Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembimbing ke filsafat tak akan lengkap tanpa sepatah kata tentang
perkembangan filsafat sepanjang saejarah.
Sejarah filsafat ialah penyelidikan ilmiah mengenai perkembangan
pemikiran filsafat dari seluruh bangsa manusia dalam sejarah. Jadi awas : sejarah
filsafat itu belumlah ”filsafat” , sejarah filsafat hanyalah ”sejarahnya”!.
Apabila sejarah filsafat dianggap satu satunya pengantar, bahkan satu-
satunya filsafat, itu kami anggap kurang tepat. Lagi pula dilihat dari sudut
didaktik, pembimbing yang melulu ”historis” saja kami anggap kurang pada
tempatnya karena banyaknya aliran-aliran dan pendapat-pendapat yang sering
bertentangan satu sama lain. Hal itu dengan mudah dapat menimbulkan salah
faham dan menghasilkan kekecawaan belaka.
Akan tetapi jika pengantar historis itu diberikan di samping pengantar
sistematis maka ia akan sangat besar faedahnya. Searing kali persoalan-persoalan
filsafat hanya dapat dipahami jika dilihat perkembangan sejarahnya. Ahli-ahli
besar seperti Aristoteles, Thomas Aquino, Immanuel Kant itu hanya dapat
dimengerti dari aliran-aliran yang mendahului mereka. Aliran yang satu biasanya
merupakan reaksi atau syntesis dari aliran lain. Dan dari seluruh perjalanan
pemikiran fisafat itu menjadi kentara juga persoalan-persoalan manakah yang
saelalu tampil kembali bagi setiap kurun masa, bagi setiap bangsa dan setiap
orang. Oleh karena sejarah filsafat itu merupakan mata kuliah tersendiri.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana sejarah pertumbuhan dan perkembangan filsafat ilmu.
2. Apa deskripsi dari wilayah, objek, metode kajian filsafat ilmu pada
zaman Yunani.

C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui sejarah pertumbuhan dan perkembangan filsafat ilmu.
2. Untuk mengetahui deskripsi dari wilayah, objek, metode kajian filsafat ilmu
pada zaman Yunani.

1
BAB II
ISI

A. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Filsafat Ilmu


Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting dalam
sejarah peradaban manusia karena pada waktu itu terjadi perubahan pola pikir
manusia dari mitosentris menjadi logosentris. Pola pikir mitosentris adalah pola
pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena
alam, seperti gempa bumi dan pelangi. Gempa bumi tidak dianggap fenomena
alam biasa, tetapi Dewa Bumi yang sedang menggoyangkan kepalanya. Namun,
ketika filsafat diperkenalkan, fenomena alam tersebut tidak lagi dianggap sebagai
aktivitas dewa, tetapi aktivitas alam yang terjadi secara kausalitas. Perubahan
pola pikir tersebut kelihatannya sederhana, tetapi implikasinya tidak sederhana
karena selama ini alam ditakuti dan dijauhi kemudian didekati bahkan
dieksploitasi. Manusia yang dulunya pasif dalam menghadapi fenomena alam
menjadi lebih proaktif dan kreatif, sehingga lama dijadikan objek penelitian dan
pengkajian. Dari proses inilah kemudian ilmu berkembang dari rahim filsafat,
yang akhirnya kita nikmati dalam bentuk teknologi. Karena itu, periode
perkembangan filsafat Yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban
baru umat manusia. Sejarah filsafat ilmu pada zaman Yunani terjadi dalam dua
periode yaitu pada zaman Yunani Kuno dan zaman Yunani Klasik. Orang-orang
Yunani sebelum abad VI SM, masih menganut pemikiran mitosentris yang
menggunakan mitos guna menjelaskan fenomena alam. Dimana segala sesuatu
itu harus diterima sabagai suatu kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi.
Untuk menelusuri filsafat Yunani, perlu dijelaskan terlebih dahulu
asal kata filsafat. Sekitar abad IX SM atau paling tidak tahun 700 SM, di Yunani,
Sophia diberi arti kebijaksanaan; Sophia juga berarti kecakapan. Kata
philosophos mula-mula dikemukakan dan dipergunakan oleh Heraklitos (540 –
480 SM). Sementara orang ada yang mengatakan bahwa kata tersaebut mula-
mula dipakai oleh Pythagoras (580 – 500 SM). Namun pendapat yang lebih tepat
adalah pendapat yang mengatakan bahwa Heraklitoslah yang pertama

2
manggunakan istilah tersebut. Menurutnya, Philosophos (ahli filsafat) harus
mempunyai pengetahuan luas sebagai pengejawantahan dari pada kecintaannya
akan kebenaran dan mulai benar-benar jelas digunakan pada masa kaum Sofis
dan Socrates yang memberi arti philosophein sebagai penguasaan secara
sistematis terhadap pengetahuan teoritis. Philosophia adalah hasil dari perbuatan
yang disebut Philosophein itu, sedangkan philosophos adalah orang yang
melakukan philosophein. Dari kata philosophia itulah nantinya timbul kata-kata
philosophie (Belanda, Jerman, Perancis), philosophy (Inggris). Dalam bahasa
Indonesia disebut filsafat atau falsafat. 1
Mencintai kebenaran/pengethuan adalah awal proses manusia mau
menggnakan daya pikirnya, sehingga dia mempau membedakan mana yang riil
dan mana yang ilusi. Orang Yunani awalnya sangat percaya pada dongeng dan
takhayul, tetapi lama kelamaan, terutama setelah mereka mampu membedakan
yang riil dengan yang ilusi, mereka mampu keluar dari kungkungan mitologi dan
mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. 2 inilah titik awal manusia menggunakan
rasio untuk meneliti dan sekaligus mempertanyakan dirinya dan alam jagad raya.
Karena manusia selalu berhadapan dengan alam yang begitu luas dan
penuh misteri, timbul rasa ingin mengetahui rahasia ala mini. Lalu timbul
pertanyaan dalam pikirannya; dari mana datangnya ala mini, bagaimana
kejadiannya, bagaimana kemajuannya dan kemana tujuannya? Pertanyaan
semacam inilah yang selalu menjadi pertanyaan di kalangan filosof Yunani,
sehingga tidak heran kemudian mereka juga disebut dengan filosof alam karena
perhatian yang begitu besar pada alam. Pada wal filsafat ilmu pada zaman
Yunani terlahir akibat beberapa faktor yaitu :
1. Bangsa Yunani yang kaya akan mitos (dongeng), menganggap mitos tersebut
sebagai awal dari upaya orang untuk mengetahui/mengerti.
2. Karya sastra Yunani yang dapat dianggap sebagai pendorong kelahiran
Filsafat Yunani.
3. Pengaruh ilmu-ilmu pengetahuan yang berasal dari Babylonia (Mesir) di
Lembah Sungai Nil.

1
Soemardi Soerjabrata, Pengantar Filsafat, (Yogyakarta, 1970), hlm. 1 – 2. Endang Saifuddin
Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya, Bina Ilmu, 1991), cet. IX, hlm. 80.
2
Encyclopedia Americana-International Edition, (Glorier Incorporated, 1997), vol. 13, hlm. 429.

3
Pada waktu itu filsafat masih diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang
global dan setelah berkembang sedikit demi sedikit mulailah ilmu pengetahuan
berdiri sendiri. Para filosof ala mini juga disebut filosof pra Sokrates, sedangkan
Sokrates dan setelahnya disebut para filosof pasca Sokrates yang tidak hanya
mengkaji tentang alam, tetapi manusia dan perilakunya.
Filosof alam pertama yang mangkaji tentang asal usul alam adalah
Thales (624 – 546 SM). Ia digelari Bapak Filsafat karena dialah orang yang
mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan. ”Apa sebenarnya asal-usul alam
semesta ini?” Pertanyaan ini sangat mendasar, terlepas apapun jawabannya.
Namun, yang penting adalah pertanyaan itu dijawabnya dengan pendekatan
rasional, bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan.

B. Wilayah, Objek, Metode Kajian Filsafat Ilmu pada Zaman Yunani


Filsafat mulai di Yunani, pengaruh dari filsafat timur memang ada,
tetapi hanya sedikit. Sifat-sifat filsafat Yunani sangatlah mempengaruhi seluruh
alam pikiran barat. Melepaskan diri dari mythos-mythos dan mencari
pertanggungan jawab yang rasional daripada kenyataan mencari apa yang tetap
dan kekal dalam kenyataan yang berubah-ubah.
Pada zaman Yunani ini, wilayah, objek serta metode kajian filsafat
ilmu yang dijelaskan oleh masing-masing para pemikir berbeda-beda akan tetapi
secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a. Pada Zaman Yunani Kuno, para ahli pikir terfokus membahas alam.
Bagaimana asal usul alam? Akan tetapi, mereka mengambil jawaban dari hal
itu hanya dengan berlandaskan akal pikiran (rasional). Di sini akan
dipaparkan bagaimana para . pemikir pada Zaman Yunani Kuno
mendefinisikan serta menjelaskan alam itu sendiri.
Thales (625-545 SM), adalah bapak filsafat karena ia telah
mengajukan pertanyaan yang simple but perfect: What is the nature of the
world stuff? Oleh karena itu dari pertanyaan tersebut, menurutnya arkhe
(berupa air) merupakan prinsip dan dasar pertama dari segala sesuatu.3 Lebih
tegas lagi dia mengatakan: ”Sesungguhnya dalam air ada jiwa pendukung

3
Epping, A. Stookum, Th, C & Juntak. 1983. Filsafat Ensie. Bandung: Jemmars. Hlm. 75

4
hidup yang di dalam air ada kekuatan tumbuh.” selain itu, dia menyatakan
bahwa semua benda itu berjiwa. Pernyataan ini dia ambil dengan dalil besi berani
yang dapat menarik barang yang ada disekitarnya.4 Walaupun demikian ia tetap
berpendapat bahwa alam ini tidak berdiri sendiri melainkan diciptakan oleh
Sang Pencipta, akan tetapi alam ini diciptakan dari air oleh Sang Kholiq.
Anaximandros (610-547 SM), dia adalah murid dari Thales yang
lebih dahulu meninggal dari sang guru. Dia mengatakan bahwa pendapat Thales
tentang arkhe itu masih memiliki sifat-sifat yang berlawanan sehingga masih
dapat dibedakan. Seperti halnya panas berlawanan dengan dingin. Kemudian di
dalam udara itulah terlaksananya kesatuan antara keduanya (panas x dingin),
dengan kata lain udara sebagai pemersatu di antara panas dan dingin
tergantung bagaiamana cara meniupkan udara tersebut. 5 Oleh karena itu,
Anaximandros berpendapat bahwa udara (hawa) adalah substansi pertama
itu bersifat kekal dan ada dengan sendirinya, selain itu udara merupakan
sumber segala kehidupan.6
Pythagoras (572-497 SM), dalam sejarah hidupnya ia pernah
mendirikan perkumpulan agama yang kita kenal Madrasah Phytagoras.
Adapun filsafatnya bersifat religius dan pengikutnya sering dikenal
dengan sebutan Tarakat Phytagoras. Dia menyatakan bahwa ilmu akhlaq
itu adalah jiwa itu sendiri, menurutnya jiwa itu adalah penjelmaan dari
Tuhan yang jatuh ke dunia. Phytagoras juga dikenal dengan filsafat angka-
angkanya, ia mengatakan bahwa angka satu adalah paling sempurna sedangkan
angka nol adalah satu yang berarti kosong. Selain itu, dia juga mengatakan
bahwa bumi itu bulat karena bentuk yang paling sempurna itu adalah bentuk
bulat. 7
Pemikirannya tentang bilangan atau angka selalu ia kaitkan dengan
alam, sebagaimana ia mengatakan bahwa substansi dari semua benda adalah
bilangan dan segala gejala alam merupakan pengungkapan indrawi dari
perbandingan-perbandingan matematis.
4
Anhari, Masjkur. 1992. Filsafat ”Sejarah dan Perkembangannya dari Abad ke Abad”. Jakarta; CV.
Karya Remaja. hlm. 83 - 84
5
Salam, Burhanuddin. 2000. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. Jakarta; Rineka Cipta. hlm. 76
6
Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum. Bandung; PT. Remaja Rosdakarya. hlm. 48
7
Anhari, Masjkur. 1992. Filsafat ”Sejarah dan Perkembangannya dari Abad ke Abad”. Jakarta; CV.
Karya Remaja. hlm. 96 - 99

5
Xenophenes (570-480 SM), dia adalah seorang filosof juga
seorang penyair yang berpendapat bahwa: Tuhan hanya satu, dia tidak
serupa dengan manusia karena dia sempurna dan kesempurnaannya itu
adalah tunggal. Dan Tuhan itu bersatu dengan alam karena Dia mengisi seluruh
alam. Selain itu ia berpendapat bahwa matahari dan bintang-bintang adalah uap
yang panas yang bernyala-nyala apabila hari telah malam maka matahari dan
bintang-bintang tersebut musnah, untuk penggantinya terjadilah matahari dan
bintang-bintang bare yang terdiri dari uap.8
Parmenides (540-470 SM), dia adalah seorang ahli pikir
sekaligus politikus. Dia mengatakan bahwa: kebenaran itu ada yaitu
kebenaran yang bulat dan penuh, yang dimaksud di sini adalah Tuhan,
caranya dengan menggunakan akal atau logika. Selain itu, dia juga
menganut faham monotheisme (Yang ada itu satu dan tetap, yang banyak
tidak ada). 9 Dalam The Way of truth Parmadines bertanya: Apa standar
kebenaran dan apa ukur realitas? Bagaimana hal itu dapat dipahami? la
menjawab: Ukurannya ialah logika yang konsisten. Oleh karena itu,
10
Parmenides disebut sebagai logikawan pertama dalam sejarah filsafat.
Pendapat yang dikemukakan oleh Parmenides tentang logika banyak
terdapat kerancuan sehingga banyak para ahli pikir yang menentang
pendapatnya. Akan tetapi Zeno (490-430 SM.), sebagai murid Parmenides,
ia memperlihatkan konsekuensinya terhadap pendapat gurunya tentang
logika. Sebagai contoh: Anak panah yang meluncur dari busurnya, apakah
bergerak atau diam? Kata Zeno, diam. Diam adalah bila suatu benda pada
suatu saat berada pada suatu tempat. Jadi, anak panah itu diam. ini
khas logika, karena logika telah disetujui sebagai alat pengukur
kebenaran. (Warner dalam Ahmad Tafsir, 2003:50).
Heraclitos (540-475), ia menyatakan: "You can not step twice
into the same river for the fresh waters are ever flowing upon yuo "
(Engkau tidak akan terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai
itu selalu mengalir). Menurutnya, alam semesta ini selalu dalam keadaan

8
Ibid., hlm. 87 - 88
9
Ibid., hlm. 88 - 89
10
Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. hlm. 49

6
berubah, sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah
menjadi dingin. 11 Dari sini dapat dikatakan bahwa kebenaran itu dapat
berubah, mungkin sekarang 2 x 2 = 4 adalah benar dan kemungkinan di tahun-
tahun yang akan datang hal itu tidak dapat dibenarkan.
Heraclitos juga mengemukakan bahwa segala yang ada selalu
berubah, ia mempercayai bahwa asas yang pertama dari alam semesta
adalah api. Api adalah lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai
sifat memusnahkan segala yang ada dan mengubah sesuatu menjadi abu atau
asap. la juga mengatakan bahwa pengetahuan yang benar adalah pengetahuan
yang berubah-ubah sehingga realita merupakan sesuatu yang khusus, banyak
dan dinamis.12
Empedocles (490-435 SM), ia adalah seorang penyair retorika,
politikus selain ahli pemikir. Pemikirannya banyak dipengaruhi oleh
kaum Phytagoras dan Parmenides. la mengatakan bahwa alam semesta di
dalamnya tidak ada hal yang dilahirkan secara baru dan tidak ada hal yang
hilang. Karena realitas tersusun dari empat unsur yaitu: api, udara, tanah dan
air. Dan ada unsur yang mengatur perubahan-perubahan pada alam semesta
ini yaitu: cinta dan benci. Cinta mengatur ke arah penggabungan dan benci
mengatur ke arah penceraian.13

Anaxagoras (499-420 SM), ia adalah ahli pemikir pertama yang


berdomisili di Athena. Pemikirannya hampir sama dengan apa yang
diungkapkan Empedocles bahwa realitas bukanlah satu, tetapi terdiri dari
beberapa unsur dan tidak dapat dibagi-bagi. la juga mengungkapkan bahwa
terbentuknya dunia (kosmos), dari atom-atom yang berbeda bentuknya
yang saling terikat, kemudian digerakkan oleh puting beliung.14
Democritos (460-370 SM), la adalah salah satu ahli pemikir
yang banyak meletakkan dasar ilmu pengetahuan yaitu: Pertama, bahwa
materi sebagai unsur yang terkecil tidak dapat hancur, dengan kata lain
bahwa alam itu kekal yang berubah-ubAh itu adalah susunannya. Kedua,

11
Ibid., hlm. 49
12
Salam, Burhanuddin. 2005. Pengantar Filsafat. Jakarta: PT. Bima Aksara, hlm. 39
13
Ibid., hlm. 42
14
Ibid., hlm. 43

7
proses bergeraknya segala sesuatu itu abadi. Ketiga, adanya Wet Energi
atau Low of Deminesing (UU gerakan). Keemput, peristiwa itu tidak ada
yang terjadi secara kebetulan, tetapi selalu mengikuti wet.15

b. Pada Zaman Yunani Klasik, kajian filosofisnya mulai


berkembang kepada bagaimana cara mengukur kebenaran serta valid
tidaknya suatu pemikiran. Di bawah ini akan dipaparkan metode-metode
yang digunakan oleh para ahli pemikir di masa Yunani Klasik, mereka itu
adalah:
Kaum Sofis, kaum ini merupakan suatu gerakan akibat adanya
lonjakan peminat terhadap filsafat. Lahirnya kaum ini banyak mendapatkan
kecaman dari para ahli pemikir karena peryataannya yang menyatakan
bahwa pengetahuan yang diperoleh dengan berfikir itu suatu pengetahuan
yang tidak nyata dan cara untuk memperoleh pengetahuan itu hanya
berlandaskan kepada panca indera.16 Akan tetapi, salah satu tokoh dari Kaum
Sofis ini yaitu
Georgias (480-380 SM), menyatakan bahwa bila sesuatu itu ada,
ia tidak akan dapat diketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu
sumber ilusi. Akal menurutnya tidak juga mampu menyakinkan kita tentang
alam semesta ini karena kita berfikir sesuai dengan kemauan, idea kita, yang
kita terapkan pada fenomena.17 Dari pernyataan Gorgias ini dapat disimpulkan
bahwa akal dan panca indera, tidak dapat dijadikan rujukan dalam mencari
ilmu pengetahuan dan ini sangat bertentangan dengan pendapat para ahli
pemikir sebelumnya dan menjadikan sebab timbulnya para pemikir selanjutnya
seperti Socrates, Plato dan Aristoteles.
Socrates (479-399 SM), dahulunya ia adalah Prajurit Athena, karena
ia tidak suka terhadap urusan politik maka ia memfokuskan diri ke arah filsafat.
la sangat tidak setuju dengan pendapat para Kaum Sofis yang menyatakan
kebenaran itu relatif. Ia mengatakan bahwa ada kebenaran yang
obyektif dan cara mendapatkannya yaitu dengan berdialog. Metode ini lebih
15
Anhari, Masjkur. 1992. Filsafat ”Sejarah dan Perkembangannya dari Abad ke Abad”. Jakarta; CV.
Karya Remaja. hlm. 95
16
Ibid., hlm. 100
17
Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. hlm. 52

8
dikenal dengan sebutan dialektika. Dengan metode ini pula Socrates dapat
menemukan dasar pengetahuan tentang metafisika yaitu menemukan induksi
dan menemukan definisi. 18 Socrates juga berpendapat bahwa jiwa manusia
bukan hanya nafasnya saja melainkan asas hidup manusia itu juga. Jiwa adalah
intisari manusia, hakikat manusia sebagai pribadi manusia yang bertanggung
jawab, oleh karena itu manusia harus lebih mengutamakan kebahagian jiwanya
daripada kebahagian tubuhnya. Kemudian setiap manusia memiliki arete
(keutamaan), karena dengan itu manusia akan menjadi sempurna, arete itu
sendiri ia artikan sebagai pengetahuan yang benar secara urnum.
Plato (427-347 SM), la adalah salah seorang murid dan sahabat
Socrates yang memperkuat pendapat sang guru. Kalau sang guru menyatakan
satu pertanyaan dijawab dengan satu pertanyaan maka sang murid
mengembangkan konsep adanya bentuk dan persepsi yang lebih dikenal dengan
konsep dualisme. Dimana ide yang ditangkap oleh pikiran (persepsi) lebih
nyata dari objek material (bentuk) yang dilihat indera. 19 Dengan konsep
ini, Plato dapat menjembatani perselisihan pendapat antara . para ahli
filosof sebelumnya yaitu antara Parmenides dan Heraclitos. Selain
konsep ini, Plato juga menyatakan bahwa jiwa dan tubuh itu berbeda,
jiwa adalah suatu yang adikodrati, yang berasal dari dunia idea sehingga bersifat
kekal. Dan jiwa ini memiliki tiga bagian yaitu: Rasional berhubungan
dengan kebijaksanaan, Kehendak atau keberanian berhubungan
dengan kegagahan dan Keinginan atau nafsu berhubungan dengan pengendalian
diri.
Puncak filsafat Plato ada pada filsafatnya tentang negara. Ia
mengatakan rnanusia adalah makhluk sosial dan kodratnya di dalam Negara.
Oleh karena itu, untuk mendapatkan kehidupan yang baik maka Negara juga
harus baik. Menurut Plato di dalam Negara yang baik itu harus ada tiga
golongan: Pertama, golongan tertinggi (pemerintah, para filsuf). Kedua,
golongan pembantu (para prajurit). Ketiga. golongan rakyat biasa (petani,
pedagang, tukang).20
18
Ibid., hlm. 55
19
Sejarah Perkembangan Filsafat. (online) http://id.shvoong.com.
20
Anhari, Masjkur. 1992. Filsafat ”Sejarah dan Perkembangannya dari Abad ke Abad”. Jakarta; CV.
Karya Remaja. hlm. 112 - 113

9
Aristoteles (384-322 SM), ia adalah salah satu murid Plato
yang belajar kepada sang guru selama 20 tahun. Pemikiran Aristoteles ini
terbagi menjadi tiga fase: Pertama, fase di akademik (mengikuti pemikiran sang
guru tentang idea). Kedua, fase di Assos (mengkritik pemikiran sang guru
tentang idea). Ketiga, fase terakhir di Athena (ia meninggalkan filsafat
spekulatif menuju filsafat pengalaman).
Pemikiran Aristoteles tentang logika sangatlah menawan. la
menyatakan bahwa berpikir itu harus dengan perantaraan pengertian-
pengertian dan tiap pengertian itu harus berpasangan dengan benda
tertentu. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa pengetahuan akan di dapat
dengan dua cara yaitu induksi dan deduksi. Dan salah satu cara berpikir
deduktif yaitu dengan sillogisme, cara berpikir seperti ini memiliki tiga
unsur yaitu dua premis (mayor dan minor) dan satu kesimpulan.21
Di dalam masalah jiwa, Aristoteles melukiskan jiwa sebagai
entelekhia tubuh, dimana jiwa dan tubuh dianggap satu kesatuan. Jiwa yang
melekat pada tubuh memiliki fungsi sebagai penggerak. Jiwa tersebut
memiliki tiga sifat yaitu: Nabatiyah, Huyawaniyah dun Insaniyah. 22
Dengan ketiga fungsi ini manusia dapat memilihnya sendiri, tatkala manusia di
dalam kehidupannya lebih dominan mengarah kepada rasio dan dibarengi
dengan rasa atau hati maka jiwa tersebut memiliki sifat insaniyah yang lebih
dari dua sifat yang lain.

21
Ibid., hlm. 114 - 115
22
Ibid., hlm. 118 - 119

10
BAB III
KESIMPULAN

Sejarah filsafat ialah penyelidikan ilmiah mengenai perkembangan


pemikiran filsafat diseluruh bangsa manusia dalam sejarah.
Pada zaman Yunani dahulu, masyarakatnya masih mempercayai hal-hal
yang berbau mistik/dongeng. Masyarakat Yunani tidak mempercayai dengan hal-hal
yang baru karena setiap yang baru akan menimbulkan perselisihan antara pro dan
kontra, dan sekitar abad ke VI SM muncullah para pemikir yang dipelopori oleh
Thazes ( 625 – 545 SM ), mereka menginginkan jawaban yang bisa diterima oleh
akal atas segala misteri yang di alam semesta ini.
Wilayah, objek dan metode kejian fisafat ilmu dibedakan menjadi dua,
yaitu :
a. Zaman Yunani Kuno (Mashab Milotes)
 Thales ( 625 – 545 SM )
 Anaximandros ( 610 – 547 SM )
 Pythagoras( 572 – 497 SM )
 Xenophenes ( 570 – 480 SM )
 Parmanides ( 540 – 470 SM )
 Heraclitos ( 540 – 475 SM )
 Empedocles ( 490 – 435 SM )
 Anaxagoras ( 499 – 420 SM )
 Democritos ( 460 – 370 SM )

b. Zaman Yunani klasik ( Kaum Sofis )


 Gorgias ( 480 – 380 SM )
 Socrates ( 479 – 399 SM )
 Plato ( 427 – 347 SM )
 Aristoteles ( 384 – 322 SM )

11
DAFTAR PUSTAKA

Bertens, DR. K, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yayasan Kanisius, Yogyakarta. 1976


Anhari, Masjkur. 1992. Filsafat Sejarah dan Perkembangannya dari Abad ke Abad.
Jakarta: CV. Karya Remaja.
Epping, A. Stoookum, Th, C & Juntak. 1983. Filsafat Ensie. Bandung: Jemmars
Gie, The Liang. 2007. Pengantar Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Penerbit Liberty.
Salam, Burhanuddin. 2005. Pengantar Filsafat. Jakarta: PT.Bima Aksara.
Tafsir, Ahmad. 2003. Filsafat Umum. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

12

Anda mungkin juga menyukai