Anda di halaman 1dari 27

ASUHAN PADA NEONATUS DAN BAYI DENGAN MASALAH YANG

LAZIM

MK.ASUHAN BAYI NEONATUS & BALITA


ASUHAN PADA NEONATUS &BAYI DENGAN MASALAH
YANG LAZIM TERJADI

I. HEMANGIOMA
A. LANDASAN TEORI
1. PENGERTIAN
Tumor jinak vaskuler yang sering terjadi dan tampak pada bulan-bulan pertama setelah
kelahiran.
Hemangioma merupakan suatu proliferasi yang sifatnya jinak dari sel-sel endothelium pembuluh
darah yang lebih sering terjadi pada bayi dan anak-anak.
Hemangioma merupakan jenis kelainan pembuluh darah. Orang mengenalnya sebagai tanda lahir
atau birthmark.
Dijelaskan oleh dr. Edi Setiawan , Sp. A(K), hemangioma adalah tumor pembuluh darah. Walau
disebut tumor, hemangioma tak selalu berbentuk benjolan seperti tumor pada umumnya.

2. ETIOLOGI
Hemangioma terjadi karena adanya proliferasi (pertumbuhan yang berlebih) dari pembuluh darah
yang tidak normal, dan bisa terjadi disetiap jaringan pembuluh darah. Penyebab hemangioma
sampai saat ini masih belum jelas. Angiogenesis sepertinya memiliki peranan dalam kelebihan
pembuluh darah.

3. PATOFISIOLOGI
Ada beberapa hipotesis yang dikemukakan diantaranya menyatakan bahwa proses ini diawali
dengan suatu proliferasi dari sel-sel endothelium yang belum teratur dan dengan perjalanan
waktu menjadi teratur dengan membentuk pembuluh darah yang berbentuk lobus dengan lumen
yang berisi sel-sel darah. Sifat pertumbuhan endothelium tersebut jinak dan memiliki membrane
basalis tipis. Proliferasi tersebut akan melambat dan akhirnya berhenti.
Hemangioma superficial dan dalam, mengalami fase pertumbuhan cepat dimana ukuran dan
volume bertambah secara cepat. Fase ini diikuti dengan fase istirahat, di mana perubahan
hemangioma sangat sedikit, dan fase involusi, hemangioma dapat hilang taNpa bekas.
Hemangioma kavernosa yang besar mengubah kulit disekitarnya, dan meskipun fase involusi
sempurna, akhirnya meninggalkan bekas pada kulit yang terlihat. Beberapa hemangioma kapiler
dapat involusi lengkap , tidak meninggalkan bekas .

4. KLASIFIKASI
a. Hemangioma kapiler
Hemangioma kapiler (superficial hemangioma), terjadi pada kulit bagian atas. Hemangioma
kapiler disebut juga Strawberry hemangioma (hemangioma simplek).
Hemangioma kapiler terdapat pada waktu lahir atau beberapa hari sesudah lahir. Lebih sering
terjadi pada bayi premature dan akan menghilang dalam beberapa hari atau beberapa minggu.
Tampak sebagai bercak merah yang makin lama makin besar. Warnanya menjadi merah
menyala, tegang dan berbentuk lobular,berbatas tegas, dan keras pada perabaan.
Involusi spontan ditandai oleh memucatnya warna didaerah sentral, lesi menjadi kurang tegang
dan lebih mendatar.

Gbr.hemangioma strawberry (kiri), hemangioma kapiler (kanan)

b. Hemangioma kavernosum
Terjadi pada kulit yang lebih dalam, biasanya pada bagian dermis dan sub cutis.
Lesi ini tidak berbatas tegas, dapat berupa macula erimatosa atau nodus yang berwarna merah
sampai ungu.Bila ditekan akan mengempis dan cepat mengembung lagi apabila dilepas. Lesi
terdiri dari elemen vaskuler yang matang. Bentuk kavernosum jarang mengadakan involusi
spontan (Coheen,2004; Anonim,2005).
Hemangioma kavernosum kadang-kadang terdapat pada lapisan jaringan yang dalam, pada otot
atau organ dalam (Hall.2005).
c. Hemangioma campuran
Jenis ini terdiri atas campuran antara jenis kapiler dan jenis kavernosum. Gambaran klinisnya
juga terdiri atas gambaran kedua jenis tersebut sebagian besar ditemukan pada ektermitas
inferior, biasanya unilateral, soliter, dapat terjadi sejak lahir atau masa anak-anak. Lesi berupa
tumor yang lunak, berwarna merah kebiruan yang kemudian pada perkembangannya dapat
memberi gambaran keratotik dan verukosa terletak di superficial (permukaan) dalam atau di
organ dalam.
Lokasi hemangioma campuran pada lapisan kulit superficial dan dalam, atau organ dalam. (Hall,
2005).

5. GAMBARAN KLINIK
Gambaran klinik dari hemangioma adalah heterogen. Gambaran yang ditunjukkan tergantung
kedalaman, lokasi , dan derajat dari evolusi.
Pada bayi baru lahir, hemangioma dimulai dengan macula pucat dengan teleanggiektasis. Sejalan
dengan perkembangan proliferasi tumor gambarannya menjadi merah menyala, mulai menonjol,
dan noncompressible plaque.
Hemangioma yang terletak di dalam kulit biasanya lunak, masa yang terasa hangat dengan warna
kebiruan. Seringkali, hemangioma bisa berada di superficial dan didalam kulit. Hemangioma
memiliki diameter beberapa millimeter sampai beberapa centimeter. Hemangioma bersifat solid,
tapi sekitar 20 % mempunyai pengaruh pada bayi dengan lesi yang multiple. (Kushner, et
al,1999; Katz, et al; 2002; Drolet, et al. 2004).
Bayi perempuan mempunyai resiko tiga kali lebih besar untuk menderita hemangioma dibanding
bayi laki-laki, dan insidensi meningkat pada bayi premature.
Kurang lebih 55 % hemangioma ditemukan pada saat lahir, dan perkembangannya pada saat
minggu pertama kehidupan. Dulunya, hemangioma menunjukkan fase proliferasi awal,
involusinya lambat, dan kebanyakan terjadi resolusi yang komplit. Jarang sekali hemangioma
menunjukkan pertumbuhan tumor pada saat lahir. Walaupun perjalaan penyakit dari
hemangioma sudah diketahui , sangat sulit untuk memprediksi durasi dari pertumbuhan dan fase
involusi untuk setiap individu. Superfisial hemangioma biasanya mencapai ukuran maksimal
sekitar 6-8 bulan, tapi hemangioma yang lebih dalam mungkin berpoliferasi untuk 12-24 bulan.
Pada beberapa kasus dapat mencapai 2 tahun. Onset dari involusi lebih susah untuk diprediksi
tapi biasanya digambarkan dari perubahan warna dari merah menyala ungu atau keabu-abuan.
Kira-kira 20-40 % dari pasien mempunyai sisa perubahan dari kulit, hemangioma pada ujung
hidung, bibir, dan daerah parotis biasanya involusinya lambat dan sangat besar. Hemangioma
superficial pada muka sering menimbulkan noda berupa sikatrik (Kushner, et al; 1999; katz, et
al, 2002 ).
Gambaran klinis umum adalah adanya bercak merah yang timbul sejak lahir atau beberapa saat
setelah lahir, pertumbuhannya relative cepat dalam beberapa minggu atau beberapa bulan,
warnanya merah terang bila jenis Strawberry atau bila jenis kavernosa. Bila besar maksimun
sudah tercapai, biasanya pada umur 9-12 bulan, warnanya menjadi merah gelap. (Katz, et al,
2002).

6. KOMPLIKASI
a. Perdarahan
Komplikasi ini paling sering terjadi dibandingkan dengan komplikasi lainnya. Penyebabnya
adalah trauma dari luar atau rupture spontan dinding pembuluh darah karena tipisnya kulit di atas
permukaan hemangioma, sedangkan pembuluh darah dibawahnya terus tumbuh.
b. Ulkus
Ulkus menimbulkan rasa nyeri dan meningkatkan resiko infeksi, perdarahan, dan sikatrik. Ulkus
merupakan hasil dari nekrosis. Ulkus dapat juga terjadi akibat rupture .Hemangioma kavernosa
yang besar dapat diikuti dengan ulserasi dan infeksi sekunder (Kantor, 2004).
c. Trombositopenia
Jarang terjadi, biasanya pada hemangioma yang berukuran besar. Dahulu dikira bahwa
trombositopenia disebabkan oleh limpa yang hiperaktif. Ternyata kemudian bahwa dalam
jaringan hemangioma terdapat pengumpulan trombosit yang mengalami sekuenterisasi

d. Gangguan penglihatan
Pada region periorbital sangat meningkatkan risiko gangguan penglihatan dan harus lebih sering
dimonitor. Amblyopia dapat merupakan hasil dari sumbataan pada sumbu penglihatan (Visual
axis). Kebanyakan komplikasi yang terjadi adalah astigmatisma yang disebabkan tekanan
tersembunyi dalam bola mata atau desakan tumor keruang rettrobul
e. Masalah psikososial
Akan menimbulkan kecemasan bagi orang tua terutama jika hemangioma muncul pada bagian
muka.
f. Dengan persentase yang sangat kecil hemangioma bisa menyebabkan obstruksi jalan napas,
gagal jantung
7. PENANGANAN
a. Cara konservatif
Pada perjalanan alamiahnya lesi hemangioma akan mengalami pembesaran dalam bulan-bulan
pertama, kemudian mencapai besar maksimun dan sesudah itu terjadi regresi spontan sekitar
umur 12 bulan, lesi terus mengadakan regresi sampai umur 5 tahun . Untuk hemangioma kapiler
(strawberry Hemangioma) , sering tidak diterapi karena hemangioma jenis ini bila biarkan akan
hilang dengan sendirinya dan kulit terlihat normal.
b. Cara aktif
Hemangioma yang memerlukan terapi secara aktif, antara lain adalah hemangioma yang tumbuh
pada organ vital, seperti pada mata, telinga, dan tenggorokan; Hemangioma yang mengalami
perdarahan, hemangioma yang mengalami ulserasi, hemangioma yang mengalami infeksi,
hemangioma yang mengalami pertumbuhan cepat dan terjadi deformitas jaringan.
Cara-cara aktif dapat dilakukan antara lain:
Pembedahan
Radiasi
Corticosteroid
Obat sklerotik
Eletrokoagulansi
Pembekuan
Antibiotic

B. PEMBERIAN ASUHAN
1. Melakukan pengkajian subyektif dan obyektif
2. Pengkajian kemungkinan adanya komplikasi
3. Segera merujuk bila ditemukan adanya komplikasi
4. Memberi dukungan moril pada keluarga
5. Lakukan kolaborasi dan rujukan untuk penentuan klasifikasi dan penaganangan selanjutnya.
6. Beri KIE pada keluarga untuk pencegahan terjadinya perdarahan, rupture dan infeksi.
7. Apabila jenis hemangioma yang hanya membutuhkan penanganan konservatif, beri penjelasan
pada keluarga tentang perjalanan penyakit yang akan hilang dengan sendirinya.
8. Pantau terus perkembangan penyakitnya

II. BERCAK MONGOL


A. PENGERTIAN
Macula abu-abu, biru- hijau, biru gelap, atau ungu ditemukan pada bokong,punggung, kaki dan
bahu bayi dan region lumbrosakral.
B. ETIOLOGI
Diduga disebabkan oleh pigmen koleksi dari sel-sel (melanocytes) yang terletak di lapisan yang
lebih dalam dalam kulit.

C. TANDA DAN GEJALA


Biru abu-abu atau bintik-bintik ini mungkin Cuma satu atau beberapa. Dari beberapa ukuran dari
beberapa millimeter hingga 10 sentimeter atau ukuran nya yang lebih besar. Bercak yang muncul
pada saat lahir sering disalalah artikan sebagai memar.
D. INSIDEN
Lebih umum terjadi pada bayi dari ras gelap,khususnya Afrika, Asia, Timur India, dan
Hispanics, tetapi dapat juga terjadi sekitar 9 5 dari anak-anak Caucasian. Meskipun namanya
bercak Mongolian, namun termasuk juga orang Indonesia, jadi bukan hanya orang mongol. Pada
umumnya, bayi laki-laki dan perempuan memiliki insiden yang sama, namun beberapa studi
menyatakan insiden lebih tinggi pada anak laki-laki. Selain itu kejadian lebih tinggi bayi yang
lahir cukup bulan dari pada bayi premature.
E. PENANGANAN
Tidak ada terapi dan perawatan untuk bercak mongol ini walaupun muncul pada saat lahir,
biasanya menghilang pada 2-4 tahun setelah lahir. Dalam kasus sangat langka, bercak ini akan
berlanjut pada usia sekolah atau bahkan sampai dewasa.
Bercak ini sebenarnya muncul pada saat bayi lahir namun kadang-kadang sering tidak
diperhatikan ,jika orang tua ragu apakah ini berbahaya atau tidak sebaiknya konsultasi dengan
dokter spesialis anak.

Gbr.bercak mongol

F. Pemberian Asuhan
1. Melakukan deteksi dini saat pemeriksaan fisik BBL
2. Menjelaskan pada keluarga tentang perjalanan kelainan kulit tersebut
3. Beri dukungan moral
4. Bila perlu lakukan rujukan

III. IKTERUS NEONATORUM


A. Pengertian
Ikterus adalah menguningnya sclera, kulit atau jaringan lain akibat penumpukan bilirubin dalam
serum. Ikterus mulai tampak pada kadar bilirubin di atas 5 mg% dan dimulai pada daerah muka.
B. Pembagian
1. Ikterus fisiologis
Adalah ikterus yang timbul pada usia 2-7hari dan menghilang pada umur 10-14 hari, bayi
tampak masih aktif dan minum kuat.
2. Ikterus patologis
Ikterus yang cenderung menjadi patologik:
a. Ikterus klinis yang terjadi pada 24 jam pertama kehidupan
b. Peningkatan bilirubin serum sebanyak ≥5mg/dl setiap 24 jam
c. Ikterus yang disertai proses haemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi G6PD atau sepsis)
d. Ikterus klinis yang menetap setelah bayi berusia > 8 hari (pada NCB) atau > 14 hari pada NKB
C. Etiologi
Ada beberapa factor yang dapat menyebabkan terjadinya ikterus, yaitu sebagai berikut:
1. Prahepatik (ikterus hemolitik)
Ikterus ini disebabkan karena produksi bilirubin yang meningkat pada proses hemolisis sel darah
merah (ikterus hemolitik). Peningktan bilirubin dapat disebabkan oleh beberapa factor
diantaranya adalah infeksi, kelainan sel darah merah, toksin dari luar tubuh serta tubuh itu sendiri
2. Pascahepatik (obstruktif)
Adanya obstruksi pada saluran empedu yang mengakibatkan bilirubin konjugasi akan kembali
lagi ke dalam sel hati dan masuk ke dalam aliran darah kemudian sebagian masuk ke dalam
ginjal dan diekskresikan dalam urine. Sementara itu sebagian lagi tertimbun dalam tubuh
sehingga kulit dan sclera berwarna kuning kehijauan serta gatal. Sebagai akibat dari obstruksi
saluran empedu menyebabkan ekskresi bilirubin ke dalam saluran pencernaan sehingga feses
akan berwarna putih keabu-abuan liat dan seperti dempul.
3. Hepatoseluler (ikterus hepatic)
Konjugasi bilirubin terjadi pada sel hati, apabila sel hati mengalami kerusakan maka secara
otomatis akan mengganggu proses konjugasi bilirubin sehingga bilirubin direct meningkat dalam
aliran darah. Bilirubin direct mudah diekskresikan oleh ginjal karena sifatnya yang mudah larut
dalam air, namun sebagian masih tertimbun dalam aliran darah
D. Gambaran Klinis
Gejala utamanya adalah kuning di kulit, konjuctiva dan mukosa. Disamping itu dapat pula
diserati gejala-gejala: Dehidrasi, , pucat, trauma lahir, letragi, ptekie, mikrosefali,
hepatosplenomegali, omfalitis, hipotiroidisme adanya massa abdominal
E. Pemberian Asuhan
1. Pantau tanda-tanda vital
2. Pantau kemingkinan komplikasi
3. Anjurkan ibu untuk member ASIlebih sering (minimal setiap 2 jam)
4. Jaga agar bayi tetap hangat
5. Tetap memperhatikan kebersihan bayi dan perawatan tali pusat
6. Rujuk apabila ditemukan ikterus patologis berikut ini:
a. Timbul pada 24 jam pertama kehidupan
b. Kuning menetap ≥14 hari
c. Kuning melewati pusat
d. Tinja seperti dempul
e. Disertai tanda-tanda bahaya.

