Anda di halaman 1dari 75

TOT Basic Study Skills Mind-set belajar

MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 1
Modul MD-02
Mind- Set Belajar di Perguruan Tinggi
Oleh: Dr. Arlina Gunarya,MSc
1. Pengantar
Modul ini merupakan suatu ajakkan untuk jedah sebentar dari perjalanan pembelajaran
diri selama ini, khususnya setelah penggal yang kita lalui di UNHAS selama beberapa hari
ini. Jedah ini dimaksudkan agar kita bisa menoleh ke belakang, mencermati apa yang telah
kita alami, dan merefleksikannya untuk memperoleh insight atas perjalanan tersebut. Jedah
ini dimaksudkan pula untuk menerawang ke depan, ke titik perspektif yang hendak kita tuju.
Apakah nampak jelas, samar-samar ataukah samasekali tidak nampak sebab terhalang oleh
’kabut’. Dalam jedah ini pula, manakala kita sudah menemukan peng-alam-an kita dan
sudah punya kejelasan tujuan yang hendak kita capai; marilah kita menyetel ( set up ) mental
kita, sehingga mempunyai ’mind-set’ yang sesuai untuk memasuki penggal perjalanan
pembelajaran berikutnya. Diharapkan dengan ’mind-set’ yang sudah lebih sesuai perjalanan
pembelajaran diri bisa lebih lancar dan mulus, Insya Allah.
Akan tetapi apa sebenarnya mind-set? Dimana posisi dan perannya dalam diri kita?
Mengapa harus ’menyetel ’ mind-set?, Mengapa perlu jedah? Bagaimana setelan mind-set
belajar di Perguruan Tinggi? Bagaimana cara nyetelnya, dst. Itu semua adalah beberapa
pertanyaan yang jawabannya hendak dicari lewat modul MD-02 ini. Oleh karena itu, modul
ini, terdiri dari 5 bagian, yaitu : (1) Pendahuluan, mencari tahu apa arti mind-set, dimana
kedudukannya dalam diri kita, dan mengapa kita perlu menyetelnya.; (2) Jedah sejenak,
mencari tahu mengapa masuk di Perguruan Tinggi ? Apa mind-set ketika masuk dan selama
ini. ; (3) Mind-set belajar di Perguruan Tinggi, menjelaskan setelan pikiran yang seyogyanya
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 2
dimiliki civitas academika di Perguruan Tinggi; (4) Action Plan : Bagaimana kita dapat
memutahirkan setelan mind-set kita agar lebih sesuai; (5) Rangkuman , menutup modul ini.
Demikian isi modul ini, diharapkan setelah mengikuti modul ini mahasiswa dapat lebih
secara sadar mengenali isi dan corak mind-set nya selama satu semester lalu, dan mengetahui
mindset apa yang seyogyanya ada didiri mereka, kemudian bisa belajar menjadi mahasiswa
dengan mind-set yang sesuai.
Sekarang marilah kita memasuki bahasan yang pertama yaitu bagaian Pendahuluan.
1. Pendahuluan
1.1 Arti dan makna ’mind-set’
Apakah sebenarnya yang dimaksud dengan ‘mind-set’ , yang terdiri dari kata
’mind’ dan kata ’set’. Secara harafiah, bila dilihat di kamus 1 , arti kata ’mind’ adalah : “
what a person thinks or feels; way o thinking, feeling, wishing; opinion, intention;
purpose” . Apa yang dipikirkan atau dirasakan seseorang; cara seseorang berpikir, merasa,
berharap, ber maksud, dan bertujuan ; Sedangkan kata ‘set’ menunjukkan banyak arti, antara
lain yang bersesuaian dengan konteks mind adalah : menjadikan sesuatu, mempersiapkan
sesuatu untuk ditangani, menyebabkan seseorang melakukan sesuatu, nyetel, menata sesuatu
untuk tujuan tertentu. Jadi secara harafiah, ‘mind-set’ berarti : setelan/tatanan pikiran,
perasaan, harapan seseorang dalam menghadapai situasi.
Dalam pengertian teknis -Technical term, ‘Mind-set’, yang juga disebut ‘mental-set’
adalah “ A habitual or characteristic mental attitude that determines how you will
1 Oxford Learner’s Pocket dictionary
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 3
interpret and respond to situations” Dengan perkataan lain mind-set adalah mentalitas
atau sikap mental yang sudah mejadi kebiasaan seseorang, dan yang menentu kan bagaimana
ia memaknakan dan memberi respon kepada situasi yang dihadapinya.
1.2 Posisi di diri dan bagaimana terbentuknya?
Dalam diri manusia , terdapat tiga ranah yaitu ranah spiritual, ranah kejiwaan
atau mental dan ranah fisik. Intisari dari ranah spiritual adalah sanubari atau qalbu, yang
berisi berbagai kebijaksanaan-kearifan ( wisdom ) tentang apa yang dianggap benar dan
salah. Dengan perkataan lain dalam sanubari seseorang tersimpan nilai-nilai yang
dianutnya, yang ia peroleh dari olahan atas pengalaman hidupnya.
Selanjutnya, ranah kejiwaan, didalam mana terdapat berbagai perangkat psikologik,
dibangun dari tiga pilar utama , yaitu mind ( mental/pikiran) , perasaan dan kehendak. Di
antara ketiga pilar tersebut terdapat interaksi saling pengaruh timbal balik. Dengan perkataan
lain apa yang dipikirkan mind, dibarengi dengan perasaan dan kehendak iringan pikiran
tersebut.. Begitu pula suatu perasaan dihasilkan oleh suatu pikiuran dan juga menghasilkan
pikiran dan kehendak yang sesuai. Kehendak juga ditentukan dan menghasilkan suatu
pikiran dan perasaan iringannya. Kemudian kesemuanya ini, untuk menjadi tindakan
membutuhkan ranah fisik, tubuh kita.
Mencermati defenisi mind-set di atas, mind-set merupakan perlengkapan mental
ranah psikologik, yang mendapat corak dari ranah spiritual; dan merupakan kecenderungan
bertindak dalam situasi sebagaimana nampak kepadanya. Mind-set , sebagai sikap mental –
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 4
mental attitude ( Gunarya, 1995) terbentuk dari apa yang diyakini (belief-cognitif), dirasakan
( affectif) dan dikehendaki siap untuk diwujudkan dalam bentuk tindakan (connatif-psikomotor).
Dengan demikian, terjadinya tindakan seseorang disebabkan mind-set yang melahir
kannya. Selama seseorang tidak merubah ’mind-set’nya selama itu pula arah tindakannya
tidak berubah. Itu sebabnya, seyogyanya orang yang ingin maju , perlu memutahirkan
’mind-set’ nya sesuai dengan perkembangan diri dan lingkungannya.
Sebagai ilustrasi, misalnya sering kita dengar orang mengatakan : ” Badan dan
kakinya sudah naik mercy, tetapi kepalanya masih di pedati” Artinya, meskipun ia
mempergunakan teknologi canggih, tetapi apabila ’mind-set’nya tidak berubah, maka
perilaku secara keseluruhan, terasa janggal. Anda bisa mencari contoh lain? Cobalah
temukan sekurangnya satu contoh yang terjadi di lingkugan Anda, sehingga pemahaman
tentang mind-set ini menjadi lebih jelas.
Selanjutnya, mengapa sekarang mahasiswa ( Anda ) perlu menyetel kembali ’mindset’
Anda? Kita bahas pada bagian berikut.
1.3 Mengapa mesti nyetel mind set ??
Anda baru saja meninggalkan sekolah Lanjutan , dan baru beberapa hari mengikuti
perkuliahan di Perguruan Tinggi. Barangkali, dari pengalaman beberapa hari ini, Anda
sependapat bahwa ada perbedaan cara belajar di sekolah lanjutan dengan cara belajar di
perguruan tinggi.
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 5
Di sekolah Lanjutan ( Pertama maupun Atas) pada hakekatnya Anda belajar fakta dan
prosedur dasar, yang biasanya dilakukan dengan cara menghafal – memorization. Cara ini
memang sesuai untuk mulai memperlajari bagaimana cara belajar ( level pertama). Di
Perguruan Tinggi, Anda diharapkan berpikir, sehingga Anda perlu belajar bagaimana cara
berpikir. Itu sebabnya membutuhkan skill yang lebih dari skill belajar yang selama ini Anda
miliki. Apabila Anda enggan berpikir sebab terbiasa menerima apapun yang disodorkan –
dijejalkan kepada Anda, berarti mind-set Anda tidak sesuai.
Melalui belajar di Perguruan Tinggi, seyogyanya Anda dapat mentransformasi diri
menjadi seorang pemikir kritis yang bisa membedakan mana fakta dari opini; dapat
mengambil kesimpulan berdasarkan data - yang punya keterbatasan; bisa mengenali berbagai
asumsi dibalik suatu pernyataan atau kesimpulan; Bisa mengembangkan solusi dari persoal
an yang dihadapi; Dapat mengekpresikan diri baik secara verbal, oral maupun tulisan,
Dengan perkataan lain, seorang luaran perguruan tinggi bisa secara nyaman beroperasi di
keenam level tingkatan belajar menurut taksonomi Bloom ( Gunarya, 2004) - yang mencakup
domain kognitif dan domain affektif. Artinya secara kognitif, luaran Perguruan Tinggi dapat
beroperasi pada level pengetahuan - Knowledge, pemahaman -Comprehension, Penerapan -
Application, Analisis – Analysis, sisntesis - Synthesis dan Evaluatif – Evaluation. Sementara
secara affektif, ia dapat memberi perhatian pada ’belajar’, secara aktif dapat bereaksi terhadap
’belajar’; Dapat menghargai ’belajar’; dapat mensintesakan sistim nilai yang dianutnya ;
dan pada akhirnya dapat menerapkan apa yang ia yakini kedalam kehidupannya sehari hari.
Semakin cepat Anda memulai belajar menjadi pemikir kritis, semakin baik. Untuk keperluan
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 6
itulah Anda perlu mengkaji ulang mind-set Anda, apakah sudah sesuai dengan ajakkan
belajar di Perguruan Tinggi.
2. Jedah sejenak
Silahkan Anda mengambil lembar Metaforik Belajar. Anda diminta merenungkan
sejenak pengalaman belajar Anda selama ini, sekurangnya selama semester yang baru
berlalu, kemudian lanjutkanlah kalimat di lembaran tersebut sesuai dengan penghayatan
Anda secara metaforik.
Penghayatan Metaforik Belajar
Dari pengalaman selama ini bagi saya belajar dapat diibaratkan sebagai :
Saya ibaratkan demikian karena :
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 7
Setelah saya mendengar beberapa ungkapan metaforik teman-teman, dapat saya petik
sejumlah insight, sebagai hasil olah pengalaman tersebut, yakni:
Setelah kita pahami betapa perlunya menyetel kembali mind-set kita, sebab tuntutan
belajar di Perguruan Tinggi tidak memungkinkan kita memakai mind-set yang kita perguna
kan selama jadi siswa. Marilak kita jedah sejenak, coba cermati sejumlah pertanyaan di
bawah ini, dan cobalah merenungkan jawabannya bagi diri Anda sendiri.
Monitoring Diri
2.1 Mengapa Anda masuk Perguruan Tinggi, untuk maksud dan tujuan apa ?
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 8
2.2 Atas pilihan siapa Anda masuk ke jurusan/fakultas yang Anda belajar saat ini?
2.3 Berapa lama Anda rencana menyelesaikan study?
2.4 Apa tujuan hidup Anda jauh di depan?
2.5 Apa rencana Anda di semester ini?
2.6 Apakah Anda rasa Anda akan berhasil mencapai tujuan tersebut?
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 9
2.7 Selama semester lalu
2.7.1 Apakah Anda dapat mengikuti pembelajaran di semester lalu ?
2.7.2 Apakah Anda puas dengan prestasi Anda di ujian akhir semester baru-baru ini ?
2.7.3 Hal apakah yang mengganggu Anda belajar lebih lancar dan efektif ?
2.8 Skill apakah yang Anda rasa perlu Anda kuasai untuk bisa lebih berhasil ?
2.9 Penyesuaian apakah yang perlu Anda lakukan agar bisa belajar dengan lebih baik?
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 10
2.10 Apa yang perlu Anda ubah di diri Anda agar Anda bisa belajar lebih mandiri?
3. Mind-set Belajar di Perguruan Tinggi
Setiap orang terpanggil untuk belajar, di hidup dan selama hidup ini; Sebab pada hake
katnya belajar adalah panggilan hidup 2 . Setiap orang pun memiliki cita-cita, memiliki
tujuan hidup, meski banyak yang bahkan tidak peduli untuk memikirkannya apalagi meru
muskannya. Lalu apa yang membedakan mereka yang berke-sempatan belajar di Perguruan
Tinggi dengan yang tidak pernah ?
Pada bagian sebelumnya, telah kita bahas bahwa salah satu peran perguruan tinggi
adalah memandu Anda untuk belajar menjadi orang yang mampu berpikir kritis. Sebagaima
na kita sepakat bahwa pendidikan merupakan kegiatan sepanjang hidup, dan belajar di pergu
ruan tinggi menolong kita untuk bisa melakukan proses belajar seumur hidup tersebut; yakni
dengan menyediakan sejumlah skill yang diperlukan untuk itu. Sehingga Anda selalu bisa
memutahirkan pengetahuan dan keterampilan Anda; dan dengan demikian karir Anda dapat
berjalan terus.
2 Mengenai hal ini, dibahas dengan lebih rinci dalam bagian pertama dari Modul MD-02: Hakekat Belajar.
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 11
Berbagai pengetahuan, teknologi dan sains terbuka bagi semua orang, akan tetapi tidak
semua orang dapat memilikinya, sebab untuk dapat menguasainya orang perlu memiliki
sejumlah skill dan attitude yang tepat , mind-set yang tepat. Sikap mental yang bagaimana
kah yang tepat bagi mereka yang ingin belajar mandiri ?
3.1 Sadar diri, kenal diri dan tahu diri.
Setiap orang dewasa, termasuk Anda, perlu mengenal dan memahami identitas dirisiapa
Anda sejatinya, punya keinginan dan mimpi menjadi orang yang bagaimana, sesuai
yang Anda yakini untuk apa Anda diciptakan dan dilahirkan. Untuk kepentingan ini, ada
beberapa langkah yang perlu Anda upayakan, antara lain :
• Belajar mengambil jarak dari diri Anda sendiri, sehingga Anda bisa berpikir secara
obyektif tentang diri Anda dan apa yang hendak Anda laku-kan. Juga Anda bisa
melihat diri Anda sebagaimana orang lain melihat Anda.
• Dengan wawasan yang lebih nyata tentang diri, Anda bisa menjadi orang yang lebih
mawas diri, dan bertindak lebih responsif 3 - bukan reaktif atas apa yang terjadi pada
diri Anda. Dengan begitu ’locus of control’ ada di diri Anda, dalam hal ini menjadi
’internal locus of control’.
3 Ada perbedaan nyata antara bertindak responsif – artinya tindakan yang Anda ambil merupakan
suatu alternatif yang Anda pilih dari berbagai kemungkinan, berdasarkan hasil pemikiran dan
pertimbangan Anda; dibandingan dengan bertindak reaktif – artinya tindakan yang Anda ambil
merupakan
satu-satunya tindakan yang saat itu muncul dalam pikiran Anda dan segera Anda jalankan.
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 12
• Selanjutnya Anda dapat dan mampu bertanggung jawab atas hidup Anda, tidak
tergantung pada pilihan orang lain; dan dengan demikian tidak juga menyalahkan
orang lain manakala Anda menghadapi hambatan. Dari pengalaman banyak orang
sukses, keberhasilan mereka dikarenakan kesediaan mereka mengambil tanggung
jawab atas peri-kehidupan mereka sendiri. Ini pula sebabnya mengenal dan memahami
diri menjadi sangat penting , karena dengan Anda mengetahui kekuatan dan
kelemahan diri, Anda bisa berbuat sesuatu mengatasi hal tersebut.
• Lebih lanjut, bertanggung jawab tidak cukup hanya kesediaan, tetapi butuh komitmen
dan upaya. Jadi apabila Anda adalah seorang mahasiswa yang bertanggung jawab,
maka hal itu berarti Anda punya kesediaan untuk belajar menjadi cendekiawan yang
semakin maju dan berkembang; dengan komitmen tinggi berupaya menjalani proses
pembelajaran di berbagai lingkup kehidupan kemahasiswaan, baik bersifat akademik
maupun non-akademik, termasuk didalamnya pengertian ’jatuh-bangun’ melalui likalikunya.
Pada hakikatnya, dalam hidup ini tidak ada yang gratis, dan yang perlu
secara sinambung dipertanyakan dan dicari jawabannya adalah: ”Apa yang Anda
rela dan ikhlas mau korbankan hari ini, untuk kepentingan hari esok”.
• Lebih jauh, Anda perlu menyadari bahwa kesempatan selama di perguruan tinggi
merupakan peluang emas untuk menemukan apa yang sebenarnya Anda ingin lakukan
dengan hidup Anda. Sebab perguruan tinggi menyediakan dan memberi
kesempatan pertumbuhan dan perkembangan diri; bukan sekedar indeks prestasi atau
’tawuran’ atau ’latihan demo’.
• Disamping semua hal di atas, tentu saja Anda memerlukan arah –perspektif sebagai
orientasi berjalan dan belajar. Arah dapat Anda peroleh dari visi-misi hidup Anda,
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 13
yang menurunkan sejumlah tujuan hidup Anda. Tujuan tersebut akan bisa menarik
perhatian Anda, sehingga pada gilirannya Anda dapat memilah dan memilih apa yang
menjadi fokus berbagai upaya Anda ke arah tujuan tersebut. Dengan demikian, Anda
menjadi lebih bisa membuka diri belajar memiliki kemampuan dan keterampilan di
banyak model dan tingkatan belajar.
3.2 Fokus dan proses pembelajaran
Pembelajaran di Perguruan Tinggi, sejatinya bervariasi tergantung siapa fokus kegiatan
dan oleh siapa proses pembelajaran terutama dilakukan. Mengenai siapa fokus dari kegiatan
pembelajaran, dapat bergerak dalam rentangan mulai fokus pada individual peserta pembelajaran
sampai pada kelas sebagai group secara keseluruhan. Jadi, individual mahasiswa
bisa menjadi fokus pembelajaran, misalnya telaah jurnal pribadi, log, dsb; bisa juga team
kecil ( group 2-3 orang), misalnya dalam ’role playing’, tidak tertutup juga kemungkinan
fokus kegiatan pembelajaran pada kelompok yang lebih besar ( 5 s/d 8 orang), misalnya
dalam ’focus-group’, bahkan bisa fokusnya pada kelas secara keseluruhan seperti selalu kita
alami dalam kuliah tradisional – ’one way traffic’ .
Di sisi lain, proses pembelajaran juga bisa bervariasi, sesuai oleh siapa proses tersebut
di-berlangsung-kan. Rentangan variasinya bisa mulai dari proses pembelajaran dipandu
sepenuhnya oleh seorang individu ( dosen, asisten, tutor atau seorang mahasiswa yang bertugas
untuk memproses segmen pembelajaran tersebut), misalnya dalam hal pemberian
kuliah, penjelasan suatu konsep, dst. Variasi lain, bisa proses pembelajarandilakukan oleh
kelompok yang lebih besar, misalnya pmbelajaran lewat model ’focus-home group’. Di
TOT
,
ujung
maha
memp
Karak
T Basic Stu
Januari 2008
g rentangan,
asiswa sekela
Lebih jauh,
peroleh setid
Coba Anda
kter Ajakan
tudy Skills
8
bisa juga pr
as secara kes
apabila ked
daknya 4 ku
cermati diag
Modus Pem
D
Pusat Bimb
roses pembel
seluruhan, m
dua rentang t
adran yang v
gram 01: Va
mbelajaran ba
Diagram 1: Va
bingan dan K
lajaran dilan
misalnya pem
tersebut kita
variatif.
ariasi Modus
awah ini :
ariasi Modus
12
43
Konseling UN
ngasungkan s
mbelajaran y
kombinasik
s Pembelajar
Pembelajaran
Mind-se
HAS
secara bersa
ang bersifat
kan, maka kit
ran dan diag
n
et belajar
MD-02
ama oleh sem
kolaboratif.
ta bisa
gram 02:
14
mua
TOT
,
pada
terseb
ajaka
menu
direc
T Basic Stu
Januari 2008
Pertama, p
individual, d
but, modus –
an modus pad
unjukkan sej
cted’ dan ’int
Self-respect
di perpusta
sehing ga
kesempatan
tudy Skills
8
pada kuadra
demikian pu
modus pad
da kuadran i
umlah karak
ternal locus
t, artinya ma
kaan, atau d
ia bisa den
n, waktu da
Pusat Bimb
Diagram 2: K
an 1, terdapa
ula individua
da kuadran in
ini, sebagaim
kter seperti :
of control’.M
asing-masing
di mana saja
ngan penuh
an suasana
bingan dan K
Karakter Ajak
at variasi mo
al bersangkut
ni diberi labe
mana bisa dil
’self-respec
Mari kita tel
g mahasiswa
a, perlu mem
h tekad, sem
yang nyam
Konseling UN
kan Modus Pe
odus yang fo
tan yang me
el : ’Belajar
lihat pada D
ct’, ’otonomi
laah satu per
a yang hend
miliki rekpek
mangat dan
man untuk b
Mind-se
HAS
mbelajaran
okus kegiatan
elangsungkan
r sendiri’. L
iagram 2 di
i’,’focus own
rsatu.
dak belajar s
k diri yang
sukacita m
belajar selam
et belajar
MD-02
nnya bertum
n pembelajar
Lebih jauh, s
bawahnya,
n thought’, ’s
sendiri, di ru
cukup mem
memberi dir
ma kurun w
15
mpu
ran
sifat
selfumah,
madai,
ri-nya
waktu
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 16
tertentu (sesuai rencana yang diagendakannya). Dengan demikian ia pun ikhlas mengijinkan
dirinya memberi perhatian penuh dan berkonsentrasi hanya kepada sejumlah
bahan relevan yang telah dipersiapkannya untuk dipelajarinya saat itu. Dengan
demikian pula ia pun berkomitmen untuk melindungi dirinya dari berbagai gangguan
baik dari dalam dirinya maupun dari luar yang bisa meng-alihkan perhatiannya. O leh
karena tu segala sesuatunya telah ia persiapkan dengan sebaik-baiknya, sebab ia respek
kepada hak pribadinya untuk belajar. Di sisi lain, iapun berkewajib an untuk respek
kepada orang lainlain, dosen, dan siapapun yang sedang mempergunakan hak
pribadinya.
Sejalan dengan terbangunnya respek diri di atas, mahasiswa bersangkutan memiliki
’otonomi’, paling tidak selama kurun waktu belajar tersebut, ia mempunyai hak
mengatur diri dalam segala sesuatunya. Ia berhak menyampaikan bahwa ia tidak
bersedia berbagi waktu, perhatian dan ruang pribadinya dengan orang-orang lain. Itu
sebabnya seyogyanya ia memilih ’ruang’ dan kurun waktu tertentu untuk belajarnya.
Ruang belajar ini tidak selalu mesti dalam bentuk ruang/kamar, bisa saja hanya suatu
sudut di kamarnya, di kebun ataupun di perpustakaan, bahkan di sudut meja makan pun
bisa. Yang terpenting ada suatu tempat di mana ia bisa secara otonom mengatur dirinya
belajar tanpa ada banyak gangguan.
Selanjutnya pada kurun waktu tersebut, ia memiliki kebebasan akademik dengan
pikirannya sendiri -’focus own thought’, memutahirkan dan mengembangkannya sambil
mere-integrasikan dengan hasil perolehan belajarnya. Manakala pikirannya tidak bisa
atau belum bisa memadukan informasi yang baru didapat dari hasil belajarnya, selalu
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 17
mungkin ia mencari tahu pendapat orang lain, baik secara langsung maupun lewat
teknologi, pada waktu yang bersesuaian dengan jaringan supportive-nya.
Dengan demikian, bisa dipahami bahwa untuk modus belajar sendiri, modus-modus lain
pada kuadran 1 ini, mahasiswa perlu berinisiatif , ’self-directed’ mengatur diri, ruang
dan kegiatannya dan terutama memiliki ’internal locus of control’.
Kedua, pada kuadran 2, terdapat variasi modus pembelajaran yang berfokus pada
individual, akan tetapi dilangsungkan bersama dengan teman sebaya, dengan kelompok. Di
kuadran ini mahasiswa belajar bersama- sama, boleh jadi kelompok belajar di salah satu
rumah teman, ataupun di kampus; Secara fisik mereka berada dalam ruang dan waktu bersama,
dalam kegiatan belajar, namun fokus kegiatannya pada individual. Masing-masing
orang bisa saja mempelajari hal/bagian yang berbeda. Kebersamaannya bisa berfungsi saling
menunjang dalam hal bertahan belajar. Dalam kegiatan seperti ini diperlukan sejumlah
karakter antara lain ’Mutual respect’, demokratis, partisipatory , competing dan ada
’multiple priorities’ serta ’Multiple values.
Bila demikian ajakannya, maka sebelum mengikuti kegiatan belajar tersebut, mahasiswa
perlu menyetel pikirannya ( mindsetting) antara lan menyiapkan sikap mental yang
respek ke diri cukup memadai, sehingga juga bisa salng respek (Mutual respect) kepada
semua teman lain sekelompoknya, yang berbeda satu sama lain baik dalam sikap, cara
belajar, tingkatan kemampuan maupun kepentingan belajarnya (’multi priorities’ dan
’Multiple values). Oleh sebab itu, masing-masing mahasiswa perlu ber-partisipasi
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 18
(partisipatory) dalam kegiatan bersama, secara demokratis, sehingga setiap orang dapat
menikmati kebersamaan tetapi juga kepenyingannya belajar terpenuhi secara optimal,
bahkan tetap bisa saling bersaing secara sehat ( competing). Mereka yang datang dengan
min-set lain, misalnya saja yang ingin maksimal sesuai kepentingan dan kebiasaannya,
akan memaksakan kepada yang lain, maka akan terjadi kekacauan pikirannya dan tentu
saja tidak bisa belajar bahkan bisa terjadi bentrokan malah semuanya tidak bisa melangsungkan
kegiatan belajarnya, Oleh karena itu, penting untuk masing-masing menyetel
sikap mentalnya memasuki ajang belajar bareng.
Ketiga, pada kuadran ketiga terdapat modus pembelajaran yang berfokus pada group dan
diberlangsu((ngkan oleh group atau bersama teman-sebaya juga. Kegiatan pembelajaran di
kuadran ini banyak macamnya, diberi label: belajar secara kolaboratif. ”colaborative
learning”. Ajakan pembelajaran di kuadran ini mengharuskan pesertanya nyaman dengan
kegiatan yang bercorak : Shared values, communities, cooperatif dan consencus seeking
Dengan perkataan lain, mengikuti modus kegiatan pembelajaran di kuadran ini, orang
perlu bersedia berada bersama sebagai layaknya suatu komuniti yang utuh dengan
berbagai karakternya (communities). Segala sesuatunya dilakukan secara cooperatif, (,
cooperatif). sehingga tentu saja perlu siap berbagi nilai-nilai, ( Shared values,). kalau
perlu bergeser sejauh masing-masing memang bisa mencari konsensus bersama
(consencus seeking). Apabila ada peserta yang mind-setnya tidak demikian, maka
proses pembelajarannya tidak akan berjalan dengan baik, sebab selalu mungkin ada
yang tidak melakukan sesuai yang sudah disepakati bersama, maka akan kacau.
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 19
Ke-empat, pada kuadran ke-empat terdapat modus pembelajaran yang berfokus pada
group dan dipandu keberlangsungannya oleh seseorang / sendirian . Saya kira kita masingmasing
sudah hafal modus kegiatan belajar seperti ini, sejak di SD, kegiatan belajar lebih
banyak sama dengan sifat ajakan di kuadran 4 ini, yaitu antara lain: Autority, Autocracy,
listening, constrained dan tempo.
Dalam hal ini, seorang pemandu (guru, dosen, presenter) mempunyai otoritas
(Autority), yang cukup besar, ia perlu otoritas tersebut untuk bisa menguasai situasi
kelas, apalagi kelas besar, sehingga ia bisa mengelola proses belajarnya dengan baik.
Pemandu biasanya lebih otokarasi (Autocracy ) menentukan lingkup dan alur pembelajaran,
disesuaikan dengan waktu yang biasanya terbatas, dan dipertimbangkan
keadaan kelas secara keseluruhan ( setidaknya mereka yang kebanyakan –average
sekitar 68-70 %). Jadi di kelas selalu mungkin ada sejumlah kecil mahasiswa yang
merasa bosan karena menghayati proses pembelajaran terlalu lambat, sementara ada
juga sebagian kecil lainnya yang merasa kewalahan, karena menghayati proses pembelajaran
berjalan terlalu cepat. Disamping itu terdapat pula berbagai keterbatasan
lainnya, seperti lingkungan belajar yang kurang kondusif, panas, kurang terang, pengap
dsb (constrained & tempo). Di fihak lain mahasiswa seyogyanya proses utamanya
adalah berkonsentrasi mendengar dengan sungguh-sungguh (listening) sekaligus
berfikir secara kritis mengintegrasi dan re-integrasi kognisi yang sudah ada di kepala
nya. Oleh karena itu, mind-set mahasiswa yang belajar dari kuliah, perlu disetel sesuai
ajakannya. Bila ia terlambat masuk kelas, atau mengobrol, melamun di dalam kelas,
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 20
maka proses pembelajaran di dirinya tidak berjalan lancar. Bisa saja konfigurasi kognisi
di pikiran mahasiswa tersebut setelah selesai kuliah persis sama dengan kondisi pada
saat ia masuk ke ruang kuliah, tidak ada tambahan atau perubahan pengetahuannya.
Dari uraian berbagai modus di atas, nampak jelas bahwa setiap model pembelajaran
mengandung ajakan yang berbeda-beda. Universitas Hasanuddin telah mengambil langkah
transformasi penyelenggaraan pembelajaran lebih bertumpu pada mahasiswa (student centre
learning). Dosen dilengkapi dengan upaya transformasi dari proses pembelajaran yang lebih
bertumpu di kuadran 4 ke arah semua kuadran. Sehingga, ke depan Anda akan mengalami
lebih banyak variasi pembelajaran dengan ajakan masing-masing. Oleh karena itu, sangatlah
wajar apabila Anda mengembangkan kemampuan fleksible menyetel sikap mental Anda (
mind-setting ) sesuai dengan ajakan model pembelajarannya, setiap memasuki kegiatan
pembelajaran yang berbeda. Selanjutnya, muncul pertanyaan bagaimana kita bisa memiliki
kemampuan menyetel mind-set sesuai yang diperlukan. Pada bagian berikut kita akan coba
telusuri jalan membangun dan merawat kemampuan mind-setting, untuk belajar.
4 Acton Plan : Bagaimana me’nyetel’ mind-set.
Pada bagian Pendahuluan telah dibahas bagaimana mind-set terbentuk, dan bahwa ketiga
ranah dalam diri kita turut berperan. Oleh karena itu upaya perubahan ‘mind-set’ perlu
menelusuri jalur yang sama. Kita akan coba melihatnya ranah demi ranah.
4.1 Ranah Spiritual
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 21
Tadi dijelaskan bahwa kita perlu menyadari secara obyektif mengenali siapa diri kita
sebenarnya ? Apa yang hendak kita perbuat dengan hidup ini. Apa tujuan hidup ini ? Barang
kali kita perlu bertanya lebih mendasar lagi, atas kehendak siapa kita hadir di dunia ini?
Yang pasti bukanlah kehendak diri kita sendiri. Apabila kita sependapat bahwa kehadiran
kita masing-masing di dunia ini atas kehendak Sang Pencipta, maka kedaulatan atas hidup ini
sesungguhnya ada pada Nya. Namun demikian, syukur Alhamdulillah, kita tidak diperlaku
kan sebagai robot, tetapi diberi kebebasan berkehendak dan kebebasan memilih, dan dengan
begitu menjadi selayaknya kita bertanggung jawab.
Masing-masing kita diciptakan unik, sejagat raya tidak ada yang sama. Masing-masing
kita dibekali sejumlah potensi yang berbeda-beda. Kita pun sepaham bahwasanya Yang
Maha Kuasa adalah Maha Adil. Jadi, konsekwensi logiknya, kepada mereka yang diberi
potensi banyak, pasti dilekatkan tugas misi yang membutuhkan banyak potensi. Mereka yang
dibekali potensi sedikit, tidaklah munkin diberi tugas yang melebihi potensinya. Jadi kenyata
an bahwa Anda saat ini adalah mahasiswa UNHAS, berarti potensi yang dibekalkan kepada
Anda berada di atas rerata orang-orang sebaya Andapaling tidak di Indonesia. Dari sudut
peluang belajar diperguruan Tinggi, Anda termasuk ’the top 10 percent ’ bangsa ini. Maka
apabila perilaku Anda sama saja dengan mayoritas orang Indonesia, maka ”it must be something
wrong with you’ . Arti nya masih ada sejumlah potensi di diri Anda yang mubazir.
Persoalannya sekarang, apakah Anda siap mempertanggung jawabkan nya kepada Sang
Pencipta ata kemubaziran tersebut? Kita tahu Dia tidak suka kemubaziran.
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 22
Bila demikian halnya, apa yang perlu kita lakukan dengan hidup ini ? Mudah-mudahan
Anda bisa sepakat dengan saya, bahwa yang paling tahu hidup kita untuk apa adalah Yang
menciptakan kita, sebab ‘blue print’-nya ada padaNya. Maka, sangat wajarlah apabila kita
berkonsultasi kepadaNya, mencari tahu dari apa yang dibekalkan kepada kita, dari berbagai
peluang yang disuguhkan kepada kita, dan dari berbagai hal yang dapat kita belajar; apa
maksud dan peruntukkan kita dihadirkan di dunia ini. Jawaban kita masing-masing atas
pencarian ini, akan merupakan fondasi dari ‘mind-set’ kita masing-masing. Maka salah satu
tujuan penting dihidup ini adalah mencari tahu hal hal hakiki ini, yang mungkin saja mem
butuhkan waktu sepanjang dan seumur hidup kita. Hal lainnya adalah kita perlu belajar
menjadi orang sebagaimana dimaksudkan Pencipta ketika menciptakan kita., atau dalam
bahasa agama, sesuai ‘fitrah’, sesuai ‘blue print’.
Selanjutnya, di atas fondasi itulah kita menurunkan segala sesuatunya yang lebih
normative praktis. Tentu saja dalam perjalanan kehidupan seringkali kita tergeser beralih
arah. Itu sebabnya, secara berkala kita perlu melakukan pemutahiran jawaban-jawaban atas
pertanyaan hakiki tadi, dan dengan demikian mind-set kita dapat pula dimutahirkan tanpa
kehilangan fondasinya.
4.2 Ranah Kejiwaan - Psikologik
Pikiran, perasaan dan kehendak sebagai pilar-pilar utama ranah ini, memerlukan perhatian
dan perawatan. Mind-set mempunyai aspek cognitif ( pikiran) , affective ( perasaan) dan
connatif ( kehendak-tindak). Oleh karena itu , pembentukkan dan perubahan ‘mind-set’ bisa
melalui ketiga jalur tersebut. Artinya, bisa mulai dari aspek kognitif, dengan mempertanyaTOT
Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 23
kan kembali gagasan-gagasan yang selama ini kita anggap benar, berlaku. Dalam proses
pemutahiran (updating) ini, tidak selamanya gagasan lama akan digantikan oleh gagasan
baru. Bisa saja setelah kita mengkaji ulang gagasan tersebut, kita tetap beranggapan bahwa
idea tersebut baik dan perlu dipertahankan; bahkan setelah mempertimbangkan berbagai
informasi baru yang kita terima sekalipun. Juga bisa terjadi, dengan adanya informasi/fakta
baru, kita meyakini bahwa memang gagasan tersebut sudah usang (’out of date’), jadi perlu
kita ganti dengan modifikasinya atau samasekali baru. Dengan begitu aspek kognitif dari
mind-set telah dimutahirkan. Bayangkan ada orang yang tidak pernah mengkaji ulang apa
yang ada di kognisinya, berarti mind-set nya, asli-untouch, kuno, bukan klasik.
Selanjutnya proses pemutahiran ini berlanjut ke aspek affektif, dengan mengkaji
perasaan kita, dan selalu mungkin valensi perasaan ini bisa menguat atau mengecil dengan
arah yang sama ataupun yang berlawanan. Lebih lanjut, komitmen akan mengarahkan
kehendak menjadi tindakan, sejalan gagasan dan perasaan kita. Dengan perkataan lain, kita
bertindak sudah berdasarkan pada mind-set yang baru.
Jalur lain, melalui pemutahiran perasaan terlebih dahulu. Kadang-kadang valensi
perasaan begitu kuat di satu arah ( terlalu positif ataupun terlalu negatif), menghalangi proses
pemutakhiran. Oleh karena itu, sebaiknya perasaan trlebih dahulu dimutakhirkan, lewat
mengalami arah baru, sehingga valensinya bisa berkurang, bahkan sampai netral, barulah
dibarengi dengan pemutahiran gagasan dan kehendak.
Jalur lain lagi lewat pembiasaan perilaku baru (’conditioning’). Dengan jalur ini, kita
tanpa banyak berpikir dan terlepas dari perasaan ’terpaksa’ melakukan tindakan-tindakan
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 24
baru. Setelah menjadi kebiasaan baru, muncul perasaan baru dan kemudian diberi makna
baru. Pada akahirnya menjadi ’mind-set’ baru. Namun demikian, untuk jalur ini perlu lebih
berhati-hati, sebab jarang sekali pembiasaan ini dibarengi perasaan netral, biasanya muncul
perasaan negatif, yang justru bisa menjadi ’bumerang’ dalam proses pemutahiran gagasan
nantinya; Sehingga perubahan tingkah laku terjadi tanpa perubahan mind-set, lalu jadilah
seperti yang dikatakan ”kaki sudah berada di mercy, tetapi kepalanya masih di pedati.”
Menjadi jelas bahwa proses pemutakhiran ’mind-set’ hanya bisa dilakukan oleh yang
bersangkutan. Fihak lain bisa memfasilitasi, tetapi pemutahiran hanya bisa dilakukan yang
bersngkutan. Proses pemutahiran ini sendiri seyogyanya menjadi kebiasaan orang yang ingin
maju. Hanya dengan selalu berupaya mutakhir-lah kita bisa berpacu dengan perubahan ling
kungan global ini. Sebagai ilustrasi, Anda sulit maju kalau Anda tidak bersedia memutakhir
kan perangkat belajar Anda seperti: kemampuan membaca (termasuk bahasa asing), kemam
puan meng-akses informasi lewat perpustakaan, apalagi dari global resources lewat internet,
dst. Sehingga mau tidak mau, menjadi civitas academica punya konsekwensi terbuka untuk
kemutakhiran. Hal ini bisa dimungkinkan apabila secara sadar Anda men-nyetel mind-set
Anda, sehingga sesuai.
4.3 Ranah Jasmani - Fisik
Semua proses dalam diri kita didukung oleh instrumen (perangkat keras ?!?) yang di
bekalkan dalam tubuh kita. Ada yang sudah jadi sejak lahir ( misalnya trio tulang di ruang
tengah telinga) ; tetapi sebagian besar diperbaharui, berkembang sejalan dengan perkem
bangan manusianya ( misalnya otak, relung otak dan dendrit syaraf bertumbuh dan berkem
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 25
bang sejalan dengan aktifitas perilaku manusia pemiliknya) . Oleh karena itu, pemutakhiran
tubuh menjadi sangat penting.
Tubuh sendiri telah mempunyai perangkat dan mekanisme untuk selalu memperbaharui
dirinya, pergantian sel-sel mati, pertumbuhan, penguatan dsb Prosesnya berjalan bahkan
hampir tanpa kita sadari. Namun demikian ada sejumlah kondisi yang perlu ada , agar proses
tersebut berlangsung, antara lain: nutrisi yang seimbang dalam jumlah maupun komposisi
sebagai asupan, juga keurutan dan timing masuknya ke dalam tubuh.; Tubuh memerlukan
asupan vital yaitu oksigen dalam udara segar ( dalam 5 menit otak tidak mendapat supply
udara segar (O2) maka sistemnya akan segera ’shut down’, Tubuh juga membutuhkan
kondisi relax, istirahat agar proses pergantian sel bisa berlangsung.
Oleh karena itu kitapun perlu mencari tahu, apa dan bagaimana cara merawat dan
memelihara tubuh ini, agar segala sesuatunya bisa berjalan sesuai rancangannya, ( default
dari design-nya) untuk keperluan itu perlu dipelajari ’buku manual’ yang diterbitkan Sang
Pencipta.
Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa interaksi antar komponen di ketiga ranah
bekerjasama membentuk dan memodifikasi ’mind-set’ kita. Mind-set sendiri sangat penting
karena persepsi dan perilaku kita diarahkan oleh mind-set . Sering hampir tanpa kita sadari,
’mind-set’ kita memandu kita memaknai dunia dan ia juga yang memimpin kita memasuki
dunia dengan cara dan corak yang ia anggap benar.
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 26
Sebelum mengakhiri modul ini, berikut ada sejumlah tips untuk merawat ’mind set’ kita
agar tetap mutakhir.
• Putuskan tujuan hidup Anda, jangka panjang, jangka menengah dan jangka
pendek
• Rencanakanlah secara ‘backward’ ke hari ini, maka Anda akan tahu apa yang
perlu hendak Anda lakukan hari ini, dan setiap harinya ke depan.
• ‘Be open-minded ‘ terhadap gagasan ataupun pengalaman baru
• ‘Be whole-hearted ‘ dalam menjalani komitmen terhadap tujuan hidup yang
sudah kita pilih dan tentukan.
• ’Be responsible ’ untuk semua yang kita putuskan, lakukan dengan segala
konsekwensi dan resikonya.
• Bersiaplah maju, lakukan proses pemutakhiran dari waktu ke waktu
• Secara praktikal, buatlah jurnal pribadi, sebab dengan menuliskan jurnal
pribadi , Anda bisa menambah kesadaran diri, ’memaksa’ Anda membuat
refleksi pikiran Anda. Lakukanlah ini setiap kali Anda selesai dengan suatu
segmen kehidupan ( seusai kulaih, seusai baca buku,dst.) Tulisan itu akan
merupakan asset penting bagi hidup Anda. Ketika Anda membacanya kembali
suatu saat, Anda dapat melihat bagaimana perkembangan pemutakhiran mindset
Anda dari hari ke hari.
5 Ringkasan
Kita baru saja menyelesaikan bahasan tentang mind-set, dimulai dengan menggali arti
harafiah maupun makna teknisnya., ternyata mind-set merupakan hal penting dibalik segala
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 27
perilaku kita. Perubahan perilaku didukung dengan perubahan ‘mind-set’. Juga telah kita
ulas mengapa perlu me-‘nyetel’ mind-set untuk lancer belajar di Perguruan Tinggi, terutama
karena UNHAS memilih SCL. Secara singkat keperluannya mendesak, sebab belajar berpikir
kritis membutuhkan mind-set yang sesuai yang memungkinkan kita belajar mandiri sepanjang
kehidupan kita.
Pembentukan dan perubahan ‘mind-set’ pada hakikatnya hasil kerja kolaborasi ber
bagai komonen dari ketiga ranah dimensi diri, bersifat dinamis dapat berubah. Jalur perubah
annya bisa melalui kognisi, affeksi ataupun psiko-motor. Masing-masing jalur punya kelebihan
dan kekurangannya. Namun pada akhirnya perlu perubahan total, sehingga mencipta
kan ’mind-set’ yang mutakhir.
Sejumlah langkah kita kaji dan di akhir modul ini telah kita lihat beberapa tips untuk
secara praktikal melatihnya. Semua yang ada di modul ini, masih dalam bentuk kognitif,
Anda perlu membawanya ke affektif dan konatif Anda. Selamat memulai belajar menjadi
seorang pemikir kritis dengan cara membentuk kebiasaan memutakhirkan diri terus menerus.
Daftar Bacaan Lanjut
Calne, Donald B., 2004, ” BATAS NALAR” – Rasionalitas dan Perilaku Manusia, KP Gramedia,
Jakarta
Chang, & Simpson, D. (1997). The circle of learning: Individual and group processes. Education
Policy Analysis Archives. V5, No. 7. http://olam.ed.asu.edu/epaa/v5n7/
TOT Basic Study Skills Mind-set belajar
MD-02
, Januari 2008 Pusat Bimbingan dan Konseling UNHAS 28
Dweck, Carol S, 2006, ” MINDSET : The New Psychology of Succes”, Random House, New
York.
Dweck, Carol S, 2007, ” Change Your MIND-SET Change Your Life” – Cara Baru melihat
Dunia dan Hidup Sukses tak Terhingga, PT Serambi Ilmu Semesta, Jakarta
Jones, R.Nelson, 1989, ”Effective Thinking Skills”, Cassell Educational limited, London hapiro,
Stephen M, 2006, ” GOAL - FREE LIVING” , John Wisley & Sons, Inc
Kanosuke Matsushita,1992, ”AS I SEE IT”, PHP Institute, Inc, Tokyo.
Rhenald Kasali, 2007, ” RE-CODE” Your Change DNA- Membebaskan Belenggu –Belenggu
untuk Meraih Keberanian dan Keberhasilan dalam Pembaharuan, Cetakan ke 3 , PT
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Rokeach, Mlton, 1960, ”The OPEN and CLOSED MIND”, Basic Books, Inc, New York
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 1 Januari 2006 1
Modul MD-01
Model Perilaku Belajar
Oleh : Dr. Arlina Gunarya, MSc
1. Pengantar
Pembahasan mengenai perilaku belajar sangat luas, mencakup banyak aspek. Sejumlah
pertanyaan bisa menolong kita untuk mengulitinya, seperti: Apa yang dimaksud dengan
perilaku belajar ?; Siapa yang terlibat dalam belajar ? ; Kapan/bilamana sebaiknya waktu
belajar agar menjadi efektif ?; Dimana tempat yang efektif bagi kita untuk belajar?;
Bagaimana belajar yang efisien dan efektif? Bahkan kitapun bisa menanyakan - mengapa kita
harus belajar? Dst,dst.masih banyak lagi.
Namun pada kesempatan ini, kita fokuskan bahasan kita pada hal yang lebih mendasar
yaitu hakekat belajar yang merupakan proses seumur hidup dan yang membentuk (shaping)
kehidupan Anda. Kemudian bahasan berikutnya adalah mekanisme belajar. Ada banyak
teori menerangkan mekanisme perilaku belajar; dalam modul ini dipilih model Biopsikologik,
sebab model tersebut bisa menolong kita untuk memantapkan diri belajar secara
mandiri. Selanjutnya, sesuai dengan tujuan pelatihan Basic Study Skills adalah untuk
meningkatkan skill belajar masing-masing kita, maka seyogyanya kita memahami pula
faktor-faktor penghambat belajar.
Oleh karena itu, modul ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama, mengenai hakekat
belajar; bagian kedua, Dinamika perilaku belajar dan bagian ketiga Faktor berpengaruh
dalam belajar. Bagian empat merupakan rangkuman modul MD-02 secara keseluruhan,
diikuti oleh Daftar Bacaan . Sebagai lampiran, disertakan assesmen bagi Anda bila ingin
mengetahui pola belajarnya selama ini.
Dengan demikian bila Anda usai mempelajari bahan modul ini dengan tuntas, maka
diharapkan Anda bisa menjelaskan: makna hakiki dari konsep ’belajar’, menjelaskan mekanisme
belajar melalui salah satu model dinamika perilaku belajar, yakni model ’Biopsikologik’,
dengan segala alternatif komponennya. Disamping itu, Anda pun dapat menye
butkan dan mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat menghambat proses belajar. Lebih
jauh diharapkan pula agar Anda dapat mengidentifikasi pola belajar yang selama ini biasa
Anda lakukan, dengan mempergunakan assesment model ’bio-psychologic’. Sekarang, kita
siap memasuki bagian pertama : Hakekat belajar
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 2 Januari 2006 2
Bagian 1
Hakekat Belajar
1. 0 Latihan awal
Sebelum kita membahas tentang hakekat belajar, cobalah diam sejenak, pikirkanlah
apa yang hakiki dalam hal belajar? Tulislah semua ide yang muncul di pikiran Anda tentang
hakiki belajar. Bila telah selesai menuliskannya, marilah kita masuki pembahasannya.
1.1. Pendahuluan
Kata ‘belajar’ pasti tidak asing lagi bagi kita. Barangkali sudah ribuan kali kita
mendengarnya, mungkin kata itu mendatangkan nuansa kegembiraan ke diri kita, tetapi juga
ada kemungkinan membawa kemurungan, kebosanan , ketegangan dan sebagainya seribu
rasa. Namun demikian, pernahkan kita mempertanyakan ke diri kita, apa sebenarnya makna
kata belajar itu ? Mengapa selama hidup kita selalu disarankan untuk belajar , belajar dan
belajar? Apakah hakekat belajar semasa kanak-kanak sama dengan bagi orang dewasa?
Apakah semua manusia melakukan hal belajar? Apa beda belajar dan berlatih? Apa yang
dihasilkan dari belajar; Apakah belajar membuat orang jadi pintar, jadi baik, jadi bijak? Dst.
Pada bagian ini, kita akan mendiskusikannya secara umum, supaya kita sedikit
mempunyai wawasan, tetapi juga tidak pusing kepala, karena seakan memperumit diri
dengan sejuta tanya. Oleh karena itu, bahasan kita kelompokkan dalam sub-bagian, yaitu :
(1) Belajar adalah panggilan hidup manusia sepanjang hayatnya (2) Instrumen belajar pada
manusia (3) Belajar punya kadar (4) Pembelajaran dimulai di keluarga.
1. 2 Belajar adalah panggilan hidup
Secara hakiki, sebagai orang beriman, kita meyakini bahwa kehadiran kita di dunia
ini atas kehendak Sang Pencipta, dengan dibekali sejumlah potensi (lengkap) untuk menjadi
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 3 Januari 2006 3
seseorang yang dimaksudkan olehNya. Artinya, bila kita meminjam istilah teknik, cetak biru
– ’blue print’ diri kita, ada pada Sang Pencipta; dan segala potensi serta perlengkapan yang
diperlukan untuk menjadi ’yang tercetak di ’blue print’ tersebut ’ telah dibekalkan dalam diri
kita. Selanjutnya, tugas kitalah membangun diri ke arah tersebut. Tentu saja, kita perlu
mengenali-mencari tahu apa sih yang dibekalkan kepada kita masing-masing; seperti apakah
blue-print nya; perlengkapan apa saja yang diperlukan untuk membangunnya? Hal-hal apa
yang masih perlu ditambahkan, dari mana bisa diperoleh, bagaimana mendapatkannya?
Mengapa disainnya demikian, untuk keperluan apa, untuk kepentingan siapa, dst, dst.
Upaya ’mengenali dan mencari tahu’ ini menjadi amat penting, sebab merupakan
prasarat untuk upaya ’menjadi’ orang yang sesuai dengan yang dimaksudkan Pencipta.
Menurut saya, ’upaya mengenali dan mencari tahu’ ini merupakan dasar hakikinya belajar,
Seyogyanya upaya itu berlangsung terus menerus sepanjang hidup kita, sambil memonitor
diri apakah sudah dalam ’track’ yang sesuai blue print, apakah ada kesalahan konstruksi kita,
bagaimana menyesuaikannya kembali, dst. Secara logika kita perlu senantiasa meng
konsultasikannya dengan Perancangnya.
Jadi, belajar adalah panggilan hidup kita, bukan karena disuruh orang tua/guru/dosen
atau siapapun, tetapi merupakan konsekwensi logik dari kehidupan. Tanpa belajar, kita
tidak dapat melakukan ’proses menjadi’ diri kita, apalagi diri kita sesuai fitrah, sesuai
kehendak-Nya, yang saya yakin baik adanya.
1.3 Instrumen belajar pada manusia
Manusia diciptakan sungguh menakjubkan. Apabila kita mencermati tubuh manusia,
coba Anda cermati tubuh Anda, sungguh luar biasa. Betapa lengkap dan canggihnya
instrumen yang dibekalkan dalam tubuh manusia agar bisa belajar. Instrumen untuk
menangkap informasi, instrumen untuk mengolahnya, instrumen untuk menanggapinya,
instrumen untuk memberi respon, dsb.
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 4 Januari 2006 4
(a) Instrumen menangkap informasi
Instrumen untuk menangkap informasi yang kita miliki, sungguh kompleks, baik
dari ragam, mekanisme, maupun fungsinya. Kita memiliki sekurangnya panca indera, indra
penglihatan, pendengaran , penciuman, pengecapan dan perabaan. Mari kita melakukan
telaahan sepintas pada kelima indra tersebut1
Indra penglihatan, yang merupakan indra utama yang menolong kita mengenali dan
memahami dunia sekeliling kita. Bahkan Leonardo da Vinci, pelukis terkenal di dunia
pernah berdecak kagum, hampir tidak bisa percaya bagaimana ruang begitu kecil bisa berisi
semua citra di alam semesta? Sungguh menakjubkan. Itu semua bisa kita alami, karena
instrumen mata kita yang luar biasa. Indra penglihatan manusia merupakan jaringan kom
pleks dari ratusan juta sel yang beragam bentuk dan fungsinya, yang memungkinkan kita
dapat menangkap dan membedakan cahaya, bentuk dan warna secara rinci. Gabungan
sekitar 120 juta sel batang dan 7 juta sel kerucut memungkinkan kita menerima dan merekam
cahaya, menangkap citra fisik dari luar yang berhenti di retina; untuk kemudian ditransfor
masi kedalam pesan elektonik dan dilanjutkan ke sekitar satu juta serabut saraf di otak kita,
yang akhirnya melemparkannya ke dalam visual kortex dan ............... muncullah keajaiban
penglihatan. Sementara kerja kortexpun sungguh di luar yang dapat kita bayangkan; sekitar
satu milyar pesan per detik diterimanya dari retina untuk diolah dan menghasilkan image
penglihatan kita.
Indra pendengaran tidak kalah dahsyat rancangannya. Alat pendengaran manusia
relatif kecil dengan kepekaan yang relatif kurang, dibandingkan beberapa machluk lainnya
( misalnya gajah, anjing,dst). Akan tetapi kita dapat menangkap nuansa perbedaan suara
suara yang ada di sekeliling kita dengan begitu rinci. Saya bersyukur, dengan keterbatasan
kepekaan tersebut, sebab tidak terbayangkan betapa menderitanya kita bila sedikit saja
1 Sumber untuk ulasan butir ini : buku ”In His Image” dan ’ Fearfully and Wonderfully Made”
yang sangat inspiratif dan indah, ditulis oleh kolaborasi seorang dokter ahli penyakit kusta, bedah
tangan dan spesialis rehabilitasi medik -Dr Paul Brand dengan seorang jurnalis penerima enam
penghargaan internasional ( Gold Medalion Award) - Philip Yancey .
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 5 Januari 2006 5
pendengaran kita lebih peka, maka gerakan molekul udara akan terdengar selalu berdesis
ditelingan kita. ( Bandingkan terganggunya kita ketika ada setitik air masuk di telinga).
Seperti halnya indra penglihatan, organ instrumen pendengaranpun luar biasa. Ketiga tulang
mungil di telinga ( martil, landasan dan sanggurdi) bekerja keras berkolaborasi dengan
berbagai irama dan tempo meneruskan sambil memperbesar getaran yang mereka terima dari
gendang telinga ke organ Corti di telinga tengah. Sungguh indah transformasi dari molekul
udara di luar ke getaran gendang telinga; kemudian hantaman mekanik ketiga tulang mungil
dan berakhir di pusaran cairan, diterima sekitar dua puluh lima ribu sel receptor bunyi, yang
bila terkena akan mengirimkan sinyal elektrik ke bagian auditory di otak, yang akan memberi
makna dan emosi. Maka muncullah suara dengan makna dan perasaan iringannya. Lebih
menakjubkan lagi setelah beberapa waktu berlalu, saya masih bisa kembali mendengar
serangkaian nada bunyi yang pernah saya dengar lama sebelumnya, lengkap dengan makna
dan perasaan iringannya. Seakan masih sedang berlangsung mekanismenya.
. Tidak kalah mencengangkan adalah indra penciuman, yang sanggup memberi
dorongan untuk bertindak. Itu sebabnya ketika kita serius berkonsentrasi belajar, selalu
mungkin terganggu hanya oleh harumnya bau makanan yang singgah di hidung, dan bisa
membuat kita bertindak meninggalkan belajar dan pergi mencari arah datangnya keharuman
tersebut; atau sebaliknya kala kita mencium bau busuk. Penciuman beroperasi melalui aksi
kimia langsung yang dilakukan receptor olfaktori. Sel-sel tersebut melakukan pengujian
kimiawi atas molekul apapun yang mengapung ke dalamnya. Dengan begitu kita dapat
membedakan bau sesuatu dari bau lainnya, dan katanya kapasitas kemampuan manusia untuk
membeda –bedakan, berkisar sekitar sepuluh ribu bebauan yang berbeda. Meski demikian,
setiap orang berbeda-beda mengembangkan kemampuan tersebut. Disamping itu, sama hal
nya dengan pendengaran, penciuman kitapun dapat bernostalgia, mencium bau tertentu yang
berasosiasi dengan pikiran kita. Itu sebabnya kita dapat membayangkan enaknya kopi, sekali
gus menghirup harumnya aroma kopi tersebut. Ketika kita mengingat kembali kenangan
kunjungan kita di tepi pantai, di perkampungan nelayan, segera bau menyengat jemuran ikan
kering tercium kembali.
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 6 Januari 2006 6
Demikian pula halnya dengan pengecapan, meski sedikit berbeda cara kerjanya, tetapi
amat mengesankan. Dalam keseharian, pengecapan ini nampaknya berkaitan erat dengan
penciuman. Ketika hidung kita tersumbat, maka pengecapan kita juga tidak terlalu bisa
merasakan lezatnya makanan. Papil pengecapan pada lidah menunjukkan struktur yang
menarik, yang dilukiskan dengan sangat indah oleh Brand & Yansey, versi terjemahan
bahasa Indonesianya saya kutipkan :
” Papil pengecapan lidah mengungkap struktur yang mengagumkan: bukit dan
lembah-lembah yang dramatis, bungan-bunga kaktus, kumpulan tangkai-tangkai
tinggi yang berayun-ayun, dedauanan eksotik. Mereka bekerja cukup baik untuk
menjangkiti sebagian besar dari kita dengan selera makan yang bermacam -
macam dan ngidam yang tidak kenal puas.”
(Brand & Yansey ( 2001b :134 )
.Namun demikian, untuk memicu papil pengecapan yang elok itu, dibutuhkan jumlah zat dua
puluh lima ribu kali lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk memicu reseptor pen
ciuman. Lebih lanjut umurnyapun tidak lama hanya bisa bertahan tiga sampai lima hari , lalu
mati. Dengan begitu satu-satunya ’pengalaman’ rasa hanya ada di dalam otak. Itu sebabnya
peng-alaman pengecapan tetap dapat merangsang enzim percernaan , seperti halnya aroma
ikan yang sedang dibakar dapat membangkitkan rasa lapar.
Indra peraba, dengan organ kulit sebagai agen utamanya, juga luar biasa perancangan
Nya. Kulit banyak memberi informasi tentang keberadaan tubuh seseorang, apakah ada
gangguan penyakit, melalui warna warni yang sesuai dengan penyakitya., ataupun melalui
sinyal-sinyal lain. Ketika Anda baru ’begadang’, maka kulit Anda akan mengekspresikan
nya, begitu pula kulit akan mengumumkan apakah si pemiliknya rajin mandi atau tidak.
Selain itu kulit juga memberi informasi tentang dunia dalam kita, tentang kegundah-gulanaan
ataupun kebahagiaan kita. Dalam hal ini seakan kulit kurang bisa diajak kompromi untuk
menyembunyikan perasaan. Padahal berat kulit hanya sekitar empat kg, hadir dalam
konfigurasi yang utuh membungkus tubuh, tetapi sebenarnya terdiri dari sambungan aplikasi
beragam macam kulit sesuai posisi dan perannya. Gurat-gurat halus melintang di kulit kita
memberi tekstur dan kekuatan untuk daya cengkeram. Satu hal menarik dengan guratan
halus di ujung-ujung jari kita, tidak ada manusia yang punya guratan yang sama, padahal
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 7 Januari 2006 7
hanya selebar kurang lebih dua cm persegi, sejagat raya tidak ada yang sama . Setiap
individual manusia punya konfigurasi guratan tersendiri, seakan stempel dari Penciptanya..
