Anda di halaman 1dari 4

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Karsinoma nasofaring (KNF) merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah


nasofaring dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. KNF
merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di
Indonesia (Arima, 2006 dan Nasional Cancer Institute, 2009).
KNF terjadi lebih sering pada pria dibandingkan pada wanita, dengan rasio
pria-wanita 2-3:1. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa prognosis lebih baik
pada wanita dibandingkan pada pria, tetapi penelitian lain belum menunjukkan
perbedaan ini. Usia rata-rata pada presentasi adalah 45-55 tahun. Pasien yang lebih
muda tampaknya memiliki tingkat ketahanan hidup yang lebih baik daripada pasien
yang lebih tua (Nasional Cancer Institute, 2009).
KNF tidak umum terjadi di Amerika Serikat dan dilaporkan bahwa kejadian
tumor ini adalah kurang dari 1 dalam 100.000. Namun, KNF cukup unik di beberapa
daerah geografis, yaitu Cina Selatan, orang Eskimo, dan orang-orang di negara-
negara Asia Tenggara lainnya. Kanker nasofaring merupakan penyakit yang relative
umum dalam populasi asal Cina Selatan di antara migrant (Nasional Cancer Institute
,2009).
Dalam sebahagian provinsi di Cina, dijumpai kasus KNF adalah sebanyak 15-
30 per 100.000. Selain itu, di Cina Selatan khususnya Hong Kong dan Guangzhou,
terdapat 10-150 kasus per 100.000 orang per tahun. Insiden tetap tinggi untuk
keturunan Cina Selatan yang hidup di negara-negara lain (Fuda Cancer Hospital
Guangzhou, 2002 dan Nasional Cancer Institute, 2009).
KNF di Indonesia, menempati urutan ke-5 dari 10 besar diantara tumor
keganasan yang terdapat di seluruh tubuh dan menempati urutan ke -1 di bidang

Universitas Sumatera Utara


Telinga ,Tenggorok dan Hidung (THT). Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher
merupakan KNF. Dari data Departemen Kesehatan, tahun 1980 menunjukkan
prevalensi 4.7 per 100,000 atau diperkirakan 7.000-8.000 kasus per tahun. Dari data
laporan profil KNF di Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedoktoran Universitas
Hasanuddin Makassar, periode Januari 2000 sampai Juni 2001 didapatkan 33% dari
keganasan di bidang THT. Di RSUP H . Adam Malik Medan pada tahun 2002 -2007
ditemukan 684 penderita KNF ( Nasir, 2009).
Insidens KNF yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan makan,
lingkungan dan virus Epstein-Barr . Selain itu faktor geografis, rasial, jenis kelamin,
genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup, kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau
parasit juga sangat mempengaruhi kemungkinan timbulnya tumor ini. Keadaan sosial
ekonomi yang rendah, lingkungan dan kebiasaan hidup juga menjadi salah satu
faktor. Dikatakan bahwa udara yang penuh asap di rumah-rumah yang kurang baik
ventilasinya di Cina, Indonesia dan Kenya, meningkatkan jumlah kasus
KNF.(Punagi,2007). Selain itu,terdapat riwayat sering kontak dengan zat yang
dianggap bersifat karsinogen seperti Benzopyrene, Benzoathracene (sejenis
Hidrokarbon dalam arang batubara), gas kimia, asap industri, asap kayu dan beberapa
ekstrak tumbuhan- tumbuhan (Nasir, 2009).
Ras juga berperan pada timbulnya KNF. Ras kulit putih jarang terkena
penyakit ini. Di Asia yang terbanyak adalah bangsa Cina, baik di negara asalnya
maupun yang diperantauan. Ras melayu yaitu Malaysia dan Indonesia termasuk yang
agak banyak terkena. Adanya peradangan didaerah nasofaring menyebabkan, mukosa
nasofaring menjadi lebih rentan terhadap karsinogen lingkungan (Nasir,2009).
Gejala karsinoma nasofaring dapat dibagi dalam 4 kelompok yaitu gejala
nasofaring sendiri, gejala telinga, gejala mata dan syaraf serta metastasis atau gejala
di leher. Gejala nasofaring dapat berupa epistaksis ringan atau sumbatan hidung,
untuk itu nasofaring harus diperiksa dengan cermat kalau perlu dengan
nasofaringoskop, karena sering gejala belum ada sedangkan tumor sudah tumbuh
atau tumor tidak tampak karena masih terdapat dibawah mukosa (creeping tumor).

Universitas Sumatera Utara


Secara keseluruhan, angka bertahan hidup 5 tahun adalah 45 %. Prognosis diperburuk
oleh beberapa faktor seperti stadium yang lebih lanjut, usia lebih dari 40 tahun, laki-
laki lebih dari perempuan,adanya pembesaran kelenjar leher, kelumpuhan saraf otak
dan kerusakan tulang tengkorak ( Roezin,Anida, 2007).
Berdasarkan keterangan diatas,peneliti (saya) tertarik untuk mengetahui gambaran
karateristik pada penderita KNF.

1.2.1 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka diperlukan suatu penelitian tentang


gambaran karateristik penderita karsinoma nasofaring untuk menjawab pertanyaan
penelitian yaitu bagaimanakah gambaran karateristik penderita karsinoma nasofaring
di Medan?

1.3.Tujuan Penelitian

1.3.1.Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran karateristik penderita karsinoma nasofaring .

1.3.2. Tujuan Khusus


1. Untuk mengetahui distribusi umur pada penderita karsinoma nasofaring .
2. Untuk mengetahui distribusi jenis kelamin pada penderita karsinoma nasofaring .
3.Untuk mengetahui distribusi sukubangsa pada penderita karsinoma nasofaring .
4.Untuk mengetahui distribusi stadium pada penderita karsinoma nasofaring .
5.Untuk mengetahui distribusi keluhan utama pada penderita karsinoma nasofaring .
6.Untuk mengetahui distribusi tipe histopatalogis pada penderita karsinoma
nasofaring .

Universitas Sumatera Utara


1.4. Manfaat Penelitian

1.Data atau informasi hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh pasien karena hasil
penelitian ini dapat digunakan sebagai edukasi pada pasien tentang penyakit ini agar
dapat berobat lebih awal.
2.Untuk meningkatkan kesadaran pasien tentang faktor risiko terjadinya karsinoma
nasofaring.
3.Masukan hasil data penelitian ini dapat membantu dokter mendiagnosis dini serta
melakukan penatalaksanaan dan prognosis yang baik pada pasien .

Universitas Sumatera Utara

Anda mungkin juga menyukai