Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Disusun Oleh: Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 2007

Analisis Laporan Keuangan Daerah Oleh Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan Republik Indonesia Bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA)

Desain sampul dan isi : Tim YPIA

Diterbitkan pertama kali oleh : Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jl. Bintaro Utama Sektor V Bintaro Jaya Tangerang 15223 Indonesia Telp : 021 7361654 - 56 Fax : 021 7361653

Cetakan Pertama : Desember 2007

Buku ini bisa di download bebas melalui Website : www.stan-star.ac.id

Kata

Sambutan

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah pada tahun 2007 ini Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipercaya oleh Asian Development Bank (ADB) untuk melaksanakan salah satu kegiatan reformasi birokrasi yakni penyusunan program pelatihan auditor internal non-gelar bagi Inspektorat di daerah. Hal ini didasarkan pada tekad pemerintah untuk melakukan reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka good governance mencakup reformasi audit pemerintahan daerah. Dalam hubungan ini, pemerintah telah menetapkan proyek yang disebut dengan State Audit Reform Sector Development Project (STAR-SDP). Pelaksanaan STAR-SDP mendapat dukungan pendanaan yang berasal dari Asian Development Bank (ADB) dan pemerintah Belanda. Sejalan dengan tekad untuk menyukseskan penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah juga menetapkan bahwa STAR-SDP mencakup proyek peningkatan kuantitas dan kualitas auditor di lingkungan pemerintah daerah melalui program pendidikan jangka pendek (non-gelar). Proyek pendidikan non-gelar bagi auditor inspektorat daerah ini diserahkan kepada STAN – Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan RI dan pelaksanaannya harus melibatkan konsultan independen serta didukung oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Modul ini merupakan bagian dari kegiatan STAR-SDP tersebut yang dikhususkan bagi auditor inspektorat daerah. Semoga modul ini bermanfaat bagi para auditor inspektorat daerah dan para instruktur pelatihan audit internal sektor publik serta pihak lain yang tertarik untuk mendalami audit internal sektor publik. Selaku pimpinan STAN saya sangat bangga dengan kegiatan ini dan peningkatan yang telah dicapai khususnya dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur negara, namun tidak cukup sampai di sini, kita harus dapat mencapai kinerja yang lebih baik di masa mendatang.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

atas nama Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang penuh dedikasi telah bekerja keras dalam pembuatan modul ini dan juga pihak BAPPENAS serta Tim Teknis STAR-SDP STAN yang telah mendukung dengan kemampuan profesionalisme sehingga proyek ini dapat berhasil dengan baik.D Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Akhirnya pada kesempatan ini. Ph. Semoga di tahun-tahun mendatang kita tetap meningkatkan kinerja. Suyono Salamun.

.............. Laporan Arus Kas.... 64 Bagian II DASAR-DASAR ANALISIS LAPORAN KEUANGAN Bab 4 Konsep Analisis Laporan Keuangan. Penyusunan Laporan Keuangan.................................... Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah............ Pengguna Laporan Keuangan............................................................................................... Neraca............................................ Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan........................ Laporan Realisasi Anggaran....................................... 01 B............................ 10 F... Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah.................................................................... 19 A................................................................................................................................................................................ 25 B................................. Rangkuman....... 61 F......................................................................................................... Ruang Lingkup Keuangan Daerah.......... Pengantar . 03 C.Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar Isi i Daftar Isi........ 11 G...................................... 05 D...... Catatan atas Laporan Keuangan............... 13 H........... Akuntabilitas dan Transparansi................................. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan.......................... 19 B..................................................................... iii Bagian I LAPORAN KEUANGAN PEMDA Bab 1 Pelaporan Keuangan... Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan............................................................................................. Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan..................................... Rangkuman............................................. 17 Bab 2 Sekilas Pengelolaan Keuangan Daerah... 21 D........... 24 Bab 3 Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD....................... 25 A.................................... 29 C......................... Daftar Istilah. 20 C.................. 07 E........................... Rangkuman........................ 16 I.................... 67 A............................................................. Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan............ 67 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik i .................................48 E................................................ Pendahuluan..... 01 A......................... 38 D....................

........ Neraca....................... 87 E................................................... 113 D............................... 75 D...................... Rangkuman................. 68 C........................... 99 D.. Analisis Kecenderungan Bergerak............... Perbandingan Pos APBD........ Rangkuman............................................. Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah.......................................... 79 A....................... 109 Bab 8 Analisis Kecenderungan....................... 79 B......................... Laporan Realisasi APBD dan Neraca......... 71 Bab 5 Analisis Laporan Keuangan Pemerintah............ 73 A.................................................. dan Neraca........Analisis Laporan Keuangan Daerah B............................... Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah............................................ 80 C............................ Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan............................................................. Jenis-jenis Perbandingan.... 74 C.... Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar. 96 C........... 111 B........................................... Laporan Realisasi APBD........... Rangkuman.................. Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan.... 116 F....... 76 Bagian III ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PEMDA Bab 6 Analisis Hubungan................................... Analisis Kecenderungan dengan Hubungan antar Variabel.............................................................. 119 ii Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik ............................... 112 C................................................. 106 E.......................................... 95 A..................................................................................................................... Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan.......................................................... Rangkuman.................. Laporan Arus Kas.............. 95 B.. Realisasi APBD.... Kondisi Saat Ini........................................... 73 B........... Pendahuluan.... 111 A.......... 70 D............... 117 Daftar Pustaka................................................................... Pengertian Analisis Laporan Keuangan..................................................................... 83 D......... 114 E................... Rangkuman................. Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar........................................... Perbandingan Pos Neraca.......................................................................... 93 Bab 7 Analisis Perbandingan.. 88 F.................................

belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran. 8. 7. Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD (DPPA-SKPD) adalah dokumen yang memuat perubahan pendapatan. dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Istilah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. 6. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan perubahan anggaran oleh pengguna anggaran. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan. Bendahara Umum Daerah (BUD) adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. 3. 4. 2. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik iii . Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. 5. dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas.Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar 1. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD) adalah dokumen yang memuat pendapatan.

16. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau Iebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. 11. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah (Kepala SKPKD) yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. Kepala Daerah adalah gubemur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota. 13. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.Analisis Laporan Keuangan Daerah 9. 10. Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. 15. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD) adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. 14. 12. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. 17. iv Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Pemerintah Daerah adalah gubernur. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. dan/atau walikota. Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. 25. 19. dan pengawasan keuangan daerah. 21. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. pelaksanaan. 23. 20.Analisis Laporan Keuangan Daerah 18. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. 26. bupati. 24. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. penatausahaan. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan. pertanggungjawaban. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik v . pelaporan. 22.

29. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah. vi Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. PPKD dan pejabat Iainnya sesuai dengan kebutuhan. 28. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.Analisis Laporan Keuangan Daerah 27.

Ambil contoh misalnya kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI. bendahara. termasuk berapa dana yang bisa dipakai dari kas RT dan berapa yang perlu dimintakan sumbangan dari warganya. Dengan rangkaian kegiatan yang sudah terjadual rapi dan dengan dukungan sejumlah dana yang sudah terkumpul sesuai dengan yang Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 01 . dan ketua-ketua seksi) mengenai apa dan bagaimana kira-kira bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan berapa dana yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah. A. masing-masing dari kita yang merupakan unsur terkecil dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat di lingkungan Rukun Tetangga (RT) / Rukun Warga (RW). Selanjutnya. pertama kali Ketua RT akan membicarakannya dengan perangkatnya (sekretaris. Kemudian. dan prinsipprinsip pelaporan keuangan daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah Pelaporan Keuangan Bab 1 Setelah mempelajari bab ini. usulan yang masih ‘mentah’ tersebut akan ‘dimatangkan’ melalui pembahasan dalam rapat warga. Memperoleh pemahaman mengenai karakteristik kualitatif dan kelompok pengguna laporan keuangan daerah. pasti secara rutin mengikuti (baik secara langsung maupun tidak langsung) bagaimana proses yang dilakukan oleh Ketua RT dan perangkatnya dalam merencanakan suatu kegiatan di lingkungan RT. Maka. asumsi dasar. rencana kegiatan yang sudah disetujui dalam rapat warga tersebut akan menjadi dasar bagi Ketua RT dalam menyelenggarakan kegiatan perayaan HUT Kemerdekaan RI tersebut. Pengantar Dalam kehidupan sehari-hari. Memperoleh pemahaman mengenai tujuan.

warga akan melihat. Singkat cerita. Setelah berlalu sepekan sejak puncak acara peringatan hari kemerdekaan RI yang terhitung sukses itu.000 Pada umumnya.150.000 500. kemudian lebih jauh mencocokkan. pertandingan olahraga bagi orang dewasa. selesai tahap pelaksanaan kegiatannya. Mulai perlombaan anak-anak. 02 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . seluruh warga RT menerima laporan pertangungjawaban yang ditandatangani oleh Ketua Panitia dan Ketua RT sebagai berikut. Penyelenggaraan Malam Puncak* C D Defisit (= A . Pelaksanaan Lomba Anak-anak* 2.000 1. Sumbangan dari RW B Pengeluaran: 1. Pembelian Hadiah Lomba dan Pertandingan* 4.000 650. dengan data rincian masingmasing.000 250.000 200. betul. namun tahap berikutnya harus dilakukan oleh Ketua RT.000 1.000 (350. maka di lingkungan RT tersebut dapat diselenggarakan seluruh acara peringatan hari kemerdekaan RI.000) 350. sampai dengan puncak acara yaitu malam pembagian hadiah yang dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan musik dan tari. Pertama kali. yaitu pertanggungjawaban. warga akan melihat kewajaran angka-angka global dari jumlah penerimaan dan pengeluaran. dalam membaca laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh Panitia Pelaksana dan Ketua RT tersebut. Pelaksanaan Pertandingan OlahRaga* 3.500. atau tepatnya melakukan penilaian.000 900. segala kegiatan berjalan dengan tertib-amanlancar dan acara klimaksnya pun sukses! Apakah sudah selesai ceritanya? Ya.Analisis Laporan Keuangan Daerah direncanakan. Iuran Warga* 2. atas keakuratan dari laporan tersebut.B) Ditutup dari Kas RT * Masing-masing dilampiri dengan rinciannya 150. atau tepatnya menganalisis dan memverifikasi. Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-X Rp A Penerimaan: 1.

Dalam konteks pemerintahan. 2000). dan Catatan atas Laporan Keuangan. akuntabilitas mengandung arti kewajiban untuk menyajikan dan melaporkan segala tindak-tanduk dan kegiatan seseorang atau lembaga. dengan mengambil contoh dari lingkup organisasi terkecil yang sangat dekat dengan keseharian kita.Analisis Laporan Keuangan Daerah Dari pengantar di atas. B. Sejalan dengan jiwa yang terkandung dalam cerita kecil di atas. tetapi juga harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan yang dilakukannya. Akuntabilitas dan Transparansi Tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik menimbulkan implikasi bagi manajemen pemerintahan (sektor publik) untuk memberikan informasi kepada publik. dapat kita ambil pelajaran bahwa pengelola dana tidak saja melaksanakan kegiatan melalui realisasi dana sesuai yang direncanakan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 03 . terutama di bidang administrasi keuangan. maka warga sebagai pengguna laporan tersebut perlu melakukan analisis atas ketepatan atau keakuratannya. Kemudian. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sejak berlakunya UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. kepada pihak yang lebih tinggi atau atasannya (LAN dan BPKP. Dari contoh kecil tersebut di atas kita bisa melihat perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana atau anggaran. Akuntabilitas Dari sudut pandang pengendalian tindakan pada pencapaian tujuan. maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya dalam bentuk Laporan Keuangan. yang setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran. Salah satu informasi yang dibutuhkan oleh publik adalah informasi mengenai pengelolaan keuangan negara/daerah dalam bentuk laporan keuangan. kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai seluk-beluk analisis laporan keuangan Pemerintah Daerah. akuntabilitas mempunyai arti pertanggungjawaban. Neraca. yang merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan pemerintahan yang baik. maka secara garis besar modul ini akan diawali dengan pembahasan mengenai halhal yang berkaitan dengan laporan apa saja yang harus disajikan dan disampaikan oleh Pemerintah Daerah (sebagai wujud dari pertanggungjawaban atas realisasi pengelolaan anggarannya). terhadap laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh pengelola dana. Laporan Arus Kas.

perkembangan paket peraturan perundangundangan di bidang keuangan negara menunjukkan adanya upaya dalam meningkatkan keterbukaan informasi. terutama mengenai informasi penerimaan. yang hanya mengharuskan penyampaian laporan pertanggungjawaban dalam bentuk perhitungan anggaran. selain muatan informasinya terbatas. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa Laporan Keuangan dimaksud harus disusun berdasarkan proses akuntansi. bila kita bandingkan bentuk laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah yang berlaku saat ini dengan periode sebelumnya. dan pengeluaran uang oleh pengelola keuangan daerah. penyimpanan. terdapat upaya nyata dalam mewujudkan akuntabilitas dan transparansi di lingkungan pemerintah. 04 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . transparansi mengandung arti penyajian laporan keuangan yang terbuka. laporan perhitungan anggaran hanya menginformasikan aliran kas pada APBD sesuai dengan format anggaran yang disahkan oleh DPRD.Analisis Laporan Keuangan Daerah Selanjutnya. Ketiga. dapat kita lihat bahwa cakupan informasi dalam laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah menjadi lebih luas namun penyampaiannya tidak terlambat. Dengan kata lain. Pertama. Hal ini terlihat dari upaya dalam mengatasi kelemahan-kelemahan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah sebelumnya. Dengan demikian. yang wajib dilaksanakan oleh setiap Pengguna Anggaran dan kuasa Pengguna Anggaran serta pengelola Bendahara Umum Daerah. Sebagaimana kita ketahui. tanpa menyertakan informasi tentang posisi kekayaan dan kewajiban pemerintah. maka setiap Pemerintah Daerah perlu menyelenggarakan sistem akuntansi untuk lingkungan pemerintah daerahnya yang pedomannya ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Dari ketentuan peraturan perundang-undangan sebelumnya. Kedua. paling tidak terdapat beberapa kelemahan berikut ini. Sehubungan dengan hal tersebut. proses penyampaiannya kepada legislatif sangat lambat. Transparansi Dalam hubungannya dengan akuntabilitas keuangan. informasi keuangan yang disajikan dalam perhitungan anggaran kurang dapat diandalkan karena sistem akuntansi yang diselenggarakan belum didasarkan pada standar akuntansi dan tidak didukung oleh perangkat data dan proses yang memadai. sejak diberlakukannya paket peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 05 . Disebutkan bahwa pengungkapan informasi tentang kinerja tersebut adalah relevan dengan perubahan paradigma penganggaran pemerintah yang ditetapkan dengan mengidentifikasikan secara jelas keluaran (outputs) dari setiap kegiatan dan hasil (outcomes) dari setiap program. Pemeriksaan BPK dimaksud adalah dalam rangka pemberian pendapat (opini) sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Entitas Pelaporan Unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang berkewajiban menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan disebut sebagai Entitas Pelaporan. dan Sistem Akuntansi Pemerintahan. Jadi. C. Laporan Keuangan tersebut setelah diaudit oleh BPK perlu disesuaikan berdasarkan temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). sistem penganggaran. Laporan Keuangan yang telah diaudit dan telah diperbaiki itulah yang selanjutnya diusulkan oleh Pemerintah Daerah dalam suatu rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah untuk dibahas dengan dan disetujui oleh DPRD. pada rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah disertakan atau dilampirkan informasi tambahan mengenai kinerja instansi pemerintah. Bendahara Umum Daerah dan setiap Pengguna Anggaran di lingkungan pemerintah daerah merupakan Entitas Akuntansi. laporan keuangan yang disajikan oleh Entitas Pelaporan merupakan gabungan dari laporan keuangan beberapa Entitas Akuntansi. menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003. Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan Unit pemerintahan Pengguna Anggaran yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan disebut sebagai Entitas Akuntansi. Dengan demikian. Selain itu.Analisis Laporan Keuangan Daerah Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 juga disebutkan bahwa laporan keuangan pemerintah harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelum disampaikan kepada pihak legislatif sesuai dengan kewenangannya. perlu disusun suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang terintegrasi dengan sistem perencanaan strategis. yakni prestasi yang berhasil dicapai oleh Pengguna Anggaran sehubungan dengan anggaran yang telah digunakan.

