Anda di halaman 1dari 14

BAB I

AL-QUR’AN SURAH AL-BAQARAH, 2: 30, AL-MU’MINUN, 23: 12-14,


AŻ-ŻĀRIYĀT, 51: 56, DAN AN-NAHL, 16: 78

A. SURAH AL-BAQARAH, 2: 30 TENTANG PERANAN MANUSIA SEBAGAI


KHALIFAH
“ Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak
menjadikan seorang khalifah di muka bumi. ‘Mereka berakat: ‘Mengapa Engkau hendak
menjadikan (khalifah) di bumi itu, orang-orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kemi senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
menyucikan Engkau? ‘Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui.”
Salah satu isi kandungan Surah Al-Baqarah ayat 30 adalah bahwa Allah menciptakan
manusia untuk menjadi khalifah di muka bumi. Allah SWT memberitahukan kepada malaikat
tentang rencana-Nya tersebut. Para malaikat merasa khawatir, bahwa umat manusia (keturunan
Adam) nantinya akan berbuat kerusakan di muka bumi dan saling membunuh.Kekhawatiran para
malaikat menjadi hilang setelah mendapat penjelasan dari Allah, bahwa Allah lebih mengetahui
dari apa yang telah diketahui para malaikat.

B. SURAH AL-MU’MINUN AYAT 12-14 TENTANG KEJADIAN MANUSIA


“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati yang (berasal) dari
tanah. kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh
(rahim). kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang
belulang itu Kami balut dengan daging. kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Mahasucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.”
Kesimpulan isi (kandungan) Surah Al-Mu’minun ayat 12-14 adalah penegasan Allah SWT
bahwa manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang asal kejadiannya dari saripati tanah
Proses kejadian manusia ketika masih berada dalam kandungan adalah sebagai berikut:
a. Allah SWT menjadikan saripati tanah yang terdapat dalam tubuh manusia sebagai nutfah
(sperma), yang kemudian ditumpahkan ke dalam qarar (rahim atau kandungan).
b. Allah SWT menjadikan nutfah sebagai alaqah yang berbentuk gumpalan darah menyerupai
buah lecis atau lintah.
c. Dari Alaqah Allah SWT menjadikan sebagai mudgah, yaitu segumpal daging menyerupai
daging hancur yang sudah dikunyah
d. dari mudgah Allah SWT menjadikan sebagai idzam, yaitu tulang atau rangka
e. kemudian tulang atau rangka itu dibalut oleh daging
f. Setelah itu Allah SWT menjadikan sebagai makhluk dalam bentuk lain yaitu dalam bentuk
manusia yang telah berkepala, berbadan, bertangan, dan berkaki

1
2

C. SURAH AŻ-ŻĀRIYĀT, 51: 56, TENTANG TUGAS MANUSIA


“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku.“
Kesimpulan isi atau kandungan Al-Qur’an Surah Aż-Żāriyāt, 51: 56 adalah tentang
pemberitahuan dari Allah SWT bahwa maksud atau tujuan diciptakan jin dan manusia ialah agar
beribadah kepada-Nya.

D. AN-NAHL, 16: 78 TENTANG KEWAJIBAN MANUSIA UNTUK BERSYUKUR


“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatu pun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Kesimpulan isi kandungan Al-Qur’an Surah An-Nahl, 16: 78 adalah mengenai
pemberitahuan dari Allah SWT, bahwa Allah SWT telah mengeluarkan setiap manusia dari perut
ibunya dalam keadaan tidak berilmu pengetahuan. Kemudian Allah SWT memberi manusia
pendengaran, pengelihatan, akal dan hati (kalbu), sebagai bekal dan alat untuk meraih ilmu
pengetahuan. Itu semua dimaksudkan agar manusia bersyukur kepada Allh SWT.
BAB II
AL-QUR’AN SURAH AL-AN’ĀM, 6: 162-163
DAN SURAH AL-BAYYINAH, 98: 5

A. SURAH AL-AN’ĀM, 6: 162-163 TENTANG KEIKHLASAN BERIBADAH


“Katakanlah: sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah,
Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku
dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (Kepada Allah).”
Kesimpulan isi kandungan surat tersebut adalah :
 Suruhan Allah SWT kepada setiap individu manusia (Muslim/Muslimah) untuk berkeyakinan
bahwa salatnya, hidupnya, dan matinya adalah semata-mata untuk Allah SWT.
 Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya.
 Suruhan Allah SWT kepada setiap individu manusia (Muslim/Muslimah) untuk berlaku ikhlas
serta menjadi orang pertama dalam kaumnya yang berserah diri kepada-Nya.
Muslim/Muslimah yang memahami dan mengamalkan kandungan Surah Al- An’ām, 6: 162-163
tentu akan bersikap serta berperilaku seperti berikut:
1. Menyerahkan hidup dan matinya kapada Allah SWT.
2. Memelihara diri dari bersikap dan berperilaku syirik .
3. Melandasi ibadah salatnya dan semua ibadah lainnya dengan niat ikhlas untuk memperoleh
rida Allah SWT semata.

B. SURAH AL-BAYYINAH, 98: 5, TENTANG KEIKHLASAN BERIBADAH


“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dala (menjalankan) agama dengan memurnikan ketaatan (ikhlas)
kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat
dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Q.S. Al-Bayyinah, 98: 5)
Kesimpulan isi atau kandungan Surah Al-Bayyinah, 98 ayat 5 adalah suruhan Allah SWT
untuk mengamalkan ajaran agama-Nya, termasuk salat dan zakat dengan lurus yakni bersih dari
unsur kemusyrikan dan kesesatan serta dengan niat ikhlas semata-mata karena Allah SWT.

3
BAB III
IMAN KEPADA ALLAH

A. PENGERTIAN IMAN KEPADA ALLAH


Iman kepada Allah SWT adalah mempercayai akan adanya Allah SWT sebagai Tuhan
Yang Maha Esa dengan segala kemaha-sempurnaan-Nya. Kepercayaan tersebut diyakini dalam
hati sanubari, diikrarkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan perbuatan amal saleh.

B. SIFAT – SIFAT ALLAH SWT DALAM AL-ASMĀ’UL HUSNA


1. Pengertian Al-Asmā’ul Husnā
Menurut pengertian bahasa, Al-Asmā’ul Husnā artinaya nama – nama yang baik. menurut
istilah tauhid, Al-Asmā’ul Husnā ialah nama – nama yang baik yang hanya dimiliki oleh Allah
SWT.

2. Penjelasan Sepuluh Sifat Allah Dalam Al-Asmā’ul Husnā

a. Ar-Rahmān
Allah SWT bernama Ar-Rahmān (Yang Maha Pemurah), karena Dia melimpahkan
rahmat-Nya kepada seluruh makhluk-Nya, tanpa pandang bulu.

b. Ar-Rahim
Sifat Ar-Rahim Allah SWT selalu dilimpahkan kepada seluruh hamba-Nya yang
beriman secara tetap atau bersifat kekal.

c. Al-Quddus
Allah SWT bernama Al-Quddus (Mahasuci) karena Allah SWT itu Mahatunggal, suci
bersih dari sekutu, tidak beranak dan tidak deperanakandan tidak ada yang setara dengan-Nya

d. As-Salam
Sifat ini terdapat pada nama Allah SWT “As-Salam” (Mahasejahtera). Kesejahteraan
Allah SWT itu Maha Sempurna, tidak ada kekurangannya,cacat dan celanya.

e. Al-Mu’min
Allah SWT barnama Al-Mu’min (Yang Maha Memberikankeamanan atau Yang Maha
Terpercaya).

f. Al-‘Adlu
Al-‘Adlu, yang artinya Maha Adil , tidak ada zat selain Allah yang memiliki keadilan sama
dengan Allah SWT, apalagi melebihi-Nya.

g. Al-Gaffār

4
5

Allah SWT bernama Al-Gaffār sebab Allah SWT Yang Maha Pengampun, yang
memiliki kebebasan penuh untuk memberikan ampunan dosa kepada hamba yang
dikehendaki-Nya.

h. Al-Hak i m
Allah SWT bernama Al-Hak i m sebab Allah SWT itu Mahabijaksana, tidak ada zat
selain Allah SWT yang memiliki kebijaksanaan sama dengan-Nya, apalagi melebihi-Nya.

i. Al-Malik
Allah SWT bernama Al-malik yang artinya Maha Merajai. Tidak ada raja yang memiliki
kedudukan dan kekuasaan yang sama dengan Allah SWT, apalagi melebihi-Nya.

j. Al-Hasíb
Allah SWT bernama Al-Hasíb artinya Maha Menjamin, yakni memberikan jaminan
kecukupan kepada seluruh hamba-Nya. Al-Hasíb juga bisa berarti Maha Memperhitungkan.
Segala amal manusia ketika di dunia, akan dihisab di alam akhirat oleh Allah SWT dengan
seteliti-telitinya dan seadil-adilnya.

C. PERILAKU ORANG BERIMAN TERHADAP 10 SIFAT ALLAH SWT DALAM


AL-ASMĀǓL HUSNĀ

1. Berusaha Selalu Berbuat Baik dan Berkasih Sayang

2. Berusaha Menjadi Mukmin yang Bertaqwa

3. Memelihara Kesucian Diri

4. Menjaga Keselamatan Diri dan Orang Lain

5. Menjadi Orang yang Terpercaya dan Dapat Memberi Rasa Aman Kepada Sesama

6. Beperilaku Adil

7. Berusaha Menjadi Orang yang Pemaaf

8. Berperilaku Bijaksana

9. Menjadi Pemimpin yang Baik


 Menjalankan tugas kepemimpinannya dengan niat ikhlas karena Allah SWT
 Senantiasa berperilaku terpuji yang mendatangkan manfaat
 Berusaha menjadi orang yang paling bermanfaat bagi oarang banyak.

10. Ber-Muhasabah (Introspeksi Diri)


BAB IV
BERPERILAKU TERPUJI

C. PENGERTIAN PERILAKU HUSNUDZAN


Husnuzan artinya berbaik sangka, lawan katanya adalah suuzan yang artinya berburuk
sangka.

D. CONTOH-CONTOH PERILAKU HUSNUZAN


1. Perilaku Terhadap Allah SWT

a. Syukur
Menurut pengertian bahasa, kata syukur berasal dari bahasa Arab yang artinya terima
kasih. Menurut istilah syukur ialah berterima kasih kepada Allah SWT dan pengakuan yang
tulus atas nikmat dan karunia-Nya, melalui ucapan sikap dan perbuatan.

b. Sabar
Setiap muslim/muslimah yang berperasangka baik kepada Allah SWT, apabila dikenai
suatu musibah seperti sakit, bencana alam dan gagal dalam suatu usaha, tentu akan bersabar
karena ia menyadari bahwa musibah-musibah itu merupakan ujian dari Allah SWT

2. Husnuzan Terhadap Diri Sendiri

a. Percaya Diri
Seseorang yang percaya diri tentu akan yakin terhadap kemampuan dirinya, sehingga ia berani
mengeluarkan pendapat dan berani pula melakukan suatu tindakan.

b. Gigih
Sikap dan perilaku gigih hendaknya diterapkan dalam hal berikut:
1. Menuntut ilmu
2. Bekerja Mencari Rezeki yang Halal
3. Berinisiatif

3. Husnuzan Terhadap Sesama Manusia.


a. Kehidupan Berkeluarga
Tujuan hidup berkeluarga yang islami adalah terbentuknya keluarga yang memperoleh ridha
dan rahmat Allah SWT, bahagia serta sejahtera, baik di dunia maupun di akhirat.Agar tujuan
luhur tersebut terwujud, maka suami dan istri, hendaknya saling berprasangka baik.
b. Kehidupan Bertetangga
Antara tetangga yang satu dengan lainnya hendaknya saling berprasangka baik dan jangan
saling mencurigai dengan bersikap dan berperilaku seperti berikut ini :

1. Saling Menghormati

6
7

2. Berbuat Baik Kepada Tetangga

c. Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara


Sikap dan perilaku terpuji yang harus diwujudkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa,
dan bernegara itu, antara lain:
1) Generasi tua yang menyayangi generasi muda, antara lain dengan membimbing mereka
agar kualitas kehidupannya dalam berbagai bidang positif lebih maju dari generasi tua.
2) Sesama anggota masyarakat atau sesama warga negara hendaknya saling menolong
dalam kebaikan.

E. MEMBIASAKAN DIRI BERPERILAKU HUSNUZAN


Seorang Muslim/Muslimah yang berperilaku Husnuzan terhadap Allah SWT, tentu akan
senantiasa bertaqwa kepada-Nya, di manapun dan kapan pun dia berada. Seorang
Muslim/Muslimah yang berperilaku Husnuzan terhadap dirinya sendiri tentu akan membiasakan
diri dengan bersikap dan berperilaku terpuji dan bermanfaat bagi dirinya, seperti percaya diri,
gigih, dan banyak berinisiatif yang positif.
Demikian juga, setiap Muslim/Muslimah handaknya membiasakn diri untuk berperilaku
Husnuzan terhadap sesama manusia, baik dalam kehidupan berkeluarga dan bertetangga, maupun
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
BAB V
SUMBER HUKUM ISLAM, HUKUM TAKLIFI DAN HUKUM WAD’I

A. SUMBER HUKUM ISLAM


1. Pengertian Hukum dan Sumber Hukum Islam
Menurut istilah ahli usul fikih, Hukum adalah khitab atau perintah Allah SWT, yang menuntut
mukalaf untuk memilih antara mengerjakan dan tidak mengerjakan, atau menjadikan sesuatu
sebagai sebab, syarat atau penghalang bagi adanya yang lain, sah, batal, rukhsah (kemudahan),
dan azimah. Sumber Hukum adalah segala sesuatu yang melahirkan aturan yang mempunyai
kekuatan, yang bersifat mengikat, yang apabila dilanggar akan menimbulkan sanksi yang tegas
dan nyata. Dengan demikian sumber hukum Islam adalah segala sesuatu yang dijadikan dasar,
acuan, atau pedoman syariat Islam, ulama fikih sependapat bahwa sumber utama hukum islam
adalah Al-Qur’an dan Hadis.

2. Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Al-Qur’an


a. Pengertian
Secara harfiah, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab yang artinya bacaan atau himpunan.
Menurut istilah, Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang berisi firman-firman Allah SWT
yang diwahyukan dalam bahasa Arab kepada rasul/nabi terakhir Nabi Muhammad SAW, yang
apabila membacanya adalah ibadah.
b. Kedudukan
Al-Qur’an sebagai kitab Allah SWT menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari
seluruh ajaran agama Islam.
c. Fungsi
Al-Qur’an berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai
kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat

3. Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Hadis


a. Pengertian
Menurut istilah ahli hadis yang dimaksud dengan hadis adalah segala kategori berita yang
bersumber dari Nabi Muhammad SAW, berupa ucapan, perbuatan, dan takrir serta penjelasan
sifat-sifat Nabi SAW.
Hadis Nabi SAW, dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
1. Hadis Qauliyah, yaitu hadis yang didasarkan atas segala perkataan dan ucapan Nabi SAW.
2. Hadis/SunahFi’liyah, yaitu hadis/sunah yang didasarkan atas segenap perilaku dan
perbuatan Nabi SAW.
3. Hadis/Sunah Takriyah, yaitu hadis yang disandarkan pada persetujuan Nabi SAW atas apa
yang dilakukan para sahabatnya
b. Kedudukan

8
9

Para ulama Islam berpendapat bahwa hadis menempati kedudukan pada tingkat kedua sebagai
sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an.
c. Fungsi
Fungsi atau peranan Hadis (Sunah) di samping Al-Qur’anul Karim adalah:
a. Mempertegas atau memperkuat hukum-hukum yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an
b. Menjelaskan, menafsirkan, dan merinci ayat-ayat Al-Qur’an yang masih umum dan
samar
c. Mewujudkan suatu Hukum atau ajaran tidak tercantum dalam Al-Qur’an.

4. Pengertian, Kedudukan, dan Fungsi Ijtihad


1. Pengertian
Menurut pengertian kebahasaan kata ijtihad berasal dari bahasa Arab, yang berarti kata
kerjanya “jahada”, yang artinya berusaha dengan sungguh-sungguh. Menurut istilah dalam
ilmu fikih, ijtihad berarti mengerahkan tenaga dan pikiran dengan sungguh-sungguh untuk
menyelediki dan mengistinbatkan hukum-hukum yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan
Hadis dengan syarat-syarat tertentu. Muslim yang melakukan ijtihad disebut mujtahid.Yusuf
al-Qardawi (ahli usul dan fikih), menjelaskan bahwa persyaratan pokok untuk menjadi
mujtahid adalah:
1. Memahmi Al-Qur’an
2. Memahami hadis dan sebab-sebab wurudnya serta memahami hadis-hadis nasikh
dan mansukh
3. Mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang bahasa Arab
4. Mengetahui tempat-tempat ijmak
5. Mengetahui usul fikih
6. Mengetahui maksud-maksud syariat
7. Memahami masyarakat dan adat istiadatnya
8. Bersifat adil dan taqwa
Selain delapan syarat tersebut bebrapa ulama menambahkan tiga syarat lagi yaitu:
 Mendalami ilmu ushuludin (ilmu tentang akidah islam)
 Memahami ilmu mantik (logika)
 Mengetahui cabang-cabang fikih

2. Kedudukan
Ijtihad menempati kedudukan sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an dan Hadis.
Dalilnya adalah Al-Qur’an dan hadis.

3. Fungsi
Fungsi ijtihad ialah untuk menetapkan hukum sesuatu yang tidak ditemukan dalil
hukumnya secara pasti di dalam AlQur’an dan hadis.
Bentuk-bentuk ijtihad antara lain:
10

 Ijma’, adalah kebulatan pendapat semua ahli ijtihad pada suatu masa atas suatu
masalah yang berkaitan dengan syariat.
 Qiyas, yaitu menetapkan hukum atas suatu perbuatan yang belum ada ketentuannya,
berdasarkan sesuatu yang sudah ada ketentuan hukumnya dengan memperhatikan
kesamaan antara kedua hal itu.
 Istihab yaitu melanjutkan berlakunya hukum yang telah ada dan yang telah ditetapkan
karena adanya suatu dalil, sampai ada dalil lain yang mengubah kedudukan hukum
tersebut.
 Mashlahah Mursalah, yaitu kemaslahatan atau kebaikan yang tidak disinggung-
singgung syara’ untuk mengerjakan atau meninggalkannya.
 ‘Urf, yaitu kebiasaan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang baik
dalam kata-kata atau perbuatan.

B. HUKUM TALFIKI DAN HUKUM WAD’I


1. Pengertian Hukum Talfiki Dan Hukum Wad’i, Kedudukan Dan Fungsinya
A. Pengertian
Hukum talfiki menurut kebahasaan adalah hukum pemberian beban. Sedangkan menurut
istilah ialah ketentuan Allah SWT yang menuntut mukalaf (baliq dan berakal sehat) untuk
melakukan atau meninggalkan perbuatan , atau berbentuk pilihan untuk tidak melakukan
suatu perbuatan. Pengertian hukum wad’i ialah ketentuan Allah SWT yang mengandung
pengertian bahwa terjadinya sesuatu merupakan sebab syarat, atau penghalang bagi adanya
suatu hukum. Misalnya salat, menjadi sebab adanya kewajiban berwudu terlebih dahulu (Q.S
Al-Maidah, 5: 6).
B. Kedudukan dan fungsi
Kedudukan dan fungsi hukum talfiki menempati posisi yang utama dalam ajaran Islam.
Macam-macam hukum talfiki dan bentuknya itu sebagai berikut:
 Al-ijab, yaitu tuntutan secara pasti dari syariat untuk dilaksanakan, tidak boleh
ditinggalkan. Perbuatan fardu ditinjau dari segi orang yang melakukannya, dapat dibagi
menjadi dua macam, yaitu:
- Fardu’ain yaitu perbuatan yang harus dikerjakan oleh setiap muslim.
- Fardu kifayah yaitu perbuatan yang harus dilakukan oleh salah seorang anggota
masyarakat,jika perbuatan terseut dikerjakan oleh minimal seorang anggota
masyarakat, maka anggota-anggota masyarakatnya tidak dikenai kewajiban.

 An-Nadb, yaitu tuntutan dari syariat untuk melaksanakan suatu perbuatan, yang apabila
dikerjakan pelakunya akan mendapat pahala tetapi apabila ditinggalkan tidak mendapat
siksa. Perbuatan sunah dibagi mnejadi dua, yaitu:
1) Sunnah ‘ain yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh setiap individu.
2) Sunnah kifayah, yaitu perbuatan yang dianjurkan untuk dikerjakan oleh seorang atau
beberapa orang dari golongan atau masyarakat.
11

 Al-Karahah ialah sesuatu yang dituntut syar’i kpada mukalaf untuk meninggalkan
dalam bentuk tuntutan yang tidak pasti. Bentuk hukum dari al-karahah disebut
makruh.
 At-Tahrim, yaitu tuntutan syar’i untuk tidak mengerjakan suatu perbuatan dengan
tuntutan yang pasti. Apabila dikerjakan dianggap berdosa, tetapi apabila ditinggalkan
pelakunya akan mendapat pahala.

 Al-Ibahah, yaitu firman Allah SWT yangmengandung pilihan untuk melakukan suatu
perbuatan atau meninggalkannya. Bentuk hukum dari al-ibahah ialah mubah, yaitu
perbuatan yang boleh dikerjakan dan boleh pula ditinggalkan.
Bentuk hukum wad’i adalah merupakan ketentuan-ketentuan Allah SWT yang mengatur
tentang sebab, syarat, māni’ (penghalang), batal (fasid), azimah dan rukhsah dalam hukum
Islam.
a. Sebab
Menurut istilah syara’ adalah suatu keadaan atau peristiwa yang dijadikan sebagai
sebab adanya hukum, dan tidak adanya keadaan atau peristiwa itu, menyebabkan
tidak adanya hukum.
b. Syarat
Syarat ialah sesuatu yang dijadikan syari’ (hukum Islam), sebagai pelengkap
terhadap perintah syari’, tidak sah pelaksanaan suatu perintah syari’, kecuali dengan
adanya hukum tersebut.
c. Māni’ (penghalang)
Māni adalah suatu keadaan atau peristiwa yang ditetapkan syar’i menjadi
penghalang bagi adanya hukum atau membatalkan hukum
d. Azimah dan Ruksah
Azimah ialah peraturan Allah SWT yang asli dan tersurat pada nas (Al-Qur’an dan
Hadis) dan berlaku umum.Rukhsah ialah ketentuan yang disyariatkan oleh Allah
SWT sebagai keringanan yang diberikan kepada muklaf dalam keadaan-keadaan
khusus

2. Penerapan Hukum Talfiki dan Hukum Wad’i Dalam Kehiduan Sehari-hari


Seorang Muslim/Muslimah yang menerapkan hukum talfiki dalam kehiupan sehari-hari akan
senantiasa melaksanakan perintah Allah SWT yang hukumnya wajib meninggalkan segala
larangan Allah SWT yang hukumnya haram, dan lebih baik lagi kalau mengerjakan anjuran Allah
dan rasul-Nya yang hukumnya sunah dan meninggalkan larangan yang hukumnya
makruh.Seorang Muslim/Muslimah yang menerapkan hukum wad’i tentu akan senantiasa
menghambakan diri (beribadah) kepada Allah SWT dengan dilandasi niat ikhlas karena Allah
SWT dan sesuai dengan ketentuan syara’, yakni terpenuhi syarat-syarat sahnya, rukun-rukunnya,
dan terpelihara dari hal-hal yang membatalkannya.
BAB VI
KETELADANAN RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH

1. SEJARAH DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH


a. Masyarakat Arab Jahiliah Periode Mekah
Dalam bidang agama, masyarakat Arab waktu itu sudah menyimpang jauh dari ajaran agama
Tauhid, yang telah diajarkan oleh Nabi Ibrahim A.S. Mereka umumnya beragama watsani atau
agama penyembah berhala. Selain itu adapula sebagian masyarakat Arab jahiliah yang
menyembah malaikat dan bintang yang dilakukan kaum Sabi’in serta menyembah Matahari,
bulan, dan jin yang diperbuat oleh sebagian masyarakat diluar kota Mekah. Dalam bidang moral,
masyarakat Arab jahiliah telah menempuh cara-cara yang sesat, seperti:
1) Bila terjadi peperangan antarkabilah, maka kabilah yang kalah perang akan
dijadikan budak oleh kabilah yang menang perang.
2) Menempatkan perempuan pada kedudukan yang rendah.
3) Memiliki kebiasaan buruk, yakni berjudi dan meminum minuman keras..
Namun perlu diketahui bahwa tidak semua perilaku masyarakat Arab jahiliyah itu buruk , tetapi
ada pula yang baiknya, seperti: memiliki keberanian dan kepahlawanan ,suka menghormati
tamu,murah hati, dan mempunyai harga diri.
b. Pengangkatan Nabi Muhamad SAW sebagai Rasul
Pengangkatan Muhamad sebagai nabi atau rasul Allah SWT, terjadi pada tanggal 17 Ramadhan,
13 tahun sebelum hijrah (610 M) tatkala beliau sedang bertahanus di Gua Hira, waktu itu beliau
genab berusia 40 tahun. Muhammad diangkat oleh Allah SWT, sebagai nabi atau rasul – Nya
ditandai dengan turunnya Malaikat Jibril pada tanggal 17 Ramadhan 610 M, untuk
menyampaikan wahyu yang pertama yakni Al – Qur’an Surah Al – ‘Alaq, 96 : 1 – 5. Turunnya
ayat al – Qur’an tersebut, dalam sejarah Islam dinamakan Nuzul Al – Qur’an.

c. Ajaran Islam Periode Mekah


1. Keesaan Allah SWT
2. Hari Kiamat Sebagai Hari Pembalasan
3. Kesucian Jiwa
4. Persaudaraan dan Persatuan

2. STRATEGI DAKWAH RASULULLAH SAW PERIODE MEKAH


 Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi Selama 3-4 Tahun
Pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, Rasulullah SAW menyeru untuk masuk Islam,
orang-orang yang berada di lingkungan rumah tangganya sendiri dan kerabat serta sahabat
dekatnya. Orang-orang yang telah memenuhi seruan dakwah Rasulullah SAW tersebut adalah:
 Khadijah binti Khuwailid
 Ali bin Abu Thalib
 Zaid bin Haritsah

12
13

 Abu Bakar Ash-Shidiq


 Ummu Aiman
Abu Bakar Ash-shidiq telah meneladani Rasulullah SAW, yakni berdakwah secara
sembunyi-sembunyi.Usaha dakwah Abu Bakar Ash-shidiq berhasil karena ternyata beberapa
orang kawan dekatnya menyatakan diri masuk Islam, mereka adalah:
a. Abdul Umar dari Bani Zuhrah, kemudian nama itu diganti oleh Rasulullah SAW menjadi
Abdurrahman bin Auf, yang artinya hamba Allah SWT, Yang Maha Pengasih
b. Abu Ubaidah bin Jarrah dari Bani Haris
c. Ustman bin Affan
d. Zubair bin Awam
e. Sa’ad bin Abu Waqqas
f. Thalha bin Ubaidillah
Orang-orang yang masuk Islam, pada masa dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang namanya
sudah disebutkan di atas disebut Assabiqunal awwalun (pemeluk Islam generasi pertama)

 Dakwah Secara Terang-terangan


Dakwa secara terang-terangan ini dimulai sejak tahun ke-4 dari kenabian, yakni setelah turunnya
wahyu yang berisi perintah Allah SWT agar dakwah itu dilaksanakan secara terang-terangan.
Tahap-tahap dakwah Rasulullah SAW secara terang-terangan ini antara lain sebagai berikut:
 Mengundang kaum kerabat keturunan dari Bani Hasyim dan mengajak mereka masuk
Islam.
 Rasulullah SAW mengumpulkan para penduduk kota Mekah untuk berkumpul di Bukit
Shafa. Rasulullah memberi peringatan agar segera meninggalkan penyembahan terhadap
berhala-berhala dan hanya menyembah kepada Allah SWT.Pada periode dakwah secara
terang-terangan ini juga telah menyatakan diri masuk Islam dua orang kuat dari kaum kafir
Quraisy, yaitu Hamzah bin abdul Muthalib (paman Nabi SAW) dan Umar bin Khattab.
 Rasulullah SAW menyampaikan seruan dakwahnya kepada para penduduk di luar kota
Mekah. Sejarah mencatat bahwa penduduk di luar kota Mekah yang masuk Islam antara
lain:
a. Abu Zar Al Giffari
b. Tufail bin Amr ad-Dausi
c. Penduduk Yatsrib (Madinah).

 Reaksi Kaum Quraisy terhadap dakwah Rasulullah SAW


Prof. Dr. A. Shalaby dalambukunya Sejarah Kebudayaan Islam, telah menjelaskan sebab-sebab
kaum kafir Quraisy menentang dakwah Rasulullah SAW, yakni:
 Rasulullah SAW mengajarkan mulia tidaknya seseorang tergantung ketaqwaannya kepada
Allah SWT. Orang miskin yang bertaqwa, dihadapan Allah SWT lebih mulia dari pada
orang kaya yang durhaka. Kaum kafir Quraisy, mempertahankan tradisi hidup berkasta-
14

kasta dalam masyarakat. Mereka ingin mempertahankann perbudakan, sedangkan ajaran


rasulullah SAW (Islam) melarangnya.
 Islam mengajarkan manusia yang ketika di dunianya bertaqwa, maka di alam kuburnya
akan memperoleh kenikmatan dan dialam akhiratnya akan masuk surga. Sedangkan
manusia yang ketika di dunianya durhaka, maka di alam kuburnya akan disiksa , dan di
alam akhiratnya akan masuk neraka.Kaum kafir Quraisy menolak dengan keras ajaran
Islam tersebut, karena mereka merasa ngeri dengan siksa kubur dan azab neraka.
 Kaum kafir Quraisy menolak ajaran Islam karena mereka merasa berat meninggalkan
agama dan tradisi hidup bermasyarakat warisan leluhur mereka.
 Islam melarang menyembah berhala, memperjualbelikan berhala-berhala, dan melarang
penduduk Mekah dan luar Mekah berziarah memuja berhala, padahal itu semua
mendatangkan keuntungan dibidang ekonomi terhadap kaum kafir Quraisy.

Usaha-usaha kaum kafir Quraisy untuk menolak dan menghentikan dakwah


Rasulullah SAW bermacam-macam antara lain:
1) Para budak telah masuk Islam, disiksa oleh para pemiliknya atau tuannya di luar
batas perikemanusiaan.
2) Kaum kafir Quraisy diharuskan menyiksa anggota keluarganya yang telah masuk
Islam, sehingga ia kembali menganut agama keluarganya (agama Watsani).
3) Nabi Muhammad SAW dilempari kotoran oleh Ummu Jamil (Istri Abu Lahab) dan
dilempari isi perut kambing oleh Abu Jalal.
4) Kaum kafir Quraisy meminta Abu Thalib, paman dan pelindung Rasulullah SAW,
agar Rasulullah SAW menghentikan dakwahnya.
Pada tahun ke-10 dari kenabisan (619 M) Abu Thalib, paman Rasulullah SAW dan
pelindungnya wafat dalam usia 87 Tahun. Empat hari setelah itu istri tercintanya Khadijah
juga wafat dalam usia 65 tahun. Dalam sejarah Islam tahun wafatnya Abu Thalib dan
Khadijah disebut ‘amul husni (tahun duka cita).Wafatnya Abu Thalib sebagai pemimpin
Bani Hasyim, menyebabkan Abu Lahab menggantikan kedudukan Abu Thalib sebagai
pemimpin. Semenjak itu Rasulullah SAW tidak lagi memperoleh perlindungan dari kaum
kerabatnya yakni Bani Hasyim.
Allah SWT senantiasa melindungi Nabi Muhammad SAW dari berbagai malapetaka. Tidak
lama setelah Bani Hasyim dipimpin Abu Lahab, Mut’im bin Adi pemimpin kaum Naufal
menyatakan perlindungannya terhadap Nabi SAW. Bahkan menjelang peristiwa hijrah
tahun 622 M, umat Islam Yatsrib telah bersumpah setia akan melindungi Rasulullah SAW
beserta pengikutnya.