Anda di halaman 1dari 2

PENDEKATAN BUDAYA ORGANISASI UNTUK “EMPLOYEE

ENGAGEMENT”

Dalam masa krisis global yang dampaknya masih terasa hingga saat ini, employee
engagement menjadi hal yang penting untuk diperhatikan oleh segenap eksekutif puncak di
perusahaan mana pun. Banyak kalangan berpendapat bahwa employee engagement harus menjadi
perhatian serius oleh eksekutif HR maupun eksekutif puncak agar perusahaan dapat bertahan dari
dampak krisis saat ini. Pendapat ini juga diperkuat oleh beberapa studi yang mengkorelasikan antara
tingginya employee engagement dengan pencapaian target perusahaan, dan hasilnya sangat positif.

Tapi, wacana employee engagement biasanya selalu dikaitkan dengan beberapa program
yang memerlukan biaya yang besar (“high cost”). Lantas, bagaimana solusi membangun employee
engagement yang tidak “high cost” semacam itu? Irvan Hermala (Senior HRD PT Kao Indonesia
Chemicals) dalam artikelnya di majalah Human Capital berpendapat bahwa hal itu dapat diatasi
melalui “Pendekatan Budaya Organisasi”.

Budaya Organisasi tidak hanya berperan sebagai simbol ataupun filosofi perusahaan yang
bersifat abstrak dan mengawang-awang. Wood, Wallace, Zeffane, Schermerhorn, Hunt, Osborn
(2001:391) mendefinisikan budaya organisasi sebagai sistem yang dipercayai dan nilai yang
dikembangkan oleh organisasi dimana hal itu menuntun perilaku dari anggota organisasi itu sendiri.
Berdasarkan definisi tersebut, Budaya Organisasi harus mampu menginternalisasi ke dalam setiap
diri karyawan dan menjelma menjadi motif dasar perilaku setiap karyawan di dalam perusahaan.

Pendekatan Budaya Organisasi menitikberatkan penciptaan keselarasan nilai-nilai dan


lingkungan kerja yang kondusif.

Keselarasan Nilai-Nilai
Karyawan yang memiliki keselarasan nilai-nilai dengan perusahaan akan memiliki
keterikatan yang tinggi pula, atau dengan kata lain semakin engaged dengan perusahaan. Itulah
sebabnya Budaya Organisasi yang baik biasanya meletakkan dasar filosofi nilai-nilai ideologis atau
humanis sebagai fondasinya. Kita ambil contoh Toyota Corporation, dengan “The Toyota Way”
sebagai Budaya Organisasinya. Prinsip pertama dalam “The Toyota Way” adalah “Base your
Decision on a Long-Term Philosophy”. Dalam filosofi tersebut Toyota menyatakan “...to generate
value for the customer, society, and the economy”. Jelas sekali bahwa Toyota ingin menggiring
mindset para karyawannya menjadi lebih humanis dengan filosofi dasar tersebut, bahwa apa yang
mereka kerjakan akan memberikan manfaat bagi masyarakat dan kondisi perekonomian.
Dengan membangun keselarasan nilai dengan filosofi semacam itu, perusahaan akan mampu
secara signifikan membangun employee engagement sehingga karyawan semakin merasa terikat
dengan perusahaan. Namun, pada praktiknya, menyelaraskan nilai-nilai dasar perusahaan dengan
individu karyawan bisa dibilang bukan pekerjaan yang mudah. Hal ini dikarenakan proses
penanaman nilai-nilai dasar tersebut ibarat melakukan brainwashing terhadap mindset seluruh
karyawan, apalagi bagi karyawan lama yang sudah bekerja bertahun-tahun sebelum nilai-nilai dasar
ini dirumuskan. Kuncinya terletak pada kontinuitas dalam menanamkan nilai-nilai tersebut ke
dalam diri karyawan.

Lingkungan yang Kondusif


Lingkungan kerja yang kondusif juga sangat berpengaruh terhadap engagement karyawan.
Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif berarti menciptakan suatu kondisi dimana karyawan
merasa nyaman untuk bekerja. Dalam Budaya Organisasi, menciptakan lingkungan yang kondusif
biasanya merupakan bagian dari nilai organisasi yang dikembangkan dari filosofi dasarnya. Nilai ini
biasanya tertuang dalam salah satu prinsip atau asas yang mendasari pola interaksi antar sesama
karyawan. Contoh dari prinsip yang dimaksud misalnya “Menghormati Hak Asasi Individu”,
“Kompetisi yang Bersih dan Sehat”, “Karyawan adalah Keluarga”, “Membangun Tim yang Solid”,
dan lain-lain.
Dengan prinsip-prinsip semacam itu, karyawan diharapkan akan menemukan lingkungan
kerja yang kondusif. Sebagai contoh prinsip “Karyawan adalah Keluarga”, merupakan prinsip yang
cukup efektif untuk menumbuhkan engagement dalam diri karyawan. Contoh kongkrit dari prinsip
ini misalnya memberikan donasi bagi karyawan yang anaknya baru lahir, atau merayakan ulang
tahun bagi karyawan yang berulang tahun, ataupun sekedar mengadakan arisan karyawan bersama.
Semua ini memang terlihat kecil dan sepele, tetapi efeknya bisa sangat besar dan sangat efektif
dalam menumbuhkan employee engagement dibandingkan dengan program-program employee
retention yang cenderung memakan biaya besar.

Dapat disimpulkan, dengan pendekatan budaya organisasi ini, perusahaan memiliki


alternatif solusi yang cukup “murah” untuk dapat meningkatkan employee engagement. Namun,
sekali lagi perlu diingatkan, melakukan pendekatan budaya organisasi ini memerlukan kerja keras,
kontinuitas, dan komitmen dari semua pihak, terutama para petinggi perusahaan. Tanpa itu semua,
mustahil berhasil menumbuhkan engagement dalam diri karyawan.