Anda di halaman 1dari 2

Bioetanol saat ini banyak untuk konsumsi bahan bakar mesin.

Adakah yang berpikir untuk


membuat bioetanol ini menjadi bahan bakar rumah tangga ?
Pertanyaan ini dijawab oleh Ir Himawan, produsen bioetanol di Cilegon, Provinsi Banten.
Oleh Ir. Himawan, bioetanol cair dirubah menjadi gel agar mudah dibawa kemana-mana, praktis
dan tidak berbahaya. Pembuatan ini untuk mengisi mahalnya minyak tanah.
Mahalkah produk ini. Ternyata tidak, bahkan lebih murah dibanding minyak tanah yang sudah
menginjak harga Rp. 7000/liter. Sedangkan produksi pembuatan Gel Bioetanol sekitar
Rp.4000,-.

Menurut Dr Arief Yudiarto, peneliti Balai Besar Teknologi Pati, di Lampung, sah-sah saja
bioetanol dibuat menjadi jeli. 'Bentuk jeli mudah dibawa saat bepergian seperti camping atau
untuk tentara yang bertugas di hutan. Itu karena tidak mudah tumpah,' ujar Arief. Menurut
alumnus Tokyo University of Agriculture and Technology itu, bioetanol jeli tak mudah terbakar
dan awet.

Menurut alumnus Teknik Kimia Universitas Diponegoro penggunaan jeli bioetanol lebih hemat.
Hasil risetnya membuktikan daya bakar 200 gram bioetanol jeli setara 1 liter minyak tanah.
Pantas bila Gina mengambil 2 sendok bioetanol jeli cukup untuk memasak selama 5 menit.
Sudah hemat, nyala api biru, bioetanol jeli juga tidak menimbulkan asap dan jelaga.

Proses pembuatan Bioetanol cair menjadi gel, Ir. Himawan hanya menerangkan sebagai berikut:
bioetanol jeli dari bioetanol apkir, yakni yang berbau, warna kekuningan, dan kadar di bawah
96%. Yang terpenting titik bakarnya tidak kurang dari 40%. Untuk membuat bioetanol jeli perlu
gelling agent-pengental-berupa tepung seperti kalsium asetat agar bercampur homogen.
Pengental lain yang dapat digunakan antara lain xanthan gum, carbopol EZ-3 polymer, dan
berbagai material turunan selulosa.
Dosis kalsium asetat untuk bahan campuran cukup 1-5%. Kalsium asetat berbentuk tepung itu
lalu diencerkan dengan air sebanyak 20% dari jumlah bioetanol. Selanjutnya dicampur etanol
berkadar 70-85%. Rasio antara pengental dan bioetanol perbandingannya 1:7. Setelah itu
ditambahkan 5% natrium hidroksida sebagai penyeimbang pH agar tingkat keasaman 5-6. Saat
menambahkan natrium hidroksida kecepatan aduk ditingkatkan 2 kali lipat. 'Untuk membuat 200
g gel kecepatan aduk berkisar 2.500 rpm. Semakin besar jumlahnya, kecepatan ditambah agar
hasil homogen,' kata Himawan. Dalam beberapa menit bioetanol sudah menjadi gel.
Tetapi bagi pemakai bioetanol gel harus membeli kompor baru. 'Prinsipnya, kompor bioetanol
jeli itu mirip kompor konvensional. Bedanya ruang untuk sumbu diganti dengan tempat menaruh
gel. Sayang, saat ini kompor ujicoba masih untuk wajan berdiameter 30 cm. Saat api padam,
wajan harus diangkat untuk ditambahkan jeli. 'Saat menambahkan api harus benar-benar mati,'
kata Himawan. Oleh karena itu agar jangkauannya luas, tak hanya untuk kebutuhan
rumahtangga, kompor dirancang untuk industri kecil seperti pembuatan keripik. 'Paling-paling
harga jual berkisar Rp15.000/kompor, tergantung ukuran,' kata Himawan.

Beri Nilai