Anda di halaman 1dari 29

58

BAB VI
TUGAS KHUSUS CONVEYOR

Di dalam industri, bahan – bahan yang digunakan kadangkala


merupakan bahan yang berat maupun berbahaya bagi manusia. Untuk itu
diperlukan alat transportasi untuk mengangkut bahan – bahan tersebut mengingat
keterbatasan kemampuan tenaga manusia baik itu berupa kapasitas bahan yang
akan diangkut maupun keselamatan kerja dari karyawan.
Pada pabrik gula sendiri, jenis alat transportasi yang digunakan
dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Liquid Transport : Pumps Group
2. Bulk Transport :
- Screw Conveyor
- Bucket Elevator
- Belt Conveyor
- Talang goyang/talang getar
3. Mill Stasion : Chain Conveyor
Salah satu jenis alat pengangkut yang sering digunakan yang mana
akan kita bahas dalam bab ini adalah Conveyor, yang berfungsi untuk
mengangkut bahan – bahan industri yang berbentuk padat. Pemilihan alat
transportasi (conveying equipment) material padatan antara lain tergantung pada :
1. Kapasitas material yang ditangani.
2. Jarak perpindahan material.
3. Kondisi pengangkutan : horizontal, vertikal atau inklinasi.
4. Ukuran (size), bentuk (shape) dan sifat material (properties).
5. Harga peralatan tersebut.
Secara umum jenis/type Conveyor yang sering digunakan dapat
diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Belt Conveyor
2. Chain Conveyor : Scraper, Apron, Bucket Conveyor dan Bucket Elevator
3. Screw Conveyor
4. Pneumatic Conveyor
59

4.1 Chain Conveyor/Conveyor Rantai


Konveyor rantai adalah konveyor yang terdiri dari rantai sebagai
komponen utamanya yang mana rantai ini dikaitkan dengan papan – papan
pembawa atau dengan penggaruk, disesuaikan dengan material yang akan
dibawanya. Rantai ini digerakkan oleh sprocket yang dihubungkan dengan motor
listrik yang mana putarannya diturunkan dengan reduction gear.

Gambar 4.1 Aplikasi Chain Conveyor


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Chain bushing ini pada dasarnya berbentuk pipa dengan pengikatan


yang cocok untuk mengunci sidebar bersama – sama. Ini dibentuk untuk memiliki
prasarana penguncian sidebar dan untuk mencegah beberapa peralihan.

Gambar 4.2 Bushing


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP
60

Keterangan :
1. Pin case hardened steel dengan tiga (3) konstruksi diameter untuk
mempermudah perakitan, pembongkaran.
2. Rol case hardened steel dan memiliki permukaan halus rendah gesekan,
umur pemakaian lama.
3. Chain bushings dari baja stainless, di heat treated agar tanan terhadap
korosi dan wear resistance. Carbon steel bushings tidak di heat treated
karena anti korosi.
4. Sidebars secara akurat menekan untuk kontrol pitch yang baik. Rantai
dapat galvanized, atau disediakan dengan pelapis lainnya untuk
ditambahkan ketahanan terhadap korosi.
5. LF bahan tahan korosi dan aus, rendah gesekan, tidak memerlukan
pelumasan.

4.1.1 Prosedur Pemilihan Chain Conveyor


Pertimbangan yang harus dilakukan adalah mengenai factor
gesekan yang terjadi pada proses pergerakan rantai ( Rolling atau sliding ) serta
gerakan material ( sliding atau carried/terbawa ).
Berikut 6 Klas seperti tabulasi :

Table 4.1 Kelas Conveyor


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

1. Chain Sliding ( Penyorongan rantai )


Metode ini adalah sederhana didalam kontruksi, memiliki bagian
pergerakan yang lebih sedikit dan biasanya paling rendah/murah biayanya
untuk beban yang diberikan. Hal ini paling efektif pada peralatan “kotor”
61

dan kontruksi tak datar, baik/cocok untuk pengaruh kondisi. Peralatan


daya kuda adalah lebih tinggi daripada untuk rantai penggulung.

Gambar 4.3 Chain Sliding


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

2. Chain Rolling (Penggulungan rantai)


Metode ini memiliki operasi yang lebih halus, polusi yang lebih sedikit
bila dibandingkan dengan penyorongan rantai. Semakin lebih rendah
gesekan pada pusat yang lebih rendah, maka semakin sedikit pergerakan
dan semakin rendah biaya operasi. Hal ini tidak cocok untuk peralatan
“kotor” sebagaimana bahan luar dapat mengganggu penggulungan.

Gambar 4.4 Chain Rolling


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

4.1.2 Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Sistem Rantai


1. Abnormal noise
2. Vibrasi rantai
3. Rantai melilit dengan sprocket
4. Rantai mulur
5. Rantai melengkung
62

6. Kerusakan gigi sprocket


7. Kebersihan dan pelumasan periodic
8. Roller link aus, retak
9. Link plate penyambung rantai retak

4.1.3 Perawatan Chain Conveyor


Tipe Perawatan Yang Harus Dilakukan
Pelumasan Tipe A Pelumasan manual, penggunaan
pelumas secara periode dapat disikatkan
atau di usapkan. Pelumasan drip, oli
diberikan diantara link plates edges dari
drip lubricator.
Pelumasan Tipe B Oil bath atau oil slinger, ketinggian
minyak oli ini selalu dilihat sesuai yang
telah ditetapkan
Pelumasan Tipe C Oil stream, minyak dipasok oleh pompa
circulating loop dalam rantai pada
Lowes span.
Periksa chain stretch / tegangan rantai Jika elongation dalam exess sebesar
3%, ganti dengan rantai baru. Periksa
panjang setelah 1000 jam pertama.
Periksa Sprocket Jika gigi memiliki penampilan yang
bengkok, ganti. pemeriksaan awal 24
jam, kedua 1000 jam, ketiga 500 jam.
Dan berkala sesudahnya, periksa
panjang rantai.
Periksa alignment / Kesejajaran Jika saat pemakaian terlihat pada
permukaan dalam dari roller link side –
bars dan pada sisi gigi sproket, ada
misalignment. Seting kembali sproket.

4.1.4 Aplikasi Chain Conveyor


4.1.4.1 Cane Carrier/Krepyak Tebu
63

Krepyak tebu atau biasa disebut cane carrier (pengangkut tebu)


atau cane conveyor, ialah pembawa tebu yang dicurahkan dari meja tebu menuju
kegilingan. Tebu yang terdapat didalamnya harus diusahakan serata mungkin
muatannya dan konstan (ajeg), agar tebu dapat diumpankan kepada gilingan
dengan rata, mempunyai ketebalan yang sama, sehingga terjadi pemerahan yang
baik.
Biasanya suatu krepyak tebu terdiri dari 2 bagian, ialah bagian
yang datar (horizontal) dan bagian yang miring (inclined), yaitu yang menuju
kegilingan. Namun 2 bagian itu dulunya dibuat menjadi satu, karena tebu
langsung diiumpankan kegilingan yang didahului oleh suatu alat pengerjaan
pendahuluan yaitu crusher, dimana alat ini letaknya berdekatan dengan gilingan
pertama.
Bentuk (elevasi) suatu krepyak tebu dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 4.5 Krepyak tebu


Sumber : Toat Soemohandojo hal III-5

Pada dasarnya krepyak tebu itu merupakan konstruksi besi yang


terdiri dari 2 bagian yaitu kerangka dan krepyak (carrier).
Kerangka suatu krepyak tebu dibuat dari konstruksi besi yang
terdiri dari tiang – tiang dengan pondasinya, pelat samping, besi peluncur untuk
rantai, roda – roda perantara, anjungan control dengan railing dan tangga serta
instalasi penggeraknya. Kerangka tersebut harus diperhitungkan dapat menopang
kecuali bobotnya sendiri, juga semua bobot bergerak yang merupakan muatan
krepyak yang terdiri dari :
• Rangkaian rantai.
• Papan pengangkut (kayu atau besi)
• Tebu yang diangkut.
64

