Anda di halaman 1dari 19

BAB 1

TATANAN DUNIA BARU

Di abad ke-20, tidak ada negara yang telah mempengaruhi hubungan


internasional dengan begitu yakin dan pada saat yang sama bertentangan dengan
Amerika Serikat. Tidak ada masyarakat yang dengan tegas mendesak pada
ketidaksetujuan pada intervensi urusan domestic dari negara lain, atau dengan
memnggebu-gebu menuntut bahwa nilai-nilainya diaplikasikan secara universal. Tidak
ada negara yang lebih dalam prakteknya pada hari ke hari memimpin sesuai
diplomasinya, atau lebih ideologis dalam pengejaran keyakinan moralnya.
Keganjilan yang telah dibuat oleh Amerika dendiri melalui sejarahnya telah
menciptakan dua sikap yang bertentangan terhadap politik luar negeri. Pertama
bahwa Amerika menampilkan nilai-nilainya yang terbaik melalui penyempurnaan
demokrasi di negara sendiri, berlagak sebagai rambu lalu lintas seluruh umat
manusia, yang kedua bahwa nilai-nilai Amerika membebankan pada suatu kewajiban
untuk memberantas yang buruk untuk merekadi seluruh dunia.
Pemikiran Amerika berbasis menekankan pada sebuah tatanan internasional yang
baru harus berbasis pada demokrasi, perdagangan bebas, dan hukum internasional.
Maka Amerika Serikat telah menampilkan system pemerintahan dunia yang terbaik, dan
untuk seluruh umat manusia dapat mancapai perdamaian dan kemakmuran melalui
mengabaikan diplomasi tradisionaldan mengadopsi referemsi Amerika untuk hokum
internasional dan demokrasi.
Perjalanan Amerika melalui politik internasional telah menjadi kejayaan
kepercayaan sepanjang pengalaman. Semenjak Amerika ikut serta dalam arena politik
internasional tahun 1917, sangat tangguh dan cukup kuat dalam menyakinkan
perjanjian-perjanjian yang mengikutsertakan nilai-nilai Amerika—dari Liga Bangsa-
Bangsa dan Pakta Kellog-Briand pada Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Akta
Final Helsinki. Keruntuhan Uni Soviet menandai kemenangan perjuangan intelektual
Amerika Serikat dan kemenangan nilai-nilai demokrasi dan liberalismenya.
Yang baru dalam membentuk tatatan dunia adalah, ketika Amerika masuk dalam
arena internasional, masih sangat muda dan kuat dalm memiliki kekuatan untuk
membentuk tatanan dunia sesuai dengan visinya dalam hubungan internasional.
Menjelang akhir Perang Dunia Kedua tahun 1945, Amerika Serikat sangat kuat
(menguasai 35% produksi perekonomian dunia) menunjukkan potensi Amerika untuk
membentuk dunia sesuai dengan preferensinya. Bahakan sampai John F Kennedy
mendeklarasikan secara tegas tahun 1961 bahwa Amerika sangat kuat untuk “membayar
harga dan menguburkan beban” untuk menunjukkan kesuksesan liberalisme.
Ketika berbicara mengenai politik luar negeri Amerika Serikat dan tradisi
diplomasi Eropa merupakan hal yang bertentangan satu sama lain. Dimana Eropa
berusaha untuk mempertahankan tradisi yang sudah ada sebelumnya, dan Amerika
menyongsong tradisi baru yaiu demokrasi dan liberalisme. Di mana dalam Fourten
Points, Wodrow Wilson memberitahukan Eropa bahwa sistem internasional tidak
seharusnya masih berbasis pada balance of power namun ethnic self determination,
dan keamanan mereka tidak tergantung lagi pada aliansi namun collective security,
dan diplomasi mereka tidak lagi bersifat rahasia melainkan open diplomacy. Menurut
Amerika bahwa balance of power itu sendiri telah gagal dalam menciptakan tatanan
dunia yang baik dan damai.
Namun sebenarnya negara-negara di Eropa tidak dengan sendirinya ingin
membentuk tatanan dunia yang balance of power. Kebangkitan negara-negara dan
keinginan untuk menguasai satu sama lain membentuk sistem itu. Balance of Power
tidak ditujukan untul menghindari krisis ataupun perang. Namun ketika sistem ini
berjalan dengan adanya akan mengurangi kemampuan dari satu negara untuk
mendominasi negara lain. Tujuan utamanya bukan perdamaian melainkan stabilitas.

Sejak akhir abad, hal ini rupanya diharapkan setelah perubahan perkara oleh French
Revolution dan Napoleon Wars. Mereka adalah pemimpin Eropa yang mengembalikan
keseimbangan power melalui kongres Vienna 1815 dan melemahkan kepercayaan yang
sifatnya brutal dalam power untuk mencari kelayakan dalam bertingkah laku
internasional yang mengutamakan moral dan pertalian yang legal. Namun pada akhir
abad ke-19, Negara Eropa mengalami balance-of-power yang menghasilkan prinsip dari
power politik yang lebih jauh lagi unvorgiving enviroent-nya. Lapisan luarnya
untuk menjatuhkan musuh menggunakan metode yang standar dalam diplomasi, terutama
pada sutu pengujian kekuatan satu sama lainnya. Setelah akhir tahun 1914 mengalami
krisis yang cukup lama bukan dikarenakan dari penyusutan. Eropa sama sekali belum
pernah menemukan pemimpin dunia seperti negaranya mengalami malapetaka pada PDI.
Negara AS sebagai negara yang dominan pada saat itu, walaupun seperti itu Woodrow
Wilson segera membuat encer suatu negara dalam permainan peraturan Eropa.
Tidak pernah dalam sejarah negara Amerika sibuk dalam bidang ideologi,politik dan
strategi perjuangannya dengan Uni Soviet dalam two-power dunia yang benar-benar
berdasarkan sesuai dengan prinsip yang berbeda dari sistem Balance of power. Dalam
2 kekuatan dunia metode mungkin tidak munafik mengenai konflik yang berperan
penting untuk keadaan yang baik.
Pemerintah Amerika memiliki value pendapatan yang dapat dilakukan oleh mereka yang
jarang mengakui revolusioner dan mengganggu ketenangan value yang muncul pada
orang lain. Masyarakat bukan menegakkan prinsip tingkah laku masyarakat melainkan
prinsip tingkah laku internasional ke arah yang sama dalam individu-notion yang
sudah terperinci tetapi brlawanan dengan Richeliev menurut beliau: raisen d’etat.
Amrika mengurus pencegahan peperangan paling banyak yang legal dalam tantangan
diplomatik dan menentang yang tidak berubah tetapi ada perbuatan metode yang
istimewa pada kegunaannya pada kekuatan.
Selama perang dingin khususnya negara Amerika pendekatan politik luar negrinya
sangat pantas untuk melakukan penolakan atau tantangan yang ada. Mereka mendalami
konflik idologi, dan merupakan suatu negara AS negara kemasukan setan yang penuh
dengan persenjataan lengkap dalam arti politik, ekonomi dan militer untuk mengatur
pertahanan dari dunia nonkomunis. Sebuah bangsa yang demikian kedudukannya mampu
untuk mendesak sebuah tinjauan dan sering menjauhi masalah lapisan luar yang
kurang menyayangi masyarakatnya.
Dalam dunia perang dingin, konsep kekuatan tradisionalnya masih banyak yang
menurun. Sebagian besar sejarahnya memperlihatkan sintesis kemiliteran, politik
dan daya ekonomi, yang mana generalnya memiliki bukti yang simetris. Pada periode
Perang Dingin, mengalami berbagai elemen dari kekuatan yang berbeda. Dulu negara
Uni Soviet memiliki kekuatan militer yang luar biasa dan pada waktu yang sama
perkenomiannya menjadi rendah. Hal tersebut juga mungkin dari masalah negararanya
dalam perekonomian yang sangat besar tetapi kemiliterannya menyimpang dari kasus
Jepang
Pada masa Perang Dingin Dunia, Ada Berbagai macam elemen yaitu kemungkinan besar
bertambahnya kongruen dan lebih banyak lagi simetrisnya. Kekuatan militer yang
relatif bagi Uni Soviet akan mengalami kemunduran secara berangsur-angsur.
Kekurangannya tersebut membagi secara gamblang kepada lawan yang akan menimbulkan
tekanan domestik pada sumber perubahan pertahanan prioritas yang lain seperti
proses persiapan semuanya mulai dari awal. Negara Uni Soviet dengan negara Amerika
berbeda sekali, Negara Amerika berproteksi akan adanya pemikiran yang komplit
dalam mengambil tanggung jawab yang besar bagi keamanan negaranya sendiri. Jadi
ada pembedahan sistem internasional yang baru menjelang pemindahan keseimbangan
dalam mentapkan bidang kemiliteran, meskipun dekadenya mencapai poin. Hal ini
cendrung lebih tegas perekonomiannya, kapanpun keunggulan Amerika sudah
berkurang dan kapanpun mereka akan berhati-hati terhadap tantangan Uni Soviet.
Sistem internasional pada abad ke-21 kemungkinan dapat memutuskan kepalsuan dalam
kontradiksi. Level pertama hubungan antar pemerintahan negara dalam order yang
baru kemungkinan lebih menyukai sistem negara Eropa pada abad 18-19 daripada
kekerasan pada waktu Perang Dingin. Hal tersebut mengutamakan power seperti AS,
Cina, Eropa, Japan, Russia dan mungkin negara India dan juga bragam-ragam negara
yang kecil, maupun negara yang besar. Pada waktu yang bersamaan hubungan
internasional global sesungguhnya memiliki waktu yang terdahulu. Sistem
perhubungan dunia dalam membedah ekonomi di seluruh benua secara serempak. Seluruh
seperangkat isu muncul saat seluruh negaranya menggunakan perjanjian dengan dunia
luar pada dasarnyansebagaimana perkembangbiakan nuklir, lingkungan, populasi
letupan, dan ekonominya saling bergantungan.
Eropa merupakan bagian dari dunia moderen yang sesungguhnya untuk menjalankan
sistem multistate, menciptakan suatu konsep nation-state yang berdaulat, dan
balance of power. Ini merupakan ide yang dominan dalam masalah internasional yang
hampir abad ke-3. Tapi tidak ada sama sekali Negara Eropa yang dulu yang
melaksanakan raison d’etat, tapi sekarang sudah cukup kuat untuk bertindak sebagai
pelaku yang muncul pada order internasional. Mereka berusaha relatif untuk
melemahkan pembuatan Uni Eropa pada tingkat global sejak itu lahirnya persatuan
politik yang belum pernah hidup sebelumnya.
Sepanjang sejarah ini, ada tokoh Rusia yang spesial dalam sebuah kasus. Eropa
mencapai hasil yang lambat menurut pandangannya, baik menurut France dan Great
Britain menurut mereka hal tersebut mengkonsolidasi dan sama sekali bukan prinsip
tradisional diplomasi Eropa yang kelihatannya mengarah pada hal tersebut. Ada 3
perbatasan tidak sama lingkungan kulturnya. Perubahan lingkungannya sangat konstan
dalam mnguasai peraturannya menggabungkan perbatasan teroris. Karakteristik
negaranya mengalami perubahan batasan yang paling baru, resah karena non-Rusia
menjadi kelompok etnik. Hal ini menyebabkan Rusia tidak wajib untuk memelihara
kekuasaan yang sangat besar dan ukurannya tersebut tidak ada sangkutannya pada
suatu yang masuk akal mngenai ancaman keamanan yang ekstrnal.
