Anda di halaman 1dari 3

PENATALAKSANAAN

Medis

Pengobatan DIC mempunyai 2 prinsip, yaitu:

1. Khusus: pengobatan individu, mengatasi keadaan yang khusus dan mengancam nyawa.
Pengobatan harus berdasarkan etiologinya dan yang mengancam jiwanya.

2. Bersifat umum:

a. Mengobati atau menghilangkan proses pencetus. Dengan pengobati factor


pencetus, proses DIC dapat dikurangi atau berhenti. Contoh, mengatasi
renjatan, mengambil janin mati, memberantas sepsis (infeksi), mengatasi
DHF, dan mengembalikan volume cairan tubuh dapat menghentikan DIC.

b. Menghentikan proses patologis pembekuan intravaskular. Dilakukan


dengan cara memberi antikuagulan misalnya heparin. Indikasi pemberian
heparin:

- Bila penyakit dasar tidak dapat dihilangkan dalam waktu dekat.

- Pasien yang masih disertai perdarahan walaupun penyakit dasar sudah


dihilangkan. Hal ini karena DIC sendiri mengganggu proses koagulasi.

- Bila ada tanda/ditakutkan terjadi thrombosis dalam mikrosirkulasi,


gagal ginjal, gagal hati, sindrom gagal napas.

Cara pemberian heparin beraneka ragam. Cara intermiten dimulai


dengan dosis permulaan 5000 u atau 100-200 unit/kg bolus intravena
dan dosis selanjutnya si tentukan berdasarkan aPTT yang diperiksa 2-3
setelah pemberian heparin. Bila aPTT 1,5-2,5 kali normal, dosis serupa
dilanjutkan. Bila kurang dari 1,5 kali normal, dosis dinaikkan
sedangkan bila lebih dari 2,5 kali normal, maka 2 jam kemudian
diulang masa pembekuan/aPTT, bila hasilnya tetap tetap lebih dari 2,5
normal dosis heparin dinaikan, jika kurang dari 2,5 maka dosis heparin
diturunkan.

c. Terapi komponen atau substitusi. Bila perdarahan masih berlangsung terus


menerus sesudah mengobati penyakit dasar dan sudah pemberian
antikoagulan maka diberikan terapi transfusi trombosit bila trombosit
turun sampai 25000 atau kurang. Transfusi berguna untuk memulihkan
komposisi darah yang hilang kerana perdarahan atau selama proses DIC. 1
unit trombosit dapat meningkatkan 700 – 1000/mm3 trombosit.

d. Menghentikan sisa fibrinolisis. Pemberian antifibrinolisis seperti asam


traneksamik atau epsilon amino caproic acid (EACA) hanya diberikan
bila pembentukan mikrotrombus berhasil diatasi oleh heparin.
Antifibrinolisis tidak diberikan jika DIC masih berlangsung dan bahkan
merupakan kontradiindikasi. Pemberian EACA harus bersamaan dengan
pemberian heparin.

Non medis

• Diet rendah lemak dan tinggi protein.

Lemak dapat mempercepat pembentukan plak di dalam pembuluh darah dan


menghambat sirkulasi darah. Protein dapat membantu menghasilkan sel darah.

Makanan yang kaya protein dan miskin lemak. Protein nabati : Sereal, tempe,
tahu, oncom, emping. Protein hewani : Ikan, kerang-kerangan dan jenis udang
merupakan jenis protein yang baik karena mengandung sedikit lemak. Sedangkan
makanan yang mengandung banyak lemak: daging, jeroan, susu, telur.