Anda di halaman 1dari 7

Nama Kelompok : Yuliana (200865047)

Lenny WIlda Hardianti (200865074)

Reyzghap Hiskia S

Nyeri Arthritis Panggul

PENDAHULUAN

Penyakit degenerative sendi yang lebih dikenal dengan osteoarthritis ( OA ) umumnya mengenai satu atau lebih sendi, di
mulai dengan kerusakan local dari tulang rawan sendi dan digambarkan oleh degenerasi yang progresif tulang rawan, hipertrofi,
remodeling tulang subkondral, dan inflamasi sekunder dari membrane synovial. Merupakan penyakit yang bersifat local tanpa ada
efek sistemik.Saat ini istilah penyakit degenerative sendi sama dengan osteoarthritis ( OA ), osteoartrosis, arthritis degenerative,
senescent arthritis, dan hipertropi arthritis. Walaupun demikian klinisi lebih memilih memakai istilah osteoarthritis daripada penyakit
sendi degenerative .Insidens osteoarthritis ( OA ) meningkat seiring dengan proses penuaan dan terutama ditemukan pada usia di atas
50 tahun, tetapi dapat juga ditemukan pada usia muda akibat kerusakan tulang rawan sendi.

Osteoartritis ( OA ) adalah gangguan sendi yang bersifat kronis, disertai kerusakan tulang rawan sendi berupa disintegrasi
dan perlunakan progresif, diikuti dengan pertambahan pertumbuhan pada tepi tulang dan tulang rawan sendi, yang disebut osteofit,
diikuti dengan fibrosis pada kapsul sendi . Kelainan ini timbul akibat mekanisme abnormal pada proses penuaan , trauma atau akibat
kelainan lain yang menyebabkan kerusakan tulang rawan sendi. Keadaan ini tidak berkaitan dengan faktor sitemik ataupun infeksi
Osteoarthritis atau penyakit degenerative sendi merupakan suatu penyakit kerusakan tulang rawan sendi yang berkembang lambat
yang tidak diketahui penyebabnya, tetapi terdapat beberapa factor resiko yang berperan. Keadaan ini berkaitan dengan usia lanjut,
terutama sendi-sendi tangan dan sendi penopang berat badan yang secara klinis ditandai oleh nyeri, deformitas, pembesaran sendi, dan
hambatan gerak .

KLASIFIKASI OSTEOARTRITIS

1. Osteoartritis Primer
Penyebab tidak diketahui dengan pasti, mengenai satu atau banyak sendi,bersifat progresif. Terutama ditemukan pada wanita kulit
putih, usia pertengahan dan umumnya bersifat poli-artrikuler dengan nyeri yang akut disertai rasa panas pada bagian distal
interfalangeal yang selanjutnya terjadi pembengkakan tulang yang disebut nodus Heberden. Biasanya mengenai sendi lutut dan
panggul.

2. Osteoartritis Sekunder
Disebabkan penyakit yang menyebabkan kerusakan pada synovial sehingga menimbulkan osteoarthritis sekunder. Beberapa keadaan
yang dapat menimbulkan osteoarthritis sekunder, adalah :
- Trauma atau Instabilitas
Terutama terjadi akibat fraktur, post menisektomi, tungkai bawah yang tidak sama panjang, hipermobilitas dan instabilitas sendi, tidak
sejajar dan serasinya permukaan sendi.
- Faktor Genetik atau Perkembangan
Adanya kelainan genetic dan perkembangan seperti dysplasia epifisial, dysplasia acetabuler, penyakit Legg-Calve-Perthes, dislokasi
sendi panggul bawaan dan slipped epiphysis.
- Penyakit Metabolik/ Endokrin
- Osteonekrosis

ETIOLOGI
Faktor predisposisi terjadinya osteoarthritis dipengaruhi oleh :

1. Umur
Dari semua factor resiko untuk timbulnya osteoarthritis ( OA ), factor penuaan adalah yang terkuat. Prevalensi, dan beratnya
osteoarthritis ( OA ) semakin meningkat dengan bertambahnya umur. Osteoarthritis hampir tak pernah pada anak-anak, jarang pada
usia di bawah 40 tahun dan sering pada umur di atas 60 tahun.
2. Jenis Kelamin
Wanita lebih sering terkena OA lutut dan OA bayak sendi, dan lelaki lebih sering terkena OA paha, pergelangan tangan dan leher.
Secara keseluruhan, dibawah umur 45 tahun frekuensi OA kurang lebih sama pada laki-laki dan wanita, tetapi diatas usia 50 tahun
( setelah menopause ) frekuensi OA lebih banyak pada wanita. Hal ini menunjukan adanya peranan hormonal pada pathogenesis OA

3. Ras
OA pada paha lebih sering pada orang kaukasia daripada orang kulit hitam atau asia. OA lebih sering dijumpai pada orang amerika
asli ( Indian ) daripada orang kulit putih.

4. Faktor Keturunan
Ibu dari seorang wanita dengan OA pada sendi-sendi interfalang distal ( nodus Heberden ) terdapat 2 kali lebih sering, dan anak-
anaknya yang perempuan cenderung mempunyai 3 kali lebih sering, dari pada ibu dan anak-anak perempuan dari wanita tanpa OA.

5. Faktor Metabolik dan Endokrin


Berat badan yang berlebih secara nyata berkaitan dengan meningkatnya risiko untuk timbul OA baik pada wanita maupun pria.

6. Faktor Mekanik serta kelainan geometri sendi

7. Trauma dan Faktor Okupasi


Trauma yang hebat terutama fraktur intra-artikuler atau dislokasi sendi.

8. Cuaca/ Iklim
Gejala lebih sering timbul setelah kontak dengan cuaca dingin atau lembab.

9. Diet
Salah satu tipe osteoarthritis yang bersifat umum disiberia disebut penyakit Kashin-beck yang mungkin disebabkan oleh karena
menelan zat toksin yang disebut fusaria.

PATOLOGI

Pada stadium permulaan tidak terdapat perbedaan, apakah primer, sekunder atau gabungan. Rusaknya tulang rawan sendi biasanya
berawal pada daerah penopang berat tubuh yang berlebihan. Tanda-tanda fibrilasi kartilago yang khas, skelrosis tulang subkondral dan
pembentukan osteofit perifer. Pada kasus yang berat permukaan sendi dapat kehilangan tulang rawan sendi sama sekali dan tulang
yang mendasarinya akhirnya dapat hancur. Lutut adalah sendi besar yang paling sering mengalami osteoarthritis. Sering terdapat
faktor predisposisi seperti cedera pada permukaan sendi, robekan meniscus, ketidakstabilan ligament, atau deformitas sendi pinggul
dan lutut yang sudah ada. Tetapi pada banyak kasus tidak dapat ditemukan penyebab yang jelas.
Kelainan yang dapat ditemukan pada osteoarthritis adalah :

1. Tulang Rawan Sendi


Osteoarthritis berawal dari kurangnya atau tidak terbentuknya substansi tulang rawan sendi ( kondroitin sulfat ). Terjadi perlunakan
daniregularitas pada tulang rawan sendi, permukaan sendi menjadi kasar. Pada gambaran mikroskopik terjadi penurunan substansi
penyusun tulang rawan sendi pada lapisan superficial dan peningkatan sel.

2. Tulang
Terjadi peningkatan vaskularisasi serta pembentukan osteofit pada ujung persendian terutama pada sendi interfalang distal.
Pembentukan tulang baru ini berupa eburnasi dan kista-kista. Kista ini dapat berhubungan dengan sendi dan berisi cairan sinovial,
melalui defek pada tulang subkondral.

3. Membran Sinovial
Membrane synovial mengalami hipertrofi vilus.

4. Kapsul Sendi
Terjadi fibrosis dan kontraktur pada kapsul sendi.

5. Loose Bodies ( badan-badan lepas )


Tulang rawan yang nekrosis dapat mengalami aberasi, terlepas ke dalam ruang sendi berupa benda-benda lepas yang dapat
menimbulkan reaksi pada membrane synovial sehingga timbul efusi dalam sendi.
6. Efusi
Dapat terjadi pada stadium awal atau stadium eksaserbasi inflamasi akut. Cairan bersifat jernih, viskositas tinggi dengan kadar protein
yang rendah. Juga dapat terjadi efusi hemoragik, terutama pada orang tua.

7. Nodus Heberden dan Bouchard


Terjadi oleh karena degenerasi membrane kapsul dan jaringan lunak sendi yang membentuk kista yang mengandung asam hialuronat,
kemudian terjadi metaplasia tulang dan tulang rawan.

GAMBARAN KLINIS

Walaupun perubahan-perubahan yang umum dari proses penuaan dan kejadian yang sering dari tingkat lanjut dari penyakit OA, hanya
sekitar 5% dari oaring yang berusia diatas 50 tahun yang mempunyai gejala klinik. Nyeri disebabkan oleh inflamasi sebagai terhadap
iritasi sendi, apakah disebabkan oleh proses mekanik oleh loose bodies, subkondral fraktur, atau factor lainnya.Karena tidak adanya
manifestasi sistemik pada OA maka gejala-gejala dan tanda-tanda terbatas pada masing-masing sendi. Gejala terutama adalah nyeri,
yang ditimbulkan tulang maupun oleh membrane synovial, kapsul fibrous dan spasme dari otot-otot sekitar sendi. Kemudian nyeri
menjadi lebih berat, hilang timbul, bertambah dengan gerakan dan berkurang dengan istirahat. Di kemudian hari nyeri waktu istirahat
pun timbul, mungkin berhubungan dengan hyperemia pada tulang subkondral.

Penyakit ini bisa tanpa gejala,walaupun dari pemeriksaan rontgen positif. Dalam keadaan ringan ,sendi baru akan terasa sakit setelah
melakukan aktifitas berat seperti mengangkat beban berat atau naik turun tangga. Pada keadaan parah hanya dengan melakukan
aktifitas ringan seperti jalan kaki sendi sudah terasa sakit. Bahkan saat duduk atau tiduran nyeripun terasa .Osteoarthritis biasanya
mengenai satu atau beberapa sendi. Gejala-gejala klinis yang ditemukan berhubungan dengan fase inflamasi synovial, penggunaan
sendi, serta inflamasi dan degenerasi yang terjadi di sekitar sendi. Gejala-gejala klinis tersebut terdiri dari :

1. Nyeri sendi
Keluhan ini merupakan keluhan utama yang seringkali membawa pasien ke dokter. Nyeri biasanya bertambah dengan gerakan dan
sedikit berkurang dengan istirahat. Nyeri pada OA daoat bersifat penjalaran atau akibat radikulopati misalnya pada OA servikal dan
lumbal.

2. Kekakuan
Nyeri atau kaku sendi dapat timbul setelah imobilitas, seperti duduk lama atau setelah bangun tidur pagi.

3. Pembengkakan
Terutama pada lutut dan siku yang dapat disebabkan oleh cairan dalam sendi ( waktu stadium akut ) atau karena pembengkakan pada
tulang yang disebut osteofit. Dapat juga oleh karena pembengkakan dan penebalan pada sinovia yang berupa kista.

4. Gangguan Pergerakan
Disebabkan oleh adanya fibrosis pada kapsul, osteofit atau iregularitas permukaan sendi. Dapat ditemukan adanya crepitasi.

5. Perubahan Gaya Jalan


Salah satu gejala yang menyusahkan pada pasien osteoartritis adalah adanya perubahan gaya jalan. Hampir pada semua pasien
osteoartritis, pergelangan kaki, tumit, lutut atau panggulnya berkembang menjadi pincang. Gangguan berjalan dan gangguan fungsi
sendi yang lain merupakan ancaman besar untuk kemandirian pasien lanjut usia.

6. Deformitas
Akibat kontraktur kapsul serta instabilitas sendi karena kerusakan pada tulang dan tulang rawan.

7. Nodus Heberden dan Bouchard


Nodus Heberden itemukan pada bagian dorsal sendi interfalang distal, sedangkan nodus Bouchard pada interfalang proksimal tangan,
terutama pada wanita dengan osteoarthritis primer. Nodus Heberden kadang tanpa disertai rasa nyeri tapi sering disertai perestesia dan
kekakuan sendi jari-jari tangan ( pada stadium lanjut ) disertai deviasi jari ke lateral.

PEMERIKSAAN LABORATORIUM
1. Laju endap darah biasanya normal
2. Serum khlesterol sedikit meninggi
3. Pemeriksaan Rhematoid Factor negative

PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
Pemeriksaan Radiologis dilakukan dengan :
1. Foto Polos
Gambaran yang khas pada foto polos adalah :
- Densitas tulang normal atau meninggi
- Penyempitan ruang sendi yang asimetris, karena hilangnya tulang rawan sendi
- Sklerosis tulang subkondral
- Kista tulang pada permukaan sendi, terutama subkondral
- Osteofit pada tepi sendi
Gambaran diatas teruatama lebih jelas pada sendi-sendi besar.
2. Radionuklida Scanning
- Dilakukan dengan 99mTc-HDP
- Terlihat peningkatan aktivitas tulang pada bagian subkondral dari sendi yang terkena
- Ditemukan panambahan vaskularisasi dan pembentukan tulang baru
- Terlihat daerah perselubungan sendi vertebra apofisial

DIAGNOSIS
Bentuk klasik osteoarthritis monoartrikuler berupa nyeri dan disfungsi dari sendi, terutama pada sendi yang menyokong beban tubuh,
yaitu sendi panggul dan lutut. Pada OA sekunder mungkin dapat ditemukan penyebab sebelumnya seperti dysplasia asetabular,
penyakit Legg-Calve-Perthes, pasca trauma, atau fraktur daerah panggul. OA poli-artikuler ditemukan pada wanita umur pertengahan
dengan keluhan nyeri, kekakuan dan pembengkakan pada sendi tangan terutama mengenai sendi karpometakarpo pertama sendi
tangan dan metatarsofalangeal sendi kaki.

DIAGNOSIS BANDING
1. Nekrosis avaskuler, baik yang idiopatik ataupun sekunder
2. Arthritis rheumatoid, pada stadium awal sulit dibedakan karena sama-sama ditemukan nyeri dan inflamasi pada jari tangan. Pada
stadium lanjut lebih mudah dibedakan, pada arthritis rheumatoid kelainan terutama pada distal interfalang dan metakarpofalangeal.
3. Artritis psoriatic
4. Arthritis gout
5. Arthritis tuberkulosa

PENGOBATAN
Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan OA secara tuntas. Kerusakan bersifat progresif dan akhirnya menetap. Pengobatan
sebaiknya secara individual agar dapat dicapai pengobatan yang diinginkan. Dengan pengobatan local ada harapan untuk
memperlambat proses kalau tidak menghentikannya. Secara umum tujuan pengobatan adalah membantu penderita agar mengerti
tentang penyakitnya, membantu secara psikologis, menghilangkan rasa sakit, menekan proses inflamasi ( terutama dalam selaput
synovial ), mempertahankan fungsi sendi dan mencegah deformitas, melakukan koreksi terhadap deformitas yang sudah ada, dan
melakukan rehabilitasi terhadap penderita secara individu. Bila ada deformitas yang berat dapat ditangani dengan tindakan bedah
seperti mengganti sendi dengan protese.

Pada stadium awal, pengobatan bertujuan untuk :


1. Mengurangi rasa nyeri
2. Menambah luas pergerakan/ mobilisasi sendi
3. Mengurangi beban tubuh

Pengobatan terdiri atas :


1. Penanganan umum
• Istirahat teratur yang bertujuan mengurangi penggunaan beban pada sendi
• Mengurangi berat badan
• Latihan statis dan memperkuat otot-otot
• Fisioterapi, yang berguna untuk mengurangi nyeri, menguatkan otot, dan menambah luas pergerakan sendi
2. Pemberian obat-obatan
• Analgetik dan anti inflamasi untuk mengurangi nyeri dan pembengkakan
• Injeksi steroid intra-artikuler pada sinovitis akut dan nyeri ligament peri-artikuler
3. Tindakan operasi

Tindakan operasi dilakukan apabila :


• Nyeri tidak dapat diatasi dengan obat dan tindakan local
• Sendi yang tidak stabil oleh karena subluksasi atau deformitas pada sendi
• Kerusakan sendi tingkat lanjut
• Mengoreksi beban pada sendi agar distribusi beban terbagi rata
Tindakan operasi yang dapat dilakukan pada sendi, yaitu :
1. Sendi lutut
? Osteotomi tinggi pada tibia, untuk mengoreksi kelurusan pada sendi lutut, di mana bekum ada kerusakan yang menyolok pada sendi
? Hemi-artroplasti, bila kerusakan satu kompartemen sendi
? Artroplasti total, bila seluruh kompartemen sendi rusak
? Artrodesis, bila terdapat kerusakan sendi dan sendi tidak stabil pada orang muda
2. Sendi panggul
? Osteotomi ( operasi menurut Mc. Murray ) dilakukan pada OA yang ringan dengan tujuan untuk mengubah puasat tekanan pada
sendi panggul
? Artroplasti, dilakukan pada kelainan panggul yang lanjut, umumnya dilakukan artroplasti total dengan mengganti sendi panggul
secara keseluruhan baik kaput femur maupun asetabulum
? Artrodesis, umumnya pada penderita muda dengan kelainan yang bersifat unilateral

PROGNOSA
Pada tungkai bawah penyakit sendi menahun mempunyai prognosa yang cukup buruk, karena kebutuhan yang diperlukan hanya untuk
berjalan saja. Pada panggul terutama bila kedua panggul mengalami arthritis kemungkinan akan mengalami kecacatan berat.

ARTHRITIS RHEUMATOID

Menurut definisi, artritis rheumatoid adalah penyakit inflamasi yang mengenai jaringan ikat sendi, bersifat progresif, simetrik, dan
sistemik serta cenderung menjadi kronik. Atau arthritis reumatoid adalah kelainan sistemik dengan manifestasi utama pada persendian
yang berkembang secara perlahan-lahan dalam beberapa minggu.

A. Insidens, Etiologi dan Patogenesis

Insidens arthritis reumatoid yang


berbeda dengan osteoartritis Jaringan sinovia menjadi hiperplastik
memperlihatkan penurunan setelah usia dan mengalami infiltrasi oleh limfosit
serta sel-sel plasma. Sejumlah zat
65 tahun. Namun demikian, karena
pengantar inflamasi, termasuk
arthritis reumatoid merupakan penyakit interleukin 1, prostaglandin, dan
yang khronis, prevalensinya meningkat imunoglobulin ditemukan dalam
cairan sinovia.
pada populasi usia lanjut. Etiologi
penyakit ini tidak diketahui, akan tetapi, B. Keluhan dan gejala
Sebagian besar pasien arthritis
artritis reumatoid ditandai oleh inflamasi
reumatoid yang berusia lanjut
serius pada sinovia persendian diartroid. menderita penyakit tersebut sebagai
suatu proses yang tengah berlangsung
dan sudah dimulai.Kalau arthritis
reumatoid baru terjadi ketika
seseorang sudah berusia lanjut,
onsetnya dapat timbul perlahan atau
terjadi secara akut. Pada kebanyakan
pasien, keadaan artritis disertai
dengan gejala konstitutional yang
ringan atau sedang.
Biasanya arthritis reumatoid terutama ditemukan pada persendian yang kecil pada tangan (yaitu di artikulasio interfalangeal
proksimal, metakarpofalangeal), kemudian kaki (pada artikulasio metatarsofalangeal, interfalangeal) dan pergelangan tangan, baru
kemudian penyakit ini mengenai persendian yang besar (misalnya sendi siku, bahu, lutut). Kalau onsetnya terjadi secara tiba-tiba
selama waktu beberapa hari saja, pasien sering mengalami gejala malaise, anoreksia, penurunan berat badan dan depresi. Gejala panas
dan perspirasi malam hari kadang-kadang dikemukakan. Pada akhirnya, arthritis reumatoid akan menjadi penyakit tambahan yang
simetris persendian seperti halnya arthritis reumatoid pada pasien yang berusia muda.

C. Hasil Laboratorium

Beberapa hasil uji laboratorium dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis arthritis reumatoid. Sekitar 85% penderita arthritis
reumatoid mempunyai autoantibodi didalam serumnya yang dikenal sebagai faktor reumatoid. Autoantibodi ini adalah suatu faktor
anti-gama globulin (IgM) yang bereaksi terhadap perubahan IgG. Titer yang tinggi, lebih besar dari 1:160, biasanya dikaitkan dengan
nodula reumatoid, penyakit yang berat, vaskulitis, dan prognosis yang buruk. Faktor reumatoid adalah suatu indikator diagnosis yang
membantu, tetapi uji untuk menemukan faktor ini bukanlah suatu uji untuk menyingkirkan diagnosis reumatoid arthritis. Hasil yang
positif dapat juga menyatakan adanya penyakit jaringan penyambung seperti lupus eritematosus sistemik, sklerosis sistemik progresif,
dan dermatomiositis. Selain itu, sekitar 5% orang normal memiliki faktor reumatoid yang positif dalam serumnya. Insidens ini
meningkat dengan bertambahnya usia. Sebanyak 20% orang normal yang berusia diatas 60 tahun dapat memiliki faktor reumatoid
dalam titer yang rendah. Laju endap darah (LED) adalah suatu indeks peradangan yang bersifat tidak spesifik. Pada arthritis reumatoid
nilainya dapat tinggi (100 mm/jam atau lebih tinggi lagi). Hal ini berarti bahwa laju endap darah dapat dipakai untuk memantau
aktivitas penyakit.

Arthritis reumatoid dapat menyebabkan anemia normositik normokromik melalui pengaruhnya pada sumsum tulang. Anemia ini tidak
berespons terhadap pengobatan anemia yang biasa dan dapat membuat penderita cepat lelah. Seringkali juga terdapat anemia
kekurangan besi sebagai akibat pemberian obat untuk mengobati penyakit ini. Anemia semacam ini dapat berespons terhadap
pemberian besi. Cairan sinovial normal bersifat jernih, berwarna kuning muda hitung sel darah putih kurang dari 200/mm 3. Pada
arthritis reumatoid cairan sinovial kehilangan viskositasnya dan hitungan sel darah putih meningkat mencapai 15.000 – 20.000/ mm 3.
Hal ini membuat cairan menjadi tidak jernih. Cairan semacam ini dapat membeku, tetapi bekuan biasanya tidak kuat dan mudah
pecah.

D. Kriteria Diagnostik
Diagnosis arthritis reumatoid tidak bersandar pada satu karakteristik saja tetapi berdasar pada evaluasi dari sekelompok tanda dan
gejala.

Kriteria diagnostik adalah sebagai berikut:

Kekakuan pagi hari (sekurangnya 1 jam)


Arthritis pada tiga atau lebih sendi
Arthritis sendi-sendi jari-jari tangan
Arthritis yang simetris
Nodula reumatoid dan Faktor reumatoid dalam serum
Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang)

Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabila sekurang-kurangnya empat dari tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang
disebutkan terdahulu harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.

E. Pengobatan
Terapi farmakologis yang utama untuk artritis reumatoid adalah penggunaan obat anti inflamasi non steroid (AINS). Obat anti
inflamasi non steroid umumnya diberikan kepada arthritis reumatoid sejak masa dini penyakit ini dimaksudkan untuk mengatasi rasa
nyeri sendi akibat inflamasi. Keterbatasan dalam penggunaan AINS adalah toksisitasnya. Toksisitas AINS yang paling sering
dijumpai adalah efek sampingnya pada gastrointestinal, terutama jika AINS digunakan bersama obat lain, alkohol, kebiasaan
merokok, atau dalam keadaan stress. Usia juga merupakan faktor resiko untuk mendapatkan efek samping gastrointestinal akibat
AINS. Bagi pasien yang sensitif dapat digunakan preparat AINS dalam bentuk supositoria, enteric coated. Preparat dalam bentuk ini
kurang berpengaruh dalam mukosa lambung dibandingkan dengan preparat biasa. Pada pihak lain, walaupun AINS dalam bentuk ini
seringkali dianggap kurang menyebabkan timbulnya iritasi gastrointestinal akibat kontak langsung dengan mukosa gastroduodenal,
umumnya obat dalam bentuk ini tetap memiliki efek sistemik terutama menekan sintesis prostaglandin sehingga obat ini juga harus
digunakan secara hati-hati terutama pada pasien yang telah memiliki gangguan gastoduodenal. Efek samping lain yang mungkin
dijumpai pada pengobatan AINS antara lain adalah reaksi hipersensitivitas, gangguan fungsi hati dan ginjal serta penekanan sistem
hematopoetik.

Selain AINS pengobatan arthritis rematoid juga dilakukan dengan terapi fisik dan okupasional yang harus dilakukan bersama-sama
dengan exercise serta pemakaian peralatan penopang dan mungkin pula cara-cara jasmaniah untuk meringankan rasa nyeri (misalnya
kompres hangat atau dingin pada tempat yang sakit). Meskipun istirahat perlu dianjurkan pada saat-saat kambuhnya penyakit,
immobilitas irreversibel dapat terjadi jika seorang pasien lanjut usia dibiarkan tirah baring dalam waktu yang lama. Jika pasien tidak
memperlihatkan respon yang memuaskan terhadap pengobatan dan terapi fisik dalam waktu 6 hingga 12 minggu, terapi pilihan kedua
(second line therapy) harus segera dimulai. Banyak pasien dengan inflamasi yang aktif pada persendian memberikan respon terhadap
terhadap preparat kortikosteroid sistemik (misalnya pemberian prednison selama 1 bulan yang dimulai dengan takaran 25 mg/hari dan
kemudian diturunkan secara perlahan-lahan dengan cara tappering-off menjadi 5 hingga 10 mg/hari). Efek jangka panjang
(osteoporosis, katarak, kesembuhan luka yang jelek, hiperglikemia, hipertensi dan peningkatan resiko infeksi) harus seimbang dengan
manfaat yang diberikan oleh pengobatan ini. Pemberian preparat steroid intra artikular dapat membantu mengatasi inflamasi
rheumatoid akut yang mengenai satu sendi.