Diantanya memiliki kegelisahan yang obsesif dan menarik masuk kegiatan antara
keperluan Eropa dan menggoda Asia, kerajaan rusia selalu berperan dalam
keseimbangan Eropa tetapi tidak pernah terpisah dengan peranannya. Syarat yang
menaklukan dan keamanan yang menggaabungkan perhatian pemimpin Rusia semenjak
kongres Vienna, kekaisaran Rusia menetapkan kekuatan kemiliteran luar negrinya
sering menjadi kotoran negara lain major power-nya. Analisisnya sering kali
menjelaskan ekspanisasi Rusia yang berasal dari pengertian insecurity.
Sebelum abad-19, Cina belum mampu menandingi negara tetangganya yang memiliki
keunggulan dan belum pernah mengimajinasi negaranya seperti membangun negaranya.
Sebuah penakluk dari luar negri menjatuhkan dinasti Cina yang hanya terpikat
sampai kebudayaan Cina yang sedemikian luas lalu mereka meneruskan tradisional
sampai setengah kerajaan (middle Kingdom). Bangsa yang berkuasa sama haknya dengan
negara yang tidak eksis dalam Cina. Cina tidak menghargai pengiriman duta besar
luar negri tetapi tidak sulit dari kejauhan orang yang beradab menguasai dari
suatu yang berdekatan. Namun strategi ini untuk keadaan darurat yang bukan day-to-
day pada sistem operasionalnya seperti balance of power Eropa dan gagal
menghasilkan pemisahan diplomasi yang permanen memiliki karakteristik pendirian
Eropa. Setelah Cina menjadi dipermalukan dalam hal tersbut oleh kolonial Eropa
pada abad ke-19.
Dalam Perang Dingin, Uni Soviet mendominasi pada ancaman keamanan, Jepang dapat
mengenalkan politiknya pada Amerika sejauh 1000 mil. Dunia order baru memiliki
bermacam-macam tantangan tentunya khusus pada kepercayaannya dalam persekutuannya.
Efeknya sama sekali tidak penting bagi negara untuk membangun suatu dunia order
baru yang memiliki banyak pengalaman antar sistem multistate-nya yang
bermunculan. Sebelumnya belum pernah melakukan memperbarui Dunia order untuk
mengumpulkan dan menjadikan persepsinya tidak sama, atau dalam skala global.
Sedikitnya sebelum order menggabungkan atribut yang bersejarah terhadap sistem
balance of power dengan opini demokrasi global dan peledakan teknologi pada masa
periode kontemporer.
Pada sistem internasional yang ke dua memiliki keseimbangan yang dapat dilihat
dari kongres viena dan pertama kali didominasi oleh As setelah PDII mendapatkan
keuntungan dari persamann penglihatan.Negarawan dari vienna berasal dari
aristokrat tidak dapat dijelaskan arahnya dan telah disetujui fundamentalnya.
Order akan bermunculan dalam pembangunan oleh seorang negarawan yang sangat
mewakili perbedaan kultur. Banyak sekali birokrasi-birokarsi yang sangat
kompleks.hal tersebut sangat bekerja negarawannya untuk menghabiskan administrasi
prlengkapan daripada tujuannya.
Namun kenaikan dan runtuhnya sebelum dunia order mendasarkan banyaknya negara dari
perdamaian westphalia hanya mengalami gambaran yang berat bagi pengertian
tantangan dari lapisan luar negarawan kontemporer.

BAB 2
SENDI PINTU;
THEODORE ROOSEVELT ATAU WOODROW WILSON
Sampai dengan permulaan abad ini, kaum isolasionis mampu mengatasi dalam
kebijakan luar negeri Amerika. Ada dua faktor yang memproyeksikan Amerika dalam
isu-isu dunia. Pertama adalah perluasan kekuasaannya dan kedua adalah kejatuhan
secara gradual sistem internasional yang berpusat di Eropa. Dua presiden Amerika
yang menandai kemajuan ini adalah Theodore Roosevelt dan Woodrow Wilson. Keduanya
mengakui bahwa Amerika memainkan peranan yang krusial dalam memainkan isu-isu
dunia walaupun mereka membenarkan kemunculannya dari isolasi dengan pilosofi-
pilosofi yang berlawanan.
Roosevelt adalah seorang analis perimbangan kekuatan yang modern. Ia
mendesakkan peranan internasional kepada Amerika karena kepentingan nasional
memintanya dan karena perimbangan kekuatan global tidak dapat dikonsepsikan tanpa
partisipasi dari Amerika Serikat. Bagi Wilson, Justifikasi peranan internasional
Amerika adalah penyelamat. Amerika memiliki kewajiban bukan terhadap perimbangan
kekuatan akan tetapi untuk menyebarluaskan prinsip-prinsipnya ke seluruh dunia.
Selama masa pemerintahan Woodrow Wilson, Amerika muncul sebagai pemain kunci
dalam isu-isu dunia, memproklamasikan prinsip-prinsip yang merefleksikan
kebenaran-kebanaran secara umum dari pemikiran-pemikiran Amerika,. Prinsip-prinsip
tersebut didasarkan pada asumsi bahwa perdamaian bergantung pada penyebaran
demokrasi, negara-negara seharusnya diberikan penilaian berdasarkan kriteria etis
yang sama sebagai individu dan kepentingan nasional harus taat kepada sistem hukum
yang universal.
Wilson menilai bahwa fondasi-fondasi moral yang beragam dari kebijakan luar
negeri menampilkan kekuatan bahkan kemunafikan. Wilsonianisme telah bertahan hidup
ketika sejarah telah melalui pemelihaarn kontemporernya. Wilson adalah originator
dari visi organisasi dunia yang universal, Liga Bangsa-Bangsa, yang dapat menjaga
keamanan dunia melalalui keamanan kolektif ketimbang pembentukan suatu aliansi.
Meskipun Wilson tidak dapat meyakinkan negaranya atas jasa-jasanya, ide-idenya
tetap bertahan.
Pendekatan tunggal Amerika terhadap isu-isu internasional tidaklah
berkembang semuanya dalam satu kali atau sebagai konsekuensi dari inspirasi yang
solid. Pada awal tahun republik, kebijakan luar negeri Amerika sebenarnya
merupakan refleksi modern kepentingan nasional Amerika, sederhana dan memperkuat
kemerdekaan atau independensi bangsa. Sejak tidak ada negara-negara Eropa yang
mampu memposisikan ancaman aktual sepanjang hal tersebut mencakup rivalnya, para
pendiri bangsa menganggap bahwa mereka telah siap untuk memanipulasi perimbangan
kekuatan ketika itu menggunakan kebutuhan mereka; sesungguhnya, mereka mampu
menjadi orang yang memilikikemampuan yang luar biasa dalam melakukan manuver
antara Prancis dan Ingris Raya, tidak hanya dalam memelihara independensi Amerika
tapi juga dalam memperluas perbatasan-perbatasannya.
Jefferson mendefinisikan perang Napoleon sebagai kontes antara tiran di
darat (Prancis) dan tiran di laut (Inggris), dengan kata lain ia hendak menyatakan
bahwa keduanya secara moral sama, ekuivalen. Mempraktikkan bentuk awal dari non-
blok, bangsa atau negara baru mencakup keuntungan netralitas sebagai posisi tawar.
Pada saat yang bersamaan, Amerika Serikat tidak membawa penolakan terhadap
cara-cara perang yang lama kepada poin-poin penahanan diri dari ekspansi
teritorial. Sebaliknya, Amerika Serikat melakukan ekspansi di Amerika dengan
tujuan tunggal yang luar biasa. Setelah 1794, seperangkat perjanjian mengenai
perbatasan dengan Kanada dan Florida. Pembukaan Sungai Missisipi untuk kepentingan
perdagangan dan mulai membangun kepentingan komersial Amerika di Hindia Barat
Inggris.
James Madison memberikan penilaiannya dengan menyatakan bahwa perang
merupakan ‘kuman dari semua setan’ karena perang adalah pelopor perpajakan dan
angkatan perang, instrumen yang membawa banyak pihak ke dalam dominasi segelintir
pihak. Suksesornya, James Monroe mengatakan bahwa tidak ada kontradiksi dalam
membendung ekspansi ke arah barat.
Di Amerika, kombinasi antara kekuatan dan jarak menginspirasi kepercayaan
diri bahwa tantangan-tantangan dapat ditangani setelah tantangan tersebut tampak
atau merepresentasikan diri. Bangsa-bangsa Eropa dengan margin bertahan hidup yang
lebih sempit membentuk koalisi terhadap kemungkinan perubahan; Amerika mengontrol
kendali kebijakannya untuk menentang aktualitas perubahan.
Bangsa-bangsa baru tidak menganggap saran Washington sebagai penilaian
praktis atau geopolitis akan tetapi lebih sebagai maksim moral. Slogan keadilan
Amerika- At times so grating to foreigners- merefleksikan realitas bahwa
sebenarnya Amerika tidak semata-mata memberontak terhadap ikatan-ikatan legal yang
membatasinya kepada negara lama tapi terhadap sistem dan nilai-nilai Eropa.
Amerika mencapai frekuensi perang-perang Eropa untuk mengatasi institusi
pemerintah yang telah menolak nilai-nilai kemanusiaan dan kemuliaan manusia.
Perang adalah sistem pemerintah dari konstruksi lama, begitu dikatakan oleh Thomas
Paine.
Ide-ide bahwa perdamaian tergantung pada semua promosi atau pengenalan yang
dilakukan oleh institusi yang memberikan bagian pokok pemikiran Amerika. Kearifan
konvensional bangsa Amerika secara konsisten telah memelihara asumsi bahwa
demokrasi tidak menciptakan perang antara satu dengan yang lainnya. Alexander
Hamilton mengatakan bahwa republik secara esensial lebih damai dibandingkan dengan
bentuk pemerintahan yang lain. Namun demikian Hamilton merepresentasikan minoritas
yang sempit. Pelimpahan mayoritas pemimpin Amerika sama diyakininya dengan mereka
sekarang bahwa Amerika memiliki tanggung jawab khusus untuk menyebarkan nilai-
nilai yang mereka miliki sebagai kontribusi terhdap perdamaian dunia.
Penekanan pemimpin Amerika telah menempatkan fondasi-fondasi moral perilaku
Amerika dan pada signifikansinya sebagai simbol perdamaian yang mengarahkan pada
penolakan terhadap kebenaran yang semu dari diplomasi Eropa; bahwa perimbangan
kekuatan telah menyaring harmoni yang beragam di luar persaingan kepentingan yang
menguntungkan diri sendiri. Dan bahwa pertimbangan-pertimbangan keamanan telah
melangar prinsip-prinsip hukum sipil. Dengan kata lain, bahwa akhir negara telah
membenarkan maksud atau tujuan.
Ide-ide yang belum terjadi dahulu telah diteruskan dan disampaiakn ke
seluruh abad ke 19, institusi-institusinya dalam keteraturan kerja yang baik dan
usaha untuk mempertahankan nilai-nilai. Amerika menyadari bahwa tidak ada konflik
diantara prinsip-prinsip yang high minded dan kebutuhan –kebutuhan untuk bertahan
hidup. Seruan moralitas sebagai sarana untuk memecahkan permasalahan-permasalahan
internasional menghasilkan suatu ambivalnesi yang unik dan tipe Amerika yang
sangat kesusahan.
Untuk hari ini, dorongan dan tarikan dari dua pendekatan telah menjadi satu
tema utama dari kebijakan luar negeri Amerika. Pada tahun 1820, AS menemukan
kompromi antara dua pendekatan yang memungkinkan AS untuk memiliki kedua cara
tersebut sampai setelah PD II. Hal tersebut berlanjut untuk menyiksa apa saja yang
telah pergi melampaui samudera sebagai hasil yang dapat dicela dari politik
perimbangan kekuatan sedangkan ekspansi melampaui Amerika Utara merupakan
“manifest destiny”.
Sampai dengan abad ke 20, kebijakan luar negeri Amerika pada dasarnya
sederhana; untuk memenuhi penjelajahan manifestasi dan untuk menyediakan kebebasan
dari rintangan-rintangan yang berasal dari luar.
Sisi lain dari kebijakan Amerika yang self-restraint adalah keputusan untuk
mengeksklusi politik kekuasaan Eropa dari wilayah pengaruh Barat, jika dibutuhkan
dengan mengggunakan beberapa metode diplomasi Eropa. Doktrin Monroe yang
memproklamasikan kebijakan ini muncul dari suatu upaya Aliansi Suci. Aliansi Suci
ini memiliki negara-negara utama seperti Rusia, Prussia, dan Austria- untuk
menahan revolusi di Spanyol pada tahun 1820.
Doktrin Monroe diproklamasikan pada tahun 1823, dibuat mengelilingi samudera
yang memisahkan Amerika dengan Eropa. Mengacu pada waktu tersebut, peraturan
kebijakan luar negeri Amerika membuat Amerika tidak menjadi hambatan atau
rintangan dalam perjuangan Eropa mencapai kekuasaan. Doktrin Monroe menginjak pada
langkah berikutnya dengan mendeklarasikan bahwa Eropa jangan menjadi hambatan atau
rintangan dalam urusan-urusan Amerika Serikat- keseluruhan hemisfer barat
sesungguhnya bersifat ekspansif.
Doktrin Monroe tidak membatasi dirinya sendiri terhadap prinsip-prinsip
deklarasi. Secara berani, doktrin Monroe memperingatkan kekuatan Eropa bahwa
bangsa atau negara baru dapat pergi berperang untuk membentuk inviolabilitas
hemisfer atau wilayan Eropa. Doktrin Monroe mendeklarasikan bahwa As harus
menghormati berbagai perluasan kekuasaan Eropa ‘ untuk porsi tertentu dari
hemisfer ini adalah bahaya terhadap perdamaian dan keamanan”.
Pada tahun 1823, Doktrin Monroe mewanti-wanti kekuatan atau kekuasaan Eropa
untuk menjaga hemisfer Barat/Eropa. Mengacu pada doktrin tersebut, maknanya secara
gradual telah diperluas untuk membenarkan hegemoni Amerika di hemisfer Barat atau
Eropa. Pada tahun 1845, Presiden Folk menjelaskan bahwa inkorporasi Texas ke dalam
AS karena dibutuhkan untuk mencegah negara merdeka menjadi “an ally or dependency
of some foregin nation more powerful dan herself” dan mulai sekarang sebuah
ancaman terhadap keamanan Amerika. Dengan kata lain Doktrin Monroe membenarkan
intervensi Amerika tidak hanya terhadap ancaman yang ada tapi juga terhadap
kemungkinan dari tantangan- sebanyak yang dilakukan oleh perimbangan kekuatan
Eropa.
Sesuatu yang lebih fundamental dari dari ekspansi melampaui benua Amerika
sedang berlangsung, meskipun secara praktik tidak tercatat sebagai Great Power-
anggota baru bergabung dengan klub atau kelompok mereka karena AS menjadi negara
yang paling kuat di dunia. Pada tahun 1885, AS telah melampau Inggris Raya
kemudian dipertimbangkan sebagai kekuatan industri utama dunia, dalam output atau
produk manufaktur. Pada penutup abad 19, As telah mengkonsumsi lebih banyak energi
bila dibandingkan dengan Jerman, Prancis, Austria-Hongaria, Rusia, Jepang dan
Italia.

Theodore Roosevelt
Roosevelt adalah presiden Amerika Serikat pertama yang menyarankan bahwa
tugas dan kewajiban Amerika untuk membuat pengaruhnya dirasakan secara global dan
menghubungkan Amerika dengan dunia dalam konteks kepentingan nasional. Seperti
halnya dengan pendahulunya, Roosevelt diyakinkan oleh peranan penting Amerika di
dunia. Akan tetapi tidak seperti mereka, Roosevelt berpegang pada keyakinan bahwa
Amerika memiliki kebijakan luar negeri yang ril. Beliau memulai dari suatu premis
atau anggapan bahwa Amerika Serikat adalah sebuah kekuatan layaknya kekuatan lain,
bukanlah penjelmaan yang tunggal dari kebajikan. Jika kepentingannya beradu dengan
kepentingan negara lainnya, Amerika memiliki kewajiban untuk menguasainya.
Sebagai langkah pertama, Roosevelt memberikan Doktrin Monroe sebuah
interpretasi yang paling intervensionis dengan mengidentifikasinya dengan doktrin
kaum imperialis. Beliau menyebut “corollary” untuk Doktrin Monroe, ia
memproklamasikan pada tangal 6 Desember 1904, sebuah hak intervensi umum oleh
beberapa bangsa beradab dalam hemisfer Barat atau Eropa , AS sendiri memiliki
sebuah hak untuk melakukan atau melaksankan hal tersebut.
Praktik-praktik Roosevelt mendahului ucapan-ucapannya. Pada tahun 1992, AS
memaksa Haiti untuk melunasi hutang-hutangnya dengan Bank Eropa. Pada tahun 1903,
terjadi kekacauan di Panama dalam suatu pemberontakan berskala besar. Dengan
bantuan Amerika, penduduk lokal merebut kemerdekaan dari Kolombia, tapi sebelum
Washington membangun zona terusan di bawah kedaulatan AS .
Bagi Roosevelt, diplomasi kekerasan di hemisfer Eropa adalah bagian dari
peranan global baru Amerika. AS telah menjadi aktor dalam tahapan internasional.
Roosevelt menyampaikan pesan kepada kongres pada tahun 1902 bahwa semakin banyak
peningkatan interdependensi dan kompleksitas hubungan ekonomi dan politik
internasional mengembalikannya tetap berkuasa pada semua kekuasaan yang tertib dan
beradab untuk mendesak agar tercipta suatu kebijakan dunia yang lebih tepat.
Roosevelt memimpin sebuah posisi historis sejarah yang unik dalam pendekatan
Amerika terhadap hubungan internasional. Tak ada presiden yang mendefinisikan
peranan dunia AS dengan sangat lengkap dalam konteks kepentingan nasional atau
mengidentifikasi kepentingan nasional secara komprehensif dengan perimbangan
kekuatan. Roosevelt membagi pandangannya kepada rekan-rekan senegaranya bahwa AS
adalah harapan terbaik untuk dunia. Akan tetapi tidak seperti kebanyakan dari
rekan-rekannya, Roosevelt tidak percaya bahwa itu dapat memelihara perdamaian atau
memenuhi tujuan utama dengan mempraktikkan kebajikan-kebajikan sipil. Dalam
persepsinya terhadap ketertiban dunia, ia lebih dekat dengtan Palmerston dan
Disraeli ketimbang dengan Thomas Jefferson.
Presiden yang baik adalah seorang yang mampu mendidik, menjembatani gap
antara harapan masyarakat dengan dengan pengalamannya. Roosevelt mengajarakan
sebuah dooktrin khusus untuk orang yang memiliki kepercayaan bahwa perdamaian
adalah kondisi yang normal diantara negara-negara, bahwa tidak ada perbedaan
antara moralitas personal dan moralitas publik dan bahwa Amerika secara aman telah
diasingkan dari pengaruh dunia. Lebih lanjut beliau mengangap bahwa kehidupan
internasional adalah sebuah perjuangan dan teori Darwin mengenai survival of the
fittest, lebih baik sebagai petunjuk sejarah ketimbang daripada moralitas
personal. Dalam pandangannya, kerendahan kati hanya diwariskan dunia kepada mereka
yang kuat. Amerika bukanlah sebuah kausa atau penyebab tapi merupakan kekuatan
yang besar, bahkan potensial untuk menjadi yang terbesar. Ia berharap menjadi
seorang presiden yang mampu memimpin masuk bangsanya ke dalam suatu tatanan dunia
dimana Amerika memainkan peran sebagai pihak yang mampu membentuk abad ke 20
seperti halnya yang dilakukan oleh Inggris pada abad ke 19- sebagai negara yang
memiliki kekuatan untuk mengklaim diri sendiri dengan moderasi dan kebajikan untuk
bekerja atas nama stabilitas, perdamaian dan kemajuan.
Roosevelt menjadi tak sabar dengan banyaknya kebajikan-kebajikan yang
mendominasi arus pemikiran dalam kebijakan luar negeri Amerika Serikat. Ia
mengingkari hukum internasional bahwa sebuah bangsa tidak dapat melindungi dengan
kekuatan yang dimilikinya , tidak dapat diamankan dari komunitas internasional.
Ia menolak perlucutan senjata yang muncul sebagai diskursus internasional.
Dalam sebuah dunia yang diatur oleh kekuatan atau kekuasaan, Roosevelt
percaya bahwa ketertiban dasar dari segala hal direfleksikan dalam konsep ‘wilayah
kekuasaan’ yang ditandai pengaruh yang sangat besar melampui wilayah-wilayah besar
untuk kekuatan-kekuatan spesifik. Sebagai contohnya, AS di wilayah Eropa atau
untuk Ingris raya di sub-kontinen Hindia. Pada tahun 1908, Roosevelt mengizinkan
pendudukan bangsa-bangsa Jepang atau Korea karena hubungan cara berfikir orang-
orang Jepang-Korea harus ditentukan oleh kekuatan relatif masing-masing negara,
bukan oleh pembagian ancaman atau oleh hukum internasional.
Roosevelt pertama-tama melihat tidak penting untuk menggabungkan Amerika
dalam perimbangan kekuasaan Eropa karena ia mempertimbangkan lebih banyak atau
lebih sedikit self-regulating. Akan tetapi dia membuang sedikit keraguan bahwa
jika penilaiannya salah ia harus menggabungkan Amerika sendiri untuk membangun
kembali sebuah ekuilibrium atau keseimbangan. Roosevelt secara gradual melihat
Jerman sebagai ancaman terhadap keseimbangan Eropa dan mulai untuk
mengidentifikasi kepentingan nasional Amerika dengan kepentingan yang dimiliki
oleh Ingris dan Prancis.
Di Eropa, Roosevelt menimbang ancaman prinsipil Jerman.Di Asia ia
menitikberatkan pada aspirasi bangsa Rusia dan keunggulan Jepang, Rusia adalah
rival. Roosevelt mendeklarasikan bahwa tidak ada bangsa dan negara di dunia yang
lebih daripada Rusia, yang mampu berpegang pada dirinya sendiri untuk keadaan pada
tahun-tahun yang akan datang.Walaupun Roosevelt menyatakan netralitas bangsa
Amerika, ia cenderung bersandar kepada Jepang. Kemenangan Rusia, menurutnya, dapat
menjadi arah bagi peradaban dan ketika Jepang merusak atau menghancurkan angakatan
laut Rusia, ia mengatakan bahwa ia senang dengan kemenangan Jepang dan Jepang
sekarang sedang memainkan permainan kita.
Dalam istilah pendirian semua prinsip keahlian berpolitik, Roosevelt memiliki
argument yang jauh lebih baik diantara dirinya dan Woodrow Wilson. Namun, meski
serarus tahun kemudian nama Roosevelt diingat karena pencapaiannya, Wilsonlah yang
berjasa dalam membentuk pemikiran rakyat Amerika. Roosevelt mengerti bagaimana
politik internasional bekerja diantara negara-negara di dunia yang kemudian
mengarah pada hubungan internasional. Wilson kemudian berhasil memperbesar
motivasi Amerika, mungkin dengan suatu prinsip yang dikemukakan bahwa Amerika
secara sederhana melihat dirinya sendiri tidak sama seperti bangsa-bangsa lainnya.
Hal ini dinilai memiliki kekurangan dalam dasar teoritis dan praktek jika
dibandingkan dengan diplomasi versi Eropa yang mengarah pada penyesuaian konstan
akan nuansa politik dalam bentuk kenetralan moral dari suatu daras untuk
mempertahankan keseimbangannya. Apapun kenyataan dan pelajaran dari kekuasaaan,
orang Amerika yang percaya pada hukuman telah meletakkan pengecualian karakternya
pada praktek dan penyebaran kemerdekaan.
Amerika dapat tergerak menuju perbuatan yang besar dengan hanya melalui pandangan
bahwa persepsi mereka terhadap negara mereka adalah suatu pengecualian.
Bagaimanapun menyesuaikan secara intelektual ke arah diplomasi Great Powers,
pendekatan Roosevelt talah gagal mencegah rakyatnya bahwa mereka perlu untuk
memasuki Perang Dunia pertama. Wilson sebaliknya, menggugah emosi rakyatnya dengan
argumen bahwa sebagaimana meningkatnya moral, mereka semakin tidak dapat
dimengerti oleh para pemimpin asing.
Pencapaian Wilson sangat mengagumkan. Menolak kekuasaan politik, ia tahu bagaimana
menggerakkan rakyat Amerika. Seorang akademisi yang relative terlambat dalam
politik, ia terpilih dengan perpecahan dalam partai Republik diantara Taft dan
Roosevelt. Wilson mengerti bahwa insting mengisolasi yang dimiliki Amerika dapat
diatasi dengan daya tarik pada kepercayaannnya dalam pengecualian alamiah akan
ideologi mereka. Selangkah demi selangkah ia mengarahkan negeri yang terisolasi
tersebut ke dlaam perang, setelah ia mendemonstrasikan pertama kali pengabdian
administrasinya pada perdamaiandengan pembelaan yang menggebu-gebu akan
netralitas. Dan ia melakukannya sembari menyangkal adanya kepentingan nasional
yang egois, dan dengan menyatakan behwa Amerika tidak mencari keuntungan daripada
mempertahankan prinsipnya.
Wilson mengemukakan beberapa outline pada tahun 1913 yang kemudian dikenal sebagai
Wilsonianism. Hukum universal dan bukan ekuilibrium, kepercayaan nasional bukan
penonjolan diri bangsa adalah beberapa pandangan Wilson, pondasi bagi perilaku
internasional. Merekomendasikan ratifikasi dari nenerapa perjanjian mengenai
arbitrasi, Wilson berpendapat bahwa arbitrasi yang mengikat dan paksaan dapat
menjadi metode untuk menyeesaikan perselisihan. Tidak ada yang lebih mengganggu
Wilson dibandingkan dengan prinsip yang kedengarannya tinggi tapi tidak didukung
oleh kekuasaan dan keinginan untuk menerapkannya.
Pengaruh Amerika dalam pandangan Wilson bergantung pada ketidakegoisannya; Amerika
harus mempertahankan dirinya sehingga pada akhirnya Amerika dapat melangkah maju
sebagai masit yang dapat dipercaya diantara pihak-pihak yang berperang Roosevelt
telah menyatakan bahwa peperangan di Eropa dan khususnya kemenangan Jerman akan
menjadi ancaman yang berarti bagi keamanan Amerika. Wilson mengendalikan bahwa
Amerika sebenarnya tidak tertarik , tapi harus tampak sebagai mediator. Karena
kesetiaan Amerika pada nilai lebih tinggi dari balance of power, perang di Eropa
sekarang telah menghasilkan kesempatan yang luar biasa untuk menarik masuk
pendekatan baru yang lebih baik dalam hubungan internasional.
Roosevelt mengejek gagasan tesebut dan menuduh Wilson menjadi kaki tangan dari
orang yang sentiment pada isolationis demimembantu pemilihannya kembali pada 1916.
Kenyataannya kepercayaan pada kebijakan Wilson berlawanan dengan isolasionisme.
Apa yang dikemukakan Wilson adalah bukan penarikan diri Amerika dari dunia, tapi
penerapan universal dari nilai-nilainya, dan seiring dengan waktu komitmen Amerika
untuk menyebarkannya. Wilson mengulangi apa yang telah menjadi kebijaksanaan
konvensional Amerika sejak Jefferson, tetapi menempatkannya dalam keadaan ideologi
yang berlawanan:
· Misi khusus Amerika melampaui diplomasi hari ke hari dan mewajibkannnya
untuk berlaku sebagai pendukung kebebasan bagi seluruh umat manusia.
· Kebijakan luar negeri dari demokrasi lebih tinggi secara moral karena rakyat
sebenarnya cinta damai
· Kebijakan luar negeri harus merefleksikan standar moral yang sama dengan
etika personal
· Negara tidak berhak untuk mengklaim moralitas yang terpisah untuk dirinya
sendiri.
Klaim bahwa tujuan akhir Amerika mewakilidispensasi yang telah ditakdirkan
mengakibatkan peran global bagi Amerika yang akan membuktikan jauh melebihi apapun
yang pernah dibayangkan Roosevelr. Sejak ia tidak menginginlan lebih dari hanya
meningkatkan leseimbangan kekuasaan dan untuk meletakkan peran Amerika dalam
keadaan yang sama pentingnya dengan tumbuhnya kekuatannya. Dalam konsepsi
Roosevelt, Amerika akan menjadi satu bangsa diantara banyak lainnya yang lebih
kuat dari sebagian besar dan bagian dari kelompok elit dari Great Powers, tetapi
tetap menjadi subjel dari persamaan peran historis.
Wilson menggerakkan Amerika kearah yang jauh dari pemikiran yang semacam itu.
Mengacuhkan keseimbangan kekuasaan, ia berkeras bahwa peran Ameika adalah bukan
untuk membuktikan keegoisannnya, tapi kehebatannya. Jika hal tersebut adalah benar
adanya, Amerika tidak berhak untuk menyimpan nilai-nilainya bagi dirinya sendiri.
Di awal 1915, Wilson mengemukakan doktrin yang belum pernah terjadi sebelumnya
bahwa keamanan Amerika tidak terpisahkan dari keamanan seluruh umat manusia. Ini
mengakibatkan bahwa sejak saat itu tugas Amerika adalah untuk melawan agresi
dimanapun. Menganggap Amerika sebagai polisi global, hal ini menjadi bayangan akan
containment policy, yang mana akan dikembangkan setelah Perang Dunia kedua. Wilson
merubah apa yang telah dimulai sebagai pernyataan netralitas Amerika menjadi
sejumlah tawaran berdasarkan pada fondasi global. Dalam pandangan Wilson, tidak
ada perbedaan yang esensial antara kebebasan Amerika dengan kebebasan dunia.
Kepentingan nasional Amerika sejalan dengan berjalannya waktu akan memimpin
Amerika untuk mengadopsi kebijakan global yang sebanding dengan Inggris melalui
Eropa continental. Sudah tiga abad, pemimpin Inggris telah beroperasi dari asumsi
bahwa jika sumber daya Eropa dikuasai oleh kekuasaan tunggal yang dominant, negara
tersebut akan memiliki sumber daya tersebut untuk menantang komando Inggris di
lautan dan jadinya mengancam kemerdekaannya. Secara seopolitik. Amerika Serikat,
juga sebuah pulau di luar perairan Eurasia, seharusnya, dengan alasan yang sama
telah merasakan kewajiban untuk melawan dari dominasi Eropa atau Asia dengan
kekuatan siapapun dan bahkan kuasa dari kedua benua dengan kekuasaan yang sama.
Dalam masalah perang, Wilson melihat penyebabnya bukan hanya kejahatan
kepemimpinan Jerman namun juga dalam keseimbangan kekuasaan di dalam Eropa juga
terdapat penyebabnya. Ia menyebutkan bukannya keseimbangan kekuasaaan melainkan
komunitas kekuasaan; bukan persaingan yang terorganisir melainkan sebuah
perdamaian umum yang terorganisir. Wilson beranggapan bahwa perang adalah sistem
dari persaingan yang terorganisir. Kemudian, apa yang Wilson sebut sebagai
komunitas kekuasaan tidak lain adalah hal yang nantinya dikenal sebagai keamanan
kolektif. Meyakinkan bahwa seluruh bangsa di dunia memiliki kepentingan yang sama
dalam perdamaian dan maka dari itu akan bersatu untuk menghukum mereka yang
mengganggunya, Wilson menawarkan untuk mempertahankan tatanan internasional dengan
consensus moral akan kecintaan pada perdamaian.
Untuk menginstitusionalkan consensus ini, Wilson kemudian mengemukakan Liga
Bangsa-Bangsa, dengan bantuan dari organissi dunia ini, kekuasaan akan meneriakkan
moralitas dan paksaaan militer akan mendikte pendapat publik. Wilson terus
menekankan hal bahwa jika public telah cukup diinformasikan maka peperangan tidak
akan pernah terjadi. Jika teori baru ini bekerja, dalam pandangan Wilson,
setidaknya dua perubahan dalam tata internasional telah mengambil tempat dalam
pertama, penyebaran pemerintahan demokratis ke seluruh dunia dan selanjutnya
uraian akan diplomasi yang bari dan lebih menyeluruh berdasarkan pada kode
kehormatan yang sama tinggi dengan apa yang kita minta dalam sisi individual.
Pemeliharaan perdamaian tidak akan lagi berasal dari pemikiran tradisional akan
kekuasaan melainkan dari konsensus dunia yang didukung oleh mekanisme kebijakan.
Sebuah pengelompokan universal dari bangsa-bangsa demokrasi yang besar akan
bertindak sebagai perwalian dari perdamaian dan menggantikan keseimbangan
kekuasaan yang lama dan sistem aliansi.
Pemikiran hebat seperti itu tidak pernah dikemukakan oleh bangsa lainnya, kemudian
mulai diterapkan. Meskipun begitu, di tangan idealisme Amerika mereka diubah
menjadi hal yang umum pada pemikiran nasional dalam kebijakan luar negeri. Setiap
presiden Amerika setelah Wilson telah mengembangkan berbagai variasi dari
pemikiran Wilson. Perdebatan lokal lebih sering terjadi ketika menyangkut
kegagakan untuk memenuhi ideologi Wilson daripada dengan apaka mereka pada
kenyatannya meminjam panduan dalam menghadapi kebrutalan dunia serta tantangannya.
Semenjak tiga generasi, kritik telah menentang analisis dan kesimpulan Wilson; dan
tetap saja sepanjang waktu ini, prinsip-prinsip Wilson telah menyisakan perdebatan
dalam pemikiran kebijakan luar negeri Amerika.

BAB 4
INTO THE VORTEX: THE MILITARY
DOOMSDAY MACHINES
Aspek yang mengejutkan dari pecahnya Perang Dunia I bukan karena krisis yang
lebih simpel di luar dari banyaknya pemicu yang menimbulkan bencana global. Pada
1914, konfrontasi antara Jerman dan Austria-Hungaria pada satu sisi, dan Triple
Entente pada sisi lainnya, telah sungguh-sungguh mematikan. Para negarawan dari
negara-negara mayor telah membantu merekonstruksi mekanisme ‘hari-hari neraka’
diplomatik yang membuat setiap permasalahan progresif semakin sulit untuk
diselesaikan. Pemimpin militer mereka telah terbentuk dari resiko yang sangat luas
dengan menambahkan rencana-rencana strategis yang telah memadatkan waktu yang
tersedia untuk pembuatan keputusan. Karena rencana militer berdasarkan pada
kecepatan dan sistem diplomatik yang disesuaikan dengan langkah-langkah
tradisional yang bebas, hal inilah yang membuatnya menjadi tidak mungkin untuk
memisahkan krisis di bawah tekanan waktu. Yang membuat masalah menjadi lebih
rumit, para perencana militer belum cukup menjelaskan implikasi dari pekerjaan
yang mereka lakukan terhadap rekan-rekan politik mereka.
Rencana-rencana militer, pada efeknya, telah menjadi otonomi. Langkah
pertama pada pengaturan ini, terjadi selama negosiasi kepada aliansi militer
Franco-Russian pada tahun 1892. Sampai pada saat itu, negosiasi aliansi telah
mengenai the casus belli, atau aksi spesifik yang dilakukan oleh lawan yang dapat
memaksa aliansi untuk berperang. Hampir dengan tetap, definisinya berhubungan
dengan siapa yang merasakan pertentangan. Pada Mei 1892, negosiator Rusia,
Adjutant General Nikolai Obruchev, mengirim sebuah surat kepada Menteri Luar
Negerinya, Giers, mejelaskan mengapa metode tradisional dalam menentukan casus
belli telah diambilalih oleh teknologi modern. Obruchev berargumen bahwa apa yang
menjadi masalah adalah siapa yang akan bergerak lebih dulu, bukan siapa yang
menembak lebih dulu: “The undertaking of mobilization can no longer be considered
as a peaceful act; on the contrary, it represents the most decisive act of war”.
Sisi yang menunda pergerakan akan kehilangan manfaat dari aliansi-aliansi tersebut
dan memungkinan lawan untuk mengalahkan setiap musuhnya. Kebutuhan semua sekutu
untuk bergerak secara serentak telah menjadi sangat mendesak menurut pemikiran
para pemimpin Eropa pada saat itu dan berubah menjadi unsur pokok dari ikatan
diplomatik yang serius. Maksud dari aliansi-aliansi tersebut bukanlah lagi untuk
menjamin dukungan setelah perang dimulai, tapi untuk menjamin bahwa setiap sekutu
akan bergerak secepat mungkin, dan diharapkan pihak lawan juga demikian. Ketika
aliansi-aliansi yang terstruktur mengkonfrontasi satu sama lain, ancaman yang
muncul dari mobilisasi menjadi tak dapat dirubah lagi karena menghentikan
mobilisasi pada pertengahan perang lebih memancing munculnya bencana daripada
tidak memulainya sama sekali. Bila satu sisi menghentikan ketika sisi yang lain
sedang memproses, maka hal ini akan menyebabkan tumbuhnya kelemahan-kelemahan
setiap hari. Bila kedua sisi mencoba untuk menghentikan secara serentak, hal ini
secara teknis akan menjadi cukup sulit dimana hampir pasti mobilisasi akan lengkap
sebelum para diplomat setuju mengenai bagaimana menahan hal tersebut.
Prosedur hari pembalasan ini (the doomsday procedures) secara efektif akan
memindahkan the casus belli dari kontrol politik. Setiap krisis memiliki built-in
escalator untuk berperang-keputusan untuk bergerak- dan setiap perang ialah khusus
untuk menjadi general. Jauh dari menyesali prospek dari eskalasi otomatis,
Obruchev justru menyambut ini dengan antusias. Ha terakhir yang dia inginkan ialah
konflik lokal. Bila Jerman tetap berada di luar dari perang antara Rusia dan
Austria, hal tersebut akan menjadi jelas kemudian dalam posisi untuk memerintahkan
syarat-syarat dari perdamaian. Dengan kata lain, perang yang defensif untuk objek-
objek yang terbatas berlawanan dengan kepentingan nasional Rusia. Setiap perang
harus dilakukan secara total, dan rencana-rencana militer tidak memenuhi pilihan-
piihan lain bagi para pemimpin politik:
Sekali kita terbawa ke perang, kita tidak mampu mengatur bahwa perang tidak
menggunakan semua kekuatan kita, dan melawan negara-negara tetanga kita. Dalam
menghadapi kecepatan dari seluruh angkatan bersenjata yang akan berperang, tidak
ada jenis perang yang dapat dibayangkan daripada jenis yang paling menentukan-
perang yang akan menetapkan secara lama kepada masa depan posisi hubungan politik
kekuatan-kekuatan Eropa dan terutama dari Rusia dan Jerman.
Sesepele apapun pennyebabnya, perang akan dilakukan secara total; bila
pendahulunya melibatkan satu negara. Hampir aneh, staf umum Rusia lebih memilih
untuk melawan Jerman dan Austria-Hongaria secara bersama disbanding salah satu
dari mereka. Konvensi militer yang berisikan ide-ide Obruchev ditandatangani pada
4 Januari 1894. Perancis dan Rusia setuju untuk melakukan mobilisasi bersama dan
setiap anggota dari Triple Alliances melakukan mobilisasi apapun alasannya. Mesin-
mesin hari pembalasan (The Doomsday Machines) telah siap. Haruskah sekutu Jerman,
Italia, melakukan mobilisasi melawan Perancis atas Savoy, pada contohnya, Rusia
harus dapat melakukan mobilisasi melawan Jerman, bila Austria melakukan mobilisasi
melawan Serbia, Perancis sekarang terpaksa melakukan mobilisasi melawan Jerman.
Karena hal ini sudah pasti secara virtual bahwa pada pada poin-poin tertentu
beberapa negara akan melakukan mobilisasi karena beberapa penyebab, maka hanya
masalah waktu sebelum perang yag sesungguhnya pecah, dan hanya membutuhkan
terjadinya satu mobilisasi oleh kekuatan mayor untuk memulai system hari
pembalasan dari mereka semua.
Setidaknya, Tsar Alexander III mengerti bahwa permainan sekarang dimainkan dengan
taruhan tertinggi. Ketika Giers bertanya padanya “… apa yang akan kita dapatkan
dengan membantu Perancis menghancurkan Jerman?” dia menjawab “Apa yang akan kita
dapatkan ialah bahwa Jerman akan menghilang. Jerman akan terpecah menjadi sejumlah
kecil, negara-negara lemah, sesuai dengan seharusnya. Perang Jerman dimaksudkan
sama dengan sweeping dan samar-samar. Apa yang diletakkan oleh para perencana
Rusia didepan sebagai teori, staf umum Jerman diterjemahkan ke dalam rencana
operasional pada momen yang hampir tepat dimana Obruchev bernegosiasi dengan para
pemimpin aliansi militer Franco-Russian, dan dengan ketelitian Jerman, jendral-
jendral kekaisaran mendorong konsep mobilisasi pada keekstriman absolutnya. Kepala
dari staf Jerman, Alfred von Schlieffen, terobsesi dengan jadwal-jadwal mobilisasi
sebagai rekan Rusia dan Perancisnya. Namun, apa dikhawatirkan oleh para pemimpin
aliansi militer Franco-Russian ialah menentukan kewajiban untuk melakukan
mobilisasi, Schlieffen berfokus pada mengimplementasikan konsepnya.
Menolak untuk meninggalkan apapun kepada perilaku-perilaku yang aneh dari
lingkungan politik, Schlieffen mencoba untuk memikirkan rencana yang dibuat dengan
bukti atas kesalahan untuk meloloskan pengitaran ketakutan Jerman. Seperti para
suksesor Bismarck yang telah mengabaikan diplomasi kompleksnya, jadi Schlieffen
membuang konsep-konsep strategis Helmuth von Moltke, arsitek militer dari tiga
kemenangan tajam Bismarck antara tahun 1864 dan 1870. Moltke telah memikirkan
strategi yang meninggalkan pilihan terbuka dari solusi politik terhadap mimpi
buruk Bismarck dari koalisi yang tidak ramah. Seandainya terjadi dua perang,
Moltke berencana untuk memisah tentara Jerman lebih atau kurang antara Timur dan
Barat, dan untuk berada pada pertahanan dari dua sisi tersebut. Karena sasaran
utama Perancis ialah untuk mendapatkan kembali Alsace-Lorraine, maka sudah pasti
akan dilakukan penyerangan. Bila Jerman dikalahkan pada penyerangan tersebut,
Perancis akan mewajibkan untuk memikirkan bahayanya terhadap perdamaian. Moltke
juga secara spesifik memperingatkan akan perluasan operasi militer ke Paris,
setelah mempelajari dari Perang Franco-Russian betapa rumitnya untuk mengadakan
perdamaian bila mengepung ibukota lawan.
Moltke menawarkan strategi yang sama untuk garis depan Timur-dinamakan demikian
untuk mengalahkan serangan Rusia dan untuk mengikutinya dengan mendorong tentara
Rusia kembali ke jarak yang secara strategis signifikan, dan kemudian menawarkan
perdamaian. Kekuatan apapun yang pertama mencapai kemenangan akan tersedia untuk
tentara dari pihak lawan. Dalam hal ini, skala perang, pengorbanan, dan solusi
politik akan menjadi salah satu jenis keseimbangan. Tapi, sama seperti para
suksesor Bismarck yang tidak nyaman dengan ambiguitas dari aliansi-aliansinya yang
tumpang tindih, jadi Schlieffen menolak rencana Moltke karena rencana Moltke
tersebut meninggalkan inisiatif militer bagi lawan-lawan Jerman. Begitu pula
Schlieffen tidak menerima preferensi Moltke untuk kompromisasi politik atas
kemenangan total. Menetapkan untuk memberlakukan syarat-syarat dimana, pada
efeknya, menjadi pengunduran diri yang unconditional, Schlieffen mengelaborasi
suatu skema untuk kemenangan yang cepat dan menentukan pada satu bagian dan
kemudian membuang semua kekuatan Jerman terhadap lawan yang lain, dengan demikian
akan mencapai keluaran yang pasti bagi kedua sisi.
Karena ledakan yang keras dan cepat di Timur telah dihalangi oleh lambatnya
mobilisasi Rusia, yang diperkirakan memakan waktu selama 6 minggu, dan juga oleh
territorial Rusia yang luas, Schlieffen memutuskan untuk menghancurkan tentara
Perancis terlebih dahulu, sebelum tentara Rusia selesai melakukan mobilisasi.
Untuk mengakali pertahanan Perancis yang kuat pada batas Jerman, Schlieffen datang
dengan ide mengganggu netralitas Belgia dengan mengarahkan tentara Jerman melalui
wilayah Belgia. Ia akan menangkap Paris dan menjebak tentara Perancis dari bagian
belakang tentara pelindung sepanjang batas negara. Rencana tersebut sangat brilian
dan juga gegabah. Pengalaman yang minim mengenai sejarah akan telah mengungkap
bahwa Inggris Raya seharusnya akan turut berperang bila Belgia diserang-sebuah
fakta yang terlihat mepersulit Kaiser dan staf umum Jerman. Setelah 20 tahun
Rencana Schlieffen dibicarakan pada 1892, para pemimpin Jerman telah membuat
pengajuan-pengajuan yang sangat banyak pada Inggris Raya untuk mendapat
dukungannya-atau setidaknya netralitas- pada perang Eropa.
Bila Jerman tidak menghancurkan tentara Perancis-yang mungkin terjadi, karena
Perancis memiliki batas interior dan rel kereta api bercabang dari Paris dimana
tentara Jerman harus berdemonstrasi dalam garis yang melengkung melalui desa-desa
yang ditundukkan-Jerman akan terpaksa melakukan strategi pertahanan Moltke pada
dua sisi setelah Jerman menghancurkan kemungkinan politik terhadap kompromisasi
perdamaian dengan menempati Belgia. Dimana tujuan utama dari kebijakan luar negri
Bismarck ialah untuk menghindari perang dua sisi dan melalui strategi militer
Moltke untuk membatasinya, Schlieffen bersikeras pada perang dua sisi berhubungan
sekali dengan tren.
Russia merasa bahwa harus menentang gerakan Jerman untuk menghancurkan
posisinya diantara Slavs dengan memalukan Serbia, aliansi paling terpercaya di
daerah tersebut. “Itu sangat jelas,” tulis Sazonov, “bahwa kita tidak melakukan
dengan keputusan yang gegabah dari seorang Mentri berpandangan pendek,
menjalankannya atas resiko dan tanggung jawab sendiri, melainkan dengan rencana
yang matang, dengan bantuan pemerintah Jerman”
Diplomat-diplomat Rusia terlalu memuliakan orang-orang Jerman, padahal Sang
Kaisar dan para penasihatnya tidak lagi mempunyai rencana jangka panjang pada
tahun 1914, seperti yang mereka miliki pada saat-saat krisis sebelumnya. Krisis
pada pembunuhan Archduke menjadi tak terkendali karena ketiadaan pemimpin yang
mampu mengatasinya. Apa yang tidak dimiliki Eropa adalah system yang baik untuk
menyatukan power .

Dari banyaknya aspek-aspek yang aneh dari pendahuluan Perang Dunia 1, satu
yang teraneh adalah tidak ada yang terjadi pada awalnya. Austria, benar terhadap
gaya operasinya, menangguhkan, karena Vienna membutuhkan waktu untuk mengatasai
keengganan Perdana Mentri Hungaria Stephen Tisza untuk mengancam kerajaan. Pada
akhirnya ia menyerah, Vienna mengisukan ultimatum 48 jam kepada Serbia pada
tanggal 23 Juli, dengan sengaja menaruh kondisi yang berat sehingga mereka yakin
akan ditolak. Tetapi pengunduran telah menguntungkan Austria dengan menyebarnya
kemarahan di Eropa terhadap pembunuhan Archduke.
Di Metternich, dengah komitmen bersama terhadap legitimasi, akan ada sedikit
keraguan bahwa Rusia akan memberikan sanksi terhadap retribusi Austria melawan
Serbia atas pembunuhan pangeran yang dalam waktu yang sama membuat sukses tahta
Austria. Tapi pada 1914, legitimasi bukan lagi pertalian yang umum. Simpati Rusia
terhadap aliansinya, Serbia, memberatkan kekejaman atas pembunuhan Franz
Ferdinand.
Satu bulan penuh menyusul pembunuhan, Diplomasi Austria telah menjadi lalai.
Lalu datang bencana hebat kurang dari seminggu. Ultimatum Austria membuat
kejadian-kejadian menjadi tak terkendali untuk pemimpin-pemimpin politik. Sekali
ultimatum di-isukan, negara-negara utama berada dalam posisi pemicu perlombaan
yang tidak dapat diubah kepada mobilisasi. Ironisnya, mobilisasi korban manusia
diluncurkan oleh satu negara yang jadwal mobilisasinya sangat tidak relevan.
Sendiri diantara kekuatan-kekuatan utama, rencana militer Austria masih kuno,
mereka tidak tergantung terhadap kecepatan. Austria sudah mengirim ultimatum
kepada Serbia untuk mencegah mediasi, untuk tidak mempercepat operasi militer.
Mobilisasi Austria tidak membuat gentar kekuatan utama lainnya, karena itu
membutuhkan 1 bulan untuk selesai.
Demikian rencana mobilisasi yang membuat perang tidak dapat dihindari,
direncanakan oleh negara yang tentaranya sebenarnya tidak memulai perlawanan
sampai setelah pertarungan2 utama di barat selesai. Di sisi lain, dan bagaimanapun
kesiapan Austria, jika Rusia ingin mengancam Austria, mereka harus memobilisasi
tentara, sebuah sikap yang dapat memicu tidak dapat berubah di Jerman. Paradoks di
Juli 1914 adalah negara-negara yang mempunyai kepentingan politik untuk ikut dalam
perang tidak terikat ke rencana mobilisasi yang keras, sementara negara-negara
dengan rencana keras, seperti Jerman dan Rusia, tidak punya kepentingan politik
untuk berperang.
Inggris, Negara yang ada dalam posisi terbaik untuk menahan rangkaian
peristiwa ini malah ragu-ragu. Berikutnya karena tidak mempunyai kepentingan di
krisis Balkan, walaupun mempunyai kepentingan besar dalam memelihara “The Triple
Entente”. Rasa mencekam di perang memberi rasa takut lebih kepada kemenangan
Jerman. Inggris telah mendeklarasi kepastian maksud-maksudnya dan membuat Jerman
mengerti bahwa akan masuk dalam perang yang umum, kaisar akan telah berpaling dari
konfrontasi.
Pemimpin-pemimpin Inggris enggan untuk menggambil resiko terhadap “The
Triple Entente” dengan menunjukkan keragu-raguan untuk mendukung aliansi mereka
dan, sepertinya bertentangan, tidak mau mengancam Jerman untuk tetap membuka
pilihan untuk mediasi di waktu yang tepat. Sebagai hasilnya, Inggris jatuh. Mereka
tidak punya kewajiban yang legal untuk berperang di sisi Prancis dan Rusia, saat
Grey yakin dengan “The House of Commons” tanggal 11 Juni, 1914, sedikit lebih dari
2 minggu sebelum pembunuhan Archduke.
Menurut hukum, ini sangat benar. Tetapi ada dimensi moral yang tidak dapat
dijangkau yang terlibat juga. Angkatan laut Perancis berada di Mediteranian karena
perjanjian laut Perancis dengan Inggris, sebagai hasilnya, pantai utara Perancis
akan terbuka untuk angkatan laut Jerman jika Inggris tidak ikut berperang. Saat
krisis berkembang, Bethmann-Hollweg berjanji untuk tidak mempekerjakan angkatan
laut Jerman untuk melawan Perancis jika Inggris tetap bersikap netral. Tetapi Grey
menolak penawaran ini, dengan alasan yang sama saat ia menolak penawaran Jerman
tahun 1909 untuk memperlambat pembangunan kekuatan laut sebagai gantinya bagi
Inggris untuk netral di perang Eropa – ia menduga bahwa setelah Perancis
dikalahkan, Inggris akan ada dalam genggaman Jerman.
Dilema yang dihadapi Grey adalah negaranya telah terperangkap antara tekanan
opini publik dan tradisi dari politik luar negrinya sendiri. Di satu sisi,
kurangnya dukungan publik untuk pergi berperang atas dasar isu Balkan akan
berujung mediasi. Di sisi lain, jika Perancis kalah atau kehilangan kepercayaan di
aliansi Inggris, Jerman akan berada di posisi yang dominan yang selalu Inggris
tentang. Maka dari itu, sangatlah mungkin pada akhirnya Inggris akan pergi
berperang untuk mencegah militer Perancis pecah, walau jika Jerman belum
menginvasi Belgia, dan ini akan membutuhkan waktu untuk dukungan orang-orang
Inggris untuk perang agar membeku. Selama periode itu, Inggris mungkin telah
mencoba mediasi. Bagaimanapun, keputusan Jerman untuk menantang 1 dari prinsip
penting dari politik luar negri Inggris – bahwa Negara-negara bawah tidak boleh
jatuh ke tangan kekuatan yang besar – berguna untuk mengatasi permasalahan Inggris
dan menjamin perang tidak akan berakhir dengan kompromi.
Grey berfikir bahwa, dengan tidak mengambil tindakan di saat-saat awal
krisis, Inggris akan menahan pengakuaannya untuk tidak memihak yang akan
mengizinkan Inggris untuk menjadi perantara solusi. Dan pengalaman yang lalu
mendukung strategi ini. Tensi internasional yang meningkat selalu menjadi
konferensi. Bagaimanapun, tidak pernah ada mobilisasi di krisis sebelumnya. Saat
semua kekuatan besar telah siap untuk mobilisasi, tenggang waktu yang tersedia
untuk metode diplomasi tradisional telah lenyap. Demikian, 96 jam yang penting
disaat rencana mobilisasi menghancurkan kesempatan untuk manufer politik, kabinet
Inggris yang berpengaruh menerima tugas sebagai penonton.
Pada tanggal 28 Juli, Austria mendeklarasikan perang terhadap Serbia,
walaupun tidak akan siap untuk aksi militer sampai 12 Agustus. Pada hari yang
sama, kaisar memerintahkan pembagian mobilisasi melawan Austria dan menemukan
fakta bahwa satu-satunya rencana yang siap adalah mobilisasi umum melawan Jerman
dan Austria, walaupun fakta bahwa selama 50 tahun Austria berdiri di jalan ambisi
Rusia terhadap Balkan, dan lokalisasi perang Austria-Rusia telah menjadi pokok
pelajaran staf militer saat periode itu. Mentri luar negri Rusia, tidak menyangka
bahwa ia hidup di surga kebodohan.
Pemimpin militer Rusia, tanpa pengecualian murid-murid teori Obruchev,
digemparkan oleh pengendalian kaisar. Mereka menginginkan mobilisasi umum dan
demikian perang denga Jerman, yang belum mengambil langkah militer.
Jika kaisar telah menjadi sangat ragu-ragu terhadap jendral-jendralnya, ia
terlalu tegas untuk Jerman. Semua rencana perang Jerman berawal dari membuat
Perancis keluar dari perang dalam 6 minggu, dan berpaling melawan Rusia.
Mobilisasi Rusia manapun – bahkan yang terbagi – akan terpotong menjadi perjalanan
ini dan menurunkan rintangan bagi Jerman. Pada tanggal 29 Juli, Jerman
menginginkan Rusia untuk menghentikan mobilisasinya atau Jerman akan mengikuti
gugatan. Dan setiap orang tahu bahwa mobilisasi Jerman sama untuk perang.
Kaisar terlalu lemah untuk menyerah. Menghentikan mobilisasi akan
menghancurkan semua rencana militer Rusia, dan perlawanan jendral-jendralnya
meyakinkannya bahwa mati semu. Pada 30 Juli, Nicholas memerintahkan mobilisasi
penuh. Pada 31 Juli, Jerman sekali lagi meminta penghentian mobilisasi Rusia. Saat
permintaan itu ditolak, Jerman mendeklarasikan perang melawan Rusia. Ini terjadi
tanpa satu pergantian politik yang serius antara St. Petersburg dan Berlin tentang
pokok dari krisis, and ketiadaan perselisihan yang nyata antara Jerman dan Rusia.
Jerman sekarang menghadapi masalah tentang rencana perangnya yang
membutuhkan serangan langsung ke Perancis, yang telah diam selama krisis kecuali
untuk menganjurkan Rusia untuk tidak kompromi dengan mengikrarkan bantuan tak
bersyarat Perancis. Mengerti pada akhirnya dimana 20 tahun drama telah mendarat
padanya, kaisar mencoba untuk mengalihkan mobilisasi Jerman menjauh dari Perancis
dan mendekati Rusia. Percobaannya untuk mengekang di dalam militer sama sia-sianya
dengan kaisar sebelumnya
Pada 1 Agustus, Jerman menanyakan Perancis kalau ia berusaha netral.
Perancis menjawab positif, Jerman akan meminta benteng Verdun dan Toul sebagai
tanda kepercayaan.
“The Concert of Europe” gagal karena kepemimpinan politik telah turun. Saat
kejadian-kejadian terus berlangsung, 20 juta telah meninggal; Kerajaan Austria-
Hungaria telah lenyap; 3 dari 4 dinasti yang berperang – Jerman, Austria, Rusia –
telah jatuh. Hanya Inggris yang tetap berdiri. Setelah itu, sangat sulit untuk
menarik kembali yang menjadi pemicu. Dari semua ini, sebuah sistem Eropa yang baru
harus segera dibangun.

BAB 6
Realpolitik Turns on Itself

Realpolitik―kebijakan luar negeri yang berdasarkan atas kalkulasi power dan


kepentingan nasional―telah mempersatukan Jerman. Dalam prakteknya Realpolitik
menghindari perlombaan senjata dan perang hanya jika para pelaku utama dalam
sistem internasional bebas mengatur hubungannya sehubungan dengan keadaan yang
berubah-ubah atau yang dikendalikan oleh suatu sistem nilai-nilai bersama, ataupun
keduanya.
Setelah bersatu, Jerman menjadi negara terkuat di Benua tersebut, dan tumbuh
menjadi lebih kuat setiap dekade, dan dengan demikian merevolusi diplomasi bangsa
Eropa. Sejak kemunculan sistem negara modern pada masa Richelieu, kekuatan-
kekuatan di pinggiran Eropa―Inggris, Perancis, dan Rusia―menggunakan tekanan
kepada pihak tengah.
Geografi telah menimbulkan dilema yang tidak bisa begitu saja diatasi.
Berdasarkan atas seluruh tradisi Realpolitik, koalisi Eropa mungkin akan bangkit
untuk menahan pertumbuhan kekuatan Jerman yang berpotensi mendominasi. Karena
Jerman terletak di bagian tengah Eropa, posisinya berada dalam bahaya yang konstan
yang disebut oleh Bismarck sebagai “le cauchemar des coalitions”―mimpi buruk
akibat permusuhan, yang mengelilingi koalisi. Apa yang dikenal dengan Concert of
Europe pada kenyataannya didorong oleh dua macam rasa permusuhan: rasa permusuhan
di antara Perancis dan Jerman, serta sikap bermusuhan yang semakin berkembang di
antara Austro-Hongaria dan Kerajaan Rusia.
Jerman tidak memiliki kepentingan nasional di wilayah Balkan. Tetapi ia
memang memiliki kepentingan yang besar dalam pemeliharaan Kerajaan Austro-
Hongaria. Dan disintegrasi kerajaan Austria akan menyebabkan Jerman menjadi tidak
memiliki lagi sekutu yang bisa diandalkan.
Kekaisaran Ottoman kewalahan menghadapi disintegrasi yang lambat, sehingga
menciptakan perselisihan yang seringkali terjadi antara kekuatan-kekuatan besar
ketika membagi barang-barang rampasan. Bismarck pernah berkata bahwa, dalam sebuah
kombinasi yang terdiri atas lima pelaku, selalu lebih baik jika bergabung dengan
bagian yang terdiri atas tiga pelaku. Tetapi karena di antara lima kekuatan
besar―yang terdiri atas Inggris, Perancis, Rusia, Austria, dan Jerman―Perancis
yang dimusuhi, Inggris tidak bisa berbuat apa-apa sehubungan dengan kebijakan
”isolasi yang baiknya (splendid isolation)”, dan Rusia bersikap ambivalen karena
konfliknya dengan Austria, Jerman membutuhkan aliansi baik dengan Rusia maupun
Austria untuk bisa membentuk kelompok yang terdiri atas tiga pelaku tersebut.
Hanya negarawan yang memiliki keahlian dan keinginan seperti Bismarck saja yang
bisa melakukan tindakan penyeimbang yang berbahaya seperti itu. Dengan demikian,
hubungan antara Jerman dan Rusia menjadi kunci bagi perdamaian di Eropa.
Sekali Rusia memasuki panggung internasional, ia akan menempatkan diri pada
posisi yang dominan dengan kecepatan yang mengagumkan. Akan tetapi dari tahun
1750, Rusia menjadi partisipan yang aktif dalam setiap perang Eropa yang
signifikan. Saat Kongres Wina diadakan, Rusia menjadi negara terkuat di Eropa.
Pada pertengahan abad 20, Rusia telah memegang gelar salah satu dari dua negara
superpower.
Sifat power yang absolut yang dimiliki oleh seorang tsar memungkinkan para
pemimpin Rusia untuk menjalankan kebijakan luar negeri baik secara sewenang-wenang
maupun secara idiosinkratik. Saat Rusia memperluas wilayahnya mulai dari Moscow
hingga ke bagian tengah Eropa, pantai-pantai di Pasifik, dan ke Asia Tengah,
kebutuhan akan keamanan wilayahnya berkembang menjadi ekspansi untuk kebaikannya
sendiri.
Secara berangsur-angsur Rusia berubah menjadi ancaman bagi balance of power
di Eropa seperti yang dilakukannya pada kedaulatan negara-negara tetangganya di
sekitar wilayah periperinya yang luas. Tidak peduli berapa banyak wilayah yang
dikontrolnya, Rusia mendorong batasannya hingga ke luar.
Menjadi semacam paradoks bahwa benar juga kalau selama 200 tahun belakangan
ini balance of power di Eropa telah dipertahankan melalui beberapa peristiwa yang
dilakukan oleh Rusia. Tanpa Rusia, Napoleon dan Hitler hampir pasti berhasil
mendirikan kerajaan dunia.
Seperti orang Amerika, orang Rusia juga berpikir tentang masyarakatnya
sebagai masyarakat yang hebat. Hanya dengan menghadapi masyarakat yang feodal atau
yang nomadik, ekspansi Rusia ke Asia Tengah juga banyak mengadopsi cara-cara
ekspansi Amerika. Terbukanya garis perbatasan dari setiap negara merupakan ciri-
ciri yang umum dari Amerika dan Rusia. Keunikan Amerika berdasar pada konsep
kebebasan (liberty); keretakan Rusia berasal dari pengalamannya yang sering
menghadapi penderitaan bersama. Setiap orang boleh menganut nilai-nilai Amerika;
sedangkan nilai-nilai Rusia hanya diperuntukkan bagi bangsa Rusia.
Seorang wartawan nasionalis Rusia Mikhail Katkov mendefinisikan perbedaan
antara nilai-nilai yang dianut Barat dan Rusia sebagai berikut:
...segala sesuatu yang ada di sana berdasarkan pada hubungan yang kontraktual dan
segala sesuatu yang ada di sini berdasarkan pada keyakinan; perbedaan ini pada
dasarnya ditentukan oleh posisi gereja yang diadopsi di Barat dan yang diadopsi di
Timur. Otoritas ganda dasar berlaku di sana; di sini yang berlaku adalah otoritas
tunggal.
Tidak seperti negara-negara di Eropa Barat, yang dipuja, dipandang rendah,
dan diirikan oleh Rusia, Rusia merasa dirinya bukan sebagai sebuah bangsa
melainkan sebagai sebuah penyebab, di balik geopolitik, didorong oleh keyakinan,
dan disatukan oleh senjata.
Ketika kekuatan-kekuatan besar memandang satu sama lain, mereka bukan lagi
melihatnya sebagai partner dalam maksud dan tujuan yang sama melainkan melihatnya
sebagai bahaya, bahkan rival atau lawan. Konfrontasi muncul sebagai metode
diplomatik yang standar. Pada periode-periode awal, Inggris telah berkontribusi
dalam hal pengendalian dengan bertindak sebagai penyeimbang dalam ekuilibrium
Eropa. Bahkan saat ini, di antara semua negara-negara besar di Eropa, hanya
Inggris yang berada dalam posisi untuk melakukan diplomasi balance-of-power yang
tidak terkekang oleh rasa bermusuhan yang tidak dapat didamaikan lagi terhadap
kekuatan-kekuatan lainnya.
Oleh karena itu, Bismarck merupakan tokoh dalam sejarah diplomasi Eropa
hingga ia kemudian dipecat dari kantornya pada tahun 1890. Ia menginginkan
perdamaian bagi Kerajaan Jerman yang baru saja terbentuk dan tidak menginginkan
konfrontasi dengan negara manapun. Namun dengan adanya kekosongan dalam ikatan
moral di antara negara-negara Eropa, ia menghadapi pekerjaan yang sangat besar.
Meskipun demikian, selama hampir 20 tahun Bismarck memimpin Jerman, ia
mempraktekkan Realpolitik yang ia ajarkan dengan moderat dan lemah lembut sehingga
balance of power tidak pernah runtuh.
Tujuan Bismarck bukanlah untuk memberikan alasan apapun bagi power―kecuali
Perancis yang tidak bisa didamaikan―untuk bergabung dengan suatu aliansi yang
dibentuk untuk melawan Jerman. Bismarck berusaha untuk menyakinkan Rusia bahwa
Jerman tidak memiliki ketertarikan pada wilayah Balkan. Dengan tetap
mempertimbangkan Inggris, Bismarck berusaha untuk tidak memberikan tantangan di
Eropa yang mungkin akan memicu perhatian Inggris kepada ekuilibrium dan ia
berusaha untuk menjaga agar Jerman tetap berada di luar perlombaan kolonial.
Peristiwa-peristiwa yang telah disebutkan sebelumnya menunjukkan bahwa
Realpolitik telah menjadi tren yang dominan pada masa itu. Yang pertama muncul
pada tahun 1875 dalam bentuk krisis palsu (pseudo-crisis), sebuah ketakutan perang
yang dibuat-buat yang dipicu oleh sebuah tulisan editorial dalam surat kabar
Jerman yang memuat judul yang provokatif ”Apakah Perang Sudah Dekat?”. Editorial
itu telah menimbulkan reaksi besar-besaran seperti Perancis yang meningkatakan
pengeluaran militernya dan pembelian kuda dalam jumlah banyak.
Lord Derby, mendekati konselor Rusia, Gorchakov dengan gagasan mengintimidasi
Berlin.
"kesan pribadi saya adalah bahwa kita harus mengkonstruksikan beberapa gerakan
untuk menjaga perdamaian Eropa seperti yang dilakukan Lord Palmerston ketika dia
menggagalkan Perancis dan mengusir orang-orang Mesir dari Syria. Mungkin saja ada
aliansi antara Rusia dengan kami sendiri untuk tujuan tertentu, dan kekuatan-
kekuatan lain, sebagaimana Austria atau bahkan Italia juga diajak bergabung..."
Disraeli tidak sepenuhnya percaya dengan ambisi imperial Rusia, meskipun sliansi
antara Anglo-Rusian ini terlihat sangat serius, dia lebih menekankan pada dominasi
Jerman di Eropa Barat
Seperti yang dinyatakan oleh George Kennan, krisis yang terjadi sebenarnya
tidak separah yang dipublikasikan. Krisis kedua terasa cukup nyata, krisis ini
muncul sebelum krisis Balkan yang menunjukkan bahwa batas-batas ideologi ataupun
filosofis tidak dapat merangkul tiga kekaisaran untuk bersama-sama menyatukan
national interest masing-masing.
Dalam krisis ini, terjadilah moderasi klasik Bismarck, meskipun memunculkan
sejumlah dilema akibat krisis ini. Karena pada dasarnya terdapat perbedaan besar
antara bertindak saat ini atau pun nanti.
Menanggapi Shuvalov, Dubes Rusia untuk London, Disraeli menyatakan bahwa
Inggris diperlakukan seolah-olah Rusia adalah Bosnia ataupun Montenegro, kemudian
kepada Lady Bradford, Disraeli mengatakan:
"Tidak ada keseimbangan jika kita tidak keluar dari cara kita memperlakukan tiga
kekuatan Utara, mereka bisa saja bertindak tanpa kita, negara yang tidak penting
persetujuannya seperti Inggris."
Seperti Bismarck, Disraeli juga percaya bahwa dalam ekspansi dukungan
memperlihatkan bahwa kelas menengah Inggris akan memilih kelas konservatif.
Disraeli juga memunculkan bentuk imperialisme yang secara esensial berbeda dengan
ekspansi komersil Inggris Raya sejak abad ke-17.
Dari semua kekuatan-kekuatan Eropa, hanya Inggris Raya yang memusatkan
perhatian di Asia Tengah. Ketika ekspansi Rusia menekan India, Konselor London,
Aleksander Gorchakov mengeluarkan protes tanpa tahu benar apa yang sedang
dilakukan tentara Rusia. Kabinet Inggris sendiri tidak ambil pusing apakah Rusia
akan mengancam India atau tidak. Hal ini berlangsung terus menerus seperti sebuah
siklus. Rusia selalu ingin menanamkan pengaruhnya di Asia Tengah.
Disraeli sangat tidak menyukai tindakan Rusia ini, dalam kasus
Konstatinopel, Disraeli menguatkan Kaisar Ottoman untuk menolak memorandum Berlin
dan mendukung penguasaan atas Balkan. Sultan Turki, bagaimanapun juga meyakinkan
bahwa Disraeli berada dalam pihaknya, apapun tuntutan formal yang terjadi ditolak.
Sementara itu Rusia menanggapi dengan menyatakan perang.
Sesaat terlihat bahwa Rusia memenangkan permainan diplomatik, Rusia tidak
hanya di-back up oleh dua kekuatan besar utara, tetapi juga oleh Perancis, tidak
hanya itu, Rusia juga berhasil memenangkan dukungan publik di Inggris. Disraeli
menjadi terdesak, jika Turki memutuskan berperang, berarti pemerintahannya juga
siap diguncang.
Bismarck memelihara ketiga kekaisaran dalam batas tipis kolaps. Bismarck
juga berpikir bahwa sangat tidak bijaksana membawa Disraeli dan Gorchakov bersama.
Bismarck menyebutkan kedua orang ini sebagai "menteri kesombongan berbahaya
bersama".
Ketika Balkan kritis dan hampir memecahkan perang Eropa, Bismarck mengadakan
kongres di Berlin, satu-satunya ibukota negara yang Rusia mau datangi. Kemudian
semuanya tetap menjaga kondisi tetap berdiplomasi.
Setelah pertemuan dalam kongres Berlin, bahaya perang semakin berkurang.
Fungsi utama dari kongres ini adalah untuk memberkati Eropa atas apa yang telah
dirundingkan. Semua negara besar kecuali Inggris dalam kongres ini diwakili oleh
menteri luar negeri masing-masing. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, Inggris
mendatangkan perdana menteri dan menteri luar negerinya dalam kongres di luat
kepulauan Inggris.
Bisa dikatakan bahwa Disraeli adalah satu-satunya negarawan yang pernah
menyaingi Bismarck. Disraeli turut disukseskan oleh posisi Bismarck yang sangat
kompleks. Bismarck tidak melihat adanya kepentingan Jerman di Balkan. Bismarck
menyatakan perannya di kongres adalah sebagai "makelar yang jujur" (honest broker)
dan selalu menyatakan di tiap pertemuannya dengan peserta kongres bahwa Jerman
adalah negara yang sama sekali tidak memiliki ketertarikan dengan timur.
Pendekatan Bismarck secara umum untuk mendukung Rusia kembali pada perhatian
terhadap bagian timur Balkan, seperti aneksasi wilayah Bessarabia, serta mendukung
Austria dalam menguasai bagian barat, misalnya mengokupasi Bosnia-Herzegovina.
Setelah kongres Berlin, Rusia menyalahkan kegagalannya untuk mendapatkan
semua tujuan mereka bukan karena Disraeli yang telah membentuk koalisi melawan
Rusia dan mengancam perang, tetapi mereka menyalahkan Bismarck yang menggagas ide
mengadakan kongres Berlin untuk menghindari perang Eropa.
Pada tahun 1850 Bismarck menerapkan kebijakan luar negeri yang hampir sama dengan
apa yang dilakukan England yaitu “Splendid Isolation”. Pendekatan ini menghindari
adanya aliansi dengan membatasi kebebasan bergerak, dan memberikan pilihan yang
lebih terhadap Prusia. Selama 1870-an, Bismarck menginginkan adnya unifikasi
Jerman dengan kembali pada aliansi lama yaitu Austria dan Prusia. Namun di tahun
80-an situasi sulit menghalangi rancana tersebut. Ternyata Jerman terlalu kuat
untuk beraliansi, hal ini bisa membuat Eropa bersatu untuk melawannya.
Bismarck menyelesaikan dilema ini dengan menerapkan “balance of power”.
Jerman menjalin hubungan sebaik mungkin dengan beberapa negara yang baik
dibandingkan dengan negara lawan, sehingga Jerman mendapatkan aliansi sebagai
suatu lingkungan yang mendukung. Jerman selalu dekat dengan beberapa partner
dibanding dengan yang lainnya, oleh karena itu Bismarck selalu menggunakan veto
sebagi pilihan tindakan independen.
Pada tahun 1879, Bismarck menerapkan kebijakan baru dengan membentuk aliansi
rahasia dengan Austria sebagai bentuk reaksi dari perluasan kekuasaan Rusia. Untuk
mengendalikan Russia di Balkan, Jerman lebih memilih cara aliansi dibandingkan
konfrontasi.
Keuntungan beraliansi tidak serta merta dirasakan oleh Austria, sehingga
Jerman akan memilih pengelompokan dengan negara Inggris Raya yang memiliki
kepentingan yang sama untuk membendung Russia. Pada tahun 1882 Bismarck berusaha
memperluas jaringannya. Bismarck mengajak Italia untuk mengubah Dual Alliance
antara Jerman dan Austria menjadi Triple Alliance, termasuk Italia. Dalam
pembentukan Triple Alliance, Jerman dan Italia memiliki tujuan yang sama yaitu
untuk melawan Perancis, sementara itu Italia berjanji untuk bersikap netral
terhadap perang dengan Rusia, sedangkan Austria bermasalah dengan “two-front war”
(perang bermuka dua). Sehingga akhirnya Bismarck di tahun 1887 mendorong dua
aliansinya Austria dan Italia untuk menyetujui “Mediterranian Agreement” yang
tujuannya adalah mempertahankan status quo di Mediterania.
Diplomasi Bismarck telah menghasilkan aliansi yang saling mengunci, secara
parsial saling overlap dan bersifat kompetitif satu sama lain. Bismarck membuat
Austria melawan serang Rusia, Rusia melawan kekuasaan Austria, dan Jerman melawan
semuanya, dan Inggris menghalangi ekspansi kekuasaan Rusia terhadap Mediterania.
Pada beberapa dekade, kalkulasi itu terbukti akurat. Perancis dan Inggris
berbenturan dengan Mesir, Perancis menjadi terasing dari Italia hingga Tunisia,
Inggris Raya secara kontinu melawan Rusia di sentral Asia dan juga Konstantinopel.
Untuk menghindari konflik dengan Inggris, Jerman membatasi ekspansi kolonialisme
selama 1880-an dan mempertahankan status quo.
Namun pada akhirnya persyaratan Realpolitik menjadi rumit untuk bisa
bertahan, konflik antara Austria dan Rusia menjadi tidak bisa diatur. Sistem
balance of power malah menciptakan dua sphere of influence.