Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Disusun Oleh: Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 2007

Analisis Laporan Keuangan Daerah Oleh Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan Republik Indonesia Bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA)

Desain sampul dan isi : Tim YPIA

Diterbitkan pertama kali oleh : Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jl. Bintaro Utama Sektor V Bintaro Jaya Tangerang 15223 Indonesia Telp : 021 7361654 - 56 Fax : 021 7361653

Cetakan Pertama : Desember 2007

Buku ini bisa di download bebas melalui Website : www.stan-star.ac.id

Kata

Sambutan

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah pada tahun 2007 ini Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipercaya oleh Asian Development Bank (ADB) untuk melaksanakan salah satu kegiatan reformasi birokrasi yakni penyusunan program pelatihan auditor internal non-gelar bagi Inspektorat di daerah. Hal ini didasarkan pada tekad pemerintah untuk melakukan reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka good governance mencakup reformasi audit pemerintahan daerah. Dalam hubungan ini, pemerintah telah menetapkan proyek yang disebut dengan State Audit Reform Sector Development Project (STAR-SDP). Pelaksanaan STAR-SDP mendapat dukungan pendanaan yang berasal dari Asian Development Bank (ADB) dan pemerintah Belanda. Sejalan dengan tekad untuk menyukseskan penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah juga menetapkan bahwa STAR-SDP mencakup proyek peningkatan kuantitas dan kualitas auditor di lingkungan pemerintah daerah melalui program pendidikan jangka pendek (non-gelar). Proyek pendidikan non-gelar bagi auditor inspektorat daerah ini diserahkan kepada STAN – Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan RI dan pelaksanaannya harus melibatkan konsultan independen serta didukung oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Modul ini merupakan bagian dari kegiatan STAR-SDP tersebut yang dikhususkan bagi auditor inspektorat daerah. Semoga modul ini bermanfaat bagi para auditor inspektorat daerah dan para instruktur pelatihan audit internal sektor publik serta pihak lain yang tertarik untuk mendalami audit internal sektor publik. Selaku pimpinan STAN saya sangat bangga dengan kegiatan ini dan peningkatan yang telah dicapai khususnya dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur negara, namun tidak cukup sampai di sini, kita harus dapat mencapai kinerja yang lebih baik di masa mendatang.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Akhirnya pada kesempatan ini. Semoga di tahun-tahun mendatang kita tetap meningkatkan kinerja. Suyono Salamun. Ph.D Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . atas nama Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang penuh dedikasi telah bekerja keras dalam pembuatan modul ini dan juga pihak BAPPENAS serta Tim Teknis STAR-SDP STAN yang telah mendukung dengan kemampuan profesionalisme sehingga proyek ini dapat berhasil dengan baik.

..... Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan............................... iii Bagian I LAPORAN KEUANGAN PEMDA Bab 1 Pelaporan Keuangan.......... Laporan Realisasi Anggaran................................... 05 D.................................... Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan... 25 B.................................................................................................. Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan........................................................ 38 D.................................................................. 24 Bab 3 Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD................................ 29 C.......................................................... Ruang Lingkup Keuangan Daerah.............. Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan............ 67 A. Akuntabilitas dan Transparansi...................................................... Daftar Istilah......................... 25 A.............................48 E... 01 B..... Pengantar ................ Neraca. 03 C.............................. 19 B.........Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar Isi i Daftar Isi....................... Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah........................ Penyusunan Laporan Keuangan............................. 20 C......................................... 11 G................................................. 07 E... Catatan atas Laporan Keuangan................................................................... 61 F............................ Rangkuman........ 67 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik i ....... 01 A... Pengguna Laporan Keuangan.......... 19 A....................................... Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan............ 13 H.............. Pendahuluan.................... Laporan Arus Kas. Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah..................................................... Rangkuman........................................................... 21 D...................................................................................................................................... Rangkuman..... 64 Bagian II DASAR-DASAR ANALISIS LAPORAN KEUANGAN Bab 4 Konsep Analisis Laporan Keuangan.......................................................................................................... 17 Bab 2 Sekilas Pengelolaan Keuangan Daerah.............. 16 I.......................... 10 F.........................................................................

.............. 87 E.......................... 99 D..........Analisis Laporan Keuangan Daerah B............. Pengertian Analisis Laporan Keuangan.... Realisasi APBD. Laporan Arus Kas..................... Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar........................................... 114 E.......... 119 ii Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik ................................. 95 B............................................................................................. 73 A............................................... Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah. Perbandingan Pos APBD................................... Neraca... 79 A................................................................................................................ Perbandingan Pos Neraca.................................. 117 Daftar Pustaka................................ 75 D.................................... 79 B................................................. 83 D.. Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan......................................................................... 95 A.................................................................. 73 B............ Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan... 106 E....................... 70 D................................. Rangkuman................... Kondisi Saat Ini.................................................................. Rangkuman................................ Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar.................................. 111 A...... 71 Bab 5 Analisis Laporan Keuangan Pemerintah........... 76 Bagian III ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PEMDA Bab 6 Analisis Hubungan............... 96 C........... 116 F.................... 88 F.................. Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan. 68 C.................. Analisis Kecenderungan Bergerak.................................. Rangkuman..... dan Neraca................................................................... 113 D........................ Jenis-jenis Perbandingan......... 93 Bab 7 Analisis Perbandingan....................................................... Rangkuman.................................. Laporan Realisasi APBD............ 80 C.... 109 Bab 8 Analisis Kecenderungan............................................ Pendahuluan............................................ 74 C................................ Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah....... Rangkuman............................ 112 C................... 111 B.............................................. Laporan Realisasi APBD dan Neraca..... Analisis Kecenderungan dengan Hubungan antar Variabel.......

Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan. 3. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan perubahan anggaran oleh pengguna anggaran. dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. 7.Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar 1. 6. 5. Istilah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Bendahara Umum Daerah (BUD) adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD) adalah dokumen yang memuat pendapatan. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. 4. 8. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD (DPPA-SKPD) adalah dokumen yang memuat perubahan pendapatan. 2. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik iii . belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran.

Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. iv Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 11. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. 12. 15. 16. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau Iebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut.Analisis Laporan Keuangan Daerah 9. Kepala Daerah adalah gubemur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD) adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. 10. 14. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah (Kepala SKPKD) yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. 17. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah. 13.

20. bupati. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. penatausahaan. dan pengawasan keuangan daerah. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan. 25. 22. 26. Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD.Analisis Laporan Keuangan Daerah 18. 21. dan/atau walikota. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. pelaksanaan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik v . 24. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah Daerah adalah gubernur. pelaporan. Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. 23. 19. pertanggungjawaban.

28. yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. PPKD dan pejabat Iainnya sesuai dengan kebutuhan. Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah. vi Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. 29. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.Analisis Laporan Keuangan Daerah 27.

Ambil contoh misalnya kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI. pertama kali Ketua RT akan membicarakannya dengan perangkatnya (sekretaris. Memperoleh pemahaman mengenai tujuan. masing-masing dari kita yang merupakan unsur terkecil dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat di lingkungan Rukun Tetangga (RT) / Rukun Warga (RW). rencana kegiatan yang sudah disetujui dalam rapat warga tersebut akan menjadi dasar bagi Ketua RT dalam menyelenggarakan kegiatan perayaan HUT Kemerdekaan RI tersebut. Memperoleh pemahaman mengenai karakteristik kualitatif dan kelompok pengguna laporan keuangan daerah. asumsi dasar. pasti secara rutin mengikuti (baik secara langsung maupun tidak langsung) bagaimana proses yang dilakukan oleh Ketua RT dan perangkatnya dalam merencanakan suatu kegiatan di lingkungan RT. usulan yang masih ‘mentah’ tersebut akan ‘dimatangkan’ melalui pembahasan dalam rapat warga. dan prinsipprinsip pelaporan keuangan daerah. Pengantar Dalam kehidupan sehari-hari. bendahara. dan ketua-ketua seksi) mengenai apa dan bagaimana kira-kira bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan berapa dana yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. Dengan rangkaian kegiatan yang sudah terjadual rapi dan dengan dukungan sejumlah dana yang sudah terkumpul sesuai dengan yang Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 01 . Selanjutnya. Kemudian. A. termasuk berapa dana yang bisa dipakai dari kas RT dan berapa yang perlu dimintakan sumbangan dari warganya.Analisis Laporan Keuangan Daerah Pelaporan Keuangan Bab 1 Setelah mempelajari bab ini. diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah. Maka.

Pertama kali. Pelaksanaan Pertandingan OlahRaga* 3.000 650. Iuran Warga* 2. selesai tahap pelaksanaan kegiatannya. Penyelenggaraan Malam Puncak* C D Defisit (= A . pertandingan olahraga bagi orang dewasa. Mulai perlombaan anak-anak.000) 350. sampai dengan puncak acara yaitu malam pembagian hadiah yang dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan musik dan tari. seluruh warga RT menerima laporan pertangungjawaban yang ditandatangani oleh Ketua Panitia dan Ketua RT sebagai berikut.000 1. warga akan melihat kewajaran angka-angka global dari jumlah penerimaan dan pengeluaran.500. maka di lingkungan RT tersebut dapat diselenggarakan seluruh acara peringatan hari kemerdekaan RI.000 1. segala kegiatan berjalan dengan tertib-amanlancar dan acara klimaksnya pun sukses! Apakah sudah selesai ceritanya? Ya. Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-X Rp A Penerimaan: 1. atas keakuratan dari laporan tersebut. Singkat cerita. kemudian lebih jauh mencocokkan. atau tepatnya menganalisis dan memverifikasi. Setelah berlalu sepekan sejak puncak acara peringatan hari kemerdekaan RI yang terhitung sukses itu.000 200. Sumbangan dari RW B Pengeluaran: 1.Analisis Laporan Keuangan Daerah direncanakan. Pelaksanaan Lomba Anak-anak* 2. dalam membaca laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh Panitia Pelaksana dan Ketua RT tersebut. 02 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .B) Ditutup dari Kas RT * Masing-masing dilampiri dengan rinciannya 150.000 250. atau tepatnya melakukan penilaian. yaitu pertanggungjawaban.000 500.000 900. Pembelian Hadiah Lomba dan Pertandingan* 4.000 (350. namun tahap berikutnya harus dilakukan oleh Ketua RT. warga akan melihat. dengan data rincian masingmasing.150.000 Pada umumnya. betul.

akuntabilitas mengandung arti kewajiban untuk menyajikan dan melaporkan segala tindak-tanduk dan kegiatan seseorang atau lembaga. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 03 . 2000). yang merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan pemerintahan yang baik. akuntabilitas mempunyai arti pertanggungjawaban. Salah satu informasi yang dibutuhkan oleh publik adalah informasi mengenai pengelolaan keuangan negara/daerah dalam bentuk laporan keuangan. tetapi juga harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan yang dilakukannya. Kemudian. kepada pihak yang lebih tinggi atau atasannya (LAN dan BPKP. Akuntabilitas dan Transparansi Tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik menimbulkan implikasi bagi manajemen pemerintahan (sektor publik) untuk memberikan informasi kepada publik. Sejalan dengan jiwa yang terkandung dalam cerita kecil di atas. yang setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran.Analisis Laporan Keuangan Daerah Dari pengantar di atas. terhadap laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh pengelola dana. dan Catatan atas Laporan Keuangan. maka secara garis besar modul ini akan diawali dengan pembahasan mengenai halhal yang berkaitan dengan laporan apa saja yang harus disajikan dan disampaikan oleh Pemerintah Daerah (sebagai wujud dari pertanggungjawaban atas realisasi pengelolaan anggarannya). dapat kita ambil pelajaran bahwa pengelola dana tidak saja melaksanakan kegiatan melalui realisasi dana sesuai yang direncanakan. maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya dalam bentuk Laporan Keuangan. Dari contoh kecil tersebut di atas kita bisa melihat perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana atau anggaran. Laporan Arus Kas. Akuntabilitas Dari sudut pandang pengendalian tindakan pada pencapaian tujuan. terutama di bidang administrasi keuangan. kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai seluk-beluk analisis laporan keuangan Pemerintah Daerah. maka warga sebagai pengguna laporan tersebut perlu melakukan analisis atas ketepatan atau keakuratannya. B. dengan mengambil contoh dari lingkup organisasi terkecil yang sangat dekat dengan keseharian kita. Dalam konteks pemerintahan. Neraca. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sejak berlakunya UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

yang wajib dilaksanakan oleh setiap Pengguna Anggaran dan kuasa Pengguna Anggaran serta pengelola Bendahara Umum Daerah. terdapat upaya nyata dalam mewujudkan akuntabilitas dan transparansi di lingkungan pemerintah. dapat kita lihat bahwa cakupan informasi dalam laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah menjadi lebih luas namun penyampaiannya tidak terlambat. bila kita bandingkan bentuk laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah yang berlaku saat ini dengan periode sebelumnya. dan pengeluaran uang oleh pengelola keuangan daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah Selanjutnya. Dengan kata lain. Ketiga. 04 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Dari ketentuan peraturan perundang-undangan sebelumnya. Pertama. Dengan demikian. maka setiap Pemerintah Daerah perlu menyelenggarakan sistem akuntansi untuk lingkungan pemerintah daerahnya yang pedomannya ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. paling tidak terdapat beberapa kelemahan berikut ini. laporan perhitungan anggaran hanya menginformasikan aliran kas pada APBD sesuai dengan format anggaran yang disahkan oleh DPRD. Kedua. tanpa menyertakan informasi tentang posisi kekayaan dan kewajiban pemerintah. selain muatan informasinya terbatas. transparansi mengandung arti penyajian laporan keuangan yang terbuka. yang hanya mengharuskan penyampaian laporan pertanggungjawaban dalam bentuk perhitungan anggaran. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa Laporan Keuangan dimaksud harus disusun berdasarkan proses akuntansi. informasi keuangan yang disajikan dalam perhitungan anggaran kurang dapat diandalkan karena sistem akuntansi yang diselenggarakan belum didasarkan pada standar akuntansi dan tidak didukung oleh perangkat data dan proses yang memadai. Sehubungan dengan hal tersebut. Hal ini terlihat dari upaya dalam mengatasi kelemahan-kelemahan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah sebelumnya. Transparansi Dalam hubungannya dengan akuntabilitas keuangan. penyimpanan. proses penyampaiannya kepada legislatif sangat lambat. sejak diberlakukannya paket peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara. terutama mengenai informasi penerimaan. perkembangan paket peraturan perundangundangan di bidang keuangan negara menunjukkan adanya upaya dalam meningkatkan keterbukaan informasi. Sebagaimana kita ketahui.

Disebutkan bahwa pengungkapan informasi tentang kinerja tersebut adalah relevan dengan perubahan paradigma penganggaran pemerintah yang ditetapkan dengan mengidentifikasikan secara jelas keluaran (outputs) dari setiap kegiatan dan hasil (outcomes) dari setiap program. Bendahara Umum Daerah dan setiap Pengguna Anggaran di lingkungan pemerintah daerah merupakan Entitas Akuntansi. Dengan demikian. dan Sistem Akuntansi Pemerintahan. yakni prestasi yang berhasil dicapai oleh Pengguna Anggaran sehubungan dengan anggaran yang telah digunakan. Laporan Keuangan yang telah diaudit dan telah diperbaiki itulah yang selanjutnya diusulkan oleh Pemerintah Daerah dalam suatu rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah untuk dibahas dengan dan disetujui oleh DPRD. perlu disusun suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang terintegrasi dengan sistem perencanaan strategis. Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan Unit pemerintahan Pengguna Anggaran yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan disebut sebagai Entitas Akuntansi. Entitas Pelaporan Unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang berkewajiban menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan disebut sebagai Entitas Pelaporan. C. laporan keuangan yang disajikan oleh Entitas Pelaporan merupakan gabungan dari laporan keuangan beberapa Entitas Akuntansi. menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 05 . Pemeriksaan BPK dimaksud adalah dalam rangka pemberian pendapat (opini) sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. sistem penganggaran. pada rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah disertakan atau dilampirkan informasi tambahan mengenai kinerja instansi pemerintah. Laporan Keuangan tersebut setelah diaudit oleh BPK perlu disesuaikan berdasarkan temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Selain itu.Analisis Laporan Keuangan Daerah Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 juga disebutkan bahwa laporan keuangan pemerintah harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelum disampaikan kepada pihak legislatif sesuai dengan kewenangannya. Jadi.

dengan bentuk pertanggungjawaban dan wewenang yang terpisah dari entitas pelaporan lainnya. saat ini pemerintah daerah diwajibkan menggunakan sistem desentralisasi dalam pelaporan keuangannya. pengendalian. Namun. dan penguasaan suatu entitas pelaporan terhadap aset. Satuan kerja melaksanakan akuntansi terhadap transaksi ekonomi (dan menghasilkan laporan keuangan) yang terjadi pada bagiannya. Halim (2007) menyebutkan bahwa pada ketentuan terdahulu terdapat dua pilihan bagi pemerintah daerah dalam menentukan entitas pelaporan. yang ditandatangani oleh gubernur/bupati/walikota/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah. yaitu sistem sentralisasi dan desentralisasi pelaporan keuangan pemerintah daerah. yurisdiksi. sehingga baik satuan kerja maupun bagian keuangan pemerintah daerah melaksanakan akuntansi. dan bagian keuangan akan menggabungkan atau mengkonsolidasikan laporan keuangan semua satuan kerja (termasuk bagian keuangan itu sendiri) untuk disusun menjadi laporan keuangan pemerintah daerah secara keseluruhan. Berkaitan dengan entitas pelaporan tersebut. Pernyataan Tanggung Jawab Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan anggaran dan perbendaharaan. tugas dan misi tertentu. Gubernur/bupati/walikota/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah harus secara jelas menyatakan bahwa Laporan Keuangan telah disusun berdasarkan Sistem Pengendalian Intern yang memadai dan informasi yang dimuat dalam Laporan Keuangan telah disajikan sesuai dengan SAP. perlu dipertimbangkan syarat pengelolaan. 06 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Di bawah ini adalah contoh dari pernyataan tanggung jawab. yang merupakan Lampiran VI-A Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006. setiap pejabat yang menyajikan Laporan Keuangan diharuskan memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan Keuangan yang bersangkutan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Disebutkan bahwa dalam penetapan entitas pelaporan.

. Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan Laporan keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan.... belanja. ………... sebagaimana terlampir adalah merupakan tanggung jawab kami........... . Tahun Anggaran ………. Aparat Pengawas Intern Pemerintah pada pemerintah daerah melakukan reviu atas Laporan Keuangan dan Kinerja dalam rangka meyakinkan keandalan informasi yang disajikan sebelum disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada pihak-pihak terkait.. menilai kondisi Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 07 ........... Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai.... dan pembiayaan) dengan anggaran yang telah ditetapkan......Analisis Laporan Keuangan Daerah Pernyataan Tanggung Jawab Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga/Pemerintah Daerah/Satuan Kerja Perangkat Daerah ………………..... (. setiap Entitas Pelaporan dan Akuntansi wajib menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.... Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan..... Dalam Sistem Pengendalian Intern ini harus diciptakan prosedur rekonsiliasi antara data transaksi keuangan yang diakuntansikan oleh Pengguna Anggaran/kuasa Pengguna Anggaran dengan data transaksi keuangan yang diakuntansikan oleh Bendahara Umum Daerah....... Laporan keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi (pendapatan......... Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/ Bupati/Walikota/Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah ……..............) Untuk meningkatkan keandalan Laporan Keuangan dan Kinerja....... D............... dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.... transfer..................

j) Sebagai alat komunikasi dan media untuk menyatakan prestasi yang telah dicapai oleh organisasi. i) Hubungan masyarakat. Public Sector Committee IFAC (1996) menyebutkan tujuan pelaporan keuangan sektor publik secara umum adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat dan memenuhi kebutuhan pengguna. Mahsun (2007) menyebutkan beberapa tujuan pelaporan keuangan sektor publik. Pelaporan keuangan tidak hanya meliputi komponen laporan keuangan. yang memungkinkan pihak eksternal untuk menilai efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya. b) Menyediakan informasi tentang sumber daya keuangan dan penggunaannya. adalah sebagai berikut : a) Mengidentifikasi sumber daya yang didapat dan digunakan sesuai dengan anggaran yang telah disetujui oleh DPRD. mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan. h) Membantu para pengguna laporan untuk menentukan apakah suatu organisasi atau unit kerja dapat melangsungkan usahanya. g) Kelangsungan organisasi. dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundangundangan. c) Akuntabilitas dan pelaporan restropektif d) Bentuk pertanggungjawaban kepada publik dan sebagai alat untuk memonitor dan menilai efisiensi kinerja. l) Merupakan sumber informasi bagi berbagai kelompok kepentingan yang ingin mengetahui organisasi secara lebih dalam. yaitu: a) Kepatuhan dan pengelolaan b) Memberikan jaminan kepada pengguna dan penguasa bahwa pengelolaan sumber daya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku. khususnya pemerintah daerah sesuai dengan pembahasan kita.Analisis Laporan Keuangan Daerah keuangan. Lebih lanjut disebutkan bahwa tujuan pelaporan keuangan sektor publik. k) Sumber fakta dan gambaran. c) Menyediakan informasi tentang cara pemerintah daerah membiayai aktivitas dan memenuhi kebutuhan kasnya. tetapi juga meliputi laporan-laporan lain yang diperlukan. e) Perencanaan dan informasi otorisasi f) Memberikan dasar perencanaan kebijakan dan aktivitas di masa yang akan datang serta memberikan informasi pendukung mengenai otorisasi penggunaan dana. 08 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan Daerah d) Menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan manajemen dalam membiayai aktivitasnya dan memenuhi kewajibannya. dan ekuitas dana pemerintah untuk kepentingan masyarakat. (c) Transparansi Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan. kewajiban. secara sistematis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan. Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan menyebutkan bahwa setiap entitas pelaporan mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan. (b) Manajemen Membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan. sehingga memudahkan fungsi perencanaan. Pelaporan keuangan pemerintah menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna laporan dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan. baik keputusan ekonomi. maupun politik dengan: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 09 . e) Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan dan kinerja pemerintah daerah. (d) Keseimbangan Antar generasi Membantu para pengguna dalam mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut. sosial. pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset. untuk kepentingan: (a) Akuntabilitas Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik. terutama yang berkaitan dengan efisiensi biaya operasi dan pencapaian target.

dan (c) Asumsi keterukuran dalam satuan uang. yang merupakan bentuk pertanggungjawaban pemerintah daerah. baik jangka pendek maupun jangka panjang. yang terdiri dari : (a) Asumsi kemandirian entitas. (b) Asumsi kesinambungan entitas. termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman. (b) Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan. pembiayaan. laporan keuangan menyediakan informasi mengenai pendapatan. Lebih lanjut mengenai laporan keuangan. belanja. ekuitas dana. dana cadangan. (d) Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya. transfer. Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut. Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan Asumsi dasar dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan agar standar akuntansi dapat diterapkan. (f) Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan. dan arus kas suatu entitas pelaporan. berarti bahwa setiap unit organisasi dianggap sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit instansi pemerintah dalam pelaporan keuangan. E. Salah satu indikasi terpenuhinya asumsi ini adalah adanya kewenangan entitas untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan tanggung jawab 10 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Kemandirian Entitas Asumsi kemandirian entitas. sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan. kewajiban. (c) Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai. dibahas dalam bagian tersendiri. aset.Analisis Laporan Keuangan Daerah (a) Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran. (e) Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya. apakah mengalami kenaikan atau penurunan. baik entitas pelaporan maupun akuntansi.

(c) Dapat dibandingkan.Analisis Laporan Keuangan Daerah penuh. Keterukuran dalam Satuan Uang Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan yang diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang. dan (d) Dapat dipahami. Dengan demikian. informasi laporan keuangan yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya. serta terlaksana tidaknya program yang telah ditetapkan. Kesinambungan Entitas Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan akan berlanjut keberadaannya. (b) Andal. pemerintah diasumsikan tidak bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan dalam jangka pendek. termasuk atas kehilangan atau kerusakan aset dan sumber daya dimaksud. Entitas bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan sumber daya di luar neraca untuk kepentingan yurisdiksi tugas pokoknya. Relevan Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini. Hal ini diperlukan agar memungkinkan dilakukannya analisis dan pengukuran dalam akuntansi. dan memprediksi masa depan. F. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki: (a) Relevan. utang-piutang yang terjadi akibat putusan entitas. Informasi yang relevan adalah informasi yang memenuhi karakteristik berikut: (a) Memiliki manfaat umpan balik (feedback value) Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu. Dengan demikian. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 11 .

(c) Tepat waktu Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan. serta dapat diverifikasi. Informasi mungkin relevan. dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda. hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh. tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. Dapat Dibandingkan Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. (c) Netralitas Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu. Informasi yang andal memenuhi karakteristik sebagai berikut: (a) Penyajian Jujur Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan 12 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Andal Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material. (d) Lengkap Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin. (b) Dapat Diverifikasi Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji. Informasi yang melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat dicegah.Analisis Laporan Keuangan Daerah (b) Memiliki manfaat prediktif (predictive value) Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini. menyajikan setiap fakta secara jujur.

serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari informasi yang dimaksud. Apabila entitas pemerintah akan menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan. dapat digunakan nilai wajar aset atau kewajiban terkait. dan (g) Prinsip penyajian wajar. Dapat Dipahami Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna. Untuk itu. Dalam hal tidak terdapat nilai historis. (b) Prinsip realisasi. Berikut ini prinsip-prinsip yang digunakan dalam pelaporan keuangan pemerintah: (a) Prinsip nilai historis. Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. G. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 13 .Analisis Laporan Keuangan Daerah kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. serta oleh pengguna laporan keuangan dalam memahami laporan keuangan yang disajikan. (e) Prinsip konsistensi. (c) Prinsip substansi mengungguli bentuk formal. Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada penilaian yang lain karena lebih obyektif dan dapat diverifikasi. Nilai Historis Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi entitas pelaporan. (f) Prinsip pengungkapan lengkap. Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan Prinsip pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai ketentuan yang dipahami dan ditaati oleh penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan dalam melakukan kegiatannya. perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan. Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di masa yang akan datang dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah. (d) Prinsip periodisitas.

maka hal tersebut harus diungkapkan dengan jelas dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Substansi Mengungguli Bentuk Formal Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan. dan bukan hanya aspek formalitasnya. periode bulanan. triwulanan. Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain. Konsistensi Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari periode ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal).Analisis Laporan Keuangan Daerah Realisasi Bagi pemerintah. Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. dan semesteran juga dianjurkan. 14 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Periodisitas Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat di ukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan. Namun. Periode utama yang digunakan adalah tahunan. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat ditempatkan pada halaman depan laporan keuangan atau pada Catatan atas Laporan Keuangan. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik dibanding metode lama. maka transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi. Pengungkapan Lengkap Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Prinsip merpertandingkan biaya-pendapatan dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaimana dipraktekkan dalam akuntansi komersial. pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah selama suatu tahun fiskal akan digunakan untuk membayar hutang dan belanja dalam periode tersebut. Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya.

atau sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi. Ketidakpastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan. belanja. Pendapatan dan belanja bukan tunai seperti bantuan pihak luar asing dalam bentuk barang dan jasa disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran. terdapat satu hal penting yang harus diperhatikan dalam pelaporan keuangan. Namun demikian. penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Penyajian Wajar Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran. dan ekuitas dalam Neraca. pembentukan cadangan tersembunyi. dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset. sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang terlampau rendah. Basis Akuntansi Selain prinsip-prinsip pelaporan keuangan tersebut di atas. Faktor pertimbangan sehat bagi penyusun laporan keuangan diperlukan ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan. kewajiban. sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal. yaitu masalah penggunaan basis akuntansi. Entitas pelaporan tidak menggunakan istilah laba. kewajiban. atau pada saat kejadian Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 15 . Laporan Arus Kas. misalnya. Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah. dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi. Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset. dan belanja diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Neraca. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Penentuan sisa pembiayaan anggaran (baik lebih atau kurang) untuk setiap periode tergantung pada selisih realisasi penerimaan dan pengeluaran.

H. maupun dalam pengakuan aset. dan pinjaman. tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. dan ekuitas dana. investor dan kreditor. institusi internasional. berhubung pajak merupakan sumber utama pendapatan pemerintah. Pengelompokan yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Bastian (2001) yaitu: legislatif dan manajemen pemerintah. penyedia sumber daya. badan pengawas. kita gunakan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan sebagai acuan. yang menyebutkan kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah. 16 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . namun tidak terbatas. dan aparat pemerintah. lembaga pengawas. penyajian Laporan Realisasi Anggaran tetap berdasarkan basis kas.Analisis Laporan Keuangan Daerah atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah. Dengan demikian laporan keuangan pemerintah tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari masing-masing kelompok pengguna. (b) para wakil rakyat. dan konstituen (Mardiasmo. Entitas pelaporan yang menyajikan Laporan Kinerja Keuangan menyelenggarakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan dengan menggunakan sepenuhnya basis akrual. (c) pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi. Pengguna Laporan Keuangan Kelompok pengguna laporan keuangan pemerintah meliputi: lembaga pemerintah. dan pembiayaan. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bertujuan umum untuk memenuhi kebutuhan informasi dari semua kelompok pengguna. Namun demikian. investor dan kreditor. investasi. maka ketentuan laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan informasi para pembayar pajak perlu mendapat perhatian. 2007). Namun demikian. dan (d) pemerintah. Untuk menyederhanakan dan menyamakan persepsi tentang kelompok pengguna laporan keuangan ini. baik dalam pengakuan pendapatan. yaitu: (a) masyarakat. dan lembaga pemeriksa. masyarakat. belanja. pengamat. kewajiban.

setiap pejabat yang menyajikan Laporan Keuangan diharuskan memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan Keuangan yang bersangkutan. dapat dibandingkan.Analisis Laporan Keuangan Daerah I. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 17 . Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan anggaran dan perbendaharaan. karakteristik kualitatif. Sebelum disampaikan kepada DPRD. substansi mengungguli bentuk formal. yang diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan. laporan keuangan harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Setelah disesuaikan berdasarkan temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan dilampiri informasi mengenai kinerja instansi pemerintah. pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi. Asumsi dasar. dan prinsip-prinsip dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah sebagai berikut: • • • Asumsi dasar: kemandirian entitas. Selain legislatif. dan pinjaman. Karakteristik kualitatif: relevan. Laporan Arus Kas. investasi. pengungkapan lengkap. lembaga pengawas. dan Catatan atas Laporan Keuangan. andal. kemudian diusulkan oleh Pemerintah Daerah untuk dibahas dengan dan disetujui oleh DPRD. periodisitas. dan keterukuran dalam satuan uang. Neraca. realisasi. kesinambungan entitas. pengguna laporan keuangan pemerintah daerah adalah masyarakat. dan penyajian wajar. Laporan keuangan (sebagai laporan pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan daerah) meliputi: Laporan Realisasi Anggaran. Prinsip-prinsip: nilai historis. konsistensi. maka manajemen pemerintahan daerah (sektor publik) harus memberikan informasi kepada publik mengenai pengelolaan keuangan daerah. dan dapat dipahami. Rangkuman Sejalan dengan tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik. lembaga pemeriksa.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 18 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Keuangan Daerah
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai ruang lingkup keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai azas umum pengelolaan keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai hirarki perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terkait dalam pengelolaan keuangan daerah.

Sekilas Pengelolaan

Bab 2

A. Ruang Lingkup Keuangan Daerah Sebelum membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pengelolaan keuangan daerah, terlebih dahulu ada baiknya bila kita bahas sekilas tentang pengelolaan keuangan daerah. Pada bab ini memang dimaksudkan hanya mereviu sekilas (dengan rujukan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah), karena pembahasan selengkapnya ada pada modul tersendiri dengan judul Pengantar Keuangan Daerah. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut dijelaskan bahwa ruang lingkup keuangan daerah meliputi: a. hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman; b. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga; c. penerimaan daerah; d. pengeluaran daerah; e. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah; dan f. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

19

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

B. Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah Keuangan daerah dikelola dengan berdasarkan azas umum: tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Tertib Secara tertib adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan bukti-bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Taat Peraturan Taat pada peraturan perundang-undangan adalah bahwa pengelolaan keuangan daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Efektif Efektif merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil. Efisien Efisien merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu. Ekonomis Ekonomis merupakan pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terendah. Transparan Transparan merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang keuangan daerah. Bertanggung jawab Bertanggung jawab merupakan perwujudan kewajiban seseorang untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

20

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Keadilan Keadilan adalah keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya dan/atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan yang obyektif. Kepatutan Kepatutan adalah tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar dan proporsional. Manfaat Manfaat untuk masyarakat adalah bahwa keuangan daerah diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. C. Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah adalah kepala daerah, yang oleh karenanya mempunyai wewenang untuk: a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD; b. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah; c. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang; d. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran; e. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah; f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah; g. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah; dan h. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. Melalui keputusan kepala daerah, kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dapat melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: a. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah; b. kepala SKPKD selaku PPKD; dan c. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah, berkaitan dengan peran dan fungsinya dalam membantu kepala daerah, menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

21

menetapkan SPD. e. PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD mempunyai wewenang: a. d. tugas-tugas pejabat perencana daerah. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD. dan f. d. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. Selain mempunyai tugas koordinasi sebagaimana tersebut di atas. d. dan f. melaksanakan fungsi BUD. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. perubahan APBD. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. b. d. sekretaris daerah mempunyai tugas: a. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. dan pejabat pengawas keuangan daerah. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. penyusunan Raperda APBD. c. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah Kepala SKPKD selaku PPKD mempunyai tugas: a. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. c. memimpin TAPD.Analisis Laporan Keuangan Daerah Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah dan mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. c. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. melaksanakan pemungutan pajak daerah. b. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. b. f. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. e. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. e. e. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. PPKD. 22 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . c. b. memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD.

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

g. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah; h. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah; i. menyajikan informasi keuangan daerah; dan j. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah, dan selaku BUD dapat menunjuk pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang mempunyai tugas: a. menyusun RKA-SKPD; b. menyusun DPA-SKPD; c. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja; d. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya; e. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran; f. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak; g. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan; h. menandatangani SPM; i. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; j. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; k. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya; l. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya; m. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan n. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dalam melaksanakan tugas-tugasnya dapat melimpahkan sebagian kewenangannya (ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD) kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

23

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Selain itu, pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK (dalam pelaksanakan program dan kegiatan). Sedangkan untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD, kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD

D. Rangkuman Sebagaimana yang dinyatakan dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, ruang lingkup keuangan daerah meliputi: (a) hak daerah untuk memungut pajak dan retribusi daerah, (b) kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga, (c) penerimaan dan pengeluaran daerah, (d) kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah, dan (e) kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum, Adapun azas umum pengelolaan keuangan daerah adalah: tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Hirarki perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terkait dengan pengelolaan keuangan daerah adalah: • • • • Kepala daerah – pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah; Sekretaris daerah – koordinator pengelolaan keuangan daerah Kepala SKPKD – pengguna anggaran/barang, yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Kepala SKPD – pengguna anggaran/barang daerah.

24

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Pelaksanaan APBD
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai bentuk laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pengelolaan keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai proses penyusunan laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah. Memperoleh pemahaman mengenai proses persetujuan laporan keuangan daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Laporan Pertanggungjawaban

Bab 3

A. Penyusunan Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan: a). menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah; b). menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah; c). menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi; d). menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya;

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

25

Laporan keuangan yang dihasilkan oleh SKPD selaku pengguna anggaran adalah: a. indikasi apakah sumber daya diperoleh dan digunakan sesuai dengan ketentuan. Catatan atas Laporan Keuangan. Untuk memenuhi tujuan umum ini. f). pembiayaan. g). menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. g. aset. ekuitas dana. c. dan h. e. f. menyediakan informasi yang berguna untuk memprediksi besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan. belanja. kewajiban. termasuk batas anggaran yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Pelaporan keuangan juga menyajikan informasi bagi pengguna mengenai: a). b. serta risiko dan ketidakpastian yang terkait. menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya. dan c.Analisis Laporan Keuangan Daerah e). pendapatan. Laporan Keuangan SKPD Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan APBD pada Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan. menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya. d. sumber daya yang dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan. 26 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . arus kas. Laporan keuangan untuk tujuan umum juga mempunyai peranan prediktif dan prospektif. Laporan Realisasi Anggaran. indikasi apakah sumber daya telah diperoleh dan digunakan sesuai dengan anggaran dan b). transfer. laporan keuangan menyediakan informasi mengenai entitas pelaporan dalam hal: a. Neraca. b.

c. Laporan Realisasi Anggaran. laporan keuangan pemerintah daerah ini disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambatlambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan Keuangan PPKD Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah. dan d. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh PPKD selaku Bendahara Umum Daerah adalah: a. Catatan atas Laporan Keuangan. Selain laporan keuangan. Neraca. Catatan atas Laporan Keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan keuangan tersebut harus disampaikan oleh Kepala SKPD kepada gubernur/ bupati/walikota melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/ bupati/walikota selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan pemerintah daerah yang terdiri dari: a. dan d. b. Neraca. dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Selanjutnya. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 27 . Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku Pengguna Anggaran harus menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya kepada gubernur/bupati/walikota. Laporan Keuangan Pemda Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut. c. Laporan Arus Kas. Laporan Realisasi Anggaran. b. Laporan Arus Kas. Laporan Keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/ bupati/walikota untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

laporan keuangan Perusahaan Daerah yang belum diaudit kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 2 1/2 (dua setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir. yang harus disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. laporan keuangan pemerintah daerah beserta rancangan Peraturan daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. tetapi juga harus membuat Laporan Kinerja. dilampiri dengan ikhtisar laporan realisasi kinerja dan ikhtisar laporan keuangan Perusahaan Daerah. sistem penganggaran. dan Sistem Akuntansi Pemerintahan) yang diselenggarakan oleh masing-masing Entitas Pelaporan dan/atau Entitas Akuntansi. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Sehubungan dengan hal tersebut. dan b. maka Perusahaan Daerah diwajibkan menyampaikan: a. Laporan Kinerja dihasilkan dari suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (yang dikembangkan secara terintegrasi dengan sistem perencanaan. sistem perbendaharaan. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Selanjutnya. Selain laporan kinerja. gubernur/ bupati/walikota memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap Laporan Keuangan serta koreksi lain berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. Jadi.Analisis Laporan Keuangan Daerah Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. Pemerintah Daerah tidak hanya diwajibkan untuk menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan. Pemerintah Daerah (gubernur/ bupati/ walikota selaku wakil pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan pemerintah daerah yang dipisahkan) juga harus menyusun ikhtisar laporan keuangan Perusahaan Daerah. yang berisi ringkasan tentang keluaran dari masing-masing kegiatan dan hasil yang dicapai dari masingmasing program sebagaimana ditetapkan dalam dokumen pelaksanaan APBD. untuk tingkat pemerintah provinsi 28 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . laporan keuangan Perusahaan Daerah yang telah diaudit kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 5 1/2 (lima setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir.

Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Tugas Pembantuan disampaikan kepada gubernur/bupati/walikota dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. Laporan Realisasi Anggaran Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana Dekonsentrasi menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran pada tingkat pemerintah pusat. Laporan Realisasi Anggaran harus menyajikan informasi mengenai pendapatan. Pengertian dari masing-masing unsur tersebut adalah sebagai berikut : Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 29 . Selanjutnya. dan untuk tingkat pemerintah kabupaten/kota disampaikan kepada gubernur. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyampaikan Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana Dekonsentrasi kepada gubernur. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Tugas Pembantuan menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran pada tingkat pemerintah pusat. Kemudian. dan dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. transfer. yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan. B. belanja. Dengan demikian. dan pembiayaan. alokasi. dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan. dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri. gubernur/bupati/walikota menyiapkan Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan yang diterima dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Tugas Pembantuan dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan. gubernur menyiapkan Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan yang diterima dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana Dekonsentrasi. Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan dilaporkan secara terintegrasi dalam Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga Pengguna Anggaran yang bersangkutan.

dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. dan Dana Alokasi Khusus. Dana Alokasi Umum. termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil. Hibah • Pendapatan Transfer/Dana Perimbangan: • Lain-lain Pendapatan yang Sah: 30 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . (b) Belanja (basis akrual) adalah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. (b) Pendapatan (basis akrual) adalah hak pemerintah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Retribusi Daerah. (c) Unsur Belanja Daerah terdiri dari: • Belanja Operasi: Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Pajak Daerah. Dana Bagi Hasil. Lain-lain PAD yang Sah. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. (c) Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain. Dana Darurat.Analisis Laporan Keuangan Daerah Pendapatan (a) Pendapatan (basis kas) adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Negara/ Bendahara Umum Daerah atau oleh entitas pemerintah lainnya yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah. (d) Unsur Pendapatan Daerah terdiri dari: • Pendapatan Asli Daerah: Belanja (a) Belanja (basis kas) adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.

(b) Unsur Pembiayaan Daerah terdiri dari: • Penerimaan Pembiayaan: Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Penerimaan Pembayaran Piutang Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman Pemberian Pinjaman • Pengeluaran Pembiayaan: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 31 . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya • Belanja Tak Terduga Pembiayaan (a) Pembiayaan (basis kas) adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Belanja Modal: Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan. yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran. baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.

DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14) TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19) Total Pendapatan Transfer (15 + 20) LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Pendapatan Lain-lain yang Sah (24 s/d 26) JUMLAH PENDAPATAN (7 + 21 + 27) BELANJA BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga xxx xxx xxx xxx xxx xxx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx 32 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A. Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6) PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSAT .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.

59) PEMBIAYAAN PENERIMAAN PEMBIAYAAN xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 33 .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No./Kota (55 s/d 57) JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (51 + 58) SURPLUS/DEFISIT (28 . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx (%) xx xx xx xx 20X0 Realisasi xxx xxx xxx xxxx 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Subsidi Hibah Bantuan Sosial Jumlah Belanja Operasi (31 s/d 36) BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Belanja Modal (40 s/d 45) BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga Jumlah Belanja Tak Terduga (49 s/d 49) Jumlah Belanja (37 + 46 + 50) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xx xx xx xxxx xxxx xxxx TRANSFER TRANSFER/BAGI HASIL PENDAPATAN KE KABUPATEN/KOTA Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Transfer Bagi Hasil Pendapatan ke Kab.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A.

Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Pengeluaran (80 s/d 90) PEMBIAYAAN NETO (77 .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman DN .91) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (60-92) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx 34 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Penerimaan (65 s/d 76) PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .

5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14) TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19) TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Jumlah Transfer Pemerintah Provinsi (23 s/d 24) Total Pendapatan Transfer (15 + 20 + 25) LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah (29 s/d 31) JUMLAH PENDAPATAN (7 + 26 + 32) BELANJA xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xx xx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 35 . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6) PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSAT .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.

Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Jumlah Belanja Operasi (37 s/d 42) BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Belanja Modal (46 s/d 51) BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga Jumlah Belanja Tak Terduga (55 s/d 55) Jumlah Belanja (43 + 52 + 56) TRANSFER TRANSFER/BAGI HASIL KE DESA Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Transfer Bagi Hasil ke Desa (61 s/d 63) JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (57+ 64) SURPLUS/DEFISIT (33 .65) PEMBIAYAAN xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxx xxxx xxxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx 36 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .97) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx x xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx 100 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (66-98) Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 37 .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Penerimaan (71 s/d 82) PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Pengeluaran (86 s/d 97) PEMBIAYAAN NETO (83 .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 PENERIMAAN PEMBIAYAAN Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .

Aset lancar meliputi kas dan setara kas. b. berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah. Aset Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh. serta dapat diukur dalam satuan uang. dan persediaan. Aset Non-Lancar Aset non-lancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang. a. (1). Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset non-lancar. Aset Lancar Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. dan aset tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. Neraca Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada tanggal tertentu. dana cadangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah C. baik langsung maupun tidak langsung. kewajiban. aset tetap. Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan. investasi jangka pendek. 38 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . piutang. dan aset lainnya. baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Aset non-lancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang. Pengertian dari masing-masing unsur Neraca sebagai berikut: 1. bagi kegiatan operasional pemerintah. dan ekuitas dana. termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Investasi Jangka Panjang Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi. Investasi jangka panjang meliputi investasi non-permanen dan permanen. dengan menyajikan informasi mengenai aset.

Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak berwujud dan aset kerja sama (kemitraan). Kewajiban pemerintah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah atau dengan pemberi jasa lainnya. Kewajiban dikelompokkan kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. penyertaan modal dalam proyek pembangunan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Investasi non-permanen antara lain investasi dalam Surat Utang Negara. Dalam konteks pemerintahan. Investasi permanen antara lain penyertaan modal pemerintah dan investasi permanen lainnya. Aset Lainnya Aset non-lancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya. Kewajiban Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah. dan investasi non-permanen lainnya. gedung dan bangunan. peralatan dan mesin. irigasi. jalan. 2. lembaga keuangan. entitas pemerintah lain. (3). Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan perundang undangan. atau lembaga internasional. (2). Kewajiban jangka panjang adalah kelompok kewajiban yang penyelesaiannya dilakukan setelah 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. Karakterisitik esensial kewajiban adalah bahwa pemerintah mempunyai kewajiban masa kini yang dalam penyelesaiannya mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang akan datang. kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat. aset tetap lainnya. Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggungjawab untuk bertindak di masa lalu. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 39 . Aset Tetap Aset tetap meliputi tanah. dan konstruksi dalam pengerjaan. Kewajiban jangka pendek merupakan kelompok kewajiban yang diselesaikan dalam waktu kurang dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan. dan jaringan.

(b) Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang tertanam dalam aset non-lancar selain dana cadangan. dikurangi dengan kewajiban jangka panjang. 40 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Ekuitas Dana Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah. (c) Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang dicadangkan untuk tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai peraturan perundang-undangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. Ekuitas Dana dapat dikelompokkan sebagai berikut: (a) Ekuitas Dana Lancar adalah selisih antara aset lancar dengan kewajiban jangka pendek.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 3 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 ASET ASET LANCAR Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Investasi Jangka Pendek Piutang Pajak Piutang Retribusi Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi Piutang Lainnya Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 17) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non-permanen Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Non-permanen Lainnya Jumlah Investasi Non-permanen (22 s/d 27) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (30 s/d 31) Jumlah Investasi Jangka Panjang (28 + 32) ASET TETAP xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 41 .

Lembaga Keuangan Bank Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Bagian Lancar Utang Dalam Negeri . dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap (36 s/d 42) DANA CADANGAN Dana Cadangan Jumlah Dana Cadangan (46) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Perbendaharaan Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-lain Jumlah Aset Lainnya (50 s/d 55) JUMLAH ASET (18+33+43+47+56) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .Obligasi Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 42 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Irigasi.Lembaga Keuangan Bukan Bank Bagian Lancar Utang Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-B.

Lembaga Keuangan Bukan Bank Utang Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Utang Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-B.Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (78 s/d 80) JUMLAH KEWAJIBAN (72+81) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Pendapatan yang Ditangguhkan Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek Jumlah Ekuitas Dana Lancar (87 s/d 91) EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang Jumlah Ekuitas Dana Investasi (95 s/d 98) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 101 EKUITAS DANA CADANGAN 102 Diinvestasikan dalam Dana Cadangan 103 Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (102) 104 JUMLAH EKUITAS DANA (92+99+103) 105 106 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (82+104) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 43 . Uraian 20X1 20X0 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (63 s/d 71) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Utang Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Utang Dalam Negeri .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Sumber: Lampiran I-B.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ASET ASET LANCAR Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Piutang Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 9) ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan. Irigasi. dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan Jumlah Aset Tetap (13 s/d 18) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-Lain Jumlah Aset Lainnya (22 s/d 26) JUMLAH ASET (10+19+27) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 44 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Sumber: Lampiran I-B.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 Uang Muka dari Bendahara Umum Daerah Pendapatan yang Ditangguhkan Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (34 s/d 35) JUMLAH KEWAJIBAN (36) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Jumlah Ekuitas Dana Lancar (42 s/d 43) EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Jumlah Ekuitas Dana Investasi (47 s/d 48) JUMLAH EKUITAS DANA (44+49) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (37 + 50) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 45 .

6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ASET ASET LANCAR Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Piutang Pajak Piutang Retribusi Investasi Jangka Pendek Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 14) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non-permanen Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Non-permanen Lainnya Jumlah Investasi Non-permanen (19 s/d 24) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (27 s/d 28) Jumlah Investasi Jangka Panjang (25 + 29) DANA CADANGAN Dana Cadangan xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 46 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Sektor Perbankan Utang Dalam Negeri – Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (53 s/d 55) JUMLAH KEWAJIBAN (50+56) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Jumlah Dana Cadangan (33) ASET LAINNYA Tuntutan Perbendaharaan Aset Lain-lain Jumlah Aset Lainnya (37 s/d 38) JUMLAH ASET (15+30+34+39) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (46 s/d 49) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B.6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Pendek Jumlah Ekuitas Dana Lancar (63 s/d 64) xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 47 .

dan transaksi non-anggaran yang menggambarkan saldo awal. Panjang Jumlah Ekuitas Dana Investasi (68 s/d 71) EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan dalam Dana Cadangan Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (75) JUMLAH EKUITAS DANA (65+72+76) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (58+78) xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx D. penerimaan. yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut: (a) Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum Daerah. (b) Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum Daerah.6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. pembiayaan. Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas. investasi aset non-keuangan. dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu. 48 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Laporan Arus Kas Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional. pengeluaran. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk.

Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 .3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.28) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 49 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.

Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .46) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 50 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 . Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.

Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 .74) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (78) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (81) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Nonanggaran (79 . Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.82) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (84+85) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (86+87+88) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 51 .3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .

Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C.4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.30) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 52 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 53 .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40-48) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C.76) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (80) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (83) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 .84) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (86+87) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (88+89+90) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 54 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 .4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .

28) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 55 . Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.46) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 56 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 .5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .82) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (84+85) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (86+87+88) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 57 .74) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (78) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (81) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (79 .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 .30) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 58 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 59 .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40 .48) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 .76) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (80) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (83) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .84) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (86+87) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 60 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C.

dan Laporan Arus Kas. Neraca. Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut: (a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan. Dari beberapa hal yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. adalah yang terakhir yang perlu kita bahas karena hal tersebut relevan dengan pokok bahasan dalam modul ini. yang tidak disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah E. dan Laporan Arus Kas. (d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Lampiran I-D menjelaskan bahwa sistematika Catatan atas Laporan Keuangan terdiri dari: Kebijakan fiskal/keuangan. ekonomi makro. (c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksitransaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya. pencapaian target Undang-Undang APBN/ Perda APBD. ekonomi makro. Neraca. berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 61 . Pengungkapan atas komponen laporan keuangan adalah sebagai berikut. dan (f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar. ikhtisar pencapaian kinerja keuangan. (e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas. dan penjelasan atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD. (b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan. kebijakan akuntansi.

seperti Penyertaan Modal Pemerintah. seperti Kas di Bendahara Pengeluaran. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara belanja periode ini dengan belanja periode yang lalu. Pembiayaan Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pembiayaan. Penjelasan atas masing-masing jenis belanja.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi Anggaran 1. Investasi dalam Obligasi. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara transfer periode ini dengan transfer periode yang lalu. 4. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara pembiayaan periode ini dengan pembiayaan periode yang lalu. 62 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Kas di Bendahara Penerimaan. Aset Lancar Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lancar. Penjelasan atas masing-masing jenis pendapatan. Penjelasan atas masing-masing jenis transfer. Pendapatan Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pendapatan. 3. 2. dan Pinjaman kepada Perusahaan Daerah. Transfer Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran transfer. Neraca 1. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara pendapatan periode ini dengan pendapatan periode yang lalu. Belanja Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran belanja. 2. dan Piutang. Penjelasan atas masing-masing jenis pembiayaan. Investasi Jangka Panjang Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos investasi jangka panjang.

dan Utang Bunga.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. seperti Pendapatan Pajak dan Belanja Pegawai. Aset Tetap Untuk seluruh perkiraan yang ada dalam kelompok aset tetap. Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas investasi aset non-keuangan. seperti Tagihan Penjualan Angsuran. dan Utang Luar Negeri. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 63 . Tuntutan Ganti Rugi. Ekuitas Dana Investasi Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana Investasi. seperti Pendapatan Penjualan Aset dan Belanja Aset. 6. seperti Uang Muka dari Kas Umum Negara (KUN). Bagian Lancar Utang Jangka Panjang. seperti Utang Dalam Negeri Obligasi. seperti Cadangan Piutang dan Cadangan Persediaan. Kewajiban Jangka Pendek Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka Pendek. Utang Dalam Negeri Sektor Perbankan. 7. Ekuitas Dana Lancar Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana Lancar. dan Kemitraan dengan Pihak Ketiga. Laporan Arus Kas 1. 5. Aset Lainnya Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lainnya. Diungkapkan pula (apabila ada) perbedaan pencatatan perolehan aset tetap yang terjadi antara unit keuangan dengan unit yang mengelola/mencatat aset tetap. Arus Kas dari Aktivitas Operasi Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas operasi. 8. 4. seperti Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang dan Diinvestasikan dalam Aset Tetap. Kewajiban Jangka Panjang Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka Panjang. Daftar aset tetap juga disertakan sebagai lampiran laporan keuangan. Pendapatan yang Ditangguhkan. diungkapkan dasar pembukuannya. 2.

Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas pembiayaan. Neraca. Kontijensi ini harus diungkapkan dalam catatan atas neraca. Penggantian manajemen pemerintahan selama tahun berjalan. Komitmen.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. d. seperti Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga dan Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga. Adapun pengungkapan-pengungkapan lain yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan keuangan adalah hal-hal yang mempengaruhi laporan keuangan. Kontijensi. f. seperti Penerimaan Pinjaman dan Pembayaran Pokok Pinjaman. Laporan Arus Kas. yaitu suatu kondisi atau situasi yang belum memiliki kepastian pada tanggal neraca. antara lain: a. yaitu bentuk perjanjian dengan pihak ketiga yang harus di ungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Kejadian penting setelah tanggal neraca (subsequent event) yang berpengaruh secara signifikan terhadap perkiraan yang disajikan dalam neraca. dan Catatan atas Laporan Keuangan. jika ada tuntutan hukum yang substansial dan hasil akhirnya bisa diperkirakan. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Kejadian yang mempunyai dampak sosial. Neraca. • PPKD selaku Bendahara Umum Daerah (BUD) menyusun Laporan Realisasi Anggaran. e. disampaikan kepada kepala daerah melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). Kesalahan manajemen terdahulu yang telah dikoreksi oleh manajemen baru c. Penggabungan atau pemekaran entitas tahun berjalan. Misalnya. 4. misalnya adanya pemogokan yang harus ditanggulangi pemerintah g. Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas non-anggaran. disampaikan kepada kepala daerah. • Kepala SKPD juga menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya kepada kepala daerah dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. F. Rangkuman Proses penyusunan laporan pemerintahan daerah sebagai berikut: • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Realisasi Anggaran. 64 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . b.

investasi aset non keuangan. • Catatan atas Laporan Keuangan. menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional. ekonomi makro. belanja. Selanjutnya. Laporan Arus Kas. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah terdiri dari: • • Laporan Realisasi Anggaran. yang meliputi: Kebijakan fiskal/keuangan. • Laporan Arus Kas. dan ekuitas dana. dan transaksi nonanggaran yang menggambarkan saldo awal. pencapaian target Undang-Undang APBN/Perda APBD. dan Catatan atas Laporan Keuangan. dan penjelasan atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran. ikhtisar pencapaian kinerja keuangan. menyajikan informasi mengenai pendapatan. • PPKD menyampaikan Laporan Keuangan Pemda kepada kepala daerah untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada tanggal tertentu. Neraca. dan pembiayaan. dan Laporan Arus Kas.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut. kebijakan akuntansi. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan pemerintah daerah yang terdiri dari: Laporan Realisasi Anggaran. kepala daerah menyampaikannya kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Neraca. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 65 . dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu. dengan menyajikan informasi mengenai aset. penerimaan. pengeluaran. transfer. Neraca. kewajiban. pembiayaan.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 66 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

A. diharapkan pembaca dapat: Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan. Di sisi lain. Lebih jauh lagi. analisis laporan keuangan di sektor pemerintahan hampir tidak pernah dilakukan. tetapi terbatas pada sektor bisnis. Pendahuluan Dalam literatur akuntansi.Analisis Laporan Keuangan Daerah Konsep Analisis Laporan • • Keuangan Bab 4 Setelah mempelajari bab ini. seperti investor. karena memang sampai saat ini belum ada. Kalaupun dilakukan perhitungan-perhitungan melalui pembandingan beberapa pos laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 67 . memang telah lama banyak dilakukan oleh pengguna laporan keuangan. kalau kita coba untuk mencari lliteratur mengenai analisis laporan keuangan sektor publik. kalau kita coba bandingkan antara buku-buku yang mengulas tentang sektor publik dan sektor bisnis. keuangan. pelaku bisnis dan pihak-pihak terkait lainnya telah banyak memanfaatkan hasil analisis laporan keuangan sebagai dasar bagi pengambilan keputusan ekonomis yang mereka buat. analis keuangan. telah banyak menerapkan metode-metode analisis laporan keuangan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan yang telah dicapai dan untuk memprediksikan prospek perusahaan di masa yang akan datang. terlihat bahwa literatur untuk sektor publik relatif lebih sedikit. maka akan sangat sulit kita memperolehnya atau bahkan tidak akan mendapatkannya. dan pemeriksaan akuntan. Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah. Manajemen perusahaan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. Jadi. kreditor. Tentang analisis laporan keuangan.

maka dengan sendirinya terjadi perubahan kebutuhan atas teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah. bila kita ingin mengetahui kinerja pencapaian pendapatan daerah. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Untuk menilai pelaksanaan belanja modal misalnya. seyogyanya terdapat pula perkembangan teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah. Hasil dari analisis tersebut diharapkan dapat meminimalkan bahkan 68 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . agar pengguna laporan keuangan memiliki dasar yang memadai dalam mengevaluasi kondisi dan kinerja keuangan pemerintah daerah. yang ditandai dengan perkembangan peraturan perundangundangan dalam bidang keuangan negara/daerah. yang pada akhirnya hasil analisis laporan keuangan tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam perumusan kebijakan anggaran daerah di masa mendatang. dan Catatan atas Laporan Keuangan Daerah. Dengan bertambahnya komponen laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tersebut. B. Misalnya. seseorang yang melakukan analisis atas laporan keuangan perlu menguraikan pos-pos laporan tersebut menjadi unit informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antara satu dengan yang lainnya guna mengetahui kondisi keuangan entitas tersebut untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Analisis laporan keuangan dilakukan dengan menggunakan metode dan teknik analisis tertentu dalam melihat ukuran dan hubungan unsur laporan keuangan. Seiring dengan makin majunya penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi.Analisis Laporan Keuangan Daerah daerah. atau menghitung perbandingan antara realisasi pendapatan pajak daerah dengan total realisasi pendapatan asli daerah. atau membandingkan realisasi belanja modal dengan realisasi total belanja. Untuk itu. kita dapat membandingkan realisasi belanja modal dengan pagunya. Pengertian Analisis Laporan Keuangan Secara singkat analisis laporan keuangan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan suatu entitas tertentu. maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya tidak saja dalam bentuk Laporan Realisasi Anggaran. kita bandingkan antara realisasi pendapatan asli daerah dengan target/ anggarannya. Laporan Arus Kas. itu pun dengan perhitungan sederhana dengan penggunaan yang terbatas. tetapi juga meliputi Neraca.

Analisis Laporan Keuangan Daerah menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata. maka kita akan menggunakan laporan keuangan pemerintah daerah sebagai bahan utama dalam melakukan analisis. Beberapa karakteristik dari analisis laporan keuangan dapat diringkas seperti di bawah ini. pertimbangan pribadi dan lain sebagainya. Dengan demikian akan menambah keyakinan pengguna laporan atas data atau informasi yang tersedia sehingga pengambilan keputusannya menjadi lebih akurat. • Memuat analisis hubungan Dalam hal ini. dan laporan keuangan tersebut telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan. dan Catatan atas Laporan Keuangan. • Memuat implikasi dan prediksi Analisis laporan keuangan dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak kejadian atau transaksi masa lalu sekaligus untuk meramalkan prospek keuangan di masa mendatang. akurasi hasil analisis laporan keuangannya sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. Seperti yang disebutkan pada poin fokus analisis laporan keuangan di atas. ketidakpastian. maka fokusnya adalah pada Laporan Realisasi APBD. tergantung pada kemampuan atau ketajaman masing-masing analis. hasil analisis laporan keuangan akan lebih baik bila laporan keuangannya dihasilkan dari sistem akuntansi pemerintah daerah yang sudah berjalan dengan baik. Oleh karena itu. Bahkan melalui analisis laporan keuangan juga kemungkinan dapat diketahui adanya kesalahan proses akuntansi. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 69 . Dengan demikian. analisis laporan keuangan menguraikan hubungan pos-pos dalam satu laporan keuangan. • Fokus pada laporan keuangan utama Sesuai pembahasan dalam modul ini. hubungan pos-pos antar laporan keuangan. • Dipengaruhi oleh kemampuan analis Bila terdapat beberapa analis atas satu informasi yang sama. serta perbandingan dan kecenderungan pos-pos tersebut. Neraca. Laporan Arus Kas. kemungkinan masing-masing analis dapat memberikan hasil analisis yang berbeda.

Dapat memberikan informasi yang tidak secara eksplisit disajikan di dalam laporan keuangan Dapat mengetahui terdapatnya kesalahan dan hal-hal yang bersifat tidak konsisten yang terkandung dalam laporan keuangan. Adapun tujuan dari analisis laporan keuangan pemerintah daerah adalah untuk hal-hal berikut ini. dapat kita formulasikan beberapa manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan analisis laporan keuangan. Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya. tidak ada informasi yang menyebutkan derajat kemampuan pemda dalam membayar kembali pinjaman yang diterimanya. Mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya. Bila kita ingin menilai seberapa besar tingkat kemampuan pemda membayar kewajibannya. maka kita perlu melakukan analisis atas pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan pemda tersebut. jika pengguna laporan keuangan menginginkan informasi tambahan dari laporan keuangan yang tersedia. bahwa informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah untuk tujuan umum. Dapat mengetahui sifat-sifat dari hubungan baik antar-pos maupun antar 70 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah C. Mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahan-perubahannya Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. yang berarti bahwa laporan tersebut disajikan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi semua kelompok pengguna laporan keuangan. Berdasarkan pembahasan di atas. Oleh sebab itu. Secara umum telah kita peroleh pemahaman bahwa tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan dari suatu entitas. Dalam laporan keuangan pemerintah daerah misalnya. maka perlu melakukan analisis atas laporan keuangan tersebut. antara lain sebagai berikut: • • • • Dapat menyediakan tambahan penjelasan atas data dan informasi yang memang sudah tersedia pada laporan keuangan. Mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan programprogramnya. Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan Telah kita bahas di bab sebelumnya. • • • • • • Meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(b) memuat analisis hubungan. dan lain sebagainya. dan perkiraan di masa yang akan datang. tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan. (e) mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan program-programnya. Hasil dari analisis laporan keuangan diharapkan dapat meminimalkan bahkan menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata. Karakteristik dari analisis laporan keuangan adalah: (a) fokus pada laporan keuangan utama. saat ini. dan kesalahan proses akuntansi. D. Dapat mengetahui komposisi struktur keuangan entitas. (b) meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. sedangkan tujuan analisis laporan keuangan daerah adalah untuk: (a) mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahan-perubahannya. ketidakpastian. dengan menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antar pos untuk mengetahui kondisi keuangan. Rangkuman Analisis laporan keuangan merupakan upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan pemerintah daerah. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 71 . dan (f) mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya. Secara umum.Analisis Laporan Keuangan Daerah laporan. • • • Dapat menilai perkembangan dan pencapaian yang diperoleh oleh suatu entitas serta membuat proyeksi keuangan di masa mendatang. Dapat mengevaluasi kondisi keuangan entitas masa lalu. sehingga dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami oleh suatu entitas. sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. (c) mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. rating. (c) mengandung implikasi dan prediksi. (d) mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya. yang dapat digunakan untuk prediksi. dan (d) hasilnya tergantung pada kemampuan analisnya. pertimbangan pribadi.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 72 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan Daerah Analisis Laporan Keuangan • • Pemerintah Bab 5 Setelah mempelajari bab ini. Kondisi Saat Ini Landasan teori untuk analisis laporan keuangan pada sektor bisnis sudah lama menjadi pokok bahasan dalam literatur akuntansi dan keuangan. khususnya analisis perbandingan atau rasio. Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah. Mengenai terbatasnya penggunaan teknik analisis laporan keuangan pada pemerintah daerah. karena memang belum didukung dengan pembahasan teori analisis laporan keuangan pemerintah yang memadai. Penggunaannya masih sangat terbatas. bila dibandingkan dengan sektor bisnis. Dapat dikatakan bahwa penggunaan teknik-teknik analisis laporan keuangan di sektor bisnis memang sudah memiliki pijakan teori yang sudah mapan dengan nama dan kaidah pengukuran yang standar. diharapkan pembaca dapat: Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan. belum ada nama dan kaidah pengukuran yang seragam. mengemukakan Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 73 . adalah sebaliknya. dengan fokus pada laporan realisasi anggaran. Oleh karena itu. khususnya pada lingkungan pemerintah daerah. Widodo (2007) penyebabnya adalah: • Keterbatasan penyajian laporan keuangan pada lembaga pemerintah daerah yang sifat dan cakupannya berbeda dengan penyajian laporan keuangan oleh lembaga perusahaan yang bersifat komersial. Sedangkan pada sektor publik. A.

seperti adanya prinsip “yang penting pendapatan naik meskipun untuk menaikkannya itu diperlukan biaya yang tidak efisien”. dan pengguna laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan. maka sering kali mengabaikan rasio keuangan dalam APBD. Akuntansi bukan merupakan satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomis. pada analisis laporan keuangan itu sendiri terdapat keterbatasan yang inheren. 2. bahwa akurasi hasil analisis laporan keuangan sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. 1. laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai laporan mengenai keadaan saat ini. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis. Oleh karena itu. dibutuhkan pemahaman dasar terhadap akuntansi dan laporan keuangan yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. sehingga kurang memperhatikan bagaimana perubahan yang terjadi pada komposisi ataupun struktur APBDnya. • Penilaian keberhasilan APBD sebagai penilaian pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah lebih ditekankan pada pencapaian target. Selain itu. B. Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum Informasi dalam laporan keuangan tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi secara khusus bagi setiap kelompok pengguna laporan keuangan. Oleh karena itu. 74 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah • Selama ini penyusunan APBD sebagian masih dilakukan berdasarkan pertimbangan incremental budget (seharusnya disusun berdasarkan pendekatan kinerja sebagaimana tersebut dalam pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000). yaitu besarnya masing-masing komponen pendapatan dan belanja dihitung dengan meningkatkan persentase tertentu (biasanya berdasarkan tingkat inflasi). Sifat laporan keuangan adalah historis. Laporan keuangan menyajikan informasi mengenai transaksi dan kejadian pada masa lalu. Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Sudah kita bahas pada bab sebelumnya. Karena disusun dengan pendekatan secara incremental. antara lain sebagai berikut.

Sedangkan informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja pemerintah bukan hanya informasi kuantitatif. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 75 . Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan Di dalam penyusunan laporan keuangan tidak dapat dihindari adanya penggunaan estimasi akuntansi. Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan Laporan keuangan yang menjadi obyek analisis adalah laporan keuangan yang lebih menggambarkan kinerja keuangan. 4. yang merupakan bagian terakhir dari modul ini. Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Pada sub bab terakhir ini.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. Misalnya. Teknik-teknik yang akan digunakan adalah sebagai berikut. Meskipun APBD disusun dengan pendekatan kinerja. Namun demikian. dan lain sebagainya. yang sekaligus merupakan sub topik terakhir dari bagian kedua (Dasar-dasar Analisis Laporan Keuangan). melainkan dalam laporan kinerja instansi pemerintah. Contoh informasi kualitatif yang relevan dengan analisis laporan keuangan adalah opini auditor independen mengenai laporan keuangan pemerintah daerah. analisis laporan keuangan dapat dikatakan lebih cenderung pada analisis kinerja keuangan. Dengan demikian. terutama berupa informasi kuantitatif yang bersifat keuangan. C. Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. alasan-alasan tidak tercapainya target pajak daerah. estimasi atas kemungkinan tidak tertagihnya piutang. alasan-alasan meningkatnya jumlah defisit dari yang dianggarkan. analisis dapat dikembangkan sampai kepada analisis kinerja program/kegiatan dengan mengumpulkan data-data mengenai rencana dan realisasi program/kegiatan berikut target dan capaian kinerjanya. akan tetapi kinerja pelaksanaan program dan kegiatan tidak dapat dilihat dalam laporan realisasi anggaran. tetapi juga informasi kualitatif. akan dikemukakan teknik-teknik yang akan digunakan dalam pembahasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah pada bagian ketiga. yang cenderung bersifat subyektif. Oleh sebab itu. estimasi masa manfaat atau umur ekonomis aset tetap. 5. hasil analisis laporan keuangan dengan sendirinya juga bersifat kuantitatif.

Misalnya prediksi pencapaian pajak daerah pada tahun yang akan datang. maka semakin baik pula kinerja dari pencapaian pajak daerah tersebut. baik dalam satu laporan keuangan maupun antar laporan. adalah: 76 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . antara lain. berarti mengindikasikan tingkat capaian yang baik. Rangkuman Akurasi hasil analisis laporan keuangan sangat tergantung pada akurasi dan validitas laporan keuangan pemerintah daerah. Bila hasil perbandingannya menunjukkan angka lebih besar dari 1. Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis kecenderungan dilakukan dengan membandingkan pos yang sama untuk periode lebih dari dua tahun. D. analisis laporan keuangan itu sendiri mengandung keterbatasan inheren. 3. 2. Tujuan analisis ini adalah untuk menguji kebenaran angka-angka laporan keuangan yang disajikan. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis perbandingan dilakukan dengan membandingkan satu atau beberapa pos dengan satu atau beberapa pos lainnya dalam satu periode. harus dilakukan analisis apakah kedua pos tersebut terbukti berhubungan. Semakin besar angka rasionya. yaitu bab terakhir dalam modul ini. Lebih jauh. Analisis kecenderungan ini umumnya digunakan dalam membuat prediksi keuangan. rasio realisasi pajak daerah. diperkirakan berdasarkan data atau informasi kecenderungan pencapaian pajak daerah beberapa periode yang lalu sampai saat dilakukannya analisis kecenderungan. diperoleh dari perhitungan atau perbandingan antara realisasi pajak daerah dengan anggarannya atau target pajak daerah. Analisis ini dapat juga digunakan untuk membandingkan satu pos yang sama dalam laporan keuangan dua periode yang berurutan. Misalnya. adanya belanja modal di laporan realisasi APBD. Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis hubungan dilakukan dengan menguji hubungan logis antar pos. Misalnya. dibahas dalam bab 7.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1. Tujuan analisis ini antara lain untuk menilai kondisi atau kinerja keuangan pemerintah daerah. Teknik analisis kecenderungan ini akan dibahas di bab 8. Selengkapnya mengenai teknik analisis perbandingan ini. sehingga diperoleh gambaran mengenai kecenderungan dari suatu pos dalam laporan keuangan pemerintah daerah. Untuk itu. semestinya berkorelasi langsung dengan kenaikan aset tetap. Pembahasan selengkapnya terdapat di bab 6.

Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan. Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 77 . Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan. Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan. Teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan Pemerintah Daerah adalah: • • • Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan. Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah • • • • • Sifat laporan keuangan adalah historis.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 78 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Laporan Realisasi APBD dan Neraca. harus sama dengan aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek. Contoh sederhana. beberapa pos antar laporan keuangan dapat mempunyai kaitan satu dengan lainnya. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan keuangan pada Realisasi APBD dan Neraca.Analisis Laporan Keuangan Daerah Analisis Hubungan Bab 6 Setelah mempelajari bab ini. yang meliputi: • • • • Laporan Realisasi APBD. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 79 . Pendahuluan Pengguna laporan keuangan harus memahami bahwa pos-pos di dalam suatu laporan keuangan dapat mempunyai kaitan atau hubungan satu dengan lainnya. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Neraca. Neraca. jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan di dalam laporan arus kas. misalnya jumlah akhir kas di dalam laporan arus kas harus sama dengan jumlah akhir kas di dalam neraca. di dalam neraca. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan keuangan pada Arus Kas. jumlah ekuitas dana lancar. diharapkan pembaca dapat: • • • • Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Laporan Realisasi APBD. Contoh lain. A. harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan di dalam laporan realisasi anggaran. Laporan Arus Kas. Demikian halnya. Realisasi APBD dan Neraca. Laporan Realisasi APBD dan Neraca. Berikut adalah pembahasan mengenai hubungan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah.

80 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . yang secara ringkas dapat dilihat sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Y” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Dana Penimbangan Lain-Lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan : (1) BELANJA Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tak Terduga Total Belanja : (2) Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan : (4) Pengeluaran Pembiayaan : (5) Pembiayaan Neto : (6) = (4) – (5) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) : (7) = (3) + (6) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut: 1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif). maka jumlah pembiayaan neto harus positif dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut. Untuk membahas beberapa hubungan antar pos di dalam laporan realisasi APBD. perhatikan kembali format laporan realisasi APBD pada bab 3. Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan.Analisis Laporan Keuangan Daerah B. Laporan Realisasi APBD Pada saat penyusunan APBD harus diperhatikan rencana pembiayaan untuk mengalokasikan (menutup) surplus/defisit.

090) * Pembiayaan neto minimal harus sama dengan jumlah defisit yaitu Rp 9.590 atau dengan rumus: Penerimaan Pembiayaan > Defisit + Pengeluaran Pembiayaan 2) Pembiayaan neto yang jumlahnya negatif hanya diijinkan bila anggaran direncanakan surplus. Kondisi yang benar : Surplus > Pembiayaan neto negatif Kondisi yang salah : Surplus < Pembiayaan neto negatif Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 81 . maka jumlah penerimaan pembiayaan minimal sebesar Rp 9.090 60. dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan neto yang negatif tersebut. Bila direncanakan ada pengeluaran pembiayaan misalnya sebesar Rp 500.710 69.590 (500) 9.Analisis Laporan Keuangan Daerah Defisit < Pembiayaan neto positif Kondisi yang salah : Defisit > Pembiayaan neto positif Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Defisit Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan* Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 9. Jumlah pembiayaan neto negatif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan.090.800 (9.

000 60.Analisis Laporan Keuangan Daerah Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surpus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 3.090) (b) Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif.800 910 3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa kondisi berikut: (a) Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit.800 (9. SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto positif 82 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .090 1.710 69. maka selisihnya menjadi SiLPA. SiLPA = Defisit + Pembiayaan neto positif Syarat: Pembiayaan neto positif > Defisit Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Defisit Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 10.710 59.590 (500) 10.500) (500) 410 60.000 (3.

590 (500) 10.500) (500) 410 60. antara lain. kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. sebagai berikut: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 83 .800 910 (c) Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar.000 (3.090 11.710 59.Analisis Laporan Keuangan Daerah Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surplus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 10. Neraca Sebagaimana yang telah dibahas pada bab 3.000 60.710 59. yaitu posisi aset. Informasi keuangan di dalam neraca dapat memberikan manfaat. neraca memberikan informasi mengenai posisi keuangan.800 910 C. SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto negatif Syarat: Surplus > Pembiayaan neto negatif Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surplus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 3.

• • Memfasilitasi penilaian posisi keuangan dengan menunjukkan semua sumber daya dan kewajiban. pengungkapan atas informasi ini merupakan suatu elemen dasar dari transparansi fiskal dan akuntabilitas. Memberikan informasi yang lebih luas yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. antara lain.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Meningkatkan akuntabilitas untuk para manajer (kepala daerah dan para pejabat pemda) ketika mereka menjadi bertanggung jawab tidak hanya pada kas masuk dan kas keluar. aktiva dalam konstruksi. perhatikan kembali format neraca pada bab 3. hal-hal sebagai berikut: • Pengaruh dari transaksi keuangan pada pemerintah daerah dalam suatu periode tidak tercermin secara penuh. 84 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Bila tidak ada informasi mengenai posisi aset. kewajiban saat ini untuk menyerahkan (membayar) sejumlah uang atau barang di masa yang akan datang. karena tidak menunjukkan semua sumber daya dan kewajiban. saldo aktiva persediaan. misalnya tidak ada pelaporan mengenai piutang pajak. Informasi yang dibutuhkan tidak memadai untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. maka akan mengakibatkan. • Meningkatkan transparansi dari aktivitas pemerintah. tetapi juga pada aset dan utang yang mereka kelola. Tidak memfasilitasi penilaian posisi keuangan. kewajiban dan ekuitas dana seperti yang dilaporkan dalam neraca. • • • Akuntabilitas terbatas pada penerimaan dan pengeluaran kas dan mengabaikan transparansi dan akuntabilitas untuk pengelolaan aset dan utang. yang secara ringkas terlihat seperti di bawah ini. Untuk menguraikan beberapa hubungan antar pos di dalam neraca. Pemerintah umumnya mempunyai jumlah aset yang signifikan dan utang.

Bila tidak. PPh dan PPn). total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset dengan kewajiban. askes. Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi Utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen. Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana 2) Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah. Ekuitas Dana = Aset – Kewajiban 3). Oleh karena itu. Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek. dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut.Analisis Laporan Keuangan Daerah NERACA Pemerintah Daerah “Y” Per 31 Desember 200X ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan Total Ekuitas Dana xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Total Aset xxx Total Kewajiban dan Ekuitas Dana Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut: 1). Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar – Kewajiban Jangka Pendek 4). SiLPA = Total Kas – Utang PFK Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 85 .

Kewajiban Jangka Pendek Ekuitas Dana Lancar = Rp 2. jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan jumlah dana cadangan.835 2) Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar .620 + Rp 75) – Rp 2.500 Rp 3.630 3) Ekuitas Dana Investasi = (Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya) – Kewajiban Jangka Panjang Ekuitas Dana Investasi = (Rp 2.835 Berdasarkan data di atas komponen ekuitas dana dapat dihitung sbb.450 + Rp 8.130 – Rp 500 Ekuitas Dana Lancar = Rp 1.645 4) Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan Ekuitas Dana Cadangan = Rp 560 86 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Oleh karena itu.Total Kewajiban Total Ekuitas Dana = Rp 13.Rp 3.000 Total Ekuitas Dana = Rp 10.620 Rp Rp 560 75 Rp13.130 Rp 2.500 Ekuitas Dana Investasi = Rp 8.450 Rp 8.835 .000 Rp 2. Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan persamaan berikut: Ekuitas Dana Investasi = Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka Panjang 6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana cadangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah 5).: 1) Total Ekuitas Dana = Total Aset . Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan Ilustrasi: Data aset dan kewajiban Pemda ‘P’ untuk menyusun Neraca per 31 Desember 200X adalah sebagai berikut: (dalam jutaan rupiah) ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya Total Aset KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban Rp 500 Rp 2.

3) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penggunaan dana cadangan dalam laporan realisasi APBD. Demikian sebaliknya. jumlah kewajiban di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. dapat dilakukan analisis sebagai berikut : 1) Bila ada belanja modal dalam laporan realisasi APBD. maka jumlah aset tetap di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama. jumlah dana cadangan (aset) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.630 8.835 Rp 500 2. 2) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penerimaan pinjaman dalam laporan realisasai APBD. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembentukan dana cadangan.645 560 10.130 2.500 3. Laporan Realisasi APBD dan Neraca Untuk mengetahui hubungan antara laporan realisasi APBD dan neraca.000 D.450 8. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 87 .Analisis Laporan Keuangan Daerah Setelah komponen ekuitas dana ditentukan. neraca dapat disusun sebagai berikut: NERACA Pemerintah Daerah “P” Per 31 Desember 200X ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya Rp 2. maka jumlah dana cadangan (aset) di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. Demikian sebaliknya. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembayaran pinjaman.835 Total Kewajiban dan Ekuitas Dana 1.620 560 75 KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan Total Ekuitas Dana Total ASET 13.835 13. maka jumlah kewajiban (utang) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.

2) Apakah jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi sudah benar?. askes. dan Neraca Untuk mengetahui hubungan Laporan Arus Kas dengan beberapa pos laporan keuangan lainnya. maka jumlah investasi jangka panjang (aset) di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. Laporan Arus Kas. Realisasi APBD. Untuk mengujinya dapat dibandingkan dengan jumlah pendapatan daerah dalam laporan realisasi anggaran dengan rumus sebagai berikut : 88 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . antara lain: 1) Saldo kas pada akhir tahun dalam Laporan Arus Kas harus sama dengan jumlah kas pada akhir tahun di Neraca (per 31 Desember 200X). jumlah investasi jangka panjang (aset) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama. E. SiLPA di neraca diperoleh dengan perhitungan: jumlah total kas dikurangi kewajiban pada PFK (potongan taspen. yang bentuk ringkasnya seperti di bawah ini. Demikian sebaliknya. LAPORAN ARUS KAS Pemerintah Daerah “Y” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X Arus Kas Dari Aktivitas Operasi Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan Arus Kas Dari Aktivitas Non Anggaran Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Kas Pada Awal Tahun Saldo Kas Pada Akhir Tahun xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Hubungan berikut perlu diperhatikan dalam menilai kebenaran angkaangka dalam laporan arus kas.Analisis Laporan Keuangan Daerah 4) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penjualan investasi perusahaan daerah dalam laporan realisasi APBD. 5) SiLPA pada kelompok ekuitas dana lancar di neraca harus sama dengan jumlah SiLPA (akhir tahun) di laporan realisasi APBD. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa penyertaan modal dalam perusahaan daerah. perhatikan kembali format Laporan Arus Kas pada bab 3. dan PPh dan PPn yang belum disetor).

3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total belanja dalam Laporan Realisasi Anggaran tetapi tidak termasuk belanja modal. Sebagai contoh. penjualan aset tersebut dalam laporan arus kas dilaporkan dalam arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non keuangan. sebab SiLPA tahun anggaran sebelumnya tidak dianggap sebagai komponen arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan. pendapatan berupa hibah dalam bentuk barang tidak akan dilaporkan dalam laporan arus kas. Alasannya. 6) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan tidak akan sama dengan jumlah penerimaan pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. meski dalam bentuk barang.Analisis Laporan Keuangan Daerah Arus kas masuk dari aktivitas operasi = jumlah pendapatan daerah – penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan Perhatikan: (a) Arus kas masuk dari aktivitas operasi yang berasal dari Lain-lain PAD tidak termasuk pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 89 . belanja maupun pembiayaan. (b) Laporan arus kas hanya melaporkan transaksi kas baik pendapatan. 7) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. 4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan yang dilaporkan dalam Laporan Realisasi Anggaran sebagai kelompok Lain-lain PAD (perhatikan penjelasan pada angka 2 huruf (a) di atas) 5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran. tetapi dalam laporan realisasi APBD hibah tersebut tentu akan dilaporkan.

Askes.200 24.500 69.800 Rp 4.855 Rp 4.400 (5.200 7.200) 16.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Q” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005 PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah (termasuk penjualan aset daerah yang dipisahkan sebesar Rp 10) Dana Perimbangan Lain-Lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan : (1) BELANJA Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tak Terduga Total Belanja : (2) Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan : (4) (termasuk SiLPA tahun sebelumnya Rp 15.820 90 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .100 5.200) Pengeluaran Pembiayaan (5) Pembiayaan neto : (6) = (4) – (5) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA): (7) = (3) + (6) 21.090) 10.450 50.110 40.800 (9.000 260 60.710 Data lainnya mengenai posisi utang PFK dan kas: • Data mengenai jumlah potongan PFK (Taspen. dan PPh 21) adalah sebagai berikut: Utang PFK per 31 Desember 2004 (PFK yang belum disetor sampai akhir tahun) Potongan PFK selama tahun 2005 Jumlah PFK yang harus disetor Jumlah yang telah disetor selama tahun 2005 Utang PFK per 31 Desember 2005 (PFK yang belum disetor sampai akhir tahun) Rp 35 Rp 55 Rp 4.

710 – Rp 10 = Rp 60.255 Rp 7.: Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2004 Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2005 Rp 15.200 Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 6.800 – Rp 24.700 2) Arus kas keluar dari aktivitas operasi = Total Belanja – Belanja Modal = Arus kas keluar dari aktivitas operasi = Rp 69.: 1) Arus kas masuk dari aktivitas operasi = Total Pendapatan – Penjualan Aset Daerah yang Dipisahkan Arus kas masuk dari aktivitas operasi = Rp 60.145 Berdasarkan data-data di atas laporan arus kas dapat disusun dengan melakukan analisis sbb.820 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 91 .Analisis Laporan Keuangan Daerah • Data saldo kas dalam neraca adalah sbb.100 5) Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Jumlah penerimaan pembiayaan – SiLPA tahun sebelumnya Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 21. Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 24. Arus kas masuk dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 10 4) Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = belanja modal.200 7) Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK tahun berjalan Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = Rp 4.200 6) Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = jumlah pengeluaran pembiayaan Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = Rp 5.800 8) Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK yang disetor selama tahun berjalan Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = Rp 4.400 – Rp 15.700 3) Arus kas masuk berasal dari aktivitas investasi non-keuangan = Lain-lain PAD yang berasal dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan.100 = Rp 45.

200 – Rp 5. SiLPA dalam neraca dapat dihitung: SiLPA = Rp 7. SiLPA akhir tahun dalam Laporan Realisasi APBD Pemda “Q” untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2005 adalah Rp 7.000 (24.700) Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non-Keuangan (Rp 10 – Rp 24.145 1.800 – Rp 4. Ternyata. Pengujian ini memberikan salah satu indikasi bahwa penyusunan laporan keuangan sudah benar.110) 15.255 7.000 Berdasarkan contoh di atas. 92 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .090) 15. laporan arus kas secara ringkas dapat disusun sebagai berikut : LAPORAN ARUS KAS Pemerintah Daerah “Q” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005 (dalam jutaan rupiah) Rp Arus Kas Dari Aktivitas Operasi (Rp 60.700 – Rp 45. jumlah SiLPA akhir tahun di Laporan Realisasi APBD sudah sama dengan jumlah SiLPA di Neraca. Jumlah SiLPA tersebut harus sama dengan jumlah SiLPA yang akan dilaporkan pada kelompok “Ekuitas Dana Lancar” di Neraca.820) Kenaikan (Penurunan) Kas Saldo Kas Pada Awal Tahun Saldo Kas Pada Akhir Tahun (20) (8. yang dapat dihitung dengan rumus: SiLPA = Jumlah kas akhir tahun – Jumlah Kewajiban PFK akhir tahun Berdasarkan data mengenai posisi kas dan utang PFK di atas.145 – Rp 35 = Rp 7.Analisis Laporan Keuangan Daerah Selanjutnya.200) Arus Kas Dari Aktivitas Non-Cadangan (Rp 4.100) Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan (Rp 6.110.110.

jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan jumlah dana cadangan. Hubungan berikut dapat digunakan dalam menilai kebenaran angkaangka dalam laporan arus kas: 1) Saldo kas pada akhir tahun harus sama dengan jumlah kas pada akhir tahun di Neraca. Oleh karena itu. 5). 2). 2) Pembiayaan neto negatif hanya diijinkan bila anggaran direncanakan surplus. Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 93 . dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan neto yang negatif tersebut. 3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa kondisi berikut: • • • Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit. dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut. Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar. askes. (Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan). Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif. Rangkuman Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut: 1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif). Oleh karena itu. 4). Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen. Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan perhitungan: Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka Panjang 6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana cadangan. total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset dengan kewajiban. Bila tidak. Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut: 1). (Jumlah pembiayaan neto negatif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan). dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut. Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah F. Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar di kurangi kewajiban jangka pendek. maka jumlah pembiayaan neto harus positif. maka selisihnya menjadi SiLPA. PPh dan PPn). 3).

Analisis Laporan Keuangan Daerah 2) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi dapat sama dengan jumlah pendapatan daerah dikurangi penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan (dalam laporan realisasi anggaran) 3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total belanja (dalam laporan realisasi anggaran) tetapi tidak termasuk belanja modal. 6) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. 5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran. 4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan (dalam laporan realisasi anggaran). 94 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Rasio merupakan pengganti (yang lebih sederhana) dari informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan (yang rinci dan rumit). Memperoleh pemahaman mengenai jenis-jenis analisis perbandingan pada laporan keuangan daerah. Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan analisis perbandingan pada laporan keuangan daerah. 5. Lebih mudah memperbandingkan kondisi keuangan pemerintah daerah dengan pemerintah daerah lain atau melihat perkembangan pemerintah daerah secara periodik. jika seseorang atau lembaga melakukan perhitungan dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan suatu entitas. dikatakan ia/mereka melakukan analisis rasio keuangan. Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan Perbandingan pos-pos laporan keuangan sering disebut dengan istilah rasio keuangan. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. 2. Oleh karena itu. antara lain. Dibandingkan dengan teknik analisis keuangan lainnya. diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai keunggulan dan kelemahan analisis perbandingan. sebagai berikut: 1. dengan maksud untuk mengetahui capaian atau kinerja keuangan entitas dimaksud. 4.Analisis Laporan Keuangan Daerah Perbandingan Setelah mempelajari bab ini. Standarisasi unit-unit pengukuran komponen keuangan pemerintah daerah. Analisis Bab 7 A. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 95 . Lebih mudah melihat perkembangan pemerintah daerah serta melakukan prediksi di masa yang akan datang. 3. analisis rasio keuangan memiliki keunggulan.

khususnya di sektor pemerintahan. Sedangkan di sektor publik (pemerintahan). 2. Rasio aktivitas yaitu rasio untuk mengukur efektif-tidaknya perusahaan di dalam menggunakan dan mengendalikan sumber daya yang dimilikinya. seperti nilai perolehan historis.Analisis Laporan Keuangan Daerah Di sisi lain. nilai estimasian. Rasio solvabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas untuk membayar semua utangnya. 3. 5. karena mungkin saja teknik perhitungannya berbeda atau pemilihan metode dan prinsip akuntasi yang berbeda. B. Belum ada keseragaman dalam hal istilah-istilah rasio maupun dalam kaidah pengukurannya. investor dan kreditor. bila rasio realisasi pendapatan pajak mencapai 110%. analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan umumnya dinyatakan dalam suatu ukuran rasio keuangan yang terdiri dari: 1. Rasio leverage yaitu rasio untuk mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik dengan dana yang dipinjam dari kreditor. Pemerintah Pusat. 96 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . kebebasan memilih metode akuntansi. baik. yaitu Pemerintah Daerah (eksekutif). Rasio likuiditas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas (organisasi) dalam membayar utangnya yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek. berapa angka rasio kemandirian yang harus dicapai oleh pemda untuk dapat dikatakan mandiri dalam hal pendanaan. 2. 3. 4. Misalnya. Angka rasio yang dihasilkan dari perhitungan perbandingan pos-pos laporan keuangan suatu pemda belum tentu dapat dibandingkan dengan angka rasio pemda lainnya. Di sektor bisnis (perusahaan). analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan ini memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: 1. Rasio profitabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan entitas dalam menghasilkan laba (keuntungan). DPRD (legislatif). kreditor. 4. Jenis-jenis Perbandingan Pengguna hasil analisis laporan keuangan di sektor bisnis umumnya adalah investor. pengguna hasil analisis laporan keuangannya lebih luas lagi. masyarakat. manajemen dan analis keuangan. Validitas angka rasio dipengaruhi secara otomatis oleh validitas angkaangka yang dilaporkan dalam laporan keuangan dan dipengaruhi oleh kelemahan inheren laporan keuangan. apakah angka tersebut berarti sangat baik. Belum ada standar atau patokan yang dapat digunakan untuk menilai baik atau buruknya suatu angka rasio. sedang atau kurang.

Likuiditas. Efisiensi Pendapatan Asli Daerah d. Perbandingan Realisasi vs Anggaran Perbandingan ini untuk mengukur realisasi pos-pos APBD yang meliputi realisasi pendapatan. Efektifitas Pendapatan Asli Daerah c. Leverage Untuk mempermudah penyebutannya. yaitu: a. 2007). Dari data APBD yang dikembangkan oleh Widodo (dalam Halim. Solvabilitas.Analisis Laporan Keuangan Daerah Sedangkan di sektor publik (pemerintahan). perbandingan dalam kelompok 1 dan 2 di atas (kecuali Kemandirian Entitas) disebut Perbandingan Pos APBD. belanja. terdapat dua perhitungan yaitu: a.) 2006 terhadap realisasi pajak daerah T. Keserasian Belanja 3. Dari format laporan realisasi APBD. surplus (defisit) dan pembiayaan. Perbandingan Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu Perbandingan ini dimaksudkan untuk mengukur pertumbuhan (kenaikan/ penurunan) pos-pos APBD dalam dua tahun anggaran yang berurutan. dan c. 2005 (komparatif vertikal). Bisa juga perbandingan realisasi pos-pos APBD dilakukan antara satu pemda dengan pemda yang lain untuk tahun anggaran yang sama (komparatif horizontal). b. Efektifitas PAD Perbandingan ini digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan (berdasarkan potensi riil daerah). Kemandirian Keuangan Daerah b. sebagaimana yang telah dibahas di bab 3. Perbandingan ini pada dasarnya untuk mengetahui keberhasilan pencapaian target pendapatan dan mengevaluasi ketaatan dalam pelaksanaan belanja dan pembiayaan. sedangkan kelompok 3 disebut Perbandingan Pos Neraca. Dari adaptasi terhadap rasio keuangan sektor bisnis. Perbandingan Realisasi vs Anggarannya b.A.A. Misalnya perbandingan realisasi pajak daerah Tahun Anggaran (T. Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu 2. adalah sebagai berikut: 1. Kemampuan daerah Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 97 . khususnya APBD. terdapat tiga perhitungan perbandingan. antara lain terdapat empat perhitungan. yaitu: a. beberapa perbandingan pos-pos laporan keuangan.

berarti kinerja pemerintah daerah semakin baik. Rasio ini dapat diukur dengan membandingkan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah pinjaman (selain utang PFK dan utang pajak PPn/PPh). Efisiensi PAD Perhitungan ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan (PAD) dengan realisasi pendapatan yang diterima. 98 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . rasio total belanja tidak langsung terhadap total belanja langsung. Suatu pemerintah daerah dikatakan efisien dalam melakukan pemungutan PAD. Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar dan rasio kas. jika hasil perhitungannya kurang dari 1 atau lebih kecil dari 100%. indikator perkembangan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakatnya. Solvabilitas Perhitungan solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo. Di samping itu. jika hasil perhitungannya minimal sebesar 1 atau 100%.Analisis Laporan Keuangan Daerah dalam melaksanakan tugasnya dikatakan efektif. tingkat kemandirian dapat juga dibaca sebagai indikator tingkat partisipasi masyarakat lokal terhadap pembangunan daerah. rasio biaya pemungutan pajak dengan pendapatan pajak. Likuiditas Perhitungan likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya. Keserasian Belanja Rasio keserasian ini digunakan untuk mengukur keserasian belanja yang direalisasikan oleh pemda. Semakin kecil hasil perhitungannya. Contoh. Rasio ini bisa diukur dengan rasio utang terhadap aktiva atau rasio utang terhadap ekuitas dana. Kemandirian Perbandingan ini digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian pemerintah daerah dalam hal pendanaan aktivitasnya. Leverage Perhitungan leverage digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemerintah daerah) dengan total utang.

Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Anggaran Setelah Perubahan TA 2007 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain-lain PAD yang Sah DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 359.820 215.200 208.560 1.600 35.000 75.500 11.260 7.545 0 349.515 64.175 56.933 246.750 34.500 10.795 34.515 64.660 74.400 120 10.600 255.250 12.978 18.540 150 8.210 12.265 36.000 64.820 247.515 8.000 66.000 8.000 68.540 120 10.515 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 99 .940 12.650 2.500 11.145 301.603 21.800 2.600 150 72.500 0 281.145 1.665 20.355 214.200 321.995 38.065 7.500 11.500 0 347.Analisis Laporan Keuangan Daerah C.000 160 102.750 275.160 14.240 321.200 21.568 13.500 50.690 Realisasi TA 2007 3360.000 22. Perbandingan Pos APBD Contoh laporan realisasi APBD di bawah ini akan digunakan untuk memberikan ilustrasi mengenai beberapa perbandingan pos-pos APBD.935 Realisasi TA 2006 338.750 275.000 10.578 7.750 2.950 1.000 19.450 3.600 57.450 10.515 8.940 188.420 56.700 135 101.000 21.353 38.

750 275. Realisasi vs Anggaran Berdasarkan data di atas dapat digambarkan perhitungan realisasi anggaran sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Anggaran Setelah Perubahan TA 2007 Realisasi TA 2007 (2) (1) PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain-lain PAD yang Sah DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 359.400 120 10.145 1.82 99.515 8.000 21.67 101.200 21.175 56.73 98.515 64.000 66.000 75.92 122.500 11.820 215.800 2.000 10.09 101.59 99.41 99.200 321.420 56.650 2.36 100 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .05 101.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1.568 13.515 8.940 12.353 38.000 19.750 34.500 11.515 64.61 0 99.500 0 347.000 8.000 68.46 99.64 84.250 12.240 321.795 34.97 100 100 99.700 135 101.690 360.950 1.933 246.47 100 100 98.820 247.51 91.603 21.06 100 100 100 103.540 120 10.38 99.50 101.000 160 102.000 22.660 74.545 0 349.995 38.978 18.355 214.21 99.935 Rasio Realisasi (%) (3) = (2) : (1) 100.578 7.750 275.

A. tetapi perhitungan yang menunjukan selisih dari anggaran pendapatan dan anggaran belanja. tetapi juga bisa dilakukan untuk melihat realisasi triwulanan dan semesteran. Realisasi Pendapatan Semua pos PAD melampaui targetnya masing-masing. tidak ada larangan atau bukan hal yang salah bila realisasi defisit melebihi 100% dari yang direncanakan (misal karena Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 101 . Hal ini perlu mendapat jawaban tersendiri dari pihak pengelola kegiatannya kenapa hal tersebut terjadi. hal ini menunjukkan ketaatan pada peraturan. Harus dicermati bahwa persentase tingkat penyerapan dana idealnya selaras dengan tingkat penyelesaian kegiatannya (kinerja program/kegiatan). akan tetapi tingkat penyelesaian gedung tersebut baru 90%. Sebagai contoh. Surplus (defisit) hakikatnya bukan merupakan anggaran. karena mungkin saja pemda yang defisit tersebut mempunyai anggaran belanja kegiatan yang jauh lebih besar dibanding dengan pemda yang surplus. Untuk itu. Dengan demikian. 2006. Sementara rata-rata tingkat penyerapan adalah lebih dari 90%. Analisis rasio realisasi belanja di atas menunjukkan angka tertinggi 100%. kecuali pos bagian laba dari BUMD. Surplus (defisit) Pemda yang mengalami defisit belum tentu kinerjanya lebih buruk dari pemda yang surplus. agar mendapat gambaran yang lebih baik. Perbandingan ini tidak hanya dihitung untuk mengetahui tingkat realisasi tahunan.A. Realisasi Belanja Realisasi belanja tidak diperkenankan melebihi plafonnya. meskipun pelampauannya sangat kecil. realisasi belanja pembangunan gedung (belanja modal) adalah 100%. berarti terdapat efisiensi 4% dari anggaran belanjanya. Sebaliknya bila tingkat penyelesaian gedung tersebut sudah 100% sementara penyerapan dananya adalah 96%. Harus dicermati bahwa target pendapatan T. seyogyanya realisasi pendapatan tahun berjalan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. hal ini menunjukkan tingkat penyerapan dana yang optimal.Analisis Laporan Keuangan Daerah Realisasi anggaran dihitung secara sederhana yaitu dengan membandingkan realisasi pos-pos APBD (kolom 2) dengan anggarannya masing-masing (kolom 1). misalnya realisasi pajak daerah TA 2007 dibandingkan dengan realisasi pajak daerah TA 2006. 2007 (setelah perubahan anggaran) idealnya harus lebih besar atau paling tidak sama dengan realisasi pendapatan T.

Dengan demikian. Realisasi Pembiayaan Anggaran pengeluaran pembiayaan sifatnya seperti belanja di mana jumlah yang dianggarkan merupakan pagu yang tidak boleh dilewati.43 102 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .568 13.665 20.53 105. yaitu angka pada kolom (2) dibagi dengan angka pada kolom (1). Sedangkan anggaran penerimaan pembiayaan sifatnya seperti pendapatan di mana jumlah yang dianggarkan adalah target yang boleh dilampaui.145 1. kolom (1) diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2006 dan kolom (2) diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2007.29 106.265 36.353 38.29 104. Dalam hal ini.560 1.66 94. Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu Perhitungan perbandingan realisasi sekarang vs tahun lalu (rasio komparatif) pada dasarnya sama dengan perhitungan realisasi anggaran di atas.Analisis Laporan Keuangan Daerah anjloknya realisasi pendapatan pajak dari yang ditargetkan). 2.240 Rasio Komparatif (%) (3) = (2) : (1) 106. sepanjang tidak ada peraturan khusus yang melarangnya. SiLPA akhir tahun Seperti halnya surplus (defisit).603 21.750 2. sepanjang jumlah pembiayaan netonya dapat menutup realisasi defisit tersebut.650 2. belanja.145 Realisasi TA 2007 (2) 360. yang menjadi fokus evaluasi adalah realisasi pendapatan. SiLPA hakikatnya bukan anggaran tetapi perhitungan yaitu selisih antara surplus (defisit) dengan pembiayaan neto.210 12.72 104. Berdasarkan data di atas dapat di gambarkan penggunaan rasio realisasi anggaran untuk perbandingan realisasi saat ini vs tahun lalu (komparatif) sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2006 (1) PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain2 PAD yang Sah 338. dan pembiayaan.

83 109.500 0 281.91 113.500 50.64 187.600 57.72%-100%).578 7.72 80 117.420 56. 2007 tumbuh 6.940 188.69 148. maka perlu mendapat penjelasan dari pemda karena ketiga pos tersebut secara normal cenderung naik setiap tahunnya dan rasio komposisinya signifikan terhadap jumlah pendapatan daerah.750 34.42 128.160 14. retribusi daerah.000 21.000 68.76 758.260 7.600 35.450 3.660 74.540 150 8.750 275.500 10.515 8.515 Realisasi TA 2007 (2) 321.065 7. Harus dicermati untuk pos pendapatan yang cenderung naik dan jumlahnya signifikan seperti pajak daerah. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 103 .355 214.400 120 10.700 135 101.59 617.200 208.67 106. Sebagai contoh pajak daerah TA.500 11.450 10.68 97.978 18. Bila rasio komparatif dari ketiga pos pendapatan ini turun signifikan.61 107. Rasio komparatif untuk pendapatan dapat diturunkan menjadi rasio pertumbuhan.57 111.600 255.85 a.000 64. misal rasionya 90% (angka ini bukan hasil penelitian). dana alokasi umum (DAU).940 12.52 0 123.500 0 347.515 64.933 246.600 150 72.73 117.37 266.935 Rasio Realisasi (%) (3) = (2) : (1) 106.72% (106.500 11.07 90 140.10 21.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2006 (1) DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 301.

568 13. bila dalam contoh di atas diasumsikan penerimaan pembiayaan hanya berasal dari SiLPA awal TA 2007 sebesar Rp 64. Perubahan = Naik(Turun) Pos/Rekening PAD Pajak Daerah Retribusi Daerah Dst….66 Realisasi Realisasi Jumlah % TA 2006 TA 2007 (3) =(2) . seperti berikut ini. Hal ini menunjukkan kondisi yang normal.240 (%) terhadap PDRB 4.25% 0.15% 0.568 13.66 106.358 585 6. 2007 terhadap nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).72 4. c. Rasio komparatif untuk pos pembiayaan naik spektakuler hingga rasio tertinggi 758%.Analisis Laporan Keuangan Daerah b.A.450 juta) dibanding SiLPA awal tahun 2007 yang masuk ke penerimaan pembiayaan TA 2007 (Rp 64. maka ilustrasinya dapat digambarkan sebagai berikut: (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2007 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain2 PAD yang Sah 360.5 Triliun.560 21.(1) (4) =(3) : (1) ( 1 ) (2) Rasio Komparatif (%) (5) =(2) : (1) Perhitungan rasio komparatif lainnya adalah dengan membandingkan Realisasi Anggaran T. Rasio komparatif baik untuk pos pendapatan dan pos belanja secara umum di atas 100%.72 104.650 2.515 berasal dari SiLPA akhir TA 2006.603 21.02% 0. 20. bila PDRB pada T. 8.03% 104 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Sebagai contoh. terlebih lagi belanja yang cenderung naik setiap tahunnya.145 1.210 12.45% 0. Hal ini disebabkan karena SiLPA awal tahun 2006 yang masuk ke penerimaan pembiayaan TA 2006 jumlahnya jauh lebih kecil (Rp 10.A.515 juta). 2007 sebesar Rp. Analisis rasio komparatif di atas dapat juga dikembangkan dengan menambahkan kolom baru untuk jumlah perubahannya (yang menggambarkan pertumbuhan positif/negatif).353 38.24% 0.145 1.

700 135 101.935 321.09% 2.400 120 10.Analisis Laporan Keuangan Daerah (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2007 DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 68.79% 0. Belanja langsung harus ditetapkan indikator kinerjanya sebab akan diukur kinerja pelaksanaan program/kegiatannya.420 56.00% 0.90% 2.750 34.66% 0.22% 0.515 64.933 246.00% 1.750 275.940 12. Keserasian Berdasarkan Pemendagri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.12% 0.978 18. Sedangkan belanja langsung adalah belanja yang terkait secara langsung dengan adanya program dan kegiatan.15% 0.26% 0.24% 0.76% 0.355 214.88% 0.41% 3.52% 0. Belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak terkait langsung dengan adanya program dan kegiatan.20% 0.500 0 347.500 11.000 (%) terhadap PDRB 3.515 8.660 74. belanja dibagi ke dalam dua kelompok: belanja tidak langsung dan belanja langsung. Sedangkan belanja tidak Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 105 .00% 4.14% 0.09% 0.81% 3.000 21.578 7.09% 0.

NERACA Pemerintah Daerah “Suka2” Per 31 Desember 2007 (dalam jutaan rupiah) AKTIVA Aktiva Lancar Kas Piutang Pajak Daerah Persediaan Investasi Jk Panjang Aktiva Tetap Dana Cadangan Rp 663. Panjang 25.500 5. solvabilitas. Perbandingan Pos Neraca Data berikut ini diambil dari Neraca Pemerintah Daerah “Suka2” untuk memberikan ilustrasi perhitungan rasio likuiditas.350 1. Sedangkan kondisi ideal yang diharapkan adalah belanja langsung (terutama yang bermanfaat langsung bagi publik) yang lebih besar dan semakin lebih besar dari belanja tidak langsung.935 2. Berdasarkan contoh di atas: Rasio keserasian belanja = belanja langsung : belanja tidak langsung Rasio keserasian belanja = 101.000 6.550 2.355 = 41. Analisis bisa dikembangkan lebih spesifik lagi dengan mencermati berapa komposisi antara belanja langsung yang dinikmati secara langsung atau sebagian besar oleh masyarakat (belanja publik) dan belanja langsung yang tidak dinikmati secara langsung oleh masyarakat (belanja non publik).Analisis Laporan Keuangan Daerah langsung tidak dapat (sulit) untuk ditetapkan indikator kinerjanya.825 68.935 579. leverage.500 EKUITAS DANA 5.000 650.435 65. Pendek Utang Potongan PFK Utang Pajak Pusat Bagian Lancar Utang Jk.000 106 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .340 3.000 Utang Jk. dan kemandirian.000 Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan 72.325 PASSIVA UTANG Utang Jk.890 6.23% Dapat dikatakan bahwa rasio belanja masih jauh dari keseimbangan (keserasian) karena belanja tidak langsung masih mendominasi.578 : 246. Panjang 560.325 12. D.540 Rp 663. Perbandingan yang serasi adalah bila belanja publik lebih besar dan semakin lebih besar dibanding dengan belanja non publik. karena itu belanja tidak langsung tidak perlu diukur kinerjanya. Berdasarkan konsep tersebut maka perbandingan yang serasi adalah bila belanja langsung lebih besar dan semakin lebih besar dibanding belanja tidak langsung.890 1.

Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. Artinya tanpa harus menunggu ditagihnya piutang pajak. Solvabilitas Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan pemda untuk membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo.890 Rasio kas = 10 Kesimpulan: rasio kas menunjukkan perbandingan yang lebih likuid dari rasio lancar.35 Rasio lancar ini menunjukkan perbandingan antara aktiva lancar (di luar persediaan) dengan utang jangka pendek yang besarnya adalah 10.53:1. Pendek Rasio kas = 68. Kondisi ini menunjukkan bahwa kodisi keuangan pemda sangat likuid. 2. pemda mempunyai Rp 10 kas dan setara kas.325 :12. Rasio lancar = (aktiva lancar – persediaan) : utang jk. Rasio kas = kas dan setara kas : utang jk.540) : 6.890 = 51.825 – 1.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1. Rasio solvabilitas = total aktiva : total utang Rasio solvabilitas = 663. Pos persediaan pada neraca pemda umumnya bukan persediaan barang dagang yang ditujukan untuk dijual tetapi untuk digunakan dalam operasi pemerintah atau diserahkan kepada masyarakat. pemda mempunyai Rp 10. Pendek). pemda sudah dapat melunasi utang jangka pendek tsb pada saat ini. Oleh karena itu. Pendek Rasio lancar = (72.935 : 6.46 Kesimpulan: rasio solvabilitas menunjukkan perbandingan antara total Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 107 . Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemda sangat likuid. Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar dan rasio kas (terhadap utang jk.35 aktiva yang sangat lancar. Rasio ini bisa diukur dengan rasio aktiva terhadap utang atau rasio ekuitas dana terhadap utang. Likuiditas Rasio likuiditas mengukur kemampuan pemda untuk membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya. dalam perhitungan rasio lancar sebaiknya pos persediaan tidak diperhitungkan. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. dalam hal ini perbandingan antara kas dengan utang jangka pendek adalah 10 : 1.890 Rasio lancar = 10.

Di pemerintah daerah. Rasio leverage = total ekuitas dana : total utang Rasio leverage = 650.46 aset.46 : 1. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. Rasio leverage selama ini hanya digunakan di sektor perusahaan untuk mengukur komposisi sumber pembiayaan yang berasal dari kreditor dan investor.Analisis Laporan Keuangan Daerah aktiva dengan total utang yang besarnya adalah 51. yang besarnya adalah 50 : 1. 108 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . berarti hal ini menunjukkan tingkat kemandirian yang semakin meningkat pula. Dana alokasi umum masih merupakan sumber pembiayaan yang utama (andalan) bagi pemda-pemda pada umumnya. Leverage Rasio leverage digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemda) dengan total utang. Dana alokasi umum merupakan dana yang berasal dari APBN yang ditransfer ke pemda dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. hal ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan Pemkab Masyarakat Sejahtera sangat solid. 4. Dengan demikian. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemda masih sangat solvable.890 = 50.46 Kesimpulan: rasio leverage menunjukkan perbandingan antara kekayaan bersih (ekuitas dana) dengan utang.435 : 12. rasio ini mungkin belum (tidak) merupakan rasio yang penting sebab tingkat utang daerah yang masih relatif kecil dan syarat penarikan pinjaman daerah menggunakan DSCR dan rasio maksimum pinjaman. akan tetapi sebaiknya mengeluarkan utang PFK dan utang pajak pusat sebab kedua jenis utang tersebut tidak dimaksudkan untuk menambah sumber pendanaan pemda. maka untuk mengukur kemandirian unsur pinjaman tersebut harus diperhitungkan. Kemandirian Rasio kemandirian digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian pemda dalam hal pendanaan aktivitasnya. 3. Bila pinjaman jumlahnya dianggap material. dapat dikatakan bila perbandingan sumber pembiayaan dari PAD terhadap DAU semakin besar. Rasio ini dapat diukur dengan membandingkan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah pinjaman (selain utang PFK dan utang pajak PPn/PPh). pemda mempunyai Rp 51.

340)} Rasio kemandirian = 38.57% E.Analisis Laporan Keuangan Daerah Rasio kemandirian = Realisasi PAD : {DAU + (Utang – Utang PFK – Utang pajak pusat)} Rasio kemandirian = 38.603 : {275.550 – 2. Rangkuman Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: • • • • Belum ada keseragaman.500 = 13.890 – 1. Belum ada standar untuk melakukan penilaian Hasil perhitungannya belum tentu dapat dibandingkan Validitas hasil perhitungannya tergantung pada validitas angka-angka laporan keuangan Beberapa perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah adalah sebagai berikut: • • • • • • • • • Perbandingan Realisasi vs Anggarannya Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu Kemandirian Keuangan Daerah Efektifitas Pendapatan Asli Daerah Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Keserasian Belanja Likuiditas Solvabilitas Leverage Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 109 .500 + (12.603 : 284.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 110 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Kecenderungan
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • Memperoleh pemahaman mengenai pengertian analisis kecenderungan beserta sifat-sifatnya. Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan analisis kecenderungan dengan menggunakan tahun dasar, bergerak, dan menggunakan diagram pencar.

Analisis

Bab 8

A. Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan Analisis kecenderungan (trend) adalah suatu teknik analisis yang mencoba untuk mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahanperubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang. Suatu perubahan tentunya dapat diakibatkan oleh adanya interaksi dari sejumlah faktor (variabel). Apabila faktor-faktor tersebut diperkirakan dapat menyebabkan perubahan terhadap data yang kita analisis, maka dalam hal ini dapat digunakan analisis sebab-akibat. Penggunaan regresi linear sederhana dan regresi berganda merupakan contoh dari analisis sebab-akibat. Sementara itu, apabila kita hanya menyusun suatu model dengan menggunakan hubungan antara variabel tanpa memperhatikan apakah yang satu mempengaruhi yang lain atau tidak, maka kita melakukan analisis kecenderungan sederhana. Dengan demikian, sifat-sifat analisis kecenderungan dapat disimpulkan sebagai berikut : • • Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos (misalnya pos belanja pemeliharaan, pos pendapatan pajak daerah). Membutuhkan data runtut waktu (time series data) selama beberapa tahun sebagai bahan analisis.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

111

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Analisis dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angkaangka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. Pada bagian berikut akan dibahas tiga metode analisis kecenderungan

sederhana, yaitu analisis kecenderungan dengan tahun dasar, analisis kecenderungan bergerak (dari tahun ke tahun), dan analisis kecenderungan dengan diagram pencar. B. Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar Analisis kecenderungan sederhana dimaksudkan hanya untuk mengetahui kecenderungan suatu pos (naik atau turun) dengan membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan, tanpa mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut. Data berikut adalah untuk contoh perhitungan analisis kecenderungan dengan menggunakan tahun dasar.
(dalam jutaan rupiah) Jenis Belanja Belanja Pemeliharaan Gedung Kecenderungan (%) Kenaikan dari tahun dasar Th. 2001 Th. 2002 Th. 2003 Th. 2004 Th. 2005 200 100 220 110 10 245 123 23 260 130 30 270 135 35

Analisis kecenderungan pada contoh di atas menggunakan belanja tahun 2001 sebagai tahun dasar, dengan jumlah belanja sebesar Rp 200 juta. Dengan demikian, indeks belanja pemeliharaan gedung tahun 2001 sampai dengan 2005 dihitung dengan rumus: Belanja tahun n ----------------------------------- X 100% Belanja tahun 2001 Dengan demikian, kita dapat melihat besarnya kenaikan dari tahun ke tahun dengan membandingkan kecenderungan (persentase dari tahun dasarnya) tahun ke (n) dikurangi dengan kecenderungan tahun ke (n-1). Dari perhitungan di atas, dengan melihat kenaikan dari tahun 2002 sampai dengan 2005, maka kita dapat memperkirakan kenaikan tahun 2006, yaitu kurang lebih 40% atau besarnya belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 kira-kira sebesar Rp 280 juta atau 140% X Rp 200 juta.

112

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

C. Analisis Kecenderungan Bergerak Kelemahan dari analisis kecenderungan dengan tahun dasar adalah tidak dapat diketahui secara langsung berapa rata-rata kenaikan per tahunnya. Oleh sebab itu, kita dapat menggunakan analisis kecenderungan bergerak (dari tahun-ke-tahun) untuk mengetahui rata-rata kenaikan per tahun. Misalnya terdapat data tentang Belanja Pemeliharaan Gedung sbb
(dalam jutaan rupiah) Tahun Jumlah Kenaikan Keterangan

2001 200 2002 220 2003 245 2004 260 2005 270 Rata-rata kenaikan per tahun

10% 11,36% 6,12% 3,85% 7,83%

Kenaikan dari th. 2001 Kenaikan dari th. 2002 Kenaikan dari th. 2003 Kenaikan dari th. 2004 Kenaikan dari th. 2005

Analisis kecenderungan perubahan pada contoh tersebut menggunakan tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menghitung perubahan (kenaikan atau penurunan), atau dapat dinyatakan dengan rumus: Belanja tahun n+1 – Belanja tahun n ------------------------------------------------- X 100% Belanja tahun n Teknik analisis ini pada dasarnya sama dengan teknik analisis rasio komparatif hanya di sini melibatkan data beberapa tahun agar diperoleh ratarata kenaikan per tahunnya. Selanjutnya, rata-rata kenaikan per tahun tersebut dapat digunakan untuk mengestimasi kenaikan yang normal untuk tahun berikutnya. Dari contoh tersebut diketahui bahwa kenaikan belanja pemeliharaan gedung berkisar antara 3,85% s.d. 11,36% atau rata2 sebesar 7,83%. Implikasi dari hasil analisis ini adalah bila belanja pemeliharaan gedung yang diusulkan untuk tahun 2006 naik di atas 11,36% (dari belanja th. 2005), maka perlu lebih dicermati, apakah karena faktor inflasi semata, faktor volume pemeliharaan gedung yang meningkat, atau kedua-duanya. Selanjutnya, bila kita menggunakan angka kenaikan rata-rata untuk mengestimasi belanja pemeliharaan gedung tahun 2006, maka diperkirakan belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 adalah sekitar Rp 300 juta, dengan perhitungan: Rp 270 juta x 107,83% = Rp 299,76 juta

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

113

Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar Metode ini dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik. periode 1996 s.750 12. 2005 (dalam jutaan rupiah) Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Pajak daerah 14.062 Maka diagram pencarnya akan nampak seperti di bawah ini. Penggambaran garis kecenderungan dapat dilakukan dengan tangan bebas atau dengan bantuan penggaris.465 37.165 26. 2005 (dalam jutaan rupiah) 40.Analisis Laporan Keuangan Daerah D.145 23.000 20. Berikut ini disajikan data tentang hasil pajak daerah suatu pemda selama 10 tahun terakhir dan langkah-langkah bagaimana menentukan garis kecenderungannya.000 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 114 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Pendapatan Pajak Daerah.730 23.000 10.d.d. Pendapatan Pajak Daerah.000 30.680 28. periode 1996 s.320 11.766 18.245 10.

Y) Dengan jalan observasi atau pengamatan langsung terhadap bentuk scatter plot. biaya sosialisasi dan pemungutan pajak dengan jumlah pendapatan pajak daerah. misalnya antara keadaan ekonomi. Di samping itu. analisis di atas tentunya sangat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan untuk mengevaluasi kinerja satker yang bertanggung jawab atas perolehan pajak daerah. Di samping itu. Dari diagram di atas maka kita dapat memprediksi pendapatan pajak daerah untuk tahun-tahun yang akan datang. Artinya bila ada beberapa orang diminta untuk menarik garis kecenderungan dengan. Dengan membandingkan garis kecenderungan dengan sebaran titik-titik berdasarkan data yang sebenarnya. sebab masing-masing orang mempunyai pilihan sendiri sesuai dengan anggapannya garis mana yang mewakili diagram pencar. Dari data yang tersedia pada contoh di atas. kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. yaitu kumpulan titik-titik koordinat (X. hasil analisis tersebut dapat juga digunakan sebagai bahan untuk membuat kesimpulan audit dan saran-saran perbaikan yang diperlukan oleh manajemen pemerintah daerah. analisis ini dapat juga digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk perencanaan pada tahun-tahun berikutnya. tariklah garis yang kira-kira mendekati (mengikuti) pola dari titik-titik koordinat yang ada. Oleh karena Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 115 . Langkah selanjutnya adalah meneliti mengapa situasi tersebut terjadi. maka kita dapat melihat adanya titik-titik yang ‘tidak mengikuti aturan’ misalnya terlalu jauh dari garis kecenderungan. buat scatter plot. atau kita dapat melakukan analisis hubungan antar variabel. Garis kecenderungan di atas juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya keanehan atau ketidakaturan yang terjadi. Perlu diperhatikan bahwa pembuatan garis kecenderungan sifatnya sangat subyektif. hasil diatas dapat digunakan untuk membuat perencanaan audit dalam menentukan luasnya dan lokasi bukti-bukti yang akan diuji. Bagi pemerintah daerah. maka kemungkinan akan diperoleh garis kecenderungan lebih dari satu.Analisis Laporan Keuangan Daerah Langkah-langkah menentukan garis kecenderungan tersebut di atas adalah sebagai berikut: Buat sumbu tegak Y (yang menunjukkan variable pendapatan pajak daerah) dan sumbu mendatar X (yang menggambarkan tahun anggaran). misalnya Dinas Pendapatan Daerah. Bagi auditor.

230 -4 6 -14 1 11 -890 180 -1. 2005 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Luas Jalan (m2) 50. metode ini tidak dapat memberikan alasan yang kuat secara ilmiah untuk digunakan sebagai alat analisis.350 116 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .250 7.000 55.700 9. X (ribuan) Y (jutaan) X-X x Y-Y y X2 y2 xy 50 60 40 55 65 6.600 313.Analisis Laporan Keuangan Daerah itu.763.230 Dari data diatas.140 xi= 0 yi = 0 2 xi = 370 2 yi = 9. Pada bagian ini akan diberikan ilustrasi analisis hubungan antar dua variabel dengan teknik regresi linier sederhana.080 27.100 3.200 7.320 5.000 65.400 3. menentukan hubungan antara dua variablel (dependen dan independen) tidak mudah dilakukan.700 9.800 xiyi = 55.000 40.000 60.990 Xi = 270 X= 54 Yi = 35. E.d.368. Biaya Pemeliharaan Jalan.090 16 36 196 1 121 32.700 Y = 7. Misalnya terdapat data yang menunjukkan hubungan antara biaya pemeliharaan jalan (Y) dan luas jalan yang diperbaiki (X) di suatu pemda dalam lima tahun terakhir sebagai berikut.560 1.200 7.250 7.320 5.160 560 22.269.000 Biaya (jutaan Rp) 6. kita dapat menentukan hubungan antara X dan Y dengan menghitung koefisien korelasi (r) dan koefisien penentu (r2) serta membuat perkiraan berapa besarnya belanja pemeliharaan pada luas jalan tertentu sebagai berikut. Dalam berbagai situasi. periode 2001 s. Analisis Kecenderungan dengan Hubungan Antar Variabel Terjadinya suatu biaya dan/atau pendapatan tentu ada pemicunya yang lazimnya disebut sebagai variabel independen.600 4.100 792.940 560 2.

= 0.b X = 7.040 juta F.100 = .= -------------.= 150 370 b = --------xi 2 a = Y . Koefisien korelasi ( r ) xiyi = ------------------------------- √ xi2 √ yi2 55. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 117 . (c). Rangkuman Analisis kecenderungan mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahan-perubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang.548 ----------------------------------.350 58. Koefisien penentu (KP) = r2 = (0.800 55.140 – (150 x 54) = 7.350 = 370 x 9. Persamaan regresi linier: Y’ = a + bX xiyi 55.Analisis Laporan Keuangan Daerah a).140 – 8. (b).95 menunjukkan bahwa hubungn X (luas jalan) dan Y (biaya pemeliharaan) sangat kuat dan positif.269.350 = ------------. sedangkan 10% nya disebabkan oleh faktor lain.95 Koefisien korelasi 0.95)2 = 0. bila luas jalan 100 m 2 maka perkiraan belanja pemeliharaan adalah: Y’ = a + bX = -960 + 150 (100) = Rp14.9025 Hal ini menunjukkan bahwa 90% dari perubahan biaya pemeliharaan (Y) dipengaruhi oleh luas jalan (X). Sifat-sifat analisis kecenderungan adalah: • Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos laporan keuangan.960 Dengan demikian.

Sedangkan analisis kecenderungan dengan diagram pencar dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik. tanpa mengidentifikasi variabelvariabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut.Analisis Laporan Keuangan Daerah • • Membutuhkan time series data selama beberapa tahun. Dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. baik dengan tahun dasar maupun dengan bergerak. Analisis kecenderungan sederhana. membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. 118 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Akuntansi Keuangan Daerah. Indra. 2001. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah. Yogyakarta: Penerbit Andi (CV Andi Offset). 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Akuntansi Sektor Publik. edisi 2.Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar Pustaka Bastian. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta Mardiasmo. Mohamad. Akuntansi Sektor Publik. Akuntabilitas dan Good Governance. Peraturan Pemerintah No. 2000. 2005. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah Widodo. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Halim. Purwanugraha. “Analisis Rasio Keuangan pada APBD Kabupaten Boyolali” dalam Abdul Halim. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Mahsun. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2007. Abdul. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. LAN dan BPKP. Akuntansi Keuangan Daerah. Firma Sulistyowati dan Heribertus A. 2007. edisi 3. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 119 . 2007. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. edisi 3.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 120 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful