Anda di halaman 1dari 9

c 


  


Apabila seseorang mengadakan perjanjian jual beli barang


dengan pihak lainnya, kemudian pembeli membayar harga barang dengan sepucuk
surat berharga misalnya dengan sepucuk surat wesel atau cek. Penjual yang
menerima pembayaran dengan surat berharga itu dapat pula membayarkan
(memindahkan) surat itu kepada pihak lain, dan seterusnya. Akhirnya timbullah
suatu rangkaian peralihan surat berharga itu dari tangan ke tangan. Terhadap
rangkaian kejadian ini timbul pertanyaan. Sampai berapa jauh hak dan kewajiban
pemegang pertama sebagai pihak yang menerima pembayaran itu ?.

Hal ini perlu dipersoalkan karena jika ternyata pada


suatu ketika pemegang surat berharga itu memintakan pembayaran kepada debitur,
ada kemungkinan debitur itu akan menolak atau menangkis pembayaran yang
dimintakan kepadanya dengan berbagai macam alasan, atau penerbit menolak
pembayaran dengan alasan bahwa penerbit menghindarkan membayar kedua kalinya
kepada penjual (pemegang pertama). Padahal pemegang terakhir ini tidak
mengetahui bahwa kewajiban penerbit untuk membayar kepada pemegang itu sudah
tidak ada lagi, dengan terjadinya penyerahan surat berharga itu kepada pemegang
pertama.

Jika masalah ini sampai terjadi tanpa pembatasan atau


kepastian, maka penerbitan surat berharga itu tidak akan memenuhi fungsi atau
tujuan, karena orang tidak akan mau membeli atau menerima peralihan sebagai
pemegang berikutnya, sebab khawatir tidak akan mendapat pemenuhan atas hak
tagih yang tersebut dalam surat berharga itu. Karena itu pembentuk
undang-undang mengatur tentang upaya tangkisan yang dapat dipergunakan oleh
debitur atau penerbit terhadap pemegang surat berharga. Upaya tangkisan itu
dibedakan menjadi dua macam yaitu :

1. Upaya tangkisan absolut


(exception in rem)

2. Upaya tangkisan relatif


(exception in personam)

c      


 

Upaya tangkisan ini dapat digunakan oleh debitur


terhadap semua pemegang, baik pemegang pertama maupun pemegang berikutnya.
Upaya tangkisan absolut timbul dari surat berharga itu sendiri, yang dianggap
sudah diketahui oleh umum. Jadi melekat pada surat berharga itu. Hal atau
keadaan yang timbul dari surat berharga itu ialah :

ë acat bentuk surat berharga


0ang dimaksud dengan cacat bentuk
pada surat berharga ialah cacat karena tidak memenuhi ketentuan yang telah
ditetapkan oleh UU, yaitu syarat-syarat formal surat wesel, surat sanggup, dan
surat cek. Syarat-syarat formal ini membawa pengaruh pada soal sah atau
tidaknya surat berharga itu. Syarat-syarat formal diatur dalam pasal 100 KUHD untuk
surat wesel, pasal 174 KUHD untuk surat sanggup, pasal 178 KUHD untuk surat
cek. Termasuk cacat bentuk itu misalnya tidak ada tanda tangan penerbit, tidak
ada tanggal penerbitan, tanda tangan palsu, dan sebagainya.

ë Lampau waktu (daluarsa) dari surat berharga

Hak untuk memperoleh pembayaran suatu


surat berharga telah ditentukan dalam tenggang waktu tertentu. Jika tenggang
waktu tersebut lampau, akibatnya hak untuk memperoleh pembayaran atas surat
berharga itu menjadi lenyap. Jika pemegang menunjukan juga surat berharga itu
untuk memperoleh pembayran, debitur akan menolak dengan tangkisan lampau waktu.
Ketentuan lampau waktu (daluarsa) surat-surat berharga diatur dalam pasal 169
(wesel dan surat sanggup),dan pasal 229 KUHD (cek). Menurut ketentuan pasal
ketentuan pasal 169 KUHD segala tuntutan hukum yang timbul dari surat wesel
hapus, karena lampau waktu, setelah lewat tenggang waktu :

1. tiga tahun, terhitung mulai


hari bayar wesel, terhadap akseptan

2. satu tahun, terhitung mulai


tanggal protes yang dilakukan pada waktunya atau kalau ada klausula tanpa
biaya, mulai dari bayar wesel itu terhadap para endosan dan penerbit

3. enam bulan, terhitung mulai


hari bayar wesel untuk memenuhi wajib regres atau mulai hari endosan Digugat di
muka pengadilan, terhadap sesama endosan dan endosan terhadap penerbit.daluarsa
ayat 1 tidak bisa digunakan oleh akseptan, jika dana sudah tersedia pada
akseptan atau akseptan telah memperkaya diri secara tidak adil.

4. daluarsa ayat 1 tidak bisa


digunakan oleh akseptan jika dana sudah tersedia pada akseptan atau akseptan
telah memperkaya diri secara tidak adil.

Daluarsa ayat 2 dan 3 tidak bisa digunakan oleh penerbit


jika penerbit tidak menyediakan dana, atau tidak bisa digunakan oleh penerbit
dan endosan yang telah memperkaya diri sendiri secara tidak adil. Daluarsa bagi
mereka pada angka 4 ini ada setelah lampau tenggang waktu 30 tahun (pasal 1967
KUHPdt)

Menurut ketentuan pasal 229 KUHD, segala tuntutan regres


hapus karena lampau waktu, setelah lewat tenggang waktu :

1. enam bulan, terhitung mulai


akhir tenggang waktu penunjukannya dari pemegang terhadap para endosan,
penerbit, dan semua debitur cek lainnya.

2. enam bulan, terhitung mulai


hari debitur cek untuk memenuhi wajib regresnya atau mulai hari debitur Digugat
di muka pengadilan terhadap sesama debitur cek yang berkewajiban membayar cek
3. daluarsa ayat 1 dan 2 tidak
bisa digunakan oleh penerbit apabila penerbit tidak menyediakan dana, atau
tidak bisa digunakan oleh penerbit dan endosan-endosan yang telah memperkaya
diri secara tidak adil. Bagi merka ini ada daluarsa setelah lampau tenggang
waktu 30 tahun (pasal 1967 KUHPdt).

ë Kelainan formalitas dalam regres.

Jika surat berharga itu mendapat penolakan akseptasi


atau penolakan pembayaran pada hari ditunjukan atau pada hari bayar, maka
pemegang dapat melakukan hak regresnya guna memperolaeh pembyaran kepada
penerbit atau debitur-debitur lainnya. Melakukan hak regres ini diperlukan
suatu akta yang disebut akta protes non akseptasi atau akta protes non
pembayaran yang dibuat otentik, sebagai alat bukti. Hal ini dapat dilihat dalam
pasal 143 ayat 1 KUHD yang menyatakan bahwa penolakan akseptasi atau pembayaran
harus dinyatakan dengan akta otentik (protes non akseptasi atau protes non
pembayaran)

Apabila akta ini tidak ada, maka penerbit atau debitur


surat berharga itu akan menolak pembayaran yang dimintakan oleh pemegang. Akta
protes ini adalah satu-satunya alat bukti bagi penerbit atau debitur guna
mengetahui apakah pemegang betul-betul telah memintakan pembayaran kepada
tersangkut atau akseptan yang kemudian ditolak pembayarannya.

c    


   

Upaya tangkisan ini tidak dapat diketahui dari bentuk


surat berharga itu, melainkan hanya dapat diketahui dari hubungan hukum yang
terjadi antara penerbit dan salah seorang endosan yang mendahului pemegang
terakhir, khususnya dengan pemegang pertama, hubungan hukum mana lazim disebut
perikatan dasar. Bagi pemegang berikutnya atau pemegang terakhir, ia tidak
dapat mengetahui perikatan dasar yang telah terjadi antara penerbit dan
tersangkut atau antara penerbit dan pemegang sebelumnya.

Menurut ketentuan pasal 109 KUHD jika ada suatu surat


wesel yang tidak lengkap waktu diterbitkan dan kemudian dilengkapkan
bertentangan dengan perjanjiannya dulu, maka apabila perjanjian itu tidak
dipenuhi, hal ini tidak boleh dikemukakan atas kerugian pemegang, kecuali jika
pemegang memperoleh surat wesel itu dengan itikad buruk, atau karena
keteledoran yang besar.

Lebih lanjut dinyatakan dalam pasal 116 KUHD, mereka


yang harus ditagih berdasarkan surat wesel, dilarang menggunakan upaya
tangkisan berdasarkan hubungan pribadi dengan penerbit, atau para pemegang
sebelumnya, terhadap pemegang, kecuali jika pemegang tersebut memperoleh surat
wesel itu dengan sengaja merugikan debitur.

0ang dimaksud dengan hubungan pribadi dalam pasal-pasal


ini ialah hubungan hutang piutang yang telah terjadi di luar hubungan hukum
surat berharga, misalnya penerbit menyimpan dana pada tersangkut, sebaliknya
pula tersangkut mempunyai piutang pada pemegang pertama. Disini terjadi
perjumpaan hutang piutang atau kompensasi hutang.
Tentang perjumpaan hutang atau kompensasi hutang telah
diatur dalam pasal 1425 dan 1431 KUHPdt. Tetapi pasal-pasal KUHPdt tersebut
tidak perlu diperlakukan lagi dalam hubungan hukum surat-surat berharga, karena
hal ini telah diatur secara khusus dalam KUHD. Seperti telah dikemukakan di
muka bahwa kompensasi atau perjumpaan hutang itu tidak boleh digunakan sebagai
upaya tangkisan oleh debitur terhadap pemegang surat berharga. Jadi tersangkut
harus membyar setiap surat berharga yang disodorkan kepadanya oleh pemegang.

Tetapi jika pemegang memperoleh surat berharga itu


dengan sengaja merugikan debitur (penerbit, tersangkut) sudah sewajarnya upaya
tangkisan itu dikemukakan kepadanya sehingga debitur menolak pembayaran atas
surat berharga yang disodorkan kepadanya itu. Perbuatan yang merugikan itu
misalnya berdasarkan kuasa dari pemegang, padahal kuasa itu tidak ada. ontoh
yang lain, penerbit membayarkan surat berharga yang belum lengkap jumlahnya,
kemudian oleh penerimanya dilengkapi bertentangan dengan jumlah yang
diperjanjikan. Pemegang tidak jujur semacam ini tidak perlu mendapat
perlindungan hukum.

Demikian juga jika hubungan hukum yang timbul antara


penerbit dan pemegang pertama berdasarkan pada paksaan, kekeliruan, dan
penipuan, atas dasar mana diterbitkan surat berharga hal-hal ini tidak dapat
dijadikan alasan bagi debitur (penerbit, tersangkut) untuk menolak pembayaran
yang dimintakan kepadanya oleh pemegang terakhir yang jujur.

r r
 r   
r c !" # #
r 
r 

$ 
  
%  r  
   "  
  
 

1. Keleluasaan pihak Tergugat dalam proses


pengajuan jawaban atas gugatan Penggugat di pengadilan negeri.

Dalam proses pemeriksaan sengketa


perdata di pengadilan antara lain dilakukan melalui acara jawab menjawab antara
pihak Tergugat dengan pihak Penggugatnya. Menurut sistem HIR, tidak ada
ketentuan yang mewajibkan atau menganjurkan pihak Tergugat untuk menjawab
gugatan Penggugat.Pengajuan jawaban atas gugatan Penggugat merupakan hak,
sehingga Tergugat leluasa untuk menggunakan haknya atau tidak.

Disamping itu ada gugatan yang tidak


dijawab oleh Tergugat karena alasan : dalam kebiasaan tidak ada yang
mengharuskan pihak Tergugat untuk menjawab gugatan, meskipun tidak diajukan
jawaban oleh Tergugat maka hakim yang memeriksa perkara tidak secara otomatis
akan memenangkan gugatan Penggugat melainkan tetap akan memeriksa dan memutus
perkara berdasarkan kebenaran atas dalil-dalil yang dikemukakan oleh para pihak
yang berperkara.

&$       


    %              
$
Jawaban Tergugat atas gugatan
Penggugat di pengadilan antara lain berupa eksepsi. Dalam sistem HIR tidak ada
satu pasalpun yang mewajibkan pihak Tergugat untuk mengajukan eksepsi selain
tidak berkuasanya hakim atas gugatan Penggugat di pengadilan. Pengajuan eksepsi
merupakan suatu hak, sehingga Tergugat leluasa untuk mengajukan atau tidak
mengajukan eksepsinya.

Adanya kecenderungan ada pengajuan


eksepsi selain tidak berkuasanya hakim pada kelas pengadilan negeri makin
tinggi, karena pada kelas pengadilan negeri yang makin tinggi masyarakatnya
makin maju terutama tingkat pendidikannya dan pada kelas pengadilan negeri yang
makin tinggi makin banyak pula jumlah tenaga pengacaranya.

Sedikitnya jumlah pengajuan eksepsi


selain tidak berkuasanya hakim karena tidak ada ketentuan hukum ataupun
kebiasaan yang mengharuskan pihak Tergugat untuk mengajukan eksepsi, namun
untuk melindungi kepentingan pihak Tergugat apabila ada alasan yang cukup untuk
mengajukan eksepsi maka seharusnya Tergugat mengajukan eksepsinya.

$     


    %              
$

Sebelum mengajukan eksepsi selain


tidak berkuasanya hakim di pengadilan, haruslah diperhatikan ada atau tidaknya
suatu alasan hukum pada gugatan yang dapat dijadikan dasar pertimbangan dalam
pengajuan eksepsi. Tidak terdapatnya suatu alasan hukum tertentu pada gugatan
maka eksepsi yang diajukannya akan sia-sia dan tidak akan diperhatikan oleh
hakim.

Menurut sistem HIR, pengajuan eksepsi


di pengadilan hanyalah dilakukan dalam hal hakim tidak berkuasa untuk memeriksa
gugatan. HIR hanya menyebut satu jenis alasan yang dapat dijadikan dasar
pertimbangan yaitu, tidak berkuasanya hakim untuk memeriksa gugatan.
Selanjutnya untuk alasan-alasan hukum selain tidak berkuasanya hakim untuk
memeriksa gugatan tidak diatur.

Alasan-alasan hukum yang menjadi


dasar pertimbangan untuk mengajukan eksepsi selain tidak berkuasanya hakim
yaitu :

1. Dalam eksepsi disqualificatoir yaitu, pihak


Penggugat tidak mempunyai kedudukan atau kualifikasi sebagai Penggugat.

2. Dalam
eksepsi van gewijsde zaak yaitu, perkara telah diputus oleh pengadilan.

3. Dalam eksepsi dilatoir atau eksepsi yang


bersifat menunda yaitu, gugatan Penggugat belum dapat dikabulkan berhubung
Penggugat memberi penundaan pembayaran atau gugatan diajukan terlalu awal.
4. Dalam eksepsi peremtoir atau eksepsi yang
bersifat menghalangi dikabulkannya gugatan yaitu, gugatan yang diajukan
mengenai perkara yang sudah kadaluwarsa.

Dalam praktek tidak jarang ada


alasan-alasan hukum lainnya yang menjadi dasar pertimbangan mengajukan eksepsi
selain tidak berkuasanya hakim, yaitu:

1. Gugatan yang diajukan lewat kuasa hukum namun


tidak dilengkapi dengan adanya pemberian surat kuasa khusus.

2. Subyek dan obyek yang digugat tidak jelas atau


tidak lengkap (gugatan kabur).

Diharuskannya ada alasan hukum


seperti tersebut di atas agar eksepsinya menjadi jelas dan ada kepastian
hukumnya. Dalam penyelesaian perkara di pengadilan apabila dalam gugatan memang
terdapat alasan-alasan hukum sebagaimana telah disebutkan di atas maka Tergugat
harus mengajukan eksepsinya oleh karena :

1. Bila eksepsi yang diajukannya diterima


tentunya akan mempercepat jalan proses pemeriksaan yang akhirnya akan menghemat
waktu, tenaga dan biaya.

2. Bila eksepsi tidak diajukan padahal ada alasan


hukum untuk mengajukan eksepsi maka diteruskan pada pokok perkaranya sehingga
penyelesaian perkara akan menjadi lama, dan kesempatan untuk memenangkan
perkara perdata menjadi kecil.

3. Dengan tidak diajukannya eksepsi, padahal pada


gugatan ada alasan hukum yang dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk
mengajukan eksepsi maka dalam hal ini tampak adanya kecerobohan dari pihak
Tergugat atau kuasanya. Tidak diajukannya eksepsi terhadap gugatan yang
memenuhi syarat untuk dieksepsi maka pihak Tergugat harus memikul akibat dari
sikap tidak mengajukan eksepsi tersebut yang kemungkinan besar gugatan akan
diterima oleh hakim dalam pemeriksaan sengketa perdata itu.

$ 
  r   
     " 
  
  
 
$

'$ ( %    


              ") 
    %  %*      )    
             $     
%        %      % 
%*       %    $

Pada umumnya pengajuan eksepsi


dilakukan secara tertulis. Diajukannya eksepsi secara tertulis oleh pihak
Tergugat karena alasan: bahwa pada umumnya pihak Tergugat dalam berperkara
perdata di pengadilan negeri telah menggunakan jasa advokat/pengacara dan
masyarakat sudah semakin maju terutama tingkat pendidikannya sehingga tidak ada
yang buta huruf lagi.

Dengan diajukannya secara tertulis


maka eksepsinya dapat disusun dengan jelas, pasti dan konkrit sehingga akan
lebih memudahkan hakim dalam menelaah eksepsi yang diajukan oleh pihak Tergugat
tersebut. Prosedur pengajuan eksepsi secara tertulis yaitu dilakukan dengan
mengajukan surat jawaban yang berisi eksepsi bersama-sama dengan jawaban
Tergugat lainnya yang ditujukan kepada ketua pengadilan negeri melalui hakim
majelis yang memeriksa perkara. Pengajuan ini dilakukan di dalam persidangan
yaitu pada persidangan kedua atau persidangan berikutnya setelah penundaan dari
persidangan yang permulaan yaitu setelah usaha perdamaian yang diupayakan hakim
tidak berhasil.

Pengajuan eksepsi yang dilakukan


secara tertulis sebaiknya disusun dan dirumuskan dengan baik supaya tujuan dari
diajukannya eksepsi tersebut dapat berhasil, yaitu agar gugatan tidak diterima
oleh hakim.

&$        


           

Dalam sistem HIR tidak ada satu


pasalpun yang mengatur tentang hal-hal yang harus dimuat di dalam jawaban
eksepsi selain tidak berkuasanya hakim dalam pemeriksaan sengketa perdata di
pengadilan. Walaupun HIR tidak mengaturnya, bukan berarti pihak Tergugat dalam
mengajukan eksepsi itu, isinya dapat sekehendaknya tanpa memperhatikan
kaidah-kaidah yang berlaku dalam pengajuan eksepsi sengketa perdata di
pengadilan negeri.

Dalam mengajukan eksepsi selain tidak


berkuasanya hakim di pengadilan haruslah berisi suatu uraian alasan-alasan
mengapa Tergugat menyangkal keterangan dan tuntutan yang dimuat dalam surat
gugatan. Diharuskannya berisi suatu uraian alasan-alasan dalam eksepsi tersebut
karena: untuk kepastian hukum sehingga tidak setiap gugatan akan dieksepsi dan
lebih menjamin kedudukan pihak Tergugat karena eksepsi yang diajukannya menjadi
jelas.

Adanya keharusan pada eksepsi untuk


mencantumkan uraian alasan-alasan mengapa Tergugat menyangkal gugatan Penggugat
adalah sesuai dengan ketentuan Pasal 113 Rv yaitu, setelah itu dan pada hari
itu juga atau pada hari yang lain yang telah ditentukan, pengacara Tergugat
mengajukan jawabannya disertai alasan-alasannya dan turunannya disampaikan
kepada Penggugat.

Uraian alasan-alasan yang dikemukakan


itu haruslah merupakan fakta yang benar. Pihak Tergugat tidak boleh hanya
sekeda menguraikan alasanalasannya tanpa disadari oleh fakta yang benar dan
alasan-alasan tersebut tidak boleh hanya dikemukakan secara umum saja dengan
hanya menyatakan bahwa keterangan dan tuntutan Penggugat tidak benar sama
sekali tanpa menyebutkan alasan-alasannya. Alasan-alasan yang dikemukakan itu
haruslah disusun dengan jelas dan akurat sesuai dengan jenis eksepsi yang
diajukannya agar eksepsi yang diajukannya dapat diterima oleh hakim yang
memeriksa perkaranya.

$  %   


               
$

Diharuskannya untuk mengajukan


eksepsi ini bersama-sama dengan jawaban pokok perkaranya yaitu, untuk efisiensi
waktu, biaya dan tenaga dan menghindarkan pihak Tergugat mengulur-ulur waktu
pemeriksaan perkara yaitu dengan cara mengajukan jawabannya sendiri-sendiri.
Tidak diajukannya eksepsi bersama-sama dengan jawaban pokok perkaranya, maka
eksepsi yang diajukannya tidak akan dipertimbangkan oleh hakim. Keharusan untuk
mengajukan eksepsi bersama-sama dengan pokok perkara ini sesuai dengan
ketentuan yang diatur dalam pasal 114 ayat (1) Rv.

Dalam pelaksanaannya untuk mengajukan


eksepsi ini, disamping harus dilakukan bersama-sama dengan jawaban pokok
perkaranya, eksepsi itu juga harus diletakkan pada urutan yang pertama sebelum
jawaban pokok perkaranya. Pengajuan eksepsi yang diletakkan setelah jawaban
pokok perkaranya maka eksepsi yang diajukan tidak akan dipertimbangkan oleh
hakim pengadilan negeri yang memeriksa perkara.

Diharuskannya meletakkan jawaban


eksepsi pada urutan yang pertama sebelum jawaban pokok perkaranya oleh karena:
untuk kepastian hukum, supaya lebih efisien dalam pemeriksaan perkara dan untuk
menghindarkan pihak Tergugat mengulur-ulur waktu yaitu dengan mengajukan
eksepsi setelah ada pegajuan jawaban pokok perkara sehingga akan merugikan
pihak Penggugat.

+$ 
    
                
$

Menurut sistem HIR pemeriksaan dan


putusan terhadap eksepsi selain tidak berkuasanya hakim dilaksanakan sesuai
dengan ketentuan pasal 136 HIR.Pasal 136 HIR menetapkan bahwa, kecuali tentang
hal hakim tidak berkuasa, tidak boleh dikemukakan dan dipertimbangkan secara
terpisah tetapi harus diperiksa dan diputus bersama-sama dengan jawaban
tergugat yang lainnya.

Diperiksa dan diputusnya eksepsi ini


bersama-sama dengan jawaban pokok perkaranya karena: untuk kepastian hukum,
agar lebih efisien sehingga pemeriksaan/putusannya harus dilakukan bersama-sama
(sekaligus) dan pemeriksaan/putusan hakim pengadilan itu sifatnya menyeluruh
sehingga tidak boleh diperiksa dan diputus sendiri-sendiri.

Tentang urutan pemeriksaan/putusannya


terhadap eksepsi selain tidak berkuasanya hakim dan jawaban pokok perkara
dipengadilan maka eksepsinya

diperiksa terlebih dahulu baru kemudian jawaban pokok


perkaranya dan selanjutnya eksepsinya diputus terlebih dahulu baru kemudian
jawaban pokok perkaranya.
  

Dari uraian diatas dapat disimpulkan, upaya tangkisan


relatif tidak boleh digunakan oleh debitur terhadap pemegang yang memintakan
pembayaran kepadanya. Upaya tangkisan ini baru dapat digunakan apabila pemegang
yang memperoleh surat berharga itu adalah tidak jujur. Upaya tangkisan relatif
adalah upaya tangkisan yang berdasarkan pada hubungan hukum antara penerbit dan
tersangkut atau antara penerbit dan pemegang pertama. Tujuan larangan
menggunakan tangkisan relatif terhadap pemegang yang memintakan pembayaran
adalah untuk mencegah jangan sampai fungsi surat berharga itu terganggu. Selain
itu, juga untuk menghormati dan menjamin hak dari pemegang yang jujur.

Ô