Anda di halaman 1dari 24

Pemicu 5: Kromatografi Gas

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kromatografi gas (GC) merupakan salah satu teknik spektroskopi yang
menggunakan prinsip pemisahan campuran berdasarkan perbedaan kecepatan
migrasi komponen-komponen penyusunnya. Kromatografi gas ditemukan pada
tahun 1903 oleh Tswett dan biasa digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa
yang terdapat pada campuran gas. Pengidentifikasian secara lebih lanjut dapat
digunakan dalam mengestimasi konsentrasi suatu senyawa dalam fasa gas.
Kromatografi gas biasa digunakan untuk mengidentifikasi suatu senyawa
yang terdapat pada campuran gas dan juga mempunyai peranan penting dalam
mengestimasi konsentrasi suatu senyawa dalam fasa gas. Data-data yang dihasilkan
oleh detektor GC adalah kromatogram yang pembacaannya memiliki fungsi
tertentu tiap spesifikasinya.
Pada pemicu kali ini, metode ini digunakan untuk menganalisis alkohol dan
obat-obatan terlarang dalam darah. Ketika minuman beralkohol dikonsumsi, maka
minuman tersebut turun melewati esofagus (kerongkongan) melalui lambung dan
menuju ke usus halus. Sejumlah kecil alkohol diserap melalui aliran darah dalam
membran mukus, dan sebagian besar memasuki aliran darah melalui dinding usus
halus. Alkohol larut dalam air dan aliran darah dengan cepat menyalurkan etanol ke
seluruh bagian tubuh dimana etanol tersebut diserap ke dalam jaringan tubuh sesuai
dengan proporsi kandungan airnya.

1.2 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk menginformasikan kromatografi gas,
kromatografi gas cair dan spektroskopi massa baik dari segi pengertian, prinsip
dasar, instrumentasi, analisa kualitatif dan kuantitatif dalam hubungannya dengan
penentuan konsentrasi alkohol dalam darah

1.3 Definisi Masalah


Menganalisis alkohol dalam darah untuk menentukan kandungan didalamnya
dengan menggunakan analisis kromatografi gas.

1 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Prinsip Dasar Kromatografi

Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan


pola pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa
molekul) yang berada pada larutan. Molekul yang terlarut dalam fase gerak, akan
melewati kolom yang merupakan fase diam. Molekul yang memiliki ikatan yang kuat
dengan kolom akan cenderung bergerak lebih lambat dibanding molekul yang berikatan
lemah. Dengan ini, berbagai macam tipe molekul dapat dipisahkan berdasarkan
pergerakan pada kolom.

Kromatografi dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu kromatografi cair (Liquid


Chromatography), Reverse phase chromatography, High performance liquid
chromatography, Size exclusion chromatography.

2.2 Instrumentasi Kromatografi Gas


Komponen dasar instrumen kromatografi gas di deskripsikan sebagai berikut:
• Carrier gas supply (penyedia gas pembawa)
Gas pembawa haruslah gas yang inert secara kimia seperti He, N 2, H2, Ar.
Gas yang dipilih biasanya menunjukkan tipe detektor yang digunakan. Laju aliran
gas ini ditentukan atau diatur oleh regulator tekanan dua sisi pada tabung gas,
dengan tekanan sekitar 10-50 psi dan aliran diatur 1-1000 liter gas per menit. Katup
pengatur aliran diatur oleh pengatup berbentuk jarum terletak pada bagian bawah
penunjuk aliran.

• Sample Injection System


Penginjeksian sampel adalah hal yang penting dalam kromatografi gas,
terutama untuk mencegah resolusi yang buruk serta penyebaran sampel yang tidak
sesuai. Alat yang biasa digunakan untuk menginjeksikan sampel adalah
mycrosyringe (penyemprot mikro). Sampel gas atau cair diinjeksikan melalui
diafragma silikon-karet/sekat (septum) menuju penguap cahaya pada kolom utama
(port sampel biasanya sekitar 50oC di atas titik didih komponen sampel yang paling

2 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

menguap). Biasanya ukuran sampel bervariasi dari 0.1 µL hingga 20 µL. Kolum
kapiler membutuhkan sampel yang lebih kecil ( ~ 10-3 µL).
• Kolom
Kolom merupakan “jantung” kromatografi gas, dimana terjadi pemisahan
kompone-komponen cuplikan. Pada kromatografi gas terdapat dua jenis kolom yang
biasa dipakai, antara lain kolom tertutup dan kolom kapiler. Panjang kolom
kromatografi antara 2-50 meter atau bahkan lebih. Biasanya terbuat dari stainless
steel, gelas, silica gabungan, atau teflon. Agar cocok pada saat termostating,
biasanya dibentuk spiral dengan diameter 10-30 cm. Temperatur kolom yang
optimal tergantung pada titik didih dari sampel serta derajat pemisahan yang
dibutuhkan.
Ada dua tipe kolom yang biasa digunakan dalam kromatografi gas, packed
column dan open tubular column. Secara umum yang paling sering dipakai adalah
packed column.

• Variabel yang mempengaruhi efisiensi

Variabel Simbol Satuan

Kecepatan linear fasa u Cms-1


mobile

Koefisien difusi fasa DM Cm2s-1


mobile

Koefisien difusi fasa DS Cm2s-1


stationary

Capacity factor K’ -

diameter dp cm

Ketebalan liquid df cm

• Detektor
Fungsi detektor adalah untuk memonitor gas pembawa yang keluar dari kolom
dan merespon perubahan komposisi yang terelusi. Karakteristik dari sebuah detektor
yang ideal adalah

3 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

•• Sensitifitasserta
Stabilitas yang cukup (10-8-10-5yang
reproduksibilitas g/s) baik
• Respon linier terhadap larutan yang memiliki beberapa tingkat
magnitudo
• Beda temperatur dengan temperatur ruang sedikitnya 400 ºC
• Respon cepat terhadap waktu dan laju alir
• Realibilitas yang tinggi serta mudah digunakan
• Selektif dalam merespon kelas-kelas larutan yang berbeda
• Tidak merusak sample

Detektor yang digunakan dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya:


• Detektor Konduktivitas Termal
• Detektor Flame-Ionization

• Recorder
Fungsi recorder adalah sebagai alat untuk mencetak hasil percobaan pada
sebuah kertas yang hasilnya disebut kromatogram (kumpulan puncak grafik).
Akurasi suatu kromatogram pada suatu daerah pembacaan ditentukan oleh
pemilihan pencatat sinyalnya. Respon melewati skala penuh haruslah 1 detik.
Kepekaan perekam adalah 10mV dan berjangkauan dari 1-10 mV.
Output dari detektor akan dikirim ke perekam. Sebuah kromatogram khas
ditunjukkan pada detektor tegangan (y-axis) diplot sebagai fungsi dari waktu (x-
axis). Identitas masing-masing puncak dapat ditentukan dengan menyuntikkan
sampel murni dari masing-masing komponen campuran dan mencatat waktu retensi
mereka.

2.2 Analisa Kualitatif dan Kuantitatif


Kromatografi gas biasa digunakan untuk menentukan kemurnian campuran
organik. Kontaminasi dinyatakan dengan penampilan additional peak. Teknik ini
berguna untuk mengevaluasi efektivitas dari prosedur tingkat kemurnian.

Dalam teori, retention time digunakan untuk mengidentifikasi komponen-


komponen dalam campuran. Namun dalam kenyataannya, aplikasi dari data-data
tersebut terbatas oleh jumlah variabel yang harus dikontrol untuk menghasilkan hasil

4 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

yang bersifat reproduible. Walaupun begitu, gas kromatografi merupakan alat yang
menyediakan informasi mengenai ada atau tidaknya senyawa dalam suatu campuran
dengan menggunakan standard referensi. Kromatogram dari suatu campuran standard
dan dengan sampel tidak boleh menghasilkan peak yang baru dari peak campuran
standard.
Hubungan antara faktor selektivitas untuk senyawa A dan B adalah

=t
− tM
α=K B RB
=k B

K A t RA
−tM k
`
A

Jika campuran standard adalah senyawa B dan α adalah sebuah indeks untuk
mengidentifikasi senyawa A, merupakan perhitungan faktor selektivitas untuk senyawa
murni relatif terhadap campuran standard dan perhitungan ini digunakan untuk
menentukan zat terlarut.

• Analisis Kuantitatif Kromatografi Gas

Sinyal detektor dari gas kromatografi biasa digunakan untuk analisa kuantitaf
dan semi kuantitatif. Analisa kuantitatif dari gas kromatografi berdasarkan
perbandingan tinggi dari puncak analit dengan standard. Untuk menganalisa gas
kromatografi secara kuantitatif terdapat beberapa metode, yaitu:

• Analisa berdasarkan Tinggi Puncak


Tinggi dari sebuah peak dari suatu kromatorgram merupkan jarak tegak lurus
antara puncak peak terhadap garis hubung peak. Tinggi dari puncak kromatografi
didapatkan dengan menghubungkan baselines pada dua bagian puncak dengan garis
lurus dan semua variabel terkontrol kondisinya harus disesuaikan dengan temperatur
kolom, laju alir eluent, dan laju injeksi sampel.

• Analisa berdasarkan Area Puncak

5 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

Luas puncak tidak bergantung pada temperatur kolom, laju alir eluent, dan laju
injeksi sampel. Oleh karena itu, analisa berdasarkan luas puncak ini lebih baik
digunakan sebagai parameter analisa dibandingkan analisa berdasarkan tinggi puncak.
• Analisa dengan Kurva Kalibrasi dengan Standard
Metode lain untuk analisa kuantitatif gas kromatografi adalah metode kurva
kalibrasi. Dalam metode ini, kromatogram standard dan tinggi puncak di plot sebagai
fungsi konsentrasi. Dimana kurva kalibrasi ini memiliki hubungan yaitu sumbu x
merupakan konsentrasi sedangkan sumbu y adalah tinggi puncak (peak) sehingga akan
terdapat persamaan garis Y = bX + a. dimana slope = b. (seperti bagian jawaban
pemicu).

• Metode Internal Standard


Metode terbaik untuk analisa kuantitatif gas kromatografi adalah metode internal
standard, karena ketidakpastian dari pemasukkan dari injeksi sampel dapat dihindari.
Dalam prosedur ini, kuanititas yang ditentukan dalam sebuah standard internal terbagi
menjadi dua, yaitu untuk standard dan sampel. Parameter dari metode ini adalah rasio
luas (tinggi) puncak analit dengan luas (tinggi) dari puncak standard internal.
a. sampel darah diambil dari subjek sesegera mungkin oleh petugas yang
berwenang
b. alkohol ataupun desinkfektan organik volatil lainnya tidak boleh digunakan
untuk membersihkan kulit dimana spesimen darah akan diambil. Larutan
benzalkonium klorida ataupun larutan desinfektan lainnya dapat digunakan
c. Pengambilan sampel darah menggunakan jarum kering dan steril atau
menggunakan wadah yang kedap udara dengan jarum steril.
d. Alkohol ataupun pelarut organik volatil lainnya tidak boleh digunakan untuk
membersihkan wadah.
e. Sampel darah harus ditambahkan antikoagulan dan pengawet.

2.4 Aplikasi Kromatografi Gas


• Analisis Alkohol dalam Darah

6 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

Sampel darah secara kuantitatif ditambahkan pada larutan yang telah


ditambahkan larutan standar. Lalu larutan itu diinjeksikan dan
dianalisamenggunakan detektor dalam Gas Chromatograph. Komputer yang
terintegrasi akan memberikan data dan hasil. Seseorang dikatakan bebas-alkohol
bila dengan menggunakan analisis ini didapat hasil lebih kecil dari 0,01 gram
alkohol per 100 ml darah. Dan untuk sampel darah yang diambil post-mortem1
dikatakan negatif (bebas alkohol) bila hasilnya lebih kecil dari 0,02 gram alkohol
per 100 ml darah.

Teknik analisis ini sangat akurat dan sensitif dan merupakan prosedur
standar untuk analisis alkohol dan senyawa-senyawa volatil dalam bidang
toksikologi forensik. Teknik ini menghasilkan molekular fingerpint atau spektrum
massa yang unik. Spektrum ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi ada atau
tidaknya alkohol dalam sampel. Dan, alkohol dalam darah dapat diketahui
jumlahnya, walaupun dalam kuantitas kecil. Dengan menggunakan analisis darah,
sampel yang sama dapat diuji beberapa kali, jika sampel dijaga dengan baik.
Analisis GC-MS merupakan prosedur yang spesifik, dan bila alat-alatnya
dihangatkan secara teratur, penentuan alkohol dapat dilakukan dalam 6-8 menit.

Tugas I

Susunlah beberapa isu penting yang berkaitan dengan analisis alkohol dalam
darah, paling sedikit tujuh isu.

Jawab

1. Etanol dalam tubuh


Di dalam tubuh, etanol atau C2H5OH diencerkan oleh cairan tubuh. Kemudian untuk
mengeliminasi etanol dalam tubuh, tubuh melakukan proses metabolisme (oksidasi).

2. Makanan dan jenis kelamin mempengaruhi penyerapan dan metabolisme etanol


dalam tubuh.

1 post mortem : sesudah kematian

7 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

Semakin tinggi kandungan lemak pada makanan yang dikonsumsi, semakin banyak
waktu yang diperlukan untuk mengosongkan lambung maka semakin lama proses
penyerapan alkohol akan terjadi.

3. Wanita memiliki konsentrasi alkohol dalam darah (BAC/Blood Alcohol


Concentration) lebih tinggi setelah mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang
sama dengan pria
Jika di konsumsi dalam dosis rendah, etanol dapat menekan penghambat otak
sehingga dapat membuat pikiran lebih jernih, namun pada dosis tinggi etanol
memiliki beragam dampak buruk, yaitu jaringan saraf memproduksi gejala klasik
keracunan : pembicaraan kacau, langkah tidak stabil, persepsi sensorik terganggu,
dan ketidakmampuan untuk bereaksi dengan cepat, dsb.

4. Mengetahui kadar alkohol dalam darah (BAC)


Untuk mengetahui kadar alkohol dalam darah dapat dengan menggunakan tabel
BAC (Blood Alcohol Concentration). Caranya yaitu dengan menemukan tabel berat
badan, lalu melihat jumlah porsi total minuman beralkohol yang telah dikonsumsi.

5. Analisis Alkohol dalam darah


Analisis alkohol dalam darah dapat dilakukan dengan menggunakan metoda analisis
GC/MS pada darah maupun pada urine, ataupun yang sering digunakan
menggunakan analisis napas (breath analysis).

6. Analisis dengan GC/MS


Analisis darah menggunakan GC/MS sangat akurat namun biayanya mahal dan
memerlukan petugas terlatih untuk pengambilan dan penelitian sampel darah.

7. Parameter bebas alkohol dengan GC/MS pada darah


Pada analisis etanol dengan GC/MS pada darah, seseorang dikatakan bebas-alkohol
bila dengan menggunakan analisis ini didapat hasil lebih kecil dari 0,01 gram
alkohol per 100 ml darah. Dan untuk sampel darah yang diambil post-mortem
dikatakan negatif (bebas alkohol) bila hasilnya lebih kecil dari 0,02 gram alkohol
per 100 ml darah.

8. Analisis napas (Breath analysis)


Analisis napas mudah untuk dilaksanakan namum kurang akurat dan metode analisis
ini tidak spesifik terhadap etanol.

8 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

9. Parameter bebas alkohol untuk analisis napas


Untuk metode analisis napas, hasil dikatakan negatif (subjek yang dites tidak
memiliki kandungan alkohol/kandungan alkohol sangat rendah) bila hasil tes lebih
kecil dari 0,01 gram per 210 liter .

10. Akurasi analisis alkohol dalam darah


Analisis alkohol dalam darah yang paling akurat adalah analisis darah menggunakan
GC/MS, lebih akurat dari analisis napas, dan yang paling tidak akurat adalah analisis
urine.

Tugas II

Bila anda hendak menggunakan metode GC/MS dalam analisis darah

1. Parameter apa saja yang harus anda ketahui ?


• Rasio partisi
Pada saat fasa bergerak mengalir sepanjang kolom terjadi kesetimbangan
dinamis antara komponen yang terlarut. Untuk zat terlarut spesies A, kesetimbangan
dinamis yang terlibat dapat dilihat pada persamaan dibawah ini.
Abergerak⇌Adiam
Konstanta kesetimbangan untuk reaksi diatas adalah rasio partisi / koefisien partisi,
yang nilainya
K=cscm …(1)
Dimana K = rasio partisi / koefisien partisi, cs= konsentrasi molar analitik dari
zat terlatur saat berada dalam fasa diam, dan cm= konsentrasi molar analitik dari zat
terlarut saat berada dalam fasa bergerak. Idealnya rasio partisi konstan dalam jangkauan
konsentrasi zat terlatur yang bervariasi dan cs berbanding lurus dengan cm.

• Waktu Retensi
Pada lampiran gambar 1 dapat dilihat sebuah kromatogram sederhana yang
memiliki 2 puncak. Puncak kecil yang berada di kiri merepresentasikan spesies yang
tidak ditahan oleh fasa diam. Waktu (tM) setelah injeksi sampel sampai dengan
munulnya puncak ini seringkali dinamakan waktu mati (dead time). Waktu mati
memberikan pengukuran dari laju migrasi rata-rata dari fasa bergerak dan merupakan

9 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

suatu parameter yang penting dalam mengidentifiasi puncak analit. Seringkali suatu
sampel akan mengandung spesies yang tidak ditahan, jika mereka tidak memiliki
spesies yang tidak ditahan maka penambahan spesies dengan sifat seperti ini dapat
dilakukan untuk membantu identifikasi puncak.
Puncak lebih besar yang terdapat di bagian kanan lampiran gambar 1 merupakan
puncak dari spesies analit. Waktu yang diperlukan puncak ini untuk mencapai detektor
atau waktu yang diperlukan spesies analit untuk keluar dari kolom dan mencapai
detektor dinamakan waktu retensi (tR). Laju linear rata-rata dari migrasi zat terlarut (v)
dan kecepatan linear rata-rata dari spesies dalam fasa bergerak (u) diberikan pada
persamaan dibawah ini
v=LtR …(2)
u=LtM …(3)
Dimana L = panjang dari kolom
Nilai dari v juga dapat dinyatakan dalam u dan rasio partisi (K) dengan cara
mengekspresikan nilai laju v sebagai fraksi dari kecepatan pada fasa bergerak.
Penurunannya adalah sebagai berikut:
v=u×fraksi waktu zat terlarut dalam fasa bergerak
v=u×jumlah mol zat terlarut dalam fasa bergerakjumlah mol total
v=u×cMVMcMVM+csVs=u×11+ csVscMVM
v=u×11+KVsVM …(4)
Dimana Vs = volume dari fasa diam dan VM = volume dari fasa bergerak.

• Faktor kapasitas
Faktor kapasitas merupakan parameter eksperimental yang menyatakan
perbandingan mol komponen analit dalam fasa diam terhadap mol komponen dalam
fasa gerak, yang nilainya tergantung pada temperatur. Faktor ini banyak digunakan
untuk mendeskrispsikan laju migrasi zat terlarut dalam kolom. Untuk spesies A nilai
faktor kapasitasnya adalah sebagai berikut. (dengan KA adalah nilai rasio partisi untuk
spesies A)
k'A=KAVsVM …(5)
Persamaan 5 dapat disubstitusi ke persamaan (4).
v=u×11+k'A …(6)

10 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

Agar nilai k’A dapat dicari dalam kromatogram maka persamaan (2) dan (3) dapat
disubstitusi ke persamaan (6)
LtR=LtM×11+k'A …(7)
k'A=tR-tMtM …(8)
Besarnya faktor kapasitas menentukan laju elusi komponen. Jika k’ > 1 maka
elusi akan berlangsung dengan cepat dan jika k’ > 20-30 maka waktu elusi akan
berlangsung sangat panjang.

• Faktor Selektivitas atau Pemisahan


Faktor Selektivitas adalah faktor yang menyatakan ukuran untuk distribusi
relatif komponen diantara fasa diam dan fasa gerak yang nilainya tergantung pada
temperatur. Faktor selektivitas disebut juga faktor pemisahan. Faktor seletivitas untuk
dua spesies A dan B dinyatakan dengan rumusan:

α=KBKA=tR2tR1 …(9)
Untuk ilustrasi akan nilai tR2 dan tR1 yang lebih jelas dapat dilihat pada lampiran
gambar 2.

• Jumlah dan Tinggi Plat Rata-Rata


Plat teoritik adalah istilah yang berasal dari teori destilasi yang kemudian
diadaptasi ke dalam kromatografi. Plat ini menandakan suatu titik dalam kolom dimana
terdapat kesetimbangan antara fasa cair dan gas (platnya hanya imaginer). Jumlah plat
teoritik (n) dapat diukur dengan menggunakan rumus di bawah ini.
n=16tRWb2 …(10)
Dimana tR = waktu retensi dan Wb = lebar puncak pada pita elusi hasil kromatografi.
Ilustrasi yang dapat memperjelas nilai Wb dapat dilihat pada lampiran gambar 3.
Walaupun tR didefinisikan sebagai waktu, tetapi sebenarnya kita dapat mengukur jarak
pada kertas daftar perekam dalam cm atau mm, perlu diingat bahwa t R dan Wb harus
diukur dalam satuan yang sama.
Tinggi plat teoritik disebut juga HETP (Height Equivalent Theoritical Plate).
HETP berfungsi untuk merepresentasikan efisiensi dari kolom. Nilai HETP secara
sederhana dapat dicari dengan menggunakan rumus dibawah ini.
HETP=H= Ln …(11)

11 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

Dimana L = panjang kolom, dan n = jumlah plat teoritik. Semakin besar nilai N
maka semakin kecil nilai HETP dan semakin besar efisiensi kolom.

• Variabel yang Mempengaruhi Efisiensi Kolom


Faktor-faktor yang menyebabkan pelebaran pita elusi adalah difusi difusi
longitudinal / memanjang, efek transfer massa untuk fasa bergerak (karena difusi eddy)
dan fasa diam. Nilai efisiensi kolom non-linear dapat dihitung melalui persamaan
dibawah ini.
HETP=H=Bu+csu+cMu …(12)
Dimana B = koefisien difusi longitudinal, cs dan cM = koefisien transfer
massa untuk fasa diam dan bergerak.

• Suku B/u untuk difusi longitudinal


Laju dari perpindahan sebanding dengan perbedaan konsentrasi diantara wilayah
dan juga sebanding dengan koefisien difusi dari spesies DM. Difusi longitudinal
menghasilkan perpindahan zat terlarut dari konsentrasi tinggi di tengah pita ke bagian
dengan konsentrasi rendah di bagian sampingnya, yang menjadi penyebab utama
pelebaran pita ketika laju difusi molekul tinggi. Efek dari difusi ini dapat dilihat pada
lampiran gambar 4 pada saat terjadi penurunan nilai H pada awal kurva.
• Suku csu untuk koefisien transfer massa dalam fasa diam
Koefisien transfer massa untuk fasa diam ini berbanding lurus dengan kuadrat
dari ketebalan film pada partikel pendukung d2f dan berbanding terbalik dengan
koefisien difusi Ds dari zat terlarut pada film. Dengan film yang tebal, rata-rata molekul
harus berjalan jauh untuk mencapai permukaan dan dengan koefisien difusi yang lebih
kecil rata-rata molekul berjalan lebih lambat. Hal-hal ini mengakibatkan laju yang kecil
dari transfer massa dan peningkatan dari tinggi plat.
• Suku cMu untuk koefisien transfer massa dalam fasa bergerak
Suku ini berbanding terbalik dengan koefisien difusi dari larutan analit dalam
fasa bergerak DM dan merupakan fungsi dari nilai kuadrat diameter partikel packing d2p,
kuadrat dari diameter kolom dc2dan laju aliran. Kontribusi dari suku ini terhadap nilai H
tidak linear sesuai dengan u karena juga tergantung dari kekompleks-an kecepatan
pelarut. Pelebaran daerah pada fasa bergerak dikarenakan oleh penyebaran molekul
analit dalam kolom akibat packing kolom yang tidak seragam, sehingga analit

