Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Disusun Oleh: Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 2007

Analisis Laporan Keuangan Daerah Oleh Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan Republik Indonesia Bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA)

Desain sampul dan isi : Tim YPIA

Diterbitkan pertama kali oleh : Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jl. Bintaro Utama Sektor V Bintaro Jaya Tangerang 15223 Indonesia Telp : 021 7361654 - 56 Fax : 021 7361653

Cetakan Pertama : Desember 2007

Buku ini bisa di download bebas melalui Website : www.stan-star.ac.id

Kata

Sambutan

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah pada tahun 2007 ini Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipercaya oleh Asian Development Bank (ADB) untuk melaksanakan salah satu kegiatan reformasi birokrasi yakni penyusunan program pelatihan auditor internal non-gelar bagi Inspektorat di daerah. Hal ini didasarkan pada tekad pemerintah untuk melakukan reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka good governance mencakup reformasi audit pemerintahan daerah. Dalam hubungan ini, pemerintah telah menetapkan proyek yang disebut dengan State Audit Reform Sector Development Project (STAR-SDP). Pelaksanaan STAR-SDP mendapat dukungan pendanaan yang berasal dari Asian Development Bank (ADB) dan pemerintah Belanda. Sejalan dengan tekad untuk menyukseskan penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah juga menetapkan bahwa STAR-SDP mencakup proyek peningkatan kuantitas dan kualitas auditor di lingkungan pemerintah daerah melalui program pendidikan jangka pendek (non-gelar). Proyek pendidikan non-gelar bagi auditor inspektorat daerah ini diserahkan kepada STAN – Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan RI dan pelaksanaannya harus melibatkan konsultan independen serta didukung oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Modul ini merupakan bagian dari kegiatan STAR-SDP tersebut yang dikhususkan bagi auditor inspektorat daerah. Semoga modul ini bermanfaat bagi para auditor inspektorat daerah dan para instruktur pelatihan audit internal sektor publik serta pihak lain yang tertarik untuk mendalami audit internal sektor publik. Selaku pimpinan STAN saya sangat bangga dengan kegiatan ini dan peningkatan yang telah dicapai khususnya dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur negara, namun tidak cukup sampai di sini, kita harus dapat mencapai kinerja yang lebih baik di masa mendatang.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Semoga di tahun-tahun mendatang kita tetap meningkatkan kinerja.Akhirnya pada kesempatan ini.D Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . atas nama Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang penuh dedikasi telah bekerja keras dalam pembuatan modul ini dan juga pihak BAPPENAS serta Tim Teknis STAR-SDP STAN yang telah mendukung dengan kemampuan profesionalisme sehingga proyek ini dapat berhasil dengan baik. Suyono Salamun. Ph.

........ Akuntabilitas dan Transparansi................................................................................... Pendahuluan....................... 19 B........................................... Pengguna Laporan Keuangan............................................ 29 C.................................................................... 61 F....................................... 67 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik i ............. Rangkuman........... Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan......................................... Neraca........................................................................................... Catatan atas Laporan Keuangan........... 01 B....................................................... Rangkuman............. 17 Bab 2 Sekilas Pengelolaan Keuangan Daerah........................................... 13 H................ 05 D................... Pengantar .................................... 19 A....... 64 Bagian II DASAR-DASAR ANALISIS LAPORAN KEUANGAN Bab 4 Konsep Analisis Laporan Keuangan........................................................ 01 A............... 21 D............ Laporan Arus Kas........... Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan.......................................... 25 B............................................................ 03 C.............................................................Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar Isi i Daftar Isi... 38 D.......................................... Penyusunan Laporan Keuangan........... Daftar Istilah.................................................... Rangkuman................ Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan....... 07 E................................... Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan.................................. 16 I.48 E................ iii Bagian I LAPORAN KEUANGAN PEMDA Bab 1 Pelaporan Keuangan................................. Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah.......................... 24 Bab 3 Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD........................ Laporan Realisasi Anggaran................................................................................................ 11 G......................... 10 F.. Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah.............. Ruang Lingkup Keuangan Daerah............................ 25 A............................ Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan...... 67 A.................................... 20 C.....................

................ 106 E............ 71 Bab 5 Analisis Laporan Keuangan Pemerintah...................................................................................... Perbandingan Pos APBD............................. 111 A....Analisis Laporan Keuangan Daerah B.... Kondisi Saat Ini. 80 C................................... 88 F............................................... Laporan Realisasi APBD dan Neraca.......... 76 Bagian III ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PEMDA Bab 6 Analisis Hubungan............................... Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan.................................................................................................. Rangkuman.......................... Pengertian Analisis Laporan Keuangan.................................... Laporan Realisasi APBD. 95 B............ 68 C....... Analisis Kecenderungan dengan Hubungan antar Variabel.. 111 B... Rangkuman........................................................................... 114 E................... Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan.......................................................... 112 C............................... 79 A........................... 99 D. 75 D..................................... Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah.... 96 C........................... Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan.......................................................... Rangkuman........ Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar................................. Jenis-jenis Perbandingan............... 109 Bab 8 Analisis Kecenderungan........................ Laporan Arus Kas............... Realisasi APBD........................................... Neraca............................................................................................. 113 D.......... 117 Daftar Pustaka......... 95 A................. Perbandingan Pos Neraca..................................................................... Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah.................... Pendahuluan..... dan Neraca......... 93 Bab 7 Analisis Perbandingan....................................................... Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar.... Rangkuman.................................................................... Analisis Kecenderungan Bergerak....................... 116 F............... 74 C....................................................... 73 B.. 87 E................................................... 119 ii Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik ..... Rangkuman...................................... 79 B............... 73 A..... 83 D.......................................... 70 D...........

dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Bendahara Umum Daerah (BUD) adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. 2. 3. 6. 8. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan perubahan anggaran oleh pengguna anggaran. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran. 5.Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar 1. 4. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD) adalah dokumen yang memuat pendapatan. 7. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik iii . Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD (DPPA-SKPD) adalah dokumen yang memuat perubahan pendapatan. Istilah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan.

Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD) adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. 10. 16. 13. 17. 11.Analisis Laporan Keuangan Daerah 9. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah (Kepala SKPKD) yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. 12. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau Iebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. 15. Kepala Daerah adalah gubemur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota. iv Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 14. Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik v . pelaporan. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pemerintah Daerah adalah gubernur.Analisis Laporan Keuangan Daerah 18. penatausahaan. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. 23. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. 26. Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. 24. 22. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan. dan/atau walikota. dan pengawasan keuangan daerah. Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. 20. 19. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. bupati. 21. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. 25. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan. pelaksanaan. pertanggungjawaban.

Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. PPKD dan pejabat Iainnya sesuai dengan kebutuhan.Analisis Laporan Keuangan Daerah 27. vi Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. 29. Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah. 28. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.

pasti secara rutin mengikuti (baik secara langsung maupun tidak langsung) bagaimana proses yang dilakukan oleh Ketua RT dan perangkatnya dalam merencanakan suatu kegiatan di lingkungan RT. Pengantar Dalam kehidupan sehari-hari. Kemudian.Analisis Laporan Keuangan Daerah Pelaporan Keuangan Bab 1 Setelah mempelajari bab ini. diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah. Maka. Selanjutnya. dan ketua-ketua seksi) mengenai apa dan bagaimana kira-kira bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan berapa dana yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. bendahara. rencana kegiatan yang sudah disetujui dalam rapat warga tersebut akan menjadi dasar bagi Ketua RT dalam menyelenggarakan kegiatan perayaan HUT Kemerdekaan RI tersebut. A. pertama kali Ketua RT akan membicarakannya dengan perangkatnya (sekretaris. Dengan rangkaian kegiatan yang sudah terjadual rapi dan dengan dukungan sejumlah dana yang sudah terkumpul sesuai dengan yang Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 01 . Memperoleh pemahaman mengenai karakteristik kualitatif dan kelompok pengguna laporan keuangan daerah. masing-masing dari kita yang merupakan unsur terkecil dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat di lingkungan Rukun Tetangga (RT) / Rukun Warga (RW). asumsi dasar. dan prinsipprinsip pelaporan keuangan daerah. Ambil contoh misalnya kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI. termasuk berapa dana yang bisa dipakai dari kas RT dan berapa yang perlu dimintakan sumbangan dari warganya. usulan yang masih ‘mentah’ tersebut akan ‘dimatangkan’ melalui pembahasan dalam rapat warga. Memperoleh pemahaman mengenai tujuan.

segala kegiatan berjalan dengan tertib-amanlancar dan acara klimaksnya pun sukses! Apakah sudah selesai ceritanya? Ya. Pembelian Hadiah Lomba dan Pertandingan* 4.000 650. betul. dengan data rincian masingmasing.000 900. warga akan melihat kewajaran angka-angka global dari jumlah penerimaan dan pengeluaran.000 250. yaitu pertanggungjawaban. Pelaksanaan Lomba Anak-anak* 2.500.000) 350. seluruh warga RT menerima laporan pertangungjawaban yang ditandatangani oleh Ketua Panitia dan Ketua RT sebagai berikut. Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-X Rp A Penerimaan: 1. Penyelenggaraan Malam Puncak* C D Defisit (= A .000 (350.000 1.000 1. kemudian lebih jauh mencocokkan. Setelah berlalu sepekan sejak puncak acara peringatan hari kemerdekaan RI yang terhitung sukses itu. Iuran Warga* 2. pertandingan olahraga bagi orang dewasa.000 500. Pertama kali. sampai dengan puncak acara yaitu malam pembagian hadiah yang dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan musik dan tari. atau tepatnya melakukan penilaian. dalam membaca laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh Panitia Pelaksana dan Ketua RT tersebut.000 200. selesai tahap pelaksanaan kegiatannya. atau tepatnya menganalisis dan memverifikasi. Singkat cerita.B) Ditutup dari Kas RT * Masing-masing dilampiri dengan rinciannya 150. Mulai perlombaan anak-anak. namun tahap berikutnya harus dilakukan oleh Ketua RT.Analisis Laporan Keuangan Daerah direncanakan. warga akan melihat. atas keakuratan dari laporan tersebut. 02 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Sumbangan dari RW B Pengeluaran: 1.000 Pada umumnya.150. Pelaksanaan Pertandingan OlahRaga* 3. maka di lingkungan RT tersebut dapat diselenggarakan seluruh acara peringatan hari kemerdekaan RI.

maka warga sebagai pengguna laporan tersebut perlu melakukan analisis atas ketepatan atau keakuratannya. Kemudian. yang setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran. Salah satu informasi yang dibutuhkan oleh publik adalah informasi mengenai pengelolaan keuangan negara/daerah dalam bentuk laporan keuangan. kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai seluk-beluk analisis laporan keuangan Pemerintah Daerah. 2000). tetapi juga harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan yang dilakukannya. Akuntabilitas dan Transparansi Tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik menimbulkan implikasi bagi manajemen pemerintahan (sektor publik) untuk memberikan informasi kepada publik. maka secara garis besar modul ini akan diawali dengan pembahasan mengenai halhal yang berkaitan dengan laporan apa saja yang harus disajikan dan disampaikan oleh Pemerintah Daerah (sebagai wujud dari pertanggungjawaban atas realisasi pengelolaan anggarannya). terutama di bidang administrasi keuangan. Dari contoh kecil tersebut di atas kita bisa melihat perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana atau anggaran. dan Catatan atas Laporan Keuangan. dengan mengambil contoh dari lingkup organisasi terkecil yang sangat dekat dengan keseharian kita. B. terhadap laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh pengelola dana. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 03 . Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sejak berlakunya UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Neraca. Akuntabilitas Dari sudut pandang pengendalian tindakan pada pencapaian tujuan. akuntabilitas mengandung arti kewajiban untuk menyajikan dan melaporkan segala tindak-tanduk dan kegiatan seseorang atau lembaga.Analisis Laporan Keuangan Daerah Dari pengantar di atas. Dalam konteks pemerintahan. Sejalan dengan jiwa yang terkandung dalam cerita kecil di atas. yang merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan pemerintahan yang baik. kepada pihak yang lebih tinggi atau atasannya (LAN dan BPKP. Laporan Arus Kas. dapat kita ambil pelajaran bahwa pengelola dana tidak saja melaksanakan kegiatan melalui realisasi dana sesuai yang direncanakan. akuntabilitas mempunyai arti pertanggungjawaban. maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya dalam bentuk Laporan Keuangan.

Dari ketentuan peraturan perundang-undangan sebelumnya. Hal ini terlihat dari upaya dalam mengatasi kelemahan-kelemahan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah sebelumnya. Kedua. Pertama. transparansi mengandung arti penyajian laporan keuangan yang terbuka. penyimpanan. 04 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . yang hanya mengharuskan penyampaian laporan pertanggungjawaban dalam bentuk perhitungan anggaran. yang wajib dilaksanakan oleh setiap Pengguna Anggaran dan kuasa Pengguna Anggaran serta pengelola Bendahara Umum Daerah. Dengan demikian. maka setiap Pemerintah Daerah perlu menyelenggarakan sistem akuntansi untuk lingkungan pemerintah daerahnya yang pedomannya ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. dan pengeluaran uang oleh pengelola keuangan daerah. sejak diberlakukannya paket peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara. Ketiga. selain muatan informasinya terbatas. informasi keuangan yang disajikan dalam perhitungan anggaran kurang dapat diandalkan karena sistem akuntansi yang diselenggarakan belum didasarkan pada standar akuntansi dan tidak didukung oleh perangkat data dan proses yang memadai. perkembangan paket peraturan perundangundangan di bidang keuangan negara menunjukkan adanya upaya dalam meningkatkan keterbukaan informasi. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa Laporan Keuangan dimaksud harus disusun berdasarkan proses akuntansi. Sehubungan dengan hal tersebut. paling tidak terdapat beberapa kelemahan berikut ini. Sebagaimana kita ketahui. Transparansi Dalam hubungannya dengan akuntabilitas keuangan. terutama mengenai informasi penerimaan. bila kita bandingkan bentuk laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah yang berlaku saat ini dengan periode sebelumnya. proses penyampaiannya kepada legislatif sangat lambat.Analisis Laporan Keuangan Daerah Selanjutnya. Dengan kata lain. dapat kita lihat bahwa cakupan informasi dalam laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah menjadi lebih luas namun penyampaiannya tidak terlambat. laporan perhitungan anggaran hanya menginformasikan aliran kas pada APBD sesuai dengan format anggaran yang disahkan oleh DPRD. terdapat upaya nyata dalam mewujudkan akuntabilitas dan transparansi di lingkungan pemerintah. tanpa menyertakan informasi tentang posisi kekayaan dan kewajiban pemerintah.

menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003. Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan Unit pemerintahan Pengguna Anggaran yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan disebut sebagai Entitas Akuntansi. Dengan demikian. Bendahara Umum Daerah dan setiap Pengguna Anggaran di lingkungan pemerintah daerah merupakan Entitas Akuntansi. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 05 . pada rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah disertakan atau dilampirkan informasi tambahan mengenai kinerja instansi pemerintah. Pemeriksaan BPK dimaksud adalah dalam rangka pemberian pendapat (opini) sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. C.Analisis Laporan Keuangan Daerah Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 juga disebutkan bahwa laporan keuangan pemerintah harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelum disampaikan kepada pihak legislatif sesuai dengan kewenangannya. Laporan Keuangan yang telah diaudit dan telah diperbaiki itulah yang selanjutnya diusulkan oleh Pemerintah Daerah dalam suatu rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah untuk dibahas dengan dan disetujui oleh DPRD. perlu disusun suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang terintegrasi dengan sistem perencanaan strategis. Selain itu. sistem penganggaran. dan Sistem Akuntansi Pemerintahan. yakni prestasi yang berhasil dicapai oleh Pengguna Anggaran sehubungan dengan anggaran yang telah digunakan. Jadi. laporan keuangan yang disajikan oleh Entitas Pelaporan merupakan gabungan dari laporan keuangan beberapa Entitas Akuntansi. Disebutkan bahwa pengungkapan informasi tentang kinerja tersebut adalah relevan dengan perubahan paradigma penganggaran pemerintah yang ditetapkan dengan mengidentifikasikan secara jelas keluaran (outputs) dari setiap kegiatan dan hasil (outcomes) dari setiap program. Laporan Keuangan tersebut setelah diaudit oleh BPK perlu disesuaikan berdasarkan temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Entitas Pelaporan Unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang berkewajiban menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan disebut sebagai Entitas Pelaporan.

tugas dan misi tertentu. setiap pejabat yang menyajikan Laporan Keuangan diharuskan memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan Keuangan yang bersangkutan. dengan bentuk pertanggungjawaban dan wewenang yang terpisah dari entitas pelaporan lainnya. Pernyataan Tanggung Jawab Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan anggaran dan perbendaharaan. pengendalian. yaitu sistem sentralisasi dan desentralisasi pelaporan keuangan pemerintah daerah. Di bawah ini adalah contoh dari pernyataan tanggung jawab. Namun. Berkaitan dengan entitas pelaporan tersebut. Halim (2007) menyebutkan bahwa pada ketentuan terdahulu terdapat dua pilihan bagi pemerintah daerah dalam menentukan entitas pelaporan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Disebutkan bahwa dalam penetapan entitas pelaporan. saat ini pemerintah daerah diwajibkan menggunakan sistem desentralisasi dalam pelaporan keuangannya. yang ditandatangani oleh gubernur/bupati/walikota/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah. Gubernur/bupati/walikota/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah harus secara jelas menyatakan bahwa Laporan Keuangan telah disusun berdasarkan Sistem Pengendalian Intern yang memadai dan informasi yang dimuat dalam Laporan Keuangan telah disajikan sesuai dengan SAP. dan bagian keuangan akan menggabungkan atau mengkonsolidasikan laporan keuangan semua satuan kerja (termasuk bagian keuangan itu sendiri) untuk disusun menjadi laporan keuangan pemerintah daerah secara keseluruhan. yurisdiksi. sehingga baik satuan kerja maupun bagian keuangan pemerintah daerah melaksanakan akuntansi. 06 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . yang merupakan Lampiran VI-A Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006. perlu dipertimbangkan syarat pengelolaan. dan penguasaan suatu entitas pelaporan terhadap aset. Satuan kerja melaksanakan akuntansi terhadap transaksi ekonomi (dan menghasilkan laporan keuangan) yang terjadi pada bagiannya.

.) Untuk meningkatkan keandalan Laporan Keuangan dan Kinerja.. Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/ Bupati/Walikota/Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah …….. D.......... Tahun Anggaran ………..... transfer..... Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai........................ sebagaimana terlampir adalah merupakan tanggung jawab kami..... Laporan keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi (pendapatan............ Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan Laporan keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan... ...... (.... dan pembiayaan) dengan anggaran yang telah ditetapkan.. dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. ………...... Aparat Pengawas Intern Pemerintah pada pemerintah daerah melakukan reviu atas Laporan Keuangan dan Kinerja dalam rangka meyakinkan keandalan informasi yang disajikan sebelum disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada pihak-pihak terkait..Analisis Laporan Keuangan Daerah Pernyataan Tanggung Jawab Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga/Pemerintah Daerah/Satuan Kerja Perangkat Daerah ………………............... Dalam Sistem Pengendalian Intern ini harus diciptakan prosedur rekonsiliasi antara data transaksi keuangan yang diakuntansikan oleh Pengguna Anggaran/kuasa Pengguna Anggaran dengan data transaksi keuangan yang diakuntansikan oleh Bendahara Umum Daerah.... belanja....... menilai kondisi Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 07 .. Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan......... setiap Entitas Pelaporan dan Akuntansi wajib menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait.......

l) Merupakan sumber informasi bagi berbagai kelompok kepentingan yang ingin mengetahui organisasi secara lebih dalam. j) Sebagai alat komunikasi dan media untuk menyatakan prestasi yang telah dicapai oleh organisasi. khususnya pemerintah daerah sesuai dengan pembahasan kita. tetapi juga meliputi laporan-laporan lain yang diperlukan. e) Perencanaan dan informasi otorisasi f) Memberikan dasar perencanaan kebijakan dan aktivitas di masa yang akan datang serta memberikan informasi pendukung mengenai otorisasi penggunaan dana. yaitu: a) Kepatuhan dan pengelolaan b) Memberikan jaminan kepada pengguna dan penguasa bahwa pengelolaan sumber daya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku. mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan. c) Akuntabilitas dan pelaporan restropektif d) Bentuk pertanggungjawaban kepada publik dan sebagai alat untuk memonitor dan menilai efisiensi kinerja.Analisis Laporan Keuangan Daerah keuangan. 08 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . g) Kelangsungan organisasi. Public Sector Committee IFAC (1996) menyebutkan tujuan pelaporan keuangan sektor publik secara umum adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat dan memenuhi kebutuhan pengguna. c) Menyediakan informasi tentang cara pemerintah daerah membiayai aktivitas dan memenuhi kebutuhan kasnya. yang memungkinkan pihak eksternal untuk menilai efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya. Mahsun (2007) menyebutkan beberapa tujuan pelaporan keuangan sektor publik. dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundangundangan. b) Menyediakan informasi tentang sumber daya keuangan dan penggunaannya. Lebih lanjut disebutkan bahwa tujuan pelaporan keuangan sektor publik. adalah sebagai berikut : a) Mengidentifikasi sumber daya yang didapat dan digunakan sesuai dengan anggaran yang telah disetujui oleh DPRD. k) Sumber fakta dan gambaran. h) Membantu para pengguna laporan untuk menentukan apakah suatu organisasi atau unit kerja dapat melangsungkan usahanya. i) Hubungan masyarakat. Pelaporan keuangan tidak hanya meliputi komponen laporan keuangan.

secara sistematis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan. (b) Manajemen Membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan. Pelaporan keuangan pemerintah menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna laporan dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan. (c) Transparansi Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan. untuk kepentingan: (a) Akuntabilitas Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik. Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan menyebutkan bahwa setiap entitas pelaporan mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan. (d) Keseimbangan Antar generasi Membantu para pengguna dalam mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut. sosial. baik keputusan ekonomi. maupun politik dengan: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 09 .Analisis Laporan Keuangan Daerah d) Menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan manajemen dalam membiayai aktivitasnya dan memenuhi kewajibannya. e) Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan dan kinerja pemerintah daerah. kewajiban. terutama yang berkaitan dengan efisiensi biaya operasi dan pencapaian target. pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset. dan ekuitas dana pemerintah untuk kepentingan masyarakat. sehingga memudahkan fungsi perencanaan.

Analisis Laporan Keuangan Daerah (a) Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran. laporan keuangan menyediakan informasi mengenai pendapatan. pembiayaan. yang merupakan bentuk pertanggungjawaban pemerintah daerah. dana cadangan. (f) Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan. ekuitas dana. E. (b) Asumsi kesinambungan entitas. (d) Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya. baik jangka pendek maupun jangka panjang. aset. (e) Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya. sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan. belanja. dibahas dalam bagian tersendiri. apakah mengalami kenaikan atau penurunan. Kemandirian Entitas Asumsi kemandirian entitas. (b) Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan. (c) Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai. baik entitas pelaporan maupun akuntansi. Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut. berarti bahwa setiap unit organisasi dianggap sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit instansi pemerintah dalam pelaporan keuangan. kewajiban. dan arus kas suatu entitas pelaporan. dan (c) Asumsi keterukuran dalam satuan uang. Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan Asumsi dasar dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan agar standar akuntansi dapat diterapkan. Salah satu indikasi terpenuhinya asumsi ini adalah adanya kewenangan entitas untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan tanggung jawab 10 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Lebih lanjut mengenai laporan keuangan. termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman. transfer. yang terdiri dari : (a) Asumsi kemandirian entitas.

serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Dengan demikian. Relevan Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini. dan memprediksi masa depan. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki: (a) Relevan. Hal ini diperlukan agar memungkinkan dilakukannya analisis dan pengukuran dalam akuntansi. informasi laporan keuangan yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Kesinambungan Entitas Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan akan berlanjut keberadaannya. Entitas bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan sumber daya di luar neraca untuk kepentingan yurisdiksi tugas pokoknya. dan (d) Dapat dipahami. Dengan demikian. Informasi yang relevan adalah informasi yang memenuhi karakteristik berikut: (a) Memiliki manfaat umpan balik (feedback value) Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu. (c) Dapat dibandingkan. termasuk atas kehilangan atau kerusakan aset dan sumber daya dimaksud. F. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 11 . (b) Andal. utang-piutang yang terjadi akibat putusan entitas. Keterukuran dalam Satuan Uang Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan yang diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang. pemerintah diasumsikan tidak bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan dalam jangka pendek. serta terlaksana tidaknya program yang telah ditetapkan.Analisis Laporan Keuangan Daerah penuh.

Dapat Dibandingkan Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya. hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh. menyajikan setiap fakta secara jujur. yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda. Informasi mungkin relevan. (c) Tepat waktu Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan. Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. Andal Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material. Informasi yang andal memenuhi karakteristik sebagai berikut: (a) Penyajian Jujur Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. serta dapat diverifikasi. (d) Lengkap Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin.Analisis Laporan Keuangan Daerah (b) Memiliki manfaat prediktif (predictive value) Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini. (b) Dapat Diverifikasi Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji. (c) Netralitas Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan 12 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Informasi yang melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat dicegah.

pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi entitas pelaporan. perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan. Apabila entitas pemerintah akan menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan. Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada penilaian yang lain karena lebih obyektif dan dapat diverifikasi. serta oleh pengguna laporan keuangan dalam memahami laporan keuangan yang disajikan. Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. Dapat Dipahami Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna. dapat digunakan nilai wajar aset atau kewajiban terkait. (f) Prinsip pengungkapan lengkap. dan (g) Prinsip penyajian wajar.Analisis Laporan Keuangan Daerah kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. (d) Prinsip periodisitas. Untuk itu. Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan Prinsip pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai ketentuan yang dipahami dan ditaati oleh penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan dalam melakukan kegiatannya. Berikut ini prinsip-prinsip yang digunakan dalam pelaporan keuangan pemerintah: (a) Prinsip nilai historis. serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari informasi yang dimaksud. (e) Prinsip konsistensi. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 13 . (b) Prinsip realisasi. (c) Prinsip substansi mengungguli bentuk formal. Nilai Historis Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. Dalam hal tidak terdapat nilai historis. G. Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di masa yang akan datang dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Realisasi Bagi pemerintah. Prinsip merpertandingkan biaya-pendapatan dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaimana dipraktekkan dalam akuntansi komersial. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik dibanding metode lama. 14 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat ditempatkan pada halaman depan laporan keuangan atau pada Catatan atas Laporan Keuangan. maka hal tersebut harus diungkapkan dengan jelas dalam Catatan atas Laporan Keuangan. dan bukan hanya aspek formalitasnya. periode bulanan. Periodisitas Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat di ukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan. Konsistensi Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari periode ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal). maka transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi. Periode utama yang digunakan adalah tahunan. Substansi Mengungguli Bentuk Formal Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan. triwulanan. pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah selama suatu tahun fiskal akan digunakan untuk membayar hutang dan belanja dalam periode tersebut. Namun. dan semesteran juga dianjurkan. Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya. Pengungkapan Lengkap Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain.

Neraca. Ketidakpastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan. dan ekuitas dalam Neraca. dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset. kewajiban. atau pada saat kejadian Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 15 . dan Catatan atas Laporan Keuangan. Faktor pertimbangan sehat bagi penyusun laporan keuangan diperlukan ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu. Namun demikian. belanja. penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan. Basis Akuntansi Selain prinsip-prinsip pelaporan keuangan tersebut di atas. Entitas pelaporan tidak menggunakan istilah laba. dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah. pembentukan cadangan tersembunyi. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan. Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset. yaitu masalah penggunaan basis akuntansi. Laporan Arus Kas.Analisis Laporan Keuangan Daerah Penyajian Wajar Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran. Penentuan sisa pembiayaan anggaran (baik lebih atau kurang) untuk setiap periode tergantung pada selisih realisasi penerimaan dan pengeluaran. Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan. Pendapatan dan belanja bukan tunai seperti bantuan pihak luar asing dalam bentuk barang dan jasa disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran. terdapat satu hal penting yang harus diperhatikan dalam pelaporan keuangan. kewajiban. atau sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi. sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang terlampau rendah. dan belanja diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. misalnya. sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal.

Untuk menyederhanakan dan menyamakan persepsi tentang kelompok pengguna laporan keuangan ini. maupun dalam pengakuan aset. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bertujuan umum untuk memenuhi kebutuhan informasi dari semua kelompok pengguna. Namun demikian. dan konstituen (Mardiasmo. namun tidak terbatas. Entitas pelaporan yang menyajikan Laporan Kinerja Keuangan menyelenggarakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan dengan menggunakan sepenuhnya basis akrual. Pengelompokan yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Bastian (2001) yaitu: legislatif dan manajemen pemerintah. kewajiban. maka ketentuan laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan informasi para pembayar pajak perlu mendapat perhatian. dan (d) pemerintah. penyedia sumber daya. institusi internasional. belanja. masyarakat. lembaga pengawas. Pengguna Laporan Keuangan Kelompok pengguna laporan keuangan pemerintah meliputi: lembaga pemerintah. (b) para wakil rakyat. baik dalam pengakuan pendapatan. 16 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dan aparat pemerintah. kita gunakan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan sebagai acuan. berhubung pajak merupakan sumber utama pendapatan pemerintah. (c) pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi. badan pengawas.Analisis Laporan Keuangan Daerah atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah. H. investor dan kreditor. investor dan kreditor. dan pinjaman. 2007). yang menyebutkan kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah. investasi. pengamat. yaitu: (a) masyarakat. dan lembaga pemeriksa. dan pembiayaan. penyajian Laporan Realisasi Anggaran tetap berdasarkan basis kas. Namun demikian. tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. Dengan demikian laporan keuangan pemerintah tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari masing-masing kelompok pengguna. dan ekuitas dana.

Setelah disesuaikan berdasarkan temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan dilampiri informasi mengenai kinerja instansi pemerintah. Rangkuman Sejalan dengan tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik. Neraca. substansi mengungguli bentuk formal. periodisitas. kemudian diusulkan oleh Pemerintah Daerah untuk dibahas dengan dan disetujui oleh DPRD. Karakteristik kualitatif: relevan. andal. dan keterukuran dalam satuan uang. yang diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan. dan dapat dipahami. dan prinsip-prinsip dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah sebagai berikut: • • • Asumsi dasar: kemandirian entitas. Selain legislatif. realisasi. pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi. Laporan keuangan (sebagai laporan pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan daerah) meliputi: Laporan Realisasi Anggaran. dan penyajian wajar. laporan keuangan harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). dan Catatan atas Laporan Keuangan. Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan anggaran dan perbendaharaan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 17 . konsistensi. lembaga pengawas. Asumsi dasar. pengguna laporan keuangan pemerintah daerah adalah masyarakat. dapat dibandingkan. Prinsip-prinsip: nilai historis. dan pinjaman. lembaga pemeriksa. Sebelum disampaikan kepada DPRD. pengungkapan lengkap. investasi. setiap pejabat yang menyajikan Laporan Keuangan diharuskan memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan Keuangan yang bersangkutan. kesinambungan entitas.Analisis Laporan Keuangan Daerah I. karakteristik kualitatif. maka manajemen pemerintahan daerah (sektor publik) harus memberikan informasi kepada publik mengenai pengelolaan keuangan daerah. Laporan Arus Kas.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 18 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Keuangan Daerah
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai ruang lingkup keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai azas umum pengelolaan keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai hirarki perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terkait dalam pengelolaan keuangan daerah.

Sekilas Pengelolaan

Bab 2

A. Ruang Lingkup Keuangan Daerah Sebelum membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pengelolaan keuangan daerah, terlebih dahulu ada baiknya bila kita bahas sekilas tentang pengelolaan keuangan daerah. Pada bab ini memang dimaksudkan hanya mereviu sekilas (dengan rujukan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah), karena pembahasan selengkapnya ada pada modul tersendiri dengan judul Pengantar Keuangan Daerah. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut dijelaskan bahwa ruang lingkup keuangan daerah meliputi: a. hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman; b. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga; c. penerimaan daerah; d. pengeluaran daerah; e. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah; dan f. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

19

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

B. Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah Keuangan daerah dikelola dengan berdasarkan azas umum: tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Tertib Secara tertib adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan bukti-bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Taat Peraturan Taat pada peraturan perundang-undangan adalah bahwa pengelolaan keuangan daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Efektif Efektif merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil. Efisien Efisien merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu. Ekonomis Ekonomis merupakan pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terendah. Transparan Transparan merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang keuangan daerah. Bertanggung jawab Bertanggung jawab merupakan perwujudan kewajiban seseorang untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

20

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Keadilan Keadilan adalah keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya dan/atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan yang obyektif. Kepatutan Kepatutan adalah tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar dan proporsional. Manfaat Manfaat untuk masyarakat adalah bahwa keuangan daerah diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. C. Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah adalah kepala daerah, yang oleh karenanya mempunyai wewenang untuk: a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD; b. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah; c. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang; d. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran; e. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah; f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah; g. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah; dan h. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. Melalui keputusan kepala daerah, kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dapat melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: a. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah; b. kepala SKPKD selaku PPKD; dan c. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah, berkaitan dengan peran dan fungsinya dalam membantu kepala daerah, menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

21

d. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD. melaksanakan pemungutan pajak daerah. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. c. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. dan f. d. e. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah. memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. perubahan APBD. b. b. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. sekretaris daerah mempunyai tugas: a. e. PPKD. menetapkan SPD. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.Analisis Laporan Keuangan Daerah Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah dan mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. f. tugas-tugas pejabat perencana daerah. c. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. d. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. Selain mempunyai tugas koordinasi sebagaimana tersebut di atas. e. memimpin TAPD. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. c. dan pejabat pengawas keuangan daerah. c. e. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah Kepala SKPKD selaku PPKD mempunyai tugas: a. penyusunan Raperda APBD. d. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD. melaksanakan fungsi BUD. 22 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dan f. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD mempunyai wewenang: a. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. b. b.

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

g. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah; h. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah; i. menyajikan informasi keuangan daerah; dan j. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah, dan selaku BUD dapat menunjuk pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang mempunyai tugas: a. menyusun RKA-SKPD; b. menyusun DPA-SKPD; c. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja; d. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya; e. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran; f. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak; g. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan; h. menandatangani SPM; i. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; j. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; k. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya; l. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya; m. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan n. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dalam melaksanakan tugas-tugasnya dapat melimpahkan sebagian kewenangannya (ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD) kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

23

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Selain itu, pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK (dalam pelaksanakan program dan kegiatan). Sedangkan untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD, kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD

D. Rangkuman Sebagaimana yang dinyatakan dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, ruang lingkup keuangan daerah meliputi: (a) hak daerah untuk memungut pajak dan retribusi daerah, (b) kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga, (c) penerimaan dan pengeluaran daerah, (d) kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah, dan (e) kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum, Adapun azas umum pengelolaan keuangan daerah adalah: tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Hirarki perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terkait dengan pengelolaan keuangan daerah adalah: • • • • Kepala daerah – pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah; Sekretaris daerah – koordinator pengelolaan keuangan daerah Kepala SKPKD – pengguna anggaran/barang, yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Kepala SKPD – pengguna anggaran/barang daerah.

24

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Pelaksanaan APBD
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai bentuk laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pengelolaan keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai proses penyusunan laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah. Memperoleh pemahaman mengenai proses persetujuan laporan keuangan daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Laporan Pertanggungjawaban

Bab 3

A. Penyusunan Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan: a). menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah; b). menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah; c). menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi; d). menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya;

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

25

d. serta risiko dan ketidakpastian yang terkait. laporan keuangan menyediakan informasi mengenai entitas pelaporan dalam hal: a. menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya. g). g. Laporan Realisasi Anggaran. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh SKPD selaku pengguna anggaran adalah: a. dan c. e. menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya. f. c. indikasi apakah sumber daya telah diperoleh dan digunakan sesuai dengan anggaran dan b). sumber daya yang dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan. menyediakan informasi yang berguna untuk memprediksi besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan. kewajiban. belanja. indikasi apakah sumber daya diperoleh dan digunakan sesuai dengan ketentuan. Laporan Keuangan SKPD Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan APBD pada Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan. ekuitas dana.Analisis Laporan Keuangan Daerah e). pendapatan. b. Pelaporan keuangan juga menyajikan informasi bagi pengguna mengenai: a). Untuk memenuhi tujuan umum ini. 26 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . pembiayaan. aset. dan h. Neraca. termasuk batas anggaran yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. f). Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan keuangan untuk tujuan umum juga mempunyai peranan prediktif dan prospektif. b. arus kas. transfer. menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.

Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku Pengguna Anggaran harus menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya kepada gubernur/bupati/walikota. Catatan atas Laporan Keuangan. Laporan Keuangan PPKD Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah. Laporan Keuangan Pemda Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut. dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. c. b. Laporan Realisasi Anggaran. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 27 . b. dan d. Neraca. dan d. laporan keuangan pemerintah daerah ini disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambatlambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/ bupati/walikota selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan pemerintah daerah yang terdiri dari: a. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh PPKD selaku Bendahara Umum Daerah adalah: a. Catatan atas Laporan Keuangan. Selanjutnya. Neraca. Laporan Realisasi Anggaran. Laporan Arus Kas. Selain laporan keuangan. Laporan Arus Kas. c.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan keuangan tersebut harus disampaikan oleh Kepala SKPD kepada gubernur/ bupati/walikota melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan Keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/ bupati/walikota untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.

maka Perusahaan Daerah diwajibkan menyampaikan: a. Laporan Kinerja dihasilkan dari suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (yang dikembangkan secara terintegrasi dengan sistem perencanaan. gubernur/ bupati/walikota memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap Laporan Keuangan serta koreksi lain berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. laporan keuangan pemerintah daerah beserta rancangan Peraturan daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. dan Sistem Akuntansi Pemerintahan) yang diselenggarakan oleh masing-masing Entitas Pelaporan dan/atau Entitas Akuntansi. untuk tingkat pemerintah provinsi 28 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Sehubungan dengan hal tersebut. sistem penganggaran. laporan keuangan Perusahaan Daerah yang telah diaudit kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 5 1/2 (lima setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir. Jadi. Selanjutnya. yang berisi ringkasan tentang keluaran dari masing-masing kegiatan dan hasil yang dicapai dari masingmasing program sebagaimana ditetapkan dalam dokumen pelaksanaan APBD. laporan keuangan Perusahaan Daerah yang belum diaudit kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 2 1/2 (dua setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. dilampiri dengan ikhtisar laporan realisasi kinerja dan ikhtisar laporan keuangan Perusahaan Daerah. dan b. Selain laporan kinerja. Pemerintah Daerah tidak hanya diwajibkan untuk menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan. Pemerintah Daerah (gubernur/ bupati/ walikota selaku wakil pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan pemerintah daerah yang dipisahkan) juga harus menyusun ikhtisar laporan keuangan Perusahaan Daerah. tetapi juga harus membuat Laporan Kinerja.Analisis Laporan Keuangan Daerah Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. sistem perbendaharaan. yang harus disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

dan untuk tingkat pemerintah kabupaten/kota disampaikan kepada gubernur. Kemudian. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyampaikan Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana Dekonsentrasi kepada gubernur. Dengan demikian. Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Tugas Pembantuan disampaikan kepada gubernur/bupati/walikota dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. Laporan Realisasi Anggaran Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber. Laporan Realisasi Anggaran harus menyajikan informasi mengenai pendapatan. Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan dilaporkan secara terintegrasi dalam Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga Pengguna Anggaran yang bersangkutan. alokasi. yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Tugas Pembantuan menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran pada tingkat pemerintah pusat. Pengertian dari masing-masing unsur tersebut adalah sebagai berikut : Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 29 . Selanjutnya. dan dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. belanja. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana Dekonsentrasi menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran pada tingkat pemerintah pusat. dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan. dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri. B. gubernur/bupati/walikota menyiapkan Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan yang diterima dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Tugas Pembantuan dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan. gubernur menyiapkan Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan yang diterima dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana Dekonsentrasi. transfer. dan pembiayaan.

dan Dana Alokasi Khusus. Retribusi Daerah. dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. Dana Bagi Hasil. termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil. (c) Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain. (b) Pendapatan (basis akrual) adalah hak pemerintah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. Lain-lain PAD yang Sah.Analisis Laporan Keuangan Daerah Pendapatan (a) Pendapatan (basis kas) adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Negara/ Bendahara Umum Daerah atau oleh entitas pemerintah lainnya yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah. Hibah • Pendapatan Transfer/Dana Perimbangan: • Lain-lain Pendapatan yang Sah: 30 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . (c) Unsur Belanja Daerah terdiri dari: • Belanja Operasi: Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Pajak Daerah. Dana Alokasi Umum. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. (b) Belanja (basis akrual) adalah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. (d) Unsur Pendapatan Daerah terdiri dari: • Pendapatan Asli Daerah: Belanja (a) Belanja (basis kas) adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. Dana Darurat.

Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya • Belanja Tak Terduga Pembiayaan (a) Pembiayaan (basis kas) adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya. (b) Unsur Pembiayaan Daerah terdiri dari: • Penerimaan Pembiayaan: Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Penerimaan Pembayaran Piutang Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman Pemberian Pinjaman • Pengeluaran Pembiayaan: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 31 .Analisis Laporan Keuangan Daerah • Belanja Modal: Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan. yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.

4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6) PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSAT .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A.DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14) TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19) Total Pendapatan Transfer (15 + 20) LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Pendapatan Lain-lain yang Sah (24 s/d 26) JUMLAH PENDAPATAN (7 + 21 + 27) BELANJA BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga xxx xxx xxx xxx xxx xxx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx 32 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A./Kota (55 s/d 57) JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (51 + 58) SURPLUS/DEFISIT (28 .59) PEMBIAYAAN PENERIMAAN PEMBIAYAAN xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 33 . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx (%) xx xx xx xx 20X0 Realisasi xxx xxx xxx xxxx 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Subsidi Hibah Bantuan Sosial Jumlah Belanja Operasi (31 s/d 36) BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Belanja Modal (40 s/d 45) BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga Jumlah Belanja Tak Terduga (49 s/d 49) Jumlah Belanja (37 + 46 + 50) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xx xx xx xxxx xxxx xxxx TRANSFER TRANSFER/BAGI HASIL PENDAPATAN KE KABUPATEN/KOTA Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Transfer Bagi Hasil Pendapatan ke Kab.4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.

Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Penerimaan (65 s/d 76) PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A.Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .91) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (60-92) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx 34 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Pengeluaran (80 s/d 90) PEMBIAYAAN NETO (77 .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .

5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14) TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19) TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Jumlah Transfer Pemerintah Provinsi (23 s/d 24) Total Pendapatan Transfer (15 + 20 + 25) LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah (29 s/d 31) JUMLAH PENDAPATAN (7 + 26 + 32) BELANJA xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xx xx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 35 . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6) PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSAT .

Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Jumlah Belanja Operasi (37 s/d 42) BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.65) PEMBIAYAAN xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxx xxxx xxxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx 36 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Belanja Modal (46 s/d 51) BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga Jumlah Belanja Tak Terduga (55 s/d 55) Jumlah Belanja (43 + 52 + 56) TRANSFER TRANSFER/BAGI HASIL KE DESA Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Transfer Bagi Hasil ke Desa (61 s/d 63) JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (57+ 64) SURPLUS/DEFISIT (33 .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Penerimaan (71 s/d 82) PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Pengeluaran (86 s/d 97) PEMBIAYAAN NETO (83 .Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .97) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx x xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx 100 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (66-98) Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 37 .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 PENERIMAAN PEMBIAYAAN Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .

serta dapat diukur dalam satuan uang. Pengertian dari masing-masing unsur Neraca sebagai berikut: 1. berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah. aset tetap.Analisis Laporan Keuangan Daerah C. dana cadangan. Aset lancar meliputi kas dan setara kas. Investasi Jangka Panjang Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset non-lancar. bagi kegiatan operasional pemerintah. Neraca Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada tanggal tertentu. dan aset lainnya. kewajiban. 38 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Aset Non-Lancar Aset non-lancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang. Aset non-lancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang. baik langsung maupun tidak langsung. Aset Lancar Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. dan ekuitas dana. a. Aset Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh. dan persediaan. Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan. dengan menyajikan informasi mengenai aset. (1). b. termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. piutang. investasi jangka pendek. Investasi jangka panjang meliputi investasi non-permanen dan permanen. dan aset tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. baik oleh pemerintah maupun masyarakat.

aset tetap lainnya. lembaga keuangan. Aset Tetap Aset tetap meliputi tanah. (2). Kewajiban jangka pendek merupakan kelompok kewajiban yang diselesaikan dalam waktu kurang dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan. Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan perundang undangan. Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak berwujud dan aset kerja sama (kemitraan). dan konstruksi dalam pengerjaan. atau lembaga internasional. irigasi. Dalam konteks pemerintahan. dan investasi non-permanen lainnya. Kewajiban pemerintah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah atau dengan pemberi jasa lainnya. Investasi permanen antara lain penyertaan modal pemerintah dan investasi permanen lainnya. penyertaan modal dalam proyek pembangunan. Kewajiban jangka panjang adalah kelompok kewajiban yang penyelesaiannya dilakukan setelah 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. jalan. gedung dan bangunan. entitas pemerintah lain. dan jaringan. (3). Aset Lainnya Aset non-lancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya. peralatan dan mesin.Analisis Laporan Keuangan Daerah Investasi non-permanen antara lain investasi dalam Surat Utang Negara. Kewajiban dikelompokkan kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. 2. Karakterisitik esensial kewajiban adalah bahwa pemerintah mempunyai kewajiban masa kini yang dalam penyelesaiannya mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang akan datang. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 39 . kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat. Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggungjawab untuk bertindak di masa lalu. Kewajiban Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah.

(c) Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang dicadangkan untuk tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai peraturan perundang-undangan. Ekuitas Dana Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah. (b) Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang tertanam dalam aset non-lancar selain dana cadangan. dikurangi dengan kewajiban jangka panjang.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. 40 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Ekuitas Dana dapat dikelompokkan sebagai berikut: (a) Ekuitas Dana Lancar adalah selisih antara aset lancar dengan kewajiban jangka pendek.

Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 3 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 ASET ASET LANCAR Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Investasi Jangka Pendek Piutang Pajak Piutang Retribusi Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi Piutang Lainnya Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 17) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non-permanen Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Non-permanen Lainnya Jumlah Investasi Non-permanen (22 s/d 27) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (30 s/d 31) Jumlah Investasi Jangka Panjang (28 + 32) ASET TETAP xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 41 .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.

dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap (36 s/d 42) DANA CADANGAN Dana Cadangan Jumlah Dana Cadangan (46) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Perbendaharaan Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-lain Jumlah Aset Lainnya (50 s/d 55) JUMLAH ASET (18+33+43+47+56) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan.Lembaga Keuangan Bukan Bank Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-B.Obligasi Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 42 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Utang Dalam Negeri . Irigasi.Pemerintah Pusat Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bank Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .

Lembaga Keuangan Bukan Bank Utang Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Utang Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Utang Dalam Negeri .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (63 s/d 71) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri .Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (78 s/d 80) JUMLAH KEWAJIBAN (72+81) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Pendapatan yang Ditangguhkan Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek Jumlah Ekuitas Dana Lancar (87 s/d 91) EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang Jumlah Ekuitas Dana Investasi (95 s/d 98) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 101 EKUITAS DANA CADANGAN 102 Diinvestasikan dalam Dana Cadangan 103 Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (102) 104 JUMLAH EKUITAS DANA (92+99+103) 105 106 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (82+104) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 43 .Pemerintah Pusat Utang Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-B.

dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan Jumlah Aset Tetap (13 s/d 18) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-Lain Jumlah Aset Lainnya (22 s/d 26) JUMLAH ASET (10+19+27) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 44 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ASET ASET LANCAR Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Piutang Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 9) ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Irigasi.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Sumber: Lampiran I-B.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 Uang Muka dari Bendahara Umum Daerah Pendapatan yang Ditangguhkan Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (34 s/d 35) JUMLAH KEWAJIBAN (36) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Jumlah Ekuitas Dana Lancar (42 s/d 43) EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Jumlah Ekuitas Dana Investasi (47 s/d 48) JUMLAH EKUITAS DANA (44+49) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (37 + 50) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 45 .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.

6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ASET ASET LANCAR Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Piutang Pajak Piutang Retribusi Investasi Jangka Pendek Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 14) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non-permanen Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Non-permanen Lainnya Jumlah Investasi Non-permanen (19 s/d 24) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (27 s/d 28) Jumlah Investasi Jangka Panjang (25 + 29) DANA CADANGAN Dana Cadangan xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 46 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Jumlah Dana Cadangan (33) ASET LAINNYA Tuntutan Perbendaharaan Aset Lain-lain Jumlah Aset Lainnya (37 s/d 38) JUMLAH ASET (15+30+34+39) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (46 s/d 49) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri .6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Pendek Jumlah Ekuitas Dana Lancar (63 s/d 64) xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 47 .Sektor Perbankan Utang Dalam Negeri – Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (53 s/d 55) JUMLAH KEWAJIBAN (50+56) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk.

Laporan Arus Kas Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional. yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut: (a) Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum Daerah. Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. investasi aset non-keuangan. dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu. dan transaksi non-anggaran yang menggambarkan saldo awal. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk.6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Panjang Jumlah Ekuitas Dana Investasi (68 s/d 71) EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan dalam Dana Cadangan Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (75) JUMLAH EKUITAS DANA (65+72+76) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (58+78) xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx D. 48 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . pembiayaan. penerimaan. (b) Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum Daerah. pengeluaran.

28) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 49 . Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 50 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.46) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No. Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Pembayaran Pokok Pinjaman DN .74) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (78) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (81) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Nonanggaran (79 .82) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (84+85) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (86+87+88) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 51 .

4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 .30) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 52 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan. Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40-48) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 53 .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .84) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (86+87) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (88+89+90) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 54 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 . Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C.76) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (80) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (83) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 .4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

28) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 55 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 .5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.

Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 56 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .46) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan. Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 .

74) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (78) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (81) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (79 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.82) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (84+85) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (86+87+88) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 57 . Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .

6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.30) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 58 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C.

48) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40 . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan. Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 59 .

Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.84) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (86+87) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 60 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C.76) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (80) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (83) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .

ikhtisar pencapaian kinerja keuangan. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Lampiran I-D menjelaskan bahwa sistematika Catatan atas Laporan Keuangan terdiri dari: Kebijakan fiskal/keuangan. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. yang tidak disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan. berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target. Catatan atas Laporan Keuangan Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran. Neraca. ekonomi makro. dan Laporan Arus Kas. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 61 . ekonomi makro. dan penjelasan atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran.Analisis Laporan Keuangan Daerah E. (c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksitransaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya. Pengungkapan atas komponen laporan keuangan adalah sebagai berikut. Neraca. (d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan. (b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan. pencapaian target Undang-Undang APBN/ Perda APBD. adalah yang terakhir yang perlu kita bahas karena hal tersebut relevan dengan pokok bahasan dalam modul ini. Dari beberapa hal yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. dan Laporan Arus Kas. kebijakan akuntansi. Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut: (a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan. pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD. dan (f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar. (e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas.

Pendapatan Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pendapatan. 3. Transfer Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran transfer. Neraca 1. Penjelasan atas masing-masing jenis pendapatan. Penjelasan atas masing-masing jenis pembiayaan. Investasi Jangka Panjang Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos investasi jangka panjang. dan Piutang. seperti Kas di Bendahara Pengeluaran. 2. Penjelasan atas masing-masing jenis transfer. Investasi dalam Obligasi. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara belanja periode ini dengan belanja periode yang lalu. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara pembiayaan periode ini dengan pembiayaan periode yang lalu. Belanja Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran belanja. Penjelasan atas masing-masing jenis belanja. Aset Lancar Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lancar. seperti Penyertaan Modal Pemerintah. dan Pinjaman kepada Perusahaan Daerah. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara pendapatan periode ini dengan pendapatan periode yang lalu. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara transfer periode ini dengan transfer periode yang lalu. 62 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 4. Kas di Bendahara Penerimaan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi Anggaran 1. 2. Pembiayaan Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pembiayaan.

6. 2. Utang Dalam Negeri Sektor Perbankan. 8. Daftar aset tetap juga disertakan sebagai lampiran laporan keuangan. Tuntutan Ganti Rugi. seperti Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang dan Diinvestasikan dalam Aset Tetap. Arus Kas dari Aktivitas Operasi Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas operasi. Diungkapkan pula (apabila ada) perbedaan pencatatan perolehan aset tetap yang terjadi antara unit keuangan dengan unit yang mengelola/mencatat aset tetap. Laporan Arus Kas 1. diungkapkan dasar pembukuannya. Ekuitas Dana Investasi Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana Investasi. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 63 . 5. seperti Tagihan Penjualan Angsuran. Kewajiban Jangka Panjang Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka Panjang. seperti Uang Muka dari Kas Umum Negara (KUN). Bagian Lancar Utang Jangka Panjang. dan Utang Luar Negeri. dan Kemitraan dengan Pihak Ketiga.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. dan Utang Bunga. Pendapatan yang Ditangguhkan. Aset Lainnya Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lainnya. seperti Utang Dalam Negeri Obligasi. seperti Pendapatan Pajak dan Belanja Pegawai. seperti Pendapatan Penjualan Aset dan Belanja Aset. seperti Cadangan Piutang dan Cadangan Persediaan. 7. Ekuitas Dana Lancar Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana Lancar. 4. Kewajiban Jangka Pendek Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka Pendek. Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas investasi aset non-keuangan. Aset Tetap Untuk seluruh perkiraan yang ada dalam kelompok aset tetap.

Kejadian yang mempunyai dampak sosial. Adapun pengungkapan-pengungkapan lain yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan keuangan adalah hal-hal yang mempengaruhi laporan keuangan. antara lain: a. Neraca. Penggantian manajemen pemerintahan selama tahun berjalan. dan Catatan atas Laporan Keuangan. d. • PPKD selaku Bendahara Umum Daerah (BUD) menyusun Laporan Realisasi Anggaran. Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas non-anggaran. disampaikan kepada kepala daerah melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD).Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. Laporan Arus Kas. seperti Penerimaan Pinjaman dan Pembayaran Pokok Pinjaman. Komitmen. Neraca. Kesalahan manajemen terdahulu yang telah dikoreksi oleh manajemen baru c. f. e. 64 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas pembiayaan. yaitu bentuk perjanjian dengan pihak ketiga yang harus di ungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. Rangkuman Proses penyusunan laporan pemerintahan daerah sebagai berikut: • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Realisasi Anggaran. dan Catatan atas Laporan Keuangan. yaitu suatu kondisi atau situasi yang belum memiliki kepastian pada tanggal neraca. Kontijensi ini harus diungkapkan dalam catatan atas neraca. • Kepala SKPD juga menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya kepada kepala daerah dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. disampaikan kepada kepala daerah. jika ada tuntutan hukum yang substansial dan hasil akhirnya bisa diperkirakan. b. F. Misalnya. seperti Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga dan Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga. misalnya adanya pemogokan yang harus ditanggulangi pemerintah g. Kejadian penting setelah tanggal neraca (subsequent event) yang berpengaruh secara signifikan terhadap perkiraan yang disajikan dalam neraca. Penggabungan atau pemekaran entitas tahun berjalan. 4. Kontijensi.

Neraca. Neraca. dan Laporan Arus Kas. dan transaksi nonanggaran yang menggambarkan saldo awal. dan penjelasan atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran. dengan menyajikan informasi mengenai aset. dan ekuitas dana. menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada tanggal tertentu. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan pemerintah daerah yang terdiri dari: Laporan Realisasi Anggaran. menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional. kepala daerah menyampaikannya kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). ikhtisar pencapaian kinerja keuangan. belanja. penerimaan. dan pembiayaan. Selanjutnya. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 65 . investasi aset non keuangan. dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu. • Laporan Arus Kas. pengeluaran. Laporan Keuangan Pemerintah Daerah terdiri dari: • • Laporan Realisasi Anggaran. dan Catatan atas Laporan Keuangan. menyajikan informasi mengenai pendapatan. • Catatan atas Laporan Keuangan. • PPKD menyampaikan Laporan Keuangan Pemda kepada kepala daerah untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. pembiayaan. kewajiban. kebijakan akuntansi.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut. pencapaian target Undang-Undang APBN/Perda APBD. Neraca. yang meliputi: Kebijakan fiskal/keuangan. Laporan Arus Kas. transfer. ekonomi makro.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 66 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

keuangan. Manajemen perusahaan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. dan pemeriksaan akuntan. A. seperti investor.Analisis Laporan Keuangan Daerah Konsep Analisis Laporan • • Keuangan Bab 4 Setelah mempelajari bab ini. Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah. Lebih jauh lagi. kalau kita coba untuk mencari lliteratur mengenai analisis laporan keuangan sektor publik. diharapkan pembaca dapat: Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan. karena memang sampai saat ini belum ada. Pendahuluan Dalam literatur akuntansi. Di sisi lain. terlihat bahwa literatur untuk sektor publik relatif lebih sedikit. Jadi. analis keuangan. telah banyak menerapkan metode-metode analisis laporan keuangan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan yang telah dicapai dan untuk memprediksikan prospek perusahaan di masa yang akan datang. kalau kita coba bandingkan antara buku-buku yang mengulas tentang sektor publik dan sektor bisnis. Tentang analisis laporan keuangan. memang telah lama banyak dilakukan oleh pengguna laporan keuangan. Kalaupun dilakukan perhitungan-perhitungan melalui pembandingan beberapa pos laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 67 . kreditor. maka akan sangat sulit kita memperolehnya atau bahkan tidak akan mendapatkannya. pelaku bisnis dan pihak-pihak terkait lainnya telah banyak memanfaatkan hasil analisis laporan keuangan sebagai dasar bagi pengambilan keputusan ekonomis yang mereka buat. analisis laporan keuangan di sektor pemerintahan hampir tidak pernah dilakukan. tetapi terbatas pada sektor bisnis.

yang pada akhirnya hasil analisis laporan keuangan tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam perumusan kebijakan anggaran daerah di masa mendatang. kita bandingkan antara realisasi pendapatan asli daerah dengan target/ anggarannya. seseorang yang melakukan analisis atas laporan keuangan perlu menguraikan pos-pos laporan tersebut menjadi unit informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antara satu dengan yang lainnya guna mengetahui kondisi keuangan entitas tersebut untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Analisis laporan keuangan dilakukan dengan menggunakan metode dan teknik analisis tertentu dalam melihat ukuran dan hubungan unsur laporan keuangan. Hasil dari analisis tersebut diharapkan dapat meminimalkan bahkan 68 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Seiring dengan makin majunya penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi. B. Misalnya. seyogyanya terdapat pula perkembangan teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah. Untuk menilai pelaksanaan belanja modal misalnya. maka dengan sendirinya terjadi perubahan kebutuhan atas teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah. kita dapat membandingkan realisasi belanja modal dengan pagunya.Analisis Laporan Keuangan Daerah daerah. maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya tidak saja dalam bentuk Laporan Realisasi Anggaran. Pengertian Analisis Laporan Keuangan Secara singkat analisis laporan keuangan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan suatu entitas tertentu. atau menghitung perbandingan antara realisasi pendapatan pajak daerah dengan total realisasi pendapatan asli daerah. itu pun dengan perhitungan sederhana dengan penggunaan yang terbatas. agar pengguna laporan keuangan memiliki dasar yang memadai dalam mengevaluasi kondisi dan kinerja keuangan pemerintah daerah. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan Catatan atas Laporan Keuangan Daerah. Dengan bertambahnya komponen laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tersebut. Untuk itu. yang ditandai dengan perkembangan peraturan perundangundangan dalam bidang keuangan negara/daerah. bila kita ingin mengetahui kinerja pencapaian pendapatan daerah. atau membandingkan realisasi belanja modal dengan realisasi total belanja. Laporan Arus Kas. tetapi juga meliputi Neraca.

hasil analisis laporan keuangan akan lebih baik bila laporan keuangannya dihasilkan dari sistem akuntansi pemerintah daerah yang sudah berjalan dengan baik.Analisis Laporan Keuangan Daerah menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata. Seperti yang disebutkan pada poin fokus analisis laporan keuangan di atas. Oleh karena itu. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 69 . analisis laporan keuangan menguraikan hubungan pos-pos dalam satu laporan keuangan. Dengan demikian. akurasi hasil analisis laporan keuangannya sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. ketidakpastian. dan laporan keuangan tersebut telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan. kemungkinan masing-masing analis dapat memberikan hasil analisis yang berbeda. • Dipengaruhi oleh kemampuan analis Bila terdapat beberapa analis atas satu informasi yang sama. • Fokus pada laporan keuangan utama Sesuai pembahasan dalam modul ini. maka fokusnya adalah pada Laporan Realisasi APBD. hubungan pos-pos antar laporan keuangan. Dengan demikian akan menambah keyakinan pengguna laporan atas data atau informasi yang tersedia sehingga pengambilan keputusannya menjadi lebih akurat. maka kita akan menggunakan laporan keuangan pemerintah daerah sebagai bahan utama dalam melakukan analisis. Beberapa karakteristik dari analisis laporan keuangan dapat diringkas seperti di bawah ini. Laporan Arus Kas. dan Catatan atas Laporan Keuangan. • Memuat analisis hubungan Dalam hal ini. tergantung pada kemampuan atau ketajaman masing-masing analis. • Memuat implikasi dan prediksi Analisis laporan keuangan dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak kejadian atau transaksi masa lalu sekaligus untuk meramalkan prospek keuangan di masa mendatang. Bahkan melalui analisis laporan keuangan juga kemungkinan dapat diketahui adanya kesalahan proses akuntansi. pertimbangan pribadi dan lain sebagainya. serta perbandingan dan kecenderungan pos-pos tersebut. Neraca.

Dapat memberikan informasi yang tidak secara eksplisit disajikan di dalam laporan keuangan Dapat mengetahui terdapatnya kesalahan dan hal-hal yang bersifat tidak konsisten yang terkandung dalam laporan keuangan. Adapun tujuan dari analisis laporan keuangan pemerintah daerah adalah untuk hal-hal berikut ini. • • • • • • Meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. dapat kita formulasikan beberapa manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan analisis laporan keuangan. tidak ada informasi yang menyebutkan derajat kemampuan pemda dalam membayar kembali pinjaman yang diterimanya. Dalam laporan keuangan pemerintah daerah misalnya. Mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya. Bila kita ingin menilai seberapa besar tingkat kemampuan pemda membayar kewajibannya. antara lain sebagai berikut: • • • • Dapat menyediakan tambahan penjelasan atas data dan informasi yang memang sudah tersedia pada laporan keuangan. Mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahan-perubahannya Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. maka perlu melakukan analisis atas laporan keuangan tersebut. Berdasarkan pembahasan di atas. Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan Telah kita bahas di bab sebelumnya. jika pengguna laporan keuangan menginginkan informasi tambahan dari laporan keuangan yang tersedia. Mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan programprogramnya. bahwa informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah untuk tujuan umum. Oleh sebab itu.Analisis Laporan Keuangan Daerah C. Dapat mengetahui sifat-sifat dari hubungan baik antar-pos maupun antar 70 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya. Secara umum telah kita peroleh pemahaman bahwa tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan dari suatu entitas. maka kita perlu melakukan analisis atas pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan pemda tersebut. yang berarti bahwa laporan tersebut disajikan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi semua kelompok pengguna laporan keuangan.

dan (f) mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya. • • • Dapat menilai perkembangan dan pencapaian yang diperoleh oleh suatu entitas serta membuat proyeksi keuangan di masa mendatang. ketidakpastian. Secara umum. Hasil dari analisis laporan keuangan diharapkan dapat meminimalkan bahkan menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata. tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan. saat ini. (b) meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. yang dapat digunakan untuk prediksi. Dapat mengevaluasi kondisi keuangan entitas masa lalu. (c) mengandung implikasi dan prediksi. (b) memuat analisis hubungan. (e) mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan program-programnya. sedangkan tujuan analisis laporan keuangan daerah adalah untuk: (a) mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahan-perubahannya. dan (d) hasilnya tergantung pada kemampuan analisnya. (c) mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. rating. (d) mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya. pertimbangan pribadi. Dapat mengetahui komposisi struktur keuangan entitas. Karakteristik dari analisis laporan keuangan adalah: (a) fokus pada laporan keuangan utama. sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 71 . dan kesalahan proses akuntansi. sehingga dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami oleh suatu entitas. dan perkiraan di masa yang akan datang. Rangkuman Analisis laporan keuangan merupakan upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan pemerintah daerah. D. dengan menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antar pos untuk mengetahui kondisi keuangan. dan lain sebagainya.Analisis Laporan Keuangan Daerah laporan.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 72 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

adalah sebaliknya. khususnya pada lingkungan pemerintah daerah. Oleh karena itu. diharapkan pembaca dapat: Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan. Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah. Penggunaannya masih sangat terbatas. Kondisi Saat Ini Landasan teori untuk analisis laporan keuangan pada sektor bisnis sudah lama menjadi pokok bahasan dalam literatur akuntansi dan keuangan. Widodo (2007) penyebabnya adalah: • Keterbatasan penyajian laporan keuangan pada lembaga pemerintah daerah yang sifat dan cakupannya berbeda dengan penyajian laporan keuangan oleh lembaga perusahaan yang bersifat komersial. Mengenai terbatasnya penggunaan teknik analisis laporan keuangan pada pemerintah daerah. belum ada nama dan kaidah pengukuran yang seragam. A. khususnya analisis perbandingan atau rasio.Analisis Laporan Keuangan Daerah Analisis Laporan Keuangan • • Pemerintah Bab 5 Setelah mempelajari bab ini. dengan fokus pada laporan realisasi anggaran. Dapat dikatakan bahwa penggunaan teknik-teknik analisis laporan keuangan di sektor bisnis memang sudah memiliki pijakan teori yang sudah mapan dengan nama dan kaidah pengukuran yang standar. karena memang belum didukung dengan pembahasan teori analisis laporan keuangan pemerintah yang memadai. bila dibandingkan dengan sektor bisnis. mengemukakan Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 73 . Sedangkan pada sektor publik.

dan pengguna laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan. dibutuhkan pemahaman dasar terhadap akuntansi dan laporan keuangan yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. Oleh karena itu. Akuntansi bukan merupakan satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomis. 2. Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Sudah kita bahas pada bab sebelumnya. 74 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . yaitu besarnya masing-masing komponen pendapatan dan belanja dihitung dengan meningkatkan persentase tertentu (biasanya berdasarkan tingkat inflasi). Sifat laporan keuangan adalah historis. 1. seperti adanya prinsip “yang penting pendapatan naik meskipun untuk menaikkannya itu diperlukan biaya yang tidak efisien”. bahwa akurasi hasil analisis laporan keuangan sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. Karena disusun dengan pendekatan secara incremental. maka sering kali mengabaikan rasio keuangan dalam APBD.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Selama ini penyusunan APBD sebagian masih dilakukan berdasarkan pertimbangan incremental budget (seharusnya disusun berdasarkan pendekatan kinerja sebagaimana tersebut dalam pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000). • Penilaian keberhasilan APBD sebagai penilaian pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah lebih ditekankan pada pencapaian target. pada analisis laporan keuangan itu sendiri terdapat keterbatasan yang inheren. Laporan keuangan menyajikan informasi mengenai transaksi dan kejadian pada masa lalu. laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai laporan mengenai keadaan saat ini. sehingga kurang memperhatikan bagaimana perubahan yang terjadi pada komposisi ataupun struktur APBDnya. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis. Oleh karena itu. B. Selain itu. antara lain sebagai berikut. Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum Informasi dalam laporan keuangan tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi secara khusus bagi setiap kelompok pengguna laporan keuangan.

Namun demikian. hasil analisis laporan keuangan dengan sendirinya juga bersifat kuantitatif. alasan-alasan tidak tercapainya target pajak daerah. Oleh sebab itu. tetapi juga informasi kualitatif. Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan Di dalam penyusunan laporan keuangan tidak dapat dihindari adanya penggunaan estimasi akuntansi. Meskipun APBD disusun dengan pendekatan kinerja. Contoh informasi kualitatif yang relevan dengan analisis laporan keuangan adalah opini auditor independen mengenai laporan keuangan pemerintah daerah. Dengan demikian. alasan-alasan meningkatnya jumlah defisit dari yang dianggarkan. analisis dapat dikembangkan sampai kepada analisis kinerja program/kegiatan dengan mengumpulkan data-data mengenai rencana dan realisasi program/kegiatan berikut target dan capaian kinerjanya. 5. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 75 . yang cenderung bersifat subyektif. melainkan dalam laporan kinerja instansi pemerintah. Misalnya. C. 4. Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. yang merupakan bagian terakhir dari modul ini. Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Pada sub bab terakhir ini. Teknik-teknik yang akan digunakan adalah sebagai berikut. estimasi masa manfaat atau umur ekonomis aset tetap. akan tetapi kinerja pelaksanaan program dan kegiatan tidak dapat dilihat dalam laporan realisasi anggaran. terutama berupa informasi kuantitatif yang bersifat keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. estimasi atas kemungkinan tidak tertagihnya piutang. analisis laporan keuangan dapat dikatakan lebih cenderung pada analisis kinerja keuangan. Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan Laporan keuangan yang menjadi obyek analisis adalah laporan keuangan yang lebih menggambarkan kinerja keuangan. Sedangkan informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja pemerintah bukan hanya informasi kuantitatif. dan lain sebagainya. yang sekaligus merupakan sub topik terakhir dari bagian kedua (Dasar-dasar Analisis Laporan Keuangan). akan dikemukakan teknik-teknik yang akan digunakan dalam pembahasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah pada bagian ketiga.

Pembahasan selengkapnya terdapat di bab 6. 2. Teknik analisis kecenderungan ini akan dibahas di bab 8. Tujuan analisis ini adalah untuk menguji kebenaran angka-angka laporan keuangan yang disajikan. Untuk itu. antara lain. harus dilakukan analisis apakah kedua pos tersebut terbukti berhubungan. Tujuan analisis ini antara lain untuk menilai kondisi atau kinerja keuangan pemerintah daerah. maka semakin baik pula kinerja dari pencapaian pajak daerah tersebut. yaitu bab terakhir dalam modul ini. adanya belanja modal di laporan realisasi APBD. analisis laporan keuangan itu sendiri mengandung keterbatasan inheren. sehingga diperoleh gambaran mengenai kecenderungan dari suatu pos dalam laporan keuangan pemerintah daerah. Bila hasil perbandingannya menunjukkan angka lebih besar dari 1. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis perbandingan dilakukan dengan membandingkan satu atau beberapa pos dengan satu atau beberapa pos lainnya dalam satu periode. Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis kecenderungan dilakukan dengan membandingkan pos yang sama untuk periode lebih dari dua tahun. semestinya berkorelasi langsung dengan kenaikan aset tetap. Analisis ini dapat juga digunakan untuk membandingkan satu pos yang sama dalam laporan keuangan dua periode yang berurutan. Rangkuman Akurasi hasil analisis laporan keuangan sangat tergantung pada akurasi dan validitas laporan keuangan pemerintah daerah. rasio realisasi pajak daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1. dibahas dalam bab 7. Lebih jauh. diperoleh dari perhitungan atau perbandingan antara realisasi pajak daerah dengan anggarannya atau target pajak daerah. berarti mengindikasikan tingkat capaian yang baik. D. Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis hubungan dilakukan dengan menguji hubungan logis antar pos. Misalnya. Selengkapnya mengenai teknik analisis perbandingan ini. 3. diperkirakan berdasarkan data atau informasi kecenderungan pencapaian pajak daerah beberapa periode yang lalu sampai saat dilakukannya analisis kecenderungan. Misalnya prediksi pencapaian pajak daerah pada tahun yang akan datang. adalah: 76 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Semakin besar angka rasionya. Misalnya. baik dalam satu laporan keuangan maupun antar laporan. Analisis kecenderungan ini umumnya digunakan dalam membuat prediksi keuangan.

Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan. Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 77 . Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan. Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan. Teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan Pemerintah Daerah adalah: • • • Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah • • • • • Sifat laporan keuangan adalah historis. Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 78 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Laporan Arus Kas. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Neraca.Analisis Laporan Keuangan Daerah Analisis Hubungan Bab 6 Setelah mempelajari bab ini. A. yang meliputi: • • • • Laporan Realisasi APBD. harus sama dengan aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek. Contoh lain. misalnya jumlah akhir kas di dalam laporan arus kas harus sama dengan jumlah akhir kas di dalam neraca. jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan di dalam laporan arus kas. jumlah ekuitas dana lancar. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan keuangan pada Realisasi APBD dan Neraca. Pendahuluan Pengguna laporan keuangan harus memahami bahwa pos-pos di dalam suatu laporan keuangan dapat mempunyai kaitan atau hubungan satu dengan lainnya. Realisasi APBD dan Neraca. Laporan Realisasi APBD dan Neraca. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 79 . Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan keuangan pada Arus Kas. Contoh sederhana. harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan di dalam laporan realisasi anggaran. di dalam neraca. Berikut adalah pembahasan mengenai hubungan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah. diharapkan pembaca dapat: • • • • Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Laporan Realisasi APBD. Demikian halnya. beberapa pos antar laporan keuangan dapat mempunyai kaitan satu dengan lainnya. Laporan Realisasi APBD dan Neraca. Neraca.

Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan. yang secara ringkas dapat dilihat sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Y” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Dana Penimbangan Lain-Lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan : (1) BELANJA Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tak Terduga Total Belanja : (2) Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan : (4) Pengeluaran Pembiayaan : (5) Pembiayaan Neto : (6) = (4) – (5) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) : (7) = (3) + (6) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut: 1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif). Laporan Realisasi APBD Pada saat penyusunan APBD harus diperhatikan rencana pembiayaan untuk mengalokasikan (menutup) surplus/defisit. perhatikan kembali format laporan realisasi APBD pada bab 3. 80 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Untuk membahas beberapa hubungan antar pos di dalam laporan realisasi APBD.Analisis Laporan Keuangan Daerah B. maka jumlah pembiayaan neto harus positif dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut.

Bila direncanakan ada pengeluaran pembiayaan misalnya sebesar Rp 500. maka jumlah penerimaan pembiayaan minimal sebesar Rp 9.Analisis Laporan Keuangan Daerah Defisit < Pembiayaan neto positif Kondisi yang salah : Defisit > Pembiayaan neto positif Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Defisit Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan* Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 9. Jumlah pembiayaan neto negatif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan.590 (500) 9.090 60.090.710 69.800 (9. Kondisi yang benar : Surplus > Pembiayaan neto negatif Kondisi yang salah : Surplus < Pembiayaan neto negatif Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 81 .590 atau dengan rumus: Penerimaan Pembiayaan > Defisit + Pengeluaran Pembiayaan 2) Pembiayaan neto yang jumlahnya negatif hanya diijinkan bila anggaran direncanakan surplus.090) * Pembiayaan neto minimal harus sama dengan jumlah defisit yaitu Rp 9. dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan neto yang negatif tersebut.

SiLPA = Defisit + Pembiayaan neto positif Syarat: Pembiayaan neto positif > Defisit Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Defisit Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 10.090 1.090) (b) Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif.590 (500) 10. maka selisihnya menjadi SiLPA.000 60. SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto positif 82 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .710 69.500) (500) 410 60.000 (3.710 59.800 (9.800 910 3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa kondisi berikut: (a) Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit.Analisis Laporan Keuangan Daerah Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surpus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 3.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surplus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 10.710 59. SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto negatif Syarat: Surplus > Pembiayaan neto negatif Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surplus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 3. kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. antara lain. sebagai berikut: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 83 .000 60. yaitu posisi aset. Neraca Sebagaimana yang telah dibahas pada bab 3.800 910 C.090 11.800 910 (c) Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar. Informasi keuangan di dalam neraca dapat memberikan manfaat.000 (3.590 (500) 10. neraca memberikan informasi mengenai posisi keuangan.710 59.500) (500) 410 60.

Untuk menguraikan beberapa hubungan antar pos di dalam neraca. Pemerintah umumnya mempunyai jumlah aset yang signifikan dan utang. maka akan mengakibatkan. • Meningkatkan transparansi dari aktivitas pemerintah. aktiva dalam konstruksi. perhatikan kembali format neraca pada bab 3. karena tidak menunjukkan semua sumber daya dan kewajiban. hal-hal sebagai berikut: • Pengaruh dari transaksi keuangan pada pemerintah daerah dalam suatu periode tidak tercermin secara penuh. yang secara ringkas terlihat seperti di bawah ini. pengungkapan atas informasi ini merupakan suatu elemen dasar dari transparansi fiskal dan akuntabilitas. kewajiban saat ini untuk menyerahkan (membayar) sejumlah uang atau barang di masa yang akan datang. Informasi yang dibutuhkan tidak memadai untuk pengambilan keputusan yang lebih baik. Tidak memfasilitasi penilaian posisi keuangan. • • Memfasilitasi penilaian posisi keuangan dengan menunjukkan semua sumber daya dan kewajiban.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Meningkatkan akuntabilitas untuk para manajer (kepala daerah dan para pejabat pemda) ketika mereka menjadi bertanggung jawab tidak hanya pada kas masuk dan kas keluar. kewajiban dan ekuitas dana seperti yang dilaporkan dalam neraca. misalnya tidak ada pelaporan mengenai piutang pajak. saldo aktiva persediaan. • • • Akuntabilitas terbatas pada penerimaan dan pengeluaran kas dan mengabaikan transparansi dan akuntabilitas untuk pengelolaan aset dan utang. antara lain. 84 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Memberikan informasi yang lebih luas yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. tetapi juga pada aset dan utang yang mereka kelola. Bila tidak ada informasi mengenai posisi aset.

askes. Bila tidak. Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek. Ekuitas Dana = Aset – Kewajiban 3). Oleh karena itu. Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar – Kewajiban Jangka Pendek 4). Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana 2) Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah NERACA Pemerintah Daerah “Y” Per 31 Desember 200X ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan Total Ekuitas Dana xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Total Aset xxx Total Kewajiban dan Ekuitas Dana Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut: 1). dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut. SiLPA = Total Kas – Utang PFK Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 85 . Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi Utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen. total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset dengan kewajiban. PPh dan PPn).

450 + Rp 8.835 Berdasarkan data di atas komponen ekuitas dana dapat dihitung sbb.Rp 3.130 – Rp 500 Ekuitas Dana Lancar = Rp 1.Total Kewajiban Total Ekuitas Dana = Rp 13.130 Rp 2.450 Rp 8.000 Rp 2.Analisis Laporan Keuangan Daerah 5). Oleh karena itu.630 3) Ekuitas Dana Investasi = (Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya) – Kewajiban Jangka Panjang Ekuitas Dana Investasi = (Rp 2.Kewajiban Jangka Pendek Ekuitas Dana Lancar = Rp 2.500 Rp 3.620 + Rp 75) – Rp 2. Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan Ilustrasi: Data aset dan kewajiban Pemda ‘P’ untuk menyusun Neraca per 31 Desember 200X adalah sebagai berikut: (dalam jutaan rupiah) ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya Total Aset KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban Rp 500 Rp 2.835 2) Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar .835 . Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan persamaan berikut: Ekuitas Dana Investasi = Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka Panjang 6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana cadangan.620 Rp Rp 560 75 Rp13.645 4) Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan Ekuitas Dana Cadangan = Rp 560 86 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .000 Total Ekuitas Dana = Rp 10. jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan jumlah dana cadangan.500 Ekuitas Dana Investasi = Rp 8.: 1) Total Ekuitas Dana = Total Aset .

835 Rp 500 2. maka jumlah aset tetap di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.835 Total Kewajiban dan Ekuitas Dana 1.630 8. 3) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penggunaan dana cadangan dalam laporan realisasi APBD. neraca dapat disusun sebagai berikut: NERACA Pemerintah Daerah “P” Per 31 Desember 200X ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya Rp 2. maka jumlah kewajiban (utang) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.000 D.835 13. Laporan Realisasi APBD dan Neraca Untuk mengetahui hubungan antara laporan realisasi APBD dan neraca.130 2.Analisis Laporan Keuangan Daerah Setelah komponen ekuitas dana ditentukan. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembayaran pinjaman. dapat dilakukan analisis sebagai berikut : 1) Bila ada belanja modal dalam laporan realisasi APBD. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 87 . jumlah dana cadangan (aset) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.620 560 75 KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan Total Ekuitas Dana Total ASET 13. 2) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penerimaan pinjaman dalam laporan realisasai APBD. jumlah kewajiban di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. maka jumlah dana cadangan (aset) di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama.645 560 10. Demikian sebaliknya.500 3. Demikian sebaliknya.450 8. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembentukan dana cadangan.

Untuk mengujinya dapat dibandingkan dengan jumlah pendapatan daerah dalam laporan realisasi anggaran dengan rumus sebagai berikut : 88 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . antara lain: 1) Saldo kas pada akhir tahun dalam Laporan Arus Kas harus sama dengan jumlah kas pada akhir tahun di Neraca (per 31 Desember 200X). LAPORAN ARUS KAS Pemerintah Daerah “Y” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X Arus Kas Dari Aktivitas Operasi Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan Arus Kas Dari Aktivitas Non Anggaran Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Kas Pada Awal Tahun Saldo Kas Pada Akhir Tahun xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Hubungan berikut perlu diperhatikan dalam menilai kebenaran angkaangka dalam laporan arus kas. maka jumlah investasi jangka panjang (aset) di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. Realisasi APBD. yang bentuk ringkasnya seperti di bawah ini. SiLPA di neraca diperoleh dengan perhitungan: jumlah total kas dikurangi kewajiban pada PFK (potongan taspen. Laporan Arus Kas. 5) SiLPA pada kelompok ekuitas dana lancar di neraca harus sama dengan jumlah SiLPA (akhir tahun) di laporan realisasi APBD.Analisis Laporan Keuangan Daerah 4) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penjualan investasi perusahaan daerah dalam laporan realisasi APBD. perhatikan kembali format Laporan Arus Kas pada bab 3. Demikian sebaliknya. jumlah investasi jangka panjang (aset) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama. E. dan PPh dan PPn yang belum disetor). askes. dan Neraca Untuk mengetahui hubungan Laporan Arus Kas dengan beberapa pos laporan keuangan lainnya. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa penyertaan modal dalam perusahaan daerah. 2) Apakah jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi sudah benar?.

penjualan aset tersebut dalam laporan arus kas dilaporkan dalam arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non keuangan. 7) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. Sebagai contoh. meski dalam bentuk barang. 3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total belanja dalam Laporan Realisasi Anggaran tetapi tidak termasuk belanja modal. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 89 . 6) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan tidak akan sama dengan jumlah penerimaan pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. belanja maupun pembiayaan. sebab SiLPA tahun anggaran sebelumnya tidak dianggap sebagai komponen arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan. pendapatan berupa hibah dalam bentuk barang tidak akan dilaporkan dalam laporan arus kas. 4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan yang dilaporkan dalam Laporan Realisasi Anggaran sebagai kelompok Lain-lain PAD (perhatikan penjelasan pada angka 2 huruf (a) di atas) 5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran. tetapi dalam laporan realisasi APBD hibah tersebut tentu akan dilaporkan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Arus kas masuk dari aktivitas operasi = jumlah pendapatan daerah – penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan Perhatikan: (a) Arus kas masuk dari aktivitas operasi yang berasal dari Lain-lain PAD tidak termasuk pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan. (b) Laporan arus kas hanya melaporkan transaksi kas baik pendapatan. Alasannya.

Askes.710 Data lainnya mengenai posisi utang PFK dan kas: • Data mengenai jumlah potongan PFK (Taspen.200) Pengeluaran Pembiayaan (5) Pembiayaan neto : (6) = (4) – (5) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA): (7) = (3) + (6) 21.400 (5.090) 10.200 24.200 7.000 260 60.200) 16.855 Rp 4.820 90 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Q” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005 PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah (termasuk penjualan aset daerah yang dipisahkan sebesar Rp 10) Dana Perimbangan Lain-Lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan : (1) BELANJA Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tak Terduga Total Belanja : (2) Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan : (4) (termasuk SiLPA tahun sebelumnya Rp 15.500 69.800 (9.110 40.100 5. dan PPh 21) adalah sebagai berikut: Utang PFK per 31 Desember 2004 (PFK yang belum disetor sampai akhir tahun) Potongan PFK selama tahun 2005 Jumlah PFK yang harus disetor Jumlah yang telah disetor selama tahun 2005 Utang PFK per 31 Desember 2005 (PFK yang belum disetor sampai akhir tahun) Rp 35 Rp 55 Rp 4.450 50.800 Rp 4.

100 5) Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Jumlah penerimaan pembiayaan – SiLPA tahun sebelumnya Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 21.710 – Rp 10 = Rp 60.800 8) Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK yang disetor selama tahun berjalan Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = Rp 4.200 Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 6.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Data saldo kas dalam neraca adalah sbb.200 7) Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK tahun berjalan Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = Rp 4. Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 24.100 = Rp 45. Arus kas masuk dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 10 4) Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = belanja modal.700 2) Arus kas keluar dari aktivitas operasi = Total Belanja – Belanja Modal = Arus kas keluar dari aktivitas operasi = Rp 69.: Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2004 Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2005 Rp 15.820 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 91 .200 6) Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = jumlah pengeluaran pembiayaan Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = Rp 5.700 3) Arus kas masuk berasal dari aktivitas investasi non-keuangan = Lain-lain PAD yang berasal dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan.400 – Rp 15.145 Berdasarkan data-data di atas laporan arus kas dapat disusun dengan melakukan analisis sbb.800 – Rp 24.255 Rp 7.: 1) Arus kas masuk dari aktivitas operasi = Total Pendapatan – Penjualan Aset Daerah yang Dipisahkan Arus kas masuk dari aktivitas operasi = Rp 60.

090) 15. laporan arus kas secara ringkas dapat disusun sebagai berikut : LAPORAN ARUS KAS Pemerintah Daerah “Q” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005 (dalam jutaan rupiah) Rp Arus Kas Dari Aktivitas Operasi (Rp 60. SiLPA dalam neraca dapat dihitung: SiLPA = Rp 7.000 (24.110) 15. 92 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .255 7.200 – Rp 5.800 – Rp 4. SiLPA akhir tahun dalam Laporan Realisasi APBD Pemda “Q” untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2005 adalah Rp 7.700 – Rp 45.145 1.Analisis Laporan Keuangan Daerah Selanjutnya. Ternyata. yang dapat dihitung dengan rumus: SiLPA = Jumlah kas akhir tahun – Jumlah Kewajiban PFK akhir tahun Berdasarkan data mengenai posisi kas dan utang PFK di atas.110.100) Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan (Rp 6. Pengujian ini memberikan salah satu indikasi bahwa penyusunan laporan keuangan sudah benar.700) Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non-Keuangan (Rp 10 – Rp 24.145 – Rp 35 = Rp 7.110.200) Arus Kas Dari Aktivitas Non-Cadangan (Rp 4.000 Berdasarkan contoh di atas. Jumlah SiLPA tersebut harus sama dengan jumlah SiLPA yang akan dilaporkan pada kelompok “Ekuitas Dana Lancar” di Neraca. jumlah SiLPA akhir tahun di Laporan Realisasi APBD sudah sama dengan jumlah SiLPA di Neraca.820) Kenaikan (Penurunan) Kas Saldo Kas Pada Awal Tahun Saldo Kas Pada Akhir Tahun (20) (8.

4). Bila tidak. Oleh karena itu. dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut. Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. 2). Oleh karena itu. Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar di kurangi kewajiban jangka pendek. Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut: 1). 5). (Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan). total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset dengan kewajiban. dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut. Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen. 3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa kondisi berikut: • • • Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit. PPh dan PPn). maka jumlah pembiayaan neto harus positif. Hubungan berikut dapat digunakan dalam menilai kebenaran angkaangka dalam laporan arus kas: 1) Saldo kas pada akhir tahun harus sama dengan jumlah kas pada akhir tahun di Neraca. dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan neto yang negatif tersebut. Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan perhitungan: Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka Panjang 6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana cadangan. maka selisihnya menjadi SiLPA. (Jumlah pembiayaan neto negatif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan). Rangkuman Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut: 1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif). 3). Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah. askes. Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif. 2) Pembiayaan neto negatif hanya diijinkan bila anggaran direncanakan surplus.Analisis Laporan Keuangan Daerah F. Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 93 . jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan jumlah dana cadangan.

6) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran.Analisis Laporan Keuangan Daerah 2) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi dapat sama dengan jumlah pendapatan daerah dikurangi penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan (dalam laporan realisasi anggaran) 3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total belanja (dalam laporan realisasi anggaran) tetapi tidak termasuk belanja modal. 94 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran. 4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan (dalam laporan realisasi anggaran).

dikatakan ia/mereka melakukan analisis rasio keuangan. Oleh karena itu. 2. analisis rasio keuangan memiliki keunggulan. Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan analisis perbandingan pada laporan keuangan daerah. sebagai berikut: 1. dengan maksud untuk mengetahui capaian atau kinerja keuangan entitas dimaksud. antara lain. Rasio merupakan pengganti (yang lebih sederhana) dari informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan (yang rinci dan rumit). Memperoleh pemahaman mengenai jenis-jenis analisis perbandingan pada laporan keuangan daerah. jika seseorang atau lembaga melakukan perhitungan dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan suatu entitas. 5. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai keunggulan dan kelemahan analisis perbandingan. 4. Analisis Bab 7 A. Standarisasi unit-unit pengukuran komponen keuangan pemerintah daerah. Lebih mudah memperbandingkan kondisi keuangan pemerintah daerah dengan pemerintah daerah lain atau melihat perkembangan pemerintah daerah secara periodik. Lebih mudah melihat perkembangan pemerintah daerah serta melakukan prediksi di masa yang akan datang. Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan Perbandingan pos-pos laporan keuangan sering disebut dengan istilah rasio keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Perbandingan Setelah mempelajari bab ini. Dibandingkan dengan teknik analisis keuangan lainnya. 3. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 95 .

khususnya di sektor pemerintahan. 5. Rasio leverage yaitu rasio untuk mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik dengan dana yang dipinjam dari kreditor. kebebasan memilih metode akuntansi. Pemerintah Pusat. Di sektor bisnis (perusahaan). 2. Belum ada standar atau patokan yang dapat digunakan untuk menilai baik atau buruknya suatu angka rasio. 4. sedang atau kurang. Rasio aktivitas yaitu rasio untuk mengukur efektif-tidaknya perusahaan di dalam menggunakan dan mengendalikan sumber daya yang dimilikinya. kreditor. Angka rasio yang dihasilkan dari perhitungan perbandingan pos-pos laporan keuangan suatu pemda belum tentu dapat dibandingkan dengan angka rasio pemda lainnya. Jenis-jenis Perbandingan Pengguna hasil analisis laporan keuangan di sektor bisnis umumnya adalah investor. Rasio solvabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas untuk membayar semua utangnya. analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan ini memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: 1. 2. investor dan kreditor. pengguna hasil analisis laporan keuangannya lebih luas lagi. Sedangkan di sektor publik (pemerintahan). Rasio profitabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan entitas dalam menghasilkan laba (keuntungan). Belum ada keseragaman dalam hal istilah-istilah rasio maupun dalam kaidah pengukurannya. manajemen dan analis keuangan. bila rasio realisasi pendapatan pajak mencapai 110%. 96 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . masyarakat. berapa angka rasio kemandirian yang harus dicapai oleh pemda untuk dapat dikatakan mandiri dalam hal pendanaan. karena mungkin saja teknik perhitungannya berbeda atau pemilihan metode dan prinsip akuntasi yang berbeda. apakah angka tersebut berarti sangat baik. yaitu Pemerintah Daerah (eksekutif). 3. seperti nilai perolehan historis.Analisis Laporan Keuangan Daerah Di sisi lain. analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan umumnya dinyatakan dalam suatu ukuran rasio keuangan yang terdiri dari: 1. nilai estimasian. baik. 4. B. Validitas angka rasio dipengaruhi secara otomatis oleh validitas angkaangka yang dilaporkan dalam laporan keuangan dan dipengaruhi oleh kelemahan inheren laporan keuangan. Rasio likuiditas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas (organisasi) dalam membayar utangnya yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek. Misalnya. DPRD (legislatif). 3.

Perbandingan Realisasi vs Anggarannya b. Leverage Untuk mempermudah penyebutannya. belanja.Analisis Laporan Keuangan Daerah Sedangkan di sektor publik (pemerintahan).A. 2007). beberapa perbandingan pos-pos laporan keuangan. Perbandingan Realisasi vs Anggaran Perbandingan ini untuk mengukur realisasi pos-pos APBD yang meliputi realisasi pendapatan. dan c. Bisa juga perbandingan realisasi pos-pos APBD dilakukan antara satu pemda dengan pemda yang lain untuk tahun anggaran yang sama (komparatif horizontal).) 2006 terhadap realisasi pajak daerah T. Efektifitas PAD Perbandingan ini digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan (berdasarkan potensi riil daerah). Perbandingan ini pada dasarnya untuk mengetahui keberhasilan pencapaian target pendapatan dan mengevaluasi ketaatan dalam pelaksanaan belanja dan pembiayaan. Kemampuan daerah Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 97 . Efisiensi Pendapatan Asli Daerah d. 2005 (komparatif vertikal). adalah sebagai berikut: 1. sebagaimana yang telah dibahas di bab 3.A. Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu 2. Kemandirian Keuangan Daerah b. surplus (defisit) dan pembiayaan. Dari format laporan realisasi APBD. perbandingan dalam kelompok 1 dan 2 di atas (kecuali Kemandirian Entitas) disebut Perbandingan Pos APBD. Misalnya perbandingan realisasi pajak daerah Tahun Anggaran (T. Efektifitas Pendapatan Asli Daerah c. terdapat dua perhitungan yaitu: a. antara lain terdapat empat perhitungan. Likuiditas. khususnya APBD. Solvabilitas. b. Perbandingan Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu Perbandingan ini dimaksudkan untuk mengukur pertumbuhan (kenaikan/ penurunan) pos-pos APBD dalam dua tahun anggaran yang berurutan. sedangkan kelompok 3 disebut Perbandingan Pos Neraca. yaitu: a. Keserasian Belanja 3. terdapat tiga perhitungan perbandingan. yaitu: a. Dari adaptasi terhadap rasio keuangan sektor bisnis. Dari data APBD yang dikembangkan oleh Widodo (dalam Halim.

Keserasian Belanja Rasio keserasian ini digunakan untuk mengukur keserasian belanja yang direalisasikan oleh pemda. Solvabilitas Perhitungan solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo. jika hasil perhitungannya kurang dari 1 atau lebih kecil dari 100%. 98 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Leverage Perhitungan leverage digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemerintah daerah) dengan total utang. Efisiensi PAD Perhitungan ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan (PAD) dengan realisasi pendapatan yang diterima. jika hasil perhitungannya minimal sebesar 1 atau 100%. Contoh. Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar dan rasio kas. berarti kinerja pemerintah daerah semakin baik. tingkat kemandirian dapat juga dibaca sebagai indikator tingkat partisipasi masyarakat lokal terhadap pembangunan daerah. Kemandirian Perbandingan ini digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian pemerintah daerah dalam hal pendanaan aktivitasnya. Semakin kecil hasil perhitungannya. rasio total belanja tidak langsung terhadap total belanja langsung. Rasio ini dapat diukur dengan membandingkan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah pinjaman (selain utang PFK dan utang pajak PPn/PPh). rasio biaya pemungutan pajak dengan pendapatan pajak. indikator perkembangan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakatnya. Suatu pemerintah daerah dikatakan efisien dalam melakukan pemungutan PAD. Rasio ini bisa diukur dengan rasio utang terhadap aktiva atau rasio utang terhadap ekuitas dana. Di samping itu. Likuiditas Perhitungan likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya.Analisis Laporan Keuangan Daerah dalam melaksanakan tugasnya dikatakan efektif.

420 56.000 64.450 3.750 275. Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Anggaran Setelah Perubahan TA 2007 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain-lain PAD yang Sah DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 359.603 21.515 8.200 321.795 34.500 0 281.750 2.000 75.820 247.600 255.660 74.000 22.145 1.260 7. Perbandingan Pos APBD Contoh laporan realisasi APBD di bawah ini akan digunakan untuk memberikan ilustrasi mengenai beberapa perbandingan pos-pos APBD.500 11.400 120 10.500 0 347.750 275.515 8.200 21.500 11.515 64.690 Realisasi TA 2007 3360.545 0 349.000 19.145 301.600 150 72.500 11.540 150 8.265 36.000 21.065 7.950 1.210 12.450 10.940 12.353 38.568 13.515 64.750 34.933 246.500 10.175 56.160 14.000 10.000 66.200 208.250 12.600 57.355 214.978 18.000 8.560 1.600 35.540 120 10.700 135 101.935 Realisasi TA 2006 338.665 20.000 160 102.995 38.578 7.940 188.650 2.820 215.500 50.000 68.515 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 99 .240 321.Analisis Laporan Keuangan Daerah C.800 2.

000 19.82 99.750 275.67 101.000 66.500 11.000 21.145 1.935 Rasio Realisasi (%) (3) = (2) : (1) 100.200 321.41 99.353 38.515 8.175 56.50 101.995 38.000 75.200 21.000 10.47 100 100 98.000 8.000 22.750 34.690 360.400 120 10.540 120 10.05 101.578 7.73 98.933 246.978 18.250 12.800 2.750 275.97 100 100 99.355 214.000 68.09 101.950 1.420 56.500 11.515 64. Realisasi vs Anggaran Berdasarkan data di atas dapat digambarkan perhitungan realisasi anggaran sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Anggaran Setelah Perubahan TA 2007 Realisasi TA 2007 (2) (1) PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain-lain PAD yang Sah DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 359.51 91.603 21.36 100 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah 1.940 12.820 247.06 100 100 100 103.500 0 347.64 84.795 34.568 13.38 99.650 2.46 99.515 8.000 160 102.61 0 99.21 99.545 0 349.92 122.240 321.700 135 101.820 215.515 64.660 74.59 99.

misalnya realisasi pajak daerah TA 2007 dibandingkan dengan realisasi pajak daerah TA 2006. hal ini menunjukkan ketaatan pada peraturan. Surplus (defisit) Pemda yang mengalami defisit belum tentu kinerjanya lebih buruk dari pemda yang surplus. akan tetapi tingkat penyelesaian gedung tersebut baru 90%. tetapi perhitungan yang menunjukan selisih dari anggaran pendapatan dan anggaran belanja. meskipun pelampauannya sangat kecil.A. Dengan demikian. Analisis rasio realisasi belanja di atas menunjukkan angka tertinggi 100%. Untuk itu. hal ini menunjukkan tingkat penyerapan dana yang optimal. berarti terdapat efisiensi 4% dari anggaran belanjanya. Sementara rata-rata tingkat penyerapan adalah lebih dari 90%. tidak ada larangan atau bukan hal yang salah bila realisasi defisit melebihi 100% dari yang direncanakan (misal karena Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 101 . kecuali pos bagian laba dari BUMD. karena mungkin saja pemda yang defisit tersebut mempunyai anggaran belanja kegiatan yang jauh lebih besar dibanding dengan pemda yang surplus.A. Realisasi Pendapatan Semua pos PAD melampaui targetnya masing-masing. 2007 (setelah perubahan anggaran) idealnya harus lebih besar atau paling tidak sama dengan realisasi pendapatan T. agar mendapat gambaran yang lebih baik. Sebaliknya bila tingkat penyelesaian gedung tersebut sudah 100% sementara penyerapan dananya adalah 96%. Hal ini perlu mendapat jawaban tersendiri dari pihak pengelola kegiatannya kenapa hal tersebut terjadi.Analisis Laporan Keuangan Daerah Realisasi anggaran dihitung secara sederhana yaitu dengan membandingkan realisasi pos-pos APBD (kolom 2) dengan anggarannya masing-masing (kolom 1). Sebagai contoh. Harus dicermati bahwa persentase tingkat penyerapan dana idealnya selaras dengan tingkat penyelesaian kegiatannya (kinerja program/kegiatan). Harus dicermati bahwa target pendapatan T. Realisasi Belanja Realisasi belanja tidak diperkenankan melebihi plafonnya. realisasi belanja pembangunan gedung (belanja modal) adalah 100%. Surplus (defisit) hakikatnya bukan merupakan anggaran. Perbandingan ini tidak hanya dihitung untuk mengetahui tingkat realisasi tahunan. 2006. tetapi juga bisa dilakukan untuk melihat realisasi triwulanan dan semesteran. seyogyanya realisasi pendapatan tahun berjalan dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

sepanjang tidak ada peraturan khusus yang melarangnya. Sedangkan anggaran penerimaan pembiayaan sifatnya seperti pendapatan di mana jumlah yang dianggarkan adalah target yang boleh dilampaui.29 104. SiLPA hakikatnya bukan anggaran tetapi perhitungan yaitu selisih antara surplus (defisit) dengan pembiayaan neto.145 Realisasi TA 2007 (2) 360.72 104. 2.145 1.Analisis Laporan Keuangan Daerah anjloknya realisasi pendapatan pajak dari yang ditargetkan).210 12.53 105. kolom (1) diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2006 dan kolom (2) diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2007. Dengan demikian. Realisasi Pembiayaan Anggaran pengeluaran pembiayaan sifatnya seperti belanja di mana jumlah yang dianggarkan merupakan pagu yang tidak boleh dilewati. SiLPA akhir tahun Seperti halnya surplus (defisit).265 36.66 94.240 Rasio Komparatif (%) (3) = (2) : (1) 106.43 102 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dan pembiayaan. Dalam hal ini. Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu Perhitungan perbandingan realisasi sekarang vs tahun lalu (rasio komparatif) pada dasarnya sama dengan perhitungan realisasi anggaran di atas. Berdasarkan data di atas dapat di gambarkan penggunaan rasio realisasi anggaran untuk perbandingan realisasi saat ini vs tahun lalu (komparatif) sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2006 (1) PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain2 PAD yang Sah 338.560 1.603 21. yaitu angka pada kolom (2) dibagi dengan angka pada kolom (1).353 38.568 13.650 2. sepanjang jumlah pembiayaan netonya dapat menutup realisasi defisit tersebut.665 20.29 106. yang menjadi fokus evaluasi adalah realisasi pendapatan. belanja.750 2.

933 246.69 148.355 214. dana alokasi umum (DAU).500 10.500 0 281.450 3.37 266.600 255.07 90 140.750 34. Rasio komparatif untuk pendapatan dapat diturunkan menjadi rasio pertumbuhan.61 107. retribusi daerah.935 Rasio Realisasi (%) (3) = (2) : (1) 106.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2006 (1) DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 301.72% (106.600 35.500 50.67 106.600 57.515 Realisasi TA 2007 (2) 321.91 113.160 14.940 12.000 64.515 64.600 150 72.450 10.57 111.68 97.515 8.500 11. misal rasionya 90% (angka ini bukan hasil penelitian).065 7.400 120 10.59 617.660 74.10 21.72 80 117. maka perlu mendapat penjelasan dari pemda karena ketiga pos tersebut secara normal cenderung naik setiap tahunnya dan rasio komposisinya signifikan terhadap jumlah pendapatan daerah.540 150 8.260 7. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 103 . Harus dicermati untuk pos pendapatan yang cenderung naik dan jumlahnya signifikan seperti pajak daerah.000 68.500 0 347.72%-100%).940 188.64 187.700 135 101.500 11.76 758. 2007 tumbuh 6.578 7. Bila rasio komparatif dari ketiga pos pendapatan ini turun signifikan.73 117.420 56.000 21.52 0 123.200 208. Sebagai contoh pajak daerah TA.42 128.750 275.978 18.85 a.83 109.

Hal ini disebabkan karena SiLPA awal tahun 2006 yang masuk ke penerimaan pembiayaan TA 2006 jumlahnya jauh lebih kecil (Rp 10. Sebagai contoh.560 21. 8.145 1.240 (%) terhadap PDRB 4.72 104.515 juta). Rasio komparatif baik untuk pos pendapatan dan pos belanja secara umum di atas 100%.72 4.145 1.A.568 13.650 2. 2007 terhadap nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).24% 0. Hal ini menunjukkan kondisi yang normal. seperti berikut ini.353 38. Analisis rasio komparatif di atas dapat juga dikembangkan dengan menambahkan kolom baru untuk jumlah perubahannya (yang menggambarkan pertumbuhan positif/negatif).450 juta) dibanding SiLPA awal tahun 2007 yang masuk ke penerimaan pembiayaan TA 2007 (Rp 64.66 106.Analisis Laporan Keuangan Daerah b. bila dalam contoh di atas diasumsikan penerimaan pembiayaan hanya berasal dari SiLPA awal TA 2007 sebesar Rp 64.A. bila PDRB pada T.210 12.5 Triliun. c.45% 0.15% 0.02% 0.568 13. Perubahan = Naik(Turun) Pos/Rekening PAD Pajak Daerah Retribusi Daerah Dst….515 berasal dari SiLPA akhir TA 2006.03% 104 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .66 Realisasi Realisasi Jumlah % TA 2006 TA 2007 (3) =(2) .603 21.(1) (4) =(3) : (1) ( 1 ) (2) Rasio Komparatif (%) (5) =(2) : (1) Perhitungan rasio komparatif lainnya adalah dengan membandingkan Realisasi Anggaran T. 20.25% 0. Rasio komparatif untuk pos pembiayaan naik spektakuler hingga rasio tertinggi 758%.358 585 6. 2007 sebesar Rp. terlebih lagi belanja yang cenderung naik setiap tahunnya. maka ilustrasinya dapat digambarkan sebagai berikut: (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2007 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain2 PAD yang Sah 360.

81% 3. Sedangkan belanja langsung adalah belanja yang terkait secara langsung dengan adanya program dan kegiatan.750 275.12% 0.000 21.41% 3.09% 2.500 11.00% 1.978 18.00% 0.750 34.933 246.420 56.Analisis Laporan Keuangan Daerah (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2007 DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 68.52% 0.26% 0.90% 2.660 74.935 321.09% 0.515 8.88% 0.09% 0. belanja dibagi ke dalam dua kelompok: belanja tidak langsung dan belanja langsung. Belanja langsung harus ditetapkan indikator kinerjanya sebab akan diukur kinerja pelaksanaan program/kegiatannya.578 7.20% 0.400 120 10.000 (%) terhadap PDRB 3.79% 0. Keserasian Berdasarkan Pemendagri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.15% 0.500 0 347. Sedangkan belanja tidak Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 105 .22% 0.24% 0.00% 4.700 135 101. Belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak terkait langsung dengan adanya program dan kegiatan.66% 0.940 12.76% 0.515 64.355 214.14% 0.

000 6. Analisis bisa dikembangkan lebih spesifik lagi dengan mencermati berapa komposisi antara belanja langsung yang dinikmati secara langsung atau sebagian besar oleh masyarakat (belanja publik) dan belanja langsung yang tidak dinikmati secara langsung oleh masyarakat (belanja non publik). Sedangkan kondisi ideal yang diharapkan adalah belanja langsung (terutama yang bermanfaat langsung bagi publik) yang lebih besar dan semakin lebih besar dari belanja tidak langsung.325 PASSIVA UTANG Utang Jk.890 6. karena itu belanja tidak langsung tidak perlu diukur kinerjanya. solvabilitas. Pendek Utang Potongan PFK Utang Pajak Pusat Bagian Lancar Utang Jk. dan kemandirian.23% Dapat dikatakan bahwa rasio belanja masih jauh dari keseimbangan (keserasian) karena belanja tidak langsung masih mendominasi.935 579.500 5.355 = 41.000 650. NERACA Pemerintah Daerah “Suka2” Per 31 Desember 2007 (dalam jutaan rupiah) AKTIVA Aktiva Lancar Kas Piutang Pajak Daerah Persediaan Investasi Jk Panjang Aktiva Tetap Dana Cadangan Rp 663. Perbandingan yang serasi adalah bila belanja publik lebih besar dan semakin lebih besar dibanding dengan belanja non publik. D. Berdasarkan contoh di atas: Rasio keserasian belanja = belanja langsung : belanja tidak langsung Rasio keserasian belanja = 101.340 3.825 68.890 1.578 : 246.000 106 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .325 12. leverage.000 Utang Jk.540 Rp 663.435 65.350 1. Panjang 25.935 2.500 EKUITAS DANA 5.Analisis Laporan Keuangan Daerah langsung tidak dapat (sulit) untuk ditetapkan indikator kinerjanya. Perbandingan Pos Neraca Data berikut ini diambil dari Neraca Pemerintah Daerah “Suka2” untuk memberikan ilustrasi perhitungan rasio likuiditas. Berdasarkan konsep tersebut maka perbandingan yang serasi adalah bila belanja langsung lebih besar dan semakin lebih besar dibanding belanja tidak langsung.000 Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan 72. Panjang 560.550 2.

pemda sudah dapat melunasi utang jangka pendek tsb pada saat ini.53:1.825 – 1. Oleh karena itu.35 Rasio lancar ini menunjukkan perbandingan antara aktiva lancar (di luar persediaan) dengan utang jangka pendek yang besarnya adalah 10.890 Rasio lancar = 10. pemda mempunyai Rp 10. Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar dan rasio kas (terhadap utang jk. 2.46 Kesimpulan: rasio solvabilitas menunjukkan perbandingan antara total Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 107 . Rasio ini bisa diukur dengan rasio aktiva terhadap utang atau rasio ekuitas dana terhadap utang.540) : 6. Rasio solvabilitas = total aktiva : total utang Rasio solvabilitas = 663. Pendek Rasio lancar = (72. Rasio lancar = (aktiva lancar – persediaan) : utang jk.890 Rasio kas = 10 Kesimpulan: rasio kas menunjukkan perbandingan yang lebih likuid dari rasio lancar. Artinya tanpa harus menunggu ditagihnya piutang pajak. dalam perhitungan rasio lancar sebaiknya pos persediaan tidak diperhitungkan. Rasio kas = kas dan setara kas : utang jk.325 :12. Kondisi ini menunjukkan bahwa kodisi keuangan pemda sangat likuid. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemda sangat likuid. Pendek).935 : 6. dalam hal ini perbandingan antara kas dengan utang jangka pendek adalah 10 : 1.35 aktiva yang sangat lancar. Pos persediaan pada neraca pemda umumnya bukan persediaan barang dagang yang ditujukan untuk dijual tetapi untuk digunakan dalam operasi pemerintah atau diserahkan kepada masyarakat.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1. pemda mempunyai Rp 10 kas dan setara kas. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. Likuiditas Rasio likuiditas mengukur kemampuan pemda untuk membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang.890 = 51. Solvabilitas Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan pemda untuk membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo. Pendek Rasio kas = 68.

Rasio leverage = total ekuitas dana : total utang Rasio leverage = 650.46 Kesimpulan: rasio leverage menunjukkan perbandingan antara kekayaan bersih (ekuitas dana) dengan utang. hal ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan Pemkab Masyarakat Sejahtera sangat solid. Dana alokasi umum merupakan dana yang berasal dari APBN yang ditransfer ke pemda dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. maka untuk mengukur kemandirian unsur pinjaman tersebut harus diperhitungkan. Kemandirian Rasio kemandirian digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian pemda dalam hal pendanaan aktivitasnya.890 = 50. 3.46 aset.Analisis Laporan Keuangan Daerah aktiva dengan total utang yang besarnya adalah 51. Bila pinjaman jumlahnya dianggap material. Dana alokasi umum masih merupakan sumber pembiayaan yang utama (andalan) bagi pemda-pemda pada umumnya. Rasio leverage selama ini hanya digunakan di sektor perusahaan untuk mengukur komposisi sumber pembiayaan yang berasal dari kreditor dan investor. 108 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Di pemerintah daerah. rasio ini mungkin belum (tidak) merupakan rasio yang penting sebab tingkat utang daerah yang masih relatif kecil dan syarat penarikan pinjaman daerah menggunakan DSCR dan rasio maksimum pinjaman. yang besarnya adalah 50 : 1. pemda mempunyai Rp 51. dapat dikatakan bila perbandingan sumber pembiayaan dari PAD terhadap DAU semakin besar.46 : 1. Leverage Rasio leverage digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemda) dengan total utang. berarti hal ini menunjukkan tingkat kemandirian yang semakin meningkat pula. Rasio ini dapat diukur dengan membandingkan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah pinjaman (selain utang PFK dan utang pajak PPn/PPh). 4. akan tetapi sebaiknya mengeluarkan utang PFK dan utang pajak pusat sebab kedua jenis utang tersebut tidak dimaksudkan untuk menambah sumber pendanaan pemda. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang.435 : 12. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemda masih sangat solvable. Dengan demikian.

550 – 2.Analisis Laporan Keuangan Daerah Rasio kemandirian = Realisasi PAD : {DAU + (Utang – Utang PFK – Utang pajak pusat)} Rasio kemandirian = 38.603 : {275.500 + (12. Rangkuman Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: • • • • Belum ada keseragaman.603 : 284.890 – 1.57% E.500 = 13. Belum ada standar untuk melakukan penilaian Hasil perhitungannya belum tentu dapat dibandingkan Validitas hasil perhitungannya tergantung pada validitas angka-angka laporan keuangan Beberapa perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah adalah sebagai berikut: • • • • • • • • • Perbandingan Realisasi vs Anggarannya Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu Kemandirian Keuangan Daerah Efektifitas Pendapatan Asli Daerah Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Keserasian Belanja Likuiditas Solvabilitas Leverage Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 109 .340)} Rasio kemandirian = 38.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 110 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Kecenderungan
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • Memperoleh pemahaman mengenai pengertian analisis kecenderungan beserta sifat-sifatnya. Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan analisis kecenderungan dengan menggunakan tahun dasar, bergerak, dan menggunakan diagram pencar.

Analisis

Bab 8

A. Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan Analisis kecenderungan (trend) adalah suatu teknik analisis yang mencoba untuk mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahanperubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang. Suatu perubahan tentunya dapat diakibatkan oleh adanya interaksi dari sejumlah faktor (variabel). Apabila faktor-faktor tersebut diperkirakan dapat menyebabkan perubahan terhadap data yang kita analisis, maka dalam hal ini dapat digunakan analisis sebab-akibat. Penggunaan regresi linear sederhana dan regresi berganda merupakan contoh dari analisis sebab-akibat. Sementara itu, apabila kita hanya menyusun suatu model dengan menggunakan hubungan antara variabel tanpa memperhatikan apakah yang satu mempengaruhi yang lain atau tidak, maka kita melakukan analisis kecenderungan sederhana. Dengan demikian, sifat-sifat analisis kecenderungan dapat disimpulkan sebagai berikut : • • Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos (misalnya pos belanja pemeliharaan, pos pendapatan pajak daerah). Membutuhkan data runtut waktu (time series data) selama beberapa tahun sebagai bahan analisis.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

111

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Analisis dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angkaangka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. Pada bagian berikut akan dibahas tiga metode analisis kecenderungan

sederhana, yaitu analisis kecenderungan dengan tahun dasar, analisis kecenderungan bergerak (dari tahun ke tahun), dan analisis kecenderungan dengan diagram pencar. B. Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar Analisis kecenderungan sederhana dimaksudkan hanya untuk mengetahui kecenderungan suatu pos (naik atau turun) dengan membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan, tanpa mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut. Data berikut adalah untuk contoh perhitungan analisis kecenderungan dengan menggunakan tahun dasar.
(dalam jutaan rupiah) Jenis Belanja Belanja Pemeliharaan Gedung Kecenderungan (%) Kenaikan dari tahun dasar Th. 2001 Th. 2002 Th. 2003 Th. 2004 Th. 2005 200 100 220 110 10 245 123 23 260 130 30 270 135 35

Analisis kecenderungan pada contoh di atas menggunakan belanja tahun 2001 sebagai tahun dasar, dengan jumlah belanja sebesar Rp 200 juta. Dengan demikian, indeks belanja pemeliharaan gedung tahun 2001 sampai dengan 2005 dihitung dengan rumus: Belanja tahun n ----------------------------------- X 100% Belanja tahun 2001 Dengan demikian, kita dapat melihat besarnya kenaikan dari tahun ke tahun dengan membandingkan kecenderungan (persentase dari tahun dasarnya) tahun ke (n) dikurangi dengan kecenderungan tahun ke (n-1). Dari perhitungan di atas, dengan melihat kenaikan dari tahun 2002 sampai dengan 2005, maka kita dapat memperkirakan kenaikan tahun 2006, yaitu kurang lebih 40% atau besarnya belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 kira-kira sebesar Rp 280 juta atau 140% X Rp 200 juta.

112

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

C. Analisis Kecenderungan Bergerak Kelemahan dari analisis kecenderungan dengan tahun dasar adalah tidak dapat diketahui secara langsung berapa rata-rata kenaikan per tahunnya. Oleh sebab itu, kita dapat menggunakan analisis kecenderungan bergerak (dari tahun-ke-tahun) untuk mengetahui rata-rata kenaikan per tahun. Misalnya terdapat data tentang Belanja Pemeliharaan Gedung sbb
(dalam jutaan rupiah) Tahun Jumlah Kenaikan Keterangan

2001 200 2002 220 2003 245 2004 260 2005 270 Rata-rata kenaikan per tahun

10% 11,36% 6,12% 3,85% 7,83%

Kenaikan dari th. 2001 Kenaikan dari th. 2002 Kenaikan dari th. 2003 Kenaikan dari th. 2004 Kenaikan dari th. 2005

Analisis kecenderungan perubahan pada contoh tersebut menggunakan tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menghitung perubahan (kenaikan atau penurunan), atau dapat dinyatakan dengan rumus: Belanja tahun n+1 – Belanja tahun n ------------------------------------------------- X 100% Belanja tahun n Teknik analisis ini pada dasarnya sama dengan teknik analisis rasio komparatif hanya di sini melibatkan data beberapa tahun agar diperoleh ratarata kenaikan per tahunnya. Selanjutnya, rata-rata kenaikan per tahun tersebut dapat digunakan untuk mengestimasi kenaikan yang normal untuk tahun berikutnya. Dari contoh tersebut diketahui bahwa kenaikan belanja pemeliharaan gedung berkisar antara 3,85% s.d. 11,36% atau rata2 sebesar 7,83%. Implikasi dari hasil analisis ini adalah bila belanja pemeliharaan gedung yang diusulkan untuk tahun 2006 naik di atas 11,36% (dari belanja th. 2005), maka perlu lebih dicermati, apakah karena faktor inflasi semata, faktor volume pemeliharaan gedung yang meningkat, atau kedua-duanya. Selanjutnya, bila kita menggunakan angka kenaikan rata-rata untuk mengestimasi belanja pemeliharaan gedung tahun 2006, maka diperkirakan belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 adalah sekitar Rp 300 juta, dengan perhitungan: Rp 270 juta x 107,83% = Rp 299,76 juta

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

113

2005 (dalam jutaan rupiah) Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Pajak daerah 14.465 37. Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar Metode ini dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik. 2005 (dalam jutaan rupiah) 40.062 Maka diagram pencarnya akan nampak seperti di bawah ini.000 10.680 28.145 23.Analisis Laporan Keuangan Daerah D.730 23. Pendapatan Pajak Daerah.750 12. Berikut ini disajikan data tentang hasil pajak daerah suatu pemda selama 10 tahun terakhir dan langkah-langkah bagaimana menentukan garis kecenderungannya. periode 1996 s.165 26.000 30. Pendapatan Pajak Daerah.766 18. Penggambaran garis kecenderungan dapat dilakukan dengan tangan bebas atau dengan bantuan penggaris.320 11.000 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 114 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .245 10.000 20.d.d. periode 1996 s.

Perlu diperhatikan bahwa pembuatan garis kecenderungan sifatnya sangat subyektif. Artinya bila ada beberapa orang diminta untuk menarik garis kecenderungan dengan. sebab masing-masing orang mempunyai pilihan sendiri sesuai dengan anggapannya garis mana yang mewakili diagram pencar. Dari data yang tersedia pada contoh di atas. yaitu kumpulan titik-titik koordinat (X. Dengan membandingkan garis kecenderungan dengan sebaran titik-titik berdasarkan data yang sebenarnya. Di samping itu. Bagi auditor. hasil diatas dapat digunakan untuk membuat perencanaan audit dalam menentukan luasnya dan lokasi bukti-bukti yang akan diuji. analisis di atas tentunya sangat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan untuk mengevaluasi kinerja satker yang bertanggung jawab atas perolehan pajak daerah. kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. misalnya Dinas Pendapatan Daerah. analisis ini dapat juga digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk perencanaan pada tahun-tahun berikutnya. misalnya antara keadaan ekonomi. Bagi pemerintah daerah. maka kemungkinan akan diperoleh garis kecenderungan lebih dari satu. hasil analisis tersebut dapat juga digunakan sebagai bahan untuk membuat kesimpulan audit dan saran-saran perbaikan yang diperlukan oleh manajemen pemerintah daerah. buat scatter plot. Di samping itu.Analisis Laporan Keuangan Daerah Langkah-langkah menentukan garis kecenderungan tersebut di atas adalah sebagai berikut: Buat sumbu tegak Y (yang menunjukkan variable pendapatan pajak daerah) dan sumbu mendatar X (yang menggambarkan tahun anggaran). Dari diagram di atas maka kita dapat memprediksi pendapatan pajak daerah untuk tahun-tahun yang akan datang. maka kita dapat melihat adanya titik-titik yang ‘tidak mengikuti aturan’ misalnya terlalu jauh dari garis kecenderungan. tariklah garis yang kira-kira mendekati (mengikuti) pola dari titik-titik koordinat yang ada. biaya sosialisasi dan pemungutan pajak dengan jumlah pendapatan pajak daerah. Langkah selanjutnya adalah meneliti mengapa situasi tersebut terjadi. atau kita dapat melakukan analisis hubungan antar variabel.Y) Dengan jalan observasi atau pengamatan langsung terhadap bentuk scatter plot. Oleh karena Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 115 . Garis kecenderungan di atas juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya keanehan atau ketidakaturan yang terjadi.

140 xi= 0 yi = 0 2 xi = 370 2 yi = 9. Biaya Pemeliharaan Jalan. metode ini tidak dapat memberikan alasan yang kuat secara ilmiah untuk digunakan sebagai alat analisis.800 xiyi = 55.400 3.000 65.600 313.700 Y = 7. X (ribuan) Y (jutaan) X-X x Y-Y y X2 y2 xy 50 60 40 55 65 6. periode 2001 s.250 7.269.080 27.Analisis Laporan Keuangan Daerah itu. Misalnya terdapat data yang menunjukkan hubungan antara biaya pemeliharaan jalan (Y) dan luas jalan yang diperbaiki (X) di suatu pemda dalam lima tahun terakhir sebagai berikut. Dalam berbagai situasi.700 9.000 Biaya (jutaan Rp) 6.000 60.250 7.230 Dari data diatas. Pada bagian ini akan diberikan ilustrasi analisis hubungan antar dua variabel dengan teknik regresi linier sederhana.350 116 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .320 5.100 3.560 1.700 9.000 40. 2005 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Luas Jalan (m2) 50.100 792. menentukan hubungan antara dua variablel (dependen dan independen) tidak mudah dilakukan.160 560 22. E. Analisis Kecenderungan dengan Hubungan Antar Variabel Terjadinya suatu biaya dan/atau pendapatan tentu ada pemicunya yang lazimnya disebut sebagai variabel independen.763.090 16 36 196 1 121 32.940 560 2.200 7.600 4.230 -4 6 -14 1 11 -890 180 -1.d. kita dapat menentukan hubungan antara X dan Y dengan menghitung koefisien korelasi (r) dan koefisien penentu (r2) serta membuat perkiraan berapa besarnya belanja pemeliharaan pada luas jalan tertentu sebagai berikut.320 5.200 7.368.990 Xi = 270 X= 54 Yi = 35.000 55.

960 Dengan demikian. sedangkan 10% nya disebabkan oleh faktor lain.9025 Hal ini menunjukkan bahwa 90% dari perubahan biaya pemeliharaan (Y) dipengaruhi oleh luas jalan (X).800 55.548 ----------------------------------.95 menunjukkan bahwa hubungn X (luas jalan) dan Y (biaya pemeliharaan) sangat kuat dan positif.= -------------.100 = . Sifat-sifat analisis kecenderungan adalah: • Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos laporan keuangan.350 = 370 x 9. (c). (b).140 – (150 x 54) = 7. bila luas jalan 100 m 2 maka perkiraan belanja pemeliharaan adalah: Y’ = a + bX = -960 + 150 (100) = Rp14.95)2 = 0.350 = ------------.b X = 7.Analisis Laporan Keuangan Daerah a).269.140 – 8.= 150 370 b = --------xi 2 a = Y . Rangkuman Analisis kecenderungan mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahan-perubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang.040 juta F. Persamaan regresi linier: Y’ = a + bX xiyi 55. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 117 . Koefisien korelasi ( r ) xiyi = ------------------------------- √ xi2 √ yi2 55.95 Koefisien korelasi 0.= 0. Koefisien penentu (KP) = r2 = (0.350 58.

membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. baik dengan tahun dasar maupun dengan bergerak. Dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. Sedangkan analisis kecenderungan dengan diagram pencar dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik. Analisis kecenderungan sederhana. 118 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah • • Membutuhkan time series data selama beberapa tahun. tanpa mengidentifikasi variabelvariabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar Pustaka Bastian. Akuntansi Keuangan Daerah. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah Widodo. Halim. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. Peraturan Pemerintah No. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Yogyakarta: Penerbit Andi (CV Andi Offset). 2007. Akuntansi Keuangan Daerah. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta. edisi 3. Akuntabilitas dan Good Governance. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta Mardiasmo. Akuntansi Sektor Publik. Purwanugraha. Indra. 2000. edisi 2. 2005. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 119 . 2007. Abdul. 2007. Akuntansi Sektor Publik. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. LAN dan BPKP. 2001. edisi 3. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Mahsun. Mohamad. Firma Sulistyowati dan Heribertus A. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. “Analisis Rasio Keuangan pada APBD Kabupaten Boyolali” dalam Abdul Halim. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 120 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful