Anda di halaman 1dari 9

RESENTASI KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny. T

Umur : 40 tahun

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Agama : Islam

Alamat : Cangkrep kidul RT 02/01 Purworejo

Tanggal masuk Rumah Sakit : 26 Februari 2010

ANAMNESIS

A) Keluhan Utama

Pasien merasa keluar darah dari jalan lahir sejak 1 jamyang lalu

B) Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien rujukan paramedis datang dari IGD dengan keterangan G3P2A0, hamil 36 minggu, merasa keluar
darah dari jalan lahir sejak 1 jam yang lalu. Darah yang keluar mengucur dan segar. Jumlah perdarahan
± 3 pembalut. Pasien tidak pernah mengalami perdarahan sebelumnya. Selama hamil ini penderita
mengaku tidak pernah jatuh ataupun dipijit-pijit.Kenceng-kenceng dirasakan belum teratur, air kawah
belum dirasakan keluar.

C) Riwayat Penyakit dahulu

Riwayat penyakit darah tinggi, penyakit jantung, asma, dan penyakit diabetes disangkal.

D) Riwayat Penyakit Keluarga

Riwayat penyakit darah tinggi, penyakit jantung, asma, dan penyakit diabetes dalam anggota keluarga
disangkal.

E) Riwayat USG

Ditemukan kesan plasenta letak rendah

E) Riwayat Menstruasi

Menarche : 13 tahun HPMT : 13-06-2009

Lama haid : 7 hari HPL : 20-03-2010

Siklus haid : 28 hari UK :36+5 mg


Disertai rasa sakit : tidak

F) Riwayat Obstetri

No Keadaan kehamilan, Persalinan, Umur Keadaan Tempat


Keguguran, dan nifas sekarang / tgl lahiranak perawatan
1 Laki-laki, aterm, spontan, nifas baik 11 th sehat Bidan
2 Laki-laki, aterm, spntan, nifas baik 6 th sehat Bidan
3 Hamil ini

Ante Natal Care : teratur di bidan 9x

Suntikan TT : 2 kali

Riwayat Keluarga Berencana : tidak ikut KB

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : Baik

Kesadaran : compos mentis

Vital Sign : TD : 100/70 mmHg

N : 88 x/mnt

S : 36,5º C

R : 24 x/mnt

Status Obstetri

Inspeksi : Perut membesar, stria gravidarum +

Palpasi : Leopold

· Leopold I : Tinggi Fundus Uteri 33 cm, teraba bagian lunak pada daerah fundus,
janin tunggal

· Leopold II : Kiri : teraba bagian memanjang

Kanan : teraba bagian kecil lunak

Kesan : letak janin punggung kiri

· Leopold III : Teraba bagian bulat melenting, keras pada daerah simfisis pubis, tidak
dapat digoyangkan.
Kesan : Presentasi kepala

· Leopold IV : floatting (kepala teraba 5/5 bagian)

Auskultasi : DJJ (+) 152 x/mnt

His : (+) 0-1/5-10/lemah S1S2 reguler

Ektremitas : Oedem kedua tungkai -/-, dan varices tidak ada.

PEMERIKSAAN DALAM

Tidak dilakukan

DIAGNOSIS

Riwayat perdarahan antepartum o.k plasenta letak rendah, multigravida, hamil aterm,BDP.

TERAPI

Pertahankan kehamilan

Dexamethason 2x1 amp

Vicillin 3x1

Asam mefenamat 3x1

Pro section cesarean à jika terjadi perdarahan

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan darah rutin:

WBC 9 (N=5-10)

RBC 3,56 (N=4-5)

HGB 10.9 (N=12-15)


HCT 32.4 (N=37-43)

MCV 82.9 (N=79-99)

MCH 26.3 (N=27-31)

MCHC 31.8 (N=33-37)

PLT 273 (N=150-400)

MPV 9.4 (N=`7.2-11.1)

Gol. Darah B

Masa perdarahan 2.40”

Masa pembekuan 3.40”

HBsAg (-)

LAPORAN PERSALINAN (OPERASI SECTIO CESAREA)

Tanggal: 27 Februari 2010

dx pre op: riwatat perdarahan post partum o/k plasenta letak rendah

1. Prosedur OP rutin

2. Pasien ditidurkan dimeja OP dalam stadium narkose

3. Dilakukan toilet medan OP

4. Dilakukan insisi dinding abdomen à pfanensteil

5. Irisan diperdalam lapis demi lapis s/d peritoneum parietale

6. Saat peritoneum parietale dibuka tampak uterus gravidarum

7. Plica vesika uterine dibuka

8. Dilakukan insisi pada SBRb bentuk semilunar

9. Irisan diperdalam secara tumpul

10. Tangan kiri operator meluksir kepala, asisten mendorong fundus


11. Janin dikeluarkan per abdominal, JK ♂, BB 2700 gr ,PB 42 cm, AS 7/9

12. Plasenta dikeluarkan perabdominal bentuk cakram, UK 20x20x2

13. Bloody angel diklem

14. SBR dijahit jelujur terkunci

15. Dilakukan reperitoneal arietale

16. Dinding abdomen dijahit jelujur terkunci

17. Kulit dijahit subkutan

18. Operasi selesai

19. Perdarahan ± 250 cc

Dx post operasi: post SC a/i plasenta letak rendah,cukup anak

TERAPI: IVFD : RL : D5 : NaCl = 1 : 2 :1 : 2 à 28 tpm

Anbacim 2x1 gr

Ketrobat 3x1 amp

BAB I

PENDAHULUAN

Perdarahan pada kehamilan harus selalu dianggap sebagai kelainan yang berbahaya.
Perdarahan pada kehamilan muda disebut abortus, sedangkan pada kehamilan tua disebut perdarahan
antepartum. Batas teoritis antara kehamilan muda dan kehamilan tua adalah kehamilan 22 minggu,
mengingat kemungkinan hidup janin di luar uterus.

perdarahan antepartum yang berbahaya biasanya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan
perdarahan yang tidak bersumber pada plasenta seperti kelainan serviks biasanya tidak terlalu
berbahaya.

Perdarahan antepartum yang bersumber pada kelainan plasenta, yang secara klinis biasanya tidak
terlampau sukar untuk menentukannya, ialah plasenta previa, dan solusio plasenta. Sekitar 3% dari
semua perdarahan antepartum di RS Ciptomangunkusumo disebabkan oleh 2 faktor diatas.

Perdarahan antepartum tanpa rasa nyeri merupakan tanda khas plasenta previa, apalagi kalau disertai
tanda-tanda lainnya, seperti bagian terbawah janin belum masuk ke dalam pintu atas panggul, atau
kelainan letak janin.

Plasenta previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen-bawah rahim sehingga
dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal plasenta terletak di
bagian atas uterus. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gejala-gejala seperti perdarahan
antepartum dan tidak dapat turunnya bagian terbawah janin ke dalam panggul ibu.

Penanganan plasenta previa perlu mendapat perhatian yang khusus, karena insidensinya terjadi kira-
kira 1 dari 200 persalinan. Penanganan yang bisa dilakukan adalah pengawasan antenatal dan
pertolongan pertama, ini perlu diajarkan pada tenaga medis agar dapat dideteksi secara cepat dan
diagnosis yang tepat untuk kasus-kasus plasenta previa, sehingga angka morbiditas dan mortalitas ibu
dan bayi dapat diturunkan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. DEFINISI

Plasenta Previa adalah plasenta yang letaknya abnormal, yaitu pada segmen bawah rahim
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir. Pada keadaan normal letak
plasenta adalah terletak dibagian atas uterus / korpus uteri.

II.2. ETIOLOGI

Plasenta yang tumbuh pada segmen bawah rahim tidak selalu jelas dapat diterangkan, hal
tersebut bisa terjadi karena :

1. Vaskularisasi yang berkurang.

2. Atrofi pada desidua akibat persalinan yang lampau.

Menurut Kloosterman (1973), frekuensi terjadinya plasenta previa pada primigravida yang berumur
lebih dari 35 tahun ± 10 kali lebih sering jika dibandingkan dengan primigravida yang berumur kurang
dari 25 tahun. Pada multipara yang berumur lebih dari 35 tahun plasenta previa dapat terjadi kira –
kira 4 kali lebih sering dibandingkan dengan multipara yang berumur kurang dari 25 tahun.

II.3. KLASIFIKASI

1. Plasenta Previa Totalis

Adalah apabila seluruh pembukaan jalan lahir tertutup oleh jaringan plasenta

2. Plasenta Previa Parsialis / Lateralis

Adalah apabila sebagian pembukaan jalan lahir tertutup oleh jaringan plasenta

3. Placenta Previa Lateralis Anterior

apabila plasenta menutupi sebagian jalan lahir di bagian depan

4. Plasenta Previa Lateralis Posterior


apabila plasenta menutupi sebagian jalan lahir di bagian belakang

5. Plasenta Previa Marginalis

Adalah apabila pinggir plasenta tepat pada pinggir pembukan jalan lahir

6. Placenta Letak Rendah

Adalah apabila plasenta yang letaknya abnormal pada segmen bawah rahim, tetapi tidak sampai
menutupi jalan lahir.

Klasifikasi ini tidak berdasarkan pada keadaan anatomik, tetapi berdasarkan pada keadaan fisiologik,
maka klasifikasinya dapat saja berubah. Dalam hal ini misalnya, Plasenta Previa Totalis pada
pembukaan 4 cm mungkin akan berubah menjadi Plasenta Previa Parsialis / Lateralis pada pembukan 8
cm, atau perubahan dari Plasenta Previa Parsialis / Lateralis yang berubah menjadi Plasenta Previa
Totalis jika Plasenta yang awalnya terletak di lateral, yang kemudian turun kebawah dan
kemudian menjadi Plasenta Previa Totalis.

II.4. GEJALA

1. Perdarahan tanpa diikuti rasa nyeri

Perdarahan tidak disertai dengan rasa nyeri ini merupakan gejala utama dan gejala pertama dari
plasenta previa. Biasanya perdarahan dimulai pada trisemester III, tetapi tidak jarang juga dimulai
sejak kehamilan 20 minggu. Perdarahan pertama biasanya tidak bersifat fatal, tetapi perdarahan
berikutnya dapat berakibat fatal.

2. Warna darah yang keluar dari jalan lahir

Darah yang keluar berwarna merah segar, darah ini berasal dari arteri yang ada pada insersi plasenta.

3. Kepala masih tinggi

Oleh karena terhalang plasenta, maka bagian bawah janin tidak dapat masuk ke pintu atas panggul

II.5. DIAGNOSIS

1. Anamnesa

Terdapat darah yang keluar berwarna merah segar, dari jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu,
dan berlangsung tanpa nyeri.

2. Pemeriksaan luar

Yang didapat :

· Bagian bawah janin tidak dapat masuk pintu atas panggul

· Apabila presentasinya adalah presentasi kepala, maka biasanya kepala masih terapung diatas
pintu atas panggul, dan sukar didorong masuk kedalam pintu atas panggul. Tidak jarang ditemukan
kelainan letak janin misalnya letak lintang atau letak sungsang.

3. Pemeriksaan in spekulo
Pemeriksaan in spekulo bertujuan untuk mengetahui apakah perdarahan berasal dari Osteum Uteri
Eksternum ( OUE ) atau dari kelainan serviks dan vagina seperti erosio porsionis uteri, karsinoma
porsionis uteri, polipus servisis uteri, varises vulva dan trauma. Apabila perdarahan berasal dari Osteum
eksternum Uteri ( OUE ) dicurigai adanya placenta previa.

4. Pemeriksaan Dalam :

Vaginal Toucher ( VT ) diizinkan jika penderita sudah dikamar operasi.

5. Ultrasonografi ( USG )

Penentuan letak placenta dengan cara ini ternyata sangat tepat, karena tidak menimbulkan bahaya
radiasi bagi ibu dan janinnya, dan tidak menimbulkan rasa sakit.

II.6. PENANGANAN

Setiap ibu hamil dengan perdarahan antepartum harus segera dikirim ke Rumah Sakit yang memiliki
fasilitas transfusi darah dan fasilitas untuk melakukan operasi. Perdarahan yang pertama kali terjadi
jarang menyebabkan kematian, asalkan sebelumnya tidak dilakukan pemeriksaan dalam / vaginal
toucher (VT)

Apabila pada pemeriksaan perdarahan yang akan berlangsung atau yang sedang berlangsung tidak akan
membahayakan ibu dan atau janinnya (janin yang masih hidup), dan kehamilan belum cukup atau
kurang dari 36 minggu atau taksiran berat janin belum sampai 2500 gram, dan persalinan belum mulai,
dapat dibenarkan untuk menunda persalinan sampai janin dapat hidup diluar kandungan.

Sebaliknya, jika perdarahan yang telah berlangsung dan yang akan berlangsung, dapat membahayakan
ibu dan atau janinnya atau kehamilan telah cukup 36 minggu, atau taksiran berat janin telah mencapai
2500 gram, atau persalinan telah dimulai, maka dalam hal ini pemeriksaan dalam Vaginal Toucher (VT)
dapat dilakukan dimeja operasi

II.7. PROGNOSIS

Dengan penatalaksanaan yang baik, kematian ibu karena plasenta previa, dapat ditekan serendah
mungkin atau bahkan tidak ada sama sekali, kematian perinatal berangsur – angsur dapat diperbaiki.
Walaupun demikian, hingga saat ini kematian perinatal yang disebabkan prematuritas tetap memegang
peranan utama terjadinya kematian perinatal

DAFTAR PUSTAKA
Cunningham,F,G, Mac Donald,1995, plasenta previa, Obstetri Williams, Suyono,J.,Hartono, A.EGC,
Jakarta

Saifuddin, Bari. Dkk.2002.Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo,Jakarta