12 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

mengambil jalan yang tidak sama panjangnya (dapat dilihat pada lampiran gambar 5).
Efek yang juga disebut difusi eddy. Pada kecepatan fasa bergerak yang rendah, molekul
tidak terlalu terdispersi oleh difusi ini, pada saat kecepatan lumayan cepat pelebaran pita
akibat difusi ini dapat diamati, dan pada saat kecepatan cukup tinggi efek dari difusi ini
menjadi tidak bergantung dari laju aliran. (Rangkuman dari ketiga faktor ini terhadap
HETP/H dapat dilihat pada lampiran gambar 6.)

• Resolusi Kolom
Resolusi kolom (Rs) dapat mengukur kemampuan kolom untuk memisahkan dua
analit secara kuantiitatif. Untuk lebih jelasnya dapat dituliskan dalam persamaan
berikut:

…(13)
2 ∆Z 2[ ( t R ) B − ( t R ) A ]
RS = =
WA + WB W A + WB

Dimana merupakan jarak puncak analit A dan B yang terbaca pada


∆Z
kromatogram.

Resolusi kolom dapat dipengaruhi oleh faktor selektivitas, kapasitas sepasang


zat terlarut pada kolom yang dapat dilihat pada persamaan berikut:

…(14)
N  α − 1  k ' B 
RS =   
4  α  1 + k 'B 

Dimana adalah faktor selektivitas. Dari persamaan di atas dapat digunakan


α

juga untuk mencara jumlah piringan yang dibutuhkan untuk mencapai resolusi kolom
dengan nilai tertentu.

13 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

…(15)
2 2
2 α   1 + k 'B 
N = 16RS    
 α −1  k 'B 

Selain itu resolusi kolom dapat mempengaruhi retention time (tR), dan kita dapat melihat
hubungan keduanya sebagai berikut:

…(16)
H  α  (1 + k ' B )
2 2 3
( t R ) B = 16RS  
 α − 1  ( k 'B )
2
u

2. Mengapa metode GC-MS sering digunakan untuk penentuan kandungan


alkohol dan obat obatan terlarang dalam darah ?

Metode GC/MS memiliki beberapa keuntungan dibanding metode analisis alkohol


lainnya, yaitu :

 sangat akurat, spesifik dan sensitif dan merupakan prosedur standar untuk
analisis alkohol dan senyawa-senyawa volatil dalam bidang toksikologi forensik.
Akurat dan spesifik karena teknik ini menghasilkan molekular fingerpint atau
spektrum massa yang unik. Spektrum ini dapat digunakan untuk
mengidentifikasi ada/tidaknya alkohol dalam sampel. Sensitif karena alkohol
dalam darah dapat diketahui jumlahnya, walaupun dalam kuantitas kecil.
 Dengan menggunakan analisis darah GC/MS, sampel yang sama dapat diuji
beberapa kali, jika sampel dijaga dengan baik.
 Waktu yang diperlukan cepat (penentuan alkohol dapat dilakukan dalam 6-8
menit) bila alat-alatnya dihangatkan secara teratur.

Reagents

• Absolute etanol
• n-Propanol

Hasil yang diperoleh:

14 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

• Dari 5 �L larutan standar etanol dan n propanol masing-masing menunjukkan


puncak pada 2.4 dan 7.2 menit
• Sebanyak 5 �L dari campuran sampel standar menghasilkan data sebagai
berikut:
No etanol n-propanol Tinggi puncak Etanol(mm)
(mL) (mL)

1 0.1 1.9 3.75


2 0.2 1.8 7.50
3 0.3 1.7 11.25
4 0.4 1.6 15
5 0.5 1.5 18.75

• Dari hasil injeksi 5 �L sampel darah diperoleh puncak pada 2.4 menit dengan
tinggi senilai 12,5 mm
• Pada salah satu campuran standar etanol dan n-propanol yang digunakan
menunjukkan data sbb: lebar dasar puncak pada etanol dan n-propanolberturut-turut
adalah 1.45 menit dan 3,65 menit

Tugas III : Bagaimana anda menentukan:

1. Konsentrasi senyawa etanol dalam sampel darah


2. Resolusi kolom (Rs) [tanpa satuan]
3. Jumlah piringan rata-rata (N rata-rata)
4. Tinggi piringan (H) dalam meter
5. Panjang kolom bila resoliusi kolom menjadi 1.5
6. Waktu elusi senyawa etanol dalam kolom yang telah diperpanjang

Jawab

1. Menentukan konsentrasi senyawa etanol dalam sampel darah


Dari data-data yang didapat bisa diketahui konsentraasi etanol untuk masing masing
sampel, yaitu :

15 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

No Hexachlorobenzene Pentachlorobenzene Konsentrasi (ml/ml)


(mL) (mL) Hexachlorobenzene dalam
sampel standar

1 0.1 1.9 5%
2 0.2 1.8 10%
3 0.3 1.7 15%
4 0.4 1.6 20%
5 0.5 1.5 25%

Dari data tersebut dapat dibuat sebuah kurva kalibrasi standar dengan tinggi puncak
etanol sebagai sumbu y dan konsentrasi etanol dalam sampel standar sebagai sumbu x.

Kurva Kalibrasi Standar

Dari grafik di atas, diperoleh persamaan garis y = 0.75 x. Untuk mengetahui kandungan
etanol dalam sampel darah yang mempunyai puncak 2.4 menit dan tinggi 12,5
digunakan persamaan :
y = 0.75x
dimana: y adalah tinggi puncak gelombang (mm) dan x adalah konsentrasi (%) maka :
y = 0.75 x
12,5 = 0.75 x
x = 16,67%

Sehingga diperoleh kandungan senyawa etanol dalam 2 ml sampel sebesar 16,67% atau
sama dengan 0,3344 mL.
Maka, kandungan senyawa etanol dalam 5 �L sampel darah :
5 μL2x103 μLx 0.3344 x103 μL=0.83355 μL

2. Menentukan resolusi kolom


Data-data yang diketahui adalah sebagai berikut:

16 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

= waktu retensi etanol= 2,4 menit


( tR ) A
= waktu retensi n-propanol= 7,2 menit
( tR ) B
WA= lebar dasar puncak etanol= 1,45 menit
WB= lebar dasar puncak n-propanol= 3,65 menit

Persamaan yang digunakan untuk mencari nilai Rs adalah sebagai berikut:

2 ∆Z 2[ ( t R ) B − ( t R ) A ]
RS = =
WA + WB W A + WB

2[ 7,2menit − 2,4menit]
RS =
1,45menit + 3,65menit

9,6menit
RS = = 1,88
5,1menit

Jadi, nilai resolusi kolom (Rs) = 1.88

3. Data-data yang diketahui adalah sebagai berikut:


= waktu retensi n-propanol = 7,2 menit
( tR ) B

= waktu retensi etanol = 2,4 menit


( tR ) A

WA = lebar dasar puncak etanol = 1,45 menit


WB = lebar dasar puncak n-propanol = 3,65 menit
Persamaan yang dugunakan untuk mencari nilai jumlah piringan rata-rata (N rata-rata)
adalah sebagai berikut:

17 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

2
t 
N = 16 R 
W 

Perhitungan jumlah piringan untuk etanol:

2
t 
N = 16 R 
W 

2
 2,4 menit 
N = 16  = 43,833
 1,45menit 

Perhitungan jumlah piringan untuk n-propanol:

2
t 
N = 16 R 
W 

2
 7,2 menit 
N = 16  = 62,258
 3,65menit 

Perhitungan jumlah piringan rata-rata:

N rata-rata=N hexachlorobenzene+N pentachlorobenzene2

N rata-rata=43,833+62,2582=53,045

Jadi, jumlah piringan rata-rata (N rata-rata) = 53,045

4. Tinggi piringan (H) dalam meter


Misal : panjang kolom (L) = 50 cm  permisalan

Maka, tinggi piringan (H):

18 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

L 50 cm
H = = = 0.943 cm
N 53.045

5. Panjang kolom bila resoliusi kolom menjadi 1.5


Panjang kolom bila resoliusi kolom menjadi 1.5 (Rs)2

Dari persamaan:

2 2
 α   1 + k 'B 
N = 16 RS
2
   
 α − 1  k 'B 

diketahui bahwa α dan k’B konstan (tidak berubah) dengan berubahnya N dan L,
sehingga didapat persamaan:

( RS )1 N1
=
( RS ) 2 N2

Subtitusi (Rs)1 = 1.88 ; (Rs)2 = 1.5 ; N1 = 53.045 ke dalam persamaan di atas, sehingga
didapat jumlah piringan (N2) bila resolusi diharapkan menjadi 1.5:

1.88 53.03
=
1 .5 N2
2
 1 .5 
N 2 = 53.045  
 1.88 
N 2 = 33.76 ≈ 34

Jadi, panjang kolom bila resolusi kolom diharapkan menjadi 1.5:

L=NH
L = 34 × 0.943 cm = 32.062 cm ≈ 32 cm

19 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

6. Waktu
elusi senyawa etanol dalam kolom yang telah diperpanjang
Diketahui persamaan waktu (tR)B yang dibutuhkan untuk mengelusi 2 senyawa tersebut
dengan resolusi Rs adalah:

 (1 + k ' B ) 3 
2 2
16 RS H  α 
(tR ) B =   
 ( k' ) 2 

u  α − 1  B 

dari persamaan di atas, diketahui bahwa tR ~ RS 2, sehingga diperoleh persamaan:

(t R A )1 Rs1 2
=
(t R A ) 2 Rs2 2

Jadi, waktu elusi etanol pada kolom yang telah diperpanjang tsb:

2.4
=
(1.88)
2

(t RA ) 2 (1.5) 2
( t RA ) 2 = 1.528 menit = 91.67 det ik

20 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

BAB 3

PENUTUP

Kromatografi merupakan salah satu metode pemisahan komponen-komponen


campuran di mana cuplikan berkesetimbangan di antara dua fasa, fasa gerak yang
membawa cuplikan dan fasa diam yang menahan cuplikan secara selektif. Kadar
alcohol dalam darah dapat di analisa melalui metode analisis kromatografi gas.

Pada kromatograf, jumlah peak (puncak) menunjukkan jumlah komponen yang


terdapat dalam cuplikan, sedang luas peak menunjukkan konsentrasi komponen.
Terdapat beberapa parameter yang digunakan dalam menganalisis suatu campuran
melalui metode kromatografi, diantaranya yaitu waktu retensi. Waktu retensi yaitu
lamanya cuplikan berada pada kolom kromatografi hingga cuplikan tersebut terelusi dan
terdeteksi oleh detektor dan dicatat oleh kromatograf dalam bentuk suatu puncak.
Berikutnya yaitu resolusi kolom, yaitug ukuran kuantitatif dari kolom yang
menunjukkan kemampuan kolom tersebut untuk memisahkan dua zat terlarut.

Analisis dalam kromatografi gas dapat bersifat analisis kualitatif maupun


kuantitatif. Analisis kualitatif berupa pengidentifikasian senyawa yang terkandung
dalam suatu campuran dengan menggunakan perbandingan waktu retensi antara analit
standar dengan sampel. Sedangkan analisis kuantitatif dapat diaplikasikan untuk
mengetahui nilai-nilai yang berhubungan dengan kromatogram. Nilai-nilai yang dapat
diketahui adalah resolusi kolom, konsentrasi sampel (dengan metode kurva kalibrasi),
efisiensi, dan lain-lain.

Penggunaan Gas kromatografi dapat dipadukan dengan spektroskopi massa guna


memperoleh data yang lebih akurat dalam mengidentifikasi senyawa gas. Banyaknya
variasi hasil mendukung pengolahan data sehingga pengidentifikasian berlangsung lebih
mudah dan baik.

21 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

DAFTAR PUSTAKA

• Christian, Gary D., J.E. O’Reilly. 1986. Instrumental Analysis. Allynan Bacon
Inc: USA.
• Day, R.A. dan Underwood,A.L. 1986. Analisis Kimia Kuantitatif (terjemahan).
Edisi kelima. Jakarta: Erlangga.
• Hendayana, Sumar.1995. Kimia Analitik Instrumen. Semarang: IKIP Semarang
Press.
• Skoog, D.A., et.al., Fundamentals of Analytical Chemistry Sixth Edition.
Saunders College Publishing:London.
• Anonim. Kromatografi. http://file.upi.edu/Direktori/D%20-%20FPMIPA/JUR.
%20PEND.%20KIMIA/196611151991011%20-%20HOKCU
%20SUHANDA/KULIAH%20KIMIA%20INSTRUMEN/KROMATOGRAFI
%20SFC.pdf (di akses pada 13 Desember 2010)
• Anonim. Kromatografi. http://id.wikipedia.org/wiki/Kromatografi (di akses pada
13 Desember 2010)
• Anonim. Kromatografi. http://www.chem-is-
try.org/materi_kimia/kimia_dasar/pemurnian-material/kromatografi/ (di akses
pada 13 Desember 2010)
• Anonim, “Analysis of Blood Plasma for Ethanol by Gas Chromatography”
http://www.oberlin.edu/chem/ForChemLab/Alcohol/AlcoholPStudents.pdf
(6 Desember 2010)

22 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

LAMPIRAN

Gambar 1. Kromatogram/Pita Elusi untuk Campuran 2 Komponen

Gambar 2. Pengukuran untuk Menentukan Nilai α dan R

23 Kimia Analitik_Kelompok 2
Pemicu 5: Kromatografi Gas

Gambar 3. Pita Elusi Kromatografik yang menunjukkan pengukuran tR


dan w untuk menghitung nilai n (jumlah plat teoritik)

Gambar 4. Isoterm-Isoterm Linear dan Non-Linear (a) dan bentuk pita


elusi yang bersangkutan (b)

Gbr 5: Instrumentasi Kromatografi


Sumber: http://lansida.blogspot.com/2010/06/gc-kromatografi-
gas.html

24 Kimia Analitik_Kelompok 2