P. 1
Jan2007_3

Jan2007_3

|Views: 410|Likes:
Dipublikasikan oleh bajayau

More info:

Published by: bajayau on Mar 11, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/09/2012

pdf

text

original

Volume 14 No.

1 Januari 2007 155N 0853-4438

Deteksi Sel Transisional Karsinoma Buli-buli dengan Tes NMP-22 dan Sitologi Urine

Ligasi Ureter Unilateral Menyebabkan Apoptosis dan Proliferasi Sel Tubulus dan Fibroblas di Ginjal Kontralateral pada Kelinci

Evaluasi Hasil Pemeriksaan Colok Dubur pada Pasien Pembesaran Prostat untuk Mendeteksi Kanker Prostat

Disfungsi Ereksi pada Pasien BPH yang Menjalani Tindakan Prostatektomi Terbuka dan TUR-P

Perbandingan Sensitifitas dan Spesifisitas Antara Age Adjusted PSA dan PSA Density dalam Mendeteksi Kanker Prostat

Pemberian Irigasi Hangat untuk Mencegah Hipotermia Pasca TUR-P

Perbedaan Ekspresi Cyclooxygenase-2 (COX-2) Antara Low Grade dan High Grade Karsinoma Sel Transisional Papilar Buli-buli

Ikatan Ahli Urologi Indonesia Indonesian Urological Association

JURI

Januari 2007

155N 0853-4438

Vol. 14

No.1

Hal. 1- 28

Terakreditasi (Accredited) No. 55/DIKTI/Kep.l2005

ISSN 0853-4438

JURI

(Jurnal Urologi Indonesia)

Official Journal of the Indonesian Urological Association Issued Twice A Year in January and July

Patron Chairman ofIAUI

Founder

Prof Dr. dr. Sunaryo Hardjowijoto, SpB, SpU-K

Chief Editor

Dr. dr. Sabilal Alif SpU-K

Managing Boards

Dr. dr. Basuki B. Purnomo, SpU

Dr. dr. Soetojo, SpU; dr. Tarmono, SpU

dr. Wahjoe Djatisoesanto, SpU; dr. Sugeng Mulyadi, SpU dr. Samsul Islam, SpU; dr. Budi Suwarno, SpU Prof Dr. dr. Akmal Taher; SpU-K

dr. Rainy Umbas, PhD, SpU-K

Editorial Boards

Prof Dr. dr. Doddy M. Soebadi, SpB, SpU-K

Prof dr. Widjoseno Gardjito, SpB, SpU-K; Prof Dr. dr. Suwandi Sugandi, SpB, SpU-K Prof Han J. A. Mensink, MD, PhD (The Netherland); Dr. dr. Rudi Yuwana, SpB, SpU dr. Chaidir A. Mochtar, Sptl, PhD; dr. Prawito Singodimedjo, SpB, SpU

dr. B. Suhartono, SpB, SpU; dr. A.A. Gde Oka, SpU

dr. Sumiardi Karakata, SpU; dr. Ariza I Agoes, SpU

dr. Agus Mulyono, SpU; dr. Bambang S. Nugroho, SpB, SpU

Administrative Assistants Devita Dyahwati; Ariani Dian Novikasari; Ninis Yoeniati

Published by

The Indonesian Urological Association (IAUI Ikatan Ahli Urologi Indonesia)

Address

Secretariat of the Department of Urology School of Medicine Airlangga University Soetomo General Hospital

Jl. Prof Moestopo No. 6-8 Surabaya 60286

Tel: (062-31) 5501318/501 7404 Tel/Fax: (031) 5024971 E-mail: juri@urologi.or.id

Website: www.urologi.or.id

Bank Account

Bank Jatim, Cabang RSU Dr. Soetomo Surabaya a/n Majalah JURI cq. Dr Tarmono

No. AC: 0322233167

ISSN 0853-4438 Januari 2007, Vol. 14 No.1

CONTENTS

Deteksi Sel Transisional Karsinoma Buli-buli dengan Tes NMP-22 dan Sitologi Urine MOH. IRFAN ARIEF, ADI SANTOSO, WAHJOE DJATIS OE SANTO, INDRAYANA NOTOSOEHARJO, SOEKRY ERFAN KUSUMA,

ENDANG JOEWARINI, WIDODO JP

BagianlSMF Urologi FKUAIRSU Dr. Soetomo Surabaya.

1-4

Ligasi Ureter Unilateral MenyebabkanApoptosis dan Proliferasi Sel Tubulus dan Fibroblas di Ginjal Kontralateral pada Kelinci

PRIJAMBODO TJATUR ADI, DODDY M. SOEBADI, SOETOJO,

I KETUT SUDIANA, TROEF SOEMARNO, WIDODO JP

BagianlSMF Urologi FKUAIRSU Dr. Soetomo Surabaya.

5-9

Evaluasi Hasil Pemeriksaan Colok Dubur pada Pasien Pembesaran Prostat untuk Mendeteksi Kanker Prostat

MULAWAN UMAR,ARIZAL AGOES

BagianlSMF Ilmu Bedah FK UNSRlIRS Dr. Moh. Hoesin Palembang.

10-12

Disfungsi Ereksi pada Pasien BPH yang Menjalani Tindakan Prostatektomi Terbuka dan TUR-P

RENNY ANGGRAENI, FERRY SAFRIADI, SUWANDI SUGANDI, ZULHARDI HAROEN, MUMUH M. EFFENDI, BAMBANG S. NUGROHO, TJAHJODJATI

Sub Bagian Urologi RS. Hasan SadikinlFakultas Kedokteran

Universitas Padjadjaran.

13-15

Perbandingan Sensitifitas dan Spesifisitas antara Age Adjusted PSA dan PSA Density dalam Mendeteksi Kanker Prostat

AARON F. SIHOMBING, SUWANDI SUGANDI, FERRY SAFRIADI Sub Bagian Urologi RS. Hasan SadikinlFakultas Kedokteran

Universitas Padjadjaran.

16-18

Pemberian Irigasi Hangat untuk Mencegah Hipotermia Pasca TUR-P SLAMET MUSTOFA, NANCY M. REHATTA, SABILALALIF, KUSNANTO,HARMAYETT~JONlHARYANTO

Program Studi KeperawatanlFK UNAIRIRSU Dr. Soetomo.

19-23

Perbedaan Ekspresi Cyclooxygenase-2 (COX-2) antara Low Grade dan High Grade Karsinoma

Sel Transisional Papilar Buli-buli

DEDDY RASYIDAN YULIZAR, SUNARYO HARDJOWIJOTO, WAHJOE DJATISOESANTO, TROEF SOEMARNO,

KETUT SUDIANA, WIDODO JP

BagianlSMF Urologi FKUAIRSU Dr. Soetomo Surabaya.

24-28

Keterangan gambar sampul : Haemorrhagic cystitis

DETEKSI SEL TRANSISIONAL KARSINOMA BULl-BULl DENGAN TES NMP-22 DAN SITOLOGI URINE

Moh. Irfan Arief, Adi Santoso, Wahjoe Djatisoesanto, Indrayana Notosoeharjo, Soekry Erfan Kusuma, Endang Joewarini, Widodo JP

ABSTRACT

Objective: The aim of the study is to determine the sensitivity and specificity of this marker tumors, as well as its use as an adjunct to or substitute for urinary cytology. Materials and methods: Twenty-four patients with gross haematuria and history of transitional cell carcinoma provided voided urine samples before cystoscopic examination. Urine samples were assayed for NMP-22 Test and cytology examination. All patients underwent cystoscopy and biopsy. End points for determination of the absence and presence of tumor were a negative or positive biopsy. Results: There were 18 positive cystoscopies (6 also positive with cytology) and 6 negative cystoscopies and 18 negative with cytology. A receiver operating characteristics curve determined that 3,84 unit per ml was the optimal reference value for detection of transitional cell carcinoma in this group. Sensitivity and specificity for an abnormal NMP-22 test was 94,4% and 66,6%, respectively. With cytology the sensitivity was 33,3% and specificity was 84,4%. Conclusion: NMP-22 testing is a significant improvement over urinary cytology for detection of transitional cell carcinoma. The sensitivity of NMP-22 for detection of transitional cell carcinoma in bladder cancer patients was almost three times that of cytology with a reference value of3, 48 units per ml. The NMP-22 analysis was operator independent. While NMP-22 previously had been shown to be a strong predictor of recurrence after tumor resection, it is also an effective and sensitive screening test for detection of tumors in patients with transitional cell carcinoma before.

Keywords: Bladder, transitional cell carcinoma, bladder neoplasm, nuclear matrix, tumor marker.

Correspondence: Moh. IrfanArief, c/o: Bagian/SMF Urologi FKUAIRSU Dr. Soetomo Surabaya n. Prof. Dr. Moestopo 6-8 Surabaya 60286.

PENDAHULUAN

Insiden keganasan buli-buli di Amerika Serikat sebanyak 100.000 orang pertahun, dan terdiagnosis 53.200 kasus baru pertahun. Karsinoma buli-buli pada pria 2,5 kali lebih sering dibandingkan wanita dan menduduki urutan keempat setelah karsinoma prostat, karsinoma paru, dan karsinoma kolorektal atau 6,2% dari seluruh kasus keganasan. Karsinoma buli-buli pada wanita menduduki urutan kedelapan atau 2,5 % dari seluruh kasus keganasan.' Di RSU Dr. Soetomo Surabaya, angka kejadian sebanyak 40 kasus pada tahun 2001 dan 48 kasus pada tahun 2002, kebanyakan terdiagnosis sudah dalam stadium lanjut.

Deteksi dini karsinoma buli-buli sangat penting pada terapi. Karsinoma buli-buli superfisial dapat diterapi dengan angka keberhasilan yang tinggi pada hampir semua kasus tanpa terapi pembedahan yang besar, tetapi saat ini belum didapatkan alat yang akurat untuk mendeteksi secara

dini karsinoma buli-buli. Pada pemeriksaan karsinoma sel transisional (Tee) buli-buli, sitologi urine mempunyai rerata sensitifitas 31,59% dari 54 pasien Tee buli-buli pada tahun 1977.2 Empat kasus di RSU Dr. Soetomo Surabaya pemeriksaan sitologi urine tidak didapatkan sel ganas pada Tee buli-buli stadium lanjut.

Mendeteksi Tee buli-buli dengan urine tes yang mempunyai sensitifitas yang tinggi merupakan keharusan untuk mendapatkan hasil skrining yang efektif pada pasien dengan risiko karsinoma buli - buli.

Sistoskopi merupakan pemeriksaan baku emas untuk mengidentifikasi karsinoma buli-buli, serta sebagai modalitas untuk mendiagnosis dan memonitor karsinoma buli.' Sitologi urine merupakan marker yang klasik digunakan untuk mendeteksi keganasan." Sitologi urine secara mikroskopic dignnakan untuk mengidentifikasi adanya sel ganas dan abnormal yang terdapat pada urine pasien dengan kanker buli-buli. Metode ini mempunyai spesifisitas

JURI, Vol. 14. No. 1. Januari2007: 1-4

tinggi, tetapi mempunyai sensitifitas yang rendah, terlebih pada kasus yang derajat keganasannya rendah.4 Kelemahan sitologi urine hasilnya tidak bisa didapatkan dengan cepat dan adanya ketergantungan interpretasi dari

ik 5 pemer sa.

Untuk itu perlu diupayakan pengembangan tes yang mempunyai sifat mudah dilakukan, interpretasinya obyektif, dan noninvasif, selain itu juga harus mempunyai nilai sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi.

Nuclear matrix protein 22 test (NMP-22) merupakan salah satu marker urine untuk mendeteksi adanya karsinoma buli-buli, Dengan teknik NMP-22 diharapkan dapat membantu menegakkan diagnosis karsinoma bulibuli lebih dini dan pengelolaannya menjadi lebih baik. Pada keadaan normal didapatkan kadar NMP-22 pada kadar rendah (mean 2,9 ng/rnl), sedangkan pasien dengan karsinoma buli-buli didapatkan kadar NMP-22 25 kali lebih tinggi." Soloway menggunakan NMP-22 untuk memprediksi rekurensi tumor setelah reseksi transuretral karsinoma buli-buli.6 Pada penelitian ini, kadar diatas 10 unit/ml menunjukkan tanda positif, dengan angka sensitifitas 69,7% dan spesifisitas 78,5%. Angka sensitifitas meningkat menjadi 100 % untuk mendeteksi tumor buli-buli yang invasif. Landman dkk menunjukkan keakuratan NMP-22 untuk mendeteksi tumor buli-buli, yaitu diperoleh nilai sensitifitas 81 % dan spesifisitas 77%, dengan cut off value 7 unit/mI. Pada percobaan multi center dengan lebih dari 1000 pasien NMP-22 test mendeteksi 100% pada invasif tumor dan lebih kurang 70% pada rekurensi lokaI. 3

Biaya pemeriksaan sitologi unne apabila dibandingkan dengan pemeriksaan NMP-22 lebih murah, yaitu sekitar Rp. 25.000,00, sedangkan NMP-22 berkisar antara Rp. 175.000,00 sampai dengan Rp. 250.000,00.7 Namun dengan keunggulan NMP-22 yang lebih sensitif dan tidak bergantung pada interpretasi pemeriksa, maka NMP-22 tetap layakdipertimbangkan.

Deteksi dini karsinoma buli-buli di Indonesia khususnya di Surabaya masih belum berjalan. Sitologi urine yang telah dikerjakan, belum ada yang peruah meneliti sebagai alat deteksi karsinoma buli-buli, sehingga pada penelitian ini digunakan sebagai pembanding.

TUJUAN PENELITIAN

Mengevaluasi sensitifitas dan spesifisitas tes NMP-22 dalam mendeteksi tumor buli-buli pada spesimen urine sewaktu dari pasien hematuria yang dibandingkan dengan pemeriksaan sitologi urine.

BAHANDANCARA

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental uji diagnostik dengan mempelajari dan membandingkan sensitifitas dan spesifisitas NMP-22 dan sitologi urine dalam mendeteksi adanya karsinoma buli-buli, sedangkan baku emas yang digunakan adalah pemeriksaan histologi Patologi Anatomi (PA) hasil biopsi. Spesimen urine diambil dari 24 pasien yang secara klinis, laboratoris, dan radiologis dicurigai menderita Tee serta memiliki riwayat Tee buli-buli yang telah mendapatkan terapi TURB, selama periode Desember 2003-ApriI2004, yang datang di poliklinik Urologi, poli IIU dan di IRD bedah RSU Dr. Soetomo Surabaya.

Urine yang dipakai sebagai sampel penelitian adalah urine pasien pada saat awal bangun tidur, dengan sepertiga pancaran awal dibuang. Kemudian sisanya ditampung dan diendapkan beberapa menit. Setelah itu, bagian atasnya dibuang perlahan dan disisakan 50-1 OOcc yang terbanyak mengandung endapan, ditambahkan alkohol 50% dengan volume yang sarna. Spesimen urine dimasukkan segera ke dalam stabilisator NMP-22 collection kit dengan temperatur 18-25° e. Spesimen urine dibagi untuk pemeriksaan sitologi urine dan pemeriksaan NMP-22. Pasien juga dilakukan biopsi buli-buli di IIU RSUD Dr. Soetomo.

HASIL PENELITIAN

Dari 24 sampel yang diperiksa sitologi unnenya, 6 sampel diantaranya (25%) menunjukkan positif, sedangkan 18 sisanya (75%) menunjukkan hasil negatif.

Dari 24 orang responden yang menjalani biopsi dan diperiksa secara histopatologis, 18 orang diantaranya (75%) menunjukkan hasil Tee positif sedangkan sisanya sebanyak 6 orang (25%) menunjukkan hasil Tee negatif.

Pengukuran NMP-22 menggunakan teknik immunoassay secara tersamar menunjukkan hasil antara 0-92,27 U/ml denganmedian 5,71 U/mI.

Penentuan cut off point disesuaikan dengan tujuan penelitian yaitu membandingkan sensitifitas dan spesifisitas NMP-22 dengan sitologi urine dalam mendeteksi tumor buli-buli, Untuk keperluan deteksi tumor buli-buli dibutuhkan modalitas diagnostik yang memiliki sensitifitas tinggi sekalipun spesifisitasnya tidak terlalu tinggi. Sensitifitas tertinggi untuk NMP-22 adalah 94,4% sehingga dapat ditentukan cut off point NMP-22

2

adalah 3,845 VlmI. Seluruh hasil pemeriksaan spesimen urine dengan kadar < 3,8455 Vlml dianggap negatif dan apabila kadaruya >= 3,8455 Vlml dianggap positif.

TabelI. Hasil uji Diagnostik NMP-22

BIOPSI

TCC+ TCC-

Jumlah

17 I 18

2 4 6

19 5 24

+

Jumlah

Tabel 2. Hasil uji Diagnostik Sitologi Urine

BIOPSI

TCC+ TCC-
-
o
0 + 6 I
....:I
0 12 5
E--<
- Jumlah 18 6
u: Jumlah

7 17 24

Sesuai dengan jenis uji diagnostik yang digunakan, maka analisis sensitifitas, spesifisitas dan akurasi pemeriksaan NMP-22 dan sitologi urine menggunakan tabel2x2.

Dari kedua uji diagnostik yang telah dilakukan (tabell dan 2), di dapatkan bahwa sensitifitas NMP-22lebih tinggi (94,4%) dibandingkan dengan sitologi urine (33,3%) dalam mendeteksi tumor buli-buli, Dalam hal spesifisitas, sitologi urine lebih tinggi 83,3% dibandingkan NMP-22 yang 66,6%. Nilai prediksi positif (positive predictive value) NMP-22 adalah 89,47% dibanding sitologi urine sebesar 85,7%. Hal ini berarti probabilitas NMP-22 untuk memprediksi tumor buli-buli apabila uji diagnostiknya positif, lebih tinggi dibanding sitologi urine. Nilai prediksi negatif (negative predictive value) NMP-22 adalah 80% dibanding sitologi urine sebesar 29,5%. Ini artinya probabilitas NMP-22 (80%) untuk memprediksi tidak adanya tumor buli-buli apabila uji diagnostiknya negatif, juga lebih tinggi dibanding sitologi urine. Secara keseluruhan, akurasi NMP-22 adalah 87,5% yang berarti probabilitas kebenaran NMP-22 untuk memprediksi ada tidaknya tumor buli-buli adalah 87,5%, sedangkan probabilitas kesalahannya adalah 12,5%. Akurasi NMP-22 tersebut jauh lebih tinggi dibanding sitologi urine yaitu 45,8%.

PEMBAHASAN

Sampai saat ini sistoskopi masih sering digunakan

Arief: Deteksi sel transisional karsinoma buli-buli

untuk keperluan deteksi kanker buli-buli,namun penggunaannya tergolong invasif, mahal, serta kurang menyenangkan bagi pasien. Sitologi urine atau NMP-22 diharapkan dapat menjadi alteruatif pengganti maupun alteruatif pendukung bagi pasien dalam mendeteksi tumor buli-buli, karena yang tidak invasif, lebih murah, cepat, serta obyektif.

Receiver operator curve (ROe) dipakai untuk menunjukkan kemampuan diagnosis NMP-22 dalam mendeteksi karsinoma buli-buli, Kurva ROe dapat memperlihatkan seluruh area sensitifitas dan spesifisitas dalam penentuan cut off point NMP-22. Area dibawah knrva dengan rentang 50% sampai dengan 100% dan test diagnostik dengan nilai 100% menunjukkan indikator yang sangat baik, bila dibawah 50% maka diartikan tidak mempunyai nilai prediksi. 7

Penelitian Stamp fer (1998) menyatakan deteksi keganasan NMP-22lebih besar dari 10 unit/ml, sedangkan pada penelitian ini didapatkan hasil positif bila lebih dari 3,84 unit/ml." Hal ini disebabkan adanya perbedaan dari beberapa sampel yang dilakukan pengambilan spesimen urine setelah dilakukan operasi reseksi trans uretra bulibuli. Konfrrmasi hasil patologi dari dasar kerokan tidak didapatkan adanya keganasan, yaitu pada 10 pasien dengan diagnosis Tee positif. Hal ini dilaknkan karena adanya kesulitan dalam pengambilan spesimen urine pada pasien tersebut sebelum operasi akibat retensi bekuan darah dan pada pasien dilaknkan irigasi dengan cairan normal saline.

Dari beberapa penelitian sensitifitas NMP-22 67% (60% -73%) danspesifisitas 78% (72% - 83%) dengan total pasien 2280, hanya dua peneliti yang menemukan hasil sensitifitas 54% dan 44% tetapi dengan hasil spesifisitas tinggi yaitu 95% dan 94%.1 Hal ini menunjukkan bahwa NMP-22 mempunyai kemampuan cukup baik untuk mendeteksi adanya Tee buli-buli, meskipun belum bisa menjadi referensi standar ideal tumor marker karena diperlukan nilai sensitifitas dan spesifisitas 90%.

Sitologi urine dalam penelitian ini mempunyai sensitifitas 33,3% dan spesifisitas 83,3%. Rendahnya nilai sensitifitas ini kemungkinan karenakesulitan mendapatkan urine tampung pada pasien dengan gross haematuria yang disertai dengan clot retensi, sehingga harus dilakukan irigasi dengan cairan fisiologis. Pada penelitian ini, dari 24 pasien terdapat 18 pasien yang harus dilakukan irigasi bulibuli. Pengambilan sampel dengan clot retensi ini tidak bisa dihindari oleh karena jumlah sampel yang terbatas (24 pasien).

3

JURI, Vol. 14. No. 1. Januari2007: 1-4

Lokeswhar dan Soloway (2001) mengemukakan bahwa sensitifitas sitologi urine berkisar antara 35% - 40% (range 16% - 60%) untuk deteksi karsinoma buli-buli, dan spesifisitas berkisar antara 90% - 95%. Semua penelitian melaporkan sitologi urine mempunyai nilai spesifisitas yang tinggi dan nilai yang rendah untuk sensitifitasnya.

Dari uji diagnostik yang telah dilakukan dengan cut off point NMP-22 sebesar 3,84 Uzml, didapatkan bahwa sensitifitas NMP-22 (94,4%) lebih tinggi dibandingkan dengan sitologi urine (33,3%) dalam mendeteksi tumor buli-buli. Untuk nilai spesifisitas, sitologi urine (83,3%) lebih tinggi dibanding NMP-22 (66,6%). Probabilitas NMP-22 (89,47%) untuk memprediksi tumor buli-buli apabila uji diagnostiknya positif, lebih tinggi dibanding sitologi urine (85,7%). Demikianjuga probabilitas NMP-22 (80%) untuk memprediksi tidak adanya tumor buli-buli apabila uji diagnostiknya negatif, lebih tinggi dibanding sitologi urine (29,5%). Hal ini menunjukkan NMP-22 mempunyai kemampuan yang jauh lebih baik untuk mendeteksi adanya karsinoma buli-buli dibanding sitologi urine, tetapi sitologi urine mempunyai nilai spesifisitas yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa sitologi urine lebih tepat untuk alat diagnostik. Meskipun sitologi urine mempunyai sensitifitas yang lebih rendah, namun sampai saat ini masih digunakan dalam mendeteksi dan memonitor karsinoma buli-buli, dengan diikuti pemeriksaan sistoskopi sebagai baku emas untuk deteksi dan memonitor karsinoma buli-buli.

SIMPULAN

NMP-22 mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan sitologi urine untuk mendeteksi Tee buli-buli.

DAFTAR PUSTAKA

1. Messing EM, Catalona W. Urothelial Tumors of the urinary tract. In: Campbell's Urology 7" ed. Walsh PC, Retik AB, Vaughan ED, WeinAJ 1998;Vo13 Chap 77: 232.

2. Ramakumar S, Bhuiyan J, Besse JA. Comparison of screening methods in the detection of bladder cancer. J Urol; 1999. p. 161-38

3. Konety BR, Getzenberg RH. Urine based marker of urological malignancy. JUrol; 2001. p. 165-600.

4. Glas AS, Ross D, Deutekom M. Tumor markers in the diagnosis of primary bladder cancer. A Systematic Review. J Urol;2003.p.169-1975.

5. Lokeshwar V, Soloway MS. Current bladder tumor test: Does their project utility fulfill clinical necessity? J Urol; 2001. p. 165-1067.

6. Soloway MS, Brigman N, Carpinito GA, Chodak GW. Use of a new tumor marker, urinary NMP 22, in the detection of occult or rapid recurring transitional cell carcinoma of the urinary tract following surgical treatment. JUrol. p. 156-363.

7. Zippe C, Pandrangi L, and Agarwal A. NMP-22 Is a sensitive, cost-effective test in patients at risk for bladder cancer. J Urol; 1999.P.161-2

8. Stampfer DS, Carpinito GA, Rodrignez Villanueva J.

Evaluation of NMP-22 in the detection of transitional cell carcinoma of the bladder. JUrol1998; 159: 394.

4

LIGASI URETER UNILATERAL MENYEBABKAN APOPTOSIS DAN PROLIFERASI SEL TUBULUS DAN FIBROBLAS DI GINJAL KONTRALATERAL PADA KELINCI

Prijambodo Tjatur Adi, Doddy M. Soebadi, Soetojo, I Ketut Sudiana, TroefSoemamo, Widodo JP

ABSTRACT

Objective: To define influence of total unilateral obstruction on apoptosis and proliferation of renal tubular cells and fibroblasts in the contralateral kidney in rabbits. Materials and methods: This study used a post control group design with 40 rabbits randomly divided into 4 groups. In groups I & II, total unilateral ligation of ureters were performed. Nephrectomy of contralateral kidneys was performed after 7 days in group I, and after 14 days in group II. Apoptosis of renal tubular cells was determined by apopTag staining. Proliferation of tubular cells and fibroblasts were examined with HE staining. Groups III & IV served as controls, with nephrectomy performed after 7 & 14 days respectively. Results:

Proportion of tubular cells undergoing apoptosis in contralateral kidneys was significantly different from controls after 14 days (p>0,05), but not significant after 7 days. Proportion of mitosis of tubular cells in contralateral kidneys was not significantly different after 7 & 14 days (p>0, 05). Proliferation of tubular cells & fibroblasts in contralateral kidneys was significantly differentfrom the both control groups (p<0, 05), and also different in the contralateral kidneys of7 days group compared to the 14 days group (p<0, 05). Conclusion: Apoptosis of tubular cells in the contralateral kidneys after 14 days is different than controls. Proliferation of tubular cells &fibroblasts after contralateral obstruction is significantly different in both groups compared to controls. In unilateral obstruction immediate relief of obstruction is suggested because histologic alterations in contralateral kidneys, either proliferation of tubular cells as compensatory renal growth or proliferation of fibroblasts, may allow progression to renalfibrosis.

Keywords: Apoptosis, proliferation, ureteral obstruction

Correspondence: Prijambodo Tjatur Adi, c/o: BagianlSMF Urologi FKUAIRSU Dr. Soetomo Surabaya. n. Prof. Dr. Moestopo 6-8 Surabaya 60286

PENDAHULUAN

Obstmksi urine dapat terjadi pada saluran kemih bagian atas atau bawah, akut atau kronik, komplit atau

inkomplit, serta unilateral atau bilateral.1 Masing-masing penyebab mempunyai gejala khusus meskipun semuanya berakibat sarna terhadap faal dan kemsakan ginjal. Hal ini dapat menyebabkan penumnan fungsi ginjal, baik yang

bersifat reversible maupun irreversible.2 Obstmksi dalam jangka lama menyebabkan kehilangan nefron yang

progresif yang berakibat atrofi dari medula dan korteks. 3

Penumnan glomerular filtration rate (GFR) dan renal blood flow (RBF) pada obstmksi yang akut dalam jangka waktu singkat biasanya bersifat sementara dan reversible. Ginjal tikus dapat mentoleransi obstmksi total 4-7 hari sebelum terjadi kehilangan nefron. Fungsi ginjal akan kembali sepenuhnya bila obstruksi total dihilangkan

sebelum batas waktu tersebut bila tidak ada infeksi atau penyakit ginjal sebelumnya. Obstmksi total pada binatang jika terjadi lebih dari 4-6 minggu dapat berakibat pada penumnan kembalinya fungsi glomemlus. Infeksi dan iskemia mempercepat kemsakan ginjal yang obstmksi dan membatasi kesembuhan ginjal.

Penelitian pada tikus dewasa yang dilakukan obstmksi ureter unilateral didapatkan adanya peningkatan proliferasi sel dan apoptosis pada ginjal." Studi lain menyebutkan bahwa obstmksi ureter dapat menyebabkan renal injury dan apoptosis. Selain itu, obstruksi ureter juga meningkatkan heparin binding epidermal growth factor (HB-EGF) yang disertai terjadinya iskemia." Pada ginjal yang obstruksi terjadi peningkatanjumlah HB-EGF mRNA 4 kali pada 12 jam setelah obstmksi dan akan kembali ke asalnya dalam 24 jam." Dengan demikian obstruksi ureter menginduksi perubahan patologis dan fungsional pada

5

JURI, Vol. 14. No. 1. Januari2007: 5-9

ginjal sehingga deteksi dan penatalaksanaan secara dini penting untuk menjaga fungsi ginjal sebelum terjadi kerusakanjaringan ginjal yang ireversibel.'

Namun, pengaruh obstruksi ureter total unilateral terhadap kejadian apoptosis dan proliferasi sel pada ginjal kontralateral belum banyak diketahui. Oleh karena itu pada penelitian ini akan diketahui pengaruh obstruksi ureter total unilateral terhadap perubahan apoptosis dan proliferasi yang terjadi pada ginjal kontralateral. Penelitian ini dilakukan karena di Indonesia khususnya di Lab. Urologi FK UnairlRSU Dr. Soetomo Surabaya belum ada penelitian yang menunjukkan terjadinya perubahan kejadian apoptosis maupun proliferasi pada sel ginjal kontralateral padaobstruksi ureter total unilateral.

TUJUANPENELITIAN

Membuktikan adanya pengaruh obstruksi ureter total unilateral buatan terhadap kejadian apoptosis dan proliferasi sel tubulus dan fibroblas di interstitial ginjal kontralateral pada oryctalagus cuniculus.

BAHANDANCARA

Jenis penelitian yang dipakai adalah penelitian eksperimental dengan menggunakan binatang coba kelinci (oryctalagus cuniculus) berjenis kelamin jantan sebanyak 40 ekor, yang dibagi dalam 4 kelompok secara random. Setiap kelompok terdiri dari 10 ekor. Kemudian pada kelinci tersebut dilakukan ligasi ureter total unilateral selama 7 hari dan 14 hari, serta dilakukan pemeriksaan apoptosis sel tubulus ginjal, mitosis sel tubulus ginjal dan proliferasi fibroblas di interstitial ginj al kontralateral.

HASIL PENELITIAN

Data apoptosis sel tubulus, mitosis sel tubulus serta proliferasi fibroblas di interstitial ginjal pada kelompok kontralateral dalam penelitian ini berdistribusi normal

(p>0,05). Uji beda yang digunakan untuk analisis perbedaan antar kelompok perlakuan dan antar waktu pengamatan yang berbeda adalah uji t 2 sampel bebas (independent t sample test).

Tabel 1 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata proporsi apoptosis sel tubulus ginjal pada kelompok kontrol antara waktu pengamatan 7 hari dan 14 hari (p=O, 164). Padakelompokkontralateraljuga tidak didapatkan perbedaan nyata proporsi apoptosis sel tubulus ginjal antara waktu pengamatan 7 hari dan 14 hari (p=0,080). Pada waktu pengamatan 7 hari tidak didapatkan perbedaan nyata proporsi apoptosis sel tubulus ginjal antara kelompok kontralateral dan kontrol (p=0,707). Pada pengamatan selama 14 hari, didapatkan perbedaan yang nyata antara proporsi apoptosis sel tubulus ginjal kelompok kontralateral dibanding dengan kontrol (p=0,0l3).

Tabel 2 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata mitosis sel tubulus ginjal pada kelompok kontrol antara waktu pengamatan 7 hari dan 14 hari (p=0,054). Pada kelompok kontralateral didapatkan perbedaan nyata mitosis sel tubulus ginjal antara waktu pengamatan 7 hari dan 14 hari (p=0,010). Pada waktu pengamatan 7 hari didapatkan perbedaan nyata mitosis sel tubulus ginjal antara kelompok kontrol dan kontralateral (p=0,010). Demikian halnya pada waktu pengamatan selama 14 hari (p=0,003).

Tabel 3 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan nyata proliferasi fibroblas di interstitial ginjal pada kelompok kontrol antara waktu pengamatan 7 hari dan 14 hari (p=0,47 5). Pada kelompok kontralateral didapatkan perbedaan nyata proliferasi fibroblas di interstitial ginjal antara waktu pengamatan 7 hari dan 14 hari (p=O,OOl). Pada waktu pengamatan 7 hari didapatkan perbedaan nyata proliferasi fibroblas di interstitial ginjal antara kelompok kontrol dan kontralateral (p=0,029), demikian halnya pada waktu pengamatan selama 14 hari (p=0,029).

Tabell. Perbedaan proporsi apoptosis sel tubulus ginjal kelinci antara kelompok kontrol dan kelompok kontralateral pada pengamatan 7 hari dan 14 hari

Kelompok

Uji t

Pengamatan 7 Hari

Proporsi Apoptosis Sel Tubulus Ginjal

HargaP

Pengamatan 14 Hari

Harga t

Kontrol Kontralateral Uji t

Harga t HargaP

2,06 + -0,67 1,96 + -0,49

-0,381 0,707

1,62 + -0,69 2,4 + -0,57

0,164 0,080

1,452 -1,859

2,774 0,013

6

Adi: Ligasi ureter unilateral

Tabel 2. Perbedaan jumlah mitosis sel tubulus ginjal kelinci antara kelompok kontrol dan kelompok kontralateral pada pengamatan 7 hari dan 14 hari

Kelompok

Mitosis Sel Tubulus Ginjal

Uji t

Pengamatan 7 Hari

Pengamatan 14 Hari

Harga t

HargaP

Kontrol Kontralateral Uji t

Harga t HargaP

0,090 + 0,057 0,160 + 0,052

2,885 0,010

0,140 + 0,052 0,250 + 0,085

0,054 0,010

-2,060

-2,862

3,498 0,003

Tabel 3. Perbedaan proliferasi fibroblas di interstitial ginjal kelinci antara kelompok kontrol dan kelompok kontralateral pada pengamatan 7 hari dan 14 hari

Kelompok

Uji t

Pengamatan 7 Hari

Proliferasi Fibrolas di Interstitial Ginjal

Harga t

Pengamatan 14 Hari

HargaP

Kontrol Kontralateral Uji t

Harga t HargaP

47,58 + -2,40 44,08 + -4,00

-2,381 0,029

48,20 + -1,20 51,70 + -4,52

0,475 0,001

-0,730

-4,003

2,369 0,029

PEMBAHASAN

Penelitian yang dilakukan Ekinci (2003) pada kelinci menunjukkan bahwa obstruksi uretero pelvic junction (UPI) unilateral menyebabkan glomerulosklerosis, dilatasi tubulus proksimal dan distal dari loop Henle, dilatasi tubulus kontortus, serta perubahan nekrosis dan apoptosis pada ginjal ipsilateral. Pada ginjal kontralateral didapatkan odema glomerulus, kongesti pembuluh darah, dilatasi tubulus, serta perubahan nekrosis dan apoptosis pada epitel, yang nampak lebih menonjol pada obstruksi total dibanding parsial." Hal ini mungkin disebabkan binatang coba sudah terjadi dekompensasi fungsi ginjal kontralateral akibat dari obstruksi, sehingga terjadi peningkatan ureum dalam darah yang mengakibatkan efek toksik bagi sel. Kondisi ini menyebabkan terjadi peningkatan kejadian apoptosis pada ginjal kontralateral. Selain itu pada penelitian Ekinci tersebut menggunakan jumlah sampel yang relatif sedikit (5 kelinci) pada setiap kelompok hewan coba, sedangkan pada penelitian ini jumlah sampel lebih banyak (10 kelinci).

Pada ginjal opussum dewasa, apoptosis sel tubulus tertinggi terjadi saat 3 minggu setelah obstruksi dan kemudian menurun dengan segera.

Sementara itu, apoptosis pada sel interstitial bertahap dengan puncaknya saat 10 minggu dan selanjutnya menj adi stabi1.9

Penelitian padakelinci yang dilakukan obstruksi ureter total unilateral didapatkan peningkatan yang bermakna pada apoptosis sel tubulus ginjal pada waktu perlakuan 12 minggu dibanding kelompok kontrol." Penelitian lain pada kelinci dengan obstruksi ureter unilateral total, didapatkan perbedaan bermakna pada hari ke-14 antara kelompok o bstruksi parsial, 0 bstruksi total, maupun kontro 1.11

Pada penelitian ini tidak didapatkan perbedaan yang nyata kejadian apoptosis ginjal kontralateral dibanding kontrol. Hal ini bisa dijelaskan karena pada ginjal kontralateral telah mengalami kompensasi sehingga tidak terjadi perubahan glomerular filtration rate (GFR). Dengan demikian, kadar ureum dalam serum bisa diasumsikan relatif tidak terjadi peningkatan. Kadar angiotensin dalam serum pada penelitian ini, belum cukup kuat untuk bisa menginduksi terjadinya apoptosis meskipun sudah terbukti pada penelitian Wolstenhome pada tahun 1997, yang menunjukkan bahwa angiotensin bisa menginduksi terjadinya apoptosis proliferasi sel

. . 112 gmjai,

7

JURI, Vol. 14. No. 1. Januari2007: 5-9

Regenerasi sel tubulus secara morfologis ditunjukkan melalui peningkatan basofilis, peningkatan mitosis, hipertrofi seluler dan pengecatan PCNA.13,14 Pada penelitian ini penilaian proliferasi dilakukan dengan cara menghitung proporsi mitosis sel epitel tubulus dan proliferasi fibroblas pada jaringan interstitial per lapang pandang 400 kali pada setiap sediaan.

Peningkatan mitosis sel tubulus ginjal kontralateral pada penelitian ini, disebabkan karena pada obstruksi ureter unilateral terjadi pertumbuhan kompensasi (compensatory renal growth) pada ginj al kontralateral. Respon ginjal yang non obstruksi ini sepadan dengan derajat kerusakan pada ginjal yang obstruksi. Proses ini disebut dengan counter balance. Pada obstruksi ureter unilateral, peningkatan jumlah sel terlihat pada kedua ginjal dalam waktu 48 jam. Proses ini serupa dengan apa yang terjadi setelah nefrektomi, tergantung pada usia baik

d bi . 15

pa a matang maupun manusia.

Perbedaan yang nyata pada jumlah fibroblas di interstitial ginjal antara kelompok kontralateral dan kontrol, dapat dijelaskan oleh berbagai penelitian. Menurut penelitian Yoo (1996), obstruksi ureter unilateral kronis mengakibatkan stimulasi sistem renin-angiotensin. 12,14 Setelah onset obstruksi ureter tekanan intrapelvis meningkat dari nilai istirahat (6,5 mmHg) menjadi 50-70 mmHg. Tekanan ini ditransmisikan ke tubulus renalis dengan sarna besar, 1 sampai 3 jam setelah onset obstruksi. Mekanisme pada sisi obstruksi meliputi dilatasi pelvis renalis dan sistem kolekting, vasokonstriksi aferen, refluks pyelotubular dan tubulovenous serta dilatasi saluran limfatik pelvis dengan peningkatan shunting urine ke dalam saluran limfatik perirenal. Hal ini dapat mengakibatkan tekanan sistem kolekting menurun sampai separuh level (30mmHg) setelah 24 jam obstruksi, dengan resolusi gradual lebih dari 4-6 minggu. Sistem reninangiotensin menunjukkan peningkatan aktifitas selama unilateral ureteral obstruction (UUO).16

SIMPULAN

Terjadi pengaruh obstruksi ureter total unilateral buatan terhadap apoptosis dan proliferasi sel tubulus dan fibroblas di interstitial ginjal kontralateral pada kelinci, sehingga dianjurkan untuk dilakukan terapi membebaskan obstruksi sedini mungkin, karena secara histopatologis sudah terjadi perubahan pada pengamatan 7 dan 14 hari, berupa proliferasi sel tubulus sebagai compensated renal growth maupun proliferasi fibroblas pada ginjal kontralateral yang bisa mengarah pada fibrosis ginjal.

DAFTAR PUSTAKA

1. Soebadi DM. Obstruksi saluran kemih atas in: basic science on urology. Pertemuan ilmiah berkala proyek trigonum Plus XIII. FK Unibraw/RSUD dr. Syaiful Anwar, Malang; 2002. p.1-6.

2. Tanagho EA. Urinary obstruction and stasis in: Smith's General Urology, 13th ed. Appleton and Lange, A Publishing Division of Prentice Hall; 1992. p. 165-78.

3. Gillenwater JY. The Pathophysiology of urinary tract obstruction in: Campbell's Urology, 6th ed. Philadelphia, London, Toronto, Montreal, Sydney, Tokyo: WB Saunders Company; 1992; I: 499-532.

4. Chevalier RL, Thornhill BA, Wlostenholme JT. Renal cellular response to ureteral obstruction: Role of maturation and angiotensin II. Am J Physiol Renal Physiol July 1999;277:41-7

5. Badawy A, Nguyen HT, Peters CA, Orsola A, Freeman MR.

Ureteral obstruction transiently upregulates the expression of heparin-binding EGF like growth factor in the mouse kidney: American Urological Association, Inc J Urol April 1999; 161 (4S) Supplement: 82.

6. Anders. A Chemokine receptor CCR-l antagonist reduces renal fibrosis after unilateral ureter ligation. The American Society For Clinical Investigation, Inc. Journal of Clinical Investigation Januari2002; 109 (2): 251-9.

7. Power. Mechanical deformation induced apoptosis in human proximal renal tubular epithelial cells is caspase dependent:

American Urological Association, Inc: J Urol. Januari 2004; 171 (1): 457-61.

8. Ekinci S, Ciftci A.O, Atilla P, Muftuoglu S, Senocak M.E, Buyukpamukcu N. Ureteropelvic junction obstruction causes histologic alterations in contralateral kidney:

Pubmed-MEDLINE: J Pediatr Surg. Nov 2003; 38 (11): 1650-5 [abstr].

9. Liapis. Cell proliferation, apoptosis, BCL-2 and bax expression in obstructed opposum early metanephroi (investigative urology): American Urological Association, Inc. JUrolAug2000; 164(2): 511-7.

10. Erbagci A, Topcu 0, Bakir K, Yagci F, SaricaK. Evacuation of tubular apoptosis in unilateral obstruction in rabbit model:

Kidney cancer. September 2002; 90 (suppl.2): 202.

11. Daryanto B. Pengarnh obstruksi ureter buatan terhadap kejadian apoptosis sel tubulus ginjal pada oryctalagus cuniculus. Penelitian Experimental Laboratoris. Mei 2005. p.39.

12. Wolstenholme JT, Thornhill BA, Chevalier RL. Regulation of renal tubular cell proliferation and apoptosis by angiotensin II (All) in the neonatal rat kidney with unilateral ureteral obstruction (UUO) International Pediatrics Research Foundation, Inc. All Rights Reserved: Pediatric Research. April 1997; 41 (4) Part 2: 286 [abstr].

13. Frazier KS, Paredes A, Dube P, Styer E. Connective tissues growth factor expression in rat renmant kidney model and association with tubular epithelial cells undergoing trans differentiation. Vet Patho13 7; 2000. p. 328-35.

8

14. Yoo KH, Krajewski S, Reed JC, Smith CD, Chevalier RL.

Angiotensin II (Ang II) promotes growth and inhibits apoptosis in the neonatal rat kidney with unilateral ureteral obstruction (UUO). International Pediatrics Research Foundation, Inc: Pediatric Research. April 1996; Pediatric Research Vo139 (4) Supplement 2: 372 [Abstr].

Adi: Ligasi ureter unilateral

15. Nicholas JR. Upper urinary tract obstruction: In the scientific basis of urology, 2nd ed. 2004. p. 129-39.

16. Truong LD, Yeong JC, Tsao CC, Ayala G, Sheikh D, Nassar G, et al. Renal cell apoptosis in chronic obstructive uropathy:

The roles of caspasses. Kidney International, September 2001; 60 (3): 924 [abstr].

9

EVALUASI HASIL PEMERIKSAAN COLOK DUBUR PADA PASIEN PEMBESARAN PROSTAT UNTUK MENDETEKSI KANKER PROSTAT

Mulawan Umar, Arizal Agoes

ABSTRACT

Objective: To evaluate the detection rate of digital rectal examination (DRE) for prostate cancer. Materials & methods:

Two hundred and ninety four patients with prostatic enlargement at the Division of Urology Department of Surgery Moh. Hoesin Hospital Palembang. Secondary data from medical records and histopathologic results were used, during the period of January 1999 December 2002. Results: Sensitivity ofDRE was 66,66%, and specificity was 99,29%. Positive predictive value was 80,00%, and negative predictive value was 98,59%. Prevalence of prostate cancer was 4,08%. Conclusion: Although the specificity was high, the sensitivity ofDRE was not sufficient for prostate cancer detection. With 80% positive predictive value, if malignancy signs were sound on in DRE, almost all cases were positive for cancer of the prostate.

Keywords: DRE, prostate cancer, prostatic enlargement

Correspondence: Mulawan Urnar, c/o: Bagian/SMF Ilmu Bedah FK VNSRIIRS Dr. Moh. Hoesin Palembang. JlJend. SudirmanKm. 3,5 Palembang.

PENDAHULUAN

Insiden kanker prostat berkisar 200.000 kasus baru setiap tahunnya di Amerika Serikat, dengan jumlah kematian 38.000 pasienltahun. Di Amerika kanker prostat merupakan penyebab kematian ke-2 pada pasien kanker secara keseluruhan.1 Insiden tertinggi terdapat pada ras Negroid Amerika sebanyak 149/100.000 orang per tahun, sedangkan pada ras Kaukasoid Amerika sebanyak 107/1 00.000 orang pertahun. Insiden kanker pro stat diAsia lebih rendah, di Jepang sebanyak 39/100.000 orang per

tahun dan di Cina 28/100.000 orang per tahun.' Di Indonesia sendiri belum ada data nasional, tetapi telah dilakukan registrasi oleh 13 laboratorium patologi anatomi se- Indonesia pada tahun 1992 dan teruyata kanker prostat menempati urutan ke-9 dengan 310 kasus baru (4,07%) dari 10 kanker terbanyak di Indonesia. Pada laki -laki di atas usia 65 tahun, kanker prostat menempati urutan ke-2 dengan 202 kasus (12,31 %).3 Berdasarkanhasil autopsi didapatkan insidensi kanker prostat sebanyak 30% pada pasien yang berusia 50 tahun dan 75% di atas usia 75 tahun.

Meningkatnya angka kejadian kanker prostat tiap tahunnya dimungkinkan oleh penggunaan PSA secara luas

sebagai prosedur screening. Di Amerika, screening dapat menurunkan mortalitas sampai dengan 31 %, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa screening dapat mengakibatkan overdiagnosis sehingga terj adi penanganan yang berlebihan. Selain itu, screening juga menyebabkan peningkatan biaya pengobatan, morbiditas akibat terapi, serta ansietas yang dialami oleh pasien maupun keluarganya. Hal inilah yang menyebabkan screening masih menjadi kontroversi diAmerika. 4

Diagnosis kanker pro stat dapat ditegakkan atas kecurigaan pada saat pemeriksaan colok dubur yang abnormal atau peningkatan prostate specific antigen (PSA). Temuan ini kemudian dikonfirmasi dengan biopsi dengan bantuan trans rectal ultrasonography (TRVS). Sebanyak 50% lebih lesi yang dicurigai pada saat colok dubur teruyata terbukti suatu kanker prostat. Nilai prediktif colok dubur untuk mendeteksi adanya kanker prostat adalah 21 53%, dimana besaruya nilai tersebut tergantung pada tingkat kecurigaan pemeriksa dan populasi yang

diteliti.5 Coley bahkan mendapatkan nilai prediktif sebesar 15%,6 sedangkan Catalona mendapatkan nilai prediktif 21%.7

10

Colok dubur dalam memprediksi lesi masih terbatas dalam organ atau sudah menginvasi keluar kapsul mempunyai sensitifitas sebesar 52% dan spesifisitas 81 %. Catalona menyatakan nilai prediktif DRE untuk membedakankeduakeadaan tersebut adalah sebesar 15%.7

TUJUAN PENELITIAN

Mengevaluasi hasil pemeriksaan colok dubur pada pasien pembesaran prostat dalam mendeteksi suatu kanker pro stat.

BAHAN DAN CARA

Penelitian ini adalah penelitian retrospektif analitik dengan mengambil data sekunder dari rekam medis serta data patologi anatomi pada periode Januari 1999- Desember 2002. Di Divisi Urologi Departemen Bedah RSMH Palembang, 294 pasien pembesaran pro stat dirawat untuk menjalani operasi prostatektomi dan spesimen j aringannya diperiksa ke Laboratorium Pato 10 gi.

Yang dimaksud colok dubur yang abnormal pada penelitian ini adalah bila didapatkan suatu iregularitas, konsistensi keras, ada area induratif atau noduler, dan hilangnya sulcus mediana.

Data yang terkumpul kemudian dianalisis dengan mencari nilai sensitifitas, spesifisitas, nilai prediktif positif dan nilai prediktif ne gatif.

HASIL PENELITIAN

Dari data yang diperoleh (tabel 1), didapatkan umur pasien yang termuda adalah 50 tahun dan tertua adalah 87 tahun. Dengan umurrerata67,08 tahun(SD =7,93).

Berdasarkan hasil analisis data, didapatkan sensitifitas colok dubur sebesar 66,66%, spesifisitasnya sebesar 99,29%, nilai prediktif positif sebesar 80,00%, nilai prediktif negatif sebesar 98,59%, dan prevalensinya sebesar 4,08%.

Tabel 1. Distribusi umur pasien dengan pembesaran prostat

Umur (tahun) Jumlah Persentase (%)
50-59 47 16,66
60-69 139 47,27
70-79 93 31,63
80-89 15 4,44
Total 294 100 Umar: Evaluasi hasil pemeriksaan colok dubur

Tabel2. Perbandingan hasil pemeriksaan colok dubur dengan Patologi

PA PA
Ganas Jinak
Colok dubur
ganas 8 2
Colok dubur
jinak 4 280
Jumlah 12 282 Jumlah

10

284

294

PEMBAHASAN

Dari hasil uji diagnostik yang dilakukan, diperoleh nilai sensitifitas colok dubur sebesar 66,66%. Hal ini berarti bahwa 66,66% kanker pro stat dapat dideteksi dengan DRE. Nilai spesifisitas colok dubur tinggi, yaitu 99,29%, artinya kanker prostat dapat disingkirkan pada 99,29% pasien pembesaran prostat yang bukan disebabkan oleh kanker prostat. Dari hasil analisis tersebut didapatkan sensitifitas yang kurang memadai dan spesifisitas yang tinggi, hal ini dimungkinkan karena colok dubur mempunyai nilai diagnosis yang lebih bermakna pada stadium klinis T3 atau lebih, sedangkan pada stadium Tl ataupun T2 kanker prostat sulit untuk dideteksi. Oleh karena itu, untuk mendeteksi kanker prostat pada stadium awal dilakukan pemeriksaan PSA. PSA dapat meningkatkan nilai deteksi kanker prostat dibanding colok dubur, dapat meningkatkan nilai prediktif colok dubur untuk deteksi kanker prostat, serta membantu deteksi kanker yang masih terbatas dalam organ. Namun, penggunaan PSA tanpa colok dubur tidak dianjurkan karena 25% pasien kanker prostat mempunyai PSA 4ng/ml.

Nilai prediktif positif colok dubur sebesar 80,00% berarti probabilitas pasien untuk menderita kanker prostat bila pada colok dubur didapatkan tanda ganas adalah sebesar 80,00%. Nilai prediktif negatif colok dubur sebesar 98,59% yang berarti probabilitas pasien untuk tidak menderita kanker prostat bila pada colok dubur tidak ditemukan tanda ganas adalah 98,59%. Nilai prediktifyang didapatkan pada penelitian ini berbeda dengan beberapa penelitian lain yang menyatakan nilai prediktif sebesar 15- 53%. Hal ini mungkin disebabkan oleh perbedaan populasi yang diteliti, yaitu prevalensi kanker pro stat pada penelitian ini 4,08% dan kemungkinan pasien datang pada stadium lanjut. Selain itu tingkat kecurigaan terhadap adanya kanker prostat juga mempengaruhi hasil analisis.

11

JURI, Vol. 14. No. 1. Januari2007: 10-12

SIMPULAN

Sensitifitas colok dubur tidak memadai untuk mendeteksi kanker prostat tapi spesifisitasnya tinggi, namun bila didapatkan tanda ganas pada colok dubur maka hampir semua kasus memang terbukti kanker prostat karena nilai prediktifuya 80%.

DAFTARPUSTAKA

1. Narayan P. Neoplasms of the Prostate Gland In: Tanagho EA, Aninch JW, editors. Smith's General Urology. 14th ed. Connecticut. Prentice Hall International Inc; 1995. p. 392- 427.

2. Pienta KJ. Etiolofgy, Epidemiology, and Prevention of Carcinoma of the Prostate In: Walsh PC. RetikAB. Vaughn ED. Wein AJ, editors. Campbell's Urology 7th ed. Philadelphia. WB Sannders Co; 1998. p. 2489-96.

3. Sarjadi. Kanker Pada Usia Lanjut Dalam: Boedi-Darmojo R.

Martono HH, editor. BnkuAjar Geriatri Ed I. Jakarta: Balai PenerbitFKUI; 1999. p.426-37.

4. Kirby R. early Prostate Cancer In: Weiss RM. George NJ.

O'Reilly PH, editors. Comprehensive Urology 1 st ed. London:

Mosby; 2001. p. 395-408.

5. Carter HB, Partin AW. Diagnosis and Staging of Prostate Cancer In: Walsh PC. Retik AB. Vaughn ED. Wein AJ, editors. Campbell's Urology 'r ed. Philadelphia: WB SanndersCo; 1998.p.2519-38.

6. Coley CM. Early Detection of Prostate Cancer. Annals of Internal Medicine. 1997; 126: 394-406.

7. Catalona WJ. Comparison of Digital Rectal Examination and Serum Prostate Specific Antigen in the Early Detection of Prostate Cancer: Result of a Multicenter Clinical Trial of 6,630 Men. JUrol1994; 151: 1283-90.

12

DISFUNGSI EREKSI PADA PASIEN BPH YANG MENJALANI TINDAKAN PROSTATEKTOMI TERBUKADAN TUR-P

Renny Anggraeni, Ferry Safriadi, Suwandi Sugandi, Zulhardi Haroen, Mumuh M.Effendi, Bambang S. Nugroho, Tjahjodjati

ABSTRACT

Objective: To evaluate the incidence and correlation of erectile dysfunction (ED) in BPH patients after open prostatectomy and TUR-P Materials & methods: Seventy BPH patients were enrolled in this study, 35 patients underwent open prostatectomy (group 1),35 patients underwent TUR-P (group II). ED was assessed using International Index of Erectile Function-S (IIEF-5) questionnaire administered before and one to two months after the treatment. Other riskfactors for ED were noted and volume of the prostate was also taken into account for statistical calculation. T-test and ANa VA were used for statistical analysis. Results: Mean age in group Iwas 66 (57 - 74) and group II was 69 (55 - 77). In group Lpre operative IIEF-5 score range was 20 -25, post operative was 17-25 and mean prostate volume was 54,4 ml (35 - 72). In group IL pre operative IIEF-5 score range was 20 -24, post operative was 15 - 25 and mean prostate volume was 38,97 ml (22 - 60). ED was seen in two patients in group I (~5, 7%) and six patients in group II (~17,1%). The association of ED in both operative methods were assessed using linear regression. There was a significant difference in relative risk of ED (R=O, 032) in group I (R=0,057) and group II (R= 0,171). Statistical analysis using T-test revealed a significant correlation between the incidence of post operative ED and prostate volume (p< 0,05). The average onset of ED was six weeks after the treatment. Conclusion: Although the risk of ED after operative treatment of BPH was not high, but the incidence of ED in TUR-P patients was obviously higher than in patients underwent open surgery, particularly in patients with small volumes prostate.

Keywords: Erectile dysfunction, open prostatectomy, TUR-P

Correspondence: Renny Anggraeni, c/o: Sub Bagian Urologi RS. Hasan SadikiniFakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. n. Pasteur No. 38 Bandung.

PENDAHULUAN

Sejalan dengan bertambahnya usia harapan hidup, semakin banyak ditemukan penyakit yang berhubungan dengan pertambahan usia, diantaranya adalah pembesaran pro stat jinak, sehingga pasien memerlukan tindakan untuk mengatasinya. Untuk mengatasi tindakan tersebut diperlukan tindakan berupa tindakan non operatif maupun operatif.l" Prostatektomi terbuka dan transurethral resection of the prostate (TUR-P) merupakan tindakan operatif yang dianjurkan untuk pengobatan pembesaran prostat jinak. Salah satu komplikasi pasca operasi yang dapat ditimbulkan setelah pasien mendapat tindakan terse but adalah disfungsi ereksi (D E). 4·7

Disfungsi Ereksi (DE) adalah ketidakmampuan mendapatkan ereksi yang cukup untuk mencapai suatu senggama yang memuaskan. Penyebab disfungsi ereksi dapat berupa organik (vaskulogenik, neurogenik, hormonal, atau kelainan pada korpus kaveruosum).

Psikogenik disebabkan oleh hambatan sentral mekanisme ereksi tanpa terlibatnya faktor fisiko Selain itu, juga dapat disebabkan oleh pasca tindakan bedah, yaitu tindakan operasi padakasus pembesaran pro stat.

TUJUAN PENELITIAN

Mengevaluasi perbedaan terjadinya disfungsi ereksi (DE) pasca prostatektomi terbuka dan TUR-P dalam mengatasi penyakit pembesaran pro stat jinak, dan melihat hubungan disfungsi ereksi yang terjadi setelah pasien menjalani tindakan tersebut.

BAHANDANCARA

Penelitian ini merupakan penelitian prospektif deskriptif. Sebanyak 70 pasien pembesaran prostat jinak (BPH) di Bagian Urologi RS Hasan Sadikin Bandung menjalani dua macam tindakan operatif. Sebanyak 35 pasien mendapat tindakan prostatektomi terbuka dan

13

JURI, Vol. 14. No. 1. Januari2007: 13-15

35 pasien lainnya menjalani tindakan TUR-P. Faktorrisiko disfungsi ereksi dicatat dari data anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Besarnya volume prostat didapatkan dari hasil pemeriksaaan transrectal ultrasonography. Penilaian mengenai fungsi seksual dilakukan dengan penilaian kuesioner lIEF -5.

Untuk melihat secara statistik perbedaan antara insidens disfungsi ereksi yang terjadi pasca tindakan prostatektomi terbuka dan TUR-P serta hubungan volume

prostat dengan disfungsi ereksi, digunakan analisis T-test danANOVA.

HASILPENELITIAN

Dari 70 pasien yang dievaluasi, didapatkan 35 pasien tindakan prostatektomi terbuka dengan usia rerata 66 tahun (57-77 tahun), dan 35 pasien tindakan TUR-P dengan usia rerata 69 tahun (51-77 tahun). Nilai IIEF-5 untuk prostatektomi terbuka dengan rentang 17-25 dan TUR-P 15-25 (Tabel1 dan 2).

Tabell. Usia, volume prostat dan nilai IIEF-5 sebelum dan setelah TUR-P
N Min Max Mean
Umur 35 55,00 77,00 69,00
Vol Prostat 35 22,00 60,00 38,97
lIEF - 5 pre 35 19,00 25,00 24,00
lIEF - 5 post 35 15,00 25,00 23,00
ValidN 35 Tabel2. Usia, volume prostat dan nilai IIEF-5 sebelum dan setelah prostatektomi terbuka

N Min Max Mean
Umur 35 57,00 77,00 66,00
Vol Prostat 35 35,00 72,00 54,40
lIEF - 5 pre 35 20,00 25,00 24,00
lIEF - 5 post 35 17,00 25,00 24,00
ValidN 35 Tabel 3. Korelasi volume prostat dengan disfungsi ereksi pada pasien pasca TUR - P berdasarkan T-test

Tets Value = 0

95% Confidence Interval of the Difference

df

Sig. (2-tailed)

Lower

Upper

Vol Prostat IIEF-5 post

18.851 51.696

34 34

43.1753 23.8745

.000 .000

34.7721 22.0684

Tabel 4. Korelasi volume prostat dengan disfungsi ereksi pada pasien pasca prostatektomi terbuka berdasarkan T-test

Tets Value = 0

95% Confidence Interval of the Difference

df

Sig. (2-tailed)

Lower

Upper

Vol Prostat IIEF-5 post

32.296 76.237

58.9958 24.5630

34 34

.000 .000

54.40000 23.71429

14

Dengan menggunakan analisis statistik deskriptif, didapatkan disfungsi ereksi terj adi 17,1 % pada pasien pasca TUR-P dan 5,7% pasca prostatektomi terbuka.

Dengan menggunakan T-test analisis didapatkan adanya hubungan antara kemungkinan kejadian disfungsi ereksi dengan volume pro stat pada kedua tindakan (p<O,05). DE terjadi pada rerata enam minggu pasca terapi bedah.

PEMBAHASAN

Penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan kejadian disfungsi ereksi pada pasien pembesaran prostat jinak yang dilakukan tindakan TUR-P dan prostatektomi terbuka.

Pasien pasca TUR-P memiliki insiden lebih tinggi menderita disfungsi ereksi daripada pasca prostatektomi terbuka, hal ini disebabkan bahwa dalam penelitian ini pasien yang memiliki faktor risiko menderita disfungsi ereksi sebelumnya tidak dikeluarkan dari subjek penelitian. Tentu saj a ini akan mempengaruhi insidens disfungsi ereksi yang terjadi pasca tindakan. Menurut beberapa penelitian, kejadian disfungsi ereksi pasca tindakan TUR-P (3%) lebih rendah dari pada pasca prostatektomi terbuka (5_7%).1,5,8,9 Tetapi pada penelitian ini disfungsi ereksi yang terjadi lebih tinggi pada TUR-P karena ada beberapa pasien yang dilakukan tindakan TUR-P sudah mempunyai faktor risiko untuk disfungsi ereksi sebelum tindakan. Secara umum disfungsi ereksi yang terjadi pada pasien yang mempunyai faktor risiko lebih berat daripada pasien yang tidak mempunyai faktorrisiko.

Disfungsi ereksi pasca tindakan TUR-P terutama terjadi pada volume prostat yang lebih kecil, hal ini mungkin disebabkan kerusakan kumpulan saraf karena perforasi kapsul pro stat. 6,7,9·11

SIMPULAN

Terdapat perbedaan insidens disfungsi ereksi pada pasien BPH yang dilakukan prostatektomi terbuka dan TUR-P. Pada pasca TUR-P semakin kecil ukuran prostat, risiko untuk terjadi DE semakin meningkat, sehingga dapat disimpulkan bahwa kejadian DE pasca tindakan operatif sangat rendah, jadi tidak selalu tindakan operatif terse but dapat menimbulkan komplikasi DE.

Anggraeni: Disfungsi ereksi pada pasien BPR

DAFTAR PUSTAKA

1. Han Misop, Alfert HJ, Partin AW. Retropubic and suprapubic open prostatectomy. Campbell's Urology 8th Ed. 2002; 41: 1432-3.

2. Hegarty IN, Fitzpotrick JM. Non surgical management of Benign Prostate hyperplasia. Comprehensive Urology 200 1; 31: 466.

3. Florator DL, Kremeney LA, Rossi C. Long term follow up of randomized transurethral microwave thermotherapy versus transurethral prostatic resection study. J Urol 2001; 165: 1533-8.

4. Thorpe AC, Cleary R, Coles J. Written consent about sexual function in men undergoing transurethral prostatectomy. Br J Urol1994; 74: 479-84.

5. Martin J O'Sullivan, Corllete Murphy, Conor Deasy. Effect of Transurethral Resection of Prostate on the quality oflife of patients with benign prostatic hyperplasia. Surgical forum 2004; 198: 394-403.

6. Braun MH, Sommer F, Haupt G. Lower urinary tract symptoms and erectile dysfunction: co-morbidity or typical 'aging male' symptoms Result of the 'Cologne male survey'. Eur Uro12003; 44: 588-94.

7. AG Papatsoris, A Gekas. Which is the association between erectile dysfunction and lower urinary tract symptoms? In Letter to Editor. 2004. p. 402-403.

8. Kunelius P, Hakkinen J, Lukkarinen U. Sexual functions in patients with benign prostatic hyperplasia before and after transurethral resection of the prostate. Urol Res 1998; 26: 7-9.

9. Arai Y, Aoki Y, Okubo K. Impact of in terventiona 1 therapy for benign prostatic hyperplasia on quality oflife and sexual function: Aprospective study. J. Uro12000; 164: 1206-11.

10. Baniel J, Israiloe, Shmueli J, Segenrelch E. Sexual function in 131 patients with benign prostatic hyperplasia before prostatectomy. Eur Uro12000; 38: 53-8.

11. Leliefeld H.H.J, Stoevelaar H.J, Mc Donnell. J. Sexual function before and after various treatments for symptomatic benign prostatic hyperplasia. Br J. Uro12002; 89: 208-13.

15

PERBANDINGAN SENSITIFITAS DAN SPESIFISITAS ANTARA AGE ADJUSTED PSA DAN PSA DENSITY DALAM MENDETEKSI KANKER PRO STAT

Aaron F. Sihombing, Suwandi Sugandi, Ferry Safriadi

ABSTRACT

Objective: To compare the sensitivity and specificity between age adjusted PSA and PSA density in detecting prostate cancer. Materials & methods: All patients with PSA serum = 10 with normal finding in digital rectal examination and had pathology examination from biopsy and operation were included in this study. Sensitivity and specificity of the two methods were calculated and compared. Results: The sensitivity was 57% and 62% for PSA density and age adjusted PSA respectively. Specificity of age adjusted PSA was 40% while the PSA density was 61%. The false positive rate of age adjustedPSA was 60% and the PSA density was 38%. Thefalse negative rate was 37%forage adjustedPSA and 42%for PSA density. Conclusion: PSA density is more specific in detecting prostate cancer and the sensitivity is only slightly lower compared to age adjusted PSA. Thus, to minimize biopsy without compromising prostate cancer diagnosis PSA density is the test of choice in Indonesia

Keywords: Age adjusted P SA, PSA density, prostate cancer detection, biopsy

Correspondence: Aaron F. Sihombing, c/o: Sub Bagian Urology RS. Hasan SadikiniFakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran. n. Pasteur No. 38 Bandung.

PENDAHULUAN

Kejadian kanker prostat meningkat di banyak negara, sebagian besar terj adi karena adanya kenaikan deteksi hasil dari ad hoc screening. Di Indonesia, adanya peningkatan status sosioekonomi, angka harapan hidup, dan penggunaan tes prostate specific antigen (PSA) pada pria yang menderita gejala lower urinary tract, menyebabkan terjadinya peningkatan deteksi kanker prostat. Meningkatnya pemberitaan mengenai kanker prostat di media massa, menumbuhkan kewaspadaan masyarakat. Perhatian antara masyarakat umum dan profesi medis tentang hilangnya kesempatan mendeteksi kanker prostat, secara potensial juga berperan penting dalam meningkatkan kejadian kanker prostat di Indonesia.

Meskipun ada peningkatan yang jelas pada kejadian kanker prostat dalam beberapa tahun terakhir di Indonesia. Tes lebih lanjut untuk menentukan diagnosis kanker prostat masih mahal untuk sebagian besar masyarakat Indonesia. Oleh sebab itu, timbul

kebutuhan untuk mendapatkan tes yang sensitif dan spesifik,guna meminimalkan biopsi tanpa mempertimbangkan diagnosis kanker pro stat.

PSA pertama kali ditemukan dari ekstrak jaringan prostat pada tahun 1970.1 Selama dekade setelah itu, investigator dari Roswell Park Memorial Institute secara independen mengembangkan dan menguji immunoassay specific untuk PSA. Studi mereka yang pertama adalah mendemonstrasikan kegunaan potensial PSA untuk deteksi dan staging kanker pro stat. 2,3

Beberapa metode telah digunakan untuk meningkatkan sensitifitas dan spesifisitas tes PSA dalam mendeteksi kanker prostat. Di Bagian Urologi RS Hasan Sadikin, PSA density dengan rasio = 0,15 digunakan untuk meniadakan biopsi. Studi yang dilakukan Catalona menunjukkan bahwa penggunaanPSA density denganrasio 0,15 pada pria dengan PSA antara 4 - 10 dan colok dubur yang normal, 50% kanker pro stat dapat tidak diketahui. 4

Metode lain untuk meningkatkan sensitifitas dan spesifisitas adalah age adjusted PSA. Metode ini

16

Sihombing: Perbandingan sensitifitas dan spesifisitas antara age adjusted PSA dan PSA density

meningkatkan nilai prediksi positif dalam mendeteksi kanker prostat dibandingkan dengan hanya menggunakan serum PSA sebagai nilai ambang. S

TUJUAN PENELITIAN

Membandingkan sensitifitas dan spesifisitas antara age adjusted PSA dan PSA density dalam mendeteksi kanker pro stat.

BAHANDANCARA

Pada penelitian ini, data yang digunakan adalah data pasien karsinoma prostat antara Januari 2001 - Desember 2005 di RS Hasan Sadikin Bandung. Pasien dengan colok dubur yang normal dan serum PSA = 10 dilibatkan dalam studi ini. Semua pasien telah menjalani pemeriksaan patologi melalui operasi atau biopsi. Sensitifitas dan spesifisitas age adjusted PSA dan PSA density, di jumlah dan dibandingkan. Tingkat positif kesalahan dan tingkat negatifkesalahan dievaluasi.

HASIL PENELITIAN

Dari tahun 2001 sampai 2005, terdapat 632 pasien dari Bagian Urologi RS Hasan Sadikin, yang telah menjalani pemeriksaan patologi melalui biopsi atau operasi, dengan serum PSA = 10 dan temuan normal dalam colok dubur. Sensitifitasnya adalah sebesar 57% untuk PSA density dan 62% untuk age adjusted PSA. Spesifisitas age adjusted PSA adalah sebesar 40%, sementara PSA density adalah 61 %. Tingkat kesalahan positif dari age adjusted PSA adalah 60% dan PSA density adalah sebesar 38%. Tingkat negatifkesalahan untuk age adjusted PSA adalah 37% dan sebesar 42% untukPSA density.

PEMBAHASAN

PSA sebagai marker serum untuk pembesaran prostat, baik yang jinak maupun yang ganas, sangat membedakan perubahan deteksi, manajemen, dan follow up kanker prostat. Meskipun penggunaan nilai PSA telah meningkatkan kemampuan untuk mendeteksi kanker pro stat, tetapi masih terbatas karena spesifisitasnya kurang." Adanya penyakit prostat (kanker pro stat, BPH, dan prostatitis) adalah faktor terpenting yang mempengaruhi level serum PSA. Ketinggian nilai PSA dapat mengindikasikan adanya penyakit pro stat, tetapi tidak semua orang dengan penyakit prostat dapat meninggikan level PSA. Lebih lanjut, ketinggian PSA tidak spesifik untuk kanker.

Pilihan tentang nilai ambang PSA atau cut off point yang akan membutuhkan evaluasi lebih lanjut (biopsi), masih kontroversial.' Secara tradisional, nilai PSA yang lebih besar dari 4,0 ng/ml dianggap tidak normal." Nilai ambang ini telah digantikan oleh studi yang terbaru yang mengatakan bahwa nilai PSA yang lebih besar dari 2,5 ng/ml seharusnya dianggap tidak normal. 9 Kesulitan menentukan dalam memastikan level PSA yang tidak normal, secara umum hanya untuk orang dengan nilai PSA normal yang menj alani biopsi.

Benson memperkenalkan istilah PSA density untuk mengoreksi PSA untuk volume pro stat, karena kanker prostat melepaskan PSA lebih per volume unit kedalam sirkulasi daripada benign prostatic hyperplasia (BPH).10 Tidak bermanfaatnya PSA density dalam deteksi kanker prostat belum dapat dipastikan di semua studio Catalona dan rekannya menemukan bahwa separuh kanker dideteksi pada pria dengan level PSA antara 4-1 0 ng/ml, normal DRE dan TRUS dapat ditinggalkan dengan menggunakan PSA density sebesar 0,15 sebagai nilai ambang untuk biopsi." Brewer dan rekannya menemukan bahwa PSA density tidak mempertinggi kemampuan level PSA sendiri, dan digunakan untuk memprediksi adanya kanker pada pria dengan nilai PSA 4-1 0 ng/ml dan DRE normal." Penemuan PSA density yang lebih tinggi antara grup pria dengan biopsi positif dibandingkan dengan pria dengan biopsi negatif, mungkin karena kanker prostat lebih mudah ditemukan ketika sejumlah konstan biopsi diperoleh dari pria dengan volume prostat lebih kecil dibandingkan dengan pria dengan volume pro stat yang lebih besar,"

Zona transisi PSA density atau zona transisi adjusted PSA digunakan untuk mencoba meningkatkan spesifisitas deteksi kanker prostat, yaitu dengan menghitung jumlah PSAyang diproduksi oleh zona transisi. Dilaporkan bahwa jumlah nilai ambang untuk zona transisi PSA density sebesar 0,35 ng/ml, menyediakan nilai prediksi positif tertinggi untuk deteksi kanker prostat dengan total PSA (tPSA) sebesar < 10 ng/ml." Di Bagian Urologi RS Hasan Sadikin, PSA density sebesar 0,15 digunakan sebagai nilai ambang untuk biopsi.

Usia yang berhubungan dengan tingkatPSA-reference dikatakan dapat meningkatkan sensitifitas deteksi kanker prostat pada pria muda dan spesifisitas pada pria usia lanjut." Maksudnya adalah penggunaan level single cut off untuk semua usia tidaklah tepat. PSA meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, sudah diketahui dengan baik.14

17

JURI, Vol. 14. No. 1. Januari2007: 16-18

Baik Oesterling dan rekannya, maupun Dalkin menyarankan cut off yang berbeda untuk grup yang berbeda.":" Oleh karena itu, menurut Oesterling seorang pria lebih muda dari 50 tahun seharusnya memiliki PSA dibawah 2,5 ng/ml. Dengan demikian pria usia 70-an yang memiliki PSA antara 0 - 6,5 dapat dianggap normal. Untuk sementara ini, observasi pada pria yang rupanya bebas dari penyakit pro stat dalam penyaringan dan deteksi lebih awal, tidaklah jelas. Brewer menunjukkan bahwa sejumlah pria yang melebihi nilai ambang dalam screening pria yang lebih tua dari 50 tahun dan juga nilai prediksi positif, ditinggikan dengan age adjusted PSA.16

Studi sekarang ini menunjukkan bahwa sensitifitas age adjusted PSA sedikit lebih tinggi dari PSA density, meskipun tingkat positif kesalahan tinggi. PSA density lebih spesifik dan tingkat positifkesalahan lebihrendah.

SIMPULAN

Studi ini menunjukkan bahwa age adjusted PSA lebih sensitif dari PSA density dalam mendeteksi kanker prostat, meskipun tingkat positifkesalahan age adjusted PSA lebih tinggi dibandingkan dengan PSA density. Hal ini akan menyebabkan lebih digunakannya biopsi dan menambah beban finansial untuk mendiagnosakanker pro stat.

PSA density lebih spesifik dalam mendeteksi kanker pro stat dan sensitifitas hanya sedikit berbeda dibandingkan age adjusted PSA. PSA density adalah salah satu pilihan tes, untuk meminimalkan biopsi tanpa mempertimbangkan diagnosa kanker pro stat.

DAFTARISI

1. Wang MC, Valenzula LA, Murphy GP, Chu TM. Purification of human prostate specific antigen. Invest Urol 1979; 17: 159-63

2. Kuriyama M, Wang MC, Papsidero LD. Quntitation of prostate specific antigen in serum by a sensitive enzyme

immunoassay. Cancer Res 1980; 40: 4658-62

3. Stamey TA, Yang N, Hay AR. Prostate specific antigen as a serum marker for adenocarcinoma of the prostate. N Engl J Afed1987;317:909-16

4. Catalona WJ, Richie JP, Ahman FR. Comparison of Digital Rectal examination and serum prostate specific antigen in the early detection of prostate cancer: Results of a multicenter clinical trial of 6630 men. J uro11994; 151: 1283

5. Brewer MK. Prostate-specific antigen: Current status. Ca Cancer JClin 1999; 49: 264-81

6. Polascik TJ, Oesterling JE, Partin AW. Prostate specific antigen. A decade of discovery-what we have learned and where we are going. JUrol 1999; 162: 293-306

Carter HB. A PSA threshold of 4.0 ng/ml for early detection of prostate cancer: The only rational approach for men 50 year old and older. Urology 2000; 55: 796

8. Freedland SJ, Partin AW. Prostate specific antigen: Update 2006. Urology 2006; 67: 458-60

9. Punglia RS, D'Amico AV, Catalona WJ. Effect of verification bias on screening for prostate cancer by measurement of prostate-specific antigen. N Engl J uea 2004; 350: 2239-46

10. Benson MC, Whang IS, PantuckA. Prostate-specific antigen density. A means of distinguishing benign prostatic hypertrophy and prostate cancer. J UroI1992; 147: 815-6

11. Uzzo RG, Wei JT, Waldbaum RS. The influence of prostate size on cancer detection. Urology 1995; 46: 831

12. ZlotaAR, Djavan B, Marberger M, Schulman CC. Prostatespecific antigen density of the transition zone: a new effective parameter for prostate cancer prediction. J Urol 1997; 157: 1315-21

13. Oesterling JE, Jacobsen SJ, Chute CG. Serum prostate specific antigen in community-based population of healthy men. Establishment of age specific ranges. JAAfA 1993; 270: 860-4

7.

14. Babaian RJ, Camps JL. The role of prostate specific antigen as part of the diagnosis triad and as a guide when to perform biopsy. Cancer 1991; 68: 2060-3

15. Dalkin BL, Ahman FR, Kopp JB. Prostate specific antigen levels in men older than 50 years without clinical evidence of prostatic carcinoma. JUrol 1993; 150: 1837-9

16. Brewer MK, Kirby RS. In Fast Facts: PSA. London: Health Press; 1998

18

PEMBERIAN IRIGASI HANGAT UNTUK MENCEGAH HIPOTERMIA PASCA TUR-P

Slamet Mustofa, Nancy M. Rehatta, Sabilal Alif, Kusnanto, Harmayetty, Joni Haryanto

ABSTRACT

Objective: To study the effects of intraoperative warm irrigation to prevent hypothermia post transurethral resection of the prostate (TURP). Materials and Methods: This study used a quasi-experimental, one group pre- and post-test nonrandomized design. Independent variable was warm (3IC) saline irrigation and the dependent variable was hypothermia measured by body temperature, blood pressure, pulse rate and respiration rate. The study group consisted of20 patients at Dr. Soetomo Hospital, Surabaya. Data was analyzed using paired t-test, with significance level set at p<O.OS. Results:

Mean temperature in the treatment group was 36,42DC before operation and 36,S4DC after operation (p=0.000). Temperature in the control group was 36,S4 DC preoperatively and 34,OS DC postoperatively (p=0.000). Mean blood pressure in the treatment group was 12S/67 mmHg before operation and 121/67 mmHg after operation (p=0.004). Mean blood pressure in control group was 124/66 preoperatively and 106/61 postoperatively (p=0.000). Mean pulse in the treatment group was 8S,00 beats per minute (bpm) before operation and 83,90 bpm after operation (p=0.18S). In the control group mean pulse was 86,60 bpm and 81,00 bpm (p=0.010). Mean respiratory rate in the treatment group was 17,9 before operation and 16,7 after operation (p=0.024). Mean respiratory rate in the control group was 17,3 preoperatively and lS,3 postoperatively. Conclusion: Warm irrigation can prevent hypothermia in patients undergoing TUR-P

Keywords: Hypothermia, warm irrigation, transurethral resection of the prostate (TUR-P)

Correspondence: Slamet Mustofa, c/o: Program Studi KeperawatanlFK UNAIRJRSU Dr. Soetomo. n. Prof. Dr. Moestopo No. 6-8 Surabaya

PENDAHULUAN

Operasi trans urethral resection of the prostate (TUR-P) merupakan pembedahan endourologi yang dilakukan dengan memakai tenaga elektrik. Reseksi kelenjar prostat dilakukan dengan mempergunakan cairan irigan (pembilas) agar daerah yang akan direseksi terlihat terang dan tidak tertutupi oleh bekuan darah. Irigan yang digunakan adalah cairan non ionik, yaitu aquades steril dengan tujuan supaya tidak terjadi hantaran listrik.1 Salah satu komplikasi dari tindakan TUR-P adalah hipotermia yang disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain obat anestesi, cairan infus yang dingin, suhu kamar operasi yang dingin, usia lanjut dan aktifitas otot yang menurun." Selain faktor tersebut, irigasi yang dingin pada operasi TUR-P merupakan salah satu penyebab terjadinya hipotermia. 3

Di RSU Dr. Soetomo Surabaya operasi TUR-P yang dikerjakan selama ini menggunakan cairan irigasi non ionik (aquades steril) tanpa dihangatkan terlebih dahulu, sehingga pasien sering mengalami hipotermia. Menurut

Morgan (1996), penggunaan cairan irigasi pada operasi TUR-P harus dihangatkan sesuai dengan suhu tubuh normal untuk mengurangi terjadinya hipotermia.' Dari catatan di bagian Urologi RSU Dr. Soetomo Surabaya pada tahun 2004, sebanyak 288 pasien yang menjalani operasi TURP. Dari 12 pasien yang diambil sebagai data awal pada bulan November 2005, didapatkan setiap satu pasien menggunakan cairan irigasi sebanyak 22 liter dengan kecepatan rerata tetesan 300 cc/menit dan lama operasi rerata 75 menit. Setelah selesai operasi, dilakukan observasi dan didapatkan penurunan suhu 1-2 derajat, tekanan darah sistole 25 mmHg, nadi 8/menit. Menurut Lumintang (2000), dari 25 pasien yang mengalami irigasi sebanyak 23 orang (93%) mengalami hipotermia."

Hipotermia menyebabkan perubahan fisiologis pada semua organ dengan depresi progresif proses metabolisme dan konduksi saraf yang dapat menyebabkan kematian." Hipotermia berkaitan dengan penurunan pembentukan panas, penurunan transportasi oksigen ke jaringan, perubahan termoregulasi, juga dapat berhubungan dengan

19

JURI, Vol. 14. No. 1. Januari2007: 19-23

penggunaan obat-obatan (termasuk barbiturat, narkotik, relaksan otot dan sedatif, irigasi). Transfusi darah dalam jumlah banyak merupakan instrumen penurun suhu inti tubuh. Kehilangan panas tubuh berkisar 85% terjadi melalui konversi, radiasi, atau evaporasi." Angka kematian akibat hipotermia sebesar 17/100 orang, dan angka kematian akibat TUR-P sebesar 1,5%. Kelainan prostat dialami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan 80% pria berusia 80 tahun.

Penggunaan cairan irigasi pada operasi TUR-P ke dalam buli-buli dapat mengakibatkan terjadinya konduksi pada jaringan sekitar dan pembuluh darah yang akhirnya beredar ke seluruh tubuh. Apabila suhu cairan itu dingin, maka tubuhpun akan mengalami hal yang sama, yaitu suhu tubuh menjadi dingin. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Gabriel (1996), bahwa konduksi akan terjadi pemaparan panas dari suatu obyek yang suhunya lebih tinggi ke obyek lain denganjalan kontak langsung." Selain itu, Johnson (1990) mengatakan bahwa kecepatan pemaparan panas secara konduksi, tergantung pada besar perbedaan temperatur dan konduktifitas termal dari bahan, atau bila ada perbedaan gradien antara benda yang lebih tinggi suhunya terhadap benda yang rendah suhunya.i Dampak hipotermia pada TUR-P bisa terjadi pada seluruh sistem organ, antara lain sistem pernafasan, sistem kardiovaskuler, sistem saraf, sistem urologi, dan sistem penceruaan.

TUJUANPENELITIAN

Membuktikan pengaruh pemberian irigasi hang at durante operasi terhadap pencegahan hipotermia pasca bedah trans urethral resection of the prostate (TUR-P) yang dilakukan di Gedung Bedah Pus at Terpadu (GBPT) lantai 4 RSU Dr. Soetomo Surabaya.

BAHANDANCARA

Penelitian ini menggunakan metode quasy experimental. Dua puluh pasien operasi yang dilakukan tindakan TUR-P di Gedung Bedah Pusat Terpadu (GBPT) lantai 4 RSU Dr. Soetomo Surabaya dibagi menjadi 2 kelornpok, yaitu kelompok A yang akan diberikan perlakuan irigasi yang telah dihangatkan dengan suhu 37°C dan kelompok B tanpa perlakuan (cairan irigasi yang tidak dihangatkan atau mengikuti suhu ruang operasi, 19-24° C). Perlakuan ini diberikan dan diobservasi pada awal dan akhir tindakan anestesi. Data yang diperoleh diuji dengan uji statistikpaired t-test, p<0,05

HASIL PENELITIAN

Dengan menggunakan paired t-test, nilai t-hitung

tekanan darah pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah perlakuan menunjukkan nilai sebesar 3,857 yang lebih besar dari nilai t-kritis (dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2,2622 dengan nilai hitung p<0,05. Hal ini menggambarkan bahwa tekanan darah pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah berbeda secara signifikan, sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan hasil thitung sebesar 7,000 yang lebih besar dari nilai t-kritis (dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2,2622 dengan nilai hitung p<0,05. Hal ini menggambarkan bahwa tekanan darah padakelompokkontrol sebelum dan sesudah berbeda secara signifikan.

Nilai t-hitung nadi per menit pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah perlakuan menunjukkan nilai sebesar 1.435 yang lebih kecil dari nilai t-kritis (dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2,2622 dengan nilai hitung (p) sebesar 0, 185>0,05. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah nadi per menit pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah tidak berbeda jauh, sedangkan kelompok kontrol didapatkan hasil t-hitung sebesar 3.321 yang lebih besar dari nilai t-kritis (dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2,2622 dengan nilai hitung (p) sebesar 0,010<0,05. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah nadi per menit pada kelompok kontrol, sebelum dan sesudah berbeda secara signifikan.

Nilai t-hitung untuk suhu tubuh pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah perlakuan menunjukkan nilai sebesar 5,427 yang lebih besar dari nilai t-kritis (dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2,2622 dengan nilai hitung p<0,05. Hal ini menggambarkan bahwa suhu tubuh pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah berbeda secara signifikan. Pada kelompok kontrol didapatkan hasil t-hitung sebesar 12.039 yang lebih besar dari nilai tkritis( dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2,2622 dengan nilai hitung p<0,05. Hal ini menggambarkan bahwa suhu tubuh pada kelompok kontrol, sebelum dan sesudah berbeda secara signifikan.

Nilai t-hitung jumlah peruafasan per menit pada kelompok perlakuan, sebelum dan sesudah perlakuan menunjukkan nilai sebesar 2,714 yang lebih besar dari nilai t-kritis (dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2,2622 dengan nilai hitung (p) sebesar 0,024<0,05. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah pemafasan per menit pada kelompok perlakuan sebelum dan sesudah berbeda secara signifikan, sedangkan pada kelompok kontrol didapatkan hasil t-hitung sebesar 4.243 yang lebih besar dari nilai t-kritis (dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2.2622 dengan nilai hitung (p) sebesar 0,002<0,05.

20

Tekanan darah
Sebelum Sesudah p A
--- --- (Perlakuan)
eX) eX)
125/67 121/67 3.857 0.004 B
(Kontrol) Hal ini menggambarkan bahwa jumlah pemafasan per menit pada kelompok kontrol sebelum dan sesudah berbeda secara signifikan,

Nilai t-hitung saturasi oksigen pada kelompok perlakuan, sebelum, dan sesudah perlakuan menunjukkan nilai sebesar 2,250 yang lebih kecil dari nilai t-kritis (dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2,2622 dengan nilai hitung (p) sebesar 0,051<0,05. Hal ini menggambarkan bahwa saturasi oksigen pada kelompok perlakuan, sebelum dan sesudah tidak berbeda jauh. Pada kelompok kontrol didapatkan hasil t-hitung sebesar -2,753 yang lebih besar dari nilai t-kritis (dengan df=9 dan p=0,05) yang sebesar 2.2622 dengan nilai hitung (p) sebesar 0,022<0,05. Hal ini menggambarkan bahwa jumlah saturasi oksigen pada kelompok kontrol, sebelum dan sesudah berbeda secara signifikan,

Tabell. Tekanan darah sebelum dan sesudah tindakan TUR-P

Kelompok

N

A (Perlakuan)

10

B (Kontrol)

124/66

106/61 7.000 0.000

10

Tabel 2. Jumlah nadi per menit sebelum dan sesudah tindakan TUR-P

Nadi per menit

Kelompok

N Sebelum Sesudah p

eX) eX)

A (Perlakuan)

10 85.00 83.90 1.435 0.185

B (Kontrol)

10

86.60

81.00

3.321 0.010

Tabel 3. Jumlah suhu sebelum dan sesudah tindakan TUR-P

Suhu

Kelompok

N Sebelum Sesudah

p

eX) eX)

A (Perlakuan)

10

36.42

35.82

5.427 0.000

B (Kontrol)

10

36.54

34.05

12.039 0.000

Mustofa: Pemberian irigasi hangat

Tabel 4. Jumlah pernafasan per menit sebelum dan sesudah tindakan TUR - P

L Pernafasan / menit

Kelompok

N Sebelum Sesudah

p

eX) eX)

A (Perlakuan)

10

17.9

16.7

2.714 0.024

B (Kontrol)

10

17.3

15.3

4.243 0.002

Tabel 5. Jumlah saturasi oksigen sebelum dan sesudah tindakan TUR-P

L Saturasi oksigen

Kelompok

N Sebelum Sesudah

p

eX) eX)

10

99.2

100

2.250 0.051

10

99.8

99.2

-2.753 0.022

PEMBAHASAN

Pada penelitian ini terdapat pengamh pemberian cairan irigasi dengan suhu 37°C terhadap peningkatan tekanan darah yang diukur setelah pembedahan, karena pada kelompok perlakuan terjadi sistem konduksi panas yang berasal dari cairan irigasi terhadap dinding pembuluh darah dan jaringan sekitar. Orkin (1994) menyatakan bahwa pada awal pembedahan terjadi vasokontriksi pembuluh darah yang menyebabkan volume darah bergeser ke pembuluh darah, temtama di hati dan pam, sehingga terjadi proses cold diuresis (cairan bergeser dari ekstravaskuler ke intravaskuler)." Selain itu, terjadi peningkatan hematokrit, sehingga viskositas darah juga meningkat dan selanjutnya menyebabkan tahanan perifer naik. Suhu darah yang ada di dalam intravaskuler akan merangsang reseptor pada dinding pembuluh darah untuk menyampaikan respon ke susunan saraf pusat. Dari susunan saraf pusat, melalui saraf otonom dilakukan kompensasi terhadap suhu yang bempa vasokontriksi pembuluh darah. Dengan adanya mang gerak yang bebas dari darah untuk mengalir, maka saraf simpatik pada jantung meningkatkan aktifitasnya untuk memicu ejeksi j antung sebagai akibat venous return yang meningkat. Pada kelompok kontrol terjadi penurunan sebagai akibat dari

21

JURI, Vol. 14. No. 1. Januari2007: 19-23

efek hipotermia. Hal ini disebabkan pada kelompok ini terjadi vasodelatasi pembuluh darah yang menyebabkan volume darah bergeser dari intravaskuler ke ekstravaskuler. Selain itu, hematokrit menurun sehingga viskositas darah juga menurun dan selanjutnya menyebabkan tahanan perifer juga menurun. Setiap penurunan suhu tubuh 1°C maka tekanan darah menurun 5%.2

Selain itu, terdapat pengaruh pemberian cairan irigasi hangat dalam mempertahankan nadi dalam batas normal. Suhu darah yang ada di dalam intravaskular akan merangsang reseptor pada dinding pembuluh darah untuk menyampaikan respon ke susunan saraf pusat. Dari susunan saraf pusat, melalui saraf otonom dilakukan kompensasi terhadap suhu yang berupa vasokontriksi pembuluh darah. Dengan adanya ruang gerak yang bebas dari darah untuk mengalir, maka saraf simpatik pada jantung meningkatkan aktifitasnya untuk memicu ejeksi jantung sebagai akibat venous return yang meningkat." Pada kelompok B (kontrol), nadi per menit tidak terjadi kenaikan yang bermakna, karena pada kelompok ini disebabkan pengaruh dari cairan irigasi dan juga pengaruh obat anestesi, yang pada tahap awal pembedahan heart rate meningkat dan pada tahap selanjutnya heart rate akan menurun. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Kalish (1992). Perlambatan heart rate atau bahkan stroke volume dapat menyebabkan cardiac arrest.

Berdasarkan hasil analisis data terdapat pengaruh pemberian cairan irigasi dengan suhu 37°C terhadap peningkatan suhu tubuh rektal yang diukur setelah pembedahan yang menunjukkan bahwa pada kelompok ini terjadi konduksi. Menurut Johnson (1990), kecepatan pemaparan panas secara konduksi tergantung pada besar perbedaan temperatur dan konduktifitas termal dari bahan, atau bila ada perbedaan gradien antara benda yang lebih tinggi suhunya terhadap benda yang suhunya rendah." Konduksi adalah pemaparan panas dari suatu obyek yang suhunya lebih tinggi ke obyek lain dengan jalan kontak langsung. Berdasarkan teori kinetis, energi kinetis yang dihantarkan dari satu molekul ke molekul yang lain dengan jalan saling tabrak antar molekul sehingga terbentuk panas dalam sistem peredaran darah. Cairan irigasi dengan suhu yang telah dihangatkan, disesuaikan dengan suhu inti normal pasien sehingga terjadi sistem konduksi terhadap jaringan pembuluh darah dan jaringan sekitar." Pada kelompok kontrol, sebagai kelompok pembanding, terjadi penurunan suhu tubuh rektal yang cukup tajam setelah pembedahan.

Hal ini terjadi karena adanya letak alat pengukur yang dekat dengan buli-buli. Selain itu juga dipengaruhi oleh faktor internal dari responden, berupa terj adinya gangguan pada kemampuan kompensasi untuk membentuk panas (menggigillshivering) terhadap suhu rendah sebagai akibat dari aging process serta faktor eksternal dari responden yang berupa pemakaian irigasi yang dingin, obat-obatan anestesi, infus dengan cairan intra vena yang dingin," juga dipengaruhi oleh cairan irigasi. 3

Selain itu didapatkan adanya pengaruh pemberian cairan irigasi hang at terhadap peningkatan jumlah nafas per menit yang diukur setelah pembedahan. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh pemberian irigasi hangat terhadap kestabilan suhu yang mempengaruhi jumlah nafas per menit pasca bedah. Menurut Gabriel (1996), efek panas terhadap biologis merupakan hasil dari efek panas terhadap fisik dan kimia. Pada keadaan tersebut, terjadi dilatasi pembuluh darah yang mengakibatkan peningkatan sirkulasi darah serta peningkatan tekanan kapiler sehingga tekanan O2 dan CO2 di dalam darah akan meningkat, sedangkan pH darah akan mengalami penurunan. Hal ini akan merangsang susunan saraf pusat (SSP) untuk merespon kondisi, dengan cara meningkatkan aktifitas baroreseptor untuk meningkatkan frekuensi nafas. Selain itu suhu panas akan merangsang peningkatan permeabilitas membran sel untuk meningkatkan metabolisme pada tingkat sel, seiring dengan peningkatan pertukaran antara zat kimia tubuh dengan cairan tubuh sehingga merangsang kemampuan complience paru. Pada kelompok B (kontrol) terjadi penurunan jumlah nafas per menit setelah dilakukan pengukuran pasca bedah. Hal ini disebabkan karena adanya konduksi cairan irigasi yang dingin yang menyebabkan timbulnya kompensasi dari termopersepsi sebagai respon dari termoreseptor pada kulit yang berupa penurunan frekuensi pernafasan dan volume semenit, serta dead space anatomi dan fisiologis akan meningkat. Kurva disosiasi oksihemoglobin bergeser ke kiri, yaitu pH darah akan naik dan pC02 menurun. Hal ini menyebabkan terjadinya peningkatan afinitas hemoglobin terhadap oksigen. Akibatnya ambilan oksigen dalam paru akan meningkat dan pelepasan oksigen ke jarmgan terganggu dan dapat menyebabkan hipoksia. 8

SIMPULAN

Pemberian irigasi hangat dapat mencegah hipotermia pada pasien pasca bedah TUR - P.

22

DAFTARPUSTAKA

1. Purnomo. Dasar-dasar urologi. Jakarta. CV, Sagung Seto 2003. p. 67-85.

2. Brunner & Sudart. Buku ajar keperawatan medikal bedah, 8th ed Jakarta: EGC ;2002. p. 457 -8.

3. Morgan. Chemical anesthesiology. Philadelphia: WB Sounders; 1996. p. 602-791.

4. Lumintang. Pengaruh irigasi pada TUR P terhadap penurunan suhu rectal, kumpulan makalah pertemuan ilmiah berkalaX-IDSAI. Bandung; 2000.

Mustofa: Pemberian irigasi hangat

5. Hudak & Gallo. Keperawatan kritis. Jakarta;EGC; 1996.

P.213-6.

6. GabrielJF. Fisikakedokteran. Jakarta: EGC; 1996. p. 124-8

7. Johnson, Loren. Hypothermia principle and practice emergency medicine, 2nd ed. Philadelphia: WB Sounders; 1990. p. 1549-56

8. Orkin FK MD. Physiologic disturbances associated with induced hypothermia, complication in anesthesiology. Philadelphia: WB Sounders; 1994. p. 624-33

9. Kalish MA. Hypothermia and hyperthermia in trauma patients, trauma anesthesia. Baltimore; 1992. p. 340-60

23

PERBEDAAN EKSPRESI CYCLOOXYGENASE-2 (COX-2) ANTARA LOW GRADE DAN HIGH GRADE KARSINOMA SEL TRANSISIONAL PAPILAR BULl-BULl

Deddy Rasyidan Yulizar, Sunaryo Hardjowijoto, Wahjoe Djatisoesanto, Troef Soemamo, Ketut Sudiana, Widodo JP

ABSTRACT

Objective: To study pattern of cyclooxygenase-2 (COX-2) expression between low and high grade papillary carcinoma of human transitional cell bladder cancer. Materials and Methods: COX-2 expression was studied by immunohistochemical methods in 36 samples of human transitional cell carcinoma of the bladder collected at the Department ofPa tho logy, School of Medicine, Airlangga University. COX-2 immunostaining identified intracytoplasmic contents in human transitional cell bladder carcinoma. Results: COX-2 immunostaining identified 19 high grade papillary carcinoma and 17 low grade papillary carcinoma. There was a difference in COX-2 expression between low grade and high grade papillary carcinoma (p=O.035) analyzed by the Mann-Whitney test. Conclusion: These findings suggest that a difference in COX-2 expression may be useful as a biomarker of progressiveness in bladder cancer.

Keywords: Cyclooxygenase-2, high grade papillary carcinoma, low grade papillary carcinoma, transitional cell carcinoma

Correspondence: Deddy Rasyidan Yulizar, c/o: BagianlSMF Urologi FKUAJRSU Dr. Soetomo Surabaya. Jl. Prof. Dr. Moestopo 6-8 Surabaya 60286.

PENDAHULUAN

Sebagian besar kasus kematian pada keganasan bulibuli adalah pada jenis transitional cell carcinoma (TCC) yang invasif, metastasis yang resisten terhadap kemoterapi. Keganasan buli-buli yang superfisial biasanya mempakan TCC yang low grade dan secara endoskopik dapat direseksi dengan mudah, akan tetapi angka kekambuhannya tinggi dan insidennya lebih tinggi dibandingkan dengan jenis yang invasif. Kekambuhan ini berkaitan

1

dengan perubahan keganasan. Oleh karenanya

dikembangkan suatu agen imunoterapetik atau kemoterapetik instilasi yang lebih aman dan lebih efektif.

Keganasan buli-buli adalah keganasan urologi yang sering dijumpai dan mempakan keganasan tersering keempat pada Iaki-laki setelah keganasan prostat pampam, dan kolorektal di Amerika Serikat. Pada wanita, keganasan buli-buli ini menempati urutan kedelapan tersering." Jenis keganasan buli-buli yang terbanyak

(90%) adalah karsinoma sel transisional buli-buli (TCC).2 Di Amerika Serikat dan Eropa, usia paling banyak dari pasien keganasan buli-buli adalah pada dekade enam dan tujuh. Di Inggris, pada tahun 1994, didapatkan jumlah kasus bam keganasan buli-buli sebesar 12.700 kasus dengan 5.300 kasus kematian, sedangkan di Amerika Serikat pada tahun 1998, diperkirakan 54.400 pasien bam yang didiagnosis keganasan buli-buli dan 12.500 pasien meninggal. 2 Di RSU Dr. Soetomo, jumlah kasus keganasan buli-buli yang dilaporkan selama tahun 2001-2003 didapatkan 50 pasien karsinoma buli-buli yang terdiri dari 46 pasien Iaki-laki (92%) dan 4 pasien wanita (8%). Pasien terbanyak pada kelompok usia 60-69 tahun sebanyak 15 pasien (30%). Dari hasil pemeriksaan histopatologi,

didapatkan 48 (96%) karsinoma sel transisional. 5

Pada studi epidemiologis didapatkan bukti bahwa cyclooxygenase (COX) terlibat dalam patogenesis keganasan, dan peningkatan enzim cyclooxygenase-2

24

(eOX-2) pada berbagai jenis keganasan seperti tumor kolon, paru-paru, lambung, esofagus, meyakinkan keterlibatan eOX-2 pada karsinogenesis." Mekanisme kemopreventif dari non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) masih perlu diterangkan secara detail, tetapi telah dirumuskan peranannya dalam kemampuan menghambat aktifitas COX. Secara konsisten, terjadi peningkatan ekspresi eOX-2 pada lesi pra keganasan seperti leukoplakia oral, aktinik keratosis, neoplasia prostat intraepitelial dan juga pada keganasan di kepala dan leher.6•8 Terdapat 2 isoform dari COX, yaitu (1) cox-i yang diekspresikan secara lugas pada sebagian jaringan dan bertanggungjawab untuk mempertahankan proses fisiologis seperti pada proteksi lambung, ginjal dan fungsi trombosit, sedangkan (2) eOX-2 diinduksi sebagai respon terhadap growth factors.9,lD Pengaruh peningkatan eOX-2 ini menimbulkan peningkatan pembelahan sel, menghambat apoptosis sel tumor, merubah adhesi sel, meningkatkan motilitas sel tumor, menginduksi neovaskularisasi, menurunkan immunosurveillance, dan meningkatkan angiogenesis.v" Obat penghambat eOX-2 mulai digunakan pada karsinoma kolorektal dan menunjukkan hasil yang baik. Adapun penggunaan penghambat eOX-2 pada keganasan sel skuamosa di kepala maupun leher menunjukkan hasil berupa penurunan kadar prostaglandin E-2 (PGE-2). Hal ini menimbulkan efek menurunnya sekresi faktor angiogenik dan selanjutnya menghambat pertumbuhan sel tumor karena tidak mendapat vaskularisasi yang cukup. NSAIDs, termasuk aspirin dan piroksikam, merupakan agen kemopreventif yang aktif

melawan perkembangan dari kanker kolon.12 Pada pemeriksaan immunohistokimia, peningkatan level eOX-2 secara primer ditemukan pada epitel neoplasma, sel inflamasi, dan sistim vaskular pada sarang tumor. Sebaliknya, eOX-2 tidak terdeteksi pada sistim vaskular dari jaringan normal maupun jaringan non neoplasma.Y" Peranan eOX-2 pada keganasan kolorektal, paru dan lambung sudah banyak diteliti, tetapi peranannya pada keganasan buli- buli masih belum banyak diteliti.6

Yulizar: Perbedaan ekspresi cyclooxygenase-2 (COX-2)

TUJUAN PENELITIAN

Mengetahui perubahan ekspresi eOX-2 pada grading histopatologi low grade dan high grade karsinoma sel transisional.

BAHAN DAN CARA

Penelitian ini adalah studi observasional analitik dengan rancangan cross sectional yang meneliti ekspresi eOX-2 pada Tee buli-buli dan perbedaan ekspresi eOX-2 dengan grading histopatologi karsinoma sel transisional buli-buli. Pengamatan dilakukan pada sediaan histopatologi pasien dengan diagnosis karsinoma sel transisional buli-buli di instalasi patologi RSU Dr. Soetomo Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga pada kurun waktu 2003 - 2004.

Sebanyak 36 sampel diambil secara acak dan dilakukan pewarnaan dengan teknik immunohistokimia yang menggunakan NeL-eOX-2 mouse monoclonal antibody dalam waktu yang bersamaan, dan pewarnaan hematoksilin-eosin (HE) pada setiap sampel. Penilaian ekspresi eOX-2 dilakukan pada semua sampel sebelum dilakukan pemeriksaan preparat HE.

HASILPENELITIAN

Dari 37 sampel, didapatkan ekspresi eOX-2 negatif pada 6 sampel yang terdiri atas 1 sampel kelompok usia di bawah 50 tahun, 1 sampel kelompok usia 50-60 tahun, dan 4 sampel kelompok usia di atas 60 tahun. Ekspresi eOX-2 lemah didapatkan pada 6 sampel yang terdiri atas 2 sampel pada tiap kelompok usia, sedangkan ekspresi eOX-2 kuat didapatkan pada 25 sampel yang terdiri dari 5 sampel kelompok usia dibawah 50 tahun, 10 sampel kelompok usia 50-60 tahun, dan 10 sampel kelompok usia diatas 60 tahun.

Menurut jenis kelamin, didapatkan 31 sampel pria terdiri dari 1 sampel papillary neoplasm of low malignant potential dan 15 sampel pada tiap kelompok low grade dan high grade papillary Tee buli-buli. Selain itu, terdapat enam sampel wanita yang terdiri dari dua sampellow grade papillary Tee buli-buli dan empat sampel high grade papillary Tee buli-buli. Gambar histopatologi low grade papillary Tee buli-buli dan high grade papillary Tee buli-buli dapat dilihat pada gambar 1 dan 2.

25

JURI, Vol. 14. No. 1. Ianuari2007: 24-28

Tabel 1 menunjukkan bahwa pada high grade papillary Tee buli-buli ekspresi eOX-2 yang kuat, lemah dan negatif berurutan adalah pada 16, 2, dan 1 sampel, sedangkan pada low grade papillary Tee buli-buli untuk ekspresi eOX-2 yang kuat, lemah dan negatif secara berurutan adalah 9,3, dan 5 sampel. Gambar histopatologi eOX-2 yang lemah pada low grade papillary Tee bulibuli dapat dilihat pada gambar 3, sedangkan ekspresi eox- 2 yang kuat pada high grade papillary Tee buli-buli dapat dilihatpada gambar4.

Hasil uji normalitas distribusi data menunjukkan bahwa variabel grading Tee buli-buli dan ekspresi eOX-2 berdistribusi tidak normal (p=O,OOOl). Oleh karena itu, selanjutnya dilakukan uji beda menggunakan teknik Mann-Whitney.

Berdasarkan hasil analisis statistik pada tabel 2, didapatkan bahwa ekspresi eOX-2 pada sediaan low grade papillary Tee buli-buli berbeda bermakna dibandingkan dengan sediaan high grade papillary Tee buli-buli (p=O,035), dan dapat disimpulkan bahwa pada high grade papillary Tee buli-buli secara rerata memiliki ekspresi kuat yang lebih banyak dibanding low grade papillary Tee buli-buli.

Gambar 1. Low grade papillary TCC buli-buli, pembesaran 40x (pewarnaanHE)

Gambar 2. High grade papillary TCC buli -buli, pembesaran 400x (pengecatan HE) pembesaran lOOx

Gambar 3. Ekspresi COX -2 yang lemah pada low grade papillary TCC buli - buli, pembesaran lOOx

Gambar 4. Ekspresi COX-2 yang kuat pada high grade papillary TCC buli -buli

26

Yulizar: Perbedaan ekspresi cyclooxygenase-2 (COX-2)

Tabell. GradingTCC buli terhadap ekspresi COX-2
Grading TCC buli-buli Ekspresi COX-2 Total
Negatif Lemah Kuat
Papillary neoplasm of low malignant potential ° °
Low grade papillary carcinoma 5 3 9 17
High grade papillary carcinoma 2 16 19
Total 6 6 25 37 Tabel2. Uji beda ekspresi COX-2 antara Low dan High Grade Papillary TCC Buli.

N Mean Rank Ztest p
Low grade papillary carcinoma 17 15,32 -2,109 0,035
Ekspresi COX-2 High grade papillary carcinoma 19 21,34
Total 36 PEMBAHASAN

Klasifikasi World Health Organization (WHO) tahun 1973 untuk neoplasma urotelial papilar, membagi tumor urothelial menjadi papiloma, karsinoma grade 1, grade 2, dan grade 3. Menurut ketentuan bersama dari International Society for Urological Pathology (ISUP), yang kemudian ditetapkan oleh WHO pada tahun 1998, dihasilkan suatu konsensus sistem klasifikasi lesi urotel (transitional cell), termasuk kanker buli-buli, Hasil klasifikasi WHO/ISUP 1998 digunakan untuk memperjelas klasifikasi dari jaringan normal menjadi neoplasma invasif, yaitu flat lesions with atypia dan papillary neoplasms. Untuk flat lesions, klasifikasinya berurutan dari reactive (inflammatory) atypia sampai dengan carcinoma insitu (high grade iniraurothelial neoplasia), sedangkan jenis papillary neoplasm urutannya dari papilloma, inverted papilloma, papillary neoplasm of low malignant potential, low grade papillary TCC, dan high grade papillary TCC.

Pada penelitian ini untuk menyesuaikan dengan gradasi yang telah ditetapkan oleh WHO/ISUP, maka dilakukan pemeriksaan histopatologi Tee buli-buli dan pewaruaan imunohistokimia dengan antibodi eOX-2. Pemeriksaan pewaruaan imunohistokimia untuk melihat ekspresi COX - 2 dilakukan sebelum pemeriksaan histopatologi Tee bulibuli. Adapun teknik pewamaan HE, dilakukan dengan menggunakan mikroskop cahaya. Ekspresi eOX-2 dapat dilihat di sitoplasma sel, dengan menghitung jumlah sel yang memberikan gambaran kecoklatan dan intensitasnya berdasarkan derajatkekuatan wama coklat yang dihasilkan. Adapun pembandingnya adalah sediaankolitis ulceratif.

Perbandingan jumlah sampel yang menggambarkan gradasi dari Tee buli-buli antara grade 1 (papillary neoplasm of low malignant potential) tidak sebanyak sampel grade 2 (low grade papillary TCC) dan grade 3 (high grade papillary TCC). Pada penelitian ini, hanya membandingkan perbedaan ekspresi eOX-2 pada 2 gradasi Tee buli-buli, yaitu low grade dan high grade papillary TCe. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Komhoff (2000), tidak dideteksi adanya eOX-2 dari hasil pewamaan imunohistokimia pada sampel Tee buli-buli grade 1 dan didapatkan ekspresi eOX-2 pada low grade dan high grade.14 Selain itu, juga didapatkan hubungan ekspresi COX - 2 dengan gradasi dan staging tumor. Variasi ekspresi eOX-2 pada masing-masing gradasi. Hal ini mungkin disebabkan oleh karena perbedaan heterogenitas ekspresi eOX-2 pada perubahan kondisi microenviromental dari sel tumor. 15 Peranan eOX-2 dalam menginduksi tumor berupa angiogenesis, peningkatan invasifitas, apoptcsis, dan penghambatan immune surveillence, serta peningkatan proliferasi sel yang di mediasi oleh vascular endothelial growth factor - A (VEGF-A), eD44 dan matrix metalloproteinase.16,17 cox 2 tidak diekspresikanjaringan buli-buli yang normal, tetapi dapat ditemukan sebagai faktor angiogenetik pada keganasan buli-buli sebagaimana neoplasma yang lain (misalnya kolon, lambung, payudara, liver, pankreas dan

18 prostat).

Hasil analisis statistik yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan ekspresi eOX-2 antara low grade dan high grade papillary Tee buli-buli, menggunakan uji beda Mann-Whitney. Didapatkan p=0,035 yang berarti bahwa terdapat perbedaan bermakna dari ekspresi eOX-2 antara kedua gradasi, yaitu low grade dan high grade papillary Tee buli-buli,

27

JURI, Vol. 14. No. 1. Ianuari2007: 24-28

Hasil studi lain mendapatkan adanya hubungan yang signifikan antara parameter klinis patologi dan ekspresi dari eOX-2. Imunoreaktifitas eOX-2 secara signifikan berkaitan dengan grade 3 (p=0,002) atau high grade

(p<0,0003) dari urothelial carcinoma dari buli-buli.14 Peningkatan ekspresi eOX-2 pada high grade papillary Tee pada penelitian ini, seperti halnya juga pada penelitian lain yang dilakukan oleh Mohammed (1999) dan Komhoff (2000), dimungkinkan karena adanya keterlibatan dari peningkatan eOX-2 pada kejadian awal proses dari tumorigenesis Tee buli-buli yang high grade, baik secara biologis dan sitologis. Sebaliknya, lemahnya ekspresi eOX-2 pada sel tumor high grade serta penurunan ekspresi pada low grade carcinoma, karena keterlibatan eOX-2 dalam regulasi progresifitas tumor dari low grade ke high grade.14,19 Pada sejumlah penelitian lain diketahui adanya hubungan peningkatan ekspresi eOX-2 dengan jeleknya prognosis penyakitkeganasan tersebut. 16

SIMPULAN

Terdapat perbedaan derajat ekspresi eOX-2 yang bermakna antara low grade papillary Tee dan high grade papillary Tee. Ekspresi eOX-2 pada high grade papillary Tee secara rerata lebih kuat dibanding low grade papillary Tee.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kiemeney LALM, Witjes JA, Heidbroek RP, Debruyene FMJ and the members of the Dutch South-East Urological Group. The clinical epidemiology of superficial bladder cancer. Br J Cancer (67). p. 806-12

2. Steinberg GD, Kim HL, Sachdeva K, Curti B. Bladder cancer. Nov 2004. Http://www.eMedicine.com.

3. Parker SL, Tong T, Bolden S, Wingo PA. Cancer statistics.

CACancer J Clin 1997; 47: 5-27

4. Feldman AR, Kessler L, Myers MH, Naughton MD. The prevalence of cancer: Estimates based on the Connecticut tumor registry. NEnglJMed 1986; 31(15): 1394-7

5. Aschorijanto A, Soetojo. Gambaran penderita karsinoma buli di RSU Dr. Soetomo Surabaya antara tahnn 200 1-2003:

Penelitian retrospektif. Lab/SMF Urologi FK Unair RSU Dr. Soetomo; 2004.

6. KokiAT, Masferrer JL. Celecoxib: A specific COX-2 inhibitor with anticancer properties. Cancer Control 2002 ; 9 (2): 28- 3 5

7. Chan G, Boyle JO, Yang EK, Zhang F, Sacks PG, Shah JP, et al. Cyclooxygenase-2 expression is up-regulated in squamous cell carcinoma of the head and neck. http://www. cancerres .aacrj ournals .org/cgi/content/full/5 9/51 991.jan1. 1998

8. Shamma A, Yamamoto H, Doki Y, Okami J, Kondo M, Fujiwara Y, et al. Up-regulation of cyclooxygenase-2 in squamous carcinogenesis of the esophagus. Clin Cancer Res 2000; 6: 1229-38

9. Perkins DJ, Kniss DA. Rapid and transient induction of cyclooxygenase-2 by epidermal growth factor in human amnion-derived WISH cells. Biochem J 1997; 321: 677 -81

10. Diaz A, Chepenik KP, Korn JH. Differential regulation of cyclooxygenase 1 and 2 by interleukin-l beta, tumor necrosis factor alpha, and transforming growth factor- beta 1 inhuman lung fibroblasts. Exp Cell Res 1998; 241: 222-9

11. Moore BC, Simmons DL. COX-2 inhibition, apoptosis, and chemoprevention by nonsteroidal anti-inflammatory drugs, available on URL: http://www.bentham.org/cmcsample/simmons/simmons.htm.feb 14,2003.

12. Thnn MJ, namboodiri MM and Heath CWo Aspirin use and reduced risk of fatal colon cancer. N Engl J Med 1991; 325: 1593-6

13. De Almeida EMP, Piche C, Sirois J, Dore M. expression of cyclooxygenase-2 in naturally occuring squamous cell carcinoma in dogs. J Histochem200 1; 49: 867-75

14. Komhoff M, Guan Y, Shappel HW, Davis L, Jack G, Shyr Y, et al. Enhanced expression of cyclooxygenase-2 in high grade human transitional cell bladder carcinoma. Am J Patho12000; 157: 29-35

15. Wu R. Urotrhelial tumorigenesis: A tale of divergent pathways. Nat Rev Cancer 2005; 5(9): 713-25

16. Kyzas PA, Stefanou D, Agnantis NJ. COX-2 expression correlates with VEGF -C and lymph node metastases in patients with head and neck squamous cell carcinoma. Modern Pathology 2005; 18: 153-60

17. Dohadwala M, Luo J, Zhu L. Non-small celllnng cancer cyclooxygenase-2 dependent invasion is mediated by CD44. JBio Chem2001; 276: 20809-12

18. Bartoletti R, Cai T, Nesi G, Sardi I, Rizzo M. Qualitative and quantitative analysis of angiogenetic factors in transitional cell bladder carcinoma: Relationship with clinical course at 10 years follox-up. Oncology reports 2005; 14: 251-5

19. Mohammed SI, knapp DW, Botswick DG, Foster RS, Khan KNM, Masferrer JL, et al. Expression of cyclooxygenase-2 (COX-2) in human invasive transitional cell carcinoma (TCC) of the urinary bladder. Cancer Res 1999; 59: 5647- 50

28

JURI Januari 2007, Vol. 14 No.1

PETUNJUK UNTUK PENULIS

Pedoman Umum

Tulisan yang diutamakan adalah karangan asli dan berhubungan dengan urologi. Tulisan harus belum peruah diterbitkan sebelumnya dan hanya ditujukan kepada majalah ini. Hak eipta seluruh isi makalah yang telah dimuat beralih kepada penerbit majalah ini dan seluruh isinya tidak boleh direproduksi dalam bentuk apapun tanpa izin penerbit.

Seluruh peruyataan dalam artikel berada dalam tanggungj awab penulis.

Makalah yang dipertimbangkan untuk dimuat adalah yang disajikan dalam bentuk yang sesuai dengan Uniform Requirements for Manuscript Submitted to Biomedical Journal edisi ke-5 tahun 1997 yang dikeluarkan oleh International Committee of Medical Journal Editor (ICNJE). Dewan redaksi berhak melakukan suntingan karangan dalam rupa gaya, bentuk dan kejelasan tanpa mengubah isinya.

Semua makalah yang ditujukan kepada majalah ini akan melalui proses tanggapan ilmiah dari (peer reviewer) dan atau tanggapan editorial. Penulis dapat diminta untuk memperbaiki/merevisi makalahnya dalam hal gaya dan isi. Makalah dengan kesalahan tipografis yang bermakna akan dikembalikan kepada penulis untuk ditik ulang. Makalah yang tidak dimuat akan dikembalikan kepada penulis bila disertai permintaan sebelumnya. Makalah dapat ditulis dalam bahasa Indonesia yang menggunakan bahasa/istilah baku yang efektif dan efisien atau bahasa Inggris yang menggunakan ej aanAmerika.

BentukArtikel

Makalah hasil penelitian klinis dan kedokteran dasar tidak lebih dari 30 halaman yang ditik dengan spasi ganda jarak tepi kertas dengan tulisan adalah 2,5 em dengan huruf Times Roman fon 12 pada kertas A4 (21 x 30 em); komunikasi singkat dan laporan pendahuluan tidak lebih dari 10 halaman yang ditik sarna seperti diatas; tinjauan pus taka dan laporan kasus tidak lebih dari 20 halaman.

Kelengkapan Makalah

Makalah dialamatkan kepada Redaksi Jurnal Urologi Indonesia (JURI), d/a Bagian/SMF Urologi - RSU

Dr. Soetomo Surabaya, Jl. Mayjend. Prof. Dr. Moestopo No.6 - 8 Surabaya 60286, Telp: 62 31 5501318, Fax: 5024971, E-mail: juri@urologi.or.id. Sedapat mungkin makalah disampaikan dalam bentuk compact disc program MS- Word 2000 dan 2 berkas salinan (print out) yang tersusun sesuai urutan 1) halaman judul, 2) abstract beserta keywords, 3) isi, 4) ueapan terima kasih bila ada, 5) daftar pustaka, 6) tabel, 7) gambar dan keterangannya. Penulis sebaiknya menyimpan juga salinan seluruh materi tersebut.

Halaman Judul dan Penulis

Halaman judul berisi 1) judul makalah yang ditulis ringkas dan tidak menggunakan singkatan, 2) nama lengkap dan gelar akademis penulis, 3) nama departemen dan institusi, 4) satu alamat korespondensi penulis. Nama penulis yang dieantumkan haruslah hanya orang yang ikut bertanggung jawab terhadap isi makalah dan telah memberikan kontribusi yang substansial dalam 3 hal: 1) konsep dan desain atau analisis dan interpretasi data, 2) penulisan makalah atau melakukan revisi atas bagian isi makalah, 3) pembuatan makalah versi terakhir yang akan dipublikasikan.

Abstrak

Abstrak 1) dibuat dalam bahasa Indonesia dan Inggris,

2) berbentuk abstrak terstruktur, 3) memuat inti pendahuluan, metode, hasil terpenting dan simpulan utama, 4) tidak lebih dari 250 kata untuk hasil penelitian atau 150 kata untuk laporan kasus, komunikasi singkat atau laporan pendahuluan, 5) disertai 3 -1 0 keywords untuk yang berbahasa Inggris.

lsi

lsi makalah tersusun dalam urutan headings:

Pendahuluan, Tujuan penelitian, Bahan dan Cara, Hasil Penelitian, Pembahasan dan Simpulan. Tidak diperkenankan menggunakan singkatan yang tidak lazim dan eatatan kaki. Data hasil ukur menggunakan sis tern unit intemasional. Angka di awal kalimat ditulis lengkap dalam huruf tereja. Peneantuman nomor daftar pustaka, nomor gambar dan tabel tersusun sesuai urutan kemuneulan dalam isi. Gunakan angka Arab yang ditulis superkrip untuk merujuk daftar pustaka.

Petunjuk Untuk Penulis

Tabel dan Gambar

Tabel dan gambar disajikan dalam lembar terpisah dengan telah disebutkan letaknya dalam narasi makalah. Judul tabel diletakkan di atas dan setiap tabel diidentifikasi dengan nomor yang ditulis dengan angka Arab. Gambar diberi nomor dengan angka Arab dan namaiketerangan yang ditulis dibawah. Dibalik setiap kertas yang memuat gambar ditulisi dengan pensil nama penulis dan atas untuk menunjuk bagian atas sesuai gambar. Foto bila ada disertakan dalam kertas kilap dan diberi keterangan seperti gambar. Keterangan pada gambar dan tabel harus cukup informatif, sehingga mudah untuk dimengerti. Permintaan pemuatan gambar berwarua akan dikenakan biaya reproduksi. F oto dikirimkan dalam kemasan yang baik; kerusakan bukan tanggungj awab redaksi.

Metode statistik

Metode statistik yang digunakan harus diterangkan dalam Bahan dan Cara, dan untuk metode yang jarang digunakan harus diterangkan secara detail serta diberi keterangan rujukannya.

U capan Terima Kasih

Ucapan terima kasih terbatas untuk pemberi bantuan teknis dan atau dana serta dukungan dari pemimpin institusi.

Daftar Rujukan

Daftar rujukan disusun sesuai dengan ketentuan Vancouver. Sebaiknya tidak lebih dari 25 buah dan berupa rujukan terbaru dalam satu dekade terakhir. Rujukan diberi nomor sesuai urutan pemunculannya dalam narasi. Hindari penggunaan abstrak dan komunikasi pribadi kecuali sangat esensial. Nama jurual disingkat sesuai yang tercantum dalam Index Medicus. Rujukan yang telah diterima namun belum diterbitkan dalam suatu jurual ditulis sesuai aturan dan tambahan: In press. Dalam membaca contoh ini

nantinya dalam menulis rujukan harap diperhatikan urutan letak penulis, judul artikel, nama jurual (nama buku), tahun, volume (nomer) dan halaman serta tanda baca diantaranya.

Contoh Penulisan Daftar Rujukan

Artikel dalamjurnal

1. Artikel dalam jurual

Bila lebih dari 6 penulis, cantumkan 6 penulis pertama

kemudian diikuti dengan et al.

Chapple CR, Aubry ML, James S, Greengras PM,

Burnstock G, Turner Warwick RT, et al. Characterization of human prostatic adrenoceptors using pharmacology receptor binding and localization. Br JUro11989; 63: 487-96.

2. Organisasi sebagai penulis

Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi.

Penelitian tanaman obat di beberapa perguruan tinggi di Indonesia. BPPK Depkes RI; 1995.

3. Tanpa nama penulis

Percent free PSA: The next generation in PSA test, in

the cancer consultant from Abbot Laboratories diagnostics division; 1998.

Buku dan Monograf

4. Penulis perorangan

Wyllie A. Apoptosis and Cell Proliferation. 2nd ed. Germany: Boehringer Manheim GmbH; 1988.

5. Editor sebagai penulis

Tanagho EA, editor. Urodynamic studies: In Smith's

General Urology 16th ed. New York: Lange Medical Book/Mc Graw Hill; 2004. p. 453-72.

6. Organisasi sebagai penulis dan penerbit

Ikatan Ahli Urologi Indonesia (lAUI). Panduan

penatalaksanaan (Guidelines) Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) di Indonesia. IAUI; 2003.

7. Bab dalam buku

Zeman PA, Siroky MB, Babayan RK. Lower urinary

tract symptoms. In: Siroky MB, Oates RD, Babayan RK. Handbook of urology. Diagnosis and therapy. 3'd ed. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2004. p. 98-121.

Artikel dikirimkan dalam rupa 2 set print out dan 1 compact disc.

Ke alamat:

Dr. dr. SabiialAlif, SpU-K Redaksi Jurual Urologi Indonesia (JURI)

d/a. BagianlSMF Urologi RSU Dr. Soetomo Surabaya n. Mayjend. Prof. Dr. Moestopo No. 6-8 Surabaya 60286 Tel: 62315501318; Fax: 5024971

E-mail: juri@urologi.or.id

FORMULIR BERLANGGANAN Jurnal Urologi Indonesia (JURI)

Dapatkan Jumal Urologi Indonesia (JURI) secara teratur dengan mengganti ongkos kirim sebesar Rp. 25.000,Pereksemplar (P. Jawa) atau Rp. 30.000,- Pereksemplar (luar P. Jawa).

lsi formulir dibawah ini dan kirimkan bersama bukti pembayaran ke:

Redaksi Jurnal Urologi Indonesia (JURI)

d/a. BagianlSMF Urologi RSU Dr. Soetomo Surabaya n. Mayjend. Prof. Dr. Moestopo No. 6-8 Surabaya 60286 Tel: 62 315501318; Fax: 5024971

E-mail: juri@urologi.or.id

Pembayaran ditransfer ke rekening:

Majalah JURI cq. Dr. Tarmono, SpU No. Rek: 0322233167

Bank Jatim Cabang Dr. Soetomo Surabaya

Saya ingin mendapatkan Jumal Urologi Indonesia (JURI) secara teratur:

D P. Jawa , ongkoskirimRp. 50.000,- (1 tahun2kali penerbitan)

DLuar P. Jawa, ongkos kirim Rp. 60.000,- (1 tahun 2 kali penerbitan)

Mulai bulan Nama

Profesi Spesialis Alamat Kantor

................................................ Kode Pos ..

Telp Fax HP .

Alamat Rumah

................................................ Kode Pos .

Telp Fax HP .

Alamat pengiriman

D Rumah

D Kantor

(beri tanda ~ untuk alamat pengiriman yang diinginkan)

Hormat saya,

( )

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->