Anda di halaman 1dari 12

Termometer alkohol

Gambar. Termometer Alkohol


Termometer Alkohol adalah alternative dari termometer air raksa dengan fungsi
yang sama. Tetapi tidak sama seperti air raksa dalam termometer kaca. Isi termometer
alkohol tidak beracun dan akan menguap dengan cukup cepat. Ruang di bagian atas
cairan merupakan campuran dari nitrogen dan uap dari cairan. Dengan meningkatnya
suhu maka volumenya naik. Cairan yang digunakan dapat berupa etanol murni atau
asetat isoamyl, tergantung pada produsen dan pekerjaan yang berhubungan dengan
suhu. Karena termometer ini adalah transparan, maka cairan yang dibuat harus
terlihat dengan penambahan pewarna merah atau biru.
Satu setengah dari gelas yang mengandung kaplier biasanya diberi label yang berlatar
belakang bewarna putih dan kuning untuk membaca skala. Dalam penggunaan
termometer alkohol ini diatur oleh titik didih cairan yang digunakan. Batas dari
termometer etanol ini adalah 78° C, dan bermanfaat untuk mengukur suhu di siang
hari, malam hari dan mengukur suhu tubuh. Thermometer alkohol ini adalah yang
paling banyak digunakan karena bahaya yang ditimbulkan sangat kecil ketika terjadi
kasus kerusakan pada termometer.
Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/TermometerAlkohol
Termometer Air Raksa
Thermometer analog bisa juga disebut sebagai thermometer manual, karena cara
pembacaannya masih manual. Penggunaan air raksa sebagai bahan utama
thermometer karena koefisien muai air raksa terbilang konstan sehingga perubahan
volume akibat kenaikan atau penurunan suhu hampir selalu sama. Namun ada juga
beberapa termometer keluarga mengandung alkohol dengan tambahan pewarna
merah. Termometer ini lebih aman dan mudah untuk dibaca.
Jenis khusus termometer air raksa, disebut termometer maksimun, bekerja dengan
adanya katup pada leher tabung dekat bohlam. Saat suhu naik, air raksa didorong ke
atas melalui katup oleh gaya pemuaian. Saat suhu turun air raksa tertahan pada katup
dan tidak dapat kembali ke bohlam membuat air raksa tetap di dalam tabung.
Pembaca kemudian dapat membaca temperatur maksimun selama waktu yang telah
ditentukan. Untuk mengembalikan fungsinya, termometer harus diayunkan dengan
keras. Termometer ini mirip desain termometer medis
Cara kerja Termometer Air Raksa
Alat ini terdiri dari pipa kapiler yang menggunakan material kaca dengan kandungan
air raksa di ujung bawah. Untuk tujuan pengukuran, pipa ini dibuat sedemikian rupa
sehingga hampa udara. Jika temperatur meningkat, Merkuri akan mengembang naik
ke arah atas pipa dan memberikan petunjuk tentang suhu di sekitar alat ukur sesuai
dengan skala yang telah ditentukan. Adapun cara kerja secara umum adalah sbb ;
1. Sebelum terjadi perubahan suhu, volume air raksa berada pada kondisi awal.
2. Perubahan suhu lingkungan di sekitar termometer direspon air raksa dengan
perubahan volume.
3. Volume merkuri akan mengembang jika suhu meningkat dan akan menyusut
jika suhu menurun.
4. Skala pada termometer akan menunjukkan nilai suhu sesuai keadaan
lingkungan.
Kalibrasi Termometer Air Raksa
Kalibrasi merupakan proses verifikasi bahwa suatu akurasi alat ukur sesuai dengan
rancangannya. Kalibrasi biasa dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang
terhubung dengan standar nasional maupun internasional dan bahan-bahan acuan
tersertifikasi.
Proses kalibrasi thermometer antara lain :
1. Letakkan silinder termometer di air yang sedang mencair dan tandai poin
termometer disaat seluruh air tersebut berwujud cair seluruhnya. Poin ini
adalah poin titik beku air.
2. Dengan cara yang sama, tandai poin termometer disaat seluruh air tersebut
mendidih seluruhnya saat dipanaskan.
3. Bagi panjang dari dua poin diatas menjadi seratus bagian yang sama.
Saat Celsius memutuskan untuk menggunakan skala temperaturnya sendiri, dia
menentukan titik didih pada 0 °C (212 °F) dan titik beku pada 100 °C (32 °F). Satu
tahun kemudian Frenchman Jean Pierre Cristin mengusulkan versi kebalikan skala
celsius dengan titik beku pada 0 °C (32 °F) dan titik didih pada 100 °C (212 °F). Dia
menamakannya Centrigade.
Pada akhirnya, Celsius mengusulkan metode kalibrasi termometer sbb:
1. Tempatkan silinder termometer pada air murni meleleh dan tandai titik saat cairan
di dalam termometer sudah stabil. ini adalah titik beku air.
2. Dengan cara yang sama tandai titik di mana cairan sudah stabil ketika termometer
ditempatkan di dalam uap air mendidih.
3. Bagilah panjang di antara kedua titik dengan 100 bagian kecil yang sama.
Titik-titik ini ditambahkan pada kalibrasi rata-rata tetapi keduanya sangat tergantung
tekanan udara. Saat ini, tiga titik air digunakan sebagai pengganti (titik ketiga terjadi
pada 273.16 kelvins (K), 0.01 °C). CATATAN: Semua perpindahan panas berhenti
pada 0 K, Tetapi suhu ini masih mustahil dicapai karena secara fisika masih tidak
mungkin menghentikan partikel.
Hari ini termometer air raksa masih banyak digunakan dalam bidang meteorologi,
tetapi pengguanaan pada bidang-bidang lain semakin berkurang, karena air raksa
secara permanen sangat beracun pada sistem yang rapuh dan beberapa negara maju
telah mengutuk penggunaannya untuk tujuan medis. Beberapa perusahaan
menggunakan campuran gallium, indium, dan tin (galinstan) sebagai pengganti air
raksa
Sumber : http://sugiartoagribisnis.wordpress.com/2010/05/05/fungsi-
termometer-air-raksa/

Termokopel
Pada dunia elektronika, termokopel adalah sensor suhu yang banyak digunakan untuk
mengubah perbedaan suhu dalam benda menjadi perubahan tegangan listrik (voltase).
Termokopel yang sederhana dapat dipasang, dan memiliki jenis konektor standar yang
sama, serta dapat mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang cukup besar dengan
batas kesalahan pengukuran kurang dari 1 °C.
Prinsip Operasi
Pada tahun 1821, seorang fisikawan Estonia bernama Thomas Johann Seebeck
menemukan bahwa sebuah konduktor (semacam logam) yang diberi perbedaan panas
secara gradien akan menghasilkan tegangan listrik. Hal ini disebut sebagai efek
termoelektrik. Untuk mengukur perubahan panas ini gabungan dua macam konduktor
sekaligus sering dipakai pada ujung benda panas yang diukur. Konduktor tambahan
ini kemudian akan mengalami gradiasi suhu, dan mengalami perubahan tegangan
secara berkebalikan dengan perbedaan temperatur benda. Menggunakan logam yang
berbeda untuk melengkapi sirkuit akan menghasilkan tegangan yang berbeda,
meninggalkan perbedaan kecil tegangan memungkinkan kita melakukan pengukuran,
yang bertambah sesuai temperatur. Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga
70 microvolt tiap derajad celcius untuk kisaran yang dihasilkan kombinasi logam
modern. Beberapa kombinasi menjadi populer sebagai standar industri, dilihat dari
biaya, ketersediaanya, kemudahan, titik lebur, kemampuan kimia, stabilitas, dan hasil.
Sangat penting diingat bahwa termokopel mengukur perbedaan temperatur di antara 2
titik, bukan temperatur absolut.
Pada banyak aplikasi, salah satu sambungan (sambungan yang dingin) dijaga sebagai
temperatur referensi, sedang yang lain dihubungkan pada objek pengukuran. contoh,
pada gambar di atas, hubungan dingin akan ditempatkan pada tembaga pada papan
sirkuit. Sensor suhu yang lain akan mengukur suhu pada titik ini, sehingga suhu pada
ujung benda yang diperiksa dapat dihitung. Termokopel dapat dihubungkan secara
seri satu sama lain untuk membuat termopile, dimana tiap sambungan yang panas
diarahkan ke suhu yang lebih tinggi dan semua sambungan dingin ke suhu yang lebih
rendah. Dengan begitu, tegangan pada setiap termokopel menjadi naik, yang
memungkinkan untuk digunakan pada tegangan yang lebih tinggi. Dengan adanya
suhu tetapan pada sambungan dingin, yang berguna untuk pengukuran di
laboratorium, secara sederhana termokopel tidak mudah dipakai untuk kebanyakan
indikasi sambungan lansung dan instrumen kontrol. Mereka menambahkan
sambungan dingin tiruan ke sirkuit mereka yaitu peralatan lain yang sensitif terhadap
suhu (seperti termistor atau dioda) untuk mengukur suhu sambungan input pada
peralatan, dengan tujuan khusus untuk mengurangi gradiasi suhu di antara ujung-
ujungnya. Di sini, tegangan yang berasal dari hubungan dingin yang diketahui dapat
disimulasikan, dan koreksi yang baik dapat diaplikasikan. Hal ini dikenal dengan
kompensasi hubungan dingin. Biasanya termokopel dihubungkan dengan alat indikasi
oleh kawat yang disebut kabel ekstensi atau kompensasi. Tujuannya sudah jelas.
Kabel ekstensi menggunakan kawat-kawat dengan jumlah yang sama dengan
kondoktur yang dipakai pada Termokopel itu sendiri. Kabel-kabel ini lebih murah
daripada kabel termokopel, walaupun tidak terlalu murah, dan biasanya diproduksi
pada bentuk yang tepat untuk pengangkutan jarak jauh - umumnya sebagai kawat
tertutup fleksibel atau kabel multi inti. Kabel-kabel ini biasanya memiliki spesifikasi
untuk rentang suhu yang lebih besar dari kabel termokopel. Kabel ini
direkomendasikan untuk keakuratan tinggi. Kabel kompensasi pada sisi lain, kurang
presisi, tetapi murah. Mereka memakai perbedaan kecil, biasanya campuran material
konduktor yang murah yang memiliki koefisien termoelektrik yang sama dengan
termokopel (bekerja pada rentang suhu terbatas), dengan hasil yang tidak seakurat
kabel ekstensi. Kombinasi ini menghasilkan output yang mirip dengan termokopel,
tetapi operasi rentang suhu pada kabel kompensasi dibatasi untuk menjaga agar
kesalahan yang diperoleh kecil. Kabel ekstensi atau kompensasi harus dipilih sesuai
kebutuhan termokopel. Pemilihan ini menghasilkan tegangan yang proporsional
terhadap beda suhu antara sambungan panas dan dingin, dan kutub harus
dihubungkan dengan benar sehingga tegangan tambahan ditambahkan pada tegangan
termokopel, menggantikan perbedaan suhu antara sambungan panas dan dingin.
Hubungan Tegangan dan Suhu
Hubungan antara perbedaan suhu dengan tegangan yang dihasilkan termokopel bukan
merupakan fungsi linier melainkan fungsi interpolasi polinomial
Koefisien an memiliki n antara 5 dan 9. Agar diperoleh hasil pengukuran yang akurat,
persamaan biasanya diimplementasikan pada kontroler digital atau disimpan dalam
sebuah tabel pengamatan. Beberapa peralatan yang lebih tua menggunakan filter
analog.
Tipe-Tipe Termokopel
Tersedia beberapa jenis termokopel, tergantung aplikasi penggunaannya
1. Tipe K (Chromel (Ni-Cr alloy) / Alumel (Ni-Al alloy))
Termokopel untuk tujuan umum. Lebih murah. Tersedia untuk rentang suhu −200 °C
hingga +1200 °C.
1. Tipe E (Chromel / Constantan (Cu-Ni alloy))
Tipe E memiliki output yang besar (68 µV/°C) membuatnya cocok digunakan pada
temperatur rendah. Properti lainnya tipe E adalah tipe non magnetik.
1. Tipe J (Iron / Constantan)
Rentangnya terbatas (−40 hingga +750 °C) membuatnya kurang populer dibanding
tipe K
Tipe J memiliki sensitivitas sekitar ~52 µV/°C
1. Tipe N (Nicrosil (Ni-Cr-Si alloy) / Nisil (Ni-Si alloy))
Stabil dan tahanan yang tinggi terhadap oksidasi membuat tipe N cocok untuk
pengukuran suhu yang tinggi tanpa platinum. Dapat mengukur suhu di atas 1200 °C.
Sensitifitasnya sekitar 39 µV/°C pada 900 °C, sedikit di bawah tipe K. Tipe N
merupakan perbaikan tipe K
Termokopel tipe B, R, dan S adalah termokopel logam mulia yang memiliki
karakteristik yang hampir sama. Mereka adalah termokopel yang paling stabil, tetapi
karena sensitifitasnya rendah (sekitar 10 µV/°C) mereka biasanya hanya digunakan
untuk mengukur temperatur tinggi (>300 °C).
1. Type B (Platinum-Rhodium/Pt-Rh)
Cocok mengukur suhu di atas 1800 °C. Tipe B memberi output yang sama pada suhu
0 °C hingga 42 °C sehingga tidak dapat dipakai di bawah suhu 50 °C.
1. Type R (Platinum /Platinum with 7% Rhodium)
Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C. sensitivitas rendah (10 µV/°C) dan biaya
tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum.
1. Type S (Platinum /Platinum with 10% Rhodium)
Cocok mengukur suhu di atas 1600 °C. sensitivitas rendah (10 µV/°C) dan biaya
tinggi membuat mereka tidak cocok dipakai untuk tujuan umum. Karena stabilitasnya
yang tinggi Tipe S digunakan untuk standar pengukuran titik leleh emas
(1064.43 °C).
1. Type T (Copper / Constantan)
Cocok untuk pengukuran antara −200 to 350 °C. Konduktor positif terbuat dari
tembaga, dan yang negatif terbuat dari constantan. Sering dipakai sebagai alat
pengukur alternatif sejak penelitian kawat tembaga. Type T memiliki sensitifitas ~43
µV/°C
Penggunaan Termokopel
Termokopel paling cocok digunakan untuk mengukur rentangan suhu yang luas,
hingga 1800 K. Sebaliknya, kurang cocok untuk pengukuran dimana perbedaan suhu
yang kecil harus diukur dengan akurasi tingkat tinggi, contohnya rentang suhu 0--
100 °C dengan keakuratan 0.1 °C. Untuk aplikasi ini, Termistor dan RTD lebih
cocok. Contoh Penggunaan Termokopel yang umum antara lain :
 Industri besi dan baja
 Pengaman pada alat-alat pemanas
 Untuk termopile sensor radiasi
 Pembangkit listrik tenaga panas radioisotop, salah satu aplikasi termopile.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Termokopel

Fenomena termokopel ditemukan pada tahun 1821 oleh ahli fisika berkebangsaan
Jerman Thomas J Seebeck. Ketidaksamaan material (metal) yang dihubungkan
menyebabkan terjadinya suatu beda tegangan pada sirkuit terbuka. Voltase ini
perubaan temperatur T sambungan tersebut. Sambungan kabel metal tersebut
biasanya disebut dengan junction.
Sambungan dua logam(kabel metal) yang mengalami efek seebeck
National Institute of Standart and Technology (NIST) mempublikasikan tabel untuk
berbagai macam jenis sensor termokopel yang dapat dilihat dari tabel dibawah ini:
Termokopel yang lebih komplit sirkuitnya memiliki 2 jungtion seperti terlihat pada
gambar di bawah ini :
Jika kedua jungtion berada berada pada temperatur yang sama maka tidak ada  Emf,
jika terjadi perbedaan temperatur diantara dua junction maka terdapat Emf.
Nilai Emf ini tergantung dari materialnya dan temperatur dari kedua juntionnya.
Biasanya salah satu junction bernilai 0 o C dan untuk lebih lanjutnya dapat digunakan
persamaan dibawah ini :
E = at +  bt2
Dimana a dan b merupakan konstanta untuk metal-metal yang berhubungan tersebut.
Sirkuit termokopel dapat memiliki metal lain pada sirkuitnya dan ini tidak akan
menimbulkan pada termoelektrik Emf yang menyebabkan junction berada pada
temperatur yang sama. Termokopel juga dapat digunakan dengan junction referensi
selain 0 o C. tabel-tabel standar walaupun mengasumsikan satu junction berada pada
temperatur 0o C juga menggunakan suatu koreksi yang telah diaplikasikan sebelum
tabel tersebut digunakan, koreksi tersebut diaplikasikan dengan menggunakan apa
yang disebut dengan low of intermedieate temperatur.
Eto = Et1 + Eto Et,l
Emf Et,o berada pada temperatur t ketika cold junction 0o C sama juga dengan Et,I yang
berada pada temperatur intermediate I tambah e.m.f EI,0 pada temperatur I ketika cold
junction pada temperatur 0o C. Untuk menjaga supaya salah satu junction berada pada
temperatur 0oC, sebagai contohnya dilakukan dengan mencelupkannya kedalam
campuran air dan es, tetapi hal ini kuranglah bagus. Untuk itu kompesasi sirkuit
digunakan demi tersedianya suatu e.m.f yang berubah-rubah dengan temperatur cold
junction, ketika ditambahkan pada termokopel yang menyebabkan cold junction
berada pada temperatur 0oC.

Sumber : http://id.wordpress.com/tag/mekanika-fluida/jenis-jenis-termokopel\

2.1 Anemometer
Wind velocity adalah suatu besaran vector tiga dimensi dengan fluktuasi acak
dalam skala kecil di atmosfer dan dalam waktu yang bersamaan mengikuti
pergerakan
udara dalam skala yang lebih besar. Pengamatan angin permukaan umumnya di
jabarkan dalam vector dua dimensi melalui dua parameter, yaitu arah dan kecepatan.
Umumnya pengamatan angin permukaaan (horizontal wind speed) adalah rata-rata
pengamatan selama periode 10 s/d 60 menit sesuai dengan kebutuhan Forecast.
Statistik klimatologi biasanya memerlukan data rata-rata pengamatan untuk
setiap jam, rata-rata periode siang hari dan periode malam hari. Untuk laporan
synoptic pengamatan dilakukan dalam rata-rata 10 menit.
Kebutuhan Penerbangan (Aeronautical applications) justru membutuhkan
rata-rata pengamatan yang lebih singkat , yaitu rata-rata setiap menit, untuk
mengetahui fluktuaasi angin turbulensi dan gusty. Pengamatan wind speed di
laporkan
dalam 0.5 m/s atau dalam satuan lain seperti : Knots, km/jam, mil/jam, m/s atau
satuan
kecepatan lainnya yang relevan
Beberapa macam alat ukur angin:
• Cup counter dan wind vane anemometer
• Ultrasonic anemometer
• Pressure tube anemometer
• Hot wire anemometer
• Karman vortex devices
• Lidar (Light detection and ranging)
• Sodar (sonic detection and ranging)
• Radar (radio detection and ranging)
Universitas Sumatera Utara
Cup counter anemometer adalah alat untuk mengukur kecepatan angin. Angin
adalah pergerakan udara pada horizontal atau hamper horizontal. Angin mempunyai
arah (direction) dan kecepatan (speed). Arah angina dinyatakan dari arah mana
angina
datangnya misalnya : Angin barat (angin yang dating dari barat) dan angina tenggara
(angina yang dating dari tenggara. Arah angin (Derajat ukur) Utara = 0/360, Timur =
90, Selatan = 180, Barat = 270, Arah angin dinyatakan dalam satuan derajat dan
kecepatan angin dinyatakan dalam m/s, km/jam, mil/jam, knots hubungan antara
masing-masing satuan ini adalah :
• 6.28 m/s = 22.08 km/jam = 2,25 mil/jam
• 1 m/s = 3.6 km/jam = 2 knots
• 1 km/jam = 10/36 m/s = 0.62 mil/jam
• 1 mil/jam = 0.447 m/s = 1.6 km/jam
• 1 knots = 0.5 m/s = 1.8 km/jam
Agar dapat membandingkan peramatan angin yang dilakukan di berbagai
tempat, maka pemasangan anemometer dan vane tidak boleh sesukanya. Alat ini di
pasang tinggi yang sama di atas tanah terbuka. Tanah terbuka adalah lapangan dengan
benda (Pohon, rumah, dll) yang berjarak 10 kali lebih tinggi benda itu dari tiang
anemometer. Tinggi yang telah di setujui adalah 10 meter. Arah angin diukur dengan
wind vane. Kecepatan angin diukur dengan wind speed anemometer.

8.1 CUP COUNTER DAN WIND VANE ANEMOMETER

Anemometer

Pergerakan udara atau angin umumnya diukur dengan alat cup counter anemometer,
yang didalamnya terdapat dua sensor, yaitu: cup – propeller sensor untuk kecepatan
angin dan  vane/ weather cock sensor untuk arah angin. Untuk pengamatan angin
permukaan, Anemometer dipasang dengan ketinggian 10 meter dan berada di tempat
terbuka yang memiliki jarak dari penghalang sejauh 10 kali dari tinggi penghalang
(pohon, gedung atau sesuatu yang menjulang tinggi). Tiang anemometer dipasang
menggunakan 3 buah labrang/ kawat penahan tiang, dimana salah satu kawat/labrang
berada pada arah utara dari tiang anemometer dan antar labrang membentuk sudut
1200. Pemasangan penangkal petir pada tiang anemometer merupakan faktor
terpenting terutama untuk daerah rawan petir. Hal ini mengingat tiang anemometer
memiliki ketinggian 10 meter dengan ujung-ujung runcing yang membuatnya rawan
terhadap sambaran petir.

Alat-alat ukur dasar listrik yang sering digunakan adalah Voltmeter, Ampermeter, Ohmeter.
namun ketiga alat ukur itu sering dijadikan satu dengan nama Multimeter baik yang analog
maupun digital dan Osiloskop .

1. Voltmeter

Voltmeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur


beda potensial listrik . Voltmeter biasanya disusun secara paralel (sejajar) dengan sumber
tegangan atau peralataan listrik. Cara memasang voltmeter adalah dengan menghubungkan
ujung sumber tegangan yang memiliki potensial lebih tinggi (kutub positif) harus
dihubungkan ke terminal positif voltmeter,dan ujung sumber tegangan yang memiliki
potensial lebih rendah (kutub negatif) harus dihubungkan ke terminal negatif Voltmeter.
biasanya voltmeter digunakan untuk mengukur sumber tegangan seperti baterai, elemen
Volta, atau aki.

Cara menghubungkan/menggunakan Voltmeter adalah dipasang paralel dengan yang

diukur. Jika arusnya DC maka kutub positif dapat voltase


positif dan kutub negatif mendapatkan kutub voltase negatif. seperti gambar.

Cara Membaca voltmeter(hampirsama dengan Ampermeter) dengan rumus sebagai berikut


NP=Nilai Pengukuran

PJ= Petunjuk Jarum (nilai yang dibaca jarum)

ST= Sekala Tertinggi (nilai maksimum bila jarum full)

BU=Batas Ukur yang digunakan

Contoh sebagai berikut

Ada dua nilai yang ada pada gambar disamping. Yaitu jarum Q dan P. Penjelasan
perthitunganya adalah:
Nilai jarum Q

Jarum Q menujuk PJ= 22


Sekala Maksimum maksimum ST = 100
Batas Ukur yang digunakan BU = 1 A

maka nilai dari Q adalah:


NP=(22/100)x1 A= 0,22 A

Sekarang berapa nilai baca dari jarum P bila jarum menunjuk angka 54 A. sialahkan anda
hitung dan jawabnya bisa lihat disini

2. Ampermeter

Amperemeter adalah alat untuk mengukur kuat arus listrik dalam rangkaian
tertutup. Amperemeter biasanya dipasang secara seri (berderet) dengan elemen listrik.
Dalam praktikum sumber listrik arus searah , amperemeter biasanya digunakan untuk
mengukur besarnya arus yang mengalir pada kawat penghantar.
3. Multimeter

Multimeter sering dignakan dalam pengukuran besaran-besaran


listrik . Selain itu alat ini juga atau biasa disebut AVO (ampere, volt, dan ohm) meter yang
artinya suatu alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur kuat arus listrik (I) dengan
satuan ampere, mengukur tegangan listrik (V) dengan satuan volt, dan untuk mengukur
besarnya tahanan listrik (W) dengan satuan ohm.

Kegunaan multimeter ini selain untuk mengukur besaran-besaran listrik juga sangat berguna
untuk mencari dan menemukan gangguan yang terjadi pada semua jenis pesawat atau alat-
alat elektronika.

SOLARIMETER DAN PYRANOMETER

Digunakan untuk mengukur radaiasi matahari total. Untuk memperoleh data


intensitas matahari secara kontinue, Solarimeter dihubungkan ke sebuah alat pencatat
yang dinamakan Chart Recorder yang mempunyai sifat Self Balancing Potentiometric
yaitu suatu recorder yang bekerjanya berdasarkan keseimbangan antara signal (tenaga
listrik yang masuk berasal dari Solarimeter dengan tenaga listrik dari power supply.
Gerakan dan kedudukan pena ditentukan oleh keseimbangan kedua unsur tersebut.

Dengan demikian recorder ini memerlukan tenaga listrik


yang diperlukan selain untuk keseimbangan juga untuk menggerakkan pias (Chart)
dan jam. Recorder ini sangat peka terutama ketika sedang beroperasi, sedapat
mungkin dihindarkan terhadap getaran-getaran yang dapat mengganggu
keseimbangan.

8.   ALAT PENGUKUR ARAH DAN KECEPATAN ANGIN


Angin merupakan pergerakan udara yang disebabkan karena adanya perbedaan
tekanan udara di suatu tempat dengan tempat lain. Dengan adanya pergerakan udara
di atmosfer  ini maka terjadilah distribusi partikel-partikel di udara, baik partikel
kering (debu, asap, dsb) maupun partikel basah seperti uap air. Pengukuran angin
permukaan merupakan pengukuran arah dan kecepatan angin yang terjadi
dipermukaan bumi dengan ketinggian antara 0.5 sampai 10 meter.

Alat-alat yang paling baik untuk mengukur angin (permukaan) ahíla Wind Vane dan
Anemometer. Alat-alat pengukur kecepatan angin di bagi dalam 3 bagian :

1.      Anemometer Cup dan Vane, alat ini mengukur banyaknya udara yang melalui
alat per satuan waktu.

2.      Pressure Tube Anemometer, alat ini bekerja disebabkan oleh tekanan dari aliran
udara yang melalui pipa-pipanya.

3.      Pressure Plate Anemometer, lembaran logam tertentu, ditempatkan tegak lupus
angin. Lembaran logam ini akan berputar pada salah satu sisinya sebagai sumbu.
Besar penyimpangan (sudut) menjadi kecepatan angin.

PENGUKUR SINAR MATAHARI JENIS CAMPBLE STOKES

Campbell Stokes

Lamanya penyinaran sinar matahari dicatat dengan jalan memusatkan


(memfokuskan) sinar matahari melalui bola gelas hingga fokus sinar matahari
tersebut tepat mengenai pias yang khusus dibuat untuk alat ini dan meninggalkan
pada jejak pias. Dipergunakannya bola gelas dimaksudkan agar alat tersebut dapat
dipergunakan untuk memfokuskan sinar matahari secara terus menerus tanpa
terpengaruh oleh posisi matahari. Pias ditempatkan pada kerangka cekung yang
konsentrik dengan bola gelas dan sinar yang difokuskan tepat mengenai pias. Jika
matahari bersinar sepanjang hari dan mengenai alat ini, maka akan diperoleh jejak
pias terbakar yang tak terputus. Tetapi jika matahari bersinar terputus-putus, maka
jejak dipiaspun akan terputus-putus. Dengan menjumlahkan waktu dari bagian-bagian
terbakar yang terputus-putus akan diperoleh lamanya penyinaran matahari.

7.2       PENGUKUR SINAR MATAHARI JENIS JORDAN

Alat ini mencatat sendiri lamanya matahari bersinar dalam sehari yang terdiri dari dua
kotak berbentuk setengah silinder dan tertutup. Di bagian dalam dipasang kertas yang
sangat peka terhadap sinar matahari langsung.

Apabila seberkas matahari langsung mengenai kertas ini akan meninggalkan bekas
yang gelap. Alat ini diatur sedemikian sehingga satu pias dipakai untuk pagi dan pias
lainnya untuk siang hari.

Sumber : http://www.klimatologibanjarbaru.com/artikel/2008/12/alat-alat-
klimatologi-konvensional/