Anda di halaman 1dari 6

CIRI KHAS PERTANIAN DAN PRODUKNYA

Berikut ini adalah ciri khas pertanian dan produknya yang membedakan
bisnis dibidang pertanian dengan bisnis dibidang-bidang lain :
Tiap komoditi mempunyai kesesuaian ekologis tertentu.

Apel merupakan tanaman buah tahunan yang berasal dari daerah Asia
Barat dengan iklim sub tropis. Di Indonesia, apel dapat tumbuh dan berbuah baik
di daerah dataran tinggi. Sentra produksi apel di Indonesia adalah Malang (Batu
dan Poncokusumo) dan Pasuruan (Nongkojajar), Jatim. Iklim yang cocok untuk
tanaman ini adalah daerah dengan curah hujan 1.000-2.600 mm/tahun dengan
hari hujan 110-150 hari/tahun. Dalam setahun banyaknya bulan basah adalah 6-
7 bulan dan bulan kering 3-4 bulan. Curah hujan yang tinggi saat berbunga akan
menyebabkan bunga gugur sehingga tidak dapat menjadi buah.

Resiko dan ketidakpastiannya sangat tinggi.

Faktor ketidakpastian dan risiko merupakan faktor eksternalitas, yaitu


variabel yang sulit dikendalikan oleh produsen (petani). Sumber ketidakpastian
yang penting adalah fluktuasi produksi (output) dan fluktuasi harga. Di luar itu,
agribisnis juga masih menghadapi risiko iklim dan cuaca yang kurang
bersahabat (kering, banjir atau bencana lain), hama dan penyakit yang
mengganas dan iklim usaha yang tidak kondusif. Misalnya saja, bawang merah
monokultur yang diusahakan petani di Brebes, Jawa Tengah, tentu
karakteristiknya amat berbeda dengan tanaman tembakau yang dibudidayakan
petani di Jember (Jawa Timur) dan Temanggung (Jawa Tengah). Ketika musim
bersahabat, panen melimpah dan berkualitas bagus. Namun, pada tanaman
bawang tidak otomatis menjamin keuntungan besar. Bisa jadi malah bangkrut.
Soalnya, panenan yang demikian banyak (over supply) dalam rentang waktu
yang pendek, pasti bakal diikuti turunnya harga.
Ini bisa dimaklumi karena sifat permintaan produksi pertanian tanaman
bawang ini inelastis, maka ketika terjadi over supply, harga pasti terjun bebas.
Petani banyak yang bangkrut pada musim itu, tapi bisa untung pada musim
berikutnya ketika tidak banyak petani yang menanam bawang merah karena
takut kemungkinan bakal merugi (the chance of loss). Hal sebaliknya terjadi
pada tembakau. Ketika musim panen hasilnya bagus dan berlimpah, petani
justru sangat diuntungkan. Ini terkait dengan sifat permintaan tanaman tembakau
(daun tembakau) yang relatif lebih elastis ketimbang bawang. Sebab,
pembelinya bukan konsumen langsung, melainkan berasal dari pabrik-pabrik
rokok yang jumlahnya banyak. Baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Kendati produksinya tinggi (over supply), petani masih mendapatkan harga yang
relatif baik karena terciptanya persaingan di antara pembeli tembakau (pabrik
rokok). Di sini, posisi tawar petani tembakau di hadapan pembeli relatif lebih kuat
ketimbang posisi tawar petani bawang.

Aman atau bersahabat dengan lingkungan.

Salah satu bentuk produksi pertanian yang tidak aman bagi lingkungan
adalah berladang secara berpindah, seperti yang dilakukan oleh penduduk di
Maluku. Mayoritas dari penduduk yang bertani di Maluku yaitu kira-kira 70 % 
merupakan peladang berpindah, dan  kondisi ini karena perladangan berpindah
merupakan suatu warisan kegiatan dari nenek moyang petani, dan nampaknya
akan sulit diatasi jika tidak ada kemauan pemerintah untuk pengendaliannya. 
Perladangan berpindah adalah sebuah sistem bercocok tanam yang dilakukan
oleh masyarakat secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain
dengan cara membuka lahan hutan primer maupun sekunder.   Secara umum
peladang di Maluku membuka areal hutan untuk berladang karena alasan
kesuburan tanah.  Hal ini karena secara umum para  peladang berpendapat
bahwa hutan memiliki tanah yang subur sehingga hasil ladang yang dicapai akan
lebih tinggi.
Secara umum proses terjadinya sebuah perladangan berpindah di Maluku
dimulai dengan langkah-langkah, yaitu : (a). Survei kesuburan tanah untuk
menentukan lahan hutan yang tepat untuk dilakukan perladangan.  Biasanya
indikator kesuburan tanah yang umum dipakai adalah jenis tumbuhan dan
aktivitas mikroorganisme tanah. (b).  Penebasan tumbuhan bawah untuk
mempercepat proses pengeringan serasah. (c). Penebangan pohon. (d). Proses
pengeringan lahan kurang lebih 3 – 4 minggu. (e). Pembakaran dan
pembersihan. (f). Penanaman dan pemeliharaan, dan  (g). Panen hasil.
Realitas memang menunjukan bahwa perladangan berpindah memiliki
korelasi yang kuat dengan kerusakan ekosistem hutan, terutama pada pulau-
pulau kecil dampaknya sangat signifikan. Beberapa dampak yang dapat
dikemukakan adalah :
1. Terjadi banjir pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau.
2. Terjadi penurunan drastis kesuburan tanah.
3. Terjadi perubahan iklim dan yang paling drastis adalah kondisi iklim mikro
dimana suhu meningkat rata-rata sebesar 1ºC–3 ºC dengan penurunan
kelembaban relatif sebesar 5%–10%.  Selain itu dari  aspek iklim makro
telah terjadi perubahan pola musim, dimana musim hujan dan musim panas
sudah tidak konstan sesuai kalender musimnya.
4. Terjadi gangguan habitat satwa, dimana lebih disebabkan oleh perubahan
kondisi vegetasi sebagai akibat perladangan berpindah dan hal ini
berpengaruh signifikan terhadap habitat satwa. Akibatnya ekosistem hutan
yang sebelumnya merupakan tempat makan, minum, bermain dan tidur
menjadi terganggu, sehingga satwa cendrung bermigrasi ke tempat lain,
ataupun memilih tetap bertahan dengan kondisi cover yang terganggu.
5. Terjadi penurunan biodiversitas, yang secara umum disebabkan
perladangan yang dilakukan dengan cara tebang habis dan bakar sehingga
banyak spesies langka atau endemik juga ikut musnah.
Bisnis dibidang pertanian harus mempertimbangkan bahwa
pertanian memerlukan perlakuan dan teknologi tertentu.

Salah satu contoh tanaman yang membutuhkan perlakuan khusus untuk


meningkatkan nilai ekonominya adalah tanaman bonsai. Syarat utama bonsai
adalah kerdil, indah-alami dan nampak tua. Langkah pertama pembuatan bonsai
adalah membuat tanaman tersebut menjadi kerdil. Kerdil artinya ukuran bonsai
tersebut relatif jauh lebih kecil dibandingkan tanaman sejenis yang tumbuh di
alam bebas, sampai sekitar sepersepuluhnya atau lebih kecil lagi.
Pada dasrnya semua tanaman dapat dikerdilkan dengan tiga macam
perlakuan yaitu cara genetik, cara kimia dan cara fisik. Perlakuan genetik adalah
cara persilangan tanaman antar jenis atau varitas dan kemudian seleksi hasil
persilangan tersebut. Lewat teknologi mutakhir sifat tanaman dapat dimanipulasi
dengan memasukkan gen pembawa sifat kerdil ke dalam tanaman yang
dikehendaki. Pengerdilan dengan perlakuan genetik ini memerlukan waktu yang
lama dan cara memanipulasi gen dilakukan di dalam laboratorium dan sangat
sulit. Perlakuan kimia adalah dengan memasukkan bahan kimia penghambat
pertumbuhan tanaman (retardan), misalnya disemprotkan Cultar 250 EC,
akibatnya daun, bunga dan buah mengecil serta ruas antar daun memendek.

Padat karya dan padat modal.

Salah satu contoh dari produk pertanian yang padat karya adalah
komoditas padi. Untuk memproduksinya kita membutuhkan tenaga kerja mulai
dari membajak sawah, menanam benih unutk dijadikan bibit, memindahkan bibit
ke sawah, melakukan perawatan seperti menyiangi dan memupuk, hingga tiba
saatnya unutk dipanen. Setelah dipanen, pekerjaan terus berlanjut yakni
memisahkan bulir padi dari batangnya untuk mendapatkan gabah. Gabah ini
kemudian dikeringkan sampai tiba saatnya untuk dipabrik menjadi beras.
Selain padat karya, komoditas padi juga padat modal. Mulai dari biaya
untuk membajak sawah, biaya untuk membeli benih, membeli pupuk, menyewa
tenaga kerja untuk menanam bibit, memanen, dan menyewa tenaga kerja untuk
memisahkan bulir padi dari batangnya.

Masa gestasinya (gestation period) panjang.

Setelah bibit ditanam, butuh waktu yang cukup lama untuk memanen
hasilnya. Masa setelah selesai pemeliharaan tanaman sampai masa panen
inilah yang disebut masa gestasi (gestation period). Misalnya, tanaman padi
membutuhkan waktu sekitar tiga bulan untuk dapat dipanen. Fase pertumbuhan
tanaman padi ini terbagi atas periode vegetatif (60-70 hari), periode reproduktif
(30 hari), dan periode pemasakan (25-35 hari).
TUGAS INDIVIDU
STUDI KELAYAKAN BISNIS

CIRI KHAS PERTANIAN DAN PRODUKNYA

OLEH:

AUDIYAH ISLAMIATI (G211 09 004)

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN


PROGRAM STUDI AGRIBISNIS
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2011