Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Ketika mendengar kata syariat Islam, apa yang terlintas di dalam benak anda? Potong
tangan dan rajam? Ataukah kasih sayang dan keadilan Allah terhadap makhluk ciptaan-Nya?
Jawaban itu kembali kepada tingkat keimanan kita. Seberapa tinggi tingkat keimanan kita
tentunya sejalan juga dengan tingkat pemahaman kita terhadap hukum Allah tersebut.
Pengertian Syari’at islam. Syari’at, bisa disebut syir’ah, artinya secara bahasa adalah
sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan “syara’a
fiil maa’i” artinya datang ke sumber air mengalir atau datang pada syari’ah. Kemudian kata
tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.
Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum
Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana,
berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa
lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda
(Nederlandsch-Indie).
Inilah yang menjadi dasar pemikiran apakah syari’at islam bisa di tegakkan di Negara
Indonesia? Kembalikan lagi semua hal dan pemikiran ini kepada pemegang kedaulatan
tertinggi yakni rakyat Indonesia.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa perbedaan dari syari’at islam dan KUHP?
2. Apakah mungkin syari’at islam dijalankan di Indonesia?
3. Apakah anda siap apabila syari’at islam dijalankan di Indonesia?

1|Page
1.3 Tujuan
Penulis menyusun laporan ini untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Agama
dengan harapan dapat menjadi sumber perolehan informasi dalam ruang lingkup
pendidikan.
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini, diantaranya agar mahasiswa dapat:
1. Memahami perbedaan syari’at islam dengan KUHP.
2. Berfikir secara rasional serta berasaskan pada alkitab tentang bagaimana
seharusnya menjalankan hukum yang sesuai dengan kaidah agama islam tetapi
tetap balance dengan kemajuan global dunia.
3. Mengiyakan dan meyakini bahwa syari’at islam adalah sebenar-benarnya hukum.

2|Page
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

2.1.1 Syaria’t Islam


Syariat Islam adalah ajaran Islam yang membicarakan amal manusia baik
sebagai makluk ciptaan Allah maupun hamba Allah.
Pengertian syariat Islam bisa kita peroleh dengan menggabungkan pengertian
syariat dan Islam. Untuk kata Islam, secara bahasa artinya inqiyâd (tunduk) dan
istislâm li Allah (berserah diri kepada Alah). Hanya saja al-Quran menggunakan
kata Islam untuk menyebut agama yang diturunkan oleh Allah kepada nabi
Muhammad saw. Firman Allah menyatakan :

َ ‫ال ْيوم أ َك ْمل ْت ل َك ُم دين َك ُم‬


‫مِتي‬
َ ‫ع‬ ْ ُ ‫عل َي ْك‬
ْ ِ‫م ن‬ َ ‫ت‬
ُ ‫م‬
ْ ‫م‬
َ ْ ‫وأت‬
َ ْ ِ ْ ُ َ َ ْ َ
َ َ ‫سل‬
‫م ِديًنا‬ ْ ِ ‫م ا ْل‬ُ ُ ‫ت ل َك‬
ُ ‫ضي‬ِ ‫وَر‬َ
Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-
cukupkan kepadamu ni`mat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu. (TQS. al-Mâ’idah [05]: 3)

2.1.2 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP)


Dari asal katanya kita sudah dapat mendefinisikan apa itu KUHP. KUHP
adalah segembleng peraturan atau hukum yang mengatur tata negara dalam
berbagai aspek kehidupan dan berbasiskan atas syari’at islam.

2.2 Perbedaan Syari’at Islam dengan KUHP

Perbedaan antar syari’at islam dan KUHP terletak pada keharusan atas penjalanan
dari suatu hukum tersebut. Jika syari’at islam bersifat mutlak karena sudah tertera dalam

3|Page
alquran dan alssunah, sedangkan KUHP bersifat temporer karena disesuaikan dengan
keinginan penguasa yang membuat undang-undang tersebut.
2.2 Persentase Kemungkinan Syari’at Islam Diberlakukan di Indonesia

Selama ini isu penegakkan Syariat Islam menjadi topik yang kontroversial
dikalangan para ahli hukum positif dan, lebih- lebih lagi, para ahli hukum Islam.
Sebagian pihak menganggap Syariat Islam belum berlaku di Indonesia, padahal
kenyataannya sebagian unsur hukum Islam (paling tidak telah tercantum dalam UU
Zakat, UU Peradilan Agama dan Kompilasi Hukum Islam) telah berlaku. Rupa-rupanya
yang dimaksud oleh kalangan ini adalah Syariat Islam yang berkenaan dengan aturan
pidana.
Dan ada beberapa hal yang sepertinya sulit untuk disamakan kesederajatannya di
muka hukum Indonesia. Padahal sudah tak perlu ditawar menawar lagi tentang apa yang
diharuskan dalam ajaran agama islam tentang syari’at islam. Semuanya sudah
diterangkan secara konkrit dalam kitab suci alquran. Hal inilah yang seharusnya menjadi
dasar pemikiran opini-opini para pembuat undang-undang.
Kalau ditanya apakah mungkin syari’at islam ditegakkan di Negara Indonesia? Pasti
mayoritas serentak bentidakkan. Karena syari’at islam sangatlah kaku tetapi memang itu
yang seharusnya dilakukan. Sebenarnya semua hukum yang dilaksanakan dalam syari’at
islam adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Seperti rajam atau yang paling
sederhana adalah hukum cambuk atau yang sering kita dengar adalah hukum potong
tangan. Semua pasti ada dasar, mengapa harus seperti itu. Sebenarnya simple saja, agar
manusia kapok untuk berbuat dosa bagi yang melaksanakan dosa dan takut bagi orang
yang melihat. Pada zaman nabi tingkat kriminalitas begitu rendah, karena hukum yang
ditegakkan tidak neko-neko. Dan syari’at islam tidak ada tawar menawar. Terbukti pada
zaman nabi keadilan dan kesejahteraan umat manusia bisa terjaga dan bisa dikondisikan.
Bagaimana dengan spi sekarang? Hukum ya hukum langgar ya langgar. Itulah yang
terjadi saat ini. Apalagi sekarang sedang wabah sogokan keadilan. Dampaknya
kriminalitas semakin tinggi, perasaan was-was, keberkahan hidup tidak ada. Makanya
zaman sekarang susah ditemukan yang namanya keadilan dan kesejahteraan umat
manusia.

4|Page
Indonesia yang identik dengan sikap anarkis dalam menghadapi tiap masalah yang
tidak sesuai dengan prinsipnya sulit untuk bisa sejalan dengan ajaran agama islam. Tapi
setidaknya masih ada yang memikirkan untuk mengkoordinasikan antara hukum islam
dan hukum sekarang. Maka ditemukanlah suatu titik temu yang tidak merugikan pihak
lain. Sebenarnya mungkin saja syari’at islam dijalankan di Indonesia. Toh buktinya
sekarang banyak undang-undang pidana yang telah memakai landasan islam. Tidak
menutup kemungkinan jikalau suatu saat nanti Indonesia bisa bersyari’atkan islam.
Sedikit demi sedikit para pendiri agama islam di Indonesia bisa menyisipkan syariat
islam pada setiap undang-undang yang akan disusun sehingga dimasa yang akan datang
Indonesia bersyari’atkan islam. Selain adal dan sejahtera, Indonesia mendapat ridho
dari alloh SWT. Inilah yang seharusnya dilakukan. Bukankah kita menginginkan
keselamatan didunia dan di akhirat?

5|Page
2.3 Apakah Anda siap di Indonesia Bersyari’atkan Agama Islam

Sebenarnya kalau ditanya tentang kesiapan. Siap atau tidak siap yang namanya
hukum harus siap. Karena kita menganut faham votting. Yang minoritas yang mengikuti.
Apalagi tentang hukum yang bersyari’atkan islam siapa yang tidak mau hidupnya
sentosa, adil, aman, sejahtera. Itulah yang dicari manusia.
Sifat hukum yang memaksa membuat tiap warga di suatu daerah yang harus
mengiyakan segala hukum. Namun mereka masih isa menolok apabila tidak sesuai
dengan kaidah dan dasar negara yang mereka diamai. Pastinya menyamapikan dengan
tertib tanpa merugikan pihak lain. Namun ironisnya di indonesia jauh dari kata tertib.
Padahal semua adalah demi kesejateraan umat manusia dan keberkahan Alloh SWT.
Jadi tidak ruginya bila kita sedikit memberikan motivasi kepada para pembuat
undang-undang yang berbasiskan syari’at islam dengan mengiyyak ”saya siap”. Dan
harus kita ketahui bahwa hukum Alloh adalah hukum yang seadil-adilnya.

6|Page
BAB III
PENUTUPAN

3.1 Kesimpulan

Artinya, hukuman pidana harus dilihat sebagai cara agar yang bersangkutan tidak lagi
berada dalam kapasitas untuk melakukan tindak pidana (incapacitation theory) dan
pemidanaan dilakukan untuk memudahkan dilakukannya pembinaan, yang bertujuan
untuk merahibilitasi si terpidana sehingga ia dapat merubah kepribadiannya menjadi
orang baik yang taat pada aturan (rehabilitation theory). Teori ini merupakan
pengembangan dari deterrence theory yang beraharp efek pencegahan dapat timbul
sebelum pidana dilakukan (before the fact inhabition), misalnya melalui ancaman, contoh
keteladanan dan sebagainya; dan intimidation theory yang memandang bahwa
pemidanaan itu merupakan sarana untuk mengintimidasi mental si terpidana. Pemerintah
dapat saja memilih untuk mempertimbangkan teori zawajir (bukan jawabir) dalam pidana
Islam yang ternyata cocok dengan teori-teori pidana modern.

3.2 Saran
Semoga laporan yang kami susun ini, bermanfaat khususnya bagi penyusun
umumnya bagi semua pembaca. Mengingat bahwa di dunia ini tidak ada yang sempurna,
begitupun laporan ini. Kami selaku penyusun menyadari laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun kami harapkan dari
rekan-rekan demi perkembangan di masa yang akan datang.

7|Page
DAFTAR PUSTAKA

Dari berbagai sumber


Internet
Dan pemikiran para anggota

8|Page