P. 1
ISPA

ISPA

|Views: 1,275|Likes:
Dipublikasikan oleh Riyono Afdfvm

More info:

Published by: Riyono Afdfvm on Mar 15, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/20/2013

pdf

text

original

Kendala Penanganan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA

)
H. Ridwan Muchtar Daulay Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan

PENDAHULUAN Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), diare dan kurang gizi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak di negara maju dan berkembang, terutama pads usia di bawah 5 tahun. ISPA merupakan penyebab morbiditas utama pads negara maju; tidak demikian keadaannya pada negara berkembang di mana morbiditasnya relatif lebih kecil. Mortalitas yang tinggi pada umumnya akibat ISPA bawah yang berat. Keadaan-keadaan ini merupakan penalar bagi kita agar segera memikirkan dan melaksanakan program pencegahan dan pemberantasan ISPA sesuai dengan usaha WHO pads tahun-tahun terakhir ini. Perumusan masalah seperti definisi, klasifikasi ISPA disertai pengumpulan data, hipotesis dan kesimpulan merupakan kunci utama untuk berhasilnya program ini. Tulisan ini mencoba menguraikan kendala penanganan Infeksi Saluran Pernafasan Akut pads bayi dan anak. DEFINISI ISPA merupakan penyakit infeksi saluran nafas yang secara anatomi dibedakan atas saluran nafas atas mulai dari hidung sampai dengan taring dan saluran nafas bawah mulai dari laring sampai dengan alveoli beserta adnexanya, akibat invasi infecting agents yang mengakibatkan reaksi inflamasi saluran nafas yang terlibat. Hingga saat ini telah dikenal lebih dari 300 jenis bakteri dan virus sebagai penyebab ISPA°. Berdasarkan definisi ini diagnosis ISPA ditegakkan dengan pembuktian jenis infecting agent dan adanya inflamasi saluran nafas. Pembuktian ini membutuhkan pemeriksaan laboratorium yang tidak sederhana sehingga tidak praktis diterapkan pada saat ini di Indonesia dan kadangkala di negara maju. Klinik ISPA merupakan bangkitan tanda dan gejala akut

akibat inflamasi saluran nafas karena adanya invasi infecting agent. Dikatakan bangkitan baru bila tanda dan gejala tersebut terjadi sekurang-kurangnya setelah 48 jam bebas gejala bangkitan akhir dan berlangsung tidak lebih dari 14 hari. Definisi praktis sangat didambakan; dengan pemeriksaan klinis sederhana berupa penglihatan, pendengaran dan perabaan, indentifikasi penyakit dapat diterapkan. KLASIFIKASI DAN PATOGENESIS Klasifikasi ISPA dibedakan berdasarkan anatomi, etiologi, berat ringannya ataupun gabungan sesamanya seperti yang diajukan International Classification of Diseases (ICD). Klasifikasi ICD-revisi 9 berdasarkan anatomi, etiologi dan fungsi hanya dapat diterapkan tenaga kesehatan formal seperti dokter Puskesmas dan Rumah Sakit yang mempunyai sarana pendukung, tidak sesuai dengan usaha penanggulangan ISPA di Indonesia saat ini. WHO (1985) mengajukan konsep perubahan klasifikasi ISPA berupa ICD-revisi 10 yang lebih menggambarkan perkembangan penanggulangan ISPA di Indonesia saat ini. Klasifikasi berdasarkan etiologi sangat ideal. Dengan mengetahui etiologinya dapat diketahui pola kuman atau virus penyebab serta pola mikrobiologi untuk terlaksananya usaha pencegahan dan penanggulangan yang akurat sehingga terwujudnya rasionalisasi penggunaan antibiotika di satu pihak dan merupakan kendala bagi para ahli terutama di Indonesia di pihak lain. Berdasarkan klasifikasi anatomis dibedakan alas rhinitis, faringitis, tonsilitis, laringitis, trakheitis, bronkitis, bronkiolitis, pneumonia, abses pulmonum dan empiema. Klasifikasi sederhana berupa tanda dan gejala ISPA yang mudah dikenal untuk mengetahui tindakan selanjutnya apakah

Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992

47

Departemen Kesehatan Republik Indonesia menggunakan pedoman klasifikasi ISPA untuk petugas kesehatan sesuai dengan klasifikasi sederhana WHO berupa ISPA ringan. Pimgadi Medan pada tahun 1981. Anemia terutama anemia defisiensi besi yang sering ditemui pada bayi dan anak di Indonesia mempunyai hubungan timbal balik dengan ISPA. apabila gizi jelek tidak diperhitungkan. Edisi Khusus No.9. sedangkan laporan dari berbagai negara berkembang berkisar 10-44 per 1000 anak di bawah 1 o. pertusis dan campak pada seluruh penduduk 13. Pirngadi Medan oleh Fuad Arsyad (1981-1982) menunjukkan mortalitas penderita bronkopneumonia yang dirawat mondok adalah 41. sedang ISPA bawah pada urutan ke enam yaitu 5. Penyebab infeksi ini dapat sendirian atau bersama-sama secara simultan. Menurut David Morley (1973) karena hubungan nutrisi dengan ISPA belum jelas.2%('). Di Inggris kejadian infeksi RSV pada anak lebih sering pada anak yang mempunyai saudara dibandingkan dengan yang tidak. Hasil survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1980 dan 1986 di Indonesia memperlihatkan ISPA atas dan bawah merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas bayi dan anak balita.960 pengunjung Poliklinik Anak Sakit Rumah Sakit Dr. 65.7% penduduk menderita ISPA dengan penyebaran 42. Penelitian BIKA FKUSU Rumah Sakit Dr. 80. Data penelitian ISPA kebanyakan berasal dari negara-negara barat walaupun sebenarnya penyakit ini merupakan ma- 48 Cermin Dunia Kedokteran.5% per 1000 anak di bawah usia 1 tahun. Kematiannya kebanyakan akibat bronkopneumonia dan bronkiolitis.3%) disebabkan ISPA .11) 1000 anak usia 1-5 tahun° . kekurangan gizi di negara berkembang tidak dapat dianggap sebagai penyebab utama dari tingginya angka kematian ISPA. disebutkan juga puncak kejadian ISPA berhubungan dengan masa masuknya anak sekolah kembali setelah masa ) libur" . kejadian ISPA cenderung ) meningkat pads musim dingin" . 40. Penelitian terhadap 877 anak balita di Pondok Pinang Jakarta sejak 1 April 1970 sampai dengan 31 Maret 1971 ditemui A5 dari 3121 episode penyakit. tidak demikian keadaannya dengan diare. 19. Mortalitas ISPA yang pasti sampai saat ini belum diketahui. Untuk daerah Sumatera Utara basil survei Kesehatan Rumah Tangga pada tahun 1972. Pada dasamya terjadinya ISPA bawah merupakan kom3 plikasi ISPA atas kecuali pads bayi baru lahir .0% pads anak 1-4 tahun . Penyebab ISPA akibat infeksi virus berkisar 90-95% terutama ISPA atas.harus diberi antibiotika. Dari 12 besar penyakit anak di Rumah Sakit Dr.Perinatologi"· '4) FAKTOR-FAKTOR YANG MUNGKIN MEMPENGARUHI Cuaca dan Musim Di negara dengan 4 musim. ETIOLOGI Walaupun penyebab ISPA beranekaragam namun penyebab terbanyak adalah infeksi virus dan bakteri.5%).2%. jawab terhadap terjadinya ISPA adalah kepadatan penghuni di dalam atau di luar rumah.46% sedang Charles Hutasoit (1985-1989) melaporkan 46.9% kematian penduduk akibat ISPA bawah.1% pada · o) bayi berusia 0-1 tahun dan 35. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1980.7%. dikatakannya meningkatnya kejadian ISPA pada musim-musim tertentu bukan diakibatkan perubahan cuaca atau musim"). MORBIFDITAS DAN MORTALITAS Morbiditas ISNA lebih banyak pads negara maju.39% dari seluruh ISPA bawah. di negara tropis yang umumnya mempunyai 2 musim ISPA 2 atau 3 kali lebih sering terjadi pada musim hujan l16.4 tahun dan 32. Mortalitas ISPA di Amerika Utara 0. tidak termasuk neonatus yang dirawat di Sub-Bagian .74% ISPA bawah( ). 1428 (45. Survei tahun 1986 menunjukkan. ISPA atas menduduki tempat pertama (16.5% pada anak berumur 5 14 tahun (4 ). Pada negara berkembang diperkirakan 20-25% kematian anak Balita diakibatkan ISPA 0 10) . 49. 22. Keadaan ini mungkin karena pada anak di bawah usia 2 tahun imunitasnya belum sempuma dan lumen saluran nafasnya relatip sempit. Pirngadi Medan pada tahun 1981 dan 1982 adalah 29.60% anak menE derita ISPA atas dan 19. basil survei 1986 mortalitas ISPA seluruhnya termasuk difteri. Umur dan Jenis Kelamin Anak berusia di bawah 2 tahun mempunyai risiko mendapat ISPA lebih besar daripada anak yang lebih tua. Kariadi Semarang (1979) ISPA menduduki tempat ke dua setelah penyakit (6) saluran cerna .6% pada usia 1.99%.23% daripadanya adalah penderita bronkopneumonia yang merupakan 20. Dari 15.1% pada bayi berz umur 0-1 tahun dan 28.17 ) Kepadatan penduduk yang paling bertanggung David Morley (1973) menekankan. dapat dirawat di rumah atau harus dirujuk ke Rumah Sakit. sedang dan berat( 2).1% pada anak berumur 1-4 tahun° .11 tahun dan 3-8 per 1000 pada anak berusia antara 1-5 tahun ) Dari data ini diperkirakan angka kematian akibat ISPA perseribu penduduk 100-200 kali lebih tinggi di negara berkembang daripada negara maju. 25. 22. Kejadian ISPA atas tidak ada bedanya antara anak laki-kaki dengan perempuan. pads negara berkembang morbiditasnya 4 . Kendatipun demikian peranan bakteri belum dapat disingkirkan.4% pada anak di bawah 1 tahun. Di Indonesia morbiditas ISNA di pedesaan relatif lebih rendah dari perkotaan.5 kali lebih besar dari negara maje). Soemardi Umar dick (1983) juga melaporkan kejadian ISPA bawah di ruang rawat mondok Rumah Sakit Dr. 1992 . dan 3-8 per l. sedang ISPA bawah pada umur kurang dari 6 tahun lebih sering pada anak laki-laki" Keadaan Nutrisi dan Anemia Sejauh mana hubungan nutrisi dan anemnia terhadap kejadian ISPA belum diketahui dengan jelas.

Chlamydia dan Branhemella catarrhalis. PENGELOLAAN Mengingat pencegahan lebih baik dari pengobatan maka sebaiknya pengelolaan ISPA dilaksanakan secara menyeluruh meliputi penyuluhan kesehatan yang baik. S. menggalakkan imunisasi dan penatalaksanaan penderita secara medik sebagaimana lazimnya. C. 3. M. secara tidak langsung menyokong penyebab infeksinya adalah s. influenzae(1. B. influenzae. Walaupun morbiditas ISPA bawah relatif lebih kecil dari ISPA atas namun fasilitas klinik yang dibutuhkan dalam penanganannya sangat tinggi. Virus Parainfluenzae tipe 1 dan 2 menimbulkan gejala mirip croup.06%. Virus yang sering dilaporkan sebagai penyebab ISPA. basil biakan oro dan nasofaring yang positif terhadap S. dan pneumokokkus merupakan bakteri patogen yang banyak ditemui.23> . pneumonia dan H.4% 01> .27> o. Pseudomonas dan Klebsiella . Virus respiratorik memegang peranan pads fase pertamao. 6. Imunisasi Peningkatan cakupan imunisasi penyakit ISPA dengan menggalakkan imunisasi difteri. kultur darah yang hanya sebagian kecil positif dan kultur aspirat pungsi paru yang sulit dilakukan dan invasif walaupun merupakan metoda paling baik untuk menentukan etiologi.4% biakan bakteri positif dari nasal swab. Dijumpainya kultur darah yang positif dan adanya perbaikan klinis akibat pemberian antibiotika terhadap anak yang menderita pneumonia. Cermin Dunia Kedokteran. ALfa streptokokkus 0 34. H. " ' wah adalah RSV.06%. semuanya merupakan Virus Virus-virus yang sering menyebabkan ISPA adalah virus Influenzae A. ' Dan data di atas diperkirakan penyebab pneumonia berat [ada negara sedang berkembang 50% oleh karena infeksi bakteria dan sensitif terhadap pemberian antibiotika. a28> S. Fakta menunjukkan bahwa bakteri patogen merupakan penyebab ISPA bawah yang berat baik primer maupun sekunder. H. 1992 49 .' penyebab ISPA berat lain adalah S. WHO melaporkan dari anak-anak yang menderita ISPA berat yang dirawat di Rumah Sakit di 7 negara sedang berkembang dan belum mendapat antibiotika ternyata basil pungsi parunya 60% positif terhadap bakterP. Ong dkk mendapatkan hanya 15. > kejang dan pneumonia pada bayi dan virus Influenzae B menyerang anak yang lebih besar dengan gejala influenzae disertai nyeri perut.4. Penyuluhan Kesehatan Penyuluhan kesehatan berperan mengurangi risiko mortality ISPA berupa bayi berat badan lahir rendah. Pala masa neonatus bakteri penyebab ISPA yang paling sering adalah S. 4. pneumonia dan B. aureus. Soejono. Virus lain misalnya virus morbili dapat menyebabkan ISPA yang apabila diikuti infeksi bakteri akan menyebabkan ISPA bawah yang berat (pneumonia). Parainfluenzae dan Adenovirus Virus Influenzae C menyebabkan ISPA dengan gejala ringan.25.86% 1. Tidak spesifiknya gejala klinik. 7 sering menyebabkan faringitis pads anak dengan umur yang lebih tua. Ong dkk (1977) dengan melakukan biakan paranasal swab menemui virus sebagai penyebab ISPA adalah 47. pertusis dapat menyebabkan epidemi dan umumnya basil kultur hapusan tenggorok pads anak usia sekolah hasilnya negatip ( kecuali M. pengobatan dan rujukan serta tenaga non-medik dimulai tingkat ibu rumah tangga sampai dengan kaderkesehatan desa dengan menggunakan pedoman dan klasifikasi sederhana. 2°. Moeljono ST dkk (1975) memperoleh stafilokokkus 36.2s. Turner dkk (1987) melaporkan dari 98 anak yang menderita pneumonia di Amerika 39% disebabkan infeksi virus. pertusis. diikuti dengan stafilokokus aureus dan streptokokkus beta hemolitikus. 80. pneumonia dan H.salah penting di negara-negara tropis.1% pads anak berumur di bawah 1 tahun dan 4. virus Parainfluenzae 1.21> juga diakibatkan infeksi virus ' . virus Respiratory Syncytial (RSV). influensa. aureus 5. gizi kurang. albus 5.23. Rhinovirus dan Enterovirus. Penyebab ISPA yang pasti pads negara berkembang belum diketahui. B.2s. dan 19% oleh bakteri 53% dari22 padanya dijumpai juga infeksi virus( ). Penyuluhan ini penting sekali bagi ibu-ibu sebagai tenaga kesehatan non-formal untuk mengenal ISPA ringan. Selayaknyalah pemberantasan ISPA bawah diprioritaskan dengan menitik beratkan usaha penekanan morbiditas ISPA bawah baik sebagai lanjutan ISPA atas atau tidak dan mortalitasnya. 5 sering menimbulkan ISPA bawah yang berat sedangkan serotipe 3. Bakteri Peranan bakteri sebagai penyebab ISPA lebih sulit ditentukan karena bakteri juga dapat ditemui pads anak-anak yang tidak (19 menderita ISPA ). Moeljono ST dkk (1980) dengan melakukan biakan nasofaring penderita ISPA menemukan S.18% dan Beta streptokokkus 8. Diagnosis Umumnya diagnosis ditegakkan secara klinik walaupun diagnosis etiologik sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Th j. basil kultur bakteri yang positif akibat kontaminasi. sedang dan berat untuk pengelolaan penderita selanjutnya. pertusis dan morbili sangat berberan dalam usaha pemberantasan ISPA. Edisi Khusus No. M. Penelitian di negara maju dan beberapa daerah perkotaan negara sedang berkembang membuktikan bahwa ISPA bawah p7. tipe 3 sering menyerang bayi berumur di bawah 6 bulan dengan gejala mirip bronkiolitis dan pneumonia. 4. Di negara berkembang penyebab utama ISPA berat pada anak adalah S. coli di samping Stafilokokkus agalactiae (grup B).2 . Adenovirus.8% pads anak berumur di atas 1 tahun yang menderita bronkopneumonia a29 sedangkan Tatty. virus Influenzae A sering menimbulkan demam tinggi. pneumonia 1015% basil biakan positip ').7% dan Bakteria. aureus. Adenovirus serotipe 1. pneumonia.26> bakteri e . 2. kebiasaan ibu merokok dan keengganan ibu menyusukan bayinya. ba6. PENATALAKSANAAN Penatalaksanaan penderita dilaksanakan tenaga medik (formal) dengan prosedur medik berupa diagnosis. E. 15. pneumonia. 2. streptokokkus. Pemeriksaan bakteriologik dan penunjang lainnya dapat membedakan penyebabnya bakteri atau virus.

sedang dan berat untuk tindakan selanjutnya. bila diikuti pemeriksaan radiologik paru dan analisa gas darah. batuk produktif. Peneliti juga menemui insufisiensi dan kegagalan ventilasi dan asidosis metabolik pads 44. Tanda klinik berupa panas.masalah. tonsilitis eksudatif. pilek serta tanda-tanda radang pads saluran nafas atas dan ronki basah kasar tidak nyaring. aspirat nasofaring atau dari serum pada masa akut dan konvalesen. faringitis eksudatif dan radang l telinga tengah° ). emfisema.6% dan sianosis 53. Gejala sisa ini merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit paru kronis di masa mendatang. imunofloresen. interkostal dan epigastrium disertai ronki basah halus nyaring.38) .3%. Pemeriksaan mikroskop elektron. Penelitian-penelitian mendatang untuk validitas virus sebagai penyebab bronkitis akut sangat diharapkan sehingga penggunaan antibiotika yang tidak rasional dapat dihindari.50% ). elastis dan epitel bronkiolus pada penyembuhan nantinya akan terbentuk fibrosis yang mengakibatkan obliterasi lumen bronkiolus. pneumonia dan H. Pemeriksaan kadar CRP (C-reaktive Protein) dapat digunakan sebagai test penyaring untuk menentukan penyebab.3 C sebanyak 75. Tanda klinik yang mempunyai korelasi baik terhadap adanya hipoksi dan penurunan saturasi oksigen adalah 32) sianosis( . Hela/Hep 2 cells atau human lung fibroblast. 50 Cermin Dunia Kedokteran. diagnosis anatomik dan fungsional dapat ditegakkan.4%. Cissy B. sebaiknya dilakukan walaupun merupakan tantangan akibat sulit mahal untuk dilaksanakan.0% ). secararadiologis telah disingkirkan adanya pneumonia (93. Para ahli menduga pneumonia yang terjadi pads stadium awal morbili biasanya diakibatkan invasi virus morbili. walaupun terapi kausal sangat didambakan namun terapi suportif tidak dapat diabaikan. gelisah 60%. Diagnosis etiologik belum pernah dilaporkan. Menurut kepustakaan penyebab bronkitis akut pada umumnya adalah virus. influenzae maka adalah bakteri terutama WHO menggariskan pemberian antibiotika terhadap ISPA sedang dan berat berupa penisilin. sesak nafas dengan frekuensi pernafasan yang bertambah dan adanya retraksi suprasternal. 80.3s) Bentuk lain adalah bronkiolitis obliterans. Penyebab ISPA atas yang terbanyak adalah infeksi virus maka pemberian antibiotika pads infeksi ini tidaklah rasional kecuali pada sinusitis. Penyuluhan terhadap keluarga dan tenaga kesehatan nonformal sangat diperlukan sehingga mereka mengenal ISPA ringan. haemagglutination. ginjal monyet. gangguan kesadaran 56. infeksi berulang dan atelektase akibat necrotizing bronkiolitis akibat infeksi adeno virus. Kultur ini dilakukan pada embrio ayam. ronki basah halus nyaring pada semua penderita. Adeno virus dan inhalasi gas-gas 36. Pertanda untuk perujukan penderita ISPA bagi tenaga nonmedis adalah frekuensi pernafasan lebih dari 50 kali/menit dan 33 ) adanya retraksi dada( Penyebab pneumonia di negara berkembang kebanyakan S. pneumonia dan H. masing-masing 04 93.37. haernadsorption dan deteksi IgM spesifik membutuhkan waktu lebih singkat sehingga deteksi virus secara dini dapat dilakukan untuk mencegah penyebaran dan penggunaan antibiotika yang tidak rasional.33%). Untuk mengetahui virus sebagai penyebab dapat dilakukan pemeriksaan kultur walaupun umumnya sangat sulit dilakukan. Untuk mengatasinya harus difikirkan pengembangan S. Rubeola. Pemeriksaan CRP berguna untuk membedakan penyebab ISPA bakteri atau virus. leukosit kurang dari 10. 1992 . pemeriksaan CRP 3 normal. Penyebab utamanya 86% oleh karena infeksi RSV dan dapat juga oleh virus Parainfluenm zae . antibodi dan CRP.2% dan 91. akibat kerusakan jaringan otot. KEADAAN DAN KENDALA ISPA PADA BAYI DAN ANAK Pneumonia Diagnosis Rumah Sakit merupakan diagnosis klinik. Hasil analisis gas darah menunjukkan hipoksemi pada semua penderita dan setelah pemberian oksigen sebanyak 3 1/menit masih ditemui 42. Kemungkinan keadaan ini tidak terlepas dari faktor ras dan sosio-ekonomi(36. Keadaan ini diakibatkan oleh infeksi virus Influenzae. toksik( Bronkitis Akut Infeksi bronkus ditandai dengan adanya demam. Penelitian Marjanis Said (1980) pads anak dengan bronkopneumonia berat menemui frekuensi pernafasan dan jantung meningkat. Untuk menguji kebenarannya sebaiknya dikonfirmasi dengan kultur bakteri dan pemeriksaan virus. bila terjadi pada stadium rekonvalensi dialdbatkan infeksi bakteri sekunder. Banyak laporan kepustakaan menyatakan bahwa anak yang sembuh dari ISPA sebagian akan meninggalkan gejala sisa yang bersifat sementara atau menetap. Pengobatan Pengobatan meliputi pengobatan penunjang dan antibiotika.000/mm (90%) dan suhu tubuh 04 kurang dari 38. Edisi Khusus No. Nastiti N Rahajoe dkk (1987) mendapatkan dari 60 anak yang umurnya berkisar 1 12 tahun menderita bronkitis akut ternyata.37.02%) dan tidak bertentangan dengan infeksi virus.4% penderita hipoksemi. Penelitian ini menunjukkan. redioimmunoassay. Sediaan berasal dari hapusan tenggorok. Gejala sisa yang ditimbulkan bronkiolitis tidak hanya terbatas pada asthma tapi dapat berupa obstruksi. (28) . Kartasasmita dkk (1987) melaporkan hasil penelitian terhadap 142 anak berumur 6 bulan 9 tahun dengan pneumonia morbili ternyata 77% pneumonia terjadi pada stadium awal dengan 27% leukositosis dan 23% 3s ) pada stadium rekonvalensi dengan 53% leukositosis( Bronkiolitis Williams dan Phelan (1975) menyatakan bronkiolitis umum19) nya dijumpai antara usia 1 6 bulan( . influenzae pemeriksaan serologis terhadap berupa pemeriksaan antigen. enzim. kotrimoksazol atau amoksisilin Alan Tumbelaka dkk (1987) membandingkan pengobatan pneumonia berat pads anak berumur 2 bulan 2 tahun dengan kotrimoksazol dan kombinasi ampisilin dan kloramfenikol dengan hasil pengobatan yang tidak bermakna. hidung. penderita terbanyak pada umur 1 3 tahun (58.

Medan. Viral Respiratory Infections. Acute Respiratory Infections.3 tahun tasinya berupa laringitis supra atau sub-glotis dan dapat mengakibatkanobstruksi saluran nafas alas menyebabkan keadaan darurat medik yang mengancam jiwa anak. l42l . Morley D. Dengan demikian untuk menegakkan diagnosis pertusis pada biakan kuman yang negatip sebaiknya dilakukan. manifesUmumnya ditemukan pads usia 1 -. Dr. Diagnosis klinik di Rumah Sakit selalu dikonfirmasi dengan pemeriksaan basil kultur yang disertai pemeriksaan test sensitivitas. Prognosis dapat dipengaruhi umur penderita. Naccimento JP. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kendala lain yang juga berperan tapi belum semua terungkapkan adalah faktor-faktor yang mempengaruhi morbiditas dan mortalitas ISPA. 1992 51 . dalam Kendig's Disorders of the Respiratory Tract in Children. Ozford19. Fuad Arsyad. Williams HE. pp 378-401. Untuk mencegah angka kematian yang lebih besar dibutuhkan diagnosis dini yang segera diikuti dengan pemberian ADS dan antibiotika. 92-104. ACMR 24/82. Kanwil Depkes RI. Diagnosis etiologik belum ada yang melaporkannya sedangkan diagnosis klinik di Rumah Sakit tidak menjadi permasalahan. 11. Siregar H. WHO TRI/ARI/MTP/83. Pimgadi Medan. 1st ed. WHO. Respiratory Infection in Central America. Herrero L. Tinjauan epidemiologi penyakit saluran nafas bagian alas di Propinsi Sumatera Utara. 80. Jakarta. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (1980). A Longitudinal Survey of Diseases Occuring in Children Under 5 Yeras Age In Pondok Pinang. Sutmoller F. 1983.Dj. A Programme for Controlling Acute Respiratory Infections in Children : Memorandum from a WHO Meeting Bull WHO 1984. Pidato pengukuhan penerimaan Guru Besar Tetap Universitas Diponegoro. Moeljono S Trastotenojo. 1977. 59: 707-16. Presiding Survei Kesehatan Rumah Tangga 1986. 1983. 14. Smith MHD. WHO. 21. 1973. Adanyapenyakit-penyakit ISPA yang sembuh dengan gejala sisa yang merupakan faktor risiko untuk terjadinya penyakit paru kronis di masa mendatang menjadi tantangan bagi kita semua.Laringitis akut non difterika ' . Denny FW. 17: 1038-40. Dillman L. WHO. 17: 1045-9. 10. Pimgadi Medan. L Ratna Budiarso dkk (eds). WHO. Research on Acute Respiratory Infections. Reeves WC. Departemen Kesehatan.1. 8. Bronkopneumonia dengan Morbili pada bayi dan anak yang dirawat di RS. Propinsi Sumatera Utara. 2. dalam: Paediatric Priorities in the Developing World. Paediatr Indon 1972. WHO. Pneumonia in paediatric outpatients: Cause and clinical KESIMPULAN Telah diutarakan kepustakaan ISPA pads bayi dan anak di Indonesia dengan membandingkannya dengan kepustakaan barat. Medan. Tumer RB et al. Quiroz E. Syafitri Siregar dkk (1987) melakukan pemeriksaan kultur dan pengukuran S-IgA usap nasofaring terhadap 21 anak tersangka pertusis dan 28 anak kelompok kontrol. 1981. Acute Respiratory Infections. 12. Lubis HM. Faringitis dan Tonsilitis karena streptokokkus Adanya kemungkinan korelasi faringitis dan tonsilitis streptokokkus ini dengan sakit jantung rematik sehingga kedua infeksi ini hams selalu ditanggapi dengan serius. Butterworths & Co Ltd. 1983. WHO Techn Rep Ser. 6. 17: 1035-1038. Mardiana K. Opportunities for studies of ' children s respiratory infection in Panama. Bull WHO 1981. 62: 47-58. Geneva.1% dan 25%.pengukuran S-IgA 3. Edisi Khusus No. USU/RS Dr. 1980. Respiratory illness in children. KONIKA VIII. KEPUSTAKAAN 1. Pediatr Res 1983. Pengamatan dan penatalaksanaannya yang tepat sangat diharapkan terlebih-lebih lagi sampai saat ini pencegahan dengancara imunisasi belum ditemukan. Supamadi. Retnawati. Geneva. Rusdid jas. Sangat dibutuhkan penelitian-penelitian berikutnya untuk mengungkapkan kendala-kendala yang dihadapi pada program pemberantasan ISPA dalam usaha menurunkan angka kematian bayi dan anak untuk menunjang program pcmerintah di tahun 2000 mendatang. Laringitis akut difterika Seperti laryngitis nondifterika. 17. Kendala yang ditemui antara lain belum ditemukannya pola bakteriologi. 9. Pediatr Res 1983. 0l nya. Ternyata morbiditas dan mortalitas ISPA bayi dan anak di Indonesia masih tinggi. Pertusis Rendahnya cakupan imunisasi DPT dan sedikitnya penemuan diagnosa pertusis merupakan suatu keadaan yang sumir.15. Case Management of Acute respiratory Infections in Children in Developing Countries. 12: 469-478. mikrobiologi dan virologi sehingga penggunaan antibiotika yang rasional belum terlaksana sebagaimana mesti- Cermin Dunia Kedokteran. 17: 1026-1029. Global Medium-Term Programme. Rev 1. Manikoro. Survey Kesehatan Rumah Tangga. Soe mardiUmardkk. Seventh General Programme of Work Covering the Period 1984-1989. laryngitis ini sangat cepat menimbulkan gawat anak. WHO. 4. t19. WB Saunders. Hutasoit C. Advisory Committee on Medical Research. 5. Clinical Manageme nt of Acute Respiratory Infections in Children: A WHO Memorandum. Kejadian Bronkopneumonia di Bagian Bmu Kesehatan Anak FK. Saroso JS. Siregar Z. ·London-Edinburg-Melboume: Blackwell Scient Publ. Studies on Acute Respiratory Infections in Brazil (A Status Report) Pediatr Res 1983. Pediatric Research. Medan 1983. KONAS Ke III IDPI. 15. Pertemuan Ilmiah Sehari Penanggulangan Penyakit Saluran Nafas Atas dan Rongga Mulut. Bacterial Pneumonias. Phelan PD. Data Statistik. Pimgadi Medan: Konas IDPI ke III. hal 27-81. 18. Beberapa masalah dan perspektif kesehatan anak di Indonesia. 642. Daulay RM. Dr. KejadianPenyakitlnfeksiSaluran Nafas diPoliklinik Anak Sakit RS. September 1983. Centano R. 7. Siregar Z. WHO/RSD/85. Permasalahan yang timbul apakah gambaran atau manifestasi klinis pertusis saat sekarang ini telah mengalami perubahan. 16. 20. October 1982. 22. Ujung Pandang 1990. Clyde WA. Makin muda usia anak makin kecil ukuran laringnya makin berat pula gejala o11 yang ditimbulkannya Untuk mencegah obstruksi laring yang berat pads awal penyakit diberikan kortikosteroid dan antibiotika dan bila obstruksi telah terjadi sebaiknya dilakukan intubasi atau trakeostomi.13. Acute Respiratory Tract Infection: An Overview. 1987. temyata S-IgA positif pada penderita tersangka pertusis dibandingkan dengan basil biakan kuman berbeda bermakna 58. 13.

M. Harjono Abdoerrachman. Pengobatan bronkopneumonia dupleks pads anak dengan Trimetoprim dan Sulfametoksazol. A respiratory illness in children 2nd ed. Oxford. Gambaran bronkitis pada anak. Riley I et al. Marjanis Said. Tropical Doctor 1978. Disorders of the Respiratory tract in Children. Toronto: WB Saunders Co. Edisi Khusus No. Soemantri Ag. Peranan CRP dalam penyaringan etiologi. Opportunities for studies of children's respiratory infections in Argentina. 26. Tay LK. SE Asian J Trop Med Pub Hit 1978. Tumbelaka AR. 5fe who asks a question is a fool for five minutes. 17: 1058-60. Moeljono ST. 36. Pengukuran kadar sekret IgA untuk membantu menegakkan diagnosis pertusis. Chemick V. Treatment of bronchopneumonia with spiramycine (rovamycine). 37.V Mosby Co. 30. Beberapa aspek dari Bronkopneumonia pada ai ak dengan campak. KONIKA VII. 40. KONIKA VII. Steinhoff MC. Jakarta 1987. J. 23. 28. 24. Rahajoe NN. Dedi Rachmadi. Long-Term Sequelae of Respiratory illness infancy and childhood. 80. Kattan M. Harahap F. he who does not. Katz SL. Infections diseases of children. WHO/RSD/87. 16: 396-402. Pediatr Res 1983. 17: 1032-5. Infeksi Saluran Pemafasan Akut: Bilakah seorang penderita hams dirujuk oleh petugas kesehatan di pedesaan (dukun paraji?). KONIKA VII. dkk. 29. Landau LI. 42. Viruses and bacteria associated with acute respiratory illnesses in young children in general practice. 2nd ed. Harsoyo N. Kartasasmita CB. Bacteriological pattern in respiratory tract infection in Children (unpublished. 1981. St. 1983. Alisjahbana A. 26: 525. 35. Acid-Base Balance and Blood Gas Analysis in Bronchopneumonia in Infancy and Childhood. Pediatr Res 1983. Moffet HL. John TJ. 39. 9: 98-102. Philadelphia. 1982. Ong SB. 8: 220-225. Kartasasmita CB. 4th ed. 1992 . Soejono. 1979. remains a fool forever (Chinese proverb) 52 Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta 1987. Paediatr Res 1983. 41. Weissenbacher MC. Mardjanis Said et al. Bulan Ginting Munthe. 17: 1058-1060. KONIKA VII. 7th ed. London. London: C. Paediatrics infections diseases. Moedrik T. Toronto. Matondang CS. 32. London. Melbourne: Blackwell Scient Pub. 1981. Successful Programme for Medical Auxiliaries Treating Childhood Diarrhoea and Pneumonia. 20: 68-76. 38. Krugman S. A problem oriented apprqach. Tatty H. Moeljono ST. Kendig E. Toronto: JB Lippincou Co. 25. WHO. Pediatr Res 1983. Opportunities for Studies on Acute Respiratory Infections in Children of Columbia. Kielmann AA. Status of Research on Acute Respiratory Infections in Children in Papua New Guinea. 1983). 31. St. Paediatr Indon 1976. Jakarta 1987. Duenas A.manifestations. Paediatr Indon 1980. Louis. Siregar S. Rarasati.39. Rahajoe N. Widjajaningsih. 47: 1041-3. 34. Thong ML. 27. Pediat Clin N Am. 33. 111: 194-200. Olinsku. KONIICA VII. Pediatr 1987. Antigen Detection in Bagterial Respiratory Infections in Children. Jakarta 1987. Siti Rozanah. Mc Cord C. Phelan PD. Acute Respiratory Infections of Children in India. Louis. Jakarta 1987.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->