P. 1
artikel ABC (skripsi)

artikel ABC (skripsi)

|Views: 2,954|Likes:
Dipublikasikan oleh lolokan

More info:

Published by: lolokan on Mar 13, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/30/2013

pdf

text

original

Sections

  • 2.8 Cost Driver
  • 2.9 Keunggulan Metode ABC
  • 2.10 Kelemahan Sistem akuntansi Biaya Tradisional
  • 3.1.1. Sejarah berdirinya RSUD BATANG
  • 3.1.2.1 Visi
  • 3.1.2.2 Misi
  • 3.1.2.3 Motto
  • 3.1.2.4 Tujuan
  • 3.1.2.5 Filosofi
  • 3.1.2.6 Tugas RSU
  • 3.1.2.7 Fungsi RSU
  • 3.1.2.8 Nilai dasar
  • 3.1.3 Pemegang jabatan
  • 3.1.4 Fasilitas Pelayanan
  • 3.1.4.1 Rawat Jalan
  • 3.1.4.2 Rawat Inap
  • JUMLAH RUANG RAWAT INAP DAN KAPASITAS TEMPAT TIDUR
  • 3.1.5 Penunjang Pelayanan
  • 3.1.5.1 Penunjang Medik
  • 3.1.5.2 Penunjang Non Medik
  • 3.1.6 Kerjasama Dengan Institusi Pendidikan
  • 3.1.7 Tenaga Pengelola
  • 3.1.8 Sarana
  • 3.1.9 Struktur Organisasi
  • 3.1.10 Kelas Jasa dan Tarif RSU
  • 3.1.10.1 Kelas Jasa
  • KLASIFIKASI BIAYA KE DALAM BERBAGAI AKTIVITAS
  • PENGELOMPOKAN BIAYA RAWAT INAP DAN COST DRIVER
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS VIP
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS UTAMA I
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS UTAMA II
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS I
  • TARIF JASA RAWAT IANAP KELAS II
  • TARIF JASA RAWAT INAP KELAS III
  • DAFTAR PUSTAKA

PENERAPAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING SYSTEM DALAM MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA RAWAT INAP (STUDI PADA

RSUD KABUPATEN BATANG)

SKRIPSI
Oleh :

Nama No Mahasiswa

: Fieda Femala : 00312268

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2007

PENERAPAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING SYSTEM DALAM MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA RAWAT INAP (STUDI PADA RSUD KABUPATEN BATANG)

SKRIPSI disusun dan diajukan untuk memenuhi sebagai salah satu syarat untuk mencapai derajat Sarjana Strata-1 jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi UII

Oleh :

Nama No Mahasiswa

: Fieda Femala : 00312268

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2007

i

PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

“ Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam referensi. Dan apabila dikemudian hari terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka saya sanggup menerima hukuman/sangsi apapun sesuai peraturan yang berlaku.”

Yogyakarta, 21-09-2007

Penyusun,

(FIEDA FEMALA)

ii

MSi) iii .PENERAPAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING SYSTEM DALAM MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA RAWAT INAP (STUDI PADA RSUD KABUPATEN BATANG) Hasil Penelitian Diajukan oleh : Nama No Mahasiswa Jurusan : Fieda Femala : 00312268 : Akuntansi Telah disetujui oleh Dosen Pembimbing Pada tanggal Dosen Pembimbing (Drs Kesit Bambang Prakosa.

Si Penguji : Drs. Kesit Bambang Prakosa. Johan Arifin. ………….D iv . Ph. M.BERITA ACARA UJIAN SKRIPSI SKRIPSI BERJUDUL Penerapan Metode Activity-Based Costing System Dalam Menentukan Besarnya Tarif Jasa Rawat Inap (Studi Pada RSUD Kabupaten Batang) Disusun Oleh: FIEDA FEMALA Nomor Mahasiswa: 00312268 Telah dipertahankan di depan Tim Penguji dan dinyatakan LULUS Pada tanggal : 7 September 2007 Pembimbing Skripsi/Penguji : Drs. Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Drs. M. Asmai Ishak.Si ………….Bus. M.

Muhammad : 7) Halaman Persembahan v .MOTTO “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum (golongan) kecuali kaum (golongan) itu sendiri yang mengubahnya” (Qs. jika kamu menolong (melaksanakan semua perintah) Allah. Al-Israa : 84) “Wahai orang yang beriman. maka Ia akan menolong kamu dan memantapkan langkah-langkahmu. Ar-Ra’du : 11) “ Katakanlah : Setiap kamu berkarya menurut bakat masing-masing. hanya Allah Tuhanmu yang paling mengetahui siapa yang benar-benar mendapat Petunjuk di jalan yang ditempuhnya.” (Qs.” (Qs.

¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤ Skripsi ini ku persembahkan : ¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤ Mama tercinta Tati Sugiharti Papaku Achmad Sobirin Kakakku Mia Marisa Adikku Rengga Dan Adya Yayangku Popied feriyanto Keponakanku Asty Amanda KATA PENGANTAR vi .

Assalamualaikum Wr.Wb Alhamdulillahirrabilallamin, penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas karunia dan nikmat-Nya, sehingga akhirnya penyusunan skripsi ini dapat berjalan dengan lancar. Skripsi ini disusun dalam rangka memenuhi syarat dalam menyelesaikan pendidikan Program Strata (S1) untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi UNiversitas Islam IndonesiaYogyakarta. Proses penyusunan skripsi ini sudah diusahakan semaksimal mungkin, kalaupun ada kekurangan itu karena keterbatasan yang dimiliki penulis layaknya sebagaimana manusia biasa, karena proses penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, pengarahan dan bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis hendak memberikan ucapan terima kasih yang tulus kepada 1. Bapak Prof. Dr. Edy Suwandi Hamid, M.Ec selaku Rektor Universitas Islam Indonesia. 2. Bapak Drs. Asmai Ishak, M. Bus, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia. 3. Ibu Dra. Erna Hidayah, M.Si selaku Ketua Jurusan Akuntansi Universitas Islam Indonesia.

vii

4. Bapak Drs. Kesit Bambang Prakosa, M.Si selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang telah banyak meluangkan waktu untuk membimbing dan mengarahkan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 5. Bapak Drs. Johan Arifin, M.Si selaku Dosen Penguji yang telah memberikan pengarahan dan masukan yang sangat berguna bagi penulis. 6. Pak Gunawan, Pak Pri, Pak Utoyo terimakasih atas segala bantuanbantuannya disaat yang tepat. 7. Mama tercinta yang selalu dengan sabar memberikan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Setiap

dukungannya sangat berarti bagi penulis. I love You Mam. 8. Papaku yang selalu memberikan nasehat kepada penulis agar segera menyelesaikan skripsi ini. 9. Kakakku tercinta yang selalu memberi dorongan kepada penulis untuk selalu kuat,tegar dan percaya diri.. 10. adik-adikku, kalian adalah motivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 11. Yayangku yang selalu berada didekatku dalam keadaan susah maupun senang. 12. Dewi Husin, makasih ya pinjaman laptopnya.

viii

13. Teman-teman lamaku di wisma pugeran, mbak nana, mbak leni, mbak tati, mia, ony, ade, lia, rini, siti. Semoga di lain waktu kita bisa ketemu lagi. 14. Teman-temanku di wisma cantik, Rhinie, Umi, Dian, Egha, Heni, Winda, Heny, July, Vivi, Yuyun, Sandra, Icun, Mb ita, Yuni. Tanpa kalian wisma cantik terasa sepi. 15. Keponakanku Asty Amanda yang lucu dan imut 16. Semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan dan bantuannya hinggga

terselesaikannya skripsi ini. Harapan penulis semoga Allah SWT senantiasa memberikan karunia-Nya atas Budi baik dan amal mereka. Akhir kata bila ada kekurangan dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa itu semua merupakan kekurangan dari penulis sebagai manusia biasa. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi penulis pada khususnya dan pembaca pada umumnya serta semua pihak yang memerlukannya. Amin. Wassalamu’alakum Wr.Wb

Yogyakarta, September 2007

Penulis

ix

. Tujuan Penelitian……………………………………………. Daftar Isi…………………………………………………………………… DAftar Tabel………………………………………………………………..4 Latar Belakang Masalah…………………………………….. Daftar Gambar……………………………………………………………… Abstrak……………………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN………………………………………………… 1.. Konsep-Konsep Dasar Activity Based-Costing…………….. Perbandingan Biaya Produk Tradisional Dan ABC… Struktur Sistem ABC……………………………………….3 1.4 Pengertian Activity Based-Costing…………………………. Kata Pengantar……………………………………………………………....1 2. Halaman Motto…………………………………………………………….3 2.DAFTAR ISI Halaman Judul……………………………………………………………… Halaman Pernyataan Bebas Plagiarisme…………………………………… Halaman Pengesahan………………………………………………………...1 1.. Halaman Persembahan……………………………………………………. Berita Acara Ujian Skripsi………………………………………………….2 1...2 2. Rumusan Masalah………………………………………….. i ii iii iv v vi vii x xiv xv xvi 1 1 5 5 Manfaat Penelitian…………………………………………… 5 6 6 6 8 10 BAB II LANDASAN TEORI……………………………………………… 2. x .

8 2.1.11 Pengertian Dan Penentuan Tarif Dengan Menggunakan Metode Cost Plus Pricing…………………………………… 2..12 ABC Untuk Perusahaan Jasa……………………………… 24 27 BAB III TINJAUAN OBYEK PENELITIAN…………………………… 3.2. Batang…………………… 3.1..1 Prosedure Pembebanan BOP Dengan ABC Sistem… 2. xi .2. 2.1 Gambaran Umum RSUD Kab.9 Cost Driver…………………………………………………. Batang………….7 Manfaat Penentuan HPP Berdasarkan Aktifitas…………….10 Kelemahan Sistem Akuntansi Biaya Tradisional…………… 2..7 Tugas RSU……………………………… Fungsi RSU…………………………….2 Misi……………………………………… 29 29 29 30 30 30 30 30 30 31 31 3. Filosofi.1 3.4 Tujuan…………………………………… 3. Tujuan.6 3.. 3.5 Filosofi…………………………………..1.. Moto.1. 2..1.1.1. Tugas RSU Fungsi RSU Dan Nilai Dasar…………………….. 2.3 Moto…………………………………….2.1. Keunggulan Metode ABC…………………………………. Visi.2.2.2. 3. Misi.1.6 Pembebanan BOP Pada ABC……………………………….2..2 Sejarah Berdirinya RSUD Kab.2. 3.1 Visi……………………………………… 3.5 Syarat Penerapan Sistem ABC……………………………… 11 13 14 16 18 20 21 2.6.

4..3.2 Rawat Jalan……………………………. 45 47 52 52 52 56 xii .8 3.10 Kelas Jasa. Penunjang Non Medik………………….1 3.7 3. Struktur Organisasi……………………………….1.3 3. 3.1.1..5.1 Kelas Jasa………………………………..1. BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN……………………………… 4. 3.1. 3. Rawat Inap……………………………… 3.2.1. 3.1.9 Kerjasama Dengan Institusi Pendidikan…………. Batang…………………….1.8 3..1.10.1.4...2 Penentuan Tarif Jasa Rawat Inap RSUD Kab..5.1 Mengidentifikasi Dan Mendefinisikan Aktivitas Dan Pusat Aktivitas…………………………………….. 3.1 Perhitungan HPP Rawat Inap Dengan Menggunakan ABC… 4.11 Data Pendukung ABC…………………………….1.1.5 Penunjang Pelayanan……………………………. Dan Tarif RSU………………………… 3.1.2 Penunjang Medik……………………….1.1 3. 4.1.2 Mengklasifikan Aktivitas Biaya Kedalam Berbagai Aktifitas…………………………………………….1..1.4 Nilai Dasar……………………………… 31 32 32 32 33 33 33 34 34 35 36 37 43 43 Pemegang Jabatan………………………………… Fasilitas Pelayanan………………………………..6 3.1. 3.10. Tenaga Pengelola………………………………… Sarana……………………………………………..

......5 Mengidentifikasi Cost Driver……………………… Menentukan Tarif Per Unit Cost Driver…………… Membebankan Biaya Ke Produk Dengan Menggunakan Tarif Cost Driver Dan Ukuran Aktifitas…………… 58 61 64 4....1 Kesimpulan………………………………………………….....1......................... 74 DAFTAR PUSTAKA....1....2 Saran………………………………………………………….........1........ 73 5..4 4........3 4... 71 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.2 Perbandingan Metode Tradisional Dan ABC Dalam Penetapan Tarif Jasa Rawat Inap……………………………………….........4. 75 LAMPIRAN xiii .............

1 Jumlah Ruang Rawat Inap dan Kapasitas Tempat tidur RSUD Batang 33 3.4 Data Pendukung Lama Hari Pasien Rawat Inap Pada RSUD Batang. 62 4. 47 3. 54 4. Batang………………………….1 Data Penggunaan Listrik Pada RSUD Batang……………………….7 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas Utama II………………………………… 67 4..1 Perbedaan Penetapan HPP Melalui Metodse Tradisional Dengan ABC………………………………………………………….10 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas III…………………………………………70 4. 48 3.9 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas II…………………………………………. 69 4. 68 4.2 Tarif Jasa Rawat Inap RSUD Kab. 50 3.6 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas Utama I………………………………….8 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas I………………………………………….5 Data Pendukung Jumlah Pasien Rawat ianap Pada RSUD Batang…… 50 3.6 Data Pendukung Luas Ruangan Rawat Inap Pada RSUD Batang…….3 Pengelompokan Biaya Rawat Inap dan Cost Driver Kamar Rawat Inap 59 4.. 66 4.DAFTAR TABEL Tabel Halaman 2.2 Klasifikasi Biaya Ke Dalam Berbagai Aktifitas……………………… 58 4.11 Perbandingan Metode Akuntansi Biaya Tradisional Dengan ABC Dalam Penetapan Tarif Jasa Rawat Inap………………………………..7 Tarif Konsumsi Tiap Kelas Rawat Inap Pada RSUD Batang………… 51 4.3 Data Biaya Rawat Inap Pada RSUD Batang…………………………. 71 xiv . 9 3... 49 3.4 Penentuan Tarif Per Unit Cost Driver Kamar Rawat Inap Dengan Menggunakan Metode ABC…………………………………………..5 Tarif Jasa Rawat Inap Kelas VIP……………………………………… 65 4..

..................DAFTAR GAMBAR Gambar Halaman 2........ 8 xv ...1 Konsep Dasar Activity Based-Costing...................

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1. Surat Keterangan Penelitian dari BAPPEDA…………………………….............. 77 xvi ... 76 2...... Surat Keterangan Penelitian dari RSUD Kabupaten Batang......

telah mampu mengalokasikan biaya aktivitas kesetiap kamar secara tepat berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas. Distorsi timbul karena adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya. Pada metode akuntansi biaya tradisional biaya overhead pada masing-masing produk hanya dibebankan pada satu cost driver saja. Activity-Based Costing adalah metode penentuan harga pokok yang menelusur biaya ke aktivitas. Diantaranya adalah memberikan informasi biaya yang terdistorsi. sehingga mengakibatkan kesalahan penentuan biaya. xvii . perencanaan.ABSTRAK Dalam penentuan harga pokok produk. Karena sistem ini mempunyai beberapa kelemahan. dan pengendalian (Supriyono. sistim akuntansi biaya tradisional kurang sesuai lagi untuk diterapkan di era tekhnologi yang modern seperti saat ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari perhitungan tarif rawat inap dengan menggunakan metode ABC. Adanya berbagai kelemahan tersebut dapat diatasi dengan penggunaan metode Activity-Based Costing. biaya overhead pada masing-masing produk dibebankan pada banyak cost driver. Sedangkan pada metode ABC. Hal ini disebabkan karena pembebanan biaya overhead pada masing-masing produk. Sehingga dalam metode ABC. 2005). Distorsi tersebut juga mengakibatkan undercost/overcost terhadap produk (Hansen & Mowen. kemudian ke produk. Perbedaan utama penghitungan harga pokok produk antara akuntansi biaya tradisional dengan ABC adalah jumlah cost driver (pemicu biaya) yang digunakan dalam metode ABC lebih banyak dibandingkan dalam sistem akuntansi biaya tradisional. pembuatan keputusan. 1999: 259). Akibatnya cenderung terjadi distorsi pada pembebanan biaya overhead. apabila dibandingkan dengan metode tradisional maka metode ABC memberikan hasil yang lebih besar kecuali pada kelas VIP dan Utama I yang memberikan hasil lebih kecil.

dan pelayanan kesehatan. perawatan.1 BAB I PENDAHULUAN 1. Hal ini terbukti semakin banyaknya rumah sakit yang didirikan baik pemerintah maupun swasta. menimbulkan persaingan yang ketat pula. Salah satu bentuk usaha pelayanan jasa adalah jasa kesehatan. Dengan adanya berbagai macam fasilitas pada jasa . Salah satunya adalah jasa rawat inap. rumah sakit memperoleh penghasilan dari pendapatan jasa dan fasilitas yang diberikan. terutama jasa rumah sakit. Tugas utama rumah sakit adalah memberikan jasa pengobatan. Persaingan tersebut tidak hanya persaingan bisnis dibidang manufaktur/industri tetapi juga dibidang usaha pelayanan jasa. Akibat dari perkembangan rumah sakit yang semakin pesat ini. Penentuan tarif jasa rawat inap merupakan suatu keputusan yang sangat penting. Dimana pendapatan dari jasa tersebut didapat dari tarif yang harus dibayar oleh pemakai jasa rawat inap. Karena dapat mempengaruhi profitabilitas suatu rumah sakit.1 Latar belakang masalah Dalam era globalisasi dan ditunjang perkembangan dunia usaha yang semakin pesat mengakibatkan naiknya persaingan bisnis. Masingmasing perusahaan saling beradu strategi dalam usaha menarik konsumen. Dalam memberikan jasa pelayanan kesehatan. Sehingga menuntut adanya persaingan atas produk dan kepercayaan pelanggan.

sehingga mengakibatkan kesalahan penentuan biaya. Distorsi timbul karena adanya ketidakakuratan dalam pembebanan biaya. pembuatan keputusan. 1999: 259). Sistem akuntansi ini disebut Activit-Based Costing. Dalam menentukan harga pokok produk terkadang rumah sakit masih menggunakan akuntansi biaya tradisional. dan pengendalian (Supriyono. serta jumlah biaya overhead yang tinggi. 1992) Perbedaan utama penghitungan harga pokok produk antara akuntansi biaya tradisional dengan ABC adalah jumlah cost driver (pemicu biaya) yang digunakan. 1989). Dalam sistem penentuan harga pokok produk . Dimana sistem ini tidak sesuai dengan lingkungan pemanufakturan yang maju. kemudian pada tahun 1800-an dan awal 1900-an lahirlah suatu sistem penentuan harga pokok produk berbasis aktivitas yang dirancang untuk mengatasi distorsi pada akuntansi biaya tradisional. Definisi metode Activity-Based Costing (ABC) merupakan suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya keaktivitas dan kemudian keproduk (Hansen & Mowen. pada diversifiksi (keanekaragaman) produk yang tinggi (Bunyamin Lumenta. perencanaan. maka semakin menuntut ketepatan dalam pembebanan biaya yang sesungguhnya. 2005). Distorsi tersebut juga mengakibatkan undercost/overcost terhadap produk (Hansen & Mowen.2 rawat inap. Biaya produk yang dihasilkan oleh sistem akuntansi biaya tradisional memberikan informasi biaya yang terdistorsi. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan.

sehingga menuntut ketepatan pembebanan biaya overhead dalam penentuan harga pokok produk. Metode ABC dinilai dapat mengukur secara cermat biaya-biaya yang keluar dari setiap aktivitas. Dalam metode ABC. RSUD Batang masih menggunakan sistem akuntansi biaya tradisional. Pendekatan ini menggunakan cost driver yang berdasar pada aktivitas yang menimbulkan biaya dan akan lebih baik apabila diterapakan pada perusahaan yang menghasilkan keanekaragaman produk. Keanekaragaman produk pada rumah sakit mengakibatkan banyaknya jenis biaya dan aktivitas yang terjadi pada rumah sakit. RSUD Batang merupakan salah satu rumah sakit milik pemerintah yang melayani kesehatan bagi masyarakat sekitar Batang. menganggap bahwa timbulnya biaya disebabkan oleh adanya aktivitas yang dihasilkan produk.3 dengan metode ABC menggunakan cost driver dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dalam sistem akuntansi biaya tradisional yang hanya menggunakan satu atau dua cost driver berdasarkan unit. Padahal perhitungan biaya rawat inap sangat . Dimana output yang dijual lebih dari satu. dan ketepatan pembebanan biaya lebih akurat. Rumah sakit merupakan salah satu perusahaan jasa yang menghasilkan keanekaragaman produk. sehingga dalam metode ABC dapat meningkatkan ketelitian dalam perincian biaya. Hal ini disebabkan karena banyaknya cost driver yang digunakan dalam pembebanan biaya overhead. Dalam perhitungan biaya rawat inap.

4 penting karena berkaitan dengan masalah penentuan harga pokok rawat inap.Yang pada akhirnya akan mempengaruhi penentuan harga jualnya atau tarif rawat inap.Dari latar belakang diatas penulis tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul : ‘‘PENERAPAN METODE ACTIVITY-BASED COSTING SYSTEM DALAM MENENTUKAN BESARNYA TARIF JASA RAWAT INAP (STUDI PADA RSUD KABUPATEN BATANG)” .

2. Memberikan pengetahuan mengenai penerapan Activity-Based Costing System dalam kaitannya dengan penentuan tarif jasa rawat inap. Memberikan alternative cara perhitungan tarif jasa rawat inap dengan menggunakan konsep Activity-Based Costing System. 1.4 Manfaat Penelitian 1.2 Rumusan masalah 1. dengan menggunakan metode akuntansi biaya tradisional dan Activity-Based Costing System pada RSUD Batang. 2. 1. Apakah ada perbedaan besarnya tarif jasa rawat inap pada RSUD Batang dengan menggunakan perhitungan akuntansi biaya tradisional dan Activity-Based Costing System. Untuk mengetahui penerapan Activity-Based Costing System dalam kaitannya dengan penentuan tarif jasa rawat inap pada RSUD Batang.5 1. 3. Membantu rumah sakit dalam menghitung dan menentukan tarif jasa rawat inap dengan menggunakan metode Activity-Based Costing Syste . Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan cara penghitunagan tarif jasa rawat inap dengan menggunakan konsep Activity-Based Costing System. Bagaimanakah cara menghitung tarif jasa rawat inap pada RSUD Batang dengan menggunakan Activity-Based Costing System. 4. 2. Untuk mengetahui perbandingan besarnya tarif jasa rawat inap.3 Tujuan Penelitian 1.

sistem ABC menawarkan lebih dari sekedar informasi biaya produk yang akurat akan tetapi juga menyediakan informasi tentang biaya dan kinerja dari aktivitas dan sumber daya serta dapat menelusuri biaya-biaya secara akurat ke objek biaya selain produk.” Pengertian ABC Sistem yang lain juga dikemukakan oleh Hansen and Mowen (1999: 321) sebagai berikut : “Suatu sistem kalkulasi biaya yang pertama kali menelusuri biaya ke aktivitas kemudian ke produk. 27) adalah : “Bahwa ABC Sistem tidak hanya memberikan kalkulasi biaya produk yang lebih akurat. Namun dari perspektif manajerial. misalnya pelanggan dan saluran distribusi. dengan mengikursecara cermat konsumsi sumber daya alam setiap aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk.6 BAB II LANDASAN TEORI 2.” Sedangakan menurut Mulyadi (1993:34) memberikan pengertian ABC sebagai berikut : “ABC merupakan metode penentuan HPP (product costing) yang ditujukan untuk menyajikan informasi harga pokok secara cermat bagi kepentingan manajemen. tetapi juga memberikan kalkulasi apa yang menimbulkan biaya dan bagaimana mengelolanya.1 Pengertian Activity-Based Costing Activity Based Costing merupakan metode yang menerapkan konsep-konsep akuntansi aktivitas untuk menghasilkan perhitungan harga pokok produk yang lebih akurat. sehingga ABC System juga dikenal sebagai sistem manajemen yang pertama. Pengertian akuntansi aktivitas menurut Amin Widjaja (1992.” .

2 Konsep-Konsep Dasar Activity Based Costing Activity Based Costing Sistem adalah suatu sistem akuntansi yang terfokus pada aktivitas-aktifitas yang dilakukan untuk menghasilkan produk/jasa.” Definisi lain dikemukakan oleh Garrison dan Norren (2000: 292) sebagai berikut: “Metode costing yang dirancang untuk menyediakan informasi biaya bagi manajer untuk keputusan strategik dan keputusan lainnya yang mungkin akan mempengaruhi kapasitas dan juga biaya tetap. . Aktivitas-aktivitas ini menjadi titik perhimpunan biaya. bertindak sebagai faktor penyebab dalam pengeluaran biaya dalam organisasi. Dalam sistem ABC. biaya ditelusur ke aktivitas dan kemudian ke produk. Aktivitas adalah setiap kejadian atau transaksi yang merupakan pemicu biaya (cost driver) yakni. yang mengkonsumsi sumber daya dan bukannya produk. System ABC mengasumsikan bahwa aktivitas-aktivitaslah.7 Pengertian akuntansi aktivitas menurut Brimson (1991: 47) adalah: “Suatu proses pengumpulan dan menelusuri biaya dan data performan terhadap suatu aktivitas perusahaan dan memberikan umpan balik dari hasil aktual terhadap biaya yang direncanakan untuk melakukan tindakan koreksi apabila diperlukan.” 2. Activity Based Costing menyediakan informasi perihal aktivitas-aktivitas dan sumber daya yang dibutuhkan untuk melaksanakan aktivitas-aktivitas tersebut.

Metode ABC memperbaiki keakuratan perhitungan harga pokok produk dengan mengakui bahwa banyak dari biaya overhead tetap bervariasi dalam proporsi untuk berubah selain berdasarkan volume .3 Perbandingan Biaya Produk Tradisional dan ABC Metode ABC memandang bahwa biaya overhead dapat dilacak dengan secara memadai pada berbagai produk secara individual.R. M.1 Konsep Dasar Activity Based Costing Resources Process View Cost Driver Activities Performance Cost Object Sumber: Hansen. 2005 2. Biaya yang ditimbulkan oleh cost driver berdasarkan unit adalah biaya yang dalam metode tradisional disebut sebagai biaya variabel. Don .8 Gambar 2. Mowen. dan Maryanne.

1993 . produksi. Hubungan sebab akibat ini memungkinkan manajer untuk memperbaiki ketepatan kalkulasi biaya produk yang dapat secara signifikan memperbaiki pengambilan keputusan (Hansen dan Mowen. tenaga kerja langsung Metode Activity Based Costing Product Costing Tahap desain. Tahap pengembangan Biaya overhead Daur hidup produk Komputer telekomunikasi Periode Perode akuntansi Teknologi yang digunakan Metode manual Sumber: Mulyadi. perbedaan antara penentuan harga pokok produk tradisional dan sistem ABC.9 produksi. yaitu: Tabel 2. Dengan memahami apa yang menyebabkan biaya-biaya tersebut meningkat dan menurun. biaya tersebut dapat ditelusuri kemasing-masing produk.1 Perbedaan penetapan harga pokok produk Tradisional dengan Metode Activity Based Costing Metode Penentuan Harga Pokok Produk Tradisional Tujuan Lingkup Fokus Inventory level Tahap produksi Biaya bahan baku. 1999: 157-158) Digambarkan dalam tabel.

maka sistem ABC akan dapat menjadi media untuk memahami. Selanjutnya. 2) Produk atau pelanggan jasa Produk menyebabkan timbulnya permintaan atas dasar aktivitas untuk membuat produk atau jasa yang diperlukan berbagai kegiatan yang menimbulkan sumber daya untuk melaksanakan aktivitas tersebut. karena adanya aktivitas akan menimbulkanan biaya. Kegiatan adalah segala sesuatu yang mengkonsumsi sumber daya perusahaan. perusahaan harus dapat mengelola aktivitasnya. yaitu apa yang dilakukan oleh tenaga kerja dan peralatan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.4 Struktur sistem ABC Desain ABC difokuskan pada kegiatan. Asumsi tersebut diatas merupakan konsep dasar dari sitem ABC.Ada dua asumsi penting yang mendasari Metode Activity Based Costing. maka untuk dapat menjalankan usahanya secara efisien.10 2. Dalam hubungannya dengan biaya produk. yaitu: 1) Aktivitas-aktivitas yang menyebabkan timbulnya biaya Metode Activity Based Costing bahwa sumber daya pembantu atau sumber daya tidak langsung menyediakan kemampuannya untuk melaksanakan kegiatan bukan hanya sekedar penyebab timbulnya biaya. memanajemeni. dan memperbaiki suatu usaha. maka biaya yang dikonsumsi untuk menghasilkan produk adalah biaya-biaya . Dengan memusatkan perhatian pada kegiatan dan bukannya departemen atau fungsi.

1996:12) 2. Tingkat persaingan industri yang tinggi Yaitu terdapat beberapa perusahaan yang menghasilkan produk yang sama atau sejenis. Semakin besar tingkat persaingan maka semakin penting peran informasi tentang harga pokok dalam mendukung pengambilan keputusan manajemen. merekayasa. Biaya pengukuran yang rendah Yaitu bahwa biaya yang digunakan system ABC untuk menghasilkan informasi biaya yang akurat harus lebih rendah dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh (Supriyono. . memproduksi. 2.5 Syarat Penerapan Sistem Activity-Based Costing Dalam penerapannya. penentuan harga pokok dengan menggunakan sistem ABC menyaratkan tiga hal: 1. Dalam persaingan antar perusahaan yang sejenis tersebut maka perusahaan akan semakin meningkatkan persaingan untuk memperbesar pasarnya.11 untuk aktivitas merancang. 3. Kondisi yang demikian tentunya akan menimbulkan masalah dalam membebankan biaya ke masing-masing produk. 1994:664-665). Perusahaan mempunyai tingkat diversitas yang tinggi Sistem ABC mensyaratkan bahwa perusahaan memproduksi beberapa macam produk atau lini produk yang diproses dengan menggunakan fasilitas yang sama. menjual dan memberikan pelayanan produk (Cokins dkk.

Pada kondisi ini penggunaan system ABC justru tidak tepat karena sistem ABC hanya dibebankan ke produk dengan menggunakan pemicu biaya baik unit maupun non unit (memakai banyak cost driver). Apabila berbagai produk rasio konsumsinya sama. Jadi perusahaan yang produksinya homogen (diversifikasi paling rendah) mungkin masih dapat masalah. Rasio konsumsi antara aktivitas berdasarkan unit dan berdasarkan non unit harus berbeda. yaitu (Supriyono. 2. 2002: 247) 1. Jika rasio konsumsi antar aktivitas sama. mengunakan sistem tradisional tanpa ada . maka sistem akuntansi biaya tradisional atau sistem ABC membebankan biaya overhead dalam jumlah yang sama. Jika hanya terdapat biaya overhead yang dipengaruhi hanya oleh volume produksi dari keseluruhan overhead pabrik maka jika digunakan akuntansi biaya tradisionalpun informasi biaya yang dihasilkan masih akurat sehingga penggunaan sisitem ABC kehilangan relevansinya. Biaya berdasarkan non unit harus merupakan prosentase yang signifikan dari biaya overhead. Artinya Activity Based Costing akan lebih baik diterapkan pada perusahaan yang biaya overheadnya tidak hanya dipengaruhi oleh volume produksi saja. itu artinya semua biaya overhead yang terjadi bisa diterangkan dengan satu pemicu biaya.12 Ada dua hal mendasar yang harus dipenuhi sebelum kemungkinan penerapan metode ABC.

Rasio Konsumsi adalah proporsi masing-masing aktivitas yang dikonsumsi oleh setiap produk. 2. Cost Driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biayabiaya overhead.6 Pembebanan Biaya Overhead pada Activity-Based Costing Pada Activity-Based Costing meskipun pembebanan biaya-biaya overhad pabrik dan produk juga menggunakan dua tahap seperti pada akuntansi biaya tradisional. Cost Driver adalah suatu kejadian yang menimbulkan biaya. Homogeneous Cost Pool merupakan kumpulan biaya dari overhead yang variasi biayanya dapat dikaitkan dengan satu pemicu biaya saja. dihitung dengan cara membagi jumlah aktivitas yang dikonsumsi oleh suatu produk dengan jumlah keseluruhan aktivitas tersebut dari semua jenis produk. 3. tetapi pusat biaya yang dipakai untuk pengumpulan biaya-biaya pada tahap pertama dan dasar pembebanan dari pusat biaya kepada produk pada tahap kedua sangat berbeda dengan akuntansi biaya tradisional (cooper.13 2. 1991:269-270). Sebelum sampai pada prosedure pembebanan dua tahap dalam Activity-Based Costing perlu dipahami hal-hal sebagai berikut: 1. Activity-Based costing menggunakan lebih banyak cost driver bila dibandingkan dengan sistem pembebanan biaya pada akuntansi biaya tradisional. . Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama tingkat aktivitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktivitasaktivitas selanjutnya.

prosedure pembebanan biaya overhead dengan sisitem ABC melalui dua tahap kegiatan: a.1 Prosedure Pembebanan Biaya Overhead dengan Sistem ABC Menurut Mulyadi (1993: 94). Tahap Pertama Pengumpulan biaya dalam cost pool yang memiliki aktifitas yang sejenis atau homogen. product sustaining activity costing. Sebagai contoh. pada langkah ini biaya digolongkan kedalam aktivitas yang terdiri dari 4 kategori yaitu: Unit level activity costing. Mengidentifikasi dan menggolongkan biaya kedalam berbagai aktifitas 2.14 Atau untuk dapat disebut suatu kelompok biaya yang homogen. terdiri dari 4 langkah : 1. 2. facility sustaining activity costing. Batch related activity costing.6. Biaya aktivitas berlevel unit bersifat proporsional dengan jumlah unit produksi. karena tenaga tersebut cenderung . aktivitas-aktivitas overhead secara logis harus berhubungan dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk. Mengklasifikasikan aktifitas biaya kedalam berbagai aktifitas. menyediakan tenaga untuk menjalankan peralatan. Level tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Aktivitas Berlevel Unit (Unit Level Activities) Aktivitas ini dilakukan untuk setiap unit produksi.

tanpa memperhatikan berapa unit yang ada pada batch tersebut. Aktivitas Berlevel Batch (Batch Level Activities) Aktivitas dilakukan setiap batch diproses. Aktivitas Berlevel Fasilitas (Fasility level activities) Aktivitas berlevel fasilitas adalah aktivitas yang menopang proses operasi perusahaan namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak berhubungan dengan volume. Aktivitas ini dimanfaatkan secara bersama oleh berbagai jenis produk yang berbeda. Aktivitas Berlevel Produk (Produk Level Activities) Aktivitas berlevel produk berkaitan dengan produk spesifik dan biasanya dikerjakan tanpa memperhatikan berapa batch atau unit yang diproduksi atau dijual.15 dikonsumsi secara proporsional dengan jumlah unit yang diproduksi. penyediaan jaringan komputer dan sebagainya. Kategori ini termasuk aktivitas seperti kebersihan kantor. Sebagai contoh merancang produk atau mengiklankan produk. c. b. d. Misalnya. . pekerjaan seperti membuat order produksi dan pengaturan pengiriman konsumen adalah aktivitas berlevel batch.

Tarif/unit cost driver dapat dihitung dengan rumus sbb: Tarif per unit Cost Driver = JumlahAktifitas CostDriver b.7 Manfaat Penentuan Harga Pokok Produk Berdasarkan Aktivitas Jika syarat-syarat penerapan sistem ABC sudah terpenuhi.16 3. 2002:698) . Tahap Kedua Penelusuran dan pembebanan biaya aktivitas kemasing-masing produk yang menggunakan cost driver. Mengidentifikasikan Cost Driver Dimaksudkan untuk memudahkan dalam penentuan tarif/unit cost driver. maka sebaiknya perusahaan menerapkan sistem ABC dan segera mendesain ulang sistem akuntansi biayanya karena akan bermanfaat sebagai berikut: (Supriyono. 4. Menentukan tarif/unit Cost Driver Adalah biaya per unit Cost Driver yang dihitung untuk suatu aktivitas. Pembebanan biaya overhead dari setiap aktivitas dihitung dengan rumus sbb: BOP yang dibebankan = Tarif/unit Cost Driver X Cost Driver yang dipilih 2.

Dengan menggunakan biaya berdasarkan unit dan non unit overhead dapat lebih akurat ditelusuri ke masing-masing produk. 2) Memungkinkan manajemen melakukan perbaikan terus menerus terhadap kegiatan untuk mengurangi biaya overhead. Pembebanan overhead harus mencerminkan jumlah permintaan overhead (yang dikonsumsi) oleh setiap produk. Sistem ABC mengakui bahwa tidak semua overhed bervariasi dengan jumlah unit yang diproduksi. Sistem ABC mengidentifikasi biaya overhed dengan kegiatan yang menimbulkan biaya tersebut. Karena sistem ABC menyediakan informasi biaya yang relevan yang dihubungkan dengan berbagai kegiatan untuk menghasilkan produk. . maka manajemen akan menghasilkan kemudahan dalam memperoleh informasi yang relevan dengan pengambilan keputusan yang menyangkut berbagai kegiatan bisnis mereka.17 1) Memperbaiki mutu pengambilan keputusan Dengan informasi biaya produk yang lebih teliti. Informasi biaya produk yang lebih teliti sangat penting artinya bagi manajemen jika perusahaan menghadapi persaingan yang tajam. kemungkinan manajer melakukan pengambilan keputusan yang salah dapat dikurangi. 3) Memberikan kemudahan dalam menentukan biaya relevan.

a) Pengertian Cost Driver Cost driver merupakan faktor yang dapat menerangkan konsumsi biaya-biaya overhead. sehingga menimbulkan dampak bagi manajemen dalam mengambil keputusan. Cost Driver berdasarkan unit Cost Driver berdasarkan unit membebankan biaya overhead pada produk melalui penggunaan tarif overhead tunggal oleh seluruh departemen. Ada dua jenis cost driver.8 Cost Driver Landasan penting untuk menghitung biaya berdasarkan aktivitas adalah dengan mengidentifikasi pemicu biaya atau cost driver untuk setiap aktivitas. Faktor ini menunjukkan suatu penyebab utama tingkat aktifitas yang akan menyebabkan biaya dalam aktifitas. Jika perusahaan memiliki beberapa jenis produk maka biaya overhead yang terjadi ditimbulkan secara bersamaan oleh seluruh produk. . Hal ini menyebabkan jumlah overhead yang ditimbulkan oleh masingmasing jenis produk harus diidentifikasi melalui cost driver. Pemahaman yang tidak tepat atas pemicu akan mengakibatkan ketidaktepatan pada pengklasifikasian biaya. Cost Driver berdasarkan non unit Cost Driver berdasarkan non unit merupakan factor-faktor penyebab selain unit yang menjelaskn konsumsi overhead. yaitu: 1.18 2. 2.

b) Penentuan Cost Driver Yang Tepat Aktivitas yang ada dalam perusahaan sangat komplek dan banyak jumlahnya. Semakin banyak cost driver yang digunakan. Dalam pemilihan cost driver yang tepat ada tiga faktor yang harus dipertimbangkan: (Cooper dan Kaplan. b) Korelasi antara konsumsi aktivitas yang diterangkan oleh cost driver terpilih dengan konsumsi aktivitas sesungguhnya . laporan biaya produksi semakin akurat. Dengan kata lain semakin tinggi tingkat keakuratan yang diinginkan.19 Contoh cost driver berdasarkan unit pada perusahaan jasa adalah luas lantai. jumlah kamar yang tersedia. jumlah pasien. 2) Pemilihan cost driver yang tepat. 1) Penentuan jumlah cost driver yang dibutuhkan Menurut Cooper dan Kaplan (1991: 375). Cost driver yang membutuhkan biaya pengukuran lebih rendah akan dipilih. semakin banyak cost driver yang dibutuhkan. 1991: 383) a) Kemudahan untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam pemilihan cost driver (cost of measurement). Oleh karena itu perlu pertimbangn yang matang dalam menentukan penimbul biayanya atau cost driver. penentuan banyaknya cost driver yang dibutuhkan berdasarkan pada keakuratan laporan product cost yang diinginkan dan kompleksitas komposisi output perusahaan.

Analisis biaya dapat menyoroti bagaimana benar-benar mahalnya proses manufakturing. Sebagai hasilnya mereka dapat berusaha untuk meningkatkan mutu sambil secara simultan memfokus pada mengurangi biaya. Dengan analisis biaya yang diperbaiki. manajemen dapat melakukan analisis yang lebih akurat mengenai volume. 3. yang pada akhirnya dapat memicu aktivitas untuk mereorganisasi proses. Suatu pengkajian ABC dapat meyakinkan manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif.9 Keunggulan Metode ABC Amin (1994: 23) mengemukakan tentang keunggulan ABC adalah sebagai berikut: 1. ABC dapat membantu dalam pengambilan keputusan Manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar 4. cost driver yang menyebabkan perilaku yang diinginkan yang akan dipilih 2. yang . c) Perilaku yang disebabkan oleh cost driver terpilih (behavior effec).20 (degree of correlation). Cost driver yang memiliki korelasi tinggi akan dipilih. memperbaiki mutu dan mengurangi biaya 2.

biaya-biaya “below the line” ini diperlakukan secara sama dengan mendistribusikannya kepada pelanggan. Banyak manajer yang percaya bahwa biaya-biaya ini adalah tetap. Padahal. seperti penjualan. riset. manajemen dapat mulai merekayasa kembali proses manufakturing untuk mencapai pola keluaran mutu yang lebih efisien dan lebih tinggi. distribusi. atau bahkan produk yang berbeda. Oleh sebab itu. sekarang ini beberapa pelanggan jauh lebih mahal untuk dilayani dibandingkan dengan yang lain . 5. Sistem biaya tradisional memang memeperhatikan biaya total perusahaan.21 dilakukan untuk mencari break even atas produk yang bervolume rendah. akan tetapi mereka mengabaikan “below the line expenses”. pelanggan. Akuntansi biaya tradisional memberi sedikit ide kepada manajemen pada saat harus mengurangi pengeluaran pada waktu yang mendesak. Biaya-biaya ini tidak dibebankan kepasar.10 Kelemahan Sistem akuntansi Biaya Tradisional Hal-hal yang tidak diberitahukan oleh sistem akuntansi biaya tradisional kepada manajemen banyak sekali. Sistem tersebut hanya memberikan laporan manajemen dengan menunjukkan dimana biaya dikeluarkan dan tidak ada indikasi apa-apa yang menimbulkan biaya. saluran distribusi. dan pengembangan serta biaya administrasi. 2. Melalui analisis data biaya dan pola konsumsi sumber daya.

1992: 22). 4. (Amin.22 dan sebenarnya beberapa biaya tersebut adalah biaya variabel. 3. 2. sistem biaya tradisional mulai dirasakan tidak mampu menghasilkan produk yang akurat lagi. Sistem akuntansi biaya tradisional terlalu menekankan pada tujuan penentuan harga pokok produk yang dijual. Lebih jauh lagi dijelaskan oleh Supriyono (2002: 74-77) bahwa dengan berkembangnya dunia teknologi. Sistem akuntansi biaya tradisional untuk biaya overhead terlalu memusatkan pada distribusi dan alokasi biaya overhead daripada berusaha keras untuk mengurangi pemborosan dengan menghilangkan aktivitas yang tidak bernilai tambah. Sistem akuntansi biaya tradisional tidak mencerminkan sebab akibat biaya karena seringkali beranggapan bahwa biaya ditimbulkan oleh faktor tunggal misalnya volume produk atau jam kerja langsung. Sistem akuntansi biaya tradisional menghasilkan informasi biaya yang terdistorsi sehingga mengakibatkan pembuatan keputusan yang menimbulkan konflik dengan keunggulan perusahaan. Akibatnya sistem ini hanya menyediakan informasi yang relatif sangat sedikit untuk mencapai keunggulan dalam persaingan global. Hal ini disebabkan karena lingkungan global menimbulkan banyak pertanyaan yang tidak dapat dijawab sistem akuntansi biaya tradisional. . antara lain: 1.

23

5.

Sistem akuntansi biaya tradisional menggolongkan biaya langsung dan tidak langsung serta biaya tetap dan variabel hanya mendasarkan faktor penyebab tunggal misalnya volume produk, padahal dalam lingkungan teknologi maju cara penggolongan tersebut menjadi kabur karena biaya dipengaruhi oleh berbagai macam aktivitas.

6.

Sistem

akuntansi

biayaa

tradisional

menggolongkan

suatu

perusahaan kedalam pusat-pusat pertanggung jawaban yang kaku dan terlalu menekankan kinerja jangka pendek. 7. Sistem akuntansi biaya tradisional memusatkan perhatian kepada perhitungan selisih biaya pusat-pusat pertanggngjawaban tertantu dengan menggunakan standar. 8. Sistem akuntansi biaya tradisional tidak banyak memerlukan alatalat dan teknik-teknik yang canggih dalam sistem informasi dibandingkan pada lingkungan teknologi maju. 9. Sistem akuntansi biaya tradisional kurang menekankan pentingnya daur hidup produk. Hal ini dibuktikan dengan perlakuan akuntansi biaya tradisional terhadap biaya aktivitas-aktivitas perekayasaan, penelitian dan pengembangan. Biay-biaya tersebut diperlakukan sebagai biaya periode sehingga menyebabkan terjadinya distorsi harga pokok daur hidup produk.

24

2.11

Pengertian dan Penentuan Tarif Dengan Menggunakan Metode Cost Plus Pricing Tarif menurut Supriyono (1991:332) adalah: “Sejumlah moneter yang dibebankan oleh suatu unit usaha kepada pembeli atau pelanggan atas barang atau jasa yang dijual atau diserahkan” Untuk menentukan tarif, biasanya manajemen mempertimbangkan beberapa faktor yang mempengaruhi baik faktor biaya maupun bukan biaya. Menurut Supriyono (1991:332): o o o o o o Biaya, khususnya biaya masa depan Pendapatan yang diharapkan Jenis produk jasa yang dijual Jenis industri Citra dan kesan masyarakat Pengaruh pemerintah, khususnya undang-undang,

keputusan, peraturan dan kebijakan pemerintah o o o o o o o Tindakan atau reaksi para pesaing Tipe pasar yang dihadapi Trend Ekonomi Biaya manajemen Tujuan non laba Tanggung jawab sosial perusahaan Tujuan perusahaan,khususnya laba dan return on

investment (ROI)

25

Dalam penentuan tarif atau harga jual produk, manajemen perlu tujuan dari penentuan tarif tersebut. Tujuan itu akan dipergunakan sebagai salah satu pedoman kerja perusahaan. Pada umumnya tujuan tersebut adalah sebagai berikut: a. Bertahan hidup (survival) Perusahaan menetapkan bertahan hidup sebagai tujuan utama, apabila menghadapi kesulitan dalam hal kelebihan kapasitas produksi, persaingan keras, atau perubahan keinginan konsumen. Untuk mempertahankan tetap berjalannya kegiatan produksi, perusahaan harus menetapkan harga yang rendah, dengan harapan akan meningkatkan permintaan. Dalam situasi demikian, laba menjadi kurang penting dibandingkan survival. b. Memaksimalkan laba jangka pendek Perusahaan memperkirakan permintaan akan biaya, dihubungkan dengan harga alternatif dan harga yang akan menghasilkan laba, arus kas, atau tingkat laba investasi maksimal. Dalam semua hal, perusahaan lebih menitikberatkan pada kemampuan keuangan yang ada dan kurang mempertimbangkan prestasi keuangan jangka pendek. c. Kepemimpinan pangsa pasar (leader of market share) Sebagian perusahaan ingin mencapai pangsa pasar yang dominan. Mereka yakin bahwa perusahaan dengan market share terbesar

Menghindari campur tangan pemerintah. Untuk itu. Kepemimpinan mutu produk Perusahaan dapat memutuskan bahwa mereka ingin memiliki produk dengan mutu terbaik di pasar. Menurut Mulyadi (1993). menciptakan daya tarik sebuah produk. penentuan tarif atau harga jual suatu produk atau jasa dengan menggunakan metode Cost Plus Pricing yaitu penentuan tarif jasa dengan cara menambahkan laba yang diharapkan diatas biaya penuh masa yang akan datang untuk memproduksi dan memasarkan produk atau jasa. misalnya mempertahankan loyalitas pelanggan Perusahaan mungkin menetapkan harga yang rendah untuk mencegah masuknya perusahaan pesaing atau dapat menetapkan harga yang sama dengan pesaing dengan tujuan untuk mempertahankan loyalitas pelanggan.26 akan menikmati biaya terendah dan laba tertinggi dalam jangka panjang. e. Keputusan ini biasanya mengharuskan penetapan harga yang tinggi untuk menutup biaya pengendalian mutu produk serta biaya riset dan pengembangan. dan untuk menarik lebih banyak pelanggan. d. Tarif jasa berdasarkan Cost Plus Pricing dihitung dengan rumus: Tarif per kamar = Cost sewa kamar + Laba yang diharapkan . mereka menetapkan harga serendah mungkin. Tujuan-tujuan lain.

karakteristik yang dimiliki perusahaan jasa.12 Activity Based Costing untuk Perusahaan Jasa. Sekalipun sulit. Penerapan metode Activity Based Costing pada perusahaan jasa memiliki beberapa ketentuan khusus. hal ini disebabkan oleh karakteristik yang dimiliki perusahaan jasa. yaitu: 1) Output seringkali sulit didefinisi 2) Pengendalian aktivitas pada permintaan jasa kurang dapat didefinisi 3) Cost mewakili proporsi yang lebih tinggi dari total cost pada seluruh kapasitas yang ada dan sulit untuk menghubungkan antara output dengan aktivitasnya. contoh: kecepatan suatu jasa. pemuasan konsumen.27 2. Activity Based Costing benar-benar dapat digunakan pada perusahaan jasa. kualitas suatu informasi. setidaktidaknya pada beberapa perusahaan. Output pada perusahaan jasa adalah manfaat dari jasa itu sendiri yang kebanyakan tidak terwujud. Menurut Brinker (1992). dewasa ini bisnis jasa menggunakan metode Activity Based Costing pada bisnisnya. tetapi juga dapat diterapkan pada perusahaan jasa. Hal-hal yang perlu . Output pada perusahaan jasa tidak berwujud membuat perhitungan menjadi sulit. Sistem kerja Activity Based Costing banyak diterapkan pada perusahaan manufaktur. Untuk menjawab permasalahan diatas.

Permasalahan itu seperti sulitnya mengalokasikan biaya ke aktivitas. 3) Output Diversity Perusahaan jasa juga memiliki kesulitan-kesulitan dalam mengidentifikasi output yang ada.28 diperhatikan dalam penerapan Activy Based Costing pada perusahaan jasa adalah: 1) Identifying and Costing Activities Mengidentifikasi dan menghargai aktivitas dapat membuka beberapa kesempatan untk pengoperasian yang efisien. diversity yang menggambarkan aktivitas-aktivitas pendukung pada hal-hal yang berbeda mungkin sulit untuk dijelaskan atau ditentukan . Pada perusahaan jasa. 2) Spesial Challenger Perbedaan antara perusahaan jasa dan perusahaan manufaktur akan memiliki permasalahan-permasalahan yang serupa. karena kapasitas yang ada namun tidak dapat digunakan menimbulkan biaya yang tidak dapat dihindari. Selain itu jasa tidak dapat menjadi suatu persediaan.

29 BAB III TINJAUAN OBYEK PENELITIAN 3. Sejak saat itu sering diadakan upaya-upaya perbaikan mutu pelayanan sampai akhirnya tahun 1999 mendapatkan akreditasi penuh tingkat dasar.1. Pada tahun 1966 rumah sakit tersebut diserahkan pengelolaannya kepada pemerintah Daerah Kabupaten Dati II Batang. pada waktu itu masih ikut wilayah karesidenan pekalongan.110 03’ 06’’ : 006 51’ 46’’ – 007 11’ 47’’ Dengan batas-batas sebagai berikut: Sebelah utara Sebelah timur Sebelah Selatan Sebelah Barat : Laut jawa : Kabupaten Kendal : Kabupaten wonosobo dan Banjarnegara : Kabupaten Pekalongan & kota Pekalongan . Pada tahun 1996 RSUD Batang berubah status dari D menjadi C.1. dimana kabupaten batang merupakan salah satu dari 35 kabupaten yang ada di JATENG yang terletak antara: Bujur timur Lintang selatan : 109 40’ 19’’ . Gambaran Umum RSUD BATANG 3. Sejarah berdirinya RSUD BATANG RSUD BATANG didirikan pada tahun 1957. sejak saat itu diadakan upaya-upaya perbaikan mutu pelayanan. RSUD BATANG terletak pada kabupaten batang.1.

Tujuan . Fungsi RSU dan Nilai Dasar 3. Misi.1.2 Visi.2 Misi Memberikan pelayanan secara paripurna.3 Motto Kesembuhan Anda merupakan tekad dan kebahagiaan kami 3. menjaga amanah serta semangat kebersamaan dalam tim merupakan modal kami.5 Filosofi Bekerja dengan ikhlas.2.1 Visi Menjadi rumah sakit pilihan utama atau kebanggaan masyarakat dan pusat rujukan kesehata di Kabupaten Batang dan sekitarnya.2.30 3.1.1. bermutu dan terjangkau bagi seluruh lapisan masyarakat.4 Tujuan Meningkatkan kemampuan pelayana melalui penyediaan dan peningkatan sarana dan prasarana Profesionalisme SDM secara berkesinambungan Peningkatan hubungan kemitraan dengan unit atau instansi dan organisasi 3. Tugas.1.2. 3.2. Meningkatkan profesionalisme seluruh karyawan rumah sakit Melakukan kerja sama dengan pihak terkait dalam pelayanan kesehatan 3.2. Filosofi.1. Motto.1. .

kasih sayang.1.1.2. - Kepuasan pelanggan merupakan tujuan kami 3.7 Fungsi RSU 3. terpadu dengan upaya peningkatan serta pencegahan dan pelaksanaan upaya rujukan.6 Tugas RSU Melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan.2.2.1.31 - Ramah tamah. 3. keterbukaan dan saling menghargai merupakan budaya kami. pemulihan yang dilaksanakan secara serasi.8 Penyelenggaraan pelayanan medis Penyelenggaraan pelayanan penunjang medis dan non medis Penyelenggaraan pelayanan dan asuhan keperawatan Penyelenggaraan pelayanan rujukan Penyelenggaraan pendididikan dan pelatihan Penyelenggaraan penelilitian dan pengembangan Penyelenggaraan administrasi umum keuangan Nilai dasar Bekerja dengan ikhlas Keterbukaaan Ramah tamah Kasih sayang Saling menghargai Semangat kebersamaan .

Hj.4 3. Marthani : dr.1. MARS 3.1 Fasilitas Pelayanan Rawat Jalan Poliklinik Umum Poliklinik Gawat Darurat Poliklinik Spesialis penyakit dalam Poliklinik Spesialis bedah Poliklinik Spesialis kebidanan dan Penyakit Kandungan Poliklinik Spesialis anak Poliklinik Spesialis Mata Poliklinik Spesialis THT Poliklinik spesialis Syaraf Poliklinik Gigi dan Mulut Poliklinik Keluarga berencana Poliklinik konsultasi Gizi Poliklinik Penyakit Jiwa .32 3. Ratna Ismoyowati. Sularso : dr Izis : dr.1.3 Menjaga amanah Pemegang jabatan Tahun 1966 – 1990 Tahun 1990 – 1992 Tahun 1992 -1998 Tahun 1998 – sekarang : dr.1.4.

33 3.5 3. Berikut ini jumlah ruang rawat inap dan kapasitas tempat tidur pada RSUD kabupaten Batang.1 Penunjang Pelayanan Penunjang Medik Foto Rontgen. TABEL 3.1.2 Rawat Inap Pada ruang rawat inap tersedia 150 tempat tidur.1 JUMLAH RUANG RAWAT INAP DAN KAPASITAS TEMPAT TIDUR RSUD BATANG Th. 2004 Jml Tempat Tidur 21 22 22 22 23 20 10 10 N0 1 2 3 4 5 6 7 8 Bangsal Perawatan Flamboyan Melati Dahlia Wijaya Kusuma I Anggrek Nusa Indah Wijaya kusuma 2 Mawar 3.4. Foto panoramic denta ( 24 jam ) Gawat Darurat Farmasi /apotik Laboratorium klinik Bedah Fisioterapi Audiometri ( ketajaman pendengaran ) ( 24 jam ) ( 24 jam ) .5. 23 diantaranya untuk kelas utama dan VIP.1.1.

Akademi Keperawatan : .6 Ambulance Kasir Rekam medik Kantin Parkir Wartel Dapur Cucian ( 24 jam ) ( 24 jam ) Kerjasama Dengan Institusi Pendidikan 1.34 - Hemodialisa Elektro Kardiografi ( EKG ) Elektro Encephalografi ( EEG ) Ultra sonografi ( USG ) Gizi 3.1.1.5.Akper Muhammadiyah Kendal 2.Akbid Muhammadiyah Kendal -Akbid Muhammadiyah Pekajangan .Akper Depkes Pekalongan .Akper Muhammadiyah .2 Penunjang Non Medik 3. Akademi Kebidanan : .

yang terdiri dari: a) Tenaga Medis .7 Tenaga Pengelola RSUD Kabupaten Batang dalam melaksanakan tugasnya seharihari untuk memberi pelayanan kesehatan pada masyarakat didukung 309 karyawan.1.35 3.Dokter Umum -Dokter Spesialis Penyakit Dalam -Dokter Spesialis anak -Dokter Spesialis Bedah 6 orang 2 orang 2 orang 2 orang -Dokter spasialis kebidanan & kandungan 2 orang -Dokter Spesialis Mata -Dokter Spesialis THT -Dokter Spesialis Syaraf -Dokter Gigi -Dokter Pathologi Klinik -Farmasi b) Paramedis yang terdiri dari -Paramedis perawatan -Paramedis non perawatan c) Non Medis -PNS -Honorer Daerah 68 orang 32 orang 75 orang 32 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang .

8 Sarana Sarana yang dimiliki RSUD kabupaten Batang adalah: -Ruang Rawat inap -Bed -Monitor Budic -Meja Operasi -Proyektor Sneler -Alat Dokter gigi -Bur Tulang -Kursi EEG -Anestes -Orthopedhi -Ambulance -Mesin Cuci 24 orang 38 orang 14 orang 8 orang 4 orang 4 orang .1.36 d) Tenaga Kontrakan -Paramedis -Cleaning Servis -Instalasi Gizi -Laumdry -Satpam -Pengemudi Sumber: Bagian Kepegawaian 3.

pembagian kerja. Mempermudah pimpinan dalam mengawasi pekerjaan bawahaan 3.1. pendelegasian kekuasaan.9 Struktur Organisasi Untuk kelancaran jalannya sutu perusahaan diperlukan beberapa bagian yang mempunyai tugas.37 3. Batang tahun 2004: . Karena itu diperlukan struktur organisasi yang berfungsi untuk memperjelas tugas. Mempermudah pelaksanaan tugas atau pekerjaan 2. Menentukan kedudukan seseorang dalam fungsi kegiatan sehingga mampu menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya Demikian pula dengan RSUD Kab. penulis uraikan berikut ini setelah bagan struktur organisasi RSUD Kab. Untuk menjalankan dengan baik organisasi diperusahaan. Tujuan dibentuknya struktur organisasi adalah untuk: 1. perlu diperhatikan pedoman. Adapun uraian dari tugas pokok masingmasing bagian. Mengkoordinasikan kegiatan untuk mencapai tujuan yang diharapkan 4. Batang yang juga menjalankan organisasinya dengan baik. asasasas atau prinsip-prinsip organisasi. wewenang dan tanggung jawab yang berbeda-beda pada tiap bagian. seperti perumusan tujuan yang jelas. kesatuan perintah dan tanggung jawab serta tingkat pengawasan dan koordinasi. wewenang dan tanggung jawab yang berbeda namun saling menunjang.

Amk NIP. S.I. MUTU YULI. PENUNJANG MEDIS BID. MM NIP. 140 122 927 . PENNY. RT & PERLENGKPAN BASARUDIN NIP. MARS NIP. NIP. PELAYANAN MEDIS DR.. RATNA .PK NIP. PUDJOWATI. ASUHAN D & ETIKA KEPERWT SRI MULYATI. 140 100 834 KELOMPOK BAGIAN FUNGSIONALFUNGSIONL SEKERTARIS DRS. KEPERAWATAN SOEGIARTI NIP. M. 140 058 986 SUBBID. MONT. RIPYONO NIP.PELAYANAN DR. WR NIP. 101 207 271 SUB BAG. Amk NIP. 500 085 544 BID. DAN PENGEMB. SUPRYATUN. 140 239 070 BID. PELAYN KEPERAWATAN DULMUKTI. BEKTI. BINA PROGRAM DR. PERENC. 140 055 920 SUBBID. DAN EVAL. 500 060 929 SUB BAG. Amk NIP. 140 154 737 SUBBID. 140 164 870 SUBBID. KEPEG & TATA USAHA AMAT NIP. 140 150 583 SUBBID. SE NIP. J. 500 040 229 SUB BAG HUKUM & HUMAS SRI SUHARTI NIP.DEBORA. 140 197 572 SUBBID. 500 031 878 SUB BAG KEUANGAN DRA. H. S.38 BAGAN SUSUNAN ORGANISASI RSUD KABUPATEN BATANG DIREKTUR DR.Sp.

2) Sekretariat Tugas Pokok: Melaksanakan urusan kerumahtanggaan dan perlengkapan kepegawaian dan ketatausahaan. dan perbendaharaan serta verifikasi dan akuntansi dan bertanggung jawab langsung pada direktur badan rumah sakit umum daerah kabupaten Batang. ketertiban dan keamanan. kendaraan.39 1) Direktur Tugas Pokok : Melaksanakan upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan. penelaah hukum. pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. pemasaran. perencanaan keuangn. hubungan masyarakat. pengadaan dan pemeliharaan perlengkapan dan bertanggung jawab langsung pada sekretaris bada rumah sakit umum daerah kabupaten Batang . 3) Kepala Sub Bagian Rumah Tangga dan perlengkapan Tugas Pokok: Melaksanakan urusan rumah tangga. pelayanan.

melakukan upaya pengendalian administrasi kegiatan semua unsur dilingkungan rumah sakit. Monitoring dan Evaluasi Tugas Pokok: Melaksanakan pengumpulan dan pengelolaan data. ekspedisi. melaksanakan kegiatan perbendaharaan. 5) Kepala Sub Bagian Hukum Dan Humas Tugas Pokok: Melaksanakan kegiatan penyusunan peraturan Rumah Sakit penelaah masalah hukum. menyusun laporan . 6) Kepala Sub Bagian Keuangan Tugas Pokok: Melaksanakan kegiatan penyiapan dan penyusunan anggaran dan pendapatan Rumah Sakit. akuntansi dan verifikasi. pemasaran sosial dan informasi rumah sakit serta kegiatan PKMRS. pengarsipan.40 4) Kepala Sub Bagian Kepegawean dan Tata Usaha Tugas Pokok: Melaksanakan pengelolaan administrasi kepegawean. keprotokolan. publikasi. surat menyurat. perpustakaan. pembukuan. pendidikan dan latihan serta kerjasama pendidikan dengan instansi lain. melaksanakan evaluasi. penyusunan program kegiatan semua unsur dilingkungan rumah sakit. 7) Kepala Sub Bidang Perencanaan.

monitoring dan evaluasi. mengendalikan. memasukkan kode indeks penyakit. Monitoring dan Evaluasi Tugas Pokok: Melaksanakan pengumpulan dan pengelolaan data. . mengelola sistem informasi manajemen rumah sakit serta pengelolaan rekam medis dan pengembangan mutu. menyusun laporan. penyimpanan rekam medis serta pengembangan mutu. 9) Kepala Sub Bidang Perencanaan. 10) Kepala Sub Bidang Rekam Medik Tugas Pokok: Melaksanakan kegiatan pengelolaan rekam medis yang meliputi catatan medis.41 serta mengelola sistem informasi manajemen rumah sakit dan bertanggung jawab langsung pada kepala bidang bina program. 8) Kepala Bidang Bina Program Tugas pokok: Melaksanakan kegiatan penyusunan Program. menyusun laporan serta mengelola sistem informasi manajemen rumah sakit. melaksanakan evaluasi. penyusunan progran kegiatan semua unsur dilingkungan rumah sakit. melakukan upaya pengendalian administrasi kegiatan semua unsur dilingkungan rumah sakit.

melaksanakan perencanaan.42 11) Kepala Bidang Pelayanan Tugas Pokok: Mengkoordinasikan semua kebutuhan pelayanan medis. pengawasan dan pengendalian penerimaan pemulangan pasien serta pelayanan bimbingan rohani. pemantauan dan pengawasan fasilitas serta kegiatan pelayanan rujukan. perencanaan. unit gawat darurat dan bedah sentral. pelayanan medis pada rawat inap. 13) Kepala bidang Perawatan Tugas Pokok: Melakukan bimbingan dan asuhan pelayanan keperawatan atau kebidanan. etika dan mutu keperawatan. 14) Kepala Sub Bidang Pelayanan Keperawatan Tugas Pokok: Melaksanakan koordinasi kegiatan pelayanan keperawatan / kebidanan. 12) Kepala Sub Bidang Pelayanan Medis Tugas Pokok: Mengkoordinasikan semua kegiatan. pemantauan dan pengawasan penggunaan . pemantauan dan pengawasan prasarana dan peralatan keperawatan. perencanaan. rawat jalan. melaksanakan pemantauan dan pengawasan penggunaan fasilitas serta kegiatan pelayanan dan penunjang medis. rawat intensif.

nurse call. Kelas II. westafel + cermin hias. Kelas III. jam dinding.1 Kelas Jasa Dalam memberikan pelayanan yang mencakup seluruh lapisan masyarakat.10. RSUD menyediakan enam kelas jasa yaitu VIP. tempat tidur penunggu. 3. TV. Fasilitas yang ditawarkan tiap kelas yaitu: 1) Ruang VIP Fasilitas yang tersedia yaitu tempat tidur pasien (multi fungsi). pengendalian. . kamar mandi + kloset duduk.10 Kelas Jasa dan Tarif RSU 3. serta perencanaan pengembangan kemampuan perawat.1. Satu kamar ditempati oleh seorang pasien. Yang masing-masing kelas mempunyai fasilitas yang berbeda-beda.1. kursi teras. sofa.43 fasilitas keperawatan. Utama II. prosedur dan standar pelayanan keperawatan. almari pakaian. kulkas. penerimaan dan pemulangan pasien serta layanan bimbingan rohani 15) Kepala Sub Bidang Asuhan dan Etika Keperawatan Tugas Pokok: Melaksanakan pembinaan pelaksanaan asuhan etika dan peningkatan mutu pelayanan keperawatan / kebidanan. AC split. Ukuran kamar 4 x 7m. jemuran handuk kecil. evaluasi terhadap pelaksanaan kode etik. Utama I. pengawasan. Kelas I. over table.

Ukuran kamar 9 x 8 m 3. meja pasien. Ukuran kamar 4 x 4 m. almari pasien. kursi penunggu. Satu kamar ditempati 4 orang pasien. diperoleh keterangan bahwa dalam menentukan harga pokok jasa. 5) Kelas III Fasilitas yang diberikan yaitu tempat tidur pasien. kipas angin. meja pasien. kamar mandi.44 2) Ruang Utama Fasilitas yang tersedia adalah tempat tidur pasien. Satu kamar ditempati oleh dua orang. kursi teras. nurse call. meja pasien. Satu kamar ditempati oleh 10 pasien. kursi penunggu. Batang Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh penulis di RSUD Kab. westafel + cermin hias. kamar mandi. nurse call. 3) Kelas I Fasilitas yang disediakan adalah tempat tidur pasien. tanpa . Ukuran kamar untuk kelas II adalah 4 x 8 m.2 Penentuan Tarif Jasa Rawat Inap RSUD Kab. Satu kamar ditempati oleh seorang pasien. Ukuran kamar 4 x 3m. kursi penunggu. fasilitas untuk utama I dan II sama. RSUD masih menggunakan metode akuntansi biaya konvensional yang hanya mempertimbangkan biaya yang bersifat langsung saja. kursi penunggu. jam dinding. Batang.10. TV almari pasien.1. almari pasien. 4) Kelas II Fasilitas yang tersedia yaitu tempat tidur pasien.

Kelas I 10%. Kelas II 10 %. Prosentase tersebut sudah ditetapkan bagian manajemen rumah sakit yaitu : VIP 15%. Kelas III disubsidi VIP 5%. Kebijakan subsidi silang Dengan konsep ini maka tarif untuk masyarakat yang kurang mampu idealnya harus diatas unit cost agar surplusnya dapat dipakai untuk menutupi kekurangan kelas bawah Dalam menetapkan harga pokok rawat inap.45 mempertimbangkan biaya yang bersifat tidak langsung. Segmen Pasar Pihak manajemen rumah sakit menerapkan tarif sesuai kelas-kelas perawatan berdasarkan segmen pasar yang ada dalam masyarakat 3. Dan yang dijadikan dasar unit perhitungan tarif jasa rawat inap adalah jumlah hari tinggal pasien rawat inap.Sedangkan tarif diperoleh dengan cara menambahkan harga pokok tiap kelas dengan prosentase laba menurut kelasnya. yaitu: 1. rumah sakit mengkategorikan biaya-biaya yang ada menjadi dua macam yaitu: . Utama I 12%. Utama II 12%. Tarif Pesaing Penyesuaian tarif ini merupakan hal paling menentukan dalam penentuan tarif 2. Perhitungan harga pokok rawat inap RSUD Kabupaten Batang adalah dengan cara menjumlahkan baik biaya tetap maupun biaya variable. Namun ada beberapa pertimbangan dari pihak manajemen rumah sakit dalam menentukan tarif kamar rawat inap.

Biaya-biaya tersebut adalah biaya depresiasi gedung dan biaya depresiasi fasilitas. biaya asuransi sebesar Rp 49.541. diketahui terdapat biaya yang disebabkan oleh unit rawat inap tetapi aktivitas-aktivitas biaya tersebut belum dibebankan sebagai biaya.46 1. 2. biaya kebersihan sebesar 59. biaya konsumsi. . Biaya-biaya tersebut adalah biaya perawat.500. biaya listrik + air dan biaya administrasi Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian keuangan.000. Biaya Tetap Biaya tetap disini adalah biaya depresiasi merupakan biaya atas investasi. Biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan produksi bersifat habis pakai atau waktu relative singkat. biaya bahan habis pakai.800.000. 19.000. Biaya Variabel Biaya variable adalah biaya operasional unit rawat inap. Diantaranya adalah biaya laundry sebesar Rp.

data-data yang dibutuhkan antara lain data biaya rawat inap. Batang 3. Data Pendukung Activity Based Costing Didalam menentukan metode ABC.000 6 KELAS III Rp 17.3 menunjukkan tarif jasa rawat inap selama tahun 2004 TABEL 3.11. data pendukung lama hari pasien rawat inap.5 dibawah ini . data pendukung jumlah dan luas kamar rawat inap.500 Rp 77.500 Rp 50. BATANG TAHUN 2004 NO 1 2 3 4 5 KELAS VIP UTAMA I UTAMA II KELAS I KELAS II TARIF/HARI Rp 132. data tarif konsumsi tiap kelas.500 Sumber: RSUD Kab.47 Tabel 3.500 Rp 97.000 Rp 30.2 TARIF JASA RAWAT INAP RSUD KAB. data pendukung jumlah pasien rawat inap. Dan data biaya rawat inap dapat dilihat pada tabel 3.

000 195.990 10 Biaya depresiasi fasilitas Sumber: RSUD Kabupaten Batang .800.500 44.275 39.500 81.775 97.3 DATA BIAYA RAWAT INAP RSUD KAB. BATANG TAHUN 2004 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 ELEMEN BIAYA Biaya gaji perawat Biaya listrik dan air Biaya konsumsi Biaya administrasi Biaya bahan habis pakai Biaya asuransi Biaya laundry Biaya kebersihan Biaya depresiasi gedung JUMLAH (Rp) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp 294.500.722.48 TABEL 3.492.000 19.541.500 15.395.107.220.450.570 49.000 59.548.

BATANG TAHUN 2004 KELAS I 132 140 210 142 120 254 172 196 270 182 164 131 2575 KELAS KELAS II III 119 546 207 562 242 588 326 545 182 655 220 152 284 261 282 168 132 2013 411 457 494 437 462 543 525 6225 BULAN JANUARI FEBRUARI MARET APRIL MEI JUNI VIP 85 42 102 93 104 97 UT I UT II 123 132 108 154 97 101 107 198 91 127 130 121 117 84 113 106 121 1318 195 142 155 197 82 96 71 1650 JULI 115 AGUSTUS 56 SEPTEMBER 82 OKTOBER 95 NOVEMBER 112 DESEMBER 105 TOTAL 1088 Sumber: RSUD Kab. Batang .49 TABEL 3.4 DATA PENDUKUNG LAMA HARI PASIEN RAWAT INAP RSUD KAB.

6 DATA PENDUKUNG LUAS RUANGAN RAWAT INAP RSUD KAB. BATANG TAHUN 2004 NO 1 2 3 4 5 6 KELAS VIP UTAMA I UTAMA II KELAS I KELAS II KELAS III JML JML Pasien 362 550 612 537 671 1675 4407 TABEL 3. BATANG TAHUN 2004 TIPE KAMAR VIP UTAMA I UTAMA II KELAS I KELAS II KELAS III TOTAL LUAS KAMAR 470 m2 320 m2 320 m2 398 m2 206 m2 396 m2 2110 m2 .5 DATA PENDUKUNG JUMLAH PASIEN RAWAT INAP RSUD KAB.50 Dibawah ini merupakan data pendukung jumlah pasien rawat inap RSUD Kabupaten Batang TABEL 3.

000 10.000 4.500 7.51 Tarif konsumsi pada tiap-tiap kelas terdapat perbedaan dikarenakan promosi dan nutrisi untuk masing-masing kelas berbeda.500 9. Table 3.2004 Kelas VIP Ut 1 Ut 2 Kl 1 Kl 2 Kl 3 Tarif Makan Rp Rp RP RP RP Rp 12. Konsumsi diberikan 3 kali sehari yaitu pada pagi. siang.7 TARIF KONSUMSI TIAP KELAS RSUD BATANG Th.500 .000 5.8 menunjukkan tarif konsumsi perhari untuk masing-masing kelas. TABEL 3. sore hari.

52 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 4.Biaya laundry Aktivitas-aktivitas aktivitas. Biaya konsumsi pasien 3. Biaya administrasi 6. Biaya service 7. Biaya kebersihan 5. bagian dapur.biaya perawat tersebut dikelompokkan menjadi beberapa pusat . dan bagian gudang. Biaya Asuransi 8.1. Aktivitas perawatan pasien . Biaya penyusutan fasilitas 10.1 Penentuan Harga Pokok Rawat Inap menggunakan Activity-Based Costing system 4. Aktivitas-aktivitas biaya yang ada diunit rawat inap meliputi: 1.1 Mengidentifikasi dan mendefinisikan aktivitas dan pusat aktivitas Berdasarkan hasil wawancara dengan bagian keuangan. Biaya perawatan 2. Biaya penyusutan gedung 9. yaitu: 1. bagian perawatan. Biaya listrik dan air 4.

biaya asuransi . Biaya .biaya listrik dan air .107.biaya administrasi . 294. dan air untuk mandi.biaya depresiasi fasilitas .biaya kebersihan 3. Aktivitas pelayanan pasien .53 2.biaya depresiasi gedung . Biaya perawatan pasien oleh perawat Dalam hubungannya dengan penetapan tarif kamar rawat inap.biaya bahan habis pakai . biaya perawatan pasien oleh perawat secara tidak langsung turut mempengaruhi aktifitas bagian rawat inap. 2.biaya laundry Berikut ini akan dijelaskan mengenai elemen biaya diatas sbb: 1. Untuk itu gaji sebesar Rp. Aktivitas pemeliharaan pasien . untuk penerangan kamar atau fasilitas yang ada di masing-masing kamar. Biaya penggunaan tenaga listrik dan air seluruh tipe kamar rawat inap rumah sakit memerlukan tenaga listrik untuk menjalankan peralatan elektronik.biaya konsumsi 4.00 dialokasikan secara profesional pada setiap tipe kamar. maka aktivitas ini termasuk dalam kategori unit level activity cost.500. aktivitas Pemeliharaan inventaris .

780. Berikut ini penggunaan tenaga listrik yang dikonsumsi masing-masing tipe kamar pada RSU Kab.5 33.548.97. yaitu: TABEL 4.54 yang dikeluarkan sebesar Rp.00 untuk penggunaan listrik dan air termasuk kategori unit level activity cost. alat pemanas. BATANG TAHUN 2004 Tipe Kamar VIP UT 1 UT 2 K1 K2 K3 Total KWH 10.6 4. . lampu. Batang. Biaya Konsumsi Pasien yang menjalani rawat inap membutuhkan makanan dan minuman untuk mempercepat penyembuhan pasien. sehingga menimbukan biaya sebesar Rp. 15.7 4.500. Kulkas.0 4.411.978 3.935.00 yang termasuk dalam kategori Unit level activity costs.6 4.560. Fasilitas yang mengkonsumsi listrik meliputi: TV.6 4.1 PENGGUNAAN TENAGA LISTRIK RSUD KAB.857. karena tidak tergantung pada lamanya pasien menjalani rawat inap.432. karena biaya berubah sesuai dengan perubahan KWH kamar yang terpakai.220.775.

44. Biaya administrasi Pelayanan administasi diberikan untuk menunjang kelancaran dalam penyediaan aktivitas sarana dan prasarana. 95. 8.00 termasuk kategori batch related activity based costing.00 termasuk dalam kategori fasility sustaining activity cost.55 4.800.570. Biaya asuransi Keberadaan pasien di kamar rawat inap menyebabkan munculnya biaya asuransi sebagai jaminan kesehatan bagi pasien rawat inap.49. Biaya ini termasuk dalam kategori Batch related activity costs.395. Biaya sebesar Rp.00. Sebesar Rp. . juga paket yang diberikan kepada pasien rawat inap pada hari pertama dirawat di rumah sakit.00 merupakan fasilitiy sustaining activity cost karena seluruh tipe kamar menggunakan bangunan dan pembebanan masing-masing kamar. 7. Biaya penyusutan gedung/bangunan Biaya penyusutan bangunan sebesar Rp. Biaya Kebersihan Biaya kebersihan adalah biaya dikeluarkan untuk menunjang kebersihan lingkungan rawat inap.000. sebesar Rp 59.492.275.00 5. sehingga pasien merasa nyaman.500. 81. Biaya bahan habis pakai Biaya bahan habis pakai adalah biaya yang digunakan oleh perawat untuk pasien. Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp. 6.500.00.450.

Penyusutan fasilitas sebesar Rp. 19. Alat pemanas.1. korden. 2. Batang. penyediaan tenaga listrik dan air dan biaya konsumsi.990.39. Kulkas. kipas angin.541.2 Mengklasifikasi Aktivitas Biaya kedalam Berbagai Aktivitas 1. selimut. Biaya penyusutan fasilitas Pembebanan penyusutan fasilitas ini berdasarkan masing-masing tipe kamar. . Aktivitas yang termasuk dalam kategori ini adalah aktivitas perawatan. Aktivitas ini tergantung pada jumlah batch produk yang di produksi. Berdasarkan Batch-related activity cost Besar kecilnya biaya ini tergantung dari frekwensi order produksi yang diolah oleh fungsi produksi. Yaitu biaya administrasi.56 9. Penyusutan fasilitas ini termasuk dalam kategori facility sustaining activity cost karena seluruh tipe kamar menggunakan fasilitas yang ada dalam masing-masing tipe kamar dan pembenannya berdasarkan jumlah hari pakai. biaya kebersihan. biaya bahan habis pakai.00 4.00 yang terdiri dari penyusutan TV. AC.722. Biaya laundry Aktivitas yang dilakukan untuk menyediakan linen bersih kepada pasien rawat inap seperti sprei. Bed. Berdasarkan Unit-level activity cost Aktivitas ini dilakukan setiap hari dalam menjalani rawat inap pada RSUD kab. sarung bantal.000. Biaya laundry sebesar Rp. 10.

biaya asuransi. biaya penyusutan gedung. Aktivitas yang termasuk dalam kategori ini adalah biaya laundry. Aktivitas ini tidak ditemui dalam penentuan tarif jasa rawat inap pada RSUD Kab.2 sbb: . Fasilitas-sustaining activity cost Aktivitas ini berhubungan dengan kegiatan untuk mempertahankan fasilitas yang dimiliki oleh perusahaan. 3. Klasifikasi biaya kedalam berbagai aktifitas dapat dilihat pada tabel 4. Batang.57 3 Product-sustaining activity cost Aktivitas ini berhubungan dengan penelitian dan pengembangan produk tertentu dan biaya-biaya untuk mempertahankan produk agar tetap dapat dipasarkan. biaya penyusutan fasilitas.

3 Mengidentifikasi Cost Driver Setelah aktivitas-aktivitas ini diidentifikasi sesuai dengan kategorinya.395.990 956.000 44.107.279.500 81.722.58 TABEL 4.110 4. Pengidentifikasian ini dimaksudkan dalam penentuan kelompok aktivitas dan tarif/unit cost driver.492.220.548.275 39.500 59.2 KLASIFIKASI BIAYA KE DALAM BERBAGAI AKTIVITAS ELEMEN BIAYA Unit-level activity cost Biaya gaji perawat Biaya listrik dan air Biaya konsumsi Batch-related activity cost Biaya kebersihan Biaya administrasi Biaya bahan habis pakai Fasility-sustaining activity cost Biaya asuransi Biaya laundry Biaya depresiasi gedung Biaya depresiasi fasilitas TOTAL JUMLAH (Rp) Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp Rp.800.450.1.500.570 49. langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi cost driver dari setiap biaya aktivitas. 294.541. .500 15.775 97.000 195.000 19.

780.500. Biaya Bahan Habis Pakai DRIVER jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap KWH KWH KWH KWH KWH KWH KWH jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap COST DRIVER JUMLAH 14. Biaya Perawat 1.294.00 .3 PENGELOMPOKAN BIAYA RAWAT INAP DAN COST DRIVER KAMAR RAWAT INAP NO AKTIVITAS 1 Unit-level activity cost a.00 Luas lantai Luas lantai Luas lantai Luas lantai Luas lantai Luas lantai Luas lantai 2110 470 320 320 398 206 396 Rp. Utama I 3.575 2. Kelas II 6.013 6.225 33. Utama I 3. VIP 2.869 1088 1318 1650 2575 2013 6225 Rp.220.978 10.869 Rp. Utama II 4.570.6 4.318 1. VIP 2.088 1. 59.7 4. Biaya listrik dan Air 1. Utama II 4. Kelas III b. 15. Kelas I 5.500. Kelas III b. Kelas I 5.107. Kelas I 5. Kelas II 6. Utama I 3.00 Rp. Kelas II 6.857. Kelas III Batch-related activity 2 cost a.650 2.000.500. 81. Kelas III c.00 jumlah hari rawat inap 14.5 14. Utama II 4. VIP 2.548.775. Utama I 3.0 4.560.6 4. Kelas II 6. Biaya Konsumsi 1. Kelas I 5.935.432.869 1.6 4. 97. Utama II 4. Biaya Kebersihan 1.00 Rp.395. VIP 2.411.59 TABEL 4.

UtII) 2. Utama I 3.Ut I.000. Kelas III Fasility-sustaining activity cost a. VIP 2. Kelas I 5. Biaya Penyusutan Fasilitas 1. Utama II 4. 19. Utama I 3. Utama II 4. Utama II 4. Utama I 3. Kelas II 6. Biaya Laundry 1. Kelas I 5. Kelas II 6. Utama II 4.000. Utama I 3.UtII K I.500.K II.UtII) jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap Jumlah pasien Jumlah pasien Jumlah pasien Jumlah pasien Jumlah pasien Jumlah pasien Jumlah pasien 1088 1318 1650 2575 2013 6225 4407 362 550 612 537 671 1675 Rp. Biaya Administrasi 1.00 jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap Luas lantai Luas lantai Luas lantai Luas lantai Luas lantai Luas lantai Luas lantai 14. AC (VIP.00 Rp. Bed (VIP.869 1088 1318 1650 2575 2013 6225 14.00 .055. Kelas II 6.000. Utama I 3. Kelas I 5. Utama II 4. Biaya Asuransi 1.056 Rp. VIP 2.00 jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap 4.UtI. Kelas I 5. 44. KIII) 3. Kelas II 6.450. 11.60 3 1.00 Rp.800.509.680.541.275. UtI. 195. Biaya Penyusutan Gedung 1.00 Rp. Kelas II 6. VIP 2. Kelas III d.056 14. 5.492. Kelas III c. Kelas I 5. VIP 2. TV (VIP. Kelas III c.867 4. VIP 2. Kelas III b.869 1088 1318 1650 2013 2575 6225 2110 470 320 320 398 206 396 Rp. 9.

00 4.260. Rp. Ut I) jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap jumlah hari rawat inap 4. Karena setiap aktivitasnya memiliki cost driver dengan cara membagi jumlah biaya dengan cost driver.600.590.627.00 5. 3.61 4.406 Rp.00 4.088 2.000.1.590.588 1. Kipas (KI. Menurut Hansen and Mowen (1999. Pemanas (VIP) 6. Kulkas (VIP. KII) 5. Rp.4 Menentukan tarif per unit cost driver Setelah mengidentifikasi cost driver. kemudian menentukan tarif per unit cost driver. tarif per unit cost driver dapat dihitung dengan rumus sbb: Tarif per unit Cost Driver = JumlahAktifitas CostDriver . 134).

432. Kelas III b. Kelas II 6.869 1.6 4.780.500. Utama II 4.6 4.575 2.294.560. Kelas III Batch-related activity 2 cost a.500 Rp.0 4.650 2. VIP 2. Biaya listrik dan Air 1. Utama II 4. Kelas II 6.000 4. Utama I 3.857.500.614096 . 97.00 Sesuai Tarif 12. Kelas I 5.220.62 Berikut ini merupakan penentuan tarif per unit cost driver kamar rawat inap dengan metode Activity-Based Costing.869 1088 1318 1650 2575 2013 6225 19. Utama II 4.013 6.00 2110 470 320 320 398 206 396 4.000 5. Utama I 3. Biaya Perawat 1.779.5 14.548.500 7.107. Kelas I 5. Biaya Konsumsi 1.935.001. Kelas III JUMLAH Rp.500.000 10.775. Kelas I 5. Biaya Kebersihan 1. Kelas I 5. TABEL 4.500 9. Utama II 4. VIP 2.7 4. VIP 2. 15. Utama I 3.4 PENENTUAN TARIF PER UNIT COST DRIVER KAMAR RAWAT INAP DENGAN METODE ABC NO AKTIVITAS 1 Unit-level activity cost a. VIP 2. Kelas III c.411. Utama I 3. Kelas II 6.00 447.000. Kelas II 6.978 10.225 33.6 4.9597092 Rp. 59.91 Rp.00 COST DRIVER TARIF/UNIT 14.088 1.318 1.

800. Biaya Laundry 1. VIP 2. Utama I 3. 11. 81. Biaya Administrasi 1.250118 1088 1318 1650 2013 2575 6225 2110 470 320 320 398 206 396 92.492. 9.KII.395. Kelas I 5.00 Rp. Kelas I 5. Kelas II 6. Kelas II 6.00 .055. Kelas III c.63 b.541. Kelas I 5.179165 10. Biaya Penyusutan Gedung 1.869 1. Kelas II 6.66 Rp. Utama II 4.00 Rp.570. Utama I 3.UtII. Utama II 4.00 Rp.00 4.474. TV(VIP.KIII) 3. Kelas I 5.500.869 1088 1318 1650 2575 2013 6225 4407 362 550 612 537 671 1675 5. KI. Kelas III b.49 774.210774 1088 1318 1650 2575 2013 6225 14.UtI. 19. Utama I 3.000.000. Ut II) 2. Biaya Asuransi 1.00 Rp.590.056 14. Kelas II 6.627. 5.509. VIP 2. VIP 2.00 14.275. 44.000.680.87021 Rp. Bed (VIP.095. Biaya Penyusutan Fasilitas 1. Utama II 4.39 790.232. VIP 2. Utama I 3. Kelas III c. Kelas II 6.867 4.UtI.Ut II) 4.450. 195.08 1400.46209 Rp. VIP 2.056 4.00 14.349.Ut I. Kelas III d. Utama I 3. 3.588 2. Kelas I 5. Kelas III Fasility-sustaining 3 activity cost a. Kipas (K I KII) Rp. Utama II 4. Utama II 4. AC(VIP.630.314.869 3. Biaya Bahan Habis Pakai 1.

.835. kelas III dapat subsidi dari kelas VIP sebesar 5% dari tarif yang ditetapkan RS. Kelas II 10%. 138).000.00 1. Pembebanan biaya overhead dari tiap aktivitas ke setiap kamar dihitung dengan rumus sbb: BOP yang dibebankan =Tarif/unit Cost Driver X Cost Driver yang dipilih Dengan Mengetahui BOP yang dibebankan pada masing-masing produk.907.590. Sedangkan laba yang diharapkan ditetapkan pihak manajemen RS yaitu kelas VIP 15%.5 Membebankan biaya ke produk dengan menggunakan tarif cost driver dan ukuran aktivitas Dalam tahap ini. kelas Utama I 12%. Kulkas (VIP.088 2. biaya aktivitas dibebankan keproduk berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas produk. Ut I) Rp.00 4. kelas Utama II 12%.64 5. Kelas I 10%. Rp.600. 5. menurut Hansen and Mowen (1999.73 4.11 1.406 4. maka dapat dihitung tarif jasa rawat inap per kamar.1. Menurut Mulyadi (1993) perhitungan tarif masing-masing tipe kamar dengan metode ABC dapat dihitung dengan Rumus sbb: Tarif Per Kamar = Cost Rawat Inap + Laba yang diharapkan Untuk cost rawat inap per kamar diperolehdari total biaya yang telah dibebankan pada masing-masing produk dibagi dengan jumlah hari pakai.260. Pemanas (VIP) 6.

19.474. Biaya listrik air 3.65 TABEL 4.87021 Rp.5 1088 Rp.384. 12.016 1088 Rp.1.238 1088 Rp.18 Rp.095.122.959792 Rp.91 Rp.4173 Rp.4.599.428.179165 Rp.322 470 Rp.918. 4.554. 13.349.855.542. 5. Biaya bahan habis pakai 7.10. 1. Biaya perawat 2.76259 Rp. 5. 4.932 362 Rp.907.624.400. 1.04 Rp.68 2.429. 1.654.949.630.955.49 Rp.536.1799 .523. 21. 774. 1.12 1088 Rp.520.5 TARIF JASA RAWAT INAP KELAS VIP Aktivitas 1.317.11 Rp. Biaya laundry 5.861. Biaya asuransi 9. Biaya administrasi 8.937.250118 Rp.704.000.232.73 1088 Rp.056. 43.835. 2.199.92.314.08 1088 Rp.001.075.5.462 1088 Rp. 447.00 1088 Rp.856. Biaya kebersihan 6. 129.24 TOTAL BIAYA UNTUK KELAS VIP JUMLAH HARI PAKAI BIAYA RAWAT INAP PER KAMAR % LABA JUMLAH TARIF Rp. 13.779.32 1088 Rp.614096 Rp.673.112. 2. Biaya penyusutan gedung 10.260. 842.432.46209 Driver Total (Rp) 1088 Rp.210774 Rp. Biaya konsumsi 4.322 470 Rp.08 10. 1088 Rp. 3.429. 16.39 Rp.610.6 Rp.906.3. Biaya Penyusutan Fasilitas AC Bed TV Alat pemanas Kulkas Tarif CD Rp.000 Rp.861.253. 1.

779.91 Rp.10.73 TOTAL BIAYA UNTUK KELAS UTAMA I JUMLAH HARI PAKAI BIAYA RAWAT INAP PER KAMAR % LABA JUMLAH TARIF Rp.020. Biaya administrasi 8.696. 1. Biaya Penyusutan Fasilitas AC Bed TV Kulkas Tarif CD Rp. 1.845. 7.179165 Rp.14 Rp.641. 2. Biaya kebersihan 6. 9.907. 1.66 TABEL 4.5111 Rp.942.92. 2. Biaya bahan habis pakai 7.500 Rp.906.514.349.6 1318 Rp.87 Rp.614096 Rp.839.747.82 1318 Rp.156.311. 29. Biaya asuransi 9. 4.250118 Rp.29243 . 26.50 1318 Rp.139 550 Rp.1. 2.87021 Rp. 19.000. 9.8 320 Rp.6 TARIF JASA RAWAT INAP KELAS UTAMA I Aktivitas 1. Biaya konsumsi 4.02 1318 Rp.552.630.421.141.968.214.735.474.921.00 1318 Rp. 2.095.49 Rp.232. Biaya listrik air 3.001. 5.828.210774 Rp. 13.656 320 Rp. 10. 1.714.728.46209 Driver Total (Rp) 1318 Rp.952. 774.129.780.388. Biaya laundry 5.39 Rp. Biaya penyusutan Gedung 10. 1.237.4.314.761. Biaya perawat 2. 447.08 1318 Rp.3.069.781332 Rp.732. 91.60 Rp.186 1318 Rp. 81.38 4.107.682 1318 Rp.023.44 1318 Rp.414.959792 Rp.5.400.

3 1650 Rp. 1650 Rp.630.197. 1650 Rp. 119.168. 9.232.277. 3.87 Rp. 1650 Rp. Rp.232.240.959792 Rp.44 5.614096 Rp.178.001.000. 4.450.322 19.554.00 2.095. 1650 Rp.777 9.447. 29.608.94202 8.7 TARIF JASA RAWAT INAP KELAS UTAMA II Aktivitas 1.909.400.310.636.779.10. 774. 1. Biaya Penyusutan Fasilitas AC Bed TV Tarif CD Rp.00 2. 447.4.526. Biaya kebersihan 6.67 TABEL 4.032.210774 Rp.00 6.5.042. Biaya administrasi 8.39 TOTAL BIAYA UNTUK KELAS UTAMA II JUMLAH HARI PAKAI BIAYA RAWAT INAP PER KAMAR % LABA JUMLAH TARIF Rp.05 15.913043 80. 19. Biaya asuransi 9.297.92.50 2.50 1.314.50 Rp.250118 Rp.643. 72.560.474.91 Rp. 2.60 Rp.965. 320 Rp.87021 Rp. 612 Rp.49 Rp. 320 Rp.85506 .748. Biaya konsumsi 4.500 Rp.672. Biaya bahan habis pakai 7.262. Rp.675.695 1650 Rp. 1650 Rp. 1650 Rp.46209 Driver Total (Rp) 32.668. Biaya listrik air 3. Biaya penyusutan Gedung 10.3. Biaya perawat 2.179165 Rp. Biaya laundry 5.08 1650 Rp.641.1.851.683.349.425.

774.00 TOTAL BIAYA UNTUK KELAS II JUMLAH HARI PAKAI BIAYA RAWAT INAP PER KAMAR % LABA JUMLAH TARIF Rp.308 18.119. Rp. Rp. Biaya penyusutan Gedung 10.314.011. 2575 Rp.222. 7.46209 Driver Total (Rp) 50.001.054 36.1.096.256. 60. Rp.779.91 Rp.349.92.095. Biaya Penyusutan Fasilitas Bed Kipas Tarif CD Rp.25 2.319.250118 Rp. 154.630.092.933.923.175.866. Biaya konsumsi 4. 2575 Rp. 398 Rp.384.614096 Rp.743 11. 447. 4.740.19 8. Biaya perawat 2.210774 Rp. 2575 Rp.845266 66.857 Rp.265. 19.4.000 3.3.00 2.624. Biaya laundry 5.10. Biaya asuransi 9.482.993. 398 Rp.010.29793 .779.421. 2575 Rp. Biaya kebersihan 6. Biaya listrik air 3.08 790. Biaya bahan habis pakai 7. Biaya administrasi 8. Rp.5.268.108.6 2575 Rp.223. 537 Rp.025.35 5.45266 6.179165 Rp.035.66 2575 Rp. 1.949.87021 Rp. 2575 Rp.959792 Rp.8 TARIF JASA RAWAT INAP KELAS I Aktivitas 1.91 2575 Rp.68 TABEL 4.000 Rp.75 14.474.

959792 Rp.053.00512 Rp.70 Rp. 107.558.92.288 206 Rp. 53.774.66 671 Rp.4.223. 447.591.065. 5.250118 Rp.87021 Rp. 774. Biaya asuransi 9. 19.5.311.46209 Driver Total (Rp) 2013 Rp.001.328.3.040.19 Rp.474.004.737 2013 Rp. Biaya Penyusutan Fasilitas Bed Kipas Tarif CD Rp. 5.081. 10.645.994.000 2013 Rp.04 2013 Rp. Biaya listrik air 3.1.742. Biaya kebersihan 6.522. Biaya konsumsi 4.331.809.614096 Rp.3 2013 Rp.739 2013 Rp.179165 Rp. 6. 2. Biaya penyusutan Gedung 10.642. Biaya perawat 2.210.77 2013 Rp.100512 Rp.58 TOTAL BIAYA UNTUK KELAS I JUMLAH HARI PAKAI BIAYA RAWAT INAP PER KAMAR % LABA JUMLAH TARIF Rp.095.315.598.630. 5. 11.019. 1.488 206 Rp.83 4. Rp.66 2013 Rp. 19.779. Biaya bahan habis pakai 7. 6.69 TABEL 4.816.314.9 TARIF JASA RAWAT IANAP KELAS II Aktivitas 1. Biaya administrasi 8.935.506.91 Rp.08 790. Biaya laundry 5.210774 Rp.349. 39.000 Rp. 58.10.10563 . 1.875. 2.958.

Biaya Penyusutan Fasilitas Bed Rp. Biaya konsumsi 4.474. Biaya bahan habis pakai 7.630. 39.25 6225 Rp.50 Rp. 4.80 4.349.095. Biaya administrasi 8.779.257 6225 Rp.976. 34. Biaya penyusutan gedung Rp. 16.939. 4.500.3 1675 Rp.1.928. 6.285. 1. Biaya listrik air 3.681.959792 Rp. 790. Biaya kebersihan 6.351.910.614096 Rp.3.250118 Driver Total (Rp) 6225 Rp.906.166.500 Rp.174.210774 Rp.492.435. 20.70 TABEL 4.068 396 Rp.411. 11.66 6225 Rp. Biaya laundry 5.129.92.858.64 6225 Rp.765.00 6225 Rp.180.123. 19. 8.012. 28.98 396 Rp.5. 447.081.10 TARIF JASA RAWAT INAP KELAS III Aktivitas 1.73121 Rp.87021 Rp.076.179165 Rp. Biaya perawat 2.849. 45.962.8 6225 Rp.92222 .808995 Rp.824.4.662.10.582. Biaya asuransi Tarif CD Rp.50 TOTAL BIAYA UNTUK KELAS III JUMLAH HARI PAKAI BIAYA RAWAT INAP PER KAMAR % LABA JUMLAH TARIF Rp.99 9. 36.91 Rp.314.001.46209 10.921.

409. dapat diketahui bahwa hasil perhitungan tarif jasa rawat inap dengan menggunakan metode Activity Based Costing untuk kelas VIP Rp.435.119.8201. 3.10563 Rp. 2. 17.000 Rp.409. 2.935. 77. 129.856.71 4. Kelas III Rp. 66.764.85506.29793 Rp.11 PERBANDINGAN TARIF JASA RAWAT INAP DENGAN MENGGUNAKAN METODE TRADISIONAL DAN ABC TARIF ACTIVITY BASED COSTING TIPE KAMAR VIP UT I UT II KI K II K III TARIF TRADISIONAL Rp. 91. 5. Utama II Rp.3.119.85506 Rp. Dari hasil tersebut.70757. 39.28.132.85506.000 Rp. Kelas I Rp.29243.642.91.16.92222.21.856. maka metode ABC memberikan hasil yang lebih besar kecuali pada kelas VIP dan kelas Utama I.85506 Rp.29793 Rp.500 SELISIH Rp. 30. Utama II Rp.80.64210563.735.5.39.29243 Rp. 50. 80.10563.66. Utama I Rp.764.70757 Rp.1799 Utama I Rp.500 Rp. jika dibandingkan dengan metode tradisional.500 Rp. Dengan selisih untuk kelas VIP Rp.129.58.735. 28.643.92222 Rp. Kelas II Rp.2 Perbandingan Metode Akuntansi Biaya Tradisional dengan ABC dalam Penetapan Tarif Jasa Rawat Inap TABEL 4.10563 Rp.909. . Kelas I Rp.642.500 Rp.642.8201 Rp.29793. 16.1799 Rp.643.909.435. Kelas II Rp.92222 Dari perhitungan diatas.29793. Kelas III Rp.119.119. 58. 97.

72 21. Akibatnya cenderung terjadi distorsi pada pembebanan biaya overhead. . Perbedaan yang terjadi antara tarif jasa rawat inap dengan menggunakan metode tradisional dan metode ABC. Sedangkan pada metode ABC. disebabkan karena pembebanan biaya overhead pada masing-masing produk. biaya overhead pada masing-masing produk dibebankan pada banyak cost driver. Pada metode akuntansi biaya tradisional biaya overhead pada masing-masing produk hanya dibebankan pada satu cost driver saja.935. Sehingga dalam metode ABC.92222. telah mampu mengalokasikan biaya aktivitas kesetiap kamar secara tepat berdasarkan konsumsi masingmasing aktivitas.

Dari perhitungan tarif jasa rawat dengan menggunakan metode ABC. Kelas I Rp. Yaitu tahap pertama biaya ditelusur ke aktivitas yang menimbulkan biaya dan tahap ke dua membebankan biaya aktivitas ke produk. 2.1 Kesimpulan Pada bab ini akan dijelaskan tentang kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan penulis.642.92222.1799 Utama I Rp.29793. dilakukan melalui 2 tahap. maka dapat diambil kesimpulan sbb: 1.119. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh penulis di RSUD Kab. 80. diketahui besarnya tarif untuk kelas VIP Rp. BATANG.29243. Perhitungan tarif jasa rawat inap dengan menggunakan metode ABC.85506.435.73 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kelas II Rp. Dari hasil perhitungan tarif rawat inap dengan menggunakan metode ABC. Kelas III Rp. 66. Sedangkan tarif diperoleh dengan menambahkan cost rawat inap dengan laba yang di harapkan. 58.10563. BATANG dengan penentuan tarif kamar yang menggunakan metode yang berbasis aktivitas (Activity BasedCosting).735. 91.909. apabila dibandingkan dengan metode tradisional maka metode ABC memberikan hasil yang lebih besar kecuali pada kelas VIP dan . dengan tujuan untuk mengevaluasi tarif kamar rawat inap pada RSUD Kab. 129.856. Utama II Rp. 39.

409.74 Utama I yang memberikan hasil lebih kecil. 5.935. Kelas II Rp.85506. 5. Perbedaan yang terjadi antara tarif jasa rawat inap dengan menggunakan metode tradisional dan metode ABC.29793. Kelas I Rp. . 28. Akibatnya cenderung terjadi distorsi pada pembebanan biaya overhead. 2. Kelas III Rp. Pada metode akuntansi biaya tradisional biaya overhead pada masing-masing produk hanya dibebankan pada satu cost driver saja. Sehingga dalam metode ABC.8201. Sedangkan pada metode ABC. 16.764. biaya overhead pada masingmasing produk dibebankan pada banyak cost driver.2 Saran Pihak manajemen sebaiknya mulai mempertimbangkan perhitungan tarif rawat inap dengan menggunakan metode Activity Based-Costing. Utama II Rp. Utama I Rp.119. disebabkan karena pembebanan biaya overhead pada masing-masing produk. 21.70757.64210563.92222. telah mampu mengalokasikan biaya aktivitas kesetiap kamar secara tepat berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas. dengan tetap mempertimbangkan factor-faktor external yang lain seperti tarif pesaing dan kemampuan masyarakat yang dapat mempengaruhi dalam penetapan harga pelayanan rawat inap. Dengan selisih untuk kelas VIP Rp.643. 3.

Kanisius. Activity Based Costing Alternatif Perbaikan Harga Pokok. Pelayanan Medis. 1989. Yogyakarta. Slamet. Lumenta.75 DAFTAR PUSTAKA Tunggal. Proses Pengendalian Manajemen. 1993 Hansen. Edisi 2. Activity-Based Information: A Blue Print For World Class Manajement Accounting. 1991 Sugiri. 1999 Thomas. Edisi 2. Edisi 7. 2004 ________. No. BPFE. R. Akuntansi Manajemen. Akuntansi Biaya dan Akuntansi Manajemen Untuk Teknologi maju dan globalisasi. Salemba Empat. New Jersey. Manfaat dan Rekayasa. Yogyakarta. 1993 Supriyono. 1991 Sujatmika. April 1997. Amin Widjaja. BP STIE YKPN. Buletin Ekonomi. UPN “Veteran” Yogyakarta. 1994 Cooper Robin and Kaplan Robert S. Salemba Empat. Bunyamin. Yogyakarta. STIE YKPN. Edisi I. Prentise-Hall. Edisi Pertama. Manajemen Biaya. 2. Rineka Cipta. Johnson H. Konsep. Don R and Maryanne M Mowen. Cases and Reading. Activity Based Costing Suatu Pengantar. Jakarta. AMP YKPN. . Jakarta. Akuntansi Manajemen. 2000 Supriyono. Cetakan Pertama. Hal 81-87.A. Jakarta. The design Of Cost Manajement System: Text. YK. akuntansi Manajemen. 1992 Mulyadi. The design of Cost Manajement System : Text. YK. Cases and Reading. Akuntansi Manajemen.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->