Kasus : Prita Vs Omni

I. Overview Kasus Prita Mulyasari, seorang ibu dua anak, mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang, Banten serta dikenakan denda ratusan juta rupiah, dikarenakan keluhannya melalui surat elektronik yang menyebar di internet mengenai layanan RS Omni Internasional Alam Sutera. Prita dituduh melakukan pencemaran nama baik dan digugat secara pidana maupun perdata oleh RS Omni Internasional. Kasus ini sempat menjadi berita hangat di berbagai media, sampai pada akhirnya Prita memenangkan kasus di tingkat kasasi dan dibebaskan dari segala hukuman. Kisah Prita bermula saat ia dirawat di unit gawat darurat RS Omni Internasional pada 7 Agustus 2008. Selama perawatan, Prita tidak puas dengan layanan yang diberikan. Awalnya, hasil laoratorium menyebutkan bahwa tingkat thrombositnya 27.000 dan analisa dokter menyebutkan ia terkena demam berdarah. Namun pada hari berikutnya hasil lab tersebut direvisi, dan Prita hanya didiagnosa terkena virus udara. Tak hanya itu, dokter memberikan berbagai macam suntikan berdosis tinggi sehingga menyebabkan Prita mengalami kejang dan panas tinggi. Merasa kecewa, Prita kemudian berniat pindah ke RS lain. Namun, dia kesulitan mendapatkan hasil laboratorium. Prita telah mengajukan keberatannya ke RS Omni Internasional dan tak mendapatkan jawabannya. Kemudian, dia menyampaikan keluhannya itu ke kerabatnya melalui e-mail. Surat elektronik itu membuat pihak Omni berang. Pihak rumah sakit beranggapan, Prita telah mencemarkan nama baik rumah sakit tersebut beserta sejumlah dokter mereka. RS Omni pun melayangkan gugatan kepada Prita, baik pidana maupun perdata. Pada tingkat Pengadilan negeri dan Pengadilan tinggi, Prita divonis bersalah dan harus mendekam di Lembaga Pemasyarakatan Wanita Tangerang serta dikenakan denda sebesar Rp204.000.000[1]. Dukungan masyarakat dan pemerintah mengalir deras melalui media massa, situs jejaring sosial faceboo k, dan berbagai blog di internet. Bahkan terdapat gerakan sosial para pendukung Prita yang dinamakan Koin Keadilan, dimana para pendukung menyumbangkan uang logam untuk membayar denda ratusan juta yang dikenakan pada Prita. [2].Melalui pengacaranya, Prita mengajukan kasasi dan pada hari Selasa 29 Desember 2009, ia divonis bebas oleh majelis hakim yang diketuai Arthur Hangewa pada sidang di PN Tangerang. [3] Dampak kurang menyenangkan dari kasus ini ternyata tidak hanya dirasakan oleh Prita dan keluarganya, melainkan juga oleh RS Omni Internasional sebagai penggugat. Ketika kasus pencemaran nama baik ini mencuat, status RS Omni sebagai rumah sakit internasional dipertanyakan berbagai pihak. Hal ini dikarenakan belakangan diketahui bahwan penambahan kata “internasional” ternyata hanya penamaan saja, RS Omni merupakan rumah sakit swasta dalam negeri yang bernama Omni Internasional yang tidak terdapat kepemilikan asing dan pada rumah sakit tersebut tidak pula terdapatkan informasi mengenai adanya standar International Hospital berdasarkan ISO (International Organization for Standardization) [4]

Kasus : Prita Vs Omni

II.Kronologis Kasus Berikut kronologis Prita Mulyasari yang berakhir di penjara gara-gara sebuah email keluhan yang dikirimkan beberapa media online: 7 Agusutus 2008 Sekitar pukul 20.30, Prita Mulyasari memeriksa kesehatan bertempat di Rumah Sakit Omni Internasional Tengerang – Banten dan langsung masuk ke UGD .[5] Prita Mulyasari mengeluhkan keluhan panas selama tiga hari, sakit kepala berat, mual dan muntah, sakit tenggorokan, tidak BAB selama tiga hari, dan tidak nafsu makan. Menurutnya, itu merupakan gejala DBD atau tifus.Ia mengatakan, berdasarkan keluhan tersebut, kemudian dilakukan pemeriksaan umum dan pemeriksaan darah. Dari hasil pemeriksaan darah awal, trombosit terbaca 27.000 (normal 200.000) dan suhu badan 39 derajat. Namun menurut pihak Omni, trombosit tersebut tidak layak baca karena banyak gumpalan darah sehingga diperlukan pengambilan darah ulang. Kemudian Pihak Omni meminta persetujuan kepada Prita untuk pemeriksaan darah ulang dan Prita menyetujuinya. Karena kondisi Prita yang lemah, pihak RS menyarankan untuk dirawat dan kemudian dipasangi cairan infus.[6] Kemudian Prita Mulyasari langsung ditangani dr. Indah dan dr. Hengky dan didiagnosis menderita demam berdarah, dan disarankan rawat inap, sembari diberikan suntikan.[5] 8 Agustus 2008 Prita Mulyasari dikunjungi dr. Hengky dan memberikan kabar tentang perubahan thrombosit dari sebelumnya 27.000 menjadi 181.000. Sepanjang hari ini, Prita Mulyasari dihujani suntikan, tanpa pemberitahuan jenis dan tujuan penyuntikan kepada pasien. Kemudian mulai terlihat kejanggalan pada badan Prita Mulyasari yakni; tangan kiri membengka kemudian prita minta dihentikan infus dan suntikan, suhu badan naik hingga mencapai 39 derajat. Sampai sejauh ini, tidak ada dokter visit, termasuk dr. Hengky.[5 9 Agusustus 2008 Prita Mulyaasari dikunjungi dr. Hengky dan meninginformasikan kepada pasien bahwa dirinya terkena virus udara. Sejauh ini, tindakan medis berupa suntikan terus dihujamkan ketubuh Prita. Setelah Maghrib, Prita diberi suntikan ampul dan terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oksygen. Saat yang sama hadir dokter jaga yang bertugas (bukan dr. Hengky Gozal). Karena tangan kanan Prita mengalami pembengkakan, Prita meminta infus dihentikan dan suntikan serta obat-obatan.[5] 10 Agustus 2008 Keluarga Prita meminta untuk bertemu dengan dr. Hengky dan meminta penjelasan tentang kondisi dan keadaan pasien termasuk penjelasan tentang revisi hasil lab mengenai trombosit. Di saat yang sama, Prita mengalami pembengkakan di leher kiri dan mata kiri. Respon dr. Henky Gozal lebih menyalahkan bagian lab.[5]

[7] Prita mendapatkan data-data medis yang menurutnya tidak sesuai fakta.000 itulah dia akhirnya dirawat inap. Pihak OMNI berdalih hal tersebut tidak diperkenankan karena hasilnya memang tidak valid.com dan ke kerabatnya yang lain dengan judul “Penipuan RS Omni Internasional Alam Sutra”. dengan adanya hasil lab thrombosit 27. Disini Prita M dimasukkan ruang isolasi oleh karena virus yang menimpa dirinya dapat menyebar. Emailnya menyebar ke beberapa milis dan forum online. (terbukti fakta bahwa Prita terserang demam berdarah tidak terbukti. Pihak keluarga Prita masih mengusahakan untuk meminta hasil resmi yang valid kepada RS. Prita terserang virus yang biasa menyerang anak-anak.[5] Prita dan suami bersikeras dengan hasil lab yang valid tersebut karena Prita butuh bukti bahwa hasil lab trombosit 27. Dan hasil lab tersebut tetap tidak diberikan.000. tapi yang didapat hanya informasi thrombosit 181. Pasalnya. ada upaya mediasi antara PM dan RS Omni.Kasus : Prita Vs Omni 11 Agustus 2008 Tetap Terjadi pembengkakan pada leher kanan. hanya saja mengalami kebuntuan.[8] Prita meminta hasil lab yang berisi thrombosit 27.000 (Thrombosit rendah mengharuskan pasien rawat inap). Seperti keterangan bahwa bab (buang air besar) Prita lancar padahal itu adalah keluhannya semenjak dirawat di RS.000 itu ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. Menurut dokter. hanya saja Prita telah terlanjur disuntik bertubi-tubi ditambah infus di RS Omni). dan panas kembali 39 derajat.Omni tidak terima yang merasanya dicemarkan nama baiknya maka upaya mediasi antara Prita dan RS Omni dilakukan namun sangat disayangkan rumah sakit bertaraf international tersebut tidak terima dan upaya mediasi itupun saja mengalami kebuntuan. [7] 12 Agustus 2008 Prita pindah ke Rumah Sakit lain di Bintaro.000.[5] Dan akirnya selama Agustus 2008.000 dan berubah menjadi 181.[9] Selanjutnya : . Prita memutuskan untuk keluar dari rumah sakit dan meminta pihak Omni untuk memberikan data medis. Omni tentang hasil lab yang semula 27. Email keluhan Prita Mulyasari) Pihak RS. [ 4] 15 Agustus 2008. Prita mengirimkan email yang berisi keluhan atas pelayanan diberikan pihak rumah sakit ke customer_care@banksinarmas.[7] (lihat Lampiran 3. Dan akhirnya.

[7] 6 September 2008 dr.[9] Prita divonis membayar kerugian materil sebesar 161 juta sebagai pengganti . [10] 22 September 2008 Pihak RS Omni International mengirimkan email klarifikasi ke seluruh costumernya. yaitu 1.com. Pasal 311 KUHP tentang pencemaran nama baik secara tertulis dengan ancaman 4 tahun penjara. 2.[10] 11 Mei 2009 Pengadilan Negeri Tangerang memenangkan Gugatan Perdata RS Omni. Grace Yarnela (Manajer Pelayanan Pasien Omni )[9] 22 Desember 2008 Prita diperiksa untuk pertama kalinya dan berita acara pemeriksaannya (BAP) dibuat. berkasnya kemudian dilimpahkan ke Kejari Tangerang pada 30 April 2009. [11] 30 April 2009 Setelah menjalani pemeriksaan secara marathon oleh penyidik kepolisian. Hengky Gozal dan dr. Omni) menggugat Prita dan masuk dalam kategori gugatan pidana ke Direktorat Reserse Kriminal Khusus. Pelimpahan itu untuk ketigakalinya karena berkasnya dua kali dikembalikan kejaksaan karena dinilai kurang lengkap (P-19).[11] Selain diduga telah melanggar dua pasal KUHP itu.[7] 8 September 2008 Kuasa Hukum RS Omni Internasional menanggapi email Prita dengan menayangkan iklan berisi bantahan atas isi email Prita yang dimuat di harian Kompas dan Media Indonesia. Pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik dengan ancaman hukuman 1.[7] 24 September 2008 Prita menggugat perdata RS Omni termasuk dr.[9] Prita digugat pasal berlapis.4 tahun penjara. Prita juga dijerat kejaksaan melalui pasal 27 (3) UU Informasi dan Transaksi elektronik (ITE) dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar. Hengky Gozal (dokter yang menangani Prita sewaktu di RS.Kasus : Prita Vs Omni 30 Agustus 2008 Prita mengirimkan isi emailnya ke Surat Pembaca Detik. Prita diputuskan kalah dalam kasus perdata dan Prita terbukti melakukan perbuatan hukum yang merugikan RS Omni.

3. Prita dibebaskan tepat pukul 16.[7] Departemen Kesehatan telah mengirimkan tim investigasi ke RS Omni International. Sidang hanya berjalan 20 menit. Prita disebut mencemarkan nama baik kedua dokter itu karena mencantumkan nama mereka dan menuduhnya tidak profesional. Komisi III DPR RI meminta MA membatalkan tuntutan hukum atas Prita. Prita sebagai terdakwa bersalah melanggar 1.[14] 4 Juni 2009 Sidang pertama kasus pidana yang menimpa Prita mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Tangerang. Prita Mulyasari kebanjiran pendukung khususnya dari para blogger hingga mencapi 25. Pasal 45 Ayat 1 juncto Pasal 27 Ayat 3 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau Pasal 310 KUHP atau Pasal 311 KUHP.[10] ditambah suara LSM. guna memperoleh kronologis dan kejelasan terjadinya kasus tersebut.[11] 5 Juni 2009 Menteri kesehatan telah mengirimkan tim ke RS Omni untuk memperoleh penjelasan tentang kronologis kejadian sebagai dasar untuk penerapan sanksi yang akan diberikan. diperiksa Pengawas Penyidik Mabes Polri. . Informasi itu diterima keluarga Prita dari Kepala Lapas Wanita Tangerang. Prita langsung mengajukan banding[7] dan akan kembali ke ruang sidang pada 4 Juni mendatang. terkait kasus Prita Mulyasari.[13] Megawati dan JK pun mengunjungi Prita di Lapas. akademisi. [12] 3 Juni 2009 kasus Prita Mulyasari ini menyita perhatian publik .20 PM [9] dan bisa berkumpul kembali dengan keluarganya. Berdasarkan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum. Tangerang.Kasus : Prita Vs Omni uang klarifikasi di koran nasional dan 100 juta untuk kerugian imateril. Empat orang penyidik berasal dari Satuan IV Remaja Anak dan Wanita (Renakta) Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Metro Jaya yang menangani kasus Prita Mulyasari (32). [15] Disaat yang sama pula. politisi bersatu membuat opini publik.[10] 13 Mei 2009 Mulai ditahan di Lapas Wanita Tangerang terkait kasus pidana yang juga dilaporkan oleh Omni.[7]. Statusnya diubah menjadi tahanan kota.[7] 2 Juni 2009 Penahanan Prita diperpanjang hingga 23 Juni 2009. Sidang akan dilanjutkan 11 Juni 2009. Ada tiga pasal yang digunakan oleh jaksa penuntut umum dengan hukuman maksimal enam tahun penjara dan atau denda maksimal Rp 1 miliar.000. 2.

Siti Fadilah Supari. Prita Mulyasari di RS Omni kepada Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) setelah Menkes dan jajarannya mengundang pihak RS Omni dan mencermati permasalahannya. Permasalahan yang sampai ke pengadilan tentang pencemaran nama baik dan sedang ditangani di Pengadilan Negeri Tangerang. Pembinaan dilakukan oleh Pemerintah. guna memperoleh kronologis dan kejelasan terjadinya kasus tersebut. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.Kasus : Prita Vs Omni Dan selanjutnya. bahwa berkomunikasi secara elektronik kini berpotensi mudah dijerat secara hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Untuk masalah pencemaran nama baik. maka mereka menganggap. terkait kasus Prita Mulyasari. dibentuk MKDKI. Tentang ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan di RS Omni. kata Menkes. Pasal 55 UU No. apakah dokter di RS Omni yang memberikan pelayanan telah melakukan pelanggaran disiplin kedokteran atau tidak. Depkes akan menelaah hasil temuan Tim. sempat muncul beberapa kecemasan. Pemerintah Daerah. Sp. dr. [16] 6 Juni 2009 Mengacu dari sejumlah pemberitaan yang sangat intensif tentang kasus yang menimpa Ibu Prita dan juga dalam pembicaraan serta dialog pada berbagai kesempatan yang topiknya tentang masalah kasus tersebut.[18] 8 Juni 2009 Departemen Kesehatan telah mengirimkan tim investigasi ke RS Omni International. Depkes tidak bisa campur tangan dan menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum yang berlaku. trauma dan ketakutan sebagian warga masyarakat yang merasa khawatir. Tangerang. menyatakan "dalam rangka terselenggaranya praktik kedokteran yang bermutu dan melindungi masyarakat sesuai dengan ketentuan perlu dilakukan pembinaan terhadap dokter atau dokter gigi yang melakukan praktik kedokteran". Tim tersebut sudah ditugaskan untuk memeriksa kebenaran pelayanan yang telah dilakukan RS tersebut kepada pasiennya Prita Mulyasari (pemeriksaan sejak 6 Juni 2009). JP (K) telah melimpahkan kasus yang dialami Sdri. Menkes minta MKDKI melakukan penilaian kasus Prita Mulyasari. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Menkes telah mengirimkan Tim Investigasi ke RS Omni dan memanggil Direksi RS Omni dan staf yang terlibat ke Depkes untuk dimintai keterangan guna memperoleh kejelasan dan penjelasan kronologis terjadinya kasus tersebut. Menteri Kesehatan Dr. Depkes menyarankan kepada Prita Mulaysari untuk melaporkan masalah yang dialaminya kepada Majelis Kehormatan Disiplin . bahwa dengan adanya kasus Ibu Prita dan berbagai kasus sebelumnya. memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh dokter dan atau dokter gigi yang diadukan memberi sanksi disiplin. Konsil Kedokteran Indonesia dan organisasi profesi sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. Pemeriksaan dilakukan mulai dari administrasi sampai standar pelayanan yang telah diberlakukan. [17] Pada tanggal ini pula. MKDKI merupakan lembaga otonom dibawah Konsil Kedokteran Indonesia yang berwenang menerima pengaduan. Apabila terdapat dugaan pelanggaran disiplin kedokteran akan dilimpahkan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) sesuai dengan ketentuan UU No. Untuk menegakkan disiplin dokter dan dokter gigi dalam penyelenggaraan praktik kedokteran.

memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh dokter dan atau dokter gigi yang diadukan memberi sanksi disiplin. Dari hasil investigasi tim Depkes juga diketahui bahwa nama “international” yang dipakai RS Omni hanya nama saja. Di Indonesia belum ada rumah sakit standar Internasional. Sedangkan pencantuman Internasional hanya sebagai nama saja. keliru dalam penerapan hukum. [12] 9 Juni 2009 Kasus ketidakpuasan Sdri.[20] 12 juni 2009 Menteri Kesehatan (Menkes) RI.[19] 11 Juni 2009 Pengadilan Negeri Tangerang mencabut status tahanan kota Prita Mulyasari. menegaskan bahwa Rumah Sakit (RS) Omni International bukan rumah sakit internasional. Siti Fadilah Supari.[16]. Prita Mulyasari terhadap pelayanan RS Omni. Farid Husain menjelaskan bahwa RS Omni awalnya diresmikan sebagai Rumah Sakit Umum. dan tidak memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan Pasal 143 ayat 2 huruf b KUHAP. . MKDKI merupakan lembaga otonom di bawah Konsil Kedokteran Indonesia yang berwenang menerima pengaduan. karena untuk menuju standar Internasional harus ada akreditasi dan penilaian dari lembaga Internasional. belum dilakukan akreditasi oleh Lembaga Internasional terhadap rumah sakit tersebut. bukan merupakan standar mutu yang telah mendapat akreditasi internasional. dr. Mengenai pemakaian nama Internasional pada RS Omni. 26 Juni 2009 .[21] 25 Juni 2009 Melalui persidangan yang dilakukan di Pengadilan Negeri Tanggerang.Kasus : Prita Vs Omni Kedokteran Indonesia (MKDKI). Menkes menegaskan bahwa RS Omni International milik orang Indonesia. untuk memberi sanksi disiplin. memeriksa dan memutuskan kasus pelanggaran disiplin yang dilakukan oleh dokter dan atau dokter gigi yang diadukan. saat ini oleh Departemen Kesehatan RI telah dilimpahkan ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) sebagai lembaga otonom dibawah Konsil Kedokteran Indonesia yang berwenang menerima pengaduan. oleh karenanya melalui persidangan tersebut kasus Prita akhirnya dibatalkan demi hukum. Majelis hakim menilai bahwa dakwaan jaksa penuntut umum atas kasus Prita Mulyasari tidak jelas. Saat ini baru RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RS Sanglah sedang dipersiapkan sebagai rumah sakit kelas dunia (world class).

[22] 26 Juni 2009 Menteri Kesehatan EndangRahayu Sedyaningsih menyatakan akan melihat serta mengkaji lebihdahulu mengenai putusan Majelis Kehormatan Dewan KedokteranIndonesia (MKDKI) atas dua dokter RS. Dalam sidang putusan MKDKI di kantor Konsil Kedokteran Indonesia(KKI) Rabu (26/5) ini. SuyataSubanda.Kasus : Prita Vs Omni Departemen Kominfo melalui Siaran Pers ini menyambut gembira atas pembebasan Prita Mulyasari dalam kasus dengan tuduhan pencemaran nama baik terhadap suatu rumah sakit di Tangerang.. Omni Internasional yang menangani pasien Prita Mulyasari. Sedangkan yang harus sudah ditetapkan paling lambat tanggal 21 April 2010 adalah Peraturan Pemerintah. yaitu terhitung 2 tahun sejak diundangkan dimana UU KIP tersebut disahkan dan diundangkan pada tanggal 30 April 2008. Ini membuktikan. Dengan keluarnya vonis . Grace Yarnela dan dr. 20 milyar. Ini berbeda dengan UU Telekomunikasi yang baru baru berlaku 1 tahun berikutnya sejak disahkan dan diundangkannya UU tersebut yaitu tanggal 8 September 1999. sebagaimana disebutkan pada Pasal 54 ayat (2) yang di antaranya menyatakan: “ Peraturan Pemerintah harus sudah ditetapkan paling lama 2 (dua) tahun setelah diundangkannya Undang-undang ini ”. Hanya saja perlu diluruskan terkait dengan masalah pemberlakukan UU tersebut. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. [23] 8 Oktober 2009 Mahkamah Agung mengabulkan permohonan kasasi gugatan perdata Prita Mulyasari melawan RS Omni Internasional terkait gugatan yang dilakukan RS Omni Internasional yang meminta pembayaran ganti rugi senilai Rp. bahwa Pasal 54 ayat (1) UU ITE menyatakan: “ Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan ”. Dan berbeda pula dengan UU No. bahwa Prita Mulyasari bukan merupakan korban dari UU No. yang baru akan berlaku pada tanggal 30 April 2010. yaitu sebagaimana sudah disebutkan pada Siaran Pers No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. melalui Ketua majelis kehormatannya. memutuskan dua dokter RS. bahwa UU ITE diundangkan pada tanggal 21 April 2008 juga . Omni Internasional (dr. sebagaimana di antaranya dinyatakan pada Pasal 64 UU Telekomunikasi: “ Undang-undang ini mulai berlaku 1 (satu) tahun terhitung sejak tanggal diundangkan ”. Di dalam keterangan UU ITE disebutkan. Hengky Gozal) yang menangani pasien Prita Mulyasari tidakterbukti melakukan pelanggaran disiplin kedokteran dalammenjalankan tugasnya karena telah bertindak sesuai prosedur (terkait gugatan Perdata Prita tanggal 24 September 2008). 126/PIH/KOMINFO/6/2009. Sebelumnya kedua dokter tersebut diadukan ke MKDKI karena didugatelah melakukan penipuan akibat tidak memberikan hasil teslaboratorium yang isinya berupa hasil pemeriksaan darah juga dugaan penyuntikan tanpa izin. Ketentuan lengkap yang mengatur pemberlakuan UU KIP tersebut dinyatakan pada Pasal 64 ayat (1) yang menyebutkan: “ Undang-Undang ini mulai berlaku 2 (dua) tahun sejak tanggal diundangkan ”. bahwa UU ITE disahkan pada tanggal 21 April 2008 dan kemudian disebutkan juga.

[27] . Blog ini merupakan salah satu simpul informasi pengumpulan koin untuk mendukung Prita Mulyasari. Atas putusan tingkat pertama itu. Prita lalu mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Banten.. Prita juga diwajibkan membuat permintaan maaf kepada Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera di media massa. Tujuannya meminta kedua belah pihak untuk melepas hak menggugat dan menuntut. mereka dapat menggenapi pembayaran ganti rugi yang dijatuhkan kepada Prita senilai Rp 204 juta. Prita kembali diposisikan sebagai pihak yang kalah dengan diwajibkan membayar denda Rp 204 juta. Saat vonis perdata dikeluarkan. ia divonis dengan denda Rp 312 juta. Pada pemberitaan sebelumnya. Di tingkat Pengadilan Negeri Tangerang. Mereka akan melawan vonis yang mewajibkan Prita membayar denda senilai Rp 204 juta. sementara di kasus perdata ditingkat pertama. ibu dua anak ini diputus untuk membayar Rp304juta.[26] 5 Desember 2009 Departemen Kesehatan memberikan dukungan moral kepada Prita Mulyasari dengan membentuk Tim Mediasi. sehingga Prita terbebas dari hukuman perdata. Prita tengah dalam tahap pembelaan atas tuntutan enam bulan penjara. karena perdata sifatnya subjektif. Prita juga mengajukan banding dan denda dikurangi menjadi Rp250juta. Tim dalam waktu dekat ini akan mengupayakan suatu pertemuan untuk membahas perdamaian di luar pengadilan. Diharapkan sebelum keputusan Mahkamah Agung keluar. Prita mengajukan kasasi danditerima. Atas putusan banding tersebut. Padahal seharusnya vonis pidana dulu baru perdata. saksi yang diperiksa saksi RS Omni terlebih dahulu. Akibat putusan tersebut menimbulkan gerakan sosial di manamasyarakat mengumpulkan koin yang mencapai Rp800 juta untukmembantu Prita. Tim akan mempertemukan antara pihak RS Omni Tangerang dengan pihak Prita Mulyasari tanpa pengacara. Hasilnya.Kasus : Prita Vs Omni tersebut Prita dibebaskan dari seluruh ganti rugi. Dalam kaitan ini pihak RS Omni sudah memberikan persetujuannya.com .[24] 3 Desember 2009 Putusan Pengadilan Tinggi Banten melalui kasasi perdata. Prita dibebaskan.koinkeadilan. Tak hanya denda. RS Omni menggugat Prita Mulyasarisenilai Rp20 miliar. Gugatan tersebut dilakukan karena Omni menilaiPrita telah melakukan perbuatan melawan hukum dan pencemaran nama baik. Kasus perdata itu bergulir sebelum kasus pidana. Di kasus pidana.[25] 4 Desember 2009 Munculnya dukungan simpatisan dari masyarakat atas kasus Prita. yang awal mulanya diprakarsai melalui dunia maya melalui situs www.

. [30] dan tercatat tanggal 30 Desember 2009.402. bahwa seharusnya putusan hakim melepaskan terdakwa dari semua tuntutan (Ontslag Van Rechtvervolging). Dijelaskan. Total uang yang terkumpul mencapai Rp 810. akan tetapi dalam amar putusannya justru membebaskan terdakwa dari semua dakwaan.[26] 29 Desember 2009 Majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan Prita Mulyasari (32) tidak terbukti secara sah melakukan pencemaran nama baik terhadap RS Omni International Alam Sutera Serpong Tangerang Selatan. bahwa dalam pertimbangannya. karena dalam pertimbangannya menyatakan adanya alasan pembenar. Hakim juga memutuskan untuk membebaskan terdakwa dan memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan. terdakwa pencemaran nama baik terhadap RS Omni Intenasional. pertama. Majelis hakim PN Tangerang tidak menerapkan peraturan hukum sebagaimana mestinya (Vide Pasal 253 ayat (1) huruf a KUHAP. Selasa (29/12/2009). Prita dinyatakan tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dakwaan kesatu.940. kedua dan ketiga. majelis hakim menyatakan perbuatan terdakwa terbukti mengirim e-mail merupakan kritikan dan untuk kepentingan umum.[28] Hakim menilai tidak ada muatan penghinaan dalam email Prita yang didistribusikan kepada orang lain itu sehingga pihak lain yang berkepentingan mengetahuinya. Uang itu akan disalurkan untuk dana kemanusiaan. tetapi kemudian menyatakan salah satu unsur tidak terbukti. Slamet Yuono dari Kantor OC Kaligis bahwa kliennya adalah korban dari pelayanan medis RS Omni. Prita tidak melakukan penistaan terhadap RS Omni. Koin Keadilan untuk Prita Mulyasari selesai dihitung Bank Indonesia (BI). Hakim berpendapat bahwa pencemaran nama baik melalui email tidak dapat dibuktikan sehingga harus dibebaskan dari tuntutan jaksa. kedudukan dan harkat serta martabatnya. namun hanya memberikan kabar kepada pihak lain agar menghindari dan berhati-hati terhadap praktik medis RS lainnya. Hakim menerima pembelaan kuasa hukum Prita.Kasus : Prita Vs Omni 14 Desember 2009 Penutupan Pos Pengumpulan Koin keadilan . Kedua. bukan membebaskan (Vrijspraak).[29] 30 Desember 2009 Kejaksaan Agung RI memutuskan untuk mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung menyusul putusan Pengadilan Negeri (PN) Tangerang yang Selasa (29/12) lalu memberikan vonis bebas terhadap Prita Mulyasari. Keputusan itu dibacakan majelis hakim yang diketuai Arthur Hangewa.

Kasus Prita dan Peraturan Kedokteran terkait Fakta mengenai kasus Prita Mulyasari terkait dengan pelanggaran terhadap hak pasien atas informasi: 1. Prita ingin memperoleh penjelasan atas hasil laboratorium dari rumah sakit dimana ia dirawat inap. IV. Dampak pada Reputasi RS Omni Internasional . dan tindakan apa yang harus dilakukan. Padahal rumah sakit boleh melakukan pembetulan kesalahan rekam medis sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor [34] 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis pasal 5 dan 6 Dalam hal ini. Totalnya ada Rp 707. dicatat atau dicopy oleh pasien terkait atau orang yang diberi kuasa tertulis oleh pasien atau keluarga pasien yang berhak atas hal tersebut. di dalam pasal 12 Peraturan Menkes RI No 269 tahun 2008 disebutkan bahwa berkas rekam medic adalah milik sarana pelayanan kesehatan dan isi rekam medic adalah milik rekam medik.353. rumah sakit Omni juga melanggar kode etik Rumah Sakit Indonesia Bab III pasal 10 bahwa salah satu kewajiban rumah sakit terhadap pasien adalah harus memberikan penjelasan mengenai apa yang diderita pasien.518. serta mendapatkan isi rekam medis [32] Pihak dokter juga telah melalaikan kewajibannya. terkait dengan kasus Prita.900. untuk memberikan informasi yang kuat dan bersikap jujur kepada Prita mengenai perlunya tindakan medis yang dilakukan serta risiko yang ditimbulkan [33] Prita tidak mendapatkan penjelasan mengenai jenis dan tujuan penyuntikan yang dilakukan terhadapnya. 2.940. Prita meminta kejelasan atas penyakit yang dideritanya.143 dan uang kertas Rp 26.Kasus : Prita Vs Omni Uang sebanyak itu terdiri dari koin logam Rp 589. total Rp 810. 3.475. dimana pasien dalam menerima praktik pada kedokteran berhak untuk mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis. Selain itu. Pihak rumah Sakit Omni juga telah mengabaikan hak Prita untuk mendapatkan pembetulan atas pemeriksaan yang salah dan penjelasan lengkap terkait dengan penyakit yang dideritanya.402.488. Prita juga meminta penjelasan mengenai informasi tentang obat-obat dan tindakan medis yang diberikan dan tujuan pemberian obat-obatan dan tindakan medis tersebut Dalam kasus ini terdapat pihak dokter terkait telah melakukan pelanggaran terhadap hak pasien sebagaimana tercantum dalam pasal 52 poin a dan e UU Praktik kedokteran.915.[31] III.073. Sedangkan uang Prita di Bank Mandiri yang disetor pada 23 Desember 2009 sebesar Rp 92. sebagaimana tercantum di dalam kode etik kedokteran Indonesia pasal 7b. Ringkasan rekam medic dapat diberikan. Sedangkan jika ditambah dari cek-cek bantuan dermawan.

Rumah Sakit Brawijaya. Seolah dengan nama internasional menjamin pemberian pelayanan yang baik tetapi sebenarnya tidak. dan satu lagi ada di Surabaya. dalam rapat dengar pendapat (RDP) di Gedung DPR. Jakarta. hal yang dapat dilakukan hanya mempersulit ijin perpanjangan operasional [37]. kuasa hukum Omni Heribertus Hartojo. Sebenarnya tidak ada sanksi khusus kepada rumah sakit yang menambahkan nama internasional namun tindakan tersebut merupakan pembohongan publik. Ketua Komite Medis RS Omni Leonardus T. Saat ini pemerintah dan DPR telah menyetujui UU No 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit yang baru disahkan pada Oktober 2009. tanpa menyebut lembaga atau badan manapun di dunia yang berhak mengeluarkan akreditasi internasional terhadap rumah sakit [36]. Pada rapat dengar pendapat ini. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengatakan rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit swasta dalam negeri yang tidak ada kepemilikan asingnya. dan Sekretariat Manajer RS Omni Hadi Furkuni.[35] Jawaban yang diberikan oleh Dirut Omni dr Bina Ratna KK mengenai status 'internasional' itu adalah untuk menumbuhkan pelayanan bertaraf internasonal. Namun. Senin 8 Juni 2009. dari segi pelayanan kesehatan tidak ada perbedaan. pemberian izin kepada rumah sakit internasional tidak mudah. Dalam UU tersebut diatur hak pasien untuk menyampaikan keluhan yang salah satunya lewat media elektronik. Dampak cukup besar yang dirasakan RS Omni adalah dari sisi penurunan jumlah pasien. DPR mempertanyakan status Omni sebagai rumah sakit internasional. Pada kesempatan lain. Manajer Pelayanan Pasien Omni Grace Yoga. Teguran terhadap rumah sakit Omni bersamaan dengan rumah sakit lainnya yang juga menggunakan embel-embel nama internasional. Lampiran 1 . Komisi IX (Komisi Kesehatan) DPR memanggil RS Omni International untuk dimintai penjelasan tentang kronologi kasus Prita Mulyasari. Karena dalam kenyataannya. Departemen Kesehatan tidak bisa serta merta mencabut ijinnya. Departemen Kesehatan akan mengeluarkan surat edaran kepada rumah sakit tersebut agar segera mencopot nama internasional.Kasus : Prita Vs Omni Dengan adanya kasus Prita ini. Senayan. hingga saat ini hal itu tidak juga dipatuhi oleh pihak rumah sakit.Namun. Pernyataan tersebut terdapat dalam Pasal 32 huruf R [38]. Dari pihak RS Omni hadir Direktur RS Omni Dina Ratna Kusuma. empat diantaranya ada di Jakarta yakni Rumah Sakit Mitra Internasional. Sedangkan dua rumah sakit lainnya ada di Medan. Perbedaan antara rumah sakit internasional dengan rumah sakit non internasional terletak pada kepemilikan modal asing. Masyarakat sering terjebak dengan pencantuman nama internasional. RS Omni dalam beberapa hari terakhir terlihat lebih sepi dibanding biasanya. dan Rumah Sakit Internasional Bintaro. Rumah Sakit Permata Hijau. Ia telah menegur rumah sakit tersebut sejak Agustus tahun lalu supaya jangan menggunakan nama internasional di belakangnya [37]. Rumah sakit internasional di Indonesia ada tujuh.

nama RS Omni International berubah menjadi Omni Hospital. Diantara beberapa Center Unggulan tersebut. Tangerang Selatan. Rumah Sakit OMNI Alam Sutera memiliki banyak fasilitas alat canggih seperti MRI 1. Profesional. Kerjasama serta Integritas. antara lain : Neurosiences Center. [39] Lampiran 2 . dll. Pada tahun 2001 Ongkomulyo Medical Center berganti nama menjad Omni Medical Center karena perubahan kepemilikan. Rumah sakit ini pun menunjang semua konsep yang kami kedepankan dalam menjalankan pelayanan kesehatan. Atas pengembangan tersebut nama rumah sakit Ongkomulyo diganti menjadi Ongkomulyo Medical Center. Rumah Sakit Omni Medical Center didirikan pada tahun 1972 dengan nama Rumah Sakit Ongkomulyo. MSCT (Real) 64 Slices. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan maka pada tahun 2007 Omni Medical Center membuka cabang usaha lain dengan mendirikan Rumah Sakit Omni Internasional. Kusumanto Setyonegoro. Eye Center. Rumah sakit Omni Internasional merupakan cabang usaha dari kelompok Rumah Sakit Omni Medical Center (OMC) yang didirikan pada tahun 1972. Visi RS Omni Medical Center ini adalah "Menjadi Rumah Sakit terkemuka di Regional mencakup penyediaan pelayanan kesehatan yang komperhensip dengan standar manajemen International". Orthopaedic Center. dengan ini Rumah Sakit OMNI Alam Sutera akan memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia. Urologi Center.Kasus : Prita Vs Omni Profil Omni International Hospital Rumah Sakit Omni Internasional merupakan sebuah rumah sakitswasta di Indonesia yang dikelola oleh PT. yaitu Omni Hospital Pulomas Jakarta dan Omi Hospital Alam Sutera Serpong. ada satu Center yang merupakan satu-satunya Center yang ada di kawasan Asia Tenggara. Dengan mengusung nilai-nilai Etika. Komunikasi. Pengembangan berikutnya dilakukan pada tahun1992 dengan menambah kapasitas hingga 180 tempat tidur serta kelengkapan fasilitas lain sehingga menjadikan rumah sakit ini mampu melayani sebagian besar bidang spesialis dan bidang superspesialis. [4] Sejak adanya kasus Prita. Cardiac Center.5 tesla. Dr. Sarana Mediatama Internasional dan berlokasi di kawasan perumahan Alam Sutera. Omni Hospital ini sendiri mempunyai dua cabang. Pengembangan tahap pertama dilakukan pada tahun 1986 dengan meningkatkan kapasitas hingga 50 tempat tidur dan dipimpin oleh Prof. Serpong. Skin and Beauty Center. saat ini tidak perlu lagi mencari pelayanan kesehatan terlalu jauh. Komitment RS ini adalah mewujudkan kepuasan bagi pasien yang membutuhkan fasilitas kesehatan dari RS Omni ini.dll serta beberapa Center Unggulan. sehingga sebagian masyarakat yang biasa mencari pengobatan ke luar negri. yaitu Kawasaki Center.

30 WIB. Bila anda berobat berhati-hatilah dengan kemewahan rumah sakit (RS) dan title international karena semakin mewah RS dan semakin pintar dokter maka semakin sering uji coba pasien. Saya diinformasikan dan ditangani oleh dr I (umum) dan dinyatakan saya wajib rawat inap. dr H memeriksa kondisi saya dan saya menanyakan saya sakit apa dan dijelaskan bahwa ini sudah positif demam berdarah. saya meminta referensi darinya karena saya sama sekali buta dengan RS ini. yang tentunya pasti mempunyai ahli kedokteran dan manajemen yang bagus. Email keluhan Prita Mulyasari [4] RS OMNI DAPATKAN PASIEN DARI HASIL LAB FIKTIF Prita Mulyasari .suaraPembaca Jangan sampai kejadian saya ini menimpa ke nyawa manusia lainnya. dan bayi. lansia. Saya dengan kondisi panas tinggi dan pusing kepala datang ke RS OMNI Internasional dengan percaya bahwa RS tersebut berstandar International. . Saya tidak mengatakan semua RS international seperti ini tapi saya mengalami kejadian ini di RS Omni International. Terutama anak-anak. dr I melakukan pemeriksaan lab ulang dengan sample darah saya yang sama dan hasilnya dinyatakan masih sama yaitu thrombosit 27. dr I menanyakan dokter specialist mana yang akan saya gunakan. Ranarya Puandida Nugroho.000 dengan kondisi normalnya adalah 200.Kasus : Prita Vs Omni Profil Prita Mulyasari [40] Nama Lengkap Tempat Lahir Umur/Tanggal lahir Jenis Kelamin Kebangsaan Tempat tingal Agama Pekerjaan Suami Anak : Prita Mulyasari : Jakarta : 31 tahun/27 Maret 1977 : Perempuan : Indonesia : Kelurahan Grogol Kecamatan Kebayoran Lama Jakarta : Islam : Karyawan : Andri Nugroho : Khairan Ananta Nugroho. Tapi.000. Saya diminta ke UGD dan mulai diperiksa suhu badan saya dan hasilnya 39 derajat.000. dan suntikan. penjualan obat. Lalu referensi dr I adalah dr H. Setelah itu dilakukan pemeriksaan darah dan hasilnya adalah trombosit saya 27. Tepatnya tanggal 7 Agustus 2008 jam 20. Lampiran 3.

dr H tetap menjelaskan bahwa demam berdarah tetap virus udara. Tangan kiri saya mulai membengkak. Mulai Jumat terebut saya diberikan berbagai macam suntikan yang setiap suntik tidak ada keterangan apa pun dari suster perawat. Saya dipasangkan kembali infus sebelah kanan dan kembali diberikan suntikan yang sakit sekali. Malamnya saya diberikan suntikan 2 ampul sekaligus dan saya terserang sesak napas selama 15 menit dan diberikan oxygen. Setelah dicek dokter tersebut hanya mengatakan akan menunggu dr H saja. dan setiap saya meminta keterangan tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. saya tetap tidak mau dirawat di RS ini lagi dan mau pindah ke RS lain. suntikan. dr H menyalahkan bagian lab dan tidak bisa memberikan keterangan yang memuaskan. Tapi. Saya tanyakan berarti bukan kena demam berdarah. Keesokan pagi.Kasus : Prita Vs Omni Mulai malam itu saya diinfus dan diberi suntikan tanpa penjelasan atau izin pasien atau keluarga pasien suntikan tersebut untuk apa.000 dan serangan sesak napas yang dalam riwayat hidup saya belum pernah terjadi. Saya minta dihentikan infus dan suntikan dan minta ketemu dengan dr H. Suami dan kakak-kakak saya menuntut penjelasan dr H mengenai sakit saya. Jadi saya lebih memilih berpikir positif tentang RS dan dokter ini supaya saya cepat sembuh dan saya percaya saya ditangani oleh dokter profesional standard Internatonal. Dokter jaga datang namun hanya berkata menunggu dr H saja. Saya kaget tapi dr H terus memberikan instruksi ke suster perawat supaya diberikan berbagai macam suntikan yang saya tidak tahu dan tanpa izin pasien atau keluarga pasien. Lama kelamaan suhu badan saya makin naik kembali ke 39 derajat dan datang dokter pengganti yang saya juga tidak tahu dokter apa. Saya minta dengan paksa untuk diberhentikan infusnya dan menolak dilakukan suntikan dan obat-obatan. Padahal tangan kanan saya pun mengalami pembengkakan seperti tangan kiri saya. Saya tanyakan ke dokter tersebut saya sakit apa sebenarnya dan dijelaskan saya kena virus udara. Namun. Namun. Saya tanya kembali jadi saya sakit apa sebenarnya dan tetap masih sama dengan jawaban semalam bahwa saya kena demam berdarah. Jadi malam itu saya masih dalam kondisi infus.000 bukan 27. Esoknya saya dan keluarga menuntut dr H untuk ketemu dengan kami. Kami berdebat mengenai kondisi saya dan meminta dr H bertanggung jawab mengenai ini dari hasil lab yang pertama yang seharusnya saya bisa rawat jalan saja. janji selalu diulur-ulur dan baru datang malam hari. dr H tidak memberikan penjelasan dengan memuaskan. dokter tidak datang sampai saya dipindahkan ke ruangan.000 menjadi revisi 181. Namun. Dokter tersebut malah mulai memberikan instruksi ke suster untuk diberikan obat-obatan kembali dan menyuruh tidak digunakan infus kembali. Bukan 27. hasil lab awal yang 27. Satu boks lemari pasien penuh dengan infus dan suntikan disertai banyak ampul. Lebih terkesan suster hanya menjalankan perintah dokter dan pasien harus menerimanya. Kondisi saya makin parah dengan membengkaknya leher kiri dan mata kiri.000 (hasil lab bisa dilakukan revisi?).000. Lalu hasil lab yang diberikan adalah hasil thrombosit saya yang 181. Esoknya dr H datang sore hari dengan hanya menjelaskan ke suster untuk memberikan obat berupa suntikan lagi. saya membutuhkan data medis yang lengkap dan lagi-lagi saya dipermainkan dengan diberikan data medis yang fiktif. . Tapi. Dalam catatan medis diberikan keterangan bahwa bab (buang air besar) saya lancar padahal itu kesulitan saya semenjak dirawat di RS ini tapi tidak ada follow up-nya sama sekali.000 tapi 181. Saya sangat khawatir karena di rumah saya memiliki 2 anak yang masih batita. Keesokannya kondisi saya makin parah dengan leher kanan saya juga mulai membengkak dan panas kembali menjadi 39 derajat. dr H visit saya dan menginformasikan bahwa ada revisi hasil lab semalam.

Saya minta disebutkan alamat jelas saya dan mencari datanya sulit sekali dan membutuhkan waktu yang lama. Suami saya datang kembali ke RS Omni menagih surat hasil lab 27. Dalam tanda terima tersebut hanya ditulis saran bukan komplain.000 namun sangat dikagetkan bahwa hasil lab 27. Menurut analisa ini adalah sakitnya anak-anak yaitu sakit gondongan namun sudah parah karena sudah membengkak. Terutama dr G dan Og. Saya mengajukan komplain tertulis ke Manajemen Omni dan diterima oleh Og(Customer Service Coordinator) dan saya minta tanda terima. tidak ada sopan santun dan etika mengenai pelayanan customer. Manajemen. Di rumah saya tidak ada nama Rukiah. Saya tanyakan mengenai suntikan tersebut ke RS yang baru ini dan memang saya tidak kuat dengan suntikan dosis tinggi sehingga terjadi sesak napas.000 bukan 181.000. Saya benar-benar dipermainkan oleh Manajemen Omni dengan staff Og yang tidak ada service-nya sama sekali ke customer melainkan seperti mencemooh tindakan saya meminta tanda terima pengajuan komplain tertulis. Setelah itu saya ke RS lain dan masuk ke perawatan dalam kondisi saya dimasukkan dalam ruangan isolasi karena virus saya ini menular. Saya benar-benar habis kesabaran dan saya hanya meminta surat pernyataan dari lab RS ini mengenai hasil lab awal saya adalah 27. Kepala lab saat itu adalah dr M dan setelah saya komplain dan marah-marah dokter tersebut mengatakan bahwa catatan hasil lab 27. . tidak sesuai dengan standard international yang RS ini cantum.000. Atas nama Og (Customer Service Coordinator) dan dr G (Customer Service Manager) dan diminta memberikan keterangan kembali mengenai kejadian yang terjadi dengan saya. Saya minta duduk bareng antara lab. tidak bisa dilakukan dengan alasan akan dirundingkan ke atas (Manajemen) dan berjanji akan memberikan surat tersebut jam 4 sore.Kasus : Prita Vs Omni Saya ngotot untuk diberikan data medis hasil lab 27. Saya lemas mendengarnya dan benar-benar marah dengan RS Omni yang telah membohongi saya dengan analisa sakit demam berdarah dan sudah diberikan suntikan macam-macam dengan dosis tinggi sehingga mengalami sesak napas. Saya telepon dr G sebagai penanggung jawab kompain dan diberikan keterangan bahwa kurirnya baru mau jalan ke rumah saya.000 tersebut tidak dicetak dan yang tercetak adalah 181. LOgkanya dalam tanda terima tentunya ada alamat jelas surat tertujunya ke mana kan? Makanya saya sebut Manajemen Omni pembohon besar semua. Dalam kondisi sakit saya dan suami saya ketemu dengan manajemen. dan dr H.000 saya masih bisa rawat jalan. Tidak menanggapi komplain dengan baik.000 tersebut namun malah dihadapkan ke perundingan yang tidak jelas dan meminta diberikan waktu besok pagi datang langsung ke rumah saya. Maka saya desak untuk bertemu langsung dengan Manajemen yang memegang hasil lab tersebut.000 sesuai dr M informasikan ke saya. Namun. Dia mengelak bahwa lab telah memberikan hasil lab 27. Ini benar-benar kebohongan RS yang keterlaluan sekali. Keesokan paginya saya tunggu kabar orang rumah sampai jam 12 siang belum ada orang yang datang dari Omni memberikan surat tersebut.000 tersebut ada di Manajemen Omni. Kalau kena orang dewasa laki-laki bisa terjadi impoten dan perempuan ke pankreas dan kista. Makanya saya diwajibkan masuk ke RS ini padahal dengan kondisi thrombosit 181. Kembali saya telepon dr G dan dia mengatakan bahwa sudah dikirim dan ada tanda terima atas nama Rukiah. Hati-hati dengan permainan mereka yang mempermainkan nyawa orang. Namun. Tanggapan dr G yang katanya adalah penanggung jawab masalah komplain saya ini tidak profesional sama sekali. sampai jam 4 sore saya tunggu dan ternyata belum ada juga yang datang ke rumah saya.

Saya informasikan juga dr H praktek di RSCM juga. Benar. Tolong sampaikan ke dr G. dan Og bahwa jangan sampai pekerjaan mulia kalian sia-sia hanya demi perusahaan Anda. Mungkin dikarenakan biaya RS ini dengan asuransi makanya RS ini seenaknya mengambil limit asuransi saya semaksimal mungkin. Saya sangat mengharapkan mudah-mudahan salah satu pembaca adalah karyawan atau dokter atau Manajemen RS Omni. Tapi. dr H. Saya dirugikan secara kesehatan. apabila nyawa manusia dipermainkan oleh sebuah RS yang dipercaya untuk menyembuhkan malah mempermainkan sungguh mengecewakan. Saya tidak mengatakan RSCM buruk tapi lebih hati-hati dengan perawatan medis dari dokter ini. Setiap kehidupan manusia pasti ada jalan hidup dan nasibnya masing-masing.000 adalah fiktif dan yang sebenarnya saya tidak perlu rawat inap dan tidak perlu ada suntikan dan sesak napas dan kesehatan saya tidak makin parah karena bisa langsung tertangani dengan baik. Semoga Allah memberikan hati nurani ke Manajemen dan dokter RS Omni supaya diingatkan kembali bahwa mereka juga punya keluarga. Syukur Alhamdulilah saya mulai membaik namun ada kondisi mata saya yang selaput atasnya robek dan terkena virus sehingga penglihatan saya tidak jelas dan apabila terkena sinar saya tidak tahan dan ini membutuhkan waktu yang cukup untuk menyembuhkan. Sdr Og menyarankan saya bertemu dengan direktur operasional RS Omni (dr B). RS ini tidak memperdulikan efek dari keserakahan ini. Dan setelah beberapa kali kami ditipu dengan janji maka sebenarnya adalah hasil lab saya 27.Kasus : Prita Vs Omni Saya bilang ke dr G. saya dan suami saya sudah terlalu lelah mengikuti permainan kebohongan mereka dengan kondisi saya masih sakit dan dirawat di RS lain. Tapi. Prita Mulyasari Alam Sutera . Namun. Salam.000 itu benar ada atau fiktif saja supaya RS Omni mendapatkan pasien rawat inap. orang tua yang tentunya suatu saat juga sakit dan membutuhkan medis. Pihak manajemen hanya menyebutkan mohon maaf atas ketidaknyamanan kami dan tidak disebutkan mengenai kesalahan lab awal yang menyebutkan 27.000 dan diberikan suntikan yang mengakibatkan kondisi kesehatan makin memburuk dari sebelum masuk ke RS Omni. anak. Kenapa saya dan suami saya ngotot dengan surat tersebut? Karena saya ingin tahu bahwa sebenarnya hasil lab 27.000 dan dilakukan revisi 181. dr M. akan datang ke Omni untuk mengambil surat tersebut dan ketika suami saya datang ke Omni hanya dititipkan ke resepsionis saja dan pas dibaca isi suratnya sungguh membuat sakit hati kami. Mudah-mudahan tidak terjadi seperti yang saya alami di RS Omni ini.

H. Ttd. [7]. berkantor di Jalan Antara No. dan Dr. Ttd. Jakarta Pusat.com) kepada customer_care @banksinarmas. ‘BANTAHAN kami’ atas surat terbuka tersebut sebagai berikut : 1. N. dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA. Advokat. Advokat. 2. GRACE HILZA YARLEN. RELASI Dr. BAHWA TINDAKAN SAUDARI PRITA MULYASARI YANG TIDAK BERTANGGUNG-JAWAB TERSEBUT TELAH MENCEMARKAN NAMA BAIK OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA. M. HENGKY GOSAL. Moh. . 8 September 2008. DAN RELASI Dr.com. Dra. S. GRACE HILZA YARLEN. Bastian. Christine Souisa. SERTA MENIMBULKAN KERUGIAN BAIK MATERIL MAUPUN IMMATERIL BAGI KLIEN KAMI.H. Advokat & Konsultan HKI. N. Dr. Jakarta. Kuasa Hukum OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA. S. dan telah disebar-luaskan ke berbagai alamat email lainnya. HENGKY GOSAL. HENGKY GOSAL. ISI BANTAHAN YANG DIMUAT DI HARIAN KOMPAS DAN MEDIA INDONESIA: PENGUMUMAN & BANTAHAN Kami. SpPD. BAHWA ISI SURAT ELEKTRONIK (E-MAIL) TERBUKA TERSEBUT TIDAK BENAR SERTA TIDAK SESUAI DENGAN FAKTA YANG SEBENARNYA TERJADI (TIDAK ADA PENYIMPANGAN DALAM SOP DAN ETIK). Dr. BAHWA ATAS TUDUHAN YANG TIDAK BERTANGGUNG JAWAB DAN TIDAK BERDASAR HUKUM TERSEBUT.Kasus : Prita Vs Omni Lampiran 4. Ttd. dengan judul ‘PENIPUAN OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA TANGERANG’. S. HERIBERTUS & PARTNERS.mulyasari@yahoo.. N RISMA SITUMORANG. KLIEN KAMI SAAT INI AKAN MELAKUKAN UPAYA HUKUM TERHADAP SAUDARI PRITA MULYASARI BAIK SECARA HUKUM PIDANA MAUPUN SECARA HUKUM PERDATA. HERIBERTUS & PARTNERS. Sehubungan dengan adanya surat elektronik (e-mail) terbuka dari SAUDARI PRITA MULYASARI beralamat di Villa Melati Mas Residence Blok C 3/13 Serpong Tangerang (mail from: prita. Ttd. RISMA SITUMORANG. SEHINGGA ISI SURAT TERSEBUT TELAH MENYESATKAN KEPADA PARA PEMBACA KHUSUSNYA PASIEN.H. 3. SpPD. Hartojo. SpPD. HENGKY GOSAL. Advokat. Advokat dan Konsultan HKI. dan Dr.H. DOKTER. S.. SERTA MASYARAKAT LUAS BAIK DI DALAM MAUPUN DI LUAR NEGERI. Heribertus S. Dr. Dengan ini kami mengumumkan dan memberitahukan kepada khalayak umum/masyarakat dan pihak ketiga.H. M. GRACE HILZA YARLEN. Demikian PENGUMUMAN & BANTAHAN ini disampaikan kepada khalayak ramai untuk tidak terkecoh dan tidak terpengaruh dengan berita yang tidak berdasar fakta/tidak benar dan berisi kebohongan tersebut. GRACE HILZA YARLEN.H. N. Risma Situmorang. RELASI OMNI INTERNATIONAL HOSPITAL ALAM SUTERA. 45A Pasar Baru. SpPD dan Dr.

curhat. (http://megapolitan. Yudi.Omni. Anonymous.com/news/read/110888divonis_rp_204_juta__prita_siap_lawa n_rs_om ni) 2.diakses tanggal 30 November 2010) . Iskandar. Kompas.Prita diakses tanggal 12 November 2010) Zulkarnaen.php? option=com_content&view=article&id=52&catid=35&Itemid=65 diakses tanggal 1 Desember 2010) Sentosa. 2009. “Inilah Kronologis Kasus Prita Mulyasari (PM)”. Kompas.antaranews. (http://megapolitan. (www.. Kompas. “Kronologi Kasus Prita Mulyasari”. Pipiet Tri Noorastuti..Kasus : Prita Vs Omni END NOTES 1.Pengin..P ulang. Prita Siap Lawan RS Omni. (http://megapolitan.com/read/2009/06/03/16571030/RS. 2009. Sumbawanews. (http://metro.com/read/2009/06/03/1112056/inilah. Prita: Saya Pengin Pulang.com/index.com/read/2009/06/03/06060599/Prita:.go. Mitrakonsumen.ke. http://www. (http://www. 4. Iwan dan Neli Triana. (http://www. Fanny Octavianus. BI siap hitung uang prita.depkominfo. 2009. 2009.com/berita/1261499435/bi-siap-hitung-uang-koin-prita http://www.com/berita/utama/inilah-kronologis-kasus-pritamulyasari-pm. Divonis Rp 204 Juta.html diakses tanggal 30 November 2010 ) Anonymous.com diakses tanggal 30 November 2010) “Inilah Curhat yang Membawa Prita ke Penjara”.org/wiki/Rumah_Sakit_Omni_Internasional 3.prita.wikipedia. Syahrul Salam.sumbawanews.id/berita/bipnewsroom/prita-divonis-bebas/ http://id.kompas..mitrakonsumen. 2009.Saya. 2009.kompas. Tuduhan.me mbawa.penjara diakses tanggal 12 November 2010) Panjol.kompas.vivanews. “RS Omni Klarifikasi Tuduhan Prita”.Klarifikasi.yang. “Sengketa Prita Mulya Sari dengan Rumah Sakit Omni Internasional“. 5.. Kompas.kompas.

depkes.id/berita/bipnewsroom/empat-penyidik-kasuspritadiperiksa-pengawas-penyidik-polri/ diakses tanggal 1 Desember 2010 ) Bob.Hari. kompas.go. “Sidang Prita Hanya 20 Menit.go.“Empat Penyidik Kasus Prita Diperiksa Pengawas Penyidik Polri”. 2009.Langsung.Hanya.Ini diakses tanggal 28 November 2010) 9 Pusat Komunikasi Publik.kompas.di.id/index.depkes. 2009.”Dukungan terhadap Prita Mengalir di Facebook”.ITE. Kompas.id/index. “Menkes Luruskan Kasus Prita”. Departemen Kesehatan. Jaksa Langsung Pergi”. Harus. (http://megapolitan. (http://www.Kasus : Prita Vs Omni T. 2009. “Prita Jalani Sidang Perdana Hari Ini”.depkominfo.Prita. 2009. (http://www. “Siaran Pers No. Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan. (http://www. Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan.go. Depkominfo. “Menkes Limpahkan Kasus Prita pada MKDKI”.html diakses tanggal 1 Desember 2010 ) Broto.php/berita/press-release/260-menkes-limpahkankasus-prita-pada-mkdki.P rita.terhadap.Jaksa. Perdana. Departemen Kesehatan. .Mengalir.Menit.kompas.UU.com/read/2009/06/03/09241833/Dukungan. Gatot S.2 0.go.kompas.Facebook diakses tanggal 29 November 2010) Anonymous. Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan.com/read/2009/06/04/11360027/Sidang.2009.kompas.depkominfo. “Kasus Prita Masih Ditangani Oleh MKDKI”.”Megawati: UU ITE Harus Direvisi”.com/read/2009/06/03/17033466/Megawati:. Kompas. (http://megapolitan. Dewa. 2009. (http://megapolitan. Depkominfo.id/berita/siaran-pers-no-126pihkominfo62009tentang-aturan-hukum-untuk-mencegah-kecemasan-trauma-dan-ketakutandalam-berkomunikasi-secara-elektronik/ diakses tanggal 1 Desember 2010 ) Pusat Komunikasi Publik. 126/PIH/KOMINFO/6/2009 tentang Aturan Hukum Untuk Mencegah Kecemasan.com/read/2009/06/04/07160424/Prita.html diakses tanggal 1 Desember 2010 ) Pusat Komunikasi Publik. (http://www.Direvisi diakses tanggal 29November 2010) Bob. 2009. (http://megapolitan. Kompas.Sidang.2009.Pergi diakses tanggal 28 November 2010) Anonymous. Departemen Kesehatan. 2009.. Trauma dan Ketakutan Dalam Berkomunikasi Secara Elektronik”.php/berita/press-release/257-menkes-luruskankasus-prita.Jalani.Ty.

“Depkes Bentuk Tim Mediasi Kasus Prita Mulyasari”. “Menkes: putusan mkdki terkait prita akan dikaji”.id/berita/siaran-pers-no-139pihkominfo62009tentang-respon-positif-departemen-kominfo-terhadap-pembebasan-pritamulyasari/ diakses tanggal 1 Desember 2010 ) T. “Divonis Rp 204 Juta.id/index. (http://www. Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan.Kasus : Prita Vs Omni (http://www. “Menkes: Omni Bukan Rumah Sakit Internasional”. 2009.org/wiki/Rumah_Sakit_Omni_Internasional diakses tanggal 22 November 2010 ) T. “Rumah Sakit Omni International”. Wikipedia.org/wiki/Rumah_Sakit_Omni_Internasional diakses tanggal 22 November 2010 ) .id/berita/bipnewsroom/menkes-omni-bukanrumah-sakit-internasional/ diakses tanggal 28 November 2010) 12 Broto. Depkominfo.depkominfo. Dewa. Depkominfo. Wikipedia. Gatot S. Vivanews.go. 2009. 2009. (http://id.depkes. Jul dan YSoel.vivanews. (http://www. 2009.id/berita/bipnewsroom/menkes-putusan-mkdkiterkait-prita-akan-dikaji/ diakses tanggal 1 Desember 2010 ) ANT/toeb. 2009.go.php/berita/press-release/261-kasus-prita-masihditangani-oleh-mkdki. 2009. Depkominfo. (http://www.depkominfo.html diakses tanggal 1 Desember 2010 ) Anonymous. “Siaran Pers No.id/berita/bipnewsroom/mahkamah-agungbebaskan-prita-dari-gugatan-perdata/ diakses tanggal 1 Desember 2010 ) Noorastuti.depkes. Koin Keadilan.depkominfo.php/berita/press-release/437-depkes-bentuk-timmediasi-kasus-prita-mulyasari.com diakses tanggal 22 November 2010 ) Pusat Komunikasi Publik.id/index. Pipiet Tri. 2009.wikipedia.com/news/read/110888divonis_rp_204_juta__prita_siap_ lawan_rs_omni diakses tanggal 1 Desember 2010 ) Anonymous. Jul/toeb. (http://metro.koinkeadilan. Depkominfo. (http://www.go.depkominfo. Departemen Kesehatan.go. 2009.wikipedia.go. Prita Siap Lawan RS Omni”.html diakses tanggal 1 Desember 2010 ) Anonymous. 2009.go. “Rumah Sakit Omni International”. (http://www. (http://id. . (www. 139/PIH/KOMINFO/6/2009 tentang Respon Positif Departemen Kominfo Terhadap Pembebasan Prita Mulyasari”. “Mahkamah Agung Bebaskan Prita Dari Gugatan Perdata”.

2010) IDI. http://www.go. Depkominfo. “PRITA DIVONIS BEBAS”.org/wp-content/uploads/2010/03/UU-No.detiknews.-29-Th-2004-ttgPraktik-Kedokteran. (2004).com/read/2009/06/08/161139/1144244/10/dprpertanyakan-status-internasional-rs-omni.(2009) “DPR pertanyakan status intrnasional RS OMNI” (http://www.Ut/ysoel. diakses tanggal 28 November. http://www. “Kejakgung Tetap Akan Ajukan Kasasi Vonis Prita”.idionline. (http://www. diakses pada November 2010) Aqida Swamurti. diakses pada tanggal 28 November 2010) tanggal 28 tanggal 28 November .tempointeraktif.detiknews.-269-ttg-RekamMedis. (2008). (http://www.20090606651.idionline. 2009. 2009.id/berita/bipnewsroom/kejakgung-tetap-akanajukan-kasasi-vonis-prita/ diakses tanggal 1 Desember 2010 ) Winarno. 2009.jpnn.(2009).depkominfo. “Total Koin Prita Rp 810 Juta.com/read/2009/12/30/160700/1268693/10/total-koin-pritarp-810-juta-disalurkan-untuk-dana-kemanusiaan diakses tanggal 1 Desember 2010 ) IDI.pdf diakses tanggal 28 November 2010).id/berita/bipnewsroom/prita-divonis-bebas/ diakses tanggal 1 Desember 2010 ) t.html? page=4.go.depkominfo.pdf.com/hg/fokus/2009/06/06/fks.Kasus : Prita Vs Omni Antara News.org/wp-content/uploads/2010/03/PMK-No. Omni Bukan Rumah Sakit Internasional”. Hery. diakses pada 2010) DPR : Cabut Izin RS Omni Internasional http://www.idionline.com/?mib=berita. Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran Indonesia ((http://www.pdf. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PERIII/2008. Disalurkan untuk Dana Kemanusiaan”. diakses tanggal 28 November 2010) (IDI.id. Depkominfo.org/wp-content/uploads/2010/03/Kode-EtikKedokteran. Mega Putra Ratya. (2004).detail&id=18620. “Hanya Papan Nama. (http://www. UU No 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Detiknews. (http://www.

“Kasus Prita . Harian Global. (http://www.Kasus : Prita Vs Omni Anonymous.com/index.php? option=com_content&view=article&id=27337% sepi&Itemid=55 diakses tanggal 1 Desember 2010) Omni Hospital. 2009.RS Omni Mulai Sepi “. (http://www.com/ diakses tanggal 1 Desember 2010) Akasus-prita-rs-omni-mulai- .omni-hospitals.harianglobal.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful