Model-model Organisasi dlm Studi Implementasi

Sumber: Richard E. Elmore dalam Michael Hill. 1993. The Policy Process: A Reader.

Teori-teori organisasi sbg basis analisis Penerjemahan ide ke aksi (aktivitas implementasi) Penyederhanaan dari sesuatu yg rumit Peran Organisasi dlm Melakukan Simplifikasi Tugas-tugas yg dikelola alokasi tanggung jawab pd unit-unit yg terspesialisasi Teori Organisasi (Model Normatif atau Model Deskriptif) .

Model-model Organisasi    Model Implementasi sbg manajemen sistem value-maximizing behaviour Model Implementasi sbg Proses Birokratik interaksi antara diskresi & rutinitas Model Pengembangan organisasi konflik tjd krn ada gap antara kebutuhan individu dan tuntutan kehidupan organisasi. .

 Organisasi seharusnya dibangun diatas prinsipprinsip kontrol scr hierarkhi .tanggung jawab pelaksana: melaksanakan tugas-tugas spesifik.Model I: Manajemen Sistem Preposisi:  Organisasi seharusnya bekerja spt pemaksimal nilai-nilai rasionalitas organisasi yg efektif adl berperilaku goal-oriented. .tanggung jawab top administrator: policy making & overall system performance & memonitor kinerja subordinate .

pemantauan kinerja sistem & membuat penyesuaian internal utk meningkatkan pencapaian tujuan organisasi. . Implementasi mrp pendefinisian seperangkat tujuan scr rinci dan akurat merefleksikan tujuan sebuah kebijakan ttt. pelimpahan tanggung jawab & standar kinerja utk unit-2 yg sesuai dg tujuan-tujuan ini.Model I: Manajemen Sistem   Alokasi tanggung jawab pada setiap tugas secara optimal utk memaksimalkan kinerja.

Model I: Manajemen Sistem  - Kegagalan Implementasi bad management poorly-defined goal pemberian tanggung jawab yg tdk jelas unclear expected-outcomes pelaksanaan tdk berbasis pada standar kinerja. .

Terlalu normative.Model I: Manajemen Sistem Kelemahan: . tdk realistis  Keunggulan: .dapat memahami mekanisme ttg bagaimana pembuat kebijakan dan administrator puncak melakukan strukturisasi dan kontrol thd perilaku implementor.mengabaikan efek hierarkhi pemerintahan (misal: federalisme) .  .

Model II: Proses Birokratik Proposisi:  Dua ciri pokok organisasi: diskresi & rutinitas perilaku dibentuk oleh diskresi dan rutinitas pekerjaan utk mempertahankan & meningkatkan posisi individu dlm organisasi.  Dominasi diskresi & rutinitas berarti bhw kekuasaan dlm organisasi terfragmentasi & tersebar kedlm sekelompok kecil unit-unit yg melakukan kontrol thd tugas-2 ttt dlm jangkauan kewenangan mereka. .

.Model II: Proses Birokratik   Pembuatan keputusan mrp bentuk diskresi dan rutinitas keputusan organisasi bersifat incremental. dan mendorong unit-unit organisasi utk mengganti rutinitas sebelumnya dg yg baru. Implementasi upaya mengidentifikasikan dmn diskresi terkonsentrasi dan rutinitas organisasi mana yg perlu diubah. merancang rutinitas alternatif yg mendukung tujuan kebijakan.

Model II: Proses Birokratik    Problem Implementasi dlm setting briokrasi diskresi & rutinitas Semakin tinggi diskresi semakin tinggi rutinitas melahirkan resistance to change yg tinggi. Street-level bureaucracy sulit dikontrol oleh top administrator. .

Tidak memberikan gambaran yg jelas mengenai resep utk meningkatkan proses implementasi.  Kelemahan: .  .memberikan pemahaman ttg pola-pola kehidupan birokrasi & pengetahuan ttg bagaimana kebijakan baru mempengaruhi rutinitas perilaku pelayanan publik.Model II: Proses Birokratik Keunggulan: .

 Struktur organisasi seharusnya dirancang utk memaksimalkan kontrol individu. partisipasi. & komitmen di semua level. .Model III: Pengembangan Organisasi Proposisi:  Organisasi seharusnya berfungsi memuaskan kebutuhan pokok psikologi & sosial anggotanya otonomi & kontrol thd pekerjaan. partisipasi dlm pengambilan keputusan & komitment thd tujuan organisasi.

.kelompok kerja yg efektif: (1) ada kesepakatan bersama ttg tujuan (2) komunikasi terbuka (3) saling percaya & mendukung (4) pemantauan keahlian anggota (5) manajemen konflik yg efektif.Kualitas hubungan antarpersonal menentukan kualitas keputusan. .Model III: Pengembangan Organiasi  Pembuatan keputusan yg efektif dlm organisasi tergantung pada pembentukan kelompokkelompok kerja yg efektif : .

otonomi individu. & komitmen thd kebijakan dari para pelaksana.Model III: Pengembangan Organiasi  Proses implementasi mrp pembangunan konsensus & akomodasi antara pembuat kebijakan dan pelaksana kebijakan.problem implementasi bukan pd apakah perilaku pelaksana sesuai dg tujuan kebijakan. . ttp pada apakah proses implementasi menghasilkan tujuan yg disepakati. .

Model III: Pengembangan Organisasi  - - Kegagalan implementasi: kurang konsensus & komitmen diantara para pelaksana. Kurang keterlibatan pelaksana dlm menentukan isi kebijakan (apalagi jika mereka semakin well-educated & profesional) .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful