Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
hidayah kepada kita semua, sehingga berkat karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
“Pembiasan Pada Kaca Plan Pararel”. Makalah ini disusun untuk melengkapi tugas mata
kuliah Fisika Dasar II, tujuan penyusunan makalah ini untuk membantu kita dalam
memahami mata kuliah Fisika Dasar II khususnya Optik Geometri.

Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada :


1. Dosen pembimbing Ir. Sulistyaning, K. MM
2. Teman-teman yang telah memberikan mendukung dalam menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penyusun khususnya dan pembaca pada
umumnya.

Madiun, 01 Juni 2010

Penyusun

1
PEMBIASAN PADA KACA PLAN PARAREL

A. Pembiasan Cahaya

Pembiasan cahaya berarti pembelokan arah rambat cahaya saat melewati bidang
batas dua medium tembus cahaya yang berbeda indeks biasnya. Pembiasan cahaya
mempengaruhi penglihatan pengamat. Contoh yang jelas adalah bila sebatang tongkat yang
sebagiannya tercelup di dalam kolam berisi air dan bening akan terlihat patah.
Setiap medium memiliki indeks bias yang berbeda-beda, karena perbedaan indeks
bias inilah maka jika ada seberkas sinar yang melalui dua medium yang berbeda
kerapatannya maka berkas sinar tersebut akan dibiaskan. Pada tahun 1621 Snellius, seorang
fisikawan berkebangsaan Belanda melakukan serangkaian percobaan untuk menyelidiki
hubungan antara sudut datang (i) dan sudut bias (r). Hukum pembiasan Snellius berbunyi:

1. Sinar datang, sinar bias dan garis normal terletak pada satu bidang datar.
2. Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias dari suatu cahaya yang
melewati dua medium yang berbeda merupakan suatu konstanta. Sehingga dapat
ditulis :

sin i n2
=
sin r n1

a. Indeks Bisa Mutlak


Kecepatan merambat cahaya pada tiap-tiap medium berbeda-beda tergantung
pada kerapatan medium tersebut. Perbandingan perbedaan kecepatan rambat cahaya ini
selanjutnya disebut sebagai indeks bias. Dalam dunia optik dikenal ada dua macam
indeks bias yaitu indeks bias mutlak dan indeks bias relatif. Indeks bias mutlak adalah
perbandingan kecepatan cahaya di ruang hampa dengan kecepatan cahaya di medium
tersebut :

c
n medium =
v

Dengan keterangan :
nmedium = indeks bias mutlak medium
c = cepat rambat cahaya di ruang hampa

2
v = cepat rambat cahaya di suatu medium

Indeks bias mutlak medium yaitu indeks bias medium saat berkas cahaya dari
ruang hampa melewati medium tersebut. Indek bias mutlak suatu medium dituliskan
nmedium. Indeks bias mutlak kaca dituliskan nkaca, indeks bias mutlak air dituliskan nair dan
seterusnya. Oleh karena c selalu lebih besar dari pada v maka indeks bias suatu medium
selalu lebih dari satu nmedium >1.

b. Indeks Bias Relatif


Indeks bias relatif adalah perbandingan indeks bias suatu medium terhadap indeks
bias medium yang lain.

atau
n1 n2
n12 = n 21 =
n2 n1

Dengan keterangan :

n12 = indeks bias relatif medium 1 terhadap medium 2


n21 = indeks bias relatif medium 2 terhadap medium 1
n1 = indeks bias mutlak medium 1
n2 = indeks bias mutlak medium 2

Menurut teori muka gelombang rambatan cahaya dapat digambarkan sebagai


muka gelombang yang tegak lurus arah rambatan dan muka gelombang itu membelok
saat menembus bidang batas medium 1 dan medium 2 seperti diperlihatkan gambar 18.

Cahaya datang dengan sudut i dan


dibiaskan dengan sudut r. Cepat
rambat cahaya di medium 1 adalah
v1 dan di medium 2 adalah v2.
Waktu yang diperlukan cahaya
untuk merambat dari B ke D sama
dengan waktu yang dibutuhkan dari
A ke E sehingga DE menjadi muka
gelombang pada medium 2.

3
Gambar 1. Muka gelombang pada pembiasan
cahaya dari medium1 ke medium 2.
Pada segitiga ABD berlaku persamaan trigonometri sebagai berikut
Sin i = , sedangkan pada segitiga AED berlaku persamaan trigonometri
BD v1.t
=
AD AD

sebagai berikut, Sin r = . Bila kedua persamaan dibandingkan akan diperoleh


AE v 2 .t
=
AD AD

sin i v1
=
sin r v 2

Pada peristiwa pembelokan cahaya dari medium 1 ke medium 2 ini besaran frekuensi
cahaya tetap atau tidak mengalami perubahan. Karena v = λ .f maka berlaku pula,

sin i λ1
=
sin r λ2

Sehingga berlaku persamaan pembiasan :

sin i n 2 v1 λ1
= = =
sin r n1 v 2 λ2

Dengan keterangan,

n1 = indeks bias medium 1

n2 = indeks bias medium 2


v1 = cepat rambat cahaya di medium 1
v2 = cepat rambat cahaya di medium 2
λ1 = panjang gelombang cahaya di medium 1
λ2 = panjang gelombang cahaya di medium 2

4
Di samping menunjukkan perbandingan cepat rambat cahaya di dalam suatu
medium, indeks bias juga menunjukkan kerapatan optik suatu medium. Semakin besar
indeks bias suatu medium berarti semakin besar kerapatan optik medium tersebut. Bila
cahaya merambat dari medium kurang rapat ke medium yang lebih rapat, cahaya akan
dibiaskan mendekati garis normal, sebaliknya bila cahaya merambat dari medium lebih
rapat ke medium kurang rapat akan dibiaskan menjauhi garis normal. Untuk lebih
memahami arah sinar bias ketika melewati bidang batas antara dua medium, maka kita
memakai sifat-sifat bias, yaitu :

1. Sinar datang dari medium kurang rapat menuju medium lebih rapat akan dibiaskan
mendekati garis normal. Dengan demikian, sudut bias (r) akan lebih kecil dari pada
sudut datang (i).
2. Sinar datang tegak lurus terhadap bidang batas maka tidak mengalami perubahan
arah (tidak dibiaskan tetapi hanya diteruskan).
3. Sinar datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat akan dibiaskan
menjauhi garis normal. Dengan demikian sudut bias (r) akan lebih besar dari pada
sudut datang (i).

A. Pembiasan Cahaya Pada Plan Paralel (Balok Kaca)

Kaca plan paralel atau balok kaca adalah keping kaca tiga dimensi yang dibatasi
oleh sisi-sisi yang sejajar.

Gambar 2. Sebuah kaca


plan paralel atau balok kaca. Dibatasi oleh tiga pasang sisi – sisi sejajar

Cahaya dari udara memasuki sisi pembias kaca plan paralel akan dibiaskan
mendekati garis normal. Demikian pula pada saat cahaya meninggalkan sisi pembias
lainnya ke udara akan dibiaskan menjauhi garis normal. Pengamat dari sisi pembias yang
berseberangan akan melihat sinar dari benda bergeser akibat pembiasan. Sinar bias akhir
mengalami pergeseran sinar terhadap arah semula.

5
6
Menentukan besar pergeseran sinar pada kaca plan pararel.

Perhatikan ∆ siku-siku BCE


α = i1-r1
sin C = CEBC BC = CEsin α ..............(1)
Perhatikan ∆ siku-siku BCG
Sin r1 = CGBC BC = CGsin r1 .........(2)
Samakan pers (1) dan (2) :
CEsin α = CGsin r1
CE = CG. sin α sin r1 .................................. (3)
Perhatikan ∆ siku-siku BCG
tan r1 = CGBG CG = BG tan r1 ....(4)
Masukkan persamaan (4) ke persamaan (3) :
CE = (BG tan r1). sin α sin r1
Gunakan rumus Trigonometri : tan r1 = sin r1cos r1
CE = (BG. sin r1cos r1 ). sin α sin r1
CE = BG. sin α cos r1
Dimana :
CE = t pergeseran sinar
BG = d tebal kaca
α = i1-r1
Sehingga :

7
CE = BG. sin α cos r1
Atau

t = d sin (i1-r1)cos r1

Dengan keterangan :
d = tebal balok kaca, (cm)
i = sudut datang, (°)
r = sudut bias, (°)
t = pergeseran cahaya, (cm)

8
Contoh Soal :

1. Seberkas sinar memasuki balok kaca dari udara (nu = 1) dengan sudut datang i = 30°.
Bila indeks bias balok kaca 1,52 dan ketebalannya 4 cm tentukan jarak pergeseran
sinar setelah sinar yang masuk itu keluar dari balok kaca!

Penyelesaian:

Diketahui : i = 30°
n1 = nu = 1
n2 = nk = 1,52
d = 4 cm
Ditanya : t = ?
Jawab:
Data pada soal belum lengkap sebab sudut bias r belum diketahui. Oleh karenanya
terlebih dahulu kita cari sudut bias r dengan menggunakan hukum Snellius.
sinisinr=n2n1 atau sin r = n1n2 sin i

= 11,52 sin 30° = 11,52 x 0,5


= 0,33
didapat r = 19,2°
Pergeseran sinar yang ditanyakan kini dapat kita hitung,

t = d sin (i1-r1)cos r1 t = 4 x 0,190,94

t = 4 x sin (300-19,20)cos 19,20 t = 0,760,94

t = 4 xsin10,80cos19,20 t = 0,80 cm

9
Jadi, besar pergeseran sinar adalah 0,80 cm.

10
2. Seberkas sinar datang dari udara (nudara = 1) menuju balok kaca yang indeks biasnya
1,41 dengan sudut datang 45°. Besar pergeseran sinar yang datang ke balok kaca dan
sinar yang keluar dari balok kaca sebesar 0,65 cm. Tentukan tebal kaca yang
digunakan ?

Penyelesaian:

Diketahui : i = 45°
n1 = nu = 1
n2 = nk = 1,41
t = 0,65cm
Ditanya : d ?
Jawab:
Data pada soal belum lengkap sebab sudut bias r belum diketahui. Oleh karenanya
terlebih dahulu kita cari sudut bias r dengan menggunakan hukum Snellius.
sinisinr=n2n1 atau sin r = n1n2 sin i
= 11,41sin450
= 11,41 x 0,71
= 0,5
didapat r = 30°
Tebal kaca yang dipakai dapat diketahui dengan :

t = d sin (i1-r1)cos r1 0,65 = d .0,260,87

0,65 = d sin (45-300)cos 300 d = 0,570,26

0,65 = d sin (150)cos 300 d = 2,2 cm

Jadi tebal kaca yang digunakan = 2,2 cm

DAFTAR PUSTAKA

Umar, Efrizon. 2007. Fisika dan Kecakapan Hidup untuk SMA. Jakarta : Ganeca Excact

http://www.scribd.com/doc/13695824/fisk-lab

www.tofi.or.id/...file/Kul_9_UMN_OPTIK%20GEOMETRI_1

11
http://sidikpurnomo.net/pembelajarafisika/optika-geometri

12