Anda di halaman 1dari 8

Rickettsia

Phylum : Proteobacteria

Kelas : Alpha Proteobacteria

Ordo : Rickekettsiales

Famili : Rickettsiaceae

Genus : Rickettsia

Meskipun sangat kecil dan selalu terdapat didalam sel, Rickettsia bukanlah
termasuk virusbmelainkan golongan bakteri. Rickettsia mempunyai sifat-sifat yang
sama dengan sifat-sifat bakteri yaitu mengandung asam nukleat yang terdiri dari
RNA dan DNA , berkembang biak dengan pembelahan biner , dinding sel
mangandung mukopeptida, mempunyai ribosom, mempunyai enzim yang aktif pada
metabolisme, dihambat oleh obat-obat anti bakteri dan dapat membentuk ATP
sebagai sumber energi.

Rickettsia dapat berbentuk batang, kokoid atau pleomorf. Rickettsia bersifat


Gram negatif, berukuran 1 – 0,3 mikron, merupakan parasit intraseluler obligat
kecuali Rochalimaea quintana yang dapat hidup dalam pembenihan tanpa sel.
Penyakit yang ditimbulkannya ditandai dengan demam dan kelainan pada kulit ( skin
rash ). Rickettsiosis ditularkan lewat gigitan serangga pada kulit, hanya penyebab Q
fever yang ditularkan lewat udara ( air borne ), sehingga pada penyakit ini tidak
ditemukan kelainan kulit.

Beberapa jenis mamalia dan arthropoda merupakan hospes alam untuk


Rickettsia bahkan yang terakhir dapat bertindak sebai vektor dan reservoir. Infeksi
pada manusia hanya bersifat insidentil kecuali pada tifus epidemik yang vektor
utamanya kutu manusia yaitu Pediculus vestimenti. Penyakit demam semak ( scrub
typhus ) disebabakan oleh Rickettsia tsusugamushi dapat dijumpai diberbagai
tempat di Indonesia misalnya di Sumatera Utara, Kalimantan, pulau Jawa, Sulawesi
dan Irian Jaya. Larva tungau trombiculid merupakan vektor utama pada penyakit
demam semak sedangkan tikus rumah atau tikus ladang bertindak sebagai
resevoirnya.

Sifat-Sifat Kuman

Dalam pewarnaan Giemsa, Rickettsia terlihat berwarna biru. Dapat dilihat


dengan mikroskop biasa. Tumbuh dalam kantong kuning telur bertunas dan dengan
cara sentrifugasi dapat diperoleh kuman murni.

Rickettsia juga dapat tumbuh dalam biakan sel. Seperti bakteri, perbandingan
kadar RNA dan DNA pada Rickettsia adalah 3,5 : 1. Dinding sel serupa dengan
dinding sel kuman Gram negatif yang terdiri dari peptidoglikan yang mengandung
asam muramat.

Rickettsia mempunyai enzim yang penting untuk metabolisme. Dapat


mengoksidasi asam piruvat, suksinat dan glutamat serta mengubah asam menjadi
asam apartat. Jika disimpan pada suhu 00 C Rickettsia akan kehilangan aktivitas
biologiknya yang serupa aktivitas hemolitik dan respirasinya, toksisitas dan
infektivitasnya. Semua aktivitas tersebut dapat dipulihkan jika ditambahkan
Nicotinamida adenine dicnucleatide (NAD) . Aktivitas biologiknya juga dapat hilang
jika disimpan pada suhu 360C kecuali jika ditambahkan glutamat, piruvat atau ATP.

Rickettsia tumbuh dalam berbagai bagian dari sel. Rickettsia prowazekii dan
Rickettsia typhi ( Rickettsia mooseri ) tumbuh dalam sitoplasma sedangkan
golongan penyebab stopped fever tumbuh dalam inti sel. Rochalimaea quintana
dapat tumbuh dalam pembenihan tanpa sel. Rickettsia dapat tumbuh subur jika
metabolisme sel hospes dalam tingkat rendah, misalnya dalam telur bertunas pada
suhu 320C. Perkembangan kuman akan sangat berkurang jika suhunya dinaikkan
sampai 400C.

Pemberian sulfonamida akan memperberat penyakit yang disebabkan oleh


Rickettsia karena obat ini meningkatkan pertumbuhan kuman. Sebaliknya para-
amino benzoic acid ( PABA ) yang struktur molekulnya analog sulfonamida yang
dapat menghambat pertumbuhan rickettsia. Efek hambatan ini dapat dihilangkan
oleh parahydroxybenzoic acid. Tetrasiklin dan khloramfenikol dapat menghambat
pertumbuhan kuman , keduanya dapat dipakai untuk pengobatan rickettsiosis.

Pada umumnya rickettsia dapat dimatikan dengan cepat pada pemanasan


dan pengeringan atau oleh bahan-bahan bakterisid. Rickettsia mudah mati jika
disimpan pada suhu kamar tetapi dalam tinja serangga yang telah mengering dapat
tetap infektif selama berbulan – bulan meskipun dalam suhu kamar. Penyebab fever
tahan terhadap tindakan pasteurisasi pada suhu 60 0C selama 30 menit.

Antigen dan antibodi

Ada 3 macam antigen utama yaitu antigen grup , antigen spesies dan antigen
yang serupa dengan Proteus. Antigen grup larut dalam eter dan dapat ditemukan
dilingkungan kuman. Antigen ini berasal dari permukaan lapisan pembungkus
kuman. Masing – masing anggota dari golongan typus dan stopped fever
mempunyai antigen grup yang sama. Anggota golongan scrub typus mempunyai
antigen grup yang sangat heterogen. Antigen spesies yang ada pada golongan
scrub typus merupakan antigen strain ternyata bertalian dengan badan kuman.
Untuk memperoleh antigen ini, suspensi kuman dicuci bersih sehingga antigen grup
ikut tersingkirkan.

Antigen beberapa golongan rickettsia ada yang serupa dengan antigen


beberapa strain kuman proteus. Kenyataan ini dimanfaatkan untuk reaksi Weil-Felix.

Antbodi pada rickettsiosis mulai muncul pada minggu kedua sakit dan akan
mencapai puncaknya sewaktu atau sesudah penyembuhan berlangsung. Untuk
kepentingan diagnosis, titer antibodi dalam serum yang diambil pada saat demam
tinggi dibandingkan dengan titer dalam masa konvalesen. Jika serum penderita di
tes dengan antugen dari beberapa macam strain maka antigen yang memberikan
reaksi paling kuat dianggap sebagai antigen penyebabnya.

Reaksi Weil-Felix sebenarnya merupakan reaksi aglunitas kuman Proteus.


Antibodi penderita rickettsiosis dapat bereaksi dengan antigen O polisakarida kuman
Proteus strain X. Strain ini hanya bereaksi dengan antigen O yang tidak tertutup oleh
antigen H flagel dan disebut strain Proteus OX. Infeksi Proteus yang sering terjadi
didalam traktus urinarius dapat mengacaukan hasil reaksi ini meskipun demikian tes
ini masih tetap berguna dan masih merupakan cara diagnostik yang mudah. Pada
reaksi Weil-Felix dipakai 3 macam strain Proteus, strain OX-2, OX-19 dan OX-K.
Hasil reaksi ini dapat dipakai untuk membedakan beberapa macam rickettsiosis, OX-
19 positif pada tufus endemik dan endemik, OX-K positif pada demam semak, OX-2
dan OX-19 positif pada Rocky Mountain Stopped fever, Mediterranean fever dan
South African tick fever sedangkan reaksi Weil-Felix negatif pada Rickettsialpox dan
Q fever.

Untuk tes aglutinasi juga dapat dipergunakan suspensi Rickettsia, hasilnya


dapat memberikan reaksi dengan antibodi spesifik. Reaksi ini sangat spesifik dan
dapat dipergunakan untuk membantu diagnosis. Untuk tes pengikatan komplemen
dipergunakan antigen yang berasal dari dinding sel yang merupakan campuran
protein. Bahan untuk antigen diperoleh dari biakan kuman pada kantong kuning telur
bertunas atau pada biakan sel.

Untuk tes imunoflouresensi indirek dipakai suspensi rickettsia yang dibuat dari
biakan kuman pada kantong kuning telur bertunas yang telah dimurnikan. Untuk tes
ini diperlukan globulin antihuman yang telah dilabel dengan flourescein. Dengan tes
ini terutama dapat ditentukan grup atau golongannya. Untuk tes hemaglutinasi pasif
ada memakai sel darah merah mwnusia golongan O. Sel darah merahg dipekakan
dengan antigen dari ekstrak rickettsia yang dibuat dengan cara pemanasan dalam
suasana alkali.

Rickettsia yang masih hidup dapat membuat toksin yang seruapa denagn
endotoksin bakteri. Toksin ini serupa lipopolisakarida kompleks yang dapat
mnenyebabkan kematian binatang percobaan dalam waktu beberapa jam setelah
inokulasi Rickettsia. Antibodi antitoksin terbentuk selama terjadi infeksi dan bersifat
khas terhadap toksin yang berasal dari golongan tifus, stopped fever dan scrub
fever. Jika suspensi kuman yang telah dicampur denag antibodi antitoksin
disuntikkan pada binatang percobaan maka binatang tersebut tidak akan mati
karena toksin. Percobaan ini disebut tes netralisau toksin.

Gambaran patologi

Rickettsia berkembang biak didalam sel endotel pembuluh darah kecil. Sel
membengkak dan nekrosis terjadi trombosis pembuluih darah yang dapat
mengakibatkan ruptur dan nekrotis. Dikulit nampak nyata adanya lesi vaskuler.
,jaringan otak dapat ditemukan penumoukan limfosit, leukosit, polimorfonuklear dan
makrofag yang bertalian dengan kelainan pembuluih darah pada masa kelabu.
Kelainan ini disebub nodul tifus. Pada pembuluh darah kecil jantung dan organ-
organ lainpun dapat terkena kelainan yang serupa.

Imunitas

Infeksi Rickettsia pada manusia diikuti dengan timbulnya kekebalan yang


tidak lengkap (hanya sebagian) terhadap infeksi yang berasal dari suatu sumber
diluar. Selain itu sering sekali terjadi relaps. Dalam suatu biakan sel makrofag,
Rickettsia juga difagositosis dan selanjutnya dapat berkembang biak intraseluler
meskipun ada antibodi. Jika kedalamannya dimasukkan limfosit yang berasal dari
binatang yang telah kebal maka pembiakan tersebut akan terhenti.

Gambaran Klinik

Semua infeksi Rickettsia ditandai dengan adanya demam, sakit kepala, lesu,
malaise, kelainan di kulit(skin rash), pembesaran limfa dan hati hanya Q fever tidak
disertai adanya kelainan dikulit. Kadang-kadang disertai adanya pendarahan
dibawah kulit. Pada kasus-kasus yang berat dapat dijumpai gejala stupor, delirium
dan bahkan shock atau bercak-barcak gangren dikulit atau jaringan subkutan.
Mortalitasnya sangat variable, mulai kurang dari 1% sampai setinggi 90%. Setelah
sembuh pada umumnya timbul kekebalan. Masa tunas antara 1 sampai 4 minggu.

Golongan tifus (Typhus group)

1. Tifus Epidemik
2. Tifus Endemik

3. Golongan Stopped Fever

4. Golongan demam semak

5. Demam Query ( Q Fever )


6. Demam pari ( Trench Fever )

Pemeriksaan laboratorium

Pada Rickettsia selalu disertai dengan bakteremia pada stadium awal dari
demamnya. Sebagai bahan pemeriksaan, darah seutuhnya diinokulasikan pada
marmut, tikus atau telur bertunas. Pada marmut jantan akan dijumpai gejala-gejala
yang khas yaitu berupa demam, pembengkakan pada skrotum, nekrosis,
pendarahan dan akhirnya binatang tersebut mati. Jika darah penderita baru diambil
setelah minggu pertama sakit maka inokulasi harus dikerjakan dengan bahan
gerusan bekuan darah yang sedapat mungkin tidak mengandung serum, karena
didalam serum sudah terdapat antibodi yang dapat mengurangi infektivitas kuman.
Isolasi primer didalam kantong kuning telur bertunas hasilnya kurang memuaskan.
Pada tikus percobaan, kuman dapat ditemukan didalam eksudat peritoneum. Biopsi
kulit penderita Rocky Mountain Stopped Fever yang dikerjakan diantara hari ke-4
dan ke-8 setelah sakit akan menunjukan adanya Rickettsia jika dilakukan
pemeriksaan imunofluoresensi. Selain itu serum penderita dapat diperiksa secara
serologik dengan reaksi Weil=Felix, imunofluoresensi atau kompleman fiksasi. Dua
reaksi yang terakhir selalu positif pada semua jenis rickettsiosis.

Pengobatan

Tetrasiklin dan khloramfenikol merupakan obat pilihan. Sulfonamida


merupakan kontra indikasi. Untuk mencegah relaps, pengobatan tetap diteruskan
selam 3-5hari setelah suhu penderita normal. Antibiotika menekan pertumbuhan
kuman. Penyembuhan tergantung kepada mekanisme kekebalan penderita yang
pada umumnya memerlukan waktu 2 minggu untuk dapat mencapai suatu tingkat
yang mampu menekan kuman. Jika pengobatan dimulai setelah hari ke-6 sakit maka
imunitasnya akan berkembang seperti dalam keadaan tanpa pengobatan dan tidak
terjadi relaps. Sebaliknya jika antibiotika diberikan pada awal dari penyakitnya dan
hanya diberikan dalam jangka pendek maka mekanisme kekebalannya kurang
cukup mendapat rangsangan sehingga dapat terjadi relaps. Relaps dapat dicegah
dengan memberikan pengobatan yang cukup efektif selama lebih dari 10 hari.

Pencegahan

Untuk dapat melakukan pencegahan secara tepat, maka terlebih dahulu


harus diketahui cara penularannya. Dapat terjadi inokulasi langsung pada mamalia
yaitu lewat gigitan arthropoda sewaktu menghisap darah. Dapat terjadi penularan
pada arthropoda sewaktu menghisap darah mamalia yang terkena infeksi. Selain itu
dapat juga terjadi penularan dari arthropoda ke arthropoda lewat telur yang terkena
infeksi (transovarium). Hanya ada satu kekecualian yaitu pada Coxiella burnetii yang
ditularkan kepada manusia kepada manusia lewat debu.