Anda di halaman 1dari 36

BISNIS DAN ENTREPRENEURSHIP RASULULLAH SAW

BISNIS DAN ENTREPRENEURSHIP RASULULLAH SAW

Salah satu aspek kehidupan Muhammad SAW yang kurang mendapat perhatian serius adalah
kepemimpinan beliau di bidang bisnis dan entrepreneurship. Padahal sebagian besar
kehidupannya sebelum menjadi utusan Allah SWT adalah sebagai seorang pengusaha.
Muhammad SAW telah memulai merintis karir dagangnya ketika berumur 12 tahun dan memulai
usahanya sendiri ketika berumur 17 tahun. Pekerjaan ini terus dilakukan sampai menjelang
beliau menerima wahyu. Dengan demikian, Muhammad SAW telah berprofesi sebagai pedagang
selama lebih kurang 28 tahun ketika beliau menerima wahyu. Angka ini lebih lama dari masa
kerasulan beliau yang berlangsung selama lebih kurang 23 tahun.

Rasulullah dilahirkan dalam keadaan yatim. Dalam usia enam tahun ibunya meninggal dalam
perjalanan kembali dari Yastrib setelah menziarahi kuburan ayahnya. Usia 6 tahun beliau sudah
yatim-piatu. Sampai usia 8 tahun 2 bulan dibina dan dididik kakeknya Abdul Muthalib yang
cukup berada.

Di usia ini kakeknya wafat, setelah itu ia dalam perlindungan pamannya AbuThalib yang tidak
semapan kakeknya. Mulai saat itulah pemuda kecil Muhammad berusaha meringankan beban
pamannya. Ia menggembalakan kambing dengan naik turun bukit di sekitar Makkah.

Saat berusia 12 tahun Muhammad SAW mulai menyertai pamannya dalam perjalanan dagang
pertama kali ke Syria. Abu Thalib sendiri tidak berniat hendak mengajaknya karena medan
perjalanan yang sangat sulit melewati padang pasir yang luas. Namun karena Muhammad
berkeras untuk ikut, ia terpaksa mengabulkan permintaan tersebut. Sejak itulah Muhammad
SAW melakukan semacam kerja magang (internship) yang berguna kelak ketika beliau
mengelola bisnisnya sendiri.

Jarak antara Makkah dan Syria ribuan kilometer. Bayangkan umur 12 tahun tidak naik pesawat
atau mobil. Anak-anak sekarang umur 12 tahun sedang senang-senangya bermain. Masa kecil
kita bukan masa teruji, bukan masa tertempa. Semua dimudahkan oleh orang tua kita.

Sepulang dari perjalanan dagang pertamanya, beliau begitu sering berbisnis bahkan sampai ke
seluruh Jazirah Arab sudah terkenal seorang professional muda bernama Muhammad.
Pengalaman Muhammad dalam berdagang ke luar kota Makkah semakin bertambah seiring
dengan usianya yang beranjak remaja. Menurut beberapa sumber, ketika berumur 16 tahun, ia
ikut pamannya, Zubair, adik Abu Thalib dalam perjalanan kafilah dagang ke Yaman.

Agaknya, profesi sebagai pedagang ini telah dimulai lebih awal daripada yang dikenal umum
yaitu dengan modal Khadijah. Ketika merintis karirnya tersebut, beliau memulai dengan
berdagang kecil-kecilan di kota Makkah. Beliau membeli barang-barang dari satu pasar
kemudian menjualnya kepada orang lain. Sampai kemudian beliau menerima modal dari para
investor dan juga para janda kaya dan anak-anak yatim yang tidak sanggup menjalankan sendiri
dana mereka, dan menyambut baik seorang yang jujur untuk menjalankan bisinis dengan
kerjasama mudharabah.
Dengan demikian, terbukalah kesempatan yang luas bagi Muhammad SAW untuk memasuki
dunia bisnis dengan cara menjalankan modal orang lain, baik dengan upah (fee based) maupun
dengan sistem bagi hasil (profit sharing).

Dalam melaksanakan bisnisnya tersebut, beliau memperkaya diri dengan kejujuran, keteguhan
memegang janji, dan sifat-sifat mulia lainnya. Akibatnya, penduduk Makkah mengenal
Muhammad SAW sebagai seorang yang terpercaya. Para pemilik modal di Makkah pada waktu
itu semakin banyak yang membuka peluang kemitraan dengan beliau. Salah seorang pemilik
modal tersebut adalah Khadijah yang menawarkan kemitraan berdasarkan mudharabah (bagi
hasil). Dalam hal ini Khadijah bertindak sebagai pemilik modal (shahib al-mal), sementara
Muhammad SAW pengelola (mudharib).

Di usia 25 tahun, beliau menikah dengan seorang milyuner bernama Khadijah. Ternyata dalam
kajian tentang Rasulullah, ada hal-hal yang kurang kita bahas. Kebanyakan yang kita bahas
adalah ketika berumur 25 tahun beliau menikahi janda kaya raya. Hal ini terkesan negatif.
Padahal ketika beliau menikahi Siti Khadijah maharnya mencapai 20 ekor unta yang sekarang
jika ditaksir harganya kurang lebih setengah milyar rupiah. Subhanallah. .. Mana ada pengusaha
muda di Indonesia yang mau memberi mahar begitu besar kepada istrinya. Biasanya yang
menjadi trend sebagai mahar adalah seperangkat alat shalat. Padahal setelah itu kadang-kadang
shalatnya juga jarang-jarang. .

Lebih kurang 28 tahun lamanya Muhammad SAW menjalankan usaha dagang. Wilayah
perdagangannya meliputi Yaman, Syiria, Basrah, Iraq, Jordania, Bahrain dan kota-kota
perdagangan di Jazirah Arab lainnya. Pasar-pasar yang beliau singgahi merupakan kota-kota
utama di Jazirah Arab pada waktu itu. Pasar-pasar itu merupakan pasar regional bahkan
internasional karena tidak hanya didatangi oleh penduduk setempat tetapi juga para pedagang
bangsa-bangsa lain.

Hal lainnya yang amat jarang kita bahas adalah bagaimana Muhammad menjadi profesional.
Umat Islam sekarang tertinggal karena kita tidak mengerti bagaimana menjadi profesional.
Mengurus masjid kecil, wc bahkan sandal saja repot sekali.

Nabi Muhammad SAW mengetahui bagaiman agar perdagangan bisa berhasil. Beliau juga tahu
tentang hal-hal yang dapat merusak atau menghambat bisnis perdagangan atau merusak sistem
pasar seperti kecurangan, menyembunyikan cacat barang, riba, gharar dan sebagainya. Hal ini
tentu tidak dapat dijelaskan oleh orang yang tidak terjun langsung secara praktis dan merasakan
dinamika perdagangan dan karakteristik para pelaku bisnis pada waktu itu.

Perjalanan karir Muhammad SAW di bidang perdagangan dapat dirumuskan sebagaimana


berikut. Muhammad SAW telah mengenal perdagangan di usia 12 tahun atau diistilahkan dengan
magang (internship) . Hal ini terus berlangsung sampai usia 17 tahun ketika beliau telah mulai
membuka usaha sendiri. Dengan begitu pada usia ini beliau sudah menjadi seorang business
manager. Dalam perkembangan selanjutnya, ketika para pemilik modal di Makkah
mempercayakan pengelolaan perdagangan mereka kepada Muhammad SAW beliau menjadi
seorang intvestment manager.
Ketika beliau menikah dengan Khadijah dan terus mengelola perdagangannya, maka status
beliau naik menjadi business owner. Ketika usia beliau menginjak pertengahan 30-an, beliau
menjadi seorang investor dan mulai memiliki banyak waktu untuk memikirkan kondisi
masyarakat. Pada saat ini beliau sudah mencapai apa yang disitilahkan sebagai kebebasan
finansial (financial freedom) oleh Robert T. Kiyosaki.

Kemudian beliau sering menyendiri (uzlah) ke gua Hira'. Hal ini terus beliau lakukan sampai
kemudian mendapat wahyu pertama. Sejak itu beliau memuali periode baru dalam hidupnya
sebagai seorang rasul.

Dari berbagai sumber

Wallahu ta'ala a'lam bi al-shawab

Dalton Ngangi 1ka21

Rasulullah SAW sangat mencintai umatnya

• Maret 18, 2009 – Rabu, Maret 18, 2009


• Ditulis dalam Renungan
• Bertanda Muhammad SAW, Rasulullah SAW sangat mencintai umatnya

Nabi Muhammad saw


Sumber : http://desy6559.blogspot.com

Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW


Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT
melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur,
burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.

Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, “Wahai umatku, kita semua
ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.
Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku,
bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-
sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu
persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan
nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-
dalam. “Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua,”
keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin
kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan
goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana
pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih
tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang
berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
“Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.

“Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup
pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada
Fatimah.

“Siapakah itu wahai anakku?”


“Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah
bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan


pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.

Fatimah menahan ledakkan tangisnya.


Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak
menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia
menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” tanya Rasululllah dengan suara yang amat
lemah.

“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar
menanti kedatanganmu,” kata Jibril.
Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan
dan tanda tanya.

“Engkau tidak senang mendengar kabar ini?” tanya Jibril lagi.

“Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?”

“Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata
Jibril meyakinkan.

Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

“Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini.” Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah
mengaduh.

Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya
menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.

“Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada
Malaikat pengantar wahyu itu.

“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril sambil terus
berpaling.

Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.

“Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada
umatku,” pinta Rasul pada Allah.

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar
seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.

“Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-
orang lemah di antaramu.”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan
tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai
kebiruan.

“Ummatii, ummatii, ummatiii?” Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran
kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad
wa baarik wa salim ‘alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah
dan RasulNya. Seperti Allah dan Rasul mencintai kita semua.

Jejak singkat dan prestasi Rasulullah


Diposkan oleh Arsyad Al Amin on Rabu, 18 Maret 2009

Kembali saya mengingatkan diri saya untuk mengenang jejak prestasi Rasululllah Muhammad.
Namun tidak semua jejak itu dituliskan, gak cukup lah...dan tentu tidak sebanding dengan
bejibunnya prestasi sang Al Amin ini.

Kita hanya akan mencari ikon-ikon 'tonggak' perjalanan hidup yang membuat beliaud dijadikan
model pemimpin umat (bangsa) bukan saja oleh umat Islam, tapi juga non Muslim. Dan ini
menunjukkan bahwa beliau memang bukan tokoh sembarang tokoh. Sepanjang hidup Rasulullah
SAW yang diberi usia sepanjang 63 tahun oleh Allah SWT, berbagai torehan hidup menjadi
teladan ummat manusia hingga kini. 63 tahun sebenaranya skala waktu yang relatif pendek
dibanding usia nabi-nabi terdahulu, dan usia beliau sampai wafat tidak jauh berbeda dengan
manusia di era sekarang, bahkan usia harapan hidup di berbagai negara sudah melampaui 63
tahun. Mari kita kenang kembali masa-masa Rasulullah, sejak usia anak-anak sampai dewasa dan
kita bandingkan dengan era kita sekarang.

Rasulullah saat lahir sudah menjadi anak yatim, ayahnya meninggal semasa beliau dalam
kandungan. Ibunda pun meninggal saat beliau belum genap 5 tahun (balita). Beliau diasuh oleh
kakek (Abdul Mutholib) kemudian pamannya (Abu Thalib). Untuk membantu penghidupan
paman, beliau melakukan kegiatan menjadi penggembala kambing hingga ikut berdagang. Di
usia 7 tahun beliau telah ikut kafilah dagang hingga ke negara Syam (Palestina sekarang), dan
kegiatan berdagang ini ditekuni hingga waktu yang cukup lama.

Kalau kita lihat anak-anak kita sekarang. Usia 7 tahun sebagian besar mereka masih bermanja-
manja kepada orang tua. Sementara Muhammad kecil sudah ikut bersusah-susah dan bekerja
menggembala ternak dan berdagang. Sebenarnya ada sebagian anak bangsa kita terutama di
kota-kota besar, kita kita temui anak-anak di bawah 10 tahun sudah bekerja menjadi pengamen,
pedagang asongan, loper koran dsb, itu adalah suasana yang hampir sama dengan saat itu.
Namun, Muhammad sudah berbeda level. Muhammad bukan kelas pedagang asongan atau kaki
lima. Muhammad adalah pedagang 'besar' yang levelnya sudah antar negara. Jika bahasa
sekarang, orang mungkin menyebutnya sudah orientasi ekspor/impor. Muhammad kanak-kanak
melakukan perjalanan keluar negeri untuk bekerja, berdagang, berwirausaha.

Kegiatan Rasulullah sebagai importir/eksportir terus berlanjut hingga di usia remaja beliau
mampu menjadi pemimpin kafilah perdagangan (misi perdagangan antar negara), sehingga kalo
saat itu sudah ada asosiasi pengusaha maka Muhammad remaja, selain menjadi direktur atau
manajer perusahaan dagang, juga menjadi ketua asosiasi pedagang..ya mungkin KADIN.
Ya..ethos wirausaha rasulullah dilatih sejak masih anak-anak, sehingga ketika besar sudah sangat
matang.

Jika kita lihat saat ini, ethos wirausaha kita termasuk sangat rendah. Hal ini menurut saya banyak
dipengaruhi kehidupan saat anak-anak dan remajanya yang sibuk dengan urusan hura-hura,
entertainment dan budaya hedon. Jangankan menemukan anak remaja berprestasi sebagai
direktur atau manajer perusahaan, yang belajar berusaha saja akan jarang? memang ada
beberapa daerah atau etnis yang ethos usahanya telah dibangun sejak kecil, seperti etnis minang
dan china, tapi berapa persen utnuk seluruhnya?

Muhammad menikah di usia 25 tahun. Usia ideal untuk pemuda, meski istrinya Khadijah berusia
40 tahun saat itu, dan sudah janda pula. Bagi sebagian orang, mungkin dianggap Muhammad
dibeli oleh Khadijah karena sebelumnya memang pemuda Muhammad bekerja pada Khadijah,
dan khadijah adalah pemilik usaha dagang terkemuka di Makkah. tapi jangan salah sangka dulu,
bahwa saat menikah, Muhammad bukan tanpa modal, lihat saja mas kawinnya...beliau
memberikan mas kawin berupa 25 ekor unta betina muda. Nilai sejumlah itu adalah cukup besar.
Ada yang menghitung-hitung nilainya...dan jika saja nilai setiap ekor unta berharga Rp. 25 juta,
maka mas kawin Muhammad senilai 0,5 milyar. Belum kalau ditrasfer ke dalam nilai guna,
dimana onta dalah alat trasportasi utama di jazirah Arabia. Jika unta dinilai sebagai alat transport
maka seokor unta senilai sebuah mobil, maka mas kawin Muhammad senilai 25 mobil. Kalau
anak muda sekarang?, masih adakah pemuda berusia 25 tahun, mengawini wanita dengan mas
kawin 25 kendaraan, ...ada tapi dari asset orang tua. Kalo Muhammad hasil kringat sendiri dan
tentu setelah menikahi khadijah, tidak habis jadi masih memiliki properti lain kan?
Selain pedagang Muhammad adalah tercatat sebagai negosiator ulung, atau
sekarang mungkin dikenal sebagai diplomat. tanah arab yang dikenal dengan
ketandusannya secara sosiologis melahirkan karakter yang keras, sehingga sering
terjadi konflik antar suku, antar kafilah dan antar keluarga. Beliau tercatat menjadi
berbagai perselisihan, dan dalam catatan sejarah kenabiannya, beliau mampu
mendamaikan perselisihan antar suku ketika pemugaran Ka’bah dan penempatan
kembali Hajar Aswad. Kalau kita tengok sekarang di Departemen Luar Negeri kita
atau panggung politiknya, adakah muda berusia 30-an yang dipercaya dan mampu
berprestasi se-cemerlang Muhammad menjadi diplomat atau tokoh politik yang
memiliki peran demikiansignifikan?. Mampu mecegah peperangan dan menciptakan
perdamaian ke seluruh negeri. Atas prestasi-prestasi ketika berdagang dengan
jujur, dan dipercaya enjadi penengah konflik inilah kemudian Muhammad mendapat
gelar Al Amin...orang yang dapat dipercaya.

Ya akhirnya sejarah memang mencatat, bahwa Muhammad telah mencatatkan


prestasi-prestasi cemerlang dan gemilang..jauh sebelum beliau diangkat sebagai
Rasul Allah. Di usia kanak-kanak, beliau merintis karir sebagai pedagang antar
negara. Muhammad telah sukses sebagai manajer di usia remaja hingga diplomat.
Sudah selayaknya kita sebagai umat bangga akan prestasi yang beliau raih.
Prestasi-prestasi yang hanya dapat diraih oleh tokoh jenius dan memiliki keuletan
tinggi.
di sarikan dari berbagai sumber

Label: renungan
Resensi Buku "Rasulullah, Way of Managing People"

Resensi
Guru Untuk Peradaban Dunia
Penulis Haryanto

Rasulullah adalah pemimpin ulung dan manajer terhebat sepanjang


sejarah kemanusiaan. Sisi kehidupannya sarat dengan hikmah yang dapat
digali dari berbagai dimensi kehidupan.

Beliau bukan hanya seorang rasul, tapi juga seorang leader, manajer
yang paling mumpuni, dan paling super di dunia ini. Khususnya dalam
mengelola sumber daya manusia untuk mencapai visi dan misi kerasulan
beliau, yaitu menjadi rahmat bagi semesta alam menuju kebahagiaan
dunia dan akhirat.

Pengertian manajemen yang sesungguhnya, unsur-unsur manajemen yang


dapat dikembangkan, prinsip-prinsip manajemen yang dikembangkan oleh
Rasulullah dan perbedaan antara manajer dan leader yang dikelola oleh
Rasulullah saat itu.

Beliau adalah sosok yang digambarkan sebagai tokoh yang memiliki


manajer handal dan leadership yang kuat dalam arti untuk kemaslahatan
kehidupan umat serta keseimbangan sistem semesta alam.

Seorang guru dapat mencontoh Rasulullah dalam mengelola


murid-muridnya. Karena manajemen Rasulullah terbukti menghasilkan
murid-murid yang luar biasa semisal Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.

Seorang Jendral dapat mencontoh manajeman Rasulullah dalam melahirkan


prajurit-prajurit yang hebat semacam Khalid bin Walid, panglima perang
yang tiada tanding di medan perang sedangkan Usamah adalah panglima
perang termuda berusia belasan tahun.

Seorang ilmuwan juga dapat mencontoh Rasulullah dalam melahirkan


ilmuwan dan para pemikir ulung, semisal Umar yang terkenal dengan
ijtihad-ijtihadnya yang berilyan. Abu Hurairah dengan kekuatan
hafalannya dalam mengumpulkan hadits, dan Abdullah bin Umar, Abdullah
bin Mas'ud dan Ibnu Abbas, Ali dan Aisyah yang merupakan ahli-ahli
hukum kenamaan yang dimiliki Islam.

Manajemen Rasulullah memiliki keunikan dan menarik. Karena tugas


beliau sebagai nabi dan rasul yang tidak dapat dipisahkan dengan
tugas-tugas dakwah. Hal ini yang menjadikan gambaran bahwa Rasulullah
memiliki agenda besar dalam dakwahnya. Bukan dilakukan secara
kebetulan, semuanya dengan perencanaan.
SDM Rasulullah juga dapat dipetakan berdasarkan potensi dan
kompetensinya. Ada yang potensinya tinggi namun kompetensinya randah.
Atau kompetensinya tinggi tapi potensinya rendah. Atau yang paling
parah, potensi dan kompetensinya sama-sama rendah namun ternyata
Rasulullah dapat mengelola SDM tersebut sehingga menghasilkan yang
terbaik.

Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana prestasi dan kinerja


Rasulullah dalam mengelola proyek-proyek besarnya. Di mulai dari
proyek perbaikan umat manusia, proyek rekrutmen kader, proyek
pembinaan keluarga, dan proyek pembinaan kader yang dikaitkan dengan
teori pengembangan karir pegawai.

Ilmuwan AS, Michael H Hart mengakui prestasi Rasulullah sebagai tokoh


nomor wahid dunia. Beliau tidak saja berhasil mengembangkan Islam,
namun juga membangun peradabannya hingga jauh melampaui peradaban
Persia dan Romawi.

Cara Rasulullah mengelola SDM yang unik dan menarik membuat penulis
ingin mengkorelasikan dengan teori-teori SDM sehingga dapat dijadikan
acuan para HRD untuk dapat mengelola karyawan dan dapat menjadi
sebuah konstribusi yang besar dalam membangun SDM muslim yang
berkualitas menuju umat yang adil, makmur, dan sejahtera. Rena
Anggraini/Erlan.

Resensi ini telah dimuat di Gozian Edisi Keenam-Vol.01


Maret 2009/Rabiul Awal-Rabiul Akhir 1430

Judul Buku: Rasulullah, Way of Managing People


Penulis: Haryanto
Penerbit: Khalifa (Pustaka Al-Kautsar Group)
Cetakan Kedua
Tebal : 292 halaman

Diposting oleh DorZie pada 23:07

Label: Manajemen

0 komentar:

Post a Comment
Karena beliau tidak mampu baca tulis, beliau mengangkat beberapa orang sahabat
sebagai juri tulis. Rasulullah tidak dapat membaca, sehingga ketika Al Quran turun
ia benar-benar dapat ditampilkan sebagai mukjizat. Mukjizat yang menunjukkan
Muhammad benar-benar Nabi yang diutus Allah SWT. Dalam penalaran awam, tidak
mungkin seorang yang buta huruf mampu menghasilkan karya tulis yang sangat
indah. Pasti karya itu Sang Maha Pencipta.

Rasulullah seorang buta huruf, sebagian besar kami tidak peduli status itu. Namun
jika pernyataan itu dicerna lebih dalam, muncul pertanyaan besar atau malah
beban besar. Aku pasti malu jika menyatakan ayahku buta huruf, bahkan aku rela
berbohong untuk menyatakan ayahku tidak buta huruf. Namun sosok uswatun
hasanah, diidolakan milyaran orang, ditunggu syafaatnya di Hari Akhir ternyata
person yang buta huruf. Apakah kita harus malu? Apa yang harus kita jawab saat
seseorang menanyakan konfirmasi kepada kita ”Lho,nabimu buta huruf tho?” Apa
jawaban kita? Atau perlukah kita menutupi status buta huruf tersebut?

Kita telaah kembali jejak-jejak sang idola. Kita cari ikon-ikon yang dapat kita jadikan
pembelaan atau akan semakin menunjukkan bahwa sang uswatun hasanah
memang bukan tokoh sembarang tokoh. Rasulullah SAW diberi usia sepanjang 63
tahun oleh Allah SWT. Sebuah skala waktu yang relatif tidak jauh berbeda dengan
manusia di era sekarang. Kita kenang kembali masa-masa usia Rasulullah dan kita
bandingkan dengan era kita sekarang.

Muhammad adalah anak yatim, ayahnya meninggal semasa beliau dalam


kandungan. Ibunda pun meninggal saat beliau balita. Beliau diasuh oleh kakek
kemudian pamannya. Untuk membantu penghidupan paman, beliau menggembala
kambing hingga berdagang. Di usia 7 tahun beliau telah ikut kafilah dagang hingga
ke negara Syam. Kegiatan berdagang ini tetap ditekuni hingga waktu yang lama.
Kita lihat anak-anak kita yang berusia 7 tahun, sebagian besar mereka masih
bermanja-manja kepada orang tua. Merengek jika minta sesuatu. Sementara
Muhammad sudah berjerih payah bekerja berdagang. Kalaupun di sekitar kita
terdapat anak-anak yang sudah berdagang, Muhammad sudah berbeda level.
Muhammad bukan pedagang asongan atau kaki lima. Muhammad adalah pedagang
antar negara, jika dalam bahasa kita sekarang, Muhammad kanak-kanak sudah
merintis karir sebagai eksportir/importir. Muhammad kanak-kanak bepergian keluar
negeri untuk bekerja, berdagang, berwirausaha. Sementara kanak-kanak kita di luar
negeri masih berarti sekedar hiburan, dolan-dolan.

Karir Muhammad sebagai importir/eksportir terus berkembang hingga di usia


remaja beliau mampu menjadi pemimpin kafilah perdagangan. Dalam bahasa kita
sekarang, Muhammad remaja telah menjadi direktur atau manajer perusahaan
dagang. Kita tinjau sekarang, berapa banyak remaja kita telah berprestasi sebagai
direktur atau manajer perusahaan?

Ketika Muhammad menikah di usia 25 tahun, beliau memberikan mas kawin 25


ekor unta betina muda. AA Gym memberikan ilustrasi jika setiap ekor unta berharga
Rp. 25juta, maka mas kawin Muhammad senilai 0,5 milyar. Kita coba ilustrasi lain,
jika unta dinilai sebagai alat transport maka seokor unta senilai sebuah mobil. Jika
sebuah mobil berharga Rp. 100juta, maka mas kawin Muhammad senilai
Rp.2,5milyar. Dan Muhammad pasti masih punya unta-unta lain atau mobil-mobil
lain. Pada ummat beliau sekarang, berapa banyak seorang berusia 25 tahun dan
memiliki properti bernilai milyaran?

Muhammad pun mencatat prestasi sebagai diplomat ulung. Beliau mampu


mendamaikan perselisihan antar suku ketika pemugaran Ka’bah dan penempatan
kembali Hajar Aswad. Muhammad mampu mencegah peperangan antar suku,
ketika beliau berusia 30-an. Kembali kita tengok sekitar kita, adakah diplomat muda
berusia 30-an yang mampu berprestasi se-cemerlang Muhammad. Mecegah
peperangan dan menciptakan perdamaian.

Muhammad telah mencatatkan prestasi-prestasi cemerlang sebelum diangkat


sebagai Rasulullah. Di usia kanak-kanak, beliau merintis karir sebagai pedagang
antar negara. Muhammad telah sukses sebagai manajer di usia remaja hingga
diplomat. Sudah selayaknya kita sebagai umat bangga akan prestasi yang beliau
raih. Prestasi-prestasi yang hanya dapat diraih oleh tokoh jenius dan memiliki
keuletan tinggi. Lantas jika kembali datang sesorang meminta konfirmasi ”Lho,
nabimu buta huruf tho?”. Kita menyatakan dengan bangga ”Muhammad boleh saja
seorang ummi (buta huruf), tapi beliau adalah seorang super jenius”.

Menghargai Kebaikan

Alih-alih Rasul menghina orang, sekelas makanan pun tak pernah menjadi sasaran hinaan beliau.
Semua yang keluar dari mulut Rasul adalah bersih, penuh dengan samudera hikmah, tidak ada
cacian sama sekali. Diriwayatkan:
َ
ُ َ ‫ه ت ََرك‬
‫ه‬ ُ ‫ه‬ ِ َ‫ن ك‬
َ ‫ر‬ ْ ِ ‫وإ‬ ُ َ ‫هاهُ أك َل‬
َ ‫ه‬ ْ ‫نا‬
َ َ ‫شت‬ ّ ‫ق‬
ِ ِ‫ط إ‬ َ ‫ما‬ َ َ‫ي ط‬
ً ‫عا‬ ّ ِ ‫ب الن ّب‬
َ ‫عا‬
َ ‫ما‬
َ
“Nabi sama sekali tidak pernah menghina satu makanan. Bila beliau suka beliau makan, bila
tidak beliau tinggalkan (tidak memakannya).”

Ketika Rasul masuk ke salah satu rumah istrinya, beliau bertanya : “Apakah ada makanan?”

“Oh, ada ya Rasulullah, roti gandum

”Apa ada kuanya?”.

“Tidak ada.”

“Apa yang ada?”

“Hanya cukak.”
Rasul berkata, “Kua yang paling nikmat adalah cukak.”

Memang Islam tidak merestui penghinaan kepada siapa saja. Islam mengajarkan untuk
menghargai orang lain. Islam juga memerintahkan untuk melihat kebaikan bukan pada siapa
dirinya di masa lalu.

ُ َ ‫مل‬
‫ه )حديث‬ َ ‫ع‬
ْ َ‫ى ي‬
ّ ‫حت‬
َ ‫ت‬
ْ ‫م‬ ْ َ‫ه ل‬
ُ َ‫م ي‬ ُ ْ ‫من‬
ِ ‫ب‬ َ ‫ب‬
َ ‫قدْ َتا‬ َ َ ‫عي َّر أ‬
ٍ ْ ‫خاهُ ب ِذَن‬ َ ‫ن‬
ْ ‫م‬
َ )
“Barangsiapa menjelek-jelekkan saudaranya perbuatan dosa yang ia sudah taubat darinya,
tidaklah ia mati sampai ia melakukan dosa tersebut.”

Seperti terlampir dalam altar sejarah manusia agung yaitu Sayyidina Hasan ra. di mana ia pernah
berjalan melewati sekelompok kaum dhu`afa yang sedang makan. Orang miskin tersebut sembari
berbasa-basi mewarkan makan kepada Hasan. Hasan turun dari kendaraannya, makan bersama
mereka. Kaum dhu`afa kaget tidak kepalang. Pikir mereka, “Orang yang sangat mulia sudi benar
duduk bersama kita.”

Akhirnya, Hasan mengundang mereka untuk datang ke rumahnya keesokan harinya. Esok
harinya sudah dipersiapkan makanan yang lezat sebagai bentuk penghargaan Hasan kepada
kaum dhu`afa yang telah menghargai Hasan. Beliau ingin membalas kebaikan mereka atas
dirinya.

Pernah Siti Aisyah duduk bersama Nabi kemudian lewat seorang wanita yang postur tubuhnya
pendek. Begitu datang, Siti Aisyah mencibir postur tubuh si wanita tadi, “Perempuan ini
pendeknya segini, wahai Rasul.” Nabi tidak suka pernyataan Aisyah dan memberi tanggapan
serius, “Bekas omonganmu jika ditunjukkan hakikatnya dengan kamu ludahkan ke lautan, maka
lautan tersebut akan mengeluarkan bau anyir.”

Perhatikan tanggapan serius Nabi tersebut. Celakanya, cacian sekarang dijadikan “madzhab”.
Namanya “madzhab” mencaci. Yang dicaci adalah para sahabat seperti Abu Bakar, Umar,
Utsman, Ali; yang dicaci adalah kaum shalihin, Imam Ghazali, Syekh Abdulkadir Al Jailani.
Makanan saja tidak boleh dicaci apalagi Sayidina abu Bakar dan sahabat lainnya. Ali Akbar bin
Agil

ADAKAH YANG LEBIH BAIK DARI RASULULLAH???


Posted on 21 September 2009 by ibramuko2

Allah telah menyampaikan informasi yang benar dan tegas di dalam Alqur’an, bahwa tauladan
yang paling baik ada pada diri Muhammad saw. Dialah manusia yang menerima kitab bernama
Alqur’an. Dan selain Rasulullah saw tidak bisa dijadikan tauladan yang baik, kecuali para Nabi
dan Rasul sebelum Nabi Muhammad..

Kenapa demikian? Karena Rasulullah telah teruji kepribadian dan Akhlaknya. Lantas, Allah
memilih beliau untuk menyampaikan misi kerasulan kepada umat manusia hingga akhir zaman.
Kedatangan Rasulullah saw sangat ditunggu-tunggu bagi orang yang mengharapkan Rahmat
Allah dan kedatangan hari kiamat.
QS. Al Ahzab (33) : 21.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.”

Keteladanan yang paling sempurna tentang apa yang diajarkan Allah ada pada keteladanan yang
telah dicontohkan Rasulullah. Sedangkan pada Nabi dan Rasul sebelum Muhammad juga
terdapat ketauladanan yang baik. Yaitu pada diri Ibrahim dan orang-orang bersama dengannya.

QS. Al Mumtahanah (60) : 4.

“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang
yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya
kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami
ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian
buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja. Kecuali perkataan Ibrahim
kepada bapaknya: “Sesungguhnya aku akan memohonkan ampunan bagi kamu dan aku
tiada dapat menolak sesuatupun dari kamu (siksaan) Allah.” (Ibrahim berkata): “Ya Tuhan
kami hanya kepada Engkaulah kami bertawakkal dan hanya kepada Engkaulah kami
bertaubat dan hanya kepada Engkaulah kami kembali.”

Jika kita bercermin dan mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw, tentu akan
memberikan inspirasi dan tuntunan yang paling jelas. Tuntunan utama adalah Alqur’an dan
penjabarannya ada pada diri dan prilaku beliau.

Sungguh luar biasa apa yang ada pada diri Rasulullah itu, sampai-sampai Allah yang menjamin
kebersihan dan kebenaran akhlaknya. Bagaimana akhlak Rasulullah itu?

Akhlak pribadi. Sangat sulit mencari bahkan tidak ada tandingannya akhlak beliau. Aisyah
pernah berkata : “Rasulullah itu bagaikan Alqur’an berjalan”. Apa yang diperintah Alqur’an,
itu yang dijalankan.

Sangat banyak teladan yang bisa dipraktekkan dari Rasulullah saw diantaranya : jujur, adil,
dipercaya, rendah diri, sulit marah, mudah memaafkan, selalu mendahului orang lain, kasih
sayang, sangat perhatian dan seluruh perilaku kehidupan. Beliau telah menjalankan Alqur’an dan
bukan sekedar teori saja.

Sudahkan kita sebagai pengikut Muhammad menjalankan Alqur’an sebagaimana Rasulullah?


Jika belum, masihkah kita berharap umat ini menjadi teladan? Perlu kita ingat, bahwa
keberhasilan Rasulullah dalam mengajak orang-orang kafir masuk Islam karena akhlak beliau.

Perjuangan Rasullah pada saat memulai dakwah sangat berat. Beliau memulainya dengan single
fighter, berjuang sendirian. Namun dengan akhlak pribadinya telah menjadikan dakwah
berkembang dengan pesat. Bahkan hingga hari ini jumlah umat Islam lebih dari satu miliar yang
tersebar di seluruh penjuru dunia. Itulah keberhasilan Rasulullah, beliau tidak saja membaca
Alquran tetapi langsung mempraktekkannya.

Akhlah berkeluarga. Bagi orang-orang yang telah berkeluarga, maka Rasulullah teladan yang
terbaik. Beliau tidak pernah berkata kasar kepada isteri dan anaknya. Bahkan pembantunya
bernama Anas ra. telah mengabdi kepada beliau selama 10 tahun, mengaku tidak pernah
Rasulullah berkata kasar apalagi menghardik.

Beliau bertutur kata lembut dan suka mencium anak-anak. Dalam suatu riwayat diceritakan
beliau mencium cucunya Hasan ibnu Ali. Seorang lelaki bernama Aqra’ Ibnu Habis berada
bersama beliau kemudian berkata, “saya punya anak sepuluh, tapi saya tidak pernah mencium
satu pun dari mereka.” Rasulullah memandang Aqra’, dan kemudian mengatakan, “Orang yang
tidak mengasihi, tidak akan dikasihi.”

Sungguh banyak keteladan yang telah diberikan Rasulullah dalam kehidupan berumah tangga.

Akhlak bermasyarakat. Dalam bermasyarakat Rasulullah bisa merangkul semua elemen


masyarakat. Bukan malah terjebak dan terkotak-kotak dalam golongan tertentu.

Beliau mencontohkan dimulai dari keluarga, kemudian ditularkan pada tetangga. Beliau
menghargai dan mengasihi tetangga tanpa membeda-bedakan secara ekonomi, sosial, politik,
agama dan ukuran lainnya.

Rasulullah berpesan kepada kita, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
hendaklah ia bersikap baik kepada tetangganya.” Banyak yang telah diteladankan Rasulullah
dalam rangka memuliakan tetangganya dalam bermasyarakat. Sampai-sampai Allah memuji
akhlah beliau.

QS. Al Qalam (68) 4.

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.”

Meskipun begitu, beliau tidak gila hormat dan tidak mau dipuji-puji para sahabat secara
berlebihan.

Akhlak berpolitik. Tujuan politik Rasulullah adalah menciptakan kesejahteraan masyarakat yang
adil dan makmur dalam ridha Allah. Beliau menjalankan politik bersih penuh dengan keadilan
dan kasih sayang. Sangat berbeda dengan berpolitik zaman modern ini, cara berpolitik untuk
berebut kekuasaan.

Suatu ketika sedang shalat Fajar berjamaah di Hudaibiyah. Tiba-tiba datang serombongan kaum
kafir menyerbu. Akhirnya mereka tertangkap oleh kaum Muslimin. Tapi Rasulullah
membebaskan mereka tanpa tebusan apa-apa.
Pada saat penaklukan kota Mekkah Rasulullah memberikan pengampunan kepada orang-orang
kafir Quraisy yang pernah menyakiti dan mengusir kaum Muslimin. Beliau adalah orang yang
mudah memaafkan.

Begitulah Rasulullah, orang yang sangat menghargai manusia lain dan kemanusiaan. Walaupun
berbeda politik, berbeda suku, berbeda bangsa bahkan berbeda agama. Sejak awal Islam
disyi’arkan oleh Rasulullah dengan damai dan akhlak yang mulia.

Ternyata Rasulullah menjadi tauladan pada segala bidang dan sisi kehidupan. Tidak ada satupun
manusia yang bisa menyamainya. Maka pantas beliau dijadikan sebagai teladan yang baik yang
pernah hadir di muka bumi. Semoga kita senantiasa mentauladani akhlak Rasulullah dalam
bersikap dan bertingkah laku dalam menyampaikan dakwah dan menjalankan syariat
Allah………….. Amin. Wallahu’alam.
Siapakah Mereka yang Meneladani Rasulullah? Posted by: abusafar on Tuesday,
November 22, 2005 - 11:39

Ustadz Muhammad Arifin Ilham

Hudzaifah.org - Hamba-hamba Allah yang dimuliakan oleh Allah SWT, insya Allah,
fiddunya wal akhirah. Perhatikanlah surat Al Ahzab ayat 21,

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu uswatun hasanah (suri teladan)
yang baik bagimu..." (QS. Al Ahzab: 21)

Subhanallah. Inilah makhluk yang Allah pilih untuk menjadi teladan bagi seluruh
makhluk. Khotamul anbiyyaa iwalmursaliin, penutup ajaran para rasul para anbiya.
Abdul musthofa, hai Nabi Muhammad SAW.

Siapa yang menjadikan beliau sebagai teladan? Lanjutkan surat Al Ahzab ayat 21
ini.

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu,
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat
dan dia banyak menyebut Allah." (QS. Al Ahzab: 21).

Yang pertama, yang menjadikan Rasulullah sebagai teladan adalah mereka yang
benar-benar mencari keridhoan Allah, mereka yang merindukan rahmat Allah. Maka
siapapun yang ingin diridhoi oleh Allah dalam hidupnya, ingin disayangi dan dicintai
oleh Allah, maka ikutilah Rasulullah SAW. Jadikan beliau sebagai teladan dalam
hidup.

Beliau lapar beliau makan, cara makan beliau kita contoh. Beliau minum, kita
contoh cara minum beliau. Beliau pun nikah, cara nikah beliau, cara hidup
berkeluarga beliau, cara sholat beliau (kita contoh). Subhanallah, segala aktivitas
beliau dipersiapkan oleh Allah untuk menjadi teladan bagi kita semua.

Sehingga Allah pun memuji beliau, "Sesungguhnya engkau (Muhammad) memiliki


budi pekerti yang sangat agung" (QS. Al Mulk: 4). Subhanallah.

Yang kedua, mereka yang menjadikan Rasulullah SAW sebagai suri teladan adalah
mereka yang benar-benar beriman kepada hari akhirat. Keimanannya kepada Allah,
keimanannya kepada hari akhirat, ia ingin selamat di dunia ini, dan ia ingin selamat
kelak di akhirat, karena itu ia mencontoh Rasulullah SAW.

Semakin kuat keimanannya kepada Allah dan hari akhirat, semakin mulia
akhlaqnya, otomatis. Tapi sebaliknya mereka yang tidak beriman kepada Allah,
tidak yakin ada hari akhirat, akhlaqnya akan buruk. Yang dia contoh bukan
Rasulullah SAW.

Kemudian, yang ketiga, siapa yang menjadikan Rasulullah SAW menjadi suri
teladan? Yaitu adalah hamba Allah yang sangat banyak dzikirnya kepada Allah SWT.
Sebagaimana Rasulullah SAW.

Aisyah RA berkata, "Sungguh Rasulullah SAW berdzikir dalam setiap kesempatan."

Maka siapapun yang merindukan keridhoan Allah, merindukan rahmat Allah,


beriman kepada hari akhirat, dan ingin bahagia dunia akhirat, maka hendaklah ia
terus-menerus berdzikir. Sebagaimana Rasulullah SAW berdzikir. Maka mereka
yang berdzikir, adalah mereka yang meneladani Rasulullah SAW. Sendiri atau
bersama, di manapun, kapan pun, bagaimana pun, yang pasti ia selalu berdzikir
kepada Allah.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhaduallaailaahailla anta astaghfiruka wa


atubuilaik. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. []Dalam sebuah
majelis, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa akan datang seorang calon penghuni
surga di tengah mereka. Hebatnya, orang tersebut kurang dikenal oleh para
sahabat. Ia bukan seorang tokoh atau public figure. Para sahabat merasa
penasaran, apa sebenarnya keistimewaan orang itu hingga Rasulullah SAW
menjulukinya sebagai calon penghuni surga. Salah seorang sahabat, Abdullah bin
Amr, berniat memantau dari dekat orang itu agar lebih jelas mengetahui apa
keistimewaannya.

Abdullah lalu meminta izin untuk menginap di rumah orang tersebut selama tiga
hari. Selama itu Abdullah mengawasi amal tuan rumah, gerak-geriknya, tutur
katanya, dan cara ibadahnya. Hampir-hampir ia tidak tidur karena takut kalau ada
amal tuan rumah yang tidak dapat disaksikan. Namun, Abdullah tidak melihat amal
yang istimewa. Amalannya biasa-biasa saja, tidak ada yang menonjol dibanding
dengan sahabat-sahabat lainnya.
Sebelum pulang, Abdullah pun bertanya langsung gerangan apakah amalan
istimewa tuan rumah sehingga ia dianggap sebagai calon penghuni surga.
Jawabnya, “Wahai sahabat, seperti yang kau lihat dalam kehidupan sehari-hariku.
Aku adalah seorang Muslim biasa dengan amalan biasa pula. Namun ada satu
kebiasaanku yang bisa kuberitahukan padamu. Setiap menjelang tidur, aku
berusaha membersihkan hatiku. Kumaafkan orang-orang yang menyakitiku dan
kubuang semua dengki, dendam, dan perasaaan buruk kepada semua saudaraku
sesama Muslim. Hingga aku tidur dengan tenang dan hati bersih serta ikhlas.
Barangkali itulah yang menyebabkan Rasul menyebutku sebagai calon penghuni
surga”.

Demikianlah, hanya orang-orang kreatif dan inovatiflah yang akan mendapatkan


keuntungan lebih banyak dalam hidup. Kreatif adalah menciptakan sesuatu dari
tidak ada menjadi ada, sedangkan inovatif menjadikan yang telah ada menjadi
semakin baik dan bermanfaat. Sahabat tadi termasuk orang yang kreatif sekaligus
inovatif dalam beramal. Betapa tidak, ia mampu inovatif dalam beramal.

Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk tidak menjadi pendengki. Dan


sahabat tadi “menginovasi” perintah itu sebelum ia terlelap dalam tidur. Ia
membersihkan hatinya dari kedengkian dan kebencian pada saudara-saudaranya,
hingga Rasulullah SAW “memvonis” ia sebagai calon penghuni surga.

Islam sangat menghargai perbuatan kreatif dan inovatif, bahkan menganjurkannya.


Rasulullah SAW menyebutkan bahwa orang yang kreatif dan inovatif dalam
kebaikan –hingga orang lain tergerak untuk melakukan kebaikan yang sama– akan
mendapatkan pahala sebanyak orang yang mengikuti kebaikan tersebut.
Diungkapkan, “Barangsiapa mempelopori suatu amal kebaikan, ia akan
mendapatkan pahalanya, ditambah pahala orang-orang yang ikut melaksanakan
kebaikan itu setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun” (HR Muslim,
Turmudzi, Ibn Majah, dan Ahmad). KEADILAN RASULULLAH

Tatkala Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam merasa ajalnya sudah dekat,
beliau mengumpulkan para sahabat. Kemudian, beliau menyampaikan pidatonya:
“Sahabat-sahabatku sekalian! Ajalku mungkin sudah dekat, dan aku ingin
menghadap Allah dalam keadaan suci bersih. Mungkin selama bergaul dengan Anda
sekalian, ada yang pernah aku pinjam uangnya atau barangnya dan belum aku
kembalikan atau belum aku bayar, sekarang ini juga aku minta ditagih. Mungkin
ada di antara kalian yang pernah aku sakiti, sekarang ini juga aku minta dihukum
qishos (hukuman balasan). Mungkin ada yang pernah aku singgung perasaannya,
sekarang ini juga aku minta maaf.”

Para sahabat hening, karena merasa tidak mungkin hal itu akan terjadi. Tapi, tiba-
tiba seorang sahabat mengangkat tangan dan melaporkan satu peristiwa yang
pernah menimpa dirinya.

“Ya Rasulullah! Saya pernah terkena tongkat komando Rasulullah S.A.W. pada saat
Perang Badar. Ketika Rasulullah S.A.W. mengayunkan tongkat komandonya, kudaku
menerjang ke depan dan aku terkena tongkat Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa
Sallam. Aku merasa sakit sekali, apakah hal ini ada qishos-nya!”

Nabi Muhammad S.A.W. menjawab, “Ya, ini ada qishos-nya jika kamu merasa sakit.”
Rasul pun menyuruh Ali bin Abi Tholib mengambil tongkat komandonya yang
disimpan di rumah Fatimah. Setelah Ali bin Abi Thalib tiba kembali membawa
tongkat komando, Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam menyerahkan kepada
sahabatnya untuk melaksanakan qishos.

Seluruh sahabat yang hadir di majelis itu hening, apa kira-kira yang akan terjadi jika
Rasulullah dipukul dengan tongkat itu. Di tengah keheningan itu, Ali bin Abi Tholib
tampil ke depan:
“Ya Rasulullah! Biar kami saja yang dipukul oleh orang ini. Abu Bakar dan Umar bin
Khattab juga ikut maju. Tetapi, Rasulullah memerintahkan, Ali, Abu Bakar, dan
Umar agar mundur, sambil berkata, “Saya yang berbuat, saya yang dihukum, demi
keadilan”.

Situasi tambah hening. Tetapi, di tengah-tengah keheningan itu tiba-tiba sahabat


yang siap jadi algojo itu berkata,: “Tapi di saat saya terkena tongkat komando, saya
tidak pakai baju.” Mendengar itu langsung Rasulullah membuka bajunya di depan
para sahabat.
Kulit Rasulullah Shollallahu Alaihi Wa Sallam tampak bercahaya, tetapi ciri ketuaan
sudah terlihat jelas.

Menyaksikan hal ini para sahabat tambah khawatir, Ali bin Abi Tholib tampil lagi ke
depan memohon kepada Rasul agar dia saja yang di-qishos. Tapi, Rasulullah S.A.W.
langsung memerintahkan agar Ali mundur, karena hukuman itu harus dijalankan
sendiri demi keadilan.

Tiba-tiba sahabat ini menjatuhkan tongkatnya langsung merangkul dan mencium


Rasulullah S.A.W. dan berkata: Ya Rasulullah! Saya tidak bermaksud melaksanakan
qishos, saya hanya ingin melihat kulit Rasulullah S.A.W. menyentuh dan
menciumnya. Sahabat-sahabat yang lain tersentak, gembira.

Rasulullah langsung berkata, “Siapa yang ingin melihat ahli surga, lihatlah orang
ini.”
Kisah itu menunjukkan betapa Rasulullah sangat menjunjung nilai keadilan.
Beliau, sebagai kepala Negara sekaligus Nabi, sangat ikhlas menerima hukuman
qishos dari rakyatnya sendiri".Kejujuran Rasulullah
Kejujuran Rasulullah Ketika bulan Rajab hadir, nyaris seluruh umat Islam teringat
akan peristiwa isra' dan mi'rajnya Rasulullah Saw. Yaitu, peristiwa hilangnya kanjeng Rasul
Saw. di separuh malam dan kembali dengan membawa 'pesan' dari Sidratul Muntaha untuk
menunaikan sholat lima waktu. Kejadian 'wisata' malam itu merupakan ujian untuk umat
Islam. Seberapa besarkah keyakinan meraka terhadap kejujuran Rasulullah Saw. dan risalah
yang dibawanya? Ya, 'wisata' itu bukan hanya bagian dari mukjizat Rasulullah, tapi juga
bagian dari 'penyeleksian' keimanan umat Islam, baik mereka yang mendengar cerita
Rasulullah secara langsung maupun mereka yang tak bertemu, namun hidup di zaman yang
serba ingin membuktikan segala hal yang tak mungkin menurut akal mereka, tapi pernah
terjadi di masa-masa sebelumnya.

Ternyata, 'penyeleksian' keimanan itu pun menuai banyak hasil. Ada yang semakin taat dan
percaya kepada Rasulullah, bahkan ada yang menyatakan bahwa lebih dari itu pun mereka
sangat mempercayainya. Namun, tak sedikit juga 'vonis' keras datang dengan menegaskan
bahwa 'wisata' Rasulullah malam itu hanya cerita 'fiktif' belaka, sehingga mereka pun
menjadi kafir. Sungguh, 'penyeleksian' keimanan yang selektif terjadi saat membawa
'pesan' shalat lima waktu.

Kini, yang perlu menjadi pusat perhatiaan umat Islam hanya satu. Yaitu, pentingnya
kejujuran. Kenapa Abu Bakar begitu meyakini cerita 'wisata' Rasulullah dari Mesjdil haram
ke Mesjidil Aqsha kemudian dilanjutkan naik ke langit ketujuh dengan mengenderai Buraq
dan 'bertemu' dengan Allah di Sidratul Muntaha? Jawabannya hanya satu, karena 'buah' sifat
jujur Rasulullah Saw.

Bukan cerita asing lagi bagaimana kejujuran Rasulullah sebelum diangkat menjadi Rasul.
Seluruh orang Quraisy bahkan Abu Jahal, pembesar suku Quraisy sekalipun sangat
mengakui kejujuran Rasulullah. "Inna la nukadzdzibuka wa lakin nukadzdzibu alladzi ji 'ta
bihi" (Sesungguhnya kami tidak mendustaimu, hanya saja kami mendustai ajaran yang
kamu bawa)", demikian komentar Abu Jahal akan kejujuran kanjeng Rasul Saw, Muhammad
bin Abdullah di hadapan suku Quraisy.

Bahkan, jika dirunut lebih jauh dan mendalam. Khadijah, isteri Rasulullah Saw. yang selalu
bersamanya, sungguh, sangat mengagumi kejujuran Rasulullah. Sehingga kata-kata
kekagumannya itu pun muncul bak air mengalir ketika Rasulullah menerima wahyu pertama
kali, "Absyir, pa waallahi la yukhjikaallahu abadan.fa waallahi innaka latashilurrahma wa
tusyaddiqol haditsa" (Bergembiralah, Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selama-
lamanya. Demi Allah, seseungguhnya kamu adalah orang yang senantiasa menjalin
hubungan silaturrahmi dan selalu berkata benar)", ujar Khadijah sambil menenangkan
Rasulullah yang begitu ketakutakan setelah bertemu Jibril di gua Hira.

Juga, Rasulullah Saw. sendiri pun mengakui akan kejujurannya. Pengakuan itu terjadi saat
Abdullah bin Umar sedang menulis hadits yang baru didengarnya dari Rasulullah, dan ingin
menghapalnya. Tiba-tiba datang beberapa orang dari suku Quraisy melarang dan
menahannya untuk menulis. Kemudian mereka mengatakan, "Apa benar kamu sedang
menulis hadits yang kamu dengar dari Rasulullah? Bukankah Rasulullah juga manusia yang
berbicara saat marah dan senang?". Abdullah bin Umar pun berhenti menulis. Dengan rasa
tak puas, ia datang menemui Rasulullah dan menceritakan apa yang terjadi. Dengan sigap
Rasulullah Saw. berkata, "Uktub, fa waalladzi nafsi biyadihi ma kharaja minni illa haqqun
(Tulislah, demi diriku dalam genggaman-Nya, apapun yang kuucapkan tidak lain adalah
kebenaran)".
Subhanallah, sifat jujur Rasulullah Saw. bukan saja tampak dalam kondisi serius. Saat
sedang bercanda, kanjeng Rasul Saw. pun tetap konsisten berperilaku jujur. Sebagaimana
diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, bahwa datang seorang wanita yang sudah lansia menemui
Rasulullah dan memohon agar didoakan masuk surga. Lantas Rasulullah Saw. menjawab,
"Ya umma fulan, innal jannata la tadkhullah 'ajuzun (Wahai ibu, sungguh surga itu tidak
akan dimasuki wanita tua)". Kontan, wanita tua itu menangis. Kemudian Rasulullah Saw
berkata kembali, "Aku mendapat kabar bahwa tidak akan masuk surga wanita yang sudah
tua, karena Allah mengatakan," Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-
bidadari) dengan langsung, dan kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta dan
sebaya umurmya." (Qs. Al-Waaqi'ah [56]: 35-37). Seketika itu juga wanita yang menangis
tadi pun tersenyum, dan mengetauhi bahwa di dalam surga tidak ada lagi yang tua,
semuanya dijadikan muda.

Karena itu, Rasulullah senantiasa mengingatkan umatnya untuk selalu berkata jujur dan
menjauhi sifat dusta. Rasulullah berpesan, "Berperilaku jujurlah kamu. Sesungguhnya
kejujuran menuntun kepada kebaikan. Kebaikan menunjukkan jalan menuju surga. Setiap
manusia yang selalu berkata jujur dan memilih kejujuran hingga ia ditulis di sisi Allah
sebagai orang yang jujur. Jauhi kamulah sifat sombong. Sesungguhnya kesombongan itu
menuntun ke arah kedurhakaan. Kedurhakaan membawa ke neraka. Setiap manusia yang
selalu berbohong dan memilih kebohongan hingga tertulis di sisi Allah sebagai pendusta."

Semoga dengan memperingati momentum 'wisata' isra' dan mi'rajnya Rasulullah Saw. kita
dapat menempa diri menjadi manusia yang jujur. Karena mengikuti sifat Rasulullah adalah
suatu kewajiban bagi setiap muslim. “Katakanlah (wahai Muhammad): Jika kamu benar-
benar mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-
dosamu.” (Qs. Ali Imran [3] : 31). Rabbana Yahdiina

Penulis adalah mahasiswa universitas al-Azhar Kairo, Mesir, Fakultas Syariah Islamiyah,
Tingkat IV dan kontributor tulisan kolom 'Hikmah' Cyber MQ.com
Beberapa tahun lamanya Anas bin Malik menjadi pembantu Rasulullah
saw. Oleh karena itu tidaklah heran bila ia mengetahui cara hidup Rasulullah
saw. yang amat sederhana. Misalnya, bila berbuka puasa Rasulullah
seringkali hanya minum susu karena memang tidak memiliki makanan lain.
Berkata Anas bin Malik: ”Suatu hari aku mempersiapkan minuman
untuk buka beliau, tetapi beliau terlambat datang. Karena aku menduga
tentunya beliau memenuhi undangan berbuka dari sahabatnya, maka
minuman itu aku minum. Setelah larut agak malam beliau baru datang. Dari
salah seorang yang bersama beliau akhirnya aku tahu bahwa dugaanku itu
ternyata keliru. Rasulullah saw. ternyata belum berbuka. Anda bisa
bayangkan betapa takut dan malu rasanya hatiku bila Rasulullah
menanyakan minumannya. Tetapi apa yang terjadi? Mengetahui
minumannya telah habis, Rasulullah menahan lapar dan dahaganya tanpa
menanyakan minumannya kepadaku sampai terbit fajar!” (Sumber: Bahan
Renungan Kalbu, Yayasan Mutiara Tauhid)
Ketika Islam telah memiliki pengaruh yang sedemikian kuat dan disegani, dan ketika para raja-
raja di Romawi bergelimang harta, maka Rasulullah masih saja tidur beralaskan tikar di
rumahnya yang sederhana. Kalau ada pakaian yang koyak, Rasulullah menambalnya sendiri,
tidak menyuruh isterinya. Beliau juga memerah sendiri susu kambing, untuk keperluan keluarga
maupun untuk dijual.
Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk dimakan, sambil
tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur. Sayidatina
‘Aisyah menceritakan: ”Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumah
tangga.”

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pulang kembali
sesudah selesai sholat. Pernah baginda pulang pada waktu pagi. Tentulah baginda amat lapar
waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada
karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka Nabi bertanya, “Belum ada sarapan ya
Khumaira?” (Khumaira adalah panggilan mesra untuk Sayidatina ‘Aisyah yang berarti ‘Wahai
yang kemerah-merahan’). Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai
Rasulullah.” Rasulullah lantas berkata, ”Kalau begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit
tergambar rasa kesal di wajahnya. Ini sesuai dengan sabda beliau, “sebaik-baik lelaki adalah
yang paling baik dan lemah lembut terhadap isterinya.” Prihatin, sabar dan tawadhu’nya
baginda SAW sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat, pergerakan baginda
antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar sekali. Dan mereka mendengar bunyi
menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu
sama lain. Sayidina Umar yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya
setelah selesai sholat :
“Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung penderitaan yang amat berat, tuan
sakitkah ya Rasulullah?”
“Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar”
“Ya Rasulullah… mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar seolah-olah
sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang sakit…” desak Umar penuh cemas.
Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya. Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang
kempis, kelihatan dililiti sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu
kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh baginda.
“Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya makanan, kami tidak akan
mendapatkannya buat tuan?”

Lalu baginda menjawab dengan lembut,


”Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu. Tetapi
apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai pemimpin, menjadi
beban kepada umatnya?” “Biarlah kelaparan ini sebagai hadiah ALLAH buatku, agar
umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di
Akhirat kelak.”

Baginda Rasulullah pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah seorang tua yang
penuh kudis, miskin dan kotor.

Hanya diam dan bersabar bila kain rida’nya direntap dengan kasar oleh seorang Arab Badwi
hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan baginda membasuh
tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum menegur dengan lembut perbuatan
itu. Kecintaannya yang tinggi terhadap Allah SWT dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah
saw menolak sama sekali rasa ketuanan.

Seolah-olah anugerah kemuliaan dari Allah tidak dijadikan sebab untuk merasa lebih dari yang
lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.

Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda masih saja berdiri di
waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah, hingga pernah baginda terjatuh, lantaran
kakinya sudah bengkak-bengkak. Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya
yang tinggi. Hingga ditanya oleh Sayidatina ‘Aisyah,
“Ya Rasulullah, bukankah engkau telah dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah
payah begini?”
Jawab baginda dengan lunak,
“Ya ‘Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin menjadi
hamba-Nya yang bersyukur.”

Ketika ajalnya dekat menjelang, Rasulullah SAW masih sempat-sempatnya memikirkan


umatnya. Ketika Jibril berkata, “Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu, wahai
Rasul Allah”. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh
kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?“, tanya Jibril lagi. “Khabarkan
kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?”, tanya Rasulullah seolah tak tega meninggalkan kita
semua (umatnya) tanpa kepastian dibebaskannya umatnya dari api neraka.

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah
ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali
yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau
melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar
wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar
kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi, “Ya Allah,
dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”

Demikian sayangnya Rasulullah SAW kepada kita sebagai umatnya, hingga di detik-detik
terakhir ajal beliau masih berdoa bagi kebaikan umatnya.

Mari kita banyakkan selawat kepada rasul tercinta…Nabi Muhammad saw

Jumat, 19 Januari 2007


Tausyiah
Spirit Kemandirian

Oleh: DR Amir Faishol Fath

Suatu hari Rasulullah saw. berpesan kepada sahabat-sahabatnya bahwa tidak ada makanan yang
lebih baik dari apa yang diperoleh dari keringat sendiri, dan bahwa Nabi Daud tidak pernah
makan kecuali hasil tangannya sendiri (HR. Bukhari, No 2072). Abdurrahman bin Auf ra.
setibanya di kota Madinah dari perjalanan hijrah ditawarkan kepadanya oleh Sa�ad bin Rabi�
ra. untuk mengambil separuh dari kekayaannya, tapi ia tidak segera menerima tawaran itu,
melainkan ia minta supaya ditunjuki jalan ke pasar untuk ia berdagang. Seorang mukmin adalah
pribadi yang selalu mandiri, bekerja keras, tidak segera menyerah pada keadaan dan tidak mudah
tergantung kepada orang lain. Sempitnya lapangan kerja baginya bukan penghalang, melainkan
pemicu semangat untuk membuka lahan-lahan baru yang lebih kereatif dan profesional. Dalam
jiwanya terpatri firman Allah: Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum
sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. 13:11).

Untuk membangun kemandirian ini Rasulullah saw. selalu menegaskan kepada sahabat-
sahabatnya bahwa tangan yang di atas (memberi) lebih bagus dari pada tangan yang dibawah
(mengemis atau meminta). Pernyataan ini tidak saja Rasulullah sampaikan di atas mimbar,
melainkan juga dalam pertemuan secara pribadi dengan sahabat-sahabatnya (HR. Bukhari-
Muslim, Kitabuzzakah, No. 1427,1429). Dalam sebuah riwayat seperti diceritakan Abu Hurairah
ra. Rasulullah saw. berupaya memahamkan sahabat-sahabatnya mengenai hakikat kemiskinan
dan kekayaan: bahwa yang disebut miskin bukan mereka yang tidak punya sesuap atau dua suap
makanan, tidak punya sebiji atau dua biji kurma, melainakn mereka yang meminta-minta (HR.
Bukhari Muslim, Kitabuzzkah, No.1376), dan bahwa yang disebut kaya bukan mereka yang
mempunyai harta yang melimpah, melainkan mereka yang puas atas pemberian Allah sekalipun
sedikit (HR. Bukhari Muslim, Kitaburriqaq, No.6446). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:
� Babahagialah mereka yang masuk Islam, dikarunia kemampuan untuk tidak mengemis, dan
selalu puas dengan apa yang diberikan Allah kepadanya� (HR. Muslim, Kitabuzzakah, No.
1054).

Auf bin Malik ra. menceritakan bahwa ia pernah menemui Rasulullah saw. ditemani beberapa
orang. Ketika itu Rasullah tiba-tiba mengajak mereka berbai�at. Mereka kaget karena mereka
telah pernah malakukan bai�at. Namun karena Rasullah mengulang ajakannya itu tiga kali
akhirnya mereka mengajukan tangannya untuk bai�at. Menariknya dalam bai�at ini ada yang
lain. Setelah bai�at untuk bertauhid sekaligus meninggalkan syirik, dan bai�at melaksanakan
salat lima waktu, Rasullah berbisik dengan suara pelan tapi tegas, mengucapkan bai�at untuk
tidak meminta-minta kepada orang lain�(HR. Muslim, Kitabuzzakah, No. 1043). Sikap
Rasulullah yang demikian ini tidak hanya membangun komitmen agar kita selalu mandiri dalam
memenuhi kebutuhan sehar-hari, melainkan juga mengandung penekanan agar kita sebagai
umatnya bersinergi secara maksimal untuk membangun masyarakat yang berta�wun fil birri
taqwa bukan yang saling menindas dan menzhalimi.

Hakim bin Huzam ra. pernah suatu saat minta susuatu berkali-kali kepada Rasulullah saw. dan
semua permintaannya dipenuhi. Lalu Rasulullah mengingatkannya bahwa tangan di atas lebih
baik dari pada tangan di bawah. Sejak itu Hakim berjanji untuk tidak minta sesuatu kepada orang
lain. Hakim benar-benar melaksanakan janjinya ini sampai ia meningal dunia (HR Bukhari-
Muslim, Kitab Fardhil Khumus, No. 3143). Lebih jauh lagi, Rasulullah saw. pernah
menyampaikan ancaman keras bagi mereka yang suka terganrung kepada orang lain: Orang yang
mengemis untuk memperbanyak harta, maka dia sebenarnya telah mengemis bara api (HR.
Muslim. Kitabuzzakah, No 1041). Imam Nawawi dalam syarahnya mengatakan bahwa
maksudnya ia akan disiksa kelak dalam api neraka.
Thu, 26 Apr 2007 22:31:15 -0700

Kesederhanaan Kehidupan Rasulullah Muhammad SAW

Ketika Islam telah memiliki pengaruh yang sedemikian kuat dan disegani, dan
ketika para raja-raja di Romawi bergelimang harta, maka Rasulullah masih saja
tidur beralaskan tikar di rumahnya yang sederhana. Kalau ada pakaian yang
koyak, Rasulullah menambalnya sendiri, tidak menyuruh isterinya. Beliau juga
memerah sendiri susu kambing, untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang siap untuk
dimakan, sambil tersenyum baginda menyingsing lengan bajunya untuk membantu
isterinya di dapur. Sayidatina 'Aisyah menceritakan: "Kalau Nabi berada di
rumah, beliau selalu membantu urusan rumah tangga."

Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat


pulang kembali sesudah selesai sholat. Pernah baginda pulang pada waktu pagi.
Tentulah baginda amat lapar waktu itu. Tetapi dilihatnya tiada apa pun yang
ada untuk sarapan. Yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina 'Aisyah belum
ke pasar. Maka Nabi bertanya, "Belum ada sarapan ya Khumaira?" (Khumaira
adalah panggilan mesra untuk Sayidatina 'Aisyah yang berarti 'Wahai yang
kemerah-merahan'). Aisyah menjawab dengan agak serba salah, "Belum ada apa-
apa wahai Rasulullah." Rasulullah lantas berkata, "Kalau begitu aku puasa
saja hari ini." tanpa sedikit tergambar rasa kesal di wajahnya. Ini sesuai
dengan sabda beliau, "sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik dan lemah
lembut terhadap isterinya." Prihatin, sabar dan tawadhu'nya baginda SAW
sebagai kepala keluarga.

Pada suatu ketika baginda menjadi imam solat. Dilihat oleh para sahabat,
pergerakan baginda antara satu rukun ke satu rukun yang lain amat sukar
sekali. Dan mereka mendengar bunyi menggerutup seolah-olah sendi-sendi pada
tubuh baginda yang mulia itu bergeser antara satu sama lain. Sayidina Umar
yang tidak tahan melihat keadaan baginda itu langsung bertanya setelah
selesai sholat : "Ya Rasulullah, kami melihat seolah-olah tuan menanggung
penderitaan yang amat berat, tuan sakitkah ya Rasulullah?"
"Tidak, ya Umar. Alhamdulillah, aku sehat dan segar"
"Ya Rasulullah... mengapa setiap kali tuan menggerakkan tubuh, kami mendengar
seolah-olah sendi bergesekan di tubuh tuan? Kami yakin engkau sedang
sakit..." desak Umar penuh cemas. Akhirnya Rasulullah mengangkat jubahnya.
Para sahabat amat terkejut. Perut baginda yang kempis, kelihatan dililiti
sehelai kain yang berisi batu kerikil, buat menahan rasa lapar. Batu-batu
kecil itulah yang menimbulkan bunyi-bunyi halus setiap kali bergeraknya tubuh
baginda. "Ya Rasulullah! Adakah bila tuan menyatakan lapar dan tidak punya
makanan, kami tidak akan mendapatkannya buat tuan?"
Lalu baginda menjawab dengan lembut,
"Tidak para sahabatku. Aku tahu, apa pun akan engkau korbankan demi Rasulmu.
Tetapi apakah akan aku jawab di hadapan ALLAH nanti, apabila aku sebagai
pemimpin, menjadi beban kepada umatnya?" "Biarlah kelaparan ini sebagai
hadiah ALLAH buatku, agar umatku kelak tidak ada yang kelaparan di dunia ini
lebih-lebih lagi tiada yang kelaparan di Akhirat kelak."

Baginda Rasulullah pernah tanpa rasa canggung sedikitpun makan di sebelah


seorang tua yang penuh kudis, miskin dan kotor.

Hanya diam dan bersabar bila kain rida'nya direntap dengan kasar oleh seorang
Arab Badwi hingga berbekas merah di lehernya. Dan dengan penuh rasa kehambaan
baginda membasuh tempat yang dikencingi si Badwi di dalam masjid sebelum
menegur dengan lembut perbuatan itu. Kecintaannya yang tinggi terhadap Allah
SWT dan rasa kehambaan dalam diri Rasulullah saw menolak sama sekali rasa
ketuanan.

Seolah-olah anugerah kemuliaan dari Allah tidak dijadikan sebab untuk merasa
lebih dari yang lain, ketika di depan umum maupun dalam keseorangan.

Ketika pintu Syurga telah terbuka, seluas-luasnya untuk baginda, baginda


masih saja berdiri di waktu-waktu sepi malam hari, terus-menerus beribadah,
hingga pernah baginda terjatuh, lantaran kakinya sudah bengkak-bengkak.
Fisiknya sudah tidak mampu menanggung kemauan jiwanya yang tinggi. Hingga
ditanya oleh Sayidatina 'Aisyah, "Ya Rasulullah, bukankah engkau telah
dijamin Syurga? Mengapa engkau masih bersusah payah begini?"
Jawab baginda dengan lunak,
"Ya 'Aisyah, bukankah aku ini hanyalah seorang hamba? Sesungguhnya aku ingin
menjadi hamba-Nya yang bersyukur."

Ketika ajalnya dekat menjelang, Rasulullah SAW masih sempat-sempatnya


memikirkan umatnya. Ketika Jibril berkata, "Semua syurga terbuka lebar
menanti kedatanganmu, wahai Rasul Allah". Tapi itu ternyata tidak membuat
Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang
mendengar khabar ini?", tanya Jibril lagi. "Khabarkan kepadaku bagaimana
nasib umatku kelak?", tanya Rasulullah seolah tak tega meninggalkan kita
semua (umatnya) tanpa kepastian dibebaskannya umatnya dari api neraka.

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan


ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku,
hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" tanya Rasulullah pada Malaikat
pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut
ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena
sakit yang tidak tertahankan lagi, "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan
saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."

Demikian sayangnya Rasulullah SAW kepada kita sebagai umatnya, hingga di


detik-detik terakhir ajal beliau masih berdoa bagi kebaikan umatnya.

(Sumber Tulisan oleh : NN, dengan beberapa edit dari Penjaga Kebun Hikmah)

------------------------------------------------------------------
- Milis Masjid Ar-Royyan, Perum BDB II, Sukahati, Cibinong 16913 -
- Website http://www.arroyyan.com ; Milis jamaah[at]arroyyan.com -

Diriwayatkan dari Abu Hurairah R.A. bahwa Abdurrahman bin Shakhr berkata:
Saya mendengar Rasulullah SAW. bersabda, Apapun yang saya larang untuk kalian
lakukan, jauhilah; dan apapun yang saya perintahkan untuk kalian lakukan,
kerjakanlah semampu kalian. Sesungguhnya yang membinasakan orang-orang
sebelum kalian adalah banyaknya pertanyaan dan perselisihan mereka terhadap
nabi-nabi mereka. (Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim)

[Ar-Royyan-6142] Kesederhanaan Kehidupan Rasulullah Muhammad SAW agus rasidi


Tetapi, tidak sedikit kaum muslimin yang memberat-beratkan diri mereka dan melemparkan diri
mereka ke dalam kebinasaan. Karenanya, ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
mendengar berita bahwa ada tiga orang shahabat beliau yang ingin shalat terus menerus tanpa
beristirahat, ingin berpuasa terus menerus tanpa berbuka, dan ingin beribadah terus menerus
tanpa menikah, maka beliau sagat marah, dan mengingatkan para shahabat tersebut bahwa beliau
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah manusia yang paling bertaqwa dan paling takut kepada
Allah Subhanahu wa Ta’ala di muka bumi ini. Kemudian beliau bersabda, “Tetapi, aku shalat
dan akupun beristirahat, aku berpuasa dan aku berbuka, dan menikah dengan wanita. Maka
barangsiapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan golonganku.”

Perhatikanlah, bagaimana Rasulullah mendidik para shahabatnya bahwa prilaku memberat-


beratkan diri sehingga menyampakkan seseorang ke dalam kebinasaan bukanlah dari sunnah dan
tuntunan beliau.

Sangat ironis, ketika kita menyaksikan sekelompok kaum muslimin berdzikir dengan suara
mekik-mekik, meraung-raung, membuatnya kepayahan, suaranya habis, tidak tidur malam,
dianggap sebagai sunnah Rasulullah dan tuntunannya.

Sangat menggelikan, ketika kita menyaksikan seseorang melaksanakan shalat dengan seribu
rakaat, membaca surat Al-Fatihah seribu kali, membaca surat Al-Ikhlash seribu kali, membaca
ayat kursi seribu kali, dianggap ajaran Rasulullah dan sunnahnya.

Justru mereka telah menyelisihi sunnah Rasulullah yang menyukai kemudahan, pertengahan dan
tidak berlebih-lebihan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Sesungguhnya dien ini (Islam), adalah dien yang memberikan kemudahan.” (HR. Al-Bukhari).

Beliau juga bersabda :

“Amalan Islam yang paling disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah amalan yang
memberikan kemudahan dan toleransi.” (HR. Al-Bukhari).

Jadi jelaslah, bahwa salah satu karakteristik dien ini adalah memberikan kemudahan dan
menghilangkan kesukaran dan keberatan. Karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan
nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran
dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At-Taghabun : 16) (lagi…)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun Bercanda

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sering mengajak istri dan para sahabatnya bercanda dan
bersenda gurau untuk mengambil hati serta membuat mereka gembira. Namun canda beliau tidak
berlebihan, tetap ada batasnya. Bila tertawa, beliau tidak melampaui batas tetapi hanya
tersenyum. Begitu pula dalam bercanda, beliau tidak berkata kecuali yang benar. Sebagaimana
yang diriwayatkan dalam beberapa hadits yang menceritakan seputar bercandanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Aku belum
pernah melihat Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga
kelihatan amandelnya, namun beliau hanya tersenyum.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pun menceritakan, para sahabat bertanya kepada Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai, Rasullullah! Apakah engkau juga bersendau gurau
bersama kami?” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan sabdanya,
“Betul, hanya saja aku selalu berkata benar.” (HR. Imam Ahmad. Sanadnya Shahih)

Adapun contoh bercandanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ketika beliau
shallallahu ‘alaihi wa sallam bercanda dengan salah satu dari kedua cucunya yaitu Al-Hasan bin
Ali radhiyallahu ‘anhu. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Al-Hasan bin Ali
radhiyallahu ‘anhu. Ia pun melihat merah lidah beliau, lalu ia segera menghambur menuju
beliau dengan riang gembira.” (Lihat Silsilah Ahadits Shahihah, no hadits 70)

Adab Bercanda Sesuai Syariat

Poin di atas cukup mewakili arti bercanda yang dibolehkan dalam syariat. Selain itu, hal penting
yang harus kita perhatikan dalam bercanda adalah:

1. Meluruskan tujuan yaitu bercanda untuk menghilangkan kepenatan, rasa bosan dan lesu, serta
menyegarkan suasana dengan canda yang dibolehkan. Sehingga kita bisa memperoleh semangat
baru dalam melakukan hal-hal yang bermanfaat.

2. Jangan melewati batas. Sebagian orang sering berlebihan dalam bercanda hingga melanggar
norma-norma. Terlalu banyak bercanda akan menjatuhkan wibawa seseorang.

3. Jangan bercanda dengan orang yang tidak suka bercanda. Terkadang ada orang yang bercanda
dengan seseorang yang tidak suka bercanda, atau tidak suka dengan canda orang tersebut. Hal itu
akan menimbulkan akibat buruk. Oleh karena itu, lihatlah dengan siapa kita hendak bercanda.

4. Jangan bercanda dalam perkara-perkara yang serius. Seperti dalam majelis penguasa, majelis
ilmu, majelis hakim (pengadilan-ed), ketika memberikan persaksian dan lain sebagainya.

5. Hindari perkara yang dilarang Allah Azza Wa Jalla saat bercanda.

- Menakut-nakuti seorang muslim dalam bercanda. Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam


bersabda, “Janganlah salah seorang dari kalian mengambil barang milik saudaranya, baik
bercanda maupun bersungguh-sungguh.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Rasullullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda: “Tidak halal bagi seorang muslim untuk
menakut-nakuti muslim yang lain.” (HR. Abu Dawud)

- Berdusta saat bercanda. Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menjamin
dengan sebuah istana di bagian tepi surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun ia
berada di pihak yang benar, sebuah istana di bagian tengah surga bagi orang yang
meninggalkan dusta meski ia sedang bercanda, dan istana di bagian atas surga bagi seseorang
yang memperbaiki akhlaknya.” (HR. Abu Dawud). Rasullullah pun telah memberi ancaman
terhadap orang yang berdusta untuk membuat orang lain tertawa dengan sabda beliau shallallahu
‘alaihi wa sallam, “Celakalah seseorang yang berbicara dusta untuk membuat orang tertawa,
celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Imam Ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi)

- Melecehkan sekelompok orang tertentu. Misalnya bercanda dengan melecehkan penduduk


daerah tertentu, atau profesi tertentu, bahasa tertentu dan lain sebagainya, yang perbuatan ini
sangat dilarang.

- Canda yang berisi tuduhan dan fitnah terhadap orang lain. Sebagian orang bercanda dengan
temannya lalu mencela, memfitnahnya, atau menyifatinya dengan perbuatan yang keji untuk
membuat orang lain tertawa.

6. Hindari bercanda dengan aksi atau kata-kata yang buruk. Allah telah berfirman, yang artinya,
“Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku, hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang
lebih baik (benar). Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.
Sesungguhnya setan adalah musuh yang nyata bagi kalian.” (QS. Al-Isra’: 53)

7. Tidak banyak tertawa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan agar tidak
banyak tertawa, “Janganlah kalian banyak tertawa. Sesungguhnya banyak tertawa dapat
mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah)

8. Bercanda dengan orang-orang yang membutuhkannya.

9. Jangan melecehkan syiar-syiar agama dalam bercanda. Umpamanya celotehan dan guyonan
para pelawak yang mempermainkan simbol-simbol agama, ayat-ayat Al-Qur’an dan syair-
syiarnya, wal iyadzubillah! Sungguh perbuatan itu bisa menjatuhkan pelakunya dalam
kemunafikan dan kekufuran.

Demikianlah mengenai batasan-batasan dalam bercanda yang diperbolehkan dalam syariat.


Semoga setiap kata, perbuatan, tingkah laku dan akhlak kita mendapatkan ridlo dari Allah, pun
dalam masalah bercanda. Kita senantiasa memohon taufik dari Allah agar termasuk ke dalam
golongan orang-orang yang wajahnya tidak dipalingkan saat di kubur nanti karena mengikuti
sunnah Nabi-Nya. Wallahul musta’an.

***

Diringkas dari: majalah As-Sunnah edisi 09/tahun XI/ 1428 H/2007 M.


Artikel www.muslimah.or.id

PKS-Jaksel: Teladan kita, Rasulullah SAW, adalah orang yang senang menebarkan
kegembiraan dan kebahagiaan dalam kehidupan manusia. Walapun beliau menghadapi berbagai
kesusahan yang beraneka ragam, namun beliau juga bergurau dalam batasan tidak berbicara
sesuatu kecuali yang haq.
Kita dapatkan bahwa Rasulullah SAW di rumahnya juga bergurau dengan isteri-isterinya dan
mendengarkan cerita mereka. Sebagaimana diceritakan di dalam haditsnya Ummu Dzar yang
terkenal di dalam shahih Bukhari. Kita lihat juga bagaimana perlombaan Nabi SAW dengan
'Aisyah RA di mana sesekali 'Aisyah menyalipnya dan sesekali Nabi mendahuluinya, maka Nabi
bersabda kepadanya, "Ini dengan itu (satu-satu)."

'Aisyah berkata, "Rasulullah SAW dan Saudah binti Zam'ah pernah berada di rumahku, maka
aku membuat bubur dan tepung gandum yang dicampur dengan susu dan minyak, kemudian aku
hidangkan, dan aku katakan kepada Saudah, 'Makanlah'
Maka Saudah berkata, 'Saya tidak menyukainya,'
Maka aku berkata, 'Demi Allah benar-benar kamu makan atau aku colekkan bubur itu ke
wajahmu, '
Maka Saudah berkata, 'Saya tidak mau mencicipinya, '
Maka aku ('Aisyah) mengambil sedikit dari piring, kemudian aku colekkan ke wajahnya. Saat itu
Rasulullah SAW menurunkan kepada Saudah kedua lututnya agar mau mengambil dariku, maka
aku mengambil dari piring sedikit lalu aku sentuhkan ke wajahku, sehingga akhirnya Rasulullah
SAW tertawa."
(HR. Zubair bin Bakkar di dalam kitabnya "Al Fukahah")

Diriwayatkan juga sesungguhnya Dhahhak bin Sufyan Al Kallabi adalah orang yang berwajah
buruk. Ketika dibai'at oleh Nabi SAW maka Nabi bersabda, "Sesungguhnya aku mempunyai dua
wanita yang lebih cantik daripada si Merah Delima ini ('Aisyah),--ini sebelum turun ayat tentang
hijab--,
"Apakah tidak sebaiknya aku ceraikan salah satunya untukmu, kemudian kamu menikahinya?"
Saat itu 'Aisyah sedang duduk mendengarkan, maka Aisyah berkata, 'Apakah dia lebih baik atau
engkau?"
Maka Dhahhak menjawab, "Bahkan saya lebih baik daripada dia dan lebih mulia."
Maka Rasulullah SAW tersenyum karena pertanyaan 'Aisyah kepadanya, karena ia laki-laki yang
berwajah buruk. '
(HR. Zubair bin Bakkar di dalam "Al Fukaahah")

Diriwayatkan juga bahwa punggung Rasulullah SAW pernah ditunggangi oleh kedua cucunya
Hasan dan Husain ketika masih kecil. Beliau dan kedua cucunya menikmati tanpa rasa berat.
Ketika itu ada salah seorang sahabat yang masuk dan melihat pemandangan itu, maka sahabat itu
berkata, “Sebaik-baik yang kamu naiki adalah yang kamu naiki berdua."
Nabi SAW berkata, "Sebaik-baik yang naik adalah keduanya."

Dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu ia berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjulurkan lidahnya kepada Hasan bin Ali maka anak itu melihat merahnya lidah beliau
sehingga ta’ajub dan menarik minatnya lalu ia segera menghampiri beliau”.

Dari Ya’la bin Murrah ia berkata: “Kami keluar bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu
kami diundang untuk makan. Tiba-tiba Husain sedang bermain di jalan maka Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam segera (menghampirinya) di hadapan banyak orang. Beliau
membentangkan kedua tangannya lalu anak itu lari ke sana kemari sehingga membuat Nabi
Shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa sampai beliau (berhasil) memegangnya lalu beliau letakkan
salah satu tangannya di bawah dagu anak tersebut dan yang lain di tengah-tengah kepalanya
kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menciumnya”.

Anas berkata, "Abu Talhah pernah mempunyai anak bernama Abu 'Umair, dan Rasulullah SAW
pernah datang kepadanya lalu berkata, 'Wahai Abu 'Umair apa yang diperbuat oleh Nughair
(burung kecil)?' Karena anak burung pipit yang dipermainkan."

Rasulullah SAW juga pernah bergurau dengan nenek-nenek tua yang datang dan berkata,
"Doakan aku kepada Allah agar Allah memasukkan aku ke surga."
Maka Nabi SAW berkata kepadanya, "Wahai Ummu Fulan! Sesungguhnya surga itu tidak
dimasuki orang yang sudah tua."
Maka wanita tua itu pun menangis, karena ia memahami apa adanya.
Kemudian Rasulullah SAW memahamkannya, bahwa ketika dia masuk surga, tidak akan masuk
surga sebagai orang yang sudah tua, tetapi berubah menjadi muda belia dan cantik.

Lalu Nabi SAW membaca firman Allah SWT:


"Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (wanita-wanita surga) itu dengan langsung, dan Kami
jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya." (QS Al Waqi'ah: 35-37)

Ada seorang laki-laki datang ingin dinaikkan unta, maka Nabi bersabda, "Saya tidak akan
membawamu kecuali di atas anak unta."
Maka orang itu berkata, "Wahai Rasulullah, apa yang dapat saya perbuat dengan anak unta?"
Ingatannya langsung ke anak unta yang masih kecil.
Maka Rasulullah SAW bersabda, "Apakah ada unta yang melahirkan kecuali unta juga?"

Suatu ketika, Rasulullah saw dan para shahabat ra sedang ifthor. Hidangan pembuka puasa
dengan kurma dan air putih. Dalam suasana hangat itu, Ali bin Abi Tholib ra timbul isengnya.
Ali ra mengumpulkan kulit kurma-nya dan diletakkan di tempat kulit kurma Rasulullah saw.
Kemudian Ali ra dengan tersipu-sipu mengatakan kalau Rasulullah saw sepertinya sangat lapar
dengan adanya kulit kurma yang lebih banyak. Rasulullah saw yang sudah mengetahui keisengan
Ali ra segera "membalas" Ali ra dengan mengatakan, "Yang lebih lapar sebenarnya siapa?"
(antara Rasulullah saw dan Ali ra). Sedangkan tumpukan kurma milik Ali ra sendiri tak bersisa.

Zaid bin Aslam berkata, Ada seorang wanita bernama Ummu Aiman datang ke Rasulullah SAW
berkata, "Sesungguhnya suamiku mengundangmu."
Nabi berkata, "Siapakah dia, apakah dia orang yang matanya ada putih-putihnya?."
Ia berkata, "Demi Allah tidak ada di matanya putih-putih!."
Maka Nabi berkata. "Ya, di matanya ada putih-putih."
Maka wanita itu berkata, "Tidak, demi Allah."
Nabi berkata, "Tidak ada seorang pun kecuali di matanya ada putih-putihnya."
(Az-Zubair bin Bakar dalam "Al Fakahah wal Mizah" dan Ibnu Abid-Dunya).
Yang dimaksud dalam hadits ini adalah putih yang melingkari hitamnya bola mata.

Demikianlah sebagian kisah senda gurau bersama Rasulullah. Beliau hidup bersama para
sahabatnya dengan kehidupan yang wajar. Beliau ikut bercanda dan bermain dengan mereka,
sebagaimana beliau ikut bersusah-payah bersama mereka. (dian)
--

diambil dari berbagai sumber

Rasulullah juga suka bersenda-gurau, bercanda, dan tertawa. Hal ini menunjukkan bahwa Islam
adalah agama yg ‘akrab’. Karena tertawa pada tempatnya bisa mengakrabkan orang, bahkan bisa
mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa, atau dengan kata lain dapat mempererat ukhuwah.
Imam Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumud-Din, menuliskan bahwa Ali bin Abi Thalib pernah
menceritakan bahwa Rasululloh adalah seorang yang periang, ramah, orang yang paling banyak
tersenyum di hadapan para sahabatnya, merasa kagum terhadap apa yang dibicarakan para
sahabatnya itu bahkan kadang-kadang tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya.

Namun ada batasan-batasan dalam tertawa dan bersenda gurau. Rasulullah tidak pernah
berlebihan dalam hal itu. Beliau tidak tertawa berlebihan hingga berguncang tubuhnya atau
hingga terlihat langit-langit mulutnya. Beliau juga pernah bersabda,

Hati-hatilah kamu dengan tertawa, karena sesungguhnya banyak tertawa dapat mematikan hati.
[HR Tirmidzi]

Dalam bersenda gurau, tetap harus dijauhi hal-hal yang dilarang, seperti berbohong. Apabila
Rasulullah saw. bercanda, maka tidak ada muatan kedustaan dalam candaanya itu.

Sesungguhnya aku juga bercanda, dan aku tidak mengatakan kecuali yang benar. [HR At-
Thabrani]

Diantara riwayat-riwayat yang menjelaskan hal itu adalah:

1. disebutkan bahwa seorang sahabat berkata ”wahai rasulullah, saya ingin agar engkau
memberiku kendaraan unta”. Rasul menjawab ”aku tidak menemukan kendaraan untukmu,
kecuali anak unta betina”. Sahabat itu kemudian berpaling dengan sedi, lalu rasul memanggilnya
dan berkata ”tidak ada unta melainkan ia adalah anak unta betina”.

2. seorang wanita tua datang kepada nabi saw. meminta untuk dido`akan agar masuk surga.
Maka nabi menjawab ”tidak ada nenek-nenek masuk surga”. Wanita tua itu kemudian menangis
kecewa. Lalu nabi berkata ”sesungguhnya kamu tidak pada ketuaanmu pada hari itu karena Allah
berfirman,

Sesungguhnya kami menciptakan mereka dengan langsung dan kami jadikan mereka gadis-
gadis perawan [Al-Waqi`ah (56) : 25-36]

nah, bahkan dalam canda-tawa Rasulullah terkandung pelajaran. Sama sekali bukan hal yang sia-
sia, bukan sekadar main-main.

Gurauan yang sekadar main-main dan menyengaja melucu akan mendatangkan mudharat, seperti
sabda Rasulullah,
Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi Allah di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka
membuat manusia tertawa. [HR Bukhari]

Sungguh seorang hamba ketika mengucapkan suatu ucapan, tidak lain hanya untuk membuat
orang lain tertawa, ia bisa jatuh di neraka lebih jauh antara langit dan bumi. [HR Baihaqi]

Yang paling harus dihindari adalah tertawa ketika melakukan perbuatan-perbuatan zhalim,
tertawa ketika mendengar ayat-ayat Allah yang menjelaskan siksa neraka, tertawa ketika
seseorang menjelaskan ilmu-ilmu agama dan menganggapnya seperti gurauan yang tidak
bermakna. Na`udzubillah.

Perlu dicermati juga nasehat pemimpin perjuangan Ikhwanul Muslimin, Hasan Al-banna:
Jangan banyak tertawa, karena orang yang selalu berhubungan dengan Allah bersifat tenang
dan serius.
Jangan banyak bergurau, sebab ummat yang berjihad hanya mengenal keseriusan.

Maka berhati-hatilah kita dalam berbicara, khusunya dalam bergurau. Hendaknya semua yang
kita ucapkan harus mengandung kebaikan. Begitu pula gurauan, hanya digunakan untuk
menyegarkan hati dan mempererat ukhuwah, dengan tidak berlebihan. Rasulullah bersabda,

Barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih
baik diam. [HR Bukhari-Muslim]

Janganlah banyak bicara, jika tidak mengenai dzikir Allah, maka sesungguhnya banyak bicara
tanpa dzikir Allah itu menjadikan hati pembicaranya kesat.

Sesungguhnya orang yang paling jauh dari Allah pada hari Kiamat ialah orang yang kesat hati.
[HR Tirmidzi]

Penutup

Umar bin Khaththab r.a. berkata:


“barangsiapa banyak tertawanya, niscaya kurang kewibawaaannya. Barang siapa bersenda
gurau, niscaya ia dianggap ringan. Barang siapa memperbanyak sesuatu niscaya ia dikenal
dengannya. Barang siapa banyak perkataannya, niscaya banyak kesalahannya. Barangsiapa
banyak kesalahannya niscaya sedikit malunya. Barang siapa sedikit malunya, niscaya sedikit
sifat wara’nya. Barang siapa sedikit sifat wara’nya, niscaya mati hatinya”

Dalam bersenda gurau hendaknya tidak berkata kecuali kebenaran, tidak menyakiti hati orang,
tidak melewati batas padanya, dan tidak berlebihan (sering) dilakukannya, serta memperhatikan
situasi juga kondisi lawan bicara.

WAllohu a`lam.

Filsafat hidup Rasulullah adalah sebagai berikut :


1. Pertama : Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat. "Wahai Rasulullah, bagaimana
kriteria orang yang baik itu? Rasulullah menjawab:
Yang artinya: "Sebaik-baiknya manusia ialah orang yang bermanfaat bagi orang lain".
Jika ia seorang hartawan, hartanya tidak dinikmati sendiri, tapi dinikmati pula oleh tetangga,
sanak famili dan juga didermakan untuk kepentingan masyarakat dan agama. Inilah ciri-ciri orang
yang baik. Jika berilmu, ilmunya dimanfaatkan untuk kepentingan orang banyak. Jika berpangkat,
dijadikannya sebagai tempat bernaung orang-orang disekitarnya dan jika tanda tangannya berharga
maka digunakan untuk kepentingan masyarakat dan agama, tidak hanya mementingkan diri dan
golongannya sendiri.
Pokoknya segala kemampuan/potensi hidupnya dapat dinikmati orang lain, dengan kata lain
orang baik adalah orang yang dapat memfungsikan dirinya ditengah-tengah masyarakat dan
bermanfaat.
Sebaliknya kalau ada orang yang tidak bisa memberi manfaat untuk orang lain atau masyarakat
sekitarnya bahkan segala kenikmatan hanya dinikmatinya sendiri, berarti orang itu jelek. Adanya
orang seperti itu tidak merubah keadaan dan perginyapun tidak merugikan masyarakat.
Jadi filsafat hidup Rasulullah SAW menjadikan dirinya bermanfaat bagi orang lain. Oleh karena
itu, sudah sepantasnya bagi kita sebagai manusia untuk memegang filsafat hidup. Orang yang hanya
menanam rumput untuk makanan ternak ia akan mendapatkan rumput tapi padinya tidak dapat,
sebaliknya orang yang menanam padi, ia akan mendapatkan padi dan sekaligus mendapatkan
rumput, karena rumput tanpa ditanam akan tumbuh sendiri. Begitu juga dengan kita yang hidup ini,
kalau niat dan motivasinya sekedar mencari rumput (uang) iapun akan memperolehnya, tetapi tidak
dapat padinya atau tidak akan memperoleh nilai ibadah dari seluruh pekerjaannya.
Oleh karena itu dalam menjalankan kehidupan, niatkan untuk ibadah dengan suatu keyakinan
bahwa pekerjaan dan tempat kerja kita, kita yakini sebagai tempat mengabdi kepada Nusa, Bangsa
dan Negara, dan sebagai upaya menghambakan diri kepada Allah SWT. Dengan demikian maka
setiap hendak berangkat ke tempat bekerja berniatlah beribadah, Insya Allah seluruh pekerjaan kita
akan bernilai ibadah, dan mendapatkan pahala.
Alangkah ruginya orang yang hidup ini niatnya hanya mencari "rumput" walau hal itu penting,
tetapi kalau niatnya hanya itu saja, orang tersebut termasuk orang yang rugi, karena ia tidak akan
mendapatkan nilai ibadah dari pekerjaannya.
Yang namanya ibadah bukan hanya shalat, zakat, puasa atau membaca Al-Qur'an saja, tetapi
bekerja, mengabdi kepada masyarakat, Negara dan Bangsa dengan niat Lillahi Ta'ala ataupun
ibadah. Hal ini penting untuk diketahui, karena ada yang berfilsafat: Kalau ada duitnya baru mau
kerja, kalau tidak ada duitnya malas bekerja.

2. Kedua : Rasul pernah ditanya, wahai Rasulullah! Orang yang paling baik itu yang
bagaimana? Rasul menjawab :
Yang artinya : "Sebaik-baiknya diantara kamu ialah orang yang umurnya panjang dan banyak
amal kebajikannya".
Sudah barang tentu orang yang semacamn ini sangat bermanfaat bagi masyarakat. Sebaliknya
kalau ada orang yang amalnya baik tapi umurnya pendek masyarakat akan merasa kehilangan.
Rasulullah juga mengatakan,"Seburuk-buruknya manusia yaitu mereka yang panjang umurnya tapi
jelek perbuatannya".
Jadi sebenarnya kalau ada orang semacam itu mendingan umurnya pendek saja, supaya
masyarakat sekitarnya tidak banyak menderita dan agar ia tidak terlalu berat tanggung jawabnya di
hadapan Allah. Orang yang umurnya panjang dan banyak amal kebajikannya itulah orang yang baik.
Permasalahannya sekarang bagaimana agar kita mendapat umur yang panjang. Sementara
orang ragu, bukankah Allah telah menentukan umur seseorang sebelum lahir? Pernyataan ini
memang benar, tapi jangan lupa Allah adalah Maha Kuasa menentukan umur yang dikehendaki-Nya.
Adapun resep agar umur panjang sebagaimana resep Rasulullah :
Secara lahiriyah, kita semua sependapat untuk hidup sehat, harus hidup teratur, makan yang
bergizi serta menjaga kondisi dengan berolahraga yang teratur.
Secara spiritual orang yang ini panjang umur ada dua resepnya:
1. Pertama : Suka bersedekah yakni melepaskan sebahagian hartanya di jalan Allah untuk
kepentingan masyarakat, anak yatim, fakir miskin maupun untuk kepentingan agama. Dengan kata
lain orang yang kikir atau bakhil sangat mungkin umurnya pendek.
2. Kedua : Suka silahturahmi, Silah berarti hubungan dan rahmi berati kasih sayang, jadi suka
mengakrabkan hubungan kasih sayang dengan sesama, saling kunjung atau dengan saling kirim
salam.
Sementara para ahli tafsir menyatakan sekalipun bukan umur itu yang bertambah misalnya 60
tahun, karena sering silahturahmi meningkat menjadi 62 tahun, banyak sedekahnya menjadi 65
tahun. Kalau bukan umurnya yang bertambah, setidak-tidaknya berkah umur itu yang bertambah.
Umurnya tetap tapi kualitas dari umur itu yang bertambah.

3. Ketiga : Rasul pernah ditanya, orang yang paling beruntung itu yang bagaimana? Rasul
Menjawab :
Yang artinya : "Barang siapa yang keadaannya hari ini kualitas hidupnya lebih baik dari hari
kemarin maka dia adalah orang beruntung".
Kalau kita bandingkan dengan tahun kemarin, ilmu dan ibadahnya, dedikasinya, etos kerja,
disiplin kerja meningkat, dan akhlaknya semakin baik, orang tersebut adalah orang yang beruntung.
Dengan kata lain filsafat hidup Rasulullah yang ketiga adalah "Tiada hari tanpa peningkatan kualitas
hidup".
Pernyataan Rasul yang kedua :
Yang artinya: "Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini sama dengan hari kemarin, maka
ia termasuk orang yang rugi".
Jika amalnya, akhlaknya, ibadahnya, kedisplinannya dan dedikasinya tidak naik dan juga tidak
turun maka orang tersebut termasuk orang yang merugi.
Sementara orang bertanya: Kenapa dikatakan rugi padahal segala-galanya tidak merosot?
Bagaimana dikatakan tidak rugi, mata sudah bertambah kabur, uban sudah bertabu, giginya sudah
pada gugur dan sudah lebih dekat dengan kubur, amalnya tidak juga bertambah, kualitas hidup tidak
bertambah maka ia adalah rugi. Dan Rasul mengatakan selanjutnya :
Yang artinya : "Barangsiapa keadaan hidupnya pada hari ini lebih buruk dari hari kemarin maka
orang semacam itu dilaknat oleh Allah".
Oleh karena itu pilihan kita tidak ada lain kecuali yang pertama, yakni tidak ada hari tanpa
peningkatan kualitas hidup. Sebagai umat Islam, kedispilinan, dedikasi, kepandaian, kecerdasan,
keterampilan harus kita tingkatkan, agar kita termasuk orang yang beruntung.

4. Keempat : Rasul pernah ditanya : "Wahai Rasulullah! Suami dan isteri yang paling baik itu
bagaimana? Rasul menjawab : "Suami yang paling baik adalah suami yang sikap dan ucapannya
selalu lembut terhadap isterinya, tidak pernah bicara kasar, tidak pernah bersikap kasar, tidak pernah
menyakiti perasaan isterinya, tetap menghormati dan menghargai isterinya.
Sebab ada sikap seorang suami yang suka mengungkit-ungkit segala kekurangan isterinya,
sehingga dapat menyinggung perasaannya, yang demikian termasuk suami yang tidak baik biarpun
keren dan uangnya banyak. Hakekatnya suami yang tidak baik yaitu suami yang kasar terhadap
isterinya. Dan seorang laki-laki yang mulia ialah yang bisa memuliakan kaum wanita, tidak suka
menyepelekan. Sampai-sampai Rasul masih membela kepada kaum wanita beberapa saat sebelum
Beliau wafat. Beliau sempat berpesan: "Aku titipkan nasib kaum wanita kepadamu". Diulangnya tiga
kali. Karena kaum wanita kedudukannya serba lemah. Jadi kalau seoarang suami memiliki akhlak
yang tidak baik maka penderitaan sang isteri luar biasa. Hal ini perlu kita ingat karena segala sukses
yang dicapai oleh sang suami pada hakekatnya adalah karena andil sang isteri. Demikian juga andil
isteri yang membantu mencarikan nafkah.

5. Kelima : Rasul pernah ditanya, "Wahai Rasulullah! Orang yang benar itu yang bagaimana?
Rasul menjawab,"Apabila dia berbuat salah segera bertaubat, kembali kepada jalan yang benar.
Oleh karena itu para filosof mengatakan, "Orang yang benar adalah bukan orang yang tak pernah
melakukan kesalahan, tapi orang yang benar adalah mereka yang sanggup mengendalikan diri dari
perbuatan yang terlarang dan bila terlanjur melakukannya, ia memperbaiki diri dan tidak mengulangi
perbuatan yang salah itu. Ibarat anak sekolah mengerjakan soal, kalau salah tidak jadi masalah, asal
setelah dikoreksi tidak mengulangi kesalahannya. Sampai-sampai ada ungkapan yang tidak enak
didengar tapi benar menurut tuntunan Islam, yaitu: Bekas maling itu lebih baik dari pada bekas
santri. Kita tahu bahwa santri adalah orang yang taat beragama, sedangkan maling penjahat,
pemerkosa, dan sebagainya tapi setelah bertaubat menjadi orang yang baik, kembali ke jalan yang
benar. Orang yang demikian matinya menjadi khusnul khotimah. Memang yang ideal, orang yang
baik itu dari muda sampai tua baik terus, tapi hal itu jarang.
Kesalahan yang sudah terlanjur, selama masih mau bertaubat tidak jadi masalah. Oleh karena
itu, segala hukuman, seperti hukuman administrasi dalam kepegawaian, selalu didasarkan atas
beberapa pertimbangan. Apakah kesalahannya tidak bisa ditolerir, apakah orang tersebut perlu diberi
kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya atau tidak. Apakah kesalahannya terpaksa atau
karena kebodohannya? Maka berbagai pertimbangan perlu dilakukan sehingga ada kesempatan
bagi orang tersebut untuk memperbaiki kesalahannya, agar dia bisa kembali menjadi orang yang
baik. Nabi Muhammad SAW bersabda :
Yang artinya: "Walaupun engkau pernah melakukan kesalahan sehingga langit ini penuh
dengan dosamu, asal saja kamu bertaubat, pasti akan terima oleh Allah".

6. Keenam : Suka memberi. Sabda Nabi :


Yang artinya : "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah".
Orang yang suka memberi, martabatnya lebih terhormat daripada orang yang suka menerima.
Allah berfirman :
Yang artinya : "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan
hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada
tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipat-gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan
Allah Maha Luas karunia-Nya lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 261)
Tidak ada orang yang suka sedekah, kemudian jatuh miskin. Umumnya yang jatuh miskin
karena suka judi, togel, dan minuman keras. Dan resep kaya menurut Islam adalah kerja keras,
hidup hemat, dan suka sedekah.

7. Ketujuh : Rasul pernah ditanya oleh para sahabat : "Wahai Rasul! Si pulan itu orang yang
luar biasa hebatnya. Dia selalu berada dalam masjid, siang malam melakukan shalat, puasa, I'tikaf,
berdo'a. Kemudian Rasul bertanya kepada para sahabat, "Apakah orang itu punya keluarga?"
Sahabat menjawab, "Punya Ya Rasul". Kata Rasul : "Orang tersebut adalah orang yang tidak baik!.
Saya ini suka ibadah tapi disamping itu sebagai seorang suami, berusaha mencari nafkah. Sampai
Rasul menyatakan : " Tergolong tidak baik orang yang hanya mementingkan urusan ukhrawi tetapi
melalaikan urusan dunia".
Juga tidak benar orang yang hanya mementingkan urusan duniawi tapi melalaikan urusan
ukhrawi. Yang paling baik adalah seimbang antara kepentingan duniawi dengan kepentingan
ukhrowi dan tidak berat sebelah.

Oleh : Al-Ustadz Drs. Burhanuddin