PENCAPAIAN MDGs KETENAGAKERJAAN

Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional-Bappenas Jakarta, 8 Maret 2011

1.24 persen Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia 15 tahun ke atas: Acuan dasar (1990): 65 persen (Sakernas) Saat ini (2010): 63 persen (Sakernas) Proporsi tenaga kerja yang berusaha sendiri dan pekerja keluarga terhadap total kesempatan kerja: Acuan dasar (1990): 71 persen (Sakernas) Saat ini (2010): 63 persen (Sakernas) 1.5. Laju pertumbuhan PDB per tenaga kerja: Acuan dasar (1990): 3.52 persen Saat ini (2009): 2. .7. TERMASUK PEREMPUAN DAN KAUM MUDA INDIKATOR 1.TARGET 1B: MENCIPTAKAN KESEMPATAN KERJA PENUH DAN PRODUKTIF DAN PEKERJAAN YANG LAYAK UNTUK SEMUA.4.

kecenderungan jangka panjang penciptaan lapangan kerja masih menunjukkan arah yang positif.10 persen pada tahun 2001 menjadi sebesar 7. ‡ secara rinci adalah sebagai berikut: . ‡ Walaupun terdapat ketimpangan antara faktor-faktor yang mendorong penawaran dan permintaan tenaga kerja. Tingkat pengangguran terbuka telah berhasil diturunkan dari 8.41 persen pada tahun 2010. Krisis ekonomi global 2007-2008 juga telah menghambat pertumbuhan ekonomi nasional dan oleh karena itu juga penciptaan lapangan kerja.Pengantar ‡ Krisis ekonomi 1997-1998 telah memicu depresi perekonomian nasional sehingga lapangan kerja sektor formal berkurang cukup besar.

‡ . tahun 1990-2009 cukup bervariasi. yaitu tahun 1995.50 persen. Hal ini disebabkan menurunnya akumulasi modal per tenaga kerja pada periode post crisis.68 persen dan yang terendah tahun 2001. dan yang terendah pada tahun 1998 sebesar -12. Pertumbuhan produktivitas tenaga kerja sebelum krisis 1997/1998 relatif lebih tinggi yaitu sebesar 5.Perkembangan Berbagai Indikator Penciptaan Kesempatan Kerja Penuh Dan Produktif Dan Pekerjaan Yang Layak Untuk Semua.36 persen per tahun. dengan pertumbuhan ratarata sekitar 2. sebesar -0.42 persen pada periode 19901995. namun setelah krisis (periode 1998/92008) mengalami penurunan. Pada tahun yang sama.91 persen.15 persen.53 persen. sektor pertanian juga mengalami pertumbuhan yang tertinggi sebesar 12. Di sektor industri laju pertumbuhan tertinggi terjadi tahun 1995. Termasuk Perempuan Dan Kaum Muda ‡ Pertumbuhan produk domestik bruto per tenaga kerja. yaitu menjadi rata-rata 3. sebesar 18.

Sumatera Barat.Laju pertumbuhan PDRB per tenaga kerja (persen) antara tahun 2003-2008 Gambar 1.85 1. Laju pertumbuhan PDRB per tenaga kerja (persen) antara tahun 2003-2008  Laju pertumbuhan produktivitas tenaga kerja selama lima tahun antara 2003-2008 di tingkat provinsi cukup bervariasi. yaitu sebesar -0. 3 1.I. 2 -0. Jawa Tengah.8 2.86 RIAU JA A TENGA JAMBI SUMATERA BARAT SULA ESI TENGGARA SULA ESI UTARA IN ONESIA JA A TIMUR LAMPUNG NUSA TENGGARA BARAT SULA ESI SELATAN MALUKU UTARA KALIMANTAN SELATAN BANTEN BENGKULU SULA ESI TENGA NUSA TENGGARA TIMUR BALI JA A BARAT SUMATERA UTARA SUMATERA SELATAN MALUKU GORONTALO . Jambi. Sulawesi Tenggara.11 3.18 1.9.88 2. dan Sulawesi Utara.13 0. provinsi dengan laju pertumbuhan terkecil adalah Bangka Belitung. 5 3. YOGYAKARTA KI JAKARTA KALIMANTAN BARAT NA KALIMANTAN TENGA BANGKA BELITUNG KALIMANTAN TIMUR PAPUA Catatan: Provinsi Kepulauan Riau.50 2.28 . 2003 dan 2008.66 3. Sumber: Sakernas dan Statistik Produk Domestik Regional Bruto Provinsi (diolah).60 3. Sementara itu. Sulawesi Barat dan Papua Barat tidak tercantum karena data tahun 2003 tidak tersedia. 6 0.11 2. BPS ¤ ¥ ¥ £ ¤ £ £ £ ¥ £ £ ¤ £     ¥ ¢ ¡ ¢ ¢ ¢   ¡ ¢ ¡    .13 3.80 2.11 3.5 1. Provinsi dengan laju pertumbuhan di atas rata-rata nasional (3.1 2.11 persen) adalah Provinsi Riau (5. 2 2. dan disusul oleh Papua yang mengalami pertumbuhan negatif.05 1.80 2.88 2. 0 3.25 2.86 persen  5. 2 2. 0 2.55 1.28 persen). Kalimantan Timur.82 2.

terdapat penurunan rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja dari 65 persen menjadi 62 persen.Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja ‡ ‡ ‡ ‡ Sumber: Sakernas (diolah). Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja. dan cukup dinamis. Gambar 1. 1990-2010 80% 70% 60% 50% 40% 30% 20% 10% 0% 1990 1991 1992 1993 1994 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 Aug-06 Aug-07 Aug-08 Aug-09 Nov-05 Feb-10 E R erkotaan E R erdesaan E R Total . Kesempatan kerja yang tercipta telah menyerap tenaga kerja yang baru memasuki pasar kerja walaupun pekerjaannya informal ( ambar 1.10). 1990-2010. Pertumbuhan ekonomi yang kuat antara 1990-1997 dan antara 2004-2008 memungkinkan pertumbuhan lapangan kerja melampaui pertumbuhan angkatan kerja. Selama dua dekade ini. BPS ¦ ¦ ¦ ¦ ¦ Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja dalam kurun waktu 1990-2009 mengalami perubahan yang relatif kecil. Pertumbuhan penduduk usia kerja yang lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan angkatan kerja mengindikasikan adanya preferensi yang lebih tinggi untuk melanjutkan sekolah ke jenjang selanjutnya dibandingkan untuk mencari pekerjaan setelah lulus sekolah.10.

0. dan DK Jakarta yang mengalami peningkatan tertinggi yaitu sekitar 0. 0. 0. tahun 1990. BPS                   !         "       "      "   "                     "           "                   "   "           #          US T 0 0 0 0 0 0 0. sedangkan provinsi yang rasionya meningkat adalah Kalimantan Barat. 0. segitiga berwarna merah. 0. Sulawesi Tengah. 1999 dan 2010. 1 1 0 1 ©© ©   © ©  © ©  © © ©     §  § ©   © © ¨ §     §   0 1 1 0 Fe b ru a ri 0 1 0 © © § © © ©  ¨©   §  § ©    ©    ¨  ¨ §   ¨§ ©© © ¨© ©    © © ©     ¨        § §   B G K ULU G G R T M UR B L K LM T T G H D . 0. 0. 1 0. 0. 0. 0.Kesempatan Kerja ‡ Di tingkat provinsi. 0. 1 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 1 0. 0. 0. 0. 0. Sulawesi Selatan. 0. 0. 0. enurut Provinsi Gambar 1. 0. 0.11). 0. 0. 0. Jika bergerak berlawanan. 0. 1 0. 0. Tidak ada perubahan dilambangkan dengan titik berwarna kuning. 0. Papua. Riau. 0. 0. 0. aluku.11 ( ambar 1. 0. 1990. 0. 0. rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja antara tahun 1990 dan 2010 pada umumnya menurun. 1 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. . 0. 0. 0. 0. 1 0. $      . ‡ Provinsi dengan rasio tetap adalah Bali. OG Y K R T K LM T B R T P PU J T G H S T GG R SUL L MPU G US T G G R B R T T S L T K LM J T M UR G G R O C H D R USS L M SUM T R UT R SUL S T G H J MB SUM T R S L T DO S K LM T T M UR SUM T R B R T SUL S UT R B R T J R U L UK U SUL S S L T D K J K RT S B R T SUL P PU B R T G OR O T L O K B L TU G B K P UL U R U L K T R B T 0. 0. 0. Sumber: Sakernas (diolah). 0. 0. 0. Sumatera Selatan. 0.11. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. Rasio kesempatan kerja terhadap penduduk usia kerja menurut provinsi. 0. 1999 dan 2010 Tre n 0 10 Keterangan: Segitiga tren berwarna hijau jika perkembangan searah dengan tren nasional. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 0. 1 0.

1990.2 1 Persentase 6 1 .12). terlihat bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja (TP K) di daerah perkotaan meningkat cukup tinggi sejak tahun 1990 sampai 2010. TP K di daerah perdesaan menurun meskipun penurunannya lebih lambat dibandingkan peningkatan TP K di perkotaan.12. Sumber: Sakernas (diolah).5 1 . 6 &% 0 . tahun 1990. 2 '% & & & & 0 0 5 . BPS 1 0 ( .Tingkat Partisipasi ngkatan Kerja (TP K) Jika dibedakan berdasarkan wilayah perkotaan dan perdesaan. Gambar 1. yaitu dari sekitar 55 persen menjadi 65 persen (Gambar 1. 1999 dan 2010.2 0 60 50 0 0 ) 20 10 0 2 2 2 K o ta 1990 es a K o ta 1999 es a K o ta 3 es a eb r u a r i 2 0 1 0 Sementara itu. yaitu dari sekitar 72 persen tahun 1990 menjadi 70 persen tahun 2010. 1999 dan 2010 90 1 . Tingkat partisipasi angkatan kerja (persen) menurut wilayah.5 5 6 .

untuk tingkat pendidikan SD dan tidak pernah sekolah. Indonesia menghadapi masalah persebaran mutu pekerja yang timpang. 1999 dan 2010 50 45 40 35 30 Persentase 25 20 15 10 5 0 Kota 1990 Tdk pernah sekolah SMTA Umum Tdk/belum tamat SD SMTA Kejuruan Desa Kota 1999 SD Diploma Desa Kota Desa Februari 2010 SMTP Universitas Sumber: Sakernas (diolah). sementara di perdesaan hanya 0. BPS .57 persen.88 persen dari seluruh pekerja yang berpendidikan diploma dan universitas berada di perkotaan. 1990. 1999 dan 2010. Data pada tahun 1990 menunjukkan bahwa 5. Pekerja menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan dan wilayah. persentasenya lebih tinggi di perdesaan (Gambar 1. tahun 1990.13).Pekerja Menurut Tingkat Pendidikan ‡ Meskipun angka melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi membaik. Gambar 1. yaitu SMT . Hal yang sama untuk tingkat pendidikan menengah.13. amun.

9 persen per tahun untuk periode 2008-2009. 1990-2010. Lapangan kerja tersebut tumbuh sebesar 1. BPS ug-09 E 199 199 199 200 200 ug-0 E ug-0 E A @ D C B 9 A @ 9 6 ‡ 8 7 5 4 Kualitas lapangan kerja yang tercipta membaik sehingga tenaga kerja yang bekerja di sektor non-formal.14). Produktivitas pekerja dalam beberapa tahun ini tetap tumbuh dengan baik. sebagai rasio kesempatan kerja total secara relatif turun.Kualitas Lapangan Kerja Tercipta ‡ 20% 10% 0% 1990 1991 1992 1998 1999 2000 2001 2002 ug-08 F E ‡ ov-0 Laki-laki Perempuan Perkotaan Perdesaan otal Sumber: Sakernas (diolah). 1990-2010 90% 80% 0% 0% 0% 0% 0% . Gambar 1. Menurunnya rasio tenaga kerja yang bekerja di sektor informal ini dimungkinkan oleh tumbuhnya lapangan kerja berupah. Rasio tenaga kerja yang bekerja di sektor tersebut berkurang dari 71 persen pada tahun 1990 menjadi 64 persen tahun 2009 (Gambar 1.14. seperti berusaha sendiri dan atau dibantu dengan anggota keluarga. Proporsi pekerja rentan terhadap total jumlah pekerja.

. BPS G GI d Q QQ GG GG GG GG GG GG GG HH DK J K S B I I I H H H SU M T UT 1 HG P G P G H G G IR G RR G HG P G G H G G P RG G P GR G G P H G G G P R G G I G G RG RG GR G RG Q G RG RG G R G RG I G .6 1 .6 . 6 .6 . . .8 1 .6 .6 .6 .8 . . 1 . . Sumber: Sakernas (diolah).5 6 .5 1 . 5 .6 .6 8 .8 1 . XW V T S U U U VS V U W U U U U V XTS V U U YT VYWY U W T U U U W X S T U U `U W X U U U W X V V XT U U U W U U U` U W Y X U U Ua a XT U W V V XT U U U U U W X U` U W W VS V U U U U U W WS U U U U X S VY V X U b VS U U` U W U W S T U U `U T W bSc SYW U U U U U W WS U U U U V TS S T U U `U V T U b VS S T U `U TS WS V U U U U V TS V V T U U U U U T U VS U U b VS V V T U U U U W VS S T U U `U W VS V W U U U T V V U .15. .6 8 . . 8 .5 .6 . segitiga berwarna merah. 1990 dan 2010. .6 . seperti Kalimantan Tengah. 6 . Tidak ada perubahan dilambangkan dengan titik berwarna kuning. terdapat beberapa provinsi yang proporsi pekerja rentannya meningkat yaitu provinsi D. 6 . 1 .5 8 . e b ru a ri 1 Q R R IR R P R R R R QR QR G G P P G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G G US T GG TI M U .6 . seperti Provinsi Jawa Barat.6 5 .6 .8 . SU M UKU UT G T B B GK B P PU TU G T B T K PU U U Keterangan: Segitiga tren berwarna hijau jika perkembangan searah dengan tren nasional.6 5 . tahun 1990 dan 2010 SU K IM SI T GG T T G P PU B GKU U M S S SI T ‡ K IM T SU M T SU UKU T T G . . .5 1 . . .Proporsi Pekerja Rentan Gambar 1. 1 . da sebagian provinsi yang mengikuti pola nasional dengan penurunan relatif kecil.6 . dan Jambi. Penurunan proporsinya memang tidak merata.6 . . ogyakarta dan JawaTimur.6 . 6 . . Meskipun demikian. .6 1 . .5 . 1 .6 . .6 f f f f f f f f f e f f f f f f e f e e e e e e e e e e e e f e e e G gQ Q Tr e n 1 ‡ ‡ Pola yang sama juga terjadi dalam persebaran menurut provinsi yang menunjukkan bahwa hampir seluruh provinsi mengalami penurunan proporsi pekerja rentan.6 .8 . Jika bergerak berlawanan. Proporsi pekerja rentan terhadap total jumlah pekerja menurut provinsi. M G J K T B K T B T T MU T T . 6 .8 5 .6 SU MPU G SI S T SU M T D B T J M BI M GG SU U SS SI U T T D I U S J G US T GG J K M T B T T MU B T D. 1 . 1 . Sulawesi Utara.15). da pula provinsi yang penurunannya cukup besar.6 . . 5 . serta usa Tenggara Barat dan Kalimantan Barat (Gambar 1. dari 58 persen menjadi 56 persen.

Februari 2010 erusaha dibantuburuh tidaktetap tidakdibayar Pekerja bebas di pertanian y x w Pekerja bebas di non pertanian Pekerja keluarga erusaha dibantuburuh tetap uruh karyaw pegaw an ai x x w w ivp INFORMAL Sumber: Sakernas (diolah).16. BPS w ivt ir FORMAL iqp erusaha sendiri iut is ih . Dalam sejarahnya. Pekerja menurut status pekerjaan. Diperlukan intervensi kebijakan sisi permintaan tenaga kerja maupun penawaran tenaga kerja agar transformasi tersebut berjalan lebih cepat.TANTANGAN Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam penciptaan lapangan kerja baru. proses transformasi struktural perpindahan pekerja dari pekerjaaan di sektor tradisional ke sektor modern memerlukan waktu yang sangat panjang. Gambar 1. 2010.

tetapi diimbangi dengan aspek produktivitas dan pencapaian target pekerjaan. Tantangan disini adalah memindahkan surplus tenaga kerja keluar dari sektor informal ke pekerjaan yang lebih produktif dan memberikan upah yang lebih tinggi.TANTANGAN ‡ ‡ ‡ Pertama. Memperluas Kesempatan Kerja Formal seluas-luasnya. Selain itu. Ketiga. Komponen penentuan Upah Minimum Regional (UMR) sebaiknya tidak hanya melihat pada sisi kenaikan inflasi saja. ketidakpastian hak kepemilikan properti. aktor-faktor yang memberikan kontribusi terhadap lemahnya iklim investasi secara keseluruhan telah terdokumentasikan dengan baik dan mencakup lambannya pemulihan yang antara lain adalah persoalan infrastruktur. Memperlancar perpindahan pekerja dari pekerjaan yang produktivitasnya rendah ke pekerjaan yang produktivitasnya lebih tinggi. mengakibatkan lebih banyak tenaga kerja yang memasuki sektor informal. Perpindahan pekerja dari kegiatan di sektor informal yang sangat banyak dan berproduktivitas rendah ini juga mendorong peningkatan upah dan output pekerja. Pemulihan investasi yang belum berjalan baik merupakan kendala bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Kelambatan pertumbuhan sektor formal. Mempertahankan atau meningkatkan kesejahteraan pekerja yang masih berada di sektor informal dan mempersempit kesenjangan upah pada tingkat produktivitas yang sama. termasuk peraturan ketenagakerjaan yang telah mempengaruhi daya saing di beberapa industri utama padat pekerja. sistem hukum dan birokrasi. pergeseran upah saat ini lebih banyak ditentukan oleh aspek kenaikan tingkat harga dibandingkan dengan kenaikan produktivitas. Sehingga para pekerja dalam lapangan kerja informal (termasuk keluarganya) akan mengalami ketidakpastian. ketidakpastian dalam lingkungan hubungan industrial. Kedua. .

Salah satu upaya meningkatkan produktivitas pekerja adalah dengan meningkatkan kualitas atau kompetensi pekerja. Berbagai kebutuhan dan kepentingan pekerja dan pengusaha dapat diwujudkan melalui proses berunding dan bermusyawarah pada tingkat bipartit. baik di perkotaan maupun di perdesaan. Daya saing dan produktivitas Indonesia hingga saat ini masih jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara sia Tenggara lainnya. Kemampuan tenaga kerja Indonesia masih dirasakan sebagai kendala utama bagi perkembangan usaha. Rendahnya keahlian ini akan mempersempit ruang bagi kebijakan Indonesia untuk meningkatkan ketahanan dan daya saing ekonominya. Peran Pemerintah lebih dituntut untuk menciptakan iklim hubungan industrial yang kondusif dalam rangka mendorong terciptanya perundingan bersama antara pekerja dan pengusaha. Memperbaiki Kondisi dan Mekanisme Hubungan Industrial untuk Mendorong Kesempatan Kerja dan Berusaha. Meningkatkan Kualitas Pekerja. Perbaikan iklim investasi merupakan salah satu yang memperoleh prioritas secara nasional. Pemerintah terus mendorong penciptaan lapangan kerja formal dengan meningkatkan pertumbuhan investasi dan perluasan usaha. Menciptakan Kesempatan Kerja Melalui Program-Program Pemerintah. Kebijakan ini terus didorong agar perekonomian dapat tumbuh dan berkembang lebih baik. Kebijakan ini ditargetkan kepada sebagian dari penganggur yang memang tidak mempunyai akses kepada kegiatan ekonomi. ‡ ‡ ‡ .KEBIJAKAN ‡ Menciptakan Lapangan Kerja Seluas-luasnya Melalui Investasi dan Perluasan Usaha. Pengangguran tidak hanya terdapat didaerah perkotaan tetapi juga terdapat di daerah-daerah yang kegiatan ekonominya masih tertinggal.

Mengembangkan Jaminan Sosial dan Memberdayakan Pekerja. Strategi untuk memberikan perlindungan sosial bagi pekerja antara lain dengan mengembangkan program-program jaminan sosial yang memberikan manfaat terbaik bagi pekerja. dan penyuluhan pertanian. seperti pendidikan. Perhatian kepada pekerja di sektor pertanian dapat diwujudkan dalam bentuk peningkatan produktivitas yang memungkinkan sektor pertanian menerima jumlah pekerja lebih banyak. pelatihan. Deklarasi IL tentang Prinsip-Prinsip dan Hak-Hak Mendasar di Tempat Kerja telah menyepakati perlunya menerapkan dan memberlakukan standar ketenagakerjaan utama (pokok). Menerapkan Peraturan Ketenagakerjaan Utama. tanpa penurunan tingkat kesejahteraan. ara yang diberikan antara lain: (a) memperluas jangkauan pengelolaan sektor pertanian dengan mengembangkan riset dalam memperluas usaha pertanian. sehingga hal tersebut dapat meningkatkan kesejahteraannya.KEBIJAKAN ‡ Meningkatkan Produktivitas Pekerja Pertanian. Keberpihakan juga diberikan kepada kelompok pekerja yang lemah berupa bantuan peningkatan keterampilan agar produktivitasnya meningkat. ‡ ‡ . Untuk pekerja informal adalah dengan melindungi dari lingkungan kerja dan pemanfaatan kerja yang tidak proporsional. Perbaikan pengetahuan dan keterampilan ini pada waktunya dapat memberikan dampak kepada peningkatan produksi hasil pertanian. dan (b) memberikan pengetahuan dan keterampilan pekerja.

Terimakasih .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful