Anda di halaman 1dari 15

JARINGAN

JURUSAN AKUNTANSI

DISUSUN OLEH:

NAMA: RIDHA SYUKRA

NO BP: 09101155110257

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PUTRA INDONESIA “ YPTK “

PADANG

2010
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadiran ALLAH SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan
karunia beliau, sehingga saya telah dapat menyelesaikan tugas makalah sosiologi
dengan judul “JARINGAN“. Supaya makalah ini dapat dijadikan acuan dalam kehidupan
kita sehari-hari, dan dapat diaplikasikan pada lingkungan kehidupan kita semuanya.

Sholawat beserta salam, saya kirimkan kepada arwah junjungan nabi besar kita
MUHAMMAD SAW, karena beliau telah memperjuangkan umat manusia dari zaman
kebodohan ke zaman yang mengenal ilmu pengetahuan seperti apa yang kita rasakan
pada saat sekarang ini.

Saya sangat menyadari bahwa makalah yang saya buat ini jauh dari pada
kesempurnaan, maka dari itu saya sangat mengharapkan kritik dan juga saran demi
kesempurnaan makalah ini.

Mudah-mudahan dengan adanya pembuatan makalah ini kita semuanya dapat


mengambil pelajaran.

Padang, 08 juni 2010

PENULIS

2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Adapun latar belakang penulis membuat makalah ini dengan judul “ JARINGAN “,
karena pada saat sekarang ini longgar hubungan seseorang, baik didalam keluarga,
organisasi, masyarakat, dan sebagainya. Hal ini sanagt mudah kita dapatkan atau
sangat gampang kita saksikan pada lingkungan sekitar kita.

Terjadinya kelonggaran antara seseorang yang satu dengan seseorang yang lain,
mungkin disebabkan oleh tidak mengertinya apa sebernanya fungsi dari pada jaringan.
Perselisihan yang senantiasa terjadi didalam kehidupan kita, itu semuanya merupakan
akibat dari tidak mengertinya seseorang tentang, apa sebenarnya jaringan sosial
tersebut.

Jadi dengan adanya jaringan sosial yang bagus, maka segala jenis urusan, dan
masalah pun akan sangat mudah terselesaikan, dan apabila kita tidak memiliki jaringan
yang banyak, maka urusan apapun dan masalah apapun tidakan kunjung terselesaikan,
semuanya akan terbang kalai. Begitulah perlunya kita harus memiliki jaringan soial yang
bagus, dan banyak memiliki jaringan social.

Pada zaman saat sekarang ini kita lebih dituntut untuk memiliki banyak jaringan,
baik dari dalam maupun dari luar. Maka dari itu penulis membuat makalah ini dengan
judul “ JARINGAN ”, agar kita mengerti apa sebenarnya jaringan tersebut. Penulis
sangat menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kesempurnaan, maka dari itu
penulis sangat mengharap kritik dan saran dari pembaca, demi sempurnanya makalah
ini.

1.2 TUJUAN
3
Adapun tujuan penulis membuat makalah ini dengan judul “ JARINGAN “, yaitu:

1. Agar kita mengerti apa sebenanya jaringan itu


2. Supaya kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
3. Supaya tidak salah mengartikan, apa sebernanya jaringan
4. Disamping untuk menambah pengetahuan kita, makalah ini juga salah satu
tugas dari dosen sipenulis.

Dan masih banyak kegunaannya bagi kita semuanya, karena ini juga ilmu yang
penting bagi kita semuanya. Jaringan sangat berperan penting dalam kehidupan kita
sehari-hari.

4
BAB 2

PEMBAHASAN

2.1 PENGERTIAN JARINGAN

Jaringan adalah adanya ikatan antar simpul (orang atau kelompok) yang
dihubungkan dengan hubungan sosial. Hubungan sosial ini diikat dengan kepercayaan
dan dipertahankan oleh norma yang mengikat kedua belah pihak.

Dalam jaring ada ikatan atau simpul yang menyatukan, karena seandainya tidak
ada simpul atau ikatan yang menghubungkan, maka jaring tersebut tidak akan pernah
bisa digunakan. Begitu juga sebaliknya, apabila jaring tersebut memiliki ikatan atau
simpul, maka jaring tersebut akan sangat mudah digunakan, untuk menangkap ikan.

Media dan simpul tidak dapat dipisahkan, atau antara orang-orang dan
hubungannya, tidak dapat dipisahkan, karena mereka telah diikat dengan norma-norma
atau aturan-aturan yang telah ada.

Interaksionis simbolik, memahami realitas sebagai suatu interaksi yang dipenuhi


berbagai simbol.

Penekanan pada teori structural fungsional dan structural konflik, telah


mengabaikan proses imperative, dimana individu secara aktif menginstruksikan
tindakan-tindakannya dan proses interaksi, dimana individu menyesuaikan diri dan
mencocokan berbagai macam tindakannya dengan mengambil peran dan komunikasi
simbol.

Jaringan sosial, mellihat hubungan antar individu yang memiliki makan subyektif
yang saling berkaitan, satu sama lainnya.

5
2.2 TINGKATAN JARINGAN

Ada tiga tingkatan jaringan sosial yang terjadi didalam kehidupan kita sehari-
hari, diantara nya adalah:

1. Jaringan Mikro
Jaringan sosial mikro yaitu jaringan yang terjadi antara orang yang satu
dengan orang yang lainnya. Karena setiap manusia tindaklah dapat hidup sendiri
didunia ini. Manusia sangat membutuhkan orang lain dalam menjalankan
kehidupannya.
Adapun fungsi jaringan mikro, yaitu:

a) Sebagai pelicin
Sebagai pelican maksudnya adalah jaringan yang memberikan
kemudahan untuk mengakses berbagai macam barang, sumber daya
langka, seperti informasi, barang, jasa, kekuasaan, dan lain sebagainya.

b) Sebagai jembatan
Sebagai jembatan maksudnya, yaitu supaya memudahkan
hubungan antara satu pihak dengan pihak yang lainnya. Sehingga
menjadi ikatan yang terajut keduanya. Dengan demikian ikatan yang ada
dapat menjembatani pembentukan hubungan sosial dengan pihak lain,
yang pada akhirnya terjadi pembentukan jaringan baru.

c) Sebagai perekat
Jaringan sosial antara individu memberikan tatanan dan makna
pada kkehidupan sosial. Ikatan para pelanggan menuntun para individu,
baik pembeli ataupun penjual untuk berpikir berprilaku, dan bertindak
sepeti harapan oleh peran masing-masing pihak.

6
2. Jaringan meso
Pada umumnya orang melakukan interaksi sosial dengan orang lain,
dalam suatu kontak sosial, biasanya dalam satu kelompok. Hubungan yang
dibangun para actor dengan atau didalam sehingga terbentuk suatu ikatan yang
disebut jaringan tingkat meso. Misalnya : ikatan alumni, ikatan keluarga minang,
IDI, dan lain sebagainya.
Adapun fungsi jaringan meso, yaitu:

a. Sebagai pelican
Pada jaringan tingkat meso dapat dilihat dari berbagai
kemudahan yang diperoleh para anggota kelompok untuk
mengakses bermacam barang/sumber daya langka, seperti
informasi, kekuasaan, jasa, dan lain sebagainya.

b. Sebagai jembatan
Pada tataran ini dapat dilihat melalui daya hubung/kekuatan
relasi yang dimiliki seseorang, karena keanggotaannya dalam
suatu organisasi dipergunakan dalam menjalankan kehidupan.

c. Sebagai perekat
Jaringan dapat dipahami melalui kemampuan kelompok
sebagai suatu entitas yang obyektif, yanmg memberikan
tatanan dan makna pada kehidupan sosial. Melalui tatanan dan
makna, individu direkat ke dalam kelompok.

7
3. Tingkatan makro
Merupakan ikatan yang terbentuk karena terjadinya simpul –simpul dari
beberapa kelompok atau jaringan makro, terajut dari ikatan antara dua
kelompok ataupun lebih.
Kelompok ini bisa dalam bentuk organisasi, institusi, Negara, jaringan
makro, dapat berupa ikatan antar beberapa organisasi, institusi, Negara, missal:
berbagai organisasi pemuda dan mahasiswa dalam wadah (KNPI).
Pada tataran makro, jaringan lebih berfungsi sebagai jembatan yang
menghubungkan antara beberapa kelompok, jaringan memberikan fasilitas
terjalinnya komunikasi antar kelompok yang terlibat.

2.3 PENDEKATAN JARINGAN SOSIAL

Menurut Powel dan Smith Doer pada tahun 1994, ada 2 pendekatan
jaringan sosial, yaitu:
1. Pendekatan Analisis

Pola informal dalam organisasi, pada dasrnya area ini


memiliki kerangka pemikiran, yaitu hubungan informal sebagai
pusat hidup politik oorganisasi-organisasi. Organisasi formal pada
dasarnya adalah hubungan yang berkelanjutan antara orang-orang
dan hubunganorganisasi dibangun atas dasar campuran yang rumit
dari otoritas, persahabatan, dan loyalitas.
Jaringan juga memperhatikan tentang bagaimana
lingkungan didalam organisasi konstruksi. Berarti perhatian lebih
banyak tertuju pada segi-segi normative dan kepada lingkungan,
seprti system kepercayaan, hak profesi, dan sumber-sumber

8
legitimasi. Cara memahami organisasi dengan cara mengakui
kebanyakan tindakan relevan dalam organisasi.
Sebagai suatu alat penelitian formal untuk menganalisis
kekuasaan dan otonomi. Area ini terdiri dari struktur sosial sebagai
suatu pola hubungan unit-unit sosial yang terikait ( individu-
individu sebagai actor yang bersama dan bekerjasama )yang dapat
mempertanggung jawabkan tingkah laku mereka yang terlihat.
Posisi individu dapat memudahkan atau menghambat tindakan.

2. Pendekatan Preskriptif

Memandang jaringan soasial sebagai pengaturan logika atau


sebagai suatu cara menggerakan hubungan-hubungan diantara
para actor ekonomi. Dengan demikian jaringan sosial dipandang
sebagai perekat yang menyatukan individu-individu secara bersama
kedalam satuan yang padu.
Pendekatan ini lebih pragmatis dan berkaiatan dengan
pendekatan antar disipliner. Pendekatan ini cenderung untuk
melihat motif yang berbeda didalam kehidupan ekonomi. Seperti
analisis jaringan sosial dalam pasar tenaga kerja, etika bisnis, dan
lain sebagainya.

Persamaan pendekatan analisis dengan pendekatan preskriptif

Keterlekatan, resiprositas dan koneksi, kesemuanya merupakan jaringan


hubungan bagi setiap tindakan tertentu yang melekat dalam struktur sosial yang
lebih luas atau masyarakat sebagai suatu keseluruhan. Aktor-aktor dalam suatu
rangkain jaringan dihubungkan direkat atau diikat oleh satu dengan yang
lainnya melalui jaringan sosial.

9
Pemakain bahasa dan model tindakan, menurut Burt (1992): keuntungan
informasinaldari sosial merupakan akses, pengaturan tempo dan penyerahan.
Kedua pendekatan tersebut sama menganggap responsiprositas dalam
jaringan sosial. Pendekatan analisis dan perskriptif mempunyai keterbatasan,
sehingga tidak mampu melihat keseluruhan struktur, bentuk, dan isi jaringan
sosial secara mendalam, misalnya pada pendekatan studi kasus, jaringan sosial
memfokuskan perhatian pada sejarah “SUKSES” dan mengabaikan kemungkinan
lain, seperti susunan institusional atau organisasional dari jaringan sosial yang
mungkin menciptakan perbedaan hasil ekonomi yang diharapkan.
Pendekatan ini beroriantasi abstrak, sering selalu sedikit memberikan
perhatian pada substansi, lebih menekankan pada struktur (ukuran), dibanding
isi ikatan suatu jaringan sosial.

2.4 BIDANG PENELITIAN JARINGAN SOSIAL

1. Jaringan informal dari akses dan kesempatan


Penelitian pada bidang ini difokuskan pada penggunaan jaringan sosial,
dalam :
a. Pekerjaan (mencari lowongan atau lapangan pekerjaan dan
migrasi)
b. Mobilitas (informasi dan akses terhadap modal)
c. Difusi (penyebaran praktek budaya dan organisasional)

Jaringan sosial memainkan peranan penting dalam alokasi pekerjaan


dalam pasar tenaga kerja, sebagai pengganti paengaruh dari tawaran dan
permintaan. Lemah dan kuatnya ikatan jaringan sosial yang menentukan
perolehan pekerjaan.
Menurut Granovetter (1973, 1974, 1983) yang telah melakukan penelitian,
memperlihatkan bahwa suatu ikatan, apapun bentuknya lemah atau kuat
memberikan kemudahan dalam menjalani kehidupan.

10
2. jaringan formal pengaruh kekuasaan
Dalam memahami jaringan sosial dalam kekuasaan dapat didekati dengan
ada tiga sperfektif, yaitu :

a. pertukaran sosial
Meskipun individu silih berganti, namun distribusi kekuasaan dalam
posisi-posisisi akan tetap sama, yang terpenting status posisi mereka
antar keterikatan hubungan mereka dalam suatu permintaan.

b. Ketergantungan sumber daya


Organisasi-organisasi melekat secara khas dalam jaringan ganda
atau tumpang tindih dengan jaringan lainnya, seperti informasi, dan
sumber daya penasehat.

c. Kelas sosial
Analisis Jarson berdasarkan suatu argumentasi, bahwa hubungan
ekonomi, politik, sosial diantara kelompok elit menciptakan suatu
kekuasaan elit yang padu. (Milis 1959)

Menurut Mint Z dan Scwart z, mereka sangat mempercayai kekuasaan


melekat situasional, ia bersifat dinamis dan tidak stabil secara potensial.
Sedangkan menurut Powel dan Smith, kekuasaan didefenisikan sebagai otoritas
formal, pengaruh informal dan dominasi. Analisis jaringan sosial tentag
kekuasaan meliputi, kesemua tipe kekuasaan, sumber kekiuasaan dari
legitimasi, informasi dan kekuatan kekuasaan dalam posisi structural.

3. Organisasi sebagai jaringan sosial dan perjanjian

11
Jaringan organisasi dapat dianalisis atas dasar organisasi formal dan
organisasi informal.
Menuurut Dalton (1959:219) formal berarti sesuatu yang direncanakan
dan disetujui atasnya. Sedangkan informal berarti ikatan-ikatan yang spontan
dan fleksibel diantara anggota-anggota yang dituntut oleh perasaan-perasaan
dan kepentingan pribadi yang tidak dapat dipertahankan oleh kegiatan formal,
baik organisasi formal maupun organisasi informal, tidak dapat lepas dari
hubungan.
Kita selalu hidup dalam suatu kelompok, dirumah, tempat kerja, dan
dilingkungan, semua kelompok itu teroganisir.

4. Jaringan sosial dari produksi


Menrut powel (1990) jaringan sosial dari produksi memandang penting
arti dari suatu kepercayaan, misalnya dalam suatu proses monitoring kegiatan
produksi yang akan lebih mudah dan alami yuang sangat efektif apabila
dilakukan oleh teman sejawat dibandingkan atasan.
Menurut Sabel (1990) memonitoring untuk mengurangi kemungkinan
“bermuka dua” dan lebih penting lagi adalah fungsinya sebagai hubungan rutin
antar bagian-bagian. Konsultasi mengurangi salah tafsir dan kesalahan lainnya.
Menurut Powel dan Smith (1994), mereka membagi tipe jaringan
produksi, menjadi 4 bagian, yaitu:

a. Regional
Jaringan sosial dari produksi yang berdasarkan atas alokasi, jaringan
produksi digerakan oleh kelenturan dan spesialisasi dari suatu proses
produksi.
Basis kepercayaandiletakkan atas dasar norma-norma pertukaran,
kekerabatan, dan lokasi, misalnya pabrik sepatu diBologna Italia, ini
dilakukan atas dasar kesepakatan dan kerja sama.

12
b. Penelitian dan pengembangan
Tipe penelitian dan pengembangan merupakan jaringan sosial dari
produksi yang berdasarkan atas kerjasama ilmiah.
Tipe ini digerakkan oleh inovasi dan belajar tentang ide-ide yang
baru.

c. Kelompok bisnis
Jaringan sosial tipe kelompok ini digerakkan oleh ikatan antar
organisasi yang horizontal dan relative egaliter berkombinasi
hubungan vertical yang lebih hirarkis, dengan landasan otoritas dan
kebijakan.
Basis kepercayaan didasarkan pada identitas kelompok bisnis.
Lingkungan kelompok bisnis lebih jelas di bandingkan tipe-tipe dari
jaringan produksi lainnya, mereka dipandang sebagai suatu
komonitas.

d. Analisis strategis dan produksi bersama


Merupakan jaringan sosial produksi yang lebih bersifat formal,
karena dibentuk atas persetujuan bersama untuk bekerjasama.

Jaringan sosial dari produksi yang bertipe kelompok bisnis bergerak oleh
ikatan antara organisasi yang horizontal dan relative egaliter bekombinasi
dengan hubungan vertical yang lebih hirarkis dengan dasar otoritas dan
kebijakan.
Basis kepercayaan didasarkan pada identitas kelompok bisnis, lingkungan
kelompok bisnis lebih jelas dibandingkan tipe-tipe produksi lainnya, mereka
dipandang sebagai suatu komonitas.

13
BAB 3
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Jaringan sosial adalah adanya ikatan atau simpul yang dihubungkan


dengan media hubungan sosial, ini diikat dengan kepercayaan dan
dipertahankan oleh norma yang mengikat dua belah pihak.
Tingkatan defenisi jaringan sosial ada 2, yaitu:
a. Tingkatan antar individu
b. Tingkatan struktur
Tingkatan operasi jaringan sosial, dibagi atas 3, yaitu:
a. Tingkatan makro
b. Tingkatan mikro
c. Tingkatan meso
Pendekatan jaringan sosial, juga dibagi atas 2, yaitu:
a. Pendektan analisis
b. Pendekatan perskriptif
Ada 4 bidang penelitian, diantaranya adalah:
a. Jaringan informal dari akses dan kesempatan
b. Jaringan formal pengaruh kekuasaan
c. Organisasi sebagi jaringan sosial dan perjanjian
d. Jaringan sosial dari produksi

3.2 KRITIK DAN SARAN

Demi sempurnanya makalah ini, penulis sangat berharap sekali, kepada


para pembaca, agar dapat memberikan kritik beserta sarannya, agar makalah
ini menjadi lengkap dan dapat bermanfaat sekali bagi kita semuanya.

14
Mudah-mudahan dengan adanya makalah ini dan kritik beserta saran dari
pada para pembaca, penulis berharap semoga kita semuanya tidak lagi salah
mengartikan apa sebenarnya jaringan sosial, dan apa kegunaan dari pada
jaringan sosial.

15