IV. MUNTAH & GUMOH


A. Definisi
Muntah adalah keluarnya sebagain besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah makanan
masuk lambung agak lama, disertai kontraksi isi lambung dan abdomen. Dalam beberapa jam
pertama setelah lahir, bayi mungkin mengalami muntah lendir bahkan kadang disertai dengan
darah.
B. Etiologi
Muntah biasa disebabkan karena berbagai hal seperti berikut:
1. Kelainan congenital
2. Infeksi saluran pencernaan
3. Cara pemberian makan yang salah
4. keracunan
C. Komplikasi
1. Dehidrasi atau alkalosis karena kehilangan cairan tubuh/elektrolit
2. Ketosis karena tidak makan dan minum
3. Asidosis yang disebabkan adanya ketosis
4. Ketegangan otot perut, perdarahan konjuctiva, rupture oesofagus, aspirasi.
D. Sifat muntah
1. Keluar cairan terus menerus, hal ini kemungkinan disebabkan oleh obstruksi
2. Muntah proyektil
3. Muntah hijau kekuningan
4. Muntah segera setelah lahir dan menetap, kemungkinan adanya intracranial yang tinggi atau
obstruksi usus
E. Pemberian Asuhan
1. Kaji faktor penyebab dan sifat muntah
2. Kaji kemungkinan adanya komplikasi ( dehidrasi, demam dll)
3. Bila terdapat tanda-tanda dehidsi lakukan rehidrasi
4. Pantau tanda-tanda vital
5. Berikan diet yang sesuai dan tidak merangsang muntah
6. Berikan antiemetic bila perlu
7. Rujuk segera bila ditemukan kondisi yang tidak membaik setelah diberikan asuhan
V. ORAL TRUSH
A. Definisi
Oral trush adalah terinfeksinya membaran mukosa mulut bayi oleh jamur candiasis yang ditandai
dengan munculnya bercak-bercak keputihan dan membentuk plak-plak berkeping di mulut,
terjadi ulkus dangkal.
B. Etiologi
Infeksi jamur (candida albicans)
C. Tanda dan gejala
Lesi yang berwarna putih di mulut yang membentuk plak-plak berkeping menutupi seluruh atau
sebagian lidah, kedua bibir, gusi dan mukosa pipi.
D. Pemberian asuhan
Umumnya dapat sembuh sendiri, tetapi lebih baik diberikan asuhan berikut:
1. Melakukan pengkajian dengan teliti untuk membedakan oral trush dengan endapan susu pada
mulut bayi
2. Pengkajian sumber infeksi, bila berasal dari ibu maka ibu harus diobati dengan pemberian
antimikroba
3. Menjaga kebersihan mulut, putting susu ibu dan peralatan makan serta minum bayi (bila bayi
minum dengan menggunakan dot maka gunakan tekhnik steril dalam membersihkan dot/botol
susu)
4. Bersihkan daerah mulut mulut setelah makan ataupun minum dengan air matang dan bersih
5. Pemberian gentian violet 3 kali sehari
6. Berkolaborasi dengan dokter untuk pemberian therapy antimikroba

Gbr.oral trush
VI. DIAPER RASH/RUAM POPOK
A. Definisi
Diaper rash adalah kemerahan pada kulit bayi akibat adanya kontak yang terus menerus dengan
lingkungan yang tidak baik.
B. Etiologi
1. Tidak terjaganya kebersihan kulit dan pakian bayi
2. Jarangnya mengganti popok setelah bayi BAB / BAK.
3. Terlalu panas atau lembabnya udara /suhu lingkungan.
4. Tingginya frekuensi BAB(diare).
5. Adanya reaksi kontak terhadap karet, plastik dan deterjen.
C. Tanda dan gejala
1. Iritasi pada kulit yang kontak langsung dengan allergen, sehingga muncul eritema.
2. Erupsi pada daerah kontak yang menonjol, seperti bokong, alat genital, perut bawah, atau paha
atas.
3. Pada keadaan yang lebih parah dapat terjadi papilla eritematosa, vesikula dan ulserasi.
D. Pemberian asuhan
1. Daerah yang terkena ruam popok, tidak boleh terkena air harus di biarkan terbuka dan tetap
kering.
2. Gunakan kapas halus yang mengandung minyak untuk membersihkan kulit yang iritasi.
3. Segara bersihkan dan keringkan bayi setelah BAK /BAB.
4. Atur posisi tidur anak agar tidak menekan kulit / daerah yang iritasi.
5. Usahakan memberikan makanan tinggi kalori, tinggi protein (TKTP), dengan porsi cukup.
6. Perhatikan kebersihan kulit dan tubuh secara keseluruhan.
7. Jagalah kebersihan pakian dan alat – alat untuk bayi.
8. Rendamlah pakian atau celana yang terkena urin dalam air yang di campur ocidum borium,
setelah itu bersihkan tetapi jangan menggunakan sabun cuci, segera bilas dan keringkan.

Gbr. Diaper rush (ruam popok)

VII. SEBHORREA/ SEBHORREA DERMATITIS


A. Definisi
Sebhorrea adalah radang berupa sisik yang berlemak dan eritema pada daerah yang memiliki
banyak kelenjar sebaseanya,biasanya didaerah kepala.
Dermatitis seboroik merupakan kelainan kulit berupa peradangan superfisial dengan
papuloskuamosa yang kronik dengan tempat predileksi di daerah-daerah seboroik yakni daerah
yang kaya akan kelenjar sebasea, seperti pada kulit kepala, alis, kelopak mata, naso labial, bibir,
telinga, dada, axilla, umbilikus, selangkangan dan glutea.
Pada dermatitis seboroik didapatkan kelainan kulit yang berupa eritem, edema, serta skuama
yang kering atau berminyak dan berwarna kuning kecoklatan dalam berbagai ukuran disertai
adanya krusta.
Dermatitis seboroik paling sering terjadi pada dua puncak umur yakni pada kelompok anak dan
dewasa.
Pada kelompok anak sering didapatkan pada 3 bulan pertama kehidupan dan kelompok dewasa
dalam dekade keempat hingga ke tujuh.
Dematitis seboroik pada anak khususnya pada kelompok bayi, dapat sembuh spontan dalam usia
6 hingga 12 bulan, sementara dermatitis seboroik pada orang dewasa dapat bersifat kronik dan
membutuhkan perawatan seumur hidup.
Pada anak sering dimulai dengan skuama eritema yang non eksematous pada kulit kepala (cradle
cap) atau di daerah selangkangan yang bermanifestasi sebagai skuama kering atau bercak
bulat/oval berbatas tegas dengan ukuran bermacam-macam yang ditutupi oleh krusta berminyak
berwarna coklat kekuningan. Di daerah frontal dan parietal tanpa disertai kemerahan. Cradle Cap
ini biasanya muncul dalam 3 sampai 4 minggu setelah kelahiran, dan dapat meluas disertai
eritema ke daerah wajah, dada, selangkangan dan daerah-daerah flexural. Meskipun dermatitis
seboroik pada anak memiliki ciri yang mirip dengan dermatitis seboroik pada orang dewasa tapi
jarang dengan lesi folikular

B. Etiologi
Penyebab sebhorrea masih belum diketahui secara pasti, tetapi ada beberapa ahli yang
menyatakan beberapa factor penyabab sebhorrea yaitu sebagai berikut :
a. Faktor hereditas,yaitu disebabkan karena adanya faktor keturunan dari orang tua.
b. Diet makanan yang tidak normal
c. Adanya gangguan emosi
d. Jamur yaitu Pityrosporum ovale mungkin merupakan faktor kausatif. Jamur ini termasuk
dalam kelas Malassezia sp. Dalam hidupnya sangat bergantung pada lemak,oleh karena itu sering
ditemukan di daerah kulit yang kaya sebum seperti di badan, punggung, wajah dan kulit kepala.
C. Pemberian asuhan
1. Beri penjelasan pada keluarga/orang tua.
2. Walaupun secara kasual masih belum diketahui, tetapi penyembuhannya biasa dilakukan
dengan obat –obat topical, seperti sampo yang tidak berbusa (kramasi kepala bayi sebanyak 2 – 3
kali/ minggu) dan krim selenium sulfida / Hg – presipitatus albus 2%
3. Khusus untuk perawatan kulit kepala dapat dilakukan berbagai terapi: skuama dihilangkan
menggunakan sisir yang lembut khusus untuk bayi.
4. Pembersihan krusta menggunakan larutan asam salisilat 3-5% dalam minyak zaitun ataupun
pelarut air, pengkompresan kulit kepala dengan minyak zaitun hangat (untuk skuama yang tebal),
pengolesan kortikosteroid berpotensi rendah (hidrokortison 1%) dalam bentuk krim atau lotion
dalam beberapa hari, penggunaan sampo ringan khusus untuk bayi, dan perawatan kulit kepala
bayi lainnya yang cocok menggunakan emolien, krim ataupun pasta lembut.
5. Bila ada infeksi sekunder khususnya yang disebabkan oleh staphylococcus, dapat diberikan
anti biotik oral.

Gbr.Seborea dermatitis

DAFTAR PUSTAKA

Dewi Lia, (2010) Asuhan Neonatus Bayi Dan balita, Salemba Medika, Jakarta
FK-UI, (2000) Ilmu Kesehatan Anak, FK-UI, Jakarta
Anonym,(2010),Medicinestuffs.blogspot.com/.../dematitis-seboroik-pada-anak-seborrheic.html
Diposkan oleh AKHIRNYA KU MEMILIKInya di 22:10
1. MUNTAH ATAU GUMOH

Muntah atau emesis adalah keadaan dimana dikeluarkannya isi lambung secara ekspulsif atau
keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah agak lama
makanan masuk kedalam lambung. Usaha untuk mengeluarkan isi lambung akan terlihat sebagai
kontraksi otot perut.

Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering kali dijumpai dan dapat terjadi pada berbagai
gangguan. Dalam beberapa jam pertama setelah lahir, bayi mungkin muntah lendir, bahkan
kadang-kadang disertai sedikit darah.

Muntah ini tidak jarang menetap setelah pemberian makanan pertama, suatu keadaan yang
mungkin disebabkan adanya iritasi mukosa lambung oleh sejumlah benda yang tertelan selama
proses kelahiran, jika muntahnya menetap pembilasan lambung dengan larutan garam fisiologis
akan dapat menolongnya.

Refluks gastroesofagus adalah kembalinya isi lambung kedalam esofagus tanpa terlihat adanya
usaha dari anak

Regurgitasi adalah bila bahan dari lambung tersebut dikeluarkan melalui mulut

Secara klinis kadang-kadang sukar dibedakan antara muntah, refluks dan regurgitasi. Muntah
sering dianggap sebagai suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan racun yang
tertelan.

Penyebab muntah

Pada neonatus

Organik

• Gastrointestinal

Obstruksi : atresia esofagus

Non obstruksi : perforasi lambung

• Ekstra gastrointestinal

Insufisiensi ginjal, obstruksi urethra

• Susunan syaraf pusat

Peningkatan tekanan intra cranial (TIK)


Non organik

Teknik pemberian minum yang salah, makanan/minuman yang tidak cocok atau terlalu banyak,
keracunan, obat-obat tertentu, kandidasis oral.

Pada anak

Organik

• Gastrointestinal

Obstruksi : stenosis pylorus

Non obstruksi : refluk esofagal, infeksi/peritonitis

• Luar gastrointestinal

Infeksi (OMA, pertusis, tonsilofaringitis)

uremia

Non organik

• Sama dengan neonatus


• Mabuk perjalanan
• Keracunan makanan (1-8 jam sesudah makan)
• Food borne disease (salmonellosis) lebih lama dari keracunan makanan

Perlu anamnesa yang teliti :

• Pola pemberian makan


• Berat badan lahir
• Jumlah yang dimuntahkan, frekuensi
• Disertai diare, batuk atau panas
• Terjadi sebelum/sesudah makan
• Menyemprot/proyektil atau tidak

Sifat muntah

• Keluar cairan terus menerus maka kemungkinan obstruksi esophagus


• Muntah proyektil kemungkinan stenosis pylorus (pelepasan lambung ke duodenum)
• Muntah hijau (empedu) kemungkinan obstruksi otot halus, umumnya timbul pada
beberapa hari pertama, sering menetap, biasanya tidak proyektil.
• Muntah hijau kekuningan kemungkinan obsruksi dibawah muara saluran empedu
• Muntah segera lahir dan menetap kemungkinan tekanan intrakranial tinggi atau obstruksi
usus
Diagnosis

Diagnosis dapat ditegakkan secara radiologis yaitu apabila didapatkan gambaran suatu keadaan
kelainan kongenital bawaan seperti obstruksi usus halus, atresia esophagus dan lain-lain. Selain
dengan pemeriksaan radiologis, juga dapat ditegakkan dengan pemeriksaan uji coba memasukan
kateter kedalam lambung. Diagnosis harus dapat segera dibuat sebelum anak tersedak sewaktu
makan dengan kemungkinan terjadinya aspirasi pneumonia.

Muntah (kelainan bedah) adalah gangguan passage gastrointestinal dengan tanda-tanda


muntah, perut membuncit, kegagalan evakuasi mekonium (pada BBL).

Gambaran muntah yang perlu dicurigai sebagai kelainan bedah

• Muntah hijau (gangguan pada empedu)


• Muntah proyektil (menyemprot)
• Muntah persisten
• Muntah bercampur darah
• Muntah disertai penurunan berat badan

Komplikasi

• Kehilangan cairan tubuh/elektrolit sehingga dapat menyebabkan dehidrasi


• Karena sering muntah dan tidak mau makan/minum dapat menyebabkan ketosis
• Ketosis akan menyebabkan asidosis yang akhirnya bisa menjadi renjatan (syok)
• Bila muntah sering dan hebat akan terjadi ketegangan otot perut, perdarahan,
konjungtiva, ruptur, esophagus, infeksi mediastinum, aspirasi muntah jahitan bisa lepas
pada penderita pasca operasi dan timbul perdarahan.

Penatalaksanaan

• Utamakan penyebabnya
• Berikan suasana tenang dan nyaman
• Perlakukan bayi/anak dengan baik dan hati-hati
• Kaji sifat muntah
• Simptomatis dapat diberi anti emetik (atas kolaborasi dan instruksi dokter)
• Kolaborasi untuk pengobatan suportif dan obat anti muntah (pada anak tidak rutin
digunakan) :
o Metoklopramid
o Domperidon (0,2-0,4 mg/Kg/hari per oral)
o Anti histamin
o Prometazin
o Kolinergik
o Klorpromazin
o 5-HT-reseptor antagonis
o Bila ada kelainan yang sangat penting segera lapor/rujuk ke rumah sakit/ yang
berwenang
GUMOH/REGURGITASI

Gumoh adalah keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat setelah
minum susu botol atau menyusui pada ibu dan jumlahnya hanya sedikit.

Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan normal terutama pada bayi dibawah usia 6
bulan

Penyebab

• Anak/bayi yang sudah kenyang


• Posisi anak atau bayi yang salah saat menyusui akibatnya udara masuk kedalam lambung
• Posisi botol yang tidak pas
• Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam menghisap
• Akibat kebanyakan makan
• Kegagalan mengeluarkan udara

Diagnosis

Sebagian besar gumoh terjadi akibat kebanyakan makan atau kegagalan mengeluarkan udara
yang ditelan. Oleh karena itu, sebaiknya diagnosis ditegakkan sebelum terjadi gumoh.
Pengosongan lambung yang lebih sempurna, dalam batas-batas tertentu penumpahan kembali
merupakan kejadian yang alamiah, terutama salam 6 bulan pertama. Namun, penumpahan
kembali tersebut diturunkan sampai jumlah yang bisa diabaikan dengan pengeluaran udara yang
tertelan selama waktu atau sesudah makan.

Dengan menangani bayi secara hati-hati dengan emghindari konflik emosional serta dalam
menempatkan bayi pada sisi kanan, letak kepala bayi tidak lebih rendah dari badannya. Oleh
karena pengeluaran kembali refleks gastroesofageal lazim ditemukan selama masa 4-6 bulan
pertama.

Penatalaksanaan gumoh

• Kaji penyebab gumoh


• Gumoh yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal pada bayi yang umurnya
dibawah 6 bulan, dengan memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu.
• Saat memberikan ASI/PASI kepala bayi ditinggikan
• Botol tegak lurus/miring jangan ada udara yang terisap
• Bayi/anak yang menyusui pada ibu harus dengan bibir yang mencakup rapat puting susu
ibu
• Sendawakan bayi setelah minum ASI/PASI
• Bila bayi sudah sendawa bayi dimiringkan kesebelah kanan, karena bagian terluas
lambung ada dibawah sehingga makanan turun kedasar lambung ynag luas
• Bila bayi tidur dengan posisi tengkurap, kepala dimiringkan ke kanan

2. KEMBUNG
Kembung adalah keadaan perut yang membesar dan berisi angin

Penyebab

• Bayi kembung karena menelan angin waktu menyusui

hal ini terjadi karena teknik menyusui yang salah, puting terlalu besar atau terlalu kecil

• Bayi yang minum susu formula dengan botol

Angin ikut tertelan karena lubang dot terlalu kecil, sehingga bayi menghisap terlalu kuat dan
angin masuk melalui pinggiran dot

Penatalaksanaan

• Bayi menyusui ASI dengan teknik yang benar (menutupi areola)


• Bayi minum susu formula dengan dot :
o Lubang dot diperiksa (tidak terlalu kecil/besar)
o Jika botol hampir kosong, pantat botol dinaikkan
o Tidak diberi empeng
o Menyendawakan bayi setelah minum
o Minum air hangat
o Beri minyak kayu putih, minyak telon pada daerah perut

3. KONSTIPASI/OBSTIPASI

Konstipasi/sembelit adalah keadaan dimana anak jarang sekali buang air besar dan kalau buang
air besar keras

Obstipasi : obstruksi intestinal (konstipasi yang berat)

Penyebab

Faktor non organik

• Kurang makanan yang tinggi serat


• Kurang cairan
• Obat/zat kimiawi
• Kelainan hormonal/metabolik
• Kelainan psikososial
• Perubahan mikroflora usus
• Perubahan/kurang exercise

Faktor organik

• Kelainan organ (mikrocolon, prolaps rectum, struktur anus, tumor)


• Kelainan otot dasar panggul
• Kelainan persyarafan : M. Hirsprung
• Kelainan dalam rongga panggul
• Obstruksi mekanik : atresia ani, stenosis ani, obstruksi usus

Tanda dan gejala

• Frekuensi BAB kurang dari normal


• Gelisah, cengeng, rewel
• Menyusu/makan/minum kurang
• Fese keras

Pemeriksaan penunjang

• Laboratorium (feses rutin, khusus)


• Radiologi (foto polos, kontras dengan enenma)
• Manometri
• USG

Penatalaksanaan

• Banyak minum
• Makan makanan yang tinggi serat (sayur dan buah)
• Latihan
• Cegah makanan dan obat yang menyebabkan konstipasi
• ASI lebih baik dari susu formula
• Enema perotal/peranal
• Kolaborasi untuk intervensi bedah jika ada indikasi
• Perawatan kulit peranal

4. DIARE

Diare adalah buang air besar dengan frekuensi 3x atau lebih per hari, disertai perubahan tinja
menjadi cair dengan atau tanpa lendir dan darah yang terjadi pada bayi dan anak yang
sebelumnya tampak sehat (A.H. Markum, 1999)

Penyebab

• Bayi terkontaminasi feses ibu yang mengandung kuman patogen saat dilahirkan
• Infeksi silang oleh petugas kesehatan dari bayi lain yang mengalami diare, hygiene dan
sanitasi yang buruk
• Dot yang tidak disterilkan sebelum digunakan
• Makanan yang tercemar mikroorganisme (basi, beracun, alergi)
• Intoleransi lemak, disakarida dan protein hewani
• Infeksi kuman E. Coli, Salmonella, Echovirus, Rotavirus dan Adenovirus
• Sindroma malabsorbsi (karbohidrat, lemak, protein)
• Penyakit infeksi (campak, ISPA, OMA)
• Menurunnya daya tahan tubuh (malnutrisis, BBLR, immunosupresi, terapi antibiotik)

Jenis diare

• Diare akut, feses sering dan cair, tanpa darah, berakhir <7 hari, muntah, demam
• Disentri, terdapat darah dalam feses, sedikit-sedikit/sering, sakit perut, sakit pada saat
BAB, anoreksia, kehilangan BB, kerusakan mukosa usus
• Diare persisten, berakhir selama 14 hari/lebih, dapat dimulai dari diare akut ataupun
disentri

Tanda dan gejala

• Gejala sering dimulai dengan anak yang tampak malas minum, kurang sehat diikuti
muntah dan diare
• Feses mula-mula berwarna kuning dan encer, kemudian berubah menjadi hijau, berlendir
dan berair serta frekuensinya bertambah sering
• Cengeng, gelisah, lemah, mual, muntah, anoreksia
• Terdapat tanda dan gejala dehidrasi, turgor kulit jelek (elastisitas kulit menurun), ubun-
ubun dan mata cekung, membran mukosa kering.
• Pucat anus dan sekitarnya lecet
• Pengeluaran urin berkurang/tidak ada
• Pada malabsorbsi lemak biasanya feses berwarna pucat, banyak dan berbau busuk dan
terdapat butiran lemak
• Pada intoleransi disakarida feses berbau asam, eksplosif dan berbusa
• Pada alergi susu sapi feses lunak, encer, berlendir, dan kadang-kadang berdarah

Komplikasi

• Kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan (dehidrasi, kejang dan demam)
• Syok hipovolemik yang dapat memicu kematian
• Penurunan berat badan dan malnutrisi
• Hipokalemi (rendahnya kadar kalium dalam darah)
• Hipokalsemi (rendahnya kadar kalsium dalam darah)
• Hipotermia (keadaan suhu badan yang ekstrim rendah)
• Asidosis (keadaan patologik akibat penimbunan asam atau kehilangan alkali dalam
tubuh)

Tahapan dehidrasi menurut Ashwill dan Droske (1997)

• Dehidrasi ringan, BB menurun 3-5% dengan volume cairan yang hilang < 50 ml/kgBB
• Dehidrasi sedang, BB menurun 6-9% dengan volume cairan yang hilang 50-90%
ml/kgBB
• Dehidrasi berat, BB menurun lebih dari 10% dengan volume cairan yang hilang ≥100
ml/kgBB
Penatalaksanaan

• Memberikan cairan dan mengatur keseimbangan elektrolit


• Terapi rehidrasi
• Kolaborasi untuk terapi pemberian antibiotik sesuai dengan kuman penyebabnya
• Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan bayi untuk mencegah penularan
• Memantau biakan feses pada bayi yang mendapat terapi antibiotik
• Tidak dianjurkan untuk memberikan anti diare dan obat-obatan pengental feses

5. DERMATITIS ATOPIK (EKSIM SUSU)

Dermatitis atopik adalah penyakit kulit tersering pada bayi dan anak, sering kambuh,
diturunakn dalam keluarga, tidak menular dan merupakan pertanda timbulnya asma.

