Anda di halaman 1dari 14

Soal-Soal Struktur Aljabar dan Penyelesaiannya

Kata Kunci:

Aljabar, Ring, Ideal, Daerah Integral, Ring Polinomial

Wijna © 2009

Pembuka

Tak kenal maka tak sayang. Mungkin itulah peribahasa yang tepat untuk mencitrakan karya ini bagi pembaca sekalian yang tidak familier dengan bidang matematika terutama aljabar. Sehingga tidak heran jika banyak yang mengatakan bahwa apa yang penulis tulis di karya ini hanya penulis seorang diri dan Gusti Allah SWT yang mengetahuinya. Ah ya, tentu sebelumnya penulis kembali memuji kebesaran Gusti Allah SWT, yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk bisa berpikir (secara matematis), mengenyam jenjang pendidikan S1 di Prodi Matematika FMIPA UGM, dan menghaturkan karya ini bagi pembaca sekalian.

Karya ini bukan merupakan ajang pembuktian diri penulis bahwa ia adalah seorang ahli aljabar di jamannya, melainkan sebuah bagian kecil dari usaha besar untuk kembali menanamkan pemahaman mahasiswa Prodi Matematika FMIPA UGM khususnya dan peminat aljabar lain pada umumnya terhadap bidang matakuliah aljabar yang notabene amat-sangat susah untuk dipahami. Penulis berharap, dengan adanya karya ini dapat memperkaya khazanah ilmu matematika di bidang aljabar yang kerap termarjinalkan di belantara literatur jagat maya. Penulis juga berharap karya ini dapat membantu mahasiswa Prodi Matematika FMIPA UGM, khususnya bagi adik-adik angkatan penulis, yang penulis pernah jumpai dan tidak pernah jumpai, untuk sekiranya mendongkrak nilai yang mereka peroleh. Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan karya ini, khususnya lagi bagi bapak dan ibu dosen Prodi Matematika FMIPA UGM yang selalu sabar mengajari penulis akan banyak hal.

Soal-soal yang ada di dalam karya ini disadur dari soal ujian tengah semester dan akhir semester matakuliah Pengantar Struktur Aljabar II pada semester ganjil 2008/2009 yang diampu oleh Bapak Dr. Budi Surodjo, M.Si dan Ibu Dr. Indah Emilia Wijayanti, M.Si. Perlu diperhatikan bahwa penulis baru menginjak jenjang pendidikan S1, karenanya tidak menutup kemungkinan bahwa ada banyak kesalahan di karya ini dan penulis meminta masukan dari pembaca sekalian untuk membantu mengkoreksinya. Semoga karya ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian. Selamat belajar dan memahami.

Bandung, 2009 Terjebak di rumah, langit mendung, tidak bisa memotret

Penulis

1.

Diberikan ring komutatif R yang memiliki elemen satuan 1 R dan diketahui juga

ψ End (R). Dengan = {0,1,2,

} dibentuk himpunan

S

Untuk setiap ab,

{

a

==

(

aaa

012

,

,

,

S didefinisikan:

,

a

n

,0,0,

)

n

i.

a

+=

a

=+

a

0

,

(

0

1

b

(

aa

,

2

,

ba

,

01

,

+

a

b

1

n

,

,0,0,

,

a

k

+

)

+

b

k

(

bbb

012

,

,

,0,0,

)

, dengan k = maks{n, m}.

ii.

ab

⋅=

=

(

(

a

ccc

0

,

1

aa

,

2

012

,

,

,

,

dengan

c

i

,

,

,

a

c

i

n

=

j = 0

n

+

,0,0,

m

,0,0,

(

abψ

ij

)(

)

)

.

j

bbb

012

,

,

,

,

,

Ri

, ,

a

i

b

m

,0,0,

)

,

b

m

,0,0,

)

=

0,1,

,

n

}

.

Maka, himpunan S terhadap operasi penjumlahan dan perkalian diatas tidak selalu

merupakan ring.

Bukti.

Pembuktian dilakukan dengan menunjukkan counter-example, yaitu ada elemen-

elemen di himpunan S yang operasi perkaliannya tidak asosiatif, sehingga dengan demikian

himpunan S tersebut bukan ring. Dibentuk himpunan R, yaitu

R

Untuk setiap

⎛ ⎞⎛

,

⎟⎜

⎝ ⎠⎝ ⎠

a

b

c

d

⎟ ∈ R didefinisikan:

i.

⎛⎞ ⎛⎞ ⎛ +

⎜⎟ + ⎜⎟ = ⎜

⎝⎠ ⎝⎠ d

a

b

c

ac

+

bd

ii. ⎛ ⎞⎛ c ⎞ ⎛

a

b

⎟⎜ ⋅

⎠⎝

=

d

ac

bd

.

=

⎪⎛ ⎧ a

⎪⎝ ⎩ ⎠

b

ab

,

.

Maka himpunan R dengan operasi penjumlahan dan perkalian diatas merupakan ring

komutatif dengan elemen satuan

1

R

= ⎝⎠ ⎜⎟ ⎛⎞ . (Silakan dibuktikan sendiri)

1

1

Dibentuk pemetaan ψ : R R dengan syarat

ψ ⎛⎛⎞⎞

⎜⎜⎟⎟ ⎜⎟

a

b

= ⎝⎠ untuk setiap

a

b

⎝⎝⎠⎠

a

b

⎝ ⎠

R .

Dengan demikian ψ merupakan homomorfisma ring (Silakan dibuktikan sendiri) dan

karena ψ : R R , berakibat ψ End (R).

Kemudian dibentuk himpunan S sesuai apa yang telah didefinisikan sebelumnya dan

diambil elemen abc, ,

S sebagai berikut:

i.

ii.

iii.

a

b

c

⎛⎛ 1200 ⎞⎛ ⎞⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎞

⎝⎝ ⎠⎝ ⎠⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎠

= ⎜⎜ ⎟⎜ ,

⎟⎜ ,

⎟⎜ ,

,

1100

⎛⎛ 0100 ⎞⎛ ⎞⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎞

⎝⎝ ⎠⎝ ⎠⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎠

= ⎜⎜

⎟⎜ ,

0000

⎟⎜ ,

⎟⎜ ,

,

⎛⎛ 200 ⎞⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎞

⎝⎝ ⎠⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎠ .

= ⎜⎜

⎟⎜ ,

⎟⎜ ,

,

100

Diperhatikan bahwa

ab

(

x

x

x

,0,0,

)

=

=

⎛ ⎧⎪⎛⎞ 1 ⎨⎜⎟

⎝ ⎩

⎛⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎞

= ⎜⎜⎟ , ⎜⎟ , ⎜⎟ , ⎜⎟ ,

=

0

= ⎜

0

({

012

,

,

a

0

ψ

( )}{

b

0

1

ψ

10

,

a

1

ψψba

+⋅

00

(

2

)

()}{

b

1

,

a

2

ψψψba ba b

+⋅

01

+⋅

10

2

,

0

0

ψ

,

0

0

,

(

1

)

()

ψ

(

)}

,0,0,

)

⎛⎞⎛ ⎞⎫⎧⎪⎪⎛ ⎞ ⎛⎞⎛ ⎞ ⎛⎞ ⎛⎞⎛ ⎞⎫⎪ ⎛ ⎞ ⎛⎞⎛ ⎞ ⎛ ⎞ ⎛⎞⎛ ⎞ ⎛⎞ ⎛⎞⎛ ⎞⎪⎛ ⎞

⎪⎝⎠ ⎠⎪⎪⎝ ⎠ ⎠ ⎝⎠ ⎠⎪ ⎝ ⎠ ⎝⎠⎝ ⎠ ⎝ ⎠ ⎠ ⎝⎠ ⎠⎪⎝ ⎠

01

⎜⎜

02

⎟⎟

+

01

10

+⋅ ⎜⎟⎜ ⎟⎬

10

11

0

⎟⎟⎬ ,

0

0

⎜⎜ ⎟⎟⎬ , ⎨⎜

⎭⎩

1

20

ψψ

01

⎜⎜ ⎟⎟ ⎜⎟

+⋅

10

⎜⎜ ⎟⎟⎬

0

00

⎜⎜ ⎟⎟ + ⎜⎟

01

⎟ ⎟ ⎠

ψ

⎜⎜

0

⎧⎛⎞⎛ ⎞⎫⎧⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛⎞⎛ ⎞⎫⎧⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛⎞⎛ ⎞⎫ ⎛ ⎞

⎩⎝⎠⎝ ⎠⎭⎩⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝⎠⎝ ⎠⎭⎩⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝⎠⎝ ⎠⎭ ⎝ ⎠

20

⎟⎜ ⋅

11

⎨⎜⎟⎜ ⎟⎬⎨⎜ ⎟⎜ ⎟ ⎜⎟⎜ ⎟⎬⎨⎜ ⎟⎜ ⎟

10

,

10

+⋅

11

,

00

0000

⎝⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠ ⎠

0110

+

,

(

⎛⎧

⎝⎩

⎛⎧

⎪⎛⎞

⎨⎜⎟

⎛⎞⎪⎛⎞

⎜⎜⎟⎟⎬ ⎨⎜⎟ ⎜⎜⎟⎟ ⎜⎟ ⎜⎜⎟⎟⎬ ⎨⎜⎟ ⎜⎜⎟⎟ ⎜⎟ ⎜⎜⎟⎟ ⎜⎟ ⎜⎜⎟⎟⎬ ⎜⎟

⎪⎝⎠ ⎝⎠⎝⎠⎪⎪⎝⎠ ⎝⎠⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠⎝⎠⎪⎪⎝⎠ ⎝⎠⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠⎝⎠⎪⎝⎠

⎛⎞⎫⎧

0

⎛⎞⎪⎪⎛⎞

0

0

,

⎭⎩

1

⎫⎧

⎬⎨

,

01

⎛⎞

+

20

⎛⎞ ⎛⎞

⎛⎞⎫⎧

0

01

⎟⎜

12

⎛⎞⎪⎪⎛⎞

0

0

,

⎭⎩

1

⎛⎞

+

20

⎛⎞ ⎛⎞

⎛⎞

+

00

⎛⎞ ⎛⎞

⎛⎞⎫

ab ⋅⋅= c

)

0

0

00

,

ψ

ψψ

10

00

⎟⎜

01

⎫⎧

⎬⎨ ,

ψψψ

11

00

00

⎟⎜

00

,

0

,

⎟ ⎠

00

00

⎛ ⎞⎛ ⎞

⎟⎜ ⋅

00

0 ⎞ ⎜

⎠⎝ ⎠⎭⎩⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝ ⎠⎝ ⎠⎭⎩⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝ ⎠⎝ ⎠⎭ ⎝ ⎠

⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛ ⎞⎛ ⎞

00

⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛ ⎞⎛ ⎞

=⎜⎨

⎟⎜ ⋅+⋅ ⎟ ⎜

12

⋅+⋅+⋅

⎟⎜

10

⎝ ⎩⎝

⎛⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎞

0000

⎜⎟ , ⎜⎟ , ⎜⎟ , ⎜⎟

0220

⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠

,

=

,

dan

bc

=

=

(

y

0

,

({

b

0

y

1

,0,0,

)

ψ

( )}{

c

0

,

b

1

ψψcb

+⋅

00

(

)

()}

c

1

,0,0,

)

⎪⎛⎞

=⎜ ⎜

⎝⎩

0

0

ψ

⎛⎧

⎛⎞⎛⎞⎪⎪⎛⎞ ⎛⎞⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞⎛⎞⎪⎛⎞

⎨⎜⎟ ⎜⎜⎟⎟⎬ ⎨⎜⎟ ⎜⎜⎟⎟ ⎜⎟ ⎜⎜⎟⎟⎬ ⎜⎟

⎪⎝⎠ ⎝⎠⎝⎠⎪⎪⎝⎠ ⎝⎠⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠⎝⎠⎪⎝⎠

2

1

⎫⎧

,

⎭⎩

1

0

20

+⋅

00

ψψ

10

+

00

⎟⎜ ⋅

00

,

0

0

,

00

,

⎞⎛ ⎞⎫ ⎛ ⎞⎛

⎧⎛ 01

⎟⎜

⎟⎬

02 ⎠⎝ ⎠⎭

,

⎜ ⎝ 02 ⎠ ⎝

010

000

11 ⎞ ⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛ ⎞

⎝ ⎠⎝ ⎠⎭ ⎝ ⎠

⎟ ⎠

=⋅ ⎜ ⎨⎜

⎝ ⎩⎝

⎛⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎞

= ⎜⎜⎟ , ⎜⎟ , ⎜⎟ ,

⎝⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠ ⎠

,

⎛⎧

⎝⎩

⎛⎧

⎪⎛⎞

⎨⎜⎟

⎛ ⎞⎪⎛ ⎞

⎟⎟⎬ ,

⎪⎝⎠ ⎠⎪⎪⎝ ⎠ ⎠ ⎝⎠ ⎠⎪⎪⎝ ⎠ ⎠ ⎝ ⎠ ⎠ ⎝⎠ ⎠⎪⎝ ⎠

⎛⎞⎫⎧

⎜⎜ ⎟⎟⎬ ⎨⎜

⎛ ⎞⎪⎪⎛ ⎞

⎛⎞

⎜⎜ ⎟⎟ ⎜⎟

⎛⎞

⎛ ⎞

⎛ ⎞⎪⎪⎛ ⎞

⎟⎟⎬ , ⎨⎜

(

)

1

1

0

0

,

2

1

01

+

⎛⎞⎫⎧

⎜⎜

1

0

0

0

⎛⎞

⎛ ⎞

⎜⎜

02

⎟⎟

+

01

10

+⋅ ⎜⎟⎜ ⎟

10

⎛ ⎞

⎛⎞

⎜⎜ ⎟⎟ ⎜⎟

⎛⎞

⎛ ⎞

11

+

⎛⎞⎫

⎜⎜

0

0

0

0

a

⋅⋅ bc =

ψ

,

⎭⎩

ψψ

01

,

10

11

⎫⎧

⎬⎨ ,

ψ

ψψ

01

,

0

0

,

⎞ ⎟ ⎟ ⎠

.

⎭⎩

⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛⎞⎛ ⎞ ⎛ ⎞

⎩⎝⎠⎝ ⎠⎭⎩⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝⎠⎝ ⎠⎭⎩⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝ ⎠⎝ ⎠ ⎝⎠⎝ ⎠⎭ ⎝ ⎠

10

⎛⎞⎛ ⎞

⎜⎟⎜ ⋅ ⎟

10

⎫⎧

⎬⎨

⎛ ⎞⎛ ⎞ ⎛⎞⎛ ⎞

+⋅ ⎜⎟⎜ ⎟

20

⎟⎜ ⋅

10

00

⎟⎜ ⋅

00

+

20

⎟⎜ ⋅

11

=⎜⎨ ⎜

=

0000

⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞

⎜⎟ , ⎜⎟ , ⎜⎟ , ⎜⎟

⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠

0110

Karena diperoleh

i.

ii.

maka (

(

⎛⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎞

⋅= ⎜⎜⎟ ⎜⎟ ⎜⎟ ⎜⎟ ⎟

0000

0220

,

,

,

ab

c

)

dan

,

⎝⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠

⎛⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎛⎞ ⎞

⋅⋅= ⎜⎜⎟ ⎜⎟ ⎜⎟ ⎜⎟ ⎟

0000

a

bc

(

)

⎝⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠ ⎝⎠ ⎠ ,

0110

,

,

,

,

ab

⋅≠⋅c a bc

)

(

)

. Karena himpunan S memuat elemen-elemen yang perkaliannya

tidak asosiatif, maka himpunan S bukan merupakan ring.

,

⎟ ⎟

2. Diketahui = {

, −−2, 1,0,1, 2,

} merupakan ring terhadap operasi penjumlahan dan

perkalian bilangan bulat. Untuk sebarang n didefinisikan

I

n adalah ideal yang

dibangun oleh n. Maka untuk setiap bilangan prima p, berlaku sifat jika I ideal di

dengan

I = .

I

p

I , maka

I = I

p

atau

Bukti.

Untuk sebarang n , ideal

I

n

berwujud

I

n

=

{ rn

r

} . Diperhatikan sebelumnya

bahwa setiap ideal I di dibangun oleh tepat satu elemen, yaitu jika I ideal di maka

I = I

n untuk suatu n .

Diambil sebarang bilangan prima p dan diandaikan terdapat ideal

I

n

di yang

memenuhi

I

p

I

n

. Karena

p I

p

dan

I

p

I , akibatnya

n

p I

n dan dengan demikian

p = rn untuk suatu r . Karena p bilangan prima, maka akan berlaku p | r atau p | n .

i.

Jika yang berlaku p | r , maka r = pm untuk suatu m sehingga diperoleh

p = pmn . Karena p bukan nol, maka menggunakan sifat kanselasi diperoleh

1 = mn . Karena m, n , persamaan 1 = mn berlaku jika dan hanya jika m = n = 1

ii.

atau m = n =−1. Jika n = 1 , maka

I

n

=

I

1

=

{

r

1

r

}

∈=

{

rr

}

. Jadi

∈=

diperoleh

I

n = untuk n = 1. Dengan cara serupa, dapat ditunjukkan bahwa untuk

n = −1 juga berlaku

I

n

= .

Jika yang berlaku p | n , maka n = pm untuk suatu m . Karena

pmI

p ,

akibatnya

n I

p

dan dengan demikian

rn I

p untuk setiap r . Jadi, berlaku

I

n

I

p

dan karena I

p

I

n

maka diperoleh

I

p

= I

n

.

3.

Diketahui R ring dengan elemen satuan 1 R . Jika ϕ merupakan epimorfisma dari R ke S,

maka S juga memiliki elemen satuan.

Bukti.

Diketahui ϕ epimorfisma dari R ke S, dengan demikian ϕ merupakan

homomorfisma yang surjektif. Diambil sebarang s S , karena ϕ pemetaan surjektif, maka

terdapat r R sehingga ϕ (r) = s . Karena R ring dengan elemen satuan, maka berlaku

1

R

⋅=⋅rr 1 = r , dan dengan demikian menggunakan sifat homomorfisma diperoleh

R

i. ϕ rr=ϕ

R

ii.

ϕ rr=ϕ

1

(

(

)

)

(1

(

⋅=ϕϕr

R

)

⋅=ϕϕr

R

R

)

)

(1 )

(

)

(1 )

(

.

Dari poin i. dan ii. diperoleh

ϕ

(1 )

R

⋅=⋅ϕ rrϕϕ = ϕ r dan karena ϕ (r) = s , maka

(

)

(

)

(1 )

R

(

)

ϕ

(1 )

R

⋅=⋅s s ϕ

(1 )

R

= s . Jadi, karena

ϕ

(1 )

R

S , maka

ϕ

(1 )

R

merupakan elemen satuan

pada S.

4. Diketahui R ring . Jika μ merupakan monomorfisma dari R ke S dan S ring komutatif,

maka R juga ring komutatif.

Bukti.

Diketahui μ monomorfisma dari R ke S, dengan demikian μ merupakan

homomorfisma yang injektif. Diambil sebarang rs,

keduanya merupakan elemen di R. Menurut sifat homomorfisma diperoleh

R , dan dengan demikian r s dan s r

i. μ (rs⋅=) μμ(r)(s)

ii. μ (s ⋅=r) μμ(sr)( ) .

Karena S ring komutatif, maka dari poin i. dan ii. berlaku μμ(rs)=( )

μμ(sr) (

) dan

akibatnya μ (rs=) μ (sr ). Karena μ merupakan pemetaan injektif dan

μ (rs=) μ (sr ), maka diperoleh rs⋅ = sr. Jadi, ring R merupakan ring komutatif.

5. Diketahui R ring komutatif dengan elemen satuan dan

II,

berlaku

II

12

II

⊆⊆ ⊆

n

n

+

1

yang termuat pada I.

⊆⊆

I

. Maka himpunan

1

, I

2

,

V =

ideal-ideal di R dan

I

i merupakan ideal di R

Bukti.

V =

Karena berlaku sifat

II

⊆ ⊆⊆ ⊆

12

n

II

n

+

1

⊆⊆

I

, maka jelas bahwa

II

i

. Dengan demikian, tinggal ditunjukkan bahwa V merupakan ideal di R.

i. Diambil sebarang ab,

V maka a I

n

dan b I

Dipilih k = maks{n, m}, dengan demikian

aI

n

m

untuk suatu n, m {1, 2,3,

I

k

dan bI

m

I . Karena

k

}

merupakan ideal di R dan

I

k

V , maka berlaku

abI

k V . Jadi, diperoleh

abV

.

ii. Diambil sebarang a V maka a I

n untuk suatu n {1, 2,3,

}.

Karena

I

n

merupakan ideal di R dan

I

n V , maka untuk sebarang r R berlaku

ra = ar ∈⊆I

n

V . Jadi, diperoleh ra = ar V untuk sebarang r R .

Dari poin i. dan ii. dapat disimpulkan bahwa

V =

I

i merupakan ideal di R.

.

I

k

6. Diketahui R adalah ring komutatif dengan elemen satuan, maka

R

[

X

,

Y

]

=

{ a

0

+

aY

1

+ +

aY

n

ni

a

R

[ ](

X

,

∃∈

n

{

0,1,2,

})(

∀≥

k

n

)

a

k

=

0

}

juga merupakan ring komutatif dengan elemen satuan.

Bukti.

Karena R merupakan ring komutatif, maka R[X ] juga ring komutatif. Serupa,

karena R[X ] merupakan ring komutatif, maka R[X ][Y ] = RXY[ ,

] juga ring komutatif.

Karena terdapat hubungan R RX[

] RXY[ ,

], maka elemen satuan pada R juga

merupakan elemen satuan pada R[X ] dan R[X ,Y ].

Catatan: Pernyataan R[X ][Y ] = RXY[ , ], masih diperdebatkan oleh beberapa matematikawan.

Akan tetapi bagi para pemula yang baru mendalami struktur aljabar diharapkan untuk menganggap benar pernyataan tersebut.

7. Diketahui R ring komutatif dengan elemen satuan, maka R[XY,

Bukti.

] Y RX[ ].
]
Y
RX[
].

Pembuktian akan dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

i. Mencari tahu elemen-elemen pada ring faktor R[XY,

.Mencari tahu elemen-elemen pada ring faktor R [ X Y , ii. Mengkonstruksi homomorfisma yang bijektif

ii. Mengkonstruksi homomorfisma yang bijektif dari R[XY,

ke R [ X ] . R[X ].

Langkah poin i. Diperhatikan bahwa ideal

Y =⋅hY f ∈ RXY, { [
Y
=⋅hY f ∈ RXY,
{
[

]}

memuat setiap

bahwa ideal Y =⋅hY f ∈ RXY, { [ ] } memuat setiap polinomial dengan indeterminate

polinomial dengan indeterminate Y sebagai faktornya, yaitu g Y

jika dan hanya jika

g = h Y untuk suatu h RXY[ ,

]. Diambil sebarang f RXY[ ,

, maka f dapat f dapat

disajikan sebagai

f = fY + = ( a + aY ++ aY n ) + Y
f
=
fY
+
=
(
a
+
aY
++
aY
n )
+
Y
0
1
n
=
( a
+
Y
)
+
(
aY
+
Y
)
++
0
1

(

aY

n

n +

Y )
Y
)

()

untuk suatu n {0,1, 2, dan

}

a

i

[

RX

]

. Menurut sifat koset, koset aI+

dan bI+

dinyatakan sama jika dan hanya jika abI− ∈

. Diperhatikan bahwa, untuk setiap

k {1, 2, ,

}

aY

k

k

0
0

+ Y =+ Y

karena

k ∈ { 1 , 2, , } aY k k 0 + Y =+ Y

aY −= aY Y . Dengan demikian ()

k

k

0

k

k

menjadi

n f = + ( a Y ) + ( aY + Y ) ++
n
f
= +
(
a
Y
)
+
(
aY
+
Y
)
++
(
aY
+
Y
)
0
1
n
= )
(
aY +
+
(
0 +
Y
)
++ 0 +
(
Y
)
0
= (
a
++ + +
0
0
)
Y
0
=
a
Y
.
0 +

Jadi, diperoleh

R [

XY,

] Y = a =+a { Y a ∈ RX [ ]}
]
Y
= a =+a
{
Y
a ∈ RX
[
]}

.

ψ

(

Langkah poin ii. Dibentuk pengaitan ψ : R[XY,

] Y
]
Y

RX[

], dengan

ψ : R [ X Y , ] Y → R X [ ] , dengan

aY+

)

= a dengan a RX[

]. Selanjutnya akan ditunjukkan bahwa ψ merupakan

homomorfisma yang bijektif yaitu dengan menunjukkan bahwa ψ merupakan pemetaan,

memiliki sifat surjektif, injektif, dan homomorfisma.

a. Akan ditunjukkan bahwa ψ merupakan pemetaan. Diperhatikan bahwa setiap elemen

pada R[XY,

dapat dipetakan. Selanjutnya, akan ditunjukkan bahwa hasil petapemetaan. Diperhatikan bahwa setiap elemen pada R [ XY , untuk suatu elemen pada R [

untuk suatu elemen pada R[XY,

] Y
]
Y

adalah tunggal. Diambil sebarang

pada R [ X Y , ] Y adalah tunggal. Diambil sebarang a + Y ,

a + Y ,b +∈Y

, ] Y adalah tunggal. Diambil sebarang a + Y , b +∈ Y RXY [

RXY[ , ] Y

dengan aY+

=+bY
=+bY

. Karena aY+

b +∈ Y RXY [ , ] Y dengan aY + =+bY . Karena aY +

=+bY ,

maka ab

atau dengan kata lain ( a b − (ab

)+ Y =+0

Y .
Y
.

Karena, ψ

((

ab

)

+ Y =−ab, ψ 0 + Y

0 Y . Karena, ψ ( ( ab − ) + Y =− ab , ψ

)

(

)
)

= 0 , dan (ab )+ Y =+0

Y
Y

, maka

diperoleh a b = 0 atau dengan kata lain a = b . Jadi, terbukti bahwa hasil peta suatu

elemen pada R[XY,

] Y
]
Y

adalah tunggal.

b. Akan ditunjukkan bahwa ψ merupakan pemetaan surjektif. Karena

R [ XY, ] Y = { a =+a Y a ∈ RX [ ]}
R [
XY,
]
Y
=
{
a
=+a
Y
a ∈ RX
[
]}
, maka jelas untuk setiap a ∈ RX[
] selalu dapat
dipilih a + Y ∈ RXY[
,
]
Y
sehingga ψ
(
aY+
)
= a . Jadi, terbukti ψ pemetaan

surjektif.

c. Akan ditunjukkan bahwa ψ merupakan pemetaan injektif. Diambil sebarang

ab,

R[X ] dengan a = b . Karena a = b , maka a b = 0 dan dengan demikian

ab− ∈ Y . Karena ab− ∈ Y , maka menurut sifat kesamaan koset diperoleh
ab−
Y
. Karena ab−
Y
, maka menurut sifat kesamaan koset diperoleh
aY+
=+bY
dan berlaku
ψ (
a +
Y
)
===ab ψ b + Y
(
)
. Jadi,
terbukti ψ
pemetaan injektif.

d.

Terakhir, akan ditunjukkan bahwa ψ merupakan homomorfisma. Diambil sebarang

bahwa ψ merupakan homomorfisma. Diambil sebarang a + Y , b +∈ Y RXY [ ,

a + Y ,b +∈Y

RXY[

,

dan diperhatikan bahwahomomorfisma. Diambil sebarang a + Y , b +∈ Y RXY [ , i. ( (

i. ((

ψ ++

a +

Y )
Y
)

(

b

Y
Y

))

=

=

ψ

a

((

ab

++

)

+

b

Y
Y

)

ii. ((

ψ )(

a +

Y
Y

⋅+

b

Y
Y

))

=+++

ψ

ψ

(

aY

=+++ ψ ψ ( aY ) ( bY = ψ ( ( ) ab ⋅+ Y

)

(

bY

=+++ ψ ψ ( aY ) ( bY = ψ ( ( ) ab ⋅+ Y

=

ψ

((

)

ab ⋅+

Y
Y

)

)

=

=

a

ψ

b

(

aY

+⋅+

ψ

b ( aY +⋅+ ψ ) ( bY ) .

)

(

bY

b ( aY +⋅+ ψ ) ( bY ) .

) .

Jadi, terbukti bahwa ψ homomorfisma.

Dengan demikian langkah poin i. dan ii. telah selesai dan terbukti bahwa

R[XY,

] Y
]
Y

RX[

]. Cara pembuktian ini terkesan lebih panjang dibandingkan dengan

pembuktian menggunakan Teorema Fundamental Homomorfisma Ring, akan tetapi menurut

penulis lebih mudah untuk dikerjakan tanpa perlu harus memahami Teorema Fundamental

Homomorfisma Ring.

8. Diketahui D daerah integral dan ab,

b ⊆ a .
b ⊆
a
.

D dengan a,b 0 , maka a | b jika dan hanya jika

Bukti.

()

≠ 0 , maka a | b jika dan hanya jika Bukti. ( ⇒ ) Karena

Karena a | b , maka b = ac untuk suatu c D . Karena ac a , berakibat

Sehingga, untuk setiap

r D , berlaku br = rb

a
a

atau dengan kata lain

()

b ∈ a . b ⊆ a .
b ∈
a
.
b ⊆
a
.
∈ a atau dengan kata lain ( ⇐ ) b ∈ a . b ⊆ a

Karena b b

dan

b ⊆ a
b
a
) b ∈ a . b ⊆ a . Karena b ∈ b dan b ⊆

, berakibat b a

atau dengan kata lain b = ac untuk suatu

c D . Karena b = ac , maka berlaku a | b .

9.

Diketahui D daerah integral dan ab,

D dengan a,b 0 , maka a dan b saling terasosiasi

jika dan hanya jika

Bukti.

()

b = a .
b
=
a
.

Karena a dan b saling terasosiasi, maka a = bu dan b = av untuk suatu unit uv,

D .

Karena a = bu , maka b | a dan menurut soal no. 8 berakibat
Karena a = bu , maka b | a dan menurut soal no. 8 berakibat
a
b
.
Karena b = av ,
maka a | b dan menurut soal no. 8 berakibat
b ⊆ a . Karena diperoleh
a
b
dan
b
b

a , maka berlaku

b = a .
b
=
a
.

()

a ⊆ b dan b ⊆ a , maka berlaku b = a . ( ⇐

Karena b b

dan

, makaa , maka berlaku b = a . ( ⇐ ) Karena b ∈ b dan

b = av untuk suatu v D . Karena a

a
a

dan

= a , maka a = bu untuk suatu u ∈ D . Dengan demikian diperoleh a , maka a = bu untuk suatu u D . Dengan demikian diperoleh

a ==bu

(av)u = a(vu). Karena a 0 , menggunakan sifat kanselasi diperoleh 1 = vu , dan

dengan demikian u, v adalah unit di D. Jadi, karena b = av dan a = bu , maka a dan b saling terasosiasi.

10. Diketahui D daerah integral. Elemen a D merupakan elemen prima jika dan hanya jika

a
a

merupakan ideal prima.

Bukti.

()

Diambil sebarang rs,

D dengan rs

a
a

. Karena rs

a
a

, maka rs = ac untuk suatu

c D dan dengan demikian a | rs . Karena a merupakan elemen prima akibatnya a | r atau

a | s . Jika a | r , berakibat r = ad untuk suatu

a | s . Jika a | r , berakibat r = ad untuk suatu d

d D dan dengan demikian r a . Jika

suatu d ∈ D dan dengan demikian r ∈ a . Jika a | s ,

a | s , berakibat s = ae untuk suatu e D dan dengan demikian s a . Jadi, terbukti

a
a

ideal prima.

()

Diambil sebarang rs,

D dengan

rs

a
a

. Karena

a
a
) Diambil sebarang rs , ∈ D dengan rs ∈ a . Karena a ideal prima

ideal prima berakibat r a

atau

s

Jika r ∈ r

a
a

, maka r = ad

untuk suatu d D dan dengan demikian a | r . Jika

untuk suatu d ∈ D dan dengan demikian a | r . Jika s ∈ a

s a , maka s = ae untuk suatu e D dan dengan demikian a | s . Dengan demikian, jika

a | rs maka berlaku a | r atau a | s . Jadi, terbukti a merupakan elemen prima.

11. Diketahui R ring dan himpunan bagian X R . Didefinisikan

dan

= ∩

I I

X

I

bagian X ⊆ R . Didefinisikan dan = ∩ I ∈ I X I . Jika

. Jika X = Ø , maka X = {0}.

I

X

=

{

I

ideal di

RX

I

}

Bukti.

Diperhatikan bahwa untuk setiap himpunan bagian S R , maka ∅ ⊆ S . Dengan demikian

. Karena setiap ideal I

untuk ideal trivial {0}, juga berlaku ∅ ⊂ {0} dan akibatnya {0}

I

X

di R selalu memuat elemen 0, akibatnya 0

I I

X

I dan dengan demikian berlaku

X
X

{}

=∅= ∩

0

⎪ ⎨

I

I

I

X

{} 0

⎪ ⎫

⎪ ⎭

=

{}

0

.

12. Diketahui R ring dan himpunan bagian X R . Didefinisikan

I

X

=

{

I

ideal di

RX

dan

bagian X ⊆ R . Didefinisikan I X = { I ideal di RX dan =

=

I I

X

I . Jika

A, B R , maka

A ∩⊆B AB∩
A ∩⊆B
AB∩

. Sebaliknya belum tentu

berlaku.

I

}

Bukti.

Sebelumnya, diperhatikan bahwa

X
X

merupakan ideal terkecil di R yang memuat X, dan

dengan demikian

X
X

I

X

. Karena A B A , maka setiap ideal di R yang memuat A juga

akan memuat A B dan akibatnya A B

juga akan memuat A ∩ B dan akibatnya A ∩ B ⊆ A . Diperhatikan bahwa

A . Diperhatikan bahwa ideal

A ∩ B
A ∩ B

tidak

mungkin memuat ideal

Diperhatikan bahwa ideal A ∩ B tidak mungkin memuat ideal A . Karena jika hal tersebut

A . Karena jika hal tersebut terjadi akan timbul kontradiksi dengan

sebagai ideal terkecil yang memuat A ∩ B . Jadi, diperoleh hubungan A B . Jadi, diperoleh hubungan

A ∩ B ⊆
A ∩ B

A . Dengan cara serupa, diperoleh juga

berlaku

A ∩⊆B AB∩ .
A ∩⊆B
AB∩
.
A ∩ B ⊆ B
A ∩ B
B

dan dengan demikian

Sebaliknya belum tentu berlaku misalkan R = , A = {2}, dan B = {5}. Diketahui

A B = {2}{5} =∅ , dan menurut soal 13 berakibat A B

{ 5 } =∅ , dan menurut soal 13 berakibat A ∩ B =∅= { 0

=∅= {0}. Sedangkan

soal 13 berakibat A ∩ B =∅= { 0 } . Sedangkan A ∩ B =∩=∩=
soal 13 berakibat A ∩ B =∅= { 0 } . Sedangkan A ∩ B =∩=∩=

A B =∩=∩=2 5 2 5 10 = 10 . Jadi berlaku A B ⊄∩AB .

13. Diketahui R ring komutatif dan himpunan bagian X R . Didefinisikan

I = { I ideal di X ideal pada A .
I
= {
I ideal di
X
ideal pada
A
.

RX

I

} dan

X
X

=

I I

X

I . Jika

A, B R , maka

A ∩ B
A
B

merupakan

Bukti.

Karena

A , B
A
,
B

ideal-ideal di R, maka

A ∩ B
A
B

juga merupakan ideal di R. Karena

berlaku hubungan

A ∩ B ⊆
A
B

A , maka untuk setiap x

A ∩ B
A
B

dan r

A
A

selalu

berlaku rx =∈xr

x ∈ A ∩ B dan r ∈ A selalu berlaku rx =∈ xr A ∩

A B . Jadi, terbukti bahwa

A ∩ B
A
B

merupakan ideal pada

A
A

.