang

merupakan barang perdagangan penting dan di bawah suatu

pengawasan badan inernasional.

3) Subsidi

Subsidi adalah bantuan yang diberikan oleh pemerintah

kepada produsen guna meningkatkan hasil produksi dalam negeri,

sehingga dapat meningkatkan ekspor dalam negeri atau mengurangi

impor dalam negeri.

Beberapa catatan berkenaan dengan subsudi antara lain bila

pemrintah bertujuan untuk menaikkan produksi dalam negeri atau

menurunkan impor, maka dengan subsidi lebih baik daripada

dengan tarif. Konsumen dapat menikmati harga yang lebih rendah

serta tidak kehilangan surplus konsumen. Subsidi secara periodik

harus dianggarkan dalam anggaran belanja, oleh karena itu

manfaatnya harus ditinjau setiap tahun sejalan dengan

perkembangan atau perubahan keadaan sosial ekonomi. Sedangkan

tarif sangat jarang untuk ditinjau kembali dan dapat menaikkan

penerimaan pemerintah. Biasanya dalam proses penyusunan

anggaran belanja cenderung untuk mempertahankan tarif bukannya


untuk menghapus kebijakan tarif. Dengan alasan kurangya

peninjauan kembali manfaat serta usaha untuk selalu

mempertahankannya, maka para ekonom cenderung menyukai

subsidi daipada tarif.

7. Model Ekonomi Terbuka

Di dalam perekonomian terbuka, ada dua variabel yang

ditambahkan yaitu ekspor dan impor barang dan jasa. Karena ekspor

berasal dari produksi dalam negeri dijual/ dipakai oleh penduduk luar

negeri, maka ekspor merupakan injeksi ke dalam aliran pendapatan seperti

halnya investasi. Sedangkan impor merupakan kebocoran dari pendapatan,

karena menimbulkan aliran modal ke luar negeri. (Nopirin, 1995 : 239)

Ekspor bersih (X-M) adalah jembatan yang menghubungkan antara

pendapatan nasional dengan transaksi internasional. Ekspor bersih

merupakan salah satu komponen permintaan agregat, sehingga fungsi dari

pendapatan nasi onal menjadi Y = C +I +G + (X-M).

Dengan anggapan bahwa harga dan tingkat bunga tetap, maka

impor seperti halnya tabungan (secara positif) pada perndapatan. Makin

besar pendapatan nasional, maka makin tinggi impornya. Hal ini dapat

ditunjukkan seperti gambar 2.1 berikut ini :


Gambar 2.1
Fungsi Impor

Sumber : Nopirin (1997:241)

Dua konsep penting yang berhubungan dengan fungsi impor adalah

average propensity to impor (APM) dan marginal propensityto impor

(MPM). APM adalah proporsi pendapatan yang digunakan utuk membeli

barang impor = M/Y, sedangkan MPM adalah proporsi dari kenaikan

(penurunan) pendapatan yang digunakan untuk menambah (mengurangi)

impor = ΔM/ΔY.

Secara grafis MPM ditunjukkan dengan sudut arah dari fungsi

impor. Karena funfsi impor erupakan garis lurus, maka ΔM/ΔY konstan.

Dalam konsumsi terbuka pendapatan digunakan untuk konsumsi barang

dalam negeri (c), impor (M) atau ditabung (S). konsekuensinya : APC +

APS + APM = 1 . Karena setiap tambahan pendapatan juga digunakan

untuk menambah C, S atau M, maka : MPC +MPS +MPM = 1.

Impor tidak selalu dipengaruhi ole pendapatan. Ada faktor- faktor

lain yang mempengaruhi impor. Pergeseran faktor ini akan menggeser

fungsi impor. Seperti misalnya inflasi terjadi di dalam negeri sehingga

daya saing menurun, maka impor cenderung naik dan kurva impor
bergeser ke atas. Selain itu ekspor suatu negara adalah impor negara lain.

Dengan harga dianggap tetap, ekspor tergantung dari pendapatan luar

negeri, bukan pendapatan nasionalnegara tersebut. ( Nopirin, 1997: 241).

B. Pengertian Variabel- Veriabel Pendukung

Berdasarkan teori- teori yang ada, dapat dijelaskan pengaruh antara

variabel independent terhadap variabel denendent tersebut sebagai berikut:

1. Impor

Impor dapat diartikan sebagai pembelian barang dan jasadari luar

negeri ke dalam negeri dengan perjanjian kerjasama antara 2 negara atau

lebih. Impor juga bisa dikatakan sebagai perdagangan dengan cara

memasukkan barang dari luar negeri ke wilayah pabeanan Indonesia

dengan memenuhi ketentuan yang berlaku (Hutabarat, 1996 : 403).

Sedangkan dalam keputusan menteri perindustrian dan perdagangan

nomor 850/MPP/ Kep/10/1999 pada ketentuan umum disebutkan yang

dimaksud dengan impor adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam

daerah pabean Indonesia. Antara negara- negara eksporrter dan negara

importer masing- masing memiliki undang- undang dan peraturan bea

cukai yang berbeda antara satu dengan negara lain.

2. Nilai Tukar atau kurs

Kompleksitas sistem pembayaran dalam perdagangan internasional

semakin bertambah tinggi dalam kondisi perekonomian global seperti yang

berkembang akhir-akhir ini. Hal tersebut terjadi akibat semakin besarnya


volume dan keanekaragaman barang dan jasa yang akan diperdagangkan

di negara lain. Oleh karena itu upaya untuk meraih manfaat dari globalisasi

ekonomi harus didahului upaya untuk menentukan kurs valuta asing pada

tingkat yang menguntungkan. Penentuan kurs valuta asing menjadi

pertimbangan penting bagi negara yang terlibat dalam perdagangan

internasional karena kurs valuta asing berpengaruh besar terhadap biaya

dan manfaat dalam perdagangan internasional atau ekspor dan impor.

Posisi penting kurs valuta asing dalam perdagangan internasional

mengakibatkan berbagai konsep yang berkaitan dengan kurs valuta asing

mengalami perkembangan dalam upaya mengetahui faktor-faktor yang

mempengaruhi kurs valuta asing. Konsep-konsep yang berkaitan dengan

penentuan kurs valuta asing mulai mendapat perhatian besar dari ahli

ekonomi terutama sejak kelahiran kurs mengambang pada tahun 1973.

Sejak saat itu kurs valuta asing dibiarkan berfluktuasi sesuai dengan

fluktuasi variabel-variabel yang mempengaruhinya.

Konsep penentuan kurs diawali dengan konsep Purchasing Power

Parity (PPP), kemudian berkembang konsep dengan pendekatan neraca

pembayaran ( balance of payment theory ). Perkembangan konsep

penentuan kurs valuta asing selanjutnya adalah pendekatan moneter

(monetary approach) . Pendekatan moneter menekankan bahwa kurs

valuta asing sebagai harga relatif dari dua jenis mata uang, ditentukan oleh

keseimbangan permintaan dan penawaran uang. Pendekatan moneter

mempunyai dua anggapan pokok , yaitu berlakunya teori paritas daya beli
dan adanya teori permintaan uang yang stabil dari sejumlah variabel

ekonomi agregate. Hal tersebut berarti model pendekatan moneter

terhadap kurs valuta asingdapat ditentukan dengan mengembangkan model

permintaan uang dan model paritas daya beli. (Sri Isnowati dalam jurnal

bisnis dan ekonomi, Maret : 2002)

Nilai tukar atau kurs didefinisikan sebagai harga mata uang

domestik (Salvatore,,1997:49). Sedangkan (Mankiw, 2003:221-222)

membedakan nilai tukar menjadi dua yaitu nilai tukar nominal dan nilai

tukar riil. Nilai tukar nominal (nominal exchange rate) adalah nilai di

mana seseorang dapat memperdagangkan mata uang dari suatu negara ke

negara lain. Sedangkan nilai tukar riil (real exchange raet) adalah nilai di

mana seseorang dapat memperdagangkan barang dan jasa dari suatu

negara dengan barang dan jasa dari negara lain.

Nilai tukar dapat dinyatakan dalam dua cara. Jika nilai tukar yen

terhadapa rupiah adalah 1 yen = Rp 80 berarti kurs rupiah terhadap yen

adalah Rp 1 = 1/80 yen (0,0125) tapi dalam perhitungan yang biasa

digunakan nilai tukar yen terhadap rupiah menggunakan 100 yen dalam

satuan rupiah.

Perubahan nilai tukar dibedakan menjadi apresiasi dan depresiasi.

Apresiasi adalah suatu peningkatan nilai tukar mata uang yang dihitung

oleh jumlah mata uang yang dihitung oleh asing yang dibelinya.

Sedangkan depresiasi adalah suatu penurunan nilai mata uang asing yang

dihitung oleh jumlah mata uang asing yang dapat dibelinya. Jika nilai tukar
berubah sehingga 1 yen dapat membeli lebih banyak mata uang ,

perubahan ini disebut apresiasi yen. Jika nilai tukar berubah sedemikian

rupa sehingga 1 yen hanya bisa membeli lebih sedikit mata uang

mengalami apresiasi, dikatakan bahwa mata uang itu menguat karena

dapat membeli labih banyak uang asing. Demikian pula ketika suatu mata

uang mengalami depresiasi dikatakan bahwa mata uang tersebut melemah

(Mankiw, 2003: 220-221).

Menurut Menkiw nilai tukar riil tergantung pada nilai tukar

nominal dan harga- harga barang dari kedua negara yang diukur dalam

mata uang lokal. Sehingga kita dapat mengiktisarkan perhitungan nilai

tukar dengan rumus :

Nilai tukar riil (e x p )/ p* (mankiw 2003:22-223)

Di mana :

e = Nilai tukar nominal (yen terhadap rupiah)

p = indek harga untuk harga- harga di dalam negeri (Cina)

p* = indek harga untuk harga- harga di luar negeri (Indonesia)

Sifat kurs valuta asing sangat tergantung dari sifat pasar. Apabila

transaksi jual beli valuta asing dapat dilakukan secara bebas di pasar, maka

kurs valas akan berubah- ubah sesuai dengan perubahan permintaan dan

penawaran. Apabila pemerintah menjalankan kebijakan stabilitas kurs,

tetapi tidak mempengaruhi transaksi swasta, maka kurs ini hanya akan
berubah- ubah di dalam batas yang kecil, meskipun batas- batas ini dapat

di ubah dari waktu ke waktu. Macam- macam kurs sendiri dibedakan

menjadi (Nopirin,1997: 147)

a. Sistem kurs yang berubah- ubah

Dalam pasar bebas, perubahan kurs terganutng pada beberapa

faktor yang mempengaruhi penawaran dan permintaan. Faktor valuta

asing merupakan debit dalam neraca pembayaran internasional. Faktor-

faktor yang berasal baik dalam atau luar negeri termasuk pendapatan

impor periode lalu, tingkat bunga dan harga akan mempengaruhi

penawaran dan permintaan kurs valas. Kurs valas akan cenderung naik

(harga mata uang sendiri turun). Inflasi akan menyebabkan kurs valas

naik, kenaikan tingkat bunga dalam negeri cenderung menarik modal

masuk dalam negeri. Kurs valas akan turun (harga mata uang sendiri

naik). Semua kegiatan ekonomi dan pemerintah (fiscal dan moneter)

yang mempengaruhi pendapatan, hadga dan tingkat bunga juga akan

berpengaruh terhadap valuta asing.

Kebijakan permerintah (kenaikan pengeluaran misalnya) akan

menaikkan pendapatan dan harga, kenaikan pendapatan dan harga ini

akan menyebabkan impor naik dan berarti akan meningkatkan

permintaan valuta asing. Akibatnya kurs valuta asing akan naik

(terdepresiasi mata uang sendiri). Di samping faktr ekonomi yang dapat

menpengarui perubahan kurs valas aka naik. Faktor psikologi juga

dapat mempengaruhi pergeseran permintaan dan penawaran.


b. Sistem Kurs Stabil

System kurs bebas sering menimbulkan adanya tindakan

spekulasi sebagai akibat dari ketridaktentuan di dalam kurs baluta asing

karena itu banyak negara yang kemudian menjalankan politik untuk

menstabilan kurs. Pada dasarnya kurs yang stabil bisa timbul kaena

pemerintah menyediakan dana untuk stabilisasi kurs (stabilization

funds) dan suatu negara menggunakan system standar emas.

c. Pengawasan devisa (Exchange Control)

Dalam system ini pemerintah memonopoli seluruh system

transaksi valuta asing tujuannya adalah untuk mencegah adanya aliran

modal keluar dan melindungi pengaruh depresiasi dari negara lain,

terutama dalam hal negara tersebut menghadapi keterbatasan cadangan

valuta asing dibanding dengan permintannya. Untuk itu pemerintah

perlu mengalokasikan di dalam penggunannya, yaitu digunakan untuk

tujuan- tujuan sesuai dengan program pemerintah. Alokasi biasanya

digunakan dengan lisensi impor

Di Indonesia , ada tiga sistem yang digunakan dalam kebijakan

nilai tukar rupiah sejak tahun 1971 hingga sekarang. Antara tahun 1971

hingga 1978 dianut sistem tukar tetap ( fixed exchange rate) dimana nilai

rupiah secara langsung dikaitkan dengan dollar Amerika Serikat ( USD).

Sejak 15 November 1978 sistem nilai tukar diubah menjadi mengambang

terkendali ( managed floating exchange rate) dimana nilai rupiah tidak lagi
semata-mata dikaitkan dengan USD, namun terhadap sekeranjang valuta

partner dagang utama.

Maksud dari sistem nilai tukar tersebut adalah bahwa meskipun

diarahkan ke sistem nilai tukar mengambang namun tetap menitikberatkan

unsur pengendalian. Kemudian terjadi perubahan mendasar dalam

kebijakan mengambang terkendali terjadi pada tanggal 14 Agustus 1997,

dimana jika sebelumnya Bank Indonesia menggunakan band sebagai

guidance atas pergerakan nilai tukar maka sejak saat itu tidak ada lagi band

sebagai acuan nilai tukar. Namun demikian cukup sulit menjawab apakah

nilai tukar rupiah sepenuhnya dilepas ke pasar ( free floating) atau masih

akan dilakukan intervensi oleh Bank Indonesia. Dengan mengamati segala

dampak dari sistem free floating serta dikaitkan dengan kondisi/struktur

perekonomian Indonesia selama ini nampaknya purely free floating sulit

untuk dilakukan. Kemungkinannya adalah Bank Indonesia akan tetap

mempertahankan managed floating dengan melakukan intervensi secara

berkala, selektif , dan pada timing yang tepat.

Jumlah suatu mata uang asing yang diminta untuk membayar impor

mempunyai hubungan yang berbalikan dengan tingkat kurs. Kurva

penawaran valuta asing dapat diperoleh dengan menunjukkan masing-

masing barang ekspor, jumlah yang ditawarkan dalam negeri serta jumlah

yang diminta dan ditawarkan di dalam negeri serta kelebihan penawaran.

Harga/ kurs keseimbangan adalah kurs di mana jumlah yang diminta sama

dengan yang ditawarkan.


Makin tinggi tingkat pertumbuhan pendapatan (relative terhadap

negara lain) makin besar kemungkinan untuk impor yang berarti makin

besar pula permintaan akan valuta asing. Kurs valuta asing cenderung naik

(harga mata uang sendiri turun) demikian juga inflasi, akan menyebabkan

impor naik dan ekspor turun yang akan menyebabkan kurs valuta asing

naik. Kenaikan tingkat bunga dalam negeri cenderugn menarik modal

masuk dari luar negeri (Nopirin, 1997 : 147-148)

Nilai tukar riil sangat penting dalam perdagangan internasional

karena nilai tukar riil adalah penentuan utama dari beberapa banyak suatu

negara mengekspor dan mengimpor (Mankiw, 2003: 223).

Mata uang suatu negara depresiasi, maka ekspor akan menjadi

murah dan impor menjari mahal. Apresiasi akan menyebabkan dampak

yang sebaliknya, harga produk negara itu bagi pihak lain menjadi mahal,

impor menjadi murah (Krugman dan Obsfeld, 92 : 44).

3. Produk Domestik Bruto

Produk Domestik Bruto (gross domestic product/ GDP) adalah

nilai dari semua barang dan jasa yang di produksi di suatu negara selama

kurun waktu tertentu (Mankiw, 2003:7). PDB merupakan salah satu

metode untuk menghitung pendapatan nasional. PDB diartikan sebagai

nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi di dalam wilayah

tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya pertahun). PDB berbeda

dengan PNB karena memasukkan variabel produksi dari luar negeri yang

bekerja di negara tersebut. Sehingga PDB hanya menghitung total


pendapatan dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu

dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam atau luar negeri.

Deflaktor GDP merupakan salah satu ukuran pokok yang dipakai

para ekonom untuk memantau tingkat harga rata- rata dalam suatu

perekonomian. GDP deflaktor adalah ukuran tingkat harga yang dihitung

sebagai rasio GDP nominal terhadap GDP riil di kali dengan 100.

Menurut Mankiw (2003:39) untuk menghitung keseluruhan tingkat

harga kita dapat menggunakan deflaktor GDP dan indek harga konsumne

(consumer price/CPI). Para ekonom dan pembuat kebijakan senantiasa

memantau deflaktor GDP dan indeks harga konsumen untuk mengukur

seberapa cepat harga- harga mengalami kenaikan. Biasanya gambaran

yang dikemukakan oleh kedua ukuran statistic tersebut kurang lebih sama.

Namun ada perbedaan penting yang menyebabkan angka kedua ukuran ini

seringkali berbeda.

PDB merupakan output produksi dalam suatu perekonomian

dengan tidak memperhitungkan faktor produksi dan hanya menghitung

total produksi dalam perekonomian saja . PDB sendiri dapat dihitung atau

diukur dengan menggunakan 3 pendekatan yaitu : (Dumairy, 1996: 38)

a. Pendekatan produksi, PDB adalah jumlah nilai barang dan jasa akhir

yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi di wilayah suatu negara

dalam jangka waktu satu tahun. Unit- unit tersebut dikelompokkan

menjadi sebelas sektor atau lapangan usaha yaitu (1) pertanian, (2)

pertambangan dan penggalian, (3) industri pengolahan, (4) listrik, gas


dna air minum, (5) bangunan, (6) perdagangan, (7) pengangkutan dan

komunikasi, (8) bank dan lembaga keuangan lainnya, (9) sewa rumah,

(10) pemerintahan, (11) jasa- jasa.

b. Pendekatan pendapatan, PDB adalah jumlah balas jasa yang diterima

oleh faktor- faktor produksi yang turut serta dalam proses produksi di

wilayah suatu negara dalam jangka waktu satu tahun. Pendekatan

pendapatan ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

PDB = sewa + upah + bunga modal + laba

c. Pendekatan pengeluaran, PDB adalah jumlah seluruh kopmponen

permintaan akhir yang meliputi pengeluaran konsumsi rumah tangga

dan swasta, pengeluaran investasi, pengeluaran pemerintah, dan ekspor

neto. Atau pendekatan ini dapt dirumuskan :

PDB = C + I + G + (X-M)

Ada dua macam perhitungan dalam menganalisa besaran PDB

yaitu :

a. PDB atas harga berlaku (PDB nominal)

PDB atas dasar harga berlaku merujuk pada nilai PDB tanpa

memperhitungkan pengaruh harga. PDB ini menggambarkan nilai

tambah barang atau jasa dengan menggunakan harga pasar yang

berlaku pada periode tersebut. Berdasarkan perkembangannya, PDB

harga berlaku ini proses transformasi structural, baik ditinjau dari sisi

produksi (industrialisasi), pengeluaran konsumsi rumah tangga,

pengeluaran pemerintah serta perdagangan internasional.


b. PDB harga constant

PDB ini mengoreksi PDB harga berlaku dengan memasukkan

pengaruh harga. PDB ini menggambarkan nilai tambah barang dan

jasa yang dihitung menggunakan harga berlaku pada tahun dasar.

Tahun dasar digunakan peretama kali tahun1960 kemudian diubah

menjadai 1973, 1983, 1993 dan yang sekarang yang digunakan adalah

tahun dasar 2000.

Dalam negara berkembang, PDB senantiasa lebih besar dari PNB.

Hal ini dikarenakan nilai produk orang asing di Indonesia lebih besar dri

nilai produk orang Indonesia di luar negeri. Sedangkan metode untuk

mengubah PDB harga berlaku menjadi PDB harga konstan dapat

menggunakan 3 perhitungan yaitu : (Dumairy 1996 : 39)

a. Metode Revaluasi, yaitu dengan cara menilai produksi masing- masing

tahun dengan menggunakan harga tahun tertentu yang dijadikan tahun

dasar.

b. Metode ekstrapolasi, yaitu dengan cara memperbarui nilai tahun dasar

sesuai dengan indeks produksi atau tingkat pertumbuhan riil dari tahun

sebelumnya.

c. Metode deflasi, yaitu dengan membagi PDB harga berlaku dengan

indeks harga relative yang sesuai (indeks harga x 1/100).

Besarnya impor yang dilakukan suatu negara dengan negara lain

ditentukan oleh sampai di mana kesanggupan barang- barang domestic

mampu bersaing dengan barang- barang dari luar negeri. Apabila barang
dari luar negeri memiliki harga yang lebih rendah, mutu yang lebih baik

daripada barang dalam negeri, maka akan terdapat kecenderungan suatu

negara tersebut untuk mengimpor. Akan tetapi kecenderungan itu masih

tergantung kesanggupan penduduk negara tersebut untuk membayar

impor. Ini berarti, bahwa besarnya impor lebih dipengaruhi oleh besarnya

pendapatan nasional daripada oleh kemampuan barang- barang luar negeri

untuk bersaing dalam dengan produksi dalam negeri.

Gambar 2.2

Hubungan antara impor dan pendapatan nasional

Sumber : Sadono Sukirno, 2002: 384

PDB dengan perhitungan pendekatan pendapatan, yaitu dengan

menjumlahkan balas jasa yang diterima oleh faktor- faktor produksi (sewa,

upah, bunga, dan modal) menegaskan bahwa variabel PDB adalah variabel

yang mempengaruhi permintaan impor.

Parameter ketergantungan impor terhadap pendapatan adalah

kecenderungan marginal mengimpor (Marginal propensity to import) yang

merupakan nisbah perubahan nilai impor terhadap pendapatan nasional riil

(dengan harga constant) yang menyebabkan perubahan terhadap impor

(Lindert dan Kindenberger 1995: 465- 466).


4. Cadangan Devisa

Cadangan Devisa (Foreign Reserve Currencies ) yaitu stok emas

dan mata uang asing yang dimiliki yang sewaktu-waku digunakan untuk

transaksi atau pembayaran internasiona. Cadangan devisa juga bisa

diarrtikan sebagai sejumlah valuta asing yang dicadangkan dan dikuasai

oleh Bank Central yang di Indonesia dipegang oleh Bank Indonesia

sebagai otoritas moneter. Dana ini untuk membiayai impor dan kewajiban

lain pada pihak asing seperti hutang luar negeri. Posisi cadangan devisa

dikatakan aman apabila mencukupi kebutuhan impor dalam jangka waktu

minimal 3 bulan.

Tipisnya persediaan valuta asing suatu negara dapat menimbulkan

kesulitan ekonomi bagi negara yang bersangkutan. Bukan saja negara

tersebut akan kesulitan mengimpor barang-barang yang dibutuhkannya

dari luar negeri, tetapi juga memerosotkan kredibilitas mata uangnya. Kurs

mata uangnya di pasar valuta asing akan mengalami depresiasi. Apabila

posisi cadangan devisa itu terus menipis dan semakin menipis, maka dapat

terjadi rush terhadap valuta asing di dalam negeri. Apabila telah demikian

keadaannya, sering terjadi pemerintah negara yang bersangkutan akhirnya

terpaksa melakukan devaluasi (Dumairy, 1996: 107).

Makin menipisnya cadangan devisa juga merupakan salah satu

penyebab tingginya tingkat kerentanan ekonomi Indonesia yaitu makin

memperburuk kondisi perekonomian nasional. Tahun 1998 cadangan

devisa Indonesia mencapai 23,90 triliun rupiah, akan tetapi akibat krisis
ekonomi jumlah tersebut merosot, hingga bulan September 1999 berkisar

16,01 milyar dollar AS (Tulus T.H. Tambunan,2000:152-153).

Besar kecilnya cadangan devisa tergantung pada neraca

pembayaran. Cadangan devisa berasal dari 2 sumber yaitu ekspor bersih

atau neraca modal. Dari kedua sumber itu yang paling diandalkan adalah

pendapatan dari kegiatan ekspor.

Dalam perkembangannya, cadangan devisa digolongkan menjadi

dua yaitu Official exchange rate dan Countri foreign exchange rate yang

masing- masing memiliki cakupan yang berbeda- beda. Yang pertama

adalah official exchange rate merupakan cadangan devisa yang dimiliki

oleh suatu negara yang dikelola oleh BI sesuai tugas Undang- Undang

No.13 tahun 1968.

Sedangkan country foreign exchange rate adalah cadangan devisa

yang dimiliki oleh badan, perorangan, lembaga terutama lembaga

keuangan nasional.

Posisi cadangan devisa suatu negara biasanya dinyatakan aman jika

mencukupi kebutuhan impor dalam jangka waktu setidaknya 3 bulan. Jika

devisa yang dimiliki tidak cukup untuk kebutuhan 3 bulan impor, maka

dikatakan rawan (Dumairy, 1997 : 107). Selain itu devisa juga digunakan

untuk membayar hutang (Paul R. Krugman & Maurice Obstfeld 1992 :44)

5. Inflasi

Inflasi adalah kenaikan harga terus menerus dalam tingkat harga

suatu perekonomian akibat kenaikan permintaan agregat atau penurunan


permintaan agregat (Mc Eachern, 200: 133). Sedangkan menurut Sadono

Sukirno ( 2002 : 360) inflasi adalah kecenderungan dari harga- harga

untuk menaik secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu

atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut

meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga

barang- barang lain. Syarat adanya kecenderungan menaik yang terus

menerus juga diingat. Kenaikan harga- harga karena, misalnya, musiman,

menjelang hari- hari besar, atau yang terjadi sekali saja (dan tidak

memiliki pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi. Keniakan harga

semacam ini tidak dianggap sebagai masalah atau penyakit ekonomi dan

tidak memerlukan kebijaksanaan untuk mengulanginya.

Berdasarkan fktor yang menimbulkannya, inflasi dapat dibedakan

menjadi dua jenis yaitu : (Sadono Sukirno, 2002 : 303)

a. Inflasi tarikan permintaan

Inflasi tarikan permintaan terjadi karena sector perusahaan

tidak mampu dengan cepat malayani permintaan masyarakat yang

wujud dalam pasaran. Masalah kekurangan barang akan berlaku dan

ini akan mendorong kepada kenaikan harga-harga. Inflasi tarikan

permintaan biasanya berlaku pada ketika perekonomian mencapai

tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi

berjalan dengan pesat.


b. Inflasi Desakan Biaya

Inflasi desakan biaya adalah inflasi karena masalah kenaikan

harga- harga dalam perekonomian karena adanya kenaikan biaya

produksi. Pertambahan biaya produksi akan mendorog perusahaan-

perusahaan menikkan harga walaupun mereka akan menanggung

resiko akan menghadapi pengurangan dalam permintaan barang-

barang yang diproduksinya.

Berlakunya keadaan inflasi di suatu negara dapat menurunkan nilai

mata uang. Di lain pihak kenaikan harga- harga tersebut akan

menyebabkan penduduk negara itu akan mengimpor dari negara lain. Di

lain pihak ekspor negara itu akan bertambah mahal dan ini akan

mengurangi permintaan dan selanjutnya akan menurunkan valuta asing

(Sadono Sukirno, 2002:363).

Inflasi juga dapat terjadi sebagai akibat dari kenaikan harga- harga

barang yang diimpor. Inflasi yang tinggi juga dapat mengakibatkan

menurunnya investasi yang produktif, mengurangi ekspor dan menaikkan

impor. (Pery Wijaya, 2004:34).

Selai itu prospek pembangunan jangka panjang merupakan bagian

penting dari kegiatan ekonpmi suatu negara. Inflasi akan terus bertambah

cepat apabila tidak diatasi. Inflasi yang bertambah serius akan mengurangi

investasi yang produktif, mengurangi ekspor dan mengurangi impor.

Kecenderungan ini akan memperlambat pertumbuhan perekonomian

(Sadono Sukirno, 2002 : 16)


Inflasi juga menyebabkan harga barang impor menjadi lebih murah

daripada barang yang dihasilkan dalam negeri. Maka pada umumnya

inflasi akan menyebabkan impor berkembang lebih cepat dibandingkan

dengan ekspor (sadono Sukirno, 2002 : 308)

C. Hasil Penelitian Terdahulu

1. Penelitian Sigit Yuniyanto (2003) yang menganalisis pengaruh Produk

Domestik Bruto (PDB), nilai kurs rupiah, penanaman modal asing

(PMA), Penanaman modal dalam negeri (PMDN) dan cadangan devisa

terhadap permintaan impor jangka pendek dan jangka panjang. Alat

analisis yagn digunakan adalah OLS- PAM Double log.

Hasil yang didapat dari penelitian tersebut adalah ada pengaruh positif

antara PDB, terhadap permintaan impor Indonesia dalam jangka pendek

dan jangka panjang. Kurs rupiah memiliki pengaruh yang negative

terhadap permintaan impor Indonesia, dalam jangka pendek. Sedangkan

cadangan devisa memiliki pengeruh yang positif terhadap permintaan

impor dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Selain itu PMA dan PMDN juga memiliki pengaruh yang positif terhadap

permintaan impor Indonesia.

2. Penelitian Handayani (2003) yang meneliti pengaruh kurs yen, PDB riil,

rasio indek harga konsumen terhadap impor Indonesia dari Jepang dengan

model regresi OLS linear berganda.


Hasil estimasi tersebut menunjukkan bahwa nilai kurs yen berpengaruh

terhadap permintaan impor dari Jepang. Sedangkan PDB riil berpengaruh

positif dan signifikan dalam taraf signifikan 5% terhadap permintaan

impor Indonesia dari Jepang. Dari rasio indeks harga berpengaruh

negative dan signifikan terhadap permintaan impor Indonesia dari Jepang.

3. Penelitian Dani Rustyaningsih tahun 2003 yaitu mengenai Analisa Faktor-

Faktor yang mempengeruhi permintaan impor barang konsumsi di

Indonesia tahun 1990.1- 2003.4

Hasil dari penelitian tersebut adalah bahwa PDB tidak signifikan,

sedangkan impor periode sebelumnya dan kurs berpengaruh signifikan

terhadap impor barang konsumsi di Indonesia.

4. Penelitian Cessilia Dupi Sarawati tahun 2007 yaitu mengenai faktor-

faktor yang mempengaruhi impor non migas Indonesia dari Jepang.

Penelitian ini menggunakan regresi linear berganda dengan metode ECM

dengan menggunakan uji MWD dan OLS dengan hasil dari penelitian ini

bahwa faktor PDB riil, nilai tukar rupiah terhadap dolar dan cadangan

devisa berpengaruh dignifikant terhadap impor non migas Indonesia dari

Jepang.

D. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran digunakan untuk menunjukkan arah penyusunan

penelitian dan mempermudah dalam menganalisa masalah yang dihadapi,


maka diperlukan suatu kerangka pemikiran yang akan memberikan gambaran

tahap-tahap penelitian untuk mencapai suatu kesimpulan.

Dalam memenuhi pencapaian tujuan dari perdagangan internasional,

harus memperhatikan berbagai faktor yang mempengaruhi perdagangan

diantaranya yaitu kurs, PDB, inflasi, dan cadangan devisa.

Kurs biasanya diukur dengan perbandingan terhadap mata uang asing.

US$ merupakan salah satu mata uang yang digunakan dalam perdagangan

internasional. PDB harga konstan merupakan hasil produksi yang didapat dari

semua faktor produksi baik dari faktor dalam negeri atau dari faktor luar

negeri dalam satu tahun. PDB sebagian besar dialokasikan untuk belanja

barang modal dan bahan baku industri yang sebagian besar digunakan untuk

belanja barang impor.

Inflasi merupakan kenaikkan harga- harga secara terus menerus.

Inflasi menyebabkan naiknya harga impor menjadi lebih murah dibandingkan

dengan harga barang domestik. Sedangkan cadangan devisa suatu negara

dikatakan aman apabila mencukupi kebutuhan impor suatu negara dalam

jangka waktu minimal 3 bulan.

Maka secara sistematis kerangka pemikiran dapat digambrkan

sebagai berikut :

Gambar 2.3. Skema Kerangka Pemikiran


E. Hipotesa

Hipotesis merupakan dugaan atau jawaban sementara terhadap

pertanyaan yang diajukan. Dari permasalahan di atas dapat dikemukakan

hipotesis sebagai berikut :

1. Diduga nilai kurs US$ terhadap Rupiah berpengaruh signifikant terhadap

permintaan impor Indonesia dari Amerika Serikat..

2. Diduga bahwa PDB Indonesia berpengaruh signifikan terhadap permintaan

barang- barang impor yang berasal dari Amerika Serikat.

3. Diduga tingkat inflasi berpengaruh signifikan terhadap permintaan impor

Indonesia dari Amerika Serikat.

4. Diduga besarnya cadangan devisa berpengaruh signifikan terhadap

permintaan impor Indonesia dari Amerika Serikat.


BAB III

Metode Penelitian

A. Ruang Lingkup

Untuk membatasi meluasnya ruang lingkup yang dijadikan objek

penalitian, maka perlu diadakan penyempitan ruang lingkup penelitian.

Dalam penelitian ini ruang lingkup penelitian adalah permintaan barang-

barang impor yang berasal dari Amerika Serikat.

B. Jenis Dan Sumber Data

1. Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder

yaitu data time series dari tahun 1985 sampai 2009, mengenai jumlah

impor Indonesia dari Amerika, kurs Rupiah Terhadap USD, , PDB riil,

tingkat inflasi dan cadangan devisa.

2. Sumber Data

Sumber data berasal dari Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik

(BPS) Kota Surakarta dan data- data pendukung dari buku ataupun yang

berasal dari internet.

C. Variabel Penelitian

1. Impor sebagai variabel dependent

Impor adalah pengiriman barang dagangan dari luar negeri ke

pelabuhan di suatu wilayah Republik Indonesia kecuali wilayah bebas


yang dianggap luar negeri, yang bersifat komersial maupunyang bukan

komersial. Dalam keputusan menteri perindustrian dan perdagangan

nomor 850/MPP/ Kep/10/1999 pada ketentuan umum disebutkan yang

dimaksud dengan impor adalah kegiatan memasukkan barang ke dalam

daerah pabean Indonesia. Antara negara- negara eksportir dan negara

importer masing- masing memiliki undang- undang dan peraturan bea

cukai yang berbeda antara satu dengan negara lain.

2. Variabel Independent meliputi :

a. Nilai Tukar atau Kurs

Nilai tukar atau kurs didefinisikan sebagai harga mata uang

domestik (Salvatore,,1994:49). Sedangkan (Mankiw, 2003:221-222)

membedakan nilai tukar menjadi dua yaitu nilai tukar nominal dan

nilai tukar riil. Nilai tukar nominal (nominal exchange rate) adalah

nilai di mana seseorang dapat memperdagangkan mata uang dari suatu

negara ke negara lai. Sedangkan nilai tukar riil (real exchange raet)

adalah nilai di mana seseorang dapat memperdagangkan barang dan

jasa dari suatu negara dengan barang dan jasa dari negara lain.

b. PDB harga Konstant

Produk Domestik Bruto (gross domestic product/ GDP) adalah

nilai dari semua barang dan jasa yang di produksi di suatu negara

selama kurun waktu tertentu (Mankiw, 2003:7). Parameter

ketergantungan impor terhadap pendapatan adalah kecenderungan

manajerial marginal mengimpor (Marginal propensity to import) yang


merupakan nisbah perubahan nilai impor terhadap pendapatan nasional

riil (dengan harga constant) yang menyebabkan perubahan terhadap

import.

c. Inflasi

Inflasi adalah kecenderungan dari harga- harga untuk menaik

secara umum dan terus menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua

barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas

kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga

barang- barang lain. Syarat adanya kecenderungan menaik yang terus

menerus juga diingat. Kenaikan harga- harga karena, misalnya,

musiman, menjelang hari- hari besar, atau yang terjadi sekali saja (dan

tidak memiliki pengaruh lanjutan) tidak disebut inflasi. Keniakan harga

semacam ini tidak dianggap sebagai masalah atau penyakit ekonomi

dan tidak memerlukan kebijaksanaan untuk mengulanginya.

d. Cadangan Devisa

Cadangan devisa adalah sejumlah valuta asing yang

dicadangkan dan dikuasai oleh Bank Sentral yang di Indonesia

dipegang oleh Bank Indonesia sebagai otoritas moneter. Dana ini untuk

membiayai impor dan kewajiban lain pada pihak asing seperti hutang

luar negeri. Posisi cadangan devisa dikatakan aman apabila mencukupi

kebutuhan impor dalam jangka waktu minimal 3 bulan (Dumairy, 1997

: 67).
D. Metode Analisa Data

Teknis analisis dasar dalam penelitian ini adalah regresi linear

berganda , yaitu suatu model yang menyatakan suatu hubungan antara

variabel independen dan variabel dependen dalam persamaan matematik

(Insukindro, 2003 : 42)

Analisis ini berfungsi untuk mengetahui apakah faktor-faktor kurs

rupiah terhadap USD, PDB harga konstant, inflasi dan cadangan devisa

berpengaruh terhadap impor Indonesia dari Amerika Serikat serta untuk

mengetahui seberapa besar pengaruh variabel-variabel tersebut. Dalam

penelitian ekonomi terdapat dua model analisis yaitu model linier berganda.

Pengolahan data dengen menggunakan Eviews 4.0. Bentuk dari analisis

regresi linear berganda dalam persamaan ini ditulis dengan rumus :

Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + ei

Dimana :

Y = Permintaan impor Indonesia dari Amerika Serikat

β0 = Konstanta

X1 = Kurs Rupiah terhadap USD

X2 = PDB harga konstant

X3 = Inflasi

X4 = Cadangan Devisa

ei = Varibel Pengganggu

Metode yang digunakan untuk mengestimasi parameter-parameter

dalam fungsi regresi linier berganda di atas adalah metode kuadrat terkecil
(Ordinary Least Square) atau biasa disebut juga dengan Clasic Least Square

(CLS). Bila asumsi-asumsi linier klasik dipenuhi, hasil yang diperoleh dengan

OLS adalah BLUE (Best Linier Unbiased Estimator) atau lebih jelasnya

adalah (Gujarati, 2003: 47):

1. Linier, artinya semua parameter dalam fungsi regresi adalah linier

2. Parametr-parameternya adalah tidak bias, artinya semakin besar sampel

yang diambil maka penaksir parameter semakin mendekati nilai parameter

yang sebenarnya.

3. Parameter-parameternya mempunyai varian yang minimum

Beberapa alasan yang mendasari mengapa digunakan OLS adalah (Siti

Aisyah, 2007: 47) :

1. Estimasi parameter yang diperloeh dengan menggunakan OLS mempunyai

beberapa cirri optimal.

2. Prosedur perhitungan dari OLS sangat sederhana dibandingkan dengan

metode ekometrika yang lainnya serta kebutuhan data tidak berlebihan.

3. OLS dapat digunakan dalam range hubungan ekonomi yang luas dengan

tingkat ketepatan yang memuaskan.

4. Mekanisme perhitungan OLS secara sederhana dapat dimengerti.

5. OLS merupakan komponen vital bagi banyak teknik ekonometrika.

Sedangkan cirri- ciri penaksiran OLS adalah :

1. Penaksiran dinyatakan semata- mata dalam besaran yang bisa diamati,

yaitu besaran sampel.


2. Penaksiran merupakan penaksiran titik yaitu dengan sampel tertentu tiap

penaksiran akan memberikan satu nilai (titik) tunggal parameter populasi

yang relevan.

3. Sekali estimasi kuadrat terkecil diperoleh dari data yang dimiliki, maka

garis regresi sampel dapat dengan mudah diperoleh. Garis regresi yang

diperoleh mempunyai sifat- sifat sebagai berikut :

a. Garis regresi tadi melalui rata- rata sampel Y dan X yang dibuktikan

oleh y = b0 - b1 X

b. Nilai rata- rata Y yang diestimasi Y = Yˆ adalah sama dengan nilai rata-

rata Y yang sebenarnya karena Y = Y , di mana dalam kenyataannya

dilai å(X i - X) = 0

c. Nilai rata- rata residual, ei = 0

d. Nilai residual ei tidak berkorelasi dengan nilai estimasi Yi ,Y .

e. Nilai residual ei tidak berkorelasi dengan X1, yaitu åe Xi i = 0.

1. Uji Statistik

Uji statistik berguna untuk menguji hipotesis yang diujikan dalam

penelitian yaitu dapat diterima atau ditolak berdasarkan dari analisis.

Adapun uji statistik sebagai berikut

a. Uji t (Uji secara individu)

Parameter yang diperoleh dalam estimasi OLS, masih perlu

dipertanyakan apakah bersifat signifikan atau tidak. Uji signifikansi


dimaksudkan untuk mengverifikasi kebenaran atau kesalahan hipotesis

nol yang dibuat (Gujarati, 2003 : 129)

Pengujian yang dilakukan untuk menguji signifikansi masing-

masing variabel independen terhadap variabel dependen (uji sendiri-

sendiri semua koefisien regresi). Langkah-langkah yang dilakukan

antara lain:

H0 : β1= 0

H0 : β1 ≠ 0

b
T hitung =
se(b2 )

Di mana :

b
T hitung =
se(b2 )

β1= koefisien regresi

SE = Standart error koefisien regresi

Dengan kriteria pengujian :

1) Jika t hitung > t table maka Ho ditolak dan Ha diterima, yang

berarti variabel independent tersebut secara nyata mempengeruhi

variabel dependent.

2) Jika t hitung < t table maka Ho diterima dan Ha ditolak, yang

berarti variabel independent tidak secara nyata mempengaruhi

variabel dependen.

Cara lain untuk menguji signifikan tidaknya koefisien regresi

adalah dengan melihat probabilitasnya, jika nilai probabilitasnya:


(a) < 0,05 maka koefisien regresi itu signifikan pada tingkat 5%.

(b) < 0,10 maka koefisien regresi itu signifikan pada tingkat 10%.

(c) 0,15 maka koefisien regresi itu signifikan pada tingkat 15%.

b. Uji F (Uji secara bersama-sama)

Digunakan untuk menguji signifikansi variabel independen

secara bersama-sama. Langkah-langkah yang dilakukan dengan

ketentuan antara lain:

1) Ho : β1 = β2 = β3 = β4 = 0 à tidak ada pengaruh yang

signifikan antara besarnya modal, tenaga kerja, pengalaman usaha

dan tingkat pendidikan terhadap pendapatan pengusaha mebel.

2) Ha : β1 ¹ β2 ¹ β3 ¹ β4 ¹ 0 à ada pengaruh yang signifikan antara

besarnya modal, tenaga kerja, pengalaman usaha dan tingkat

pendidikan terhadap pendapatan pengusaha mebel.

3) Tingkat Signifikan

F tabel = F (a; (n-k),(k-1))

di mana a = derajat signifikansi (5%).

n = jumlah sampel (observasi).

k = jumlah variabel bebas.

Dengan krieteria pengujian:

F hitung < F tabel, maka Ha ditolak, Ho diterima. Dalam hal ini

dapat dikatakan bahwa semua koefisien regresi secara bersama-sama

tidak signifikan pada tingkat a=5%.


F hitung > F tabel, maka Ho itolak, Ha diterima. Hal ini dapat

dikatakan bahwa koefisien regresi secara bersama-sama signifikan

pada tingkat a.

c. Pengujian koefisien determinasi ( R2 )

Pengujian ini digunakan untuk mengetahui berapa % variasi

variabel dependen dapat dijelaskan oleh variasi variabel independent.

Hal ini dapat dilakukan dengan melihat koefisien R2 dengan kriteria

pengujian 0 ≤ R2 ≤ 1 dimana nilai R2 antara 0 dan 1 , dan R2 akan selalu

positif. Jika nilai R2 sebesar 1 berarti hubungan antara variabel

dependen dengan variabel independen bersifat sempurna, jika nilainya

sebesar 0 berarti tidak ada hubungan antara variabel dependen dengan

variabel independen.

2. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Multikolinearitas

Ada hubungan antara beberapa atau semua variabel yang

menjelaskan dalam model regresi. Jika dalam model terdapat

multikolinearitas maka model tersebut memiliki kesalahan standar yang

besar sehingga koefisien tidak dapat ditaksir dengan ketepatan tinggi .

Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya multikolinearitas

adalah dengan menggunakan pendekatan korelasi parsial, dengan

bantuan program Eviews 4.0. Langkah- langkah untuk menetapkan

metode ini adalah :


1) Lakukan estimasi regresi awal. R2 yang dihasilkan adalah R2a (R2

regresi asal).

2) Lakukan regresi antar veriabel bebas. Hasil estimasi regresi parsial

dengan besaran R2.

3) Pedoman yang digunakan jika nilai R2 lebih tinggi dari R2 pada

regresi antar variabel bebas, maka dalam model empirik tidak

terdapat adanya multikolinearitas dan sebaliknya.

b. Uji Heteroskedastisitas

Heteroskedastisitas terjadi jika gangguan muncul dalam fungsi

regresi yang mempunyai varian yang tidak sama sehingga penaksir

OLS tidak efisien baik dalam sempel kecil maupun besar ( tapi masih

tetap tidak bias dan konsisten). Salah satu cara untuk mendeteksi

masalah heteroskedastisitas adalah dengan uji White.

Dalam program E-Views, ada dua versi uji White yaitu White

Hetereoscedasticity (no cross term) dan White Heterroscedacity.

Langkah- langkah dalam pengujian White adalah :

1) Lakukan estimasi model awal

QUICK

ESTIMATE EQUATION

EQUATION SPECIFICATION

Y C X1 X2 X3 X4

OK

2) Dari tampilan equation


VIEW

RESIRUAL TEST

WHITE HETEROSCEDACITY

3) Bandingkan nilai OBS*R2 dengan X2 tebel dengan df dan α = 5%.

Jika nilai OBS*R2 < X2 maka tidak signifikant secara statistik.

Berarti hipotesa yang menyatakan bahwa model empirik tidak

terdapat masalah heteroskedastisitas tidak ditolak.

c. Uji Autokolerasi

Adalah adanya korelasi antara variabel gangguan sehingga

penaksir tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun dalam

sampel besar. Salah satu cara untuk menguji autokorelasi adalah dengan

percobaan d (Durbin-Watson).

é1 - å ei ei2-1 ù
d = 2ê ú
ëê å e1
2
ûú

Gambar 3. 1 Durbin-Watson Test

Hipotesis, Ho adalah dua ujungnya tidak ada serial autokorelasi

baik positif maupun negatif, maka :

d < dl = menolak Ho

d > - dl = menolak Ho
d< d < 4 – du = menerima Ho

dl ≤ d ≤ du atau 4 – du ≤ d ≤4 – dl = pengujian tidak menyakinkan.

Breusch dan L.G Godfrey tahun 1978 mengembangkan pengujian

autokorelasi lebih umum, dengan langkah pengujian melalui Eviews 4.0 :

dari equation,

VIEW

RESIDUAL TEST

SERIAL CORRELATION LM TEST

2 (pada kotak dialog isi jumlah lag residual)

OK

Kemudian akan muncul hasilnya, bandingkan nilai probabilitas

residualnya dengan 5%, jika nilai probabilitas residual lebih besar dari 5 %

maka dapat dinyatakan bahwa model ini lolos dari masalah autokorelasi.
BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum

1. Perekonomian Indonesia

Perekonomian Indonesia secara mengejutkan berhasil pulih degnan

cepat dari kekacauan yang terjadi pada paruh pertama decade 1960-an.,

yaitu mencapai pertumbuhan 2 digit untuk pertama kalinya pada tahun

1968. Sejak saat itu, pertumbuhan ekonomi menjadi sangat cepat paling

sedikit 5% per tahun, dan tetap dipertahankan hingga 1982 ketika

melemahnya harga minyak dunia yang menyebabkan perekonomian turun

drastis. Pertumbuhan yang lambat ini terus berlangsung hingga tahun

1984, sejalan dengan datangnya investasi minyak bumi dan gas dalam

jumlah yang besar. Di akhir tahun 1980-an pertumbuhan Indonesia

kembali membaik dan tumbuh di kisaran angka 6-7%. (Hal Hill, 1994

:17)

Sewaktu Indonesia merilis jalan untuk terus berkembang, gejolak

ekonomi kembali muncul pada tahun 1997-1998 dengan adanya krisis

moneter. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 telah membawa

perekonomian

Indonesia pada kondisi yang sangat sulit karena beberapa indicator

ekonomi mengalami gejolak yang tajam.

Gejolak ekonomi tersebut membuat perekonomian Indonesia

menjadi tidak stabil. Inflasi naik sangat tajam dari 11,05 % pada tahun
1997 menjadi 77,63 % pada akhir tahun 1998 atau naik 602,53 %. Belum

lagi ilai tukar rupiah terhadap US$ yang melemah dari Rp 4.650,00

menjadi Rp 8. 025,00 di akhir tahun 1998. Sedangkan pendapatan

nasional yang didasarkan dengan PDB riil Indonesia juga mengalami

penurunan dari 343409.4 Milyar Rupiah menjadi 343409,4.

Tabel 4.1
Inflasi, Kurs Rupiah Terhadap US$ dan PDB Riil

Inflasi (% per Kurs Rupiah PDB Riil (Milyar


Tahun tahun) Terhadap US$ Rupiah)
1985 4.31 1131 38674.07
1986 8.83 1655 39008.64
1987 8.90 1650 43352.56
1988 5.47 1729 44930.95
1989 5.97 1795 50617.5482
1990 9.53 1901 174215.15
1991 9.52 1,992 184888.80
1992 4.94 2062 196510.02
1993 9.77 2110 208187.63
1994 9.24 2220 242802.5
1995 8.64 2308 262599.93
1996 6.47 2383 286483.86
1997 11.05 4650 316666.03
1998 77.63 8025 567819.33
1999 2.01 7100 542728.91
2000 9.35 9595 601568.79
2001 12.55 10400 625972.36
2002 10.03 8940 694534.48
2003 5.1 8465 720224.11
2004 6.4 9290 2027219.6
2005 17.1 9830 2217828.04
2006 6.6 9020 2259434.48
2007 7.4 9419 2514670.67
2008 11.4 10950 4352490.16
2009 2.8 9400 4923616.09
Sumber : Statistik Indonesia berbagai edisi, BPS Surakarta

Setelah mengalami kontraksi yang besar pada tahun 1998, sejak

tahun 1999 perekonomian Indonesia mengalami peningkatan tiap tahun.

Pada tahun 1999 ekonomi bertumbuh sekitar 0,79%, tahun 2000 sekitar
4,92%, tahun 2001 3,4%, dan 2002 sebesar 3,66%. Peningkatan

pertumbuhan ini memberikan harapan bagi bangsa Indonesia untuk segera

keluar dari krisis ekonomi, walaupun pertumbuhan masih di bawah target

yang diinginkan yaitu sebesar 4%. Hal ini memperlihatkan pemulihan

perekonomian telah berjalan ke arah yang lebih baik.

Setelah terjadinya krisis ekonomi Indonesia tahun 1998, gejolak

ekonomi kembali menghampiri Indonesia pada tahun 2008.

Perekonomian global mengalami krisis financial yang disebabkan oleh

krisis yang dialami Amerika Serikat yang secara tidak langsung juga

berdampak kepada perekonomian Indonesia.

Sepanjang tahun 2008, terutama sampai triwulan ke III, ekonomi

Indonesia masih menunjukkan pertumbuhan yang baik, sehingga ketika

pada tiga bulan terakhir tahun 2008 pertumbuhan ekonomi mulai

melambat, maka secara keseluruan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada

tahun 2008 masih mencapai 6,1 %. Keadaan ini lebih baik dibandingkan

negara tetangga seperti Singapura yang diperkirakan hanya tumbuh 2,2%

Pada awalnya krisis finansial global mulai merebak, sektor

keuangan di Indonesia belum terkena dampak yang berarti, karena tidak

ada perbankan Indonesia yang secara langsung terkena dampak dari krisis

subprime mortgages di Amerika Serikat yang telah merugikan banyak

lembaga keuangan raksasa di dunia. Selama tahun 2008, masyarakat

masih bisa menikmati bunga rendah, ketika BI menurunkan BI rate


sampai 8%. Baru setelah harga minyak bumi terus melesat BI rate naik,

dan sektor konsumsi mulai melambat pertumbuhannya.

Pertumbuhan ekonomi mengalami titik balik, ketika harga berbagai

komoditas ekspor menurun menyusul anjloknya harga minyak dunia.

Ketakutan masyarakat dunia akan terjadinya resesi telah menyebabkan

menurunya permintaan terhadap berbagai produk tersebut sehingga harga

terus menurun. Akibatnya Indonesia yang semula mengandalkan ekspor

sebagai ujung tombak pertumbuhan ekonomi mulai memasuki masa sulit.

Berbagai industri manufaktur terutama yang berorientasi ekspor seperti

tekstil, sepatu dan elektronik, mulai mengurangi kegiatannya termasuk

mengurangi tenaga kerja karena permintaan pasar ekspor yang menurun.

Memasuki tahun 2009, ekonomi Indonesia akan menghadapi

tantangan yang berat. Selama tahun 2008 ekonomi Indonesia relatif baik

apabila melihat berbagai indikator ekonomi. Pertumbuhan ekonomi tahun

2008 mecapai 6.1%, inflasi bisa ditekan menjadi 11,4 %. Hal ini

dikarenakan deflasi dalam dua bulan terakhir di kuartal akhir 2008.

Sedangkan pada tahun 2009 sendiri, pertumbuhan ekonomi masih posotif

dan tingkat inflasi sebesar 2,8 % atau terendah selama 10 tahun terkhir.

2. Perkembangan Impor Indonesia Dari Amerika Serikat

Impor Indonesia meningkat sejalan dengan peningkatan

pembangunan. pengembangan kapasitas produksi dalam negeri

memerlukan impor barang-barang modal yang belum dapat diproduksi di


dalam negeri perlu diimpor. Di samping itu pembangunan proyek-proyek

prasarana yang di perlukan untuk mendukung kapasitas produksi dalam

negeri yang semakin berkembang juga memerlukan impor.

Impor Indonesia yang selalu meningkat memiliki pola yang

berbeda antara sebelum krisis ekonomi 1998 dengan setelah krisis

ekonomi. Sebelum krisis, nilai impor total yaitu impor barang dan jasa

menunjukkan pola yang logaritmis. Namun, setelah krisis peningkatan

impor total cenderung melemah.

Impor Indonesia sejak 1988 berasal dari 55 negara di seluruh dunia.

Secara ratarata ada delapan negara asal impor yang memilliki kontribusi

(rata-rata) impor yang paling besar yaitu Jepang, Amerika Serikat,

Singapura, Jerman, Korea Selatan, Australia, Cina, Taiwan. Namun

demikian, kontribusi mereka tidaklah stabil. Telah terjadi perubahan

struktur yang cukup signifikan sejak lima tahun terakhir. Perubahan

paling radikal adalah kontribusi Cina yang berubah drastis sejak 1998

yaitu dari 7,19% menjadi 28,91 di tahun 2003. Perubahan lainnya adalah

kontribusi negara Singapura dari 20,17% di tahun 1998 menjadi 44,98%

di tahun 2003. Akibatnya urutan contributor terbesar menjadi berubah di

tahun 2003 yaitu Jepang, Singapura, Cina, Amerika Serikat, Australia,

Korea Selatan, Jerman, dan Taiwan. (Eko Atmaji dalam jurnal Analisa

Impor Indonesia, 2004).

Impor berdasarkan golongan barang terdiri dari barang modal,

barang konsumsi, dan bahan baku/penolong. Impor yang khususnya


bahan modal, barang konsumsi, dan bahan baku akan mendorong

peningkatan ekspor non migas Indonesia. Beberapa produk ekspor masih

memiliki kandungan impor yang cukup tinggi. Perkembangan impor

mencerminkan struktur produksi dalam negeri yang berkembang pesat.

Pertumbuhan impor pada Tw.III-2008 yang masih tinggi (44,6%)

terkait dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang masih cukup tinggi

dan meningkatnya permintaan impor bahan baku untuk kebutuhan ekspor.

Kenaikan impor tertinggi terutama berasal dari Cina (73,6%) sehingga

menempatkan Cina sebagai negara asal impor utama di Indonesia (pangsa

16,5%), menggeser Jepang dengan pangsa 13%. Sedangkan untuk Impor

yang berasal dari Benua Amerika, Amerika Serikat memiliki daya tawar

impor yang bagus terhadap pangsa pasar di Indonesia.

Tabel 4.2
Total Perkembangan Impor Indonesia Dari Kawasan Amerika

Tahun 2004 2005 2006 2007 2008


Total Impor dari Amerika 3 806,7 4 623,1 4 782,9 5 910,6 9 901,0
Amerika Serikat 3 225,4 3 878,9 4 056,5 4 787,2 7 880,1
Kanada 551,7 698,0 666,5 1 056,6 1 871,5
Meksiko 29,6 1 111,1 1 194,2 1 484,0 2 494,6
Lainnya 992,8 1 111,1 1 194,2 1 484,0 2 494,6
Sumber : Statistik Indonesia, BPS Surakarta

Dari tabel di atas terlihat bahwa Amerika Serikat merupakan

negara yang memiliki daya impor ke Indonesia terbesar di kawasan

Amerika. Perkembangan impor dari Amerika Serikat dari tahun ke tahun

terus mengalami pertumbuhan. Bahkan impor dari Amerika Serikat rata-


rata mencapai 80% dari total jumlah impor dari Indonesia yang berasal

dari kawasan Amerika.

Tabel 4.3
Perkembangan Impor Indonesia Dari Amerika Serikat Tahun 1985-
2009 CIF (juta US$)

Tahun Import Pertumbuhan


1985 1720.9
1986 1482.4 -2.385
1987 1415.1 -0.673
1988 1735.7 3.206
1989 2217.9 4.822
1990 2520.1 3.022
1991 3396.9 8.768
1992 3822.4 4.255
1993 3254.5 -5.679
1994 3587.8 3.333
1995 4755.9 11.68
1996 5059.8 3.039
1997 5440.9 3.811
1998 3517.3 -19.24
1999 2839 -6.783
2000 3390.3 5.513
2001 3207.5 -1.828
2002 2639.9 -5.676
2003 2694.8 0.549
2004 3225.4 5.306
2005 3878.9 6.535
2006 4056.5 1.776
2007 4787.2 7.307
2008 7880.1 30.93
2009 7306.4 -5.737
Sumber : Statistik Indonesia berbagai edisi, BPS Surakarta

Perkembangan impor Indonesia dari Amerika Serikat tahun 1985

sampai 2009 rata- rata relative stabil. Naik dan turun tidak menunjukkan

angka yang significant kecuali pada tahun 1998 yang turun sebesar -19,24

% dari tahun 1997. Hal ini karena pada tahun 1998 perekonomian
Indoneseia sedang dilanda krisis ekonomi yang sangat besar. Pada tahun

1999 perkembangan impor Indonesia dari Amerika Serikat juga masih

turun dari tahun sebelumnya yaitu sebesar -6,78%. Sedangkan pada tahun

2009, impor dari Amerika Serikat sedikit menurun sebesar -5,73 yang

dikarenakan semakin pesatnya barang- barang subsitusi yang berasal dari

Cina.

Untuk barang- barang impor dari Amerika Serikat, Indonesia

mendatangkan lima jenis barang utama yaitu serat kapas, pesawat

telekomunikasi dan kontruksi, instalasi pembangkit listrik dan

perlengkapannya.

Tabel 4.4
Nilai Impor Kapas dari Beberapa Negara Asal Utama
(Juta US$)

Negara Asal 2007 2008


Amerika Serikat 121 129
Cina 66 65
Afrika 51 54
Lainnya 194 207
Total 432 455
Sumber : Laporan Neraca Perdagangan Indonesia dalam www.bi.go.id

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Amerika Serikat merupakan negera

pengimpor kapas terbesar ke Indonesia dan disusul oleh Cina.

Impor alat-alat telekomunikasi (SITC 764) pada triwulan III 2008

tumbuh sebesar 97,0% mencapai US$2,2miliar. Peningkatan impor

peralatan telekomunikasi ini sejalan dengan kenaikan kebutuhan investasi

dalam rangka pengembangan jaringan telekomunikasi, diantaranya adalah

program pembangunan 1000 tower (BTS). Selain itu, pesatnya


perkembangan industri telekomunikasi turut menyumbang tingginya

permintaan alat-alat tersebut. Peralatan telekomunikasi yang diimpor

antara lain berupa peralatan transmisi, peralatan lainnya untuk Digital Line

System, peralatan penerima, sambungan telepon & peralatan terkait, kabel

komunikasi dan peralatan telekomunikasi lainnya. Sebagian besar

peralatan ini diimpor dari Cina, Singapura dan Hongkong, dan Amerika

Serikat.

3. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US$

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika

setelah diterapkannya kebijakan sistem nilai tukar mengambang bebas di

Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1998 telah membawa dampak dalam

perkembangan perekonomian nasional baik dalam sektor moneter maupun

sektor riil. Depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika menjadi

sangat besar pada awal penerapan sistem tersebut. Hal ini membuat

meningkatnya derajat ketidakpastian pada aktivitas bisnis dan ekonomi di

Indonesia. Banyak faktor baik yang bersifat non ekonomi maupun

ekonomi, yang dituduh menjadi penyebab dari bergejolaknya nilai tukar

tersebut.

Faktor non ekonomi lebih sering dianggap sebagai penyebab

gejolak nilai tukar rupiah terhadap dolar. Untuk membuktikan, bahkan

mengukur seberapa besar pengaruh non ekonomi tersebut akan sangat sulit

dilakukan. Keadaan tersebut berbeda dengan keberadaan faktor ekonomi,


yang antara lain seperti inflasi, tingkat suku bunga, jumlah uang beredar,

pendapatan nasional, dan posisi neraca pembayaran internasional, yang

umumnya relatif dapat lebih terukur.

Tabel 4.5
Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US$ Tahun 1985
sampai 2009 (Rupiah)

Tahun Kurs Pertumbuhan


1985 1131
1986 1655 31.66
1987 1650 -0.3
1988 1729 4.56
1989 1795 3.67
1990 1901 5.57
1991 1,992 4.56
1992 2062 3.39
1993 2110 2.27
1994 2220 4.95
1995 2308 3.81
1996 2383 3.14
1997 4650 48.75
1998 8025 42.05
1999 7100 -13.02
2000 9595 26
2001 10400 7.74
2002 8940 -16.33
2003 8465 -5.61
2004 9290 8.885
2005 9830 5.49
2006 9020 -8.98
2007 9419 4.23
2008 10950 13.98
2009 9400 -16.48
Sumber : Statistik Indonesia Berbagai Edisi, Data Diolah

Dari tebel di atas, perkembangan kurs rupiah terhadap US$ relative

stabil dari tahun 1985 sampai tahun 1996. Akan tetapi pada tahun 1997,

nilai tukar rupiah terhadap US$ megalami kenaikan atau terdepresiasi


dikarenakan perekonomian Indonesia pada masa itu mengalami krisis

ekonomi.

Nilai tukar yang sering disebut kurs, mempunyai peran penting

dalam rangka tercapainya stabilitas moneter dan dalam mendukung

kegiatan ekonomi. Nilai tukar yang stabil sangat diperlukan untuk

tercapainya suatu keadaan yang kondusif bagi peningkatan kegiatan usaha.

Perkembangan kurs suatu negara tidak terlepas Nilai tukar yang stabil

diperlukan untuk terciptanya iklim yang kondusif bagi peningkatan

kegiatan dunia usaha. Perkembangan kurs suatu negara tidak terlepas dari

kebijakan yang diambil pemerintah dan juga kondisi ekonomi baik dalam

negeri maupun luar negeri. Nilai tukar suatu negara menunjukkan harga

uang negara tersebut terhadap mata negara lain. Nilai tukar mata uang

suatu negara mengalami apresiasi ketika nilai uangnya meningkat relatif

terhadap nilai mata uang negara lain.

Selama lima bulan pertama tahun 1998, nilai tukar rupiah terhadap

dollar AS berfluktuasi. Selama triwulan pertama, nilai tukar rupiah rata-

rata mencapai sekitar Rp9200,- dan selanjutnya menurun menjadi sekitar

Rp8000,- dalam bulan April hingga pertengahan Mei. Nilai tukar rupiah

cenderung di atas Rp10.000,- sejak minggu ketiga bulan Mei.

Kecenderungan meningkatnya nilai tukar rupiah sejak bulan Mei 1998

terkait dengan kondisi sosial politik yang bergejolak. Setelah tahun 1998,

nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berkisar antara Rp 8.500,00 sampai

Rp 10.500,00.
4. Perkembangan PDB Riil Indonesia

PDB diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa

yang diproduksi di dalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu

(biasanya per tahun). PDB berbeda dari produk nasional bruto karena

memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri yang bekerja di

negara tersebut. Sehingga PDB hanya menghitung total produksi dari suatu

negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan

memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak. Sebaliknya, PNB

memperhatikan asal usul faktor produksi yang digunakan.

PDB Nominal (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Berlaku)

merujuk kepada nilai PDB tanpa memperhatikan pengaruh harga.

Sedangkan PDB riil (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Konstan)

mengoreksi angka PDB nominal dengan memasukkan pengaruh dari

harga. Sedangkan salah satu cara untuk mengubah PDB harga berlaku ke

PDB harga konstan adalah dengan teori deflasi yaitu membagi antara PDB

harga berlaku tahun tertentu dibagi indeks harga lalu dikali dengan 100.

Pada tahun 2008, meskipun ekonomi dunia dilanda krisis financial

global, pada kenyataannya pendapatan nasional Indonesia masih cukup

stabil bahkan pertumbuhannya masih tinggi. Hal ini karena tingkat

konsumsi masyarakat juga sangat besar sehingga mendorong PDB untuk

terus naik. PDB tertinggi masih dihasilkan oleh sektor industri pengolahan

yaitu sebesar
27.87% dari total PDB tahun 2008. Sedangkan PDB terendah dihasilkan

oleh sektor listrik, gas, dan air bersih yaitu hanya sebesar 0.82% dari total

PDB (www.bps.go.id).

Tabel 4.6
Perkembangan PDB Riil Indonesia Tahun 1985 Sampai 2009
(Milyar Rupiah)

Tahun Total PDB Pertumbuhan


1985 38674.07
1986 39008.64 0.86
1987 43352.56 10
1988 44930.95 3.51
1989 50617.5482 11.2
1990 174,215.15 70.9
1991 184,888.80 5.77
1992 196510.02 5.91
1993 208187.63 5.61
1994 242802.5 14.3
1995 262599.93 7.54
1996 286483.86 8.34
1997 316666.03 9.53
1998 567819.33 44.2
1999 542728.91 -4.62
2000 601568.79 9.78
2001 625972.36 3.9
2002 694534.48 9.87
2003 720224.11 3.57
2004 2027219.6 64.5
2005 2217828.04 8.59
2006 2259434.48 1.84
2007 2514670.67 10.1
2008 4352490.16 42.2
2009 4923616.09 11.6
Sumber : BPS, Data Diolah

Dari tebel di atas dapat dilihat bahwa pertumbuhan ekonomi dilihat

dari besarnya PDB riil dari tahun ke tahun relative menunjukkan angka

yang memuaskan. Hanya pertumbuhan yang mengalami negative hanya


pada tahun 1999. Hal ini terjadi karena pada tahun1999, perekonomian

Indonesa sedang megnalami masa transisi setelah dilanda krisis ekonomi

yang dahsyat. Akan tetapi pada tahun 2000 pendapatan nasional kembali

membaik dengan tumbuh sebesar 9,78%.

5. Perkembangan Tingkat Inflasi

Dalam ekonomi, inflasi adalah meningkatnya harga- harga secara

terus menerus. Tingkat inflasi diukur dengan perubahan dalam indeks

harga konsumen. Di Indonesia inflasi yang timbul dikarena kenaikan biaya

produksi. Kenaikan biaya produksi akan menyebabkan produksi turun dan

penawaran total (aggregate supply) berkurang yang pada akhirnya akan

menyebabkan kenaikan harga. Kenaikan biaya produksi dapat berasal dari

kenaikan bahan baku industri, perjuangan serikat buruh yang berhasil

menuntut kenaikan upah dan lain-lain. Kenaikan biaya produksi pada

gilirannya akan menaikkan harga dan turunnya produksi.

Inflasi di Indonesia sendiri juga mengalami fluktuasi. Inflasi

tertinggi terjadi pada tahun 1998 karena pada masa itu perekonomian

Indonesia sedang mengalami goncangan ekonomi dengan adanya krisis

ekonomi. Inflasi tahun 1998 mencapai 77,63 %. Seiring dengan

membaiknya kinerja ekonomi nasional, maka tingkat inflasi mulai turun

dan pertumbuhan inflasi dapat dikendalikan.


Tabel 4.7
Perkembangan Inflasi Indonesia Tahun 1985 Sampai 2009

Tahun Inflasi Perumbuhan (%)


1985 4.31 -
1986 8.83 51.18
1987 8.90 0.78
1988 5.47 -62.7
1989 5.97 8.37
1990 9.53 37.35
1991 9.52 -0.11
1992 4.94 -92.71
1993 9.77 49.43
1994 9.24 -5.73
1995 8.64 -6.94
1996 6.47 -33.53
1997 11.05 41.44
1998 77.63 85.76
1999 2.01 -3762.19
2000 9.35 78.5
2001 12.55 25.51
2002 10.03 -25.12
2003 5.1 -96.66
2004 6.4 20.31
2005 17.1 62.57
2006 6.6 -159.09
2007 7.4 10.81
2008 11.4 35.08
2009 2.8 -307.14
Sumber : BPS, Data Diolah

Dari tabel 4.6 di atas dapat kita lihat bahwa setelah adanya krisis

ekonomi tahun 1998, tingkat inflasi perlahan mulai menurun. Pada tahun

1999 pertumbuhan inflasi bahkan mencapai – 3762,19% dari 77,63% ke

2,01 %. Tingkat inflasi pada tahun- tahun selajtnya relative stabil. Hanya

pada tahun 2005 inflasi kembali naik dari 6,4% ke 17,2% pada tahun 2005.
Kenaikan inflasi ini dikarenakan naiknya harga minyak mentah dunia yang

berdampak ke naiknya harga barang- barang secara umum.

Pada tahun 2009, inflasi kembali turun dan bahkan inflasi pada

tahun 2009 ini merupakan inflasi terendah selama 10 tahun terakhir. Inflasi

pada tahun 2009 sebesar 2,8% atau turun -307,14% dari tahun

sebelumnya. Inflasi ini dikarenakan adanya krisis finansial global yang

berdampak kepada perekonomian Indonesia yang menyebabkan

permintaan dunia menurun. Ini mengakibatkan terjadi penurunan harga

komoditas di pasaran internasional. Selain itu faktor lainnya karena

pemerintah tidak membuat kebijakan yang menyebabkan pricing shock

seperti menaikkan Tarif Dasar Listrik (TDL) atau Bahan Bakar Minyak

(BBM) sepanjang tahun 2009.

6. Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia

Cadangan devisa adalah sejumlah valuta asing yang dicadangkan

dan dikuasai oleh Bank Central yang di Indonesia dipegang oleh Bank

Indonesia sebagai otoritas moneter. Dana ini untuk membiayai impor dan

kewajiban lain pada pihak asing seperti hutang luar negeri. Posisi

cadangan devisa dikatakan aman apabila mencukupi kebutuhan impor

dalam jangka waktu minimal 3 bulan.

Dari tabel 4.7 cadangan devisa Indonesia pada tahun 1985 sampai

2009 rata- rata mengalami surplus. Hanya pada beberapa tahun tertentu

mengalami pertumbuhan yang negative seperti tahun 1997.


Tabal 4.8
Cadangan Devisa Indonesia Tahun 1985 sampai 2009
(Juta US$)

Tahun Cadangan Devisa Pertumbuhan (%)


1985 5846.2
1986 5302.2 -10.25
1987 6512.3 18.58
1988 6196.00 -5.11
1989 6561.90 5.58
1990 8661.30 24.23
1991 9867.70 12.23
1992 11610.90 15.01
1993 18823 38.31
1994 17416 -8.07
1995 18787 7.29
1996 25296 25.73
1997 21418 -18.11
1998 23762 9.86
1999 27054 12.16
2000 29394 7.96
2001 28015.80 -4.92
2002 32037.04 12.55
2003 36295.71 11.73
2004 36320.48 0.07
2005 34723.69 -4.59
2006 42586.33 18.46
2007 56920.13 25.18
2008 51639.00 -10.22
2009 69562.00 25.76
Sumber : Statistik Ekonomi dan Keuangan BI, data diolah

Pada tahun 1997, pertumbuhan devisa mengalami penurunan

sebesar -18,11% dari tahun 1996 yaitu dari 25296 juta US$ ke 21418 juta

US$. Defisit cadangan devisa ini disebabkan hutang swasta Indonesia

yang jatuh tempo sampai dengan akhir 1997 mencapai rekor tertinggi

sebesar 34,- juta US$. Jumlah ini tidak sebanding dengan cadangan devisa
BI pada tahun 1997 dan jumlah devisa yang dihemat karena ditundanya

proyek2 besar (AS$ 4 milyar untuk tahun 1997). Setelah itu pertumbuhan

cadangan devisa mengalami pertumbuhan yang positif. Pada tahun 2005

dan 2008 pertumbuhan devisa Indonesia kembali negative.

Pada tahun 2005 harga minyak mentah dunia naik secara drastic.

Ini memaksa pemerintah mengeluarkan tambahan dana untuk mengimpor

minyak mentah dengan masih pemberian subsidi ke masyarakat. Hal ini

menyebabkan pengurangan cadangan devisa. Sedangkan pada tahun 2008,

cadangan devisa kembali menunjukkan pertumbuhan yang negative karena

pada tahun ini terjadi krisis financial global yang melanda perekonomian

internasional. Selain itu intervensi Bank Indonesia pada pasar valuta asing

mengakibatkan nilai IDR yang relatif stabil terhadap US$. Hal yang sama

mengakibatkan menguat IDR terhadap mata uang lainnya. Berdasarkan

pengalaman pada tahun 2005 dan 2008 hal tersebut mengakibatkan

turunnya cadangan devisa dan pelemahan IDR yang drastis terhadap US$.

7. Perkembangan Perekonomian Amerika Serkat

Ekonomi Amerika Serikat adalah suatu sisitem pasar yang dinamis,

terus menerus berkembang dari berbagai pilihan dan kepuasan oleh jutaan

warganya yang yang memainkan peran ganda, ada kalanya tumpang

tindih, sebagai konsumen, produsen, investor dan pemberi suara dalam

pemilihan umum. Amerika Serikat umumnya digambarkan sebagai suatu

ekonomi campuran, dengan kata lain, meskipun sebagian besar sumber


daya produktif adalah milik swasta dan pemerintah memainkan penting di

pasar.

Amerika Serikat telah mencapai sukses yang sangat besar selama

hampir 250 tahun. Dengan kurang dari 5% penduduk dunia, pada awal

tahun 1990-an menghasilkan sekitar 25% produk dunia. Ekonomi

Amerika Serikat 2 kali lipat ekonomi terbesar beriktnya, Jepang. Menurut

ukuran konvensional, produktivitas dan standar hidup Amerika Serikat

masih yang tertinggi di kalangan negara industry maju dunia meskipun

negara- negara lain memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih besar

dibandingkan dengan Amerika Serikat.

Meskipun ekonomi Amerika Serikat sudah mengembangkan

selama bertahun- tahun, bebarapa masalah tertentu tetap hadir sejak

berdirinya negara ini. Satu diantaranya adalah perdebatan terus menerus

mengenai peran pemerintah dalam ekonomi pasar. Suatu ekonomi yang

berdasarkan usaha bebas umumnya bercirikan kepemilikan swasta,

dengan relative ketiadaan intervensi dari pemerintah. Akan tetapi pada

akhirnya campur tangan pemerintah diperlukan untuk membuat peluang

ekonomi di amerika Serikat ini menjadi adil dan terbuka bagi rakyat,

menghindari penyelewenan yang kasar, membendung inflasi dan

mendorong pertumbuhan. (Dinas Penerangan Amerika Serikat, 1996 : 10)

Perkawinan antara ekonomi amerika serikat dan system

perdagangan bebas merupakan suatu sukses besar, akan tetapi tetap

dengan berbagai persoalan. Permasalahan yang menonjol adalah


bagaimana peran pemerintah dalam mengatur perekonomian. Amerika

Serikat merupakan negara dengan system kapitalis yang diciptakan oleh

Karl Mark dengan teori pemusatan penguasaan atas bagian terpenting dari

ekonomi oleh sekelompok pemilik modal. Sedangkan Amerika Serikat

beranggapan bahwa kapitalisme berarti free enterprise (usaha bebas),

suatu ekonomi yang memberikan manfaat kepada berjuta- juta orang,

bukan sekelompok pemilik modal saja.

Sedangkan unsur- unsur ekonomi Amerika Serikat adalah :

(Kedutaan Besar Amerika Serikat, 1996 : 13)

a. Sumber daya alam Amerika Serikat. Amerika Serikat memiliki

sumber mineral dan tanah pertanian subur dengan iklim sedang.

b. Jumlah tenaga kerja. Amerika Serikat memiliki jumlah penduduk

yang besar, dengan demikian kebutuhan akan tenaga kerja dapat

diatasi.

Sistem ekonomi amerika serikat pada dasarnya adalah kepemilikan

pribadi. System ini berbeda dengan system social yang sangat berganting

pada perencanaan pemerintah dan pemiikan masyarakat atas alat- alat

produksi. Dalam system ekonomi di Amerika Serikat, konsumen,

produsen, dan pemerintah membuat keputusan setiap hari, umumnya

melalui sistem harga.

Arah perdagangan luar negeri dan kebijakan global Amerika

Serikat telah berubah secara drastis sejak hari- hari pertama negara ini

terbentuk, ketika Amerika Serikat terutama mengupayakan pembangunan


ekonominya sendiri, tidak perduli terhadap apa yang terjadi di luar dari

negara mereka.

Amerika serikat menguasai banyak pasar ekspor di dunia setelah

perang dunia II karena memiliki mesein industri yang tidak tersentuh oleh

kerusakan pada periode tersebut. Akan tetapi selama 1979-an dan 1980-

an, kesenjangan antara daya saing ekspor Amerika Serikat dengan negara

lain menyempit, ekspor negara lain lebih besar dari Amerika Serikat..

Guncangan harga minyak pada 1970-an, resesi dunia, dan naik

turunnya nilai tukar US$ mengganggu neraca perdagangan Amerika

Serikat serta mengurangi dukungan negeri terhadap liberalisasi

perdagangan pada tahu 1980-an.

Perekonomian Amerika Serikat saat ini sedang mengalami masa

transisi setelah dilanda krisis financial global tahun 2007- 2008 akibat

gagalnya kredit macet (sub prime morgages). . Di penghujung 2007,

resesi ekonomi memburuk dan terjadi krisis di tahun 2008. Bank-bank

dan lembaga-lembaga keuangan raksasa di AS hampir hancur, harga

saham merosot tajam, sektor kredit dan perumahan jatuh. Krisis di

Amerika Serikat ini merupakan krisis terberat sejak depresi besar (great

depression) tahun 1929.

Dengan jumlah penduduk sekitar 300 juta jiwa, produksi AS

ditaksir sekitar 28 persen GDP dunia. Tahun 2007 yang dipicu jatuhnya

harga obligasi kredit perumahan atau subprime mortgate, Amerika Serikat

memasuki siklus resesi.


8. Hubungan Indonesia Dengan Amerika Serikat

Ketika menyebut hubungan Indonesia Amerika Serikat, maka tidak

bisa lepas dari peran menonjol Amerika Serikat dalam Dana Moneter

internasional (IMF). Hal ini karena Amerika Serikat menjadi negara

anggota terbesar di dalam mendukung dan mendanai program IMF. Saat

Indonesia mengalami krisis ekonomi, peran IMF dibutuhkan dalam

menopang perekonomian Indonesia yang hancur. Akan tetapi peran

Amerika Serikat yang menonjol tidak mengurangi makna dari hubungan

Indonesia- Amerika Serikat di bidang lainnya. Hubungan Indonesia dan

Amerika Serikat di bidang perdagangan internasional dan investasi

menjadi hal yang mendasar dan terpenting sebagai salah satu upaya

membina hubungan erat dengaan Amerika Serikat.

Peningkatan hubungan ekonomi Indonesia dengan Amerika Serikat

tetap menjadi prioritas utama yang selalu diupayakan Indonesia dalam

hubungannya dengan pihak luar negeri. Amerika sebagai pusat dari

informasi dan kemajuan teknologi dihampir semua bidang dan juga

sebagai an engine of growth di Asia Pasifik menjadi pendorong bagi

siapapun, termasuk Indonesia untuk menjaga kemitraan dengan Amerika

Serikat.

Meskipun Indonesia tergolong negara sedang berkembang,

Indonesia merupakan negara kepulauan yang amat kaya dengan sumber-

sumber daya alam yang tidak semua negara memiliki. Selain itu Indonesia
juga terkendal dengan Sumber Daya Manusia yang murah dan

jumlah penduduk yang besar. Hal ini yang mampu membawa nama

Indonesia ke dunia internasional sebagai salah satu daya teriknya.

Hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat salah satunya adalah

hubungan di bidang perdagangan. Amerika Serikat adalah salah satu

negara yang diharapakan dapat menambah devisa negara dengan cara

meningkatkan ekspor ke Amerika Serikat. Meskipun tak sebesar Jepang

dan China, akan tetapi Amerika Serikat merupakan salah satu negara yang

mempunyai hubungan perdagangan yang relative tinggi dengan Indonesia

baik di bidang ekspor ataupun impor.

Komoditi utama ekspor utama Indonesia yang ditujukan ke

Amerika Serikat antara lain kayu olahan dan hasil ikutannya, di mana

Kalimantan Timur merupakan pintu gerbang terbesar di dalam suplai

ekspornya dan diikuti Kalimantan Selatan. Untuk barang- barang impor

dari Amerika Serikat Indonesia mendatangkan serat kapas, pesawat

telekomunikasi dan bagiannya, pulp dan sisa- sisa kertas, mesin bangunan

dan kontruksi, instalasi pembangkit listrik dan perlengkapannya. Jika

dilihat dari kemampuan impor dan ekspor, dapat dilihat bahwa Amerika

Serikat sebagai negara maju lebih siap di dalam pengadaan barang-

barang berteknologi tinggi dibandingkan dengan Indonesia.

Pada waktu Indonesia mengalami krisis ekonomi 1997- 1998,

neraca perdagangan Indonesia dengan 4 mitra dagang utama


menunjukkan nilai surplus. Neraca perdagangan dengan Amerika Serikat

selama tahun 1998 bernilai 3,513,7 juta US$.

Tabel 4.9
Nilai Surplus Perdagangan Indonesia Dengan Empat Negara Utama
Selama 1997- 1998 (Juta US$)

Negara Tahun Perubahan


1997 1998 (%)
Jepang 4232,7 4823,6 13,96%
Singapura 2057,0 3175,5 54,38
Korea Selatan 1140,4 1040,0 -8,8
Amerika Serikat 1707,2 3513,7 105,82
Total 12552,8 9137,3 27,21
Sumber : www.bps.go.id

Diantara keempat mitra dagan utama Indonesia, kedudukan AS

masih meningkat dari urutan ketiga sebesar 107,2 jua US$ menjadi

3513,7 juta US$ tahun 1998. Padahal pada tahun 1998, perekonomian

sedang mengalami gejolak yang sangat berat bagi Indonesia. Akan tetapi

kerja sama di bidang perdagangan dengan Amerika justru mengalami

peningkatan. Meskipun surplus itu sebagai hasil dari mnurunnya volume

atau kemampuan impor Indonesia karena melonjaknya nilai US$ yang

harus dibayarkan oleh importer Indonesia dan juga karena adanya

dorongan serta kemampuan ekspor yang semakin kuat karena keuntungan

besar dari perolehan devisa dolar yang menguat.

B. Analisis Data dan Pembahasan

1. Diskripsi Data

Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah time series yang

menggunakan data skunder. Data tersebut diperoleh dari Statistik


Ekonomi dan Keuangan Indonesia, Laporan Keuangan Bank Indonesia,

serta Indonesia Dalam Angka. Data analisis dalam bentuk data tahunan

periode 1985 sampai 2009.

Seluruh data yang digunakan akan diolah dan dianalisis

menggunakan program E-Views 4.0. Analisis data yang akan dikeluarkan

merupakan hasil analisis secara statistic dan ekonomi. Adapun variabel

yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Impor adalah perdagangan dengan cara memasukkan barang dari luar

negeri ke wilayah pabeanan Indonesia dengan memenuhi ketentuan

yang berlaku. Dalam penelitian ini nilai impor yang digunakan adalah

keseluruhan nilai impor Indonesia dari Amerika Serikat tahun 1989-

2009 dengan satuan juta US$.

b. Pendapatan Nasional adalah nilai produksi barang dan jasa yang

dihasilkan oleh suatu negara dalam jangka waktu tertentu. Dalam

penelitian ini konsep pendapatan nasional yang digunakan adalah

Produk Domestik Bruto (PDB) / Growth Domestic Product (GDP)

yang dinyatakan dalam harga constant pertahun dalam milyar rupiah.

c. Nilai tukar adalah perbandingan nilai antara mata uang domestic

terhadap mata uang asing. Dalam penelitian ini yang digunakan adalah

nilai kurs rupiah terhadap US$ dalam ribu Rupiah pada akhir periode.

d. Tingkat Inflasi adalah kecenderungan dari harga- harga untuk menaik

secara umum dan terus menerus. Dalam penelitian ini inflasi

dinyatakan dalam % pertahun.


e. Cadangan devisa adalah aset finansial yang berada di bawah control

otoritas moneter da tersedia untuk keperluan neraca pembayaran yang

dinyatakan dalam juta US$.

Variabel dependent dalam variabel ini adalah impor Indonesia

dari Amerika Serikat. Sedangkan variabel independen meliputi kurs nilai

tukar rupiah terhadap US$, PDB riil, tingkat inflasi dan cadangan devisa

Tabel 4.10
Impor Indonesia Dari Amerika Serikat, Kurs Rupiah Terhadap
US$, PDB Harga Constant, Inflasi, Cadangan Devisa

Tahun Impor Kurs PDB Inflasi Cadangan


Indonesia Rupiah Harga (% Devisa
dari AS Terhadap Konstant pertahun) (Juta US$)
(juta US$ (Milyar
US$) (Rupiah) Rupiah)
1985 1720.9 1131 38674.07 4.31 5846.2
1986 1482.4 1655 39008.64 8.83 5302.2
1987 1415.1 1650 43352.56 8.90 6512.3
1988 1735.7 1729 44930.95 5.47 6196
1989 2217.9 1795 50617.54 5.97 6561.9
1990 2520.1 1901 174215.15 9.53 8661.3
1991 3396.9 1,992 184888.8 9.52 9867.7
1992 3822.4 2062 196510.02 4.94 11610.9
1993 3254.5 2110 208187.63 9.77 18823
1994 3587.8 2220 242802.5 9.24 17416
1995 4755.9 2308 262599.93 8.64 18787
1996 5059.8 2383 286483.86 6.47 25296
1997 5440.9 4650 316666.03 11.05 21418
1998 3517.3 8025 567819.33 77.63 23762
1999 2839 7100 542728.91 2.01 27054
2000 3390.3 9595 601568.79 9.35 29394
2001 3207.5 10400 625972.36 12.55 28015.8
2002 2639.9 8940 694534.48 10.03 32037.04
2003 2694.8 8465 720224.11 5.1 36295.71
2004 3225.4 9290 2027219.6 6.4 36320.48
2005 3878.9 9830 2217828.04 17.1 34723.69
2006 4056.5 9020 2259434.48 6.6 42586.33
2007 4787.2 9419 2514670.67 7.4 56920.13
2008 7880.1 10950 4352490.16 11.4 51639
2009 7306.4 9400 4923616.09 2.8 69562
Sumber : Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia BI dan Statistik
Indonesia BPS, berbagai edisi
Model time series memiliki asumsi bahwa apa yang terjadi di masa

depan merupakan fungsi yang terjadi di masa lalu. Dengan kata lain model time

series mencoba melihat apa yang terjadi pada suatu kurun waktu tertentu dan

menggunakan data time series masa lalu untuk memprediksi.

2. Hasil dan Analisa Data

a. Model OLS

Untuk mengetahui pengaruh variabel independen yang berupa

kurs rupiah terhadap US$, tingkat inflasi, PDB riil dan cadangan

devisa apakah berpengaruh terhadap impor Indonesia dari Amerika

Serikat, maka digunakan regresi linear berganda.

Metode yang digunakan adalah metode kuadrat terkecil/

Ordinary Least Square (OLS) atau biasa disebut dengan Clasic Least

Square (CLS) dan pengolahan data menggunakan E-Views 4.0.

Setelah melakukan uji MWD, maka dalam penelitian ini regresi yang

digunakan adalah regresi semi log, karena variabel inflasi sudah dalam

bentuk persen. Sehingga persamaan regresinya adalah :

LIMPORit = b 0 + b1 LKURSit + b 2 LPDBit + b 3 INFLASIit + b 4 LCADDEVit + ei


Hasil estimasi dari persamaan dalam penelitian ini adalah :

Tabel 4.11
Hasil Regresi Linear Double Log

Dependent Variable: LIMPOR


Method: Least Squares
Date: 10/05/10 Time: 21:37
Sample: 1985 2009
Included observations: 25
Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.
C 4.551694 0.853489 5.333043 0.0000
LKURS -0.557151 0.141615 -3.934276 0.0008
LPDB 0.245889 0.119882 2.051096 0.0536
INFLASI 0.004286 0.003448 1.242890 0.2283
LCADDEV 0.503919 0.229454 2.196168 0.0400
R-squared 0.780306 Mean dependent var 8.093657
Adjusted R-squared 0.736367 S.D. dependent var 0.444178
S.E. of regression 0.228064 Akaike info criterion 0.058478
Sum squared resid 1.040267 Schwarz criterion 0.302253
Log likelihood 4.269021 F-statistic 17.75891
Durbin-Watson stat 1.666773 Prob(F-statistic) 0.000002
Sumber : Hasil Pengolahan data menggunakan E- Views 4.0

Berdasarkan tabel 4.11 di atas, maka diperoleh persamaan

regresi linear sebagai berikut :

Logimpor = 4,551694 – 0,557151 logKurs + 0,245889 logPDB +


0,0042867 Inflasi + 0,503919 logCaddev +ei

Setelah diperoleh nilai dari persamaan regresi tersebut, maka di

lakukan uji statistik dan uji ekonometrika sebagai berikut:

b. Uji Statistik

Setelah melakukan estimasi model menggunakan metode OLS, maka

selanjutnya akan dilakukan analisa statistic yang meliputi :

1) Uji t

Uji t adalah uji secara individual semua koefisien regresi

yang bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh dari masing-

masing variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil


pengujian terhadap koefisien regresi masing-masing variabel

bebas dengan = 5 % akan diperoleh sebagai berikut:

a) Jika |thitung| < |ttabel| pada tingkat signifikasi 5% maka Ho

diterima dan Ha ditolak, artinya variable independen tidak

mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.

b) Jika |thitung| > |ttabel| pada tingkat signifikasi 5% maka Ho ditolak

dan Ha diterima, artinya variable independen mempengaruhi

variabel dependen secara signifikan.

Dari pengujian yang telah dilakukan, maka akan diperoleh uji t

dengan α = 5% sebagai berikut :

Berikut ini adalah hasil pengujian parameter individual

dengan tingkat signifikasi ( = 0,05):

Tabel 4.12
Ringkasan Hasil Analisis Koefisien Regresi (t-hitung)

Variabel T hitung Probabilitas Kesimpulan


Lkurs -3.934276 0.0008 Signifikan
LPDB 2.051096 0.0536 Tidak signifikan
LInflasi 1.242890 0.2283 Tidak signifikan
LCadangan devisa 2.196168 0.0400 signifikan
Sumber : Hasil Olah Data dengan E-Views 4.0

Dari hasil analisis regresi linier berganda pada tabel 4.12

terlihat bahwa dari keempat variabel independen tersebut hanya

dua variabel yang berpengaruh secara individu terhadap impor

Indonesia dari Amerika Serikat. Kedua variabel tersebut adalah

variabel kurs dan cadangan devisa yang memiliki nilai probabilitas

masing-masing sebesar 0,0008 dan 0,0400. Sehingga H0 ditolak


dan Ha diterima. Sedangkan variabel independen PDB dan inflasi

masing-masing mempunyai nilai probabilitas kurang dari 0,05

yaitu sebesar 0,0536 dan 0,2283. Sehingga H0 diterima dan Ha

ditolak

2) Uji F

Uji F adalah uji untuk mengetahui besarnya pengaruh

variabel independen terhadap variabel dependen secara bersama-

sama. Berdasarkan hasil analisis regresi pada tabel 4.12 di atas

dapat dilihat nilai probabilitas untuk F statistik adalah 0,000002.

Sehingga Ho ditolak, Ha diterima. Hal ini dapat dikatakan bahwa

koefisien regresi secara bersama-sama signifikan pada tingkat a =

5%.

3) Koefisien Determinasi (R2)

Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui berapa

persen perubahan variasi variabel independen dapat menjelaskan

perubahan variabel dependennya. Nilai berkisar antara 0 sampai 1.

Apabila mendekati angka 1, ini menunjukan bahwa variasi variabel

dependen secara bersama-sama dapat dijelaskan oleh variasi variabel

independen. Sebaliknya jika nilai mendekati angka 0, maka variasi

dari variabel dependen tidak dapat dijelaskan oleh variabel independen.

Dari pengujian yang telah dilakukan menghasilkan nilai

sebesar 0.780306, sehingga dapat dikatakan bahwa hasil pengujian

yang dilakukan memberikan hasil yang cukup baik. Hal ini


menunjukan bahwa sebesar 78,03% variasi variabel dependen

dalam hal ini impor dari Amerika Serikat dapat dijelaskan oleh

variabel independen yang terdiri dari kurs, PDB riil, inflasi dan

cadangan devisa. Sedangkan sisanya sebesar 21,97% dijelaskan

oleh variabel lain diluar model.

6. Uji Ekonometrika (Uji Asumsi Klasik)

1) Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah suatu keadaan dimana terdapat

hubungan linier sempurna atau pasti diantara variabel-variabel

bebas dalam suatu regresi untuk mengetahui ada tidaknya

hubungan linier yang pas diantara variabel yang menjelaskan dalam

model regresi ini dapat dilakukan beberapa pengujian. Gejala

multikolinier adalah pada saat R2 sangat tinggi, namun tidak ada

satupun dari koefisin regresi yang signifikan secara statistik melalui

uji t. Uji multikolinearitas dilakukan dengan pendekatan

Kautsoyiannis yang dikembangkan oleh Kautsoyiannis (1977).

Tabel 4.13
Uji Multikolinearitas

Variabel R2 Tanda R2 (awal) Kessimpulan


dependen
Log kurs 0.289379 < 0.780306 Tidak ada multikolinearitas
Log PDB 0.597260 < 0.780306 Tidak ada multikolinearitas
Inflasi 0.003930 < 0.780306 Tidak ada Multikolinearitas
Log Caddev 0.599899 < 0.780306 Tidak ada multikolinearitas
Sumber : Hasil olah data dengan E-Views 4.0

Dari data diatas terlihat bahwa R2 pada regresi antara

variabel bebas, dengan menempatkan masing-masing variabel


bebas sebagai variabel dependen, yaitu kurs, PDB, inflasi da

cadangan devisa diperoleh nilai R2 lebih kecil dari R2a (regresi

awal), sehingga tidak ada multikolinearitas.

2) Uji Heteroskedasitas

Heteroskedastisitas muncul dalam fungsi regresi dengan

varian yang tidak sama, sehingga penaksir OLS tidak efisien baik

dalam sampel kecil maupun besar (tapi masih tidak bias dan

konsisten). Pengujian terhadap ada tidaknya heteroskedastisitas

dalam model empirik di lakukan dengan uji LM ARC. Kriteria

pengujian adalah dengan membandingkan nilai Obs*R squared <

x2 tabel, maka tidak signifikan, berarti bahwa tidak terjadi masalah

heteroskedastisitas.

Tabel 4.14
Uji Heteroskedastisitas
White Heteroskedasticity Test:
F-statistic 0.761989 Probability 0.640012
Obs*R-squared 6.897101 Probability 0.547774
Sumber : E-views, data diolah

Dari tabel tersebut terlihat bahwa Obs*R squared dengan nilai

8.897101< x2 tabel 15,507, berarti dalam model penelitian ini tidak

terjadi masalah heteroskedastisitas.

3) Uji Autokorelasi

Autokorelasi adalah korelasi yang terjadi diantara

anggota-anggota dari serangkaian pengamatan yang tersusun dalam

rangkaian waktu (seperti pada data time series) atau yang tersusun

dalam rangkaian ruang (Gujarati, 1995). Adanya korelasi antara


variabel gangguan sehingga penaksir tidak lagi efisien baik dalam

sampel kecil maupun sampel besar. Pengujian dilakukan dengan

metode Breusch-Godfrey Test, dengan kriteria pengujian sebagai

berikut: jika BG(n-p)*R2 < x2 tabel, maka tidak signifikan, berarti

bahwa tidak terjadi masalah autokorelasi. Disamping itu juga dapat

kita lihat dari probabilitasnya, jika probabilitas > , maka

model terhindar dari masalah autokorelasi.

Tabel 4. 15
Uji Autokorelasi
Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic 0.722392 Probability 0.405944
Obs*R-squared 0.915700 Probability 0.338606
Sumber : E-views, data diolah

Dari hasil autokorelasi diketahui bahwa (n-p)ObsR

squared (R2) dengan nilai 0,915700 < 15,507, berarti dalam model

penelitian ini tidak terjadi masalah autokorelasi. Dilihat dari

probabilitasnya juga lebih besar dari 0,05 yaitu sebesar

0,338606 (tidak signifikan) berarti model terhindar dari masalah

autokorelasi.

3. Intepretasi Ekonomi

a. Pengaruh Kurs Terhadap Impor Dari Amerika Serikat

Kurs berpengaruh signifikan terhadap permintaan impor

Indonesia dari Amerika Serikat pada tingkat sigifikasi 5% dengan

probabilitas 0,0008 dan koefisien sebesar -0,0557151. Ini berarti

setiap kurs naik sebesar 1 rupiah, maka impor Indonesia dari Amerika
Serikat akan turun sebesar 0,05594. Hal ini sesuai hipotesa bahwa

kurs dan impor memiliki hubungan yang berbalikan (Nopirin, 1997

:147)

Semakin tinggi nilai kurs (nilai mata uang sendiri turun relatif

terhadap valuta asing) maka menyebabkan harga produk ekspor

menjadi semakin murah di mata buyer luar negeri (importir). Dari sisi

eksportir, naiknya nilai kurs (nilai mata sendiri turun relatif terhadap

valuta asing) akan meningkatkan produksi akibat keuntungan yang

semakin meningkat karena rupiah yang diperoleh lebih besar sehingga

mendorong peningkatan ekspor. Intinya depresiasi menyebabkan

ekspor naik dan impor akan turun dan sebaliknya.

b. Pengaruh PDB terhadap impor

PDB riil memiliki pengaruh yang tidak signifikan pada tingkat

signifikansi 5% yaitu sebesar 0.0536 dan koefisien sebesar 0.245889..

Hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa PDB

riil berpengaruh secara positif terhadap permintaan impor. Hal ini

karena impor Indonesia dari Amerika Serikat merupakan impor bahan

penyangga konsumsi (buffer stock) dan sebagian besar merupakan

impor barang konsumsi rumah tangga. Sehingga impor barang

konsumsi akan tetap dilakukan meskipun PDB yang mencerminkan

pendapatan nasional mangalami kenaikkan atau penurunan. Hal ini

sesuai penelitian dari Dani Rustyaningrum tahun 2004 yang

menyatakan bahwa variabel PDB tidak berpengaruh secara sigifikan


yaitu dengan probabilitas sebesar 0,3592. Dalam penelitian yang

dilakukan oleh Dani Rustyaningrum tersebut, PDB tidak berpengaruh

signifikan karena pada uji asumsi klasik, terjadi masalah

heteroskedastisitas.

Selain itu penelitian dari Sigit Yunianto (2003) juga

menunjukkan bahwa variabel PDB juga tidak berpengaruh signifikan

terhadap impor dalam jangka panjang. Dalam penelitian tersebut,

ditemukan besarnya probabilitas untuk variabel PDB adalah sebesar

0,092 yang berarti tidak signifikan pada tingkat α = 5%.

c. Pengaruh inflasi terhadap impor

Inflasi memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap

impor Indonesia dari Amerika Serikat dengan probabilitas 0,2283

pada tingkat signifikasi 5%. Temuan empirik yang menunjukkan

bahwa inflasi dalam negeri tidak berpengaruh terhadap impor

Indonesia dari Amerika Serikat karena impor dari Amerika Serikat

sebagian masih memiliki kadungan ekspor yang berasal dari Indonesia

sendiri. Selain itu, impor dari Amerika Serikat sebagian besar adalah

bahan penyangga konsumsi dan faktor produksi yang industry dalam

negeri tidak mampu menyediakan barang- barang tersebut. Sehingga

pada saat inflasi tinggi permintaan impor dari Amerika Serikat masih

cukup tinggi.
d. Pengaruh cadangan devisa terhadap impor

Cadangan devisa memiliki pengaruh yang signifikan terhadap

impor Indonesia dari Amerika Serikat pada tingkat signifikansi 5%

yaitu sebesar 0.0400 dengan koefisien sebesar 0.503919. ini berarti

setiap kenaikan cadangan devisa 1 juta US$, maka permintaan impor

Indonesia dari Amerika Serikat akan meningkat sebesar 0,530535. Hal

ini berarti sesuai dengan hipotesa yang menyatakan bahwa cadangan

devisa berpengaruh signifikan terhadap impor.


BAB V

PENUTUP

Dari hasil pengujian secara empiris pada penelitian ini yaitu pengaruh

variabel independen terhadap variabel dependen, sebagai penutup akan disajikan

kesimpulan dan memberikan beberapa saran sebagai berikut :

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan pada bab- bab sebelumnya mengenai analisis

faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan impor Indonesia dari Amerika

Serikat tahun 1985- 2009, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai

berikut :

1. Variabel independen kurs mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

impor Indonesia dari Amerika Serikat dengan probabilitas 0,0008 pada

tingkat signifikansi 5 persen. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kurs

berpengaruh secara nyata terhadap permintaan impor Indonesia dari

Amerika Serikat periode 1985 sampai 2009.

2. Variabel independen PDB riil menunjukkan probabilitas yang tidak

signifikan pada tingkat signifikansi 5 persen yaitu sebesar 0.0536. Ini

menunjukkan bahwa variabel PDB riil tidak berpengaruh secara nyata

terhadap permintaan impor Indonesia dari Amerika Serikat pada tahun

1985 sampai 2009.

3. Variabel independen inflasi mempunyai pengaruh yang tidak signifikan

terhadap permintaan impor Indonesia dari Amerika Serikat pada tingkat


signifikansi 5 persen yaitu sebesar 0.2283. Hal ini menunjukkan bahwa

inflasi tidak berpengaruh secara nyata terhadap permintaan impor

Indonesia dari Amerika Serikat pada tahun 1985 sampai 2009.

4. Variabel independen cadangan devisa mempunyai pengaruh yang

signifikan terhadap perintaan impor Indonrsia dari Amerika Serikat pada

tingkat signifikansi 5% sebesar 0.04000 Hal ini menunjukkan bahwa

variabel cadangan devisa berpengaruh secara nyata terhadap permintaan

impor Indonesia dari Amerika Serikat pada tahun 1985 sampai 2009.

B. Saran

Berdasarkan penelitian di atas, dapat dikemukakan saran- saran sebegai

berikut :

1. Dengan penduduk yang besar dan juga keterbatasan industry dalam negeri

untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri, maka impor di Indonesia

menjadi sesuatu yang sangat penting. Impor Indonesia dari Amerika

Serikat dipengaruhi oleh impor periode selanjutnya. Impor Indonesia dari

Amerika Serikat dari tahun 1985 sampai 2009 rata- rata terus meningkat

meskipun peningkatan tidak terlalu besar. Impor Indonesia dari Amerika

Serikat rata- rata merupakan barang- barang penyangga konsumsi, mesin

industry. Salah satu impor yang terbesar dari Amerika Serikat adalah

kapas. Pemerintah seharusnya bisa mengatasi hal ini karena Indonesia

adalah negara dengan luas lahan pertanian dan perkebunan yang luas.

Seharusnya pemerintah dapat menjadikan ini sebagai modal berharga


untuk menghasilkan kapas sehingga mengurangi impor kapas ini dari

Amerika Serikat.

2. Variabel kurs atau nilai tukar yang berpengaruh signifikan pada tingkat

signifikansi 5 persen. Dalam penelitian ini berarti kurs berpengaruh secara

nyata terhadap impor Indonesia dari Amerika Serikat tahun 1985- 2009.

Indonesia menerapkan sistem nilai tukar mengambang bebas pada periode

1997 hingga sekarang yang artinya pemerintah tidak mencampuri tingkat

nilai tukar sama sekali sehingga nilai tukar diserahkan pada permintaan

dan penawaran valuta asing. Penerapan sistem ini dimaksudkan untuk

mencapai penyesuaian yang lebih berkesinambungan pada posisi

keseimbangan eksternal.

Untuk itu pemerintah harus mencapai keseimbangan internal dan

eksternal dengan cara mengkombinasikan antara kebijakan moneter dan

kebijakan fiscal. Oleh karena itu pemerintah harus mengambil kebijakan

fiscal kombinasi atau exchange rate (Nopirin, 1997:197). Jadi meskipun

kurs kita adalah mengambang bebas, akan tetapi pemerintah harus

menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sehingga dapat memperlancar

perdagangan internasional Indonesia pada umumnya dan impor

khususnya..

3. Cadangan devisa diperlukan dalam menjaga kestabilan ekonomi nasional.

Cadangan devisa dikatakan aman apabila mencukupi kebutuhan impor

dalam negeri setidaknya dalam jangka 3 bulan Dalam Penelitian ini,

cadangan devisa berpengaruh posotif dan nyata terhadap impor Indonesia


dari Amerika Serikat tahun 1985- 2009. Untuk itu, pemerintah harus tetap

menjaga kestabilan cadangan devisa diantaranya melalui peningkatan

nilai Bilateral Swap Arrangement (BSA) dalam kerangka kerjasama

ASEAN dan Cina, Jepang dan Korea. Akan tetapi perlu digaris bawahi

bahwa untuk meningkatkan cadangan devisa tidak perlu kembali

berhutang sepeti yang telah dilakukan pemerintah di akhir periode 2009

yang lalu yaitu dengan pinjaman dari IMF sebesar US$ 2,7 miliar karena

bagaimanapun hutang dibayar. Lebih baik pemerintah lebih focus untuk

meningkatkan komoditas- komoditas utama untuk meningkatkanekspor

yang nantinya akan berdampak ke neraca pembayaran dan akhirnya akan

meningkatkan cadangan devisa.


DAFTAR PUSTAKA

Amir M. S, 2004. Korespondensi Memasuki Pasar Impor. Jakarta : PPM

_____________. Teknik Perdagangan Luar Negeri. Jakarta : PPM.

BPS Kota Surakarta, berbagai edisi, Statistik Indonesia. BPS : Indonesia.

BI, 2009. Nota Keuangan Bank Indonesia. BI : Indonesia.

Cessilia Dupi Saraswati, 2007. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Impor


Non Migas Indonesia Dari Jepang Periode 1995.1 – 2005.4. Skripsi : FE
UNS.

Edmund Curry, Jefferey, 2002.Memahami Ekonomi Internasional. Jakarta :


PPM.

Damodar Gujarati, 2003. Ekonometrika Dasar. Jakarta : Erlangga.

Dani Rustyaningsih, 2004. Analisa Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi


Permintaan Impor Barang Konsumsi di Indonesia Tahun 1990.1- 2003.4.
Skripsi : FE UNS.

Dinas Penerangna Amerika Serikat, 1997. Garis Besar Ekonomi Amerika


Serikat. Jakarta : United States Information Service.

Dumairy, 1997. Perekonomian Indonesia, Jakarta : Erlangga.

Eko Atmaji, 2004. Analisa Impor Indonesia, Jurnal : Fe- UII.

Hall Hill, 1994. Ekonomi Indonesia, Jakarta : PT Rajagrafindo Indonesia.

Hamdy Hady, 2001. Ekonomi Internasional.Jakarta : Ghalia Indonesia.

Handayani, 2003. Faktor- Faktor Yang Mempengaruhi Impor Indonesia Dari


Jepang. FE UNS : Skripsi.

R. Hutabarat, 1996. Transaksi Ekspor Impor. Jakarta : Erlangga.

Insukindro. 2003. Ekonometrika Dasar. Yogyakarta : BPFE UGM.

McEachern, 2000. Ekonomi Makro.Jakarta : Salemba Empat.

Menkiw, N. Gregory, 2003. Teori Makro Ekonomi. Jakarta : Erlangga.


Nopirin, 1995. Ekonomi Internasional. Yogyakarta : BPFE.

Klinderberger, Charles P. Ekonomi Internasional. Jakarta : Penerbit Aksara


Baru.

Krugman, R. Paul dan Maurice Obstfeld. Ekonomi Internasional kebijakan


dan Teori. Jakarta : PAU FE UI dan Harapan Collins Publisher.

Laporan Keuangan BI berbagai edisi. Jakarta :Indonesia.

Pery Wijaya, 2004. BI (Bank Sentral Republik Indonesia). Jakarta : Pusat


Pelatihan dan Studi Kebanksentralan BI.

Salvatore, Dominick. 1994. Teori Mikro Ekonomi. Jakarta : Erlangga.

Samuelsen, Paul A dan Nordhaus D William, 1995. Makro Ekonomi. Jakarta :


Erlangga.

Sadono Sukirno, 2002. Pengantar Teori Makro Ekonomi. Jakarta : Pt Graha


Grafindo.

Sigit Yunianto, 2003. Analisa Pengaruh Produk Domestik Bruto, Nilai Kurs
Rupiah, Penanaman Modal Asing (PMA), Penanaman Modal Dalam Negeri
(PMDN) Dan Cadangan Devisa Terhadap Permintaan Impor Indonesia
Jangka Pendek dan Jangka Panjang. Skripsi : FE UNS.

Siti Aisyah Tri Rahayu, 2007. Modul Laboratorium Ekonometrika. Surakarta:


Fakulata Ekonomi UNS.

Sri Isnowati, 2002, Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar


Rupiah Terhadap Dollar Amerika: Pendekatan Moneter 1987.2 - 1999.1.
Jurnal Ekonomi Bisnis : STIE Sitkubang Semarang.

Statistik Keuaangan dan Ekonomi Indonesia berbagai edisi. Jakarta : Bank


Indonesia.

Tulus Tambunan, 2001. Perekonomian Indonesia. Jakarta : Ghalia Indonesia.

www.bi.go.id. Situs resmi Bank Indonesia

www.bps.go.id. Situs resmi Badan Pusat Statistik

www.kadin-indonesia.or.id

www.kompas.com