Anda di halaman 1dari 13

BAB 9

TEORI KINETIK GAS DAN HUKUM TERMODINAMIKA

Apersepsi
Pernahkah kamu melihat lokomotif uap? Jika belum, sempatkanlah untuk berkunjung di salah
satu museum kereta api, seperti di Ambarawa, Jawa Tengah. Di sana terdapat banyak sekali koleksi
lokomotif uap yang pernah digunakan di Indonesia.
Perlu kamu ketahui bahwa prinsip pembuatan lokomotif uap atau biasa lebih kita kenal sebagai
mesin uap, merupakan satu dari beberapa penerapan konsep termodinamika dalam kehidupan manusia.
Jika kamu tertarik dengan pemanfaatan mesin kalor tersebut, sebaiknya kamu pelajari bab teori kinetik
gas dan hukum termodinamika pada bab ini.

Dalam bab ini, kamu akan diajak untuk memahami penerapan konsep termodinamika dalam
mesin kalor. Lebih khusus lagi, kamu akan mempelajari tentang deskripsi sifat-sifat gas ideal
monoatomik serta menganalisis perubahan keadaan gas ideal dengan menerapkan hukum
termodinamika. Nah, selamat mempelajarinya.

Dalam kehidupan sehari-hari, kamu tentu tidak dapat lepas dari gas karena udara yang kamu
hirup merupakan gas. Oleh karena gas sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, wajar jika
penelitian tentang gas menjadi kajian yang sangat penting.

A. Teori Kinetik Gas


Gas yang ada di sekitarmu merupakan gas nyata. Gas nyata memiliki karakteristik yang lebih
variabel sehingga lebih sukar untuk diteliti. Oleh karena itu, dalam kajian ini akan dikhususkan pada
gas yang bersifat ideal. Adapun sifat-sifat gas ideal adalah sebagai berikut.
1. Gas ideal terdiri atas partikel-partikel (atom-atom atau molekul-molekul) dalam jumlah yang
besar sekali yang satu sama lainnya sama.
2. Partikel-partikel tersebut dianggap sebagai bola kecil yang keras, licin, pejal, dan lenting
sempurna.
3. Antara partikel yang satu dan partikel yang lain tidak ada gaya kohesi atau gaya tarik-menarik
antarpartikel sejenis, kecuali jika bertumbukan.
4. Jarak antarpartikel satu sama lain jauh lebih besar daripada ukuran partikel sendiri sehingga
volumenya bersama-sama dapat diabaikan jika dibandingkan dengan volume ruang yang
ditempati oleh gas seluruhnya.
5. Partikel-partikel tersebut senantiasa bergerak secara sembarang arah dan tersebar merata dalam
ruang kecil.
6. Hukum Newton tentang gerak berlaku untuk partikel-partikel tersebut.

Gas yang memenuhi anggapan di atas dinamakan gas ideal walaupun pada kenyataannya tidak
ada gas yang bersifat ideal. Akan tetapi, pada tekanan rendah dan pada suhu kamar, gas nyata
mempunyai sifat yang tidak jauh berbeda dari sifat gas ideal. Oleh karena itu, dalam batas-batas
tertentu, sifat-sifat gas nyata dapat diturunkan dari tinjauan gas ideal.
Dari anggapan-anggapan di atas, juga tersirat bahwa arah gerakan partikel-partikel ke atas sama
banyaknya dengan arah gerakan ke bawah. Sementara itu, gerakan partikel-partikel ke kanan juga sama
banyaknya dengan gerakan partikel-partikel ke kiri.

Tekanan Gas
Dengan menggunakan Hukum II Newton, dapat diturunkan rumus tekanan P yang disebabkan
oleh molekul-molekul gas dalam ruang tertutup yang volumenya V.
Perhatikanlah sebuah ruang yang berbentuk balok dengan sisi-sisi a, b, dan c. Dalam ruang
tersebut, terdapat N molekul yang massa tiap molekulnya adalah m dan masing-masing bergerak
dengan kecepatan sama, yaitu v. Jika momentum molekul sebelum menumbuk dinding adalah m.v dan
momentum molekul setelah menumbuk dinding adalah – mv (tumbukan lenting sempurna), perubahan
momentumnya dapat dituliskan dalam persamaan di bawah ini.

1
mv - (-mv) = 2 m.v

Dalam waktu t sekon, sebuah molekul dapat menempuh jarak sejauh


(v.t) meter. Jumlah tumbukan dalam waktu t sekon tersebut, dapat
dinyatakan dalam persamaan berikut.
v.t
n=
2a

Sementara itu, menurut Hukum II Newton, dapat dinyatakan perumusan di bawah ini.

perubahan momentum x jumlah tumbukan


Gaya =
waktu
v.t
(2 m v) . ( ) m.v 2
F = 2 a =
t a

Jika terdapat N molekul dalam kotak tersebut, jumlah gaya pada sumbu x adalah
N .m.v 2
F=
a
Dengan demikian, tekanan yang dihasilkan oleh molekul yang bergerak sejajar dengan sumbu x adalah
N .m.v 2
gaya a N .m.v 2
Px = = =
luas b.c a.b.c
Oleh karena hasil perkalian a.b.c merupakan volume balok, tekanan yang dihasilkan oleh gerakan
molekul yang sejajar sumbu x juga dapat dirumuskan sebagai berikut.
N .m.v 2
Px =
V
Oleh karena dalam ruangan terdapat banyak sekali molekul yang bergerak ke segala arah, yang
tidak ada satupun arah yang dominan, dianggap bahwa hasil tumbukan pada tiga pasang sisi itu sama
sehingga
Px = Py = Pz = P

Jumlah tekanan total dalam ruang berbentuk kotak di atas adalah


Tekanan total = Px + Py + Pz = 3 P
N .m.v 2
3P=
V
1
P . V = N . m . v2
3
Keterangan:
P = tekanan gas pada dinding (Pa)
V = volume (m3)
m = massa tiap molekul (kg)
v = kecepatan rata-rata dari semua molekul dalam ruang (m/s)

Jika nilai N, v, dan m konstan, nilai persamaan di atas adalah konstan. Hal tersebut tidak lain
merupakan pernyataan Hukum Boyle, yaitu

2
P . V = konstan

Jika energi kinetik rata-rata tiap molekul dinyatakan dalam Ek = ½ . m v2, perumusan tekanan dapat
pula dinyatakan dalam bentuk sebagai berikut.
1
P . V = N . m . v2
3
1 1
P.V= N.2. m . v2
3 2
2
P.V= N . Ek
3
Keterangan:
Ek = energi kinetik rata-rata tiap molekul gas (joule)

Sementara itu, Gay Lussac mengamati bahwa perbandingan volume (V) suhu gas dengan suhu
mutlaknya ternyata selalu konstan sehingga ia mengemukakan persamaan Gay Lussac sebagai berikut.
V
= konstan
T
Keterangan:
V = volume (m3)
T = suhu mutlak (K), dengan T = (t °C + 273) K

Apabila hukum Boyle dan Gay Lussac digabungkan, akan diperoleh hukum Boyle-Gay Lussac
sebagai berikut.
P.V
= konstan
T
P1 .V1 P2 .V2
=
T1 T2
P.V
Oleh karena dari pengamatan diperoleh bahwa tergantung pada banyaknya partikel N,
T
persamaan di atas kemudian dinyatakan dalam persamaan seperti di bawah ini.

P.V m
= k N , dengan N = n . Na dan n =
T Mr
P.V
=nR
T
P.V =nRT

Keterangan:
k = konstanta Boltzmann = 1,3807 . 10-23 J/K
N = banyaknya partikel gas (partikel)
n = jumlah mol (kmol)
m = massa sebuah partikel (kg)
Mr = massa rumus sebuah molekul (kg/kmol)
Na = bilangan Avogadro (6,022 . 1026 molekul/kmol)
R = 8,31 . 103 J/kmol K atau R = 0,082 liter.atm/mol K
P = tekanan (Pa)
T = suhu (K)
V = volume (m3)
Catatan:
1 kg = 1.000 gram
1 atm = 1,01 x 105 Pa
1L = 1 dm3 = 10-3 m3
Keadaan STP: tekanan 1 atm, suhu 0 °C, dan setiap 1 mol gas apa saja memiliki volume 22,4 liter.

Dengan perumusan tersebut, energi kinetik rata-rata gas dapat diturunkan sehingga diperoleh
persamaan:

3
3
Ek = NkT
2
Keterangan:
Ek = energi kinetik rata-rata tiap molekul gas (joule)

Dari rumus tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi temperatur suatu gas maka semakin besar
energi kinetiknya dan semakin cepat gerakan partikel gas tersebut.

Contoh
1. Volume gas oksigen pada tekanan 1 atm dan suhu 27 °C adalah 10 liter. Tentukan volume gas
saat tekanan 5 atm dan suhunya 127 °C!
Penyelesaian:
T1 = 27 °C = 27 + 273 K = 300 K
T2 = 127 °C = 127 + 273 = 400 K
P1 = 1 atm = 1,01 . 105 Pa
P2 = 5 atm = 5 x 1,01 . 105 Pa = 5,05 . 105 Pa
V1 = 10 liter = 10 . 10-3 m3 = 10-2 m3
sehingga
P1 .V1 P2 .V2
=
T1 T2
1,01.10 .10 −2 5,05.10 5.V2
5
=
300 400
V2 = 0,00267 m3 = 2,67 liter

2. Tentukan massa sebuah gas dengan berat molekul 32 kg/kmol, volume 1000 liter, suhu 27 °C,
dan tekanan 5 atm jika diketahui R = 8,31 . 103 J/kmol K!
Penyelesaian:
P = 5 atm = 5,05 . 105 Pa
T = 27 °C = 27 + 273 K = 300 K
V = 1.000 L = 1.000 x 10-3 m3 = 1 m3
R = 8,31 . 103 J/kmol K
m m
n = =
Mr 32
P.V = n R T
m
5,05 . 105 . 1.000 x 10-3 = 8,31 . 103 . 300
32
m = 6,48 kg

3. Tentukan volume 8 gram oksigen pada kondisi STP jika berat molekul oksigen 32 kg/kmol dan R
= 8,31 . 103 J/kmol K!
Penyelesaian:
Kondisi STP:
P = 1 atm = 1,01 . 105 Pa
T = 0 °C = 273 K
m = 8 gram = 8 . 10-3 kg
P.V = n R T
1,01 . 105 . V = (8.10-3 / 32) . 8,31 . 103 . 273
V = 0,0056 m3 = 5,6 liter

4. Tentukan banyaknya atom dalam 10 gram gas helium jika berat atom helium adalah 4 kg/kmol!
Penyelesaian:
m = 10 gram = 10 . 10-3 kg
m 10.10 −3
n= = = 2,5.10-3 kmol
Ma 4
sehingga
N = n . Na
N = 2,5.10-3 . 6,02 . 1026

4
N = 1,505 . 1024 atom

5. Sebuah tabung yang volumenya 1 liter mempunyai lubang yang memungkinkan udara keluar dari
tabung. Mula-mula suhu udara dalam tabung 27 °C. Tabung dipanaskan sehingga suhunya 127
°C. Tentukan perbandingan antara massa gas yang keluar dari tabung dan massa awalnya!
Penyelesaian:
T1 = 27 °C = 300 K
T2 = 127 °C = 400 K
Karena tabung bocor, tekanan udara akan tetap meskipun dipanaskan sehingga
P.V = n R T
m
P.V = RT
Mr
P.V .Mr
m=
R.T
P.V .Mr 1
Oleh karena adalah konstan, m ~
R T
Jika massa awal adalah m1 dan massa akhir adalah m2, diperoleh
m2 T1 m2 300
= sehingga =
m1 T2 m1 400
3
m2 = m1
4
Dengan demikian, tampak bahwa massa gas yang telah keluar adalah ¼ m1 karena yang tersisa
kini ¾ m1.
Oleh karena itu, perbandingan massa gas yang keluar dengan massa gas awal adalah
1
m
∆m 4 1
=
m1 m1
∆m 1
Jadi, =
m1 4
Pelatihan
1. Gas oksigen (Mr = 16 kg/kmol) dengan volume 600 liter dan suhu 27 °C berada dalam tekanan 5
atm. Tentukan massanya!
2. Sebuah tangki berisi gas oksigen (Mr = 16 kg/kmol) pada tekanan 4 atm bersuhu 47 °C. Jika
kemudian tangki bocor sehingga tekanannya tinggal 3 atm dan suhunya 27 °C, berapa massa gas
oksigen yang telah keluar!
3. Massa jenis gas nitrogen pada keadaan STP adalah 1,25 kg/m3. Tentukan massa jenis gas nitrogen
pada suhu 60 °C dan tekanan 72 cmHg!
4. Gas helium dengan massa molekul 4 kg/kmol pada suhu 15 °C bertekanan 480 mmHg. Jika
volume gas helium 75 liter, tentukan massa gas helium!
B. Termodinamika
Termodinamika adalah bagian dalam bidang fisika yang mempelajari proses perpindahan energi
sebagai kalor dan sebagai kerja. Berbeda dengan kalor yang merupakan transfer energi yang
disebabkan oleh perbedaan temperatur, kerja merupakan transfer energi yang tidak disebabkan oleh
perbedaan temperatur.
Dalam membahas konsep termodinamika, akan sering kalian jumpai istilah sistem dan
lingkungan. Sistem adalah benda atau sekumpulan benda apa saja yang akan diteliti atau menjadi pusat
perhatian kita. Sementara benda-benda lainnya di luar sistem tersebut dinamakan sebagai lingkungan.
Sistem tertutup adalah sistem tempat tidak ada massa yang masuk ataupun keluar, tetapi energi dapat
dipertukarkan dengan lingkungan. Sementara pada sistem terbuka, massa bisa masuk atau keluar,
demikian pula energinya. Dalam fisika, banyak dipelajari sistem tertutup yang dianggap ideal.
Sementara pada hewan atau tumbuhan, sistem yang berlaku adalah sistem terbuka karena pada hewan
dan tumbuhan terjadi pertukaran materi, seperti makanan, oksigen, hasil pembuangan dengan
lingkungan. Pada sistem tertutup, tempat tidak ada energi dalam bentuk apapun yang melintasi
batasnya disebut sistem tertutup terisolasi. Namun jika masih ada energi yang dapat melintasinya,
dikatakan sistem tertutup tersebut tidak terisolasi.

5
1. Hukum Pertama Termodinamika
Hukum pertama termodinamika akan membicarakan pengertian tentang energi dalam. Tentu kita
mengharapkan bahwa energi dalam sistem akan naik jika kerja dilakukan padanya atau kalor
ditambahkan padanya. Dengan cara yang sama, energi dalam akan menurun jika kalor keluar dari
sistem atau jika kerja dilakukan oleh sistem pada lingkungan.
Dengan demikian, masuk akal jika dikemukakan sebuah hukum pertama termodinamika yang
menyatakan bahwa perubahan energi dalam pada sistem yang tertutup ΔU, akan sama dengan kalor
yang ditambahkan ke sistem dikurangi kerja yang dilakukan oleh sistem. Secara matematis, dapat
dinyatakan dalam persamaan berikut.

ΔU = Q - W
Keterangan:
ΔU = perubahan energi dalam (joule)
Q = kalor (joule) ( 1 kalori = 4,18 joule )
W = kerja (joule)
Q + = jika kalor ditambahkan pada sistem
Q - = jika sistem kehilangan kalor
W + = sistem melakukan kerja
W - = sistem diberi kerja

Hukum pertama termodinamika juga sering disebut sebagai hukum kekekalan energi. Hal ini
disebabkan jika Q atau W berubah karena ditransfer ke dalam atau ke luar sistem, energi dalam sistem
juga akan berubah. Perlu kalian ketahui bahwa hukum kekekalan energi belum dirumuskan hingga
abad kesembilan belas karena bergantung pada interpretasi kalor sebagai transfer energi.
Terdapat 4 jenis proses yang dapat terjadi dalam termodinamika, antara lain sebagai berikut.
a. Proses isobarik, yaitu proses yang berlangsung pada tekanan tetap, misalnya pada pemanasan air.
b. Proses isokhorik, yaitu proses yang berlangsung pada volume tetap, misalnya pemanasan gas
pada volume tetap.
c. Proses isotermik, yaitu proses yang berlangsung pada suhu tetap, misalnya ekspansi
(pengembangan) gas pada suhu tetap.
d. Proses adiabatik, yaitu proses yang berlangsung dengan keadaaan tidak ada panas yang masuk
atau keluar dari sistem, misalnya ekspansi uap dalam silinder mesin uap.

Keempat proses termodinamika di atas, dapat digambarkan dalam grafik hubungan tekanan (P)
terhadap volume(V) di bawah ini.

Proses isobarik Proses adiabatik


Proses isotermik Proses isokhorik

a. Usaha yang dilakukan oleh Gas


1. Proses isobarik:
W = P (V2 - V1)
2. Proses isokhorik:
W = 0
3. Proses isotermik:
 V2

W = n R T ln  
 V1
V 
W = 2,3 n R T log  2 
 V1 

6
4. Proses adiabatik:
W = n . Cv (T1 - T2)
Juga berlaku: P1 . V1γ = P2 . V2γ dan T1 . V1γ-1 = T2 . V2γ-1

Keterangan :
Cp
γ = konstanta Laplace (γ = )
Cv
Cv = kalor jenis molar gas pada volume tetap (J/kmol.K)
Cp = kalor jenis molar gas pada tekanan tetap (J/kmol.K)
W = usaha (joule)

Selain dengan menggunakan persamaan-persamaan di atas, besarnya usaha dapat juga ditentukan
dengan menghitung luas daerah di bawah kurva pada grafik tekanan (P) terhadap volume (V).

b. Energi dalam
Sementara untuk menentukan energi dalam suatu gas, persamaan yang berlaku diturunkan
sebagai berikut.
Pada proses isokhorik, W = 0 sehingga Q = ΔU.
1  Q  1  ∆U 
Sementara dari definisi Cv =  =  , dapat diperoleh:
n  ∆T  n  ∆T 
ΔU = n . Cv . ΔT

Sementara pada proses isobarik, dapat diperoleh:


Q = n . Cp . ΔT
dan
W = P. ΔV sehingga
ΔU = Q - W
n . Cv . ΔT = n . Cp . ΔT - P. ΔV
n . Cv . ΔT = n . Cp . ΔT - n.R.ΔT
Jika semua ruas dibagi n dan ΔT, bentuk persamaan di atas menjadi:
Cv = Cp - R atau Cp = Cv + R
Gas Monoatomik
Gas monoatomik atau gas yang beratom tunggal, seperti helium (He) dan neon (Ne), energi
dalamnya dirumuskan dalam persamaan sebagaimana di bawah ini.
3
U = Ek = nRT
2
3
Cv = R
2
5
Cp = R
2
Cp 5
γ = =
Cv 3

Gas Diatomik
Gas diatomik atau gas yang terdiri atas dua buah atom, seperti gas hidrogen (H2) dan gas nitrogen
(N2), energi dalamnya dirumuskan sebagai berikut.
1) Pada suhu rendah ( T ≤ 100 K)
3
U = nRT
2
3
Cv = R
2
5
Cp = R
2
Cp 5
γ = =
Cv 3

7
2) Pada suhu sedang (100 K < T < 5000 K)
5
U = nRT
2
5
Cv = R
2
7
Cp = R
2
Cp 7
γ = =
Cv 5
3) Pada suhu tinggi (T ≥ 5000 K)
7
U = nRT
2
7
Cv = R
2
9
Cp = R
2
Cp 9
γ = =
Cv 7

Pada suhu sedang dan suhu tinggi, energi dalam gas diatomik bertambah besar. Hal tersebut
disebabkan harus diperhitungkannya energi kinetik rotasi untuk suhu sedang dan energi kinetik rotasi
ditambah energi vibrasi atau getaran gas untuk suhu tinggi.

c. Penerapan Hukum I Termodinamika


1) Siklus Carnot
Siklus adalah rangkaian proses-proses yang membawa sistem kembali pada keadaan semula.
Perhatikanlah grafik berikut yang menggambarkan sebuah siklus dari titik A ke B, kemudian ke C terus
ke D dan kembali lagi ke A.

Kurva A-B:
Kurva ini menunjukkan proses pemuaian isotermik karena volume gas bertambah. Pada proses tersebut,
sistem menerima kalor Q1 dari reservoir bersuhu tinggi T1. Sementara itu, gas memuai dan melakukan
kerja sebesar W1.

Kurva BC:
Kurva ini menunjukkan proses pemuaian adiabatik. Kurva adiabatik lebih curam dibandingkan kurva
isotermik. Pada proses tersebut, suhu gas turun dari T1 ke T2. Sementara itu, gas melakukan kerja
sebesar W1'.

Kurva C-D:
Kurva ini menunjukkan proses pemampatan isotermal, dengan keadaan sistem dikontakkan dengan
reservoir bersuhu dingin T2 dan gas memberikan panas Q2 pada reservoir dingin. Sementara itu, gas
menerima kerja sebesar W2 akibat pemampatan.

8
Kurva D-A:
Kurva ini menunjukkan proses pemampatan adiabatis, dengan keadaan sistem menerima usaha akibat
pemampatan sebesar W2'.

Berdasarkan keempat uraian kurva di atas, usaha total yang dilakukan oleh siklus Carnot, dapat
ditentukan melalui persamaan berikut.
W = W1 + W1' + W2 + W2'

Besar W di atas sebanding dengan luas daerah yang diarsir.

2) Efisiensi Mesin
Efisiensi mesin adalah perbandingan antara besar kerja (W) yang dilakukan mesin dan besar kalor
(Q) yang diterimanya.
W
η = x 100 %
Q

Pada mesin Carnot, efisiensi tersebut dapat dirumuskan dalam persamaan berikut.
W  Q − Q2   Q 
η = x 100 % =  1  x100% = 1 − 2  x100% =
Q1  Q1   Q1 
 T 
η =1 − 2  x100%
 T 1 
Keterangan:
η = efisiensi (%)
W = kerja (joule)
Q = kalor (joule)
Q1 = kalor yang diserap sistem (joule)
Q2 = kalor yang diberikan sistem pada lingkungan (joule)
T1 = suhu reservoir panas (K)
T2 = suhu reservoir dingin (K)

2. Hukum II Termodinamika
a. Efisiensi Maksimum Mesin Carnot
Mesin Carnot merupakan mesin ideal, yang efisiensinya paling maksimum dibandingkan jenis
mesin-mesin lainnya. Efisiensi mesin ini dapat mencapai 100 % pada saat suhu reservoir dingin
mencapai 0 K atau – 273 °C. Namun, sesuatu yang sangat sukar untuk menemukan zat yang masih
dalam bentuk cair pada suhu 0 K. Dengan demikian, sangatlah sukar untuk menciptakan mesin ideal
semacam itu, setidaknya untuk saat ini.

b. Perumusan Kelvin-Planck
Kelvin-Planck menyatakan bahwa tidak mungkin membuat mesin yang bekerja dalam suatu
siklus, yang dapat menerima kalor dari suatu reservoir dan mengubah kalor tersebut seluruhnya
menjadi kerja atau usaha.
Oleh karena itu, suatu mesin kalor harus bekerja paling sedikit di antara dua reservoir. Kalor yang
diterima dari reservoir panas sebagian diberikan pada reservoir dingin, sedangkan sebagian lagi
digunakan untuk melakukan kerja.

c. Perumusan Clausius
Secara kualitatif, Clausius menyatakan bahwa tidak mungkin membuat mesin yang bekerja dalam
suatu siklus, yang mengambil kalor dari reservoir yang mempunyai suhu rendah dan memberikannya
pada reservoir yang mempunyai suhu tinggi tanpa memerlukan usaha dari luar.
Hal ini akan tampak pada sebuah mesin pendingin, yang membutuhkan energi listrik untuk
memindahkan panas kalor dari ruangan bersuhu rendah ke ruangan bersuhu tinggi.
Besarnya efisiensi pada mesin pendingin, dapat dirumuskan dalam persamaan berikut.
W T 
η= x100% = 2 − 1 x100%
Q1  T1 

9
Keterangan:
η = efisiensi (%)
W = kerja (joule)
Q1 = kalor yang dikeluarkan mesin pendingin (joule)
T1 = suhu di luar ruangan (K)
T2 = suhu dalam ruangan (K)

Contoh
1. Suatu sistem menerima kalor sebesar 2000 kalori dan melakukan kerja sebesar 5000 joule.
Tentukan perubahan energi dalamnya!
Penyelesaian:
1 kalori = 4,18 joule
ΔU = Q - W
ΔU = (2000 x 4,18) - 5000
ΔU = 3360 joule

2. Suatu sistem menyerap kalor 200 kalori dan menerima kerja 400 joule. Tentukan perubahan
energi dalamnya!
Penyelesaian:
1 kalori = 4,18 joule
ΔU = Q - W
ΔU = (200 x 4,18) - (-400)
ΔU = 1236 joule

3. Tentukan perubahan energi dalam pada proses adiabatik jika sistem melakukan kerja sebesar 20
joule!
Penyelesaian:
Pada proses adiabatik, tidak terjadi perubahan kalor sehingga Q = 0.
ΔU = Q - W
ΔU = 0 - 20
ΔU = - 20 joule

4. Gas nitrogen sebanyak 4 kg dengan berat rumus 28 kg/kmol, dinaikkan suhunya dari 20 °C
hingga 100 °C pada tekanan tetap. Jika diketahui nilai Cv = 4956 kal/kmol°C dan nilai Cp = 6945
kal/kmol°C, tentukan
a. kenaikan energi dalamnya,
b. usaha yang dilakukan!
Penyelesaian:
a. ΔU = n . Cv . ΔT
m
ΔU = . Cv . (100 - 20)
Mr
4
ΔU = . 4956 . (100 - 20)
28
ΔU = 56.640 kalori
ΔU = 56.640 x 4,18 joule = 236.755,2 joule

b. Q = n . Cp . ΔT
4
Q= . 6945 . (100 - 20)
28
Q = 79.371,4 kalori
Q = 79.371,4 x 4,18 joule = 331.772,5 joule
ΔU =Q-W
236.755,2 = 331.772,5 - W
W = 331.772,5 - 236.755,2
W = 95.017,3 joule

10
5. Tentukan usaha yang dilakukan gas dalam keadaan sesuai diagram P-V berikut!
a. b.

Penyelesaian:
a. W = luas trapesium
W = (10 + 20 ) x ½ x [(500 - 100) x 10-3]
W = 6 joule

b. W = - luas persegi panjang + luas trapesium


W = - [10 x (500-100) x 10-3] + [(10+20) x ½ (200-100) x 10-3]
W = - 4 + 1,5 = - 2,5 joule

6. Sebuah mesin Carnot bekerja pada reservoir panas 400 K dan reservoir dingin 300 K. Jika mesin
menyerap kalor sebesar 500 joule, tentukan kerja yang dilakukan mesin Carnot tersebut!
Penyelesaian:
η=η
W  T 
x 100 % = 1 − 2  x100%
Q1  T1 
W  T 
= 1 − 2 
Q1  T1 
W  300 
= 1 − 
500  400 
W = 125 joule
7. Tentukan efisiensi mesin yang bekerja pada suhu 300 K dan 700 K!
Penyelesaian:
 T2 
η = 1 −  x100%
 T1 

 300 
η = 1 −  x100%
 700 
η = 57,14 %

8. Sebuah ruangan hendak didinginkan dengan AC berkekuatan 4 PK (1 PK = 1 HP = 745 watt).


Jika suhu luar ruangan adalah 27 °C dan suhu dalam ruangan didinginkan menjadi 15 °C,
tentukan kalor yang dikeluarkan dari ruangan itu tiap jamnya!
Penyelesaian:
T1 = 27 + 273 = 300 K
T2 = 15 + 273 = 288 K
P = 4 x 745 watt = 2.980 watt
W=P.t
W = 2.980 x 3.600 joule = 10.728.000 joule
η=η
W T 
x 100 % =  1 − 1 x100%
Q1  T2 
W T 
=  1 −1
Q1  T2 
10.728.000  300 
=  −1 Q1 = 2,57 x 108 joule
Q1  288 

11
Rangkuman
1. Beberapa sifat gas ideal diuraikan sebagai berikut.
a. Gas ideal terdiri atas partikel-partikel dalam jumlah yang besar sekali yang satu sama lainnya
sama.
b. Partikel-partikel tersebut dianggap sebagai bola kecil yang keras, licin, pejal, dan lenting
sempurna.
c. Antara partikel yang satu dan partikel yang lain, tidak ada gaya kohesi atau gaya tarik-
menarik antarpartikel sejenis, kecuali jika bertumbukan.
d. Jarak antarpartikel satu sama lain jauh lebih besar daripada ukuran partikel sendiri sehingga
volumenya bersama-sama dapat diabaikan jika dibandingkan dengan volume ruang yang
ditempati oleh gas seluruhnya.
e. Partikel-partikel tersebut senantiasa bergerak secara sembarang arah dan tersebar merata
dalam ruang kecil.
f. Hukum Newton tentang gerak berlaku untuk partikel-partikel tersebut.
2. Persamaan yang menyatakan besar tekanan gas adalah
1
P . V = N . m . v2
3
2
P.V= N . Ek
3
3. Hukum Boyle (pada keadaan temperatur konstan):
P . V = konstan
4. Hukum Gay Lussac (pada keadaan tekanan tetap):
V
= konstan
T
5. Hukum Boyle - Gay Lussac:
P1 .V1 P2 .V2
=
T1 T2
6. Persamaan yang berlaku pada gas ideal dituliskan sebagai berikut. P.V = N k T
atau P.V = n R T
7. Energi kinetik rata-rata gas dapat dinyatakan dalam persamaan:
3
Ek = NkT
2
8. Termodinamika adalah bagian dalam bidang fisika yang mempelajari proses perpindahan energi
sebagai kalor dan sebagai kerja. Kalor adalah transfer energi yang disebabkan oleh perbedaan
temperatur, sedangkan kerja adalah transfer energi yang tidak disebabkan oleh perbedaan
temperatur.
9. Hukum Pertama Termodinamika dapat dirumuskan dalam persamaan matematis berikut.
ΔU = Q - W
10. Dalam konsep termodinamika, dikenal 4 jenis proses termodinamika, antara lain sebagai berikut.
a. Proses isobarik, yaitu proses yang berlangsung pada tekanan tetap, misalnya pada pemanasan
air.
b. Proses isokhorik, yaitu proses yang berlangsung pada volume tetap, misalnya pemanasan gas
pada volume tetap.
c. Proses isotermik, yaitu proses yang berlangsung pada suhu tetap, misalnya ekspansi
(pengembangan) gas pada suhu tetap.
d. Proses adiabatik, yaitu proses yang berlangsung dengan keadaan tidak ada panas yang masuk
atau keluar dari sistem, misalnya ekspansi uap dalam silinder mesin uap.
11. Penerapan Hukum I Termodinamika terdapat pada siklus Carnot yang memiliki nilai efisiensi
sebesar
W  T 
η = x 100 % atau η =1 − 2  x100%
Q  T1 
12. Hukum II Termodinamika dinyatakan dalam beberapa rumusan berikut.
a. Efisiensi maksimum mesin Carnot
Mesin Carnot merupakan mesin ideal, yang efisiensinya paling maksimum dibandingkan
mesin-mesin lain. Efisiensi mesin ini akan mencapai 100 % pada saat suhu reservoir dingin
mencapai 0 K atau – 273 °C.
b. Perumusan Kelvin-Planck

12
Kelvin-Planck menyatakan bahwa tidak mungkin membuat mesin yang bekerja dalam suatu
siklus, yang dapat menerima kalor dari suatu reservoir dan mengubah kalor tersebut
seluruhnya menjadi kerja atau usaha.
c. Perumusan Clausius
Secara kualitatif, Clausius menyatakan bahwa tidak mungkin membuat mesin yang bekerja
dalam suatu siklus, yang mengambil kalor dari reservoir yang mempunyai suhu rendah dan
memberikannya pada reservoir yang mempunyai suhu tinggi tanpa memerlukan usaha dari
luar.
13. Nilai efisiensi yang dimiliki mesin pendingin, dapat dirumuskan dalam persamaan berikut.
W T 
η= x100% = 2 − 1 x100%
Q1  T1 

Soal Esai
1. Sebuah tabung dengan pengisap yang dapat bergerak bebas, memiliki tekanan 2 atm dan volume
4 liter. Jika tabung memiliki temperatur yang tetap, tentukan volumenya jika tekanannya
dijadikan 1 atm!
2. Pada suhu 27 °C, gas oksigen memiliki volume 10 liter dan bertekanan 1 atm. Jika kemudian
tekanannya dijadikan 2 atm dan volumenya dijadikan 8 liter, tentukan suhunya kini!
3. Tentukan volume 20 gram gas oksigen (Mr = 16 kg/kmol) pada suhu 27 °C dan tekanan 1 atm!
4. Sebuah tangki dengan volume 0,5 m3 mengandung 4 mol gas helium pada suhu 27 °C. Tentukan
energi kinetik total gas tersebut!
5. Berapa berat molekul gas yang memiliki volume 600 liter pada suhu 20 °C dan tekanan 4 atm jika
diketahui massa gas tersebut adalah 4 kg?
6. Dalam suatu proses, gas menerima kalor sebesar 3000 kalori dan melakukan kerja sebesar 6000
joule. Tentukan perubahan energi dalamnya!
7. Hitunglah perubahan energi dalam gas yang melepaskan kalor 400 kalori dan melakukan kerja
2000 joule!
8. Tentukan usaha total suatu gas yang mengalami siklus sebagai berikut!

9. Mesin Carnot bekerja pada reservoir suhu rendah 300 K dan suhu tinggi 600 K. Jika mesin
menyerap kalor 800 joule, tentukan berapa besar kerja yang dapat dihasilkan mesin tersebut!
10. Sebuah ruangan hendak didinginkan dengan AC berkekuatan 6 PK (1 PK = 1 HP = 745 watt).
Jika suhu luar ruangan adalah 27 °C dan suhu dalam ruangan didinginkan hingga suhu 12 °C,
tentukan kalor yang dikeluarkan dari ruangan itu tiap jamnya!

Kunci Jawaban:
1. (8 liter)
3. (30,85 liter)
5. (40 kg/kmol)
7. (- 3.672 joule)
9. (400 joule)

Kata Kunci:
gas ideal, Teori Kinetik Gas, Hukum Termodinamika, tekanan gas, Hukum Boyle-Gay Lussac, energi
dalam, kalor, kerja, siklus Carnot, nilai efisiensi

13