Penyebab

Belum jelas, sangat kompleks

• “Eksim susu” dulu disangka penyebabnya adalah ASI, hal ini terbukti salah karena Asi
justru mengandung zat pelindung tubuh terhadap alergi dan infeksi
• Faktor kulit yang ekring
• Faktor kebersihan diri (personal hygiene) dan kebersihan lingkungan yang kurang
• Faktor hidup kurang sehat, yaitu istirahat dan asupan nutrisi yang kurang
• Faktor perilaku dan emosi
• Alergi terhadap makanan seperti susu, telur, ikan, kacang, coklat, jeruk dan lain-lain

Gambaran klinik

• Lokasi pada bayi biasanya di muka terutama kedua pipi. Pada dewasa ditengkuk, lekukan
siku, lutut biasanya lebih kering
• Terasa sangat gatal
• Warna kulit kemerahan, ukuran kecil sebesar koin sampai dengan telapak tangan, basah
atau berdarah. Setelah itu akan mengering dan menjadi keropeng, kekuningan atau
kehitaman, kulit bersisik dan kering
• Mudah terkena infeksi bakteri, virus atau jamur

Penatalaksanaan

Mencegah kekambuhan

• Mencegah makanan penyebab alergi dan memberikan makanan pengganti


• Cegah allergen lingkungan seperti debu rumah, tungau, serbuk-serbuk, kapuk dan
lingkungan yang bersih
• Kebersihan perseorangan yang terjaga (seperti kulit lembab dan bersih)
• Hindari suasana sedih, kesal dan depresi
Pengobatan (kolaborasi)

• Hindari faktor pencetus dan pemeliharaan kulit


• Obat anti gatal
• Kortikosteroid salep (berikan tipis-tipis)

Efek samping kortikosteroid : penipisan kulit, gangguan pertumbuhan tulang, gangguan siklus
hormon

6. DIAPER RASH (RUAM POPOK)

Diaper rash adalah ruam kulit akibat radang pada daerah yang tertutup popok, yaitu pada alat
kelamin, sekitar dubur, bokong, lipatan paha dan perut bagian bawah. Berupa bercak-bercak
iritasi kemerahan, kadang menebal dan bernanah.

Iritasi terjadi karena kontak terus menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik. Diaper
rash juga merupakan reaksi kulit dengan amonia dari urin kontaminasi bakteri dari maternal fecal

Penyebab

• Sering terjadi pada usia 9-12 bulan, tidak sering mengganti pampers, modifikasi diet
• Kebersihan kulit yang tidak terjaga
• Udara atau suhu lingkungan yang teralu panas atau lembab
• Kulit bayi masih peka sehingga mudah iritasi
• Popok yang basah karena urin dan feses yang tidak segera diganti (enzim protease dan
lipase)
• Lebih parah pada bayi yang mengkonsumsi susu formula (pada susu formula kandungan
protein lebih tinggi sehingga kadar amonia/urea lebih pekat)
• Infeksi jamur Candida albicans dan infeksi bakteri Staphylococcus menyebabkan
perubahan sistem imun
• Popok yang mengiritasi akibat sabun, karet, plastik dan detergen yang keras
• Diare sehingga menyebabkan iritasi kulit

Tanda dan gejala

• Iritasi pada kulit yang terkena muncuul sebagai erithema


• Erupsi pada daerah kontak yang menonjol seperti pantat, alat kelamin, perut bawah, paha
bagian atas dan lipatan-lipatan kulit
• Erupsi dapat berupa bercak kering, merah dan bersisik
• Keadaan lebih parah terdapat pada papila erythemetosa, vesicula dan ulcerasi
• Bayi menjadi rewel karena rasa nyeri

Penatalaksanaan

• Menjaga kebersihan dan kelembaban daerah kulit bayi, terutama didaerah alat kelamin,
bokong, lipatan selangkangan
• Daerah yang terkena iritasi tidak boleh dalam keadaan basah (terbuka dan tetap kering)
• Menjaga kebersihan pakaian danperlengkapan
• Setiap BAB dan BAK bayi segera dibersihkan
• Untuk membersihkan kulit yang iritasi dengan menggunakan kapas halus yang dioleskan
dengan minyak atau sabun mild dan air hangat
• Popok dicuci dengan detergen yang lembut
• Mengangin-anginkan kulit sebelum pampers baru dipasang dan menggunkan pampers
dengan daya serap yang tinggi dan pas pemakaiannya
• Menggunakan popok yang tidak terlalu ketat (terbuka atau longgar) untuk memperbaiki
sirkulasi udara.
• Posisi tidur anak diatur supaya tidak menekan kulit yang teriritasi
• Pengobatan
o Mengoleskan krim dan lotion yang mengandung zinc pada daerah yang sedang
meradang
o Memberikan salep/krim yang mengandung kortikosteroid 1%
o Salep anti jamur dan bakteri (miconazole, ketokonazole, nystatin)

7. MILIARIASIS/SUDAMINA/LIKEN TROPIKUS/BIANG KERINGAT

Miliariasis adalah kelainan kulit yang ditandai dengan kemerahan, disertai dengan gelembung
kecil berair yang timbul akibat keringat berlebihan disertai sumbatan saluran kelenjar keringat
yaitu di dahi, leher, bagian yang tertutup pakaian (dada, punggung), tempat yang mengalami
tekanan atau gesekan pakaian dan juga kepala.

Faktor penyebab

• Udara panas dan lembab dengan ventilasi udara yang kurang


• Pakaian yang terlalu ketat, bahan tidak menyerap keringat
• Aktivitas yang berlebihan
• Setelah menderita demam atau panas
• Penyumbatan dapat ditimbulkan oleh bakteri yang menimbulkan radang dan edema
akibat perspirasi yang tidak dapat keluar dan di absorbsi oleh stratum korneum

Bentuk miliariasis

Miliaria kristalina

• Kelainan kulit berupa gelembung kecil 1-2 mm berisi cairan jernih disertai kulit
kemerahan
• Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian pakaian yang tertutup pakaian
• Umumnya tidak menimbulkan keluhan dan sembuh dengan sisik halus
• Pada keadaan histopatologik terlihat gelembung intra/subkorneal
• Asuhan : pengobatan tidak diperlukan, menghindari udara panas yang berlebihan,
ventilasi yang baik serta menggunakan pakaian yang menyerap keringat.

Miliaria rubra
• Sering dialami pada anak yang tidak biasa tinggal didaerah panas
• Kelainan berupa papula/gelembung merah kecil dan dapat menyebar atau berkelompok
dengan rasa sangat gatal dan pedih
• Staphylococcus juga diduga memiliki peranan
• Pada gambaran histopatologik gelembung terjadi pada stratum spinosum sehingga
menyebabkan peradangan pada kulit dan perifer kulit di epidermis
• Asuhan : gunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat, menghindari udara panas
yang berlebihan, ventilasi yang baik, dapat diberikan bedak salicyl 2% dibubuhi menthol
0,25-2%

Miliaria profunda

• Timbul setelah miliaria rubra


• Papula putih, kecil, berukuran 1-3 mm
• Terdapat terutama di badan ataupun ekstremitas
• Karena letak retensi keringat lebih dalam maka secara klinik lebih banyak berupa papula
daripada vesikel
• Tidak gatal, jarang ada keluhan, tidak ada dasar kemerahan, bentuk ini jarang ditemui
• Pada keadaan histopatologik tampak saluran kelenjar keringat yang pecah pada dermis
bagian atas atau tanpa infiltrasi sel radang
• Asuhan : hindari panas dan lembab berlebihan, mengusahakan regulasi suhu yang baik,
menggunakan pakaian yang tipis, pemberian losio calamin dengan atau tanpa menthol
0,25% dapat pula resorshin 3% dalam alkohol

Penatalaksanaan

• Perawatan kulit yang benar


• Biang keringat yang tidak kemerahan dan kering diberi bedak salycil atau bedak kocok
setelah mandi
• Bila membasah, jangan berikan bedak, karena gumpalan yang terbentuk memperparah
sumbatan kelenjar
• Bila sangat gatal, pedih, luka dan timbul bisul dapat diberikan antibiotik
• Menjaga kebersihan kuku dan tangan (kuku pendek dan bersih, sehingga tidak menggores
kulit saat menggaruk)

8. DERMATITIS SEBOROIK/CRADLE CAP

Dermatitis seboroik adalah penyakit inflamasi kronik yang berhubungan dengan kelenjar
sebaseus. Dermatitis seboroik juga merupakan kerak pada kulit kepala bayi yang disebabkan
oleh vernix kaseosa yang tidak bersih dan dapat terinfeksi staphylococcus.

Penyakit ini biasanya dimulai dari kulit kepala kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan
badan. Ada yang mengatakan bahwa penyakit radang ini berdasarkan gangguan konstitusionil
dan sering terdapat faktor hereditas. Tidak dapat disangkal bahwa penderita yang mengalami
penyakit ini terjadi pada kulit yang berlemak (sebaseus), tetapi bagaimana hubungan antara
kelenjar lemak dengan penyakit ini masih belum jelas. Ada yang menganggap bahwa
kambuhnya penyakit ini akibat makanan yang berlemak, makanan berkalori tinggi, minuman
beralkohol dan gangguan emosi.

Penyebab

• Kurang jelas
• Berkaitan dengan sistem imun dan hygiene yang buruk
• Karena adanya vernix kaseosa/lemak pada kepala bayi yang kemudian terinfeksi
staphylococcus
• Sering terjadi pada penderita HIV-AIDS dan anak-anak

Gejala

• Semacam noda berwarna kuning yang berminyak, bersisik, yang kemudian mengeras dan
akhirnya menjadi semacam kerak. Kerak ini sering timbul di kulit kepala (cradle cap),
kadang di alis/bulu mata dan telinga.
• Exudat seborrhoic pada kulit kepala (masalah kosmetik)

Diagnosis banding

Atopik dermatitis dengan gejala eritema, edema eksudasi, krusta dan bersisik terutama pada bayi
muda.

Penatalaksanaan

• Oleskan atau basahi kerak dengan baby oil atau vaselin selama 24 jam, sesudah itu urut
pelan-pelan kulit kepala yang berkerak itu dengan handuk lembut hingga kerak
mengelupas
• Mengeluarkan kerak yang tersangkut di rambut dengan hati-hati (dicukur untuk
memudahkan perawatan)
• Dapat juga digunakan sikat rambut yang lembut, sisir yang halus atau kapas untuk
menghindari iritasi pada kulit kepala bayi
• Pada keadaan tertentu dapat diberi kortikosteroid, antifungi dan antibiotika tropical
• Menjaga kebersihan bayi dengan memandikan dan mencuci rambutnya dengan shampo
khusus untuk bayi atau shampo anti seboroik

9. BERCAK MONGOL

Bercak mongol adalah bercak kebiruan, kehitaman atau kecoklatan yang lebar, difus, terdapat
didaerah bokong atau lumbosakral yang akan menghilang setelah beberapa bulan atau tahun.

Bercak mongol adalah pigmentasi yang datar dan berwarna gelap didaerah pinggang bawah dan
bokong yang ditemukan pada saat lahir pada beberapa bayi yang akan menghilang secara
perlaan-lahan selama tahun pertama.

Patofisiologi
Bercak mongol rata-rata muncul pada umur kehamilan 38 minggu. Mula-mula terbatas di fossa
koksigea lalu menjalar ke regio lumbosakral. Tempat lain yaitu didaerah orbita : sclera atau
fundus mata dan daerah zigomaticus (nevus ota), daerah deltotrapezeus (nevus ito).

Nevus ota dan nevus ito biasanya menetap, tidak perlu diberikan pengobatan, cukup dengan
tindakan konservatif saja. Namun bila penderita telah dewasa, pengobatan dapat diberikan
dengan alasan estetika. Akhir-akhir ini dianjurkan pengobatan dengan sinar laser.

Penyebab

• Belum jelas
• Timbulnya bercak akibat ditemukannya lesi yang berisi sel melanosit pada lapisan dalam
dermis atau sekitar folikel rambut

Penatalaksanaan

• Bercak mongol biasanya akan menghilang setelah beberapa pekan sampai 1 tahun,
sehingga tidak perlu pengobatan dan cukup dilakukan tindakan konservatif
• Informasikan kepada keluarga untuk mengurangi kekhawatiran/kecemasan
• Pengobatan dapat diberikan dengan alasan estetika

10. HEMANGIOMA (TUMOR JINAK DI KULIT)

• adalah malformasi vascular local yang disebut juga nevi vascular atau hemangima yang
sering ditemukan pada kelopak mata atas neonatus.
• Adalah tumor jinak atau hamartoma/gumpalan yang terjadi akibat gangguan pada
perkembangan dan pembentukan pembuluh darah dan dapat terjadi disegala organ seperti
hati, limfa, otak, tulang dan kulit
• Kelainan yang terjadi pada kulit akibat gangguan pada perkembangan dan pembentukan
pembuluh darah yang terletak di superficial (kutan), subkutan atau campuran.

Penyebab

• Masih belum jelas


• Timbulnya hemangioma dikarenakan pembuluh darah yang melebar dan berhubungan
dengan proliferasi endotel

Jenis hemangioma

• Hemangioma kapiler

Terdiri dari pembuluh darah yang melebar dan berhubungan dengan proliferasi endotel. Bila
menghilang terjadi gangguan fibrotik

Terdiri atas :
• Hemangioma kapiler pada anak (nevus vasculosus, strawberry nevus)
• Granuloma piogenik
• Cherry spot (ruby-spot), angioma senilis
• Hemangioma kavernosa

Berasal dari lapisan dermis bagian bawah, disertai rongga-rongga besar yang tidak teratur dan
berisi darah

Terdiri atas :

• Hemangioma kavernosum (hemangioma matang)


• Hemangioma keratotik
• Hemangioma vaskular
• Telangiektasis
o Nevus flameus
o Angiokeratoma
o Spider angioma

Tipe hemangioma kutan pada kelopak mata neonatus

• Hemangioma telangietaksis dasar tipis (flat telang relatic hemangiomas)


• Hemangioma yang menonjol berupa kapiler, kaverna atau campuran (hemangioma
besar : proptosis sampai dengan trelihat dibawah konjungtiva tarsal)

Gejala klinis

Hemangioma kapiler

• Strawberry hemangioma (hemangioma simpleks)

Hemangioma kapiler terdapat pada waktu lahir atau beberapa hari sesudah lahir. Tampak sebagai
bercak merah yang semakin lama semakin besar. Warnanya menjadi merah menyala, tegang dan
berbentuk lobular, berbatas tegas, tegang dan keras pada perabaan. Ukuran dan dalamnya sangat
bervariasi, ada yang superfisial berwarna merah terang dan ada yang subkutan berwarna
kebiruan. Involusi kurang tegang dan lebih mendatar.

• Granuloma piogenik

Lesi ini terjadi akibat proliferasi kapiler yang sering terjadi sesudah trauma, jadi bukan oleh
karena proses peradangan, walaupun sering disertai infeksi sekunder. Lesi biasanya soliter, dapat
terjadi pada semua umur, terutama pada anak dan tersering pada bagian distal tubuh yang sering
mengalami trauma. Mula-mula berbentuk papul sritematosa dengan pembesaran yang cepat.
Beberapa lesi dapat mencapai pembesaran 1 cm dan dapat bertangkai. Lesi mudah berdarah.

Hemangioma kavernosum
Lesi ini tidak berbatas tegas, dapat berupa makula eriternatosa atau nodus yang berwarna merah
sampai ungu. Bila ditekan mengempis dan akan cepat menggembung lagi apabila lepas. Lesi
terdiri atas elemen vaskular yang matang. Bentuk kavernosum jarang mengadakan involusi
spontan.

Hemangioma campuran

Jenis ini terdiri atas campuran antara jenis kapiler dan jenis kavernosum. Gambaran klinisnya
juga terjadi atas gambaran kedua jenis tersebut. Sebagian besar ditemukan pada ekstremitas
inferior, biasanya unilateral, soliter, dapat terjadi sejak lahir atau masa anak-anak. Lesi berupa
tumor yang lunak, berwarna merah kebiruan yang kemudian pada perkembangannya dapat
gambaran keratotik dan verukosa.

Diagnosis

Secara klinis diagnosis hemangioma tidak sukar, terutama pada lesi yang khas. Gambaran klinis
umum ialah adanya bercak merah yang timbul sejak lahir atau beberapa saat setelah lahir.
Pertumbuhannya relatif cepat dalam beberapa minggu atau beberapa bulan, warnanya merah
terang bila jenis strawberry atau biru bila jenis kavernosa. Bil besar maksimum sudah tercapai,
biasanya pada umur 9-12 bulan, warnanya menjadi merah gelap.

Diagnosis banding

Diagnosis banding ialah terhadap tumor kulit lainnya, yaitu limfangioma, higroma, lipoma, dan
neurofibroma.

Penatalaksanaan

• Umumnya hemangioma akan menghilang dengan sendirinya


• Tetapi bila terdapat prognosis yang berat lakukan rujukan dan kolaborasi dengan tenaga
medis dan berikan prednison 2-3 mg/kgBB/hari selama 10-14 hari, jika hemangioma
menipis/menghilang dosis diturunkan secara bertahap

11. FURUNKEL ATAU BISUL

Furunkel adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh staphylococcus profunda yang berbentuk
nodul-nodul lemak eritematosa dan letaknya didalam, biasanya daerah muka, pantat, leher,
ketiak dan lain-lain.

Nodul ini mengandung cairan yang dalam waktu beberapa hari akan mengeluarkan bahan
nekrotik bernanah.

Berbentuk

• Furunkel (boil)
• Karbunkel (furunkel multipel)
Furunkel dapat menimbulkan rasa nyeri yang hebat dan terletak didaerah nasal, aksila dan telinga

Penatalaksanaan

• Furunkel diobati dengan drainase pembedahan, dengan kompres basah


• Pemberian antibiotika sistemik

12. KANDISOSIS/MONILIASIS/ORAL TRUSH

Oral trush adalah infeksi Candida yang didapat bayi melalui jalan lahir atau perkontinuitatum.
Biasanya infeksi terjadi didaerah mukokutan, mulut dan bibir. Lesi berupa bercak putih yang
lekat pada lidah, bibir dan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan sisa susu. Infeksi ini
dapat meluas ke saluran terutama di lipatan kulit, bahkan ke berbagai alat dalam.

Kandidosis oral

Infeksi candida pada daerah mulut, sering terjadi pada bayi normal dan makin jarang sejalan
dengan pertambahan usia.

Penyebab

• Infeksi melalui jalan lahir pada ibu yang menderita kandidosis vagina (Candida albicans)
• Infeksi silang dari penderita kandidiasis lain
• Candida albicans dapat menyebabkan infeksi apabila ada faktor predisposisi
• Peralatan minum terutama yang menggunakan PASI
• Bayi yang mendapatkan terapi antibiotika atau immunosupresi

Faktor predisposisi

• Faktor endogen : perubahan fisiologik, umur, imunologik


• Faktor eksogen : iklim, kebersihan, kontak dengan penderita

Gejala

• Terdapat bercak putih pada lidah, bibirdan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan
sisa susu
• Jika sisa susu mudah diangkat, namun jika moniliasis sulit diangkat dan jika dilepaskan
dari dasarnya akan menyebabkan basah, merah dan berdarah
• Diagnosa dapat diketahui dengan sediaan hapusan yang berwarna biru metilen dan
tampak miselium dan spora yang khas

Pencegahan

• Menghindari/menghilangkan faktor predisposisi


• Setiap bayi selesai minum susu berikan 1-2 sendok teh air matang untuk membilas sisa
susu dalam mulut bayi
• Pemeliharaan kebersihan mulut dan perawatan payudara

Komplikasi

• Kesukaran minum dapat mengakibatkan kekurangan makanan


• Diare bila tidak diobati dapat menjadi penyebab dehidrasi

Penatalaksanaan

• Membersihkan mulut dan lidah yang dibasahi air matang hangat


• Kandidiasis pada bayi sehat biasanya sembuh sendiri, tapi lebih baik diobati
• Beri gentian violet 0,5% dioleskan pada luka didalam mulut /bibir
• Nistatin 100.000 U dioleskan 3x sehari atau dalam bentuk tetes kedalam mulut bayi,
pemberian nistatin tidak boleh lebih dari 7 hari.
• Mengolesi puting susu dengan cream nistatin/gentian violet setiap selesai menyusui
selama bayi diobati

13. IKTERUS FISIOLOGIS

Ikterus fisiologis adalah peningkatan kadar bilirubin dalam darah dalam satu minggu pertama
kehidupannya. Pada hari ke 2-3 dan puncaknya di hari ke 5-7, kemudian akan menurun pada hari
ke 10-14, peningkatannya tidak melebihi 10 mg/ddl pada bayi atterm dan < 12 mg/dl pada bayi
permatur. Keadaan ini masih dalam batas normal.

Manifestasi klinis

Pengamatan ikterus paling baik dilakukan dengan cahaya sinar matahari. Salah satu cara
pemeriksaan derajat kuning pada BBL secara klinis, sederhana dan mudah adalah dengan
penilaian menurut Kramer (1969). Caranya dengan jari telunjuk ditekankan kepada tempat-
tempat yang tulangnya menonjol seperti hidung, dada, lutut dan lain-lain. Tempat yang ditekan
akan tampak pucat atau kuning. Penilaian bilirubin pada masing-masing tempat tersebut
disesuaikan dengan tabel derajat ikterus menurut kramer (1969).

Zona Bagian tubuh yang kuning Rata2 serum bilirubin indirek


(umol/l)
1 Kepala dan leher 100
2 Pusat-leher 150
3 Pusat-paha 200
4 Lengan+tungkai 250
5 Tangan+kaki >250

Tanda dan gejala

Warna ikterus (kuning) pada kulit, konjungtiva dan mukosa


Pencegahan

• Pengawasan ANC yang baik


• Menghindari pemberian obat-obatan pada masa kehamilan seperti sulfanamida dan lain-
lain
• Pemberian ASI sedini mungkin (early feeding)
o Mempercepat metabolisme bilirubin, yaitu dengan menambahkan glukosa yang
terdapat dalam ASI
o Pengeluaran bilirubin

Protein albumin dalam ASI merupakan transportasi bilirubin, albumin mengikat bilirubin agar
mempermudah proses ekstraksi bilirubin jaringan kedalam plasma. Hal ini mengakibatkan
bilirubin plasma meningkat, tetapi tidak berbahaya karena bilirubin ada dalam ikatan albumin.

Penatalaksanaan

• Pemberian ASI yang adekuat

Anjurkan ibu menyusui sesuai dengan keinginan bayinya, paling tidak setiap 2-3 jam

• Jemur bayi dalam keadaan telanjang dengan sinar matahari pukul 7-9 pagi

Pemberian terapi sinar matahari sehingga bilirubin diubah menajdi isomer foto yang tidak toksik
dan mudah dikeluarkan tubuh karena mudah larut dalam air

Tujuan utama penatalaksaan ikterus fisiologis adalah mengendalikan agar kadar bilirubin
tidak meningkat 4-5 mg/dl dalam 24 jam, karen adapat menyebabkan ensefalopati bilirubin yaitu
bilirubin indirek (tak terkonjugasi) akan direabsorpsi kembali melalui sirkulasi enterohepatik ke
aliran darah dan menembus sawar otak yang akan menimbulkan bayi lethargi, kejang, bayi malas
menghisap dan malas minum.

Posted in MTBS

« TEORI YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRAKTIK KEBIDANAN


IDENTIFIKASI KEBUTUHAN PSIKOLOGIS IBU HAMIL -2nd- »