Rangkaian rantai terdiri dari 2 atau 3 baris, tergantung pada besar


kecilnya kapasitas giling (muatan krepyaknya). Biasanya digunakan rantai yang
berjarak sumbu (picth) atau pen – nya = 6” dan yang ada kupingannya untuk
menempatkan papan kayu atau besi plat. Kekuatan nominal dari masing – masing
jenis dan type rantai dapat diketahui dari catalog yang diterbitkan oleh
manufacture (pabrik pembuatnya). Pada catalog itu juga terdapat informasi
mengenai berat rantai tiap meternya, jadi untuk menghitung beban krepyak dari
segi rantai dapat dihitung berdasarkan informasi dari catalog tadi, ditambah
dengan suatu factor pengaman yang besarnya sekitar 10 – 20 %.
Pengangkut pada krepyak tebu merupakan hamparan panjang yang
dimulai dari depan meja tebu hingga ujung krepyak. Merupakan deretan
penghantar yang terbuat dari besi plat (iron slats), tebal = 3 – 4 mm yang
dikaitkan dengan rangkaian rantai. Bila terbuat dari kayu, maka bahannya harus
kayu yang kuat dan berserat padat seperti kayu jati. Diantara 5 atau 6 papan
dipasangi besi siku 50 x 50 mm atau 60 x 60 mm, panjang sekitar 500@ 600 mm
yang pada satu sisinya dibuat bergerigi untuk memudahkan menyeret tumpukan
tebu. Untuk menghitung berat seluruh penghantar harus diketahui berat tiap papan
atau plat besi yang digunakan, ditambah berat sejumlah mur dn baut yang
digunakan.
Tebu yang diangkut oleh krepyak merupakan tebu curah, jadi berat
jenisnya bekisar antara 0,28 – 0,32 ton/m3. untuk menghitung beban atau muatan
tebu, harus diketahui panjang krepyak secara keseluruhan, lebar krepyak dan
perkiraan tinggi rata – rata muatan tebu yang berada diatas hamparan penghantar.

Gambar 4.6 Type Chain pada Cane Carrier


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP
4.1.4.2 Intermediate Carrier
65

Gambar 4.7 Intermediate Carrier


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Yang dimaksud Intermediate carrier atau disebut juga dengan


krepyak antar gilingan adalah krepyak yang lokasinya berada diantara perangkat
gilingan dengan perangkat gilingan lainnya. Berfungsi untuk menghantarkan atau
membawa sisa tebu/ampas yang telah diperah pada satu gilingan kegilingan
berikutnya untuk diperah kembali setelah diberi imbibisi nira maupun air.
Digerakkan oleh gilingan melalui roda gigi/sprocket dan rantai atau
oleh motor listrik tersendiri.
Pada dasarnya ada beberapa type /jenis krepyak :
1. Apron atau slat conveyors.
2. Drag atau rake conveyors atau hark carriers.
3. Krepyak tetap atau fixed carriers.
Apron atau slat carrier bentuk dan konstruksinya sama dengan
krepyak tebu sedang drag atau hark carrier adalah krepyak yang menggunakan
penggaruk. Pemasangan rake conveyor ini miring dengan sudut antara 250 hingga
450, bahkan bila jarak antar gilingan sempit kemiringan dapat mencapai 500.
66

Apron Carrier

Slat carrier – tampak depan


Tampak samping

Gambar 4.8 Apron Carrier


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Pada hark carrier, jenis rantai yang digunakan berbeda dengan


rantai pada slat carrier. Jika slat carrier jenis rantai yang berada dibawah slat, pada
hark carrier rantainya dipasang pada tepi samping (out board). Hal ini dilakukan
untuk menjaga agar rantai tidak selalu terendam ampas yang msih mengandung
nira yang bersifat asam. Jenis hark carrier inilah yang diaplikasikan pada pabrik
gula pagottan.

Hark Carrier – tampak depan

Tampak samping

Gambar 4.9 Hark Carrier


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Selain model yang sama dengan krepyak tebu, juga terdapat


beberapa model yang lebih sederhana dan bahkan ada yang tanpa menggunakan
rantai. Pada krepyak tetap juga disebut krepyak sistem “Meinecke” (dirancang
oleh tuan Meinecke), tidak menggunakan rantai. Ampas yang keluar dari bukaan
kerja belakang, sambil mengembang melalui pelat logam yang bentuknya
67

divergen dan permukaannya licin didorong hingga ketinggian tertentu, kemudian


ampas akan jatuh melalui besi plat pengumpan dengan kemiringan minimum 400
kegilingan berikutnya.

Gambar 4.10 Fixed Carrier


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Disamping konstruksi – konstruksi krepyak yang telah disebutkan


diatas, masih ada beberapa konstruksi lain pada penggunaan krepyak antar
gilingan, krepyak tebu, krepyak ampas maupun krepyak yang lain, tergantung
pada kondisi dan kemampuan biaya pembuatannya.
Krepyak antar gilignan dapat digerakkan melalui putaran rol
gilingan depan dengan perantara rantai, atau dengan penggerak terdiri dari motor
listrik atau motor hydrolik. Untuk dapat mengantisipasi bila ampas yang
diumpankan kegilingan macet, maka diantara krepyak dengan alat penggeraknya
perlu dipasang kopling yang dapat dilepas dan dihubungkan kembali dengan
mudah. Bila penggerak motor listrik maka perlu dipilih motor listrik yang
putarannya dapat diatur (variable speed motor) selain perlu dipasang saklar on –
off untuk keperluan ini.
Kecepatan krepyak antar gilingan sebaiknya lebih cepat dari
kecepatan keliling rol – rol gilingan yang diumpankan. Tergantung jenis atau
tipenya, namun menurut E. Hugot, arahan berikut dapat digunakan :
V’ = 1,5 – 3 v untuk rake carrier
V’ = 1,1 v untuk apron carrier

4.1.4.3 Bagasse Conveyor


68

Bagasse conveyor atau juga sering disebut scraper conveyor


merupakan konveyor yang sederhana dan paling murah diantara jenis – jenis
conveyor lainnya. Conveyor jenis ini dapat digunakan dengan kemiringan yang
besar. Conveyor jenis ini digunakan untuk mengangkut material – material ringan
yang tidak mudah rusak, seperti : abu, kayu dan kepingan. Untuk dipabrik gula
pagottan bagasse conveyor ini digunakan untuk mengangkut ampas atau bagasse
itu sendiri menuju pengisian bahan bakar boiler.

Gambar 4.11 Bagasse Conveyor


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Karakteristik dan performance dari bagasse conveyor :


1. Dapat beroperasi dengan kemiringan sampat 45°.
2. Mempunyai kecepatan maksimum 150 ft/m.
3. Kapasitas pengangkutan hingga 360 ton/jam.
4. Harganya murah.
Kelemahan – kelemahan pada bagasse conveyor :
1. Mempunyai jarak yang pendek.
2. Tenaganya tidak konstan.
3. Biaya perawatan yang besar seperti service secara teratur.
4. Mengangkut beban yang ringan dan tidak tetap.
4.2 Screw Conveyor
69

Jenis konveyor yang paling tepat untuk mengangkut bahan padat


berbentuk halus atau bubur adalah konveyor sekrup (screw conveyor). Alat ini
pada dasarnya terbuat dari pisau yang berpilin mengelilingi suatu sumbu sehingga
bentuknya mirip sekrup. Pisau berpilin ini disebut flight.
Macam – macam flight adalah :
1. Sectional flight
2. Helicoid flight
3. Special flight terbagi : cast iron flight, ribbon flight dan cut flight
Konveyor berfiight section (Gambar 4.18 – a) dibuat dari pisau –
pisau pendek yang disatukan (tiap pisau berpilin satu putaran penuh) dengan cara
disimpul tepat pada tiap ujung sebuah pisau dengan paku keling sehingga
akhirnya akan membentuk sebuah pilinan yang panjang.
Sebuah helicoid flight, bentuknya seperti pita panjang yang
berpilin mengelilingi suatu poros (Gambar 4.18 – b). Untuk membentuk suatu
konveyor, flight – flight itu disatukan dengan cara dilas tepat pada poros yang
bersesuaian dengan pilinan berikutnya.
Flight khusus digunakan dimana suhu dan tingkat kerusakan tinggi
adalah flight cast iron. Flight – flight ini disusun sehingga membentuk sebuah
konveyor (Gambar 4.18 – c).
Untuk bahan yang lengket, digunakan ribbon flight (Gambar 4.18 –
d). Untuk mengaduk digunakan cut flight (Gambar 4.18 – e). Flight pengaduk ini
dibuat dari flight biasa, yaitu dengan cara memotong – motong flight biasa lalu
membelokkan potongannya ke berbagai arah.
Untuk mendapatkan konveyor panjang yang lebih sederhana dan
murah, biasanya konveyor tersebut itu disusun dari konveyor – konveyor pendek.
Sepasang konveyor pendek disatukan dengan sebuah penahan yang disebut
hanger dan disesuaikan pasangan pilinannya.
Tiap konveyor pendek mempunyai standar tertentu sehingga dapat
dipasang dengan konveyor pendek lainnya, yaitu dengan cara memasukkan salah
satu poros sebuah konveyor ke lubang yang terdapat pada poros konveyor yang
satunya lagi (Gambar 4.19).
70

Gambar 4.12 Screw Conveyor :


a Sectional ; b. Helicoid; c. Cast Iron; d. Riboon ; e. Cut Flight

Gambar 4.13 Screw Conveyor Coupling


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Wadah konveyor biasanya terbuat dan lempeng baja (Gambar


4.20), Panjang sebuah wadah antara 8, 10, dan 12 ft. Tipe wadah yang paling
sederhana (Gambar 4.20 – a) hanya bagian dasarnya, yang berbentuk setengah
lingkaran dan terbuat dari baja, sedangkan sisi-sisi lurus lainnya terbuat dari kayu.
Untuk mendapatkan sebuah wadah yang panjang, wadah-wadah
pendek disusun sehingga sesuai dengan panjang konveyor. Gambar 4.20 – b
menunjukkan wadah yang lebih rumit yang konstruksinya semuanya terbuat dari
besi.
71

Gambar 4.14 Trough / Palung

Perlu diketahui bahwa poros konveyor harus digantung pada


sambungan yang tetap sejajar. Dua buah sambungan dibuat pada ujung wadah,
dan sepanjang wadah harus tetap ada hanger atau penahan, Biasanya ada sebuah
hanger untuk tiap bagian.
Gambar 4.21 menunjukkan beberapa tipe hanger. Gambar 4.21 – a
menunjukkan tipe paling sederhana dan paling murah. Gambar 4.21 – b
menunjukkan tipe yang mempunyai persambungan terpisah dan ditempatkan di
wadah baja. Bentuk yang lebih rumit mempunyai persambungan yang dapat
disetel dan juga dengan cara melumasi yang lebih baik.
Jika bahan yang diangkut konveyor bersentuhan dengan
persambungan hanger, seringkali minyak atau pelumas tidak dapat dipakai karena
akan mencemari bahan tersebut, dan wadah kayu akan basah oleh minyak. 0leh
karena itu, wadah dalam hanger dibuat dari besi putih cor (Gambar 4.21 – c)
sehingga tempat bergerak dapat digunakan walaupun tanpa pelumas.
72

Gambar 4.15 Screw Conveyor Hanger

Ujung dari wadah konveyor disebut box ends . Umumnya box ends
awal berbeda konstruksinya dengan box ends akhir. Box ends awal memiliki roda
gigi (gears) bevel untuk memutar poros konveyor.

Gambar 4.16 Screw Conveyor Box End

4.2.1 Lay Out Screw Conveyor


73

Trough end
Seal, bearing

Cover

Trough

Screw/fligt

Penggerak & reducer

Gambar 4.17 Lay out Screw Conveyor


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

4.2.2 Komponen Screw Conveyor

Gambar 4.18 Bagian – bagian Screw Conveyor


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Keterangan :
1. Screw conveyor drive, motor mount, V – belt drive dan guard.
2. End plate untuk screw conveyor drive.
3. Palung dengan fitted discharge spout.
4. Trough / Palung
74

5. End plate untuk ball bearing.


6. Seal plate, flanged ball bearing unit dan tail shaft.
7. Screw.
8. Screw dengan bare pipe at discharge end.
9. Hanger dengan bearing dan coupling shaft.
10. Flanged cover with inlet.
11. Flanged covers with buttstrap.

4.2.3 Fungsi Dari Komponen


Screw Conveyor ini berputar dengan halus
memutar materi kesamping didalam palung.

Kopling dan Poros menghubungkan dan


mengirimkan motion untuk screw conveyors
berikutnya. Held in place by self – locking tem –
U – lac bolts.

Hangers memberikan dukungan, mempertahankan


allignment dan bertindak sebagai permukaan
bantalan.

Troughs dan Conveyors sepenuhnya menyertakan


bahan yang disampaikan dan bagian-bagian yang
berputar. Covers tersedia dalam bebagai tipe dan
telah dijamin tahan lama palung, screw, tite – seal
atau quick – acting barron clamps depending
,tergantung palung yang digunakan.

Inlet And Discharge Openings mungkin berlokasi


di mana pun dibutuhkan, discharge spouts
mungkin tanpa slide atau fitted dengan either flat
atau curved slides. Slide ini dapat dioperasikan
75

dengan tangan, rack and pinion gears, atau dengan


mesin.

4.2.4 Perawatan Berkala


Inspeksi berkala yang harus dilakukan sebagai berikut :
1. Trough
Periksa keausan dan keselarasan. Kencangkan semua baut. Cek tiap bulan.
2. Shafts
Memeriksa keausan. Periksa bolt hole elongation dan wear. Cek tiap bulan
3. Flights
Memeriksa edges untuk pemakaian atau kerusakan. Cek tiap bulan.
4. Bolts and nuts
Periksa semua untuk pemakaian dan kekencangannya. Periksa tiap bulan.
5. Seals
Periksa dari leakage, adjustment, dan wear. Periksa tiap bulan.
6. Guards
Memeriksa tingkat minyak (jika berlaku). Periksa nuts dan bolts untuk
keketatan.

4.3 Belt Conveyor

Gambar 4.19 Belt Conveyor


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP
76

Belt Conveyor pada dasarnya mernpakan peralatan yang cukup


sederhana. Alat tersebut terdiri dari sabuk yang tahan terhadap pengangkutan
benda padat. Sabuk yang digunakan pada belt conveyor ini dapat dibuat dari
berbagai jenis bahan misalnya dari karet, plastik, kulit ataupun logam yang
tergantung dari jenis dan sifat bahan yang akan diangkut. Untuk mengangkut
bahan – bahan yang panas, sabuk yang digunakan terbuat dari logam yang tahan
terhadap panas.
Karakteristik dan performance dari belt conveyor yaitu :
1. Dapat beroperasi secara mendatar maupun miring.
2. Sabuk disanggah oleh plat roller untuk membawa bahan.
3. Kapasitas tinggi.
4. Serba guna.
5. Dapat beroperasi secara continiue.
6. Kapasitas dapat diatur.
7. Kecepatannya sampai dengan 600 ft/m.
8. Dapat naik turun.
9. Perawatan mudah.
Kelemahan – kelemahan dari belt conveyor :
1. Jaraknya telah tertentu.
2. Biaya relatif mahal.
3. Sudut inklinasi terbatas.

4.3.1 Jenis Belt Conveyor


1. Portable unit conveyor : Conveyor untuk jarak pendek sampai 60 ft,
mampu dipindah dengan cepat.
2. Fixed unit conveyor : Conveyor untuk operasional jarak jauh, bisa
mencapai panjang 10 km bahkan lebih sehingga dipasang secara tetap.

4.3.2 Komponen Utama Belt Conveyor


1. Frame/rangka
2. Carrier Idlers/Penyangga
3. Belt : Rubber, Teflon, Neoprane, Vynil
77

4. Speed Reduction type ( Reduction gear & Motor ), maupun Gear Motor
5. Pulley ( Depan maupun belakang )
6. Tension Adjuster
7. Roller (Return Idler) : Water proof, Dust Proof, Oilless Roller, Plastics
Roller
8. Penggerak : Motor Listrik, Gear Motor, Engine.

IDLER

FRAME

Gambar 4.20 Bagian Idler dan Frame


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Ada beberapa aspek pertimbangan yang harus diperhatikan dalam


penggunaan belt conveyor yaitu :
1. Jenis material yang ditangani
2. Berat jenis material
3. Kapasitas
4. Pemilihan Belt
5. Instalasi
6. Sistem penggerak
7. Kondisi Operasi
Pada kondisi operasi atau operasional sendiri masih meliputi
beberapa hal yaitu :
1. Iklim, Temperatur, Humidity
2. Kondisi sekitar : korosif atmosfer
3. Jam Operasi
78

4. Jenis Idler
5. Belt width / Lebar sabuk
6. Power / HP
7. Cara muat ( loading ) dan penuangan ( discharge )

4.3.3 Sudut Kemiringan Belt Conveyor


Standart untuk pemasangan belt conveyor pada posisi miring.
1. 0 – 220 : Ordinary Conveyor Belt
2. 15 – 240 : Cleated Conveyor Belt ( Dikasari )
3. 25 – 450 : Climber Belt Conveyor ( Dengan sirip )

Gambar 4.21 Belt Conveyor dengan sirip


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

Rekomendasi kemiringan belt conveyor sesuai dengan jenis


material yang diangkut.
Jenis Material Ordinari Cleated
Sand Dry 17 0 19 0
Sand Damp (Basah) 24 0
Semen 90 10 0
Biji – bijian 80 10 0
Cereals (Padi, Gandum, 15 0 17 0
Gula)

4.3.4 Perawatan Belt Conveyor


79

1. Electrical / kelistrikan
Motor – pelumasan bantalan internal, seperti yang direkomendasikan oleh
manufaktur. Periksa saklar Keselamatan sambungan listrik dan tanda-
tanda patah pada parts.
2. Reducers
Lumasi internal bearings dan mengisi minyak pelumas seperti yang
direkomendasikan oleh manufaktur.
3. V – Belt
Periksa ketegangan sabuk dan aus atau keretakan pada area.
4. Chain drives
Periksa ketegangan dan keausan roller dan sidebars.
5. Screw Take – ups.
Periksa ketepatan sabuk dan bersihkan dari material – material .
6. Idler
Memeriksa free rotation dan daerah aus berlebihan, jika Jenis greaseable
melumasi seperti yang direkomendasikan oleh manufaktur. Bersihkan dari
material.
7. Training Idler
Memeriksa keselarasan dengan sabuk dan free rotation atau daerah aus
berlebihan. Jika jenis greaseable yang melumasi seperti yang
direkomendasikan oleh manufaktur. Bersihkan dari material.
8. Pulleys
Cek pulley alignment dan permukaan lagging if lagged. Pulley harus
memutar bebas. Bersihkan dari material.
9. Bearing
Memeriksa keselarasan dengan frame dan lumasi seperti yang
direkomendasikan oleh manufaktur. Bersihkan dari material.
10. Belting
Memeriksa tegangan pada daerah yang aus, robek robek atau ripped area.
Jika terjadi mechanical splice segera periksa.

11. Belt Cleaners


80

Cek ketegangan yang tepat dan bersihkan blade dan ganti jika diperlukan
untuk menjaga kebersihan dari bawah.

4.4 Conveyor SHS


Konveyor gula SHS biasa digunakan jenis grasshopper atau talang
goyang yang bentuknya dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

3 2 5 6
4

Gambar 4.22 Grasshopper

Keterangan :
1. Talang 5. Sabuk
2. Batang penggerak 6. Motor Listrik
3. Penyangga 7. Pondasi Motor Listrik
4. Pulley
Berupa talang berbentuk U lebar dan panjang dengan konstruksi
besi plat yang ditopang oleh penyangga plat besi dan pegas. Talang ini digerakkan
maju mundur oleh suatu batang penggerak yang dihubungkan oleh motor listrik
secara eksentrik. Talang goyang ini letaknya dibawah deretan pemuter gula SHS
dan ujungnya menjorok keluar, lebih panjang dari deretan pemutar gula tersebut.
Panjang talang goyang tergantung pada jarak antara deretan
pemutar gula SHS dengan letak pengering dan pendingin gula, atau jarak antara
deretan pemutar gula SHS dengan bucket elevator 1.
Talang goyang befungsi sebagai alat angkut kristal gula yang baru
turun dari pemutar gula SHS menuju bucket elevator 1. Selain itu talang goyang
81

juga berfungsi sebagai pengering dan pendingin gula. Jadi panjang talang goyang
harus lebih panjang dan diperhitungkan agar benar – benar berfungsi sebagai
pengering dan pendingin.
Perawatan conveyor SHS ini termasuk ringan, dengan memberikan
pelumasan pada poros eksentris yang dihubungkan pada batang penggerak dengan
menggunakan grees atau stempet. Untuk talang sendiri hanya dibersihkan dari sisa
– sisa gula yang menempel pada dinding talang.

4.5. Bucket Elevator


Belt, scraper maupun apron conveyor mengangkut material dengan
kemiringan yang terbatas. Belt conveyor jarang beroperasi pada sudut yang lebih
besar dari 15 – 20 0 dan scraper jarang melebihi 30 0. Sedangkan kadangkala
diperlukan pengangkutan material dengan kemiringan yang curam. Untuk itu
dapat digunakan Bucket Elevalor. Secara umum bucket elevator terdiri dari timba
– timba (bucket) yang dibawa oleh rantai atau sabuk yang bergerak. Timba –
timba (bucket) yang digunakan memiliki beberapa bentuk sesuai dengan
fungsinya masing – masing.
Bentuk – bentuk dari timba – timba (bucket) dapat dibagi atas :
1. Minneapolis Type
2. Buckets for Wet or Sticky Materials
3. Stamped Steel Bucket for Crushed Rock
• Minneapolis Type.
Bentuk ini hampir dipakai di seluruh dunia. Dipergunakan untuk
mengangkut butiran dan material kering yang sudah lumat.
• Buckets for Wet or Sticky Materials.
Bucket yang lebih datar. Dipergunakan untuk mengangkut material
yang cenderung lengket.
• Stamped Steel Bucket for Crushed Rock
Dipergunakan untuk mengangkut bongkahan – bongkahan besar dan
material yang berat.
Ketiga jenis bucket tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini :
82

Gambar 4.23 Jenis – jenis Bucket

Alat ini berupa rangkaian timba tempat membawa gula dengan


konstruksi tegak. Rangkaian timba ini berputar karena pada salah satu porosnya
digerakkan elektromotor. Bucket elevator berfungsi sebagai pengangkut gula dari
talang goyang menuju sugar dry dan dari saringan getar menuju sugar bin.

Gambar 4.24 Centrifugal type (kiri) dan Continuous type (kanan)


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP
4.5.1 Bagian – Bagian Bucket Elevator
83

Gambar 4.25 Bagian – bagian Bucket Elevator


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP
84

Gambar 4.26 Posisi bucket pada chain attachment


Sumber : Alat Transport PG – Bidang Teknik LPP

4.5.2 Daftar Perawatan Bucket elevator


1. Bucket
Secara berkala periksa kerusakan ember dan baut longgar. Semua ember
rusak harus diganti atau diperbaiki dengan benar.
2. Discharge Bibb
Bib memeriksa debit disesuaikan untuk dipakai setelah sebulan operasi
dan mengganti sumbat debit jika digunakan. Periksa debit keran secara
teratur.
3. Sprocket, Traction Wheels
Cek sproket dan roda traksi untuk pemakaian yang berlebihan, tidak
merata, atau tidak biasa. Ganti sproket atau traksi roda jika digunakan.
Pada sproket segmental, cek dan re - torsi baut pada replacemen segmental
pada baut kepala dan poros boot.
4. Chain, Belt
Periksa clearance ember di bawah boot housing. Untuk menambahkan
clearance, menghapus (2) dua - bagian link, seperti yang diperlukan.
Periksa rantai / sabuk teratur. Konsultasikan dengan produsen untuk
memakai pedoman.

4.5.3 Pemeliharaan Umum


85

1. Di lift besar, memberikan jalan setapak yang sesuai dan, jika diperlukan,
platform dengan tangga atau tangga permanen untuk akses.
2. Memberikan perlindungan yang tepat terhadap unsur-unsur: dingin
ekstrim, hujan atau salju dan hujan es.
3. Memberikan perpanjangan pipa untuk mencapai pas minyak yang sulit
atau sistem mengoles otomatis.
4. Menyediakan pembersihan yang memadai dari gerimis dan tumpahan.
5. Mengatur program pelumas spesifik dan memperbaiki responsibilitie pasti
untuk melaksanakan prosedur. Salah satu metode untuk mencapai sukses
ini adalah untuk mempersiapkan master pelumasan lembar cek atau kartu
untuk setiap konveyor penting atau lift.
6. Membuat program yang jelas dari inspeksi.
7. Sabuk lift harus diperiksa untuk pakaian, stretch, keausan tepi (indikasi
misalignment atau bahan pada katrol).
8. Katrol harus diperiksa untuk keselarasan dan positioning.
9. Ember / bucket harus diperiksa untuk kelonggaran atau kerusakan.
10. Semua sabuk harus diperiksa untuk tegangan yang tepat (cukup sulit
suntuk melenturkan sedikit) dan apabila terjadi mach kendur, take - up
harus disesuaikan untuk mengisi kekosongan berlebih.

4.6 Kesimpulan
Pemilihan alat angkut (konveyor) selain didasarkan pada sifat –
sifat bahan yang berpengaruh terhadap alat angkut, maka hal – hal lain yang perlu
dipertimbangkan adalah jarak angkut, kemiringan atau perbedaan ketinggian dari
posisi bahan yang hendak diangkut. Jumlah bahan yang hendak diangkut dan
kecepatan pengangkutan yang diperlukan.
Untuk pengangkutan bahan yang tidak berhamburran serta
volumenya juga yang cukup besar, maka digunakan alat pangangkut sabuk. Alat
angkut sekrup digunakan untuk mengangkut bahan dalam wadah yang tertutup
dan jarak angkutnya dekat.
Pemilihan alat yang digunakan untuk mengangkut material yang
sedikit basah atau lembab lebih sukar dibandingkan dengan pemilihan alat yang
86

digunakan untuk mengangkut material yang halus serta kering, karena material
yang lembab bisa melekat pada alat angkut sehingga dapat mengganggu proses
pengangkutan.