Jadi kehadiran kulit selain untuk mengemas tubuh, tetapi juga memberi informasi vital yang
kita dapat dari dunia luar. Betapa aneka ragamnya informasi yang datang dan merangsang
kulit, seperti angin, partikel, parasit, suhu dan perubahannya, cahaya dan radiasinya, dstnya..
Itu sebabnya di seluruh permukaan kulit tersebar receptor, yang kapasitas penerimaannya
diperkuat oleh bulu bulu yang menyelimuti seluruh kulit.; dan juga terdapat sekitar setengah
juta transmiter mungil, yang akan mengubah rangsang menjadi pesan siap kirim ke otak.
Indra peraba ini, merupakan indra yang paling siaga selama kita tidur, dan paling menggugah
emosional kita. Juga merupakan indra yang paling bisa diandalkan.
Menjadi jelas dari uraian kelima indra kita, bahwa perlengkapan, instrumen yang
dibekalkan kepada kita untuk melakukan upaya mencari tahu dan menelaah menelusuri
dunia, sangatlah mengagumkan, canggih , dahsyat. Jadi , daya cerap bagi kita belajar cukup
besar, tinggal lagi apakah kita mempergunakannya ataukah tidak. Sebab kelenturan dan
kepekaan alat-alat canggih tersebut, efektifitasnya tergantung dari pemanfaatan oleh yang
bersangkutan.
(b) Instrumen pengolah informasi
Kita baru saja selesai membahas instrumen untuk menangkap informasi,
sekarang kita coba membahas instrumen pengolah informasi tersebut yaitu otak dengan
segala perlengkapannya. Pertama, otak dibentengi dengan suatu ’kubah’ yang amat kokoh,
kuat , nyaris tidak bisa ditembus, tertutup rapat dari berbagai gangguan dari luar; Padahal,
didalam otak inilah tersimpan seluruh pengetahuan pemiliknya tentang dunia luar.
Mahasiswa kedokteran mungkin hafal bahwa otak ini dibungkus 3 selaput pembugkus ( dura
mater, arachnoid dan pia mater ). Otak yang nampak bergulung-gulung, dengan lanskap
melekuk berkelok-kelok, dilintasi banyak garis merah dan biru saluran vital darah. Tampilan
nya kelihatan lunak dan putih.
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 8 Januari 2006 8
Otak tidak memiliki sensasi sentuhan atau nyeri, tetapi dengan rangsangan elektrik di
area tertentu, sensasinya akan dirasakan di bagian tubuh lain yang berhubungan dengan area
otak tersebut. Dengan teknik semacam itulah, sedikit demi sedikit ahli anatomi bisa
membuat peta otak yang cukup memadai. Banyak riset telah dilakukan, terutama pada
lapisan atas otak, korteks serebri. Ternyata kortex ini mengandung neuron-neuron yang
menyaring, memilah, menggabungkan, dst yang pada dasarnya mengolah informasi yang
masuk dari berbagai indra. Begitulah aktivitas belajar dan ingatan juga dilakukan pada
kortex ini. Dengan perkataan lain, sejumlah besar populasi sel saraf hidup di lapisan ini. Sir
Charles Sherrington mengelompokkan sel-sel saraf ini kedalam dua bagian, yaitu ’jalan
masuk’- sel aferen , semua sel yang membawa impuls dari organ tubuh lainnya ke otak dan
’jalan keluar’- sel eferen., semua sel saraf yang membawa instruksi dari otak ke anggota
tubuh..
Sebagai gambaran kerja otak, berikut ini disampaikan sejumlah data. Setiap detiknya
ratusan juta pesan dimasukkan oleh serabut-serabut aferen kedalam otak, ditampung oleh se
kitar hanya sepersepuluh dari satu persen sel-sel otak. Dua per sepuluh lainnya dari yang
satu persen itu mengendalikan semua aktivitas motorik Selanjutnya diantara kedua kelom-
’jalan masuk’ dan ’jalan keluar’ tersebut terletak semua sel lainnya, yang bekerja sama dalam
jaringan interkomunikasi maha luas2, yang memungkinkan proses pikiran dan kehendak be
bas. Dibandingkan dengan jalur telepon, maka setiap sel saraf di otak memiliki sampai sepuluh
ribu jalur pribadi. Di sepanjang jalur ini, dendrit-dendrit menjulur keluar mem bentuk hu
bungan dengan neuron lain. Secara fisiologik, seluruh proses mental berasal dari sepuluh
milyar sel ini, yang saling menyemburkan bahan kimia terhadap satu sama lain melintasi
sinapsis.
Bayangkan dalam satu milimeter kubik, seukuran ujung jarum, terkandung satu mil
yar hubungan antar sel; satu gram jaringan otak bisa mengandung sekitar empat ratus milyar
sambungan sinaptik. Jadi setiap sel bisa berkomunikasi dengan sel lainnya dengan kecepatan
kilat. Pada saat tidurpun komunitas sel saraf tidak pernah berhenti ’mengobrol’. Otak adalah
pusaran awan listrik potensial, yang setiap detiknya melakukan sekitar lima trilyun operasi
2 MenurutAhli biologi J.Z Young jaringan ini menyerupai jaringan sepuluh milyar birokrat yang selalu saling
menelpon untuk membicarakan rencana dan insatruksi agar Negara tetap berjalan baik.
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 9 Januari 2006 9
kimia. Segala sesuatunya berjalan cepat sekali, sehingga nyaris tidak kita sadari prosesnya.
Misalnya saya memutuskan untuk menulis suatu kalimat, dalam sekejap otak mempertim
bangkan pemikiran konsepnya, kosakata yang digunakan, lalu membuat instruksi ke organorgan
bersangkutan (otot-otot, tendon, tulang yang diperlukan), kemudian mengkoordinasi
kannya, sehingga terjadilah kita menuliskan suatu kalimat. Dan seterusnya, tanpa kita sadari
proses yang sebenarnya rumit. Namun demikian, kapasitas kerja otak menjadi relatif dari
orang ke orang, dipengaruhi oleh volume dan kualitas masuknya informasi yang disampaikan
kepadanya untuk diolah. Semakin banyak dan variatif informasi yang perlu diolah, semakin
berkembang perlengkapan otak terutama jumlah serabut dendritnya; semakin efisien pula
kerja otak Sebaliknya otak yang tidak terlalu sibuk, memiliki dendrit-dendrit yang
kuruskerontang
(Jensen ,1996 : 144)
Oleh karena itu tidaklah heran apabila otak menggunakan seperempat dari seluruh
oksigen yang dihirup pemilik tubuh itu, dan tanpa oksigen selama lima menit saja, otak akan
lumpuh total-mati. Wajar sekali apabila setiap kita makan, seyog yanya kita mempertimbang
kan asupan untuk otak, dan menghindari asupan yang sekiranya mengganggu kerja otak.
Dengan uraian tentang intrumen pengolahan informasi di otak kita, barangkali kita
bisa sepakat bahwa perlengkapan untuk kita belajar sudah tersedia amat istimewa, tinggal
lagi kita mau memanfaatkannya dengan sebaiknya, agar instrumen itu tidak mubajir.
(c) Instrumen untuk merespon
Pikiran saja tidak cukup, kita membutuhkan tubuh yang mau bekerja sama
dengan pikiran untuk menjalankan respons pikiran. Tubuh yang sehat, memiliki saluransaluran
dari otak ke seluruh bagian tubuh, yang berfungsi baik; tetapi untuk bisa
mengexpresikan diri dan berkomunikasi dengan lingkungan, tubuh masih membutuhkan
komitmen dari sel-sel satuan untuk mau melakukan kehendak otak. Bila tidak demikian,
timbul kerancuan. Tentu saja ada gerak lain yang bersifat refleksif, tetapi tanpa tujuan. Otak
sehat menugaskan area-area tertentu untuk mengatur setiap bagian tubuh. Asosiasi antara
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 10 Januari 2006 10
area otak tersebut dengan bagian tubuh yang bersangkutan akan terjalain semakin baik,
sehingga bagian otak tersebut akan berisi semua asosiasi dengan bagian tubuh tersebut.
Apabila karena satu dan lain hal ada gangguan pada bagian tubuh tersebut, sehingga kita
harus mempergunakan bagian tubuh lainnya ( misalnya tangan kanan ke kiri atau sebalik
nya), maka perlu ada proses penyesuaian asosiasi baru. Setelah terbina asosiasi baru, akan
kembali berlangsung dengan baik. Dengan perkataan lain, kita dapat membiasakan
hubungan area otak tertentu dengan bagian tubuh kita, lewat pembelajaran.
Kita sudah secara sepintas membahas instrumen yang dibekalkan dalam tubuh kita,
baik untuk mendaatkan informasi, mengolahnya dan juga untuk mengembalikan umpan balik
dan respons. Dengan begitu menjadi jelas bagi kita betapa lengkap Sang Pencipta telah
menyediakan segala sesuatunya untuk kita bisa belajar. Menjadi jelas pula sepanjang hidup
kita tidak pernah bisa berhenti belajar. Terpulang kepada kita, kita mau belajar menjadi apa,
atau menjadi siapa. Cetak birunya ada pada Yang Empunya kita, barangkali mencari tahu
cetak biru merupakan langkah strategik (wisdom) apabila kita hendak hidup berhasil, sukses
dipandanganNya.
1. 4 Belajar punya kadar dan kualitas
Setelah kita memahami bahwasanya belajar adalah panggilan hidup, telah mengenali
pula instrumen belajar yang dibekalkan di tubuh kita, kini kita telaah lebih jauh makna
’belajar ’ itu sendiri, apakah semua proses otak adalah ’belajar’ apa bedanya dengan latihan.
Apa pula yang dihasilkan oleh proses belajar.
Sejak awal telah diuraikan bahwa seyogyanya kita mengisi hidup ini dengan berupaya
menjadi orang ’untuk mana kita telah diciptakan’, yang dalam bahasa psikologinya A.
Maslow: kita berupaya untuk bisa beraktualisasi diri. Bahkan lebih tepatnya seyogyanya
kita berupaya meng-aktualisasi diri, yaitu berproses menjadi orang yang kita bisa menjadi,
yang menurut bahasa agama sesuai fitrah, sesuai ’blue print’ yang sudah dirancang Pencipta.
Jadi kata kuncinya adalah kita belajar dalam proses menjadi, belajar menjadi. saya
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 11 Januari 2006 11
sebagaimana Ia maksudkan. Kepada saya dibekalkan sejumlah potensi (bisa saya telusuri),
sejumlah bakat/talenta ( bisa saya kenali), sejumlah peluang ( seringkali tidak saya kenali,
sehingga tidak tertangkap). Lalu untuk apa semua itu dibekalkan kepada saya? Pertanyaan
menggelitik kesadaran ini, bisa memandu kita untuk mencari tahu kita perlu belajar menjadi
saya yang bagaimana.
Ignas Kleden mempertajam insight saya tentang belajar ketika ia menunjukkan
kelebihan manusia dari binatang yaitu, bahwa manusia bisa belajar tentang sesuatu dan
belajar menjadi dirinya sendiri. Sedangkan binatang bisa belajar, tetapi tidak bisa belajar
tentang apalagi belajar menjadi. Lebih jauh Kleden mengutarakan bahwa ’belajar’ berarti
mempraktekan sesuatu, sedangkan ’belajar tentang’ untuk mengetahui sesuatu. Selama
pengetahuan yang dihasilkan dari belajar belum diberi nilai guna manfaat, dijadikan milik
alaminya, maka selama itu masih merupakan hasil ’belajar tentang’. Sebagai ilustrasi dapat
diutarakan sebagai berikut :
Saya belajar tentang ’permainan sepak bola’, berarti saya mempelajari teori
permainan sepak bola, bahwa sepak bola dimainkan oleh dua kelompok yang saling
berhadapan. Masing-masing kelompok terdiri dari sebelas orang, dengan sejumlah
peran, bentuk lapangannya, aturan permainannya, dst dst. Hasil belajarnya adalah saya
memiliki pengetahuan tentang permainan sepak bola. Saya juga bisa belajar tentang
bagaimana bermain sepak bola ; berarti saya mempelajari bagaimana cara membawa
bola, menendang bola agar bisa masuk ke gawang, dengan sudut tendang berapa
derajat, dan kecepatan berapa. Apa dan bagaimana cara menjaga gawang supaya tidak
kebobolan tendangan lawan, bagaimana cara menghalangi gerak lawan, bagaimana cara
merebut bola dari kaki lawan, dst. Apabila saya mempelajari semua itu dari buku, atau
dari penjelasan verbal sesorang, tanpa saya melakukannya sendiri, maka berarti saya
masih tetap belajar tentang. Apabila saya langsung praktek bermain sepak bola,
sambil dikoreksi, dilatih, maka berarti saya belajar bagaimana bermain sepak bola.
Namun demikian, tidak semua orang yang bermain sepak bola bisa menjadi pemain
sepak bola., hanya mereka yang belajar menjadi pemain sepak bola-lah yang bisa
menjadi pemain sepak bola. Dalam hal ini bukan hanya wawasan (knowledge), dan
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 12 Januari 2006 12
atau keterampilan ( technical know how), tetapi disamping keduanya termasuk juga
kebijaksanaan (wisdom), sikap mental ( mind-set) dan moralitas, sportifitas, dll.
Selanjutnya, menurut Andrias Harefa ( Harefa, 2005) ’pengajaran’ membawa orang
pada belajar tentang, sedangkan ’pelatihan’ memandu orang belajar, sementara ’pembelajaran’
memungkinkan orang belajar menjadi. Lebih jauh , lanjut Harefa, belajar tentang
memerlukan mengetahui diri, belajar membutuhkan praktek, sedangkan belajar menjadi
butuh perenungan diri..
Kita bisa ’belajar menjadi’, apabila kita mengetahui mau menjadi orang yang bagai
mana. Hal ini bisa diketahui, apabila kita mau bertanya pertanyaan mendasar, mengapa saya
dilahirkan, untuk maksud apa saya diciptakan, bagi siapa sebenarnya kehadiran saya di dunia
ini, dst; Mengingat hidup ini dipertanggung jawabkan kepada Yang Empunya. Dengan
perkataan lain, kita perlu menentukan kedaulatan atas diri saya ada pada siapa ( Siapa) ?
Jawaban atas pertanyaan ini, akan membawa kita menentukan tujuan hidup kita. Hal ini
penting. Selanjutnya, tujuan hidup inilah yang akan memandu kita untuk mengisi kehidupan
dengan berbagai kegiatan (action) yang pada hakekatnya ’belajar menjadi’. Hanya apabila
kita mempunyai kejelasan tentang tujuan hidup ini, maka kita bisa selektif dalam memilih
apa yang seyogyanya kita belajar, apa yang perlu kita ’belajar tentang’, dan kesemuanya
dalam rangka kita ’belajar menjadi’ apa yang kita tuju. Dengan begitu pula kita menjadi tahu
bagaimana meletakan prioritas-prioritas sehingga kitapun bisa mengatur alokasi waktu, dsb.
Pada intinya kata kunci untuk bisa belajar menjadi, kita memerlukan mengkolaborasikan
ketiga ranah di diri kita, ranah spiritual, ranah mental dan ranah fisik.
Kembali kepada hakekat belajar di perguruan tinggi , seyogyanya mencakup ketiga
jenis belajar tersebut. Dengan demikian bisa dihasilkan alumni yang siap belajar menjadi.
Basic Study skills, merupakan skill dasar untuk bisa melakukan belajar tentang, belajar dan
belajar menjadi, siap mengikuti pembelajaran ( education).
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 13 Januari 2006 13
1. 5 Pembelajaran dimulai di keluarga
Pada hakekatnya, pertumbuhan dan perkembangan manusia, merupakan hasil
interaksi antara apa yang ia bawa sejak lahir (bakat, potensi) dengan apa yang ia peroleh dari
tanggapannya terhadap lingkungannya, yang seyogyanya terus menerus di ‘up-dated’.
Kebanyakkan dari apa yang kita miliki saat ini, dasar (basic) nya merupakan hasil perolehan
belajar kita di usia Balita (Fulghum, R, 1994). Itu sebabnya penting sekali proses belajar
semasa Balita. Dalam suatu keluarga, kehadiran seorang anak (bayi), bahkan sejak
kehadirannya sebagai foetus (janin), seluruh keluarga seyogyanya berada dalam proses
pembelajaran, Calon Ayah belajar menjadi Ayah, calon Ibu belajar menjadi ibu, kakak,
nenek, kakek, semuanya melewati proses pembelajaran masuk kedalam posisi dan perannya..
Sayangnya, dalam kenyataan banyak orang tua yang tidak sempat melakukan proses
pembelajaran menjadi orang tua, sehingga tentu saja berdampak pada pendidikan anakanaknya.
Sedangkan proses belajar si anak, dari sejak masih dalam kandungan, lahir, masa
bayi dilanjutkan masa kanak-kanak dan bahkan hingga masa remaja, banyak tergantung
kepada orang-orang dewasa disekitarnya. Perlu ada ‘Asih-Asah-Asuh’ . Selain itu, semasa
Balita ini, perlu sekali kita belajar fleksible dan keterampilan untuk meng-updating’ hasil
belajar yang kita punya. Artinya keluwesan, keterbukaan dan kelincahan dalam belajar.
Lebih jauh, saya meyakini ( berharap Anda juga sama meyakini) bahwa kehadiran
kita di keluarga kita masing-masing, bukanlah sesuatu yang kebetulan, tetapi merupakan
kehendak-pilihan Sang Pencipta - Yang Maha Arif, dalam kaitan kesesuaian dengan ’blue
print’ kita. Tersirat pengertian bahwa keluarga dimana kita di’hadir’kan merupakan
lingkungan pertama yang seyogyanya kondusif untuk proses kita belajar menjadi apa yang
ada di ’blue print’ kita. Bila demikian halnya, maka institusi pertama dan utama dalam hal
pembelajaran adalah keluarga.. Tanggungjawab pembelajaran anak-anak, sebelum mereka
bisa mandiri adalah keluarga. Sekolah bisa menambahkan, melengkapi, tetapi tidak bisa
menggantikan peran keluarga. Setelah anak tersebut akil-balik, maka mereka sudah mulai
bisa bertanggung jawab atas upaya pembelajaran dirinya. Mahasiswa seyogyanya telah
mulai dewasa, sehingga tanggung jawab pembelajarannya ada pada mahasiswa sendiri.
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 14 Januari 2006 14
Fihak lain, orang tua, dosen, teman hanya bisa memberikan pendampingan dalam upaya
pembelajaran tersebut.
Namun pada kenyataannya banyak keluarga yang belum tuntas mengantar anakanaknya
untuk bisa bertanggung jawab atas pembelajaran dirinya. Banyak orang, termasuk
mahasiswa bahkan dosen yang belum sepenuhnya memiliki skill untuk belajar menjadi,
banyak pula yang belum siap untuk belajar dan masih canggung dalam belajar tentang..
Pelatihan Basic study skill merupakan salah satu upaya untuk melengkapi kita masingmasing
dengan skill yang diperlukan. Asumsinya Anda telah memiliki sedikit modal untuk
belajar menjadi, kemudian belajar skill untuk keperluan belajar tentang. Harapan yang
tersirat setelah paham pengetahuan akan skill tersebut, Anda mau mempraktekannya.
Dengan begitu, Anda akan memiliki skill tersebut. Dengan kelengkapan lainnya, sebagai
hasil belajar tadi, Anda akan gemar belajar, lebih terarah lalu Anda akan semakin mahir dan
lancar belajar menjadi. diri Anda sebagaimana dimaksudkan Sang Pencipta dalam
penciptaan Anda.
Sebelum kita menutup bagian pertama ini, kiranya kita dapat selalu diingatkan bahwa
jalannya pembelajaran seyogyannya bermula dari kebijaksanaan hakiki (wisdom) yang
merupakan ranah spiritual, berlanjut pada pemahaman (understanding), yang bisa kita
peroleh melalui memaknakan penginderaan kita dari karya Sang Pencipta, barulah kita
mendapatkan pengetahuan ( knowledge.).
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 15 Januari 2006 15
Bagian 2
Dinamika Perilaku Belajar
2.1 Pendahuluan
Ada banyak teori yang menjelaskan tentang dinamika perilaku belajar. Namun
sebagaimana kami paparkan sebelumnya, kami memilih model perilaku belajar ’bio-psycho
logik’ dari Eric Jensen ( Jensen, 1996). Model ini cukup lengkap, dapat mewadahi berbagai
kecenderungan pola belajar manusia.. Pada intinya, model ’bio-psychologik’, menyatakan
bahwa perilaku belajar selalu dalam konteks tertentu, dimana asupan belajar (input) diolah
dalam proses-nya menghasilkan alternatif luaran, yang pilihan final-nya ditentukan melalui
sistim saringan (filter) yang dianut oleh individu bersangkutan. Dengan demikian, ada
empat aspek utama yang membangun sekaligus membedakan perilaku belajar sesorang
dengan orang lainnya, yaitu (1) konteks belajar, (2) asupan belajar, (3) cara mem-proses
asupan dan (4) sistim penyaringan respons. Bagian kedua dari modul MD-02 ini
membahas keempat aspek tersebut dalam dinamikanya..
2.2 Belajar selalu dalam konteks
Setiap kali orang belajar, ia selalu berada dalam konteks tertentu, yaitu kondisi yang
melingkupi proses belajarnya.. Konteks ini memberi corak kepada proses belajarnya, secara
berbeda-beda tergantung kecenderungan yang ada pada orang tersebut. Sekurangnya dapat
dipilah dalam empat variabel, yaitu (1) lingkup belajar; (2) area belajar, (3) teman belajar
dan (4) pemicu belajarnya.
(1) Lingkup Belajar
Variabel pertama yang membangun konteks belajar adalah lingkup belajar, yang
mempunyai dua kutub yaitu ‘Field dependent’ dan Field independent’. Sebagian orang
lebih memilih belajar dalam kondisi alamiahnya, pada kehidupan nyata, di lapangan; mereka
disebut ‘Field dependent’. Sebagian lainnya tidak ter lalu mempersoalkan lingkungan, di
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 16 Januari 2006 16
mana dan dari mana pun mereka bisa belajar, bisa dari kenyataan hidupnya, tetapi bisa juga
dari hasil olah orang lain seperti dari komputer, buku, dst. Mereka dikategorikan sebagai
‘Field independent’
(2) Area belajar
Variabel kedua adalah tempat/area belajar dengan kutub fleksibel di satu sisi dan
kutub terstruktur di sisi lain. Sejumlah orang bisa fleksibel belajar di mana saja, bervariasi
tidak harus pada area tertentu. Mereka tergolong dalam kutub ‘Flexible environment’.
Sedangkan sejumlah lainnya baru bisa belajar, pada area tertentu. Dengan perkataan lain
mereka membutuhkan lingkungan yang tertentu, dengan aturan tertentu. Dalam variabel area
belajar, mereka termasuk dalam golongan ‘Structured environment’
(3) Teman belajar
Teman belajar juga merupakan variabel ketiga yang membangun konteks belajar.
Sekelompok orang cenderung lebih efektif belajarnya, apabila mereka sendirian, dan mereka
digolongkan sebagai orang yang ‘independent’. Sementara sebagian orang lain, lebih
memilih belajar bersama teman, apakah berpasangan atau dalam kelompok kelompok kecil,
karena merasa lebih bisa efektif beljar bersama teman. Mereka tergolong sebagai
‘dependent’. Sedangkan kelompok lainnya lagi, mereka bisa belajar baik sendiri maupun
bersama teman, dan mereka digolongkan sebagai kelompok yang ‘interdependent’
(4) Pemicu Belajar
Variabel keempat adalah pemicu belajar. Sebagian orang bisa atau tidak bisa belajar
nya terpengaruh oleh siapa yang memberi pelajaran, artinya tergantung pada kualitas
hubungan dirinya dengan orang yang mengajar. Mereka digolongkan dalam kelompok
‘Relationship driven’, sementara kelompok lainnya yang disebut ‘Content driven‘, semangat
belajarnya lebih terpacu oleh isi subyek yang dipelajari, yang mereka anggap penting;
mereka tidak terlalu mem persoalkan siapa yang memberikan pembelajaran..
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 17 Januari 2006 17
2.3 Pilihan asupan belajar - input.
Berkenaan dengan asupan belajar, orang bisa mengindera dari luar, tetapi juga bisa
dari dalam. Sesuai dengan jumlah indera kita, maka sekurangnya ada lima type asupan, yaitu
visual melalui penglihatan, auditory melalui pendengaran, kinesthetic melalui perabaangerakan,
olfactory melalui penciuman dan gustatory melalui pengecapan. Bahkan ada pula
yang menganggap lebih dari kelima asupan diatas, seperti ; vestibular- gerakan-gerakan otot
berulang, magnetic – orientasi yang bersifat feromagnetic, ionic – charges atmosfir elektrostatik,
geogravimetric – merasakan perbedaan massa , proximal – kedekatan secara fisik, dst.
Namun demikian, yang umum dipergunakan orang dalam belajar adalah tiga asupan yang
pertama, yaitu visual, auditory, dan kinesthetic
(1) Asupan visual – external atau internal
Variabel asupan visual, mempunyai dua ktub, yaitu kutub eksternal, dari luar ke
dalam diri, sedangkan kutub internal, kebalikkannya dari dalam terlebih dahulu . Ada orang
yang belajar melalui asupan ‘Visual eksternal’, yaitu melalui apa yang dilihatnya, kontak
dengan lingkungan yang terlihat olehnya, kontak dengan presenter, dosen atau fasilitator dan
juga teman-temannya, kontak dengan bacaan dari buku atau bahan lainnya; kemudian ia
akan membentuk ‘mental image’ dalam pikirannya. Sebaliknya, ada juga orang yang lebih
berorientasi pada Visual internal, melihat melalui pembayangan di pikirannya terlebih
dahulu, dalam hal ini ia membutuhkan persiapan kajian di pikirannya sebelum bahan asupan
tersebut disajikan.
(2) Asupan auditory – external atau internal
Ada dua kemungkinan bagi variabel asupan auditory , eksternal mendengar
dari luar, dan internal lewat percakaan kalbu. Sejumlah orang cenderung belajar dari asupan
Auditory eksternal : misalnya dengan mendengarkan apa yang dikuliahkan, berdiskusi,
meminta pendapat teman,dst. Kemudian ia akan mendengar ulang ( replay) di pikirannya.
Mereka lebih senang dibacakan ketimbang baca sendiri. Biasanya mereka lebih berorientasi
social . Pada umumnya mereka agak kesulitan dalam mengikuti pelajaran ‘mathematik’
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 18 Januari 2006 18
ataupun pelajaran menulis- ‘writing’ Sebaliknya, ada orang yang lebih berorientasi pada
Auditory internal, mereka cenderung melakukan percakapan kalbu sebelum belajar.
(3) Asupan Kinestetik - kinestetik taktil atau Kinestetik internal
Variabel Asupan kinestetik, juga mempunyai dua opsi, yaitu kinestetik taktil
yang diperoleh dari pengalaman kongkrit, dan Kinestetik internal yang lebih berorientasi
pada intuisinya. Sejumlah orang terbiasa belajar dengan asupan melalui Kinestetik taktil,
sehingga mereka lebih suka input yag bersifat fisik — mengalami sendiri secara kongkrit apa
yang mereka pelajari , lewat aktivitas kelas, jadi ‘learning by doing’ , lewat experiental
learning atau lewat praktikum. Di fihak lain, ada orang-orang yang lebih ‘kinestetik
internal’ : lebih suka secara intuitif, lewat film, ada cerita, ada perasaan, kena dihati, dst;
Mereka lebih tertarik pada ’cues’ yang bukan verbal ( tone, tempo, posture, gesture, expresi,
dst.) yang juga bisa dicapai lewat experiental learning. Mereka cenderung lebih memperhati
kan cara bagaimana sesuatu disampaikan/dilakukan ketimbang isi penyampaiannya.
2.4 Mem-proses Asupan.
Dalam memproses asupan belajar, type orang juga berbeda-beda. Setidaknya dapat
dipilah kedalam empat tipe, Yaitu (1) tipe global, (2) tipe keurutan, (3) tipe konseptual dan
(4) tipe kongkrit. Berikut kita bahas satu persatu.
(1) Kelompok global - Contekstual globnal :
Orang-orang yang tergolong dalam kelompok ini, biasanya memproses asupan
informasi secara keseluruhan ( overview) terlebih dahulu, jadi cenderung gestalt, holistik,
dan lateral. Mereka mencari visi tematik, tujuan dan relevansi terlebih dahulu. Dengan
demikian, mereka lebih terbiasa menggunakan belahan otak kanannya.
(2) Kelompok keurutan - Sequential detailed
Mereka yang tergolong dalam kelompok ini, memproses asupan informasi
secara bertahap sesuai keurutan, jadi cenderung linier. Biasanya mereka kuat dalam
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 19 Januari 2006 19
matematik, computer, bahasa, dsb yang membutuhkan keurutan berpikir. Pada umumnya
mereka lebih memanfaatkan belahan otak kirinya
.
(3) Kelompok Konseptual
Mereka yang tergolong dalam kelompok ini, biasa memproses asupan informasi
dari buku, artikel, internet, gagasan, perckapan,dsb . Mereka lebih senang memproses secara
abstrak di pikiran mereka, bermain dengan idea, tetapi tidak begitu suka berbuat, bertindak
atau bergerak.
(4) Kelompok Kongkrit
Orang-orang di kelompok ini lebih senang memproses objek yang bisa secara
kongkrit mereka indera, raba, lihat dan tangani secara nyata. Pada umumnya mereka lebih
menyukai segala sesuatu yang membutuhkan gerak tubuhnya.
2.5 Hasil Proses akan melalui saringan respons
Setelah asupan diproses, diolah akan dihasilkan ‘bakal respon’. Bakal respon ini akan
melalui suatu saringan/ayakkan respon, barulah menjadi respon. Dengan perkataan lain
respon belajar seseorang, selain ditentukan oleh prosesing dari asupan informasi, ditentukan
juga oleh saringan atau ayakkan respon yang dianut/dipakai oleh yang bersangkutan.
Saringan respon ini berbeda-beda, tergantung dari tipenya. Sekurangnya ada 3 macam
perangkat saringan, yaitu (1) Rujukan eksternal/internal, (2) kecenderungan menyepakati
/menyandingi dan (3) impulsive/reflektif
(1) Rujukkan eksternal atau rujukan internal,
Salah satu saringan adalah apa yang menjadi rujukan orang bersangkutan. Dalam
hal ini ada orang yang ber-respons atas dasar apa kata orang, apa harapan orang lain. Mereka
sangat mempertimbangkan etiket, nilai-nilai kekeluargaan, dst. Mereka tergolong pada
kelompok dengan saringan rujukan eksternal - ‘externally reference’
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 20 Januari 2006 20
Di fihak lain ada orang yang rujukkannya lebih ke dalam dirinya (internal). Artinya
respon didasarkan pada nilai-nilai yang dianutnya, bisa saja berbeda dari nilai-nilai yang
dianut masyarakat sekelilingnya. Kelompok ini disebut ‘internally reference’ .
(2) Kecenderungan menyepakati atau menyandingi
Saringan berikut berdasarkan kecenderungan yang sudah terpola pada diri yang
bersangkutan, ada yang berkecenderungan menyepakati, ada pula yang cenderung
menyandingi. Dalam hal ini, sejumlah orang saringan responnya didasarkan pada kecende
rungannya untuk menyetujui/menyekapati orang lain, selalu ingin lebih konform dengan
lingkungan, meski hasil prosesingnya bertentangan dengan hal tersebut. Mereka disebut
golongan ‘matcher’. Sementara kelompok lainnya disebut ‘Mis-matcher ‘, cenderung
memberi respon dengan merujuk pada perbedaan, bersikap skeptik, cenderung ingin menemu
kan kekecualian, terobosan, dst. Mereka tidak semata-mata ingin ber-oposisi, tetapi ingin
tampil berbeda dari yang lainnya.
(3) Kecenderungan cepat atau lambat : reaksi impulsive atau reaksi reflektif
Saringan berikutnya adalah tempo reaksi, ada yang cenderung cepat bereaksi –
impulsif , tetapi ada juga yang biasa bereaksi lambat- penuh pertimbangan – reflektif.
Artinya, sejumlah orang cenderung cepat merespons, walaupun responsnya lebih pada ’trial
& error’, tetapi cepat dan segera. Mereka disebut ‘impulsive experimental’. Di fihak lain,
sejumlah orang lainnya, lebih lambat merespons, karena mereka lebih bersifat ‘Analytical -
reflecktive’ , merespons didalam terlebih dulu, baru kemudian direfleksikan. Dengan
perkataan lain, mereka membutuhkan jedah waktu untuk bisa mengeluarkan respon.
Demikian uraian keempat aspek yang membangun sekaligus membedakan dinamika
perilaku belajar orang perorang. Keempat aspek tersebut saling berkaitan membentuk
model belajar ’bio-psikologik’. Dapat digambarkan sebagaimana tertera pada halaman
berikut :
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 21 Januari 2006 21
Diagram MD02 - 1 : Skema Model Dinamika Perilaku Belajar
( dirancang sesuai teori Jensen, 1996 : -129-141)
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 22 Januari 2006 22
Bagian – 3
Faktor Berpengaruh terhadap Belajar
3.1 Pendahuluan
Ada sejumlah faktor dalam diri manusia, yang diyakininya berpengaruh dan memang
dapat berpengaruh, baik dalah arah positif, maupun arah negatif. Faktor tersebut dapat
dikelompokan kedalam sejumlah kategori yaitu: (1) hal-hal yang bersifat intuitif –
emosional, (2) hal-hal logik-kritikal, (3) Hal-hal yang me nyangkut Moral ethik, (4)Hal –hal
yang berkaitan dengan biologik-medik’ (5) Hal-hal yang menyangkut aspek socio-kultural
dan (6) Hal-hal yang berkaitan dengan kelembagaan-fisikal; dalam kadar yang tepat dapat
berdampak positif terhadap kegiatan belajar. Akan tetapi mankala kadarnya sudah berlebih
dari yang sepantasnya, akan menimbulkan dampak negatif, bahkan dapar merupakan
penghambat belajar. Baiklah, kita telaah satu persatu.
3.2 Hal-hal yang bersifat Intuitif – Emosional
Pada dasarnya individu (Anda, saya) mempunyai kekhawatiran, ketakutan, kepedulian,
keprihatianan, dan berbagai perasaan lainnya. Sebagai ilustrasi seseorang, siapapun dia
mempunyai sejumlah kekhawatiran, kuatir penampilannya tidak menarik, kuatir tidak
bisa menjawab, dsb. Dalam kadar yang tepat , kekuatiran ini akan mendorongnya untuk
belajar dengan sungguh-sungguh, bagaimana berpenampilan baik, iapun belajar bahan
kuliah, sehingga apabila berada di kelas ditanya dosen, ia bisa menjawab. Namun
demikian, manakala kekhawatiran itu dirasakannya dalam kadar dan intensitas yang
berlebihan, maka hal itu akan memberikan tekanan (stress) yang bukan lagi mendorong
nya untuk belajar, tetapi justru menghambatnya, sehingga ia tidak bisa belajar.
3.3 Hal-hal yang bermatra logik-kritikal
Peserta belajar telah membangun seperangkat keyakinan akan kemampuan dirinya, sejak
kanak-kanak, dari hasil interaksinya dengan orang-orang yang signifikan bagi dirinya,
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 23 Januari 2006 23
seperti orang tua, teman dekat, guru favorit, dst) Apabila selama ini ia) mendapat
masukkan bahawa ia belum cukup mampu, mendapat umpan balik bahwa hasil
belajarnya masih kurang, maka ia bisa terpacu untuk belajar agar dapat meningkatkan
hasil belajarnya. Akan tetapi apabila ia seringkali mendengar ungkapan dari orangorang
dekat yang signifikan baginya, yang pada dasarnya menunjukkan ia tidak mampu,
maka ia cenderung yakin benar bahwa memang dirinya tidak mampu, dan tentu saja
belajarnya menjadi terhambat.
3.4 Hal-hal menyangkut Moral ethik
Banyak hal yang menyangkut moral dan etika ini, misalnya nilai-nilai yang dianut
keluarga, nilai-nilai keyakinan agama, dan berbagai nilai yang dianut
komunitasnya.Sebagai ilustrasi ada banyak keluarga meyakini bahwa ” belajar
merupakan upaya serius yang membutuhkan perjuangan”. Dengan demikian dalam
keluarga itu perilaku belajar perlu ’terbaca’ keserius-an dan kerja-keras. Sehingga
apabila salah seorang anggota keluarganya, yang karena ia pintar, belajarnya relax dan
cepat, maka keluarganya menjadi kuatir, sebab mereka menduga anak tersebut belum
sungguh-sungguh belajar, sehingga mereka menegur, menasehati bakan memarahinya.
Apabila hal ini banyak kali terulang, maka teguran/nasehan tersebut bukan lagi sebagai
pendorong, tetapi malah sebagai penghambat.
3.5 Hal berkaitan dengan biologik-medik
Dalam kelompok ini, bisa kita perhatikan aspek-aspek nutrisi, biochemistri dan berbagai
keidak berdayaan. Belajar sangat bermatra biologikal dan biochemical. Asupan makan
an amat berpengaruh pada perilaku belajar. Begitu juga minuman dan obat-obatan.
Oleh karena itu , berupayalah mendapatkan informasi dan belajarlah tentang asupan
nutrisi yang seimbang, dan mana yang dibutuhkan otak ketika belajar/berpikir, terutama
dalam minggu-minggu Anda ujian.
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 24 Januari 2006 24
3.6 Hal-hal yang menyangkut aspek socio-kultural
Ada banyak aspek sosial kulturan yang mempengaruhi mekanisme dan gaya belajar
seseorang. Misalnya pilihan mata kuliah favorit seringkali dipengaruhi oleh nilai-nilai
kultural. Sebagai ilustrasi, banyak orang cenderung memilih masuk fak Kedokteran,
sebab menjadi dokter mempunyai status sosial yang baik, selain juga status
ekonomiknya. Seringkali orang tua kurang mempertimbangkan kemampuan si anak,
bakat dan mintanya. Ilustrasi lain orang sering melihat dengan penuh tandatanya apabila
mengetahui ada seorang anak perempuan yang menyukai matematik, suka berdiskusi
politik, dst. Sebaliknya banyak juga orang heran mengapa ada lelaki yang mengambil
jurusan sastra atau Psikologi Perkembangan, atau Fak kedokteran, jurusan keperawatan.
3.7 Hal-hal yang berkaitan dengan kelembagaan-fisikal
Ada hal-hal yang tidak tergolong kedalam kelima hal di atas, dan lebih bersifat pribadi,
seperti peserta belajar menghadapi situasi diskriminasi, karena ia tergolong minoritas di
kelasnya ( bisa financial, agam,a ataupun suku bangsa ataupun karena memiliki
keterbatasan/cacat fisik)
Dari uraian diatas, kiranya dapat kita pahami bahwa keberhasilan belajar bukan hanya
ditentu-kan oleh potensi atau motivasi saja, tetapi juga bisa jadi prestasi belajar menurun
disebabkan hambatan-hambatan di atas, yang kadangkala tidak begitu mudah dideteksi. Oleh
karena itu, para peserta belajar perlu menyadari apoa yang sedang terjadi di dirinya.
Temukan adakan hambatan di atas berlaku pada Anda ?! Apabila ragu-ragu, Anda bisa
mendapatkan bantuan konsultasi dengan sejumlah konselor Akademik. Bisa meminta
bantuan Penasehat Akademiknya ataupun datang di Pusat Bimbingan dan Konseling
UNHAS, untuk berdiskusi dengan konselor /psikolog yang ada di Lembaga tersebut.
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 25 Januari 2006 25
Bagian 4
Rangkuman
Baiklah, para peseta belajar, pada modul MD-02 ini, kita sudah mempelajari beberapa hal
tentang perilaku belajar. Telah kita phami bahwa pada hakekatnya belajar merupakan proses
yang bersifat kumulatif dan holistik, berlangsung sejak kita lahir hingga sesaat menjelang
ajal tiba. Dengan demikian kita perlu selalu meng-’updated’ hasil belajar kita dari waktu ke
waktu. Kitapun menyadari bahwa tubuh kita diperlengkapi dengan amat canggih berbagai
instrumen untuk belajar, menangkap informasi, mengolah dan memproduksi respon kembali.
Kitapun menyadari bahwa pada hakekatnya kita perlu memiliki tujuan hidup agar kita dapat
menata diri untuk ’belajar menjadi’ seseorang yang dimaksudkan oleh kelahiran kita, untuk
itu kita perlu ’belajar’ dan ’belajar tentang’ segala sesuatu yang diperlukan.
Kitapun telah memahami bahwa bagaimana kita belajar dapat dilihat melalui suatu model
teoretik, yang salah satunya adalah model Bio-psikologik, yang pada intinya mengemukakan
bahwa Belajar selalu berlangsung dalam suatu konteks, yang amat mempengaruhi proses
belajar. Setidaknya dapat dikemukan lingkup belajar, area belajar, teman belajar dan pemicu
belajar, sebagai konteks . Setiap orang memiliki preferensi berbeda dalam keempat konteks
tersebut.
Lebih lanjut, belajar membutuhkan asupan, melalui indera kita. Ada orang yang lebih
menyukai asupan visual melalui penglihatan, ada pula yang auditory melalui pendengaran,
atau kinesthetic melalui perabaan-gerakan, olfactory melalui penciuman dan gustatory
melalui pengecapan. Namun demikian yang umum dipergunakan orang dalam belajar adalah
tiga asupan utama, yaitu visual, auditory, dan kinesthetic
Selanjutnya asupan itu diproses, dan masing-masing individu memiliki gaya proses yang
berbeda-beda. Ada yang memprosesnya secara global; Ada yang berdasarkan keurutan, ada
juga yang lebih memilih hal-hal konseptual; tetapi juga ada yang memproses hanya yang
kongkrit.
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 26 Januari 2006 26
Hasil proses ini, merupakan bakal respon yang akan menjadi respon setelah melewati
ayakan/ saringan. Setiap orang punya kecenderungan saringan mana yang diterapkannya.
Ada yang mempergunakan Rujukan eksternal ataupun internal, sebagai saringan; adapula
yang memakai kecenderungan - menyepakati ataupun menyandingi dan dilihat dari waktu
reaksinya, ada yang cepat, segera - impulsive, ada juga yang butuh waktu – reflektif.
Kitapun telah memahami ada sejumlah faktor yang dapat memacu ataupun menghambat
prosebs belajar kita antara lain : (1) hal-hal yang bersifat intuitif –emosional, (2) hal-hal
logik-kritikal, (3 Hal-hal menyangkut Moral ethik, (4) hal berkaitan dengan biologik-medik’
(5) Hal-hal yang menyangkut aspek socio-kultural dan (6) Hal-hal yang berkaitan dengan
kelembagaan-fisikal; Dengan mengetahui potensial hambatan ini, kiranya para peserta dapat
lebih mawas diri terhadap faktor-faktor tersebut, sebab seringkali tidak begitu mudah untuk
mendeteksinya.
7. PENUTUP
Selanjutnya sebagai tugas di rumah, cobalah Anda renungkan bagaimana makna belajar
bagi Anda selama ini ? apakah hanya ’belajar tentang’, ’belajar’ ataukah sampai ’belajar
menjadi’.; Bagaimana mekanisme belajar Anda selama ini ? Terapkan ke dalam model,
maka Anda akan memperoleh pola belajar Anda. Sebagaimana telah kita bahas, bahwa
pilihan pola belajar karena kebiasaan yang sudah lama kita lakukan. Di SLTA, kemungkinan
besar pola belajar Anda terbina karena interaksi sistim pembelajaran di kelas. Nah di
Perguruan Tinggi, Anda akan melihat bahwa pola belajar yang Anda miliki selama ini boleh
jadi tidak sesuai dengan tuntutan pelajaran maupun proses pembelajaran di ruang kuliah.
Dengan demikian Anda perlu paham, dan secara sadar segera melakukan ’updating’ pola
belajar dan berlatih ke arah yang baru. Sulit? Ya segala sesuatu akan terasa sulit di awalnya,
akan tetapi setelah beberapa saat Anda berlatih, pola baru itu akan sudah Anda miliki dan
akan menjadi pola Anda sendiri, yang pada gilirannya perlu di upadeted lagi.
TOT Basic Study Skills Model Perilaku Belajar
A.G Page 27 Januari 2006 27
Daftar Pustaka
Beierlein, James G. & Wade, B.K., 2000, Navigating Your Future: Principles for
Student Success, Houghton Mifflin Coy
Buttler G & Hope T, 1995, Manage Your Mind , Oxford University Press, Inc. New
York, USA
Calne, Donald B, Within Reason – Rationality and Human Behavior, 1999,
Vintage Books, New York
Cameron, J (1992), “ The Artist ‘s Way – A Spiritual Path to Higher Creativity”, Pan
Books, London.
Covey, S , “Seven Habit”
Foster, C (1994), “ Breaking Free from Your Past – How to Create A Life of
Your
Own”, Headway-Hodder & Stoughton, Scotland
Fulghum, R, All I Really Need to Know I learned in Kindergarten -
Uncommon
Thoughts on Common Things , 1994, 3rd paper back edition , Harper Collins
Publisher
Goleman, D (1996), “ Emotional Intelligence – Why it Matter More Than
IQ”,
paperback edition, Bloomsbury Publishing , Great Britain.
____________ (1998), “ Vital Lies, Simple Truths – The Psychology of Self -
Deception”, paperback edition, Bloomsbury Publishing, Great Britain.
_____________ (1999), “ Working with Emotional Intelligence”, paperback
edition,
Bloomsbury Publishing, Great Britain.
_____________ (2002), “ Healing Emotions”, Interaksara, Batam Centre, Indonesia.
Gunarya, A ( 1994 ), “Strategi Belajar di Perguruan Tinggi” , Ceramah Umum
untuk Himpunan Mahasiswa Fak Teknik Jurusan Mesin., Univ. Hasanuddin
______________ ( 1997 ), “Dimensi Diri”, Bahan kuliah Ilmu Perilaku, pada Fak.
Kedokteran UNHAS, Makassar
______________, 2003, ’Model Belajar Bio-Psikologik’ , bahan kuliah untuk Fak
Kedokteran, jurusan Keperawatan/NERS, Jakultas Sastra Jurusan Sejarah
_____________, 2004, ’Manajemen Diri : Hakekat Belajar” , Modul TOT Basic
Study Skills, untuk Calon Pelatih Basic Study Skill bagi Mahasiswa Angkatan 2004/2005
Universitas Hasanuddin.
Harefa, Andrias, 2002, Menjadi Manusia Pembelajar – On Becoming A
Learner-
, Cetakan VIII. 2005, ( 2000) Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2005
Jensen Eric, Brain - Based Learning, 1996, Turning Point Publishing, Del Mar, CA
USA
Jones, R N (1994), “Effective Thinking Skills “ , Cassell Educational Limited, London
Zohar, D & Marshall Ian (2000), “SQ- Spiritual Intelligence- The Ultimate
Intellegence”, Bloomsbury, London

Tem
perat

TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar


Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 1 Mei 2006
Modul MD-03
Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Oleh : Dr. Arlina Gunarya, MSc
Pengantar
Banyak orang berpendapat bahwa salah satu penyebab ketidak berhasilan sese-orang
dalam belajar karena orang tersebut tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Sering
pula muncul perdebatan di masyarakat, Satu fihak mengutarakan bahwa orang tua,
Guru, Dosen / Instruktur/ Facilitator kurang memotivasi peserta didik untuk mengem
bangkan dirinya.; Fihak lainnya berpendapat bahwa motivasi tidak bisa dari luar, peserta
didik sendirilah yang bisa dan harus menumbuh-kembangkan motivasi belajar
nya. Begitu pula di kalangan akademisi di bidang pendidikan, psikologi, anajemen,
dll banyak melakukan berbagai riset dalam kaitan motivasi ini, dari berbagai sudut
pandang. Jadi sudah banyak teori tentang motivasi; yang mana cocok, sebagaimana
layaknya teori, tergantung dari sudut mana kita memandang.
Dalam modul ini, kita tidak akan membahas teori-teori tersebut secara rinci; karena
maksud sesi ini bukanlah belajar tentang motivasi, tetapi belajar bagaimana agar
kita menjadi termotivasi untuk belajar . Meskipun demikian, sedikit orientasi ten
tang beberapa teori akan kita ulas, agar mereka yang memerlukan bisa menelaah sen
diri lebih jauh teori yang memang diminati untuk diketahui lebih dalam. Oleh karena
itu, pokok bahasan dalam modul ini akan mencakup 5 bagian, yaitu (1) Pendahuluan
yang memperkenalkan wawasan tentang apa yang dimaksud dengan ‘motivasi bela -
jar’; (2) Orientasi Teori Motivasi, dimana kita bisa ‘window shopping’ atas bebera
pa teori motivasi yang dianggap banyak kalangan sebagai relevan; (3) Mengapa Per
lu Termotivasi, ajakan jedah kembali merenungkan mengapa kita perlu termotivasi
untuk belajar; (4) Menjadi Termotivasi Belajar, memberikan insight bagaimana
caranya agar kita bisa menjadi termotivasi dalam belajar.; (5) Rangkuman sebagai
penutup
Demikian isi modul ini, dengan sasaran agar mahasiswa memiliki pengetahuan dan
pengenalan akan motivasi belajarnya sendiri selama ini, dan memiliki insight bahwa
menjadi termotivasi adalah ‘sungguh merupakan urusannya’ ( his/her real bisiness) ,
memiliki pengetahuan awal tentang bagaimana belajar menjadi termotivasi untuk
belajar. Tentu saja terkandung harapan agar dengan apa yang diperoleh dari pelatihan
ini, bersama dengan modul lainnya, mahasiswa dapat lebih berupaya menjadi ter
motivasi untuk belajar, belajar dan belajar .
Baiklah, mari kita memasuki pokok-pokok bahasan berikutnya.
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 2 Mei 2006
1. Pendahuluan : ‘motivasi belajar’
Apakah yang dimaksud dengan motivasi belajar?
Menurut kamus psikologik, secara harafiah berarti ” perlengkapan psikologik” yang
membangkitkan organisn untuk bertindak ke arah tujuan yang diinginkan; alasan untuk
bertindak yang mana memberi arah dan tujuan pada tingkah laku . Jadi dari kedua
arti tersebut, menjadi jelas bahwa motivasi merupakan vektor, mengandung bobot dan
arah.
Lebih lanjut motivasi selalu dihubungkan dengan tujuan. Jadi motivasi belajar,
tentunya perllengkapan psikologik yang membangkitkan seseorang untuk belajar agar
mencapai tujuan. Dengan perkataan lain, apabila kita tidak jelas dengan tujuan yang
hendak kita capai, maka sulit untuk menemukan motivasi belajar.
Sebagaimana dijelaskan dalam modul MD-02 sebelumnya, pada hakekatnya belajar
adalah panggilan hidup. Jadi bagi orang beriman, setidaknya sudah jelas satu tujuan
mempertanggungjawabkan kehidupan di hadapan Yang Maha Kuasa. Hal itu berarti,
sebisanya kita perlu belajar menjadi orang sebagaimana kita dimaksudkan Sang Pencipta.
Demikian pula kondisi otak kita bertumbuh dan berkembang sesuai dengan kuantitas dan
kulitas asupan. Semakin banyak kita belajar, semakin berkembang fungsi otak kita, semakin
lebih termotivasi lagi untuk mencari tahu- belajar. Jadi bisa kita simpulkan bahwa
sudah hakikinya manusia memiliki motivasi belajar. Tersirat pengertian tidak ada orang
yang tidak mempunyai motivasi belajar. Tinggal persoalannya adalah berapa kekuatan
nya dan kemana arah belajarnya, Apabila pada sejumlah orang tidak nampak termotivasi,
berarti mereka sudah belajar lewat satu dan lain kondisi, menjadi orang yang tidak
termotivasi untuk belajar ., atau mereka tidak memiliki kejelasan tentang tujuan hidupnya.
Andaikan mereka berupaya memperjelas tujuan hidupnya, dan menghapus hasil belajar (
’de-learning’) yang keliru, maka motivasinya akan nampak.
Meskipun tiap orang memiliki motivasi belajar, ada orang yang termotivasi dari
dalam dirinya – ’ intrinsic’ , ada juga yang termotivasi dari luar - ’extrinsic’ . Mereka
yang motivasi belajarnya bersifat intrinsik biasanya berorientasi ’inner locus of control’ .
Mereka secara teratur mempertanyakan ke dirinya : ”Apa yang sudah saya pelajari ? Apa
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 3 Mei 2006
yang bisa saya laku kan untuk menambah dan memperbaikinya, mengembangkannya?
Apakah saya sudah cukup berupaya?, masih bisa ditingkatkankah upaya saya ? dst. Yang
pada hekekatnya, melakukan monitoring diri, sejauh mana kemajuan perkembangannya
belajar menjadi.
Sedangkan orang-orang yang termotivasi belajar oleh hal di luar dirinya, cenderung
meletakkan ’locus of control’ di luar dirinya. Mereka memotivasi diri dalam belajar
dengan mempertanyakan pertanyaan seperti : ” Apa yang saya bisa peroleh apabila saya
lakukan hal ini, apabila saya mempelajari hal ini ? Kalau saya dapat nilai baik, apa yang
akan saya peroleh? Dst. Pada umumnya, motivatsi ekstrinsik diperoleh sebagai hasil
belajar dengan lingkungannya, terutama lingkungan keluarganya di rumah. Artinya
mereka dibesarkan dengan cara seperti itu. Tidak banyak peluang mereka daatkan untuk
membuat pilihan-pilihan, segala sesuatunya telah di’set-up’ tergantung kepada orang
lain, tergantung apa kata orang lain, dst
Dari keduanya, tentunya tidak ada yang 100 % murni intrinsic maupun extrinsic.
Orang termotivasi intrinsik, berarti terbanyaknya ia didorong oleh hal-hal dari dalam
kalbunya. Sedangkan orang-orang yang termotivasi ekstrinsic, kebanyakkan berdasar
kepuasan yang datangnya atau berada di luar dirinya. Semakin besar kekuatan motivasi
intrinsicnya, semakin besar juga kecenderungan yang bersangkutan bisa belajar menjadi.
Lebih jauh ada banyak riset tentang motivasi, yang dapat memberi kita insight lebih
lanjut bagaimana posisi dan perannya dalam kehdiupan kita sehari hari. Pada bagian
berikut, kita akan melakukan orientasi atas sejumlah teori, hanya sebagai informasi latar
dalam percakapan memotivasi diri ini.
2. Orientasi Teori Motivasi
Sebagaimana disampaikan terdahulu, ada banyak teori yang menjelaskan tentang
motivasi. Beberapa teori sudah sangat dikenal dan dipergunakan di banyak bidang ilmu
dan praktisi . Berikut, secara sepintas kita akan melakukan orientasi atas sekjumlah teori,
yang dikelompokkan dalam tiga kelompok, yaitu (1) kelompok teori yang menjelaskan
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 4 Mei 2006
tentang komponen dari motivasi; (2) kelompok kedua teori-teori yang menjelaskan proses
motivasi, sedangkan (3) kelompok ketiga, teori teori yang menjelaskan motivasi dalam
kaitan dengan hal lain seperti prstasi, self image, dst.
2.1 Kelompok teori : komponen dari motivasi
Cukup banyak teori yang menjelaskan motivasi dari sudut strukturalnya, akan tetapi
kita akan melihat sebagai ilustrasi, hanya dua teori yaitu : ‘Teori Peringkat kebutuhan’
dari Abraham Maslow dan Teori Terpancar’ dari David Mc Clelland D
(1) Teori Peringkat Kebutuhan’ dari Abraham Maslow
Maslow mengutarakan bahwa pada dasarnya tingkah laku manusia ( termasuk
belajar), didorong oleh kebutuhan yang orang tersebut pada saat itu. Jadi, seseorang me
lakukan sesuatu karena pada saat itu ia menghayati sangat keku rangan (depriviation)
salah satu kebutuhannya, yang akan terpenuhi oleh kelakuan tersebut.; dan dorongan ini
disebut ‘D-motive’
Selanjutnya, kebutuhan manusia tersebut digolongkan Maslow kedalam enam
tingkatan 1 , yaitu : 1) Kebutuhan fisiologik ( makanan, air, udara, dst); 2) Kebutuhan
rasa aman ( bebas dari rasa takut, cemas, tertekan,dst); 3) Kebutuhan Bersosial ( ber
teman, mencintai dan dicintai, dst), 4) Kebutuhan Pengakuan - self Esteem ( dihargai,
diakui prestasinya, reputasinya,dst); 5) Kebutuhan aktualisasi diri ( untuk mejadi yang
ia bisa menjadi) dan 6) Kebutuhan Kognitif ( kebutuhan untuk memutahirkan diri).
Lebih lanjut keenam kelompok kebutuhan tersebut bersifat hirarkhis. Artinya
kebutuhan paling dasar ( fisiologik) dihayati dan terpenuhi pada batas minimalnya,
barulah terhayati kebutuhan hirarkhi berikutnya ( rasa aman) . Hanya ketika kebutuhan
rasa aman tersebut terpenuhi pada ambang bawahnya, barulah muncul kebutuhan dengan
hirarkhi di atasnya lagi ( sosial) , demikian seterusnya hingga kebutuhan aktualisasi diri.
Pada saat orang mulai beraktualisasi, maka ia akan menyadari adanya kekurangan infor
masi atau skill yang diperlukan untuk melanjutkan aktualisasinya, maka muncul-lah
kebutuhan kognitif, yaitu menambah dan meng-‘updated’ hasil belajarnya . Setelah
1 Semula
Maslow mengajukan 5 tingkatan, belakangan dalam rangka merespon keritikan teorinya, ia
menambahkan satu tingkatan , yaitu kebutuhan kognitif, sesudah aktualisasi diri. ( Mahdi, )
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 5 Mei 2006
mengisi kognitifnya, maka yang bersangkutan akan kembali ke kebutuhan dasar, tetapi
bukan dalam dorongan kekurangan, tetapi dalam dorongan keperluan, yang Maslow sebut
sebagai B-motive atau Beta motive.
Jadi menurut teori Maslow, orang perlu belajar untuk bisa ‘survival’, dan
apabila mau berkembang, mau belajar menjadi ( beraktualisasi) , maka manusia akan
terdorong untuk belajar menjadi.
(2) Teori Terpancar’ dari David Mc Clelland
Mc Clellland, dalam penelitiannya di beberapa negara maju, menjumpai bahwa
kemajuan negara tersebut sebenarnya dipicu oleh sejumlah kecil ( sekitar 2 %) orang yang
mempunyai profil motive tertentu. Profil motivasi mereka sedemikian rupa sehingga
memungkinkan mereka menjadi entrepreneur, karena mereka memiliki ‘mind-set / jiwa
entrepreneurship’ , yang menurut Mc Clelland bisa dilatihkan.
Motivasi manusia dibedakan Mc Clelland dalam 3 macam, yaitu motive penca
paian ( achievement), motif keakraban ( Affiliation) dan motive kekuasaan ( Power).
Setiap manusia memiliki ketiga motive ini, hanya saja dalam konfigurasi yang berbedabeda.
Ada orang yang motivasi achievementnya tinggi, motivasi affiliasinya rendah, dan
motivasi Powernya tinggi; tetapi ada pula orang yang motivasi achievementnya tinggi,
motivasi affiliasinya sedang, dan motivasi Powernya rendah, dsbnya. Kemudian Mc
Clelland menemukan ciri-ciri orang dengan masing-masing konfigurasi tersebut. Lebih
lanjut setiap profesi atau pekerjaan membutuhkan profil/konfigurasi motivasi tertentu
2.2 Kelompok teori : proses motivasi
Dari teori motivasi yang menjelaskan proses, kita tinjau dua teori saja sebagai ilustrasi,
yaitu : Teori harapan - ’expectancy theory’ dari V. Vroom dan teori Penguat – ‘Re
inforcement theory’ dari B.F.Skinner.
(1) Teori harapan - ’expectancy theory’ dari V Vroom
Vroom merumuskan Motivasi sebagai perkalian anatara ‘expectancy’, yaitu
persepsi individu tentang kemampuan atau kemungkinannya mencapai sasaran. dan
‘valence’, nilai yang dilekatkannya pada keluaran atau imbalan yang akan ia peroleh..
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 6 Mei 2006
Lebih lanjut, kondisi ini hanya berlaku bagi mereka yang memiliki “internal
locus of control”, dimana mereka yakin dapat mengontrol pencapaian tujuan mereka.;
akan tetapi tidak berlaku bagi mereka yang “external locus of control”
(2) Teori Penguat – ‘Re inforcement theory’ dari B.F.Skinner
Teori ini disebut juga Stimulus Respons theory; karena menurut teori ini
stimulus yang datang pada individu, akan membuat individu memberi respons, dan
respons ini akan mempunyai konsekwensi atau penguat ( Consequences /reinforcement ).
Penguat ini bermacam-macam, yaitu: penguat positif, yang akan memperkuat terulang
nya respons ; penguat menghindari, penguat negatif; penguat yang sifatnya
mengurangi dan hukuman yang juga merupakan penguat negatif.
Lebih lanjut, kemunculan penguat ada yang berkelanjutan, artinya setiap respon
muncul, begitu juga penguat. Ada juga yang membutuhkan interval waktu.. Yang
membutuhkan sela waktu ini, beberapa macam anatara lain : penjadwalan sela tetap
(‘fixed interval’); penjadwalan sela tidak teratur (‘variable interval’); penjadwalan rasio
tetap (‘fixed ratio’) dan penjadwalan rasio tidak teratur (‘variable ratio’)
2.3 Kelompok teori : motivasi dalam aplikasinya
Berikut adalah dua teori aplikasi motivasi sebagai ilustrasi, yaitu teori Covington
yang dikenal sebagai teori diri berharga - ‘Self-worth theory of achievement dan teori
Ames dengan struktur tujuan sebagai sistem motivasi.
(1) ‘Self-worth theory of achievement’ dari Covington
Covington melihat ‘performance’ merupakan hasil perpaduan dari kemampu
an – ability yang dimiliki seseorang dengan upaya –effort yang dikeluarkannya untuk
melakukan pencapaian. Selanjutnya performance ini akan berpengaruh pada penghayatan
diri berharga ( ‘self worth’) , yang pada gilirannya akan menambah penghayatan kemampuan
dan upaya, sehingga semakin baik lagi performancenya, dst kita melihatnya sebagai
termotivasi.
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 7 Mei 2006
(2) “Goal Structure as Motivational System’, dari Ames
Ames melihat ada kaitan yang erat antara struktur tujuan –Goal Structure
dengan system motivasi - Motivational System
Tujuan yang mengarah pada kerja sama – cooperative, berkaitan erat dengan sis
tem motivasi yang didasarkan pada moralitas. Sedangkan tujuan yang bersifat competitive,
akan mendorong sistem motivasi yang bersifat egoistik. Sementara tujuan yang
arahnya individualistic akan berkaitan dengan sistem motivasi yang menekankan pengu
asaan-mastery.
Demikianlah kita telah sepintas lalu melihat-lihat inti enam teori motivasi, semoga
Anda mempunyai sedikit orientasi , dan insight bahwa teori tentang motivasi amat ber
aneka ragam tergantung dari sudut mana kita memandang. Yang mana yang baik? Setiap
teori memiliki kelemahan dan kekuatannya masing-masing. Nampaknya untuk keperluan
tertentu selalu ada teori yang paling sesuai. Seperti disampaikan sebelumnya bagian 2 ini
hanya sebagai ‘window shopping’. Bila suatu saat Anda memerlukan , Anda dapat men
dalami teori yang Anda perlukan.
Sekarang mari kita kembali ke pertanyaan hakikiki, mengapa kita perlu termotivasi
untuk belajar ? Jawabannya kita bahas pada bagian berikut.
3. Mengapa Perlu Termotivasi
Ada beberapa hal yang menyebabkan kita perlu termotivasi untuk belajar. Pertama,
belajar adalah panggilan hidup. Artinya tanpa belajar kita tidak bisa hidup. Tanpa
belajar, otak kita tidak mendapat asupan untuk berkembang, kurus kering korentang. Jadi
mau tidak mau, sadar atau tidak sadar kita mesti belajar. Pertanyaannya cukup kuatkah
motivasi kita? Sudah betulkan arah belajar kita. Ingat, bahwa kata motivasi sendiri tidak
bisa dilepaskan dari arah tujuan.
Kedua, dalam rangka belajar menjadi seseorang yang sesuai dengan maksudNya,
kita perlu mengenali berbagai potensi dan bakat yang dibekalkan kepada kita masingmasing.
Sudah sewajarnya kita mencari tahu, kemudian mengembangkannya dengan rasa
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 8 Mei 2006
syukur dan memanfaatkannya untuk kepentingan kemaslahatan orang banyak; sebab
belum tentu orang lain memiliki apa yang sudah dianugerahkan kepada kita. Untuk
keperluan ini, kita perlu termotivasi untuk belajar, agar semua itu tidak mubazir, dan
Insya Allah bisa kita pertanggung-jawabkan dihadapan Yang Empunya.
Lebih lanjut, kita pun akan mengalami frustrasi apabila kita memiliki tujuan yang
tidak bersesuaian ( jauh lebih tinggi atau jauh lebih rendah) dengan kemampuan dan
bakat yang kita miliki. Oleh karena itu kita perlu mencari tahu, secara sadar termotivasi
untuk belajar.
Setelah kita tahu bahwa pasti ada motivasi belajar dalam diri kita, tapi pada
sebagaian kita belum nampak, sehingga orang lain selalu mendorong, menyuruh kita
untuk belajar atau memperlajari sesuatu. Tidakkah kita perlu kembali respek terhadap
diri kita, kemudian menentukan sendiri arah yang hendak dituju, dan berkomitmen
mencapainya , menjadi termotivasi dan dengan demikian terjaga integritas diri.
Merupakan hukum alami, semakin kita belajar, semakin banyak kita tahu dan
mampu; semakin ingin dan butuh mengetahui lebih banyak lagi. Sebab semakin banyak
kita tahu semakin kita menyadari betapa banyak yang kita tidak ketahui.. Di sisi lain,
pengetahuan dan kemampuan yang kita peroleh akan menambah besar kepercayaan diri
kita dalam menyongsong tantangan kehidupan di depan, yang saya yakin semakin tidak
mudah dilalui. Oleh karena itu seyogyanya kita termotivasi untuk belajar.
4. Menjadi Termotivasi Belajar
Dari uraian di atas, bahkan dari kedua modul sebelumnya, kita barangkali bisa
sepakat sekarang, bahwa semua kita memiliki motivasi belajar, dan termotivasi belajar
adalah keharusan yang sifatnya instrinsik, untuk mengakomodasikan panggilan hidup
belajar. Persoalannya adalah bagaimana kita bisa secara sadar belajar menjadi termotivasi
untuk belajar. Pada bagian ini, kita akan membahas strategi dan beberapa tips
untuk keperluan belajar menjadi termotivasi untuk belajar..
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 9 Mei 2006
Dalam modul MD-01, kita telah belajar bahwa pada diri manusia terdapat tiga
ranah, yaitu ranah spiritual, ranah psikologik dan ranah fisik. Oleh karena itu, strategi
belajar menjadi termotivasi belajar , perlu digarap di ketiga ranah tersebut. Selanjutnya,
sebagaimana terkandung dalam kata motivasi itu sendiri, perlu ada bobot dan arah, Ada
energi ( spirit, psikis dan fisik) dan arah ke tujuan. Oleh karena itu strateginya adalah
perlu ada asupan untuk ketiga ranah agar menghasilkan energi di ketiganya, dan ada
tujuan hidup ( jangka panjang, jangka menengah, jangka pendek) yang jelas agar arah
menjadi jelas. Dengan begitu, kita bisa punya energi dan arah, barulah kita bisa belajar
menjadi termotivasi untuk belajar.
Dengan mengacu pada strategi dasar di atas, berikut disampaikan sejumlah tips
untuk Anda pergunakan dalam ‘belajar menjadi’ termotivasi untuk belajar.
(1) Berupayalah merumuskan tujuan hidup Anda.
Tujuan akan memberikan arah dan makna pada hidup dan kehidupan, meno
long Anda memfokuskan upaya-upaya pada hal-hal yang sudah Anda putuskan penting
bagi Anda. Tujuan akan memberi arah pada motivasi belajar Anda. Oleh karena itu
berupayalah merumuskan tujuan hidup Anda, kemudian Anda dapat menurunkan tujuan
jangka menengah dan jangka pendek Anda. Bila Anda merasa kesulitan dalam merumus
kan tujuan, Anda bisa mencari tahu pedoman untuk merumuskan tujuan, berkonsultasi
dengan teman atau Penasehat Akademik (PA) Anda, atau datang berkonsultasi pada
konselor di Pusat Bimbingan Konseling UNHAS. Berikut beberapa hal yang dapat Anda
pertimbangkan dalam merumuskan tujuan Anda :
1) Tetapkan tujuan-tujuan yang spesifik dan terukur
2) Identifikasikan tujuan jangka pendek dan tujuan jangka menengah, yang
keduanya merupakan langkah-langkah menuju tercapainya tujuan jangka
panjang Anda
3) Tetapkan batas waktu (target date) untuk setiap butir bagian tujuan ( sub-goal)
4) Identifikasikan kendala-/hambatan yang sekiranya akan dihadapi, yang akan
menghalangi Anda; dan sumberdaya yang akan menolong Anda untuk
mencapai tujuan Anda. Rencanakanlah bagaimana Anda akan menangani
hambatan tersebut.
5) Evaluasi ‘outcome’ setiap langkah menuju tujuan Anda. Chek diri Anda
apakah betul ini yang Anda mau tuju? Apakah betul betul ini yang Anda
inginkan? Apakah perlu mempertimbangkan informasi lebih lanjut?
6) Revisi dan modifikasi atau bahkan bisa saja anda ubah tujuan, apabila
memang menghendaki demikian.
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 10 Mei 2006
(2) Beri komitmen – Commitment
Setiap tugas merupakan serangkaian tindakan2 ( bukan hanya sejumlah kegiatan).
Kadang suatu tugas terdiri dari beberapa tindakan tetapi tidak jarang suatu tugas membu
tuhkan banyak tindakan ; dan bukan tidak mungkin diiringi sejumlah ‘interupsi’, bahkan
muncul tugas lain yang juga perlu segera dikerjakan. Oleh karena itu kita memerlukan
komitmen. Komitmen adalah derajat sejauh mana Anda melibatkan /memberikan diri
anda pada serangkaian tindakan. Komitmen merefleksikan niat / tekad ---‘intention’
dan dedikasi – dedication , kesetiaan dan kesediaan berkorban. Motivasi menjadi tinggi
manakala anda membuat komitmen yang kuat. Bisa diungkapkan lain, seakan Anda mengatakan
: ‘ Saya sungguh sungguh hendak menyelesaikan tugas ini , dan saya siap
berupaya keras untuk menyelesai-kannya.’.
Lebih lanjut, komitmen merupakan sesuatu yang dinamis, bisa membesar atau
menguat, bisa juga mengecil/melemah. Jadi Anda perlu merawatnya. Salah satu cara
merawat, yaitu dengan menghubungkan apa yang sedang Anda kerjakan/pelajari dengan
tujuan Anda ( jangka panjang, jangka menengah atau jangka pendek). Hal ini akan
memperbesar minat Anda, dan memberi Anda arah belajar, dan komitmen. Namun
demikian Anda perlu mawas diri untuk tetap berada di masa kini, karena hanya bila Anda
berada di saat kini, barulah Anda bisa sadar akan motivasi Anda dan bisa berbuat. Cara
lainnya dengan men-camkan ke diri bahwa setiap tindakan merupakan suatu langkah ke
arah tujuan. Sementara seperti pepatah mengatakan : « Perjalanan terpanjang selalu
dimulai dengan suatu langkah » , juga « Memulai mengerjakan , sudah menyelesai
kan separuh pekerjaan. » . Bertindaklah konsisten dengan tujuan Anda.
(3) Temukan Role Model:
Belajar menjadi jauh lebih mudah manakala kita mempunyai seorang model untuk itu.
Cobalah menemukan ‘role model’ yang dapat memberi inspirasi bagaimana keuletan ,
ketangguhan, kecerdasan, jatuh bangunnya dalam berachievement; untuk memicu kita
belajar menjadi termotivasi seperti ‘role model’ tersebut. Manakala Anda sulit menemu
kan di sekeliling Anda ( sudah langka), maka Anda bisa mendapatkannya dengan
2 Tindakan adalah kegiatan yang membawa kita lebih dekat ke tujuan . Tanpa tujuan, hanya ada kegiatan
secara acak.,
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 11 Mei 2006
membaca biografi dari orang-orang besar yang berhasil di berbagai bidang, ada banyak di
seluruh jagat raya ini, termasuk di Indonesia, juga di daerah Anda..
(4) Tidak mudah menyerah
Manakala Anda menghadapi hambatan, tidak serta merta menunjukkan bahwa
Anda harus berhenti berupaya, karena Anda melihatnya sebagai tanda tidak mampu;
ataupun lalu Anda jengkel, karena teman tidak mau kerja sama, karena dosennya keterlaluan
, karena semua orang lain salah kecuali Anda ( ‘outer locus of control’) . Hambat
an perlu dipersepsi sebagai tanda bahwa Anda membutuhkan tambahan (informasi, skill,
teman berdiskusi,dst), maka perbesar lagi upaya Anda, cari ‘mitra diskusi, mitra-konsult
asi’ dan akuilah ke diri bahwa Anda masih memerlukan tambahan pengetahuan , maka
belajarlah tentang ………. , masih memerlukan tambahan skill, belajarlah bagaimana
memahirkan skill ………. tersebut, masih membutuhkan wisdom ……., berkonsultasilah
dengan Sang Empunya. Yang penting, jagalah agar Anda tidak melengket pada hambatan
tersebut, dan menjadi lemah lalu menyerah – malas bahkan apatis.
(5) Bersikap Mawas diri
Telah kita bahas dalam modul MD-02 bahwa otak menyimpan semua hasil
rekaman pengetahuan dan penghayatan kita dalam memory-nya. Apabila karena satu dan
lain hal kita sempat keliru belajar menjadi ’tidak mampu, tidak berdaya, tidak bisa
belajar’, maka langkah yang perlu dilakukan adalah merombak hasil belajar tersebut- ’delearning’
dengan cara memutahirkan (up-dated) selalu mind-set kita ( ingat kembali
modul MD-01) Kembali berdialog dengan diri Anda, dari mana datangnya pikiran
tersebut, lalu mutahirkan ( teknik Stop pikiran lama-ganti dengan pikiran baru)
Salah satu sikap mawas yang perlu dijaga adalah mawas akan kosakata yang
Anda ungkapkan baik ke diri maupun ke luar. Kosa-kata yang Anda pakai mencerminkan
siapa Anda tetapi juga membentuk diri Anda. Sebagai ilustrasi, apabila kita belum
berhasil menguasai suatu mata kuliah, kosakata apakah yang kita keluarkan ( bersuara
ataupun dalam hati ?) .............. ” Ah memang saya tidak mampu” , ”ah memang bukan
jurusan pilihanku”, ” Dosennya tidak becus menerangkan”, ” Sialan, apa sih gunanya
belajar ini semua”, dst dst. Apabila kosakata itu yang keluar, maka bisa dipastikan Anda
kehilangan kesempatan termotivasi. Mengapa tidak seperti Thomas Edison, ketika ia
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 12 Mei 2006
masih selalu gagal menghasilkan nyala bola lampunya, ia menagatakan bahwa ”semua
upaya yang belum menghasilkan ini merupakan prasarat untuk munculnya nyala pertama
dari bola lampunya ”. Pada akhirnya kita tahu kosakatanya betul, dan sekarang kita me
nikmati hasil jatuh bangunnya.
Pergunakanlah kosakata yang mendukung diri Anda maju, seperti misalnya: ”
Saya punya potensi, mungkin belum terpoles, belum terasa; baiklah saya coba
memolesnya, ya saat ini saya perlu bantuan, yang dapat memoles potensi saya.”
Selanjutnya hindarilah kosakata yang membawa Anda lebih terpuruk lagi, seperti
:”Sebetulnya saya bisa, cobanya ............”. , ” Andai saja .............., ”, atau ” Sebenarnya
saya bisa, tetapi .............”, dsb hanya sebagaio pembenaran diri.
Dibalik kosakata yang Anda pergunakan, adalah sikap hidup yang Anda anut,
’mind-set’ yang Anda setel. Jadi mulailah dari sana mengubahnya, memutahirkan sesuai
tuntutan jaman.
(6) Bina energi yang Anda butuhkan
Semua yang diuaikan di atas membutuhkan energi untuk melakukannya. Oleh
karena itu, Anda perlu menghimpun, merawat dan memanaje energi Anda, baik energi
spiritual, emergi psikis maupun energi fisik.
Anda dibekali sejumlah energi hidup, sejak Anda diciptakan. Rawatlah energi
tersebut dengan mensyukurinya. Selalulah antusias3 dalam segalanya. ”Ora et labora’,
berdoa dan bekerja. Artinya, selalulah berkonsultasi dengan Sang Pencipta sebab ’blue
print’ kita ada padaNya. Dengan begitu, energi hidup (vitalitas) kita terjaga, sebab tersam
bung terus dengan Sumbernya.
Pikiran Andapun perlu mendapat asupan yang segar, sehingga bisa selalu bugar.
Hal ini bisa Anda lakukan dengan cara atara lain : membaca buku-buku cerita/novel yang
inspiratif; tontonlah hanya film atau sinetron, telenovela, tayangan yang inspiratif.
Dengarkan ceramah, khotbah, diskusi hal-hal yang inspiratif; kunjungi hasil karya besar
3 Arti
kata Antusias- Enthusiasm adalah Tuhan beserta kita – Shakinah
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 13 Mei 2006
yang inspiratif seperti museum, pameran lukisan, pameran seni, dst Pergilah ke alam
bebas, indahnya panorama , Karya Sang Pencipta, pasti inspiratif. Dengan begitu Anda
sudah menjaga vitalitas Anda, spiritual dan mental, tinggal lagi mengagumi dan mearawat
Karya Besar Sang Pencipta lainnya yaitu tubuh Anda sendiri.
Perhatikan, sayangi dan rawatlah tubuh Anda; sebab seperti yang kita kupas di
modul-02, tubuh kita luar biasa, kaya inspirasi untuk kehidupan kita di berbagai bidang.
Perhatikan, cermati, rawat, maka Anda akan mendapatkan kembali energi fisik yang
Anda butuhkan.
(7) Seimbang - ’steady state’
Kata kuncinya adalah seimbang , dalam pengertian ’steady state’. Hidup ini
banyak aspeknya. Dalam upaya belajar menjadi Diri Anda yang sesuai dengan fitrah
Anda, hendaknya bukan hanya satu aspek saja , tetapi seutuhnya. Prestasi akademik
memang penting, tetapi itu bukan segala-galanya. Ada banyak yang perlu dipelajari
selain mata kuliah. Bijaklah mempergunakan waktu Anda, agar teralokasi dengan
proporsional bagi semua keperluan belajar , belajar tentang maupun belajar menjadi.
.
5. Rangkuman - penutup
Kini kita tiba di penghujung sesi , kita telah membahas apa itu motivasi belajar, yang
bisa dibedakan sebagai ‘intrinsic’ atau ‘extrinsic’. Kita pun tahu bahwa sejak lahir, kita
dibekali (default design) termotivasi secara ‘intrinsic’. Namun dalam perkembangan
hidup kita, sebagaian kita karena satu dan lain kondisi, telah keliru belajar menjadi orang
yang seakan tidak termotivasi belajar ataupun termotivasi secara extrinsic’, sehingga
hilang sejumlah kebebasan.
Sejumlahteori motivasi telah kita telusuri secara sepintas; membuat kita menjadi
insight betapa ragamnya teori-teori tersebut. Ada yang membahas komponennya, ada
yang prosesnya , ada pula yang aplikasinya. Dengan begitu banyak peluang ke depan
untuk belajar tentang berbagai teori tersebut sesuai keperluan.
TOT Basic Study Skills Menjadi Termotivasi untuk Belajar
Modul MD-03
A.G / PBS UNHAS Page 14 Mei 2006
Kita pun telah mencari tahu alasan mengapa kita perlu termotivasi belajar. Sesungguhnya
tidak bisa tidak, kita perlu termotivasi belajar, sebab itu adalah kondisi untuk bisa
‘survive’ dan berkembang, untuk bisa hidup. Segala perlengkapan yang dibutuhkan
untuk itu telah dibekalkan kepada kita, yang seyogyanya tidak boleh mubazir, yang juga
Insya Allah akan dipertanggung-jawabkan dihapadapan Sang Pencipta.
Pada bagian terakhir kita telah menurunkan strategi dasar bagaima ‘belajar menjadi’
termotivasi belajar. Sejumlah tips telah juga kita dikupas. Masih banyak yang belum
terungkap, akan menjadi temuan Anda pribadi masing-masing dalam perjalanan belajar
menjadi termotivasi belajar Anda ke depan.
Semoga modul ini, dapat mempunyai nilai guna manfaat di diri Anda masing-masing
kembali ke perjalanan Anda. Selamat belajar.
Daftar Bacaan
Beierlein, James G. & Wade, B.K., 2000, Navigating Your Future: Principles for
Student Success, Houghton Mifflin Coy
Counseling Service, Dalhousie University, “Learning to Learn” - Study Skills Program
Foster, C (1994), “ Breaking Free from Your Past – How to Create A Life of
Your Own”, Headway-Hodder & Stoughton, Scotland
Gunarya, A ( 1995 ), “Dinamika Tingkah Laku Manusia” , Course-note mata
kuliah Psikologi Sosial, di beberapa fakultas dan program Pasca Sarjana UNHAS.
Harefa, Andrias, 2002, Menjadi Manusia Pembelajar – On Becoming A
Learner-, Cetakan VIII. 2005, ( 2000) Penerbit Buku Kompas, Jakarta 2005
Hainzinger, Cal, Some Reasons for Studying, a handout, 1995. Copyright © 2000 Cal
Hainzinger's School Psychtools. : http://ww2.hfhighschool.org/~chainzinger/
Jensen Eric, Brain - Based Learning, 1996, Turning Point Publishing, Del Mar, CA
USA
McMunn, N & Butler, S , 1999 “ Linking Assessment and Motivation in the School
Environment”, ASCD Annual Conference and Exhibit Show,
TOT Basic Study Skills Menangani Procrastination’
Modul MD-04
A.G Page 1 Desember 2006
Modul MD-04
Menangani Procrastination
1. PENDAHULUAN :
Kita telah tahu bagaimana belajar menjadi termotivasi, kita pun sudah tahu bagaimana
membangun konsentrasi dan menghindari serta mengatasi gangguan belajar (distraction).
Selan-jutnya kita pun sudah belajar bagaimana menyusun jadwal yang realistik, sehingga
bisa dilaksa nakan. Namun demikian , bagi sejumlah orang ada satu hal yang masih bisa
menggagal kan keberhasilan studi mereka, yaitu adanya kebiasaan menunda-nunda
melakukan tugas, atau lebih tepatnya menghindari menyelesaikan tugas, yang disebut
’procrastination’
Secara etimology, kata ’procrastination’ berasal dari bahasa Latin, yakni dari kata
kerja ’procrastinare’ , kombinasi dari kata “pro” yang bermatra ’menuju gerak’ dengan
kata “crastinus”, yang berarti ’milik hari esok’. Menurut Ferrary (Ferrari et al., 1995:4 )
kata ini mempunyai sejarah yang panjang, jauh ke jaman Mesir Kuno. Dimana kata ini
dipakai dalam denotasi positif yaitu “ .... the useful habit of avoiding unnecessary work and
impulsive effort,…..” Artinya penundaan melakukan suatu tindakan dalam kerangka bijakwise,
perlu memikirkan terlebih dahulu agar tidak secara impulsive melakukan sesuatu. Hal
ini juga di-pergunakan oleh tentara Roma dalam rangka ke-hati-hati-an menghadapi musuh
nya, agar tidak terjebak dalam pertempuran konyol. Namun di sisi lain, pengertian kata
tersebut mempunyai konotasi negatif, yaitu penundaan karena kemalasan - “ …..the harmful
habits of laziness in completing a task necessary for subsistence,…..” . Dalam era modern,
pengertian prokrastinasi lebih dipergunakan dalam denotasi penundaan yang negative.
Sebagaimana dikemukakan oleh Milgram (1991) bahwa pengertian prokrastinasi, setidaknya
mengandung beberapa unsur berikut : 1) Serangkaian perilaku tertunda-tunda; 2) berakibat
rendahnya mutu produk perilaku tersebut; 3) menyangkut tugas yang oleh ’procrastinator’
dianggap penting untuk dilakukan ;dan 4) berakhir pada keadaan emosional yang tidak
karuan.
TOT Basic Study Skills Menangani Procrastination’
Modul MD-04
A.G Page 2 Desember 2006
Dengan pengertian di atas, prokrastinasi ini, bukanlah perilaku kemalasan yang sederhana,
melainkan merupakan perilaku yang kompleks yang merupakan gangguan emosional pada
individu ’prokrastinator’ , dan bisa berakibat fatal karena kebiasaan ini dapat membuat orang
tersebut tidak berhasil dalam hidupnya. Oleh karena itu sangat perlu untuk segera ditangani
dan diatasi. Modul terakhir dari manajemen diri ini akan membahas bagaimana cara
mengatasi prokrastinasi.
2. Sasaran :
• Untuk dapat memahami apa yang dimaksud dengan ‘prokrastinasi’ dan apa
penyebabnya
• Mengenali diri Anda apakah seorang prokrastinator atau bukan
• Tahu menyebutkan dan dapat melakukan upaya-upaya menghindari dan mengatasi
‘prokrastinasi’.
3. Langkah-langkah
3.1 Langkah pertama: Telaah Sikap Diri terhadap Tugas
Untuk dapat mengatasi persoalan prokrastinasi, terlebih dahulu Anda perlu memahami
persoalan itu sendiri. Artinya Anda perlu melakukan analisis atas situasi dan kondisi Anda
pada saat tugas tidak terselesaikan dengan baik. Coba diam sejenak, telaah dan dialog-lah
dengan diri Anda tentang tugas yang dihadapi. Telusuri sikap diri secara jujur terhadap
tugas tersebut. Artinya Anda perlu bisa melihat bahwa tugas tersebut memang merupakan
tugas Anda, dan Anda bertanggung jawab untuk melakukannya dan akan melakukannya. Bila
demikian halnya maka lanjut pada langkah kedua.
Sebaliknya, apabila Anda tidak atau belum bisa melihat bahwa tugas itu adalah tugas
Anda, dan ada kemarahan atau emosi mengganggu lainnya didalam hati, maka selesaikanlah
terlebih dahulu masalah emosi Anda.
TOT Basic Study Skills Menangani Procrastination’
Modul MD-04
A.G Page 3 Desember 2006
• Pertama, Anda perlu menelaah apakah tidak selesainya tugas disebabkan oleh manajemen
waktu yang tidak bagus? Bila demikian halnya, kembali pada modul MD 07
mengenai manajemen waktu, dan latihlah diri Anda dengan lebih baik
• Bila ternyata Anda sudah paham bagaimana manajemen waktu yang baik, tetapi Anda
tidak melakukannya, barangkali Anda punya persoalan yang lebih serius, bisa salah satu
alasan berikut ini :
o Tidak melihat relevansinya bagi diri Anda ( Lack of relevance.) Bila suatu
tugas Anda anggap tidak relevan, maka akan sulit bagi Anda untuk termotivasi
memulai mengerjakannya
o Tugas tersebut Anda anggap tujuan orang lain, bukan tujuan Anda.. Apabila
suatu tugas dipaksakan kepada Anda, dan Anda tidak tertarik dan tidak bisa
melihat manfaatnya bagi tujuan Anda, maka Anda akan terhambat untuk menye
diakan waktu untuk mengerjakannya.
o Perfectionism. Anda memiliki standard yang terlalu tinggi, sehingga tak ter
jangkau. Maka Anda menjadi terhambat, tidak terdorong untuk mengerjakannya.
Perlu Anda catat bahwa kesempurnaan tidak pernah dapat dicapai.
o Kecemasan di evaluasi. Ada orang-orang yang tidak siap untuk di evaluasi,
sehingga timbul kecemasan jangan jangan saya akan dinilai jelek, takut salah, dst;
sehingga akhirnya tidak bisa bekerja jadi tidak bisa menyelesaikan pekerjaan
tersebut.
o Ambiguity – keraguan . Apabila Anda tidak jelas tentang apa yang diharapkan
dari Anda, boleh jadi Anda kesulitan untuk memulai pekerjaan. Takut akan hal
baru yang tidak diketahui. akan menghambat semangat Anda untuk mulai bekerja.
TOT Basic Study Skills Menangani Procrastination’
Modul MD-04
A.G Page 4 Desember 2006
o Ketidak mampuan menangani tugas tersebut. Apabila Anda kurang memiliki
pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan untuk mengerjakan tugas tsb.
atau Anda menghayati tidak cukup memadai untuk dapat menyelesaikan tugas
tersebut, boleh jadi Anda akan sama sekali menghindarinya, tidak engerjakannya
• Setelah tahu penyebab prokrastinasi di diri Anda, selesaikanlah persoalan di diri Anda,
kalau perlu bicarakan dengan orang yang relevan, dengan teman, dengan dosen atau PA
Anda. Bahkan bila perlu Anda bisa datang berkonsultasi ke Pusat Bimbingan Konseling
UNHAS.
3.2 Langkah dua:. penyelarasan diri dengan tugas
Apabila Anda menghadapi tugas yang membutuhkan kurun waktu yang panjang, bagi
lah tugas tersebut ke dalam bagian-bagian (segmen) yang pendek dan manageable. Biasanya,
tugas pendek tidak menimbulkan prokrastinasi. Jadi apabila Anda membagi tugas kompleks
dan butuh waktu lama menjadi beberapa bagian pendek, sehingga setiap segmen bisa dkerja
kan atau diselesaikan setiap hari / minggu / bulan; Sedemikian rupa sehingga tugas tsb secara
keseluruhan dapat diselesakan paling lambat pada tgl …….{tentukan tgl ini beberapa hari
sebelum batas waktu (dead line)}.
Contoh /illustrasi :
# tugas membaca text,
- rencanakanlah membaca sejumlah halaman setiap waktu tertentu, setiap
harinya/setiap minggunya sehingga seluruhnya dapat diselesaikan dalam
kurun waktu yang telah kita tentukan.
- Buat penjadwalan, siapkan bahannya (bila perlu fotocopy supaya bisa
dipilah per-porsinya)
- Kerjakan
TOT Basic Study Skills Menangani Procrastination’
Modul MD-04
A.G Page 5 Desember 2006
# tugas membuat paper/project,
- Pilah tugas membuat paper berdasarkan proses pembuatannya
- Tentukan estimasi kurun waktu yang dibutuhkan untuk setiap langkah dari
proses tersebut.
- Buat penjadwalan, tentukan waktu spesifik untuk mengerjakannya setiap
hari/minggunya, kemudian hitung mundur (‘backward’) dari beberapa hari
sebelum ‘dead line’
- Kerjakan
3.3 Langkah ketiga : Hindari perasaan terbeban (overwhelmed)
Hindari perasaan terbeban (overwhelmed), dengan cara memecah tugas besar atau tugas
sulit menjadi bagian / komponen yang lebih kecil, sehingga ‘manageble’. Kemudian
pusatkan perhatian Anda hanya pada satu bagian saja yakni satu bagian yang sedang
Anda kerjakan.
3.4 Langkah Ke empat: Hindarkan Diri dari ‘perfectionism’
Jangan biarkan kebiasaan ‘perfectionism’ membuat Anda tidak berdaya. Sebagai orang
yang sedang belajar (mahasiswa, dosen, siapapun) Anda tidak diharapkan menunjukkan
keahlian / kepakaran. Lakukan yang terbaik yang mampu Anda lakukan ( do the best you
can ), kemudian mintalah umpan balik – feed-back [ berbeda dari evaluasi/penilaian ], dan
sedapat mungkin menyesuaikan dengan masukkan umpan balik tersebut. Sebagai catatan
perlu Anda pahami bahwa Dosen yang baik, memperhatikan upaya serious dan perbaikan
yang semakin nampak, bukan kesempurnaan.
TOT Basic Study Skills Menangani Procrastination’
Modul MD-04
A.G Page 6 Desember 2006
3.5 Langkah ke Lima : Hal-hal Penting yang harus diperhatikan
Hal-hal penting yang harus diperhatikan agar Anda bisa segera mulai mengerjakan
tugas dan menjaga tetap mengerjakan tugas tersebut sehingga selesai pada waktu yang Anda
tetapkan:.
• Tetapkan sasaran tertentu (spesifik) untuk diselesaikan dalam setiap kurun waktu
belajar
• Pusatkan perhatian hanya pada satu langkah setiap kali.
• Optimalkan effisiensi Anda, dengan cara mengendalikan segala sesuatu yang dapat
mengganggu Anda
• Jangan tunggu sampai Anda merasa mau mulai melakukannya, tetapi lakukanlah
saja sejumlah kecil tugas tersebut (sebagai warming up), nanti Anda bisa lihat
Anda akan menjadi terpacu untuk lanjut bekerja.
• Perhatikan baik-baik, untuk tidak mengijinkan ‘dalih’/ ‘excuses’ apapun untuk
tidak memulai ataupun berhenti bekerja
3.6 Langkah ke enam : Monitoring pola perilaku Anda secara sadar
Anda perlu memonitor kegiatan Anda sehari-hari. Catat kemajuan kerja / study Anda
dengan cara memberi checkmark di daftar porsi pekerjaan Anda atau pada jadwal Anda, pada
butir porsi yang baru saja sudah Anda selesaikan. Nikmati rasa puas yang muncul di diri
Anda karena telah menyelesaikan apa yang Anda canangkan. ‘Selamat’ -Congratulation.
3.7 Langkah ke tujuh : Beri Apresiasi kepada Diri
Jangan lupa beri diri Anda imbalan /reward karena sudah menyelesaikan tugas, bisa
dengan jalan-jalan, nonton TV, makan sesuatu yang Anda suka, baca novel yang tadinya
amat menggoda, bahkan istrahat-tidur, atau apa saja yang dapat menyenangkan hati Anda
TOT Basic Study Skills Menangani Procrastination’
Modul MD-04
A.G Page 7 Desember 2006
3.8 Langkah delapan : Kembangkan Respek Diri
Langkah terakhir, dan yang perlu dilakukan terus menerus adalah menjaga dan merawat
respek diri, agar bisa tidak terperangkap ke masa lalu maupun masa depan, tetapi bisa selalu
mensyukuri setiap saat kini di kehidupan ini. Dengan demikian kita bisa terhindar dari
prokrastinasi dan bisa menjalani hidup lebih bertanggung jawab dan berdaya guna.
DAFTAR PUSTAKA :

Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu


Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 1 Januari, 2008
1
Modul MD-05
Paradigma Waktu
1. Pendahuluan :
Tujuan kita menangani (manajemen) diri kita bukanlah untuk membuat kita susah, tetapi
justru membuat kita lebih efektif, berdaya guna, sekaligus kita bisa bersukacita menikmati
rizki yang disediakan bagi kita. Kita pun menyadari ada banyak hal yang menarik untuk kita
kerjakan. Kita harus belajar, tetapi juga kita senang bergaul, bermain, berorganisasi, berceng
- kerema dengan teman-teman, dengan keluarga dan handai tolan. Kita pun punya hobby dan
ingin melakukannya. Namun demikian, waktu yang kita miliki terbatas, satu tahun hanya 52
minggu, satu minggu 7 hari dan satu hari 24 jam, tidak lebih dan tidak kurang.
Di sisi lain, waktu itu mengalir, tidak bisa dibendung, tidak bisa ditabung. Dipakai atau
tidak, waktu akan mengalir dan berlalu, tidak pernah kembali. Oleh karena itu , yang dapat
kita lakukan adalah meng-alokasikan nya - menjatahkan untuk sejumlah kegiatan yang kita
ingin kerjakan; kemudian mengontrolnya agar penggunaannya sesuai dengan yang kita
rencanakan. Sehingga tidak ada waktu yang berlalu tanpa kita sadari. Hal ini tidak mudah,
itu sebabnya kita perlu memiliki kemampuan/kecakapan untuk mengelola waktu kita.
Modul MD-05 ini membahas bagaimana cara kita menangani waktu kita, agar kita
tidak terperangkap dalam cekaman tekanan ‘kehabisan’ waktu. Dengan demikian sasaran
modul ini adalah : (1) Setelah mengikuti modul ini, diharapkan mahasiswa Peserta dapat
menghayati, memahami dan menyadari hakikat keberadaan waktu, sehingga ia dapat lebih
menghargai waktunya maupun waktu orang lain yang bersamanya. Dengan demikian,
masing-masing mahasiswa dapat menggunakan waktu dengan lebih berdaya guna. (2)
Mahasiswa mampu Peserta mampu arif memanfaatkan waktu nya dengan cara selektif
memilah & memilih berbagai kegiatan yang merupakan ’action’ sesuai tujuan hidupnya.
Artinya, Anda dapat memberikan waktu memadai bagi kegiatan yang menjadi prioritas
Anda, dan tidak membuang waktu bagi hal-hal yang menurut Anda tidak penting.
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 2 Januari, 2008
2
Sekarang, sebelum kita lanjut pada hal-hal hakiki berkenaan dengan waktu, marilah kita coba
cermati bagamana kita selama ini memaknai waktu kita, lewat konsep metaforik berikut:
Anda diminta melanjutkan kalimat berikut dengan pemikiran metaforik Anda
Metaforik Waktu.
Menurut pengalaman saya selama ini, WAKTU dapat saya ibaratkan sebagai
Saya ibaratkan demikian karena :
Setelah berbagi, saat in insight saya: :
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 3 Januari, 2008
3
2. Hakikat Waktu - Beberapa prinsip Dasar.
Sebagaimana dikemukakan dalam pendahuluan, siapapun, dalam kapasitas apapun (
dari tukang sapu sampai kepada presiden ), lelaki atau perempuan, muda atau tua , berpendidikan
atau tidak, dosen atau mahasiswa, berhasil ataupun gagal, mempunyai jumlah waktu
yang sama setiap harinya adalah 24 jam, setiap minggunya 7 hari dan setahunnya 52 minggu.
Yang membedakan orang yang satu dengan yang lainnya adalah bagaimana ia memanfaatkan
waktu yang tersedia tersebut, baik penjatahan maupun pengendaliannya. Bagaimana seseorang
memanfaatkan waktu, tergantung pada persepsinya tentang waktu itu sendiri, yang
tentu saja dilatar belakangi oleh ‘mind-set’ yang ada padanya. Namun demikian secara
umum ada beberapa hal prinsip yang bisa dijadikan pegangan bersama. Berikut kita akan
membahasnya satu-persatu.
Pertama, waktu memiliki kurun obyektif (chronos) yang sama bagi semua orang, akan
tetapi mempunyai pemaknaan subyektif yang berbeda beda dari orang ke orang , dari saat ke
saat. Itu sebabnya manajemen waktu sifatnya personal dan subyektif.
Kedua, waktu berbeda dengan komoditi lainnya, tidak bisa dilihat, diraba, tidak pernah
bisa di simpan, dikumpulkan atau di tabung. Kenyataan ini membuat kita sering tidak menyadari
bahwa kita memilikinya dan kelak mempertanggung- jawabkannya kepada Sang
Pencipta Pemberi waktu.
Ketiga waktu sering dikatakan ’mengalir’, bergerak dan tidak pernah kembali ke titik
asal. Kita memanfaatkannya atau tidak, sama saja waktu segera berlalu dari hadapan kita,
menjadi ’masa lalu’ (Past time). Begitu pula kita merencanakan waktu di depan ( future time)
, tetapi selalu mungkin yang terjadi lain samasekali. Kita hanya bisa memanfaatkan waktu
dengan sebaiknya tepat pada saat kini, bukan beberapa saat yang lalu ataupun beberapa saat
kemudian. Bila demikian halnya, merupakan suatu kearifan apabila kita berupaya selalu
berada secara sadar di masa kini, sehingga dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya.
Tentu saja ada saat-saat dimana kita perlu ’napak tilas’, menapaki kembali ’masa lalu’, untuk
mengambil pelajaran dan manfaat yang bisa diterapkan di masa kini. Begitu pula, kita
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 4 Januari, 2008
4
kadang mencoba ’memasuki’ masa depan ( future time), untuk mengantisipasi – mereka apa
sekiranya yang akan terjadi sehingga kita bisa mempersiapkan sejumlah rencana dengan
segala alternatifnya. Namun demikian, tentunya segala sesuatunya seyogyanya proporsional
sesuai peruntukkan dan keterbatasannya.
Ke-empat, kenyataan bahwa hanya masa kini yang dapat kita pergunakan sebaikbaiknya,
perlu menjadi ingatan kita, terutama ketika kita merencanakan agenda dan
mengalokasikan serta men-jadwalkannya (yang selalu merupakan waktu di masa datang).
Itu sebabnya perlu sekali kita memiliki skill alokasi dan kendali ( kontrol) penggunaan waktu
kita. Keduanya memungkinkan kita mengelola waktu kita dengan lebih optimal
Ke-lima, berkaitan dengan butir- butir sebelumnya, maka dalam rangka alokasi dan
kontrol waktu ini, kita perlu saling menghargai bahwa setiap orang memiliki waktu yang
sama, tetapi mempunyai agenda yang berbeda-beda, dan setiap orang akan
mempertanggungjawabkan
penggunaan waktu yang diberikan kepadanya masing-masing dihadapan Yang
Empunya Waktu. Oleh sebab itu, kita perlu menyadari bahwa tanggung jawab pengaturan
waktu ada pada diri kita, sehingga seyogyanya kita yang menentukan penggunaan waktu kita.
Namun demikian karena kita hidup bermasyarakat, hidup dalam kebersamaan dengan orang
lain, maka ada sejumlah waktu yang kita punya, menjadi ’waktu publik’ atau ’waktu
bersama’ Tentu saja penggunaan waktu bersama diatur bersama pula. Oleh karena itu pula,
kita perlu saling menghargai waktu masing-masing, tidak sembarangan mengambil/mencuri
waktu sesama kita tanpa seijin penanggung jawabnya. Hal ini berhubungan dengan respek
diri. (self respect). Orang yang bisa menghargai dirinya, akan bisa juga menghargai orang
lain. Sebaliknya apabila kita selalu bergaul dengan orang yang kurang respek diri, maka
respek diri kitapun tercuri tanpa kita sadari. Kita perlu adil ke diri, tetapi juga adil ke orang
lain, kita perlu menjaga penggunaan waktu kita sendiri, tetapi juga menghargai penggunaan
waktu orang lain.
Ke-enam, berbicara tentang pengalokasian waktu, artinya kita berbicara tentang
prioritas. Ketika kita menentukan prioritas, maka kita berhadapan dengan memilah mana
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 5 Januari, 2008
5
yang penting dan tidak penting, bagi kita dan bagi siapa orang lain yang kita anggap relevan.
Memilah pentingnya sesuatu bagi kita , amat ditentukan oleh tujuan yang hendak kita tuju,
dan nilai-nilai yang kita anut. Lagi-lagi secara ringkas, bisa kita katakan tergantung ’mindset
’ kita. Penting menurut kita, belum tentu penting menurut orang lain; bahkan yang kita
anggap penting hari ini, belum tentu masih kita anggap penting di hari esok. Itu sebabnya
ketika kita merencanakan jadwal, kita perlu menyadari bahwa rencana itu kita buat ’sat kini’
tetapi untuk diberlakukan ’saat depan’, yang belum tentu bermakna sama. Jadi kita perlu
menjaga komitmen tetapi juga membuka ruang fleksibilitas.
Ke-tujuh. selain mengalokasi, kita pun perlu mengontrol waktu kita. Dengan perkataan
lain, ketika kita sudah mengalokasikan waktu dengan baik untuk hal-hal yang kita anggap
penting, selalu mungkin kita terjebak masuk kedalam hal-hal yang begitu mendesak –
’urgent’ sehingga kita tidak kuasa menghindarinya, jadilah itu mengalahkan hal-hal penting
kita.. Lebih jelas bisa digambarkan dalam skema di halama berikut berikut . Kwadran I,
merupakan kwadran yang membuat kita ’heboh’ dan biasanya amat tertekan, karena berisi
hal-hal yang penting sekaligus mendesak, mau tidak mau harus diselesaikan..
Mendesak Tidak Mendesak
Penting
I II
III IV
Tidak
Pendting
Diagram 01 : Pemilahan Waktu
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 6 Januari, 2008
6
Sedangkan pada kwadran II, terdapat hal-hal yang penting, tetapi tidak mendesak,
sehingga sering terlupakan. Padahal , apabila hal tersebut dilakukan, banyak kali akan
memudahkan kita mengerjakan segala sesuatu nya, sehingga waktu bisa dipergunakan
dengan lebih efisien. Sebagai contoh mengikuti pelatihan Basic Study Skill, mungkin bagi
sejumlah mahasiswa belum terlihat atau terasa urgensinya, meski setuju bahwa hal ini
penting. Kalau dilakukan, maka sejumlah waktu bisa diefisienkan karena ia memiliki
keterampilan baru yang membuatnya membutuhkan lebih sedikit waktu untuk menyelesaikan
tugas/belajarnya.
Pada kwadran ketiga terdapat hal-hal yang tak bisa dihindari, karena mendesak,
meskipun bagi Anda tidak penting. Misalnya ada telepon berdering ditengah kesibukkan
Anda mengerjakan tugas kwadran I, setelah diangkat ternyata salah sambung – amat sangat
tidak penting bagi Anda, tetapi tandi mendesak karena bunyi deringnya mengganggu Anda.
Pada kwadra ke IV, berkumpul hal hal yang tidak mendesak maupun tidak penting.
Namun celakanya, bagi kebanyakan orang merupakan hal-hal yang mengasyikkan.
Contohnya bergunjing, gosip . Kita sadar itu tidak penting, da jugatidak mendesak, tetapi
toch kita asyik melakukannya berjam-jam, sehingga menggeser kegiatan penting kita masuk
ke kwadran I., lalu kita menjadi heboh dan panik.
Demikianlah, masih banyak hal lain yang perlu kita bahas, tetapi kali ini, kelima hal
di atas kiranya cukup memadai untuk kita mulai belajar mengalokasikan dan mengintrol
waktu kita dengan lebih efisien dan efektif sesuai tujuan yang telah kita tetapkan.
3. Monitoring Diri, sebagai latihan awal
Cobalah Anda tuliskan/daftarkan hal-hal yang Anda biasa lakukan selama ini, pada
lembar assessmen matrix diagram 2. sesuai dengan kwadran-kwadrannya.
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 7 Januari, 2008
7
3.1 Assesment Penggunaan waktu
Setelah Anda mengetahui kwadran klasifikasi berbagai kegiatan yang biasa kita laku
kan, cobalah Anda tuliskan/daftarkan hal-hal yang Anda biasa lakukan selama ini, pada
matrix diagram 2. di bawah ini, sesuai dengan kwadran-kwadrannya.
Diagram matrix 2
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 8 Januari, 2008
8
3.2 Assesment Penghayatan setiap Kwadran
Setelah And mengisi diagram matrix 2 dengan berbagai kegiatan yang Anda biasa
lakukan, coba ingat-ingat kembali apa penghayatan Anda saat berada di masing-masing
kuadran tersebut, tuliskanlah pada kuadran bersangkutan di diagram Matrix 3. di bawah ini.
Diagram Marix 3
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 9 Januari, 2008
9
4. Langkah-langkah Manajemen Waktu
Setelah Anda menyelesaikan excersise awal, berarti Anda sudah dapat menganalisis
pemanfaatan waktu Anda selama ini,. Apabila mind-set belajar Anda sudah dimutahirkan ,
maka Anda akan merasa perlu mengubah pemanfaatan waktu Anda , dengan penanganan
yang lebih sesuai. Berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda pergunakan sebagai
arahan untuk memulai belajar menjadi orang yang lebih bijak dalam menggunakan
waktunya.
4.1 Langkah pertama : Tentukan prioritas Anda.
Pada langkah pertama ini, sasaran Anda adalah menentukan apa yang menjadi prioritas
bagi Anda. Untuk kepentingan ini, tentu saja Anda memerlukan terlebih dahulu menetapkan
beberapa tujuan utama Anda, untuk semester berikut. ( atau beberapa bulan ke depan) Kemu
dian tetapkanlah urutan tujuan Anda, mulai dari yang Anda anggap paling atas bagi Anda..
Selanjutnya, tanyalah diri Anda : “ Apa yang paling penting yang perlu saya lakukan untuk
mencapai tujuan ini” . Tuliskan pada catatan Anda butir-butir yang penting untuk Anda
lakukan untuk masing- masing tujuan tersebut, selama beberapa bulan ke depan..
4.2 Langkah kedua : Rencana mingguan
Berdasarkan langkah pertama, Anda buat daftar apa yang perlu dilakukan untuk
mencapai tujuan yang Anda prioritaskan sebagai paling atas. Kemudian lakukan ‘rating’
untuk setiap kegiatan berdasarkan prioritas Anda.
4.3 Langkah ketiga : Analisis Penggunaan waktu Anda.
Amati dan cermati, bagaimana Anda menggunakan waktu selama ini, lihat kembali
ecersise awal yang sudah Anda buat.
4.4 Langkah keempat : Jadwal Master satu semester
Terlebih dahulu, pastikan Anda telah mempunyai informasi lengkap tentang mata
kuliah yang hendak Anda ambil pada semester depan, dengan jadwal dan segala per-sya
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 10 Januari, 2008
10
ratannya. Anda juga bisa berkonsultasi dengan kakak- senior yang Anda percayai, mengenai
beban dan waktu yang dibutuhkan untuk mata kuliah tersebut, meskipun secara umum sudah
Anda bisa perkirakan dengan melihat jumlah SKS mata kuliah bersamgkutan. Namun setiap
dosen mempunyai variasi penggunaan sks-nya masing-masing., sesuai ajakkan mata
kuliahnya, dan kebiasaan dosen bersangkutan.
Catat pula agenda , kalender perkuliahan, tentamen, ujian , libur dst. Sehingga ketika
Anda membuat jadwal, Anda sudah memiliki informasi yang dibutuhkan. Kemudian sedia
kanlah buku agenda untuk keperluan penjadwalan ini.
4.5 Langkah keempat : Jadwal Master Mingguan
Buatlah jadwal utama untuk satu minggu, yang berisi kegiatan Anda yang sudah pasti
seperti kuliah, praktikum, pertemuan di Himpunan, ke Perpustakaan, olah raga ( club) ,
kegiatan extra kurikuler yang Anda pilih, dst . Kemudian alokasikan waktunya dalam jadwal
seminggu.
Tuliskan daftar tugas-tugas dan segala sesuatu yang harus dikerjakan minggu tersebut.
Daftar ini, tentunya tidak fix setiap minggunya, juga selalu bertambah dan berkurang dari
hari ke hari di minggu itu ( ‘ running list’ )
4.6 Langkah keenam : Daftar harian
Buatlah daftar apa yang harus dilakukan untuk setiap harinya di minggu tersebut..
Kemudian, alokasikanlah waktu untuk tugas-tugas tersebut pada setiap harinya. Segera Anda
akan melihat kemungkinan bertabrakan karena ada lebih dari satu kegiatan dalam penggalan
waktu yang sama. Andacoba mengaturnya kembali sejauh yang bisa Anda atur, atau dengan
‘terpaksa’ Anda menggugurkan salah satu kegiatan ( dalam hal ini kembali Anda ingat
prioritas Anda) Berusahalah mempergunakan waktu yang tersedia( di luar tidur ) hanya
sekitar 60 % untuk agenda yang terjadwal, hal ini penting untuk menampung berbagai hal (
interupsi) yang tidak terduga.
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 11 Januari, 2008
11
4.7 Langkah ketujuh : Komitmen, tetapi fleksible
Sekarang, setiap harinya, berkomitmenlah mengikuti daftar jadwal harian Anda, dan
bersiaplah untuk selalu mungkin terjadi interupsi, atau tidak berjalan sebagaimana ynag Anda
rencanakan. Fleksible, tetapi tetap berkomitmen, sehingga yang perlu Anda lakukan adalah
segera melakukan penyesuaian-penyesuaian alokasi waktu Anda seperlunya
4.8 Langkah kedelapan: Monitoring dan Evaluasi
Lakukanlah monitoring setiap hari, seberapa banyak item di jadwal Anda yang sudah
dilaksanakan sesuai jadwal, mana yang masih perlu kembali dijadwalkan pada hari lain.
Bersamaan dengan monitoring tersebut, checki pula jadwal untuk hari berikutnya, sambil
melakukan modifikasi-modifikasi bilamana diperlukan.
Setiap minggu, seyogyanya Anda melakukan evaluasi atas penggunaan waktu Anda
selama satu minggu tersebut, cermati dalam hal apa Anda tidak bisa memenuhi agenda dan
jadwal Anda. Apa sebabnya? Adakah yang bisa Anda perbaiki? Apakah perlu mengubah
jadwal master secara keseluruhan?. Kemudian buatlah penyesuaian-penyesuaian.
Evaluasi ini penting Anda lakukan, khususnya di dua minggu pertama Anda kuliah.
Sebab pada kurun waktu ini, Anda bisa menakar secara realistik apakah belanja sks Anda
semester tersebut sudah sesuai, dapat Anda lakukan dengan baik ? Adakan bentrok waktu,
dst. Penting, sebab masih bisa Anda ubah dengan membatalkan belanja SKS Anda. Kalau
memang sudah Anda tahu terlalu berat, mengapa harus dipaksakan. Jangan sampai karena
ingin banyak, malah berantakan segalanya.
5. Penutup
Apapun komentar yang muncul di pikiran Anda saat ini, Anda perlu mewaspadainya,
perlu Anda periksa apakah datang dari ‘mind-set’ lama?, Apakah karena ‘procrastinasi’?
Hendaknya Anda mengingat bahwa perjalanan jauh selalu dimulai dengan langkah pertama.
Masih ingatkahAnda di masa kecil, betapa susah payahnya Anda belajar berdiri, melangkah
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 12 Januari, 2008
12
dan jalan. Jatuh bangun, tetapi sekali Anda telah bisa berjalan, Anda sulit dibendung, bahkan
lari kesana kemari, membuat Ibu /pengasuh Anda kewalahan.
Begitu juga halnya dengan manajemen waktu, sulit di awal karena belum merupakan
keterampilan kita, belum terbiasa. Sekali Anda terbiasa, Anda akan memimpin di depan,
menginggalkan kawan-kawan Anda yang tidak mau mencoba hidup lebih ‘organized’ dan
bertanggung jawab.
Selamat Mencobanya.
Manajemen Diri dalam Belajar Paradigma Waktu
Modul MD-05
A.G
Pusat Bimbingan & Konseling Page 13 Januari, 2008
13
Daftar Bacaan
Butler, Gillian & Hope, Tony, “Manage Your Mind - The Mental Fitness Guide”, 1995,
Oxford University Press (II,5:31-44)
Godefroy, Christian . H. & Clark, John, “The Complete Time Management System”,
1989, Piatkus, London
Lussier, Robert N “ Human Relations in Organizations - A Skill-Building Approach”,
1990, IRWIN, Boston, USA (IV, 16:458-470)
Lakein, Alan, “How to Get Control of Your Time and Your Life”, 1973 , London
Mayer, J. J.. If you haven't got the time to do it right, when will you find the time to do
it over? (1991; Simon & Schuster ; New York, USA
Priestley, J.B. , Man & Time, 1964, Aldus Book Limited, London
Tulku, Tarthang , SKILLFUL MEANS- Pattern for Success”, 2 nd edition, 1991, Dharma
Publishing, Berkeley, California, USA
Winston, Stephanie, “ Getting Organized - The Easy Way to Put Your Life in Order”,
2nd edition, 1991, Warner Books,Inc, New York, USA (I,1,2: 5-22; II-3:23-57)
Rechtschaffen, Stephan,MD, . TIMESHIFTING – Creating More Time to Enjoy Your Life,
1996, Doubleday, NewYork.,USA

1
Modul: MD 6 & 7
JARINGAN SUPPORTIVE
Abd. Latief Toleng & Dyah Kusmarini
A. PENDAHULUAN
Mahasiswa baru Universitas Hasanuddin (Mahasiswa angkatan 2008) akan memulai proses
pembelajaran pada program studi masing-masing mulai akhir Agustus 2008. Dalam proses
pembelajaran tersebut, mereka diharapkan dapat memperoleh hasil pembelajaran yang maksimal.
Namun, jika melihat proses pembelajaran bagi mahasiswa angkatan-angkatan sebelumnya,
pencapaian hasil proses pembelajaran tersebut belum sesuai dengan harapan. Selama mereka
mengikuti proses pembelajaran, sebagian dari mereka bahkan menghalami berbagai gangguan
social antara lain: krisis nilai, rasa rendah diri, depresi, Culture Shock (stress karena perubahan
budaya), masalah pengelolaan keuangan, kurang mampu mengelola diri sendiri.
Ada beberapa faktor yang diperkirakan munculnya berbagai masalah tersebut diatas.
Pertama: Mereka baru saja meninggalkan bangku Sekolah Lanjutan Atas yang kondisi
lingkungan
pembelajarannya sangat berbeda dengan yang mereka dapati di PT. Kedua: Mereka berasal dari
lingkungan dimana kondisi sosial, budaya dan ekonomi yang sangat berbeda dengan daerah
perkotaan dimana mereka belajar sekarang. Ketiga: Regulasi di PT juga mengalami
perubahan/perbaikan terutama pada proses pembelajaran. Berbagai model pembelajaran
diterapkan
dimana mahasiswa baik secara individu maupun kelompok berperan aktif dalam proses
pembelajaran. Kondisi-kondisi ini akan berpotensi menimbulkan berbagai masalah yang menjadi
penghambat bagi kesuksesan study mahasiswa yang bersangkutan.
Ada beberapa metoda yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa guna mengatasi masalah
mereka tersebut agar bisa sukses dalam proses pembelajaran. Salah satu metoda adalah
pemanfaatan dan perawatan secara optimal berbagai jaringan supportive, baik yang tersedia di
dalam maupun yang ada diluar kampus.
2
SASARAN
• Sasaran Umum: Setelah mengikuti modul ini mahasiswa diharapkan dapat memahami
bagaimana cara membangun dan merawat jaringan supportive.
• Sasaran khusus:
1. Mengenali berbagai jaringan supportive.
2. Memahami fungsi dan peranan masing-masing jaringan supportive.
3. Mengenali kondisi-kondisi yang diperlukan dalam membangun dan merawat suatu jaringan
supportive.
4. Memanfaatkan komunikasi efektif dalam membangun dan merawat jaringan supportive.
3
B. JARINGAN SUPPORTIVE
1. Apa jaringan Supportive?
Seberapa mandirinya seorang mahasiswa, seberapa pintarnya dia menentukan tujuan
belajarnya sendiri, seberapa besarnya ke-otonomi-annya dalam belajar; belumlah cukup untuk
mengantarnya menjadi mahasiswa yang berhasil. Mahasiswa masihlah membutuhkan orang lain
yang dapat mendukung, membantu, mensupport, memberikan informasi, sebagai teman berbagi,
sebagai teman bertanya, dsb. Dengan perkataan lain, seorang mahasiswa seyogyanya memiliki
kemauan dan kemampuan untuk menemukan dan mengembangkan jaringan suportif – yaitu
jaringan orang-orang yang ada di sekitarnya yang diperkirakan dapat mensupport kegiaatan
belajarnya - nya sendiri.
Jaringan supportive adalah jaringan (“network”) social yang di dalamnya terdapat orangorang
atau lembaga yang dapat mensupport mahasiswa, yaitu orang atau lembaga tempat di mana
mahasiswa akan datangi pada saat membutuhkannya. Jaringan ini bisa saja terdiri dari keluarga,
teman-teman, dosen, kakak angkatan, dsb.
Seringkali kita tidak dapat mengidentifikasi siapa-siapa saja orang di sekitar kita yang
dapat dianggap berpotensi untuk dapat memberi dukungan. Padahal dengan menyadari seorang
mahasiswa memiliki jaringan ini, dalam arti mengenali siapa-siapa saja di sekitarnya yang dapat
mensupportnya, maka seseorang akan merasa lebih aman, nyaman, bahkan dapat meningkatkan
self esteemnya; yang amat penting dalam belajar.
Dengan menyadari dan memiliki jaringan supportive ini akan ada nilai tambah yang
diperoleh yaitu yang dapat diperoleh yang belajar dari relasinya dengan orang lain, misalnya
pengetahuannya, dukungan, peluang untuk menghubungi setiap diperlukan dan juga bimbingan.
(“external value”), juga nilai tambah yang dapat diperoleh melalui dialog, kolaborasi, berpikir
kritis, refleksi, dan umpan balik. (“internal value”).
Pertanyaan besar yang muncul adalah mengapa membutuhkan jaringan ini? Mahasiswa
masuk Perguruan Tinggi yang merupakan lingkungan baru, yang menuntut penyesuaian diri
yang
terus menerus, bukanlah hal mudah. Oleh karenanya perlu dukungan dari lingkungannya.
Dengan
demikian, perlu membangun dukungan sosial, yang untuk selanjutnya memelihara hubungan
tersebut.
4
Mengenali dan memilih siapa saja yang dianggap dapat mendukung kemajuan kita dalam
penyesuaian kebiasaan bergaul dan belajar di lingkungan Unhas yang unik, bukanlah sesuatu
yang
mudah. Ini merupakan seni. Adakalanya mahasiswa salah mengenali dan selanjutnya juga salah
memilih jaringan supportivenya. Alih-alih mendukung perkembangan pribadi dan kemajuan
akademiknya, malahan dapat menariknya ke hal-hal yang negatif; yang bahkan bisa merusak
masa
depan kita.
Penting di sini bagi kita untuk bisa melihat bahwa jaringan supportive bukanlah solidaritas
sesama teman sebaya. Kita tidak perlu kehilangan diri kita sendiri, bahkan dengan kita bersama
orang lain; akan lebih menguatkan ke-aku-an kita. Jaringan supportive yang sehat dapat
membantu
kita mempertegaskan ”siapa aku”. Kita bergaul bersama orang lain, tanpa kehilangan ”aku” kita.
2.Mengenali dukungan/support yang dibutuhkan
Mengenali dan memiliki jaringan supportive saja .belumlah cukup. Tidak semua hal
membutuhkan dukungan sumber yang sama. Hal yang berbeda tentunya membutuhkan sumber
dukungan yang berbeda pula. Oleh karenanya mahasiswa perlu mengenali, dukungan apa yang
dia
butuhkan.
(Instruktur bisa meminta mahasiswa untuk menurunkan dukungan
apa yang dia
butuhkan pada saat itu. Mintalah mereka menuliskannya pada buku
catatan
mereka)
Penting bagi mahasiswa untuk mengenali jenis dukungan macam apa yang mereka
butuhkan. Setiap jenis dukungan membutuhkan dukungan dari sumber yang berbeda. Ada yang
membutuhkan dukungan lebih bersifat akademik, yaitu dukungan yang ada hubungannya dengan
studinya, dukungan yang berkaitan dengan bidang studinya, dsb. Selain itu, ada pula .jenis
dukungan untuk sesuatu yang lebih bersifat berguna langsung, misalnya uang, memberikan
informasi tempat pondokan, bea siswa dsb; dukungan semacam ini termasuk dukungan untuk
fungsi instrumental . Sementara ada dukungan lain yang bersifat emosional, dan juga sosial,
misalnya dukungan moral, dukungan psikologis dsb.
3. Membangun jaringan supportive
5
Untuk dapat membangun jaringan supportive ini, kita seyogyanya dapat mengenali siapa
sumber dukungan di sekitar kita, yang bisa amat beragam. Misalnya keluarga, teman, sahabat,
dosen, ahli, lembaga formal, komunitas di bidang ilmu tertentu, dsb.
Siapa-siapa saja yang dapat kita masukkan dalam jaringan supportive kita, tentunya adalah
mereka yang sudah kita kenal dan sering berhubungan denganya. Kalaupun tidak, sumber ini
dimungkinkan untuk dihubungi, artinya ada akses untuk mengontaknya. Selain itu, tentu saja
sumber ini bisa diandalkan, jangan memilih sumber yang ternyata kurang bisa diandalkan. Dan
yang terpenting adalah, kita respek terhadap sumber tersebut.
Setelah mengenali dan mengidentifikasi sumber, kita perlu merencanakan langkah-langkah
untuk membangun hubungan dengan sumber tersebut. Langkah-langkah perencanaan disusun
secara sistimatik dan masuk akal serta managable. Dan yang penting juga dengan cara-cara yang
dapat berterima pada semua pihak.
Beberapa tahun belakangan ini, teknologi informasi berkembang sangat pesat. Bukan tidak
mungkin berhubungan dengan sumber ini dilakukan dengan bantuan teknologi berbasis
informasi,
misalnya internet, email dsb. Komunikasi lewat media ini dimungkinkan, misalnya dalam
komunikasi dengan pakar yang berada di tempat lain, di kota lain bahkan di Negara lain. Selain
itu,
menjadi anggota komunitas milis yang berkaitan dengan apa yang ingin kita pelajari dan
kembangkan. Namun demikian,menurut hemat saya, hubungan antar pribadi masihlah penting,
dan bahkan sulit untuk tergantikan. Oleh karenanya apabila memang komunikasi lewat media ini
dibutuhkan, tetap harus memperhatikan etika dan kesantunan dalam berhubungan antar pribadi.
Kombinasi dari teknologi dan hubungan pribadi membuat kita lebih bertanggung jawab
selain atas hasil belajar kita, tetapi juga kualitas hubungan antar pribadinya. Meski interaksi yang
dilakukan jarak jauh dan dengan bantuan teknologi informasi, proses bimbingan, refleksi,
pemberian umpan balik masih tetap terjadi. Tujuan dan fungsi dari belajar melalui relasi tetap
terjaga, yang berbeda hanyalah modusnya.
Jaringan Supportive yang terbangun dengan baik, akan memiliki ciri-ciri :
- trust yang seimbang
- komitmen yang terpelihara
- punya tujuan
- masing-masing menjaga loyalitas pada tujuan relasi
- menunjukkan sikap appresiatif yang sehat
6
- dengan demikian bisa terjalin kolaborasi yang indah
Pada intinya, membangun jaringan supportive adalah membangun dan membina relasi
antar pribadi, membina hubungan antar manusia. Oleh karenanya salah satu basic skill yang
dibutuhkan adala keterampilan berkomunikasi.
4. Merawat Jaringan Supportive
Setelah relasi terbangun, tidak begitu saja akan terjamin keberlangsungannya. Relasi ini
masih membutuhkan pemeliharaan agar tetap terjaga. Dengan relasi dalam jaringan supportive
yang terpelihara, yang terrawat dengan memadai; maka masing-masing pihak yang berhubungan
akan :
- mampu menghargai ”confidentiality ” : di sini masing pihak yang berrelasi akan
menghormati privasi masing-masing, juga privasi relasi. Baik buruk yang terjadi di dalam
relasi, hanya menjadi milik pihak yang terkait.
- respek, baik respek ke diri sendiri maupun respek ke orang lain yang ada di dalam relasi.
- tulus, terbuka, jujur, apa adanya – sejauh sesuai dengan tujuan relasi.
- mau memberi dan menerima umpan balik yang berterima
Bangunan hubungan yang demikian dalam jaringan supportive dapat terjaga apabila kita
dapat menjaga ”jarak” tertentu. Jarak ini adalah jarak yang wajar, yang rasional, yang terjangkau,
tidak kurang dan juga tidak berlebihan, berterima bagi semua pihak dsb. Dengan demikian maka
masing-masing masih memiliki ”ruang pribadi”, ”waktu pribadi” nya, yang tentu saja amat
berharga.
Hal ini perlu diperhatikan benar, mengingat ada kemungkinan suatu saat kita masih akan
membutuhkan support dari satu sumber tertentu. Oleh karenanya relasi perlu dijaga, dirawat,
dipelihara. Selain itu, bukankah menjaga silaturahmi adalah juga panggilan hidup?
7
Bagaimana caranya? Apa yang bisa dilakukan? Pada dasarnya tidak ada orang yang tidak
ingin dihargai. Dalam hal ini, kita perlu memberikan apresiasi terhadap apa yang sudah
dilakukan
orang kepada kita. Sangatlah penting agar orang yang telah mensupport kita merasa dihargai.
Tidak ada yang gratis di dunia ini. Tentu saja bukan berarti imbalan berupa materi, apresiasi,
terima kasih yang tulus, rmenghargai, lebih berarti dari materi.
E. Modal dasar hubungan interpersonal
Membangun dan merawat jaringan supportive adalah membangun dan membina relasi
interpersonal, membina hubungan antar manusia. Agar dapat membina hubungan interpersonal
yang sehat dan berterima serta bertumbuh, membutuhkan kualitas pribadi tertentu.
Kualitas pribadi ini ditandai oleh adanya :
1. Kecerdasan emosional (EQ) yang memadai
Yaitu kemampuan untuk dapat memanaje emosi, memotivasi diri sendiri, mengelola
frustrasi, regulasi perasaan, dsb. Dengan EQ yang memadai, seseorang akan lebih
mudah memahami ”apa yang ada di dalam diri, apa yang terjadi di dalam diri, dst” (”
understanding what occurs “within”)
2. Kecerdasan Sosial yang memadai.
Yaitu kemampuan untuk memahami orang lain dan berperilaku bijak dalam relasi
interpersonal; bisa mengenali apa yang sesuai dan yang tidak dalam take & give. (‘
understanding what occurs “between” )
3. Locus of Control Internal ;
Orang yang locus of control nya internal yakin bahwa kemampuan dan upayanya lah
yang menentukan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Oleh karenanya, di dalam berrelasi dengan siapapun, tidak mudah untuk ikit larut
dalam arus pergaulan. Kendali dan kekuatan memilih perilaku apa dan bagaimana
dalam bergaul ada ditangannya. Bukankah kita bisa bergaul dengan siapa saja,
merespeki siapa saja, tanpa harus menjadi orang lain. Be my self adalah kuncinya.
8
C. KOMUNIKASI EFEKTIF
1. Gambaran umum komunikasi
a. Definisi komunikasi: Kumunikasi adalah suatu tingkah laku, perbuatan atau kegiatan
penyampaian atau pengoperan lambang-lambang, yang mengandung arti atau makna. Atau
perbuatan penyampaian suatu gagasan atau informasi dari seseorang kepada orang lainnya.
Atau lebih jelasnya, suatu pemindahan atau penyampaian informasi mengenai pikiran dan
perasaan-perasaan.
b. Beberapa salah pengertian tentang komunikasi
• Komuknikasi tidak sukar, setiap orang melakukannya:
Karena komunikasi ini telah dilakukan secara alamiah (seperti halnya bernapas)
sehingga kita cenderung tidak melihat lagi adanya hal-hal yang kompleks yang perlu
dipelajari dan dilatihkan dalam berkomunikasi.
• Setiap orang mengetahui apa komunikasi itu
Komunikasi mempunyai berbagai dimensi, bukan sekedar menyampaikan pesan atau
informasi yang sederhana. Komunikasi itu berhubungan dengan emosi, sikap, moral,
motivasi, suasana hati, keadaan fisik, situasi dan banyak lagi hal lain.
• Saya berbicara: krn itu dengan sendirinya saya berkomunikasi.
Kata-kata yang diucapkan tidaklah mempunyai arti jika orang yang mendengar tidak
memberi arti.
• Komunikasi terjadi hanya jika saya menghendakinya:
Banyak orang menganggap bahwa mereka berkomunikasi pada saat berbicara. Namun
segala tindakan atau gerakan tubuh (non-verbal) mengandung arti dalam komunikasi.
• Keterampilan komunikasi adalah bakat atau sifat bawaan.
Jika anda mempercayai pengertian salah ini, maka sedikit kemungkinan anda
bertambah baik dalam berkomunikasi. Komunikasi adalah keterampilan atau tingkah
laku yang diperoleh atau dipelajari. Oleh karena itu dapat diubah dan diperbaiki.
c. Ragam dan jalur komunikasi
• Sebagai penyampai pesan
9
- Berbicara
- Menulis
- Non-verbal (tanpa kata-kata)
• Sebagai penerima pesan
- Mendengarkan
- Membaca
- Non-verbal (tanpa kata-kata)
2. Proses komunikasi
Tahap I pada diri pengirim (sender) terdapat keinginan untuk melakukan komunikasi.
Keinginan tersebut disusun kedalam lambang-lambang atau kata-kata yang dapat dimengerti.
Proses inilah yang disebut ”encoding” yakni memilih atau menyeleksi tanda-tanda yang dapat
mengantarkan pesan. Kemudian pesan-pesan tersebut disalurkan (transmitted) melalui
gelombang udara yang menjadi perantara (kalau komunikasi melalui tulisan, maka kertas dan
pensillah menjadi media).
Selanjutnya penerima yang mendengar/membaca pesan tersebut akan melakukan ”decoding”
atau memberi arti kepada tanda-tanda itu sehingga menjadi pikiran yang berarti atau bermakna
kepadanya. Karena pengirim dan penerima mempunyai latar belakang pengalaman yang sama
maka komunikasi itu memungkinkan terjadi. Makin besar persamaan bidang-bidang
pengalaman antara pengirim dan penerima maka makin besar pula kemungkinan untuk
terjadinya komunikasi.
Dalam proses komunikasi, penerima pesan setelah melakukan ”decoding”, bisa meminta
konfirmasi apakan pengertian dia tentang pesan tadi sama dengan yang dimaksud oleh
pengirim pesan. Hal ini lakukan dengan menggunakan mekanisme umpan balik (feedback).
Komunikasi yang memungkinkan adanya umpan balik disebut komunikasi dua arah (two- way
communication). Sedangkan yang tidak memungkinkan adanya umpan balik disebut
komunikasi satu arah (one-way communication).
3. Hambatan-hambatan dalam komunikasi
10
�Bahasa: Pemilihan kata-kata atau bahasa oleh pengirim pesan menentukan kualitas
komunikasi. Kata-kata yang sama sering diartikan berbeda antara pengirim dan penerima
pesan.
� Tidak terbuka, cenderung menutup diri.
� Salah membaca komunikasi non-verbal.
� Kebisingan lingkungan
� Selektif mendengar dan meniadakan bahasa non-verbal
� Unjuk kekuasaan (power struggles)
� Ketakutan menerima penilaian yang jelek
� Mengasumsikan semua orang sama.
� Bias dalam mempersepsi: Mempersepsi menurut pengalaman masa lalu
� Ragam budaya. Mengingat bahwa komunikasi efektif membutuhkan pemahaman tentang
nilai, motif, aspirasi dan asumsi, maka adanya ragam budaya berpeluang untuk terjadinya
miskomunikasi.
4. Beberapa skill dalam berkomunikasi.
A. Sebagai penyampai pesan
1- Berpikir efektif:
Berfikir adalah dasar dalam suatu komunikasi. Salah satu tanda seorang komunikator
efektif adalah kesanggupannya untuk berpikir dengan kritis. Pemikiran kritis tersebut
menghasilkan suatu komitmen atau keputusan atau perjanjian seseorang untuk melakukan
atau tidak melakuakn suatu perbuatan. Menerima atau menolak suatu ajakan. Dalam
berpikir tersebut, apakah intrapersonal atau interpersonal, akan menentukan jenis pesan dan
masalah yang ingin disampaikan. Dalam menyampaikan pesan tersebut, penyampai pesan
selalu berusaha memahami tujuan dan kondisi penerima pesan.
2- Cara penyampaiann:
Assertive: Menyampaikan pesan dalam komunikasi dengan cara
mempertimbangkan hak dan kebutuhan penerima pesan.
Yang kurang efektif:
o Passive – Penyampai pesan tidak berterus terang pada penerima pesan
tentang apa yang dia mau atau kehendaki. .
11
o Aggressive – Pendekatan yang diambil oleh penyampai pesan adalah
pendekatan pemaksaan kehendak yang mengekspresikan suatu prilaku
dominan atau kemarahan.
o Passive-aggressive – Menghindari respon langsung tetapi mencoba
memberi ancaman tertentu pada orang lain.
Tidak berarti bahwa penyampaian dengan cara passive, agrissive dan passive
aggressive tidak boleh digunakan. Cara penyampaian ini bisa digunakan hanya
dalam kondisi-kondisi tertentu yang memang tidak mungkin lagi menggunakan
cara assertive.
Ekspresi: Menyampaikan pesan tentang apa yang menjadi obyek dalam
komunikasi.
Yang kurang efektif adalah Impressi yakni penyampaian pesan dengan cara
menonjolkan diri penyampai pesan.
B. Sebagai penerima pesan
1. Listening (mendengarkan): Menyimak dengan baik apa yang didengar. Mendengar
(hear) dan mendengar (listen) adalah dua hal yang tidak sama. Jadi tidak benar kalau
kita mengatakan karena saya bisa mendengar (hear) maka saya bisa mendengar (listen).
Hearing: mendengar menggunakan telinga yang dibawa sejak lahir, sedangkan
Listening: adalah sesuatu yang mesti kita pelajari. Listening, disamping menggunakan
telinga, juga menggunakan jiwa dan pikiran
Dari hasil survey terlihat bahwa 80 % orang lebih senang berkomunikasi dengan
orang yang suka mendengar (great listener) ketimbang orang suka bicara (great
speaker)
Faktor-faktor yang menghambat listening:
�Hendak mengingat semua fakta. Adalah tidak mungkin bagi kita untuk mengingat
semua fakta dalam setiap pesan. Jauh lebih baik untuk mendengarkan pokok-pokok
12
yang menurut anda mewakili tema-tema utama dari pembicara yang hendak
disampaikan.
� Terlalu emosional (emosinya terlalu mudah bangkit). Cobalah menahan diri sampai
anda mendengarkan apa pesan yang disampaikan, jadi jangan mendengar kata-kata.
� Menolak seluruhnya karena tidak menyukai sebagian. Adanya pengalaman sebelumnya
bahwa pembicaraan tidak menarik sehingga cenderung menutup diri tentang apa yang
didengar.
� Karena tidak menyukai bungkusnya maka menolak isinya. Kita tidak menyukai
pembicaranya sehingga menolak untuk mendengar seluruh isi pembicaraan.
2. Umpan balik (feedback):
- Meminta klarifikasi tentang arti pesan yang diterima..
- Memberi masukan tentang prilaku tertentu (Prilaku positif atau negatif).
Komunikator yang efektif mestilah menjadi peka terhadap senua tanda yang diberi
tahukan kepadanya. Umpan balik dapat juga positif atau negatif. Seseorang yang
mendapat umpan balik dapat mempertahankan sikapnya yang positif dan dapat merubah
yang negatif menjadi lebih baik.
Dalam memberi umpan balik, hindari umpan balik yang bersifat evaluasi dan
nasehat..
Umpan balik yang efektif:
�Fokus feedback pada pesan atau prilaku spesifik.
� Fokus feedback pada pesan atau prilaku, bukan pada orangnya (pada what bukan who).
� Feedback pada hal-hal yang masih bisa diperbaiki atau dirubah.
� Feedback dilakukan sesegera mungkin.
� Jaga privacy jika memberikan feedback tentang prilaku negatif.
C. Sebagai penyampai atau penerima pesan
� Komunikasi non-verbal: Pesan-pesan yang dikirim atau diterima tanpa menggunakan
kata-kata, namun mempunyai kandungan emosi. Baik dalam kondisi ada kegiatan maupun
13
tidak ada kegiatan, semua itu mengirim pesan yang mempengaruhi orang lain dan karena
itu dapat disebut komunikasi.
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa pesan disampaikan efektif lewat:
Body language: 50 %, lewat intonasiu suara: 40 % dan lewat kata-kata 10 %
Dimensi-dimensi komunikasi non-verbal:
1. Visual:
Hal ini juga biasa disebut Bahasa Tubuh (body language). Ada beberapa hal yang
termasuk dalam kategori ini antara lain: Gerakan-gerakan badan, Lirikan mata dan
Ekspresi wajah. Bahasa-bahasa non-verbal ini memberikan ekspresi tentang apa yang
akan disampaikan oleh pengirim pesan, namun ekspresi tersebut sangat dipengaruhi
oleh ragam budaya.
2. Sentuhan:
Ini termasuk penggunaan sentuhan untuk memberi arti dalam komunikasi. Sebagai
contoh; berjabak tangan, pukul-pukul punggung, cium/kiss dan peluk.
3. Intonasi Suara:
Arti dari suatu kata dapat berubah dengan merubah intonasi suara. Hal ini juga sangat
dipengaruhi oleh ragam budaya.
4. Penggunaan waktu sebagai komunikasi Nonverbal
Hal ini biasa digunakann untuk menunjukkan posisi social kita terhadap orang lain.
Contoh; datang terlambat biasa menunjukkan bahwa kita lebih penting dalam pertemuan
itu.
5. Jarak fisik:
Masing-masing individu mempunyai jarak fisik yang dianggap aman. Bila orang lain
memasuki area tersebut maka mereka merasa tidak aman. Berbagai cara yang kita
tunjukkan untuk membatasi zona aman tersebut antara lain; memagar, memberi pembatas
atau mengambil jarak bila terlibat dalam suatu pembicaraan.
D. PENUTUP
14
Setelah mengikuti proses pembelajaran selama 1 (satu) semester, sebagian mahasiswa baru
Unhas belum menunjukkan prestasi belajar yang optimal. Ada beberapa hal yang mereka perlu
perbaiki untuk mengatasi masalah tersebut. Salah satunya adalah membangun dan merawat
jaringan supportive. Dari jaringan supportive tersebut mereka bisa memperoleh berbagai
manfaat seperti; bantuan tentang proses pembelajaran, kematangan emosi dan berbagai
pemecahan masalah sosial. Jaringan supportive tersebut bisa dibentuk didalam maupun diluar
kampus. Suatu jaringansupprtive yang mapan memerlukan beberapa hal antara lain: 1. “
Confidentiality”, 2. Respek, ke diri dan ke orang lain, 3. Tulus, 4. Terbuka, 5. Jujur, daaan 6.
Memungkinkan adanya umpan balik. Untuk menciptakan kondisi ini diperlukan adanya
keterampilan komunikasi yang efektive.
Sumber Bacaan
1. New student-new learning styles. http://www.Virtualschool.edu/mon/academia.html
2. Social support- http://www.odin.chemistry.nakron.edu/classroom.htm.
3. D. Golemen (1995). Emosional intelegence. Bantam, books, 1540 Broadway, NY 10036.
4. J.G. Bobbins & B.S. Jones. 2006. Effective communication for today’s manager. Alih
Bahasa: Drs. R. Turman Sirait. Cetakan kelima, C.V. Pedoman Ilmu Jaya.
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 1

Manajemen Stress
Fasilitator : Dr Arlina Gunarya,MSc
PENGANTAR
Hingga saat ini, Anda telah menyelesaikan hampir semua materi Manajemen Diri dalam
belajar. Barangkali kita bisa sependapat bahwa dunia kemahasiswaan merupakan kehidupan
yang penuh daya tarik dan tantangan, Suatu kehidupan yang perlu dijalani berbeda dari saat
kita di Sekolah Lanjutan dimana segala sesuatunya lebih terstruktur dan teratur. Secara
umum, dari sudut perkembangan manusia, mahasiswa berada pada usia persiapan karir dan
secara mental sedang didera pertanyaan hakiki mengenai identitas diri ~ ‘Siapa saya/? ‘
Upaya menjawab pertanyaan ini, banyak dipengaruhi oleh ‘perjumpaan sosial’ ~ social
encounter sehari-hari di pergaulan kampus, baik dalam konteks akademik, maupun
nonakademik.
Di sisi lain, khusus untuk kondisi UNHAS, mahasiswa datang dari berbagai latar belakang
budaya yang amat ber-ragam. Sehingga perjumpaan di kehidupan kampus menjadi
lebih marak, dan untuk sebagian mahasiswa sedikit membingungkan, Ada banyak sentuhan,
singgungan, bahkan benturan nilai-nilai yang perlu dihadapi; sementara ajakkan untuk
berprestasi,
ber-inovasi dan ber-kiprah di banyak kegiatan amat menggoda. Sehingga pengisian
waktu menjadi amat krusial, selalu mungkin membawa kita pada keadaan yang mengandung
cekaman kepentingan, Pada gilirannya, manakala kita kewalahan terjadilah kondisi ‘cemas’
yang bisa menjadikan kita stress.
Memahami kondisi kehidupan kemahasiswaan sebagaimana diuraikan di atas, maka
tidaklah berlebihan apabila dikatakan bahwa pada hakikatnya ajakkan hidup kemahasiswaan
penuh dinamik, ragam tantangan, indah tetapi juga mengandung cekaman ~ stress. Oleh
karena itu, materi manajemen stress dimasukkan kedalam paket BSS, agar mahasiswa dapat
mengatasi berbagai cekaman yang dihadapinya, dan dengan demikian dapat menikmati hidup
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 2
dengan lebih meng-asyikan dan berdaya-guna. Dengan demikian, sasaran yang hendak
dicapai setelah peserta pelatihan BSS menyelesaikan materi ini adalah :Peserta dapat
memahami
hal-hal dasar seputar stress sehingga ia dapat mengenali, mencegah dan
menangani stress di dirinya, bahkan pada gilirannya bisa menjadi teman supporting
bagi sebayanya yang sedang mengalami stress.
Dalam rangka memenuhi sasaran demikian, maka sejumlah pertanyaan muncul, antara
lain : Apa sebenarnya yang dimaksud dengan STRESS? Apa pula STRESSOR? Siapa yang
mengalami stress? Apa indikasi atau gejalanya? Bagaimana mekanismenya? Apa dampak
yang akan dialami apabila sress tersebut tidak ditangani? Bagaimana menanganinya? Secara
khusus bagaimana menangani stress yang selalu ada mengiringi evaluasi/ujian, dst. Modul
MD08 Manajemen Sress ini mencoba memberi gambaran awal atas jawaban berbagai pertanyaan
tersebut di atas. Dengan demikian sistimatik pembahasan akan mengikuti alur tersebut,
mencakup 6 bagian. yakni : (1) Pendahuluan membahas yenyang pengertian Stress
dan Stressor, juga menjelaskan siapa yang bisa mengalami stress. (2) bagian kedua
membahas mekanisme terjadinya stress. (3) Pada bagian ketiga dibahas indikasi atau
gejala stress, sedangkan (4) Pada bagian empat, diulas dampak yang akan dialami apabila
sress tersebut tidak ditangani; (5) sekaligus pada bagian ke lima mendiskusi-kan beberapa
cara menanganinya, termasuk menangani stress menghadapi ujian, dst.
Diharapkan dengan memiliki sedikit pemahaman dasar stress mahasiswa dapat lebih
bisa mengakrabi stress, dan tentu saja menanganinya secara sehat, dan pada gilirannya dapat
menikmati kehidupan kemahasiswaan dengan lebih membahagiakan.
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 3
1. PENDAHULUAN
Pertama-tama Apa yang dimaksud dengan Stress ? Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, ada 2 pengertian stress: (1) Gangguan atau kekacauan mental dan emosional (2) -
Tekanan. Secara teknis psikologik, stress didefinisikan sebagai Suatu respons penyesuaian
seseorang terhadap situasi yang dipersepsinya menantang atau mengancam kesejahteraan
orang bersangkutan. ~ Stress is an adaptive response to a situation that is perceived as
challenging or threatening to the person’s well-being . Jadi stress merupakan suatu respon
fisiologik ataupun perilaku terhadap ‘stressor ‘ ~ hal yang dipandang sebagai menyebabkan
cekaman, gangguan keseimbangan (homeostasis), baik internal maupun eksternal Dalam
pengertian ini, bisa kita perjelas bahwa stress bersifat subjektifm sesuai perspsi orang yang
memandangnya. Dengan perkataan lain apa yang mencekam bagi seseorang belum tentu
dipersepsi mencekam bagi orang lain.
Di sisi lain, ‘stressor’ adalah Sumber yang dipersepsi seseorang atau sekelompok orang
memberi tekanan/cekaman terhadap keseimbangan diri mereka. Ada 3 sumber utama bagi
stress, yaitu :
1. Lingkungan ~ lingkungan kehidupan memberi berbagai tuntutan penyesuaian diri
seperti antara lain
- Cuaca, kebisingan, kepadatan,
- Tekanan waktu, standard prestasi, berbagai ancaman terhadap rasa aman
dan
harga diri
- Tuntutan hubungan antar pribadi, penyesuaian diri dengan teman, pasangan,
dengan perubahan keluarga
2. Fisiologik ~ dari tubuh kita
- Perubahan kondisi tubuh: masa remaja; haid, hamil, meno/andropause, proses
menua, kecelakaan, kurang gizi, kurang tidur >tekanan terhadap tubuh
- Reaksi tubuh : reaksi terhadap ancaman & perubahan lingkungan mengakibatkan
perubahan pada tubuh kita, menimbulkan stress.
3. Pikiran kita ~ pemaknaan diri dan lingkungan
Pikiran menginterpretasi dan menerjemahkan pengalaman perubahan dan menentukan
kapan menekan tombol panik. Bagaimana kita memberi makna/label pada
pengalaman dan antisipasi ke depan, bisa membuat kita relax atau stress.
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 4
Menurut Selye (1984) , stress bisa dibedakan atas dasar sifat stressornya, apakah peristiwa
negative, disebut ’distress’; tetapi bisa juga stress diakibatkan peristiwa positif,
misalnya tiba-tiba mendengar mendapat undian, atau hadiah besar yang tak terduga, dalam
hal ini stressnya disebut ‘Eustress’
Lebih lanjut, sumber stressor tersebut bisa dibedakan dalam 3 bagian berdasarkan
peluang penanganannya, yakni : Pertama, Stressor yang penanganannya hanya membutuhkan
sedikit upaya seperti misalnya kebiasaan belajar; waktu bangun pagi, diet, dst
dimana upaya menanganinya dengan cara memgubah kebiasaan, membiasakan kebiasaan
baru, maka dalam waktu satu-dua minggu dapat berubah. Kedua, Stressor yang untuk
menanganinya membutuhkan upaya yang lebih sungguh-sungguh, seperti contohnya soal
kepercayaan diri, persoalan hubungan,dst, dimana diperlukan bantuan teknikal untuk
menanganinya,
seperti ‘percakapan kalbu’, skill komunikasi, manajemen konflik, dst. Ketiga,
stressor yang memang tidak dapat ditangani sepeti kematian orang yang dikasihi. Maka
penanganannya,
perlu belajar berdamai dengan diri menerima kenyataan tersebut, lalu diatasi
dengan relaksasi, dan upaya spiritual.
Melihat kemungkinan sumber stressor di atas , maka setiap orang potensial untuk
mengalami stress. Namun demikian, ada kelompok orang yang lebih mudah terkena stress
(type kepribadian A), ada juga kelompok lain yang lebih memiliki ketahanan terhadap stress
(type kepribadian B) Selanjutnya, di kalangan mahasiswa yang banyak menjadi sumber
stressor antara lain sebagai berikut: Tuntutan untuk sukses; persoalan finansial, persoalan
relasi~hubungan, persoalan penggunaan waktu dan pergeseran nilai-nilai.
Lebih jauh bisa kita simpulkan bahwa setiap orang bisa mengalami stress, sesekali stress
dalam kehidupan merupakan ‘bumbu’ hidup dinamis, akan tetapi apabila terjadi stress yang
sering dengan fluktuasi yang besar, maka sudah perlu mendapat perhatian khusus, artinya
sudah perlu lebih serius menanganinya.
TOT B
Makassa
A.G ,
2. M
2
2
m
y
k
k
t
b
Basic Study
r, 7 s.d 18 Ja
Januari 2008
Mekani
2.1 Gamb
Secara
2.2 Persep
Sress ba
mengalami s
yang kita pu
kita masih b
kemampuan
tekanan terse
bersamaan) c
Persepsi t
Diri
Peresepsi
y Skills, An
anuari 2008
8
isme te
baran umu
sederhana m
psi tekana
aru nyata di
stress manak
unya untuk m
bisa menaha
kita menaha
ebut bertamb
cekaman me
tekanan
daya tahan
ngk V&VI
Pusat Bim

erjadiny
um:
mekanisme s
Diagram
an dan day
rasakan apa
kala kita mem
menghadapi
ankan tekan
annya) mak
bah besar ( d
enjadi nyata,
n
mbingan & Ko

ya stres
tress dapat d
m 1 Mekanism
ya tahan
abila keseimb
mpersepsi te
tekanan ters
nan tersebut
ka cekaman
dari stressor
kita kewala
onseling UNH

ss
digambarkan
me stress
bangan diri
ekanan dari
sebut. Jadi s
,( yang kita
stress belum
r yang sama
ahan dan mer
Mana
Modu
HAS
n sebagai ber
terganggu. A
stressor mel
selama kita m
a persepsi l
m nyata. Ak
atau dari str
rasakan stres
ajemen Stre
ul MD08
rikut :
Artinya kita
lebihi daya t
memandang
lebih ringan
kan tetapi ap
ressor lain s
ss.
ess
5
a baru
tahan
g diri
n dari
pabila
ecara
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 6
Diagram 02 Persepsi individual atas tekanan dan daya tahan
2.3 Secara fisiologik
Apa yang sebenarnya terjadi di tubuh kita manakala kita mengalami stress ?
persoalan/perubahan ”cerebral cortex”
(riel/imaginasi)
mengirim tanda bahaya
hypotalamus
serangkaian perubahan SNS
pada tubuh (sympathetic Nervous System)
Diagram 03 Mekanisme Stress ~ Fisiologik
Selama pikiran tidak menghentikan pengiriman tanda bahaya ke otak, mekanisme Stress
ini berjalan terus. Belakangan ini sejumlah penelitian paduan bidang psikologi dan syaraf
(Goleman, 2007) menemukan bahwa otak manusia memiliki banyak neuron mirror yang
bekerja otonom menangkap signal pada saat kita ber- interaksi sosial, kemudian membangun
(set-up) sistem sirkuit yang sesuai dengan bacaannya. Dengan perkataan lain, meskipun
secara mental kita bisa melakukan adjustment, tubuh secara otonom melakukan mekanisme
pertahanan atau perlindungan sesuai bacaan neuron mirror.
Secara fisiologis ada 3 tahap penyesuaian dilakukan tubuh , sering disebut GAS (
General Adaptation Syndrome), yaitu : Tahap pertama, tahap siaga ( alarm stage ) terjadi
saat mulai terasa sengatan cekaman, biasanya muncul rekasi darurat, ’fight or flight’.; Tahap
kedua, tahap perlawanan ( resistance stage) , pada tahap ini tidak seheboh tahap pertama,
tetapi reaksi hormonal tubuh masih tinggi, secara nyata orang ini melakukan upaya penanganan
, bisa ’coping’ bisa juga ’fighting’ . Apabila stressor bisa ditiadakan, maka tubuh
akan kembali ke keadaan normal. Tahap ketiga, tahap kepayahan – Exhausted stage
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 7
Individu tidak lagi memberikan respos stress karena kepayahan, kehabisan energi. Kondisi
ini agak berbahaya karena tubuh yang mengalamai banyak goncangan keseimbangan menjadi
terbiasa ’sesuai’ dengan kondisi tersebut, berakibat gangguan penyakit yang lebih
parah, seperti gangguan lambung, hypertensi, cardiovasculer,dst..
3. Indikasi/gejala stress
Bagaimana kita mengetahui apakah kita berada dalam keadaan stress atau tidak ? Apa
gejalanya? Ada sejumlah gejala yang bisa diditeksi secara mudah yaitu :
(a) gejala fisiologik , antara lain :
denyut jantung bertambah cepat , banyak berkeringat (terutama keringat dingin),
pernafasan terganggu, otot terasa tegang, sering ingin buang air kecil, sulit tidur,
gangguan lambung, dst
(b) gejala psikologik , antara lain :
resah, sering merasa bingung, sulit berkonsentrasi, sulit mengambil keputus
an, tidak enak perasaan, atau perasaan kewalahan ( exhausted) dsb
(c ) Tingkah laku, antara lain :
berbicara cepat sekali, menggigit kuku, menggoyang-goyangkan kaki, ticks,
Gemetaran, berubah nafsu makan ( bertambah atau berkurang).
4. Dampak akibat stress
Apakah dampak stress? Sebagaimana terlihat pada diagram 01, dampak stress dibedakan
dalam 3 kategori, dampak Fisiologik, dampakpsikologik dan dampak perilaku~ behavioral
4.1 Dampak Fisiologik :
Secara umum orang yang mengalami stress mengalami sejumlah gangguan fisik
seperti : mudah masuk angin, mudah pening-pening, kejang otot (kram), mengalami
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 8
kegemukan atau menjadi kurus yang tidak dapat dijelaskan, juga bisa menderita penyakit
yang lebih serius seperti cardiovasculer, hypertensi, dst.
Secara rinci dapat diklasifikasi sebagai berikut :
(a) Gangguan pada organ tubuh >>> hiperaktif dalam salah satu sistem ttt.
- muscle myopathy >>> otot tertentu mengencang/melemah
- tekanan darah naik >>> kerusakan jantung dan arteri
- sistem pencernaan >>> mag, diarhea
(b) Gangguan pada sistem reproduksi
- amenorhea >> tertahannya menstruasi
- kegagalan ovulasi pada wanita, impoten pada pria, kurang produksi semen
pada pria
- kehilangan gairah sex
(c ) Gangguan pada sistem pernafasan
- asthma, bronchitis
(d) Gangguan lainnya, seperti pening (migrane), tegang otot, rasa bosan, dst
4.2 Dampak Psikologik:
• Keletihan emosi, jenuh, penghayatan ini merupakan tanda pertama dan punya
peran sentral bagi terjadinya ‘burn – out’
• Terjadi ‘depersonalisasi’ ; Dalam keadaan stress berkepanjangan, seiring
dengan kewalahan /keletihan emosi, kita dapat melihat ada kecenderungan
yang bersangkutan memperlakuan orang lain sebagai ‘sesuatu’ ketimbang
‘sesorang’
• Pencapaian pribadi yang bersangkutan menurun, sehingga berakibat pula
menurunnya rasa kompeten & rasa sukses
4.3 Dampak Perilaku
• Manakala stress menjadi distress, prestasi belajar menurun dan sering terjadi
tingkah laku yang tidak berterima oleh masyarakat
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 9
• Level stress yang cukup tinggi berdampak negative pada kemampuan mengingat
informasi, mengambil keputusan, mengambil langkah tepat.
• Mahasiswa yang ‘over-stressed’ ~ stress berat seringkali banyak membolos
atau tidak aktif mengikuti kegiatan pembelajaran.
5. Strategi Menangani Stress
5.1 Strategi Pencegahan :
Untuk mencegah mengalami stress, setidaknya ada 3 lapis.
• Lapis pertama ~ primary prevention, dengan cara merubah cara kita melaku
kan sesuatu. Untuk keperluan ini kita perlu memiliki skills yang relevan, misalnya
: skill mengatur waktu, skill menyalurkan, skill mendelegasikan, skill
mengorganisasikan, menata, dst.
• Lapis kedua ~ Secondary prevention, strateginya kita menyiapkan
diri menghadapi stressor, dengan cara exercise, diet, rekreasi, istira
hat , meditasi, dst.
• Lapis ketiga ~ Tertiary prevention, strateginya kita menangani
dampak stress yang terlanjur ada, kalau diperlukan meminta bantuan
jaringan supportive ( social-network) ataupun bantuan profesional.
5.2 Menangani Stress Kampus
Secara sederhana, kita bisa menangani stress kehidupan kampus dengan memakai
STRESS lagi, namun tentu saja dalam akronim yang berbeda.
• S , Study skills .
Ada banyak hal yang perlu dipelajari, yang ingin diketahui, ada banyak
kegiatan yang ingin diikuti, waktu terbatas. Oleh karena itu, agar tidak
menjadi stress, seyogyanya mahasiswa perlu memiliki berbagai skill
belajar yang sesuai sehingga saya bisa belajar secara efektif tetapi juga
effisien dalam menggunakan daya dan waktu serta sumber lainnya.
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 10
• T, Tempo – Time management
Selain skill belajar, skill penting yang juga perlu Anda kuasai untuk
menangani stress adalah manajemen waktu, untuk keperluan tersebut
mahaiswa perlu memiliki paradigma waktu yang tepat.
• Rehat ~ Rest ~ istirahat
Tubuh kita ‘by default’ memerlukan jedah, istirahat. Kita perlu
belajar bagaimana ‘speeding up’, tetapi juga arif dan terampil
untuk ‘slowing down’. Bila kita tidak memiliki keterampilan
istirahat, leisure, santai ( bukan leha-leha) maka besar kemungkinan
kita mengalami stress.
• Eating & Exercise – Makan dan Olah raga Kebugaran
Tubuh kita membutuhkan asupan yang seimbang, tetapi juga
‘exercise’ yang memadai,agar bisa bugar, [ Bandingkan apabila
kita mempergunakan suatu peralatan baru biasanya kita terlebih dalulu
membaca buku manual yang disertakan oleh pabrik pencipta peralatan
tersebut, Oleh karena itu sebetulnya perlu kita cermati asupan apa yang
baik untuk tubuh ini, menurut manual dari Penciptanya.],
• Self-talk ~ percakapan kalbu
Sejak kecil kita punya ‘perlengkapan’ berpkir yaitu percakapan kalbu,
dimana kita biasa mendengar apa yang kaya hati atau hati nurani katakan
kepada kita. Isi percakapan itu bisa positif, membuat kita optimist, tetapi
seringkali juga negative, membuat kita tertekan-stress. Kita masih perlu
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 11
lebih mengembangkan arah percakapan dari kita kepada hati nurani
ataupun kata hati kita, sehingga terjadi percakapan timbal-balik antara
kita dengan diri kita. Dalam hal menangani stress, kita perlu bisa secara
sadar meng-ganti isi percakapan yang tidak mendukung dengan kalimat
yang bisa mendukung kita. Langkah ini biasa disebut percakapan kalbu:
‘stop~ganti’ yang bisa kita latihkan di diri kita.
• Social support ~ jaringan pendukung,
Manusia adalah makhluk social, jadi pada hakikatnya tidak tahan sendirian,
butuh perasaan tidak sendiri, tetapi punya sejumlah orang yang
saling peduli, yang akan merasa kehilangan manakala lama tidak saling
bertemu atau berkomunikasi. Dalam keadaan stress sebaiknya kita berusaha
bertemu dengan teman, sehingga paling tidak kita tetap punya
penghayatan tidak sendirian yang sungguh mencekam. Itulah sebabnya
dianjurkan kepada mahasiswa untuk membangun dan merawat jaringan
supporifnya sehingga bisa saling mendukung di saat diperlukan.
5.3 Menangani cemas hadapi ujian
Cemas menghadapi ujian atau test adalah salah satu bentuk stress yang
lumrah dihadapi oleh hampir semua orang, bagaimana kita sebaiknya menangani
stress tersebut. Cemas hadapi ujian adalah respons kita atas situasi ujian, respons
yang kita peroleh dan ulangi sejak kecil, yang seperti juga semua hasil perolehan
belajar lainnya, respon tersebut bisa diubah. Kecemasan dalam kadar sedikit,
tidak apa-apa, malah bagus sebab bisa memotivasi kita untuk belajar lebih giat
mempersiapkan diri menghadapi ujian. Namun demikan, apabila kecemasan
tersebut sudah berlebihan, bisa menjadi distress, justru akan membuat prestasi
kita terganggu sebab kita tidak bisa berpikir dengan jernih. Lebih parah, apabila
kecemasan ini kita pergunakan sebagai alasan ‘excuse’, maka hal itu akan
merusak kepribadian kita.
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 12
Lalu bagaimana sebaiknya cara mengatasi kecemasan ujian ? Berikut disaran
kan sejumlah langkah, yakni:
1. Biasakan diri dengan situasi ujian, dengan cara antara lain :
a. Kenali ruang dimana kita akan ujian
b. Belajar memadai, dan banyak berlatih sesuai tipe ujian ( open-end,
multiple choice ataukan essay ) yang akan dihadapi
c. Berlatih berprestasi dalam waktu terbatas, seperti di ujian.
2. Kendalikan emosi, pikiran dan tindakan
a. Hindari kecenderungan meragukan diri ataupun percakapan kalbu
negative. Apabila kita memang ragu kurang menguasai bahan, tidak ada
cara lain cobalah belajar, kuasai secara memadai. Selanjutnya apabila ada
percakapan pikiran negative, lakukan teknik ‘sop-ganti’ berikut
o Metode ‘STOP Pikiran’
Kita merasakan kecemasan karena kita dihantui oleh pikiran negative
tentang kesulitan/hambatan /ketidak mampuan atau ketidak berdayaan
kita dalam ujian nanti. Bahkan bisa saja kita dibayangi pikiran negatif
lainnya seperti, “ Wah saya pernah berbeda pendapat dengan dosen itu
, jangan-jangan dia masih sentimen….,dst”. Pikiran negative ini akan
memberi rangsangan kepada amygdala yang akan memicu endokrin
menimbulkan enzyme cortizol yang mengakibatkan rasa resah pada
diri kita. Selanjutnya rasa cemas ini akan meneguhkan bahkan
menambah asosiasii pikiran negative yang kembali dan dirasakan lebih
resah dan cemas lagi. Jadi strateginya adalah menghentikan pikiran
negative tersebut. Dengan teknik berikut :
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 13
o Mengatur arus berbagai pikiran dan refocus
Kadang-kadang ada banyak arus pikiran bergerak dalam mental /mind
kita, simpang siur, saling menyerobot. Oleh karenanya perlu diatur, perlu
ditertibkan, dan difokuskan pada satu pokok pikiran setiap saatnya. Perlu
dicatat tidak selamanya kita perlu mengikuti satu alur pikir ( linier ),
kadang-kadang diperlukan kita menye-brang alur (lateral) . Hal itu bolehboleh
saja, bahkan seringkali diperlukan untuk kerja kreatif. Akan tetapi
tetap perlu diupayakan tertib, focus pada satu gagasan, dalam hal ini hanya
idea yang relevan berkaitan dengan ujian. Gagasan lainnya, ditunda dan
diberi jadwal lain, tetapi perlu ditanggapi supaya tidak menganggu. Bila
kita dapat mengatur pikiran dengan lebih tertib, maka muncul-mya
gagasan yang relevan akan menolong kita lebih percaya diri, dan dengan
demikian, merangsang muncul pikiran iringannya.
b. Ramah dan beri Diri kita dukungan moril
c. Berpikirlah realistic, ujian hanya merupakan salah satu cara evaluasi,
bukan segala-galanya
d. Berdamai dengan diri siap hadapi yang terburuk ~ tidak lulus ujian,
bukanlah akhir segalanya, bukan kiamat.
3. Pesrsiapkan Fisik
a. Asupan nutrisi yang sesuai untuk situasi ujian ( tidak terlalu kenyang,
bergizi dan seimbang )
b. Cukup istirahat, relax
c. Sebaiknya tetap lakukan exercise seperlunya.
4. Pelajari skill relaksasi yang amat menolong segera :
a. Tarik nafas dalam secara teratur
TOT Basic Study Skills, Angk V&VI Manajemen Stress
Makassar, 7 s.d 18 Januari 2008 Modul MD08
A.G , Januari 2008 Pusat Bimbingan & Konseling UNHAS 14
Metode ini merupakan teknik yang paling sederhana, yang bisa
menolong kita menenangkan respons fisiologik/faal yang
ditimbulkan oleh perasaan kita.
b. Teknik Relaksasi lainnya seperti ‘progressive relaxation’
c Bermeditasi, berdoa dan upaya spiritual lainnya
6. Penutup
Mengakhiri bahasan tentang manajemen stress ini, ada beberapa tips yang ingn saya
berbagi , antara lain :
• Penting untuk kita ketahuiapakah kita sudah selesaikan semua yang memang bisa
kita lakukan
• Janganlah kita menjadi super-man atau super-woman, artinya jadwalkanlah
agenda yang wajar dan dapat diselesaikan oleh manusia normal
• Janganlah biarkan diri kita stress oleh hal-hal yang berada di luar jangkauan
kendali kita
• Jangan lupa berapapun lilin Anda yang padam, asalkan ada lilin harapan, selalu
mungkin kita nyalakan lilin-lilin lainnya
Namun demikian, Apabila Anda masih terlalu cemas, datanglah ke Pusat
Bimbingan dan Konseling UNHAS, fasilitas yang disediakan UNHAS bagi Anda. Di
sana Anda dapat relax dan berbagi tekanan dengan konselor yang bertugas, semoga
menjadi ringan dan siap untuk maju lagi
Makassar, Januari 2008
PMB UNHAS 2009
Baruga, 18 Agustus 2009 Ceramah Orientasi
1

Hand-Out
“Pengenalan Manajemen Diri
dalam Pergaulan Kampus “
Oleh : Dr. Arlina Gunarya, MSc
Hand-out 6 halaman ini dimaksudkan sebagai alat bantu mempermudah Anda
melakukan refleksi ~ memantulkan kembali apa yang Anda cerap saat mengikuti
ceramah Orientasi di Baruga Pettarani dengan judul : “ Pengenalan Manajemen Diri
dalam Pergaulan Kampus”, pada tgl 18 Agustus 2009.
Silahkan Anda cetak han-out ini, dan mempergunakannya sebagai pertanyaan pemicu
refleksi Anda. Apabila ada pertanyaan atau pendapat Anda yang ingin disampaikan,
Anda dapat menghubungi Penulis pada alamat : agunarya@gmail.com atau
gardyapbk@yahoo.com
PMB UNHAS 2009
Baruga, 18 Agustus 2009 Ceramah Orientasi
2
0. Pengantar :
Judul percakapan kita saat di Baruga Pettarani, 18 Agustus 2009 yang lalu adalah :
“ Pengenalan Manajemen Diri dalam Pergaulan Kampus”, dimaksudkan sebagai
orientasi menyambut Anda semua, mahasiswa baru UNHAS angkatan 2009/2010 di
pergaulan kampus UNHAS.
Saya membuka ceramah dengan menyampaikan ucapan SELAMAT – Congratulation,
kepada Anda, atas 3 hal yaitu : Pertama, Anda telah selesai masa persiapan awal, sebab
baru saja Anda menyudahi jabatan siswa dalam pendidikan Dasar yang menjadi pijakan
memasuki tahap berikut :
�Anda telah melewati proses pendidikan dasar sekurangnya 12 tahun, patut
disyukuri …. Selamat …….Congratulation. Namun demikian tidak salahnya
Anda merenungkan : ….. betulkah Anda sudah menuntaskan segala sesuatu
yang perlu Anda usaikan pada tahap persiapan tersebut ?
� Masih adakah yang perlu segera di ‘tambal’kan pada beberapa ‘lubang’ yang
mungkin Anda sempat melihatnya? Bagaimana Anda hendak melakukannya ke
depan ini? Perlukah bantuan ? dari siapa? di mana? dan bagaimana?
Kedua, Anda telah diterima sebagai mahasiswa UNHAS, termasuk sejumlah kecil
pemuda Indonesia yang beruntung punya peluang mengenyam pendidikan tinggi di
UNHAS. ….. Selamat …….Congratulation
� Bagaimana Anda memaknai menjadi ‘mahasiswa UNHAS’? Adakah
penyesuaian yang perlu dilakukan menjadi mahasiswa ( sebelumnya Anda
adalah Siswa) ? Dalam hal apa? Bagaimana Anda hendak melakukannya ke
depan ini? Perlukah bantuan ? dari siapa? di mana? dan bagaimana?
Ketiga, Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64, yang baru saja kita rayakan sehari
sebelumnya.
� Mengapa kita perlu merayakannya, memberi selamat kepada diri kita?
� Makna apa yang Anda lekatkan sebagai seorang pemuda(i) Indonesia di
Rumah ~ ruang hidup Indonesia ? Apa implikasinya bagi Anda di kampus
UNHAS ~ salah satu ruang di rumah Indonesia?
� Insight apa yang bisa menginspirasi Anda dalam pergaulan kampus ini.?
PMB UNHAS 2009
Baruga, 18 Agustus 2009 Ceramah Orientasi
3
1. Pendahuluan
Pergantian posisi dari ‘Siswa’ menjadi ‘Mahasiswa’ mengandung sejumlah perubahan,
khususnya sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri.
� Bagi Anda, dalam aspek manakah yang Anda temukan ada/perlu perubahan ?
� Mengapa berbagai perubahan tersebut disimpulkan sebagai perubahan penanganan
hidup? Bahkan disimpulkan sebagai suatu kepatutan pertanggung jawaban hidup?
Menangani perubahan tersebut membutuhkan sejumlah penyesuaian yang kadangkala tidak
mudah, tetapi sangat mungkin dilakukan, sebab masing-masing Anda seyogyanya memiliki
‘supporting system’ ~ lingkungan penunjang.
� Anda tidak sendirian, lalu Anda ada / bersama siapa? Siapa saja di lingkungan Anda
yang dapat merupakan system penunjang bagi Anda? Di sisi lain, Anda sendiri
menjadi bagian system penunjang siapa saja? Siapakah yang mengharapkanmengandalkan
Anda sebagai penunjangnya di kala ia butuh ?
� Apa yang hakiki diperlukan agar Anda memiliki dan menjadi bagian dari system
pendukung sesama warga kampus, khususnya kampus UNHAS.?
� Mengapa Anda perlu mampu meng~’Aku’, meng~’kami’ dan meng~’kita’?
Keterampilan apakah yang masih perlu Anda secara pribadi mengembangkan di diri
Anda, agar memenuhi kemampuan tersebut?
2. Pergaulan di Kampus
Pergaulan kampus mempunyai cirri khas yang berbeda dengan pergaulan di lingkungan lain,
sebab selain merupakan interaksi antar pribadi warga kampus (civitas academica) bermatra
‘persahabatan’, juga bercirikan karakteristik logik, sistimatik, dan obyektif serta kritis
� Bagi Anda pribadi, siapakah yang terhisab dalam lingkup pergaulan kampus?
Warga kampus memiliki kepelbagaian latar belakang, keragaman kegiatan. Oleh karena itu
masing-masing perlu melakukan penyelarasan secara sinambung, sehingga bisa
mem’posisireposisi’kan
diri dalam pergaulan, sekaligus memelihara budaya kampus tetap terjaga ciri
identitasnya, meski dinamis mengikuti perkembangan.
PMB UNHAS 2009
Baruga, 18 Agustus 2009 Ceramah Orientasi
4
� Bagi Anda pribadi, bagaimana hal memposisikan diri dalam pergaulan tersebut
hendak dilakukan? Bagaimana mencapai ke-kami-an dan ke-kita-an, tanpa
kehilangan jati diri ?
3. Manajemen Diri
Setelah kita mempercakapkan lingkup kehidupan kampus, mari kita ingat kembali apa yang
saya percakapkan mengenai manajemen diri. Mulai dari pengertian Diri, perkembangannya
dan bagaimana pengelolaannya.
Diri individu merupakan suatu sitem yang melingkupi tiga ranah, yaitu ranah spiritual,
ranah kejiwaan dan ranah jasmani. Tingkah laku manusia merupakan fungsi dari kerja
sistemik ketiga ranah tersebut.
� Bagi Anda pribadi, sejauh mana Anda menyadari dinamika ketiga ranah tersebut
dalam sikap dan tingkah laku Anda sehari-hari? Bagaimana isi dan kebeningan qalbu
Anda ( ranah spiritual) ? Dapatkan Anda menghayati saling keterkaitan pikiran,
perasaan dan kehendak Anda ( ranah kejiwaan)? Sejauh mana Anda menyadari
keberadaan perlengkapan organ bertindak Anda ( ranah fisik)?
Kehidupan kita seringkali dipenuhi oleh gemuruhnya deru aktivitas kita, baik menyangkut
ranah spiritual, ranah kejiwaan maupun ranah fisik kita. Padahal kita memerlukan saat
meng-ada dimana ketiga ranah tersebut dapat saling menyelaraskan keberadaanya, tanpa ada
campur tangan selain Cahaya Sang Khalik yang bersemayam di lubuk hati kita.
� Apakah Anda memiliki saat-saat hening (solitude) di antara hingar bingar aktivitas
Anda? Apakah Anda menyadari banhwa hanya didalam keheningan relung hati
Anda, pikiran Anda bisa dicerahkan suara qalbu Anda ~ yang menjadi terdengar?
Selanjutnya, mungkin Anda masih ingat, saya menjelaskan tentang bagaimana diri ini
berkembang melalui berbagai tahapan dengan ajakkan dan issue kritikal masing-masing
tahap ( sesuai teori perkembangan “Self Identity” nya Erik Erikson)
� Saat ini, di manakah posisi perkembangan self/diri Anda? Apa ciri ajakan dan
issue kritikal tahapan perkembangan Anda? Bila demikian halnya apa yang Anda
cari?
PMB UNHAS 2009
Baruga, 18 Agustus 2009 Ceramah Orientasi
5
Lebih lanjut, ‘individualitas Aku’ dibangun dan berakar dari konteks social kehidupanku,
dari interaksi antar pribadi di lingkungan terdekat-ku. Jadi tanpa interaksi tidak ada
‘kita’ yang membangun ‘aku’
� Apakah saat ini Anda telah dapat memilah dan membedakan ‘aku’(diri) Anda dari
‘aku’-‘aku’ orang lain? Dengan demikian Anda bisa merasa berharga, sehingga
Anda bisa mendekati lingkungan tanpa rasa marah / terpaksa begitu pula dapat
menjauhi lingkungan Anda tanpa rasa bersalah
Namun demikian, sebagaimana yang saya jelaskan kala itu, kita membutuhkan sejumlah
orang (paling tidak lingkungan terdekat kita) membenarkan identitas kita. Dengan perkataan
lain, identitas perlu berakar dalam konteks social. Identitas diri dewasa, berakar pada rasa
terhisab (belonging) pada kelompok social kita. Ada tarik-ulur antara kebutuhan ‘aktualisasi
diri’ dan kebutuhan ‘terhisab-belonging’. Hanya apabila Anda terhisab kedalam keluarga
UNHAS, barulah Anda memiliki identitas sebagai WARGA UNHAS ~ sebagai
MAHASISWA
UNHAS. Oleh karena itu, manajemen diri menjadi penting dalam pergaulan sosial
� Bagi Anda pribadi, skill apakah yang perlu masih Anda kuasai agar Anda bisa
mengelola diri Anda dalam pergaulan kampus? Bagaimana hal tersebut hendak
Anda lakukan? Sejauh mana Anda memerlukan bantuan? Dari siapa? Di mana?
Bagaimana?
� Menurut Anda pribadi apa yang seyogyanya merupakan arah ‘mindsetting’ diri
Anda dalam bergaul yang sehat, khususnya dalam pergaulan kampus?
4. Sejumlah tips
Sejumlah tps dalam pergaulan kampus sempat kita percakapkan dalam ceramah orientasi
saya, antara lain menyangkut seputar pengenalan diri dalam pengaruh masa lalu dan dalam
konteks masa kini serta keadilan ke diri dan lingkungan; menyangkut perubahan diri dan
kemelengketan, perubahan cara berhubungan, menerima diri sendiri maupun diri lain apa
adanya, dsbnya.
� Apa pendapat pribadi Anda atas beberapa tips tersebut? Adakah tips Anda bagi diri
Anda sendiri maupun yang dapat dibagi ke orang lain ?
PMB UNHAS 2009
Baruga, 18 Agustus 2009 Ceramah Orientasi
6
5. Penutup
� Ke depan , apa mimpi Anda tentang pergaulan kampus UNHAS? Apa dan di mana
posisi Anda? Apa yang Anda niatkan di hati ? Tuliskanlah di sini, sebelum ia berlalu
begitu saja.
� Bagaimana mimpi itu hendak Anda wujudkan? Dengan dukungan siapa ? di mana ?
bilamana? dan …. Bagaimana? Tuliskanlah semua hal itu sebagai asupan jurnal
pribadi Anda, sebelum ia lenyap dibawa sang waktu.
Akhirul kata, saya ingin mengulangi apa yang saya pesankan saat itu, yakni:
Dalam perjalanan hidup ini,
buang segala sesuatu yang tidak penting ……. tangani rintangan ………..,
lupakan ketidak sempurnaan kawan di masa lalu, ...tinggalkan perasaan gagal
Berangkatlah tanpa terbeban…….., dengan hati ringan,
dan …… hati ringan sarat bobot pengaruh
Lalu ………..hadiahilah diri Anda, dan semua yang pernah Anda jumpai,
selembar awal baru ………….dimulai hari ini
Bila toh Anda lagi ‘suntuk’
….. Cobalah nikmati kebersamaan dengan diri Anda
Ajaklah diri menghadap Sang Pencipta ………temukan keteduhan, inspirasi
dan kekuatan dalam kesyahduan ‘solitude’ bersama Nya
…….Kalau belum sanggup ………………….
Mari datang di Pusat Bimbingan & Konseling
Kita ngobrol atasi suntuknya, ……… PBK ada untuk Anda semua
Atau Anda bisa mengunjungi web PBK di www.unhas.ac.id/pbk
Makassar, medio Agustus 2009