Anda di halaman 1dari 7

INTERGOVERNMENTAL ORGANIZATIONS (IGO’S)

Intergovernmental Organizations (IGO’s) adalah organisasi internasional yang


keanggotaannya adalah negara sebagai kesatuan. Di dalam negara itu sendiri terdapat
bermacam-macam aktor, antara lain:

• Pemerintah (secara formal).


• Legitimate transnational actors, seperti TNC, partai-partai politik, dan NGO.
• Non-legitimate transnatioal actors, yaitu gerakan-gerakan yang
keberadaannya tidak diakui oleh pemerintah, seperti Gerakan Aceh Merdeka
(GAM), HAMAS, gerilya, dan kriminal yang memiliki akses terhadap
hubungan internasional.
Berikut ini adalah fungsi IGO secara luas:
• Fungsi terluasnya adalah membantu negara-negara anggotanya untuk bekerja
sama.
• IGO dapat memperkecil biaya administrasi dan politik dalam membuat
persetujuan-persetujuan.
• IGO dapat mendorong negara-negara untuk mencapai persetujuan.
• IGO membantu mengoordinasikan kepentingan negara anggotanya dan
berbagai kelompok kepentingan lain.
Meskipun beberapa organisasi internasional memiliki visi dan misi yang
independen dan terpisah dari negara-negara anggotanya, seringkali kebijakan-kebijakan
yang dikeluarkan merupakan kepanjangan dari kepentingan nasional negara-negara yang
menyusunnya.

Alasan Negara Bergabung dengan Organisasi Intergovernmental


Terdapat beberapa alasan mengapa negara bersedia memasuki IGO, yaitu alasan
ekonomi, politik, dan keamanan. Beberapa negara bergabung dengan IGO karena
memberikan keuntungan ekonomi, contohnya NAFTA (The North American Free-Trade
Agreement) yang sebagian alasan pembentukannya adalah karena manfaat ekonomi bagi
ketiga negara anggotanya, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Di samping itu, alasan negara-negara bergabung dengan IGO adalah karena
organisasi internasional tersebut memberi mereka pengaruh politik yang lebih signifikan.
Contohnya adalah Belanda dan Portugal yang secara individual terlalu kecil untuk
mempengaruhi permasalahan dunia, namun dengan keanggotaannya dalam Uni Eropa,
mereka memiliki pengaruh yang lebih besar.
Sebuah negara dapat juga bergabung dengan organisasi internasional untuk
mendapatkan keamanan, contohnya adalah keanggotaan dalam NATO (The North
Atlantic Treaty Organization) yang merupakan organisasi keamanan paling berpengaruh
di dunia. Contoh lainnya adalah OSCE (Organization For Security And Cooperation In
Europe) yang terdiri atas 50 negara, termasuk negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.
Hal yang penting dalam teori hubungan internasional adalah hubungan di antara NGO
dan negara-negara berdaulat yang menyusunnya. Terkadang, dengan memasuki sebauh
NGO, negara harus merelakan kedaulatannya.
Alasan lain mengapa suatu negara ikut serta dalam organisasi internasional adalah
karena organisasi atau institusi intrnasional tersebut dapat membantu negara dalam
menciptakan kerja sama yang mendatangkan keuntungan. Organisasi internasional dapat
menekan biaya administratif serta politis dalam menyusun dan menerapkan kebijakan.
Selain itu, organisasi internasional dapat bersikap netral dalam mengawasi kinerja
pemerintah dalam menjalankan kebijakan yang diterapkan.

Pentingnya Intergovernmentalisme Dan Supranasionalisme


Sebagian besar organisasi internasional bersifat intergovernmental, dalam artian
negara mendominasi arah kebijakannya. Organisasi intergovernmental terdiri atas
perwakilan pemerintahan nasional dan mereka bekerja sama secara sukarela.
Kewenangan administrasi utama dari IGO yang disebut sekretariat memiliki tanggung
jawab atau kewenangan membuat keputusan yang sangat terbatas dan mereka cenderung
tidak memiliki kekuatan koersif untuk melaksanakan kehendak mereka. Pemerintah-
pemerintah nasional bekerjasama dengan satu sama lain, tetapi berusaha untuk
meminimalkan pengaruh akibat bergabungnya mereka dengan institusi internasional
tersebut.
Institusi-institusi internasional tersebut bisa mendapatkan power mereka sendiri,
mereka dapat menjadi badan supranasional karena dalam beberapa hal, kedudukan
mereka berada di atas negara. supranasionalisme menggambarkan sebuah susunan di
mana pemerintah nasional mentransfer kedaulatannya dalam jumlah yang signifikan
kepada badan internasional yang mengatur mereka, badan-badan ini memiliki
kewenangan yang otonom yang berada di atas negara dan memiliki power koersif yang
merdeka dari negara-negara anggotanya. Akan tetapi, hal ini tidak berarti institusi-
institusi tersebut melaksanakan kewenangan total terhadap pemerintah nasional.
Institusi internasional menggambarkan power yang mencerminkan pengaruh
negara-negara anggotanya. Hal ini dilakukan melalui proses pembuatan keputusan di
mana aturan pemungutan suara dapat dibentuk sedemikian rupa untuk mencermikan
balance of power di antara negara-negara anggota IGO. Aturan pemungutan suara dapat
juga digunakan untuk mendorong negara-negara agar bertindak lebih kooperatif terhadap
satu-sama lain. Sebagai contoh, untuk melegalkan penggunaan force dalam PBB, harus
mendapaatkan persetujuan dari kelima anggota dewan keamanan tetap.
Institusi supranasional dapat memperoleh pengaruh yang cukup besar ketika
timbul isu mengenai kebijakan yang baru. Organisasi internasional yang bersifat
supranasional bisa mendapatkan keuntungan dengan berperan sebagai enterpreneurial
dalam pengembangan kebijakan yang baru.
Organisasi internasional dapat menjadi supranasional dengan membantu
pengembangan kerjasama di antara kelompok kepentingan (interest group) dari negara
anggota yang berbeda.

Intergovernmental Actors
W. Raymond Duncan, Barbara Jancar-Webster, and Bob Switky
World Politics In The 21st Century

Bermacam-Macam Organisasi Internasional Dan Urgensinya


Realisme mengajarkan kita bahwa dunia didominasi oleh negara-negara, dan tidak
ada kesatuan lain di dunia yang lebih berkuasa dari negara. Selain itu, negara juga jarang
merelakan kedaulatannya untuk memasuki organisasi internasional. Akan tetapi, bila kita
melihat ke sekitar kita, terdapat berbagai aktor di luar negara yang mampu mengubah dan
mempengaruhi isu-isu internasional.
Secara umum, kita dapat membagi aktor-aktor non-negara ini menjadi dua
kelompok. Yang pertama adalah intergovernmental organizations (IGOs), contohnya
antara lain Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Uni Eropa, dan Organisasi Negara-
Negara Amerika. Keanggotaan dalam organisasi internasional jenis ini adalah negara
secara individual. Yang kedua adalah NGOs atau non-governmental organizations yang
terdiri dari individu-individu atau kelompok-kelompok perseorangan, contohnya
Greenpeace, Amnesty International, bisnis internasional, bahkan kelompok teroris.
IGO dan NGO memiliki beberapa karakteristik yang sama, yaitu sebagai berikut:
• Keanggotaannya yang bersifat suka rela
• Memiliki instrumen dasar atau piagam yang menyatakan tujuan, struktur, dan
metode operasi
• Memiliki sistem konferensi konsultatif yang representatif
• Memiliki sekretariat yang permanen untuk menjalankan administrasi, penelitian,
dan fungsi-fungsi informasi
• Dijalankan lebih melalui kesepakatan dan rekomendasi daripada melalui tekanan
atau kekuatan1
Jumlah organisasi internasional meningkat pesat di abad ke-20 dan sekarang
terdapat lebih dari 400 IGOs dan 5000 NGOs. Berikut adalah alasan mengapa NGOs dan
IGOs berkembang dengan sangat pesat.

1
Adapted from LeRoy Bennett, International Organizations: Principles and Issues Fifth Edition,
(Englewoods Cliffs, NJ Prentice Hall, 1991), p. 2.
• NGO cenderung untuk berkembang pesat di negara demokratis karena hanya di
negara yang demokratis terdapat kebebasan untuk bertindak dan bekerja sama.
• Tuntutan dari masyarakat terhadap pelayanan yang disediakan oleh negara.
Negara yang bersangkutan akan terpaksa mengakui keberadaan NGO karena tidak
memiliki kemampuan administratif untuk melakukan bantuan kemanusiaan atau
menyediakan fasilitas umum. Hal ini cenderung terjadi di negara-negara yang
kurang berkembang seperti Rwanda, Kosovo, dan Bosnia.
• Kancah perekonomian yang terbuka menguntungkan NGO dalam
perkembangannya, antara lain sistem ekonomi yang menunjang transfer uang
antarnegara. Dalam sistem ekonomi terbuka, negara dapat menyalurkan uangnya
lewat NGO untuk individu atau kelompok yang ada di negara lain.
• Perkembangan dalam bidang telekomunikasi dan teknologi komputer yang
merupakan keuntungan bagi NGOs di dunia, karena memudahkan negara-negara
anggota dalam berhubungan satu sama lain, baik secara lokal maupun
internasional .

Organisasi internasional sangat bervariasi, ada yang yang ruang lingkupnya global
seperti PBB, regional seperti NAFTA, ada yang memiliki banyak tujuan seperti Uni
Eropa, dan ada yang tujuannya terspesialisasi dan terbatas seperti OPEC (Organization
Petroleum Exporting Countries).

Alasan Negara Bergabung dengan Organisasi Intergovernmental


Terdapat beberapa alasan mengapa negara bersedia memasuki NGO, yaitu alasan
ekonomi, politik, dan keamanan. Beberapa negaara bergabung dengan NGO karena
memberikan keuntungan ekonomi, contohnya NAFTA (The North American Free-Trade
Agreement) yang sebagian alasan pembentukannya adalah karena manfaat ekonomi bagi
ketiga negara anggotanya, yaitu Amerika serikat, Kanada, dan Meksiko.

Alasan lain mengapa negara-negara bergabung dengan IGO adalah karena


organisasi internasional tersebut memberi mereka pengaruh politik yang lebih signifikan.
Contohnya adalah Belanda dan Portugal yang secara individual terlalu kecil untuk
mempengaruhi permasalahan dunia, namun dengan keanggotaannya dalam Uni Eropa,
mereka memiliki pengaruh yang lebih besar.
Sebuah negara dapat juga bergabung dengan organisasi internasional untuk
mendapatkan keamanan, contohnya adalah keanggotaan dalam NATO (The North
Atlantic Treaty Organization) yang merupakan organisasi keamanan paling berpengaruh
di dunia. Contoh lainnya adalah OSCE (Organization For Security And Cooperation In
Europe) yang terdiri atas 50 negara, termasuk negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.
Hal yang penting dalam teori hubungan internasional adalah hubungan di antara NGOs
dan negara-negara berdaulat yang menyusunnya. Terkadang, dengan memasuki sebauh
NGO, negara harus merelakan kedaulatannya.

Pentingnya Intergovernmentalisme Dan Supranasionalisme


Sebagian besar organisasi internasional bersifat intergovernmental, dalam artian
negara mendominasi arah kebijakannya. Organisasi intergovernmental terdiri atas
perwakilan pemerintahan nasional dan mereka bekerja sama secara sukarela.
Kewenangan administrasi utama dari IGO yang disebut sekretariat memiliki tanggung
jawab atau kewenangan membuat keputusan yang sangat terbatas dan mereka cenderung
tidak memiliki kekuatan koersif untuk melaksanakan kehendak mereka. Pemerintah-
pemerintah nasional bekerjasama dengan satu sama lain, tetapi berusaha untuk
meminimalkan pengaruh akibat bergabungnya mereka dengan institusi internasional
tersebut.

Institusi-institusi internasional tersebut bisa mendapatkan power mereka sendiri,


mereka dapat menjadi badan supranasional karena dalam beberapa hal, kedudukan
mereka berada di atas negara. supranasionalisme menggambarkan sebuah susunan di
mana pemerintah nasional mentransfer kedaulatannya dalam jumlah yang signifikan
kepada badan internasional yang mengatur mereka, badan-badan ini memiliki
kewenangan yang otonom yang berada di atas negara dan memiliki power koersif yang
merdeka dari negara-negara anggotanya. Akan tetapi, hal ini tidak berarti institusi-
institusi tersebut melaksanakan kewenangan total terhadap pemerintah nasional.
Institusi internasional menggambarkan power yang mencerminkan pengaruh
negara-negara anggotanya. Hal ini dilakukan melalui proses pembuatan keputusan di
mana aturan pemungutan suara dapat dibentuk sedemikian rupa untuk mencermikan
balance of power di antara negara-negara anggota NGO. Aturan pemungutan suara dapat
juga digunakan untuk mendorong negara-negara agar bertindak lebih kooperatif terhadap
satu-sama lain. Sebagai contoh, untuk melegalkan penggunaan force dalam PBB, harus
mendapaatkan persetujuan dari kelima anggota dewan keamanan tetap.
Institusi supranasional dapat memperoleh pengaruh yang cukup besar ketika
timbul isu mengenai kebijakan yang baru. Organisasi internasional yang bersifat
supranasional bisa mendapatkan keuntungan dengan berperan sebagai enterpreneurial
dalam pengembangan kebijakan yang baru.
Organisasi internasional dapat menjadi supranasional dengan membantu
pengembangan kerjasama di antara kelompok kepentingan (interest group) dari negara
anggota yang berbeda.
Alasan lain mengapa suatu negara ikut serta dalam organisasi internasional adalah
karena organisasi atau institusi intrnasional tersebut dapat membantu negara dalam
menciptakan kerja sama yang mendatangkan keuntungan. Organisasi internasional dapat
menekan biaya administratif serta politis dalam menyusun dan menerapkan kebijakan.
Selain itu, organisasi internasional dapat bersikap netral dalam mengawasi kinerja
pemerintah dalam menjalankan kebijakan yang diterapkan.