Anda di halaman 1dari 11

Sifat Fisik Batuan Reservoir

Syarat yang harus dipenuhi oleh suatu batuan reservoir adalah harus mempunyai
kemampuan untuk menyimpan dan mengalirkan fluida yang terkandung didalamnya.
Batupasir, batuan karbonat, dan shale, yang umumnya merupakan batuan reservoir,
mempunyai besaran sifat-sifat fisik yang sama, yaitu: porositas, wettabilitas, tekanan kapiler,
saturasi fluida, permeabilitas, dan kompresibiltas.
A. Porositas
Porositas (φ ) didefinisikan sebagai fraksi atau persen dari volume ruang pori-pori
terhadap volume batuan total (bulk volume). Besar-kecilnya porositas suatu batuan akan
menentukan kapasitas penyimpanan fluida reservoir. Secara matematis porositas dapat
dinyatakan sebagai :
Vb −Vs Vp
φ= =
Vb Vb ....................................................................................(2-1)

dimana :
Vb = volume batuan total (bulk volume)
Vs = volume padatan batuan total (volume grain)
Vp = volume ruang pori-pori batuan.
Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
1. Porositas absolut, adalah persen volume pori-pori total terhadap volume batuan total (bulk
volume).
Volume pori total
φ= ×100 %
bulk volume ……………………………………………..(2-2)
2. Porositas efektif, adalah persen volume pori-pori yang saling berhubungan terhadap volume
batuan total (bulk volume).
Volume pori yang berhubunga n
φ= ×100 %
bulk volume ……………………………… (2-3)
Untuk selanjutnya porositas efektif digunakan dalam perhitungan karena dianggap sebagai fraksi
volume yang produktif.
Disamping itu menurut waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga
diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1. Porositas primer, adalah porositas yang terbentuk pada waktu batuan sedimen diendapkan.
2. Porositas sekunder, adalah porositas batuan yang terbentuk sesudah batuan sedimen
terendapkan.
Besar-kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : ukuran butir (semakin
baik distribusinya, semakin baik porositasnya), susunan butir (susunan butir berbentuk kubus
mempunyai porositas lebih baik dibandingkan bentuk rhombohedral, seperti pada Gambar 2.1.,
kompaksi, dan sementasi.

Gambar 2.1.
Pengaruh Susunan Butir Terhadap Porositas Batuan 1)

B. Wettabilitas
Wettabilitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan batuan untuk dibasahi oleh fasa
fluida, jika diberikan dua fluida yang tak saling campur (immisible). Apabila dua fluida
bersinggungan dengan benda padat, maka salah satu fluida akan bersifat membasahi permukaan
benda padat tersebut, hal ini disebabkan adanya gaya adhesi. Dalam sistem minyak-air benda
padat, Gambar 2.2., gaya adhesi AT yang menimbulkan sifat air membasahi benda padat adalah :
AT = σ so -σ sw = σ wo x cos θ wo ………………………………………..(2-4)
dimana :
σ so = tegangan permukaan minyak-benda padat, dyne/cm
σ sw = tegangan permukaan air-benda padat, dyne/cm
σ wo = tegangan permukaan minyak-air, dyne/cm
θ wo = sudut kontak minyak-air.
Suatu cairan dikatakan membasahi zat padat jika tegangan adhesinya positip (θ < 75o),
yang berarti batuan bersifat water wet. Apabila sudut kontak antara cairan dengan benda padat
antara 75o- 105o, maka batuan tersebut bersifat intermediet. Sedangkan bila air tidak membasahi
zat padat maka tegangan adhesinya negatip (θ > 105o), berarti batuan bersifat oil wet.
Pada umumnya reservoir bersifat water wet, sehingga air cenderung untuk melekat pada
permukaan batuan sedangkan minyak akan terletak diantara fasa air. Jadi minyak tidak
mempunyai gaya tarik-menarik dengan batuan dan akan lebih mudah mengalir.

Gambar 2.2
Kesetimbangan Gaya – gaya pada Batas Air – Minyak Padatan 1)

Untuk menentukan apakah batuan tersebut water wet atau oil wet, dapat dilihat dari
° ° °
besarnya sudut kontak yang berkisar antara 0 samapai 180 (0°<θ < 180 ).
Dimana bila besarnya σ wo < 90°, menunjukkan bahwa batuan itu bersifat water wet (dibasahi
°
oleh air) dan bila σ wo > 90 ,menunjukkan bersifat oil wet (dibasahi oleh minyak).
Pada umumnya reservoir bersifat water wet, sehingga air cenderung untuk melekat pada
permukaan batuan sedangkan minyak akan terletak diantara fasa air. Jadi minyak tidak
mempunyai gaya tarik-menarik dengan batuan dan akan lebih mudah mengalir. Sewaktu
reservoir mulai diproduksikan dimana harga saturasi minyak cukup tinggi dan air hanya
merupakan cincin-cincin yang melekat pada batuan formasi,butiran-butiran air tidak dapat
bergerak atau bersifat immobile, dan saturasi air yang demikian disebut dengan residual water
saturation (Swc). Pada saat yang demikian ini minyak merupakan fasa kontinyu dan bersifat
mobile. Kemudian setelah produksi mulai berjalan minyak akan terus menerus dikeluarkan dan
digantikan dengan air. Semakin lama saturasi minyak akan semakin berkurang dan saturasi air
akan semakin bertambah, sampai pada suatu saat tertentu saturasi air merupakan fasa kontinyu.
Proses produksi berjalan terus sehingga minyak akan semakin berkurang dan saturasi air terus
meningkat. Fasa air akan bertambah kontinyu, dan minyak merupakan cincin. Setelah air
menjadi fasa kontinyu maka sekarang airlah yang bersifat mobile, sehingga air akan mengalir
bersama-sama dengan minyak. Tetapi karena batuan pada umumnya memiliki sifat water wet,
maka minyak akan cenderung lebih cepat lajunya daripada air.
C. Tekanan Kapiler
Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang ada antara permukaan
dua fluida yang tidak tercampur (cairan-cairan atau cairan-gas) sebagai akibat dari terjadinya
pertemuan permukaan yang memisahkan mereka. Perbedaan tekanan dua fluida ini adalah
perbedaan tekanan antara fluida “non-wetting phase” (Pnw) dengan fluida “wetting phase” (Pw)
atau :
Pc = Pnw - Pw …………………………………………………………..(2-5)

Tekanan permukaan fluida yang lebih rendah terjadi pada sisi pertemuan permukaan
fluida immiscible yang cembung. Di reservoir biasanya air sebagai fasa yang membasahi
(wetting phase), sedangkan minyak dan gas sebagai non-wetting phase atau tidak membasahi.
Tekanan kapiler dalam batuan berpori tergantung pada ukuran pori-pori dan macam
fluidanya. Secara kuantitatif dapat dinyatakan dalam hubungan sebagai berikut
2σ×cos θ
P c= = Δ ρ× g ×h
r ................................................................(2-6)

dimana :
Pc = tekanan kapiler
σ = tegangan permukaan antara dua fluida
cos θ = sudut kontak permukaan antara dua fluida
r = jari-jari lengkung pori-pori
∆ρ = perbedaan densitas dua fluida
g = percepatan gravitasi
h = tinggi kolom
Dari Persamaan 2-6 ditunjukkan bahwa h akan bertambah jika perbedaan densitas fluida
berkurang, sementara faktor lainnya tetap. Hal ini berarti bahwa reservoir gas yang terdapat
kontak gas-air, perbedaan densitas fluidanya bertambah besar sehingga akan mempunyai zona
transisi minimum. Demikian juga untuk reservoir minyak yang mempunyai API gravity rendah
maka kontak minyak-air akan mempunyai zona transisi yang panjang.
Ukuran pori-pori batuan reservoir sering dihubungkan dengan besaran permeabilitas
yang besar akan mempunyai tekanan kapiler yang rendah dan ketebalan zona transisinya lebih
tipis dari pada reservoir dengan permeabilitas yang rendah.
D. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai suatu bilangan yang menunjukkan kemampuan dari
suatu batuan untuk mengalirkan fluida. Permeabilitas batuan merupakan fungsi dari tingkat
hubungan ruang antar pori-pori dalam batuan................................................. Definisi kwantitatif
permeabilitas pertama-tama dikembangkan oleh Henry Darcy (1856) dalam hubungan empiris
dengan bentuk differensial sebagai berikut:
k dP
V =− ×
µ dL ………………………………………………………...(2-7)
di mana V = kecepatan aliran, cm/sec
µ = viskositas fluida yang mengalir, cp
dP/dL = gradien tekanan dalam arah aliran, atm/cm
k = permeabilitas media berpori.
Tanda negatip dalam Persamaan 2-7 menunjukkan bahwa bila tekanan bertambah dalam
satu arah, maka arah alirannya berlawanan dengan arah pertambahan tekanan tersebut. Aliran
dapat terjadi ke sagala arah asal ada beda potensial.
Beberapa anggapan yang digunakan oleh Darcy dalam Persamaan 2-7 adalah:
1. Alirannya mantap (steady state)
2. Fluida yang mengalir satu fasa
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan
4. Kondisi aliran isothermal
5. Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal
6. Fluidanya incompressible.
Dalam batuan reservoir, permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
• Permeabilitas absolut, adalah permeabilitas dimana fluida yang mengalir melalui media
berpori tersebut hanya satu fasa, misal hanya minyak atau gas saja.
• Permeabilitas efektif, adalah permeabilitas batuan dimana fluida yang mengalir lebih dari
satu fasa, misalnya minyak dan air, air dan gas, gas dan minyak atau ketiga-tiganya.
• Permeabilitas relatif, adalah perbandingan antara permeabilitas efektif dengan permeabilitas
absolut.
Dasar penentuan permeabilitas batuan adalah hasil percobaan yang dilakukan oleh Henry
Darcy. Dalam percobaan ini, Henry Darcy menggunakan batupasir tidak kompak yang dialiri air.
Batupasir silindris yang porous ini 100% dijenuhi cairan dengan viskositas µ , dengan luas
penampang A, dan panjanggnya L. Kemudian dengan memberikan tekanan masuk P1 pada salah
satu ujungnya maka terjadi aliran dengan laju sebesar Q, sedangkan P2 adalah tekanan keluar.
Dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa Qµ L/A(P1-P2) adalah konstan dan akan sama dengan
harga permeabilitas batuan yang tidak tergantung dari cairan, perbedaan tekanan dan dimensi
batuan yang digunakan. Dengan mengatur laju Q sedemikian rupa sehingga tidak terjadi aliran
turbulen, maka diperoleh harga permeabilitas absolut batuan. Ditunjukkan pada Gambar 2.3.

Gambar 2.3.
Skema Percobaan Pengukuran Permeabilitas 1)

Q.µ.L
K =
A.( P1 − P2 ) ………………………………………………………(2-8)

Satuan permeabilitas dalam percobaan ini adalah :


Q(cm 3 / sec). µ(centipoise ) L(cm )
K ( darcy ) =
A( sqcm ).( P1 − P2 )( atm ) ………………………..(2-9)
Dari Persamaan 2-8 dapat dikembangkan untuk berbagai kondisi aliran yaitu aliran linier
dan radial, masing-masing untuk fluida yang compressible dan incompressible.
Pada prakteknya di reservoir, jarang sekali terjadi aliran satu fasa, kemungkinan terdiri
dari dua fasa atau tiga fasa. Untuk itu dikembangkan pula konsep mengenai permeabilitas efektif
dan permeabilitas relatif. Harga permeabilitas efektif dinyatakan sebagai Ko, Kg, Kw, dimana
masing-masing untuk minyak, gas, dan air. Sedangkan permeabilitas relatif dinyatakan sebagai
berikut :
Ko Kg Kw
K ro = K rg = K rw =
K , K , K

dimana masing-masing untuk permeabilitas relatif minyak, gas, dan air. Percobaan yang
dilakukan pada dasarnya untuk sistem satu fasa, hanya disini digunakan dua macam fluida
(minyak-air) yang dialirkan bersama-sama dan dalam keadaan kesetimbangan. Laju aliran
minyak adalah Qo dan air adalah Qw. Jadi volume total (Qo + Qw) akan mengalir melalui pori-
pori batuan per satuan waktu, dengan perbandingan minyak-air permulaan, pada aliran ini tidak
akan sama dengan Qo / Qw. Dari percobaan ini dapat ditentukan harga saturasi minyak (So) dan
saturasi air (Sw) pada kondisi stabil. Harga permeabilitas efektip untuk minyak dan air adalah :
Qo .µo .L
Ko =
A.( P1 − P2 ) …………………………………………………….(2-10)

Qw .µw .L
Kw =
A.( P1 − P2 ) ……………………………………………………(2-11)

dimana :
µ o = viskositas minyak
µ w = viskositas air.
Percobaan ini diulangi untuk laju permukaan (input rate) yang berbeda untuk minyak dan
air, dengan (Qo + Qw) tetap konstan. Harga-harga Ko dan Kw pada Persamaan 2-10 dan 2-11 jika
diplot terhadap So dan Sw akan diperoleh hubungan seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.4.
Dari Gambar 2.4, dapat ditunjukkan bahwa:
• Ko akan turun dengan cepat jika Sw bertambah dari nol, demikian juga kw akan turun
dengan cepat jika Sw berkurang dari satu, sehingga dapat dikatakan untuk So yang kecil akan
mengurangi laju aliran minyak karena ko-nya yang kecil, demikian pula untuk air.
• Ko akan turun menjadi nol, di mana masih ada saturasi minyak dalam batuan (titik C)
atau disebut Residual Oil Saturation (Sor), demikian juga untuk air, yaitu Swr.
• Harga ko dan kw selalu lebih kecil daripada harga k, kecuali pada titik A dan B, sehingga
diperoleh persamaan:
ko + kw ≤ 1 …………………………………………………………(2-12)

Gambar 2.4.
Kurva Permeabilitas Efektif untuk Sistem Minyak dan Air 1)

E. Saturasi Fluida Batuan


Dalam batuan reservoir minyak umumnya terdapat lebih dari satu macam fluida,
kemungkinan terdapat air, minyak, dan gas yang tersebar ke seluruh bagian reservoir.
Saturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan antara volume pori-pori batuan
yang ditempati oleh suatu fluida tertentu dengan volume pori-pori total pada suatu batuan
berpori.
Saturasi minyak (So) adalah :

volume pori − pori yang diisi oleh min yak


So =
volume pori − pori total ……………………..(2-13)

Saturasi air (Sw) adalah :


volume pori − pori yang diisi air
Sw =
volume pori − pori total ………………………………(2-14)
Saturasi gas (Sg) adalah :
volume pori − pori yang diisi oleh gas
Sg =
volume pori − pori total ………………………….(2-15)
Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan :
Sg + So + Sw = 1 ……………………………………………………...(2-16)
Jika diisi oleh minyak dan air saja maka :
So + Sw = 1 …………………………………………………………..(2-17)
Terdapat tiga faktor yang penting mengenai saturasi fluida, yaitu :
• Saturasi fluida akan bervariasi dari satu tempat ke tempat lain dalam reservoir, saturasi air
cenderung untuk lebih besar dalam bagian batuan yang kurang porous. Bagian struktur
reservoir yang lebih rendah relatip akan mempunyai Sw yang tinggi dan Sg yang relatip
rendah. Demikian juga untuk bagian atas dari struktur reservoir berlaku sebaliknya. Hal ini
disebabkan oleh adanya perbedaan densitas dari masing-masing fluida.
• Saturasi fluida akan bervariasi dengan kumulatip produksi minyak. Jika minyak
diproduksikan maka tempatnya di reservoir akan digantikan oleh air dan atau gas bebas,
sehingga pada lapangan yang memproduksikan minyak, saturasi fluida berubah secara
kontinyu.
• Saturasi minyak dan saturasi gas sering dinyatakan dalam istilah pori-pori yang diisi oleh
hidrokarbon. Jika volume contoh batuan adalah V, ruang pori-porinya adalah φ .V, maka
ruang pori-pori yang diisi oleh hidrokarbon adalah :
So.φ .V + Sg.φ .V = (1-Sw).φ .V ……………………………………(2-18)

F. Kompresibilitas Batuan
Menurut Geerstma (1957) terdapat tiga konsep kompressibilitas batuan, antara lain :
• Kompressibilitas matriks batuan, yaitu fraksi perubahan volume material padatan (grains)
terhadap satuan perubahan tekanan.
• Kompressibilitas bulk batuan, yaitu fraksi perubahan volume bulk batuan terhadap satuan
perubahan tekanan.
• Kompressibilitas pori-pori batuan, yaitu fraksi perubahan volume pori-pori batuan terhadap
satuan perubahan tekanan.
Diantara konsep di atas, kompressibilitas pori – pori batuan dianggap yang paling penting dalam
teknik reservoir khususnya.
Batuan yang berada pada kedalaman tertentu akan mengalami dua macam tekanan, antara
lain :
1. Tekanan hidrostatik fluida yang terkandung dalam pori-pori batuan
2. Tekanan-luar (external stress) yang disebabkan oleh berat batuan yang ada diatasnya
(overburden pressure).
Pengosongan fluida dari ruang pori-pori batuan reservoir akan mengakibatkan perubahan
tekanan-dalam dari batuan, sehingga resultan tekanan pada batuan akan mengalami perubahan
pula. Adanya perubahan tekanan ini akan mengakibatkan perubahan pada butir-butir batuan,
pori-pori dan volume total (bulk) batuan reservoir.
Untuk padatan (grains) akan mengalami perubahan yang serupa apabila mendapat
tekanan hidrostatik fluida yang dikandungnya.
Perubahan bentuk volume bulk batuan dapat dinyatakan sebagai kompressibilitas Cr atau :
1 dV r
Cr = .
Vr dP …………………………………………………………(2-19)

Sedangkan perubahan bentuk volume pori-pori batuan dapat dinyatakan sebagai


kompressibilitas Cp atau :
1 dV p
Cp = .
V p dP *
....................................................................................(2-20)
dimana :
Vr = volume padatan batuan (grains)
Vp = volume pori-pori batuan
P = tekanan hidrostatik fluida di dalam batuan
P* = tekanan luar (tekanan overburden).
Hall (1953) memeriksa kompresibilitas pori, Cp, pada tekanan overburden yang konstan,
yang kemudian disebut kompresibilitas batuan efektif dan dihubungkan dengan porositas, seperti
terlihat pada Gambar 2.5. di mana kompresibilitas batuan turun dengan naiknya porositas.
Terjadinya kompresibilitas batuan total maupun efektif karena dua faktor yang terpisah.
Kompreibilitas total terbentuk dari pengembangan butir-butir batuan sebagai akibat menurunnya
tekanan fluida yang mengelilinginya. Sedangkan kompresibilitas efektif terjadi karena kompaksi
batuan di mana fluida reservoir menjadi kurang efektif menahan beban di atasnya (overburden).
Kedua faktor ini cenderung akan memperkecil porositas.

Gambar 2.5.
Kurva Kompresibilitas Efektif Batuan 1)

Daftar Pustaka :
1. Amyx,J.W.,Bass,D.M.,Robert,L.W.,”Petroleum Reservoir Engineering: Physical
Properties”,McGraw Hall Book Co.,New York,1973.