Anda di halaman 1dari 11

LAJUR KHUSUS SEPEDA MOTOR

Latar Belakang

Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta adalah sebuah provinsi sekaligus


ibu kota Indonesia. Jakarta merupakan sebuah kota yang amat besar dan
sekaligus ibu kota Indonesia, maka kota ini mempunyai status yang sama
dengan sebuah provinsi. Sedangkan luasnya adalah 661,62 km2 . Dengan
jumlah penduduk 8.603.776 dengan kepadatan16.667/km2. Wilayah DKI terdiri
dari 1 Kabupaten, 5Kodya/Kota, 44 Kecamatan dan 267 Kelurahan/Desa. Suku-
suku yang tinggal di DKI adalah hampir semua suku yang ada di Indonesia.
Yang menonjol antara lain: Betawi , Suku Jawa, Suku Sunda, Tionghoa (10%).
Agama yang dianut Islam (86%), Protestan (6%), Katolik (4%), Buddha (4%),
sisanya Hindu dan lain-lain.

Jumlah penduduk di Jakarta sekitar 8.603.776 namun pada siang hari,


angka tersebut akan bertambah seiring datangnya para pekerja dari kota satelit
seperti Bekasi, Tangerang dan Depok akan menjadi kurang lebih 12 juta.
Kota/kabupaten yang paling padat penduduknya adalah Jakarta Timur dengan
2.131.341 penduduk, sementara Kepulauan Seribu adalah kabupaten dengan
paling sedikit penduduk, yaitu 19.545 jiwa.

Posisi DKI Jakarta sebagai pusat perekonomian telah mendorong orang-


orang di luar Jakarta dan luar pulau Jawa untuk berbondong-bondong mencari
rezeki di ibu kota Indonesia ini. Banyak dari orang-orang yang datang ke Jakarta
tidak dibekali dengan keahlian atau ketrampilan khusus, sehingga beberapa
dampak sosial yang sering muncul adalah salah satunya adalah masalah lalu
lintas. Jakarta sebagai ibu kota negara Republik Indonesia adalah pusat politik,
ekonomi, sosial budaya. Jakarta sebagai kota metropolitan yang sarat dengan
berbagai masalah yang kompleks dapat menjadi tempat yang subur tumbuh dan
berkembangnya berbagai kejahatan.

Masalah kamseltibcarlantas di wilayah DKI dan sekitarnya yang terjadi


semakin kompleks dan semakin meningkat.
JUMLAH KENDARAAN BERMOTOR DI SAMSAT POLDA METRO JAYA
PERIODE TAHUN 2001 S/D NOPEMBER 2006

6.000.000

5.253.776
5.000.000

4.647.435
3.940.700
3.310.318
4.000.000

2.816.442
2.446.471
PENUMPANG
3.000.000

1.766.801

1.829.576
BEBAN

1.645.306
1.530.226
1.434.802
1.345.056

2.000.000 BUS
415.970

499.581

503.789
441.085

464.928

488.517
SEPEDA MOTOR

316.502
312.322

316.978
315.135

315.652
1.000.000

316.396
0
9 4 24 19 19 9
01

02

03

04

05

06
. 81 . 46 .1 .9 .3 . 11
20

20

20

20

20

20
9 7 21 90 30 4
. 51 . 00 5.6 6.3 7.2 . 90
4 5 7

Masalah kecelakaan lalu lintas berdampak luas dan juga dapat


menimbulkan keresahan dan tentu menghambat atau mengganggu warga
masyarakat yang melaksanakan aktifitas atau produktifitasnya. Penyebab yang
terbesar adalahperilaku yang disebabkan tindakan manusia.
DATA KECELAKAAN LALU LINTAS SELAMA 5 TAHUN
BERDASARKAN FAKTOR PENYEBAB KECELAKAAN
JAJARAN DIT LANTAS POLDA METRO JAYA

4000

3432
3854

3092
3500
3000

2377
2500 PENGEMUDI
2000 KENDARAAN
JALAN
1500
1002

ALAM

823
485
1000
374

445

492
198

279
356
500
119
99

0
2002 2003 2004 2005 2006
1220 2949 4695 4156 4407
-SELAMA 5 TAHUN YANG PALING BANYAK DISEBABKAN FAKTOR PENGEMUDI = 13.757
-TAHUN 2006 YANG PALING BANYAK DISEBABKAN FAKTOR PENGEMUDI = 3.092

DATA KECELAKAAN LALU LINTAS SELAMA 5 TAHUN


BERDASARKAN USIA KORBAN
JAJARAN DIT LANTAS POLDA METRO JAYA

1.600
1.400
1.200
1.000 USIA 0-5
800 USIA 6-21
600 USIA 22-30
400 USIA 31-40
200 USIA 41-50
0 USIA 51-60
16 26 63 88
HU 04

06
02

03

05

15 31 34 54 56
20

20
20
20

20

58
N
N

N
N

N
U
U

U
HU

H
H

H
TA
TA

TA

TA

TA

SELAMA 5 TAHUN YANG PALING BANYAK USIA KORBAN 31-40 THN = 5.391
DATA KECELAKAAN LALU LINTAS SELAMA 5 TAHUN
BERDASARKAN USIA PELAKU
JAJARAN DIT LANTAS POLDA METRO JAYA

1.400

1.200

1.000
USIA 0-5
800 USIA 6-21
USIA 22-30
600
USIA 31-40
400 USIA 41-50
200 USIA 51-60

0
58 07 37 73 12
02

03

04

05

06
10 27 42 35 36
20

20

20

20

20

SELAMA 5 TAHUN YANG PALING BANYAK USIA PELAKU 31-40 thn = 4.782
TAHUN 2006 YANG PALING BANYAK USIA PELAK 31 – 40 TAHUN = 1.212

Selain kecelakaan masalah kemacetan lalu lintas juga menjadi masalah di


Jakarta. Adapun faktor-Faktor yang mempengaruhi kemacetan lalu lintas antara
lain
a) Jalan raya yang pada jam-jam sibuk berubah fungsi, selain sebagai
jalan juga hampir separuh badan jalan digunakan untuk :
(1) Pasar.
(2) Parkir kendaraan
(3) Pedagang kaki lima
b) Kurangnya koordinasi antar departemen dalam penyelenggaraan
kegiatan pembangunan yang memanfaatkan setiap persimpangan
jalan-jalan tertentu, pemutaran jalan yang ada di sekitar
pemukiman untuk mendapatkan imbalan uang dari para pengemudi
dengan cara berpura-pura sebagai pengatur arus lalu lintas dimana
dalam prakteknya terlebih dahulu dengan sengaja ditimbulkan
kemacetan dan kemudahan hanya pengemudi tertentu yang
diberikan jalan, disamping itu kegiatan mereka terkadang disertai
dengan tindak kekerasan.
c) Masih ditemukan pengguna jalan yang tidak tertib di jalan raya
dengan menyerobot kendaraan lain sehingga menimbulkan
kemacetan.

Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Polda Metropolitan jakrta


Raya tahun 2006 sebanyak 7.840.671 dengan perincian jumlah kendaraan roda
empat 1.825.481 dan sepeda motor 5.194.011. Dan khusus DKI jumlah
kendaraan 4.276.133 dan untuk kendaraan roda empat 1.457.269 dan sepeda
motor 2.718.864. Melihat tingginya pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor
khususnya kendaraan roda dua dan tingginya angka kecelakaan lalu lintas,
khususnya yang melibatkan pengemudi sepeda motor(lihat gambar di atas).
Maka dit lantas polda metro jaya, sbg aparat kepolisian yg menangani masalah-
masalah lalu lintas berupaya untuk mengeliminir meningkatnya kecelakaan lalu
lintas dan untuk melindungi harkat dan martabat manusia yg produktif
melaksanakan “tindakan peduli kemanusiaan dan keselamatan lalu lintas” salah
satunya dngn menerapkan :

Peran dan Fungsi Polisi

Polisi adalah sebuah departemen pemerintahan yang didirikan untuk


memelihara keteraturan serta ketertiban (dalam masyarakat), menegakan
hukum, dan mendeteksi kejahatan serta mencegah terjadinya kejahatan.
Berkaitan dengan hal tersebut bahwa tugas utama polisi adalah memelihara
ketertiban umum dan membimbing masyarakat agar taat hukum (Suparlan,1997,
Nitibaskara,2000). Keberadaan dan fungsi polisi dalam masyarakat adalah
sesuai dengan tuntutan kebutuhan dalam masyarakat yang bersangkutan untuk
adanya pelayanan polisi. (Suparlan, 1999, Rahardjo,2000). Fungsi polisi adalah
untuk menjaga agar keamanan dan ketertiban dalam masyarakat yang
diharapkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, dan menjaga agar warga,
masyarakat, dan negara yang merupakan unsur-unsur utama dalam proses
produktivitasnya tidak dirugikan (Bahtiar: 1994 :1, Rahardjo, 1999, Suparlan
1999c).

Polisi atau petugas kepolisian mempunyai fungsi dalam struktur


kehidupan masyarakat sebagai pelindung, pengayom dan penegak hukum yang
mempunyai tanggung jawab untuk memelihara keteraturan dan menangani
kejahatan baik pencegahan maupun penindakan terhadap pelaku kejahatan agar
masyarakat dapat bekerja dalam keadaan aman dan tenteram (Bahtiar 1994 : 1).
Dengan kata lain kegiatan-kegiatan polisi adalah berkenaan dengan masalah-
masalah sosial, yaitu yang berkenaan sesuatu gejala yang ada dalam kehidupan
sosial yang dirasakan sebagai beban atau gangguan yang merugikan warga
masyarakat tersebut (Suparlan 1999a). Polisi melaksanakan tugasnya melalui
pemolisian. Pemolisian (Policing), pada dasarnya adalah segala usaha atau
upaya untuk memelihara keamanan, pencegahan dan penaggulangan kejahatan,
melalui pengawasan atau penjagaan dan tindakan untuk memberikan sanksi
atau ancaman hukum (Garmire dalam Steadman : 1972, Spitzer 1987; Shearing
1992 dalam Reiner 2000). Polisi sebagai sebuah pranata, merupakan sebuah
sistem antar-hubungan norma-norma dan peranan-peranan yang berfungsi
dalam masyarakat yang membutuhkannya (lihat Suparlan,1999a).

Hubungan polisi dengan masyarakat adalah saling mempengaruhi dan


saling menyesuaikan sehingga pola-pola pemolisiannya bervariasi antara satu
masyarakat dengan masyarakat lainnya. Pola-pola pemolisian tersebut
merupakan tindakan berpola atau cara kerja pemolisian yang dilakukan secara
berulang dari waktu kewaktu untuk menangani berbagai masalah yang sama
yang mengacu dari corak masyarakat dan kebudayaannya sebagai pola
tindakan. Yang pola tindakannya atau sebagai acuan dalam melaksanakan
pemolisian adalah undang-undang, petunjuk pelaksanaan maupun corak
masyarakat dan kebudayaan yang diinterpretasi oleh pimpinan kesatuan dalam
kebijakan-kebijakan maupun strategi-strategi pemolisian.

Tugas Pokok Polri


Tugas Pokok Polri sebagaimana diatur Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2002 tanggal 8 Januari 2002, tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia
dan Keputusan Presiden RI Nomor 70 Tahun 2002 tanggal 10 Oktober 2002,
tentang Organisasi dan Tata Kerja Polri adalah :
a) Memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat.
b) Menegakkan hukum dan
c) Memberikan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada
masyarakat.
Dalam melaksanakan tugas pokoknya Kepolisian Negara Republik
Indonesia bertugas :
a) Melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan, dan patroli
terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintah sesuai kebutuhan.
b) Menyelenggarakan segala kegiatan dalam menjamin keamanan,
ketertiban dan kelancaran lalu lintas di jalan.
c) Membina masyarakat untuk meningkatkan partisipasi masyarakat,
kesadaran hukum masyarakat serta ketaatan warga masyarakat
terhadap hukum dan peraturan perundang-undangan.
d) Turut serta dalam pembinaan hukum nasional.
e) Memelihara ketertiban dan menjamin keamanan umum.
f) Melakukan koordinasi, pengawasan dan pembinaan teknis
terhadap Kepolisian khusus, penyidik pegawai negeri sipil dan
bentuk-bentuk pengamanan swakarsa.
g) Melakukan penyidikan dan penyelidikan terhadap semua tindak
pidana sesuai dengan hukum acara pidana dan peraturan
perundang-undangan lainnya.
h) Menyelenggarakan identifikasi Kepolisian, kedokteran Kepolisian,
laboratorium forensik dan psikologi Kepolisian untuk kepentingan
tugas Kepolisian..
i) Melindungi keselamatan jiwa raga, harta benda, masyarakat dan
lingkungan hidup dari gangguan ketertiban dan atau bencana
termasuk memberikan bantuan dan pertolongan dengan
menjunjung tinggi hak asasi manusia.
j) Melayani kepentingan warga masyarakat untuk sementara sebelum
ditangani oleh instansi dan/atau pihak yang berwenang.
k) Memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan
kepentingannya dalam lingkup tugas Kepolisian.
l) Melaksanakan tugas lain sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.

Sepeda motor untuk menggunakan lajur kiri dan menyalakan lampu pada
siang hari”

Sebagai negara yang berlandaskan sistem ketatanegaraan yang


menggunakan azas kesatuan negara memberikan kewengan penuh kepada Polri
sebagai institusi yang melaksanakan keamanan ,ketertiban umum yang salah
satunya adalah kewenangan di bidang keamanan, keselamatan, ketertiban dan
keamanan berlalu lintas.

a. Tinjauan Historis
Kepolisian Indonesia adalah Kepolisian Negara Republik Indonesia
(Nasional bukan Polisi federasi/ bagian/ serikat) yang artinya Polri
di dalam melaksanakan Tugas pokok fungsi dan peranannya selalu
berpedoman kepada perundang-undangan Negara RI yang telah
disahkan dalam Lembaran Negara (LN).

b. Tinjauan Yuridis

1) UU Kepolisian No. 2 th 2002 pasal 13 yang mengatur tentang


tugas pokok Polri, pasal 14 mengatur tentang pemeliharaaan
keamanan ketertiban masyarakat, menegakan hukum, dan
memberi pengayoman, perlindungan dan pelayanan
masyarakat. . Dalam penjelasan pasal 13 menyebutkan Polri
bertujuan melaksanakan pengaturan, penjagaan, pengawalan
dan patroli terhadap kegiatan masyarakat dan pemerintahan
sesuai kebutuhan. Dalam penjelasan pasal 14 menyebutkan :
Menyelenggaran segala kegiatan dalam menjamin keamanan,
keselamatan, ketertiban, dan kelancaran lalu lintas di jalan.
Dimana dalam penyelenggaraan fungsi tehnis lalu lintas Polri
melakukan pembinaan ketertiban lalulintas, penegakan hukum,
registrasi dan identifikasi pengemudi dan kendaraan bermotor
serta mengkaji masalah lalu lintas. Upaya-upaya diatas yang
telah dilaksanakan Polri (Polantas) bertujuan untuk memberikan
perlindungan dan lingkungan hidup dari gangguan ketertiban
dan / atau bencana termasuk memberikan bantuan serta
pertolongan dengan menjujung tinggi Hak Asasi Manusia (Pasl
14 ayat 1 huruf i). Dalam penjelasan pasal 15 ayat 1 huruf e
menyebutkan mengeluarkan peraturan Kepolisian dalam
lingkup administrasi Kepolisian ”fungsi pengaturan”.
Pembahasan Pasal 15 (1) huruf e sejalan dengan pembahasan
istilah “Peraturan Kepolisian” yang tercantum dalam Ketentuan
Umum, Pasal 1 angka 4 . Adanya fraksi yang menanyakan dan
mempermasalahkan kewenangan Kepolisian Negara Republik
Indonesia mengeluarkan “peraturan Kepolisian”. (terhadap
sumber kepustakaan di berbagai Negara) yang ternyata disetiap
Negara dijumpai adanya “peraturan Kepolisian” dan bukan
merupakan produk legislatif.

Peraturan Kepolisian adalah peraturan yang dikeluarkan oleh


Kepolisian berupa perintah atau larangan dalam lingkup tugas-
tugas Kepolisian kepada penduduk.

2) UU. no 14 th 1992 tentang lalu lintas angkutan jalan.


3) PP 43 th 1993 tentang Prasarana dan Lalu Lintas Jalan.

c. Tinjauan Sosiologis
Masalah lalu lintas khususnya di kota Jakarta dan sekitarnya
dengan akar permasahannya selalu tumbuh berkembang secara
kompleks, antara lain:
1) Tingginyan angka kecelakaan (rata-rata pertahun 10.690
meninggal dunia)
2) Kemacetan yang menghambat produkfitas masyarakat.
3) System transportasi dan pelayanan umum yang berkaitan
dengan angkutan jalan yang belum memadai dan layak. Untuk
itu Polri berupaya mengimplementasikan dalam bentuk
pencegahan memalui penddidikan kemasyarakat dan rekayasa
lalu lintas seperti halnya pengamanan kegiatan masyarakat
yang menggunakan kendaraan roda dua untuk menggunakan
lajur kiri guna mewujudkan dan memelihara keamanan,
keselamatan, ketertiban dan kelancaran lalu lintas. Semua ini
beroreantasi sebagai wujud Polri dalam bentuk peduli pada
kemanusian.

d. Pada nomer dua butir a (Pasal 10 ayat 3uu no.32 th 2004 tentang
otonomi daerah) . Pemda hanya menyoroti tentang pembagian
urusan pemerintahan saja.

P.P. No. 43 tahun 1993


Pasal 61 ayat (1)
Pada jalur yang memiliki dua lajur atau lebih lajur searah kendaraan yang
berkecepatan rendah daripada kendaraan lain harus mengambil lajur sebelah
kiri.
Perluasan pasal 61 ayat (1)
Posisi kendaraan di jalan yaitu gerakan kendaran dimana kendaraan dimaksud
tetap berada pada kedudukan lajur peruntukannya kendaraan yang berjalan
lambat harus mengambil lajur jalan sebelah kiri menurut arah kendaraannya,
sehingga memungkinkan kendaraan lain untuk melewatinya dan tidak
mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Kewajiban mengambil lajur jalan
sebelah kiri dimaksudkan untuk memberi kesempatan bagi pengemudi
kendaraan lain yang memiliki kecepatan lebih tinggi untuk melewatinya

Pada prinsipnya upaya yang dilakukan Polri kepada para pengguna


kendaraan roda dua untuk menyalakan lampu kendaraan di siang hari
merupakan kampanye keselamatan dan bentuk kepedulian bagi
kemanusiaan guna mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban dan
kelancaran berlalu lintas.

a. Polri mengedepankan tindakan pre-entif dan preventif (Penyelamatan


dan Pencegahan) tidak melakukan penegakan hukum (Law
enforcement) / represif.

b. pengendara sepeda motor roda dua yang tidak menggunakan lajur kiri
belum/ tidak dilakukan penindakan karena Polri masih melakukan
tahap Sosalisasi dan berdasarkan UU. No. 32 th 2004 tentang
Otonomi Daerah pasal 136 ayat 5 menyatakan: Perda berlaku
setelah diundangkan dalam lembaran daerah.

c. Polri dalam hal ini Ditlantas (Dikyasa) telah melakukan upaya-upaya


manejemen dan rekayasa lalu lintas sesuai dengan PP 44 No. 43 th
1993 tentang Prasarana dan Sarana Jalan pasal 2 s/d 6. Untuk sampai
dengan saat ini, para pengguna sepeda motor tetap menggunakan
lajur kiri ( PP 43 th 1993 Pasal 51 ayat 1 dan Pasl 61 ayat 1)

d. Selama belum ada ketentuan peraturan dan perundang-undangan


yang baru ada, manejemen dan rekayasa lalu lintas mengacu kepada
ketentuan UU No 14 Th 1992 dan PP 43 Th 1993.

e. Untuk manejemen dan rekayasa lalu lintas merupakan tanggung


jawab Dishub dan Pemda DKI Jakarta. Untuk urusan lalu lintas bukan
tanggung jawab Pemda DKI Jakarta saja. Melainkan Pemda DKI
Jakarta harus meminta/ mengajak instansi yang berkompeten antara
lain Ditlantas PMJ, Dishub, PU Bina Marga, Organda dan Jasa
Raharja untuk berkoordinasi dalam memecakan permasalahan
(Problem solving) lalu lintas di DKI Jakarta. (PP43 tahun 1993 pasal 5
Ayat 3 : pelaksaan manejemen dan rekayasa lalu lintas sebagai
mana yang di maksud dalam ayat 1 dan ayat 2 dilakukan setelah
mendengar pendapat instansi terkait).

PENUTUP

Kehidupan demokrasi pada dasarnya sebuah kebudayaan konflik yaitu


menekankan pada perolehan sesuatu dengan melalui persaingan. Persaingan
harus melalui aturan-aturan main atau hukum yang adil dan beradab yang
berada di bawah pengawasan wasit, dalam kehidupan demokrasi, polisi dapat
dilihat perannya atau berperan sebagai wasit yang adil untuk ditaatinya hukum
oleh warga masyarakat.

Dalam masyarakat sipil yang modern, setiap masyarakat dituntut untuk


berproduksi dan berguna atau setidak-tidaknya dapat menghidupi dirinya sendiri
serta dapat saling menghidupi satu sama lain dalam kehidupan bermasyarakat.
Mereka yang tidak berproduksi dianggap sebagai beban atau benalu
masyarakat. Tindak kejahatan atau kerusuhan dapat merusak atau
menghancurkan produktivitas dan dapat menghancurkan masyarakat. Untuk
menjaga dan menumbuhkembangkan produktifitas masyarakat diperlukan
adanya aturan,hukum maupun norma-norma yang adil dan beradab. Untuk
menegakkan dan mengajak masyarakat mentaati aturan, hukum maupun norma
tersebut diperlukan institusi yang menanganinya salah satunya adalah polisi.
Dalam masyarakat modern tugas polisi adalah menjaga agar jalannya produksi
yang menyejahterakan masyarakat tersebut jangan sampai terganggu atau
hancur karena tindak kejahatan dan kerusuhan tercakup dalam pengertian
menjaga jalannya produktivitas dan tujuan utama dalam upaya menjamin
keberadaan manusia dan masyarakatnya yang beradab (Suparlan 1999 b).
Pemolisian dilaksanakan untuk menciptakan dan memelihara keamanan dan
ketertiban dalam masyarakat (kamtibmas).

Untuk menciptakan dan menjaga keamanan, keselamatan dan ketertiban


lalu lintas yang dilakukan dengan tindakan-tindakan : (1) Polisi bersama-sama
dengan masyarakat untuk mencari jalan keluar atau menyelesaikan masalah
sosial (terutama masalah keamanan) yang terjadi dalam masyarakat. (2) Polisi
senantiasa berupaya untuk mengurangi rasa ketakutan masyarakat akan adanya
gangguan kriminalitas, (3) Polisi lebih mengutamakan pencegahan kriminalitas
(crime prevention), (4) Polisi senantiasa berupaya meningkatkan kualitas hidup
masyarakat. Dan keberhasilan tugas polisi bukan hanya pada menekan angka
kejahatan atau kecelakaan tetapi manakala kejahatan atau kecelakaan maupun
gangguan kamtibmas lainya tidak terjadi serta tercipta ketertiban dan keteraturan
yang dapat dirasakan oleh masyarakatnya.