Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Disusun Oleh: Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara 2007

Analisis Laporan Keuangan Daerah Oleh Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan Republik Indonesia Bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Internal Audit (YPIA)

Desain sampul dan isi : Tim YPIA

Diterbitkan pertama kali oleh : Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Jl. Bintaro Utama Sektor V Bintaro Jaya Tangerang 15223 Indonesia Telp : 021 7361654 - 56 Fax : 021 7361653

Cetakan Pertama : Desember 2007

Buku ini bisa di download bebas melalui Website : www.stan-star.ac.id

Kata

Sambutan

Dengan mengucapkan syukur alhamdulillah pada tahun 2007 ini Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dipercaya oleh Asian Development Bank (ADB) untuk melaksanakan salah satu kegiatan reformasi birokrasi yakni penyusunan program pelatihan auditor internal non-gelar bagi Inspektorat di daerah. Hal ini didasarkan pada tekad pemerintah untuk melakukan reformasi dalam penyelenggaraan pemerintahan dalam kerangka good governance mencakup reformasi audit pemerintahan daerah. Dalam hubungan ini, pemerintah telah menetapkan proyek yang disebut dengan State Audit Reform Sector Development Project (STAR-SDP). Pelaksanaan STAR-SDP mendapat dukungan pendanaan yang berasal dari Asian Development Bank (ADB) dan pemerintah Belanda. Sejalan dengan tekad untuk menyukseskan penyelenggaraan otonomi daerah, pemerintah juga menetapkan bahwa STAR-SDP mencakup proyek peningkatan kuantitas dan kualitas auditor di lingkungan pemerintah daerah melalui program pendidikan jangka pendek (non-gelar). Proyek pendidikan non-gelar bagi auditor inspektorat daerah ini diserahkan kepada STAN – Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Departemen Keuangan RI dan pelaksanaannya harus melibatkan konsultan independen serta didukung oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Modul ini merupakan bagian dari kegiatan STAR-SDP tersebut yang dikhususkan bagi auditor inspektorat daerah. Semoga modul ini bermanfaat bagi para auditor inspektorat daerah dan para instruktur pelatihan audit internal sektor publik serta pihak lain yang tertarik untuk mendalami audit internal sektor publik. Selaku pimpinan STAN saya sangat bangga dengan kegiatan ini dan peningkatan yang telah dicapai khususnya dalam hal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur negara, namun tidak cukup sampai di sini, kita harus dapat mencapai kinerja yang lebih baik di masa mendatang.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

D Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Suyono Salamun. Ph.Akhirnya pada kesempatan ini. atas nama Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang penuh dedikasi telah bekerja keras dalam pembuatan modul ini dan juga pihak BAPPENAS serta Tim Teknis STAR-SDP STAN yang telah mendukung dengan kemampuan profesionalisme sehingga proyek ini dapat berhasil dengan baik. Semoga di tahun-tahun mendatang kita tetap meningkatkan kinerja.

......................................................................................................... 05 D......................................................................... Penyusunan Laporan Keuangan. 24 Bab 3 Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.............................. 21 D........................................ iii Bagian I LAPORAN KEUANGAN PEMDA Bab 1 Pelaporan Keuangan......................... 29 C....... 01 B................................ 64 Bagian II DASAR-DASAR ANALISIS LAPORAN KEUANGAN Bab 4 Konsep Analisis Laporan Keuangan............ Neraca.................... 03 C........ 25 A.............................. Laporan Arus Kas..........................48 E........................................................................................................................... Rangkuman............................................................................. Catatan atas Laporan Keuangan..... 16 I...................... Pengantar ....................... 01 A....... Rangkuman.................................................. 20 C.................. 11 G............ Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan........................... 19 A..... 13 H.............. Rangkuman.................................................................................. Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan........................................................ 10 F.............................. Ruang Lingkup Keuangan Daerah............... Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan..... 17 Bab 2 Sekilas Pengelolaan Keuangan Daerah........ 61 F.... Laporan Realisasi Anggaran....................... 25 B................................. Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan............................ 19 B... Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah................ Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan......... Pengguna Laporan Keuangan...................................................................................... 67 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik i ................. 67 A................................................Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar Isi i Daftar Isi................... Pendahuluan.............................. 07 E.................. Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah.............................................................................................................. 38 D..................................... Daftar Istilah... Akuntabilitas dan Transparansi.....

............... Rangkuman........................................................................................................ 83 D....... 68 C..... 73 A........... dan Neraca...................... Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar........... 93 Bab 7 Analisis Perbandingan..... 79 A............................................................Analisis Laporan Keuangan Daerah B................... 88 F. 95 A............................................................ 79 B..................... 76 Bagian III ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PEMDA Bab 6 Analisis Hubungan....................... 109 Bab 8 Analisis Kecenderungan........ 114 E........ 74 C... 116 F. 71 Bab 5 Analisis Laporan Keuangan Pemerintah.......... 99 D. Realisasi APBD................. 113 D............. Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan..................................................................................................... Analisis Kecenderungan dengan Hubungan antar Variabel................................................ 80 C............................. Neraca. 73 B. Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan.................................... Rangkuman........... Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah........................... Jenis-jenis Perbandingan.... Pendahuluan. 87 E...................... Rangkuman................................. Analisis Kecenderungan Bergerak................................ 96 C................................. 112 C............... 111 B......................................................................................................................................................................... Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah................................................ 75 D................. Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar. 111 A... Laporan Realisasi APBD.......................................... Perbandingan Pos APBD............................................................ Rangkuman.................................. 70 D................... 106 E......................................................... Laporan Realisasi APBD dan Neraca..................................... Pengertian Analisis Laporan Keuangan............... 95 B..................... Perbandingan Pos Neraca.... Kondisi Saat Ini.............................................................. 117 Daftar Pustaka........................................................ Laporan Arus Kas............................................... Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan.............. Rangkuman........ 119 ii Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .......................

8. 3. dan dalam melakukan kegiatannya didasarkan pada prinsip efisiensi dan produktivitas. 6. Istilah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan daerah yang dibahas dan disetujui bersama oleh pemerintah daerah dan DPRD. Belanja Daerah adalah kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih.Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar 1. Defisit Anggaran Daerah adalah selisih kurang antara pendapatan daerah dan belanja daerah. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan perubahan anggaran oleh pengguna anggaran. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik iii . 4. belanja dan pembiayaan yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan anggaran oleh pengguna anggaran. 5. Dokumen Pelaksanaan Anggaran SKPD (DPA-SKPD) adalah dokumen yang memuat pendapatan. Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) adalah SKPD/unit kerja pada SKPD di lingkungan pemerintah daerah yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat berupa penyediaan barang dan/atau jasa yang dijual tanpa mengutamakan mencari keuntungan. Dokumen Pelaksanaan Perubahan Anggaran SKPD (DPPA-SKPD) adalah dokumen yang memuat perubahan pendapatan. 2. 7. dan ditetapkan dengan peraturan daerah. Bendahara Umum Daerah (BUD) adalah PPKD yang bertindak dalam kapasitas sebagai bendahara umum daerah. Dana Cadangan adalah dana yang disisihkan guna mendanai kegiatan yang memerlukan dana relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu tahun anggaran.

iv Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah 9. Kepala Daerah adalah gubemur bagi daerah provinsi atau bupati bagi daerah kabupaten atau walikota bagi daerah kota. Entitas pelaporan adalah unit pemerintahan yang terdiri atas satu atau Iebih entitas akuntansi yang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan wajib menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan. 11. Kinerja adalah keluaran/hasil dari kegiatan/program yang akan atau telah dicapai sehubungan dengan penggunaan anggaran dengan kuantitas dan kualitas yang terukur. Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) adalah pejabat pada unit kerja SKPD yang melaksanakan satu atau beberapa kegiatan dari suatu program sesuai dengan bidang tugasnya. 15. Pejabat Penatausahaan Keuangan SKPD (PPK-SKPD) adalah pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD. 12. 10. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) adalah kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah (Kepala SKPKD) yang mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan APBD dan bertindak sebagai bendahara umum daerah. 14. 16. Entitas akuntansi adalah unit pemerintahan pengguna anggaran/pengguna barang dan oleh karenanya wajib menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan. 17. 13. Pemegang Kekuasaan Pengelolaan Keuangan Daerah adalah kepala daerah yang karena jabatannya mempunyai kewenangan menyelenggarakan keseluruhan pengelolaan keuangan daerah.

Pembiayaan Daerah adalah semua penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. penatausahaan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik v . Pendapatan Daerah adalah hak pemerintah daerah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. pelaporan. 25. 26.Analisis Laporan Keuangan Daerah 18. dan/atau walikota. rencana belanja program dan kegiatan SKPD serta rencana pembiayaan sebagai dasar penyusunan APBD. 19. 24. Surplus Anggaran Daerah adalah selisih lebih antara pendapatan daerah dan belanja daerah. Pengelolaan Keuangan Daerah adalah keseluruhan kegiatan yang meliputi perencanaan. pertanggungjawaban. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD) menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) adalah selisih lebih realisasi penerimaan dan pengeluaran anggaran selama satu periode anggaran. 20. baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun anggaran berikutnya. Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. pelaksanaan. dan pengawasan keuangan daerah. 22. 21. Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD) adalah dokumen perencanaan dan penganggaran yang berisi rencana pendapatan. Pemerintah Daerah adalah gubernur. bupati. 23.

PPKD dan pejabat Iainnya sesuai dengan kebutuhan. yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. 29. 28.Analisis Laporan Keuangan Daerah 27. vi Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) adalah tim yang dibentuk dengan keputusan kepala daerah dan dipimpin oleh sekretaris daerah yang mempunyai tugas menyiapkan serta melaksanakan kebijakan kepala daerah dalam rangka penyusunan APBD yang anggotanya terdiri dari pejabat perencana daerah. Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah (SKPKD) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang. Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) adalah perangkat daerah pada pemerintah daerah selaku pengguna anggaran/pengguna barang.

masing-masing dari kita yang merupakan unsur terkecil dalam kehidupan bertetangga dan bermasyarakat di lingkungan Rukun Tetangga (RT) / Rukun Warga (RW). usulan yang masih ‘mentah’ tersebut akan ‘dimatangkan’ melalui pembahasan dalam rapat warga. asumsi dasar. rencana kegiatan yang sudah disetujui dalam rapat warga tersebut akan menjadi dasar bagi Ketua RT dalam menyelenggarakan kegiatan perayaan HUT Kemerdekaan RI tersebut. pertama kali Ketua RT akan membicarakannya dengan perangkatnya (sekretaris. Selanjutnya. Kemudian. Pengantar Dalam kehidupan sehari-hari.Analisis Laporan Keuangan Daerah Pelaporan Keuangan Bab 1 Setelah mempelajari bab ini. dan prinsipprinsip pelaporan keuangan daerah. termasuk berapa dana yang bisa dipakai dari kas RT dan berapa yang perlu dimintakan sumbangan dari warganya. dan ketua-ketua seksi) mengenai apa dan bagaimana kira-kira bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan dan berapa dana yang dibutuhkan untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. Dengan rangkaian kegiatan yang sudah terjadual rapi dan dengan dukungan sejumlah dana yang sudah terkumpul sesuai dengan yang Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 01 . pasti secara rutin mengikuti (baik secara langsung maupun tidak langsung) bagaimana proses yang dilakukan oleh Ketua RT dan perangkatnya dalam merencanakan suatu kegiatan di lingkungan RT. diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan daerah. Maka. Memperoleh pemahaman mengenai karakteristik kualitatif dan kelompok pengguna laporan keuangan daerah. A. Ambil contoh misalnya kegiatan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI. Memperoleh pemahaman mengenai tujuan. bendahara.

Analisis Laporan Keuangan Daerah direncanakan. dalam membaca laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh Panitia Pelaksana dan Ketua RT tersebut. yaitu pertanggungjawaban. Pelaksanaan Lomba Anak-anak* 2. segala kegiatan berjalan dengan tertib-amanlancar dan acara klimaksnya pun sukses! Apakah sudah selesai ceritanya? Ya.150.000 200. Iuran Warga* 2. sampai dengan puncak acara yaitu malam pembagian hadiah yang dimeriahkan oleh berbagai pertunjukan musik dan tari.000 Pada umumnya. atau tepatnya melakukan penilaian.000 650. Singkat cerita.000 500. namun tahap berikutnya harus dilakukan oleh Ketua RT. Penyelenggaraan Malam Puncak* C D Defisit (= A .000 1. Setelah berlalu sepekan sejak puncak acara peringatan hari kemerdekaan RI yang terhitung sukses itu. Pembelian Hadiah Lomba dan Pertandingan* 4. maka di lingkungan RT tersebut dapat diselenggarakan seluruh acara peringatan hari kemerdekaan RI. Pelaksanaan Pertandingan OlahRaga* 3. pertandingan olahraga bagi orang dewasa.000 900. seluruh warga RT menerima laporan pertangungjawaban yang ditandatangani oleh Ketua Panitia dan Ketua RT sebagai berikut. atau tepatnya menganalisis dan memverifikasi. Sumbangan dari RW B Pengeluaran: 1. selesai tahap pelaksanaan kegiatannya.000) 350.000 250. Laporan Pertanggungjawaban Pelaksanaan Peringatan HUT Kemerdekaan RI Ke-X Rp A Penerimaan: 1.B) Ditutup dari Kas RT * Masing-masing dilampiri dengan rinciannya 150. warga akan melihat kewajaran angka-angka global dari jumlah penerimaan dan pengeluaran.000 1. Mulai perlombaan anak-anak. 02 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . betul.500. kemudian lebih jauh mencocokkan. Pertama kali.000 (350. atas keakuratan dari laporan tersebut. dengan data rincian masingmasing. warga akan melihat.

akuntabilitas mempunyai arti pertanggungjawaban. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 03 . terutama di bidang administrasi keuangan. tetapi juga harus mempertanggungjawabkan pelaksanaan kegiatan yang dilakukannya.Analisis Laporan Keuangan Daerah Dari pengantar di atas. dapat kita ambil pelajaran bahwa pengelola dana tidak saja melaksanakan kegiatan melalui realisasi dana sesuai yang direncanakan. maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya dalam bentuk Laporan Keuangan. dengan mengambil contoh dari lingkup organisasi terkecil yang sangat dekat dengan keseharian kita. yang setidak-tidaknya meliputi Laporan Realisasi Anggaran. terhadap laporan pertanggungjawaban yang disampaikan oleh pengelola dana. 2000). kepada pihak yang lebih tinggi atau atasannya (LAN dan BPKP. Akuntabilitas dan Transparansi Tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik menimbulkan implikasi bagi manajemen pemerintahan (sektor publik) untuk memberikan informasi kepada publik. Laporan Arus Kas. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sejak berlakunya UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. maka secara garis besar modul ini akan diawali dengan pembahasan mengenai halhal yang berkaitan dengan laporan apa saja yang harus disajikan dan disampaikan oleh Pemerintah Daerah (sebagai wujud dari pertanggungjawaban atas realisasi pengelolaan anggarannya). Sejalan dengan jiwa yang terkandung dalam cerita kecil di atas. maka warga sebagai pengguna laporan tersebut perlu melakukan analisis atas ketepatan atau keakuratannya. Kemudian. kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai seluk-beluk analisis laporan keuangan Pemerintah Daerah. B. Dalam konteks pemerintahan. akuntabilitas mengandung arti kewajiban untuk menyajikan dan melaporkan segala tindak-tanduk dan kegiatan seseorang atau lembaga. Neraca. yang merupakan salah satu pilar dalam pengelolaan pemerintahan yang baik. Dari contoh kecil tersebut di atas kita bisa melihat perlunya akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan dana atau anggaran. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Salah satu informasi yang dibutuhkan oleh publik adalah informasi mengenai pengelolaan keuangan negara/daerah dalam bentuk laporan keuangan. Akuntabilitas Dari sudut pandang pengendalian tindakan pada pencapaian tujuan.

terutama mengenai informasi penerimaan. Sebagaimana kita ketahui. Ketiga. perkembangan paket peraturan perundangundangan di bidang keuangan negara menunjukkan adanya upaya dalam meningkatkan keterbukaan informasi. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa Laporan Keuangan dimaksud harus disusun berdasarkan proses akuntansi. yang wajib dilaksanakan oleh setiap Pengguna Anggaran dan kuasa Pengguna Anggaran serta pengelola Bendahara Umum Daerah. Pertama. maka setiap Pemerintah Daerah perlu menyelenggarakan sistem akuntansi untuk lingkungan pemerintah daerahnya yang pedomannya ditetapkan oleh Menteri Dalam Negeri. Transparansi Dalam hubungannya dengan akuntabilitas keuangan. paling tidak terdapat beberapa kelemahan berikut ini. 04 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dapat kita lihat bahwa cakupan informasi dalam laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah menjadi lebih luas namun penyampaiannya tidak terlambat. Dari ketentuan peraturan perundang-undangan sebelumnya. Hal ini terlihat dari upaya dalam mengatasi kelemahan-kelemahan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah sebelumnya. tanpa menyertakan informasi tentang posisi kekayaan dan kewajiban pemerintah. dan pengeluaran uang oleh pengelola keuangan daerah. proses penyampaiannya kepada legislatif sangat lambat. laporan perhitungan anggaran hanya menginformasikan aliran kas pada APBD sesuai dengan format anggaran yang disahkan oleh DPRD. selain muatan informasinya terbatas. sejak diberlakukannya paket peraturan perundang-undangan di bidang keuangan negara. bila kita bandingkan bentuk laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah yang berlaku saat ini dengan periode sebelumnya. informasi keuangan yang disajikan dalam perhitungan anggaran kurang dapat diandalkan karena sistem akuntansi yang diselenggarakan belum didasarkan pada standar akuntansi dan tidak didukung oleh perangkat data dan proses yang memadai. Sehubungan dengan hal tersebut. terdapat upaya nyata dalam mewujudkan akuntabilitas dan transparansi di lingkungan pemerintah. Dengan demikian.Analisis Laporan Keuangan Daerah Selanjutnya. Dengan kata lain. yang hanya mengharuskan penyampaian laporan pertanggungjawaban dalam bentuk perhitungan anggaran. penyimpanan. transparansi mengandung arti penyajian laporan keuangan yang terbuka. Kedua.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 juga disebutkan bahwa laporan keuangan pemerintah harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelum disampaikan kepada pihak legislatif sesuai dengan kewenangannya. Bendahara Umum Daerah dan setiap Pengguna Anggaran di lingkungan pemerintah daerah merupakan Entitas Akuntansi. laporan keuangan yang disajikan oleh Entitas Pelaporan merupakan gabungan dari laporan keuangan beberapa Entitas Akuntansi. Disebutkan bahwa pengungkapan informasi tentang kinerja tersebut adalah relevan dengan perubahan paradigma penganggaran pemerintah yang ditetapkan dengan mengidentifikasikan secara jelas keluaran (outputs) dari setiap kegiatan dan hasil (outcomes) dari setiap program. perlu disusun suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah yang terintegrasi dengan sistem perencanaan strategis. Pemeriksaan BPK dimaksud adalah dalam rangka pemberian pendapat (opini) sebagaimana diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. dan Sistem Akuntansi Pemerintahan. yakni prestasi yang berhasil dicapai oleh Pengguna Anggaran sehubungan dengan anggaran yang telah digunakan. Laporan Keuangan yang telah diaudit dan telah diperbaiki itulah yang selanjutnya diusulkan oleh Pemerintah Daerah dalam suatu rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah untuk dibahas dengan dan disetujui oleh DPRD. Laporan Keuangan tersebut setelah diaudit oleh BPK perlu disesuaikan berdasarkan temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Jadi. Entitas Pelaporan Unit pemerintahan yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang berkewajiban menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan disebut sebagai Entitas Pelaporan. C. pada rancangan peraturan daerah tentang Laporan Keuangan Pemerintah Daerah disertakan atau dilampirkan informasi tambahan mengenai kinerja instansi pemerintah. sistem penganggaran. Dengan demikian. menurut Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 05 . Entitas Pelaporan dan Tanggung Jawab Pelaporan Unit pemerintahan Pengguna Anggaran yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan disebut sebagai Entitas Akuntansi. Selain itu.

dengan bentuk pertanggungjawaban dan wewenang yang terpisah dari entitas pelaporan lainnya. sehingga baik satuan kerja maupun bagian keuangan pemerintah daerah melaksanakan akuntansi. yurisdiksi. perlu dipertimbangkan syarat pengelolaan. setiap pejabat yang menyajikan Laporan Keuangan diharuskan memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan Keuangan yang bersangkutan. pengendalian. tugas dan misi tertentu. dan bagian keuangan akan menggabungkan atau mengkonsolidasikan laporan keuangan semua satuan kerja (termasuk bagian keuangan itu sendiri) untuk disusun menjadi laporan keuangan pemerintah daerah secara keseluruhan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Disebutkan bahwa dalam penetapan entitas pelaporan. 06 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Berkaitan dengan entitas pelaporan tersebut. Satuan kerja melaksanakan akuntansi terhadap transaksi ekonomi (dan menghasilkan laporan keuangan) yang terjadi pada bagiannya. Namun. yaitu sistem sentralisasi dan desentralisasi pelaporan keuangan pemerintah daerah. yang merupakan Lampiran VI-A Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2006. Gubernur/bupati/walikota/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah harus secara jelas menyatakan bahwa Laporan Keuangan telah disusun berdasarkan Sistem Pengendalian Intern yang memadai dan informasi yang dimuat dalam Laporan Keuangan telah disajikan sesuai dengan SAP. dan penguasaan suatu entitas pelaporan terhadap aset. Halim (2007) menyebutkan bahwa pada ketentuan terdahulu terdapat dua pilihan bagi pemerintah daerah dalam menentukan entitas pelaporan. saat ini pemerintah daerah diwajibkan menggunakan sistem desentralisasi dalam pelaporan keuangannya. Pernyataan Tanggung Jawab Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan anggaran dan perbendaharaan. Di bawah ini adalah contoh dari pernyataan tanggung jawab. yang ditandatangani oleh gubernur/bupati/walikota/kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah.

Dalam Sistem Pengendalian Intern ini harus diciptakan prosedur rekonsiliasi antara data transaksi keuangan yang diakuntansikan oleh Pengguna Anggaran/kuasa Pengguna Anggaran dengan data transaksi keuangan yang diakuntansikan oleh Bendahara Umum Daerah........... dan isinya telah menyajikan informasi pelaksanaan anggaran dan posisi keuangan secara layak sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan..... setiap Entitas Pelaporan dan Akuntansi wajib menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan terkait....... sebagaimana terlampir adalah merupakan tanggung jawab kami.... . Peran dan Tujuan Pelaporan Keuangan Laporan keuangan merupakan bagian dari pelaporan keuangan.... ………...Analisis Laporan Keuangan Daerah Pernyataan Tanggung Jawab Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga/Pemerintah Daerah/Satuan Kerja Perangkat Daerah ………………................ Laporan Keuangan tersebut telah disusun berdasarkan sistem pengendalian intern yang memadai. Laporan keuangan disusun untuk menyediakan informasi yang relevan mengenai posisi keuangan dan seluruh transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan selama satu periode pelaporan... dan pembiayaan) dengan anggaran yang telah ditetapkan............ D......... Tahun Anggaran ………. Laporan keuangan terutama digunakan untuk membandingkan realisasi (pendapatan. menilai kondisi Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 07 ......) Untuk meningkatkan keandalan Laporan Keuangan dan Kinerja.......... Menteri/Pimpinan Lembaga/Gubernur/ Bupati/Walikota/Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah ……......... belanja..................... (... Aparat Pengawas Intern Pemerintah pada pemerintah daerah melakukan reviu atas Laporan Keuangan dan Kinerja dalam rangka meyakinkan keandalan informasi yang disajikan sebelum disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada pihak-pihak terkait.... transfer...

08 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . khususnya pemerintah daerah sesuai dengan pembahasan kita. j) Sebagai alat komunikasi dan media untuk menyatakan prestasi yang telah dicapai oleh organisasi. Pelaporan keuangan tidak hanya meliputi komponen laporan keuangan. Lebih lanjut disebutkan bahwa tujuan pelaporan keuangan sektor publik. g) Kelangsungan organisasi. b) Menyediakan informasi tentang sumber daya keuangan dan penggunaannya. c) Akuntabilitas dan pelaporan restropektif d) Bentuk pertanggungjawaban kepada publik dan sebagai alat untuk memonitor dan menilai efisiensi kinerja. l) Merupakan sumber informasi bagi berbagai kelompok kepentingan yang ingin mengetahui organisasi secara lebih dalam. Mahsun (2007) menyebutkan beberapa tujuan pelaporan keuangan sektor publik. i) Hubungan masyarakat. e) Perencanaan dan informasi otorisasi f) Memberikan dasar perencanaan kebijakan dan aktivitas di masa yang akan datang serta memberikan informasi pendukung mengenai otorisasi penggunaan dana. c) Menyediakan informasi tentang cara pemerintah daerah membiayai aktivitas dan memenuhi kebutuhan kasnya. mengevaluasi efektivitas dan efisiensi suatu entitas pelaporan. tetapi juga meliputi laporan-laporan lain yang diperlukan.Analisis Laporan Keuangan Daerah keuangan. k) Sumber fakta dan gambaran. yaitu: a) Kepatuhan dan pengelolaan b) Memberikan jaminan kepada pengguna dan penguasa bahwa pengelolaan sumber daya telah dilakukan sesuai dengan ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku. Public Sector Committee IFAC (1996) menyebutkan tujuan pelaporan keuangan sektor publik secara umum adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat dan memenuhi kebutuhan pengguna. yang memungkinkan pihak eksternal untuk menilai efektifitas dan efisiensi penggunaan sumber daya. h) Membantu para pengguna laporan untuk menentukan apakah suatu organisasi atau unit kerja dapat melangsungkan usahanya. dan membantu menentukan ketaatannya terhadap peraturan perundangundangan. adalah sebagai berikut : a) Mengidentifikasi sumber daya yang didapat dan digunakan sesuai dengan anggaran yang telah disetujui oleh DPRD.

(c) Transparansi Memberikan informasi keuangan yang terbuka dan jujur kepada masyarakat berdasarkan pertimbangan bahwa masyarakat memiliki hak untuk mengetahui secara terbuka dan menyeluruh atas pertanggungjawaban pemerintah dalam pengelolaan sumber daya yang dipercayakan kepadanya dan ketaatannya pada peraturan perundang-undangan. sosial. secara sistematis dan terstruktur pada suatu periode pelaporan. baik keputusan ekonomi. maupun politik dengan: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 09 . pengelolaan dan pengendalian atas seluruh aset. Sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan menyebutkan bahwa setiap entitas pelaporan mempunyai kewajiban untuk melaporkan upaya-upaya yang telah dilakukan serta hasil yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan. dan ekuitas dana pemerintah untuk kepentingan masyarakat. sehingga memudahkan fungsi perencanaan. (d) Keseimbangan Antar generasi Membantu para pengguna dalam mengetahui kecukupan penerimaan pemerintah pada periode pelaporan untuk membiayai seluruh pengeluaran yang dialokasikan dan apakah generasi yang akan datang diasumsikan akan ikut menanggung beban pengeluaran tersebut. kewajiban. e) Menyediakan informasi mengenai kondisi keuangan dan kinerja pemerintah daerah. terutama yang berkaitan dengan efisiensi biaya operasi dan pencapaian target. Pelaporan keuangan pemerintah menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna laporan dalam menilai akuntabilitas dan membuat keputusan. untuk kepentingan: (a) Akuntabilitas Mempertanggungjawabkan pengelolaan sumber daya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepada entitas pelaporan dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara periodik. (b) Manajemen Membantu para pengguna untuk mengevaluasi pelaksanaan kegiatan suatu entitas pelaporan dalam periode pelaporan.Analisis Laporan Keuangan Daerah d) Menyediakan informasi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kemampuan manajemen dalam membiayai aktivitasnya dan memenuhi kewajibannya.

(b) Menyediakan informasi mengenai kesesuaian cara memperoleh sumber daya ekonomi dan alokasinya dengan anggaran yang ditetapkan dan peraturan perundang-undangan. apakah mengalami kenaikan atau penurunan. yang terdiri dari : (a) Asumsi kemandirian entitas. Asumsi Dasar Pelaporan Keuangan Asumsi dasar dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah anggapan yang diterima sebagai suatu kebenaran tanpa perlu dibuktikan agar standar akuntansi dapat diterapkan. berarti bahwa setiap unit organisasi dianggap sebagai unit yang mandiri dan mempunyai kewajiban untuk menyajikan laporan keuangan sehingga tidak terjadi kekacauan antar unit instansi pemerintah dalam pelaporan keuangan. dana cadangan. baik jangka pendek maupun jangka panjang. belanja. termasuk yang berasal dari pungutan pajak dan pinjaman. yang merupakan bentuk pertanggungjawaban pemerintah daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah (a) Menyediakan informasi mengenai kecukupan penerimaan periode berjalan untuk membiayai seluruh pengeluaran. Salah satu indikasi terpenuhinya asumsi ini adalah adanya kewenangan entitas untuk menyusun anggaran dan melaksanakannya dengan tanggung jawab 10 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . (d) Menyediakan informasi mengenai bagaimana entitas pelaporan mendanai seluruh kegiatannya dan mencukupi kebutuhan kasnya. kewajiban. Lebih lanjut mengenai laporan keuangan. laporan keuangan menyediakan informasi mengenai pendapatan. pembiayaan. E. (c) Menyediakan informasi mengenai jumlah sumber daya ekonomi yang digunakan dalam kegiatan entitas pelaporan serta hasil-hasil yang telah dicapai. (e) Menyediakan informasi mengenai posisi keuangan dan kondisi entitas pelaporan berkaitan dengan sumber-sumber penerimaannya. Untuk memenuhi tujuan-tujuan tersebut. (b) Asumsi kesinambungan entitas. dan arus kas suatu entitas pelaporan. sebagai akibat kegiatan yang dilakukan selama periode pelaporan. dan (c) Asumsi keterukuran dalam satuan uang. aset. transfer. Kemandirian Entitas Asumsi kemandirian entitas. (f) Menyediakan informasi mengenai perubahan posisi keuangan entitas pelaporan. dibahas dalam bagian tersendiri. baik entitas pelaporan maupun akuntansi. ekuitas dana.

serta menegaskan atau mengoreksi hasil evaluasi mereka di masa lalu. Kesinambungan Entitas Laporan keuangan disusun dengan asumsi bahwa entitas pelaporan akan berlanjut keberadaannya. serta terlaksana tidaknya program yang telah ditetapkan. informasi laporan keuangan yang relevan dapat dihubungkan dengan maksud penggunaannya. Hal ini diperlukan agar memungkinkan dilakukannya analisis dan pengukuran dalam akuntansi. Dengan demikian.Analisis Laporan Keuangan Daerah penuh. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan Karakteristik kualitatif laporan keuangan adalah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi sehingga dapat memenuhi tujuannya. dan (d) Dapat dipahami. utang-piutang yang terjadi akibat putusan entitas. (b) Andal. Entitas bertanggung jawab atas pengelolaan aset dan sumber daya di luar neraca untuk kepentingan yurisdiksi tugas pokoknya. F. Dengan demikian. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 11 . Keterukuran dalam Satuan Uang Laporan keuangan entitas pelaporan harus menyajikan setiap kegiatan yang diasumsikan dapat dinilai dengan satuan uang. Relevan Laporan keuangan bisa dikatakan relevan apabila informasi yang termuat di dalamnya dapat mempengaruhi keputusan pengguna dengan membantu mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu atau masa kini. pemerintah diasumsikan tidak bermaksud melakukan likuidasi atas entitas pelaporan dalam jangka pendek. (c) Dapat dibandingkan. dan memprediksi masa depan. Keempat karakteristik berikut ini merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki: (a) Relevan. termasuk atas kehilangan atau kerusakan aset dan sumber daya dimaksud. Informasi yang relevan adalah informasi yang memenuhi karakteristik berikut: (a) Memiliki manfaat umpan balik (feedback value) Informasi memungkinkan pengguna untuk menegaskan atau mengoreksi ekspektasi mereka di masa lalu.

Perbandingan dapat dilakukan secara internal dan eksternal. tetapi jika hakikat atau penyajiannya tidak dapat diandalkan maka penggunaan informasi tersebut secara potensial dapat menyesatkan. serta dapat diverifikasi. Informasi mungkin relevan. (c) Netralitas Informasi diarahkan pada kebutuhan umum dan tidak berpihak pada kebutuhan pihak tertentu. yaitu mencakup semua informasi akuntansi yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan. menyajikan setiap fakta secara jujur.Analisis Laporan Keuangan Daerah (b) Memiliki manfaat prediktif (predictive value) Informasi dapat membantu pengguna untuk memprediksi masa yang akan datang berdasarkan hasil masa lalu dan kejadian masa kini. (d) Lengkap Informasi akuntansi keuangan pemerintah disajikan selengkap mungkin. Dapat Dibandingkan Informasi yang termuat dalam laporan keuangan akan lebih berguna jika dapat dibandingkan dengan laporan keuangan periode sebelumnya atau laporan keuangan entitas pelaporan lain pada umumnya. dan apabila pengujian dilakukan lebih dari sekali oleh pihak yang berbeda. (b) Dapat Diverifikasi Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat diuji. hasilnya tetap menunjukkan simpulan yang tidak berbeda jauh. (c) Tepat waktu Informasi disajikan tepat waktu sehingga dapat berpengaruh dan berguna dalam pengambilan keputusan. Perbandingan secara internal dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan 12 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Andal Informasi dalam laporan keuangan bebas dari pengertian yang menyesatkan dan kesalahan material. Informasi yang andal memenuhi karakteristik sebagai berikut: (a) Penyajian Jujur Informasi menggambarkan dengan jujur transaksi serta peristiwa lainnya yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar dapat diharapkan untuk disajikan. Informasi yang melatarbelakangi setiap butir informasi utama yang termuat dalam laporan keuangan diungkapkan dengan jelas agar kekeliruan dalam penggunaan informasi tersebut dapat dicegah.

Perbandingan secara eksternal dapat dilakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebijakan akuntansi yang sama. (e) Prinsip konsistensi. dapat digunakan nilai wajar aset atau kewajiban terkait. serta adanya kemauan pengguna untuk mempelajari informasi yang dimaksud. pengguna diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai atas kegiatan dan lingkungan operasi entitas pelaporan. (c) Prinsip substansi mengungguli bentuk formal. Nilai historis lebih dapat diandalkan daripada penilaian yang lain karena lebih obyektif dan dapat diverifikasi. Berikut ini prinsip-prinsip yang digunakan dalam pelaporan keuangan pemerintah: (a) Prinsip nilai historis. Nilai Historis Aset dicatat sebesar pengeluaran kas dan setara kas yang dibayar atau sebesar nilai wajar dari imbalan (consideration) untuk memperoleh aset tersebut pada saat perolehan. perubahan tersebut diungkapkan pada periode terjadinya perubahan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 13 .Analisis Laporan Keuangan Daerah kebijakan akuntansi yang sama dari tahun ke tahun. Untuk itu. Kewajiban dicatat sebesar jumlah kas dan setara kas yang diharapkan akan dibayarkan untuk memenuhi kewajiban di masa yang akan datang dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah. (d) Prinsip periodisitas. Prinsip-prinsip Pelaporan Keuangan Prinsip pelaporan keuangan dimaksudkan sebagai ketentuan yang dipahami dan ditaati oleh penyelenggara akuntansi dan pelaporan keuangan dalam melakukan kegiatannya. (b) Prinsip realisasi. Dalam hal tidak terdapat nilai historis. serta oleh pengguna laporan keuangan dalam memahami laporan keuangan yang disajikan. Apabila entitas pemerintah akan menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik daripada kebijakan akuntansi yang sekarang diterapkan. Dapat Dipahami Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan dapat dipahami oleh pengguna dan dinyatakan dalam bentuk serta istilah yang disesuaikan dengan batas pemahaman para pengguna. dan (g) Prinsip penyajian wajar. (f) Prinsip pengungkapan lengkap. G.

triwulanan. Informasi yang dibutuhkan oleh pengguna laporan keuangan dapat ditempatkan pada halaman depan laporan keuangan atau pada Catatan atas Laporan Keuangan. maka hal tersebut harus diungkapkan dengan jelas dalam Catatan atas Laporan Keuangan. maka transaksi atau peristiwa lain tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan substansi dan realitas ekonomi. Periodisitas Kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan entitas pelaporan perlu dibagi menjadi periode-periode pelaporan sehingga kinerja entitas dapat di ukur dan posisi sumber daya yang dimilikinya dapat ditentukan. Namun. periode bulanan. Apabila substansi transaksi atau peristiwa lain tidak konsisten/berbeda dengan aspek formalitasnya. Metode akuntansi yang dipakai dapat diubah dengan syarat bahwa metode yang baru diterapkan mampu memberikan informasi yang lebih baik dibanding metode lama. Hal ini tidak berarti bahwa tidak boleh terjadi perubahan dari satu metode akuntansi ke metode akuntansi yang lain. pendapatan yang tersedia yang telah diotorisasikan melalui anggaran pemerintah selama suatu tahun fiskal akan digunakan untuk membayar hutang dan belanja dalam periode tersebut. dan bukan hanya aspek formalitasnya. dan semesteran juga dianjurkan. Periode utama yang digunakan adalah tahunan. Pengaruh atas perubahan penerapan metode ini diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. Konsistensi Perlakuan akuntansi yang sama diterapkan pada kejadian yang serupa dari periode ke periode oleh suatu entitas pelaporan (prinsip konsistensi internal). 14 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Pengungkapan Lengkap Laporan keuangan menyajikan secara lengkap informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Prinsip merpertandingkan biaya-pendapatan dalam akuntansi pemerintah tidak mendapat penekanan sebagaimana dipraktekkan dalam akuntansi komersial. Substansi Mengungguli Bentuk Formal Informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan wajar transaksi serta peristiwa lain yang seharusnya disajikan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Realisasi Bagi pemerintah.

dan belanja diakui pada saat kas dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau entitas pelaporan. Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan prakiraan dalam kondisi ketidakpastian sehingga aset atau pendapatan tidak dinyatakan terlalu tinggi dan kewajiban tidak dinyatakan terlalu rendah. Laporan Arus Kas. Basis akrual untuk Neraca berarti bahwa aset. Entitas pelaporan tidak menggunakan istilah laba. Basis kas untuk Laporan Realisasi Anggaran berarti bahwa pendapatan diakui pada saat kas diterima di Rekening Kas Umum Negara/Daerah atau oleh entitas pelaporan. kewajiban. penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Penyajian Wajar Laporan keuangan menyajikan dengan wajar Laporan Realisasi Anggaran. Pendapatan dan belanja bukan tunai seperti bantuan pihak luar asing dalam bentuk barang dan jasa disajikan pada Laporan Realisasi Anggaran. sengaja menetapkan aset atau pendapatan yang terlampau rendah. kewajiban. pembentukan cadangan tersembunyi. belanja. Neraca. dan pembiayaan dalam Laporan Realisasi Anggaran dan basis akrual untuk pengakuan aset. dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi. misalnya. Ketidakpastian seperti itu diakui dengan mengungkapkan hakikat serta tingkatnya dengan menggunakan pertimbangan sehat dalam penyusunan laporan keuangan. Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan pemerintah adalah basis kas untuk pengakuan pendapatan. Penentuan sisa pembiayaan anggaran (baik lebih atau kurang) untuk setiap periode tergantung pada selisih realisasi penerimaan dan pengeluaran. atau pada saat kejadian Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 15 . sehingga laporan keuangan menjadi tidak netral dan tidak andal. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Namun demikian. terdapat satu hal penting yang harus diperhatikan dalam pelaporan keuangan. atau sengaja mencatat kewajiban atau belanja yang terlampau tinggi. dan ekuitas dalam Neraca. yaitu masalah penggunaan basis akuntansi. Faktor pertimbangan sehat bagi penyusun laporan keuangan diperlukan ketika menghadapi ketidakpastian peristiwa dan keadaan tertentu. Basis Akuntansi Selain prinsip-prinsip pelaporan keuangan tersebut di atas.

16 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dan (d) pemerintah. baik dalam pengakuan pendapatan. institusi internasional. dan konstituen (Mardiasmo. investor dan kreditor. H. Untuk menyederhanakan dan menyamakan persepsi tentang kelompok pengguna laporan keuangan ini. Namun demikian. Pengguna Laporan Keuangan Kelompok pengguna laporan keuangan pemerintah meliputi: lembaga pemerintah. maka ketentuan laporan keuangan yang memenuhi kebutuhan informasi para pembayar pajak perlu mendapat perhatian. dan aparat pemerintah. kewajiban. masyarakat. namun tidak terbatas. dan pembiayaan. pengamat. dan pinjaman. berhubung pajak merupakan sumber utama pendapatan pemerintah. badan pengawas. Namun demikian. penyedia sumber daya. (b) para wakil rakyat. belanja. investor dan kreditor. Dengan demikian laporan keuangan pemerintah tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari masing-masing kelompok pengguna. Entitas pelaporan yang menyajikan Laporan Kinerja Keuangan menyelenggarakan akuntansi dan penyajian laporan keuangan dengan menggunakan sepenuhnya basis akrual. dan lembaga pemeriksa. (c) pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi. tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dibayar. kita gunakan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan sebagai acuan. 2007). investasi. Pengelompokan yang kurang lebih sama dikemukakan oleh Bastian (2001) yaitu: legislatif dan manajemen pemerintah. maupun dalam pengakuan aset. dan ekuitas dana. Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bertujuan umum untuk memenuhi kebutuhan informasi dari semua kelompok pengguna. penyajian Laporan Realisasi Anggaran tetap berdasarkan basis kas. yaitu: (a) masyarakat.Analisis Laporan Keuangan Daerah atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah. yang menyebutkan kelompok utama pengguna laporan keuangan pemerintah. lembaga pengawas.

dan penyajian wajar. karakteristik kualitatif. dan pinjaman. Neraca. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 17 . pengungkapan lengkap. lembaga pengawas. Karakteristik kualitatif: relevan. pengguna laporan keuangan pemerintah daerah adalah masyarakat. dan Catatan atas Laporan Keuangan. yang diwujudkan dalam bentuk laporan keuangan. laporan keuangan harus diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dalam rangka memperkuat akuntabilitas pengelolaan anggaran dan perbendaharaan. investasi. Laporan keuangan (sebagai laporan pertanggungjawaban atas pengelolaan keuangan daerah) meliputi: Laporan Realisasi Anggaran. Prinsip-prinsip: nilai historis. lembaga pemeriksa. maka manajemen pemerintahan daerah (sektor publik) harus memberikan informasi kepada publik mengenai pengelolaan keuangan daerah. Rangkuman Sejalan dengan tuntutan yang semakin besar terhadap akuntabilitas publik. dapat dibandingkan. setiap pejabat yang menyajikan Laporan Keuangan diharuskan memberi pernyataan tanggung jawab atas Laporan Keuangan yang bersangkutan. periodisitas. pihak yang memberi atau berperan dalam proses donasi. substansi mengungguli bentuk formal. konsistensi.Analisis Laporan Keuangan Daerah I. andal. Selain legislatif. kesinambungan entitas. dan keterukuran dalam satuan uang. Setelah disesuaikan berdasarkan temuan audit dan/atau koreksi lain yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) dan dilampiri informasi mengenai kinerja instansi pemerintah. Sebelum disampaikan kepada DPRD. dan prinsip-prinsip dalam pelaporan keuangan di lingkungan pemerintah adalah sebagai berikut: • • • Asumsi dasar: kemandirian entitas. Laporan Arus Kas. dan dapat dipahami. kemudian diusulkan oleh Pemerintah Daerah untuk dibahas dengan dan disetujui oleh DPRD. Asumsi dasar. realisasi.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 18 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Keuangan Daerah
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai ruang lingkup keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai azas umum pengelolaan keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai hirarki perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terkait dalam pengelolaan keuangan daerah.

Sekilas Pengelolaan

Bab 2

A. Ruang Lingkup Keuangan Daerah Sebelum membahas tentang hal-hal yang berkaitan dengan laporan keuangan sebagai pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pengelolaan keuangan daerah, terlebih dahulu ada baiknya bila kita bahas sekilas tentang pengelolaan keuangan daerah. Pada bab ini memang dimaksudkan hanya mereviu sekilas (dengan rujukan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah), karena pembahasan selengkapnya ada pada modul tersendiri dengan judul Pengantar Keuangan Daerah. Dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri tersebut dijelaskan bahwa ruang lingkup keuangan daerah meliputi: a. hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman; b. kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga; c. penerimaan daerah; d. pengeluaran daerah; e. kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah; dan f. kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

19

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

B. Azas Umum Pengelolaan Keuangan Daerah Keuangan daerah dikelola dengan berdasarkan azas umum: tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Tertib Secara tertib adalah bahwa keuangan daerah dikelola secara tepat waktu dan tepat guna yang didukung dengan bukti-bukti administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Taat Peraturan Taat pada peraturan perundang-undangan adalah bahwa pengelolaan keuangan daerah harus berpedoman pada peraturan perundang-undangan. Efektif Efektif merupakan pencapaian hasil program dengan target yang telah ditetapkan, yaitu dengan cara membandingkan keluaran dengan hasil. Efisien Efisien merupakan pencapaian keluaran yang maksimum dengan masukan tertentu atau penggunaan masukan terendah untuk mencapai keluaran tertentu. Ekonomis Ekonomis merupakan pemerolehan masukan dengan kualitas dan kuantitas tertentu pada tingkat harga yang terendah. Transparan Transparan merupakan prinsip keterbukaan yang memungkinkan masyarakat untuk mengetahui dan mendapatkan akses informasi seluas-Iuasnya tentang keuangan daerah. Bertanggung jawab Bertanggung jawab merupakan perwujudan kewajiban seseorang untuk mempertanggungjawabkan pengelolaan dan pengendalian sumber daya dan pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan kepadanya dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

20

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Keadilan Keadilan adalah keseimbangan distribusi kewenangan dan pendanaannya dan/atau keseimbangan distribusi hak dan kewajiban berdasarkan pertimbangan yang obyektif. Kepatutan Kepatutan adalah tindakan atau suatu sikap yang dilakukan dengan wajar dan proporsional. Manfaat Manfaat untuk masyarakat adalah bahwa keuangan daerah diutamakan untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. C. Perangkat Daerah dalam Pengelolaan Keuangan Daerah Pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah adalah kepala daerah, yang oleh karenanya mempunyai wewenang untuk: a. menetapkan kebijakan tentang pelaksanaan APBD; b. menetapkan kebijakan tentang pengelolaan barang daerah; c. menetapkan kuasa pengguna anggaran/pengguna barang; d. menetapkan bendahara penerimaan dan/atau bendahara pengeluaran; e. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pemungutan penerimaan daerah; f. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan utang dan piutang daerah; g. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengelolaan barang milik daerah; dan h. menetapkan pejabat yang bertugas melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran. Melalui keputusan kepala daerah, kepala daerah selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah dapat melimpahkan sebagian atau seluruh kekuasaannya kepada: a. sekretaris daerah selaku koordinator pengelola keuangan daerah; b. kepala SKPKD selaku PPKD; dan c. kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang. Sekretaris daerah selaku koordinator pengelolaan keuangan daerah, berkaitan dengan peran dan fungsinya dalam membantu kepala daerah, menyusun kebijakan dan mengkoordinasikan penyelenggaraan urusan pemerintahan daerah termasuk pengelolaan keuangan daerah.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

21

c. melaksanakan tugas lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah. menyusun laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. PPKD dalam melaksanakan fungsinya selaku BUD mempunyai wewenang: a. e. e. sekretaris daerah mempunyai tugas: a. perubahan APBD. menyusun dan melaksanakan kebijakan pengelolaan keuangan daerah. mengesahkan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. dan f. tugas-tugas pejabat perencana daerah. memberikan petunjuk teknis pelaksanaan sistem penerimaan dan pengeluaran kas daerah. melakukan pengendalian pelaksanaan APBD. d. d. melaksanakan pemungutan pendapatan daerah yang telah ditetapkan dengan Peraturan Daerah. b. f. menyiapkan pedoman pengelolaan barang daerah. menyusun kebijakan dan pedoman pelaksanaan APBD. b. menyusun rancangan APBD dan rancangan Perubahan APBD. b. dan f. memimpin TAPD. memberikan persetujuan pengesahan DPA-SKPD/DPPA-SKPD. c.Analisis Laporan Keuangan Daerah Koordinator pengelolaan keuangan daerah bertanggung jawab kepada kepala daerah dan mempunyai tugas koordinasi di bidang: a. menetapkan SPD. Selain mempunyai tugas koordinasi sebagaimana tersebut di atas. PPKD. c. penyusunan Raperda APBD. penyusunan laporan keuangan daerah dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. d. d. melaksanakan fungsi BUD. penyusunan rancangan APBD dan rancangan perubahan APBD. melaksanakan tugas-tugas koordinasi pengelolaan keuangan daerah lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah Kepala SKPKD selaku PPKD mempunyai tugas: a. menyiapkan pedoman pelaksanaan APBD. c. dan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. e. dan pejabat pengawas keuangan daerah. 22 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan barang daerah. penyusunan dan pelaksanaan kebijakan pengelolaan APBD. melaksanakan pemungutan pajak daerah. b. e.

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

g. menyiapkan pelaksanaan pinjaman dan pemberian pinjaman atas nama pemerintah daerah; h. melaksanakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan daerah; i. menyajikan informasi keuangan daerah; dan j. melaksanakan kebijakan dan pedoman pengelolaan serta penghapusan barang milik daerah. PPKD bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah, dan selaku BUD dapat menunjuk pejabat di Iingkungan satuan kerja pengelola keuangan daerah selaku kuasa BUD Kepala SKPD selaku pejabat pengguna anggaran/pengguna barang mempunyai tugas: a. menyusun RKA-SKPD; b. menyusun DPA-SKPD; c. melakukan tindakan yang mengakibatkan pengeluaran atas beban anggaran belanja; d. melaksanakan anggaran SKPD yang dipimpinnya; e. melakukan pengujian atas tagihan dan memerintahkan pembayaran; f. melaksanakan pemungutan penerimaan bukan pajak; g. mengadakan ikatan/perjanjian kerjasama dengan pihak lain dalam batas anggaran yang telah ditetapkan; h. menandatangani SPM; i. mengelola utang dan piutang yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; j. mengelola barang milik daerah/kekayaan daerah yang menjadi tanggung jawab SKPD yang dipimpinnya; k. menyusun dan menyampaikan laporan keuangan SKPD yang dipimpinnya; l. mengawasi pelaksanaan anggaran SKPD yang dipimpinnya; m. melaksanakan tugas-tugas pengguna anggaran/pengguna barang lainnya berdasarkan kuasa yang dilimpahkan oleh kepala daerah; dan n. bertanggung jawab atas pelaksanaan tugasnya kepada kepala daerah melalui sekretaris daerah. Pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dalam melaksanakan tugas-tugasnya dapat melimpahkan sebagian kewenangannya (ditetapkan oleh kepala daerah atas usul kepala SKPD) kepada kepala unit kerja pada SKPD selaku kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

23

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Selain itu, pejabat pengguna anggaran/pengguna barang dan kuasa pengguna anggaran/kuasa pengguna barang menunjuk pejabat pada unit kerja SKPD selaku PPTK (dalam pelaksanakan program dan kegiatan). Sedangkan untuk melaksanakan anggaran yang dimuat dalam DPA-SKPD, kepala SKPD menetapkan pejabat yang melaksanakan fungsi tata usaha keuangan pada SKPD sebagai PPK-SKPD

D. Rangkuman Sebagaimana yang dinyatakan dalam Permendagri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah, ruang lingkup keuangan daerah meliputi: (a) hak daerah untuk memungut pajak dan retribusi daerah, (b) kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga, (c) penerimaan dan pengeluaran daerah, (d) kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah, dan (e) kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum, Adapun azas umum pengelolaan keuangan daerah adalah: tertib, taat pada peraturan perundang-undangan, efektif, efisien, ekonomis, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan, dan manfaat untuk masyarakat. Hirarki perangkat daerah pada pemerintahan daerah yang terkait dengan pengelolaan keuangan daerah adalah: • • • • Kepala daerah – pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah; Sekretaris daerah – koordinator pengelolaan keuangan daerah Kepala SKPKD – pengguna anggaran/barang, yang juga melaksanakan pengelolaan keuangan daerah. Kepala SKPD – pengguna anggaran/barang daerah.

24

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Pelaksanaan APBD
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai bentuk laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah atas pengelolaan keuangan daerah. Memperoleh pemahaman mengenai proses penyusunan laporan pertanggungjawaban pemerintah daerah. Memperoleh pemahaman mengenai proses persetujuan laporan keuangan daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah.

Laporan Pertanggungjawaban

Bab 3

A. Penyusunan Laporan Keuangan Laporan keuangan merupakan laporan yang terstruktur mengenai posisi keuangan dan transaksi-transaksi yang dilakukan oleh suatu entitas pelaporan. Tujuan umum laporan keuangan adalah menyajikan informasi mengenai posisi keuangan, realisasi anggaran, arus kas, dan kinerja keuangan suatu entitas pelaporan yang bermanfaat bagi para pengguna dalam membuat dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya. Secara spesifik, tujuan pelaporan keuangan pemerintah adalah untuk menyajikan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan dan untuk menunjukkan akuntabilitas entitas pelaporan atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya, dengan: a). menyediakan informasi mengenai posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah; b). menyediakan informasi mengenai perubahan posisi sumber daya ekonomi, kewajiban, dan ekuitas dana pemerintah; c). menyediakan informasi mengenai sumber, alokasi, dan penggunaan sumber daya ekonomi; d). menyediakan informasi mengenai ketaatan realisasi terhadap anggarannya;

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

25

g. f. sumber daya yang dihasilkan dari operasi yang berkelanjutan. transfer.Analisis Laporan Keuangan Daerah e). belanja. Laporan Keuangan SKPD Kepala SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan APBD pada Satuan Kerja Perangkat Daerah yang bersangkutan. aset. Catatan atas Laporan Keuangan. c. b. 26 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . d. Neraca. laporan keuangan menyediakan informasi mengenai entitas pelaporan dalam hal: a. pendapatan. Laporan Realisasi Anggaran. arus kas. menyediakan informasi mengenai cara entitas pelaporan mendanai aktivitasnya dan memenuhi kebutuhan kasnya. dan h. Laporan keuangan untuk tujuan umum juga mempunyai peranan prediktif dan prospektif. b. indikasi apakah sumber daya diperoleh dan digunakan sesuai dengan ketentuan. e. dan c. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh SKPD selaku pengguna anggaran adalah: a. g). menyediakan informasi yang berguna untuk mengevaluasi kemampuan entitas pelaporan dalam mendanai aktivitasnya. menyediakan informasi mengenai potensi pemerintah untuk membiayai penyelenggaraan kegiatan pemerintahan. Pelaporan keuangan juga menyajikan informasi bagi pengguna mengenai: a). menyediakan informasi yang berguna untuk memprediksi besarnya sumber daya yang dibutuhkan untuk operasi yang berkelanjutan. Untuk memenuhi tujuan umum ini. f). serta risiko dan ketidakpastian yang terkait. kewajiban. pembiayaan. termasuk batas anggaran yang ditetapkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. ekuitas dana. indikasi apakah sumber daya telah diperoleh dan digunakan sesuai dengan anggaran dan b).

Laporan Arus Kas. Neraca. Selanjutnya. Neraca. Catatan atas Laporan Keuangan. Selain laporan keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan keuangan tersebut harus disampaikan oleh Kepala SKPD kepada gubernur/ bupati/walikota melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD) selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan Realisasi Anggaran. Laporan Keuangan Pemda Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut. b. Laporan Realisasi Anggaran. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan pemerintah daerah yang terdiri dari: a. dan d. Catatan atas Laporan Keuangan. dan d. Laporan keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/ bupati/walikota selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan Keuangan PPKD Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selaku Bendahara Umum Daerah menyusun Laporan Keuangan sebagai pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah. dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Laporan Keuangan tersebut oleh PPKD disampaikan kepada gubernur/ bupati/walikota untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Laporan keuangan yang dihasilkan oleh PPKD selaku Bendahara Umum Daerah adalah: a. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah selaku Pengguna Anggaran harus menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya kepada gubernur/bupati/walikota. Laporan Arus Kas. laporan keuangan pemerintah daerah ini disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) selambatlambatnya 3 (tiga) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 27 . b. c. c.

laporan keuangan Perusahaan Daerah yang telah diaudit kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 5 1/2 (lima setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir. laporan keuangan Perusahaan Daerah yang belum diaudit kepada Pejabat Pengelola Keuangan Daerah selambat-lambatnya 2 1/2 (dua setengah) bulan setelah tahun APBD berakhir. maka Perusahaan Daerah diwajibkan menyampaikan: a. Selanjutnya. tetapi juga harus membuat Laporan Kinerja. gubernur/ bupati/walikota memberikan tanggapan dan melakukan penyesuaian terhadap Laporan Keuangan serta koreksi lain berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. Sehubungan dengan hal tersebut. untuk tingkat pemerintah provinsi 28 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Rancangan peraturan daerah yang telah disetujui bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. sistem perbendaharaan. Dalam rangka pertanggungjawaban pelaksanaan APBD.Analisis Laporan Keuangan Daerah Berdasarkan hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan. laporan keuangan pemerintah daerah beserta rancangan Peraturan daerah tentang Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. Jadi. Selain laporan kinerja. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun rancangan peraturan daerah tentang pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. Laporan Kinerja dihasilkan dari suatu sistem akuntabilitas kinerja instansi pemerintah (yang dikembangkan secara terintegrasi dengan sistem perencanaan. dilampiri dengan ikhtisar laporan realisasi kinerja dan ikhtisar laporan keuangan Perusahaan Daerah. dan Sistem Akuntansi Pemerintahan) yang diselenggarakan oleh masing-masing Entitas Pelaporan dan/atau Entitas Akuntansi. yang harus disampaikan oleh gubernur/bupati/walikota kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah selambat-lambatnya 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. sistem penganggaran. Pemerintah Daerah tidak hanya diwajibkan untuk menyusun dan menyajikan Laporan Keuangan. Pemerintah Daerah (gubernur/ bupati/ walikota selaku wakil pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan pemerintah daerah yang dipisahkan) juga harus menyusun ikhtisar laporan keuangan Perusahaan Daerah. yang berisi ringkasan tentang keluaran dari masing-masing kegiatan dan hasil yang dicapai dari masingmasing program sebagaimana ditetapkan dalam dokumen pelaksanaan APBD. dan b.

yang menggambarkan perbandingan antara anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan. Pengertian dari masing-masing unsur tersebut adalah sebagai berikut : Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 29 . Selanjutnya. Laporan Realisasi Anggaran harus menyajikan informasi mengenai pendapatan. Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Tugas Pembantuan disampaikan kepada gubernur/bupati/walikota dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan. dan untuk tingkat pemerintah kabupaten/kota disampaikan kepada gubernur. B. transfer.Analisis Laporan Keuangan Daerah disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Tugas Pembantuan menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran pada tingkat pemerintah pusat. Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah menyampaikan Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana Dekonsentrasi kepada gubernur. alokasi. Laporan Realisasi Anggaran Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber. Kemudian. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana Dekonsentrasi menyelenggarakan akuntansi dan menyusun Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana berlaku bagi kuasa Pengguna Anggaran pada tingkat pemerintah pusat. Laporan Keuangan dan Kinerja atas pelaksanaan kegiatan Dana Dekonsentrasi/Tugas Pembantuan dilaporkan secara terintegrasi dalam Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga Pengguna Anggaran yang bersangkutan. dan pemakaian sumber daya ekonomi yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah. belanja. gubernur menyiapkan Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan yang diterima dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Dana Dekonsentrasi. gubernur/bupati/walikota menyiapkan Laporan Keuangan dan Kinerja gabungan berdasarkan laporan yang diterima dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menjadi pelaksana kegiatan Tugas Pembantuan dan menyampaikannya kepada Menteri/Pimpinan Lembaga terkait serta kepada Presiden melalui Menteri Keuangan. dan dilampirkan pada laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dan pembiayaan. Dengan demikian.

Lain-lain PAD yang Sah. (c) Transfer adalah penerimaan/pengeluaran uang dari suatu entitas pelaporan dari/kepada entitas pelaporan lain. dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah. (b) Pendapatan (basis akrual) adalah hak pemerintah yang diakui sebagai penambah nilai kekayaan bersih.Analisis Laporan Keuangan Daerah Pendapatan (a) Pendapatan (basis kas) adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Negara/ Bendahara Umum Daerah atau oleh entitas pemerintah lainnya yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah. (c) Unsur Belanja Daerah terdiri dari: • Belanja Operasi: Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Pajak Daerah. Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan. dan Dana Alokasi Khusus. (b) Belanja (basis akrual) adalah kewajiban pemerintah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Retribusi Daerah. Dana Darurat. Dana Alokasi Umum. (d) Unsur Pendapatan Daerah terdiri dari: • Pendapatan Asli Daerah: Belanja (a) Belanja (basis kas) adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah. Dana Bagi Hasil. termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil. Hibah • Pendapatan Transfer/Dana Perimbangan: • Lain-lain Pendapatan yang Sah: 30 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

yang dalam penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan surplus anggaran.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Belanja Modal: Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya • Belanja Tak Terduga Pembiayaan (a) Pembiayaan (basis kas) adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali. (b) Unsur Pembiayaan Daerah terdiri dari: • Penerimaan Pembiayaan: Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Penerimaan Pinjaman Penerimaan Pembayaran Piutang Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman Pemberian Pinjaman • Pengeluaran Pembiayaan: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 31 . baik pada tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya.

Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6) PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSAT .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A.DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14) TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19) Total Pendapatan Transfer (15 + 20) LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Pendapatan Lain-lain yang Sah (24 s/d 26) JUMLAH PENDAPATAN (7 + 21 + 27) BELANJA BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga xxx xxx xxx xxx xxx xxx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx 32 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Belanja Modal (40 s/d 45) BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga Jumlah Belanja Tak Terduga (49 s/d 49) Jumlah Belanja (37 + 46 + 50) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xxxx xx xx xx xxxx xxxx xxxx TRANSFER TRANSFER/BAGI HASIL PENDAPATAN KE KABUPATEN/KOTA Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Transfer Bagi Hasil Pendapatan ke Kab./Kota (55 s/d 57) JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (51 + 58) SURPLUS/DEFISIT (28 .59) PEMBIAYAAN PENERIMAAN PEMBIAYAAN xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 33 . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx (%) xx xx xx xx 20X0 Realisasi xxx xxx xxx xxxx 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 Subsidi Hibah Bantuan Sosial Jumlah Belanja Operasi (31 s/d 36) BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A.4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.

Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Penerimaan (65 s/d 76) PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .91) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (60-92) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx 34 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-A.Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Pengeluaran (80 s/d 90) PEMBIAYAAN NETO (77 .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Jumlah Pendapatan Transfer Dana Perimbangan (11 s/d 14) TRANSFER PEMERINTAH PUSAT – LAINNYA Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Jumlah Pendapatan Transfer Lainnya (18 s/d 19) TRANSFER PEMERINTAH PROVINSI Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Jumlah Transfer Pemerintah Provinsi (23 s/d 24) Total Pendapatan Transfer (15 + 20 + 25) LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Lain-lain Pendapatan yang Sah (29 s/d 31) JUMLAH PENDAPATAN (7 + 26 + 32) BELANJA xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxxx xx xx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 35 .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Jumlah Pendapatan Asli Daerah (3 s/d 6) PENDAPATAN TRANSFER TRANSFER PEMERINTAH PUSAT .

Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Belanja Modal (46 s/d 51) BELANJA TAK TERDUGA Belanja Tak Terduga Jumlah Belanja Tak Terduga (55 s/d 55) Jumlah Belanja (43 + 52 + 56) TRANSFER TRANSFER/BAGI HASIL KE DESA Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Transfer Bagi Hasil ke Desa (61 s/d 63) JUMLAH BELANJA DAN TRANSFER (57+ 64) SURPLUS/DEFISIT (33 .65) PEMBIAYAAN xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxxx xxx xxxx xxxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx 36 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 BELANJA OPERASI Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Jumlah Belanja Operasi (37 s/d 42) BELANJA MODAL Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.

Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .5 PP Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA UNTUK TAHUN YANG BERAKHIR SAMPAI DENGAN 31 DESEMBER 20X1 dan 20X0 (Dalam Rupiah) No.97) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx x xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx 100 Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (66-98) Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 37 .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Uraian 20X1 Anggaran Realisasi (%) 20X0 Realisasi 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 PENERIMAAN PEMBIAYAAN Penggunaan SiLPA Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Pengeluaran (86 s/d 97) PEMBIAYAAN NETO (83 .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Penerimaan (71 s/d 82) PENGELUARAN PEMBIAYAAN Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .

Investasi Jangka Panjang Investasi jangka panjang merupakan investasi yang diadakan dengan maksud untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan manfaat sosial dalam jangka waktu lebih dari satu periode akuntansi. a. Aset lancar meliputi kas dan setara kas. Investasi jangka panjang meliputi investasi non-permanen dan permanen. dan aset tak berwujud yang digunakan baik langsung maupun tidak langsung untuk kegiatan pemerintah atau yang digunakan masyarakat umum. piutang. termasuk sumber daya non-keuangan yang diperlukan untuk penyediaan jasa bagi masyarakat umum dan sumber daya yang dipelihara karena alasan sejarah dan budaya. Manfaat ekonomi masa depan yang terwujud dalam aset adalah potensi aset tersebut untuk memberikan sumbangan. Aset yang tidak dapat dimasukkan dalam kriteria tersebut diklasifikasikan sebagai aset non-lancar. 38 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dan aset lainnya. Aset Non-Lancar Aset non-lancar mencakup aset yang bersifat jangka panjang. b. aset tetap. Aset Lancar Suatu aset diklasifikasikan sebagai aset lancar jika diharapkan segera untuk dapat direalisasikan atau dimiliki untuk dipakai atau dijual dalam waktu 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. dengan menyajikan informasi mengenai aset. dan ekuitas dana.Analisis Laporan Keuangan Daerah C. Pengertian dari masing-masing unsur Neraca sebagai berikut: 1. (1). dana cadangan. baik langsung maupun tidak langsung. investasi jangka pendek. Aset non-lancar diklasifikasikan menjadi investasi jangka panjang. bagi kegiatan operasional pemerintah. dan persediaan. berupa aliran pendapatan atau penghematan belanja bagi pemerintah. serta dapat diukur dalam satuan uang. kewajiban. baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Neraca Neraca menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada tanggal tertentu. Aset Aset adalah sumber daya ekonomi yang dikuasai dan/atau dimiliki oleh pemerintah sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana manfaat ekonomi dan/atau sosial di masa depan diharapkan dapat diperoleh.

Dalam konteks pemerintahan. irigasi. Termasuk dalam aset lainnya adalah aset tak berwujud dan aset kerja sama (kemitraan). Kewajiban Kewajiban adalah utang yang timbul dari peristiwa masa lalu yang penyelesaiannya mengakibatkan aliran keluar sumber daya ekonomi pemerintah. 2. Aset Tetap Aset tetap meliputi tanah. Investasi permanen antara lain penyertaan modal pemerintah dan investasi permanen lainnya. Kewajiban jangka panjang adalah kelompok kewajiban yang penyelesaiannya dilakukan setelah 12 (dua belas) bulan sejak tanggal pelaporan. (2). atau lembaga internasional. Aset Lainnya Aset non-lancar lainnya diklasifikasikan sebagai aset lainnya. Kewajiban dikelompokkan kedalam kewajiban jangka pendek dan kewajiban jangka panjang. kewajiban muncul antara lain karena penggunaan sumber pembiayaan pinjaman dari masyarakat. dan investasi non-permanen lainnya. Kewajiban pemerintah juga terjadi karena perikatan dengan pegawai yang bekerja pada pemerintah atau dengan pemberi jasa lainnya. dan konstruksi dalam pengerjaan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 39 . entitas pemerintah lain. Kewajiban jangka pendek merupakan kelompok kewajiban yang diselesaikan dalam waktu kurang dari dua belas bulan setelah tanggal pelaporan. peralatan dan mesin. aset tetap lainnya. lembaga keuangan. jalan. gedung dan bangunan. dan jaringan. penyertaan modal dalam proyek pembangunan. Setiap kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak yang mengikat atau peraturan perundang undangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Investasi non-permanen antara lain investasi dalam Surat Utang Negara. Kewajiban umumnya timbul karena konsekuensi pelaksanaan tugas atau tanggungjawab untuk bertindak di masa lalu. (3). Karakterisitik esensial kewajiban adalah bahwa pemerintah mempunyai kewajiban masa kini yang dalam penyelesaiannya mengakibatkan pengorbanan sumber daya ekonomi di masa yang akan datang.

(c) Ekuitas Dana Cadangan mencerminkan kekayaan pemerintah yang dicadangkan untuk tujuan yang telah ditentukan sebelumnya sesuai peraturan perundang-undangan. Ekuitas Dana dapat dikelompokkan sebagai berikut: (a) Ekuitas Dana Lancar adalah selisih antara aset lancar dengan kewajiban jangka pendek. dikurangi dengan kewajiban jangka panjang. (b) Ekuitas Dana Investasi mencerminkan kekayaan pemerintah yang tertanam dalam aset non-lancar selain dana cadangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. Ekuitas Dana Ekuitas Dana adalah kekayaan bersih pemerintah yang merupakan selisih antara aset dan kewajiban pemerintah. 40 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 3 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 ASET ASET LANCAR Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Investasi Jangka Pendek Piutang Pajak Piutang Retribusi Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian lancar Tuntutan Ganti Rugi Piutang Lainnya Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 17) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non-permanen Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Non-permanen Lainnya Jumlah Investasi Non-permanen (22 s/d 27) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (30 s/d 31) Jumlah Investasi Jangka Panjang (28 + 32) ASET TETAP xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 41 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN REALISASI ANGGARAN PEMERINTAH KABUPATEN / KOTA Sumber: Lampiran I-A.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.

Obligasi Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx (xxx) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 42 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Lembaga Keuangan Bukan Bank Bagian Lancar Utang Dalam Negeri . Irigasi. dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi dalam Pengerjaan Akumulasi Penyusutan Jumlah Aset Tetap (36 s/d 42) DANA CADANGAN Dana Cadangan Jumlah Dana Cadangan (46) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Perbendaharaan Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-lain Jumlah Aset Lainnya (50 s/d 55) JUMLAH ASET (18+33+43+47+56) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Pihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-B.4 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Pusat Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Utang Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan.Lembaga Keuangan Bank Bagian Lancar Utang Dalam Negeri .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-B. Uraian 20X1 20X0 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (63 s/d 71) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri .4 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA PEMERINTAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bukan Bank Utang Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Utang Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Utang Dalam Negeri .Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (78 s/d 80) JUMLAH KEWAJIBAN (72+81) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Pendapatan yang Ditangguhkan Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Pendek Jumlah Ekuitas Dana Lancar (87 s/d 91) EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jangka Panjang Jumlah Ekuitas Dana Investasi (95 s/d 98) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 101 EKUITAS DANA CADANGAN 102 Diinvestasikan dalam Dana Cadangan 103 Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (102) 104 JUMLAH EKUITAS DANA (92+99+103) 105 106 JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (82+104) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 43 .Lembaga Keuangan Bank Utang Dalam Negeri .

5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. dan Jaringan Aset Tetap Lainnya Konstruksi Dalam Pengerjaan Jumlah Aset Tetap (13 s/d 18) ASET LAINNYA Tagihan Penjualan Angsuran Tuntutan Ganti Rugi Kemitraan dengan Pihak Ketiga Aset Tak Berwujud Aset Lain-Lain Jumlah Aset Lainnya (22 s/d 26) JUMLAH ASET (10+19+27) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 44 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ASET ASET LANCAR Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Piutang Bagian Lancar Tagihan Penjualan Angsuran Bagian Lancar Tuntutan Ganti Rugi Persediaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 9) ASET TETAP Tanah Peralatan dan Mesin Gedung dan Bangunan Jalan. Irigasi.

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH Sumber: Lampiran I-B.5 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA SATUAN KERJA PERANGKAT DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 Uang Muka dari Bendahara Umum Daerah Pendapatan yang Ditangguhkan Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (34 s/d 35) JUMLAH KEWAJIBAN (36) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Cadangan Piutang Cadangan Persediaan Jumlah Ekuitas Dana Lancar (42 s/d 43) EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Jumlah Ekuitas Dana Investasi (47 s/d 48) JUMLAH EKUITAS DANA (44+49) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (37 + 50) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 45 .

Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 ASET ASET LANCAR Kas di Kas Daerah Kas di Bendahara Pengeluaran Kas di Bendahara Penerimaan Piutang Pajak Piutang Retribusi Investasi Jangka Pendek Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Negara Bagian Lancar Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Pusat Bagian Lancar Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Bagian Lancar Tuntutan Perbendaharaan Jumlah Aset Lancar (4 s/d 14) INVESTASI JANGKA PANJANG Investasi Non-permanen Pinjaman Kepada Perusahaan Negara Pinjaman Kepada Perusahaan Daerah Pinjaman Kepada Pemerintah Daerah Lainnya Investasi dalam Surat Utang Negara Investasi dalam Proyek Pembangunan Investasi Non-permanen Lainnya Jumlah Investasi Non-permanen (19 s/d 24) Investasi Permanen Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Investasi Permanen Lainnya Jumlah Investasi Permanen (27 s/d 28) Jumlah Investasi Jangka Panjang (25 + 29) DANA CADANGAN Dana Cadangan xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 46 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B.

6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. Pendek Jumlah Ekuitas Dana Lancar (63 s/d 64) xxx xxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 47 . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Jumlah Dana Cadangan (33) ASET LAINNYA Tuntutan Perbendaharaan Aset Lain-lain Jumlah Aset Lainnya (37 s/d 38) JUMLAH ASET (15+30+34+39) KEWAJIBAN KEWAJIBAN JANGKA PENDEK Utang Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Utang Bunga Bagian Lancar Utang Jangka Panjang Utang Jangka Pendek Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Pendek (46 s/d 49) KEWAJIBAN JANGKA PANJANG Utang Dalam Negeri .Sektor Perbankan Utang Dalam Negeri – Obligasi Utang Jangka Panjang Lainnya Jumlah Kewajiban Jangka Panjang (53 s/d 55) JUMLAH KEWAJIBAN (50+56) EKUITAS DANA EKUITAS DANA LANCAR Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk.

Panjang Jumlah Ekuitas Dana Investasi (68 s/d 71) EKUITAS DANA CADANGAN Diinvestasikan dalam Dana Cadangan Jumlah Ekuitas Dana Cadangan (75) JUMLAH EKUITAS DANA (65+72+76) JUMLAH KEWAJIBAN DAN EKUITAS DANA (58+78) xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx D. yang masing-masing didefinisikan sebagai berikut: (a) Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum Daerah. (b) Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum Daerah. pengeluaran. Laporan Arus Kas Laporan Arus Kas menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional. investasi aset non-keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH Sumber: Lampiran I-B. 48 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu. pembiayaan. dan transaksi non-anggaran yang menggambarkan saldo awal. Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri dari penerimaan dan pengeluaran kas.6 PP Nomor 8 Tahun 2006 NERACA BENDAHARA UMUM DAERAH PER 31 DESEMBER 20X1 DAN 20X0 (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 EKUITAS DANA INVESTASI Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang Diinvestasikan dalam Aset Tetap Diinvestasikan dalam Aset Lainnya Dana yang Harus Disediakan untuk Pembayaran Utang Jk. penerimaan.

Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 .3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.28) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 49 .

Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .46) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 50 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C.Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.

74) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (78) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (81) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Nonanggaran (79 .3 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.82) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (84+85) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (86+87+88) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 51 .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .

30) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 52 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 .

Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 53 .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No. Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40-48) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.

Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .84) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (86+87) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (88+89+90) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 54 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .4 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Lampiran I-C.76) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (80) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (83) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri . Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .

5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.28) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 55 . Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 15) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Retribusi ke Kabupaten/Kota Bagi Hasil Pendapatan Lainnya ke Kabupaten/Kota Jumlah Arus Keluar Kas (18 s/d 27) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (16 .

Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Pemerintah Daerah Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 56 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (50 s/d 60) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah Pembayaran Pokok Pinjaman DN . Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Lainnya Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (32 s/d 37) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.46) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (40 s/d 45) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (38 .

Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman DN .74) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (78) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (81) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (79 .5 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH PROVINSI Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 Pembayaran Pokok Pinjaman DN .82) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (84+85) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan Saldo Akhir Kas (86+87+88) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 57 .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH PROVINSI Sumber: Lampiran I-C.Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman DN – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (63 s/d 73) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (61 .

6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 Arus Kas dari Aktivitas Operasi Arus Masuk Kas Pendapatan Pajak Daerah Pendapatan Retribusi Daerah Pendapatan Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Lain-lain PAD yang sah Dana Bagi Hasil Pajak Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus Dana Otonomi Khusus Dana Penyesuaian Pendapatan Bagi Hasil Pajak Pendapatan Bagi Hasil Lainnya Pendapatan Hibah Pendapatan Dana Darurat Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (3 s/d 17) Arus Keluar Kas Belanja Pegawai Belanja Barang Bunga Subsidi Hibah Bantuan Sosial Belanja Tak Terduga Bagi Hasil Pajak Bagi Hasil Retribusi Bagi Hasil Pendapatan Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (20 s/d 29) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Operasi (18 .30) Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Arus Masuk Kas xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 58 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Irigasi dan Jaringan Pendapatan dari Penjualan Aset Tetap Pendapatan dari Penjualan Aset Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (34 s/d 39) Arus Keluar Kas Belanja Tanah Belanja Peralatan dan Mesin Belanja Gedung dan Bangunan Belanja Jalan.Lembaga Keuangan Bank Pinjaman Dalam Negeri .Pemerintah Pusat Pinjaman Dalam Negeri .Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C.6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Pemerintah Daerah Lainnya Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Negara Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Penerimaan Kembali Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Masuk Kas (52 s/d 62) Arus Keluar Kas Pembentukan Dana Cadangan Penyertaan Modal Pemerintah Daerah xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 59 .48) Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Arus Masuk Kas Pencairan Dana Cadangan Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan Pinjaman Dalam Negeri . Irigasi dan Jaringan Belanja Aset Tetap Lainnya Belanja Aset Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (42 s/d 47) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan (40 . Uraian 20X1 20X0 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 Pendapatan Penjualan atas Tanah Pendapatan Penjualan atas Peralatan dan Mesin Pendapatan Penjualan atas Gedung dan Bangunan Pendapatan Penjualan atas Jalan.

84) Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Awal Kas di BUD Saldo Akhir Kas di BUD (86+87) Saldo Akhir Kas di Bendahara Pengeluaran Saldo Akhir Kas di Bendahara Penerimaan xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx 60 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Pemerintah Daerah Lainnya Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .76) Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Arus Masuk Kas Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Masuk Kas (80) Arus Keluar Kas Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga (PFK) Jumlah Arus Keluar Kas (83) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Non-anggaran (81 .Pemerintah Pusat Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .Lembaga Keuangan Bukan Bank Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Obligasi Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri – Lainnya Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Negara Pemberian Pinjaman kepada Perusahaan Daerah Pemberian Pinjaman kepada Pemerintah Daerah Lainnya Jumlah Arus Keluar Kas (65 s/d 75) Arus Kas Bersih dari Aktivitas Pembiayaan (63 .6 Peraturan Pemerintah RI Nomor 8 Tahun 2006 LAPORAN ARUS KAS BENDAHARA UMUM DAERAH KABUPATEN/KOTA Untuk Tahun Yang Berakhir Sampai Dengan 31 Desember 20X1 dan 20X0 Metode Langsung (Dalam Rupiah) No.Analisis Laporan Keuangan Daerah FORMAT LAPORAN ARUS KAS PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA Sumber: Lampiran I-C. Uraian 20X1 20X0 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 Pembayaran Pokok Pinjaman Dalam Negeri .

kebijakan akuntansi. ikhtisar pencapaian kinerja keuangan. ekonomi makro. adalah yang terakhir yang perlu kita bahas karena hal tersebut relevan dengan pokok bahasan dalam modul ini. Catatan atas Laporan Keuangan Catatan atas Laporan Keuangan meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran. yang tidak disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan. Dari beberapa hal yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan Keuangan. pencapaian target Undang-undang APBN/Perda APBD.Analisis Laporan Keuangan Daerah E. Neraca. dan Laporan Arus Kas. Catatan atas Laporan Keuangan mengungkapkan hal-hal sebagai berikut: (a) Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan. (c) Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksitransaksi dan kejadian-kejadian penting lainnya. pencapaian target Undang-Undang APBN/ Perda APBD. dan Laporan Arus Kas. dan (f) Menyediakan informasi tambahan yang diperlukan untuk penyajian yang wajar. (e) Mengungkapkan informasi untuk pos-pos aset dan kewajiban yang timbul sehubungan dengan penerapan basis akrual atas pendapatan dan belanja dan rekonsiliasinya dengan penerapan basis kas. berikut kendala dan hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target. ekonomi makro. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 Lampiran I-D menjelaskan bahwa sistematika Catatan atas Laporan Keuangan terdiri dari: Kebijakan fiskal/keuangan. (d) Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Standar Akuntansi Pemerintahan yang belum disajikan pada lembar muka (on the face) laporan keuangan. Pengungkapan atas komponen laporan keuangan adalah sebagai berikut. dan penjelasan atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran. Neraca. Catatan atas Laporan Keuangan juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar Akuntansi Pemerintahan serta ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan penyajian laporan keuangan secara wajar. (b) Menyajikan ikhtisar pencapaian kinerja keuangan selama tahun pelaporan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 61 .

seperti Kas di Bendahara Pengeluaran. Transfer Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran transfer. 2. Aset Lancar Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lancar. Belanja Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran belanja. Pembiayaan Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pembiayaan. Neraca 1. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara pembiayaan periode ini dengan pembiayaan periode yang lalu. Penjelasan atas masing-masing jenis transfer. Pendapatan Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih lebih/kurang antara realisasi dengan anggaran pendapatan. 3. Investasi dalam Obligasi. Kas di Bendahara Penerimaan. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara belanja periode ini dengan belanja periode yang lalu. 4. seperti Penyertaan Modal Pemerintah. 2. Investasi Jangka Panjang Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos investasi jangka panjang. Penjelasan atas masing-masing jenis pembiayaan. Penjelasan atas masing-masing jenis belanja. dan Pinjaman kepada Perusahaan Daerah. Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara transfer periode ini dengan transfer periode yang lalu.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi Anggaran 1. 62 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Penjelasan (dengan menyebut nilai nominal dan prosentase) atas selisih antara pendapatan periode ini dengan pendapatan periode yang lalu. Penjelasan atas masing-masing jenis pendapatan. dan Piutang.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 63 . seperti Pendapatan Penjualan Aset dan Belanja Aset. 6. diungkapkan dasar pembukuannya. Tuntutan Ganti Rugi. dan Kemitraan dengan Pihak Ketiga. 7. Arus Kas dari Aktivitas Operasi Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas operasi. 5. Diungkapkan pula (apabila ada) perbedaan pencatatan perolehan aset tetap yang terjadi antara unit keuangan dengan unit yang mengelola/mencatat aset tetap. Bagian Lancar Utang Jangka Panjang. Pendapatan yang Ditangguhkan. seperti Tagihan Penjualan Angsuran. 8. Kewajiban Jangka Pendek Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka Pendek. Aset Tetap Untuk seluruh perkiraan yang ada dalam kelompok aset tetap. seperti Utang Dalam Negeri Obligasi. Ekuitas Dana Lancar Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana Lancar. seperti Pendapatan Pajak dan Belanja Pegawai.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. Laporan Arus Kas 1. 2. Daftar aset tetap juga disertakan sebagai lampiran laporan keuangan. seperti Cadangan Piutang dan Cadangan Persediaan. Aset Lainnya Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos aset lainnya. Ekuitas Dana Investasi Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Ekuitas Dana Investasi. seperti Diinvestasikan dalam Investasi Jangka Panjang dan Diinvestasikan dalam Aset Tetap. Kewajiban Jangka Panjang Menjelaskan perkiraan-perkiraan yang terdapat pada pos Kewajiban Jangka Panjang. dan Utang Bunga. 4. seperti Uang Muka dari Kas Umum Negara (KUN). dan Utang Luar Negeri. Utang Dalam Negeri Sektor Perbankan. Arus Kas dari Aktivitas Investasi Aset Non-keuangan Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas investasi aset non-keuangan.

dan Catatan atas Laporan Keuangan. jika ada tuntutan hukum yang substansial dan hasil akhirnya bisa diperkirakan. antara lain: a. Kontijensi. Arus Kas dari Aktivitas Non-anggaran Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas non-anggaran. Kejadian penting setelah tanggal neraca (subsequent event) yang berpengaruh secara signifikan terhadap perkiraan yang disajikan dalam neraca. Rangkuman Proses penyusunan laporan pemerintahan daerah sebagai berikut: • Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) selaku Pengguna Anggaran menyusun Laporan Realisasi Anggaran. • PPKD selaku Bendahara Umum Daerah (BUD) menyusun Laporan Realisasi Anggaran. 4. Penggantian manajemen pemerintahan selama tahun berjalan. Adapun pengungkapan-pengungkapan lain yang perlu diungkapkan dalam Catatan atas Laporan keuangan adalah hal-hal yang mempengaruhi laporan keuangan. Kejadian yang mempunyai dampak sosial. misalnya adanya pemogokan yang harus ditanggulangi pemerintah g. • Kepala SKPD juga menyusun Laporan Kinerja dan menyampaikannya kepada kepala daerah dan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara. Neraca. f. seperti Penerimaan Perhitungan Fihak Ketiga dan Pengeluaran Perhitungan Fihak Ketiga. e. dan Catatan atas Laporan Keuangan. d.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. F. yaitu suatu kondisi atau situasi yang belum memiliki kepastian pada tanggal neraca. Kesalahan manajemen terdahulu yang telah dikoreksi oleh manajemen baru c. disampaikan kepada kepala daerah. Neraca. Misalnya. Komitmen. yaitu bentuk perjanjian dengan pihak ketiga yang harus di ungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan. seperti Penerimaan Pinjaman dan Pembayaran Pokok Pinjaman. Kontijensi ini harus diungkapkan dalam catatan atas neraca. b. Penggabungan atau pemekaran entitas tahun berjalan. 64 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . disampaikan kepada kepala daerah melalui Pejabat Pengelola Keuangan Daerah (PPKD). Arus Kas dari Aktivitas Pembiayaan Menjelaskan arus masuk kas dan arus keluar kas dari aktivitas pembiayaan. Laporan Arus Kas.

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah terdiri dari: • • Laporan Realisasi Anggaran. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 65 . dan Catatan atas Laporan Keuangan. kepala daerah menyampaikannya kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Neraca. Neraca. dan Laporan Arus Kas. Laporan Arus Kas. dan transaksi nonanggaran yang menggambarkan saldo awal. Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menyusun Laporan Keuangan pemerintah daerah yang terdiri dari: Laporan Realisasi Anggaran. ikhtisar pencapaian kinerja keuangan. pencapaian target Undang-Undang APBN/Perda APBD.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Berdasarkan Laporan Keuangan Satuan Kerja Perangkat Daerah serta laporan pertanggungjawaban pengelolaan perbendaharaan daerah tersebut. kebijakan akuntansi. transfer. menggambarkan posisi keuangan suatu entitas pelaporan pada tanggal tertentu. yang meliputi: Kebijakan fiskal/keuangan. menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasional. belanja. dan ekuitas dana. Selanjutnya. Neraca. dan saldo akhir kas pemerintah daerah selama periode tertentu. penerimaan. • Catatan atas Laporan Keuangan. kewajiban. investasi aset non keuangan. • Laporan Arus Kas. dan penjelasan atas perkiraan Laporan Realisasi Anggaran. dan pembiayaan. ekonomi makro. menyajikan informasi mengenai pendapatan. pengeluaran. • PPKD menyampaikan Laporan Keuangan Pemda kepada kepala daerah untuk memenuhi pertanggungjawaban pelaksanaan APBD. dengan menyajikan informasi mengenai aset. pembiayaan.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 66 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

memang telah lama banyak dilakukan oleh pengguna laporan keuangan. analis keuangan. terlihat bahwa literatur untuk sektor publik relatif lebih sedikit. Jadi. keuangan. analisis laporan keuangan di sektor pemerintahan hampir tidak pernah dilakukan. Lebih jauh lagi. Tentang analisis laporan keuangan. diharapkan pembaca dapat: Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan. maka akan sangat sulit kita memperolehnya atau bahkan tidak akan mendapatkannya. Kalaupun dilakukan perhitungan-perhitungan melalui pembandingan beberapa pos laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 67 . Di sisi lain. seperti investor. pelaku bisnis dan pihak-pihak terkait lainnya telah banyak memanfaatkan hasil analisis laporan keuangan sebagai dasar bagi pengambilan keputusan ekonomis yang mereka buat. Pendahuluan Dalam literatur akuntansi. A. kreditor. Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah. kalau kita coba untuk mencari lliteratur mengenai analisis laporan keuangan sektor publik. karena memang sampai saat ini belum ada. dan pemeriksaan akuntan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Konsep Analisis Laporan • • Keuangan Bab 4 Setelah mempelajari bab ini. Manajemen perusahaan dan pihak-pihak lain yang berkepentingan. tetapi terbatas pada sektor bisnis. kalau kita coba bandingkan antara buku-buku yang mengulas tentang sektor publik dan sektor bisnis. telah banyak menerapkan metode-metode analisis laporan keuangan untuk mengetahui kinerja keuangan perusahaan yang telah dicapai dan untuk memprediksikan prospek perusahaan di masa yang akan datang.

B. kita bandingkan antara realisasi pendapatan asli daerah dengan target/ anggarannya. yang pada akhirnya hasil analisis laporan keuangan tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam perumusan kebijakan anggaran daerah di masa mendatang.Analisis Laporan Keuangan Daerah daerah. bila kita ingin mengetahui kinerja pencapaian pendapatan daerah. Dengan bertambahnya komponen laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD tersebut. atau membandingkan realisasi belanja modal dengan realisasi total belanja. agar pengguna laporan keuangan memiliki dasar yang memadai dalam mengevaluasi kondisi dan kinerja keuangan pemerintah daerah. Analisis laporan keuangan dilakukan dengan menggunakan metode dan teknik analisis tertentu dalam melihat ukuran dan hubungan unsur laporan keuangan. seseorang yang melakukan analisis atas laporan keuangan perlu menguraikan pos-pos laporan tersebut menjadi unit informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antara satu dengan yang lainnya guna mengetahui kondisi keuangan entitas tersebut untuk dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan. Untuk itu. yang ditandai dengan perkembangan peraturan perundangundangan dalam bidang keuangan negara/daerah. itu pun dengan perhitungan sederhana dengan penggunaan yang terbatas. Laporan Arus Kas. atau menghitung perbandingan antara realisasi pendapatan pajak daerah dengan total realisasi pendapatan asli daerah. Pengertian Analisis Laporan Keuangan Secara singkat analisis laporan keuangan dapat diartikan sebagai upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan suatu entitas tertentu. maka setiap pengelola keuangan daerah harus menyampaikan laporan pertanggungjawaban pengelolaan keuangannya tidak saja dalam bentuk Laporan Realisasi Anggaran. Sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. dan Catatan atas Laporan Keuangan Daerah. Untuk menilai pelaksanaan belanja modal misalnya. Misalnya. seyogyanya terdapat pula perkembangan teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah. kita dapat membandingkan realisasi belanja modal dengan pagunya. tetapi juga meliputi Neraca. Seiring dengan makin majunya penerapan prinsip akuntabilitas dan transparansi. Hasil dari analisis tersebut diharapkan dapat meminimalkan bahkan 68 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . maka dengan sendirinya terjadi perubahan kebutuhan atas teknik analisis laporan keuangan pemerintah daerah.

• Memuat implikasi dan prediksi Analisis laporan keuangan dapat digunakan untuk mengevaluasi dampak kejadian atau transaksi masa lalu sekaligus untuk meramalkan prospek keuangan di masa mendatang. kemungkinan masing-masing analis dapat memberikan hasil analisis yang berbeda. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 69 . pertimbangan pribadi dan lain sebagainya. Bahkan melalui analisis laporan keuangan juga kemungkinan dapat diketahui adanya kesalahan proses akuntansi. hubungan pos-pos antar laporan keuangan. • Dipengaruhi oleh kemampuan analis Bila terdapat beberapa analis atas satu informasi yang sama. Dengan demikian. maka fokusnya adalah pada Laporan Realisasi APBD. ketidakpastian. • Memuat analisis hubungan Dalam hal ini. dan laporan keuangan tersebut telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan. maka kita akan menggunakan laporan keuangan pemerintah daerah sebagai bahan utama dalam melakukan analisis. akurasi hasil analisis laporan keuangannya sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. analisis laporan keuangan menguraikan hubungan pos-pos dalam satu laporan keuangan. Dengan demikian akan menambah keyakinan pengguna laporan atas data atau informasi yang tersedia sehingga pengambilan keputusannya menjadi lebih akurat.Analisis Laporan Keuangan Daerah menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata. hasil analisis laporan keuangan akan lebih baik bila laporan keuangannya dihasilkan dari sistem akuntansi pemerintah daerah yang sudah berjalan dengan baik. Oleh karena itu. • Fokus pada laporan keuangan utama Sesuai pembahasan dalam modul ini. Laporan Arus Kas. Neraca. Seperti yang disebutkan pada poin fokus analisis laporan keuangan di atas. serta perbandingan dan kecenderungan pos-pos tersebut. dan Catatan atas Laporan Keuangan. Beberapa karakteristik dari analisis laporan keuangan dapat diringkas seperti di bawah ini. tergantung pada kemampuan atau ketajaman masing-masing analis.

jika pengguna laporan keuangan menginginkan informasi tambahan dari laporan keuangan yang tersedia. tidak ada informasi yang menyebutkan derajat kemampuan pemda dalam membayar kembali pinjaman yang diterimanya. dapat kita formulasikan beberapa manfaat yang dapat kita peroleh dari kegiatan analisis laporan keuangan. maka kita perlu melakukan analisis atas pos-pos yang disajikan dalam laporan keuangan pemda tersebut. Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya. • • • • • • Meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. Secara umum telah kita peroleh pemahaman bahwa tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan dari suatu entitas. antara lain sebagai berikut: • • • • Dapat menyediakan tambahan penjelasan atas data dan informasi yang memang sudah tersedia pada laporan keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah C. Tujuan dan Manfaat Analisis Laporan Keuangan Telah kita bahas di bab sebelumnya. maka perlu melakukan analisis atas laporan keuangan tersebut. Dapat memberikan informasi yang tidak secara eksplisit disajikan di dalam laporan keuangan Dapat mengetahui terdapatnya kesalahan dan hal-hal yang bersifat tidak konsisten yang terkandung dalam laporan keuangan. Bila kita ingin menilai seberapa besar tingkat kemampuan pemda membayar kewajibannya. Dalam laporan keuangan pemerintah daerah misalnya. Berdasarkan pembahasan di atas. Mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahan-perubahannya Mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. yang berarti bahwa laporan tersebut disajikan untuk memenuhi kebutuhan informasi bagi semua kelompok pengguna laporan keuangan. Oleh sebab itu. Mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya. Dapat mengetahui sifat-sifat dari hubungan baik antar-pos maupun antar 70 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Adapun tujuan dari analisis laporan keuangan pemerintah daerah adalah untuk hal-hal berikut ini. bahwa informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah untuk tujuan umum. Mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan programprogramnya.

Dapat mengevaluasi kondisi keuangan entitas masa lalu. pertimbangan pribadi. dan lain sebagainya. dengan menguraikan pos-pos laporan keuangan menjadi unit informasi yang lebih rinci dan melihat hubungan antar pos untuk mengetahui kondisi keuangan. D. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 71 . rating. Dapat mengetahui komposisi struktur keuangan entitas. (c) mengandung implikasi dan prediksi. sedangkan tujuan analisis laporan keuangan daerah adalah untuk: (a) mengetahui kondisi keuangan pemerintah daerah serta perubahan-perubahannya. yang dapat digunakan untuk prediksi. dan perkiraan di masa yang akan datang. Secara umum. (c) mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam memenuhi kewajibannya. saat ini. tujuan analisis laporan keuangan adalah untuk menilai kondisi dan kinerja keuangan. ketidakpastian. • • • Dapat menilai perkembangan dan pencapaian yang diperoleh oleh suatu entitas serta membuat proyeksi keuangan di masa mendatang. dan (d) hasilnya tergantung pada kemampuan analisnya. Hasil dari analisis laporan keuangan diharapkan dapat meminimalkan bahkan menghilangkan penilaian yang bersifat dugaan semata. sehingga dapat memahami situasi dan kondisi keuangan yang dialami oleh suatu entitas. (d) mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam menyediakan dana untuk kegiatannya.Analisis Laporan Keuangan Daerah laporan. (b) meyakini ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan yang berlaku. sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. Karakteristik dari analisis laporan keuangan adalah: (a) fokus pada laporan keuangan utama. (b) memuat analisis hubungan. dan kesalahan proses akuntansi. dan (f) mengetahui potensi pemerintah daerah dalam menghasilkan sumber daya. Rangkuman Analisis laporan keuangan merupakan upaya untuk mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan pemerintah daerah. (e) mengevaluasi kinerja pemerintah daerah dalam melaksanakan program-programnya.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 72 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

A. dengan fokus pada laporan realisasi anggaran. diharapkan pembaca dapat: Memperoleh pemahaman mengenai perbedaan analisis laporan keuangan sektor bisnis dan sektor pemerintahan. Penggunaannya masih sangat terbatas. Oleh karena itu. Widodo (2007) penyebabnya adalah: • Keterbatasan penyajian laporan keuangan pada lembaga pemerintah daerah yang sifat dan cakupannya berbeda dengan penyajian laporan keuangan oleh lembaga perusahaan yang bersifat komersial. Sedangkan pada sektor publik. Memperoleh pemahaman mengenai teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan pemerintah daerah. Kondisi Saat Ini Landasan teori untuk analisis laporan keuangan pada sektor bisnis sudah lama menjadi pokok bahasan dalam literatur akuntansi dan keuangan. belum ada nama dan kaidah pengukuran yang seragam. bila dibandingkan dengan sektor bisnis. Dapat dikatakan bahwa penggunaan teknik-teknik analisis laporan keuangan di sektor bisnis memang sudah memiliki pijakan teori yang sudah mapan dengan nama dan kaidah pengukuran yang standar. khususnya pada lingkungan pemerintah daerah.Analisis Laporan Keuangan Daerah Analisis Laporan Keuangan • • Pemerintah Bab 5 Setelah mempelajari bab ini. mengemukakan Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 73 . khususnya analisis perbandingan atau rasio. adalah sebaliknya. Mengenai terbatasnya penggunaan teknik analisis laporan keuangan pada pemerintah daerah. karena memang belum didukung dengan pembahasan teori analisis laporan keuangan pemerintah yang memadai.

Selain itu.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Selama ini penyusunan APBD sebagian masih dilakukan berdasarkan pertimbangan incremental budget (seharusnya disusun berdasarkan pendekatan kinerja sebagaimana tersebut dalam pasal 20 Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000). pada analisis laporan keuangan itu sendiri terdapat keterbatasan yang inheren. Oleh karena itu. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis. Karena disusun dengan pendekatan secara incremental. B. Laporan keuangan menyajikan informasi mengenai transaksi dan kejadian pada masa lalu. yaitu besarnya masing-masing komponen pendapatan dan belanja dihitung dengan meningkatkan persentase tertentu (biasanya berdasarkan tingkat inflasi). laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai laporan mengenai keadaan saat ini. Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum Informasi dalam laporan keuangan tidak dirancang untuk memenuhi kebutuhan informasi secara khusus bagi setiap kelompok pengguna laporan keuangan. seperti adanya prinsip “yang penting pendapatan naik meskipun untuk menaikkannya itu diperlukan biaya yang tidak efisien”. Sifat laporan keuangan adalah historis. 2. 74 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Oleh karena itu. Keterbatasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Sudah kita bahas pada bab sebelumnya. maka sering kali mengabaikan rasio keuangan dalam APBD. dan pengguna laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan. sehingga kurang memperhatikan bagaimana perubahan yang terjadi pada komposisi ataupun struktur APBDnya. bahwa akurasi hasil analisis laporan keuangan sangat tergantung pada akurasi dan validitas angka-angka yang disajikan dalam laporan keuangan pemerintah daerah tersebut. antara lain sebagai berikut. • Penilaian keberhasilan APBD sebagai penilaian pertanggungjawaban pengelolaan keuangan daerah lebih ditekankan pada pencapaian target. Akuntansi bukan merupakan satu-satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomis. 1. dibutuhkan pemahaman dasar terhadap akuntansi dan laporan keuangan yang disusun berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan.

Meskipun APBD disusun dengan pendekatan kinerja. C. melainkan dalam laporan kinerja instansi pemerintah. tetapi juga informasi kualitatif. Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan Di dalam penyusunan laporan keuangan tidak dapat dihindari adanya penggunaan estimasi akuntansi. yang cenderung bersifat subyektif. Oleh sebab itu. estimasi atas kemungkinan tidak tertagihnya piutang. dan lain sebagainya. Dengan demikian. 5. Namun demikian. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 75 . yang sekaligus merupakan sub topik terakhir dari bagian kedua (Dasar-dasar Analisis Laporan Keuangan). hasil analisis laporan keuangan dengan sendirinya juga bersifat kuantitatif. alasan-alasan meningkatnya jumlah defisit dari yang dianggarkan. Teknik-teknik yang akan digunakan adalah sebagai berikut. akan dikemukakan teknik-teknik yang akan digunakan dalam pembahasan Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Daerah pada bagian ketiga. Sedangkan informasi yang dibutuhkan untuk mengevaluasi kondisi keuangan dan kinerja pemerintah bukan hanya informasi kuantitatif.Analisis Laporan Keuangan Daerah 3. alasan-alasan tidak tercapainya target pajak daerah. akan tetapi kinerja pelaksanaan program dan kegiatan tidak dapat dilihat dalam laporan realisasi anggaran. analisis laporan keuangan dapat dikatakan lebih cenderung pada analisis kinerja keuangan. yang merupakan bagian terakhir dari modul ini. Misalnya. Contoh informasi kualitatif yang relevan dengan analisis laporan keuangan adalah opini auditor independen mengenai laporan keuangan pemerintah daerah. terutama berupa informasi kuantitatif yang bersifat keuangan. Teknik Analisis Laporan Keuangan Pemerintah Pada sub bab terakhir ini. analisis dapat dikembangkan sampai kepada analisis kinerja program/kegiatan dengan mengumpulkan data-data mengenai rencana dan realisasi program/kegiatan berikut target dan capaian kinerjanya. estimasi masa manfaat atau umur ekonomis aset tetap. Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan Laporan keuangan yang menjadi obyek analisis adalah laporan keuangan yang lebih menggambarkan kinerja keuangan. 4.

Misalnya.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1. adanya belanja modal di laporan realisasi APBD. Rangkuman Akurasi hasil analisis laporan keuangan sangat tergantung pada akurasi dan validitas laporan keuangan pemerintah daerah. Analisis ini dapat juga digunakan untuk membandingkan satu pos yang sama dalam laporan keuangan dua periode yang berurutan. berarti mengindikasikan tingkat capaian yang baik. semestinya berkorelasi langsung dengan kenaikan aset tetap. Selengkapnya mengenai teknik analisis perbandingan ini. antara lain. diperkirakan berdasarkan data atau informasi kecenderungan pencapaian pajak daerah beberapa periode yang lalu sampai saat dilakukannya analisis kecenderungan. baik dalam satu laporan keuangan maupun antar laporan. Semakin besar angka rasionya. Untuk itu. sehingga diperoleh gambaran mengenai kecenderungan dari suatu pos dalam laporan keuangan pemerintah daerah. 2. Bila hasil perbandingannya menunjukkan angka lebih besar dari 1. Pembahasan selengkapnya terdapat di bab 6. dibahas dalam bab 7. Misalnya prediksi pencapaian pajak daerah pada tahun yang akan datang. Analisis kecenderungan ini umumnya digunakan dalam membuat prediksi keuangan. rasio realisasi pajak daerah. diperoleh dari perhitungan atau perbandingan antara realisasi pajak daerah dengan anggarannya atau target pajak daerah. Teknik analisis kecenderungan ini akan dibahas di bab 8. adalah: 76 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Lebih jauh. Tujuan analisis ini adalah untuk menguji kebenaran angka-angka laporan keuangan yang disajikan. maka semakin baik pula kinerja dari pencapaian pajak daerah tersebut. Misalnya. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis perbandingan dilakukan dengan membandingkan satu atau beberapa pos dengan satu atau beberapa pos lainnya dalam satu periode. yaitu bab terakhir dalam modul ini. Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis hubungan dilakukan dengan menguji hubungan logis antar pos. Tujuan analisis ini antara lain untuk menilai kondisi atau kinerja keuangan pemerintah daerah. 3. analisis laporan keuangan itu sendiri mengandung keterbatasan inheren. Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan Teknik analisis kecenderungan dilakukan dengan membandingkan pos yang sama untuk periode lebih dari dua tahun. D. harus dilakukan analisis apakah kedua pos tersebut terbukti berhubungan.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 77 . Hakikat laporan keuangan adalah informasi kuantitatif. Penggunaan taksiran dalam laporan keuangan. Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan. Informasi dalam laporan keuangan adalah bertujuan umum. Teknik-teknik yang digunakan dalam analisis laporan keuangan Pemerintah Daerah adalah: • • • Analisis hubungan pos-pos laporan keuangan. Analisis kecenderungan pos-pos laporan keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah • • • • • Sifat laporan keuangan adalah historis. Laporan keuangan lebih menggambarkan kinerja keuangan.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 78 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

A. Laporan Realisasi APBD dan Neraca. Pendahuluan Pengguna laporan keuangan harus memahami bahwa pos-pos di dalam suatu laporan keuangan dapat mempunyai kaitan atau hubungan satu dengan lainnya. di dalam neraca. Laporan Realisasi APBD dan Neraca. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Neraca. Contoh lain. yang meliputi: • • • • Laporan Realisasi APBD. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan keuangan pada Arus Kas. Laporan Arus Kas. diharapkan pembaca dapat: • • • • Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos pada Laporan Realisasi APBD. Demikian halnya. Contoh sederhana. misalnya jumlah akhir kas di dalam laporan arus kas harus sama dengan jumlah akhir kas di dalam neraca. harus sama dengan aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek. Neraca. Memperoleh pemahaman mengenai hubungan antar pos laporan keuangan pada Realisasi APBD dan Neraca. Berikut adalah pembahasan mengenai hubungan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 79 . jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan di dalam laporan arus kas. jumlah ekuitas dana lancar. beberapa pos antar laporan keuangan dapat mempunyai kaitan satu dengan lainnya. Realisasi APBD dan Neraca. harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan di dalam laporan realisasi anggaran.Analisis Laporan Keuangan Daerah Analisis Hubungan Bab 6 Setelah mempelajari bab ini.

80 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Laporan Realisasi APBD Pada saat penyusunan APBD harus diperhatikan rencana pembiayaan untuk mengalokasikan (menutup) surplus/defisit. Untuk membahas beberapa hubungan antar pos di dalam laporan realisasi APBD. yang secara ringkas dapat dilihat sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Y” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah Dana Penimbangan Lain-Lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan : (1) BELANJA Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tak Terduga Total Belanja : (2) Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan : (4) Pengeluaran Pembiayaan : (5) Pembiayaan Neto : (6) = (4) – (5) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) : (7) = (3) + (6) xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut: 1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif). Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan. perhatikan kembali format laporan realisasi APBD pada bab 3. maka jumlah pembiayaan neto harus positif dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut.Analisis Laporan Keuangan Daerah B.

590 (500) 9.Analisis Laporan Keuangan Daerah Defisit < Pembiayaan neto positif Kondisi yang salah : Defisit > Pembiayaan neto positif Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Defisit Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan* Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 9.090 60.800 (9.710 69. maka jumlah penerimaan pembiayaan minimal sebesar Rp 9. dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan neto yang negatif tersebut.090) * Pembiayaan neto minimal harus sama dengan jumlah defisit yaitu Rp 9.090. Kondisi yang benar : Surplus > Pembiayaan neto negatif Kondisi yang salah : Surplus < Pembiayaan neto negatif Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 81 . Bila direncanakan ada pengeluaran pembiayaan misalnya sebesar Rp 500. Jumlah pembiayaan neto negatif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan.590 atau dengan rumus: Penerimaan Pembiayaan > Defisit + Pengeluaran Pembiayaan 2) Pembiayaan neto yang jumlahnya negatif hanya diijinkan bila anggaran direncanakan surplus.

SiLPA = Defisit + Pembiayaan neto positif Syarat: Pembiayaan neto positif > Defisit Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Defisit Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 10.090) (b) Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif.710 59.590 (500) 10.090 1.000 (3. SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto positif 82 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .000 60.500) (500) 410 60.800 (9.710 69.800 910 3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa kondisi berikut: (a) Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit.Analisis Laporan Keuangan Daerah Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surpus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 3. maka selisihnya menjadi SiLPA.

500) (500) 410 60. kewajiban dan ekuitas dana pada tanggal tertentu. sebagai berikut: Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 83 . Neraca Sebagaimana yang telah dibahas pada bab 3. antara lain.710 59.800 910 C. neraca memberikan informasi mengenai posisi keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surplus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 10.000 60. SiLPA = Surplus + Pembiayaan neto negatif Syarat: Surplus > Pembiayaan neto negatif Ilustrasi: (dalam jutaan rupiah) Pendapatan Belanja Surplus Pembiayaan: Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan Pembiayaan Neto Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran 3.710 59.090 11. Informasi keuangan di dalam neraca dapat memberikan manfaat.590 (500) 10.000 (3. yaitu posisi aset.800 910 (c) Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar.

• • • Akuntabilitas terbatas pada penerimaan dan pengeluaran kas dan mengabaikan transparansi dan akuntabilitas untuk pengelolaan aset dan utang. perhatikan kembali format neraca pada bab 3. • Meningkatkan transparansi dari aktivitas pemerintah. kewajiban saat ini untuk menyerahkan (membayar) sejumlah uang atau barang di masa yang akan datang. yang secara ringkas terlihat seperti di bawah ini. tetapi juga pada aset dan utang yang mereka kelola.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Meningkatkan akuntabilitas untuk para manajer (kepala daerah dan para pejabat pemda) ketika mereka menjadi bertanggung jawab tidak hanya pada kas masuk dan kas keluar. aktiva dalam konstruksi. Untuk menguraikan beberapa hubungan antar pos di dalam neraca. antara lain. kewajiban dan ekuitas dana seperti yang dilaporkan dalam neraca. Tidak memfasilitasi penilaian posisi keuangan. karena tidak menunjukkan semua sumber daya dan kewajiban. pengungkapan atas informasi ini merupakan suatu elemen dasar dari transparansi fiskal dan akuntabilitas. 84 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Pemerintah umumnya mempunyai jumlah aset yang signifikan dan utang. • • Memfasilitasi penilaian posisi keuangan dengan menunjukkan semua sumber daya dan kewajiban. hal-hal sebagai berikut: • Pengaruh dari transaksi keuangan pada pemerintah daerah dalam suatu periode tidak tercermin secara penuh. misalnya tidak ada pelaporan mengenai piutang pajak. maka akan mengakibatkan. Memberikan informasi yang lebih luas yang dibutuhkan untuk pengambilan keputusan. Bila tidak ada informasi mengenai posisi aset. saldo aktiva persediaan. Informasi yang dibutuhkan tidak memadai untuk pengambilan keputusan yang lebih baik.

Bila tidak. PPh dan PPn). Aset = Kewajiban + Ekuitas Dana 2) Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah. Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana.Analisis Laporan Keuangan Daerah NERACA Pemerintah Daerah “Y” Per 31 Desember 200X ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya xxx xxx xxx xxx xxx KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan Total Ekuitas Dana xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Total Aset xxx Total Kewajiban dan Ekuitas Dana Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut: 1). dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut. total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset dengan kewajiban. Ekuitas Dana = Aset – Kewajiban 3). Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar – Kewajiban Jangka Pendek 4). Oleh karena itu. SiLPA = Total Kas – Utang PFK Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 85 . Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar dikurangi kewajiban jangka pendek. askes. Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi Utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen.

Kewajiban Jangka Pendek Ekuitas Dana Lancar = Rp 2. Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan persamaan berikut: Ekuitas Dana Investasi = Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka Panjang 6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana cadangan.500 Rp 3.130 Rp 2.Total Kewajiban Total Ekuitas Dana = Rp 13.620 Rp Rp 560 75 Rp13. jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan jumlah dana cadangan.450 Rp 8.835 Berdasarkan data di atas komponen ekuitas dana dapat dihitung sbb.500 Ekuitas Dana Investasi = Rp 8.000 Total Ekuitas Dana = Rp 10.835 . Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan Ilustrasi: Data aset dan kewajiban Pemda ‘P’ untuk menyusun Neraca per 31 Desember 200X adalah sebagai berikut: (dalam jutaan rupiah) ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya Total Aset KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban Rp 500 Rp 2.Rp 3.000 Rp 2.620 + Rp 75) – Rp 2.835 2) Ekuitas Dana Lancar = Aset Lancar .450 + Rp 8.Analisis Laporan Keuangan Daerah 5).: 1) Total Ekuitas Dana = Total Aset .130 – Rp 500 Ekuitas Dana Lancar = Rp 1.645 4) Ekuitas Dana Cadangan = Dana Cadangan Ekuitas Dana Cadangan = Rp 560 86 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Oleh karena itu.630 3) Ekuitas Dana Investasi = (Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya) – Kewajiban Jangka Panjang Ekuitas Dana Investasi = (Rp 2.

jumlah kewajiban di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. maka jumlah dana cadangan (aset) di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama.835 Rp 500 2.620 560 75 KEWAJIBAN Kewajiban Jangka Pendek Kewajiban Jangka Panjang Total Kewajiban EKUITAS DANA Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan Total Ekuitas Dana Total ASET 13. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembentukan dana cadangan.630 8.450 8.645 560 10. 3) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penggunaan dana cadangan dalam laporan realisasi APBD. Demikian sebaliknya. jumlah dana cadangan (aset) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama. Laporan Realisasi APBD dan Neraca Untuk mengetahui hubungan antara laporan realisasi APBD dan neraca.835 13. maka jumlah aset tetap di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.500 3. 2) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penerimaan pinjaman dalam laporan realisasai APBD.130 2. neraca dapat disusun sebagai berikut: NERACA Pemerintah Daerah “P” Per 31 Desember 200X ASET Aset Lancar Investasi Jangka Panjang Aset Tetap Dana Cadangan Aset Lainnya Rp 2. jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa pembayaran pinjaman. maka jumlah kewajiban (utang) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama.835 Total Kewajiban dan Ekuitas Dana 1. dapat dilakukan analisis sebagai berikut : 1) Bila ada belanja modal dalam laporan realisasi APBD.000 D.Analisis Laporan Keuangan Daerah Setelah komponen ekuitas dana ditentukan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 87 . Demikian sebaliknya.

2) Apakah jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi sudah benar?. askes. jumlah investasi jangka panjang (aset) di dalam neraca harus bertambah dengan jumlah yang sama. perhatikan kembali format Laporan Arus Kas pada bab 3. Realisasi APBD. yang bentuk ringkasnya seperti di bawah ini. SiLPA di neraca diperoleh dengan perhitungan: jumlah total kas dikurangi kewajiban pada PFK (potongan taspen. E. antara lain: 1) Saldo kas pada akhir tahun dalam Laporan Arus Kas harus sama dengan jumlah kas pada akhir tahun di Neraca (per 31 Desember 200X). jika terjadi pengeluaran pembiayaan berupa penyertaan modal dalam perusahaan daerah. Demikian sebaliknya.Analisis Laporan Keuangan Daerah 4) Bila ada penerimaan pembiayaan berupa penjualan investasi perusahaan daerah dalam laporan realisasi APBD. Untuk mengujinya dapat dibandingkan dengan jumlah pendapatan daerah dalam laporan realisasi anggaran dengan rumus sebagai berikut : 88 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 5) SiLPA pada kelompok ekuitas dana lancar di neraca harus sama dengan jumlah SiLPA (akhir tahun) di laporan realisasi APBD. dan PPh dan PPn yang belum disetor). maka jumlah investasi jangka panjang (aset) di dalam neraca harus berkurang dengan jumlah yang sama. Laporan Arus Kas. LAPORAN ARUS KAS Pemerintah Daerah “Y” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 200X Arus Kas Dari Aktivitas Operasi Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non Keuangan Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan Arus Kas Dari Aktivitas Non Anggaran Kenaikan/Penurunan Kas Saldo Kas Pada Awal Tahun Saldo Kas Pada Akhir Tahun xxx xxx xxx xxx xxx xxx xxx Hubungan berikut perlu diperhatikan dalam menilai kebenaran angkaangka dalam laporan arus kas. dan Neraca Untuk mengetahui hubungan Laporan Arus Kas dengan beberapa pos laporan keuangan lainnya.

sebab SiLPA tahun anggaran sebelumnya tidak dianggap sebagai komponen arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan. 4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan yang dilaporkan dalam Laporan Realisasi Anggaran sebagai kelompok Lain-lain PAD (perhatikan penjelasan pada angka 2 huruf (a) di atas) 5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran. tetapi dalam laporan realisasi APBD hibah tersebut tentu akan dilaporkan. 6) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan tidak akan sama dengan jumlah penerimaan pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. Sebagai contoh. belanja maupun pembiayaan. Alasannya.Analisis Laporan Keuangan Daerah Arus kas masuk dari aktivitas operasi = jumlah pendapatan daerah – penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan Perhatikan: (a) Arus kas masuk dari aktivitas operasi yang berasal dari Lain-lain PAD tidak termasuk pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan. penjualan aset tersebut dalam laporan arus kas dilaporkan dalam arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non keuangan. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 89 . 7) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. pendapatan berupa hibah dalam bentuk barang tidak akan dilaporkan dalam laporan arus kas. (b) Laporan arus kas hanya melaporkan transaksi kas baik pendapatan. 3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total belanja dalam Laporan Realisasi Anggaran tetapi tidak termasuk belanja modal. meski dalam bentuk barang.

200 7.450 50.855 Rp 4.800 Rp 4.200 24.100 5.710 Data lainnya mengenai posisi utang PFK dan kas: • Data mengenai jumlah potongan PFK (Taspen. dan PPh 21) adalah sebagai berikut: Utang PFK per 31 Desember 2004 (PFK yang belum disetor sampai akhir tahun) Potongan PFK selama tahun 2005 Jumlah PFK yang harus disetor Jumlah yang telah disetor selama tahun 2005 Utang PFK per 31 Desember 2005 (PFK yang belum disetor sampai akhir tahun) Rp 35 Rp 55 Rp 4.200) Pengeluaran Pembiayaan (5) Pembiayaan neto : (6) = (4) – (5) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA): (7) = (3) + (6) 21.500 69.400 (5.Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Q” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005 PENDAPATAN Pendapatan Asli Daerah (termasuk penjualan aset daerah yang dipisahkan sebesar Rp 10) Dana Perimbangan Lain-Lain Pendapatan yang Sah Total Pendapatan : (1) BELANJA Belanja Operasi Belanja Modal Belanja Tak Terduga Total Belanja : (2) Surplus (Defisit) : (3) = (1) – (2) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan : (4) (termasuk SiLPA tahun sebelumnya Rp 15.800 (9.820 90 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .200) 16.000 260 60. Askes.090) 10.110 40.

255 Rp 7.820 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 91 . Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 24.400 – Rp 15.: 1) Arus kas masuk dari aktivitas operasi = Total Pendapatan – Penjualan Aset Daerah yang Dipisahkan Arus kas masuk dari aktivitas operasi = Rp 60.710 – Rp 10 = Rp 60.Analisis Laporan Keuangan Daerah • Data saldo kas dalam neraca adalah sbb.100 = Rp 45.: Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2004 Saldo kas dalam Neraca per 31 Desember 2005 Rp 15.100 5) Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Jumlah penerimaan pembiayaan – SiLPA tahun sebelumnya Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 21.700 2) Arus kas keluar dari aktivitas operasi = Total Belanja – Belanja Modal = Arus kas keluar dari aktivitas operasi = Rp 69.700 3) Arus kas masuk berasal dari aktivitas investasi non-keuangan = Lain-lain PAD yang berasal dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan.200 Arus kas masuk dari aktivitas pembiayaan = Rp 6.200 7) Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK tahun berjalan Arus kas masuk dari aktivitas non-anggaran = Rp 4.800 – Rp 24.145 Berdasarkan data-data di atas laporan arus kas dapat disusun dengan melakukan analisis sbb.800 8) Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = jumlah potongan PFK yang disetor selama tahun berjalan Arus kas keluar dari aktivitas non-anggaran = Rp 4.200 6) Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = jumlah pengeluaran pembiayaan Arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan = Rp 5. Arus kas masuk dari aktivitas investasi non-keuangan = Rp 10 4) Arus kas keluar dari aktivitas investasi non-keuangan = belanja modal.

jumlah SiLPA akhir tahun di Laporan Realisasi APBD sudah sama dengan jumlah SiLPA di Neraca.100) Arus Kas Dari Aktivitas Pembiayaan (Rp 6.110.145 1. Ternyata.090) 15.000 Berdasarkan contoh di atas.000 (24. laporan arus kas secara ringkas dapat disusun sebagai berikut : LAPORAN ARUS KAS Pemerintah Daerah “Q” Untuk Tahun yang Berakhir 31 Desember 2005 (dalam jutaan rupiah) Rp Arus Kas Dari Aktivitas Operasi (Rp 60. yang dapat dihitung dengan rumus: SiLPA = Jumlah kas akhir tahun – Jumlah Kewajiban PFK akhir tahun Berdasarkan data mengenai posisi kas dan utang PFK di atas.700) Arus Kas Dari Aktivitas Investasi Aset Non-Keuangan (Rp 10 – Rp 24. 92 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .145 – Rp 35 = Rp 7.200 – Rp 5.110.800 – Rp 4. Jumlah SiLPA tersebut harus sama dengan jumlah SiLPA yang akan dilaporkan pada kelompok “Ekuitas Dana Lancar” di Neraca.820) Kenaikan (Penurunan) Kas Saldo Kas Pada Awal Tahun Saldo Kas Pada Akhir Tahun (20) (8.700 – Rp 45.200) Arus Kas Dari Aktivitas Non-Cadangan (Rp 4. SiLPA akhir tahun dalam Laporan Realisasi APBD Pemda “Q” untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2005 adalah Rp 7.Analisis Laporan Keuangan Daerah Selanjutnya.110) 15. SiLPA dalam neraca dapat dihitung: SiLPA = Rp 7.255 7. Pengujian ini memberikan salah satu indikasi bahwa penyusunan laporan keuangan sudah benar.

Rangkuman Hubungan antar pos laporan realisasi APBD adalah sebagai berikut: 1) Bila anggaran direncanakan defisit (negatif). Jumlah SiLPA di dalam ekuitas dana lancar adalah jumlah total kas dikurangi utang Perhitungan Fihak Ketiga (potongan taspen. Hubungan antar pos-pos di dalam neraca adalah sebagai berikut: 1). PPh dan PPn). Jumlah Ekuitas Dana Lancar harus sama dengan jumlah aset lancar di kurangi kewajiban jangka pendek. dengan jumlah minimal sama dengan jumlah defisit tersebut. maka jumlah pembiayaan neto harus positif. 5). 2) Pembiayaan neto negatif hanya diijinkan bila anggaran direncanakan surplus. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 93 . dapat dipastikan masih ada kesalahan dalam penyusunan neraca tersebut. maka selisihnya menjadi SiLPA. 2). 4). Ekuitas dana menunjukkan jumlah aset bersih pemerintah daerah. Bila terjadi surplus dan pembiayaan neto positif. jumlah ekuitas dana cadangan sama dengan jumlah dana cadangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah F. Bila tidak. Oleh karena itu. total ekuitas dana harus sama dengan selisih antara total aset dengan kewajiban. 3). Total aset harus sama dengan total kewajiban dan ekuitas dana. (Jumlah pembiayaan neto positif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih besar dari pada jumlah pengeluaran pembiayaan). Oleh karena itu. (Jumlah pembiayaan neto negatif berarti jumlah penerimaan pembiayaan lebih kecil dari jumlah pengeluaran pembiayaan). askes. Jumlah Ekuitas Dana Investasi diperoleh dengan perhitungan: Investasi Jangka Panjang + Aset Tetap + Aset Lainnya – Kewajiban Jangka Panjang 6) Jumlah ekuitas dana cadangan menunjukkan jumlah aset berupa dana cadangan. Hubungan berikut dapat digunakan dalam menilai kebenaran angkaangka dalam laporan arus kas: 1) Saldo kas pada akhir tahun harus sama dengan jumlah kas pada akhir tahun di Neraca. dan jumlah surplusnya minimal sama dengan jumlah pembiayaan neto yang negatif tersebut. 3) Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (SiLPA) akan muncul dalam beberapa kondisi berikut: • • • Bila jumlah pembiayaan neto positif lebih besar daripada jumlah defisit. Bila terjadi pembiayaan neto negatif tetapi surplusnya lebih besar.

6) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas pembiayaan harus sama dengan jumlah pengeluaran pembiayaan dalam laporan realisasi anggaran. 5) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah belanja modal di laporan realisasi anggaran. 4) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas investasi aset non-keuangan sama dengan jumlah pendapatan dari penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan (dalam laporan realisasi anggaran). 94 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .Analisis Laporan Keuangan Daerah 2) Jumlah arus kas masuk dari aktivitas operasi dapat sama dengan jumlah pendapatan daerah dikurangi penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan (dalam laporan realisasi anggaran) 3) Jumlah arus kas keluar dari aktivitas operasi sama dengan jumlah total belanja (dalam laporan realisasi anggaran) tetapi tidak termasuk belanja modal.

diharapkan pembaca dapat: • • • Memperoleh pemahaman mengenai keunggulan dan kelemahan analisis perbandingan. 2. dikatakan ia/mereka melakukan analisis rasio keuangan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Perbandingan Setelah mempelajari bab ini. Lebih mudah memperbandingkan kondisi keuangan pemerintah daerah dengan pemerintah daerah lain atau melihat perkembangan pemerintah daerah secara periodik. Keunggulan dan Kelemahan Perbandingan Perbandingan pos-pos laporan keuangan sering disebut dengan istilah rasio keuangan. jika seseorang atau lembaga melakukan perhitungan dengan membandingkan pos-pos laporan keuangan suatu entitas. Memperoleh pemahaman mengenai jenis-jenis analisis perbandingan pada laporan keuangan daerah. Oleh karena itu. 4. Rasio merupakan pengganti (yang lebih sederhana) dari informasi yang disajikan di dalam laporan keuangan (yang rinci dan rumit). Standarisasi unit-unit pengukuran komponen keuangan pemerintah daerah. Analisis Bab 7 A. 5. sebagai berikut: 1. 3. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 95 . analisis rasio keuangan memiliki keunggulan. Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan analisis perbandingan pada laporan keuangan daerah. Lebih mudah melihat perkembangan pemerintah daerah serta melakukan prediksi di masa yang akan datang. Rasio merupakan angka-angka atau ikhtisar statistik yang lebih mudah dibaca dan ditafsirkan. antara lain. dengan maksud untuk mengetahui capaian atau kinerja keuangan entitas dimaksud. Dibandingkan dengan teknik analisis keuangan lainnya.

4. pengguna hasil analisis laporan keuangannya lebih luas lagi. investor dan kreditor. 5. Jenis-jenis Perbandingan Pengguna hasil analisis laporan keuangan di sektor bisnis umumnya adalah investor. manajemen dan analis keuangan. khususnya di sektor pemerintahan. masyarakat. Rasio profitabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan entitas dalam menghasilkan laba (keuntungan). 2. seperti nilai perolehan historis. yaitu Pemerintah Daerah (eksekutif). apakah angka tersebut berarti sangat baik. Belum ada keseragaman dalam hal istilah-istilah rasio maupun dalam kaidah pengukurannya. sedang atau kurang. 4. nilai estimasian. 96 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Pemerintah Pusat. Sedangkan di sektor publik (pemerintahan). 3. Misalnya. bila rasio realisasi pendapatan pajak mencapai 110%. Angka rasio yang dihasilkan dari perhitungan perbandingan pos-pos laporan keuangan suatu pemda belum tentu dapat dibandingkan dengan angka rasio pemda lainnya. kreditor. analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan ini memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: 1. Rasio leverage yaitu rasio untuk mengukur perbandingan dana yang disediakan oleh pemilik dengan dana yang dipinjam dari kreditor. B. Rasio likuiditas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas (organisasi) dalam membayar utangnya yang akan jatuh tempo dalam jangka pendek. Validitas angka rasio dipengaruhi secara otomatis oleh validitas angkaangka yang dilaporkan dalam laporan keuangan dan dipengaruhi oleh kelemahan inheren laporan keuangan. Rasio solvabilitas yaitu rasio untuk mengukur kemampuan suatu entitas untuk membayar semua utangnya.Analisis Laporan Keuangan Daerah Di sisi lain. Di sektor bisnis (perusahaan). berapa angka rasio kemandirian yang harus dicapai oleh pemda untuk dapat dikatakan mandiri dalam hal pendanaan. karena mungkin saja teknik perhitungannya berbeda atau pemilihan metode dan prinsip akuntasi yang berbeda. analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan umumnya dinyatakan dalam suatu ukuran rasio keuangan yang terdiri dari: 1. Belum ada standar atau patokan yang dapat digunakan untuk menilai baik atau buruknya suatu angka rasio. baik. DPRD (legislatif). kebebasan memilih metode akuntansi. 3. Rasio aktivitas yaitu rasio untuk mengukur efektif-tidaknya perusahaan di dalam menggunakan dan mengendalikan sumber daya yang dimilikinya. 2.

belanja. Solvabilitas. adalah sebagai berikut: 1. sebagaimana yang telah dibahas di bab 3. beberapa perbandingan pos-pos laporan keuangan. khususnya APBD. sedangkan kelompok 3 disebut Perbandingan Pos Neraca. dan c. Misalnya perbandingan realisasi pajak daerah Tahun Anggaran (T. yaitu: a. Perbandingan Realisasi vs Anggarannya b.) 2006 terhadap realisasi pajak daerah T. Dari adaptasi terhadap rasio keuangan sektor bisnis. Efektifitas PAD Perbandingan ini digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam merealisasikan PAD yang direncanakan dibandingkan dengan target yang ditetapkan (berdasarkan potensi riil daerah). Kemandirian Keuangan Daerah b. terdapat dua perhitungan yaitu: a. Perbandingan Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu Perbandingan ini dimaksudkan untuk mengukur pertumbuhan (kenaikan/ penurunan) pos-pos APBD dalam dua tahun anggaran yang berurutan. Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu 2. 2007). Efisiensi Pendapatan Asli Daerah d. perbandingan dalam kelompok 1 dan 2 di atas (kecuali Kemandirian Entitas) disebut Perbandingan Pos APBD. Kemampuan daerah Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 97 . Dari data APBD yang dikembangkan oleh Widodo (dalam Halim. 2005 (komparatif vertikal). Bisa juga perbandingan realisasi pos-pos APBD dilakukan antara satu pemda dengan pemda yang lain untuk tahun anggaran yang sama (komparatif horizontal). antara lain terdapat empat perhitungan. Dari format laporan realisasi APBD. Keserasian Belanja 3. terdapat tiga perhitungan perbandingan.A. yaitu: a.A. Leverage Untuk mempermudah penyebutannya. surplus (defisit) dan pembiayaan. Perbandingan ini pada dasarnya untuk mengetahui keberhasilan pencapaian target pendapatan dan mengevaluasi ketaatan dalam pelaksanaan belanja dan pembiayaan. Efektifitas Pendapatan Asli Daerah c. Likuiditas. b. Perbandingan Realisasi vs Anggaran Perbandingan ini untuk mengukur realisasi pos-pos APBD yang meliputi realisasi pendapatan.Analisis Laporan Keuangan Daerah Sedangkan di sektor publik (pemerintahan).

jika hasil perhitungannya kurang dari 1 atau lebih kecil dari 100%. Rasio ini bisa diukur dengan rasio utang terhadap aktiva atau rasio utang terhadap ekuitas dana. berarti kinerja pemerintah daerah semakin baik. Suatu pemerintah daerah dikatakan efisien dalam melakukan pemungutan PAD. Solvabilitas Perhitungan solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo. Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar dan rasio kas.Analisis Laporan Keuangan Daerah dalam melaksanakan tugasnya dikatakan efektif. tingkat kemandirian dapat juga dibaca sebagai indikator tingkat partisipasi masyarakat lokal terhadap pembangunan daerah. Keserasian Belanja Rasio keserasian ini digunakan untuk mengukur keserasian belanja yang direalisasikan oleh pemda. 98 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Efisiensi PAD Perhitungan ini menggambarkan perbandingan antara besarnya biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh pendapatan (PAD) dengan realisasi pendapatan yang diterima. rasio biaya pemungutan pajak dengan pendapatan pajak. Likuiditas Perhitungan likuiditas digunakan untuk mengukur kemampuan pemerintah daerah dalam membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya. Kemandirian Perbandingan ini digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian pemerintah daerah dalam hal pendanaan aktivitasnya. rasio total belanja tidak langsung terhadap total belanja langsung. Contoh. jika hasil perhitungannya minimal sebesar 1 atau 100%. Semakin kecil hasil perhitungannya. Leverage Perhitungan leverage digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemerintah daerah) dengan total utang. indikator perkembangan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakatnya. Rasio ini dapat diukur dengan membandingkan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah pinjaman (selain utang PFK dan utang pajak PPn/PPh). Di samping itu.

820 247.600 57.265 36.795 34.Analisis Laporan Keuangan Daerah C.978 18.000 10.250 12.940 12.568 13.750 34.145 301.800 2.500 0 281.820 215.500 11.500 10.000 8.665 20.000 21.950 1.600 35.500 0 347.000 19.200 208.600 150 72.515 8.600 255.660 74.000 75.995 38.935 Realisasi TA 2006 338.260 7.160 14. Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Anggaran Setelah Perubahan TA 2007 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain-lain PAD yang Sah DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 359.750 2.540 150 8.500 50.750 275.000 22.000 68.940 188.420 56.603 21.000 66.000 64.210 12.355 214.515 64.578 7.500 11.560 1.545 0 349.175 56.500 11.200 321.400 120 10.515 64.240 321.145 1.515 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 99 .450 3.515 8.540 120 10.000 160 102.650 2.933 246.700 135 101.690 Realisasi TA 2007 3360.065 7.200 21.353 38. Perbandingan Pos APBD Contoh laporan realisasi APBD di bawah ini akan digunakan untuk memberikan ilustrasi mengenai beberapa perbandingan pos-pos APBD.450 10.750 275.

59 99.660 74.000 75.540 120 10.36 100 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .935 Rasio Realisasi (%) (3) = (2) : (1) 100.578 7.933 246.000 8.515 64.92 122.420 56.47 100 100 98.97 100 100 99.38 99.200 21.175 56.200 321.000 66.795 34.995 38.000 22.750 34.64 84.750 275.690 360.500 11.545 0 349.145 1.978 18.515 8.51 91.46 99.750 275.820 215.61 0 99.09 101.000 68.400 120 10.000 160 102.950 1.240 321.800 2.05 101.250 12.06 100 100 100 103.73 98.568 13.820 247.000 21.353 38.67 101.515 64.82 99.603 21.000 10.41 99.355 214. Realisasi vs Anggaran Berdasarkan data di atas dapat digambarkan perhitungan realisasi anggaran sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Anggaran Setelah Perubahan TA 2007 Realisasi TA 2007 (2) (1) PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain-lain PAD yang Sah DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN-LAIN PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 359.515 8.940 12.500 11.500 0 347.21 99.50 101.700 135 101.000 19.650 2.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1.

berarti terdapat efisiensi 4% dari anggaran belanjanya. meskipun pelampauannya sangat kecil. Sebagai contoh. Sementara rata-rata tingkat penyerapan adalah lebih dari 90%.A. tidak ada larangan atau bukan hal yang salah bila realisasi defisit melebihi 100% dari yang direncanakan (misal karena Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 101 . Surplus (defisit) hakikatnya bukan merupakan anggaran. karena mungkin saja pemda yang defisit tersebut mempunyai anggaran belanja kegiatan yang jauh lebih besar dibanding dengan pemda yang surplus. Hal ini perlu mendapat jawaban tersendiri dari pihak pengelola kegiatannya kenapa hal tersebut terjadi. hal ini menunjukkan ketaatan pada peraturan. Surplus (defisit) Pemda yang mengalami defisit belum tentu kinerjanya lebih buruk dari pemda yang surplus. akan tetapi tingkat penyelesaian gedung tersebut baru 90%. 2006. misalnya realisasi pajak daerah TA 2007 dibandingkan dengan realisasi pajak daerah TA 2006. Realisasi Belanja Realisasi belanja tidak diperkenankan melebihi plafonnya.A.Analisis Laporan Keuangan Daerah Realisasi anggaran dihitung secara sederhana yaitu dengan membandingkan realisasi pos-pos APBD (kolom 2) dengan anggarannya masing-masing (kolom 1). Dengan demikian. Untuk itu. seyogyanya realisasi pendapatan tahun berjalan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. tetapi juga bisa dilakukan untuk melihat realisasi triwulanan dan semesteran. kecuali pos bagian laba dari BUMD. realisasi belanja pembangunan gedung (belanja modal) adalah 100%. Harus dicermati bahwa persentase tingkat penyerapan dana idealnya selaras dengan tingkat penyelesaian kegiatannya (kinerja program/kegiatan). 2007 (setelah perubahan anggaran) idealnya harus lebih besar atau paling tidak sama dengan realisasi pendapatan T. tetapi perhitungan yang menunjukan selisih dari anggaran pendapatan dan anggaran belanja. Realisasi Pendapatan Semua pos PAD melampaui targetnya masing-masing. hal ini menunjukkan tingkat penyerapan dana yang optimal. Harus dicermati bahwa target pendapatan T. agar mendapat gambaran yang lebih baik. Perbandingan ini tidak hanya dihitung untuk mengetahui tingkat realisasi tahunan. Sebaliknya bila tingkat penyelesaian gedung tersebut sudah 100% sementara penyerapan dananya adalah 96%. Analisis rasio realisasi belanja di atas menunjukkan angka tertinggi 100%.

353 38.650 2.560 1. Dengan demikian. yaitu angka pada kolom (2) dibagi dengan angka pada kolom (1).Analisis Laporan Keuangan Daerah anjloknya realisasi pendapatan pajak dari yang ditargetkan). yang menjadi fokus evaluasi adalah realisasi pendapatan. sepanjang tidak ada peraturan khusus yang melarangnya. Sedangkan anggaran penerimaan pembiayaan sifatnya seperti pendapatan di mana jumlah yang dianggarkan adalah target yang boleh dilampaui. belanja.53 105.665 20.568 13. SiLPA akhir tahun Seperti halnya surplus (defisit). sepanjang jumlah pembiayaan netonya dapat menutup realisasi defisit tersebut.145 Realisasi TA 2007 (2) 360.29 106.145 1.72 104. Dalam hal ini. dan pembiayaan. Berdasarkan data di atas dapat di gambarkan penggunaan rasio realisasi anggaran untuk perbandingan realisasi saat ini vs tahun lalu (komparatif) sebagai berikut: Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2006 (1) PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain2 PAD yang Sah 338.29 104. 2.210 12. kolom (1) diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2006 dan kolom (2) diisi dengan angka-angka realisasi APBD TA 2007.43 102 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .265 36. SiLPA hakikatnya bukan anggaran tetapi perhitungan yaitu selisih antara surplus (defisit) dengan pembiayaan neto.240 Rasio Komparatif (%) (3) = (2) : (1) 106.603 21. Realisasi Pembiayaan Anggaran pengeluaran pembiayaan sifatnya seperti belanja di mana jumlah yang dianggarkan merupakan pagu yang tidak boleh dilewati. Realisasi Sekarang vs Tahun Lalu Perhitungan perbandingan realisasi sekarang vs tahun lalu (rasio komparatif) pada dasarnya sama dengan perhitungan realisasi anggaran di atas.750 2.66 94.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Laporan Realisasi APBD Pemerintah Daerah “Suka2” Untuk Tahun Anggaran yang Berakhir 31 Desember 2007 dan 2006 (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2006 (1) DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 301.73 117. maka perlu mendapat penjelasan dari pemda karena ketiga pos tersebut secara normal cenderung naik setiap tahunnya dan rasio komposisinya signifikan terhadap jumlah pendapatan daerah.600 150 72.67 106.500 50.940 188.72% (106.37 266.355 214.660 74. Bila rasio komparatif dari ketiga pos pendapatan ini turun signifikan.07 90 140. 2007 tumbuh 6.065 7.750 34. Sebagai contoh pajak daerah TA.500 11.42 128. dana alokasi umum (DAU).72%-100%).500 11.000 64.400 120 10.450 3.935 Rasio Realisasi (%) (3) = (2) : (1) 106.515 64.83 109.52 0 123.515 8.978 18.600 57.68 97.260 7. Rasio komparatif untuk pendapatan dapat diturunkan menjadi rasio pertumbuhan.200 208.76 758.57 111.10 21.540 150 8.940 12.69 148. retribusi daerah.500 0 281.59 617.000 68.85 a.750 275.600 35.72 80 117.515 Realisasi TA 2007 (2) 321. Harus dicermati untuk pos pendapatan yang cenderung naik dan jumlahnya signifikan seperti pajak daerah.500 0 347.700 135 101.61 107.000 21.420 56.160 14.600 255.933 246.450 10.64 187. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 103 .578 7.91 113.500 10. misal rasionya 90% (angka ini bukan hasil penelitian).

Perubahan = Naik(Turun) Pos/Rekening PAD Pajak Daerah Retribusi Daerah Dst….450 juta) dibanding SiLPA awal tahun 2007 yang masuk ke penerimaan pembiayaan TA 2007 (Rp 64.24% 0.568 13. Hal ini disebabkan karena SiLPA awal tahun 2006 yang masuk ke penerimaan pembiayaan TA 2006 jumlahnya jauh lebih kecil (Rp 10.A. 2007 terhadap nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).5 Triliun.03% 104 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .66 106.353 38.A.02% 0. c. Rasio komparatif baik untuk pos pendapatan dan pos belanja secara umum di atas 100%. Rasio komparatif untuk pos pembiayaan naik spektakuler hingga rasio tertinggi 758%. seperti berikut ini.210 12. Sebagai contoh.25% 0. Analisis rasio komparatif di atas dapat juga dikembangkan dengan menambahkan kolom baru untuk jumlah perubahannya (yang menggambarkan pertumbuhan positif/negatif). maka ilustrasinya dapat digambarkan sebagai berikut: (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2007 PENDAPATAN PENDAPATAN ASLI DAERAH Pajak Daerah Retribusi Daerah Bagian Laba dari Perusda/BUMD Lain2 PAD yang Sah 360. bila PDRB pada T.603 21.560 21.145 1.240 (%) terhadap PDRB 4.45% 0.15% 0. Hal ini menunjukkan kondisi yang normal.568 13.515 berasal dari SiLPA akhir TA 2006.(1) (4) =(3) : (1) ( 1 ) (2) Rasio Komparatif (%) (5) =(2) : (1) Perhitungan rasio komparatif lainnya adalah dengan membandingkan Realisasi Anggaran T.72 104.650 2. 2007 sebesar Rp. 8.Analisis Laporan Keuangan Daerah b.515 juta). terlebih lagi belanja yang cenderung naik setiap tahunnya.66 Realisasi Realisasi Jumlah % TA 2006 TA 2007 (3) =(2) .145 1.358 585 6. bila dalam contoh di atas diasumsikan penerimaan pembiayaan hanya berasal dari SiLPA awal TA 2007 sebesar Rp 64. 20.72 4.

Analisis Laporan Keuangan Daerah (dalam jutaan rupiah) Realisasi TA 2007 DANA PERIMBANGAN Dana Bagi Hasil Dana Alokasi Umum Dana Alokasi Khusus LAIN2 PENDAPATAN YANG SAH BELANJA BELANJA TIDAK LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Bunga Belanja Subsidi Belanja Bantuan Keuangan Belanja Tak Terduga BELANJA LANGSUNG Belanja Pegawai Belanja Barang dan Jasa Belanja Modal SURPLUS (DEFISIT) PEMBIAYAAN Penerimaan Pembiayaan Pengeluaran Pembiayaan SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) 68.515 8.15% 0. Sedangkan belanja tidak Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 105 .00% 0.940 12.76% 0.000 (%) terhadap PDRB 3.660 74. Belanja langsung harus ditetapkan indikator kinerjanya sebab akan diukur kinerja pelaksanaan program/kegiatannya.00% 1.700 135 101.79% 0.20% 0.24% 0.14% 0.26% 0.500 11.00% 4.750 275.978 18.66% 0.933 246.81% 3. Keserasian Berdasarkan Pemendagri 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.09% 0.750 34.22% 0. Sedangkan belanja langsung adalah belanja yang terkait secara langsung dengan adanya program dan kegiatan.000 21.12% 0.500 0 347.88% 0.90% 2.41% 3.400 120 10.420 56.09% 2. Belanja tidak langsung adalah belanja yang tidak terkait langsung dengan adanya program dan kegiatan.935 321.578 7.515 64.52% 0.355 214. belanja dibagi ke dalam dua kelompok: belanja tidak langsung dan belanja langsung.09% 0.

Perbandingan yang serasi adalah bila belanja publik lebih besar dan semakin lebih besar dibanding dengan belanja non publik.500 5.935 2.578 : 246.Analisis Laporan Keuangan Daerah langsung tidak dapat (sulit) untuk ditetapkan indikator kinerjanya.340 3. Sedangkan kondisi ideal yang diharapkan adalah belanja langsung (terutama yang bermanfaat langsung bagi publik) yang lebih besar dan semakin lebih besar dari belanja tidak langsung.000 Ekuitas Dana Lancar Ekuitas Dana Investasi Ekuitas Dana Cadangan 72. Perbandingan Pos Neraca Data berikut ini diambil dari Neraca Pemerintah Daerah “Suka2” untuk memberikan ilustrasi perhitungan rasio likuiditas. D.435 65. NERACA Pemerintah Daerah “Suka2” Per 31 Desember 2007 (dalam jutaan rupiah) AKTIVA Aktiva Lancar Kas Piutang Pajak Daerah Persediaan Investasi Jk Panjang Aktiva Tetap Dana Cadangan Rp 663. Berdasarkan konsep tersebut maka perbandingan yang serasi adalah bila belanja langsung lebih besar dan semakin lebih besar dibanding belanja tidak langsung.000 650. Panjang 25.000 106 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . karena itu belanja tidak langsung tidak perlu diukur kinerjanya.000 Utang Jk. Panjang 560. leverage.355 = 41.325 PASSIVA UTANG Utang Jk.825 68. Analisis bisa dikembangkan lebih spesifik lagi dengan mencermati berapa komposisi antara belanja langsung yang dinikmati secara langsung atau sebagian besar oleh masyarakat (belanja publik) dan belanja langsung yang tidak dinikmati secara langsung oleh masyarakat (belanja non publik).550 2.000 6.540 Rp 663.935 579.350 1.500 EKUITAS DANA 5. Pendek Utang Potongan PFK Utang Pajak Pusat Bagian Lancar Utang Jk.890 1. dan kemandirian.23% Dapat dikatakan bahwa rasio belanja masih jauh dari keseimbangan (keserasian) karena belanja tidak langsung masih mendominasi. Berdasarkan contoh di atas: Rasio keserasian belanja = belanja langsung : belanja tidak langsung Rasio keserasian belanja = 101. solvabilitas.890 6.325 12.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemda sangat likuid. Oleh karena itu. pemda mempunyai Rp 10.890 Rasio lancar = 10. Rasio kas = kas dan setara kas : utang jk. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. Pos persediaan pada neraca pemda umumnya bukan persediaan barang dagang yang ditujukan untuk dijual tetapi untuk digunakan dalam operasi pemerintah atau diserahkan kepada masyarakat. Likuiditas Rasio likuiditas mengukur kemampuan pemda untuk membayar utang (kewajiban) jangka pendeknya. Pendek Rasio kas = 68. Rasio lancar = (aktiva lancar – persediaan) : utang jk.325 :12. dalam hal ini perbandingan antara kas dengan utang jangka pendek adalah 10 : 1.825 – 1.53:1.46 Kesimpulan: rasio solvabilitas menunjukkan perbandingan antara total Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 107 . Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. Rasio solvabilitas = total aktiva : total utang Rasio solvabilitas = 663.935 : 6. Rasio ini bisa diukur dengan rasio aktiva terhadap utang atau rasio ekuitas dana terhadap utang. Pendek).540) : 6. 2.35 aktiva yang sangat lancar.35 Rasio lancar ini menunjukkan perbandingan antara aktiva lancar (di luar persediaan) dengan utang jangka pendek yang besarnya adalah 10.890 Rasio kas = 10 Kesimpulan: rasio kas menunjukkan perbandingan yang lebih likuid dari rasio lancar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kodisi keuangan pemda sangat likuid. Rasio ini bisa diukur dengan rasio lancar dan rasio kas (terhadap utang jk. Pendek Rasio lancar = (72.890 = 51. pemda mempunyai Rp 10 kas dan setara kas. Solvabilitas Rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur kemampuan pemda untuk membayar semua utangnya yang akan jatuh tempo.Analisis Laporan Keuangan Daerah 1. dalam perhitungan rasio lancar sebaiknya pos persediaan tidak diperhitungkan. Artinya tanpa harus menunggu ditagihnya piutang pajak. pemda sudah dapat melunasi utang jangka pendek tsb pada saat ini.

akan tetapi sebaiknya mengeluarkan utang PFK dan utang pajak pusat sebab kedua jenis utang tersebut tidak dimaksudkan untuk menambah sumber pendanaan pemda. berarti hal ini menunjukkan tingkat kemandirian yang semakin meningkat pula. Dana alokasi umum masih merupakan sumber pembiayaan yang utama (andalan) bagi pemda-pemda pada umumnya.Analisis Laporan Keuangan Daerah aktiva dengan total utang yang besarnya adalah 51. Di pemerintah daerah.435 : 12. Rasio leverage selama ini hanya digunakan di sektor perusahaan untuk mengukur komposisi sumber pembiayaan yang berasal dari kreditor dan investor. 4. Dengan demikian.890 = 50. Rasio ini dapat diukur dengan membandingkan jumlah PAD terhadap jumlah DAU ditambah jumlah pinjaman (selain utang PFK dan utang pajak PPn/PPh). Rasio leverage = total ekuitas dana : total utang Rasio leverage = 650.46 aset. Kemandirian Rasio kemandirian digunakan untuk mengukur tingkat kemandirian pemda dalam hal pendanaan aktivitasnya. yang besarnya adalah 50 : 1. Bila pinjaman jumlahnya dianggap material. 108 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . 3. maka untuk mengukur kemandirian unsur pinjaman tersebut harus diperhitungkan.46 : 1. Leverage Rasio leverage digunakan untuk mengukur perbandingan antara ekuitas dana (kekayaan bersih pemda) dengan total utang. dapat dikatakan bila perbandingan sumber pembiayaan dari PAD terhadap DAU semakin besar. Kondisi ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan pemda masih sangat solvable. pemda mempunyai Rp 51. hal ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan Pemkab Masyarakat Sejahtera sangat solid. Hal ini berarti untuk setiap Rp 1 utang. rasio ini mungkin belum (tidak) merupakan rasio yang penting sebab tingkat utang daerah yang masih relatif kecil dan syarat penarikan pinjaman daerah menggunakan DSCR dan rasio maksimum pinjaman.46 Kesimpulan: rasio leverage menunjukkan perbandingan antara kekayaan bersih (ekuitas dana) dengan utang. Dana alokasi umum merupakan dana yang berasal dari APBN yang ditransfer ke pemda dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah.

890 – 1.603 : {275.340)} Rasio kemandirian = 38. Belum ada standar untuk melakukan penilaian Hasil perhitungannya belum tentu dapat dibandingkan Validitas hasil perhitungannya tergantung pada validitas angka-angka laporan keuangan Beberapa perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah adalah sebagai berikut: • • • • • • • • • Perbandingan Realisasi vs Anggarannya Perbandingan Realisasi Tahun Ini vs Tahun Lalu Kemandirian Keuangan Daerah Efektifitas Pendapatan Asli Daerah Efisiensi Pendapatan Asli Daerah Keserasian Belanja Likuiditas Solvabilitas Leverage Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 109 . Rangkuman Analisis perbandingan pos-pos laporan keuangan pemerintah daerah memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut: • • • • Belum ada keseragaman.500 = 13.Analisis Laporan Keuangan Daerah Rasio kemandirian = Realisasi PAD : {DAU + (Utang – Utang PFK – Utang pajak pusat)} Rasio kemandirian = 38.500 + (12.57% E.550 – 2.603 : 284.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 110 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Kecenderungan
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan pembaca dapat: • • Memperoleh pemahaman mengenai pengertian analisis kecenderungan beserta sifat-sifatnya. Memperoleh pemahaman dan memiliki kemampuan untuk melakukan analisis kecenderungan dengan menggunakan tahun dasar, bergerak, dan menggunakan diagram pencar.

Analisis

Bab 8

A. Pengertian dan Sifat Analisis Kecenderungan Analisis kecenderungan (trend) adalah suatu teknik analisis yang mencoba untuk mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahanperubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang. Suatu perubahan tentunya dapat diakibatkan oleh adanya interaksi dari sejumlah faktor (variabel). Apabila faktor-faktor tersebut diperkirakan dapat menyebabkan perubahan terhadap data yang kita analisis, maka dalam hal ini dapat digunakan analisis sebab-akibat. Penggunaan regresi linear sederhana dan regresi berganda merupakan contoh dari analisis sebab-akibat. Sementara itu, apabila kita hanya menyusun suatu model dengan menggunakan hubungan antara variabel tanpa memperhatikan apakah yang satu mempengaruhi yang lain atau tidak, maka kita melakukan analisis kecenderungan sederhana. Dengan demikian, sifat-sifat analisis kecenderungan dapat disimpulkan sebagai berikut : • • Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos (misalnya pos belanja pemeliharaan, pos pendapatan pajak daerah). Membutuhkan data runtut waktu (time series data) selama beberapa tahun sebagai bahan analisis.

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

111

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

Analisis dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angkaangka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. Pada bagian berikut akan dibahas tiga metode analisis kecenderungan

sederhana, yaitu analisis kecenderungan dengan tahun dasar, analisis kecenderungan bergerak (dari tahun ke tahun), dan analisis kecenderungan dengan diagram pencar. B. Analisis Kecenderungan dengan Tahun Dasar Analisis kecenderungan sederhana dimaksudkan hanya untuk mengetahui kecenderungan suatu pos (naik atau turun) dengan membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan, tanpa mengidentifikasi variabel-variabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut. Data berikut adalah untuk contoh perhitungan analisis kecenderungan dengan menggunakan tahun dasar.
(dalam jutaan rupiah) Jenis Belanja Belanja Pemeliharaan Gedung Kecenderungan (%) Kenaikan dari tahun dasar Th. 2001 Th. 2002 Th. 2003 Th. 2004 Th. 2005 200 100 220 110 10 245 123 23 260 130 30 270 135 35

Analisis kecenderungan pada contoh di atas menggunakan belanja tahun 2001 sebagai tahun dasar, dengan jumlah belanja sebesar Rp 200 juta. Dengan demikian, indeks belanja pemeliharaan gedung tahun 2001 sampai dengan 2005 dihitung dengan rumus: Belanja tahun n ----------------------------------- X 100% Belanja tahun 2001 Dengan demikian, kita dapat melihat besarnya kenaikan dari tahun ke tahun dengan membandingkan kecenderungan (persentase dari tahun dasarnya) tahun ke (n) dikurangi dengan kecenderungan tahun ke (n-1). Dari perhitungan di atas, dengan melihat kenaikan dari tahun 2002 sampai dengan 2005, maka kita dapat memperkirakan kenaikan tahun 2006, yaitu kurang lebih 40% atau besarnya belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 kira-kira sebesar Rp 280 juta atau 140% X Rp 200 juta.

112

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

Analisis Laporan Keuangan

Daerah

C. Analisis Kecenderungan Bergerak Kelemahan dari analisis kecenderungan dengan tahun dasar adalah tidak dapat diketahui secara langsung berapa rata-rata kenaikan per tahunnya. Oleh sebab itu, kita dapat menggunakan analisis kecenderungan bergerak (dari tahun-ke-tahun) untuk mengetahui rata-rata kenaikan per tahun. Misalnya terdapat data tentang Belanja Pemeliharaan Gedung sbb
(dalam jutaan rupiah) Tahun Jumlah Kenaikan Keterangan

2001 200 2002 220 2003 245 2004 260 2005 270 Rata-rata kenaikan per tahun

10% 11,36% 6,12% 3,85% 7,83%

Kenaikan dari th. 2001 Kenaikan dari th. 2002 Kenaikan dari th. 2003 Kenaikan dari th. 2004 Kenaikan dari th. 2005

Analisis kecenderungan perubahan pada contoh tersebut menggunakan tahun sebelumnya sebagai dasar untuk menghitung perubahan (kenaikan atau penurunan), atau dapat dinyatakan dengan rumus: Belanja tahun n+1 – Belanja tahun n ------------------------------------------------- X 100% Belanja tahun n Teknik analisis ini pada dasarnya sama dengan teknik analisis rasio komparatif hanya di sini melibatkan data beberapa tahun agar diperoleh ratarata kenaikan per tahunnya. Selanjutnya, rata-rata kenaikan per tahun tersebut dapat digunakan untuk mengestimasi kenaikan yang normal untuk tahun berikutnya. Dari contoh tersebut diketahui bahwa kenaikan belanja pemeliharaan gedung berkisar antara 3,85% s.d. 11,36% atau rata2 sebesar 7,83%. Implikasi dari hasil analisis ini adalah bila belanja pemeliharaan gedung yang diusulkan untuk tahun 2006 naik di atas 11,36% (dari belanja th. 2005), maka perlu lebih dicermati, apakah karena faktor inflasi semata, faktor volume pemeliharaan gedung yang meningkat, atau kedua-duanya. Selanjutnya, bila kita menggunakan angka kenaikan rata-rata untuk mengestimasi belanja pemeliharaan gedung tahun 2006, maka diperkirakan belanja pemeliharaan gedung tahun 2006 adalah sekitar Rp 300 juta, dengan perhitungan: Rp 270 juta x 107,83% = Rp 299,76 juta

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik

113

465 37.245 10.750 12.680 28. periode 1996 s.165 26.000 96 97 98 99 00 01 02 03 04 05 114 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .000 10.730 23.062 Maka diagram pencarnya akan nampak seperti di bawah ini. 2005 (dalam jutaan rupiah) 40. Berikut ini disajikan data tentang hasil pajak daerah suatu pemda selama 10 tahun terakhir dan langkah-langkah bagaimana menentukan garis kecenderungannya. Analisis Kecenderungan dengan Diagram Pencar Metode ini dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik.Analisis Laporan Keuangan Daerah D.320 11. Penggambaran garis kecenderungan dapat dilakukan dengan tangan bebas atau dengan bantuan penggaris. Pendapatan Pajak Daerah.d. Pendapatan Pajak Daerah. periode 1996 s. 2005 (dalam jutaan rupiah) Tahun 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Pajak daerah 14.000 30.d.766 18.145 23.000 20.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Langkah-langkah menentukan garis kecenderungan tersebut di atas adalah sebagai berikut: Buat sumbu tegak Y (yang menunjukkan variable pendapatan pajak daerah) dan sumbu mendatar X (yang menggambarkan tahun anggaran). hasil diatas dapat digunakan untuk membuat perencanaan audit dalam menentukan luasnya dan lokasi bukti-bukti yang akan diuji. Bagi pemerintah daerah. analisis ini dapat juga digunakan sebagai dasar pertimbangan untuk perencanaan pada tahun-tahun berikutnya. Artinya bila ada beberapa orang diminta untuk menarik garis kecenderungan dengan. Garis kecenderungan di atas juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi adanya keanehan atau ketidakaturan yang terjadi. misalnya Dinas Pendapatan Daerah. Di samping itu. Langkah selanjutnya adalah meneliti mengapa situasi tersebut terjadi. analisis di atas tentunya sangat bermanfaat sebagai bahan pertimbangan untuk mengevaluasi kinerja satker yang bertanggung jawab atas perolehan pajak daerah. maka kita dapat melihat adanya titik-titik yang ‘tidak mengikuti aturan’ misalnya terlalu jauh dari garis kecenderungan. tariklah garis yang kira-kira mendekati (mengikuti) pola dari titik-titik koordinat yang ada. maka kemungkinan akan diperoleh garis kecenderungan lebih dari satu. Bagi auditor. Di samping itu. yaitu kumpulan titik-titik koordinat (X. Oleh karena Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 115 . Dari diagram di atas maka kita dapat memprediksi pendapatan pajak daerah untuk tahun-tahun yang akan datang. biaya sosialisasi dan pemungutan pajak dengan jumlah pendapatan pajak daerah. atau kita dapat melakukan analisis hubungan antar variabel. buat scatter plot. sebab masing-masing orang mempunyai pilihan sendiri sesuai dengan anggapannya garis mana yang mewakili diagram pencar. misalnya antara keadaan ekonomi.Y) Dengan jalan observasi atau pengamatan langsung terhadap bentuk scatter plot. Dengan membandingkan garis kecenderungan dengan sebaran titik-titik berdasarkan data yang sebenarnya. Dari data yang tersedia pada contoh di atas. kesadaran masyarakat untuk membayar pajak. Perlu diperhatikan bahwa pembuatan garis kecenderungan sifatnya sangat subyektif. hasil analisis tersebut dapat juga digunakan sebagai bahan untuk membuat kesimpulan audit dan saran-saran perbaikan yang diperlukan oleh manajemen pemerintah daerah.

Analisis Kecenderungan dengan Hubungan Antar Variabel Terjadinya suatu biaya dan/atau pendapatan tentu ada pemicunya yang lazimnya disebut sebagai variabel independen.700 9.763.250 7.230 -4 6 -14 1 11 -890 180 -1.320 5.700 9.000 65.230 Dari data diatas. kita dapat menentukan hubungan antara X dan Y dengan menghitung koefisien korelasi (r) dan koefisien penentu (r2) serta membuat perkiraan berapa besarnya belanja pemeliharaan pada luas jalan tertentu sebagai berikut.350 116 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .368. menentukan hubungan antara dua variablel (dependen dan independen) tidak mudah dilakukan.d. metode ini tidak dapat memberikan alasan yang kuat secara ilmiah untuk digunakan sebagai alat analisis.940 560 2. Pada bagian ini akan diberikan ilustrasi analisis hubungan antar dua variabel dengan teknik regresi linier sederhana.160 560 22.000 60.200 7. Dalam berbagai situasi. 2005 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Luas Jalan (m2) 50. E.700 Y = 7. Biaya Pemeliharaan Jalan.100 792.560 1.200 7.000 55.320 5.800 xiyi = 55. periode 2001 s. Misalnya terdapat data yang menunjukkan hubungan antara biaya pemeliharaan jalan (Y) dan luas jalan yang diperbaiki (X) di suatu pemda dalam lima tahun terakhir sebagai berikut.250 7. X (ribuan) Y (jutaan) X-X x Y-Y y X2 y2 xy 50 60 40 55 65 6.080 27.000 Biaya (jutaan Rp) 6.000 40.400 3.269.100 3.Analisis Laporan Keuangan Daerah itu.090 16 36 196 1 121 32.990 Xi = 270 X= 54 Yi = 35.600 313.600 4.140 xi= 0 yi = 0 2 xi = 370 2 yi = 9.

Sifat-sifat analisis kecenderungan adalah: • Bertujuan untuk mengetahui arah atau kecenderungan suatu pos laporan keuangan. Persamaan regresi linier: Y’ = a + bX xiyi 55.95)2 = 0.800 55.350 = ------------.Analisis Laporan Keuangan Daerah a).548 ----------------------------------.140 – 8.350 = 370 x 9. bila luas jalan 100 m 2 maka perkiraan belanja pemeliharaan adalah: Y’ = a + bX = -960 + 150 (100) = Rp14. Koefisien korelasi ( r ) xiyi = ------------------------------- √ xi2 √ yi2 55. (c).95 Koefisien korelasi 0.040 juta F. Rangkuman Analisis kecenderungan mengidentifikasi pola-pola dari kecenderungan (perubahan-perubahan yang terjadi dalam beberapa periode yang telah lalu) sebagai dasar dari evaluasi dan prediksi keadaan atau perubahan di masa mendatang.= -------------.= 0.350 58.100 = .b X = 7. sedangkan 10% nya disebabkan oleh faktor lain.9025 Hal ini menunjukkan bahwa 90% dari perubahan biaya pemeliharaan (Y) dipengaruhi oleh luas jalan (X).269.95 menunjukkan bahwa hubungn X (luas jalan) dan Y (biaya pemeliharaan) sangat kuat dan positif.960 Dengan demikian. (b). Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 117 .140 – (150 x 54) = 7.= 150 370 b = --------xi 2 a = Y . Koefisien penentu (KP) = r2 = (0.

Dilakukan dengan membandingkan (menghubungkan) angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. Analisis kecenderungan sederhana.Analisis Laporan Keuangan Daerah • • Membutuhkan time series data selama beberapa tahun. tanpa mengidentifikasi variabelvariabel yang mempengaruhi perubahan dari pos tersebut. baik dengan tahun dasar maupun dengan bergerak. membandingkan angka-angka untuk pos yang sama dari laporan beberapa tahun yang berurutan. 118 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik . Sedangkan analisis kecenderungan dengan diagram pencar dilakukan dengan penarikan garis kecenderungan yang mendekati (mengikuti) pola dari sebaran titik-titik yang ada dalam grafik.

Jakarta: Penerbit Salemba Empat. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta Mardiasmo. Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik 119 . Akuntansi Sektor Publik. 2007. Purwanugraha. 2007. 2001. Indra. 2007. Abdul. Halim. edisi 3. “Analisis Rasio Keuangan pada APBD Kabupaten Boyolali” dalam Abdul Halim.Analisis Laporan Keuangan Daerah Daftar Pustaka Bastian. Yogyakarta: Penerbit BPFE Yogyakarta. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah Widodo. Mohamad. Akuntansi Sektor Publik. Yogyakarta: Penerbit Andi (CV Andi Offset). 2000. Firma Sulistyowati dan Heribertus A. 2005. Akuntansi Sektor Publik di Indonesia. edisi 3. Akuntansi Keuangan Daerah. Jakarta: Penerbit Salemba Empat. edisi 2. 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara Mahsun. Peraturan Menteri Dalam Negeri No. Akuntansi Keuangan Daerah. Akuntabilitas dan Good Governance. LAN dan BPKP. 13 Tahun 2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah.

Analisis Laporan Keuangan Daerah Halaman ini sengaja dikosongkan 120 Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful