Anda di halaman 1dari 9

1

PERGURUAN TINGGI ILMU KEPOLISIAN


ANGKATAN LI

1. NAMA : DOLLY GUMARA


KELAS : BINKAM A
NOMOR ABSEN : 26

2. JUDUL SKRIPSI : PERAN KAPOLSEK DALAM PENGAWASAN DAN


PENGENDALIAN PELAKSANAAN POLMAS DI POLSEK SOKARAJA
POLRES BANYUMAS
.
3. PENULIS SKRIPSI : TAOVIK IBNU SUBARKAH

4. ANGKATAN : L / 50

5. INTISARI LATAR BELAKANG MASALAH :

Polmas adalah model penyelenggaraan fungsi kepolisian yang


menekankan pendekatan kemanusian sebagai perwujudan dari kepolisian sipil.
Polmas merupakan filosofi, kebijakan dan strategi organisasi yang mendorong
terciptanya suatu kemitraan baru antara masyarakat dengan polisi. Dalam
Polmas, Polisi dan Masyarakat bekerja sama sebagai mitra untuk
mengidentifikasi, menentukan skala prioritas dan memecahkan masalah-masalah
yang muncul di tengah masyarakat, seperti ketakutan akan tindak kejahatan,
ketidaktertiban fisik dan persoalan masyarakat secara keseluruhan dengan tujuan
untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di wilayah di mana Polmas
berada.
Implementasi Polmas pada Polres adalah sebagai tingkat operasional
dasar, dan bekerjasama dengan semua pihak dalam rangka meningkatkan
kualitas sumber daya petugas Polmas, metode yang diterapkan, material
pendukung dan anggaran. Sedangkan tanggung jawab operasional Polmas secara
langsung berada pada tingkat Polsek. Hal ini karena Polsek secara langsung
berhubungan dengan masyarakat sehingga pelaksanaan Polmas yang berorientasi
masyarakat dapat dioptimalkan.
Pada tingkat Polsek, Kapolsek merupakan pimpinan tertinggi yang
memegang tanggung jawab fungsi kepolisian di wilayah hukumnya. Hal ini
menempatkan Kapolsek sebagai pengendali dan pengawas kegiatan Polmas di
wilayah Polsek. Keberhasilan pelaksanaan Polmas tidak terlepas dari peran
pemimpin yang merancang, mengkoordinir, mengendalikan dan mengawasi
pelaksanaan kegiatan Polmas. Oleh karena itu Kapolsek memiliki peran penting
sebagai pengendali dan pengawas dalam pelaksanaan Polmas di tingkat Polsek.
Keberadaan Polmas di tingkat Polsek memiliki fungsi penting dalam
pencapaian tugas Polri mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Karena pada tingkat Polsek, polisi bersentuhan dengan masyarakat secara
langsung dalam Polmas sehingga dimungkinkan terjadinya hubungan kerja sama
yang baik antara Polisi dan masyarakat. Peran Kapolsek sebagai pengawas dan
2

pengendali kegiatan Polmas ikut menentukan keberhasilan pencapaian tugas


mewujudkan keamanan dan ketertiban masyarakat.
Kapolsek berperan sebagai pengawas langsung dalam segala bentuk
kegiatan yang dilakukan di Polsek dan merupakan pengendali dari seluruh
kegiatan di Polsek. Bentuk pengawasan yang diterapkan oleh Kapolsek dalam
kaitannya dengan pelaksanaan Polmas, pertama, melalui pengawasan langsung
terhadap pelaksanaan kegiatan di lapangan. Kedua, dengan memerintahkan
anggota untuk membuat laporan kegiatan secara kontinu. Dengan kata lain
seluruh aktivitas Polmas dimonitor dan dilaporkan pertanggungjawabannya
kepada Kapolsek secara kontinu.
Kapolsek Sokaraja sebagai penanggungjawab utama pelaksanaan Polmas
di kecamatan Sokaraja. Tanggung jawab tersebut diwujudkan dalam perannya
mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan Polmas di wilayah hukum yang
dibawahinya. Pengendalian dan pengawasan ini dilakukan sebagai bagian dari
manajemen Polmas untuk memastikan kegiatan Polmas di wilayah tersebut
berhasil sesuai dengan tujuan pelaksanaannya.
Dari intisari latar belakang di atas, terutama masalah pengawasan dan
pengendalian kegiatan Polmas oleh Kapolsek memberikan inspirasi bagi si
peneliti untuk menelaah lebih dalam peran Kapolsek dalam pelaksanaan Polmas
terutama pada fungsi pengendalian dan pengawasan. Judul yang diambil bagi
penelitian tersebut adalah “Peran Kapolsek Dalam Pengawasan Dan
Pengendalian Pelaksanaan Polmas Di Polsek Sokaraja Polres Banyumas”.

6. PERUMUSAN MASALAH :

Mengacu pada intisari latar belakang masalah di atas, permasalahan yang


dibahas dalam penelitian tersebut yaitu “Bagaimana peran Kapolsek dalam
pengawasan dan pengendalian pelaksanaan Polmas di Polsek Sokaraja Polres
Banyumas.”
Perumusan masalah di atas ditegaskan dalam bentuk pertanyaan sebagai
persoalan penelitian, sebagai berikut:
1) Bagaimana pelaksanaan Polmas di Polsek Sokaraja, Polres Banyumas?
2) Bagaimana pemahaman Kapolsek tentang fungsi pengawasan dan
pengendalian dalam pembinaan operasional di Polsek?
3) Bagaimana bentuk pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kapolsek
dalam rangka meningkatkan atau mendukung pelaksanaan Polmas di Polsek
Sokaraja, Polres Banyumas?
3

ANALISIS BAB IV

Dalam Bab IV tentang temuan peneliti dilapangan terdapat beberapa fakta


pelaksanaan Polmas yang dilakukan oleh Polsek Sokaraja Polres Banyumas, antara
lain :

1. Pada wawancara peneliti kepada Kapolsek Sokaraja ( halaman.42 )


menyebutkan bahwa petugas Polmas yang diangkat oleh Kapolsek adalah Staf
Babinkamtibmas yang melaksanakan tugas rangkap hal ini dikarenakan
jumlah anggota Polsek Sokaraja yang terbatas.

Analisa Penulis :

a. Hal ini tentunya bertentangan dengan Skep Kapolri No. Pol. :


Skep/432/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 dalam Buku Panduan Polmas 1 yang
menyebutkan :

“Pelaksanaan tugas Polmas bersifat permanen ( tidak melaksanakan


tugas rangkap ) dan lamanya bertugas minimal 3 tahun di suatu
wilayah penugasan kecuali karena pertimbangan khusus dapat
dimutasikan dalam rangka promosi/demosi jabatan.”

b. Penunjukan babinkamtibmas yang menjadi petugas Polmas oleh Kapolsek


Sokarja dan belum melaksanakan persyaratan 2 yang terpenuhi dalam Skep
Kapolri No. Pol. : Skep/432/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 membuat
pelaksanaan Polmas di Polsek Sokaraja tidak berjalan maksimal. Hal ini
senada dengan pernyataan Djokosantoso Moelyono yang dikutip Noor
Hafidah 3 :

“Untuk memperoleh hasil pelaksanaan tugas yang maksimal oleh


anggota organisasi, maka sesorang (harus) memiliki kualifikasi
professional yang mempunyai: Kompetensi, Komitmen, Wawasan, Visi
Kedepan, Sikap Penampilan”

2. Pada hal 45 diungkapkan oleh penulis bahwa untuk dapat berlangsungnya


kegiatan Ronda Malam, FKPM dan para ketua RT membuat jadwal jaga
namun hal itu tidak berjalan dengan semestinya. Kemudian diputuskan oleh
rapat kepala desa dan para ketua RT/RW bahwa bagi warga yang tidak
melaksanakan ronda dikenakan denda Rp. 5000,- akan tetapi pada
kenyataannya karena denda terlalu ringan maka warga lebih baik membayar
denda daripada jaga ronda.
1
Buku Panduan Polmas, “ Lampiran Skep Kapolri No. Pol. : Skep/431/VII/2006”, hal. 13, Mabes
Polri, Jakarta, 2006
2
Ibid, hal 12
3
Noor Hafidah, “Membangun Sumber Daya Manusia Indonesia dalam Perspektif Globalisasi”, Hal.
45, Bhayangkara PPITK, Edisi 51, Jakarta, 2001
4

Analisa Penulis :

a. Tampak pada pelaksanaan ronda yang dilakukan masyarakat tidak berjalan


sama sekali, hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat belum terpatri
untuk menjaga keamanan lingkungannya. Hal ini disebabkan FKPM Polsek
Sokaraja belum memperoleh saran dari warga sekitar bagaimana
pelaksanaan ronda seharusnya dijalankan apabila menemui kendala dalam
pelaksanaannya. FKPM dan Ketua RT hanya memberikan putusan sepihak
saja dalam menjalankan kegiatan ronda di lingkungannya dan tidak
meminta saran ataupun keluhan dari warga yang akan menjalankannya.
Hal ini disebabkan FKPM belum memahami apa pengertian Polmas
sebagai suatu strategi. Dimana disebutkan dalam Skep Kapolri No. Pol.
Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005 dalam Buku Panduan Polmas 4 :

“Polmas sebagai suatu strategi berarti model perpolisian yang


menekankan kemitraan sejajar antara petuga Polmas ( dan FKPM )
dengan masyarakat local dalam menyelesaikan dan mengatasi setiap
permasalahan sosial yang mengancam kamtibmas serta ketentraman
kehidupan masyarakat dengan tujuan mengurangi kejahatan dan rasa
ketakutan akan kejahatan serta meningkatkan kualitas hidup warga
setempat.”

b. Dalam mewujudkan kepentingan bersama untuk tetap terciptanya situasi


aman dan tentram di wilayahnya. Tentunya peran serta anggota FKPM dan
petugas Polmas sebagai motor penggerak kamtibmas lingkungan haruslah
mampu menciptakan situasi yang dapat mendorong masyarakat untuk aktif
menjalankan ronda malam. Sebagai bentuk pendorong motivasi orang
untuk berubah dari tidak sadar menjadi sadar maka perlu diberlakukan
“Norma Sosial” yang berlaku di kampung itu bagi warga yang
menjalankan atau tidak menjalankan tugas ronda namun tetap
mempertimbangkan penghormatan terhadap HAM sebagaimana
diungkapkan oleh J. Stacy Adam yang dikutip oleh Steven P. Robbins 5
dalam Teori Keadilan :
“ Individu membandingkan masukan dari keluaran pekerjaan mereka
dengan masukan dan keluaran orang lain dan kemudian merespon
untuk menghapuskan setiap ketidak adilan, dalam artian motivasi
sangat dipengaruhi oleh ganjaran relatif ataupun mutlak (yang
diterima dirinya dan orang lain)”

c. Untuk memberikan contoh kepada warga ada baiknya FKPM, petugas


Polmas, perangkat RT/RW untuk ikut serta dalam jaga ronda, jadi tidak
hanya menjadwalkan saja tetapi juga ikut serta langsung melaksanakannya.
Diharapkan dengan partisipasi itu nantinya warga akan berpartisipasi pula

4
Buku Panduan Polmas, Op Cit, hal.7
5
Steven P. Robbins, “Perilaku Organisasi” Jilid 1, hal 225, PT Indeks Gramedia Group, Jakarta,
2003
5

untuk jaga ronda. Hal ini senada dengan pernyataan Samodra Wijaya 6 yang
menyebutkan :

“Dengan adanya keterlibatan mental dan emosional yang lebih


banyak dari pada keterlibatan fisik , maka mendorong orang untuk
partisipasi dalam menyumbang atau mendukung kepada situasi
tertentu. Partisipasi mendorong orang untuk ikut bertanggung jawab
dalam suatu kegiatan karena sumbangan dan dukungannya.”

3. Pada halaman 51 disebutkan oleh peneliti bahwa berdasarkan observasi yang


dilakukannya, anggota FKPM pada umumnya perangkat desa, ketua RT dan
ketua RW hal itu dikarenakan partisipasi warga untuk menjadi anggota FKPM
masih kurang.

Analisa Penulis :

Sebenarnya pembentukan FKPM itu telah sesuai dengan kondisi yang


dipersyaratkan oleh Skep Kapolri No. Pol. : Skep/737/X/2005 tanggal 13
Oktober 2005 dalam buku Panduan Polmas 7 yang menyebutkan :

“Adanya suatu forum kemitraan yang keanggotaanya mencerminkan


keterwakilan semua unsur dalam masyarakat termasuk petugas
Polmas dan pemerintahan setempat.”

Namun ada baiknya untuk dapat meningkatkan gairah masyarakat untuk


menjadi anggota FKPM yaitu menunjuk salah satu tokoh yang ada di
masyarakat dimana dengan kehadiran tokoh tersebut membuat masyarakat
termotivasi untuk menjadi anggota FKPM karena ia menganggap dirinya
dengan menjadi anggota FKPM maka ia memiliki aktualisasi sosial yang sama
dengan tokoh tersebut. Sebagaimana diungkapkan oleh Abraham Maslow yang
dikutip oleh Edward E. Thibault, Lawrence M.Lynce & R. Bruce Mc Bride 8 :

“Seorang individu memiliki tingkat ( hirarki ) kebutuhan yang ingin


diwujudkannya yaitu : Kebutuhan keamanan, kebutuhan sosial,
perasaan kebutuhan akan kepentingan dan harga diri, kebutuhan
otonomi dan kebutuhan aktualisasi diri.”

4. Pada halaman 53 disebutkan oleh peneliti bahwa petugas Polmas


melaksanakan kegiatan deteksi dini dengan cara mencari informasi ke rumah-
rumah penduduk hal ini dilakukan dengan harapan mereka memperoleh info
langsung dari masyarakat yang didatanginya.

6
Samodra Wijaya, “Konsep-konsep Administasi Negara”, hal 57, Liberty Press, Yogyakarta, 1992
7
Buku Panduan Polmas, Op Cit, hal 7
8
Edward E. Thibault, Lawrence M.Lynce dan R. Bruce Mc Bride, “Proaktif Police Management”,
Hal. 130, Cipta Manunggal, Jakarta, 2001
6

Analisa Penulis

Menurut pendapat penulis kegiatan deteksi dini merupakan tugas pokok dari
Fungsi Intelejen, walaupun sebenarnya hal itu tidak hanya menjadi domain
dari petugas intel saja tetapi anggota Polri lainnya. Penulis mengutip dari
BAB II tentang Tugas Pokok dan Fungsi Intelejen pada Lampiran A Skep
Kapolri No. Pol. : Skep / 432/VII/2006 dalam buku Panduan Polmas 9 yang
menyebutkan :

“Menyelenggarakan kegiatan dan operasi intelejen keamanan di bidang


penyelidikan, pengamanan, dan penggalangan guna pencegahan dini serta
terselenggaranya deteksi dini ( early detection ) dan peringatan dini
( early warning ) “

Dari pernyataan diatas penulis berpendapat ada baiknya petugas Polmas tidak
hanya mencari informasi saja tetapi juga ditekankan untuk menciptakan
kepekaan masyarakat untuk melaporkan suatu kondisi yang janggal dan
mencurigakan di tempat tinggalnya kepada pihak kepolisian dalam hal ini
petugas intelejen Polsek. Dimana petugas polmas juga harus mampu
meningkatkan kerjasama masyarakat untuk membantu tugas kepolisian seperti
memberikan No HP Kapolsek atau anggota Intelejen Polsek.

Hal tersebut terkait dengan teori kerjasama yang dikemukakan oleh Roucek
dan Warren yang dikutip oleh Abdul Syani 10 .:

“Kerjasama berarti bekerja bersama-sama untuk mencapai tujuan


bersama dan merupakan suatu proses yang paling mendasar. Kerjasama
merupakan suatu bentuk proses sosial, dimana didalamnya terdapat
aktifitas tertentu yang ditujukan untuk mencapai tujuan bersama dengan
saling membantu dan memahami terhadap aktifitas masing-masing.” .

ANALISIS BAB V

Pada umumnya dalam Bab V tentang pembahasan ini, peneliti telah mengungkap
dan menganalisa temuan penelitian dengan baik akan tetapi penulis disini hanya
menambahkan beberapa hal yang sifatnya untuk melengkapi analisa peneliti yaitu
antara lain :

1. Dalam pembahasan itu peneliti sebaiknya memberikan analisa bagaimana


proses pembentukan Polmas (FKPM ) yang dilakukan oleh Polsek Sokaraja
tersebut. Karena berdasarkan data dari peneliti FKPM yang dibentuk hanya 12
dari 18 desa yang ada di kecamatan Sokaraja dan yang aktif hanya FKPM di 2
desa saja.

9
Buku Panduan Polmas, Op Cit, Hal 15
10
Abdul Syani, “ Sosiologi : Skema, Teori dan Terapan”, hal. 156, Bumi Aksara , Jakarta, 2002
7

Analisa Penulis :

Pembentukan FKPM pada dasarnya tidak dapat dipaksakan pembentukannya


oleh Kapolsek. Sebagaimana diatur dalam Lampiran Skep Kapolri No. Pol.
Skep /433/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 pada Buku Panduan Polmas 11 dimana
sebelum membentuk FKPM terlebih dahulu Kapolsek harus melakukan
Sosialisasi Polmas kepada aparat dan tokoh masyarakat yang ada di masing-
masing desa di wilayah hukumnya kemudian melakukan penjajakan terhadap
kebutuhan masyarakat tentang pembentukan Polmas di wilayahnya. Baru
setelah ada kepastian bahwa masyarakat sepakat untuk membentuk Polmas
maka Kapolsek dapat membentuk FKPM di wilayah tersebut. Hal ini penting
untuk menjamin komitmen masyarakat agar tetap berpartisipasi dalam
menyukseskan program Polmas di masyarakat. Sehingga menghindari kontra
produktifnya pembentukan Polmas dengan hasil yang telah dicapainya seperti
FKPM tidak berjalan aktif, tidak adanya minat masyarakat untuk menjadi
anggota FKPM dan tidak ada kesadaran masyarakat untuk melaksanakan tugas
ronda. Hal ini senada dengan pendapat H.Goldstein 12 yang mengatakan :

“Merupakan gaya kegiatan pemolisian masyarakat yang bertujuan untuk


membangun kesetaraan hubungan antara polisi dan masyarakat dalam
pengambilan keputusan suatu kebijakan pembinaan kamtibmas agar dapat
mengelaborasi kemampuan masyarakat dan kepolisian untuk mencegah dan
menanggulangi setiap ancaman dan gangguan kamtibmas.

2. Dalam pembahasan penelitian menurut penulis sebaiknya pula menggunakan


data indikator keberhasilan pelaksanaan Polmas di Polsek Sokaraja dengan
dibandingkan sebelum dilaksanakan Polmas. Hal ini penting untuk
menunjukkan kepada pembaca apakah hasil yang diperoleh sudah cukup
signifikan dengan adanya pembentukan Polmas di Polsek Sokaraja. Indikator
yang dapat dipakai oleh peneliti menurut penulis yaitu menggunakan indikator
keberhasilan yang ada pada Lampiran Skep Kapolri No. Pol. Skep
/433/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 pada Buku Panduan Polmas 13 :

a. Intensitas kegiatan forum baik pengurus maupun keikutsertaan


warganya
b. Kemampuan forum untuk menemukan dan mengidentifikasi akar
permasalahan
c. Kemampuan petugas Polmas bersama forum menyelesaikan
permasalahan termasuk konflik/pertikaian antar warga
d. Kemampuan mengakomodasi keluhan masyarakat
e. Intensitas dan ekstensitas kunjungan warga oleh petugas Polmas
f. Menurunnya angka kejahatan
g. Kebersamaan dan kepuasan masyarakat atas penerapan pranata
Polmas.

11
Buku Panduan Polmas, Op Cit, hal. 35
12
H.Goldstein, “ A Free Society”, Ballinger Publishing Co, hal. 20, Cambridge, 1998
13
Buku Panduan Polmas, Op Cit, hal. 39
8

Hal ini penting karena peneliti menganalisis peran Kapolsek dalam


melaksanakan pengendalian dan pengawasan Polmas di Polsek Sokaraja. Hal-
hal yang masih belum dimasukkan penulis dalam pembahasan itu adalah belum
adanya pendapat masyarakat tentang efek eksistensi Polmas terhadap kepuasan
masyarakat dan data tingkat kejahatan sebelum dan sesudah Polmas
dilaksanakan di Polsek Sokaraja.

3. Pada Bab V tentang Pembahasan, penulis belum menemukan apa saja langkah
Kapolsek untuk memberikan Reward kepada petugas Polmas atau anggota
FKPM yang berhasil melaksanakan tugas. Menurut pendapat penulis, peneliti
hanya menyampaikan bentuk punish yang diberikan kepada petugas polmas
yang tidak membuat laporan saja. Tetapi tidak menguraikan langkah-langkah
berupa pemberian reaward apa yang diberikan kepada mereka.
Hal ini sangat diperlukan untuk dapat memotivasi petugas Polmas dan anggota
FKPM untuk melaksanakan tugas dengan baik. Hal ini senada dengan Teori
Motivasi yang dikemukakan oleh Abraham Maslow yang penulis telah
sampaikan diatas.

ANALISIS BAB VI

Pada umumnya dalam Bab VI tentang Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.
Pada bagian Kesimpulan, peneliti telah menjawab secara ringkas pertanyaan-
pertanyaan yang ada dalam perumusan masalah. Yang perlu penulis tambahkan hanya
pada bagian Saran, yaitu :

Sebaiknya dalam saran tersebut peneliti tidak hanya menujukan saran itu kepada
pihak-pihak yang berkompeten untuk meningkatkan Polmas di wilayah tersebut saja
tetapi juga menurut pendapat penulis, peneliti memasukkan saran penelitian tersebut
bagi pembaca dan akademisi. Sehingga ilmu pengetahuan yang terkandung dalam
penelitian itu lebih terus dikembangkan dan terus dieksplorasi demi lebih baiknya
mutu pelaksanaan Polmas di wilayah Polsek Sokaraja. Karena menurut penulis
banyak aspek-aspek lainnya yang masih perlu diteliti dalam rangka pengendalian dan
pengawasan pelaksanaan Polmas di lapangan. Hal ini sejalan dengan Strategi dan
Program Pengembangan Polmas pada Skep Kapolri No. Pol. : Skep /737/X/2005.

Demikian Paper ini dibuat untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh Dosen
Mata Kuliah Polmas, penulis menyadari bahwa Paper ini jauh dari sempurna maka
penulis meminta koreksi, saran dan kritik yang membangun dari para dosen dan
pembaca demi lebih baiknya tulisan ini dikemudian hari.
Jakarta, Agustus 2008
PENULIS

DAFTAR PUSTAKA DOLLY GUMARA


NO. MHSW 6496
9

1. Buku Panduan Polmas, “ Lampiran Skep Kapolri No. Pol. :


Skep/431/VII/2006”, Mabes Polri, Jakarta, 2006

2. Noor Hafidah, “Membangun Sumber Daya Manusia Indonesia dalam


Perspektif Globalisasi”, Bhayangkara PPITK, Edisi 51, Jakarta, 2001

3. Steven P. Robbins, “Perilaku Organisasi”, Jilid 1, PT Indeks Gramedia


Group, Jakarta, 2003

4. Samodra Wijaya, “Konsep-konsep Administasi Negara”, Liberty Press,


Yogyakarta, 1992

5. Edward E. Thibault, Lawrence M.Lynce dan R. Bruce Mc Bride, “Proaktif


Police Management”, Cipta Manunggal, Jakarta, 2001

6. Abdul Syani, “ Sosiologi : Skema, Teori dan Terapan”, hal. 156, Bumi Aksara
, Jakarta, 2002

7. H.Goldstein, “ A Free Society”, Ballinger Publishing Co, hal. 20, Cambridge,


1998