Anda di halaman 1dari 26

BAB III

FLUIDA

1. PENDAHULUAN
Fluida atau zat cair meliputi zat cair dan gas. Zat cair meliputi air, darah, asam
sulfat, air laut dan sebagainya. Zat gas meliputi udara, oksigen, nitrogen,
karbondioksida, dan sebagainya.
Hukum-hukum yang berlaku pada air berlaku pula pada zat cair lainya.
Walaupun zat cair dan gas tergolong dalam fluida namun terdapat perbedaan
antara kedua zat cair tersebut.
Zat Cair Zat Gas
- Molekul-molekul terikat secara - Molekul bergerak bebas dan saling
longgar namun tetap berdekatan bertumbukan
- Tekanan yang terjadi oleh - Tekanan gas bersumber pada
karena adanya gaya gravitasi perubahan momentum yang
bumi yang bekerja terhadapnya disebabkan molekul gas pada
dinding
- Tekanan terjadi secara tegak - Tekanan terjadi tidak tegak lurus
lurus pada bidang pada bidang

2. HIDRODINAMIKA
Penelitian mengenai zat cair yang mengalir disebut “Hidrodinamika” ;
penelitian ini sangat rumit, meliputi tekanan, kecepatan aliran, lapisan-lapisan
zat cair yang melakukan gesekan dan sebagainya.
Untuk melakukan penelitian perlu suatu pendekatan. Bernoulli telah berhasil
menurunkan rumus dengan meletakkan persyaratan-persyaratan atau
pendekatan khusus yaitu :
1. Zat cair tanpa adanya geseran dalam (cairan tidak viskous)
2. Zat cair mengalir secara stationer (tidak berubah) dalam hal kecepatan,
arah maupun besarnya (selalu konstan)
3. Zat cair mengalir secara steady yaitu mengalir melalui lintasan tertentu

34
4. Zat cair tidak termampatkan (incompresible) melalui sebuah pembuluh
dan mengalir sejumlah cairan yang sama besarnya (continuitas)
Berdasarkan persyaratan di atas dan berdasarkan hukum kinetis diperoleh
rumus :
½ ρV2 + P + ρgh = Konstan
Ρ = Massa jenis zat cair
P = Tekanan
V = Voume
Dengan mempergunakan rumus ini dapat menghitung kecepatan aliran zat
cair, alat yang dipakai adalah ”Venturimeter”. Kecepatan gerak dalam zat cair
dapat pula ditentukan dengan mempergunakan ”Tabung pitot” dan dapat pula
menghitung gerakan udara.

2.1 ALIRAN ZAT CAIR MELALUI PEMBULUH


Apabila sebuah lempengan kaca diletakkan diatas permukaan zat cair
kemudian digerakkan dengan kecepatan V, maka molekul dIbawahnya akan
mengikuti kecepatan yang besarnya sama dengan V. Hal ini disebabkan oleh
adhesi lapisan zat cair pada permukaan kaca dibagian bawahnya. Lapisan zat
cair dibawahnya lagi akan berusaha mengerem kecepatan tersebut, demikian
seterusnya sehingga pada akhirnya zat cair yang paling bawah mempunyai
kecepatan sama dengan nol. Dengan demikian gaya F yang menyebabkan
kecepatan kaca tersebut dapat dinyatakan:
F
V

35
F=ηAv
d
η = koefisien gerakan dalam (viskousitas)
A = luas permukaan
v = Kecepatan mengalir
d = jarak dari permukaan kedasar

demikian pula aliran zat cair dalam pembuluh dapat digambarkan sebagai
berikut :
P1 P2

Makin ketengah kecepatan mengalir makin besar ; dengan adanya gaya F yang
bekerja pada penampang A maka kecepatan aliran berbentuk parabola.
Apabila volume zat cair yang mengalir melalui penampang tiap detiknya
disebut debit (V) = Vt maka menurut poisuille :
V = π r4 (P1-P2)
8ηL
V = jumlah zat cair yang mengalir perdetik. (flow rate)
η = viskousitas. Satuan pascal
Untuk air : 10-3 pas pada 20o C
Untuk darah : 3 – 4 x 10-3 pas tergantung pada persentase sel darah
merah dalam darah (hematokrit)
R = jari-jari pembuluh (meter)
L = panjang dalam meter
P1, P2 = tekanan

36
Hukum Poiseuille menyatakan bahwa cairan yang mengalir melalui suatu pipa
akan berbanding langsung dengan penurunan tekanan sepanjang pipa dan
pangkat empat jari-jari pipa.
Jadi rumus diatas dapat dinyatakan dengan :
Flow rate : Pressure
Resistance
Atau Volume detik : Tekanan
Tahanan
Hukum poiseuille berguna untuk menjelaskan mengapa pada penderita usia
lanjut mengalami pingsan (akibat tekanan darah meningkat) ; mengapa daerah
akral/ujung suhunya dingin. Namun demikina hukum poisuille ini hanya bisa
berlaku apabila aliran zat cair itu laminer dan harga Re (reynold) = 2.000.
Apabila hukum poissuille ditulis dalam bentuk :
(P1-P2) = V 8ηL
π r4
maka tampak ada persamaan dengan hukum Ohm :
E=I.R
E = tegangan = (P1-P2)
I = aliran = V
R = tahanan = 8ηL Tahanan poisseuille dalam satuan N.S
π r4 m5

2.2 TAHANAN TERHADAP DEBIT ZAT CAIR


Dari perubahan diatas diperoleh rumus :
V = π r4 (P1-P2)
8ηL
Bila dikaji lebih lanjut terhadap rumus diatas bahwa tahanan tergantung akan :
a. panjang pembuluh
b. diameter pembuluh
c. viskous/kekentalan zat cair
d. tekanan

37
2.2.a. Efek Panjang Pembuluh Terhadap Debit
Makin panjang pembuluh sedangkan diameter pembuluh sama, zat cair
yang mengalir lewat pembuluh tersebut akan memperoleh tahanan
semakin besar dan memperoleh konsekuensi terhadap besar tahanan
tersebut, debit zat cair akan lebih besar pada pembuluh yang lebih pendek.

2.2.b. Efek Diameter Terhadap Pembuluh Debit


Zat cair yang melewati pembuluh akan dihambat oleh dinding pembuluh.
Dengan alasan ini kecepatan aliran zat cair makin cepat pada pembuluh
dengan diameter semakin besar, dan aliran tengah semakin tidak
dipengaruhi oleh zat cair yang berada di tepi dekat dinding pembuluh.

2.2.c. Efek Kekentalan Terhadap Debit


Dengan semakin kentalnya zat cair yang melewati pembuluh, semakin
besar gesekan terhadap dinding pembuluh dan sebagai konsekuensinya,
diperoleh tahanan semakin besar.
Dari hasil pencatatan terlihat peningkatan zat cair pada pipa kapiler
sedangkan debit adalah sama.
Kekentalan ini penting untuk mengetahui konsentrasi sel darah merah.
Pada darah normal, kekentalan sebesar 3,5 kali air. Apabila konsentrasi
darah 1 ½ dari darah normal, kekentalan menjadi dua kali air dan apabila
konsentrasi darah meningkat mencapai 70 Kali di atas normal, maka
kekentalan darah mejadi 20 kali air. Dengan alasan demikian, aliran darah
pada penderita anemia adalah cepat oleh karena konsentrasi sel darah
merah sangat rendah. Sebaliknya pada penderita polycythemia (kadar sel
darah meningkat) aliran darah sangat lamban.

38
2.2.d. Efek Tekanan Terhadap Debit
Apabila tekanan zat cair/darah pada salah satu ujung pembuluh lebih
tinggi dari ujung lainya, maka zat cair/darah akan mengalir dari tekanan
yang tinggi ke tekanan yang rendah. Dengan demikian aliran zat cair/darah
berbanding langsung terhadap perbedaan tekanan.

2.3 SATUAN KEKENTALAN


Satuan kekentalan menurut SI adalah poisseuille disingkat dengan PI.
Hubungan PI dengan satuan lain adalah sebagagi berikut :
1 PI = 10 Poise = N. Sec = Pa. S
M2
1 Poise (P) = dyne detik = Massa (Kg)
Cm2 Panjang (m) x waktu 2 (S2)

= Gaya Panjang
Luas Kecepatan
Viskousitas untuk air = 10-3 Pas (20°C)
Darah = 3 -4 x 10-3 Pas tergantung sel darah merah
(hematokrit)

2.4 LAJU ENDAP DAN GAYA BUOYANSI/APUNG


Apabila dua buah kerikil dengan masa yang sama dimasukkan kedalam dua
buah tabung yang masing-masing berisi air dan minyak, maka akan terlihat
kedua kerikil itu mencapai dasar tabung dalam waktu yang berbeda. Hal ini
disebabkan oleh perbedaan massa jenis zat cair dengan massa jenis minyak.
Gerak jatuh ini pun dipengaruhi oleh gaya gravitasi maka diperoleh:

Gaya jatuh = G = 4/3 π r3 ρg


ρ = massa jenis benda
g = gravitasi
r = jari-jari

39
Benda yang jatuh dalam zat cair mendapat gaya ke atas (buoyant force)
sebesar :
G keatas = 4/3 π r 3 ρo g
ρo = massa jenis zat cair
Dari hasil penelitian stokes (1845) sebuah objek dengan jari-jari r mendapat
gaya hambatan (retarding force) sebesar :
G hambat = 6 πηrv
V = kecepatan
R = jari-jari
η = viskous dalam poise
Gaya hambatan (retarding force) sama dengan selisih antara gaya gravitasi
dengan gaya keatas, dengan demikian :
6 πηrv = 4/3 π r 3 ρ g - 4/3 π r 3 ρo g
V = 2 r 2 g (ρ- ρo)

r = jari-jari sel darah merah
v = kecepatan endap/sedimentasi
= massa jenis plasma
= massa jenis sel darah
g = gravitasi
η = viskousitas (koefisien gesekan dalam)
Penentuan kecepatan sedimentasi ini sangat penting oleh karena pada
beberapa penyakit :
a. Rheumatic
b. Rheumathic fever
c. Reumathic heart disease
d. Gout
Sel darah merah cenderung berkumpul bergerombol bersama-sama dan jari-
jari efektif meningkat sehingga pada waktu pengetesan kecepatan sedimentasi
akan tampak meningkat.

40
Pada penderita dengan hemolytic jaundice (pemecahan hemogobin
berlebihan) dan sickle sel anemia, sel darah merah berubah menjadi
ceper/shape dan pecah sehingga radius sel darah merah berkurang, rate dari
sedimentasi sel darah merah akan menurun dari normal.
Menentukan kecepatan sedimentasi ini di klinik atau dirumah-rumah sakit
dikenal dengan nama BBS (Bloed Bezinking Snellheid), BSR (Basal
Sedimentasi Rate), laju endapan darah (LED) atau KPD (Kecepatan
Pengendapan Darah).
Untuk menghitung / mengetahui BBS di rumah sakit / klinik biasa
dikerjakan dengan cara mengambil darah yang sudah dicampurkan dengan
Na-Citrat kemudian dimasukkan ke dalam tabung Westergen . Pipet dibiarkan
tegak lurus selama 1½ jam berikutnya. Kecepatan pengendapan erythrocyt
kemudian dilihat. Keadaan normal untuk laki-laki 2-7 mm/ ½ jam dan wanita
3 -10 mm/ ½ jam.
Secara artifisial untuk peningkatan/akselerasi gravitasi dikerjakan dengan
cara sentrifugir, dimana akan diperoleh :
G efektif : 4 π2 f2 r
F : rotasi rate
R : jari-jari tabung yang dipergunakan untuk rotasi
Dengan cara sentrifugir selama 30menit pada 3000 rpm dengan jari-jari (r)
= 22 c, diperoleh hematokrit :40 – 60 (% sel darah merah di dalam darah)
kurang dari 40 menunjukkan anemia ; sedangkan nilainya lebih besar dari 60
menunjukkan policythemia vera.
Untuk statu research atau penelitian biasanya digunakan suatu
ultrasentrifugir. Tujuan dari ultrasentrifugir adalah untuk menentukan jumlah
moleku-molekul yang besar. Ultrasentrifugir umumnya digunakan dengan
kecepatan 40.000 sampai dengan 100.000 rpm, sehingga diperoleh G efektif
sebesar 300.000g.

41
2.5 ALIRAN LAMINER DAN TURBULENSI
Aliran air sungai terkadang terlihat secara perlahan-lahan tenang, tetapi
terkadang terjadi pula aliran secara cepat bahkan terjadi turbulensi/gerak
putaran. Demikian pula aliran darah, biasanya mengalir secara laminer/stream
line tetapi pada beberapa tempat terjadi turbulensi, misalnya pada vulva katup
jantung.
Apabila aliran darah hanya secara laminer saja, tidak mungkin bisa
memperoleh informasi tentang keadaan jantung dengan menggunakan
stetoskop yang diletakkan pada arteri brachialis. Tetapi dngan bantuan
spygnomanometer (alat pengukur tekanan darah) dimana kita menggunakan
pressure curf, sehingga aliran darah akan dibuat turbulensi dan menghasilkan
fibrasi sehingga bunyi jantung dapat didengar dengan menggunakan
stetoskop. Secara teoritis, aliran laminer dapat diubah menjadi aliran
turbulensi apabila tabung pembuluh secara berangsur-angsur diciutkan jari-
jarinya dan kecepatan aliran secara bertahap ditingkatkan sehingga mencapai
kecepatan yang kritis.
Osborne Reynolds (1883) telah menentukan kecepatan kritis (Vc)
berbanding langsung dengan kekentalan (viskous = η ) dan berbanding
terbalik dengan massa jenis dan jari-jari tabung.
Vc ∞ η (∞ = berbanding)
Catatan : η darah selalu tetap agar terpenuhi hukum bernoulli
Vc 1/∞ ρ dan R, maka :
Vc = K η / ρ R
Dimana :
Vc = kecepatan kritis
K = Konstanta Reynolds
1000 atau 2000 (untuk air atau darah)
η = viskous (pas)
ρ = massa jenis
Dari hasil eksperimen diperoleh kecepatan darah didalam aorta berkisar 0-0,5
m/sec dan turbulensi terjadi pada saat systolik.

42
Kalau ditinjau lagi dari segi debit dan tekanan maka diperoleh bahwa
aliran laminasi lebih efisien daripada aliran turbulensi; ini terlihat pada
gambar :
Debit (v)

turbulensi

laminer

Pc tekanan

Keterangan:
Apabila terjadi penyempitan/obstruksi pembuluh darah, maka debit
(flowrate) akan lebih kecil daripada pembuluh darah normal.

3. BUNYI JANTUNG
Melalui pendengaran yang baik, banyak informasi yang diperoleh dari
suara jantung. Suara jantung dapat didengar melalui stetoskop oleh karena ada
vibrasi pada jantung dan pembuuluh darah besar. Biasanya buka tutupnya
vulva/katub jantung akan terdengar suara. Demikian pula dapat didengar
aliran turbulensi pada saat-saat tertentu.
Pada waktu nol (0), dimana mula-mula terjadi kontraksi jantung dan
valvula membuka ketika itu pula tekanan ventrikel dan tekanan aorta
meningkat, bersamaan pada saat itu terdengar bunyi suara jantung pertama.
Pada saat tertutupnya valvula aorta terdengar bunyi jantung kedua.

43
4. TEKANAN DARAH
Dalam mempelajari sirkulasi/aliran darah, kita bertolak dari hukum
poiseuille dan bernoulli. Dalam hukum itu tertera hubungan antara tekanan,
kekuatan aliran dan tahanan (tahanan poisseuille) yang berlaku dalam susunan
pembuluh darah. Darah mengalir kearah turunya tekanan yang berlaku
sepanjang pembuluh darah tersebut.
Tekanan darah vena yang rendah dan tekanan darah pada sistem paru-paru
yang relatif rendah. Jumlah darah pada orang dewasa 4,5 liter. Setiap
kontraksi jantung akan terpompa 80 ml darah dan setiap satu menit, sel darah
merah telah beredar komplit satu siklus dalam tubuh. Pada setiap saat 80 %
darah berada dalam sirkulasi sistemik ; 20% dalam sistem sirkulasi paru-paru.
Darah dalam sirkulasi sistemik ini ± 20% berada di arteri, 10% dalam kapiler
dan 70% di dalam vena.
Pada sirkulasi paru-paru 7% berada didalam kapiler paru-paru sedangkan
93% berada di antara arteri paru-paru dan pembuluh vena paru-paru.
Untuk mengetahui tekanan darah, Rev Stephen Hales (1773 Great Britain)
mula-mula menggunakan pipa gelas yang panjangya 9 ft dihubungkan
langsung ke pembuluh arteri kuda dengan perantara trackea angsa.
Para ahli bedah sering pula mengukur pembuluh darah dengan memasang
kateter secara langsung pada pembuluh darah, yang sebelumnya salah satu
ujung kateter dihubungkan dengan tranduser tekanan. Pengukuran secara
stephen maupun para ahli bedah
Ini sangat tidak praktis sehingga akhirnya diciptanya sfigmomanometer
yang terdiri dari manometer air raksa, pressure cuff dan stetoskop.
Pressure cuff dipasang pada lengan kemudian dipompa perlahan-lahan
dengan tujuan aliran darah dapat distop, tampak air raksa dalam tabung naik
pada skala tertentu, kemudian pressure cuff dilepas secara perlahan-lahan.
Stetoskop diletakkan pada daerah volar tepat diatas daerah ateri brakhialis,
melalui stetoskop akan didengar suara vibrasi turbulensi darah yang disebut
bunyi korotkoff suara K. K ini adalah tekanan sistolik. Tekanan diturunkan
terus sehingga pada suatu saat bunyi K ini adalah kedengaranya, saat ini

44
menunjukkan tekanan diastolik. Tekanan sistolik-diastolik dapat dinyatakan
pada grafik sebgai berikut :

4.1 TEKANAN RATA-RATA


Nilai tekanan rata – rata yang diperoleh dari tekanan rata-rata sistolik dan
tekanan rata-rata diastolik secara matematis tidak sama dengan tekanan rata-
rata dalam suatu siklus waktu jantung.
Secara matematik dapat diperoleh tekanan rata-rata :
Prata-rata = 1/T 0∫1 P(t) dt
Arti tekanan rata-rata ini penting karena dapat menentukan bagi
banyaknya darah yang mengalir melalui setiap satuan waktu.

5. MEMBRAN KENYAL
Membran kenyal banyak terdapat sebagai bagian dari makhluk hidup
seperti pembuluh darah, lambung, usus, alveoli dan lain-lain :
Membran kenyal dapat berupa :
silinder
1. bola

5.1 MEMBRAN KENYAL BERBENTUK SILINDER


Silinder berjari-jari r dialiri zat cair/darah dengan tekanan P maka dinding
silinder mengalami tegangan sebesar T. Oleh Markies De Laplace (1820, ahli
fisika dan matematika Prancis) ditemukan rumus :
T = R . P atau
P = T/R
P = tekanan(mmHg atau dyne/cm2 )
R = jari-jari (cm)
T = tegangan (tension, dyne/cm)6

45
Dengan mempergunakan rumus ini dapat menghitung tegangan suatu
pembuluh darah apabila sudah diketahui jari-jari pembuluh darah dan tekanan
yang dideriatanya.
Tabel hubungan antara tekanan dan teganagan dari pembuluh darah.
Tabel ini dikutip dari Jhon. R. Cameron and James. G. Skofronick ”Medical
Physic” Jhon Wiley and sons, 1978 hlm. 165.

Tekanan rata-rata Tegangan


Bagian Jari-jari (cm)
mmHg dyne/cm2 dyne/cm
Aorta 100 1,3 x 106 1,2 156.000
Arteri 90 1,2 x 105 0,5 60.000
Kapiler 30 4 x 104 6 x 10-4 24
Vena kecil 15 2 x 104 2 x 10-2 400
Vena cava 10 1,3 x 104 1,5 20.000

5.2 MEMBRAN KENYAL BERBENTUK BOLA (GELEMBUNG)


Gelembung bola ini mendapat tekanan ∆P. Daya yang diterima = tekanan
x permukaan = ∆P π r 2
Dua buah dinding gelembung memberi reaksi terhadap ∆P sebesar 2. 2 ‫ﻻ‬
R

Daya keduanya saling menghapuskan sehingga diperoleh :


∆P π r 2 =4 ‫ ﻻ‬π R
PR = 4 ‫ﻻ‬
P = 4 ‫ ﻻ‬/R
 = tegangan permukaan
R = jari=jari

Hukum laplace ini berlaku pada permukaan alveoli paru-paru.

6. ALAT UNTUK MENGUKUR TEKANAN ZAT CAIR

46
Alat-alat yang digunakan untuk mengukur tekanan zat cair :
1. Tonometer
2. sistometer

6.1 TONOMETER
Alat ini digunakan untuk mengukur tekanan intraokuler apakah si
penderita menderita glaukoma atau tidak. Satuan tonometer adalah Hg atau
Torr. Harga normal tekanann intraokuler 12-23 mmHg.

6.2 SISTOMETER
Alat yang dipakai untuk mengukur tekanan kandung kencing disebut
sistometer ; alat sistometer terdiri dari pipa kapiler yang mengandung skala
dalam cm H2O. Pipa kapiler ini dihubungkan dengan jarum melalui pipa karet.
Teknik ini memberi informasi tentang tekanan kandung kencing dan
keadaan sfingter uretra, sedangkan pengukuran tekanan kandung kencing
dapat dilakukan secara langsung yaitu kateter dimasukkan kedalam uretra
melalui lubang uretra.
Pada orang dewasa kandung kencing terisi penuh pada 500 ml. Pada saat
ini tekanan mencapai 30 cm H2O dan terjadi pengeluaran kencing secara
refleks. Akibat kontraksi otot, tekanan kandung kencing akan meningkat
mencapai cm H2O. Pada penderita prostat Hipertropi (pembesaran prostat)
akan terjadi obstruksi, sehingga tekanan kandung kencing mencapai 100 cm
H2O baru terjadi pengeluaran kencing.

7. GAS
Gas merupakan bagian dari zat alir ; yang akan dibahas disini adalah
udara, oleh karena udara sangat diperlukan dalam kehidupan makhluk.

47
7.1 KOMPONEN UDARA
Udara terdiri dari gas O2, N2, H2O ; udara yang dihirup pada waktu
inspirasi kira-kira 80 % N2 , 19 % O2 dan 0,04 % CO2 (kadar CO2 ini bisa
diabaikan), sedangkan pada waktu ekspirasi udara yang dikeluarkan lewat
pernafasan 80 % N, 16 % O, dan 4 % CO 2, setiap hari udara yang dihirup 10
kg (22 lb), sedangkan absorpsi O lewat paru-paru sebanyak 400 liter (±0,5 Kg)
dan sedikit CO2. Telah kita ketahui pula bahwa 22,4 liter udara mengandung 6
x 1023 molekul bilangan avogadro, sedangkan dalam pernafasan ada sekitar
1023 molekul udara yang masuk kedalam paru-paru.

8. MEKANIKA PARU-PARU
Paru-paru diliputi oleh selaput pleura viseralis yang tumbuh menjadi satu
dengan jaringan paru-paru. Diluar pleura viseralis terdapat selaput pleura
parietalis. Ruang antara pleura viseralis dan pleura parietalis disebut ruang
intrapleural. Ruang ini berisi lapisan cairan yang tipis.
Apabila ruang dada berkembang (pada waktu tarik napas) ikut
berkembang pula pleura viseralis dan pleura parietalis. Pada penyakit paru-
paru yang menyebabkan kekakuan paru – paru, pleura viseralis tidak iktu
berkembang sehingga akan mengakibatkan penururnan yang tajam tekanan
intrapleura. Hal ini dapat disamakan dengan suatu pengisap dimana lapisan itu
terikat dengan pir yang kaku, sedangkan yang lain bergerak bebas.
Apabila piston ditarik, ruang antara pleura viseralis dan parietalis akan
bertambah besar, dengan demikian volume antara kedua pleura akan
meningkat. Sedangkan tekanan dalam ruang tersebut akan mengalami
penururnan scara drastis.
Nilai kompliansi ini tergantung umur dan penyakit paru –paru, pada usia
lanjut kompliansi rendah. Penderita usia muda kompliansi sangat berarti. Oleh
karena itu, nilai kompliansi dibagi dengan volume paru-paru yaitu K
(kapasitas) residu (R) dan F (fungsional) yaitu volume paru – paru yang
,mengeluarkan nafas secara normal. Di klinik nilai kompliansi dinyatakan
dalam liter per cm H2O.

48
Pada orang dewasa kompliansi memiliki nilai antara 0,18 – 0,27 liter per
cm H2O. Secara umu pada laki – laki umur diatas 60 tahun, 25% lebih tinggi
bila dibandingkan dengan anak muda dan hanya sedikit sekali ada perubahan
pada wanita serta berkaitan dengan umur.
Pada penyakit paru – paru yang mempunyai nilai kompliansi yang rendah
dimana terlihat sedikit sekali perubahan volume untuk perubahan tekanan
yang besar misalnya fibrosis paaru–paru. Penyakit paru–paru dangan
kompliansi yang sangat tinggi yaitu perubahan volume yang besar untuk
terjadi suatu perubahan tekanan yang kecil misalnya :
a. Respiratory Distress Syndrome (RDS)
b. Emfisema Pulmonum.

9. HUKUM – HUKUM YANG BERLAKU DALAM PERNAFASAN


1. Hukum Dalton mengenai tekanan partial
2. Hukum boyle, PV = konstan
3. Hukum Laplace

9.1 HUKUM DALTON


Hukum ini menyatakan bahwa campuran dari beberapa gas. Tiap–tiap
membentuk kontribusi tekanan total seakan-akan berada sendiri. Misalnya
dalam suatu ruangan terdapat udara dengan tekanan 1 atmosfir (760 mmHg).
Jika kita memindahkan seluruh molekul kecuali O2 maka O2 dalam udara
tersebut 20 % berarti O2 mempunyai tekanan 20 x 760 mmHg = 150 mmHg.
Demikian pula N2 = 610 mmHg (80% dari 760 mmHg). Tetapi tekan partial
uap air tergantung pada kelembaban. Suatu contoh udara ruangan mempunyai
tekanan partial 15 – 20 mmHg. Sedangkan di dalam paru-paru mempunyai
tekanan 47 mmHg pada temperatur 37 C dengan 100% kelembaban. Dengan
menggunakan tekanan partial dari hukum Dalton bisa dibuat daftar di bawah
ini :
Tabel % dan tekanan parsial O2 dan CO2 pada inspirasi, alveolus dan
inspirasi dimana tekanan partial paru – paru PH2O = 47 mmHg.

49
% O2 P O2 % CO2 P CO2 mmHg
Udara inspirasi 20,9 150 0,04 0,3
Alveoli paru-paru 14,0 100 5,6 40
Udara ekspirasi 16,3 116 4,5 32

Pada waktu ekspirasi terkhir didalam paru-paru selalu terdapat 30 %


volume udara ini, disebut ”Fungsional Residual Capasity”

9.2 HUKUM BOYLE


Membahas gas ideal, dimana gas bermassa m bertemperatur konstan dapat
disimpulkan bahwa hubungan P-V konstan. Apabila terjadi peningkatan
volume akan diikuti dengan penurunan tekanan, demikian sebaliknya.
Pada saat inspirasi (menarik nafas) volume paru–paru meningkat,
sedangkan tekanan intrapleura mengalami penurunan.
Pada saat inspirasi jumlah volume udara meningkat ; pada waktu ekspirasi
jumlah volume udara menurun.
Volume paru–paru bertambah pada waktu menarik nafas sedangkan pada
waktu ekspirasi volume udara paru–paru akan menurun. Pada waktu
inspirasi/menarik nafas akan terlihat flow rate meningkat sedangkan tekanan
intrapleura menurun. Sedangkan pada waktu ekspirasi terjadi peningkatan
tekanan sedangkan flow rate menurun .

9.3 HUKUM LAPLACE


Laplace mengatakan bahwa tekanan pada gelembung alveoli berbanding
terbalik pada radius dan berbanding lurus pada tegangan permukaan ‫ﻻ‬.
P = 4 ‫ﻻ‬/ R
P = tekanan
R = jari-jari
‫ = ﻻ‬tegangan permukaan (dyne/cm)
Walaupun alveoli tidak sama persis dengan gelembung sabun yang
mengalami kollaps, tetapi apabila terjadi yang demikian disebut atelactasis.
Hal-hal yang menyebabkan tidak terjadinya kollaps alveolus disebabkan oleh

50
adanya Surface Active Agent (Surfactant). Oleh karena itu Surface Active
Agent ini memegang peranan penting dalam fungsi paru-paru =. Tegangan
alveoli menurun dengan adanya Surface Active Agent.
Apabila bayi baru lahir tanpa Surface Active Agent didalam paru-paru
(sebab yang belum diketahui) akan timbul keadaan yang disebut Respiratory
Distres Syndrome.

10. PENGARUH KETINGGIAN TERHADAP TEKANAN


BAROMETER
Banyak prinsip fisika yang dipakai dalam pernafasan terutama dalam
penerbangan dan penyelaman. Pada atmosfir yang tinggi pada temperatur 20 –
50°Catau dibawah 0°C dan pada kedalaman dibawah permukaan air laut,
tekanan yang terjadi diluar tubuh kadang-kadang dapat menyebabkan
penderita masuk dalam keadaan kollaps. Untuk menghindari bahaya-bahaya
yang timbul perlu diketahui tekanan barometrik terhadap tekanan O2
dasaturasi oksigen dalam arteri.

51
10.1 EFEK TEKANAN BAROMETRIK TERHADAP OKSIGEN
Pada suatu ketinggian diatas permukaan air laut maka tekanan
barometrik akan menurun. Penurunan tekanan barometrik akan diikuti
penurunan tekanan O2 dalam udara. Untuk jelasnya lihat tabel yang
disajikan dibawah ini :

Udara pernafasan
Tekanan
PO2 dalam Satuan
Ketinggian (feet) barometri PO2 dalam
udara oksigen
k (mmHg) alveoli
darah arteri
0 760 150 104 97
(pada permukaan
air laut)
10.000 523 110 67 90
20.000 349 73 40 70
30.000 226 47 21 20
40.000 141 29 8 5
50.000 87 18 1 1

52
10.2 EFEK TEKANAN BAROMETRIK TERHADAP UDARA
Sama halnya dengan tekanan barometrik terhadap oksigen, yaitu
dengan menurunya tekanan barometrik akan tampak penururnan tekanan
parsial tersebut.

Ketinggian (feet) Ketinggian (mmHg) Tekanan parsial gas pada


alveoli (mmHg)
Permukaan laut 760 PN2 = 569
PO2 = 104
PCO2 = 40
PH2O = 47
20.000 349 PN2 = 238
PO2 = 40
PCO2 = 24
PH2O = 47

30.000 87 PN2 = 35
PO2 =1
PCO2 = 24
PH2O = 47

10.3 EFEK TEKANAN BAROMETRIK TERHADAP


KESEHATAN
Pada suatu ketinggian tekanan barometrik akan rendah dan diikuti
penururnan tekanan partial oksien, pada ketinggian 23.0000 feet hanya
sebagian hemoglobin saturasi/jenuhdengan oksigen, menyebabkan
transpor oksigen ke jaringan mencapai 50% dengan akibat jaringan
mengalami anoksia/kekurangan oksigen.

53
Pada ketinggian 20.000 feet penderita belum masuk koma (tidak
sadarkan diri)) akan tetapi setelah 10 menit berlangsung atau lebih
penderita akan mengalami kollaps seperti lemah mental hariness.
Pada 20.000 – 24.0000 feet ketinggian penderita akam masuk
kekeadaan kritis. Pada ketinggian diatas 30.000 feet dalam tempo satu
menit seseorang normal akan jatuh dalam keadaan koma.

11. ALAT UKUR VOLUME PARU-PARU


Alat ukur volumeparu-paru :
1. Spirometer
2. Speak Flow Rate

11.1 SPIROMETER
Alat ini dipakai untuk mengukur aliran udara yang masuk kedalam dan
keluar pau-paru. Dan dicatat dalam grafik volume perwaktu.
Si penderita disuruh bernafas (menarik nafas dan menghembuskan nafas)
dimana hidung penderita ditutup.
Pada waktu istirahat menunjukkan volume udara 500 ml. Keadaan ini
disebut tidal volume. Pada permulaan dan akhir pernafasan terdapat
keadaan reserve akhir dari suatu inspirasi dengan suatu usaha agar mengisi
paru-paru dengan udara, udara tambahan ini disebut dengan inspiratory
reserve volume, jumlahnya sebanyak 3000 ml. Demikian pula akhir dari
suatu ekspirasi, usaha dengan tenaga untuk mengeluarkan udara dari paru-
paru, udara ini dixebut ekspiratory reserve volume yang jumlahnya kira-
kira 1100 ml. Udara yang tertinggal setelah respirasi secara normal disebut
Fungsional Respiratory Capacity (FRC). Seorang yang bernafas baik
dalam keadaan inspirasi maupun ekspirasi, kedua keadaan yang ekstrem
ini disebut vital capacity.
Dalam keadaan normal viatal capacitysebanyak 4500 ml. Dalam
keadaan apapun paru-paru tetap mengandung udara, maka udara ini
disebut resiidual volume (kira-kira 1000 ml) untuk orang dewasa.

54
Untuk membuktikan adanya residual volume, penderita (Subjek)
disuruh bernafas dengan mencampuri udara dengan helium, kemudian
dilakukan pengukuran fraksi helium pada waktu ekspirasi. Di klinik
biasanya mempergunakan spirometer. Penderita disuruh bernafas dalam
satu menit yang disebut respiratory minute volume. Maksimum udara yang
dapat dihirup selama 15 menit disebut maksimum Voluntary Ventilllation.
Maksimum ekspirasi setelah maksimum inspirasi sangat berguna untuk
mengetes penderita emphysema dan penyakit obstruksi jalan
nafas.penderita normal dapat mengeluarkan kira-kira 70% dari vital
capacity dalam 0.5 detik ; 85 % dalam satu detik ; 94 % dalam dua detik ;
97 % dalam tiga detik. Normal Peak Flow Rate 350 – 500 ml/menit.

11.2 MINI PEAK FLOW RATE


Peenderita disuruh meniup sekuat-kuatnya. Udara akan mendorong
piston A. Dan kemudian dapat membaca skalayang ditunjukkan oleh
piston tersebut. Alat peak flow rate ini dipergunakan untuk mengetahui
udara ekspirasi maksimum (liter/menit). Hasil study Ian Gregg A. J. Nunn
(British Medical Journal1973, 3282) menunjukkan flow rate sangat
tergantung akan usia dan jenis kelamin. Usia berkisar 25 – 45 tahun
menunjukkan flow rate yang tinggi sedangkan <25 tahun dan > 50 tahun
menunjukkan flow rate yang rendah. Demikian pula antara laki-laki dan
wanita sangat berbeda.
Wanita berkisar 380 – 480 liter/menit sedangkan laki-laki 520 – 650
liter/menit.

55
RANGKUMAN SOAL DAN PEMBAHASAN

1. Kecepatan maksimum dari tetes air hujan yang berjari-jari 0, 3 mm yang


jatuh di udara (ℓ udara = 1, 29 kg / m3 ) dengan N = 1,8 x 10-5 kg / ms dan G =
98 m/ s2 adalah ……
a. 8, 15 m/s
b. 10, 87 m/s
c. 13,19 m/s
d. 15, 26 m/s

Pembahasan :
Diketahui :r = 0, 3 mm = 3 x 10 -4 m
ℓf = ℓ udara = 1, 29 kg / m3
ℓb = ℓ air = 1000 kg/m3
n = 1, 8 x 10-5 kg /ms
g = 9, 8 m/s2

Ditanyakan : Kecepatan Maksimum (V) ?


Jawab
2 r 2 .9
V= (ℓb - ℓf )
9 n

2 (3 x 10 −4 ) 2
V= 9, 8 (1000 – 1, 29) = 10, 87 m/s
9 1, 8 x 10 −5

Jawab = B

2.
Pada gambar disamping ini diameter

penampang 1 = 5 cm aliran dititik 1 = 3 m ,


s
1 2 tekanan dititk 1 = 16.10 4 N/m2 dan diameter
penampang 2 = 3 cm besar kecepatan dan

56
tekanan di titk 2 berturut –turut adalah
……..
Pembahasan
Diketahui : d1 = 5 cm = 5 x 10 -2
d2 = 3 cm = 3 x 10 -2
V1 = 3 m/s
P1 = 1x 10 4 N/ m2
ℓ air = 1000 Kg / m3

Ditanyakan :V2 dan P2

A 1 = ¼ π d1 2 = 1
4 π 25 × 10 m
-4 2

1 1
A2 = 4 π d2 2 = 4 π 9 x 10-4 m2

Dengan Persamaan Kontinuitas :


A1. V1 = A2. V2
1 1
4 π. 25 × 10-4. 3 = 4 μ 9 x 10-4. V2
75 × 10-4 = 9 × 10-4. V2
75 x 10 −4 m
V2 = = 8, 3
99 x 10 −4 s
Dengan Menggunakan Persamaan Bernoulli

Ρ1 + 1 2  V1 2 +  gh = P2 + 1 2  V22 +  gh2

h1 = h2 Jadi,

(16 x 10 4) + 1 2 1 2
2 1000 (3) + 0 = P2 + 2 1000 (8,3)
× 10 4) + (4, 5 x 10 3) = P2 + (3, 47 × 10 4)
(16
P2 = (16 x 10 4) + (4,5 × 10 3) - (3,47 × 10 4)
P2 = 1298 × 10 5 N/m2

57
3. Rumus untuk menentukan gaya hambatan adalah:
a. F = m. g. v. r

b. F = 4 . π. r3. g
3
c. F = 4 π 2. F2. r
d. F = 6 π. η . r. v

Jawaban : D
Pembahasan :
F = Gaya hambatan (N)
η= Koefesien viskositas (K/m.s)
r = Jari-jari bola (m)
v = Kelajuan relarif benda terhadap fluida (m/s)
22
π= atau 3, 14
7

4. Pada sirkulasi paru-paru, berapa bagian darah yang terdapat di kapiler


paru-paru dan di antara arteri paru-paru dan pembuluh vena paru-paru?
Pembahasan :
• Pada sirkulasi paru-paru  7 % di kapiler paru-paru
93% diantara arteri paru-paru dan pembuluh vena paru-paru
• Pada sirkulasi sistemik  20 % diateri 10% dalam
kapiler dan 70% dalam vena

5. Apa yang menyebabkan suara jantung dapat didengar melalui stetoskop?


Pembahasan :
Karena di dalam jantung ada vibrasi pada jantung dan pembuluh darah besar.
Biasanya buka tutupnya valula/katub jantung akan terdengar suara, demikian
pula dapat didengar aliran furbulensi pada saat-saat tertentu.

58
DAFTAR PUSTAKA

Gabriel. 2002. Fisika Kedokteran. Jakarta : EGC

59