06 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . tugas dan misi tertentu. yaitu sistem sentralisasi dan desentralisasi pelaporan keuangan pemerintah daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah Disebutkan bahwa dalam penetapan entitas pelaporan. Gubernur/bupati/walikota/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah harus secara jelas menyatakan bahwa Laporan Keuangan telah disusun berdasarkan Sistem Pengendalian Intern yang memadai dan informasi yang dimuat dalam Laporan Keuangan telah disajikan sesuai dengan SAP. dengan bentuk pertanggungjawaban dan wewenang yang terpisah dari entitas pelaporan lainnya. yurisdiksi. yang ditandatangani oleh gubernur/bupati/walikota/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah. perlu dipertimbangkan syarat pengelolaan. pengendalian. setiap pejabat yang menyajikan Laporan Keuangan diharuskan memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan Keuangan yang bersangkutan. yang merupakan Lampiran VI-A Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006. Satuan kerja melaksanakan akuntansi terhadap transaksi ekonomi (dan menghasilkan laporan keuangan) yang terjadi pada bagiannya. Pernyataan Tanggung Jawab Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan anggaran dan perbendaharaan. Halim (2007) menyebutkan bahwa pada ketentuan terdahulu terdapat dua pilihan bagi pemerintah daerah dalam menentukan entitas pelaporan. saat ini pemerintah daerah diwajibkan menggunakan sistem desentralisasi dalam pelaporan keuangannya. dan bagian keuangan akan menggabungkan atau mengkonsolidasikan laporan keuangan semua satuan kerja (termasuk bagian keuangan itu sendiri) untuk disusun menjadi laporan keuangan pemerintah daerah secara keseluruhan. Di bawah ini adalah contoh dari pernyataan tanggung jawab. sehingga baik satuan kerja maupun bagian keuangan pemerintah daerah melaksanakan akuntansi. Namun. dan penguasaan suatu entitas pelaporan terhadap aset. Berkaitan dengan entitas pelaporan tersebut.

.......... (........ dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.... Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai......... Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan.......... Laporan keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi (pendapatan...... menilai kondisi Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 07 .. belanja.. Dalam Sistem Pengendalian Intern ini harus diciptakan prosedur rekonsiliasi antara data transaksi keuangan yang diakuntansikan oleh Pengguna Anggaran/kuasa Pengguna Anggaran dengan data transaksi keuangan yang diakuntansikan oleh Bendahara Umum Daerah... Tahun Anggaran ……….. . ………........ dan pembiayaan) dengan anggaran yang telah ditetapkan......... Aparat Pengawas Intern Pemerintah pada pemerintah daerah melakukan reviu atas Laporan Keuangan dan Kinerja dalam rangka meyakinkan keandalan informasi yang disajikan sebelum disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada pihak-pihak terkait... Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan Laporan keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan. transfer........... setiap Entitas Pelaporan dan Akuntansi wajib menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait........Analisis Laporan Keuangan Daerah Pernyataan Tanggung Jawab Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga/Pemerintah Daerah/Satuan Kerja Perangkat Daerah ……………….. D.) Untuk meningkatkan keandalan Laporan Keuangan dan Kinerja.. Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/ Bupati/Walikota/Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah ……............ sebagaimana terlampir adalah merupakan tanggung jawab kami....................

tetapi juga meliputi laporan-laporan lain yang diperlukan. khususnya pemerintah daerah sesuai dengan pembahasan kita. Pelaporan keuangan tidak hanya meliputi komponen laporan keuangan. 08 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . j) Sebagai alat komunikasi dan media untuk menyatakan prestasi yang telah dicapai oleh organisasi. c) Akuntabilitas dan pelaporan restropektif d) Bentuk pertanggungjawaban kepada publik dan sebagai alat untuk memonitor dan menilai efisiensi kinerja. Public Sector Committee IFAC (1996) menyebutkan tujuan pelaporan keuangan sektor publik secara umum adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat dan memenuhi kebutuhan pengguna. l) Merupakan sumber informasi bagi berbagai kelompok kepentingan yang ingin mengetahui organisasi secara lebih dalam. k) Sumber fakta dan gambaran. yang memungkinkan pihak eksternal untuk menilai efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya. g) Kelangsungan organisasi. b) Menyediakan informasi tentang sumber daya keuangan dan penggunaannya. dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundangundangan. mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan. i) Hubungan masyarakat. Mahsun (2007) menyebutkan beberapa tujuan pelaporan keuangan sektor publik. yaitu: a) Kepatuhan dan pengelolaan b) Memberikan jaminan kepada pengguna dan penguasa bahwa pengelolaan sumber daya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku. c) Menyediakan informasi tentang cara pemerintah daerah membiayai aktivitas dan memenuhi kebutuhan kasnya. adalah sebagai berikut : a) Mengidentifikasi sumber daya yang didapat dan digunakan sesuai dengan anggaran yang telah disetujui oleh DPRD. h) Membantu para pengguna laporan untuk menentukan apakah suatu organisasi atau unit kerja dapat melangsungkan usahanya.Analisis Laporan Keuangan Daerah keuangan. e) Perencanaan dan informasi otorisasi f) Memberikan dasar perencanaan kebijakan dan aktivitas di masa yang akan datang serta memberikan informasi pendukung mengenai otorisasi penggunaan dana. Lebih lanjut disebutkan bahwa tujuan pelaporan keuangan sektor publik.

sehingga memudahkan fungsi perencanaan. Pelaporan keuangan pemerintah menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna laporan dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan. baik keputusan ekonomi. (b) Manajemen Membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan. untuk kepentingan: (a) Akuntabilitas Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik. e) Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan dan kinerja pemerintah daerah. sosial. kewajiban.Analisis Laporan Keuangan Daerah d) Menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan manajemen dalam membiayai aktivitasnya dan memenuhi kewajibannya. maupun politik dengan: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 09 . (d) Keseimbangan Antar generasi Membantu para pengguna dalam mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut. terutama yang berkaitan dengan efisiensi biaya operasi dan pencapaian target. secara sistematis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan. pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset. (c) Transparansi Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan. Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan menyebutkan bahwa setiap entitas pelaporan mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan. dan ekuitas dana pemerintah untuk kepentingan masyarakat.

Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut. baik jangka pendek maupun jangka panjang. (b) Asumsi kesinambungan entitas. Salah satu indikasi terpenuhinya asumsi ini adalah adanya kewenangan entitas untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan tanggung jawab 10 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . transfer. (f) Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan. ekuitas dana. dana cadangan. berarti bahwa setiap unit organisasi dianggap sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit instansi pemerintah dalam pelaporan keuangan. kewajiban.Analisis Laporan Keuangan Daerah (a) Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran. baik entitas pelaporan maupun akuntansi. dan (c) Asumsi keterukuran dalam satuan uang. (d) Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya. dan arus kas suatu entitas pelaporan. (e) Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya. termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman. (c) Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai. E. belanja. aset. yang merupakan bentuk pertanggungjawaban pemerintah daerah. sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan. yang terdiri dari : (a) Asumsi kemandirian entitas. apakah mengalami kenaikan atau penurunan. laporan keuangan menyediakan informasi mengenai pendapatan. Lebih lanjut mengenai laporan keuangan. pembiayaan. dibahas dalam bagian tersendiri. (b) Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan. Kemandirian Entitas Asumsi kemandirian entitas. Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan Asumsi dasar dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan agar standar akuntansi dapat diterapkan.

Entitas bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan sumber daya di luar neraca untuk kepentingan yurisdiksi tugas pokoknya. Hal ini diperlukan agar memungkinkan dilakukannya analisis dan pengukuran dalam akuntansi. dan memprediksi masa depan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 11 . Relevan Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki: (a) Relevan. serta terlaksana tidaknya program yang telah ditetapkan. pemerintah diasumsikan tidak bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan dalam jangka pendek.Analisis Laporan Keuangan Daerah penuh. Kesinambungan Entitas Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan akan berlanjut keberadaannya. F. dan (d) Dapat dipahami. Keterukuran dalam Satuan Uang Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan yang diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang. utang-piutang yang terjadi akibat putusan entitas. (b) Andal. Dengan demikian. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. informasi laporan keuangan yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya. (c) Dapat dibandingkan. Informasi yang relevan adalah informasi yang memenuhi karakteristik berikut: (a) Memiliki manfaat umpan balik (feedback value) Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu. serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. termasuk atas kehilangan atau kerusakan aset dan sumber daya dimaksud. Dengan demikian.

Informasi yang andal memenuhi karakteristik sebagai berikut: (a) Penyajian Jujur Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. serta dapat diverifikasi.Analisis Laporan Keuangan Daerah (b) Memiliki manfaat prediktif (predictive value) Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. (c) Netralitas Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu. tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan 12 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Andal Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material. yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Informasi mungkin relevan. hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh. (c) Tepat waktu Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan. Dapat Dibandingkan Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya. Informasi yang melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat dicegah. (b) Dapat Diverifikasi Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji. dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda. menyajikan setiap fakta secara jujur. (d) Lengkap Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin.

serta oleh pengguna laporan keuangan dalam memahami laporan keuangan yang disajikan. (c) Prinsip substansi mengungguli bentuk formal.Analisis Laporan Keuangan Daerah kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan. Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada penilaian yang lain karena lebih obyektif dan dapat diverifikasi. Berikut ini prinsip-prinsip yang digunakan dalam pelaporan keuangan pemerintah: (a) Prinsip nilai historis. (d) Prinsip periodisitas. Dalam hal tidak terdapat nilai historis. pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi entitas pelaporan. (f) Prinsip pengungkapan lengkap. Nilai Historis Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari informasi yang dimaksud. Untuk itu. (b) Prinsip realisasi. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 13 . G. Dapat Dipahami Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna. dapat digunakan nilai wajar aset atau kewajiban terkait. Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan Prinsip pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai ketentuan yang dipahami dan ditaati oleh penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan dalam melakukan kegiatannya. Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di masa yang akan datang dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah. Apabila entitas pemerintah akan menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan. (e) Prinsip konsistensi. dan (g) Prinsip penyajian wajar.

Pengungkapan Lengkap Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Konsistensi Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari periode ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal). dan semesteran juga dianjurkan. Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat ditempatkan pada halaman depan laporan keuangan atau pada Catatan atas Laporan Keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Realisasi Bagi pemerintah. Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik dibanding metode lama. triwulanan. Prinsip merpertandingkan biaya-pendapatan dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaimana dipraktekkan dalam akuntansi komersial. periode bulanan. maka hal tersebut harus diungkapkan dengan jelas dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Substansi Mengungguli Bentuk Formal Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan. maka transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi. pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah selama suatu tahun fiskal akan digunakan untuk membayar hutang dan belanja dalam periode tersebut. Namun. 14 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Periodisitas Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat di ukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan. dan bukan hanya aspek formalitasnya. Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya. Periode utama yang digunakan adalah tahunan.

terdapat satu hal penting yang harus diperhatikan dalam pelaporan keuangan. Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan. belanja. Entitas pelaporan tidak menggunakan istilah laba.Analisis Laporan Keuangan Daerah Penyajian Wajar Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran. sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang terlampau rendah. Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset. Namun demikian. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah. dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi. pembentukan cadangan tersembunyi. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan. kewajiban. Basis Akuntansi Selain prinsip-prinsip pelaporan keuangan tersebut di atas. misalnya. Penentuan sisa pembiayaan anggaran (baik lebih atau kurang) untuk setiap periode tergantung pada selisih realisasi penerimaan dan pengeluaran. penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan. dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset. Pendapatan dan belanja bukan tunai seperti bantuan pihak luar asing dalam bentuk barang dan jasa disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran. Faktor pertimbangan sehat bagi penyusun laporan keuangan diperlukan ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu. sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal. atau sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi. Laporan Arus Kas. Neraca. dan belanja diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. kewajiban. Ketidakpastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan. atau pada saat kejadian Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 15 . dan ekuitas dalam Neraca. yaitu masalah penggunaan basis akuntansi.

Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bertujuan umum untuk memenuhi kebutuhan informasi dari semua kelompok pengguna. yaitu: (a) masyarakat. investor dan kreditor. masyarakat. dan konstituen (Mardiasmo. investor dan kreditor. dan ekuitas dana. dan aparat pemerintah. Entitas pelaporan yang menyajikan Laporan Kinerja Keuangan menyelenggarakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan dengan menggunakan sepenuhnya basis akrual. Dengan demikian laporan keuangan pemerintah tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari masing-masing kelompok pengguna. penyajian Laporan Realisasi Anggaran tetap berdasarkan basis kas. investasi. kewajiban. dan pembiayaan. baik dalam pengakuan pendapatan. dan lembaga pemeriksa. namun tidak terbatas. (b) para wakil rakyat. Untuk menyederhanakan dan menyamakan persepsi tentang kelompok pengguna laporan keuangan ini. penyedia sumber daya. 2007). Namun demikian. pengamat. yang menyebutkan kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah. lembaga pengawas. kita gunakan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan sebagai acuan.Analisis Laporan Keuangan Daerah atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah. badan pengawas. 16 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dan (d) pemerintah. tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. dan pinjaman. Namun demikian. maka ketentuan laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan informasi para pembayar pajak perlu mendapat perhatian. Pengguna Laporan Keuangan Kelompok pengguna laporan keuangan pemerintah meliputi: lembaga pemerintah. belanja. institusi internasional. H. Pengelompokan yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Bastian (2001) yaitu: legislatif dan manajemen pemerintah. maupun dalam pengakuan aset. berhubung pajak merupakan sumber utama pendapatan pemerintah. (c) pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi.

andal. konsistensi. pengguna laporan keuangan pemerintah daerah adalah masyarakat. Rangkuman Sejalan dengan tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik. dan dapat dipahami. investasi. Laporan keuangan (sebagai laporan pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan daerah) meliputi: Laporan Realisasi Anggaran. dan penyajian wajar. Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan anggaran dan perbendaharaan. Neraca. dan prinsip-prinsip dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah sebagai berikut: • • • Asumsi dasar: kemandirian entitas. kemudian diusulkan oleh Pemerintah Daerah untuk dibahas dengan dan disetujui oleh DPRD. setiap pejabat yang menyajikan Laporan Keuangan diharuskan memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan Keuangan yang bersangkutan. Laporan Arus Kas. dan Catatan atas Laporan Keuangan. dan pinjaman. pengungkapan lengkap.Analisis Laporan Keuangan Daerah I. kesinambungan entitas. dapat dibandingkan. substansi mengungguli bentuk formal. laporan keuangan harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). yang diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan. Sebelum disampaikan kepada DPRD. Selain legislatif. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 17 . karakteristik kualitatif. lembaga pengawas. Asumsi dasar. realisasi. Karakteristik kualitatif: relevan. Prinsip-prinsip: nilai historis. maka manajemen pemerintahan daerah (sektor publik) harus memberikan informasi kepada publik mengenai pengelolaan keuangan daerah. lembaga pemeriksa. dan keterukuran dalam satuan uang. periodisitas. pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi. Setelah disesuaikan berdasarkan temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan dilampiri informasi mengenai kinerja instansi pemerintah.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 18 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Keuangan Daerah
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai ruang lingkup keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai azas umum pengelolaan keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai hirarki perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terkait dalam pengelolaan keuangan daerah.

Sekilas Pengelolaan

Bab 2

A. Ruang Lingkup Keuangan Daerah Sebelum membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pengelolaan keuangan daerah, terlebih dahulu ada baiknya bila kita bahas sekilas tentang pengelolaan keuangan daerah. Pada bab ini memang dimaksudkan hanya mereviu sekilas (dengan rujukan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah), karena pembahasan selengkapnya ada pada modul tersendiri dengan judul Pengantar Keuangan Daerah. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut dijelaskan bahwa ruang lingkup keuangan daerah meliputi: a. hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman; b. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga; c. penerimaan daerah; d. pengeluaran daerah; e. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah; dan f. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

19

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

B. Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah Keuangan daerah dikelola dengan berdasarkan azas umum: tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Tertib Secara tertib adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan bukti-bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Taat Peraturan Taat pada peraturan perundang-undangan adalah bahwa pengelolaan keuangan daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Efektif Efektif merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil. Efisien Efisien merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu. Ekonomis Ekonomis merupakan pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terendah. Transparan Transparan merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang keuangan daerah. Bertanggung jawab Bertanggung jawab merupakan perwujudan kewajiban seseorang untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

20

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Keadilan Keadilan adalah keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya dan/atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan yang obyektif. Kepatutan Kepatutan adalah tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar dan proporsional. Manfaat Manfaat untuk masyarakat adalah bahwa keuangan daerah diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. C. Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah adalah kepala daerah, yang oleh karenanya mempunyai wewenang untuk: a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD; b. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah; c. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang; d. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran; e. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah; f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah; g. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah; dan h. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. Melalui keputusan kepala daerah, kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dapat melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: a. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah; b. kepala SKPKD selaku PPKD; dan c. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah, berkaitan dengan peran dan fungsinya dalam membantu kepala daerah, menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

21

menetapkan SPD. d. melaksanakan fungsi BUD. 22 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . melaksanakan pemungutan pajak daerah. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. d. c. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. dan f.Analisis Laporan Keuangan Daerah Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah dan mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. perubahan APBD. dan f. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. memimpin TAPD. e. d. e. e. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah Kepala SKPKD selaku PPKD mempunyai tugas: a. PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD mempunyai wewenang: a. penyusunan Raperda APBD. dan pejabat pengawas keuangan daerah. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. d. Selain mempunyai tugas koordinasi sebagaimana tersebut di atas. tugas-tugas pejabat perencana daerah. c. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. b. b. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD. c. b. f. PPKD. e. b. memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. c. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD. sekretaris daerah mempunyai tugas: a.

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

g. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah; h. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah; i. menyajikan informasi keuangan daerah; dan j. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah, dan selaku BUD dapat menunjuk pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang mempunyai tugas: a. menyusun RKA-SKPD; b. menyusun DPA-SKPD; c. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja; d. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya; e. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran; f. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak; g. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan; h. menandatangani SPM; i. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; j. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; k. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya; l. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya; m. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan n. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dalam melaksanakan tugas-tugasnya dapat melimpahkan sebagian kewenangannya (ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD) kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

23

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Selain itu, pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK (dalam pelaksanakan program dan kegiatan). Sedangkan untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD, kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD

D. Rangkuman Sebagaimana yang dinyatakan dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, ruang lingkup keuangan daerah meliputi: (a) hak daerah untuk memungut pajak dan retribusi daerah, (b) kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga, (c) penerimaan dan pengeluaran daerah, (d) kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah, dan (e) kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum, Adapun azas umum pengelolaan keuangan daerah adalah: tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Hirarki perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terkait dengan pengelolaan keuangan daerah adalah: • • • • Kepala daerah – pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah; Sekretaris daerah – koordinator pengelolaan keuangan daerah Kepala SKPKD – pengguna anggaran/barang, yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Kepala SKPD – pengguna anggaran/barang daerah.

24

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Pelaksanaan APBD
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai bentuk laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pengelolaan keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai proses penyusunan laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah. Memperoleh pemahaman mengenai proses persetujuan laporan keuangan daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Laporan Pertanggungjawaban

Bab 3

A. Penyusunan Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan: a). menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah; b). menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah; c). menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi; d). menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya;

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

25

pendapatan. e. Catatan atas Laporan Keuangan. g). dan h. 26 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . d. c. Laporan Keuangan SKPD Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan APBD pada Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan. laporan keuangan menyediakan informasi mengenai entitas pelaporan dalam hal: a. serta risiko dan ketidakpastian yang terkait. menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya. aset. belanja. Untuk memenuhi tujuan umum ini. pembiayaan. dan c. Pelaporan keuangan juga menyajikan informasi bagi pengguna mengenai: a). b. termasuk batas anggaran yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. transfer. g. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh SKPD selaku pengguna anggaran adalah: a.Analisis Laporan Keuangan Daerah e). menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya. menyediakan informasi yang berguna untuk memprediksi besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan. Neraca. f). b. sumber daya yang dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan. ekuitas dana. indikasi apakah sumber daya diperoleh dan digunakan sesuai dengan ketentuan. menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. indikasi apakah sumber daya telah diperoleh dan digunakan sesuai dengan anggaran dan b). arus kas. Laporan keuangan untuk tujuan umum juga mempunyai peranan prediktif dan prospektif. f. Laporan Realisasi Anggaran. kewajiban.

laporan keuangan pemerintah daerah ini disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambatlambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan Keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/ bupati/walikota untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan d. b. dan d. Laporan keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/ bupati/walikota selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Neraca. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku Pengguna Anggaran harus menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya kepada gubernur/bupati/walikota. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 27 . Laporan Realisasi Anggaran. Catatan atas Laporan Keuangan. b. Laporan Keuangan PPKD Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah. c. Selanjutnya. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh PPKD selaku Bendahara Umum Daerah adalah: a. Laporan Keuangan Pemda Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut. Laporan Arus Kas. dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. c. Catatan atas Laporan Keuangan. Neraca. Laporan Arus Kas. Selain laporan keuangan. Laporan Realisasi Anggaran. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan pemerintah daerah yang terdiri dari: a.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan keuangan tersebut harus disampaikan oleh Kepala SKPD kepada gubernur/ bupati/walikota melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

laporan keuangan pemerintah daerah beserta rancangan Peraturan daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. Sehubungan dengan hal tersebut.Analisis Laporan Keuangan Daerah Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. untuk tingkat pemerintah provinsi 28 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dilampiri dengan ikhtisar laporan realisasi kinerja dan ikhtisar laporan keuangan Perusahaan Daerah. maka Perusahaan Daerah diwajibkan menyampaikan: a. tetapi juga harus membuat Laporan Kinerja. Jadi. dan Sistem Akuntansi Pemerintahan) yang diselenggarakan oleh masing-masing Entitas Pelaporan dan/atau Entitas Akuntansi. Pemerintah Daerah tidak hanya diwajibkan untuk menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan. sistem perbendaharaan. Laporan Kinerja dihasilkan dari suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (yang dikembangkan secara terintegrasi dengan sistem perencanaan. yang harus disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. sistem penganggaran. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. laporan keuangan Perusahaan Daerah yang telah diaudit kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 5 1/2 (lima setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir. Selain laporan kinerja. laporan keuangan Perusahaan Daerah yang belum diaudit kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 2 1/2 (dua setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir. yang berisi ringkasan tentang keluaran dari masing-masing kegiatan dan hasil yang dicapai dari masingmasing program sebagaimana ditetapkan dalam dokumen pelaksanaan APBD. Selanjutnya. Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dan b. gubernur/ bupati/walikota memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap Laporan Keuangan serta koreksi lain berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. Pemerintah Daerah (gubernur/ bupati/ walikota selaku wakil pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan pemerintah daerah yang dipisahkan) juga harus menyusun ikhtisar laporan keuangan Perusahaan Daerah.

belanja. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyampaikan Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana Dekonsentrasi kepada gubernur. Laporan Realisasi Anggaran harus menyajikan informasi mengenai pendapatan. Kemudian. Laporan Realisasi Anggaran Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber. dan untuk tingkat pemerintah kabupaten/kota disampaikan kepada gubernur. Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Tugas Pembantuan disampaikan kepada gubernur/bupati/walikota dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. alokasi. Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan dilaporkan secara terintegrasi dalam Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga Pengguna Anggaran yang bersangkutan.Analisis Laporan Keuangan Daerah disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana Dekonsentrasi menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran pada tingkat pemerintah pusat. transfer. B. Pengertian dari masing-masing unsur tersebut adalah sebagai berikut : Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 29 . Dengan demikian. Selanjutnya. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Tugas Pembantuan menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran pada tingkat pemerintah pusat. yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan. dan dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. gubernur/bupati/walikota menyiapkan Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan yang diterima dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Tugas Pembantuan dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan. dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah. dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan. gubernur menyiapkan Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan yang diterima dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana Dekonsentrasi. dan pembiayaan.

(c) Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain. dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. (b) Belanja (basis akrual) adalah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil. Lain-lain PAD yang Sah. (b) Pendapatan (basis akrual) adalah hak pemerintah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Dana Darurat. (d) Unsur Pendapatan Daerah terdiri dari: • Pendapatan Asli Daerah: Belanja (a) Belanja (basis kas) adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. Hibah • Pendapatan Transfer/Dana Perimbangan: • Lain-lain Pendapatan yang Sah: 30 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah Pendapatan (a) Pendapatan (basis kas) adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Negara/ Bendahara Umum Daerah atau oleh entitas pemerintah lainnya yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. Dana Bagi Hasil. Dana Alokasi Umum. dan Dana Alokasi Khusus. (c) Unsur Belanja Daerah terdiri dari: • Belanja Operasi: Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Pajak Daerah. Retribusi Daerah.

yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran. baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya • Belanja Tak Terduga Pembiayaan (a) Pembiayaan (basis kas) adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Belanja Modal: Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan. (b) Unsur Pembiayaan Daerah terdiri dari: • Penerimaan Pembiayaan: Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Penerimaan Pembayaran Piutang Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman Pemberian Pinjaman • Pengeluaran Pembiayaan: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 31 .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A. Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6) PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSAT .DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14) TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19) Total Pendapatan Transfer (15 + 20) LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Pendapatan Lain-lain yang Sah (24 s/d 26) JUMLAH PENDAPATAN (7 + 21 + 27) BELANJA BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga xxx xxx xxx xxx xxx xxx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx 32 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.

59) PEMBIAYAAN PENERIMAAN PEMBIAYAAN xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 33 . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx (%) xx xx xx xx 20X0 Realisasi xxx xxx xxx xxxx 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Subsidi Hibah Bantuan Sosial Jumlah Belanja Operasi (31 s/d 36) BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan./Kota (55 s/d 57) JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (51 + 58) SURPLUS/DEFISIT (28 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Belanja Modal (40 s/d 45) BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga Jumlah Belanja Tak Terduga (49 s/d 49) Jumlah Belanja (37 + 46 + 50) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xx xx xx xxxx xxxx xxxx TRANSFER TRANSFER/BAGI HASIL PENDAPATAN KE KABUPATEN/KOTA Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Transfer Bagi Hasil Pendapatan ke Kab.4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.

91) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (60-92) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx 34 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Penerimaan (65 s/d 76) PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Pengeluaran (80 s/d 90) PEMBIAYAAN NETO (77 .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .

DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14) TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19) TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Jumlah Transfer Pemerintah Provinsi (23 s/d 24) Total Pendapatan Transfer (15 + 20 + 25) LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah (29 s/d 31) JUMLAH PENDAPATAN (7 + 26 + 32) BELANJA xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xx xx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 35 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6) PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSAT .

65) PEMBIAYAAN xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxx xxxx xxxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx 36 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Jumlah Belanja Operasi (37 s/d 42) BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Belanja Modal (46 s/d 51) BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga Jumlah Belanja Tak Terduga (55 s/d 55) Jumlah Belanja (43 + 52 + 56) TRANSFER TRANSFER/BAGI HASIL KE DESA Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Transfer Bagi Hasil ke Desa (61 s/d 63) JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (57+ 64) SURPLUS/DEFISIT (33 .

Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Pengeluaran (86 s/d 97) PEMBIAYAAN NETO (83 .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .97) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx x xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx 100 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (66-98) Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 37 .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Penerimaan (71 s/d 82) PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 PENERIMAAN PEMBIAYAAN Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .

Aset lancar meliputi kas dan setara kas. berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah. bagi kegiatan operasional pemerintah. Aset Non-Lancar Aset non-lancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang. Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan. Neraca Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada tanggal tertentu. 38 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dana cadangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah C. termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset non-lancar. baik langsung maupun tidak langsung. Pengertian dari masing-masing unsur Neraca sebagai berikut: 1. serta dapat diukur dalam satuan uang. dan ekuitas dana. (1). dan aset tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. dan persediaan. Aset non-lancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang. aset tetap. baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Investasi jangka panjang meliputi investasi non-permanen dan permanen. Aset Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh. dengan menyajikan informasi mengenai aset. b. a. dan aset lainnya. kewajiban. Investasi Jangka Panjang Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi. piutang. Aset Lancar Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. investasi jangka pendek.

gedung dan bangunan. Kewajiban Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah. Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan perundang undangan. kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat.Analisis Laporan Keuangan Daerah Investasi non-permanen antara lain investasi dalam Surat Utang Negara. jalan. Investasi permanen antara lain penyertaan modal pemerintah dan investasi permanen lainnya. irigasi. atau lembaga internasional. aset tetap lainnya. Kewajiban jangka pendek merupakan kelompok kewajiban yang diselesaikan dalam waktu kurang dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan. Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggungjawab untuk bertindak di masa lalu. Kewajiban pemerintah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah atau dengan pemberi jasa lainnya. 2. Aset Lainnya Aset non-lancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya. penyertaan modal dalam proyek pembangunan. (2). Dalam konteks pemerintahan. Kewajiban dikelompokkan kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. dan investasi non-permanen lainnya. Kewajiban jangka panjang adalah kelompok kewajiban yang penyelesaiannya dilakukan setelah 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. peralatan dan mesin. dan jaringan. lembaga keuangan. dan konstruksi dalam pengerjaan. Aset Tetap Aset tetap meliputi tanah. entitas pemerintah lain. Karakterisitik esensial kewajiban adalah bahwa pemerintah mempunyai kewajiban masa kini yang dalam penyelesaiannya mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang akan datang. (3). Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 39 . Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak berwujud dan aset kerja sama (kemitraan).

Ekuitas Dana Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah. dikurangi dengan kewajiban jangka panjang. 40 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . (c) Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang dicadangkan untuk tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai peraturan perundang-undangan. (b) Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang tertanam dalam aset non-lancar selain dana cadangan. Ekuitas Dana dapat dikelompokkan sebagai berikut: (a) Ekuitas Dana Lancar adalah selisih antara aset lancar dengan kewajiban jangka pendek.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 3 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 ASET ASET LANCAR Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Investasi Jangka Pendek Piutang Pajak Piutang Retribusi Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi Piutang Lainnya Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 17) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non-permanen Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Non-permanen Lainnya Jumlah Investasi Non-permanen (22 s/d 27) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (30 s/d 31) Jumlah Investasi Jangka Panjang (28 + 32) ASET TETAP xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 41 .

4 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap (36 s/d 42) DANA CADANGAN Dana Cadangan Jumlah Dana Cadangan (46) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Perbendaharaan Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-lain Jumlah Aset Lainnya (50 s/d 55) JUMLAH ASET (18+33+43+47+56) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .Obligasi Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 42 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Uraian 20X1 20X0 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-B.Lembaga Keuangan Bank Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Utang Dalam Negeri . Irigasi.Lembaga Keuangan Bukan Bank Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .

Lembaga Keuangan Bank Utang Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (63 s/d 71) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Utang Dalam Negeri .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-B.Pemerintah Daerah Lainnya Utang Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Utang Dalam Negeri .Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (78 s/d 80) JUMLAH KEWAJIBAN (72+81) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Pendapatan yang Ditangguhkan Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek Jumlah Ekuitas Dana Lancar (87 s/d 91) EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang Jumlah Ekuitas Dana Investasi (95 s/d 98) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 101 EKUITAS DANA CADANGAN 102 Diinvestasikan dalam Dana Cadangan 103 Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (102) 104 JUMLAH EKUITAS DANA (92+99+103) 105 106 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (82+104) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 43 .

dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan Jumlah Aset Tetap (13 s/d 18) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-Lain Jumlah Aset Lainnya (22 s/d 26) JUMLAH ASET (10+19+27) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 44 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Irigasi. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ASET ASET LANCAR Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Piutang Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 9) ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 Uang Muka dari Bendahara Umum Daerah Pendapatan yang Ditangguhkan Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (34 s/d 35) JUMLAH KEWAJIBAN (36) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Jumlah Ekuitas Dana Lancar (42 s/d 43) EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Jumlah Ekuitas Dana Investasi (47 s/d 48) JUMLAH EKUITAS DANA (44+49) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (37 + 50) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 45 .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ASET ASET LANCAR Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Piutang Pajak Piutang Retribusi Investasi Jangka Pendek Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 14) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non-permanen Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Non-permanen Lainnya Jumlah Investasi Non-permanen (19 s/d 24) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (27 s/d 28) Jumlah Investasi Jangka Panjang (25 + 29) DANA CADANGAN Dana Cadangan xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 46 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.

Sektor Perbankan Utang Dalam Negeri – Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (53 s/d 55) JUMLAH KEWAJIBAN (50+56) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk.6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Jumlah Dana Cadangan (33) ASET LAINNYA Tuntutan Perbendaharaan Aset Lain-lain Jumlah Aset Lainnya (37 s/d 38) JUMLAH ASET (15+30+34+39) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (46 s/d 49) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri . Pendek Jumlah Ekuitas Dana Lancar (63 s/d 64) xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 47 .

48 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Laporan Arus Kas Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional. yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut: (a) Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum Daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu. Panjang Jumlah Ekuitas Dana Investasi (68 s/d 71) EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan dalam Dana Cadangan Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (75) JUMLAH EKUITAS DANA (65+72+76) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (58+78) xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx D.6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk. pengeluaran. (b) Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum Daerah. Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas. pembiayaan. dan transaksi non-anggaran yang menggambarkan saldo awal. penerimaan. investasi aset non-keuangan.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 .28) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 49 .3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .46) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan. Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 50 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .

Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Pembayaran Pokok Pinjaman DN .3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.74) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (78) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (81) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Nonanggaran (79 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 .82) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (84+85) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (86+87+88) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 51 .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 .30) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 52 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40-48) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 53 .

84) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (86+87) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (88+89+90) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 54 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .76) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (80) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (83) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 . Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.28) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 55 . Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 .

Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 56 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 . Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.46) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

82) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (84+85) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (86+87+88) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 57 . Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.74) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (78) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (81) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (79 .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 .

Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 .6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.30) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 58 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C.

Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .48) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40 . Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 59 .

Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C.84) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (86+87) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 60 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.76) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (80) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (83) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .

Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. Neraca. adalah yang terakhir yang perlu kita bahas karena hal tersebut relevan dengan pokok bahasan dalam modul ini. dan Laporan Arus Kas. Dari beberapa hal yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. yang tidak disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah E. (b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan. pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD. Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut: (a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan. pencapaian target Undang-Undang APBN/ Perda APBD. (d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 61 . berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target. Pengungkapan atas komponen laporan keuangan adalah sebagai berikut. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Lampiran I-D menjelaskan bahwa sistematika Catatan atas Laporan Keuangan terdiri dari: Kebijakan fiskal/keuangan. dan penjelasan atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran. (c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksitransaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya. dan (f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar. ekonomi makro. ekonomi makro. Neraca. (e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas. ikhtisar pencapaian kinerja keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran. dan Laporan Arus Kas. kebijakan akuntansi.

Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara transfer periode ini dengan transfer periode yang lalu. Kas di Bendahara Penerimaan. Investasi dalam Obligasi. Penjelasan atas masing-masing jenis pembiayaan. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara pendapatan periode ini dengan pendapatan periode yang lalu. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara belanja periode ini dengan belanja periode yang lalu. Penjelasan atas masing-masing jenis pendapatan. 4. Penjelasan atas masing-masing jenis transfer. Transfer Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran transfer.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi Anggaran 1. 62 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Penjelasan atas masing-masing jenis belanja. dan Pinjaman kepada Perusahaan Daerah. dan Piutang. 2. Pendapatan Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pendapatan. Pembiayaan Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pembiayaan. 2. seperti Penyertaan Modal Pemerintah. Investasi Jangka Panjang Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos investasi jangka panjang. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara pembiayaan periode ini dengan pembiayaan periode yang lalu. 3. Belanja Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran belanja. seperti Kas di Bendahara Pengeluaran. Aset Lancar Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lancar. Neraca 1.

4. Laporan Arus Kas 1. Arus Kas dari Aktivitas Operasi Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas operasi. Diungkapkan pula (apabila ada) perbedaan pencatatan perolehan aset tetap yang terjadi antara unit keuangan dengan unit yang mengelola/mencatat aset tetap. Utang Dalam Negeri Sektor Perbankan. Pendapatan yang Ditangguhkan. seperti Tagihan Penjualan Angsuran. Aset Lainnya Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lainnya. 5. seperti Utang Dalam Negeri Obligasi. seperti Pendapatan Penjualan Aset dan Belanja Aset. Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas investasi aset non-keuangan. Ekuitas Dana Investasi Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana Investasi. dan Kemitraan dengan Pihak Ketiga.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. seperti Pendapatan Pajak dan Belanja Pegawai. Tuntutan Ganti Rugi. diungkapkan dasar pembukuannya. seperti Cadangan Piutang dan Cadangan Persediaan. 2. seperti Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang dan Diinvestasikan dalam Aset Tetap. Aset Tetap Untuk seluruh perkiraan yang ada dalam kelompok aset tetap. 7. 8. Kewajiban Jangka Pendek Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka Pendek. Daftar aset tetap juga disertakan sebagai lampiran laporan keuangan. Bagian Lancar Utang Jangka Panjang. Ekuitas Dana Lancar Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana Lancar. seperti Uang Muka dari Kas Umum Negara (KUN). Kewajiban Jangka Panjang Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka Panjang. dan Utang Luar Negeri. dan Utang Bunga. 6. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 63 .

Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. 64 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . b. Adapun pengungkapan-pengungkapan lain yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan keuangan adalah hal-hal yang mempengaruhi laporan keuangan. Neraca. Neraca. seperti Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga dan Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Penggantian manajemen pemerintahan selama tahun berjalan. yaitu suatu kondisi atau situasi yang belum memiliki kepastian pada tanggal neraca. yaitu bentuk perjanjian dengan pihak ketiga yang harus di ungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Rangkuman Proses penyusunan laporan pemerintahan daerah sebagai berikut: • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Realisasi Anggaran. F. d. Misalnya. Komitmen. disampaikan kepada kepala daerah melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). • Kepala SKPD juga menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya kepada kepala daerah dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. dan Catatan atas Laporan Keuangan. • PPKD selaku Bendahara Umum Daerah (BUD) menyusun Laporan Realisasi Anggaran. Laporan Arus Kas. f. Kejadian penting setelah tanggal neraca (subsequent event) yang berpengaruh secara signifikan terhadap perkiraan yang disajikan dalam neraca. antara lain: a. 4. Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas pembiayaan. disampaikan kepada kepala daerah. Kejadian yang mempunyai dampak sosial. Penggabungan atau pemekaran entitas tahun berjalan. Kesalahan manajemen terdahulu yang telah dikoreksi oleh manajemen baru c. Kontijensi ini harus diungkapkan dalam catatan atas neraca. Kontijensi. e. Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas non-anggaran. jika ada tuntutan hukum yang substansial dan hasil akhirnya bisa diperkirakan. misalnya adanya pemogokan yang harus ditanggulangi pemerintah g. seperti Penerimaan Pinjaman dan Pembayaran Pokok Pinjaman.

belanja.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah terdiri dari: • • Laporan Realisasi Anggaran. kebijakan akuntansi. Laporan Arus Kas. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan pemerintah daerah yang terdiri dari: Laporan Realisasi Anggaran. ekonomi makro. dan penjelasan atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran. menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada tanggal tertentu. yang meliputi: Kebijakan fiskal/keuangan. • Laporan Arus Kas. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 65 . • PPKD menyampaikan Laporan Keuangan Pemda kepada kepala daerah untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan ekuitas dana. transfer. kewajiban. pengeluaran. dengan menyajikan informasi mengenai aset. menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional. kepala daerah menyampaikannya kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). dan Laporan Arus Kas. Neraca. • Catatan atas Laporan Keuangan. ikhtisar pencapaian kinerja keuangan. dan transaksi nonanggaran yang menggambarkan saldo awal. penerimaan. Neraca. dan Catatan atas Laporan Keuangan. dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu. Selanjutnya. investasi aset non keuangan. dan pembiayaan. pembiayaan. pencapaian target Undang-Undang APBN/Perda APBD. Neraca. menyajikan informasi mengenai pendapatan.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 66 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

terlihat bahwa literatur untuk sektor publik relatif lebih sedikit. keuangan. kalau kita coba bandingkan antara buku-buku yang mengulas tentang sektor publik dan sektor bisnis. analisis laporan keuangan di sektor pemerintahan hampir tidak pernah dilakukan. maka akan sangat sulit kita memperolehnya atau bahkan tidak akan mendapatkannya. dan pemeriksaan akuntan. Kalaupun dilakukan perhitungan-perhitungan melalui pembandingan beberapa pos laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 67 . kalau kita coba untuk mencari lliteratur mengenai analisis laporan keuangan sektor publik.Analisis Laporan Keuangan Daerah Konsep Analisis Laporan • • Keuangan Bab 4 Setelah mempelajari bab ini. tetapi terbatas pada sektor bisnis. memang telah lama banyak dilakukan oleh pengguna laporan keuangan. Pendahuluan Dalam literatur akuntansi. Jadi. kreditor. Manajemen perusahaan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Di sisi lain. Tentang analisis laporan keuangan. analis keuangan. karena memang sampai saat ini belum ada. seperti investor. telah banyak menerapkan metode-metode analisis laporan keuangan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan yang telah dicapai dan untuk memprediksikan prospek perusahaan di masa yang akan datang. pelaku bisnis dan pihak-pihak terkait lainnya telah banyak memanfaatkan hasil analisis laporan keuangan sebagai dasar bagi pengambilan keputusan ekonomis yang mereka buat. Lebih jauh lagi. diharapkan pembaca dapat: Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan. Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah. A.

dan Catatan atas Laporan Keuangan Daerah. B. seyogyanya terdapat pula perkembangan teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah. Dengan bertambahnya komponen laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tersebut. kita dapat membandingkan realisasi belanja modal dengan pagunya. Hasil dari analisis tersebut diharapkan dapat meminimalkan bahkan 68 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Laporan Arus Kas. maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya tidak saja dalam bentuk Laporan Realisasi Anggaran. itu pun dengan perhitungan sederhana dengan penggunaan yang terbatas. yang pada akhirnya hasil analisis laporan keuangan tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam perumusan kebijakan anggaran daerah di masa mendatang. Untuk itu. kita bandingkan antara realisasi pendapatan asli daerah dengan target/ anggarannya. Untuk menilai pelaksanaan belanja modal misalnya. atau menghitung perbandingan antara realisasi pendapatan pajak daerah dengan total realisasi pendapatan asli daerah. Analisis laporan keuangan dilakukan dengan menggunakan metode dan teknik analisis tertentu dalam melihat ukuran dan hubungan unsur laporan keuangan. yang ditandai dengan perkembangan peraturan perundangundangan dalam bidang keuangan negara/daerah. agar pengguna laporan keuangan memiliki dasar yang memadai dalam mengevaluasi kondisi dan kinerja keuangan pemerintah daerah. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. tetapi juga meliputi Neraca. Pengertian Analisis Laporan Keuangan Secara singkat analisis laporan keuangan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan suatu entitas tertentu. bila kita ingin mengetahui kinerja pencapaian pendapatan daerah. atau membandingkan realisasi belanja modal dengan realisasi total belanja. maka dengan sendirinya terjadi perubahan kebutuhan atas teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah. seseorang yang melakukan analisis atas laporan keuangan perlu menguraikan pos-pos laporan tersebut menjadi unit informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antara satu dengan yang lainnya guna mengetahui kondisi keuangan entitas tersebut untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan.Analisis Laporan Keuangan Daerah daerah. Misalnya. Seiring dengan makin majunya penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi.

Laporan Arus Kas. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 69 . hasil analisis laporan keuangan akan lebih baik bila laporan keuangannya dihasilkan dari sistem akuntansi pemerintah daerah yang sudah berjalan dengan baik. Neraca. kemungkinan masing-masing analis dapat memberikan hasil analisis yang berbeda. ketidakpastian. hubungan pos-pos antar laporan keuangan. Dengan demikian akan menambah keyakinan pengguna laporan atas data atau informasi yang tersedia sehingga pengambilan keputusannya menjadi lebih akurat. Dengan demikian. Oleh karena itu. akurasi hasil analisis laporan keuangannya sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. Beberapa karakteristik dari analisis laporan keuangan dapat diringkas seperti di bawah ini.Analisis Laporan Keuangan Daerah menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata. maka kita akan menggunakan laporan keuangan pemerintah daerah sebagai bahan utama dalam melakukan analisis. • Dipengaruhi oleh kemampuan analis Bila terdapat beberapa analis atas satu informasi yang sama. dan laporan keuangan tersebut telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan. maka fokusnya adalah pada Laporan Realisasi APBD. dan Catatan atas Laporan Keuangan. • Memuat analisis hubungan Dalam hal ini. • Memuat implikasi dan prediksi Analisis laporan keuangan dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak kejadian atau transaksi masa lalu sekaligus untuk meramalkan prospek keuangan di masa mendatang. pertimbangan pribadi dan lain sebagainya. tergantung pada kemampuan atau ketajaman masing-masing analis. Bahkan melalui analisis laporan keuangan juga kemungkinan dapat diketahui adanya kesalahan proses akuntansi. serta perbandingan dan kecenderungan pos-pos tersebut. • Fokus pada laporan keuangan utama Sesuai pembahasan dalam modul ini. analisis laporan keuangan menguraikan hubungan pos-pos dalam satu laporan keuangan. Seperti yang disebutkan pada poin fokus analisis laporan keuangan di atas.

Analisis Laporan Keuangan Daerah C. tidak ada informasi yang menyebutkan derajat kemampuan pemda dalam membayar kembali pinjaman yang diterimanya. jika pengguna laporan keuangan menginginkan informasi tambahan dari laporan keuangan yang tersedia. Bila kita ingin menilai seberapa besar tingkat kemampuan pemda membayar kewajibannya. Dapat mengetahui sifat-sifat dari hubungan baik antar-pos maupun antar 70 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya. Adapun tujuan dari analisis laporan keuangan pemerintah daerah adalah untuk hal-hal berikut ini. Oleh sebab itu. antara lain sebagai berikut: • • • • Dapat menyediakan tambahan penjelasan atas data dan informasi yang memang sudah tersedia pada laporan keuangan. Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan Telah kita bahas di bab sebelumnya. Berdasarkan pembahasan di atas. Mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya. Secara umum telah kita peroleh pemahaman bahwa tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan dari suatu entitas. dapat kita formulasikan beberapa manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan analisis laporan keuangan. • • • • • • Meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan programprogramnya. maka kita perlu melakukan analisis atas pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan pemda tersebut. bahwa informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah untuk tujuan umum. Dapat memberikan informasi yang tidak secara eksplisit disajikan di dalam laporan keuangan Dapat mengetahui terdapatnya kesalahan dan hal-hal yang bersifat tidak konsisten yang terkandung dalam laporan keuangan. Mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahan-perubahannya Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. yang berarti bahwa laporan tersebut disajikan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi semua kelompok pengguna laporan keuangan. Dalam laporan keuangan pemerintah daerah misalnya. maka perlu melakukan analisis atas laporan keuangan tersebut.

(e) mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan program-programnya. saat ini. D. Rangkuman Analisis laporan keuangan merupakan upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan pemerintah daerah. dan lain sebagainya. sehingga dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami oleh suatu entitas. ketidakpastian. (b) meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. dengan menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antar pos untuk mengetahui kondisi keuangan. (b) memuat analisis hubungan. Dapat mengetahui komposisi struktur keuangan entitas. pertimbangan pribadi. sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Secara umum. dan kesalahan proses akuntansi. yang dapat digunakan untuk prediksi. Karakteristik dari analisis laporan keuangan adalah: (a) fokus pada laporan keuangan utama. • • • Dapat menilai perkembangan dan pencapaian yang diperoleh oleh suatu entitas serta membuat proyeksi keuangan di masa mendatang.Analisis Laporan Keuangan Daerah laporan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 71 . Hasil dari analisis laporan keuangan diharapkan dapat meminimalkan bahkan menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata. Dapat mengevaluasi kondisi keuangan entitas masa lalu. (c) mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. rating. dan (d) hasilnya tergantung pada kemampuan analisnya. (c) mengandung implikasi dan prediksi. dan perkiraan di masa yang akan datang. dan (f) mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya. sedangkan tujuan analisis laporan keuangan daerah adalah untuk: (a) mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahan-perubahannya. tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan. (d) mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 72 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

khususnya analisis perbandingan atau rasio. adalah sebaliknya. Widodo (2007) penyebabnya adalah: • Keterbatasan penyajian laporan keuangan pada lembaga pemerintah daerah yang sifat dan cakupannya berbeda dengan penyajian laporan keuangan oleh lembaga perusahaan yang bersifat komersial. Dapat dikatakan bahwa penggunaan teknik-teknik analisis laporan keuangan di sektor bisnis memang sudah memiliki pijakan teori yang sudah mapan dengan nama dan kaidah pengukuran yang standar. khususnya pada lingkungan pemerintah daerah. mengemukakan Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 73 . dengan fokus pada laporan realisasi anggaran. Penggunaannya masih sangat terbatas. Sedangkan pada sektor publik. Kondisi Saat Ini Landasan teori untuk analisis laporan keuangan pada sektor bisnis sudah lama menjadi pokok bahasan dalam literatur akuntansi dan keuangan. diharapkan pembaca dapat: Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan. Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah. belum ada nama dan kaidah pengukuran yang seragam. bila dibandingkan dengan sektor bisnis. A. karena memang belum didukung dengan pembahasan teori analisis laporan keuangan pemerintah yang memadai. Mengenai terbatasnya penggunaan teknik analisis laporan keuangan pada pemerintah daerah. Oleh karena itu.Analisis Laporan Keuangan Daerah Analisis Laporan Keuangan • • Pemerintah Bab 5 Setelah mempelajari bab ini.

Karena disusun dengan pendekatan secara incremental.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Selama ini penyusunan APBD sebagian masih dilakukan berdasarkan pertimbangan incremental budget (seharusnya disusun berdasarkan pendekatan kinerja sebagaimana tersebut dalam pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000). yaitu besarnya masing-masing komponen pendapatan dan belanja dihitung dengan meningkatkan persentase tertentu (biasanya berdasarkan tingkat inflasi). pada analisis laporan keuangan itu sendiri terdapat keterbatasan yang inheren. Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum Informasi dalam laporan keuangan tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi secara khusus bagi setiap kelompok pengguna laporan keuangan. Sifat laporan keuangan adalah historis. seperti adanya prinsip “yang penting pendapatan naik meskipun untuk menaikkannya itu diperlukan biaya yang tidak efisien”. • Penilaian keberhasilan APBD sebagai penilaian pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah lebih ditekankan pada pencapaian target. 2. dibutuhkan pemahaman dasar terhadap akuntansi dan laporan keuangan yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. 1. Oleh karena itu. 74 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . B. dan pengguna laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan. Oleh karena itu. sehingga kurang memperhatikan bagaimana perubahan yang terjadi pada komposisi ataupun struktur APBDnya. Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Sudah kita bahas pada bab sebelumnya. Akuntansi bukan merupakan satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomis. Selain itu. antara lain sebagai berikut. laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai laporan mengenai keadaan saat ini. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis. Laporan keuangan menyajikan informasi mengenai transaksi dan kejadian pada masa lalu. bahwa akurasi hasil analisis laporan keuangan sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. maka sering kali mengabaikan rasio keuangan dalam APBD.

Meskipun APBD disusun dengan pendekatan kinerja. yang cenderung bersifat subyektif. C. alasan-alasan meningkatnya jumlah defisit dari yang dianggarkan. akan dikemukakan teknik-teknik yang akan digunakan dalam pembahasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah pada bagian ketiga. melainkan dalam laporan kinerja instansi pemerintah. Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Contoh informasi kualitatif yang relevan dengan analisis laporan keuangan adalah opini auditor independen mengenai laporan keuangan pemerintah daerah. estimasi masa manfaat atau umur ekonomis aset tetap. analisis dapat dikembangkan sampai kepada analisis kinerja program/kegiatan dengan mengumpulkan data-data mengenai rencana dan realisasi program/kegiatan berikut target dan capaian kinerjanya. 5. Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Pada sub bab terakhir ini. Oleh sebab itu. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 75 . analisis laporan keuangan dapat dikatakan lebih cenderung pada analisis kinerja keuangan. Dengan demikian. hasil analisis laporan keuangan dengan sendirinya juga bersifat kuantitatif. Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan Laporan keuangan yang menjadi obyek analisis adalah laporan keuangan yang lebih menggambarkan kinerja keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. tetapi juga informasi kualitatif. dan lain sebagainya. Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan Di dalam penyusunan laporan keuangan tidak dapat dihindari adanya penggunaan estimasi akuntansi. Namun demikian. Misalnya. yang sekaligus merupakan sub topik terakhir dari bagian kedua (Dasar-dasar Analisis Laporan Keuangan). Sedangkan informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja pemerintah bukan hanya informasi kuantitatif. alasan-alasan tidak tercapainya target pajak daerah. 4. terutama berupa informasi kuantitatif yang bersifat keuangan. yang merupakan bagian terakhir dari modul ini. akan tetapi kinerja pelaksanaan program dan kegiatan tidak dapat dilihat dalam laporan realisasi anggaran. estimasi atas kemungkinan tidak tertagihnya piutang. Teknik-teknik yang akan digunakan adalah sebagai berikut.

baik dalam satu laporan keuangan maupun antar laporan. Analisis ini dapat juga digunakan untuk membandingkan satu pos yang sama dalam laporan keuangan dua periode yang berurutan. adanya belanja modal di laporan realisasi APBD. Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis hubungan dilakukan dengan menguji hubungan logis antar pos. dibahas dalam bab 7. Selengkapnya mengenai teknik analisis perbandingan ini. Tujuan analisis ini antara lain untuk menilai kondisi atau kinerja keuangan pemerintah daerah. D. Teknik analisis kecenderungan ini akan dibahas di bab 8. 2. Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis kecenderungan dilakukan dengan membandingkan pos yang sama untuk periode lebih dari dua tahun. yaitu bab terakhir dalam modul ini. Semakin besar angka rasionya.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1. Bila hasil perbandingannya menunjukkan angka lebih besar dari 1. Misalnya prediksi pencapaian pajak daerah pada tahun yang akan datang. antara lain. semestinya berkorelasi langsung dengan kenaikan aset tetap. 3. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis perbandingan dilakukan dengan membandingkan satu atau beberapa pos dengan satu atau beberapa pos lainnya dalam satu periode. Rangkuman Akurasi hasil analisis laporan keuangan sangat tergantung pada akurasi dan validitas laporan keuangan pemerintah daerah. diperkirakan berdasarkan data atau informasi kecenderungan pencapaian pajak daerah beberapa periode yang lalu sampai saat dilakukannya analisis kecenderungan. maka semakin baik pula kinerja dari pencapaian pajak daerah tersebut. Analisis kecenderungan ini umumnya digunakan dalam membuat prediksi keuangan. berarti mengindikasikan tingkat capaian yang baik. Pembahasan selengkapnya terdapat di bab 6. analisis laporan keuangan itu sendiri mengandung keterbatasan inheren. rasio realisasi pajak daerah. Tujuan analisis ini adalah untuk menguji kebenaran angka-angka laporan keuangan yang disajikan. diperoleh dari perhitungan atau perbandingan antara realisasi pajak daerah dengan anggarannya atau target pajak daerah. Misalnya. sehingga diperoleh gambaran mengenai kecenderungan dari suatu pos dalam laporan keuangan pemerintah daerah. Lebih jauh. Misalnya. harus dilakukan analisis apakah kedua pos tersebut terbukti berhubungan. Untuk itu. adalah: 76 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan. Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah • • • • • Sifat laporan keuangan adalah historis. Teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan Pemerintah Daerah adalah: • • • Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 77 . Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan. Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan. Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 78 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Neraca. Berikut adalah pembahasan mengenai hubungan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah. beberapa pos antar laporan keuangan dapat mempunyai kaitan satu dengan lainnya. A. Laporan Arus Kas. harus sama dengan aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek. Laporan Realisasi APBD dan Neraca. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan keuangan pada Arus Kas. jumlah ekuitas dana lancar. diharapkan pembaca dapat: • • • • Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Laporan Realisasi APBD. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 79 . Laporan Realisasi APBD dan Neraca. Pendahuluan Pengguna laporan keuangan harus memahami bahwa pos-pos di dalam suatu laporan keuangan dapat mempunyai kaitan atau hubungan satu dengan lainnya. harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan di dalam laporan realisasi anggaran. Realisasi APBD dan Neraca. misalnya jumlah akhir kas di dalam laporan arus kas harus sama dengan jumlah akhir kas di dalam neraca. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Neraca. jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan di dalam laporan arus kas. yang meliputi: • • • • Laporan Realisasi APBD. Contoh lain. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan keuangan pada Realisasi APBD dan Neraca. Demikian halnya. di dalam neraca.Analisis Laporan Keuangan Daerah Analisis Hubungan Bab 6 Setelah mempelajari bab ini. Contoh sederhana.

Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan. perhatikan kembali format laporan realisasi APBD pada bab 3. Laporan Realisasi APBD Pada saat penyusunan APBD harus diperhatikan rencana pembiayaan untuk mengalokasikan (menutup) surplus/defisit. Untuk membahas beberapa hubungan antar pos di dalam laporan realisasi APBD. 80 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . yang secara ringkas dapat dilihat sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Y” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Dana Penimbangan Lain-Lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan : (1) BELANJA Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tak Terduga Total Belanja : (2) Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan : (4) Pengeluaran Pembiayaan : (5) Pembiayaan Neto : (6) = (4) – (5) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) : (7) = (3) + (6) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut: 1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif). maka jumlah pembiayaan neto harus positif dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut.Analisis Laporan Keuangan Daerah B.

maka jumlah penerimaan pembiayaan minimal sebesar Rp 9.Analisis Laporan Keuangan Daerah Defisit < Pembiayaan neto positif Kondisi yang salah : Defisit > Pembiayaan neto positif Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Defisit Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan* Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 9.710 69.800 (9.590 atau dengan rumus: Penerimaan Pembiayaan > Defisit + Pengeluaran Pembiayaan 2) Pembiayaan neto yang jumlahnya negatif hanya diijinkan bila anggaran direncanakan surplus. dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan neto yang negatif tersebut. Kondisi yang benar : Surplus > Pembiayaan neto negatif Kondisi yang salah : Surplus < Pembiayaan neto negatif Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 81 .590 (500) 9. Jumlah pembiayaan neto negatif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan.090 60.090) * Pembiayaan neto minimal harus sama dengan jumlah defisit yaitu Rp 9.090. Bila direncanakan ada pengeluaran pembiayaan misalnya sebesar Rp 500.

SiLPA = Defisit + Pembiayaan neto positif Syarat: Pembiayaan neto positif > Defisit Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Defisit Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 10. SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto positif 82 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .500) (500) 410 60.800 (9.800 910 3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa kondisi berikut: (a) Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit. maka selisihnya menjadi SiLPA.090) (b) Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif.Analisis Laporan Keuangan Daerah Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surpus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 3.710 59.590 (500) 10.090 1.710 69.000 (3.000 60.

500) (500) 410 60. Informasi keuangan di dalam neraca dapat memberikan manfaat.000 (3. yaitu posisi aset. antara lain.710 59.Analisis Laporan Keuangan Daerah Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surplus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 10.000 60.800 910 (c) Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar. Neraca Sebagaimana yang telah dibahas pada bab 3.710 59.590 (500) 10. sebagai berikut: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 83 . kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. neraca memberikan informasi mengenai posisi keuangan.090 11.800 910 C. SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto negatif Syarat: Surplus > Pembiayaan neto negatif Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surplus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 3.

misalnya tidak ada pelaporan mengenai piutang pajak. kewajiban dan ekuitas dana seperti yang dilaporkan dalam neraca. 84 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . perhatikan kembali format neraca pada bab 3. Tidak memfasilitasi penilaian posisi keuangan. Informasi yang dibutuhkan tidak memadai untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. saldo aktiva persediaan. maka akan mengakibatkan. Bila tidak ada informasi mengenai posisi aset. Untuk menguraikan beberapa hubungan antar pos di dalam neraca.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Meningkatkan akuntabilitas untuk para manajer (kepala daerah dan para pejabat pemda) ketika mereka menjadi bertanggung jawab tidak hanya pada kas masuk dan kas keluar. yang secara ringkas terlihat seperti di bawah ini. • • Memfasilitasi penilaian posisi keuangan dengan menunjukkan semua sumber daya dan kewajiban. kewajiban saat ini untuk menyerahkan (membayar) sejumlah uang atau barang di masa yang akan datang. Pemerintah umumnya mempunyai jumlah aset yang signifikan dan utang. hal-hal sebagai berikut: • Pengaruh dari transaksi keuangan pada pemerintah daerah dalam suatu periode tidak tercermin secara penuh. antara lain. aktiva dalam konstruksi. karena tidak menunjukkan semua sumber daya dan kewajiban. • Meningkatkan transparansi dari aktivitas pemerintah. tetapi juga pada aset dan utang yang mereka kelola. pengungkapan atas informasi ini merupakan suatu elemen dasar dari transparansi fiskal dan akuntabilitas. • • • Akuntabilitas terbatas pada penerimaan dan pengeluaran kas dan mengabaikan transparansi dan akuntabilitas untuk pengelolaan aset dan utang. Memberikan informasi yang lebih luas yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan.

Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek. total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset dengan kewajiban. Oleh karena itu.Analisis Laporan Keuangan Daerah NERACA Pemerintah Daerah “Y” Per 31 Desember 200X ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan Total Ekuitas Dana xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Total Aset xxx Total Kewajiban dan Ekuitas Dana Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut: 1). Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi Utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen. Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. PPh dan PPn). dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut. Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar – Kewajiban Jangka Pendek 4). Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana 2) Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah. askes. Bila tidak. Ekuitas Dana = Aset – Kewajiban 3). SiLPA = Total Kas – Utang PFK Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 85 .

130 Rp 2.835 2) Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar .130 – Rp 500 Ekuitas Dana Lancar = Rp 1.Total Kewajiban Total Ekuitas Dana = Rp 13. Oleh karena itu.500 Rp 3.630 3) Ekuitas Dana Investasi = (Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya) – Kewajiban Jangka Panjang Ekuitas Dana Investasi = (Rp 2.835 Berdasarkan data di atas komponen ekuitas dana dapat dihitung sbb. Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan persamaan berikut: Ekuitas Dana Investasi = Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka Panjang 6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana cadangan.620 Rp Rp 560 75 Rp13. jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan jumlah dana cadangan.Kewajiban Jangka Pendek Ekuitas Dana Lancar = Rp 2.Rp 3.835 .000 Rp 2.645 4) Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan Ekuitas Dana Cadangan = Rp 560 86 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .620 + Rp 75) – Rp 2.: 1) Total Ekuitas Dana = Total Aset .450 Rp 8.Analisis Laporan Keuangan Daerah 5).450 + Rp 8.500 Ekuitas Dana Investasi = Rp 8. Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan Ilustrasi: Data aset dan kewajiban Pemda ‘P’ untuk menyusun Neraca per 31 Desember 200X adalah sebagai berikut: (dalam jutaan rupiah) ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya Total Aset KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban Rp 500 Rp 2.000 Total Ekuitas Dana = Rp 10.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Setelah komponen ekuitas dana ditentukan. Demikian sebaliknya.645 560 10. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 87 .620 560 75 KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan Total Ekuitas Dana Total ASET 13. maka jumlah aset tetap di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembentukan dana cadangan. 3) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penggunaan dana cadangan dalam laporan realisasi APBD.500 3.835 Rp 500 2.835 13. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembayaran pinjaman.130 2. maka jumlah kewajiban (utang) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.450 8. dapat dilakukan analisis sebagai berikut : 1) Bila ada belanja modal dalam laporan realisasi APBD. jumlah kewajiban di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. jumlah dana cadangan (aset) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama. maka jumlah dana cadangan (aset) di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama.835 Total Kewajiban dan Ekuitas Dana 1. Laporan Realisasi APBD dan Neraca Untuk mengetahui hubungan antara laporan realisasi APBD dan neraca.000 D. neraca dapat disusun sebagai berikut: NERACA Pemerintah Daerah “P” Per 31 Desember 200X ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya Rp 2. Demikian sebaliknya. 2) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penerimaan pinjaman dalam laporan realisasai APBD.630 8.

yang bentuk ringkasnya seperti di bawah ini. askes. antara lain: 1) Saldo kas pada akhir tahun dalam Laporan Arus Kas harus sama dengan jumlah kas pada akhir tahun di Neraca (per 31 Desember 200X). Realisasi APBD. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa penyertaan modal dalam perusahaan daerah. SiLPA di neraca diperoleh dengan perhitungan: jumlah total kas dikurangi kewajiban pada PFK (potongan taspen. maka jumlah investasi jangka panjang (aset) di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. perhatikan kembali format Laporan Arus Kas pada bab 3. Untuk mengujinya dapat dibandingkan dengan jumlah pendapatan daerah dalam laporan realisasi anggaran dengan rumus sebagai berikut : 88 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Demikian sebaliknya. dan Neraca Untuk mengetahui hubungan Laporan Arus Kas dengan beberapa pos laporan keuangan lainnya.Analisis Laporan Keuangan Daerah 4) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penjualan investasi perusahaan daerah dalam laporan realisasi APBD. 2) Apakah jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi sudah benar?. dan PPh dan PPn yang belum disetor). LAPORAN ARUS KAS Pemerintah Daerah “Y” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X Arus Kas Dari Aktivitas Operasi Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan Arus Kas Dari Aktivitas Non Anggaran Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Kas Pada Awal Tahun Saldo Kas Pada Akhir Tahun xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Hubungan berikut perlu diperhatikan dalam menilai kebenaran angkaangka dalam laporan arus kas. 5) SiLPA pada kelompok ekuitas dana lancar di neraca harus sama dengan jumlah SiLPA (akhir tahun) di laporan realisasi APBD. jumlah investasi jangka panjang (aset) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama. E. Laporan Arus Kas.

6) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan tidak akan sama dengan jumlah penerimaan pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. Alasannya. meski dalam bentuk barang. 4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan yang dilaporkan dalam Laporan Realisasi Anggaran sebagai kelompok Lain-lain PAD (perhatikan penjelasan pada angka 2 huruf (a) di atas) 5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran. sebab SiLPA tahun anggaran sebelumnya tidak dianggap sebagai komponen arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan. (b) Laporan arus kas hanya melaporkan transaksi kas baik pendapatan. tetapi dalam laporan realisasi APBD hibah tersebut tentu akan dilaporkan. belanja maupun pembiayaan. 3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total belanja dalam Laporan Realisasi Anggaran tetapi tidak termasuk belanja modal. 7) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran.Analisis Laporan Keuangan Daerah Arus kas masuk dari aktivitas operasi = jumlah pendapatan daerah – penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan Perhatikan: (a) Arus kas masuk dari aktivitas operasi yang berasal dari Lain-lain PAD tidak termasuk pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan. Sebagai contoh. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 89 . pendapatan berupa hibah dalam bentuk barang tidak akan dilaporkan dalam laporan arus kas. penjualan aset tersebut dalam laporan arus kas dilaporkan dalam arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non keuangan.

400 (5.200 24.100 5.200 7. Askes.090) 10.200) 16.710 Data lainnya mengenai posisi utang PFK dan kas: • Data mengenai jumlah potongan PFK (Taspen.500 69.200) Pengeluaran Pembiayaan (5) Pembiayaan neto : (6) = (4) – (5) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA): (7) = (3) + (6) 21.820 90 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .855 Rp 4.110 40.450 50.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Q” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005 PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah (termasuk penjualan aset daerah yang dipisahkan sebesar Rp 10) Dana Perimbangan Lain-Lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan : (1) BELANJA Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tak Terduga Total Belanja : (2) Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan : (4) (termasuk SiLPA tahun sebelumnya Rp 15.000 260 60. dan PPh 21) adalah sebagai berikut: Utang PFK per 31 Desember 2004 (PFK yang belum disetor sampai akhir tahun) Potongan PFK selama tahun 2005 Jumlah PFK yang harus disetor Jumlah yang telah disetor selama tahun 2005 Utang PFK per 31 Desember 2005 (PFK yang belum disetor sampai akhir tahun) Rp 35 Rp 55 Rp 4.800 Rp 4.800 (9.

100 = Rp 45.710 – Rp 10 = Rp 60. Arus kas masuk dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 10 4) Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = belanja modal.200 7) Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK tahun berjalan Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = Rp 4.700 2) Arus kas keluar dari aktivitas operasi = Total Belanja – Belanja Modal = Arus kas keluar dari aktivitas operasi = Rp 69.: 1) Arus kas masuk dari aktivitas operasi = Total Pendapatan – Penjualan Aset Daerah yang Dipisahkan Arus kas masuk dari aktivitas operasi = Rp 60.800 8) Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK yang disetor selama tahun berjalan Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = Rp 4.200 6) Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = jumlah pengeluaran pembiayaan Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = Rp 5.200 Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 6. Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 24.100 5) Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Jumlah penerimaan pembiayaan – SiLPA tahun sebelumnya Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 21.400 – Rp 15.145 Berdasarkan data-data di atas laporan arus kas dapat disusun dengan melakukan analisis sbb.255 Rp 7.700 3) Arus kas masuk berasal dari aktivitas investasi non-keuangan = Lain-lain PAD yang berasal dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan.820 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 91 .: Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2004 Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2005 Rp 15.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Data saldo kas dalam neraca adalah sbb.800 – Rp 24.

000 Berdasarkan contoh di atas. SiLPA akhir tahun dalam Laporan Realisasi APBD Pemda “Q” untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2005 adalah Rp 7.820) Kenaikan (Penurunan) Kas Saldo Kas Pada Awal Tahun Saldo Kas Pada Akhir Tahun (20) (8.110.800 – Rp 4.145 – Rp 35 = Rp 7. Pengujian ini memberikan salah satu indikasi bahwa penyusunan laporan keuangan sudah benar.090) 15.145 1. 92 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .000 (24.700) Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non-Keuangan (Rp 10 – Rp 24.100) Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan (Rp 6.110) 15. SiLPA dalam neraca dapat dihitung: SiLPA = Rp 7. laporan arus kas secara ringkas dapat disusun sebagai berikut : LAPORAN ARUS KAS Pemerintah Daerah “Q” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005 (dalam jutaan rupiah) Rp Arus Kas Dari Aktivitas Operasi (Rp 60.110. Jumlah SiLPA tersebut harus sama dengan jumlah SiLPA yang akan dilaporkan pada kelompok “Ekuitas Dana Lancar” di Neraca.200) Arus Kas Dari Aktivitas Non-Cadangan (Rp 4.200 – Rp 5.255 7.700 – Rp 45. yang dapat dihitung dengan rumus: SiLPA = Jumlah kas akhir tahun – Jumlah Kewajiban PFK akhir tahun Berdasarkan data mengenai posisi kas dan utang PFK di atas.Analisis Laporan Keuangan Daerah Selanjutnya. Ternyata. jumlah SiLPA akhir tahun di Laporan Realisasi APBD sudah sama dengan jumlah SiLPA di Neraca.

dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan neto yang negatif tersebut. dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut. Oleh karena itu. askes. 5). Rangkuman Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut: 1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif). 3). Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. maka jumlah pembiayaan neto harus positif. Bila tidak. Oleh karena itu. total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset dengan kewajiban. Hubungan berikut dapat digunakan dalam menilai kebenaran angkaangka dalam laporan arus kas: 1) Saldo kas pada akhir tahun harus sama dengan jumlah kas pada akhir tahun di Neraca. (Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan). Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah. 3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa kondisi berikut: • • • Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit. Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar. 4).Analisis Laporan Keuangan Daerah F. Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen. 2). maka selisihnya menjadi SiLPA. PPh dan PPn). (Jumlah pembiayaan neto negatif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan). Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar di kurangi kewajiban jangka pendek. jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan jumlah dana cadangan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 93 . dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut. Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut: 1). Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan perhitungan: Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka Panjang 6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana cadangan. Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif. 2) Pembiayaan neto negatif hanya diijinkan bila anggaran direncanakan surplus.

Analisis Laporan Keuangan Daerah 2) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi dapat sama dengan jumlah pendapatan daerah dikurangi penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan (dalam laporan realisasi anggaran) 3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total belanja (dalam laporan realisasi anggaran) tetapi tidak termasuk belanja modal. 4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan (dalam laporan realisasi anggaran). 94 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran. 6) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran.

diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai keunggulan dan kelemahan analisis perbandingan. Standarisasi unit-unit pengukuran komponen keuangan pemerintah daerah. 3. Memperoleh pemahaman mengenai jenis-jenis analisis perbandingan pada laporan keuangan daerah. dikatakan ia/mereka melakukan analisis rasio keuangan. 2. Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan Perbandingan pos-pos laporan keuangan sering disebut dengan istilah rasio keuangan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 95 . Dibandingkan dengan teknik analisis keuangan lainnya. Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan analisis perbandingan pada laporan keuangan daerah. 5. Lebih mudah melihat perkembangan pemerintah daerah serta melakukan prediksi di masa yang akan datang. Lebih mudah memperbandingkan kondisi keuangan pemerintah daerah dengan pemerintah daerah lain atau melihat perkembangan pemerintah daerah secara periodik. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. Rasio merupakan pengganti (yang lebih sederhana) dari informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan (yang rinci dan rumit). Analisis Bab 7 A.Analisis Laporan Keuangan Daerah Perbandingan Setelah mempelajari bab ini. dengan maksud untuk mengetahui capaian atau kinerja keuangan entitas dimaksud. analisis rasio keuangan memiliki keunggulan. Oleh karena itu. 4. jika seseorang atau lembaga melakukan perhitungan dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan suatu entitas. sebagai berikut: 1. antara lain.

3. Rasio leverage yaitu rasio untuk mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik dengan dana yang dipinjam dari kreditor. apakah angka tersebut berarti sangat baik. 96 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Validitas angka rasio dipengaruhi secara otomatis oleh validitas angkaangka yang dilaporkan dalam laporan keuangan dan dipengaruhi oleh kelemahan inheren laporan keuangan. kreditor. 4. yaitu Pemerintah Daerah (eksekutif). karena mungkin saja teknik perhitungannya berbeda atau pemilihan metode dan prinsip akuntasi yang berbeda. manajemen dan analis keuangan. Pemerintah Pusat. analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan umumnya dinyatakan dalam suatu ukuran rasio keuangan yang terdiri dari: 1. Rasio aktivitas yaitu rasio untuk mengukur efektif-tidaknya perusahaan di dalam menggunakan dan mengendalikan sumber daya yang dimilikinya. Belum ada standar atau patokan yang dapat digunakan untuk menilai baik atau buruknya suatu angka rasio. pengguna hasil analisis laporan keuangannya lebih luas lagi. Angka rasio yang dihasilkan dari perhitungan perbandingan pos-pos laporan keuangan suatu pemda belum tentu dapat dibandingkan dengan angka rasio pemda lainnya. 2. investor dan kreditor. 3. khususnya di sektor pemerintahan. kebebasan memilih metode akuntansi. seperti nilai perolehan historis. Di sektor bisnis (perusahaan). masyarakat. Rasio likuiditas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas (organisasi) dalam membayar utangnya yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek. Jenis-jenis Perbandingan Pengguna hasil analisis laporan keuangan di sektor bisnis umumnya adalah investor. Sedangkan di sektor publik (pemerintahan). Rasio solvabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas untuk membayar semua utangnya. Misalnya. berapa angka rasio kemandirian yang harus dicapai oleh pemda untuk dapat dikatakan mandiri dalam hal pendanaan. DPRD (legislatif). 5. Belum ada keseragaman dalam hal istilah-istilah rasio maupun dalam kaidah pengukurannya. bila rasio realisasi pendapatan pajak mencapai 110%. 4.Analisis Laporan Keuangan Daerah Di sisi lain. B. Rasio profitabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan entitas dalam menghasilkan laba (keuntungan). 2. nilai estimasian. baik. sedang atau kurang. analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan ini memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: 1.

yaitu: a. Efisiensi Pendapatan Asli Daerah d. Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu 2. terdapat tiga perhitungan perbandingan. 2005 (komparatif vertikal).Analisis Laporan Keuangan Daerah Sedangkan di sektor publik (pemerintahan). Perbandingan Realisasi vs Anggaran Perbandingan ini untuk mengukur realisasi pos-pos APBD yang meliputi realisasi pendapatan. sebagaimana yang telah dibahas di bab 3. perbandingan dalam kelompok 1 dan 2 di atas (kecuali Kemandirian Entitas) disebut Perbandingan Pos APBD. 2007). Kemampuan daerah Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 97 . belanja. Leverage Untuk mempermudah penyebutannya. adalah sebagai berikut: 1. surplus (defisit) dan pembiayaan. Dari adaptasi terhadap rasio keuangan sektor bisnis. khususnya APBD. Perbandingan Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu Perbandingan ini dimaksudkan untuk mengukur pertumbuhan (kenaikan/ penurunan) pos-pos APBD dalam dua tahun anggaran yang berurutan. sedangkan kelompok 3 disebut Perbandingan Pos Neraca. Kemandirian Keuangan Daerah b. Keserasian Belanja 3.A. Misalnya perbandingan realisasi pajak daerah Tahun Anggaran (T. antara lain terdapat empat perhitungan. Efektifitas Pendapatan Asli Daerah c. beberapa perbandingan pos-pos laporan keuangan. b.A. Perbandingan ini pada dasarnya untuk mengetahui keberhasilan pencapaian target pendapatan dan mengevaluasi ketaatan dalam pelaksanaan belanja dan pembiayaan. Likuiditas. Solvabilitas. Perbandingan Realisasi vs Anggarannya b. Efektifitas PAD Perbandingan ini digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan (berdasarkan potensi riil daerah). Dari data APBD yang dikembangkan oleh Widodo (dalam Halim. Bisa juga perbandingan realisasi pos-pos APBD dilakukan antara satu pemda dengan pemda yang lain untuk tahun anggaran yang sama (komparatif horizontal). terdapat dua perhitungan yaitu: a. dan c. Dari format laporan realisasi APBD.) 2006 terhadap realisasi pajak daerah T. yaitu: a.

berarti kinerja pemerintah daerah semakin baik. Kemandirian Perbandingan ini digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian pemerintah daerah dalam hal pendanaan aktivitasnya. rasio biaya pemungutan pajak dengan pendapatan pajak. Rasio ini bisa diukur dengan rasio utang terhadap aktiva atau rasio utang terhadap ekuitas dana. jika hasil perhitungannya minimal sebesar 1 atau 100%. Semakin kecil hasil perhitungannya. indikator perkembangan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakatnya. jika hasil perhitungannya kurang dari 1 atau lebih kecil dari 100%. tingkat kemandirian dapat juga dibaca sebagai indikator tingkat partisipasi masyarakat lokal terhadap pembangunan daerah. Di samping itu. rasio total belanja tidak langsung terhadap total belanja langsung. Leverage Perhitungan leverage digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemerintah daerah) dengan total utang. Efisiensi PAD Perhitungan ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan (PAD) dengan realisasi pendapatan yang diterima. 98 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Solvabilitas Perhitungan solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo. Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar dan rasio kas. Likuiditas Perhitungan likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya. Contoh. Rasio ini dapat diukur dengan membandingkan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah pinjaman (selain utang PFK dan utang pajak PPn/PPh).Analisis Laporan Keuangan Daerah dalam melaksanakan tugasnya dikatakan efektif. Suatu pemerintah daerah dikatakan efisien dalam melakukan pemungutan PAD. Keserasian Belanja Rasio keserasian ini digunakan untuk mengukur keserasian belanja yang direalisasikan oleh pemda.

660 74.600 255.260 7.450 10.950 1. Perbandingan Pos APBD Contoh laporan realisasi APBD di bawah ini akan digunakan untuk memberikan ilustrasi mengenai beberapa perbandingan pos-pos APBD.000 64.690 Realisasi TA 2007 3360.400 120 10.200 21.175 56.935 Realisasi TA 2006 338.500 11.568 13.600 35.665 20.500 10. Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Anggaran Setelah Perubahan TA 2007 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain-lain PAD yang Sah DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 359.500 11.515 8.265 36.240 321.000 75.750 275.000 19.515 8.353 38.578 7.200 321.250 12.540 150 8.000 8.650 2.500 50.000 10.603 21.600 150 72.795 34.355 214.820 247.500 0 347.750 34.940 12.000 160 102.515 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 99 .515 64.940 188.820 215.700 135 101.420 56.933 246.000 68.145 1.978 18.560 1.750 2.Analisis Laporan Keuangan Daerah C.540 120 10.450 3.500 0 281.500 11.515 64.995 38.000 22.200 208.545 0 349.000 66.065 7.750 275.000 21.210 12.600 57.160 14.145 301.800 2.

000 66.800 2.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1. Realisasi vs Anggaran Berdasarkan data di atas dapat digambarkan perhitungan realisasi anggaran sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Anggaran Setelah Perubahan TA 2007 Realisasi TA 2007 (2) (1) PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain-lain PAD yang Sah DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 359.750 34.933 246.420 56.000 21.795 34.820 215.940 12.515 8.240 321.47 100 100 98.000 19.000 8.515 64.820 247.92 122.750 275.06 100 100 100 103.59 99.400 120 10.82 99.950 1.000 75.515 64.250 12.690 360.540 120 10.500 0 347.000 10.05 101.175 56.700 135 101.200 321.000 22.64 84.568 13.515 8.000 160 102.67 101.500 11.500 11.935 Rasio Realisasi (%) (3) = (2) : (1) 100.61 0 99.603 21.97 100 100 99.51 91.38 99.46 99.353 38.21 99.545 0 349.355 214.73 98.41 99.50 101.660 74.650 2.000 68.200 21.978 18.36 100 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .750 275.145 1.09 101.995 38.578 7.

hal ini menunjukkan tingkat penyerapan dana yang optimal. Surplus (defisit) Pemda yang mengalami defisit belum tentu kinerjanya lebih buruk dari pemda yang surplus. Harus dicermati bahwa persentase tingkat penyerapan dana idealnya selaras dengan tingkat penyelesaian kegiatannya (kinerja program/kegiatan). kecuali pos bagian laba dari BUMD. 2006. hal ini menunjukkan ketaatan pada peraturan. Realisasi Belanja Realisasi belanja tidak diperkenankan melebihi plafonnya. Sebaliknya bila tingkat penyelesaian gedung tersebut sudah 100% sementara penyerapan dananya adalah 96%. Surplus (defisit) hakikatnya bukan merupakan anggaran. Sebagai contoh. Perbandingan ini tidak hanya dihitung untuk mengetahui tingkat realisasi tahunan. tetapi juga bisa dilakukan untuk melihat realisasi triwulanan dan semesteran. Harus dicermati bahwa target pendapatan T. agar mendapat gambaran yang lebih baik. tetapi perhitungan yang menunjukan selisih dari anggaran pendapatan dan anggaran belanja.A. berarti terdapat efisiensi 4% dari anggaran belanjanya. karena mungkin saja pemda yang defisit tersebut mempunyai anggaran belanja kegiatan yang jauh lebih besar dibanding dengan pemda yang surplus. Hal ini perlu mendapat jawaban tersendiri dari pihak pengelola kegiatannya kenapa hal tersebut terjadi. Sementara rata-rata tingkat penyerapan adalah lebih dari 90%. Untuk itu. realisasi belanja pembangunan gedung (belanja modal) adalah 100%. meskipun pelampauannya sangat kecil. misalnya realisasi pajak daerah TA 2007 dibandingkan dengan realisasi pajak daerah TA 2006. akan tetapi tingkat penyelesaian gedung tersebut baru 90%. Realisasi Pendapatan Semua pos PAD melampaui targetnya masing-masing. Analisis rasio realisasi belanja di atas menunjukkan angka tertinggi 100%. seyogyanya realisasi pendapatan tahun berjalan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 2007 (setelah perubahan anggaran) idealnya harus lebih besar atau paling tidak sama dengan realisasi pendapatan T. tidak ada larangan atau bukan hal yang salah bila realisasi defisit melebihi 100% dari yang direncanakan (misal karena Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 101 .Analisis Laporan Keuangan Daerah Realisasi anggaran dihitung secara sederhana yaitu dengan membandingkan realisasi pos-pos APBD (kolom 2) dengan anggarannya masing-masing (kolom 1). Dengan demikian.A.

603 21.568 13.29 106.265 36.353 38. kolom (1) diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2006 dan kolom (2) diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2007.29 104.750 2.66 94. SiLPA hakikatnya bukan anggaran tetapi perhitungan yaitu selisih antara surplus (defisit) dengan pembiayaan neto. sepanjang jumlah pembiayaan netonya dapat menutup realisasi defisit tersebut. sepanjang tidak ada peraturan khusus yang melarangnya. SiLPA akhir tahun Seperti halnya surplus (defisit).145 1.560 1.145 Realisasi TA 2007 (2) 360. 2. yang menjadi fokus evaluasi adalah realisasi pendapatan. belanja. Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu Perhitungan perbandingan realisasi sekarang vs tahun lalu (rasio komparatif) pada dasarnya sama dengan perhitungan realisasi anggaran di atas.Analisis Laporan Keuangan Daerah anjloknya realisasi pendapatan pajak dari yang ditargetkan).43 102 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .665 20. Berdasarkan data di atas dapat di gambarkan penggunaan rasio realisasi anggaran untuk perbandingan realisasi saat ini vs tahun lalu (komparatif) sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2006 (1) PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain2 PAD yang Sah 338. yaitu angka pada kolom (2) dibagi dengan angka pada kolom (1). dan pembiayaan. Realisasi Pembiayaan Anggaran pengeluaran pembiayaan sifatnya seperti belanja di mana jumlah yang dianggarkan merupakan pagu yang tidak boleh dilewati.240 Rasio Komparatif (%) (3) = (2) : (1) 106. Dalam hal ini. Dengan demikian.53 105.210 12.72 104.650 2. Sedangkan anggaran penerimaan pembiayaan sifatnya seperti pendapatan di mana jumlah yang dianggarkan adalah target yang boleh dilampaui.

933 246.57 111.160 14.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2006 (1) DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 301.065 7.660 74.67 106.91 113.500 50.10 21.000 68.59 617.260 7.600 255. 2007 tumbuh 6.978 18.500 0 281. retribusi daerah.750 34.52 0 123.600 35. misal rasionya 90% (angka ini bukan hasil penelitian).37 266.700 135 101.500 11.42 128.540 150 8.72% (106.72 80 117.400 120 10.578 7.69 148.500 0 347. Bila rasio komparatif dari ketiga pos pendapatan ini turun signifikan.83 109.000 21.515 Realisasi TA 2007 (2) 321.500 10.68 97.64 187. Sebagai contoh pajak daerah TA.940 188. Harus dicermati untuk pos pendapatan yang cenderung naik dan jumlahnya signifikan seperti pajak daerah.200 208.515 8.73 117. maka perlu mendapat penjelasan dari pemda karena ketiga pos tersebut secara normal cenderung naik setiap tahunnya dan rasio komposisinya signifikan terhadap jumlah pendapatan daerah.85 a.935 Rasio Realisasi (%) (3) = (2) : (1) 106.61 107.355 214. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 103 .600 57.000 64.600 150 72.72%-100%).500 11.07 90 140. dana alokasi umum (DAU).750 275.76 758.420 56.515 64.450 3.940 12.450 10. Rasio komparatif untuk pendapatan dapat diturunkan menjadi rasio pertumbuhan.

650 2. bila PDRB pada T. Perubahan = Naik(Turun) Pos/Rekening PAD Pajak Daerah Retribusi Daerah Dst….515 juta).568 13.603 21.353 38. Analisis rasio komparatif di atas dapat juga dikembangkan dengan menambahkan kolom baru untuk jumlah perubahannya (yang menggambarkan pertumbuhan positif/negatif).66 Realisasi Realisasi Jumlah % TA 2006 TA 2007 (3) =(2) . terlebih lagi belanja yang cenderung naik setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan kondisi yang normal.560 21.A.15% 0. maka ilustrasinya dapat digambarkan sebagai berikut: (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2007 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain2 PAD yang Sah 360.515 berasal dari SiLPA akhir TA 2006.145 1. Sebagai contoh. 20.450 juta) dibanding SiLPA awal tahun 2007 yang masuk ke penerimaan pembiayaan TA 2007 (Rp 64.A.45% 0.24% 0.358 585 6.66 106. bila dalam contoh di atas diasumsikan penerimaan pembiayaan hanya berasal dari SiLPA awal TA 2007 sebesar Rp 64. 8.72 104. seperti berikut ini.210 12. c. Rasio komparatif baik untuk pos pendapatan dan pos belanja secara umum di atas 100%. Rasio komparatif untuk pos pembiayaan naik spektakuler hingga rasio tertinggi 758%.240 (%) terhadap PDRB 4.25% 0.03% 104 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 2007 sebesar Rp.5 Triliun.72 4.02% 0. Hal ini disebabkan karena SiLPA awal tahun 2006 yang masuk ke penerimaan pembiayaan TA 2006 jumlahnya jauh lebih kecil (Rp 10.(1) (4) =(3) : (1) ( 1 ) (2) Rasio Komparatif (%) (5) =(2) : (1) Perhitungan rasio komparatif lainnya adalah dengan membandingkan Realisasi Anggaran T.568 13. 2007 terhadap nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).Analisis Laporan Keuangan Daerah b.145 1.

81% 3.00% 4. Belanja langsung harus ditetapkan indikator kinerjanya sebab akan diukur kinerja pelaksanaan program/kegiatannya.09% 2.515 8.940 12.935 321.400 120 10.26% 0.90% 2.88% 0.Analisis Laporan Keuangan Daerah (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2007 DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 68.12% 0.660 74.933 246.750 275.700 135 101.15% 0.978 18.578 7.52% 0.000 (%) terhadap PDRB 3.420 56.66% 0.09% 0.000 21.750 34.00% 1.09% 0.00% 0.79% 0.500 11. belanja dibagi ke dalam dua kelompok: belanja tidak langsung dan belanja langsung. Keserasian Berdasarkan Pemendagri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Sedangkan belanja langsung adalah belanja yang terkait secara langsung dengan adanya program dan kegiatan.76% 0.41% 3.515 64.355 214. Belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak terkait langsung dengan adanya program dan kegiatan.20% 0.14% 0.24% 0.500 0 347.22% 0. Sedangkan belanja tidak Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 105 .

935 2.325 PASSIVA UTANG Utang Jk.000 Utang Jk. karena itu belanja tidak langsung tidak perlu diukur kinerjanya. Pendek Utang Potongan PFK Utang Pajak Pusat Bagian Lancar Utang Jk.325 12. Sedangkan kondisi ideal yang diharapkan adalah belanja langsung (terutama yang bermanfaat langsung bagi publik) yang lebih besar dan semakin lebih besar dari belanja tidak langsung. Perbandingan yang serasi adalah bila belanja publik lebih besar dan semakin lebih besar dibanding dengan belanja non publik.340 3.890 1. Panjang 560.23% Dapat dikatakan bahwa rasio belanja masih jauh dari keseimbangan (keserasian) karena belanja tidak langsung masih mendominasi.825 68.000 6. Perbandingan Pos Neraca Data berikut ini diambil dari Neraca Pemerintah Daerah “Suka2” untuk memberikan ilustrasi perhitungan rasio likuiditas.435 65.935 579. D. solvabilitas. leverage.000 650.890 6.500 5. NERACA Pemerintah Daerah “Suka2” Per 31 Desember 2007 (dalam jutaan rupiah) AKTIVA Aktiva Lancar Kas Piutang Pajak Daerah Persediaan Investasi Jk Panjang Aktiva Tetap Dana Cadangan Rp 663. Berdasarkan konsep tersebut maka perbandingan yang serasi adalah bila belanja langsung lebih besar dan semakin lebih besar dibanding belanja tidak langsung.Analisis Laporan Keuangan Daerah langsung tidak dapat (sulit) untuk ditetapkan indikator kinerjanya. dan kemandirian.540 Rp 663.000 106 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Berdasarkan contoh di atas: Rasio keserasian belanja = belanja langsung : belanja tidak langsung Rasio keserasian belanja = 101.355 = 41.500 EKUITAS DANA 5. Panjang 25.000 Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan 72. Analisis bisa dikembangkan lebih spesifik lagi dengan mencermati berapa komposisi antara belanja langsung yang dinikmati secara langsung atau sebagian besar oleh masyarakat (belanja publik) dan belanja langsung yang tidak dinikmati secara langsung oleh masyarakat (belanja non publik).350 1.550 2.578 : 246.

Likuiditas Rasio likuiditas mengukur kemampuan pemda untuk membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya. Rasio lancar = (aktiva lancar – persediaan) : utang jk.825 – 1.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1. Oleh karena itu. Solvabilitas Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan pemda untuk membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo.325 :12.540) : 6. 2. Rasio ini bisa diukur dengan rasio aktiva terhadap utang atau rasio ekuitas dana terhadap utang. Artinya tanpa harus menunggu ditagihnya piutang pajak. Pos persediaan pada neraca pemda umumnya bukan persediaan barang dagang yang ditujukan untuk dijual tetapi untuk digunakan dalam operasi pemerintah atau diserahkan kepada masyarakat. Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar dan rasio kas (terhadap utang jk. dalam perhitungan rasio lancar sebaiknya pos persediaan tidak diperhitungkan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemda sangat likuid. dalam hal ini perbandingan antara kas dengan utang jangka pendek adalah 10 : 1.53:1.935 : 6.890 Rasio kas = 10 Kesimpulan: rasio kas menunjukkan perbandingan yang lebih likuid dari rasio lancar.35 aktiva yang sangat lancar. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. Rasio kas = kas dan setara kas : utang jk.46 Kesimpulan: rasio solvabilitas menunjukkan perbandingan antara total Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 107 .35 Rasio lancar ini menunjukkan perbandingan antara aktiva lancar (di luar persediaan) dengan utang jangka pendek yang besarnya adalah 10. pemda sudah dapat melunasi utang jangka pendek tsb pada saat ini. Pendek Rasio kas = 68. Rasio solvabilitas = total aktiva : total utang Rasio solvabilitas = 663.890 Rasio lancar = 10. Pendek Rasio lancar = (72. Pendek). Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. Kondisi ini menunjukkan bahwa kodisi keuangan pemda sangat likuid. pemda mempunyai Rp 10. pemda mempunyai Rp 10 kas dan setara kas.890 = 51.

Di pemerintah daerah. Leverage Rasio leverage digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemda) dengan total utang. Rasio leverage selama ini hanya digunakan di sektor perusahaan untuk mengukur komposisi sumber pembiayaan yang berasal dari kreditor dan investor.Analisis Laporan Keuangan Daerah aktiva dengan total utang yang besarnya adalah 51. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemda masih sangat solvable. Rasio ini dapat diukur dengan membandingkan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah pinjaman (selain utang PFK dan utang pajak PPn/PPh).435 : 12. 3. maka untuk mengukur kemandirian unsur pinjaman tersebut harus diperhitungkan. hal ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan Pemkab Masyarakat Sejahtera sangat solid.890 = 50. Dana alokasi umum merupakan dana yang berasal dari APBN yang ditransfer ke pemda dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Dana alokasi umum masih merupakan sumber pembiayaan yang utama (andalan) bagi pemda-pemda pada umumnya.46 aset. 4. rasio ini mungkin belum (tidak) merupakan rasio yang penting sebab tingkat utang daerah yang masih relatif kecil dan syarat penarikan pinjaman daerah menggunakan DSCR dan rasio maksimum pinjaman.46 : 1. yang besarnya adalah 50 : 1.46 Kesimpulan: rasio leverage menunjukkan perbandingan antara kekayaan bersih (ekuitas dana) dengan utang. Dengan demikian. akan tetapi sebaiknya mengeluarkan utang PFK dan utang pajak pusat sebab kedua jenis utang tersebut tidak dimaksudkan untuk menambah sumber pendanaan pemda. Bila pinjaman jumlahnya dianggap material. pemda mempunyai Rp 51. 108 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Kemandirian Rasio kemandirian digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian pemda dalam hal pendanaan aktivitasnya. dapat dikatakan bila perbandingan sumber pembiayaan dari PAD terhadap DAU semakin besar. berarti hal ini menunjukkan tingkat kemandirian yang semakin meningkat pula. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. Rasio leverage = total ekuitas dana : total utang Rasio leverage = 650.

550 – 2.603 : 284. Rangkuman Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: • • • • Belum ada keseragaman. Belum ada standar untuk melakukan penilaian Hasil perhitungannya belum tentu dapat dibandingkan Validitas hasil perhitungannya tergantung pada validitas angka-angka laporan keuangan Beberapa perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah adalah sebagai berikut: • • • • • • • • • Perbandingan Realisasi vs Anggarannya Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu Kemandirian Keuangan Daerah Efektifitas Pendapatan Asli Daerah Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Keserasian Belanja Likuiditas Solvabilitas Leverage Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 109 .57% E.890 – 1.Analisis Laporan Keuangan Daerah Rasio kemandirian = Realisasi PAD : {DAU + (Utang – Utang PFK – Utang pajak pusat)} Rasio kemandirian = 38.500 + (12.603 : {275.500 = 13.340)} Rasio kemandirian = 38.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 110 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Kecenderungan
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • Memperoleh pemahaman mengenai pengertian analisis kecenderungan beserta sifat-sifatnya. Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan analisis kecenderungan dengan menggunakan tahun dasar, bergerak, dan menggunakan diagram pencar.

Analisis

Bab 8

A. Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan Analisis kecenderungan (trend) adalah suatu teknik analisis yang mencoba untuk mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahanperubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang. Suatu perubahan tentunya dapat diakibatkan oleh adanya interaksi dari sejumlah faktor (variabel). Apabila faktor-faktor tersebut diperkirakan dapat menyebabkan perubahan terhadap data yang kita analisis, maka dalam hal ini dapat digunakan analisis sebab-akibat. Penggunaan regresi linear sederhana dan regresi berganda merupakan contoh dari analisis sebab-akibat. Sementara itu, apabila kita hanya menyusun suatu model dengan menggunakan hubungan antara variabel tanpa memperhatikan apakah yang satu mempengaruhi yang lain atau tidak, maka kita melakukan analisis kecenderungan sederhana. Dengan demikian, sifat-sifat analisis kecenderungan dapat disimpulkan sebagai berikut : • • Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos (misalnya pos belanja pemeliharaan, pos pendapatan pajak daerah). Membutuhkan data runtut waktu (time series data) selama beberapa tahun sebagai bahan analisis.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

111

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Analisis dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angkaangka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. Pada bagian berikut akan dibahas tiga metode analisis kecenderungan

sederhana, yaitu analisis kecenderungan dengan tahun dasar, analisis kecenderungan bergerak (dari tahun ke tahun), dan analisis kecenderungan dengan diagram pencar. B. Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar Analisis kecenderungan sederhana dimaksudkan hanya untuk mengetahui kecenderungan suatu pos (naik atau turun) dengan membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan, tanpa mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut. Data berikut adalah untuk contoh perhitungan analisis kecenderungan dengan menggunakan tahun dasar.
(dalam jutaan rupiah) Jenis Belanja Belanja Pemeliharaan Gedung Kecenderungan (%) Kenaikan dari tahun dasar Th. 2001 Th. 2002 Th. 2003 Th. 2004 Th. 2005 200 100 220 110 10 245 123 23 260 130 30 270 135 35

Analisis kecenderungan pada contoh di atas menggunakan belanja tahun 2001 sebagai tahun dasar, dengan jumlah belanja sebesar Rp 200 juta. Dengan demikian, indeks belanja pemeliharaan gedung tahun 2001 sampai dengan 2005 dihitung dengan rumus: Belanja tahun n ----------------------------------- X 100% Belanja tahun 2001 Dengan demikian, kita dapat melihat besarnya kenaikan dari tahun ke tahun dengan membandingkan kecenderungan (persentase dari tahun dasarnya) tahun ke (n) dikurangi dengan kecenderungan tahun ke (n-1). Dari perhitungan di atas, dengan melihat kenaikan dari tahun 2002 sampai dengan 2005, maka kita dapat memperkirakan kenaikan tahun 2006, yaitu kurang lebih 40% atau besarnya belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 kira-kira sebesar Rp 280 juta atau 140% X Rp 200 juta.

112

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

C. Analisis Kecenderungan Bergerak Kelemahan dari analisis kecenderungan dengan tahun dasar adalah tidak dapat diketahui secara langsung berapa rata-rata kenaikan per tahunnya. Oleh sebab itu, kita dapat menggunakan analisis kecenderungan bergerak (dari tahun-ke-tahun) untuk mengetahui rata-rata kenaikan per tahun. Misalnya terdapat data tentang Belanja Pemeliharaan Gedung sbb
(dalam jutaan rupiah) Tahun Jumlah Kenaikan Keterangan

2001 200 2002 220 2003 245 2004 260 2005 270 Rata-rata kenaikan per tahun

10% 11,36% 6,12% 3,85% 7,83%

Kenaikan dari th. 2001 Kenaikan dari th. 2002 Kenaikan dari th. 2003 Kenaikan dari th. 2004 Kenaikan dari th. 2005

Analisis kecenderungan perubahan pada contoh tersebut menggunakan tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menghitung perubahan (kenaikan atau penurunan), atau dapat dinyatakan dengan rumus: Belanja tahun n+1 – Belanja tahun n ------------------------------------------------- X 100% Belanja tahun n Teknik analisis ini pada dasarnya sama dengan teknik analisis rasio komparatif hanya di sini melibatkan data beberapa tahun agar diperoleh ratarata kenaikan per tahunnya. Selanjutnya, rata-rata kenaikan per tahun tersebut dapat digunakan untuk mengestimasi kenaikan yang normal untuk tahun berikutnya. Dari contoh tersebut diketahui bahwa kenaikan belanja pemeliharaan gedung berkisar antara 3,85% s.d. 11,36% atau rata2 sebesar 7,83%. Implikasi dari hasil analisis ini adalah bila belanja pemeliharaan gedung yang diusulkan untuk tahun 2006 naik di atas 11,36% (dari belanja th. 2005), maka perlu lebih dicermati, apakah karena faktor inflasi semata, faktor volume pemeliharaan gedung yang meningkat, atau kedua-duanya. Selanjutnya, bila kita menggunakan angka kenaikan rata-rata untuk mengestimasi belanja pemeliharaan gedung tahun 2006, maka diperkirakan belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 adalah sekitar Rp 300 juta, dengan perhitungan: Rp 270 juta x 107,83% = Rp 299,76 juta

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

113

000 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 114 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 2005 (dalam jutaan rupiah) Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Pajak daerah 14. Pendapatan Pajak Daerah. Berikut ini disajikan data tentang hasil pajak daerah suatu pemda selama 10 tahun terakhir dan langkah-langkah bagaimana menentukan garis kecenderungannya.Analisis Laporan Keuangan Daerah D. 2005 (dalam jutaan rupiah) 40.000 20.245 10.766 18. periode 1996 s. periode 1996 s.750 12.730 23.320 11.465 37.d.145 23.000 30. Penggambaran garis kecenderungan dapat dilakukan dengan tangan bebas atau dengan bantuan penggaris.165 26.d. Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar Metode ini dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik. Pendapatan Pajak Daerah.000 10.680 28.062 Maka diagram pencarnya akan nampak seperti di bawah ini.

maka kemungkinan akan diperoleh garis kecenderungan lebih dari satu.Analisis Laporan Keuangan Daerah Langkah-langkah menentukan garis kecenderungan tersebut di atas adalah sebagai berikut: Buat sumbu tegak Y (yang menunjukkan variable pendapatan pajak daerah) dan sumbu mendatar X (yang menggambarkan tahun anggaran). biaya sosialisasi dan pemungutan pajak dengan jumlah pendapatan pajak daerah. Garis kecenderungan di atas juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya keanehan atau ketidakaturan yang terjadi. analisis ini dapat juga digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk perencanaan pada tahun-tahun berikutnya. Dengan membandingkan garis kecenderungan dengan sebaran titik-titik berdasarkan data yang sebenarnya. Bagi pemerintah daerah. Di samping itu. Dari diagram di atas maka kita dapat memprediksi pendapatan pajak daerah untuk tahun-tahun yang akan datang. Di samping itu. Oleh karena Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 115 . Dari data yang tersedia pada contoh di atas. Artinya bila ada beberapa orang diminta untuk menarik garis kecenderungan dengan. tariklah garis yang kira-kira mendekati (mengikuti) pola dari titik-titik koordinat yang ada. sebab masing-masing orang mempunyai pilihan sendiri sesuai dengan anggapannya garis mana yang mewakili diagram pencar. buat scatter plot. Bagi auditor.Y) Dengan jalan observasi atau pengamatan langsung terhadap bentuk scatter plot. hasil analisis tersebut dapat juga digunakan sebagai bahan untuk membuat kesimpulan audit dan saran-saran perbaikan yang diperlukan oleh manajemen pemerintah daerah. maka kita dapat melihat adanya titik-titik yang ‘tidak mengikuti aturan’ misalnya terlalu jauh dari garis kecenderungan. Perlu diperhatikan bahwa pembuatan garis kecenderungan sifatnya sangat subyektif. atau kita dapat melakukan analisis hubungan antar variabel. hasil diatas dapat digunakan untuk membuat perencanaan audit dalam menentukan luasnya dan lokasi bukti-bukti yang akan diuji. misalnya Dinas Pendapatan Daerah. kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. analisis di atas tentunya sangat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan untuk mengevaluasi kinerja satker yang bertanggung jawab atas perolehan pajak daerah. misalnya antara keadaan ekonomi. yaitu kumpulan titik-titik koordinat (X. Langkah selanjutnya adalah meneliti mengapa situasi tersebut terjadi.

000 40.940 560 2.000 65. kita dapat menentukan hubungan antara X dan Y dengan menghitung koefisien korelasi (r) dan koefisien penentu (r2) serta membuat perkiraan berapa besarnya belanja pemeliharaan pada luas jalan tertentu sebagai berikut.368. Analisis Kecenderungan dengan Hubungan Antar Variabel Terjadinya suatu biaya dan/atau pendapatan tentu ada pemicunya yang lazimnya disebut sebagai variabel independen. metode ini tidak dapat memberikan alasan yang kuat secara ilmiah untuk digunakan sebagai alat analisis.800 xiyi = 55.269. E. Biaya Pemeliharaan Jalan.200 7.200 7.763.000 Biaya (jutaan Rp) 6.700 9.000 60.100 792.d.230 -4 6 -14 1 11 -890 180 -1.160 560 22. Misalnya terdapat data yang menunjukkan hubungan antara biaya pemeliharaan jalan (Y) dan luas jalan yang diperbaiki (X) di suatu pemda dalam lima tahun terakhir sebagai berikut. X (ribuan) Y (jutaan) X-X x Y-Y y X2 y2 xy 50 60 40 55 65 6.600 313.250 7.100 3.080 27.Analisis Laporan Keuangan Daerah itu.990 Xi = 270 X= 54 Yi = 35.320 5.250 7.600 4.700 Y = 7.090 16 36 196 1 121 32.320 5.140 xi= 0 yi = 0 2 xi = 370 2 yi = 9. periode 2001 s. Pada bagian ini akan diberikan ilustrasi analisis hubungan antar dua variabel dengan teknik regresi linier sederhana.230 Dari data diatas.560 1.000 55. menentukan hubungan antara dua variablel (dependen dan independen) tidak mudah dilakukan.350 116 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 2005 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Luas Jalan (m2) 50. Dalam berbagai situasi.700 9.400 3.

(b).350 = 370 x 9.9025 Hal ini menunjukkan bahwa 90% dari perubahan biaya pemeliharaan (Y) dipengaruhi oleh luas jalan (X).b X = 7. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 117 .Analisis Laporan Keuangan Daerah a).040 juta F.= 0. Koefisien korelasi ( r ) xiyi = ------------------------------- √ xi2 √ yi2 55. Koefisien penentu (KP) = r2 = (0.100 = .140 – 8.800 55. (c).= 150 370 b = --------xi 2 a = Y . bila luas jalan 100 m 2 maka perkiraan belanja pemeliharaan adalah: Y’ = a + bX = -960 + 150 (100) = Rp14. sedangkan 10% nya disebabkan oleh faktor lain.95 menunjukkan bahwa hubungn X (luas jalan) dan Y (biaya pemeliharaan) sangat kuat dan positif.= -------------.960 Dengan demikian. Rangkuman Analisis kecenderungan mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahan-perubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang.140 – (150 x 54) = 7. Sifat-sifat analisis kecenderungan adalah: • Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos laporan keuangan.548 ----------------------------------.95 Koefisien korelasi 0.350 58.95)2 = 0. Persamaan regresi linier: Y’ = a + bX xiyi 55.350 = ------------.269.

baik dengan tahun dasar maupun dengan bergerak.Analisis Laporan Keuangan Daerah • • Membutuhkan time series data selama beberapa tahun. 118 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . tanpa mengidentifikasi variabelvariabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut. Analisis kecenderungan sederhana. Sedangkan analisis kecenderungan dengan diagram pencar dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik. membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. Dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan.

Akuntansi Keuangan Daerah. 2000. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Peraturan Pemerintah No. “Analisis Rasio Keuangan pada APBD Kabupaten Boyolali” dalam Abdul Halim. Purwanugraha. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Akuntansi Keuangan Daerah. Akuntansi Sektor Publik. edisi 3. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta Mardiasmo. edisi 2. edisi 3. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. 2007.Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar Pustaka Bastian. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah Widodo. 2001. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Mahsun. Abdul. Firma Sulistyowati dan Heribertus A. Indra. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Mohamad. LAN dan BPKP. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 119 . Akuntansi Sektor Publik. Halim. 2007. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Yogyakarta: Penerbit Andi (CV Andi Offset). 2007. Akuntabilitas dan Good Governance. 2005.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 120 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .