Anda di halaman 1dari 15

Kebudayaan Nasional

1. Arti Kebudayaan
Budaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan
tanah, mengolah, memelihara ladang (menurut Soerjanto Poespowardojo 1993). Selain itu
Budaya atau kebudayaan berasal daribahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan
bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi
dan akal manusia. Adapun menurut istilah Kebudayaan merupakan suatu yang agung dan mahal,
tentu saja karena ia tercipta dari hasil rasa, karya, karsa,dan cipta manusia yang kesemuanya
merupakan sifat yang hanya ada pada manusia.Tak ada mahluk lain yang memiliki anugrah itu
sehingga ia merupakan sesuatuyang agung dan mahal
Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya
manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara
belajar.
1.1 Definisi kebudayaan menurut para ahli
Berikut ini definisi-definisi kebudayaan yang dikemukakan beberapa ahli:
1. Edward B. Taylor
Kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung pengetahuan,
kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adapt istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang
didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
2. M. Jacobs dan B.J. Stern
Kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan
kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan sosial.
3. Koentjaraningrat
Kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka
kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.
4. Dr. K. Kupper
Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia
dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
5. William H. Haviland
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota
masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang
dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.
6. Ki Hajar Dewantara
Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh
kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi
berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai
keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
7. Francis Merill
• Pola-pola perilaku yang dihasilkan oleh interaksi sosial
• Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh sesorang sebagai anggota suatu
masyarakat yang ditemukan melalui interaksi simbolis.
8. Bounded et.al
Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan
manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang
digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya diantara para anggota suatu masyarakat. Pesan-
pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan,
intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
9. Mitchell (Dictionary of Soriblogy)
Kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk
yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar dialihkan
secara genetikal.
10. Robert H Lowie
Kebudayaan adalah segala sesuatu yang diperoleh individu dari masyarakat, mencakup
kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistic, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh
bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat
melalui pendidikan formal atau informal.
11. Arkeolog R. Seokmono
Kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah
pikiran dan dalam penghidupan.
Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota
masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang
dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.
1.2 Jenis-jenis Kebudayaan
1.2.1 Kebudayaan dapat dibagi menjadi 3 macam dilihat dari keadaan
jenis-jenisnya:
• Hidup-kebatinan manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan tertib damainya hidup
masyarakat dengan adat-istiadatnya,pemerintahan negeri, agama atau ilmu kebatinan
• Angan-angan manusia, yaitu sesuatu yang dapat menimbulkan keluhuran bahasa,
kesusasteraan dan kesusilaan.
• Kepandaian manusia, yaitu sesuatu yang menimbulkan macam-macam kepandaian
tentang perusahaan tanah, perniagaan, kerajinan, pelayaran, hubungan lalu-lintas,
kesenian yang berjenis-jenis; semuanya bersifat indah (Dewantara; 1994).
1.2.2 Kebudayaan berdasarkan wujudnya
Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi
tiga,yaitu:
• Gagasan (Wujud ideal)
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-
nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau
disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga
masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan,
maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para
penulis warga masyarakat tersebut.
• Aktivitas (tindakan)
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam
masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari
aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan
manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya
konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.
• Artefak (karya)
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya
semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat,
dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.
Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa
dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur
dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
1.2.3 Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan
atas dua komponen utama:
• Kebudayaan material
Kebudayaan material adalah kebudayaan yang mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang
nyata, konkret. Contoh kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari
suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan
material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga,
pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
• Kebudayaan nonmaterial
Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke
generasi, misalnya dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
1.2.4 Kebudayaan secara umum dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
a. Kebudayaan Daerah adalah kebudayaan dalam wilayah atau daerah tertentu yang diwariskan
secara turun temurun oleh generasi terdahulu pada generasi berikutnya pada ruang lingkup
daerah tersebut. Budaya daerah ini muncul saat penduduk suatu daerah telah memiliki pola pikir
dan kehidupan sosial yang sama sehingga itu menjadi suatu kebiasaan yang membedakan mereka
dengan penduduk – penduduk yang lain. Budaya daerah mulai terlihat berkembang di Indonesia
pada zaman kerajaan – kerajaan terdahulu. Hal itu dapat dilihat dari cara hidup dan interaksi
sosial yang dilakukan masing-masing masyarakat kerajaan di Indonesia yang berbeda satu sama
lain.
Dari pola kegiatan ekonomi kebudayaan daerah dikelompokan beberapa macam yaitu:
• Kebudayaan Pemburu dan Peramu
Kelompok kebudayaan pemburu dan peramu ini pada masa sekarang hampir tidak ada.
Kelompok ini sekarang tinggal di daerah-daerah terpencil saja.
• Kebudayaan Peternak
Kelompok kebudayaan peternak/kebudayaan berpindah-pindah banyak dijumpai di daerah
padang rumput.
• Kebudayaan Peladang
Kelompok kebudayaan peladang ini hidup di daerah hutan rimba. Mereka menebang pohon-
pohon, membakar ranting, daun-daun dan dahan yang ditebang. Setelah bersih lalu ditanami
berbagai macam tanaman pangan. Setelah dua atua tiga kali ditanami, kemudian ditinggalkan
untuk membuka ladang baru di daerah lain.
• Kebudayaan Nelayan
Kelompok kebudayaan nelayan ini hidup di sepanjang pantai. Desa-desa nelayan umumnya
terdapat di daerah muara sungai atau teluk. Kebudayaan nelayan ditandai kemampuan teknologi
pembuatan kapal, pengetahuan cara-cara berlayar di laut, pembagian kerja nelayan laut.
• Kebudayaan Petani Pedesaan
Kelompok kebudayaan petani pedesaan ini menduduki bagian terbesar di dunia. Masyarakat
petani ini merupakan kesatuan ekonomi, sosial budaya dan administratif yang besar. Sikap hidup
gotong royong mewarnai kebudayaan petani pedesaan.
b. Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari budaya daerah yang ada di Negara tersebut. Itu
dimaksudkan budaya daerah yang mengalami asimilasi dan akulturasi dengan dareah lain di
suatu Negara akan terus tumbuh dan berkembang menjadi kebiasaan-kebiasaan dari Negara
tersebut. Misalkan daerah satu dengan yang lain memang berbeda, tetapi jika dapat menyatukan
perbedaan tersebut maka akan terjadi budaya nasional yang kuat yang bisa berlaku di semua
daerah di Negara tersebut walaupun tidak semuanya dan juga tidak mengesampingkan budaya
daerah tersebut. Contohnya Pancasila sebagai dasar negara, Bahasa Indonesia dan Lagu
Kebangsaan yang dicetuskan dalam Sumpah Pemuda 12 Oktober 1928 yang diikuti oleh seluruh
pemuda berbagai daerah di Indonesia yang membulatkan tekad untuk menyatukan Indonesia
dengan menyamakan pola pikir bahwa Indonesia memang berbeda budaya tiap daerahnya tetapi
tetap dalam satu kesatuan Indonesia Raya dalam semboyan “bhineka tunggal ika”.
2. Definisi Kebudayaan Nasional
Kebudayaan Nasional adalah gabungan dari kebudayaan daerah yang ada di Negara tersebut.
Kebudayaan Nasional Indonesia secara hakiki terdiri dari semua budaya yang terdapat dalam
wilayah Republik Indonesia. Tanpa budaya-budaya itu tak ada Kebudayaan Nasional. Itu tidak
berarti Kebudayaan Nasional sekadar penjumlahan semua budaya lokal di seantero Nusantara.
Kebudayan Nasional merupakan realitas, karena kesatuan nasional merupakan realitas.
Kebudayaan Nasional akan mantap apabila di satu pihak budaya-budaya Nusantara asli tetap
mantap, dan di lain pihak kehidupan nasional dapat dihayati sebagai bermakna oleh seluruh
warga masyarakat Indonesia (Suseno; 1992).
2.1 Kebudayaan nasional Indonesia
Bila dicermati pandangan masyarakat Indonesia tentang kebudayaan Indonesia, ada dua
kelompok pandangan.
1.Kelompok pertama yang mengatakan kebudayaan Nasional Indonesia belum jelas, yang ada
baru unsur pendukungnya yaitu kebudayaan etnik dan kebudayaan asing. Kebudayaan Indonesia
itu sendiri sedang dalam proses pencarian.
2.Kelompok kedua yang mengatakan mengatakan Kebudayaan Nasional Indonesia sudah ada.
pendukung kelompok ketiga ini antara lain adalah Sastrosupono. Sastrosupono. Sastrosupono.
Sastrosupono mencontohkan, Pancasila, bahasa Indonesia, undang-undang dasar 1945,
moderenisasi dan pembangunan (1982:68-72).
Adanya pandangan yang mengatakan Kebudayaan Nasional Indonesia belum ada atau sedang
dalam proses mencari, boleh jadi akibat:
(1) tidak jelasnya konsep kebudayaan yang dianut dan pahami
(2) akibat pemahaman mereka tentang kebudayaan hanya misalnya sebatas seni, apakah itu seni
sastra, tari, drama, musik, patung, lukis dan sebagainya. Mereka tidak memahami bahwa iptek,
juga adalah produk manusia, dan ini termasuk ke dalam kebudayaan.
2.2 Akar Kebudayaan Indonesia
Akar kebudayaan Indonesia adalah suatu mekanisme yang terbentuk dari unsur-unsur yang
berkaitan dengan zaman prasejarah,jadi ibarat pohon,pohon tidak dapat tumbuh dan berkembang
tanpa adanya akar,demikian pula dengan kebudayaan pada suatu Negara tidak dapat tumbuh dan
berkembang tanpa adanya akar atau pendahulu yang membentuk kebudayaan tersebut.
Akar kebudayaan Indonesia berhubungan dengan zaman prasejarah, mulai dari nenek moyang
kita yang membawa kebudayaan Dongson, setelah itu diikuti oleh perkembangan Islam di
Indonesia. Jadi islam juga merupakan salah satu akar kebudayaan Indonesia.
Berikut ini ringkasan mengenai sejarah nenek moyang bangsa Indonesia dari tulisan Mochtar
Lubis pada tahun 1986 dalam pidato kebudayaannya yang berjudul “Situasi Akar Budaya Kita”:
Nenek moyang kita adalah bagian dari arus perpindahan manusia yang bergerak di zaman
lampau yang telah hilang sebagai hilangnya bayangan wayang dari layar sejarah, bergerak dari
bagian Timur Eropa Tengah dan bagian Utara wilayah Balkan sekitar laut Hitam ke arah timur,
mencapai Asia, masuk ke Tiongkok. Dan di Tiongkok arus perpindahan ini bercabang-cabang ke
utara, timur dan selatan.
Arus selatan mencapai daerah Yunan, sedang bagian timur mencapai laut Indo Cina. Di sinilah
tempat lahirnya budaya asal Indonesia. Manusia-manusia yang berpindah dan bergerak ke Asia
dari Eropa Tengah dan Wilayah Balkan itu adalah orang Tharacia, Iliria, Cimeria, Kakusia, dan
mungkin termasuk orang Teuton, yang memulai perpindahan mereka di abad ke-9 hingga abad
ke-8 sebelum nabi Isa. Mereka membawa keahlian membuat besi dan perunggu.
Nenek moyang orang Indonesia yang telah berada terlebih dahulu dari mereka di daerah
Dongson ini telah mengembangkan seni monumental tanpa banyak ornamentik yang dekoratif.
Dari pendatang-pendatang baru ini mereka mengambil alih, menerima, dan mencernakan seni
ornamentik pendatang-pendatang dari barat ini. Tidak saja dalam ornamentik, akan tetapi juga
dalam hiasan tenunan (amat banyak persamaan antara hiasan tenun Indonesia dan Balkan
umpamanya), dan juga dalam musik dan nyayian. Jaap Kunst, seorang ahli musik, juga ahli
musik Indonesia mengindentifikasikan persamaan nyayian rakyat di pulau Flores dengan
nyanyian rakyat di bagian timur Yugoslavia (Balkan). Kebudayaan Dongson menunjukkan lebih
banyak persamaan dan kaitan dengan budaya Eropa dibanding budaya Cina.
Nenek moyang Dongson inilah yang bergerak ke selatan, dan kemudian mencapai Nusantara. Di
Nusantara hampir tidak ada perpisahan antara zaman perunggu dan zaman besi. Hal ini sama
juga terjadi di Indo Cina. Dalam penggalian situs-situs purbakala, perunggu dan besi selalu
ditemukan bersama-sama. Hulu pisau dongson banyak berbentuk manusia, seperti keris
Majapahit. Bentuk hulu pisau yang serupa juga ditemukan di Holstein (Jerman), Denmark, dan di
Kauskasus.
Tetapi, sebelum nenek moyang dari Dongson turun ke Nusantara, kelompok-kelompok manusia
lain telah terlebih dahulu datang. Selama zaman es terakhir, kurang lebih 15.000 tahun sebelum
Masehi, sejarah bumi Nusantara menunjukkan bahwa sebagian besar Nusantara bagian barat
menyatu dengan daratan Asia Tenggara, Jawa, Sumatera, Kalimantan dan wilayah yang kini laut
Jawa. Ketika es berakhir, permukaan laut naik kembali, dan terbentuklah gugusan pulau-pulau
seperti yang kita kenal kini. Sejarah bumi Nusantara telah berpengaruh besar pada
perkembangan manusia Melayu-Polinesia. Mereka menjadi bangsa maritim, yang kurang lebih
1000 tahun sebelum nabi Isa megarungi Samudera Hindia. Manuskrip tua Hebrew dari masa
akhir 2000 dan permulaan 1000 sebelum tahun Nabi Isa telah menyebut perdagangan kulit manis
dari berbagai tempat sepanjang pantai timur Afrika.
Sebuah naskah Arab dari abad ke 13 menceritakan masuknya orang Melayu-Polinesia ke belahan
barat Samudera Hindia. Naskah itu mengatakan bahwa di masa mundurnya Kerajaan Fira’un di
Mesir, tempat yang bernama Aden, yang menguasai jalan masuk ke laut Merah (yang masa itu
merupakan tempat penduduk nelayan), telah direbut oleh orang Qumr (Melayu-Polinesia) yang
datang dengan armada yang terdiri dari perahu-perahu yang memakai cadik. Mereka mengusir
penduduk setempat, membangun berbagai monumen dan memilihara hubungan langsung dengan
pulau Madagaskar dan Asia Tenggara. Para ahli sejarah menyebutkan hal itu mungkin terjadi di
masa Nabi Isa masih hidup. Untuk masa yang cukup lama orang Melayu-Polinesia menguasai
pelayaran dan perdagangan lewat Samudera Hindia dari Asia Tenggara ke pintu Laut Merah,
sepanjang pantai timur Afrika dan Pulau Madagaskar.
Dalam melakukan ini, mereka juga telah membawa berbagai kekayaan budaya ke Madagaskar
dan Afrika. Di Madagaskar mereka telah menetap di belahan barat pulau itu. Hingga kini masih
terlihat berbagai persamaan kata antara bahasa Madagaskar dan bahasa suku Manyaan di
Kalimantan. Ke timur, nenek moyang Melayu-Polinesia ini berlayar jauh ke pedalaman pasifik,
menetap di berbagai kepulauan, dan mereka paling ke timur mencapai Easter Island, pulau
terjauh ke timur dari Nusantara.
Jelaslah bahwa budaya bangsa kita berakar jauh ke zaman prasejarah, ke masa silam yang begitu
jauhnya, hingga telah lenyap dari ingatan bangsa kita. Jelas pula bahwa kita telah mewarisi
budaya dunia yang ada di masa itu, di samping nenek moyang kita telah memberi pula
sumbangan pada budaya-budaya bangsa lain di seberang Samudera Hindia, serta menciptakan
berbagai budaya di Madagaskar, dan di kepulauan-kepulauan Samudera Pasifik.
Mengingat ini kembali, apakah kita kini, sebagai pewaris langsung dari mereka, harus merasa
gentar menghadapi abad ke 21 dan seterusnya? Seharusnya tidak! Kita harus berani memeriksa
diri secara cermat. Apa kekurangan-kekurangan kita kini, hingga kita tidak memiliki
kemampuan, keberanian dan daya cipta untuk berbuat yang besar-besar bagi bangsa kita dan
umat manusia hari ini?
Proses melalui zaman Mesolitik mencapai zaman Neolitik mungkin terjadi kurang lebih 3500-
2500 tahun sebelum Nabi Isa. Ketika itu mereka mulai tinggal bersama dalam komunitas-
komunitas kecil dan mulai mengembangkan pertanian dan sistem pengairan. Di zaman ini
berkembang akar budaya musyawarah Indonesia, karena di kala itu belum ada kepala dan raja,
dan semuanya masih dimusyawarahkan oleh semua anggota komunitas, dipimpin oleh orang-
orang yang lebih tua. Wanita ikut bermusyawarah, dan anak-anak boleh hadir dan ikut
mendengar. Di suku Sakudei di pulau Mentawai, seorang peneliti Swiss melaporkan bahwa dia
masih menemukan tradisi musyawarah yang lama itu.
Akar budaya kita juga tumbuh dalam kepercayaan bahwa segala yang ada di bumi memiliki
”ruh-ruh” sendiri. Ruh manusia adalah saudaranya, yang dapat melepaskan diri dari dalam badan
seseorang, dan ruh itu dapat mengalami bencana dalam petualangannya di luar tubuh kita, yang
dapat mengakibatkan yang punya tubuh jatuh sakit atau mati. Manusia harus berbaik-baik dalam
hubungannya dengan dunia roh ini.
