Anda di halaman 1dari 97

Analisis

ISSN 1410 - 3729

PARIWISATA
DIKOTOMI PARIWISATA
& LINGKUNGAN HIDUP

Pariwisata Alam & Pembangunan


Ekonomi Masyarakat Lokal
I Made Adikampana

Simbiosis Kepariwisataan, Lingkungan


Hidup & Konservasi Budaya di Indonesia
Ida Bagus Astina

Pengembangan Pariwisata Goa di Bali


I Wayan Wijayasa, dkk.

Diterbitkan Oleh :
Fakultas Pariwisata
VOL. 9, NO. 1, 2009 Universitas Udayana
DIPUBLIKASIKAN OLEH

FAKULTAS PARIWISATA UNIVERSITAS UDAYANA

Analisis Pariwisata terbit sebagai media komunikasi dan informasi ilmiah kepariwisataan, yang
memuat tentang hasil ringkasan penelitian, survei dan tulisan ilmiah populer kepariwisataan. Redaksi
menerima sumbangan tulisan para ahli, staf pengajar perguruan tinggi, praktisi, mahasiswa yang
peduli terhadap pengembangan pariwisata. Redaksi dapat menyingkat atau memperbaiki tulisan yang
akan dimuat tanpa mengubah maksud dan isinya.

SUSUNAN PENGURUS ANALISIS PARIWISATA

Penanggung Jawab
Drs. I Putu Anom, M.Par.

Penasehat
Dra. Ida Ayu Suryasih, M.Par.
Dra. Ni Made Oka Karini, M.Par.
Ida Bagus Ketut Surya, SE.,MM.

Ketua Dewan Penyunting


Ida Bagus Ketut Astina

Penyunting Ahli
▪ Prof. Adnyana Manuaba, ▪ Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch.Ph.D.
M.Hons.F.Erg.S.FIPS,SF. Universitas Gajah Mada
Universitas Udayana ▪ Prof. Dr. Ir. I Gede Pitana, M.Sc.
▪ Prof. Dr. I Wayan Ardika, MA. Universitas Udayana
Universitas Udayana ▪ Prof. Dr. I Made Sukarsa, SE.,MS.
▪ Prof. Dr. Michael Hichcoch Universitas Udayana
University of North London ▪ Prof. Dr. I Nyoman Sirtha, SH.,MS.
▪ Prof. Dae-Sik Je, M.Pd. Universitas Udayana
Young San University – Korsel. ▪ Dr. Hans-Henje Hild
SES Bonn – Germany

Penyunting Pelaksana
▪ I Wayan Suardana, SST.Par.,M.Par. ▪ I Nyoman Sukma Arida, S.Si.,M.Si.
▪ IGA. Oka Mahagangga, S.Sos.,M.Si. ▪ Yayu Indrawati, SS.,M.Par.
▪ I Made Kusuma Negara, SE.,M.Par. ▪ I Gde Indra Bhaskara, SST.Par., M.Sc.
▪ Made Sukana, SST.Par.,M.Par. ▪ I Gst. Bagus Sasrawan Mananda, SST.Par.
▪ I Nyoman Sudiarta, SE.,M.Par.

Tata Usaha dan Pemasaran


▪ Dra. Ni Nyoman Nadi ▪ I Made Dwijaya Putra Atmaja
▪ Ni Ketut Lasminiawati, S.Sos. ▪ I Gusti Putu Setiawan, SH.
▪ Wayan Sudarma, SH. ▪ Ni Luh Yuni Artini

ALAMAT PENYUNTING DAN TATA USAHA


Fakultas Pariwisata Universitas Udayana
Jl. Dr. R. Goris 7 Denpasar Bali, Telp/Fax : 0361-223798
E-mail : analisispariwisata@par.unud.ac.id

VOL. 9, NO. 1, 2009


PENGANTAR REDAKSI ANALISIS PARIWISATA

Ada sebuah adagium esensial yang menyatakan bahwa di satu sisi


tangan–tangan manusia mengukir alam dan di sisi lain tangan – tangan alam
memahat manusia. Adagium tersebut berkonotasi inheren betapa dekat relasi
kohesi antara manusia dengan alam. Alam sebagai ibu asuh membentuk watak
dan menyediakan keperluan manusia demi kelangsungan hidupnya. Sedangkan
manusia merasa takut merusak atau kehilangan lingkungan alamiah dan berusaha
mengkonservasinya. Hubungan simbiotik tersebut telah memberikan lebih banyak
keuntungan, keindahan, kenyamanan dan kesehatan manusianya.

Namun seiring dengan perkembangan dan pembangunan pariwisata telah


terjadi inklinasi yakni dikotomi antara pariwisata dengan lingkungan alam,
manusia sebagai pelaku pariwisata secara peyoratif melakukan kerusakan dan
pengrusakan terhadap lingkunan alam yang sejatinya menjadi tempat hidup,
tumbuh, berkembang ,melahirkan budaya dan peradabannya. Lingkungan alam
dieksploitasi secara eksesif guna memperoleh keuntungan sebesar–besarnya tanpa
memperhatikan keberlangsungan kehidupan manusia lainnya. Keuntungan sesaat
yang diperoleh justru berdampak membawa bencana bagi manusia seperti
kekeringan, kebakaran, banjir, dan tanah longsor.

Analisis pariwisata kali ini mengangkat topik tentang dikotomi pariwisata


dengan lingkungan hidup bukan berarti mempolarisasikan antara pariwisata
dengan lingkungan tetapi lebih memberi warning agar masyarakat, pemerintah
dan pemodal sebagai pelaku pariwisata melakukan moratorium sekaligus
preservasi terhadap lingkungan alam demi kemaslahatan umat manusia. Ada
beberapa tulisan yang menyangkut domain pariwisata dan pengelolaan lingkungan
seperti Adi kampana mencoba mengkaji pariwisata alam dan pembangunan
ekonomi masyarakat lokal, Astina mencoba menginsinuasi terhadap prilaku
manusia yang mengaku makhluk intelektual namun bertindak tidak terpuji
dengan ceroboh merusak alam dan memberi polusi budaya.

Denpasar, Juli 2009

Redaksi

VOL. 9, NO. 1, 2009


PERSYARATAN NASKAH UNTUK ANALISIS PARIWISATA

1. Naskah dapat berupa hasil penelitian atau kajian pustaka yang belum pernah dipublikasikan
sebelumnya.
2. Naskah ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Bahasa Inggris (abstrak bahasa Inggris). Abstrak tidak
lebih dari 250 kata dengan disertai 3-5 istilah kunci (key words). Naskah berupa ketikan asli dan
CD dengan jumlah maksimal 15 halaman ketikan A4 spasi 1½, kecuali abstrak, tabel dan
kepustakaan.
3. Naskah ditulis dengan batas 2,5 cm dari kiri dan 2 cm dari tepi kanan, bawah dan atas.
4. Judul singkat, jelas dan informatif serta ditulis dengan huruf besar. Judul yang terlalu panjang
harus dipecah menjadi judul utama dan anak judul.
5. Nama penulis tanpa gelar akademik dan alamat instansi penulis ditulis lengkap.
6. Naskah hasil penelitian terdiri atau judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, kajian pustaka
dan metode, hasil dan pembahasan, simpulan dan saran serta kepustakaan.
7. Naskah kajian pustaka terdiri atas judul, nama penulis, abstrak, pendahuluan, masalah,
pembahasan, simpulan dan saran serta kepustakaan.
8. Tabel, grafik, histogram, sketsa dan gambar (foto) harus diberi judul serta keterangan yang
jelas. Gambar dicantumkan pada kertas tersendiri (tidak ditempel pada kertas), di belakangnya
ditulis dengan pensil (judul naskah dan penulis).
9. Dalam mengutip pendapat orang lain, dipakai sistem nama penulis dan tahun. Contoh : Astina
(1999); Suwena et al. (2001).
10. Daftar pustaka memakai “harvard style” disusun menurut abjad nama penulis tanpa nomer urut,
dengan krolologis.
a. Untuk buku: nama pokok dan inisial pengarang, tahun terbit, judul, jilid, edisi, tempat
terbit dan nama penerbit.
Kirkwood, B.R. 1988. Essential of Medical Statistics. Second Edition. Oxford: Blackwell
Science.
b. Karangan dalam buku: nama pokok dari inisial pengarang, tahun terbit, judul karangan,
inisial dan nama editor: judul buku, hal permulaan dan akhir karangan, tempat terbitan dan
nama penerbit.
McKean, Philip Frick. 1978. “Towards as Theoretical analysis of Tourism: Economic Dualism
and Cultural Involution in Bali”. Dalam Valena L. Smith (ed). Host and Guests: The
Antropology of Tourism. Philadelphia: University of Pensylvania Press. Hal. 22-34.
c. Untuk artikel dalam jurnal: nama pokok dan inisial pengarang, tahun, judul karangan,
singkatan nama majalah, jilid (nomor), halaman permulaan dan akhir.
Pitana, I Gde. 1998. “ Global Proces and Struggle for Identity: A Note on Cultural Tourism
in Bali, Indonesia.” Journal of Island Studies, Vol.I (1): 117-126.
d. Untuk Artikel dalam Format elektronik: Nama pokok dan inisial, tahun, judul, waktu,
alamat situs.
Morse, S.S. 1995. “ Factors in the Emergence of Infectious Disease,” Emer. Infect. Dis.
Iserial online), Jan-mar., {cited 1996 jun.5}. Available from:
URL:http:/www.cdc.gov./ccidodd/EID/eid.htm.
11. Dalam tata nama (nomenklatur) dan tata istilah, penulis harus mengikuti cara penulisan yang
baku untuk masing-masing bidang ilmu.
12. Dalam hal diperlukan ucapan terima kasih, supaya ditulis di bagian akhir naskah dengan
menyebutkan secara lengkap : nama, gelar dan penerima ucapan.

VOL. 9, NO. 1, 2009


DAFTAR ISI
Pariwisata Alam dan Pembangunan
Ekonomi Masyarakat Lokal ____________________________________ (1 – 6)
I Made Adikampana

Patologi Sosial dalam Pariwisata : Pelaku Sektor Informal


dan Citra Pariwisata Kintamani ________________________________ (7 – 14)
Nyoman Ariana

Pariwisata Masa Depan ______________________________________ (14 – 23)


I Ketut Suwena

Implikasi Karakteristik Produk Wisata


terhadap Strategi Pemasaran _________________________________ (24 – 31)
Sri Susanty

Analisis Partisipasi Perempuan Bekerja pada


Hotel Berbintang di Kabupaten Badung __________________________ (32 – 41)
I Nyoman Sudiarta

Penerapan Bauran Pemasaran dalam Tahapan Siklus Hidup


Daerah Tujuan Wisata________________________________________ (42 – 49)
Ni Ketut Arismayanti

Pengembangan Pariwisata Goa di Bali ___________________________ (50 – 59)


I Wayan Wijayasa dan Anak Agung Raka Dalem

Penggunaan Website sebagai Sarana Promosi pada Hotel


di Kawasan Wisata Ubud _____________________________________ (60 – 67)
AA. Putu Swabawa

Simbiosis Kepariwisataan, Lingkungan Hidup


dan Konservasi Budaya di Indonesia ____________________________ (68 – 74)
Ida Bagus Ketut Astina

Pemahaman Lintas Budaya dalam Pariwisata


(Perbedaan Budaya Barat dan Timur ____________________________ (75 – 80)
I Putu Sudana

Ekowisata Hutan Mangrove : Wahana Pelestarian Alam


dan Pendidikan Lingkungan ___________________________________ (81 – 86)
Made Sudiarta

Potensi Wisata Kuliner Kabupaten Banyumas _____________________ (87 – 92)


Chusmeru dan Agoeng Noegroho

VOL. 9, NO. 1, 2009


| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

PARIWISATA ALAM DAN PEMBANGUNAN


EKONOMI MASYARAKAT LOKAL

I Made Adikampana
adikampana@par.unud.ac.id
Dosen Fakultas Pariwisata Unud

Abstract

Nature tourism is a form of non-extractive industries and able to generate


economic benefits for the community. This shows that nature tourism has an
important role in the context of sustainable tourism development. On the one side
nature tourism able to provide the stimulus of conservation efforts in the protected
area and on the other side contribute to the community economic development,
particularly in rural areas that are nearby the component of nature tourism products.

Keywords: nature tourism, contribution, community development.

I. PARIWISATA ALAM
Pariwisata alam merupakan aktivitas mengisi waktu luang yang dibangkitkan
oleh keberadaan kawasan lindung, baik berupa taman nasional maupun kawasan
terlindungi lainnya (Kline, 2001). Wells (1997) juga menyebutkan bahwa pariwisata
alam adalah salah satu bentuk pariwisata yang atraksinya berada di tempat-tempat
yang mempunyai nilai ekologis.Menurut Bori-Sanz dan Niskanen (2002) istilah
pariwisata alam berhubungan dengan pengalaman yang didapat dari lingkungan
alamiah dan amenitas yang disediakan untuk keperluan rekreasi. Berdasarkan beberapa
batasan tersebut, pariwisata alam pada dasarnya bergantung pada tempat dan
pengalaman yang berhubungan dengan lingkungan alamiah. Ketergantungan tersebut
menurut Eagles (2001) terlihat dari dua komponen, yaitu : (1) kualitas lingkungan dan
(2) kualitas layanan konsumen.
Untuk memenuhi kualitas lingkungan dan pelayanan yang sesuai dengan
keinginan konsumen, diperlukan pengenalan terhadap target pasar produk pariwisata
alam. Pengidentifikasian target pasar ini dibutuhkan untuk mengoptimalkan pengaruh
positif terutama manfaat ekonomi pariwisata alam dan sekaligus juga meminimalkan
pengaruh negatif yang mungkin ditimbulkan.

II. PENGARUH EKONOMI PARIWISATA ALAM


Pengaruh ekonomi pariwisata alam adalah manfaat atau kontribusi produk
wisata berbasis alam terhadap ekonomi suatu wilayah. Manfaat tersebut dapat berupa
(1) penerimaan dari penjualan produk wisata (tiket masuk taman nasional, hotel,
campground, restoran, atraksi, transportasi dan retail), (2) pendapatan masyarakat,
(3) peluang pekerjaan dan (4) penerimaan pemerintah dari pajak dan retribusi
(Frechtling, 1987). Ketika pariwisata alam mulai dikembangkan, pertimbangan awal
yang menjadi perhatian utama adalah memastikan bahwa aktivitas tersebut akan

1
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

memberikan manfaat bagi masyarakat lokal (Sherman dan Dixon, 1991). Manfaat
pariwisata alam bagi ekonomi masyarakat dapat diuraikan berdasarkan :
a. Manfaat primer dan sekunder.
Manfaat ini berhubungan erat dengan pembelanjaan pengunjung yang polanya
dipengaruhi oleh segmen wisatawan. Manfaat primer adalah penerimaan langsung
dari pembelanjaan pengunjung atas penyediaan barang dan jasa. Sedangkan
manfaat sekunder yang kemudian dikenal dengan manfaat tidak langsung dan
ikutan, akan terjadi apabila penerima langsung pembelanjaan pengunjung
tersebut mengeluarkan kembali penerimaannya untuk barang dan jasa yang
dibutuhkan. Demikian seterusnya sehingga menimbulkan efek pengganda
(multiplier effect) terhadap ekonomi wilayah. Pada setiap urutan pembelanjaan,
jumlah penerimaan yang dikeluarkan kembali akan lebih kecil dari pembelanjaan
sebelumnya (ripple effect), karena sebagian dari penerimaan kemungkinan akan
disimpan, untuk pembayaran pajak atau keluar dari wilayah untuk biaya impor.
Besarnya penerimaan yang tidak disirkulasikan lagi dalam ekonomi masyarakat
sering disebut dengan istilah leakage atau “kebocoran”. Menurut Murphy (1987)
ukuran multiplier merupakan komponen penting dalam memperkirakan manfaat
ekonomi pariwisata bagi masyarakat, karena merefleksikan seberapa besar
pengaruh dari setiap pembelanjaan pengunjung berada di dalam sistem ekonomi
wilayah sebelum mengalami kebocoran. Besarnya multiplier ditentukan oleh
ukuran dan kompleksitas sektor ekonomi wilayah, besarnya impor dan tingkat
kecendrungan masyarakat untuk menyimpan kembali penerimannya.

Gambar 1. Pengaruh Pembelanjaan


Pengunjung Terhadap Ekonomi Masyarakat
Sumber : Kreutzwiser, 1973 dalam Murphy, 1987

b. Manfaat individu dan manfaat sosial.


Individu akan mendapatkan manfaat berupa keuntungan finansial dari penyediaan
barang dan jasa layanan pariwisata. Manfaat ini yang sering menggerakan minat
privat sektor dalam aktivitas pariwisata alam. Sedangkan manfaat sosial meliputi

2
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

jasa lingkungan, kebanggaan atas sumberdaya alam (heritage resources),


prasarana sarana, pendidikan dan penelitian.
c. Dimensi keruangan.
Manfaat pariwisata alam berdasarkan dimensi keruangan dibagi menjadi manfaat
skala lokal, regional, nasional atau global. Manfaat lokal dapat diketahui pada
area yang berdekatan dengan kegiatan pariwisata alam, diantaranya : penciptaan
peluang pekerjaan bagi masyarakat lokal, tempat pemasaran baru bagi produk
lokal dan peningkatan pelayanan prasarana sarana. Manfaat regional dari
pariwisata alam hampir sama dengan manfaat lokal, namun karena skala regional
lebih luas, maka derajat kepentingannya akan berbeda. Misalnya penciptaan 50
jenis pekerjaan akan sangat penting bagi skala lokal, namun relatif tidak berarti
untuk skala regional. Manfaat skala nasional meliputi pendapatan dari pajak,
devisa dan dari penanaman modal. Sedangkan manfaat global diantaranya
konservasi sumberdaya alam, perlindungan keanekaragaman hayati dan ekosistem.

III. MENGUKUR PENGARUH EKONOMI PARIWISATA ALAM


Pengaruh ekonomi pariwisata alam diketahui dengan mengikuti aliran pola
pembelanjaan pengunjung dan kemudian memperkirakan kontribusinya terhadap
jumlah penjualan, pendapatan, pekerjaan dan penerimaan dalam ekonomi wilayah
amatan, yang dapat berupa wilayah pedesaan, perkotaan dan suatu negara (Frechtling,
1987; Stynes dan Sun, 2003). Pola pembelanjaan (komposisi dan besar pembelanjaan)
pengunjung pada umumnya menunjukan pembelian barang dan layanan, baik dari
ekonomi lokal maupun luar wilayah. Pola pembelanjaan pengunjung tersebut
mengindikasikan pengaruh langsung terhadap sektor pariwisata, namun tidak
menunjukan pengaruh total pariwisata terhadap ekonomi wilayah. Menurut Stynes et
al., (2000), pengaruh total pariwisata terhadap ekonomi wilayah merupakan
penjumlahan pengaruh langsung (direct effects), pengaruh tidak langsung (indirect
effects) dan pengaruh ikutan (induced effects). Pengaruh langsung selanjutnya lebih
dikenal sebagai pengaruh primer, sedangkan pengaruh tidak langsung dan ikutan
biasanya disebut dengan pengaruh sekunder. Pengaruh primer atau langsung adalah
perubahan jumlah penjualan, pendapatan, pekerjaan dan penerimaan pada usaha
penerima awal/pertama pembelanjaan pengunjung. Pengaruh sekunder adalah
perubahan dalam aktivitas ekonomi wilayah yang dihasilkan oleh re-sirkulasi
penerimaan dari pembelanjaan pengunjung. Terdapat dua jenis pengaruh sekunder,
yaitu :
a. Pengaruh tidak langsung adalah perubahan jumlah penjualan, pendapatan,
pekerjaan dan penerimaan di sektor-sektor yang mensuplai barang dan jasa
(backward linked industries) kepada komponen usaha penerima awal/pertama
pembelanjaan pengunjung.
b. Pengaruh ikutan, perubahan dalam aktivitas ekonomi wilayah yang dihasilkan oleh
pembelanjaan rumah tangga (household spending). Rumah tangga membelanjakan
pendapatannya yang bersumber dari upah atau gaji di berbagai komponen usaha
yang dipengaruhi oleh keberadaan pariwisata.

3
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Gambar 2. Pengaruh Ekonomi Pariwisata


AlamTerhadap Ekonomi Wilayah
Sumber : Eagles and McCool, 2002

IV. PARIWISATA ALAM DAN PEMBANGUNAN EKONOMI MASYARAKAT SEKITARNYA


Pariwisata alam mempunyai peran penting dalam konteks pembangunan
berkelanjutan, karena menawarkan potensi kepada privat sektor untuk memanfaatkan
potensi sumberdaya alam agar mampu memberikan kontribusi terhadap pembangunan
ekonomi masyarakat, terutama di wilayah pedesaan yang biasanya berada di sekitar
destinasi wisata alam (Eagles, 2002). Dalam hal ini ekonomi masyarakat adalah usaha
yang menjadi sumber penghasilan keluarga atau orang-perorang (Sumodiningrat, 1999).
Konsep pembangunan pedesaan mengandung proses untuk memperkuat
liveability masyarakat pedesaan yang berkaitan dengan kualitas hidup, kualitas
lingkungan dan kemenerusan kegiatan ekonomi. Berkaitan dengan hal tersebut maka
peluang pekerjaan, perbaikan prasarana dan sarana serta pengelolaan lingkungan
menjadi langkah awal dalam inisiatif pembangunan pariwisata alam (Bori-Sanz dan
Niskanen, 2002). Dalam konteks pengelolaan lingkungan, pengembangan pariwisata
alam dapat menyediakan rangsangan dalam upaya konservasi pemanfaatan lahan dan
membantu pendanaan perlindungan keanekaragaman hayati. Dengan demikian
pariwisata alam merupakan instrumen yang memadukan antara pembangunan ekonomi
masyarakat pedesaan dan upaya konservasi (Sherman dan Dixon, 1991). Salah satu
bentuk perpaduan tersebut adalah pengurangan ketergantungan masyarakat terhadap
sumberdaya alam (aset pariwisata) melalui penciptaan peluang pekerjaan di bidang
pariwisata berbasis alam dan sektor lain yang terkait (Eagles dan McCool, 2002). Selain
itu, hal lain yang menyebabkan pariwisata alam dipandang relevan untuk
pembangunan ekonomi masyarakat pedesaan, karena
a. Produk pariwisata dikonsumsi di destinasi wisata, sehingga akan meningkatkan
peluang masyarakat untuk menjual barang dan jasa lainnya (diversifikasi ekonomi
masyarakat).
b. Pembatasan akses sektor yang bersifat tradisional terhadap pasar internasional,
tidak berlaku dalam transaksi pariwisata.
c. Sumberdaya alam dan budaya adalah potensi pariwisata dan merupakan aset yang
dimiliki oleh masyarakat.
d. Pariwisata merupakan sektor ekonomi padat karya.
e. Pariwisata memberikan peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi, kerena
adanya kaitan yang luas dengan sektor-sektor lainnya.
(WTO, 2002 dalam ESCAP, 2003).
Namun pada kenyataannya terdapat kesenjangan antara kontribusi aktual dan
potensial pariwisata alam terhadap pembangunan berkelanjutan. Kesenjangan tersebut
menurut Wells (1997) lebih disebabkan karena adanya kebocoran penerimaan

4
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

pariwisata akibat ketidakefektifan pengelolaan sumberdaya dan ketidaksiapan dalam


mengantisipasi kunjungan terutama di wilayah yang belum berkembang/pedesaan.
Lebih lanjut Campbell (1999) menyatakan bahwa permasalahan pembangunan ekonomi
masyarakat pedesaan sekitar destinasi wisata alam adalah ketidakmampuan
masyarakat dalam mengidentifikasi manfaat pariwisata, karena keterbatasan
pengetahuan dan pengalaman, masih lemahnya akses ke pasar, permodalan serta
ketidakberdayaan organisasi kemasyarakatan. Selain itu sampai saat ini pendistribusian
manfaat dari pariwisata alam secara langsung kepada masyarakat menjadi
permasalahan tersendiri dalam pembangunan ekonomi masyarakat pedesaan (Shah dan
Gupta, 2000). Masyarakat belum secara optimal mendapatkan manfaat pariwisata alam
akibat masih besarnya impor barang dan jasa dari luar wilayah pedesaan.

V. SIMPULAN
Pariwisata alam merupakan industri yang bersifat non-ekstraktif dan mampu
menciptakan beragam manfaat ekonomi bagi masyarakat. Ini menunjukan bahwa
pariwisata alam mempunyai peran penting dalam konteks pembangunan
berkelanjutan, karena di satu sisi menyediakan rangsangan dalam upaya konservasi
pemanfaatan kawasan terlindungi dan di sisi lain memberikan kontribusi terhadap
pembangunan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah pedesaan yang biasanya
berada di sekitar komponen produk pariwisata alam. Dengan kata lain dapat dikatakan
bahwa pariwisata alam dapat menciptakan suatu bentuk perpaduan dan hubungan yang
saling menguntungkan (simbiose-mutualisme) antara pembangunan ekonomi
masyarakat dan upaya konservasi. Berkaitan dengan itu maka penemukenalan peluang
pekerjaan, perbaikan prasarana dan sarana serta aturan pengelolaan lingkungan bagi
masyarakat menjadi langkah awal dalam inisiatif pembangunan pedesaan di sekitar
kawasan konservasi sumberdaya alam.

KEPUSTAKAAN
Bori-Sanz, Mònica and Niskanen, Anssi, 2002, Nature-based tourism in forest as a tool
for rural development, European Forest Institute, Finland.
Campbell, 1999, Ecotourism in Rural Developing Communities, Annals of Tourism
Research, 26 : 534-553.
Eagles, Paul F. J., 2001, International Trends in Park Tourism, EUROPARC paper,
Austria.
Eagles, Paul F. J., 2002 Trends in Park Tourism : Economics, Finance and Management,
Journal Of Sustainable Tourism, 10 :132-153.
Eagles, Paul F. J. and McCool, Stephen F., 2002, Tourism in National Parks and
Protected Areas; Planning and Management, CABI Publishing, UK.
Economic and Social Commission for Asia and the Pasific (ESCAP), 2003, Poverty
Alleviation through Sustainable Tourism Development, United Nations, New
York.
Frechtling, Douglas C., 1987, Assessing the Impacts of Travel and Tourism -
Introduction to Travel Impact Estimation. In Travel, Tourism and Hospitality
Research, J.R. Brent Ritchie and Charles R. Goeldner (ed.), John Wiley and Sons
Inc, New York.
Kline, Jeffrey D., 2001, Tourism and natural resource management : a general
overview of research and issues. Gen. Tech. Rep. PNW-GTR-506. Portland.

5
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Murphy, Peter E., 1987, Tourism A Community Approach, Methuen, New York.
Shah, Kishore and Gupta, Vasanti, 2000, Tourism, the Poor and Other Stakeholders :
Experience in Asia, The Russell Press, Nottingham.
Sherman, P. and J. Dixon, 1991, The economics of nature tourism : Determining if it
pays. In Nature Tourism : Managing for the Environment, T. Whelan (ed.),
Island Press, Washington, DC.
Stynes, Daniel J., Propst, Dennis B., Chang, Wen-Huei and Sun, YaYen, 2000,
Estimating National Park Visitor Spending and Economic Impacts, Department
of Park Recreation and Tourism Resources, Michigan State University.
______ and Sun, YaYen, 2003. Economic Impacts of National Park Visitor Spending on
Gateway Communities, Department of Park Recreation and Tourism Resources,
Michigan State University.
Sumodiningrat, Gunawan, 1999, Pemberdayaan Masyarakat dan Jaringan Pengaman
Sosial, Gramedia, Jakarta.
Wells, Michael P., 1997, Economic Perspectives on Nature Tourism, Conservation and
Development, Environment Department Paper no. 55, Pollution and
Environmental Economics Division. Washington, DC : World Bank.

6
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

PATOLOGI SOSIAL DALAM PARIWISATA :


PELAKU SEKTOR INFORMAL DAN CITRA PARIWISATA KINTAMANI

Nyoman Ariana
ariana@par.unud.ac.id
Dosen Fakultas Pariwisata Unud

Abstract

The aims of this research are to identify the reason of deviate behavior of
informal sector actors when giving service to the tourists. This research using
concepts tourism image and deviate behavior. The Respondents have taken from 75
actors of informal sector. The result of this research are: they don’t involve keeping
clean of tourist destination because, no punishment for them that applied by
performer organization (53%). Less cleaning and performance care, cause has to be
the habit (52%). There are bad tourists complaining handle because imitating friends
(61%). Less fast and precise to serve tourists cause competition with other friends
(42%). There is no training to be held as a reason why they are not ready to help
(61%). They don’t help tourists precisely Impression cause imitating friends (43%). less
knowledge and skill of Foreign Language cause understanding tourists what they say
more important (70%). There is no tourists security guarantee cause less of facilities
(43%). They don’t give honest service and friendly, cause of competition with other
friends (55%), and tourists expecting misunderstanding by them the cause the thinking
of tourists just seen to day (49%).

Keywords: service quality, deviate behavior, actors of informal sector.

I. PENDAHULUAN
Sejalan dengan berkembangnya pariwisata di Kintamani, menyisakan satu
permasalahan yang hingga kini belum mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah,
stakeholders pariwisata, maupun masyarakat lokal. Citra pariwisata Kintamani yang
terkesan kurang baik terus semakin dirasakan oleh wisatawan. Buruknya pencitraan
diyakini memberikan pengaruh semakin menurunnya jumlah kunjungan wisatawan ke
Kintamani.
Wisatawan kerap complaint atas layanan yang diterima dari pelaku sektor
informal. Mulai dari pedagang acung yang kurang sopan menawarkan barang
dagangannya, sampai perilaku oknum sopir boat yang memberikan pelayanan kurang
bersahabat, membuat wisatawan merasa cemas saat mesin boat dimatikan di tengah
danau. Bahkan pernah terjadi kasus pemukulan Guide oleh Oknum Pedagang Acung
yang sangat mengoyak dunia pariwisata di Kabupaten Bangli. (www.bisnisbali.com).
Pramuwisata lokal juga terkesan membujuk berlebihan manakala menawarkan jasanya
sehingga terkesan sangat memaksa.
Tulisan ini mencoba mengidentifikasi, apa sesungguhnya yang melatarbelakangi
perilaku menyimpang pelaku sektor informal, sehingga menyebabkan ketidaknyaman
wisatawan tatkala berwisata ke Kintamani sebagai suatu fenomena patologi sosial.
Identifikasi ini penting, sebagai analisis patologi sosial dalam pariwisata sehingga

7
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

diperoleh pemetaan sosial untuk diambil langkah-langkah pemecahan masalah, untuk


meningkatkan citra positif pariwisata Kintamani yang pernah terkenal dengan
keindahan alam dan keunikan budaya yang dimiliki. Pelaku sektor informal yang
menjadi fokus dalam tulisan ini meliputi : Pedagang Acung di Desa Batur Tengah dan
Kedisan, Pramuwisata Lokal di Desa Trunyan dan Kedisan dan Sopir Boat di Danau
Batur.

II. MASALAH PENELITIAN


Apakah alasan perilaku menyimpang para pelaku sektor informal dalam
melayani wisatawan yang berkunjung ke Objek Dan Daya Tarik Wisata Khusus (ODTWK)
Kintamani?

III. KONSEP
3.1. Citra Pariwisata dan Kualitas Pelayanan
Kotler (2000) mendefinisikan citra sebagai “seperangkat keyakinan, ide dan
kesan yang dimiliki seseorang terhadap suatu objek”. Selanjutnya dikatakan “sikap dan
tindakan seseorang terhadap suatu objek sangat dikondisikan oleh citra objek
tersebut”. Ini memberi arti bahwa kepercayaan, ide serta impresi seseorang sangat
besar pengaruhnya terhadap sikap dan perilaku serta respon yang mungkin akan
dilakukannya. Seseorang yang mempunyai impresi dan kepercayaan tinggi terhadap
suatu produk tidak akan berpikir panjang untuk membeli dan menggunakan produk
tersebut bahkan boleh jadi ia akan menjadi pelanggan yang loyal. Kemampuan
menjaga loyalitas pelanggan dan relasi bisnis, mempertahankan atau bahkan
meluaskan pangsa pasar, memenangkan suatu persaingan dan mempertahankan posisi
yang menguntungkan tergantung kepada citra produk yang melekat pada pikiran
pelanggan.
Suatu perusahaan akan dilihat melalui citranya baik citra itu negatif atau
positif. Citra yang positif akan memberikan arti yang baik terhadap produk perusahaan
tersebut dan seterusnya dapat meningkatkan jumlah penjualan. Sebaliknya penjualan
produk suatu perusahaan akan jatuh atau mengalami kerugian jika citranya dipandang
negatif oleh masyarakat (Yusoff : 1995). Selanjutnya Sunter (1993) menemukan bahwa,
pada masa akan datang hanya dengan citra, maka pelanggan akan dapat membedakan
sebuah produk dengan produk lainnya. Dengan konsep citra produk yang baik ia dapat
melengkapkan identitas yang baik pula dan pada akhirnya dapat mengarahkan kepada
kesadaran yang tinggi, loyalitas, dan reputasi yang baik.
Citra adalah produk yang utama yang dikejar oleh wisatawan. Berkibar atau
terpuruknya citra, secara langsung akan menentukan hidup matinya sebuah destinasi
wisata. Setiap destinasi wisata senantiasa harus berusaha mengembangkan citra positif
dan meminimalkan citra yang negatif, pendapat ini dipertegas dengan mengatakan
bahwa, “Tourism is an export industry, but the exported thing goes nowhere, the
consumers bring home but image. Image is the primary product of the industry”
(Pitana, 2002). Setiap daerah tujuan wisata mempunyai citra (image) tertentu, dengan
asumsi wisatawan terhadap suatu daerah tujuan wisata akan memiliki keyakinan,
kesan dan persepsi tersendiri. Dengan demikian Citra adalah “An expression of all
objective knowledge, impressions, prejudices, imaginations, and emotional thought
an individual or group have of a particular object or place” (Mathieson dan Wall dalam
Pitana, 2005).

8
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Citra pariwisata yang positif kerap ditentukan oleh baiknya suguhan pelayanan
dari penyedia jasa. Pelayanan yang ramah dan bersahabat membuat wisatawan merasa
senang dan berpeluang mereka berniat berkunjung kembali. Sebaliknya pelayanan yang
tidak bermutu, berimbas pada kekecewaan wisatawan, melahirkan citra (image)
pariwisata menjadi buruk. Hal ini selaras dengan temuan, Shellyana dan Basu (2002)
bahwa kualitas pelayanan mempunyai pengaruh terhadap kepuasan pelanggan.
Pemasaran dapat meningkatkan kualitas jasa untuk mengembangkan loyalitas
pelanggannya. Artinya, produk yang berkualitas rendah akan menanggung resiko
pelanggan tidak setia.
Dalam penelitian ini mengikuti alur pemikiran Parasuraman, untuk membedah
perilaku menyimpang (patologi sosial) dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan
di Kintamani. Ada lima dimensi pokok meliputi : (1) Bukti langsung (tangible), meliputi
fasilitas fisik perusahaan, perlengkapan, pegawai dan sarana komunikasi. (2)
Keandalan (reliability), yaitu kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan
yang dijanjikan dengan segera, akurat dan memuaskan kepada konsumen. (3) Daya
tanggap (responsiveness), yaitu inisiatif para personil perusahaan untuk membantu
konsumen dan memberikan pelayanan dengan memuaskan. (4) Jaminan (assurance),
meliputi pengetahuan, kemampuan, kesopanan dari personil perusahaan dan sifat
dapat dipercaya, bebas dari bahaya, resiko dan keragu-raguan dan, (5) Empati
(empathy), meliputi kemudahan dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik,
perhatian pribadi dan memahami kebutuhan para konsumen (Tjiptono, 2004).

3.2. Pelaku Sektor Informal dan Perilaku Menyimpang


Soetjipto Wirosardjono (1985), batasan sektor informal adalah suatu kegiatan
ekonomi marginal (kecil – kecilan) yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut ; 1) Status
pekerjaan tidak teratur dalam hal permodalan, waktu, maupun penerimaannya,
2)Tidak tersentuh peraturan atau ketentuan yang diterapkan oleh pemerintah,
3)Modal, peralatan dan perlengkapan maupun omzetnya biasanya kecil dan diusahakan
atas dasar hitungan harian, 4)Umumnya tidak mempunyai keterikatan dengan usaha
yang lebih besar, 5)Umumnya tidak mempunyai tempat usaha yang permanen dan
terpisah dari tempat tinggalnya, 6)Umumnya dilakukan untuk melayani golongan
masyarakat yang berpendapat rendah, 7)Tidak membutuhkan keahlian dan
keterampilan khusus, sehingga secara luwes dapat menyerap bermacam-macam tingkat
pendidikan tenaga kerja, 8) Mempekerjakan tenaga kerja yang relatif sedikit dan
masih dalam lingkungan keluarga dan 9) Tidak mengenal situasi perbankan, pembukuan
dan perkreditan.
Brigham (1991) menyampaikan model hubungan perilaku dengan mengatakan
bahwa perilaku (B) adalah fungsi karakteristik individu (P) dan lingkungan (E), dalam
persamaan dapat ditulis B = F(P.E). Motif, nilai-nilai dan sikap yang merupakan
karakteristik individu saling berinteraksi satu sama lain dan kemudian berinteraksi pula
dengan faktor-faktor lingkungan sebagai penentu perilaku (Sukana,2005).
Menurut Kartono (1981), Perilaku menyimpang adalah tingkah laku yang tidak
adikuat, tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan
pribadi yang menyimpang pada umumnya jauh daripada status integrasi, baik secara
internal maupun secara eksternal dalam lingkungan sosialnya. Peyimpangan ini, dapat
dibedakan dalam tiga kelompok yaitu : 1) Individu-individu dengan tingkah laku yang
menjadi “masalah” merugikan dan destruktif bagi orang lain, akan tetapi tidak
merugikan diri-sendiri, 2) Individu-individu dengan tingkah laku menyimpang yang

9
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

menjadi “masalah” bagi diri sendiri, akan tetapi tidak merugikan orang lain, dan 3)
Individu-individu dengan perilaku menyimpang yang menjadi masalah bagi diri sendiri
dan bagi orang lain.
Pendapat tersebut dipertegas, bahwa perilaku menyimpang bila dilihat dari segi
lingkungan sosio-kultural dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu : 1)Penyimpangan
individual yaitu, penyimpangan ini merupakan gejala personal, pribadi atau individu,
sebab ditimbulkan oleh ciri-ciri yang khas unik dari individu itu sendiri.
2)Penyimpangan situasional yaitu, Penyimpangan ini disebabkan oleh pengaruh
bermacam-macam kekuatan situasional/sosial di luar individu, pribadi yang
bersangkutan menjadi bagian integral daripadanya. Situasi tersebut memberikan
pengaruh yang memaksa, sehingga seseorang terpaksa harus melanggar peraturan dan
norma-norma umum atau hukum formal, dan 3)Penyimpangan sistematik yaitu, sistem
tingkah laku yang disertai dengan, organisasi sosial khusus, status normal, peranan-
peranan, nilai-nilai, rasa kebanggaan, norma dan moral tertentu, yang semuanya
berbeda dengan situasi umum. Segala perilaku yang menyimpang dari norma dan
aturan, kemudian dirasionalisir atau dibenarkan oleh semua anggota kelompok dengan
pola yang menyimpang itu (Kartono, 1981).

IV. METODE PENELITIAN


Penelitian dilaksanakan di 3 objek wisata yang ada di Kintamani yaitu Objek
Wisata Batur Tengah, Objek Wisata Kedisan dan Objek Wisata Trunyan. Data
dikumpulkan melalui wawancara dan penyebaran kuesioner. Teknik penentuan sampel
mempergunakan teknik stratified sampling yaitu, penentuan sampel dari suatu
populasi di mana dikelompokkan menjadi golongan yang relatif seragam (Kusmayadi
dan Sugiarto, 2000). Dalam penelitian ini dikelompokkan berdasarkan pekerjaan/mata
pencaharian. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara non-proporsional yaitu
sebanyak 75 orang (pelaku sektor informal) meliputi : 25 orang Pedagang Acung, 25
orang Pramuwisata Lokal dan 25 orang Sopir Boat. Pengambilan jumlah sampel masing-
masing 25 orang, mengikuti temuan Gay dan Diehl :1992 (dalam Aritonang, 2005) yang
menyatakan pengambilan sampel penelitian kausal diperkenankan paling sedikit 15
responden/subjek. Selanjutnya data dianalisis secara deskriptif kualitatif yang
ditunjang analisis kuantitatif, yaitu dengan cara mempresentasekan perbandingan
antara responden menjawab pertanyaan yang telah disediakan, dengan keseluruhan
jumlah responden/sampel yang didapatkan dalam penelitian ini.

V. HASIL & PEMBAHASAN


5.1. Pariwisata Kintamani
Sejak tahun 1920-an, pariwisata Kintamani hadir bersamaaan dengan awal
munculnya pariwisata Bali. Saat itu di Kintamani dibangun pesanggrahan (rest House)
milik pemerintah Belanda. Rest house ini didirikan, bersamaan dibangunnya Hotel
Pertama di Bali yaitu Hotel Bali (Inna Bali Hotel-red) di Denpasar. Fasilitas ini
dijadikan sebagai tempat menginap bagi pejabat pemerintah, penulis barat, seniman,
tamu negara dan wisatawan yang berkunjung ke Kintamani. Motivasi wisatawan
berkunjung ke Kintamani untuk merasakan sejuknya udara seraya melihat indahnya
pemandangan kaldera Gunung Batur, danau Batur, lahar hitam (Black Larva), kepundan
bukit yang mengelilingi gunung dan danau, Bukit Abang maupun keindahan desa-desa
kuna seperti: desa Trunyan, Kedisan, dan Songan yang berada di tepi danau.

10
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

5.2. Perilaku Menyimpang Para Pelaku Sektor Informal


Jumlah reponden yang ditetapkan adalah sebanyak 75 orang. Perilaku
menyimpang para pelaku sektor informal, dikaji dari konsep kualitas pelayanan,
meliputi aspek tangible, reliability, responsiveness, assurance maupun dari aspek
emphaty.

A. Tangible
1. Kebersihan Objek
Dulu para pelaku sektor informal kerap ikut gotong royong untuk menjaga
kebersihan objek, tetapi kini semenjak menurunnya kunjungan wisatawan akbibat
tragedi Bom Bali, mereka tidak pernah lagi ikut berpartisipasi dalam gotong
royong. Kondisi ini jelas terlihat di Penelokan, pagi hari sampah berserakan karena
tempat tersebut, digunakan untuk pasar pagi oleh masyarakat lokal. Objek Wisata
Kedisan dan Trunyan, juga nampak kurang bersih. Sampah plastik berserakan di
sekitar tepi danau dan di sekitar dermaga Desa Kedisan.
Sebagian besar para pelaku sektor informal memberikan jawaban bahwa
alasan tidak ikut terlibat dalam menjaga kebersihan, adalah tidak ada sanksi tegas
dari pihak pengelola (53%). Sedangkan responden yang memberikan jawaban sudah
menjadi kebiasaan (21%), karena tidak ada keharusan dari pihak pengelola (17%).
Terakhir alasan lainnya seperti : sikap malas, kurang mengerti manfaat
kebersihan, dan Kurang dihargai oleh pihak pengelola maupun pemerintah (9%).

2. Kebersihan dan Kerapian Penampilan


Salah satu bagian penting dari pelayanan yang bermutu untuk menciptakan
citra positif pariwisata adalah dengan memperhatikan kebersihan dan kerapian
penampilan diri (personal grooming). Wisatawan akan merasa nyaman ketika
berinteraksi dengan pemberi jasa yang penampilannya bersih dan sopan.
Sebaliknya penampilan yang tidak sopan dan tidak bersih akan menyebabkan
wisatawan merasa kurang nyaman.
Pelaku sektor informal secara umum memiliki perilaku yang hampir sama
dalam menjaga kebersihan dan kerapian penampilan diri. Mereka mengenakan
pakaian, yang biasa digunakan dalam kesehariannya. Mereka tidak ada yang
memiliki seragam, sehingga sulit membedakan antara para pelaku sektor informal
dengan masyarakat umum lainnya. Bahkan, beberapa pelaku sektor informal juga
ada yang memakai sarung, sandal jepit, celana pendek, maupun penampilan yang
kurang sopan seperti, rambut dicat dan ada pula yang ber-tatto.
Alasan para pelaku sektor informal kurang memperhatikan kebersihan dan
kerapian penampilan diri saat melayani wisatawan, karena sudah menjadi
kebiasaan (52%), ingin tampil beda (eksentrik) (22%). Tidak ada keharusan dari
pihak pengelola (15%). Ada beberapa pelaku sektor informal yang memberikan
jawaban lainnya (11%), seperti : sikap malas dan tidak mengerti manfaat
kebersihan dan penampilan diri.

B. Reliability
1. Menangani Keluhan Wisatawan
Tatkala ada wisatawan complaint, bukannya ditangani dengan baik, tetapi
dibiarkan begitu saja tanpa pernah merasa salah dalam melayani, maupun
berusaha untuk memperbaiki diri dikemudian hari. Alasan tidak menangani dengan

11
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

baik bila ada wisatawan complaint sebagian besar menjawab karena meniru teman
(61%), sudah menjadi kebiasaan (16%). Pelayanan yang acuh tak acuh, saat ada
wisatawan kecewa, bagi mereka merupakan sesuatu yang wajar dan sudah
menjadi kebiasaan. Selanjutnya tidak memiliki pengetahuan dan keterampilan
tentang cara menangani wisatawan complaint (15%). Terakhir alasan wisatawan
yang menjawab lainnya seperti : tidak ada keharusan dari pihak pengelola, tidak
ada sanksi tegas, tidak pernah diberikan pelatihan (8%).

2. Pelayanan Yang Cepat dan Tepat


Pelayanan yang baik (Good Service) seyogianya memberikan pelayanan yang
cepat dan tepat kepada wisatawan. Pelayanan yang cepat adalah pelayanan yang
memperhatikan kecepatan waktu, ketika dibutuhkan wisatawan tidak lama
menunggu. Sedangkan pelayanan yang tepat adalah pelayanan yang diberikan
sesuai keinginan wisatawan dengan memperhatikan kesopanan dan keramahan
dalam pelayanan.
Pelayanan terkesan membujuk berlebihan dan bahkan dilakukan dengan
tergesa-gesa, mengejar dan memaksa wisatawan agar mau menerima tawarannya.
Pramuwisata Lokal mengejar dan setelah dihentikan kendaraanya, didatangi oleh
kurang lebih 4-5 orang, menawarkan penyeberangan Danau Batur. Alasan para
pelaku sektor informal adalah, karena bersaing dengan teman (42%). Alasan kedua
adalah Sudah menjadi kebiasaan (32%). Alasan ketiga adalah karena para pelaku
sektor informal kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan (15%) Terakhir
alasan yang menjawab lainnya (11%).

C. Responsiveness
1. Kesiapan Membantu
Pelancong yang membutuhkan suasana tenang dan nyaman saat berkunjung
dan tidak ingin diganggu, sering tidak dipahami dengan baik. Inisiatif untuk selalu
siap membantu wisatawan, juga terkesan kurang. Ketidaksiapan pelaku sektor
informal dalam membantu wisatawan, sebagian besar menjawab karena tidak
pernah diberikan pelatihan (61%). Alasan kedua adalah karena para pelaku sektor
informal kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan
pelayanan khususnya kesiapan membantu wisatawan (27%) dan lainnya (12%).

2. Ketepatan Membantu
Pelayanan yang berkualitas bukan saja ditentukan dari kesiapan membantu
wisatawan. Tetapi juga perlu memperhatikan ketepatan dalam memberikan
bantuan. Bantuan yang tidak tepat, justru akan menyebabkan wisatawan merasa
kecewa. Ketepatan membantu dapat diartikan sebagai bentuk pelayanan yang
diberikan sesuai dengan keinginan wisatawan, pada saat wisatawan
membutuhkannya. Maka dari itu para pelaku sektor informal perlu menguasai
tentang cara memberikan bantuan secara tepat dalam memberikan pelayanan
kepada wisatawan. Alasan kurang tepat saat membantu wisatawan, sebagian besar
menjawab karena meniru teman (43%). Alasan kedua tidak mengerti keinginan
wisatawan (25%). Dengan keterbatasan pengalaman, pengetahuan dan
keterampilan dalam memberikan bantuan, para pelaku sektor informal saat
berinteraksi sering tidak memahami dengan baik tentang cara memberikan
bantuan yang tepat. Alasan ketiga prinsip yang penting bisa jualan (25%). Terakhir

12
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

yang memberikan alasan lainnya (9%), meliputi: Tidak diberikan pelatihan dan
kurang memiliki pengetahuan dan ketarampilan.

D. Assurance
1. Pengetahuan dan Keterampilan Bahasa Asing
Penguasaan bahasa asing adalah syarat vital yang harus dikuasai oleh
pemberi jasa, ketika menginginkan bekerja di sektor pariwisata. Menguasai bahasa
asing dengan baik akan memudahkan berkomunikasi dengan wisatawan. Bahasa
asing yang umumnya digunakan dalam interaksi internasional termasuk komunikasi
lintas budaya dalam dunia pariwisata adalah Bahasa Inggris.
Pengetahuan dan ketrampilan bahasa Inggris mereka, relatif masih kurang.
Terbukti saat memberikan pelayanan kepada wisatawan bahasa asing yang
digunakan kurang sesui dengan kaidah bahasa (Grammar). Kurang memiliki
pengetahuan dan keterampilan bahasa asing khususnya Bahasa Inggris, sebagian
besar menjawab karena berprinsip yang penting wisatawan mengerti (70%).
Dengan latar belakang pendidikan yang rendah dan kurang belajar bahasa asing
mengakibatkan kemampuan keterampilan bahasa asing menjadi kurang baik.
Alasan yang menempati urutan ketiga adalah, kerena tidak pernah diperhatikan
oleh pengelola (9%). Terakhir para pelaku sektor informal yang menjawab lainnya
(8%) seperti : enggan mengikuti pelatihan, dan lebih baik belajar sendiri.

2. Jaminan Keamanan
Wawancara dengan MS mengatakan, para pelaku sektor informal
semestinya menjaga citra pariwisata melalui memberikan jaminan keamanan
kepada wisatawan. Tetapi aneh justru para pelaku sektor informal sebagai pelaku
dalam menciptakan tidak amannya wisatawan berkujung ke Kintamani. Pendapat
senada ditambahkan oleh Anggota Polisi yang bertugas sebagai Polisi Pariwisata di
Penelokan (Desa Batur Tengah) K W mengatakan, di Kintamani pernah terjadi
kasus pemukulan terhadap wisatawan yang dilakukan oleh oknum Pramuwisata
Lokal, pengancaman dengan cara mematikan mesin Boat di tengah Danau, Agar
wisatawan bersedia memberikan bayaran tambahan maupun perkelahian antara
oknum Pedagang Acung dengan Guide pengantar Wisatawan yang berkunjung Ke
Kintamani.
Tidak memberikan jaminan keamanan kepada wisatawan, sebagian besar
responden menjawab karena fasilitas masih kurang 43%, karena tidak pernah
diberikan pelatihan (32%). Keseriusan pengelola dan pemerintah untuk
memperhatikan pola pelayanan para pelaku sektor informal khususnya
memberikan jaminan keamanan terkesan masih kurang. Menurut K P pemilik salah
satu restoran di Kintamani, “Pengelola dan pemerintah hanya menjadikan
pariwisata Kintamani untuk mencari keuntungan. Pengelola tanpa kerja keras,
mendapatkan keutungan besar yaitu 40% dari keseleluruhan hasil pungut retribusi.
Sedangkan pemerintah menjadikan Pariwisata Kintamani sebaga Sumber PAD.
Tetapi pembinaan para pelaku sektor informal khususnya dalam memberikan
jaminan keamanan kepada wisatwan kurang diperhatikan. Selanjutnya yang
menjawab karena kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan (16%). Terakhir
yang memberikan alasan lainnya (9%) meliputi : karena tidak ada ketegasan dari
pengelola, ingin keuntungan yang lebih tinggi, bersaing sama teman, meniru
teman dan singkatnya kunjungan wisatawan.

13
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

3. Pelayanan Yang Jujur dan Ramah


Harapan untuk memberikan pelayanan yang jujur dan ramah saat ini, masih
jauh dari harapan. Para pelaku sektor informal sering tidak jujur dalam
memberikan pelayanan kepada wisatawan. Sebagai contoh oknum Pedagang Acung
melakukan penipuan kepada wisatawan. Seperti yang diunggkapkan oleh M S yang
mengatakan, “Dengan tujuan untuk mencari keuntungan yang lebih besar oknum
Pedagang Acung melakukan tindakan penipuan, misalnya, patung yang ditawarkan
kepada wisatawan dengan kualitas tinggi yaitu berbahan kayu eben, ketika dibeli
oleh wisatawan dengan cepat tanpa pengetahuan wisatawan, oknum Pedagang
Acung menukar dengan patung yang secara kasat mata adalah sama, tetapi
kualitas kayunya lebih rendah.
Pelayanan yang tidak jujur dan ramah, mayoritas responden menjawab
karena meniru teman (55%) Perilaku seperti itu, dianggap wajar dan biasa
dilakukan. Menurut N S seorang Pramuwisata Lokal di Objek Wisata Trunyan
mengatakan, “Sesungguhnya ada keinginan untuk memberikan pelayanan yang
jujur dan ramah, agar wisatawan merasa senang dan puas singgah ke Kintamani.
tetapi karena sebagian besar cara pelayanan hanya menginginkan keuntungan saat
ini saja, sehingga terpaksa ditiru sama teman lainnya”. Alasan kedua karena
adanya persaingan sama teman 17%, karena menginginkan keuntungan lebih tinggi
(13%). Alasan lainnya (15%), meliputi : Tidak ada ketegasan dari pengelola dan
pemerintah untuk memberikan sanksi tegas kepada oknum pelaku sektor informal
yang melakukan penipuan dan tindakan kriminal kepada wisatawan.

E. Emphaty
1. Memahami Wisatawan (Pelanggan)
Wisatawan akan merasa senang ketika dipamahi dengan baik keinginannya.
Apalagi dipahami tanpa pernah memberitahukan sebelumnya. Ketika wisatawan
merasa senang atas layanan yang diterima, mereka rela mengeluarkan uangnya
walaupun relatif besar. Pelayanan yang memahami keinginan wisatawan, dapat
dilakukan dengan cara : memberikan perhatian khusus/spesial kepada wisatawan,
memperhatikan keinginan wisatawan, memahani kebutuhan wisatawan (tourist
need) dan memahami kebiasaan atau karakteristik wisatawan. Apabila para pelaku
sektor informal di ODTWK Kintamani mampu memberikan pelayanan seperti itu,
disamping wisatawan akan merasa senang juga akan menciptakan kesan/citra
objek yang positif.
Alasan para pelaku sektor informal kurang memamahi keinginan wisatawan,
sebagian besar menjawab karena paham wisatawan dilihat sekali saja (49%).
karena kurang pengetahuan dan keterampilan untuk memahami keinginan
wisatawan (24%). karena adanya prinsip tidak membeli tidak diperhatikan (15%).
Menurut NC mengatakan, “Prinsip saya apabila wisatawan mau menyeberang, kami
akan melayani sebatas kemampun yang kami miliki, bila tidak kami cuek saja.
Sedangkan terakhir responden yang menjawab lainnya (12%).
Untuk lebih sederhananya dalam penyajian tentang alasan perilaku
menyimpang (patologi pelayanan) pelaku sektor informal, ketika melayani
wisatawan, digambarkan pada Tabel 1.

14
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Tabel 1
Alasan Perilaku Menyimpang Pelaku Sektor Informal dalam
Melayani Wisatawan di ODTWK Kintamani

No. Elemen Pelayanan Alasan Perilaku Menyimpang (%)


A Tangible
1 Kebersihan Kintamani Tidak ada sanksi 52
Sudah menjadi kebiasaan 21
Tidak ada keharusan dari pengelola 17
lainnya 10
2 Kebersihan dan Kerapian Penampilan Sudah menjadi kebiasaan 53
Ingin tampil beda 22
Tidak ada keharusan dari pengelola 14
Lainnya 11
B Reliability
1 Menangani Keluhan Wisatawan Meniru teman 61
Sudah menjadi kebiasaan 16
Kurang memiliki keterampilan 15
Lainnya 8
2 Pelayanan yang cepat dan tepat Bersaing sama teman 42
Sudah menjadi kebiasaan 32
Kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan 15
Lainnya 11
C Responsiveness
1 Kesiapan membantu Tidak pernah diberikan pelatihan 61
Kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan 27
Lainnya 12
2 Ketepatan membantu Meniru teman 43
Kurang mengerti keinginan wisatawan 25
Prinsif yang penting bisa jualan 23
Lainnya 9
D Assurance
1 Kemampuan Bahasa Asing Prinsif yang penting wisatawan mengerti 69
Malas belajar 14
Kurang diperhatikan pengelola 9
Lainnya 8
2 Jaminan Keamanan Kurang fasilitas 43
Kurang diberikan pelatihan 32
Kurang pengetahuan dan keterampilan 16
Lainnya 9
3 Pelayanan yang Jujur dan Ramah Meniru teman 55
Bersaing sama teman 17
Keuntungan lebih tinggi 13
Lainnya 15
E Emphaty
1 Memahami Wisatawan Dilihat sekali saja 49
Kurang pengetahuan dan keterampilan 24
Prinsif tidak membeli, tidak diperhatikan 15
Lainnya 12
Sumber : Hasil Penelitian (2008)

VI. SIMPULAN
Alasan perilaku menyimpang para pelaku sektor informal dalam melayani
wisatawan yang berkunjung ke ODTWK Kintamani adalah sebagai berikut : (1) Tidak
ikut terlibat menjaga kebersihan Objek, karena tidak ada sanksi tegas dari pihak
pengelola. (2) Kurang memperhatikan kebersihan dan kerapian penampilan diri karena

15
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

sudah menjadi kebiasaan. (3) Tidak menangani dengan baik bila ada wisatawan
complaint, karena meniru teman. (4) Kurang cepat dan tepat memberikan pelayanan,
karena bersaing dengan teman. (5) Kurang siap membantu wisatawan ketika
dibutuhkan, karena tidak pernah diberikan pelatihan. (6) Kurang tepat saat membantu
wisatawan, karena meniru teman. (7) Kurang memiliki pengetahuan dan keterampilan
bahasa asing, karena ada paham yang penting bahasa bisa dimengerti oleh wisatawan.
(8) Tidak memberikan jaminan keamanan, karena fasilitas masih kurang. (9) Tidak
memberikan pelayanan yang jujur dan ramah, karena meniru teman, dan (10) kurang
memahami keinginan wisatawan, dengan motif hanya akan melihat wisatawan tersebut
satu kali saja.

KEPUSTAKAAN

Anonim. 2007. Pedagang Acung Kintamani Pukul Guide “Coreng Citra


Pariwisata”http://www.bisnisbali.com/2007/11/23/news/pariwisata/aqwe.htm
l tanggal 20 Januari 2008.
Anwar, S. 2000. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya Cet. 4. Yogyakarta : Gadjah
Mada University Press.
Aritonang R. L. R. 2005. Kepuasan Pelanggan Pengukuran dan Penganalisisan dengan
SPSS. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Dinas Pariwisata Kabupaten Bangli. 2006. Data Kepariwisataan Kabupaten Bangli.
Bangli . Bali.
Effendi. 1992. Kegiatan Non Formal di Pedesaan. Yogyakarta : Pusat Penelitian
Kependudukan. Universitas Gajah Mada.
Kartono, K. 1981. Patologi Sosial. Jakarta : CV Rajawali.
Kotler, P., (2000), Marketing Management, The Millenium Edition, New Jersey:
Prentice Hall International, Inc.
Kusmayadi dan Sugiarto, E. 2000. Metodologi Penelitian Dalam Bidang Kepariwisataan.
Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Pitana, I. G. 2002. Apresiasi Kritis Terhadap Kepariwisataan. Denpasar : Pint Works.
Pitana, I. G. dan Gayatri, P. G. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta : Andi Offset.
Shellyana J. dan Basu S.D.(2002) Pengaruh Ketidakpuasan pengguna, Karakteris-tik
Kategori Produk, dan Kebutuhan Mencari Variasi terhadap Keputusan
Perpindahan Merek, Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Vol. 17 No 1. P. 91-
104.
Soetjipto W. 1985. Pengertian, Batasan dan Masalah Sektor Informal. Jakarta : Prisma.
Sunter, C. (1993), In Van Heerden, Cornelius H. dan Puth, Gustav. 1995. Factors that
Determine the Corporate Image of South African Banking Institutions.
International Journal of Bank Marketing. Vol. 13. No. 3 p. 12- 17.
Sukana, M. 2005. Sikap dan Prilaku Masyarakat Kelurahan Ubud, Kabupaten Gianyar,
terhadap Wisatawan Cina (tesis). Denpasar : Program Magister Program Studi
Kajian Pariwisata Universitas Udayana.
Tjiptono, F. 2004. Manajemen Jasa.Yogyakarta : PT ANDI.
Yusoff, M. (1995), Konsep Asas Periklanan. Malaysia: Dewan Bahasa dan Pustaka.

16
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

PARIWISATA MASA DEPAN

I Ketut Suwena
suwena@par.unud.ac.id
Dosen Fakultas Pariwisata Unud

Abstract

Tourism improvement prospectin the future will not be able hindered by


improvements and changes which can progress to the tourist arrival. These changes
like consumers behavior pattern, the improvement in information using through
technology (IT) and the changes in tourism itself. Either from outside control of
tourism or inside control of tourism.

Keywords: sustainable tourism.

I. PENDAHULUAN
Prospek pariwisata ke depan sangat menjanjikan bahkan sangat memberikan
peluang besar, terutama apabila menyimak angka-angka perkiraan jumlah wisatawan
internasional (inbound tourism) berdasarkan perkiraan WTO yakni 1,046 milyar orang
(tahun 2010) dan 1,602 milyar orang (tahun 2020), diantaranya masing-masing 231 juta
dan 438 juta orang berada di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Dan akan mampu
menciptakan pendapatan dunia sebesar USD 2 triliun pada tahun 2020. Di samping itu,
prospek perkembangan pariwisata ke depan tidak akan bisa terbendung lagi oleh
kemajuan-kemajuan dan perubahan yang mampu meningkatkan kunjungan wisatawan.
Berdasarkan tersebut di atas, maka para pelaku pariwisata seyogyanya
melakukan perencanaan yang matang dan terarah untuk menjawab tantangan sekaligus
menangkap peluang yang akan “ bersliweran ” atau lalu lalang di kawasan kita.
Pemanfaatan peluang harus dilakukan melalui pendekatan “re-positioning” keberadaan
masing-masing kegiatan pariwisata dimulai dari sejak investasi, promosi, pembuatan
produk pariwisata, penyiapan jaringan pemasaran internacional dan penyiapan sumber
daya manusia yang berkualitas.

II. PERUBAHAN POLA KONSUMSI


Disamping jumlah wisatawan mancanegara yang makin meningkat, saat ini pun
telah terjadi perubahan consumers-behaviour pattern atau pola konsumsi dari para
wisatawan. Mereka tidak lagi terfokus hanya ingin santai dan menikmati sun-sea and
sand, saat ini pola konsumsi mulai berubah ke jenis wisata yang lebih tinggi, yang
meskipun tetap santai tetapi dengan selera yang lebih meningkat yakni menikmati
produk atau kreasi budaya (culture) dan peninggalan sejarah (heritage) serta nature
atau eko-wisata dari suatu daerah atau negara.
Perubahan pola wisata ini perlu segera disikapi dengan berbagai strategi
pengembangan produk pariwisata maupun promosi baik disisi pemerintah maupun
swasta. Dilihat dari sisi pemerintahan perlu dilakukan perubahan skala prioritas
kebijakan sehingga peran sebagai fasilitator dapat dioptimalkan untuk mengantisipasi

17
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

hal ini. Disisi lain ada porsi kegiatan yang harus disiapkan dan dilaksanakan oleh swasta
yang lebih mempunyai sense of business karena memang sifat kegiatannya berorientasi
bisnis. Dan dengan diberlakukannya Undang-undang No.32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah maka perlu pula porsi kegiatan untuk pemerintah daerah yang
akibat adanya otonomi daerah lebih memiliki wewenang untuk mengembangkan
pariwisata daerah. Secara sederhana pembagian upaya promosi misalnya akan dapat
ditempuh langkah-langkah dimana untuk pemerintah pusat melakukan country-image
promotion, daerah melakukan destination promotion sesuai dengan keunggulan daerah
masing-masing, sedangkan industri atau swasta melakukan product promotion sesuai
dengan kepentingannya.

III. PARIWISATA DAN TEKNOLOGI INFORMASI


Dalam hubungannya dengan pariwisata, kemajuan yang dicapai dalam dunia
teknologi sangatlah menentukan di era postmodern. Pariwisata tidak bisa dipisahkan
dengan teknologi, atau dengan kata lain, perkembangan kemajuan industri pariwisata
dewasa ini tergantung sebagian besar atas tercapainya kemajuan-kemajuan dalam
dunia teknologi.
Di samping juga pariwisata merupakan industri yang melibatkan banyak
organisasi dan pelaku didalamnya, yang bersifat global, maka teknologi informasi
adalah suatu hal yang sangat fundamental dan besar perannya dalam industri
pariwisata yang makin kompetitif dan terus berusaha untuk efektif dalam memberikan
pelayanan dan sifat dari tourism produk yang berbeda dari produk manufacturing,
membuat teknologi informasi sangat vital di dalam memberikan informasi kepada calon
konsumen tentang produk, waktu dan segala macam pelayanan yang mereka akan
terima selama dalam perjalanan menuju ke daerah tujuan wisata maupun selama
berada di daerah tujuan wisata.
Terdapat hal menarik dari data yang disajikan WTO yakni ditemu kenali adanya
4 negara kelompok besar penyumbang wisatawan dunia yakni Amerika Serikat, Jerman,
Jepang dan Inggris yang menyumbangkan 41% dari pendapatan pariwisata dunia. Dari
segi teknologi, keempat negara inipun merupakan negara-negara terbesar pengguna
teknologi informasi- internet, yakni 79 persen dari populasi internet dunia (tahun 1997)
k.l. 130 juta pengguna internet. Angka-angka ini bukanlah secara kebetulan, tetapi
memang ada korelasi yang erat antara pemakaian teknologi informasi dengan
peningkatan jumlah wisatawan di suatu negara. Internet tidak semata-mata hanya
merupakan temuan teknologi belaka, tetapi juga merupakan guru untuk mendidik
manusia menemukan berbagai informasi (termasuk informasi pariwisata) yang
diinginkannya, sehingga membuat hidup jauh lebih mudah (to make life much easier).
Mengapa hal ini menjadi sangat penting di industri pariwisata ? Hal ini karena
produk ataupun jasa yang diinginkan di sektor pariwisata tidak muncul ataupun “ exist
” pada saat transaksi berlangsung. Pada saat perjalanan wisata dibeli pada umumnya
hanyalah membeli informasi yang berada di komputer melalui reservation system-nya.
Wisatawan hanya membeli “hak” untuk suatu produk, jasa penerbangan ataupun hotel.
Berbeda dengan komoditas lainnya seperti TV ataupun kamera, wisata tidak dapat
memberikan sample sebelum keputusan untuk membeli dilakukan, ”it cannot be
sampled before the traveler arrives”. Keputusan untuk membeli pun kebanyakan
berasal dari rekomendasi relasi, brosur, atau iklan diberbagai media cetak. Jadi
sesungguhnya bisnis pariwisata adalah bisnis kepercayaan (trust). Melalui internet,
informasi yang dibutuhkan untuk suatu perjalanan wisata tersedia terutama dalam

18
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

bentuk World Wide Web atau Sites Web. Konsumen sekarang dapat secara langsung
berhubungan dengan sumber informasi tanpa melalui perantara.
Haruslah diyakini bahwa Sites Web adalah saluran ideal dan alat yang ampuh
untuk mempromosikan daerah tujuan wisata, dengan biaya yang sangat murah. Namun
dalam berkompetisi ini yang harus diperhatikan, karena merupakan senjata utama
kita, adalah kualitas dari informasi itu sendiri. Wisatawan akan mendasarkan
keputusannya untuk mengunjungi suatu Daerah Tujuan Wisata hanya kepada berbagai
informasi yang tersedia untuk mereka di Sites Web. Sekali mereka mendapat informasi
yang keliru maka keunggulan teknologi ini akan menjadi tidak ada gunanya karena
ketiadaan kredibilitas.
Survey terkini menunjukkan bahwa travel market online sedang mengalami
”Booming”, tiga perempat dari para pengguna internet menjelajahi dunia maya untuk
mencari informasi mengenai pemesanan hotel, penerbangan pesawat, harga dan harga-
harga spesial yang ditawarkan di internet. Ini disebabkan karena informasi yang
disediakan sangat up to date dan terus diperbaharui serta ruang lingkupnya cukup luas.
Sejumlah petunjuk berwisata sekarang sudah tersedia secara on-line di internet, ini
jelas lebih menguntungkan daripada membeli sebuah buku petunjuk wisata dimana
buku tersebut, diperbaharui paling cepat setahun atau dua tahun sekali. Sedangkan
petunjuk wisata on-line, hampir diperbaharui setiap minggu (weekly updates).
Tambahan pula, on-line guides menyediakan pengalaman secara langsung dari orang-
orang yang sudah pernah melakukan perjalanan wisata ke tempat-tempat tujuan
wisata yang tertera di online guides tersebut.

IV. PERUBAHAN DALAM PARIWISATA


Perubahan dalam pasar pariwisata sangat cepat terjadi dan akan terus
berlanjut. Langkah antisipasi dari sektor pariwisata sangat diperlukan untuk
mengakomodasi perubahan ini dan keberhasilan dalam berekreasi terhadap
menentukan keberhasilan dan kesuksesannya. Peran penting pelaku pariwisata adalah
memahami penggerak perubahan dan menentukan respon yang diperlukan.
Penggerak perubahan itu baik berasal dari luar pariwisata (outside control of
tourism) maupun perubahan secara alami dari sistem pariwisata itu sendiri. Untuk
lengkap akan dibahas secara mendalam di bawah ini.

A. Perubahan dari Luar Sistem Pariwisata (Exogenous Variabel)


1. Faktor Demografi dan Trend Sosial
Faktor demografi dan trend sosial sangat berpengaruh dalam membentuk
tourism demand (permintaan di bidang pariwisata) pada tahun 2000 ke atas.
Faktor demografi seperti makin banyaknya orang yang tua pada negara penghasil
wisatawan patut dicermati oleh para pelaku pariwisata di daerah tujuan wisata.
Disamping itu trends sosial di negara penghasil wisatawan seperti : perkawinan di
usia yang tua (40 tahun ke atas), menunda kelahiran anak/bahkan hidup tanpa
anak, meningkatnya jumlah orang yang tidak menikah atau pasangan yang tidak
mempunyai anak serta makin banyaknya wanita yang berwisata (yang pada
awalnya hanya berperan mengurus anak). Sebagai penyedia jasa, sudah
sepatutnya daerah tujuan wisata membuat suatu paket wisata yang dapat
mengakomodasi trend sosial tersebut.

19
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

2. Perkembangan Politik
Perubahan-perubahan politik mempengaruhi perkembangan pariwisata
dunia. Setelah komunis runtuh di Rusia, sebagian dari negara pecahan Uni Soviet
tersebut menjadi negara yang kaya seperti : Latvia. Diperkirakan, Latvia di masa
depan akan menjadi salah satu negara penghasil wisatawan yang potensial. Di
samping itu, dengan runtuhnya paham komunis, kepemilikan perusahaan oleh
pribadi makin berkembang yang pada akhirnya memunculkan pengusaha-
pengusaha kaya di bekas negara bagian Rusia tersebut. Oleh karena itu dengan
ketersediaan dana, keinginan untuk berwisata pun semakin meningkat. Jadi
negara penghasil wisatawan tidak hanya akan berasal dari Eropa Barat akan tetapi
di masa depan, negara Eropa Timur akan juga ambil bagian di dalam percaturan
pariwisata dunia.

3. Perkembangan Transportasi
Dengan berkembangnya moda transportasi udara, laut maupun darat yang
semakin membuk aksesibilitas, dipastikan akan membawa perubahan pada wajah
pariwisata dunia. Airbus, salah satu pengusaha penghasil pesawat terbang, telah
mengeluarkan Airbus Jumbo, sebuah pesawat terbang yang bertingkat dua dengan
fasilitas bar, restoran dan tempat fitnes di dalam pesawat. Bukan tidak mungkin
dimasa depan dengan Airbus Jumbo ini akan membawa trend baru yaitu pesawat
terbang bak kapal pesiar dimana penumpang begitu dimanjakan sepanjang
perjalanan.

4. Pengaruh dan Trend Lain


Faktor lain yang dapat mempengaruhi pariwisata di masa depan adalah
pemanasan global dan pengikisan lapisan ozon. Dengan adanya global warming
maka permukaan air laut akan naik dan pada akhirnya akan mempengaruhi garis
pantai. Sedikit demi sedikit garis pantai akan berkurang sehingga dengan
berkurangnya garis pantai, keindahan pantai akan hilang dan tidak ada lagi tempat
untuk para wisatawan melakukan aktifitas dipantai seperti berjemur, joging,
bermain pasir, dan juga berjalan menyusuri pantai sambil menikmati
keindahannya. Pada akhirnya tingkat hunian hotel-hotel yang berada di dekat
pantai juga akan dipengaruhi. Faktor tambahan lain yang mempengaruhi adalah
teknologi baru seperti virtual reality (VR) yang diyakini di waktu yang akan datang
dapat menggantikan pengalaman berwisata ke tempat aslinya. Dengan cara
sederhana yaitu menggunakan pakaian yang sudah dirancang dan menghidupkan
program virtual reality, seseorang akan dapat melihat, merasakan sensasi dan
mendengar serta dibawa ke suasana hangatnya pantai Karibia, meskipun saat ini
dia berada di negara lain.

B. Variabel yang Mempengaruhi Pariwisata


1. Wisatawan Baru
Pada masa yang akan datang, khususnya wisatawan yang berasal dari
negara maju akan lebih kritis dan lebih memilih dalam melakukan perjalanan
wisata. Ini disebabkan dengan makin banyaknya informasi yang mereka dapat dan
juga tingkat pendidikan yang lebih maju. Diyakini di masa yang akan datang
mereka akan memilih pariwisata yang bersifat aktif, dimana mereka dilibatkan
secara fisik dan juga emosional seperti petualangan, pembelajaran dan juga

20
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

mengenali budaya daerah yang dikunjungi secara mendalam. Mereka mulai


meinggalkan aktifitas pasif seperti hanya sekedar melihat, berbelanja, dan
berjemur. Mereka menginginkan pengalaman yang bermutu buat mereka senang,
memuaskan keingintahuan mereka tentang budaya asing dan pada akhirnya, ketika
mereka pulang ke negara asalnya mereka membawa suatu pengalaman berharga
untuk diceritakan kepada teman dan keluarganya.

2. Pengembangan Pariwisata Berkelanjutan


Pembangunan berkelanjutan merupakan konsep alternatif yang ada pada
kutub yang berlawanan dengan konsep pembangunan konvensional, karena
pembangunan berkelanjutan mencakup usaha untuk mempertahankan integritas
dan diversifikasi ekologis, memenuhi kebutuhan dasar manusia, terbukanya pilihan
bagi generasi mendatang, pengurangan ketidakadilan, dan peningkatan penentuan
nasib sendiri bagi masyarakat setempat.
Dalam laporan World Commision on Environment and Development (WCED,
1987) disebutkan bahwa : “Sustainable Development is Development that meets
the needs of the present without compromising the ability of the future
generation to meet their own needs”. Demikian pula WTO (1993), mengedepankan
prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang mencakup : (1) ecological
sustainability; (2) social and cultural sustainability; dan (3) economic
sustainability, baik untuk generasi yang sekarang maupun generasi yang akan
datang.
Maraknya wacana mengenai pembangunan berkelanjutan juga menyentuh
bidang kepariwisataan. Pembangunan pariwisata berkelanjutan diartikan sebagai
proses pembangunan pariwisata yang berorientasi kepada kelestarian sumber daya
yang dibutuhkan untuk pembangunan pada masa mendatang, pengertian
pembangunan pariwisata berkelanjutan ini pula diartikan ”Form of tourism that
are consistent with natural, social, and community values and which allow both
hosts and guests to enjoy positive and worthwhile interaction and shared
experiences” (Eadington and Smith, 1992:3). Penekanan pembangunan pariwisata
berkelanjutan tidak hanya pada ekologi dan ekonomi, tetapi juga keberlanjutan
kebudayaan karena kebudayaan juga merupakan sumber daya penting dalam
pembangunan kepariwisataan (Wall, 1993).
Oleh karena itu kegiatan wisata dianggap berkelanjutan apabila memenuhi
syarat yaitu:
ƒ Secara ekologis berkelanjutan, yaitu pembangunan pariwisata tidak
menimbulkan efek negatif bagi ekosistem setempat. Selain itu, konservasi
merupakan kebutuhan yang harus diupayakan untuk melindungi sumber daya
alam dan lingkungan dari efek negatif kegiatan wisata.
ƒ Secara sosial dapat dapat diterima, yaitu mengacu pada kemampuan
penduduk lokal untuk menyerap usaha pariwisata (industri dan wisatawan)
tanpa menimbulkan konflik sosial.
ƒ Secara kebudayaan dapat diterima, yaitu masyarakat lokal mampu
beradaptasi dengan budaya wisatawan yang cukup berbeda
ƒ Secara ekonomis menguntungkan, yaitu keuntungan yang didapat dari
kegiatan pariwisata dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

21
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Konsep pembangunan berkelanjutan kemudian oleh Burns dan Holden


(1997) diadaptasikan untuk bidang pariwisata sebagai sebuah model yang
mengintegrasikan lingkungan fisik (place), lingkungan budaya (host community),
dan wisatawan (visitors).

Gambar 1. Model untuk Sustainable


Tourism Development
(Sumber : Burn dan Holden, 1997)

Adapun prinsip-prinsip yang menjadi acuan dalam Sustainable Tourism


Development terdiri dari :
1. Lingkungan memiliki nilai hakiki yang juga bisa sebagai aset pariwisata.
Pemanfaatannya bukan hanya untuk kepentingan pendek, namun juga untuk
kepentingan generasi mendatang.
2. Pariwisata harus diperkenalkan sebagai aktivitas yang positif dengan
memberikan keuntungan bersama kepada masyarakat, lingkungan dan
wisatawan itu sendiri.
3. Hubungan antara pariwisata dan lingkungan harus dikelola sehingga
lingkungan tersebut berkelanjutan untuk jangka panjang. Pariwisata harus
tidak merusak sumber daya masih dapat dinikmati oleh generasi mendatang
atau membawa dampak yang dapat diterima.
4. Aktivitas pariwisata dan pembangunan harus peduli terhadap skala/ukuran
alam dan karakter tempat dimana kegiatan tersebut dilakukan.
5. Pada lokasi lainnya, keharmonisan harus dibangun antara kebutuhan-
kebutuhan wisatawan, tempat/lingkungan, dan masyarakat lokal.
6. Dalam dunia yang dinamis dan penuh dengan perubahan, dapat selalu
memberi keuntungan. Adaptasi terhadap perubahan, bagaimanapun juga,
jangan sampai keluar dari prinsip-prinsip ini.
7. Industri pariwisata, pemerintah lokal dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
pemerhati lingkungan semuanya memiliki tugas untuk peduli pada prinsip-
prinsip di atas dan bekerja bersama untuk merealisasikannya (Burn dan
Holden, 1997)

22
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Pariwisata masa depan dengan demikian tidak dapat dipisahkan dari


perkembangan teknologi informasi yang kedepan harus menjadi prioritas
perencanaan promosi pariwisata. Kepentingan antara pemerintah dan
stakeholders pariwisata harus dipertemukan untuk bersama-sama meng-create
promosi yang efesien dan efektif mampu mempengaruhi para calon wisatawan
untuk dapat mengunjungi suatu daerah tujuan wisata. Upaya ini harus didukung
pula dengan aplikasi pembangunan pariwisata berkelanjutan dengan
memparhatikan berbagai aspek yang menyertainya. Kesemua itu harus ditentukan
dengan kebijakan konsisten, apakah dengan mengikuti kemauan pasar atau justru
secara inovatif menciptakan pasar baru pariwisata.

V. SIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas mengenai trend pariwisata dimasa depan, maka
tugas kita sebagai penyedia jasa adalah memilah dan mengantisipasi trend yang
berkembang sehingga bisa memberikan manfaat yang lebih besar. Oleh karena,
diperkirakan pada tahun 2010, kegiatan pariwisata di dunia akan mencapai angka
jutaan kunjungan atau perjalanan yang dilakukan wisatawan dalam skala internasional.
Perkiraan ini didasarkan pada perkiraan oleh WTO (World Tourism Oganization) atau
organisasi pariwisata dunia. Negara-negara seperti Taiwan, Korea Selatan, dan Cina
akan menjadi negara yang diperhitungkan sebagai penghasil wisatawan terbesar dalam
skala internasional. Dimasa-masa yang mendatang, negara-negara timur Asia Pasifik ini
dipastikan menjadi pesaing utama negara-negara Eropa dan Amerika Utara (USA,
Kanada, Mexico) dalam percaturan pariwisata dunia, terutama sebagai negara
penghasil wisatawan terbanyak. Pariwisata adalah suatu yang terus berkembang
bersamaan waktu dan teknologi. Jadi, kesiapan kita sebagai insan pariwisata adalah
mutlak dalam menjawab tantangan di masa depan.

KEPUSTAKAAN

Eadington and Smith. 1992. The Emergence of Alternative Form of Tourism. Dalam
Valene Smith and WR. Eadington (ed). Tourism Altenative : Potencial and
Problem in the Tourism Development. Philadelphia.
Burns, P. and Holden, A. 1997. Tourism : A New Perspective, Prestice Hall
International (UK) Limited, Hemel Hempstead.
Wall, G. 1993. Towards a Tourism Typology. Dalam JG. Nelson, R. Buttler and G. Wall
(ed) Tourism and Sustainable Development: Monitoring, Planning, managing.
Waterloo Dept. of Gegraphy Univ. Waterloo.

23
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

IMPLIKASI KARAKTERISTIK PRODUK WISATA


TERHADAP STRATEGI PEMASARAN

Sri Susanty
sri_susanty@yahoo.co.id
Dosen Akademi Pariwisata Mataram

Abstract

Tourism industry represents the industry owning high complexity because


representing some service products covering accessibilities and facilities of the tourist
destination and tourist attraction which must be sold to the tourist. The effort to sell
the product is so-called with tourism marketing. Because product yielded by tourism
industry in the form of service hence it owns different characteristics so that they
have implication to marketing strategy
Strategy of tourism marketing product is started by determining the market
which is initially heterogen becomes some homogen groups. Hereafter, determining
the market which is targetted. After succeeding, the next step is positioning to build
the product image and the last is implementing the marketing mix which is
representing the combination of some variable utilized to reach the target
Some suggestions related to this topic are: doing marketing. It shall be started
with the market segmentation. After the transaction finished, it must be required to
maintain the relationship. The Relationship represents the aftersale service which
aims to remain the tourist nostalgia in order to make them be revisiting the tourist
destination. Others, the produser shall be optimally the role of human resources who
have high competence, product diversification, competitive prices and intensive
promotion.

Keywords: tourism products, marketing strategies, tourist destination.

I. PENDAHULUAN
Pariwisata senantiasa melibatkan suatu gejala yang sangat kompleks seperti
objek wisata, akomodasi, souvenir shop, pramuwisata, angkutan wisata, biro
perjalanan, rumah makan, dan lain sebagainya. Perilaku wisatawan, juga merupakan
gejala yang terkait yang tidak dapat dipisahkan.
Kegiatan pariwisata yang berlangsung dan diselenggarakan pada suatu daerah
maupun negara berimplikasi positif maupun negatif pada aspek perekonomian, sosial
budaya maupun lingkungan hidup di masyarakat serta negara yang dikunjungi. Seperti
dijelaskan Robert Mc Intosh bersama Shashikant Gupta (dalam Pendit, 2002 :34) bahwa
pariwisata adalah gabungan gejala dan hubungan yang timbul dari interaksi wisatawan,
bisnis, pemerintah, tuan rumah serta masyarakat tuan rumah dalam proses menarik
dan melayani para wisatawan dan pengunjung lainnya.
Industri pariwisata adalah kumpulan dari macam-macam perusahaan yang
secara bersama-sama menghasilkan barang-barang dan jasa-jasa (goods and services)
yang dibutuhkan wisatawan selama dalam perjalanan dari negara asal ke negara tujuan
wisata. Industri ini tidak berdiri sendiri, tapi merupakan suatu industri dari serangkaian

24
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

perusahaan yang menghasilkan produk yang berbeda satu dengan yang lainnya,
berbeda dalam besar perusahaannya, lokasinya, organisasinya, dan fungsi serta metode
yang digunakan dalam pemasarannya.
Tujuan akhir dari pemasaran adalah agar orang membeli produk yang
ditawarkan. Untuk itu produk harus dibuat menarik dan agar orang tertarik untuk
membelinya maka produk itu harus tersedia. Untuk keperluan itu produk harus dinilai
dengan uang, sehingga dalam pemasaran juga harus menetapkan harga produk. Pada
dasarnya pemasaran pariwisata adalah usaha yang dilakukan untuk menarik wisatawan
lebih banyak datang, lebih lama tinggal dan lebih banyak membelanjakan uangnya di
suatu destinasi wisata. Kegiatan-kegiatan seperti itulah yang dirumuskan oleh ahli
ekonomi sebagai pemasaran.
Pemasaran pariwisata (tourism marketing) sangat kompleks sifatnya karena
produk yang ingin dipasarkan sangat terikat dengan supplier yang menghasilkannya,
instansi, organisasi atau lembaga pariwisata yang mengelolanya. Memasarkan produk
industri pariwisata tidak hanya sebatas koordinasi, tetapi diperlukan kerjasama yang
baik antara organisasi yang bertanggung jawab dalam pengembangan pariwisata
dengan semua pihak yang terlibat dan berkaitan dengan kegiatan pariwisata. Dalam
pandangan Yoety (2005 : 1) keberhasilan suatu program pemasaran dalam bidang
pemasaran sangat ditentukan oleh faktor kesamaan pandangan terhadap peranan
pariwisata bagi pembangunan daerah, karena itu sebelum program pemasaran
dilaksanakan harus ada komitmen dari semua unsur terkait bahwa pariwiasata
merupakan sektor ekonomi yang bersifat quick yielding dan merupakan agen of
develoment bagi daerah itu.
Dalam kaitannya dengan pariwisata, Salah Wahab, L.J. Crampon dan L.M
Rothfield (dalam Soekadijo, 1996 :218) menjabarkan pemasaran pariwisata sebagai
proses manajemen yang digunakan oleh organisasi-organisasi pariwisata nasional atau
perusahaan-perusahaan kepariwisataan untuk mengidentifikasikan wisatawan-
wisatawan yang mereka pilih, baik yang aktual maupun yang potensial, dan
berkomunikasi dengan mereka untuk menentukan dan mempengaruhi keinginan,
kebutuhan, motivasi, kesenangan dan ketidaksenangan (likes and dislikes) mereka
pada tingkat lokal, regional, nasional, dan internasional, dan untuk merumuskan dan
menyesuaikan produk pariwisata sesuai dengan situasi dengan maksud untuk mencapai
kepuasan wisatawan yang sebesar-besarnya, dan dengan demikian mencapai sasaran
mereka. Pemasaran merupakan berbagai macam tindakan yang dilakukan bersama-
sama dan kemudian menjadi unsur-unsur pemasaran yang disebut dengan marketing
mix. Dalam industri jasa layanan marketing mix meliputi : kebijakan product, price,
place, promotion, people, physical evidence dan ada beberapa ahli yang
menambahkannya dengan unsur process dan partnership.
Bertolak pada industri pariwisata merupakan industri yang berorientasi pada
jasa layanan dan mempunyai sifat yang sangat berlawanan dengan industri barang,
sangat subjektif, serta intangible maka dengan karakteristik yang dimilikinya tersebut
dalam pemasarannya harus memperhatikan strategi pemasaran dalam artian proses
segmenting, targeting, positioning dan marketing mix haruslah tepat. Berdasarkan
latar belakang tersebut, permasalahan yang akan dibahas dalam uraikan ini adalah
implikasi karakteristik produk wisata terhadap strategi pemasaran.

25
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

II. PEMBAHASAN
2.1. Produk Industri Pariwisata
Meningkatnya jumlah orang yang melakukan perjalanan wisata, berarti makin
banyak tuntutan kebutuhan yang harus tersedia. Semakin meningkatnya kebutuhan
tersebut mendorong pihak yang terlibat dalam industri pariwisata untuk berupaya
menyediakan produk wisata bagi orang-orang yang melakukan perjalanan wisata. S.
Medlik dan Middleton (1973) menjelaskan bahwa produk industri pariwisata terdiri dari
bermacam-macam unsur yang merupakan satu paket yang satu sama lain tidak
terpisah. Mereka berpendapat ada tiga unsur yang membentuk produk tersebut, yaitu :
1)Objek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang unik pada daerah-daerah
tertentu yang menjadi daya tarik orang-orang untuk datang berkunjung ke daerah
tersebut, 2)Fasilitas adalah segala sesuatu yang diperlukan pada tempat tujuan wisata
mencakup sarana pokok, sarana pelengkap, dan sarana penunjang kepariwisataan,
3)Aksesibilitas adalah keterjangkauan yang menghubungkan negara asal wisatawan
(tourist generating countries) dengan daerah tujuan wisata (tourist destination area)
serta keterjangkauan di tempat tujuan ke objek-objek pariwisata (local
transportation).
Bila ketiga unsur di atas dikembangkan sesuai dengan urutannya sejak
wisatawan meninggalkan tempat kediamannya, sampai di tempat tujuan dan kembali
ke rumah dimana ia biasanya tinggal, maka unsur pokok yang membentuk produk
wisata terdiri dari travel agent dan tour operator, perusahaan transportasi,
akomodasi, restoran dan bar, Objek dan atraksi wisata, Souvenir shop, handicraft
serta shopping centre, dan perusahaan lain yang berkaitan dengan kegiatan
kepariwisataan seperti kantor pos, bank/money changer, studio foto dan sebagainya.
Menyimak ragamnya produk yang dihasilkan industri pariwisata tersebut, benar
sesuai dengan yang dikatakan Sihite (2000 :56) bahwa keistimewaan dari industri
pariwisata jika ditinjau dari sudut ekonomi adalah produk yang dihasilkannya terpisah,
sedangkan permintaannya tergabung. Hal ini terlihat jelas dalam paket wisata. Sektor
pariwisata tidak sendiri melainkan lintas sektoral, dalam artinya yang sangat luas yaitu
antara instansi pemerintah dan antara unsur-unsur industri pariwisata. Banyak hal yang
memerlukan perhatian dalam kaitannya dengan pengembangan kepariwisataan di
antaranya menyangkut sarana dan prasarana kepariwisataan.

2.2 Karakteristik Produk Wisata


Produk dari usaha pariwisata adalah segala barang dan layanan jasa yang
dibutuhkan oleh wisatawan sejak berangkat meninggalkan tempat kediamannnya,
sampai ia kembali ke tempat tinggalnya. Sebagian besar produk usaha pariwisata
adalah jasa atau layanan, sehingga memiliki karakteristik yang berbeda dengan produk
yang dihasilkan oleh industri yang menghasilkan barang. Karakteristik produk usaha
pariwisata secara garis besar antara lain, produk wisata ( dalam arti luas yang bersifat
(intangible), tidak dapat dipindahkan (berbeda dengan industri barang biasa), proses
produksi dan konsumsi terjadi pada saat yang bersamaan, tidak dapat disimpan atau
ditimbun untuk diakumulasikan, hasil atau produk industri pariwisata bersifat sangat
subjektif, Permintaan terhadap produk sangat tidak tetap dan sangat dipengaruhi oleh
faktor-faktor non ekonomis dan kualitas produk sangat bergantung pada tenaga
manusia yang tidak dapat digantikan dengan mesin.

26
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

2.3 Implikasi Karakteristik Produk Wisata Terhadap Strategi Pemasaran


Secara jujur dapat dikatakan bahwa pemasaran pariwisata secara relatif
dirasakan lebih sulit dilakukan dibandingkan dengan memasarkan barang yang
berwujud (tangible product). Hal itu diakibatkan oleh karakteristik dari produk industri
pariwisata yang lebih bersifat intangible product. Selain sifatnya yang tidak nyata
tersebut, produk industri pariwisata juga inseperability atau tidak dapat dipisahkan
dari pemberi jasa itu; variability yang berarti sangat beraneka rupa serta perishability
dimana produk tidak bertahan lama sehingga tidak dapat disimpan untuk penjualan
atau penggunaan di kemudian hari.
Karakteristik yang dimiliki oleh produk wisata tersebut berimplikasi terhadap
strategi pemasaran. Sebagaimana dilihat bahwa pemasaran masa kini berorientasi
kepada konsumen dengan titik berat pada inovasi produk di satu sisi dan kebutuhan
konsumen di lain pihak. Keberhasilan dalam memasarkan produk yang abstrak tersebut
sangat tergantung pada strategi pemasaran yang diterapkan. Itulah sebabnya maka
perlu dilakukan segmenting, targeting, positioning dan marketing mix.

2.3.1 Segmenting
Dalam sebuah pasar wisata atau daerah sumber wisatawan ada golongan-
golongan atau kelompok-kelompok orang (segmen/pasar), yang karena kondisinya yang
berbeda-beda dalam usaha pemasaran harus didekati secara berbeda-beda pula. Oleh
karena itu pemasaran yang efektif harus disesuaikan dengan segmen/pangsa pasar
kepariwisataan yang terdiri atas orang-orang dengan kondisi yang sama. Artinya,
analisis pasar diperlukan untuk menentukan potensi pasar yaitu menentukan jenis
permintaan berupa bentuk dan harga yang dikehendaki pasar, ditambah dengan
keputusan pasar apa yang akan digarap.
Secara sederhana pengertian segmentasi pasar adalah membagi-bagi pasar
sesuai dengan sifat dan karakterisitik pasar atau sesuai perilaku konsumen yang
terdapat dalam pasar, yaitu kelompok-kelompok orang calon konsumen yang
berdasarkan indikator geografis, sosio-profesional, dan indikator motivasi wisata
memiliki permintaan semacam. Segmentasi pasar ini diperlukan karena : (1) pasar yang
bersifat heterogen, (2) untuk menentukan potensi penjualan dan provit, serta (3)
menentukan intensitas penjualan.

2.3.2 Targeting
Sesudah segmentasi pasar teridentifikasi dan profilnya terbentuk, sudah mulai
bisa ditentukan satu segmen atau beberapa segmen yang akan diambil dan
dipersiapkan pelayanannya. Keputusan tentang target pasar merupakan bagian dari
strategi pemasaran yang memberikan pijakan untuk menentukan tujuan dan
pengembangan strategi positioning. Oleh karena itu dalam aplikasinya pemilihan
target pasar merupakan aktivitas yang sangat kompleks dan perlu dilakukan konsultasi
dengan bagian perencanaan pemasaran strategis. Pemilihan target pasar bagi suatu
produk terdiri atas beberapa alternatif yang meliputi :
1. Un-differentiated market (pasar dianggap sebagai kumpulan orang-orang dengan
menekankan pada karakteristik umum dan mengharapkan semua orang akan
membeli produk yang ditawarkan)
2. Concentrated market (single segmenting karena hanya mengharapkan kelompok
atau segmen tertentu saja yang diharapkan membeli produk yang akan
ditawarkan)

27
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

3. Extensive segmenting (pasar homogen itu dibagi dalam bermacam-macam segmen


dasar dan selanjutnya produk wisata ditawarkan kepada segmen pasar yang
berbeda dengan strategi pemasaran yang berbeda pula)
4. Selective segmenting (berbagai segmen pasar yang variatif seperti pada extensive
segmenting, perlu dipilih atau diseleksi segmen pasar yang dianggap memiliki
potensi pasar yang besar).

2.3.3 Positioning
Setelah menentukan target pasar, langkah selanjutnya yang dilakukan adalah
memposisikan (positioning) suatu produk pada target pasar yang diharapkan datang.
Ketika melaksanakan suatu positioning suatu industri pariwisata harus terus mencari
keinginan dan kebutuhan wisatawan yang belum terpenuhi oleh suatu daerah atau
dengan pemaknaan yang berbeda menghindari memposisikan diri di antara segmen
yang ada. Jika kondisi mengharuskan untuk melayani dua segmen yang sama sekaligus,
hindari menggunakan strategi yang sama karena strategi yang berhasil dengan baik
bagi suatu segmen tertentu tidak bisa dialihkan pada segmen lain.

2.3.4 Marketing Mix


1. Produk
Setelah mengadakan penelitian pasar hal pertama yang dilakukan dalam
kegiatan pemasaran adalah membuat produk sesuai dengan permintaan pasar dan
motif perjalanan wisata. Produk wisata cenderung bersifat abstrak dan tidak
mempunyai standar yang baku dalam penilainnya maka produk yang dihasilkan
harus unik, khas, berbeda dan harus selalu dijaga mutunya. Keaslian dari produk
yang ditawarkan harus dipertahankan sehingga para wisatawan hanya dapat
melihatnya atau menikmatinya di tempat tersebut dan menyaksikannya secara
natural. Selain itu keseluruhan pelayanan yang diberikan hendaknya merupakan
suatu ’tampilan’ yang berbeda tetapi memuaskan bagi wisatawan.
’Tampilan’ produk yang tidak berhasil harus segera diperbaiki untuk
mencari ’differential advantage’ yaitu keuntungan dalam perbedaan dengan
mengadakan perubahan ’tampilan’ produk yang dihasilkan. Bilamana produk yang
ditawarkan oleh industri pariwisata dianggap sama oleh wisatawan maka
perbedaan yang menguntungkan terletak pada’tampilan produk’ yang dimiliki.
Oleh karena itu diperlukan suatu kreatifitas mengolah suatu produk wisata
sedemikian rupa sehingga menarik untuk dikunjungi wisatawan.
Pada prakteknya kebijaksanaan produk harus diingat juga bahwa suatu
produk mempunyai umur tertentu. Produk yang semula menarik makin lama makin
turun mutunya dan pada akhirnya ditinggalkan. Jika wisatawan yang berkunjung
ke tempat tersebut mengalami penurunan maka harus segera melakukan
peremajaan sebelum mengalami masa stagnasi.

2. Harga
Harga yang dianggap pantas memberikan kepuasan yang optimal kepada
wisatawan. Kadangkala suatu paket wisata dapat saja mahal dibandingkan dengan
harga yang berlaku di destinasi lain, tetapi sepanjang kualitas paket wisata jauh
lebih unggul bagi wisatawan justru lebih berkesan. Kepuasan wisatawan dengan
harga yang kompetitif tersebut bisa dicapai apabila suatu destinasi dapat
memberikan kemudahan kepada wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata,

28
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

objek dan daya tarik yang dimiliki suatu destinasi sesuai dengan ekspektasi
wisatawan dan kualitas pelayanan yang diberikan sesuai dengan yang diharapkan
atau bahkan lebih dari yang mereka inginkan.
Jika dibandingkan dengan destinasi lain, harga produk wisata di Indonesia
masuk dalam kategori murah karena rendahnya nilai mata uang rupiah
dibandingkan dengan dollar. Dari segi pemasaran ini merupakan peluang. Untuk
menghindari kesan produk yang ditawarkan murahan maka perlu ditetapkan harga
yang sesuai dengan mata uang calon wisatawan yang disasar. Namun
konsekuensinya produk yang dihasilkan harus terstandarisasi.

3. Distribusi
Salah satu ciri dari produk wisata adalah tidak dapat dipindahkan.
Implikasinya dalam bidang pemasaran calon wisatawan harus datang dan penghasil
produk wisata harus mendatangkan mereka dengan alat transportasi yang canggih,
memberikan kenyamanan, jadwal kedatangan dan pemberangkatan yang tepat
waktu dan bandara yang memiliki fasilitas yang komplit termasuk untuk orang
cacat. Hal mendasar lainnya adalah penggunaan teknologi tinggi dan sumber daya
manusia pariwisata yang memiliki kompetensi dalam hal pengetahuan,
ketrampilan dan sikap yang baik dalam melayani wisatawan.
Produk wisata tidak dapat didistribusikan secara fisik. Kebanyakan produk
wisata merupakan suatu gambaran yang akan ditemui oleh wisatawan di daerah
tujuan wisata. Gambaran tentang produk wisata itulah yang disebut dengan citra
pariwisata (tourist image). Citra pariwisata tersebut yang didistribusikan dalam
bentuk audio, visual atau kombinasi antara keduanya. Citra pariwisata ini harus
sesuai dengan apa yang diharapkan oleh konsumen. Citra yang tidak sesuai dengan
kenyataannya akan menimbulkan kekecewaan wisatawan. Membentuk citra yang
bagus bukan pekerjaan yang mudah karena terkait dengan karakteristik produk
wisata yang sangat subjektif dan tidak mempunyai standar baku. Impilikasinya
jelas terlihat pada tidak semua wisatawan memberikan penilaian yang sama dan
menyukai produk yang dijual.
Distribusi produk wisata bisa dilakukan secara langsung oleh produsen jasa
angkutan wisata, akomodasi dan atraksi kepada wisatawan, tour operator dan
organisasi-organisasi tertentu. Selain itu ada juga distribusi yang tidak langsung
ialah dari tour operator kepada konsumen melalui agen perjalanan atau
cabangnya sendiri, dan dari organisasi ke konsumen secara langsung atau melalui
agen perjalanan.
Dalam bisnis pariwisata yang produknya intangibility, inseperability,
variability dan perishability peranan dari travel agent, biro perjalanan dan tour
operator sangat penting. Dapat saja calon konsumen membeli sendiri produk
secara eceran tapi menghabiskan banyak energi, waktu dan biaya. Jauh lebih
murah dan menguntungkan jika melakukan perjalanan melalui tour operator.
Suatu destinasi yang tidak menunjuk perantara dalam menginformasikan produk
atau menjual paket wisata tidak akan memperoleh hasil yang maksimal. Kegiatan
pariwisata akan lumpuh bila para perantara ini tidak mampu mengemas produk
yang inovatif.

29
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

4. Promosi
Unsur keempat dari bauran pemasaran adalah promosi. Promosi ini tidak
bisa diabaikan mengingat sifat produk wisata yang tidak dapat dicicipi. Promosi
terdiri dari bermacam-macam komunikasi yang dilakukan untuk menyampaikan
informasi dan meyakinkan atau membujuk calon wisatawan potensial untuk
melakukan perjalanan wisata. Adapun macam kegiatan promosi yang dilakukan
adalah advertising, personal selling, sales promotion, brochure printing, public
relation dan publicity. Tanpa kegiatan promosi, sebaik apapun kualitas yang
dimiliki suatu produk, semurah apapun paket wisata yang ditawarkan dan dijual
oleh tour operator, travel agent atau biro perjalanan ternama, tetapi jika tidak
diketahui oleh khayalak ramai maka akan sia-sia.
Calon wisatawan dari berbagai negara asal perlu diberikan informasi yang
lengkap terutama tentang aksesibilitas, sarana dan prasarana pariwisata, serta
objek dan daya tarik wisata yang dapat dilakukan (something to do), dapat dilihat
(something to see), dan dapat dibeli (something to buy). Apabila informasi
tentang hal tersebut efektif dan mencapai sasaran maka akan tercapai sasaran
dari promosi yaitu lebih banyak wisatawan datang ke suatu destinasi, lebih lama
tinggal dan lebih banyak mereka membelanjakan uangnya.
Kegiatan promosi yang dilakukan harus dilakukan secara berkesinambungan
dan menggunakan media promosi yang bervariasi dan terkini. Yang perlu
mendapat perhatian juga seberapa sering promosi itu harus dilakukan. Bagi suatu
destinasi yang masih dalam tahap introduction, intensitas promosi harus
ditingkatkan dengan tujuan agar wisatawan lebih banyak mengetahui keberadaan
objek tersebut. Suatu destinasi yang berada pada tahap growth promosi tidak
perlu gencar dilakukan. Yang paling penting dipahami adalah tujuan promosi
destinasi yang berada pada fase ini menanamkan image pada wisatawan dan
membangkitkan kenangan bagi wisatawan yang pernah mengunjunginya. Namun
daerah yang berada pada fase saturation atau decline promosi juga harus mulai
digalakkan lagi untuk memperkenalkan produk inovatif yang membedakannya
dengan produk yang sebelumnya.

2.3.5 Jasa Purnajual


Wisatawan sesudah menikmati perjalanannya mendapatkan pengalaman yang
beraneka ragam. Tugas kegiatan purnajual di bidang pariwisata adalah melakukan
tindakan-tindakan yang dapat memperpanjang atau membangkitkan kembali rasa
senang dan puas wisatawan yang diperoleh saat melakukan perjalanan wisata dan
membangkitkan nostalgia akan pengalaman tersebut.
Usaha untuk membangkitkan kembali kenangan wisatawan tersebut dilakukan
dengan menyediakan cinderamata. Oleh karena itu cenderamata yang diperoleh
wisatawan hendaknya tidak mudah rusak yang menyebabkan wisatawan ketika
melihatnya membangkitkan kembali pengalamannya di masa lampau. Hal lainpun bisa
dilakukan dengan membuat ’kelab’ (club) di suatu daerah tertentu bagi wisatawan
yang melakukan kegiatan wisata yang khas. Anggota kelab pada kurun waktu tertentu
mengadakan reuni atau kegiatan lainnya. Saat mereka berkumpul tersebut pengalaman
lama muncul kembali. Contoh dari pelayanan purnajual ini dilakukan Club Med dengan
membentuk ’Club Mediterranee’.
Kegiatan untuk memelihara ingatan wisatawan terhadap pengalaman masa
lalunya memiliki nilai pemasaran. Rasa nostalgia yang dimiliki seseorang cenderung

30
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

menjadi kuat yang mendorongnya untuk melakukan perjalanan yang sama. Kondisi
inilah yang dimanfaatkan biro perjalanan untuk mengadakan publikasi dan promosi
yang bertujuan merangsang mereka mengadakan perjalanan kembali. Jasa purnajual
ini menuntaskan semua aktivitas pemasaran.

III. SIMPULAN DAN SARAN


1.1 Simpulan
Implikasi karakteristik produk wisata terhadap strategi pemasaran tidak dapat
dipisahkan dari keberlangsungan industri pariwisata yang juga tidak dapat berdiri
sendiri melainkan lintas sektoral. Produk yang dihasilkan oleh suatu destinasi harus
dijual, dengan mengedepankan pemasaran dimulai dengan identifikasi pasar yaitu
mengetahui keinginan, kebutuhan, dan permintaan wisatawan terhadap produk.
Kemudian penentuan satu segmen atau beberapa segmen yang akan diambil lalu
memposisikan (positioning) suatu produk pada target pasar yang diharapkan datang.
Hal yang terakhir yaitu melaksanakan bauran pemasaran yang meliputi kebijakan
produk, harga, distribusi-promosi dan jasa purnajual sebagai aktivitas yang
menuntaskan semua aktivitas pemasaran.

1.2 Saran
Mengingat kompleksitas dan uniknya karakteristik yang dimiliki oleh produk
wisata maka harus diterapkan strategi pemasaran yang tepat. Berkaitan dengan hal
tersebut saran yang diberikan yaitu:
1. Dalam melakukan pemasaran hendaknya memulai dengan penentuan pasar.
Selama ini kegagalan pemasaran karena pemasar memulainya dengan produk
bukan pasar.
2. Indonesia memiliki keanekaragaman produk wisata namun dana untuk pengelolaan
terbatas sehingga target pasar harus jelas.
3. Perlunya mengintensifkan pelayanan purnajual karena jika layanan purna jual ini
sukses dilakukan maka akan mendatangkan new market terutama lewat word to
mouth promotion.
4. Pemasaran yang berhasil didukung oleh wisatawan dan Sdm yang berkualitas,
produk yang berkelanjutan dan adanya keseimbangan antara wisatawan,
pengusaha dan masyarakat. Untuk mencapai hal tersebut, industri pariwisata
hendaknya mempersiapkan sumber daya manusia yang berkompetensi tinggi,
melakukan diversifikasi produk, memberikan harga yang kompetitif dan promosi
yang dilakukan secara intensif.

KEPUSTAKAAN

Medlik, S dan Middleton. 1973. The Product of Formulation. Association International


d’Expertes du Tourism (AIEST).
Pendit, Nyoman S. 2002. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Edisi Terbaru.
Jakarta: PT PradnyaParamita.
Sihite, Richard. 2000. Tourism Industry (Kepariwisataan). Surabaya: Penerbit SIC.
Soekadijo, R.G.1996. Anatomi Pariwisata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Yoety, Oka.A.2005. Perencanaan Strategis Pemasaran Daerah Tujuan Wisata. Edisi
kedua. Jakarta: Pradnya Paramita.

31
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

ANALISIS PARTISIPASI PEREMPUAN BEKERJA


PADA HOTEL BERBINTANG DI KABUPATEN BADUNG

I Nyoman Sudiarta
sudiarta@par.unud.ac.id
Dosen Fakultas Pariwisata Unud

Abstract

Research about men and women labour participation in various sectors


specially in tourism is importance to be done. Considering participation woman
comparing with men labour is 1 :3 . With research about woman participation at hotel
industry, in this case at 1 – 5 star hotel in regency of Badung, will able to made a
standard of recruitment and also various other analysis related to the woman labour.
The result of this research show that level of woman participation at star hotel in
regency of Badung equal to 25 % compared to the men is equal to 75 %. While by
statistic analysis show that in simultan way; variable of age, education, old, length of
work, and marriage status having an effect on reality motivation to work.
Furthermore by parsial analysis, length of work has not effect on reality to
motivation work woman labour participation. Fourth correlation of free variables
such as age, education, old, marriage status and length of work is strong enough to
the woman labour motivation, with coefficient of determination (R2) = 0,479, that
mean variation of work woman labour participaion at hotel in regency of Badung only
47,9% becaused by education, old, length of work, and marriage status, and 52,1%
becaused by other varivabels, such as earning of family, number of children or family
but not indicated ini this research

Keywords: women participation, hotel industry and work motivation.

I. LATAR BELAKANG
Permasalahan serius yang dihadapi negara-negara berkembang termasuk
Indonesia dan juga Bali sebagai satu kesatuan geografis wilayah Indonesia adalah
bagaimana meningkatkan kesempatan kerja dalam rangka mengatasi pengangguran
yang terus meningkat dewasa ini. Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah, seperti
seminar dengan membahas permasalahan ketenagakerjaan atau sumber daya manusia
baik yang bersakala nasional maupun internasional terutama kaitannya dengan sumber
daya manusia dibidang pariwisata dan perhotelan.
Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) mengamanatkan bahwa pembangunan
pariwisata, masalah sumber daya manusia dan pendidikan serta latihan merupakan
salah satu masalah penting yang memerlukan perhatian dan garapan yang serius baik
oleh pemerintah maupun swasta yang menekuni bidang ketenaga kerjaan dan
pariwisata, terutama kaitannya dengan menyongsong era kesejagatan dimana
persaingan akan semakin ketat, sehingga diperlukan sumber daya manusia yang
profesional.

32
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Jumlah kamar hotel berbintang di kabupaten Badung sampai dengan tahun 2004
adalah sebanyak 9.117 kamar dengan kebutuhan tenaga kerja sebanyak 11.315 orang
yang terdiri dari 8.523 orang laki-laki dan 2.792 adalah perempuan, sedangkan di
kabupaten Badung terdapat 3.468 kamar hotel berbintang dengan kebutuhan tenaga
kerja sebanyak 3.918 orang, terdiri dari 3.116 orang pria dan 802 orang wanita.Dengan
demikian kabupaten Badung merupakan barometer bagi pembangunan kepariwisataan
di Bali dan barometer pula bagi terserapnya tenaga kerja wanita bekerja pada sektor
pariwisata. Walaupun pada kenyataanya jumlah tenaga kerja wanita yang bekerja pada
usaha pariwisata lebih kecil dibandingkan dengan tenaga kerja pria.
Tingkat partisipasi wanita dalam pembangunan pariwisata Bali pada usaha
pariwisata hanya sebesar 26%, angka ini masih di bawah harapan, dibandingkan dengan
keadaan angkatan kerja Bali menurut jenis kelamin, dimana persentase kaum
perempuan sebesar 43 % (Oka, 2004).

II. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan atas latar belakang tersebut, maka dapat dirumuskan


permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan pada hotel berbintang di
Kabupaten Badung?
2. Bagaimana pengaruh umur, pendidikan, lama kerja, serta status perkawinan
terhadap motivasi tenaga kerja perempuan pada hotel berbintang di Kabupaten
Badung?
Berdasarkan uraian tersebut dapat dikemukakan hipotesis atau dugaan
sementara bahwa : umur, pendidikan, lama kerja, serta status perkawinan
berpengaruh terhadap motivasi kerja tenaga kerja perempuan pada hotel berbintang
di Kabupaten Badung.

III. TUJUAN PENELITIAN


1. Untuk mengetahui tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan pada hotel
berbintang di kabupaten Badung.
2. Untuk mengetahui pengaruh umur, pendidikan, pendapatan keluarga, lama kerja,
serta status perkawinan terhadap motivasi tenaga kerja perempuan hotel
berbintang di kabupaten Badung.

IV. TINJAUAN PUSTAKA


4.1. Konsep Partisipasi Perempuan
Konsep tentang partisipasi menyangkut masalah kemauan, kemampuan dan
kesempatan, karena partisipasi harus memenuhi beberapa syarat yaitu : 1) harus ada
kemampuan untuk berpartisipasi, 2) harus ada kemauan untuk berpartisipasi, dan 3)
harus ada kesempatan terbuka untuk berpartisipasi. Dari syarat-syarat tersebut,
disamping kesempatan faktor manusia yaitu kemampuan dan kemauan memegang
peranan penting (Parwati, dkk, 1995)
Partisipasi perempuan dalam pembangunan (women in development),
didasarkan pada keyakinan bahwa perempuan adalah sumber daya yang kurang
dimanfaatkan, yang sebenarnya dapat mempunyai kontribusi langsung terhadap
pembangunan ekonomi (Mitchell, dkk, 2000).

33
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Motivasi atau dorongan seseorang, baik laki-laki maupun perempuan untuk


memilih atau bekerja dalam sektor pariwisata, sangat dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Disamping faktor ekstern seperti lingkungan kerja, pemimpin, kepemimpinan
dan sebagainya, juga ditentukan oleh faktor intern yang melekat pada setiap orang
seperti: pembawaan, tingkat pendidikan, pengalaman masa lampau, keinginan atau
harapan masa depan (Wahyjosumidjo, 1987).

4.2. Konsep Hotel


Sesuai dengan keputusan Menteri Perhubungan No.PM.10/PW.301/PHB-77
dinyatakan bahwa hotel adalah suatu bentuk akomodasi yang dikelola secara
komersial, disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan penginapan
berikut makan dan minum (Dimyanti, 1993:31).
Selanjutnya dalam peraturan pokok pengusaha hotel Indonesia, tentang hotel
ini tercantum batasan bahwa hotel adalah suatu jenis akomodasi yang mempergunakan
sebagian atau kesuluruhan bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, serta jasa
lainnya bagi wisatawan, yang dikelola secara komersial, serta memenuhi ketentuan
persyaratan di dalam keputusan (Surat keputusan Menteri Pariwisata Pos dan
Telekomunikasi RI No. KM 94/HK/103/MMPT/87).
Adapun penggolongan kelas hotel menurut Keputusan Menteri Kebudayaan dan
Pariwisata Nomor KM.3/HK.001/MKP.02 tentang penggolongan kelas hotel, hotel di
Indonesia menurut jenisnya dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu: golongan
kelas hotel berbintang dan golongan kelas hotel melati. Golongan kelas menurut
peraturan ini dapat dibagi atas 5 (lima) penjenjangan kelas yaitu : hotel bintang 1
(satu) sampai dengan hotel bintang 5 (lima).

V. METODE PENELITIAN
5.1. Lokasi Penelitian
Pemilihan kabupaten Badung sebagai lokasi penelitian karena beberapa
pertimbangan: 1). Kabupaten Badung menjadi barometer pembangunan kepariwisataan
di Bali, terutama pembangunan hotel berbintang dengan total hotel dan kamar masing-
masing 94 unit dan 15.612 .218 kamar. Dari keseluruhan jumlah hotel di Bali sebanyak
152 unit dan 20.293 kamar (Dinas Pariwisata Provinsi Bali, 2006).

5.2. Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan, wawancara, kuesioner dan observasi ke hotel bintang 1,
2, 3 ,4 dan 5 yang menjdi sample dalam penelitian ini.

5.3. Populasi dan Sampel Penelitian


Populasi penelitian adalah tenaga kerja perempuan yang bekerja pada hotel
berbintang satu sampai dengan hotel bintang lima di kabupaten Badung Karena data
tentang jumlah tenaga kerja wanita tidak tersedia pada tahun 2007 sehinga digunakan
data berdasarkan tahun 2004 “Monitoring Tenaga Kerja Usaha Pariwisata” oleh Dinas
Pariwisata Provinsi Bali. Penentuan jumlah sampel menggunakan model Supranto yang
menyatakan bahwa jumlah sampel atau responden 5-10 kali jumlah indikator dalam
kuesioner. Karena penelitian ini menggunakan empat indikator maka jumlah sampel
yang diambil sebanyak 40 responden dan dinyatakan sebagai sampel besar (Supranto)
sehingga memenuhi syarat representatif.

34
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Sampel atau responden diambil secara kuota yaitu memberikan jatah masing-
masing sepuluh responden pada masing masing katagori hotel. Karena katagori hotel
sebanyak lima maka sampel diambil sebanyak 50 responden. Karena kuesioner yang
terisi tidak semuanya memenuhi syarat, lima kuesioner masing-masing pada hotel
berbintang satu dan dua tidak terisi dengan benar maka, kuesioner yang dapat diolah
hanya sebanyak 40 lembar (40 responden). Sehingga data responden yang dapat diolah
sebanyak 40 orang. Namun masih memenuhi persayaratan sebagai sampel besar.

5.4. Analisis Data


Analisis Tingkat Partisipasi Tenaga Kerja Perempuan
Untuk mengkaji tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan pada hotel
berbintang di kabupaten Badung, dipergunakan data tenaga kerja yang bekerja atau
berpartisipasi pada hotel berbintang di kabupaten Badung tahun 2004. Data tersebut
dianalisis secara deskriptif kuantitatif perbandingan dengan rumus, sebagai berikut :

JTKP
TPKP = × 100%
JTKL + JTKP

Keterangan :
TPTKP = Tingkat Partisipasi Tenaga Kerja Perempuan
JTKP = Jumlah Tenaga Kerja Perempuan
JTKL = Jumlah Tenaga Kerja Laki-Laki

Analisis Pengaruh Umur, Pendidikan, Lama Kerja dan Status Perkawinan terhadap
Motivasi Kerja Tenaga Kerja Perempuan pada Hotel Berbintang di Kabupaten
Badung
Untuk mengetahui pengaruh variabel X1, X2, X3 dan X4 terhadap motivasi kerja
tenaga kerja perempuan berpartisipasi pada hotel berbintang di Kabupaten Badung,
dipergunakan analisis regresi berganda dengan menghitung koefisien regresi berganda
dari variabel-variabel yang diteliti.
Adapun model persamaan regresi yang dipergunakan dalam membahas
penelitian ini sebagai berikut:

Yi = b0 + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4

Dimana :
Yi = Motivasi kerja tenaga kerja perempuan, merupakan dummy variabel
(motivasi ekonomi = 1 dan motivasi non ekonomi = 0)
X1 = Umur ( tahun)
X2 = Pendidikan (Pendidikan terakhir)
X3 = Lama kerja (tahun)
X4 = Status perkawinan (kawin = 1, tidak kawin = 0)
bi = Koefisien regresi (i = 1,2,3,4)
b0 = Intersep

Untuk memudahkan didalam menganalis data hasil penelitian, peneliti dibantu


dengan mempergunakan program aplikasi komputer Statistical Package for Social
Science (SPSS) 14.00 for Windows.

35
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN


5.2. Analisis Tingkat Partisipasi Tenaga Kerja Perempuan
Tingkat partisipasi perempuan bekerja pada hotel berbintang di kabupaten
Badung adalah sebesar 24,67% (dibulatkan menjadi 25%), sedangkan partisipasi laki-laki
sebesar 75,32% (dibulatkan menjadi 75%). Yang berarti masih terjadi ketimpangan
partisipasi antara perempuan dan laki-laki. Bila dibandingkan dengan keseluruhan
angkatan kerja perempuan di Bali sebesar 43% dan partisipasi perempuan dalam
pembangunan Bali sebesar 26%. Namun penelitian Oka, 2004 menjelaskan bahwa
tingkat partisipasi perempuan pada hotel berbintang di kota Denpasar (20%) masih
lebih rendah dengan tingkat partisipasi perempuan bekerja pada hotel berbintang di
kabupaten Badung (25%),.
Analisis Pengaruh Umur (X1), Pendidikan (X2),Lama Kerja (X3), dan Status
Perkawinan (X4) Terhadap Motivasi Kerja (Y) Tenaga Kerja Perempuan pada Hotel
Berbintang di kabupaten Badung

5.2. Analisis Statistik


Untuk mengetahui pengaruh variabel X1, X2, X3 dan X4 terhadap motivasi kerja
tenaga kerja perempuan berpartisipasi pada hotel berbintang di Kabupaten Badung,
dipergunakan analisis regresi berganda dengan menghitung koefisien regresi berganda
dari variabel-variabel yang diteliti.
Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan program SPSS (Statistial Package
for Social Science) 14.00 for Windows maka diperoleh fungsi regresi berganda sebagai
berikut :

Y = 0,276 + 0,004X1 + 0,014X2 – 0,011X3 + 0,512X4


(0,299) (0,576) (-0,548) (4,913)*
R2 = 0,479
r = 0,692
* = signifikan pada derajat kebebasan 0.05
( ) = angka dalam kurung adalah nilai t

Berdasarkan hasil uji hipotesis analisis variasi (ANOVA), diperoleh koefisien F


sebesar 8,035 pada derajat kebebasan 5%. Hal ini menunjukkan bahwa secara simultan
variabel umur, pendidikan, lama kerja, dan status perkawinan (X1, X2, X3, X4,)
berpengaruh nyata terhadap motivasi kerja tenaga kerja perempuan berpartisipasi
pada hotel berbintang di Kabupaten Badung,
Koefisien b0 sebesar 0,276 adalah konstanta yang artinya jika variabel X1, X2,
X3, X4 = 0, maka nilai Y = 0,276. Angka ini menunjukkan jumlah motivasi kerja tenaga
kerja perempuan berpartisipasi pada hotel berbintang di Kabupaten Badung.
Koefisien b1 sebesar 0,004 tidak signifikan pada level 5% artinya terdapat
pengaruh tidak nyata positif variabel umur (X1) terhadap motivasi kerja tenaga kerja
perempuan. Jika umur mereka meningkat, akan meningkatkan motivasi kerja mereka
untuk bepartisipasi pada hotel berbintang di Kabupaten Badung. Dengan peningkatan
umur tenaga kerja perempuan, maka kebutuhan mereka juga mengalami peningkatan
seiring dengan perkembangan jaman sehingga motivasi kerja mereka untuk
berpartisipasi pada hotel berbintang juga semakin meningkat dalam usaha memenuhi
kebutuhannya,.

36
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Koefisien b2 sebesar 0,014 yang tidak signifikan pada level 5% berarti terdapat
pengaruh tidak nyata positif variabel pendidikan (X2) terhadap motivasi kerja tenaga
kerja perempuan. Jika pendidikan mereka meningkat, maka akan meningkatkan
motivasi kerja mereka untuk bekerja pada hotel berbintang di Kabupaten Badung.
Dengan meningkatnya pendidikan, bertambah pula wawasan mereka sehingga dapat
memotivasi mereka berpartisipasi pada hotel berbintang baik dengan alasan untuk
menambah pendapatan keluarga, meningkatkan status sosial, keinginan berkreasi
ataupun menghilangkan kebosanan, (Lampiran 3).
Koefisien b3 sebesar -0,011 yang tidak signifikan pada level 5% berarti terdapat
pengaruh tidak nyata negatif variabel lama kerja (X3) terhadap motivasi kerja tenaga
kerja perempuan. Jika lama kerja mereka meningkat, maka akan menurunkan motivasi
kerja mereka untuk bepartisipasi pada hotel berbintang di Kabupaten Badung. Dengan
terjadinya peningkatan lama kerja tenaga kerja perempuan, maka membuat mereka
merasa jenuh atau bosan bekerja pada hotel berbintang. Mereka bertahan bekerja di
hotel hal ini karena kebutuhan keluarga yang semakin meningkat.
Koefisien b4 sebesar 0,512 yang signifikan pada level 5% berarti terdapat
pengaruh nyata positif variabel status perkawinan (X4) terhadap motivasi kerja tenaga
kerja perempuan. Jika status mereka berubah dari tidak kawin menjadi kawin, maka
akan meningkatkan motivasi kerja mereka untuk bekerja pada hotel berbintang di
Kabupaten Badung, karena status perkawinan dapat memotivasi mereka untuk
berpartisipasi pada hotel berbintang, baik untuk membantu menambah pendapatan
keluarga atau untuk meningkatkan status keluarga.
Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh besarnya koefisien determinasi
berganda (R2) = 0,479 yang berarti variasi motivasi kerja tenaga kerja perempuan
berpartisipasi pada hotel berbintang di Kabupaten Badung hanya 47,9% disebabkan
oleh variasi variabel umur, pendidikan, lama kerja, dan status perkawinan. Sedangkan
52,1% disebabkan oleh variasi variabel lain seperti jenis pekerjaan suami, jumlah
tanggungan keluarga atau masih adanya pandangan yang keliru terhadap tenaga kerja
perempuan yang bekerja pada hotel berbintang, yang tidak diperhitungkan dalam
penelitian ini.
Korelasi keempat variabel bebas (umur, pendidikan, lama kerja dan status
perkawinan) cukup kuat terhadap motivasi tenaga kerja perempuan bekerja pada hotel
berbintang di Kabupaten Badung. Hal ini ditunjukkan oleh hasil pengolahan data
dengan program SPSS dimana nilai r diperoleh sebesar 0,692.

VII. SIMPULAN DAN SARAN


5.2. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian partisipasi tenaga kerja perempuan pada hotel
berbintang di kabupaten Badung, dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan pada hotel berbintang di kabupaten
Badung sebesar 25% lebih rendah dibandingkan dengan tingkat partisipasi laki-
lakinya, yaitu sebesar 75%.
2. Secara simultan variabel umur, pendidikan, lama kerja, dan status perkawinan (X1,
X2, X3, X4,) berpengaruh nyata terhadap motivasi kerja tenaga kerja perempuan
berpartisipasi pada hotel berbintang di Kabupaten Badung. Sedangkan secara
parsial lama kerja (X3) tidak berpengaruh nyata terhadap motivasi kerja tenaga
kerja perempuan berpartisipasi pada hotel berbintang di kabupaten Badung.
Korelasi keempat variabel bebas (umur, pendidikan, lama kerja dan status

37
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

perkawinan) cukup kuat terhadap motivasi tenaga kerja perempuan bekerja pada
hotel berbintang Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh besarnya koefisien
determinasi berganda (R2) = 0,479 yang berarti variasi motivasi kerja tenaga kerja
perempuan berpartisipasi pada hotel berbintang di Kabupaten Badung hanya 47,9%
disebabkan oleh variasi variabel variabel umur, pendidikan, lama kerja, dan status
perkawinan. Sedangkan 52,1% disebabkan oleh variasi variabel lain seperti jenis
pekerjaan suami, jumlah tanggungan keluarga atau masih adanya pandangan yang
keliru terhadap tenaga kerja perempuan yang bekerja pada hotel berbintang, yang
tidak diperhitungkan dalam penelitian ini,

5.2. Saran
Berdasarkan simpulan tersebut, dapat dikemukakan beberapa saran sebagai
berikut :
1. Agar pemerintah, serta pelaku pelaku pariwisata lainnya terutama pelaku dalam
sektor perhotelan merekrut lebih banyak lagi tenaga kerja perempuan untuk dapat
berpartisipasi sesuai dengan kemampuan serta ciri-ciri phisik yang melekat
padanya.
2. Agar pemerintah maupun pelaku pariwisata lainnya memberdayakan tenaga kerja
perempuan dengan memberikan penghargaan yang lebih baik baik lagi baik dari
sisi ekonomi (kesejahteraan) maupun non ekonomi (keterampilan dan
pengetahuan) sehingga akan meningkatkan semangat dan gairah kerja mereka.

KEPUSTAKAAN

Ambar Teguh Sulistiyani & Rosidah, Manajemen Sumber Daya Manusia, Grahya Ilmu,
2003, Jogyakarta
Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Pendataan Dan Monitoring Tenaga Kerja Pariwisata Bali
Tahun 2004, Denpasar.
Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Bali Tourism Statistics – Statistik Pariwisata Bali 2004,
Denpasar.
Endar Suigiarto, Sri Sulartiningrum, Pengantar Akomodasi dan Restoran, Gramedia
Pustaka Utama, 2003, Jakarta.
Erawan, I N., 1984, Pariwisata Dan Pemanfaatan Tenaga Kerja Wanita Di Pedesaan,
Denpasar: FE UNUD.
Hasibuan, Malayu, 2003, Managemen Sumber Daya Manusia, Edisi Revisi, Jakarta:
Penerbit Bumi Aksara.
Koentjaraningrat.,2004, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: PT.
Gramedia.
Mudita, 2004, Faktor Sosial, Ekonomi dan Budaya yang Memotivasi Sumber Daya
Manusia Bali Bekerja di Sektor Pariwisata, Denpasar: Program Pasca Sarjana
UNUD.
Pendit, N. S., 2001, Ilmu Pariwisata Suatu Pengantar, Cetakan 9, Jakarta: Penerbit
Pradnya Paramita.
Pitana, I G., 1999a, Pelangi Pariwisata Bali, Denpasar: Penerbit Bali Post.
Sajogyo, Pujiwati., 1981, Peranan Wanita Dalam Keluarga Rumah Tangga Dan
Masyarakat yang Lebih Luas Di Pedesaan Jawa, Universitas Indonesia.

38
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Sukarsa, I Made, 1985, Penelitian Tentang Pengaruh Partisipasi Tenaga Kasar Wanita di
Bali Terhadap Fertilitas, Denpasar.

LAMPIRAN

Variables Entered/Removed(b)

Model Variables Entered Variables Removed Method


1 x4 status perkawinan , x1 umur . Enter
responden, x2 pendidikan, x3 lama
kerja(a)
a All requested variables entered.
b Dependent Variable: y motivasi kerja

Model Summary

Std. Error of the


Model R R Square Adjusted R Square
Estimate
1 .692(a) .479 .419 .20330
a Predictors: (Constant), x4 status perkawinan , x1 umur responden, x2 pendidikan, x3 lama kerja

ANOVA(b)

Sum of
Model Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 1.328 4 .332 8.035 .000(a)
Residual 1.447 35 .041
Total 2.775 39
a Predictors: (Constant), x4 status perkawinan , x1 umur responden, x2 pendidikan, x3 lama kerja
b Dependent Variable: y motivasi kerja

Coefficients(a)

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients t Sig.
B Std. Error Beta
(Constant) .276 .467 .592 .558
x1 umur responden .004 .014 .141 .299 .767
x2 pendidikan .014 .024 .081 .576 .569
x3 lama kerja -.011 .021 -.261 -.548 .587
x4 status perkawinan .512 .104 .694 4.913 .000
a Dependent Variable: y motivasi kerja

39
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Crosstabs
Case Processing Summary

Cases
Valid Missing Total
N Percent N Percent N Percent

x1 umur responden * y motivasi kerja 40 100.0% 0 .0% 40 100.0%

x2 pendidikan * y motivasi kerja 40 100.0% 0 .0% 40 100.0%

x3 lama kerja * y motivasi kerja 40 100.0% 0 .0% 40 100.0%

x4 status perkawinan * y motivasi kerja 40 100.0% 0 .0% 40 100.0%

x1 umur responden * y motivasi kerja Crosstabulation

Count
y motivasi kerja
Total
.00 1.00
x1 umur 19.00 0 1 1
responden
20.00 0 3 3
22.00 1 2 3
23.00 0 4 4
24.00 1 1 2
25.00 0 4 4
26.00 0 1 1
27.00 0 1 1
28.00 0 1 1
32.00 0 3 3
33.00 0 3 3
34.00 0 3 3
37.00 1 2 3
43.00 0 1 1
44.00 0 2 2
45.00 0 4 4
47.00 0 1 1
Total 3 37 40

40
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

x2 pendidikan * y motivasi kerja Crosstabulation

y motivasi kerja
Total
.00 1.00
x2 12.00 3 9 12
pendidikan
13.00 0 6 6
14.00 0 9 9
15.00 0 7 7
16.00 0 5 5
18.00 0 1 1

Total 3 37 40

x3 lama kerja * y motivasi kerja Crosstabulation

y motivasi kerja
Total
.00 1.00
x3 lama 1.00 0 2 2
kerja
2.00 1 3 4
3.00 0 1 1
4.00 1 4 5
5.00 0 3 3
6.00 0 2 2
8.00 0 2 2
9.00 0 1 1
12.00 0 4 4
13.00 0 3 3
14.00 0 4 4
15.00 1 1 2
17.00 0 3 3
18.00 0 1 1
20.00 0 3 3
Total 3 37 40

x4 status perkawinan * y motivasi kerja Crosstabulation

y motivasi kerja Total


.00 1.00
tatus perkawinan .00 3 3 6
1.00 0 34 34
Total 3 37 40

41
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

PENERAPAN BAURAN PEMASARAN DALAM


TAHAPAN SIKLUS HIDUP DAERAH TUJUAN WISATA

Ni Ketut Arismayanti
arismayanti@par.unud.ac.id
Dosen Fakultas Pariwisata Unud

Abstract

Tourist destination target in activity of marketing can be applied in each phase


of product life cycle. The recommendation oftentimes made to regarding promotion
level and pattern, distribution, other marketing activity and price which wanted in
each phase able to be utilized to determine marketing strategy at each phase or
phase of product. Product life cycle very important in glove it’s bearing with strategic
planning of tourism marketing. Destination represents element of product and
destination to equality of cycle evolution for product life cycle. There are six step
product life cycles cover: Exploration, Involvement, Development, Consolidation,
Stagnation and Decline phase. Every destination life cycle need to treat and policy of
marketing mix strategy differing which concerning price, distribution channel and
promotion. In this case that tourist attraction in character is not limited and without
calculation of time, but shall always innovated, to be given protection and even
preserve, if not, hence authenticity of attraction image and fascination will lose.
There is consideration in activity of marketing which can applied in each phase of
product life cycle.

Keywords: marketing mix, product life cycle.

I. PENDAHULUAN
Pemasaran dapat dilihat sebagai alat (tool) manajemen yang diharapkan dapat
membantu agar perusahaan mampu tumbuh dan berkembang secara profesional. Pada
dasarnya pemasaran sangat erat kaitannya dengan kegiatan dalam memindahkan
barang dan jasa (goods and services), dari produsen yang menghasilkannya ke tangan
konsumen yang membutuhkannya secara efisien dan menguntungkan dalam persaingan
yang wajar. Usaha produsen memindahkan barang dan jasa itu memiliki tujuan untuk
memenuhi kebutuhan (needs) dan keinginan (wants) konsumen, sehingga mereka
memperoleh kepuasan (satisfactions) dalam mengonsumsi apa yang dibelinya.
Kepuasan target pasar akan kebutuhan dan keinginan hendaknya dapat dipenuhi
dengan memberikan produk dan jasa yang benar-benar berguna atau bermanfaat bagi
konsumen dan itupun hendaknya diperoleh dengan harga yang wajar (the right price)
dan diterima di tempat yang diinginkan (the right place). Konsep ini dalam pemasaran
dikenal sebagai Bauran Pemasaran (Marketing Mix). Bauran Pemasaran biasanya
dikenal dengan 4 (empat) P (Product, Price, Place, dan Promotion). Bauran Pemasaran
sebagai suatu konsep pemasaran, pertama kalinya dikemukakan oleh Borden pada
tahun 1960-an, sedangkan penerapannya dalam kepariwisataan (hospitality) dilakukan
oleh MacCarthy yang dikenal dengan Four P’s, yaitu (Yoeti, 2001): 1) Product, yaitu

42
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

produk yang akan ditawarkan kepada pelanggan; 2) Price, yaitu harga atau tarif yang
dapat dijadikan dasar penawaran produk kepada pelanggan; 3) Place, yaitu tempat
atau lokasi dimana barang atau produk dijual atau tempat dimana pelanggan dapat
membeli produk yang diperlukannya; 4) Promotion, yaitu suatu metode komunikasi
informasi yang ditujukan kepada target pasar pada tempat dan saat yang tepat.
Siklus hidup suatu produk industri pariwisata bisa berlangsung dalam jangka
waktu singkat, tetapi ada juga yang hidupnya relatif lama. Namun pada umumnya
siklus hidup suatu produk melalui proses bertahap, antara lain: proses pengembangan,
penciptaan, peluncuran/pengenalan, pertumbuhan, kematangan, penurunan dan
akhirnya hilang dari pasar. Bila diketahui bahwa suatu produk mengalami kemunduran,
harus segera diperbaharui dengan jalan pengembangan produk dan kemudian
diperkenalkan melalui kegiatan promosi melalui bermacam-macam media yang sesuai
dengan target pasar.

II. Tinjauan Pustaka


2.1. Bauran Pemasaran (Marketing Mix)
Swastha (2000: 42) menyatakan bahwa: “Marketing Mix adalah kombinasi dari
empat variabel atau kegiatan yang merupakan inti dari sistem pemasaran perusahaan,
yaitu: produk, struktur harga, kegiatan promosi, dan sistem distribusi”. Sedangkan
Kotler (1994: 41) memberikan batasan bahwa: “Marketing Mix (Bauran Pemasaran)
adalah serangkaian variabel pemasaran terkendali yang dipakai oleh perusahaan untuk
menghasilkan tanggapan yang dikehendaki perusahaan dari pasar sasarannya”. Jadi
Bauran Pemasaran (Marketing Mix) dapat diartikan sebagai suatu kombinasi dari empat
variabel yaitu produk, harga, distribusi, dan promosi yang dilakukan oleh perusahaan
untuk memenuhi kebutuhan pasar sasarannya. Adapun empat elemen-elemen dalam
strategi pemasaran, yaitu : Produk (Product), Harga (Price), Tempat (Place) dan
Promosi (Promotion).

2.2. Daerah Tujuan Wisata


Dalam UU No. 10 Tahun 2010 tentang Pariwisata ditegaskan bahwa Daya Tarik
Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang
berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang
menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan. Daerah Tujuan Wisata (Tourist
Destination Country atau Tourist Destination Areas) adalah negara atau bagian wilayah
negara yang karena daya tarik serta berbagai macam sarana wisata pokok maupun
penunjang yang lengkap dan cukup berkembang telah menjadi tujuan kunjungan
wisatawan-wisatawan luar maupun dalam negeri yang bukannya sekedar lewat, tetapi
tinggal lebih dari 24 jam. Di Indonesia telah ditetapkan 10 Daerah Tujuan Wisata (Bali,
DKI, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sumatra Utara, Sumatra
Barat, Sulawesi Selatan dan Lampung), sementara itu 13 Daerah Tujuan Wisata lainnya
sedang dalam proses pengembangan pula (Damarjati, 2001).

2.3. Siklus Hidup Daerah Tujuan Wisata (Destinasi)


Perkembangan pariwisata sangat dipengaruhi oleh perjalanan wisata yang
dilakukan wisatawan ke suatu tempat atau destinasi ataupun ke suatu negara dan
perkembangan pembangunan secara menyeluruh. Tahapan pengembangan pariwisata
merupakan tahapan siklus hidup yang terjadi dalam pembangunan pariwisata, sejak
suatu daerah tujuan wisata baru ditemukan (discovery), kemudian berkembang dan

43
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

pada akhirnya terjadi penurunan (decline). Tahapan siklus hidup daerah pariwisata
dikemukakan oleh Butler (1980) dapat dilihat dari gambar 2.1.
Butler (1980 dalam Sukarsa 1999), menyatakan bahwa terdapat 6 (enam)
tingkatan atau tahapan dalam pembangunan pariwisata. Keenam tahapan tersebut
adalah :
1) Exploration (Eksplorasi/Pertumbuhan Spontan dan Penjajakan)
2) Involvement (Keterlibatan)
3) Development (Pengembangan dan Pembangunan)
4) Consolidation (Konsolidasi dan Interelasi)
5) Stagnation (Kestabilan)
6) Decline (Penurunan Kualitas) atau Rejuvenation (Kelahiran Baru)

Gambar 2.1
Destination Life Cycle

Stagnation,
Discovery Local Control Institutionalism Rejuvenation
or Decline
Stagnation

Rejuvenation
Number Of Tourist

Consolidation
Development
Decline

Involvement
Exploration

Time

Sources : Butler dalam Cooper and Jackson (1997)

III. PEMBAHASAN
Pendekatan siklus hidup dikembangkan dengan baik dalam pemasaran Pada
umumnya, pertumbuhan dari penjualan produk mengikuti bentuk potongan S. Pada
satu sisi, itu merupakan konsep sederhana yang menjelaskan adaptasi dari sebuah
produk konsumsi. Dengan dugaan bahwa produk tersebut memiliki sebuah batas hidup,
tingkat kenaikan dan menurunnya laba pada masing-masing tingkatan yang berbeda
dari siklus hidup produk dan produk memerlukan strategi pemasaran yang berbeda dari
setiap tingkatan. Diamati dari sisi lain, meskipun itu merupakan hal yang logis dan
pertimbangan berdasarkan intuitif, itu merupakan sesuatu yang sulit dilaksanakan dan
digunakan untuk siklus hidup produk, ramalan atau pembuat keputusan.
Destinasi merupakan elemen kunci dari produk dan bahwa destinasi menuju
pada kesamaan evolusi siklus untuk siklus hidup produk. Disini, jumlah dari penjualan
menarik pengunjung dari sebuah produk. Selain itu, itu mungkin untuk mencatat kedua
evolusi dari pasar pada kondisi dari jenis dan jumlah pengunjung dan pengembangan
dari destinasi pada fasilitas fisik, dan struktur administrasi. Adapun tahapan siklus
hidup produk dan penerapan bauran pemasaran (marketing mix) dalam tahapan siklus
hidup daerah tujuan wisata adalah sebagai berikut :

44
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

3.1. Exploration
Sebagai tahapan awal Exploration (Eksplorasi atau Penemuan), daerah tujuan
wisata baru mulai ditemukan, dan dikunjungi secara terbatas dan sporadis. Tahap
Eksplorasi ini memiliki ciri-ciri jumlah kunjungan relatif masih rendah, volume pasar
berkembang lambat (karena tingginya market resistance), Oleh karena harga produk
sangat murah, sehingga keuntungan yang di dapat masih sangat rendah (bahkan
merugi), karena besarnya biaya pemasaran (terutama promosi) dan biaya lainnya,
sementara jumlah wisatawan yang berkunjung masih rendah.
Pada tahap ini promosi difokuskan pada usaha membangun permintaan awal
(primary demand), karena selain ditujukan untuk menginformasikan wisatawan akhir
tentang keberadaan Daerah Tujuan Wisata tersebut, juga untuk menarik minat tour
operator atau travel agent. Dengan demikian biaya promosi menjadi sangat tinggi,.
Strategi pemasaran pada tahap ini ditujukan untuk membangun kesadaran akan
Daerah Tujuan Wisata secara meluas dan mendorong wisatawan untuk mencoba atau
dengan kata lain adalah menciptakan primary demand (permintaan untuk Daerah
Tujuan Wisata baru). Untuk kepentingan ini Daerah Tujuan Wisata biasanya didesain
dengan model yang terbatas untuk menghindari terjadinya kebingungan pada calon
wisatawan dan memudahkan mereka mengenal ciri produk dengan cepat. Disini
kualitas destinasi tersebut akan menentukan pembelian ulang. Untuk penetapan harga
ada dua strategi yang dapat diterapkan. Pertama, harga tinggi untuk menutupi biaya
promosi dengan cepat dan membuat barrier to entry bagi produsen lain. Kedua,
menetapkan harga yang rendah untuk memperoleh penerimaan pasar yang cepat.
Kegiatan promosi terutama diarahkan untuk membangun kesadaran, dimana periklanan
yang digunakan adalah jenis informing. Personal selling yang ekstensif kepada
distributor (tour operator atau travel agent) termasuk pemberian voucher.

3.2. Involvement
Pada tahap Involvement (keterlibatan), Kontak antara wisatawan dengan
masyarakat lokal sudah sangat tinggi dan masyarakat sudah mulai mengubah pola-pola
sosial yang ada untuk merespon perubahan ekonomi yang terjadi. Disinilah mulai suatu
daerah menjadi destinasi wisata, yang ditandai oleh mulai adanya advertensi atau
promosi. Strategi yang umumnya pada tahap ini adalah mengkombinasikan penetapan
harga dan kegiatan promosi. Strategi ini ada empat bentuk, yaitu :
1) Rapid Skimming Strategy
2) Slow Skimming Strategy
3) Rapid Penetration Strategy
4) Slow Penetration Strategy
Lamanya tahap pengenalan ini sangat ditentukan oleh karakteristik Daerah
Tujuan Wisata, seperti differential advantage dengan membandingkan Daerah Tujuan
Wisata lain yang eksis di pasar, usaha-usaha edukasional yang dibutuhkan, sifat suatu
Daerah Tujuan Wisata (degree of newness), dan komitmen sumber daya pihak
manajemen terhadap aspek baru tersebut. Biasanya yang diharapkan adalah periode
pengenalan yang singkat, sehingga pengaruh negatif terhadap penerimaan dan aliran
kas dapat dikurangi. Demikian pula halnya dengan ketidakpastian terhadap Daerah
Tujuan Wisata baru tersebut diharapkan dapat diminimalkan.

45
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

3.3. Development
Pada tahap Development (Pembangunan dan Pengembangan) jumlah
pengunjung yang datang dalam skala besar. Tahap ini ditandai dengan melonjaknya
jumlah kunjungan wisatawan ke Daerah Tujuan Wisata dengan cepat, karena produk
telah diterima dan diminta oleh pasar. Tidak semua Daerah Tujuan Wisata baru dapat
mencapai tahap ini, bahkan tidak sedikit produk baru yang gagal ditahap awal. Namun
jika Daerah Tujuan Wisata baru itu berhasil, sesuai dengan kebutuhan dan selera
wisatawan, maka keadaan ini akan menarik pesaing untuk memasuki industri tersebut
dengan produk yang serupa.
Bentuk-bentuk strategi yang dapat dilakukan pada tahap ini, antara lain:
meliputi penyempurnaan Daerah Tujuan Wisata (penambahan karekteristik atau sifat
tertentu dan penciptaan produk baru oleh industri pariwisata), pengembangan segmen
pasar baru, penambahan saluran distribusi baru, selective demand stimulation, dan
pengukuran harga untuk merebut konsumen baru.

3.4. Consolidation
Pada tahap Consolidation (Konsolidasi) ini, jumlah kunjungan wisatawan masih
meningkat, namun dengan pertumbuhan yang semakin menurun. Sebagian besar pasar
telah dijangkau, karena Daerah Tujuan Wisata telah dikunjungi oleh mayoritas
wisatawan. Situasi ini akan menyebabkan Daerah Tujuan Wisata mulai memperbaharui
produknya agar dapat mempertahankan jumlah kunjungan wisatawan.
Strategi pemasaran pada tahap ini sebagian besar difokuskan untuk memperkuat
dan mempertahankan posisi pasar serta membangun kesetiaan wisatawan dan
distributor. Dengan semakin banyaknya pesaing yang keluar dari pasar, maka intensitas
persaingan menjadi berkurang dan harga menjadi alat persaingan. Selain untuk
mempertahankan wisatawan agar tetap membeli, alasan harga kini menjadi alat untuk
bersaing, karena pasar sudah jenuh dan tidak tertarik lagi dengan promosi yang ada.
Tour operator atau travel agent menjadi semakin penting, karena Daerah Tujuan
Wisata masih memberikan penghasilan secara teratur. Dengan demikian promosi akan
bergeser dari wisatawan ke tour operator atau travel agent. Disamping itu, usaha
untuk memberikan pelayanan purna jual (service after sales) juga semakin meningkat.
Intelijen pemasaran mulai memfokuskan pada peningkatan produk, mencari peluang di
pasar baru, serta perbaikan dan penyegaran tema promosi.

3.5. Stagnation
Pada tahap Stagnation (Stagnasi) ditandai dengan tercapainya titik tertinggi
dalam jumlah kunjungan wisatawan. Normalnya tahap ini merupakan tahap terlama
dalam siklus hidup produk Daerah Tujuan Wisata. Hal ini disebabkan, pada tahap ini
pemenuhan inti kebutuhan oleh Daerah Tujuan Wisata yang bersangkutan tetap ada.
Sebagian besar produk yang ada saat ini bedara dalam tahap ini, karena itu sebagian
besar strategi pemasaran ditujukan untuk produk-produk dalam tahap ini. Berbagai
terobosan dilakukan oleh pelaku pariwisata serta adanya diversifikasi dan modifikasi
fasilitas. Strategi pemasaran kreatif yang digunakan untuk memperpanjang daur hidup
suatu Daerah Tujuan Wisata.
Pada fase ini, atraksi buatan sudah mendominasi atraksi asli atau alami (baik
budaya maupun alam), citra awal sudah meluntur, dan destinasi tidak lagi populer,
serta semakin buruknya penampilan destinasi dimata wisatawan. Jumlah kunjungan
wisatawan dalam tahap ini sangat sensitif terhadap perubahan perekonomian. Pasar

46
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

semakin tersegmentasi, sehingga masing-masing segmen diperlukan promosi yang


berbeda dengan lainnya. Hal ini kemudian menyebabkan persaingan menjadi semakin
sangat ketat dan intensif. Para pesaing akan lebih sering menurunkan harga,
memberikan paket three in one maupun voucher. Terjadi kecendrungan mendorong
usaha promosi diubah dari periklanan ke personal selling dan sales promotion yang
ditujukan kepada tour operator atau travel agent.
Ada dua strategi utama yang dapat diterapkan pada tahap ini. Yang pertama
adalah Defensive Strategy menitikberatkan pada penekanan/pengurangan biaya
promosi dan menghilangkan kelemahan produk. Distributor memainkan peranan
penting untuk strategi ini, sebab tingkat penjualan yang mereka peroleh dipengaruhi
oleh usaha promosi industri pariwisata untuk mendorong tour operator atau travel
agent tetap setia pada Daerah Tujuan Wisata. Disamping itu, karena promosi
berkurang keefektifannya, maka penentuan harga menjadi bentuk lain dari promosi.
Strategi yang kedua adalah Offensive Strategy, yang lebih menitikberatkan
pada usaha perubahan untuk mencapai tingkat yang lebih baik. Bentuk strategi ini
dapat berupa modifikasi pasar, yaitu dengan menggaet kelompok bukan pemakai (non-
user) mengintensifkan penawaran Daerah Tujuan Wisata kepada non-user, dan
merebut konsumen pesaing. Betnuk lain dari strategi ini adalah modifikasi produk,
yaitu mengubah karakteristik produk sedemikian rupa, sehingga semakin menarik
konsumen saat ini untuk membeli dengan cara menawarkan manfaat baru dari suatu
produk kepada konsumen sekarang untuk mendorong kunjungan yang lebih banyak dan
lebih sering. Alternatif yang digunakan ada beberapa cara, yaitu:
1) Strategi perbaikan mutu
2) Strategi perbaikan ciri (feature improvement)
3) Strategi perbaikan model

3.6. Decline
Pada tahap Decline (Penurunan) wisatawan sudah beralih ke destinasi baru atau
pesaing, dan yang tinggal hanya ‘sisa-sisa’. Sejumlah alternatif dapat dilakukan pada
tahap akhir siklus hidup produk ini. Namun perlu diperhatikan, bahwa pilihan alternatif
haruslah didasarkan pada kekuatan dan kelemahan perusahaan serta daya tarik industri
bagi perusahaan. Alternatif-laternatif tersebut diantaranya adalah: 1) Menambah
investasi agar dapat mendominasi atau menempati posisi persaingan yang baik; 2)
Mengubah produk atau mencari penggunaan/manfaat baru pada produk; 3) Mencari
pasar baru; 4) Mengurangi investasi secara selektif dengan cara meninggalkan
konsumen yang kurang menguntungkan, tetapi menambah investasi untuk kelompok
kecil konsumen yang masih setia dan menguntungkan; 5) Harvesting Strategy untuk
mewujudkan pengembalian uang tunai dengan cepat; dan 6) Meninggalkan bisnis
tersebut dan menjual asset Daerah Tujuan Wisata.
Konsep siklus hidup produk dapat digunakan sebagai alat dalam perencanaan
pemasaran strategis bagi suatu Daerah Tujuan Wisata. Seperti disampaikan Haywood
(Yoeti, 2003), bahwa keliru menganggap suatu kawasan wisata secara dominan
menentukan strategi pemasaran pada tahap siklus hidup, sementara perbedaan yang
terdapat diantara Daerah Tujuan Wisata dan pasarnya diabaikan. Selanjutnya secara
implisit bisa digunakan asumsi bahwa, pada setiap tahap siklus, suatu Daerah Tujuan
Wisata hanya memiliki satu (single) strategi pemasaran yang harus diikuti. Asumsi
selengkapnya yang dapat digunakan secara implisit, tidak saja berbahaya semenjak

47
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

membatasi kreativitas dalam menggerakkan strategi pemasaran baru (the new


marketing strategy).
Adapun beberapa strategi utama dalam siklus suatu produk yang dapat
dipertimbangkan untuk menambah siklus hidup suatu Daerah Tujuan Wisata, antara
lain adalah; 1) Penggunaan lebih sering kegiatan promosi tentang penawaran-
penawaran produk industri pariwisata kepada calon wisatawan pada suatu Daerah
Tujuan Wisata, 2) Kembangkan lebih banyak keanekaragaman paket wisata yang
menarik kepada calon wisatawan yang dianggap potensial untuk melakukan kunjungan,
baik yang menyangkut keindahan alam, fauna dan flora, seni dan budaya, tata hidup
masyarakat terasing (ethnic tourism), ekowisata, agrowisata, wisata olahraga dengan
menggali potensi masyarakat desa sebagai fokus kegiatannya, 3) Ciptakan hal-hal yang
baru. Siklus hidup produk bisa diperluas dengan menciptakan obyek dan atraksi wisata
yang sama sekali baru, 4) Mencari wisatawan baru dengan menetapkan target pasar
yang sama sekali baru pula dengan memperluas pangsa pasar (MICE dan event budaya).
Dalam rangka menarik kunjungan wisatawan pada suatu Daerah Tujuan Wisata
ada dua faktor yang perlu diperhatikan :
1) Faktor yang menentukan keseluruhan permintaan (total demand) sangat penting
dalam menetapkan strategi pemasaran dan promosi, terutama menetapkan
kelompok mana yang akan dijadikan target pasar.
2) Informasi tentang faktor-faktor yang menentukan permintaan khusus (special
demand) untuk dijadikan dasar dalam perencanaan pemasaran dan promosi.

IV. SIMPULAN
Daerah Tujuan Wisata dapat diterapkan pada setiap tahap dari siklus hidup
suatu produk dalam kegiatan pemasaran. Pada masing-masing tahap siklus hidup
Daerah Tujuan Wisata memerlukan perlakukan dan kebijakan strategi bauran
pemasaran (marketing mix) berbeda yang menyangkut mengenai harga (price), saluran
distribusi (place) dan promosi (promotion). Dalam hal ini bahwa atraksi bagi wisatawan
sifatnya tidak terbatas dan tanpa perhitungan waktu, tetapi hendaknya selalu
diperbaharui, diberi perlindungan dan bahkan dilestarikan, apabila tidak, maka
keaslian citra atraksi akan menjadi luntur dan daya tariknya akan hilang. Ada
pertimbangan dalam kegiatan pemasaran yang dapat diterapkan pada setiap tahap dari
siklus hidup suatu produk. Rekomendasi seringkali dibuat mengenai corak dan tingkat
promosi, distribusi, harga dan aktivitas pemasaran lainnya yang diinginkan pada setiap
tahap.

KEPUSTAKAAN

Cooper, Chris and Stephen Jackson. 1997. Destination Life Cycle: The Isle of Man Case
Study. Dalam the Earthscan Reader in Sustainable Tourism. United Kingdom:
Earthscan Publications Limited.
Damardjati, R.S. 2001. Istilah-Istilah Dunia Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita.
Kotler, Phillip. 1994. Marketing. Jakarta: Erlangga.
____________. 1997. Manajemen Pemasaran Analisis, Perencanaan, Implementasi Dan
Kontrol. Jakarta: Prenhallindo.
Kotler, Philip; John Bowen; dan James Makens. 1998. Marketing for Hospitality and
Tourism. Second Edition. New York: Pentice Hall.

48
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Madiun, I Nyoman. 2005. Marketing Management. Materi Kuliah. Prepare for Master of
Tourism Studies Udayana University.
Pitana, I Gde dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi.
Ryan, Chris. 1991. Recreational Tourism A Social Science Perspective. London and New
York: Routledge.
Soekadijo, R.G. 1997. Anatomi Pariwisata (Memahami Pariwisata Sebagai Systemic
Linkage). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sukarsa, I Made. 1999. Pengantar Pariwisata. Badan Kerjasama Perguruan Tinggi
Negeri Indonesia Timur.
Swastha, Basu. 2000. Azas-Azas Marketing. Yogyakarta: Liberty.
Tjiptono, Fandy. 1997. Strategi Pemasaran. Edisi Kedua. Yogyakarta: Andi.
Wahab, Salah. 1997. Pemasaran Pariwisata. Jakarta: Pradnya Paramita.
Yoeti, Oka A. 1996. Pemasaran Pariwisata. Edisi Revisi. Bandung: Angkasa.
___________. 2001. Strategi Pemasaran Hotel. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
___________. 2002. Perencanaan Strategis Pemasaran Daerah Tujuan Wisata. Jakarta:
Pradnya Paramita.
___________. 2003. Tours and Travel Marketing. Jakarta: Pradnya Paramita.

49
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

PENGEMBANGAN PARIWISATA GOA DI BALI

I Wayan Wijayasa
Anak Agung Raka Dalem
Dosen Akpar Denpasar dan Dosen Fakultas MIPA Unud

Abstract

Cave is one of potency that can be further developed in order to create


diversification of tourist site attraction. In Bali, there are some caves that have been
well developed as place of interest, while there are also other caves that have not
been developed due to limited exploration and effort. In the future, developing caves
as tourist site attraction should consider the principles of alternative tourism than
environmentally friendly in order to sustain cultural tourism in Bali.

Keywords: cave tourism, alternative tourism, tourist site attraction.

I. PENDAHULUAN
Pariwisata di Bali saat ini telah berkembang begitu pesat yang terlihat dari
semakin berkembangnya fasilitas, objek, dan daya tarik pariwisata yang ada. Meskipun
jumlah kedatangan wisatawan asing yang langsung ke Bali menunjukkan fluktuasi
akibat berbagai isu dan peristiwa yang kurang menguntungkan, berbagai pihak yang
berkecimpung di dunia pariwisata tetap terangsang untuk menggali dan
mengembangkan potensi yang dimiliki untuk kemudian diarahkan pada sektor
pariwisata mengingat keterbatasan/ketiadaan sumberdaya alam seperti migas, hasil
hutan, dan manufaktur (Pitana, 2005:156-157).
Salah satu potensi pariwisata yang telah berkembang di Bali dan ramai
dikunjungi oleh wisatawan adalah Goa. Terdapat dua goa di pulau Bali yang telah
berkembang pesat sebagai objek wisata, yaitu Goa Lawah yang terletak di Kabupaten
Klungkung dan Goa Gajah yang terletak di Kabupaten Gianyar. Dilihat dari segi
kunjungan wisatawan, kedua goa ini nampak sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan
dibandingkan dengan goa-goa lainnya di Bali (beberapa Goa Jepang di Bali-red). Hal ini
tentu disebabkan oleh berbagai faktor antara lain dari segi konsep pengembangan
mengarah pada pariwisata masal, dari segi lokasi kedua goa ini letaknya sangat
strategis, dan dilihat dari segi nilai daya tarik keduanya menawarkan keunikan dan
nilai historis. Selain itu, di pulau Nusa Lembongan terdapat sebuah goa yang ramai
dikunjungi oleh wisatawan, yaitu Goa Gala Gala. Sedangkan di Pulau Nusa Penida, yang
juga merupakan bagian provinsi Bali, juga terdapat Goa Giri Putri yang banyak
dikunjungi oleh masyarakat lokal untuk bersembahyang.
Adapun fokus tulisan diarahkan pada permasalahan daya tarik apa sejatinya
yang dapat dikembangkan dari wisata goa. Dengan mengetahui daya tarik yang dapat
dikembangkan dari sebuah goa, kemudian dibahas sejauh mana pemanfaatan daya
tarik yang ada pada goa-goa di Bali sebagai daya tarik wisata. Setelah diketahui sejauh
mana pemanfaatan daya tarik wisata goa yang telah dimanfaatkan di Bali, maka akan
didiskusikan potensi alternatif mana saja yang dapat dikembangkan lebih lanjut.

50
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

II. DAYA TARIK WISATA GOA


Goa adalah ruang kosong di bawah permukaan tanah yang cukup luas untuk
dimasuki oleh manusia. Lebih jauh, istilah goa (cave) merujuk pada ruang yang tidak
kena sinar matahari secara langsung dan pada awalnya terbentuk secara alami. Namun
demikian, ada pula goa yang sengaja dibuat oleh manusia untuk kepentingan tertentu.
Adapun kajian ilmiah yang mempelajari tentang goa, baik yang mengkaji mengenai
terbentuknya goa, kehidupan goa, sejarah, bentuk fisik, maupun struktur goa, disebut
speleologi. Sedangkan kajian yang khusus mengenai biologi goa disebut biospeleologi
(http://en.wikipedia.org/wiki/Speleology).
Dari perpektif pariwisata, telah banyak goa di dunia yang menarik dan telah
berkembang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Hal ini disebabkan karena goa
memiliki banyak fitur, komponen biologis, dan nilai sejarah masing-masing yang dapat
diinterpretasikan untuk tujuan pariwisata. Daya tarik yang dimiliki oleh goa berbeda
satu dengan lainnya. Penulis telah melakukan penelusuran website, kajian pustaka,
dan observasi mengenai goa ini sehingga teridentifikasi beberapa daya tarik yang
sekiranya dapat digali untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata meliputi :

2.1 Keindahan dan Keunikan Permukaan Goa


Selama ini permukaan goa memiliki keindahan tersendiri untuk dinikmati
sebagai atraksi wisata. Beberapa goa yang bernilai historis dan menjadi tempat yang
masih dimanfaatkan seperti Goa Lawah dan Goa Gajah memiliki permukaan yang
menarik untuk dilihat. Bila di permukaan Goa Gajah terdapat pahatan batu berbentuk
gajah, maka dipermukaan pura Goa Lawah terdapat beberapa bangunan pura.
Di samping keindahaan dan keunikan yang melekat pada permukaan goa,
bentang alam sekitar juga menarik untuk diinterpretasikan untuk tujuan pariwisata.
Beberapa bentang alam yang menarik dan telah dikemas sebagai daya tarik wisata
misalnya alam disekitar Goa Kreo yang berlokasi di Gunung Krincing (Jawa Barat)
berupa jurang terjal, kelok sungai, dan air terjun setinggi 20 – 25 meter.
(http://semarang.go.id/cms/pemerintahan/dinas/pariwisata/wisata/Obyek%20Wisata
/gua_kreo.htm).

2.2 Struktur Goa


Struktur goa merupakan salah satu hal yang menarik untuk dilihat karena
struktur tiap goa tidak sama antara satu dengan lainnya. Adapun struktur goa dapat
dilihat dari bentuk, jumlah ruang/percabangan, pembentukan speleothem (kumpulan
mineral sekunder yang terbentuk dalam jangka waktu yang lama di dalam goa), dan
dinding goa (http://en.wikipedia.org/wiki/Speleothem).
Dilihat dari bentuk ruang dan percabangannya, beberapa goa di Bali memiliki
bentuk dan percabangan yang berbeda. Misalnya, Goa Gajah memiliki lorong goa
berbentuk hurup T (T-shape). Sementara itu, Goa Gala-Gala di Nusa Lembongan
memiliki percabangan yang menuju yang yang berfungsi sebagai ruang tidur/istirahat.
Sedangkan Goa Jepang yang ada di Kabupaten Klungkung memiliki kekhasan pada
permukaan goa dengan lekuk ke kanan. Adapun perbedaan-perbedaan struktur yang
dimiliki oleh goa di atas, menurut penulis, berhubungan dengan fungsi goa tersebut.
Struktur goa menjadi lebih menarik jika di dalam goa telah terbentuk beberapa
akumulasi mineral yang di disebut speleothems. Speleothem ini dapat berbentuk
(http://en.wikipedia.org/wiki/Speleothem) :

51
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

1. Stalaktit (stalactites) yaitu kumpulan mineral yang berbentuk menonjol dari


dinding atas goa;
2. Stalagmit (stalagmites) yaitu kumpulan mineral yang berbentuk menonjol di lantai
goa;
3. Kolom atau tiang (columns) yang terbentuk jika stalagtit dan stalagmit bertemu,
atau ketika stalagtit mencapai lantai goa;
4. Flowstone yang ditemukan di lantai dan dinding goa;
5. Soda straws, yaitu jenis stalagtit yang bentuknya kecil, panjang, dan bulat (mirip
pipet/straw). Jenis ini berbeda dari stalagtit pada umumnya yang cenderung
berbentuk kerucut;
6. Helicites, stalagtit yang memiliki saluran di dalamnya, bentuknya seperti ranting
atau spiral, seperti melawan arah gravitasi;
7. Rimstone dams, yaitu semacam selokan yang terbentuk di dasar goa akibat
percikan air yang jatuh dari dinding atas goa;
8. Popcorn, kumpulan (akumulasi) kecil kalsit yang menonjol di dasar atau dinding
goa;
9. Cave pearls, butiran=butiran kristal kecil seperti mutiara yang terbentuk akibat
tetesan air yang berasal dari ketinggian, sering terjadi di lingkungan goa yang
memiliki banyak unsur kalsium karbonat.
10. Dogtooth spar, kristal kalsit besar yangs ering ditemukan di sekitar kolam yang
terbentuk secara musiman di dalam goa;
11. dan speleothem lainnya.

Berikut ini adalah beberapa contoh speleothem yang ada di dalam goa dan
dapat dijadikan daya tarik wisata.

Stalactites and columns in Natural Speleothems in Hall of the Mountain


Bridge Caverns, Texas, U.S. Kings, Ogof Craiga Ffynnon, South
Sumber : Wikipedia Soda Straw. Sumber : Wikipedia Wales. Sumber : Wikipedia

2.3 Nilai Historis dan Arkeologis Goa


Sebagaimana diketahui melalui sejarah bahwa dahulu manusia tinggal di goa.
Selama mereka hidup di dalam goa, diperkirakan mereka berusaha membuat lukisan
atau tanda di dinding goa. Peninggalan atau jejak lukisan/tanda yang mereka buat dan
masih ada saat ini dapat menjadi daya tarik wisata tersendiri terutama bagi wisatawan
yang tertarik dengan temuan peradaban manusia purba yang masih hidup di dalam goa.
Dari segi arkeologis, goa memang dapat menunjukkan adanya tanda-tada peradaban
dengan ditemukannya lukisan di dinding goa. Bahkan, di goa Honne, Jerman,

52
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

diketemukan jejak kanibalisme (http://en.wikipedia.org/wiki/Cave). Di Indonesia,


terdapat Goa Leang Leang di Maros (Sulawesi Selatan) yang mana pada dinding goa ini
ditemukan lukisan tapak tangan dan binatang yang diperkirakan dibuat oleh penghuni
goa tersebut. Di samping itu, goa juga dijadikan tempat upacara keagamaan dan
tempat penguburan, misalnya pada masyarakat Toraja
(http://www.kompas.com/kompas-cetak/0307/12/Wisata/260987.htm). Di Bali
sendiri, beberapa pahatan di dinding goa telah menjadi daya tarik wisata tersendiri,
misalnya permukaan dinding Goa Gajah. Potensi-potensi ini dapat digali lebih jauh
untuk dijadikan daya tarik wisata.

2.4 Biologi Goa


Goa mejadi rumah yang baik bagi mahluk tertentu termasuk manusia sebelum
mampu membuat rumah. Di samping itu, hewan dan tumbuhan juga ada yang dapat
hidup di goa. Untuk jenis tumbuhan, jarang ditemukan di dalam goa karena
memerlukan sinar matahari untuk berfotosintesis. Kebanyakan tumbuhan ditemukan
dipermukaan goa yang masih disinari oleh matahari. Sebaliknya, jenis hewan cukup
banyak ditemukan hidup di dalam goa. Dilihat dari jenisnya, organisme yang dapat
hidup di goa dapat dibedakan menjadi tiga kelas dasar, yaitu :
(http://www.showcaves.com/english/explain/Speleology/index.html)
1. Troglobites ("cave dwellers") merupakan hewan yang hidupnya sebagian besar
dihabiskan di goa sehingga ia dijuluki penghuni goa. Binatang-binatang ini dapat
meninggalkan goanya
dalam waktu singkat
namun tidak dapat
hidup di luar goa
sepenuhnya. Contoh
organisme ini adalah
beberapa jenis bakteri
chemotrophic
Blindfish atau disebut juga Northern
Collembola Cavefish
(organisme yang
Sumber : Wikipedia Sumber : Wikipedia mendapatkan energi
dari mengoksidasi
Bedford’s flatworm, Townsend's Big-eared bats in a cave
Pseudobicaros bedfordi Sumber : Wikipedia elektron dengan
Sumber : Wikipedia melepaskan molekul
pada lingkungannya),
beberapa spesies
flatworms (cacing
berbentuk pipih/pita),
collembola atau
springtail, dan
Blindfish.
2. Troglophiles ("cave lovers") merupakan mahluk yang menghabiskan sebagian atau
keseluruhan dari hidupnya di goa namun dapat pula hidup di permukaan (di luar
goa) pada lingkungan yang sesuai. Contohnya beberapa jenis kelelawar,
kalajengking, dan laba-laba.
3. Trogloxenes ("cave guests") merupakan mahluk hidup yang sering memerlukan goa
untuk meneruskan daur hidupnya dalam waktu tertentu namun kembali
kepermukaan. Misalnya binatang melata yang berhibernasi dan mamalia.

53
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

III. POTENSI GOA DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA DI BALI
Dengan melihat begitu banyak daya tarik yang bisa dikembangkan pada sebuah
goa untuk dijadikan sebagai daya tarik wisata, maka pada bagian ini penulis ingin
memaparkan sejauh mana potensi goa yang telah dikembangkan di Bali dan
mengidentifikasi beberapa goa yang ke depan dapat dijadikan daya tarik pariwisata.
Potensi goa di Bali yang paling banyak dikembangkan adalah potensi historis dan
budaya. Hal ini sejalan dengan konsep pariwisata budaya yang berkembang diba Bali di
samping lokasi beberapa goa yang telah berkembang tersebut memang berada di jalur
pariwisata yang ramai.
Pengembangan potensi alamiah goa sebagai daya tarik wisata masih sangat
terbatas. Adapun daya tarik alam dari sebuah goa yang sangat menonjol adalah
kelelawar (di Goa Lawah). Menurut penulis, Beberapa kendala mengeksploitasi potensi
alam dari goa-goa yang ada di Bali disebabkan karena:
1. Goa tersebut masih berfungsi sebagai living monument dan menjadi tempat
dilaksanakannya upacara keagamaan. Oleh karena itu, rasa sungkan memasuki goa
dan kepercayaan tidak boleh dan berbahaya jika memasuki goa melekat di
masyarakat. Namun demikian, kepercayaan ini dapat dilihat dari segi filosofis
untuk pegejawantahan kesucian dan lingkungan pura.
2. Beberapa goa memiliki keterbatasan kedalaman dan ruang yang sempit sehingga
tidak dihuni oleh binatang besar (seperti kelelawar atau ular).
3. Goa buatan umumnya dahulu dihuni oleh orang sehingga sedikit kemungkinan
hidup binatang karena sering dibersihkan. Goa Gajah yang sering di dimasuki oleh
pengunjung juga sangat membatasi usaha mengeksploitasi daya tarik alam.
4. Apresiasi terhadap nilai budaya dan historis lebih mendominasi interpretasi daya
tarik goa yang ada di Bali. Oleh karena itu, para pemandu wisatawan dan pihak
lainnya yang terlibat dalam penyediaan informasi wisata goa membatasi informasi
pada nilai sejarah dan historis goa. Penjelasan mengenai alam terbatas pada apa
yang terlihat dari luar goa, misalnya ular dan kelelawar.

Keterbatasan informasi mengenai daya tarik alami dari goa dapat dilihat di
website atau brosur yang dibuat oleh dinas pariwisata. Keunikan struktur dan proses
pembentukan goa sangat sedikit dibahas. Fauna yang ada di dalam goa juga terbatas
informasinya.
Berdasarkan hasil penelusuran beberapa pustaka dan survey teratas, penulis
mendaftar nama-nama Goa yang ada di wilayah propinsi Bali. Daftar nama goa
sebagaimana dapat dilihat dalam Tabel 1 memuat nama-nama goa yang sudah
berkembang maupun belum berkembang, daya tarik wisata yang dimiliki, beserta
lokasi.
Tabel 1 menunjukkan bahwa beberapa goa telah berkembang untuk dijadikan
objek wisata antara lain Goa Gajah, Goa Gala Gala, dan Goa Lawah. Adapun Goa Giri
Putri di Nusa Penida masih dalam tahap pengembangan dan dikunjungi terbatas oleh
wisatawan domestik untuk tujuan bersembahyang. Sedangkan Goa lainnya termasuk
belum berkembang untuk pariwisata, misalnya Goa Jepang di Kabupaten Klungkung,
Goa Jepang di Kintamani (Kabupaten Bangli), Goa Gamang, Goa Raja, dan Goa Srijong.
Belum berkembangnya beberapa goa di Bali sebagai objek wisata, menurut
penulis, disebabkan oleh beberapa faktor berbeda. Misalnya Goa Jepang di Kabupaten
Klungkung telah ditata untuk tujuan pariwisata. Namun karena kurangnya kepekaan,
daya tarik, dan keunikan yang tersedia maka goa tersebut cenderung tidak

54
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

berkembang. Goa Jepang di Kintamani terlihat lebih tak terurus. Meskipun letaknya
strategis di objek wisata yang telah terkenal, Goa Jepang di Kintamani tidak
berkembang dan di depannya malahan tertutupi oleh aktivitas pedagang.
Goa Gamang, Goa Raja, dan Goa Gong memiliki karakteristik yang mirip
sehingga tidak berkembang sebagai objek wisata. Ketiga goa tersebut memiliki pura
yang dijadikan tempat sembahyang umat Hindu. Di samping itu, ukuran goa terlihat
relatif kecil dan tidak ada binatang menarik (seperti kelelawar, ular) yang bisa dilihat
dari luar sehingga kurang menarik untuk dikembangkan. Namun demikian, penulis
berpendapat bahwa sepanjang dilakukan usaha interpretasi dan pengembangan atas
potensi yang ada pada goa tersebut, maka goa tersebut tetap menarik bagi wisatawan.
Goa Giri Putri yang terletak di Pulau Nusa Penida memiliki kekhasan pada
permukaan, struktur, dan nilai historis. Saat ini, Goa Giri Putri masih sedikit dikunjungi
wisatawan asing. Namun demikian, goa ini sangat ramai dikunjungi oleh masyarakat
Pulau Bali yang melakukan tirta yatra. Keunikan yang dimiliki oleh Goa Giri Putri,
menurut penulis, sangat berpotensi menjadi objek wisata menarik dimasa yang akan
datang.
Goa Srijong yang terletak di Kabupaten Tabanan telah dimunculkan dalam
brosur pariwisata Kabupaten Tabanan sebagai salah satu bentuk promosi dari
pemerintah daerah. Keunikan yang dimiliki oleh Goa Srijong ini adalah kehidupan
satwa kelelawar yang hidup di dalam goa. Di samping itu, di atas goa juga terdapat
sebuah pura yang menjadikannya salah satu daya tarik tersendiri dan memperkaya
interpretasi. Namun demikian, perkembangan Goa Srijong ini masih belum
menampakkan kemajuan mengingat lokasinya yang cukup jauh dari jalur pariwisata.

Tabel 1
Daftar Nama Goa, Lokasi, dan Perkembangannya sebagai Daya Tarik Wisata

Nama Goa Lokasi Daya Tarik Keterangan


Goa Gajah Kabupaten Historis, struktur goa, Berkembang
Gianyar spiritualitas
Goa Gala Gala Nusa Historis, struktur goa Berkembang
Lembongan
Goa Gamang Kabupaten Pura Belum Berkembang
Singaraja
Goa Giri Putri Nusa Penida Pura, Historis, spiritualitas, Berkembang terbatas
struktur goa
Goa Gong Kabupaten Pura, spiritualitas Belum Berkembang
Badung
Goa Jepang Kabupaten Historis, struktur permukaan Belum Berkembang
Klungkung
Goa Jepang Kabupaten Historis Belum Berkembang
Bangli
Goa Lawah Kabupaten Pura, Historis, spiritualitas, Berkembang
Klungkung fungsi, kelelawar, ular
Goa Raja Kabupaten Pura Belum berkembang
Karangasem
Goa Srijong Kabupaten Pura, Kelelawar Belum Berkembang
Tabanan
Sumber: Dari berbagai sumber, 2007

55
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

IV. PENGEMBANGAN WISATA GOA DI BALI SEBAGAI PARIWISATA ALTERNATIF


Kondisi pariwisata yang fluktuatif, mengharuskan suatu destinasi untuk
membuat pilihan-pilihan yang diharapkan mampu memberikan warna baru pada
keberagaman objek dan daya tarik wisata yang telah ada. Di samping itu, alternatif
yang dibuat tersebut haruslah mampu menarik kunjungan wisatawan atau menjadi
destinasi baru bagi repeater guest. Salah satu alternatif yang dapat ditawarkan kepada
wisatawa adalah wisata goa.
Bali memiliki sejumlah goa, baik yang telah berkembang maupun belum
berkembang sebagaimana terlihat pada Table 1 di atas. Sebagaimana dijelaskan di atas
juga, eksplorasi terhadap daya tarik yang dimiliki oleh goa-goa di Bali menemui
beberapa kendala. Namun demikian, tidak semua goa yang ada disakralkan masyarakat
sehingga masih mungkin dilakukan eksplorasi mendalam, misalnya Goa Gala-Gala dan
Goa Jepang.
Model pengembangan diarahkan pada usaha memanfaatkan sumberdaya goa
sebagai objek dan daya tarik wisata alternatif dalam rangka mendukung pariwisata
budaya. Hal ini sejalan dengan konsep pengembangan pariwisata di Bali yang tidak
lepas dari peran kebudayaan yang telah dianut selama ini. Lebih lanjut, pengembangan
wisata goa dengan menggunakan konsep pariwisata alternatif dapat menghindarkan
eksplotasi sumberdaya ke arah pariwisata masal yang dapat merusak ekosistem goa
serta melebihi daya tampung yang ada. Beberapa paket wisata alternatif yang dapat
dikembangkan pada goa antara lain :
1. Paket pengenalan mineral dan bebatuan goa di Bali. Paket wisata ini ditujukan
kepada segmen wistawan yang khusus terutama yang berminat/tertarik kepada
kandungan mineral yang ada di bebatuan dalam goa serta terbentuknya bebatuan
tersebut. Sebagaimana diketahui, proses terbentuknya bebatuan serta kandungan
mineralnya sangat bervariasi tergantung dari mineral yang terkandung di alam
sekitar goa tersebut.
2. Paket pengenalan biologi goa di Bali. Paket wisata ini ditujukan kepada segmen
wisatawan yang berminat/tertarik pada kekayaan flora atau fauna yang hidup di
dalam goa dan di sekitar permukaannya. Selama ini, kelelawar dan ular masih
mendominasi jenis fauna yang menjadi daya tarik utama. Namun dalam paket ini,
keberagaman fauna dapat diperluas pada jenis laba-laba, semut, dan binatang
tropis yang lainnya yang hidup di goa-goa di Bali.
3. Paket penelusuran sejarah. Paket ini merupakan paket yang mengajak wisatawan
untuk mengenal nilai sejarah yang ada pada goa-goa di Bali. Eksploitasi lebih
lanjut terhadap nilai sejarah suatu goa perlu dilakukan pada goa-goa (selain Goa
Gajah, Goa Lawah, dan Goa Gala Gala di Nusa Lembongan) yang belum
berkembang di Bali. Paket ini juga ditujukan pada pangsa pasar khusus yang
memang berkeinginan mengetahui dan mendalami sejarah yang terjadi pada suatu
goa.
4. Paket penelusuran goa. Paket penelusuran goa berbeda dengan paket penelusuran
sejarah. Hal yang membedakan adalah bahwa paket penelusuran goa lebih
menekankan pada tantangan menelusuri lorong goa seperti hiking dalam goa.
Namun demikian, penelusuran goa ini memerlukan setting goa yang cukup panjang
untuk ditelusuri.

56
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

5. Paket pendidikan. Paket pendidikan khsusnya ditujakan kepada para wisatawan


yang berprofesi sebagai pelajar, mahasiswa, atau para ilmuwan. Paket ini dapat
berupa satu atau kombinasi dari paket-paket di atas dan lebih ditujukan untuk
kepentingan edukasi.

Bila dilihat sepintas, paket-paket alternatif di atas memiliki kandungan isi yang
sama, misalnya wisatawan yang berminat mengetahui mineral dan bebatuan goa dapat
pula sekaligus mengetahui sejarah, biologi, menelusuri goa. Namun jika dicermati,
terdapat hal yang berbeda pada penekanan minat. Bila wisatawan yang berminat
menekuni sejarah, maka paket ini mengarahkan mereka pada goa-goa yang memiliki
potensi nilai sejarah, atau jika wisatawan berminat menelusuri goa, maka ia tidak
terlalu berpikir apakah dalam goa terdapat banyak bebatuan atau kehidupan binatang.
Dengan demikian, penyusunan paket wisata alternatif seperti di atas dapat menjadi
paket inovatif yang merangsang kunjungan wisatawan minat khusus.
Beberapa usaha yang dianggap perlu segera untuk dilaksanakan dalam rangka
eksplorasi daya tarik yang dimiliki oleh goa-goa yang ada di Bali antara lain,
memperbanyak penelitian wisata goa dengan melibatkan perguruan tinggi, lembaga
penelitian, dan para ahli speleologi yang ada, pendataan potensi wisata goa di Bali,
mengembangkan paket wisata kombinasi yang lebih mendalami potensi dalam goa
(dalam hal ini, pengembangan tidak hanya terbatas pada daya tarik luar dan historis
sebuah goa, namun lebih mendalami potensi alami seperti stalagtit, stalagmit, dan
biologi goa) dan perlu dilakukan pengenalan wisata goa sebagai alternatif tempat
belajar untuk mendukung studi para siswa/mahasiswa yang mendalami goa.

V. SIMPULAN DAN SARAN


4.1. Simpulan
1. Goa sejatinya memiliki banyak potensi yang dapat dikembangkan lebih lanjut
untuk menjadi daya tarik wisata. Beberapa tinjauan mengenai pemanfaatan goa
sebagai daya tarik wisata menunjukkan bahwa goa dapat dijadikan daya tarik
wisata menarik.
2. Di Bali, pemanfaatan sumber daya goa masih sangat terbatas pada segi historis
dan keunikan goa yang dinikmati dari luar. Hal ini disebabkan oleh masih
berfungsinya goa tersebut sebagai living monument.
3. Model pengembangan wisata goa di Bali semestinya menggunakan konsep
pariwisata alternatif (kecuali untuk Goa Gala Gala, Goa Gajah dan Goa Lawah
yang terlanjur menjadi objek pariwisata massal) untuk mengurangi resiko
terganggunya ekosistem goa dan kapasitas muatnya (carrying capacity).

4.2. Saran
Untuk pengembangan pariwisata goa lebih lanjut, maka penulis menyarankan
agar dilakukan penelitian eksploratif terhadap goa-goa yang belum berkembang di Bali.
Di samping itu, perlu juga dilakukan pembatasan terhadap wisatawan mana
(segmentasi pasar) yang dapat mengunjungi objek dan daya tarik wisata goa ini
disesuaikan dengan kapasitas muat serta karakteristik lingkungan goa tersebut.

57
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

KEPUSTAKAAN

Anonim. tt. Cave. Available from: URL:http://en.wikipedia.org/wiki/Cave. Ditelusuri


tanggal 30 Maret 2007.
Anonim. tt. Collembola. Available from: URL:
http://en.wikipedia.org/wiki/Collembola. ditelusuri tanggal 4 April 2007.
Anonim. tt. Flatworms. Available from: http://en.wikipedia.org/wiki/Flatworms.
Ditelusuri tanggal 4 April 2007.
Anonim. tt. Goa Kreo. Available from:
URL:http://semarang.go.id/cms/pemerintahan/dinas/pariwisata/wisata/Obyek
%20Wisata/guakreo.htm. Ditelusuri tanggal 30 Maret 2007.
Anonim. tt. Goa Lawah. Availabel from:
URL:http://www.klungkung.go.id/main.php?go=goalawah. Ditelusuri tanggal 30
Maret 2007.
Anonim. tt. Jatijajar Cave. Available from: http://www.indonesia-
tourism.com/central-java/jatijajar-cave.html. Ditelusuri tanggal 30 Maret
2007.
Anonim. tt. Northern Cavefish. Available from:
http://En.Wikipedia.Org/Wiki/Northern_Cavefish. ditelusuri tanggal 4 April
2007.
Anonim. tt. Speleology. Available from:
http://www.showcaves.com/english/explain/Speleology/index.html. Ditelusuri
tanggal 30 Maret 2007.
Anonim. tt. Speleology. Available from: URL:http://en.wikipedia.org/wiki/Speleology.
Ditelusuri tanggal 30 Maret 2007.
Anonim. tt. Speleothem. Available from:
URL:http://en.wikipedia.org/wiki/Speleothem. Ditelusuri tanggal 30 Maret
2007.
Anonim. 2003. Menengok Kediaman Manusia Prasejarah di Goa Leang-leang. Available
from: URL:http://www.kompas.com/kompas-
cetak/0307/12/Wisata/260987.htm. Ditelusuri tanggal 20 Mei 2007.
Abdurahman, Palopo. 2006. Goa Selomangleng Yang Penuh Misteri. Banjarmasin Post.
Available from:
URL: http://www.indomedia.com/bpost/032006/12/ragam/ragam3.htm. Ditelusuri
tanggal 4 April 2007.
Azarja, Ruben. 2002. Goa Gajah. Available from:
URL:http://everything2.com/index.pl?node_id=1359608. Ditelusuri tanggal 30
Maret 2007.
Diekmann, Anya, Geraldine Maulet, dan Tephanie Queriat. 2006. Cave in Belgium:
Standardisation or Diversification?. Dalam Cultural Tourism in a Changing
World: Politics, Participation and (Re)presentation. Meladie K Smith dan Mike
Robinson (Ed). Clevedon: Channel View Publication.
Herusansono, Winarto. 2006. Wisata Goa Terawang, Ikon Baru Wisata Jateng. Available
from:
URL:http://groups.google.co.id/group/alt.soc.indonesia.mature/browse_threa
d/thread/e06c25f9a9f2208b/239e1088755f6311%23239e1088755f6311
Ditelusuri tanggal 4 April 2007.

58
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Lengsono, Sunarwoto Prono. 2006. Pacitan, Kota Seribu Goa. Available from: URL:
http://groups.google.co.id/group/soc.culture.indonesia/browse_thread/thread
/573480be540807cf/19c8247a0ee54d49%2319c8247a0ee54d49 Ditelusuri
tanggal 4 april 2007.
Pitana, I Gde dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi.
Suharningsih, Agnes. tt. Goa, Rumah Bawah Tanah. Available from:
URL:https://www.kompas.com/kompas-cetak/0509/12/tanahair/2007020.Htm.
Ditelusuri tanggal 4 April 2007.
Wijayanto, Totok. 2002. Menelusuri Goa di Maros. Available from:
URL:http://kompas.com/kompas-cetak/0202/01/DIKBUD/mene30.htm.
Ditelusuri tanggal 4 April 2007.
Warastri, Aufrida Wismi dan Robert Adhi Ksp. tt. Keindahan Tersembunyi di Perut
Bumi Kebumen: Wisata Alam Menantang bagi Mereka Berjiwa Petualang.
Available from:
URL:http://adhikusumaputra.blogspot.com/search/label/Wisata%20Goa
Ditelusuri tanggal 25 Maret 2007.

59
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

PENGGUNAAN WEBSITE SEBAGAI SARANA PROMOSI


PADA HOTEL DI KAWASAN WISATA UBUD

AA. Putu Swabawa


swabawa@yahoo.co.id
Staf Pengajar Jurusan Pariwisata Politeknik Negeri Bali

Abstract

Using website as promotion tool is a computerization system that is applied by


hotels that operated at Ubud tourism area. The objective of this research is find out
the effectiveness using of website as promotion tool when compared with other
promotion tools. In this research ten hotels as sample is taken using “quota sampling”
method and one hundred tourits using “accidental sampling” method. Interview
method and questionnaire are used in collecting data. The result of research will be
analyzed using statistical analysis, i.e.: t-test. The result of analysis showed that the
usage of website as promotion tool directly not yet effetive when compared to other
promotion tools merged together. In spite of separately showed that using of website
more effective when compared with other promotion tools. Eventhough indirectly
using of website not yet effetive when compared to other promotion tools.

Keywords: hotel’s website, tourism promotion.

I. PENDAHULUAN
Dengan adanya perkembangan trend wisata dari wisata massal ke wisata
individual dan adanya kemajuan teknologi informasi, maka sangat mempengaruhi
sistem yang diterapkan dalam menjalankan aktivitas bisnis pariwisata, terutama sistem
promosinya. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan hasil teknologi oleh para pengusaha
yang bergerak pada industri pariwisata dalam menjalankan usahanya, seperti:
komputer, telephone, telegram, dan faximile. Hal ini dapat mempercepat proses
komunikasi yang terjadi dari dan ke konsumen (wisatawan) dengan pihak industri
pariwisata. Dalam kondisi seperti ini akan mendorong para pelaku pariwisata
menggunakan konsep pemasaran yang bersifat “Customer Concept” yaitu konsep
pemasaran yang berorientasi pada konsumen secara individu dengan pendekatan “one
to one marketing” (Bowen,J, 1999). Biasanya konsep pemasaran yang seperti ini sangat
memerlukan jaringan komunikasi individual dengan menggunakan kemajuan teknologi
yang sering menggunakan istilah jaringan internet melalui situs web (website).
Sistem promosi dengan menggunakan website ini banyak memberikan
keuntungan baik dilihat dari pihak konsumen (wisatawan) maupun dari pihak
perusahaan (hotel). Dari pihak konsumen, promosi dengan situs web dapat melakukan
pemesanan kapan saja dan dari mana saja, tanpa menghadapi berbagai masalah yang
tidak diinginkan, seperti: kemacetan lalu lintas, tempat parkir, antrian panjang dan
lainnya. Konsumen juga dapat memperoleh informasi dengan cepat dan lebih obyektif
mengenai perusahaan, harga, fitur dan kualitas produk tanpa meninggalkan rumah
atau kantor. Sedangkan dari pihak perusahaan, sistem promosi dengan website banyak

60
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

juga memberikan keuntungan, dimana biaya yang dikeluarkan perusahaan lebih murah
(seperti: biaya mencetak katalog dan pengirimannya) dengan proses yang lebih cepat.
Pemasaran dengan website dapat menjangkau daerah pemasaran yang lebih luas tanpa
perlu melibatkan banyak tenaga pemasaran, sehingga potensi pasar akan lebih besar.
Dengan website perusahaan dapat meningkatkan penawaran produknya, mengganti
harga dan deskripsi produk dengan cepat. Sehingga web dapat menjadi media yang
efesien untuk pemasaran, periklanan dan penyebaran informasi mengenai produk dan
jasa tertentu (Kolter, 2000)
Penggunaan hasil teknologi ini diharapkan dapat menciptakan efektivitas dan
efesiensi dalam operasional dari perusahaan dalam menghadapi masalah persaingan
global, pengaruh ekonomi internasional yang terjadi serta berbagai kemungkinan yang
tidak diharapkan. Di mana efesiensi adalah kemampuan untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan dengan benar, sedangkan efektivitas adalah kemampuan untuk memilih
tujuan yang tepat atau peralatan yang tepat untuk pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan (Handoko, 1992:7). Dengan tercapainya efesiensi dalam operasinya akan
dapat mengurangi biaya yang dikeluarkan dengan proses yang lebih cepat dan hasil
yang lebih berkualitas, sehingga akan dapat menetapkan harga yang lebih bersaing
dengan kualitas produk beserta pelayanannya yang memadai yang akhirnya dapat
mencapai sasaran serta tujuan yang telah ditetapkan. Hal ini mendorong para
pengusaha untuk menggunakan hasil teknologi informasi yang sangat membantu
mempercepat dalam mengambil berbagai keputusan yang relevan. Penggunaan
teknologi ini jelas akan merubah sistem yang diterapkan oleh perusahaan yang pada
awalnya belum melibatkan teknologi yang merupakan bagian dari sistem itu sendiri.
Hal ini dapat dilihat dari sub sistem yang ada dalam perusahaan seperti : sistem
akuntansi, sistem penggajian, sistem pengadaan, sistem pemasaran dan lainnya sudah
menerapkan sistem komputerisasi. Tujuannya agar sistem yang ada dapat
mempercepat proses baik dalam operasi maupun dalam pengolahan data untuk
menghasilkan informasi yang diperlukan lebih cepat dan akurat, sehingga akan
membantu dalam mengambil berbagai keputusan yang relevan dan lebih efektif
(Husein & Amin, 2002).
Khusus mengenai sistem pemasaran yang diterapkan oleh perusahaan yang
bergerak di sektor pariwisata sudah banyak memanfaatkan teknologi informasi dalam
memasarkan produk wisata yang dihasilkan terutama mengenai sistem promosinya. Hal
ini dilakukan untuk menghadapi adanya trend wisata dari wisata massal ke wisata
individual, di samping memang didukung oleh adanya kemajuan teknologi yang
memadai. Industri pariwisata yang ada di daerah Bali sudah banyak yang menggunakan
sistem komputerisasi melalui internet dengan situs web dalam memasarkan produk
wisatanya. Hal ini diakibatkan adanya persaingan yang semakin ketat, di samping
memang adanya tuntutan globalisasi serta adanya trend pasar dan terutama adanya
dorongan teknologi. Namun dalam memasarkan produk wisata, selain menggunakan
website, mereka tetap menggunakan jenis promosi lain dan menggunakan perantara.
Seperti contohnya usaha perhotelan masih menggunakan brosur dan memasang iklan di
beberapa majalah dan media promosi lainnya, sehingga sistem promosi yang
diterapkan khususnya di sektor perhotelan bersifat paralel, yang artinya tidak
sepenuhnya menerapkan sistem website, namun masih menggunakan sistem promosi
sebelumnya. Maksudnya usaha jasa perhotelan dalam memasarkan hotelnya masih
menggunakan bauran promosi, yaitu masih menggabungkan website (pemasaran
langsung) dengan sarana promosi lainnya, seperti: iklan (brosur, majalah), promosi

61
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

penjualan, publisitas, dan penjualan pribadi. Dengan keterbatasan dana dan waktu ,
maka untuk itu hanya akan diteliti tentang penggunaan website pada hotel yang
beroperasi di kawasan wisata Ubud sebagai subyek penelitian dalam rangka
melihat efektivitas penggunaaan website sebagai sarana promosi apabila dibandingkan
dengan jenis sarana promosi lainnya.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang diangkat dalam
penelitian ini adalah bagaimana efektivitas penggunaan website sebagai sarana
promosi, jika dibandingkan dengan efektivitas sarana promosi lainnya (non website)
pada hotel yang ada di kawasan pariwisata Ubud.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas penggunaan website
sebagai sarana promosi, jika dibandingkan dengan efektivitas sarana promosi lainnya
(non website) pada hotel yang ada di kawasan pariwisata Ubud.

II. METODE PENELITIAN


Penelitian ini merupakan penelitian sampling yang akan dilakukan pada
wisatawan yang menginap di hotel yang ada di kawasan wisata Ubud yang telah
menggunakan website dan mulai dilakukan dari bulan April sampai bulan September
2008. Penentuan ukuran sampel dalam penelitian ini berdasarkan “Quota Sampling”,
yaitu pengambilan sampel dengan jumlah jatah tertentu tiap kelas hotel. Sedangkan
untuk pengambilan sampel wisatawan sebagai responden dengan menggunakan
“Accidental Sampling”, yaitu teknik pengambilan sampel secara kebetulan (Slovin
Umar, 1997). Ukuran sampel diambil sebanyak 10 (sepuluh) sampel dari 5 (lima) kelas
hotel, sedangkan jumlah wisatawan yang diambil sebanyak 100 (seratus) orang.
Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan wawancara dan menyebarkan angket
kepada wisatawan.
Teknik analisis yang digunakan untuk menganalisis efektivitas penggunaan
website sebagai sarana promosi, jika dibandingkan dengan efektivitas sarana promosi
lainnya (non website) digunakan “uji hipotesis perbedaan dua rata-rata (Uji-t)”
(Sudjana, 1997:162) dengan rumus :

X1 - X2
tc = ( n1 - 1 )S12 + ( n2 - 1 ) S2 2
1 1 S=
S + n 1 + n2 - 2
n1 n2

Keterangan :
tc = t hitung
t = t tabel
X1 = Mean (rata-rata wisatawan yang mengetahui hotel melalui website)
X2 = Mean (rata-rata wisatawan yang mengetahui hotel melalui non website)
S1 = Standar deviasi wisatawan yang melalui website
S2 = Standar deviasi wisatawan yang melalui non website
S = Standar deviasi gabungan
n1,2 = Jumlah sampel hotel sedangkan 1 menunjukan wisatawan yang melakukan
reservasi melalui website dan 2 melalui non website

62
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Apabila tc ≤ t tabel berarti terima Ho, tolak Ha yang maksudnya penggunaan


website sebagai sarana promosi belum efektif apabila dibandingkan dengan sarana
promosi lainnya.
Apabila tc > t tabel berarti tolak Ho terima H1 yang artinya penggunaan website
sebagai sarana promosi sudah efektif apabila dibandingkan dengan srana promosi
lainnya.
Dalam menentukan efektif tidaknya penggunaaan website sebagai sarana
promosi dengan sarana non website dan antara kelas hotel dalam uji ini menggunakan
L.O.S (Level Of Significance) 5 %.

III. HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN


Jenis usaha hotel / akomudasi yang ada di kawasan wisata Ubud terdiri atas
hotel bintang, hotel melati, dan pondok wisata. Dimana hotel berbintang hanya ada
dua, yaitu bintang 5 dan bintang 3, sedangkan hotel melati terdiri dari tiga klas, yaitu:
melati 3, melati 2 dan melati 1. Dalam menentukan efektivitas website sebagai sarana
promosi, maka dalam penelitian ini hotel yang dijadikan subyek penelitian adalah
hotel bintang dan melati. Jumlah sampel yang diambil sebanyak 10 hotel, di mana
masing-masing kelas hotel diambil dua hotel, yaitu: Four Season Resort dan Maya Ubud
Resort merupakan hotel bintang 5, Begawan Giri Estate dan Amandari Resort
merupakan hotel bintang 3, Pertiwi Resort dan Arma Resort merupakan hotel melati 3,
Komaneka Resort dan Kori Ubud Resort merupakan hotel melati 2, Sahadewa Resort
dan Fibra inn merupakan hotel melati 1. Sedangkan wisatawan yang dijadikan sample
adalah wisatawan yang menginap di hotel yang bersangkutan, dimana untuk setiap
hotel diambil sebanyak 10 wisatawan.
Dalam mengukur efektivitas alat promosi dalam penelitian ini hanya dengan
menanyakan khalayak (wisatawan) yang menginap pada hotel mengenai dari mana
mereka mengetahui hotel tempat mereka menginap yang merupakan pengaruh
langsung dari sarana promosi tersebut. Sedangkan berapa orang yang mereka beritahu
kepada orang lain (keluarga dan teman) tentang keberadaan hotel dimana mereka
menginap merupakan pengaruh tidak langsung. Dimana dari hasil penelitian terhadap
wisatawan adalah sebagai berikut :

Tabel 1
Secara Langsung (terpisah)
Hotel
No B-5 B-3 M-3 M-2 M-1 Jml %
Promosi
1 Website 9 11 13 7 11 51 40,80
2 Friend 5 4 10 2 2 23 18,40
3 Advertisement 9 8 1 9 4 31 24,80
4 Sales promotion 0 2 1 1 3 7 5,60
5 Personala Selling 3 0 2 4 4 13 10,40
Jumlah 26 25 27 23 24 125 100,00

63
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

(bergabung)
Hotel
No B-5 B-3 M-3 M-2 M-1 Jml %
Promosi
1 Website 9 11 13 7 11 51 40,80
2 Non website 17 14 14 16 13 74 59,20
Jumlah 26 25 27 23 24 125 100,00

Tidak Langsung
Hotel
No B-5 B-3 M-3 M-2 M-1 Jml %
Promosi
1 Website 14 16 19 6 23 78 49,68
2 Non Website 13 18 20 6 22 79 50,32
Jumlah 27 34 39 12 45 157 100,00

Data telah diolah


Keterangan :
B = Bintang; M = Melati
Catatan : Jumlah jawaban tidak sama dengan jumlah sampel, karena setiap wisatawan
memilih lebih dari satu jawaban.

Analisis Efektivitas Sarana Promosi


Dalam menganalisis efektivitas website sebagai sarana promosi bagi usaha
industri perhotel yang ada di kawasan wisata Ubud akan dilihat dari pengaruh langsung
dan pengaruh tidak langsung.
a. Secara Langsung
Dalam menganalisis sarana promosi website dengan sarana promosi lainnya
secara langsung juga akan dilihat dari dua sisi, yaitu secara bergabung dan secara
terpisah. Secara bergabung artinya bahwa sarana promosi lainnya digabung menjadi
satu yang akan dibandingkan dengan sarana promosi website. Sedangkan secara
terpisah artinya sarana promosi selain website dihitung masing-masing yang juga
dibandingkan dengan sarana promosi website. Untuk menganalisis efektivitas website
digunakan uji hipotetsis perbedaan dua rata-rata dengan menghitung besarnya nilai t
(uji-t). Dalam menganalisis efektivitas penggunaan website dengan sarana promosi
lainnya yang sifatnya bergabung menunjukan bahwa persentase antara website dengan
non website besarnya 51 : 74 (tabel 1) atau 40,80 % dengan 59,20 %. Ini berarti
website kurang efektif, apabila dibandingkan dengan non website. Setelah diuji
dengan uji dua rata-rata diperoleh besarnya tc (t hitung) = -3,659564 (tabel 2).
Sedangkan tα, n1 + n2 – 2, dimana dalam penelitian ini t0,05(8) = 1,86 (Tabel).
Sehingga tc < tα, maka Ho diterima, artinya tidak ada perbedaan pengaruh
penggunaan website dengan non website, yang maksudnya penggunaan website
sebagai sarana promosi berpengaruh yang sama dengan sarana promosi non website.
Dengan kata lain penggunaan website sebagai sarana promosi masih belum lebih
efektif apabila dibandingkan dengan sarana promosi lainnya (non website) yang sesuai
dengan perbandingan tingkat persentase yang terjadi.

64
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Namun secara terpisah menunjukan perbandingan persentase rata-rata antara


website, friend, advertisement, sales promotion dan personal selling adalah 51 : 23 :
31 : 7 : 13 atau 40,80 % ; 18,40 %; 24,80 %; 5,60 % dan 10,40 % (tabel 1), yang berarti
penggunaan website sebagai sarana promosi lebih efektif dibandingkan dengan masing-
masing sarana promosi lainnya. Setelah diuji dengan uji t antara website dengan
adavertising dengan perbandingan 51 : 31 yang merupakan perbandingan terbesar
diperoleh besarnya tc = 2,803861 (Tabel 3). Sedangkan besarnya t tabel dengan
ketentuan tα n1 + n2 –2 dalam penelitian t0,5 (5 +5) – 2 = t0,5 (8) =1,86, sehingga tc >
t tabel, artinya ada perbedaan pengaruh penggunaan website dengan non website
secara terpisah antara website dengan advertising, yang maksudnya penggunaan
website sebagai sarana promosi lebih efektif dibandingkan dengan masing-masing
sarana promosi lainnya (non website) bagi hotel yang beroperasi di kawasan wisata
Ubud, dengan urutan website 51 poin, advertisement 31 poin, friend 23 poin, personal
selling 13 poin, dan yang terakhir sales promotion 7 poin.

Tabel 2
t-test: Two-Sample Assuming Equal Variances
Web Non Web
Mean 10.2 14.8
Variance 5.2 2.7
Observations 5 5
Pooled Variance 3.95
Hypothesized Mean Difference 0
df 8
t Stat -3.659564
P(T<=t) one-tail 0.003203
t Critical one-tail 1.859548
P(T<=t) two-tail 0.006405
t Critical two-tail 2.306006

Tabel 3
t-test: Two-Sample Assuming Unequal Variances
Web Adver
Mean 10.2 5.2
Variance 5.2 10.7
Observations 5 5
Hypothesized Mean Difference 0
df 7
t Stat 2.803861
P(T<=t) one-tail 0.013189
t Critical one-tail 1.894578
P(T<=t) two-tail 0.026378
t Critical two-tail 2.364623

b. Secara Tidak Langsung


Dalam menganalisis efektivitas penggunaan website yang sifatnya tidak
langsung hanya dianalisis antara website dengan non website yang sifatnya bergabung,
karena dalam kuesioner hanya dipisahkan penyebarannya yang mengenal hotel melalui
website dengan non website. Dalam menganalisis efektivitas website dengan non
website yang bersifat tidak langsung digunakan uji statistik yang berupa uji hipotesis
dua rata-rata dengan uji-t. Berdasarkan data kuesioner diperoleh perbandingan antara

65
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

website dengan non website 78 berbanding 79 poin atau 49,68 % berbanding 50,32 %
(Tabel 1). Ini berarti penggunaan website sebagai sarana promosi secara tidak langsung
kurang efektif dibandingkan dengan sarana promosi non website, yang maksudnya
penyebaran promosi oleh orang yang mengenal hotel melalui website kurang banyak
dibandingkan dengan sarana promosi non website. Ini disebabkan karena promosi
melalui website hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang mengenal komputerisasi
dan orang yang memahami website kebanyakan sibuk, sehingga sedikit mempunyai
waktu untuk bertemu dengan temannya.. Pengujian yang dilakukan menunjukan bahwa
besarnya tc = -0,002455 (tabel 4). Sedangkan besarnya t tabel dengan ketentuan tα, n1
+ n2 -2 , dimana dalam penelitian ini digunakan α = 5 % = 0,05 dan jumlah n1 = n2 = 5 ,
sehingga besarnya t0,05, 5 + 5 – 2 = t0,05 (8) = 1,86. Jadi tc < t tabel, maka Ho
diterima, artinya tidak ada perbedaan pengaruh penggunaan website dengan non
website secara tidak langsung, yang maksudnya penggunaan website sebagai sarana
promosi yang bersifat tidak langsung berpengaruh sama dengan sarana promosi non
website, walaupun secara persentase penggunaan website sebagai sarana promosi
kurang efektif apabila dibandingkan dengan sarana promosi lainnya (non website).
Berdasarkan hasil analisis di atas secara keseluruhan menunjukan bahwa efektivitas
penggunaan website sebagai sarana promosi apabila dibandingkan dengan sarana
promosi lainnya secara bergabung belum lebih efektif baik yang bersifat langsung
maupun tidak langsung. Namun secara terpisah sudah menunjukan bahwa penggunaan
website sebagai sarana promosi lebih efektif apabila dibandingkan dengan sarana
promosi lainnya. Secara rasional penggunaan website sebagai sarana promosi lebih
efektif apabila dibandingkan dengan masing-masing sarana promosi lainnya, karena
lebih tepat membandingkan antara website dengan masing-masing sarana promosi
lainnya secara terpisah.

Tabel 4
t-test: Two-Sample Assuming Equal Variances
Web Non Web
Mean 15.6 15.8
Variance 40.3 41.2
Observations 5 5
Pooled Variance 41
Hypothesized Mean Difference 0
df 8
t Stat -0.002454
P(T<=t) one-tail 0.461874
t Critical one-tail 1.859548
P(T<=t) two-tail 0.923749
t Critical two-tail 2.306006

IV. SIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa
penggunaan website sebagai sarana promosi: a) Secara langsung penggunaan website
belum efektif apabila dibandingkan dengan sarana promosi lainnya yang bersifat
bergabung. Namun secara terpisah menunjukkan bahwa penggunaan website lebih
efektif secara signifikan apabila dibandingkan dengan sarana promosi lainnya. b)
Secara tidak langsung penggunaan website belum efektif apabila dibandingkan dengan
sarana promosi lainnya. Melihat efektivitas penggunaan website secara tidak langsung

66
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

yang menunjukan belum efektif apabila dibandingkan dengan sarana promosi lainnya,
Untuk itu disarankan jangan sampai pihak industri perhotelan yang ada di kawasan
wisata Ubud tidak menggunakan website lagi dalam memasarkan hotel kepada sumber
wisatawan, karena fungsi website bersifat ganda, yaitu sebagai sarana promosi dan
sebagai sarana reservasi

KEPUSTAKAAN

Bowen,J.,Kolter,P.,Makens,J., 1999, Marketing for Hospitality and Tourism, Prentice


Hall, Inc.2nd.Edition.
Fakhri, Husein Muhammad , Wibowo Amin, 2002, Sistem Informasi Manajemen, Edisi
Revisi, UPP AMP YKON, Yogyakarta.
Handoko, T. Hani, 1992, Manajemen, Ed. II, BPFE, Yogyakarta
Kolter, P., 2000, “Management Marketing – The Millennium Edition”, Prentice–Hall,
Inc International Edition.
Sudjana, 1997, Statistika II, Edisi Baru , Tarsito, Bandung.
Sugiarto, E. dan Sri Sulartiningrum, 1998, Pengantar akomudasi dan Perhotelan, PT.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
Umar, Husein, 1997, Metode Riset Ilmu Administrasi Negara, Pembangunan, dan
Niaga, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

67
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

SIMBIOSIS KEPARIWISATAAN, LINGKUNGAN HIDUP


DAN KONSERVASI BUDAYA DI INDONESIA

Ida Bagus Ketut Astina


astina@par.unud.ac.id
Dosen Fakultas Pariwisata Unud

Abstract

In its development tourism as one of human being mobility aspects has close
relationship with human cultures and environment. The interaction that shows within
tourist and destination might cause stimulation which can influence amongst those
components. This process might have effect on the changes of culture attitude or
society life aspect and environment. To minimize this problem it is necessary to
create symbioses and melting pot between tourism, environment and cultural
conservation toward society prosperity.

Keywords: tourism symbioses, environment and cultural conservation.

I. PENDAHULUAN
Dalam situasi kerusakan lingkungan global yang ditandai dengan menipisnya
lapisan ozon, hujan asam, pemanasan global, menipisnya keanekaragaman hayati serta
kondisi perubahan iklim yang ekstrem dapat dijadikan indikator peringatan dini akan
pentingnya menjaga dan memperhatikan aspek lingkungan hidup dalam pembangunan.
Demikian pula dengan adanya ancaman krisis perekonmian global, beberapa negara
dunia mulai melakukan efesiensi serta mencari sumber–sumber perekonomian yang
mampu menghasilkan devisa serta mempercepat proses pulihnya negara bangsa
terhindar dari krisis ekonomi global.
Sejalan dengan hal tersebut Indonesia sebagai negara bangsa juga terhimbas
dari terpaan krisis ekonomi global, banyak hal yang sudah dan sedang dilakukan
dengan menggali sumber–sumber keekonomian termasuk menekuni sektor pariwisata
sebagai andalan, harapan dan primadona setelah sektor migas. Memang beralasan
pemerintah memberi perhatian pada sektor pariwisata sebab prospek yang ditunjukkan
sektor ini cukup menjanjikan dan mampu memberikan tambahan devisa.
Kepariwisataan dilihat dari aspek ekonomi membawa dampak positif terhadap
pertumbuhan perekonomian Indonesia serta membuka lapangan kerja. Namun disisi
lain perlu diwaspadai dampak negatif atau kekhawatiran akan pencemaran terhadap
aspek sosial budaya (pranata dan nilai budaya masyarakat), pencemaran lingkungan,
penyebaran penyakit, penggunaan obat terlarang, tindak kejahatan, pelacuran,
perjudian dan sebagainya. Hal tersebut terjadi sebagai akibat interaksi antara
wisatawan dengan kepentingan ekonomi masyarakat setempat.
Kepariwisataan jika ingin tetap ajeg, sukses dan berkelanjutan hendaklah
berupaya dan berusaha mempertahankan apa yang telah dimiliki dan menjadi daya
tarik wisatawan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemandangan alam dan
peninggalan sejarah sebagai warisan budaya bangsa merupakan aset daya tarik utama
wisatawan datang berkunjung maka hal tersebut perlu mendapat perhatian dijaga

68
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

kelestariannya dari perusakan manusia yang tidak bertanggungjawab. Upaya


pengamanan dan pelestarian lingkungan merupakan investasi nyata dari potensi
kepariwisataan dan menumbuhkembangkan empati, rasa ikut memiliki dan
bertanggungjawab dikalangan masyarakat dan pelaku usaha pariwisata. Terutama
sekali bagi perencana pembangunan kawasan suatu objek wisata direncanakan secara
matang dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan warisan budaya bangsa
(Manuaba,1989; Ramly, 2007).

II. PEMBAHASAN
2.1. Simbiosis Pariwisata Dengan Lingkungan Hidup
Pembangunan pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan kemakmuran,
kesejahteraan dan penciptaan diversifikasi kegiatan ekonomi masyarakat. Proses
penciptaan diversifikasi bidang ekonomi hendaklah sejalan serta tidak merusak
lingkungan hidup. Faktor lingkungan hidup sering dianggap sebagai penghambat
pembangunan dan berlawanan arah. Menurut Soemarwoto (1991) alternatif yang
diperlukan untuk menyelaraskan pembangunan ekonomi (pariwisata) dengan
lingkungan adalah konsep berkelanjutan (sustainable development). Brundtland
mendefinisikan pembangunan berkelanjutan sebagai pembangunan untuk memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengurangi kemampuan pemenuhan kebutuhan generasi
mendatang. Disadari bahwa lingkungan hidup merupakan suatu kebutuhan bagi semua
makhluk yang hidup dimuka bumi dan yang paling besar memanfaatkan lingkungan
hidup adalah manusia itu sendiri. Karena itu hendaklah lingkungan hidup dipelihara
sebaik mungkin dan mencegah sekecil mungkin tindakan merusak lingkungan.
Masalah lingkungan hidup telah ada sejak manusia muncul, hidup dimuka bumi,
hanya saja akhir-akhir ini baru diperdebatkan banyak orang bahkan saling tuduh
tentang timbulnya pengrusakan lingkungan hidup itu sendiri. Tuduhanpun dialamatkan
pada bidang teknologi dan teknologi dianggap sebagai pisau bermata dua di satu sisi
membawa dampak positif membawa kemudahan dan kesejahteraan manusia di sisi lain
berekses negatif menimbulkan kerusakan lingkungan hidup.
Semua masalah tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi jika ada tekad dan rasa
tanggungjawab memperhitungkan dan merencanakan pembangunan suatu negara.
Dalam hal ini pemerintah Indonesia telah memberi perhatian besar terhadap
pelestarian lingkungan terutama dalam proses pembangunan dengan segala
dampaknya. Bahkan secara kongkrit sebagai dasar pijakan dalam menjaga kelestarian
lingkungan hidup pemerintah menetapkan UU no.4 tahun 1982 tentang Ketentuan
Pokok Pengelolaan Lingkungan hidup yang disempurnakan menjadi UU no.23 tahun
1997 tentang Pengelolaan lingkungan hidup. Substansi dari UU tersebut menegaskan
bahwa pengelolaan lingkungan hidup harus berazaskan pelestarian lingkungan yang
serasi dan seimbang untuk menjaga pembangunan berkelanjutan bagi peningkatan
kesejahteraan dan kesinambungan umat manusia. Dari dasar pijakan ini pemerintah
mengambil langkah menyerukan dan mewajibkan semua perencanaan proyek
pembangunan membuat analisis dampak lingkungan (amdal) dan menindak tegas
proyek-proyek pembangunan yang dianggap melanggar atau merusak lingkungan
(Ramly,2007).
Sesungguhnya masalah lingkungan hidup lebih banyak dipengaruhi oleh
perjalanan manusia, lewat pariwisata kemungkinan besar akan menambah pencemaran
lingkungan hidup, apalagi pariwisata sebagai industri sedang digalakkan itu berarti
berbagai proyek fisik akan dibangun. Karena itu jika hendak mengadakan pembenahan

69
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

dalam kepariwisataan maka haruslah melalaui kegiatan lingkungan hidup sebab


pembangunan pariwisata terkait erat dengan pengelolaan lingkungan hidup (Yoeti,
1985).
Pariwisata sebagai salah satu segi mobilitas manusia di dalam
pengembangannya secara langsung maupun tidak terkait erat dan berhubungan dengan
berbagai segi kehidupan manusia maupun lingkungan hidup. Terjadinya kontak atas
interaksi antara wisatawan dengan tempat kunjungan wisata menimbulkan rangsangan
saling mempengaruhi antara wisatawan dengan masyarakat dan lingkungan sebagai
daerah tujuan wisata. Proses ini dapat menimbulkan suatu perubahan segi kehidupan
sifat manusia maupun lingkungan hidup. Prubahan tersebut dapat mendorong
pemeliharaan, pengembangan masyarakat dan lingkungan yang baik atau
kontraproduktif.
Perubahan tersebut dapat berpengaruh terhadap tata cara kehidupan dan mata
pencaharian masyarakat. Sebagai contoh aspek hubungan pengembangan pariwisata
terhadap lingkungan yang tidak terkendali adalah perubahan mata pencaharian
masyarakat yang dahulu bertani setelah berkembangnya kepariwisataan berubah
menjadi pengrajin (seniman). Dengan berpindahnya lapangan pekerjaan telah
menelantarkan lahan pertaniannya. Adanya permintaan pesanan dan larisnya patung
kayu (cendera mata) maupun bahan bangunan, maka orang akan tergiur menebang
atau merusak hutan guna memenuhi bahan baku para pengrajin. Jika hal tersebut
tidak dicegah maka resiko rusaknya hutan akan menimbulkan bahaya erosi, banjir,
tanah longsor yang merusak lingkungan hidup.
Menurut Dustin dan Mc Avoy pakar rekreasi dari Amerika Serikat mengatakan
bahwa meskipun lingkungan disekitarnya mulai memburuk namun tetap saja suatu
objek wisata ramai dikunjungi ribuan pengunjung. Bagi pengelola kepariwisataan
hanya ada dua alternatif yang harus dipilih mana yang lebih penting kepuasan
pengunjung atau terganggunya atau rusaknya lingkungan. Menurut pendapat kedua
pakar tersebut alternatif pemecahannya adalah dengan jalan mendidik masyarakat
merupakan jalan terbaik guna menanggulangi kerusakan lingkungan di daerah wisata.
Anehnya terjadi kontradiksi dari alternatif tersebut dan justru kekeliruan tidakan
dilakukan oleh kebanyakan orang-orang terdidik yang sering bertindak seenaknya.
Sebagai contoh semua orang tidak senang melihat sampah berserakan di daerah tujuan
wisata, kenyataannya banyak orang membuang sampah sembarangan walaupun sudah
ada tanda larangan maupun penyediaan bak sampah. Ini merupakan suatu ego
kemunafikan manusia yang menyatakan diri berkesadaran lingkungan dan sadar wisata.
Hal tersebut merupakan contoh kecil saja bahkan pelanggaran lainnya lebih besar pun
masih terus berlangsung. Mereka (investor) seolah-olah mencoba berspekulasi untung-
untungan seperti pembangunan hotel,restoran yang tidak sesuai dengan amdal,
,membangun tanpa ijin, melanggar sempadan jalan, pantai, jalur hijau yang
sesungguhnya sudah diatur pemerintah berdasarkan pembangunan berwawasan
lingkungan. Investor semata-mata mengejar keuntungan belaka lupa akan masalah
dasar yang perlu dijaga dan dilestarikan yang menjadi daya tarik pariwisata yakni
keutuhan lingkungan. Karena itu kerjasama terpadu, peran serta masyarakat,
pemerintah, pengelola yang berkecimpung dalam pariwisata hendaknya dilakukan
pembinaan akan arti pentingnya lingkungan bermasyarakat dengan tata alam
sekitarnya guna memperoleh keuntungan ekonomi menuju kesejahteraan hidup
bersama (Darsoprajitno, 2002).

70
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Bagi pengelola kepariwisataan hendaknya sebagian dari hasil pendapatannya


hendaknya disumbangkan untuk penyelamatan dan pelestarian lingkungan. Dengan
cara ini pengelola telah berusaha menyelamatkan lingkungan sekaligus dirinya sendiri.
Keterpaduan tersebut akhirnya bermuara pada kecintaan dan keserasian antara
manusia dengan lingkungannya (terjadi simbiosis antara pariwisata dengan lingkungan
hidup).

2.2. Simbiosis Pariwisata Dengan Konservasi Budaya


Pesimisme tentang perubahan sosial budaya sebagai akibat kegiatan
keparwisataan selalu menghangat bahkan telah menjadi kajian ahli antropologi sejak
dahulu. Dari perspektif antropologi pariwisata, perjalanan wisata yang banyak
dilakukan keberbagai daerah tujuan wisata sering dianggap sebagai agen perubahan
(agent of change) yang berpengaruh terhadap perubahan sosial budaya masyarakat.
Proses interaksi antara tuan rumah dengan wisatawan merupakan proses akulturasi
unsur-unsur kebudayaan asing secara perlahan akan masuk dan diterima serta diolah ke
adalam kebudayaan masyarakat penerima tanpa menghilangkan ciri khas atau identitas
kebudayaan sendiri (local genius). Jadi setiap masyarakat sudah memiliki daya saring
(filterisasi) apa yang harus diambil dan apa yang harus ditolak (Irwan,1989).
Namun sering pengaruh budaya asing yang dibawa wisatawan lebih dominan
mempengaruhi masyarakat setempat sehingga dapat menimbulkan perubahan yang
destruktif pada pranata dan nilai budaya masyarakat penerima wisatawan. Perubahan
ini justru akan menghilangkan kebudayaan setempat apabila masyarakat setempat
terlalu lemah dan selalu memenuhi selera wisatawan. Memang tidak dipungkiri
hadirnya atau berkembangnya pariwisata akan terbentuk transformasi modernisasi.
Munculnya wisatawan asing akan terjadi kontak komunikasi dengan penduduk setempat
termasuk pengenalan pendidikan standar internasional, meningkatnya kelas menengah
dan terciptanya mobilitas sosial. Orientasi pemikiran cenderung terbuka tidak menutup
diri. Proses ini tidak sedikit menimbulkan ekses dalam menuju pertumbuhan. Untuk
memenuhi selera wisatawan banyak hal yang menjadi korban seperti terancamnya
kelestarian lingkungan hidup, hilangnya keaslian alam dengan berdirinya sarana
akomodasi (hotel dan restoran) baik ditepi pantai maupun daerah perbukitan.
Berkembanganya jaringan bisnis diperkotaan diiringi dengan pendirian pusat-pusat
pertokoan, perkantoran, perbankan, pelebaran jalan yang justru dapat
menghancurkan, meniadakan bangunan-bangunan bersejarah sebagai warisan budaya
bangsa demi kemajuan pembangunan itu sendiri. Sering pula terjadi kanibalisme
terhadap budaya asli semata-mata untuk kepentingan komersial (Kawilarang,1989).
Pada saat ini yang menjadi ancaman kehidupan kelestarian seni budaya selain
adanya arus urbanisasi juga pengarauh konsumtif yang sangat tinggi seperti kegiatan
kepariwisataan dengan pagelaran seni budaya yang diprogram sesuai dengan pesanan
selera wisatawan. Jika dikilas balik sebelum berkembangnya pariwisata, para
pengarajin di desa- desa baik pematung, pengukir, pelukis mengerjakan karyanya
sesuai dengan panggilan jiwanya dikaitkan dengan ritual keagamaan. Nilai artistiknya
tetap terjaga sehingga hasil dari daya ciptanya memiliki taksu (inner power) . Namun
setelah berkembangnya
kepariwisataan karya para seniman telah berubah menjadi nilai jual
keekonomian disesuaikan dengan selera dan permintaan wisatawan. Para pedagang
tidak lagi memperhatikan mutu barang yang penting memperoleh untung besar. Di sini

71
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

telah terjadi komodifikasi perubahan daya kreasi dan selera pengrajin telah dikalahkan
oleh pembeli sehingga mutu tidak menjadi masalah (Yoeti,1985).
Bali merupakan daerah tujuan utama pariwisata bagian tengah dengan seni
budaya yang tinggi sering menjadi sorotan bahkan pesimisme dari banyak kalangan.
Bahkan Bali diprediksi akan menjadi Eropa kedua sebab sumber keasliannya telah
memudar sulit ditemukan. Pasar tradisional telah digusur dengan pasar swalayan, tidak
ada pemerataan pembangunan pariwisata,restoran dan hotel kebanyakan bukan lagi
menjadi milik penduduk asli setempat (Susanto,1990).
Parsudi Suparlan (1990) mengatakan kepariwisataan dapat menimbulkan polusi
budaya. Polusi budaya merupakan hasil kebudayaan yang terwujud akibat interaksi
antara wisatawan dengan kepentingan ekonomi penduduk setempat. Kenyataan polusi
budaya dapat dilihat di Bali para pedagang acung (asongan) berani menawarkan barang
dagangannya sampai menyentuh muka wisatawan sambil memaksa untuk membeli.
Tindakan ini dapat dianggap kurang etis dan mengganggu pribadi wisatawan. Jadi di
sini berarti bukan wisatawan saja yang dapat membuat polusi budaya tetapi
masyarakat sendiri menciptakan dan mengotori budaya sendiri seperti kasus pedagang
acung di Bali.
Masih banyak sorotan tajam, kekhawatiran dan pesimisme tentang memudarnya
seni budaya Bali sebagai akibat banyaknya wisatawan yang berkunjung, namun ada
pula beberapa orang yang optimis bahwa benturan dua budaya berbeda yang terjadi di
Bali tidak akan merusak Bali tetapi justru memperkaya dan melestarikan budaya Bali.
Pernyataan tersebut diamini oleh Philip Mc. Kean yang mengadakan penelitian di Bali.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa masyarakat Bali masih mampu bertahan dari
gempuran unsur-unsur budaya asing. Hal tersebut disebabkan teguhnya keyakinan
orang Bali terhadap agamanya yang berimplikasi dengan adat dan budayanya sehingga
tidak menyebabkan perubahan pranata dan nilai yang berarti. Jika terjadi
komersialisasi di bidang seni, pengrajin ukiran, lukisan tidak melunturkan nilai-nilai
budayanya. Orang Bali masih tetap menghargai seni yang menjadi bagian kehidupannya
sehari-hari. Bahkan datangnya wisatawan ke Bali justru memotivasi orang bali untuk
mengembangkan kebudayaannya (Bandem, 2006 dan Irwan, 1989). Bali tanpa memiliki
adat istiadat dan budaya yang menyatu dengan agama keseluruhan ritus hidup orang
Bali barangkali penilaian terhadap Bali akan lain dan tidak ada apa-apanya. Percuma
saja memiliki potensi alam yang indah jika mental manusianya buruk maka tidak akan
memberi tempat bagi tumbuh suburnya kepariwisataan (Kompas, 1991).
Memang tidak semua daerah tujuan wisata seperti Bali, potensi yang dimiliki
tidaklah kalah menarik misalnya daerah tujuan wisata Tana Toraja. Berdasarkan hasil
penelitian Eric Crystal, kedatangan wisatawan ke Toraja justru membuat polusi
budaya. Wisatawan yang ingin menyaksikan penguburan jenasah yang unik (rambu
solo) dengan menghabiskan biaya besar dan bersifat sakral lama kelamaan mengarah
komersial karena di desak oleh permintaan, pesanan wisatawan. Konsekuensi logis dari
hal tersebut jelas telah memudarkan fungsi sosial budaya dari upacara tersebut.
Dari dua kasus penelitian tersebut telah menunjukkan bahwa setiap masyarakat
memberi respon berbeda terhadap masuknya pariwisata sehingga hasilnya berbeda.
Masing-masing masyarakat memiliki keunikan budaya sendiri dan dampak negatif yang
muncul dari pariwisata tergantung dari masyarakat itu sendiri. Sesuai dengan dinamika
kehidupan, segala sesuatu pasti akan berubah, cepat atau lambat. Demikian pula
tentang kebudayaan karena itu pemerintah perlu mengambil kebijakan agar perubahan
sosial budaya dapat diminimalisir. Disinilah pentingnya peran pemerintah dalam

72
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

mensosialisasikan konsep konservasi budaya dala arti pelestarian sekaligus


pengambangan budaya agar dapat memenuhi tuntutan pariwisata. Disadari bahwa
tidak semua daerah tujuan wisata di Indonesia akan menjadi primadona seperti Bali.
Karena tidak semua daerah tujuan wisata mampu mengantisipasi dan menyesuaikan
diri dengan kedatangan wisatawan. Misalnya Kalimantan dengan suku dayaknya, Papua
dengan suku daninya tidak mungkin dapat terbuka seperti Bali karena mereka baru
secara bertahap mengenal kehidupan menetap, jika dilakukan pembinaan dan
keterbukaan akan berproses lama. Jadi yang lebih penting dalam hubungan simbiosis
antara pariwisata dengan konservasi budaya tidak hanya melihat sisi negatifnya
saja,jika cermat dan mampu mengantisipasi, merencanakan secara matang, terpadu
baik masyarakat, pemerintah dan investor (pelaku usaha pariwisata) maka pariwisata
justru akan membawa berkah keberuntungan bagi kesejahteraan.

III. SIMPULAN
Di dalam pengembangan dan pembangunan kepariwisataan hendaklnya
diperhatikan aspek lingkungan hidup dan konservasi budaya. Karena daya tarik
pariwisata cenderung terletak pada kualitas lingkungannya dan pelestarian budayanya.
Jika hal ini tidak diperhatikan maka untuk sementara waktu memang dapat menarik
jumlah kunjungan wisatawan dan pariwisata yang terlalu dieksploitasi akan dapat
merusak lingkungan dan pencemaran budaya. Di sini kepariwisataan terkait hubung dan
bersimbiosis dengan lingkungan hidup dan konservasi budaya. Di satu sisi hubungan
simbiosis dapat bersifat negatif seperti perusakan, pencemaran lingkungan, polusi
budaya, komersialisasi, komodifikasi seni budaya, pendangkalan kreasi serta mutu
seni. Di sisi lain kepariwisataan yang direncanakan secara matang justru akan
membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

KEPUSTAKAAN
Bandem, I Made. 2006. ”Peranan Seni dan Budaya Dalam Pengembangan Pariwisata”,
dalam Yoeti. Pariwisata Budaya Masalah dan Solusinya. Jakarta : PT Pradnya
Paramita
Dahlan, M. Alwi ”Pariwisata Lingkungan Hidup, Komunikasi” dalam harian umum Bali
Post No. 286 tahun ke-38 Rabu 7 April 1987
Darsoprajitno, Soewarno. 2002. Ekologi Pariwisata tata laksana Pengelolaan Obyek dan
Daya Tarik Wisata. Bandung : Angkasa.
Irwan, M.H. ”Pariwisata dan Konservasi Budaya”, dalam harian umum Suara Pembaruan
Tahun ke-II No.765, Jumat 7 April 1987.
Kawilarang Harry. ”Perkembangan Pariwisata di Negara–negara Dunia Ketiga”, dalam
Harian Umum Suara Pembaruan Tahun ke-III No. 810 Jumat 26 Mei 1989.
Manuaba, A. ”Hubungan Simbiotik Kepariwisataan dan Lingkungan”, dalam Harian
Umum Bali Post Rabu 22 Maret 1989.
_________. “Pariwisata dan sentuhan Budaya”, dalam harian umum Kompas No. 193
Tahun ke-26 12 Januari 1991.
Ramly, Nadjamuddin. 2007. Pariwisata Berwawasan Lingkungan Hidup, Belajar Dari
Kawasan Wisata Ancol. Jakarta : Grafindo Khazanah Ilmu.
Soemarwoto, Otto. “Interaksi Manusia dan Lingkungan”, dalam Prisma No.1 Januari
1991.

73
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Susanto, Astrid. “Bali Nyaris Jadi Black Pool”, dalam Majalah Management & Usahawan
Indonesia No.12 Tahun XIX Desember 1990.
Suparlan, Parsudi, ”Polusi Budaya Bukan Produk Wisatawan”, dalam Majalah
Management & Usahawan indonesia No.12 Tahun XIX, Desember 1990.
Yoeti, Oka.1985. Komersialisasi Seni Budaya dalam Pariwisata. Bandung : Angkasa.

74
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

PEMAHAMAN LINTAS BUDAYA DALAM PARIWISATA


(PERBEDAAN BUDAYA BARAT DAN TIMUR)

I Putu Sudana
sudana@par.unud.ac.id
Dosen Fakultas Pariwisata Unud

Abstract

To understand the difference between the two cultures: West and East culture
in communication context, there are some main schemes, as follows: 1. Thought
patterns that influence reactions, impulses, and individual responses in
communicating to another individual with different culture backgrounds, 2.
Stereotype as a barrier factor in cross culture communication, 3.Ethnocentric is
cultural egoism: uncontrollable assessment that affects communication, 4.Norms,
traditions and values as behaviour principle and provide guidance for community to
live their lives.
Eastern people have fundamental difference to western people in the way they
communicate. Eastern people well-known for their born hospitality, on the other
hand western people’s hospitality is spontaneous and consistence. This condition has
to be recognized for both parties for avoiding culture shock and miscommunication.

Keywords : stereotype, ethnocentric, culture shock.

I. PENDAHULUAN
Aktivitas dan mobilitas di era globalisasi telah mendorong terjadinya pertukaran
budaya yang lebih intensif antar bangsa-bangsa, baik dilakukan dengan kemampuan
dial direct lewat telepon, direct access lewat internet maupun direct contact lewat
pertemuan-pertemuan. Orang-orang dari berbagai bangsa saling bertemu, saling
bertukar tempat di berbagai negara yang menjadi pusat-pusat tujuan wisata dan pusat-
pusat perekonomian di dunia.
Pertemuan dari berbagai lapisan masyarakat yang berbeda-beda tersebut tidak
dapat dilakukan kalau diantara mereka tidak ada alat komunikasi yamg sama, yaitu
bahasa. Bahasa sebagai alat komunikasi yang dapat mempertukarkan gagasan, ide-ide
ternyata tidak cukup untuk menjadi syarat suksesnya tindak komunikasi. Bahasa
sebagai alat pertukaran dalam berkumunikasi memang penting, tetapi sukses
komunikasi lebih ditentukan oleh konteksnya. Dengan demikian bahasa sebagai pesan
merupakan perantara sebuah transaksi sosial-ekonomi, budaya, dan politik, namun
tidak dapat berdiri sendiri. Keberhasilan dalam berkomunikasi sangat erat dengan
kredibilitas komunikator dan kontek sosial budaya yang melatar belakangi para pelaku
komunikasi.
Dalam pertukaran gagasan, barang dan jasa, peranan latar sosial budaya,
memberikan sumbangan yang cukup besar terhadap keberhasilan tindak komunikasi.
Sebaliknya, latar sosial budaya juga menjadi hambatan-hambatan dalam tindak
komunikasi. Oleh sebab itu, jika hambatan-hambatan tersebut dapat dieleminir dengan

75
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

cara membuat semacam panduan praktis mengenai berbagai budaya dan pola
komunikasi setiap bangsa. Tujuannya jelas untuk mempermudah setiap pelaku
komunikasi mengetahui secara lebih baik latar belakang sosial budaya komunikannya.
Dalam dunia pariwisata, pemahaman komunikasi lintas budaya mutlak
diperlukan, untuk dapat memberikan pelayanan yang optimal kepada wisatawan, dan
mencegah timbulnya apa yang disebut dengan shock culture. Terkait dengan hal
tersebut, melalui tulisan ini akan dipaparkan mengenai perbedaan antara budaya barat
dan budaya timur yang melatar belakangi proses komunikasi yang dilakukan. Penulis
lebih menekankan pada aspek bahasa verbal sebagai sarana komunikasi, dengan
memberikan contoh-contoh kongkrit untuk memudahkan pemahaman. Melalui
pemahaman tersebut diharapkan dapat diminimalkan misscomunication dan cultural
shock dalam hubungan antar budaya. Pemahaman lebih dini terhadap komunikasi lintas
budaya, menyebabkan kita dapat mengambil langkah-langkah antisipatif didalam
mencegah terjadinya diantara kita dengan wisatawan.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang pada intinya merupakan suatu
penyampaian pesan. Samovar dan Porter memberikan definisi komunikasi (Purwasito,
2003) sebagai berikut :

“Communication is defined as two-way on going, behavior affecting process in


which one person (a source) intentionally encodes and transmits a massage
throught a channel to an intented audience (receiver) in oder to induce
aparticular attitude or behavior”.

Komunikasi akan lengkap hanya bila penerima pesan yang dimaksud


mempersepsi atau menyerap perilaku yang disandi, memberi makna kepadanya dan
terpengaruh (to induce) olehnya. Dalam transaksi ini terdapat unsur-unsur stimuli baik
sadar tidak sadar, sengaja tidak sengaja, verbal non verbal dan stimuli yang
kontekstual untuk menentukan apakah berkualitas suatu tindak komunikasi dan
bagaimana kredibilitas pesan. Artinya, agar komunikasi efektif, dibutuhkan beberapa
unsur-unsur komunikasi yang terlibat didalamnya sebagai berikut: pertama adalah
sumber (source) adalah orang yang mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi yang
juga disebut nara sumber atau enkoder. Unsur kedua adalah penyandian (encoding),
enkoding adalah proses internal dalam diri seseorang, dalam menuangkan gagasan-
gagasan ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas, menjelmakan
gagasan-gagasan tersebut ke dalam kode-kode atau lambang-lambang tertentu. Karena
proses penyandian pesan (message) terdapat di dalamnya kode dan lambang-lambang,
baik verbal dan atau nonverbal. Unsur ketiga adalah saluran komunikasi (channel) yaitu
alat yang dipakai untuk mengalirkan pesan dari narasumber ke penerima. Unsur yang
keempat adalah orang yang menerima pesan (receiver) atau dekoder. Unsur kelima
adalah penyandian balik (decoding) adalah tindakan menerima pesan sebagai proses
internal penerima dan pemberian makna kepada perilaku sumber yang mewakili
perasaan dan pikiran nara sumber. Unsur komunikasi keenam yaitu respon (receiver
response), adanya respon dianggap berasil bila penerima memaknai yang kurang lebih
sama dengan apa yang dikehendaki nara sumber atau pencipta pesan. Unsur yang
terakhir dari komunikasi adalah apa yang disebut dengan umpan balik (feedback),
dimana nara sumber memberikan penilaian dan pertimbangan tentang apakah tindak

76
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

komunikasi yang dilakukannya berhasil efektif atau gagal. Umpan balik dapat diketahui
lewat respon-responpenerima. Purwasito menyatakan bahwa istilah komunikasi
lintas budaya sering digunakan oleh para ahli untuk menyebut makna komunikasi
antarbudaya (cross-cultural). Perbedaannya barangkali terletak pada wilayah geografis
(negara) atau dalam kontek rasial (bangsa). Tetapi juga untuk menyebut dan
membandingkan suatu fenomena kebudayaan dengan fenomena kebudayaan yang lain,
tanpa dibatasi oleh kontek geografis maupun ras atau etnik.
Komunikasi lintas budaya didefinisikan sebagai analisis perbandingan yang
memprioritaskan relativitas kegiatan kebudayaan. (a kind of comparative analysis
which priorities the relativity of cultural activities). Adapun hubungannya dengan
komunikasi multikultural, komunikasi lintas budaya pada umumnya lebih berfokus pada
hubungan antar bangsa tanpa harus membentuk kultur baru sebagaimana terjadi dalam
komunikasi multikultural.
Pada dasarnya, kebudayaan yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat itu
sangat unik. Bahasa, cara makan, cara berpakaian, cara bersopan santun, standar
moral dari suatu komunitas, berbeda dengan komunitas yang lain. Perbedaan tersebut
memang nanpak kontradiksi, namun kenyataan sejarah menunjukkan adanya sharing of
culture yang dapat saling menerima dan saling mengerti perbedaan itu. (Purwasito,
2003). Beberapa hal yang dapat dijadikan kerangka berfikir memahami kebudayaan
dalam konteks komunikasi adalah pola-pola berfikir, stereotipe, etnosentrisme, norma,
tradisi dan nilai dan sistem religi.

III. PEMBAHASAN
Melihat kontras antara budaya barat dengan budaya timur, pada umumnya
orang-orang berpendapat bahwa, budaya timur itu mementingkan kehidupan
kerohanian, mistik, pikiran prelogis, keramah-tamahan secara lahiriah, gotong royong,
tidak langsung (indirect), senioritas, dan lain-lain dimana terdapat norma-norma bagi
seseorang untuk mengantisipasi sikap saling memahami perasaan, dan harapan.
Berbeda dengan kebudayaan barat secara umum orang berpendapat bahwa mereka
mementingkan kebendaan, pikiran logis, hubungan antar guna (hubungan hanya
berdasarkan prinsip guna), dan individualisme dan bersifat langsung.
Untuk mempermudah memahami perbedaan antara dua karakteristik budaya
diatas, dan untuk mempermudah penulis dalam menganalisa keterkaitannya dalam
konteks komunikasi, kontras kedua kebudayaan tersebut dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Kontras Kebudayaan Barat & Timur

No Kebudayaan Timur Kebudayaan Barat


1 Bersifat tidak langsung (indirect) Bersifat langsung (direct)
2 Menjungjung sikap kebersamaan Sikap individual
3 Komunikasi fleksibel (kurang pasti) Komunikasi bersifat pasti dan tepat
4 Lebih menghargai senioritas Senioritas tidak terlalu dipentingkan
5 Keramahan lebih bersifat lahiriah Sikap ramah keluar secara spontan
Sumber : Diolah dari berbagai sumber (2008)

Berdasarkan tabel tersebut di atas, berikut akan diuraikan beberapa contoh


ilustrasi komunikasi, yang dilatarbelakangi oleh dua budaya yang berbeda. Contoh 1,

77
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

komunikasi yang dilatarbelakangi oleh budaya barat dengan judul “The secret of my
success” :

Reporter asked asuccessful Bank Manager.


Reporter:‘Sir, what is the secret of your success?’
Bank Manager: Two words’
Reporter:‘And what are they, Sir?’
Bank Manager:‘Right decisions’
Reporter ‘And how do you make right decisions?’
Bank Manager:‘One word…experience’
Reporter:‘And how do you get experience Sir?’
Bank Manager:‘Two words’
Reporter:‘What are they Sir?’
Bank Manager:‘Wrong decisions’ (Sutjiati Beratha, 2003:6).

Contoh di atas menunjukkan wacana kebudayaan barat, yang bersifat langsung,


dimana seorang manager bank dengan secara langsung (to the point) menjawab apa
yang menjadi inti dari pertanyaan reporter, tanpa ada basa-basi. Hal ini akan sangat
berbeda jika terjadi di budaya timur, dimana biasanya apabila menjawab pertanyaan
akan didahului dengan cerita. Bahkan pada budaya tertentu di timur, sering dalam
penyampaiannya lewat sindiran, seperti yang terjadi dalam contoh 2 yang
dilatarbelakangi oleh budaya Minang sebagai berikut:
“Kuciang ko lalok ka lalok se karajoe”, Ungkapan ini artinya “ Kucing ini tidur
saja kerjanya”. Sindiran ini dimaksudkan agar menantu/suami mau berusaha atau
mencari pekerjaan. Pada budaya Minang kucing sebagai simbul suami/menantu yang
pemalas. Ini mengindikasikan bahwa pada budaya Minang, seorang mertua atau istri
tidak akan secara langsung menyampaikan keinginannya agar menantu/suami mau
berusaha atau bekerja. Keinginan untuk menyampaikan ini dilakukan secara tidak
langsung yaitu dengan menyindir.
Ciri yang lain yang sangat menonjol dari budaya barat adalah sikap idividual
yang tinggi, hal ini bisa kita lihat dalam kontek bahasa dimana kata “saya” dalam
bahasa ingris selalu ditulis dengan huruf kapital “I”. Contoh yang lain dari budaya
barat bahwa mereka sangat menjunjung tinggi sikap individunya. Mereka sangat tidak
suka apabila mereka sedang berjalan ditanya dengan pertanyaan “Where are you going
Sir/Madam?”, bisa jadi mereka akan menjawab dengan “ This is my bussiness”, ini
berbeda dengan budaya Indonesia, dimana kalimat where are you going menunjukkan
keramahan, karena sikap ini menunjukkan kita peduli kepadanya.
Contoh berikut menunjukkan komunikasi budaya timur adalah fleksibel/kurang
pasti dapat dilihat pada budaya orang Jepang, dimana pada saat berkomunikasi orang
jepang sering menggunakan kata “demo”, “gurai”, contoh dalam kalimat sebagai
berikut :

Itsu-demo kekkoo-desu. ‘Kapanpun akan dikerjakan’


Doko-demo kekkoo-desu. ‘Dimanapun akan tidak masalah buat saya’
Mittsu-hodo/gurai/bakari kudasai. ‘Tolong berikan saya kira-kira tiga’
Eiga-demo mimashoo-ka? ‘Bagaimana kalau menonton film atau yang lain?

78
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Contoh tersebut di atas menunjukan orang Jepang (mewakili budaya timur)


dalam berkomunikasi, terlebih dalam menentukan jumlah, waktu dan tempat sangat
fleksibel, artinya tidak ditentukan secara tepat, demi menghormati lawan bicara
bahwa hal tersebut tidak terlalu menjadi persoalan atau masalah yang mendasar saat
pertemuan pertama kali. Namun ketika waktu sudah ditentukan melalui kesepakatan,
maka orang Jepang baru akan menunjukkan kedisplinannya. Berbeda dengan budaya
barat yang lebih menekankan kepastian dan tepat waktu (on time) di awal pertemuan.
Selain hal tersebut di atas, hal prinsip yang juga menjadi ciri yang mendasar
dari budaya timur dalam tindak komunikasi adalah lebih menghargai senioritas, karena
orang timur beranggapan bahwa orang tua/sesepuh merupakan orang yang harus
dihormati, “ kita ada karena mereka”, dan mereka memiliki pengalaman yang lebih.
Sebagai contoh orang timur, misalnya orang Indonesia tidak akan menggunakan kata
“kamu”, apabila berbicara dengan orang yang lebih tua, seperti halnya orang Amerika
dan Inggris yang menggunakan kata “you”, walaupun yang diajak bicara adalah orang
yang lebih tua.
Terkait dengan dunia pariwisata, budaya timur pada umumnya sangat terkenal
dengan keramahan masyarakatnya, walaupun keramahan tersebut didominasi oleh
keramahan yang bersifat lahiriah. Tidak demikian halnya dengan budaya barat, yang
keramahannya sungguh-sungguh datang secara spontan dan konsekwen. Sebagai contoh
orang timur/Indonesia akan menjawab dengan kata “ya”, yang dalam bahasa inggris
belum tentu berarti “yes”. Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh duta besar
Amerika, Mr. Ralph L. Boyce di Surabaya, “ bahwa orang Amerika kadang-kadang
menjadi jengkel bilamana rekan Indonesia bilang “ya”, padahal jawaban sesungguhnya
adalah tidak. Asal Bapak Senang. Tetapi kami orang Amerika harus paham bahwa
“ya”di Indonesia tidak selalu berarti “ya”, paling kurang, tidak berarti sama seperti
“ya” di Amerika.
Pernyataan Mr. Ralph L. Boyce menarik untuk disimak, karena dari pernyataan
itu terlihat adanya kemauan dan keharusan sebagai seorang duta besar asing yang
tinggal di Indonesia, untuk berusaha belajar dan memahami budaya asing/budaya
Indonesia, guna memperlancar proses komunikasi yang dilakukan dalam menjalankan
tugas-tugasnya di Indonesia. Dan ini sekaligus juga tantangan bagi kita, untuk belajar
memahami budaya negara lain, seperti mereka mempelajari budaya kita.

IV. SIMPULAN
Resiko hambatan proses komunikasi antara budaya barat dengan budaya timur
disebabkan terutama karena pola-pola pikir yang berbeda. Dalam dunia
kepariwisataan, dimana budaya merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk
berkunjung ke suatu daerah tujuan wisata. Komunikasi lintas budaya baik yang bersifat
regional, nasional maupun global pasti terjadi, karena suatu masyarakat yang memiliki
latar belakang kebudayaan yang berbeda pasti akan bersentuhan. Sehingga
pemahaman tentang hal ini perlu ditingkatkan, karena perkembangan pariwisata
membutuhkan pengetahuan tentang cara berkomunikasi dan berinteraksi di dalam
suatu masyarakat, sehingga komunikasi berjalan dengan lancar dan baik, untuk
mencegah terjadinya misscommunication dan tidak terjadinya culture shock.

79
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

KEPUSTAKAAN

Boyce L. Ralph. 2002. Pemahaman Lintas-Budaya A.S Indonesia. Siaran Pers Kedutaan
Besar Amerika Serikat
Koentjaraningrat. 2002. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Purwasito, Andrik. 2003. Komunikasi Multikultural. Surakarta : Muhamadiah Univ.
Press.
Sutjiati Beratha, NL. 2003. “Pariwisata dan Komunikasi Lintas Budaya”. Makalah
Matrikulasi Karya Siswa Kajian Pariwisata. Program Pasca Sarjana Unud
Denpasar.
Wierzbicka, A. 1996. Cross Cultural Communication. Australia National University.

80
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

EKOWISATA HUTAN MANGROVE:


WAHANA PELESTARIAN ALAM DAN PENDIDIKAN LINGKUNGAN

Made Sudiarta
made_sudiarta@yahoo.co.id
Dosen Politeknik Negeri Bali

Abstract

The research is aimed at analyzing the ecotourism potencies which may be


developed as ecotourism attractions and work sections owned by the Mangrove
Information Center in giving environmental education to the society. Data are
collected through field research using purposive sampling.
The research shows that the Mangrove Information Center has many potencies
to be developed as ecotourism attractions such as; varies of mangrove trees, birds,
crabs, lizard, mangrove information building, monitoring pool, nursery area, touch
pool, wooden trail, resting points, floating deck, and viewing towers. There are many
kinds of tourist attractions offered at the mangrove forest ecotourism object such as;
mangrove educational tour and trekking, bird watching, canoeing, boating, and
mangrove tree plantation or adoption. In applying its programs, the Mangrove
Information Center has six work sections such as; Environmental Education Section,
Ecotourism Section, Training Section, Research Section, Information Section, and
Management Section.

Keywords: ecotourism, tourist attraction, and environmental education.

I. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan mangrove terluas di
dunia mencapai 25% dari total luas hutan mangrove di seluruh dunia (18 juta hektar)
yaitu seluas 4.5 juta hektar atau sebanyak 3,8 % dari total luas hutan di Indonesia
secara keseluruhan. Sedikitnya luas hutan mangrove ini mengakibatkan perhatian
Pemerintah Indonesia terhadap hutan mangrove sangat sedikit juga, dibandingkan
dengan hutan darat. Kondisi hutan mangrove juga mengalami kerusakan yang hampir
sama dengan keadaan hutan-hutan lainnya di Indonesia (Mangrove Information Center,
2006).
Menyikapi fenomena tersebut, Pemerintah Indonesia melalui Departemen
Kehutanan mengeluarkan beberapa kebijakan yang diharapkan mampu menyelamatkan
kekayaan alam berupa hutan tropis yang tersebar di seluruh penjuru nusantara. Salah
satu kebijakannya adalah mengenai upaya penyelamatan hutan mangrove. Sehingga
pada tahun 1992 dibentuk Pusat Informasi Mangrove (Mangrove Information Center).
Mangrove Information Center (MIC) merupakan proyek kerjasama antara Pemerintah
Indonesia melalui Proyek Pengembangan Pengelolaan Hutan Mangrove Lestari dan
Pemerintah Jepang melalui Lembaga Kerjasama Internasional Pemerintah Jepang
melalui Japan International Corporation Agency (JICA).

81
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Tingginya biaya operasional proyek yang dilaksanakan di Mangrove Information


Center (MIC) mengakibatkan terjadinya kekhawatiran terhadap kurangnya dana proyek
dan pemeliharaan dan pelatihan hutan mangrove di Kawasan Taman Hutan Raya
Ngurah Rai khususnya di Kawasan Mangrove Information Center (MIC) melahirkan ide
dan terobosan baru yang diharapkan bisa membantu menutupi kekurangan dana
tersebut. Ide cemerlang tersebut selanjutnya diimplementasikan dengan
pengembangan obyek ekowisata di Kawasan Mangrove Information Center (MIC).

II. TINJAUAN PUSTAKA


Ekowisata merupakan salah satu produk pariwisata alternatif yang mempunyai
tujuan seiring dengan pembangunan pariwisata berkelanjutan yaitu pembangunan
pariwisata yang secara ekologis memberikan manfaat yang layak secara ekonomi dan
adil secara etika, memberikan manfaat sosial terhadap masyarakat guna memenuhi
kebutuhan wisatawan dengan tetap memperhatikan kelestarian kehidupan sosial-
budaya, dan memberi peluang bagi generasi muda sekarang dan yang akan datang
untuk memanfaatkan dan mengembangkannya.
The International Ecotourism Society (2002) mendifinisikan ekowisata sebagai:
Ecotourism is "responsible travel to natural areas that conserves the environment and
sustains the well-being of local people." Dari definisi tersebut, ekowisata merupakan
perjalanan wisata yang berbasiskan alam yang mana dalam kegiatannya sangat
tergantung kepada alam, sehingga lingkungan, ekosistem, dan kerifan-kearifan lokal
yang ada di dalamnya harus dilestarikan keberadaanya (www.world-
toirism.org.omt/ecotourism).
Drumm (2002) menyatakan bahwa dalam pengembangan ekowisata harus
memiliki dampak yang rendah terhadap sumber daya alam yang dijadikan sebagai
obyek wisata, melibatkan stakeholders (perorangan, masyarakat, eco-tourists, tour
operator dan institusi pemerintah maupun non pemerintah) dalam tahap perencanaan,
pembangunan, penerapan dan pengawasan, menghormati budaya-budaya dan tradisi-
tradisi local, menghasilkan pendapatan yang pantas dan berkelanjutan bagi para
masyarakat lokal, stakeholders dan tour operator local, menghasilkan pendapatan
untuk pelestarian alam yang dijadikan sebagai obyek wisata dan mendidik para
stakeholders mengenai peranannya dalam pelestarian alam.
Menurut Wood (2002), setiap pengelola ekowisata wajib menerapkan dan
mematuhi prinsip-prinsip dasar pengembangan ekowisata. Selain itu, pengelola
ekowisata juga disarankan secara optimal untuk melakukan hal-hal seperti ;
memberikan informasi tentang lingkungan dan budaya yang akan dikunjungi sebelum
keberangkatan, memberikan panduan informasi tertulis mengenai pakaian yang harus
dipakai dan hal-hal yang boleh dilakukan dan mengingatkannya kembali secara lisan
pada saat keberangkatan dan berwisata, memberikan pra-informasi secara singkat
kepada wisatawan sebelum kedatangannya tentang geografi destinasi, karakteristik
sosial dan politik destinasi, begitu juga tantangan-tantangan yang berhubungan dengan
alam, sosial-budaya dan politik, memberikan pelayanan dan pemanduan yang
menyeluruh dengan menggunakan pramu wisata yang memiliki pengetahuan dan
keahlian khusus, memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk berinteraksi
langsung dengan masyarakat lokal untuk mengetahui secara lebih mendalam mengenai
kehidupan sosial-budayanya, men-stimulus pengembangan pemahaman baik kehidupan
sehari-hari masyarakat dan tradisinya maupun isu-isu terkini yang muncul sehubungan
dengan pengembangan ekowisata yang selanjutnya didiskusikan secara bersama untuk

82
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

menghindari konflik kepentingan di antara para stakeholders, memberikan kesempatan


kepada lembaga swadaya masyarakat lokal untuk berpartisipasi dan memberikan
kontribusi pembangunan ekowisata, menjamin bahwa semua biaya masuk ke obyek
ekowisata dikelola secara transparan dan accountable dan menyediakan akomodasi
yang ramah lingkungan.
Perubahan paradigma wisatawan untuk “back to nature” mendorong prospek
pengembangan obyek-obyek ekowisata atau yang lebih lazim disebut ecotourist sangat
potensial. Peran serta wisatawan mencari pengalaman ke obyek-obyek yang
memberikan kesempatan untuk lebih dekat dan secara langsung berinteraksi dengan
alam dan kehidupan sosial budaya menjadi semakin terbuka lebar. Hal ini dapat
dilakukan dengan perencanaan, pemetaan kawasan dan pengeluaran kebijakan yang
mampu melidungi kekayaan alam dan budaya yang bisa dijadikan sebagai obyek dan
daya tarik ekowisata.

III. PEMBAHASAN
3.1. Potensi dan Fasilitas Pendukung Kegiatan Ekowisata Hutan Mangrove
Potensi dan fasilitas yang dimiliki oleh obyek ekowisata hutan mangrove di
Kawasan Mangrove Information Center (MIC) dapat dibedakan menjadi dua jenis yang
ditawarkan kepada wisatawan (buatan maupun alam). Jenis pertama adalah ; Gedung
Pusat Informasi Mangrove (Mangrove Information Center (MIC) Building), Kolam
Monitor (Monitoring Pool), Areal Persemaian (Nursery Area), Kolam Sentuh (Touch
Pool), Jembatan Kayu (Wooden Trail), Pondok Peristirahatan (Resting Hut), Geladak
Terapung (Floating Deck), Menara Pandang (Viewing Tower), Produk-Produk Ekowisata
Hutan Mangrove, dan Mangrove Educational Tour and Trekking. Jenis kedua
merupakan potensi dan fasilitas pendukung lainnya, seperti; Bird Watching, Fishing,
Canoeing, Boating dan Mangrove Tree Plantation or Adoption.
Kedua jenis program tersebut memiliki ciri khas untuk dapat menarik perhatian
wisatawan. Untuk mewujudkan ekowisata sebagai pelestari lingkungan dan
pengembangan daya tarik wisata, pihak pengelola MIC berusaha menerapkan sistem
pengelolaan terstruktur dan diharapkan dapat menjalankan fungsinya secara tepat.
Sehingga keberlangsungan ekowisata dapat terlaksana dengan efesien dan efektif.

3.2. Seksi & Sistem Kerja Pendidikan Lingkungan di Objek Ekowisata Hutan
Mangrove
Dalam menjalankan programnya, Mangrove Information Center (MIC) membagi
ruang lingkup kerjanya menjadi enam seksi kerja yaitu; Seksi Pendidikan Lingkungan,
Seksi Ekowisata, Seksi Pelatihan, Seksi Penelitian, Seksi Informasi, dan Seksi
Manajemen. Tujuan pembagian seksi kerja ini adalah untuk mengoptimalkan kinerja
dan meningkatkan profesionalisme serta mempertajam kompetensi sumber daya
manusia yang bekerja di Mangrove Information Center (MIC). Berikut ini adalah
penjelasan mengenai masing-masing seksi kerja berdasarkan fungsi dan ruang lingkup
kerjanya.

3.2.1. Seksi Pendidikan Lingkungan


Seksi Pendidikan Lingkungan berfungsi untuk menyebarluaskan informasi
tentang lingkungan hidup khususnya ekosistem mangrove kepada masyarakat, baik
kalangan sekolah dari tingkat taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi maupun
kalangan umum seperti masyarakat dan wisatawan; meningkatkan kepedulian

83
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

masyarakat terhadap pelestarian lingkungan; dan merubah perilaku masyarakat untuk


ikut serta menjaga dan melestarikan lingkungan khususnya ekosistem mangrove.
Bentuk pendidikan lingkungan yang diberikan bersifat informal berupa events. Events
tersebut dapat dibedakan menjadi dua yaitu; event regular dan event non reguler.
Event regular yang sering disebut sebagai class in the field yaitu menerima tamu yang
berasal dari sekolah dan travel agent dengan memberikan presentasi tentang
mangrove di dalam ruangan untuk mendapatkan informasi awal atau gambaran umum
tentang mangrove kemudian diajak ke lapangan. Intinya belajar tentang mangrove di
lapangan untuk dapat berinteraksi langsung dengan lingkungan dan ekosistemnya.
Slogan pendidikan yang diterapkan adalah “tak kenal maka tak sayang”.
Pelayanan informasi dan pendidikan lingkungan diberikan secara gratis kepada
semua masyarakat selama hari kerja (Senin sampai Jumat). Sedangkan di luar hari
kerja dikenakan biaya sebesar Rp. 1.500 bagi siswa-siswi taman kanak-kanak sampai
sekolah menengah pertama dan Rp. 2.000 bagi siswa-siswi sekolah menengah atas,
mahasiswa, dan masyarakat umum.
Mangrove Information Center (MIC) juga memberikan pendidikan lingkungan
kepada masyarakat lokal khususnya di Desa Pemogan dengan cara memberikan
presentasi tentang cara pembuangan dan pengelolaan sampah sehingga tidak
mengakibatkan pencemaran lingkungan di lingkungannya khususnya di Kawasan
Mangrove Information Center (MIC).
Staf yang bertugas dalam bidang pendidikan lingkungan berjumlah empat orang.
Dalam pemberian pendidikan lingkungan, keempat staf ini secara bergantian
memberikan pendidikan lingkungan kepada masyarakat yang membutuhkan. Namun
diharapkan di masa yang akan datang Mangrove Information Center (MIC) bisa
merubah narasumber menjadi fasilitator yang bisa memfasilitasi dan menggugah
masyarakat untuk perduli terhadap lingkungan.

3.2.2. Seksi Ekowisata


Tingginya biasa operational proyek yang dilaksanakan di Mangrove Information
Center (MIC) mengakibatkan terjadinya kekhawatiran terhadap kurangnya dana proyek
dan pemeliharaan dan pelatihan hutan mangrove di kawasan Taman Hutan Raya
khususnya di kawasan Mangrove Information Center (MIC) melahirkan ide dan
terobosan baru yang diharapkan bisa membantu menutupi kekurangan dana tersebut.
Ide cemerlang tersebut selanjutnya diimplementasikan dengan pengembangan obyek
ekowisata di kawasan Mangrove Information Center (MIC).
Produk-produk ekowisata yang ditawarkan di obyek ekowisata hutan mangrove
di Kawasan Mangrove Information Center (MIC) adalah pendidikan lingkungan dan
lintas alam di sekitar mangrove (mangroveeductional tour and trekking), pengamatan
burung (bird watching), bermain kano (canoeing), berlayar menggunakan perahu
(boating), dan pengadopsian pohon mangrove (mangrove tree adoption).

3.2.3. Seksi Pelatihan


Fungsi Seksi Pelatihan mendistribusikan kajian yang ditemukan pada periode
1992-2001. Ruang lingkup kerja Mangrove Information Center (MIC) adalah di seluruh
Indonesia. Ada tiga jenis pelatihan yang diberikan Mangrove Information Center (MIC)
yaitu; kursus berkala (regular course), pelatihan yang tempatnya berpindah-pindah
(mobile training) dan pelatihan yang sesuai dengan permintaan (on demand training).
Pelatihan regular dibedakan menjadi tiga jenis yaitu; (1) Course A, yang ditujukan

84
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

kepada staf Departemen dan Dinas Kehutanan, staf teknis kehutanan, dan lembaga
swadaya masyarakat. Ada sembilan topik yang diberikan kepada para peserta Course A
seperti; kebijakan dan aturan perundang-undangan, ekologi mangrove, pemanfaatan
sumber daya mangrove, teknik rehabilitasi, tekhnik survei, pemberdayaan masyarakat,
pengenalan jenis mangrove, Capita Selecta dan filed trip. Pelatihan ini sudah
dilaksanakan lima belas kali atau angkatan; (2) Course B, yang ditujukan kepada
pengambil kebijakan yaitu; gubernur, bupati, anggota DPRD, dan kepala Dinas
Kehutanan. Topik yang diberikan kepada peserta Course B seperti; ekologi mangrove
dan pengelolaan mangrove berkelanjutan. Pelatihan ini sudah dilakukan tiga kali atau
angkatan; (3) Course C, yang ditujukan kepada guru dan informal leader seperti Lurah,
Sekdes dan Ketua Kelompok Tani. Materi yang diberikan berhubungan dengan ekologi
mangrove, pengenalan jenis mangrove, pemanfaatan sumber daya mangrove dan
teknik rehabilitasi mangrove.
Bentuk pelatihan lainnya yang diberikan oleh Mangrove Information Center
(MIC) adalah on demand training, pelatihan ini ditawarkan untuk semua pihak dan
instansi yang memerlukan pelatihan tentang mangrove seperti; travel agent, hotel,
dan perusahaan atau industri yang di lingkungannya terdapat mangrove dengan
memberikan materi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan.

3.2.4. Seksi Penelitian


Fungsi Seksi Penelitian di Mangrove Information Center (MIC) adalah untuk
menyediakan data-data ilmiah tentang dunia mangrove yaitu data tentang flora,
fauna, dan ekologi mangrove. Penelitian yang sudah dilakukan masih bersekala kecil
seperti survei dan pengumpulan data yang bertujuan intuk mengidentifikasi jenis-jenis
flora dan fauna. Penelitian ilmiah yang sudah dilakukan di Kawasan Mangrove
Information Center (MIC) antara lain: pengukuran kadar garam dan pengukuran
parameter pertumbuhan mangrove. Penelitian yang sudah dilakukan selama ini
dilakukan sendiri oleh team dari Mangrove Information Center (MIC) tanpa melibatkan
pihak-pihak lain seperti kalangan akademisi atau pusat-pusat penelitian lainnya.
Frekuensi penelitian sangat tergantung dari dana yang tersedia, sehingga dapat
dikatakan bahwa penelitian dilakukan hanya jika ada dana. Selama ini, penelitian-
penelitian dibiayai oleh Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Japan
International Cooperation Agency (JICA). Semua hasil penelitian selalu
didokumentasikan dan beberapa di antaranya dipublikasikan dalam bentuk brosur,
buletin dan buku.

3.2.5. Seksi Informasi


Seksi Informasi berfungsi untuk penyebaran informasi tentang mangrove yang
bertujuan untuk pengenalan, pengetahuan dan manfaat mangrove. Informasi yang
diberikan mengenai persemaian, manajemen, dan data base mengenai flora dan fauna.
Ada beberapa cara penyebaran informasi yang dilakukan oleh Mangrove Information
Center (MIC) seperti penyebaran pamflet, talkshow melalui radio, televisi, dan
pameran-pameran yang berbasiskan lingkungan hidup.
Sumber daya manusia yang betugas di Mangrove Information Center (MIC) masih
sangat kurang, sekarang ini hanya ada tiga orang staf yaitu seorang koordinator dan
dua anggota. Kompetensi sumber daya manusia yang bertugas pada seksi ini cukup baik
dan memiliki kemampuan yang rata-rata dan belum mencapai advanced.

85
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

3.2.6. Seksi Manajemen


Seksi Manajemen berfungsi untuk mengorganisir dan mendukung semua kegiatan
yang dilakukan oleh Mangrove Information Center (MIC) seperti; kegiatan pendidikan
lingkungan, pelatihan, penelitian, penanaman mangrove, dan kegiatan ekowisata.
Pembentukan Seksi Manajemen merupakan salah satu upaya yang dilakukan oleh
Mangrove Information Center (MIC) untuk menjamin setiap kegiatan yang dilakukan
dapat berjalan dan terkordinasi dengan baik dan merupakan upaya untuk menciptakan
pelaksanaan kegiatan yang profosional dan akuntabel. Dengan pengelolaan yang baik
dalam setiap kegiatan diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan semua pihak
yang berkepentingan untuk terus bekerjasama dalam upaya pelestarian mangrove di
seluruh Indonesia khususnya di Bali.

IV. SIMPULAN
4.1. Mangrove Information Center (MIC) memiliki beberapa potensi alam asli dan
buatan yang perlu dikembangkan lebih lanjut sebagai daya tarik dan atraksi
ekowisata.
4.2. Pengelolaan Mangrove Information Center (MIC) sudah memiliki peran dan
fungís ideal dalam pengembangan ekowisata dengan berusaha memfokuskan
kepada pelestarian dan keterlibatan seluruh komponen masyarakat termasuk
wisatawan.

KEPUSTAKAAN

Drumm, Andy and Alan Moore. 2002. Ecotourism Development. An Introduction to


Ecotourism Planning. The Nature Conservancy. Arlington, Virginia, USA.
France, Lesley. 1997. The Earthscan Reader in Sustainable Tourism. Earthscan
Publication Ltd. UK.
Khan, Maryam. 2003. Ecoserv. USA: Howard University.
Sudarto, Gatot. 1999. Ekowisata: Wahana Pelestarian Alam, Pengembangan Ekonomi
Berkelanjutan dan Pemberdayaan Masyarakat. Jakarta.
Wood, Megan Epler. 2002. Ecotourism: Principles, Practices and Policies for
Sustainability. United Nation Publication.
World Tourism Organization (WTO). 2002. Tourism and Poverty Alleviation. Spain.
The Ecotravel Center (2002). dalam www.worldtoirism.org.omt/ecotorism2002.html

86
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

POTENSI WISATA KULINER KABUPATEN BANYUMAS

Chusmeru
Agoeng Noegroho
chusmeru@yahoo.com
Dosen Jurusan Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Jenderal Soedirman
Purwokerto

Abstract

This research title is The Potential of Banyumas Culinary Tourism. The aims of
this research are to encourage the potential of Banyumas Culinary Tourism and to
make the map of Banyumas potential culinary tourism.
The method of this research is survey method, and purposive sampling
technique for selection informant and some restaurant. The data collected by
observation and documentation.
The result of this research indicates that are many potential of culinary
tourism in Banyumas residence that it has various and unique taste.
The out put of this research is the map of Banyumas Culinary Tourism that can
be used as guidance book of Banyumas Culinary Tourism by the visitors.

Keywords: culinary tourism, banyumas, unique taste, guidance book.

I. PENDAHULUAN
Tahun 2007 Dinas Pariwisata Kabupaten Banyumas mengupayakan recovery
lokawisata Baturraden karena tragedi runtuhnya jembatan gantung di lokawisata
tersebut yang menimbulkan banyak korban jiwa. Padahal Baturraden merupakan ikon
pariwisata kabupaten Banyumas yang banyak menyumbang Pendapatan Asli Daerah
(PAD). Upaya ini juga sekaligus merupakan strategi untuk memperbaiki citra pariwisata
sekaligus meningkatkan angka kunjungan wisatawan ke Banyumas.
Salah satu upaya yang sangat potensial merangsang kunjungan wisatawan ke
lokawisata Baturaden adalah pengembangan wisata kuliner. Diakui alasan wisatawan
mengunjungi kabupaten Banyumas selain keindahan alam obyek dan daya tarik wisata
(ODTW) juga karena adanya masakan khas atau kuliner Banyumas yang tidak dimiliki
daerah lain di Jawa Tengah. Kuliner Banyumas ditandai dengan rasa makanan yang
manis, asin, pedas, dan asem. Beberapa jenis kuliner Banyumas yang biasa diminati
wisatawan domestik adalah Getuk Goreng Sokaraja, Kripik Tempe, Mendoan, Sroto
Sokaraja, dan Soto Ayam Jalan Bank.
Potensi wisata kuliner kabupaten Banyumas menjadi daya tarik wisatawan yang
berkunjung, meskipun hanya transit. Survey awal yang dilakukan peneliti
menunjukkan, bahwa para pengunjung yang datang ke kabupaten Banyumas
menyatakan merasa belum benar-benar datang ke Banyumas sebelum menikmati
makanan khas yang ada. Rombongan pengunjung dari Jakarta yang sedang melakukan

87
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

perjalanan menuju Yogya atau Surabaya, begitu pula sebaliknya, dari Surabaya menuju
Jakarta dengan melewati Sokaraja senantiasa singgah. Para pengunjung juga membeli
cinderamata khas kuliner Sokaraja, yaitu Getuk Goreng maupun Kripik Tempe.
Penelitian ini merupakan dasar untuk mengetahui potensi yang sangat strategis
bagi pemasaran ke luar kabupaten Banyumas, terutama tentang keanekaragaman jenis
makanan atau kuliner yang mendorong wisatawan untuk berkunjung ke kabupaten
Banyumas sambil menikmati kuliner yang ada. Untuk mencapai hal tersebut, pada
tahap awal peneliti akan menginventarisasi semua jenis kuliner yang potensial,
kemudian membuat peta (mapping) wisata kuliner yang dilengkapi lokasi dan nama
kuliner khas kabupaten Banyumas. Selain itu akan dibuat pula buku panduan (guidance
book) bagi wisatawan agar mendapat informasi yang lengkap tentang lokasi, nama,
maupun harga beberapa makanan khas Banyumas.
Peta dan buku panduan kuliner Banyumas tersebut sangat penting dan
mendesak untuk dibuat, karena sampai saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab)
maupun Dinas Kebudayaan dan Pariwisata belum mengeluarkan buku panduan serta
peta wisata kuliner. Demikian pula website tentang kuliner Banyumas juga belum
dimiliki. Diharapkan peta dan buku panduan dapat menjadi sarana promosi sekaligus
pencitraan pariwisata kabupaten Banyumas.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Pariwisata adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan fenomena dan relasi
yang timbul akibat interaksi antara antara wisatawan, pengusaha, pemerintah, dan
masyarakat dalam proses penciptaan daya tarik dan upaya menjamu wisatawan yang
datang (McIntosh and Goeldner, 1986 : 4).
Peran wisatawan dalam bisnis pariwisata sangatlah penting. Wisatawan adalah
orang yang bepergian dari tempat tinggalnya untuk berkunjung ke tempat lain dengan
menikmati perjalanan dari kunjungannya itu. Pariwisata dapat pula menjadi tuntutan
hasrat seseorang untuk mengenal kebudayaan dan pola hidup bangsa lain, dan sebagai
suatu upaya untuk mengerti mengapa bangsa lain itu berbeda. Pariwisata juga sering
dijadikan jalan untuk menemukan kembali diri sendiri ketika berada pada lingkungan
yang berbeda (Wahab, 2003 : 57).
Industri pariwisata melibatkan banyak pihak di dalamnya yang saling terkait.
Menurut Spillane (1994 : 30) ada 3 (tiga) pemain utama dalam industri pariwisata,
yaitu :
1. Mereka yang mencari kepuasan atau kesejahteraan lewat perjalanan mereka,
yaitu wisatawan (guest).
2. Mereka yang tinggal dan berdomisili dalam masyarakat yang menjadi tujuan
wisata, yaitu penduduk setempat (host).
3. Mereka yang mempromosikan dan menjadi perantara dalam industri pariwisata,
yaitu perantara bisnis (broker).
Makanan khas suatu daerah atau kuliner tradisional menjadi salah satu daya
tarik wisata yang saat ini dikemas dalam bentuk paket wisata kuliner. Kuliner, yang
dalam bahasa Inggris disebut Culinary adalah sesuatu yang berhubungan dengan
memasak atau dapur. Dalam literature Wikipedia disebutkan bahwa “ Culinary is
defined as something related to, or connected with, cooking or kitchen “(hhtp
://en.wikipedia.org).
Dalam perkembangannya, kuliner sering dikaitkan dengan masakan khas suatu
daerah atau makanan yang memiliki keunikan dan citarasa tersendiri. Kuliner juga

88
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

mulai menjadi bagian dari paket wisata suatu daerah. Yogya dikenal dengan gudeg,
Semarang memiliki makanan khas Lumpia, Surabaya terkenal dengan Rujak Cingur, Bali
mempunyai masakan khas Plecing dan Ayam Betutu. Kabupaten Banyumas juga
memiliki makanan khas yang unik dan banyak disukai wisatawan atau pengunjung.

III. PEMBAHASAN
3.1. Deskripsi Wilayah Penelitian
Wilayah Kabupaten Banyumas terletak di sebelah Barat Daya & merupakan
bagian dari Propinsi Jawa Tengah. Terletak di antara garis Bujur Timur 108° 39' 17''
sampai 109° 27' 15'' & di antara garis Lintang Selatan 7° 15' 05'' sampai 7° 37' 10'' yang
berarti berada di belahan selatan garis khatulistiwa. Batas-batas Kabupaten Banyumas
adalah :
1. Sebelah Utara : Gunung Slamet, Kabupaten Tegal dan Kabupaten Pemalang.
2. Sebelah Selatan : Kabupaten Cilacap
3. Sebelah Barat : Kabupaten Cilacap dan Kabupaten Brebes
4. Sebelah Timur : Kabupaten Purbalingga, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten
Banjarnegara
Luas wilayah Kabupaten Banyumas sekitar 1.327,60 km2 atau setara dengan
132.759,56 ha, dengan keadaan wilayah antara daratan & pegunungan dengan struktur
pegunungan terdiri dari sebagian lembah Sungai Serayu untuk tanah pertanian,
sebagian dataran tinggi untuk pemukiman & pekarangan, dan sebagian pegunungan
untuk perkebunan dan hutan tropis terletak dilereng Gunung Slamet sebelah selatan.
Bumi & kekayaan Kabupaten Banyumas masih tergolong potensial karena
terdapat pegunungan Slamet dengan ketinggian puncak dari permukaan air laut sekitar
3.400M & masih aktif. Keadaan cuaca & iklim di Kabupaten Banyumas karena tergolong
di belahan selatan khatulistiwa masih memiliki iklim tropis basah. Demikian Juga
karena terletak di antara lereng pegunungan jauh dari permukaan pantai/lautan maka
pengaruh angin laut tidak begitu tampak, namun dengan adanya dataran rendah yang
seimbang dengan pantai selatan angin hampir nampak bersimpangan antara
pegunungan dengan lembah dengan tekanan rata-rata antara 1.001 mbs, dengan suhu
udara berkisar antara 21,4° C - 30,9° C.

89
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

Sumber : www.banyumaskab.go.id

3.2. Peta Kuliner Banyumas


Beberapa lokasi dan jenis makanan khas atau kuliner Banyumas dapat
digambarkan dengan mengambil titik awal dari alun-alun kota Purwokerto, sebagai
berikut :
1. Jalur A : dari alun-alun kota Purwokerto ke arah Barat belok ke kiri (sekitar 1 km),
di Jalan Letjen Soetoyo atau dikenal dengan daerah Sawangan, terdapat toko /
kios yang menjual jajanan khas Banyumas, seperti : kripik tempe, mendoan, dan
nopia. Mendoan adalah jenis kuliner Banyumas yang khas, yaitu tempe tipis
berbentuk segi empat, digoreng setengah matang dengan tepung, dan biasa
disantap dengan cabai rawit atau sambal kecap.
2. Dari alun-alun ke Barat, belok ke kanan (1 km), memaskui Jalan R.A.Wiryaatmaja
atau lebih dikenal dengan Jalan Bank, terdapat rumah makan yang menyediakan
Soto yang khas kota Purwokerto, yaitu Soto Pak Sungeb atau Soto Jalan Bank.
Kuliner ini setiap hari banyak didatangi pengunjung, baik dari masyarakat
Banyumas maupun pengunjung dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya,
maupun luar Jawa.
3. Dari alun-alun kea rah Barat menuju luar kota (3 km, jalur Jakarta), terdapat Sate
Kambing Banaran (hot plate). Kuliner Sate Banaran dikenal karena menyajikan
daging kambing muda dengan cita rasa khas. Selain rumah makan yang
menyediakan menu khas, terdapat juga rumah makan Logawa dan restoran Tip
Top yang menyediakan masakan gurame pecak, goreng dan bakar.
4. Jalur B : dari alun-alun Purwokerto ke Utara menuju Baturraden (10 – 14 km), di
desa Rempoah terdapat Warung Ndeso yang menyajikan masakan khas pedesaan.
Tidak jauh juga terdapat warung makan Ayam Tubrug, yaitu sajian ayam kampung
goreng dengan lalapan sayuran khas Baturraden, seperti sayur pakis dan kangkung.
5. Jalur C : dari alun-alun Purwokerto ke arah Selatan, menuju Patikraja (5 km)
dijumpai warung makan Gudril dengan menu sambal terasi, lalapan, dan ikan
kecil-kecil atau biasa disebut lembutan yang diambil langsung dari sungai Serayu.
Menuju jalur Bandung (10 km) terdapat rumah makan Margasana I yang
menyajikan menu ayam kampung goreng empuk dan lalapan. Rumah makan ini

90
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

kerap menjadi tempat persinggahan bagi mereka yang melakukan perjalanan


Jakarta / Bandung menuju Yogya / Surabaya.
6. Jalur D : dari alun-alun Purwokerto menuju kota lama Banyumas (10 – 15 km),
banyak terdapat rumah makan yang menyajikan Sroto Sokaraja yang memiliki cita
rasa sangat khas Banyumas. Sokaraja juga dikenal dengan jajanan Getuk Goreng
yang sering dijadikan buah tangan wisatawan yang dating ke Banyumas. Di desa
Kaliori terdapat rumah makan Lik Tuti dengan menu ikan lembutan sungai Serayu.
Uniknya, pengunjung menikmati ikan goreng dengan system timbangan, bukan
dengan harga per porsi. Di kota lama Banyumas juga terdapat Bakmi Gareng
dengan rasa manis, asin, dan gurih, serta Soto Sangka dengan bumbu alami tanpa
penyedap rasa buatan. Ada pula Tahu Gecot atau kupat tahu dengan rasa khas
Banyumas.
7. Jalur E : adalah jalur lalu lintas menuju Yogyakarta, tepatnya di daerah
Kemranjen (20 – 25 km dari Purwokerto) terdapat warung makan Bakmi Nyemek Bu
Seto dan Bu Trimo yang menyajikan bakmi rebus dengan cita rasa khas. Ke arah
Timur sedikit, di daerah kecamatan Tambak, terdapat banyak rumah makan Sate
Bebek, dengan salah satu ikon Sate Bebek Pak Encus.

IV. SIMPULAN DAN SARAN


4.1. Simpulan
1. Kabupaten Banyumas berada pada lokasi yang sangat strategis sebagai jalur
perlintasan jalan menuju dan dari Surabaya, Yogya, Semarang, Bandung, dan
Jakarta.
2. Selain obyek wisata Baturraden, kabupaten Banyumas juga memiliki beragam
masakan dan jajanan tradisional atau kuliner khas Banyumas yang sangat diminati
pengunjung dari luar daerah. Potensi kuliner tersebut layak untuk dijadikan bagian
dari paket wisata kabupaten Banyumas.
3. Potensi wisata kuliner Banyumas dapat dipetakan menjadi 5 (lima) Jalur, yaitu
Jalur A terdiri atas Kripik Tempe, Mendoan, Nopia, Soto Jalan Bank, Sate Banaran.
Jalur B terdiri atas Warung Ndeso dan Ayam Tubrug. Jalur C, yaitu warung makan
Gudril dan rumah makan Margasana I. Jalur D meliputi Sroto Sokaraja, Getuk
Goreng, rumah makan Lik Tuti, Bakmi Gareng, Tahu Gecot, dan Soto Sangka. Jalur
E, adalah Bakmi Nyemek Bu Seto dan Bu Trimo, serta Sate Bebek Pak Encus.

4.2. Saran
1. Perlu diperhatikan faktor kebersihan, penyajian, dan keramahtamahan bagi
masakan dan jajanan khas Banyumas.
2. Perlu dibuat Website khusus tentang seluk beluk kuliner Banyumas.
3. Optimalisasi promosi wisata kuliner Banyumas, baik melalui media massa maupun
kerja sama dengan biro perjalanan wisata.

91
| Vol. 9 No. 1 Th. 2009

KEPUSTAKAAN

Spillane, J. James. 1994. Pariwisata Indonesia. Yogyakarta : Kasisius.


McIntosh, Robert W. and Charles R. Goeldner. 1986. Tourism, Principles, Practices,
Philosophies. New York : John Wiley & Sons Inc.
Wahab, Salah. 2003. Manajemen Kepariwisataan. Jakarta : Pradnya Paramita.
hhtp ://en.wikipedia.org.
hhtp ://www.banyumaskab.go.id.

92