P. 1
Pengaruh Debt to Equity Ratio (Der), Price Earning Ratio (Per) Dan Return on Equity (Roe) Terhadap Harga Saham Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2008

Pengaruh Debt to Equity Ratio (Der), Price Earning Ratio (Per) Dan Return on Equity (Roe) Terhadap Harga Saham Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode 2006-2008

|Views: 3,248|Likes:
Dipublikasikan oleh Roy Cheery
PENGARUH DEBT TO EQUITY RATIO (DER), PRICE EARNING RATIO (PER) DAN RETURN ON EQUITY (ROE) TERHADAP HARGA SAHAM PADA INDUSTRI FARMASI DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2006-2008
PENGARUH DEBT TO EQUITY RATIO (DER), PRICE EARNING RATIO (PER) DAN RETURN ON EQUITY (ROE) TERHADAP HARGA SAHAM PADA INDUSTRI FARMASI DI BURSA EFEK INDONESIA PERIODE 2006-2008

More info:

Published by: Roy Cheery on Mar 16, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/08/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Suatu kemajuan perekonomian akan berdampak terhadap peningkatan investasi dan pembangunan usaha bagi perusahaan maka dengan sendirinya akan meningkatkan persaingan antar perusahaan dalam usaha pencarian dana.

Peningkatan perkembangan suatu usaha tidak terlepas dari modal yang semakin meningkat pula. Demikian pula halnya dengan perusahaan-perusahaan besar yang membutuhkan dana untuk mengembangkan usahanya, maka sebagai alternative untuk pendanaan perusahaan tersebut adalah dengan menjual saham-sahamnya kepada masyarakat yang dkenal dengan go publik. Saham perusahaan yang go publik merupakan salah satu investasi yang beresiko tinggi, karena sifatnya yang sangat peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi di sekitar perusahaan. Adapun perubahan-perubahan tersebut meliputi: perubahan ekonomi, politik, sosial, budaya, pertahanan keamanan, serta keadaan yang terjadi di dalam perusahaan itu sendiri. Sehubungan dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan akan dana

tersebut, juga meningkatkan minat investor untuk melakukan investasi terutama pada saham, hal ini disebabkan karena anggapan bahwa dengan membeli saham tersebut, maka akan memperoleh keuntungan yang lebih besar. Dimana keuntungan yang ingin diperoleholeh pemegang saham sejalan dengan tujuan perusahaan secara keseluruhan bukan hanya untuk memperoleh laba (profit) semata, namun tepatnya untuk memaksimumkan nilai perusahaan. Nilai perusahaan merupakan harga yang 1

bersedia dibayar oleh para calon investor (pembeli) dalam bentuk saham apabila mereka bermaksud berinvestasi ke perusahaan tersebut. Keberhasilan perusahaan dapat dilihat dari laju pertumbuhan yang tinggi dimana pertumbuhan tersebut memerlukan dukungan tambahan investasi. Salah satu alternatif pilihan perusahaan dalam memperoleh tambahan dana adalah dengan menjual surat-surat berharga, apakah dalam bentuk obligasi, saham ataupun surat berharga lainnya. Saham ataupun share merupakan instrument yang paling dominan diperdagangkan. Untuk melakukan kegiatan tersebut maka diperlukan Pasar Modal. Investasi dalam saham adalah kepemilikan atau pembelian saham-saham perusahaan lain oleh suatu perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh pendapatan (income). Untuk mencapai tujuan tersebut, investor memerlukan pertimbangan yang matang dan informasi yang akurat karena investasi dalam saham merupakan jenis investasi dengan resiko yang relatif tinggi dengan keuntungan relatif. Keuntungan yang diterima oleh pemegang saham bisa berupa capital Gain dan Deviden. Capital gain adalah keuntungan dari penjualan saham jika harga jualnya lebih tinggi dari harga pembelianya, sedangkan deviden adalah bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada para pemegang saham. Turunya laba dapat mengakibatkan turunnya harga saham dan ini berarti kerugian bagi investor. Harga saham dipengaruhi baik oleh kinerja tahun ini maupun kinerja yang diharapkan di masa yang akan datang, artinya terjadi pergerakan searah antara kinerja perusahaan dengan harga saham. Semakin meningkatnya persaingan menyebabkan suatu perusahaan di dalam menjalankan usahanya tidak hanya mengandalkan modal yang besar dan

pengalaman kerja saja tetapi harus didukung dengan manajer yang memiliki

2

kemampuan manajemen yang memadai untuk menjalankan atau mengelola kegiatan operasionalnya. Oleh karena itu manajer harus memiliki pengetahuan yang luas tentang bidang manajemen dan mampu menerapkannya dalam kegiatan perusahaan tersebut. pengarahan, Manajemen merupakan alat dalam melaksanakan dan melakukan perencanaan, pengawasan

pengorganisasian,

pengkoordiansian,

terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan. Fungsi keuangan merupakan salah satu fungsi operasional di samping pemasaran dan fungsi lainnya dalam suatu perusahaan. Dalam ilmu manajemen modern tujuan suatu perusahaan selain untuk memaksimalkan keuntungan,

peningkatan nilai kekayaan dan kesinambungan hidup adalah merupakan sasaran yang dicapai melalui berbagai aktivitas pokoknya, yang mana dengan pencapaian tujuan tersebut diharapkan perusahaan dapat mewujudkan tujuan pokoknya yaitu memakmurkan para pemegang saham. Oleh karena itu pengelolaan keuangan perusahaan adalah merupakan tuntutan yang harus dilaksanakan oleh seorang manajer keuangan, baik pada perusahaan industri, perdagangan dan perusahaan yang bergerak di bidang jasa. Menurut Weston dan Copeland (terjemahan Jaka Wasana dan Kirbrandoko, 1998, hal 15) fungsi keuangan yang utama adalah dalam hal keputusan investasi, pembiayaan dan deviden ntuk suatu organisasi. Fungsi keuangan merupakan salah satu fungsi operasional perusahaan disamping pemasaran dan fungsi lainnya dalam perusahaan. Jadi manajemen keuangan dapat diartikan sebagai manajemen dana, baik yang berkaitan dengan pengalokasian dana dalam bentuk investasi secara efektif maupun usaha pengumpulan dana untuk pembiayaan investasi atau

pembelanjaan secara efektif dan efisien.

3

Pada prinsipnya pemenuhan kebutuhan dana dalam suatu perusahaan dapat disediakan dari sumber intern perusahaan, yaitu sumber dana yang dibentuk atau dihasilkan sendiri di dalam perusahaan, misalnya dana yang berasal dari keuntungan perusahaan yang tidak dibagikan atau laba yang ditahan dalam perusahaan (retained earning). Makin besar sumber dana yang berasal dari laba ditahan akan memperkuat posisi keuangan perusahaan dalam menghadapi kesulitan keuangan di waktu-waktu mendatang. Disamping sumber intern, dalam memenuhi kebutuhan dana suatu

perusahaan dapat pula menyediakan dari sumber ekstern, yaitu sumber dana yang berasal dari tambahan penyertaan modal dari pemilik saham baru, penjualan obligasi dan kredit dari bank. Apabila perusahaan memenuhi kebutuhan dananya berasal dari pinjaman, dikatakan perusahaan tersebut melakukan pendanaan hutang atau

pembelanjaan hutang (debt financing). Jika kebutuhan dana diperoleh dari pemilik saham baru dikatakan perusahaan itu melakuka pendanaan atau pembelanjaan modal sendiri. Dalam pengelolaan dana manajer keuangan bertindak sebagai pembuat keputusan. Manajer bertanggung jawab untuk menyediakan secukupnya dana yang diperlukan perusahaan untuk melanjutkan kegiatan usahanya. Manajer juga harus menyediakan persediaan, dana untuk membayar utang-utang, membelanjai dengan piutang dan

melakukan

perundingan-perundingan

lembaga-lembaga

keuangan dalam usaha mencari sumber-sumber dana jangka panjang, mengatur pengeluaran-pengeluaran dan kegiatan-kegiatan lainnya yang berhubungan dengan manajemen dana. Selain itu juga harus menyediakan dana untuk membelanjai

4

proyek-proyek baru dan untuk membayar deviden kepada para pemegang saham. (Indriyo Gitosudarmo, 1994 hal 4). Seorang investor ketika berinvestasi di pasar modal tentunya akan mempertimbangkan return (tingkat pengembalian) dan risiko atas pilihan

investasinya. Untuk mengukur tingkat risiko dan tingkat keuntungan (return) yang investor harapkan pada sekuritas seperti saham, ada beberapa cara yang biasa digunakan. pendekatan Menurut Sri Handaru Yuliati dkk (1996, hal.130-137) ada dua analisis yang digunakan dalam analisis sekuritas yaitu analisis

fundamental dan analisis teknikal. Pada analisis fundamental, ide dasar pendekatan ini adalah harga sekuritas akan dipengaruhi oleh kinerja perusahaan (misalnya tingkat penjualan dan laba usaha). Analisis fundamental dimulai dari memahami siklus usaha secara umum (perekonomian), industri dan akhirnya mengevaluasi kinerja emiten (perusahaan) dan sekuritas yang diterbitkannya. Analisis teknikal didasarkan pada anggapan bahwa harga suatu sekuritas akan ditentukan oleh penawaran dan permintaan terhadap sekuritas tersebut. Analisis teknikal didasarkan pada asumsi dasar, yaitu: 1. Harga sekuritas akan ditentukan oleh interaksi antara penawaran dan permintaan sekuritas. 2. Penawaran dan permintaan sekuritas itu sendiri dipengaruhi oleh banyak faktor baik yang rasional maupun yang irrasional. 3. Perubahan harga sekuritas cenderung bergerak pada satu arah tertentu (trend). 4. Pergeseran penawaran dan permintaan sekuritas akan mempengaruhi arah perubahan harga.

5

5. Pola-pola tertentu yang terjadi dimasa lampau akan terulang kembali pada masa yang akan datang. Salah satu metode yang termasuk dalam proses analisa fundamental adalah analisa laporan keuangan yang dinyatakan dalam bentuk rasio-rasio keuangan (finansial), yang diperoleh dengan membandingkan pos-pos yang

terdapat pada laporan keuangan perusahaan (Neraca dan Laporan Laba/Rugi). Analisis laporan keuangan khusus mencurahkan perhatian kepada perhitungan rasio agar dapat mengevaluasi keadaan finansial perusahaan pada masa lalu, sekarang dan memproyeksikan hasil yang akan datang. Menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2004, hal 38), untuk melakukan analisis rasio keuangan, tertentu. diperlukan Rasio rasio-rasio keuangan keuangan mungkin yang

mencerminkan

aspek-aspek

dihitung

berdasarkan atas angka-angka yang ada dalam neraca saja, dalam laporan laba/rugi saja, atau pada neraca dan laporan laba/rugi. Setiap analisis keuangan bisa saja merumuskan rasio tertentu yang dianggap mencerminkan aspek tertentu. Karena itu pertanyaan pertama yang perlu dijawab adalah aspek-aspek yang dinilai. Rasio dapat dihitung berdasarkan laporan keuangan yang telah tersedia yang terdiri dari : 1. Balance sheet / Neraca, yang menunjukkan posisi finansial perusahaan pada saat tertentu. 2. Income statement / Laporan laba/rugi, yang merupakan laporan operasi perusahaan selama periode tertentu.

6

Tujuan dari analisis rasio adalah membantu manajer keuangan memahami apa yang perlu dilakukan perusahaan berdasarkan informasi yang tersedia yang sifatnya terbatas berdasarkan laporan keuangan (financial statement). Menurut Sutrisno (2005, hal. 231) ada 5 (lima) rasio keuangan menurut tujuan penggunaan rasio yang bersangkutan yaitu rasio likuditas, rasio leverage, rasio aktivitas, rasio provitabilitas, dan rasio penilaian. Dengan menganalisa

prestasi keuangan lewat peenggunakan rasio-rasio keuangan tersebut, seorang investor akan dapat memproyeksikan prospek perusahaan di masa mendatang yang merupakan salah satu cara untuk mengukur kinerja perusahaan. Rasio likuiditas bertujuan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban finansial yang berjangka pendek tepat pada waktunya. Rasio Leverage atau yang sering disebut rasio solvabilitas kapasitas perusahaan dalam memenuhi kewajiban maupun jangka panjang. dalam Rasio bertujuan untuk menunjukkan baik dalam jangka pendek efisiensi Rasio

aktivitas menujukkan sejauh mana asset untuk memperoleh penjualan.

perusahaan

menggunakan

profitabilitas merupakan rasio yang digunakan utuk mengukur seberapa besar kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba baik dalam hubungannya dengan penjualan, asset maupun laba bagi modal sendiri. Sedangkan rasio penilaian atau yang sering disebut rasio nilai pasar merupakan rasio yang mengukur harga pasar relatif terhadap nilai buku perusahaan. Berdasarkan analisis terhadap informasi laporan keuangan, apabila analisis dilakukan oleh kreditur, aspek yang dinilai akan berbeda dengan penilaian yang dilakukan kemampuan oleh calon investor. Kreditur akan lebih berkepentingan dengan

perusahaan

melunasi kewajiban financial tepat pada waktunya.,

7

sedangkan investor akan lebih berkepentingan dengan kemampuan perusahaan dalam memaksimalkan keuntungan. Dalam membuat keputusan mengenai

pemenuhan kebutuhan dana untuk kelangsungan operasional perusahaan terlebih dahulu mempertimbangkan dari mana sumber dana tersebut. Apakah perusahaan mengguanakan modal sendiri atau menggunakan hutang dalam memenuhi

kebutuhan dananya. Penggunaan hutang sebagai sumber pembelanjaan perlu diperhatikan karena menurut Agnes Sawir ( 2003, hal 12) penambahan hutang akan memperbesar resiko perusahaan sekaligus memperbesar tingkat pengembalian yang diharapkan. Resiko yang semakin tinggi akibat membesarnya hutang cenderung menurunkan harga

saham, tetapi meningkatkan tingkat pengembalian yang diharapkan akan menaikkan harga saham tersebut. Dengan demikian penggunaan hutang yang memberikan tambahan laba yang lebih besar dibandingkan tambahan biaya yang ditanggung perusahaan cenderung akan menaikkan harga saham. Pendekatan Debt to Equity Ratio (DER) menggambarkan perbandingan antara total hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Semakin besar DER menandakan bahwa struktur permodalan usaha lebih banyak menggunakan hutang dibandingkan dengan modal sendiri dan ini juga menandakan resiko perusahaan yang relatif tinggi. Menurut lukman Syamsuddin (2001, hal 77) penggunaan tingkat hutang biasanya mengguanakan Debt Ratio, Debt to Equity Ratio dan Debt to

Capitalization Ratio. Rasio hutang terhadap modal sendiri (DER) menurut Lukman Syamsuddin (2001, hal 54) merupakan rasio yang menunjukkan hubungan antara jumlah pinjaman jangka panjang yang diberikan oleh para kreditur dengan jumlah

8

modal sendiri yangdiberikan oleh pemilik perusahaan, semakin tinggi rasio DER maka semakin besar jumlah hutang yang digunakan. Menurut Suad Husnan (1994, hal 279) Price Earning Ratio (PER) yang tinggi menunjukkan bahwa perusahaan tersebut telah mapan, atau memiliki

pertumbuhan yang tinggi. Perusahaan dalam kondisi seperti ini memiliki harga saham yang stabil dan dicurigai sulit untuk naik lagi. Bagi investor yang mendapatkan Capital gain cenderung tidak memilih perusahaan yang memiliki PER tinggi karena menganggap keuntungan yang diperoleh lebih kecil. Pendekatan PER merupakan pendekatan yang lebih sering dipakai karena memperkirakan besarnya laba per lembar saham dari investasi yang dilakukan di masa yang akan datang. Menurut Suad Husnan ( 2009, hal.309) bahwa jika kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba meningkat, harga saham akan meningkat, dengan kata lain profitabilitas akan mempengaruhi harga saham. Untuk mengukur tingkat

keuntungan / profitabilitas suatu perusahaan, seorang investor dapat menggunakan analisa rasio, yaitu menganalisa perkembangan rasio profitabilitas. Adapun yang termasuk dalam rasio-rasio profitabilitas menurut Sutrisno (2005, hal. 237-239) antara lain: Profit Margin (PM), Return On Asset, Return On Investment (ROI), Return On Network /Return On Equity (ROE), Earning Per Share. Return On Equity adalah rasio yang mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal (Suad Husnan dan Pudjiastuti, Enny,2006, hal. 73). Rasio ini merupakan ukuran profitabilitas dilihat dari sudut pandang pemegang saham (Mamduh M. Hanafi, 2008, hal. 42). Semakin tinggi tingkat profitabilitas mengidikasikan semakin besar pula kemampuan perusahaan untuk menghasilkan keuntungan bagi Investor. Akibat dari hal tersebut, maka akan semakin

9

menumbuhkan minat investor untuk membeli saham yang ditawarkan perusahaan tersebut, sehingga menyebabkan harga saham yang ikut naik seiring meningkatnya pembelian terhadap saham yang ditawarkan. Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh R Agus Sartono (2008, hal 253), selain variabel Price Earning Ratio, terdapat beberapa variabel fundamental yang mempengaruhi harga saham seperti EVA, MVA, Firm Size, Book to Market Ratio dan Debt to Equity Ratio. Menurut penelitian Standard and Poor 500 di Amerika yang meneliti pengaruh ROE dan EVA terhadap harga saham di Amerika, rata – rata tingkat Return On Equity perusahaan – perusahaan di Amerika berkisar 10 sampai dengan 15 persen dan dalam penelitian itu menyebutkan bahwa Return On Equity yang tinggi dapat mempengaruhi harga saham perusahaan –perusahaan tersebut (Raja Lambas J. Panggabean, 2005 hal. 1). Dari hasil penelitian yang dilakukan tersebut diketahui bahwa nilai ROE memiliki pengaruh terhadap harga saham yang terjadi di Amerika. Salah satu jenis industri di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 adalah industri Farmasi yang berjumlah 9 perusahaan. Industri farmasi merupakan salah satu industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Industri ini sangat berperan penting dalam pengadaan obat-obatan yang diperlukan bagi masyrakat luas. Adapun 9 perusahaan yang termasuk dalam industri ini antara lain: PT. Tempo Scan Paific Tbk, PT. Schering Pluogh Indonesia Tbk, PT. Prydam Farma Tbk, PT. Merck Indonesia Tbk, PT. Kimia Farma Tbk, PT. Kalbe Farma Tbk, PT. Indofarma Tbk, PT. Darya Varia Laboratoria Tbk, dan PT. Bristol Myers Squibb Indonesia Tbk.

10

Berikut perkembangan rata-rata hutang pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Tabel 1.1. Perkembangan rata-rata Hutang Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Keterangan Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Sumber : Lampiran 2 (Dalam Jutaan Rupiah) 2007
3.249.725 361.080,56 19,82

2006
2.712.188 301.354,22

2008
3.690.663 410.073,67 13,57

Dari tabel 1.1 dapat diketahui rata-rata hutang pada industry Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 yang mengalami kenaikan tiap tahunnya. Dari tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 19,82% dan dari tahun 2007 ke tahun 2008 juga mengalami kenaikan sebesar 13,57%. Jadi secara umum rata-rata perkembangan total hutang mengalami kenaikan sebesar 16,69 %. Berikut perkembangan rata-rata Modal Sendiri pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Tabel 1.2. Perkembangan rata-rata Modal Sendiri Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Keterangan Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Sumber : Lampiran 3 Modal Sendiri (Dalam Jutaan Rupiah) 2006 2007 2008 6.930.590 7.671.996 8.229.767 770.065,56 852.444 914.418,56 10,70 7,27

Dari tabel 1.2 dapat diketahui rata-rata Modal Sendiri pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 yang mengalami kenaikan tiap tahunnya. Dari tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 10,70% dan dari tahun 2007 ke tahun 2008 juga mengalami kenaikan sebesar 7,27%. Jadi secara umum rata-rata pekembangan modal sendiri mengalami kenaikan sebesar 8,98%

11

Berikut perkembangan rata-rata Earning Per Share pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Tabel 1.3. Perkembangan rata-rata Earning Per Share Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Keterangan Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Sumber : Lampiran 4 Earning Per Sahre 2007 10.040 1.115,56 31,67

2006 7.625 847,22 -

2008 15.731 1.748,89 56,68

Dari tabel 1.3 dapat diketahui rata-rata Earning Per Share

pada industri

Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 yang mengalami kenaikan tiap tahunnya. Dari tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 31,67% dan dari tahun 2007 ke tahun 2008 juga mengalami kenaikan sebesar 56,68%. Jadi secara umum rata-rata pekembangan Earning Per Share mengalami kenaikan sebesar 44,18%. Berikut perkembangan rata-rata Laba Bersih Setelah Pajak pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008.

Tabel 1.4. Perkembangan rata-rata Laba Bersih Setelah Pajak Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Keterangan Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Sumber : Lampiran 5 (Dalam Jutaan Rupiah) 2007
1.243.209 138.134,33 4,48

2006
1.189.852 132.205,78

2008
1.360.536 151.170,67 9,44

Dari tabel 1.4 dapat diketahui rata-rata Laba bersih setelah pajak

pada

industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 yang mengalami

12

kenaikan tiap tahunnya. Dari tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 4,48% dan dari tahun 2007 ke tahun 2008 juga mengalami kenaikan sebesar 9,44%. Jadi secara umum rata-rata pekembangan Laba bersih setelah pajak mengalami kenaikan sebesar 11,68%. Peningkatan pada total hutang suatu perusahaan berarti mengindikasikan terjadinya peningkatan nilai Debt to Equity Ratio. Peningkatan ini akan

mempengaruhi investor untuk membeli saham perusahaan tersebut karena investor juga mempertimbangkan kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya seandainya perusahaan tersebut pada saat itu dilikuidasi. Pengaruh laba bersih setelah pajak terhadap Price Earning Ratio adalah laba bersih yang meningkat akan menurunkan nilai Price Earning Ratio itu sendiri. Dengan kecilnya nilai Price Earning Ratio maka para investor tertarik untuk membeli saham perusahaan tersebut karena besarnya rupiah yang harus dibayarkan para investor untuk memperoleh satu rupiah earning perusahaan semakin kecil pula. Peningkatan laba bersih setelah pajak mengindikasikan terjadinya

peningkatan Return On Equity. Hal ini akan menarik minat investor untuk membeli saham, atau dengan kata lain menarik minat investor untuk berinvestasi pada perusahaan tersebut. Dengan peningkatan laba bersih yang diterima perusahaan para investor dapat melihat besarnya tingkat pengembalian dari investasi saham yang mereka lakukan di perusahaan tersebut. Harga saham diharapkan oleh pemodal merupakan nilai intrinsik yang menunjukkan prestasi hasil dan resiko saham di masa depan, apabila kondisisi fundamental perusahaan semakin baik maka harga saham yang diharapkan juga akan mengalami kenaikan dan begitu juga sebaliknya. Debt to Equity Ratio, Price

13

Earning Ratio dan Return On Equity dipilih sebagai variabel bebas kinerja fundamental keuangan karena ketiga variabel tersebut sering digunakan untuk memproyeksikan harga saham perusahaan. Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis tertarik membuat penelitian dengan judul “Pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap Harga Saham pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008”.

1.2 Perumusan Masalah Penelitian Industri Farmasi merupakan salah satu industri yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Industri ini sangat berperan penting dalam pengadaan obat-obatan yang diperlukan bagi masyrakat luas. Perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam industri farmasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang terdaftar dan beropersi di Indonesia dan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang terdiri dari 9 perusahaan yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT). Berikut perubahan rata-rata Debt to Equity Ratio Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Tabel 1.5. Perubahan rata-rata Debt to Equity Ratio Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Keterangan Jumlah Rata-rata Perubahan (%) Sumber : Lampiran 6 Debt to Equity Ratio (Dalam %) 2006 2007 2008
390,20 43,36 7529,91 836,66 793,30 2764,95 307,22 -529,44

Dari tabel 1.5 dapat diketahui perubahan rata-rata Debt to Equity Ratio pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 yang mengalami

14

fluktuasi tiap tahunnya. Dari tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 793,30% dan dari tahun 2007 ke tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 529,44%. Jadi secara umum rata-rata perubahan Debt to Equity Ratio mengalami kenaikan sebesar 131,93% Berikut perkembangan rata-rata Price Earning Ratio Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Tabel 1.6. Perkembangan rata-rata Price Earning Ratio Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Keterangan Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Sumber : Lampiran 7 Price Earning Ratio (kali) 2006 2007 2008 115,79 208,21 88,3 12,87 23,13 9,81 79.82 -57,59

Dari tabel 1.6 dapat diketahui perkembangan rata-rata Price Earnig Ratio pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 yang mengalami fluktuasi tiap tahunnya. Dari tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami kenaikan sebesar 79,82% dan dari tahun 2007 ke tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 57,59%. Jadi secara umum rata-rata pekembangan Price Earning Ratio mengalami kenaikan sebesar 11,11%. Tabel 1.7. Perubahan rata-rata Return On Equity Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Keterangan Jumlah Rata-rata Perubahan (%) Sumber : Lampiran 8 Return On Equity (%) 2007 264,56 29,40 -4,35

2006 304 33,74 -

2008 212,03 23,56 -5,84

Dari tabel 1.7 dapat diketahui perkembangan rata-rata Return On Equity pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 yang mengalami

15

penurunan tiap tahunnya. Dari tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 4,35% dan dari tahun 2007 ke tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 5,84%. Jadi secara umum rata-rata pekembangan Return On Equity penurunan sebesar 5,09%. Berikut perkembangan rata-rata Harga Saham (Closing Price) Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Tabel 1.8. Perkembangan rata-rata Harga Saham (Closing Price) Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Keterangan Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Sumber : Lampiran 9 Harga Saham (Dalam rupiah) 2006 2007 2008 108.415 88.701 99.786 12.046,11 9.855,67 11.087,33 -18,18 12,50 mengalami

Dari tabel 1.8 dapat diketahui perkembangan rata-rata Harga Saham pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 yang mengalami fluktuasi tiap tahunnya. Dari tahun 2006 ke tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 18,18% dan dari tahun 2007 ke tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 12,50%. Jadi secara umum rata-rata pekembangan Harga Saham mengalami penurunan sebesar 2,84%. Dari keterangan tabel 1.8 dapat dilihat bahwa rata-rata perkembangan harga saham Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 mengalami penurunan. Penurunan harga saham yang terjadi pada sebuah perusahaan juga menunjukkan menurunnya nilai perusahaan. Dengan menurunnya nilai perusahaan, maka akan mempengaruhi penilaian para investor dan calon investor terhadap perusahaan tersebut.

16

Peningkatan nilai Debt to Equity Ratio suatu perusahaan yang tidak didukung dengan peningkatan laba yang lebih besar dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan cara terus menerus akan sangat tidak menguntungkan bagi perusahaan. Artinya, perusahaan tidak mempuyai kemampuan untuk memenuhi sebagian tujuannya yakni meningkatkan kemakmuran pemegang saham. Oleh karena itu perusahaan harus mampu meningkatkan laba bersih untuk mendukung peningkatan Debt to Equity Ratio. Peningkatan Price Earning Ratio menunjukkan bahwa terjadinya

peningkatan deviden yang akan dibayarkan. Faktor ini juga akan meningkatkan minat para investor dan calon investor untuk menanamkan modalnya dengan harapan memperoleh laba dari pembayaran deviden atas saham yang mereka miliki dari perusahaan tersebut. Sedangkan penurunan Return On Equity mengindikasikan kurang efektifnya pengelolaan asset dan manajemen biaya pada perusahaan tersebut, serta belum optimalnya penerimaan perusahaan akan kesempatan investasi. Hal ini tentunya akan berdampak kurang baik pada investor yang akan membeli saham yang telah ditawarkan. Berdasarkan permasalahan tersebut maka dapat dirumuskan masalah-

masalah pokok dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Bagaimanakah perubahan Debt to Equity Ratio,Return On Equity serta

perkembangan Price Earning Ratio dan Harga Saham perusahaan pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 ? 2. Apakah ada pengaruh yang signifikan dari Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap Harga Saham perusahaan baik secara

17

simultan maupun parsial pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 ? 3. Berapa besar pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap Harga Saham perusahaan secara simultan dan parsial pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 ? 4. Variabel manakah yang paling dominan berpengaruh antara Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap Harga Saham perusahaan pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.3.1. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui perubahan Debt to Equity Ratio dan Return On Equity serta perkembangan Price Earning Ratio dan Harga Saham perusahaan pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. 2. Untuk mengetahui signifikasi pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap Harga Saham baik secara simultan dan parsial pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. 3. Untuk mengetahui besarnya pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap Harga Saham baik secara simultan dan parsial pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. 4. Untuk mengetahui variabel yang paling dominan berpengaruh antara Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap Harga Saham pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008.

18

1.3.2. Manfaat Penelitian Adapun manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Sebagai bahan masukan informasi bagi perusahaan-perusahaan yang ada di Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia dalam rangka mengambil keputusan pendanaan. 2. Sebagai bahan informasi bagi peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian dengan objek yang sama. 3. Untuk menambah pengetahuan dan wawasan peneliti dalam bidang ilmu

manajemen khususnya manjemen keuangan.

19

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi-definisi 2.1.1. Manajemen Keuangan Manajemen Keuangan menurut Bambang Riyanto (2001, hal. 4) adalah keseluruhan kegiatan yang bersangkutan dengan usaha untuk mendapatkan dana dan menggunakan atau mengalokasikan dana tersebut. Sedangkan menurut Suad Husnan dan Eny Pudjiastuti (2004, hal.4) manajemen keuangan menyangkut perencanaan, nalisis dan pengandalian kegiatan keuangan, yaitu kegiatan menggunakan dana dan mencari pendanaan. Jadi, dapat dipahami bahwa Manajemen Keuangan ialah kegiatan untuk memperoleh dana dan mengguanakan dana tersebut untuk berbagai aktivitas perusahaan.

2.1.2. Laporan Keuangan Laporan Keuangan menurut S. Munawir (2004, hal 2) pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut. Sedangkan menurut Bambang Riyanto (2001, hal 327) Laporan Keuangan adalah ikhtisar mengenai keadaan financial suatu perusahaan dimana neraca (balance sheet) mencerminkan nilai aktiva, hutang dan modal sendiri pada suatu saat tertentu, dan laporan laba rugi mencerminkan hasil-hasil yang dicapai selama satu periode. Dari kedua penjelasan tersebut, maka dapat dipahami bahwa Laporan Keuangan adalah hasil dari proses akuntansi yang menggembarkan kondisi keuangan perusahaan pada waktu tertentu

20

yang berfungsi sebagai informasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan baik intern maupun ekstern.

2.1.3. Pasar Modal Pasar Modal menurut Ridwan S. Sundjaja dan Inge Berlian (2001, hjal 36) adalah suatu pasar yang terbentuk karena adanya hubungan beberapa institusi dan peraturan yang memungkinkan terjadinya transaksi dana jangka panjang dalam bentuk obligasi dan saham. Sedangkan menurut Farah Margaretha (2005, hal 7) Pasar Modal adalah pasar untuk berbagai instrument keuangan jangka panjang yang dapat diprjualbelikan dalam bentuk uang maupun modal sendiri baik yang diterbitka oleh pemerintah maupun swasta. Eduradus Tandelilin (2001, hal 13) mengatakan bahwa Pasar Modal adalah pertemuan antara pemiik yang memiliki kelebiha dana dengan pihak yang membutuhkan dana dengan cara memperjualbelikan sekuritas. Dari pengertian diatas, dapat diketahui bahwa Pasar Modal adalah tempat pertemuan antara penawaran dan permintaan dana jangka panjang baik yang dikeluarkan oleh pemerintah maupun swasta.

2.1.4. Saham Saham menurut Bambang Riyanto (2001, hal 240) adalah tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu Perseroan Terbatas (PT). Sedangkan menurut Suad Husnan dan Eny Pudjiastuti (2004, hal 257) saham merupakan bukti kepemilikan suatu perusahaan atau badan hukum dalam suatu perusahaan.

21

Berdasarkan pengertian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa Saham adalah tanda penyertaan modal atau kepemilikan suatu perusahaan atau badan hukum dalam suatu perusahaan.

2.1.5. Rasio Leverage Menurut R. Agus Sartono (2008, hal 114) Rasio leverage adalah rasio yang menunjukkan kapasitas perusahaan untuk memenuhi kewajiban baik itu jangka pendek maupun jangka panjang. Sedangkan menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2006, hal 70) Rasio Leverage adalah rasio yang mengukur seberapa

jauh perusahaan menggunakan hutang. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa rasio leverage adalah rasio yang mengukur seberapa jauh perusahaan mampu memenuhi kewajiban jangka pendek dan jangka panjang.

2.1.6. Rasio Profitabilitas Menurut Mamduh.M.Hanafi (2008, hal. 42), Rasio Profitabilitas merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan

(profitabilitas) pada tingkat penjualan, asset, dan modal saham tertentu. Sedangkan menurut Sutrisno (2005, hal. 237-238), rasio profitabilitas adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar tingkat keuntungan yang dapat

diperoleh perusahaan. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa rasio profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aktiva maupun modal sendiri.

22

2.1.7. Rasio Nilai Pasar Menurut Suad Husnan dan Enny Pudjiastuti (2006, hal 75) rasio nilai

pasar adalah rasio yang menggunakan angka yang diperoleh dari laporan keuangan dan pasar modal. Sedangkan menurut Djarwanto (1984, hal 133) rasio nilai pasar adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen perusahaan untuk menciptakan nilai pasar perusahaan dengan pengeluaran biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan. Dari kedua pendapat diatas dapa dipahami bahwa rasio nilai pasar adalah rasio yang menggunakan angka yang diperoleh dari laporan keuangan dan pasar modal yang digunakan utuk mengukur kemampuan manajemen perusahaan dalam menciptakan nilai pasar.

2.1.8. Debt to Equity Ratio Menurut Lukman Syamsudin (2001, hal 54) Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukkan hubungan antara jumlah hutang yang diberikan oleh para kreditur dengan jumlah modal sendiri yang diberikan oleh pemilik perusahaan. Sedangkan menurut Agnes Sawir (2003, hal 13) Debt to Equity Ratio adalah rasio yang menunjukkan perbandingan hutang dan modal sendiri dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan tersebut untuk memenuhi seluruh kewajibannya. Dari kedua pendapat diatas dapat dipahami bahwa Debt to Euity Ratio adalah rasio yang menunjukkan perbandingan antara total hutang dan ekuitas dalam pendanaan perusahaan.

2.1.9. Price Earning Ratio

23

Menurut

Eduradus

Tandelilin

(2001,

hal 233)

Price

Earning Ratio

merupakan rasio perbandingan antara harga saham terhadap earning perusahaan. Price Earning Ratio mengindikasikan besarnya rupiah yang harus dibayarkan investor untuk memperoleh satu rupiah earning perusahaan. Sedangkan menurut Suad Husnan (2004, hal 41) Price Earning Ratio merupakan rasio yang

membandingkan antara harga saham (yang diperoleh dari pasar modal) dan laba per lembar saham yang diperoleh pemilik perusahaan. Dari kedua pendapat diatas dapat dipahami bahwa Price Earning Ratio adalah rasio yang membandingkan antara

harga saham dengan laba per lembar saham suatu perusahaan.

2.1.10. Return On Equity Menurut Mamduh.M.Hanafi (2008, hal. 42) Return On Equity mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan modal tertentu. Sedangkan menurut Sutrisno (2005, hal. 239) yang dimaksud dengan Return On Equity adalah kemampua perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri. Berdasarkan dua pengertian ROE yang dijelaskan di atas maka kesimpulan yang dapat diambil bahwa ROE merupakan rasio yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba, khususny laba bersih dengan berdasarkan modal tertentu.

2.2. Kerangka Teoritis Para investor dalam menanamkan modalnya biasanya melihat struktur keuangan perusahaan terlebih dahulu. Struktur keuangan adalah bagaimana cara

24

perusahaan mendanai aktivanya. Aktiva perusahaan di danai dengan hutang jangka pendek, hutang jangka panjang dan modal pemegang saham. Struktur modal adalah pendanaan permanent yang berasal dari hutang jangka panjang, saham preferen dan modal pemegang saham. Nilai buku dari modal pemegang saham terdiri dari saham biasa, modal disetor atau surplus, modal dan akumulasi laba ditahan. Stuktur modal merupakan bagian dari struktur keuangan. Pemilihan struktur keuangan merupakan masalah yang menyangkut

komposisi pendanaan yang akan digunakan oleh perusahaan, yang pada akhirnya berarti penentuan beberapa banyak utang (leverage keuangan) yang akan digunakan oleh perusahaan untuk mendanai aktivanya. Dalam konteks teori terdapat dua pendekatan dasar yang bisa digunakan dalam melakukan analisis investasi terutama pada saham yaitu analisis fundamental dan analisis teknikal. Pada pendekatan analisis fundamental, ide dasar pendekatan ini adalah harga sekuritas akan dipengaruhi oleh kinerja perusahaan (misalnya tingkat penjualan dan laba usaha). Analisis fundamental dimulai dari memahami siklus usaha secara umum (perekonomian), industri dan akhirnya mengevaluasi kinerja emiten (perusahaan) dan sekuritas yang diterbitkannya. Sedangkan pada analisis teknikal didasarkan pada anggapan bahwa harga suatu sekuritas akan ditentukan oleh penawaran dan permintaan terhadap sekuritas tersebut. Bagi para investor yang melakukan analisis perusahaan, informasi laporan keuangan yang diterbitkan perusahaan merupakan salah satu jenis informasi yang paling mudah didapatkan dibandingkan alternative nformasi lainnya. Dengan

menggunakan laporan keuangan investor juga bisa menghitung berapa besarnya

25

pertumbuhan earning yang telah dicapai perusahaan terhadap jumlah saham perusahaan. Rasio yang paling banyak digunakan untuk menghitung leverage perusahaan adalah Debt to Equity Ratio (DER) yaitu rasio yang menunjukkan perbandingan antara total hutang dan modal sendiri dalam pendanaan perusahaan. Rasio ini menunjukkan perusahaan. Rasio hutang dengan modal sendiri (DER) merupakan imbangan hutang yang dimiliki perusahaan dengan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini berarti modal sendiri semakin sedikit dibandingkan dengan hutangnya. Bagi perusahaan, sejauh mana modal sendiri dapat menjamin seluruh hutang

sebaiknya besarnya hutang tidak boleh melebihi modal sendiri agar beban tetapnya tidak terlalu tinggi. Untuk mengitung DER bisa menggunakan rumus sebagai berikut :

DER = Total Hutang x 100 % Modal Sendiri

Menurut Agnes Sawir (2003, hal 21) investor biasanya menghubungkan laba tahun berjalan terhadap current price dengan menggunakan hubungan rasio harga terhadap laba yaitu Price Earning Ratio. Setelah Earing Per Share untuk tahun mendatang dapat ditaksir (proyeksi), maka dengan membandingkan harga saham dengan Earning Per Share akan dapat menentukan suatu tingkat harga. Price Earning Ratio adalah apa yang investor bayar untuk aliran earning. Atau dilihat dari kebalikannya adalah apa yang investor dapatkan dari investasi tersebut.

26

Investor dalam pasar modal yang sudah maju menggunakan Price Earning Ratio untuk mengkur apakah suatu saham underpriced dan overpriced. Price Earning Ratio adalah suatu rasio sederhana yang diperoleh dengan membagi harga pasar suatu saham dengan Earning Per Share. Besarnya deviden yang dibayarkan perusahaan tergantung kepada besarnya Earning Per Share dan rasio pembayaran deviden, yang menunjukkan bagian laba yang dibagikan sebagai deviden. Menurut Eduradus Tandelilin (2001, hal 191) PER merupakan salah satu pendekatan yang digunakan dalam analisis saham dan para praktisi. PER atau disebut earning multiplier juga memuat informasi tentang berapa rupiah harga yang harus dibayar untuk memperoleh setiap Rp. 1,00 laba perusahaan.

PER = Harga perlembar saham EPS Menurut penelitian Standard and Poor 500 di Amerika, rata – rata tingkat Return On Equity perusahaan – perusahaan di Amerika berkisar 10 sampai dengan 15 persen dan dalam penelitian itu menyebutkan bahwa Return On Equity yang tinggi dapat mempengaruhi harga saham perusahaan –perusahaan tersebut (Raja Lambas J. Panggabean, 2005 hal. 1). Investor yang akan membeli saham akan tertarik dengan ukuran profitabilitas ini, atau bagian dari total profitabilitas yang bisa dialokasikan ke pemegang saham (Mamduh M Hanafi & Abdul Halim, 1996 hal.179). Semakin tinggi rasio ini menandakan kinerja perusahaan semakin baik

atau efisien. Selain itu, angka yang tinggi untuk ROE menunjukkan tingkat profitabilitas yang tinggi (Mamduh M Hanafi, 2008 hal.43). Semakin besar/tinggi ROE berarti semakin kecil penggunaan modal sendiri suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dan peningkatan laba berarti terjadinya pertumbuhan yang bersifat

27

progresif. Secara empiris semakin besar laba maka besar pula minat investor dalam menginvestasikan dananya untuk memiliki saham tersebut. ROE = Laba Bersih Setelah Pajak x 100 % ModalSendiri Menurut Sutrisno (2005, hal 239) Return On Equity adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri yang dimiliki. Laba yang diperhitungkan adalah laba bersih setelah dipotong pajak atau EAT.

2.3. Hasil Penelitian Terdahulu Berdasarkan beberapa penelitian pengamatan yang terhadap penelitian yang dilakukan penelitian ada yang

mempunyai

relevansi

dengan

dilakukan peneliti yakni penelitian yang dilakukan antaralain oleh Nixon Martin dengan judul skripsi ”Pengaruh Earning Per Share (EPS), Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Market to Book Ratio (MBR) Terhadap Harga Saham Pada Industri Metal dan Allied Products di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2003.” Tujuan dari penelitian tersebut yaitu: 1. Untuk mengetahui perkembangan EPS, DER, PER dan MBR serta Harga Saham perusahaan pada Industri Metal dan Allied Products di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2003. 2. Untuk mengetahui adakah pengaruh EPS, DER, PER dan MBR terhadap Harga Saham perusahaan pada Industri Metal dan Allied Products di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2003. 3. Mengetahui berapa besar pengaruh EPS, DER, PER dan MBR terhadap

Harga Saham pada perusahaan Industri Metal dan Allied Products di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2003.

28

4. Untuk mengetahui variabel mana yang dominan antara EPS, DER, PER dan MBR terhadap Harga Saham pada Industri Metal dan Allied Products di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2003. 5. Untuk mengetahui variabel mana yang berpengaruh dominan terhadap harga saham perusahaan Industri Metal dan Allied Products di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2003. Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah seluruh perusahaan yang terdapat dalam Industri Metal dan Allied Products di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2003. Dimana dalam industri ini terdapat 12 perusahaan yang terdaftar di BEJ. Alat Analisis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: 1. Analisis Trend Horizontal 2. Analisis Statistik Alat Analisis Statistik yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan yaitu: a. Regresi Berganda b. Koefisien Determinasi Selanjutnya, yang menjadi hasil dari penelitian yang telah dilakukan ini antara lain: 1. Berdasarkan analisis regresi berganda, secara simultan EPS, DER, PER dan MBR mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Akan tetapi secara parsial hanya variabel MBR mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham pada industry Metal dan Allied Products yang terdaftar di BEJ periode 2000-2003.

29

2. Besarnya pengaruh EPS, DER, PER dan MBR secara simultan terhadap harga saham adalah sebesar 0,747 atau 74,7%. Secara parsial besarnya

pengaruh EPS terhadap harga saham adalah sebesar 0,163216 atau 16,32 %, besarnya pengaruh DER terhadap harga saham adalah sebesar 0,000784 atau 0,07%, besarnya pengaruh PER terhadap harga saham adalah sebesar 0,015876 atau 1,58%, sedangkan besarnya pengaruh MBR terhadap harga saham adalah sebesar 0,609961 atau 60,99%. 3. MBR memiliki pengaruh yang lebih besar atau dominan terhadap harga saham daripada EPS, DER dan PER. Selain penelitian yang dilakukan oleh Nixon Martin, terdapat penlitian lain yang masih memiliki relevansi dengan penelitian ini , yaitu penelitian yang dilakukan oleh Tua Ali Chandra Sidauruk dengan judul: “Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan Market to Book Value Ratio (MBVR) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Industri Automotive yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2004.” Tujuan dari penelitian yang telah dilakukan tersebut yaitu: 1. Untuk mengetahui perkembangan Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan

Market to Book Value Ratio (MBVR) terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Industri Automotive yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2004. 2. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari variable Debt to Equity Ratio (DER),Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS),

30

Price Earning Ratio (PER) dan Market to Book Value Ratio (MBVR) terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Industri Automotive yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2004. 3. Untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang signifikan dari variable Debt to Equity Ratio (DER),Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS),

Price Earning Ratio (PER) dan Market to Book Value Ratio (MBVR) terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Industri Automotive yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2004. 4. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh dari variabel Debt to Equity Ratio (DER),Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning terhadap Harga

Ratio (PER) dan Market to Book Value Ratio (MBVR)

Saham Pada Perusahaan Industri Automotive yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2004. 5. Untuk mengetahui berapa besar pengaruh dari variabel Debt to Equity Ratio (DER), Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning terhadap Harga

Ratio (PER) dan Market to Book Value Ratio (MBVR)

Saham Pada Perusahaan Industri Automotive yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2004. 6. Untuk mengetahui dari kelima variable yang mempengaruhi Harga Saham, variable mana yang paling berpengaruh dan signifikan terhadap harga saham pada Industri Automotive yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 20022004.

31

Dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh perusahaan yang terdapat dalam industri Automotive yang terdaftar di BEJ selama periode 2002 -2004 yaitu terdiri dari 19 perusahaan. Alat Analisis yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: 3. Analisis Trend Horizontal 4. Analisis Statistik Alat Analisis Statistik yang digunakan dalam penelitian yang dilakukan yaitu: c. Regresi Berganda d. Koefisien Determinasi Selanjutnya, yang menjadi hasil dari penelitian yang telah dilakukan ini antara lain: 1. Berdasarkan analisis regresi berganda, secara simultan DER, ROE, EPS, PER dan MBVR mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Akan tetapi secara parsial hanya variabel PER mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham pada industry Automotive yang terdaftar di BEJ periode 2002-2004. 3. Besarnya pengaruh DER, ROE, EPS, PER dan MBVR secara simultan terhadap harga saham adalah sebesar 0,237 atau 23,7%. Secara parsial

besarnya pengaruh DER terhadap harga saham adalah sebesar 0,075076 atau 7,50 %, besarnya pengaruh ROE terhadap harga saham adalah sebesar 0,029929 atau 2,99%, besarnya pengaruh EPS terhadap harga saham adalah sebesar 0,024649 atau 2,46%, besarnya pengaruh PER terhadap harga saham adalah sebesar 0,187489 atau 18,74% sedangkan besarnya pengaruh MBVR terhadap harga saham adalah sebesar 0,0144 atau 1,44%.

32

4. PER memiliki pengaruh yang lebih besar atau dominan terhadap harga saham daripada DER, ROE, EPS dan MBVR.

2.4 Kerangka Pemikiran Konseptual Bertolak dari kerangka teoritis dan hasil penelitian terdahulu maka dapat digambarkan hubungan antara variable yang diteliti (Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio, Return On Equity dan Harga Saham).

Debt to Equity Ratio Price Earning Ratio Return On Equity

Harga Saham

Dari

gambar di atas dapat diketahui bahwa secara teoritis Debt to Equity

Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Hubungan variable dependent dan variable independent dalam penelitian ini dapat dirumuskan dengan : Y (HS) = f ( DER, PER,ROE) .

2.5. Hipotesis Penelitian Berdasarkan dari penelitian terdahulu dan hubungan konseptual antar variable di atas dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :

33

1. Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan industri Farmasi yang terdaftar di BEI periode 2006-2008. 2. Price Earning Ratio (PER) mempunyai pengaruh yang dominan terhadapharga saham perusahaan Industri Farmasi di BEI periode 2006-2008.

34

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Populasi dan Sampel 3.1.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan yang termasuk dalam Industri Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008, yang terdiri dari 9 perusahaan. Adapun 9 perusahaan yang termasuk dalam industri ini antara lain: PT. Tempo Scan Paific Tbk, PT. Schering Pluogh Indonesia Tbk, PT. Prydam Farma Tbk, PT. Merck Indonesia Tbk, PT. Kimia Farma Tbk, PT. Kalbe Farma Tbk, PT. Indofarma Tbk, PT. Darya Varia Laboratoria Tbk, dan PT. Bristol Myers Squibb Indonesia Tbk.

3.1.2. Sampel Sampel yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 8 perusahaan yang termasuk dalam Industri Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 yang diambil dengan menggunakan metode Purposive Sampling, yaitu teknik pengambilan sample dengan ketersediaan data sesuai dengan masalah penelitian. Adapun kriteria atau pertimbangan yang digunakan dalam pemilihan sampel tersebut adalah sebagai berikut: 1. Mempunyai data keuangan selama periode pengamatan yaitu tahun 2006-2008. 2. Masing-masing perusahaan memiliki data Total Hutang, Modal sendiri,

Earning Per Share (EPS), laba bersih setelah pajak, dan harga saham, dan semua data dan variabel harus bernilai positif selama periode penelitian yakni pada periode 2006-2008.

35

3.2. Jenis Data Jenis data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah data sekunder, yang berupa total hutang, modal sendiri, earning per lembar saham laba bersih dan harga saham.

3.3. Sumber Data Sumber data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah berasal dari : 1. Indonesian Capital Market Directory 2009 2. Literatur yang berkaitan dengan penelitian ini 3. Penelitian terdahulu yang mempunyai relevansi dengan penelitian ini

3.4. Operasionalisasi Variabel Penelitian Dalam penelitian ini, variabel yang digunakan terdiri dari variabel

independent yang berupa Debt to Equity Ratio (DER) yang diukur dengan satuan persentase (%), Price Earning Ratio (PER) yang diukur dengan satuan relative

(kali) serta Return On Equity (ROE) yang diukur dengan satuan persentase (%). Sedangkan variabel kedua yaitu variabel dependent yang berupa harga Saham yang diukur dengan satuan rupiah. Gambaran menyeluruh tentang operasionalisasi variabel-variabel tersebut dapat dilihat pada table berikut : Tabel 3.1. Operasionalisasi variabel No 1 Variabel
DER

Definisi
Debt to Equity Ratio adalah

Rumus

Satuan Persen (%)

rasio yang menunjukkan perbandingan hutang dan

36

ekuitas dalam pendanaan perusahaan dan menunjukkan kemampuan modal sendiri perusahaan tersebut untuk memenuhi seluruh kewajibannya. 2
PER Price Earning Ratio adalah rasio yang menunjukkan perbandingan antara harga saham terhadap earning perusahaan.

Total Hutang x 100% Modal Sendiri

Closing Price

Kali (X)

EPS Persen (%)

3

ROE

Return On Equity adalah kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan dengan modal sendiri
Harga saham yang dimaksud disini merupakan harga yang terjadi di lantai bursa pada akhir penutupan (Closing Price).

Laba setelah pajak x 100% Modal Sendiri

3

Harga Saham

Rupiah

3.5. Metode Pengumpulan Data Dalam melakukan penelitian ini metode pengumpulan data yang

dipergunakan adalah Library Research (penelitian kepustakaan) yaitu merupakan suatu metode pengumpulan data sekunder yang berupa teori-teori, konsep-konsep dengan menelaah berbagai literatur-literatur dan penelitian terdahulu yang erat hubungannya dengan masalah yang diteliti.

3.6.Metode Analisis Data 3.6.1. Deskriptif Kuantitatif Yaitu metode yang digunakan untuk menganalisis terhadap data keuangan dengan cara membandingkan laporan laba rugi dan neraca dari tahun ke tahun serta menghitung perubahan yang terjadi. 3.6.2. Deskriptif Kualitatif 37

Yaitu metode yang digunakan untuk menganalisis data keuangan perusahaan dengan cara membandingkan antara teori dan konsep yang adas terhadap masalah yang diteliti serta berusaha menjelaskan hasil perhitungan yang dilakukan. 3.6.3. Analisis Inferensial Yaitu metode yang menggunakan analisis statistic induktif, yang terdiri dari regresi, koefisien determinasi, uji statistic F dan uji statistik t.

3.7.Alat Analisis Dalam melakukan penelitian, data yang telah diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan alat analisis sebagai berikut : a. Analisa trend Horizontal Alat analisa ini digunakan untuk mengetahui perkembangan Total Hutang, Modal Sendiri, Earning Per Share, Price Earning Ratio, Laba bersih setelah pajak dan Harga Saham perusahaan pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008, dengan rumus sebagai berikut: Perkembangan (%) = Keterangan : Ta : Data tahun yang dianalisis Td : Data tahun dasar
Ta Td x 100% Td

Selain digunakan untuk mengetahui perkembangan Total Hutang, Modal Sendiri, Earning Per Share, Laba bersih setelah pajak, Price Earning Ratio dan Harga Saham, Alat analisis ini juga digunakan untuk mengetahui perubahan variable Debt to Equity Ratio (DER) dan Return On Equity (ROE) perusahaan pada 38

industry Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008, adapun rumus yang digunakan yakni sebagai berikut:

Perubahan (%) = Ta Td Keterangan : Ta : Data tahun yang dianalisis Td : Data tahun dasar

b. Uji Hepotesis 1.Uji Statistisk “F” Untuk mengetahui signifikasi pengaruh DER, PER, dan ROE secara simultan (bersamaan) terhadap harga saham pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 dilakukan sesuai dengan langkah- langkah berikut : a. Membuat rumusan hipotesis Ho : b1 = b2 = b3 =0 artinya DER, PER dan ROE secara simultan tidak mempunyai pengaruh yang sifnifikan terhadap harga saham. Hi : b1 ≠ b2 ≠b3 ≠ 0 artinya DER, PER dan ROE secara simultan

mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. b. Menentukan tingkat signifikasi dengan α = 5% c. Area Keputusan
Ho diterima

- F tabel

1=α+β

F tabel

39

d. Perhitungan nilai F Fhitung =
R 2 / ( k 1) (1 R 2 ) / (n k )

Keterangan : R2 : koefisien determinasi n : jumlah sampel k : jumlah variabel independen e. Kriteria Pengujian Jika Fhitung Jika Fhitung Ftable Ftable
, maka , maka

Ho ditolak Ho diterima

2. Uji Statistik “t” Untuk mengetahui secara parsial pengaruh antara DER, PER, dan ROE terhadap harga saham industri Farmasi di BEI periode 2006-2008 dilakukan dengan langkah- langkah sebagai berikut : a. Membuat rumusan Hipotesis Ho : b1 = 0 artinya DER tidak mempunyai pengaruh yang sifnifikan terhadap harga saham. Ha : b1 ≠ 0 artinya DER mempunyai pengaruh yang signifikan

terhadap harga saham. Ho : b2 = 0 artinya PER tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.

40

Ha : b2 ≠ 0

artinya PER mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham.

Ho : b3 = 0

artinya ROE tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.

Ha : b3 ≠ 0

artinya ROE mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham.

b. Menentukan tingkat signifikansi dengan α/2 = 0,25% c. Perhitungan nilai t d. Thitung

e. Area keputusan
Ho diterima

- t tabel

1=α+β

t tabel

f.

Kriteria Pengujian Jika thitung Jika thitung ttable ttable berarti Ho ditolak berarti Ho diterima

3. Koefisien Determinasi

41

Alat analisa ini digunakan untuk mengetahui besarnya pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return on Equity terhadap Harga Saham baik secara simultan maupun parsial pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Untuk mengetahui besarnya pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE) secara simultan terhadap harga saham perusahaan, maka digunakan koefisien determinasi dengan

simbol R2
2

R2 = 1

( y y) 2 ( y y) 2

( Sumber : J. Supranto, 2001, hal. 223 ) Untuk mengetahui besarnya pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE) secara parsial terhadap harga saham perusahaan pada industri Farmasi yang terdaftar di BEI periode 20062008, maka digunakan koefisien determinasi dengan rumus sebagai berikut:

(Sumber : M. Iqbal Hasan, 2003, hal. 273)

42

Dari hasil perhitungan koefisien determinasi parsial maka akan diketahui variable penelitian yang berpengaruh dominan terhadap harga saham. Semua perhitungan diatas menggunakan bantuan program SPSS (Statistic Program for Special Science) Versi 12.0 dan Microsoft Excel 2007.

43

BAB IV GAMBARAN UMUM BURSA EFEK INDONESIA 4.1 Perkembangan Sejarah Bursa Efek Indonesia Era pasar modal Indonesia dapat dibagi menjadi beberapa periode. Periode pertama adalah periode jaman Belanda mulai tahun 1912 yang merupakan tahun didirikannya pasar modal yang pertama. Pada tanggal 14 Desember 1912, suatu asosiasi 13 broker dibentuk di Jakarta. Asosiasi ini diberi nama Belandanya sebagai “ Vereniging voor Effectenhandel” yang merupakan cikal bakal pasar modal pertama di Indonesia. Setelah perang dunia I, pasar modal pertama di Surabaya mendapat giliran dibuka pada tanggal 1 Januari 1925 dan disusul di Semarang pada tanggal 1 Agustus 1925. Karena masih dalam jaman penjajahan Belanda dan pasar-pasar modal ini juga jaman penjajahan belanda dan pasar modal ini juga didirikan oleh Belanda, mayoritas saham-saham yang diperdagangkan di sana juga merupakan saham-saham perusahaan Belanda dan afiliansinya yang tergabung dalan Dutch East Indies Trading Agencies. Pasar – pasar modal ini beroperasi sampai kedatangan Jepang di Indonesia di tahun 1942. Setelah Jepang meninggalkan Indonesia, pada tanggal 1 September

1951dikeluarkan Undang-Undang Darurat No.12 yang kemudian dijadikan UndangUndang No. 15/1952 tentang pasar modal. Juga melalui Keputusan Menteri Keuangan No. 289737/U.U. tanggal 1 Nopember 1951, Bursa Efek Jakarta (BEJ) akhirnya dibuka kembali pada tanggal 3 Juni 1952. Tujuan dibukanya kembali bursa ini menampung obligasi pemerintah yang sudah dikeluarkan pada tahun-tahun sebelumnya. Tujuan yang lain adalah untuk

44

mencegah saham-saham perusahaan Belanda yang dulunya diperdagangkan di pasar modal di Jakarta lari ke luar negeri. Kepengurusan bursa efek ini kemudian diserahkan ke Perserikatan

Perdagangan Uang dan Efek-Efek (P.P.U.E) yang terdiri dari 3 bank dengan Bank Indonesia sebagai anggota kehormatan. Bursa Efek ini berkembang dengan cukup baik walaupun surat berharga yang diperdagangkan umumnya adalah obligasi oleh

perusahaan Belanda dan obligasi pemerintah Indonesia lewat Bank Pembangunan Indonesia. Penjualan obligasi semakin meningkat dengan dikeluarkannya obligasi

pemerintah melalui Bank Industri Negara di tahun 1954, 1955, dan 1956. Karena adanya sengketa antara pemerintah RI dengan Belanda mengenai Irian Barat, semua bisnis Belanda dinasionalisasikan melalui Undang-Undang Nasionalisasi No. 86 tahun 1958. Sengketa ini mengakibatkan larinya modal Belanda dari Tanah Indonesia. Akibatnya mulai tahun 1960, sekuritas-sekuritas perusahaan Belanda sudah tidak

diperdagangkan lagi di Bursa Efek Jakarta. Bursa Efek Jakarta diakatakan lahir kembali pada tahun 1977 dalam periode orde baru sebagai hasil dari Keputusan Presiden No. 52 tahun 1976. Keputusan ini menetapkan pendirian Pasar Modal, pembentukan Badan Pembina Pasar Modal, pembentukan Badan Pelaksan Pasar Modal (BAPEPAM) dan PT. Danareksa. Presiden Suharto meresmikan kembali Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada tanggal 10 Agustus 1977. PT. Semen Cibinong merupakan perusahaan pertama yang tercatat di BEJ. Penerbitan Saham perdana disetujui pada tanggal 6 Juni 1977. Pada saat tercatat pertama kali di bursa tanggal 10 Agustus 1977, sebanyak 178.750.00 lembar saham ditawarkan dengan harga Rp 10.000,- per lembar.

45

Periode ini disebut juga dengan periode tidur yang panjang, karena sampai dengan tahun 1988 hanya sedikit sekali perusahaan yang tercatar di BEJ, yaitu hanya 24 perusahaan saja (selama 4 tahun, 1985 sampai dengan 1988 tidak ada perusahaan yang go public). Kurang menariknya pasar modal pada periode ini dari segi infestor mungkin disebabkan oleh tidak dikenakannya pajak atas bunga deposito, sedang penerimaan deviden dikenakan pajak penghasilan sebesar 15%. Sejak diaktifkan kembali pada tahun 1977 sampai tahun 1988 BEJ dikatakan dalam keadaan tidur yang panjang selama 11 tahun. Sebelum tahun 1988 hanya terdapat 24 perusahaan yang terdaftar di BEJ meningkat sampai dengan 128. Sampai dengan akhir tahun 1994 jumlah perusahaan yang sudah IPO menjadi 225. Pada periode ini, Initial Public Offering (IPO) menjadi peristiwa nasional dan banyak dikenal sebagai periode lonjakan IPO (IPO boom). Pada tahun 1991, BEJ diswastakan dan sebagai konsekuensinya, BAPEPAM bukan lagi pelaksana pasar modal, akan tetapi lebih ke pengawas pelaksana pasar modal sehingga BAPEPAM dari Badan Pelaksana Pasar Modal menjadi Badan Pengawas Pasar Modal. Peningkatan di pasar modal ini disebabkan oleh beberapa hal sebagai berikut ini. 1. Permintaan dari investor asing Investor asing melihat bahwa pasar modal di Indonesia telah maju dengan pesat pada periode ini dan mempunyai prospek yang baik. Investor asaing tertarik dengan pasar Indonesia karena dianggap sebagai pasar yang menguntungkan untuk diversivikasi secar international. Investor asing dibatasi pemilikannya sampai

dengan 49% dari sekuritas yang terdaftar di bursa. Sampai dengan awal tahun

46

1955, jumlah kepemilikan oleh investor asing mencapai sebanyak 7,06 milyard lembar atau sekitar 29,61% dari semua sekuritas yang terdaftar. 2. Pakto 88. Merupakan reformasi tanggal 27 Oktober 1988 yang dikeluarkan untuk merangsang ekspor non-migas, meningkatkan efisiensi dari bank komersial,

membuat kebijaksanaan moneter lebih efektip, meningkatkan simpanan domestic dan meningkatkan pasar modal. Salah satu hasil reformasi Pakto 88 adalah

mengurangi reserve requirement dari bank-bank deposito. Akibat dari reformasi ini adalah pelepasan dana sebesar Rp 4 triliun dari Bank Indonesia ke sector keuangan. Akibat lebih lanjut adalah masyarakat mempunyai cukup dana untuk bermain di pasar saham. 3. Perubahan generasi. Perubahan kultur bisnis terjadi diperiode ini, yaitu dari kultur bisnis keluarga tertutup ke kultur bisnis professional yang terbuka yan memungkinkan professional dari luar keluarga untuk duduk di kursi kepemimpinan perusahaan. Pergeseran ini terjadi karena perubahan generasi dari yang tua ke yang muda. Generasi muda umumnya mendapat pendidikan di barat yang mengakibatkan mereka mempunyai pandangan berbeda dengan pendahulunya. Perubahan radikal menuju keperusahaan professional terbuka ini juga merupakan factor

perkembangan pasar modal, yaitu dengan mulai banyaknya perusahaan keluarga yang go public. Periode ini juga dicatat sebagai periode kebangkitan dari Bursa Efek Surabay (BES). Bursa Efek Surabaya atau dengan nama asingnya Surabaya Stock Exchange (SSX) dilahirkan kembali pada tanggal 16 Juni 1989. Pada awalnya, BES

47

hanya mempunyai 25 saham dan 23 obligasi yang diperdagangkan. BES hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk meningkatkan indeks gabungannya dari nilai 100 pada tanggal 16 Juni 1989 menjadi 340. Mulai tanggal 19 September 1996, BES merubah nilai dasar indeks gabungannya menjadi nilai dasar 500. Pada akhir tahun 1996, IHSG-BES mencapai nilai 568,585 poin. Sampai kuartal ke tiga tahun 1990, jumlah sekuritas yang tercatat di BES meningkat menjadi 116 saham. Jumlah ini meningkat sampai akhir tahun 1996 tercatat 208 emiten saham dengan nilai kapatalisasi sebesar Rp 191,57 triliun. Semua sekuritas yang tercatat di Bursa Efek Jakarta (BEJ) juga secara otomatis diperdagangkan di BES.

Karena

peningkatan

kegiatan

transaksi yang

dirasakan

sudah

melebihi

kapasitas manual, maka BEJ memutuskan untuk memutuskan untuk mengotomatisasikan kegiatan transaksi di bursa. Jika sebelumnya di lantai bursa terlihat dua deret antrian ( sebuah untuk antrian beli dan yang lainnya untuk antrian jual) yang cukup panjang untuk masing-masing sekuritas dan semua kegiatan transaksi dicatat di papan tulis, maka setelah otomatisasi, sekarang yang terlihat di lantai bursa adalah jaringan computer-komputer yang digunakan oleh broker. Sistem otomatisasi yang diterapkan di Bursa Efek Jakarta (BEJ) diberi nama Jakarta Automated Trading System (JATS) dan mulai dioperasikan pada hari Senin Tanggal 22 Mei 1995. Sistem manual hanya mampu menangani sebanyak 3.800 transaksi tiap harinya. Dengan JATS, system ini mampu menangani sebanyak 50.000 transaksi tiap harinya. Sebelum JATS dioperasikan, dengan system manual, rata-rata volume perdangangan tiap harinya adalah sebesar 14,8 juta lembah dalam 1.606 transaksi dengan nilai Rp 46 milyard untuk transaksi regular. Untuk transaksi yang non-

48

reguler, rata-rata volume perdagangan sebelum JATS adalah sebanyak 19,3 juta lembar dalam 174 transaksi dengan nilai Rp 61 milyard. Sebagai perbandingan, setelah JATS dioperasikan, rata-rata volume perdangangan tiap harinya adalah sebesar 18 juta lembar dalam 2.268 transaksi dengan nilai Rp 58 Milyard untuk transaksi regular. Untuk transaksi yang non-reguler, rata-rata volume perdagangan setelah JATS adalah

sebanyak 24,7 juta lembar dalam 222 transaksi dengan nilai Rp 82 milyard. JATS sebagai suatu system terdiri dari perangkat keras dan perangkat lunak. Komponen-komponen utama dari JATS adalah: Pusat computer pengolah data yang disebut juga dengan istilah trading engine yang mempunyai tugas untuk menerima, memproses order dari computer broker, mengirimkan informasi ke computer broker (terminal computer ini disebut juga dengan istilah traders workstation) dan mempertemukan order penjualan dan pembelian. Gateaway berupa komputer-komputer yang menghubungkan komputer-

komputer broker dengan trading engine. JATS menyediakan beberapa gateaway khusus untuk hubungan dengan broker di lantai bursa, di distrik pusar perdagangan jalan Sudirman, di daerah lain masih dalam area Jakarta dan untuk yang di luar Jakarta. Traders workstations yang terdiri dari sejumlah terminal untuk masing-masing broker di lantai bursa. Broker menggunakan traders workstation untuk melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut: a. Meletakkan order pembelian dan penjualan, b. Mengamati aktivitas pasar seperti harga, volume, indeks pasar dan porsi kepemilikan asing,

49

c. Mengamati status dari order, d. Membaca status dari transaksi yang sudah selesai, e. Menerima bersangkutan, f. Menerima berita dan pengumuman yang disebarkan oleh BEJ, g. Meletakkan permberitahuan untuk membeli atau menjual sekuritas, h. Melaporkan hasil transaksi non-reguler. Dengan demikian sebenarnya sasaran dari penerapan system JATS ini adalah sebagai berikut ini. 1. Meningkatkan kapasitas untuk mengantisipasi pertumbuhan pusa yang di masa mendatang diperkirakan system manual sudah tidak memadai (system manual hanya dapat menampung 3.800 transaksi per hari sedang JATS mampu menangani 5,000 transaksi per hari). 2. Meningkatkan integritas (keterkaitan satu pihak dengan pihak yang lainnya) dan likuiditas (kecepatan transaksi sekuritas diselesaikan). 3. Meningkatkan pamor pasar modal dengan meletakkan BEJ setara dengan pasarpasar modal lain di dunia. JATS dianggap sebagai salah satu system computer pasar modal yang tercanggih di dunia. Untuk mengantisipasi jumlah anggota bursa dan transaksi yang meningkat di BES, maka pada tanggal 19 September (diumumkan secara terbuka pada tanggal 10 Maret 1997) BES menerapkan system otomatisasi yang disebut dengan Surabaya Market information & Automated Remote Trading (S-MART). Sistem S-MART ini diintegrasikan dengan system JATS di BEJ dan sisterm si KDEI (Kliring Deposit Efek informasi tentang kegiatan-kegiatan perusahaan

50

Indonesia) untuk penyelesaian transaksi. Adapun fasilitas yang diberikan oleh S-MART adalah: 1. Trader Workplace, yaitu sarana akses langsung secara elektronik oleh anggota bursa atau broker atau WPPE (Wakil Perantara Pedagang Efek) dari kantor mereka masing-masing (remote trading), sehingga tidak lagi harus dilakukan di lantai bursa (floorless trading). Fasilitas ini dapat dibagi lagi berdasarkan segmentasi transaksinya meliputi : a. Pasar kesatu yang meliputi dua system, yaitu S-MART 500 untuk perdagangan regular, non regular dan derivative (waran dan right) dan S-MART FIS untuk perdagangan obligasi. b. Pasar Kedua yang berupa system S-MART 100 untuk perdagangan odd lot . 2. 3. 4. S-MART Mail yaitu sarana surat elektronik (e-mail) S-MART Web yaitu fasilitas world-wide-web di internet yang diperlukan. S-MART Chat fasilitas komunikasi percakapan interaktif antar anggota bursa dengan pemakai internet lainnya. Pada bulan Agustus 1997, krisis moneter melanda Negara-negara Asia, termasuk Indonesia, Malaysia, Thailand, Korea Selatan dan Singapura. Tidak hanya perusahaan yang melakukan IPO pada periode krisis ini, yaitu hanya sebanyak 18 perusahaan. Krisis moneter terjadi ini dimulai dari penurunan nilai-nilai mata uang Negara-negara Asia tersebut relatip terhadap dolar Amerika. Penurunan nilai mata uang ini disebabkan karena spekulasi dari pedagang-pedagang valas, kurang percayanya masyarakat terhadap nilai mata uang negaranya sendiri dan yang tidak kalah pentingna adalah kurang kuatnya pondasi perekonomian.

51

Untuk

mencegah

permintaan

dolar

Amerika

yang

berlebihan

yang

mengakibatkan nilainya meningkat dan menurunnya nilai Rupiah, Bank Indonesia menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Diharapkan dengan suku bunga deposito yang tinggi (beberapa bank swasta menawarkan suku bunga deposito dari 25% sampai dengan 50%), pemilik modal akan menanamkan modalnya di deposito untuk mengurangi permintaan terhadap dolar. Tingginya suku bunga deposito berakibat negative berakibat negatip terhadap pasar modal. Investor tidak lagi tertarik untuk menanamkan dananya di pasar modal, karena total return yang diterima lebih kecil disbanding dengan pendapatan dari bunga deposito. Akibat lebih lanjut, harga-harga saham saham di pasar modal mengalami penurunan yang drastis. Indeks Harga Saham Gabungan sejak bulan Agustus sampai akhir tahun 1997 selalu menurun sampai awal tahun 1998, yang kemudian mulai membaik sampai bulan Juli 1998, tetapi kembali turun tajam di awal September 1998. Periode ini juga dapat dikatakan sebagai period ujian terberat yang dialami oleh pasar modal Indonesia. Untuk mengurangi lesunya permintaan sekuritas di pasar modal Indonesia, pemerintah berusaha meningkatkan aktivitas perdagangannya lewat transaksi investor asing. Pada tanggal 3 September 1997 pemerintah tidak memberlakukan lagi

pembatasan 49% pemilikan asing. Ini berarti bahwa mulai tanggal tersebut, investor asing boleh memiliki saham-saham yang jumlahnya tidak terbatas. Peraturan

pemerintah ini kelihatannya belum membawa hasil yang ditunjukkan oleh kenyataan bahwa sampai akhir September 1997, jumlah pemilikan asing hanya mencapai 27% (Jurnal Pasar Modal, September 1997). Kemerosotan pasar saham ditunjukkan oleh indeks harga saham gabungannya (IHSG) yang turun dengan tajam. IHSG pada tanggal

52

8 Juli 1997 tercatat sebesat 750,83 poin dan turun sekitar 194,14 poin (25,86%) menjadi 546,69 poin di akhir bulan yaitu 30 September 1997. Untuk memperbaiki kondisi perekonomian yang bergejolak ini, pemerintah pada hari Sabtu pada tanggal 1 November 1997 mengumumkan likuidasi 16 bank swasta nasional. Pengumuman yang cukup mengejutkan ini tidak hanya membantu memperbaiki lesunya pasar saham. Bahkan IHSG untuk bulan November 1997 ini juga merosot dengan tajam. Perdagangan dengan warkat sudah dianggap tidak efisien lagi. Belum lagi banyak warkat yang hilang sewaktu disimpan atau banyak juga warkat yang dipalsukan. Secar administrative, penerbitan warkat juga akan menghambat proses penyelesaian transaksi. Oleh karena alasan-alasan tersebut, maka pada bulan Juli 2000, BEJ mulai menerapkan perdagangan-perdagangan tanpa warkat (scripless tradings). Setelah mengalami penurunan drastic sampai akhir bulan September 1998 sampai menembus 300 poin, IHSG di bulan Oktober 1998 mulai mengalami peningkatan menembus kembali di atas 300 poin. Pada tanggal 5 Oktober 1998 IHSG bernilai 311,96 poin. Periode penyembuhan ini ditandai dengan naik turunnya IHSG berkisar 400 poin sampai dengan 700 poin. IHSG mencapai nilai tertinggi sejak Oktober 1998 pada tanggal 14 Juni 1999 dengan nilai 707,88 poin. Seperti halnya proses penyembuhan dari penyakit berat, IHSG juga mengalami masa-masa mendebarkan. Kembali pada tanggal 16 April 2001 IHSG turun sampai 365,82 poin dan setelah mengalami naik dan turun kembali akhirnya pada akhir tahun sebelum Natal tanggal 23 Desember 2002 IHSG bernilai 420,90.

53

Efektif mulai bulan November 2007, setelah diadakannya RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) yang diadakan pada 30 Oktober 2007, BEJ dan BES bergabung menjadi BEI (Bursa Efek Indonesia). Melalui merger ini diharapkan dapat makin memberikan peluang bagi perusahaan ke pasar modal. Selain itu melalui penggabungan ini, biaya pencatatan menjadi lebih murah, karena hanya mencatatkan saham secara single listing sudah terakreditasi pada BEI. Sementara itu, bagi anggota bursa dengan menjadi anggota bursa atau pemegang saham BEI akan langsung

menembus pasar. Bagi investor penggabungan ini menjadi makin banyaknya pilihan investasi karena tidak ada lagi pembedaan pasar di BES dan BEJ, karena produk investasi ditawarkan dalam satu atap yaitu Bursa Efek Indonesia. Periode kesebelas dari pasar modal Indonesia dimulai pada bulan januari 2008. Pada akrhir bulan Januari 2008, pasar modal dikejutkan dengan pengungkapan kerugian Citybank sekitar 30% akibat dari kasus Subrime Mortgage di Amerika. Subrime Mortgage merupakan kredit perumahan berisiko tinggi di Amerika Serikat. Kreditkredit ini kemudian dijaminkan kembali kepada perusahaan keuangan untuk

mendapatkan pinjaman uang kembali . Akibat peminjam kredit merupakan nasabahnasabah kurang sehat keuangannya, maka banyak terjadi kredit macet, sehingga menimbulkan kerugian yang besar pada beberapa investment bank dan hedge fund. Akibat lebih lanjutnya, mereka menarik portofolio mereka di pasar modal seluruh dunia yang mengakibatkan kejatuhan nilai indeks pasar-pasar modal seluruh dunia, salah satunya adalah IHSG. Penurunan pasar modal di Indonesi karena akibat Subrime Mortgage juga diperparah oleh Margin Call dari sejumlah perusahaan sekuritas. Margin Call dilakukan karena rendahna margin beberapa nasabah. Disebabkan sebagian besar investor di Indonesia mempunyai rekening margin dan tidak mampu menaikkan margin

54

tersebut, beberapa broker melakukan aksi Forced Sell (Jual Paksa). Keadaan ini memperparah kejatuhan pasar modal Indonesia pada pertengahan Agustus 2007. Kemudian, pada tahun 2008 jumlah emiten berkurang menjadi 396 perusahaan, ini berarti terjadi penurunan 2,9% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini disebabkan adanya sejumlah emiten yang harus delisting dari lantai bursa sebab mengalami kerugian dalam operasionalnya. Krisis keuangan global yang terjadi pada tahun 2008 mengakibatkan kondisi pasar keuangan dunia menjadi terpuruk, termasuk pasar modal di Indonesia. Hal ini menyebabkan pertumbuhan pasar modal melambat dan penundaan Initial Public Offering (IPO) dari sejumlah perusahaan akibat kondisi pasar modal yang belum menentu. Penurunan secara signifikan indeks bursa di hampir seluruh dunia, pada Oktober 2008 turut menghempaskan Indeks Harga Saham gabungan (HSG) hingga level terendah. Puncaknya terjadi pada 8 Oktober 2008, IHSG terkoreksi sebesar 10,38% hingga menyentuh level 1.451,669. Memasuki tahun 2009, titik cerah tampaknya mulai muncul di pasar modal Indonesia. Pada tanggal 3 April 2009, nilai IHSG menembus titik psikologi 1.500, yaitu sebesar 1.511,335. Pelaku pasar yakin bahwa nilai 1,500 merupakan nilai psikologis untuk IHSG dan pelaku pasar optimis IHSG akan pulih kembali. IHSG sampai dengan bulan November 2009 berhasil meningkat hingga 86,06% sejak awal tahun. Pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi khususnya di pasar modal indonesia akan terus membaik. Dimana, pertumbuhan EPS tahun 2010 diperkirakan akan mengalami peningkatan sebesar 23%.

55

4.2 Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia Pada November 2007, secara efektif Bursa Efek Indonesia beroperasi dengan struktur organisasi yang dapat dilihat pada bagan berikut ini :

Gambar IV.I Struktur Organisasi Bursa Efek Indonesia
General Share Meeting

Bord Of Commissioner Securities T rading Commitee President Director Securities Listing Commitee Memebership Discipline Commitee

Director Listing Division Membership Division Research & Development Division Information T rading T echnology Division Division

Director

Director Finance Division Surveilance Division General Affair Division

Coorporate Communication division

Legal Affair Divission

Internal Audit Division

Human Resources Division

Adapun tugas, wewenang dan tanggung jawab masing-masing bagian yang terdapat dalam struktur organisasi PT. Bursa Efek Indonesia sebagai berikut

56

Board of commisioners (Dewan Komisaris), bertanggung jawab pada rapat umum pemegang saham dan melakukan pengawasan terhadap kepemimpinan presiden direktur. President Director (Presiden Direktur), merupakan pimpinan tertinggi dalam PT. Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan dibantu oleh pada para antara lain Direktur yang membawahi divisi pencatatan, keanggotaan, perdagangan, teknologi informasi, Direktur yang membawahi divisi penelitian dan pengembangan, keuangan, humas (public relation) dan Direktur yang membawahi divisi pengawasan, urusan umum hukum. Di samping itu pula Presiden Direktur memimpin tiga komisi yaitu komisi perdagangan sekuritas, pencatatan sekuritas, dan kedisiplinan anggota serta memimpin langsung divisi internal audit dan sumber daya manusia. Internal Audit Divisions (Divisi Pemeriksaan Internal), bertanggung jawab dalam keuangan dan aktivitas bursa, memonitor laporan keuangan bulanan anggota bursa, menetapkan prinsip-prinsip akuntansi, kriteria pemeriksaan keuangan dan

prosedur pemeriksaan keuangan anggota bursa. Human Resourches Divisions (Divisi Sumber Daya Manusia), bertanggung jawab didalam peningkatan kemampuan sumber daya manusia melalui pengarahan langsung, pelatihan, dan program pendidikan baik di dalam negeri maupun di luar negeri, menangani administrasi dan kedisiplinan, evaluasi kinerja, gaji serta promosi pegawai guna meningkatkan produktivitas para pegawai. Membership Divisions (Divisi Keanggotaan), memonitor anggota bursa dari tingkat lamaran hingga ketaatan pada peraturan keanggotaan, mengambil tindakan tegas terhadap pelanggaran yang terjadi terhadap peraturan keanggotaan, menyempurnakan peraturan keanggotaan, meningkatkan produktivitas sumber daya manusia bursa melalui

57

pelatihan dan program magang, memperkenalkan dan menyebar informasi peraturan bursa dan meningkatkan kedispilinan anggota bursa. Information Technology Divisions (Divisi Teknologi Informasi), divisi ini yang memperkenalkan sistem JATS, meningkatkan sistem komunikasi seperti LAN, sistem data dan sistem keamanan elektronik. Listing Divisions (Divisi Pencatatan), bertanggung jawab dalam menilai perusahaan yang mencatatkan sekuritasnya dan memonitor perkembangan perusahaan yang tercatat dalam bursa, membantu meningkatkan jumlah perusahaan tercatat dalam bursa, membuat peraturan pencatatan, menyebarkan formasi pencatatan kepada

masyarakat dan mengadakan klinik go public yang bertujuan untuk menarik minat perusahaan untuk mencatatakan diri di bursa, memonitor aksi perusahaan yang tercatat di bursa dan laporan keuangan yang disampaikan kepada media masa. Trading Divisions (Divisi Perdagangan), bertanggung jawab dan memastikan kelancaran kativitas perdagangan, meningkatkan sistem perdagangan yang transparan dan sistematis, menyediakan pasar dan fasilitas perdagangan peraturan yang efisien, memonitor dan metode

perkembangan

mengembangkan

perdagangan

penyebaran informasi. Research and Development Divisions (Divisi Penelitian dan Pengembangan), menyusun secara rutin Jakarta Stock Exchange Factbook dan jurnal Bursa Efek Indonesia, mempersiapkan pengembangan sistem manajemen informasi dalam

perusahaan dengan bekerja sama dengan divisi teknologi informasi dan divisi keuangan, memfokuskan kegiatan dalam pengembangan instrumen perdagangan, memonitor dan meningkatkan daya saing Bursa Efek Indonesia di kawasan Asia Pasifik.

58

Corporate Communication Divisions (Divisi Publik Relasi), memainkan peranan aktif sebagai penghubung anatar Bursa Efek Indonesia dengan masyarakat umum di pasar domestik maupun internasional, bertanggung jawab dalam

memperkenalkan bursa di berbagai forum baik dalam negeri maupun luar negeri. Finance Divisions (Divisi Keuangan), menetapkan ukuran pengawasan bursa, bekerja sama dengan BAPEPAM dan lembaga hukum dalam menilai pelanggaran di bursa, mengirimkan staf untuk belajar dengan sistem pengawasan di bursa-bursa saham lainnya. Legal Affairs Divisions (Divisi Hukum), mempersiapkan peraturan dan perjanjian perusahaan, membuat peraturan perdagangan dan keanggotaan, membuat peraturan pencatatan, bekerja sama dengan lembaga hukum dan menteri kehakiman mengenai kebijaksanaan hukum yang digunakan, mempersiapkan rapat umum

pemegang saham dan rapat umum luar biasa pemegang saham. General Affairs Divisions (Divisi Urusan Umum), bertindak sebagai pendukung divisi-divisi lain dan menyediakan kebutuhan pada semua program kerja, menyusun garis pedoman perusahaan dan meningkatkan efisiensi Bursa Efek Indonesia.

4.3. Perkembangan Perusahaan Pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia Industri farmasi adalah salah satu industri yang terdaftar pada Bursa Efek Indonesia. Industri ini terdiri dari 9 perusahaan yang seluruhnya berstatus PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) Adapun gambaran umum mengenai perusahaan pada industri farmasi yang menjadi sampel penelitian ini antara lain: 4.3.1. PT. Tempo Scan Pasific Tbk

59

PT Tempo Scan Pacific Tbk (Perusahaan) didirikan di Republik Indonesia pada tanggal 20 Mei 1970, dengan nama PT Scanchemie dalam rangka Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 Tahun 1968, yang diubah dengan Undang-undang No. 12 Tahun 1970, berdasarkan akta notaris Ridwan Suselo, S.H., No. 37. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. J.A.5/27/4 tanggal 13 Februari 1971, dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.25, Tambahan No. 148 tanggal 26 Maret 1971. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta Notaris Isyana Wisnuwardhani Sadjarwo, S.H., No. 25 tanggal 25 Juli 2008 mengenai penyesuaian anggaran dasar Perusahaan sesuai dengan Undang-Undang No. 40 tahun 2007. Perubahan ini telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat No. AHU-85063.AH.01.02.TH.2008 tanggal 12 November 2008 dan telah diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 36, Tambahan No. 12177 tanggal 5 Mei 2009. Ruang lingkup kegiatan Perusahaan bergerak dalam bidang usaha farmasi dan memulai kegiatan komersialnya sejak tahun 1970. Kantor pusat Perusahaan di Gedung Bina Mulia II, lantai 5, Jl. H.R. Rasuna Said Kav. 11, Jakarta 12950, sedangkan lokasi pabriknya terletak di Cikarang - Jawa Barat. 4.1.2. PT. Prydam Farma Tbk Berdiri pada tahun 1976, perusahaan ini memulai kegiatan operasinya pada tahun 1978 dengan kegiatan produksi dan pemasaran produk untuk hewan. Kcmudian pada tahun 1985 perusahaan ini mendirikan divisi Farnrnsi. Pada tahun 1993 berdiri PT. Pyridam Vetiriner, sebuah perusahaan banz yang memproduksi dan mernasarkan produk perawatan hewan. Perusahaan ini kemudian melakukan perluasan pada bidang

60

yang lebih ke bisnis yaitu pada produksi obat - obatan dan microbacterials. Pada oktober 2001, perusahaan ini melakukan Public Offering (IPO) dengan menjual 120.000.000 lembar sahamnya. Pemegang saham perusahaan ini adalah PT. Pyridam International Corporation sebesar 53,85 %, kemudian In Sarkri Kosasih sebesar 11,54 %, Rani Tjandra scbesar 11,54 % dan masyarakt umum sebesar 23,07 %. 4.3.3. PT. Merck Indonesia Tbk Perseroan, berkedudukan di Indonesia dan berlokasi di Jl. T.B. Simatupang No. 8, Pasar Rebo, Jakarta Timur, didirikan dalam rangka penanaman modal

asingberdasarkan Undang-Undang No. 1 tahun 1967 jo. Undang-Undang No. 11 tahun 1970, dengan akte notaries Eliza Pondaag SH tanggal 14 Oktober 1970 No. 29. Akte ini disetujui oleh Menteri Kehakiman dengan No. J.A.5/173/6 tanggal 28 Desember 1970, dan diumumkan dalam Tambahan No. 202 pada Berita Negara No. 34 tanggal 27 April 1971. Anggaran Dasar Perseroan telah mengalami beberapa kali perubahan,

perubahan selanjutnya dengan akte notaries Aulia Taufani SH, pengganti Sutjipto SH tanggal 4 Juni 2002 No.)1 mengenai perubahan nama Perseroan dari PT. Merck Indonesia Tbk menjadi PT Merck Tbk. Akte ini telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dengan No. C-11973 HT.01.04.TH.2002 tanggal 2 Juli 2002. Untuk memenuhi ketentuan Undang-Undang No. 40 tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, maka Perseroan melakukan perubahan terhadap Anggaran

Dasarnya. Perubahan ini dilakukan dengan akte notaries Sutjipto SH tanggal 15 April 2008 No. 81 dan telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan No. AHU-36704.AH.01.02 Tahun 2008 tanggal 30 Juni 2008.

61

Perubahan terakhir dilakukan dengan akte notaris Aulia Taufani SH, pengganti Sutjipto SH tanggal 2 April 2009 No. 8 untuk memenuhi ketentuan Peraturan Bapepam dan LK No. IX.J.1 mengenai Pokok-Pokok Anggaran Dasar Perseroan yang melakukan Penawaran Umum Efek Bersifat Ekuitas dan Perusahaan Publik. Akte ini telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia dengan No. AHUAH.01.10-07999 Tahun 2009 tanggal 16 Juni 2009.

4.3.4. PT. Kimia Farma (Persero) Tbk PT Kimia Farma (Persero) Tbk. selanjutnya disebut “Perusahaan” didirikan berdasarkan akta No. 18 tanggal 16 Agustus 1971 dan diubah dengan akta perubahan No. 18 tanggal 11 Oktober 1971 keduanya dari Notaris Soelaeman Ardjasasmita S.H. di Jakarta. Akta perubahan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. J.A.5/184/21 tanggal 14 Oktober 1971, yang didaftarkan pada buku registrasi No. 2888 dan No. 2889 tanggal 20 Oktober 1971 di Kantor Pengadilan Negeri Jakarta serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No. 90 tanggal 9 Nopember 1971 dan Tambahan Berita Negara Republik Indonesia No. 508. Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali mengalami perubahan. Perubahan tentang modal disetor terakhir dengan akta No..45 tanggal 24 Oktober 2001 dari Imas Fatimah, S.H. notaris di Jakarta. Akta perubahan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. C-12746HT.01.04.TH.2001 tanggal 8

Nopember 2001. Pada tahun 2008, Anggaran Dasar mengalami perubahan dengan akta No. 79 tanggal 20 Juni 2008 dari Imas Fatimah, S.H, notaris di Jakarta. Perubahan Anggaran Dasar ini mengacu kepada Undang-Undang Nomor 40 tahun 2007 tentang

62

Perusahaan Terbatas. Akta perubahan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan Nomor. AHU-47137.AH.01-02 Tahun 2008 tanggal 04 Agustus 2008. Perusahaan berdomisili di Jakarta dan memiliki unit produksi yang berlokasi di Jakarta, Bandung, Semarang, Watudakon (Mojokerto), dan Tanjung Morawa - Medan. Perusahaan juga memiliki satu unit distribusi yang berlokasi di Jakarta. Pada tahun 2003, Perusahaan membentuk 2 (dua) Anak Perusahaan yaitu PT KF Trading & Distribution dan PT Kimia Farma Apotek yang sebelumnya masing-masing merupakan unit usaha Pedagang Besar Farmasi dan Apotek (catatan b). Kantor Pusat Perusahaan beralamat di Jalan Veteran Nomor 9 Jakarta. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial sejak tahun 1817, yang pada saat itu bergerak dalam bidang distribusi obat dan bahan baku obat. Pada tahun 1958, pada saat Pemerintah Indonesia menasionalisasikan semua Perusahaan Belanda, status Perusahaan tersebut diubah menjadi beberapa Perusahaan Negara. Pada tahun 1969, beberapa Perusahaan Negara tersebut diubah menjadi satu Perusahaan yaitu Perusahaan Negara Farmasi dan Alat Kesehatan Bhinneka Kimia Farma disingkat PN Farmasi Kimia Farma. Pada tahun 1971, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 16 Tahun 1971 status Perusahaan Negara tersebut diubah menjadi Persero dengan nama PT Kimia Farma (Persero). Hasil produksi Perusahaan saat ini dipasarkan di dalam negeri dan di luar negeri, yaitu ke Asia, Eropa, Australia, Afrika dan Selandia Baru.

4.3.5. PT. Kalbe Farma Tbk

63

PT Kalbe Farma Tbk. (“Perusahaan”) didirikan di Negara Republik Indonesia, dalam rangka Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 Tahun 1968 yang telah diubah dengan Undang-undang No. 12 Tahun 1970 berdasarkan akta notaris Raden Imam Soesetyo Prawirokoesoemo No. 3 pada tanggal 10 September 1966. Akta pendirian ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman (Menkeh) Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. J.A.5/72/23 tanggal 12 September 1967 dan diumumkan dalam Tambahan No. 234, Berita Negara Republik Indonesia No. 102 pada tanggal 22 Desember 1967. Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan akta notaris DR. Irawan Soerodjo,S.H., Msi., No. 309, tanggal 25 Juni 2008, mengenai perubahan anggaran dasar Perusahaan untuk menyesuaikan dengan Undang-undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas serta peraturan yang berlaku di bidang Pasar Modal. Perubahan terakhir ini telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU70062.AH.01.02.Tahun 2008 tanggal 26 September 2008. Seperti yang dinyatakan dalam anggaran dasarnya, ruang lingkup kegiatan Perusahaan meliputi, antara lain usaha dalam bidang industri dan distribusi produk farmasi (obat-obatan bagi manusia dan hewan). Saat ini, Perusahaan terutama bergerak dalam bidang produksi dan pengembangan produk farmasi. Perusahaan memulai operasi komersial pada tahun 1966. Perusahaan berkedudukan di Jakarta, dimana kantor pusat berada di Gedung KALBE, Jl. Let. Jend. Suprapto Kav. 4, Cempaka Putih, Jakarta 10510 sedangkan fasilitas pabriknya berlokasi di Kawasan Industri Delta Silicon, Jl. M.H. Thamrin, Blok A3-1, Lippo Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

64

4.3.6. PT. Indofarma (Persero) Tbk Perusahaan ini didirikan pada tanggal 2 Januari 1996 yang pada awalnya sudah ada pada tahun 1918 dengan nama Pabrik Obat Manggarai. Pada tahun 1942 kepernilikan pabrik obat tersebut berpindah tangan dari Belanda ke penterintah Jepang. Pada tahun 1950 Pabrik Obat Manggarai di ambil alih oleh pemerintah Indonesia melalui departemen kesehatan dan termasuk kedalam pusat produksi obat-obatan untuk pemerintah Indonesia. Pada tahun 1979 berganti nama menjadi Pusat Produksi ObatObatan Departemen Kesehatan dan merupakan organisasi nonprofit. Pada tahun 1981 berganti nama lagi menjadi Indonesia Farma. Untuk mengantisipasi perkembangan masa depan dan meningkatnya persaingan, pada tahun 1996 status perusahaan tersebut menjadi perseroan terbatas dengan nama PT. Indonesia Farma atau PT. Indo Farma singkatnya. Pada tahun itu juga perusahaan ini mengakuisisi 43,5 % saham PT. Rinsima Abadi Farma yang mempraduksi material mentah untuk membuat obat - obatan. Pada Januari 2000 perusahaan ini memberikan subsidi kepada PT. Indofarma Global Medika untuk mendapatkan perjanjian distribusi. Kemudian pada Maret 2001 perusahaan ini mengakuissisi 20 % saham PT. Asindo Husada Bhakti untuk meningkatkan distribusi obat - obatan. Pada Maret 2001, perusahaan ini mengeluarkan Public Ofering untuk sahamnya. Dana besar dari Public Offering itu 53 % digunakan untuk memperbesar kapasitas dan fasilitas produksi dan 43 % untuk pembentukan modal keria. Pemegang saham penisahaan ini adalah pemerintah Indonesia sebesar 80,66 % dan masyarakat umum sebesar 19,34 %. 4.3.7. PT. Darya-Varia laboratoria Tbk

65

(“Perusahaan”) didirikan dalam rangka Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 tahun 1968 berdasarkan akta notaris No. 5 tanggal 5 Februari 1976 dari notaris Abdul Latief, S.H. Akta ini disetujui oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No. Y.A.5/288/11 tanggal 28 Mei 1976 dan diumumkan dalam Tambahan No. 712 pada Berita Negara No. 92 tanggal 18 November 1977. Anggaran Dasar Perusahaan telah beberapa kali diubah, antara lain mengenai perubahan nama

Perusahaan menjadi PT Darya-Varia Laboratoria Tbk dan perubahan anggaran dasar Perusahaan dalam rangka Undang-undang No. 1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dilakukan dengan akta notaris No. 107 tanggal 18 Juni 1997 dari notaris Benny Kristianto, S.H. Perubahan anggaran dasar tersebut telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dalam Surat Keputusan No. C2-6441.HT.01.04.TH.97 tanggal 9 Juli 1997 dan diumumkan dalam Tambahan No. 4747 pada Berita Negara No. 81 tanggal 10 Oktober 1997. Perubahan sehubungan dengan peningkatan modal dasar Perusahaan dari Rp100.000.000.000 (Rupiah penuh) menjadi Rp280.000.000.000 (Rupiah penuh)

dilakukan dengan akta notaris No. 68 tanggal 15 Juni 1998 dari notaris Benny Kristianto, S.H. Perubahan ini telah disetujui Menteri Kehakiman dalam Surat

Keputusan No. C2-6421.HT.01.04.TH.98 tanggal 15 Juni 1998 dan diumumkan dalam Tambahan Berita Negara No. 6400 pada Berita Negara No. 92 tanggal16 November 1998. Perubahan terhadap Anggaran Dasar Perusahaan sehubungan dengan prosedur pelaksanaan rapat Direksi dan Komisaris dilakukan dengan akta notaris No. 50 tanggal 30 Juli 2002 dari notaris Benny Kristianto, S.H., yang telah disetujui oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia dalam Surat Keputusan No. C-

66

16570.H.T.01.04.TH.2002 tanggal 30 Agustus 2002 dan diumumkan dalam Tambahan No. 999 pada Berita Negara No. 89 tanggal 5 November 2002.

4.3.8. PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Perusahaan ini didirikan oleh suatu badan investasi asing pada tanggal 8 Juli 1970. Kemudian pada tahun 1983, perusahaan ini melakukan Initial Public Offering (IPO) dan terdaftar di Bursa Efek Jakarta pada tanggal 29 Maret 1983 dan Bursa Efek Surabaya pada tanggal 16 Juni 1989. Pada tanggal 6 November 1991, perusahaan ini 100% diambil alih oleh PT. Bristol - Myers Squibb Indonesia Tbk. Produksi dilakukan di Cibinong dalam area seluas 2,3 Ha. Merck produk yang dipasarkan antara lain : Capoten, Corgard, Capozide, Kenacort, Kenacomb, Mycostatin, Azactam dan Velosef serta 36 macam antibiotik lainnya. Yang bukan termasuk obat penekan rasa sakit antara lain Engran, Counterpain, Vi - grans, Theragran - M, dan Sqibb B Complex. Pada tahun 2002, perusahaan meluncurkan ukuran baru dari produk kunci yaitu Counterpain Cool ukuran 5 gram dan 60 gram serta Counterpain Cream ukuran 5 gram. Juga diperkenalkan produk Excedrin dalam bentuk tablet. Pemegang saham perusahaan ini adalah Linson Investmentd Ltd, Sword, Ireland sebesar 22,00 % , kemudian 345 Park Corporation sebesar 68,00 %.

4.3.9. PT. Schering Plough Indonesia Tbk Berdiri pada tahun 1972 sebagai PT Essex Indonesia, perusahaan ini merupakan gabungan dari Bernard Murimboh Indonesia dan Schering Corporation of

67

The United states. Setelah go public pada tahun 1990, perusahaan ini berganti nama menjadi Schering Plough Indonesia. Produksi manufaktur di Surabaya dengan produk produk antara lain : GARAMYCIN, dan NETROMYCIN untuk antibiotic,

Betamenthasone Dipropionate dan Valerate Cream untuk perawatan kulit, CLARITIN dan CLARINASE untuk alergi tak teratur. Perusahaan ini menggunakan PT. Anugerah Pharmindo Lestari sebagai distributor. Baru - baru ini telah diluncurkan produk untuk penyakit hepatitis dan kanker yaitu INTRON-A, FUGEREL, LOTRIDERM dan ELOCON. Perusahaan ini mempunyai ranking terbaik untuk sektor farmasi pada tahun 1996 berdasarakan fundamental dan tehnikal rating di Bursa Efek. Pemegang saham perusahaan ini adalah Schering Plough Int'l USA sebesar 64,60 %, Schering Plough Health Care Products Inc, USA sebesar 24,60 % dan masyarakat umum sebesar 10,80 %.

68

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.1. Deskripsi Hasil Penelitian Dalam bagian Hasil Penelitian ini akan digambarkan berbagai aspek baik dalam bentuk data maupun dalam bentuk variable penelitian yang telah dirumuskan pada bab terdahulu, baik mengenai perkembangan dan perubahan maupun mengenai nilai-nilai statistik dari hasil penelitian. Variabel – variabel yang diteliti dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen atau variabel bebas dan variabel dependen atau variabel tidak bebas. Dalam penelitian ini yang termasuk dalam variabel independen yaitu: . Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE), sedangkan Harga Saham merupakan variabel dependen. Debt to Equity Ratio merupakan perbandingan antara total hutang dengan modal sendiri, Price Earning Ratio merupakan perbandingan antara Harga Saham dengan laba per lembar saham (Earning Per Share), sedangkan Return On Equity merupakan perbandingan antara laba bersih setelah pajak (EAT) dengan modal sendiri. Perusahaan-perusahaan yang termasuk dalam Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 berjumlah 9 buah., namun yang menjadi menjadi sampel dalam penelitian ini hanya 8 (delapan) perusahaan, yang terdiri dari : PT. Tempo Scan Pasific Tbk, Pyridam Farma Tbk, PT. Merck Indonesia Tbk, PT. Kimia Farma (Persero) Tbk, PT. Kable Farma Tbk, PT. Indofarma (Persero) Tbk, PT. Darya – Varya Laboratoria Tbk, PT. Bristol – Myers Squibb Indonesia Tbk.

5.1.2. Perubahan Debt to Equity Ratio Debt to Equity Ratio merupakan perbandingan antara total hutang dengan modal sendiri dimana hasil perbandingan tersebur dinyatakan dalam bentuk persentase. Untuk 69

melihat perubahan Debt to Equity Ratio tentu perlu terlebih dahulu mengetahui perkembangan total hutang dam modal sendiri. Berdasarkan laporan keuangan

perusahaan pada industri Farmasi periode 2006-2008 dapat terlihat gambaran tentang perkembangan total hutang seperti pada tabel 5.1 berikut ini. Tabel 5.1 Perkembangan Rata-Rata Hutang Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Nama Perusahaan 2006 2007 2008 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 447.319 558.369 655.932 PT. Prydam Farma Tbk 17.927 28.213 29.402 PT. Merck Indonesia Tbk 47.120 50.830 47.741 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk 390.930 478.712 497.905 PT. Kalbe Farma Tbk 1.080.566 1.121.539 1.359.297 PT. Indofarma (Persero) Tbk 406.451 717.874 699.216 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 145.025 98.701 129.812 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk 76.542 68.720 80.180 Jumlah 2.611.880 3.122.958 3.499.485 Rata-rata 326.485 390.370 437.436 Perkembangan (%) 19,57 12,06 Tertinggi 1,080,55 1,121,539 1,359,297 6 Terendah 17,927 28,213 29,402 Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa rata-rata farmasi hutang pada industri

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Sumber : Lampiran 10

di Bursa Efek Indonesia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Rata-rata dan mengalami

hutang pada tahun 2006 yaitu sebesar Rp 326.485.000.000,-

peningkatan sebesar 19,57% atau meningkat menjadi Rp 390.370.000.000,- pada tahun 2007. Kemudian pada tahun 2008 rata-rata total hutang meningkat sebesar 12,06% dari tahun 2007 atau sebesar Rp 437.436.000.000,-. Dari tabel 5.1 di atas juga dapat diketahui perusahaan yang memiliki jumlah hutang tertinggi dan terendah selama periode 2006-2008. Jumlah hutang tertinggi dari tahun 2006 - 2008 dimiliki oleh PT. Kalbe Farma yaitu sebesar Rp. 1.080.566.000.000,-

70

untuk tahun 2006, Rp. 1.121.539.000.000,- untuk tahun 2007 dan sebesar Rp. 1.359.297.000.000,- di tahun 2008. Sedangkan jumlah hutang terkecil dari tahun 2006 2008 dimiliki oleh PT. Prydam Farma yaitu sebesar Rp. 17.927.000.000,- untuk tahun 2006, Rp. 28.213.000.000,- untuk tahun 2007 dan sebesar Rp. 29.402.000.000,- di tahun 2008. Setelah mengetahui perkembangan rata-rata hutang, langkah selanjutnya adalah melihat perkembangan modal sendiri perusahaan pada industri Farmasi. Pada tabel 5.2 dapat dilihat perkembangan modal sendiri pada industri Farmasi periode 2006-2008 adalah sebagai berikut.

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Tabel 5.2 Perkembangan Rata-Rata Modal Sendiri Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Nama Perusahaan 2006 2007 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 1.942.441 2.115.644 PT. Prydam Farma Tbk 65.201 66.944 PT. Merck Indonesia Tbk 235.539 280.224 870.654 908.028 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk 2.994.817 3.386.862 PT. Kalbe Farma Tbk 280.486 291.563 PT. Indofarma (Persero) Tbk 412.312 462.230 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 130.594 158.702 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Jumlah 6.932.044 7.670.197 Rata-rata 866.506 958.775 Perkembangan (%) 10,65 Tertinggi 2.994.817 3.386.862 Terendah 65.201 66.944

2006-2008

2008
2.235.688 69.253 327.324 947.765 3.622.399 296.595 507.849 214.545 8.221.418 1.027.677 7,19

3.622.399 69.253

Sumber : Lampiran 11

Dari tabel 5.2 dapat terlihat bahwa rata-rata modal sendiri pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2006-2008 juga mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2006 rata-rata modal sendiri pada industri ini sebesar Rp.866.506.000.000,dan meningkat sebesar 10,65% pada tahun 2007 menjadi Rp. 958.775.000.000,-.

71

Kemudian pada tahun 2008 rata-rata modal sendiri meningkat sebesar 7,19% dari tahun 2007 atau sebesar Rp.1.027.677.000.000,-. Sama seperti perkembangan rata-rata hutang, jumlah modal sendiri yang tertinggi pada tahun 2006-2008 dimiliki oleh PT. Kalbe Farma yaitu sebesar Rp.

2.995.817.000.000,- untuk tahun 2006, Rp. 3.386.862.000.000,- untuk tahun 2007 dan sebesar Rp. 3.622.399.000.000,- di tahun 2008. Sedangkan jumlah modal sendiri terendah pada tahun 2006 – 2008 dimiliki oleh PT. Prydam Farma yaitu sebesar Rp. 65.201.000.000,- untuk tahun 2006, Rp. 66.944.000.000,- untuk tahun 2007 dan Rp. 69.253.000.000,- di tahun 2008. Dengan membandingkan data mengenai total hutang dan modal sendiri yang terlihat pada tabel 5.1 dan tabel 5.2, maka dapat dilihat besarnya perubahan rata-rata Debt to Equity Ratio pada Industri Farmasi. Perubahan rata-rata Debt to Equity ratio pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 dapat terlihat pada tabel berikut:

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Tabel 5.3 Perubahan Rata-Rata Debt to Equity Ratio Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Persentase) Tahun Nama Perusahaan 2006 2007 2008 23,03 26,39 29,34 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 27,49 42,14 42,46 PT. Prydam Farma Tbk 20,01 18,14 14,59 PT. Merck Indonesia Tbk 44,90 52,72 52,53 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk PT. Kalbe Farma Tbk 36,08 33,11 37,52 PT. Indofarma (Persero) Tbk 144,91 246,22 235,75 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 35,17 21,35 25,56 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk 58,61 43,30 37,37 Jumlah 390,2046 483,3802 475,1207 Rata-rata 48,78 60,42 59,39 Perubahan (%) 11,65 -1,03 Tertinggi 144,91 246,22 235,75 72

Terendah
Sumber : Lampiran 12

20,01

18,14

14,59

Bertolak dari tabel 5.3. dapat diketahui bahwa perubahan rata-rata Debt to Equity Ratio pada Industri farmasi periode 2006-2008 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2006 nilai rata-rata DER adalah sebesar 48,78% dan angka ini mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 60,42% atau naik sebesar 11,65% dibandingkan dengan tahun 2006. Pada tahun 2008 DER yang diperoleh adalah sebesar 59,39% atau mengalami penurunan sebesar 1,03%. Dari tabel 5.3. di atas yang merupakan hasil olahan data penelitian, dapat diketahui perusahan pada industri Farmasi yang terdaftar di BEI pada periode 20062008 yang memiliki nilai Debt to Equity Ratio (DER) yang tertinggi dan terendah, dimana yang menjadi tolok ukurnya adalah nilai rata-rata industri. Pada tahun 2006 terdapat sebanyak 2 perusahaan yang memiliki nilai DER di atas rata-rata industri.

Nilai DER tertinggi pada tahun 2006 dimiliki oleh PT. Indofarma (persero) yaitu sebesar 144,91%. Selanjutnya terdapat 6 perusahaan yang memiliki nilai DER di bawah rata-rata industri pada tahun 2006. Perusahaan yang memiliki nilai DER terendah adalah PT. Merck Indonesia yaitu sebesar 20,01%. Selanjutnya, pada tahun 2007 jumlah perusahaan yang memiliki nilai DER di atas rata-rata industri adalah 1 perusahaan. Pada tahun 2007, nilai DER tertinggi dimiliki

oleh PT. Indofarma (persero) yaitu sebesar 246,22%. Selain itu, terdapat 7 perusahaan yang memiliki nilai DER di bawah rata-rata industri pada tahun 2007. Perusahaan yang memiliki nilai DER terendah di bawah rata-rata industri adalah PT. Merck Indonesia yaitu sebesar 18,14%. Pada tahun 2008 rata-rata industi perusahaan yang memiliki nilai DER di atas rata-rata industri hanya 1 perusahaan. Nilai DER tertinggi yang berada di atas rata-rata

73

industri dimiliki oleh PT. Indofarma (persero) yaitu sebesar 235,75%. Selanjutnya, perusahaan yang memiliki nilai DER di bawah rata-rata industri pada tahun 2008 berjumlah 7 perusahaan. Nilai DER terendah yang berada di bawah rata-rata industri dimiliki oleh PT. Merck Indonesia sebesar 14,59%. 5.1.2. Perkembangan Price Earning Ratio (PER). Price Earning Ratio adalah perbandingan antara harga perlembar saham (yang diperoleh dari pasar modal) dan laba per lembar saham yang diperoleh pemilik perusahaan. Harga saham yang diperhitungkan adalah harga akhir penutupan (closing price). Untuk melihat perkembangan Price Earning Ratio maka terlebih dahulu perlu melihat perkembangan harga perlembar saham dan laba perlembar saham yang dimiliki perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan pada industri Farmasi periode 2006-2008 dapat terlihat gambaran tentang harga tabel 5.4 berikut ini. saham (closing price) seperti pada

1 2 3 4 5 6 7 8

Tabel 5.4 Perkembangan Rata-Rata Harga Saham (Closing Price) Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Rupiah) Tahun Nama Perusahaan 2006 2007 2008 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 900 750 400 PT. Prydam Farma Tbk 50 81 50 PT. Merck Indonesia Tbk 40.000 52.500 35.500 165 305 76 PT. Kalbe Farma (Persero) Tbk 1.190 1.260 400 PT. Kalbe Farma Tbk 100 205 50 PT. Indofarma (Persero) Tbk 1.510 1.600 960 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 55.500 10.500 52.000 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Jumlah 99.415 67.201 89.436 Rata-rata 12.426 8.400 11.180 Perkembangan (%) -32,4 33,09 Tertinggi 55.500 52.500 52.000 Terendah 50 81 50 74

Sumber : Lampiran 13

Dari tabel 5.4 dapat terlihat bahwa perkembangan rata-rata harga saham pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2006-2008 mengalami fluktuasi, yaitu pada tahun 2006 rata-rata harga saham pada industri ini sebesar Rp.12.426,- dan menurun sebesar 32,40% pada tahun 2007 menjadi Rp. 8.400,-.

Kemudian pada tahun 2008 rata-rata modal sendiri meningkat sebesar 33,09% dari tahun 2007 atau sebesar Rp.11.180,-. Dari tabel 5.4. di atas juga dapat diketahui perusahaan yang memiliki jumlah harga saham tertinggi dan terendah selama periode 2006-2008. Jumlah harga saham tertinggi pada tahun 2006 dimiliki oleh PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia yaitu sebesar Rp. 55.500,-, sedangkan jumlah harga saham tertinggi pada tahun 2007 dimiliki oleh PT. Merck Indonesia yaitu sebesar Rp. 52.500,- dan pada tahun 2007 jumlah harga saham tertinggi dimiliki oleh PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Rp. 52.000,-.

Sedangkan jumlah harga saham terkecil dari tahun 2006 - 2008 dimiliki oleh PT. Prydam Farma yaitu sebesar Rp.50,- untuk tahun 2006, Rp. 81,- untuk tahun 2007 dan sebesar Rp. 50,- di tahun 2008. Setelah mengetahui perkembangan harga saham, langkah selanjutnya adalah melihat perkembangan laba perlembar saham (Earning Per Share) perusahaan pada industri Farmasi. Pada tabel 5.5 dapat dilihat perkembangan Earning Per Share pada industri Farmasi periode 2006-2008 adalah sebagai berikut. Tabel 5.5 Perkembangan Rata-Rata Earning Per Share Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Rupiah) Tahun No Nama Perusahaan 2006 2007 2008 61 62 71 1 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 3 3 4 2 PT. Prydam Farma Tbk

75

3 4 5 6 7 8

PT. PT. PT. PT. PT. PT.

Merck Indonesia Tbk Kimia Farma (Persero) Tbk Kalbe Farma Tbk Indofarma (Persero) Tbk Darya-Varia laboratoria Tbk Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Tertinggi Terendah

3.863 8 67 5 94 4.216 246.079 1.039 4.216 3

3.995 9 69 4 89 5.095 245.09 1.165 12,13 5.095 3

4.403 10 70 2 126 9.206 296.609 1.736 14,96 9.206

2

Sumber : Lampiran 14

Dari tabel 5.5. dapat terlihat bahwa rata-rata Earning Per Share pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2006-2008 mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2006 rata-rata Earning Per Share pada industri ini sebesar Rp.1.039,dan meningkat sebesar 12,13% atau sebesar Rp.1.165,- pada tahun 2007. Kemudian pada tahun 2008 rata-rata Earning Per Share meningkat sebesar 14,96% dari tahun 2007 atau sebesar Rp.1.736,-. Dari tabel 5.5. di atas juga dapat diketahui perusahaan yang memiliki Earning Per Share tertinggi dan terendah selama periode 2006-2008. Earning per share dari tahun 2006 - 2008 dimiliki oleh PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia yaitu sebesar Rp. 4.216,untuk tahun 2006, Rp. 5.095,- untuk tahun 2007 dan sebesar Rp. 9.206,- di tahun 2008. Sedangkan jumlah Earning Per Share terendah pada tahun 2006 dan 2007 dimiliki oleh PT. Prydam Farma yaitu sebesar Rp.3,- dan pada tahun 2006 dan sebesar Rp. 3,- pada tahun 2007, sedangkan pada tahun 2008 earning per share terendah dimiliki oleh PT. Indofarma (persero) yaitu sebesar Rp.2,Merujuk pada data pada tabel 5.4 dan 5.5 yang merupakan data mengenai nilai harga saham dan earning per share, dapat diketahui perkembangan Price Eraning Ratio (PER). Dimana, nilai PER diperoleh dengan membandingkan nilai harga perlembar

76

saham dan laba perlembar saham (Earning Per Share). Perkembangan PER ditunjukkan dalam tabel berikut ini.

Tabel 5.6 Perkembangan Rata-Rata Price Earning Ratio Pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2006-2008. (Dalam Satuan Kali) Tahun No Nama Perusahaan 2006 2007 2008 1 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 14,68 12,12 5,61 2 PT. Prydam Farma Tbk 15,47 24,86 11,59 3 PT. Merck Indonesia Tbk 10,35 13,14 8,06 4 PT. Kalbe Farma (Persero) Tbk 20,83 32,46 7,62 5 PT. Kalbe Farma Tbk 17,86 18,13 5,75 6 PT. Indofarma (Persero) Tbk 20,34 57,36 30,8 7 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 16,1 17,95 7,59 8 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk 13,16 2,06 5,65 Jumlah 128,79 178,08 82,67 Rata-rata 16,10 22,26 10,33 Perkembangan (%) 38,27 -53,58 Tertinggi 20,83 57,36 30,8 Terendah 10,35 2,06 5,61
Sumber : Lampiran 15

Bertolak dari tabel 5.6. di atas diketahui bahwa rata-rata Price Earning Ratio (PER) periode 2006-2008 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2006 rata-rata PER adalah sebesar 16,10 kali dan angka ini mengalami peningkatan pada tahun 2007 menjadi 22,26 kali atau naik sebesar 38,27% dibandingkan tahun 2006. Kemudian pada tahun 2008 PER yang diperoleh mengalami penurunan menjadi 10,33 kali atau turun sebesar 53,58% dari tahun 2007. Dari tabel 5.6. di atas, dapat diketahui perusahan pada industri Farmasi yang terdaftar di BEI pada periode 2006-2008 yang memiliki nilai Price Earnig Ratio (PER) yang tertinggi dan terendah, dimana nilai rata-rata industry merupakan tolak ukurnya. Pada tahun 2006 terdapat sebanyak 4 perusahaan yang memiliki nilai PER di atas ratarata industri. Nilai PER tertinggi pada tahun 2006 dimiliki oleh PT. Kalbe Farma yaitu

77

sebesar 20,83 kali. Selanjutnya terdapat 4 perusahaan yang memiliki nilai DER di bawah rata-rata industry pada tahun 2006. Perusahaan yang memiliki nilai DER terendah adalah PT. Merck Indonesia yaitu sebesar 10,35 kali. Selanjutnya, pada tahun 2007 jumlah perusahaan yang memiliki nilai PER di atas rata-rata industri adalah 3 perusahaan. Pada tahun 2007, nilai PER tertinggi dimiliki

oleh PT. Indofarma (persero) yaitu sebesar 57,36 kali. Selain itu, terdapat 4 perusahaan yang memiliki nilai PER di bawah rata-rata industri pada tahun 2007. Perusahaan yang memiliki nilai PER terendah di bawah rata-rata industri adalah PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia yaitu sebesar 2,06 kali. Pada tahun 2008 rata-rata industi perusahaan yang memiliki nilai PER di atas ratarata industri adalah 2 perusahaan. Nilai PER tertinggi yang berada di atas rata-rata

industri dimiliki oleh PT. Indofarma (persero) yaitu sebesar 30,8 kali. Selanjutnya, perusahaan yang memiliki nilai DER di bawah rata-rata industri pada tahun 2008 berjumlah 7 perusahaan. Nilai DER terendah yang berada di bawah rata-rata industri dimiliki oleh PT. Tempo Scan Pasific yaitu sebesar 5,61 kali. 5.1.3. Perubahan Return On Equity (ROE). Return On Equity adalah rasio yang mengukur seberapa banyak keuntungan yang menjadi hak pemilik modal sendiri, dimana hasil perbandingan tersebut dinyatakan dalam bentuk persentase. Untuk melihat perubahan Return On Equity tentu perlu terlebih dahulu mengetahui perkembangan Laba bersih setelah pajak (EAT) dan modal sendiri. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan pada industri Farmasi periode 20062008 dapat terlihat gambaran tentang perkembangan laba bersih setelah pajak (EAT) seperti pada tabel 5.7 berikut ini : Tabel 5.7 Laba Bersih Setelah Pajak (EAT)

78

Pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2006-2008. (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun No Nama Perusahaan 2006 2007 2008 1 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 272.584 278.358 320.648 2 PT. Prydam Farma Tbk 1.729 1.743 2.309 3 PT. Merck Indonesia Tbk 86.538 89.485 98.620 4 PT. Kalbe Farma (Persero) Tbk 43.990 52.189 55.394 5 PT. Kalbe Farma Tbk 676.582 705.694 706.822 6 PT. Indofarma (Persero) Tbk 15.241 11.077 5.032 7 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 52.509 49.918 70.819 8 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk 43.172 52.176 94.271 Jumlah 1.192.345 1.240.640 1.353.915 Rata-rata 149.043,13 155.080,00 169.239,38 Perkembangan (%) 4,05 9,13 Tertinggi 676.582 705.694 706.822 Terendah 1.729 1.743 2.309
Sumber : Lampiran 16

Dari tabel 5.7. dapat terlihat bahwa rata-rata laba bersih pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia selama periode 2006-2008 mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2006 rata-rata laba bersih pada industri ini sebesar Rp.149.043.000.000,13,- dan meningkat sebesar 4,05% atau sebesar Rp.155.080.000.000,- pada tahun 2007. Kemudian pada tahun 2008 rata-rata laba bersih meningkat sebesar 9,13% dari tahun 2007 atau sebesar Rp.169.239.000.000,38,-. Dari tabel 5.7. di atas juga dapat diketahui perusahaan yang memiliki laba bersih tertinggi dan terendah selama periode 2006-2008. Laba bersih dari tahun 2006 - 2008 dimiliki oleh PT. Kalbe Farma yaitu sebesar Rp. 676.582.000.000,-untuk tahun 2006, Rp. 705.694.000.000,- untuk tahun 2007 dan sebesar Rp. 706.822.000.000,- di tahun 2008. Sedangkan jumlah laba bersih terendah dari tahun 2006-2008 dimiliki oleh PT. Prydam Farma yaitu sebesar Rp.1.729.000.000,- untuk tahun 2006, Rp. 1.743.000.000,untuk tahun 2007, dan sebesar Rp.2.309.000.000,- di tahun 2008. Merujuk pada data pada tabel 5.2 dan 5.7 yang merupakan data mengenai modal sendiri dan laba bersih setelah pajak (EAT), dapat diketahui perubahan Return On

79

Equity (ROE). Dimana, nilai ROE diperoleh dengan membandingkan laba bersih setelah pajak dan modal sendiri. Perkembangan ROE dapat dilihat dalam tabel berikut ini.

Tabel 5.8 Perubahan Return On Equity Pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2006-2008. (Dalam Satuan Persentase) Tahun No Nama Perusahaan 2006 2007 2008 1 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 14,03 13,16 14,34 2 PT. Prydam Farma Tbk 2,65 2,60 3,33 3 PT. Merck Indonesia Tbk 36,74 31,93 30,13 4 PT. Kalbe Farma (Persero) Tbk 5,05 5,75 5,84 5 PT. Kalbe Farma Tbk 22,59 20,84 19,51 6 PT. Indofarma (Persero) Tbk 5,43 3,80 1,70 7 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 12,74 10,80 13,94 8 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk 33,06 32,88 43,94 Jumlah 132 121,76 132,73 Rata-rata 16,54 15,22 16,59 Perubahan (%) -1,32 1,37 Tertinggi 36,74 32,88 43,94 Terendah 2,65 2,60 1,70
Sumber : Lampiran 17

dari dari tabel 5.8. di atas diketahui bahwa rata-rata Return On Equity (ROE) periode 2006-2008 mengalami fluktuasi. Pada tahun 2006 rata-rata ROE adalah sebesar 16,54% dan angka ini mengalami penurunan pada tahun 2007 menjadi 15,22 % atau turun sebesar 1,32% dibandingkan tahun 2006. Kemudian pada tahun 2008 ROE yang diperoleh mengalami kenaikan sebesar 1,37% tahun 2007. Dari tabel 5.8. di atas, dapat diketahui perusahan pada industri Farmasi yang terdaftar di BEI pada periode 2006-2008 yang memiliki nilai Return On Equity (ROE) yang tertinggi dan terendah, dimana nilai rata-rata industry merupakan tolak ukurnya. Pada tahun 2006 terdapat sebanyak 3 perusahaan yang memiliki nilai PER di atas rataatau meningkat menjadi 16,59% dari

80

rata

industri. Nilai ROE tertinggi pada tahun 2006 dimiliki oleh PT. Merck Indonesia

yaitu sebesar 36,74%. Selanjutnya terdapat 5 perusahaan yang memiliki nilai ROE di bawah rata-rata industry pada tahun 2006. Perusahaan yang memiliki nilai ROE terendah adalah PT. Prydam Farma yaitu sebesar 2,65%. Selanjutnya, pada tahun 2007 jumlah perusahaan yang memiliki nilai ROE di atas rata-rata industri adalah 3 perusahaan. Pada tahun 2007, nilai ROE tertinggi dimiliki

oleh PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia yaitu sebesar 32,88%i. Selain itu, terdapat 4 perusahaan yang memiliki nilai ROE di bawah rata-rata industri pada tahun 2007. Perusahaan yang memiliki nilai ROE terendah di bawah rata-rata industri adalah PT. Prydam Farma yaitu sebesar 2,60%. Pada tahun 2008 rata-rata industi perusahaan yang memiliki nilai ROE di atas rata-rata industri adalah 3 perusahaan. Nilai ROE tertinggi yang berada di atas rata-rata industri dimiliki oleh PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia yaitu sebesar 43,94%i. Selanjutnya, perusahaan yang memiliki nilai ROE di bawah rata-rata industri pada tahun 2008 berjumlah 5 perusahaan. Nilai ROE terendah yang berada di bawah rata-rata industri dimiliki oleh PT. Indofarma (Persero) yaitu sebesar 1,70%. 5.2. Pembahasan 5.2.1 Analisa Statistik Untuk melakukan pembahasan atas hasil penelitian dan pengumpulan data dalam menguji hipotesis yang telah dirumuskan maka semua analisa statistik dilakukan dengan menggunakan bantuan fasilitas program komputer Program Social Science) versi 12.0 for windows. 5.2.1.1 Analisis Signifikansi Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham Pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2006-2008. yaitu program SPSS (statistic

81

Untuk menguji signifikansi pengaruh Debt to Equity Ratio (DER) dan Price Earning Ratio (PER) terhadap harga saham secara simultan digunakan alat uji statistic „F‟, Hipotesis I yang akan diuji, dirumuskan sebagai berikut: Ho : b1 = b2 = b3 = 0 Artinya tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari variable Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap harga saham. Ha : b1 ≠ b2 ≠ b3 ≠ 0 Artinya terdapat pengaruh yang signifikan secara simultan dari variable Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap harga saham. Tingkat signifikansi yang digunakan adalah α = 5 % (0,05). Kriteria pengujian: Jika P Value pada kolom Sig. Jika P Value pada kolom Sig. 0,05 maka Ho diterima. 0,05 maka Ho ditolak.

Untuk membuktikan hipotesis, maka dapat dilakukan dengan melihat hasil output dari program SPSS versi 12.0 pada tabel ANOVA sebagai berikut. Tabel 5.9. ANOVA Untuk Uji “F” Tentang Pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity Secara Simultan Terhadap Harga Saham. ANOVA(b) Sum of Squares Regression Residual Total
b. Dependent Variable: ZHS

Model 1

Df 3 20 23

Mean Square 5.419 .337

F 16.068

Sig. .000a

16.256 6.744 23.000

a. Predictors: (Constant), ZROE, ZDER, ZPER

82

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity secara simultan terhadap Harga Saham menghasilkan Fhitung 16,068 dan Sig. sebesar 0,00 sedangkan α yang digunakan sebesar 0,05, maka Sig. α maka berarti Ho ditolak, artinya Artinya terdapat pengaruh yang

signifikan secara simultan dari variabel Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity terhadap harga saham. Sedangkan untuk menguji signifikansi pengaruh variabel Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity secara parsial terhadap harga saham pada industry Farmasi dapat digunkan alat uji statistic “t” yaitu dengan langkah-langkah sebagai berikut: Membuat Rumusan Hipotesis Ho : b1 = 0 DER tidak mempunyai pengaruh yang sifnifikan terhadap harga saham. Ha : b1 ≠ 0 DER saham. Ho : b2 = 0 PER tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Ha : b2 ≠ 0 Ho : b3 = 0 PER mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. artinya ROE tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Ha : b3 ≠ 0 artinya ROE mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. Tingkat signifkan yang digunakan adalah 0,025 (dengan uji dua arah α/2) Kriteria pengunjian : Jika P Value pada kolom Sig. 0,025 maka Ho diterima. mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga

83

Jika P Value pada kolom Sig.

0,025 maka Ho ditolak.

Dengan bantuan program SPSS versi 12.0 dapat diketahui pada tabel sebagai berikut: Tabel 5.10. Uji Statistik „t‟ Untuk Mengetahui Pengaruh Debt to Equity Ratio dan Price Earning Ratio Secara Simultan Terhadap Harga Saham. Coefficients(a) Unstandardized Coefficients Model
1

Standardized Coefficients Beta t .000 .036 .159 .923 .200 .812 6.497 Sig. 1.000 .844 .426 .000

B (Constant) ZDER ZPER ZROE 4.446E-17 .036 .159 .923

Std. Error .119 .183 .196 .142

a. Dependent Variable: ZHS

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai Sig. dari Debt to Equity Ratio adalah 0,844 karena Sig. 0,025 maka Ho diterima. Ini berarti secara parsial

variabel Debt to Equity Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Nilai Sig. dari Price Earning Ratio adalah 0,426 karena Sig. 0,025 maka Ho diterima,

artinya Price Earning Ratio juga tidak berpengaruh signifikan terhadap harga saham. Sedangkan nilai sig dari Return On Equity adalah 0,000 karena sig. 0,025 maka Ho

ditolak, artinya secara parsial Return On Equity berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

5.2.1.2 Besar Pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity Secara Simultan Terhadap Harga Saham.

84

Untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return on Equity terhadap Harga Saham secara simultan dapat dilakukan dengan melihat koefisien determinasi pada tabel berikut ini: Tabel 5.11. Koefisien Determinasi Untuk Mengetahui Besarnya Pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity Secara Simultan Terhadap Harga Saham. Model Summary(b)

Model 1

R .841
a

R Square .707

Adjusted R Square .663

Std. Error of the Estimate .580708

Durbin-Watson 1.926

a. Predictors: (Constant), ZROE, ZDER, ZPER b. Dependent Variable: ZHS

Berdasarkan tabel 5.9, dengan melihat nilai R adjusted R Square dapat diketahui bahwa secara simultan besarnya pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return on Equity terhadap harga saham adalah sebesar 0,663 atau sebesar 66,3%. Hal ini menunjukkan bahwa secara bersama-sama Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return on Equity berpengaruh terhadap harga saham sebesar 66,3%, dan sebesar 33,7% dipengaruhi oleh variabel lain. Sedangkan, untuk melihat besarnya pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity secara parsial terhadap harga saham dapat dilihat pada tabel 5.10 berikut ini melalui koefisien determinasi dengan symbol .

85

Tabel 5.12. Koefisien Determinasi Untuk Mengetahui Besarnya Pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity Secara Parsial Terhadap Harga Saham. Coefficients(a) Correlations R Model 1 (Constant) ZDER ZPER ZROE -.218 -.296 .825 .045 .179 .824 .024 .098 .787 0,002025 0,032041 0,678976 0,2025% 3,2041% 67,8976% Zero-order Partial Part
2

Koefisien Determinasi R2 x 100%

a. Dependent Variable: ZHS

Besarnya pengaruh Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return On Equity secara parsial terhadap dengan symbol harga saham dapat diketahui melalui koefisien , koefisien determinasi ini diperoleh dengan

determinasi

mengkuadratkan koefiesien korelasi parsial dengan symbol r. Berdasarkan pada tabel di atas (tabel 5.12) dapat diketahui besarnya pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap harga saham sebesar (0,045)
2

= 0,002025 atau 0,2% .

Besarnya pengaruh Price Earning Ratio terhadap harga saham adalah sebesar (0,179) 2 = 0,032041 atau 3,2%. Sedangkan besarnya pengaruh Return On Equity terhadap harga saham adalah sebesar (0,824)2 = 0,678976 atau 67,9%.

86

5.2.1.3 Variabel yang Berpengaruh Dominan Terhadap Harga Saham Melalui nilai Koefisien determinasi parsial dapa diketahui besarnya pengaruh Debt to Equity Ratio terhadap harga saham adalah 0,002025 atau 0,2025%, besarnya pengaruh Price Earning Ratio terhadap harga saham adalah sebesar 0,032041 atau 3,2041%, sedangkan besarnya pengaruh Return On Equity terhadap harga saham adalah sebesar 0,678976 atau 67,8976%. Dengan demikian dapat diketahui bahwa return On Equity merupakan variabel yang dominan mempengaruhi harga saham pada industri Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 dengan tingkat persentase koefisien

determinasi yang cukup besar, yaitu hanya 67,8976%. 5.2.1.4 Interpretasi Hasil Penelitian Dengan menggunakan Alat uji hipotesis, maka dapat diketahui signifikansi pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE) terhadap harga saham perusahaan pada industri farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008, baik secara simultan ataupun parsial. Pada uji hipotesis pengaruh dari Debt to Equity Ratio, Price Earning Ratio dan Return on Equity secara simultan dengan menggunakan alat analisis uji “ f ”, diketahui bahwa DER, PER dan ROE secara simultan mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Hasil penelitian ini sesuai dengan hipotesis yang telah dikemukakan sebelumnya, yang menyatakan bahwa, Debt to Equity Ratio (DER),Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham

perusahaan industri Farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Hasil uji ” f “ ini sama dengan hasil penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Nixon Martin dan Tua Ali Chandra Sidauruk, dimana penelitian yang dilakukan Nixon

87

Martin mengemukakan bahwa EPS, DER, PER, dan MBR

secara simultan memiliki

pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, penelitian yang dilakukan Tua Ali Chandra Sidauruk juga mengemukakan bahwa secara simultan DER, ROE, EPS, PER dan MBVR mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham Sedangkan dari hasil uji t yang digunakan untuk mengetahui pengaruh DER, PER dan ROE secara parsial terhadap harga saham menunjukkan bahwa, tidak terdapat pengaruh yang signifikan dari DER dan PER secara parsial terhadap harga saham, hanya ROE yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Nixon Martin. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Nixon Martin diketahui bahwa, DER secara

parsial tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham, sedangkan MBR secara parsial mempunyai pengaruh terhadap harga saham. Sedangkan pada penelitian yang dilakukan oleh Tua Ali Chandra Sidauruk secara parsial hanya variabel PER

yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. Dengan melihat koefisien determinasi pada hasil penelitian ini, diketahui bahwa Return on Equity merupakan variabel yang dominan mempengaruhi harga saham pada industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Dengan demikian hipotesis ke dua yang telah dikemukakan sebelumnya dalam penelitian ini, yang menyatakan bahwa Price Earning Ratio (PER) mempunyai pengaruh yang dominan terhadap harga saham perusahaan Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008 tidak sesuai dengan hasil penelitian ini. Pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Nixon Martin, mengenai pengaruh EPS, DER, PER dan MBR terhadap harga saham, hasil yang diperoleh adalah MBR merupakan variabel dominan yang

mempengaruahi harga saham. Sedangkan pada penlitian yang dilakukan Tua Ali

88

Chandra Sidauruk, mengenai Pengaruh DER, ROE, EPS, PER dan MBVR terhadap harga saham, hasil yang diperoleh adalah PER merupakan variabel dominan yang mempengaruahi harga saham Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nixon Martin dan Tua Ali Chandra Sidauruk dapat dilihat bahwa variabel yang paling dominan mempengaruhi harga saham adalah Market to Book Ratio (MBR) dan Price Earning Ratio (PER), dimana ke dua variabel tersebut merupakan rasio Nilai Pasar. Sedangkan dalam penelitian ini menemukan hasil yang berbeda, dimana variabel yang paling dominan mempengaruhi harga saham adalah Return On Equity (ROE) yang merupakan rasio profitabilitas. Jadi, dapat diketahui bahwa pada Industri Metal dan Allied serta Industri Automotive para investor cenderung melakukan investasi bukan untuk mengharapkan pembayaran deviden atas laba yang dihasilkan melainkan untuk mendapatkan Capital gain atas investasi yang mereka lakukan. Sedangkan pada Industri Farmasi menemukan hasil yang berbeda, dimana investor lebih mengharapkan deviden atas investasi yang mereka lakukan daripada capital gain. Jadi dapat diketahui, selain perbedaan tahun dan variabel yang di teliti, karakteristik perusahaan, kondisi perekonomian dunia serta tujuan yang ingin dicapai suatu perusahaan juga mempengaruhi pandangan investor dan calon investor dalam melakukan investasi khususnya terhadap saham. Bertolak pada hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa DER, PER dan ROE secara simultan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham, sedangkan secara parsial hanya ROE yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap harga saham. Dari hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa, DER, PER, dan ROE secara signifikan mempengaruhi harga saham pada Bursa Efek Indonesia pada periode 2006-2008 khususnya pada industri farmasi. Oleh karena itu dapat diketahui

89

bahwa, DER yang merupakan rasio solvabilitas, PER yang termasuk kedalam rasio nilai pasar serta ROE yang termasuk ke dalam rasio profitabilitas banyak digunakan Investor sebagai tolak ukur dalam menilai saham perusahaan pada Industri Farmasi khususnya.

90

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan maka diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari hasil analisis statistik dapat disimpulkan bahwa secara simultan Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham pada industri Farmasi di BEI periode 2006-2008. Selanjutnya, secara parsial dapat diketahui bahwa hanya Return On Equity (ROE) yang mempunyai pengaruh signifikan

terhadap harga saham. 2. Dengan Koefisien determinasi dapat diketahui bahwa pengaruh Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Return On Equity (ROE) secara simultan yaitu sebesar 66,3%, sedangkan secara parsial yaitu Debt to Equity Ratio (DER) sebesar 0,2%, Price Earning Ratio (PER) sebesar 3,2% dan Return On Equity (ROE) sebesar 67,9%. 3. Dari hasil perhitungan koefisien determinasi tersebut maka diketahui variabel penelitian yang berpengaruh dominan terhadap harga saham adalah Return On Equity (ROE) yaitu sebesar 67,9%. 6.2 Saran

91

Berdasarkan kesimpulan di atas, maka ada beberapa saran yang dapat diberikan sebagai berikut: 1. Disarankan kepada calon investor, selain mempertimbangkan faktor

leverage dan earning perusahaan sebaiknya

juga mempertimbangkan

faktor-faktor lain untuk pengambilan keputusan atas saham-saham yang tercatat dan diperdagangkan dibursa terutama mengenai saham industri farmasi seperti, kondisi perekonomian dunia yang turut memberikan

pengaruh terhadap pasar modal indonesia. 2. Bagi investor ataupun calon investor hendaknya melihat hasil penelitian sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan penilaian investasi pada industri yang sama. 3. Kepada calon peneliti lain yang akan melakukan penelitian yang sama, agar dapat menguji variabel lain yang relevan mempengaruhi harga saham serta menambah jangka waktu pengamatan untuk melihat pengaruhnya terhadap harga saham agar didapat hasil penelitian yang lebih akurat dan sempurna.

92

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, Indonesian Capital Market Directory. BAPEPAM. Jakarta. Helfert, Erich A, 1995. Analisis Laporan Keuangan. Edisi Ketujuh, Erlangga, Jakarta. Husnan, Suad dan Eny Pudjiastuti, 2004. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. UPPAMP YKPN, Yogyakarta. Husnan, Suad., 2003. Dasar-dasar Teori Portofolio dan nalisis Sekuritas. Edisi Kedua. UPP-AMP. Yogyakarta. Gitosudarmo, Indriyo. 1994, Manajemen Keuangan,Edisi Ketiga, Penerbit BPFE, Yogyakarta Margaretha, farah, 2005. Teori dan Aplikasi Manajemen Keuangan Investasi dan Sumber Dana Jangka Pendek. Grasindo. Jakarta. Munawir, S. 2004. Analisa Laporan Keuangan. Liberty, Yogyakarta. Riyanto, Bambang. 2001. Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. BPFE. Yogyakarta. Sartono, Agus. 2008. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi. Edisi Keempat, BPFE, Yogyakarta. Sundjaya, Ridwan. S dan Inge Berlian. 2001. manajemen Keuangan Satu. Prenhallindo. Jakarta. Prastowo, Dwi dan Juliyanti, Rifka, 2002, Analisis Laporan Keuangan, Edisi Revisi, Penerbit UPP AMP YKPN, Yogyakarta Sawir, Agnes, 2003, Analisis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan, Edisi Ketiga, Gramedia Pustaka, Jakarta Syamsudin, Lukman. 2001. Manajemen Keuangan Perusahaan (Konsep Aplikasi dalam Perencanaan, Pengawasan, dan Pengambilan Keputusan). Rajawali Pers. Jakarta.

93

Tandelilin, Eduardus. 2001. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio, Edisi Pertama. BPFE. Yogyakarta. Supranto, J, 2001, Statistik (Teori dan Aplikasi) Jilid 2. Penerbit Erlangga, Jakarta. Dajan, Anto,1994, Pengantar Metode Statistik jilid II, Penerbit LP3ES, Jakarta. Sugiyono, 2004, Metode Penelitian Bisnis, Edisi Ketujuh, Penerbit Alfabeta, Bandung M Iqbal Hasan,2003. Pokok-Pokok Materi Statistik 2. Edisi Kedua, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta. Mamduh M Hanafi, 2008. Manajemen Keuangan. Edisi Pertama, BPFE, Yogyakarta. Mamduh M Hanafi dan Abdul Halim, 1996. Analisa Laporan Keuangan. Edisi Pertama, UPP-AMP YKPN, Yogyakarta.

Jurnal dan Skripsi : Raja Lambas J. Panggabean, 94 Juni 2005. Jurnal Manajemen & Bisnis Sriwijaya.Vol.3 No.5 (digilib.unsri.ac.id/.../Jurnal%20MM%20Vol%203%20No%205%20Artikel %204%20Raja... –)

Nixon Martin, 2005, Pengaruh Earning Per Share (EPS), Debt to Equity Ratio (DER), Price Earning Ratio (PER) dan Market to Book Ratio (MBR) Terhadap Harga Saham Pada Industri Metal dan Allied Products di Bursa Efek Jakarta Periode 2000-2003, Skripsi Fakultas Ekonomi, Universitas Jambi. Tua Ali Cahndra Sidauruk, 2006, Pengaruh Debt to Equity Ratio (DER),Return On Equity (ROE), Earning Per Share (EPS), Price Earning Ratio (PER) dan Market to Book Value Ratio (MBVR) Terhadap Harga Saham Pada

Perusahaan Industri Automotive yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta Periode 2002-2004, Skripsi Fakultas Ekonomi, Universitas Jamb

94

LAMPIRAN 2 Perkembangan Rata-rata Hutang Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Jutaan Rupiah)
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 NAMA PERUSAHAAN PT. Tempo Scan Pasific Tbk PT. Scering Plough Indonesia Tbk PT. Prydam Farma Tbk PT. Merck Indonesia Tbk PT. Kimia Farma (Persero) Tbk PT. Kalbe Farma Tbk PT. Indofarma (Persero) Tbk PT. Darya-Varia laboratoria Tbk PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk JUMLAH RATA-RATA PERKEMBANGAN
Sumber : ICMD 2009

(Jutaan Rupiah) 2006 2007 2008 447.319 558.369 655.932 100.308 126.767 191.178 17.927 28.213 29.402 47.120 50.830 47.741 390.930 478.712 497.905 1.080.566 1.121.539 1.359.297 406.451 717.874 699.216 145.025 98.701 129.812 76.542 68.720 80.180 2.712.188 3.249.725 3.690.663 301.354,22 361.080,56 410.073,67 19,82 13,57

LAMPIRAN 3 Perkembangan Rata-rata Modal Sendiri Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Jutaan Rupiah)
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 NAMA PERUSAHAAN PT. Tempo Scan Pasific Tbk PT. Scering Plough Indonesia Tbk PT. Prydam Farma Tbk PT. Merck Indonesia Tbk PT. Kimia Farma (Persero) Tbk PT. Kalbe Farma Tbk PT. Indofarma (Persero) Tbk PT. Darya-Varia laboratoria Tbk PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk JUMLAH RATA-RATA MODAL SENDIRI (Jutaan Rupiah) 2006 2007 2008 1.942.441 2.115.644 2.235.688 (1.454) 1.799 8.349 65.201 66.944 9.253 235.539 280.224 27.324 870.654 908.028 947.765 2.994.817 280.486 412.312 130.594 3386.862 291.563 462.230 158.702 3.622.399 96.595 507.849 214.450

6.930.590 7.671.996 8 .229.767 770.065,56 852.444,00 914.418,56

95

PERKEMBANGAN
Sumber : ICMD 2009

10,70

7,27

LAMPIRAN 4 Perkembangan Rata-rata Earning Per Share Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Rupiah)
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 NAMA PERUSAHAAN PT. Tempo Scan Pasific Tbk PT. Scering Plough Indonesia Tbk PT. Prydam Farma Tbk PT. Merck Indonesia Tbk PT. Kimia Farma (Persero) Tbk PT. Kalbe Farma Tbk PT. Indofarma (Persero) Tbk PT. Darya-Varia laboratoria Tbk PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk JUMLAH RATA-RATA PERKEMBANGAN
Sumber : ICMD 2009

EPS (rupiah) 2006 2007 61 62 (692) 714 3 3 3.863 3.995 8 9 67 69 5 4 94 89 4.216 5.095 7.625 847,22 10.040 1.115,56 31,67

2008 71 1.839 4 4.403 10 70 2 126 9.206 15.731 1.747,89 56,68

LAMPIRAN 5 Perkembangan Rata-rata Laba Bersih Setelah Pajak Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Jutaan Rupiah) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 NAMA PERUSAHAAN Tempo Scan Pasific Tbk Scering Plough Indonesia Tbk Prydam Farma Tbk Merck Indonesia Tbk Kimia Farma (Persero) Tbk Kalbe Farma Tbk Indofarma (Persero) Tbk LABA BERSIH (Jutaan Rupiah) 2006 2007 2008 272.584 278.358 320.648 -2.493 2.569 6.621 1.729 1.743 2.309 86.538 89.485 98.620 43.990 52.189 55.394 676.582 705.694 706.822 15.241 11.077 5.032 52.509 43.172 1.189.852 49.918 52.176 1.196.209 70.819 94.271 1.360.536 96

PT. PT. PT. PT. PT. PT. PT.

PT. Darya-Varia laboratoria Tbk PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk JUMLAH

RATA-RATA PERKEMBANGAN
Sumber : ICMD 2009

132.205,78

132.912,11 0,53

151.170,67 13,74

LAMPIRAN 6 Perubahan Rata-rata Debt to Equity Ratio Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Persentase) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 PT. PT. PT. PT. PT. PT. PT. PT. PT. NAMA PERUSAHAAN Tempo Scan Pasific Tbk Scering Plough Indonesia Tbk Prydam Farma Tbk Merck Indonesia Tbk Kimia Farma (Persero) Tbk Kalbe Farma Tbk Indofarma (Persero) Tbk Darya-Varia laboratoria Tbk Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk DER (%) 2007
26,39 7046,53 42,14 18,14 52,72 33,11 246,22 21,35 43,30 7529,91 836,66 793,30

2006
23,03 0,00 27,49 20,01 44,90 36,08 144,91 35,17 58,61 390,20 43,36

2008
29,34 2289,83 42,46 14,59 52,53 37,52 235,75 25,56 37,37 2764,95 307,22 -529,44

JUMLAH RATA-RATA PERUBAHAN
Sumber : ICMD 2009

LAMPIRAN 7 Perkembangan Rata-rata Price Earning Ratio Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Satuan Relatif) NO 1 2 3 4 5 6 PT. PT. PT. PT. PT. PT. NAMA PERUSAHAAN Tempo Scan Pasific Tbk Scering Plough Indonesia Tbk Prydam Farma Tbk Merck Indonesia Tbk Kimia Farma (Persero) Tbk Kalbe Farma Tbk PER (kali) 2007 12,12 30,13 24,86 13,14 32,46 18,13

2006 14,68 -13,00 15,47 10,35 20,83 17,86

2008 5,61 5,63 11,59 8,06 7,62 5,75

97

7 8 9

PT. Indofarma (Persero) Tbk PT. Darya-Varia laboratoria Tbk PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk JUMLAH RATA-RATA PERKEMBANGAN

20,34 16,10 13,16 115,79 12,87

57,36 17,95 2,06 208,21 23,13 79,82

30,80 7,59 5,65 88,30 9,81 -57,59

Sumber : ICMD 2009

LAMPIRAN 8 Perubahan Rata-rata Return On Equity Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Persentase) NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 PT. PT. PT. PT. PT. PT. PT. PT. PT. NAMA PERUSAHAAN Tempo Scan Pasific Tbk Scering Plough Indonesia Tbk Prydam Farma Tbk Merck Indonesia Tbk Kimia Farma (Persero) Tbk Kalbe Farma Tbk Indofarma (Persero) Tbk Darya-Varia laboratoria Tbk Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk DER (%) 2007 13,16 142,80 2,60 31,93 5,75 20,84 3,80 10,80 32,88 264,56 29,40 -4,35

2006 14,03 171,38 2,65 36,74 5,05 22,59 5,43 12,74 33,06 304 33,74

2008 14,34 79,30 3,33 30,13 5,84 19,51 1,70 13,94 43,94 212,03 23,56 -5,84

JUMLAH RATA-RATA PERUBAHAN
Sumber : ICMD 2009

LAMPIRAN 9 Perkembangan Rata-rata Harga Saham Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 98

(Dalam Rupiah)
NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 NAMA PERUSAHAAN PT. Tempo Scan Pasific Tbk PT. Scering Plough Indonesia Tbk PT. Prydam Farma Tbk PT. Merck Indonesia Tbk PT. Kimia Farma (Persero) Tbk PT. Kalbe Farma Tbk PT. Indofarma (Persero) Tbk PT. Darya-Varia laboratoria Tbk PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk JUMLAH RATA-RATA PERKEMBANGAN
Sumber : ICMD 2009

HARGA SAHAM (rupiah) 2006 2007 2008 900 750 400 9.000 21.500 10.350 50 81 50 40.000 52.500 35.500 165 305 76 1.190 1.260 400 100 205 50 1.510 1.600 960 55.500 10.500 52.000 108.415 12.046,11 88.701 9.855,67 (18,18) 99.786 11.087,33 12,50

LAMPIRAN 10 Perkembangan Rata-Rata Hutang Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Jutaan Rupiah) Tahun Nama Perusahaan 2006 2007 2008 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 447.319 558.369 655.932 PT. Prydam Farma Tbk 17.927 28.213 29.402 PT. Merck Indonesia Tbk 47.120 50.830 47.741 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk 390.930 478.712 497.905 1.080.566 1.121.539 1.359.297 PT. Kalbe Farma Tbk 406.451 717.874 699.216 PT. Indofarma (Persero) Tbk 145.025 98.701 129.812 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 76.542 68.720 80.180 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Jumlah 2.611.880 3.122.958 3.499.485 Rata-rata 326.485 390.370 437.436 Perkembangan (%) 19,57 12,06 Tertinggi 1,080,55 1,121,539 1,359,297 6 Terendah 17,927 28,213 29,402

No 1 2 3 4 5 6 7 8

Sumber : ICMD 2009 (data diolah)

LAMPIRAN 11 Perkembangan Rata-Rata Modal Sendiri Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Jutaan Rupiah) No Nama Perusahaan Tahun

99

2006 1 2 3 4 5 6 7 8 PT. PT. PT. PT. PT. PT. PT. PT. Tempo Scan Pasific Tbk Prydam Farma Tbk Merck Indonesia Tbk Kimia Farma (Persero) Tbk Kalbe Farma Tbk Indofarma (Persero) Tbk Darya-Varia laboratoria Tbk Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Tertinggi Terendah
1.942.441 65.201 235.539 870.654 2.994.817 280.486 412.312 130.594 6.932.044 866.506

2007
2.115.644 66.944 280.224 908.028 3.386.862 291.563 462.230 158.702 7.670.197 958.775 10,65

2008
2.235.688 69.253 327.324 947.765 3.622.399 296.595 507.849 214.545 8.221.418 1.027.677 7,19

2.994.817 3.386.862 3.622.399 65.201 66.944 69.253

Sumber : ICMD 2009 (data diolah)

No 1 2 3 4 5 6 7 8

LAMPIRAN 12 Perubahan Rata-Rata Debt to Equity Ratio Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Persentase) Tahun Nama Perusahaan 2006 2007 2008 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 23,03 26,39 29,34 PT. Prydam Farma Tbk 27,49 42,14 42,46 PT. Merck Indonesia Tbk 20,01 18,14 14,59 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk 44,90 52,72 52,53 PT. Kalbe Farma Tbk 36,08 33,11 37,52 144,91 246,22 235,75 PT. Indofarma (Persero) Tbk 35,17 21,35 25,56 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 58,61 43,30 37,37 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Jumlah 390,2046 483,3802 475,1207 Rata-rata 48,78 60,42 59,39 Perubahan (%) 11,65 -1,03 Tertinggi 144,91 246,22 235,75 Terendah 20,01 18,14 14,59

Sumber : ICMD 2009 (data diolah)

LAMPIRAN 13 Perkembangan Rata-Rata Harga Saham (Closing Price) Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Rupiah) Tahun Nama Perusahaan 2006 2007 2008 1 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 900 750 400 2 PT. Prydam Farma Tbk 50 81 50 100

3 4 5 6 7 8

PT. PT. PT. PT. PT. PT.

Merck Indonesia Tbk Kalbe Farma (Persero) Tbk Kalbe Farma Tbk Indofarma (Persero) Tbk Darya-Varia laboratoria Tbk Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Tertinggi Terendah

40.000 165 1.190 100 1.510 55.500 99.415 12.426 55.500 50

52.500 305 1.260 205 1.600 10.500 67.201 8.400 -32,4 52.500 81

35.500 76 400 50 960 52.000 89.436 11.180 33,09 52.000 50

Sumber : ICMD 2009 (data diolah)

No 1 2 3 4 5 6 7 8

LAMPIRAN 14 Perkembangan Rata-Rata Earning Per Share Pada Industri Farmasi Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2006-2008 (Dalam Rupiah) Tahun Nama Perusahaan 2006 2007 2008 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 61 62 71 PT. Prydam Farma Tbk 3 3 4 PT. Merck Indonesia Tbk 3.863 3.995 4.403 PT. Kimia Farma (Persero) Tbk 8 9 10 PT. Kalbe Farma Tbk 67 69 70 PT. Indofarma (Persero) Tbk 5 4 2 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 94 89 126 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk 4.216 5.095 9.206 Jumlah 246.079 245.09 296.609 Rata-rata 1.039 1.165 1.736 Perkembangan (%) 12,13 14,96 Tertinggi 4.216 5.095 9.206 Terendah 3 3 2

Sumber : ICMD 2009 (data diolah)

LAMPIRAN 15 Perkembangan Rata-Rata Price Earning Ratio Pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2006-2008 (Dalam Satuan Relatif) Tahun No Nama Perusahaan 2006 2007 2008 1 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 14,68 12,12 5,61 2 PT. Prydam Farma Tbk 15,47 24,86 11,59 3 PT. Merck Indonesia Tbk 10,35 13,14 8,06 4 PT. Kalbe Farma (Persero) Tbk 20,83 32,46 7,62 101

5 6 7 8

PT. PT. PT. PT.

Kalbe Farma Tbk Indofarma (Persero) Tbk Darya-Varia laboratoria Tbk Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Jumlah Rata-rata Perkembangan (%) Tertinggi Terendah

17,86 20,34 16,1 13,16 128,79 16,10 20,83 10,35

18,13 57,36 17,95 2,06 178,08 22,26 38,27 57,36 2,06

5,75 30,8 7,59 5,65 82,67 10,33 -53,59 30,8 5,61

Sumber : ICMD 2009 (data diolah)

LAMPIRAN 16 Perkembangan Rata-Rata Laba Bersih Setelah Pajak Pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2006-2008 (Dalam Satuan Relatif) Tahun No Nama Perusahaan 2006 2007 2008 1 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 272.584 278.358 320.648 2 PT. Prydam Farma Tbk 1.729 1.743 2.309 3 PT. Merck Indonesia Tbk 86.538 89.485 98.620 4 PT. Kalbe Farma (Persero) Tbk 43.990 52.189 55.394 5 PT. Kalbe Farma Tbk 676.582 705.694 706.822 6 PT. Indofarma (Persero) Tbk 15.241 11.077 5.032 7 PT. Darya-Varia laboratoria Tbk 52.509 49.918 70.819 8 PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk 43.172 52.176 94.271 Jumlah 1.192.345 1.193.640 1.353.915 Rata-rata 149.043,13 149.205,00 169.239,38 Perkembangan (%) 0,11 13,43 Tertinggi 676.582 705.694 706.822 Terendah 1.729 1.743 2.309
Sumber : ICMD 2009 (data diolah)

LAMPIRAN 17 Perubahan Return On Equity Pada Industri Farmasi di Bursa Efek Indonesia periode tahun 2006-2008. (Dalam Satuan Persentase) Tahun No Nama Perusahaan 2006 2007 2008 1 PT. Tempo Scan Pasific Tbk 14,03 13,16 14,34 2 PT. Prydam Farma Tbk 2,65 2,60 3,33 3 PT. Merck Indonesia Tbk 36,74 31,93 30,13 4 PT. Kalbe Farma (Persero) Tbk 5,05 5,75 5,84 5 PT. Kalbe Farma Tbk 22,59 20,84 19,51 6 PT. Indofarma (Persero) Tbk 5,43 3,80 1,70

102

7 8

PT. Darya-Varia laboratoria Tbk PT. Bristol-Myers Squibb Indonesia Tbk Jumlah Rata-rata Perubahan (%) Tertinggi Terendah

12,74 33,06 132 16,54 36,74 2,65

10,80 32,88 121,76 15,22 -1,32 32,88 2,60

13,94 43,94 132,73 16,59 1,37 43,94 1,70

Sumber : ICMD 2009 (data diolah)

LAMPIRAN 19

Input SPSS V.12 for Windows ZHS -0,500 -0,507 -0,525 -0,543 -0,542 -0,543 1,500 2,140 1,270 -0,537 -0,530 -0,542 -0,485 -0,481 -0,525 -0,541 -0,535 -0,543 -0,469 -0,464 -0,497 2,293 -0,009 2,114 ZDER -0,533 -0,479 -0,431 -0,461 -0,226 -0,221 -0,581 -0,611 -0,668 -0,181 -0,056 -0,059 -0,323 -0,371 -0,300 1,425 3,052 2,883 -0,338 -0,560 -0,492 0,039 -0,207 -0,302 ZPER -0,133 -0,352 -0,910 -0,065 0,739 -0,398 -0,504 -0,265 -0,700 0,394 1,390 -0,738 0,140 0,163 -0,898 0,352 3,523 1,248 -0,011 0,147 -0,740 -0,263 -1,214 -0,906

103

LAMPIRAN 20 Output SPSS V.12 for Windows

Descriptive S tatistics M ean ZHS ZDER ZPER ZROE .00000 .00000 .00000 .00000 Std. Deviation 1.000000 1.000000 1.000000 1.000000 N 24 24 24 24

Correlations ZHS Pearson Correlation ZHS ZDER ZPER ZROE Sig. (1-tailed) ZHS ZDER ZPER ZROE N ZHS ZDER ZPER ZROE 1.000 -.218 -.296 .825 . .154 .080 .000 24 24 24 24 ZDER -.218 1.000 .748 -.404 .154 . .000 .025 24 24 24 24 ZPER -.296 .748 1.000 -.523 .080 .000 . .004 24 24 24 24 ZROE .825 -.404 -.523 1.000 .000 .025 .004 . 24 24 24 24

Variables Entered/Removed Variables M odel Variables Entered Removed M ethod

104

1

ZROE, ZDER, ZPER
a

. Enter

a. All requested variables entered.

Model S ummary(b)

Std. Error of the M odel 1 R .841a R Square .707 Adjusted R Square .663 Estimate .580708 Durbin-Watson 1.926

a. Predictors: (Constant), ZROE, ZDER, ZPER b. Dependent Variable: ZHS

ANOVAb M odel 1 Regression Residual Total Sum of Squares 16.256 6.744 23.000 df 3 20 23 M ean Square 5.419 .337 F 16.068 Sig. .000a

a. Predictors: (Constant), ZROE, ZDER, ZPER b. Dependent Variable: ZHS

Coefficients a Standardized Unstandardized Coefficients M odel 1 (Constant) ZDER ZPER ZROE a. Dependent Variable: ZHS B 4.446E-17 .036 .159 .923 Std. Error .119 .183 .196 .142 .036 .159 .923 Coefficients Beta t .000 .200 .812 6.497 Sig. 1.000 .844 .426 .000

Residuals S tatistics a M inimum Predicted Value Std. Predicted Value -1.00911 -1.200 M aximum 1.87359 2.229 M ean .00000 .000 Std. Deviation .840692 1.000 N 24 24

105

Standard Error of Predicted Value Adjusted Predicted Value Residual Std. Residual Stud. Residual Deleted Residual Stud. Deleted Residual M ahal. Distance Cook's Distance Centered Leverage Value a. Dependent Variable: ZHS

.139

.466

.224

.079

24

-1.08019 -1.030276 -1.774 -1.965 -1.263330 -2.132 .356 .000 .015

1.78392 1.098169 1.891 2.036 1.273212 2.229 13.874 .363 .603

.00394 .000000 .000 .000 -.003938 .000 2.875 .052 .125

.853242 .541513 .933 1.011 .646773 1.064 3.178 .088 .138

24 24 24 24 24 24 24 24 24

Residuals S tatistics(a) M inimum Predicted Value Std. Predicted Value Standard Error of Predicted Value Adjusted Predicted Value Residual Std. Residual Stud. Residual Deleted Residual Stud. Deleted Residual M ahal. Distance Cook's Distance Centered Leverage Value a Dependent Variable: ZHS -1,0400 -3,508 ,222 -1,7921 -,79712 -,798 -,834 -,87377 -,828 ,172 ,002 ,007 M aximum ,3667 1,237 ,773 ,4353 2,21276 2,214 2,272 2,32964 2,553 12,802 ,316 ,557 M ean ,0000 ,000 ,324 -,0145 ,00000 ,000 ,005 ,01443 ,039 1,917 ,037 ,083 Std. Deviation ,29645 1,000 ,144 ,42245 ,95497 ,956 ,999 1,05422 1,059 3,163 ,068 ,138 N 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24 24

106

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->