Selanjutnya nenek moyang kita di masa Megalitik itu memiliki konsep hubungan dan
pertentangan antara dunia atas dan dunia bawah. Dalam upacara-upacara khusus, mereka
membangun megalith-megalith dengan tujuan melindungi ruh dari bahaya-bahaya yang datang
dari dunia bawah, untuk menjadi penghubung antara yang hidup dan yang telah mati, dan untuk
mengabadikan kekuatan-kekuatan magis mereka yang membangun megalith-megalith tersebut,
atau untuk siapa batu-batu itu dibangun. Megalith-megalith dibangun untuk memperkuat
kesuburan manusia, ternak dan apa yang mereka tanam, dan dengan demikian memperbesar
kekayaan generasi-generasi yang akan datang.
Kebudayaan Megalitik ini kemudian dimasuki oleh budaya Dongson yang membawa teknologi
perunggu dan besi, dan memberikan nafas dan kekuatan serta daya cipta baru pada kelompok-
kelompok budaya di Nusantara. Diperkirakan pula bahwa budaya Dongson membawa teknologi
bertanam padi di sawah. Teknologi padi sawah mendorong komunitas-komunitas kecil untuk
lebih berintegrasi mengembangkan dan memilihara sistem pengairan, koordinasi bertanam
serempak pada waktu yang sama. Dalam proses sejarah, teknologi padi sawah ini telah
mendorong proses integrasi masyarakat-masyarakat desa Indonesia yang hingga kini tumpuan
kehidupan terbesar bangsa kita. Ia juga erat hubungannya dengan irama iklim, datang musim
kering dan musim hujan, yang mempengaruhi pola kehidupan di Indonesia. Musim panen
merupakan musim perkawinan umpamanya.
Pemujaan nenek moyang merupakan salah satu akar budaya bangsa Indonesia. Pandangan
kosmik mengenai kontradiksi antara dunia bawah dan dunia atas tercermin dalam organisasi
sosial berbagai suku bangsa kita; garis ibu dan garis ayah, hubungann dasar antara dua suku yang
saling mengambil laki-laki dan perempuan dari dua suku untuk perkawinan, membuat tiada satu
suku lebih tinggi kedudukannya dari yang lain. Setiap suku bergantian menduduki tempat yang
superior dan tempat di bawah. Struktur tradisi kesukuan ini merupakan sebuah mekanisme ke
arah demokrasi, yang seandainya kita pandai mengembangkannya dapat merupakan kekuatan
untuk tradisi demokrasi bangsa kita.
Datangnya agama Budha, Hindu dan Islam, bangkitnya feodalisme, lalu datang orang Eropa
membawa penindasan penjajah, dan agama Nasrani, lalu lewat pendidikan Barat masuk pula
ilmu pengetahuan modern dan tekonologi modern telah mendorong berbagai proses
kemasyarakatan, politik, ekonomi, dan budaya, yang akhirnya membawa manusia Indonesia
pada keadaan hari ini.
Akar budaya lama jadi layu dan terlupakan, meskipun ada diantaranya tanpa kita sadari masih
berada terlena di bawah sadar kita. Bangkitnya feodalisme di Indonesia dengan lahirnya berbagai
kerajaan besar dan kecil telah mengubah hubungan antara kekuasaan dan manusia atau anggota
masyarakat. Penjajahan Belanda menggunakan sistem menguasai dan memerintah melalui kelas
bangsawan atau feodal lama Indonesia telah meneruskan tradisi feodal berlangsung terus dalam
masyarakat kita. Malahan setelah Indonesia merdeka, hubungan-hubungan diwarnai nilai-nilai
feodalisme masih berlangsung terus, hingga sering kita mengatakan bahwa kita kini menghadapi
neo-feodalisme dalam bentuk-bentuk baru.
Semua pendidikan modern, falsafah Barat dan Timur, ideologi-ideologi yang datang dari Barat
mengenai manusia dan masyarakat. Agama Islam dan Nasrani yang jadi lapis terakhir di atas
kepercayaan-kepercayaan lama dan nilai-nilai akar budaya kita, oleh daya sinkritisme manusia
Indonesia, semuanya diterima dalam dirinya tanpa banyak konflik dalam jiwa dan diri kita.
Sesuatu terjadi dalam diri kita, hingga secara budaya tidak mampu memisahkan yang satu dari
yang lain: mana yang takhyul, mana yang ilmiah, mana yang bayangan, mana yang kenyataan,
mana yang mimpi dan mana dunia nyata. Malahan banyak orang kini membuat ilmu dan
teknologi jadi takhyul dalam arti, orang percaya bahwa ilmu dan teknologi dapat menyelesaikan
semua masalah manusia di dunia. Dan ada yang berbuat sebaliknya.
Kita jadi tidak tajam lagi membedakan mana yang batil dan mana yang halal. Karena itu
beramai-ramai dan penuh kebahagiaan kita melakukan korupsi besar-besaran, dan tidak merasa
bersalah sama sekali (Lubis, dalam ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).
2.3 Kebudayaan Barat di Indonesia
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia semakin
berkembang pesat. Hal ini dapat kita lihat dari semakin banyaknya rakyat Indonesia yang
bergaya hidup kebarat-baratan seperti mabuk-mabukkan,clubbing,memakai pakaian mini,bahkan
berciuman di tempat umum seperti sudah lumrah di Indonesia. Proses akulturasi di Indonesia
tampaknya beralir secara simpang siur, dipercepat oleh usul-usul radikal, dihambat oleh aliran
kolot, tersesat dalam ideologi-ideologi, tetapi pada dasarnya dilihat arah induk yang lurus: ”the
things of humanity all humanity enjoys”. Terdapatlah arus pokok yang dengan spontan
menerima unsur-unsur kebudayaan internasional yang jelas menguntungkan secara positif.
Proses filtrasi perlu dilakukan sedini mungkin supaya kebudayaan barat yang masuk ke
Indonesia tidak akan merusak identitas kebudayaan nasional bangsa kita. Tetapi bukan berarti
kita harus menutup pintu akses bangsa barat yang ingin masuk ke Indonesia, karena tidak semua
kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia berpengaruh negatif, tetapi juga ada yang memberi
pengaruh positif seperti memajukan perkembangan IPTEK di Indonesia. Prioritas yang perlu kita
lakukan terhadap kebudayaan barat yang masuk ke Indonesia adalah kita harus lebih selektif
kepada kebudayaan barat.
Frans Magnis Suseno dalam bukunya ”Filsafat Kebudayan Politik”, membedakan tiga macam
Kebudayaan Barat Modern:
a. Kebudayaan Teknologis Modern
Kebudayaan Tekonologis Modern merupakan sesuatu yang kompleks. Penyataan-penyataan
simplistik, begitu pula penilaian-penilaian hitam putih hanya akan menunjukkan
kekurangcanggihan pikiran. Kebudayaan itu kelihatan bukan hanya dalam sains dan teknologi,
melainkan dalam kedudukan dominan yang diambil oleh hasil-hasil sains dan teknologi dalam
hidup masyarakat: media komunikasi, sarana mobilitas fisik dan angkutan, segala macam
peralatan rumah tangga serta persenjataan modern. Hampir semua produk kebutuhan hidup
sehari-hari sudah melibatkan teknologi modern dalam pembuatannya.
Kebudayaan Teknologis Modern itu kontradiktif. Dalam arti tertentu dia bebas nilai, netral. Bisa
dipakai atau tidak. Pemakaiannya tidak mempunyai implikasi ideologis atau keagamaan. Seorang
Sekularis dan Ateis, Kristen Liberal, Budhis, Islam Modernis atau Islam Fundamentalis, bahkan
segala macam aliran New Age dan para normal dapat dan mau memakainya, tanpa
mengkompromikan keyakinan atau kepercayaan mereka masing-masing. Kebudayaan
Teknologis Modern secara mencolok bersifat instumental.
b. Kebudayaan Modern Tiruan
Kebudayaan Modern Tiruan terwujud dalam lingkungan yang tampaknya mencerminkan
kegemerlapan teknologi tinggi dan kemodernan, tetapi sebenarnya hanya mencakup pemilikan
simbol-simbol lahiriah saja, misalnya kebudayaan lapangan terbang internasional, kebudayaan
supermarket (mall), dan kebudayaan Kentucky Fried Chicken (KFC).
Di lapangan terbang internasional orang dikelilingi oleh hasil teknologi tinggi, ia bergerak dalam
dunia buatan: tangga berjalan, duty free shop dengan tawaran hal-hal yang kelihatan mentereng
dan modern, meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan, suasana non-real kabin pesawat terbang;
semuanya artifisial, semuanya di seluruh dunia sama, tak ada hubungan batin.
Kebudayaan Modern Tiruan hidup dari ilusi, bahwa asal orang bersentuhan dengan hasil-hasil
teknologi modern, ia menjadi manusia modern. Padahal dunia artifisial itu tidak
menyumbangkan sesuatu apapun terhadap identitas kita. Identitas kita malahan semakin kosong
karena kita semakin membiarkan diri dikemudikan. Selera kita, kelakuan kita, pilihan pakaian,
rasa kagum dan penilaian kita semakin dimanipulasi, semakin kita tidak memiliki diri sendiri.
Itulah sebabnya kebudayaan ini tidak nyata, melainkan tiruan, blasteran.
Anak Kebudayaan Modern Tiruan ini adalah Konsumerisme: orang ketagihan membeli, bukan
karena ia membutuhkan, atau ingin menikmati apa yang dibeli, melainkan demi membelinya
sendiri. Kebudayaan Modern Blateran ini, bahkan membuat kita kehilangan kemampuan untuk
menikmati sesuatu dengan sungguh-sungguh. Konsumerisme berarti kita ingin memiliki sesuatu,
akan tetapi kita semakin tidak mampu lagi menikmatinya. Orang makan di KFC bukan karena
ayam di situ lebih enak rasanya, melainkan karena fast food dianggap gayanya manusia yang
trendy, dan trendy adalah modern.
c. Kebudayaan-kebudayaan Barat
Kita keliru apabila budaya blastern kita samakan dengan Kebudayaan Barat Modern.
Kebudayaan Blastern itu memang produk Kebudayaan Barat, tetapi bukan hatinya, bukan
pusatnya dan bukan kunci vitalitasnya. Ia mengancam Kebudayaan Barat, seperti ia mengancam
identitas kebudayaan lain, akan tetapi ia belum mencaploknya. Italia, Perancis, spayol, Jerman,
bahkan barangkali juga Amerika Serikat masih mempertahankan kebudayaan khas mereka
masing-masing. Meskipun di mana-mana orang minum Coca Cola, kebudayaan itu belum
menjadi Kebudayaan Coca Cola.
Orang yang sekadar tersenggol sedikit dengan kebudayaan Barat palsu itu, dengan demikian
belum mesti menjadi orang modern. Ia juga belum akan mengerti bagaimana orang Barat
menilai, apa cita-citanya tentang pergaulan, apa selera estetik dan cita rasanya, apakah
keyakinan-keyakinan moral dan religiusnya, apakah paham tanggung jawabnya (Suseno; 1992).
2.3.1 Dampak Kebudayaan Barat di Indonesia
Dampak kebudayaan barat di Indonesia dicerminkan dalam wujud globalisasi dan modernisasi
yang dapat membawa dampak positif dan dampak negatif bagi bangsa kita.
Dampak Positif
a. Perubahan Tata Nilai dan Sikap
Adanya modernisasi dan globalisasi dalam budaya menyebabkan pergeseran nilai dan sikap
masyarakat yang semua irasional menjadi rasional.
b. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat menjadi lebih mudah
dalam beraktivitas dan mendorong untuk berpikir lebih maju.
c. Tingkat Kehidupan yang lebih Baik
Dibukanya industri yang memproduksi alat-alat komunikasi dan transportasi yang canggih
merupakan salah satu usaha mengurangi penggangguran dan meningkatkan taraf hidup
masyarakat.
Dampak Negatif
Dampak negatif modernisasi dan globalisasi adalah sebagai berikut.
a. Pola Hidup Konsumtif
Perkembangan industri yang pesat membuat penyediaan barang kebutuhan masyarakat
melimpah. Dengan begitu masyarakat mudah tertarik untuk mengonsumsi barang dengan banyak
pilihan yang ada.
b. Sikap Individualistik
Masyarakat merasa dimudahkan dengan teknologi maju membuat mereka merasa tidak lagi
membutuhkan orang lain dalam beraktivitasnya. Kadang mereka lupa bahwa mereka adalah
makhluk sosial.
c. Gaya Hidup Kebarat-baratan
Tidak semua budaya Barat baik dan cocok diterapkan di Indonesia. Budaya negatif yang mulai
menggeser budaya asli adalah anak tidak lagi hormat kepada orang tua, kehidupan bebas remaja,
dan lain-lain.
d. Kesenjangan Sosial
Apabila dalam suatu komunitas masyarakat hanya ada beberapa individu yang dapat mengikuti
arus modernisasi dan globalisasi maka akan memperdalam jurang pemisah antara individu
dengan individu lain yang stagnan. Hal ini menimbulkan kesenjangan sosial. Kesenjangan social
menyebabkan adanya jarak antara si kaya dan si miskin sehingga sangat mungkin bias merusak
kebhinekaan dan ketunggalikaan Bangsa Indonesia.
2.4 Situasi Budaya di Indonesia
Situasi Budaya Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Pasalnya, semakin banyak kebudayaan
Indonesia yang diklaim oleh Negara tetangga kita sendiri yaitu Malasyia. Seperti tari reog
ponorogo, dan yang baru akhir-akhir ini terjadi yaitu tari pendet yang diklaim juga oleh
Malaysia. Hak paten atas kebudayaan dalam hal ini sangat berperan penting. Pemerintah baru
menyadari akan perlunya hak paten tersebut setelah adanya klaim-mengklaim Malaysia terhadap
Kebudayaan Indonesia. Menurut saya stabilitas situasi budaya di Indonesia dapat terwujud
dengan cara mempublikasikan kebudayaan kita kepada bangsa luar, dengan demikian secara
tidak langsung menghak-patenkan kebudayaan kita. Selain itu proses akulturasi yang negatif
dapat mempengaruhi situasi budaya di Indonesia semakin memprihatinkan.
Sajiman Surjohadiprojo dalam pidato kebudayaannya di tahun 1986 menyampaikan tentang
persoalah kita hari ini, yaitu kurang kuatnya kemampuan mengeluarkan energi pada manusia
Indonesia. Hal ini mengakibatkan kurang adanya daya tindak atau kemampuan berbuat. Rencana
konsep yang baik, hasil dari otak cerdas, tinggal dan rencana dan konsep belaka karena kurang
mampu untuk merealisasikannya. Akibat lainnya adalah pada disiplin dan pengendalikan diri.
Lemahnya disiplin bukan karena kurang kesadaran terhadap ketentuan dan peraturan yang
berlaku, melainkan karena kurang mampu untuk membawakan diri masing-masing menetapi
peraturan dan ketentuan yang berlaku. Kurangnya kemampuan mnegeluarkan energi juga
berakibat pada besarnya ketergantungan pada orang lain. Kemandirian sukar ditemukan dan
mempunyai dampak dalam segala aspek kehidupan termasuk kepemimpinan dan tanggung
jawab.
Menurut beliau kelemahan ini merupakan Kelemahan Kebudayaan. Artinya, perbaikan dari
keadaan lemah itu hanya dapat dicapai melalui pendekatan budaya. Pemecahannya harus melalui
pendidikan dalam arti luas dan Nation and Character Building (Surjohadiprodjo, dalam
”Pembebasan Budaya-Budaya Kita; 1999).
Mochtar Lubis juga dalam kesempatan yang sama saat Temu Budaya tahun 1986,
menyampaikan bahwa kondisi budaya kita hari ini ditandai secara dominan oleh ciri:
• Kontradiksi gawat antara asumsi dan pretensi moral budaya Pancasila dengan kenyataan
• Kemunafikan
• Lemahnya kreativitas
• Etos kerja yang lemah
• Neo-Feodalisme
• Budaya malu telah sirna ( Lubis, 1999).
2.4.1 Tantangan-tantangan kebudayaan di Indonesia
1. Kebudayaan Modern Tiruan
Tantangan yang sungguh-sungguh mengancam kita adalah Kebudayaan Modern Tiruan. Dia
mengancam justru karena tidak sejati, tidak substansial. Yang ditawarkan adalah semu.
Kebudayaan itu membuat kita menjadi manusia plastik, manusia tanpa kepribadian, manusia
terasing, manusia kosong, manusia latah.
Kebudayaan Blasteran Modern bagaikan drakula: ia mentereng, mempunyai daya tarik luar
biasa, ia lama kelamaan meyedot pandangan asli kita tentang nilai, tentang dasar harga diri,
tentang status. Ia menawarkan kemewahan-kemewahan yang dulu bahkan tidak dapat kita
impikan. Ia menjanjikan kepenuhan hidup, kemantapan diri, asal kita mau berhenti berpikir
sendiri, berhenti membuat kita kehilangan penilaian kita sendiri. Akhirnya kita kehabisan darah ,
kehabisan identitas. Kebudayaan modern tiruan membuat kita lepas dari kebudayaan tradisional
kita sendiri, sekaligus juga tidak menyentuh kebudayaan teknologis modern sungguhan
(Suseno;1992)
2. Bagaimana Memberi Makan, Sandang, dan Rumah
Ki Hajar Dewantara mengatakan bahwa, budaya adalah perjuangan manusia dalam mengatasi
masalah alam dan zaman. Permasalahan yang paling mendasar bagi manusia adalah masalah
makan, pakaian dan perumahan. Ketika orang kekurangan gizi bagaimana ia akan mendapat
orang yang cerdas. Ketika kebutuhan pokok saja tidak terpenuhi bagaimana orang akan berpikir
maju dan menciptakan teknologi yang hebat. Jangankan untuk itu, permasalahan pemenuhan
kebutuhan kita sangat mempengaruhi pola hubungan di antara manusia. Orang rela mencuri
bahkan membunuh agar ia bisa makan sesuap nasi. Sehingga, kelalaian dalam hal ini bukan
hanya berdampak pada kemiskinan, kelaparan, kematian, akan tetapi akan berpengaruh dalam
tatanan budaya-sosial masyarakat.
3. Masalah Pendidikan yang Tepat
Pendidikan masih menjadi permasalahan yang menjadi perhatian serius jika bangsa ini ingin
dipandang dalam percaturan dunia. Ada fenomena yang menarik terkait dengan hal ini, yaitu
mengenai kolaborasi kebudayaan dengan pendidikan, dalam artian bagaimana sistem pendidikan
yang ada mengintrinsikkan kebudayaan di dalamnya. Dimana ada suatu kebudayaan yang
menjadi spirit dari sistem pendidikan yang kita terapkan.
4. Mengejar Kemajuan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Problem ini beranjak ketika kita sampai saat ini masih menjadi konsumen atas produk-produk
teknologi dari negara luar. Situasi keilmiahan kita belum berkembang dengan baik dan belum
didukung oleh iklim yang kondusif bagi para ilmuan untuk melakukan penelitian dan penciptaan
produk-produk, teknologi baru. Jika kita tetap mengandalkan impor produk dari luar negeri,
maka kita akan terus terbelakang. Oleh karena itu, hal ini tantangan bagi kita untuk mengejar
ketertinggalan iptek dari negara-negara maju.
5. Kondisi Alam Global
Salah satu dampak pemanasan global adalah meningkatnya suhu permukaan bumi sepanjang
lima tahun mendatang. Hal itu akan mengakibatkan gunung es di Amerika Latin mencair.
Dampak lanjutannya adalah kegagalan panen, yang hingga tahun 2050 mengakibatkan 130 juta
penduduk dunia, terutama di Asia, kelaparan. Pertanian gandum di Afrika juga akan mengalami
hal yang sama.
Dampak pemanasan global juga dapat berupa meningkatnya permukaan laut, lenyapnya
beberapa spesies dan bencana nasional yang makin meningkat. Disebutkan, 30% garis pantai di
dunia akan lenyap pada 2080. Lapisan es di kutub mencair hingga terjadi aliran air di kutub
utara. Hal itu akan mengakibatkan terusan Panama terbenam.
Naiknya suhu memicu topan yang lebih dasyat hingga mempengaruhi wilayah pantai yang
selama ini aman dari gangguan badai. Banyak tempat yang kini kering makin kering, sebaliknya
berbagai tempat basah akan semakin basah. Kesenjangan distribusi air secara alami ini akan
berpotensi meningkatkan ketegangan dalam pemanfaaatan air untuk kepentingan industri,
pertanian dan penduduk.
Asia menjadi bagian dari bumi yang akan paling parah. Perubahan iklim yang tak terdeteksi akan
menjadi bencana lingkungan dan ekonomi, dan buntutnya adalah tragedi kemanusiaan.
2.4.2 Bagaimana mempertahankan kebudayaan Indonesia?
Berikut ini adalah cara-cara mempertahankan kebudayaan Indonesia :
• Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk
dalam negeri.
• Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
• Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
• Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar-
benarnya dan seadil- adilnya.
• Selektif terhadap kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia
• Pemerintah harus Menghak-patenkan kebudayaan-kebudayaan di Indonesia
Daftar Pustaka
www.wikipedia.com
www.google.com
Arifin,Masyhuri.2009.definisi kebudayaan menurut para ahli.google
Ambara,Sughosa.2007.untuk Indonesia.google
Organisasi.org komunitas dan perpustakaan online
Gunawan.2007.fenomena konsep kebudayaan Indonesia.google
S.Brahmana-Kebudayaan Nasional Indonesia
Al-Farisi,Arlan Rudi.2008.pengaruh budaya barat.ISD:google
Bakker, JWM. 1999. ”Filsafat Kebudayaan, Sebuah Pengantar”. Penerbit Kanisius;
Yogyakarta.
Dewantara, Ki Hajar. 1994. ”Kebudayaan”. Penerbit Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa;
Yogyakarta.
Sarjono. Agus R (Editor). 1999. ”Pembebasan Budaya-Budaya Kita”. Penerbit PT Gramedia
Pustaka Utama; Jakarta. Suseno, Franz Magnis. 1992. ”Filsafat Kebudayaan Politik”. Penerbit
Gramedia Pustaka Utama; Jakarta.

Masalah Hidup adalah Masalah Kebudayaan


Oleh: AnneAhira.com Content Team
1
2
3
4
5
3

( 4 ) | Jumlah komentar: 1

SHARE : Facebook Twitter Blogger Wordpress

Artikel Terkait
• Iceberg Phenomenon Sebagai Masalah Sosial Budaya
• Masyarakat dan Kebudayaan
• Marxisme sebagai Teori Kebudayaan Sosial
• Parang Dengan Senjata Tradisional Banten
Kebudayaan adalah hasil kreasi manusia untuk menjadikan kehidupan lebih baik.
Setiap bangsa mempunyai macam kebudayaan yang berbeda. Hal ini karena pola
kehidupan mereka yang berbeda. Masalah kebudayaan memang seringkali menjadi
bahan perbincangan hangat. Bahkan, tidak jarang masalah kebudayaan ini memanas
hanya karena perbedaan apresiasi dan persepsi atas kebudayaan yang ada.
Kebudayaan itu bersifat spesifik sebab aspek ini menggambarkan pola kehidupan.
Setiap bangsa pola kehidupannya berbeda. Jangankan antar bangsa, antar masyarakat
di negeri yang sama saja seringkali terjadi perbedaan mengenai kebudayaan ini.
Oleh karena itulah, masalah kebudayaan dijadikan sebagai salah satu tonggak
keberhasilan hidup masyarakat sebuah lingkungan. Masyarakat yang tingkat
kebudayaannya tinggi, pasti kehidupan masyarakatnya tertata bagus.
Dalam kehidupan ini, setiap proses interaksi antar personal dilakukan dengan tingkat
friksi yang tinggi. Tingkat friksi ini kadangkala menyebabkan benturan yang jika tidak
didasari budaya tinggi, maka dapat menyebabkan kekacauan dan kerusakan.
Sudah banyak contoh dalam kehidupan Anda dimana masalah kebudayaan telah
menjadi pemicu dan pemacu benturan antar personil masyarakat. Dan, pada akhirnya
yang mengalami kerugian adalah masyarakat juga.
Menjadikan Masalah Kebudayaan Sebagai Akar Kebersamaan
Memang kondisi kehidupan masyarakat sangatlah beragam. Hal ini sangat tergantung
pada tingkat kemampuan personal masyarakat dalam memahami setiap kejadian yang
ada dalam kehidupannya. Dengan kondisi tersebut, maka masalah kebudayaan yang
berbeda seharusnya bukan dianggap sebagai sebuah perbedaan, melainkan sebagai
keberagaman pola kehidupan.
Anda hidup dari sebuah perbedaan. Dan, perbedaan itulah itu merupakan variasi atas
kehidupan yang dinamis. Setiap saat selalu ada hal baru yang tumbuh dan berkembang
dalam kehidupan. Anda tidak dapat mengelak dari kondisi tersebut sebab Anda adalah
bagian integral dalam kehidupan ini. Masalah kebudayaan adalah masalah kehidupan,
jadi tidak mungkin Anda yang hidup mengelak dari tuntutan hidup.
Jika Anda menjadikan setiap budaya yang ada sebagai sebuah keberagaman, maka
yakinlah bahwa masalah kebudayaan yang setiap saat memicu kekacauan di negeri ini
sangat tidak proporsional. Mengapa perbedaan pola hidup, pola pikir, dan pola-pola lain
yang merupakan akar kebudayaan tersebut menjadi pokok permasalahan?
Tentunya hal tersebut kembali kepada tingkat kemampuan apresiasi dan persepsi
personal terhadap setiap hasil kreasi manusia. Bahwa, jika tingkat apresiasi dan
persepsi tinggi, kehidupan masyarakat tenang, walaupun masyarakat tersebut
heterogen.
Seharusnya, perbedaan kebudayaan yang ada di masyarakat dijadikan sebagai pemicu
untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan berkebudayaan masyarakat.
Hal ini sangat penting sebab isu masalah kebudayaan seringkali mampu
menghancurkan tatanan yang sudah ada. Dan, Anda tidak ingin kecolongan oleh
kondisi yang sama untuk setiap saatnya.
Oleh karena itulah, maka ke depannya, masalah kebudayaan seharusnya justru
dijadikan sebagai akar kebersamaan dalam kehidupan global. Hal ini karena dalam
kehidupan global segala hal dan kondisi hidup secara berdampingan. Jika tidak ada
rasa kebersamaan, maka sekecil apapun masalah yang terjadi dapat menyebabkan
penghacuran massal.
Kita Sudah Lelah Dengan Pertentangan
Ya. Anda memang sudah lelah dengan segala pertentangan yang tumbuh dan
berkembang dalam kehidupan . Karena Anda sangat menyadari bahwa sebenarnya
setiap kejadian, seharusnya tidak perlu terjadi. Hanya karena kesalahan dalam
mengapresiasi dan mempersepsi masalah kebudayaan, selanjutnya menjadikan Anda
sebagai kuda tunggangan kemarahan. Sungguh sangat tidak proporsional.
Bumi ini sudah tua, begitu juga dengan bangsa ini. Seharusnya, semakin tua Anda,
maka pola pikir semakin bagus dan tenang. Seharusnya Anda lebih menyadari bahwa
hidup berdampingan dengan orang lain memang sangat rentan atas persengketaan
atau sekadar friksi antar personal. Jika memang terjadi friksi, maka seharusnya hal
tersebut bukan dibudayakan sebagai masalah kebudayaan. Biarkan hal tersebut
menjadi persoalan antar pribadi dan diselesaikan secara pribadi pula.
Sudah lelah Anda menghadapi masalah kebudayaan yang salah seperti ini. Terlalu
banyak masalah yang timbul dari sesuatu yang sesungguhnya bukan masalah.
Bagaimana Anda dapat mengatakan ini sebuah masalah jika sebenarnya yang
dijadikan atau dianggap adalah masalah kebudayaan. Padahal Anda mengetahui
bahwa kebudayaan itu universal.
Tidak ada batasan yang mampu mengekang kebudayaan. Kebudayaan itu tumbuh dan
berkembang seiring dengan perkembangan kehidupan masyarakat. Harusnya
masyarakat mampu mengadaptasikan diri sehingga secara perlahan kebudayaan
menjadi bagian integral dirinya.
Seharusnya, ke depan Anda berpikir panjang dan mengedepankan kebersamaan
sehingga masalah kebudayaan tidak perlu dijadikan sebagai pemicu kejadian yang
tidak perlu. Anda harus belajar bersama-sama atas perbedaan yang dijadikan
keberagaman.
Jika keberagaman dapat diwujudkan, maka Anda dapat menjadikan kehidupan
masyarakat dengan keberagaman budaya anak bangsa. Dan, kedepannya masyarakat
Anda akan solid tak terpecahkan oleh isu apapun, termasuk masalah kebudayaan.