Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM PENGETAHUAN BAHAN

“ MORTAR “

DISUSUN OLEH :

FEBRI IRAWAN

05091002006

KELOMPOK 5

PROGRAM STUDI TEKNIK PERTANIAN

JURUSAN TEKNOLOGI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SRIWIJAYA

INDERALAYA

2010
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Dalam perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan,


tentu kerap mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan
batu-batu raksasa hanya dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau lainnya.
Alhasil, berdirilah bangunan fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi
Prambanan di Indonesia ataupun jembatan di Cina yang menurut legenda
menggunakan ketan sebagai perekat. Ataupun menggunakan aspal alam
sebagaimana peradaban di Mahenjo Daro dan Harappa di India ataupun bangunan
kuno yang dijumpai di Pulau Buton

Benar atau tidak, cerita, legenda tadi menunjukkan dikenalnya fungsi


semen sejak zaman dahulu. Sebelum mencapai bentuk seperti sekarang, perekat
dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan
abu vulkanis. Pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di
Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana.
Sedangkan kata semen sendiri berasal dari caementum (bahasa Latin), yang
artinya kira-kira "memotong menjadi bagian-bagian kecil tak beraturan". Meski
sempat populer di zamannya, nenek moyang semen made in Napoli ini tak
berumur panjang. Menyusul runtuhnya Kerajaan Romawi, sekitar abad
pertengahan (tahun 1100 - 1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat menghilang
dari peredaran.Baru pada abad ke-18 (ada juga sumber yang menyebut sekitar
tahun 1700-an M), John Smeaton - insinyur asal Inggris - menemukan kembali
ramuan kuno berkhasiat luar biasa ini. Dia membuat adonan dengan
memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat saat membangun menara suar
Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.

Ironisnya, bukan Smeaton yang akhirnya mematenkan proses pembuatan


cikal bakal semen ini. Adalah Joseph Aspdin, juga insinyur berkebangsaan
Inggris, pada 1824 mengurus hak paten ramuan yang kemudian dia sebut semen
portland. Dinamai begitu karena warna hasil akhir olahannya mirip tanah liat
Pulau Portland, Inggris. Hasil rekayasa Aspdin inilah yang sekarang banyak
dipajang di toko-toko bangunan.Sebenarnya, adonan Aspdin tak beda jauh dengan
Smeaton. Dia tetap mengandalkan dua bahan utama, batu kapur (kaya akan
kalsium karbonat) dan tanah lempung yang banyak mengandung silika (sejenis
mineral berbentuk pasir), aluminium oksida (alumina) serta oksida besi. Bahan-
bahan itu kemudian dihaluskan dan dipanaskan pada suhu tinggi sampai terbentuk
campuran baru.

Selama proses pemanasan, terbentuklah campuran padat yang


mengandung zat besi. Nah, agar tak mengeras seperti batu, ramuan diberi bubuk
gips dan dihaluskan hingga berbentuk partikel-partikel kecil mirip
bedak.Lazimnya, untuk mencapai kekuatan tertentu, semen portland berkolaborasi
dengan bahan lain. Jika bertemu air (minus bahan-bahan lain), misalnya,
memunculkan reaksi kimia yang sanggup mengubah ramuan jadi sekeras batu.
Jika ditambah pasir, terciptalah perekat tembok nan kokoh. Namun untuk
membuat pondasi bangunan, campuran tadi biasanya masih ditambah dengan
bongkahan batu atau kerikil, biasa disebut concrete atau beton.

Beton bisa disebut sebagai mahakarya semen yang tiada duanya di dunia.
Nama asingnya, concrete - dicomot dari gabungan prefiks bahasa Latin com, yang
artinya bersama-sama, dan crescere (tumbuh). Maksudnya kira-kira, kekuatan
yang tumbuh karena adanya campuran zat tertentu. Dewasa ini, nyaris tak ada
gedung pencakar langit berdiri tanpa bantuan beton.

Meski bahan bakunya sama, "dosis" semen sebenarnya bisa disesuaikan


dengan beragam kebutuhan. Misalnya, jika kadar aluminanya diperbanyak,
kolaborasi dengan bahan bangunan lainnya bisa menghasilkan bahan tahan api. Ini
karena sifat alumina yang tahan terhadap suhu tinggi. Ada juga semen yang cocok
buat mengecor karena campurannya bisa mengisi pori-pori bagian yang hendak
diperkuat.
Pengertian mortar adalah bahan yang digunakan untuk konstruksi
bangungan yang terdiri dari campuran antara semen dan agregat halus. Campuran
antara semen dan agregat ini menggunakan perabandingan tertentu sehingga daya
tahan mortar terhadap tekanan maupun tarikan akan semakin tinggi atau
maksimal.

Penggunaan mortar sendiri memiliki keunggulan sebagai berikut :

a. Konsistensi Karena diproduksi masal dan juga dengan alat modern dan oleh
pabrikan, maka konsistensi bahan bakunya cukup seragam. Kita tidak perlu
pusing lagi akan stabilitasnya.
b. Mudah Jelas, tinggal tambah air, langsung pakai.
c. Adanya additif yang sesuai akan memberikan sifat bahan yang lebih baik
dibanding hanya dengan menggunakan campuran semen biasa. Terkadang
dengan aplikasi semen biasa bisa menyebabkan beberapa problem, antara lain
lantai terangkat, dinding pecah-pecah / retak, dan lain-lain. Penggunaan mortar
yang tepat akan bisa menghindarkan problem ini di kemudian hari.
Kekurangannya otomatis dari sisi harga, karena mortar dijual amat sangat jauh
lebih mahal daripada semen.
Semen yang digunakan dalam pembuatan mortar ini ada 3 macam, yaitu :

1. semen portland, yaitu semen yang digunakan dalam pekerjaan umum,


seperti untuk membangun rumah, jembatan, gedung-gedung bertingkat, dan
bisa juga digunakan untuk pengerus pada panas.
2. semen campuran, yaitu semen yang digunakan sebagai fungsi seperti
semen portland. Misalnya semen tanah tinggi, semen pizzola, semen abu
terbang.
3. semen khusus, misalnya semen abu terbang.

Pasir juga digunakan sebagai komponen pencampur dalam pembuatan


mortar. Pasir adalah material yang terdiri dari pelapukan batu-batuan yang
bermacam-macam. Ada banyak jenis pasir yang ada, yaitu :
a. pasir galian, yaitu pasir yang ditambang di daerah pegunungan. Pasir ini
mempunyai ciri bentuknya yang tajam dan baik digunakan untuk beton.
b. Pasir sungai, yaitu pasir yang ditambang di sungai dan bentuknya bulat
dengan kemilaunya yang lebih banyak.
Di Indonesia telah diperkenalkan beberapa jenis mortar, yaitu antara lain :

1. Tile Adhesive (Perekat Keramik) Ada vertikal (dinding) dan horizontal


(lantai), dan juga ada perekat keramik baru diatas keramik lama (tanpa
membongkar keramik lama)

2. Tile Grout Sebagai pengisi nat (celah) antar keramik

3. Thin Bed Untuk perekat AAC (Autoclaved Aerated Concrete) alias bata
ringan

4. Skim Coat Untuk pelapis dinding baru

2. Tujuan

Tujuan percobaan mortar ini adalah agar mahasiswa mengetahui cara


pembuatan mortar dan perbandingan pencampuran bahan dalam pembuatan
mortar dan juga untuk menghitung kadar air dalam sampel mortar yang telah
dikeringkan dalam oven serta menghitung berat jenis berdasarkan perbandingan
antara volume awal sebelum ditambahkan air dengan volume akhir setelah
ditambahkan air. Dari percobaan ini juga kita dapat mengetahui beberapa sifat
mortar dan juga bahan penyusunnya.
TINJAUAN PUSTAKA

Mortar adalah pasta yang digunakan untuk mengikat konstruksi blok


bersama dan mengisi celah di antara mereka. Mungkin blok batu, bata, abu blok,
dll Mortar menjadi keras ketika terbenam, mengakibatkan struktur agregrat yang
kaku. Mortar modern biasanya terbuat dari campuran pasir, semen atau kapur, dan
air. Mortir juga dapat digunakan untuk memperbaiki tembok ketika mortar yang
asli telah dirusak

Mortar pertama terbuat dari lumpur dan tanah liat. Karena kurangnya batu
dan tanah liat yang berlimpah, bangsa Babilonia membuat konstruksi dari bata
dipanggang, dengan menggunakan lumpur atau lapangan untuk adukan semen.
Menurut Ghirshman Romawi, bukti pertama manusia menggunakan bentuk
mortar berada di Ziggurat dari Sialk di Iran, dibangun dari batu bata dijemur
sekitar 2900 SM. Chogha Zanbil di Iran Candi ini dibangun pada sekitar 1250 SM
dengan menggunakan batu bata dan mortar yang kuat dari aspal.

Pada awal Piramida Mesir dibangun sekitar 2600-2500 SM, blok batu
kapur mortar terikat oleh lumpur dan tanah liat, atau tanah liat dan pasir.
Kemudian Piramida Mesir, adukan semen terbuat dari gipsum. Gypsum mortir
pada dasarnya campuran plester dan pasir dan hasilnya cukup lembut.

Secara historis, gedung dengan beton dan mortar berikutnya muncul di


Yunani. Penggalian saluran air bawah tanah dari Megara mengungkapkan bahwa
reservoir itu dilapisi dengan mortar pozzolanic setebal 12 mm. Mortar pozolanik
adalah mortir berbasisbahan gipsum, tapi dibuat dengan aditif abu vulkanik yang
memungkinkan untuk menjadi mengeras di bawah air; karenanya dikenal sebagai
semen hidrolis. Pada Yunani kuno abu vulkanik yang diperoleh dari pulau-pulau
Thira dan Nisiros, atau dari bahasa Yunani Dicaearchia (Pozzuoli) di dekat
Naples, Italia. Bangsa Romawi kemudian meningkatkan penggunaan dan metode
untuk membuat apa yang dikenal sebagai mortar pozolanik dan semen. Bahkan
kemudian, orang-orang Romawi menggunakan mortar tanpa pozolan dengan
memperkenalkan aluminium oksida dan silikon dioksida ke dalam campuran.
Mortir ini tidak sekuat mortar pozzolanic, tapi, karena ini lebih padat, lebih baik
menolak penetrasi oleh air.

Hal ini tidak mengerti mengapa seni membuat mortar dan semen hidrolis,
yang disempurnakan dan di seperti digunakan secara luas baik oleh orang Yunani
dan Romawi, kemudian hilang selama hampir dua milenia. Selama Abad
Pertengahan ketika katedral sedang dibangun, satu-satunya bahan aktif dalam
mortar itu kapur. Sejak mortar kapur dapat didegradasi melalui kontak dengan air,
banyak struktur yang rusak karena tertiup angina dan hujan selama berabad-abad.

Pozolan adalah rpasir abu vulkanik, awalnya ditemukan dan digali di Italia
di Pozzuoli di wilayah sekitar Gunung Vesuvius dan kemudian di sejumlah situs
lain. Romawi kuno arsitek Vitruvius mengarahkan tentang empat jenis pozzolan.
Hal ini ditemukan di semua area vulkanik Italia dalam berbagai warna, seperti
hitam, putih, abu-abu dan merah. Tanah halus dan dicampur dengan kapur itu
bertindak seperti semen portland dan membuat mortir yang kuat yang juga akan
ditetapkan di bawah air.

Karena mortar sangat beragam jenisnya (dari jenis diatas, bisa dibagi lagi
menjadi beberapa sub-jenis, misal tile grout wide, narrow, dll), maka
pembahasannya hanya pada beberapa bahan baku penting saja, yaitu antara lain:
1. Semen Umumnya yang dipakai jenis Portland

2. Sand / Pasir Umumnya dengan kehalusan seragam, antara 0.1-0.4 mm

3. Calcium Carbonate Adalah jenis filler khusus berwarna putih dengan kehalusan
seragam.Harap diperhatikan jika menggunakan filler ini karena memiliki oil
absorption tinggi, sehingga pemakaian filler ini dapat "mengentalkan" campuran
yang dibuat. Biasanya dipakai pada mortar berwarna (menonjolkan warna) seperti
tile grout.

4. Lime / Kapur Dipakai pada beberapa jenis mortar khusus


5. Asam Tartaric Dipakai pada beberapa jenis mortar khusus

6. Additif Air Release Untuk menghilangkan adanya udara yang terperangkap di


dalam mortar saat diaplikasi. Dipakai pada beberapa jenis mortar khusus.

7. Additif Anti Foam Untuk menghilangkan foam / busa pada saat mortar
dicampur air dan diaplikasi. Dipakai pada beberapa jenis mortar khusus.

8. Beberapa jenis binder lain Untuk meningkatkan sifat flexible dan/atau


memperkuat ketahanan tekanan, umumnya untuk aplikasi horizontal tile yang
berat seperti granit / marmer dan bahan baku utama yang membuat mortar
menjadi berkualitas lebih baik dari campuran semen.

9. CELLULOSE THICKENER

Ini adalah pengental berbahan dasar selulosa (bisa dari pulp/bubur kayu, bubur
kapas, dll), yang memiliki sifat water retention dan juga filler holding. Adanya
thickener jenis ini bisa "memperbaiki" sifat campuran mortar yang digunakan
sehingga menjadi tidak "meleleh saat diaplikasi vertikal, memiliki sebaran yang
rata, memiliki open time yang cukup, dan lain-lain. Jenis cellulose thickener ini
sebenarnya bermacam-macam, untuk aplikasi mortar umumnya menggunakan 2
macam jenis, yaitu HPMC (Hyrdoxy Propyl Methyl Cellulose)dan MHEC
(Methyl Hydroxy Ethyl Cellulose). Jenis pertama adalah yang paling populer dan
banyak digunakan untuk pembuatan berbagai jenis mortar. Jenis kedua bisa
memberikan efek water-repellency, sehingga cocok digunakan untuk aplikasi
mortar khusus untuk skim-coat.

10. REDISPERSABLE POLYMERS

Inilah polimer utama yang memberikan "kekuatan" tambahan untuk


meningkatkan kualitas mortar, sehingga menjadi superior dibandingkan campuran
semen biasa. Beberapa jenis redispersable polymer dibuat dari bahan dasar
polymer Vinyl Acrylic / Ethylene, dan juga tipe terbaru menggunakan bahan dasar
polymer VEOVA. Fungsi dari redispersable polymer ini adalah memberikan sifat
yang flexible pada mortar sehingga material yang dihasilkan setelah kering
memiliki flexibilitas yang lebih baik dibandingkan dengan material yang
terbentuk dari campuran semen biasa.

Fleksibilitas ini akan mampu menghindarkan masalah yang menimpa


bangunan di kemudian hari seperti retak (ada kemengkinan susut muai karena
pengaruh suhu, gempa ringan, dll), jika bahan baku pembentuk dinding atau lantai
cukup flexible, maka kemungkinan retak mikro akan lebih kecil. Begitu pula
dengan kasus lantai terangkat, karena bahan digunakan lebih flexible, maka saat
terjadi "pergeseran" bangunan karena beberapa faktor, maka mortar yang
mengikat keramik lantai dapat "bergerak" flexible, sehingga tidak terjadi kasus
lepasnya mortar perekat dari keramik yang menjadikan lantai terangkat.

Proses Produksi Mortar pada dasarnya proses produksi mortar adalah


relatif cukup sederhana, karena prinsipnya adalah mencampur semua bahan baku
yang sesuai (semua dilakukan dalam kondisi kering / tepung / powder) dan
mengaduknya dengan rata, kemudian dikemas dan didistribusikan. Tetapi kita
perlu ingat, mencampur bahan baku dalam bentuk tepung/powder membutuhkan
peralatan khusus (mixer kering) dan juga energi yang relatif besar. Skala industri
dari pabrik pembuatan mortar adalah besar-besar, dan mereka mengaduk dalam
jumlah besar juga karena mereka ingin menjaga konsistensi produk mortar yang
dihasilkan dengan formulasi yang konstan dan diawasi ketat. Kunci disini adalah
soal konsistensi, pembuatan mortar sebenarnya "relatif tidak sulit" dari sisi know-
how dan pengadaan bahan bakunya, hanya aplikasinya saja yang sulit karena
membutuhkan modal relatif besar untuk pengadaan alat produksinya. Apakah
mortar bisa kadaluarsa.

1. Semen - kayaknya selama dalam kondisi kering, tidak akan kadaluarsa

2. Pasir - tidak ada kadaluarsa

3. Redispersible Polymers

Bersifat cukup higroskopis (attract water), jadi mesti disimpan dalam kondisi
kering, di tempat dengan sirkulasi udara baik dan humidity rendah.
4. HPMC / MHEC

Cellulose thickener bersifat sangat higroskopis (attract water), jadi harus


disimpan dalam kondisi kering, di tempat dengan sirkulasi udara baik, dan
humidity rendah. Manufacturer standard warranty untuk produk ini umumnya
hanya sekitar 6 bulan, dan produsen yang baik selalu menjual produk ini dikemas
dalam bag dengan double inner layer. Manufacturer Cellulose additive selalu
menyarankan hanya produk cellulose yang fresh yang akan memberikan hasil
terbaik, jadi mereka umumnya merekomendasikan agar stock yang diimpor dari
mereka harus digunakan dalam jangka waktu 3 bulan, untuk mendapatkan hasil
yang maximal. Dari gambaran diatas, sebaiknya mortar digunakan dalam jangka
waktu maximal 3 bulan (direkomendasikan, kita juga tidak tahu kapan mortar itu
diproduksi kan). Pastikan bahwa properties mortar yang digunakan memenuhi
standard saat dicampur dengan air dan diaplikasikan. Penyimapanan harus dalam
tempat kering dan bersirkulasi udara baik, untuk meminalisir adanya excess
humidity yang akan mempercepat kerusakan additif pada mortar. Beberapa
produsen mortar menjual produknya dalam kemasan bag double inner layer, harap
dicheck. Produsen dengan packaging seperti ini yang benar-benar concern dengan
kualitas produk mereka karena mereka mengerti apa yang bisa terjadi kalau
humidity berlebih "menyerang" produk mereka selama dalam masa storage
(berarti know-how mereka terhadap mortar juga baik).
METODOLOGI

1. Tempat dan Waktu

Tempat dilakukannya percobaan mortar ini dilaksanakan di Laboratorium


Pasca Panen Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Sriwijaya pada hari selasa
dan kamis jam 08:00 WIB s.d selesai.

Hari : Selasa & Kamis

Tanggal : 23 November 2010 & 25 November 2010

Pukul : 08.30 WIB s.d. selesai

2. Alat dan Bahan

Alat g. Label

a. Gelas ukur 15mL (1 buah) h. Palu

b. Tabung reaksi (1 buah) i. Wadah Es/Pencetak Es (16


kotak)
c. Timbangan analitik
j. Aluminium Foil
d. Oven
Bahan
e. Desikator
a. Semen
f. Kain putih 20cm x 20cm (4
b. Pasir
buah)
c. Air

3. Cara Kerja

a. Percobaan Kadar Air

- Buat adukan mortar yang bahannya terdiri dari semen, pasir, dan air dengan
perlakuan 4 sampel dengan perbandingan ukuran bahan yang berbeda-beda.
Perbadingan
Pasir Semen Air
Sampel
I 1 1 ½
II 1 ½ ½
III ½ ½ ½
IV ½ 1 ½

- Masukkan adukan mortar kedalam cetakan es yang telah ditandai “sampel I, II,
III, dan IV”.

- Kemudian masukkan kembali adukan mortar kedua di samping sampel adukan


pertama. Beri tanda sampel pertama dengan kode I.I dan beri tanda sampel
kedua dengan kode I.II dst pada setiap sampel yang berbeda komposisi.

- Kemudian Mortar dikeringkan.

- Setelah kering, mortar dilepas dari cetakan es dan timbang massa awal setelah
dikeringkan.

- Kemudian mortar tadi dipanaskan dalam oven pada suhu konstan 105 oC selama
48 jam.

- Setelah dipanaskan selama 48 jam mortar dikeluarkan dari oven dan dimasukan
ke dalam desikator yang bertujuan agar tidak ada uap air yang tersisa dalam
mortar.

- Timbang kembali mortar dan catat hasil masing-masing sampel mortar.

- Hitunglah kadar air mortar dengan rumus.


b. Percobaan Berat Jenis

- Masukkan mortar yang ditandai kode I.III kedalam kain putih 20 cm x 20 cm (1


kain untuk 1 sampel).

- Hancurkan mortar tersebut sampai halus menggunakan palu. hingga mortar


menjadi butiran yang sangat halus.

- Timbanglah mortar yang telah dihaluskan tadi sebanyak

- Masukan mortar yang telah ditimbang ke gelas ukur sebanyak 3 mL

- Masukan air sebanyak 3 mL ke dalam gelas ukur dan masukan mortar halus.
Catat volume akhirnya.

- Lakukan pengujian kepada sampel yang lain dan catat hasilnya.

- Hitunglah berat jenis mortar dengan rumus.

Volume Akhir
Berat Jenis =
massa jenis air
HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Hasil

a. Percobaan I ( Kadar Air )

Massa Mortar
Massa Mortar
Sebelum
Sampel Pengamatan Sesudah Dipanaskan
Dipanaskan
( Akhir )
( Awal )
Pengamatan I 32,247 g 29,286 g
I
Pengamatan II 33,360 g 30,351 g
Pengamatan I 25,581 g 23,227 g
II
Pengamatan II 26,403 g 24,060 g
Pengamatan I 23,741 g 21,462 g
III
Pengamatan II 23,056 g 20,794 g
Pengamatan I 28,130 g 24,928 g
IV
Pengamatan II 30,089 g 26,683 g

Maka, % kadar air :

32,247 g−29,286 g
Sampel I.I = x 100 %=10,110 %
29,286 g

33,360 g−30,351 g
Sampel I.II = x 100 %=9,914 %
30,351 g

25,581 g−23,227 g
Sampel II.I = x 100 %=10,134 %
23,227 g

26,403 g−24,060 g
Sampel II.II = x 100 %=9,738%
24,060 g

23,741 g−21,462 g
Sampel III.I = x 100 %=10,618 %
21,462 g
23,056 g−20,794 g
Sampel III.II = x 100 %=10,878 %
20,794 g g

28,130 g−24,928 g
Sampel IV.I = x 100 %=12,844 %
24,928 g

30,089 g−26,683 g
Sampel IV.II = x 100 %=12,764 %
26,683 g

b. Percobaan II ( Berat Jenis )

Sampel Pengamatan Massa Awal Mortar

Pengamatan III 30,812 g


I
Pengamatan IV 30,854 g
Pengamatan III 23,462 g
II
Pengamatan IV 23,462 g
Pengamatan III 23,595 g
III
Pengamatan IV 24,465 g
Pengamatan III 28,866 g
IV
Pengamatan IV 28,434 g

Massa Cawan
Massa Bubuk
Sam Bubuk Mortar Massa Bubuk
Pengamatan Mortar
pel ( Aluminium Mortar
Sebenarnya
foil )
Pengamatan
0,339 g 26,895 g 26,556 g
III
I
Pengamatan
0,293 g 26,731 g 26,438 g
IV
Pengamatan
0,335 g 22,146 g 21,811 g
III
II
Pengamatan
0,430 g 22,304 g 21,874 g
IV
III Pengamatan 0,362 g 20,958 g 20,596 g
III
Pengamatan
0,577 g 22,715 g 22,138 g
IV
Pengamatan
0,964 g 26,542 g 25,578 g
III
IV
Pengamatan
0,565 g 25,523 g 24,958 g
IV

Volume Awal
Sampel Pengamatan Volume Akhir
( sesungguhnya )
I Pengamatan III 6 mL 4,5 mL
II Pengamatan III 6 mL 4,3 mL
III Pengamatan III 6 mL 4 mL
IV Pengamatan III 6 mL 4,5 mL

Maka berat jenis mortar tersebut :

Volume Akhir
Berat Jenis =
massa jenis air

4,5 ml gr
3
=4,5( 3 )
Sampel I.III = cm cm
1ml ( )
gr

4,3 ml gr
3
=4,3( 3 )
Sampel II.III = cm cm
1ml ( )
gr

4 ml gr
3
=4 ( 3 )
Sampel III.III = cm cm
1ml ( )
gr

4,5 ml gr
3
=4,5( 3 )
Sampel IV.III = cm cm
1ml ( )
gr

Setelah dijumlahkan antara volume bahan mortar dan volume air harusnya
totalnya 6 ml. Namun dari data hasil praktikum, data yang didapatkan berbeda
dari teori yang seharusnya didapatkan hasil 6 ml. Ini dikarenakan bahan mortar
yang dimasukkan kedalam tabung reaksi dan ditambahkan air, telah mengalami
proses penumbukan yang mengakibatkan pengurangan berat jenis dari bahan
mortar tersebut. Yang sebelumnya juga bahan mortar telah mengalami perlakuan
kering angin yang memungkinkan hilangnya sedikit kadar air dari bahan tersebut
sehingga membuat berat mortar tersebut tidak sama dengan berat awalnya.

2. Pembahasan

Pada percobaan pertama yaitu mengukur kadar air dalam mortar dengan
cara membandingkan massa awal sebelum dikeringkan dalam oven dengan massa
akhir sesudah dikeringkan dalam oven. Setelah diperlakukan demikian terdapat
perubahan massa sebelum dan setelah dikeringkan. Dimana massa setelah
dikeringkan dalam oven lebih ringan dari pada sebelum dikeringkan. Dari hal
tersebur kita dapat menghitung kadar airnya dengan perhitungan perbandingan
massa awal dikurangi massa akhir dibagi massa akhir kemudian dikalikan dengan
seratus persen. Dari data di atas kita dapat melihat perbandingan antara sampel I
sampai sampel IV. Sampel yang memiliki kadar air terkecil adalah sampel II.II
yaitu sekitar 9,738%. Hal ini terjadi karena komposisi semen yang digunakan
sedikit dan memiliki perbandingan yang sama dengan air dan pasir yang
digunakan memiliki perbandingan yang lebih besar sehingga air yang tersimpan
dalam mortar tersebut sedikit. Jika kita bandingkan dengan sampel IV.I, kadar air
pada sampel itu memiliki kadar air yang tinggi sekitar 12,844%. Ini didapat
karena komposisi semen yang digunakan besar daripada komposisi air dan pasir.
Sifat yang dimiliki semen adalah daya absorbsi airnya tinggi. Maka semakin besar
komposisi semen, semakin besar kadar air yang diserap dalam sebuah mortar atau
komposisi lainnya.

Pada percobaan yang kedua adalah menghitung berat jenis mortar. Dari
sampel dengan kode III, kita dapat menghitung berat jenis mortar dengan
membandingkan volume awal sebelum ditambahkan air dengan volume
sebenarnya dalam hitungan matematika. Bila kita memasukan zat sebanyak 3 mL
dan zat lain sebanyak 3 mL, maka volume sebenarnya yang didapat adalah 6mL.
Hal ini tidak terjadi pada mortar. 3 mL mortar yang telah dihaluskan dimasukkan
ke dalam gelas ukur dan 3 mL air dicampurkan kedalam 3 mL mortar tadi, maka
hasilnya tidaklah 6 mL. Bahkan hasil yang didapat kurang dari 6mL. Rata-rata
niilai yang didapat adalah sekitar 4,325 mL dari 4 sampel. Hal ini terjadi karena
mortar memiliki komposisi semen yang memiliki sifat menyerap air . Karena hal
tersebut volume yang didapat kurang dari 6 mL. sekitar 1,625mL air diserap
kedalam mortar. Maka dari itu berat jenis yang didapat setelah dirata-ratakan
adalah sekitar 1,65 mL.

KESIMPULAN
1. Pada percobaan pertama didapat kadar air yang tertinggi terdapat pada sample
IV.I dimana pada sample tersebut kadar semen yang digunakan memiliki
komposisi yang tinggi.

2. Kadar air terbesar terdapat pada mortar ke IV.I. Dimana pada mortar tersebut
didapat kadarnya sekitar 12,844%. Hal ini disebabkan komposisi semen yang
digunakan besar dan sifat semen itu sendiri merupakan penyerap air.

3. Pada percobaan ke dua didapat berat jenis mortar dengan rata-rata sekitar 1,65.

4. Pada perhitungan berat jenis terdapat keanehan dalam hasil volume akhir.
Dimana volume akhir sesungguhnya 6mL namun yang didapat hanya sekitar
4,325mL. hal ini diakibatkan karena mortar memiliki komposisi semen yang
merupakan peyerap air.

DAFTAR PUSTAKA
chestofbooks.com/crafts/popular...5/Cement-Mortar.html ( diakses 26 November
2010 ).

en.wikipedia.org/wiki/Mortar_(masonry) ( diakses 26 November 2010 ).

id.wikipedia.org/wiki/Semen ( diakses 26 November 2010 ).

Prof. Ir. Tata Surdia MS. Met. E. - Prof. DR. Shinroku Saito.1985. Pengetahuan
Bahan Teknik. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

LAMPIRAN GAMBAR
1. Alat dan bahan

2. Pembuatan mortar

3. Hasil pengeringan mortar


4. Penimbangan hasil moratar

5. Pengeringan kembali mortar dengan oven


6. Desikator

7. Penghalusan mortar menjadi bubuk mortar

8. Pegukuran berat jenis mortar