Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

Campak (Morbili) adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3
stadium, yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi,
yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik.Morbili
adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala
utama ringan, ruam demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi.

Morbili merupakan penyakit akut yang mudah sekali menular dan sering terjadi
komplikasi yang serius. Hampir semua anak di bawah 5 tahun di negara berkembang
akan terserang penyakit ini, sedangkan di negara maju biasanya menyerang anak usia
remaja atau dewasa muda yang tidak terlindung oleh imunisasi.

Penyakit morbili sebetulnya tidak berakibat fatal apabila menyerang anak-anak


yang sehat dan bergizi baik. Tetapi apabila di negara di mana anak yang menderita
kurang gizi sangat banyak, morbili merupakan penyakit yang berakibat fatal dan
menyebabkan angka kematian meningkat sampai 512%.

Komplikasi dapat terjadi karena virus campak menyebar melalui aliran darah ke
jaringan tubuh lainnya. Yang paling sering menimbulkan kematian pada anak adalah
kompilkasi radang paru-paru (bronchopneumonia).

Bronkopneumonia adalah radang paru-paru yang mengenai satu atau beberapa


lobus paru-paru yang ditandai dengan adanya bercak-bercak infiltrat yang disebabkan
oleh bakteri,virus, jamur dan benda asing.

Bronchopneumonia biasanya terdapat pada bayi dan anak kecil. Misalnya infeksi
intra uteri karena inhalasi dini likuor yang septic, kontak dengan penderita infeksi
saluran nafas atas dan bisa oleh karena infeksi nosokomial pada bayi yang lahir di
rumah sakit.
MORBILI
Pengertian

Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu
stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi, yang
dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu
Kesehatann Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala
–gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet,
pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson, EGC,
2000).

Etiologi

a. Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus yang tergolong dalam famili
paramyxovirus yaitu genus virus morbili. Virus ini sangat sensitif terhadap
panas dan dingin, dan dapat diinaktifkan pada suhu 30oC dan -20oC, sinar
matahari, eter, tripsin, dan beta propiolakton. Sedang formalin dapat
memusnahkan daya infeksinya tetapi tidak mengganggu aktivitas komplemen.
(Rampengan, 1997 : 90-91)
b. Penyebab morbili adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret
nasofaring dan darah selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul
bercak-bercak, cara penularan dengan droplet dan kontak (Ngastiyah,
1997:351)
c. Campak adalah suatu virus RNA, yang termasuk famili
Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. Dikenal hanya 1 tipe antigen saja; yang
strukturnya mirip dengan virus penyebab parotitis epidemis dan parainfluenza.
Virus tersebut ditemukan di dalam sekresi nasofaring, darah dan air kemih,
paling tidak selama periode prodromal dan untuk waktu singkat setelah
munculnya ruam kulit. Pada suhu ruangan, virus tersebut dapat tetap aktif
selama 34 jam. (Nelson, 1992 : 198)
d. Metode penyebaran sekresi nasopharingeal. (Smeltzer, 1992:1895)
e. Virus morbili terdapat dalam serkret nasofaring dan darah selama
stadium kataral sampai 24 jam setelah timbul bercak di kulit. (Mansjoer,
200:417)
f. Penyakit campak disebabkan oleh morbili ditularkan melalui secret
pernafasan atau udara.
g. Timbulnya wabah morbilli dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti
lingkungan pendidikan, ekonomi, pengasuhan anak dan poling dominan
adalah faktor persepsi.
h. Campak ditularkan oleh percikan lidah. Virus campak menyerang dan
memperbanyak diri diselaput lendir saluran pernafasan bagian atas, masuk ke
peredaran darah dan menyebar keseluruh tubuh. Penyakit campak tidak ada
obatnya tapi akan sembuh sendiri, kekebalan tubuh dapat menaklukkan
penyakit campak. Penyakit campak bisa ringan tapi bisa berat dan juga
menimbulkan kecacatan atau kematian yaitu virus morbili berat ringannya
tergantung imunnya. Khususnya imun yang bisa didapat imunisasi morbili dan
tergantung pada keadaan ekonomi, gizi kurang.
(www.geocities.com)
i. Biasanya campak menyerang anak-anak yang berusia kurang dari 10
tahun, tetapi orang-orang yang belum pernah terkena penyakit ini dapat juga
diserang berapapun juga usianya. (Wahyudi, 2000 : 106)

Patofisiologi

Organisme (virus morbili) menular melalui rute udara, dalam waktu 24


jam, dari awal muncul reaksi terhadap virus morbili maka akan terjadi eksudat
yang serous dan proliferasi sel mononukleus dan beberapa sel
polimorfonukleus di sekitar kapiler. Kelainan ini terdapat pada kulit, selaput
lendir nasofaring, bronkus dan konjungtiva (Ngastiyah, 1997:352).

Lesi campak terdapat di kulit, membran mukosa nasofaring, bronkus, dan


saluran cerna dan pada konjungtiva. Eksudat serosa dan proliferasi sel
mononuklear dan beberapa sel polimorfonuklear terjadi disekitar kapiler. Ada
hiperplasi limfonodi, terutama pada apendiks. Pada kulit, reaksi terutama
menonjol sekitar kelenjar sebasea dan folikel rambut. Bercak koplik pada
mukosa bukal pipi berhadapan dengan molar II terdiri dari eksudat serosa dan
proliferasi sel endotel serupa dengan bercak pada lesi kulit. Bronkopneumonia
dapat disebabkan oleh infeksi bakteri sekunder.

Pada kasus ensefalomielitis yang mematikan, terjadi demielinisasi pada daerah


otak dan medulla spinalis. Pada SSPE (Subacute Sclerosing Panencephalitis)
dapat terjadi degenerasi korteks dan substansia alba5.

Perubahan metabolik

1. Mata : terdapat konjungtivitis,


fotophobia
2. Kepala : sakit kepala
3. Hidung : Banyak terdapat secret,
influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung(pada stad eripsi ).
4. Mulut & bibir : Mukosa bibir
kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
5. Kulit : Permukaan kulit
( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam
6. makuler pada leher, muka, lengan
dan kaki ( pada stad.
7. Konvalensi ), evitema, panas
( demam ).
8. Pernafasan : Pola nafas, RR,
batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum
9. Tumbuh Kembang : BB, TB, BB
Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
10. Pola Defekasi : BAK, BAB,
Terkadang Diare
11. Status Nutrisi : intake – output
makanan, nafsu makanan menurun

Gambaran Klinis
a. Stadium Kataral (prodromal)
Biasanya stadium ini berlangsung selama 4-5 hari disertai panas, malaise,
batuk, fotofobia, konjungtivis, dan koriza. Menjelang akhir stadium kataral
dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul bercak koplik yang
patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai. Bercak koplik
berwarna putih kelabu sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh eritema,
lokasinya di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah.
b. Stadium erupsi
Koriza dan batuk-batuk bertambah. Timbul enantema atau titik merah di
palatum durum dan palatum mole. Kadang-kadang terlihat pula bercak koplik.
Terjadinya eritema yang berbentuk makula-popula disertai menaiknya suhu
badan diantara macula terdapat kulit yang montal. Mula-mula eritema timbul
di belakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan
bagian belakang bawah, kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit,
rasa gatal, muka bengkak.

c. Stadium Konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang lama kelamaan akan hilang sendiri. Suhu menurun
sampai menjadi normal, kecuali bila ada komplikasi (Rusepno, 2002 : 625)

Gejala awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul pada
bagian belakang telinga, dahi, dan menjalar ke wajah dan anggota badan.
Selain itu, timbul gejala seperti flu disertai mata berair dan kemerahan
(konjungtivis). Setelah 3-4 hari, kemerahan mulai hilang dan berubah menjadi
kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2 minggu dan apabila
sembuh, kulit akan tampak seperti bersisik. (Supartini, 2002 : 179)
Yang patut diwaspadai, penularan penyakit campak berlangsung sangat cepat
melalui perantara udara atau semburan ludah (droplet) yang terisap lewat
hidung atau mulut. Penularan terjadi pada masa fase kedua hingga 1-2 hari
setelah bercak merah timbul.
Pemeriksaan Laboratorium

a. Pada pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan leukopeni


b. Dalam pemeriksaan sputum, sekresi nasal, sedimen urine dapat ditemukan
adanya multinucleated giant cells yang khas
c. Pada pemeriksaan serologis dengan cara hemagglutination inhibition test dan
complemen fixation test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik dalam
1-3 hari setelah timbulnya rash dan mencapai puncaknya pada 2-4 minggu
kemudian. (Rampengan, 1997 : 94)

Komplikasi dan Pengobatan Dasar

Komplikasi terjadi karena virus campak dapat menyebar melalui aliran darah ke
jaringan tubuh lainnya. Komplikasi inilah yang umumnya paling sering
menimbulkan kematian pada anak.

Pada penyakit campak juga terdapat resistensi umum yang menurun sehingga
dapat terjadi alergi (uji tuberkulin yang semula positif berubah menjadi negatif).
Keadaan ini menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi sekunder seperti:

1. Bronkopnemonia

Bronkopneumonia dapat disebabkan oleh virus campak atau oleh pneumococcus,


streptococcus, staphylococcus. Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan
kematian bayi yang masih muda, anak dengan malnutrisi energi protein, penderita
penyakit menahun seperti tuberkulosis, leukemia dan lain-lain. Oleh karena itu
pada keadaan tertentu perlu dilakukan pencegahan.

2. Komplikasi neurologis

Kompilkasi neurologis pada morbili seperti hemiplegi, paraplegi, afasia, gangguan


mental, neuritis optica dan ensefalitis.

3. Encephalitis morbili akut


Encephalitis morbili akut ini timbul pada stadium eksantem, angka kematian
rendah. Angka kejadian ensefalitis setelah infeksi morbili ialah 1:1000 kasus,
sedangkan ensefalitis setelah vaksinasi dengan virus morbili hidup adalah 1,16
tiap 1.000.000 dosis.

4. SSPE (Subacute Scleroting panencephalitis)

SSPE yaitu suatu penyakit degenerasi yang jarang dari susunan saraf pusat.
Ditandai oleh gejala yang terjadi secara tiba-tiba seperti kekacauan mental,
disfungsi motorik, kejang, dan koma. Perjalan klinis lambat, biasanya meninggal
dalam 6 bulan sampai 3 tahun setelah timbul gejala spontan. Meskipun demikian,
remisi spontan masih dapat terjadi. Biasanya terjadi pada anak yang menderita
morbili sebelum usia 2 tahun. SSPE timbul setelah 7 tahun terkena morbili,
sedang SSPE setelah vaksinasi morbili terjadi 3 tahun kemudian. Penyebab SSPE
tidak jelas tetapi ada bukti-bukti bahwa virus morbilli memegang peranan dalam
patogenesisnya. Anak menderita penyakit campak sebelum umur 2 tahun,
sedangkan SSPE bisa timbul sampai 7 tahun kemudian SSPE yang terjadi setelah
vaksinasi campak didapatkan kira-kira 3 tahun kemudian. Kemungkinan
menderita SSPE setelah vaksinasi morbili adalah 0,5-1,1 tiap 10.000.000,
sedangkan setelah infeksi campak sebesar 5,2-9,7 tiap 10.000.000.

5. Immunosuppresive measles encephalopathy

Didapatkan pada anak dengan morbili yang sedang menderita defisiensi


imunologik karena keganasan atau karena pemakaian obat-obatan imunosupresif.

Pengobatan Dasar :

Salah satu tindakan yang dinilai paling efektif untuk pencegahan adalah
dengan cara imunisasi. Hal ini dapat memungkinkan basil yang diinginkan sama
dengan bila suatu infeksi alamiah terjadi, dan tanpa pengaruh berat seperti bila
terinfeksi dengan penyakit itu sendiri.

Pengobatan campak dilakukan dengan mengobati gejala yang timbul. Demam


yang terjadi akan ditangani dengan obat penurun demam. Jika anak mengalami
diare maka diberi obat untuk mengatasi diarenya. Batuk akan diatasi dengan
mengobati batuknya. Dokter pun akan menyiapkan obat antikejang bila anak
punya bakat kejang.

Intinya, segala gejala yang muncul harus diobati karena jika tidak, maka
campak bisa berbahaya. Dampaknya bisa bermacam-macam, bahkan bisa terjadi
komplikasi. Perlu diketahui, penyakit campak dikategorikan sebagai penyakit
campak ringan dan yang berat. Disebut ringan, bila setelah 1-2 hari pengobatan,
gejala-gejala yang timbul membaik. Disebut berat bila pengobatan yang diberikan
sudah tak mempan karena mungkin sudah ada komplikasi.

Indikasi Terapi Diit dan Interaksi Gizi

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


kegagalan untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan atau
absorpsi nutrien yang diperlukan.

a. Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai.


Tujuan : mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi.
b. Observasi dan catat masukan makanan pasien.
Tujuan : mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi
makanan.
c. Timbang berat badan tiap hari
Tujuan : mengevaluasi penurunan berat badan atau efektivitas intervensi
nutrisi.
d. Berikan makanan sedikit dari frekuensi sering dan atau
makan diantara waktu makan.
Tujuan : makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan
pemasukan juga mencegah distensi gaster.
e. Ketahui bahan makanan yang dapat mempercepat
kesembuhan.
- Hati (vitamin A, Fe)
- Sayur-sayuran hijau dan lobak (vitamin B)
- Jus buah sitrus ,buah-buahan segar dan sayur-sayuran (vitamin C)
- Nasi, roti gandum, kacang-kacangan (Karbohidrat)
- Air putih yang banyak
f. Observasi dan catat kejadian mual atau muntah, flatus, dan
gejala lain.

I. Pengobatan yang Diberikan

1. Observasi cairan masuk dan keluar, hitung balance


cairan
2. Beri cairan sesuai kebutuhan bila tidak kontraindikasi
3. Berikan kompres air hangat
4. Berikan cairan dan karbohidrat yang cukup untuk
meningkatkan hipermetabolisme akibat peningkatan suhu.
5. Anjurkan pasien untuk mengurangi aktivitas yang
berlebihan bila suhu naik / bedrest total.
6. Simtomatik yaitu antipiretika bila suhu tinggi,
sedativum, obat batuk dan memperbaiki keadaan umum. Tindakan lain adalah
pengobatan segera terhadap komplikasi yang timbul. Diberikan sedatif,
antipiretik untuk demam tinggi, bed rest dan masukan cairan yang cukup.
Penderita harus dilindungi dari kontak dengan cahaya yang kuat selama masa
fotofobia. Adanya komplikasi seperti ensefalitis, SSPE, bronkopneumonia
pada setiap kasus harus dinilai secara individual.

BRONCHOPNEUMONIA

Pengertian

Bronchopneumonia adalah salah satu jenis pneumonia yang mempunyai pola


penyebaran berbercak, teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi di dalam
bronchi dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. (Smeltzer &
Suzanne C, 2002 : 572)
Bronchopneumonia adalah suatu peradangan paru yang biasanya menyerang
di bronkeoli terminal. Bronkeoli terminal tersumbat oleh eksudat mokopurulen
yang membentuk bercak-barcak konsolidasi di lobuli yang berdekatan. Penyakit
ini sering bersifat sekunder, menyertai infeksi saluran pernafasan atas, demam
infeksi yang spesifik dan penyakit yang melemahkan daya tahan tubuh.
(Sudigdiodi dan Imam Supardi, 1998)

Kesimpulannya bronchopneumonia adalah jenis infeksi paru yang disebabkan


oleh agen infeksius dan terdapat di daerah bronkus dan sekitar alveoli.

Etiologi

Secara umum individu yang terserang bronchopneumonia diakibatkan oleh


adanya penurunan mekanisme pertahanan tubuh terhadap virulensi organisme
patogen. Orang yang normal dan sehat mempunyai mekanisme pertahanan tubuh
terhadap organ pernafasan yang terdiri atas : reflek glotis dan batuk, adanya
lapisan mukus, gerakan silia yang menggerakkan kuman keluar dari organ, dan
sekresi humoral setempat.

Timbulnya bronchopneumonia disebabkan oleh virus, bakteri, jamur,


protozoa, mikobakteri, mikoplasma, dan riketsia. (Sandra M. Nettiria, 2001 : 682)
antara lain:

1. Bakteri : Streptococcus, Staphylococcus, H. Influenzae, Klebsiella.


2. Virus : Legionella pneumoniae
3. Jamur : Aspergillus spesies, Candida albicans
4. Aspirasi makanan, sekresi orofaringeal atau isi lambung ke dalam paru-paru
5. Terjadi karena kongesti paru yang lama.
6. Sebab lain dari pneumonia adalah
akibat flora normal yang terjadi
pada pasien yang daya tahannya
terganggu, atau terjadi aspirasi
flora normal yang terdapat dalam
mulut dan karena adanya
pneumocystis cranii,
Mycoplasma. (Smeltzer &
Suzanne C, 2002 : 572 dan
Sandra M. Nettina, 2001 : 682)

Patofisiologi

Bronchopneumonia selalu didahului oleh infeksi saluran nafas bagian atas


yang disebabkan oleh bakteri staphylococcus, Haemophillus influenzae atau
karena aspirasi makanan dan minuman.

Dari saluran pernafasan kemudian sebagian kuman tersebut masukl ke


saluran pernafasan bagian bawah dan menyebabkan terjadinya infeksi kuman di
tempat tersebut, sebagian lagi masuk ke pembuluh darah dan menginfeksi
saluran pernafasan dengan ganbaran sebagai berikut: Infeksi saluran nafas
bagian bawah menyebabkan tiga hal, yaitu dilatasi pembuluh darah alveoli,
peningkatan suhu, dan edema antara kapiler dan alveoli.

Ekspansi kuman melalui pembuluh darah kemudian masuk ke dalam saluran


pencernaan dan menginfeksinya mengakibatkan terjadinya peningkatan flora
normal dalam usus, peristaltik meningkat akibat usus mengalami malabsorbsi
dan kemudian terjadilah diare yang beresiko terhadap gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit. (Soeparman, 1991)

Perubahan Metabolik
- Pada mulut dan hidung terjadi sianosis
- Bronchus dan alveolus terjadi reaksi radang
- Lumen bronkhiolus terisi eksudat dan sel epitel yang rusak sehingga
menyebabkan sesak napas
- Sebagian jaringan paru-paru mengalami etelektasise/pengkerutan/kolaps alveoli,
emfisema hal ini disebabkan karena menurunnya kapasitas fungsi paru dan
penurunan produksi surfaktan (zat yang melapisi alveoli yang mencegah
pengkerutan)
- Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan kapiler alveoli.
- Volume cairan berkurang karena intake makanan yang tidak adekuat (nafsu
makan berkurang)
- Intoleransi aktivitas berhubungan dengan menurunnya kadar oksigen darah
( cepat lelah)
- Perubahan rasa nyaman berhubungan dengan demam, dispnea, nyeri dada.
- Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi.
E. Gambaran Klinis

Bronchopneumonia biasanya didahului oleh suatu infeksi di saluran


pernafasan bagian atas selama beberapa hari. Pada tahap awal, penderita
bronchopneumonia mengalami tanda dan gejala yang khas seperti menggigil,
demam, nyeri dada pleuritis, batuk produktif, hidung kemerahan, saat bernafas
menggunakan otot aksesorius dan bisa timbul sianosis. (Barbara C. long, 1996 :
435). Terdengar adanya krekels di atas paru yang sakit dan terdengar ketika terjadi
konsolidasi (pengisian rongga udara oleh eksudat). (Sandra M. Nettina, 2001 :
683)

F. Pemeriksaan Laboratorium

a. Pemeriksaan darah
b. Pada kasus bronchopneumonia oleh bakteri akan terjadi
leukositosis (meningkatnya jumlah neutrofil). (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)
c. Pemeriksaan sputum
Bahan pemeriksaan yang terbaik diperoleh dari batuk yang spontan dan dalam.
Digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis dan untuk kultur serta tes
sensitifitas untuk mendeteksi agen infeksius. (Barbara C, Long, 1996 : 435)
d. Analisa gas darah untuk mengevaluasi status oksigenasi
dan status asam basa. (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)
e. Kultur darah untuk mendeteksi bakteremia
f. Sampel darah, sputum, dan urin untuk tes imunologi
untuk mendeteksi antigen mikroba. (Sandra M. Nettina, 2001 : 684)

Komplikasi dan Pengobatan Dasar

Komplikasi :

a. Atelektasis adalah pengembangan paru-paru yang tidak sempurna atau


kolaps paru merupakan akibat kurangnya mobilisasi atau refleks batuk hilang.
b. Empisema adalah suatu keadaan dimana terkumpulnya nanah dalam
rongga pleura terdapat di satu tempat atau seluruh rongga pleura.
c. Abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang
meradang.
d. Infeksi sitemik
e. Endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial.
f. Meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak.

Pengobatan Dasar :
a. Kemotherapi untuk mycoplasma pneumonia, dapat diberikan Eritromicin 4 X
500 mg sehari atau Tetrasiklin 3 – 4 mg sehari. Obat-obatan ini meringankan
dan mempercepat penyembuhan terutama pada kasus yang berat.
b. Obat-obat penghambat sintesis SNA (Sintosin Antapinosin dan Indoksi
Urudin) dan interperon inducer seperti polinosimle, poliudikocid pengobatan
simtomatik seperti :
g. Istirahat, umumnya penderita tidak perlu dirawat, cukup
istirahat dirumah.
h. Simptomatik terhadap batuk.
i. Batuk yang produktif jangan ditekan dengan antitusi
j. Bila terdapat obstruksi jalan napas, dan lendir serta ada
febris, diberikan broncodilator.
k. Pemberian oksigen umumnya tidak diperlukan, kecuali
untuk kasus berat. Antibiotik yang paling baik adalah antibiotik yang sesuai
dengan penyebab yang mempunyai spektrum sempit.

Indikasi Terapi Diit dan Interaksi Gizi

a. Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/


muntah.
Tujuan :Pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
b. Berikan wadah tertutup untuk sputum dan buang
sesering mungkin, bantu kebersihan mulut.
Tujuan : Menghilangkan bahaya, rasa, bau,dari lingkungan pasien dan dapat
menurunkan mual.
c. Jadwalkan pengobatan pernafasan sedikitnya 1
jam sebelum makan.
Tujuan :Menurunkan efek mual yang berhubungan dengan pengobatan ini
d. Auskultasi bunyi usus, observasi distensi
abdomen.
Tujuan : Bunyi usus mungkin menurun bila proses infeksi berat, distensi
abdomen terjadi sebagai akibat menelan udara dan menunjukkan pengaruh
toksin bakteri pada saluran lambung.
e. Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk
makanan kering atau makanan yang menarik untuk pasien.
Tujuan :Tindakan ini dapat meningkatkan masukan meskipun nafsu makan
mungkin lambat untuk kembali
f. Bahan makanan yang dianjurkan. Untuk anak
dapat diberikan susu, keju, nasi, puding, sereal, buah-buahan (yang lembut
atau dihaluskan), sayuran matang, telur, daging yang telah dipotong kecil,
bubur, tahu, jus buah, dan sebagainya. Hindari makan makanan yang terlalu
keras atau besar potongannya karena memudahkan anak tersedak. Hindari
makanan yang tidak dimasak dengan matang, serta makanan dan minuman
yang mengandung bahan pengawet atau bahan-bahan tambahan lainnya.
Hindari juga minuman yang kental/dingin karena akan merangsang batuk.
g. Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan
dasar.
Tujuan : Adanya kondisi kronis dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya
tahanan terhadap infeksi, atau lambatnya respon terhadap terapi.
h. Perbaiki status kesehatan
Tujuan :
- Menunjukkan peningkatan nafsu makan
- Mempertahankan/ meningkatkan berat badan
- Mengetahui kebutuhan kalori harian. Memudahkan dalam monitoring status
nutrisi.
- Nutrisi enteral meningkatkan fungsi sistem pencernakan.
i. Untuk anak, catat intake dan out put cairan.
Anjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI.

Pengobatan yang Diberikan


1. Bed rest
2. Oksigen 1 – 2 L / menit
3. IVFD Dextrose 10 % : NaCl 0,9 % = 3 :
1, ditambah larutan KCL 10 mEq/500 ml botol infus. Jumlah cairan sesuai
berat badan, kenaikan suhu.
4. Antibiotik
5. Ampicillin 100 – 200 mg/kgBB/hari
dalam 4 kali pemberian
6. Gentamycin 5 – 7 mg/kgBB/ hari dalam
2 kali pemberian
7. Antipiretik ( penurun demam)
8. Parasetamol 10 –15 mg / kgBB / kali beri
9. Mukolitik (obat yang dapat mengurangi
viskositas lendir yang kental)
10. Jika sekresi lendir berlebihan dapat
diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis
DAFTAR PUSTAKA
- http://klinik-sehat.com/2009/04/24/asthma-dan-bronchopneumoniabukan-
batuk-biasa/comment page-1/
- http://mhs.blog.ui.ac.id/rani.setiani/2010/02/23/pneumonia-pada-anak/
-