Biografi Amien Rais

Biografi Amien Rais

Nama: Prof. Dr. H. Muhammad Amien Rais, MA Lahir: Surakarta, 26 April 1944 Orang tua: Syuhud Rais dan Sudalmiyah Istri: Kusnariyati Sri Rahayu Pendidikan: Fakultas Sosial Politik Universitas Gajah Mada (lulus 1968) Notre Dame Catholic University, Indiana, USA (1974) Al-Azhar University, Cairo, Mesir (1981) Chicago University, Chicago, USA (gelar Ph.D dalam ilmu politik 1984) George Washington University (postdoctoral degree, 1988-1989) Perjalanan karir: Dosen pada FISIP UGM (1969-1999) Pengurus Muhammadiyah (1985) Asisten Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (1991-1995) Wakil Ketua Muhammadiyah (1991) Direktur Pusat Kajian Politik (1988) Peneliti Senior di BPPT (1991) Anggota Grup V Dewan Riset Nasional (1995-2000) Ketua Muhammadiyah (19952000) Ketua Umum Partai Amanat Nasional (1999-sekarang) Ketua MPR (1999-2004)

Amien Rais lahir di Solo, 26 April 1944, dari sebuah keluarga yang sangat taat dalam menjalankan agamanya. Suhud Rais, ayahnya, adalah lulusan Mu’allimin Muhammadiyah dan semasa hidupnya bekerja sebagai pegawai kantor Departemen Agama. Sang ibu, Sudalmiyah, adalah alumni Hogere Inlandsche Kweekschool [HIK] Muhammadiyah, kemudian menjadi aktivis Aisyiyah dan pernah menjabat sebagai ketuanya di Surakarta selama dua puluh tahun. Sudalmiyah juga dikenal sebagai seorang guru yang ulet. Ia mengajar di Sekolah Guru Kepandaian Putri [SGKP] Negeri dan Sekolah Bidan Aisyiyah Surakarta. Karena prestasinya di dunia pendidikan, pada tahun 1985, Sudalmiyah mendapat gelar Ibu Teladan se-Jawa Tengah. Ia juga aktif di partai politik Masyumi ketika masa jayanya pada tahun 1950-an. Kakek Amien Rais, Wiryo Soedarmo, adalah salah seorang pendiri Muhammadiyah di Gombong, Jawa Tengah. Jadi, Amien Rais dilahirkan dari keluarga yang sangat kental warna Muhammadiyahnya. Amien merupakan anak kedua dari enam bersaudara. Kakaknya adalah Fatimah, dan empat adiknya adalah Abdul Rozak, Achmad Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Asyiah. Mereka tumbuh dan dibesarkan di kampung Kepatihan Kulon. Sejak kecil mereka sudah dilatih disiplin oleh sang ibu. Bila Amien kecil melanggar, sang ibu tidak segan-segan menghukumnya. Mereka harus bangun pukul 04.00 WIB setiap pagi. Caranya dengan meletakkan jam weker di dekat tempat tidur. Dan ketika bangun, mereka diminta untuk mengucapkan “ashalatu khairum minan naum” dengan suara keras sehingga terdengar sang ibu. Sang ibu biasanya memberikan imbalan berupa uang 50 sen. Uang tersebut lalu mereka tabung, untuk dibelikan baju baru menjelang lebaran. Walaupun tegas, tetapi sang ibu tidak pernah memaksakan kehendaknya. Anak-anaknya dibiarkan tumbuh secara alami, sesuai dengan minat dan bakatnya masing-masing. Hanya saja, pesan sang ibu yang tak pernah putus adalah mengingatkan mereka bahwa hakikat hidup adalah ibadah. Yang terus diingat Amien, ketika ibunya berkata, “Ingat Mien, berkemah pun ibadah.” Dalam berbagai kesempatan, Amien Rais secara terus terang mengakui bahwa ibunyalah yang sangat mempengaruhi karakternya yang lugas tanpa basa-basi. Sampai kini Amien masih menempatkan ibunya sebagai konsultannya dan tempat pelipur lara. Mana kala ia menghadapi situasi atau persoalan pelik, ia selalu pulang ke Solo menemui sang ibu untuk meminta pendapatnya, atau sekadar untuk menghindari kejaran wartawan yang pantang ia tolak. Setiap Idul Fitri ia beserta semua saudaranya juga berkumpul di rumah sang ibu. Menurut Amien, hingga usia 80-an, ketegasan dan kejernihan berpikir Ibunya masih tetap seperti dulu. Ibunda Amien Rais wafat hari Jumat, 14 September 2001 di Solo, Jawa Tengah, dalam usia 89 tahun. Sewaktu masih duduk di bangku SD, Amien kecil bercita-cita ingin menjadi walikota. Cita-cita ini sangat dipengaruhi oleh kekagumannya pada Muhammad Saleh yang menjabat Walikota Solo waktu itu. Muhammad Saleh adalah seorang muslim yang taat. Ia sering memberikan pengajian di Balai Muhammadiyah Solo. Walikota asal Madura ini sangat dihormati dan dicintai oleh rakyatnya. Namun setelah SMA, cita-cita Amien berubah. Ia ingin jadi duta besar. Mungkin cita-cita ini yang ikut mempengaruhinya untuk memilih jurusan hubungan internasional ketika memasuki perguruan tinggi.

Prinsip hidup yang jadi pegangannya diakuinya sangat sederhana, yaitu mencari ridha dan ampunan Allah. Untuk mencapainya, orang harus berbicara dan berbuat apa adanya. “You are what you are,” katanya suatu ketika. Ia membagi kebahagiaan menjadi tiga jenis, yaitu kebahagiaan spiritual, kebahagiaan intelektual, dan kebahagiaan psikologis. Kebahagiaan spiritual diperoleh dengan cara menjalani hidup sesuai dengan rel agama. Kebahagiaan intelektual diperoleh dengan cara memberikan konstribusi pemikiran kepada masyarakat. Sedangkan kebahagiaan psikologis didapatnya bila ia bisa berbuat atau menolong orang lain. Amien Rais menikah pada 9 Februari 1969, dengan seorang gadis yang sudah dikenalnya sejak mereka masih sama-sama kanak-kanak, Kusnasriyati Sri Rahayu. Selama sepuluh tahun pertama pernikahannya ia belum dikaruniai anak, meskipun ia sudah berkonsultasi dengan banyak dokter spesialis kandungan di Solo, Yogya, bahkan ketika berada di Chicago. Sampai suatu saat mereka berdua mendapat kesempatan naik haji ke Makkah. Di depan Ka’bah mereka berdua memanjatkan doa, memohon kepada Allah agar memenuhi keinginan mereka akan keturunan. Waktu itu mereka sedang melakukan penelitian di Mesir. Setelah kembali ke Kairo, dua bulan lebih sang istri tidak dikunjungi tamu rutin bulanan. Bahkan ada yang aneh: perutnya terasa gatal-gatal. Akhirnya mereka sepakat untuk pergi ke dokter kandungan. Dan hasilnya positif, sang istri dinyatakan hamil. Bagi mereka berdua, kejadian itu merupakan mukjizat dan karunia Allah semata. Setelah anak yang pertama lahir, selanjutnya setiap dua tahun sang istri hamil lagi. Kini mereka sudah dikaruniai lima orang anak, tiga putra dan dua putri. Nama-nama mereka diambil dari Al Qur’an dan dikaitkan dengan kenangan dan peristiwa yang menyertai kelahirannya. Yang pertama diberi nama Ahmad Hanafi, kemudian Hanum Salsabiela, Ahmad Mumtaz, Tasnim Fauzia, dan yang terakhir Ahmad Baihaqy. Kusnasriyati adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Untuk mengisi kesibukannya, ia mendirikan Taman Kanak-Kanak [TK] di sebelah rumahnya. Karena ketekunannya, TK ini kemudian menjadi besar dan terkenal. Ia juga membuka kedai sederhana yang diminati banyak mahasiswa. Dilihat dari penampilannya yang sederhana, termasuk gaya bicara yang sederhana, ia tidak beda dengan ibu rumah tangga lainnya. Tetapi, di mata Amien Rais, ia adalah wanita luar biasa. Keberanian dan ketegaran yang dimiliki Amien Rais ternyata tidak lepas dari peran sang istri. Suatu saat, ketika diinterviu seorang wartawan Jepang, saya melihat dengan nada bangga Amien Rais mengatakan, “Istri saya mungkin merupakan wanita terbaik se-Asia Tenggara.” Komentar tersebut mungkin terasa berlebihan bagi kebanyakan orang, tapi tidak bagi Amien Rais. Ia pernah menceritakan kepada saya bahwa ketika studi di Chicago, karena beratnya beban kuliah yang dihadapi, hampir saja ia putus asa. Untung ada sang istri yang terus-menerus memompa semangatnya. Begitu juga ketika ia merasa lelah saat melawan Orde Baru, istrinya tidak pernah lelah untuk membangunkan kembali spiritnya. Sampaisampai ia pernah mengomentari istrinya sebagai sumber inspirasi dan motivasinya. Bahkan menjelang tumbangnya Soeharto, sempat tersebar isu bahwa Amien Rais akan ditangkap. Ia kemudian memberi tahu sang istri tentang berita buruk yang akan menimpanya. Dengan nada tegar sang istri menjawab, “Insya Allah ini akan mempercepat kejatuhan Rezim Soeharto.”

Amien Rais juga sudah mulai aktif menulis artikel sejak belia. PPSK memiliki peran besar dalam membidani lahirnya ICMI. ia termasuk salah seorang pendiri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah [IMM]. seorang yang dikenal luas memiliki reputasi internasional. pasti ibunya akan memintanya untuk kuliah di situ. Salah satu raison d’etre kelahiran PPSK adalah keprihatinan masih terbatasnya hasil-hasil pengkajian yang menyangkut masalah-masalah strategis dan kebijakan yang berorientasi pada masyarakat lemah. Kedua.Bila Allah mengaruniainya umur panjang. Pertama. Ia juga pernah nyantri di Pesantren Al Islam. Ia lalu berkonsultasi dengan sang ayah. bahkan Arifin Panigoro sempat menjadi tersangka. Di Fakultas Pascasarjana UGM ia dipercaya memegang mata kuliah Teori Revolusi dan Teori Politik. Lembaga pengkajian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi pemikiran yang meliputi: Pertama. Solo. yaitu Fakultas Ekonomi dan Fisipol UGM. dan iptek. Sejumlah tokoh penting bergabung di lembaga ini. Di samping sekolah umum. Ia berhasil meraih gelar doktor pada tahun 1981. ia juga mengikuti pendidikan agama di Pesantren Mamba’ul Ulum. di kota kelahirannya. serta dampaknya pada bangsa Indonesia. Amien Rais telah menjadi penulis kolom yang tajam dan produktif. Mesir. Penelitian untuk menyusun disertasinya dilakukan di Mesir dalam waktu sekitar satu tahun. Ia juga dipercaya mengajar mata kuliah Teori-teori Sosialisme. Tahun 1968 Amien menyelesaikan studinya di UGM dengan tugas akhir berjudul Mengapa Politik Luar Negeri Israel Berorientasi Pro Barat. Setelah pulang ke tanah air sebentar. Di samping kegandrungannya berorganisasi. Ia kemudian diterima di dua fakultas. Amerika Serikat yang diselesaikan tahun 1974 dengan gelar MA. AS dengan mengambil bidang studi Timur Tengah. Amien tampaknya lebih cocok dengan pilihan sang ayah. Di kantor inilah pertama kali konsep ICMI digodok. Berbagai produk pemikirannya dipublikasikan lewat majalah Prospektif. Sekolah Dasar diselesaikan tahun 1956. Menurut Amien. Setelah tamat SMA. Yogyakarta. di masa tuanya nanti Amien hanya ingin melihat anak-anaknya bisa menyelesaikan pendidikannya masing-masing. meninggalnya Dr. agama. Sang ayah menyerahkan kembali pada Amien untuk memilihnya. Affan Gafar. Amien pernah dianugerahi Zainal Zakse Award. koran mahasiswa yang legendaris di awal Orde Baru. Ketiga. Demise and Resurgence [Ikhwanul Muslimin di Mesir: Kelahiran. yang terbit tiga bulan sekali. Pertemuan ini kemudian dikenal dengan istilah “kasus Radison” dan menjadi polemik panjang yang mewarnai media massa waktu itu. Umar Anggara Jenie. Menurut Dawam Rahardjo. Yogyakarta. Yahya A. waktunya dimanfaatkan juga untuk menjadi mahasiswa luar biasa di Departemen Bahasa Universitas Al Azhar. Solo. usulan pemecahan terhadap berbagai persoalan bangsa berdasarkan telaah strategis dan kebijakan yang realistis dan matang. Kecintaannya pada organisasi diawali dari keterlibatannya di pandu Hizbul Wathon. reformasi ekonomi. ►sumber Web Tech Amien Rais Center . ia kembali lagi ke Amerika untuk mengikuti program doktor di University of Chicago. Tesisnya adalah mengenai politik luar negeri Anwar Sadat yang waktu itu sangat dekat dengan Moskow. Mungkin untuk tidak mengecewakan harapan sang ibu. Kuliah paralel ini dijalaninya sampai munculnya larangan kuliah ganda oleh pemerintah. Kemudian ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di University of Notre Dame. Keruntuhan. dan Amien Rais yang dipercaya untuk memimpinnya. Ia juga pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam [HMI]. Ketika menjadi mahasiswa. dan Kebangkitannya Kembali]. politik. di antaranya: Moeljoto Djojomartono. Ahmad Baiquni. Ia dipercaya oleh teman-temannya untuk memimpin sebuah regu yang terdiri dari tujuh orang yang diberi nama regu Rajawali. Sementara ayahnya lebih memilih Universitas Gajah Mada [UGM].” Riwayat Pendidikan Pendidikan Amien Rais. Masyarakat ilmiah mengenal dan sangat memperhitungkan lembaga ini. Selama berada di Mesir. Uni Soviet. dan reformasi hukum. Ia lulus dengan nilai A. ibunya menginginkan Amien melanjutkan studinya ke Al-Azhar. juga karena kredibilitas keilmuan dan reputasi tokoh-tokohnya. semuanya dijalani di sekolah Muhammadiyah. Almarhum meninggal saat berceramah di hadapan teman-temannya di kantor PPSK. Akhirnya ia memilih Fisipol. Soedjatmoko. juga pernah menjadi Rektor Pertama Universitas PBB di Tokio. karena kecintaan sang ibu pada sekolah Muhammadiyah. Syafi’i Maarif. karena oleh rezim Soeharto dituduh sebagai upaya “makar” terhadap pemerintah Orde Baru. pertemuan antara Arifin Panigoro dan kawan-kawan dengan kelompok PPSK yang diselenggarakan di Hotel Radison. mana fakultas yang lebih baik untuk dipilih. Di sinilah Amien kecil mulai menyadari kekuatan kebersamaan dan makna kepemimpinan. Aktifitas Saat Belia Sejak belia Amien Rais sudah terlibat dalam berbagai gerakan. Amien juga kemudian mendaftarkan diri sebagai mahasiswa Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri [IAIN] Sunan Kalijaga. membuat jembatan. Kedua. dengan disertasi berjudul The Moslem Brotherhood in Egypt: Its Rise. Bambang Sudibyo. dan pernah dipercaya untuk menduduki jabatan sekretaris Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam [LDMI] HMI Yogyakarta. Regu yang dipimpinnya selalu memenangkan berbagai perlombaan. morse. kemudian dibawa ke Wisma Muhammadiyah di Tawangmangu. sampai pada lomba masak-memasak. Soedjatmoko. Sebetulnya acara tersebut merupakan acara rutin dan bersifat akademis dengan tema reformasi yang meliputi reformasi politik. Indiana. Itu sebabnya Amien juga harus mendalami masalah komunisme. Amien merujuk pada almarhum A. Setelah itu baru dibawa ke Malang. Yang paling menyenangkannya adalah mata kuliah Teori Politik Internasional. Kairo.R. analisa yang akurat mengenai berbagai kecenderungan global di bidang sosial-budaya. Beliau pernah menjadi Dubes RI untuk Amerika Serikat. maka seandainya ketika itu sudah ada perguruan tinggi Muhammadiyah. Sementara ia sendiri ingin mengisi masa tuanya dengan menulis dan memberikan pengajian. 'Mengelola Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan [PPSK]' Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan [PPSK] adalah lembaga pengkajian dan penelitian di bawah yayasan Mulia Bangsa Yogyakarta. Muhaimin. Ichlasul Amal. Minatnya yang sangat besar dalam masalah Timur Tengah tetap tumbuh. Kuntowijoyo. ekonomi. mulai dari TK sampai SMA. dan Eropa Timur. seperti lomba tali-temali. kemudian SMP pada tahun 1959 dan SMA pada tahun 1962. untuk disempurnakan. selain karena produk-produk pemikirannya. 5 Februari 1998. Dawam Rahardjo menuturkan: “Ketika mahasiswa. sehingga hampir semua media massa di tanah air memberitakan peristiwa kematiannya. Fachruddin dan ibunya sendiri yang sampai akhir hayatnya masih memimpin Sekolah Keperawatan Muhammadiyah di Solo. Namun masyarakat luas baru mengetahuinya setelah terjadinya dua peristiwa. Oleh tabloid mingguan Mahasiswa Indonesia yang terbit di Bandung bersama-sama dengan Harian Kami di Jakarta. identifikasi permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan. Di UGM ia mengasuh mata kuliah Teori Politik Internasional serta Sejarah dan Diplomasi di Timur Tengah. Beberapa orang yang hadir dalam pertemuan itu sempat dimintai keterangan oleh pihak berwajib. A.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful