Anda di halaman 1dari 16
Phronesis Jurnal IImiah Psikologi industri dan Organisasi 2008, Vol. 10, No. 2, 138-153 Emptoyee Aptitude Survey (EAS) Sebagai Alternatif Tes Bakat dalam Konseling Karir Herlina Siwi Widiana Universitas Ahmad Dahlan The purposes of this study were to adapt Employee Aptitude Survey (EAS) lest imo Indonesian version and establish its psychometric properties especially for career counseling. Senior High School students in Yogyakarta (N=471) were test with EAS Indonesian version in three stages study design. Psychometric analysis supported item characteristics and reliability. Mean of item difficulty index for each subtest range from 0,467 to 0,622. The item selection based on item discrimination index > 0,300. Reliability coefficients range from 0,533 10 0,973 for each subtes. Keywords: Employee Aptitude Survey (EAS), aptitude test, career counseling Tes psikologi diperlukan dalam peng- ambilan keputusan berkaitan dengan sum- ber daya manusia dalam bidang psikologi industri dan organisasi Gregory, 2000). Pengambilan keputusan tersebut berkaitan dengan penerimaan dan penempatan, pro- mosi, evaluasi, maupun penctapan karier. Kebutuhan akan alat untuk asesmen mendorong banyak dikembangkan berbagai alat ukur psikologis baik berupa tes, self report, skala, maupun inventori, Pengem- bangan alat ukur dapat dilakukan dengan membuat alat ukur atau melakukan adaptasi terhadap alat ukur yang telah dibuat di fuas negeri Pengembangen alat_ukur_psikologi, baik berupa tes ataupun alat ukur yang lain di Indonesia belum banyak dilakukan, ter Herlina Siwi Widiana adalah alumni Fakultas Psikologi Universitas Ahmad Dablan. Kopattisipansi artikel ini dialamatkan ke e-mail: jimmy_peter2001@yahoo.com 138 masuk tes yang berkaitan dengan pengu- kuran bakat. Tes bakat yang telah diadap- asi dalam Bahasa Indonesia dari berbagai rangkaian tes bakat yang telah dikembang- kan di fuar negeri adalah General Aptitude Test Battery (GATB), Flanagan Aptitude Classification Test (FACT), dan Differen- Hal Aptitude Test (DAT), Tidak semua sub- tes dati ketiga rangkaian tes bakat tersebut yang telah diadaptasi dalam Bahasa Indo- nesia, Tes Employee Aptioude Survey (EAS) seperti tes bakat yang lain, juga berupa batiery test, Tes ini dikembangkan untuk mengukur kemampuan yang dibutuhkan untuk kesuksesan dalam jenis pekerjaan tertentu Gintings, 2005). Beberapa subtes dari rangkaian tes EAS dikembangkan berdasarkan tes bakat-tes bakat yang telah dikembangkan lebih duty diantaranya GATB, Army Group Examination Beta of World War 1, Army Group Examination Alpha of World War I, Minnesota Clerical EMPLOYEE APTITUDE SURVEY (EAS) SEBAGAI ALTERNATIF TES BAKAT Test, California Test of Mental Maturity, Primary Mental Ability dan MacQuarrie Test. Gambaran’ Umum Tes Employee Aptitude Survey (EAS) Employee aptitude survey (EAS) me- rupakan baterai tes multi aptitude yang dirancang untuk menilai berbagai kemam- puan yang penting di dunia kerja. EAS memiliki dua dasar kegunaan yaitu seleksi pegawai dan panduan dalam pekerjaan (career counseling). Employee aptitude survey (EAS) ter- diri atas scpuluh subtes, keseluruhan tes tidak membutuhkan waktu penyajian yang lama dan mudah diadministrasikan. Setiap subtes membutuhkan waktu penyajian 5 Tabel 1 menit, kecuali EAS 2 membutuhkan waktu penyajian 10 menit. BAS dikembangkan dalam bentuk paralel yaitu Form A dan Form B. Penyusunan tes paralel ini didasari oleh alasan praktis yaitu kadang kala diperlukan pengetesan ulang, Salah satu penggunaan EAS adalah dalam panduan pekerjaan. Informasi ten- tang pekerjaan menjadi dasar_pemilihan baterai tes yang disajikan. Organt (1975) yang melakukan penelitian dengan partisi- pan 235 karyawan yang bekerja di ling: kungan sekolah merekomendasikan subtes- subtes yang perlu diberikan untuk masing- masing kelompok pekerjaan, yaitu ditun- jukkan daiam tabel 1. Subtes 10 tidak disa- Jikan dalam penelitian tersebut, dengan pertimbangan subtes 10 sulit dalam admi- nistrasi_ dan korelasi subtes 10 dengan subtes lain yang cukup tinggi. Prediksi Efisiensi Subtes EAS Berdasarkan Klasifikasi Pekerjaan Klasifikasi 2 Proyeksi Peningkatan Pekerjaan __N__‘Subtes RR E pfektivitas Karyawan Sekrotaris 325A 95,6 0a ODI 111% 124% Asisten Guru 38 '5,7,61 0.52" 027 14.6% 1% Pembanty Pendidikan 32«1,45,7,8 052 0.27 14.6% +20% Khusus Pembantu Materi 25 921467 0.63" 0.40 22.1% 427% Instruksional Layanan od 26.59 39) oom 31 83,74 0.68%" 0.46 26.5% 428% Pegawai 7 Pegawal 16 9,4.26,1 0.69" 0.48, 27.6% 422% Manual EAS (2005) merekomendasi- kan subtes-subtes yang disarankan untuk disajikan pada lima kelompok pekerjaan yaitu kelompok Profesional, Managerial & Supervisory, kelompok Clerical, kelompok Production! Mechanical (skilled & semi skilled), kelompok Technical, kelompok Sales. Rekomendasi tersebut tidak dijadi- kan dasar acuan pada penelitian ini karena terdapat tiga subtes yaitu subtes EAS 8, EAS 9, dan EAS 10 yang tidak termasuk dalam rekomendasi untuk lima kelompok pekerjaan tersebut. Employee Aptitude Survey Technical Manual memuat delapan kelompok peker- jaan yang disusun berdasar pada Dictionary . WIDIANA of Occupational Titles (DOT) dan analisis ditunjukkan dalam tabel 2 (Employee jabatan. Kedelapan kelompok pekerjaan Aptitude Survey Technical Manual, 1994), Tabel 2 Deskripsi Delapan Kelompok Pekerjaan Profesional, Managerial, Production/ Mechanical (skilled & semi skilled) 140 Kelompok Pekerjaan & Supervisory Clerical Technical Sales Unskilled Protective Services Health Professional Deskripsi Fermasuk di dalamnya pekerjaan yang mengkhususkan dalam bidang-bidang tertentu, seperti: keablian mesin, akunting, penanggung asuransi, dan pembelian; juga termasuk pekerjaan yang mengkhususkan dalam bidang seperti relasi pegawai dan tata personalia. Macam pekerjaan profesional yang memerlukan pendidikan dari universitas atau akademi. Banyak pekerjaan manajerial dan supervisi mencakup menjadwal, merancang, memantau dan meng- koordinasi pekerjaan yang fain. Termasuk pekerjaan yang memiliki aktivitas-aktivitas dasar dan menyiapkan, memodifikasi, memeriksa, menyusun, memelihara atau mengarsipkan dokumen-dokumen; meng- kodekan informasi; atau memasukkan data Termasuk pekerjaan yang termasuk di dalamnya meng- operasikan, memonitor, menginspeksi, mencari dan meme- cahkan masalah, memperbaiki dan memasang peralatan dan mesin. Beberapa pekerjaan ini juga melakukan kalkulasi, mengoperasikan komputer, menemui bagian produksi, mengurusi kualiti kontrol, dan membaca data. Pekerjaan- pekerjaan lain di kelompok ini dilakukan berdasar standar prosedur yang spesifik. ‘Termasuk pekerjaan yang dispesialisasikan dalam industrial arts, keahlian teknik, ilmu pengetahuan komputer dan ilmu. pengetahuan aplikatif lainnya. Banyak macam dari peker- jaan ini memerlukan paling tidak latar belakang pendidikan sekolah teknik atav akademi/ D-3, Seringkali pekerjaan- pekerjaan ini menyediakan dukungan untuk para profe- sional di lapangan, misalnya seperti teknisi dan assiteldur. ‘Termasuk pekerjaan-pekerjaan yang menjadi dasar tang- gung-jawab utamanya adalah marketing produk atau jasa. Termasuk peKerjaan yang melibatkan tugas-tugas yang mudah, rutin dan berulang dalam kondisi yang terstruktur. Pekerjaan-pekerjaan ini tidak membutuhkan pengalaman atau pendidikan khusus. Termasuk pekerjaan yang fokus utamanya mendorong Kesehatan, kes¢lamatan dan kesejahteraan umum. Termasuk di dalamnya polisi, petugas pemadam kebakaran, dan keamanan. Termasuk pekerjaan yang fokus utamanya menyediakan pelayanan medis, kesehatan gigi, psikologi dan jasa kese- hatan yang lainnya. Sebagian besar kelompok pekerjean ini membutuhkan pendidikan spesialis, a EMPLOYEE APTITUDE SURVEY (EAS) SEBAGAI ALTERNATIF TES BAKAT. Subtes-subtes Tes Employee Aptitude Survey (EAS) Employee aptitude survey (EAS) ter diri atas seputuh subtes dengan interko- relasi antara 0,22 sampai dengan 0,76 (Organt, 1975). Skor interkorelasi tersebut berarfi bahwa antar subies EAS relatif independen atau mengukur bakat yang berbeda. Kesepuluh subtes EAS, yaitu: a) EAS | (verbal comprehension), b) EAS 2 (numerical ability), c) EAS 3 (visual pur- suit), d) BAS 4 (visual speed & accuracy), e) BAS 5 (space visualization), f) EAS 6 (numerical reasoning), g) EAS 7 (verbal reasoning), h) EAS 8 (word fluency), i) EAS 9 (manual speed and accuracy), dan j) EAS 10 (symbolic reasoning). EAS | (verbal comprehension) meng- ukur kemampuan untuk memahami kata- kata yang tertulis dan memahami asosiasi diantaranya. Testee memilih sinonim yang mungkin dari empat kata yang diberikan pada setiap item (Manual EAS, 2005). Verbal comprehension merepresentasikan keterampilan membaca (Nunnally, 1970). Bakat verbal comprehension digunakan ketika seseorang dihadapkan pada kata, kalimat atau paragraf yang kompleks; bakat ini menggambarkan kedalaman pemahaman terhadap materi verbal. Tes yang meru- pakan pengukuran verbal comprehension yang baik adalah tes kosa kata, baik berupa persamaan maupun lawan kata. EAS 2 (numerical ability) mengukur kemampuan untuk menjumlah, mengu- rangi, mengkali, dan membagi bilangan bu- lat, desimal, dan pecahan. Tes ini memiliki tiga bagian yang dipisahkan berdasarkan waktu. Bagian I mengukur kemampuan menghitung dengan bilangan bulat. Bagian I mengukur dengan bilangan’ desimal kemampuan menghitung Bagian UI mengukur kemampuan menghitung dengan bilangan pecahan (Manual EAS, 2005). Bakat numerik berkaitan dengan kecepatan dan ketepatan untuk menyelesaikan perso- alan aritmatik baik penjumlahan, pengu- rangan, perkalian, pembagian, akar, dan lain-lain (Nunnally, 1970). Penelitian yang dilakukan oleh Kolz, McFarland, dan Silverman (1998) dengan partisipan 176 pekerja pabrik memperoleh hasil skor numerical ability dari subtes EAS 2 memprediksikan secara signifikan perfor- mansi kerja dalam dimensi aritmatik (2,952; p<0,01) dan pemecahan masalah logis (2,790; p<0,01). Penelitian tersebut juga memperoleh hasil bahwa hubungan antata skor numerical ability dari. subtes EAS 2 dengan performansi kerja meningkat seiring dengan meningkatnya pengalaman (2,600; p<0.01). Thumin (1993) metakukan penelitian pada 206 operator yang bertugas mengetik dan mengirimkan telegram dan mailgram yang diterima melalui telepon. Hasil pene- litian menunjukkan adanya korelasi yang signifikan antara skor numerical ability dari subtes EAS 2 dengan performansi selama training. EAS 3 (visual pursuit) mengukur ke mampuan untuk mengikuti gerakan dengan mata secara cepat. Teste mengikuti jejak secara visual suatu jaringan kusut yang menyerupai diagram skematik pada setiap ‘item (Manual EAS, 2005). EAS 4 (visual speed and accuracy) mengukur kemampuan untuk membanding- kan angka atau pola secara cepat dan akurat, Itern terdici dari dua deret angka- angka yang diikuti desimal, huruf, atau simbol-simbol lain. Testee membandingkan dua deret tersebut apakah sama atau tidak (Manual BAS, 2005). Bakat yang diukur oleh subtes EAS 4 berkaitan dengan bakat ’ 141 WIDIANA perseptual. Nunnaily (1970) mengungkap- kan bahwa bakat perseptual dibutubkan dalam mendeteksj bentuk-bentuk visual serta dalam melihat persamaan dan perbe- daan bentuk. Bakat perseptual yang diukur subtes BAS 4 lebih cenderung pada kece- patan perseptual (perceptual speed) yang berhubungan dengan kecepatan mengenali detail perseptual serta mengenali persamaan dan perbedaan antaca bentuk visual yaite angka, huruf, dan simbol. EAS 5 (space visualization) mengukur kemampuan untuk melihat bentuk ruang dan untuk memanipulasi objek secara men- tal, Visualisasi ruang merupakan komponen yang kuat dari *bakat mekanik’, Tes terdiri dari gambar-gambar bafok bersusun. Testee mienentukant berapa banyak balok tain yang saling bersentuhan pada balok tertenty (Manual BAS, 2005). Space visualization merupakan salah satu bakat spatial menun- tut individu untuk membayangkan atau memvyisualisasikan suatu objek (Nunnally, 1970). Individu diminta membayangkan balok-balok yang disusun secara berhim- pitan pada subtes EAS 5. Hasil penelitian Haydel (2007) menunjukkan ada perbedaan yang signifikan dalam skor space visualization yang diukur dengan EAS 5 ditinjau dari jenis kelamin dan pengalaman keatletan (F55,3; p=0,03). Atlet soccer wanita mempunyai kemam-puan space visualization (M=0,78, SD= 0,18) yang lebih tinggi dibandingkan atlet dasedall pria (M=0,58; SD=0,32), non atlet wanita (440,50; SD=0,29) dan non atlet pria (M=0,68; SD=0,30). BAS 6 (merical reasoning) meng- ukur kemampuan untuk menganalisa secara logika korelasi antar angka dan menentukan pola yang mendasarinya, Setiap item terdiri dari sebuah seri-seri angka, dan festee memilih angka berikutnya dalam seri . 142 tersebut dari 5 alternatif (Manual EAS, 2005), Ide dasar dari EAS 6 mengacu pada subtes 6 Army Group Examination Alpha of World War I dengan perubahan pada pemberian alternatif jawaban (Ruch & Ruch, 1963). Penalaran adalah domain Kompleks dimana kemampuan-kemampuan yang terkait bercampur (Nunnally, {970). Kemampuan yang paling sering ditemukan dalam penalaran adalah kerampuan untuk menemukan penyelesaian masalah yang salah satu bentuknya adalah penalaran numerik. Item tes penalaran seringkali be- Tupa angka-angka, namun dalam menyele~ saikan soal bukan bakat numerik (sune~ vical ability) yang diperlukan melainkan iebih pada penalaran numerik, yaitu dengan menemuken prinsip-prinsip yang mengarah pada jawaban yang benar. EAS 7 (verbal reasoning) mengukur kemampuan untuk mengkombinasi bagian yang terpisah dari informasi dan menen- tukan Kesimpulan berdasarkan_informasi. Sebuah seri dari fakta-fakta diberikan ke- pada fesfee untuk meninjau fima kesin- pulan mengikuti setiap seri fakta, Testes menentukan apakah kesimpulan tersebut benar, salah atau meragukan berdasarkan informasi yang diberikan (Manual EAS, 2005). EAS 7 mengacu pada subtes 15 dati California Test of Mental Maturity dimana partisipan diminta menyimpulkan beberapa informasi (Ruch & Ruch, 1963). Retiabiti- tas tes verbal reasoning dengan pendeka- tan Lesteretest sebesar 0,80 (Ivancevich di- kutip oleh Mumford, Supinski, Baughman, Costanza, & Threlfall, 1997). Salah satu bentuk tes penalaran adalah deduksi, Deduksi berkaitan dengan peng- gambaran kesimpulan dalam silogisme lo- gis (Nunnally, {970). Dafam haf ini, ke- mampuan berkaitan dengan evaluasi impli- kasi dari sebuah pernyataan. Pada subtes EMPLOYEE APTITUDE SURVEY (EAS) SEBAGAI ALTERNATIF TES BAKAT EAS 7, individu diminta memilih kesim- pulan dari fakta-fakta yang telah diungkap- kan sebelumnya, Mumford et al. (1998) menggunakan subtes° verbal reasoning untuk mengukur intelegensi umum pada pimpinan militer US Army. Dalam pene- litian tersebut diperoleh hasil ada hubungan antara inteligensi umum (yang diukur dengan subtes verbal reasoning) dan pengalaman dengan prestasi_ pemimpin. Skor verbal reasoning juga memi lasi dengan keterampilan berpikir divergen, yaitu dengan dimensi kualitas (0,28), originalitas (r=0,29), time frame (r=0,27), realisme (=0,21). kompleksitas (r=0,29), serta pengunaan prinsip-prinsip umum (0-029), EAS 8 (word fluency) mengukur flek- sibilitas dan kemudahan berkomunikasi se~ cara verbal. Teste menulis sebanyak mungkin kata-kata yang dimulai dari huruf’ fertentu. (Manual EAS, 2005). EAS 8 merupakan adaptasi dari tes world fluency dari Primary Mental Ability yang dikem- bangkan oleh Thurstone (Ruch & Ruch, 1963). Word fluency merupakan subtes yang mengukur bakat verbal. Nunnally (1970) mengemukakan verbal fluency ber- kaitan dengan kemampuan memproduksi kata dan kalimat dengan cepat. Verbal fluency merupakan aspek tingkat produksi dari kemampuan verbal. Verbal fluency digunakan ketika materi verbal yang digunakan lebih sedethana. EAS 9 (manual speed & accuracy) mengukur kemampuan untuk membuat sesuatu yang berulang, gerakan jari secara cepat dan akurat. Testee menempatkan satu tanda di dalam lingkaran sebanyak mung- kin dalam waktu 5 menit dengan menggu- nakan pensil (Manual EAS, 2005). EAS 9 mengacu pada subtes Dotting dari tes MacQuarrie dengan modifikasi pada durasi tes yang dibuat lebih panjang (Ruch & Ruch, 1963). Penelitian Gagnon (dikutip olch Palmer & Busciglio, 1996) menun- jukkan bahwa skort tes EAS 9 dapat meningkat dengan salah satu bentuk pela- tihan umum yaitu berupa permainan video game selama 5 hari dalam selang waktu 1 minggu. Terakhir, EAS 10 (symbolic reaso- ning) mengukur kemampuan untuk mema- nipulasi simbol abstrak secara mental dan untuk membuat keputusan dan menetap- kannya secara logis dan valid. Setiap item terdiri dari pernyataan dan kesimpulan. Teste memilih apakah kesimpulan tersebut benar, salah atau tidak mungkin ditentukan (Manual EAS, 2005). EAS 10 dikembang- kan berdasar pada dua ide yaitu tes yang dikembangkan oleh Robert C. Wilson yang mengukur kemampuan mengevaluasi hu- bungan simbolik dan ide kategori respon yang tidak jelas seperti pada EAS 7. Modifikasi yang dilakukan adalah dengan ‘mengurangi instruksi verbal untuk memini- malisasi aspek verbal dalam tes ini (Ruch & Ruch, 1963). Symbolic reasoning merupa- kan salah satu tes penalaran dalam bentuk deduksi. Deduksi berkaitan dengan peng- gambaran kesimpulan dalam silogisme logis (Nunnally, 1970). Dalam hal ini kemampuan berkaitan dengan evaluasi im- plikasi dari sebuah pemyataan yang berisi simbol-simbol. Pada subtes EAS 10, indi- vidu diminta memilih kesimpulan dari hubungan antara simbol-simbo! yang telah diungkapkan sebelumnya. Tes EAS yang dapat digunakan seba- gai dasar pertimbangan dalam seleksi kar- yawan maupun panduan pekerjaan (career counseling) merupakan sebuah nilai tambah dalam dunia pengukuran terutama pengu- kuran bakat di Indonesia, Tes EAS belum digunakan secara luas di Indonesia, dise- ’ 143. WIDIANA babkan karena untuk tes EAS bentuk A, meskipun sudah diterjemahkan, ke Bahasa Indonesia tetapi belum ada penelitian yang mendukung penggunaan tes EAS di Indo- nesia secara menyeluruh, sedangkan tes EAS bentuk B belum ade versi Bahasa Indonesia. Kebutuhan akan data-data. mengenai parameter item dan reliabilitas tes mendo- rong peneliti untuk berupaya melakukan adaptasi terhadap tes EAS dan metakukan analisis terhadap parameter item baik ting- kat kesukaran, daya diskriminasi maupun efektivitas distraktor serta terhadap reliabi- litas tes, Hasil penelitian terhadap tes EAS ini akan memiliki nilai aplikasi Karena menjadi dasar bagi penggunaan tes EAS secara luas di Indonesia. Metode Variabel dalam penelitian ini adalah skor item dan skor tes Employee Aptitude Survey (EAS) yang terdiri atas sepuluh subtes. Skor item dan skor tes digunakan dalam pengujian parameter item yang meli- puti tingkat kesukaran item, daya diskrimi- nasi item, dan efektivitas distraktor, serta reliabilitas tes. Partisipan Tes EAS disusun untuk seleksi karya- wan dan panduaa pekerjaan (career coun- seling). Perencanaan karir pada umumnya dimulai ketika siswa SMA berada di kelas 1, yaitu ketika siswa mulai menetapkan pilihan jurusan (IPA, IPS, atau Bahasa) yang akea ditempuh pada kelas 2. Langkah tersebut kemudian dilanjutkan pada kelas 3 ketika siswa mengerucutkan lagi karirnya 144 dalam pemilihan jurusan di Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, partisipan sebagai sumber data skor item dan skor tes EAS dalam penelitian ini adalah siswa SMA di Kota Yogyakarta, Jum{ah partisipan secata keseluruhan berjumlah 471 orang, yaitu: 55 orang parti- sipan dari SMA 9 terlibat pada ujicoba tahap I, 156 partisipan berasal dari SMAN 11 terlibat dalam ujicoba tahap Il, sedang- kan sisanya sebanyak 260 partisipan dari beberapa SMA terlibat ujicoba tahap ITI. Prosedur BAS disusun dalam bentuk altematif tes A dan tes B, Penelitian ini akan meng- adaptasi EAS bentuk B dengan pertim- bangan bahwa EAS bentuk B belum ada versi Bahasa Indonesianya schingga hasil adaptasi nantinya akan mempunyai nilai guna. Adaptasi dilakukan baik secara isi maupun konteks. Proses adaptasi yang dila- kukan adalah: 1. EAS disusun dalam bentuk embar habis pakai, yaitu: lembar jawaban menyatu dengan soal. EAS hasil adap- tasi dibuat terpisah antara lembar soal dengan lembar jawaban dengan pertim- bangan efisiensi, 2. Adaptasi pada semua subtes dilakukan dengan mengubah instruksi menjadi instruksi dengan Bahasa Indonesia dan mengubah nama subtes menjadi nama dengan Bahasa Indonesia, 3. Adaptasi pada subtes BAS 1 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi pemahaman kata. EAS 1 versi Bahasa Indonesia terdiri atas beberapa item dari EAS versi Bahasa Inggris, sedangkan selebihnya dilakukan penulisan item EMPLOYEE APTITUDE SURVEY (EAS) SEBAGAT ALTERNATIF TES BAKAT baru. Penulisan item baru didasari oleh pertimbangan bahwa item versi Bahasa Inggris apabila diterjemahkan ke -Ba- hasa Indonesia menjadi tidak mengukur konstrak bakat verbal comprehension karena terlalu mudah. Sebagian besar item EAS 1 disusun dengan berdasar pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwodarminto, 1986) dan Kamus Sinonim Antonim (Mulyono, 2007). Adaptasi pada subtes EAS 2 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi kemampuan numerik. Perubahan yang lain adalah pada alternatif jawaban E. Altemnatif jawaban E pada item versi Bahasa Inggris berupa tanda X yang berarti tidak ada jawaban yang benar. Perubahan yang dilakukan adalah mengganti tanda X dengan SS yang berarti sermua jawaban salah. Adaptasi pada subtes EAS 3 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi pengamatan visual. Adaptasi pada subtes EAS 4 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi kecepatan dan ketelitian visual. Peru- bahan yang lain adalah pada alternatif jawaban. Alternatif jawaban disesuai- kan dengan alternatif jawaban yang familiar dengan orang Indonesia, Alter- natif jawaban pada item versi Bahasa Inggris berupa huruf S (same) apabila kedua pasangan angka adalah sama dan huruf D (different) apabila kedua pa- sangan angka adalah tidak sama, Peru- bahan yang dilakukan adalah meng- ganti huruf D dengan huruf B (beda). Adaptasi pada subtes EAS 5 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi visualisasi ruang. Adaptasi pada subtes EAS 6 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi penalaran numerik. 9. Adaptasi pada subtes EAS 7 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi penalaran verbal, Adaptasi pada item subtes EAS 7 dilakukan dengan mener- Jemahkan item ke Bahasa Indonesia dan menyestaikan dengan konteks Indo- nesia, misalnya dalam hal nama orang, nama jalan, dan nama benda. Adaptasi juga dilakukan dengan mengubah alter- natif jawaban sesuai dengan alternatif jawaban yang familiar dengan orang Indonesia. Alternatif jawaban pada item versi Bahasa Inggris berupa huruf T (rue) apabila kesimpulan adalah benar, huruf F (false) apabila kesimpulan ada- lah salah, dan huruf X apabila tidak cukup informasi untuk menyatakan apakah kesimpulan benar atau salah. Perubahan yang dilakukan adalah mengganti huruf T dengan huruf B (benar), mengganti huruf F dengan huruf $ (salah), serta mengganti huruf X dengan ? (tanda tanya). 10. Adaptasi pada subtes EAS 8 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi Kelancaran verbal. Perubahan yang lain adalah pada huruf yang menjadi stimu- lus awal kata, Pada versi Bahasa Ing- gris huruf yang menjadi stimulus awal kata adalah huruf S, C, atau M, Pada versi Bahasa Indonesia, huruf yang menjadi stimulus awal kata adalah huruf $ dan K, Kedua twruf tersebut diperoleh dengan cara menghitung jum- lah huruf terbanyak yang munecul pada buku cerita anak. Buku yang digunakan berjudul Tarzan Kota (Supangkat, 2005). Peneliti menghitung, huruf yang muncul pada halaman dengan kata terbanyak yaitu halaman 7, 15 dan 23. 11. Adaptasi pada subtes EAS 9 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi kecepatan dan ketelitian gerakan, a 145 WIDIANA 12, Adaptasi pada subtes EAS 10 dilakukan dengan mengubah nama subtes menjadi penalaran simbolik. Perubahan yang lain adalah pada alternatif jawaban, Alternatif jawaban disesuaikan dengan alternatif jawaban yang familiar dengan orang Indonesia. Alternatif jawaban pada item versi Bahasa Inggris berupa huruf T (#we) apabila kesimpulan ada- lah benar, huruf F (false) apabila kesimpulan adalah salah dan ? (tanda tanya) apabila tidak mungkin ditentu- kan apakah kesimpulan benar atau salah, Perubahan yang dilakukan adalah mengganti buruf T dengan huruf B (benar) dan mengganti huruf F dengan hhuruf S (satan). 13, Pada subtes yang tidak mengandung unsur verbal, yaitu EAS 2, BAS 3, EAS 4, EAS 5, EAS 6, BAS 9, dan EAS 10, item digunakan sama dengan aslinya. Pengujian Kualitas Item dan Tes Pengujian kualitas item dan tes difaku- kan dengan menguji taraf kesukaran item, daya diskriminasi item, efektivitas distrak- tor, dan reliabilitas tes. Hesil pengujian akan menjadi dasar pertimbangan bentuk akhir tes EAS hasil adaptasi, Berikut ini prosedur pengujian kualitas item dan tes yang akan dilakukan: 1. Taraf Kesukaran Jtem Penelitian ini menggunakan taraf kesu- karan item sebagai dasar_menyusun kembali urutan item. Item disusun berurutan mutai dari item yang mudah sampai dengan item yang sulit. Taraf kesukaran item diperoleh dengan meng- hitung indeks p dengan software iteman. Penggunaan indeks p sebagai indikator taraf kesukaran item didasari 146 pertimbangan bahwa indeks p menun- jukkan proporsi partisipan yang menja- wab dengan benar sehingga lebih mus dah dipatami. . Daya Diskriminasi Item Daya diskriminasi item dianggap me- muaskan apabila memilili daya diskri- minasi > 0,3. Daya diskriminasi item diketahui dengan menghitung korelasi point biserial dengan sofware iteman. Penggunaan korelasi point biserial didasari oleh pertimbangan bahwa skor yang diperoleh dalam penetitian ini adalah skor dikotomi yang berasal dari jawaban benar atau salah serta korelasi point biserial relatif lebih stabil dari- pada korelasi biserial. Efektivitas Distraktor Delapan subtes akan dianalisis efekti- vitas distraktornya dalam penelitian ini, yaitu: EAS 1, EAS 2, EAS 3, EAS 4, EAS 5, BAS 6, EAS 7, dan EAS 10, Dua subtes yaitu EAS 8 dan EAS 9 tidak dapat dianalisis efektivitas dis- traktornya karena tidak memiliki dis- traktor. Analisis efektivitas distraktor dilakukan dengan menghitung korelasi point diseria’ untuk masing-masing alternatif jawaban dengan software iteman. Penggunaan korelasi point bise- vial didasari oleh pertimbangan bahwa skor yang diperoleh dalam penelitian ini adalah skor dikotomi yang berasal dari jawaban benar atau salah dan kore- lasi point biserial relatif lebih stabit daripada korelasi biserial. Reliabilitas Pendekatan yang digunakan dalam mengestimasi reliabilitas dalam peneli- tian ini adalah pendekatan konsistensi internal dan pendekatan bentuk paralel. Pendekatan konsistensi internal dipilih untuk mengestimasi reliabilitas dengan EMPLOYEE APTITUDE SURVEY (EAS) SEBAGAT ALTERNATIF TES BAKAT pertimbangan partisipan hanya dikenai satu. kali pengetesan sehingga lebih efisien dan tidak terjadi efek bawaan. Pendekatan konsistensi internal dengan formula a digunakan untuk beberapa EAS yaitu EAS 1, EAS 2, BAS 3, EAS 4, EAS 5, EAS 6, EAS 7, dan EAS 10. Pendekatan bentuk paralel dignakan pada EAS 8 dan EAS 9. Pada EAS 8 dilakukan dua kali penyajian yaitu pertama dengan huruf $ kemudian dengan huruf K. Pada EAS 9 skor dipisahkan antara baris ganjil dan baris genap. Perhitungan reliabilitas dilaku- kan dengan software SPSS 13. Hasil Ujicoba tahap | dilakukan khusus pada subtes EAS | pemahaman kata (verbal comprehension). Pelaksanaan ujicoba tahap 1 khusus untuk subtes EAS 1 didasari pertimbangan bahwa subtes EAS 1 disusun sendiri oleh peneliti dengan mengumpulkan kata-kata dalam Bahasa Indonesia sehingga sebelum disajikan pada partisipan yang luas perlu diujicobakan dulu pada sekelompok partisipan untuk mengetahui gambaran awal kualitas item. Ujicoba tahap 1 dilakukan dengan menyajikan EAS 1 pada 55 orang partisipan yaitu siswa SMAN 9 kelas XI dan XII. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa dari 30 item yang disusun peneliti tingkat kesu- karan (P) antara 0,000 sampai dengan 0,964, dengan rerata tingkat kesukaran sebesar 0,438. Daya beda ivem (ris) antara 9,008 sampai dengan 0,564. Parameter item baik tingkat kesukaran, daya beda maupun efektivitas distrakior menjadi dasar untuk memperbaiki item yang telah diujicobakan. Item yong diperbaiki adalah item yang memiliki tingkat kesukaran sebesar 0,00, daya beda di bewah 0,2 serta item yang memiliki distraktor dengan ry. positif. Tiem-item yang diperbaiki adalah item nomor 3, 5, 6, 7, 11, 12, 14, 18, 19, 22, 24, 25, 27, 28, 29. dan 30. Perbaikan dilakukan dengan mengubah alternatif jawaban dan menyusun ulang urutan penyajian item herdasar tingkat kesukaran item. Item disusun malai dari item yang mudah sampai item yang sukar dengan pertimbangan agar testee termotivasi dalam mengerjakan. Ujicoba tahap 2 kembali dilakukan khusus untuk subtes EAS 1 dengan pertim- bangan masih banyak item dari subtes EAS 1 yang perlu diperbaiki berdasarkan hasil ujicoba tahap I. Ujicoba tahap II dilakukan dengan menyajikan kembali EAS subtes 1 yang telah diperbaiki pada 156 orang partisipan yaitu: siswa SMA N 11 kelas XT. Hasil ujicoba menunjukkan bahwa dari 30 item yang disusun peneliti tingkat kesu- karan (P) antara 0,013 sampai dengan 0, 994 dengan rerata tingkat kesukaran sebe- sar 0,427. Daya beda item (74p;) antara 0,057. sampai dengan 0,511. Berdasar analisis terhadap parameter item, dilakukan perbaikan item. Perbaikan item dilakukan dengan mengubah alternatif jawaban. Jtem yang diperbaiki adalah item nomor 6, 20, 21, 25, 28. Item kemudian disusun ulang berdasar tingkat kesukaran. EAS 1 hasil perbaikan serta 9 subtes EAS yang lain kemudian disajikan pada partisipan penelitian yaitu 260 orang siswa SMA kelas XI dan XII. Urutan penyajian dimulai dari EAS 8 dengan stimulus huruf S selama 5 menit. Subtes yang disajikan kedua adalah EAS 9 selama 5 menit. Subtes EAS 8 kemudian disajikan lagi selama 5 menit, namun kali ini dengan stimulus huruf K. Penyajian EAS 8 sebanyak dua kali dimaksudkan untuk mendapatkan data . 147 WIDIANA reliabilitas tes, Subtes EAS 1, EAS 2, EAS 3, EAS 4, EAS 5, EAS 6, EAS 7 berurutan disajikan dengan waktu masing-masing 5 menit, kecuali EAS 2 disajikan dalam waktu 10 menit dengan perincian 2 menit untuk bagian J, sedangkan bagian II dan IIL masing-masing 4 menit. Subtes yang disa- jikan terakhir adalah subtes 10 dengan waktu 5 menit. Dasar pertimbangan EAS 8 dan EAS 9 disajikan di awal adalah subtes EAS 8 relatif mudah, sedangkan EAS 9 membu- tuhkan kondisi yang masih segar. Langkah berikutnya adalah metakukan scoring ter- hadap jawaban partisipan. Data yang dipe- roleh kemudian dianalisis untuk mendapat- kan informasi mengenai parameter item yang meliputi tingkat kesukaran, daya beda, dan efektivitas distraktor, serta reliabilitas tes. Hasil analisis data menunjukkan rerata tingkat kesukaran item dari subtes EAS 1, EAS 2, EAS 3, EAS 4, EAS 5, EAS 6, EAS 7, dan EAS 10 antara 0,467 sampai dengan 0,622. Subtes EAS 8 dan BAS 9 tidak dapat dianalisis tingkat kesukaran item-nya. Gam- baran rangkuman tingkat kesukaran item serta rerata tingkat kesukaran item seleng- kapnya ditunjukkan pada tabel 3 di bawah ini. Tabel 3 Tingkat Kesukaran Item Subtes __ Tingkat Kesukaran Item Rerata Tingkat Kesukaran Item. EAS 1 0,035 — 0,985 0,467 EAS 2 0,038 - 0,985 0,614 EAS 3 0,046 — 0,981 0,595 EAS 4 0,008 - 1,000 0,612 EAS 5 0,031 - 0,981 0,595 EAS 6 0,104 — 0,992 0,622 EAS7 0,015 - 0,931 0,485 EAS 10 0,127 - 0,958 0,507 Daya beda item tentang rangkuman daya beda item pada Daya beda item dilihat dari besamya korelasi point biserial (rypis). Gambaran subtes EAS 1 hingga subtes EAS 10, selengkapnya dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini, Tabel 4 Daya Beda Item * Subtes Daya Beda Item EAS 1 0,015 — 0,421 EAS2 0,021 - 0,622 EAS3 0,110- 0,701 EAS 4 9,008 - 0,774 EAS 5 0,158 - 0,693 EAS 6 0,198 - 0,552 EAS 7 0,068 - 0,507 EAS 10 0,142 - 0,570 148 EMPLOYEE APTITUDE SURVEY (EAS) SEBAGAI ALTERNATIF TES BAKAT Efektivitas Distraktor Distraktor yang perlu diperbaiki pada BAS 1 adalah item nomor 28 pada distraktor C, item nomor 29 pada distraktor C serta item nomor 30 pada distraktor C Distraktor yang perlu diperbaiki pada EAS 2 bagian I adalah izem nomor 1 pada distraktor B, item nomor 2 pada distraktor E, item nomor 9 pada distraktor C, item nomor 19 pada distraktor A & C, ilem nomor 20 pada distraktor A, C & D, item nomor 21 pada distraktor C & E, item nomor 22 pada distraktor E, item nomor 24 pada distraktor A. Distraktor yang. perlu diperbaiki pada EAS 2 bagian U adalah item nomor 16 pada distraktor B, item nomor 21 pada distraktor A. Distraktor yang perlu diperbaiki pada EAS 2 bagian IM] adalah item nomor 12 pada distraktor A, item nomor 13 pada distraktor B & C, item nomor 15 pada distraktor C. Distraktor pada EAS 3 tidak mungkin diperbaiki karena antara satu izem dengan yang lain saling berhubungan, Distraktor pada satu item menjadi jawaban pada item yang Distraktor pada EAS 4 tidak mungkin diperbaiki karena alternatif jawa- bannya hanya dua, yaitu: benar dan salah. Pada EAS 5 distraktor 10 pada semua rapa item disttaktor yang tain ada yang tidak dipilih, namun tidak dapat dihilang- kan ataupun diperbaiki karena alternatif Jewaban untuk semua item adalah sama. Distraktor yang perlu diperbaiki pada EAS 6 adalah item nomor | pada distraktor B, item nomor 16 pada distraktor D, dan item nomor 17 pada distraktor E. Distraktor pada EAS 7 dan EAS 10 tidak mungkin diperbaiki Karena alternatif jewabannya hanya benar, salab dan tidak dapat ditentukan, Reliabilitas Tes Reliabilitas untuk EAS 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 10 diketahui dengan menghitung koefisien alpha (a). Reliabilitas untuk EAS 8 diketahui dengan menghitung korelasi antara hasil tes EAS 8 yang disajikan dua kali yaitu hasil tes dengan stimulus huruf $ dengan hasil tes EAS 8 dengan stimulus K. Reliabilitas tes EAS 9 diketahui dengan menghitung korelasi antara total skor partisipan pada baris ganjil dengan total skor partisipan pada baris genap. Gambaran rincian nilai reliabilitas dan error standard untuk masing-masing subtes EAS seleng- kapnya dapat dilihat pada tabel 5 di bawah item tidak ada yang memilih. Pada bebe- ini. Tabel 5 Reliabilitas dan Error Standar Subtes Reliabilitas Varians Error Standard EAS 1 0,402 8,971 2,316 EAS 2 0,927 133,777, 3,125 EAS3 0,843 19,256 1,739 EAS 4 0,968 345,121 3,323 EAS 5 0,924 81,029 2,482 EAS 6 0,671 7,236 1,543 EAS7 0,749 16,907 2,060 EAS 8 0,704 104,881 5,572 BAS 9 0,937 8172,480 22,691 EAS 10 0,760 21,848 2,290 149 WIDIANA Subtes BAS 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, dan 10 kemudian dihitung kembali reliabilitasnya setelah dihilangkan item-item yang memi- Tabel 6 liki daya beda (7,4) < 0,300. Gambaran reliabilitas masing-masing subtes, seleng- kapnya dapat dilihat pada tabel 6. Reliabilitas dan Error Standard Item dengan Daya Beda >0,300 Subtes___Reliabilitas Varians Error Standard EAS | 0,533 3,887 1,347 EAS 2 0,929 115,633 2,865 EAS3 0,861 15,235 1,455 EAS 4 0.973 295,797 2,826 EAS 5 0,925 78,235 2,422 EAS 6 0,679 5,055 1.274 EAS7 0,764 12,263 1,701 EAS 8 0,704 104,881 5,572 EAS 9 0,937 8172,480 22,691 EAS 10 0,776 14,676 1,813 Profil Partisipan nilai z, yaitu: dengan mengurangkan skor Profil partisipan disusun sebagai salah satu cara untuk mempermudah interpretasi techadap hasil tes. Profil partisipan dipe- roleh dengan mengubah skor mentah men- jadi skor standar dengan mempethatikan rerata dan deviasi standar. Penggunaan skor standar didasari oleh pertimbangan jumlah item pada masing-masing subtes tidak sama, sehingga perlu dihitung skor standar agar skor antar subtes dapat dibandingkan. Langkah pertama dalam menghitung tes yang diperoleh dengan rerata, kemudian hasilnya dibagi dengan deviasi_standar (Gregory, 2000). Nitai z akan bergerak dari -3 sampai dengan 3. Beberapa sistem skor terstandar di- kembangkan untuk mengubah nilai 2 agar menjadi positif. Salah satu sistem skor terstandar adalah T-Score (Gregory, 2000). Rumus T-Score adalah sebagai berikut : 7 Score = 50 + 10 z. Gambaran contoh nilai z dan skor terstandar safah satu partisipan, selengkapaya dapat dilihat pada tabel 7 di skor standar adalah dengan menghitung — bawah ini. Tabel 7 Skor Partisipan A Berdasar Jumlah Item Awal * Berdasar Jumlah Item Akhir Subtes Skor 1.) Skorstandar —Skor 4.14; Skor standar Mentah (T-Score) __ Mentah (F-Score) EAS 1 1 -1,068 39 4 -0,71 42 EAS 2 58,774 58 41 0,744 37 EAS3 23 1,176 62 16 1,099 61 EAS 4 91 -0,044 50 38 -0,070 49 EAS 5 33071 58 33 0,806 58 EAS6 130,208 52 8 0,369 54 150 EMPLOYEE APTITUDE SURVEY (EAS) SEBAGAI ALTERNATIF TES BAKAT Berdasar Jumlah Item Awal Berdasar Jumlah tem Akhir Subtes ~ Skor | Skor stander Skor =|. Skor standar 7 Mentah Ni “ er-score) —_Mentah_ Nill“ (r-scare) EAS? 10-1100 40 6 -lai4 38 FASS 45-0117 49 45.0117 49 EAS9 —-301.——-1,816 33 301 1,683, 33 EAS10 201,023 60 9 0,389 54 Diskusi Hasil analisis daya beda item menun- Hasil analisis tingkat kesukaran item menunjukkan bahwa rerata tingkat kesu- karan item pada subtes EAS | adalah 0,467 yang menunjukkan item-item subtes EAS 1 cenderung sulit dibanding item-item pada subtes-subtes yang lain. Rerata tingkat ke- sukaran item subtes EAS 6sebesar 0,622 yang menunjukkan item-item subtes 6 cen- derung mudah dibanding item-item pada subtes-subtes yang lain. Rerata tingkat kesukaran item masing- masing subtes menunjukkan item-item tes EAS memiliki tingkat kesukaran yang sedang. Tingkat kesukaran item yang diperoleh mendukung fungsi dari tes EAS yang ditujukan untuk mengukur bakat secara umum. Murphy dan Davidshofer (4991) menyatakan bahwa jika tes didesain sebagai pengukuran umum dari variabel kontinu, maka digunakan item dengan indeks kesukaran item sckitar 0,5. Jtem-item di nomor akhir subtes EAS 4 cenderung Sulit. Hal tersebut dipengaruhi oleh karakteristik subtes EAS 4 yang menuntut kecepatan dalam mengerjakan tes. Partisipan yang berhasil mengerjakan semua item dalam subtes EAS 4 hanya 1 dari 260 orang. Sedikitnya partisipan yang berhasil menyelesaikan sampai ifem-item di nomor akhir mempengaruhi besar kecilnya indeks tingkat kesukaran item pada item- item tersebut. jukkan bahwa pada masing-masing subtes terdapat item-item dengan daya beda item lebih rendah dari 0,3 sehingga perlu di- buang. Jumlah item pada masing-masing subtes setclah dikurangi item dengan daya beda lebih rendah dari 0,3 tidak sama. Jumlah item terbanyak terdapat pada subtes EAS 4 yaitu 84 item, scdangkan jumiah item paling sedikit pada subtes EAS | dan EAS 6 yaitu 11 item. Meskipun jumlah item akhir lebih sedikit dari jumlah item awal, namun waktu penyajian untuk masing- masing subtes tidak dikurangi, Pertim- bangan yang mendasari adalah skor yang paling banyak muncul pada setiap subtes berkisar antara 12 (40% dari jumlah ifem seluruhnya) pada EAS 10 sampai dengan 14 (70% dari jumlah ifem seluruhnya) pada EAS 6, Jumlah item yang tidak sama antara satu subtes dengan yang lain menjadi pet- timbangan dikembangkannya skor standar dalam menginterpretasi profil hasil tes yang membandingkan hasil tes antar subtes. Skor standart adalah pengubahan skor menttah ke dalam bentuk penyimpangan dari mean dalam satuan deviasi standar (Azwar, 2007a), Hasil analisis reliabilitas menunjukkan reliabilitas tertinggi sebesar 0,973 dengan error standard 2,826 yaitu pada subtes EAS 4. Koefisien reliabilitas 0,973 menun- jukkan ‘bahwa variasi yang tampak pada 151 WIDIANA skor subtes tersebut mampu mencerminkan 97,3% dari variasi skor murni partisipan, sehingga dapat dikatakan 2,7% dari variasi skor tampak disebabkan oleh variasi error pengukuran. Reliabilitas terendah sebesar 0,533 dengan error standard 1,347 yaitu pada subtes EAS 1. Koefisien reliabilitas 0,533 menunjukkan bahwa varias! yang tampak pada skor subtes tersebut mampu mencerminkan 53,3% dari variasi_skor murni partisipan, sehingga dapat dikatakan 46,7% dari variasi skor tampak disebabkan oleh variasi error pengukuran. Namun demikian, kadang-kadang suatu. koefisien yang tidak begitu tinggipun masih dianggap cukup berarti, terutama bila tes yang ber- sangkutan digunakan bersama-sama dengan tes-tes lain dalam suatu perangkat (baterai) pengukuran (Azwar, 2007b), Simpulan Hasi! penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum tes EAS yang disusun dalam budaya Amerika dapat diadaptasi menjadi alat ukur tes bakat employee yang nilai diagnostik di Indonesia. Tes EAS hasil adaptasi masih perlu diteliti lebih lanjut. Bagi peneliti yang ter- tarik untuk melakukan kajian yang lebih mendalam mengenai tes EAS dapat mene- liti lebih lanjut mengenai: 1. Validitas prediktif (criterion related validity) untuk mengetahui kemampuan prediksi tes EAS dalam career coun seling bagi siswa SMA. 2. Penulisan kembali isem-item pada Tes Pemahaman Kata untuk memperbaiki reliabilitas tes. 3. Perbaikan tethadap beberapa distraktor pada Tes Kemampuan Numerik sesuai dengan hasil analisis parameter item. 1s2 4, Parameter item khusus Tes Kecepatan dan Ketelitian Visual, mengingat subtes ini termasuk speed fest schingga perlu dilakukan ujicoba tanpa batasan waktu untuk mengetahui parameter item ter- utama pada item-item nomor akhir. 5, Penyusunan norma sebagai dasar inter- pretasi hasil tes EAS. 6. Penerapan EAS dalam seleksi kerja, mengingat tes EAS disusun untuk dua tujuan yaitu seleksi kerja dan career counseling. Bagi yang akan menggunakan tes EAS hasil adaptasi disarankan untuk menyajikan tes EAS dengan waktu yang sama yaitu 5 menit untuk EAS 1, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9. dan 10. Sedangkan EAS 2 disajikan .dalam waktu 10 menit yang terbagi menjadi 2 menit untuk bagian I, 4 menit untuk bagian H serta 4 menit untuk bagian III. Kesepuluh subtes dapat disajikan semua maupun bebe- rapa subtes sesuai dengan kebutuhan. Peng- guna dapat menyusun norma kelompok sebagai dasar pertimbangan interpretasi hasil tes EAS. Daftar Pustaka Azwar, S. (2007a). Tes prestasi (2°! ed). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Azwar, S. (2007b), Reliabilitas dan vali- ditas (3" ed.). Yogyakarta: Pustaka Pelajar. * Employee Aptitude Survey Technical Ma- nual, (1994). California: Psychological Services. Ginting, H. (2005). Description and use of the EAS. Makalah disajikan dalam Seminar & Workshop Intellectual Assessment, Bandung. Gregory, R. I. (2000). Psychological testing Q% ed.). Singapore: Allyn and Bacon, EMPLOYEE APTITUDE SURVEY (EAS) SEBAGAI ALTERNATIF TES BAKAT Haydel, $. B. (2007). The effect of gender and athletic experience on spatial ability test scores. Retrieved 2007, Juni 21, from hitp//www.Clearing house.missouriwestern.edu/manuscript s/219.asp Kolz, A. R, McFarland, L. A, & Silverman, S. B. (1998). Cognitive ability and job experience as predictors of work performance, Journal of Psychology, 132, 539-548, Manual Employee Aptitude Survey (EAS). (2005). Bandung: Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha, Mulyono, S, (2007). Kamus sinonim anto- nim. Yogyakarta: Pustaka Widyatama. Mumford, M. D., Supinski, E. P., Baughman, W. A., Costanza, D. P., & Threlfall, K. V., (1997). Process based measures of creative problem solving skills: V. overall prediction. Creativity Research Journal, 10, 73-85. Mumford, M. D., Marks, M. A., Connelly, M. S,, Zacarro, J, S., & Johnson, J.P. (1998), Domain based scoring of divergent thinking tests: Validation evidence in an occupational sample. Creativity Research Journal, 11, 151- 163. Murphy, K. R., & Davidshofer, C. 0. (1991). Psychological testing: Princi- ples and application. New Jersey: Prentice Hall. Nunnally, J. C. (1970). Tntroduction to psy- chological measurement. Kogakusha: McGraw Hill. Organt, G. J., (1975). Employee testing and the selection of schoo! support pers- onnel; A validation study. Education, 96, 40-45, Poerwodarminto, W. J. S. (1986). Kamus umum bahasa indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, . Ruch, F. L., & Ruch, W, W. (1963), Employee aptitude survey. Los Angeles: Psychological Services. Supangkat, E. (2005). Seri tito: Tarzan kota, Yogyakarta: Kanisius. Thumin, F. J. (1993). Predictor validity as related to criterion _ relevance, restriction of range, and ethnicity. Journal of Psychology, 127, 553-563. 153